Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja Perusahaan dengan Strategi sebagai Pemoderasi FLOURIEN NURUL CHUSNAH LIES ZULFIATI DIANA SUPRIATI Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia – Jakarta Abstract - 043 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja

 0  0  26  2019-01-09 23:53:22 Laporkan dokumen yang dilanggar
Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja Perusahaan dengan Strategi sebagai Pemoderasi FLOURIEN NURUL CHUSNAH LIES ZULFIATI DIANA SUPRIATI Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia –Jakarta Abstract Intellectual Capital (IC) becomes a promising instrument for knowledgeintensive organisation. Because the characteristics of intangible assets, which are often knowledge based and fundamentally different to tangible assets. This paper develops a resouce-based-knowledge based-theory of the firm. Its thesis that the organizational mode through which individual cooperate affects the knowledge they apply to business activity. IC is widely recognize as a tool that is critical to running a successful business in a highly competitive environment.We used popular IC model, Value Added Intellectual Coefficient (VAICTM) developed by Pulic (1998).This study examines the effect of IC and its components on firm performance. This paper also examines a model which shows relationship between IC and firm perfomance and account for the moderating effect of strategy. The results show positive and significant association between IC and IC’s components on firm performance. When strategy is used as moderating variable, we found mix and inconsistent results relate to moderating role of strategy. Althought the result of this study is still a preliminary result the study is a pioneering in Indonesia which measure the association between IC and firm performance taking into account the moderating role of strategy using panel data. Keywords: Intellectual Capital, Value Added Intellectual Coefficient (VAICTM),Performance, Strategy 1. Pendahuluan Literatur bisnis dewasa ini melakukan penekanan pada penciptaan nilai sebagai tujuan utama perusahaan (Haksever et al. 2004).Baier (1969 dalam Haksever et al. 2004) mendefinisikan nilai sebagai kapasitas barang, jasa atau aktivitas untuk memenuhi kebutuhan atau memberi manfaat kepada seseorang atau sebuah entitas bisnis. Beberapa peneliti menyatakan bahwa sebuah organisasi harus menciptakan nilai bagi pemiliknya namun peneliti lain menyatakan bahwa nilai tidak hanya diciptakan bagi shareholders tetapi juga bagi seluruh stakeholders. Konsep stakeholder dikemukakan oleh Freeman (1984),merupakan sebuah konsep yang diterima secara universal, meski masih mengandung beberapa masalah. Freeman (1984) mengemukakan definisi stakeholder sebagai sebuah kelompok atau seseorang yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan perusahaan. Teori stakeholder mengasumsikan tiga faktor yang terkait dengan stakeholder yang meski pun berbeda namun mutually supportive (Donaldson dan Preston, 1995).Konsensus yang muncul terkait dengan stakeholder view adalah bahwa laba akuntansi hanya sebuah ukuran return bagi shareholder dan bahwa value added merupakan ukuran yang lebih akurat yang diciptakan oleh stakeholder dan didistribusikan kepada stakeholder yang lain (Meek dan Gray, 1998; Belkaoui, 2003, Bowman dan Toms, 2010).Pada dasarnya, nilai tambah adalah peningkatan kesejahteraan yang diciptakan dari penggunaan produktif dari sumber daya perusahaan sebelum sumber daya tersebut dialokasikan diantara shareholders, bondholders¸pekerja dan pemerintah (Belkaoui, 2003).Untuk mengevaluasi kinerja yang dicapai, stakeholder view menggunakan nilai tambah sebagai ukuran total kesejahteraan yang diperoleh. Resource-based view (RBV) memandang sumber daya perusahaan sebagai pemicu utama dari competitiveness dan kinerja perusahaan. Sumber daya ini mencakup baik aset berwujud mau pun aset tidak berwujud yang telah diinternalisasi oleh perusahaan dan digunakan secara efektif dan efisien untuk mengimplentasikan strategi kompetitif dan menguntungkan (Hit et al. 2001, Hart, 1995).Dari sudut pandang RBV, perbedaan kinerja antar perusahaan dapat diatribusikan kepada adanya variansi dalam sumber daya dan kemampuan perusahaan (Hitt et al. 2001).Perusahaan memiliki sumber daya yang diperlukan untuk melakukan operasinya, sumber daya tersebut juga penting bagi penciptaan keuntungan kompetitif dan kinerja keuangan yang kuat. Sumber daya yang berupa aset berwujud seperti property, plant, equipment, dan teknologi fisik merupakan aset yang biasa dan dapat diperoleh atau dijual di pasar terbuka. Sementara jenis sumber daya yang strategis yang umumnya berupa aset tidak berwujud, bernilai, unik dan sulit untuk diduplikasi atau digantikan akan memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan (Belkaoui, 2003; Barney, 1991, Conner dan Prahalad (1996).Keuntungan kompetitif ini yang pada gilirannya memberikan return yang positif. Karakteristik fundamental dari aset tidak berwujud sebagai aset yang strategis adalah kelangkaan, tidak dapat diduplikasi, tidak dapat digantikan dan tidak dapat diobservasi. Secara khusus aplikasi dari kriteria ini mengarah pada intellectual capital (IC) Belkaoui, 2003; Kamatth, 2008).Munculnya new economy yang utamanya dipicu oleh informasi dan pengetahuan dapat dikaitkan dengan peningkatan pembahasan intellectual capital (IC) baik dalam dunia bisnis mau pun dalam topik penelitian. Pengetahuan dianggap sebagai elemen penting dalam kompetensi konsep. Agar pengetahuan dapat berkontribusi pada penciptaan nilai, pengetahuan harus diaplikasikan oleh seseorang yang memiliki kemampuan (Johannessen et al. 2005).IC merupakan komponen penting dalam dalam menentukan nilai tambah yang dihasilkan perusahaan dan kinerja perusahaan. RBV memandang bahwa perusahaan merupakan kumpulan dari aset dan kapabilitas baik yang berwujud mau pun yang tidak berwujud, pandangan ini memberikan intuisi yang berbeda tentang kinerja perusahaan jika dibandingkan dengan pandangan tradisional. Dalam pandangan tradisional, perusahaan memperoleh sumber dayanya dari investor, karyawan dan suppliers untuk menghasilkan barang dan jasa bagi pelanggannya, sehingga perusahaan dianggap sebagai financial returns kepada pemilik yang berasal dari konsumsi aset berwujud. Pandangan yang berbeda dari RBV mendefinisikan kinerja perusahaan sebagai fungsi dari penggunaan aset perusahaan baik yang berwujud dan aset yang tidak berwujud secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, nilai tambah atau value added dipandang sebagai alat yang lebih tepat untuk mengkonseptualisasikan kinerja perusahaan