Teknik cepat identifikasi lahan terbuka pasca tambang batubara menggunakan citra multi temporal dan multi spasial Di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan

Full text

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pemanfaatan sumberdaya alam tambang di kawasan hutan telah lama dilakukan dan kegiatan pertambangan dan energi merupakan sektor pembangunan penting bagi Indonesia. Dampak lingkungan dari adanya pertambangan ada positif yaitu meningkatkan pendapatan ekonomi baik secara nasional maupun regional, namun juga meninmbulkan dampak negatif seperti perubahan lingkungan seperti degradasi hutan, berkurangnya luasan hutan, hilangnya topsoil dan perubahan secara hidrologi seperti kualitas air akibat polusi serta perubahan iklim secara mikro. Lebih lanjut menurut Kusnoto dan Kusumodirdjo (1995) dalam Qomariah (2003) kegiatan pertambangan selain meningkatkan pendapatan dan devisa negara juga berdampak terhadap lingkungan antara lain menyebabkan penurunan produktivitas tanah, pemadatan tanah, terjadinya erosi dan sedimentasi, terganggunya flora dan fauna, serta terganggunya keamanan dan kesehatan penduduk, terjadinya perubahan iklim mikro. Kerusakan akibat pertambangan dapat terjadi selama kegiatan pertambangan maupun pasca pertambangan. Dampak lingkungan sangat terkait dengan teknologi dan teknik pertambangan yang digunakan. Sementara teknologi dan teknik pertambangan tergantung pada jenis mineral yang ditambang dan kedalaman bahan tambang, misalnya penambangan batubara dilakukan dengan sistem tambang terbuka, sistem dumping (suatu cara penambangan batubara dengan mengupas permukaan tanah).

(19)

(HPT) 40.288,39 ha (9,11 %), hutan produksi konversi (HPK) 20.670,26 ha (4,67 %), hutan lindung (HL) 48.680,08 ha (11,00 %), suaka alam (SA) 57.597,00 ha (13,02 %) (BPKH V,2006).

Pada tahun 2002 produksi batubara di Kalimantan Selatan mencapai 13 juta ton per tahun. Seiring dengan meningkatnya kegiatan pengusahaan batubara resmi, juga meningkat kegiatan Pertambangan Tanpa Ijin (PETI) batubara di berbagai lokasi penambangan Kabupaten Banjar sebagai salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan peningkatan intensitas kegiatan PETI batubara yang berkembang cepat seiring dengan perubahan situasi dan kondisi ekonomi politik di tanah air. Pada tahun 1997 diperkirakan terdapat 157 perusahaan perorangan PETI batubara di Kalimantan Selatan, meningkat menjadi 445 pengusaha ,/peorangan pada tahun 2000. (Qomariah, 2003).

Kajian mengenai dampak pertambangan terbuka telah dilakukan oleh Toren dan Unal (2001) dengan menggunakan citra landsat multi temporal untuk identifikasi dan monitoring dampak pertambangan terbuka terhadap lingkungan di provinsi Manisa Turki. Kemudian Limpitlaw (2003) dan Lau et al. (2005) menggunakan citra landsat multi temporal untuk menurunkan indeks Tasseled Cap atau Kauth Thomas untuk monitoring dampak kegiatan pertambangan. Torres dan Vera (2005) menggunakan metode change detection menggunakan citra multi temporal dan memakai NDVI sebagai dasar untuk menentukan kerusakan yang terjadi secara cepat di areal hutan akibat aktivitas pertambangan di daerah San Luisi, Meksiko. Lebih lanjut Shimabukuro dan Filho (2003) melakukan kajian untuk monitoring pertambangan menggunakan kombinasi citra landsat dan radar oleh. Citra Landsat-5 TM tahun 1987, 1991, 1994, and 1996 and citra radar JERS-1 SAR tahun 1993, 1994, and 1996. Sementara Wenbo, Lijing dan Yang. (2008) menggunakan teknik fusi antara citra Landsat TM dan SAR digunakan menyediakan solusi yang lebih baik dalam monitoring lingkungan di lahan tambang di lahan pertambangan di Cina dan menyediakan basis data yang lebih baik untuk sumberdaya tambang.

(20)

yang secara visual tampak pada citra akibat aktivitas pertambangan terbuka seharusnya bisa dibedakan dan diidentifikasi secara cepat dengan lahan terbuka akibat aktivitas lain seperti perkebunan, pembukaan lahan, jalan dan pemukiman

1.2Rumusan Permasalahan

Menurut Qomariah (2003) kegiatan Pertambangan Tanpa Ijin (PETI) batubara di kabupaten Baniar Propinsi Kalimantan Selatan berada di lahan kering dengan ketinggian 250-750 m dari permukaan laut yang dilakukan dengan sistem terbuka (open dumping) tanpa ada usaha rehabilitasi lahan, sehingga keadaannya saat ini sangat tidak memungkinkan untuk dijadikan sebagai lahan produktif. Hal ini terutama disebabkan terjadinya perubahan kondisi lahan secara keseluruhan serta penurunan kualitas lahan sehingga tidak mampu lagi untuk mendukung suatu pertumbuhan tanaman.

Penambangan batubara dengan sistem terbuka selain berpengaruh terhadap struktur ekosistem, yaitu perusakan bentuk lahan karena timbunan tanah galian, terbentuknya cekungan-cekungan besar bekas galian tambang dan rusaknya vegetasi yang tumbuh di atasnya,serta berpengaruh terhadap organisme perairan. Sebab proses erosi yang terjadi di lahan pasca tambang menyebabkan proses sedimentasi dalam perairan dan dapat membahayakan kehidupan organisme yang ada di dalam perairan tersebut. Semakin tinggi produksi tambang maka akan semakin banyak kerusakan lingkungan yang akan ditimbulkannya (Qomariah, 2003).

(21)

penambang sendiri baik untuk merehabilitasi lahan pasca tambang maupun untuk melakukan tindakan konservasi tanah dan air.

Eksploitasi batubara dilakukan secara terbuka yaitu penambangan dengan cara mengupas permukaan tanah yang dilanjutkan dengan penggalian batubara, dan setelah selesai penambangan lapisan atas tanah (top soil) tidak dikembalikan ke tempat semula. Kegiatan penambangan batu bara tanpa tindakan untuk merehablitasi lahan setelah kegiatan berakhir dilakukan hampir pada semua lokasi pertambangan tanpa ijin, sehingga menimbulkan cekungan besar yang dikelilingi tumpukan anah bekas galian. Pada saat musim hujan cekungan ini membentuk danau dan kemudian karena erosi maka lahan bekas tambang mengalir ke daerah-daerah sekitarnya melalui sungai menutupi lahan pertanian/perkebunan sekaligus menimnbulkan sedimentasi di areal tersebut. Sehingga kegiatan pertambangan batubara yang dilakukan oleh penambangan tanpa ijin menimbulkan masalah lingkungan yang cukup serius.

Analisis inderaja (remote sensing) dan analisis sistem informasi geografis dalam berbagai studi telah terbukti mampu mendeteksi keadaan lingkungan tertentu di suatu daerah secara cost-effective, antara lain karena cakupan areal yang dianalisis cukup luas. Beberapa komponen yang dapat dipantau antara lain adalah penutupan lahan dari waktu ke waktu, sebaran areal tambang, sebaran dan pola lahan terbuka akibat aktivitas penambangan illegal dan akibat aktivitas lain.

Atas dasar permasalahan tersebut maka rumusan permasalahan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apa metode yang cepat digunakan untuk deteksi cepat lahan terbuka di lahan pasca tambang batubara?

2. Bagaimana efisiensi metode cepat identifikasi lahan terbuka di lahan pasca tambang batubara diabandingkan metode ground survey?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mendapatkan metode cepat identifikasi lahan terbuka pada lahan pasca tambang batubara.

(22)

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan pertama dapat bermanfaat untuk monitoring dampak pertambangan terbuka dengan terbukanya lahan hutan secara cepat. Kedua untuk memberikan informasi basis data lahan kritis yang berguna untuk rehabilitasi hutan dan lahan di kawasan hutan di kabupaten Banjar.

1.5 Kerangka Pemikiran

Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi tambang batubara yang besar, sejak lima tahun terakhir kegiatan tambang khususnya batubara semakin marak dan tidak terkoordinasi dengan perencanaan kehutanan padahal sebagian besar kegiatan pertambangan berada di kawasan hutan. Berdasarkan data Departemen Energi dan Sumberdaya Manusia tahun 2008 propinsi Kalimantan Selatan mempunyai potensi tambang batubara sebesar 12,26 milyar ton dan menempati urutan ke-3 di Indonesia. Salah satu kendala dalam pengembangan lahan usaha tambang adalah adanya benturan kepentingan atau tumpang tindih penggunaan lahan disamping dampak negatif terhadap kerusakan lingkungan akibat adanya aktivitas usaha tambang tersebut. Kegiatan PETl batubara di kabupaten Banjar, Kalimantan Selalan menyebabkan pH tanah bekas tambang sangat rendah sehingga tidak dapat diusahakan lagi untuk budidaya tanaman. Hal ini disebabkan munculnya lapisan bawah tanah ke permukaan sehingga terjadi oksidasi pirit yang merupakan senyawa beracun dan hilangnya bahan organik akibat tidak adanya vegetasi (Qomariah,2003).

