PENGARUH PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK (PMR) TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK DAN SIKAP POSITIF SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA.

35 

Full text

(1)

PENGARUH PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK DAN SIKAP

POSITIF SISWA

TESIS

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Magister Pendidikan

Program Studi Pendidikan Matematika

Oleh: ELLIYA RAHMI NIM : 8106172026

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)

i ABSTRAK

Elliya Rahmi, (2014). Pengaruh Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik (PMR) terhadap kemampuan komunikasi matematik dan sikap positif siswa di Sekolah Menengah Pertama. Tesis Program Studi Pendidikan Matematika Pascasarjana Universitas Negeri Medan, 2014.

Tujuan penelitian dalam desain Eksperimen semu ini menyelidiki pengaruh Pendekatan (PMR) atas kemampuan komunikasi matematika siswa, sikap positif terhadap matematika . Proses penyelasaian masalah yang dibuat oleh siswa dalam menyelesaikan masalah. Penelitian ini dilaksanakan di SMPS Kartika 2 sebanyak 80 siswa . Penelitian ini merupakan suatu studi eksperimen dengan desain penelitian pre-test-post-test control group design.populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 1 (satu) dengan mengambil sampel dua kelas (kelas eksperimen dan kelas kontrol) melalui teknik random sampling. Data diperoleh melalui tes KAM, , tes kemampuan komunikasi matematik, skala sikap. Data dianalisis dengan uji ANAVA dua jalur. Sebelum digunakan uji ANAVA dua jalur terlebih dahulu dilakukan uji homogenitas dalam penelitian dan normalitas dalam penelitian ini dengan taraf signifikan 5%. Hasil analisis data menunjukkan bahwa rata-rata tes kemampuan komunikasi eksperimen dan kontrol adalah 13,37 dan 7,65 dengan p-value (2-tailed) adalah 0, dengan 0

<

α = 0,05 maka terdapat perbedaan kemampuan komunikasi matematik siswa yang diajarkan dengan Pendekatan (PMR) dan Pendekatan Pembelajaran Konvensional, nilai signifikan sebesar 0,444, karena 0,444 > 0,05 maka adanya perbedaan antara pendekatan pembelajaran dengan kemampuan awal siswa terhadap perbedaan kemampuan komunikasi matematik siswa, rata-rata skala sikap positif siswa eksperimen dan kontrol adalah 62,40 dan 53,55 hal ini mengembarkan sikap positif siswa di kelas ekperimen lebih tinggi dari pada sikap positif siswa dikelas kontrol. Proses penyelasaian masalah yang dibuat oleh siswa dalam menyelesaikan masalah pada Pendekatan (PMR) lebih bervariasi daripada Pendekatan Pembelajaran Konvensional. Temuan penelitian merekomendasikan PMR dijadikan salah satu pendekatan pembelajaran yang digunakan di sekolah utamanya untuk mencapai kompetensi berpikir tinggi.

(6)

ii ABSTRACT

Elliya Rahmi, (2014). The influence of Realistic mathematics education Approach (PMR) to mathematical communication skills and positive attitudes of students in junior high school. The thesis of graduate Mathematics Education Study Program State University of Medan, 2014. Research objectives in the design of Experiments investigating the effects of this artificial approach (PMR) for math students communication skills, a positive attitude towards mathematics. The process of penyelasaian problems created by students in solving problems. This research was carried out in the SMPS Kartika 2 80 students. This research is a study of experiments with design research pre-test – post test control group design in this study population. is the entire grade of 1 (one) by taking a sample of the two classes (class a class experiment and control) through a random sampling technique. The Data obtained through test Thurs, mathematical communication skills, tests, scales of attitude. Data were analyzed with the test of ANAVA two lines. Before use test of ANAVA two lines first conducted a test of its homogeneity in research and normality in this study with a significant level of 5%. Results of the analysis of the data shows that the average test experimental and control communication capabilities is 13.37 and 7,65 with p-value (2-tailed) is 0, and 0 < α = 0.05, then there is a difference in mathematical communication skills of students who are taught with the approach (PMR) and Conventional Learning Approach, significant value amounting to 0,444, because 0,444 > 0.05 hence the difference between the approach of learning with the ability of the early students of mathematical communication ability differences students, the average scale of positive attitude students experiment and the control is and this thing 53,55 62,40 mengembarkan positive attitude of students in the class wants higher than on a student's positive attitude control, school classrooms. The process of penyelasaian problems created by students in solving problems on approach (PMR) is more varied than that of Conventional Learning Approach. Research findings recommend PMR was made one of the learning approaches used in primary schools to achieve competence think high.

(7)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan

rahmat dan karunia-Nya serta sholawat dan salam kita sanjung sajikan khadirat

Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabat beliau

sekalian. Sehingga Tesis yang berjudul: ”Pengaruh Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematika Dan Sikap Positif Siswa” .

Tesis ini disusun dalam rangka memenuhi memperoleh gelar magister

pendidikan program studi pendidikan matematika. Selama menyelesaikan

penulisan Tesis ini, penulis menemukan banyak hambatan dan tantangan. Tetapi

kesulitan itu dapat ditanggulangi dengan adanya bantuan berbagai pihak, baik

moral maupun material.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Sahat Saragih, M.Pd selaku Pembimbing I

2. Dr. E. Elvis Napitupulu, MS selakuPembimbing II.

Penulis menyadari bahwa Tesis ini tidak luput dari kekurangan. Untuk itu,

maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari Bapak / Ibu Pembimbing, serta

para pembaca yang sifatnya membangun demi kesempurnaan Tesis ini.

Demikianlah kata pengantar yang dapat penulis sampaikan. Semoga Tesis ini

bermanfaat bagi penulis dan bagi pembacanya.