daripada hanya menggunakan ukuran financial return (Firer dan Williams, 2003).Terkait dengan munculnya ekonomi baru yang dipicu oleh informasi dan pengetahuan, aset tidak berwujud yang karakteristiknya sangat knowledge based menjadi unsur yang penting dalam penciptaan nilai tambah. IC yang merupakan aset tidak berwujud yang strategis dengan penggunaan yang efektif dan efisien akan mampu meningkatkan kinerja perusahaan (Goh, 2005; Carmeli dan Tishler, 2004; Striukova et al. 2008).IC adalah salah satu sumber daya penting untuk kesuksesan kinerja perusahaan dalam knowledge based economy (Pulic, 2000).Hal ini kemudian menimbulkan masalah yaitu bila IC adalah salah satu kunci kesuksesan perusahaan tetapi tidak tercermin di dalam laporan keuangan, maka pengukuran dan pengungkapan IC sebuah perusahaan adalah suatu hal yang penting untuk dilakukan. Kemudian perlu dilakukan pengujian apakah IC tersebut memiliki pengaruh terhadap kinerja perusahaan karena kinerja perusahaan merupakan ukuran keberhasilan manajemen perusahaan dalam mengelola sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Penelitian ini mengadopsi model untuk mengukur IC yaitu dengan menggunakan Value Added Intellectual Coefficient (VAICTM) yang dikembangkan Pulic (2000).Fokus utama dari model ini adalah efisiensi penggunaan sumber daya yang menciptakan nilai bagi perusahaan. Prinsip dasar dari VAICTM adalah untuk menentukan nilai tambah (Value Added) dari sebuah perusahaan. Sumber daya yang dimiliki perusahaan akan membentuk landasan bagi strategi perusahaan (Barney, 1991),oleh karena itu, sumber daya perusahaan dan strategi berinteraksi untuk menghasilkan return yang positif (Hitt et al. 2001, Jermias, 2008).Perusahaan menggunakan sumber daya berupa aset tidak berwujud dan aset berwujudnya untuk mengembangkan dan mengimplementasikan strategi. Penelitian ini memiliki tiga tujuan, pertama, menguji pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan. Kedua, menguji pengaruh komponen-komponen IC terhadap kinerja perusahaan dan ketiga, menguji peran pemoderasi dari strategi dalam hubungan antara IC dengan kinerja perusahaan. Kontribusi penelitian ini, pertama, penelitian ini menguji kembali konsep intellectual capital dan pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja dalam konteks data perusahaan di Indonesia. Kedua, penelitian ini merupakan penelitian awal di Indonesia yang menduga adanya peran pemoderasi dari strategi dalam hubungan antara IC dengan kinerja perusahaan. Ketiga, penelitian ini memberi kontribusi dalam hal pengembangan model pengujian untuk membuktikan secara empiris pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja serta pengembangan model terkait dengan peran pemoderasi dari strategi. 2. Landasan Teori dan Pengembangan Hipotesis 2.1 Stakeholder Theory dan Value Creation Stakeholder theory diawali dengan asumsi bahwa value diperlukan dan secara eksplisit merupakan bagian dalam melakukan bisnis. Freeman et al. 2004) menyatakan bahwa teori ini mengharuskan manajer untuk mengartikulasikan shared sense dari nilai yang mereka ciptakan dan juga mengharuskan manajer untuk memahami apa yang ingin mereka lakukan dalam bisnis, khususnya hubungan apa yang diinginkan dan hubungan apa yang ingin diciptakan agar sesuai dengan stakeholder mereka. Teori stakeholder mengasumsikan tiga faktor yang terkait dengan stakeholder yang meski pun berbeda namun mutually supportive (Donaldson dan Preston, 1995).Tiga faktor tersebut menjelaskan stakeholder secara deskriptif, instrumental dan normatif. Secara deskriptif teori stakeholder menggambarkan perusahaan sebagai konstelasi kepentingan kooperatif dan kompetitif. Faktor instrumental menjelaskan stakeholder sebagai sebuah komponen yang membentuk rerangka untuk menguji hubungan, jika ada, antara praktik pengelolaan stakeholder dengan pencapaian berbagai tujuan kinerja perusahaan. Dari sisi ini, teori stakeholder memberi arahan bagi manajer untuk memprediksi hubungan sebab akibar dan merekomendasikan perilaku yang dapat meningkatkan hubungan antara perusahaan dengan stakeholdernya. Dari sisi normatif, teori ini mengembangkan landasan moral bagi operasi dan manajemen perusahaan. Konsensus yang muncul terkait dengan stakeholder view adalah bahwa laba akuntansi hanya sebuah ukuran return bagi shareholder dan bahwa value added merupakan ukuran yang lebih akurat yang diciptakan oleh stakeholder dan didistribusikan kepada stakeholder yang lain (Meek dan Gray, 1998; Belkaoui, 2003).Pada dasarnya, nilai tambah adalah peningkatan kesejahteraan yang diciptakan dari penggunaan produktif dari sumber daya perusahaan sebelum sumber daya tersebut dialokasikan diantara shareholders, bondholders¸pekerja dan pemerintah (Belkaoui, 2003).Untuk mengevaluasi kinerja yang dicapai, stakeholder view menggunakan nilai tambah sebagai ukuran total kesejahteraan yang diperoleh. Berdasarkan teori ini, value added dianggap memiliki akurasi lebih tinggi sebagai ukuran kinerja sebuah perusahaan dibandingkan dengan laba akuntansi. Dalam kaitannya dengan IC, Guthrie (1996) menjelaskannya dari perspektif teori stakeholder dan teori legitimasi. Teori stakeholder memberikan hak kepada seluruh stakeholder untuk memperoleh informasi terkait dengan kegiatan organisasi dan pengaruhnya terhadap kepentingan mereka. Teori ini menciptakan tanggung jawab organisasi untuk secara sukarela mengungkapkan informasi mengenai kinerja intellectual¸social dan environment (Guhtrie, 2006).Hal yang sama juga dijelaskan dalam teori legitimasi yang menciptakan kontrak sosial antara perusahaan dengan komunitas di sekitarnya. Dari perspektif teori legitimasi perusahaan harus secara sukarela melaporkan seluruh aktivitas yang dirasa perlu bagi komunitas di sekitarnya (Deegan, 2000; Guthrie, 2006).2.2 Resource Based View Peneliti dalam bidang manajemen strategik telah lama memahami bahwa keuntungan kompetitif tergantung pada kesesuaian antara kemampuan unik internal dan perubahan lingkungan. Resource based view (RBV) mengartikulasikan hubungan antara sumber daya perusahaan, kapabilitas dan keuntungan kompetitif. Konsep keuntungan kompetitif telah dibahas secara ekstensif dalam literatur manajemen. Hart (1995) menjelaskan berbagai artikel dan riset yang terkait dengan resource based view era 1980an dan 1990an. Penelitian seminal tersebut menggambarkan hubungan antara sumber daya, kapabilitas dan keuntungan kompetitif. RBV menjelaskan bahwa keuntungan kompetitif hanya dapat bertahan jika kemampuan untuk menciptakan keuntungan tersebut didukung oleh sumber daya yang tidak mudah diduplikasi oleh kompetitor. Hitt et al. 2001),Coff (1999),Herreman dan Isaac (2004) menyatakan