Pengelolaan dalam Pelaksanaan RTR Pulau

Gratis

0
0
18
1 year ago
Preview
Full text

  

OSWAR MUNGKASA

DIREKTUR TATA RUANG DAN PERTANAHAN

Disampaikan dalam Sosialisasi Perpres No. 13 Tahun 2012

tentang RTR Pulau Sumatera

  OUTLINE

  • Definisi, Peran dan Fungsi RTR Pulau Sumatera • Koordinasi dan Pengawasan dalam Pelaksanaan RTR Pulau Sumatera • Koordinasi Penataan Ruang Pulau Sumatera • Pendekatan Kerja Sama dalam Penataan Ruang Daerah Pulau Sumatera • Penutup

RTR PULAU SUMATERA

  • Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera adalah rencana rinci wilayah Pulau Sumatera yang disusun sebagai penjabaran dan perangkat operasional dari RTRWN.
  • Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera berperan sebagai perangkat operasional dari RTRWN serta alat koordinasi dan sinkronisasi program pembangunan wilayah Pulau Sumatera dan tidak dapat digunakan sebagai dasar pemberian izin pemanfaatan ruang.
  • RTR Pulau Sumatera berfungsi sebagai pedoman untuk: 1. Penyusunan Rencana Pembangunan di Pulau Sumatera.

  2. Perwujudan keterpaduan, keterkaitan dan keseimbangan perkembangan antarwilayah provinsi dan kabupaten/kota, serta keserasian antarsektor di Pulau Sumatera.

  3. Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di Pulau Sumatera.

  4. Penentuan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi di Pulau Sumatera.

  DEFINISI PERAN FUNGSI

  KOORDINASI DAN PENGAWASAN DALAM PELAKSANAAN RTR PULAU SUMATERA Koordinasi

  Pengawasan

  • Koordinasi penataan ruang Pulau • Pengawasan diselenggarakan Sumatera dilakukan oleh Menteri.

  oleh Pemerintah dan

  pemerintah daerah provinsi

  • Koordinasi antardaerah dalam sesuai dengan kewenangannya.

  rangka penataan ruang Pulau Sumatera dilakukan melalui

  • Pengawasan diselenggarakan

  kerjasama antar provinsi

  melalui kegiatan pemantauan, dan/atau kerjasama antar badan pelaporan dan evaluasi terhadap

  koordinasi penataan ruang kesesuaian pemanfaatan ruang daerah. dengan rencana struktur ruang

  dan rencana pola ruang Pulau Sumatera dalam rangka perwujudan Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera.

  • Kegiatan pemantauan, pelaporan dan evaluasi yang dilaksanakan oleh seluruh Gubernur di Pulau Sumatera
Tugas dan Wewenang dalam TUR,BIN dan WAS terhadap:

  Penataan Ruang

  • LAK PR Wilayah Nasional, Pulau, Provinsi & Kab/Kota
  • LAK PR Kws Strategis Nasional, Provinsi, & Kab/Kota

  NEGARA Psl. 8

  LAK PR wilayah Nasional, Pulau

  WEWENANG

  Ps 7 ayat 1 LAK PR Kws Strategis Nasional

  PEMERINTAH

  Negara menyelenggarakan Kerjasama PR antarnegara & fasilitasi kerja penataan ruang untuk sama antar provinsi sebesar-besarnya Psl 9 (1) kemakmuran rakyat

  Menteri TUR,BIN dan WAS terhadap: Ps 7 ayat 2

  • LAK PR Wilayah , Provinsi & Kab/Kota
  • LAK PR Kws Strategis,Provinsi, Psl 10

  Dalam melaksanakan tugasnya, negara

  WEWENANG LAK PR wilayah Provinsi

  memberikan kewenangan

  PEMERINTAH

  LAK PR Kws Strategis Provinsi penyelenggaraan penataan

  PROVINSI

  ruang kepada Pemerintah Kerjasama PR antar provinsi & fasilitasi kerja dan Pemerintah Daerah. sama antar Provinsi

  TUR = Pengaturan

  TUR,BIN dan WAS terhadap: Psl 11

  • LAK PR Wilayah , Kabupaten/Kota

  BIN = Pembinaan WEWENANG - LAK PR Kws Strategis Kabupaten/Kota

  LAK = Pelaksanaan PEMERINTAH

  LAK PR wilayah Kabupaten/Kota

  WAS = Pengawasan KAB/KOTA

  PR = Penataan Ruang

  LAK PR Kws Strategis Kabupaten/Kota

KOORDINASI PENATAAN RUANG

   Koordinasi penataan ruang di pusat diatur melalui Keppres 4/2009 tentang Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN). Sementara untuk koordinasi di DAERAH diatur melalui Permendagri 50/2009 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah.

