ANALISIS JURNAL PENGARUH VALUE FOR MONEY

Gratis

0
0
19
1 year ago
Preview
Full text

  

ANALISIS JURNAL

PENGARUH VALUE FOR MONEY TERHADAP KUALITAS

PELAYANAN PUBLIK

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

  

”AKUNTANSI KESEHATAN”

Disusun Oleh:

Gusti Kanzania Finansi

  

1610912420007

Universitas Lambung Mangkurat

Fakultas Kedokteran

Program Studi Kesehatan Masyarakat Alih Jenjang

  

Banjarbaru

2016

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan pembangunan di Indonesia saat ini sangat cepat dikarenakan Indonesia adalah negara yang sedang berkembang dengan pesat. Upaya

  pemerintah dilakukan berdasarkan pola umum pembangunan jangka panjang yang telah mencapai kemajuan yang cukup memuaskan, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan umum masyarakat. Namun setelah krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998, kondisi perekonomian kita menurun dengan drastis. Hal ini membawa dampak yang buruk bagi kondisi di Indonesia sehingga menimbulkan gejolak ekonomi yang berkepanjangan dan kecemburuan sosial.

  Pembangunan yang dilaksanakan secara menyeluruh dan berkesinambungan tentunya memerlukan dana yang cukup besar, yang selanjutnya akan dialokasikan pada berbagai bidang perekonomian yang bertujuan untuk menciptakan iklim yang sehat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan keuangan negara maupun daerah di dalam organisasi publik yang tepat agar mencapai sasaran yang diinginkan dengan disertai perhatian pada segi- segi efisiensi dan efektif.

  Keefesiensi dan keefektifan di segala bidang kehidupan bernegara dan bermasyarakat, telah memunculkan aspirasi dan tuntutan baru masyarakat untuk berperan aktif dan terlibat dalam mewujudkan kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik. Dalam konteks pembangunan daerah, keinginan untuk meningkatkan peran serta masyarakat daerah ditunjukan dengan adanya keinginan pergeseran dari peranan pemerintah pusat ke pemerintah daerah dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah untuk menciptakan kemandirian daerah yang lebih besar, serta keinginan untuk diberikan keadilan pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan daerah sehingga good

  governance menjadi kunci utama sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja organisasi melalui mekanisme pemantauan kinerja manajemen dan juga sebagai upaya untuk memperkuat dan mempertegas pertanggungjawaban pimpinan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan organisasi.

  Untuk dapat mencapai good governance maka salah satu hal yang harus dipenuhi adalah adanya transparansi / keterbukaan dan akuntabilitas dalam berbagai aktivitas. Dalam rangka itu diperlukan pengembangan dan penerapan sistem pertanggungjawaban yang tepat, jelas dan nyata sehingga penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan dapat berlangsung secara berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab, serta bebas dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.

  Proses penyelenggaraan pemerintah di daerah yang good governance didasarkan pada prinsip sebagai berikut: a. Desentralisasi adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah b. Demokratisasi adalah kebebasan terhadap aspirasi dan kepentingan rakyat

  c. Tranparansi adalah keterbukaan dalam proses perencanaan, penyusunan dan pelaksanaan anggaran daerah d. Akuntabilitas adalah prinsip pertanggungjawaban publik yang berarti bahwa proses penganggaran mulai dari perencanaan, penyusunan dan pelaksanaan harus benarbenar dapat dilaporkan dan dipertanggungjawabkan. Pada umumnya, pemerintah menganggap bahwa akuntabilitas publik (public accountability) merupakan prasayarat penting untuk dapat menciptakan efisiensi produksi dan pelayanan jasa public. Salah satu upaya untuk menilai akuntabilitas yang merupakan bagian dari prinsip good governance adalah dengan dilakukannya reformasi anggaran sektor publik.

  Anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kerja yang hendak dicapai pada periode tertentu yang dinyatakan dalam ukuran finansial. Penganggaran sektor publik berkait dengan proses penentuan jumlah alokasi dana untuk tiap-tiap program dan aktivitas dalam satuan moneter. Prosesnya dimulai ketika perumusan strategi dan perencanaan strategi telah selesai dilakukan. Aspek-aspek yang harus tercakup dalam anggaran sektor publik antara lain aspek perencanan, aspek pengendalian dan aspek akuntabilitas. Anggaran sektor publik dibuat untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menentukan tingkat kebutuhan masyarakat terjamin secara layak.

