KATA PENGANTAR - Skripsi Rumput Laut

Gratis

1
3
115
7 months ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Strategi pengembangan usaha budidaya rumput laut berkelanjutan menjadi fokus dan perhatian penulis, mengingat kegiatan tersebut merupakan salah satukegiatan yang berpotensi untuk dikembangan. Kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta, Suami dan anakanak tersayang dan saudara-saudaraku atas doa, motivasi dan cinta yang selalu diberikan.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Kegiatan budidaya rumput laut merupakan lapangan kerja baru yang bersifat padat karya dan semakin banyak peminatnyakarena teknologi budidaya dan pascapanen yang sederhana dan mudah dilaksanakan serta pemakaian modal yang relatif rendahsehingga dapat dilaksanakan oleh pembudidaya beserta keluarganya (Soebarini, 2003). Mereka berasal dari berbagai kalangan misalnya nelayan, petani, pedagang, pengusaha, Karakteristik sosial lainnya yang menarik adalah peranan anggota keluarga dan masyarakat yang cukup tinggi sehinggamenimbulkan interaksi sosial yang intensif dan terciptanya pola hubungan kerja yang saling menguntungkan.

1.4. Kegunaan Penelitian

  2) Menjadi bahan masukan bagi pengambil kebijakan, kalangan swasta dan usahawan dalam rangkapengembangan budidaya rumput laut sebagai upaya pemberdayaan dan mengangkat taraf hidup masyarakat. 3) Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin mengkaji lebih dalam tentangbudidaya rumput laut baik ditinjau dari aspek kesesuaian lahan maupun aspek sosial ekonominya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Budidaya Rumput Laut

2.1.1. Persyaratan Lokasi Budidaya

  Hal ini disebabkan karena produksi dankualitas rumput laut dipengaruhi oleh faktor-faktor ekologis yang meliputi kondisi substrat perairan, kualitas air, iklim, dangeografs dasar perairan, Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah kemudahan, risiko, serta konfik kepentingan dengansektor lain misalnya pariwisata, perhubungan dan taman laut nasional (Anggadireja, 2006). Hal ini bertujuan agar rumput laut yang ditanam memperolehpasokan makanan secara tetap, serta terhindar dari akumulasi debu dan tanaman penempel.

2.1.2. Kelayakan Lingkungan dan Kualitas Perairan

  Menurut Anggadireja (2006) salinitas ideal untuk budidaya rumput laut adalah 28 - 33 ‰, sedangkan Aslan (1998) mengemukakan hal berbedabahwa salinitas ideal untuk budidaya rumput laut adalah 30 - 37 ‰. Untuk keamanan dan keberlanjutan budidaya maka lokasi yang dipilih bukan merupakan jalur pelayaran yang ramai dan tidak dipakai sebagai tempatpenyeberangan sehari-hari (Aslan, 1998 dan Anggadireja,2006).

2.1.3. Metode Budidaya

  Metode ini pada umumnya dilakukan di lokasi yang memiliki substrat dasar karang atau pasir dengan pecahan karang serta terlindung dari hempasan Gambar 1. Metode ini dengan cara mengikat setiap rumpun bibit rumput laut pada tali ris atau tali bentangan.

c. Metode rawai/tali panjang (long line). Metode ini paling

  Budidaya rumput lautadalah satu kegiatan dimasukkannya bibit rumput laut ke dalam kolong air di lokasi budidaya dengan berbagai metode. Sarana produksiyang digunakan dalam budidaya rumput laut adalah:1) Rakit atau kayu pancang dilengkapi tali, jangkar, dan tali rafa.

2.1.4. Tahapan Budidaya Rumput Laut

  Bibit yang akan ditanam adalah thallus yang masih muda dan berasal dari ujung thallus tersebut. Pendapat berbeda dikemukakan oleh Aslan (1998) bahwa jarak tanam bibit rumput laut adalah 20 cm,sedangkan penelitian budidaya rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii di Perairan Tonra Kabupaten Bone oleh Rani, dkk.

c. Pemeliharaan. Kegiatan yang dilakukan selama

  pemeliharaan rumput laut adalah membersihkan lumpur dan kotoran, menyulam tanaman yang rusak, mengganti tali,patok, bambu dan pelampung yang rusak. Menurut Saleh (1991), pemanenan rumput laut dilakukan setelah tanaman berumur 45 hari, sedangkan menurut Aslan (1998), bahwa rumputlaut sudah dapat dipanen setelah berumur 1,5 - 4 bulan Kualitas rumput laut dipengaruhi oleh teknik budidaya, umur panen, dan penanganan pascapanen.

