Upaya meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Santo Lukas, Sokaraja, Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur, Jawa Tengah melalui katekese umat model shared christian praxis.

Gratis

23
237
137
2 years ago
Preview
Full text

  

ABSTRAK

  Judul

  skripsi ini adalah “UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN

  UMAT DALAM HIDUP MENGGEREJA DI STASI SANTO LUKAS, SOKARAJA, PAROKI SANTO YOSEP PURWOKERTO TIMUR, JAWA TENGAH MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN

  PRAXIS ”. Judul ini dipilih bertitik tolak dari keprihatinan penulis terhadap umat

  di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Jumlah umat Stasi kurang lebih 335 orang namun sebagian besar belum terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Umat yang aktif hanya orang-orang tertentu saja seperti ketua lingkungan, katekis, prodiakon dan sebagian umat yang memiliki semangat melayani, sehingga tidak semua kegiatan yang dilaksanakan di Stasi maupun Lingkungan mendapat dukungan penuh dari umat. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk melihat bagaimana pemahaman umat Stasi Santo Lukas Sokaraja mengenai hidup menggereja serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan mengetahui bentuk kegiatan yang mampu meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja.

  Bertolak dari tujuan penulisan, penulis memperoleh data dengan mengadakan penelitian. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner dan wawancara kepada umat Stasi Santo Lukas Sokaraja. Hasil penelitian menyatakan sebagian besar umat sangat setuju bahwa kesaksian akan Yesus Kristus diwujudkan lewat tindakan nyata sehari-hari. Mereka juga setuju bahwa semua umat Stasi Santo Lukas Sokaraja aktif dalam kegiatan gerejani.

  Gereja merupakan persekutuan orang-orang yang beriman kepada Kristus sebagai perwujudan karya Allah yang konkret. Gereja berdiri kokoh atas dasar Kristus sebagai Kepala dan Allah yang berkarya memanggil umat-Nya untuk diberikan tanggung jawab dan kebebasan. Umat Katolik yang telah dibaptis dan menerima sakramen Penguatan atau Krisma diharapkan mampu untuk mengambil bagian dalam tugas perutusan Yesus Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja. Ardhisubagyo mengartikan hidup menggereja sebagai pengabdian sukarela untuk mengambil bagian dalam lima tugas Gereja yaitu koinonia, kerygma, martyria,

  

liturgia dan diakonia. Dengan demikian kaum awam berperan aktif dalam

kehidupan dan kegiatan Gereja.

  Berdasarkan keprihatinan di atas, penulis mengusulkan katekese umat model Shared Christian Praxis (SCP) sebagai usaha untuk meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Penulis memilih katekese umat model SCP karena katekese ini dianggap dapat membantu umat Stasi Santo Lukas Sokaraja untuk semakin aktif terlibat dalam kegiatan hidup menggereja, bukan hanya hadir saja tetapi ikut ambil bagian dalam ke

  giatan. Tema umum yang diangkat dalam usulan program ini adalah “Panggilan

  untuk meningkatkan hidup menggereja umat mengikuti Kristus dengan Dasar

  

Iman”. Kesimpulan dari skripsi ini bahwa keterlibatan dan keikutsertaan umat

  dalam hidup menggereja sangat diharapkan. Keterlibatan umat tidak hanya aktif dalam Perayaan Ekaristi dan koor saja tetapi umat diharapkan dapat terlibat aktif dalam setiap tugas dan peranan Gereja secara keseluruhan sehingga kegiatan hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja semakin maju dan berkembang.

  

viii

  

ABSTRACT

The title of this thesis is the “EFFORTS TO INCREASE THE

  INVOLVEMENT OF THE FAITHFUL IN PARTICIPATING CHURCH LIFE

  IN SAINT LUKE STATION, SOKARAJA, PARISH SAINT JOSEPH EAST PURWOKERTO, CENTRAL JAVA THROUGH PEOPLE CATECHESIS BY USING SHARED CHRISTIAN PRAXIS MODEL". This title choosen was based on writer's concern on the people faithful in the Saint Luke Station Sokaraja. The current number of people in Station approximately 335 people, but most of them have not been involved in the activities of church activities. Those who are active are only some such as neighborhood leaders, catechists, Acolytes and most people who have a passion to serve. Not all activities carried out in the Station, have not received full support from them. The purpose of this paper is to see how the understanding of the faithful of the Station Santo Luke Sokaraja about church life and its application in everyday life and to know the activities that can improve the involvement of people in church living.

  Based on the purpose of writing, the writer obtained the data by conducting a research. The study was conducted by distributing questionnaires and interviews to them of Santo Luke Sokaraja Station. The result of the study shows that the majority of people strongly agree that the testimony of Jesus Christ is realized through daily actions. They also agree that all them of Santo Luke Sokaraja Station are active in ecclesial activities.

  The church is a fellowship of those who believe in Christ as the embodiment of God's work in concrete. The Church stands firmly on the foundation of Christ as the Head and the work of God who calls His people to have the responsibility and freedom. Catholics who have been baptized and received the sacrament of Confirmation are expected to be able to take part in the mission of Jesus Christ as Priest, Prophet and King. Ardhisubagyo interpret church life is a voluntary service to be taken part in the five duties of the Church. These are koinonia, Kerygma, martyria, liturgy and diakonia. Thus the laity play an active role in the life and activity of the Church. Based on the concerns above, the writer proposes a model community catechesis Christian Shared Praxis (SCP) as an effort to increase the involvement of people in participating church life at Station Santo Luke Sokaraja. The writer choose community catechesis SCP model because catechesis is thought to help people Station Santo Luke Sokaraja for getting actively involved in the participating church life, not only to be present but to take part in activities. The common theme raised in the proposed program is "Calling the faithful to follow in faith Christ Basis of Faith". The conclusion of this paper is that the involvement and participation of people participating church life is expected. Community involvement is not in the celebration of the Eucharist and the choir only but to be actively involved in each task and role of the Church as a whole so that the activities participating church life at Station Santo Luke Sokaraja will be growing.

  

ix

  

UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN UMAT

DALAM HIDUP MENGGEREJA DI STASI SANTO LUKAS, SOKARAJA,

PAROKI SANTO YOSEP PURWOKERTO TIMUR, JAWA TENGAH

MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS

  

S K R I P S I

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh:

  Agnes Jajar Anur Umastuti NIM: 111124017

  

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2016

  

iv

PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan untuk: ayahku (Bernadus Sudarisman), ibuku (Anna Tatik Haryati), kembaranku (Maria Jajar Anur Arsuma), adikku (Cicilia Novia Tri Risdiana) dan umat Stasi Santo Lukas, Sokaraja.