Medan, Oktober 2014

(8)

v

2.1 Kemampuan Komunikasi Matematik ... 19

2.2 Sikap Positif Matematika ... 25

2.3 Pendekatan Matematika Realistik ... 31

2.4 Pendekatan Konvensional ... 41

2.5 Proses Penyelesaian Jawaban Siswa ... 48

2.6 Teori Belajar Pendukung ... 50

3.3 Populasi Dan Sampel Penelitian ... 70

3.4 Variabel Penelitian ... 72

3.5 Pengontrol Perlakuan ... 74

3.6 Disain Penelitian ... 76

3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 78

3.8 Sikap Positif Matematika ... 86

3.9 Lembar Pengamatan Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran 88

(9)

vi

3.11 Kegiatan Pembelajaran ... 90

3.12 Teknik Analisis Data ... 91

3.13 Prosedur Penelitian ... 97

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN ... 100

4.1 Hasil Penelitian ... 100

4.11. Hasil Uji Coba Intrumen Penelitian ... 100

4.12. Sikap Positif Matematis ... 103

4.13. Analisis Hasil Penelitian ... 104

4.13.1. Hasil Tes Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa . 104 4.13.2. Uji Normalitas Data Kemampuan Komunikasi ... 110

4.13.3. Uji Homogenitas Data Kemampuan Komunikasi Matematika ... 111

4.13.4. Analisis Statistik Anava Dua Jalur ... 112

4.2. Deskripsi Sikap Positif Matematis ... 114

4.2.1. Deskripsi Hasil Sikap Positif Siswa Kelas Eksperimen ... 114

4.2.2. Deskripsi Hasil Tes Sikap Positif Siswa Kelas Kontrol ... 116

4.2.3. Desktripsi Hasil N-Gain Sikap Siswa Di Kelass Ekperimen dan Kelas Kontrol ... 117

4.3. Uji Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa Dan Skala Sikap Siswa Terhadap Matematika Sebelum Pembelajaran ... 119

4.3.1. Rangkuman Hipotesis ... 119

4.3.2. Analisis Proses Penyelesaian Masalah ... 120

4.4. Pembahasan ... 130

4.4.1. Faktor Pembelajaran ... 132

4.4.2. Kemampuan Komunikasi Matematik ... 137

4.4.3. Faktor Sikap Positif ... 140

4.4.4. Proses Penyelesaian Jawaban Siswa... 140

4.4.5. Keterbatasan Dalam Penerapan Pendekatan PMR ... 141

BAB V. SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ... 144

5.1. Simpulan ... 144

5.2. Implikasi ... 144

5.3. Saran ... 146

(10)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel Hal

2.1. Langkah-langkah Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik ... 39

2.2. Langkah-langkah Pendekatan Pembelajaran Konvensional ... 43

2.3. Perbedaan Pedagogok antara Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik dengan Pendekatan Konvensional ... 46

3.1. Rancangan Penelitian ... 77

3.2. Weiner tentang Keterkaitan antara variabel ... 77

3.3. Tes Kemampuan Komunikasi Matematika ... 78

3.4. Skor Alternatif Komunikasi Matematika ... 79

3.5. Validasi Butir Soal Hasil Uji Coba ... 81

3.6. Tingkat Kesukaran Butir Soal Hassil Uji Coba ... 82

3.7. Klasifikasi Daya Pembeda ... 83

3.8. Hasil Analisis Daya Pembeda Tes Komunikasi Matematik ... 83

3.9. Indikator dan Daftar Peryataan Pengembangan Angket Sikap ... 86

3.10. Skor Alternatif Jawaban Skala Sikap Siswa ... 88

3.11. Perbedaan Pedagogik antara Pendekatan Matematika Realistik dengan Pembelajaran Konvensional ... 90

3.12. Kriteria Proses Jawaban Kemampuan Komunikasi ... 92

4.1. Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran ... 101

4.2. Hasil Uji Coba Tes Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa ... 102

4.3. Deskripsi Data kemampuan Komunikasi Matematik Siswa Kedua Kelompok Pembelajaran ... 105

4.4. Rata-rata Kemampuan Kelompok PMR dan Kelompok Konvensional Berdasarkan Kemampuan Matematika Siswa ... 106

4.5. Hasil Uji Normalitas Tes Kemampuan Komunikasi Matematis ... 110

4.6. Hasil Uji Homogenitas Tes Kemampuan Komunikasi Matematis Kelompok Kontrol Dan Kelompok Eksperimen ... 112

4.7. Uji Anava Kemampuan Komunikassi Matematis Siswa ... 113

4.8. Deskripsi Hasil Sikap Positif Kelas Ekperimen ... 115

4.9. Deskripsi Hasil Tes Sikap Positif Siswa Kelas Kontrol ... 116

4.10. Rataan N-Gain Skala Sikap Siswa di Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 117

4.11. Data Hasil Pretes ... 119

(11)

viii

DAFTAR GAMBAR

Hal

Gambar2.1. Konsep Matematisasi (De Lange Dalam Sudiarta,2004 ... 34

Gambar 2.2. Bagan langkah-langkah pembelajaran matematika dengan

pendekatan pendidikan matematika realistik ... 41

Gambar 3.1 Prosedur Pengambilan Sampel ... 71

Gambar 4.1 Rata-rata Skor Kemampuan Komunikasi Matematik ... 105

Gambar 4.2 Rata-rata Skor Mean dan Standar Deviasi Kemampuan

Komunikasi Matematik Berdasarkan Pembelajaran ... 107

Gambar 4.3 Rata-rata Skor Mean Kemampuan Komunikasi Matematik

Berdasarkan Faktor Pembelajaran Dan Kemampuan

Matematik ... 108

Gambar 4.4 Diagram Batang Skala Sikap Siswa Kalas Eksperimen ... 115

Gambar 4.5 Diagram Batang Skala Sikap Kelas Kontrol ... 116

Gambar 4.6 Diagram Batang N-Gain Sikap Positif Kelas Eksperimen

(12)

