DOCRPIJM 2a2f58c397 BAB VBAB 5 Keterpaduan strategi Peng. Kab HSU Bantek RPI2JM 30 10 14

Gratis

0
1
173
1 year ago
Preview
Full text

  

5.1 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Hulu Sungai

Utara

  Pada sub bab ini akan dijelaskan mengenai keterpaduan strategi pengembangan Kabupaten dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Hulu Sungai Utara. Hal ini dimaksukan untuk menyelaraskan agar pengembangan kabupaten sesuai dengan arahan yang ada di Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Hulu Sungai Utara.

5.1.1 Rencana Struktur Ruang

  Rencana struktur ruang Kabupaten Hulu Sungai Utara, meliputi pusat -pusat kegiatan, sistem jaringan prasarana utama dan sistem jaringan prasarana lainnya.

A. Pusat - pusat Kegiatan dan Fungsinya

  1. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Pusat kegiatan wilayah yaitu Kota Amuntai, melayani pusat kegiatan lokal Alabio dan beberapa PPK di sekitarnya seperti Telaga Silaba, termasuk juga PPL yang ada di sebelah timur Amuntai seperti Sungai Tabukan, Banua Hanyar, Banjang, Teluk Daun, Sungai Turak dan Haur Gading.

  2. Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp) Pusat kegiatan lokal promosi berada di Alabio dan Paminggir. PKLp dirancang untuk melayani beberapa pusat pelayanan kawasan seperti Telaga Silaba dan Danau Panggang.

  3. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) 1) Telaga Silaba

  Pusat pelayanan kawasan Telaga Silaba melayani beberapa desa seperti Jinggah Bujur, Palimbangan dan sekitarnya dan bahkan beberapa desa dalam beberapa kabupaten, termasuk daerah sekitarnya.

  2) Danau Panggang Pusat pelayanan kawasan Danau Panggang melayani pusat pengembangan lingkungan, seperti PPL Paminggir, PPL Babirik Hilir, Manarap, Tambalang Raya, Manarap Hulu, Sungai Panangah, Bitin, Baru, Sarang Burung dan Sungai Namang.

  4. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) Pusat–pusat pelayanan lingkungan melayani wilayah sekitar yang terbatas pada sedikit desa. Perkotaan yang menjadi PPL antara lain Babirik Hilir (Desa Murung Kupang, Desa Teluk Limbung, Desa Murung Panti Hilir dan lainnya); Sungai Tabukan (Desa Pasar Sabtu, Desa Sungai Haji, Desa Tambalang Raya, Desa Rantau Bujur Hilir serta semua desa di Sungai Tabukan); Banua Hanyar (Desa Rukam Hulu, Rukam Hilir dan semua desa di Banua Hanyar), Banjang (Desa Baruh Tabing, Desa Teluk Sarikat serta semua desa di Kecamatan Banjang); Teluk Daun, Sungai Turak dan Haur Gading (Desa Palimbangan).

B. Sistem Jaringan prasarana Utama

a. Rencana jaringan transportasi di Kabupaten Hulu Sungai Utara meliputi:

  1) Jaringan Jalan Nasional;

  a). Jaringan jalan arteri yang merupakan jalan nasional, terdiri atas ruas: Desa Danau Cermin (batas Kabupaten Hulu Sungai Utara) – batas Kota Amuntai, Batas Kota Amuntai – Desa Tabur (batas Kabupaten Tabalong), Jalan Norman Umar, Jalan Brigjen H. Hasan Basri, Jalan Ahmad Yani, Jalan Lambung Mangkurat, Jalan Pambalah Batung dan Jalan Rakha Arah ke Kelua.

  b). Jaringan jalan arteri primer yaitu; rencana jalan pengumpan antar jalan lintas Kalimantan meliputi; Lianganggang – Martapura – Kandangan – Pantai Hambawang – Amuntai – Tanjung – Mambuun – Batas Provinsi Kalimantan Timur. Amuntai – Banjarmasin.

  2) Jaringan Jalan Propinsi;

  a). Jaringan jalan propinsi berupa perbaikan secara berkala yang meliputi; ruas jalan Muara Tapus – Negara; Hulu Pasar – Paliwara- Tanjung.

  b). Rencana pengembangan ruas jalan dari Amuntai – Lampihong. 3) Jaringan Jalan Kabupaten;

  a). Peningkatan dan pengembangan jaringan jalan yang menghubungkan antara Alabio – Amuntai. b). Jaringan Jalan Strategis Kabupaten direncanakan menghubungkan antara kawasan strategis yang satu dengan kawasan strategis yang lain. Adapun jaringan jalannya adalah : Danau Panggang – Paminggir, Bayur – Panangkalaan, Panangkalaan – Sungai Tabuk, Tangga Ulin – Cakru, H. Murhan – Pasar Senin dan Palampitan Hilir – Alabio.

  c). Rencana jalan lingkar antara Bayur – Panangkalaan (rencana jalan lingkar provinsi).

  b. Rencana Terminal Saat ini terminal di Kabupaten Hulu Sungai Utara terdiri dari terminal kelas B dan C.

  Rencana terminal di Kabupaten Hulu Sungai Utara berupa pengembangan terminal tipe B serta rencana pengembangan angkutan bus antarkota dalam propinsi dengan trayek Banjarmasin – Alabio – Danau Panggang.

  c. Rencana Jaringan Layanan Lalu Lintas ( Trayek Angkutan)

  Trayek angkutan penumpang terdiri atas: 1) Banjarmasin – Amuntai – Kalimantan Tengah melalui Pantai Hambawang – Amuntai,

  Kelua – Pasar Panas (perbatasan Kalimantan Tengah); 2) Banjarmasin – Barabai – Tanjung melalui wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara; 3) Banjarmasin – Amuntai – Kalimantan Tengah melalui Negara dan Babirik, melewati jalan provinsi; 4) Kota Amuntai – Lampihong – melewati jalan kolektor sekunder; 5) Amuntai – Alabio – Babirik – melewati jalan arteri primer; dan 6) Amuntai – Banjang – melewati jalan lokal sekunder. Untuk trayek angkutan kota dalam provinsi terdiri atas trayek: 7) Amuntai – Kelua – Tanjung; 8) Amuntai – Pantai Hambawang - Barabai; 9) Amuntai – Paringin – Barabai; 10) Amuntai – Alabio – Banjarmasin; 11) Banjarmasin – Amuntai – Pasar Panas; 12) Amuntai – Paringin; 13) Amuntai – Kelua – Pasar Panas; 14) Banjarmasin – Alabio – Danau Panggang; 15) Banjarmasin – Alabio – Babirik; dan 16) Kandangan – Negara – Babirik – Amuntai.

  Sedangkan rencana pengembangan angkutan bus dalam sistem jaringan pelayanan angkutan antar kota dalam provinsi (AKDP) yang belum terlayani berupa trayek Banjarmasin – Alabio – Danau Panggang.

  d. Rencana Jaringan Sungai, Danau dan Penyeberangan

  Rencana pembangunan pelabuhan sungai regional yang terletak di Babirik, Amuntai, Danau Panggang dan Paminggir. Disamping pelabuhan regional juga terdapat beberapa pelabuhan lokal yang perlu diperbaiki yaitu:

  1) Pelabuhan Alabio, Kecamatan Sungai Pandan 2) Pelabuhan Banua lima, Kecamatan Amuntai Tengah 3) Pelabuhan Pasar Amuntai, Kecamatan Amuntai Tengah 4) Pelabuhan Telaga Silaba, Kecamatan Amuntai Selatan 5) Pelabuhan Haur Gading, Kecamatan Haur Gading.

  e. Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Transportasi Perkerataapian

  Rencana pengembangan sistem jaringan perkeretaapian berupa jaringan kereta api khusus yaitu jalur angkutan barang pada sentra-sentra produksi terutama untuk komoditas sumberdaya mineral dan komoditas perkebunan pada sebelah barat pegunungan Meratus, meliputi ruas: Batas Kalimantan Tengah di Kabupaten Barito Timur – Kabupaten Tabalong

  • – Kabupaten Hulu Sungai Utara – Kabupaten Hulu Sungai Tengah – Kabupaten Hulu Sungai Selatan – Kabupaten Tapin – Kabupaten Banjar – Kabupaten Tanah Laut. Jaringan kereta api Provinsi yang melalui Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah melalui Kecamatan Banjang yaitu di desa Pulau Damar dan Desa Pawalutan

C. Sistem Jaringan Prasarana Lainnya

1. Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Energi

  a. Pembangkit Tenaga Listrik Pembangkit tenaga listrik yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang terdapat di Panangkalaan. Distribusi energi listrik nantinya akan berpusat di Amuntai yang langsung dialirkan ke rumah-rumah penduduk, perkantoran, perdagangan dan jasa sesuai dengan kebutuhan dari masing-masing sektor.

  b. Jaringan Prasarana Energi

  • – Rencana pembangunan saluran transmisi di Barikin Amuntai, rencana pembangunan gardu induk (GI ) di amuntai dan jaringan saluran udara tegangan tinggi (SUTT), yaitu menghubungkan GI . Barikin di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dengan GI . Amuntai di Kabupaten Hulu Sungai Utara.

  c. Jaringan Pipa Minyak dan Gas Bumi

  Jaringan pipa minyak dan gas bumi yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) berjumlah 3 buah yang berada di Kelurahan Kebun Sari, Desa Muara Tapus dan Desa Pekapuran.

  2. Rencana Sistem Jaringan Telekomunikasi

  Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Kabel Rencana pengembangan sistem jaringan telekomunikasi di Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah: a) Penyediaan infrastruktur telekomunikasi tower BTS (Base Transceiver Station) bagi wilayah di Kabupaten yang belum terlayani; b) Kerjasama pengembangan telekomunikasi dengan provider yang khususnya belum melayani wilayah Kabupaten melalui pelayanan menara bersama telekomunikasi;

  c) Penyediaan layanan internet;

  d) Rencana pengembangan jaringan stasiun televisi lokal hingga ke desa-desa; dan e) Rencana pengembangan jaringan radio lokal hingga ke desa-desa.

  3. Rencana Sistem Jaringan Sumber Daya Air

  a. Jaringan Sumber Daya Air Lintas Kabupaten Jaringan sumber daya air lintas kabupaten t erdiri atas: 1) Jaringan rawa nasional, terdiri atas : 1. Saluran rawa nasional berupa polder Alabio.

  2. Daerah rawa (DR) nasional berupa polder Alabio. 2) Jaringan air bersih nasional berupa saluran air baku nasional Hulu Sungai Utara. 3) Rencana pengembangan saluran rawa provinsi, terdiri atas : a) Polder Bakar.

  b) Polder Pakacangan.

  c) Polder Murung Bayur.

  d) Polder Kaludan.

  e) Polder Padang Gusti.

  f) Polder Simpang Empat. 4) Rencana pengembangan daerah rawa provinsi, terdiri atas: a) Polder Bakar.

  b) Polder Pakacangan.

  c) Polder Murung Bayur.

  d) Polder Kaludan.

  e) Polder Padang Gusti.

  f) Polder Simpang Empat. 5) Rencana pengembangan saluran rawa kabupaten adalah rawa Pinang Habang. b. Daerah I rigasi Daerah irigasi yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten meliputi : Baru, Bajawit, Beringin, Bitin, Danau Panggang, Darussalam, Karias Dalam, Kayakah, Longkong, Manarap, Manarap Hulu, Mawar Sari, Murung Kupang, Muara Tapus, Padang Bangkal, Pajukungan, Pajukungan Hulu, Palukahan, Panawakan, Pandamaan, Pararain, Pawalutan, Pihaung, Pinang Kara, Pulantani, Pulau Damar, Sungai Dalam, Sungai Mamang, Sungai Nyiur, Sungai Panangah, Sungai Papuyu, Papurukan, Tambak Sari Panji, Teluk Limbung, dan Teluk Mesjid.

  c. Prasarana Air Baku untuk Air Bersih 1) Peningkatan kapasitas produksi 2) Pengembangan jaringan pipa distribusi 3) Pengurangan kebocoran air 4) Penggantian meter air produksi dan distribusi 5) Penambahan jumlah pelanggan.

  d. Jaringan Air Bersih ke Kelompok Pengguna Sistem pengembangan palayanan air bersih non perpipaan dengan menambahkan sarana dan prasarana air minum yang diperuntukkan pada daerah-daerah yang jauh dari cakupan pelayanan PDAM Kabupaten Hulu Sungai Utara. Sarana dan Prasarana terdiri pembuatan Sumur Pompa Tangan (SPT), Sumur Pompa Dalam Listrik (SPDL) dan Pompa Tangan (PP). Beberapa daerah yang memerlukan pelayanan air bersih misalnya Desa Tampakang, Desa Bararawa, Desa Pal Batu di Kecamatan Paminggir karena jauh dari I KK Paminggir. Desa Pondok Babaris, Desa Murung Asam Kecamatan Sungai Pandan, Daerah pedesaan Kecamatan Amuntai Selatan seperti Desa Pulau Tambak, Rukam Hilir, Rukam Hulu dan seluruh desa-desa di kecamatan lain yang rawan air.

  e. Sistem Pengendalian Banjir Pembangunan saluran atau kanal Kandang Jaya yang berada di wilayah Kabupaten Balangan.

4. Rencana Pengembangan Prasarana Lingkungan

  a. Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Persampahan 1) Wilayah Permukiman Perdesaan

  Perencanaan pengolahan sampah mandiri di lingkungan sekitar rumah atau di sekitar pekarangan rumah dengan sistem komposter aerob untuk 6-8 KK/ alat atau sekitar 30-40 jiwa dan pembangunan TPST yang dapat melayani kurang lebih 200 KK (800-1000 jiwa). 2) Wilayah Permukiman Perkotaan

  Rencana pelayanan sektor persampahan diarahkan untuk wilayah permukiman perkotaan yang terdiri dari seluruh pemukiman di Kota Amuntai sebagai ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara, di pusat kegiatan lokal (PKL) Danau Panggang, Paminggir, Babarik, Sungai Sungai Pandan, Sungai Tabukan, Amuntai Selatan, Amuntai Tengah, Haur Gading. Rencana pelayanan persampahan di mulai dari sumber sampah sampai pengelolaan sampah di TPA.

  Untuk kegiatan pemrosesan akhir sampah, Kabupaten Hulu Sungai Utara telah ditetapkan sebagai lokasi TPA Regional. Lokasi rencana TPA Regional Tebing Liring adalah di Desa Tebing Liring, Kecamatan Amuntai Utara, tepatnya di sebelah Timur Laut Kota Amuntai seluas 10 Ha. Metode pemrosesan akhir menggunakan sistem atau metode sanitary landfill. Juga adanya kegiatan reduksi di TPA dengan menerapkan sistem daur ulang untuk barang-barang seperti plastik, gelas dan sebagainya. Terdapat rencana pengolahan sampah di lokasi TPA yaitu pengolahan sampah organik ini adalah dengan memanfaatkan sampah menjadi kompos atau biogas maupun pemanfaatan gas metan nantinya menjadi energi lain seperti listrik dengan sistem Gas Flaring.

  b. Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Air Minum 1) Rencana pengembangan sistem sambungan langsung dari PDAM direncanakan melayani kawasan perkotaan, pusat kegiatan komersil, industri maupun pusat pemerintahan pada kawasan perkotaan di setiap kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Utara; dan

  2) Penyediaan air dengan swadaya murni dari masyarakat dengan menggunakan sumur bor.

  c. Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Drainase Rencana sistem jaringan drainase adalah dengan normalisasi jaringan drainase yang ada dan pembangunan serta pengembangan jaringan drainase di kawasan perkotaan.

  d. Rencana Pengelolaan Jaringan Air Limbah 1) Untuk wilayah perkotaan seperti Kota Amuntai dan di pusat kegiatan lokal yang padat diarahkan menggunakan sistem pengolahan limbah secara terpusat (off site). Rencana dalam penanganan air limbah secara rinci dijabarkan sebagai berikut :

  a) Pembuatan Jaringan Sistem Penyaluran Air Buangan (SPAB) dengan sistem Small Bore Sewerage (SBS) yang dilengkapi dengan pengolahan air limbah terpusat (I PAL), yang diarahkan menggunakan sistem biologis baik. Berupa sistem ABR (Sistem Anaerobic Buffle Reactor) maupun Biofilter atau Wetland.

  Jaringan SPAB direncanakan di dalam kawasan perkotaan Amuntai. Sistem SBS direncanakan untuk pengelolaan air limbah pada wilayah yang telah dilengkapi dengan septic-tank.

  b) Kawasan Kabupaten Hulu Sungai Utara berdasarkan analisa perhitungan jumlah volume air limbah berdasarkan Pedoman Standart Pelayanan Minimal SK SNI T-07-1989-f Kep DJCK No. 07/ KPTS/ 1999, limbah cair domestik atau air bekas yang diproduksi sebesar 70-80% dari pemakaian air bersih dan pengendapan lumpur tinja 0,2-0,3 liter/ orang/ hari. Selain itu berdasarkan kriteria kebutuhan air bersih untuk domestik maupun kebutuhan non domestik ditetapkan menurut PU Cipta Karya Tahun 2000 untuk perkotaan kecil maka kebutuhan air domestik dengan pendudk 20.000-100.000 jiwa adalah 130-150 liter/ jiwa/ hari.

  c) Pada wilayah yang belum memiliki septic-tank namun layak diberikan sistem off-site maka disediakan sistem septic-tank komunal dimana over flow dari proses septic-tank akan menyatu dengan pengolahan I PAL terpusat sebagaimana digambarkan dibawah. 2) Untuk wilayah perdesaan diarahkan menggunakan sistem pengolahan on site dengan pengadaan jamban komunal, jamban individual, MCK+ , baik melalui program dari pemerintah seperti PNPM, Sanimas, PPI P, PPSP ataupun dengan program swadaya masyarakat.

  e. Rencana Pengembangan Jalur Evakuasi Bencana Perencanaan Jalur evakuasi di Kabupaten Hulu Sungai Utara meliputi jalur utama dari lokasi bencana ke ruang terbuka hijau (RTH) dan fasilitas-fasilitas umum yang ada di setiap kecamatan.

5.1.2 Rencana Pola Ruang

  Pola pemanfaatan ruang Kabupaten Hulu Sungai Utara terbagi menjadi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Proporsi penggunaan lahan untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya direncanakan berbanding 4,49 % dan 95,50 % dimana kawasan lindung seluas 4.090,82 ha dan budidaya 86.901,72 ha.

A. Rencana Pola Ruang Kaw asan Lindung

  Berdasarkan kesesuaian lahan aktual dan kesesuaian lahan potensial, maka rencana pemanfaatan kawasan lindung di Kabupaten Hulu Sungai Utara meliputi kawasan perlindungan setempat, kawasan suaka alam dan cagar budaya, kawasan rawan bencana alam, dan kawasan perlindungan lainnya. Komposisi luas kawasan lindung dan arahan lokasi kawasan tersebut diuraikan pada sub-sub bab di bawah ini.

  1. Kaw asan Perlindungan Setempat

  Di Kabupaten Hulu Sungai Utara hanya terdapat tiga jenis kawasan perlindungan setempat, yaitu: a. Kawasan Sempadan Sungai

  Perlindungan terhadap sempadan sungai diarahkan pada pengembangan kawasan terbuka tepi Sungai yang berada di Jalan Basuki Rahmat Kecamatan Amuntai Tengah sebesar 0,5 Ha dan jalur sempadan sungai, mulai dari sungai Tabalong, Balangan, Negara, dan Paminggir. Luas sempadan sungai dan kawasan terbuka tepi sungai di Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah 1.095,12 ha.

  b. Kawasan Sekitar Danau Kawasan sekitar danau monoton yang terletak di Kecamatan Danau Panggang direncanakan dengan cara konservasi di wilayah sekitarnya selebar 100 meter dari titik pasang tertinggi. Konservasi diberlakukan diluar wilayah permukiman yang selama ini sudah ada. Luas keseluruhan dari kawasan lindung sekitar danau adalah 144, 38 ha.

  c. Kawasan Ruang Terbuka Hijau Luas eksisting kawasan RTH (baik itu alami, non alami, publik dan privat) yang ada di Perkotaan Amuntai adalah seluas 828 ha atau sebesar 67 % dari luas wilayah Perkotaan Amuntai.

  2. Kaw asan Cagar Budaya

  Kawasan lindung spiritual di Kabupaten Hulu Sungai Utara antara lain ditetapkan di kawasan Candi Agung yang terletak di Desa Sungai Malang Kecamatan Amuntai Tengah seluas 3,44 ha; mesjid tua Sungai Banar di Desa Jarang Kuantan Kecam atan Amuntai Selatan yang menjadi tempat wisata bersejarah yang sering dikunjungi masyarakat, baik masyarakat Hulu Sungai Utara sendiri maupun pendatang dari luar daerah seluas 0,34 ha; kawasan Mesjid Jami’ di Desa Pandulangan Kecam atan Sungai Pandan dengan luas kurang lebih 0,27 ha; kawasan Makam Datu Syekh Sayid Sulaiman di Desa Pakacangan Kecamatan Amuntai Utara dan Desa Haur Gading yang merupakan makam keramat dengan luas kurang lebih 0,58 ha.

  3. Kaw asan Raw an Bencana Alam

  Selain dikelilingi oleh dua sungai besar yaitu Sungai Tabalong dan Sungai Balangan seluruh wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara juga berada pada dataran rendah dan berawa, sehingga apabila musim hujan datang, hampir seluruh wilayah di Kabupaten tergenang. Untuk wilayah perkotaan Amuntai merupakan wilayah yang paling rawan terkena banjir, hal ini disebabkan karena bertemunya dua sungai besar yaitu sungai Balangan dan Tabalong, sehingga apabila musim hujan datang Perkotaan Amuntai selalu terkena banjir.

4. Kaw asan Perlindungan Lainnya

  Kawasan perlindungan plasma nutfah dirasa penting untuk dikembangkan karena adanya kekhawatiran hilangnya kekhasan dan sifat unggul spesies hewan yang dimiliki oleh Kabupaten Hulu Sungai Utara. Spesies yang memiliki sifat unggul adalah itik Alabio dan spesies yang mempunyai kekhasan ekosistem rawa adalah kerbau rawa.

B. Rencana Pengembangan Kaw asan Budi Daya

  Pemanfaatan kawasan budidaya yang direncanakan di Kabupaten Hulu Sungai Utara komposisinya meliputi:

  1. Kaw asan Peruntukan Hutan Produksi yang Dapat Dikonservasi

  Pengembangan kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) diarahkan pada asas penataan yang secara legal telah ditetapkan oleh Kemeterian Kehutanan Republik I ndonesia dan arahan dari RTRW Provinsi Kalimantan Selatan Luas kawasan hutan yang dapat dikonversi sebesar 40.972,87 Ha.

  2. Kaw asan Peruntukan Pertanian

  a. Kawasan Peruntukan Pertanian Tanaman Pangan Kawasan pertanian lahan basah diarahkan pada intensifikasi dan optimalisasi lahan untuk pengembangan tanaman pangan (beras). Perluasan areal tanam (ekstensifikasi) diarahkan pada peningkatan indeks pertanaman (I P) dan pencetakan sawah baru yang bersumber dari dana APBN maupun APBD Provinsi Kalimantan Selatan dan APBD Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kawasan pertanian lahan basah di Kabupaten Hulu Sungai Utara sebesar 33.296 hektar dan lahan cadangan pertanian pangan berkelanjutan dengan luasan 23.359 ha.

  b. Kawasan Perkebunan Kawasan perkebunan terdiri dari perkebunan rakyat dan kawasan kebun yang dikelola oleh swasta. Kawasan perkebunan yang dikelola oleh swasta berupa kawasan perkebunan kelapa sawit seluas 7.624,50 ha yang terdapat di sebagian wilayah Kecamatan Amuntai Tengah dan Kecamatan Banjang.

  c. Kawasan Peternakan

  Kawasan peternakan Kabupaten Hulu Sungai Utara sejak dahulu dikenal sebagai sentra ternak unggas dan ternak besar. Ternak unggas yang sudah sejak lama dikembangkan berupa itik Alabio yang dibudidayakan di daerah rawa-rawa lebak dengan mempertimbangkan ketersediaan pakan alami dan penggembalaan itik yang sangat luas. I tik Alabio merupakan salah satu kekayaan plasma nutfah yang dimiliki oleh Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan keunggulan yang sudah diakui secara nasional. Rencana pengembangan kawasan peruntukan peternakan kurang lebih 576, 32 ha.

  3. Kaw asan Perikanan

  Kawasan Perikanan diarahkan pada kawasan rawa yang saat ini sudah dilakukan usaha penangkapan ikan. Kawasan perikanan meliputi perikanan budidaya air tawar (tambak dan keramba) dan tangkapan (rawa dan sungai). Dengan potensi besar yang dimiliki Kabupaten Hulu Sungai Utara untuk kawasan perikanan, maka direncanakan pengembangan kawasan minapolitan di Kecamatan Haur Gading dengan luas sebesar kurang lebih 133, 21 ha.

  4. Kaw asan I ndustri

  Rencana kawasan industri berupa industri rumah tangga terdiri atas rencana pengembangan kawasan peruntukan perindustrian provinsi berupa sentra industri Amuntai yang berorientasi pada industri rotan, purun dan kayu serta industri rumah tangga lainnya yang di alokasikan sebesar kurang lebih 33,41 hektar. Kawasan industri rumah tangga ini (khusus kerajinan) dialokasikan di Desa Palampitan Hulu dan Palampitan Hilir (Perkotaan Amuntai) seluas 2,9 ha, Desa Banyu Hirang (Kecamatan Amuntai Selatan) seluas 4,9 ha, dan beberapa lokasi kerajinan bordir di kota Amuntai seluas 7,5 ha, Kecamatan Amuntai Utara (kerajinan plastik) seluas 5 ha, Haur Gading (kerajinan anyaman berupa tikar dan purun) seluas 4,9 ha dan Desa Teluk Betung Kecamatan Sungai Pandan (Kerajinan sulaman bordir) dengan luas 8,3 ha.

  5. Kaw asan Pariw isata

  a. Kawasan Peruntukan Pariwisata Budaya Jenis wisata sejarah atau budaya yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara berada di kawasan candi agung seluas 3,4 ha. Daerah Wisata ini terletak di wilayah perkotaan yaitu di Kelurahan Sungai Malang, Kecamatan Amuntai Tengah.

  b. Kawasan Peruntukan Pariwisata Buatan Kawasan pariwisata kerbau rawa sebagai wisata andalan ini dialokasikan seluas 5,94 ha yang berlokasi di Paminggir (Desa Bararawa). Selain wisata budaya dan wisata alam terdapat juga wisata belanja kerajinan rumah tangga yang ada di Kecamatan Amuntai Tengah.

  6. Kaw asan Permukiman

  Rencana pengelolaan perumahan di Kabupaten Hulu Sungai Utara ini disesuaikan dengan arahan rencana distribusi penduduk untuk mencapai pemerataan pembangunan. Selain hal tersebut berdasarkan pada program pemerintah, wilayah Kalimantan merupakan daerah transmigrasi, sehingga dalam perencanaan Tata Ruang Wilayah juga direncanakan adanya lahan untuk para transmigran yang direncanakan seluas 1.000 ha dengan rincian

  1 KK mendapatkan luas lahan sebesar 2 ha, perencanaan lahan transmigrasi ditetapkan menggunakan lahan bergambut yang tidak potensial.

  7. Kaw asan Peruntukan Lainnya

  a. Kawasan Peruntukan Pertahanan dan Keamanan Pada kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara terdapat Kodim 1001/ Amuntai yang terletak di Kelurahan Murung Sari, Kecamatan Amuntai Tengah dengan luasan kurang lebih 0, 11 ha.

  b. Kawasan Perdagangan dan Jasa Perencanaan Pasar terdiri dari: 1) Pasar I nduk Regional di Kelurahan Antasari seluas 1,41 hektar 2) Pasar terbuka Patmaraga yang nantinya akan diletakkan di Kelurahan Murung Sari Kecamatan Amuntai Tengah seluas 0, 15 Ha.

  3) Pasar Rakyat yang direncanakan diletakkan di Muara Tapus Kecamatan Amuntai Tengah seluas 2, 33 Ha. 4) Rencana pasar induk regional direncanakan di Kecamatan Amuntai Tengah Seluas 9, 93 ha. 5) Fasilitas umum dan pasar yang direncanakan di jalan strategis H. Murhan – Pasar Senin seluas 27,4 ha.

  c. Kawasan Pendidikan Dalam rangka meningkatkan Sumber Daya Manusia di Kabupaten Hulu Sungai Utara, maka direncanaan sebuah kawasan pendidikan pada tahun mendatang yang direncanakan di Kelurahan Sungai Malang Kecamatan Amuntai Tengah seluas 28,66 ha.

5.1.3 Rencana Kependudukan

  Rencana kepadatan penduduk Kabupaten Hulu Sungai Utara diarahkan sebagai berikut:

  2. Kawasan sangat padat dipertahankan atau dibatasi tingkat kepadatannya seperti Kecamatan Amuntai Tengah, Sungai Pandan, Sungai Tabukan, Amuntai Utara, dan Haur Gading. Hal ini juga dikarenakan luas lahan di kawasan tersebut hingga tahun 2032 tidak memungkinkan untuk penambahan penduduk. Pembatasan dilakukan dengan arahan sebagai berikut:

  • Melakukan pendistribusian penduduk ke kecamatan lain di Kabupaten Hulu Sungai Utara.
  • • Membatasi jumlah penduduk yang ingin bermigrasi ke kecamatan sangat padat.

  3. Kawasan tidak padat dan kurang padat namun bukan merupakan kawasan strategis pemicu pertumbuhan penduduk, hingga tahun 2032 direncanakan tingkat kepadatannya cenderung tetap atau meningkat meskipun tidak secara signifikan. Kawasan ini terdiri dari Kecamatan Paminggir, Danau Panggang, Amuntai Selatan, dan Babirik.

5.1.4 Kaw asan Strategi Kabupaten Hulu Sungai Utara

  Berdasarkan Peraturan Daerah No. 12 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara 2012 - 2032 pasal 33, Kawasan Strategis Kabupaten Hulu Sungai Utara meliputi:

Tabel 5.1 Kaw asan Strategis Kabupaten ( KSK) Hulu Sungai Utara Kaw asan strategis dari sudut Kepentingan Ekonomi

  Kaw asan strategis dari sudut Kepentingan Sosial Budaya

  a. kawasan kerajinan tikar dan purun di Desa Banyu Hirang Kecamatan Amuntai Selatan; b. kawasan industri kerajinan lampit dan purun di Kecamatan Amuntai Selatan; c. kawasan kerajinan bordir di Pusat Perkotaan Amuntai Kecamatan Amuntai Tengah; d. Kawasan kerajinan sulaman bordir di Kecamatan Sungai Pandan; dan

  1. Kawasan cukup padat namun memiliki luasan lahan yang masih memungkinkan untuk menambah penduduk dan merupakan kawasan strategis dengan aktivitas guna lahan seperti pendidikan, perdagangan, direncanakan dit ingkatkan kepadatannya. Kawasan itu meliputi Kecamatan Banjang.

1. Kawasan industri kerajinan, terdiri atas :

  1. Kawasan Candi Agung merupakan cagar budaya terdapat di Kecamatan Amuntai Tengah;

  2. Kawasan Mesjid Tua Sungai Banar terdapat di Jarang Kuantan, Kecamatan Amuntai Selatan;

  3. Kawasan Mesjid Jami’ di Pandulangan Kecamatan Sungai Pandan; dan

e. Kawasan kerajinan plastik di Kecamatan Amuntai Utara.

  4. Kawasan Makam Datu Syekh Sayid Sulaiman merupakan makam keramat terdapat di Desa Pakacangan Kecamatan Amuntai Utara dan Desa Haur Gading Kecamatan Haur Gading.

  50 cm – 100 cm.

  2. kawasan pertanian tanaman pangan berkelanjutan terdiri dari: a. Lahan pertanian pangan berkelanjutan seluas 14.908 (empat belas ribu sembilan ratus delapan) hektar, dengan kriteria: 1) berada pada lahan lebak t engahan (watun I I ); dan 2) kondisi lahan dalam satu tahun tergenang selama 3 – 6 bulan dengan ketinggian genangan

  Kaw asan strategis dari sudut Kaw asan strategis dari sudut Kepentingan Ekonomi Kepentingan Sosial Budaya

  b. Lahan cadangan pertanian pangan berkelanjutan seluas 8.451 (delapan ribu empat ratus lima puluh satu) hektar, dengan kriteria: 1) Berada pada lahan lebak dalam (watun I I I ); dan 2) Kondisi lahan dalam satu tahun, tergenang lebih dari 6 bulan dengan ketinggian genangan 100 –

  200 cm.

  c. Kawasan peternakan itik alabio di Kecamatan Sungai Pandan, Amuntai Selatan, Babirik dan Danau Panggang dengan luasan 576 (lima ratus tujuh puluh enam) hektar; d. Kawasan perkebunan kelapa sawit terdapat di Kecamatan Amuntai Tengah dan Kecamatan Banjang dengan luasan kurang lebih 6.548 (enam ribu lima ratus empat puluh delapan) hektar; dan e. Kawasan Minapolitan terdapat di Kecamatan Haur Gading dengan luasan kurang lebih 133 (seratus tiga puluh tiga) hektar.

  Sumber: RTRW Kabupaten Hulu Sungai Utara 2012-2032

5.1.5 I ndikasi Program

  I ndikasi program pembangunan sebagaimana yang tertuang dalam RTRW Kabupaten Hulu Sungai Utara terkait dengan pembangunan sarana dan prasarana Bidang Cipta Karya dapat dilihat pada tabel berikut :

1 Perwujudan pusat kegiatan

     

  Perwujudan Sistem Prasarana

    D.

  Paminggir, Babirik,

Sungai Tabukan, Banua

Hanyar, Banjang, Teluk

Daun, Sungai Turak dan Haur Gading sda Bappeda

  1.4 Mewujudkan perkot aan Babirik, Sungai Tabukan, Banua Hanyar, Banjang, Teluk Daun, Sungai Turak dan Haur Gading sebagai PPL

   

  1.3 Mewujudkan perkotaan Danau Panggang, Telaga Silaba, dan Sungai Pandan sebagai PPK

Danau Panggang, Telaga

Silaba dan Sungai Pandan sda Bappeda

  

  Pasar, Kebersihan dan Tata Kota

    Pembangunan pasar hewan tradisional Alabio sda PU/ Dinas

  Pembangunan rumah sakit tipe C Alabio sda Dinas PU dan Dinkes

  1.2 Mewujudkan kota Alabio dan Paminggir sebagai PKL Rencana Terperinci Paminggir dan Alabio Paminggir dan Alabio sda Bappeda 

  5 - 15 Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

Tabel 5.2 I ndikasi Program Bidang Cipta karya

  Pekrotaan Amuntai sda Dinas PU    

    Peningkatan dan pengembangan bangunan pengendali banjir sehingga dapat menanggulangi banjir pada setiap musim penghujan

  Perkotaan Amuntai sda Dinas PU dan PDAM

    Peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana serta kapasitas dan kualitas pelayanan air bersih

    Pembangunan dan peningkatan infrastruktur Perkotaan Amuntai sda Dinas PU

   Pembangunan dan peningkatan fasilitas penunjang Perkotaan Amuntai sda Dinas PU

  APBD Kab, Swasta Bappeda

  1.1 Mewujudkan kota/ perkotaan Amuntai sebagai PKW Rencana Terperinci Kota Amuntai Perkotaan Amuntai APBN, APBD Prov,

  2028- 2032 A Perwujudan Struktur Ruang

  2018- 2022 2023- 2027

  Pelaksana Dimensi Waktu 2013- 2017

  No Program Utama Lokasi Sumber Dana I nstansi

  Pengembangan Kota Amuntai Kecamatan Amuntai Tengah, Amuntai Utara, Amuntai Selatan dan Banjang sda Seluruh SKPD

  5 - 16 Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

  Dishubkominfo   

  2.2 Sumberdaya Air Peningkatan sistem pengelolaan air bersih perpipaan Setiap Kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Utara sda Dinas PU &

   

  Kabupaten HSU sda PU dan Dishubkominfo

      Pemeliharaan jaringan sarana dan prasarana angkutan sungai

  Kabupaten HSU sda PU dan Dishubkominfo

  Peningkatan jaringan sungai sekunder, pembangunan kanal dan peningkatan dermaga khusus untuk angkutan barang dan penumpang antar kota dalam provinsi untuk mendukung jaringan sungai primer

  PU dan Dishubkominfo  

  Rehabilitasi dan peningkatan dermaga angkutan sungai Semua dermaga di Kabupaten sda

  PU dan Dishubkominfo  

  Peningkatan Dermaga sungai yang merupakan pertemuan antara moda angkutan sungai dan angkutan jalan raya Margasari, Negara, Amuntai dan Alabi sda

  Dishubkominfo    

  Pembangunan dan peningkatan sarana dan prasarana transportasi darat dan sungai Kabupaten HSU sda PU dan

   Pengembangan terminal penumpang tipe C Kabupaten HSU sda PU dan

  No Program Utama Lokasi Sumber Dana I nstansi

  Kecamatan Amuntai Tengah PU dan Dishubkominfo

      Peningkatan fasilitas dan fungsi Terminal Banua Lima sebagai terminal Tipe B

  Kecamatan Danau Panggang, Bayur –

Panangkalaan, Tangga

Ulin –Cakru, H.Murhan –

Pasar Senin, sda Dinas PU

     Pembangunan jalan baru

Kecamatan Paminggir –

  Jalan Lokal dan lingkungan sda Dinas PU

      Peningkatan perkerasan jalan kabupaten yang perkerasan tanah dan makadam menjadi aspal

      Rencana pemeliharaan dan perbaikan jalan kabupaten Jalan nasional sda Dinas PU

      Pemeliharaan dan perbaikan jalan provinsi Jalan nasional sda Dinas PU

  APBD Kab, Swasta Kementerian Pekerjaan Umum

  2.1 Transportasi Pemeliharaan dan perbaikan jalan nasional Jalan nasional APBN, APBD Prov,

  2028- 2032

  2018- 2022 2023- 2027

  Pelaksana Dimensi Waktu 2013- 2017

  PDAM  

  Dimensi Waktu Sumber I nstansi No Program Utama Lokasi 2013- 2018- 2023- 2028- Dana Pelaksana

  2017 2022 2027 2032 Peningkatan sistem pengelolaan air bersih non perpipaan di APBN, Setiap Kecamatan wilayah perdesaan di beberapa kecamatan (Kecamatan Danau APBD Prov, di Kabupaten Dinas PU

    Panggang, Paminggir, Babarik, Sungai Pandan, Sungai APBD Kab, HSU Tabukan, Amuntai Selatan, Amuntai Tengah, Haur Gading) Swasta Perbaikan jaringan irigasi di setiap polder baik yang menjadi semua polder sda Dinas PU

    wewenang Provinsi maupun Kabupaten Konservasi sumber-sumber mata air Sungai dan Danau sda Dinas PU

    Pembangunan atau Kab. HSU sda Dinas PU

    pengembangan daerah irigasi polder baru Kab. HSU dan Kab.

  Pengendalian Banjir sda Dinas PU & BPBD

      tetangga

  2.3 Rencana Jaringan Telekomunikasi Studi tentang tower bersama Kabupaten HSU sda Bappeda 

  Dinas PU / Operasionalisasi tower bersama Kabupaten HSU sda Dishubkominfo/  

  Swast

  2.4 Rencana Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan Peningkatan kualitas pengelolaanpersampahan di TPA Regional Tebing Liring dalam bentuk 1) Pengoperasian

  Dinas PU & Dinas sanitary landfill dan pemeliharaan sarana dan prasarana di Pasar, Kebersihan TPA Regional Tebing Liring; 2) Peningkatan kerja sama antar

  Desa Tebing Liring sda dan Tata Kota,   daerah dalam penggunaan PA Regional (Kabupaten HSU

  Kantor dan Kabupaten Tabalong; 3) Peningkatan fungsi TPA Regional Pengelolaan LH Tebing Liring sebagai tempat pengolahan sampah dan industri daur ulang

  Dinas PU & Pembangunan dan pengembangan sistem jaringan drainse Dinas Pasar, Kabupaten HSU sda

      primer dan sekunder

  Kebersihan dan Tata Kota Dinas PU & Dinas Pasar,

  Normalisasi jaringan drainase yang ada Kabupaten HSU sda    

  Kebersihan dan Tata Kota Dinas PU & Dinas Peningkatan jumlah prasarana dan sarana persampahan

  Pasar, Kebersihan seperti pewadahan sampah sesuai standar; pembangunan Kota Amuntai dan semua sda dan Tata Kota,

     TPS; pembangunan TPST; pengangkutan (gerobak, container ibukota kecamatan Kantor dan truk pengangkut)

  Pengelolaan LH Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM)

  5 - 17 Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

  5 - 18 Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

  Semua Kecamatan sda Dinas PU & Dinas

  Dinas PU & Dinas Pasar, Kebersihan dan Tata Kota, Kantor

  Pembangunan I PLT Kabupaten Hulu Sungai Utara sda

  Pengelolaan LH    

  Sungai Utara sda Dinas PU & Dinas Pasar, Kebersihan dan Tata Kota, Kantor

  Pembangunan sistem perpipaan air limbah sistem Small Bore Sewage dan I PAL dengan menggunakan sistem biologis ABR dan Biofilter atau wetland Kabupaten Hulu

  Pengelolaan LH   

  Sungai Utara sda Dinas PU & Dinas Pasar, Kebersihan dan Tata Kota, Kantor

     Pengelolaan persampahan dengan komposter skala komunal Kabupaten Hulu

  Pasar, Kebersihan dan Tata Kota, Kantor Pengelolaan LH

  Kabupaten Hulu Sungai Utara sda Dinas PU & Dinas

    Peningkatan pengelolaan persampahan secara mandiri berbasis masyarakat pedesaan

  Pasar, Kebersihan dan Tata Kota, Kantor Pengelolaan LH

    Peningkatan pelayanan persampahan kawasan perdesaan di semua kecamatan

  No Program Utama Lokasi Sumber Dana I nstansi

  Dinas Pasar, Kebersihan dan Tata Kota, KPLH

  Semua ibukota kecamatan sda Dinas PU &

    Sosialisasi pengelolaan sampah mandiri dengan pembangunan TPST kawasan

  BPBD, Dinas PU & Dinas Pasar, Kebersihan dan Tata Kota

  Setiap Kecamatan di Kab. HSU sda

  Pembangunan dan pengembangan jalur evakuasi bencana yang meliputi jalur utama dari lokasi bencana ke RTH dan fasilitas umum yang dapat digunakan untuk pengungsian sementara

  Pengelolaan LH 

  APBD Kab, Swasta Dinas PU & Dinas Pasar, Kebersihan dan Tata Kota, Kantor

  Kabupaten Hulu Sungai Utara APBN, APBD Prov,

  2028- 2032 Peningkatan Kegiatan Sosialisasi, Pelatihan dan monitoring Pelaksanaan program 3 R

  2018- 2022 2023- 2027

  Pelaksana Dimensi Waktu 2013- 2017

  Pengelolaan LH    

  5 - 19 Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

  Perencanaan kawasan olah raga seluas 15 ha Desa Karias, Kec.

    

  

Daerah sempadan sungai

dan sekitar danau sda Dinas PU

    Pengangkatan sedimen untuk mempertahankan volume sungai dan pengerukan dilakukan dengan tetap memperhatikan kemiringan sungai.

  Wilayah rawan bencana sda Dishubkominfo, Dinas PU, BPBD

      Pemasangan rambu – rambu peringatan pada daerah yang rawan bencana alam

  Pasar, Kebersihan & Tata Kota, Satpol-PP

  

Daerah potensi rawan

bencana sda BPBD,PU, Dinas

  1.4 Kawasan Rawan Bencana Alam Pemetaan kawasan rawan bencana Kabupaten HSU sda Bappeda/ BPBD  Pengendalian kegiatan disekitar kawasan rawan bencana.

