THE CRIMINOLOGY REVIEW OF FIGHTING AND BEATING IN ORGAN TUNGGAL EVENT (Bandar Lampung Study) I Putu Budhi Yasa, Heni Siswanto, Diah Gustiniati M ABSTRACT - TINJAUAN KRIMINOLOGIS TERHADAP PERKELAHIAN DAN PENGEROYOKAN PADA ACARA HIBURAN ORGAN TUNGGAL (Studi

0
0
11
5 months ago
Preview
Full text
THE CRIMINOLOGY REVIEW OF FIGHTING AND BEATING IN ORGAN TUNGGAL EVENT (Bandar Lampung Study) I Putu Budhi Yasa, Heni Siswanto, Diah Gustiniati M Email :iputubudhiyasa@gmail.com ABSTRACT The Circulation of liquor on entertainment location is danger enough. Most of single organ Visitors is dominant male adolescents aged and usually junior high school graduate. Fighting in the single organ entertainment and events that are conducted with the aim of harming others is deviant behavior. The problem of this paper is whether the causes of fighting and beatings in a single organ entertainment events in Bandar Lampung and how the response of fight and beatings in a single organ entertainment events in Bandar Lampung. the problems approach that used to answer of this problems are normative juridical approach, and legally empirical. Based on the results of this research and discussion of the factors that cause fights and beatings in a single organ entertainment event in Bandar Lampung is internal and external factors. Internal factors are aggressiveness due to alcohol abuse, lack of compliance with the law, lack of manners (knowledge).External factors are inaction by police, poverty, environment and time entertainment until the early hours. The Effort to control fights and beatings in single organ entertainment events in Bandar Lampung is through the penal and non-penal effort. Penal Effort is done by taking repressive measures against the perpetrators of fights and beatings in single organ entertainment events (catch, prosecute, and reconstruct ability in prison).The nonpenal Efforts is from monitoring appropriate procedures permit. The Placement for the police as a supervisor (Intelpampol) as well as coordination and communication between the police and the person in charge of entertainment. Keywords: criminological, fights and beatings, organ tunggal TINJAUAN KRIMINOLOGIS TERHADAP PERKELAHIAN DAN PENGEROYOKAN PADA ACARA HIBURAN ORGAN TUNGGAL (Studi di Bandar Lampung) I Putu Budhi Yasa, Heni Siswanto, Diah Gustiniati M Email :iputubudhiyasa@gmail.com) Abstrak Peredaran minuman keras pada lokasi hiburan organ tunggal cukup memperihatinkan. Pengunjung organ tunggal rata-rata adalah laki-laki yang dominan berusia remaja dan biasanya tamatan sekolah menengah pertama. Berkelahi dalam acara yang bersifat hiburan dan dilakukan secara bersama-sama dengan tujuan melukai orang lain adalah perilaku menyimpang. Permasalahan dalam skripsi ini adalah apakah faktor penyebab perkelahian dan pengeroyokan pada acara hiburan organ tunggal di Bandar Lampung dan bagaimanakah upaya penanggulangan perkelahian dan pengeroyokan pada acara hiburan organ tunggal di Bandar Lampung.pendekatan masalah yang digunakan untuk menjawab permasalahan tersebut yaitu pendekatan secara yuridis normatif, dan secara yuridis empiris. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan faktor penyebab terjadinya perkelahian dan pengeroyokan pada acara hiburan organ tunggal di Bandar Lampung adalah faktor intern dan ekstern. Faktor internal :agresivitas akibat penyalah gunaan alkohol, kurangnya kepatuhan hukum, rendahnya budi pekerti (pengetahuan).Faktor eksternal :pembiaran oleh polisi, kemiskinan, lingkungan, waktu hiburan yang hingga dini hari. Upaya penanggulangan perkelahian dan pengeroyokan pada acara hiburan organ tunggal di Bandar Lampung adalah melalui upaya penal dan non penal. Upaya penal dilakukan dengan cara melakukan tindakan represif terhadap pelaku perkelahian dan pengeroyokan pada acara hiburan organ tunggal (menangkap, mengadili, serta membinanya dalam Lembaga Pemasyarakatan).Upaya non penal yang dilakukan adalah Melakukan prosedur pengawasan sesuai izin yang diberikan. Penempatan polisi sebagai pengawas (Intelpampol) serta melakukan koordinasi dan komunikasi yang baik antara polisi dan pihak penanggung jawab hiburan. Kata kunci :kriminologis, perkelahian dan pengeroyokan, organ tunggal 3 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masyarakat Indonesia hidup di bawah naungan hukum positif, meski di daerah tertentu eksistensi pranata adat masih bisa