Makalah konsep pada anak sakit pada sist

 0  0  12  2018-09-16 23:04:19 Report infringing document

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Luasnya daerah permukaan saluran cerna (traktus GL) dan fungsi digestifnya menunjukan betapa pentingnya makna pertukaran antara organisme manusia dengan lingkungan nya. Kelainan inflamasi dan malabsorpsi akan mengganggu keutuhan fungsi traktus masih berada dalam proses menuju maturitas, maka usus bayi sangat rentan terhadap ancaman infeksi. Diare menular akut dapat menyebabakan signifikan pada keseimbangan cairan serta elektrolit pada bayi dan anak-anak.

  Diare akut masih merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak- anak di berbagai Negara yang sedang berkembang, setiap tahun di perkirakan lebih dari satu milyar kasus diare di dunia dengan 3,3 juta kasus kematian sebagai akibatnya. Diare masih merupakan penyebab penting kematian kepada anak-anak di Negara-negara berkembang. Kombinasi paparan lingkungan yang patogenik, diet yang tidak memadai, malnutrisi menunjang timbulnya kesakitan dan kematian karena diare.

  Sedangkan demam tifoid dan paratifoid merupakan salah satu penyakit infeksi endemik di Asia, Afrika, Amerika latin, Karibia, dan Ocenia, termasuk Indonesia. Penyakit ini tergolong penyakit menular yang dapat menyerang banyak orang melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Insiden demam tifoid diseluruh dunia menurut data pada tahun 2002 sekitar 16 juta pertahun, 600.000 diantaranya menyebabkan kematian. Di Indonesia prevalensi 91% kasus demam tifoid terjadi pada umur 3-19 tahun. Demam tifoid masih merupakan penyakit infeksi tropik sistematik, bersifat endemis, dan masih merupakan problema kesehatan. Masyarkaat pada negara-negara sedang berkembang di dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia penderita demam tifoid cukup banyak diperkirakan 800/100.000 penduduk pertahun dan tersebar di mana-mana. Demam typoid dapat ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering pada anak besar, umur 5-9 tahun dan laki-laki lebih banyak dari perempuan dengan perbandingan 2-3:1. Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistematik yang disebabkan kuman batang gram negatif salmonella typhi maupun salmonella para typhi A, B, C. Penyakit ini ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman tersebut, dikenal sebagai penularan tinja-mulut (Fecaloral). Oleh karena itu penting kebiasaan untuk cara hidup bersih. (Ngastiyah, 2005)

  Di Indonesia, demam tifoid masih merupakan penyakit endemis utama. Bila timbul penyakit ini dapat menimbulkan kematian. Diagnosis awal amat penting untuk dapat ditegakkan agar penyakit dapat diterapi dengan adekuat untuk mencegah timbulnya penyakit yang mungkin terjadi. Masalah yang terjadi pada pasien demam tifoid diantaranya yaitu hipertermi dan dapat terjadi penurunan kesadaran, nyeri pada ulu hati yang disebabkan karena proses inflamasi pada usus, kekurangan volume cairan, gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan dan dapat terjadi resiko infeksi.

  Fenomena inilah yang menarik kami untuk mengadakan penyusunan makalah dengan dan Demam Tifoid” dengan harapan karya ini dapat dipakai untuk mengetahui tentang diare demam tifoid lebih lanjut.

  1.2 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari makalah ini kami bedakan menjadi tujuan umum dan tujuan khusus.

  Untuk tujuan umum dari penyusunan makalah ini yaitu untuk memberikan pemahaman mengenai gangguan system pencernaan pada anak dengan bahasan diare dan typoid, dan untuk pencernaan diare dan demam Tifoid . Sedangkan tujuan khususnya yaitu:

  1. Mengetahui mengenai pengertian, faktor-faktor penyebab, epidemiologi, etiologi, pathogenesis, patofisiologi, gambaran klinis dan komplikasi yang terjadi pada penyakit diare dan typoid.