2.2. Keragaan Sosial Ekonomi Budidaya Rumput Laut

2.2.1. Analisis Kelayakan Ekonomi

  Biaya adalah semua pengeluaran dinyatakan dengan uang yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk dalam suatu periode produksi. Menurut Soekartawi (1993) komponen biaya terdiri dari: 1)Biaya Tetap (Fixed Cost)Biaya tetap adalah biaya yang sifatnya tidak mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan, misalnyapenyusutan alat, pajak, upah tenaga kerja tetap.2)Biaya Tidak Tetap (Variable Cost) Biaya tidak tetap adalah biaya yang mempengaruhi besarnya produksi yang akan dicapai, misalnya biayapembelian sarana produksi.

b. Analisis pendapatan. yaitu analisis yang menghitung

besarnya penerimaan dan pendapatan yang diperoleh petani dengan adanya sistem agribisnis selama proses produksi yangdihitung sebagai berikut (Soekartawi, 2003); Menurut Soekartawi (2003), ukuran pendapatan adalah sebagai berikut:1) Pendapatan kotor (gross income), yaitu nilai produk total usaha dalam jangka waktu tertentu baik yang dijual maupuntidak dijual.2) Pendapatan bersih (net income), yaitu selisih antara pendapatan kotor usaha budidaya dan pengeluaran totalusaha dan merupakan nilai masukan yang habis terpakai atau dikeluarkan di dalam produksi, tetapi tidak termasuktenaga kerja keluarga pembudidaya, bunga modal sendiri, dan bunga modal pinjaman. Penghasilan bersih usahadiperoleh dengan mengurangkan pendapatan bersih dan bunga modal pinjaman.

2.2.2. Keragaan Sosial Ekonomi

  Penggunaan metode ini didasarkan oleh beberapapertimbangan seperti; metode ini cocok dengan kondisi perairan yang cukup dinamis, mudah diawasi, biaya relatif murah,pembuatan yang relatif mudah, tahan lama dan dapat digunakan lebih dari satu kali pemakaian. Memperkuat lembaga sosial ekonomi pembudidaya rumput laut dengan melibatkan pembudidaya sebagai subyekdalam pembangunan agribisnis melalui pengembangan kemitraan antara kelompok pembudidaya rumput lautdengan pengusaha yang diharapkan terjadi peningkatan kualitas dalam manajemen usaha, kemampuan dalammengakses modal dan teknologi serta merespon perluasan jaringan pemasaran.

2.2.3. Pengelolaan Keuangan dan Pemasaran

  Sebaliknya bila pasar tidak menyediakan kemungkinan menyerap produk, maka kemungkinan besar usaha akan Menurut Anggadireja (2006), rantai pemasaran rumput laut terdiri dari simpul-simpul pedagang lokal, antar pulau, daneksportir yang hampir merupakan model yang sama di seluruhIndonesia. Dari pedagang pengumpul lokaldijual kepedagang di kota, dan selanjutnya oleh pedagang di kota rumput laut dijual ke industri dalam negeri atau diekspor.

2.3. Karakteristik Sosial Masyarakat Pesisir

  Menurut Dahuri (2002), bahwa masyarakat pesisir adalah masyarakat yang bermukim di sepanjang kawasan peralihan(interface area) antara ekosistem darat dan laut dengan batas terluar 20 km dari garis pantai atau berada sejauh 4 mil atau 12mil dari garis pantai ke arah laut. Kondisi sumberdaya yang seperti ini menyebabkan masyarakat pesisir khususnya nelayan memiliki karakter yangkeras, tegas, dan terbuka.

2.4. Pengelolaan Wilayah Pesisir

  Pengelolaan wilayah pesisir mencakup pemanfaatan sumberdaya pesisir, pantai, dan pulau-pulau kecil serta jasa-jasalingkungan dengan cara penilaian menyeluruh tentang kawasan pesisir beserta sumberdaya alam dan jasa lingkungan yangterdapat di dalamnya, menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan dan kemudian merencanakan serta mengelolasegenap kegiatan pemanfaatannya guna mencapai pembangunan yang optimal dan berkelanjutan (Dahuri, 1996). Menurut Dahuri (2000), bahwa dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir dan laut, akan timbulpermasalahan apabila hasil pembangunan yang dicapai tidak sesuai dengan tujuan pengelolaan yang diharapkan.