   Implikasi dari Permendagri tersebut adalah penetapan BKPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota di masing-masing daerah.

   Sebagai wadah koordinasi penataan ruang nasional dan daerah, BKPRN dan BKPRD memiliki tugas untuk menserasikan dan mensinergikan penyelenggaraan penataan ruang nasional dan daerah.

   Untuk menjamin terselenggaranya penataan ruang di daerah, perlu dilakukan penguatan kelembagaan penataan ruang khususnya guna fasilitasi upaya penyelesaian permasalahan dan upaya peningkatan efektivitas koordinasi penyelenggaraan penataan ruang daerah.

  Kelembagaan Penataan Ruang BKPRN (Pusat) BKPRD (Daerah)

  • Menyiapkan kebijakan

   Sebagai wadah koordinasi penataan ruang di daerah penataan ruang nasional  Menjamin terselenggaranya penataan ruang di daerah

  • Pelaksanaan RTRWN secara

   Menserasikan dan Mensinergikan Penyelenggaraan terpadu Penataan Ruang Nasional dengan Daerah.

  • Penanganan dan penyelesaian

  BKPRD Provinsi BKPRD Kab/Kota masalah tata ruang

   Perencanaan pada  Perencanaan Tata Ruang • Pemaduserasian tata ruang tingkat Provinsi Kab/Kota

  • Pemfasilitasi kerjasama penataan ruang antar provinsi

   Pemanfaatan Ruang  Operasionalisasi Kab/Kota (keterpaduan

  • Sinkronisasi Rencana Umum

    Pemanfaatan Lintas

    pelaksanaan pembangunan) dan Rencana Rinci Tata Ruang Kabupaten dan penge-
  • Peningkatan Kapasitas lolaan Kawasan  Mekanisme Perizinan Kelembagaan penataan ruang

  (investasi) Tertentu  Pengawasan (Monitoring &

   Pengendalian dalam Evaluasi)

bentuk pengawasan

dan penertiban  Penertiban (melalui sanksi)

pemanfaatan ruang

  • UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah

  Keppres 4/2009 tentang BKPRN

  • Permendagri 50/2009 tentang
Mekanisme Koordinasi Penataan Ruang LEMBAGA OPERASIONAL LEMBAGA PENGENDALIAN STRUKTURAL PERENCANAAN PEMANFATAN KOORDINASI

  • Kebijakan Perwujudan Struktur BKPRN PEMERINTAH RTRW Nasional/ RTR Pulau Sumatera

    sbg perangkat operasional RTRWN

    dan Pola Ruang Pulau Sumatera

  • Arahan peraturan zonasi MASY di Pulau Sumatera .
  • Perijinan •Insentif & - Kaw Strategis Nas • Kebijakan Pengemb. Kawasan: Disinsentif Sistranas, Pesisir & Pulau2 Kecil - Kebijakan Spasial Sektor al:
  • Sanksi GUBERNUR RTRW Provinsi • Strategi Perwujudan Struktur Lintas

  BKPRD RTR Kaw Strategis Provinsi • Arah Pengembangan Wilayah/ Kab/Kota zonasi • Arahan peraturan MASY Provinsi Kawasan lintas Kab/Kota • Perijinan

  • Insentif & pembangunan sektor lintas • Pelaksanaan indikasi program Disinsentif BUPATI/ RTRW Kabupaten Kab/Kota
  • Sanksi BKPRD
  • Pengaturan zonasi WALIKOTA RTRW Kota
  • Pembangunan Infrastruktur Kab/Kota
  • Perijinan RTRW Kaw. Strategis
  • Pembangunan Kawasan
  • MASY<>Insentif &amp; Kab/Kota
  • Rencana Program Sektor Disinsentif Ruang Rencana Rinci Tata
  • Sanksi
  • Feasibility Study (FS)/Pre-FS
  • Detailed Engineering Design (DED)
  • Peningkatan Kapasitas BKPRD dalam Agenda Kerja BKPRN 2014-2015

       Dalam Agenda Kerja BKPRN 2014-2015, terdapat beberapa kegiatan guna peningkatan kapasitas BKPRD yaitu : a. Pengembangan sistem informasi tata ruang nasional diantaranya melalui pengembangan e-BKPRN dan e-BKPRD

      b. Penyusunan Pedoman tentang Tata Cara Penyusunan SOP BKPRD

      c. Sosialisasi kebijakan Kajian Lingkungan Hidup Srategis (KLHS) dalam forum BKPRN dan BKPRD

      d. Penguatan peran BKPRD dalam identifikasi inkonsistensi penegakan hukum penataan ruang:

