BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Keluarga 1. Pengertian - HERU SAPUTRO BAB II

Gratis

0
0
32
5 months ago
Preview
Full text

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Keluarga 1. Pengertian Keluarga menurut Friedman (2010) dalam Family Service America

  mendefinisikan keluarga sebagai dua orang atau lebih yang disatukan oleh kebersamaan dan keintiman.

  Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh kebersamaan dan kedekatan emosional serta yang mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari keluarga (Friedman, 2010).

  Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga, dan beberapa orang yang terkumpul dan tiggal disuatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Effendy, 2002).

  Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dua orang atau lebih yang tinggal di suatu tempat dibawah satu atap yang disatukan oleh kebersamaan, kedekatan emosional dan saling ketergantungan.

2. Fungsi Keluarga

  Ada beberapa fungsi keluarga yang dapat dijalankan menurut Friedman, (2010) keluarga sebagai berikut : a.

  Fungsi Afektif adalah memfasilitasi stabilisasi kepribadian orang dewasa dan memenuhi kebutuhan psikologis anggota keluarga.

  b.

  Fungsi Sosialisasi adalah memfasilitasi sosialisasi primer anak yang bertujuan menjadikan anak sebagai anggota masyarakay yang produktif serta memberikan status pada anggota keluarga.

  c.

  Fungsi Reproduksi adalah untuk mempertahankan kontinuitas keluarga selama beberapa generasi dan untuk keberlangsungan hidup masyarakat.

  d.

  Fungsi Ekonomi adalah menyediakan sumber ekonomi yang cukup dan alokasi efektifnya.

  e.

  Fungsi Perawatan Keluarga adalah menyediakan kebutuhan fisik seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, perawatan kesehatan.

  Effendy (2002), menyebutkan fungsi pokok keluarga antara lain : a.

  Asih Asih adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepada anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.

  b.

  Asuh Asuh adalah menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesehatanya selalu terpelihara, sehingga diharapkan menjadikan mereka anak-anak yang sehat baik fisik, mental, sosial, dan spiritual. c.

  Asah Asah adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap menjadi manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.

3. Tipe dan Bentuk Keluarga

  Tipe dan bentuk keluarga menurut Friedman, ( 2010 ) yaitu : a.

  Keluarga inti Keluarga yang terdiri dari ayah yang mencari nafkah, ibu sebagai yang mengurus rumah tangga dan anak.

  b.

  Keluarga dual–earner family Keluarga yang terdiri dari dua orang tua yang keduanya memiliki pekerjaan, mengatur mengoordinasi pengasuh anak sementara orang tua bekerja.

  c.

  Keluarga tanpa anak Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu tanpa mempunyai anak.

  d.

  Keluarga adopsi Keluarga yang tidak dapat memiliki anak kandung sendiri, tetepi tetap mempunyai keinginan untuk menjadi orang tua.

  e.

  Keluarga asuh Keluarga asuh adalah sebuah layanan kesejahteraan anak, yaitu anak ditempatkan dirumah yang yang terpisah dengan orang tua atau kedua orang tua kandung untuk menjamin keamanan dan kesejahteraan fisik serta emosional.

  f.

  Keluarga ekstended family Keluarga ekstended family adalah keluarga dengan pasangan yang berbagi pengaturan rumah tangga dan pengeluaran keuangan dengan orang tua, kaka atau adik dan keluarga dekat lainnya.

  g.

  Keluarga orang tua tunggal Keluarga orang tua tungga adalah keluarga dengan ibu atau ayah sebagai kepala rumah tangga.

  h.

  Keluarga orang tua tiri Keluarga orang tua tiri adalah keluarga yang menikah lagi dikarenakan pasangannya meninggal atau bercerai. i.

  Keluarga binuklir Keluarga binuklir adalah keluarga yang terbentuk setelah perceraian yaitu anak merupakan anggota dari sisitem kelurga yang terdiri dari dua rumah tangga inti, makternal dan paternal dengan beragam dalam hal tingkat kerjasama dan waktu yang dihabiskan dalam setiap rumah tangga. j.

  Keluarga cohabiting family Keluarga cohabiting family adalah keluarga yang tinggal bersama tanpa adanya ikatan pernikahan, baik itu kaum muda, orang tua, janda atau individu yang bercerai.

4. Tahap Dan Perkembangan Keluarga

  Perlu juga dipahami bahwa keluarga berkembang melalui suatu tahapan perkembangan tertentu yang menurut Duvall (1977) dalam Friedman (2010) yaitu : a.

