Teknik cepat identifikasi lahan terbuka pasca tambang batubara menggunakan citra multi temporal dan multi spasial Di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan

Gratis

4
13
440
2 years ago
Preview
Full text
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanfaatan sumberdaya alam tambang di kawasan hutan telah lama dilakukan dan kegiatan pertambangan dan energi merupakan sektor pembangunan penting bagi Indonesia. Dampak lingkungan dari adanya pertambangan ada positif yaitu meningkatkan pendapatan ekonomi baik secara nasional maupun regional, namun juga meninmbulkan dampak negatif seperti perubahan lingkungan seperti degradasi hutan, berkurangnya luasan hutan, hilangnya topsoil dan perubahan secara hidrologi seperti kualitas air akibat polusi serta perubahan iklim secara mikro. Lebih lanjut menurut Kusnoto dan Kusumodirdjo (1995) dalam Qomariah (2003) kegiatan pertambangan selain meningkatkan pendapatan dan devisa negara juga berdampak terhadap lingkungan antara lain menyebabkan penurunan produktivitas tanah, pemadatan tanah, terjadinya erosi dan sedimentasi, terganggunya flora dan fauna, serta terganggunya keamanan dan kesehatan penduduk, terjadinya perubahan iklim mikro. Kerusakan akibat pertambangan dapat terjadi selama kegiatan pertambangan maupun pasca pertambangan. Dampak lingkungan sangat terkait dengan teknologi dan teknik pertambangan yang digunakan. Sementara teknologi dan teknik pertambangan tergantung pada jenis mineral yang ditambang dan kedalaman bahan tambang, misalnya penambangan batubara dilakukan dengan sistem tambang terbuka, sistem dumping (suatu cara penambangan batubara dengan mengupas permukaan tanah). Berdasarkan hasil inventarisasi BPKH wilayah V Banjarbaru tahun 2006 terdapat 225 perusahaan tambang yang arealnya masuk kawasan hutan yang terdiri dari 26 perusahaan pemegang ijin perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara atau PKP2B dan 199 perusahaan pemegang ijin kuasa pertambangan atau KP. Sedangkan yang memperoleh ijin pinjam pakai kawasan hutan sampai tahun 2005 baru ada 15 instansi/perusahaan swasta. Total areal tambang yang masuk kawasan hutan adalah ± 442.371,83 ha yang terdiri dari hutan produksi (HP) seluas 275.136,1 ha (62.20 %), hutan produksi terbatas 2 (HPT) 40.288,39 ha (9,11 %), hutan produksi konversi (HPK) 20.670,26 ha (4,67 %), hutan lindung (HL) 48.680,08 ha (11,00 %), suaka alam (SA) 57.597,00 ha (13,02 %) (BPKH V,2006). Pada tahun 2002 produksi batubara di Kalimantan Selatan mencapai 13 juta ton per tahun. Seiring dengan meningkatnya kegiatan pengusahaan batubara resmi, juga meningkat kegiatan Pertambangan Tanpa Ijin (PETI) batubara di berbagai lokasi penambangan Kabupaten Banjar sebagai salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan peningkatan intensitas kegiatan PETI batubara yang berkembang cepat seiring dengan perubahan situasi dan kondisi ekonomi politik di tanah air. Pada tahun 1997 diperkirakan terdapat 157 perusahaan perorangan PETI batubara di Kalimantan Selatan, meningkat menjadi 445 pengusaha ,/ peorangan pada tahun 2000. (Qomariah, 2003). Kajian mengenai dampak pertambangan terbuka telah dilakukan oleh Toren dan Unal (2001) dengan menggunakan citra landsat multi temporal untuk identifikasi dan monitoring dampak pertambangan terbuka terhadap lingkungan di provinsi Manisa Turki. Kemudian Limpitlaw (2003) dan Lau et al. (2005) menggunakan citra landsat multi temporal untuk menurunkan indeks Tasseled Cap atau Kauth Thomas untuk monitoring dampak kegiatan pertambangan. Torres dan Vera (2005) menggunakan metode change detection menggunakan citra multi temporal dan memakai NDVI sebagai dasar untuk menentukan kerusakan yang terjadi secara cepat di areal hutan akibat aktivitas pertambangan di daerah San Luisi, Meksiko. Lebih lanjut Shimabukuro dan Filho (2003) melakukan kajian untuk monitoring pertambangan menggunakan kombinasi citra landsat dan radar oleh. Citra Landsat-5 TM tahun 1987, 1991, 1994, and 1996 and citra radar JERS-1 SAR tahun 1993, 1994, and 1996. Sementara Wenbo, Lijing dan Yang. (2008) menggunakan teknik fusi antara citra Landsat TM dan SAR digunakan menyediakan solusi yang lebih baik dalam monitoring lingkungan di lahan tambang di lahan pertambangan di Cina dan menyediakan basis data yang lebih baik untuk sumberdaya tambang. Berdasarkan kajian penelitian terdahulu tersebut di atas maka pada penelitian ini memfokuskan untuk melihat adanya lahan terbuka yang secara visual tampak pada citra akibat aktivitas pertambangan. Adanya lahan terbuka 3 yang secara visual tampak pada citra akibat aktivitas pertambangan terbuka seharusnya bisa dibedakan dan diidentifikasi secara cepat dengan lahan terbuka akibat aktivitas lain seperti perkebunan, pembukaan lahan, jalan dan pemukiman 1.2 Rumusan Permasalahan Menurut Qomariah (2003) kegiatan Pertambangan Tanpa Ijin (PETI) batubara di kabupaten Baniar Propinsi Kalimantan Selatan berada di lahan kering dengan ketinggian 250-750 m dari permukaan laut yang dilakukan dengan sistem terbuka (open dumping) tanpa ada usaha rehabilitasi lahan, sehingga keadaannya saat ini sangat tidak memungkinkan untuk dijadikan sebagai lahan produktif. Hal ini terutama disebabkan terjadinya perubahan kondisi lahan secara keseluruhan serta penurunan kualitas lahan sehingga tidak mampu lagi untuk mendukung suatu pertumbuhan tanaman. Penambangan batubara dengan sistem terbuka selain berpengaruh terhadap struktur ekosistem, yaitu perusakan bentuk lahan karena timbunan tanah galian, terbentuknya cekungan-cekungan besar bekas galian tambang dan rusaknya vegetasi yang tumbuh di atasnya,serta berpengaruh terhadap organisme perairan. Sebab proses erosi yang terjadi di lahan pasca tambang menyebabkan proses sedimentasi dalam perairan dan dapat membahayakan kehidupan organisme yang ada di dalam perairan tersebut. Semakin tinggi produksi tambang maka akan semakin banyak kerusakan lingkungan yang akan ditimbulkannya (Qomariah, 2003). Ditinjau dari aspek lingkungan, kegiatan pertambangan Tanpa ljin (PETI) batubara sangat berpengaruh negatif terhadap kondisi lingkungan, karena menyebabkan hilangnya vegetasi dan populasi satwa liar akibat pembersihan lahan