ix

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN Hal

1 Lembar Validasi ... 156

2 Hasil Pertimbangan Tes Kemampuan Matematik Siswa ... 159

3 Kisi-kisi Tes dan Butir Soal Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa ... 168

4 Kunci Jawaban Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa ... 172

5 Kisi-kisi Skala Sikap Positif Siswa ... 175

6 Angket Skala Sikap Untuk Siswa ... 177

7 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Kelas Kontrol) ... 179

8 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Kelas Eksperimen) ... 189

9 Lembar Aktifitas Siswa (LAS) ... 235

10 Deskripsi Hasil Pretes Dan Postes Kemampuan Komunikasi Kelompok PMR ... 265

11 Deskripsi Hasil Pretes Dan Postes Kemampuan Komunikasi Kelompok Konvensional ... 266

12 Data KAM Kelas Eksperimen ... 267

13 Data KAM Kelas Kontrol ... 268

14 Dokumentasi Penelitian ... 287

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa.

Bangsa yang telah maju sudah barang tentu pendidikannya juga maju. Pendidikan

berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Orang yang berpendidikan akan

lebih berpengetahuan, terampil, inovatif dan produktif dibandingkan mereka yang

tidak berpendidikan. Pendidikan adalah segala kegiatan pembelajaran yang

berlangsung sepanjang zaman dalam segala situasi kegiatan kehidupan.

Pendidikan berlangsung di segala jenis, bentuk dan tingkat lingkungan hidup,

yang kemudian mendorong pertumbuhan segala potensi yang ada di dalam diri

individu sehingga menjadikan proses perubahan menuju pendewasaan,

pencerdasan dan pematangan diri. Pendidikan yang bermutu indikatornya adalah

penguasaan iptek dan pengembangannya untuk kebutuhan hidup manusia.

Belajar matematika berarti belajar untuk berfikir logis dan kritis, dan

belajar mengemukakan gagasan untuk dapat diaplikasikan dalam pemecahan

masalah. Hal ini penting supaya ketika siswa dihadapkan pada permasalahan

kehidupan sehari-hari yang mampu mengkomunikasikan pemikiran matematis

mereka untuk menyelesaikan masalah baik persoalan matematika itu sendiri

maupun persoalan yang menyangkut bidang keilmuan lainnya. Matematika yang

(14)

2

Siswa tidak mau berusaha dan sedapat mungkin selalu menghindar dari

kesulitan yang dialaminya. Hal ini berdampak pada hasil belajar matematika siswa

rendah. Sehingga dalam pembelajaran sangat diperlukan kemampuan Komunikasi

matematik dan sikap positif siswa terhadap matematika, agar mampu

menyelesaikan persoalan-persoalan matematika. Bagi seorang guru dalam

mengembangkan kemampuan komunikasi pada siswa dan menumbuhkan sikap

positif siswa terhadap matematika tidaklah mudah, akan tetapi tidak boleh cepat

menyerah sebab cara seseorang untuk dapat memahami dan berpikir sangat

ditentukan oleh lingkungan di mana ia hidup.

Diungkapkan oleh Soedjadi (2004) bahwa: ”pendidikan matematika

memiliki dua tujuan besar yang meliputi (1) tujuan bersifat formal, yang memberi

tekanan pada penataan nalar anak serta pembentukan pribadi anak dan (2) tujuan

yang bersifat material yang memberi tekanan pada penerapan matematika serta

kemampuan memecahkan masalah matematika”. Hal ini sangat sesuai dengan

tujuan pembelajaran matematika yang dirumuskan oleh National Council Of

Teacher Of Mathematic (NCTM, 2000) (1) belajar untuk berkomunikasi

(mathematical communication), (2) belajar untuk bernalar (mathematical

reasoning), (3) belajar untuk memecahkan masalah (mathematical problem

solving), (4) belajar untuk mengaitkan ide (mathematical connections), (5)

pembentukan sikap positif terhadap matematika (positive attitudes toward

mathematics).

Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah adalah

(15)

3

konsep dan wawasan baru tentang pembelajaran di sekolah telah muncul dan

berkembang seiring pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Guru sebagai personil yang menduduki posisi strategis dalam rangka

pengembangan sumber daya manusia (SDM) dituntut untuk terus mengikuti

berkembangnya konsep-konsep baru dalam dunia pembelajaran tersebut.

Dengan melihat permasalahan tersebut di atas tentu dibutuhkan peran

aktif dan perhatian yang lebih serius oleh berbagai pihak terkait untuk dapat

meningkatkan hasil belajar matematika seperti yang diharapkan. Dalam hal ini

guru matematika mempunyai peran yang sangat penting guna mengatasi

permasalahan yang dimaksud, karena guru memiliki peran model dalam kegiatan

proses belajar mengajar. Peran model ini adalah mentransformasikan

pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai kepada peserta didik.

Menurut Gagne (dalam Mulyasa, 2003) menyebutkan ada tiga fungsi yang

dapat diperankan oleh guru dalam mengajar yaitu merancang, megelola dan

mengevaluasi pelajaran. Pendapat ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh

Hamalik (2006), bahwa secara opersional ada lima variabel utama yang berperan

dalam proses belajar mengajar, yaitu : tujuan pengajaran, materi pelajaran, metode

dan tekhnik mengajar, guru, murid dan logistik. Semua komponen tersebut

memiliki ketergantungan satu sama lain. Oleh karena itu dibutuhkan guru yang

profesional yaitu guru yang selalu membuat persiapan-persiapan mulai dari yang

membuat perencanaa tujuan pembelajaran, pengorganisasian materi, pemilihan

pendekatan, metode, media, evaluasi dan dapat merealisasikan apa yang telah

(16)

4

Berdasarkan standar kompetensi yang termuat dalam kurikulum 2006,

aspek kemampuan komunikasi matematika merupakan salah satu komponen yang

harus dimiliki oleh siswa. Kemampuan komunikasi matematika perlu dikuasi

siswa karena dalam dunia pendidikan tidak terlepas dari peran komunikasi.