  Tahap keluarga pasangan baru Pada tahap ini dimulai dari pasangan yang baru menikah dan membentuk satu keluarga inti. Pada tahap ini keluarga memilik tugas yaitu : 1) Membentuk perkawinan yang memuaskan bagi kedua belah pihak. 2) Berhubungan secara harmonis dengan jaringan kekerabatan. 3) Merencanakan sebuah keluarga.

  b.

  Tahap childbearing family Pada tahap ini adalah menantikan kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai bayi berusia 30 bulan : 1) Mempersiapkan diri menjadi orang tua. 2)

  Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan seksual dan kegiatan keluarga.

  3) Mempertahankan hubungan yang memuaskan kedua belah pihak.

  c.

  Tahap keluarga dengan anak prasekolah Tahap ini dimulai ketika anak pertama berusia 2½ tahun dan diakhiri ketika anak berusia 5 tahun : 1)

  Memenuhi kebutuhan anggota seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa nyaman.

  2) Membantu bersosialisasi

  3) Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain juga harus terpenuhi.

  4) Mempertahankan hubungan yang sehat, baik didalam maupun diluar keluarga.

  5) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga. 6) Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang anak.

  d.

  Tahap keluarga dengan anak sekolah Tahap ini dimulai ketika anak pertama memasuki sekolah dalam waktu penuh, biasanya pada usia 5 tahun, dan diakhiri dengan ketika ia mencapai pubertas, sekitar usia 13 tahun : 1)

  Menyosialisasikan anak pada saat sekolah 2)

  Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan 3)

  Meningkatkan komunikasi terbuka dan mendukung hubungan pasangan e.

  Tahap keluarga dengan anak remaja Tahap ini dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun berlangsung selama 6 sampai 7 tahun, anak akan meningkan keluarga lebih awal atau lebih lama lama tinggal di rumah. 1)

  Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab, mengikat remaja sudah bertambah dewasa mengikuti otonominya.

  2) Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga

  3) Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua

  4) Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga f.

  Tahap keluarga melepas anak dewasa muda Tahap ini ditandai dengan perginya anak pertama dari rumah orang tua dan berakhir dengan kosongnya rumah sampai anak terakhir juga telah meninggalkan rumah. 1)

  Membantu anak tertua untuk terjun dalam dunia luar 2)

  Membantu anak yang terkecil agar mandiri 3)

  Memasukan anggota keluarga baru dari pernikahan anak pertama dan menerima gaya hidup dan nilai pasangan itu sendiri g.

  Tahap orang tua paruh baya Tahap ini adalah tahap pertengahan bagi orang tua, dimulai ketika anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir dengan pensiun atau kematian salah satu pasangan. Biasanya tahap ini dimulai ketika orang tua berusia 45 sampai 55 tahun.

  1) Menciptakan lingkungan yang sehat

  2) Menemukan hubungan yang memuaskan dan bermakna dengan anak pada saat anak dewasa dan dengan orang tua mereka yang lansia

3) Mempertahankan keakraban pasangan.

  h.

  Tahap keluarga lansia dan pensiunan Tahap ini dimulai pada saat pensiunnya salah satu atau kedua pasangan, berlanjut sampai kehilangan salah satu pasangan, dan berakhir dengan kematian pasangan yang lainnya.

  1) Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan

  2) Mempertahankan kehidupan yang memuaskan

  3) Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, kekuatan fisik dan pendapatan

  4) Melakukan life review ( merenungkan kehidupan ) 5.

   Struktur Keluarga a.

  Nilai atau norma keluarga Menjelaskan nilai atau norma yang dipelajari dan dianut oleh keluarga yang berhubungan dengan kesehatan.

  b.

  Pola komunikasi keluarga Menjelaskan bagaimana cara keluarga berkomunikasi, siapa pengambil keputusan utama, dan bagaimana peran anggota keluraga dalam menciptakan komunikasi. Perlu dijelaskan pula hal-hal apa saja yang juga mempengaruhi komunikasi keluarga.

  c.

  Struktur kekuatan keluarga Menjelaskan kemampuan keluarga untuk mempengaruhi dan mengendalikan anggota keluarga untuk mengubah perilaku yang berhubungan dengan kesehatan.

  Struktur keluarga menurut Jhonson R dalam Friedman, (2010) dibagi menjadi lima yaitu : a.

  Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu di susun memlalui jalur ayah.

  b.

  Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.

  c.

  Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama sedarah ibu.

  d.

  Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama sedarah suami.

  e.

  Keluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian dari keluarga karena adanya hubungan suami istri 6.

   Struktur Peran Keluarga

  Nye, (1976) dalam Friedman, (2010) peran didasarkan pada pengharapan atau penetapan peran yang membatasi apa saja yang harus dilakukan oleh individu di dalam situasi tertentu agar memenuhi pengharapan diri atau orang lain terhadap mereka.

7. Tugas-Tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan

  Keluarga mempunyai tugas dalam pemeliharaan kesehatan para anggotanya dan saling memelihara. Friedman, (2010) membagi 5 tugas kesehatan yang haruus dilakukan oleh keluarga, yaitu : a. Mengenal masalah kesehatan.

  b. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan keperawatan.

  c. Melakukan perawatan di rumah bagi anggota keluarga yang sakit.

  d. Memodifikasi lingkungan rumah yang memenuhi syarat kesehatan.

  e. Menggunakan fasilitas kesehatan.

8. Proses Dan Strategi Koping Keluarga

  Stressor-stressor keluarga bisa berupa kejadian atau pengalaman antar pribadi (dari dalam maupun luar keluarga), lingkungan, ekonomi, atau sosial budaya.

  Adaptasi adalah suatu proses penyesuaian terhadap perubahan. Hasil dari suatu keadaan keseimbangan yang berubah atau homeostatis.

  Adaptasi bisa positif bisa negatif, yang menyebabkan meningkatnya atau menurunnya keadaan sehat keluarga.

  Strategi koping berlawanan dengan mekanisme pertahanan strategi ini sebagai strategi positif dari adaptasi. Koping terdiri dari upaya-upaya pemecahan masalah seorang individu yang dihadapkan pada tuntutan- tuntutan yang berkaitan dengan keadaan kesejahteraannya, tetapi benar- benar menekan sumber-sumber.

  Stressor merupakan agen-agen pencetus, penyebab stress (Friedman, 2010) dan adaptasi merupakan penyesuaian terhadap perubahan. Stressor- stressor keluarga bisa berupa kejadian atau pengalaman antar pribadi (dari dalam maupun dari luar keluarga), lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya.

  Friedman (1998) mengidentifikasi tiga strategi untuk mengadaptasi stress individu yaitu : a.

  Mekanisme pertahanan Merupakan cara-cara yang dipelajari, kebiasaan, secara otomatis digunakan untuk berespon.

  b.

  Strategi koping Berlawanan dengan mekanisme pertahanan, strategi ini sebagai strategi positif dari adaptasi, koping terdiri dari upaya pemecahan masalah seseorang individu yang diharapkan pada tuntutan yang berkaitan dengan keadaan kesejahteraan.

  c.

  Penguasaan Merupakan model adaptasi paling positif, adalah hasil dari penggunaan strategi koping individu yang efektif

  Friedman, (2010) juga membagi dua tipe strategi koping, yaitu internal dan eksternal.

  a.

  Strategi koping Internal Disebut juga interfamilial yang dilakukan dengan cara mengandalkan kelompok keluarga, penggunaan humor, lebih banyak melakukan pengungkapan bersama, mengontrol makna dari masalah dan penyusunan kembali kognitif, pemecahan masalah secara bersama- sama, fleksibilitas peran serta menormalkan. b.

  Strategi koping eksternal Strategi ini dilakukan dengan cara mencari informasi, memelihara hubungan aktif dengan komunitas dan mencari dukungan spiritual.

9. Keluarga Sebagai Klien

  Dalam melihat keluarga sebagai pasien Effendy (2002) melihat ada beberapa karakteristik yang perlu diperhatikan oleh perawat, diantaranya adalah : a.

  Setiap keluarga mempunyai cara yang unik dalam menghadapi masalah kesehatan para anggotanya.

  b.

  Memperhatikan perbedaan dari tiap-tiap keluarga, dari beberapa segi : 1)

  Pola komunikasi 2)

  Pengambilan keputusan 3)

  Sikap dan nilai-nilai dalam keluarga 4)

  Kebudayaan 5)

  Gaya hidup c. Keluarga daerah perkotaan akan berbeda dengan keluarga di daerah pedesaan.

  d.

  Kemandirian dari tiap-tiap keluarga.