dijumpai. Individu sebagai bagian dari masayarakat selalu ingin hidup berdampingan dengan anggota masyarakat lainnya. Sifat alamiah ini yang menyebabkan manusia melakukan interaksi antar sesamanya. Interaksi yang dilakukan manusia bisa bersifat saling menguntungkan atau bisa bersifat merugikan. Hukum hadir di tengah masyarakat sebagai penyeimbang dari berbagai pola interaksi individu yang hidup sebagai masyarakat, karena hukum memuat norma-norma tentang interaksi seperti apa yang dianggap merugikan hak dan rasa keadilan dari individu lain atau masyarakat sebagai komunitas yang dianggap ikut merasakan dampaknya. Kejahatan merupakan suatu fenomena komplek yang dapat dipahami dari berbagai sisi yang berbeda. itu sebabnya dalam keseharian kehidupan dapat menangkap berbagai komentar tentang suatu peristiwa kejahatan yang berbeda satu dengan yang lainya. Masyarakat yang beradab tentu menilai suatu tindakan dapat dikatakan sebagai kejahatan atau bukan kejahatan tentu dari segi hukum dan rasa adil yang ada di masyarakat. Perkembangan selanjutnya dalam upaya untuk menegtahui faktor-faktor penyebab terjadinya suatu kejahatan maka ilmu hukum senantiasa ditemani oleh ilmu kriminologi. Norma hukum positif diwujudkan dalam bentuk suatu undang-undang, yang biasanya dikodifikasikan tidak lepas dari respon terhadap suatu gejala sosial yang terjadi ditengah-tengah masyarakat itu sendiri. Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang mengatur tentang Tindak Pidana Perkelahian dan pengeroyokan merupakan salah satu pasal yang merespon gejala sosial yang ada di masyarakat yaitu keinginan manusia. Keinginan untuk dihormati, keinginan untuk mempertahankan harga diri, keinginan dalam bidang ekonomi yang tidak jarang menjadi penyebab terjadinya suatu tindak pidana. Kendati demikian perkelahian dan pengeroyokan masih beberapa kali terjadi, yang memperihatinkan adalah ketika peristiwa tersebut terjadi pada acara yang bersifat hiburan. Acara yang diadakan untuk menghibur justru menjadi ajang perkelahian. perkelahian dan pengeroyokan dianggap oleh sekelompok orang sebagai cara untuk bisa menyelesaikan masalah. Tidak adanya kata sepakat yang menguntungkan antar pihak yang terlibat konflik sehingga seolah-olah kekerasan menjadi upaya terakhir yang dianggap paling benar oleh sekelompok orang tersebut. Belakangan perkelahian dan pengeroyokan beberapa kali terjadi pada acara hiburan organ tunggal, yang seharusnya bertujuan untuk hiburan semata justru dimanfaatkan oleh sekelompok individu untuk melampiaskan amarahnya. Peristiwa ini mengindikasikan adanya penyimpangan perilaku yang dialami oleh individu atau kelompok individu itu sendiri. Imbasnya adalah penyelesaian suatu permasalahan yang mengabaikan supremasi hukum dan lebih mengedepankan kekerasan sebagai faktor pembenar dalam setiap keputusan yang diambil. Membicarakan kekerasan bukanlah suatu hal mudah, sebab kekerasan pada dasarnya adalah merupakan tindakan agresif, yang dapat dilakukan oleh setiap orang misalnya tindakan memukul, menusuk, menendang, menampar, meninju, menggigit, semua itu adalah bentuk-bentuk-bentuk kekerasan.1 1 Yesmil Anwar dan Adang, 2010, Kriminologi, PT Refika Aditama, Bandung, hlm. 410. 4 Perkelahian dan pengeroyokan terjadi pada acara huburan organ tunggal seperti pada tabel berikut ini. NO Daerah Perkara Tabel Jumlah Perkara Perkelahian dan Pengeroyokan pada Acara Hiburan Organ Tunggal di Lampung Tahun 2011-2014 Jumlah perkara Keterangan Kasus 1 terselesaikan litigasi).satu) jalur 1 Bandar Lampung: Kampung Bayur Bawah, Sukamanjur Kelurahan Bumi Kedamaian, Kedamaian 2 Bandar Lampung. Desa Bakung, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung.3 Kedaton, Bandar Lampung.4 3 2 Lampung Selatan: Dusun 5 Muarabalak. Bunut, Penengahan.6 Desa Negeri Sakti Gedong Tataan.7 3 Tidak terselesaikan (buron) 3 Lampung Tengah: Kampung Bumi Nabung Timur.8 1 Terselesaikan (jalur litigasi) 4 Pesisir Barat: Pekon Way Haru9 1 Terselesaikan non litigasi (jalur mediasi rembuk pekon) 5 Kabupaten Tulang Bawang: Tulang Bawang Udik.10 1 Terselesaikan (jalur litigasi) Kasus 2 (dua) tidak. terselesaikan (sulit menentukan tersangka).Kasus ke 3 (tiga) terselsaikan. Sumber: Data sekunder dari penelusuran website 2 http:/www.Lampung-news.com/article/kriminal/ 12191.html/ diakses2 September 2014 17.00 http:www.indosiar.com/patroli/ribut-diajang-organ tunggal-bapak-terluka_37492.html/ diakses 6 September 2014 13.00 4 http:/javanewsonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=4368:anak-pejabat-keroyokpemilik-organ-tunggal&catid=11:berita-terkini&Itemid=12/ diakses 9 Oktober 2014 21.00 5 http:/www.haluanlampung.com/index.php/kriminal/3625-polisi-buru-pembunuh-firman/ diakses 4 September 2014 21.30 6 http:/buser.liputan6.com/read/68795/hiburan organ-tunggal-di-lampung-menelan-korban.html diakses 4 september 2014 20.30 7 http:/news.liputan6.com/read/79866/diciduk-buronan-pembacok-pengusaha-hiburan-di-lampung diakses 7 September 2014 18.30 8 http:/putusan.mahkamahagung.go.id/putusan/ diakses 5 September 2014 22.30 9 http:/lampost.co/berita/hiburan-organ-tunggal-picu-perkelahian/ diakses 1 Oktober 2014 20.30 10 http:/javanewsonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=5510:buntut-bentrok-polisi-vswarga-kanit-provos-terkena-sanksi&catid=11:berita-terkini&Itemid=12 diakses 6 September 2014 23.00 3 5 Pada Tabel diatas dapat dilihat bahwa perkara perkelahian dan pengeroyokan untuk wilayah Bandar Lampung terjadi tiga perkara, satu perkara mengakibatkan adanya koraban jiwa yaitu kasus yang terjadi di Kampung Bayur Bawah. Pada Wilayah Hukum Kabupaten Lampung Selatan terjadi tiga perkara yang semuanya mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Pada wilayah Hukum Kabupaten Lampung Tengah terjadi satu perkara dan menelan korban jiwa. Pada wialayah Hukum Kabupaten Pesisir Barat dan Tulang Bawang masing-masing terjadi satu perkara, pada Kabupaten Pesisir Barat tidak ada korban jiwa sedangkan pada kabupaten Tulang Bawang menelan korban jiwa dengan Luka tembak di kepala korban. B. Permasalahan Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) faktor penyebab terjadinya perkelahian dan pengeroyokan pada acara hiburan organ tunggal di Bandar Lampung ;2) Upaya penanggulangan perkelahian dan pengeroyokan pada acara hiburan organ tunggal di Bandar Lampung. C. Metode Penelitian Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara yuridis normatif dan secara yuridis empiris. Data yang digunakan adalah data primer, data sekunder, dan data tersier. Pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan, dan studi lapangan. Data tersebut lalu diolah melalui tahap editing, sitematisasi data, dan seleksi data. Data yang sudah diolah tersebut kemudian diuraikan dan dianalisis secara kualitatif, yaitu melukiskan kenyataan-kenyataan yang ada berdasarkan kalimat. Dari analisis data tersebut dilanjutkan dengan menarik kesimpulan secara induktif. II. HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN DAN A. Faktor-faktor Penyebab Perkelahian dan Pengeroyokan pada Acara Hiburan Organ Tunggal di Bandar Lampung Perkembangan dan perubahan-perubahan yang terjadi baik secara institusional maupun intelektual dalam kriminologi menunjukan terjadinya hubunganhubungan dialektis antara pengetahuan dan pemikiran dengan realitas sosial, serta juga tahap-tahap pencapaian hasil-hasil yang diantisipasikan dalam praktik sosial bidang pengetahuan ilmiah ini. Kriminologi masalalu beranjak dari pemahaman yang dangkal mengenai kejahatan, padahal kejahatan tak hanya bisa ditilik dari segi fenomenanya saja, melainkan merupakan aspek yang tidak terpisah dari konteks politik, ekonomi dan sosial masyarakatnya, termasuk dinamika sejarah kondisi-kondisi yang melandasinya (yakni struktur-struktur sosial yang ditentukan secara historis).11 Dari segi politik kebijakan sosial pemerintah yang tak berpihak kepada rakyat berlindung rapi dibalik undangundang, mengakibatkan pemelaratan terus berlangsung. Dampak dari tidak sejahteranya perekonomian adalah keterbatasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Tujuan dari keberpihak suatu kebijakan dan penerapan undang-undang secara konsisten, menerapkan sistem jaminan hidup dan kesejahteraan dilakukan semata-mata untuk mencegah terjadinya kejahatan. Kriminologi berpendapat bahwa kejahatan disebabkan karena kondisi-kondisi dan proses-proses sosial yang sama, yang menghasilkan perilaku-perilaku sosial lainya. Analisis terhadap kondisi-kondisi dan proses-proses tersebut menghasilkan dua kesimpulan, yaitu pertama yang 11 Yesmil Anwar dan Adang, Op. Cit.,hlm. 57. 