  

v

MOTTO

  

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih”

  (1 Yoh 4:8)

  

ABSTRAK

  Judul

  skripsi ini adalah “UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN

  UMAT DALAM HIDUP MENGGEREJA DI STASI SANTO LUKAS, SOKARAJA, PAROKI SANTO YOSEP PURWOKERTO TIMUR, JAWA TENGAH MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN

  PRAXIS ”. Judul ini dipilih bertitik tolak dari keprihatinan penulis terhadap umat

  di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Jumlah umat Stasi kurang lebih 335 orang namun sebagian besar belum terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Umat yang aktif hanya orang-orang tertentu saja seperti ketua lingkungan, katekis, prodiakon dan sebagian umat yang memiliki semangat melayani, sehingga tidak semua kegiatan yang dilaksanakan di Stasi maupun Lingkungan mendapat dukungan penuh dari umat. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk melihat bagaimana pemahaman umat Stasi Santo Lukas Sokaraja mengenai hidup menggereja serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan mengetahui bentuk kegiatan yang mampu meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja.

  Bertolak dari tujuan penulisan, penulis memperoleh data dengan mengadakan penelitian. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner dan wawancara kepada umat Stasi Santo Lukas Sokaraja. Hasil penelitian menyatakan sebagian besar umat sangat setuju bahwa kesaksian akan Yesus Kristus diwujudkan lewat tindakan nyata sehari-hari. Mereka juga setuju bahwa semua umat Stasi Santo Lukas Sokaraja aktif dalam kegiatan gerejani.

  Gereja merupakan persekutuan orang-orang yang beriman kepada Kristus sebagai perwujudan karya Allah yang konkret. Gereja berdiri kokoh atas dasar Kristus sebagai Kepala dan Allah yang berkarya memanggil umat-Nya untuk diberikan tanggung jawab dan kebebasan. Umat Katolik yang telah dibaptis dan menerima sakramen Penguatan atau Krisma diharapkan mampu untuk mengambil bagian dalam tugas perutusan Yesus Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja. Ardhisubagyo mengartikan hidup menggereja sebagai pengabdian sukarela untuk mengambil bagian dalam lima tugas Gereja yaitu koinonia, kerygma, martyria,

  

liturgia dan diakonia. Dengan demikian kaum awam berperan aktif dalam

kehidupan dan kegiatan Gereja.

  Berdasarkan keprihatinan di atas, penulis mengusulkan katekese umat model Shared Christian Praxis (SCP) sebagai usaha untuk meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Penulis memilih katekese umat model SCP karena katekese ini dianggap dapat membantu umat Stasi Santo Lukas Sokaraja untuk semakin aktif terlibat dalam kegiatan hidup menggereja, bukan hanya hadir saja tetapi ikut ambil bagian dalam ke

  giatan. Tema umum yang diangkat dalam usulan program ini adalah “Panggilan

  untuk meningkatkan hidup menggereja umat mengikuti Kristus dengan Dasar

  

Iman”. Kesimpulan dari skripsi ini bahwa keterlibatan dan keikutsertaan umat

  dalam hidup menggereja sangat diharapkan. Keterlibatan umat tidak hanya aktif dalam Perayaan Ekaristi dan koor saja tetapi umat diharapkan dapat terlibat aktif dalam setiap tugas dan peranan Gereja secara keseluruhan sehingga kegiatan hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja semakin maju dan berkembang.

  

viii

  

ABSTRACT

The title of this thesis is the “EFFORTS TO INCREASE THE

  INVOLVEMENT OF THE FAITHFUL IN PARTICIPATING CHURCH LIFE

  IN SAINT LUKE STATION, SOKARAJA, PARISH SAINT JOSEPH EAST PURWOKERTO, CENTRAL JAVA THROUGH PEOPLE CATECHESIS BY USING SHARED CHRISTIAN PRAXIS MODEL". This title choosen was based on writer's concern on the people faithful in the Saint Luke Station Sokaraja. The current number of people in Station approximately 335 people, but most of them have not been involved in the activities of church activities. Those who are active are only some such as neighborhood leaders, catechists, Acolytes and most people who have a passion to serve. Not all activities carried out in the Station, have not received full support from them. The purpose of this paper is to see how the understanding of the faithful of the Station Santo Luke Sokaraja about church life and its application in everyday life and to know the activities that can improve the involvement of people in church living.

  Based on the purpose of writing, the writer obtained the data by conducting a research. The study was conducted by distributing questionnaires and interviews to them of Santo Luke Sokaraja Station. The result of the study shows that the majority of people strongly agree that the testimony of Jesus Christ is realized through daily actions. They also agree that all them of Santo Luke Sokaraja Station are active in ecclesial activities.

  The church is a fellowship of those who believe in Christ as the embodiment of God's work in concrete. The Church stands firmly on the foundation of Christ as the Head and the work of God who calls His people to have the responsibility and freedom. Catholics who have been baptized and received the sacrament of Confirmation are expected to be able to take part in the mission of Jesus Christ as Priest, Prophet and King. Ardhisubagyo interpret church life is a voluntary service to be taken part in the five duties of the Church. These are koinonia, Kerygma, martyria, liturgy and diakonia. Thus the laity play an active role in the life and activity of the Church.

  Based on the concerns above, the writer proposes a model community catechesis Christian Shared Praxis (SCP) as an effort to increase the involvement of people in participating church life at Station Santo Luke Sokaraja. The writer choose community catechesis SCP model because catechesis is thought to help people Station Santo Luke Sokaraja for getting actively involved in the participating church life, not only to be present but to take part in activities. The common theme raised in the proposed program is "Calling the faithful to follow in faith Christ Basis of Faith". The conclusion of this paper is that the involvement and participation of people participating church life is expected. Community involvement is not in the celebration of the Eucharist and the choir only but to be actively involved in each task and role of the Church as a whole so that the activities participating church life at Station Santo Luke Sokaraja will be growing.

  

ix

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Tuhan karena kasih dan penyertaan-Nya penulis dapat

  

menyelesaikan skripsi yang berjudul “UPAYA MENINGKATKAN

  KETERLIBATAN UMAT DALAM HIDUP MENGGEREJA DI STASI SANTO LUKAS, SOKARAJA, PAROKI SANTO YOSEP PURWOKERTO TIMUR, JAWA TENGAH MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED

  CHRISTIAN PRAXIS ”.

  Skripsi ini ditulis atas dasar keprihatinan penulis terhadap keterlibatan umat dalam kegiatan hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Salah satu penyebab kurang terlibatnya umat dalam kegiatan hidup menggereja yaitu karena kurang adanya kesadaran dalam diri umat itu sendiri.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat selesai karena bantuan dari banyak pihak. Pada kesempatan ini penulis dengan setulus hati mengucapkan terima kasih kepada: 1.

  Romo Drs. M. Sumarno Ds., S.J., M.A., selaku dosen pembimbing utama,

  yang telah memberi perhatian, memberi sumbangan pemikiran kepada penulis dan bersedia meluangkan waktu untuk membimbing penulis dengan kesabaran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

  2. Bapak Drs. L. Bambang Hendarto Y., M.Hum., selaku dosen pembimbing akademik dan selaku dosen penguji II, yang telah membimbing penulis selama menempuh studi di IPPAK dan berkenan menjadi dosen penguji skripsi.