untuk ditambang, serta kerusahan lahan akibat penambangan seperti terjadinya perubahan bentuk lahan, penurunan kualitas tanah dan air akibat pengupasan lapisan tanah untuk menggali bahan tambang. Selain itu juga menyebabkan terjadinya erosi di lahan pasca tambang dan sedimentasi di bagian hilir. Rusaknya lingkungan akibat PETI ini semakin diperparah karena tidak ada tindakan dari pihak yang berwenang maupun kesadaran masyarakat 4 penambang sendiri baik untuk merehabilitasi lahan pasca tambang maupun untuk melakukan tindakan konservasi tanah dan air. Eksploitasi batubara dilakukan secara terbuka yaitu penambangan dengan cara mengupas permukaan tanah yang dilanjutkan dengan penggalian batubara, dan setelah selesai penambangan lapisan atas tanah (top soil) tidak dikembalikan ke tempat semula. Kegiatan penambangan batu bara tanpa tindakan untuk merehablitasi lahan setelah kegiatan berakhir dilakukan hampir pada semua lokasi pertambangan tanpa ijin, sehingga menimbulkan cekungan besar yang dikelilingi tumpukan anah bekas galian. Pada saat musim hujan cekungan ini membentuk danau dan kemudian karena erosi maka lahan bekas tambang mengalir ke daerah-daerah sekitarnya melalui sungai menutupi lahan pertanian/perkebunan sekaligus menimnbulkan sedimentasi di areal tersebut. Sehingga kegiatan pertambangan batubara yang dilakukan oleh penambangan tanpa ijin menimbulkan masalah lingkungan yang cukup serius. Analisis inderaja (remote sensing) dan analisis sistem informasi geografis dalam berbagai studi telah terbukti mampu mendeteksi keadaan lingkungan tertentu di suatu daerah secara cost-effective, antara lain karena cakupan areal yang dianalisis cukup luas. Beberapa komponen yang dapat dipantau antara lain adalah penutupan lahan dari waktu ke waktu, sebaran areal tambang, sebaran dan pola lahan terbuka akibat aktivitas penambangan illegal dan akibat aktivitas lain. Atas dasar permasalahan tersebut maka rumusan permasalahan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Apa metode yang cepat digunakan untuk deteksi cepat lahan terbuka di lahan pasca tambang batubara? 2. Bagaimana efisiensi metode cepat identifikasi lahan terbuka di lahan pasca tambang batubara diabandingkan metode ground survey? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Untuk mendapatkan metode cepat identifikasi lahan terbuka pada lahan pasca tambang batubara. 2. Untuk mengevaluasi efisiensi metode cepat identifikasi lahan terbuka di lahan pasca tambang batubara diabandingkan metode ground survey. 5 1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan pertama dapat bermanfaat untuk monitoring dampak pertambangan terbuka dengan terbukanya lahan hutan secara cepat. Kedua untuk memberikan informasi basis data lahan kritis yang berguna untuk rehabilitasi hutan dan lahan di kawasan hutan di kabupaten Banjar. 1.5 Kerangka Pemikiran Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi tambang batubara yang besar, sejak lima tahun terakhir kegiatan tambang khususnya batubara semakin marak dan tidak terkoordinasi dengan perencanaan kehutanan padahal sebagian besar kegiatan pertambangan berada di kawasan hutan. Berdasarkan data Departemen Energi dan Sumberdaya Manusia tahun 2008 propinsi Kalimantan Selatan mempunyai potensi tambang batubara sebesar 12,26 milyar ton dan menempati urutan ke-3 di Indonesia. Salah satu kendala dalam pengembangan lahan usaha tambang adalah adanya benturan kepentingan atau tumpang tindih penggunaan lahan disamping dampak negatif terhadap kerusakan lingkungan akibat adanya aktivitas usaha tambang tersebut. Kegiatan PETl batubara di kabupaten Banjar, Kalimantan Selalan menyebabkan pH tanah bekas tambang sangat rendah sehingga tidak dapat diusahakan lagi untuk budidaya tanaman. Hal ini disebabkan munculnya lapisan bawah tanah ke permukaan sehingga terjadi oksidasi pirit yang merupakan senyawa beracun dan hilangnya bahan organik akibat tidak adanya vegetasi (Qomariah,2003). Pemanfaatan sumberdaya lahan untuk pertambangan, pembalakan hutan, pertanian dan lain-lain menyebabkan kerusakan hutan sehingga fungsi hutan menjadi terganggu. Fungsi hutan dimaksudkan sebagai hutan lindung (fungsi lindung) yang menjaga keseimbangan ekosistem air, tanah, vegetasi dan mengatur keseimbangan iklim mikro, maupun fungsi konservasi. Kegiatan ini menyebabkan hilangnya hutan primer yang dapat menyebabkan perubahan pada iklim, kehilangan spesies, dampak terhadap hidrologi dan tanah, gangguan kesehatan, kehilangan hasil hutan, dampak terhadap ekonomi dan kehilangan estetika terhadap hutan. 6 Penambangan batubara yang tidak memperhatikan aspek lingkungan berupa pembersihan lahan dan pengupasan lapisan atas tanah akan menyebabkan terancamnya daerah sekitarnya dari bahaya erosi dan tanah longsor sebagai akibat dari hilangnya vegetasi penutup tanah. Pembukaan lahan secara besarbesaran juga menyebabkan teriadinya perubahan bentang alam (morfologi dan topografi) yaitu perubahan sudut panjang dan bentuk lereng. Pengupasan- pengupasan, penimbunan tanah, penutupan dan penggalian batubara menimbulkan perubahan pola drainase, debit air sungai dan kualitas air permukaan pada saat hujan (Qomariah,2003). Motloch (1993) dalam Yusuf (2008) menyatakan bahwa landskap dalam definisi kontemporer meliputi daerah yang masih liar dan daerah yang terhuni. Daerah yang masih liar adalah lanskap alami dan daerah yang berpenghuni adalah lanskap buatan. Lanskap juga berarti suatu keadaan pada suatu masa yang merupakan bagian ekspresi dan pengaruh dari unsur-unsur ekologi, teknologi dan budaya. Pada lahan pasca tambang terjadi perubahan kemampuan dari muka bumi, sehingga secara estetika tanah pasca tambang tidak baik, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Oleh karena itu, untuk medapatkan hasil kajian atau analisis yang baik cepat dan tepat diperlukan data yang representatif, akurat, dan mutakhir di mana teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis mampu melakukannya. Sehingga pada penelitian ini diharapkan akan menghasilkan suatu metode cepat deteksi lahan terbuka pada lahan pasca tambang batubara. 