bahwa dari sudut pandang RBV, perbedaan kinerja antar perusahaan dapat diatribusikan kepada adanya variansi dalam sumber daya dan kemampuan perusahaan. Perusahaan memiliki sumber daya yang diperlukan untuk melakukan operasinya, sumber daya tersebut juga penting bagi penciptaan keuntungan kompetitif dan kinerja keuangan yang kuat. Sumber daya yang berupa aset berwujud seperti property, plant, equipment, dan teknologi fisik merupakan aset yang biasa dan dapat diperoleh atau dijual di pasar terbuka. Sementara jenis sumber daya yang strategis yang umumnya berupa aset tidak berwujud, bernilai, unik dan sulit untuk diduplikasi atau digantikan akan memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan (Belkaoui, 2003; Barney, 1991).Keuntungan kompetitif ini yang pada gilirannya memberikan return yang positif. Karakteristik fundamental dari aset tidak berwujud sebagai aset yang strategis adalah kelangkaan, tidak dapat diduplikasi, tidak dapat digantikan dan tidak dapat diobservasi. Secara khusus aplikasi dari kriteria ini mengarah pada intellectual capital (IC) Belkaoui, 2003; Kamatth, 2008).2.3 Intellectual Capital, Value Creation dan Kinerja Perusahaan Tumbuhnya ekonomi berbasis pengetahuan menekankan pada pentingnya pengetahuan sebagai sumber kompetitif dan pertumbuhan perusahaan. Topik intellectual capital juga mulai berkembang di pertengahan 1990an dan menghasilkan banyak literatur yang lintas disiplin ilmu termasuk dalam akuntansi yang menggunakan istilah intangible sebagai sinonim dari intellectual capital (IC),Alcaniz et al. 2011).Dalam ekonomi berbasis pengetahuan, IC dianggap sebagai komponen penting bagi penciptaan keuntungan kompetitif perusahaan. Berbagai penelitian telah membuktikan hubungan antara IC dengan kinerja perusahaan (Borneman, 1999; Makki et al.,2008; Bornemann dan Leitner, 2002; Goh, 2005; Firer dan Williams, 2003; Carmeli dan Tisher, 2004; Chang, 2010; Clark et al. 2010).Definisi dari IC menurut Ricceri dalam Striukova et al. 2008) mengacu dari flow concept, yaitu bahwa IC merupakan sumber daya intelektual atau knowledge base dari sebuah organisasi. IC mencakup sumber daya yang ada pada satu waktu dan sumber daya yang lebih likuid yang digunakan untuk berinteraksi dengan sumber daya lain baik intelektual mau pun sumber daya physical. Bontis (2000) memandang IC sebagai pengetahuan pribadi dan pengetahuan organisasional yang bersama-sama memberi kontribusi dalam sustainable competitive advantage. Pulic (2000) mendefinisikan IC sebagai seluruh kemampuan pekerja yang menciptakan tambahan nilai. Menurut Stewart (1991, 1997) dalam Min Lu (2010) juga merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan competitive advantage (knowledge, information, intellectual property rights, experience),IC merupakan aset tidak berwujud yang menghasilkan nilai bagi perusahaan. Aset tidak berwujud secara rata-rata diestimasi membangun nilai perusahaan sebesar 60-75 persen (Berg, 2000).Pengelolaan IC akan meningkatkan nilai perusahaan, Min Lu et al. 2010) menguji proses produksi yang melibatkan kapabilitas IC dan efisiensi IC, hasilnya menunjukkan bahwa efisiensi IC lebih baik daripada kapabilitas IC. Penelitian mengenai pengukuran IC belum dapat menyimpulkan bagaimana metode terbaik untuk mengukur intellectual capital (Petty dan Guthrie, 2000).Secara umum terdapat dua pendekatan untuk mengukur intellectual capital. Cara pertama fokus pada cost different dan pendekatan lain menggunakan pendekatan yang berorientasi nilai. Banyak penelitian terkait dengan IC biasanya menggunakan pengukuran IC dengan pendekatan yang berorientasi nilai. Beberapa pengukuran IC yang menggunakan pendekatan yang berorientasi nilai antara lain Value Added Intellectual Coefficient (VAICTM) yang dikembangkan oleh Pulic (1998, 2000).Pengukuran IC yang lain seperti dikemukakan oleh Berg (2000) menggunakan pengukuran berupa Direct Intellectual Method, ROA method, Market Capitalization Method dan Scorecard Method. Sementara Berg (2000) menjelaskan bahwa Tobin’s Q Ratio, Skandia’s IC Navigator, Intellectual Capital Service dan Sveiby’s Intangible Asset Monitor. Dalam pandangan RBV, perusahaan akan memperoleh keuntungan kompetitif dan kinerja keuangan yang superior melalui perolehan, kepemilikan dan penggunaan aset strategis (Wernerfelt, 1984).Sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dapat berupa aset berwujud dan aset tidak berwujud. Sumber daya yang berupa aset berwujud seperti property, plant, equipment, dan teknologi fisik merupakan aset yang biasa dan dapat diperoleh atau dijual di pasar terbuka. Sementara jenis sumber daya yang strategis yang umumnya berupa aset tidak berwujud, bernilai, unik dan sulit untuk diduplikasi atau digantikan akan memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan (Belkaoui, 2003; Barney, 1991).Keuntungan kompetitif ini yang pada gilirannya memberikan return yang positif. Karakteristik fundamental dari aset tidak berwujud sebagai aset yang strategis adalah kelangkaan, tidak dapat diduplikasi, tidak dapat digantikan dan tidak dapat diobservasi. Secara khusus aplikasi dari kriteria ini mengarah pada intellectual capital (IC) Belkaoui, 2003; Kamatth, 2008).Seethamraju (2000) mengungkapkan adanya hubungan potensial antara IC dan kinerja perusahaan. Dalam knowledge base economies IC menciptakan nilai yang dapat digunakan perusahaan untuk meningkatkan kinerja perusahaan (Davenport dan Prusak, 1998; Teese, 2000).IC sebagai prediktor yang kuat bagi kinerja perusahaan dibuktikan dalam penelitian Drew (1999) dan Reed (2000).Berbagai penelitian juga telah membuktikan hubungan antara IC dengan kinerja perusahaan (Borneman, 1999; Makki et al.,2008; Bornemann dan Leitner, 2002; Goh, 2005; Firer dan Williams, 2003; Carmeli dan Tisher, 2004; Chang, 2010; Clark et al. 2010).Profitabilitas dan penilaian pasar dianggap memiliki aspek yang luas dari perusahaan yang mencakup aset berwujud dan aset tidak berwujud Firer dan Williams (2003).Oleh karena itu dalam penelitian ini kinerja perusahaan yang digunakan adalah ROA, EPS dan Market Performance. ROA merupakan ukuran kinerja perusahaan dalam mengelola aset yang dimilikinya. ROA dapat dijadikan ukuran oleh para kreditur dan pemilik perusahaan untuk menilai keberhasilan manajemen dalam mengelola aset yang dimilikinya. EPS digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dalam memberikan value added kepada pemegang saham. Sedangkan Market Performance mencerminkan kinerja perusahaan dari sudut pandang stakeholder perusahaan (Chang, 2010).Selain IC sebagai variabel bebas, model penelitian ini juga menggunakan dua variabel kontrol yaitu size perusahaan dan leverage