2.5. Peran dan Partisipasi Masyarakat

  Secara operasional pengertian peranan adalah keikutsertaan secara aktif dalam suatu proses pencapaian tujuanyang dilakukan oleh pribadi atau kelompok yang diorganisir serta berlandaskan kemampuan dan kemauan yang memadai, turutserta memutuskan tujuan dengan rasa tanggung jawab yang dijiwai oleh rasa turut memiliki. Dengan perkataan lain, perananadalah kesadaran dan keikutsertaan masyarakat dalam Menurut Horoepoetri (2003), fungsi dan peranan dapat diartikan sebagai suatu cara melakukan interaksi antara duakelompok, kelompok yang selama ini tidak diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan dan kelompok yang selama inimelakukan pengambilan keputusan.

2.6. Kesejahteraan Masyarakat Pesisir

  Pendapatanrumah tangga dapat diketahui dengan menjumlahkan pendapatan keluarga dari semua sumber pendapatan misalnyapendapatan dari usaha perikanan, dagang, dan usaha jasa lainnya. Sumber pendapatan yang beragam tersebut dapatterjadi karena anggota rumah tangga yang bekerja melakukan lebih dari satu jenis kegiatan atau masing-masing anggotarumah tangga mempunyai kegiatan yang berbeda dengan yang lainnya.

2.7. Pemberdayaan Masyarakat Pesisir

  Perlindungan melalui pemihakan kepada yang lemah untuk mencegah persaingan yang tidak seimbang dan menciptakankemitraan yang saling menguntungkan. Meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemerataan pendapatan yang ditandai oleh peningkatan pendapatankeluarga miskin yang mampu memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan sosial dasarnya.

2.8. Strategi Pengembangan Budidaya Rumput Laut di Indonesia

  Ada beberapa aspek yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusunStrategi Pembangunan Kelautan dan Perikanan yang merupakan bagian dari proses perencanaan strategis yaitu:a. Keempat aspek tersebut selain sebagai dasar pertimbangan untuk menetapkan strategi, juga untukmenetapkan visi, dan misi serta kebijakan operasional departemen dalam rangka pembangunan Kelautan danPerikanan (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2006).

2.8.1. Meluasnya Pemerataan

  Orientasi pembangunan Kelautan dan Perikanan selama 5 tahun terakhir mampu memperluas pemerataan pembangunandan hasil-hasilnya melalui distribusi dan alokasi anggaran ke kabupaten/kota untuk membiayai berbagai kegiatan berbasismasyarakat. Pembangunan telah dilaksanakan dikabupaten/kota di wilayah pesisir dan kabupaten/kota pedalaman yang potensial untuk budidaya air tawar, serta secarabertahap di pulau-pulau kecil.

2.8.2. Meningkatnya Kepedulian Masyarakat

Langkah-langkah sistematis dan terarah yang telah ditempuh dalam pembangunan sektor Kelautan dan Perikanantelah mendorong partisipasi masyarakat dan menunjukkan peningkatan kepedulian masyarakat luas (nelayan, pembudidayaikan, LSM, perguruan tinggi, media massa dan kelompok masyarakat lainnya) terhadap sektor Kelautan dan Perikanan. Kepedulian ini dapat dilihat dari meningkatnya partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan dan sumbangan pemikiran

2.8.3. Meningkatnya Pertumbuhan

  Potensi sumberdaya tersebut ada yang dapat diperbaharui (renewable resources) seperti sumber daya perikanan (perikanan tangkap dan budidaya), mangrove, terumbu karang, padang lamun, energi gelombang, pasang surut, angin dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion), dan energi yang tidak dapat diperbaharui (non renewable resources) seperti sumber daya minyak dan gas bumi serta berbagai jenis mineral. Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi dan produktivitas usaha budidaya rumput laut untuk penyediaan bahan baku industri perikanan dalam negeri, meningkatkanekspor hasil budidaya rumput laut dan memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

2.9. Analisis SWOT

  Analisis tersebut didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan(Strenght) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkankelemahan (Weaksness) danancaman (Threats) (Salusu, 1996). Analisis SWOT merupakan suatu alat yang umum digunakan untuk menganalisis lingkunganinternal dan eksternal dalam rangka mencapai suatu pendekatan sistematis dan dukungan untuk suatu situasi pengambilankeputusan.