  Selama ini pengukuran akuntabilitas instansi pemerintah dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sulit dilakukan secara objektif karena belum tersedianya suatu system pengukuran yang menginformasikan tentang tingkat keberhasilan saat organisasi serta masih adanya anggapan bahwa keberhasilan kinerja suatu instansi pemerintah tergantung dari kemampuan instansi tersebut menyerap anggaran tanpa mengukur hasil maupun dampak yang dicapai dari pelaksanaan program.

  Salah satu upaya yang harus dilakukan yaitu dengan diterapkannya value

  

for money Salah satu upaya yang harus dilakukan yaitu dengan diterapkannya

value for money dalam rangka menjalankan aktivitas dalam pelayanan publik.

Value for money adalah konsep pencairan dana penggunaan dan pemerintah

  daerah yang menetapkan prinsip 3E artinya, pemerintah daerah harus selalu memperhatikan tiap sen / rupiah dana (uang) yang diperoleh dan dipergunakan (http://www.yahoo.com)

  Dengan demikian value for money berarti diterapkannya tiga prinsip dalam proses pengelolaan organisasi yaitu ekonomi, efisiensi dan efektivitas. Ekonomi berkaitan dengan pemilihan dan penggunaan sumber daya dalam jumlah dan kualitas tertentu pada harga yang paling murah. Efisiensi berarti bahwa penggunaan dana masyarakat (public money) tersebut dapat menghasilkan output yang maksimal (berdaya guna). Efektivitas berarti bahwa penggunaan anggaran tersebut harus mencapai target-target yang bertujuan untuk kepentingan publik. Sektor publik dinilai sebagai sarang inefisiensi, pemborosan, sumber kebocoran dana, institusi yang selalu merugi. Tuntutan baru muncul agar organisasi sektor publik memperhatikan value for money. Melalui value for money diharapkan instansi pemerintah dapat mengetahui, mengukur dan mengevaluasi kinerja dalam suatu periode tertentu dan minimalisir inefisiensi, pemborosan, kebocoran dana. Citra buruk yang masih melekat pada sebagian besar pelayanan publik di Indonesia salah satunya disebabkan masih kurangnya profesionalisme petugas pada organisasi pelayanan.

  Kenyataan ini menyadarkan kita semua akan perlunya perhatian khususnya pada peran petugas langsung dalam pelayanan publik (Indra Bastian,2001). Dengan value for money, organisasi sektor publik diharapkan dapat memberikan pelayanan yang berkualitas. Dimana pelayanan publik di organisasi sektor publik jika ditelaah memiliki beberapa permasalahan mendasar. Pertama, rendahnya kualitas produk layanan. Kedua, rendahnya kualitas penyelenggaraan layanan. Ketiga, ketiadaan akses bagi kelompok rentan, penyandang cacat dan komunitas adat terpencil. Keempat, ketiadaan mekanisme komplain dan penyelesaian sengketa. Kelima ketiadaan ruang partisipasi publik dalam menyelenggarakan pelayanan (http://www.Ekonomirakyat.Org).

  Instansi pemerintah yang bergerak dibidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat salah satunya adalah Puskesmas. Puskesmas merupakan sarana pelayanan kepada masyarakat (publik) dari Pemerintah khususnya Kota Bandung melalui Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam bidang pembangunan kesehatan dan perbaikan kesehatan masyarakat dengan tugas sebagai berikut:

  1. Menyediakan pelayanan kesehatan yang dapat didistribusikan kepada masyarakat,

  2. Mengatur, mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan pelayanan kesehatan,

  3. Mengembangkan partisipasi masyarakat dalam menyelenggarakan dan membiayai usaha-usaha kesehatan tanpa melupakan fungsi sosial,

  4. Pengaturan aset-aset pemerintah yang berhubungan dengan tugas-tugas rutin administrasi pemerintah dan usaha-usaha pembangunan disektor kesehatan,

  5. Pengawasan pelaksanaan tugas-tugas rutin adminitrasi pemerintah dan usaha-usaha pembangunan disektor kesehatan yang berada dibawah kebijakan umum peraturanperaturan yang berlaku.