  

x

  3. Bapak P. Banyu Dewa HS, S.Ag., M.Si., selaku dosen penguji III, yang berkenan menguji penulis.

  4. Romo Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung, SJ selaku Kaprodi dan Bapak Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd., selaku Wakaprodi, yang telah bersedia memberikan dukungan, perhatian, motivasi kepada penulis selama berproses di Prodi IPPAK.

  5. Segenap Staf Dosen dan Karyawan Prodi IPPAK-JIP-FKIP-USD, Yogyakarta yang telah mendidik dan membimbing penulis selama menempuh studi.

  6. Bapak Petrus Bambang Purnama Eka selaku Ketua Stasi Santo Lukas Sokaraja yang telah mengijinkan dan berkenan membantu dalam pelaksanaan penelitian serta memberikan informasi mengenai umat di Stasi Santo Lukas, Sokaraja.

  7. Umat Stasi Santo Lukas Sokaraja yang telah bersedia membantu penulis dalam mengumpulkan data dengan mengisi kuesioner penelitian dan wawancara.

  8. Bapak, Ibu, kakak dan adikku yang selalu mengingatkan dan memberi semangat kepada penulis selama mengerjakan skripsi ini.

  9. Keluarga besar simbah Sukirman Hadiwiyono dan simbah Atmo Harjono yang selalu mendukung, menyemangati penulis sampai pada penyelesaian penulisan skripsi ini.

  10. Teman-teman mahasiswa/mahasiswi khususnya angkatan 2011 yang telah memotivasi dan menyemangati penulis selama menempuh studi di IPPAK.

  

xi

  

xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………..

  7 2.

  Sistematika Penulisan………………………………………..

  4 BAB II. PENELITIAN TENTANG KEGIATAN HIDUP MENGGE- REJA UMAT DI STASI SANTO LUKAS SOKARAJA PAROKI SANTO YOSEP PURWOKERTO TIMUR, JAWA

TENGAH………………………………………………………..

  6 A.

  Situasi Stasi Santo Lukas Sokaraja………………………….

  6 1.

  Situasi Geografis Stasi Santo Lukas Sokaraja……………

  Situasi Umat di Stasi……………………………………...

  Metode Penulisan……………………………………………

  7 3.

  Situasi Kegiatan Hidup Menggereja Stasi………………..

  8 a.

  Kegiatan-kegiatan Gerejani…………………………...

  9 b.

  Kegiatan Sosial Kemasyarakatan……………………...

  4 F.

  4 E.

  i HALAMAN PERSETUJUAN…………………………………………... ii

  

DAFTAR TABEL………………………………………………………... xviii

DAFTAR SINGKATAN…………………………………………………

  HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………

  iii HALAMAN PERSEMBAHAN…………………………………………. iv HALAMAN MOTTO……………………………………………………. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA…………………………………. vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI………………………... vii ABSTRAK……………………………………………………………….. viii

  ABSTRACT ………………………………………………………………..

  ix

  KATA PENGANTAR……………………………………………………

  x DAFTAR ISI……………………………………………………………... xiii

  xix BAB I. PENDAHULUAN………………………………………………..

  Manfaat Penulisan…………………………………………...

  1 A.

  Latar Belakang………………………………………………

  1 B.

  Rumusan Permasalahan……………………………………...

  3 C.

  Tujuan Penulisan…………………………………………….

  3 D.

  14

  B.

  Penelitian mengenai Kegiatan Hidup Menggereja Umat di

  16 Stasi Santo Lukas Sokaraja………………………………….

  1.

  17 Latar Belakang Penelitian………………………………...

  2.

  18 Rumusan Penelitian……………………………………… 3.

  18 Tujuan Penelitian………………………………………… 4.

  19 Metodologi Penelitian…………………………………….

  a.

  19 Metode Penelitian……………………………………..

  b.

  20 Tempat dan Waktu Penelitian………………………… c.

  20 Populasi dan Sampel Penelitian……………………….

  d.

  21 Instrumen Penelitian…………………………………..

  e.

  21 Variabel Penelitian…………………………………….

  5. Hasil dan Pembahasan Penelitian tentang Kegiatan Hidup Menggereja Umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja, Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur, Jawa Tengah

  22 …………..

  a.

  23 Identitas Responden…………………………………...

  b.

  24 Pemahaman tentang Hidup Menggereja……………… c.

  Keterlibatan Umat dalam Kegiatan Hidup

  27 Menggereja………………………………………........

  d.

  Bentuk-bentuk Kegiatan Pendukung Perkembangan

  32 Penghayatan Iman Umat……………………………… e.

  Harapan dan Usulan Tema Terkait dengan Kegiatan

  36 Hidup Menggereja…………………………………….

  6.

  39 Kesimpulan Penelitian…………………………………… a.

  39 Identitas Responden…………………………………...

  b.

  39 Pemahaman tentang Hidup Menggereja……………… c.

  41 Keterlibatan Umat dalam Hidup Menggereja………… d.

  Bentuk-bentuk Kegiatan Pendukung Perkembangan

  42 Penghayatan Iman Umat……………………………… e.

  Harapan dan Usulan Tema terkait dengan Kegiatan

  43 Hidup Menggereja…………………………………….

  BAB III. KEHIDUPAN MENGGEREJA UMAT MELALUI KATE- KESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS

  45 (SCP)…………………………………………………………...

  A.

  45 Hidup Menggereja Umat…………………………………...

  

xiv

  1.

  46 Arti Gereja…………………………………………….

  2.

  47 Model-model Gereja…………………………………..

  a.

  47 Gereja sebagai Institusi…………………………….

  b.

  48 Gereja sebagai Persekutuan Mistik………………...

  c.

  49 Gereja sebagai Sakramen………………………......

  d.

  49 Gereja sebagai Umat Allah………………………...

  e.

  50 Gereja sebagai Pewarta…………………………….

  3.

  50 Hidup Menggereja…………………………………….

  a.

  51 Arti Hidup Menggereja…………………………….

  b.

  52 Dasar-dasar Hidup Menggereja…………………….

  B.

  56 Gambaran Umum Katekese………………………………..

  1.

  57 Pengertian Katekese………………………………….....

  2.

  58 Tujuan Katekese………………………………………...

  3.

  58 Tugas Katekese………………………………………....

  a.

  Katekese memberitakan Sabda Allah, mewartakan

  59 Kristus………………………………………………..

  b.

  59 Katekese mendidik umat beriman…………………...

  c.

  60 Katekese mengembangkan Gereja…………………..

  4.

  61 Kekhasan Katekese……………………………………..

  5.

  62 Isi Katekese……………………………………………..

  C.

  63 Gambaran Katekese Umat………………………………… 1.

  64 Pengertian Katekese Umat……………………………...

  2.

  65 Tujuan Katekese Umat……………………………….....

  3.