   

  1.3 Kawasan Lindung Lainnya Perlindungan terhadap kawasan konservasi perairan (KKP) KKP Paminggir, KKP

danau panggang dan

KKP Amuntai Selatan

sda Dinas PU

   

  Banjang sda Dinas PU/ Dinas Pemuda, olah raga, Kebudayaan dan Pariwisata

  Kebersihan & Tata Kot 

  No Program Utama Lokasi Sumber Dana I nstansi

  1.2 Kawasan Ruang Terbuka Hijau Perencanaan taman kota seluas 2,5 ha Kec. Amuntai Tengah sda Dinas PU/ Dinas Pasar,

  Pemulihan dan rehabilitasi sempadan sungai Paminggir Daerah sempadan sungai sda Dinas PU  

  Pemulihan dan rehabilitasi sempadan sungai Tabalong Daerah sempadan sungai sda Dinas PU  

  1.1 Kawasan Perlindungan Setempat Pemulihan dan rehabilitasi sempadan sungai Balangan Daerah sempadan sungai sda Dinas PU  

  1 Perwujudan Kawasan Lindung

  B Perwujudan Pola Ruang

  Pengelolaan LH    

  APBD Kab, Swasta Dinas PU & Dinas Pasar, Kebersihan dan Tata Kota, Kantor

  Kabupaten Hulu Sungai Utara APBN, APBD Prov,

  2028- 2032 Penambahan sarana dan prasarana sistem pengolahan on site (baik melalui program dari pemerintah seperti PNPM, Sanimas, PPI P, PPSP ataupun dengan program swadaya masyarakat)

  2018- 2022 2023- 2027

  Pelaksana Dimensi Waktu 2013- 2017

  2 Perwujudan Kawasan Budidaya

  5 - 20 Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

   

  Kota Amuntai sda Dinas PU / Diskoperindag

   Pelaksanaan revitalisasi kawasan perdagangan di ibukota kabupaten

  Studi tentang revitalisasi kawasan perdagangan Kabupaten HSU sda Bappeda, Diskoperindag

  Dinas PU / Diskoperindag    

  2.3 Kawasan Peruntukan Lainnya Pengembangan pusat perdagangan dan jasa baru

Alabio, danau panggang,

sungai pandan dan telaga silaba sda

     

    Pembangunan rumah susun Kota Amuntai, Alabio sda Dinas PU

   Sosialisasi tentang rumah susun I bukota kecamatan sda Dinas PU

  2.2 Kawasan Peruntukan Permukiman Studi kelayakan tentang rumah susun Kabupaten HSU sda Bappeda & Dinas PU

  Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata

  No Program Utama Lokasi Sumber Dana I nstansi

  Bararawa sda Dinas PU & Dinas Pemuda,

   Pengembangan akses menuju Danau Panggang Danau Panggang

  Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata

      Revitalisasi objek wisata kerbau rawa Bararawa sda Dinas PU &

  Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata

  APBN, APBD Prov, APBD Kab, Swasta

  2.1 Kawasan Peruntukan Pariwisata Pengembangan kawasan wisata budaya candi agung Kecamatan Amuntai Tengah

  2028- 2032

  2018- 2022 2023- 2027

  Pelaksana Dimensi Waktu 2013- 2017

   Sumber: RTRW Kab. Hulu Sungai Utara Tahun 2012-2032

  

5.2 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

( RPJMD)

5.2.1 Kebijakan Pembangunan Daerah

A. Visi dan Misi

  Visi Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah

  “Terw ujudnya Raw a Makmur Menuju Masyarakat yang Sejahtera dan Mandiri Bernuansa I slami”

  dengan pemahanam sebagai berkikut:

  1. Raw a; mengandung pengertian bahwa wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan luasan seluruhnya 892,7 km 2 memiliki kawasan rawa atau kawasan yang tergenang baik secara monoton maupun yang tergenang secara periodik dan meliputi 89 % dari total luas wilayahnya. Disebutkan kata RAWA terkandung pengertian ini adalah nama lain sebagai identitas Kabupaten Hulu Sungai Utara.

  2. Makmur; yakni dengan lahan rawa yang sangat luas yang dimiliki oleh daerah di Hulu Sungai Utara terkandung berbagai potensi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di daerah sebagai kawasan ekonomi produktif yang dapat membawa pada kesejahteraan masyarakat .

  3. Sejahtera dan Mandiri; dapat difahami sebagai akibat dari adanya proses pemanfaatan potensi rawa dan berbagai potensi lokal lainnya yang dimiliki oleh daerah akan berdampak pada terwujudnya peningkatan kesejahteraan serta kemandirian di daerah.

  4. Nuansa I slami; Merupakan kondisi yang menjadi ciri dan identitas masyarakat Hulu Sungai Utara untuk menjaga dan mempertahankan nilai-nilai religius dan keagamaan dalam menghadapi era globalisasi.

  Guna mewujudkan visi sebagaimana yang telah disampaikan di atas, maka ditetapkan MI SI yang merupakan rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Adapun MI SI pembangunan yang harus dilaksanakan dalam RPJMD tahun 2013 – 2017 adalah sebagai berikut: 1. Mewujudkan tata pemerintahan yang baik (Good Governance).

  2. Mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan sesuai potensi daerah khususnya rawa dan budaya lokal.

  3. Mewujudkan masyarakat yang berdaya saing di era globalisasi dengan tetap mempertahankan nilai-nilai religius I slam dan kultur budaya daerah.

  4. Mewujudkan pemerataan dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

  5. Membangun infrastruktur daerah yang terintegrasi dengan sektor pendidikan, kesehatan dan ekonomi kerakyatan.

  6. Melaksanakan Pembangunan Secara Arif Dengan Memperhatikan Kaidah Kelestarian Terhadap Lingkungan dan Sumberdaya Alam.

B. Strategi

  Strategi pencapaian visi dan misi didasarkan atas penelaahan terhadap berbagai tujuan dan sasaran yang ingin dicapai berdasarkan visi dan misi daerah. Berdasarkan keterkaitan antara visi, misi, tujuan dan sasaran yang diinginkan dari rumusan visi dan misi serta tujuan dan sasaran, maka strategi pembangunan Kabupaten Hulu Sungai Utara tahun 2013 sampai tahun 2017 adalah : 1. Peningkatan kualitas dan kapasitas aparatur pemerintah.

  2. Peningkatan manajemen pemerintahan yang berkualitas, efektif dan efisien.

  3. Pelibatan masyarakat dalam penentuan kebijakan pembangunan.

  4. Peningkatan kemampuan dan kapasitas keuangan daerah.

  5. Peningkatan kualitas dan kapasitas pelayanan pemerintah.

  6. Peningkatan peran pemerintah dan masyarakat dalam pendidikan politik, penegakkan aturan dan perundang - undangan yang berlaku.

  7. Pemantapan integrasi ekonomi antara sektor primer, sekunder dan tersier.

  8. Pengembangan industri kecil, koperasi, pertanian dan kedaulatan pangan, perdagangan, hotel, rumah makan serta sektor strategis lainnya.

  9. Penciptaan lapangan kerja, daya saing tenaga kerja serta perlindungan dan pengawasan ketenagakerjaan.

  10. Percepatan pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan dan MDG’s.

  11. Peningkatan mutu pendidikan, penyediaan sarana prasarana pendidikan, dan pemerataan akses pendidikan.

  12. Pemantapan pemahaman dan pengamalan serta layanan keagamaan.

  13. Peningkatan dan pengembangan layanan sosial, peran pemuda, olahraga, budaya, seni dan pariwisata.

  14. Peningkatan layanan, sarana dan prasarana, serta pemerataan akses kesehatan.

  15. Peningkatan infrastruktur wilayah, infrastruktur ekonomi, infrastruktur pendidikan dan kesehatan, infrastruktur pemerintahan dan sosial lainnya.

  16. Perlindungan dan perbaikan lingkungan hidup serta ekosistem rawa.

C. Arahan Kebijakan

  Kebijakan adalah arah atau tindakan yang diambil oleh pemerintah daerah untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan yang ditetapkan adalah tujuan yang terkait dengan visi dan misi sebagai rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan serta upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi.

  Arah kebijakan yang ditetapkan pada periode tahun 2013 – 2017 merupakan jabaran dari visi dan misi RPJMD, namun tetap tidak terlepas dan harus mengacu pada arah kebijakan yang ada pada Rencana Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2005 – 2025.

  1. Arah Kebijakan Tahun 2013

  Arah kebijakan tahun 2013 akan dijelaskan dalam tabel berikut:

  No Aspek Arah Kebijakan

  1 Pemerintahan Meningkatkan pelaksanaan tata pemerintahan yang semakin baik, memberikan layanan masyarakat yang semakin berkualitas, mewujudkan masyarakat yang semakin mandiri dan dewasa serta berdaya saing dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik serta budaya, meningkatkan keamanan dan ketertiban dalam kehidupan masyarakat, serta memelihara kerukunan beragama.

  2 Ekonomi Menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan pendapatan masyarakat serta meningkatkan perekonomian daerah berbasis potensi lokal

  

3 Pendidikan dan Melaksanakan perbaikan mutu dan pemberian layanan masyarakat

baik pada sektor pendidikan, kesehatan dan layanan sosial lainnya Kesehatan dalam rangka meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang lebih produktif dan berdaya saing

  4 I nfrastruktur Upaya-upaya perbaikan dalam penyediaan infrastruktur wilayah, infrastruktur pendidikan, kesehatan, ekonomi ; optimalisasi penataan ruang ; serta melakukan upaya pemeliharaan lingkungan dan kebersihan dalam rangka terpeliharanya kelestarian lingkungan hidup. Khusus untuk pembangunan infrastruktur pengembangan Kota Amuntai, dilakukan tahapan-tahapan persiapan yang mengarah pada terwujudnya pengembangan kota Amuntai.

  2. Arah Kebijakan Tahun 2014

  Berbagai arah kebijakan pada tahun 2014 ini tet ap mengacu pada arah kebijakan tahun sebelumnya, namun lebih tertuju pada upaya peningkatan hasil yang diperoleh pada tahun 2013.

  No Aspek Arah Kebijakan

  • 1 Pemerintahan Mensinergikan pada upaya pelibatan unsur masyarakat atau lembaga

    perwakilan rakyat untuk terlibat secara aktif berkontribusi pada berbagai kebijakan pemerintah daerah, peningkatan kompetensi dan kapasitas diri aparatur pemerintahan, penataan kelembagaan dan hubungan kerja antar instansi, meningkatkan kualitas kerja baik pada bidang perencanaan, pelaksanaan sampai pada pengendalian

  No Aspek Arah Kebijakan dan pelaporan, serta meningkatkan kinerja keuangan daerah.

  • Mengarahkan kebijakan yang menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban guna mensukseskan pelaksanaan pemilihan umum memilih wakil-wakil rakyat baik anggota DPRD kabupaten, DPRD provinsi atau DPR pusat.

  2 Ekonomi Pemanfaatan berbagai potensi lokal guna terciptanya nilai tambah ekonomi khususnya kawasan rawa, meningkatkan pendapatan masyarakat , mengurangi kemiskinan, mendorong terbukanya lapangan kerja baru serta perbaikan kualitas tenaga kerja.

  3 Pendidikan dan Dilakukan kebijakan terhadap upaya meningkatkan mutu dan pelayanan pendidikan dan kesehatan serta layanan sosial bagi Kesehatan masyarakat yang membutuhkan

  4 I nfrastruktur Melakukan persiapan pengembangan wilayah kawasan perkotaan dengan melakukan pembebasan lahan, meningkatkan ketersediaan jalan baru baik kecamatan maupun desa dalam upaya mengurangi isolasi, memelihara serta memperbaiki sarana jalan yang telah ada, memelihara dan meningkatkan infrastruktur ekonomi, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur sosial lainnya. Pada aspek lingkungan dilakukan pemeliharaan, pemulihan dan rehabilitasi serta mencegah potensi bencana alam yang mungkin terjadi

3. Arah Kebijakan Tahun 2015

  Arah kebijakan pembangunan di tahun 2015 juga merupakan kesinambungan terhadap pelaksanaan kebijakan pembangunan tahun sebelumnya.

  No Aspek Arah Kebijakan

  • 1 Pemerintahan Melaksanakan berbagai urusan wajib dan urusan pilihan yang menjadi kewajiban daerah guna menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan dengan tetap mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas serta pelibatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan.
  • Perbaikan kinerja pemerintahan terus diupayakan dengan melakukan peningkatan terhadap kompetensi aparatur, pembinaan kelembagaan pemerintah, peningkatan kinerja untuk menggali sumber pendapatan daerah, menjaga keamanan dan ketertiban agar tetap kondusif dalam rangka mensukseskan pemilihan kepala daerah provinsi/ gubernur, dan memelihara kerukunan hidup dalam suasana keagamaan.

  2 Ekonomi Melakukan pengembangan pemanfaatan potensi lahan rawa, meningkatkan inovasi masyarakat dalam sektor pertanian dan industri pengolahan khususnya produk andalan daerah, meningkatkan pendapatan masyarakat dan mengurangi kemiskinan, memantapkan ketahanan pangan, meningkatkan ketenagakerjaan, meningkatkan pembinaan terhadap lembaga ekonomi yang ada di kecamatan maupun pedesaan.

  

3 Pendidikan dan Melakukan perbaikan terhadap mutu dan layanan pendidikan dan

kesehatan, menyediakan dan memelihara sarana dan prasarana Kesehatan pendidikan dan kesehatan, meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui kebijakan pendidikan luar sekolah, meningkatkan derajad kesehatan masyarakat, meningkatkan kemandirian

  No Aspek Arah Kebijakan masyarakat melalui pembinaan dan pemberdayaan baik secara sosial maupun ekonomi, meningkatkan peran perempuan, perlindungan dan pembinaan anak terlantar, membina penyandang masalah sosial dalam upaya menumbuhkan kemandirian.

  

4 I nfrastruktur Melanjutkan upaya pengembangan dan perluasan kota Amuntai serta

membuka akses masyarakat di pedesaan, peningkatan dan pemeliharaan berbagai infrastruktur kewilayahan, perhubungan, ekonomi, dan infrastruktur sosial lainnya termasuk pemerintahan ; pada aspek lingkungan diarahkan pada pemeliharaan dan peningkatan kualitas lingkungan dan ekosistem rawa,pengendalian bencana alam serta perbaikan/ rehabilitasi terhadap dampak pembangunan yang berpengaruh terhadap lingkungan.

  4. Arah Kebijakan Tahun 2016

  Arah kebijakan tahun 2016 merupakan penyelarasan terhadap berbagai tujuan dan target pembangunan 5 tahun RPJMD. Periode tahun ke 4 dalam pelaksanaan RPJMD lebih melihat pada hasil evaluasi pelaksanaan pembangunan tahun-tahun sebelumnya guna memastikan tercapainya visi dan misi serta target capaian indikator kinerja dalam RPJMD 2013 - 2017.

  No Aspek Arah Kebijakan 1 Pemerintahan Peningkatan tata kelola pemerintahan.

  • 2 Ekonomi Mewujudkan terlaksananya program-program ekonomi kerakyatan.

  • Pelaksanaan berbagai program harus benar-benar terfokus dalam upaya mengurangi kemiskinan di daerah sehingga Kabupaten Hulu Sungai Utara dapat terlepas dari status sebagai daerah tertinggal.
  • Meningkatkan pendapatan masyarakat.
  • Meningkatkan pendapatan masyarakat.
  • Perbaikan terhadap masalah ketenagakerjaan.

  

3 Pendidikan dan Peningkatan pendidikan masyarakat baik formal maupun informal

serta peningkatan derajad kesehatan masyarakat melalui Kesehatan meningkatnya pelayanan pendidikan dan kesehatan.

  4 I nfrastruktur Semakin meningkatnya perwujudan Amuntai Baru sebagai alternatif perluasan kawasan perkotaan, penyediaan infrastruktur perekonomian guna lebih memantapkan mobilitas perekonomian daerah serta meningkatkan pendapatan masyarakat, penyediaan dan pemeliharaan infrastruktur pendidikan dan kesehatan guna menunjang tercapainya sumberdaya manusia yang lebih berkualitas dan mandiri.

  

5 Lingkungan Semakin meningkat dan terpeliharanya kualitas lingkungan hidup,

menjaga keseimbangan fungsi ekosistem baik kawasan perkotaan maupun kawasan rawa yang tersebar di hampir seluruh wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara.

  5. Arah Kebijakan Tahun 2017

  Pada arah kebijakan pembangunan tahun 2017 ini tetap melanjutkan berbagai arah kebijakan tahun-tahun sebelumnya namun dengan penekanan pada penuntasan berbagai program yang masih rendah capaian kinerjanya.

  No Aspek Arah Kebijakan

  • 1 Pemerintahan Pengelolaan tata pemerintahan yang semakin berkualitas.
  • Melaksanakan proses Pemilukada dalam suasana aman, damai dan kondusif pada tahun 2017.

  

2 Ekonomi Meningkatnya produksi barang dan jasa yang bersumber dari potensi

ekonomi lokal, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, pemberdayaan lembaga ekonomi lokal, peningkatan investasi dan permodalan.

3 Pendidikan dan Peningkatan mutu layanan baik pendidikan maupun kesehatan serta pemerataan akses pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat.

  Kesehatan

  

4 I nfrastruktur Pada aspek infrastruktur wilayah, infrastruktur ekonomi, infrastruktur

pendidikan, infrastruktur kesehatan dan infrastruktur sosial lainnya juga selalu dilakukan peningkatan dan perbaikan sesuai kebutuhan guna lebih terpenuhinya aksesibilit as masyarakat, termasuk pengembangan kota Amuntai.

D. Program

  Guna mencapai misi, tujuan dan sasaran pembangunan yang berpedoman kepada strategi dan kebijakan umum yang telah ditetapkan sebelumnya, maka disusun program- program pembangunan untuk mencapai visi dan misi Kepala Daerah dalam kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan. Program – program khususnya untuk pembangunan cipta karya daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara tahun 2013 – 2017 dimuat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.3 Program Pembangunan RPJMD Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2013 - 2017 PROGRAM PEMBANGUNAN

KEBI JAKAN UMUM

  I NDI KATOR

DAERAH

Peningkatan Sistem Pemerintahan yang Berkualitas, Efektif dan Efisien

  Memantapkan kinerja 1) Program perencanaan I mplementasi rencana dalam perencanaan, pelaksanaan, pembangunan daerah dokumen RPJPD, RPJMD, pengawasan, pengendalian dan

  RKPD, RTRW, Renstra dan evaluasi terhadap pelaksanaan Renja SKPD dalam pelaksanaan pembangunan pembangunan daerah 2) Program perencanaan I mplementasi rencana dalam pengembangan wilayah strategis dokumen pengembangan dan cepat tumbuh wilayah strategis dan cepat tumbuh 3) Program pengembangan wilayah Sinkronisasi administrasi dan perbatasan pembangunan wilayah perbatasan

  4) Program perencanaan Penanganan dan penyelesaian pengembangan kota-kota kecil, masalah infrastruktur menengah dan besar 5) Program perencanaan prasarana I mplementasi rencana dalam

  

PROGRAM PEMBANGUNAN

KEBI JAKAN UMUM

  I NDI KATOR

DAERAH

wilayah dan sumberdaya alam dokumen masterplan prasarana wilayah dan sumberdaya alam

  6) Program perencanaan I mplementasi rencana dalam pembangunan daerah rawan dokumen masterplan daerah bencana rawan bencana

  Pemantapan I ntegrasi Ekonomi Antara Sektor Primer, Sekunder dan Tersier Menumbuhkan ekonomi 1) Program pembangunan Pertumbuhan perekonomian pedesaan yang terintegrasi infrastruktur perdesaaan perdesaan dengan penyediaan pasar baik di daerah maupun luar daerah Pengembangan I ndustri Kecil, Koperasi, Pertanian Dan Kedaulatan Pangan, Perdagangan, Hotel, Rumah Makan Serta Sektor Strategis Lainnya Meningkatkan produktivitas 1) Program pengembangan dan Produksi pertanian pertanian secara intensifikasi pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan ekstensifikasi serta dan jaringan pengairan lainnya diversifikasi dan rehabilitasi untuk mewujudkan ketahanan pangan Penyediaan Layanan Sosial, Pemuda, Olahraga, Budaya, Seni dan Pariw isata Melakukan penanganan dan 1) Program perbaikan perumahan Cakupan layanan perbaikan penanggulangan bencana akibat bencana alam/ sosial rumah akibat bencana alam/ sosial

  Peningkatan I nfrastruktur Wilayah, Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, Pemerintahan dan I nfrastruktur Sosial Lainnya

  1. Meningkatkan pemenuhan 1) Program pembangunan jalan dan Aksesibilitas antar wilayah penyediaan, pemeliharaan dan jembatan rehabilitasi infrastruktur 2) Program rehabilitasi/ pemeliharaan Arus lalu lintas kepuasan kewilayahan, ekonomi, jalan dan jembatan masyarakat pendidikan, kesehatan, 3) Program Pembangunan Wilayah rawan longsor pemerintahan dan turap/ talud/ bronjong infrastruktur lainnya 4) Program rehabilitasi/ pemeliharaan Wilayah rawan longsor talud/ bronjong 5) Program pembangunan/ rehabilitasi Jumlah gedung pemerintah yang gedung pemerintah memenuhi standar 6) Program tanggap darurat jalan dan Arus lalu lintas kepuasan jembatan masyarakat 7) Program pengembangan dan Sistem tata air cakupan jaringan pengelolaan jaringan irigasi, rawa irigasi cakupan pelayanan air dan jaringan pengairan lainnya bersih/ air minum

  8) Program pengendalian banjir Kawasan rawan bencana banjir 9) Program pembangunan saluran Kawasan rawan genangan drainase/ gorong-gorong 10) Program rehabilitasi/ pemeliharaan Persentase gedung kantor yang danpembangunan bangunan layak pakai gedung kantor

  11) Program rehabilitasi/ pemeliharaan Aksesibilitas masyarakat

dan pembangunan jalan gang/

lingkungan perumahan

  

PROGRAM PEMBANGUNAN

DAERAH

KEBI JAKAN UMUM

  I NDI KATOR

  2. Meningkatkan pengembangan sarana prasarana permukiman, kependudukan, air bersih dan penunjang lainnya

1) Program pengembangan kinerja

pengelolaan air minum Cakupan pelayanan air bersih/ air minum 2) Program penyediaan dan pengelolaan air baku Cakupan pelayanan air bersih/ air minum 3) Program Pengembangan

  Perumahan Rumah layak huni

4) Program rehabilitasi/ pembangunan

jalan lingkungan perumahan dan pemukiman Aksesibilitas lingkungan perumahan dan permukiman Luas kawasan kumuh permukiman 5) Program lingkungan sehat perumahan Kualitas lingkungan perumahan

  6) Program percepatan pembangunan sanitasi permukiman Kualitas lingkungan permukiman

  7) Program percepatan pembangunan sanitasi permukiman Jumlah rumah yang memiliki fasilitas MCK

  3. Mewujudkan pengembangan wilayah dan perluasan kota Amuntai

1) Program pengembangan wilayah

strategis dan cepat tumbuh

Luas kawasan perkotaan

  2) Program perencanaan pengembangan kota-kota menengah dan besar I mplementasi rencana dalam dokumen pengembangan kota 3) Program Pembangunan Kota

  Amuntai Terbangunnya infrastruktur dasar di kawasan pengembangan kota Amuntai

  4. Memberdayakan masyarakat dalam pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur desa melalui dana stimulan gotong royong 1) Program pembangunan infrastruktur perdesaan Tingkat swadaya dan partisipasi masyarakat

  Perlindungan dan Perbaikan Lingkungan Hidup serta Ekosistem Raw a 1.

  Mewujudkan penataan ruang yang sesuai dan mampu mewadahi perkembangan wilayah dan aktivitas perekonomian 1) Program pemanfaatan ruang I mplementasi regulasi pemanfaatan ruang 2) Program perencanaan tata ruang I mplementasi regulasi perencanaan tata ruang 3) Program pengendalian pemanfaatan ruang I mplementasi regulasi pengendalian pemanfaatan ruang

1) Program Pengendalian Banjir Kawasan rawan banjir

  2. Meningkatkan pengembangan

  dan konservasi sumberdaya air untuk mengoptimalkan perlindungan dan pemanfaatan lahan rawa

E. Kebutuhan Anggaran Pembangunan I nfrastruktur Cipta Karya

  Secara lengkap I ndikasi Rencana Program Prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan pembangunan infrastruktur cipta karaya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.4 I ndikasi Program Dan Kegiatan Prioritas Beserta Pendanaan Berdasarkan Urusan Wajib

  Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan I ndikator Kondisi Bidang Urusan Pemerintahan dan Kinerja Kinerja Aw al Kondisi Kinerja pada Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Program Prioritas Pembangunan Program RPJMD Akhir Periode RPJMD ( outcome) ( Tahun 0 ) Target RP Target RP Target RP Target RP Target RP Target RP Program pembangunan jalan dan Tercapainya 15.62% 14.06% jembatan target Pekerjaan Umum Kab. HSU jalan lingkar di pembangunan 1 1 sungai dan terpisah oleh wilayah yang pada wilayah- h hubungan Mempermuda 14.29% 14.29% 1 Program pembangunan turap/ talud/ Pengurangan 20% 20% jalan dan jembatan a halan di Program rehabilitasi/ pemeliharaan Terpeliharany 14.96% 17.65% bronjong longsor tebing danau Kab. HSU 1 1 lainnya jaringan Program pembangunan jaringan jalan Lancarnya 30 ha 30 ha 30 ha 30 ha 30 ha 150 ha irigasi, rawa, danjaringan pengairan irigasi dan di Kab. HSU nya jembatan Terpelihara- 67.90% 20.58% 1 2 pertanian kebutuhan untuk pengairan kebutuhan Terlayani 40 ha 40 ha 40 ha 40 ha 40 bh 40 ha 200 ha fungsi irigasi/ rawa peningkatan Tercapainya 15% 15% pertanian kawasan 1 air baku pengguna air Program penyediaan dan pengelolaan Rumah tangga pelayanan air Cakupan 26.78% bersih 26.78 5%

  Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 30

  Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

  Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan I ndikator Kondisi Bidang Urusan Pemerintahan dan Kinerja Kinerja Aw al Kondisi Kinerja pada Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Program Prioritas Pembangunan Program RPJMD Akhir Periode RPJMD ( outcome) ( Tahun 0 ) Program pengembangan kinerja Cakupan - 22.95% Program pengendalian banjir Peningkatan 10% 10% pengelolaan air minum dan air limbah pelayanan air minum Target RP Target RP Target RP Target RP Target RP Target RP 1 1 Program pengembangan wilayah Jumlah 50% 10% strategis dan cepat tumbuh kawasan an banjir sarana penanggulang strategis dan 1 infrastruktur jenis

Jumlah dan 56 bh 3 bh 3 bh 3 bh 3 bh 19 bh

berkembang yang cepat tumbuh Program pembangunan infrastruktur Aksesbilitas 20.48% 9.93% perdesaan antar desa mutunya ditingkankan yang dibangun/ Program pengembangan perumahan Rasio rumah Program lingkungan sehat perumahan Persentase 57.66% 0.10% Perumahan layak huni Jumlah rumah 46.930 bh 199 bh 199 bh 210 bh 210 bh 818 bh layak huni 86.22 - dan pembangunan bangunan gedung gedung kantor * Program Rehabilitasi/ pemeliharaan Persentase jumlah rumah 31.387 20 unit 20 unit 23 unit 23 unit 116 unt rumah tangga berjamban bersanitasi sanitasi permukiman yang memiliki Program percepatan pembangunan Jumlah rumah - 31.387 bh 30 unit 30 unit 30 unit 31 unit 121 unit kantor Aksesbilitas - 25,62% fasilitas MCK pembangunan jalan gang/ lingkungan Program rehabilitasi/ pemeliharaan dan masyarakat

  Pelayanan Umum Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM)

  5 - 31 Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

  Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan I ndikator Kondisi Bidang Urusan Pemerintahan dan Kinerja Kinerja Aw al Kondisi Kinerja pada Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Program Prioritas Pembangunan Program RPJMD Akhir Periode RPJMD ( outcome) ( Tahun 0 ) Program pelaksanaan administrasi set/ unit 228 56 unit 56 unit 56 unit 56 unit prasarana aparatur Program peningkatan sarana dan perkantoran

  Target RP Target RP Target RP Target RP Target RP Target RP Jumlah 83.794.194.199 88.402.874.880 93.044.025.811 97.556.661.063 Sumber: RPJMD Kabupaten Hulu Sunga Utara Tahun 2013-2017

  Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 32

  Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

5.2.2 Kebijakan Keuangan Daerah

  Permasalahan umum yang terjadi dibanyak daerah khususnya pemerintah kabupaten adalah terbatasnya penerimaan pendapatan daerah yang bersumber dari pendapatan asli daerah. Di Kabupaten Hulu Sungai Utara kontribusi penerimaan daerah yang bersumber dari pendapatan asli daerah hanya sekitar empat sampai lima persen total APBD setiap tahunnya. Dengan demikian ketergantungan keuangan daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara terhadap transfer pemerintah pusat sangat tinggi. Kondisi ini hendaknya harus selalu mendapat perhatian besar dari seluruh komponen di daerah agar pemerintah daerah bisa lebih independen dalam pembiayaan dan penganggaran terhadap penyelenggaraan urusan pemerintahan. Maka dari itu perlu adanya strategi untuk meningkatan kemampuan dan kapasitas keuangan daerah, strateginya sebagai berikut:

  1. I nventarisasi kembali terhadap sumber-sumber penerimaan yang ada.

  2. Perluasan terhadap potensi sumber penerimaan yang memungkinkan untuk dijadikan sebagai sumber penerimaan daerah.

  3. Peningkatan penyelenggaraan manajemen keuangan, khususnya di tingkat SKPD. Hal ini dirasa perlu guna mendapatkan opini yang lebih baik terhadap pengelolaan keuangan dan asset daerah.

  Kebijakan keuangan pemerintah daerah yaitu berdasarkan dinamika kebutuhan masyarakat, pencapaian visi dan misi daerah, serta kebijakan Pemerintah Pusat, maka arah kebijakan keuangan daerah ditetapkan sebagai berikut:

  1. Meningkatkan kontribusi Pendapatan Asli Daerah agar memperkuat kemampuan Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan, melalui upaya ekstensifikasi, intensifikasi, dan diversifikasi penerimaan daerah.

  2. Meningkatkan kualitas aparatur pengelola keuangan daerah agar mampu mengembangkan kreatifitas, inisiatif, kemampuan, dan memiliki motivasi yang kuat dalam menggali potensi dan sumber-sumber baru yang ada dalam meningkatkan penerimaan asli daerah dan mengelola keuangan daerah secara optimal, efisien dan efektif dan menghindari kebocoran.

  3. Meningkatkan kualitas manajemen pengelolaan keuangan daerah, agar lebih dimanfaatkan secara tepat waktu, tepat sasaran dan efisien.

  4. Menumbuhkan dan mengembangkan lembaga keuangan non bank milik pemerintah daerah (BUMD) yang bergerak dalam permodalan usaha mikro yang mampu meningkatkan dan mendorong pertumbuhan serta perkembangan usaha ekonomi masyarakat kecil secara merata.

5.2.3 I ndikator Kinerja

  I ndikator kinerja merupakan komponen yang sangat krusial pada saat merencanakan kinerja. Dengan adanya indikator kinerja, perencanaan sudah mempersiapkan alat ukur yang akan digunakan untuk menentukan apakah rencana yang ditetapkan telah dapat dicapai. Penetapan indikator kinerja pada saat merencanakan kinerja akan lebih meningkatkan kualitas perencanaan dengan menghindari penetapan – penetapan sasaran yang sulit untuk diukur dan dibuktikan secara objektif kebenarannya. Berikut ini akan dijelaskan mengenai indikator kinerja khususnya untuk pembangunan infrastruktur Cipta Karya.

Tabel 5.5 I ndikator Kinerja Bidang Cipta Karya

  Kondisi Target Capaian Setiap Tahun Kondisi Aspek/ Fokus/ Kinerja No

  Kinerja

I ndikator Awal 2012 2013 2014 2015 2016 2017

Akhir (2011)

  1 Proporsi panjang Jaringan jalan dalam 0,44 0,37 0,43 0,51 0,61 0,71 0,83 0,83 kondisi baik (% )

  2 Persentase rumah tangga bersanitasi 58,66 58,66

  

60

  65

  68

  70

  75

  75 (% )

  3 Panjang jalan dilalui 347,626 347,624 348,000 349,844 366,844 384,539 386,539 386,539 Roda 4 (km)

  4 Panjang jalan kabupaten dalam 122,366 169,871 200,453 233,862 250,567 267,271 283,976 283,976 kondisi baik ( > 40

  KM/ Jam ) (km)

  5 Rumah tangga pengguna air bersih 26,78

  30

  

35

  40

  55

  65

  70

  70 perpipaan (% )

  6 Tersedianya Perda Ada ada Ada ada Ada ada Ada ada RPJPD

  7 Tersedianya Perda Ada ada Ada ada Ada ada Ada ada RPJMD

  8 Tersedianya PerBup Ada ada Ada ada Ada ada Ada ada RKPD

  9 Persentase 93,00 94,00 Penanganan sampah 92,55 92,55 94,00 96,00 96,00 96,00 (% )

  10 Persentase Rumah Tangga yang 40,07

  45

  

50

  55

  60

  65

  70

  70 menggunakan air bersih (% )

  11 Persentase Penduduk berakses air 24,95

  35

  

40

  50

  55

  65

  70

  70 bersih perpipaan (% ) Sumber: RPJMD Kabupaten Hulu Sunga Utara Tahun 2013-2017

5.3 Perda Bangunan Gedung

  5.3.1 Ketentuan Fungsi Bangunan Gedung

  Ketentuan fungsi bangunan gedung sesuai dengan peratururan daerah bangunan gedung Kabupaten Hulu Sungai Utara digolongkan menjadi 5, yaitu: hunian, keagamaan, usaha, sosial dan budaya, serta fungsi khusus.

  1. Bangunan gedung menurut fungsinya meliputi: bangunan untuk rumah tinggal tunggal, rumah tinggal deret, rumah susun, dan rumah tinggal sementara.

  2. Bangunan gedung menurut fungsi keagamaan meliputi: masjid, gereja, pura, wihara, dan kelenteng.

  3. Bangunan gedung menurut fungsi usaha meliputi: bangunan gedung untuk perkantoran, perdagangan, perindustrian, perhotelan, wisata dan rekreasi, terminal, dan penyimpanan.

  4. Bangunan gedung menurut fungsi sosial dan budaya meliputi: bangunan gedung untuk pendidikan, kebudayaan, pelayanan kesehatan, laboratorium dan pelayanan umum

  .

  5. Bangunan gedung menurut fungsi khusus meliputi: bangunan gedung untuk reaktor nuklir, instalasi pertahanan dan keamanaan dan bangunan sejenis yang ditetapkan oleh Menteri. Satu bangunan gedung dapat memiliki lebih dari satu fungsi. Fungsi bangunan gedung harus sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam rencana tata ruang wilayah. Untuk Perubahan fungsi bangunan gedung dapat dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dan penetapan kembali oleh pemerintah daerah.

  5.3.2 Persyaratan Bangunan Gedung

  Sesuai dengan Peraturan Derah Bangunan gedung Kabupaten Hulu Sungai Utara maka Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif dan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung.

  , meliputi: a. Status hak atas tanah, dan/ atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah. 1) Setiap bangunan gedung harus didirikan pada tanah yang status hak kepemilikannya jelas, baik milik sendiri atau milik pihak lain. 2) Dalam hal tanahnya milik sendiri, maka status hak atas tanahnya dibuktikan dengan adanya sertifikat kepemilikan, atau dalam bentuk akta jual beli/ waris/ hibah, dan akta/ bukti kepemilikan lainnya yang diakui berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3) Dalam hal tanahnya milik pihak lain, maka bangunan hanya dapat didirikan

1. Persyaratan administratif bangunan gedung

  dengan izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah. 4) I zin pemanfaatan pada prinsipnya merupakan persetujuan yang dinyatakan dalam perjanjian tertulis antara pemegang hak atas tanah atau pemilik tanah dengan

  .

  pemilik bangunan gedung b. Status kepemilikan bangunan gedung. 1) Status kepemilikan bangunan gedung merupakan surat bukti kepemilikan bangunan gedung yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah, berdasarkan hasil kegiatan pendataan bangunan gedung. 2) Kepemilikan bangunan gedung dapat dialihkan kepada pihak lain. 3) Dalam hal pemilik bangunan gedung bukan pemilik tanah, maka pengalihan kepemilikannya harus mendapat persetujuan pemilik tanah.

  c. I MB (I zin Mendirikan Bangunan).

  1) Setiap orang yang akan mendirikan bangunan gedung wajib memiliki I MB dari Pemerintah Daerah.

  :

  2) Setiap penerbitan I MB harus memperhatikan

  a) Persyaratan administrasi

  • fotokopi KTP Pemohon;
  • fotokopi sah sertifikat/ akta/ segel tanah, atau surat keterangan / pernyataan

  penguasaan fisik tanah yang diketahui oleh Kepala Desa/ Lurah setempat;

  • surat pernyataan tidak keberatan dari pemilik tanah yang berbatasan;
  • gambar sketsa rencana bangunan dan site plan; dan • fotokopi lunas PBB tahun berjalan.

  b) Persyaratan teknis bangunan

  • kesesuaian letak dan penggunaan bangunan dengan tata ruang yang berlaku.
  • kesesuaian letak bangunan dengan garis sempadan yang ditetapkan Pemerintah Daerah.
  • konstruksi bangunan yang tidak membahayakan kepentingan umum; estetika bangunan.
  • kebersihan, kesehatan, dan keindahan lingkungan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah.

  2.

  , meliputi:

  Persyaratan teknik bangunan gedung a. Persyaratan tata bangunan gedung.

  1) Peruntukkan dan intensitas bangunan gedung.

  a) Peruntukan bangunan gedung merupakan persyaratan peruntukan lokasi, dimana setiap bangunan gedung harus didirikan pada lokasi yang sesuai dengan RTRW, RDTRKP, dan/ atau RTBL.

  b) I ntensitas bangunan gedung meliputi persyaratan kepadatan, ketinggian, dan jarak bebas bangunan gedung yang ditetapkan untuk lokasi yang bersangkutan.

  c) Kepadatan bangunan gedung harus sesuai dengan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) maksimal yang ditetapkan Pemerintah Daerah, yang ditentukan atas dasar kepentingan pelestarian lingkungan/ resapan air permukaan tanah dan pencegahan terhadap bahaya kebakaran, kepentingan ekonomi, fungsi peruntukan, fungsi bangunan, keselamatan dan kenyamanan bangunan.

  d) Ketinggian maksimal bangunan gedung harus sesuai dengan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang ditetapkan Pemerintah Daerah, yang ditentukan atas dasar kepentingan pelestarian lingkungan/ resapan air permukaan tanah pencegahan terhadap bahaya kebakaran, kepentingan ekonomi, fungsi peruntukan, fungsi bangunan, keselamatan dan kenyamanan bangunan, keselamatan dan kenyamanan umum.

  e) Persyaratan jarak bebas bangunan gedung ditetapkan dalam bentuk:

  • garis sempadan bangunan dengan as jalan, tepi sungai, dan jaringan tegangan tinggi.
  • jarak antara bangunan dengan batas-batas persil, jarak antar bangunan, dan jarak antara as jalan dengan pagar halaman yang diizinkan pada lokasi bersangkutan.

  2) Arsitektur bangunan gedung.

  a) Penampilan bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan kaidah-kaidah estetika bentuk, karakteristik arsitektur, dan lingkungan yang ada di sekitarnya.

  b) Tata ruang-dalam harus mempertimbangkan fungsi ruang, arsitektur bangunan, dan keandalan bangunan gedung.

  c) Keseimbangan, keserasian, dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya harus mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan gedung, dan ruang terbuka hijau yang seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya.

  d) Pertimbangan terhadap terciptanya ruang luar bangunan dan ruang terbuka hijau diwujudkan dalam pemenuhan persyaratan daerah resapan, akses penyelamatan, sirkulasi kendaraan dan manusia, serta terpenuhinya kebutuhan prasarana dan sarana di luar bangunan gedung. 3) Pengendalian dampak lingkungan. a) Persyaratan pengendalian dampak hanya berlaku bagi bangunan gedung yang berpotensi menimbulkan dampak penting lingkungan.

  b) Setiap mendirikan bangunan gedung yang berpotensi menimbulkan dampak penting lingkungan, harus terlebih dahulu mendapat rekomendasi dari SKPD yang melaksanakan urusan pengelolaan lingkungan hidup. 4) Rencana tata bangunan dan lingkungan (RTBL) .

  a) Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan ( RTBL ) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf d, merupakan persyaratan tata bangunan sebagai tindak lanjut dari RTRW dan/ atau RDTRKP, digunakan dalam pengendalian pemanfaatan ruang suatu kawasan dan sebagai panduan rancangan kawasan untuk mewujudkan kesatuan karakter serta kualitas bangunan dan lingkungan yang berkelanjutan.

  b) Ketentuan lebih lanjut mengenai RTBL ditetapkan dengan Peraturan Bupati 5) Pembangunan bangunan gedung di atas dan/ atau di bawah tanah, air dan/ atau prasarana dan sarana umum.

  a) Tidak untuk fungsi hunian atau tempat tinggal.

  b) Memiliki sarana khusus keselamatan dan keamanan.

  c) Mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

  d) Memenuhi syarat kesehatan;

  b. Keandalan bangunan gedung, meliputi: 1) Persyaratan keselamatan.

  a) Kemampuan bangunan gedung untuk mendukung beban muatan.

b) Kemampuan bangunan gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan bahaya petir.

  2) Persyaratan kesehatan.

  a) Persyaratan sistem penghawaan.

  b) Pencahayaan.

  c) Sanitasi.

  d) Penggunaan bahan bangunan gedung. 3) Persyaratan kenyamanan.

  a) Kenyamanan ruang gerak dan hubungan antar ruang.

  b) Kondisi udara dalam ruang.

  c) Pandangan serta tingkat getaran dan tingkat kebisingan. 4) Persyaratan kemudahan.

  a) Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan kemudahan hubungan horizontal dengan tersedianya pintu dan/ atau koridor yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung tersebut.

  b) Setiap bangunan gedung bertingkat harus menyediakan sarana hubungan vertikal antar lantai yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung tersebut berupa tersedianya tangga, ram, lift, tangga berjalan/ escalator, dan/ atau lantai berjalan/ travelator.

  c) Setiap bangunan gedung dengan ketinggian di atas 5 (lima) lantai harus menyediakan sarana hubungan vertikal berupa lift.

  d) Setiap bangunan gedung, kecuali rumah tinggal tunggal dan rumah deret sederhana, harus menyediakan sarana evakuasi yang meliputi sistem peringatan bahaya bagi pengguna, pintu keluar darurat, dan jalur evakuasi yang dapat menjamin kemudahan pengguna bangunan gedung untuk melakukan evakuasi dari dalam bangunan gedung secara aman apabila terjadi bencana atau keadaan darurat.

  e) Setiap bangunan gedung untuk kepentingan umum harus menyediakan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan gedung meliputi ruang ibadah, ruang ganti, ruang bayi, toilet, tempat parkir, tempat sampah, serta fasilitas komunikasi dan informasi untuk memberikan kemudahan bagi pengguna bangunan gedung dalam beraktivitas dalam bangunan gedung.

5.3.3 Penyelenggaraan Bangunan Gedung

  Pembangunan bangunan gedung diselenggarakan melalui 3 tahapan, yaitu:

  1. Perencanaan teknis Perencanaan teknis bangunan gedung dilakukan oleh penyedia jasa perencanaan bangunan gedung yang memiliki sertifikat sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan.

  2. Pelaksanaan Kegiatan pelaksanaan konstruksi bangunan, meliputi:

  a. Pemeriksaan dokumen pelaksanaan, meliputi pemeriksaan kelengkapan, kebenaran, keterlaksanaan konstruksi dari semua dokumen pelaksanaan pekerjaan; b. Persiapan lapangan, meliputi penyusunan program pelaksanaan, mobilisasi sumber daya dan penyiapan fisik lapangan; c. Kegiatan konstruksi, meliputi pelaksanaan pekerjaan konstruksi fisik lapangan, pembuatan laporan kemajuan pekerjaan, penyusunan gambar kerja pelaksanaan dan gambar pelaksanaan pekerjaan sesuai yang dilaksanakan dan kegiatan masa pemeliharaan konstruksi; d. Kegiatan pemeriksaan hasil akhir pekerjaan konstruksi, meliputi pemeriksaan hasil akhir pekerjaan konstruksi bangunan gedung sesuai dengan dokumen pelaksanaan.

  3. Pengawasan Pengawasan konstruksi bangunan gedung yaitu berupa kegiatan pengawasan pelaksanaan konstruksi atau kegiatan manajemen konstruksi pembangunan bangunan gedung. Kegiatan pengawasan pelaksanaan konstruksi bangunan gedung, meliputi:

  a. Pengawasan biaya, mutu, dan waktu pembangunan bangunan gedung pada tahap pelaksanaan konstruksi; b. Pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan gedung.

  

5.3.4 Peran masyarakat dan pembinaan dalam penyelenggaraan bangunan

gedung

  Peran masyarakat dalam penyelenggaraan bangunan gedung dilakukan dalam bentuk:

  1. Memantau dan menjaga ketertiban penyelenggaraan.

  2. Memberi masukan kepada pemerintah dan/ atau pemerintah daerah.

  Pengaturan peran masyarakat dimaksudkan untuk mendorong tercapainya tujuan penyelenggaraan bangunan gedung yang tertib, fungsional, andal, dapat menjamin keselamatan, kesehatan, kenyamanan, kemudahan bagi pengguna dan masyarakat di sekitarnya, serta serasi dan selaras dengan lingkungannya. Peran masyarakat yang diatur dalam Peraturan Daerah ini dapat dilakukan oleh perseorangan atau kelompok masyarakat melalui sarana yang disediakan atau melalui gugatan perwakilan.