6 terdapat hubungan anatara variasii kejahatan dengan variasi organisasiorganisasi sosial dimana kejahatan tersebut terjadi.12 Membicarakan masalah kekerasan bukanlah suatu hal mudah, sebab kekerasan pada dasarnya adalah merupakan tindakan agresif, yang dapat dilakukan oleh setiap orang, misalnya tindakan memukul, menusuk, menendang, menampar, meninju, menggigit, semua itu adalah bentuk-bentuk kekerasan. Selain itu juga kekerasan merupakan tindakan yang normal, namun tindakan yang sama pada situasi yang berbeda akan disebut penyimpangan. Menurut Abdussalam, dalam bukunya Criminology (Pembahasan Dengan Kasus Tindak Pidana Yang Terjadi Di Seluruh Indonesia),Hasil wawancara dan pengamatan penulis dengan pelaku kejahatan penganiayaan dan pembunuhan dan petugas reskrim yang menyelesaikan perkara tindak pidana penganiayaan dan pembunuhan berkisar antara 60-70% dari tahun 2007 samapi dengan tahun 2012, sebagai berikut :pelaku melakukan tindak pidana penganiayaan, karena mudah tersinggung dan emosional, korban melakukan penghinaan tidak mau melakukan perintah atau yang disuruh, memberi pelajaran kepada korban. Pelaku melakukan tindak pidana pembunuhan karena sulit mengendalikan emosional, korban melakukan penghinaan yang sangat merendahkan derajatnya, dendam yang tidak dapat dikendalikan, harga diri yang merasa diremehkan, cemburu, tekanan ekonomi. Bila dianalisis menggunakan teori kendali diri, maka pelaku penganiayaan dan pembunuhan lemah dalam mengendalikan diri dan tempramenya sangat tinggi. Hasil pengamatan penulis terhadap pelaku penganiayaan dan pembunuhan pelaku bertingkah laku bebas. Bila ada yang menghalangi kehendaknya maka dia tidak segan-segan akan melakukan kejehatan itu.13 Menurut Rinaldy Amrullah, Apa yang harus dilakukan masyarakat apabila hendak menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan banyak orang (segala bentuk kegiatan masyarakat) sebaga contoh :pertandingan olah raga, konser musik, di wilayah hukum kepolisian kota Bandar Lampung, agar pelaksanaan kegiatan itu berjalan dengan tertib, aman, nyaman, lancar dan terkendali sudah dilakukan dengan ketentuan dasar (Petunjuk Lapangan/Pelaksanaan) Juklap Kapolri No. Pol /02 /XII /95 tentang perijinan dan pemberitahuan kegiatan masyarakat. Tidak berjalanya dengan baik tugas dan kewenagan polisi Sebagaimana yang diatur dalam Undang Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Repubik Indonesia pada Pasal 13, 14, dan 15 telah diatur tentang tugas dan kewenangan Kepolisian yang harus memberi izin kepada pihak pemohon dan menjaga ketertiban dan keamanan agar tidak ada pelaggaran hukum yang terjadi. Pada kasus yang terjadi di Kampung Sukamanjur Kelurahan Kedamaian hiburan organ tunggal berlangsung hingga dini hari dan tidak ada polisi yang memantau jalannya hiburan. Artinya Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang susunan organisasi pada tingkat Kepolisian Resor dan Sektor tidak dipatuhi. Menurut peraturan ini terdapat dua bidang dalam Kepolisian dalam bidang mengatur penerbitan dan pengawasan terhadap pelaksanaan izin keramaian yaitu bidang Intelkam Polda atau Polres serta pasukan pengamanan yang ditugaskan untuk menjaga keamanan serta ketertiban dalam kegiatan keramaian. 13 12 Ibid.,hlm. 59. Abdussalam, 2014, Criminologi,PTIK, Jakarta,hlm. 155. 7 Tidak berjalan sesuai harapan terhadap peraturan Kepala Kepolisian Republik Indoneisa Nomor 22 Tahun 2007 tentang bimbingan penyuluhan keamanan dan ketertiban masyarakat. Bimbingan penyuluhan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memberikan tuntunan, petunjuk, dan penerangan kepada individu atau kelompok secara terus menerus dengan maksud agar terjadi perubahan perilaku atau sikap yang berguna bagi diri pribadi ataupun masyarakat. Menurut tokoh masayarakat setempat Bapak Mastuhi bimbingan penyuluhan ketertiban dan keamanan masyarakat tidak pernah dilakukan baik yang yang melibatkan Forum Kemitraan Polisi Masyarakat atau organisasi kemasyarakatan yang lain. Faktor pendidikan merupakan salah satu faktor pendorong seseorang untuk melakukan suatu kejahatan, hal itu disebabkan oleh tingkat pengetahuan mereka yang kurang terhadap hal-hal seperti aturan dalam cara hidup bermasyarakat. Tingkat pendidikan dianggap sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang berbuat kejahatan, pendidikan merupakan sarana bagi seseorang untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk dengan melakukan suatu perbuatan apakah perbuatan tersebut memiliki suatu manfaat tertentu atau malah membuat masalah/kerugian tertentu. Pendidikan yang rendah pola pemikiran mereka mudah