(23)

Penambangan batubara yang tidak memperhatikan aspek lingkungan berupa pembersihan lahan dan pengupasan lapisan atas tanah akan menyebabkan terancamnya daerah sekitarnya dari bahaya erosi dan tanah longsor sebagai akibat dari hilangnya vegetasi penutup tanah. Pembukaan lahan secara besar-besaran juga menyebabkan teriadinya perubahan bentang alam (morfologi dan topografi) yaitu perubahan sudut panjang dan bentuk lereng. Pengupasan-pengupasan, penimbunan tanah, penutupan dan penggalian batubara menimbulkan perubahan pola drainase, debit air sungai dan kualitas air permukaan pada saat hujan (Qomariah,2003).

Motloch (1993) dalam Yusuf (2008) menyatakan bahwa landskap dalam definisi kontemporer meliputi daerah yang masih liar dan daerah yang terhuni. Daerah yang masih liar adalah lanskap alami dan daerah yang berpenghuni adalah lanskap buatan. Lanskap juga berarti suatu keadaan pada suatu masa yang merupakan bagian ekspresi dan pengaruh dari unsur-unsur ekologi, teknologi dan budaya. Pada lahan pasca tambang terjadi perubahan kemampuan dari muka bumi, sehingga secara estetika tanah pasca tambang tidak baik, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

(24)
(25)

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2.1 Letak dan Luas Kabupaten Banjar

Kabupaten Banjar dengan luas wilayah 4.699 km2 merupakan kabupaten yang secara geografis terletak antara 20 49’ 55’’ sampai dengan 30 43’38’’ Lintang Selatan dan 1140 30’20’’ sampai 1150 35’37’’ Bujur Timur dengan batas-batas sebagai berikut :

• Sebelah Utara : Kabupaten Tapin.

• Sebelah Timur : Kabupaten Tanah Bumbu . • Sebelah Selatan: Kabupaten Tanah Laut

• Sebelah Barat : Kota Banjarmasin dan kabupaten Barito Kuala.

Kabupaten Banjar dengan ibukotanya Martapura terbagi menjadi 16 kecamatan dan 288 desa/kelurahan.

Kabupaten Banjar dilewati oleh 4 (empat) buah sub DAS yaitu Sub DAS Riam Kanan, Sub DAS Riam Kiwa, Sub DAS Martapura dan Sub Das Barito Hilir yang semuanya bermuara ke induknya yaitu DAS Barito. Sungai-sungai yang mengalir pada sub-sub das tersebut antara lain Sungai Martapura, Sungai Riam Kanan, Sungai Riam Kiwa,Sungai Mangkaok, Sungai Alalak, Sungai Binuang dan lain-lain.

Berdasarkan peta tanah eksplorasi tahun 1981 skala 1 : 1.000.000 dari Lembaga Penelitian Bogor, di wilayah kabupaten Banjar terdapat jenis tanah organosol gleihumus dengan bahan induk bahan organik alluvial dan fisiografi dataran sebesar 28,57% dari luas wilayah, tanah alluvial dengan bahan induk lahan alluvial dan fisiografi dataran sebesar 3,72%, tanah komplek podsolik merah kuning dan laterit dengan bahan induk batuan beku dengan fisiografi dataran sebesar 14,29%, tanah latosol dengan bahan induk batuan beku dan fisiografi intrusi meliputi 24.84% serta tanah kompleks podsolik merah kuning,latosol dengan bahan induk batuan endapan dan metamorf sebesar 28.57%

(26)

Tabel 1. Pembagian luas wilayah kecamatan di kabupaten Banjar

No. Kecamatan Luas Wilayah (km2)

% Jumlah Desa (buah)

1 Aluh-aluh 82.48 1.79 19

2 Beruntung Baru 61.42 1.33 12

3 Gambut 129.30 2.80 13

4 Kertak Hanyar 81.30 1.76 26

5 Sungai Tabuk 147.30 3.19 21

6 Martapura 42.03 0.91 25

7 Martapura Timur

30.49 0.66 20

8 Martapura Barat 149.38 3.24 13

9 Astambul 216.50 4.69 22

10 Karang Intan 215.35 4.67 26

11 Aranio 1166.35 25.28 12

12 Sungai Pinang 1019.50 22.10 15

13 Pengaron 378.25 8.20 12

14 Sambung Makmur

134.65 2.92 7

15 Mataraman 148.40 3.22 15

16 Simpang Empat 611.30 13.25 30 Jumlah 469.00

Sumber : BPS Kabupaten Banjar (2007)

2.2 Keadaan Geologi

Mengacu pada peta geologi lembar Banjarmasin skala 1 : 250.000 (Sikumbang dan R. Heryanto, 1994), secara regional wilayah kabupaten Banjar berada dalam sub Cekungan Asam-asam yang merupakan bagian dari Cekungan Barito. Batuan yang terdapat di cekungan Asam-asam adalah sebagai berikut : 1. Batuan Ultramafik dan skis

(27)

2. Kelompok Alino

Batuan ini terdiri dari formasi pundak dan formasi keramaian yang berumur kapur akhir, dan mendidih secara tidak selaras batuan ultranafik dan skis. Formasi pundak terdiri dari : lava, dengan selang-seling konglomerat/breksi dengan batu pasir, basalt porfir, ignimbrit, batuan malihan dan batu lempung, setempat terdapat sisipan batu gamping.

3. Formasi Tanjung

Formasi Tanjung terdiri dari batu pasir kuarsa dengan sisipan batulempung di bagian atas dan sisipan batubara di bagian bawah, setempat dijumpai lensa batu gamping. Batuan ini berumur eosen dan mendidih secara tidak selaras batuan kelompok alino.

4. Formasi Berai

Formasi berai terdiri dari batu gamping dengan sisipan napal, berumur oligosen miosen awal dan mendidih secara selaras formasi tanjung di atas. 5. Formasi Warukin

Formasi warukin terdiri dari perselingan batu pasir dan batu lempung dengan sisipan batubara, berumur miosen tengah dan mendidih secara selaras formasi berai di atas.

6. Formasi Dahor

Formasi dahor terdiri dari batu pasir, lanau, dan batu lempung dengan sisipan lignit, berumur miasen akhir dan mendidih secara tidak selaras formasi warukin diatas.

7. Formasi Akuveilen

Satuan akuveilen ini terdiri dari kerikil, pasir, lanau, lempeng dan lumpur yang merupakan satuan termuda dan mendidih secara erosisional formasi dahor di atas.

(28)

Tabel 2 Keadaan geologi di kabupaten Banjar

Umur Formasi Deskripsi

Kwarter Aluvial

(Q)

Sedimen tidak kompak, sedimen detritus, konglomerat, lempung, dsb.

Tersier Neogen

Pliosen Dahor (P) Batuan detritus, konglomerat serpih batubara, batulempung.

Miosen Warukin (M)

Formasi pembawa batubara (berkadar gambut atau di

Serpih, perselingan batupasir dan serpih, batulempung dan marmer

Oligosen Berai (O)

Batugamping, marmer dan batulempung, batu gamping sebagai lapisan penentu

Formasi pembawa batubara (Formasi sasaran), batupasir, serpih, perselingan batupasir dan serpih, seam batubara,

Batuan beku dasar, batupasir silikan, batuan klastis hasil gunung api, batuan sedimen, batuan metamorf

(29)

2.3 Perusahaan Tambang Di Kabupaten Banjar

Berdasarkan data dinas pertambangan dan energi propinsi Kaliamntan Selatan dan dinas pertambangan dan energi kabupaten Banjar tahun 2008, di kabupaten Banjar terdapat 29 perusahaan yang melakukan aktivitas tambang dengan rincian seperti Tabel.

Tabel 3 Perusahaan tambang di kabupaten Banjar No. Nama Perusahaan Luas

10920 PKP2B Eksploitasi Batubara Aktif

2 PT Antang Gunung Meratus

1767 PKP2B Eksploitasi Batubara Aktif

3 PT Bangun Banua Persada Kalimantan

6960 PKP2Bd Eksploitasi Batubara Aktif

4 PD Baramarta Blok I

752 PKP2B Eksploitasi Batubara Aktif

PD Baramarta Blok I Blok II

825 PKP2B Eksploitasi Batubara Aktif

5 PT Kadya Caraka Mulia Blok I

1575 PKP2B Eksploitasi Batubara Aktif

PT Kadya Caraka Mulia Blok II

2924.86 PKP2B Eksploitasi Batubara Aktif

6 PT Tanjung Alam Jaya

1232 PKP2B Eksploitasi Batubara Aktif

7 PT Baramulti Sukses Sarana

6625 KP Eksploitasi Batubara Aktif

8 CV Makmur

199.8 KP Eksploitasi Batubara Aktif

CV Gunung Sambung Blok II

(30)

No. Nama Perusahaan Luas

13 PT Nusantara Citra Jaya Abadi

(31)

Berdasarkan hasil telaahan data luas areal perusahaan pemegang ijin PKP2B dan KP dengan kawasan hutan propinsi Kalimantan Selatan (SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 453/KPts-II/1999 Tanggal 17 Juni 1999) terdapat tumpang tindih kawasan hutan pada beberapa areal tambang perusahaan pemegang ijin PKP2B dan KP yang dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil telaahan tumpang tindih kawasan hutan dengan areal pertambangan

No.