  Dalam aktivitasnya Puskesmas memperoleh dana dari APBD Pemerintah Kota Bandung dimana setiap kegiatan pelayanan kesehatan didanai oleh pemerintah kota dan kabupaten setempat sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI

  

Nomor 1457/MENKES/SK/X/2003 tentang Standar Pelayanan Kesehatan

  minimal dikabupaten / kota adalah sebagai berikut:

  1. Sumber pembiayaan pelaksanaan pelayanan kesehatan untuk pencapaian target sesuai Standar

  2. Pelayanan Minimal seluruhnya dibebankan pada APBD. Puskesmas Pasirkaliki memiliki masalah dengan kualitas pelayanan publik dimana akhir-akhir ini timbul permasalahan dalam masyarakat mengenai rendahnya kualitas pelayanan dari pemerintah yang diberikan kepada masyarakat. Kondisi ini terjadi pada hampir semua tingkat unsur pelayanan, mulai pada tingkat petugas pelayanan (front line) sampai dengan tingkat penanggung jawab instansi.

  Respon terhadap berbagai keluhan, aspirasi maupun harapan masyarakat sering terlambat / bahkan diabaikan sama sekali. Berbagai informasi yang seharusnya disampaikan kepada masyarakat, lambat / bahkan tidak sampai kepada masyarakat.

  Berbagai unit pelaksanaan pelayanan terletak jauh dari jangkauan masyarakat, sehingga menyulitkan bagi mereka yang memerlukan pelayanan tersebut. Berbagai unit pelayanan yang berkait satu dengan lainnya sangat kurang berkoordinasi. Akibatnya, sering terjadi tumpah tindih ataupun pertentangan kebijakan antara satu instansi pelayanan dengan instansi pelayanan lain yang terkait. Kurang mau mendengar keluhan / saran / aspirasi masyarakat pada umumnya aparat pelayanan kurang memiliki kemaunan untuk mendengar keluhan / saran / aspirasi dari masyarakat. Akibatnya, pelayanan dilaksanakan dengan apa adanya, tanpa ada perbaikan dari waktu ke waktu.Pada Puskesmas Pasirkaliki peran value for money sangatlah dibutuhkan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya pemborosan-pemborosan biaya dalam suatu anggaran yang akan mengakibatkan terjadinya suatu realisasi yang melebihi target anggaran. Hal ini dapat diakibatkan oleh kurangnya pengendalian dari setiap unit kerja pada saat menentukan program anggaran. Selain itu, dana pengeluaran- pengeluaran diluar target yang sudah ditetapkan sebelumnya mengakibatkan realisasi yang melebihi target. Penerimaan yang diperoleh Puskesmas Pasirkaliki merupakan input bagi seluruh aktivitas yang akan dilakukan, apabila tidak mencapai target sehingga dalam menghasilkan outputnya tidak akan efektif dan efisien karena harus dilakukan penekanan atas seluruh biaya yang akan dilakukan sehingga tidak terjadi pemborosan. Hal tersebut juga dapat disebabkan oleh tidak adanya value for money dalam setiap kegiatan yang dilakukan sehingga keefektifan kerjanya menjadi kurang optimal.

  Untuk itu puskesmas perlu mengambil langkah untuk mengurangi dampak negatif dari masalah ini. Agar puskesmas memiliki kualitas pelayanan yang berkualitas, maka diperlukan value for money yang didukung konsep ekonomi, efisiensi dan efektivitas. Ekonomi berkaitan dengan pemilihan dan penggunaan sumber daya dalam jumlah dan kualitas tertentu pada harga yang paling murah. Efisiensi berarti bahwa penggunaan dana masyarakat (public money) tersebut dapat menghasilkan output yang maksimal (berdaya guna). Efektivitas berarti bahwa penggunaan anggaran / pengelolaan organisasi tersebut harus mencapai target yang diinginkan untuk kepentingan publik.