perusahaan. Kedua variabel kontrol tersebut sering digunakan dalam berbagai penelitian karena diyakini mempengaruhi kinerja perusahaan. Menurut Belkaoiu (2003),leverage perusahaan yang diukur dengan total hutang dibagi total aset digunakan untuk mengontrol pengaruh hutang dalam menghasilkan laba perusahaan, sedangkan size digunakan untuk mengontrol pengaruh ukuran perusahaan dalam menciptakan wealth melalui skala ekonomi, monopoly power dan bargaining power. Hipotesis pertama yang dikembangkan dalam penelitian ini dibangun dengan mengacu pada orientasi penciptaan nilai bagi stakeholder yang dilandasi dari resource base view. Sumber daya dan kapabilitas perusahaan akan memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan dan memicu peningkatan kinerja perusahaan. Hipotesis pertama dinyatakan sebagai berikut: H1a: Intellectual Capital (IC) berhubungan positif dengan kinerja perusahaan 2.4 Komponen Intellectual Capital dan Kinerja Perusahaan Aspek yang berbeda dari komponen IC memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan aspek yang lain (Firer dan Williams, 2003; Clarke et al. 2010; Chang, 2010).Chang (2010) menguji pengaruh komponen IC terhadap kinerja perusahaan ditemukan bahwa perusahaan dengan kontribusi IC yang berbeda menciptakan kinerja yang berbeda pula. Komponen IC terdiri dari human capital (HC),capital employeed (CE) dan structural capital (SC) Firer dan Williams, 2003; Clarke et al. 2010; Chang, 2010; Makki et al. 2008).Menurut metode VAICTM, semakin efektif perusahaan mengelola sumber daya intelektual yaitu HC, CE, dan SC, semakin efisien aktivitas penciptaan nilai perusahaan. Efisiensi adalah nilai tambah yang dihasilkan perusahaan dengan sumber daya yang dimiliki perusahaan sekarang. Sebaliknya nilai perusahaan akan berkurang bila perusahaan gagal mengelola intellectual assets secara efektif (Pulic, 2000; Goh, 2005).Capital Employeed (CE) CE mencakup komponen yang tidak terdapat dalam human capital (HC) dan structural capital (SC).Pulic (1998) menyatakan bahwa IC harus dikombinasikan dengan physical dan financial capital. Chen et al. 2005) dan Chan (2010) membuktikan adanya hubungan positif signifikan dan CE terhadap kinerja. Dalam VAICTM komponen ini disebut Physical Capital (Value Added Capital Assets-VACA).VACA menunjukkan kemampuan setiap satu unit capital assets dalam menciptakan value added perusahaan. Human Capital (HC) Sumber daya manusia merupakan aset yang penting bagi perusahaan, atribut yang melekat pada sumber daya manusia (education, experience, skills) mempengaruhi firm outcomes (Pfeffer, 1994; Finkelsten, 1996).Human Capital (HC) merupakan unsur yang penting karena merupakan sumber dari inovasi dari perbaikan strategi, baik dari proses laboratorium, aktivitas kantor, pembaharuan proses, atau peningkatan kemampuan pribadi (Bontis, 1998).Human Capital dalam VAICTM(Value Added Human Capital -VAHU).VAHU mencerminkan nilai tambah perusahaan yang dihasilkan dari setiap unit investasi dalam sumber daya manusia. Menurut model VAICTM yang dikembangkan oleh Pulic (2000),nilai VAHU dihitung dari value added dibagi dengan biaya personalia. Biaya personalia merupakan entitas penciptaan nilai bagi perusahaan. Perusahaan dengan nilai VAHU yang tinggi berarti telah berhasil mengelola sumber daya manusia yang dimilikinya untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Structural Capital (SC) SC merupakan infrastruktur pendukung dan sistem informasi yang menciptakan pemahaman pribadi menjadi pemahaman kelompok. SC dalam organisasi merupakan product process (efisiensi waktu transaksi, keinovatifan, akses ke informasi).SC juga berhubungan dengan mekanisme dan struktur organisasi yang mendukung sumber daya manusia (HC).SC dalam model VAICTM disebut Structural Capital Value Added (STVA).STVA menunjukkan kemampuan setiap satu unit sumber daya struktural perusahaan dalam menciptakan value added perusahaan. Hipotesis penelitian yang dikembangkan menduga adanya hubungan yang positif antara komponen IC dengan kinerja, dinyatakan sebagai berikut: H1b: Capital Employeed (CE) berhubungan positif dengan kinerja perusahaan H1c: Human Capital (HC) berhubungan positif dengan kinerja perusahaan H1d: Structural Capital (SC) berhubungan positif dengan kinerja perusahaan 2.5 Intellectual Capital dan Kinerja Perusahaan dengan Strategi sebagai Pemoderasi Strategi mencakup seluruh organisasi, mengidentifikasi arah yang harus dijalani seluruh departemen dan fungsi yang ada untuk bergerak dalam rangka mencapai tujuan untuk menciptakan nilai. IC sering kali dipandang sebagai pemicu kinerja, oleh karena itu terdapat interaksi antara sumber daya yang dimiliki perusahaan dengan penciptaan nilai. Penggunaan sumberdaya perusahaan akan meningkatkan kinerja perusahaan dipengaruhi oleh adanya interaksi antara strategi dengan penggunaan sumber daya tersebut. Sumber daya yang dimiliki perusahaan akan membentuk landasan bagi strategi perusahaan (Barney, 1991),oleh karena itu, sumber daya perusahaan dan strategi berinteraksi untuk menghasilkan return yang positif (Hitt et al. 2001, Jermias, 2008).Perusahaan menggunakan sumber daya berupa aset tidak berwujud dan aset berwujudnya untuk mengembangkan dan mengimplementasikan strategi. Sistem pengukuran kinerja digunakan untuk mendukung implementasi strategi yag kemudian mempengaruhi kinerja seperti dibuktikan oleh Fleming et al. 2009).Dalam implementasi strategi, orientasi strategi yang berbeda secara langsung dan tidak langsung berinteraksi dengan sumber daya yang dimiliki perusahaan. Pemahaman akan pengetahuan sebagai strategi berkembang dalam ekonomi yang berorientasi knowledge Joia (2000).Wang dan Ahmed (2009) menguji peran moderasi dari strategi dalam hubungan antara adopsi ecommerce dengan faktor-faktor internal dan eksternal yang ada di perusahaan keluarga (external pressure, organizational readiness, perceived benefits).Hasilnya mengindikasikan adanya peran orientasi strategi sebagai moderasi dalam proses adopsi ecommerce. Jermias (2008) secara empiris menguji pengaruh strategi bisnis dalam hubungan antara leverage dengan kinerja perusahaan. Hasil penelitiannya menyimpulkan perlunya mempertimbangkan faktor-faktor seperti strategi bisnis dalam pengujian hubungan antara leverage dengan kinerja perusahaan. Penelitian Ismail (2006) menguji efek moderasi dari implementasi strategi dalam kasus di dunia pendidikan manajemen bisnis. Kraatz dan Zajac (2001) menguji bagaimana pengaruh sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan mempengaruhi perubahan strategi dalam lingkungan yang turbulens. Secara umum terdapat dua kategori strategi bisnis. Porter (1985) dalam