Nama Perusahaan

Luas ( ha)

Areal yang Masuk (ha) Luas total (ha)

HP HL SA

1. PT Indo Mineratama 11.970 10.308 1686 11.994

2. PD Baramarta Blok1 752 458 291 749

3. PD Baramarta Blok2 825 321 537 859

4. PT Antang Gunung Meratus (AGM)

1767 409 409

5. PT Bagun Banua Persada Kalimantan

6960 335 82 417

6. PT Kandis Besi Kalimantan

5000 4963 4963

7. PT Nusantara Citra Jaya Abadi (NCJA)

114 109 5 114

8. PT Rahmat Bara Utama 198 232 232

9. PT Wesi Arthalokatama 4750 1028 3406 4433

10. PT HM.Thaher 2 2 2

(32)

3.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelit Selatan. Sedangkan laboratorium inventar ilustrasi disajikan peta

Keterangan :

METODOLOGI PENELITIAN

tian

litian dilaksanakan di kabupaten Banjar, Provi n kegiatan persiapan dan pengolahan data ntarisasi sumberdaya hutan Fakultas Kehutana n peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar

Gambar 2. Lokasi Penelitian

! "#

$

ovinsi Kalimantan a dilaksanakan di nan IPB. Sebagai bar 2.

(33)

3.2 Waktu Penelitian

Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan dimulai pada bulan April s/d Juni 2009. Tahap Persiapan, pengolahan dan analisis data awal dilaksanakan mulai April 2009, sedangkan pengambilan data lapangan dilaksanakan dari bulan April sampai dengan Mei 2009.

3.3 Peralatan dan Bahan

Peralatan yang diperlukan antara GPS (Global Positioning System), Kompas, GPS, meteran, alat tulis menulis, kamera, software Arc-View 3.2 dan Erdas Imagine versi 9.1, komputer dan printer. Bahan yang digunakan adalah, data citra satelit tahun 2003-2007, peta RBI (Rupa Bumi Indonesia), dan peta-peta tematik pendukung lainnya.

3.4 Prosedur Penelitian

3.4.1 Tahap Persiapan

Tahapan ini merupakan tahap awal dari penelitian, dengan kegiatan sebagai berikut.

1. Studi pustaka, untuk memperoleh pustaka/literatur/landasan teori, hasil penelitian yang pernah dilakukan dan data sekunder.

2. Menyiapkan data yang diperlukan serta menyiapkan/membuat peta-peta sebagai berikut.

1.) Peta RBI yang memuat informasi jalan, sungai, pemukiman dan informasi dasar lainnya di wilayah kabupaten Banjar.

2.) Peta wilayah areal Pertambangan yang ada di Kabupaten Banjar 3.) Peta kawasan hutan di kabupaten Banjar

(34)

Citra Landsat TM tahun 2003 Citra SPOT 4XS tahun 2006 Gambar 3. Citra Landsat TM tahun 2003 dan SPOT 4XS tahun 2006 wilayah studi.

5.) Peta-peta pendukung lainnya 6.) Data pengamatan lapangan.

3. Menyiapkan peralatan yang diperlukan seperti : Software Arc View, Erdas Imagine versi 9,1 dan perangkat komputer.

3.4.2 Pengolahan Citra Satelit Landsat TM dan SPOT

(35)

sehingga. Kesalahan tersebut dikoreksi dengan menggunakan peta topografi dengan menggunakan titik kontrol-titik kontrol yang akurat.

Koreksi Geometrik

Koreksi ini mencakup rujukan titik-titik tertentu pada citra ke titik-titik yang sama di medan maupun di peta. Pasangan titik-titik tersebut kemudian digunakan untuk membangun fungsi-fungsi matematis yang menyatakan hubungan antara posisi sembarang titik pada citra dengan titik obyek yang sama pada peta maupun lapangan. Perubahan posisi piksel juga berakibat terjadi perubahan informasi spektralnya, untuk itu diperlukan interpolasi nilai spektral selama transformasi geometri yang disebut resampling. Teknik koreksi geometrik yang digunakan adalah dengan menggunakan referensi koordinaat citra digital Landsat TM Tahun 2003 Propinsi Kalimantan Selatan.

Relokasi piksel menggunakan algoritma polinomial, sedangkan interpolasi nilai spektral yaitu algoritma nearest neighbour. Algoritma nearest neighbour diterapkan dengan hanya mengambil kembali nilai piksel terdekat. Proses resampling pada penelitian ini menggunakan algoritma Nearest Neighbour karena algoritma ini dalam proses resampling hanya menggunakan tetangga terdekat sehingga tidak terlalu mengubah nilai piksel asli sehingga nilai baru hasil interpolasi tersebut masih mewakili nilai piksel aslinya.

Residual errors (dx,dy) dapat digunakan untuk menganalisa GCP (ground

control point) atau titik control lapangan mana yang memberi kontribusi terbesar

(36)

2007) dan sekaligus membuat citra baru dengan sistem koordinat yang ditentukan yang dalam hal ini menggunakan datum WGS 1984 dengan sistem koordinat UTM (universal transverse mercator).

Kesalahan rata-rata atau Root Mean Square Error (RMSE) dari proses koreksi geometrik dihitung dengan formula sebagai berikut :

(

)

2

(

)

2

RMS error = XrXi + YrYi (Jensen, 2005 ; Jaya ,2005). Keterangan :

Xr , Yr = Koordinat GCP pada sumbu X dans Y pada data acuan Xi , Yi = Koordinat GCP pada sumbu X dan Y pada data asli

Berdasarkan Tabel 5 hasil rektifikasi atau koreksi citra SPOT 4 XS Tahun 2006 yang didapatkan dengan nilai Root Mean Square Error (RMSE) 0.225. Nilai RMSE ini teleh memenuhi kriteria di mana RMSE yang ada harus di bawah 0.5.

Tabel 5. Tabel hasil koreksi geometrik citra SPOT XS tahun 2006

administrasi kabupaten Banjar propinsi Kalimantan Selatan.

3.4.3 Pembuatan Citra Sintetis dengan Analisis Komponen Utama

(37)

Principal Component Analysis) digunakan untuk mengevaluasi wilayah yang

berubah (change) dengan menggunakan konsep yaitu :

a. Komponen Stable Brightness (SB) yang didefinisikan apabila besarnya nilai eigenvector atau bobot dari setiap band hampir sama dengan tanda aljabar

yang positif. Indeks ini umumnya terdapat pada komponen utama satu.

b. Komponen Stable Greeness (SG) apabila band merah dari kedua waktu mempunyai tanda aljabar yang sama tetapi berlawanan dengan tanda aljabar band infra merah dari kedua waktu. Sebagai contoh tanda aljabar kedua band merah positif pada kedua tahun yang berbeda sedangkan tanda aljabar kedua band inframerah negatif, atau sebaliknya.

c. Komponen Delta Brightness (DB), ditandai dengan adanya kesamaan tanda aljabar band merah dan inframerah dari waktu yang sama tetapi bertentangan tanda aljabar pada band merah dan inframerah pada waktu yang berbeda. Sebagai contoh, tanda aljabar pada tahun sebelumnya pada band merah dan inframerah positif sedangkan untuk band merah dan inframerah pada tahun sesudahnya negatif atau dapat juga sebaliknya.

d. Komponen Delta Greness (DG) , merupakan kebalikan dari Stable Brightness (SB). Sebagai contoh tanda aljabar untuk band merah positif dan

inframerah negatif untuk tahun sebelumnya, maka tanda aljabar untuk tahun sesudahnya untuk merah negatif dan inframerah positif . Juga bisa sebaliknya, negatif untuk merah, positif untuk inframerah pada tahun sebelumnya dan untuk tahun sesudahnya positif untuk merah dan negatif untuk inframerah.

Proses pembuatan citra sintetis dengan metode MPCA adalah dengan terlebih dulu membuat layer stacking antara citra landsat TM tahun 2000 dan 20003 dan citra landsat TM tahun 2003 dan SPOT 4 XS tahun 2006. Oleh karena perbedaan resolusi spasial antara citra Landsat TM tahun 2003 dan SPOT 4 XS tahun 2006, terlebih dulu pada citra Landsat TM tahun 2003 dilakukan resampling sehingga resolusi spasialnya menjadi 20 m. Saluran yang digunakan untuk membuat layer stacking pada kedua citra adalah saluran inframerah dekat atau near infrared (NIR), merah (red) dan hijau (green). Pada citra Landsat TM

(38)

adalah saluran 2. Sedangkan pada citra SPOT 4 XS saluran inframerah dekat adalah saluran 3, merah adalah saluran 2 dan hijau adalah saluran 1.

3.4.4 Pembuatan Citra Sintetis Disparitas Indeks Vegetasi atau VIDN (Vegetation Index Differencing)

Selain pembuatan citra PCA multiwaktu juga dibuat citra sintetis yang berasal dari nilai disparitas indeks vegetas NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) yang selanjutnya disebut Vegetation Index Differencing

(VIDN). Nilai VIDN dihitung dengan formula umum :

Di mana :

NIR = Saluran Near Infrared atau Inframerah dekat Red = Saluran merah

Nilai VIDN akan berkisar antara -2 sampai dengan 2 (Jaya, 2005). Nilai yang negatif menyatakan adanya pengurangan biomassa atau vegetasi hijau dan merupakan indikasi adanya perubahan tutupan lahan.

3.4.5 Kriteria Lahan Terbuka

Pengertian lahan terbuka biasa pada penelitian mengacu pada pengertian yang digunakan departemen kehutanan dalam yaitu seluruh kenampakan lahan terbuka tanpa vegetasi (singkapan batuan puncak gunung, puncak bersalju, kawah vulkan, gosong pasir, pasir pantai, endapan sungai), dan lahan terbuka bekas kebakaran, sedangkan lahan terbuka bekas pembersihan lahan-land clearing dimasukkan kelas lahan terbuka. Sedangkan lahan terbuka yang digunakan untuk aktivitas pertambangan terbuka-open pit (spt.: batubara, timah, tembaga dll.), serta lahan pertambangan tertutup skala besar yang dapat diidentifikasikan dari citra berdasar asosiasi kenampakan objeknya, termasuk tailing ground (penimbunan limbah penambangan).

