UJIAN NASIONAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK

 0  0  19  2018-09-16 23:02:17 Report infringing document

  

UJIAN NASIONAL: LANGKAH MENUJU PENINGKATAN

MUTU PENDIDIKAN ?

Oleh :

Liftiah, S.Psi., M.Si.

  

Knowledge without religion is blind, religion without knowledge is lame.

I. PENDAHULUAN

  Pendidikan yang diterapkan di Indonesia adalah pendidikan peninggalan penjajahan Belanda yang mulai digulirkan sejak tahun 1899 sampai sekarang. Sistem pendidikan yang diterapkan parsial – dikotomistis, sehingga lahirlah “generasi buta” dan “generasi lumpuh”. Generasi buta lahir dari gua garba sistem pendidikan umum yang lebih berorientasi pada penguasaan ilmu dan teknologi, tetapi kering dari nilai- nilai religius. Sebaliknya generasi lumpuh lahir dari sistem pendidikan “agama” yang hanya mengkaji kitab-kitab kuning dan penanaman moralitas belaka, tetapi tidak diimbangi dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

  Dua jenis generasi yang lahir dari sistem pendidikan yang dikotomistis memberikan dampak terhadap lahirnya kepemimpinan yang berbeda. “ Si buta “ sebagai jenis generasi pertama yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi kering dari religius menampilkan prilaku amoral dan telah menciptakan budaya KKN secara turun temurun dan tersetruktur. Sedangkan jenis generasi kedua “Si lumpuh” yang penuh dengan penguasaan “agama” tetapi karena tidak menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, maka terjadi kegagapan dalam mengekspresikan aktivitasnya karena selalu tertinggal oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

  Peribahasa Knowledge without religion is blind, religion without knowledge is

  

lame, benar-benar saat ini telah terjadi pada bangsa Indonesia. Agar tidak terjadi terus

  menerus darurat peradaban bangsa Indonesia, maka perlu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas melalui sistem pendidikan komprehensif.

  Tugas pendidikan yang paling mulia adalah memberikan pelayanan pendidikan yang paling baik bagi para siswanya, agar mereka mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan potensi intelektual, emosional, dan moralnya secara optimal. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu diadakan upaya yang sungguh-sungguh dan terpadu dari berbagai pihak. Sehingga siswa dengan pendidikan yang diterimanya dapat : (1)

  

Learning to know, (2) Learning to do, (3) Learning to be dan (4) learning to live

together sebagaimana pilar pembelajaran UNESCO.

II. KONDISI PENDIDIKAN di INDONESIA

  Secara umum kondisi pendidikan Indonesia dari tingkatan pendidikan dasar sampai perguruan tinggi masih tergolong rendah. Kualitas output peserta didik belum mempunyai keunggulan komparatif maupun kompetitif untuk dapat bersaing dengan output peserta didik di Negara-negara ASEAN. Bila dibandingkan dengan Negara- negara maju maka sangat jauh tertinggal.

  Secara kuantitas, Biro Pusat Statistik (BPS) Indonesia memberikan gambaran bahwa jumlah anak putus sekolah dari masing-masing jenjang pendidikan masih cukup besar. Perbandingannya 2 : 1 antara anak yang putus sekolah dan yang dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Hal ini berarti dari tiga anak yang sekolah, hanya ada satu anak yang mampu melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, sedangkan dua anak lainnya tidak mampu melanjutkan pendidikannya.

  Hasil penelitian BPS yang dilakukan tahun 1994 sampai 1998 menunjukkan bahwa pencapaian kelulusan anak perempuan hanya 26,4 % sedangkan anak laki-laki hanya 30,6 %. Hal ini berarti hanya sepertiga bagian jumlah peserta didik yang dapat meneruskan sekolah ke jenjang berikutnya, sedangkan dua pertiga bagian lainnya putus sekolah (Kompas, 8 September 2000). Mereka yang putus sekolah memasuki pasar kerja sebagai tenaga kasar dengan pendidikan rendah baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

  United Nation Development Program (UNDP) melaporkan tentang kinerja pendidikan nasional di 174 negara pada tahun 1999 dan 2000. Menurut laporan UNDP kinerja pendidikan nasional Indonesia pada tahun 1999 menempati urutan 105 dan pada tahun 2000 pada urutan 109 dari 174 negara yang disurvai UNDP. Bandingkan dengan Filipina pada urutan 77, Thailand 67, Malaysia 56, Brunei Darussalam 25, Singapura 22, dan Negara tetangga Australia pada urutan ke 7 dari 174 negara. Laporan UNDP tahun 1999 dan 2000 ini memberikan gambaran bahwa kinerja pendidikan nasional Indonesia juga masih tertinggal dengan Negara-negara ASEAN lainnya.

2.1. Kondisi Pendidikan Dasar

  Balitbang Departemen Pendidikan Nasional telah melakukan penelitian pada tahun 1991 sampai dengan 1996 tentang prestasi akademik lulusan SD yang diukur dari Nilai Ebtanas Murni (NEM). Hasilnya baru mencapai rata-rata NEM 6,34 dengan kategori medioser. Beberapa penelitian lain menyatakan bahwa output pendidikan dasar di Indonesia saat ini baru sampai pada peserta didik bisa menulis, bisa berhitung, dan bisa membaca, belum disertai dengan penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Pembelajaran Bahasa Indonesia pada tingkat SD dinilai belum berhasil (Suara Merdeka, Kamis 14 Juni 2007 hal. O).