2.10. Analisis A’WOT

  Metoda analisis A’WOT merupakan penggabungan antaraAHP (analiticalhierarchy process) dengan analisis SWOT yang Pada dasarnya, proses AHP bekerja dengan mengembangkan prioritas-prioritas untuk alternatif-alternatifkreteria yang digunakan untuk menilai alternatif-alternatif. Prioritas-prioritas dibuat pada kriteria dengan mempertimbangkan kepentingannya untuk mencapai tujuan,kemudian dari prioritas-prioritas didapat alternatif-alternatif yang merupakan strategi yang akan dikembangkan.

2.11. Kerangka Pikir

  Kabupaten Barru merupakan daerah yang sangat prospektif untuk pengembangan budidaya rumput laut, dimananpotensi sumberdaya alam dan manusia sangat mendukung untuk pengembangan seluas 1200 ha,seiring denganperkembangan kegiatan budidaya rumput laut, harga dan permintaan pasar lokal maupun manca negara yang cukup tinggiwalaupun masih fuktuatif (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Barru, 2011). Strategi pengembangan berkelanjutan budidaya rumput laut dikaji melalui pendekatan analisis SWOTyaitu analisis kualitatif untuk mengidentifkasi berbagai faktor internal dan eksternal secara sistematis yang didasarkan padalogika memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang(opportunities), serta meminimalisir kelemahan (weakness) dan ancaman (threats).

BAB II I METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian

  Penelitian ini dilaksanakan selama 2 (dua) bulan yaitu bulan Oktober sampai dengan November 2012, Kabupaten Barru. Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan pada pertimbangan bahwa daerah ini memiliki potensi sumberdaya alam dansumberdaya manusia yang besar.

3.2. Jenis dan Desain Penelitian

  Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif mengutamakan uraian dalam bentuk verbal ataudeskriptif dengan memberikan gambaran secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atauuntuk menentukan frekuensi atau penyebaran suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan budidaya rumput laut tersebut seperti ketersediaan lahan dankualitas perairan, sumberdaya manusia dalam hal ini ketersediaan tenaga kerja, kelayakan usaha, aspek permodalan,akses dan informasi pasar, teknologi pascapanen, dan kebijakan pemerintah daerah perlu diketahui dan diukur kontribusinyadalam menentukan strategi kebijakan pengembangan budidaya rumput laut.

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian

  Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah nelayan pembudidaya rumput laut serta stakeholder lainnya yangdianggap memiliki kewenangan dan pengaruh dalam melakukan kegiatan budidaya rumput laut di Kabupaten barru. Pemilihan responden berdasarkan pertimbangan bahwa pelaku adalah individu atau lembaga yang dianggap berkaitanlangsung dengan kegiatan pembudidayaan rumput laut, institusional pengambil kebijakan, intansi teknis, pelaku usaha(petani rumput laut/pengusaha) serta lembaga pemberdayaan masyarakat di Kabupaten barru.

3.4. Jenis dan Sumber Data Penelitian

  Menurut Maleong (2000), bahwa data utama dalam penelitian deskriptif kualitatif adalah informasi berupapenjelasan-penjelasan dan reaksi dari variabel-variabel yang terkait atau sebagai gambaran sebab akibat. Selebihnyamerupakan data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.

1. Data Primer

  Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari lapangan berdasarkan pengamatan langsung,wawancara dan diskusi dengan responden dan narasumber atau ”informan kunci”. Narasumber atau ”informan kunci” sengaja dipilih berdasarkan kompetensi dan kewenangannya berkaitandengan pengelolaan, pemanfaatan dan kebijakan pengembangan kawasan pesisir dan laut di wilayah Tabel 1.

2. Data Sekunder

  Data sekunder adalah berupa data yang telah tersedia pada kelompok pembudidaya, Dinas Kelautan dan PerikananKabupaten Barru, Badan Pusat Statistik Kabupaten Barru, dan lembaga-lembaga lain yang terkait. Data sekunder antara lain; (a) data tentang lokasi penelitian, kondisi masyarakat, batas-batas wilayah, kondisi alam daniklim, keadaan penduduk, transportasi, (b) data pembudidaya, produksi, dan harga komoditi, dan (c) literaturdan peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan materi penelitian.