(39)

penambangan lebih dari 3 tahun dan belum dilakukan kegiatan reklamasi. Sedangkan lahan terbuka tambang batubara baru adalah lahan tambang batubara yang termasuk dalam areal perusahaan tambang batubara yang masih aktif.

3.4.6 Tahap Pemeriksaan Lapangan

Penentuan sampel di lapangan dilakukan dengan purposive sampling dengan didasarkan pada hasil training area lahan terbuka pada citra VIDN dan komponen utama. Penentuan sampel tersebut juga perlu dibantu dengan mengunakan citra Quickbird, SPOT 5 peta RBI dan peta topografi agar posisi sampel tepat pada posisi yang diinginkan. Jumlah sampel yang diambil juga mempertimbangkan biaya, waktu dan tenaga.

Pengamatan Lapangan

1. Mencari lokasi titik yang dilakukan berdasarkan kepada daftar lokasi yang telah dibuat, koordinat titik kontrol lapangan dan peta kerja

2. Pengambilan koordinat GPS (Global Position System) titik sampel lapangan. Titik sampel yang diambil adalah pada lahan terbuka di areal tambang dan areal lain akibat aktivitas perladangan berpindah, perkebunan, pemukiman,pembangunan jalan dan lain-lain.

1. Melakukan pengamatan lapangan dengan mencatat kondisi penutupan lahan, kondisi sistem lahan, kemingan lereng.

2. Melakukan dokumentasi kondisi setiap sampel dengan kamera 3. Mengisi formulir isian setiap sampel yang diperiksa.

4. Semua data yang diperoleh dalam pemeriksaan lapangan disimpan dan diolah untuk analisis lebih lanjut.

3.4.7 Penentuan Ambang (Treshold) Nilai Piksel Lahan Terbuka

Dari masing-masing citra sintetik yang terpilih selanjutnya dilakukan tresholding untuk menentukan areal lahan terbuka tambang batubara. Nilai

(40)

Proses tresholding dilakukan dengan kaidah pengambilan keputusan Pembuatan trehshold dilakukan dengan membuat training area pada citra sintetis yang telah dihasilkan.

3.4.8 Filtering (penghalusan) dan Masking

Jaya (2005) menyebutkan bahwa hasil tresholding pada umumnya masih mengandung noise yang tampak seperti noktah-noktah atau sering disebut salt and pepper. Sehingga untuk menghilangkan kesalahan ini dilakukan filtering

menggunakan lowpass filter yaitu filter median. Selanjutnya dilakukan masking untuk melokalisasi lahan terbuka dan mengeluarkan areal yang dapat meningkatkan hasil analisis. Dalam proses masking juga dilakukan tumpang susun antara peta-peta dasar dan tematik seperti peta pemukiman, peta perkebunan dan peta geologi untuk menghasilkan peta lahan terbuka tambang batubara yang logis.

3.4.9 Perhitungan Efisiensi Relatif

Perhitungan efisiensi relatif dilakukan dengan membandingkan biaya per hektar dan waktu antara kegiatan identifikasi lahan tambang batubara dengan metode cara ground survey atau survey lapangan langsung dengan metode penafsiran citra. Komponen biaya yang dianalisis adalah biaya pemeriksaan lapangan, biaya pengadaan citra, biaya pengolahan data, biaya analisis dan pembuatan hasil. Formula yang digunakan adalah :

(41)

Untuk lebih jelasnya, prosedur kerja dapat dilihat pada Tabel 6 dan Gambar 3.

Tabel 6. Proses input output prosedur penelitian

Kegiatan Input Proses Output

1.Pengumpulan Data Citra

Citra Landsat 7 TM Tahun 2003 dan SPOT 4

Citra Landsat TM Path Row 117 62

Dan Citra SPOT 4 XS Path Row 300/356 dan 300/357

2.Pengumpulan Data Sekunder

Letak dan luas wilayah studi, curah hujan, data penduduk dan sosek

3.Pra Pengolahan Citra Citra Landsat TM Path Row 117-62 Dan Citra SPOT 4 XS Path Row 300-356 dan 300-357

1.Mosaicing 2.Koreksi Geometrik 3.Histogram Matching 4.Cropping

5.Layer Stacking 6.Resampling

Hasil pra pengolahan citra wilayah kajian

4.Pembuatan Indeks Vegetasi

Hasil pra pengolahan citra wilayah kajian

Formula NDVI Citra NDVI Tahun 2003 dan 2006

5.Pembuatan Citra VIDN

Citra Gabungan Landsat TM 2003 dan SPOT

9.Ground Checking Hasil Analisis P oint 5,7 dan 8

PetaKerja Pemeriksaan lapanganing

Pengambilan Titik Koordinat dengan GPS

Titik Koordinat Lahan terbuka

10. Perhitungan Akurasi dan Perbandingan Metode

Hasil Analisis point 8 dan 9

Uji Akurasi Metode Idenfikasi Cepat Lahan Terbuka yang terbaik

(42)

Gambar 4. Kerangka Kerja Penelitian

(43)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Spektral Lahan Terbuka Tambang Batubara Pada Citra Optik

(44)

Pada penelitian ini digunakan saluran hijau, merah dan inframerah dekat di mana pada citra landsat TM 7 ada pada saluran 2, 3 dan 4 sedangkan pada citra SPOT 4 XS ada pada saluran 1, 2 dan 3. Hasil identifikasi lahan terbuka tambang batubara secara visual menggunakan kedua citra dengan citra SPOT 5 resolusi tinggi sebagai pembanding dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Karakteristik lahan terbuka tambang batubara

No.

Karakteristik Lahan Terbuka Tambang Batubara Pada Citra

Keterangan

agak kehijauan Warna biru muda Warna ungu

2 Bekas Tambang Warna biru tua agak

gelap

Warna biru tua agak

gelap Warna biru

agak kehijauan Warna biru muda Warna ungu

4 Tambang baru

Warna biru tua agak gelap

Warna biru tua agak

gelap Warna biru

(45)

sudah lama dan tidak direklamasi. Demikian juga kenampakan areal tambang yang tergenang air, kenampakannya juga sama. Sedangkan berdasarkan nilai kecerahan atau digital number (DN) pada citra asli antara lahan terbuka biasa lahan terbuka tambang batubara baru dan lama dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Nilai kecerahan lahan terbuka tambang batubara pada citra

Citra Saluran Nilai kecerahan Lahan Terbuka Tambang Batubara Pada Citra

Lahan Terbuka Biasa Lahan Terbuka

Tambang Batubara perbedaan antara lahan terbuka biasa, lahan terbuka tambang batubara lama dan baru.

4.2 Citra Komponen Utama

Danoedoro (1996) menyebutkan bahwa Analisis komponen utama atau

(46)

Jensen (2005) menyebutkan bahwa hasil dari analisis PCA menghasilkan dua komponen yaitu komponen mayor dan minor, di mana komponen mayor yang diturunkan dari dataset citra menyatakan variasi data yang tidak mengalami perubahan sehingga disebut stable component. Sedangkan komponen minor menyatakan perubahan kontras antara dua data citra pada waktu yang berbeda sehingga disebut change component. Untuk mengidentifikasi komponen mayor dan minor pada PCA digunakan nilaieigen (eigenvalue) dan vektoreigen (eigenvector) yang diturunkan dari dataset citra melalui aljabar linier. Lebih lanjut Jaya (2006) menyebutkan bahwa untuk mengidentifikasi komponen-komponen delta greeness, delta brightness, stable greeness dan stable brightness

dilakukan dengan cara melihat tanda aljabar pada eigenvector dari setiap band PC pada masing-masing komponen.

Analisis citra komponen utama pada penelitian ini menggunakan citra Landsat 7 TM tahun 2003 dan citra SPOT 4 XS tahun 2006. Kedua citra ini mempunyai karakteristik yang berbeda yaitu resolusi spasial yang berbeda dan waktu liputan yang berbeda. Untuk membuat citra komponen utama terlebih dulu citra Lansat 7 TM di resampling resolusi spasialnya dari 30 m menjadi 20 m, yang kemudian dibuat satu set data citra gabungan antara landsat 7 TM dan SPOT4 XS. Hasil analisis citra komponen utama multiwaktu dengan menggunakan metode MPCA dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Eigenvector dari Komponen Utama Multiwaktu Landsat TM tahun 2003 dan SPOT XS tahun 2006

Band PC1 PC2 PC3 PC4 PC5 PC6

(47)

Jaya (2005) menyebutkan bahwa berdasarkan konsep eigenvector yang membentuk sumbu baru yang saling ortogonal dan sekaligus mencari korelasi yang tinggi pada komponen-komponen di kelompok awal, maka sesungguhnya sumbu-sumbu komponen yang merekam adanya perubahan adalah pada komponen-komponen pada kelompok akhir. Pada Tabel terlihat 9 dapat dilihat bahwa kestabilan kecerahan atau stable brightness (SB) ditemukan pada komponen pertama atau PC1, perubahan kecerahan atau delta brightness (DB) ditemukan pada komponen kedua atau PC2 dan kestabilan kehijauan atau stable greenness (SG) ditemukan pada komponen ketiga atau PC3. Sedangkan komponen delta greenness (DG) yang menunjukkan perubahan kehijauan pada tutupan vegetasi tidak teridentifikasi. Komponen-komponen yang ditemukan hanya stable brightness, delta brightness dan stable greeness. Indeks stable brightness (SB) mencakup variasi 79,25 %, delta brightness (DB) 12,81% dan

stable greeness (SG) 6,23%.