5.4 Arahan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan

  Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) yang telah disusun di Kabupaten Hulu Sungai Utara saat ini sebanyak 3 lokasi. RTBL ini yaitu terdiri dari:

  1. RTBL Kawasan Kerajinan Tikar Purun Kecamatan Haur Gading

  2. RTBL Kawasan Kawasan Masjid Tua Sungai Banar Kec. Amuntai Selatan

  3. RTBL Kecamatan Amuntai Tengah Mengingat kesemua RTBL tersebut masuk dalam kategori RTBL Kawasan Strategis

  Kabupaten (KSK), maka pada bagian ini tidak dipaparkan arahan dari kedelapan RTBL tersebut, karena dalam sistematika penyusunan Dokumen RPI 2JM berdasarkan pedoman tahun 2014, maka untuk ulasan atau paparan mengenai RTBL KSK disampaikan dalam sub bab tersendiri.

  

5.5 Arahan Rencana I nduk Sistem Pengembangan Air Minum

( RI SPAM)

5.5.1 Rencana Sistem Pelayanan

  Rencana sistem pelayanan air minum sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tahun 2012-2032 berdasarkan Rencana pengembangan pusat -pusat kegiatan. Potensi pengembangan memperlihatkan tingkat kebutuhan yang perlu diprioritaskan dalam pelayanan air minum.

  Selain itu berdasarkan pada pertimbangan struktur ruang, topografi, ketersediaan air baku dan akses jalan serta rencana strategis lain akan menjadi pertimbangan dalam menentukan sistem pelayanan. Selain itu pertimbangan kepadatan penduduk yang berujung pada adanya potensi pencemaran terhadap sumber air baku air minum menjadi dasar perlunya sistem perpipaan untuk diterapkan pada suatu wilayah. Sistem pelayanan Air Minum Kabupaten Hulu Sungai Utara dibagi menjadi 2 sistem yaitu

  1. Sistem pelayanan dengan jaringan perpipaan yang telah dilayani oleh PDAM Kabupaten Hulu Sungai Utara.

  2. Sistem pelayanan non perpipaan atau sistem pedesaan untuk wilayah pedesaan yang belum terjangkau oleh pelayanan PDAM dengan memanfaatkan program yang sudah dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat dan Daerah yaitu dengan membuat sumur bor maupun sumur pompa tangan

A. Sistem Pelayanan Perpipaan

  Tingkat pelayanan air minum dengan jaringan perpipaan Tahun 2013 dengan jaringan perpipaan di Kabupaten Hulu Sungai Utara baru mencapai sekitar 42% terhadap penduduk kabupaten sebanyak 217.667 jiwa dan terhadap daerah pelayanan sebesar 79% dengan total penduduk sebesar 114.864 jiwa

  Sistem pelayanan perpipaan untuk air minum di kabupaten Hulu Sungai Utara diencanakan dibagi dalam beberapa zona pelayanan sesuai dengan kondisi eksisting baik secara administrasi. Zona-zona pelayanan yang direncanakan sebagai berikut:

  1. Zona pelayanan 1 adalah Sistem I ntegrasi Kota Amuntai dan sekitarnya yaitu pelayanan untuk wilayah Kecamatan Amuntai Tengah, Kecamatan Amuntai Utara , Amunt ai Selatan, Kecamatan Banjang dan Kecamatan Haur Gading. Zona pelayanan 1 terdiri dari dari BNA Amuntai, I KK Telaga Silaba, I KK Tangkawang , I KK Muara Tapus dan yang terbaru I KK Haur Gading.

  2. Zona pelayanan 2 adalah Sistem yang akan melayani Kecamatan Sungai Pandan dan Kecamatan Sungai Tabukan. Zona 2 terdiri dari I KK Alabio, I KK Sungai Tabukan, dan I KK Rantau Bujur.

  3. Zona pelayanan 3 adalah sistem yang akan melayani Kecamatan Babirik, atau I KK Babirik.

  4. Zona pelayanan 4 adalah sistem yang akan melayani Kecamatan Danau Panggang, atau I KK Danau Panggang.

  5. Zona pelayanan 5 adalah system yang akan melayani Kecamatan Paminggir atau I KK Paminggir.

B. Sistem Pelayanan Non Perpipaan

  Pelayanan air minum dengan jaringan non perpipiaan sebagaian besar berada di kawasan pedesaan yang belum terjangkau atau dilayani oleh PDAM Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jaringan air minum dengan sistem non perpipaan dengan menggunakan sumber airbaku berupa air tanah dalam dan air tanah dangkal yan berupa sumur bor dan sumur gali yang dibangun oleh pemerintah daerah ataupun dikelola oleh masyarakat setempat. Air bersih yang dihasilkan dari sumur gali atau sumur bor pada umumya mempunyai kualitas yang cukup baik sehingga dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Selain itu masyarakat yang tinggal di daerah sepanjang sungai masih banyak menggunakan air sungai untuk keperluan rumah tangga dengan cara cukup diendapkan saja.

  Cakupan pelayanan untuk sistem pelayanan non perpipaan di Kabupaten Hulu Sungai Utara ini mencapai sekitar 3000 KK. Adapun sebaran lokasi sumur bor sebanyak 350 unit di 10 (sepuluh) kecamatan.

  Sarana dan prasarana air bersih non perpipaan yang digunakan masyarakat berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Utara terdiri dari Sumur Pompa Tangan (SPT), Sumur Pompa Dalam Listrik (SPDL).

  Rencana pelayanan dengan sistem non perpipaan akan ditingkatkan menjadi 100% sampai akhir tahun perencanaan untuk wilayah pedesaan yang tidak memungkinkan untuk dilayani oleh jaringan perpipaan dari PDAM. Wilayah pelayanan non perpipaan terutama desa-desa terpencil yang rawan air bersih. Daerah yang akan dilayani untuk dikembangkan dengan sistem non perpipaan antara lain dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 5.6 Rencana Daerah Pelayanan Non Perpipaan Kabupaten Hulu Sungai Utara

  No Kecamatan Desa

  1 Paminggir

  1 Sapala

  2 Bararawa

  3 Tampakang

  4 Ambahai

  5 Pal Batu

  2 Babirik

  1 Pajukungan Hulu

  4 Air Tawar

  2 Guntung

  Master Plan Air Bersih Kabupaten Hulu Sungai Utara disusun dengan tahapan perencanaan sebagai berikut:

  Sumber: Hasil Analisa Konsultan, 2013

  4 Teluk Haur

  3 Tuhuran

  2 Polantani

  1 Tambak Sari Panji

  6 Haur Gading

  2 Pawalutan

  1 Pulau Damar

  5 Banjang

  No Kecamatan Desa

  3 Pimping

  1 Tabing Liring

  4 Amuntai Utara

  7 Padamaan

  6 Palukahan

  5 Pararain

  4 Darussalam

  3 Bitin

  2 Sugai Namang

  1 Rintisan

  3 Danau Panggang

  4 Murung kupang

  3 Pajukungan Hilir

  2 Teluk Limbung

5.5.2 Rencana Pengembangan SPAM

A. Sistem Jaringan Perpipaan

  • Tahap I Tahun 2014 –
  • Tahap I I Tahun 2019 – 2023
  • Tahap I I I Tahun 2024 – 2028
  • Tahap I V Tahun 2029 – 2033

1. Tahap Lima Tahun I ( Tahun 2014 -2018)

a. Zona Pelayanan 1

  a) Pompa Submersible Q = 22 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 4 unit b) Pompa Submersible Q = 11 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 2 unit

  1) Pembangunan, Pengadaan dan Pemasangan I ntake

  c) Pipa transmisi HDPE diameter 250 mm = 200 m

  d) Pipa transmisi HDPE diameter 150 mm = 200 m

  e) Pembangunan I ntake sebanyak 3 Ls

  f) Penambahan Daya listrik 110 Kva sebanyak 2 Ls

  g) Penambahan Daya listrik 80 Kva sebanyak 1 Ls 2) Pekerjaan Pembangunan I PA, Pompa Distribusi

  a) I PA kapasitas 20 lt/ dtk sebanyak 2 unit

  b) I PA kapasitas 10 lt/ dtk sebanyak 1 unit

  c) Pompa centrifugal Q = 20 lt/ dtk, Head = 60 m sebanyak 4 unit

  d) Pompa centrifugal Q = 10 lt/ dtk, Head = 60 m sebanyak 2 unit

  e) Rumah Pompa dan Genset 36 m2 sebanyak 2 Ls 3) Pekerjaan Pembangunan Reservoir 3

  a) Reservoir 500 m sebanyak 2 unit

  b) Reservoir 200 m3 sebanyak 1 unit 4) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa GI φ 200 mm = 36 m

  b) Pipa GI φ 150 mm = 108 m

  c) Pipa GI φ 100 mm = 234 m

  d) Pipa GI φ 75 mm = 174 m

  e) Pipa HDPE φ 200 mm = 1.962 m

  f) Pipa HDPE φ 150 mm = 7.892 m

  g) Pipa HDPE φ 100 mm = 34.883 m

  h) Pipa HDPE φ 75 mm = 26.803 m i) Pipa HDPE φ 50 mm = 34.250 m 5) Pengadaan dan Pemasangan Meter I nduk

  a) Meter induk φ 8 inch sebanyak 1 unit

  b) Meter induk φ 6 inch sebanyak 2 unit

  c) Meter induk φ 4 inch sebanyak 1 unit 6) Pertambahan Unit Pelayanan

  a) Sambungan Rumah sebanyak 2.908 unit

  b) Hidran Umum sebanyak 9 unit

b. Zona Pelayanan 2

  1) Pembangunan, Pengadaan dan Pemasangan I ntake

  a) Pompa Submersible Q = 11 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 2 unit

  b) Pembangunan I ntake/ Ponton sebanyak 1 Ls c) Pipa transmisi diameter 150 mm = 800 m

  d) Penambahan Daya Listrik 80 Kva sebanyak 1 Ls 2) Pekerjaan Pembangunan I PA, Pompa Distribusi

  a) I PA kapasitas 10 lt/ dtk sebanyak 1 unit

  b) Pompa centrifugal Q = 10 lt/ dtk, Head = 60 m sebanyak 2 unit

  c) Rumah pompa dan genset 36 m2 sebanyak 1 Ls 3 3) Pekerjaan pembangunan reservoir 200 m sebanyak 1 unit 4) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 250 mm = 300 m

  b) Pipa HDPE φ 200 mm = 200 m

  c) Pipa HDPE φ 150 mm = 500 m

  d) Pipa HDPE φ 100 mm = 6.910 m

  e) Pipa HDPE φ 75 mm = 13.982 m

  f) Pipa HDPE φ 50 mm = 20.600 m

  g) Pipa GI φ 100 mm = 90 m

  h) Pipa GI φ 75 mm = 140 m 5) Pengadaan dan Pemasangan Meter I nduk

  a) Meter induk φ 6 inch sebanyak 1 unit

  b) Meter induk φ 4 inch sebanyak 1 unit 6) Pertambahan Unit Pelayanan

  a) Sambungan Rumah sebanyak 995 unit

  b) Hidran Umum sebanyak 15 unit

c. Zona Pelayanan 3

  1) Pembangunan, pengadaan dan pemasangan intake

  a) Pompa Submersible Q = 11 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 2 unit

  b) Pembangunan I ntake/ Ponton sebanyak 1 Ls

  c) Pipa transmisi diameter 150 mm = 100 m

  d) Penambahan daya listrik 80 Kva sebanyak 1Ls 2) Pekerjaan pembangunan I PA, pompa distribusi

  a) I PA kapasitas 10 lt/ detik sebanyak 1 unit

  b) Pompa centrifugal Q = 10 lt/ dtk, H = 60 m sebanyak 2 unit 2

  c) Rumah pompa dan genset 36 m sebanyak 1 Ls 3 3) Pekerjaan pembangunan reservoir 200 m sebanyak 1 unit 4) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 250 mm = 250 m

  b) Pipa HDPE φ 200 mm = 200 m c) Pipa HDPE φ 150 mm = 300 m

  d) Pipa HDPE φ 100 mm = 8.000 m

  e) Pipa HDPE φ 75 mm = 12.000 m

  f) Pipa HDPE φ 50 mm = 11.000 m

  g) Pipa GI φ 100 mm = 110 m 5) Pengadaan dan pemasangan meter induk φ 6 inch sebanyak 1 unit 6) Pertambahan Unit Pelayanan

  a) Sambungan Rumah sebanyak 534 unit

  b) Hidran Umum sebanyak 13 unit

  d. Zona Pelayanan 4

  1) Pembangunan, pengadaan dan pemasangan intake

  a) Pompa Submersible Q = 11 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 2 unit

  b) Pembangunan I ntake/ Ponton sebanyak 1 ls (2015), 1 ls (2024), 1 ls (2029)

  c) Pipa transmisi diameter 150 mm = 100 m

  d) Penambahan daya listrik 80 Kva sebanyak 1 Ls 2) Pekerjaan pembangunan I PA, pompa distribusi

  a) I PA kapasitas 10 lt/ detik sebanyak 1 unit

  b) Pompa centrifugal Q = 10 lt/ dtk, H = 60 m sebanyak 2 unit 2

  c) Rumah pompa dan genset 36 m sebanyak 1 Ls 3 3) Pekerjaan pembangunan reservoir 200 m sebanyak 1 unit 4) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 150 mm = 300 m

  b) Pipa HDPE φ 100 mm = 1000 m

  c) Pipa HDPE φ 75 mm = 11.000 m

  d) Pipa HDPE φ 50 mm = 15.000 m

  e) Pipa GI φ 75 mm = 100 m 5) Pengadaan dan pemasangan meter induk φ 4 inch sebanyak 1 unit 6) Pertambahan Unit Pelayanan

  a) Sambungan Rumah sebanyak 642 unit

  b) Hidran Umum sebanyak 10 unit

  e. Zona Pelayanan 5

  1) Pompa Submersible Q = 11 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 1 unit 2) Pompa centrifugal Q = 10 lt/ dtk, H = 60 m sebanyak 2 unit 3) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 75 mm = 500 m

  b) Pipa HDPE φ 50 mm = 1.000 m

  4) Pengadaan dan pemasangan meter induk φ 4 inch sebanyak 1 unit 5) Pertambahan Sambungan Rumah sebanyak 102 unit

2. Tahap Lima Tahun I I ( Tahun 2019 -2023)

  a. Zona Pelayanan 1 2) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 100 mm = 7.500 m

  b) Pipa HDPE φ 75 mm = 8.000 m

  c) Pipa HDPE φ 50 mm = 11.200 m 3) Pertambahan Unit Pelayanan

  a) Sambungan Rumah sebanyak 3.380 unit

  b) Hidran Umum sebanyak 16 unit

  b. Zona Pelayanan 2 1) Pembangunan, Pengadaan dan Pemasangan I ntake

  a) Pompa Submersible Q = 11 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 2 unit

  b) Pembangunan I ntake/ Ponton sebanyak 1

  c) Pipa transmisi φ 150 mm = 800 m

  d) Penambahan Daya Listrik 80 Kva sebanyak 1 Ls 2) Pekerjaan Pembangunan I PA, Pompa Distribusi

  a) I PA kapasitas 10 lt/ dtk sebanyak 1 unit

  b) Pompa centrifugal Q = 10 lt/ dtk, Head = 60 m sebanyak 2 unit 2

  c) Rumah pompa dan genset 36 m sebanyak 1 Ls 3) Pekerjaan Pembangunan Reservoir 200 m3 sebanyak 1 unit 4) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 200 mm = 2.500 m

  b) Pipa HDPE φ 150 mm = 3.500 m

  c) Pipa HDPE φ 100 mm = 6.700 m

  d) Pipa HDPE φ 75 mm = 8.000 m

  e) Pipa HDPE φ 50 mm = 15.500 m 5) Pengadaan dan pemasangan meter induk φ 4 inch sebanyak 1 unit 6) Pertambahan Unit Pelayanan

  a) Sambungan Rumah sebanyak 1.005 unit

  b) Hidran Umum sebanyak 4 unit

  c. Zona Pelayanan 3 1) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 100 mm = 8.000 m b) Pipa HDPE φ 75 mm = 7.700 m

  c) Pipa HDPE φ 50 mm = 9.000 m 2) Pertambahan Unit Pelayanan

  a) Sambungan Rumah sebanyak 522 unit

  b) Hidran Umum sebanyak 1 unit

  d. Zona Pelayanan 4 1) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 100 mm = 8.000 m

  b) Pipa HDPE φ 75 mm = 1.500 m 2) Pertambahan Unit Pelayanan

  a) Sambungan Rumah sebanyak 652 unit

  b) Hidran Umum sebanyak 2 unit

  e. Zona Pelayanan 5 1) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 75 mm = 500 m

  b) Pipa HDPE φ 50 mm = 1.000 m 2) Pertambahan Sambungan Rumah sebanyak 112 unit

3. Tahap Lima Tahun I I I ( Tahun 2024- 2028)

a. Zona Pelayanan 1

  1) Pembangunan, Pengadaan & Pemasangan I ntake

  a) Pompa Submersible Q = 22 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 2 unit

  b) Pompa Submersible Q = 11 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 6 unit

  c) Pipa transmisi HDPE φ 250 mm = 200 m

  d) Pipa transmisi HDPE φ 150 mm = 400 m

  e) Pembangunan I ntake sebanyak 4 Ls

  f) Penambahan Daya listrik 110 Kva sebanyak 1 ls (2017) dan 1 ls (2018) 2) Pekerjaan pembangunan I PA, Pompa distribusi

  a) I PA kapasitas 20 lt/ dtk sebanyak 1 unit

  b) I PA kapasitas 10 lt/ dtk sebanyak 3 unit

  c) Pompa centrifugal Q = 20 lt/ dtk, Head = 60 m sebanyak 2 unit

  d) Pompa centrifugal Q = 10 lt/ dtk, Head = 60 m sebanyak 6 unit 2

  e) Rumah Pompa dan Genset 36 m sebanyak 4 Ls 3) Pembangunan Reservoir 3

  a) Reservoir 200 m sebanyak 2 unit 3

  b) Reservoir 100 m sebanyak 2 unit

  4) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 250 mm = 200 m

  b) Pipa HDPE φ 200 mm = 500 m

  c) Pipa HDPE φ 150 mm = 2.500 m

  d) Pipa HDPE φ 100 mm = 5.000 m

  e) Pipa HDPE φ 75 mm = 10.500 m

  f) Pipa HDPE φ 50 mm = 12.500 m 5) Pengadaan dan pemasangan meter induk φ 8 inch sebanyak 1 unit 6) Pertambahan Unit Pelayanan

  a) Sambungan Rumah sebanyak 3.739 unit

  b) Hidran Umum sebanyak 11 unit b. Zona Pelayanan 2

  1) Pembangunan, Pengadaan dan Pemasangan I ntake

  a) Pompa Submersible Q = 11 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 2 unit

  b) Pembangunan I ntake/ Ponton sebanyak 1 Ls

  c) Pipa transmisi φ 150 mm = 100 m

  d) Penambahan Daya Listrik 80 Kva sebanyak 1 Ls 2) Pekerjaan Pembangunan I PA, Pompa Distribusi

  a) I PA kapasitas 10 lt/ dtk sebanyak 1 unit

  b) Pompa centrifugal Q = 10 lt/ dtk, Head = 60 m sebanyak 2 unit 2

  c) Rumah pompa dan genset 36 m sebanyak 1 Ls 3 3) Pekerjaan Pembangunan Reservoir 200 m sebanyak 1 unit 4) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 150 mm = 500 m

  b) Pipa HDPE φ 100 mm = 5.300 m

  c) Pipa HDPE φ 75 mm = 5.500 m

  d) Pipa HDPE φ 50 mm = 10.500 m 5) Pengadaan dan pemasangan meter induk φ 6 inch sebanyak 1 unit 6) Pertambahan Unit Pelayanan

  a) Sambungan Rumah sebanyak 1.285 unit

  b. Hidran Umum sebanyak 9 unit

c. Zona Pelayanan 3

  1) Pembangunan, pengadaan dan pemasangan intake

  a) Pompa Submersible Q = 11 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 2 unit

  b) Pembangunan I ntake/ Ponton sebanyak 1 Ls

  c) Pipa transmisi φ 150 mm = 100 m d) Penambahan daya listrik 80 Kva sebanyak 1 Ls 2) Pekerjaan pembangunan I PA, pompa distribusi

  a) I PA kapasitas 10 lt/ detik sebanyak 1 unit

  b) Pompa centrifugal Q = 10 lt/ dtk, H = 60 m sebanyak 2 unit 2

  c) Rumah pompa dan genset 36 m sebanyak 1 Ls 3 3) Pekerjaan pembangunan reservoir 200 m sebanyak 1 unit 4) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 200 mm = 500 m

  b) Pipa HDPE φ 150 mm = 1.500 m

  c) Pipa HDPE φ 100 mm = 7.500 m

  d) Pipa HDPE φ 75 mm = 6.000 m

  e) Pipa HDPE φ 50 mm = 10.000 m 5) Pertambahan Unit Pelayanan

  a) Sambungan Rumah sebanyak 1.055 unit

  b) Hidran Umum sebanyak 2 unit

  d. Zona Pelayanan 4

  1) Pembangunan, pengadaan dan pemasangan intake

  a) Pompa Submersible Q = 11 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 2 unit

  b) Pembangunan I ntake/ Ponton sebanyak 1 Ls

  c) Pipa transmisi φ 150 mm = 100 m

  d) Penambahan daya listrik 80 Kva sebanyak 1 Ls 2) Pekerjaan pembangunan I PA, pompa distribusi

  a) I PA kapasitas 10 lt/ detik sebanyak 1 unit

  b) Pompa centrifugal Q = 10 lt/ dtk, H = 60 m sebanyak 2 unit 2

  c) Rumah pompa dan genset 36 m sebanyak 1 Ls 3 3) Pekerjaan pembangunan reservoir 200 m sebanyak 1 unit 4) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 150 mm = 600 m

  b) Pipa HDPE φ 100 mm = 10.000 m

  c) Pipa HDPE φ 75 mm = 15.000 m

  d) Pipa HDPE φ 50 mm = 16.500 m 5) Pertambahan Unit Pelayanan

  a) Sambungan Rumah sebanyak 440 unit

  b) Hidran Umum sebanyak 5 unit

  e. Zona Pelayanan 5

  1) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih a) Pengadaan dan pemasangan pipa HDPE φ 75 mm = 500 m

  b) Pengadaan dan pemasangan pipa HDPE φ 50 mm = 1.000 m 2) Pertambahan Sambungan Rumah sebanyak 127 unit

4. Tahap Lima Tahun I V ( Tahun 2029 -2033)

  a. Zona Pelayanan 1 1) Pembangunan, Pengadaan & Pemasangan I ntake

  a) Pompa Submersible Q = 22 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 2 unit

  b) Pompa Submersible Q = 11 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 6 unit

  c) Pipa transmisi HDPE φ 250 mm = 200 m

  d) Pipa transmisi HDPE φ 150 mm = 400 m

  e) Pembangunan I ntake sebanyak 4 Ls 2) Pekerjaan pembangunan I PA, Pompa distribusi

  a) I PA kapasitas 20 lt/ dtk sebanyak 1 unit

  b) I PA kapasitas 10 lt/ dtk sebanyak 3 unit

  c) Pompa centrifugal Q = 20 lt/ dtk, Head = 60 m sebanyak 2 unit

  d) Pompa centrifugal Q = 10 lt/ dtk, Head = 60 m sebanyak 6 unit 2

  e) Rumah Pompa dan Genset 36 m sebanyak 4 Ls 3) Pembangunan Reservoir 3

  a) Reservoir 200 m sebanyak 2 unit 3

  b) Reservoir 100 m sebanyak 2 unit 4) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 250 mm = 200 m

  b) Pipa HDPE φ 200 mm = 300 m

  c) Pipa HDPE φ 150 mm = 1.500 m

  d) Pipa HDPE φ 100 mm = 3.000 m

  e) Pipa HDPE φ 75 mm = 10.500 m

  f) Pipa HDPE φ 50 mm = 15.000 m 5) Pengadaan dan Pemasangan Meter I nduk

  a) Meter induk φ 8 inch sebanyak 1 unit

  b) Meter induk φ 6 inch sebanyak 1 unit 6) Pertambahan Unit Pelayanan

  a) Sambungan Rumah sebanyak 2.941 unit

  b) Hidran Umum sebanyak 24 unit

  b. Zona Pelayanan 2 1) Pembangunan, Pengadaan dan Pemasangan I ntake a) Pompa Submersible Q = 11 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 2

  b) Pembangunan I ntake/ Ponton sebanyak 1 Ls

  c) Pipa transmisi φ 150 mm = 100 m

  d) Penambahan Daya Listrik 80 Kva sebanyak 1 Ls 2) Pekerjaan Pembangunan I PA, Pompa Distribusi

  a) I PA kapasitas 10 lt/ dtk sebanyak 1 unit

  b) Pompa centrifugal Q = 10 lt/ dtk, Head = 60 m sebanyak 2 unit 2

  c) Rumah pompa dan genset 36 m sebanyak 1 Ls 3 3) Pekerjaan Pembangunan Reservoir 200 m sebanyak 1 unit 4) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 250 mm = 300 m

  b) Pipa HDPE φ 200 mm = 500 m

  c) Pipa HDPE φ 150 mm = 1.000 m

  d) Pipa HDPE φ 100 mm = 6.600 m

  e) Pipa HDPE φ 75 mm = 10.000 m

  f) Pipa HDPE φ 50 mm = 14.500 m 5) Pengadaan dan pemasangan meter induk φ 6 inch sebanyak 1 unit 6) Pertambahan Unit Pelayanan

  a) Sambungan Rumah sebanyak 631 unit

  b) Hidran umum sebanyak 10 unit

  c. Zona Pelayanan 3 1) Pembangunan, pengadaan dan pemasangan intake

  a) Pompa Submersible Q = 11 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 2 unit

  b) Pembangunan I ntake/ Ponton sebanyak 1 Ls

  c) Pipa transmisi φ 150 mm = 100 m

  d) Penambahan daya listrik 80 Kva sebanyak 1 Ls 2) Pekerjaan pembangunan I PA, pompa distribusi

  a) I PA kapasitas 10 lt/ detik sebanyak 1 unit

  b) Pengadaan pompa centrifugal Q = 10 lt/ dtk, H = 60 m sebanyak 2 unit 2

  c) Rumah pompa dan genset 36 m sebanyak 1 Ls 3 3) Pekerjaan pembangunan reservoir 200 m sebanyak 1 unit 4) Pengadan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 250 mm = 200 m

  b) Pipa HDPE φ 200 mm = 500 m

  c) Pipa HDPE φ 150 mm = 1.000 m

  d) Pipa HDPE φ 100 mm = 7.500 m e) Pipa HDPE φ 75 mm = 5.500 m

  f) Pipa HDPE φ 50 mm = 12.500 m 5) Pengadaan dan pemasangan meter induk φ 6 inch sebanyak 1 unit 6) Pertambahan Unit Pelayanan

  a) Sambungan Rumah sebanyak 644 unit

  b) Hidran Umum sebanyak 7 unit

  d. Zona Pelayanan 4 1) Pembangunan, pengadaan dan pemasangan intake

  a) Pompa Submersible Q = 11 lt/ dtk, H = 20 m sebanyak 2 unit

  b) Pembangunan I ntake/ Ponton sebanyak 1 Ls

  c) Pipa transmisi φ 150 mm = 100 m

  d) Penambahan daya listrik 80 Kva sebanyak 1 Ls 2) Pekerjaan pembangunan I PA, pompa distribusi

  a) I PA kapasitas 10 lt/ detik sebanyak 1 unit

  b) Pompa centrifugal Q = 10 lt/ dtk, H = 60 m sebanyak 2 unit 2

  c) Rumah pompa dan genset 36 m sebanyak 1 Ls 3 3) Pekerjaan pembangunan reservoir 200 m sebanyak 1 unit 4) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 200 mm = 500 m

  b) Pipa HDPE φ 150 mm = 1.000 m

  c) Pipa HDPE φ 100 mm = 3.500 m

  d) Pipa HDPE φ 75 mm = 10.000 m

  e) Pipa HDPE φ 50 mm = 12.500 m 5) Pengadaan dan pemasangan meter induk φ 4 inch sebanyak 1 unit 6) Pertambahan Sambungan Rumah sebanyak 719 unit

  e. Zona Pelayanan 5 1) Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Bersih

  a) Pipa HDPE φ 75 mm = 500 m

  b) Pipa HDPE φ 50 mm = 1.000 m 2) Pengadaan dan pemasangan meter induk φ 4 inch sebanyak 1 unit 3) Pertambahan Sambungan Rumah sebanyak 138 unit

B. Sistem Jaringan Non Perpipaan

  Rencana pengembangan SPAM non perpipaan atau pelayanan untuk kawasan yang ada di pedesaan yang telah terlayani dengan program PAMSI MAS. Tingkat pelayanan yang ada sampai tahun 2012 telah 27% dengan total penduduk yang terlayani sebesar 7,136 jiwa terhadap total jumlah penduduk daerah pelayanan sebesar 25.237 jiwa Hal ini sebagian wilayah telah dilayani dengan jaringan perpipaan PDAM Jumlah desa yang terlayani dengan sistem pedesaan program PAMSI MAS sebanyak 27 desa di 8 kecamatan.

  Tingkat pelayanan akan dikembangkan sampai 100% terutama untuk 5 desa di Kecamatan Paminggir yang sebagian besar dilayani dengan sumur bor dan sumur pompa tangan. Desa-desa tersebut tidak mungkin dilayani dengan sistem perpipaan dari PDAM.

  Wilayah pelayanan non perpipaan untuk 7 kecamatan yang lain direncanakan akan ditingkatkan pelayanan dengan sistem jaringan perpipaan dari PDAM.

  5.5.3 Rencana Penurunan Kebocoran Air

  Kebocoran adalah permasalahan yang tidak dapat dihindari, akan tetapi dapat diminimalisir dengan berbagai cara. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membagi daerah pelayanan menjadi beberapa zona, sehingga tingkat kebocoran disetiap zona dapat diamati dan diketahui secara berkala dan berkesinambungan. Dengan cara ini dapat diketahui zona mana yang mempunyai tingkat kebocoran paling tinggi dan jauh melebihi standar yang diperbolehkan (20% ), sehingga tindakan penurunan kebocoran dapat lebih dikonsentrasikan terhadap zona yang bersangkutan. Ditinjau dari faktor penyebabnya kebocoran pada sistem distribusi ini dibagi menjadi 2, yaitu kebocoran karena faktor teknis dan kebocoran karena faktor non teknis.

  Pada sistem distribusi air minum dari hasil survei di lapangan kebocoran karena faktor teknis disebabkan oleh rusaknya pipa karena korosif, masa pakai pipa sudah habis, pemasangan pipa yang kurang sempurna terutama pada sambungan, rendahnya akurasi water meter dan water meter dalam kondisi rusak. Untuk mengurangi tingkat kebocoran air minum, maka PDAM Kabupaten Hulu Sungai Utara melakukan beberapa upaya, yaitu:

  1. Pembentukan Distrik Meter Area

  2. Penggantian meter air pelanggan secara rutin

  5.5.4 I ndikasi Program RI SPAM

  I ndikasi program pembangunan sebagaimana yang tertuang dalam dokumen Rencana I nduk Sistem Penyediaan Air Minum (RI SPAM) Kabupaten Hulu Sungai Utara dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.7 I ndikasi Program Rencana I nduk Sistem Penyediaan Air Minum Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi

  • - SPAM Jaringan Perpipaan Pembangunan I ntake/ Ponton Kec Amuntai Tengah, Amuntai Selatan, (Unit Air Baku, Unit Produksi, Amuntai Utara dan Haur Gading dan

  Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi dan Unit Pelayanan)

  Banjang - Kec. Sungai Pandan dan Sungai Tabukan

  • - Kec. Babirik - Kec. Danau Panggang Pembangunan I PA -

  Kec Amuntai Tengah, Amuntai Selatan, Amuntai Utara dan Haur Gading dan Banjang - Kec. Sungai Pandan dan Sungai Tabukan

  • - Kec. Babirik - Kec. Danau Panggang Pembangunan Reservoir -

  Kec Amuntai Tengah, Amuntai Selatan, Amuntai Utara dan Haur Gading dan Banjang - Kec. Sungai Pandan dan Sungai Tabukan

  • - Kec. Babirik - Kec. Danau Panggang Penambahan Jaringan Pipa Transmisi - Kec Amuntai Tengah, Amuntai Selatan, Amuntai Utara dan Haur Gading dan Banjang
    • - Kec. Sungai Pandan dan Sungai Tabukan - Kec. Babirik - Kec. Danau Panggang Pengadaan pompa submersible dan pompa centrifugal - Kec Amuntai Tengah, Amuntai Selatan, Amuntai Utara dan Haur Gading dan

      Banjang - Kec. Sungai Pandan dan Sungai Tabukan

    • - Kec. Babirik - Kec. Danau Panggang - Kec. Paminggir Pengadaan dan Pemasangan Meter I nduk - Kec Amuntai Tengah, Amuntai Selatan, Amuntai Utara dan Haur Gading dan

      Banjang - Kec. Sungai Pandan dan Sungai Tabukan

    • - Kec. Babirik - Kec. Danau Panggang - Kec. Paminggir

      Sumber: Dokumen RI SPAM Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2013

    5.6 Arahan Strategi Sanitasi Kota

    5.6.1 Kerangka Kerja Pembangunan Sanitasi

      Kerangka kerja pembangunan sanitasi yaitu terdiri dari visi dan misi, visi sanitasi dari Kabupaten Hulu Sungai Utarayang tertuang dalam Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) adalah “HULU SUNGAI UTARA YANG BERSI H DAN SEHAT PERMUKI MAN TAHUN 2018”. Untuk dapat mewujudkan visi tersebut maka dirumuskan beberapa misi yaitu sebagai berikut:

      1. Air Limbah Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana pengelolaan air limbah rumah tangga yang berwawasan lingkungan.

      2. Persampahan Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana pengelolaan persampahan yang ramah lingkungan.

      3. Drainase Meningkatkan pembangunan drainase yang partisipasif, berwawasan lingkungan dan tanggap kebutuhan.

      4. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Meningkatkan kesadaran masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat.

    5.6.2 Tujuan, Sasaran dan Strategi Sektor Sanitasi

    A. Sub- sektor Air Limbah Domestik

      Tujuan, sasaran dan indikatornya serta strategi untuk mencapai visi dan misi sanitasi Kabupaten Hulu Sungai Utara, dirumuskan berdasarkan kondisi terkini dari pengelolaan sanitasi sub-sektor Air Limbah Domestik seperti tercantum dalam tabel di bawah ini.

    Tabel 5.8 Tujuan, Sasaran dan Strategi Pengembangan Air Limbah Tujuan

      Sasaran Strategi Pernyataan Sasaran I ndikator Sasaran Meningkatkan akses masyarakat terhadap sarana dan prasarana air limbah domestik yang layak, aman dan ramah lingkungan

    • Berkurangnya praktek Buang Air Besar Sembarang (BABS) dari 48% menjadi 20% pada tahun 2018
    • Penduduk yang melakukan praktek BABS

      berkurang 20% di

      tahun 2018.
    • Memperluas akses layanan air limbah komunal bagi masyarakat miskin perkotaan
    • Peningkatan akses masyarakat terhadap prasarana dan sarana air limbah baik sistem onsite (setempat) di perkotaan dan perdesaan melalui sistem komunal.
    • Terbangunnya 40

      unit MCK+ + , 75

      unit tangki septik

      komunal dan 802

      unit stimulan jamban
    • Meningkatnya proporsi/ jumlah rumah tangga yang memiliki akses air limbah domestik baik berupa jamban pribadi, MCK+ + , maupun Tangki septik komunal
    • Melakukan tindakan-tindakan pencegahan BABS dan stimulan jamban bagi MBR di pedesaan
    • Mendorong pembiayaan alternatif bagi pembangunan air limbah permukiman
    • Tersusunnyamast

      erplan skala kota

      maupun skala kabupaten
    • Meningkatkan pola koordinasi antara pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten dlm mengembang-kan sistem air limbah perkotaan.
    • Ada perda pengelolaan air

      limbah domestik

    • Tersedianya perencanaan pengelolaan air limbah domestik
    • Merencanakan Pembangunan I PLT (jangka menengah)
    • Meningkatkan akses masyarakat terhadap prasarana dan sarana air limbah sistem terpusat (jangka panjang)
    • Tersedianya peraturan pengelolaan air limbah yang komprehensif
    • Merubah perilaku & meningkatkan pemahaman masyarakat dan dunia usaha terhadap pentingnya penge-lolaan air limbah permukimanlewat kampanye edukasi dan sosialisasi
    • Menyusun perangkat peraturan baik dalam bentuk Perda maupun Pera-turan Bupati yang mendukung penyelenggaraan pengelolaan air I limbah.
    • Mensosialisasikan peraturan terkait penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman.

      Tujuan Sasaran Strategi Pernyataan Sasaran I ndikator Sasaran

    • Memperkuat kelembagaan pengelo-laan air limbah.

    • Mendorong & meningkatkan komit-men para pemangku kepentingan untuk memperioritaskan pembangu-nan sanitasi termasuk pengelolaan air limbah.

      Sumber: SSK Kabupaten HSU 2014-2018

    B. Sub- sektor Persampahan

      Untuk melakukan perencanaan Sistem Prasarana Pengelolaan Persampahan sesuai dengan Rencana Struktur Wilayah maka perlu diperhatikan beberapa kebijakan yang terkait dengan target dan capaian pelayanan persampahan. Target dan capaian pengelolaan persampahan tersebut adalah:

      1. Pencapaian sasaran cakupan pelayanan di wilayah perkotaan sampai dengan tahun 2015 adalah mencapai 60% , dan pencapaian pengolahan sampah secara mandiri (konsep 3R) adalah sebesar 20% ;

      2. Rencana Kebutuhan Prasarana dan Sarana Persampahan di dasarkan pada Pedoman Standart Pelayanan Minimal SK SNI T-07- 1989-f Kep DJCK No. 07/ KPT S/ 1999.

    Tabel 5.9 Tujuan, SasarandanStrategi Pengembangan Persampahan Tujuan

      Sasaran Strategi Pernyataan Sasaran

    I ndikator

    Sasaran

    • Tersedianya sarana dan prasarana persampahan yang berwawasan lingkungan
    • Meningkatnya cakupan layanan persampahan di perkotaan dari 90 % menjadi 100 % tahun 2017
    • Efektifitas pengelolaan sampah meningkat
    • Meningkatkan cakupan pelayanan secara terencana melalui penam-bahan sarana persampahan khususnya armada pengangkut
    • Meningkatkan kualitas/ kinerja pengelolaan TPA kesanitary landfill
    • Penyamaan persepsi bagi para pengambil keputusan
    • Meningkatkan kerjasama dan koordinasi dengan pemangku kepentingan lain
    • Merubah perilaku masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah ke sungai/ sembarang tempat melalui pemilahan sampah
    • Jumlah masyarakat yang membakar sampah berkurang dari 45,2% menjadi 20% dan membuang sampah berkurang dari 36,8% menjadi 20 % di tahun 2018
    • Berkurang-nya

      timbunan sampah dari sumbernya sebesar 20%
    • Meningkatkan kampanye/ sosiali-sasi untuk tidak lagi membakar sampah melalui pemilahan 3R
    • Meningkatkan pemahaman masy. thd upaya

      3R dan pengamanan sampah B3 (Bahan Buangan Berbahaya) rumah tangga, sekolah dan lembaga

    • Mendorong penerapan sistem pengawasan dan penerapan sanksi hukum

    3 R

    • Mengembangkan sistem yang intensif dan iklim yang kondusif bagi dunia usaha/ swasta
    • Tersedianya regulasi persampahan yg baru pada tahun 2018 berdasar-kan UU RI No 18/ 2008

      Tujuan Sasaran Strategi Pernyataan Sasaran

    I ndikator

    Sasaran

    • Meningkatkan kinerja institusi pengelolaan persampahan
    • Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM pengelola sampah

      Sumber : SSK Kabupaten HSU 2014-2018

      C. Sub- sektor Drainase Perkotaan

      Tujuan, sasaran dan strategi untuk mencapai visi dan misi sanitasi Kabupaten Hulu Sungai Utara sub-sektor DrainasePerkotaanseperti tercantum dalam tabel di bawah.

    Tabel 5.10 Tujuan, Sasaran da nStrategi Pengembangan Drainase Perkotaan Tujuan

      Sasaran Strategi Pernyataan Sasaran I ndikator Sasaran Terwujudnya pembangunan drainase yang partisipatif, berwawasan lingkungan dan tanggap kebutuhan di Kab. HSUtahun 2018.

    • Meningkatnya akses masyarakat terhadap sarana drainase lingku- ngan
    • Penambahan 5.000m panjang saluran drainase yang berfungsi dengan baik di tahun 2018
    • Memastikan pengutamaan penerapan teknologi drainase lingkungan yang sesuai dengan daerah rawa
    • Bertambah pan- jangnya saluran drainase yang berfungsi dengan baik di tahun 2018
    • Mengembangan pembia-yaan melalui penetapan retribusi lingkungan
    • Perda tentang retribusi drainase lingkungan
    • Mengutamakan sumber pendanaan di luar APBD (pusat, propinsi, dll) untuk pembangunan drainase
    • Meningkatnya peran serta masyarakat terhadap peme- liharaan drainase yang terbangun
    • Perda ttg kewajiban dan sanksi masy. maupun lem-baga membuat drainase yang terhubung ke drainase sekunder
    • Penyusunan perda tentang kewajiban & sanksi untuk masy.& bangunan peme-rintah membuat drainase yg terhubung dengan drainase sekunder
    • Kampanye/ sosialisasi peran serta masy. thd pemeliharaan drainase meningkat sebesar 5 % .
    • Pengembangan kampanye peningkatan peran serta masyarakat dalam peme-liharaan drainase yang terbangun
    • Menyusun Regulasi menge-nai rencana detail tata ruang kawasan permukiman
    • Meningkatkan akses layanan drainase diwilayah padat huni diperkotaan.

      Sumber: SSK Kabupaten HSU 2014-2018

      D. Aspek Higiene/ PHBS

      Tujuan, sasaran dan strategi untuk mencapai visi dan misi sanitasi Kabupaten Hulu Sungai Utara untuk aspek Higiene/ PHBS seperti tercantum dalam tabel di bawah.

    Tabel 5.11 Tujuan, Sasaran dan Strategi Aspek Higiene/ PHBS Tujuan

      Sasaran Strategi Pernyataan Sasaran I ndikator Sasaran Meningkatnya masyarakat yang sadar terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara terus menerus di sektor sanitasi

    • Meningkatnya cakupan penduduk yang menerapkan PHBS dari 71% menjadi 85 % pd tahun 2018
    • Meningkatnya

      penduduk yang menerapkan PHBS

      sebesar 14%

    • Mengembangkan kemitraan dengan kelompok UKBM, PKK, CSR, LSM dan kelompok masy. dalam penyadaran higiene/ PHBS
    • Meningkatnya desa STBM dari 1,8%

      menjadi 20%

    • Meningkatnya jumlah desa STBM/ SBS
    • Meningkatkan pemicuan BABS di tingkat desa dan dusun.
    • Berperannya kelompok orga-nisasi masyarakat dalam penyadaran higiene pada akhir tahun 2018
    • Meningkatnya peran organisasi masyarakat
    • Optimalisasi dan sosialisasi kepada pemerintah dan pemangku kepentingan terkait kebijakan PHBS
    • Media-media pilihan (media lokal) yang dimanfaatkan dalam penyada-ran PHBS pada tahun 2018
    • Optimalisasi sosialisasi dan promosi dgn mengembang-kan sarana dan prasarana yang tepat sasaran
    • Dimanfaatkannya media-media pilihan dalam masyarakat untuk penyadaran higiene pada akhir tahun 2018
    • Strategi advokasi dan penyusunan perda/ perdes tentang PHBS
    • Meningkatkan alternatif pendanaan dari berbagi sumber (pusat, provinsi, daerah, swasta dan masy).