Gani dan Jermias (2006) mengembangkan rerangka bagaimana perusahaan memilih strategi untuk bersaing secara efektif. Menurut Porter (1985) dalam Gani dan Jermias (2006) perusahaan harus memilih antara bersaing sebagai lowest-cost producer dalam industri (cost leadership strategy) atau bersaing dengan memberikan produk yang unik dalam hal kualitas, karakteristik fisik atau product-related services (product differentiation strategy).Perusahaan perlu mengeloa strateginya dalam rangka memperoleh kesesuaian antara sumber daya internal dan sumber daya eksternal yang dimilikinya. Pemilihan strategi apakah cost leaderhip strategy atau product differentiation strategy jika dilakukan dengan tepat dengan memperhatikan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan akan mampu meningkatkan kinerja perusahaan. Perusahaan menggunakan sumber daya baik berupa aset berwujud dan aset tidak berwujud dalam pengembangan dan implementasi strategi, artinya terdapat interaksi antara sumber daya perusahaan dan strategi yang akan menghasilkan positive return. Hipotesis penelitian yang terkait dengan peran moderasi dari strategi dalam hubungan antara IC dan kinerja perusahaan adalah sebagai berikut: H2: Hubungan antara IC dan kinerja perusahaan dipengaruhi oleh strategi perusahaan 3. Metoda Penelitian 3.1 Data dan Sampel Data penelitian terdiri dari 80 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Data diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling, yaitu kelompok industri manufaktur, laporan keuangan lengkap dengan periode pelaporan yang berakhir 31 Desember. Periode data yang digunakan adalah 3 tahun, 2008 –2010. Data yang digunakan berupa data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan. 3.2 Pengukuran Variabel Variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi intellectual capital, kinerja perusahaan dan orientasi strategi kompetitif yang dipilih perusahaan. Pengukuran variabel penelitian dijelaskan pada bagian berikut. Intellectual Capital (IC) Intellectual Capital yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kinerja IC yang diukur berdasarkan value added yang diciptakan oleh physical capital (VACA),human capital (VAHU),dan structural capital (STVA).Kombinasi dari ketiga value added tersebut disimbolkan dengan VAIC™ yang dikembangkan oleh Pulic (1998, 2000).Formulasi perhitungan VAIC™ adalah sebagai berikut: 1. Perhitungan Value Added (VA) Value Added merupakan selisih antara output dan input, dengan formula VA =OUT –IN. Output (OUT) adalah total penjualan atau pendapatan perusahaan. Input (IN) adalah total beban dan biaya-biaya (selain beban karyawan).Penelitian ini menggunakan formulasi Chang (2010) untuk menentukan VA: VA =gross margin –selling, general and administrative expense +labor expense =Operating Income +Labor expense 2. Perhitungan Value Added Capital Employed (VACA) Value Added Capital Employed adalah rasio dari VA terhadap Physical Capital Employed (CE).Physical Capital Employed adalah seluruh asset perusahaan baik yang berupa financial assets maupun non financial assets. CE dihitung dari nilai buku bersih aktiva perusahan. Rasio ini menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap unit dari CE terhadap value added perusahaan, dengan formula VACA =VA/CE 3. Perhitungan Value Added Human Capital (VAHU) Value Added Human Capital (VAHU) adalah rasio VA terhadap Human Capital (HC).4. Perhitungan Structural Capital Value Added (STVA) Structural Capital Value Added (STVA) adalah rasio Structural Capital (SC) terhadap VA. Structural Capital (SC) adalah selisih antara value added (VA) dengan human capital (HC).Rasio ini mengukur jumlah SC yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu rupiah dari VA dan merupakan indikasi bagaimana keberhasilan SC dalam penciptaan nilai. STVA dihitung dengan formula STVA =SC/VA. 5. Perhitungan Value Added Intellectual Coefficient (VAIC™)VAIC™ dihitung dengan formula VAIC™ VACA +VAHU +STVA. VAIC™ mengindikasikan kemampuan intelektual perusahaan. Kinerja Perusahaan Berbagai pengukuran digunakan dalam literatur untuk mengukur kinerja perusahaan. Ukuran kinerja berbasis pasar cenderung lebih obyektif dibandingkan dengan ukuran berbasis akuntansi yang cenderung dipengaruhi oleh banyak vaktor yang uncontrollable (Gani dan Jermias, 2006).Karena tujuan penelitian ini ingin menguji pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja dan menguji pengaruh strategi kompetitif dalam hubungan antara IC dan kinerja, penelitian ini menggunakan ukuran kinerja ROA, ROE, EPS dan Market Performance. Return on total assets (ROA) merupakan ukuran kinerja perusahaan dalam memperoleh keuntungan dengan menggunakan seluruh aset yang dimilikinya. ROA merefleksikan keuntungan bisnis dan efisiensi perusahaan dalam pemanfaatan total assets (Chen et al.,2005).ROA dihitung dengan membagi laba sebelum pajak dengan total aset. Return on equity (ROE) diukur dari income before extraordinary items dibagi dengan total equity. Earning per share (EPS) adalah pengukuran kinerja laba perusahaan yang umum digunakan oleh analis dalam mengevaluasi kinerja perusahaan dalam pasar keuangan. EPS menggambarkan kemampuan perusahaan memberikan keuntungan kepada pemegang saham. EPS adalah ukuran profitabilitas perusahaan yang merupakan hasil gabungan dari kegiatan operasi, investasi dan pembiayaan perusahaan (Tan et al.,2007).EPS digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dalam memberikan value added kepada pemegang saham. Formula untuk menghitung EPS adalah laba yang dibagikan kepada pemegang saham dibagi dengan jumlah saham beredar. Market performance diukur dengan menggunakan pengukuran yang digunakan Chang (2010) yang dihitung dari jumlah market value of equity dan book value of debt dibagi dengan book value of assets. Strategi Kompetitif Pengukuran strategi dalam penelitian ini mengadopsi dari Gani dan Jermias (2006),Singh dan Agarwal (2002).Strategi kompetitif ditentukan berdasarkan analisis dari variabel intensitas biaya penelitian dan pengembangan (R&D Intensity –ratio of research and development expenses to total sales revenue),efisiensi penggunaan aset (asset utilization efficiency –ratio of total sales revenue to total assets) dan kapabilitas harga premium (premium price capability –ratio gross margin to total sales revenue).Dalam konteks data Indonesia, ketersediaan data yang terkait dengan intensitas biaya penelitian dan pengembangan sangat sedikit, sehingga penelitian ini tidak menggunakan pengukuran intensitas biaya penelitian dan pengembangan dalam mengukur strategi kompetitif. Gani dan Jermias (2006) menyatakan bahwa asset utilization efficiency