  66 Kekhasan Katekese Umat…………………………….....

  D.

  67 Katekese Umat Model Shared Christian Praxis…………...

  1.

  68 Komponen Utama dalam Shared Christian Praxis……..

  a.

  68 Shared………………………………………….........

  b.

  69 Christian…………………………………………….

  c.

  70 Praxis…………………………………………...........

  2. Langkah-langkah Katekese Model Shared Christian

  Praxis

  71 …………………………………………………...

  xv

  a.

  Langkah I: Mengungkapkan Pengalaman Hidup

  72 Peserta………………………………………………..

  b.

  73 Langkah II: Mendalami Pengalaman Hidup Peserta...

  c.

  73 Langkah III: Menggali Pengalaman Iman Kristiani… d.

  Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani dalam

  74 Situasi Peserta Konkret……………………………… e.

  75 Langkah V: Mengusahakan suatu Aksi Konkret…….

  3.

  76 Catatan Khusus Shared Christian Praxis…………….....

  a.

  76 Variasi dan urutan langkah…………………………..

  b.

  77 Pemilihan waktu dalam Shared Christian Praxis…...

  c.

  77 Lingkungan untuk Shared Christian Praxis………… E.

  Peranan Katekese Umat Model Shared Christian Praxis

  (SCP) dalam Keg 79 iatan Hidup Menggereja Umat…………..

  1. Peran Shared Christian Praxis (SCP) dalam Koinonia (Paguyuban)

  79 …………………………………………….

  2. Peran Shared Christian Praxis (SCP) dalam Kerygma

  80 (Pewartaan)……………………………………………...

  3. Peran Shared Christian Praxis (SCP) dalam Martyria

  81

  (Kesaksian Hidup)……………………………………… 4. Peran Shared Christian Praxis (SCP) dalam Liturgia

  82 (Ibadat)………………………………………………….

  5. Peran Shared Christian Praxis (SCP) dalam Diakonia

  83 (Pelayanan)……………………………………………...

  BAB IV. USULAN PROGRAM KATEKESE UNTUK MENING- KATKAN KETERLIBATAN UMAT DALAM HIDUP MENGGEREJA DI STASI SANTO LUKAS

  85 SOKARAJA…..

  A.

  Latar Belakang Penyusunan Program Katekese untuk

  Meningkatkan Keterlibatan Umat dalam Hidup

  85 Menggereja………………………………………………...

  B.

  Alasan Pemilihan Tema dan Tujuan Katekese untuk

  Meningkatkan Keterlibatan Umat dalam Hidup

  87 Menggereja………………………………………………...

  C.

  88 Tema dan Tujuan…………………………………………..

  D.

  89 Penjabaran Program………………………………………..

  E.

  94 Petunjuk Pelaksanaan Program…………………………….

  F.

  Contoh Persiapan Katekese Umat Model Shared Christian Praxis

  95 (SCP)……………………………………………….

  

xvi

  110

  BAB V. PENUTUP……………………………………………………… A. Kesimpulan………………………………………………...... 110 B. Saran……………………………………………………….... 111 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………. 114

LAMPIRAN……………………………………………………………… 116

  Lampiran 1: Surat Penelitian untuk Ketua Stasi (1) ………...…….. Lampiran 2: Surat Keterangan telah Melaksanakan Penelitian.. (2) Lampiran 3: Contoh Kuesioner (3) ………………..…………........ Lampiran 4: Contoh Isian Kuesioner (7) ………………………...... Lampiran 5: Daftar Pertanyaan Wawancara...

  ………………… (13)

  Lampiran 6: Hasil Wawancara dengan Umat Stasi Santo Lukas (14) Sokaraja…………………………………………..

  Lampiran 7: Daftar

  Umat Stasi St. Lukas Sokaraja…………... (18)

  Lampiran 8:

  Cerita “Lilin Harapan”………..………………… (21)

  Lampiran 9:

  Lagu “Bapa yang Setia”………………................ (22)

  Lampiran 10:

  Lagu “Jangan Lelah”…………………………… (23)

xvii

  

xviii

DAFTAR TABEL

  Tabel 1 :

  Variabel Penelitian…………………………………………

  22 Tabel 2 : Identitas Responden (N= 40)……………………………….

  23 Tabel 3 : Pemahaman tentang Hidup Menggereja (N=40) …………...

  24 Tabel 4 : Keterlibatan Umat dalam Kegiatan Hidup Menggereja (N=40)……………………………………………………..

  28 Tabel 5 : Bentuk-bentuk Kegiatan Pendukung Perkembangan Penghayatan Iman Umat (N=40)…………………………...

  33 Tabel 6 : Harapan dan Usulan Tema Terkait dengan Kegiatan Hidup Menggereja (N=40) ………………………………………...

  36

DAFTAR SINGKATAN A.

  

xix

   Singkatan Kitab Suci

  Seluruh singkatan dari Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci

  

Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan

  kepada Umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam Rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal.

  8. B.

   Singkatan Dokumen Resmi Gereja

  AG : Ad Gentes, Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kegiatan Misioner Gereja, 7 Desember 1965.

  CT : Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Yohanes Paulus II kepada para Uskup, klerus dan segenap umat beriman tentang katekese masa kini, 16 Oktober 1979. SC : Sacrosanctum Concilium, Konstitusi tentang Liturgi suci.

C. Singkatan Lain

  Art : Artikel Bdk : Bandingkan BKSN : Bulan Kitab Suci Nasional Bpk : Bapak Dll : dan lain-lain

  Dsb : dan sebagainya Hal : Halaman HUT RI : Hari Ulang Tahun Republik Indonesia Jabar : Jawa Barat KK : Kepala Keluarga Komkat : Komisi Kateketik KWI : Konferensi Waligereja Indonesia No : Nomor OMK : Orang Muda Katolik PMI : Palang Merah Indonesia PPL PAK : Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik

  Paroki Puskat : Pusat Kateketik RI : Republik Indonesia RT : Rukun Tetangga RW : Rukun Warga SCP : Shared Christian Praxis s/d : sampai dengan St : Santo WIB : Waktu Indonesia bagian Barat WK : Wanita Katolik

  

xx

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Umat merupakan anggota Gereja yang memiliki peran penting dalam

  perkembangan Gereja. Gereja didirikan untuk memperluas Kerajaan Allah di seluruh dunia demi kemuliaan Allah Bapa, supaya semua orang menerima buah dari penebusan yang menyelamatkan dan supaya mereka benar-benar terarah pada Kristus.

  Cara yang dapat dilakukan oleh umat dalam menanggapi panggilan Allah ialah terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ada dalam Gereja, misalnya saja kegiatan-kegiatan yang rutin dilaksanakan di Stasi maupun Lingkungan, seperti kegiatan pendalaman iman, latihan koor, pertemuan pengurus Stasi, dsb.