  Hasil penelitian International Education Achievement (IEA) menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa-siswi SD di Indonesia berada pada urutan 38 dari 39 negara yang disurvai. Drs. Wahono, MPd., penulis buku teks mata pelajaran bahasa Indonesia dalam Seminar Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dalam pelajaran bahasa Indonesia (Rabo, 13 Juni 2007) mengatakan bahwa sekitar 50 % siswa kelas 6 SD tidak bisa mengarang, selama ini hasil pendidikan hanya tampak dari kemampuan siswa menghafal fakta-fakta, tidak memahami substansinya. Akibatnya output lulusan SD tidak mampu menghubungkan pengetahuan yang diterimanya untuk memecahkan persoalan sehari-hari yang dihadapinya.

  Menurut Vincent Greanery dalam Literacy Standard in Indonesia, menyatakan bahwa kemampuan membaca siswa-siswi lulusan SD di Indonesia hanya bernilai 51,7. Nilai ini lebih rendah dari Filipina dengan nilai 52,6 ; Thailand 65,1 ; Singapura 74,0 ; Hongkong 75,5 ; dan Jepang dengan nilai 77,6. Vincent menambahkan bahwa kurang dari l0 % lulusan SD di Indonesia yang mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, sedangkan sisanya lebih dari 90 % menggunakan bahasa daerah atau kesukuannya masing-masing. Padahal Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi Negara dan bahasa resmi pengantar di sekolah-sekolah baik sekolah negeri maupun swasta di semua jenjang pendidikan.

  Dilihat dari kemampuan berhitung lulusan SD di Indonesia saat ini baru pada taraf menghitung dengan hafalan, menghafal dengan cepat angka-angka yang disajikan untuk berhitung. Pelajaran matematika di SD diajarkan masih dengan gaya lama yang membuat anak dilatih hanya untuk menghafal, bukan untuk mengenali dan menguasai kemampuan bernalarnya.

  Penyelenggara pendidikan SD baik negeri maupun swasta rata-rata belum memiliki Permanent Comulatif Record (PCR) siswa-siswinya. PCR berisi tentang keterangan pribadi ; kepandaian siswa dari angka-angka raport ; riwayat kesehatan siswa ; keadaan social ekonomi rumahtangga ; riwayat sekolah ; riwayat kenakalan siswa ; ketrampilan khusus yang dimiliki ; sifat-sifat pribadi ; cita-cita masa depan ; riwayat prestasi dan penghargaan yang pernah diperolehnya. Apabila penyelenggara pendidikan tidak memiliki PCR yang lengkap tentang siswa-siswinya, berakibat penyelenggara pendidikan tersebut tidak mampu secara tepat memberikan arahan pada siswa-siswinya hendak melanjutkan kemana setelah mereka lulus SD. Apabila tiap-tiap SD memiliki PCR maka SD tersebut mampu mengarahkan lulusannya ke jenjang pendidikan berikutnya secara tepat. Jika hal ini terjadi, maka bakat, minat, ketrampilan khusus, dan cita-cita yang hendak diraih siswa dapat tersalurkan secara baik. Dampaknya, siswa akan belajar lebih enjoy dan menampilkan prestasinya secara gemilang.

  Problematika pendidikan dasar di Indonesia akan semakin kompleks dan luas apabila dilihat dari sarana prasarana pendidikan ; kurikulum pendidikan ; perbandingan guru dengan siswa. Tidak kurang dari 40 % jumlah SD di Indonesia sarana prasarana pendidikannya masih kurang (tidak layak) untuk proses pembelajaran siswa, untuk memperbaiki dan melengkapinya dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Kurikulum pendidik di Indonesia juga laksana bandul lonceng, kurikulum sebelumnya belum mampu diterapkan secara sempurna sudah ganti kurikulum baru yang membutuhkan konsentrasi tenaga, pikiran, dan dana yang tidak sedikit bagi SD untuk mampu menyesuaikan dan mengikuti kurikulum baru yang diterapkan oleh DEPDIKNAS. Perbandingan guru dan siswa masih di atas dari l : 20 sebagai angka ideal minimal, bahkan dibeberapa daerah tidak jarang ditemukan l sekolah hanya ada 2 orang guru. 1 guru merangkap 3 kelas sekaligus dalam proses pembelajarannya.

  Kondisi lulusan SD dengan kualitas yang masih rendah, dan dengan segala problematikanya sebagai input bagi pendidikan menengah di Indonesia akan berpengaruh pada kondisi pendidikan menengah di Indonesia.

2.2. Kondisi Pendidikan Menengah

  Harian Kompas ( 8 Desember 2000 ) memuat hasil survai dari International

  

Mathematic Olympic ( TIMSS-R) pada tahun 1999 telah mengadakan survai

  pengukuran dan penilaian pendidikan. Hasilnya, Indonesia hanya menempati urutan 34 untuk mata pelajaran Matematika, dan urutan 32 untuk mata pelajaran IPA, dari

  38 negara yang disurvai TIMSS-R. Pada mata pelajaran Matematika, Indonesia lebih baik dari Negara – Negara : Cile, Filipina, Maroko, dan Afrika Selatan, sebagai 4 negara pada urutan terakhir. Pada pelajaran IPA Indonesia lebih baik daripada Negara-negara : Turki, Tunisia, Cile, Filipina, Maroko, dan Afrika Selatan.