7 Gambar 1. Kerangka pemikiran penelitian BAB II KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 2.1 Letak dan Luas Kabupaten Banjar Kabupaten Banjar dengan luas wilayah 4.699 km2 merupakan kabupaten yang secara geografis terletak antara 20 49’ 55’’ sampai dengan 30 43’38’’ Lintang Selatan dan 1140 30’20’’ sampai 1150 35’37’’ Bujur Timur dengan batas-batas sebagai berikut : • Sebelah Utara : Kabupaten Tapin. • Sebelah Timur : Kabupaten Tanah Bumbu . • Sebelah Selatan: Kabupaten Tanah Laut • Sebelah Barat : Kota Banjarmasin dan kabupaten Barito Kuala. Kabupaten Banjar dengan ibukotanya Martapura terbagi menjadi 16 kecamatan dan 288 desa/kelurahan. Kabupaten Banjar dilewati oleh 4 (empat) buah sub DAS yaitu Sub DAS Riam Kanan, Sub DAS Riam Kiwa, Sub DAS Martapura dan Sub Das Barito Hilir yang semuanya bermuara ke induknya yaitu DAS Barito. Sungai-sungai yang mengalir pada sub-sub das tersebut antara lain Sungai Martapura, Sungai Riam Kanan, Sungai Riam Kiwa,Sungai Mangkaok, Sungai Alalak, Sungai Binuang dan lain-lain. Berdasarkan peta tanah eksplorasi tahun 1981 skala 1 : 1.000.000 dari Lembaga Penelitian Bogor, di wilayah kabupaten Banjar terdapat jenis tanah organosol gleihumus dengan bahan induk bahan organik alluvial dan fisiografi dataran sebesar 28,57% dari luas wilayah, tanah alluvial dengan bahan induk lahan alluvial dan fisiografi dataran sebesar 3,72%, tanah komplek podsolik merah kuning dan laterit dengan bahan induk batuan beku dengan fisiografi dataran sebesar 14,29%, tanah latosol dengan bahan induk batuan beku dan fisiografi intrusi meliputi 24.84% serta tanah kompleks podsolik merah kuning,latosol dengan bahan induk batuan endapan dan metamorf sebesar 28.57% Pembagian luas wilayah dan jumlah desa/kelurahan di Kabupaten Tanah Luat dapat dilihat pada Tabel 1. 9 Tabel 1. Pembagian luas wilayah kecamatan di kabupaten Banjar No. Kecamatan Luas Wilayah (km2) 82.48 % 1.79 Jumlah Desa (buah) 19 61.42 1.33 12 129.30 2.80 13 1 Aluh-aluh 2 Beruntung Baru 3 Gambut 4 Kertak Hanyar 81.30 1.76 26 5 Sungai Tabuk 147.30 3.19 21 6 Martapura 42.03 0.91 25 7 Martapura Timur 30.49 0.66 20 8 Martapura Barat 149.38 3.24 13 9 Astambul 216.50 4.69 22 10 Karang Intan 215.35 4.67 26 11 Aranio 1166.35 25.28 12 12 Sungai Pinang 1019.50 22.10 15 13 Pengaron 378.25 8.20 12 14 Sambung Makmur 134.65 2.92 7 15 Mataraman 148.40 3.22 15 16 Simpang Empat 611.30 13.25 30 Jumlah 469.00 Sumber : BPS Kabupaten Banjar (2007) 2.2 Keadaan Geologi Mengacu pada peta geologi lembar Banjarmasin skala 1 : 250.000 (Sikumbang dan R. Heryanto, 1994), secara regional wilayah kabupaten Banjar berada dalam sub Cekungan Asam-asam yang merupakan bagian dari Cekungan Barito. Batuan yang terdapat di cekungan Asam-asam adalah sebagai berikut : 1. Batuan Ultramafik dan skis batuan ini merupakan batuan tertua yaitu berumur Yura tengah-kapur awal. Batuan Ultramafik terdiri dari : herzburgit wehrile, weksterliter piroksinit, dan serpentinit. Sedangkan skis teridiri dari : Kuarsa, skis hornblenda, skis klorit, dan filit. 10 2. Kelompok Alino Batuan ini terdiri dari formasi pundak dan formasi keramaian yang berumur kapur akhir, dan mendidih secara tidak selaras batuan ultranafik dan skis. Formasi pundak terdiri dari : lava, dengan selang-seling konglomerat/breksi dengan batu pasir, basalt porfir, ignimbrit, batuan malihan dan batu lempung, setempat terdapat sisipan batu gamping. 3. Formasi Tanjung Formasi Tanjung terdiri dari batu pasir kuarsa dengan sisipan batulempung di bagian atas dan sisipan batubara di bagian bawah, setempat dijumpai lensa batu gamping. Batuan ini berumur eosen dan mendidih secara tidak selaras batuan kelompok alino. 4. Formasi Berai Formasi berai terdiri dari batu gamping dengan sisipan napal, berumur oligosen miosen awal dan mendidih secara selaras formasi tanjung di atas. 5. Formasi Warukin Formasi warukin terdiri dari perselingan batu pasir dan batu lempung dengan sisipan batubara, berumur miosen tengah dan mendidih secara selaras formasi berai di atas. 6. Formasi Dahor Formasi dahor terdiri dari batu pasir, lanau, dan batu lempung dengan sisipan lignit, berumur miasen akhir dan mendidih secara tidak selaras formasi warukin diatas. 7. Formasi Akuveilen Satuan akuveilen ini terdiri dari kerikil, pasir, lanau, lempeng dan lumpur yang merupakan satuan termuda dan mendidih secara erosisional formasi dahor di atas. Keadaan batuan di kabupaten Banjar masuk pada Formasi Tanjung (Tet) berumur Eosen berada di tengah lokasi penjyelidikan dimana di bagian Barat dari Formasi Binuang (Tob) dan Aluvium berumur antara Kapur Akhir sedangkan sebelah Timur llkasi adalah Formasi Manunggul berumur antara Kapur Akhir dan Kapur Awal tersusun atas konglomerat, dengan sisipan batupasir dan batulempung. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2. 11 Tabel 2 Keadaan geologi di kabupaten Banjar Umur Formasi Kwarter Deskripsi Aluvial Sedimen (Q) sedimen tidak kompak, detritus, konglomerat, lempung, dsb. Pliosen Dahor (P) Batuan detritus, konglomerat serpih batubara, batulempung. Formasi pembawa batubara (berkadar Tersier Neogen Miosen gambut lignit atau Warukin bawa (M) batubara), batu pasir, serpih, perselingan dalam di rank batupasir-serpih, batu lempung. Neogen– Miosen – Undivided Paeogen Ologosen (EO) Serpih, perselingan batupasir dan serpih, batulempung dan marmer Batugamping, Oligosen Berai (O) marmer dan batulempung, batu gamping sebagai lapisan penentu Oligosen– Undivided Marmer, Eosen (EO) serpih dan batugamping Formasi pembawa batubara Eosen Tanjung (E) (Formasi sasaran), batupasir, serpih, perselingan batupasir dan serpih, seam batubara, konglomerat Batuan beku dasar, batupasir Pra – Tersier Kapur Batuan silikan, batuan klastis hasil Jura Dasar (B) gunung api, batuan sedimen, batuan metamorf Sumber :Sikumbang dan R. Heryanto (1994) 12 2.3 Perusahaan Tambang Di Kabupaten Banjar Berdasarkan data dinas pertambangan dan energi propinsi Kaliamntan Selatan dan dinas pertambangan dan energi kabupaten Banjar tahun 2008, di kabupaten Banjar terdapat 29 perusahaan yang melakukan aktivitas tambang dengan rincian seperti Tabel. Tabel 3 Perusahaan tambang di kabupaten Banjar No. Nama Perusahaan Luas Jenis Ijin ( ha ) 1 PT Sumber Kurnia Jenis Jenis Kegiatan Tambang Status 10920 PKP2B Eksploitasi