3.5. Pengumpulan dan Analisis Data

3.5.1. Pengumpulan Data

  Peneliti secaralangsung berhadapan dengan responden atau informan dan melakukan wawancara secara intensif sehingga Nasution (1982), Arikunto (2002), dan Maleong(2000), pada prinsipnya mengemukakan bahwa untuk penelitian kasus, pedoman wawancara yang cocok adalahpedoman wawancara semi terstruktur, bebas dan terbuka bahwa informan mengetahui dan menyadari akan maksudwawancara yang memerlukan jawaban tidak terbatas. Analisis pengembangan usaha budidaya rumput laut berkelanjutan di Kabupaten Barru Model analisis yang digunakan untuk pengolahan data adalah analisis kualitatif dan kuantitatif yang akandisesuaikan dengan kebutuhan atau tujuan penelitian.

A. Analisis SWOT

  Keterangan bobot:Unsur kekuatan dan peluang:Nilai 3 = sangat besar/sangat pentingNilai 2 = besar/pentingNilai 1 = tidak besar/tidakpentingUnsur kelemahan dan ancaman:Nilai 1 = sangat besar/sangat pentingNilai 2 = besar/pentingNilai 3 = tidak besar/tidakpenting Alternatif strategi pengembangan berkelanjutan budidaya rumput laut pada matriks analisis SWOT Tabel 3. Untuk menentukan prioritasstrategi yang harus dipilih, maka dilakukan penjumlahan bobot yang berasal dari keterkaitanantara unsur-unsur kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang terdapat dalam alternatif strategidengan cara sebagai berikut: a) Strategi SO yaitu menjumlahkan nilai unsur-unsur kekuatan dan peluang yang saling terkait denganstrategi tersebut.

B. Analytical Hierarchy Proses (AHP)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Metode analytical hierarchy proses (AHP) memberikan tujuan matematik untuk memproses masalah-masalah yangrumit dan pilihan-pilihan individu dari seorang individu atau

1. Letak dan Luas Wilayah

  Kabupaten Barru merupakan daerah yang sangat strategis posisinya yang diapit oleh 2 kotamadya yakni Makassar dan Parepare. Lebih jelasnya luas daerah dan potensi sumberdaya alam setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Barru dapat dilihat pada Tabel 5 berikut :Tabel 5.

2. Keadaan Penduduk

  Pada lima kecamatan pesisir tersebut terdapat 28 desa dan kelurahan yang mana sangat potensi untuk pengembangan budidaya rumput laut, kesemuanya itujika diberikan peluang kepada masyarakat untuk dioptimalkan pengembangan budidaya rumput lautnya bisa memberikan kontribusi terhadap daerah sebesarRp.129.600.000.000,- pertahun. Sejalan dengan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang dimiliki oleh daerah, maka masyarakat pesisir Kabupaten Barru, berbagai matapencaharian yang dilakukan terkait dengan kelautan dan perikanan tersebut yakni: pembudidaya ikan, udang windu / vannamei, nelayan dan pengolah ikan sertausaha budidaya rumput laut.

B. Faktor-Faktor Utama Yang Berpengaruh Terhadap Pengembangan Rumput Laut Berkelanjutan di Kabupaten Barru

  Pengembangan kegiatan usaha budidaya rumput laut yang berkelanjutan di Kabupaten Barru, berdasarkan hasil wawancara dengan responden diperolehbeberapa unsur atau faktor utama yang berpengaruh . Pergerakan air meliputi tinggi gelombang dan kecepatan arus, berdasarkan pengamatan dilapangan bahwa tinggi gelombang 0.5 – 1.5 meter dan kecepatan arus 0.03 – 0.5 meter / detik, sedangkan menurut Anggadireja(2006) kecepatan arus yang baik untuk budidaya rumput laut berkisar 0,2 – 0,4 m/detik.

3. Metoda Budidaya Rumput Laut Yang Cukup Sederhana

  Teknik budidaya rumput laut yang cukup sederhana dan mudah dilakukan oleh pembudidaya merupakan suatu kekuatan untuk pengembangan berkelanjutan Kegiatan budidaya rumput laut yang dilakukan oleh masyarakat diKabupaten Barru menggunakan teknik budidaya yang cukup mudah dan sederhana dengan menggunakan metode longline, karena metode ini sangatfleksibel serta biaya yang lebih murah. Sarana produksi yangdigunakan dalam budidaya rumput laut adalah: - rakit atau kayu pancang dilengkapi tali, jangkar dan tali rafia, - benih dari alam, - tenaga kerja dan perahusebagai alat transfortasi dalam proses pemeliharaan dan pengangkutan hasil.