mengindikasikan pentingnya efisiensi operasional bagi sebuah perusahaan. Perusahaan yang berorientasi pada efisiensi biaya cenderung beroperasi dalam lingkungan yang stabil, memproduksi produk yang standar dan menerapkan prosedur operasi standar. Diprediksi bahwa perusahaan dengan nilai asset utilization efficiency yang tinggi akan cenderung berorientasi kepada cost efficiency strategy. Premium price capability mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk membebankan pelanggannya dengan harga premium. Perusahaan yang berorientasi pada strategi inovasi cenderung menawarkan produk yang unik, dan mereka mampu membebankan harga ini kepada pelanggannya. Perusahaan yang cenderung berorientasi pada strategi inovasi diprediksi akan memiliki nilai premium price capability yang tinggi (Gani dan Jermias, 2006).3.3 Model Pengujian Hipotesis Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja, dan menguji peran moderasi dari strategi dalam hubungan antara IC dengan kinerja. Untuk menguji pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja, digunakan model penelitian yang digunakan pula dalam penelitian yang menguji pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja (Chan et al. 2010; Clarke, 2010).𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾 𝑃𝑃𝐾𝐾𝐾𝐾𝑃𝑃𝑃𝑃𝐾𝐾ℎ𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝑖𝑖 =𝛼𝛼 +𝛽𝛽1 𝐼𝐼𝐼𝐼𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽2 𝐿𝐿𝐾𝐾𝐿𝐿 +𝛽𝛽3 𝑆𝑆𝐾𝐾𝑆𝑆𝐾𝐾𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝜀𝜀𝐾𝐾𝑖𝑖 1) Keterangan: ROA it =Return on Assets perusahaan i pada tahun ke t ROE it =Earning per Share perusahaan i pada tahun ke t EPS it =Price to Book Value perusahaan i pada tahun ke t MPerf it =Market Performance perusahaan i pada tahun ke t IC it =Intellectual Capital (VAICTM) perusahaan i pada tahun ke t SIZE it =Size perusahaan i pada tahun ke t LEV it =Leverage perusahaan i pada tahun ke t ε =error term perusahaan i pada tahun ke t Hipotesis yang menguji pengaruh komponen IC terhadap kinerja perusahaan diukur dengan menggunakan model pengujian berikut: 𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾 𝑃𝑃𝐾𝐾𝐾𝐾𝑃𝑃𝑃𝑃𝐾𝐾ℎ𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝑖𝑖 =𝛼𝛼 +𝛽𝛽1 𝑉𝑉𝑉𝑉𝐼𝐼𝑉𝑉𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽2 𝑉𝑉𝑉𝑉𝑉𝑉𝑉𝑉𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽2 𝑆𝑆𝑆𝑆𝑉𝑉𝑉𝑉𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽3 𝐿𝐿𝐾𝐾𝐿𝐿 +𝛽𝛽4 𝑆𝑆𝐾𝐾𝑆𝑆𝐾𝐾𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝜀𝜀𝐾𝐾𝑖𝑖 2) Keterangan: ROA it ROE it EPS it MPerf it VACA it VAHU it STVA it SIZE it LEV it ε it Return on Assets perusahaan i pada tahun ke t =Earning per Share perusahaan i pada tahun ke t =Price to Book Value perusahaan i pada tahun ke t =Market Performance perusahaan i pada tahun ke t =Value Added Capital Assets perusahaan i pada tahun ke t =Value Added Human Capital perusahaan i pada tahun ke t =Structural Capital Value Added perusahaan i pada tahun ke t =Size perusahaan perusahaan i pada tahun ke t =Leverage perusahaan perusahaan i pada tahun ke t =error term perusahaan i pada tahun ke t Model pengujian untuk menguji hipotesis kedua yang menguji peran moderasi dari strategi dalam hubungan antara IC dan kinerja perusahaan, sebagai berikut: 𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾 𝑃𝑃𝐾𝐾𝐾𝐾𝑃𝑃𝑃𝑃𝐾𝐾ℎ𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝑖𝑖 =𝛼𝛼 +𝛽𝛽1 𝐼𝐼𝐼𝐼𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽2 𝐼𝐼𝐶𝐶𝑃𝑃𝑖𝑖𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽3 𝐼𝐼𝐾𝐾𝐾𝐾𝐶𝐶𝐿𝐿𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽4 𝐼𝐼𝐼𝐼 ∗𝐼𝐼𝐶𝐶𝑃𝑃𝑖𝑖𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽5 𝐼𝐼𝐼𝐼 ∗𝐼𝐼𝐾𝐾𝐾𝐾𝐶𝐶𝐿𝐿𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽6 𝐿𝐿𝐾𝐾𝐿𝐿𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽7 𝑆𝑆𝐾𝐾𝑆𝑆𝐾𝐾𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝜀𝜀 3) Keterangan: ROA it ROE it EPS it MPerf it IC it CostEff it Innov it SIZE it LEV it ε it Return on Assets perusahaan i pada tahun ke t =Earning per Share perusahaan i pada tahun ke t =Price to Book Value perusahaan i pada tahun ke t =Market Performance perusahaan i pada tahun ke t =Intellectual Capital (VAICTM) perusahaan i pada tahun ke t =Cost Efficiency Strategy perusahaan i pada tahun ke t =Innovation Strategy perusahaan i pada tahun ke t =Size perusahaan perusahaan i pada tahun ke t =Leverage perusahaan perusahaan i pada tahun ke t =error term perusahaan i pada tahun ke t 4. Hasil dan Analisis 4.1 Statistik Deskriptif Pengukuran statistika deskriptif pada penelitian ini dimaksudkan untuk mempermudah pengamatan melalui perhitungan nilai rata-rata, nilai minimum, nilai maksimum dan deviasi standar. Data yang diolah sebanyak 80 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2008-2010. Statistik deskriptif dari variabel yang digunakan dalam penelitian ini disajikan dalam tabel 1. Mean Kinerja Perusahaan: ROA ROE Mperf EPS Intellectual Capital: VAICTM Komponen Intellectual Capital: VACA VAHU STVA Competitive Strategy: CostEff Innov Variabel Kontrol: Leverage Size (LN Total Assets) Observasi Median Maximum Minimum Standard Deviation 0.082734 0.072740 1.178362 232.2846 0.064170 0.068393 0.754729 43.50000 2.280383 0.966852 11.86173 3912.000 0.329502 -0.844012 0.000329 -2234 0.187321 0.186582 1.305657 651.4902 5.320039 4.169582 254.4445 722.9446 55.90585 0.266043 4.338056 0.693590 0.117393 3.195981 0.755415 25.27857 253.3934 4.520460 136.6301 -723.5695 -5.44553 9.203720 55.81253 0.620417 1.232830 0.181730 1.102756 0.175799 7.032926 0.990296 0.001200 -2.368217 0.784043 0.272067 1.618330 14.06971 240 0.624496 13.84974 240 13.78740 18.53199 240 0.000572 11.03469 240 2.310632 1.550566 240 Tabel 1. Statistik Deskriptif Tabel 1 menyajikan statistik deskriptif variabel yang digunakan dalam penelitian untuk 80 perusahaan selama 3 tahun. Tabel 1 menjelaskan jumlah sampel, nilai mean, median, maksimum, minimum dan deviasi standar. Nilai minimum menjelaskan nilai terendah suatu variabel. Nilai rata-rata menggambarkan nilai kisaran data yang diperoleh dari penjumlahan seluruh data dan membaginya dengan jumlah data. Median menunjukkan nilai tengah, nilai maksimum menjelaskan nilai tertinggi suatu variabel. Deviasi standar merupakan simpangan dari nilai rata-rata yang diakar kuadratkan untuk suatu variabel. Berdasarkan tabel 1 terlihat bahwa nilai minimum dari ukuran kinerja ROA adalah 0,329 dan nilai maksimum 2,283 dengan nilai rata-rata dan median masing-masing 0,087 dan 0,064. Deviasi standar ROA 0,1873. Untuk ukuran kinerja ROE, nilai minimum adalah -0,844 dan nilai maksimum 0,966 dengan nilai rata-rata dan median masing-masing 0,072 dan 0,068. Deviasi standar ROE 0,186. MPerf merupakan ukuran kinerja berikutnya statistik deskriptif untuk Mperf menunjukkan nilai minimum adalah 0,0003 dan nilai maksimum 11,861 dengan nilai rata-rata dan median masing-masing 1,178 dan 0,754. Deviasi standar Mperf 1,305. Variabel IC yang diukur dari VAICTM nilai minimum adalah -722.944 dan nilai maksimum 254.44 dengan nilai rata-rata dan median masing-masing 5,32 dan 4,16. Deviasi standar IC 55,905. Untuk komponen IC yang terdiri dari VACA, VAHU dan STVA secara ringkas menggambarkan sebaran data yang beragam. Variansi data yang terbesar terlihat pada komponen VAHU, sementara untuk komponen VACA dan STVA sebaran data relatif homogen. Variabel ukuran perusahaan yang diukur dari log natural total aset, dan variabel leverage merupakan variabel kontrol yang digunakan dalam model penelitian. 