  Pada tahun 1999 Balitbang DEPDIKNAS juga mengadakan penelitian terhadap hasil Ujian Nasional pada siswa SMP untuk 6 mata ujian yakni : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, dan Kimia. Saat itu diperoleh hasil nilai rata- rata mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan nilai 6,43 ; Bahasa Inggris 4,89 ; Matematika 4,89 ; IPA 4,48 ; IPS 5,12 ; dan Kimia 4,87. Pada tingkatan SMA untuk Program Ilmu Fisika, Program Ilmu Biologi, dan Program Ilmu Sosial, Nilai yang diatas 6 hanya untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, sedangkan mata pelajaran lain seperti ; Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia, nilai masih dibawah 5 bagi Program Ilmu Biologi, dan 4,6 sampai 5,5 bagi Program Ilmu Fisika. Hal ini menunjukkan bahwa Siswa SMP dan SMA di Indonesia masih rendah dalam penguasaan basic science-nya. Kondisi semacam ini tidak jauh berbeda dengan hasil Ujian Nasional sejak diterapkannya Ujian Nasional (UN) 3 tahun terakhir (2005 – 2007),

  Kelulusan Ujian Nasional (UN) siswa SLTP dan SLTA di berbagai daerah di Jawa tahun 2007 menunjukkan antara 80 % sampai dengan 95 % lulus UN untuk tingkat SLTP dan 82 % sampai 97 % untuk tingkat SLTA. Masing-masing daerah Kabupaten dan atau kota di Jawa berbeda-beda, angka tersebut hanya kisaran saja.(Suara Merdeka, Jum’at, 22 Juni 2007. Hal L).

2.3. Kondisi Pendidikan Tinggi

  Asia Week

  5 Mei 2000 dan edisi 30 Juni 2000 melaporkan hasil studinya tentang kualitas perguruan tinggi (PT) di Asia dan Australia dalam Asia’s Best MBA Schools

  

by Reputation. Pada edisi 5 Mei 2000 disebutkan bahwa perguruan tinggi

  penyelenggara program MM dan MBA di Indonesia tidak ada yang bekualifikasi internasional. Dari 50 perguruan tinggi yang mempunyai reputasi akademik secara internasional tidak satu pun berasal dari perguruan tinggi di Indonesia.

  Pada edisi 30 Juni 2000, Asia Week melaporkan secara tidak langsung tentang kualitas perguruan tinggi di Indonesia baik untuk kategori umum maupun untuk kategori Iptek. Untuk kategori umum UI Jakarta menempati urutan 61 dari 77 perguruan tinggi kategori umum se Asia dan Australia, sedangkan UGM Yogyakarta pada urutan 68, UNDIP Semarang 73, UNAIR Surabaya pada urutan 75. Terlepas dari pro kontra tolok ukur penilaiannya, namun hasil penilaian Asia Week ini dapat dijadikan introspeksi sekaligus pembenahan bagi PT di Indonesia. Untuk kategori Iptek ITB Bandung menempati urutan 21 dari 39 perguruan tinggi berkategori Iptek. Bila data Asia Week ini dapat dijadikan standard kualitas PT di Indonesia, maka dapat disimpulkan bahwa kualitasnya masih rendah baik untuk kategori umum maupun untuk kategori Iptek.

  Para alumnus perguruan tinggi di Indonesia belum seluruhnya siap berkompetisi dalam pasaran kerja global dengan Negara-negara tetangga karena tidak memiliki keunggulan kompetitif. Salah satu keunggulan kompetitif yang dibutuhkan oleh alumni PT adalah penguasaan bahasa-bahasa antar bangsa, misalnya penguasaan Bahasa Inggris atau Bahasa Arab. Kurang dari l0 % lulusan PT di Indonesia menguasai Bahasa Inggris kecuali alumnus program Bahasa dan Sastra Inggris atau ikut kursus di lembaga pendidikan non formal. Demikian juga halnya dengan bahasa Arab.

  Rektor Universitas Teknologi Yogyakarta, Bambang Hartadi PhD Akt. Mengatakan :”Idealnya lulusan PT memiliki competitive advantage di bidangnya masing-masing dan didukung oleh Positive Corporate Culture yang mampu membawa alumni PT bersaing di pasaran kerja global.” (Suara Merdeka, Senin 4 Juni 2007, Hal K).

  Rendahnya kualitas lulusan PT di Indonesia tidak terlepas dari Input yang masuk yang berasal dari lulusan SLTA, dan secara berartai yang masuk SLTA input dari lulusan SLTP, dan yang masuk SLTP input dari lulusan SD. Perguruan tinggi merupakan salah satu mata rantai yang tidak terpisahkan dalam satu kesatuan system pendidikan yang ada di Indonesia. Apabila Input yang masuk ke PT dari (SLTA dan yang sederajat kurang bermutu) maka masuk perguruan tinggi pun kualitas linier dengan sebelumnya.

  Tadjuddin Noer Effendi (Kompas, 4 Oktober 2000) menegaskan bahwa rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia salah satu sebabnya karena birokrasi pendidikan tinggi di Indonesia masih memunculkan inefisiensi, menindas, dan kontraproduktif. Birokrasi PT di Indonesia lebih mementingkan jabatan structural dan kepangkatan di masing-masing Fakultas untuk mengembangkan akademisnya dibandingkan dengan profesionalitas akademisnya. Kenaikan pangkat dosen dinilai secara subjektif melalui DP3, bukan sebatas dari prestasi akadeisnya saja. Maka wajarlah PT di Indonesia belum menghasilkan penemuan-penemuan yang cemerlang di bidang Iptek maupun teori-teori keilmuan lainnya.

  Kondisi kualitas PT di Indonesia akan semakin di perburuk apabila RUU Badan Hukum Pendidikan disyahkan menjadi UU Badan Hukum Pendidikan (UU-BHP). Apabila ini terjadi maka lembaga pendidikan laksana Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang harus membiayai dirinya sendiri. Dampak yang lebih jauh PT memasang tariff yang mahal untuk dapat masuk disebuah Fakultas pada calon mahasiswa. Misalnya, calon mahasiswa harus membayar Rp 40 juta sampai l00 juta untuk dapat masuk Fakultas Kedokteran melalui jalur khusus di sebuah PTN. Biaya pendidikan di PT semakin tidak terjangkau oleh kaum dhuafa.