dipengaruhi oleh keadaan sosial sehingga pergaulan dalam lingkunganya mudah mengekspresikan tingkah laku yang kurang baik lewat perbuatan yang merugikan masyarakat dan akan memepengaruhi pelaku karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki sehingga pelaku perkelahian dan pengeroyokan di kota Bandar Lampung pada umumnya dalah buruh yang pekerjaannya tidak tetap. Penyebabnya karena pendidikan yang rendah, sehingga kurangnya kreatifitas dan berhubungan dengan kurangnya peluang lapangan kerja. Akibat pendidikan yang rendah itu maka pola pikir mereka mudah terpengaruh karena kadang-kadang mereka bisa mengekspresikan tingkah laku yang tidak baik lewat perbuatan yang merugikan masyarakat. Melalui bekal pendidikan yang diperoleh dengan baik dapat merupakan proses pembentukan nilai-nilai atau perilaku mereka. Jika dikaitka faktor pendidikan dengan latar belakang kejahatan yang dilakukan itu rata-rata yang berpendidiakn rendah yang berpendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Kejahatan yang dilakukan seseorang banyak tergantung dalam hubungan sosialnya dalam masyarakat yang bersangkutan, yakni dengan melihat kondisi-kondisi struktural yang terdapat dalam masyarakat. Walaupun ada kemungkinan manusia itu sendiri secara sadar memilih jalan yang menyimpang sebagai cara dia memecahkan masalah eksistensinya. Seseorang yang semula berasal dari keturunan yang baik, jika lingkungan pergaulan dalam masyarakat tempat dia tinggal adalah lingkungan terdapat pelaku kejahatan bukan tidak mungkin maka diapun terbawa arus melakukan kejahatan. Salah satu penyebab seseorang itu melakukan kejahatan adalah keadaan lingkungan dimana orang itu berada. Seseorang dapat menjadi pelaku kejahatan tidak hanya berasal dari lingkungan keluarga miskin tetapi ada juga berasal dari lingkungan keluarga kaya. Pada umumnya orang melakukan kejahatan itu berasal dari lingkungan yang tidak baik. Menurut Aan Suhendar dan Febryadi, Alkoholisme berpengaruh besar pada tinggkat emosi para pengunjung yang mengkonsumsi alkohol. Akibat dari pengaruh minuman keras pikiran menjadi kacau tidak terkendali. Lepas kontrol dalam berfikir, berkata dan bertindak mengkibatkan sering terjadinya perkelahian dikarenakan saling ejek, tidak 8 sengaja tersenggol karena cara berjalan yang sudah sempoyongan akibat mabuk minuman keras. Kehilangan kesadaran dalam berfikir mengakibatkan kata-kata yang diucapkan oleh para pengunjung bisa membuat pengunjung lainya tersinggung. Perkataan yang menyinggung pengunjung lain seperti ini lah bisa menyebabkan perkelahian dan pengeroyokan pada acara hiburan organ tunggal.14 Menurut Hilman Haidir, Pada acara hiburan organ tunggal menjumpai orang yang mabuk minuman beralkohol adalah hal yang biasa. peredaran minuman keras sangat memperihatinkan. Artinya undangundang tentang minuman beralkohol tidak diindahkan oleh lingkungan masyarakat yang gemar mengadakan hiburan organ tunggal. Pengaruh panasnya dentuman musik, minuman keras ditambah dengan waktu hiburan yang melebihi batas hiburan yang telah ditentukan oleh kapolres Bandar Lampung yaitu pukul 21.00. Menurut Hilman Haidir,perkelahian yang terjadi sering pada waktu yang larut malam. Peristiwa perkelaihan dan pengeroyokan cukup sering terjadi pada wilayah hukum kepolisian Bandar Lampung namun tidak semua kejadia dilaporkan kepolisi. Perilaku menyimpang ini kerap terjadi pada daerah pinggiran kota Bandar Lampung yang memang masih sering diadakan hiburan organ tunggal ketika ada pesta perkawinan atau khitanan.15 Menurut hasil wawancara dengan pelaku perkelahian dan pengeroyokan pada acara hiburan organ tunggal yang terjadi di Kampung Sukamanjur Kelurahan Kedamaian yaitu Dodi Saputra dan Okta Pratama. Perkelahian cukup sering terjadi 14 Hasil Wawancara dengan Aiptu Aan Suhendar Kanit Reskrim Polsek Tanjung Karang Timur Tanggal 15 Januari 2015. 