  Kekuatan terpenting dalam pembangunan kehidupan menggereja di zaman sekarang ini dan juga di masa yang akan datang terletak dalam keikutsertaan dan keterlibatan umat sendiri. Oleh karena itu demi memperkembangkan iman akan Yesus Kristus serta demi perkembangan kegiatan itu sendiri, umat dituntut untuk terlibat secara aktif dalam hidup menggereja. Keikutsertaan dan keterlibatan umat sangat dibutuhkan dalam karya kerasulan di tengah-tengah umat. Hidup menggereja diartikan sebagai pengabdian sukarela untuk mengambil bagian dalam lima tugas Gereja yaitu koinonia, kerygma, martyria, liturgia dan diakonia (Ardhisubagyo, 1987: 22)..

  Umat sebagai bagian dari Gereja diharapkan memiliki kesadaran untuk Gereja. Kesadaran ini menuntut umat sendiri agar memiliki kepribadian yang matang dan dewasa, sehingga mendorong mereka untuk menyalurkan semangat kerja yang tinggi dan mampu memainkan peranannya dalam kehidupan menggereja dan kehidupan sosial. Kesemuanya itu perlu dilandasi dengan semangat Kristus serta dijiwai sikap patuh dan cinta kasih terhadap gembala Gereja sehingga diharapkan dapat membuahkan hasil yang berlimpah.

  Dalam perkembangan iman Gereja menuntut kedewasaan iman umatnya. Umat sebagai pelaku perkembangan Gereja diharapkan mampu memperkembangkan imannya lewat karya kepada Gereja dan sesama.

  Perkembangan zaman menuntut umat agar lebih kritis dan kreatif dalam bertindak dan menentukan pilihan. Oleh karena itu umat perlu memiliki kesadaran untuk mau terlibat dalam kegiatan hidup menggereja, sehingga kegiatan-kegiatan gerejani semakin maju dan berkembang.

  Salah satu stasi yang ada di Paroki Santo Yosep, Purwokerto Timur adalah Stasi Santo Lukas, Sokaraja. Stasi sendiri memiliki 2 Lingkungan yaitu Lingkungan Yohanes Paulus, Kalibagor dan Lingkungan Santa Maria, Sokaraja dengan jumlah umat 335 jiwa. Dari jumlah umat tersebut umat dewasa tercatat 292 orang.

  Begitu banyak kegiatan yang sering dilakukan baik di Stasi maupun di Lingkungan. Namun, sering kali umat Stasi Santo Lukas Sokaraja kurang menyadari akan pentingnya keterlibatan mereka dalam penyelenggaraan kegiatan- kegiatan tersebut sehingga banyak umat yang belum terlibat dalam kegiatan hidup menggereja.

  Menanggapi kenyataan dengan melihat persoalan yang ada, maka perlu adanya pembaharuan diberbagai segi, diantaranya perlu adanya koordinasi dari pihak Gereja dan umat agar bersama-sama mencari solusi yang tepat sehingga kegiatan-kegiatan gerejani berjalan dengan didukung keterlibatan umat Stasi.

  Melihat kenyataan yang terjadi maka penulis mengajak umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja untuk mempelajari dan memahami akan keterlibatan atau keikutsertaan umat dalam proses pendewasaan iman. Untuk itu penulis mengambil judul

  

“UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN UMAT DALAM HIDUP

  MENGGEREJA DI STASI SANTO LUKAS, SOKARAJA, PAROKI SANTO YOSEP, PURWOKERTO TIMUR, JAWA TENGAH MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS ”.

B. Rumusan Permasalahan 1.

  Bagaimana umat Stasi Santo Lukas Sokaraja memahami hidup menggereja

  umat dan mewujudkannya dalam keterlibatan hidup menggereja? 2.

  Apa makna keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja? 3. Bentuk kegiatan seperti apa yang mampu meningkatkan keterlibatan umat

  dalam hidup menggereja? C.

   Tujuan Penulisan 1.

  Mengetahui bagaimana umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja memahami hidup menggereja umat dan perwujudannya dalam keterlibatan hidup menggereja.

  2. Mengetahui makna keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja.

  3. Mengetahui berbagai bentuk kegiatan yang diharapkan mampu meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja.

D. Manfaat Penulisan 1.

  Menambah pengetahuan yang lebih mendalam bagi penulis tentang makna hidup menggereja umat.

  2. Memberikan sumbangan pemahaman baru kepada umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja tentang katekese umat model Shared Christian Praxis (SCP).

  3. Memberikan sumbangan pemikiran bagi Stasi Santo Lukas Sokaraja dalam meningkatkan semangat pelayanan bagi umat.

  E. Metode Penulisan

  Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode deskriptif analisis, di mana dalam penulisan skripsi ini penulis mengumpulkan data melalui penyebaran kuesioner dan melaksanakan wawancara dengan beberapa umat yang dianggap mengetahui banyak tentang berbagai kegiatan yang ada di Stasi Santo Lukas Sokaraja serta studi pustaka dari buku-buku dan situasi konkret kehidupan umat Kristiani dewasa ini.

  F. Sistematika Penulisan

  Sebagai gambaran umum tentang hal apa saja yang akan dibahas di dalam penulisan skripsi ini, berikut adalah sistematika penulisan skripsi ini: Bab I akan menguraikan tentang latar belakang permasalahan, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

  Bab II akan menguraikan tentang gambaran situasi umat di Stasi, penelitian tentang kegiatan hidup menggereja umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja dan pembahasan penelitian.

  Bab III akan menguraikan tentang hidup menggereja umat yang mencakup arti Gereja, model-model Gereja, hidup menggereja. Gambaran umum katekese yang mencakup pengertian katekese, tujuan katekese, tugas katekese, kekhasan katekese, isi katekese. Gambaran katekese umat yang mencakup pengertian katekese umat, tujuan katekese umat, kekhasan katekese umat. Katekese umat model Shared Christian Praxis (SCP) yang mencakup komponen utama dalam SCP, langkah-langkah katekese model SCP, catatan khusus SCP.

  Tentang peranan katekese umat model SCP dalam kegiatan hidup menggereja.

  Bab IV akan menguraikan latar belakang usulan katekese untuk meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja, alasan pemilihan tema, tema dan tujuan, penjabaran program, petunjuk pelaksanaan program dan contoh Satuan Pertemuan.

  Bab V berisi kesimpulan dan saran dari penulis sehubungan dengan usaha meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja.

BAB II PENELITIAN TENTANG KEGIATAN HIDUP MENGGEREJA UMAT DI STASI SANTO LUKAS SOKARAJA PAROKI SANTO YOSEP PURWOKERTO TIMUR, JAWA TENGAH Gereja dapat berkembang karena adanya kesadaran umat untuk terlibat

  dalam setiap kegiatan hidup menggereja yang ada. Hal ini tentunya sama bagi Gereja yang ada di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Stasi membutuhkan keterlibatan umat untuk dapat menjalankan kegiatan-kegiatan hidup menggereja, karena tanpa keterlibatan mereka kegiatan yang sudah terjadwal tidak akan berjalan dengan baik. Faktor yang mempengaruhi keterlibatan umat di Stasi tentunya tergantung situasi umat di Lingkungan. Berbeda-beda situasi umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja karena Stasi ini terdiri dari 2 (dua) Lingkungan, tentunya ada perbedaan situasi umatnya.