  Dengan memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat merupakan tugas terpenting bagi organisasi pemerintah adalah dalam rangka mengatur mekanisme dan prosedur dalam memberikan pelayanan kepada publik, sehingga berbagai kepentingan dan kebutuhan tidak saling bertentangan yang pada gilirannya merugikan semua pihak. Untuk itu birokasi pemerintah yang professional, efektif, efisien merupakan hal yang menjadi idaman masyarakat.Berdasarkan uraian di atas, maka penulis melakukan penelitian yaitu dengan judul: “Pengaruh Value For Money Terhadap Kualitas Pelayanan

  Publik”.

B. Tujuan

  Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menganalisis jurnal tentang pengaruh value for money terhadap kualitas Pelayanan publik .

BAB II PEMBAHASAN A. Akuntansi Kesehatan

1. Pengertian

  Akuntansi adalah:

  a. Pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian mengenai informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajak dan pembuat keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di dalam perusahaan, organisasi, dan lembaga pemerintah.

  b. Akuntansi adalah: seni dalam mengukur, berkomunikasi dan menginterpretasikan aktivitas keuangan.

  c. Secara luas, akuntansi juga dikenal sebagai "bahasa bisnis" (Meigs dan Meigs, 1970, hlm. 1)

  d. Sebagai alat untuk menyampaikan informasi keuangan kepada user

  e. Akuntansi adl bahasa bisnis (Hongren, dkk., 2006) untuk menyampaikan informasi keuangan kepada user. Semakin baik kita mengerti bahasa tersebut, maka semakin baik pula keputusan kita, dan semakin baik kita dalam mengelola keuangan f. Akuntansi adl bidang dinamis pd setiap jantung bisnis.

  g. Akuntan modern adl penyelesai masalah & konsultan bisnis, & sering meningkat menjadi manajer puncak (Miller dkk., Univ Iowa.)

  (Bandi, Dr., M.Si., Ak. 2010)

  Pengertian akuntansi dapat dijelaskan melalui dua pendekatan yaitu dari segi proses dan dari segi fungsinya. Dilihat dari segi prosesnya, akuntansi adalah suatu keterampilan dalam mencatat, menggolongkan dan meringkas transaksi-transaksi keuangan yang dilakukan oleh suatu lembaga atau perusahaan serta melaporkan hasil-hasilnya di dalam suatu laporan yang disebut sebagai laporan keuangan.

  Dilihat dari segi fungsinya, akuntansi merupakan suatu kegiatan jasa yang berfungsi menyajikan informasi kuantitatif terutama yang bersifat keuangan, dari suatu lembaga atau perusahaan yang diharapkan dapat digunakan sebagai dasar dalam mengambil keputusan-keputusan ekonomi di antara berbagai alternatif tindakan.

  Berdasarkan kedua pengertian akuntansi sebagaimana di atas, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi akuntansi pada dasarnya adalah untuk memberikan informasi kuantitatif mengenai kesatuan-kesatuan ekonomi terutama yang bersifat keuangan yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan.

  2. Siklus akuntansi adalah sebagai berikut: a. Pencatatan Data ke dalam dokumen sumber/bukti transaksi.

  b. Penjurnalan, yaitu menganalisis dan mencatat transaksi dalam jurnal (buku harian)

  c. Melakukan posting ke Buku Besar yaitu memindahkan debet dan kredit dari jurnal ke akun Buku Besar.

  d. Penyusunan Neraca Saldo yaitu menyiapkan Neraca Saldo unttuk mengecek keseimbangan Buku Besar.

  e. Membuat ayat jurnal penyesuaian dan memasukkan jumlahya pada Neraca Saldo.

  f. Membuat ayat-ayat penutup yaitu menjurnal dan memindahbukukan ayat-ayat penutup.

  g. Penyusunan Laporan Keuangan yaitu Laporan Rugi Laba, Laporan h. Perubahan Modal dan Neraca (akuntansi komersial). (Menteri Keuangan. 2014)

  3. Tujuan Akuntansi

  Untuk menyiapkan laporan keuangan yang akurat agar dapat dimanfaatkan oleh para manajer, pengambil kebijakan, dan pihak berkepentingan lainnya, seperti pemegang saham, kreditur, atau pemilik.