Suatu perubahan tutupan lahan yang terjadi pada suatu areal dapat merupakan penambahan atau pengurangan kehijauan dan kecerahan atau kontras. Perubahan yang terjadi seperti tergambar pada Tabel 9 merupakan perubahan penambahan kehijauan atau pengurangan kecerahan. Hal in ditunjukkan oleh tanda aljabar masing-masing bobot pada saluran merah dan inframerah pada kedua waktu. Pada citra sintetik PC2 atau delta brightness terjadi pengurangan kecerahan atau kontras di mana terlihat bahwa pada tahun 2003 nilai bobot pada saluran merah dan inframerah positif yaitu 0,6453 dan 0,1958 sedangkan pada tahun 2006 mempunyai nilai positif yaitu -0,1869 dan -0,3806. Pada citra PC3 atau stable greenness tidak terjadi perubahan kehijauan dan kecerahan yang ditunjukkan tanda aljabar yang tetap pada band red dan infrared pada kedua tahun. Indeks delta brightness (DB) menunjukkan terjadinya perubahan kelembaban tanah yang penyebabnya erat berhubungan dengan adanya perubahan atau penambahan lahan terbuka seperti aktivitas penambangan batubara. Studi yang dilakukan Hayes dan Sader (2001) menggunakan metode MPCA juga hanya mendapatkan komponen Stable Brigtness, Stable Greeness dan Delta Brightness

(48)

terbuka tambang batubara digunakan citra indeks SB, DB dan SG. Hasil identifikasi komponen-komponen tersebut dapat dilihat pada Gambar 5~8.

Gambar 5. Citra Stable Brightness (SB) pada PC1 serta inset Perbesaran lahan terbuka tambang batubara

(49)

Gambar 7. Citra Stable Greenness (SG) pada PC 3 serta inset perbesaran lahan terbuka tambang batubara

(50)

4.3 Disparitas Indeks Vegetasi atau VIDN (Vegetation Index Differencing)

Metode (Normalized Difference Vegetation Index) atau NDVI menghasilkan nilai indeks yang sensitif terhadap keberadaan vegetasi di permukaan bumi dan dapat digunakan untuk mengetahui tipe, jumlah dan kondisi vegetasi. Transformasi NDVI dihitung berdasarkan perbandingan dari intensitas yang terukur pada saluran spektral merah dan inframerah dekat menggunakan rumus NDVI. Pembuatan citra sintetis VIDN berasal dari nilai disparitas indeks vegetasi NDVI antara dua waktu yang berbeda.

Pembuatan citra VIDN pada penelitian ini menggunakan citra NDVI SPOT 4 XS tahun 2006 dan citra Landsat 7 TM tahun 2000 dan 2003. Metode ini umum digunakan untuk tujuan analisis perubahan atau change detection. Deteksi perubahan merupakan sutu proses mengindetifikasi perubahan-perubahan suatu obyek atau fenomena melalui pengamatan pada berbagai waktu yang berbeda. Intinya adalah dengan melakukan kuantifikasi pengaruh-pengaruh temporal dengan menggunakan serangkaian data yang dikumpulkan secara multiwaktu.

Seperti yang dikemukakan oleh Jensen (2006) bahwa salah satu metode yang paling sederhana untuk mengetahui terjadinya suatu perubahan tutupan lahan adalah menggunakan teknik pengurangan citra. Jaya (2005) menjelaskan bahwa nilai VIDN berkisar antara -2 sampai dengan 2 di mana nilai yang negatif menyatakan adanya pengurangan biomasa atau vegetasi hijau. Terjadinya pengurangan biomassa merupakan salah satu indikasi terjadinya suatu perubahan tutupan lahan, di mana pada penelitian ini perubahan lahan yang dimaksud adalah terjadinya lahan terbuka pada areal pasca tambang batubara.

Nilai VIDN dihitung dengan formula umum yaitu :

Di mana :

NIR = Saluran Near Infrared atau Inframerah dekat Red = Saluran merah

Pada citra Landsat saluran inframerah dekat terdapat pada band 4 sedangkan saluran merah terdapat pada saluran 3. Pada citra SPOT 4 XS saluran

(51)

inframerah dekat terdapat pada saluran 3 sedangkan saluran merah terdapat pada salura 2. Hasil analasis pembuatan citra VIDN menggunakan software Erdas versi 9.1 dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Citra VIDN serta inset perbesaran lahan terbuka tambang batubara

(52)

Tabel 10. Kenampakan Tambang Lama dan Baru pada citra sintetis dan optik No Citra Tambang Baru Tambang Lama

1 Citra SB

Warna abu-abu keputihan abu-abu 2 Citra DB

Warna abu-abu putih abu-abu 3 Citra SG

Warna hitam abu-abu tua 4 Citra

Komposit SB, DB,SG

(53)

No Citra Tambang Baru Tambang Lama 5 VIDN

Warna putih keabuan abu-abu

3 Citra Landsat

TM 7 Band Red

Abu-abu hitam hitam

4 Citra Landsat

TM 7 Band NIR

Warna Abu-abu hitam

5 Citra SPOT 4

XS Band Red

Warna Putih abu-abu Abu-abu muda

6 Citra SPOT 4

XS Band NIR

(54)

Sedangkan berdasarkan hasil identifikasi nilai kecerahan atau digital number (DN) karakteristik lahan terbuka tambang batubara lama dan baru pada keempat citra sintetik dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Nilai Kecerahan lahan terbuka pada berbagai citra sintetik

Citra Sintetik

Nilai Kecerahan Pada citra Sintetik

Lahan Terbuka Lahan Terbuka Biasa

Tambang Batubara Baru Tambang Batubara Lama

Min Max Rerata Min Max Rerata Min Max Rerata

SB 177,92 396,77 271,54 148,89 354,82 285,03 255,54 286,84 268,14

DB 3,21 44,53 25,89 1,33 31,27 16,27 -59,36 1,43 -46,85

SG -104,03 -16,38 -67,70 -100,44 -29,87 -75,96 -40,32 -18,56 -31,15

VIDN 0,21 0,30 0,27 -0,08 0,56 0,36 -0,22 0,39 -0,09

Berdasarkan Tabel 11 dapat dilihat bahwa nilai kecerahan atau digital number (DN) antara lahan terbuka tambang batubara lama dan baru berbeda pada rata-ratanya, dan juga bisa dibedakan dengan lahan terbuka biasa. Kemudian dari keempat citra sintetik kemudian ditentukan nilai ambang untuk areal yang menunjukkan lahan pasca tambang batubara. Nilai ambang (treshold) didapatkan dengan terlebih dulu membuat training area atau areal contoh pada keempat citra sintetik yang kemudian dari hasil pembuatan areal contoh akan dibuat rata-rata ambang batas bawah dan ambang batas atas dari masing-masing citra.

Penentuan areal contoh di bedakan untuk lahan terbuka tambang batubara terbuka lama dan baru. Untuk lahan terbuka tambang batubara lama digunakan data sekunder hasil pemeriksaan lapangan tahun 2005 dari dinas pertambangan dan energi kabupaten Banjar. Sedangkan untuk lahan terbuka tambang batubara baru digunakan acuan hasil pemeriksaan lapangan tahun 2009. Penentuan areal contoh juga dibantu dengan menggunakan citra resolusi tinggi yaitu citra SPOT 5 tahun 2007 dan quickbird tahun 2006.

(55)

Tabel 12. Nilai Treshold Citra SB,DB, SG dan VIDN pada lahan terbuka tambang batubara lama

No. Indeks Ambang Bawah (Td)

Ambang Atas (Tu)

1. Stable brightness 307,55 328,603 2. Delta brightness 10,84 36,935 3. Stable Greenness -45,71 -31,934 4. VIDN 0,076 0,186

Tabel 13. Nilai Treshold Citra SB,DB, SG dan VIDN pada lahan terbuka tambang batubara baru

No. Indeks Ambang Bawah

(Td)

Ambang Atas (Tu)

1. Stable brightness (SB) 263,70 280,33

2. Delta brightness (DB) -43,026 -27,962

3. Stable Greenness (SG) -83,03 -52,766

4. VIDN -0,186 0,032

Berdasarkan nilai ambang pada Tabel 12 dan 13 kemudian dibuat citra tunggal yang menunjukkan lokasi-lokasi areal pasca tambang batubara. Pembuatan citra ini menggunakan algoritma sederhana menggunakan ekspresi logika AND dan OR menggunakan software Erdas Imagine versi 9.1 sebagai berikut :

(56)

Hasil analisis dapat dilihat pada Gambar 10 dan 11.

a.

b.

(57)

d.

Berdasarkan hasil identifikasi lahan tambang batubara lama menggunakan ambang batas pada Tabel 12 terlihat bahwa citra sintetik yang dihasilkan masih mengalami konfusi dengan areal lain seperti pemukiman, areal sawah dan awan.

Untuk hasil identifikasi lahan tambang batubara baru menggunakan ambang batas pada tabel 12 dapat dilihat pada Gambar 11.

a.

Gambar 10. lahan terbuka tambang batubara lama hasil tresholding untuk citra a.SB b. DB c. SG dan d. VIDN.