      Sumber: SSK Kabupaten HSU 2014-2018

    5.6.3 I ndikasi Program

      Program bisa dipahami sebagai kumpulan beberapa kegiatan yang mengarah kepada sebuah perubahan sesuai dengan strategi yang telah disusun. Tidak hanya terbatas pada implementasi fisik, tetapi juga mencakup usaha menjaga keberlangsungan operasi infrastruktur yang ada. Adapun indikasi program terkait sanitasi yang menampilkan hasil program dan kegiatan pengembangan sanitasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

    Tabel 5.12 Rencana Program & Kegiatan Pengelolaan Air Limbah Domestik No Nama Program Lokasi Satuan Volume

      Biaya ( juta Rp) Sumber Dana A PERENCANAAN UMUM

      1 Penyusunan Masterplan Air Limbah Skala Kota Amuntai Paket 1 500 APBN (Kab)

      2 Penyusunan Outline plan Sistem Air Limbah Skala Kota Amuntai Paket 1 500 APBD (Kab)

      3 Penyusunan Masterplan Air Limbah Skala Kabupaten Kab. HSU Paket 1 1.000 APBN

      4 Penyusunan Outline plan Sistem Air Limbah Skala Kabupaten Kab. HSU Paket 1 500 APBD (Kab)

      B

      I NFRASTRUKTUR AI R LI MBAH SI STEM SETEMPAT & KOMUNAL

      1 Penyuluhan dan Kampanye Bebas “BABS”

      41 Desa Keg 4 205 APBD (Kab &

      No Nama Program Lokasi Satuan Volume Biaya ( juta Rp) Sumber Dana Prov)

      6 Perencanaan Detail (DED) Pembangunan MCK+ +

      4

      40 Desa Keg

      8 Sosialisasi kepada Masy. oleh pengurusu KSM (SANI MAS)

      40 Desa Keg 4 400 APBD (Kab) &APBN

      7 Pelatihan bagi Pengurus KSM, berupa pelatihan dibidang teknis, keuangan dan manajerial

      40 Desa Paket 4 400 APBD (Kab)

      40 Desa m 2 400 1.000 APBD (Kab)

      2 Stimulan Jamban Keluarga untuk MBR/ Miskin

      5 Pembebasan Lahan/ Tanah

      40 Desa Keg 4 800 APBD (Kab)

      4 Sosialisasi Rencana Pembangunan MCK+ + kepada Masyarakat

      40 Desa Keg 4 800 APBD (Kab)

      3 Penyuluhan dan Kampanye Mendorong Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Air Limbah Domestik

      41 Desa Unit 820 820 APBD (Prov)

      40 APBD (Kab)

    9 Pembangunan MCK+ +

      10 Penyuluhan & kampanye mendorong partisipasi masy. dalam pengelolaan air limbah domestik

      23 Sosialiasasi & Kampanye Rencana Pembangunan I PLT Kab. HSU Keg

      75 Desa Ls 4 750 APBD (Kab)

      21 Studi Kelayakan Kab. HSU Paket

      1

      85 APBD (Kab)

      22 Studi UKL/ UPL Pembangunan I PLT Kab. HSU Paket

      1

      85 APBD (Kab)

      1

      40 APBD (Kab)

      85 APBD (Kab)

      24 Pembebasan Lahan/ Tanah Kab. HSU m 2 1.000 1.000 APBN

      25 Perenacanaan Detail (DED) Pembangunan I PLT Kab. HSU Paket 1 250 APBN

      26 Pelatihan bagi petugas I PLT Kab. HSU Orang

      15

      25 APBD (Kab)

      27 Pembangunan I PLT Tebing

    Liring

    Unit 1 10.000 APBN

      20 Biaya Operasi & Pemeliharaan Tangki Septik Komunal

      4

      75 Desa Keg 4 750 APBD (Kab)

      75 Desa Orang 750 750 APBD (Kab)

      11 Sosialisasi Rencana Pembangunan Tangki Septik Komunal kepada masy.

      75 Desa Keg 4 750 APBD (Kab)

      12 Pembebasan Lahan/ Tanah

      75 Desa m 2 7.000 37.500 APBD (Kab)

      13 Perencanaan Tangki Septik Komunal

      75 Desa Paket 4 400 APBD (Kab)

      14 Pelatihan bagi pengurus KSM, berupa pelatihan dibidang teknis, keuangnan dan manajerial

      15 Sosialiasasi kepada masy. oleh pengurus KSM (SANI MAS)

      75 Desa Paket

      40 Desa Unit 46 23.000 APBN

      16 Pembangunan Tangki Septik Komunal

      75 Desa Unit 75 37.500 APBN

      17 Pembangunan Jaringan Pipa

      75 Desa Keg 4 300 APBN

      18 Pembangunan Sambungan Rumah (SR)

      75 Desa SR 7.500 30.000 APBN

      19 Supervisi

      75 Desa Keg 4 750 APBD (Kab)

      No Nama Program Lokasi Satuan Volume Biaya ( juta Rp) Sumber Dana

      1

      3 Pemantauan Kualitas Udara Ambein Kab. HSU Keg 5 450 APBD (Kab) Sumber: Dokumen SSK Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2013

      2 Pemantauan Kualitas Air Sumur Gali/ PDAM/ Air Minum I si Ulang Kab. HSU Keg 5 150 APBD (Kab)

      75 APBD (Kab)

      5

      6 Penyusunan Perda Pengelolaan I PLT Kab. HSU Dok 1 100 APBD (Kab) E PEMANTAUAN KUALI TAS LI NGKUNGAN

      5 Penyusunan Perda Dilarang Buang Air Besar di Sungai/ Danau/ Rawa Kab. HSU Dok 1 100 APBD (Kab)

      4 Penyusunan Peraturan I jin Pembuangan Limbah Cair (I PLC) Kab. HSU Dok 1 100 APBD (Kab)

      1 100 APBD (Kab)

      3 Penyusunan Perda Dalam Penyelenggaraan Sistem Air Limbah Rumah Tangga Kab. HSU Dok

      2 Penyusunan peraturan limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya) Kab. HSU Dok 1 100 APBD (Kab)

      1 Penyusunan Perda Pengelolaan Air Limbah Kab. HSU Dok 1 100 APBD (Kab)

      1 150 APBN D PENGATURAN

      6 Perencanaan Detail (DED) Sistem Pengelolaan Air LI mbah Terpusat Skala Kota/ Kawasan

    Amuntai

    tengah &

    Amuntai

    selatan

    Paket

      50 APBD (Kab)

      5 Sosialisasi Detail (DED) Sistem Pengelolaan Air LI mbah Terpusat Skala Kota/ Kawasan

    Amuntai

    tengah &

    Amuntai

    selatan

    Keg

      28 Supervisi Pembangunan I PLT Tebing

    Liring

    Keg

      50 APBD (Kab) C PEMBANGUNAN I PAL TERPUSAT – OFFSI TE SKALA KOTA/ KAWASAN

      1

      15 APBD (Kab)

      29 Operasi & pemeliharaan I PLT Tebing

    Liring

    Ls 3 300 APBD (Kab)

      30 Pengadaan Truk Tinja Kab. HSU Unit 1 750 APBN

      31 Operasi & pemeliharaan Truk Tinja Tebing

    Liring

    Ls

      1

      1 Studi Pra Kelayakan Sistem Pengelolaan Air Limbah Terpusat Skala Kota/ Kawasan Amuntai

    tengah &

    Amuntai selatan Paket

      1 100 APBD (Kab)

      1 100 APBD (Kab)

      2 Studi Kelayakan Sistem Pengelolaan Air Limbah Terpusat Skala Kota/ Kawasan

    Amuntai

    tengah &

    Amuntai

    selatan

    Paket

      1 100 APBD (Kab)

      3 Preliminary Design Sistem Pengelolaan Air Limbah Terpusat Skala Kota/ Kawasan

    Amuntai

    tengah &

    Amuntai

    selatan

    Paket

      1 100 APBD (Kab)

      4 Studi AMDAL Sistem Pengelolaam Air Limbah Terpusat Skala Kota/ Kawasan

    Amuntai

    tengah &

    Amuntai

    selatan

    Paket

    1 Pemantauan Kualitas Air Sungai Kab. HSU Keg

      

    5.7 Strategi Pembangunan Permukiman Dan I nfrastruktur

    Perkotaan ( SPPI P)

      

    5.7.1 Visi dan misi pengembangan permukiman dan infrastruktur

    perkotaan ( kabupaten/ kota)

      Visi pembangunan yang menjadi arah dan tujuan kegiatan pembangunan permukiman di Kabupaten Hulu Sungai Utara untuk 20 tahun ke depan adalah ”RAWA

      MAKMUR 2025”.

      Sedangkan untuk mewujudkan visi “Rawa Makmur 2025” di Kabupaten Hulu Sungai Utara, dilaksanakan melalui berbagai program dan kegiatan yang merupakan penjabaran dari MI SI -MI SI yang merupakan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mengimplementasikan visi Rawa Makmur 2025. ini meliputi :

      MI SI - MI SI 1. Pengembangan kualitas sumberdaya manusia yang berlandaskan I PTEK dan

      , yakni pembangunan yang diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya

      I MTAQ

      manusia sehingga masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Utara memiliki tingkat pendidikan dan derajad kesehatan yang tinggi, terampil, memiliki kemandirian dalam mengatasi berbagai persoalan kehidupannya, memiliki kualitas kehidupan yang baik, serta tetap memiliki kadar keimanan dan ketaqwaan yang baik dan diimplementasikan sesuai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

      2. Pemantapan perekonomian daerah yang berkualitas, yakni arah pembangunan untuk mewujudkan perekonomian masyarakat yang maju. Secara agregat tercipta struktur perekonomian yang kuat, dengan tingkat pertumbuhan yang stabil dan relatif tinggi, yang merupakan perwujudan dari transformasi ekonomi melalui integrasi perekonomian yang bersifat primer (pertanian) dengan perekonomian yang bersifat sekunder (industri).

      3. dimana arah

      Pengembangan prasarana dan sarana fisik kew ilayahan,

      pembangunan ditujukan untuk menciptakan ketersediaan sarana dan prasarana sosial, ekonomi dan kemasyarakatan lainnya dalam menunjang aktivitas sosial dan perekonomian masyarakat.

      4. Pemantapan tata kelola pemerintahan yang baik, yakni menciptakan sistem pemerintahan yang semakin berkualitas, yang ditunjang oleh keberadaan sumberdaya aparatur yang profesional, sehingga pelaksanaan otonomi daerah yang nyata dan bertanggung jawab dapat terlaksana guna memberikan kesejahteraan kepada masyarakat, dapat memberi pelayanan yang maksimal yang disertai penegakkan supremasi hukum dalam menciptakan keamanan dan ketertiban di masyarakat.

      5. Pengelolaan lingkungan hidup dan sumberdaya alam baik berupa sumberdaya fisik maupun sumberdaya hayati secara lestari dan berkelanjutan serta mewujudkan pengembangan pemanfaatan energi alternatif dan terbarukan.

      Sementara itu tujuan Pembangunan Permukiman Perkotaan di Kota Amuntai Tahun 2013- 2032 adalah “Mewujudkan Kawasan Perkotaan Amuntai yang memiliki nilai Historis dan nilai Ekonomis sebagai Salah Satu Pusat Pertumbuhan di Kalimantan Selatan dengan Peran Utama Penghubung Tiga Provinsi (Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur), melalui pembangunan permukiman dan penyediaan infrastruktur perkotaan yang memadai.”

      

    5.7.2 Rencana Pembangunan dan Pengembangan Kaw asan Permukiman

    ( kabupaten/ kota) A. Kebijakan Pembangunan Permukiman

      Untuk mencapai tujuan pembangunan permukiman Kota Amuntai, selanjutnya dijabarkan ke dalam 5 (lima) kebijakan pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan Kota Amuntai untuk 20 tahun ke depan.

      Kebijakan Pembangunan Permukiman Perkotaan di Kota Amuntai Tahun 2013-2032 dapat dirumuskan sebagai berikut:

      1. Kebijakan 1 : Pembangunan Jalan Lingkungan yang Terintegrasi dengan Sistem Pergerakan Kota untuk Meningkatkan Kualitas Permukiman dan Mengembangkan Permukiman Baru.

      2. Kebijakan 2 : Pembangunan Sistem Jaringan Drainase yang Terintegrasi untuk Mengoptimalkan Pemanfaatan dan Pengendalian Air Limpasan.

      3. :

      Kebijakan 3

      Pembangunan Sistem Penyediaan Air Bersih/Minum yang Berkualitas bagi Seluruh Masyarakat di Kota Amuntai. 4. :

      Kebijakan 4

      Pembangunan Sistem Pengelolaan Sanitasi yang Memadai sesuai Standar Berlaku untuk Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat.

      5. Kebijakan 5 : Pembangunan Sistem Pengelolaan Persampahan yang Memadai dengan Pendekatan Industrialisasi untuk Meningkatkan Kualitas Lingkungan.

      B. Strategi Pembangunan Permukiman dan I nfrastruktur Skala Perkotaan

      Berdasarkan hasil perumusan kebijakan pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan Kota Amuntai, selanjutnya dijabarkan Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP) Kota Amuntai untuk 20 tahun ke depan. Setiap kebijakan Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan dijabarkan ke dalam beberapa strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan Kota Amuntai sebagai dasar perumusan program pembangunan

      .

      5 Peningkatan Kuantitas dan Kapasitas SDM KEBIJAKAN IV: Pembangunan Sistem Pengelolaan

      

    1 Penyediaan air bersih/ minum secara swadaya oleh masyarakat

      2 Pemberian bantuan fisik penyediaan air bersih/ minum secara sederhana oleh pemerintah

      3 Peningkatan kapasitas produksi air minum oleh PDAM

      4 Peningkatan kualitas dan kapasitas pengolahan air minum oleh PDAM

      

    5 Peningkatan kualitas dan kapasitas distribusi air minum oleh PDAM

    B Strategi Non Fisik:

      1 Penyusunan Studi dan Perencanaan terkait Pemanfaatan dan Konservasi Sumber Daya Air

      2 Pembuatan Perda tentang Pemanfaatan dan Konservasi Sumber Daya Air

      3 Sosialisasi dan Penyuluhan terkait Pemanfaatan dan Konservasi Sumber Daya Air

      4 Penertiban Pelanggaran terhadap Perda

      Sanitasi yang Memadai sesuai Standar Berlaku untuk Meningkatkan

      Air Bersih/ Minum yang Berkualitas bagi Seluruh Masyarakat di Kota

      Kualitas Kesehatan Masyarakat A Strategi Fisik:

      1 Pengembangan sistem pengelolaan sanitasi domestik secara swadaya oleh masyarakat

      2 Pengembangan sistem pengelolaan sanitasi oleh swasta

      

    3 Pengembangan sistem pengelolaan sanitasi untuk fungsi khusus

      4 Pengembangan sistem pengelolaan sanitasi terpusat oleh pemerintah

      

    5 Bantuan fisik sistem pengelolaan sanitasi komunal oleh pemerintah

    B Strategi Non Fisik:

      

    1 Penyusunan Studi dan Perencanaan terkait Pengelolaan Sanitasi

      2 Pembuatan Perda tentang Pengelolaan Sanitasi

      3 Sosialisasi dan Penyuluhan terkait Pengelolaan Sanitasi

      Amuntai A Strategi Fisik:

      5 Peningkatan Kuantitas dan Kapasitas SDM KEBIJAKAN III: Pembangunan Sistem Penyediaan

      Perumusan Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP) Kota Amuntai tahun 2013-2032 untuk setiap kebijakan Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan dapat dijelaskan berikut.

      

    2 Pembuatan Pengaturan tentang Pembangunan Jalan Lingkungan

    Tabel 5.13 Strategi Pembangunan Permukiman dan I nfrastruktur Perkotaan Skala Kota Kebijakan No Strategi

      KEBIJAKAN I: Pembangunan Jalan Lingkungan yang Terintegrasi dengan

      Sistem Pergerakan Kota untuk Meningkatkan Kualitas Permukiman dan Mengembangkan

      Permukiman Baru A Strategi Fisik:

      1 Peningkastan Kualitas Jalan Lingkungan pada Kawasan Permukiman Eksisting

      2 Peningkatan Kualitas Jalan Lingkungan pada Kawasan Permukiman Baru

      3 Pembangunan Jalan Lingkungan Baru pada Kawasan Permukiman Eksisting

      4 Pembangunan Jalan Lingkungan Baru pada Kawasan Permukiman Baru B Strategi Non Fisik:

      1 Penyusunan Studi dan Perencanaan terkait Pembangunan Jalan Lingkungan

      

    3 Sosialisasi dan Penyuluhan terkait Pembangunan Jalan Lingkungan

      4 Penertiban Pelanggaran terhadap Perda

      4 Penertiban Pelanggaran terhadap Pengaturan

      5 Peningkatan Kuantitas dan Kapasitas SDM KEBIJAKAN II: Pembangunan Sistem Jaringan

      Drainase yang Terintegrasi untuk Mengoptimalkan Pemanfaatan dan

      Pengendalian Air Limpasan A Strategi Fisik:

      1 Pengendalian Limpasan Skala Kavling oleh Masyarakat dan Pengembang

      2 Pengendalian Limpasan Skala Lingkungan oleh Pengembang dan Pengelola Lingkungan

      3 Pengendalian Limpasan Skala Kota oleh Pemerintah B Strategi Non Fisik:

      1 Penyusunan Studi dan Perencanaan terkait Pengendalian Limpasan Air Hujan dan Pengendalian Banjir

      2 Pembuatan Perda tentang Pengendalian Limpasan Air Hujan dan Pengendalian Banjir

      3 Sosialisasi dan Penyuluhan terkait Pengendalian Limpasan Air Hujan dan Pengendalian Banjir

      4 Penertiban Pelanggaran terhadap Perda

      Kebijakan No Strategi

      5 Peningkatan Kuantitas dan Kapasitas SDM Sumber: Buku Laporan Akhir SPPI P Perkotaan Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2012

      A Penataan Tepi Sungai Balangan B Normalisasi Sungai Balangan C Peningkatan Kualitas Jalan dan Penataan Jaringan Drainase D Pengendalian Pertumbuhan Kawasan E Peningkatan Kualitas Permukiman E Penyediaan Pelayanan Air Minum

      KPP I V: KAWASAN PERMUKI MAN HULU PASAR

      A Penataan Kawasan

    B Pembangunan Jalan dan Jaringan Drainase Baru

    C Percepatan Pembangunan Sarana Umum dan Sosial D Pembangunan Permukiman Baru E Penyediaan Pelayanan Air Minum Baru F Pembangunan dan Pengelolaan Sistem Sanitasi Baru G Pembangunan dan Pengelolaan Sistem Persampahan Baru

      KPP I I I : KAWASAN PERMUKI MAN ‘AMUNTAI BARU’

      HI LI R) A Penataan Tepi Sungai Negara B Normalisasi Sungai Negara C Peningkatan Kualitas Jalan dan Penataan Jaringan Drainase D Pengendalian Pertumbuhan Kawasan E Peningkatan Kualitas Permukiman F Penyediaan Pelayanan Air Minum G Pengelolaan Sistem Sanitasi H Pengelolaan Sistem Persampahan

      KPP I I : KAWASAN PERMUKI MAN PALAMPI TAN (HULU DAN

      A Penataan Tepi Sungai Negara B Normalisasi Sungai Negara C Peningkatan Kualitas Jalan dan Penataan Jaringan Drainase D Pengendalian Pertumbuhan Kawasan E Peningkatan Kualitas Permukiman F Penyediaan Pelayanan Air Minum G Pengelolaan Sistem Sanitasi H Pengelolaan Sistem Persampahan

      Kaw asan Prioritas No Strategi KPP I : KAWASAN PERMUKI MAN PALI WARA

    Tabel 5.14 Strategi Pembangunan Permukiman dan I nfrastruktur Perkotaan Skala Kaw asan

      Perumusan Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP) Skala Kawasan tahun 2012-2032 untuk setiap kawasan permukiman prioritas dapat dijelaskan berikut.

      4 Penertiban Pelanggaran terhadap Perda

      5 Peningkatan Kuantitas dan Kapasitas SDM KEBIJAKAN V: Pembangunan Sistem Pengelolaan

      

    3 Sosialisasi dan Penyuluhan terkait Pengelolaan Persampahan

      2 Pembuatan Perda tentang Pengelolaan Persampahan

      1 Penyusunan Studi dan Perencanaan terkait Pengelolaan Persampahan

      6 Pengembangan sistem pengolahan persampahan skala kota oleh pemerintah B Strategi Non Fisik:

      5 Pengembangan sistem pemindahan persampahan skala kota oleh pemerintah

      4 Pengembangan sistem pengumpulan persampahan skala kota oleh pemerintah

      3 Pengembangan sistem pewadahan persampahan skala kota oleh pemerintah

      

    2 Pengembangan sistem pengelolaan persampahan oleh swasta

      1 Pengembangan pengelolaan persampahan domestik secara swadaya oleh masyarakat

      Meningkatkan Kualitas Lingkungan A Strategi Fisik:

      Persampahan yang Memadai dengan Pendekatan Industrialisasi untuk

    C. Strategi Pembangunan Permukiman dan I nfrastruktur Skala Kawasan

      Kaw asan Prioritas No Strategi F Pengelolaan Sistem Sanitasi G Pengelolaan Sistem Persampahan

    KPP V:

      KPP VI : KAWASAN PERMUKI MAN KOTA RADEN

      A Penataan Tepi Sungai Tabalong B Normalisasi Sungai Tabalong C Peningkatan Kualitas Jalan dan Penataan Jaringan Drainase D Pengendalian Pertumbuhan Kawasan E Peningkatan Kualitas Permukiman F Penyediaan Pelayanan Air Minum G Pengelolaan Sistem Sanitasi H Pengelolaan Sistem Persampahan

      KPP VI I : KAWASAN PERMUKI MAN TANGGA ULI N

      A Penataan Tepi Sungai Balangan B Normalisasi Sungai Balangan C Peningkatan Kualitas Jalan dan Penataan Jaringan Drainase D Pengendalian Pertumbuhan Kawasan G Penyediaan Pelayanan Air Minum H Pengelolaan Sistem Sanitasi

      I Pengelolaan Sistem Persampahan KPP VI I I :

      KAWASAN PERMUKI MAN JUMBA A Peningkatan Kualitas Jalan, Pembangunan Jalan dan Penataan Jaringan Drainase B Pembangunan Permukiman Baru C Percepatan Pembangunan Sarana Umum dan Sosial D Pengendalian Pertumbuhan Kawasan E Peningkatan Kualitas Permukiman F Penyediaan Pelayanan Air Minum G Pengelolaan Sistem Sanitasi H Pengelolaan Sistem Persampahan

      Sumber: Buku Laporan Akhir SPPI P Perkotaan Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2012

      KAWASAN PERMUKI MAN ANTASARI A Peningkatan Kualitas Jalan dan Penataan Jaringan Drainase B Pengendalian Pertumbuhan Kawasan C Peningkatan Kualitas Permukiman D Penyediaan Pelayanan Air Minum E Pengelolaan Sistem Sanitasi F Pengelolaan Sistem Persampahan

    5.7.3 Penetapan Kaw asan Permukiman Prioritas

      1 Kawasan Permukiman Paliwara (P1) Paliwara

      

    2 Kawasan Permukiman Palampitan (P2) Palampitan Hulu, Palampitan Hilir

      3 Kawasan Permukiman ‘Amuntai Baru’ (P3) Sungai Karias, Kebun Sari, Kota Raden Hulu, Kota Raden Hilir, Pasar Senin

      4 Kawasan Permukiman Hulu Pasar (P4) Hulu Pasar

      5 Kawasan Permukiman Antasari (P5) Antasari

      

    6 Kawasan Permukiman Kota Raden (P6) Kota Raden Hulu, Kota Raden Hilir

    Tabel 5.15 Urutan Kaw asan Permukiman Prioritas Prioritas Kaw asan Kelurahan

      Dari hasil pertimbangan penentuan Kawasan Kermukiman Prioritas (KPP) maka didapatkan kawasan sebagai berikut:

      Prioritas Kaw asan Kelurahan

      7 Kawasan Permukiman Tangga Ulin (P7) Tangga Ulin

      8 Kawasan Permukiman Jumba (P8) Jumba Sumber: Buku Laporan Akhir SPPI P Perkotaan Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2012

    Gambar 5.1 Deleniasi Kaw asan Permukiman Prioritas

      Sumber: Buku Laporan Akhir SPPI P Perkotaan Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2012

      

    5.8 Rencana Pengembangan Kaw asan Permukiman Prioritas

    ( RPKPP) Kota Amuntai

      Kawasan permukiman prioritas yang telah ditetapkan dalam SPPI P Kota Amuntai yang disusun RPKPP nya, berdasarkan hasil inventarisasi karakteristik fisik, sosial, ekonomi, dan budaya pada kawasan permukiman prioritas, maka Kawasan Permukiman Prioritas (KPP) yang disepakati bersama adalah di Kecamatan Amuntai Tengah , Kelurahan Paliwara , RT 01 s/ d 00.

      5.8.1 Potensi, Permasalahan, Tantangan dan Hambatan

      Berdasarkan hasil survei yang dilakukan beberapa potensi yang dimiliki oleh kawasan prioritas Paliwara untuk dapat meningkatkan kualitas lingkungan perumahannya adalah sebagai berikut: 1. Kondisi topografi wilayah yang memungkinkan pengaliran secara gravitasi.

      2. Persoalan drainase menjadi agenda pembangunan daerah.

      3. Sudah tersedia jaringan persampahan secara komunal dan terintegrasi dengan sistem jaringan kota, namun belum dikelola dan dilaksanakan secara optimal.

      4. Sudah terpenuhinya kebutuhan sumber air bersih (Sumur bor & PDAM) dan jaringan perpipaan distribusi sudah ada.

      5. Sudah ada sistem sanitasi (MCK) didalam rumah penduduk, dan jamban apung di sungai digunakan sebagian kecil oleh masyarakat untuk toilet umum dan mencuci.

      Sedangkan hambatan didalam untuk mewujudkan kawasan prioritas Paliwara yang tidak kumuh, sehat, aman dan nyaman adalah sebagai berikut:

      1. Tidak ingin melepas tanah demi kepentingan umum.

      2. Struktur beton jalan yang tidak ramah terhadap pergerakan air, sehingga dapat merusak struktur beton jalan dan memerangkap air.

      3. Kesadaran masyarakat dalam manajemen sampah.

      5.8.2 Analisis Kebutuhan Pengembangan I nfrastruktur

      Pengembangan I nfrastruktur sangat dibutuhkan kawasan ini, hal ini dapat dilihat dari belum terpenuhinya seluruh rumah melalui perpipaan jaringan air bersih, sistem dan prasarana persampahan, sebagian besar jaringan drainase, dan pengolahan air limbah/ sanitasi.

      5 - 69 Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

    Gambar 5.2 Peta Pembagian Sub Kaw asan Kelurahan Paliw ara

      PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN KAWASAN PERMUKIMAN PRIORITAS (RPKPP) KOTA AMUNTAI KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA A B C

    A. Drainase

      Sistem drainase di dalam KPP 1 Paliwara, belum memiliki sistem yang terintegrasi dari skala kavling, lingkungan hingga kota. Sistem drainase eksisting masih belum saling terhubung dengan baik. Kalaupun ada yang terhubung, pada beberapa titik jaringan terputus sehingga tidak membentuk sistem yang baik.

      Dalam sistem drainase memiliki hirarki sistem dalam skala kaveling, lingkungan dan kota, ketiga sistem ini membentuk jaringan yang saling terhubung, namun untuk menjaga kestabilan jaringan pada setiap tingkat dibagi antara penyaluran dan peresapan/ penampungan.

    Gambar 5.3 Skema Pengembangan Sistem Drainase Kaw asan

      Skenario pengembangan sistem drainase dilakukan dengan pendekatan aspek fisik dan non fisik. Dalam aspek fisik paling tidak terdapat 3 (tiga) skenario pengendalian yaitu:

      1. Pengendalian limpasan skala kaveling, dilakukan oleh masyarakat dan pengembang perumahan.

      2. Pengendalian limpasan skala lingkungan, dilakukan oleh pengembang per umahan dan pengelola lingkungan.

      3. Pengendalian limpasan skala kota, dilakukan oleh pemerintah.

      Pada KPP 1 Paliwara ini, fokus pengembangan dilakukan pada skala kaveling. Dalam hal ini masyarakat dalam lingkungan atau pengembang perumahan (jika ada) harus melakukan langkah-langkah: penyediaan daerah hijau sesuai ketentuan (Koefisien Daerah Hijau – KDH – minimal yang ditentukan dalam RDTR kawasan ini), pengembangan peresapan berupa sumur resapan dan sumur biopori, serta pengembangan penyaluran ke peresapan. Langkah-langkah tersebut, dalam konteks kondisi KPP yang tergolong kumuh sedang, perlu bantuan awal pengembangan oleh pemerintah, yang kemudian harus dilanjutkan dengan pengelolaan secara swadaya oleh masyarakat di masing-masing kaveling miliknya.

    B. Persampahan

      Pengelolaan dan pengolahan sampah belum dilaksanakan secara optimal di kawasan prioritas KPP 1 Paliwara, karena belum semua sistem tersebut belum menyatu dengan system pemerintah kota. Berdasarkan wawancara dengan penduduk yang berada di dalam kawasan, volume sampah yang ada (dan terus meningkat volumenya) tidak terangkut/ terlayani dengan TPS yang berada diluar KPP 1 Paliwara. Selain itu juga walaupun sudah ada keinginan dan tindakan warga untuk membuang sampah di TPS Pasar Batuah, tidak dapat dipenuhi/ dilayani oleh dinas pasar karena melebihi volume, dan kriteria penanganannya. I mplikasinya sampah dibuang disekitar rumah, menumpuk di sekitaran rumah, di tepi jalan lingkungan, di lahan tak terpakai, di saluran drainase sehingga kawasan KPP 1 Paliwara sangat kumuh dan berbau.

      Persoalan lainnya adalah kemampuan ekonomi masyarakat dalam penyerahan pengelolaan sampah kepada pemerintah kota juga belum sepenuhnya mampu. Diharapkan ditemukan system swadaya dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Baik itu langsung menjadi produk daur ulang, maupun bekerjasama dengan pemerintah daerah Kota Amuntai. Secara umum pengelolaan dan pengolahan sampah harus dikelola terintegrasi dalam suatu lingkungan atau kawasan. Biasanya kota memiliki dinas yang mengurusi persampahan. Berikut adalah gambar skema pengelolaan sampah secara umum:

    Gambar 5.4 Skema sistem pengolahan persampahan kaw asan

      Sistem pengelolaan persampahan dapat dilakukan dalam beberapa langkah: pewadahan, pengumpulan, pemindahan dan pengolahan. Masing-masing langkah harus dilakukan secara integral sehingga memiliki keterkaitan sehingga pemanfaatan sampah lebih optimal dan pengolahannya dapat dilakukan dalam skala yang lebih ekonomis.

      Persampahan berhubungan langsung dengan kapasitas/ daya tampung sampah. Pada tabel-tabel di bawah ini dapat diketahui kapasitas pewadahan, pengumpul sementara, wadah pemindahan dan pengolahan akhir sampah.

      Pengembangan sistem persampahan dalam KPP 1 Paliwara ini dapat digambarkan dalam skenario pengembangan pada diagram berikut ini:

    Gambar 5.5 Skenario Pengembangan Sistem Persampahan Kaw asan

      Dalam diagram di atas skenario pengelolaan persampahan juga dilakukan dengan pendekatan fisik dan non fisik. Penanganan secara fisik membutuhkan peran serta semua pihak yaitu: pemerintah, masyarakat dan swasta. Namun peran pemerintah sangat dominan dibanding pihak-pihak lainnya. Hal ini terkait dengan fasilitas dan prasarana persampahan berikut kemampuan pengelolaannya lebih banyak dimiliki oleh pemerintah. Namun masyarakat juga berperan penting, terutama dalam operasionalnya. Sedangkan pihak swasta dapat berperan dalam memberi bantuan serta pengelolaan sampah melalui industri sampah yang menghasilkan bahan-bahan hasil olahan sampah yang dapat dijual dan dimanfaatkan kembali.

    C. Sanitasi/ Air Limbah

      Sanitasi lingkungan yaitu pengelolaan air limbah rumah tangga, di kawasan ini, juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Air limbah rumah tangga sebagian besar di buang ke tanah dan langsung ke sungai serta jaringan drainase tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu sehingga dapat mengganggu kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitarnya. Hasil survei serta wawancara warga setempat menunjukkan bahwa cara bersanitasi tanpa melalui sistem pengelolaan yang sehat sangat membahayakan, mencemari tanah di sekitarnya dengan bakteri E. Coli yang membahayakan kesehatan masyarakat sekitarnya.

      Pengelolaan sanitasi dapat dilakukan melalui beberapa sistem dalam diagram di bawah ini.

    Gambar 5.6 Skema Pengelolaan Sanitasi/ Air Limbah

      Pada skema tersebut di atas dapat dilihat bahwa pengelolaan sanitasi dapat dilakukan dengan sistem on site (di dalam tapak) dan sistem off site (di luar tapak). Saat ini di dalam kawasan pengelolaan di lakukan secara on site pada masing-masing kaveling, terutama kaveling yang memiliki kamar mandi sendiri di dalam kaveling-nya.

      Skenario penanganan sanitasi kawasan KPP Paliwara dapat dilakukan dalam skema berikut ini.

      G

    Gambar 5.7 Skenario Penanganan Sanitas Kaw asan

      Skenario pengembangan sistem sanitasi kawasan dilakukan dengan memperhatikan aspek fisiknya dan ikut melibatkan berbagai pihak: pemerintah, masyarakat dan swasta. Dalam skema penanganan tersebut, secara fisik, terdapat 4 pihak yang dapat menangani sanitasi ini, yaitu: pemerintah, masyarakat, swasta maupun lembaga dengan fungsi khusus seperti industri, rumah sakit, dan sebagainya.

      Sesuai kondisi KPP, skenario awal yang dapat dilakukan adalah dengan memberi bantuan fisik sistem komunal yang dilakukan oleh pemerintah. Sedangkan secara non fisik perlu dilakukan sosialisasi dan penyuluhan mengenai pengelolaan sanitasi, yang dapat dilakukan oleh masyarakat secara komunal.

    Tabel 5.16 Program KPP Paliw ara Untuk 5 Tahun No I ndikasi Program No I ndikasi Kegiatan I ndikasi Volume I nstansi Pelaksana I ndikasi Nilai Pembiayaan Periode I ( 2014- 2018) ( 2018- 2022) 2014 2015 2016 2017

      A Peningkatan Kualitas Jalan dan Penataan Jaringan Drainase

      1 Peningkatan Jalan baru (beton t= 15cm), Membuat Drainase dan Aliran Listrik 500 meter PU

      Kabupaten

      2 Peningkatan Jalan Lingkungan (Aspal t= 4cm L= 3) dan Drainase 500 meter

      PU Kabupaten

      3 Peningkatan Jalan Lingkungan (Aspal t= 4 cm L= 3,8) dan Trotoar 500 meter

      PU Kabupaten

      B Pengelolaan Sistem Sanitasi

      1 DED MCK Komunal PU Kabupaten

    2 Penyiapan lahan PU

      

      I ndikasi Nilai Pembiayaan I ndikasi I ndikasi I nstansi Periode I ( 2014- No No I ndikasi Kegiatan ( 2018- Program Volume Pelaksana 2018) 2022) 2014 2015 2016 2017

      Kabupaten

      3 Pembangunan fisik MCK Komunal PU Kab/ Prov

      4 Pelembagaan pengurus/ pengelola PU unit MCK Komunal Kab/ Prov/  

      CSR

      5 Peningkatan kualitas dan kapasitas PU Cipta  

      MCK komunal Karya C Pengelolaan

      1 PU Cipta Perbaikan TPS Lingkungan

      Sistem Karya yg sudah rusak

      Persampahan

      2 Pengadaan Bin atau Tong Sampah PU Cipta

      Kapasitas 50 l Tiap lima rumah satu Karya unit

      3 Pengadaan Gerobak Sampah Dinas Tata Kota dan

      Kebersihan

      4 Pengadaan Sepeda motor Sampah Dinas Tata Roda 3 Kota dan

      Kebersihan

      5 Pengadaan Truk Sampah Dinas Kebersihan

      Provinsi 6 Pembebasan Lahan TPST Pemda Kab.

        HSU

      7 Pembuatan DED PU Cipta

      Karya

      8 Pembangunan Fisik PU Cipta  

      Karya D Penataan Tepi

      1 Penyediaan Lahan PU-CK

      Sungai Negara

      2 Penataan Lahan Sempadan Sungai

      3 Pengaturan Permukiman Sempadan PU-CK

      Sungai

      4 Perbaikan JalanTepi Sungai PU-CK  

      5 Penataan KawasanTepi Sungai PU-CK  

      E Normalisasi

      1 Pengerukan Sungai PU-CK

      Sungai Negara

      2 Pembangunan Tanggul PU-CK  

      Sumber: RPKPP Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2013-

    5.8.3 Konsep Detail Desain I nfrastruktur Bidang Keciptakaryaan

      Konsep detail desain yang disampaikan dalam sub bab ini adalah ketentuan – ketentuan teknis yang menjadi pedoman fasilitator dalam hal ini konsultan, untuk mengarahkan proses masyarakat agar dapat menggunakan dan mengadapatasi teknologi yang telah memenuhi standar kelayakan teknis, pembiayaan dan program dari masing – masing sub sektor bidang keciptakaryaan.

    A. Bidang Sanitasi/ Air Limbah

      Lingkungan perumahan harus dilengkapi jaringan air limbah sesuai ketentuan dan persyaratan teknis yang diatur dalam peraturan / perundangan yang telah berlaku, terutama mengenai tata cara perencanaan umum jaringan air limbah lingkungan perumahan di perkotaan. Salah satunya adalah SNI -03-2398-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Tangki Septik dengan Sistem Resapan, serta pedoman tentang pengelolaan air limbah secara komunal pada lingkungan perumahan yang berlaku.

      Jenis-jenis elemen perencanaan pada jaringan air limbah yang harus disediakan pada lingkungan perumahan di perkotaan adalah

      :

      1. Septik tank

      2. Bidang resapan

      3. Jaringan pemipaan air limbah Lingkungan perumahan harus dilengkapi dengan sistem pembuangan air limbah yang memenuhi ketentuan perencanaan plambing yang berlaku.

      Apabila kemungkinan membuat tangki septik tidak ada, maka lingkungan perumahan harus dilengkapi dengan sistem pembuangan air limbah lingkungan atau harus dapat disambung pada sistem pembuangan air limbah kota atau dengan cara pengolahan lain. Apabila tidak memungkinkan untuk membuat bidang resapan pada setiap rumah, maka harus dibuat bidang resapan bersama yang dapat melayani beberapa rumah.

      Ga

    Gambar 5.8 I lustrasi Desain Septik Tank SederhanaGambar 5.9 I lustrasi Septik Tank Biofill Sistem

    B. Bidang Persampahan

      Lingkungan perumahan harus dilayani sistem persampahan yang mengacu pada:

      1. SNI 19-2454-2002 tentang Tata cara teknik operasional pengolahan sampah perkotaan;

      2. SNI 03-3242-1994 tentang Tata cara pengelolaan sampah di permukiman; dan

      3. SNI 03-3241-1994 tentang Tata cara pemilihan lokasi tempat pembuangan akhir sampah.

      Jenis-jenis elemen perencanaan yang harus disediakan adalah gerobak sampah; bak sampah; tempat pembuangan sementara (TPS); dan tempat pembuangan akhir (TPA). Distribusi dimulai pada lingkup terkecil RW, Kelurahan, Kecamatan hingga lingkup Kota.

    Tabel 5.17 Kebutuhan Prasarana Persampahan

      

    Sumber : SNI 19-2454-2002 Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan

      C. Bidang Drainase

      Lingkungan perumahan harus dilengkapi jaringan drainase sesuai ketentuan dan persyaratan teknis yang diatur dalam peraturan/ perundangan yang telah berlaku, terutama mengenai tata cara perencanaan umum jaringan drainase lingkungan perumahan di perkotaan. Salah satu ketentuan yang berlaku adalah SNI 02-2406-1991 tentang Tata cara perencanaan umum drainase perkotaan.

      Jaringan drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan penerima air dan atau ke bangunan resapan buatan, yang harus disediakan pada lingkungan perumahan di perkotaan. Bagian dari jaringan drainase adalah:

    Tabel 5.18 Bagian Jaringan Drainase

      Sumber: SNI 02-2406-1991 Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan

      D. Bidang Jalan Lingkungan

      Lingkungan perumahan harus disediakan jaringan jalan untuk pergerakan manusia dan kendaraan, dan berfungsi sebagai akses untuk penyelamatan dalam keadaan darurat. Dalam merencanakan jaringan jalan, harus mengacu pada ketentuan teknis tentang pembangunan prasarana jalan perumahan, jaringan jalan dan geometri jalan yang berlaku, terutama mengenai tata cara perencanaan umum jaringan jalan pergerakan kendaraan dan manusia, dan akses penyelamatan dalam keadaan darurat drainase pada lingkungan perumahan di perkotaan. Salah satu pedoman teknis jaringan jalan diatur dalam Pedoman Teknis Prasarana Jalan Perumahan (Sistem Jaringan dan Geometri Jalan), Dirjen Cipta Karya, 1998.

      Jenis prasarana dan utilitas pada jaringan jalan yang harus disediakan ditetapkan menurutklasifikasi jalan perumahan yang disusun berdasarkan hirarki jalan, fungsi jalan dan kelaskawasan/ lingkungan perumahan (lihat Tabel 19 dan Gambar 1). Penjelasan dalam tabel inisekaligus menjelaskan keterkaitan jaringan prasarana utilitas lain, yaitu drainase, sebagaiunsur yang akan terkait dalam perencanaan jaringan jalan ini.

      Jalan perumahan yang baik harus dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagipergerakan pejalan kaki, pengendara sepeda dan pengendara kendaraan bermotor. Selainitu harus didukung pula oleh ketersediaan prasarana pendukung jalan, seperti perkerasanjalan, trotoar, drainase, lansekap, rambu lalu lintas, parkir dan lain-lain.

    Gambar 5.10 I lustrasi Deskripsi Bagian – Bagian Jalan

      Sumber : Pedoman Teknis Prasarana Jalan Perumahan, Ditjen Cipta Karya, 1998

    Tabel 5.19 Klasifikasi Jalan di Lingkungan Perumahan

      Sumber: Pedoman Teknis Prasarana Jalan Perumahan, Ditjen Cipta Karya, 1998

      

    5.9 Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kaw asan

    Strategis Kabupaten

      Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan ini terdiri dari RTBL Kawasan Tikar Puruni yang berada di Kecamatan Haur Gading yang merupakan kawasan strategis kabupaten dari sudut kepentingan ekonomi, sedangkan untuk RTBL Kawasan Masjid Tua Sungai Banar Kecamatan Amuntai Selatan merupakan kawasan strategis Kabupaten dari sudut kepentingan sosial budaya.

    5.9.1 RTBL Kaw asan Kerajinan Tikar Purun Kecamatan Haur Gading

    A. Program Bangunan dan Lingkungan

    1. Visi dan Misi

      Visi dari rencana penataan bangunan dan lingkungan pada Kawasan Kerajinan Tikar Purun Kecamatan Haur Gading adalah “Kaw asan Kerajinan Tikar Purun Haur Gading

      

    sebagai Pusat Pengembangan I ndustri Kerajinan Rakyat di Kabupaten Hulu

    Sungai Utara yang Mandiri, Berw aw asan Lingkungan dan Berbasis Kearifan

    Lokal”.

      Sementara itu, misi yang digunakan dalam kegiatan penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan (RTBL) Kawasan Kerajinan Tikar Purun di Kecamatan Haur Gading ini meliputi:

      a. Mewujudkan upaya penataan bangunan dan lingkungan kawasan kerajinan tikar

      purun yang mampu memadukan konsep perdesaan (rural) yang lestari dengan konsep perkotaan (urban) yang produktif.

      b.

      Memberikan kecukupan dan kenyamanan bagi masyarakat Haur Gading dalam pengembangan aktivitas kerajinan tikar purun, serta memberikan kemudahan pengunjung dalam melakukan kegiatan pada kawasan perencanaan.

      c. Mempertahankan karakter dan identitas lokal dalam pengembangan kawasan kerajinan tikar purun baik secara fisik dan non fisik.

    2. Konsep perancangan Struktur Tata Bangunan dan Lingkungan

      Secara umum konsep pengembangan struktur tata bangunan dan lingkungan pada kawasan perencanaan mengacu pada kebutuhan ruang yang digunakan untuk proses produksi kerajinan tikar purun. Didasarkan pada karakteristik kawasan perencanaan yang linier sepanjang Sungai Haur Gading serta perancangan perletakan fungsi-fungsi utama pada areal yang saling berdekatan, maka konsep perancangan struktur tata bangunan dan lingkungan adalah mengalir dan komunikatif. Terminologi konsep ‘mengalir’ berarti bahwa pergerakan dari satu fungsi menuju fungsi lainnya akan berjalan secara alamiah dimana pengunjung atau pengamat akan dihantarkan pada kondisi visual dari zona satu ke zona lainnya secara berbeda-beda. Perubahan karakter fisik dan visual masing-masing zona (zona permukiman, zona produksi, zona pemasaran serta zona pariwisata/ perikanan) dimulai dari 2 (dua) alternatif titik awal jalur sekuensial (sequence paths) yakni Jalan Desa Keramat (jalur darat) serta Jembatan Palimbangan Gusti (jalur sungai).