4.2 Pengujian Hipotesis Penelitian Hipotesis pertama dalam penelitian ini ingin menguji pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja perusahaan. Pengujian dilakukan dengan menggunakan model dalam persamaan (1).Prediksi arah untuk pengaruh IC dan komponen IC adalah positif. Terdapat pengaruh positif IC dan komponen IC terhadap kinerja perusahaan. Variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian ini adalah leverage dan ukuran perusahaan (Belkaoui, 2003).Leverage digunakan untuk mengontrol pengaruh hutang dalam menghasilkan laba perusahaan, diprediksi arahnya negatif sedangkan size digunakan untuk mengontrol pengaruh ukuran perusahaan dalam menciptakan wealth melalui skala ekonomi, monopoly power dan bargaining power, arahnya diprediksi positif. Hasil pengujian hipotesis 1 disajikan pada tabel 2 dan tabel 3. Tabel 2. Pengujian Hipotesis 1a: Pengaruh IC (VAICTM) terhadap Kinerja Perusahaan Dari hasil pengujian model 1, IC terbukti berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Seluruh pengukuran kinerja yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan arah positif dan signifikan pada level of significance 5%.Hasil pengujian model 2 yang menguji pengaruh komponen IC terhadap kinerja perusahaan menunjukkan hasil yang sesuai prediksi dan juga signifikan. Hasil pengujian disajikan pada tabel 3 berikut. Hasil pengujian menunjukkan bahwa komponen IC berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja perusahaan untuk pengukuran kinerja dengan ROA, ROE, EPS dan MPErf. Namun pada pengukuran pengaruh komponen IC-STVA terhadap kinerja perusahaan (ROE),hasil menunjukkan bahwa komponen IC-STVA tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. Terdapat arah yang tidak mendukung hipotesis untuk pengaruh komponen IC-STVA terhadap kinerja perusahaan (ROE dan EPS).Model 2 Model 1: 𝑃𝑃𝐾𝐾𝐾𝐾𝑃𝑃𝑃𝑃𝐾𝐾ℎ𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝑖𝑖 =𝛼𝛼 +𝛽𝛽1 𝑉𝑉𝑉𝑉𝐼𝐼𝑉𝑉𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽2 𝑉𝑉𝑉𝑉𝑉𝑉𝑉𝑉𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽2 𝑆𝑆𝑆𝑆𝑉𝑉𝑉𝑉𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽3 𝐿𝐿𝐾𝐾𝐿𝐿 +𝛽𝛽4 𝑆𝑆𝐾𝐾𝑆𝑆𝐾𝐾𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝜀𝜀𝐾𝐾𝑖𝑖 𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾 Variabel Dependen ROA ROE EPS MPERF Variabel Independent Predicted Sign Coefficient Prob Significance VACA Positif 0.001845 0.00000 Signifikan VAHU Positif 0.001055 0.00000 Signifikan STVA Positif 0.005941 0.00390 Signifikan LEV Negatif 0.007272 0.00000 Signifikan SIZE Positif 0.000623 0.45130 Tidak Sig VACA Positif 0.001457 0.00000 Signifikan VAHU Positif 0.000293 0.00000 Signifikan STVA Positif 0.003193 0.12100 Tidak Sig LEV Negatif 0.021835 0.00000 Signifikan SIZE Positif 0.016435 0.00000 Signifikan VACA Positif 4.596761 0.00000 Signifikan VAHU Positif 0.345762 0.00000 Signifikan STVA Positif 52.44433 0.00000 Signifikan LEV Negatif 42.5692 0.00000 Signifikan SIZE Positif 116.9366 0.00000 Signifikan VACA Positif 0.00377 0.00010 Signifikan VAHU Positif 0.001389 0.00000 Signifikan STVA Positif 0.197328 0.00000 Signifikan LEV Negatif 0.089268 0.00000 Signifikan SIZE Positif 0.181188 0.00000 Signifikan Adjusted RDurbinsquared Watson stat Prob(Fstatistic) 0.116193 1.437709 0.00000 0.105923 1.719757 0.00000 0.111552 1.377225 0.00000 0.087481 1.678585 0.00000 Tabel 3. Pengujian Hipotesis 1b –Hipotesis 1d: Pengaruh Komponen IC (VACA, VAHU dan STVA) terhadap Kinerja Perusahaan Hipotesis ketiga dalam penelitian ini menguji peran moderasi dari variabel strategi dalam hubungan IC dengan kinerja perusahaan. Hasil pengujian disajikan pada tabel 4. Prediksi pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan dengan strategi sebagai pemoderasi tidak menunjukkan arah, karena sesuai dengan karakteristik dari variabel moderasi yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antara IC dan kinerja perusahaan. Hasil pengujian menunjukkan hasil yang beragam untuk setiap ukuran kinerja perusahaan. Tabel 4. Pengujian Hipotesis 2: Peran Moderasi Strategi Hubungan antara IC dan Kinerja Perusahaan Untuk pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan (ROA) dengan strategi sebagai pemoderasi hasilnya menunjukkan positif dan signifikan untuk IC*CostEff, sementara untuk IC*Inov menunjukkan hasil negatif dan signifikan. Hal ini mungkin menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia cenderung beroperasi di lingkungan yang stabil dan menerapkan prosedur operasi standar sehingga perusahaan yang menggunakan strategi inovasi justru akan memberi dampak negatif pada kinerjanya. Hasil yang sama ditunjukkan untuk ukuran kinerja perusahaan dengan Mperf. Sementara untuk hasil pengujian pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan (ROE) dengan strategi sebagai pemoderasi, koefisien IC*CostEff dan koefisien IC*Inov arahnya negatif dan signifikan, dan untuk hasil pengujian pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan (EPS) dengan strategi sebagai pemoderasi, koefisien IC*CostEff arahnya negatif dan signifikan, koefisien IC*Inov, arahnya positif dan signifikan. 