(58)

b.

c.

d.

Gambar 11. lahan terbuka tambang batubara baru hasil tresholding untuk citra a.SB b. DB c. SG dan d. VIDN.

Keterangan : areal berwarna merah adalah areal yang teridentifikasi sebagai lahan terbuka tambang batubara baru,garis polyline biru merupakan areal perusahaan tambang batubara, garis polyline kuning merupakn pemukiman dan titik

(59)

Berdasarkan hasil identifikasi lahan tambang batubara lama menggunakan ambang batas pada Tabel 13 terlihat bahwa citra sintetik baik yang dihasilkan seperti pada Gambar 11 masih mengalami konfusi dengan areal lain seperti pemukiman, areal sawah dan awan. Namun hasil identifikasi lahan terbuka tambang batubara menggunakan citra sintetik SG memberikan hasil yang lebih jelas dibandingkan dengan citra lain karena tidak terjadi konfusi dengan penutupan lahan lain

Untuk mendapatkan hasil akhir maka citra tunggal hasil tresholding pada metode MPCA perlu dibuat komposit citra kemudian dilakukan pengambilan keputusan untuk menghasilkan satu citra tunggal lahan terbuka tambang batubara. Hal ini dilakukan dengan menerapkan algoritma pengambilan keputusan menggunakan penghubung logika OR. Proses tersebut dilakukan dengan menggunakan software Erdas Imagine versi 9.1 dengan membuat model sebagai berikut :

EITHER 1 IF (Citra treshold gabungan(layer 1) EQ 1 OR Citra treshold

gabungan(layer 2) EQ 1 OR Citra treshold s gabungan (layer3) EQ 1) OR 0

OTHERWISE (menggunakan penghubung OR).

Keterangan : EQ (Equality) = penghubung atau relasi.

Hasil dari model merupakan citra tunggal dari metode MPCA yang menggambarkan lahan terbuka tambang batubara lama dan baru. Jaya (2005) menyebutkan bahwa hasil tresholding pada umumnya masih mengandung noise

yang tampak seperti noktah-noktah atau sering disebut salt and pepper. Sehingga untuk menghilangkan kesalahan ini dilakukan filtering menggunakan lowpass filter yaitu filter median. Selanjutnya dilakukan masking untuk melokalisasi lahan terbuka dan mengeluarkan areal yang dapat meningkatkan hasil analisis. Hal ini dilakukan dengan menggunakan data peta geologi dan peta penutupan lahan hasil penafsiran secara konvensional, di mana areal-areal yang ada penutupan awan dikeluarkan dari analisis. Proses ini dilakukan dengan software Arc View

(60)

a.

b.

Gambar 12. lahan terbuka tambang batubara lama dan baru hasil penggabungan.

(61)

4.4 Pemeriksaan lapangan hasil identifikasi

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan deteksi dari metode komponen utama dan VIDN maka dilakukan kegiatan uji lapangan berdasarkan kenampakkan hasil deteksi pada citra. Pemeriksaan titik-titik lahan terbuka pada areal pasca tambang menggunakan data sekunder hasil pemeriksaan lapanganing tahun 2005 dan hasil pemeriksaan lapangan tahun 2009. Selain itu juga digunakan citra SPOT 5 XS tahun 2007 dan Quickbird tahun 2006. Kegiatan pemeriksaan lapangan dilakukan pada lokasi-lokasi kegiatan penambangan batubara dilakukan pada empat kecamatan yaitu Aranio, Sambung Makmur, Pengaron dan Sungai Pinang. Sedangkan khusus untuk pengamatan lokasi lahan pasca tambang dilakukan pada areal PT Baramulti Sukses Sarana yang terdapat di kecamatan Aranio, PT Rahmat Bara Utama, PT Gunung Sambung, dan CV. Baratama yang terdapat di Kecamatan Sambung Makmur, PT. Tanjung Alam Jaya, PT. Mitra Bara Sejati di kecamatan Pengaron dan PD Baramarta di kecamatan Sungai Pinang.

Berdasarkan hasil pengamatan pada lokasi areal PT Baramulti Sukses Sarana, CV Gunung Sambung, PT Rahmat Bara Utama ternyata sudah tidak ada kegiatan pertambangan maupun kegiatan reklamasi dan revegetasi, Settling pond

(62)

Tabel 14. Keadaan Lapangan di sekitar titik-titik pengamatan

No. Lokasi Koordinat Geografis Keterangan

I Kecamatan Karang Intan di areal PD Baramulti Sukses Sarana.

1 Lokasi Biih I blok I S 3024’ 19,68’’

E 1140 57’ 37,44’’

Penambangan dimulai pada

bulan Juli 2002 sampai

Penambangan dimulai bulan Juli 2002 sampai Maret 2005, Luas bekas tambang 3 ha, belum dilakukan kegiatan revegetasi.

penanaman cover crop atau direvegetasi.

4 Lokasi Biih II Blok

II

30 24,13! LS, 1140 57,737

BT

Penambangan dimulai Juli 2002 sampai Maret 2005 luas tambang 4 hektar

Belum dilakukan penanaman .

5 Lokasi Gunung

Doser

3o 23,948 LS dan 114o 53,870

BT

Penambangan dimulai Mei sampai Agustus 2005. Luas bekas bukaan tambang ± 0,3 hektar, Lahan bekas tambang belum dilakukan penataan dan reklamasi, penanaman vegetasi cover crop dan direvegetasi.

6 Desa Panyambaran 3o25’ 55,32” LS dan 114o57’

48,36”

Kegiatan penambangan dilaksanakan pada bulan Agustus s/d November 2005. Luas bukaan bekas kegiatan penambangan ± 3,2 hektar. belum dilakukan penanaman cover crop dan revegetasi, Tidak dilakukan pemisahan top soil.

7 Gunung Ulin 3o22’ 26,88” LS dan 114o58’

24,36” BT

Penambangan dimulai pada Bulan Januari s/d Juni 2005 Luas bukaan bekas

(63)

No. Lokasi Koordinat Geografis Keterangan

Terdapat areal Eks PETI yang posisi / areal termasuk pada areal PKP2B dan Eksploitasi KP CV. Gunung PT. Tanjung Alam Jaya dan CV Baratama. Sebagian besar areal belum

dilakukan revegetasi dan

reklamasi.

18’ 03,95” LS Desa Maniapun

Areal eks PETI yang ada Eks Peti yang posisi / areal termasuk pada areal PT. Mtra Bara Sejati , belum dilakukan

revegetasi dan reklamasi.

termasuk pada areal PT. Mtra Bara Sejati , belum dilakukan revegetasi dan reklamasi.

2 PT. Mitra Bara Sejati an 03° 17’ 47,11” LS posisi ini

berada didesa Karang Halus,

IV Kecamatan Sungai Pinang

posisi ini berada didesa Sungai Pinang

Areal eks PETI yang ada Eks Peti yang posisi / areal

termasuk pada areal PD

Baramarta, belum dilakukan revegetasi dan reklamasi.

Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Banjar (2007)

4.5 Akurasi Metode MPCA dan VIDN

(64)

yang sedang berjalan. Untuk melengkapi data pada penelitian ini digunakan data sekunder hasil pemeriksaan lapangan terhadap kegiatan eks PETI di kabupaten Banjar. Perhitungan akurasi dilakukan dengan menggunakan metode standar dengan membandingkan total area yang masuk dan keluar dengan menggunakan data areal tambang batubara hasil pemodelan dengan peta acuan (refference map). Congalton dan Green (1999) mengatakan bahwa perhitungan akurasi menggunakan kategori tunggal atau single classification hanya menghasilkan satu akurasi saja yaitu akurasi umum atau overall accuracy. Perhitungan akurasi umum atau overall accuracy seperti pada Tabel 15 dan 16.

Tabel 15. Hasil perhitungan akurasi deteksi bekas lahan terbuka tambang batubara lama

No. Citra Sintetik

Akurasi Umum (Overall Accuracy)

(%)

1 Stable Brightness (SB) 42,01

2 Delta Brightness (DB) 34,97

3 Stable Greenness (SG) 46,99

4 Citra Komposit SB, DB dan SG 32,69

5 VIDN 13,25

Tabel 16. Hasil perhitungan akurasi deteksi lahan terbuka tambang batubara baru

No. Citra Sintetik

Akurasi Umum (Overall Accuracy)

(%)

1 Stable Brightness (SB) 30,79

2 Delta Brightness (DB) 25,27

3 Stable Greenness (SG) 56,22

4 Citra Komposit SB,DB dan SG 76,47

5 VIDN 58,87

(65)

kehijauan saja, sedangkan perubahan kecerahan tanah tidak dapat dirangkum. Secara umum kedua metode belum dapat membedakan antara lahan terbuka tambang batubara yang telah selesai dikerjakan dengan areal tambang batubara yang baru. Citra lahan terbuka tambang batubara hasil deteksi menggunakan metode MPCA dan VIDN dapat dilihat pada Gambar 13 sedangkan hasil pemeriksaan lapangan dapat dilihat pada Gambar 14 dan 15.

a. e.

b. f.

c. g.

Gambar 13. Peta lahan terbuka tambang batubara hasil deteksi menggunakan metode komponen utama (a, b dan c) dan metode VIDN (d, e dan f).

(66)

a. b.

d e

f G

(67)

a. b.

c d

e

(68)

4.6 Efisiensi relatif biaya pemeriksaan lokasi areal tambang

4.6.1 Biaya Dinas Pemeriksaan Terhadap Perusahaan Pertambangan

Berdasarkan data dari dinas pertambangan dan energi kabupaten Banjar biaya yang diperlukan untuk melaksanakan pemeriksaan lapangan perusahaan tambang batubara adalah seperti pada Tabel 17.