Kemampuan komunikasi matematika adalah kemampuan untuk menyatakan ide

matematika melalui ucapan, tulisan, demonstrasi, dan melukiskan secara visual

dalam tipe yang berbeda, memahami, menafsirkan, dan menilai ide yang disajikan

dalam tulisan, lisan atau dalam bentuk visual, mengkontruksikan dan

menghubungkan bermacam-macam representasi ide dan hubungannya. Tidak jauh

berbeda dengan salah satu filosofi kurikulum 2013 “Pendidikan untuk

membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu

dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap

sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat

dan bangsa yang lebih baik (experimentalism and social reconstructivism).

Dengan filosofi ini, Kurikulum 2013 bermaksud untuk mengembangkan potensi

peserta didik menjadi kemampuan dalam berpikir reflektif bagi penyelesaian

masalah sosial di masyarakat, dan untuk membangun kehidupan masyarakat

demokratis yang lebih baik”

.

Hal senada juga dikemukakan Saragih (2007) yang menyatakan

kemampuan komunikasi dalam pembelajaran matematika perlu untuk

diperhatikan, ini disebabkan komunikasi matematik dapat mengorganisasikan dan

mengkonsolidasikan berpikir matematis siswa baik secara lisan maupun tulisan.

(17)

5

siswa kepada pemahaman matematika yang mendalam tentang konsep

matematika yang dipelajari. Begitu juga menurut Collins (1998) menyebutkan

bahwa salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran matematika

adalah memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk

mengembangkan dan mengintegrasikan keterampilan berkomunukasi melalui

lisan maupun tulisan. Hal yang sama tertuang dalam tujuan yang dirumuskan oleh

NCTM (2000) dan kurikulum 2004 (Depdiknas 2004)

Dari uraian di atas tampak bahwa kemampuan berkomunikasi matematik

perlu ditumbuhkembangkan di kalangan siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat

Baroody (1993:134) bahwa sedikitnya ada dua alasan penting mengapa

komunikasi dalam matematika perlu ditumbuhkembangkan di kalangan siswa.

Pertama, bahasa matematika, artinya matematika tidak hanya sekedar alat bantu

berpikir (a tool to aid thinking), alat untuk menemukan pola, menyelesaikan

masalah atau mengambil kesimpulan, tetapi matematika juga sebagai suatu alat

yang berharga untuk mengkomunikasikan berbagai ide secara jelas, tepat dan

cermat. Kedua, aktifitas sosial pembelajaran matematika artinya sebagai aktivitas

sosial dalam pembelajaran matematika, matematika juga sebagai wahana interaksi

antar siswa, dan komunikasi antar guru dan siswa. Sementara menurut Greenes

dan Schulman (1996:224) bahwa komunikasi matematik merupakan (1) kekuatan

sentral bagi siswa dalam merumuskan konsep dan strategi matematika (2) modal

keberhasilan bagi siswa terhadap pendekatan dan penyelesaian dalam eksplorasi

(18)

6

temannya untuk memperoleh informasi, membagi pikiran dan penemuan, curah

pendapat, menilai dan mempertajam ide.

Hal senada juga dikemukakan oleh Greenes dan Schulman (dalam Ansari,

2009:10) yang menyatakan bahwa kemampuan komunikasi matematik dapat

terjadi ketika siswa (1) Menyatakan ide matematika melalui ucapan, tulisan,

demonstrasi, dan melukiskannya secara visual dalam tipe yang berbeda,

(2) Memahami, menafsirkan, dan menilai ide yang disajikan dalam tulisan, lisan,

atau dalam bentuk visual, (3) Mengkonstruks, menafsirkan dan menghubungkan

bermacam-macam representasi ide dan hubungannya. Namun kenyataan di

lapangan, dari penelitian Ansari (2009:62) menjelaskan bahwa “siswa Sekolah

Menengah Atas di Propinsi Aceh rata-rata kurang terampil didalam

berkomunikasi untuk menyampaikan informasi seperti menyampaikan ide dan

mengajukan pertanyaan serta menanggapi pertanyaan/pendapat orang lain.

Mereka cenderung bersipat pasif/diam ketika guru mengajukan pertanyaan untuk

mengecek pemahaman siswa, padahal sebenarnya mereka sudah memahami

materi yang telah diajarkan. Siswa juga masih terlihat segan atau malu-malu untuk

bertanya ketika guru menyediakan waktu untuk bertanyak. Kalaupun ada yang

menjawab pertanyaan, baik yang diajukan guru atau temannya penyampaian

terasa kaku, kurang variatif, monoton, dan tidak aktual. Jadi terlihat bahwa proses

pembelajaran di kelas “tidak hidup”.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi

matematika siswa masih rendah, di dalam pembelajaran selama ini guru tidak

(19)

7

matematika sehingga kemampuan komunikasi matematika siswa sangat terbatas

hanya pada jawaban verbal yang pendek atas berbagai pertanyaan yang diajukan

oleh guru.

Untuk mengungkapkan lebih jelas lagi tentang kesulitan siswa dalam

menyelesaikan soal kemampuan komunikasi matematis maka diberikan sebuah tes

tentang materi pecahan pada siswa SMPS Kartika 2 yaitu:

SOAL:

Ada sepuluh drum berisi penuh minyak di gudang penyimpanan.