  Pencatatan harian yang terlibat dalam proses ini dikenal dengan istilah pembukuan .

  Lap keu perusahaan terdiri empat jenis laporan: neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, dan laporan arus kas.

  4. Praktisi akuntansi dikenal sebagai akuntan (Bandi, Dr., M.Si., Ak. 2010)

  5. Bidang-bidang akuntansi:

  a. Akuntansi Keuangan

  b. Auditing (sisi lain Akti keu)

  c. Akuntansi Manajemen

  d. Akuntansi Sektor public

  e. Akuntansi Perpajakan/ Pemerintahan (Bandi, Dr., M.Si., Ak. 2010)

B. PUSKESMAS

  1. Pengrtian Puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan

  Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja (Kepmenkes RI No. 128/Menkes/SK/II/2004). (Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2013)

  Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja

  Unit Pelaksana Teknis. Sebagai unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (UPTD), puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis operasional Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia.

  2. Pembangunan Kesehatan Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

  3. Penanggungjawab Penyelenggaraan Penanggungjawab utama penyelenggaraan seluruh upaya pembangunan kesehatan di wilayah kabupaten/kota adalah Dinas

  Kesehatan Kabupaten/Kota, sedangkan puskesmas bertanggungjawab hanya sebagian upaya pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota sesuai dengan kemampuannya.

  4. Wilayah Kerja Secara nasional, standar wilayah kerja puskesmas adalah satu kecamatan, tetapi apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari dari satu puskesmas, maka tanggungjawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas, dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah (desa/kelurahan atau RW). Masing-masing puskesmas tersebut secara operasional bertanggungjawab langsung kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

  (Menteri kesehatan republik indonesia. 2004)

  5. Variabel pendapatan keluarga berpengaruh signifikan dan negatif terhadap variabel frekuensi kunjungan terhadap Puskesmas. (Yuli Eko Sarwono Drs. Bagio Mudakir, MT. 2012)

C. Value For Money

  1. Pengertian Value For Money

  Value for money merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor

  publik yang mendasarkan pada tiga elemen utama, yaitu : pertama,ekonomi, merupakanperbandingan input dengan input value yang dinyatakan dalam satuan moneter.Ekonomi terkait dengan sejauh mana organisasi sektor publik dapat meminimalisirinput resources yang digunakan yaitu dengan menghindari pengeluaran yang boros dan tidak produktif; kedua,efisiensi, merupakan perbandingan output atau input yang dikaitkan dengan standar kinerja atau target yang telah ditetapkan; ketiga, efektivitas, tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan. Secara sederhana efektivitas merupakan perbandingan outcome dengan output (Mardiasmo, 2002).

  Menurut Anggadini (2012) value for money adalah konsep pencairan danapenggunaan dan Pemerintah Daerah yang menetapkan prinsip ekonomi, efisiensi danefektivitas, artinya pemerintah daerah harus selalu memperhatikan setiap sen/rupiah(uang) yang diperoleh dan dipergunakan. Value for money diterapkan tiga prinsipdalam proses pengelolaan organisasi yaitu ekonomi, efisiensi dan efektivitas.

  2. Tolak ukur dalam anggaran belanja suatu organisasi, baik organisasi yang berorientasi laba (swasta) maupun organisasi nonprofit (sektor publik) adalah value for money yang meliputi penilaian efisiensi, efektivitas, dan ekonomi. Dimana pengertian dari masing-masing elemen tersebut adalah : a. Efisiensi adalah hubungan antara input dan output dimana barang dan jasa yang dibeli oleh organisasi digunakan untuk mencapai output tertentu. Atau dengan kata lain efisiensi merupakan perbandingan

  output/input yang dikaitkan dengan standar kinerja atau target yang

  telah ditetapkan (Bastian, 2006). Efisiensi merupakan hal terpenting di antara ketiga hal tersebut.

  b. Efektivitas adalah hubungan antara output dan tujuan, dimana efektivitas diukur berdasarkan seberapa jauh tingkat output, kebijakan, dan prosedur organisasi mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Secara sederhana, efektivitas merupakan perbandingan outcome dengan

  output.

  c. Ekonomi adalah hubungan antara pasar dan input dimana barang dan jasa dibeli pada kualitas yang diinginkan pada harga terbaik yang dimungkinkan. d. Ekonomi terkait dengan sejauh mana organisasi sektor publik dapat meminimalisir input resources yang digunakan yaitu dengan menghindari pengeluaran yang boros dan tidak produktif (Bastian, 2006).