  2. Mengetahui pengkajian pada pasien dengan gangguan sitem pencernaan diare dan demam tifoid, mengetahui cara menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan sitem pencernaan diare dan demam tifoid, dapat mengetahui cara membuat rencana tindakan keperawatan pada pasien dengan gangguan sitem pencernaan diare dan demam tifoid, dan dapat mengetahui cara keperawatan dan mengevaluasi pasien dengan gangguan sistem pencernaan diare dan demam tifoid.

  1.3 Manfaat Penulisan

  Adapun manfaat penulisan dari makalah yang kami susun adalah sebagai berikut:

  1. Manfaat pengetahuan Menambah keragaman ilmu pengetahuan bagi dunia keperawatan umumnya, khususnya adalah keperawatan anak.

  2. Manfaat pendidikan Memberikan referensi tentang tingkat perkembangan anak dalam dunia pendidikan keperawatan anak.

  3. Manfaat praktis

  a. Bagi profesi Sebagai salah satu sumber literature dalam pengembangan bidang profesi keperawatan khususnya tentang penyakit diare dan emam tifoid pada anak.

  b. Bagi orang tua Memberikan masukan kepada orang tua khususnya ibu dalam mengasuh anak saat terserang penyakit diare dan demam typhoid.

  c. Bagi peneliti Menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang proses keperawatan dan perkembangan anak.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Teoritis

  Saluran cerna berperan dalam serangkaian proses : yakni proses ingesti makanan, proses digesti makanan yang dibantu oleh getah pencernaan yang dihasilkan oleh kelenjar ludah, hati berlangsung mulai dari mulut sampai ke rectum. Massa yang berupa bolus hasil campuran makanan dan getah pencernaan di dorong / digerakan ke arah anus, sisa dari masa yang tidak diserap akan dikeluarkan dari anus (defekasi) berupa tinja.

  Gangguan pada saluran pencernaan pada bayi dan anak dapat disebabkan oleh kelainan bawaan atau di dapat. Gangguan akibat kelainan yang di dapat disebabkan trauma atau adanya infeksi baik pada saluran pencernaan atau di luar saluran cerna. Kelainan bawaan dapat terjadi pada mulut, esophagus, pylorus, dan gangguan pasase di daerah duodenum, atresia rekti , dan anus imperforate, penyakit hirschsprung, obstruksi biliaris, dan omfalokel. Sedangkan gangguan akibat infeksi dapat disebabkan oleh jamur (Candida albicans); basil coli (Escherichia coli); virus ; basil : Salmonella, Shigella, Vibrio cholerae dan parasit.

  Berbagai gangguan saluran cerna yang sering terjadi pada anak diantaranya adalah diare dan typhoid, penyakit tersebut dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna dan reaksi pertahanan tubuh yang bersifat akut akan mengakibatkan berbagai gejala dan komplikas sehingga akan menstimulasi terjadinya perubahan-perubahan pada saluran pencernaan itu sendiri. Diare dapat disebabkan oleh berbagai infeksi, selain penyebab lain seperti malabsorbsi. Penyakit diare terutama pada bayi perlu mendapatkan tindakan secepatnya karena dapat membawa bencana bila ditanggulangi terlambat. Makanan dan minuman yang terkontaminasi seperti makanan basi dan beracun, merupakan salah satu faktor penyebab timbulnya penyakit diare, sehingga penyakit ini dianggap sangat rentan terhadap anak-anak yang sedang melalui masa pertumbuhan dan perkembangan. Komplikasi kehilangan yang akan ditimbulkan akibat diare diantaranya adalah : dehidrasi ( ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonic, atau hipertonik ), renjatan hipovolemik, hipokalemia ( dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia, perubahan elektrokardiogram ), hipoglikemia, intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim lactase, kejang, malnutrisi energy protein ( akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik ).

  Sama halnya dengan typhoid, Demam Tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang di tandai dengan bakteremia, perubahan pada system retikuloendotelial yang bersipat difus, pembentukan mikroabses dan ulseri Nodus Payer di distar ileum. Kriteria demam tifoid yaitu penyakit infeksi akut yang di sebabkan salmonella typhi, di tandai adanya demam 7 hari atau lebih, gejala saluran pencernaan dan gangguan pada system saraf pusat (sakit kepala, kejang dan gangguan kesadaran).