10. Peran Perawat Dalam Pemberian Asuhan Keperawatan Kesehatan Keluarga

  Peran perawata adalah tingkahlaku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu.

  Beberapa peran dari keperawatan komunitas diantaranya : a.

  Clinician Role Peran ini termasuk dalam proses pelayanan asuhan keperawatan kepada masyarakat yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi masalah kesehatan dan pemecahan masalah yang diberikan. Tindakan pencarian atau pengidentifikasian masalah kesehatan yang lain juga merupakan bagian dari peran perawat komunitas.

  b.

  Educator Role Disebut juga health teacher, memberikan pengajaran atau informasi tentang kesehatan. Educator role merupakan peran dominan perawat komunitas dalam memberikan pelayanan keperawatan. Perawat harus signifikan dalam menjangkau populasi yang lebih luas. Pemberian informasi dapat dilakukan pada institusi formal atau pilihan sesuai dengan tingkat kemampuan masyarakat. c.

  Advocate Role Perawat komunitas berperan memberikan advocacy kepada klien

  (komunitas). Setiap individu, kelompok, dan masyarakat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang sederajat. Masyarakat miskin, kurang beruntung, tanpa asuransi kesehatan, penduduk pendatang tidak merasakan pelayanan kesehatan yang sederajat. Perawat komunitas memberikan pengarahan dan penjelasan terhadap kompleksitas sistem pelayanan kesehatan yang tujuannya agar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan.

  d.

  Manager Role Perawat komunitas dapat mengkaji, merencanakan, mengorganisasi kebutuhan klien, mengatur, mengawasi dan mengevaluasi dari pelayanan yang diberikan. Peran ini berkaitan dengan 4 hal yaitu nurse

  

as planner, nurse as organizer, nurse as leader, nurse as controller

and evaluator.

  1) Nurse as planner adalah melakukan kolaborasi, menentukan target dan evaluasi.

  2) Nurse as organizer adalah mendesign struktur dengan siapa bekerja dan apa tugas yang akan dilakukan.

  3) Nurse as leader adalah perawat harus mempunyai kemampuan mengatur, mempengaruhi, membujuk orang lain agar memberikan perubahan perubahan positif terhadap kesehatan masyarakat.

  4) Nurse as controller and evaluator adalah bagaimana program dan rencana berjalan dengan baik.

  e.

  Collaborator Role Perawat komunitas jarang bekerja sendiri. Berkolaborasi dengan tenaga professional yang lain, seperti : dokter, bidan, ahli gizi, LSM, ahli lingkungan, dan kesmas. Perawat komunitas dalam melakukan kolaborasi harus memiliki kemampuan komunikasi, kerjasama tim, sikap asertif terhadap anggota tim yang lain.

  f.

  Leadership Role Kepemimpinan berfokus pada terjadinya perubahan. Disebut juga juga agent of change. Perawat komunitas memulai perubahan positif untuk kesehatan masyarakat. Mengajak orang lain untuk melakukan perubahan. Dalam mewujudkan perubahan tersebut, perawat juga bekerjasama dengan tim professional lainnya.

  g.

  Researcher Role Perawat juga sebagai peneliti. Perawat terlibat dalam investigasi sistematis, pengumpulan data, analisa data, mencari pemecahan masalah dan menerapkan solusi atau intervensi. Harapannya hasil penelitian dapat diterapkan di lapangan dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

B. Masalah Kesehatan a. Pengertian

  Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan diukur paling tidak pada kesempatan yang berbeda dan dianggap mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih dari 140 mmHg untuk sistolik dan 90 mmHg untuk diastoliknya (Corwin, 2000).

  Hipertensi adalah tingginya tekanan darah secara menetap dimana tekanan sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan diastolic diatas 90 mmHg (Bougman, dan Harley, 2000).

  Hipertensi pada lansia adalah hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolic kurang dari 90 mmHg.

  Tabel I. 2 Klasifikasi Hipertensi menurut WHO

  Sistolik Diastolik Kategori (mmHg) (mmHg)

  Hipertensi Ringan 140-159 90-99 Hipertensi Sedang 160-179 100-109

  Hipertensi Berat > 180 > 110 Sumber : WHO, (2004)

  b. Anatomi Fisiologi

  a) Anatomi

  Gambar II. 1 Diagram Sirkulasi

  Sumber : (Evelyn, 2000)

  b) Fisiologi

  Menurut Evelyn (2000) sirkulasi darah, pembuluh darah pada peredaran darah kecil terdiri atas : a)

  Arteri pulmonaris merupakan pembuluh darah yang keluar dari ventrikel dekstra menuju ke paru-paru.

  b) Vena pulmonaris merupakan verba pendek yang membawa darah dari paru-paru masuk ke jantung bagian antrium sinistra.