      1. Penguatan Kapasitas Teknis Aparatur BKPRD Tahun 2014

      2. Sosialisasi Peraturan Perundang-Undangan di bidang penataan ruang

    e. Evaluasi kinerja BKPRD dalam pengendalian pemanfaatan ruang:

      1. Penyusunan pedoman penilaian BKPRD yang efektif

      2. Penilaian kinerja dan pemberian penghargaan (reward) atas kinerja BKPRD

    PENDEKATAN KERJASAMA DAERAH

    • Kerjasama antardaerah menjadi salah satu

      pendekatan utama dalam penataan ruang

      wilayah/kawasan serta pengelolaan lingkungan hidup yang meliputi lebih dari satu wilayah administrasi.

    • Kerjasama antardaerah dapat dilakukan dalam upaya menyelesaikan konflik yang bersifat

      lintas batas dan/atau persoalan yang sulit

      untuk ditanggulangi sendiri, misalnya dalam persoalan prasarana wilayah.

    • Kerjasama antardaerah dalam penataan ruang merupakan salah satu alat untuk meningkatkan keseimbangan dan keserasian perkembangan

      antar wilayah dan sektor serta berperan dalam mewujudkan efisiensi pemanfaatan ruang.

      Kerjasama Antardaerah

    • Hubungan kerja antara pemerintah pusat dengan daerah (vertical) dan Hubungan kerja lembaga- lembaga sederajat (horizontal) terbagi dalam 5 jenis, yaitu:

       Hubungan Pembagian Kekuasaan;  Keuangan;  Pelayanan Umum;  Pemanfaatan SDA; dan  Pengawasan.

      Sumber: UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah

      

    Kerjasama Antardaerah

    Psl. 195

      1. Daerah dapat mengadakan kerjasama dengan

    daerah lain.

      Kerjasama Antar

      2. Bentuk Daerah

       badan kerjasama antar daerah yang diatur dengan keputusan bersama.

      3. Daerah dapat bekerja sama dengan pihak ketiga.

      4. Kerjasama yang membebani masyarakat dan daerah harus mendapatkan persetujuan DPRD.

    Pasal 195 Psl. 196

    1. Urusan pemerintahan yang mengakibatkan dampak lintas daerah dikelola bersama oleh daerah terkait.

      2. Untuk efisiensi pelayanan publik daerah wajib mengelola secara bersama dengan daerah

    Pasal 199. 1c dan

      sekitarnya

      5 Pasal 196

    3. Untuk pengelolaan, daerah membentuk badan kerja sama.

      Psl. 199 Dalam bidang penataan ruang dan penyediaan fasilitas pelayanan umum tertentu pada dua daerah yang

      Pengelolaan berbatasan langsung dan memiliki ciri perkotaan

      Kerjasama dikelola bersama oleh daerah terkait.

      

    Bentuk Kerja Sama

      Bentuk dan mekanisme kerjasama daerah, antara lain:

      1. Kerjasama antardaerah yang berdekatan

      Sifat: wajib dilaksanakan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat;

      2. Kerjasama antardaerah yang tidak berdekatan

      Sifat: berdasarkan kebutuhan dan dilakukan dalam rangka pengembangan potensi dan komoditas unggulan dari masing-masing daerah yang bekerjasama;

      3. Kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan pihak ketiga, berbentuk:

      a) Kerjasama Pemerintah Daerah dengan pihak swasta,

      b) Kerjasama Pemerintah Daerah dengan BUMN/BUMD,

      c) Kerjasama Pemerintah Daerah dengan LSM/Masyarakat,

      d) Kerjasama Pemerintah Daerah dengan Pihak Luar Negeri, dan

      e) Kerjasama Antar Negara (pemerintah) khususnya di wilayah perbatasan wilayah negara.

       Gubernur,  Bupati,  Walikota, dan  Pihak ketiga.

      Kerjasama Antardaerah ...(2) Sumber: PP 50/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerja Sama Daerah dan

      Seluruh urusan Pemerintahan Daerah yang telah menjadi kewenangan daerah otonom, aset daerah,potensi daerah, dan penyediaan pelayanan umum, meliputi :

      Subjek Objek

    • Sosial budaya;
    • Sosial ekonomi;
    • Tata ruang dan lingkungan hidup; dan • Sarana dan prasarana.