Sebanyak 3

8 minyak dari salah satu drum hilang. Jika harga jual minyak yang

hilang adalah Rp90.000,00, berapa rupiah harga jual minyak yang masih

tersisa seluruhnya. Selesaikanlah permasalahan tersebut dengan

menggunakan model.

(20)

8

Hasilnya menunjukkan bahwa banyak siswa yang mengalami kesulitan

dalam menjawab soal tersebut, siswa tidak mampu mengemukakan ide

matematikanya secara tulisan, siswa tidak mengetahui apa yang diketahui, siswa

sulit memahami soal tersebut dan merubah soal ke dalam bentuk model

matematika, ditemukannya kesalahan siswa dalam menafsirkan soal, akibatnya

kemampuan komunikasi matematika siswa rendah. Hal ini diperkuat oleh hasil

penelitian Yamin (2011) yang dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa tuntas

secara klasikal hanya mencapai 57,14%. Artinya, hasil belajar siswa belum

memenuhi standar ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan yaitu 85%.

Dikarenakan masih ada siswa yang belum mampu membuat model matematika

dari soal yang ditanyakan, akibatnya mereka kesulitan menemukan strategi

penyelesaian. Selain itu, hal ini juga disebabkan karena kurangnya keberanian

siswa untuk bertanya kepada guru atau temannya untuk menanyakan hal-hal yang

tidak atau kurang dimengerti pada saat pembelajaran.

Selain kemampuan komunikasi, terdapat aspek psikologis yang turut

memberikan kontribusi terhadap keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan

tugas dengan baik. Aspek psikologis tersebut adalah sikap. Sikap merupakan

suatu kecendrungan seseorang untuk menerima atau menolak sesuatu konsep,

kumpulan ide, atau kelompok individu. Matematika dapat diartikan sebagai suatu

konsep atau ide abstrak yang pelalarannya dilakukan secara deduktif aksiomatik.

Hal ini dapat disikapi oleh siswa secara berbeda-beda, mungkin menerima dengan

baik atau sebaliknnya. Dengan demikian sikap siswa terhadap matematika adalah

(21)

9

matematika berkolerasi positif dengan prestasi belajar matematika. Sikap siswa

terhadap matematika sangat erat kaitannya dengan minat siswa terhadap

matematika, bahkan sebagian dari sikap merupakan akibat dari minat, misalnya

siswa yang berminat terhadap matematika maka ia akan mengerjakan tugas

matematika, ini pertanda bahwa siswa tersebut bersikap positif terhadap

matematika. Dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 (Depdiknas,

2004) mengenai standar isi mata pelajaran matematika yang menyatakan bahwa

tujuan nomor 5 pelajaran matematika di sekolah adalah supaya para siswa:

“memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu

memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika,

serta ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah”.

Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa matematika dianggap sebagai

pelajaran yang sulit, rumit, membosankan, tidak menarik, tidak menyenangkan,

dan matematika dianggap sebagai pelajaran yang menakutkan bagi sebagian besar

siswa. Menurut Suryadi (2005) pelajaran matematika di sekolah sering kali

menjadi momok, siswa mengganggap matematika pelajaran yang sulit, anggapan

tersebut tidak terlepas dari persepsi yang berkembang dalam masyarakat tentang

matematika merupakan ilmu yang abstrak, penuh dengan lambang-lambang dan

rumus-rumus yang membingungkan, yang muncul atas pengalaman kurang

menyenangkan ketika belajar matematika di sekolah. Hal ini dapat dilihat dari

kemampuan-kemampuan matematika siswa khususnya kemampuan pemahaman

(22)

10

sangat jauh dari hasil yang memuaskan dan sangat mengkhawatirkan. Sehingga

berbuntut kepada sikap negatif siswa terhadap matematika.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis, banyak siswa yang

mengatakan bahwa matematika itu sulit, rumit, membosankan, tidak menarik, dan

tidak menyenangkan. Mereka juga mengatakan tidak suka dengan matematika

atau dengan kata lain banyak dari mereka bersikap negatif terhadap matematika.

Setelah penulis selidiki mengapa mereka beranggapan seperti tersebut di atas,

ternyata penyebab utamanya adalah mereka tidak mengerti dan tidak memahami

apa yang diinformasikan guru, kemudian pembelajaran yang diterapkan guru

masih mengandalkan pembelajaran konvensional. Sehingga mereka benar-benar

tidak memahami apa yang sedang dipelajari, yang pada akhirnya mereka

beranggapan seperti di atas dan bersikap negatif terhadap matematika. Menurut

Zulkardi (2001) timbulnya sikap negatif siswa terhadap matematika karena

kebanyakan guru matematika mengajarkaan matematika dengan metode yang

tidak menarik, guru menerangkan dan siswa mencatat, menurutnya pendekatan

pengajaran matematika di Indonesia masih menggunakan pendekatan tradisional

yang menekankan proses latihan, prosedural serta menggunakan rumus dan

algoritma sehingga siswa dilatih mengerjakan soal seperti mesin.

Dalam kegitan pembelajaran siswa adalah subjek dan mitra guru dalam

mencapai tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu kondisi siswa sangat menentukan

keberhasilan pencapaian tujuan tersebut. Pengalaman menyenangkan dan tidak

(23)

11

terhadap pelajaran matematika dan hal ini akan terlihat pada perilaku mereka saat

belajar matematika.

Pendekatan pembelajaran mempunyai andil yang cukup besar dalam

kegiatan belajar mengajar. Kemampuan diharapkan dapat memiliki anak didik

akan ditentukan oleh kerelevansian penggunaan suatu pendekatan pembelajaran

yang sesuai dengan tujuan. Hal ini berarti tujuan pembelajaran akan dicapai

dengan menggunakan pendekatan yang tepat, sesuai dengan standar keberhasilan

terpatri di dalam suatu tujuan pendekatan yang digunakan dalam kegiatan

pembelajaran bermacam-macam penggunaan tergantung dari rumusan tujuan.