15 Hasil wawancara dangan Bripka Hilman Haidir Wakil Panit II Polsek Tanjung Karang Timur Tanggal 15 Januari 2015. pada acara hiburan organ tunggal akibat hal yang sepele. Pada kasus mereka latar belakangnya adalah dendam. Sebelum mereka berkelahi mereka terlebih dahulu mereka mengkonsumsi minuman keras jenis tuak. Mereka memang gemar menonton organ tunggal karena sifat hiburan yang murah meriah. Menurut pengalaman mereka perkelahian dan biasanya berujung pada perkelahian secara bersama-sama sering terjadi ketika hiburan ini diadakan hingga larut malam. Artinya kasus yang terjadi di Kampung Sukamanjur di akibatkan oleh rasa dendam. Untuk meningkatkan emosi mereka mengkonsumsi minuman beralkohol. Perkelahian dan pengeroyokan terjadi pada saat Intelpampol yang ditugaskan sudah tidak ada di lokasi hiburan. Hiburan yang berlanjut hingga dini hari dan tidak dihentikan sesuai dengan surat izin yang telah disepakati merupakan tindakan pembiaran yang dilakukan oleh polisi. Peristiwa ini mengakibatkan satu orang tewas yaitu Indra. Para pelaku dari kelompok Puing alias Sugiyanto maupun kelompok Feby bisa saja dikenakan Pasal 170, 351, 353 dan 355 KUHP. Menyerang seseorang secara terang-terangan dengan tenaga bersama yang mengakibatkan lukaluka atau bahkan kematian secara khusus memang diatur dalam asal 170 Kitab Undang- Undang Hukum Pidana. Penyidik bisa saja berpandangan lain sesuai dengan temuan fakta yang ada ditempat terjadinya perkara serta hasil penyidikan. Oleh karena itu jika perkelahian ini direncanakan sebelumnya bisa saja salah satu pelakunya dikenakan Pasal 353 Kitab UndangUndang Hukum Pidana sesuai dengan perannya dalam kejadian itu. 9 B. Upaya Penanggulangan Perkelahian dan Pengeroyokan pada Acara Hiburan Organ Tunggal di Bandar Lampung Menurut Rinaldy Amrullah, Usaha penanggulangan terhadap perilaku menyimpang dimasyarakat ini, telah banyak usaha-usaha yang dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu usaha pencegahan dan pengendalian itu adalah menggunakan hukum pidana dengan sanksinya berupa pidana. Penggunaan upaya hukum termasuk hukum pidana, sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah perilaku menyimpang dengan kekerasan, termasuk dalam bidang kebijakan penegakan hukum. Tujuan dari itu semua adalah terciptanya kesejahteraan masyarakat pada umumnya. 1. Upaya Represif Kebijakan penal dalam upaya penanggulangan perkelahian dan pengeroyokan pada acara hiburan organ tunggal adalah: a. Menangkap pelaku setelah peristiwa perkelahian dan pengeroyokan terjadi; b. Mengadili para pelaku dan menjatuhkan hukuman sesuai hukum yang berlaku, jika terbukti; c. Membina para pelaku dalam Lembaga Pemasyarakatan, setelah putusan mempunyai kekuatan hukum tetap. Menurut Febriyadi dan Hilman Haidir Perkelahian dan pengeroyokan bisa mengakibatkan luka berat ataupun ringan dan bahkan kematian. penjatuhan putusan tentang lamanya hukumannya berbedabeda sesuai dengan akibat perbuatannya.16 Peran kepolisian sangat vital dalam hal ini karena sebagai ujung tombak penegakan hukum pidana. Dikatakan bahwa tujuan 16 Hasil wawancara dengan Brigpol Febryadi Penyidik Pembantu Polsek Tanjung Karang Timur Tanggal 15 Januari 2015. dari pemidaan saat ini bukanlah sematamata untuk memeberikan penderitaan. Penjatuhan pidana pada para pelaku adalah untuk membinanya dalam Lembaga Pemasyarakatan, agar suatu saat dapat dikembalikan kedalam 17 masyarakat. 2. Upaya Preventif Usaha-usaha yang rasional untuk mengendalikan atau mananggulangi kejahatan (politik kriminal),sudah barang tentu tidak hanya menggunakan sarana penal (hukum pidana),namun juga menggunakan sarana-sarana non penal. Usaha-usaha non penal ini misalnya penyantunan dan pendidikan sosial dalam rangka mengembangkan tanggungjawab sosial warga masyarakat; penggarapan jiwa masyarakat melalui pendidikan moral, agama dan sebagainya; peningkatan usaha-usaha kesejahteraan anak dan remaja; kegiatan patroli dan pengawasan lainya secara kontinyu oleh polisi dan aparat keamanan lainya dan sebagainya. Usaha-usaha non penal ini dapat meliputi bidang yang sangat luas diseluruh sektor kebijakan sosial. 18 Perkelahian dan penegroyokan pada acara hiburan organ tunggal berusaha di tanggulangi secara preventif melalui Juklap Kapolri No. Pol /02 /XII /95 tentang perijinan dan pemberitahuan kegiatan masyarakat. Pengadaan hiburan harus ada izin dari pihak kepolisian. Tujuan diharuskanya ada permohonan izin untuk dapat mengantisipasi kemungkinan terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat dengan cara :1. Mempertimbangkan setiap bentuk kegiatan kemasyarakatan yang akan diadakan. 17 Hasil wawancara dengan Bripka Hilman Haidir Wakil Panit II Polsek Tanjung Karang Timur Tanggal 15 Januari 2015 .18 Abintoro Prakoso, 2013, Kriminologi Dan Hukum Pidana, Laksbang Grafika, Yogyakarta, hlm.159. 10 2. Lokasi/tempat kegiatan, apakah memenuhi syarat untuk menampung jumlah penonton yang cukup banyak. 