  Darah dari vena kemudian masuk kedalam ventrikel kanan yang berkontraksi dan memompanya kedalam arteri pulmonaris. Arteri ini bercabang dua untuk mengantarkan darahnya ke paru-paru kanan dan kiri darah tidak sukar memasuki pembuluh darah yang mengaliri paru-paru. Di dalam paru-paru setiap arteri membelah menjadi arteriola dan akhirnya menjadi kapiler pulmonal yang mengitari alveoli di dalam jaringan paru- paru.

  Peredaran darah besar (sirkulasi sistemik). Darah meninggalkan ventrikel kiri jantung melalui aorta, yaitu arteri terbesar dalam tubuh.

  Aorta ini bercabang menjadi arteri lebih kecil yang mengantarkan darah ke seluruh bagian tubuh. Arteri ini bercabang dan beranting lebih kecil lagi hingga sampai pada arteriola. Arteri ini mempunyai dinding yang sangat berotot yang menyepitkan salurannya dan menahan aliran darah.

  Fungsinya adalah memmpertahankan tekanan darah arteri, mengatur aliran darah dalam kapiler. Kemudian kapiler bergabung dan membentuk pembuluh darah lebih besar disebut Venula, yang kemudian bersatu menjadi vena, untuk mengantarkan darah kembali ke jantung. Kemudian vena bersatu hingga terbentuk dua batang vena, yaitu vena kava inferior yang mengumpulkan darah dari badan dan anggota gerak bawah dan vena kava superior yang mengumpulkan darah dari kepala dan aggota gerak atas. Kedua pembuluh darah ini menuangkan isinya ke dalam atrium kanan jantung.

c. Etiologi

  Sedangkan menurut penyebabnya, dijelaskan oleh Mansoer Arief (2000) hipertensi dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu : a.

  Hipertensi Primer / essensial Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetic, lingkungan, hiperaktifitas susunan saraf simpatis, peningkatan Na dan Ca intraseluler, dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko seperti obesitas, merokok, alkohol.

  b.

  Hipertensi Sekunder / renal Penyebab spesifiknya diketahui, seperti penggunaan ekstrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan. Faktor pendukung menurut Soeparman & Waspadji (1998) yaitu : 1)

  Kegemukan 2)

  Usia 3)

  Riwayat keluarga / keturunan 4)

  Jenis kelamin 5)

  Merokok 6)

  Pecandu alkohol 7)

  Intake lemak jenuh tinggi 8)

  Intake tinggi sodium 9)

  Emosi / stress

d. Patofisiologi

  Menurut Sarwono (2001), pada stadium awal sebagian besar pasien hipertensi menunjukan curah jantung yang meningkat dan diikuti dengan kenaikan perifer yang mengakibatkan kenaikan darah perifer yang menetap. Hipertensi terjadi perubahan autoregulasi dan sebagai penyebab awal perubahan ini adalah retensi garam oleh ginjal. Selain faktor tersebut faktor lingkungan seperti stress, obesitas, psikososial, dan kurang olahraga juga berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi. Adapun mekanisme hipertensi menimbulkan kelumpuhan dan kematian berkaitan langsung dengan pengaruhnya pada jantung dan pembuluh darah. Peningkatan tekanan darah sistemik meningkatkan resistensi terhadap pemompaan darah pada ventrikel kiri akibatnya beban kerja jantung bertambah. Sebagai akibatnya terjadi hipertensi ventrikel untuk meningkatkan kekuatan kontraksi. Akan tetapi kemampuan ventrikel untuk mempertahankan curah jantung dengan hipertensi kompensasi akhirnya terlampaui dan terjadi dilatasi dan payah jantung. Jantung jadi semakin terancam oleh semakin parahnya aterosklerosis koroner. Bila proses aterosklerosis berlanjut maka suplai oksigen miokardium berkurang, kebutuhan miokardium akan oksigen meningkat akibat hipertropi ventrikel dan peningkatan beban kerja jantung. Akhirnya menyebabkan angina atau miokardium.