Batubara Aktif 1767 PKP2B Eksploitasi Batubara Aktif 6960 PKP2Bd Eksploitasi Batubara Aktif 752 PKP2B Eksploitasi Batubara Aktif 825 PKP2B Eksploitasi Batubara Aktif 1575 PKP2B Eksploitasi Batubara Aktif 2924.86 PKP2B Eksploitasi Batubara Aktif 1232 PKP2B Eksploitasi Batubara Aktif 6625 KP Eksploitasi Batubara Aktif 192 KP Eksploitasi Batubara Aktif 196 KP Eksploitasi Batubara Aktif 199.8 KP Eksploitasi Batubara Aktif 90.65 KP Eksploitasi Batubara Aktif Buana 2 PT Antang Gunung Meratus 3 PT Bangun Banua Persada Kalimantan 4 PD Baramarta Blok I PD Baramarta Blok I Blok II 5 PT Kadya Caraka Mulia Blok I PT Kadya Caraka Mulia Blok II 6 PT Tanjung Alam Jaya 7 PT Baramulti Sukses Sarana 8 CV Makmur Bersama 9 PT Sumpol Megah 10 CV Gunung Sambung Blok I CV Gunung Sambung Blok II 13 No. 11 Nama Perusahaan PT Putera Bara Luas Jenis Jenis Jenis Status ( ha ) Ijin Kegiatan Tambang 91 KP Eksploitasi Batubara Aktif 198 KP Eksploitasi Batubara Aktif 114 KP Eksploitasi Batubara Aktif 198 KP Eksploitasi Batubara Aktif Mitra 12 PT Rahmat Bara Utama 13 PT Nusantara Citra Jaya Abadi 14 CV Dasar Karya 15 KUD Panca Bakti 85.72 KP Eksploitasi Batubara Aktif 16 CV Cinta Puri 5000 KP Eksplorasi Batubara Aktif Pratama 17 194 KP Eksplorasi Batubara Aktif 1073 KP Eksplorasi Batubara Aktif 19 CV Intan Karya Mandiri Primkopad Dim 1006 Martapura CV Baratama 682 KP Eksplorasi Batubara Aktif 20 PT Usaha Kawan 3800 KP Eksplorasi Batubara Aktif 5000 KP Eksplorasi Biji Besi Aktif 4750 KP Eksplorasi Biji Besi Aktif 5000 KP Eksplorasi Biji Besi Aktif 100 KP Eksplorasi Mangan Aktif 11970 KP Eksplorasi Intan Aktif 2 KP Eksplorasi Batu Aktif 18 Bersama 21 PT Kandis Besi Kalimantan 22 PT Wesi Arthalokatama 23 PT Kalimantan Power Stone 24 PT Maju Mulia Makmur 25 PT Indo Mineratama 26 PT HM.Thaher Gunung 27 28 29 PD Aneka Usaha Barakat PT Bintang Bersaudara Putra PT Borneo Inti Persada 15 KP Eksplorasi 2 KP Eksplorasi 199 KP Eksplorasi Batu Gunung Batu Gunung Batubara Sumber : 1. Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2008. 2. Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Banjar Tahun 2008. Aktif Aktif Aktif 14 Berdasarkan hasil telaahan data luas areal perusahaan pemegang ijin PKP2B dan KP dengan kawasan hutan propinsi Kalimantan Selatan (SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 453/KPts-II/1999 Tanggal 17 Juni 1999) terdapat tumpang tindih kawasan hutan pada beberapa areal tambang perusahaan pemegang ijin PKP2B dan KP yang dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Hasil telaahan tumpang tindih kawasan hutan dengan areal pertambangan No. 1. 2. 3. 4. Nama Perusahaan Luas ( ha) Areal yang Masuk (ha) HP HL SA PT Indo Mineratama 11.970 10.308 1686 PD Baramarta Blok1 752 458 291 PD Baramarta Blok2 825 321 537 PT Antang Gunung 1767 409 Meratus (AGM) 5. PT Bagun Banua Persada 6960 335 82 Kalimantan 6. PT Kandis Besi 5000 4963 Kalimantan 7. PT Nusantara Citra Jaya 114 109 5 Abadi (NCJA) 8. PT Rahmat Bara Utama 198 232 9. PT Wesi Arthalokatama 4750 1028 3406 10. PT HM.Thaher 2 2 Luas total (ha) 32.338 18.163 4321 1688 Keterangan : HP = Hutan Produksi, HL=Hutan Lindung, SA=Suaka Alam. Luas total (ha) 11.994 749 859 409 417 4963 114 232 4433 2 24.172 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian tian Lokasi penelit litian dilaksanakan di kabupaten Banjar, Provi ovinsi Kalimantan Selatan. Sedangkann kegiatan persiapan dan pengolahan dataa dilaksanakan di laboratorium inventar ntarisasi sumberdaya hutan Fakultas Kehutana nan IPB. Sebagai ilustrasi disajikann peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar bar 2.   !  " "# # $ $%&''(''' Gambar 2. Lokasi Penelitian Keterangan :                                         16 3.2 Waktu Penelitian Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan dimulai pada bulan April s/d Juni 2009. Tahap Persiapan, pengolahan dan analisis data awal dilaksanakan mulai April 2009, sedangkan pengambilan data lapangan dilaksanakan dari bulan April sampai dengan Mei 2009. 3.3 Peralatan dan Bahan Peralatan yang diperlukan antara GPS (Global Positioning System), Kompas, GPS, meteran, alat tulis menulis, kamera, software Arc-View 3.2 dan Erdas Imagine versi 9.1, komputer dan printer. Bahan yang digunakan adalah, data citra satelit tahun 2003-2007, peta RBI (Rupa Bumi Indonesia), dan petapeta tematik pendukung lainnya. 3.4 Prosedur Penelitian 3.4.1 Tahap Persiapan Tahapan ini merupakan tahap awal dari penelitian, dengan kegiatan sebagai berikut. 1. Studi pustaka, untuk memperoleh pustaka/literatur/landasan teori, hasil penelitian yang pernah dilakukan dan data sekunder. 2. Menyiapkan data yang diperlukan serta menyiapkan/membuat peta-peta sebagai berikut. 1.) Peta RBI yang memuat informasi jalan, sungai, pemukiman dan informasi dasar lainnya di wilayah kabupaten Banjar. 2.) Peta wilayah areal Pertambangan yang ada di Kabupaten Banjar 3.) Peta kawasan hutan di kabupaten Banjar 4.) Citra resolusi sedang (Landsat TM tahun 2003 path row 117 62 dan SPOT 4 XS tahun 2006 path row 300 356 dan 300 357) dan dibantu dengan citra resolusi tinggi yaitu SPOT 5 XS tahun 2007 dan Quickbird tahun 2006) yang mencakup wilayah kabupaten Banjar . Wilayah studi dapat dilihat pada gambar 3. 17 Citra Landsat TM tahun 2003 Citra SPOT 4XS tahun 2006 Gambar 3. Citra Landsat TM tahun 2003 dan SPOT 4XS tahun 2006 wilayah studi. 5.) Peta-peta pendukung lainnya 6.) Data pengamatan lapangan. 3. Menyiapkan peralatan yang diperlukan seperti : Software Arc View, Erdas Imagine versi 9,1 dan perangkat komputer. 