  (KUSWOYO, ENDANG. 2014. )

D. Pelayanan Publik

  1. Pengertian

  Menurut Widodo (2005) pelayanan publik adalah: “pemberian layanan(melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyaikepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan”.Sejalan dengan pendapat tersebut Keputusan MenteriPendayagunaan Aparatur Negara No. 63 Tahun 2003 mendefinisikan:“Segala bentuk pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi dipusat, di daerah dan dilingkungan Badan Usaha Milik Negara(BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam bentukbarang dan jasa baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhanmasyarakat maupun dalam rangka, pelaksanaan peraturanperundang-undangan (Dalam Ratminto, 2006).Pendapat lain mengenai definisi pelayanan publik Kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orangdengan landasan faktor materil melalui sistem, prosedur, dan metode tertentu dalam rangka usaha memenuhi kepentingan oranglain sesuai dengan haknya(Moenir, 1995).

  (KUSWOYO, ENDANG. 2014. )

  2. Kualitas layanan publik

  Kualitas pelayanan atau Service Quality menurut (Parasuraman, 2001) dapat didefenisikan sebagai berikut kualitas layanan yang diharapkan dan dirasakan ditentukan oleh kualitas layanan. Kualitas layanan tersebut terdiri dari 10 daya tanggap, jaminan, fisik bukti, empati, dan kehandalan yang diharapkan sangat dipengaruhi oleh berbagai persepsi komunikasi dari mulut ke mulut, kebutuhan pribadi, persepsi inilah yang memengaruhi pelayanan yang diharapkan EP = Exspectation

  dan dan pelayanan yang dirasakan Pp = Perception yang membentuk adanya konsep kualitas layanan.

  (KUSWOYO, ENDANG. 2014. )

E. Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dirumuskan sebelumnya, penulis

  menarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Dari penelitian yang dilakukan untuk value for money pada Puskesmas Pasirkaliki Dinas Kesehatan Kota Bandung dengan mengunakan metode dekriptif maka tanggapan responden terhadap value for money sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh penulis dinyatakan “sangat baik”. Di mana konsep 3E yaitu ekonomi, efisiensi, dan efektivitas dapat meningkatkan efektivitas pelayanan publik, dalam arti pelayanan yang memberikan tepat sasaran, meningkatkan mutu pelayanan publik, dan meningkatkan kesadaran akan uang publik sebagai akar pelaksanaan akuntabilitas publik.

2. Dari penelitian yang dilakukan untuk kualitas pelayanan publik pada

  Puskesmas Pasirkaliki Dinas Kesehatan Kota Bandung mengunakan metode deskriptif maka tanggapan responden terhadap kualitas pelayanan publik sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh penulis dinyatakan “sangat berkualitas”. Dimana pelayanan publik pada Puskesmas Pasirkaliki yaitu Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan, unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggungjawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik, pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan, produk pelayanan publik dapat diterima dengan benar, tepat dan sah, proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum, pimpinan penyelenggaran pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggungjawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik, tersedianya sarana dan prasarana kerja, peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan saran teknologi telekomunikasi dan informasi tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai, mudah dijangkau oleh masyarakat dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan informasi, pemberian pelayanan harus bersikap disiplin, sopan dan santun, ramah serta memberikan pelayanan dengan ikhlas, dan lingkungan pelayanan harus tertib, teratur, disediakan ruang tunggu yang nyaman, bersih, rapi, lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan. 3. Hasil dari perhitungan koefisien determinasi didapat sebesar 78,85 %, artinya value for money memiliki peranan penting dalam terwujudnya kualitas pelayanan publik, apabila