III. PENDIDIKAN KOMPREHENSIF BERKELANJUTAN

  Pendidikan komprehensif berkelanjutan yang dimaksud adalah satu kesatuan tak terpisahkan antara pendidikan formal, informal dan non formal. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal dari derajat terendah sampai dengan tertinggi, pendidikan non formal yang membentuk skill building, maupun pendidikan informal yang dilakukan di lingkungan keluarga dan masyarakat untuk membentuk caracter building.

  Variabel pendidikan yang dapat terukur secara langsung adalah pendidikan formal, dengan asumsi semakin banyak penduduk yang berpendidikan tinggi maka semakin tinggi kualitasnya dan sebaliknya. Hal ini akan semakin baik kualitasnya apabila penyelenggaraan sistem pendidikan secara integral dan komprehensif dari tingkat dasar sampai tingkat perguruan tinggi.

  Pendidikan yang diselenggarakan oleh negara beserta partisipasi masyarakatnya adalah pendidikan yang integral, komprehensif, dan berkelanjutan. Integral dalam pengertian pendidikan tingkat dasar tidak terpisahkan dengan tingkat menengah dan perguruan tinggi, dalam satu kesatuan misi dan visi. Komprehensif dalam pengertian tidak adanya dikotomi dalam pendidikan baik pendidikan tentang ilmu al dien maupun ilmu al dunia. Ilmu al dien dibutuhkan supaya SDM tidak buta dan ilmu al dunia supaya SDM tidak lumpuh. Keduanya satu kesatuan tak terpisahkan dan tidak pula didikotomikan. Berkelanjutan artinya setiap manusia yang lahir mestilah diprogramkan untuk mendapatkan pendidikan secara terus menerus sepanjang hayatnya, tidak sebatas pada pendidikan formal, tetapi juga pendidikan informal, dan non formal. (M. Saefuddin, 2002 ; hal 23).

  Berkaitan dengan pendidikan formal maka negara dan pemerintahannya berkewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan bagi bangsanya dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi yang didukung sepenuhnya oleh elemen- elemen masyarakatnya.

  Negara wajib melaksanakan amanat Undang-Undang Dasarnya berkaitan dengan pendidikan yang berbunyi :” (1) Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib

  

mendapatkan pengajaran, (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan

satu system pengajaran yang diatur dengan undang-undang.

  Wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah tidaklah cukup untuk membentuk manusia berkualitas. Wajib belajar 9 tahun, berarti dari usia 6 – 15 tahun hanya dapat menyelesaikan pendidikan formal setingkat SLTP. Cukupkah berkualitas SDM lulusan SLTP ?, Tentu jawabnya tidak cukup. Idealnya wajib belajar yang dicanangkan pemerintah minimal 16 tahun, dengan rincian : 6 tahun di SD, 3 tahun di SLTP, 3 tahun di SLTA, dan 4 tahun di perguruan tinggi. Apabila wajib belajar 16 tahun dilaksanakan maka SDM berkualitas dengan berpendidikan minimal S1 akan terwujud. Hal ini membutuhkan perhatian dan dana yang besar dari pemerintah.

  Agar pemerintah tidak keberatan dalam hal dana pendidikan maka perlu menciptakan : (1) saving dana abadi pendidikan, (2) pinjaman lunak pendidikan bagi warga yang dikembalikan setelah mereka berkarya, (3) system taawuniyah (tolong- menolong) yang dikendalikan oleh negara dari iuran pendidikan tiap-tiap warga negara per satuan waktu (hari, pekan, bulan, atau tahun), dari si kaya kepada si miskin, dan (4) diambilkan dari hasil eksploitasi sumber daya alam, keuntungan perusahaan BUMN maupun swasta dengan prosentase yang cukup yang dikendalikan oleh pemerintah.

  Jenis pendidikan yang diadakan adalah pendidikan secara menyeluruh yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupan dan penghidupannya. Perlu adanya skala perioritas jenis pendidikan yang diadakan berdasarkan pada : (1) hajat kebutuhan negara yang mendesak, (2) hajat kebutuhan masyarakat secara luas untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier, (3) menjaga nilai-nilai luhur peradaban universal dan keberlangsungan regenerasi ummat manusia berkualitas selaku kholifah fi al ardli.

  Pendidikan yang diselenggarakan mestilah pendidikan yang memiliki Pertama, idelogi universal yang mengangkat harkat dan martabat manusia ke arah kesempurnaan fithrah, dengan mengedepankan keterkaitan antara nilai-nilai universal dan jagad raya, antara nilai-nilai universal dan manusia, antara manusia dan jagad raya, dan antara nilai-nilai universal, jagad raya dan manusia yang membentuk satu kesatuan masyarakat yang beradab ( tamaddun ) secara lokal, nasional, regional, maupun internasional.

  Kedua, asas politik dalam pendidikan membawa suatu pandangan hidup

  berkenaan dengan jagad raya, manusia, dan masyarakat. Pandangan hidup ini dituangkan dalam syari’ah yang diperjuangkan dalam arena politik untuk mencapainya. Salah satu aspek perjuangan politik ke arah pelaksanaan syari’ah ini adalah bidang pendidikan yang salah satu tolok ukur keberhasilannya diukur dengan system administrasi yang dipergunakannya untuk mencapai tujuan tersebut.