  Sekitar separuh kematian karena hipertensi adalah akibat infark miokardium atau payah jantung. Kerusakan vascular akibat hipertensi terlihat jelas diseluruh perifer. Perubahan vascular dapat diketahui dengan mudah melalui pemeriksaan oftalmoskopik yang berguna untuk menilai perkembangan penyakit dan respon terhadap terapi yang dilakukan. Perubahan struktur dalam arteri kecil ariola menyebabkan penyumbatan pembuluh progresif. Bila pembuluh menyempit maka aliran arteri terganggu dan dapat menyebabkan mikro infark jaringan. Akibat yang ditimbulkan perubahan vascular ini paling nyata pada otak dan ginjal.

  Obstruksi atau rupture pembuluh darah otak merupakan penyebab sekitar sepertiga kematiann akibat hipertensi. Sklerosis progresif pembuluh darah ginjal mengakibatkan disfungsi dana gagal ginjal yang juga dapat menimbulkan kematian.

e. Tanda dan Gejala 1.

  Nyeri kepala saat terjaga kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat peningkatan tekanan darah intrakranium.

  2. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi.

  3. Ayunan langkah yang tidak menetap karena kerusakan saraf pusat.

  4. Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal filtrasi glomerulus.

  5. Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler.

  6. Pemeriksaan fisik mungkin tidak adanya abnormalitas selain tingginya tekanan darah.

  7. Terjadinya hipertropi ventrikel kiri, gagal jantng.

8. Keterlibatan vascular serebral (stroke) yaitu hipoglikemi temporer, pingsan, perubahan penglihatan (Corwin, 2000).

f. Penatalaksanaan Umum

  Hipertensi adalah awal untuk proses lanjut mencapai target organ untuk memberi kerusakan yang lebih berat, karena itu diperlukan upaya-upaya untuk mencegah penyakit hipertensi. Beberapa cara hidup yang sehat untuk mencegah penyakit hipertensi : a) Kendalikan emosi dan melatih kesabaran.

  b) Jaga suasana yang harmonis dalam keluarga.

  c) Manajemen stress

  d) Terapi relaksasi

  e) Terapi musik

  f) Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan berat badan.

  g) Membatasi alkohol

  h) Meningkatkan aktifitas fisik olahraga.

i) Berhenti merokok.

  j) Mengurangi asupan lemak jenuh serta kolesterol dalam makanan. k) Diit rendah garam. l) Periksa tekanan darah secara rutin kepelayanan kesehatan.

7. Pathways

  Asupan Na Genetik, Usia Stress Obesitas Jenis Kelamin Retensi Na Perubahan Aktifitas Hiperinsulinemia Ginjal Membran Sel Simpatik Curah Jantung Ketidakmampuan keluarga Tahanan Perifer Meningkat mengenal masalah Meningkat HIPERTENSI Upaya Perawatan

  Penjelasan kepada keluarga Memodifikasi lingkungan

  • tentang cara perawatan Hipertensi Memodifikasi gaya hidup Anjurkan keluarga untuk Tekhnik relaksasi
  • memodifikasi gaya hidup Tekhnik relaksasi
  • Ketidakmampuan keluarga Gangguan pola

    ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan istirahat

    mengambil keputusan Tidak dilakukan Peningkatan suplai Retensi pembuluh darah O 2 otak Ketidakmampuan keluarga Nyeri Kronik memanfaatkan fasilitas kesehatan Gangguan perfusi yang ada jaringan serebral Ketidakmampuan keluarga

  merawat anggota yang sakit

Sumber : Long, (1996) dalam Friedman, (2010)

8. Fokus Intervensi a.

  : Ketidakefektifan koping individu pada keluarga Ibu M

   Diagnosa 1

  khususnya Ibu M berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal stressor dalam jangka panjang.

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 7x pertemuan ketidakefektifan koping dapat teratasi.

  Kriteria Hasil : 1.

  Keluarga mampu mengenal masalah kesehatan.

  2. Keluarga mampu mengambil keputusan mengenai tindakan yang tepat.

  3. Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang sakit.

  4. Keluarga mampu memodifikasi lingkungan rumah yang menunjang kesehatan.

  5. Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada.

  Intervensi : 1.

  Keluarga mampu mengenal masalah kesehatan

  a) Gali pengetahuan keluarga mengenai masalah kesehatan.

  b) Motivasi keluarga.

  c) Diskusikan tentang penyebab ketidakefektifan koping.

  d) Beri reinforcement atas kemampuan keluarga untuk mengidentifikasi masalah.