Tabel 17. Rincian biaya kegiatan pemeriksaan lapangan tambang batubara

A. Upah dan Perjalanan

Biaya perjalanan dinas personil dinas perkecamatan 1 hari Rp 55.000,- (Gol III) sebanyak 5 orang:

a. 1 pesonil pemeriksaan bidang keselamatan dan kesehatan

kerja (K3)

b. 1 personil pemeriksaan bidang pengelolaan dan

pemantauan lingkungan

c. 1 personil pemeriksaan bidang teknis penambangan

d. 2 personil staf (pembantu pemeriksaan dan pengambilan

sampel uji)

Rp 275.000,-

B. Peralatan dan transport dan akomodasi

1. Sewa mobil double gardan satu kali perjalanan dinas 1 hari

Rp. 750.000,- (include BBM)

2. Makan minum harian :

a. Makan siang Rp 25.000,-/org/perjalanan dinas

b. Snack Rp 10.000,-/org/perjalanan dinas

3. Dokumentasi dan laporan per perusahaan Rp 535.000,-.

Rp 750.000,-

Rp 125.000,-

Rp 50.000,-

Total Biaya Rp 1.255.000,-

Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Banjar (2009).

Total 1 kali pemeriksaan bidang pengawasan pertambangan dan energi Rp 1.255.000,-/hari/perusahaan (biasanya sampai 2 hari) sehingga totalnya sebesar Rp 2.510.000,-. Total biaya yang diperlukan adalah Rp 2.510.000,- x 24 = Rp 60.240.000,-. Di kabupaten Banjar terdapat 24 perusahaan tambang batubara dengan total luas areal 45.894,03 ha, sehingga biaya satuan untuk pemeriksaan lapangan adalah Rp 55.220.000,-/ 45.894,03 ha = Rp 1.312,59/ha.

4.6.2 Perhitungan Biaya Pengadaan citra SPOT

Berdasarkan data dari situs resmi citra SPOT yaitu www.spotimage.com

(69)

1900 atau US $ 1,4132. Dengan asumsi 1 $ = Rp 11.000 maka harga citra SPOT 4 XS dalam rupiah adalah Rp 29.535.880,-. Jumlah citra SPOT 4 XS yang digunakan dalam penelitian adalah 2 lembar, dengan demikian harga satuan citra SPOT 4 XS adalah Rp (29.535.880,-x 2/)360.000 ha = Rp 164,09/ha.

4.6.3 Perhitungan Biaya Pengecekan Lokasi areal pasca tambang batubara

Untuk perhitungan biaya pengecekan lokasi areal pasca tambang batubara di kabupaten Banjar digunakan data biaya adalah seperti pada Tabel 18.

Tabel 18. Rincian biaya kegiatan pemeriksaan lapangan tambang batubara

Jenis Pengeluaran Jumlah (Rp)

A. Upah dan Transport

Upah Tenaga Lapangan

a. Lumsum Tenaga Pembantu (3 org x 2 minggu x Rp 300.000,-) b. Transport Angkot pp ke Lokasi (3 org x 2 minggu x Rp 200.000,-)

1.800.000,- 1.200.000,-

Sub Total A 3.000.000,- B. Peralatan

Alat dan Bahan Penelitian :

a. Sewa Kompas (2 minggu x Rp 25.000,-) b. Sewa Altimeter (2 minggu x Rp 25.000,-) c. Meter Roll

a. Olah Data Citra Satelit dan GIS di Laboratorium (Paket) b. Pengolahan Data Lapangan

1.000.000,- 500.000,-

Sub Total C 1.500.000,- D. Penyusunan Laporan

Penyusunan Laporan : E. Seminar Hasil Penelitian

Seminar Hasil : a. Sewa infokus

b. Penggandaan Makalah Seminar Hasil c. Konsumsi Seminar

250.000,- 250.000,- 250.000,-

Sub Total E 750.000,-

F Laporan Akhir Tesis :

Penggandaan dan Jilid Laporan (10 buah x Rp 150.000,-) 1.500.000,-

Sub Total G 1.500.000,-

G Pengeluaran Lainnya 500.000,-

Sub Total H 500.000,-

(70)

Seperti diketahui bahwa Di kabupaten Banjar terdapat 24 perusahaan tambang batubara dengan total luas areal 45.894,03 ha sehingga biaya satuan untuk pengecekan lokasi tambang batubara adalah Rp 8.240.000,-/ 45.894,03 ha = Rp 179,55/ha.

4.6.4 Perhitungan komponen biaya lain

Komponen-kompoenen biaya lain yang digunakan dalam analisis efisiensi relatif menggunakan data sekunder antara lain biaya pengolahan citra multi waktu sebesar Rp 18,47/ha (Jaya, 2005), biaya sewa hardware dan software pengolah citra sebesar Rp 26,4/ha, biaya pembuatan peta kerja dan peta hasil Rp. 880.000,-/lembar/kabupaten dan pencetakan peta hasil sebesar Rp 100.000/lembar (BPKH V Banjarbaru). Total biaya pembuatan peta kerja dan peta hasil sebanyak 2 lembar adalah Rp 1.960.000,-. Berdasarkan data BPS Kabupaten Banjar tahun 2006 luas kabupaten Banjar adalah 469.900 ha sehingga biaya satuan pembuatan peta dan penpencetakan peta sebesar Rp 1.960.000,/ 469.900 ha = Rp 4,17/ha.

Berdasarkan hasil analisis komponen-komponen biaya yang ada maka dapat dibuat kajian efisiensi sebagaimana tabel 19 dan 20.

Tabel 19. Komponen biaya pengecekan lokasi tambang menggunakan citra

No Komponen Biaya Biaya /Satuan

1 Pengadaan citra SPOT 4 XS 2 Scene Rp/ha 164,09 2 Pengolahan citra 7 Hari Rp/ha 18,47 3 Pengecekan lapangan 30 lokasi Rp/ha 179,55 4 Sewa hardware/software pengolah citra Rp/ha 26,4 Rp/ha 388,51 Tabel 20. Komponen biaya pengecekan lokasi tambang tanpa menggunakan citra

No Komponen Biaya BiayaSatuan

1 Total biaya pemeriksaan lapangan semua perusahaan tambang batubara

Rp/ha 1312,59 2 Pembuatan Peta kerja dan peta hasil identifikasi

perusahaan tambang dan pencetakan peta sebanyak 2 lembar.

Rp/ha 4,17

3 Sewa hardware/software pengolah citra Rp/ha 26,4

(71)

Efisiensi biaya didapatkan dengan menggunakan rumus :

Sehingga berdasarkan komponen biaya yang terdapat pada Tabel 19 dan 20 maka efisiensi relatif (ER) biaya pengecekan lokasi tambang dengan penggunaan citra dibandingkan dengan tanpa menggunakan citra adalah :

3,46

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa biaya pengamatan atau inventarisasi lahan pasca tambang dengan hanya melakukan survey lapangan langsung memerlukan biaya 3,46 kali lebih besar dibandingkan dengan memanfaatkan citra. Apabila diprosentasekan maka biaya survey inventarisasi lahan tambang batubara dengan memanfaatkan citra hanya 1/3,46 x 100% atau 29 % dari biaya survei dengan pengamatan lapangan langsung.

4.7Efisiensi Relatif waktu kegiatan identifikasi areal tambang

Berdasarkan data dari dinas pertambangan dan energi kabupaten Banjar seperti pada Tabel 16 waktu yang dibutuhkan untuk pemeriksaan lapangan secara langsung untuk satu lokasi tambang maksimal 2 hari. Di kabupaten Banjar terdapat 24 perusahaan tambang sehingga total untuk pemeriksaan seluruh areal tambang di kabupaten Banjar adalah 48 hari. Sementara untuk pemeriksaan areal tambang menggunakan citra dibutuhkan waktu 14 hari.

Efisiensi relatif waktu didapatkan dengan menggunakan rumus :

(hari)

(72)
(73)

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis maka pada penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Deteksi lahan pasca tambang dengan metode analisis komponen utama multi waktu atau MPCA (Multidate Principal Component Analysis) menghasilkan tingkat ketelitian overall accuracy sebesar 76,47 % untuk tambang baru dan 35,29% untuk tambang lama. Sedangkan dengan menggunakan metode disparitas indeks vegetasi atau VIDN (Vegetation Index Differencing) menghasilkan tingkat ketelitian overall accuracy

sebesar 58,87 % untuk tambang baru dan 13,25 % untuk tambang lama yang relatif kurang akurat dibandingkan dengan metode MPCA.

2. Pada penggunaan citra tunggal MPCA, citra stable greenness memberikan hasil yang lebih baik dalam mendeteksi lahan tambang batubara baru. sebesar 56,22%. Citra Stable Greeness secara visual memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya.

3. Pada penelitian ini pemanfaatan citra multi spasial dan multi temporal cukup efektif digunakan dalam mendeteksi lahan pasca tambang batubara antara areal tambang batubara lama dan baru. Namun tingkat akurasi yang dihasilkan berbeda di mana akurasi untuk tambang baru lebih baik.