2.2. Diare

  2.2.1. Pengertian Diare

  Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, dengan konsistensi encer, dapat berwarna hijau, atau dapat pula bercampur lender dan darah atau lender saja.

  Diare merupakan gejala yang terjadi karena kelainan yang melibatkan fungsi pencernaan, penyerapan, dan sekresi. Diare di sebabkan oleh transfortasi air dan elektrolit yang tahunnya, dan 20% dari seluruh kematian yang hidup di Negara berkembang berhubungan dengan diare serta dehidrasi. Gangguan diare dapat melibatkan gangguan lambung dan usus (gastroenteritis), usus halus (enteritis), kolon (colitis),atau kolon dan usus (entrokolitis). Diare biasanya diklasifikasikan sebagai diare akut dan kronis.

  Diare akut merupakan penyebab utama keadaan sakit pada anak-anak balita. Diare akut di definisikan sebagai keadaan peningkatan dan perubahan tiba-tiba frekuensi defekasi yang sering di sebab kab oleh agens infeksius dalam traktus GI. Keadaan ini dapat menyertai infeksi saluran nafas atas (ISPA), atau sluran kemih (ISK), terapi antibiotic,atau pemberian obat pencahar (laksativ). Diare kronis di definisikan sebagai keadaan meningkatnya frekuensi dan kandungan air dalam feses dengan lamanya sakit lebih dari 14 hari. Kerap kali diare kronis terjadi karena keadaan kronis seperti sindrom malabsorbsi, penyakit inflamasi usus,defisiensi kekebalan, keracunan makanan,intoleransi laktosa atau diare nonspesifik yang kronis, atau akibat dari penatalaksanaan diare akut yang tidak memadai.

  2.2.2. Faktor-faktor Penyebab Diare

  Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor diantaranya :

  1. Faktor infeksi

  a. Infeksi enteral : Infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Meliputi infeksi enternal sebagai berikut : Infeksi enternal : Vibrio, E.Coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dan sebagainya. Infeksi Virus : Enterovirus (Virus ECHO, coxsackie, Poliomyelitis), Adeno virus, Rotavirus, Astrovirus, dan lain-lain . Infeksi parasit : Cacing (Ascaris, Trihuris, okyuris, strongyloide) ; Protozoa (Entamoeba histolytika, Giardian Lambli, Trichomonas hominis). Jamur (Candida Albicans).

  b. Infeksi parenteral : ialah infeksi di luar alat pencernaan makanan seperti : otitis media akut (OMA), tonsilitas / tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun. c. Faktor Malabsorbsi Malabsorbsi karbohidrat disakarida ( intoleransi laktosa, maltose, dan sukrosa ), monosakarida ( intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa ). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering adalah intoleransi laktosa. Malabsorbsi lemak. Malabsorbsi protein.

  d. Faktor makanan Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan

  e. Faktor psikologis Rasa takut dan cemas ( jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar ).

  2.2.3. Epidemiologi

  Diare ISPA dan penyakit-penyakit yang dapat di cegah dengan imunisasi merupakan tiga penyebab utama kematian pada golongan umur balita. Berbagai factor memepengaruhi kejadian diare diantaranya adalah factor lingkungan, gizi, kependudukan, pendidikan, keadaan social ekonomi dan perilaku masyarakat.

  Faktor lingkungan yang di maksud adalah kebersihan lingkungan dan perorangan seperti kebersihan putting susu, kebersihan botol susu dan dot susu, maupun kebersihan air untuk mengolah susu dan,makanan. Factor gizi misalnya adalah tidak di berikannya makanan tambahan maskipun anak telah berusia 4-6 bulan, factor pendidikan yang utama adalah pengetahuan Ibu tentang masalah kesehatan. Factor kependudukan menunjukan bahwa insidens diare lebih tinggi pada penduduk perkotaan yang padat dan miskin atau kumuh. Sedangkan factor perilaku orang tua dan masyarakat misalnya adalah kebiasaan ibu yang tidak mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan, setelah buang air besar atau membuang tinja anak. Kesemua factor yang tersebut di atas terkait dengan factor ekonomi masing-masing keluarga.