  Ketiga, asas administrasi dengan prinsip-prinsip menekankan aqidah dan

  akhlaq dalam kerja administrasi, keadilan dan persamaan, musyawarah, pembagian kerja dan tugas, berpegang pada perencanaan – organisasi – supervisi – pengawasan, dan follow up, penghargaan, pergaulan dan hubungan baik dengan para pekerja, serta prinsip kemampuan, pengalaman, keikhlasan, pertrainingan, penaikan pangkat, dan

  Keempat,

  pemberian amanat dalam pekerjaan. Dan asas kurikulum yang menekankan pada penerapan kurikulum yang senantiasa up to date untuk mengendalikan perubahan social global tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar nilai-nilai universal kefithrahan manusia.

IV. PERLUNYA KERJASAMA KSM DALAM PENDIDIKAN

  Perlu dikembangkan kerjasama yang sungguh-sungguh dan kongkrit antara keluarga (K), sekolah (S), dan masyarakat (M) untuk mencapai tujuan pendidikan yang diidam-idamkan. Tiap-tiap komponen mempunyai tugas dan kewajiban untuk mensukseskan pendidikan di lingkungannya, sehingga pendidikan anak tidak sepenuhnya semata-mata diserahkan kepada sekolah, tetapi harus menyertakan keluarga dan masyarakat.

  Satu hal paling mendasar agar kerjasama keluraga, sekolah, dan masyarakat (KSM) dapat berjalan dengan baik haruslah ada kesamaan misi, visi, dan tujuan pendidikan yang dipahami dan dimiliki oleh KSM. Sebab apabila ketiga komponen tersebut tidak sama dalam hal misi, visi, dan tujuan pendidikan yang dimaksud maka pelaksanaan pendidikan anak akan berjalan secara centrifugal. Artinya mental

  

attitude anak didik akan mengikuti salah satu kekuatan mana dari KSM yang paling

  kuat mempengaruhinya maka kekuatan itulah yang paling kuat membentuk mental

  

attitudenya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan misi, visi, dan tujuan pendidikan

  dari masing-masing komponen KSM (lihat gambar 1). Hal sebaliknya akan terjadi apabila ada kesamaan misi, visi, dan tujuan pendidikan dalam KSM maka pelaksanaan pendidikan anak akan berjalan secara centripetal. Artinya mental attitude anak didik akan semakin kuat ke arah keinginan bersama KSM ( lihat gambar 2 ).

  Gambar 1 : Centrifugal Gambar 2 : Centripetal

  S MA = Mental Attitude S K = Keluarga MA MA S = Sekolah MA M = Masyarakat K M K M

  Keterangan : Pada Gambar 1 misi, visi, dan tujuan Pada Gambar 2 misi, visi, dan tujuan

  Pendidikan K # S # M Pendidikan K = S = M Penyamaan persepsi terhadap misi, visi, dan tujuan pendidikan dapat dilakukan antara komponen KSM secara bersama-sama dalam forum dialog terbuka yang diprakarsai oleh sekolah. Sekolah membuka diri untuk menerima usulan, kritikan, maupun masukan lainnya dari para orang tua wali murid, untuk selanjutnya dibahas dan dirumuskan bersama dengan Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan (KSDP) yang bertindak sebagai representasi dari komunitas masyarakat wali murid. Hasil rumusan bersama ini disosialisasikan kepada seluruh orang tua wali murid dan pemerintah. Dengan demikian akan tercipta satu persepsi yang sama dalam hal misi, visi, dan tujuan pendidikan untuk selanjutnya dilaksanakan bersama kompenen KSM sesuai dengan perannya masing-masing.

  Apabila langkah penyamaan ini berhasil sekalipun hanya pada skala mikro (KSM yang bersakutan) maka akan tercipta satu tanggung jawab bersama dalam bidang pendidikan yang dapat memperlancar proses pendidikan anak untuk mencapai tujuannya.

  Tiap-tiap KSDP di masing-masing sekolah perlu membuat rumusan kerjasama KSM dalam bidang pendidikan. Peran KSDP sangatlah menentukan dinamika kerjasama yang dibangun KSM. Kerjasama KSM akan dinamis apabila KSDP yang dibentuk benar-benar mewakili aspirasi orang tua wali murid, bukan penjelmaan dari BP-3 yang selama ini terbukti mandul.

  Adanya keterbukaan, dialog, dan musyawarah antar KSM merupakan kunci keberhasilan kerjasama KSM dalam memainkan peranannya masing-masing dalam bidang pendidikan.

  4.1. Peran Keluarga

  Orang tua wali murid dan keluarganya memiliki peran strategis yang tidak dapat dipisahkan dengan peran sekolah dalam pendidikan anak. Diantara peran orang tua wali murid untuk kesuksesan pendidikan anak adalah : (1) merasa memiliki misi, visi dan tujuan pendidikan bagi anaknya yang tidak terpisahkan antara pendidikan di sekolah dan di keluarga, (2) memberikan stimulus dan respon yang positif dari segi material maupun immaterial kepada kebijakan sekolah dan segenap program- programnya, (3) memberikan stimulasi mental yang cukup, merangsang, dan memuaskan dorongan keingintahuan anak dengan disertai pemberian semangat serta meningkatkan rasa mampu pada anak, (4) menyediakan sarana dan prasarana belajar yang memadai yang mampu setiap saat dapat membuat anak fresh secara fisik maupun otak, dengan kata lain yang mampu menciptakan kebugaran fisik dan kebugaran otak setiap saat. Memberikan gizi yang cukup bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak.