       Sesuai PP No. 50 Tahun 2007, kepala daerah dapat membentuk badan kerjasama yang memiliki tugas, antara lain:

       Bentuk lembaga kerjasama antar daerah ditentukan oleh tuntutan

    kebutuhan dan kesepakatan antar daerah yang bekerjasama dan

    dituangkan dalam perjanjian kerjasama.

    • Membantu melakukan pengelolaan, monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan kerjasama;
    • Memberikan masukan dan saran kepada kepala daerah masing-masing mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan apabila ada permasalahan; • Melaporkan pelaksanaan tugas kepada kepala daerah masing-masing.

       Badan kerjasama lebih memiliki fungsi teknis yang bersifat profesional, yaitu menyiapkan bahan koordinasi teknis antar daerah yang bekerjasama berupa beberapa rancangan perencanaan.

      

    Kerjasama Antardaerah ...(3) Sumber: PP 50/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerja Sama Daerah dan Kerjasama Pemerintah-Swasta (KPS)  Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) merupakan Kerjasama

    antara Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan

    Infrastruktur, yang dilaksanakan melalui:

       Perjanjian Kerjasama; atau  Izin Pengusahaan.

       Dalam pelaksanaan kerjasama dengan Badan Usaha, yang bertindak

    selaku Penanggung Jawab Proyek Kerjasama adalah Menteri/Kepala

    Lembaga/Kepala Daerah terkait.

       Jenis Infrastruktur yang dapat dikerjasamakan:

       Transportasi;  Jalan;  Pengairan;  Air minum;  Air limbah;

      Sumber : Perpres 13/2012 atas Perubahan Peraturan Presiden No. 67

       Telekomunikasi;

      Tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Kerjasama Pemerintah- Swasta KPS … 2

    • Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah dapat bekerjasama dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur dengan mempertimbangkan paling kurang:

      a. kesesuaian dengan rencana pembangunan jangka menengah nasional/ daerah dan rencana strategis sektor infrastruktur; b. kesesuaian lokasi proyek dengan Rencana Tata Ruang;

      c. keterkaitan antarsektor infrastruktur dan antarwilayah; d. analisa biaya dan manfaat sosial.

      Sumber : Perpres 13/2012 atas Perubahan Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur

    TERIMA KASIH

Dokumen baru

Aktifitas terbaru

Download (18 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

OPTIMASI FORMULASI dan UJI EFEKTIVITAS ANTIOKSIDAN SEDIAAN KRIM EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum sanctum L) dalam BASIS VANISHING CREAM (Emulgator Asam Stearat, TEA, Tween 80, dan Span 20)
93
427
23
Analisis tentang saksi sebagai pertimbangan hakim dalam penjatuhan putusan dan tindak pidana pembunuhan berencana (Studi kasus Perkara No. 40/Pid/B/1988/PN.SAMPANG)
8
81
57
Diskriminasi Perempuan Muslim dalam Implementasi Civil Right Act 1964 di Amerika Serikat
3
37
15
Kekerasan rumah tangga terhadap anak dalam prespektif islam
7
68
74
Kesesuaian konsep islam dalam praktik kerjasama bagi hasil petani desa Tenggulun Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan Jawa Timur
0
79
111
Upaya guru PAI dalam mengembangkan kreativitas siswa pada mata pelajaran pendidikan agama islam Kelas VIII SMP Nusantara Plus Ciputat
39
234
84
Hak atas Kesehatan reproduksi perempuan dalam cedaw dan hukum Islam (studi komparaif)
9
88
110
Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Peningkatan Produktivitas sekolah : penelitian di SMK al-Amanah Serpong
20
207
83
Manajemen Masjid Ibnu Sina Pamulang dalam pengembangan kegiatan dakwah pada anak usia dini
8
138
83
Komunikasi antarpribadi antara guru dan murid dalam memotivasi belajar di Sekolah Dasar Annajah Jakarta
15
78
92
Perspektif hukum Islam terhadap konsep kewarganegaraan Indonesia dalam UU No.12 tahun 2006
12
111
111
Kewenangan LPPOM MUI dalam penentuan sertifikasi halal pasca berlakunya uu no.33 tahun 2014
3
81
0
Konsep kecerdasan ruhani guru dalam pembentukan karakter peserta didik menurut kajian tafsir Qs. 3/Ali-‘Imran: 159
9
94
103
Perancangan Sistem Informasi Pengelolaan Yayasan (Sinpeya) Pada Balai Perguruan Putri (BPP) Pusat Bandung
7
74
187
Penerapan strategi produk dalam upaya meningkatkan penjualan pada CV.Suka Setia Putra Jaya Rancaekek
9
56
47
Show more