3.4.2 Pengolahan Citra Satelit Landsat TM dan SPOT Informasi yang dihasilkan oleh citra satelit Landsat TM dan SPOT memegang peranan penting dalam penelitian ini. Penyadapan informasi dari citra digital dengan cara transformasi indeks harus dilakukan koreksi terlebih dahulu dengan koreksi geometrik dan koreksi radiometrik. Citra satelit Landsat dalam perekamannya belum mampu melakukan koreksi radiometrik sendiri sehingga koreksi radiometrik harus dilakukan sendiri oleh pengguna. Sementara itu kesalahan geometri diakibatkan adanya sistem orbital dari satelit yang polar 18 sehingga. Kesalahan tersebut dikoreksi dengan menggunakan peta topografi dengan menggunakan titik kontrol-titik kontrol yang akurat. Koreksi Geometrik Koreksi ini mencakup rujukan titik-titik tertentu pada citra ke titik-titik yang sama di medan maupun di peta. Pasangan titik-titik tersebut kemudian digunakan untuk membangun fungsi-fungsi matematis yang menyatakan hubungan antara posisi sembarang titik pada citra dengan titik obyek yang sama pada peta maupun lapangan. Perubahan posisi piksel juga berakibat terjadi perubahan informasi spektralnya, untuk itu diperlukan interpolasi nilai spektral selama transformasi geometri yang disebut resampling. Teknik koreksi geometrik yang digunakan adalah dengan menggunakan referensi koordinaat citra digital Landsat TM Tahun 2003 Propinsi Kalimantan Selatan. Relokasi piksel menggunakan algoritma polinomial, sedangkan interpolasi nilai spektral yaitu algoritma nearest neighbour. Algoritma nearest neighbour diterapkan dengan hanya mengambil kembali nilai piksel terdekat. Proses resampling pada penelitian ini menggunakan algoritma Nearest Neighbour karena algoritma ini dalam proses resampling hanya menggunakan tetangga terdekat sehingga tidak terlalu mengubah nilai piksel asli sehingga nilai baru hasil interpolasi tersebut masih mewakili nilai piksel aslinya. Residual errors (dx,dy) dapat digunakan untuk menganalisa GCP (ground control point) atau titik control lapangan mana yang memberi kontribusi terbesar terhadap error. Sedangkan deviasi antara lokasi suatu titik pada input dan lokasi titik tersebut pada output, digambarkan dengan kesalahan rata-rata akar kuadrat atau Root Mean Square Error (RMSE). Akurasi keseluruhan (overall accuracy) dari transformasi biasanya diekspresikan dengan RMSE yang menghitung nilai rata-rata dari masing-masing residu. RMSE yang tinggi menunjukkan bahwa titik acuan dan titik acuan tidak berhubungan pada lokasi yang sama, dengan demikian output yang dihasilkan tidak akan teregisterasi tidak memperhitungkan distribusi spasial dari GCP. RMSE hanya valid pada areal yang terikat oleh GCP. Pemilihan GCP sebaiknya menentukan titik-titik yang tersebar secara merata dalam sebuah citra. Secara umum RMS yang diijinkan adalah 0,5 piksel (Jaya, 19 2007) dan sekaligus membuat citra baru dengan sistem koordinat yang ditentukan yang dalam hal ini menggunakan datum WGS 1984 dengan sistem koordinat UTM (universal transverse mercator). Kesalahan rata-rata atau Root Mean Square Error (RMSE) dari proses koreksi geometrik dihitung dengan formula sebagai berikut : RMS error = 2 ( X r − X i ) + (Yr − Yi ) 2 (Jensen, 2005 ; Jaya ,2005). Keterangan : Xr , Yr = Koordinat GCP pada sumbu X dans Y pada data acuan Xi , Yi = Koordinat GCP pada sumbu X dan Y pada data asli Berdasarkan Tabel 5 hasil rektifikasi atau koreksi citra SPOT 4 XS Tahun 2006 yang didapatkan dengan nilai Root Mean Square Error (RMSE) 0.225. Nilai RMSE ini teleh memenuhi kriteria di mana RMSE yang ada harus di bawah 0.5. Tabel 5. Tabel hasil koreksi geometrik citra SPOT XS tahun 2006                                                                                                  0.057     0.366 1.370      0.222 0.848         0.140 0.534             0.410 1.567              0.239 0.912                 0.270 1.030                    0.082 0.314                       0.050 0.192                     0.415 1.585      0.225      0.290 Citra Landsat TM tahun 2003 dan SPOT 4 XS tahun 2006 kemudian dipotong seluas areal kajian yang dalam hal ini termasuk dalam wilayah administrasi kabupaten Banjar propinsi Kalimantan Selatan. 3.4.3 Pembuatan Citra Sintetis dengan Analisis Komponen Utama Untuk deteksi lahan terbuka di lahan pasca tambang digunakan analisis pendekatan simultan (simultanous analysis of multitemporal image) (Singh,1989 ; Jaya, 2005). Jaya (2005) menjelaskan bahwa pada metode MPCA (Multidate 20 Principal Component Analysis) digunakan untuk mengevaluasi wilayah yang berubah (change) dengan menggunakan konsep yaitu : a. Komponen Stable Brightness (SB) yang didefinisikan apabila besarnya nilai eigenvector atau bobot dari setiap band hampir sama dengan tanda aljabar yang positif. Indeks ini umumnya terdapat pada komponen utama satu. b. Komponen Stable Greeness (SG) apabila band merah dari kedua waktu mempunyai tanda aljabar yang sama tetapi berlawanan dengan tanda aljabar band infra merah dari kedua waktu. Sebagai contoh tanda aljabar kedua band merah positif pada kedua tahun yang berbeda sedangkan tanda aljabar kedua band inframerah negatif, atau sebaliknya. c. Komponen Delta Brightness (DB), ditandai dengan adanya kesamaan tanda aljabar band merah dan inframerah dari waktu yang sama tetapi bertentangan tanda aljabar pada band merah dan inframerah pada waktu yang berbeda. Sebagai contoh, tanda aljabar pada tahun sebelumnya pada band merah dan inframerah positif sedangkan untuk band merah dan inframerah pada tahun sesudahnya negatif atau dapat juga sebaliknya. d. Komponen Delta Greness (DG) , merupakan kebalikan dari Stable Brightness (SB). Sebagai contoh tanda aljabar untuk band merah positif dan inframerah negatif untuk tahun sebelumnya, maka tanda aljabar untuk tahun sesudahnya untuk merah negatif dan inframerah positif . Juga bisa sebaliknya, negatif untuk merah, positif untuk inframerah pada tahun sebelumnya dan untuk tahun sesudahnya positif untuk merah dan negatif untuk inframerah. Proses pembuatan citra sintetis dengan metode MPCA adalah dengan terlebih dulu membuat layer stacking antara citra landsat TM tahun 2000 dan 20003 dan citra landsat TM tahun 2003 dan SPOT 4 XS tahun 2006. Oleh karena perbedaan resolusi spasial antara citra Landsat TM tahun 2003 dan SPOT 4 XS tahun 2006, terlebih dulu pada citra Landsat TM tahun 2003 dilakukan resampling sehingga resolusi spasialnya menjadi 20 m. Saluran yang digunakan untuk membuat layer stacking pada kedua citra adalah saluran inframerah dekat atau near infrared (NIR), merah (red) dan hijau (green). Pada citra Landsat TM saluran inframerah dekat adalah saluran 4, merah adalah saluran 3 dan hijau 21 adalah saluran 2. Sedangkan pada citra SPOT 4 XS saluran inframerah dekat adalah saluran 3, merah adalah saluran 2 dan hijau adalah saluran 1. 