3. Jalur yang mengarah ke lokasi kegiatan, apakah memungkinkan untuk dilalui dengan memperhatikan keamanan, ketertiban, kelancaran lalu lintas (kamtibcarlantas).4. Jenis musik/pertunjukan yang akan ditampilkan dikaitkan dengan aliran dan fansnya. 5. Perkuatan pengamanan agar disesuaikan dengan jumlah pengunjung/penonton yang akan hadir dan kerawanan yang akan timbul. 6. Memberikan pemahaman kepada penyelenggara/event organizer dalam kegiatan yang akan dilaksanakan untuk lebih memperhatikan aspek keamanan, keselamatan, dan situasi lokasi kegiatan serta melakukan koordinasi lebih awal untuk proses ijin keramaian dan pengamanan kegiatan (pam giat).Keadaan masyarakat yang kurang sadar hukum mengakibatkan peraturan demi paraturan yang telah ditetapkan dilanggar. Hiburan yang digelar sering melebihi batas waktu hiburan yang tertulis dalam surat izin. Upaya penangulangan secara preventif ini, yang didasari oleh peraturan kapolri dirasa kurang mengikat para pihak yang memohon izin keramaian. Budaya masyarakat yang gemar melanggar hukum, sehingga kapolda menurankan TR (telegram rahasia) yang isinya adalah mengharuskan para pihak pemohon izin membuat surat pernyataan yang ditandatangani diatas materai. Kebiasaan masyarakat yang gemar menyepelekan himbauan dari pihak kepolisian untuk tidak mengadakan hiburan hingga larut malam adalah berujung pada peristiwa perkelahian dan penyeroyokan.19 19 Hasil wawancara dengan Hasil wawancara dengan Aiptu Aan Suhendar Kanit Reskrim Polsek Tanjung Karang Timur Tanggal 15 Januari 2015. Terdapat dua bidang Kepolisian dalam bidang mengatur penerbitan dan pengawasan terhadap pelaksanaan izin keramaian yaitu bidang Intelkam dan pasukan pengamanan. Pasukan pengamanan yang ditugaskan untuk menjaga keamanan serta ketertiban dalam kegiatan keramaian tersebut yang diatur juga dalam peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi pada Tingkat Kepolisian Resor dan Sektor. Penempatan pasukan pengamanan (intelpampol) pada lokasi hiburan bertujuan untuk meminimalisasi terjadinya keributan. Keberadaan aparat pada lokasi hiburan sangat penting karena apabila terjadi keributan bisa diredam saat itu juga. Berdasarkan peraturan Kepala Polisi Negara Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Polisi yaitu Pasal 5 Ayat (1),kekuatan yang memiliki dampak deteren (berupa kehadiran aparat dengan seragam atau kendaran dengan atribut polisi atau lencana).Pada Pasal 5 Ayat (2) tindakan dengan kekuatan perintah lisan (adanya komunikasi atau perintah).Rasa takut akan berurusan dengan hukum jika mereka melakukan tindakan kekerasan menjadi kunci utama dalam kasus seperti ini. Aparat yang bertugas pada lokasi hiburan biasanya berjumlah satu atau dua orang tergantung dari situa dan kondisi tempat di adakannya hiburan tersebut. Upaya penanggulangan kejahatan secara preventif melalui metode moralistik dan abolisionis dalam hal ini kejahatan dengan kekerasan (perkelahian dan pengeroyokan) sebenaranya sudah termuat dalam peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007 tentang Bimbingan Penyuluhan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat. Pada Bab III Pasal 6, metode 11 bimbingan penyuluhan Kamtibmas dilaksanakan melalui: a. Cermah; b. Konseling; c. Pemasangan sapanduk leaflet kamtibmas; d. Tanya jawab kamtibmas; e. Diskusi; f. Panggung hiburan kamtibmas; g. Pesan kamtibmas melalui tokoh Agama dan tokoh masyarakat; dan Media cetak, media elektronik, dan media komunisaksi lainy III. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan penulis dapat ditaraik kesimpulan sebagai berikut :a. Faktor-faktor penyebab perkelahian dan pengeroyokan pada acara hiburan organ tunggal di Bandar Lampung adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya adalah pribadi yang terganggu akibat mabuk minuman keras serta kurangnya kepatuhan hukum yang dapat dilihat dari sering hiburan organ tunggal di adakan hingga dini hari melebihi batas waktu pada surat izin yang diberikan oleh pihak kepolisisan. Faktor eksternanya yaitu pembiaran yang dilakukan oleh polisi yang tidak membubarkan hiburan ketika sudah melebihi batas waktu pada ketentuan surat izin. Perkap tentang kemasyarakatan yang sudah ada tidak dijalankan sebagaimana mestinya terutama tentang Kamtibmas. b. Upaya penanggulangan perkelahian dan pengeroyokan pada acara hiburan organ tunggal di Bandar Lampung adalah menggunakan upaya penal dan non penal. Upaya penal dialakukan