A. Situasi Stasi Santo Lukas, Sokaraja

  Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis, Stasi Santo Lukas Sokaraja merupakan bagian dari Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur yang terletak di Kecamatan Sokaraja. Letak gereja cukup strategis karena berada dipinggir jalan raya dan transportasi cukup terjangkau sehingga umat tidak kesulitan untuk dapat sampai ke Stasi ini. Sebagian besar umat stasi yang hidup menetap di Purwokerto berasal dari daerah luar, namun hal itu tidak menghambat mereka untuk saling mengakrabkan diri satu sama lain. Dalam banyak kesempatan mereka tidak melupakan saling menyapa dan saling membantu sehingga dapat tercipta suatu keharmonisan hidup bersama.

  1. Situasi Geografis Stasi Santo Lukas, Sokaraja

  Stasi Santo Lukas merupakan bagian dari Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur, Keuskupan Purwokerto. Letak gereja Stasi Santo Lukas sendiri berada di Kecamatan Sokaraja Tengah dan cukup strategis karena berada dipinggir jalan raya.

  Letak geografis Stasi Santo Lukas Sokaraja secara pemerintahan berada di Kecamatan Sokaraja Tengah, dengan batas-batas sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Purwokerto Timur, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kalimanah, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Patikraja, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Banyumas. Adapun letak geografis Stasi secara gereja dengan batas-batas sebelah Utara berbatasan dengan Lingkungan Pamijen, sebelah Barat berbatasan dengan Lingkungan Karangnanas, sebelah Timur berbatasan dengan Jompo Paroki Purbalingga dan sebelah Selatan berbatasan dengan Kaliori Paroki Banyumas.

  Stasi Santo Lukas terdiri dari 2 Lingkungan yaitu Lingkungan Yohanes Paulus terletak di Kecamatan Kalibagor dan Lingkungan Santa Maria terletak di Kecamatan Sokaraja. Pembagian Lingkungan disesuaikan dengan daerah geografis dimana dari setiap Kecamatan tersebut lokasi rumah umat saling berdekatan satu dengan yang lain [Lampiran 6: (15)].

  2. Situasi Umat di Stasi Santo Lukas, Sokaraja

  Umat stasi berdasarkan data tahun 2012, berjumlah 335 orang. Umat yang berada di Lingkungan Yohanes Paulus Kalibagor sebanyak 33 KK dengan jumlah 118 orang. Dari 33 KK tersebut jumlah orang dewasa 106 orang dan anak- anak 12 orang. Umat yang berada di Lingkungan Santa Maria Sokaraja sebanyak

  72 KK dengan jumlah 217 orang. Dari 72 KK tersebut jumlah orang dewasa 186 orang dan anak-anak 31 orang. Umat di masing-masing Lingkungan tidak semua terlibat dalam kegiatan hidup menggereja, baik yang dilaksanakan di Lingkungan maupun di Stasi. Hal tersebut terjadi karena kurangnya kesadaran umat untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Oleh karena itu berpengaruh dengan keterlibatan mereka dalam kegiatan hidup menggereja [Lampiran 6: (15)].

  Umat yang terlibat dalam kegiatan gerejani hanya orang-orang tertentu saja. Biasanya mereka yang memiliki semangat untuk melayani dan dipandang dapat menjadi panutan bagi umat yang lain, seperti prodiakon, ketua Lingkungan, katekis dan sebagian umat yang memang ingin melayani. Hal di atas terlihat saat ada kegiatan sosialisasi bahan pendalaman iman Prapaskah, pelaksanaan pendalaman iman, sosialisasi pendalaman bulan Kitab Suci, pelaksanaan pendalaman Kitab Suci yang berlangsung di lingkungan-lingkungan hanya merekalah yang rajin mengikuti kegiatan tersebut. Umat yang hadir dalam pendalaman iman dan pendalaman Kitab Suci hanya sedikit sekitar 8-10 orang saja.

3. Situasi Kegiatan Hidup Menggereja Stasi Santo Lukas, Sokaraja

  Dalam pelaksanaan karya pastoral bagi umat, Gereja turut memberi perhatian. Stasi mewadahi umat dengan mengadakan berbagai kegiatan dengan tujuan agar lewat kegiatan-kegiatan tersebut umat mampu menghayati imannya dalam menanggapi situasi dan kondisi zaman sekarang.

  Pelaksanaan kegiatan melibatkan semua umat yang ada di Stasi Santo Lukas. Namun, ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan di masing-masing Lingkungan. Kegiatan yang dilaksanakan di setiap Lingkungan tidak jauh berbeda antara Lingkungan yang satu dengan yang lain.

  Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan adalah kegiatan-kegiatan gerejani, kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang diharapkan dapat memupuk persaudaraan baik sesama umat beragama maupun umat yang beragama lain.

a. Kegiatan-kegiatan Gerejani

  Dalam pelaksanaan hidup menggereja, umat diharapkan mendukung dengan mau terlibat di dalamnya. Keikutsertaan dan keterlibatan mereka tidak

  

hanya sebatas “hadir atau ada”, melainkan umat diharapkan terlibat dalam

  kegiatan-kegiatan demi pengembangan Gereja, Stasi, Lingkungan dan masyarakat dengan memberi hati sepenuhnya demi terlaksananya kegiatan-kegiatan tersebut.

  Peran serta umat sungguh mempengaruhi terlaksananya dan perkembangan kegiatan itu sendiri, sehingga Gereja sangat mengharapkan umat untuk terlibat.

  Kegiatan-kegiatan gerejani yang dilaksanakan umat stasi adalah sosialisasi bahan pendalaman iman Prapaskah, pelaksanaan Pendalaman Iman di Lingkungan/Blok, Doa Rosario, Misa Jumat Pertama, sosialisasi pendalaman bulan Kitab Suci, pelaksanaan pendalaman Kitab Suci di Lingkungan/Blok, Koor dan pertemuan pengurus Stasi.

  1)

  Sosialisasi Bahan Pendalaman Iman Prapaskah

  Sosialisasi bahan pendalaman iman Prapaskah dilaksanakan setiap tahun pada awal bulan Maret. Sosialisasi ini tidak dilaksanakan di Stasi tetapi dipusatkan di Paroki. Peserta yang hadir dalam kegiatan ini kurang lebih 25 sampai 30 orang. Mereka adalah calon pemandu yang akan bertugas di Stasi maupun Lingkungan saat pendalaman Iman berlangsung. Umat Stasi yang mewakili terdiri dari kedua Lingkungan yang ada. Kegiatan sosialisasi berlangsung pukul 09.00-13.00 WIB dan mengambil waktu pada hari Minggu setelah selesai perayaan Ekaristi. Bentuk kegiatan yang diadakan setelah tim Kitab Suci Paroki mengikuti sosialisasi dari Komisi Kitab Suci Keuskupan kemudian menyampaikan hasilnya kepada para calon pemandu di Stasi dan Lingkungan.