Untuk menumbuhkembangkan kemampuan komunikasi dan sikap positif

matematika siswa diperlukan suatu pendekatan pembelajaran matematika yang

mampu menumbuhkan kemampuan komunikasi dan sikap positif. Salah satu

pendekatan pembelajaran matematika yang dapat digunakan untuk

mengembangkan kemampuan komunikasi dan sikap positif adalah pendekatan

matematika realistik.

Pendekatan Matematika Realistik (PMR) merupakan salah satu bentuk

membelajarkan siswa dengan cara menyampaikan pengalaman langsung. Siswa

belajar dari lingkungan yang ada disekitarnya. Pada pembelajaran ini, siswa

dituntut untuk menemukan sendiri pengetahuan baru. Namun tidak hanya

mendapatkan pengetahuan yang baru, lebih dari itu siswa diharapkan agar mampu

memahami proses yang terjadi dalam mendapatkan ilmu itu. Maksudnya, siswa

membangun pengetahuannya sendiri. Siswa juga dituntut untuk dapat

(24)

12

matematika dan menginterpretasikan ilmu yang dia peroleh dengan kejadian

aktual di masyarakat. Sedangkan guru dituntut untuk dapat memahami

karakteristik belajar siswa, sehingga siswa dapat belajar dengan gayanya

masing-masing, dengan begitu pembelajaran menjadi menyenangkan dan lebih bermakna,

dan hal inilah yang akan menumbuhkan sikap positif siswa terhadap pembalajaran

matematika.

Pendekatan Matematika Realistik (PMR) ini akan membantu kelompok

siswa yang bersikap negatif terhadap matematika dalam memahami

konsep-konsep matematika, sehingga siswa mampu melihat bagaimana konsep-konsep-konsep-konsep

tersebut saling berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian

siswa kelompok ini dapat menghubungkan benda nyata, gambar dan diagram ke

dalam ide matematika, baik menjelaskan ide, situasi dan relasi matematik dalam

lisan maupun tulissan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam pendekatan

Matematika Realistik ini, siswa dilibatkan secara aktif dalam soal-soal

komunikasi matematik, melalui lembar aktivitas siswa, latihan-latihan, penugasan

maupun kegiatan lain yang melibatkan keaktifan siswa sehingga mampu

meningkatkan kemampuan komunikasi matematik pada kelompok siswa yang

bersikap negatif terhadap pembelajaran matematika, demikian juga kelompok

siswa yang bersikap positif terhadap pembelajaran matematika, kemampuan

komunikasi matematiknya akan lebih baik.

Untuk menumbuh kembangkan kemampuan komunikasi dan sikap positif

siswa terhadap pembelajran matematika, guru harus mengupayakan pembelajaran

(25)

13

mendorong siswa untuk melatih kemampuan komunikasi dan sikap positif siswa

terhadap matematika. Disamping itu perlu diketahui bahwa setiap siswa

mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam memahami matematika.

Seperti yang dinyatakan Ruseffendi (1991) bahwa, dari sekelompok siswa yang

dipilih secara acak akan selalu dijumpai siswa yang memiliki kemampuan tinggi,

sedang dan rendah. Namun perbedaan yang dimiliki oleh siswa bukan

semata-mata bawaan dari lahir, tetapi bisa saja dipengaruhi oleh lingkungan. Dengan

demikian pemilihan lingkungan belajar khususnya strategi pembelajaran menjadi

sangat penting untuk dipertimbangkan sehingga dapat mengakomodasi

kemampuan komunikasi siswa yang heterogen agar hasil belajar dapat

dimaksimalkan.

Pendekatan Matematika Realistik (PMR) berpandangan bahwa matematika

sebagai aktivitas manusia, dikembangkan tiga prinsip dasar, yaitu: (a) penemuan

terbimbing dan bermatematika secara progressif, (b) penomena pembelajaran, dan

(c) pengembangan model mandiri, serta memiliki lima karakteristik yaitu: (1)

menggunakan masalah kontekstual, (2) menggunakan model, (3) menggunakan

kontribusi siswa, (4) terjadinya interaksi dalam proses pembelajaran, (5)

menggunakan berbagai teori belajar yang relevan, saling terkait, dan integrasi

dengan topik pembelajaran lainnya.

Untuk mengaktifkan siswa dalam pembelajaran matematika salah satunya

adalah dengan menggunakan Pendekatan Matematika Realistik (PMR)

mendorong siswa untuk belajar lebih aktif dan lebih bermakna artinya siswa

(26)

14

menggunakan keterampilan pengetahuannya, sehingga pengetahuan dan

pengalaman belajar mereka akan tertanam untuk jangka waktu yang cukup lama.

Pendekatan Matematika Realistik juga dapat menumbuhkan komunikasi

matematik peserta didik, sajian materi perlu memuat beragam strategi, soal non

rutin atau latihan pemecahan masalah. Soal non rutin adalah soal yang tipenya

berbeda dengan contoh atau soal latihan yang telah disajikan. Menurut Trianto

(2009) bahwa : Pendekatan realistik menggunakan dua komponen matematisasi

dalam proses pembelajaran matematika yaitu matematisasi horisonal yang

merupakan proses sehingga siswa dengan pengetahuan yang dimilikinya dapat

mengorganisasikan dan mengkomunikasikan matematik secara nyata dalam

kehidupan sehari-hari dan matematisasi vertikal yang merupakan proses

pengorganisasian kembali dengan menggunakan matematika itu sendiri.