  4.2. Peran Sekolah

  Sekolah sebagai pelaksana pendidikan formal memegang peranan strategis dalam pendidikan anak. Peran strategis yang dimaksud antara lain : (1) merumuskan, melaksanakan, dan mengevaluasi : misi, visi, dan tujuan pendidikan ; kebijakan dan program pendidikan ; pelaksanaan proses belajar mengajar, (2) menyediakan sarana dan prasarana yang memadai bagi berlangsungnya proses belajar mengajar yang nyaman, aman, dan menyenangkan siswa dalam meraih ilmu; Menerapkan sistem pembelajaran yang memperhatikan kebutuhan siswa, termasuk didalamnya mempertimbangkan adanya perbedaan individual dalam perkembangan iuntelektual, emosional, dan moral siswa, (3) memberi kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk learning by doing atau praktek nyata, tidak hanya diberi penjelasan teori saja dan (4). Menciptakan situasi belajar-mengajar yang membuat siswa mempunyai kebebasan dan keamanan psikologis (Suparwoto, dkk, : 2006 : Hal. 90 – 95). Disini peran guru sangat besar untuk menciptakan hal tersebut. Guru dapat memberikan kebebasan dan kesempatan siswa untuk mengungkapkan ide, pendapat, dan daya kritisnya. Guru memberikan penerimaan yang tulus, ikhlas, penuh pengertian, empati, dan menciptakan situasi yang tidak membuat siswa merasa terancam atau tertekan. Guru harus mampu memberikan semangat dan dorongan serta perasaan mampu yang tinggi pada peserta didiknya, agar mereka mempunyai prestasi yang optimal.

4.3. Peran Masyarakat

  Peran masyarakat yang diwakili oleh Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan (KSDP) memegang peranan sebagai mitra kerja sekolah dalam merumuskan berbagai kebijakan sekolah. Oleh karena itu KSDP mestilah berperan serta aktif dalam memberikan masukan-masukan bagi perbaikan pendidikan di sekolah. Masukan- masukan tersebut berasal dari seluruh orang tua wali murid yang secara otomatis sebagai anggota KSDP di sekolah yang bersangkutan.

  KSDP perlu memiliki program-program jangka panjang untuk membuat terobosan-terobosan supaya setiap murid yang lulus dari SD bisa ke SLTP, dari SLPP bisa ke SLTA, dan dari SLTA bisa ke Perguruan Tinggi dalam jumlah yang seimbang dengan lulusan masing-masing tingkatan. Langkahnya dengan cara menggalang dana pendidikan dari orang tua wali murid untuk keberlangsungan pendidikan anak- anaknya secara terus menerus, sehingga wajib belajar anak tidak hanya 9 tahun tetapi 16 tahun. Dengan demikian Sumberdaya manusia di masa datang mayoritas berpendidikan perguruan tinggi

  KSDP perlu memberikan masukan-masukan yang positip kepada sekolah berkaitan dengan sistem Pendidikan yang terpadu, berkualitas, dan cukup stabil yang mampu memberikan pendidikan pada siswa yang cukup memedai dari segi ilmu maupun ketrampilannya.

  Peran masing-masing komponen KSM bisa dimainkan apabila ada kerja sama yang baik dari masing-masing komponen tersebut. Oleh karena itu perlu dibangun kerja sama antara Keluarga, Sekolah dan Masyarakat dalam pendidikan.

V. UJIAN NASIONAL Pada pertengahan Juni 2007 yang lalu hasil Ujian Nasional telah diumumkan.

  Tanggapan pro dan kontra mewarnai halaman media masa (Koran) daerah maupun nasional. Ujian Nasional (UN) ibarat makan buah Simalakama, tidak diadakan berarti out put hasil pendidikan dari tingkat SD, SLTP, dan SLTA tidak terukur secara standard, dan ketika diadakan secara nasional faktanya system pendidikan yang diterapkan di masing-masing daerah kondisinya berbeda-beda, sesuai dengan kondisi daerahnya masing-masing. Dan banyak siswa-siswa daerah yang belum sepenuhnya siap secara mental dan penguasaan materi untuk mengikuti UN.

  Ketidaksiapan siswa dari daerah-daerah yang tidak siap ditunjukkan dalam bentuk perilaku menyimpang dari system UN, misalnya ; saling mencontek, dikerjakan oleh gurunya, guru mencuri soal UN, menangis histeris, pingsan, bahkan sampai ada yanmg bunuh diri mengetahui dirinya tidak lulus UN. (Suara Merdeka, Jum’at, 15 Juni 2007. Hal H).

  Ujian Nasional merupakan salah satu jenis evaluasi untuk menilai kompetensi kelulusan secara nasional. Mata pelajaran yang ditentukan dari kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, hal ini dimaksudkan untuk mencapai standar nasional pendidikan. UN juga digunakan sebagai salah satu pertimbangan penentuan kelulusan, seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, akreditasi satuan pendidikan, serta pembinaan dan pemberian bantuan ke satuan pendidikan untuk meningkatkan mutui pendidikan (Suara Merdeka, Kamis, 14 Juni 2007. Hal O). Sardjono, dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah mengatakan :” Dengan standar kelulusan minimal 4,26 untuk setiap mata pelajaran dan rata-rata 4,51 untuk tiga mata pelajaran yang ditetapkan masih ada yang belum bisa terlampaui. Berarti kompetensi sebagian peserta didik terhadap materi UN masih kurang “. UN merupakan salah satu standar yang digunakan untuk mengukur seberapa jauh keberhasilan pendidikan dan pengajaran dari guru kepada para murid. Tanpa adanya standar tidak mungkin dapat diketahui tingkat pendidikian bangsa Indonesia. Demikian pendapat Wakil Presiden Jusuf Kalla yang disampaikannya ketika meresmikan monument PGRI di Solo (Sabtu, 2 Juni 2007 dalam Suara Merdeka, 4 Juni 2007 Hal O).