4. Budidaya Rumput Laut Dapat Dilakukan Pada Skala Usaha Kecil

  Perhatian pemerintah pada petani pembudidaya rumput laut, juga dapat dilihat dari adanya bantuan pengadaan bibit serta bimbingan teknis dalam halkegiatan budidaya dan penuluhan yang langsung diberikan oleh instansi teknis terkaitdalam hal ini Dinas Perikanan dan Kelautan Barru dan Dinas Kelautan danPerikanan Provinsi Sulawesi Selatan. Alternatif Strategi dan Program Pengembangan Usaha Budidaya Rumput Laut Berkelanjutan di Kabupaten Barru Berdasarkan hasil penelitan yang telah dilakukan di Kabupaten Barru, pengembangan usaha budidaya rumput laut berkelanjutan dianalisis berdasarkan5 (lima) tingkatan atau level, yakni tingkat pertama fokus atau tujuan yaitu Pengembangan Usaha Budidaya Rumput Laut Berkelanjutan di Kabupaten Barru.

4. Kebijakan dan Perhatian

  Usaha budidaya rumput laut ada menguntungkan Sumber : Data Primer Setelah DiolahHasil SWOT terhadap faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengembangan usaha budidaya rumput laut yang berkelanjutan di Kabupaten Barru menunjukkan bahwa faktor peluang menempati prioritas pertama dengan bobot 0,5543, selanjutnya disusul oleh faktor kekuatan dengan nilai bobot 0,2647. Hasil komponen SWOT pengembangan usaha budidaya rumput laut berkelanjutan di Kabupaten Barru Prioritas Relatif Komponen SWOT Bobot Strengths (S) 0,2647 P2Weaknesses (W) 0,1003 P3Opportunities (O) 0,5543 P1Threats (T) 0,0712 P4 Faktor peluang yang dimiliki yakni tingginya permintaan pasar merupakan salah satu peluang yang harus dimanfaatkan.

a. Prioritas Pada Faktor Kekuatan

  Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, faktor kekuatan dalam pengembangan usaha budidaya rumput laut berkelanjutan di Kabupaten Barruadalah besarnya minat masyarakat untuk mengembangkan budidaya rumput laut menempati urutan prioritas pertama denga bobot 0,0556, faktor kekuatanselanjutnya adalah tenaga kerja mudah didapat baik dari anggota keluarga sendiri maupun dari masyarkat setempat dengan nilai bobot 0,0546. Suami dan anak-anak melakukan pemasangan tali bentangan,sedangkan pengikat bibit rumput laut dan penjemuran dilakukan oleh para istri dan anak-anak, hal ini sejalan dengan pendapat Ananta (1988), bahwa ukuran Budidaya rumput laut tidak memerlukan dana yang terlalu besar untuk memulainya.

b. Prioritas Pada Faktor Kelemahan

  Berdasarkan hasil analisis, faktor kelemahan yang diperoleh adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan dasr mengenai teknis budidaya rumputlaut dengan bobot 0,0325, disusul dengan belum berkembangnya industri rumah tangga dari hasil olahan rumput laut dengan bobot sebesar 0,0235. Sesuai dengan hasil penelusuran dan wawancara dengan responden di lokasi penelitian, sama sekali belum ada industri rumah tangga yang melakukanpengolahan hasil, padahal sebagian masyarakat atau ibu rumah tangga sudah ada yang bisa membuat minuman dari rumput laut.

c. Prioritas Pada Faktor Peluang

  Berdasarkan analis terhadap faktor peluang (tabel 15), prioritas pertama adalah tingginya permintaan pasar terhadap komoditi rumput laut dengan nilaibobot 0,1743, disusul pada prioritas kedua adalah kualitas perairan yang masih layak untuk kegiatan budidaya rumput laut. Perairan lepas pantai Kabupaten Barru selama ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan budidaya rumput laut dengan metoda long line dan Metode budidaya yang diterapkan oleh pertani pembudidaya rumput laut di Kabupaten Barru adalah metode long line/tali bentang, Metode budidaya inisangat diminati oleh masyarakat karena alat dan bahan yang digunakan lebih tahan lama serta mudah didapatkan.