Peneliti perlu mengembangkan pembelajaran matematika dengan

pendekatan realistik untuk peningkatan komunikasi matematika dan sikap positif

siswa, sehingga peneliti tertarik untuk menelitinya.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka permasalahan

umum penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut :

1. Kemampuan komunikasi matematika siswa masih rendah.

2. Rendahnya sikap positif siswa dalam mata pelajaran matematika.

3. Kurangnya kemampuan siswa mengkomunikasikan masalah matematika

(27)

15

4. Penggunaan model pembelajaran yang kurang efektif dengan karakteristik

materi pelajaran dan metode mengajar atau pendekatan yang kurang

bervariasi sehingga siswa kurang aktif dalam belajar.

5. Pembelajaran dengan Pendekatan Matematika Realistik belum diterapkan

disekolah.

6. Bentuk proses penyelesaian masalah atau soal-soal komunikasi matematika

di kelas tidak bervariasi.

1.3 Batasan Masalah

Masalah yang teridentifikasi di atas merupakan masalah yang cukup luas

dan kompleks, agar penelitian ini lebih fokus maka masalah yang akan diteliti

difokuskan pada komunikasi matematik dan sikap positif siswa melalui penerapan

pendekatan pendidikan matematika realistik di SMP.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan

masalah maka rumusan masalah penelitian ini:

1. Apakah kemampuan komunikasi matematik siswa yang memperoleh

pendekatan pendidikan matematika realistik lebih baik dari pada

kemampuan komunikasi matematika siswa yang memperoleh pendekatan

konvensional?

2. Apakah sikap positif matematika siswa yang memperoleh pendekatan

pendidikan matematika realistik lebih baik dari pada sikap positif

(28)

16

3. Bagaimana proses jawaban siswa berkaitan dengan masalah komunikasi

dan sikap positif matematika pada masing-masing pembelajaran?

1.5 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yang terdapat pada

rumusan masalah. Secara operasional tujuan penelitian ini untuk :

1. Untuk mengetahui kemampuan komunikasi siswa yang pembelajarannya

menggunakan pendekatan pendidikan matematika realistik lebih baik dari

pada dengan pendekatan konvensional.

2. Untuk mengetahui kemampuan sikap positif matematik siswa yang

memperoleh pendekatan pendidikan matematika realistik lebih baik dari

pada sikap positif matematik siswa sebelum memperoleh pendekatan

pendidikan matematika realistik.

3. Untuk melihat proses jawaban siswa terkait dengan masalah komunikasi

matematika dan sikap positif siswa pada tiap-tiap pembelajaran.

1.6 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada tenaga

pendidik atau guru bidang studi matematika dan para pembaca. Adapun manfaat

penelitian ini ditinjau dari berbagai asfek yaitu :

1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi tenaga pendidik,

khususnya guru mata pelajaran matematika dalam penerapan pendekatan

pendidikan matematika realistik untuk meningkatkan kemampuan

(29)

17

2. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, hasil dan penelitian

dapat dijadikan bandingan/masukan bagi guru dalam mengimplementasikan

dan mengembangkan pembelajaran matematika realistik pada materi lain

dan mata pelajaran lain yang relevan.

3. Penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi sekolah, hasil dan perangkat

penelitian ini dapat dijadikan untuk mengambil kebijakan terkait penerapan

pembelajaran inovatif.

4. Diharapkan peranan model PMR dapat melibatkan siswa secara aktif dalam

belajar matematika dengan arahan dan bimbingan guru sebagai fasilitator.

Diharapkan pula siswa secara aktif dapat membangun pengetahuannya,

mampu meningkatkan komunikasi matematik dalam menghadapi

permasalahan, serta memperoleh pengalaman baru dengan pembelajaran

yang lebih bermakna.

5. Penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti sendiri dan memberikan

sumbangan pemikiran lain tentang bagaimana pengaruh pendekatan

pendidikan matematika realistik terhadap kemampuan komunikasi

matematik dan sikap positif siswa.

1.7 Definisi Operasional

Untuk menghindari terjadinya perbedaan pengertian terhadap istilah-istilah

yang terdapat pada rumusan masalah dalam penelitian ini, perlu dikemukakan

definisi operasional sebagai berikut :

1. Kemampuan komunikasi matematis adalah: (a) Menyatakan suatu situasi,

(30)

18

ide, situasi matematika secara tulisan dengan benda nyata, gambar, grafik dan

aljabar; (c) Menggunakan keahlian membaca, menulis dan menelaah untuk

mengintepretasikan dan mengevaluasi ide-ide serta informasi matematika; (d)

Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau model matematika; (e)

Membentuk ekspresi matematika

2. Sikap Positif Matematika siswa adalah kecendrungan seseorang untuk

menerima konsep atau objek matematika (a) kepercayaan diri dalam

matematika, (b) kecemasan dalam matematika, (c) kegunaan matematika, (d)

sikap terhadap keberhasilan, (e) dorongan untuk keberhasilan dalam

matematika, (f) persepsi terhadap sikap dan dorongan guru matematika.

3. Pendekatan Matematika Realistik adalah suatu pendekatan yang digunakan

dalam membahas bahan pelajaran matematika dengan karakteristik: (1)

menggunakan masalah kontekstual, (2) menggunakan model, (3) menggunakan

kontribusi siswa, (4) interaktif, dan (5) keterkaitan.

4 .Pendekatan konvensional adalah pendekatan pembelajaran yang digunakan

guru di sekolah yang meliputi: (1) menyampaikan tujuan dan mempersiapkan

siswa, (2) mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan, (3) membimbing

pelatihan, (4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik, (5)

(31)

148

BAB V

SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini, dapat

disimpulkan hal-hal berikut:

1. Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan komunikasi matematik siswa

yang diajarkan dengan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik (PMR)

dan Pendekatan Pembelajaran Konvensional.