      Kemudian konsep ‘komunikatif’ merupakan ungkapan atau perwujudan secara visual yang memberikan gambaran kepada pengunjung atau pengamat terkait fungsi dan kegiatan yang terdapat pada masing-masing zona dalam kawasan perencanaan. Bahasa desain yang dikomunikasikan merupakan penanda (sign) berupa identitas yang ada di masing-masing zona. I dentitas inilah yang merupakan bagian dari upaya untuk mengedepankan dan menspesialisasikan ciri dankarakter fisik dari kawasan perencanaan yakni kawasan kerajinan rakyat tikar purun di Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

      Dengan penetapan konsep tersebut, maka terdapat beberapa upaya yang perlu dilaksanakan meliputi: a. Terdapat pembagian yang jelas antara zona permukiman umum dengan zona permukiman yang bercampur dengan unit produksi tikar purun. Hal ini diperlukan untuk menjaga fungsi dan karakter visual dari setiap zona yang ada.

      b. Terdapat linkage yang menjadi jalur penghubung tiap zona pada kawasan perencanaan untuk mendukung konsep ’mengalir’.

      c. Terdapat keterpaduan antara zona produksi, zona pemasaran dan zona pendukung sehingga mampu memunculkan konsep pusat produksi yang menyeluruh/ komprehensif.

    3. Konsep Komponen Perancangan Kaw asan

      Adapun konsep komponen perancangan kawasan perencanaan secara keseluruhan adalah I ntegrasi Karakter Lokal dan Fungsi Pengembangan Kawasan Kerajinan Tikar Purun Kecamatan Tikar Purun yang dikemas dalam visual suasana yang membuat setiaporang yang datang merasa terkesan dengan perpaduan karakter dasar/ lokal dengan karakter zona fungsi yang akan dikembangkan. Untuk menuju pada konsep tadi, diperlukan beberapa kriteria antara lain: a. Pada jalur masuk ”entrance” kawasan dapat didirikan pemikat visual serta penanda awal kawasan yang dapat berbentuk patung atau monumen (sculpture) atau gerbang (gate). Pemikat visual ini sebaiknya dikembangkan dari bentuk atau simbol lokal yang dapat menggambarkan karakter atau sejarah kawasan perencanaan.

      b. Keberadaan jembatan yang menjadi penghubung lingkungan permukiman yang berada di sisi kanan dan kiri Sungai Haur Gading merupakan elemen yang cukup dominan terlihat pada kawasan perencanaan. Revitalisasi dan penataan jembatan/ titian tersebut dapat menjadi salah satu upaya untuk mempercantik atau meningkatkan kualitas visual kawasan kerajinan tikar purun di Kecamatan Haur Gading ini.

      c. Memperbanyak elemen landmark pada Kawasan Kerajinan Tikar Purun di Kecamatan Haur Gading, sebagai salah satu cara membentuk kesan/ citra kawasan. Elemen ini dapat dikembangkan melalui pembangunan gerbang pintu masuk serta tugu atau penanda batas desa yang mencirikan unsur kebudayaan lokal.

      d. Pembangunan dermaga untuk mendukung pengembangan jalur transportasi sungai menuju Kawasan Kerajinan Tikar Purun di Kecamatan Haur Gading. Pembangunan dermaga ini ditujukan untuk mendapatkan alternatif visual dari sisi lain kawasan perencanaan selain melalui jalur darat.

    4. Blok- blok Pengembangan Kaw asan dan Program Pembangunan

      Dalam upaya penataan kawasan perencanaan maka terdapat beberapa blok pengembangan kawasan dengan karakteristik yang berbeda, meliputi: a. Blok kawasan permukiman yang menjadi pusat produksi industri kerajinan rakyat tikar purun yang ada di kawasan perencanaan. Pengembangan blok kawasan pusat produksi tikar purun ini menjadi inti dari penataan bangunan dan lingkungan kawasan perencanaan. Pengembangan ruang produksi tikar purun dan kerajinan purun lain di sekitar lingkungan tempat tinggal penduduk dilakukan untuk memunculkan kesan produktif. Penataan kawasan permukiman dan ruang produksi yang berorientasi pada badan sungai jugadapat membentuk karakter keterpaduan antara lingkungan alamiah dan buatan.

      b. Blok kawasan pemasaran dan pendukung industri, yang cenderung berbentuk block kawasan atau cluster. Pengaturan blok kawasan ini didukung dengan keberadaan ruang terbuka yang dapat dikembangkan sebagairuang publik atau plaza. Pengembangan kawasan pemasaran dan pendukung industri dapat dibangun mengelilingi plaza atau ruang terbuka tersebut. Namun yang perlu dipertimbangkan juga adalah penyediaan ruang/ lapangan parkir.

      c. Blok permukiman serta fasilitas umum dan sosial yang cukup tertata dengan baik dalam bentuk grid atau linier. Sebagian besar perumahan penduduk terdistribusi secara linier mengikuti jaringan jalan. Begitu pula dengan fasilitas umum dan sosial yang meliputi.

    B. Rencana Umum dan Panduan Rancangan

    1. Peruntukan Lahan Makro

      Pengembangan Kawasan Kerajianan Tikar Purun dilaksanakan berdasarkan visi dan misi Kabupaten Hulu Sungai Utara yaitu TERLAKSANANYA TAHAPAN KETI GA RAWA MAKMUR 2025. Berdasar pada hal tersebut dapat dikatakan bahwa penggunaan lahan di kawasan perencanaan harus lah sesuai dengan potensi yang akan dikembangkan, dimana keberadaan rawa menjadi potensi sumber bahan baku untuk kerajinan anyaman tikar purun milik masyarakat. Keberadaan rawa yang cukup luas tidak hanya di wilayah Haur Gading akan tetapi juga di wilayah kecamatan lain di Hulu Sungai Utara cukup mendukung upaya pengembangan industri kerajinan rakyat ini. Kemudian selain keberadaan rawa, penggunaan lahan secara makro yang akan direncanakan pada kawasan studi dan kawasan sekitarnya adalah permukiman, pertanian dan fasilitas umum pendukung kegiatan perdagangan dan jasa serta pariwisata.

      2. Peruntukan Lahan Mikro

      Kondisi eksisting kawasan kerajinan tikar purun di Haur Gading saat ini didominasi oleh pola penggunaan lahan yang berupa pertanian dan rawa dengan pola kecenderungan perkembangan yang relatif monoton. Hal ini terlihat dari pola penataan pada w ilayah perencanaan terdiri dari penggunaan lahan yang memiliki luasan yang besar. Selain itu kepemilikan lahan yang mayoritas merupakan milik dari masyarakat setempat. Dalam penempatannya penggunaan lahan masih bersifat sentral yang artinya kegiatan masih terpusat pada satu titik saja.

      Perkembangan penggunaan lahan selanjutnya direncanakan berdasarkan sistem blok, dimana wilayah perencanaan telah dibagi menjadi menjadi kawasan-kawasan perencanaan. Pembagian ini bertujuan untuk pemerataan aktifitas kegiatan yang direncanakan sebagai penunjang kawasan kerajinana tersebut. Adapun blok kawasan tersebut terbagi menjadi segmen yang dibagi berdasarkan karakteristik penggunaan lahan sehingga akan lebih memudahkan dalam perencanaannya.

      Rencana peruntukan lahan mikro diperuntukkan pada wilayah perencanaan kawasan kerajinan tikar purun. Kawasan tersebut akan dibagi menjadi beberapa peruntukan lahan yang diantaranya blok kawasan permukiman khusus pusat produksi kerajinan tikar purun, blok kawasan pemasaran dan pendukung industri, blok kawasan permukiman bersama dengan fasilitas umum, blok kawasan bahan baku yang tidak terbangun. Berikut penjelasan secara lebih rinci.

      3. Tata Bangunan

    a. Rencana Garis Sempadan Bangunan

      Garis sempadan bangunan merupakan “street line set back” yang berarti jarak bangunan terhadap jalan, dimana garis ini sangat penting dalam mengatur tingkat keteraturan kedudukan masa bangunan pada jalan-jalan di kawasan permukiman dan pusat perkotaam, disamping itu kedudukan ini juga melindungi kepentingan pemakai jalan agar mempunyai pandangan yang luas sewaktu mengendarai kendaraan bermotor.

      Rencana sempadan bangunan pada kawasan perencanaan ditekankan pada sempadan bangunan terhadap jalan dan sungai: 1) Sempadan bangunan terhadap sungai

      Rencana sempadan sungai dalam kawasan perkotaan dan sungai tidak bertanggul adalah paling sedikit berjarak 30 m (tiga puluh meter) dari tepi kiri dan kanan palung sungai sepanjang alur sungai, dalam hal kedalaman sungai lebih dari 20 m (dua puluh meter), berdasarkan PP Nomor 38 Tahun 2011. Pada kawasan perencanaan bangunan yang terdapat di kawasan sempadan sungai mayoritas melangggar garis sempadan, sehingga perlu ditindak lanjuti bagi rumah yang melanggar garis sempadan. 2) Sempadan bangunan untuk jalan-jalan utama pada kawasan perencanaan mengacu pada standart perhitungan GSB.

      Jalan Lebar Jalan (m) Standar GSB

      (Perhitungan) GSB Eksisting (m) Rencana GMB GSSB GSBB

      Jalan Haur Gading 3,5 2,75 – 3 m 2 - 8 0,5-3,5 5 - 10 Jalan Haur Gading merupakan jalan lingkungan yang memiliki standar lebar jalan 3,5 m, maka standar GSB adalah minimal 3 m.

      Bangunan di Jalan Haur Gading mayoritas telah memenuhi standar tersebut. Dengan mempertimbangkan perkembanan Jalan Haur Gading di masa mendatang maka GSB direncanakan 3 meter untuk bangunan rumah dan GSB 3-8 meter untuk bangunan non rumah

      

    Sumber: Draft RTBL Kawasan Kerajinan Tikar Purun Kecamatan Haur Gading Kabupaten Hulu Sungai

    Utara Tahun 2014

    b. Rencana Ketinggian Bangunan

      Tinggi bangunan di wilayah perencanaan telah sesuai dengan standar, dimana berdasarkan Kepmen Kimpraswil untuk bangunan yang bertingkat satu tinggi dan maksim um bangunan adalah12 meter dari lantai dasar. Rata-rata bangunan di wilayah studi merupakan bangunan berlantai 1 dengan ketinggian 3,5 - 4 meter meter serta bangunan 2 lantai dengan tinggi bangunan 8 meter.

      Adapun hasil perhitungan untuk arahan ketinggian bangunan maksimum di masing-masing kawasan perencanaan sebagai berikut.

      Kondisi Eksisting Lebar Nama Tinggi Jumlah Kawasan Jalan Guna Lahan Rencana

      Jalan Bangunan Lantai (m) (m) Bangunan

      

    Kerajinan Jl. Haur 3 - 3,5 Perumahan 4 – 8 1 – 2 Tinggi bangunan di kawasan

    Tikar Gading perencanaan tergolong Purun Perkantoran

      8 2 klasifikasi bangunan dengan Perdagangan 4 1 – 3 ketinggian sangat rendah. Kesehatan

      4

      1 Kondisi tersebut telah sesuai dengan standar dari Kesehatan 4 – 8 1 – 2 Kimpraswil yakni klasifikasi bangunan sangat rendah Pendidikan

      4 1 maksimum memiliki ketinggian 12 m.

      Rencana ketinggian bangunan pada kawasan perencanaan untuk bangunan rumah tetap dipertahankan sesuai kondisi eksisting. Rencana ketingginan untuk bangunan non rumah direncanakan dengan klasifikasi sedang antara 5-8 m (maks 20 m)

      

    Sumber: Draft RTBL Kawasan Kerajinan Tikar Purun Kecamatan Haur Gading Kabupaten Hulu Sungai

    Utara Tahun 2014

    c. Rencana Ketinggian Bangunan

      Tampilan bangunan dan lingkungan pada kaw asan perencanaan disesuaikan dengan kondisi eksisting yang ada pada kawasan perencanaan saat ini. Arsitektur bangunan yang direncanakan tetap mempertahankan bangunan arsitektur lokal yang ada saat ini pada kawasan perencanaan. Rencana tampilan muka bangunan pada kawasan perencanaan yang dikembangkan dengan konsep arsitektur bangunan kunci, laras, varian dan kontras, dengan pengaturan:

      1) Bangunan kunci Diarahkan terutama pada setiap segmen dan kawasan pengembangan untuk memiliki bangunan kunci yang dapat menjadi landmark pada kawasan tersebut. Bangunan kunci ini direncanakan secara kontras dengan bangunan yang lain dan disesuaikan pula dengan ketinggian bangunan pada kawasan perencanaan.

      2) Bangunan selaras Diarahkan untuk fungsi rumah yang terletak menyebar di kawasan perencanaan bangunan selaras diarahkan pada bangunan permukiman dengan ketinggian bangunan maksimal 1 – 2 lantai. 3) Bangunan varian

      Diarahkan untuk pengembangan fungsi perdagangan dan jasa yang tersebar di kawasan perencanaan. Aturan untuk bangunan varian ini antara 1 – 2 lantai. 4) Bangunan kontras

      Diarahkan untuk pengembangan fungsi pelayanan umum dan bangunan penunjang industri kerajinan rakyat tikar purun. Bangunan kontras ini termasuk salah satunya adalah bangunan kunci yang diarahkan dengan ketinggian lebih menonjol dan maksimal hingga 3 – 4 lantai.

    Gambar 5.11 Konsep Desain Pintu Masuk Kaw asan Kerajinan Tikar Purun

    4. Rencana Tapak

      Untuk rencana tapak didasarkan atas strategi perencanaan yang telah tertuang dalam bahasan mengenai konsep penataan bangunan dan lingkungan Untuk menunjang peranannya sebagai kawasan perdagangan dan jasa berupa pasar, maka dibutuhkan arahan tapak untuk beberapa elemen pada wilayah studi untuk menghidupkan karakter khas pada kawasan kerajinan tikar purun di Haur Gading ini.

      Adapun arahan-arahan dalam rencana tapak untuk kawasan perencanaan adalah sebagai berikut: a. Terkait dengan arahan guna lahan, pada kawasan industri kerajinan tikar purun untuk meningkatkan fungsi kawasan industri sebagai salah satu pendukung ekonomi di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Arahan yang dilakukan adalah mengembangkan kawasan indsutri tikar purun dengan tetap mempertahankan potensi lahan rawa yang terdapat pada kawasan perencanaan.

      b. Mengoptimalkan ruang terbuka yang pada kondisi eksisting sudah tidak terjaga lagi keasriannya. Dengan tetap mengushaakan pengadaan ruang terbuka supaya tetap lestari dan tidak berubah fungsinya, kemudian membuat ruang terbuka yang lebih menarik jika dilihat dari segi visualnya, sehingga dapat dipergunakan oleh masyar akat sebagai tempat olahraga, rekreasi atau tempat beristirahat. Pengoptimalan ruang terbuka juga dilakukan dengan merancang kembali beberapa elemen yang mendukung adanya ruang terbuka antara lain sempadan sungai, jalur hijau dan pedestrian. c. Tampilan bangunan diarahkan untuk menjadi kawasan indsutri berciri khas lokal, dengan tetap mempertahankan arsitektur ornamen gaya pada kawasan perencanaan.

      Untuk perkembangan kawasan industri yang dimana pada masaakan datang akan berkembang bangunan penunjang industi yang lebih diarahkan memiliki tampilan bangunan penggabungan antara konsep rumah panggung dengan konsep modern.

      d. Mengarahkan ketinggian bangunan sehingga akan menghasilkan roof-line yang berirama.

      e. Memberikan link antar bangunan yang menghubungkan wilayah perencanaan yaitu berupa pedestrian way bagi pejalan kaki sehingga pada kawasan perencanaan bisa disebut sebagai kawasan yang pedestrian friendly.

      f. Pengaturan terhadap penempatan street furniture dan penanda jalan yang terintegrasi dengan bangunan dan lingkungan, baik pada persil bangunan, persil lahan di dalam maupun di luar tapak, sehingga tidak mengganggu estetika atau tampilan visual. Pada perencanaan tapak ini direncanakan pembagian area pengembangan pada kawasan kerajinan tikar purun yang antara lain: a. Area bahan baku kerajinan tikar purun Lahan bahan baku yang berupa tanaman purun terletak di lahan rawa yang mendominasi pada kawasan perencanaan. Area ini perlu untuk tetap dilindungi karena merupakan satu-satunya sumber utama tanaman purun untuk kerajinan indsutri rakyat ini. Sehingga area ini direncanakan untuk tidak dibangun.

      b. Area produksi kerajinan tikar purun Area produksi untuk kerajinan tikar purun dilakukan di masing-masing rumah penduduk. Permukiman penduduk dipilih sebagai area produksi karena memiliki bentuk bangunan yang unik dan menarik bergaya arsitektur lokal.

      c. Area Pemasaran Hasil produksi kerajinan tikar purun Untuk memasarkan hasil produksi kerajinan tikar purun, diperlukan sarana pemasaran yang dapat menunjang kawasan perencanaan ini. Dalam area pemasaran ini terdapat bangunan penunjang industri kerajinan anyaman yang antara lain gedung galeri pemasaran produk dan fasilitas umum yang mendukung gakeri tersebut.

    5. Rencana Sistem Pergerakan

      Rencana pengembangan jaringan jalan dan pergerakan pada kawasan perencanaan adalah untuk menunjang aktivitas pergerakan transportasi guna menunjang pengembangan koridor jalan utama dan pengembangan kawasan konservasi sempadan sungai yang berupa ruang terbuka hijau publik di sepanjang sempadan sungai di kawasan kerajinan tikar purun ini. Koridor perencanaan memiliki posisi yang strategis dan nilai jual kawasan yang tinggi sehingga diperlukan adanya pengembangan jaringan jalan dan pergerakan sebagai penunjang penciptaan citra kawasan perencanaan.

      Berdasarkan permasalahan yang terdapat di kawasan perencanaan perlu suatu rencana jaringan jalan yang lebih baik dan bersinergi. Rencana jaringan jalan dan pergerakan yang akan diterapkan pada kawasan perencanaan adalah sebagai berikut:

      a. Perbaikan akses koridor jalan utama Kondisi eksisitng menunjukkan kerusakan yang sangat berat baik pada koridor jalan utama dan jalan inspeksi pada sisi sungai. Oleh karena itu perlu perbaikan terhdap jaringan jalan yaitu dengan peningkatan perkerasan jalan dari tanah menjadi aspal.

      b. Jalur kendaraan dan jalur pejalan kaki khusus Adanya perbedaan antara jalur khusus untuk kendaraan dan pejalan kaki. Pejalan kaki memanfaatkan trotoar untuk melakukan pergerakan sedangkan kendaraan menggunakan badan jalan untuk melakukan pergerakan. Pada kondisi eksisting belum terdapat pedestrian yang khusus diperuntukan bagai pejalan kaki, oleh karena itu diperlukan pembangunan jalur pejalan kaki.

      c. Sistem parkir Pengaturan parkir di dalam tapak (off-street) untuk meminimalisasi hambatan samping yang ditimbulkan akibat aktivitas parkir on-street guna meningkatkan tingkat pelayanan jalan.

      d. Jalur Jalan Jalur jalan pada koridor utama direncanakan 2 lajur dan 2 arah dengan pemisah berupa jalur hijau.

      e. Jembatan Jembatan merupakan salah satu jalur penghubung pada kawasan perencanaan yang melintasi sungai. Jembatan ini berfungsi menghubungkan antar desa satu dengan desa lain. Kondisi jembatan penghubung saat ini tidak terlalu baik karena terbuat dari kayu dan rata – rata memiliki umur konstruksi yang tua, namun jembatan tersebut menjadi salah satu akses yang dapat dilewati kendaraan beroda dua dari satu sisi sungai ke sisi lainnya. Meskipun jembatan ini cukup kuat karena terbuat dari kayu ulin, namun dibutuhkan suatu upaya perbaikan jembatan agar jembatan tersebut menjadi layak untuk dilalui kendaraan bermotor.

    Gambar 5.12 Konsep Jembatan/ Titian Kaw asan Kerajinan Tikar Purun

    6. Rencana Sirkulasi Kendaraan

      a. Sirkulasi Kendaraan Umum

      Kawasan perencanaan ini termasuk salah satu daerah yang belum dilalui oleh angkutan umum. Sesuai dengan perencanaan kawasan ini sebagai kawasan industri kerajinan rakyat tikar purun, maka akan terjadi perkembangan pada masa mendatang. Setelah kawasan industri kerajinan tikar purun ini beroperasi dengan baik maka akan meningkatkan volume pengunjung pada kawasan tersebut. Hal tersebut berpengaruh pada volume pengunjung yang mendatangi kawasan perencanaan. Oleh karena itu, perlu direncanakan jalur angkutan umum, yang sampai pada kecamatan Haur Gading, sehingga memdudahkan pengunjung yang mendatangi kawasan ini.

      b. Sirkulasi Angkutan Barang

      Sistem sirkulasi angkutan barang yang juga berperan penting dalam perencanaan ini adalah sirkulasi angkutan barang yang memuat barang dagang yang diperjualbelikan. Pada umumnya angkutan barang ini berupa pick up dan truck kecil. Pada kondisi eksisting sirkulasi dan jalur angkutan barang tidak terpisah dengan sirkulasi kendaraan umum. Sehingga sering terjadi hambatan samping pada ruas jalan dan menimbulkan hambatan.

      Sirkulasi angkutan barang pada kawasan perencanaan direncanakan dengan menyediakan jalur khusus angkutan barang yang langsung menuju tempat parkir khusus angkutan barang. Pemisahan sirkulasi dengan angkutan lain dengan tujuan untuk mencegah hambatan samping terlalu besar, mengingat dimensi jaringan jalan koridor utama tidak terlalu lebar. Oleh karena direncanakan pembangunan jalan baru sebagai sirkulasi angkutan barang.

    Gambar 5.13 Konsep Sirkulasi Kaw asan Kerajinan Tikar Purun

    c. Rencana Pedestrian

      Peletakan-peletakan elemen pedestrian harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki di samping memenuhi persyaratan kesinambungan, kejelasan, dan kenyamanan. Peletakan pedestrian juga harus disesuaikan dengan estetika koridor jalan, sehingga menampilkan tampilan visual yang lebih menarik. Untuk menghindari ketidaknyamanan, maka kendaraan dilarang masuk pada jalur pedestrian, kendaraan hanya boleh diparkir di luar jalur pedestrian.

      Adanya rencana pedestrian ini mendukung pula dimana pedestrian direncanakan pula pada kawasan ruang terbuka hijau pada sisi sungai. Rencana pedestrian di kawasan perencanaan adalah sebagai berikut: 1) Trotoar dengan perkerasan rabat beton dengan desain motif. 2) Ukuran trotoar pada koridor jalan di masing-masing kawasan perencanaan dengan lebar 1 – 1,5 m dengan ketinggian dari permukaan jalan 15 cm, disesuaikan dengan jenis penggunaan lahan sekitar. 3) Ukuran trotoar pada sepanjang kawasan ruang terbuka hijau publik pada sempadan sungai dengan lebar 1,5 m dengan ketinggian 10 cm. 4) Pedestrian diletakkan berhimpitan dengan sempadan sungai yang berfungsi sebagai taman.

    Gambar 5.14 Konsep Desain Jalur Pejalan Kaki ( Pedestrian Ways)

      d. Rencana Sistem Parkir

      Sistem parkir yang terdapat di kawasan perencanaan ialah sistem parkir off-street dan parkir on-street. Sistem parkir on-street memanfaatkan bahu jalan dan badan jalan. Hal tersebut pastinya akan mempengaruhi tingkat pelayanan jalan. Maka diperlukan adanya penataan sistem parkir agar nantinya tidak mengganggu sirkulasi kendaraan. Sedangkan untuk parkir off-street memanfaatkan lahan yang telah disediakan oleh bangunan-bangunan sebagai lahan parkir

    Gambar 5.15 Konsep Desain Parkir Sepeda

      e. Rencana Transportasi Air

      Perencanaan sistem transportasi air pada kawasan perencanaan diarahkan sebagai berikut: 1) Perbaikan dermaga atau pelabuhan lokal yang melayani kebutuhan perhubungan sungai di kawasan perencanaan. 2) Rencana penambahan dermaga baru terutama diarahkan dekat dengan pusat kawasan kerajinan tikar purun. 3) Penyediaan moda trasnportasi air yang lebih memadai seperti kelotok, longboat, speedboat, bis air dan sampan. Rencana ini juga diarahkan untuk penyediaan moda transportasi sungai yang baru. 4) Terkait dengan kawasan perencanaan yang dikembangkan sebagai kawasan industri kawasan kerajinan tikar purun, maka direncanakan pembangunan dermaga yang khusus bongkar muat barang dagang yang datang melalui pelayaran transportasi air. 5) Mengarahkan transportasi air ini sebagai pariwisata lokal yang mengangkat nilai kawasan perencanaan maupun wisata Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan memfasilitasi berupa paket wisata air.

    Gambar 5.16 Konsep Jalur Transportasi Sungai Kaw asan Kerajinan Tikar Purun

    7. Rencana Ruang Terbuka Hijau

      Ruang terbuka hijau pemanfaatannya lebih bersifat pengisian tanaman secara alamiah ataupun budidaya tanaman seperti lahan pert anian, pertamanan, perkebunan, makam dan sebagainya. Berdasar kondisi eksisting, pada kawasan perencanaan belum memiliki RTH publik sehingga ruang terbuka yang ada hanyalah RTH privat.

      Ruang terbuka di luar tapak diantaranya menambah dan menata jalur hijau yang ada di sepanjang tepi koridor jalan pada masing - masing kawasan perencanaan. Rancangan ruang terbuka di luar tapak meliputi jalur hijau, pedestrian, taman aktif dan taman pasif. Pada koridor perencanaan direncanakan nantinya ditanami pohon peneduh dan tanaman pembatas. Rencana pohon yang akan ditanam seperti, Glodogan Tiang, Bunga Sapu Tangan, Bungur, dan Kiara Payung yang akan ditempatkan di tepi jalan. Untuk tanaman pembatas, berupa tanaman dalam media pot yang diletakkan di pinggir trotoar. Tanaman pembatas ini bertujuan untuk membatasi trotoar dengan sirkulasi jalan, sehingga diharapkan dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pejalan kaki. Penempatan tanaman pembatas ini diupayakan ditempatkan pada lokasi yang memiliki aktivitas pejalan kaki yang tinggi.

      Ruang terbuka dalam tapak, direncanakan untuk kegiatan yang produktif. Penyediaan ruang terbuka dalam tapak dioptimalkan dengan menanam tanaman buah, seperti jambu air, blimbing dan cersen. Penyediaan ruang terbuka dalam tapak, juga dapatdigunakan untuk pelataran parkir, sirkulasi kendaraan dalam tapak, taman/ gardening, entrance ke blok dan lain sebagainya tergantung dari kepentingan masing-masing perpetakan (kantor, rumah, toko, sekolah, dan sebagainya).

    Gambar 5.17 Konsep Desain Ruang Terbuka Hijau Publik ( Taman Kaw asan)

    8. Rencana Prasarana dan Sarana Lingkungan

      a. Jaringan Drainase

      Rencana pengembangan sistem jaringan drainase di kawasan perencanaan, antara lain: 1) Normalisasi saluran drainase melalui pembersihan saluran drainase dari sampah dan limbah secara berkala untuk mengoptimalkan fungsi drainase sebagai penampung air hujan dan mencegah terjadinya banjir dan genangan. 2) Mengkhususkan saluran drainase sebagai saluran penampung air hujan sedangkan saluran pembuangan air limbah diarahkan menggunakan septictank. 3) Saluran tersier sebaiknya diperkeras (pasangan mortar maupun cor beton). Fasilitas saluran tersier menjadi kebutuhan bagi setiap keberadaan permukiman. 4) Saluran sekunder umumnya mengikuti pola jalan sebaiknya sudah diperkeras dengan pemeliharaan secara berkala.

      b. Jaringan Air Bersih

      Rencana yang diarahkan untuk penataan sarana jaringan air bersih di kawasan perencanaan, yaitu dengan peningkatan kualitas distribusi/ pipanisasi air bersih ke seluruh kawasan perencanaan dan peningkatan debit air bersih. Untuk pengembangan jaringan air bersih diupayakan bekerjasama dengan jaringan utilitas lainnya mewujudkan sistem pemanfaatan jaringan bawah tanah (cable trance) yang terpadu dengan jaringan listrik dan telepon (yaitu dengan tidak menempatkan jaringan air bersih pada deretan yang sama dengan jaringan air bersih dan telepon) guna meminimalkan gangguan pada jaringan tersebut.

      1) Sistem perpipaan yang direncanakan sebanyak mungkin dengan sistem gravitasi untuk mengurangi biaya operasi dan pemeliharaan.

      Kebutuhan hidran pada koridor di kawasan perencanaan berdasarkan ketentuan umum pada lingkup lingkungan dan bangunan antara lain adalah: 1) Lingkup bangunan harus memiliki jalan lingkungan yang bisa dilewati kendaraan pemadam kebakaran, yaitu dengan lebar minimal 6 m.

      2) Lingkungan bangunan harus dilengkapi hidran, sumur gali atau reservoar kebakaran maksimal pada jarak 500 meter. Sekeliling sumur gali atau reservoar diperkeras supaya mudah dicapai mobil pemadam kebakaran. 3) Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran, sehingga cukup waktu untuk evakuasi penghuni dan bagi petugas memasuki lokasi untuk memadamkan api. 4) Bangunan gedung harus dilengkapi sarana prasarana pengaman dan pencegahan penyebaran api. 5) Sistem hidran harus dipasang pada bangunan yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 meter.

      c. Jaringan Air Bersih

      Rencana jaringan listrik pada kawasan perencanaan diatur dengan arahan sebagai berikut: 1) Memanfaatkan jaringan listrik yang sudah ada dan tetap mempertahankan tegangan menengah sebagai pemasok kebutuhan koridor jalan pada masing- masing kawasan perencanaan. 2) Mengatasi gangguan visual kabel udara, diusulkan penyelesaian sebagai berikut:

      a) Dalam jangka pendek dengan merapikan jaringan kabel udara di sepanjang tepi jalan (dapat sejajar dengan koridor jalan) maupun yang menyeberangi jalan (antara lain penyeragaman posisi tiang, merapikan kabel yang kurang teratur).

      b) Dalam jangka panjang penataan dan pengembangan jaringan listrik diusahakan dengan memanfaatkan jaringan bawah tanah. Penggunaan jaringan kabel bawah tanah ini memerlukan kordinasi pihak PLN dengan pihak lain yang terkait, contohnya untuk menghindari bergabungnya jaringan listrik dengan saluran air.

      c) Mengganti kabel udara yang telah habis masa pakainya, dengan kabel tanah yang pelaksanaannya disesuaikan dengan program PLN.

      d. Jaringan Telepon

      Rencana penataan sarana jaringan telepon di kawasan perencanaan, yaitu dengan penataan atau pengaturan kabel udara yang berada di sisi jalan maupun yang melintasi jalan. Untuk pengembangan jaringan telepon, diupayakan menggunakan system pemanfaatan jaringan bawah tanah (cable trance) yang terpadu dengan j aringan listrik dan air bersih.

    C. Rencana I nvestasi

    1. Program I nvestasi Bangunan

      Arahan program investasi untuk pengembangan bangunan akan dirumuskan dengan baik apabila diketahui siapa developer yang akan mengembangkan kawasan tersebut, apa saja kebutuhan pengembangannya, kapan dan bagaimana pertahapan pembangunan serta berapa kemampuan pendanaannya. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa program investasi baru bisa dipastikan jika bangunan-bangunan yang bersifat proyek sudah pasti.

      a. Bangunan Perdagangan dan Jasa

    • Pihak yang membangun Pengembangan dengan sistem blok yang merupakan gabungan kavling kecil dan diselenggarakan secara individu, koperasi, kelompok perorangan, kantor swasta, developer/ inves
    • Tahap pelaksanaan

      Bangunan rumah tinggal biasa yang dibangun oleh individu, koperasi, kelompok perorangan, kantor swasta, developer/ investor pentahapan pembangunannya disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan dana.

    • Sumber Pembiayaan Sumber biaya berasal dari dana sendiri, pinjaman bank, dana dari pihak lain, patungan, maupun bantuan pemerintah.

      b. Bangunan Rumah Tinggal Biasa

    • Pihak yang membangun Pengembangan dengan sistem blok yang merupakan gabungan kavling kecil- kecil dan diselenggarakan secara individu, koperasi, kelompok perorangan, kantor swasta, developer/ inves
    • Tahap pelaksanaan

      Bangunan rumah tinggal biasa yang dibangun oleh individu, koperasi, kelompok perorangan, kantor swasta, developer/ investor pentahapan pembangunannya disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan dana.

    • Sumber Pembiayaan

      Sumber biaya berasal dari dana sendiri, pinjaman bank, dana dari pihak lain, patungan, maupun bantuan pemerintah.

      c. Bangunan Rumah Tinggal yang Bergabung pada Bangunan Lain Kelas

    • Pihak yang membangun Pengembangan dengan sistem blok yang merupakan gabungan kavling kecil-kecil dan diselenggarakan secara individu oleh masing-masing pemilik kavling, dan harus mengacu pada panduan pengembangan unit perencanaan agar diperoleh satu
    kesatuan yang menyatu dan harmonis. Pengembangan dengan sistem ini dilakukan sepenuhnya oleh developer atau investor swasta.

    • Tahap pelaksanaan

      Blok yang dikembangkan pemilik kavling pelaksanaan pembangunannya bisa dimulai kapan saja oleh mereka yang sudah siap membangun sesuai pedoman pembangunan yang ada. Blok yang dikembangkan developer tahapan pembangunannya diprogram sesuai kebutuhan developer yang bersangkutan.

    • Sumber Pembiayaan Sumber biaya berasal dari dana sendiri, pinjaman bank, dana dari pihak lain, patungan, maupun pinjaman pemerintah.

      d. Bangunan Kantor

    • Pihak yang membangun

      Pengembangan dengan sistem blok yang merupakan gabungan kavling kecil-kecil dan diselenggarakan secara individu oleh masing-masing pemilik kavling, dan harus mengacu pada panduan pengembangan unit perencanaan agar diperoleh satu kesatuan yang menyatu dan harmonis. Pengembangan dengan sistem ini dilakukan sepenuhnya oleh developer/ investor swasta.

    • Tahap pelaksanaan Blok yang dikembangkan pemilik kavling pelaksanaan pembangunannya bisa dimulai kapan saja oleh mereka yang sudah siap membangun sesuai pedoman pembangunan yang ada. Blok yang dikembangkan developer tahapan pembangunannya diprogram sesuai kebutuhan developer yang bersangkutan.
    • Sumber Pembiayaan Sumber biaya berasal dari dana sendiri, pinjaman bank, dana dari pihak lain, patungan maupun pinjaman dari pemerintah.

      e. Bangunan- Bangunan Umum

    • Pihak yang membangun

      Pengembangan dengan sistem blok yang merupakan gabungan kavling kecil-kecil dan diselenggarakan secara individu oleh masing-masing pemilik kavling, dan harus mengacu pada panduan pengembangan unit perencanaan agar diperoleh satu kesatuan yang menyatu dan harmonis. Pengembangan dengan sistem ini dilakukan sepenuhnya oleh developer atau investor swasta.

    • Tahap pelaksanaan Blok yang dikembangkan pemilik kavling pelaksanaan pembangunannya bisa dimulai kapan saja oleh mereka yang sudah siap membangun sesuai pedoman pembangunan
    yang ada. Blok yang dikembangkan developer tahapan pembangunannya diprogram sesuai kebutuhan developer yang bersangkutan.

    • Sumber Pembiayaan

      Sumber biaya berasal dari dana sendiri, pinjaman bank, dana dari pihak lain, patungan maupun pinjaman dari pemerintah.

    2. Program I nvestasi Lingkungan

      Pemerintah (PT. PLN, PT. Telkom, PDAM, Kementerian Pekerjaan Umum, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/ Kota), berupa aspek fisik yang berhubungan dengan lingkungan, seperti fasilitas listrik, telepon, air bersih, tempat pembuangan sampah, boks telepon, hidran, dan sebagainya.

      Organisasi sosial kemasyarakatan, komunitas masyarakat, perusahaan swasta berupa aspek fisik lingkungan yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan, seperti reklame dan pos keamanan.

      a. Tahap Pelaksanaan

      Pemerintah dilaksanakan sampai selesai dalam satu tahun anggaran, dan bisa secara bertahap dilaksanakan lebih dari satu tahun anggaran sesuai dengan program instansi yang bersangkutan. Perusahaan swasta, komunitas masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan, pentahapan pembangunannya disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan dana.

      b. Sumber Pembiayaan

      Pemerintah sumber pembiayaannya dapat diambil dari APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten/ Kota bantuan dan pinjaman luar negeri. Perusahaan swasta, komunitas masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan sumber dananya bisa berasal dari pinjaman bank, swadaya masyarakat, dana sendiri, patungan, maupun pinjaman dari pemerintah.

    Tabel 5.20 I ndikasi Program Pengembangan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kaw asan Kerajinan Tikar Purun Kecamatan Haur Gading

      Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 98

      Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

      Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 99

      Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

      Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 100

      Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

    5.9.2 RTBL Kaw asan Masjid Tua Sungai Banar

      Kawasan Masjid Jami’ Sungai Banar merupakan kawsan strategis sosial dan kebudayaan karena kawsan ini termasuk dalam cagar budaya Kabupaten Hulu Sungai Utara. Diperkirakan kawasan ini berkembang menjadi kawasan sentra religius yang vital dan tumbuh sehingga diperlukan perangkat perencanaan, penataan dan pengendalian yang tepat untuk mewujudkan keteraturan dan kelestarian kawasan, baik kawasan terbangun maupun kawasan tak terbangun.

      Kawasan perencanaan Masjid Tua Sungai Banar berada pada dua kecamatan dan lima desa, yaitu Desa Jarang Kuantan dan Desa Ujung Murung di Kecamatan Amuntai Selatan, serta Desa Pasar Senin, Desa Kembang Kuning, dan Desa Kota Raden Hilir di Kecamatan Amuntai Tengah. Luas kawasan perencanaan 43,1 Ha yang selanjutnya dibagi menjadi 5 (lima) segmen.

      Pembagian segmen pada wilayah perencanaan dimaksudkan untuk mempermudah memberikan gambaran terhadap kondisi lingkungan yang ada. Batas-batas segmen dapat berupa batas fisik seperti jaringan jalan, sungai, ataupun pola akt ivitas masyarakat di pusat kota. Wilayah perencanaan dibagi menjadi 5 (lima) segmen yang dipisah berdasarkan pola batas administrasi wilayah desa. Pembagian segmen wilayah perencanaan diuraikan sebagai berikut.

    Tabel 5.21 Deliniasi Kaw asan Perencanaan Segmen Luas Batas Fungsi Kaw asan

      Segmen A 13,6 Ha Utara : Desa Kota Raja Pusat perdagangan meliputi wilayah Desa Selatan : Desa Ujung Murung jasa dan Jarang Kuantan Barat : Lahan tak terbangun permukiman

      Timur : Sungai Banar Segmen B 13,4 Ha Utara : Desa Jarang Kuantan Pusat kawasan meliputi wilayah Desa Selatan : Jalan lingkungan Masjid Tua Sungai Ujung Murung Barat : Lahan tak terbangun Banar

      Timur : Sungai Banar 5,3 Ha Utara : Permukiman Pusat perdagangan Segmen C meliputi wilayah Desa Selatan : Desa Kembang Kuning jasa dan Raden I lir Barat : Sungai Banar permukiman

      Timur : Jl. Brigjen H. Hasan Basri 7,3 Ha Utara : Desa Raden I lir Pusat perdagangan Segmen D meliputi wilayah Desa Selatan : Desa Pasar Senin jasa dan Kembang Kuning Barat : Sungai Banar permukiman

      Timur : Jl. Brigjen H. Hasan Basri 3,5 Ha Utara : Desa Kembang Kuning Pusat kerajinan Segmen E meliputi wilayah Desa Selatan : Sungai mebel dan ukir- Pasar Senin Barat : Sungai Banar ukiran serta

      Timur : Jl. Brigjen H. Hasan Basri permukiman

      Sumber: Dokumen RTBL Masjid Tua Sungai Banar Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2014

      A.

    Gambar 5.18 Peta Tata Guna Lahan Kaw asan Masjid Tua Sungai Banar

      Program Bangunan dan Lingkungan

      Visi perencanaan tata bangunan dan lingkungan di Kawasan Masjid Tua Sungai Banar yaitu “Mew ujudkan Kaw asan Masjid Tua Sungai Banar menjadi Kaw asan Wisata

      Religius sebagai Pusat Syiar I slam yang Berkelanjutan, Hijau dan Sehat”.

      Untuk mewujudkan visi perencanaan tata bangunan dan lingkungan di Kawasan Masjid Tua Sungai Banar, maka diperlukan misi perencanaan tata bangunan dan lingkungan sebagai berikut:

      1. Mewujudkan struktur peruntukan lahan kawasan yang bersinergi dan mengakomodir budaya local;

      2. Mewujudkan intensitas pemanfaatan lahan kawasan yang efektif dan efisien;

      3. Mewujudkan tata bangunan kawasan untuk membentuk citra kawasan dengan serasi dan selaras;

      4. Mewujudkan sistem sirkulasi dan jalur penghubung kawasan yang terintegrasi secara efisien, aman dan nyaman;

      5. Mewujudkan sistem ruang terbuka dan tata hijau kawasan yang ekologis, rekreatif, dan estetis;

      6. Mewujudkan upaya rekayasa elemen-elemen kawasan dengan tata kualitas lingkungan yang informatif dan berkarakter khas local;

      7. Meningkatkan kualitas kawasan dengan menyediakan sistem prasarana dan utilitas lingkungan yang terintegrasi dan berkelanjutan;

      8. Mempertahankan kawasan cagar budaya dengan pelestarian bangunan dan lingkungan; serta;

      9. Meningkatkan kapasitas masyarakat untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan.

      Konsep pengembangan kawasan Masjid Tua Sungai Banar yakni berbasis pengembangan kawasan bernuansa islam. Penerapan konsep ini disesuaikan dengan konsep penataan ruang permukiman I slami dan konsep I slamic City, antara lain:

      1. Konsep Keseimbangan (Homeostasis) antara habluminallah, habluminannas dan khalafatullah fil ard.

      a. Habluminallah: hubungan dengan Tuhan yang ditunjukkan dengan adanya masjid sebagai tempat ibadah sekaligus rest area b. Habluminannas : hubungan dengan manusia, dengan adanya homestay (interaksi antara penduduk dengan pengunjung), perdagangan dan jasa (interaksi penjual dan pembeli) serta fasilitas umum lain (pusat informasi, halte)

      c. Khalafatul fil ard : hubungan manusia dengan alam ditunjukkan dengan taman aktif

      2. Sense of direction, mengarah ke kiblat. Orientasi bangunan dimudahkan untuk mengarah ke kiblat.

      3. Energi Capacity, hemat energi dengan pembangunan homestay non AC dan lebih mengutamakan banyak ventilasi dan pohon peneduh. Menjadikan kawasan homestay sebagai walk area dan kendaraan bermotor dilarang masuk .

      4. Penataan ruang permukiman yang efektif, efisien, kompak dan menyatu, dengan bentuk bangunan homestay yang sama. Serta bentuk bangunan perdagangan yang sama.

      Disatukan dengan bangunan lain dengan ciri islami.

      5. Penataan permukiman yang bersih, sehat dan aman dengan sarana dan prasarana yang memadai.

      6. Penataan Sirkulasi (Pergerakan dan Mobilitas), ditunjukkan dengan adanya aksesibilitas bahwa ketika akan menuju homestay bagi pengunjung harus melewati perdagangan dan jasa terlebih dahulu. Sirkulasi ditunjukkan dnegan adanya pedestrian dan parkir.

      7. Menampilkan I mage Quality (Citra Lingkungan) I slami, dengan menunjukkan bangunan dan street furniture ciri islami.

    B. Rencana Umum dan Panduan Rancangan

    3. Peruntukan Lahan Makro

      Penggunaan lahan pada kawasan perencanaan tidak terlepas dari pengaruh penggunaan lahan makro, baik lingkup Kabupaten, bagian wilayah kabupaten, maupun kawasan atau pusat-pusat pertumbuhan terdekat. Kawasan perencanan termasuk dalam kawasan bagian lingkungan kota (BLK) Amuntai Tengah I dan BLK Amuntai Tengah I I , dengan peruntukan guna lahan makro untuk :

      a. Perdagangan dan Jasa; terutama melayani perdagangan eceran, barang-barang kebutuhan sekunder, bengkel mobil, pusat onderdil kendaraan dan lainnya; b. Perkantoran; meliputi perkantoran pemerintah tingkat kota dan kecamatan; kantor perwakilan perusahaan; serta perkantoran bisnis dan profesional; c. Sarana Umum; meliputi masjid kecamatan, taman skala kecamatan, taman parkir, kantor pelayanan umum, rumah sakit pembantu tipe C, puskesmas, apotik, laboratorium dan lapangan bola; dan pendidikan; d. Perumahan: rumah tunggal dan deret, termasuk pula rumah toko dan rumah kantor.