dengan cara menangkap pelaku perkelahian dan pengeroyokan, mengadili, dan membinanya dalam lembaga pemasyarakatan. Upaya non penal yang dilakukan adalah melakukan prosedur pengawasan sesuai dengan ijin yang diberikan. Penempatan polisi sebagai pasukan pengaman (Intelpampol) harus menggunakan seragam,lecana atau kendaraan yang menandakan kehadiran polisi pada saat hiburan diadakan sehinggah memiliki dampak deteren. Menghilangkan faktor penyebab perkelahian dan pengeroyokan yaitu memberantas peredaran minuman beralkohol. http:www.indosiar.com DAFTAR PUSTAKA http:/javanewsonline.com Abdussalam, H.R. Desafuryanto, Adri. 2014. Criminology. Jakarta: PTIK. Anwar, Yesmil. Adang. Kriminologi. Bandung: PT Aditama. 2010. Refika http:/www.haluanlampung.com http:/buser.liputan6.com http:/news.liputan6.com Prakoso, Abintoro. 2013. Kriminologi dan Hukum Pidana. Yogyakarta: Laksabang Grafika http:/putusan.mahkamahagung.go.id Penelusuran website http:/javanewsonline.com http:/www.Lampung-news.com http:/lampost.co

Dokumen baru

Aktifitas terbaru

Download (11 Halaman)
Gratis

Tags

Bagian Organ Organ Pencernaan Dan Fungsinya Tunggal Organ Organ Dalam Perseroan Terbatas Jaringan Dan Organ Pada Tumbuhan Studi Patomorfologi Organ Hati Pada Ayam Afkir Respiratory Organ And Functions Transplantasi Organ 15 Transplantasi Organ Sistem Organ Pada Mamalia 12 Bab Xii Organ Dan Sistem Organ Manusia Tjitro Ayunan Tunggal Abstract
Show more

Dokumen yang terkait

STUDI KOMPARATIF DELIK KESUSILAAN DALAM HUKUM PIDANA INDONESIA DAN HUKUM PIDANA ISLAM
0
0
14
PERANAN PENYIDIK DALAM PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA PENCABULAN TERHADAP ANAK TUNA RUNGU
1
1
13
PERAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DALAM REHABILITASI TERHADAP NARAPIDANA NARKOTIKA (Studi di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Klas IIA Jakarta)
0
0
12
UPAYA PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN PADA PROGRAM ORIENTASI PERGURUAN TINGGI DI UNIVERSITAS LAMPUNG
0
0
12
ABSTRACT MEDICAL REHABILITATION OBLIGATION DRUG ABUSESRS REGULATORY STUDIES WITH NUMBERS : PERBER01111BNN2014 by Noni Ana Dwianti, Erna Dewi, Deni Achmad (Email: Nhonie06gmail.com)
0
0
11
ANALISIS PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENCABULAN DALAM KELUARGA (INCEST) (Studi Putusan 11PID2014PT.TK) Nova Selina Simbolon, Tri Andrisman, Donna Raisa Monica email: selina_novayahoo.co.id
0
0
11
JUDGE DECISION ANALYSIS IN THE CRIME OF NARCOTICS ABUSE BY MEMBERS OF POLICE (Study of the decision of Tanjung Karang District Court: No.47Pid.Sus2014PN.TK) Nurul Zahra Syafitri Enanie, Diah Gustiniati Maulani, A.Irzal Fardiansyah email: Zahrasyafitri30ya
0
0
12
FUNGSI ANJING PELACAK SEBAGAI ALAT BANTU PENYIDIKAN DALAM MENDAPATKAN BARANG BUKTI TINDAK PIDANA Oldy Andrelin Newaherman , Diah Gusitiniati, Firganefi email: oldyandrelin_x5yahoo.com Abstrak - FUNGSI ANJING PELACAK SEBAGAI ALAT BANTU PENYIDIKAN DALAM MEN
0
0
14
ANALISIS KRIMINOLOGIS TERHADAP KEJAHATAN PENJUALAN SATWA LANGKA YANG DILINDUNGI MELALUI MEDIA INTERNET Patrisella Noviyana, Tri Andrisman, Rini Fathonah email: (Patrisellanyahoo.com)
0
0
14
ANALISIS YURIDIS PENGGUNAAN BARANG BUKTI TERHADAP PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA PENCURIAN DENGAN KEKERASAN (STUDI PUTUSAN NOMOR 215/PID.B/2013/PN.KLD)
0
0
10
DISPARITIES VERDICT AGAINST THE CRIME OF THEFT BY SEVERE PUNISHMENT (Studies In State Court Liwa) Emili Sari, Diah Gustiniati, Eko Raharjo Email: Emiliasari07gmail.com Abstract - DISPARITIES VERDICT AGAINST THE CRIME OF THEFT BY SEVERE PUNISHMENT (Studies
0
0
13
PERANAN KEPOLISIAN DALAM PROSES PENYIDIKAN TERHADAP TINDAK PIDANA PERAMPOKAN DAN PEMBUNUHAN BERENCANA PADA SATU KELUARGA (Studi di Wilayah Hukum Kepolisian Daerah Lampung) Oleh Fima Agatha, Diah Gustiniati, Firganefi (Email: fimaagathagmail.com) Abstrak -
0
0
11
PERTANGGUNG JAWABAN PIDANA PELAKU PENGANCAMAN TERHADAP ANGGOTA POLRI YANG DILAKUKAN OLEH ANAK (STUDI PUTUSAN PN NOMOR: 701/Pid.B/2014/PN.Tjk)
0
0
12
PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA KORUPSI DANA PENGHAPUSAN ASET MILIK PEMERINTAH KOTA BANDAR LAMPUNG Gracelda Syukrie, Diah Gustiniati, Rini Fathonah Email: graceldasyukriegmail.com
0
0
11
ANALISIS PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM TERHADAP TINDAK PIDANA PERKOSAAN YANG DILAKUKAN OLEH ORANG TUA KANDUNG (Studi Putusan No. 222/Pid.Sus/2014/PN. Kot)
0
0
15
Show more