2. Keluarga mampu mengambil keputusan mengenai tindakan yang tepat.

  a) Diskusikan bersama keluarga dalam mengambil keputusan dan tindakan yang tepat tentang ketidakefektifan koping. b) Motifasi keluarga untuk mengambil keputusan yang tepat.

  c) Beri reinforcement atas keputusan keluarga.

3. Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang sakit.

  a) Gali pengetahuan keluarga tentang perawatan pada anggota keluarga dengan ketidakefektifan koping.

  b) Jelaskan pada keluarga tentang perawatan pada anggota keluarga dengan hipertensi.

c) Beri kesempatan keluarga untuk bertanya.

4. Keluarga mampu memodifikasi lingkungan rumah yang menunjang kesehatan.

  a) Identifikasi lingkungan yang tepat untuk anggota keluarga yang mengalami ketidakefektifan koping.

  b) Motivasi keluarga untuk mengatur pola makan anggota keluarga yang mengalami ketidakefektifan koping.

  c) Jelaskan diit yang tepat untuk penderita hipertensi.

  d) Berikan kesempatan keluarga untuk bertanya.

5. Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada.

  a) Diskusikan dengan keluarga tempat-tempat pelayanan kesehatan yang ada.

  b) Tanyakan fasilitas kesehatan mana yang dipilih keluarga kaitannya dengan sakit yang diderita anggota keluarga.

c) Beri respon positif atas jawaban yang benar.

  b. : Ketidakefektifan perfusi jaringan pada keluarga Ibu M Diagnosa 2

  khususnya Ibu M berhubungan dengan ketidakmampuuan keluarga mengenal masalah hipertensi.

  

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 7x

pertemuan diharapkan ketidakefektifan perfusi jaringan dapat teratasi.

  Kriteria Hasil : 1.

  Keluarga mampu mengenal masalah hipertensi.

  2. Keluarga mampu mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat.

  3. Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang sakit.

  4. Keluarga mampu memodifikasi lingkungan kesehatan rumah.

  5. Keluarga mampu menggunakan fasilitas kesehatan yang ada.

  Intervensi : 1.

  Keluarga mampu mengenal masalah hipertensi.

  a) Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga tentang pengertian, penyebab, tanda gejala hipertensi.

  b) Diskusikan bersama pasien dan anggota keluarga mengenai faktor penyebab, tanda gejala hipertensi.

  c) Beri kesempatan pasien dan keluarga untuk bertanya dan mengajukan pertanyaan.

d) Beri reinforcement positis atas tanggapan pasien.

2. Keluarga mampu mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat.

  a) Jelaskan mengenai penanganan yang tepat supaya tidak terjadi hipertensi lebih lanjut / komplikasi.

  b) Jelaskan mengenai penanganan hipertensi yang harus menggunakan obat hipertensi.

  c) Memberikan pengertian pada pasien untuk jangan merasa cemas atau banyak pikiran.

3. Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang sakit.

a) Jelaskan pada keluarga cara perawatan pasien hipertensi.

  b) Diskusikan dengan pasien dan keluarga tentang pentingnya mengubah gaya hidup untuk mengurangi faktor penyebab hipertensi.

  4. Keluarga mampu memodifikasi lingkungan kesehatan rumah.

  a) Jelaskan pada keluarga untuk mengurangi ketegangan atau emosi yang dapat meningkatkan tekanan darah.

  b) Anjurkan pada keluarga untuk memodifikasi gaya hidup dalam mengatasi hipertensi dengan menggunakan sumber-sumber yang ada dalam keluarga.

  5. Keluarga mampu menggunakan fasilitas kesehatan yang ada.

  a) Jelaskan pada keluarga tentang pentingnya memeriksakan diri pasien hipertensi yang disertai nyeri kepala, berdebar-debar, dan sesak nafas.

  b) Anjurkan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan secara teratur untuk memonitor tekanan darah.

  : Gangguan pola tidur pada keluarga Ibu M khususnya Ibu M berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.

c. Diagnosa 3

  

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 7x

pertemuan gangguan pola tidur dapat teratasi.

  c) Beri reinforcement positif atas jawaban yang benar.

  b) Evaluasi kembali penjelasan yang telah diberikan.

  a) Diskusikan dengan keluarga tentang akibat gangguan pola istirahat.

  b) Beri motivasi keluarga untuk menerangkan kembali penjelasan yang telah diberikan.

  a) Diskusikan dengan keluarga tentang pengertian, penyebab, tanda, dan gejala gangguan pola istirahat.

  Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan.

  Intervensi : 1.

  e) Keluarga mampu menggunakan fasilitas kesehatan yang ada.

  d) Keluarga mampu memodifikasi lingkungan.

  c) Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang sakit.

  b) Keluarga mampu mengambil keputusan yang tepat.

  a) Keluarga mampu mengenal masalah kesehatan.

  Kriteria Hasil :

c) Beri reinforcement positif atas jawaban keluarga yang benar.

2. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat.

3. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.

  a) Diskusikan dengan keluarga tentang cara merawat dan pencegahan gangguan istirahat.

b) Evaluasi kebali penjelasan yang telah diberikan.

  c) Berikan reinforcement positif atas keberhasilan keluarga menjawab dengan benar.

4. Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan.

  a) Diskusikan dengan keluarga tentang kondisi lingkungan yang harus dijaga.

  b) Beri motivasi keluarga untuk menerangkan kembali penjelasan yang sudah diberikan.

c) Berikan reinforcement positif atas keberhasilan jawaban yang benar.

5. Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.

  a) Diskusikan dengan keluarga tentang manfaat mengunjungi pelayanan kesehatan serta sarankan keluarga untuk pergi ke pelayanan kesehatan.

b) Evaluasi tentang manfaat mengunjungi pelayanan kesehatan.

  c) Berikan reinforcement positif atas tindakan keluarga yang sudah tepat dan benar.

d. Diagnosa 4 : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan

  ketidakmampuan keluarga dalam mengenal anggota keluarga dengan masalah hipertensi.

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 7x pertemuan intoleransi aktifitas dapat teratasi.

  Kriteria Hasil :

  a) Keluarga mampu mengenal masalah hipertensi.

  b) Keluarga mampu mengatasi masalah dengan hipertensi.

  c) Keluarga mampu merawat anggota keluarga dengan masalah hipertensi.

  d) Keluarga mampu memodifikasi lingkungan untuk anggota keluarga dengan masalah hipertensi.

  e) Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada.

  Intervensi :

  1. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah hipertensi

  a) Jelaskan pada keluarga tentang pengertian istirahat

  b) Motivasi keluarga untuk mengulang pengertian istirahat

  c) Beri pujian atas jawaban yang benar

  2. Ketidakmampuan keluarga dalam mengatasi masalah hipertensi

  a) Motivasi keluarga dalam mengambil keputusan untuk mengatasi intileransi aktivitas. b) Berikan pujian atas jawaban yang benar.

  3. Ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan masalah hipertensi.

  a) Diskusikan dengan keluarga cara perawatan anggota keluarga dengan intioleransi aktivitas.

  b) Evaluasi kembali penjelasan yang telah disampaikan

  c) Berikan pujian atas jawaban yang benar

  4. Ketidakmampuann keluarga memodifikasi lingkungan untuk anggota keluarga dengan masalah hipertensi.

  a) Diskusikan dengan keluarga bagaimana lingkungan yang sehat

  b) Motivasi keluarga untuk menjaga pola makan

  c) Evaluasi kembali penjelasan yang telah disampaikan

  d) Berikan pujian atas jawaban yang benar 5. Ketidakmampuan keluarga dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan.

  a) Diskusikan dengan keluarga tempat pelayanan kesehatan yang ada

  b) Diskusikan dengan keluarga tentang manfaat pelayanan kesehatan dan dating bila ada anggota keluarga yang sakit c) Evaluasi kembali tentang manfaat pelayanan kesehatan yang ada.

9. Evaluasi yang diharapkan a.

  Keluarga mengetahui dan memahami tentang : 1)

  Pengertian hipertensi 2)

  Penyebab serta tanda dan gejala penyakit 3)

  Bagaimana cara pencegahan hipertensi 4)

  Bagaimana cara perawatan hipertensi 5)

  Apa komplikasi dari hipertensi b. Keluarga dapat menentukan tindakan yang tepat yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakitnya.

  c.

  Keluarga mencapai pemahaman terhadap perawatan / cara merawat anggota keluarga yang sakit.

  d.

  Keluarga dapat memodifikasi lingkungan dengan sehat.

  e.

  Keluarga dapat mengenal, termotifasi serta akan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada dimasyarakat.

Dokumen baru

Download (32 Halaman)
Gratis

Tags