      Berdasarkan pengamatan lapangan, perkembangan guna lahan makro, dipengaruhi oleh beberapa hal sebagai berikut : a. Adanya kebijakan pemerintah yang telah menetapkan kawasan perencanaan dalam BLK Amuntai Tengah I dan BLK Amuntai Tengah I I . b. Adanya kawasan Masjid Jami’ Sungai Banar yang merupakan kawasan lindung cagar budaya.

    4. Peruntukan Lahan Makro

      3

      Perumahan 41 42,07%

      11,62% Segmen B

      3 50,57% 0,27% 0,04% 9,48% 0,31% 0,75% 26,97%

      1

      16

      1

      Peruntukan lahan secara mikro di kawasan perencanaan dilihat dari komposisi penggunan lahan dalam masing-masing tapak dan peruntukan lahan bagi kawasan khusus. Secara mikro peruntukan lahan pada masing-masing tapak bangunan terdiri dari lahan terbangun dan lahan tidak terbangun. Pada kawasan perencanaan, peruntukan lahan mikro dalam masing-masing tapak sudah sesuai dengan aturan yang tertuang ke RDTR Kota Amuntai, yaitu untuk kegiatan permukiman dan perdagangan jasa skala pelayanan lokal. Berdasarkan kondisi eksisting di lapangan, peruntukan lahan mikro sebagai peruntukan lahan tertentu di kawasan perencanaan, adalah sebagai berikut: a. Segmen A meliputi sebagian Desa Jarang Kuantan. Guna lahan mikro pada segmen 1 didominasi oleh perumahan. Sedangkan fungsi lainnya meliputi RTH, mix-used, perdagangan jasa, peribadatan, dan fasilitas pendidikan.

      b. Segmen B meliputi sebagian Desa Ujung. Guna lahan perumahan mendominasi peruntukan lahan mikro kawasan segmen B. Guna lahan lain yang terdapat di segmen B adalah RTH, mix-used, perdagangan jasa, peribadatan (Masjid Tua Sungai Banar), kompleks makam Datu Kabul dan sarana pendidikan.

      Perdagangan & Jasa Pergudangan Mix-used Fasilitas Pendidikan Fasilitas Peribadatan RTH Lahan Kosong

      Jumlah Bangunan Prosentase Guna Lahan Segmen A Desa Jarang Kuantan Perumahan

    Tabel 5.22 Penggunaan Lahan Mikro Segmen Fungsi Guna Lahan

      e. Segmen E meliputi sebagian wilayah Desa Pasar Senin. Penggunaan lahan perumahan mendominasi penggunaan lahan di segmen ini, lainnya merupakan RTH, mix-used, perdagangan jasa dan peribadatan.

      d. Segmen D meliputi sebagian Desa Kembang Kuning. Guna lahan perumahan mendominasi peruntukan lahan mikro kawasan segmen D sebanyak 90% . Guna lahan lain yang terdapat di segmen 2 adalah RTH dan mix-used di pinggir jalan utama koridor Jl. Brigjen H. Hasan Basri.

      c. Segmen C meliputi sebagian Desa raden I lir. Penggunaan lahan perumahan mendominasi penggunaan lahan di segmen C, lainnya merupakan mix-used, RTH dan sarana kesehatan.

      30

      Jumlah Prosentase Segmen Fungsi Guna Lahan Bangunan Guna Lahan Desa Ujung Murung Perdagangan & Jasa 6 0,81% Mix-used

      16 7,57% Fasilitas Pendidikan 2 2,52% Fasilitas Peribadatan 1 2,20% RTH 34,13%

      Lahan kosong 10,47% Perumahan 50 72,07%

      Segmen C Desa Raden I lir Mix-used 15 4,52% Fasilitas Kesehatan

      1 0,49% Fasilitas Peribadatan 1 1,75% RTH 12,08%

      Lahan kosong 9,09% Perumahan 65 52,64%

      Segmen D Desa Ujung Murung Mix-used 17 9,55% Perdagangan & Jasa

      3 0,29% Fasilitas Kesehatan 1 0,15% Fasilitas Peribadatan 1 0,29% Perkantoran 1 0,15% RTH 32,68%

      Lahan kosong 4,23% Perumahan 63 62,34%

      Segmen E Desa Pasar Senin Perdagangan & Jasa 3 3,95% Mix-used

      2 1,27% Fasilitas Peribadatan 2 6,07% RTH 18,76%

      Lahan kosong 7,61%

      Sumber: Hasil Analisa, 2014

    5. Rencana Tata Bangunan

      a. Pembagian Sistem Blok

      Rencana pembagian sistem blok pada kawasan perencanaan diantaranya: 1) Pengembangan blok kawasan Masjid Tua Sungai Banar, untuk perluasan dan pengembangan fasilitas penunjang kegiatan masjid.

      2) Merevitalisasi blok sempadan sungai untuk kegiatan konservasi. 3) Menyediakan blok pengembangan permukiman sebagai ganti lahan relokasi permukiman sepanjang bantaran sungai.

      4) Blok sepanjang koridor jalan ut ama Jl Brigjen H. Hasan Basri dan Jl. Amuntai-Alabio dikembangkan sesuai peruntukan RDTR Kota Amuntai yakni untuk kegiatan perdagangan dan jasa.

      b. Perpetakan Lahan

      Konsep pengembangan perpetakan lahan di wilayah perencanaan yakni : 1) Menghilangkan petak lahan yang ada di sepanjang wilayah sempadan sungai 2) Pengembangan hunian diarahkan dengan sistem kavling kecil hingga sedang yang tertata dalam petak bangunan tunggal (single building). Konsep pengembangan selanjutnya akan dilakukan dengan sistem kavling dengan pengaturan tampilan bangunan laras atau laras varian apabila masih dalam batasan 1 blok perencanaan dan kontras apabila berbeda blok perencanaan agar lebih teratur. 3) Pengembangan fasilitas perdagangan dan jasa berskala lokal diarahkan dengan sistem kavling sedang hingga besar, sedangkan fasilitas perdagangan dan jasa berskala lingkungan yang berada di dalam kawasan permukiman dikembangkan dengan sistem kavling kecil. 4) Fasos/ fasum dengan skala pelayanan lingkungan, seperti sekolah, puskesmas, dan tempat beribadah dikembangkan dengan sistem kavling sedang, sementara fasos/ fasum dengan skala pelayanan lebih besar, seperti Masjid Tua Sungai Banar akan dikembangkan dengan sistem kavling besar. 5) Batasan pemanfaatan lahan disesuaikan dengan ketentuan KDB, GSB, GSBb, dan

      GSsB

    Gambar 5.19 Konsep Perpetakan Lahan

    c. Tampilan Bangunan

      Rencana wujud visual bangunan gedung meliputi: 1) Rencana penataan skala dan proporsi bangunan

      Penataan skala dan proporsi bangunan di wilayah perencanaan diarahkan untuk : a) Menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan arsitektur.

      b) Mencegah out of human scale dan out of human proportion akibat sosok massa bangunan besar dan tinggi dari arsitektur modern (masa kini).

      c) Penggarapan skala dan proporsi terhadap lingkungan lebih luas adalah bersifat ”kontekstual” yang memerlukan pemahaman mengenai obyek, latar depan dan belakang, persepsi obyek, lokasi dan posisi, formasi dan komposisi obyek. d) Massa bangunan yang besar dieliminir dengan cara memisah (dekonstruksi) menjadi massa jamak yang kompak dan dinamis.

      e) Massa bangunan besar tidak diwujudkan dengan cara membesarkan bentuk/ sosok bangunan tradisional yang kecil, tetapi merupakan pengulangan/ penggandaan yang kecil secara proporsional. 2) Arahan penataan bentuk bangunan

      Penataan bentuk bangunan di kawasan perencanaan direncanakan dengan arahan sebagai berikut : a) Menjaga keserasian antara bentuk bangunan.

      b) Bangunan sesuai dengan standar yang ada.

      c) Bentuk bangunan mengembangkan konsep selaras, varian, atau kontras terhadap bangunan karakter/ bangunan inti 3) Arahan penataan struktur bahan bangunan

      Penataan struktur dan bahan bangunan di kawasan perencanaan direncanakan dengan arahan sebagai berikut : a) Bangunan yang bernilai sejarah dipertahankan bentuk bangunannya.

      b) Khusus untuk atap Masjid Tua Sungai Banar, bentuk atap akan dikembalikan ke bentuk asal yakni atap tajuk yang mengadaptasi dari arsitektur lokal Kalimantan Selatan yakni bangunan Bubungan Tinggi

    d. Ketinggian dan Elevasi Bangunan

      Adapun konsep penetapan ketinggian dan elevasi lantai bangunan di wilayah perencanaan adalah sebagai berikut: 1) Ketinggian bangunan diatur agar terbentuk ruang yang mempunyai skala harmonis antara tinggi bangunan dengan ruang luarnya sehingga tercipta komposisi ruang yang masih berskala manusia;

      2) Tinggi bangunan harus memperhatikan pencahayaan dan penghawaan alami agar dapat tercipta lingkungan yang sehat dan nyaman; 3) Pembentukan karakter yang berbeda sebagai upaya menciptakan landmark bagi kegiatan fungsional yang berlainan; 4) Tinggi bangunan tidak lebih dari lebar rumija agar sudut elevasi yang dibentuk tidak terlalu besar.

      Berdasarkan ketentuan Ketinggian dan Elevasi Lantai Bangunan dalam RDTRK Amuntai, ditetapkan bahwa ketinggian lantai dasar suatu bangunan diperkenankan mencapai 1,2 meter di atas tinggi rata-rata tanah atau jalan di sekitarnya. Jika pada sebuah area perencanaan terdapat kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang besar, maka tinggi maksimal lantai dasar ditetapkan berdasarkan jalan masuk utama ke persil, dengan memperhatikan keserasian lingkungan. Apabila sebuah persil berada di bawah titik ketinggian bebas banjir, maka tinggi lantai dasar ditetapkan setinggi 1,2 meter dari titik ketinggian bebas banjir yang telah ditetapkan. Ketinggian bangunan diarahkan maksimal 2 lantai dengan tinggi bangunan maksimal 5 meter per lantai.

    6. Rencana Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung

    a. Jaringan Jalan dan Pergerakan

      Konsep jaringan jalan dan pergerakan yang akan diterapkan di wilayah perencanan meliputi: 1) Membedakan antara jalur kendaraan dan jalur pejalan kaki. 2) Mengatur sirkulasi masuk dan keluar kendaraan. 3) Mengatur parkir di dalam tapak untuk meminimalisir hambatan badan jalan yang digunakan untuk parkir kendaraan. 4) Pembukaan akses baru menuju kawasan Masjid Tua Sungai Banar melalui Jl. Brigjen H. Hasan Basri, yang terintegrasi dengan jembatan gantung, dan tembus ke Jl.

      Amuntai-Alabio. 5) Pelebaran jalan akses masuk menuju kawasan Masjid Tua Sungai Banar melaluiJl.

      Amuntai-Alabio. 6) Perbaikan konstruksi jembatan gantung dan penambahan dimensi lebar jembatan

    Gambar 5.20 Konsep Morfologi JalanGambar 5.21 Konsep Jembatan GantungGambar 5.22 Konsep Alur Pergerakan PeziarahGambar 5.23 Konsep Alur Pergerakan Santri dan GuruGambar 5.24 Konsep Alur Pergerakan Turis

      b. Sirkulasi Kendaran Umum Sirkulasi kendaraan umum dikonsentrasikan pada jaringan j alan utama, Jl. Brigjen H.

      Hasan Basri yang merupakan jaringan jalan koektor primer dengan karakter arus pergerakan menerus dan panjang/ pergerakan antar kota. Ruas jalan ini menghubungkan Kota Amuntai dengan kota lain di Kalimantan Selatan seperti Martapura dan Banjarmasin.

      c. Sirkulasi Kendaraan Probadi

      Sirkulasi kendaraan pribadi direncanakan dapat diakses oleh kendaraan roda dua dan roda empat di seluruh jaringan jalan yang ada di wilayah perencanaan. Adapun arus kendaraan yang direncanakan yakni menggunakan sistem sirkulasi 2 arah.

      d. Parkir

      Rencana rancangan fasilitas parkir yang dapat diusulkan pada kawasan perencanaan adalah sebagai berikut: 1) Parkir tepi atau sempadan jalan pada kawasan perencanaan tidak diperkenankan pada jalan dengan hierarki kolektor tersier yakni Jalan Amuntai Alabio dan Jalan Brigjend H.

      Hasan Basri. 2) Pengembangan fasilitas komersial, perkantoran dan pemerintahan, pendidikan, kesehatan maupun fasilitas umum lain yang dapat menimbulkan bangkitan lalu lintas dengan intensitas tinggi pada kawasan perencanaan harus didukung dengan penyediaan parkir off street, dimana fasilitas parkir dikembangkan dalam lingkungan kavling fasum tersebut. 3) Pada masa mendatang, seluruh pengembangan bangunan baru pada kawasan perencanaan harus dilengkapi dengan fasilitas parkir off street yang memadai.

      Pengembangan fasilitas parkir tersebut dilakukan secara proporsional sesuai dengan standar dan ketentuan parkir yang dapat berupa pelataran parkir, bangunan parkir ataupun kombinasi antara keduanya. Pilihan tersebut sebenarnya dapat ditentukan melalui kajian kelayakan ekonomi serta perkiraan tarikan kendaraan pada tiap bangunan atau kawasan.

    Gambar 5.25 Konsep Sistem Parkir

      e. Sirkulasi Pejalan Kaki dan Sepeda

      Jalur pejalan kaki atau trotoar bermanfaat untuk mengurangi ketergantungan pada alat transportasi. Selain itu, jalur pejalan kaki yang tertata dapat menambah nilai estetika wajah jalan. Pada lahan sempadan Sungai Banar, dikembangkan untuk kegiatan rekreatif, salah satunya sebagai jalur hijau yang dilengkapi dengan area khusus bukan kendaraan bermotor. Jalur pejalan kaki dan sepeda dirancang untuk pergerakan berkecepatan rendah sehingga menjamin keamanan pejalan kaki, dengan penandaan berupa marka khusus jalur sepeda.

      f. Pedestrian Lingkage

      Rencana pedestrian yang akan diterapkan dalam wilayah perencanaan, antara lain: 1) Aman, leluasa dalam bergerak dengan cukup terlindung dari lalu lintas kendaraan; 2) Nyaman, dengan rute-rute yang jelas serta bebas dari hambatan dan gangguan yang disebabkan oleh ruang yang sempit seperti adanya pedagang kaki lima dan parkir kendaraan yang menggunakan badan pedestrian; dan

      3) Diberikan elemen-elemen yang dapat menimbulkan daya tarik seperti lampu-lampu penerangan, pot bunga dan pohon peneduh. 4) Trotoar pada wilayah perencanaan diletakkan pada sisi luar bahu Jalan atau sisi luar jalur lalu lintas. 5) Trotoar pada kawasan perencanaan dibuat sejajar dengan Jalan, akan tetapi trotoar dapat tidak sejajar dengan Jalan bila topografi atau keadaan setempat yang tidak memungkinkan. 6) Trotoar ditempatkan pada sisi dalam saluran drainase terbuka atau diatas saluran drainase yang telah ditutup dengan plat beton. 7) Memanfaatkan lokasi lahanrelokasi permukiman di sepanjang sempadan Sungai Banar. 8) Permukaan jalur pejalan kaki harus stabil dan kuat dengan tekstur relatif rata, tetapi tidak licin; 9) Lintasan dengan kemiringan 5 % dapat dilalui sendiri oleh para penggunan kursi roda, tetapi kemiringan yang menerus dari 4° -5° harus mempunyai daerah rata yang pendek (5 kaki/ 1,5 m) setiap kurang lebih 100 kaki/ 30 m untuk memungkinkan para pengguna kursi roda berhenti dan beristirahat;

      10) Penerangan sepanjang jalur pejalan kaki berkisar antara 0,5-5 foot candle, tergantung pada intensitas pemakaian, bahaya yang ada, serta kebutuhan relatif akan keamanan;

      11) Peletakan saluran drainase harus rata dengan permukaan jalan atau Jalur pejalan kaki dan apabila mempunyai penutup lubang, maka batang besi sejajar (grill) atau pola yang mempunyai pelubangan yang lebih besar dari 0,75 inchi/ 2 cm tidak boleh digunakan. Rencana penyediaan jalur pejalan kaki atau trotoar di kawasan Masjid Tua Sungai

      Banar diarahkan di koridor utama, yaitu Jalan Amuntai Alabio dan Jalan Brigjend. H. HAsan Basri, zona penyangga Masjid Tua Sungai Banar, serta pada taman-taman kota dan lingkungan yang ada di kawasan perencanaan.

    Gambar 5.26 Konsep Jalur Pejalan Kaki dan Sepeda

    7. Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau

    a. Ruang Terbuka Publik

      Konsep penataan ruang terbuka hijau umum/ publik di kawasan perencanaan terbagi menjadi 3 (tiga) jenis yaitu : 1) Jalur Hijau

      Penataan jalur hijau meliputi ruang terbuka di sepanjang jalan utama, diarahkan untuk memanfaatkan sepanjang pinggir jalan yang ada sebagai ruang terbuka pasif yang ditandai dengan penanaman berbagai tanaman yang berfungsi sebagai pengarah, pengontrol angin dan sinar matahari, peneduh yang dapat diselingi dengan tanaman hias untuk menambah kesan estetis. Untuk koridor yang tidak lagi memiliki sempadan yang lebar maka sangat dianjurkan untuk memperindah koridor dengan menggunakan tanaman dalam pot serta pemanfaatan elemen tapak lainnya guna dapat memberikan kesan yang lebih estetis pada kawasan. Saat ini beberapa ruas jalan yang sempadan jalannya sempit tersebut dilengkapi vegetasi pengarah serta peneduh yang ditanam di sekitar badan jalan, hal ini harus diantisipasi dengan menyiapkan tanaman pengganti karena keberadaan pepohonan tersebut suatu saat nanti akan tergeser oleh peningkatan lalu lintas serta kebutuhan parkir. Oleh sebab itu pemanfaatan tanaman dalam pot ini akan sangat baik selain itu juga dapat digunakan pula tanaman dalam bentuk pergola.

      2) Sempadan Sungai Konsep ruang terbuka hijau sempadan sungai mencakup area pengembangan minimal 10m lebar kanan-kiri di sepanjang sempadan sungai.Secara umum sempadan sungai dibagi menjadi 3 zonasi yaitu area resapan air dan penahan longsor di pinggir sungai, area peneduh sepanjang jalur pejalan kaki yang dapat dimanfaatkan pula untuk kegiatan rekreasi dan lain sebagainya (berfungsi aktif) dan terakhir adalah area peredam polusi dan pengarah visual. Pemilihan vegetasi pada area resapan air dan penahan longsor adalah tipe pohon dengan perakaran kuat sedangkan area peneduh dipilih vegetasi dengan tajuk yang rindang serta untuk pengarah visual sekaligus peredam polusi dipilih pohon dengan tajuk bertingkat.

    Gambar 5.27 Konsep Sempadan Sungai

      3) Pemakaman Pengembangan pemakaman umum sebagai daerah resapan dan cadangan air dan habitat pendukung kehidupan satwa liar serta pengisi ruang arsitektural dibedakan atas dua karakter pemakaman yang ada yaitu pemakaman muslim dan non muslim. Pada wilayah perencanaan pemakaman yang direncanakan yakni pemakaman muslim. Penanaman pohon pada pemakaman muslim diarahkan secara merata dan hanya pada bagian tertentu di tempatkan pohon pengarah visual dan pohon karena fungsi resapan sudah cukup baik.

    Gambar 5.28 Konsep Pemakaman

    b. Ruang Terbuka Privat

      Penyediaan ruang terbuka hijau privat/ dalam tapak, secara garis besar konsep ruang terbukanya adalah sebagai berikut : 1) Bangunan rumah, bangunan tiap-tiap rumah yang terdapat di kawasan perencanaan memiliki ruang terbuka yang masih sangat terbatas. Maka ruang terbuka yang ada perlu dipertahankan, melakukan konservasi, memelihara, dan merawat ruang terbuka hijau yang sudah ada di wilayah perencanaan, minimal ditanami dengan tanaman buah-buahan dan tanaman apotek hidup. 2) Bangunan perdagangan dan jasa, perlu menyediakan elemen penghijauan berupa tanaman hias yang ditanam dalam media pot. 3) Untuk bangunan perkantoran dan fasilitas umum, diarahkan untuk menyediakan elemen penghijauan berupa tanaman peneduh, tanaman hias dan tanaman apotek hidup. Penyediaan ruang terbuka di dalam tapak dapat dilakukan dengan :

      1) Ruang terbuka di dalam tapak, diperoleh dengan memanfaatkan bagian tapak yang tidak bolah dibangun (misalnya dengan KDB maksimum 60% berarti tersedia 40% bagian tapak yang tersedia untuk ruang terbuka). Ruang terbuka ini bisa dimanfaatkan untuk pelataran parkir, taman, pencahayaan dan penghawaan alami dan lain-lainnya. 2) Untuk bangunan rumah, ruang terbuka yang ada minimal ditanami dengan tanaman buah–buahan dan tanaman apotek hidup. 3) Untuk bangunan perdagangan dan jasa, menyediakan elemen penghijauan berupa tanaman hias yang ditanam dalam media pot. Untuk bangunan perkantoran, diarahkan untuk menyediakan elemen penghijauan berupa tanaman peneduh, tanaman hias dan tanaman apotek hidup.

    c. Ruang Terbuka Privat

      Peletakan tanaman haruslah disesuaiakan dengan tujuan dari perancangannya tanpa melupakan fungsi daripada tanaman yang dipilih. Pada peletakan tanaman harus pula dipertimbangkan kesatuan dalam desain atau Unity, yaitu diantaranya (Hannebaum, Leroy, 1981, Landscape Design) :

      1) Variasi (Variety) 2) Penekanan (Accent) 3) Keseimbangan (Ballance) 4) Kesederhanaan (Simplicity) 5) Urutan (Sequence)

      Dalam perancangan tanaman lansekap, pemilihan jenis tanaman merupakan faktor yang penting. Di bawah ini terdapat tabel pola tata hijau yang banyak dipergunakan untuk menginformasikan jenis dan karakteristik tanaman yang akan digunakan dalam desain lansekap.

    Tabel 5.23 Ragam Vegetasi Pengembangan RTH No Fungsi Persyaratan Contoh Vegetasi

       1 Peneduh Ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1,5 m).

       Percabangan 2 m diatas tanah Bentuk percabangan tidak

       merunduk

       Bermassa daun padat Ditanam secara berbaris

       - Kiara Payung (Filicum decipiens) - Tanjung (mimusops elengi) - Angsana (Pitherocarphus indicus)

      2

       Penyerap Terdiri dari pohon, perdu/ semak

       Polusi Udara Memiliki ketahanan tinggi terhadap pengaruh udara Jarak tanaman rapat

        Bermassa daun padat - Angsana (Pitherocarphus indicus) - Akasia daun besar (accasia mangium)

    • Tanjung (mimusops elengi) - Kiara Payung (Filicum decipiens) - Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) - Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) - Bogenvil (Bougenvillea sp)
      • - Oleander (Nerium oleander

         Ditanam berbasis atau membentuk massa

        6 Pengarah Pandang

         Jarak tanam rapat

         Ditanam berbasis atau membentuk massa

         Bermassa daun padat

         Tanaman tinggi, perdu/ semak

        5 Pembatas Pandang

         Jarak tanam rapat < 3 m - Cemara (Cassuarina-equisetifolia) - Angsana (Pitherocarphus indicus - Tanjung (mimusops elengi) - Kiara Payung (Filicum decipiens)

      • - Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis

         Bermassa daun padat

         Tanaman tinggi, perdu/ semak

        4 Pemecah Angin

         Berbagai bentuk tajuk

         Bermassa daun rapat

         Membentuk massa

         Terdiri dari pohon, perdu/ semak

        3 Penyerap Kebisingan

        No Fungsi Persyaratan Contoh Vegetasi

      • - Oleander (Nerium oleander) - Bogenvil (Bougenvillea sp) - Teh-tehan pangkas (Acalypha sp)

      • Bambu (Bambusa sp) - Cemara (Cassuarina-equisetifolia) - Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) - Oleander (Nerium oleander)

         Tanaman perdu atau pohon ketinggian > 2 m. - Cemara (Cassuarina equisetifolia), - Mahoni (Swietenia mahagoni),

        No Fungsi Persyaratan Contoh Vegetasi

         - Ditanam secara massal atau Hujan Mas (Cassia glauca), - berbaris. Kembang Merak (Caesalphinia

         Jarak tanam rapat. pulcherima),

         - Untuk tanaman perdu/ semak Kol Banda (Pisonia alba), - digunakan tanaman yang memiliki Akalipa Hijau Kuning (Acalypha warna daun hijau muda agar wilkesiana macafeana), - dapat dilihat pada malam hari. Pangkas Kuning (Duranta sp.)

      8. Tata Kualitas dan Lingkungan

      a. Konsep I dentitas Lingkungan

        I dentitas lingkungan dari sebuah kota sendiri dapat dilihat dari lima elemen kota yang terdiri dari path, landmark, node, edge, dan district. I dentitas lingkungan yang harus ada dan perlu dipertahankan di wilayah perencanaan meliputi :

        1) Path Path merupakan elemen pembentuk ruang kota yang berbentuk linier, berupa jalur sirkulasi yang digunakan masyarakat untuk menuju atau meninggalkan lingkungan yang bisa berbentuk sungai, jalan, dan pola lain yang berbentuk linier, memiliki ciri khas dan alur jelas serta mudah dikenali. Path di wilayah perencanaan adalah jalan utama, Jl Amuntai-Alabio dan Jl. Brigjen H. Hasan Basri.Kedua jaringan jalan tersebut memiliki posisi penting terhadap kawasan perencanaan, karena menghubungkan wilayah perencanaan dengan pusat kota Amuntai. 2) Landmark

        Landmark merupakan titik kota yang berfungsi sebagai titik orientasi visual kota yang biasanya berupa tugu/ monumen di tengah kota atau bangunan yang memberikan tanda untuk mempermudah mengenali daerah tersebut dan dapat memberikan efek positif jika karakter, keberadaan, maupun kekhasannya diperkuat dan diperjelas.

        Landmark eksisting di wilayah perencanaan adalah Masjid Tua Sungai Banar yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Sedangkan landmark baru yang akan dikembangkan adalah jembatan gantung penghubung poros barat dan timur wilayah perencanaan. Landmark jembatan gantung, akan diperlebar dan diperbaiki strukturnya. 3) Node

        Node adalah titik kota yang berguna sebagai titik orientasi yang lebih ditekankan pada bentuk kegiatan atau aktivitas yang sudah dikenal masyarakat. Pada wilayah perencanaa, nodes berupa simpangan/ pert emuan antar ruas jalan, dapat berupa simpang tiga atau simpang empat. 4) Edge

        Edge adalah elemen linear yang tidak dipakai/ dilihat sebagai path. Edge berada pada batas antara dua kawasan tertentu dan berfungsi sebagai pemutus linear, misalnya pantai, tembok, topografi dan sebagainya. Edge memiliki identitas yang lebih baik jika kontinuitas tampak jelas batasnya. Demikian pula fungsi batasnya harus jelas, membagi atau menyatukan. Keberadaan Sungai Banar merupakan edge pada wilayah perencanaan yang menjadi penyatu wilayah perencanaan. 5) District

        District merupakan kawasan kota dalam skala dua dimensi. Sebuah district memiliki ciri khas yang mirip (bentuk, pola, dan wujudnya) serta khas pula dalam batasnya di mana orang harus memulai dan mengakhirinya. Pada wilayah perencanaan terdapat enam (6) distrik yang dikembangkan terkait dengan struktur dan fungsi peruntukan lahan yang dikembangkan, yaitu: a) Distrik Jarang Kuantan

        b) Distrik Kawasan Masjid Tua Sungai Banar dan kompleks makam Datu Kabul, merupakan kawasan inti RTBL c) Distrik Ujung Murung

        d) Distrik Raden I lir

        e) Distrik Kembang Kuning

        f) Distrik Pasar Senin

      Gambar 5.29 Konsep I dentitas Lingkungan

        b. Konsep I dentitas Lingkungan

        Secara umum orientasi massa bangunan di kawasan perencanaan adalah sesuai dengan kondisi lingkungan, untuk rumah-rumah yang berada di pinggir sungai sebaiknya menghadap ke sungai. Untuk itu perencanaan orientasi bangunan di kawasan perencanaan adalah sebagai berikut:

        1) Memperhatikan kondisi fisik lingkungan seperti arah sirkulasi matahari (timur- barat), jarak antar bangunan, klimatologi dan aksesibilitas. 2) Memperhatikan kemudahan dalam pencapaian serta kenyamanan penghuni. 3) Mengakomodasi aspek non fisik seperti nilai-nilai sosial budaya, aksentuasi dan makna ruang yang ingin diciptakan.

        Keberadaan Sungai Banar sebagai wilayah konservasi sempadan sungai, menjadi dasar pengembangan konsep orientasi bangunan dan lingkungan untuk menghadap ke jalan/ sungai, dan tidak membelakangi sungai. Konsep ini dikenal dengan konsep waterfront .

        c. Wajah Jalan

        Wilayah perencanaan belum memiliki street furniture yang khusus dan menggambarkan karakteristik budaya lokal baik dalam bentuk, warna, corak maupun ornamennya. Jenis dan jumlah street furniture eksisting sangat terbatas dan jarang ditemui. Beberapa street furniture yang akan dikembangkan di wilayah perencanaan diantarnya adalah sebagai berikut :

      Tabel 5.24 Konsep Penataan Wajah Jalan Jenis Konsep Street Furniture

      • Sculpture/ Gapura Perbaikan kondisi gapura eksisting sebagaientrance menuju kawsan Masjid Tua Sungai Banar
      • Gapura makam diarahkan untuk memberikan informasi lokasi makam
      • Pembangunan prasasti pada kompleks makam Datu Kabul
      • Tempat Sampah Ada pemisahan antara sampah organik dan sampah anorganik.
      • Lokasi penempatan tempat yang mudah dijangkau oleh pejalan kaki dengan jarak antar tempat sampah 30 – 40 meter
      • Setiap pembangunan baru, perluasan suatu bangunan yang diperuntukkan sebagai tempat kediaman harus dilengkapi tempat atau kotak pembuangan sampah yang ditempatkan sedemikian rupa sehingga kesehatan umum masyarakat terjamin.
      • Selain pada telajakan kawasan, pada kawasan perumahan, pertokoan, dan industri ditempatkan TPS berupa transfer depo atau kontainer.
      • Lampu Konsep penempatan lampu penerangan Penerangan Jalan jalan perlu diletakkan pada tepi-tepi jalan dengan jarak antar tiang 50 m.
      • Tinggi tiang yang dianjurkan adalah 9-15 meter dengan tipe lampu mercury.
      • Penempatan dilakukan di sepanjang jalan wilayah perencanaan dengan peletakan untuk jalan utama dikedua sisi jalan, sedangkan untuk jalan lingkungan di salah satu sisi
      • Lampu penerangan jalan juga ditempatkan disepanjang kawsan relokasi sempadan sungai yang dikembangkan untuk sarana rekreatif
      • Pot Tanaman Mempertahankan vegetasi pepohonan yang ada
      • Penempatan pot-pot tanaman untuk mendukung estetika lingkungan, berada di sepanjang jalan dengan trotoar
      • Jarak antar pot tanaman 20 m
      • Bangku Taman Lokasi penempatan disepanjang kawasan relokasi sempadan sungai yang dikembangkan untuk sarana rekreatif
      • Terintegrasi dengan jalur pejalan kaki
      • Tidak jauh dari tempat sampah dan lampu penerangan

        Signage

        Jenis Konsep

      • Rambu Mempertahankan rambu yang sudah ada.
      • Menambah baru rambu pada lokasi yang penting dan menjadi tujuan utama
      • Bentuk dan jenis rambu sesuai dengan Tata CaraPemasangan Rambu Dan Marka Jalan Dirjen Bina Marga No. 01/ P/ BNKT/ 1991
      • Penempatan rambu tidak boleh terhalang oleh bangunan/ pohon, dan tidak mengganggu pengguna jalan
      • Rambu ditempatkan di sebelah kiri menurut arah lalu lintas
      • Reklame Pemasangan dan pemakaian, pemasangan reklame dibedakan berdasarkan fungsi reklame. Pemasangan reklame terbagi menjadi reklame tempel, lampu dan reklame tiang serta baliho.
      • Penataan reklame turut mempertimbangkan aspek keindahan, keselamatan dan kefektifan penyampaian informasi.
      • Penempatan lokasi pada koridor jalan dirancang agar tidak saling berhimpitan dan saling menutupi satu dengan lainnya.
      • Lokasi pada tempat -tempat strategis/ pada tempat-tempat umum yang menjadi pusat konsentrasi massa.
      • Papan Nama Jalan Tinggi papan nama 2-2,65 meter
      • dan penunjuk Material papan nama jalan sama dengan arah material pada rambu
      • Lokasi penempatan di ujung awal jalan menururt arah lalu lintas, dan mudah ditemukan.

      9. Sistem Prasarana Dan Utilitas Lingkungan

      a. Sistem Jaringan Air Bersih

        Sistem jaringan air bersih di wilayah perencanaanyang diarahkan untuk distribusi air bersih di wilayah perencanaan, dilakukan dengan peningkatan kualitas distribusi / pipanisasi air bersih ke seluruh wilayah perencanaan dan peningkatan debit air bersih. Untuk pengembangan jaringan air bersih diupayakan bekerjasama dengan j aringan utilitas lainnya mewujudkan sistem pemanfaatan jaringan bawah tanah (cable trance) yang terpadu dengan jaringan listrik dan telepon (yaitu dengan tidak menempatkan jaringan air bersih pada deretan yang sama dengan jaringan air bersih dan telepon) guna meminimalkan gangguan pada jaringan tersebut.

        Penyediaan jaringan air bersih di wilayah perencanaan juga dipengeruhi oleh kebutuhan air domestik, dimana standart kebutuhan air perkapita adalah sebesar 170lt/ org/ hr. Selain itu, guna mengantisipasi bahaya kebakaran pada wilayah perencanaan, diupayakan pemenuhan sarana hidran dengan menempatkannya di beberapa titik yang berpotensi kebakaran.

      b. Sistem Jaringan Air Limbah dan Air Kotor

        Sistem pembuangan air limbah, dibedakan menjadi dua jenis : 1) Sistem Sanitasi Setempat (On Site Sanitation)

        Proses pembuangan dan pengolahan air limbah dilakukan secara bersamaan di tempat yang biasanya menggunakan cubluk atau septictank. Bila pada suatu waktu cubluk atau septictank tersebut sudah penuh dengan lumpur tinja maka harus disedot dan diangkut dengan truk tinja ke I PLT (I nstalasi Pengelolaan Lumpur Tinja) untuk disempurnakan prosesnya agar tidak merusak dan mencemari lingkungan. Pembuangan air limbah dengan sistem ini dapat dilakukan secara:

        a) I ndividual, yaitu sistem pembuangan melalui kloset, peturasan yang dilakukan oleh masing-masing keluarga pada setiap rumah.

      Gambar 5.30 Sanitasi Hybrid ( gabungan sistem sanitasi on- site dan off- site)

        b) Komunal, yaitu sistem pembuangan melalui kloset yang dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa keluarga yang biasanya berupa jamban jamak, MCK umum, atau septic tank komunal.

      Gambar 5.31 MCK Komunal

        2) Sistem Sanitasi Tidak Setempat/ Terpusat (Off Site Sanitation) Proses pembuangan air limbah atau penyaluran air limbah yang berasal dari rumah- rumah dan berbagai fasilitas lainnya seperti, air sisa mandi, air sisa cucian, dan seterusnya serta air limbah yang berasal dari sisa-sisa proses industri yang kemudian dialirkan melalui jaringan perpipaan menuju I PAL (I nstalasi Pengolahan Air Limbah) untuk diolah secara terpusat.

      Gambar 5.32 Sanitasi Terpusat ( off- site)

      c. Sistem Jaringan Drainase

        Pada wilayah perencanaan belum terdapat saluran drainase. Satu-satunya jaringan drainase adalah sungai banar. Wilayah perencanaan menghadapi bahaya banjir yang terjadi tiap tahun, baik karena curah hujan yang tinggi yang tidak ditunjang dengan sistem drainase, serta meluapnya air sungai. Maka dari itu, diperlukan pengadaan saluran drainase sekunder dan tersier di wilayah perencanaan. Terkait dengan pembuatan saluran drainase baru yang disesuaikan dengan klasifikasi jalan, dimensi penampang saluran drainase minor adalah sebagai berikut:

      • Jalan arteri : lebar > 1,5 m dengan kedalaman 1,0-1,5 m;
      • Jalan kolektor : lebar 0,8-1,5 m dengan kedalaman 1,0-1,5 m;
      • Jalan lokal primer : lebar 0,5-0,8 m dengan kedalaman 0,5-1,0 m;
      • Jalan lokal sekunder : lebar 0,3-0,5 m dengan kedalaman 0,3-0,5 m;

        Untuk menunjang jaringan drainase, di wilayah perencanaan dapat diterapkan konsep lubang resapan biopori (LRB). Biopori merupakan lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme tanah dan pengakaran tanaman. Lubang-lubang tersebut terisi udara dan menjadi saluran air untuk meresap ke dalam tanah. Apabila biopori dibuat dalam jumlah banyak, maka kemampuan tanah untuk meresapkan air akan meningkat sehingga memperkecil peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah. Peningkatan jumlah biopori dapat dilakukan dengan membuat lubang vertikal ke dalam tanah yang selanjutnya diisi bahan organik yang melalui proses pengomposan menjadi sumber energi bagi organisme di dalam tanah. Adanya bahan organik yang cukup akan meningkatkan aktivitas organisme di dalam tanah sehingga semakin banyak lubang-lubang biopori yang terbentuk.

        Jumlah lubang resapan biopori yang perlu dibuat dapat dihitung menggunakan persamaan (Tim Biopori I PB, 2007) :

      Gambar 5.33 Lubang Resapan Biopori

      d. Sistem Jaringan Persampahan

        Pengelolaan sampah di wilayah perencanaan selama ini masih dilakukan secara swadaya dan konvensional. Maka dari itu perlu dikembangan teknik pengelolaan sampah yang meliputi :

        1) Pewadahan Sampah Proses pewadahan sampah dilakukan dari sumber sampahnya, dengan cara pemilahan sampah berdasarkan jenisnya yakni sampah organik(sampah sisa sayuran, sisa makanan, kulit buah-buahan dan daun-daunan) dan sampah anorganik (sampah jenis kertas, kardus, botol, kaca, plastik). Pewadahan sampah dapat dikumpulkan dalam kantung plastik, keranjang sampah, tong sampah dan bak sampah di masing- masing bangunan.

      Gambar 5.34 Bak Sampah

        2) Pengumpulan Sampah Sistem pengumpulan sampah yakni menggunakan jasa petugas kuning yang nantinya sampah-sampah tersebut akan dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sistem pengumpulan dapat dilaksanakan dengan cara :

        a) Pola I ndividual (door to door) yaitu :

      • Pengumpulan sampah dari rumah dengan alat angkut jarak pendek (misalnya : gerobak sampah) untuk diangkut ke stasiun transfer terdekat.
      • Pengumpulan sampah dari rumah ke rumah dengan truk untuk dibawa ke TPA.

        b) Pola Komunal

      • Pengumpulan sampah dari beberapa rumah yang dilakukan pada suatu titik pengumpul.
      • Pengumpulan sampah untuk beberapa lokasi pada satu titik pengumpulan.
      • Pola komunal baik dikembangkan pada daerah permukiman yang

        berpenghasilan menengah kebawah atau pada daerah permukiman yang tidak teratur dimana kondisi jalannya tidak dapat dilalui oleh alat pengumpul sampah (truk atau gerobak sampah). Peralatan yang diperlukan :

        Gerobak sampah dengan kapasitas muatan volume sampah : 0,5 m3 - sampai 1,0 m3. Truk sampah dengan kapasitas muatan : 6 m3 sampai 10 m3. -

      Gambar 5.35 Rencana Penyediaan Tempat Pembuangan Sementara ( TPS)

      e. Sistem Jaringan Listrik

        Konsep yang diarahkan untuk penataan sarana jaringan listrik lebih kepada upaya untuk mengatasi gangguan visual kabel udara, dalam jangka pendek dengan merapikan jaringan kabel udara di sepanjang tepi Jalan (dapat sejajar dengan koridor Jalan) maupun yang menyeberangi Jalan (antara lain penyeragaman posisi tiang, merapikan kabel yang kurang teratur). Dalam jangka panjang dilakukan penataan dan pengembangan jaringan listrik dengan memanfaatkan jaringan bawah tanah. Kabel udara yang menyeberangi jalan disyaratkan mempunyai tinggi minimum 5 meter di atas permukaan Jalan.

        f. Sistem Jaringan Telepon

        Konsep yang diarahkan untuk penataan sarana jaringan telepon di wilayah perencanaan, yaitu dengan penataan atau pengaturan kabel udara yang berada di sisi jalan maupun yang melintasi jalan. Untuk pengembangan jaringan telepon, diupayakan menggunakan sistem pemanfaatan jaringan bawah tanah (cable trance) yang terpadu dengan jaringan listrik dan air bersih.

        g. Sistem Jaringan Pengamanan Kebakaran

        Konsep jaringan penanganan kebakaran di wilayah perencanaan secara umum berintegrasi dengan jaringan iar bersih. Dimana suplai air hidran bersumber dari jaringan pipa air bersih. Konsep sistem jaringan pengamanan kebakaran adalah sebagai berikut:

        1) Melengkapi sarana penanggulangan kebakaran berlingkup lingkungan, tapak maupun bangunan.sarana penanggulangan kebakaran terdiri dari alat pemadam api ringan (APAR) dengan jumlah minimal 10 (sepuluh) buah dengan isi bersih 10 kg untuk setiap buahnya. 2) Dalam lingkungan perumahan, sekolah, dan perkantoran tidak diperkenankan adanya bangunan yang digunakan untuk usaha yang berpotensi menimbulkan kebakaran, seperti bengkel, tempat las, penjual bensin eceran, penjual bahan kimia, tempat - tempat yang menggunakan tenaga uap air, gas bertekanan tinggi, dan generator listrik. 3) Lingkungan perumahan dan lingkungan bangunan gedung harus dilengkapi hidran atau sumur gali atau reservoir kebakaran. Bangunan yang berjarak lebih dari 10 m dari jalan lingkungan harus dilengkapi hidran tersendiri. 4) Dalam jangka menengah (5 tahun) perlu disediakan hidran/ sumur kebakaran maksimum pada setiap jarak 300 m dan dalam jangka panjang (10 tahun) diupayakan penyediaan pada setiap jarak maksimum 150 meter. Hidran/ sumur kebakaran ditempatkan di titik pertemuan gang. 5) Jalan-jalan lingkungan di dalam blok harus kuat menahan beban berat mobil PMK (berat mobil pompa 14 ton dan mobil tangga 20,165 ton).

        h. Jalur Penyelamatan atau Evakuasi

        Wilayah perencanaan didominasi oleh kawasan padat permukiman yang berlokasi dekat dengan sungai. Potensi bahaya atau bencana alam yang terjadi adalah bahaya kebakaran dan banjir. Jalur penyelamatan/ evakuasi saatterjadi bahaya kebakaran dapat diantisipasi dengan perencanaan lebar jalan lingkungan, dibuat dengan lebar minimal 3,5 meter, pada saat terjadi kebakaran harus bebas dari segala hambatan apapun yang dapat mempersulit lintasan mobil pemadam.

      C. Rencana I nvestasi

      1. Program I nvestasi Bangunan

        Arahan program investasi untuk pengembangan bangunan akan dirumuskan dengan baik apabila diketahui siapa developer yang akan mengembangkan kawasan tersebut, apa saja kebutuhan pengembangannya, kapan dan bagaimana pertahapan pembangunan serta berapa kemampuan pendanaannya. Atau dapat dikatakan bahwa program investasi baru bisa dipastikan kalau bangunan-bangunan yang bersifat proyek sudah pasti.

        Apabila kawasan yang belum atau tidak ada kejelasan mengenai hal-hal tersebut di atas, maka arahan yang diprogramkan dalam RTBL lebih bersifat sebagai panduan pelaksanaan pembangunan dibandingkan sebagai rencana atau rancangan yang harus dilaksanakan. Oleh karena itu, dalam program ini arahan program investasinya akan bersifat kemungkinan-kemungkinan.

        a. Bangunan Rumah Tinggal Biasa

      • Pihak yang membangun Pengembangan dengan sistem blok yang merupakan gabungan kapling kecil-kecil dan diselenggarakan secara individu, koperasi, kelompok perorangan, kantor swasta, developer/ investor.
      • >Tahap pelaksanaan Bangunan rumah tinggal biasa yang dibangun oleh individu, koperasi, kelompok perorangan, kantor swasta, developer/ investor pentahapan pembangunannya disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan d
      • Sumber Pembiayaan

        Sumber biaya berasal dari dana sendiri, pinjaman bank, dana dari pihak lain, patungan, maupun bantuan pemerintah.

        b. Bangunan Rumah Tinggal Luar Biasa

      • Pihak yang membangun

        Pengembangan dengan sistem blok yang merupakan gabungan kapling kecil-kecil dan diselenggarakan secara individu, koperasi, kelompok perorangan, kantor swasta, developer/ investor.