  Apabila hanya dengan 3 mata pelajaran (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika) yang diujikan dalam UN saja masih banyak yang gugur, hal ini menunjukkan adanya 2 kemungkinan yaitu : (1) Kualitas pendidikan menengah di Indonesia masih rendah terbukti masih banyak (puluhan ribu) siswa yang tidak memiliki kompetensi yang cukup terhadap UN, dan (2) Standar soal yang diujikan terlalu tinggi, bahkan mungkin diantara siswa masih banyak yang tidak familiar dengan soal-soal UN.

  Menurut Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd. Kons. Sebagai anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bahwa nilai UN bukan satu-satunya syarat kelulusan siswa. Ada beberapa syarat lain yang juga harus dipenuhi siswa sebelum para siswa dinyatakan lulus dari satuan pendidikan (Suara Merdeka, Rabo, 30 Mei 2007. Hal. O). Diantara dua syarat lainnya adalah : pertama, para siswa harus menyelesaikan pembelajaran, harus menamatkan seluruh kurikulum. Program pembelajaran ini diwujudkan dalam nilai raport. Dan Kedua, para siswa harus lulus ujian sekolah (US) mata pelajaran yang diujikan US berbeda dengan UN. Dan sebagai syarat kelulusan US nilai rata-rata harus 6.

  Tanggapan pro dan kontra atas pelaksanaan UN terus bergulir dari para pakar pendidikan dan penentu kebijakan. Sisi Negatif dan positif UN terus dikaji. Sisi negative UN, nasib siswa ditentukan oleh 3 mata pelajaran yang diujikan UN, sedangkan pelajaran lainnya tidak diperhitungkan. Pengabaian tentang internalisasi proses pendidikan untuk menyerap nilai-nilai bergerak ke arah system drilling yang instan. Yang penting sukses di 3 mata pelajaran yang diujikan UN, karena itu yang dipikirkan dan dituju adalah bagaimana lolos UN. Perkara serapan nilai-nilai pendidikan pun akhirnya menjadi urusan paling belakang. Padahal selama ini digembar gemborkan kurikulum berbasis kompetensi. Dr. Haryono, MPd, mengatakan bahwa akar persoalan evaluasi belajar sekolah adalah adanya kontradiksi antara UN dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP roh dan raganya otonomi daerah, sedangkan UN sentralistik, maka tidak bisa dipertemukan dan pada aspek teknisnya terjadi pembodohan.

  Sisi positif UN, kondisi siswa peserta UN secara kompetensi terhadap 3 mata pelajaran yang diujikan dapat diketahui. Ternyata hasilnya masih banyak siswa yang tidak memiliki kompetensi yang cukup terhadap 3 mata pelajaran yang diujikan UN. Hal ini menandakan perlu adanya pembenahan sistem pendidikan secara keseluruhan dari berbagai jenjang tingkatan. Perlu dilakukan evaluasi terus menerus terhadap sistem evaluasi pembelajaran, sampai ditemukannya sistem Ujian Nasional yang bertindak sebagai sistem kontrol mutu pendidikan secara komprehensif, dan menilainya tidak hanya dari pencapaian lewat evaluasi standar tiga mata pelajaran.

  Hasil UN tahun 2007 dapat digunakan untuk memetakan mutu pendidikan nasional di masing-masing daerah sebagai input untuk perbaikan sistem pendidikan nasional. Apabila kualitas pendidikan nasional di masing-masing daerah dapat dipetakan maka dapat dibuat Regionalisasi UN.

5.1. Regionalisasi Ujian Nasional

  Sangat disadari bahwa telah terjadi ketidakseimbangan mutu pendidikan nasional antara pendidikan di Jawa dan di luar jawa, antara daerah perkotaan dan pedesaan, antara daerah maju dan daerah tertinggal. Menghadapi kondisi mutu pendidikan yang berbeda antar daerah maka perlu dilakukan regionalisasi Ujian Nasional, dan secara bertahap dilakukan menuju kualitas yang sama secara nasional.

  Regionalisasi Ujian Nasional dapat dibedakan menjadi 6 yaitu : (1) Kawasan Jawa, Bali dan Madura ; (2) Kawasan Sumatera dan sekitarnya ; (3) Kawasan Sulawesi dan sekitarnya ; (4) Kawasan Kalimantan dan sekitarnya; (5) Kawasan Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sekitarnya, dan (6) Kawasan Papua Barat dan sekitarnya. Apabila diasumsikan bahwa urutan kawasan tersebut mencerminkan urutan kualitas pendidikan di masing-masing daerahnya maka perlu adanya upaya peningkatan kualitas pendidikan secara bertahap. Peningkatannya secara bertahap dari kualitas setara kawasan 6 menuju kualitas setara kawasan 5, dari kawasan 5 menuju setara kawasan 4, dari kawasan 4 ke 3, dari 3 ke 2, dari 2 ke 1, dan dari 1 kearah penyempurnaan kualitas pendidikan nasional sebagaimana yang didealkan.

  Apabila ditrerapkan regionalisasi UN maka konsekuensinya DEPDIKNAS harus membuat peta kawasan mutu pendidikan antar daerah, dan soal-soal UN yang mempunyai tingkat kesulitan yang berjenjang dari Grid 1 sampai Grid 6 sesuai dengan jumlah kawasan mutu pendidikan yang dipetakan. Untuk selanjutnya diadakan evaluasi terus menerus masing-masing kawasan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan kualitas pendidikan di kawasan tersebut.