3.4.4 Pembuatan Citra Sintetis Disparitas Indeks Vegetasi atau VIDN (Vegetation Index Differencing) Selain pembuatan citra PCA multiwaktu juga dibuat citra sintetis yang berasal dari nilai disparitas indeks vegetas NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) yang selanjutnya disebut Vegetation Index Differencing (VIDN). Nilai VIDN dihitung dengan formula umum : VIDN = NIR − Red NIR − Red (Citra Landsat 2003) (Citra SPOT 2006) − NIR + Red NIR + Red Di mana : NIR = Saluran Near Infrared atau Inframerah dekat Red = Saluran merah Nilai VIDN akan berkisar antara -2 sampai dengan 2 (Jaya, 2005). Nilai yang negatif menyatakan adanya pengurangan biomassa atau vegetasi hijau dan merupakan indikasi adanya perubahan tutupan lahan. 3.4.5 Kriteria Lahan Terbuka Pengertian lahan terbuka biasa pada penelitian mengacu pada pengertian yang digunakan departemen kehutanan dalam yaitu seluruh kenampakan lahan terbuka tanpa vegetasi (singkapan batuan puncak gunung, puncak bersalju, kawah vulkan, gosong pasir, pasir pantai, endapan sungai), dan lahan terbuka bekas kebakaran, sedangkan lahan terbuka bekas pembersihan lahan-land clearing dimasukkan kelas lahan terbuka. Sedangkan lahan terbuka yang digunakan untuk aktivitas pertambangan terbuka-open pit (spt.: batubara, timah, tembaga dll.), serta lahan pertambangan tertutup skala besar yang dapat diidentifikasikan dari citra berdasar asosiasi kenampakan objeknya, termasuk tailing ground (penimbunan limbah penambangan). Lahan terbuka tambang batubara dalam penelitian ini terbagi lagi dalam dua kategori yaitu lama dan baru. Termasuk lahan terbuka tambang batubara lama adalah areal bekas PETI dan areal tambang yang telah selesai dilaksanakan 22 penambangan lebih dari 3 tahun dan belum dilakukan kegiatan reklamasi. Sedangkan lahan terbuka tambang batubara baru adalah lahan tambang batubara yang termasuk dalam areal perusahaan tambang batubara yang masih aktif. 3.4.6 Tahap Pemeriksaan Lapangan Penentuan sampel di lapangan dilakukan dengan purposive sampling dengan didasarkan pada hasil training area lahan terbuka pada citra VIDN dan komponen utama. Penentuan sampel tersebut juga perlu dibantu dengan mengunakan citra Quickbird, SPOT 5 peta RBI dan peta topografi agar posisi sampel tepat pada posisi yang diinginkan. Jumlah sampel yang diambil juga mempertimbangkan biaya, waktu dan tenaga. Pengamatan Lapangan 1. Mencari lokasi titik yang dilakukan berdasarkan kepada daftar lokasi yang telah dibuat, koordinat titik kontrol lapangan dan peta kerja 2. Pengambilan koordinat GPS (Global Position System) titik sampel lapangan. Titik sampel yang diambil adalah pada lahan terbuka di areal tambang dan areal lain akibat aktivitas perladangan berpindah, perkebunan, pemukiman,pembangunan jalan dan lain-lain. 1. Melakukan pengamatan lapangan dengan mencatat kondisi penutupan lahan, kondisi sistem lahan, kemingan lereng. 2. Melakukan dokumentasi kondisi setiap sampel dengan kamera 3. Mengisi formulir isian setiap sampel yang diperiksa. 4. Semua data yang diperoleh dalam pemeriksaan lapangan disimpan dan diolah untuk analisis lebih lanjut. 3.4.7 Penentuan Ambang (Treshold) Nilai Piksel Lahan Terbuka Dari masing-masing citra sintetik yang terpilih selanjutnya dilakukan tresholding untuk menentukan areal lahan terbuka tambang batubara. Nilai ambang batas atas (Tu) dan ambang batas bawah (Td) dari masing-masing treshold ditentukan berdasarkan nilai piksel contoh pada areal-areal lahan pasca tambang batubara. 23 Proses tresholding dilakukan dengan kaidah pengambilan keputusan sebagai berikut : ­1, jika I (x, y) ≥ Td dan jika I (x, y) ≤ Tu ½ I ( x , y) = ® ¾ ¯0, selain itu ¿ Di mana I (x,y) adalah nilai piksel yang dibuat dari indeks terpilih. Pembuatan trehshold dilakukan dengan membuat training area pada citra sintetis yang telah dihasilkan. 3.4.8 Filtering (penghalusan) dan Masking Jaya (2005) menyebutkan bahwa hasil tresholding pada umumnya masih mengandung noise yang tampak seperti noktah-noktah atau sering disebut salt and pepper. Sehingga untuk menghilangkan kesalahan ini dilakukan filtering menggunakan lowpass filter yaitu filter median. Selanjutnya dilakukan masking untuk melokalisasi lahan terbuka dan mengeluarkan areal yang dapat meningkatkan hasil analisis. Dalam proses masking juga dilakukan tumpang susun antara peta-peta dasar dan tematik seperti peta pemukiman, peta perkebunan dan peta geologi untuk menghasilkan peta lahan terbuka tambang batubara yang logis. 3.4.9 Perhitungan Efisiensi Relatif Perhitungan efisiensi relatif dilakukan dengan membandingkan biaya per hektar dan waktu antara kegiatan identifikasi lahan tambang batubara dengan metode cara ground survey atau survey lapangan langsung dengan metode penafsiran citra. Komponen biaya yang dianalisis adalah biaya pemeriksaan lapangan, biaya pengadaan citra, biaya pengolahan data, biaya analisis dan pembuatan hasil. Formula yang digunakan adalah : ER = Total Biaya Tanpa Menggunakan Citra (ground survey) (Rp/Ha) Total Biaya Dengan Menggunakan Citra (Rp/Ha) ER Waktu = (Jaya,2005). Total Waktu Yang diperlukan tanpa menggunaka n Citra (hari) Total Waktu Yang diperlukan dengan menggunaka n Citra (hari) 24 Untuk lebih jelasnya, prosedur kerja dapat dilihat pada Tabel 6 dan Gambar 3. Tabel 6. Proses input output prosedur penelitian Kegiatan Input Proses Output 1. Pengumpulan Citra Data Citra Landsat 7 TM Tahun 2003 dan SPOT 4 XS Tahun 2006 Pengambilan Data di BAPLAN, BPKH V Banjarbaru, Dinas Kehutanan Kabupaten Banjar Citra Landsat TM Path Row 117 62 Dan Citra SPOT 4 XS Path Row 300/356 dan 300/357 2. Pengumpulan Sekunder Data Letak dan luas wilayah studi, curah hujan, data penduduk dan sosek masyarakat Pengumpulan data di BPS,BPKHV Banjarbaru, Dinas Kehutanan Propinsi /Kabupaten ,Dinas Pertambangan Propinsi/Kabupaten. Kumpulan sekunder penunjang 3. Pra Pengolahan Citra Citra Landsat TM Path Row 117-62 Dan Citra SPOT 4 XS Path Row 300-356 dan 300-357 1. Mosaicing 2. Koreksi Geometrik 3. Histogram Matching 4. Cropping 5. Layer Stacking 6. Resampling Hasil pra pengolahan citra wilayah kajian 4. Pembuatan Vegetasi Indeks Hasil pra pengolahan citra wilayah kajian Formula NDVI Citra NDVI Tahun 2003 dan 2006 5. Pembuatan VIDN Citra Citra NDVI 2003 dan 2006 Formula VIDN Citra VIDN Tahun data untuk 6. Pembuatan Citra PCA Multi waktu Citra Gabungan Landsat TM 2003 dan SPOT 2006 Metode PCA Citra PC 1 ~ PC6 7. Analisis Change Detection Citra PC Citra PC 1 ~ PC6 Uji Tanda Aljabar Citra Stable Brightness, Stable Greeness, Delta Brightness,dan Delta Greeness 8. Klasifikasi Tutupan Lahan Komposit PC1~PC6 Supervised Classification Citra Tutupan Lahan 9. Ground Checking Hasil Analisis P oint 5,7 dan 8 PetaKerja Pemeriksaan lapanganing Pengambilan Titik Koordinat dengan GPS Titik Koordinat Lahan terbuka 10. Perhitungan Akurasi dan Perbandingan Metode Hasil Analisis point 8 dan 9 Uji Akurasi Metode Idenfikasi Cepat Lahan Terbuka yang terbaik Citra 25 ,      #$$%  &!'