  2.2.4. Etiologi

  Kebanyakan mikroorganisme pathogen penyebab diare disebarluaskan lewat jalur fekal oral melalui makanan atau air yang terkontaminasi atau di tularkan antar manusia dengan kontak yang erat. Kurang nya air bersih, tinggalnya berdesakan, hygiene yang buruk, kurang gizi dan sanitasi yang jelek merupakan factor resiko utama, khususnya untuk terjangkit infeksi bakteri atau parasit yang patogen. Peningkatan insidensi dan beratnya penyakit diare pada bayi juga berhubungan dengan perubahan yang spesifik menurut usia pada kerentanan terhadap mikroorganisme patogen. Sistem kekebalan bayi belum pernah terpajan dengan banyak mikroorganisme patogen sehingga tidak mempunyai antibody pelindung yang di dapat.

  Rotavirus merupakan agen yang paling penting yang menyebabkan penyakit diare disertai dehidrasi pada anak-anak kecil di seluruh dunia. Infeksi rotavirus menyebabakan sebagian perawatan di rumah sakit karena diare berat bagi anak-anak kecil dan merupakan

  

Lamblia dan Cryptosporidium merupakan parasit yang paling banyak menimbulkan diare

  infeksius akut. Pemakaian antibiotic juga berkaitan dengan diare. Antibiotik dapat mengubah flora usus yang normal, dan penurunan jumlah bakteri kolon akan mengakibatkan absorpsi karbohidrat yang berlebihan serta diare osmotic.

  2.2.5. Patogenesis

  Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah : Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi sehinggaterjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga diare.

  2. Gangguan sekresi Akibat rangsangan tertentu ( misalnya toksin ) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.

  3. Gangguan sekresi Akibat rangsangan tertentu ( misalnya toksin ) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.

  4. Gangguan motilitas usus Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan selanjutnya timbul diare pula.

  2.2.6. Patofisiologi

  Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi :

  1. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolic, hipokalemia)

  2. Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurangt, pengeluaran bertambah).

  3. Hipoglikemia 4. Gangguan sirkulasi darah.

  2.2.7. Gambaran Klinis

  Mul-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair, mungkin disertai lendir atau lendir darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau – hijauan karena bercampur dengan cairan empedu. Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama diabsorbsi oleh usus selama diare. Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila pasien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, gejala dehidrasi mulai nampak, yaitu berat badan turun, turgor berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung ( pada bayi , selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.

2.2.8. Komplikasi kehilangan akibat diare 1. Dehidrasi ( ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonic, atau hipertonik ).

  3. Hipokalemia ( dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia, perubahan elektrokardiogram ).

  4. Hipoglikemia.

  5. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim lactase.

  6. Kejang, 7. Malnutrisi energy protein ( akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik ).

2.3. Tifoid

  2.3.1. Pengertian

  Demam tifoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran. Penyebab penyakit ini adalah Shalmonella typhosa, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora.

  2.3.2. Faktor – faktor penyebab tifoid

  Manusia merupakan satu-satu nya sumber penularan alami salmonella tyfhi, melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan seorang penderita demam typoid atau karier kronis. Transmisi kuman terutama dengan cara menelan makan atau air yang tercemar tinja manusia. Epidemi demam typoid yang berasal dari sumber air yang tercemar merupakan masalah yang paling utama. Transmisi secara kongenital dapat terjadi secara transplasental dari seorang ibu yang mengalami bakteriemia kepada bayi dalam kandungan, atau tertular pada saat di lahirkan oleh seorang ibu yang merupakan karier typoid dengan rute fekal oral. Seorang yang telah terinfeksi salmonella typhi dapat karier kronis dan mengekresikan mikro organis selama beberapa tahun.