4.3 Pengujian Tambahan Peran Strategi Sebagai Pemoderasi Pengujian tambahan dilakukan untuk pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan dengan strategi sebagai pemoderasi. Pengujian dilakukan dengan mengacu pada penelitian Song (2007) yang membandingkan adjusted r square dari model yang memasukan peran moderasi dari strategi dalam hubungan IC dengan kinerja perusahaan dengan model tanpa mempertimbangkan peran moderasi strategi. Hasilnya disajikan pada tabel 5. Model Tanpa Moderasi =α +β1ICit +β 2CostEff it +β 3 Inov it +β 4 Lev it +β 5 Sizeit Intercept IC (VAICTM) CostEff Inov Unstandardized Standard Error Coefficients -2.653029 0.083038 Model dengan Moderasi (Model 3)=α +β 1 IC it +β 2 CostEff it +β 3 Inov it +β 4 IC *CostEff +β 5 IC *Inov it +β 6 Lev it +β 7 Size it Unstandardized Coefficients -2.560374 Standard Error 0.082682 0.000182 0.011362 0.03785 -0.003376* 0.379103* 0.819911* 0.000321 0.01293 0.038472 IC (VAICTM)*CostEff 0.001671* 0.490152* 0.707485* 0.001864* 0.000118 IC (VAICTM)*Inov Lev Size Adjusted R Square F Value Residual sum of square 0.095928* 0.231894* 0.181718 853.7145 26664.64 0.003765 0.005587 0.000222* 0.095846* 0.232425* 0.192184 54.11122 26212.49 0.000171 0.003744 0.005569 Tabel 5. Ikhtisar pengujian model tanpa moderasi dan model dengan moderasi (Variabel dependen: Kinerja Perusahaan -Mperf) Model Tanpa Moderasi =α +β1ICit +β 2CostEff it +β 3 Inov it +β 4 Lev it +β 5 Sizeit Unstandardized Standard Error Coefficients -0.362724 0.010658 Intercept IC (VAICTM) CostEff Inov Model dengan Moderasi (Model 3)=α +β 1 IC it +β 2 CostEff it +β 3 Inov it +β 4 IC *CostEff +β 5 IC *Inov it +β 6 Lev it +β 7 Size it Unstandardized Coefficients -0.375114 Standard Error 0.01059 2.34E10-5 0.001458 1004858 -0.000836 0.059043 0.33219 4.11E-05 0.001656 0.004928 IC (VAICTM)*CostEff 0.000738* 0.048470* 0.350800* 0.000139 1.51E-05 IC (VAICTM)*Inov Lev Size Adjusted R Square F Value Residual sum of square 0.017334* 0.024445* 0.339908 1978.267 439.2588 0.000483 0.000717 0.000174 -0.017168 0.024914 0.351045 1484.64 431.8028 2.19E-05 0.00048 0.000713 Tabel 6. Ikhtisar pengujian model tanpa moderasi dan model dengan moderasi (Variabel dependen: Kinerja Perusahaan -ROE) Hasil pengujian pada tabel 5 dan tabel 6 untuk menguji pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan dengan strategi sebagai pemoderasi dengan membandingkan model tanpa moderasi strategi dan model dengan moderasi strategi dengan variabel dependen kinerja perusahaan menunjukkan peningkatan kemampuan penjelas (adjusted r square) pada model dengan moderasi baik untuk kinerja perusahaan yang diukur dengan Mperf mau pun ROE. Pengujian juga dilakukan untuk ukuran kinerja yang lainnya, dan menunjukkan hasil yang sama, namun tidak ditabulasikan. 5. Simpulan, Implikasi dan Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki tiga tujuan, pertama, menguji pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan. Kedua, menguji pengaruh komponen-komponen IC terhadap kinerja perusahaan dan ketiga, menguji peran pemoderasi dari strategi dalam hubungan antara IC dengan kinerja perusahaan. Kontribusi penelitian ini, pertama, penelitian ini menguji kembali konsep intellectual capital dan pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja dalam konteks data perusahaan di Indonesia. Kedua, penelitian ini merupakan penelitian awal di Indonesia yang menduga adanya peran pemoderasi dari strategi dalam hubungan antara IC dengan kinerja perusahaan. Ketiga, penelitian ini memberi kontribusi dalam hal pengembangan model pengujian untuk membuktikan secara empiris pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja serta pengembangan model terkait dengan peran pemoderasi dari strategi. Hasil pengujian dengan menggunakan data 80 perusahaan manufaktur periode 2008-2010 untuk pengujian pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja perusahaan menunjukkan arah yag positif dan signifikan, hal ini konsisten dengan penelitian-penelitian terdahulu (Chang, 2010; Goh, 2005; Bontis, 1998; Bollen, 2005; Clark et al. 2010).Model pengujian yang mempertimbangkan peran moderasi dari strategi dalam hubungan antara IC dengan kinerja menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Untuk pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan (ROA) dengan strategi sebagai pemoderasi hasilnya menunjukkan positif dan signifikan untuk IC*CostEff, sementara untuk IC*Inov menunjukkan hasil negatif dan signifikan. Hal ini mungkin menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia cenderung beroperasi di lingkungan yang stabil dan menerapkan prosedur operasi standar sehingga perusahaan yang menggunakan strategi inovasi justru akan memberi dampak negatif pada kinerjanya. Hasil yang sama ditunjukkan untuk ukuran kinerja perusahaan dengan Mperf. Sementara untuk hasil pengujian pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan (ROE) dengan strategi sebagai pemoderasi, koefisien IC*CostEff dan koefisien IC*Inov arahnya negatif dan signifikan, dan untuk hasil pengujian pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan (EPS) dengan strategi sebagai pemoderasi, koefisien IC*CostEff arahnya negatif dan signifikan, koefisien IC*Inov, arahnya positif dan signifikan. Bukti empiris tambahan terkait dengan peran moderasi dari strategi ditunjukkan dengan dengan membandingkan adjusted R-Square sebelum dan setelah pengaruh moderasi dimasukkan dalam model. Kemampuan penjelas model meningkat setelah dimasukkannya pengaruh moderasi ke dalam model. Beberapa penelitian yang terkait dengan peran strategi sebagai pemoderasi menunjukkan hasil yang beragam (Edelman, 2005; Song et al. 2007).Penelitian ini memiliki keterbatasan dan implikasi bagi penelitian selanjutnya. Pertama, sampel penelitian hanya dibatasi pada perusahaan manufaktur saja, penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan kelompok industri lain. Kedua, model penelitian yang digunakan masih memiliki keterbatasan ekonometrika, dalam penelitian ini belum mempertimbangkan fixed effect sehingga sangat mungkin mempengaruhi hasil. Ketiga, terkait dengan peran strategi sebagai pemoderasi masih dapat diuji kembali dengan membandingkan perspektif strategi sebagai variabel mediasi (Edelman, 2005).Daftar Referensi Alcaniz, Leire.,Fernando Gomez-Bezares, Robin Roslender. 2011. Theoretical Perspective on Intellectual Capital: A Backward Look and a Proposal for Going Forward. Accounting Forum, Vol 35, pp 104 –117 Bowman, C.,S. Toms.,2010. Accounting for Competitive Advantage: The ResourceBased View of The Firm and the Labour Theory of Value. Critical Perspective on Accounting, Vol 21, pp 183 –194 Barney, JB. 1991. Firms Resources and Sustained Competitive Advantage. Journal of Management, Vol. 17, pp 99 –120 Bornemann, M. 1999. Potential of Value System According to the VAIC Method. International Journal Technology Management, Vol. 18, pp 463 –475 Bornemann, Manfred.,Karl-Heinz Leitner. 2002. Measuring and Reporting Intellectual Capital: The Case of A Research Technology Organisation. Singapore Management Review, pp 7 –19. Bontis, Nick. 1998. Intellectual Capital: An Exploratory Study that Develops Measures and Models, Vol 32, pp 63 –76 Bollen, L. Vergauwen, P. And Schnieders, S. 2005. Linking Intellectual Capital and Intellectual Property to Company Performan
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerj..

Gratis

Feedback