  Tujuannya supaya para calon pemandu Stasi maupun Lingkungan mampu melaksanakan tugas di Lingkungan masing-masing [Lampiran 6: (16)].

  2)

  Pelaksanaan Pendalaman Iman di Lingkungan/Blok

  Pendalaman Iman dilaksanakan setiap bulan Maret sampai April di masing-masing Lingkungan atau Blok. Peserta yang hadir dari setiap Lingkungan sekitar 8 sampai 10 orang. Kegiatan pendalaman iman berlangsung selama satu setengah jam (19.30-21.00 WIB). Pendalaman iman dilaksanakan di rumah umat, setiap minggunya tempat berpindah-pindah tidak menetap di rumah salah satu umat saja. Bentuk kegiatan yang diadakan biasanya diawali dengan lagu pembukaan, doa pembukaan, pengantar dari pemandu, bacaan Kitab Suci, sharing pengalaman, peneguhan dari pemandu, diakhiri dengan doa dan lagu penutup.

  Tujuan dari kegiatan ini agar umat mempunyai semangat bertobat untuk menanggapi cinta kasih Yesus yang telah rela menderita sengsara sampai wafat di salib. Kesan umat dari kegiatan ini mereka kurang berminat mengikuti pendalaman iman sehingga dari setiap pertemuan hanya orang tertentu saja yang

  3)

  Doa Rosario

  Doa Rosario dilaksanakan setiap bulan Mei dan Oktober di Lingkungan masing-masing pukul 18.00 WIB. Umat yang hadir dari setiap Lingkungan kurang lebih 45 orang, terdiri dari anak-anak, kaum muda/i, bapak-bapak dan ibu-ibu. Bentuk kegiatan doa Rosario diadakan satu bulan penuh setiap hari dari rumah ke rumah. Pelaksanaan doa diawali dengan lagu pembukaan dan dipimpin oleh salah satu umat (biasanya tuan rumah). Renungan setiap peristiwa dibacakan secara bergantian oleh OMK yang ditunjuk. Doa Salam Maria didoakan secara bergilir tiap orang. Pada akhir bulan Maria dan bulan Rosario selalu ditutup dengan misa. Kesan umat dari kegiatan doa ini sebagian besar umat berminat mengikutinya sehingga dari hari ke hari selama doa berlangsung banyak umat yang hadir [Lampiran 6: (17)].

  4)

  Misa Jumat Pertama

  Misa Jumat Pertama dilaksanakan secara rutin, sekali dalam satu bulan di gereja Stasi. Umat yang hadir dalam setiap pelaksanaan misa ini tidak banyak seperti misa hari Minggu biasa, jumlahnya antara 15 sampai 25 saja. Meskipun demikian, misa Jumat Pertama tetap dilaksanakan rutin setiap bulannya. Petugas misanya sendiri tidak terjadwal, sehingga yang bertugas adalah umat yang biasa hadir mengikuti misa. Misa dilaksanakan pada hari Jumat Pertama dalam setiap bulan, pukul 18.00-19.00 WIB dan dipimpin oleh romo paroki atau romo yang lain (romo pembantu). Kesan umat dengan adanya misa Jumat Pertama ini kurang mendukung karena sebagian besar umat pulang bekerja sudah sore sehingga tidak

  5)

  Sosialisasi Pendalaman Bulan Kitab Suci

  Sosialisasi pendalaman bulan Kitab Suci dilaksanakan setiap tahun pada bulan Agustus. Sosialisasi ini tidak dilaksanakan di Stasi tetapi dipusatkan di Paroki. Peserta yang hadir dalam kegiatan ini kurang lebih 30 sampai 35 orang. Mereka adalah calon pemandu yang akan bertugas di Stasi maupun Lingkungan saat pendalaman Kitab Suci berlangsung. Umat Stasi yang mewakili terdiri dari kedua Lingkungan yang ada. Kegiatan sosialisasi berlangsung pukul 09.00-13.00 WIB dan mengambil waktu pada hari Minggu setelah selesai perayaan Ekaristi.

  Bentuk kegiatan yang diadakan setelah tim Kitab Suci Paroki mengikuti sosialisasi dari Komisi Kitab Suci Keuskupan kemudian menyampaikan hasilnya kepada para calon pemandu di Stasi dan Lingkungan. Tujuannya supaya para calon pemandu Stasi maupun Lingkungan juga mengetahui apa yang menjadi kesepakatan mengenai BKSN tahun tersebut baik mengenai tema, harapan- harapan yang mau dicapai, dsb [Lampiran 6: (17)].

  6)

  Pendalaman Kitab Suci di Lingkungan/Blok

  Pendalaman Kitab Suci dilaksanakan setiap bulan September di masing- masing Lingkungan atau Blok. Peserta yang hadir dari setiap Lingkungan sekitar 8 sampai 10 orang. Kegiatan pendalaman Kitab Suci berlangsung selama satu setengah jam (19.30-21.00 WIB). Bentuk kegiatan yang diadakan biasanya diawali dengan lagu pembukaan, doa pembukaan, pengantar dari pemandu, bacaan Kitab Suci, sharing pengalaman, peneguhan dari pemandu, diakhiri dengan doa dan lagu penutup. Tujuan dari kegiatan ini agar umat semakin mendalami Sabda Tuhan dan melalui Sabda-Nya mereka dapat memaknai memiliki nilai-nilai yang dapat dijadikan pegangan dalam hidup. Kesan umat dari kegiatan ini mereka kurang berminat mengikuti pendalaman Kitab Suci sehingga dari setiap pertemuan hanya orang tertentu saja yang hadir [Lampiran 6: (17)].

  7)

  Bertugas koor

  Umat Stasi memiliki tugas utama untuk berlatih dan mempersiapkan nyanyian dalam memeriahkan Perayaan Ekaristi bila mendapat tugas koor di gereja. Di Stasi Santo Lukas terdapat lima kelompok koor sehingga setiap minggu Perayaan Ekaristi berlangsung petugas koor selalu bergantian. Lima kelompok tersebut yaitu koor Lingkungan Yohanes Paulus, koor Lingkungan Santa Maria, koor WK (Wanita Katolik), koor OMK dan koor Gregorius (bapak- bapak). Masing-masing kelompok biasanya berlatih sendiri-sendiri sesuai dengan tugas yang dijadwalkan. Kelompok koor tidak hanya mendapatkan tugas pada Perayaan Ekaristi hari Minggu saja tetapi juga mendapat tugas untuk memeriahkan misa hari-hari besar, seperti Natal dan Paskah. Jumlah anggota koor dari masing-masing kelompok cukup banyak, kurang lebih 20-30 orang artinya umat banyak yang mau ikut dan terlibat dalam kegiatan ini [Lampiran 6: (18)].