4. Biaya pengamatan atau inventarisasi lahan pasca tambang dengan hanya

(74)
(75)
(76)
(77)
(78)
(79)
(80)
(81)
(82)
(83)
(84)
(85)
(86)
(87)
(88)
(89)
(90)
(91)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pemanfaatan sumberdaya alam tambang di kawasan hutan telah lama dilakukan dan kegiatan pertambangan dan energi merupakan sektor pembangunan penting bagi Indonesia. Dampak lingkungan dari adanya pertambangan ada positif yaitu meningkatkan pendapatan ekonomi baik secara nasional maupun regional, namun juga meninmbulkan dampak negatif seperti perubahan lingkungan seperti degradasi hutan, berkurangnya luasan hutan, hilangnya topsoil dan perubahan secara hidrologi seperti kualitas air akibat polusi serta perubahan iklim secara mikro. Lebih lanjut menurut Kusnoto dan Kusumodirdjo (1995) dalam Qomariah (2003) kegiatan pertambangan selain meningkatkan pendapatan dan devisa negara juga berdampak terhadap lingkungan antara lain menyebabkan penurunan produktivitas tanah, pemadatan tanah, terjadinya erosi dan sedimentasi, terganggunya flora dan fauna, serta terganggunya keamanan dan kesehatan penduduk, terjadinya perubahan iklim mikro. Kerusakan akibat pertambangan dapat terjadi selama kegiatan pertambangan maupun pasca pertambangan. Dampak lingkungan sangat terkait dengan teknologi dan teknik pertambangan yang digunakan. Sementara teknologi dan teknik pertambangan tergantung pada jenis mineral yang ditambang dan kedalaman bahan tambang, misalnya penambangan batubara dilakukan dengan sistem tambang terbuka, sistem dumping (suatu cara penambangan batubara dengan mengupas permukaan tanah).

(92)

(HPT) 40.288,39 ha (9,11 %), hutan produksi konversi (HPK) 20.670,26 ha (4,67 %), hutan lindung (HL) 48.680,08 ha (11,00 %), suaka alam (SA) 57.597,00 ha (13,02 %) (BPKH V,2006).

Pada tahun 2002 produksi batubara di Kalimantan Selatan mencapai 13 juta ton per tahun. Seiring dengan meningkatnya kegiatan pengusahaan batubara resmi, juga meningkat kegiatan Pertambangan Tanpa Ijin (PETI) batubara di berbagai lokasi penambangan Kabupaten Banjar sebagai salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan peningkatan intensitas kegiatan PETI batubara yang berkembang cepat seiring dengan perubahan situasi dan kondisi ekonomi politik di tanah air. Pada tahun 1997 diperkirakan terdapat 157 perusahaan perorangan PETI batubara di Kalimantan Selatan, meningkat menjadi 445 pengusaha ,/peorangan pada tahun 2000. (Qomariah, 2003).

Kajian mengenai dampak pertambangan terbuka telah dilakukan oleh Toren dan Unal (2001) dengan menggunakan citra landsat multi temporal untuk identifikasi dan monitoring dampak pertambangan terbuka terhadap lingkungan di provinsi Manisa Turki. Kemudian Limpitlaw (2003) dan Lau et al. (2005) menggunakan citra landsat multi temporal untuk menurunkan indeks Tasseled Cap atau Kauth Thomas untuk monitoring dampak kegiatan pertambangan. Torres dan Vera (2005) menggunakan metode change detection menggunakan citra multi temporal dan memakai NDVI sebagai dasar untuk menentukan kerusakan yang terjadi secara cepat di areal hutan akibat aktivitas pertambangan di daerah San Luisi, Meksiko. Lebih lanjut Shimabukuro dan Filho (2003) melakukan kajian untuk monitoring pertambangan menggunakan kombinasi citra landsat dan radar oleh. Citra Landsat-5 TM tahun 1987, 1991, 1994, and 1996 and citra radar JERS-1 SAR tahun 1993, 1994, and 1996. Sementara Wenbo, Lijing dan Yang. (2008) menggunakan teknik fusi antara citra Landsat TM dan SAR digunakan menyediakan solusi yang lebih baik dalam monitoring lingkungan di lahan tambang di lahan pertambangan di Cina dan menyediakan basis data yang lebih baik untuk sumberdaya tambang.

Gambar

Gambar 3. Citra Landsat TM tahun 2003 dan SPOT 4XS tahun 2006 wilayah
Gambar 3 Citra Landsat TM tahun 2003 dan SPOT 4XS tahun 2006 wilayah . View in document p.34
Tabel 5. Tabel hasil koreksi geometrik citra SPOT XS tahun 2006
Tabel 5 Tabel hasil koreksi geometrik citra SPOT XS tahun 2006 . View in document p.36
Tabel 6. Proses input output prosedur penelitian
Tabel 6 Proses input output prosedur penelitian . View in document p.41
Gambar 4.  Kerangka Kerja Penelitian
Gambar 4 Kerangka Kerja Penelitian . View in document p.42
Tabel  7.  Karakteristik lahan terbuka tambang batubara
Tabel 7 Karakteristik lahan terbuka tambang batubara . View in document p.44
Gambar 8. Citra Komposit SB, DB dan SG  serta  inset perbesaran lahan terbuka tambang batubara
Gambar 8 Citra Komposit SB DB dan SG serta inset perbesaran lahan terbuka tambang batubara . View in document p.49
Gambar 9. Citra VIDN serta  inset perbesaran
Gambar 9 Citra VIDN serta inset perbesaran . View in document p.51
Tabel 10. Kenampakan Tambang Lama dan Baru pada citra sintetis dan optik
Tabel 10 Kenampakan Tambang Lama dan Baru pada citra sintetis dan optik . View in document p.52
Gambar 11. lahan terbuka tambang batubara baru  hasil tresholding untuk citra a.SB b. DB c
Gambar 11 lahan terbuka tambang batubara baru hasil tresholding untuk citra a SB b DB c. View in document p.58
Gambar 15. Kondisi lapangan areal terbuka tambang batubara di
Gambar 15 Kondisi lapangan areal terbuka tambang batubara di . View in document p.67
Tabel 18. Rincian biaya kegiatan pemeriksaan lapangan tambang batubara
Tabel 18 Rincian biaya kegiatan pemeriksaan lapangan tambang batubara . View in document p.69
Gambar 1. Kerangka pemikiran penelitian
Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian . View in document p.97
Tabel 1. Pembagian luas wilayah kecamatan di kabupaten Banjar
Tabel 1 Pembagian luas wilayah kecamatan di kabupaten Banjar . View in document p.99
Tabel  2 Keadaan geologi di kabupaten Banjar
Tabel 2 Keadaan geologi di kabupaten Banjar . View in document p.101
Tabel 3 Perusahaan tambang di kabupaten Banjar
Tabel 3 Perusahaan tambang di kabupaten Banjar . View in document p.102
Gambar 3. Citra Landsat TM tahun 2003 dan SPOT 4XS tahun 2006 wilayah
Gambar 3 Citra Landsat TM tahun 2003 dan SPOT 4XS tahun 2006 wilayah . View in document p.107
Tabel 5. Tabel hasil koreksi geometrik citra SPOT XS tahun 2006
Tabel 5 Tabel hasil koreksi geometrik citra SPOT XS tahun 2006 . View in document p.109
Tabel 6. Proses input output prosedur penelitian
Tabel 6 Proses input output prosedur penelitian . View in document p.114
Gambar 4.  Kerangka Kerja Penelitian
Gambar 4 Kerangka Kerja Penelitian . View in document p.115
Tabel  7.  Karakteristik lahan terbuka tambang batubara
Tabel 7 Karakteristik lahan terbuka tambang batubara . View in document p.117
Gambar 7. Citra  Stable Greenness (SG) pada PC 3 serta  inset perbesaran lahan terbuka tambang batubara
Gambar 7 Citra Stable Greenness SG pada PC 3 serta inset perbesaran lahan terbuka tambang batubara . View in document p.122
Gambar 8. Citra Komposit SB, DB dan SG  serta  inset perbesaran lahan terbuka tambang batubara
Gambar 8 Citra Komposit SB DB dan SG serta inset perbesaran lahan terbuka tambang batubara . View in document p.122
Gambar 9. Citra VIDN serta  inset perbesaran
Gambar 9 Citra VIDN serta inset perbesaran . View in document p.124
Tabel 10. Kenampakan Tambang Lama dan Baru pada citra sintetis dan optik
Tabel 10 Kenampakan Tambang Lama dan Baru pada citra sintetis dan optik . View in document p.125
Gambar 11. lahan terbuka tambang batubara baru  hasil tresholding untuk citra a.SB b. DB c
Gambar 11 lahan terbuka tambang batubara baru hasil tresholding untuk citra a SB b DB c. View in document p.131
Gambar 12. lahan terbuka tambang batubara lama dan baru
Gambar 12 lahan terbuka tambang batubara lama dan baru . View in document p.133
Tabel 14. Keadaan Lapangan di sekitar titik-titik pengamatan
Tabel 14 Keadaan Lapangan di sekitar titik titik pengamatan . View in document p.135
Gambar 13. Peta lahan terbuka tambang batubara hasil deteksi menggunakan metode
Gambar 13 Peta lahan terbuka tambang batubara hasil deteksi menggunakan metode . View in document p.138
Gambar 14. Citra hasil deteksi areal terbuka tambang batubara di
Gambar 14 Citra hasil deteksi areal terbuka tambang batubara di . View in document p.139
Gambar 15. Kondisi lapangan areal terbuka tambang batubara di
Gambar 15 Kondisi lapangan areal terbuka tambang batubara di . View in document p.140

Referensi

Memperbarui...

Download now (440 pages)
Related subjects : Aktivitas pertambangan