  value for money dapat diterapkan dengan baik maka kualitas pelayanan

  publik dapat terwujud seiring dengan perkembangan value for money itu sendiri, dan begitupun sebaliknya apabila value for money tidak diterapkan dengan baik maka maka kualitas pelayanan publik pun tidak akan maksimal. Sisanya yaitu sebesar 21,15 % (100%-78,85 %) dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang diduga seperti sumber daya manusia yang dimiliki oleh Puskesmas Pasirkaliki belum dapat menerapkan sepenuhnya

  value for money, pemutakhiran teknologi, serta masyarakat yang belum

  tidak memanfaatkan fasilitas yang disediakan. value for money belum dapat diterapkan sepenuhnya sehingga kualitas pelayanan publik pun dirasa kurang maksimal. (Anggadin, Sri Dewi. 2009.)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan B. Dari penelitian yang dilakukan untuk value for money pada Puskesmas Pasirkaliki Dinas Kesehatan Kota Bandung dengan mengunakan metode

  dekriptif maka tanggapan responden terhadap value for money sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh penulis dinyatakan “sangat baik”. Di mana konsep 3E yaitu ekonomi, efisiensi, dan efektivitas dapat meningkatkan efektivitas pelayanan publik, dalam arti pelayanan yang memberikan tepat sasaran, meningkatkan mutu pelayanan publik, dan meningkatkan kesadaran akan uang publik sebagai akar pelaksanaan akuntabilitas publik.

C. Dari penelitian yang dilakukan untuk kualitas pelayanan publik pada

  Puskesmas Pasirkaliki Dinas Kesehatan Kota Bandung mengunakan metode deskriptif maka tanggapan responden terhadap kualitas pelayanan publik sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh penulis dinyatakan “sangat berkualitas”. Dimana pelayanan publik pada Puskesmas Pasirkaliki yaitu Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan, unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggungjawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik, pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan, produk pelayanan publik dapat diterima dengan benar, tepat dan sah, proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum, pimpinan penyelenggaran pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggungjawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik, tersedianya sarana dan prasarana kerja, peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan saran teknologi telekomunikasi dan informasi tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai, mudah dijangkau oleh masyarakat dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan informasi, pemberian pelayanan harus bersikap disiplin, sopan dan santun, ramah serta memberikan pelayanan dengan ikhlas, dan lingkungan pelayanan harus tertib, teratur, disediakan ruang tunggu yang nyaman, bersih, rapi, lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan. 3. Hasil dari perhitungan koefisien determinasi didapat sebesar 78,85 %, artinya value for money memiliki peranan penting dalam terwujudnya kualitas pelayanan publik, apabila

  value for money dapat diterapkan dengan baik maka kualitas pelayanan

  publik dapat terwujud seiring dengan perkembangan value for money itu sendiri, dan begitupun sebaliknya apabila value for money tidak diterapkan dengan baik maka maka kualitas pelayanan publik pun tidak akan maksimal. Sisanya yaitu sebesar 21,15 % (100%-78,85 %) dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang diduga seperti sumber daya manusia yang dimiliki oleh Puskesmas Pasirkaliki belum dapat menerapkan sepenuhnya

  value for money, pemutakhiran teknologi, serta masyarakat yang belum

  tidak memanfaatkan fasilitas yang disediakan. value for money belum dapat diterapkan sepenuhnya sehingga kualitas pelayanan publik pun dirasa kurang maksimal.

D. Saran

  Sebagai penyusun, saya merasa masih ada kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Oleh karena itu, saya mohon kritik dan saran dari pembaca. Agar saya dapat memperbaiki makalah yang selanjutnya. Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

  Anggadin, Sri Dewi. 2009. PENGARUH VALUE FOR MONEY TERHADAP

  KUALITAS PELAYANAN PUBLIK. Bandung. Universitas Komputer

  Indonesia. Diakses pada tanggal 21 November 2016.

  Bandi, Dr., M.Si., Ak. 2010. Seminar Akuntansi. Surakarta. Universitas Sebelas Maret. iakses pada tanggal 21 November 2016.