  2.3.3. Epidemiologi

  Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai secara luas di daerah tropis dan subtropics terutama di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak memadai dengan standar hygiene dan sanitasi yang rendah. Beberapa hal yang mempercepat terjadinya penyebaran minum, dan standar hygiene industry pengolahan makanan yang masih rendah titik menurut pang, selain karena meningktnya urbanisasi, demam tifoid masih terus menjadi masalah karena beberapa factor lain yaitu, penyediaan air bersih yang kurang memadai, adanya strain yang resisten terhadap antibiotic, masalah pada identifikasi dan penatalaksanaan karier, keterlambatan mambuat diagnosis yang pasti, pathogenesis dan factor virulensi. Demam tifoid disebakan oleh Salmonella Thypi yang dapat bertahan hidup lama di lingkungan kering dan beku, peka erhadap proses klorinasi dan pateurisasi pada suhu 63 C.

  2.3.4. Etiologi

  Etiologi demam tifoid adalah salmonella typhi yang berhasil di isolasi pertama kali dari seorang pasien demam typhoid oleh Geffkey di Jerman pada tahun 1884.mikroorganisme ini merupakan bakteri gram negative yang motil, bersifat aerob dan tidak membentuk spora.salmonella typhi dapat tumbuh dalam semua media, pada media yang selektif bakteri ini memfermentasi glukosa dan manosa,tetapi tidak dapat mempermentasikan laktosa. Bakteri ini mempunyai beberapa komponen antigen yaitu : 1. Antigen dinding sel (O) yang merupakan lipop[olisakarida dan berifat sfesifik group.

  2. Antigen flagella (H) yang merupakan komponen protein berada dalam flagella dan bersifat spesifik spesies.

  3. Antigen virulen (Vi) merupakan polisakarida dan berada di kapsul yang melindungi seluruh permukaan sel.

  4. Outer Membrane protein (OMP), Antigen OMP S. typhi merupakan bagian dari dinding terluar yang terletak di luar membran sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel dengan lingkungan sekitarnya.OMP berfungsi sebagai barier fisik yang mengendalikan zat dan cairan kedalam membrane sitoplasma. Salmonella thypi hanya dapat hidup pada tubuh manusia. sumber penularan berasal dari tinja dan urine karier, dari penderita pada fase akut dan penderita dalam fase penyembuhan.

  2.3.5. Patogenesis

  Infeksi terjadi pada saluran pencernaan. Basil diserap di usus halus, melalui pembuluh limfe halus masuk ke dalam peredaran darah sampai di organ organ terutama hati dan limpa. Basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam dalam hati dan limpa sehingga organ- organ tersebut akan membesar disertai nyeri pada perabaan. Kemudian basil masuk kembali ke dalam darah (bakteremia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid usus halus menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa di atas plak penyeri. Tukak tersebut dapat menyebabkan pendarahan dan perforasi usus. Gejala demam disebabkan oleh endotoksin, sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus.

  2.3.6. Patofisiologi Umumnya prognosis tifus abdominalis tidak begitu berbahaya, asal pasien cepat berobat.

  Mortalitas pada pasien yang dirawat ialah 6%. Prognosis menjadi berbahaya jika terdapat a. Demam tinggi ( hiperpireksia ) atau febris kontinua.

  b. Kesadaran sangat menurun ( sopor, koma atau delirium ) c. Terdapat komplikasi yang berat, misalnya dehidrasi dan asidosis perforasi.

  2.3.7. Gambaran Klinis Gambaran klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan dari pada orang dewasa.

  Masa tunas 10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan jika melalui minuman yang terlama 30 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala nafsu makan kurang. Gambaran klinis yang biasa ditemukan ialah :

  1. Demam Pada kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu, bersifat febris remiten dan suhu tidak tinggi sekali. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur naik setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua pasien terus berada dalam keadaan demam, pada minggu ketiga suhu berangsung turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.

  2. Gangguan pada saluran pencernaan. Pada mulut terdapat nafas berbau tidak seda, bibir kering dan pecah-pecah ( ragaden ). Lidah tertutup selaput putih kotor ( coated tongue ), ujung dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan perut kembung ( meteorismus ). Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya sering terjadi konstipasi tetapi juga dapat diare atau normal.