#$$( .&4+)+!.             5      .    ,    !            0 .   6 1              )*+  !,  &!'-  +   //    0       1     !                           !,  &!'  )+. .         4"  +               . ,!       3          *      / !          23   +                           ! )   2   !       !        0     1          !      "           Gambar 4. Kerangka Kerja Penelitian Citra SPOT 5 Tahun 2007, Quickbird Tahun 2006 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Spektral Lahan Terbuka Tambang Batubara Pada Citra Optik Menurut Danoedoro (1996) citra digital beroperasi pada dua macam ruang yaitu ruang spasial dan ruang spektral. Lebih lanjut dijelaskan bahwa ruang spectral adaah ruang yang kita kenal sehari-hari yang dapat dibuat dalam sitem koordinat kartesius (x,y,z). Model spasial yang paling umum adalah ruang dua dimensi berupa koordinat x dan y tiap piksel. Sedangkan ruang spektral adalah ruang dua dimensi yang dihasilkan melalui penggambaran distribusi nilai spektral piksel tiap saluran dalam sumbu koordinat saluran spektral yang berbeda-beda. Ruang spektral ini sering juga disebut dengan feature space. Menurut Danoedoro (1996) pada feature space saluran hijau dan saluran inframerah dekat posisi piksel-piksel vegetasi dan lahan terbuka mudah dibedakan, demikian juga feature space antara saluran merah dan inframerah dekat antara vegetasi, lahan terbuka dan air terpisah saling berjauhan sehingga dapat dengan mudah dibedakan. Sehingga saluran hijau, merah dan inframerah dekat paling baik digunakan dalam pembedaan obyek. Lebih lanjut Jaya (2007) menjelaskan bahwa tanah atau lahan terbuka mempunyai reflektansi yang mendekati monotonikal terhadap panjang gelombang dengan pusat-pusat lekukan pada panjang gelombang 1,4µm, 1,9 µm dan 2,7 µm yang disebabkan karena kandungan air. Lebih lanjut dijelaskan bahwa vegetasi mempunyai kurva yang lebih kompleks. Rentang antara 0,7 µm dan 1.3 µm sifat reklektansinya banyak dipengaruhi oleh pigmentasi tumbuhan. Band penyerap klorofil terletak pada daerah biru dan merah, di mana reflektansi yang cukup signifikan terjadi pada sinar hijau antara 0,5 µm dan 0,6 µm. Sedangkan menurut Prahasta (2008) puncak pantulan vegetasi terjadi pada saluran inframerah dekat. Oleh karena itu nilai pantulan spektrum inframerah dekat akan jauh lebih besar dibandingkan spektrum tampak mata (hijau, biru,merah) sehingga vegetasi dapat diidentifikasi dengan nilai pantulan saluran inframerah dekat yang tinggi tetapi rendah pada nilai-nilai pantulan saluran tampak mata. 27 Pada penelitian ini digunakan saluran hijau, merah dan inframerah dekat di mana pada citra landsat TM 7 ada pada saluran 2, 3 dan 4 sedangkan pada citra SPOT 4 XS ada pada saluran 1, 2 dan 3. Hasil identifikasi lahan terbuka tambang batubara secara visual menggunakan kedua citra dengan citra SPOT 5 resolusi tinggi sebagai pembanding dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Karakteristik lahan terbuka tambang batubara Karakteristik Lahan Terbuka Tambang Batubara Pada Citra No. Landsat TM SPOT 4 XS SPOT V XS Komposit 412 Komposit 432 Komposit 321 Liputan Tahun 2003 Liputan Tahun 2006 Liputan Tahun 2007 (Resolusi 2,5 m) (Resolusi 30 m) (Resolusi 20 m) 1 Keterangan Tambang baru berjalan pada areal Perusahaan Daerah Baramarta, baru selesai ditambang dan baru direklamasi. Warna biru muda agak kehijauan Warna biru muda Warna ungu 2 Bekas Tambang Ilegal yang sudah ditinggalkan sehingga terbentuk danau kecil, tidak direklamasi Warna biru tua agak gelap Warna biru tua agak gelap Warna biru 3 Bekas areal Tambang , kurang lebih 2 tahun,belum direklamasi Warna biru muda agak kehijauan Warna biru muda Warna ungu 4 Tambang baru namun belum dilakukan reklamasi sehingga terbetuk danau kecil,lokasi di pada areal Perusahaan Daerah Baramar Warna biru tua agak gelap Warna biru tua agak gelap Warna biru Berdasarkan kenampakan visual pada ketiga citra pada Tabel 7 kenampakan lahan terbuka tambang batubara mempunyai warna yang sama baik pada areal tambang yang sedang berjalan, areal reklamasi maupun yang bekas PETI yang 28 sudah lama dan tidak direklamasi. Demikian juga kenampakan areal tambang yang tergenang air, kenampakannya juga sama. Sedangkan berdasarkan nilai kecerahan atau digital number (DN) pada citra asli antara lahan terbuka biasa lahan terbuka tambang batubara baru dan lama dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Nilai kecerahan lahan terbuka tambang batubara pada citra Citra Saluran Nilai kecerahan Lahan Terbuka Tambang Batubara Pada Citra Lahan Terbuka Biasa Min Landsat TM 7 SPOT 4 XS Max Rerata Lahan Terbuka Tambang Batubara Lama Min Max Rerata Lahan Terbuka Tambang Batubara Baru Min Max Rerata Inframerah Dekat Merah 71 84 77,89 36 97 66,67 47 97 68,52 66 88 75 67 132 93,68 76 120 95,75 Hijau 60 122 84,78 59 166 108,10 83 148 113,13 Inframerah Dekat Merah 149 168 158,85 41 183 147,43 68 232 138,27 111 133 124,47 45 161 130,61 80 223 136,65 Hijau 140 160 152,29 85 191 160,13 120 255 174,83 Berdasarkan Tabel 8 dapat dilihat bahwa nilai kecerahan antara lahan terbuka tambang batubara yang baru dan lama pada nilai rata-ratanya terdapat perbedaan antara lahan terbuka biasa, lahan terbuka tambang batubara lama dan baru. 4.2 Citra Komponen Utama Danoedoro (1996) menyebutkan bahwa Analisis komponen utama atau principal component analysis (PCA) pada dasarnya merupakan teknik rotasi yang diterapkan pada sistem koordinat multi saluran sehingga menghasilkan jumlah saluran