d. Prioritas Pada Faktor Ancaman

  Hasil penelitian yang diproleh dari analisis dari faktor ancaman dalam pengembangan usaha budidaya rumput laut berkelanjutan di Kabupaten Barru,prioritas pertama adalah harga rumput laut yang fluktuatif dengan bobot 0,0185, disusul dengan belum adanya tata ruang wilayah pesisir dan laut dengan nilaibobot 0,0150. Bimbingan dan penyuluhan dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas rumput laut yang dihasilkan, dan di harapkan kegiatan ini dapatmenyentuh semua kelompok pembudidaya rumput laut yang ada.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil survei dan wawancara serta analisis

  yang dilakukan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Dengan menggunakan analisis A’WOT dalam merumuskan strategi pengembangan usaha budidaya rumput laut yangberkelanjutan di kabupaten Barru, alternatif strategi yang menjadi prioritas adalah : a.

c. Penerapan metoda long line dan rakit apung di perairan lepas pantai

d. Peningkatan peran masyarakat dalam pengembangan rumput laut dan

bobot 0,1007 membentuk kemitraan antara pembudidaya dan pengusaha dengan bobot nilai 0,0826.

e. Pengutan modal dan pembentukan Kelompok Usaha Bersama , bobot

nilai 0,0752

B. SARAN

  Berdasarkan kesimpulan yang ada, maka disarankan agar tidak birokratisnya persyaratan dan prosedural kredit usaha dari lembaga keuanganseperti perbankan sehingga mudah terjangkau oleh pembudidaya rumput laut. Kajian Budidaya Rumput Laut Kappaphycus alvarezii dengan Sistem dan Musim yang Berbeda di Kabupaten Bangkep Sulawesi Tengah.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (115 Halaman)
Gratis

Tags

Contoh Kata Pengantar Skripsi Kata Pengantar Skripsi Panduan Budidaya Rumput Laut Rumput Laut Rumput Laut 4 Kata Pengantar Skripsi Program Kata Pengantar Kata Pengantar Kata Pengantar Pengumuman Rumput Laut Pemenang Rumput Laut Kata Pengantar Kata Pengantar Kata Pengantar Skripsi Msdm Pengaruh Pel
Show more

Dokumen yang terkait

BAB X IMAN KEPADA QADHA’ DAN QADAR - IMAN KEPADA QADA DAN QADAR
0
0
5
b. Yaumul Mahsyar. - LATIHAN UJIAN SEKOLAH
0
0
8
BAB XII TARIKH/ SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM - SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM
0
0
4
BAB XII SHALAT SUNAH BERJAMAAH DAN MUNFARID - SHALAT SUNNAH BERJAMAAH DAN MUNFARID
1
1
12
BAB 8 AL-QUR’AN SURAT Al-INSYIRAH - SURAT AL INSYIRAH
0
0
5
2. Kebijakan Mutu SPMI - 1
0
0
7
2. Kebijakan Mutu SPMI - 2
0
0
8
Kata kunci: media pembelajaran, mobile learning, perpindahan kalor, Fisika, dan SMA Pendahuluan - Aplikasi Mobile Learning Fisika Dengan Menggunakan Adobe Flash Sebagai Media Pembelajaran Pendukung
0
2
7
1. KONSEP DASAR POLIMER - Polimer
0
0
17
Kata kunci: Pengembangan tes, tes kebugaran jasmani, siswa sekolah menengah pertama Pendahuluan - Prediksi Aktivitas Fisik Sehari-Hari, Umur, Tinggi, Berat Badan dan Jenis Kelamin Terhadap Kebugaran Jasmani Siswa SMP Di Banjarmasin
0
2
10
Instructional Strategies, Personality Types and the Outcome of Junior High School Students on Learning Bahasa Indonesia Abstract - Strategi Pembelajaran, Tipe Kepribadian dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia pada Siswa Sekolah Menengah Pertama
0
0
10
ANALISIS KORELASI MOTIVASI KERJA DENGAN KINERJA GURU Oleh Dionisius Sihombing dan Mayor Sihombing Abstract - Analisis Korelasi Motivasi Kerja dengan Kinerja Guru
1
1
5
Kata Kunci: Strategi Guru dalam Proses pembelajaran, peningkatan Minat Belajar Siswa, Mata Pelajaran PAI. Abstract - Strategi Guru Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam
1
2
12
D. TUJUAN AKHIR - 11. Modul Perbaikan Power Suply
0
0
84
DAFTAR ISI - Tugas Filsafat Ilmu
0
0
9
Show more