5.2. Mata Pelajaran Ujian Nasional

  Mata pelajaran yang perlu diujikan pada UN untuk SLTP dan SLTA adalah mata pelajaran yang terkait dengan basic science untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada tingkatan SLTP dan yang sederajat diujikan mata pelajaran : Bahasa Indonesia ; Bahasa Inggris ; Matematika ; IPA ; IPS ; dan Kimia. Sedangkan pada tingkatan SLTA dan yang sederajat untuk Program Ilmu Fisika, dan Program Ilmu Biologi, mata pelajaran yang diujikan meliputi : Bahasa Indonesia ; Bahasa Inggris ; Matematika ; Fisika ; Kimia ; dan Biologi. Untuk SLTA Program Ilmu Sosial mata pelajaran yang diujikan meliputi : Bahasa Indonesia ; Bahasa Inggris ; Ekonomi ; Sosiologi – Antropologi ; dan Tata Negara. Mata pelajaran lainnya dan muatan lokal diujikan dalam Ujian Sekolah masing-masing. Tingkat kesulitan soal-soal yang dibuat sesuai dengan grid regionalisasi UN.

VI. KESIMPULAN

  Kualitas pendidikan di Indonesia dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi belum sepenuhnya memenuhi amanat UUD 1945, dan UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahkan ada kecenderungan mengalami kemerosotan bila dibandingkan dengan perkembangan pendidikan di Negara-negara Asia dan Australia.

  Perlu diadakan pembenahan yang komprehensif dan menyeluruh terhadap sistem pendidikan di Indonesia dengan mengedepankan pendidikan komprehensif yang berkelanjutan untuk meminimalisir angka putus sekolah. Wajib belajar l6 tahun perlu dicanangkan. Untuk mensukseskannya diperlukan kerja sama antara Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat (KSM) yang masing-masing memainkan peranannya dalam pendidikan.

  Regionalisasi Ujian Nasional perlu dilakukan untuk melakukan program pentahapan peningkatan mutu pendidikan di masing-masing kawasan sampai dicapainya mutu pendidikan yang sama secara nasional dan barulah diberlakukan Ujian Nasional dengan tingkat kesulitan yang sama untuk seluruh kawasan.

  

DAFTAR PUSTAKA

  Al-Muslimun :” Pendidikan Masyarakat : Dibina lalu Dirusak “. Edisi 386 Mei 2002. Asia Week, :“ Asia’s Best MBA Schools by Reputation”. Edisi 5 Mei 2000 dan Edisi 30 Juni 2000. Conny Semiawan Stamboel : “ Prinsip dan Teknik Pengukuran dan Penilaian di dalam Dunia Pendidikan “. Jakarta : Penerbit Mutiara, 1982. Greanery, Vincent :” Literacy Standard in Indonesia “ Jakarta : Yayasan Obor, 2000. Kompas : “ Birokrasi Menghambat Kemajuan Pendidikan Tinggi di Indonesia “ Tadjuddin Noer Effendy, dalam harian Kompas Edisi 4 Oktober 2000. Nashih Ulwan, Abdullah, DR. : “Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam “. Bandung : Penerbit Asy-Syifa, Jilid l Cetakan ke 2 Desember 1990. Saefudin, Muhammad.Drs. : “ Bunga Rampai : Kualitas Pendidikan di Indonesia”.

  Al- Zaytun Press : 2002. Suara Merdeka :” Pembelajaran Bahasa Indonesia Dinilai Belum Berhasil “ Harian Suara Merdeka, Edisi Kamis : 4 Juni 2007, Hal. O.

  Suara Merdeka :” Jumlah Kelulusan SLTP Meningkat”. Harian Suara Merdeka, edisi Jum’at : 22 Juni 2007. Hal. L. Suara Merdeka :” Alumni PT Butuh Keunggulan Kompetitif dan Budaya Positif “.

  Harian Suara Merdeka, Edisi Senin : 4 Juni 2007. Hal. K. Suara Merdeka :” Tak Lulus UN sejumlah Siswi Pingsan “. Harian Suara Merdeka, Edisi Jum;at l5 Juni 2007. Hal. H.

  Suara Merdeka :” Jumlah Pelajaran UN dipertanyakan”. Harian Suara Merdeka, Edisi Kamis : 14 Juni 2007. Hal. O. Suara Merdeka,:” UN Tak Akan Dihapus “. Harian Suara Merdeka, Edisi Kamis : 4 Juni 2007. Hal. O. Suara Merdeka :” UN Bukan Satu-satunya Syarat Kelulusan Siswa :” Harian Suara Merdeka. Edisi Rabo : 30 Mei 2007. Hal. O. Suparwoto, Drs. dkk. :” Psikologi Perkembangan “. Semarang : UPT UNNES PRESS, Cetakan ke 4, 2006. Syahrir, Dr. :” Kebijaksanaan Negara : Konsistensi dan Implementasi”. Kumpulan Artikel. Jakarta : LP3ES. 1987.

POTRET PENDIDIKAN INDONESIA DAN UJIAN NASIONAL

  

Oleh :

Liftiah, S.Psi. M.Si.

Makalah Seminar

Dipresentasikan Dalam Seminar Nasional Dengan Tema :

  

“ Ujian Nasional (UN) dan Masa Depan Pendidikan Indonesia “

Pada Fakultas Pendidikan Universitas Negeri Semarang.

10 Juli 2007.

  

JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

JULI 2007

Dokumen baru
Dokumen yang terkait

UJIAN NASIONAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK

Gratis

Feedback