2. Terdapat peningkatan sikap positif matematis siswa dengan memperoleh

Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik (PMR) lebih baik daripada

siswa yang mengikuti Pembelajaran Konvensional.

3. Proses penyelesaian siswa dalam menyelesaikan masalah kemampuan

komunikasi matematik pada pendekatan PMR, langkah-langkah berurutan

dan penyelesaian benar dibanding dengan pembelajaran konvensional. Hal ini

dapat ditemukan dari hasil kerja siswa baik yang diajarkan dengan

pendekatan (PMR) maupun PK.

5.2 Implikasi

Penelitian ini berfokus pada peningkatan kemampuan berpikir kritis dan

pemecahan masalah matematika siswa melalui pembelajaran matematika dengan

(32)

149

yang dilakukan mengacu pada aktivitas siswa melalui pemberian masalah

kontektual kepada siswa demi mencapai penemuan (reinvention) terhadap

konsep-konsep maupun aturan-aturan matematis yang formal. Sehingga masalah

kontektual dalam pembelajaran ini berfungsi sebagai latihan, pembentukan atau

penemuan konsep, prosedur atau strategi penyelesaian.

Hasil penelitian ini sangat sesuai untuk digunakan sebagai salah satu

alternatif dalam meningkatkan kualitas pendidikan matematika. Oleh karena itu

kepada guru matematika di Sekolah Menengah Pertama diharapkan memiliki

pengetahuan teoritis maupun ketrampikan menggunakan pendekatan matematika

realistik dalam proses pembelajaran. Pendekatan matematika realistik ini belum

banyak dipahami oleh sebagian besar guru matematika terutama para guru senior,

oleh karena itu kepada para pengambil kebijakan dapat mengadakan pelatihan

maupun pendidikan kepada para guru matematika yang belum memahami strategi

pendekatan matematika realistik.

Penerapan pendekatan matematika realistik yang terjadi di kelas

berlangsung antar lain melalui : sajian LAS berupa masalah kontektual yang

menarik dan menantang, memaksimalkan kontribusi siswa, interaksi antar

komunitas kelas yang multi arah melalui diskusi kelas, dan keterkaitan dengan

bidang atau pengetahuan lain.

Beberapa implikasi yang perlu diperhatikan bagi guru sebagai akibat dari

pelaksanaan proses pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik antara

lain :

1. Guru harus mampu membangun pembelajaran yang interaktif,

(33)

150

mengklarifikasi dalam berpikir kritis matematik, sedangkan memahami

masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah dan

memeriksa kembali dalam pemecahan masalah matematik.

2. Diskusi dalam PMR merupakan salah satu sarana bagi siswa untuk

peningkatan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah matematik

siswa yang mampu menumbuhkembangkan suasana kelas menjadi lebih

dinamis, demokratis dan menimbulkan rasa senang dalam belajar

matematika.

3. Peran guru sebagai teman belajar, mediator, dan fasilitator membawa

konsekuensi keterdekatan hubungan guru dan siswa. Hal ini berakibat guru

lebihmemahami kelemahan dan kekuatan dari bahan ajar serta karakteristik

kemampuan individu siswa.

5.3. Saran

Penelitian mengenai penerapan pembelajaran dengan pendekatan

matematika realistik ini, masih merupakan langkah awal dari upaya

meningkatkan kompetensi dari guru, maupun kompetensi siswa. Oleh

karena itu, berkaitan dengan temuan dan kesimpulan dari studi ini

dipandang perlu agar rekomendasi-rekomendasi berikutnya dilaksanakan

oleh guru matematika SMP, lembaga dan peneliti lain yang berminat.

1. Kepada Guru

a. Pembelajaran dengan pendekatan PMR merupakan salah satu

alternatif bagi guru matematika dalam menyajikan materi

(34)

151

b. Dalam menerapkan pembelajaran matematika realistik hendaknya

membuat suatu skenario yang matang, sehingga tidak banyak

waktu yang terbuang oleh hal-hal yang tidak perlu, khususnya

menentukan benda-benda yang real di sekitar agar tidak terjadi

miskonsepsi.

c. Pembelajaran dengan pendekatan PMR hendaknya diterapkan

pada materi yang esensial menyangkut benda-benda yang real di

sekitar tempat belajar, agar siswa lebih cepat memahami pelajaran

yang sedang dipelajari.

d. Dalam setiap pembelajaran guru sebaiknya menciptakan suasana

belajar yang memberi kesempatan kepada siswa untuk

mengungkapkan gagasan-gagasan matematika dalam bahasa dan

cara mereka sendiri, sehingga dalam belajar matematika siswa

menjadi berani beragumentasi, lebih percaya dan kreatif.

2. Kepada lembaga terkait

Pembelajaran dengan pendekatan (PMR), masih sangat asing bagi guru

dan siswa terutama pada guru dan siswa di daerah, oleh karena itu

perlu disosialisasikan oleh sekolah dengan harapan dapat

meningkatkan kemampuan belajar siswa, khususnya meningkatkan

kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematik siswa

yang tentunya akan berimplikasi pada meningkatnya prestasi siswa

(35)

152

3. Kepada peneliti yang berminat

Untuk penelitian lebih lanjut hendaknya penelitian ini dapat dilengkapi

dengan meneliti aspek lain secara terperinci yang belum terjangkau

Gambar

Gambar2.1.   Konsep Matematisasi (De Lange Dalam Sudiarta,2004  ........... 34
Gambar2 1 Konsep Matematisasi De Lange Dalam Sudiarta 2004 34 . View in document p.11
gambar, benda nyata dan diagram ke dalam ide matematika; (b) Menjelaskan
Menjelaskan . View in document p.29

Referensi

Memperbarui...

Download now (35 pages)