      • Tahap pelaksanaan Bangunan rumah tinggal luar biasa yang dibangun oleh individu, koperasi, kelompok perorangan, kantor swasta, developer/ investor pentahapan pembangunannya disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan dana.
      • Sumber Pembiayaan

        Sumber biaya berasal dari dana sendiri, pinjaman bank, dana dari pihak lain, patungan, maupun bantuan pemerintah.

        

      c. Bangunan Rumah Tinggal Yang Bergabung Pada Bangunan Lain Kelas ( Mix

      Used)

      • Pihak yang membangun Pengembangan dengan sistem blok yang merupakan gabungan kavling kecil-kecil dan diselenggarakan secara individu oleh masing-masing pemilik kavling, dan harus mengacu pada panduan pengembangan unit perencanaan agar diperoleh satu kesatuan yang menyatu dan harmonis. Pengembangan dengan sistem ini dilakukan sepenuhnya oleh developer atau investor swa
      • Tahap pelaksanaan

        Blok yang dikembangkan pemilik kapling pelaksanaan pembangunannya bisa dimulai kapan saja oleh mereka yang sudah siap membangun sesuai pedoman pembangunan yang ada. Blok yang dikembangkan developer tahapan pembangunannya diprogram sesuai kebutuhan developer yang bersangkutan.

      • Sumber Pembiayaan Sumber biaya berasal dari dana sendiri, pinjaman bank, dana dari pihak lain, patungan, maupun pinjaman pemerintah.

        d. Bangunan Kantor

      • Pihak yang membangun Pengembangan dengan sistem blok yang merupakan gabungan kavling kecil-kecil dan diselenggarakan secara individu oleh masing-masing pemilik kavling, dan harus mengacu pada panduan pengembangan unit perencanaan agar diperoleh satu kesatuan yang menyatu dan harmonis. Pengembangan dengan sistem ini dilakukan sepenuhnya oleh developer atau investor swa
      • Tahap pelaksanaan

        Blok yang dikembangkan pemilik kavling pelaksanaan pembangunannya bisa dimulai kapan saja oleh mereka yang sudah siap membangun sesuai pedoman pembangunan yang ada. Blok yang dikembangkan developer tahapan pembangunannya diprogram sesuai kebutuhan developer yang bersangkutan.

      • Sumber Pembiayaan Sumber biaya berasal dari dana sendiri, pinjaman bank, dana dari pihak lain, patungan maupun pinjaman dari pemerintah.

        e. Bangunan Pertokoan – Jasa

      • Pihak yang membangun

        Pengembangan dengan sistem blok yang merupakan gabungan kavling kecil-kecil dan diselenggarakan secara individu oleh masing-masing pemilik kavling, dan harus mengacu pada panduan pengembangan unit perencanaan agar diperoleh satu kesatuan yang menyatu dan harmonis. Pengembangan dengan sistem ini dilakukan sepenuhnya oleh developer atau investor swasta.

      • Tahap pelaksanaan Blok yang dikembangkan pemilik kapling pelaksanaan pembangunannya bisa dimulai kapan saja oleh mereka yang sudah siap membangun sesuai pedoman pembangunan yang ada. Blok yang dikembangkan developer tahapan pembangunannya diprogram sesuai kebutuhan developer yang bersangku
      • Sumber Pembiayaan

        Sumber biaya berasal dari dana sendiri, pinjaman bank, dana dari pihak lain, patungan, maupun pinjaman pemerintah.

      f. Bangunan- Bangunan Umum

      • Pihak yang membangun

        Pengembangan dengan sistem blok yang merupakan gabungan kavling kecil-kecil dan diselenggarakan secara individu oleh masing-masing pemilik kavling, dan harus mengacu pada panduan pengembangan unit perencanaan agar diperoleh satu kesatuan yang menyatu dan harmonis. Pengembangan dengan sistem ini dilakukan sepenuhnya oleh developer atau investor swasta.

      • Tahap pelaksanaan Blok yang dikembangkan pemilik kavling pelaksanaan pembangunannya bisa dimulai kapan saja oleh mereka yang sudah siap membangun sesuai pedoman pembangunan yang ada. Blok yang dikembangkan developer tahapan pembangunannya diprogram sesuai kebutuhan developer yang bersangku
      • Sumber Pembiayaan

        Sumber biaya berasal dari dana sendiri, pinjaman bank, dana dari pihak lain, patungan maupun pinjaman dari pemerintah.

      2. Program I nvestasi Lingkungan

      a. Pihak Yang Membangun

        Pemerintah (PT. PLN, PT.Telkom, PDAM, Departemen Pekerjaan Umum, Pemerintah Daerah Tingkat I , Pemerintah Daerah Tingkat I I ), berupa aspek fisik yang berhubungan dengan lingkungan, seperti fasilitas listrik, telepon, air bersih, tempat pembuangan sampah, boks telepon, hidran, dan sebagainya. Organisasi sosial kemasyarakatan, komunitas masyarakat, perusahaan swasta, berupa aspek fisik lingkungan yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan, seperti reklame dan pos keamanan.

        b. Tahap Pelaksanaan

        Pemerintah dilaksanakan sampai selesai dalam satu tahun anggaran, dan bisa secara bertahap dilaksanakan lebih dari satu tahun anggaran sesuai dengan program instansi yang bersangkutan. Perusahaan swasta, komunitas masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan, pentahapan pembangunannya disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan dana.

        c. Sumber Pembiayaan

        Pemerintah sumber pembiayaannya dapat diambil dari APBN, APBD Tk I , APBD Tk I I , bantuan dan pinjaman luar negeri. Perusahaan swasta, komunitas masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan sumber dananya bisa berasal dari pinjaman bank, swadaya masyarakat, dana sendiri, patungan, maupun pinjaman dari pemerintah

        Berikut ini akan dijabarkan tabel 5.25 indikasi program pengembangan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Masjid Tua Sungai Banar untuk jangka waktu 10 tahun kedepan.

      Tabel 5.25 Matriks I ndikasi Program Pengembangan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kaw asan Masjid Tua Sungai Banar

        Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 133

        Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 134

        Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 135

        Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 136

        Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

      5.9.3 RTBL Kecamatan Amuntai Tengah

      A. Rencana Umum dan Panduan Rancangan

        1. Peruntukan Lahan Mikro

        Rencana peruntukan lahan mikro mencakup luasan lahan di dalam persil atau tapak bangunan yang meliputi perbandingan lahan terbangun dan lahan tidak terbangun di dalam persil lahan. Proporsi peruntukan lahan mikro dapat diketahui dari intensitas bangunan yang mencakup KLB, KDB, serta ketinggian dan jumlah lantai bangunan.

        Jumlah lantai bangunan maksimal di wilayah perencanaan adalah 2 lantai untuk perumahan, peribadatan. Perdagangan dan jasa maksimal 8 lantai pada jalan Arteri Primer dan Kolektor Primer. Sedangkan pada jalan Kolektor tersier pada kawasan direncanakan dengan tinggi maksimal bangunan 4 lantai untuk perdagangan dan jasa.

        Kebutuhan fasilitas di wilayah perencanaan diperlukan untuk menunjang aktifitas masyarakat serta perkembangan wilayah perencanaan. Untuk dapat memenuhi perkembangan dari wilayah perencanaan. Untuk dapat memenuhi perkembangan dari wilayah perencanaan, maka arahan untuk fasilitas pelayanan umumnya memerlukan: a. Mempertahankan jumlah fasilitas yang telah ada di wilayah perencanaan serta pengoptimalan fungsi fasilitas tersebut. Pengoptimalan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dari fasilitas pelayanan umum yang ada di wilayah perencanaan dengan cara perbaikan, perawatan, atau pemeliharaan fasilitas yang telah ada.

        b. Bangunan yang merupakan fasilitas pelayanan umum seperti sarana pendidikan dan sarana kesehatan dalam pengembangannya tetap memperhatikan KDB, KLB, dan GSB sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga mampu menyediakan ruang terbuka sendiri di dalam persil lahan untuk kegiatan parkir dan ruang hijau.

        2. Peruntukan Lahan Makro

        Peruntukan lahan mikro pada kawasan perencanaan yaitu sebagian besar untuk Sarana Pelayanan Umum dan Sosial, permukiman. Sedangkan pada peruntukan lahan secara makro yaitu dalam lingkup yang lebih luas, akan melihat penggunaan lahan dalam skala kota. Wilayah kawasan perencanaan RTBL Kecamatan Amuntai Tengah dengan luasan minimal 60 hektar, sehingga delineasi kawasan RTBL ini yaitu pada wilayah BLK Haur Gading I dan sebagian BLK Amuntai I I .

        Kawasan ini merupakan kawasan yang melengkapi fungsi kawasan utama dengan intensitas rendah sampai sedang, yaitu kegiatan perumahan, rekreasi dan skala pelayanan kegiatan lingkungan dengan kegiatan sentra tersier atau lokal yang berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi, pusat pemerintahan dan sarana daerah berskala lingkungan dengan corak pelayanan kawasan, diantaranya:

        1. Perdagangan dan Jasa: terutama melayani perdagangan eceran, seperti toko, warung dan lainnya;

        2. Pemerintahan, meliputi balai warga dan atau kantor RW;

        3. Sarana Umum: masjid, taman lingkungan, balai pengobatan, klinik, puskesmas pembantu, jalur hijau; pendidikan, meliputi sekolah dasar, taman kanak-kanak;

        4. Perumahan: tunggal, deret, atau kopel.

        Hubungan keterkaitan peruntukan lahan pada kawasan perencanaan dengan kawasan pusat kota atau Sub – BWP adalah sesuai dengan rencana peruntukan lahan pada kawasan pusat kota, dimana pola penggunaan lahan pada kawasan perencanaan yang dominan adalah diperuntukan untuk sarana umum, perdagangan dan jasa, pusat pemerintahan. Jadi kawasan perencanaan sebagai pusat dari pelayanan peruntukan lahannya secara mikro sesuai dengan peruntukan lahan secara makro yang telah direncanakan dalam rencana tata ruang kawasan perencanaan.

      3. Rencana Tata Bangunan

      a. Rencana Pengaturan Blok Lingkungan

        1) Bentuk dan Ukuran Blok Pengembangan dengan sistem blok dilakukan bila ada pihak yang membebaskan seluruh area yang dibatasi secara fisik oleh jalan atau saluran.

        2) Konfigurasi dan Pengelompokkan Blok Bentuk blok lingkungan mengikuti pola jalan yaitu bentuk linier agar bentuk blok lingkungan lebih teratur dengan konfigurasi berupa figure figurative yaitu luasan ruang terbuka lebih besar dibandingkan dengan luasan lahan yang terbangun. Konfigurasi bangunan berbentuk figure figurative diterapkan untuk menghasilkan konsep bangunan yang harmonis dan menyatu antara bangunan dan penghijauan guna menciptakan bangunan yang terintegrasi dengan lingkungan. Letak bangunan di koridor perencanaan cenderung linier yaitu memanjang mengikuti jaringan jalan. Orientasi bangunan di kawasan tersebut juga cenderung menghadap ke jalan utama. Hal ini dipertahankan guna menampilkan kesan bangunan yang rapi, teratur serta saling berintegrasi antara bangunan satu dengan bangunan yang lainnya.

        b. Rencana Pengaturan Bangunan

        Tampilan bangunan dan lingkungan pada wilayah perencanaan diarahkan untuk dikembangkan dengan mengacu konsep pengembangan wilayah perencanaan. Rencana bangunan harus seimbang dengan kondisi lingkungan sekitarnya serta memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang bertempat tinggal maupun yang datang ke kawasan perencanaan. 1) Bangunan di sekitar jalan utama khususnya sepanjang Jalan Abd. Gani Majedi dan Jalan

        Empu Jatmika dikembangkan dengan konsep harmonis, sekuensial dan menyatu antara bangunan dan penghijauan sehingga menciptakan bangunan yang berintegrasi dengan lingkungan. Hal tersebut disesuaikan dengan konsep penataan blok lingkungan di wilayah perencanaan berupa figure figurative yang tetap memperhatikan ketersediaan ruang terbuka hijau di dalam maupun di luar tapak. 2) Arsitektur bangunan yang direncanakan pada koridor Jalan Abd. Gani Majedi dan Jalan Empu Jatmika ini arsitektur Post Modern untuk bangunan perdagangan dan jasa.

        Sedangkan untuk bangunan di perkantoran, sarana pendidikan yaitu menerapkan arsitektur tradisional Banjar untuk mempertahankan ciri atau karakter bangunan di wilayah perencanaan. 3) Kesan ruang yang dibentuk dalam rencana pengembangan bangunan di kawasan perencanaan adalah kesan akrab non formal dengan mempertimbangkan arahan pengembangan wilayah. 4) Orientasi bangunan diarahkan menghadap jalan, hai ini sesuai dengan konsep pengembangan konfigurasi blok lingkungan di wilayah perencanaan yang berbentuk linier. 5) Bentuk arsitektur bangunan menggunakan laras, varian dan kontras untuk menciptakan irama bangunan pada masing-masing koridor jalan.

        c. Rencana Pengaturan Ketinggian Dan Elevasi Bangunan

        1) Ketinggian Bangunan Perencanaan ketinggian bangunan maksimum bangunan disesuaikan dengan kondisi bangunan terhadap jalan, daya dukung lahan terhadap bangunan, skala dan proporsi, serta tidak berdampak negative terhadap lingkungan. Pengaturan ketinggian bangunan pada wilayah perencanaan adalah sebagai berikut: a) Tinggi peil lantai satu : 1 m – 1,5 m

        b) Tinggi peil lantai dua : 5 m – 5,5 m

        c) Tinggi peil lantai tiga : 9 m – 9,5 m

        d) Tinggi atap/ kap : 17 m – 17,5 m

        2) Garis Langit Bangunan Garis langit atau skyline merupakan garis maya (seolah-olah ada) yang terbentuk dari batasan ketinggian sekelompok bangunan dengan langit. Bisaanya skyline kota digambarkan sebagai suatu silhouette yang membatasi bidang ketinggian sekelompok bangunan. Dengan garis langit tersebut, maka dalam sederetan bangunan dapat diciptakan suatu bentuk jenjang hierarkis antar massa bangunan yang satu dengan massa bangunan yang lain. Prinsip hirarki memberikan penekanan pada suatu hal yang dianggap penting atau menyolok dari suatu bentuk atau ruang menurut besarnya, ketinggian, potongan atau penempatannya secara relative terhadap bentuk-bentuk dan ruang-ruang lain dari suatu kumpulan organisasi massa bangunan.

        Pada wilayah perencanaan skyline tidak teratur. Untuk itu rencana pengembangan, garis langit dibuat lebih variant dengan cara mengatur ketinggian bangunan di wilayah perencanaan sehingga menghasilkan skyline yang berbentuk harmonis dan sekuensial.

      4. Rencana Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung

        a. Rencana Jaringan Jalan Dan Pergerakan

        Jaringan jalan utama yang ada pada kawasan perencanaan yaitu termasuk jalan Arteri Primer, kolektor sekunder. Untuk menciptakan sistem jaringan jalan yang efisien dan optimal, maka pengembangan jaringan jalan yang akan dilakukan ditekankan pada beberapa pendekatan sebagai berikut:

        1) Pengembangan jaringan jalan ditekankan untuk menciptakan akses yang menghubungkan tiap-tiap pusat kegiatan baik pusat kegiatan yang telah ada maupun pusat kegiatan yang akan dikembangkan. 2) Selain berfungsi pelayanan, pengembangan jaringan jalan juga dimaksudkan untuk berfungsi sebagai unsur yang mengarahkan perkembangan kegiatan. 3) Untuk menciptakan sistem pergerakan yang optimal, maka dalam pengembangan jaringan jalan yang akan dilakukan perlu disertai dengan penciptaan sistem jaringan jalan yang sistematis menurut fungsinya. 4) Pengembangan jaringan jalan dilakukan dengan mengantisipasi terciptanya sistem transportasi terpadu yang mengakomodasikan keterpaduan pengembangan antar moda.

        b. Hierarki Jalan

        Jalan utama pada kawasan perencaan yaitu merupakan Arteri Primer, kolektor di wilayah perencanaan sebagai jalur utama bagi kendaraan bermotor, karena jalan pada kawasan perencanaan dengan jalur dua arah. Kondisi jalan yang terdapat pada koridor perencanaan tergolong dalam kondisi yang baik untuk jalan utama. Tetapi juga dibutuhkan rencana peningkatan kualitas jaringan jalan. Secara umum rencana hierarki jalan pada koridor jalan perencanaan kedepannya adalah pada adanya peningkatan, perawatan dan pemeliharaan secara maksimal terhadap kualitas perkerasan jalan dan pelebaran jalan pada jalan kolektor.

        c. Jenis Pergerakan Dan Sirkulasi Kendaraan

        Kondisi pergerakan yang terdapat di wilayah perencanaan berupa pergerakan kendaraan dan orang yang berasal dari satu tempat menuju tempat lain seperti pergerakan masyarakat dari rumah menuju tempat kerja maupun menuju sekolah. Jenis pergerakan yang terdapat di wilayah perencanaan berupa pergerakan kendaraan bermotor, pergerakan barang dan pergerakan orang dari satu titik menuju titik yang lain.

        Untuk pengembangan pergerakan ke depannya berupa pemisahan antara jalur kendaraan bermotor dan tidak bermotor baik jalur kendaraan umum dan jalur kendaraan pribadi sehingga tercipta sirkulasi kendaraan yang baik.

        1) Sirkulasi Kendaraan Umum Sirkulasi atau pergerakan kendaraan di wilayah perencanaan terbagi menjadi dua, yaitu sirkulasi makro pada wilayah perencanaan dan sirkulasi mikro pada unit lingkungan di wilayah perencanaan. Sirkulasi kendaraan secara makro di kawasan perencanaan yaitu sirkulasi kendaraan dua arah yang sudah diterapkan pada kawasan perencanaan. 2) Sirkulasi Kendaraan Pribadi

        Sirkulasi kendaraan pribadi yang sebagian besar adalah mobil dan sepeda motor disebabkan oleh adanya tarikan dan bangkitan yang berupa pemukiman, perdagangan dan jasa, perkantoran. Namun, dominasi kendaraan yang lewat ialah dari pergerakan menerus dimana merupakan pengendara yang berangkat dari rumah mereka atau pulang dari tempat kerja. Volume kendaraan pribadi yang melewati jalan utama di wilayah perencanaan tidak terlalu padat, sehingga tidak terdapat adanya kemacetan. Hal ini membuktikan bahwa tingkat pelayanan jalan tergolong baik, namun, untuk arahan di masa yang akan datang diperlukan adanya peningkatan pelayanan jalan.

        d. Sistem Parkir

        Ruang parkir sangat diperlukan di wilayah perencanaan. ruang parkir harus berorientasi terhadap kepentingan pejalan kaki, memudahkan aksesibilitas, dan tidak mengganggu sirkulasi kendaraan lain. Besaran, distribusi dan perletakan fasilitas ini harus tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya dan disesuaikan dengan daya tampung lahan yang ada.

        Pada wilayah perencanaan parkir masih menggunakan badan jalan, kecuali pada bangunan-bangunan perkantoran pemerintah, dan bangunan pendidikan. Untuk Wilayah perencanaan kedepannya diperlukan lahan parkir off street yang telah disesuaikan dengan kebutuhan aktifitas pergerakan pada bangunan yang terdapat pada koridor perencanaan. pada Blok A yang tata guna lahannya untuk perdagangan ataupun perkantoran wajib menyediakan parkir off street. Sistem parkir yang disediakan pada kawasan perencanaan direncanakan, untuk parkir Off street yang harus disediakan pemilik bangunan.

        e. Rencana Sirkulasi Pejalan Kaki Dan Sepeda

        Sirkulasi pejalan kaki pada wilayah perencanaan masih menjadi satu dengan sirkulasi kendaraan umum dan kendaraan pribadi. Untuk saat ini kondisi tersebut belum merupakan masalah bagi kelancaran arus lalu lintas. Namun seiring dengan bertambahnya penduduk dan aktifitas yang semakin meningkat, maka diperlukan adanya rencana pengembangan sirkulasi pejalan kaki untuk memberi rasa nyaman pada pengguna.

        Maka untuk rencana sirkulasi pejalan kaki pada wilayah perencanaan nantinya akan ada pemisahan dengan kendaraan bermotor. Sirkulasi pejalan kaki nantinya diarahkan tetap berada diruas jalan yang telah dilengkapi dengan trotoar dan sarana penyeberangan berupa

        

      zebra cross, untuk rencana pengembangan berupa trotoar sebagai sarana bagi pejalan kaki

      diletakkan di kanan kiri pada ruas jalan utama.

        f. Rencana Pedestrian Linkage

        Pedestrian linkage menunjukan adanya keterkaitan antara bangunan fisik atau morfologi pedestrian dengan simpul pusat kegiatan dikoridor perencanaan. Simpul kegiatan yang perlu ditunjang oleh ketersediaan pedestrian yang terkait dengan sistem jaringan jalan merupakan koridor yang direncanakan sebagai pusat aktifitas.

        Pada koridor perencanaan direncanakan perletakan halte/ shelter sebagai titik simpul pedestrian dan simpul pergerakan angkutan umum disediakan standart perletakan halte yaitu 500 – 1000 m. untuk lebih jelasnya dalam perletakan halte ini berapa jumlah dan dimana perletakannya dapat dilihat pada peta berikut Peta Rencana Penempatan Halte.

        Jumlah pergerakan di pusat aktifitas pada lokasi rencana peletakan halte/ shelter tersebut diperkirakan akan lebih besar dibandingkan dengan kawasan lainnya, sehingga akan mempengaruhi kebutuhan akan jaringan jalan yang disesuaikan dengan arahan pengembangan jalan di kawasan tersebut.

        Rencana pedestrian Linkage terdiri titik simpul yang berupa halte yang dimulai dari jalan masuk utama yaitu pada ruas jalan utama, simpul-simpul pedestrian ini berupa halte yang digunakan sebagai ruang tunggu bagi para pengguna angkutan umum yang diletakkan setiap 750 m.

      5. Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau

        Ruang Terbuka Hijau di Kecamatan Amuntai Tengah terdapat 2 jenis RTH, yaitu Ruang terbuka Umum dan Ruang Terbuka Privat.

        a. Ruang Terbuka Umum Dan Privat

        Ruang terbuka hijau (RTH) merupakan area memanjang/ jalur dan atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh tanaman secara ilmiah maupun yang sengaja ditanam. Ruang terbuka hijau dibedakan menjadi dua (2) yaitu ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka hijau privat. Ruang publik/ umum merupakan ruang terbuka hijau yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/ kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat scara umum. Sedangkan RTH privat adalah RTH milik institusi tertentu atau orang perseorangan yang pemanfataannya untuk kalangan terbatas antara lain berupa kebun atau halaman rumah/ gedung milik masyarakat/ swasta yang ditanami tumbuhan. Dalam ruang terbuka hijau pemanfataannya lebih bersifat pengisian tanaman secara alamiah ataupun budidaya tanaman, perkebunan, penakaman dan sebagainya. Di wilayah perencanaan juga terdapat pemakaman umum.

        Pada koridor perencanaan ini tidak terdapat ruang terbuka dalam tapak publik. Sedangkan untuk Ruang terbuka di dalam tapak privat di dalam wilayah perencanaan berupa ruang terbuka yang berada I dalam kapling-kapling penduduk. Pembangunan pada persil bangunan perlu memperhatikan ketentuan mengenai KDB yang telah ditentukan sekitar 40 % sampai 70 % dengan ketentuan KDH sebesar 60 % - 30 % . Dengan berpedoman pada ketentuan mengenai KDB dan KDH tersebut diharapkan setiap persil lahan dapat menyediakan ruang terbuka sendiri bagi kapling tersebut.

        b. Rencana Area Jalur Hijau

        Rencana area jalur hijau pada wilayah perencanaan diletakkan pada sepnjang ruas jalan. Untuk badan jalan yang diprediksi akan memiliki intensitas pejalan kaki tinggi Ruas Jalan Abd. Gani Majedi dan Jalan Empu Jatmika akan ditanami tanaman jenis pohon peneduh, sedangkan jalur hijau yang berada diruas jalan yang diprediksi akan memiliki intensitas pejalan kaki rendah pada Jalan Arteri Primer akan ditanami tanaman pengarah pandang.

      6. Tata Kualitas dan Lingkungan

        a. Rencana Kondisi Wajah Jalan Dan Bangunan

        Wajah jalan yang terbentuk di sekitar kawasan perencanaan membentuk kesan akrab non formal dengan kesan netral harmonis dimana tersedia ruang yang cukup bagi manusia. Hal ini di indikasikan dengan lebar jalan yang cukup dengan ukuran total 10 m dengan trotoar 1.5 meter dikiri dan kanan jalan. Kondisi bangunan yang terdapat pada koridor Jalan Abd Gani Majedi, JL. Lambung Mangkurat, dan Jalan Empu Jatmika yaitu seragam dan serasi antara bangunan yang satu dengan bangunan yang lainnya, sehingga tidak ada bangunan klimak dan bangunan anti klimak.

        Untuk perencanaan kondisi wajah jalan dan bangunan pada yang akan datang lebih ditekankan pada pengaturan bangunan khususnya garis langit/ sky line yang lebih beraneka ragam dengan penentuan bangunan klimaks dan anti klimaksnya lebih diperjelas. Sehingga nantinya dapat memberikan suatu citra kawasan yang menarik dengan konfigurasi yang tetap mempertahankan konsep figure figurative.

        b. Rencana Street Furniture Street furniture yang akan direncanakan pada wilayah perencanaan terdiri dari shelter, tempat sampah, lampu penerangan, pos polisi, papan nama gang/ gerbang.

        c. Rencana I dentitas Lingkungan

        I dentitas lingkungan suatu kawasan merupakan tanda atau bentuk yang ditampilkan untuk menunjukkan karakter/ ciri khas suatu kawasan. Adanya identitas lingkungan yang menarik akan dapat mempermudah orang untuk mengenali suatu kawasan dan menangkap karakteristik kawasan yang ada, serta dapat menimbulkan sebuah persepsi tertentu pada kawasan tersebut.

        d. Rencana Pedestrian

        Jalur pedestrian sebagai media penghubung suatu lokasi kegiatan dengan lokasi kegiatan lainnya dengan keterikatan yang erat. Rencana pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan untuk memberikan pemandangan yang menarik. Perencanaan pedestrian juga harus memberikan kenyamanan dan kemudahan pejalan kaki dalam bergerak dengan cukup terlindung dari lalu lintas kendaraan. Pedestrian juga harus bebas dari hambatan dan gangguan yang disebabkan oleh ruang yang sempit seperti adanya PKL dan parkir maupun kondisi permukaan pedestrian yang naik turun terlalu tinggi, dan keadaan trotoar yang memiliki badan jalan jalan hampir sama dengan badan jalan.

        Penempatan trotoar dapat dibuat sejajar dengan jalan dan terletak pada daerah manfaat jalan. Suatu jalan dianggap perlu dilengkapi dengan trotoar apabila terdapat tempat-tempat di sepanjang jalan tersebut yang akan mengakibatkan pertumbuhan pejalan kaki dan biasanya diikuti oleh peningkatan lalu lintas. Adapun tempat -tempat tersebut adalah pemukiman/ perumahan, pusat perdagangan dan jasa, halte. Rencana yang perlu dilakukan diwilayah perencanaan adalah pembuatan pedestrian atau trotoar sebagai tempat bagi para pejalan kaki, pedestrian dibuat lebih tinggi dari badan jalan. Hal ini bertujuan untuk memberikan keamanan bagi para pejalan kaki dari kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang.

        e. Rencana Elemen Tata I nformasi Dan Rambu Pengarah

        Rencana elemen tata informasi dan rambu pengarah adalah: 1) Elemen tata informasi seperti penjelasan mengenai koridor perencanaan maupun informasi mengenai tempat-tempat sarana yang ada dijelaskan secara singkat dan padat pada lempengan besi maupun papan dengan sistematis dan jelas. Peletakan elemen tata informasi ini diletakkan di badan jalan.

        2) Penempatan rambu-rambu lalu lintas seperti penunjuk arah diletakkan ditempat - tempat yang memang diperlukan.

        f. Rencana Papan Reklame Komersial

        Pemasangan reklame untuk koridor perencanaan, pemasangan reklame seperti iklan diletakkan di ruas jalan dengan syarat tidak mengganggu kenyaman pengguna pedestrian. Untuk umbul-umbul maupun baliho diletakkan di perempatan jalan dengan syarat tidak mengganggu pengguna jalan dan menghalangi pandangan.

      7. Sistem Prasarana Dan Utilitas Lingkungan

        a. Rencana Sistem Jaringan Drainase

        Rencana jaringan drainase diatur sebagai berikut: 1) Mengikuti klasifikasi jalan, dengan ketentuan dimensi sebagai berikut: a) Jalan arteri : lebar > 1.5 m dengan kedalaman 1,0-1,5 m.

        b) Jalan Kolektor : lebar 0,8-1,5 m dengan kedalaman 1,0-1,5 m c) Jalan local primer : lebar 0,5 – 0,8 m dengan kedalaman 0,5 – 1,0 m.

        d) Jalan local sekunder : lebar 0,3-0,5 dengan kedalaman 0,3-0,5 m. 2) Saluran tersier dilakukan perkerasan (pasangan mortar maupun cor beton). Fasilitas saluram tersier menjadi kebutuhan bagi setiap keberadaan permukiman.

        3) Saluran sekunder umumnya mengikuti pola jalan sebaiknya sudah diperkeras dengan pemeliharaan secara berkala.

        b. Rencana Sistem Jaringan Persampahan

        Untuk wilayah perencanaan, pengaturan persampahan diatur sebagai berikut: 1) Sirkulasi gerobak sampah direncanakan melalui semua jalan pada wilayah perencanaan; 2) Rencana pelayanan pembuangan sampah di wilayah rencana adalah sebagai berikut: a) Tempat pembuangan sampah dipisah antara sampah basah dan sampah kering.

        Pemisahan dapat dilakukan dengan member warna yang berbeda pada tempat pembuangan sampah kering dan tempat pembuangan sampah basah; b) Tempat pembuangan sampah diusahakan merupakan pembuangan dengan sistem tertutup untuk menghindari adanya polusi bau (udara); c) Jarak antara bak sampah dan TPS disesuaikan dengan kebutuhan (± 200 m) sehingga dapat menunjang estetika lingkungan. 3) Pada bangunan perdagangan dan jasa serta fasilitas umum dan perkantoran diharuskan mempunyai peralatan atau sistem pembuangan sampah sendiri, dan persyaratan tersebut dapat dikaitkan dengan perizinan yang berlaku seperti I MB dan HO.

        c. Rencana Sistem Jaringan Listrik

        Rencana jaringan listrik pada koridor perencanaan diatur dengan arahan sebagai berikut; 1) Memanfaatkan jaringan listrik yang sudah ada. 2) Menambah jaringan listrik yang belum ada pada kawasan dan sesuai dengan penambahan ruas jalan pada koridor perencanaan. 3) Diperlukan penyediaan jaringan listrik baru sebagai penerangan jalan, karena koridor perencanaan merupakan jalan alternative menuju Kota Banjarmasin, Kota Batulicin,

        Propinsi Kalimantan Timur, Kabupaten Banjar dan Kabupaten Kotabaru. 4) Mengatasi gangguan visual kabel udara, diusulkan penyelesaian sebagai berikut:

        Dalam jangka panjang penataan dan pengembangan jaringan listrik diusahakan dengan memanfaatkan jaringan bawah tanah. Penggunaan jaringan kabel bawah tanah ini memerlukan koordinasi pihak PLN dengan pihak lain yang terkait. Contohnya untuk menghindari bergabungnya jaringan listrik dengan saluran air.

        d. Rencana Sistem Jaringan Air Bersih

        Rencana sistem jaringan air bersih pada koridor perencanaan berupa: 1) Peningkatan kualitas distribusi / pipanisasi pada seluruh koridor perencanaan. 2) Penempatan jaringan air bersih diupayakan agar tidak berada dalam deretan yang sama dengan jaringan listrik dan telpon yang menggunakan jaringan kabel tanah.

        Guna meminimalkan gangguan pada jaringan tersebut apabila terjadi sesuatu kebocoran pipa, maka kebocoran tersebut tidak akan membahayakan dan tidak mengganggu jaringan kabel tanah.

        e. Rencana Sistem Jaringan Telpon

        Rencana jaringan telpon pada koridor perencanaan diatur sebagai berikut:

        1) Memasang jaringan telpon pada kawasan perencanaan khususnya koridor Jalan Lingkar Utara yang belum ada fasilitas jaringan telpon. 2) Agar tidak mengganggu visual kabel udara, diusulkan untuk jangka panjang penataan dan pengembangan jaringan telpon diusahakan dengan memanfaatkan jaringan bawah tanah. Penggunaan jaringan kabel jaringan bawah tanah ini memerlukan koordinasi pihak Telkom dengan pihak lain yang terkait, contohnya untuk menghindari bergabungnya jaringan telepon dengan saluran air.

      B. Rencana I nvestasi

        Jenis bangunan yang diprogramkan diwilayah perencanaan adalah perdagangan skala local, perkantoran skala local, bangunan fasilitas umum dan rumah tinggal biasa. Sedangkan aspek fisik lingkungan adalah taman kota, lampu penerangan jalan, pedestrian, jaringan listrik, jaringan telepon, saluran drainase, hidran, tempat pembuangan sampah, tata hijau serta reklame.

      1. Program I nvestasi Bangunan

        Arahan program investasi untuk pengembangan bangunan akan dirumuskan dengan baik apabila diketahui siapa developer yang akan mengembangkan kawasan tersebut, apa saja kebutuhan pengembanganya, kapan dan bagaimana pertahapan pembapembangunan serta beberapa kemampuan pendanaannya. Atau dapat dikatakan bahawa program investasi baru bisa dipastikan kalau bangunan-bangunan yang bersifat proyek sudah pasti.

        Apabila kawasan yang belum atau tidak ada kejelasan mengenai hal-hal tersebut diatas, maka arahan yang diprogramkan dalam RTBL lebih bersifat sebagai panduan pelaksanaan pembangunan dibandingkan sebagai rencana atau rancangan yang harus dilaksanakan. Oleh karena itu, dalam program ini arahan program investasinya akan bersifat kemungkinan-kaemungkinan.

      a. Bangunan Rumah Tinggal Biasa

      • Pihak yang membangun

        Pengembangan dengan system blok yang merupakan gabungan kapling kecil-kecil dan diselenggarakan sedara individu, koperasi, kelompok perorangan, kantor swasta, developer/ investor.

      • Tahap paelaksanaan Bangunan rumah tinggal biasa yang dibangun oleh individu, koperasi, kelompok, perorangan, kantor swasta, developer/ investor pentahapan peambangunannya disesuaikan denfgan kebutuhannya disesuaikan dengan kebutuhan dan keatersediaan d
      • Sumber Pembiayaan

        Sumber biaya berasal dari dana sendiri, pinjaman dana dari pihak lain, patungan, maupun bantuan pemerintah.

        b. Bangunan Rumah Tinggal Yang Bergabung Pada Bangunan Lain Kelas

      • Pihak yang membangun Pengembangan dengan sistem blok yang merupakan gabungan kavling kecil-kecil dan diselenggarakan secara individu oleh masing-masing pemilik kavling, dan harus mengacu pada panduan pengembangan unit perencanaan agar diperoleh satu kesatuan menyatu dan harmonis. Pengembangan dengan system ini dilakukan sepenuhnya oleh developer atau investor swasta.
      • >Tahap pelaksanaan Blok yang dikembangkan pemilik kapling pelaksanaan pembangunannya bisa dimulai kapan saja oleh mereka yang sudah siap membangun sesuai pedoman pembangunan yang ada. Blok yang dikembangkan developer tahapan pembangunanya diprogram sesuai kebutuhan developer yang bersangku
      • Sumber pembiayaan

        Sumber biaya berasal dari dana sendiri, pinjaman bank, dana darib pihak lain, patungan maupun pinjaman pemerintah.

        c. Bangunan Kantor

      • Pihak yang membangun Pengembangan dengan system blok yang merupakan gabungan kavling kecil-kecil dan diselenggarakan secara individu oleh pemilik kavling kecil-kecil dan diselenggarakan secara individu oleh masing-masing pemilik kavling dan harus meangacu pada panduan pengembangan unit perencanaan agar diperoleh satu kesatuan yang menyatu dan harmonis. Pengembangan dengan system ini dilakukan sepenuhnya oleh developer atau investor swa
      • Tahap pelaksanaan

        Blok yang dikembangkan pemilik kavling pelaksanaan pembangunannya bisa dimulai kapan saja oleh mereka yang sudah siap membangun sesuai pedoman pembangunan yang ada. Blok yang dikembangkan developer tahapan pembangunanya sesuai pedoman pembangunan yang ada. Blok yang dikembangkan developer tahapan peambangunanya diprogram sesuai kebutuhan developer yang bersangkutan.

      • Sumber pembiayaan Sumber biaya berasal dari dana sendiri, pinjaman bank dana dari pihak lain, patungan maupun pinjaman dari pemerintah.

        d. Bangunan- Bangunan Umum

      • Pihak yang membangun

        Pengembangan dengan system blok yang merupakan gabungan kavling kecil-kecil dan diselenggarakan secara individu oleh masing-masing pemilik kavling, dan harus mengacu pada panduan paengembangan unit perencanaan agar diperoleh satu kesatuan yang menyatu dan harmonis. Pengembangan dengan system ini dilakukan sepenuhnya oleh developer atau investor swasta.

      • Tahap pelaksanaan Blok yang dikembangkan pemilik kavling pelaksanaan pembangunannya bisa dimulai kapan saja oleh mereka yang sudah siap membangun sesuai pedoman pembangunan yang ada. Blok yang dikembangakan developer tahapan pembangunannya diprogram sesuai kebutuhan developer yang bersangku
      • Sumber pembiayaan

        Sumber biaya bersal daaria dana sendiri, pinjaman bank, dana dari pihak lain, patungan maupun pinjaman dari pemerintah.

      2. Program I nvestasi Lingkungan

        a. Pihak Yang Membangun

        Pemerintah (PT.PLN, PT.TELKOM, PDAM. Departemen Pekerjaan Umum, Pemerintah Daerah Tingkat I , Pemerintah Daerah Tingkat I I ), berupa aspek fisik yang berhubungan dengan lingkungan, seperti fasilitas listrik, telepon, air bersih, tempat pembuangan sampah, boks telepon, hidran dan sebagainya. Organisasi social kemasyarakatan, komunitas masyarakat peerusahaan swasta, berupa aspek fisik lingkungan yang berhubungan dengan social kemasyarakatan, seperti reklame dan pos keamanan.

        b. Tahap pelaksanaan

        Pemerintah dilaksanakan sampai selesai dalam satu tahun anggaran, dan bisa secara bertahap dilaksanakan lebih dari satu tahun anggaran sesuai dengan program instansi yang bersangkutan. Perusahaan swasta, komunitas masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan, pentahapan pembangunannya disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan dana.

        c. Sumber pembiayaan

        Pemerintah sumber pembiayaan dapat diambil dari APBN, APBN, Tk I , APBD Tk I I , bantuan dan pinjaman luar negeri. Perusahaan swasta, komunit as swasta, komunitas masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan sumber dananya bisa berasal pinjaman bank, swadaya masyarakat, dana sendiri, patungan maupun pinjaman dari pemerintah.

      5.10 PTMP/ Masterplan Persampahan

      5.10.1 Wilayah Pelayanan

        

      30 Kota Raja 3.272

        

      23 Guntung 453

        

      24 Tabing Liring 360

        25 Amuntai Selatan Keramat 822

        

      26 Panyiuran 863

        

      27 Cempaka 1.365

        

      28 I lir Mesjid 1.094

        

      29 Ujung Murung 1.514

        

      31 Jumba 2.103

        

      21 Padang Basar 516

        

      32 Teluk Paring 747

        

      33 Teluk Baru 1.076

        

      34 Simpang Empat 686

        33 Banjang Banjang 1.004

        

      36 Beringin 555

        

      37 Palanjungan Sari 827

        

      38 Kaludan Besar 1.661

        

      22 Sungai Turak 1.210

        Wilayah pelayanan adalah wilayah yang meliputi suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain dan menyediakan kepuasan pelanggan. Dalam hal ini adalah wilayah pelayanan pengelolaan persampahan di Kabupaten Hulu Sungai Utara sudah sampai sejauh mana fungsi pelayanan pengelolaan persampahan yang ada untuk menjangkau permukiman yang ada.

        

      Tebel 5.26 Wilayah Pelayanan Pengelolaan Persampahan Kota Amuntai

      No Kecamatan Nama Kelurahan/ Desa Jumlah Penduduk Tahun 2012 ( Jiw a)

        

      9 Kota Raden Hilir 1.240

        1 Amuntai Tengah Antasari 4.386

        2 Murung Sari 1.561

        

      3 Kebun Sari 4.326

        4 Paliwara 2.326

        

      5 Sei.Malang 6.270

        6 Palampitan Hulu 2.510

        

      7 Palampitan Hilir 2.634

        8 Kota Raden Hulu 1.339

        10 Tangga Ulin Hulu 767

        

      19 Panangkalaan Hulu 985

        

      11 Tangga Ulin Hilir 1.355

        

      12 Hulu Pasar 1.111

        13 Tambaiangan 1.546

        

      14 Sei.Karias 2.153

        15 Amuntai Utara Pamintangan 806

        

      16 Pakacangan 1.265

        

      17 Pakapuran 2.428

        

      18 Panangkalaan 812

        

      20 Panangkalaan Hilir 426

        Jumlah Penduduk No Nama Kelurahan/ Desa Kecamatan Tahun 2012 ( Jiw a)

        

      39 Kaludan Kecil 1.091

        

      40 Karias Dalam 941

        

      41 Lok Bangkai 1.544

        42 Bitin 1.676 Danau Panggang

        

      43 Pandamaan 1.844

        

      44 Tambalang 493

        

      45 Tambalang Tengah 271

        

      46 Teluk Betung 1.173

        

      47 Sungai Pandan Sungai Pandan Hulu 1.383

        

      48 Sungai Pandan Tengah 426

        

      49 Sungai Pandan Hilir 776

        

      50 Sungai Sandung 1.759

      73.751 JUMLAH

        Sumber: Dinas Kebersihan dan Pasar Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2013

        Dari 10 Kecamatan di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara, pelayanan persampahan ditangani oleh Dinas Kebersihan dan Pasar Kabupaten Hulu Sungai Utara masih dikonsentrasikan pada wilayah kota Amuntai yang terbagi dalam 6 kecamatan, yaitu: Kecamatan Amuntai Selatan, Amuntai Tengah, Banjang, Amuntai Utara, Danau Panggang dan Sungai Pandan. Wilayah pelayanan persampahan di Kot a Amuntai disajikan dalam Tabel.

        Sedangkan untuk wilayah yang belum terlayani oleh persampahan, masyarakat umumnya langsung membuang sampah di pekarangan masing-masing dan selanjutnya dibakar.

      5.10.2 Sumber, Timbulan, dan Komposisi Sampah

        Sumber sampah Kota Amuntai umumnya didominasi oleh sampah yang berasal dari pemukiman, pasar, rumah sakit, toko/ ruko, rumah makan, hotel tempat penginapan, gedung perkantoran dinas maupun swasta. Adapun besarnya volume sampah di daerah pelayanan 3 mencapai 80 m per hari.

      A. Pew adahan

        Sistem pewadahan sampah yang digunakan di Kabupaten Hulu Sungai Utara mempunyai bermacam-macam bentuk baik dalam model individual maupun komunal. Sementara jenisnya juga tidak seragam, seperti tong dari drum maupun pasangan bata. Pewadahan biasanya diletakkan di pinggir jalan dan dibeberapa lokasi terlihat volume sampah melebihi kapasitas pewadahan serta tidak mempunyai penutup sehingga seringkali sampah berserakan. Penempatan pewadahan yang ada antara lain :

        1. Tong sampah dari drum

        2. TPS

        3R

        3. Jalan Swandi Smarta TPS

        17. Muka Raha

        3R

        3 Bh

        14. Jalan H. Kurdi Yusni

        3R

        2 Bh

        15. Jalan H. Saberan Efendi

        3R

        2 Bh

        16. Jalan Negara Dipa

        3R

        3 Bh

        3R

        2 Bh

        2 Bh

        18. Desa Muara Jumba

        3R

        1 Bh

        19. Desa Palampitan

        3R

        2 Bh

        20. Jalan Norman Umar Tong Sampah Drum

        21. Desa Paliwara Tong Sampah Drum 22. Desa Palampitan Tong Sampah Drum.

      Gambar 5.36 Contoh Pew adahan

        Bentuk TPS sampah umumnya berbentuk landasan atau transfer depo,

      pasangan batu bata dan container. Pada tiap TPS yang berupa landasan atau depo

      terdapat container yang biasanya digunakan untuk pengumpulan sampah sementara

      hingga pengangkutan untuk dibuang di TPA. Jumlah rotasi adalah 1-2 kali

      tergantung kebutuhan.