yang lebih sedikit. Dengan kata lain bahwa PCA mampu mengurangi dimensionalitas data sehingga dalam pengamatan visual sangat efisien karena hanya menggunakan beberapa saluran saja tanpa mengurangi kandungan informasi. Menurut Jaya (2007) teknik PCA multiwaktu banyak digunakan untuk análisis perubahan penutupan lahan dengan melakukan derivasi informasi yang menyatakan perubahan dan kestabilan kehijauan dan atau kecerahan (delta greeness, delta brightness, stable greeness dan stable brightness). Lebih lanjut 29 Jensen (2005) menyebutkan bahwa hasil dari analisis PCA menghasilkan dua komponen yaitu komponen mayor dan minor, di mana komponen mayor yang diturunkan dari dataset citra menyatakan variasi data yang tidak mengalami perubahan sehingga disebut stable component. Sedangkan komponen minor menyatakan perubahan kontras antara dua data citra pada waktu yang berbeda sehingga disebut change component. Untuk mengidentifikasi komponen mayor dan minor pada PCA digunakan nilaieigen (eigenvalue) dan vektoreigen (eigenvector) yang diturunkan dari dataset citra melalui aljabar linier. Lebih lanjut Jaya (2006) menyebutkan bahwa untuk mengidentifikasi komponenkomponen delta greeness, delta brightness, stable greeness dan stable brightness dilakukan dengan cara melihat tanda aljabar pada eigenvector dari setiap band PC pada masing-masing komponen. Analisis citra komponen utama pada penelitian ini menggunakan citra Landsat 7 TM tahun 2003 dan citra SPOT 4 XS tahun 2006. Kedua citra ini mempunyai karakteristik yang berbeda yaitu resolusi spasial yang berbeda dan waktu liputan yang berbeda. Untuk membuat citra komponen utama terlebih dulu citra Lansat 7 TM di resampling resolusi spasialnya dari 30 m menjadi 20 m, yang kemudian dibuat satu set data citra gabungan antara landsat 7 TM dan SPOT4 XS. Hasil analisis citra komponen utama multiwaktu dengan menggunakan metode MPCA dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Eigenvector dari Komponen Utama Multiwaktu Landsat TM tahun 2003 dan SPOT XS tahun 2006 Band PC1 PC2 PC3 PC4 PC5 PC6 Landsat TM 2003 hijau Landsat TM 2003 merah Landsat TM 2003 inframerah dekat SPOT XS 2006 hijau 0,3023 0,5577 -0,0021 -0,1064 -0,0902 -0,7604 0,2799 0,6453 -0,0541 -0,3246 0,0014 0,6300 0,3166 0,1958 0,2305 0,8584 0,2385 0,1204 0,4827 -0,2334 -0,4627 0,1772 -0,6789 0,0777 SPOT XS 2006 merah 0,3417 -0,1869 -0,6040 -0,1021 0,6846 -0,0664 SPOT XS 2006 inframerah dekat Eigen Value 0,6167 -0,3806 0,6042 -0,3233 0,0732 0,0009 13.384,64 2163,21 1052,25 221,98 60,82 7,28 12,81 6,23 1,31 0,36 0,04 Variasi (%) Indeks 79,25 SB DB SG 30 Jaya (2005) menyebutkan bahwa berdasarkan konsep eigenvector yang membentuk sumbu baru yang saling ortogonal dan sekaligus mencari korelasi yang tinggi pada komponen-komponen di kelompok awal, maka sesungguhnya sumbu-sumbu komponen yang merekam adanya perubahan adalah pada komponen-komponen pada kelompok akhir. Pada Tabel terlihat 9 dapat dilihat bahwa kestabilan kecerahan atau stable brightness (SB) ditemukan pada komponen pertama atau PC1, perubahan kecerahan atau delta brightness (DB) ditemukan pada komponen kedua atau PC2 dan kestabilan kehijauan atau stable greenness (SG) ditemukan pada komponen ketiga atau PC3. Sedangkan komponen delta greenness (DG) yang menunjukkan perubahan kehijauan pada tutupan vegetasi tidak teridentifikasi. Komponen-komponen yang ditemukan hanya stable brightness, delta brightness dan stable greeness. Indeks stable brightness (SB) mencakup variasi 79,25 %, delta brightness (DB) 12,81% dan stable greeness (SG) 6,23%. Suatu perubahan tutupan lahan yang terjadi pada suatu areal dapat merupakan penambahan atau pengurangan kehijauan dan kecerahan atau kontras. Perubahan yang terjadi seperti tergambar pada Tabel 9 merupakan perubahan penambahan kehijauan atau pengurangan kecerahan. Hal in ditunjukkan oleh tanda aljabar masing-masing bobot pada saluran merah dan inframerah pada kedua waktu. Pada citra sintetik PC2 atau delta brightness terjadi pengurangan kecerahan atau kontras di mana terlihat bahwa pada tahun 2003 nilai bobot pada saluran merah dan inframerah positif yaitu 0,6453 dan 0,1958 sedangkan pada tahun 2006 mempunyai nilai positif yaitu -0,1869 dan -0,3806. Pada citra PC3 atau stable greenness tidak terjadi perubahan kehijauan dan kecerahan yang ditunjukkan tanda aljabar yang tetap pada band red dan infrared pada kedua tahun. Indeks delta brightness (DB) menunjukkan terjadinya perubahan kelembaban tanah yang penyebabnya erat berhubungan dengan adanya perubahan atau penamba

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Analisis spasial kesusaian lahan tanaman pisang kepok (musa acuminata colla ) didasarkan cuaca (studi kasus: Kabupaten Bogor)
6
17
149
Aplikasi perhitungan pajak pengahsilan pasal 21 dan SSP multi function berbasis Web : studi kasus: CV. Buana Mitra Consulting
0
7
180
Pengaruh penggunaan multi media macromedia director terhadap hasil belajar matematika siswa
0
6
170
Pengaruh penggunaan multi media berbasis camtasia studio terhadap hasil belajar matematika siswa
0
14
65
Konsep pendidikan multi kultural dalam kerangka pendidikan islam
13
105
122
Rancang bangun sistem informasi spasial berbasis web lokasi tambang batubara di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur
0
15
136
Leasing menurut ekonomi islam : pada pt adira dinamika multi finance tbk
0
21
87
Strategi multi track diplomacy dalam kerjasama ekonomi industri Korea Selatan (ROK) terhadap Indonesia Tahun 2006-2012
1
42
136
Rancang bangun aplikasi chatting multi bahasa
9
38
191
The backpropagation algorithm was used to train the multi layer perception MLP
0
0
35
Perancangan Aplikasi pengolahan citra mata menjadi citra iris mata menggunakan teknik pengolahan citra
0
1
6
Hidrorengkah tir batubara menggunakan katalis Mo-Ni/Zeolit Y
0
0
63
Analisis pola data sebagai alternatif dalam penentuan orde intervensi multi input
1
1
63
Pemikiran Hukum Ulama Banjar terhadap Perkawinan Islam di Kalimantan Selatan - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
0
18
Pemikiran Hukum Ulama Banjar terhadap Perkawinan Islam di Kalimantan Selatan - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
0
23
Show more