  KUSWOYO, ENDANG. 2014. ANALISIS VALUE FOR MONEY DALAM

  MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN PUBLIK PADA KONI PROVINSI BENGKULU (Studi Kasus Pada Program Upaya Pembinaan Atlet). Bengkulu. UNIVERSITAS BENGKULU.

   Diakses pada tanggal 21 november 2016.

  Menteri kesehatan republik indonesia. 2004. Keputusan menteri kesehatan

  republik Indonesia Nomor 128/menkes/sk/ii/2004 Tentang Kebijakan dasar pusat kesehatan masyarakat. Jakarta. Kementerian kesehatan

  republik indonesia.

   Diakses pada tanggal 21 november 2016.

  Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2013. DATA DASAR PUSKESMAS.

JAKARTA. KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA.

   Diakses pada tanggal 21 November 2016. Menteri Keuangan Republik Idonesia. 2014. MODUL GAMBARAN UMUM

  AKUNTANSI BERBASIS AKRUAL. Jakarta. Kementerian Keuangan

  Republik Indonesia. Diakses pada tanggal 21 November 2016.

  Yuli Eko Sarwono Drs. Bagio Mudakir, MT. 2012. ANALISIS PERMINTAAN

  MASYARAKAT AKAN PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT (PUSKESMAS) DI KOTA SEMARANG. SEMARANG. Universitas

  Diponegoro. Diakses pada tanggal 21 November 2016.

Dokumen baru

Download (19 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

PENGARUH PEMBERIAN SEDUHAN BIJI PEPAYA (Carica Papaya L) TERHADAP PENURUNAN BERAT BADAN PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus strain wistar) YANG DIBERI DIET TINGGI LEMAK
22
184
21
ANALISIS KOMPARATIF PENDAPATAN DAN EFISIENSI ANTARA BERAS POLES MEDIUM DENGAN BERAS POLES SUPER DI UD. PUTRA TEMU REJEKI (Studi Kasus di Desa Belung Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang)
22
204
16
ANALISIS ISI LIRIK LAGU-LAGU BIP DALAM ALBUM TURUN DARI LANGIT
22
184
2
PENGARUH GLOBAL WAR ON TERRORISM TERHADAP KEBIJAKAN INDONESIA DALAM MEMBERANTAS TERORISME
55
245
37
ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN DALAM PROSES PEMBERIAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) (StudiKasusPada PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Oro-Oro Dowo Malang)
159
672
25
ANALISIS PROSPEKTIF SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA PADA PT MUSTIKA RATU Tbk
257
1150
22
PENGARUH PENGGUNAAN BLACKBERRY MESSENGER TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU MAHASISWA DALAM INTERAKSI SOSIAL (Studi Pada Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Angkatan 2008 Universitas Muhammadiyah Malang)
127
496
26
PENGARUH DIMENSI KUALITAS LAYANAN TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN DI CAFE MADAM WANG SECRET GARDEN MALANG
18
113
26
PENGARUH BIG FIVE PERSONALITY TERHADAP SIKAP TENTANG KORUPSI PADA MAHASISWA
10
128
124
PENGARUH PERMAINAN KONSTRUKTIF DALAM MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK TUNARUNGU
9
127
29
PENGARUH SUBSTITUSI AGREGAT HALUS DENGAN PASIR LAUT TERHADAP KUAT TEKAN BETON MENGGUNAKAN SEMEN PCC
5
67
1
ANALISIS PESAN MORAL DALAM CERITA RAKYAT DI KECAMATAN KUTA MALAKA
1
46
1
ANALISIS PROSES PENYUSUNAN PLAN OF ACTION (POA) PADA TINGKAT PUSKESMAS DI KABUPATEN JEMBER TAHUN 2007
5
104
23
ANALISIS STRATEGI PEMASARAN SEPEDA MOTOR HONDA MELALUI PENDEKATAN BOSTON CONSULTING GROUP PADA PT. MPM MOTOR DI JEMBER
7
84
18
ANALISIS YURIDIS PUTUSAN BEBAS TERHADAP ANAK PELAKU TINDAK PIDANA KESUSILAAN DENGAN KORBAN ANAK (Putusan Nomor 24/Pid.Sus/A/2012/PN.Pso)
7
77
16
Show more