        13. Jalan Empu Mandastana

        3R

        3R

        3R

        5 Bh

        4. Jalan Bihman Villa TPS

        3R

        3 Bh

        5. Jalan KH. Ahmad Dahlan

        3R

        2 Bh

        6. Jalan P. Antasari

        3R

        4 Bh

        7. Jalan H. Ali

        2 Bh

        12. Jalan Batung Batulis

        8. Jalan Plamboyan

        3R

        1 Bh

        9. Jalan Gusti Anuwar

        3R

        2 Bh

        10. Jalan Kahuripan

        3R

        3 Bh

        11. Jalan Palang Merah

        3R

        1 Bh

      B. Tempat Penampungan Sementara ( TPS)

      Gambar 5.37 Contoh Bentuk- Bentuk TPS

        2

        1 1 -

        1

        23 Jl.Kurdi Yusni

        1 1 -

        1

        22 Jl.Sukmaraga

        21 Jl.Negara Dipa - 1 -

        2

        1 2 -

        2

        20 Jl.Patmaraga

        4 2 -

        19 Jl.Abdul Muthalib -

        2 5 -

        1

        24 Jl.Palang Merah

        5

        1 3 -

        27 Jl.Jermani Husein

        30 Pasar Unggas 1 -

        29 Terminal Palampitan 1 -

        1 3 -

        28 Pasar Amuntai

        1 1 -

        1

        1 1 -

        3 1 -

        1

        1

        26 Jl.A.E.S Nasution

        1 1 -

        1

        1

        25 Jl.GT Anwar

        18 Jl.Norman Umar

        1

      Tabel 5.27 Lokasi TPS Kota Amuntai No Nama

        5 Jl.Mpu Jatmika - 2 -

        1

        8 Jl.Kuripan

        2

        7 Jl.Rakha - 1 -

        1 5 -

        6 Jl.Pambalah Batung

        2 1 -

        9 Jl.Muhajirin -

        4 Jl.Kota Raja

        3 Jl. Lamb Mangkurat 5 -

        2 Jl Batung Batulis 1 -

        1

        2

        1 Jl. Saberan Effendi

        Jenis Konstruksi Kondisi Pas. Bata Bak Kayu Container Baik Rusak

        1 6 -

        4 2 -

        17 Jl.P. Antasari

        3

        2 1 -

        16 Jl.Tumenggung Jalil -

        2 2 -

        15 Jl.Maskuni -

        3 2 -

        14 Jl.K.H.A Dahlan -

        1

        2

        10 Jl.Basuki Rakhmat -

        13 Jl.Bihman Villa -

        5 2 -

        12 Jl.H. Ali -

        1 1 -

        3

        11 Jl.Abdul Azis

        1 2 -

        31 Depan Pompes Rakha 1 -

        Jenis Konstruksi Kondisi No Nama Bak Pas. Bata Container Baik Rusak Kayu JUMLAH

        21

        40

        6

        61

        6 Sumber: Laporan Fakta dan Analisa Penyusunan Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kab.Hulu Sungai Utara Thn.2010-2029

        Pemilahan sampah di TPS sebelum sampah diangkut ke TPA diadakan oleh tenaga angkutan yang ada di truk. Setelah selesai melakukan pemilahan barulah sampah diangkut ke TPA. Kegiatan pemilahan yang dilakukan adalah:

        1. Pemisahan antara sampah basah dan sampah kering 2. Pemisahan botol, kaleng, kaca dan lain-lain.

        Lokasi landasan TPS yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara antara lain Kecamatan Amuntai Selatan, Kecamatan Sungai Pandan, Kecamatan Danau Panggang, Kecamatan Babirik, dan Rumah Sakit.

        C. Sistem Pengangkutan

        Pengangkutan adalah proses pemindahan sampah dari TPS menuju lokasi pemrosesan akhir sampah (TPA) di Tebing Liring, Kabupaten HSU. Sarana/ peralatan pengangkutan dan pengolahan sampah di TPA yang dimiliki Kabupaten Hulu Sungai Utara tahun 2013 adalah:

        1. Alat Pengangkut Dump Truk 12 buah 2. Alat Pengangkut Kontainer 4 buah.

        Alat Pengangkut Arm Roll 3 buah 3. .

        Frekuensi pengangkutan sampah rata-rata adalah 1 kali rotasi dalam satu hari tergantung kebutuhan dengan tenaga pengangkut adalah 6 orang termasuk sopir.

        D. Tempat Pemrosesan Akhir Sampah ( TPA)

        Saat ini Kabupaten Hulu Sungai Utara menggunakan TPA Tebing Liring dan tidak menggunakan lagi TPA Lampihong. TPA Tebing Liring ini direncanakan untuk melayani wilayah Hulu Sungai Utara, Balangan dan Tabalong. Gambaran TPA Regional Tebing Liring adalah sebagai berikut:

        1. Luas Lahan TPA 8 hektar, yang sudah dibangun 4 hektar.

        2. Sarana dan Prasarana di TPA, antara lain: kantor, kamar kecil/ WC, pos jaga, pagar keliling, jalan lingkungan, saluran drainase, green belt, sumur pengumpul lindi (I PAL).

        3. Jarak Lokasi TPA Tebing Liring terhadap komponen lingkungan lainnya:

        a. Pemukiman Penduduk : ± 1000 m

        b. Jalan Aspal : ± 100 m

        c. Puskesmas : ± 2000 m d. Kantor Kelurahan : ± 2500 m

        e. Sungai Terdekat : ± 2000 m

      Gambar 5.38 Sarana dan Prasarana di TPA Regional Tebing Liring Kota Amuntai

        

      5.11 I ntegrasi Strategi Pembangunan Kabupaten Hulu Sungai

      Utara

      5.11.1 Kaw asan Strategis Kabupaten

        Penetapan kawasan terpilih untuk prioritas penyusunan RPI 2JM didasarkan atas berbagai pertimbangan yang seluruhnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kecipta karyaan di Kabupaten Hulu Sungai Utara pada umumnya dan kawasan terpilih pada khususnya. Sehingga dapat terwujudnya permukiman yang layak dan memenuhi syarat dalam lngkungan yang sehat melalui terpenuhinya kebutuhan prasarana dan sarana dasar lingkungan dan permukiman yang memadai dan layak.

        Beberapa pertimbangan yang menjadi kriteria pemilihan kawasan prioritas adalah sebagai berikut:

        1. Kawasan strategis atau prioritas yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang, baik RTRW Provinsi Kalsel, RTRW Kabupaten Hulu Sungai Utara maupun RTRW Pulau Kalimantan.

        2. Kebijakan pembangunan yang harus diakomodir terkait dengan dinamika perkembangan yang terjadi, baik kebijakan pusat, provinsi maupun kabupaten.

        3. Kecenderungan perkembangan eksisting pada kawasan-kawasan tertentu yang potensial, menunjukan indikasi sebagai kawasan cepat tumbuh yang harus diantisipasi dan dipersiapkan sedini mungkin agar laju pertumbuhan yang terjadi menjadi terkendali dan diarahkan untuk lebih optimal dan tidak menimbulkan permasalahan dibelakang hari.

        Keterpaduan penanganan sektor kecipta karyaan, dalam pengertian bahwa kawasan terpilih nantinya akan tuntas tertangani pemenuhan kebutuhan prasarana dan sarana kecipta karyaannnya, yaitu melipuri sektor penataan bangunan dan lingkungan, sektor pengembangan permukiman, sektor pengembangan air minum dan sektor penyehatan lingkungan permukiman. Dengan demikian diupayakan bahwa kawasan yang akan ditangani dapat dilakukan penanganan dan pengembangan keempat sektor cipta karya tersebut.

        Berdasarkan hasil kesepakatan kunjungan daerah, telah ditetapkan bahwa kawasan strategis kabupaten yang diprioritaskan di Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah sebagai berikut:

        1. Kawasan Minapolitan di Kecamatan Haur Gading dengan luasan 133 Ha, Kecamaatan Banjang dan Kecamatan Amuntai Tengah.

        2. Kawasan peternakan itik alabio di Kec. Sungai Pandan, Amuntai Selatan, Babirik dan Danau Panggang dengan luasan 576 Ha.

        3. Kawasan bersejarah Candi Agung Amuntai Tengah

        4. Kawasan Mesjid Tua Sungai Banar terdapat di Jarang Kuantan, Kecamatan Amuntai Selatan.

        5. Kawasan kerajinan tikar dan purun di Desa Banyu Hirang Kecamatan Amuntai Selatan

        6. Kawasan Makam Datu Syekh Sayid Sulaiman di Desa Pakacangan Kecamat an Amuntai Utara.

      5.11.2 Keterpaduan Strategi dan Rencana Pembangunan Kabupaten

        Berdasarkan hasil identifikasi terhadap berbagai kebijakan tata ruang dan sektoral di Kabupaten Hulu Sungai Utara sebagaimana yang dipaparkan pada bab 2 dan bab 4 sebelumnya, maka integrasi terhadap strategi Pembangunan Kabupaten Hulu Sungai Utara tersebut dirangkum dalam matrik pada tabel halaman berikut, yang lebih dititikberatkan pada kebijakan atau strategi yang terkait dengan sektor keciptakaryaan.

      Tabel 5.28 Matriks I dentifikasi Rencana Pembangunan Bidang Cipta Karya Kabupaten Hulu Sungai Utara Produk Status

        

      No Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor

      Rencana ( Ada/ Tidak) Pembangunan dan peningkatan infrastruktur Perkotaan Amuntai - Peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana

        Air Minum Perkotaan Amuntai serta kapasitas dan kualitas pelayanan air bersih Peningkatan dan pengembangan bangunan pengendali

        PLP banjir sehingga dapat menanggulangi banjir pada setiap Pekrotaan Amuntai musim penghujan setiap Kecamatan di Kabupaten Air Minum Peningkatan sistem pengelolaan air bersih perpipaan Hulu Sungai Utara Peningkatan sistem pengelolaan air bersih non perpipaan di Air Minum wilayah perdesaan di beberapa kecamatan (Kecamatan Danau setiap Kecamatan di Kabupaten HSU Panggang, Paminggir, Babarik, Sungai Pandan, Sungai

        Tabukan, Amuntai Selatan, Amuntai Tengah, Haur Gading) Perbaikan jaringan irigasi di setiap polder baik yang Air Minum semua polder menjadi wewenang Provinsi maupun Kabupaten

        Air Minum Konservasi sumber-sumber mata air Sungai dan Danau Pembangunan atau pengembangan daerah irigasi polder Air Minum Kab. HSU baru Pengendalian Banjir Kab. HSU dan Kab. tetangga PLP Peningkatan kualitas pengelolaanpersampahan di TPA

        PLP Regional Tebing Liring dalam bentuk 1) Pengoperasian sanitary landfill dan pemeliharaan sarana dan prasarana di TPA Regional Tebing Liring; 2) Peningkatan kerja sama

        Desa Tebing Liring antar daerah dalam penggunaan TPA Regional (Kabupaten HSU dan Kabupaten Tabalong; 3) Peningkatan fungsi TPA Regional Tebing Liring sebagai tempat pengolahan sampah dan industri daur ulang Pembangunan dan pengembangan sistem jaringan drainse

        PLP Kabupaten HSU primer dan sekunder Normalisasi jaringan drainase yang ada Kabupaten HSU PLP Peningkatan jumlah prasarana dan sarana persampahan Kota Amuntai dan semua ibukota PLP

        Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 157

        Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        Produk Status No Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor Rencana ( Ada/ Tidak) seperti pewadahan sampah sesuai standar; pembangunan kecamatan TPS; pembangunan TPST; pengangkutan (gerobak, container dan truk pengangkut) Peningkatan Kegiatan Sosialisasi, Pelatihan dan monitoring

        PLP Kabupaten Hulu Sungai Utara Pelaksanaan program 3 R Pembangunan dan pengembangan jalur evakuasi bencana

        PLP yang meliputi jalur utama dari lokasi bencana ke RTH dan Setiap Kecamatan di Kab. HSU fasilitas umum yang dapat digunakan untuk pengungsian sementara

      Sosialisasi pengelolaan sampah mandiri dengan

        PLP Semua ibukota kecamatan pembangunan TPST kawasan Peningkatan pelayanan persampahan kawasan perdesaan

        PLP Semua Kecamatan di semua kecamatan Peningkatan pengelolaan persampahan secara mandiri

        PLP Kabupaten Hulu Sungai Utara berbasis masyarakat pedesaan Pengelolaan persampahan dengan komposter skala

        PLP Kabupaten Hulu Sungai Utara komunal Pembangunan sistem perpipaan air limbah sistem Small

        PLP Bore Sewage dan I PAL dengan menggunakan sistem Kabupaten Hulu Sungai Utara biologis ABR dan Biofilter atau wetland Pembangunan I PLT Kabupaten Hulu Sungai Utara PLP Penambahan sarana dan prasarana sistem pengolahan on

        PLP site (baik melalui program dari pemerintah seperti PNPM, Kabupaten Hulu Sungai Utara Sanimas, PPI P, PPSP ataupun dengan program swadaya masyarakat) Pemulihan dan rehabilitasi sempadan sungai Balangan Daerah sempadan sungai PLP Pemulihan dan rehabilitasi sempadan sungai Tabalong Daerah sempadan sungai PLP Pemulihan dan rehabilitasi sempadan sungai Paminggir Daerah sempadan sungai PLP Perencanaan taman kota seluas 2,5 ha Kec. Amuntai Tengah PBL PBL Perencanaan kawasan olah raga seluas 15 ha Desa Karias, Kec. Banjang KKP Paminggir, KKP danau panggang PBL Perlindungan terhadap kawasan konservasi perairan (KKP) dan KKP Amuntai Selatan Pengembangan kawasan wisata budaya candi agung Kecamatan Amuntai Tengah Bangkim, PBL,

        Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 158

        Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        Produk Status No Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor Rencana ( Ada/ Tidak) PLP Bangkim, PLP,

        Studi kelayakan tentang rumah susun Kabupaten HSU PBL, Air Minum Bangkim, PLP, Sosialisasi tentang rumah susun I bukota kecamatan PBL, Air

        Minum Bangkim, PLP, Pembangunan rumah susun Kota Amuntai, Alabio PBL, Air Minum

        Alabio, danau panggang, sungai Bangkim, Pengembangan pusat perdagangan dan jasa baru pandan dan telaga silaba PBL,PLP Bangkim,

        Studi tentang revitalisasi kawasan perdagangan Kabupaten HSU PBL,PLP Pelaksanaan revitalisasi kawasan perdagangan di ibukota Bangkim, Kota Amuntai kabupaten

      PBL,PLP

      2 Rencana Ada I ndikasi Program Bidang Program pembangunan jalan dan jembatan

        Bangkim/ PBL Pembangunan Cipta Karya Program pembangunan turap/ talud/ bronjong Bangkim/ PBL Jangka

        Program rehabilitasi/ pemeliharaan jalan dan jembatan Bangkim/ PBL Menengah Program pembangunan jaringan jalan irigasi, rawa, dan PLP Daerah (RPJMD jaringan pengairan lainnya Tahun 2013-

      Program penyediaan dan pengelolaan air baku

        Air Minum 2017) Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum Air minum, dan air limbah

        PLP

      Program pembangunan infrastruktur perdesaan

      Air minum, PLP, PBL

        Program pengembangan perumahan Bangkim Program lingkungan sehat perumahan PLP, PBL Program Rehabilitasi/ pemeliharaan dan pembangunan PBL bangunan gedung kantor Program percepatan pembangunan sanitasi permukiman

        PLP Program rehabilitasi/ pemeliharaan dan pembangunan PBL jalan gang/ lingkungan

        Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 159

        Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        Produk Status

      No Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor

      Rencana ( Ada/ Tidak)
      • -

        3 Rencana I nduk Ada SPAM Jaringan Perpipaan Pembangunan I ntake/ Ponton Kec Amuntai Tengah, Amuntai Air Minum

        Sistem (Unit Air Baku, Unit

        Selatan, Amuntai Utara dan Haur Pengembangan Produksi, dan Unit Gading dan Banjang -

        Air Minum Pelayanan) Kec. Sungai Pandan dan Sungai (RI SPAM) Tabukan Kec. Babirik

      • - -

        Kec. Danau Panggang - Pembangunan I PA Kec Amuntai Tengah, Amuntai Air Minum Selatan, Amuntai Utara dan Haur

        Gading dan Banjang - Kec. Sungai Pandan dan Sungai Tabukan

      • - Kec. Babirik -

        Kec. Danau Panggang - Pembangunan Reservoir Kec Amuntai Tengah, Amuntai Air Minum Selatan, Amuntai Utara dan Haur

        Gading dan Banjang Kec. Sungai Pandan dan Sungai

      • - Tabukan -

        Kec. Babirik - Kec. Danau Panggang - Penambahan Jaringan Pipa Transmisi Kec Amuntai Tengah, Amuntai Air Minum Selatan, Amuntai Utara dan Haur

        Gading dan Banjang - Kec. Sungai Pandan dan Sungai Tabukan

      • - Kec. Babirik -

        Kec. Danau Panggang - Pengadaan pompa submersible dan pompa centrifugal Kec Amuntai Tengah, Amuntai Air Minum Selatan, Amuntai Utara dan Haur

        Gading dan Banjang - Kec. Sungai Pandan dan Sungai Tabukan

      • - Kec. Babirik

        Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 160

        Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        5 - 161 Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        40 Desa PLP Sosialisasi kepada Masy. oleh pengurusu KSM (SANI MAS)

        75 Desa PLP Pembangunan Tangki Septik Komunal

        75 Desa PLP Sosialiasasi kepada masy. oleh pengurus KSM (SANI MAS)

        75 Desa PLP Perencanaan Tangki Septik Komunal

        75 Desa PLP Pembebasan Lahan/ Tanah

        75 Desa PLP Sosialisasi Rencana Pembangunan Tangki Septik Komunal kepada masy.

        40 Desa PLP Penyuluhan & kampanye mendorong partisipasi masy. dalam pengelolaan air limbah domestik

        40 Desa Pembangunan MCK+ +

        40 Desa PLP Perencanaan Detail (DED) Pembangunan MCK+ +

        No Produk Rencana Status ( Ada/ Tidak) Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor

      • - Kec. Danau Panggang - Kec. Paminggir

        Pengadaan dan Pemasangan Meter I nduk

        -

        40 Desa PLP Pembebasan Lahan/ Tanah

        40 Desa PLP Sosialisasi Rencana Pembangunan MCK+ + kepada Masyarakat

        41 Desa PLP Penyuluhan dan Kampanye Mendorong Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Air Limbah Domestik

        41 Desa PLP

      Stimulan Jamban Keluarga untuk MBR/ Miskin

        Kab. HSU PLP

      Penyuluhan dan Kampanye Bebas “BABS”

        Permukiman Tahun 2018 Penyusunan Masterplan Air Limbah Skala Kota Amuntai PLP Penyusunan Outline plan Sistem Air Limbah Skala Kota Amuntai PLP Penyusunan Masterplan Air Limbah Skala Kabupaten Kab. HSU PLP Penyusunan Outline plan Sistem Air Limbah Skala Kabupaten

        4 Strategi Sanitasi Kota (SSK) Ada Hulu Sungai Utara Yang Bersih dan Sehat

        Kec Amuntai Tengah, Amuntai Selatan, Amuntai Utara dan Haur Gading dan Banjang - Kec. Sungai Pandan dan Sungai Tabukan - Kec. Babirik

      • - Kec. Danau Panggang - Kec. Paminggir Air Minum

        75 Desa PLP

        5 - 162 Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        No Produk Rencana Status ( Ada/ Tidak) Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor Pembangunan Jaringan Pipa

        75 Desa PLP

      Pembangunan Sambungan Rumah (SR)

        75 Desa PLP Supervisi

        75 Desa PLP Biaya Operasi & Pemeliharaan Tangki Septik Komunal

        75 Desa PLP Studi Kelayakan Kab. HSU PLP Studi UKL/ UPL Pembangunan I PLT Kab. HSU PLP Sosialiasasi & Kampanye Rencana Pembangunan I PLT Kab. HSU PLP Pembebasan Lahan/ Tanah Kab. HSU PLP Perencanaan Detail (DED) Pembangunan I PLT Kab. HSU PLP Pelatihan bagi petugas I PLT Kab. HSU PLP Pembangunan I PLT Tebing Liring PLP Supervisi Pembangunan I PLT Tebing Liring PLP Operasi & pemeliharaan I PLT Tebing Liring PLP Pengadaan Truk Tinja Kab. HSU PLP Operasi & pemeliharaan Truk Tinja Tebing Liring PLP Studi Pra Kelayakan Sistem Pengelolaan Air Limbah Terpusat Skala Kota/ Kawasan

        Amuntai tengah & Amuntai selatan PLP Studi Kelayakan Sistem Pengelolaan Air Limbah Terpusat Skala Kota/ Kawasan Amuntai tengah & Amuntai selatan PLP Preliminary Design Sistem Pengelolaan Air Limbah Terpusat Skala Kota/ Kawasan Amuntai tengah & Amuntai selatan PLP Studi AMDAL Sistem Pengelolaam Air Limbah Terpusat Skala Kota/ Kawasan

        Amuntai tengah & Amuntai selatan PLP Sosialisasi Detail (DED) Sistem Pengelolaan Air LI mbah Terpusat Skala Kota/ Kawasan Amuntai tengah & Amuntai selatan PLP Perencanaan Detail (DED) Sistem Pengelolaan Air LI mbah Terpusat Skala Kota/ Kawasan

        Amuntai tengah & Amuntai selatan PLP Penyusunan Perda Pengelolaan Air Limbah Kab. HSU PLP Penyusunan peraturan limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya)

        Kab. HSU PLP Penyusunan Perda Dalam Penyelenggaraan Sistem Air Limbah Rumah Tangga Kab. HSU PLP Penyusunan Peraturan I jin Pembuangan Limbah Cair Kab. HSU PLP

        Produk Status

      No Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor

      Rencana ( Ada/ Tidak)

        (I PLC) Penyusunan Perda Dilarang Buang Air Besar di Kab. HSU PLP Sungai/ Danau/ Rawa Penyusunan Perda Pengelolaan I PLT Kab. HSU PLP Pemantauan Kualitas Air Sungai Kab. HSU Air Minum Pemantauan Kualitas Air Sumur Gali/ PDAM/ Air Minum I si Kab. HSU Air Minum Ulang Pemantauan Kualitas Udara Ambein Kab. HSU

        

      5 Rencana Ada Peningkatan Kualitas Jalan Peningkatan Jalan baru (beton t= 15cm), Membuat Kawasan prioritas Paliwara PLP

      Pengembangan dan Penataan Jaringan Drainase dan Aliran Listrik Kawasan Drainase Peningkatan Jalan Lingkungan (Aspal t= 4 cm L= 3) dan PLP Permukiman

        Drainase Prioritas Peningkatan Jalan Lingkungan (Aspal t= 4 cm L= 3,8) dan PLP (RPKPP) Kota Trotoar Amuntai DED MCK Komunal

        PLP Penyiapan lahan PLP Pengelolaan Sistem Pembangunan fisik MCK Komunal PLP Sanitasi

        Pelembagaan pengurus/ pengelola unit MCK Komunal PLP Peningkatan kualitas dan kapasitas MCK komunal PLP Pengelolaan Sistem PLP

      Perbaikan TPS Lingkungan yang sudah rusak

        Sanitasi Pengadaan Bin atau Tong Sampah Kapasitas 50 l Tiap lima PLP rumah satu unit Pengadaan Gerobak Sampah

        PLP

      Pengadaan Sepeda motor Sampah Roda 3

      PLP Pengadaan Truk Sampah PLP Pembebasan Lahan TPST PLP Pembuatan DED PLP Penataan Tepi Sungai Pembangunan Fisik

        Negara Penyediaan Lahan Penataan Lahan Sempadan Sungai

        Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 163

        Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        Produk Status

      No Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor

      Rencana ( Ada/ Tidak)

        

      Pengaturan Permukiman Sempadan Sungai

      Perbaikan Jalan Tepi Sungai Penataan KawasanTepi Sungai Normalisasi Sungai Negara Pengerukan Sungai Pembangunan Tanggul

      6 Strategi Ada Studi Penanganan Jalan Program studi alternatif pengganti jalan titian Ulin di tanah Perkotaan Amuntai Bangkim Pembangunan Lingkungan di Tanah rawa.

        Permukiman Rawa Program penyiapan lahan jalan lingkungan di tanah rawa Bangkim Dan Perencanaan Pola Jalan Program PULDATI N jaringan jalan lingkungan

        Bangkim I nfrastruktur Lingkungan yang Program pemetaan jaringan jalan lingkungan dan sistem Bangkim Perkotaan Terintegrasi dengan pergerakan kota

        (SPPI P) Sistem Pergerakan Kota Program penyusunan masterplan jalan lingkungan dan

        Bangkim sistem pergerakan kota Penyediaan dan Program peningkatan kualitas jalan lingkungan secara

        Bangkim Peningkatan Kualitas swadaya oleh masyarakat Jalan Lingkungan Program peningkatan kualitas jalan lingkungan oleh swasta Bangkim

        Program peningkatan kualitas jalan lingkungan oleh Bangkim pemerintah

        Program pembangunan jalan lingkungan secara swadaya Bangkim oleh masyarakat Program pembangunan jalan lingkungan oleh swasta

        Bangkim Program pembangunan jalan lingkungan oleh pemerintah Bangkim Konsolidasi Lahan untuk Program PULDATI N kepemilikan lahan untuk jalan

        Bangkim Jalan Lingkungan lingkungan Program studi pengelolaan jalan lingkungan oleh

        Bangkim pemerintah dan masyarakat Program studi pengelolaan jalan lingkungan secara

        Bangkim swadaya oleh masyarakat Perencanaan Jalan Program pemetaan permukiman baru dan jalan lingkungan Bangkim Lingkungan untuk

        Program perencanaan jalan lingkungan untuk permukiman Bangkim Permukiman Baru baru Program analisa dampak lalulintas untuk permukiman baru Bangkim

        Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 164

        Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        5 - 165 Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        PLP Penanganan Limpasan Skala Kota oleh Pemerintah Daerah

        Program penyediaan daerah hijau dalam kaveling sesuai ketentuan yang berlaku PLP Program Pengembangan sumur resapan dalam kaveling sesuai kebutuhan

        PLP Penanganan Limpasan Skala Kavling oleh Masyarakat

        PLP Program rehabilitasi/ peningkatan/ pembangunan jaringan drainase lingkungan

        PLP Penanganan Limpasan Skala Lingkungan oleh Masyarakat dan Pengelola Lingkungan Program pengembangan RTH skala lingkungan sesuai ketentuan yang berlaku

        PLP Program legalisasi PERDA tentang pengendalisan limpasan air hujan dan pengendalian banjir

        Program pengembangan RTH skala kota oleh pemerintah PBL Program penataan jaringan drainase primer dan sekunder PLP Program pengendalian banjir PLP Pembuatan Pengaturan tentang Pengendalian Limpasan Air Hujan dan Pengendalian Banjir Program penyusunan RAPERDA tentang pengendalian

      limpasan air hujan dan pengendalian banjir

        PLP Program perencanaan sistem pengendali banjir PLP Program perencanaan pengembangan sistem retensi skala kota

        No Produk Rencana Status ( Ada/ Tidak) Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor I dentifikasi Lokasi Banjir dalam Kawasan Perkotaan Amuntai Program PULDATI N data banjir

        PLP Program penyusunan masterplan jaringan drainase minor PLP Program perencanaan penataan sistem drainase mayor PLP Program perencanaan pembangunan fisik jaringan drainase minor

        PLP Penyusunan Masterplan Sistem Drainase Terintegrasi Kawasan Perkotaan Amuntai Program penyusunan masterplan jaringan drainase mayor

        PLP Program perencanaan drainase yang terintegrasi dengan sistem tanah rawa

        PLP

      Program tanggap darurat penanganan banjir

      PLP Studi Sistem Drainase untuk Tanah Rawa di Kawasan Perkotaan Amuntai Program studi perilaku sistem drainase tanah rawa

        Kawasan Perkotaan Amuntai Program studi penyiapan infrastruktur mitigasi banjir

        PLP Program pemetaan lokasi banjir PLP Studi Penanganan Banjir

        PLP

        5 - 166 Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        Air Minum Program pembangunan jaringan pipa baru anti karat (HDPE).

        Air Minum

      Program peningkatan kapasitas I PA eksisting

      Air Minum Program pembangunan I PA baru Air Minum Pembaruan prasarana pendukung kualitas air Program penurunan tingkat kebocoran

        Program peningkatan kualitas reservoir umum eksisting Air Minum

      Program pengembangan reservoir umum baru

      Air Minum Pembangunan dan peningkatan I PA eksisting

      Program peningkatan kualitas I PA eksisting

        Program penurunan tingkat kebocoran Air Minum Program penggantian water meter lama dengan yang baru. Air Minum

        Program peningkatan kualitas jaringan pipa eksisting Air Minum Program pengembangan jaringan baru pipa kualitas HDPE Air Minum

        Air Minum Pembangunan Prasarana Air Bersih/ Minum untuk meningkatkan kualitas distribusi di seluruh Perkotaan Amuntai

        Air Minum Program pembangunan I PA baru untuk menambah kapasitas supplai air bersih/ minum.

        Air Minum Pembangunan Jaringan Air Bersih/ Minum pada kawasan baru di Perkotaan Amuntai Program pelayanan Sambungan Rumah (SR) untuk pelanggan baru

        No Produk Rencana Status ( Ada/ Tidak) Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor Program Pengembangan sumur biopori dalam kaveling sesuai kebutuhan

        Program penyusunan masterplan air bersih/ minum dengan mempertimbangkan pertambahan penduduk dan perluasan kawasan permukiman, kawasan komersial dan kawasan industri.

        PLP Studi dan Perencanaan Masterplan Penyediaan Air Bersih/ Minum di Perkotaan Amuntai

        Program sosialisasi penanganan limpasan kepada masyarakat PLP Program sosialisasi pengelolaan air limpasan di halaman/ kaveling kepada masyarakat

        PLP Sosialisasi Upaya Penanganan Limpasan Skala Kavling

        Program pengawasan dan penertiban terhadap pelaksanaan PERDA PLP Program pengawasan dan penertiban terhadap pelaksanaan pembangunan sistem jaringan drainase

        PLP Pengawasan dan Penertiban Pelanggaran terhadap Pengaturan

        PLP Program Pengembangan sistem penyaluran dari sumber limpasan ke peresapan

        Air Minum Program penggantian pipa galvanis dengan pipa HDPE Air Minum

        5 - 167 Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        PLP Program pembangunan Sewage Treatment Plant (STP) Komunal

        PLP Pengelolaan dan Pemeliharaan Sistem Sanitasi di Tingkat Lingkungan Program sosialisasi Pengelolaan dan Pemeliharaan Sistem

        PLP Program edukasi, sosialisasi dan penyuluhan Mengenai Pentingnya Kualitas Sistem Sanitasi yang Sehat

        PLP Sosialisasi dan Pelatihan kepada Masyarakat Mengenai Sistem Sanitasi yang Sehat Program sosialisasi Pentingnya Kualitas Sistem Sanitasi yang Sehat bekerjasama dengan Karang Taruna, PKK, Tokoh agama dan Tokoh Masyarakat

        PLP Program edukasi, sosialisasi dan penyuluhan Mengenai Pentingnya Kualitas Sistem Sanitasi untuk Kesehatan

        Program sosialisasi Pentingnya Kualitas Sistem Sanitasi untuk Kesehatan bekerjasama dengan Karang Taruna,

      PKK, Tokoh agama dan Tokoh Masyarakat

        PLP Sosialisasi kepada Masyarakat Mengenai Pentingnya Kualitas Sistem Sanitasi untuk Kesehatan

        Peningkatan Kualitas Sistem Sanitasi di Perkotaan Amuntai Pembangunan jaringan I PLT

        No Produk Rencana Status ( Ada/ Tidak) Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor bersih/ minum Program peningkatan reservoir dan pembangunan reservoir baru

        PLP Penyusunan Masterplan Sanitasi PLP Pembangunan dan

        Sistem Sanitasi di Perkotaan Amuntai Studi Perencanaan Penyusunan Masterplan Sanitasi

        PLP

      Pembangunan MCK umum pada tanah berawa

      PLP Pembangunan MCK Komunal pada tanah berawa PLP Penyusunan Masterplan

        PLP Program perencanaan pembangunan MCK Komunal pada tanah berawa

        Air Minum Studi Sistem Pengelolaan Sanitasi pada Tanah Berawa di Perkotaan Amuntai Program perencanaan pembangunan MCK umum pada tanah berawa

        Air Minum Program penerimaan baru SDM di bidang pengelolaan air bersih/ minum

        Air Minum Peningkatan Kuantitas dan Kapasitas Aparatur Program pelatihan SDM di bidang pengelolaan air bersih/ minum

        Sanitasi di Tingkat Lingkungan bekerjasama dengan Karang Taruna, PKK, Tokoh agama dan Tokoh Masyarakat PLP Program edukasi, sosialisasi dan penyuluhan Pengelolaan PLP

        Produk Status

      No Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor

      Rencana ( Ada/ Tidak) dan Pemeliharaan Sistem Sanitasi di Tingkat Lingkungan Sosialisasi Upaya Program sosialisasi Pengelolaan dan Pemeliharaan Sistem

        PLP Pengelolaan dan Sanitasi Rumah Tangga bekerjasama dengan Karang Pemeliharaan Sistem Taruna, PKK, Tokoh agama dan Tokoh Masyarakat Sanitasi di Tingkat

        Program edukasi, sosialisasi dan penyuluhan Pengelolaan PLP Kaveling dan Pemeliharaan Sistem Sanitasi Rumah Tangga

        Studi Sistem Pengelolaan Program studi Sistem Pengelolaan Persampahan pada PLP Persampahan pada Tanah Rawa

        Tanah Berawa di Program pengelolaan sampah umum oleh pengelola TPS di PLP Perkotaan Amuntai lingkungan tanah berawa

        Program pengelolaan sampah umum oleh pengelola PLP bangunan umum di lingkungan tanah berawa

        Program pengelolaan sampah domestik oleh masyarakat di PLP lingkungan tanah berawa Penyusunan Masterplan Program penyusunan masterplan sistem persampahan di

        PLP Sistem Persampahan di Kawasan Perkotaan Amuntai Perkotaan Amuntai Program pengelolaan persampahan pada skala Kawasan

        PLP Perkotaan Amuntai Program pengelolaan sampah di tingkat lingkungan/ TPS

        PLP Program pengelolaan sampah domestik oleh masyarakat PLP Pembangunan dan Program peningkatan kualitas tempat sampah umum PLP Peningkatan Kualitas eksisting

        Sistem Persampahan di Program penyediaan tempat sampah umum baru PLP Perkotaan Amuntai

        

      Program bantuan tempat sampah domestik

      PLP Program peningkatan sistem pengumpulan sampah skala PLP kota

        Program peningkatan sistem pemindahan sampah skala PLP kota

        Program Konversi Sistem Controlllandfill menjadi sistem PLP

        Sanitary Landfill Sosialisasi dan Pelatihan Program sosialisasi dan pelatihan pengelolaan

        PLP kepada Masyarakat persampahan pada tanah berawa kepada masyarakat Mengenai Pengelolaan Program pelatihan pengelolaan persampahan pada tanah

        PLP Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM)

        5 - 168 Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        Produk Status

      No Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor

      Rencana ( Ada/ Tidak)

        Persampahan pada berawa kepada pengelola sampah lingkungan dan kota Tanah Berawa Program penertiban pelanggaran pengelolaan

        PLP persampahan pada tanah berawa Sosialisasi dan Pelatihan Program sosialisasi dan pelatihan pengelolaan

        PLP kepada Masyarakat persampahan di tingkat lingkungan kepada pengelola Mengenai Sistem sampah lingkungan Pengelolaan Program penertiban pelanggaran pengelolaan

        PLP Persampahan di Tingkat persampahan pada tanah berawa Lingkungan

        Pengelolaan dan Program penertiban pelanggaran pengelolaan sistem PLP Pemeliharaan Sistem persampahan hingga tingkat kota

        Persampahan di Tingkat Program penertiban pelanggaran pembuangan sampah di PLP Lingkungan hingga

      tingkat rumah tangga hingga lingkungan

      Tingkat Kota Amuntai Program penertiban pengelolaan TPS

        PLP Program penertiban pengelolaan TPA PLP Peningkatan Kuantitas Program pelatihan SDM di bidang pengelolaan persampahan PLP dan Kapasitas Aparatur Program penerimaan baru SDM di bidang pengelolaan

        PLP Pengelola Persampahan persampahan

        

      7 PTMP/ DED Ada Penyediaan Sampah Skala Lingkungan Kawasan Perkotaan Hulu Sungai PLP

      Masterplan Pembangunan TPST Kawasan Utara dan Kawasan Strategis Kab. PLP Persampahan

        Hulu Sungai Utara Pembangunan TPA Kota PLP Hulu Sungai

        Peningkatan Kualitas Moda Pemindahan Sampah Eksisting PLP Utara

        Perencanaan Sistem Pengelolaan Sampah pada PLP Permukiman Lama hasil Pemugaran dan Peremajaan Perencanaan Sistem Pengelolaan Sampah pada PLP Permukiman Baru Penambahan sarana dan Prasarana Persampahan di PLP perkotaan Hulu Sungai Utara Pengadaan peralatan teknis operasional di TPA Kabupaten PLP Hulu Sungai Utara

      8 Ada Pengembangan Pembangunan fasilitas pendidikan, kesehatan, peribadatan Kecamatan Haur Gading PBL

        RTBL Kaw asan Tikar Purun Bangunan Perumahan dan perdagangan

        Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 169

        Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        Produk Status

      No Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor

      Rencana ( Ada/ Tidak)

        Kec. Haur Program pembangunan mengikuti pedoman pembangunan PBL yang telah ada

        Gading Program investasi Utilitas Pengadaan pipanisasi air bersih primer dengan diameter ± Air Minum Lingkungan 5 dim pada masing-masing blok perencanaan

        Peningkatan kualitas distribusi/ pipanisasi Air Minum Pengawasan dan pemeliharaan jaringan air bersih Air Minum Perbaikan kondisi fisik saluran drainase pada masing- PLP masing blok perencanaan Pembuatan saluran drainase baru pada wilayah yang PLP belum memiliki saluran drainase (tinggi= 1 m dan lebar 1 m) Pengawasan dan pemeliharaan saluran drainase di wilayah PLP perencanaan Pengadaan tempat sampah pada masing-masing bangunan PLP di wilayah perencanaan Pengadaan armada pengangkutan sampah yang melayani PLP seluruh blok kawasan perencanaan Pengadaan tempat pembuangan sampah TPST dan PLP pengelolaan sampah Pengembangan pola operasional pengelolaan sampah

        PLP Pengadaan septic tank dan WC komunal PLP Perbaikan perkerasan jalan di wilayah perencanaan

        Bangkim

      Pengawasan dan Pemeliharaan Jaringan Jalan

      Bangkim

      Perbaikan konstruksi Jembatan Penyebrangan

      Bangkim Pengawasan dan Pemeliharaan Jembatan penyebrangan Bangkim Pembangunan pedestrian baru pada Jalan utamma di Bangkim wilayah perencanaan dengan lebar ± 2 meter Pembangunan pedestrian baru pada sisi sungai dengan Bangkim lebar ± 1,5 meter Pengawasan dan pemeliharaan jalur pedestrian

        Bangkim Pengadaan RTH jalur hijau jalan, dan jalur hijau sungai PBL

      Pembuatan taman dan landmark kawasan

      PBL

        Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 170

        Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        Produk Status

      No Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor

      Rencana ( Ada/ Tidak)

        Penanaman tanaman PBL Pemeliharaan ruang terbuka hijau PBL Pengusulan model pos keamanan sebanyak 1 unit pada PBL masing-masing blok perencanaan Pengadaan Pot Tanaman

        PBL Pengadaan tempat sampah dengan pemisah (organik dan PLP anorganik) di kawasan perencanaan pada setiap jarak 200 meter.

      9 Ada Keruangan Masterplan/ DED Pengembangan Kawasan Masjid Tua Desa Jarang Kuantan dan Desa Ujung PBL

        RTBL Kaw asan Masjid Tua sungai Banar Murung di Kecamatan Amuntai Selatan, serta Desa Pasar Senin, Desa

        Sungai Banar DED pembangunan jembatan baru untuk kendaraan

        PBL Kembang Kuning, dan Desa Kota DED pembangunan jalan tembus

        Bangkim Raden Hilir di Kecamatan Amuntai Kajian Pengembangan Sentra Mebel & ukir-ukiran Tengah Masterplan drainase perkotaan Amuntai

        PLP Studi terkait perencanaan dan penataan sistem parkir di wilayah perkotaan Amuntai Studi penyusunan SPAM I KK Perkotaan Amuntai

        Air Minum Penertiban dan pengawasan pemasangan reklame Pengawasan dan pemeliharaan seluruh kegiatan fisik Peruntukan Lahan Pengembangan jenis rumah mix-used Peremajaan lingkungan perumahan sempadan

        Bangkim sungai Pengembangan sentra mebel dan kerajinan ukir- ukiran kayu

        Fasilitas Umum Peningkatan kondisi dan kualitas sarana peribadatan PBL Pembangunan sarana kesehatan PBL Pembangunan sarana Olah Raga PBL Sistem Sirkulasi Dan Jalur Peningkatan kualitas jalan lingkungan

        Bangkim Penghubung Pelebaran jalan lingkungan Bangkim Pembangunan jalan baru Bangkim Pembangunan jembatan baru

        PBL Peningkatan kualitas jembatan kayu PBL Pembangunan dermaga PBL

        Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 171

        Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        Produk Status

      No Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor

      Rencana ( Ada/ Tidak)

        Perkerasan bahu jalan pada jalan-jalan eksisting Bangkim Pembangunan area parkir off street di kawasan Masjid Tua

        Pemberian tanda pola elevansi sudut parkir yang sesuai pada badan jalan yang diusulkan sebagai lokasi parkir On Street Penataan area parkir off street pada area perdagangan- jasa Pembangunan jalur pedestrian pada jalan kolektor

        Bangkim primer Pembangunan jalur pedestrian pada area Masjid Tua

        Bamgkim Ruang Terbuka Hij au Pembuatan jalur hijau pada jaringan jalan PBL Pembuatan taman landmark kota PBL Perbaikan kondisi pemakaman eksisting PBL Pembuatan taman di sempadan sungai PBL

      Penghijauan ruang terbuka di dalam kavling

      PBL

        Street Furniture Pengadaan gapura kawasan Masj id Tua PBL Perbaikan dan peningkatan kualitas gapura gang PBL Pengadaan halte PBL Pengadaan pos polisi PBL Penataan dan pengadaan lampu penerangan jalan PBL Penataan dan pengadaan lampu-lampu taman kota PBL Penataan dan pengadaan telepon umum PBL

      Penataan dan pengadaan tempat sampah

      PBL Penataan dan pengadaan pot tanaman PBL Penataan dan pengadaan bangku taman PBL Prasarana Air Bersih Peningkatan kuantitas distribusi/ pipanisasi PDAM

        Air Minum Peningkatan kualitas pelayanan air bersih yang ada Air Minum Pemeliharaan terhadap pipa distribusi yang ada Air Minum Prasarana Drainase Perbaikan kondisi fisik saluran drainase

        PLP Pembersihan/ normalisasi saluran drainase eksisting PLP

      Perbaikan sistem aliran drainase eksisting

      PLP Pengadaan/ pembuatan cor beton untuk penutup saluran PLP drainase yang bisa berfungsi sebagai pedestrian

        Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 172

        Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

        Produk Status

      No Arahan Pembangunan Program/ Kegiatan Lokasi Sektor

      Rencana ( Ada/ Tidak)

        Pembuatan saluran drainase baru PLP Pembangunan Prasarana Pengadaan tempat -tempat sampah PLP Persampahan

        

      Pengadaan armada pengangkut sampah

      PLP Pengembangan pola operasional pengelolaan Sampah PLP Pembangunan Sanitasi Pembangunan MCK Komunal PLP Pengembangan Kawasan Perbaikan bangunan Masjid Tua Sungai Banar PBL Masjid Tua

        Pembangunan sarana perdagangan untuk mendukung PBL kegiatan wisata kawasan Masjid Tua Sungai Banar seperti

      toko souvenir, rumah makan, dan warung

      Pembangunan sarana pendidikan agama islam terpadu

        PBL Relokasi dan penataan makam umum di kawasan Masjid PBL Tua Pembangunan museum Masjid Tua

        PBL Sumber : Kumpulan Dok. Perencanaan Kabupaten Hulu Sungai Utara

        Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) 5 - 173

        Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015 - 2019

Dokumen baru