  3. Gangguan Kesadaran Umunya kesadaran pasien menurun walaupun tidak dalam yaitu apatis sampai somnolen., jarang terjadi sopor, koma atau gelisah ( kecuali penyakit berat dan terlambat mendapatkan pengobatan ).

2.3.8. Komplikasi Pada usus halus, umumnya jarang terjadi tetapi bila terjadi sering fatal.

  a. Pendarahan usus Bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Jika pendarahan banyak dapat terjadi melena, dapat disertai nyeri perut dengan tanda – tanda renjatan.

  b. Perforasi usus Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara di rongga peritoneum, yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara diantara hati dan diafragma pada foto rontgen abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak. c. Peritonitis Biasanya menyertai perforasi tetapi terdapat terjadi tanpa perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut, yaitu nyeri perut yang hebat, dinding abdomen tegang ( defence musculair ).

  Komplikasi di luar usus, terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis ( bakteremia ), yaitu meningitis, kolesistitis, ensefalopati, dll. Terjadi karena infeksi sekunde, yaitu bronkopneumonia.

BAB III PENUTUP

  1.1. Kesimpulan

  Makna pertukaran antara organisme manusia dengan lingkungan nya. Kelainan inflamasi dan malabsorpsi akan mengganggu keutuhan fungsi traktus gastrointestinal, di samping itu karena system dan sawar (barier) mukosa usus setelah bayi lahir masih berada dalam proses menuju maturitas, maka usus bayi sangat rentan terhadap ancaman infeksi. pada anak, dengan konsistensi encer, dapat berwarna hijau, atau dapat pula bercampur lender dan darah atau lender saja.

  Sedangkan demam tifoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran.

  Kedua penyakit ini dapat menyebar dengan mudah melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Tranmisi kuman dapat melalui cara menelan makanan atau minuman yang sudah tercemar sehingga transmisi atau penyebaran kuman ini sangat rentan terjadi pada anak- anak, maka tak heran ketika data departemen kesehatan RI, menyebutkan bahwa angka kesakitan diare di Indonesia saat ini adalah 230-330 per 1000 penduduk untuk semua golongan umur balita. Anka kematian diare golongan umur balita adalah sekitar 4 per 1000 balita. Sedangkan pada kasus deman tifoid prevalensi terdapat 91% kasus demam tifoid terjadi pada umur 3-19 tahun.

  Hal ini terjadi hampir 85 % dikarenakan kurang pedulinya masyarakat terhadap lingkungan yang bersih dan gaya hidup sehat, diantaranya paparan lingkungan yang patogenik, diet yang tidak memadai, dan malnutrisi yang menunjang penyebab timbulnya suatu penyakit.

  1.2 Saran

  Diharapkan makalah ini bisa memerikan masukan bagi rekan- rekan mahasiswa calon perawat, sebagai bekal terutama ketika melakukan praktik atau bekerja pada ruang perawatan anak, sehinga kami menyarankan agar teman-teman perawat membaca dan memahami isi makalah ini sehinga menjadi bekalkan bila menghadapi kasus yang kami bahas ini.

DAFTAR PUSTAKA

  Wong, Dona L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. ECG. Jakarta Donna, Medical Surgical Nursing, WB Saunders, 1991 Brunner / Suddarth, Medical Surgical Nursing, JB Lippincot Company, Philadelphia, 1984 Donna L.Wong, dkk.2002.Buku Ajar Leperawatan Pediatrik.Ed.6.Jakarta;EGC

Dokumen baru
Dokumen yang terkait
Tags

Gejala Sakit Kepala Pada Anak

Makalah Difteri Pada Anak

Makalah Kedudukan Anak Angkat Dalam Sist

Optimisasi Penempatan Recloser Pada Sist

Sakit Perut Berulang Pada Anak

Analisis Pengendalian Internal Pada Sist

Id Analisa Penggunaan Waterjet Pada Sist

Penjadwalan Shift Tenaga Kerja Pada Sist

Public Private Partnership Ppp Pada Sist

Makalah Keterampilan Motorik Halus Pada Anak Usia Dini

Makalah konsep pada anak sakit pada sist

Gratis

Feedback