  8)

  Pertemuan Pengurus Stasi

  Pertemuan pengurus dilaksanakan dalam rangka persiapan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan maupun rencana kegiatan yang akan dilaksanakan bersama.

  Pertemuan pengurus Stasi Santo Lukas Sokaraja dilaksanakan satu kali dalam sebulan. Dalam setiap pelaksanaan kegiatan ini, pengurus stasi yang hadir laporan kegiatan dari koordinator masing-masing bidang dan evaluasi kegiatan baik yang terlaksana maupun yang tidak terlaksana. Dengan adanya laporan dan evaluasi ini pengurus stasi dapat melihat hal-hal baik yang dapat dipertahankan dan juga memperbaiki hal-hal yang masih kurang. Untuk itu dalam pertemuan pengurus stasi ini dibutuhkan keterbukaan dari setiap bidang sehingga harapan yang dicita-citakan dapat terwujud demi perkembangan Stasi Santo Lukas Sokaraja [Lampiran 6: (18)].

b. Kegiatan Sosial Kemasyarakatan

  Umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja tidak hanya terlibat dalam kegiatan- kegiatan gerejani, baik dalam lingkup Paroki, Stasi maupun Lingkungan, melainkan keterlibatan umat juga diwujudkan dalam kebersamaan dan keterlibatan dengan mengikuti kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan.

  Keterlibatan dan keikutsertaan umat dalam berbagai kehidupan, merupakan salah satu usaha umat untuk semakin memahami makna kebersamaan dalam hidup.

  Kebersamaan yang terjalin diharapkan tidak hanya sebatas dengan umat katolik saja tetapi juga dengan umat yang lain. Dengan demikian tumbuh juga rasa saling menghargai satu sama lain. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya: Aksi sosial, keterlibatan dalam kepengurusan RT, terlibat dalam Pesta Kemerdekaan RI dan donor darah.

  1)

  Aksi sosial

  Salah satu wujud keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat yakni dengan mengadakan aksi sosial. Aksi sosial biasanya dilakukan oleh umat stasi saat menjelang Natal dan Paskah. Dalam pelaksanaan kegiatan ini umat stasi membagikan sembako seperti beras, minyak, gula, dsb kepada orang-orang yang membutuhkan. Sembako yang diberikan biasanya berasal dari umat stasi sendiri dan jika ada kekurangan panitia kegiatan menambahkan dengan membeli barang- barang yang masih dibutuhkan. Sasaran yang diberi sembako tidak hanya sebatas umat stasi yang membutuhkan tetapi juga dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan disekitar stasi. Pelaksanaan aksi sosial ini dikoordinator oleh ibu- ibu WK (Wanita Katolik) stasi. Kegiatan aksi sosial dilaksanakan dengan harapan umat katolik semakin termotivasi untuk lebih peka terhadap situasi yang ada di dalam masyarakat dengan mau terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan [Lampiran 6: (18)].

  2)

  Kepengurusan RT

  Umat Katolik tidak hanya terlibat dalam kegiatan-kegiatan gerejani saja tetapi juga ikut ambil bagian dalam kegiatan kemasyarakatan, seperti menjadi pengurus RT/RW. Kedudukan umat katolik dalam kepengurusan tersebut menduduki peran penting antara lain menjadi ketua RT, sekretaris, bendahara, dsb. Dengan mendapatkan peran penting tersebut menandakan bahwa umat katolik dipercaya oleh warga sekitar [Lampiran 6: (18)].

  3)

  Pesta Kemerdekaan RI

  Dalam memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia umat turut serta dalam memperingati hari bersejarah yang setiap tahun dirayakan dan diperingati oleh seluruh warga Indonesia. Dalam peringatan hari kemerdekaan tersebut, berbagai kegiatan dan perlombaan dilaksanakan di setiap desa. Biasanya umat katolik ikut ambil bagian dalam perlombaan yaitu lomba olah raga. Dalam pelaksanaan lomba tersebut setiap RT mengirim perwakilan untuk bertanding di tingkat RW. Disamping itu pula umat terlibat dalam mempersiapkan syukuran pesta kemerdekaan RI, misalnya menyiapkan tempat untuk berkumpul bersama dan ikut menyiapkan makanan yang akan dinikmati bersama (biasanya ibu-ibu) [Lampiran 6: (18)].

  4)

  Donor darah

  Donor darah merupakan kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan oleh umat Stasi Santo Lukas Sokaraja. Pelaksanaan kegiatan ini yaitu saat menjelang hari pesta nama pelindung Gereja. Peserta donor darah adalah umat katolik sendiri. Dalam setiap pelaksanaan kegiatan ini, umat yang bersedia menyumbangkan darahnya kurang lebih 25 orang. Panitia kegiatan bekerja sama dengan PMI Kabupaten Banyumas. Darah yang telah terkumpul dikelola oleh PMI dan dapat dipakai tidak hanya untuk umat katolik saja, namun berlaku untuk umum. Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan kepedulian umat katolik kepada orang-orang sakit yang membutuhkan bantuan khususnya bantuan darah [Lampiran 6: (18)].

B. Penelitian mengenai Kegiatan Hidup Menggereja Umat di Stasi Santo Lukas, Sokaraja

  Penulis sebelum melaksanakan penelitian terlebih dahulu melakukan persiapan. Adapun yang menjadi persiapan penelitian penulis meliputi latar belakang penelitian, rumusan penelitian, tujuan penelitian, dan metodologi penelitian. Penelitian ini diadakan untuk mengetahui secara nyata bagaimana keterlibatan umat dalam kegiatan hidup menggereja di Stasi Santo Lukas, Sokaraja. Penelitian diadakan pada 13-14 Oktober 2015. Hasil penelitian kemudian akan dianalisis untuk mendapatkan gambaran nyata keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja.

1. Latar Belakang Penelitian

  Kegiatan gerejani merupakan kegiatan yang dapat membantu umat dalam menghidupi iman kristianinya. Melalui keterlibatan umat dalam kegiatan-kegiatan gerejani mereka semakin menyadari akan tanggung jawabnya sebagai anggota Gereja dalam memajukan kehidupan menggereja. Peranan ini akan semakin tampak apabila setiap umat memiliki kesadaran dalam dirinya masing-masing.

  Kegiatan-kegiatan gerejani tidak akan berkembang dengan baik tanpa keterlibatan umatnya.

  Di zaman yang semakin modern ini orang ditantang untuk semakin maju dalam pola pikir maupun kehidupannya. Dinamika kehidupan yang semakin beragam dan tantangan hidup yang berliku merupakan keadaan yang dihadapi oleh orang zaman sekarang. Namun justru di tengah kehidupan yang serba modern dan penuh tantangan itu peran umat dalam keterlibatan dalam kegiatan menggereja akan dituntut.

  Kegiatan yang diadakan dalam hidup menggereja merupakan salah satu wadah bagi umat untuk mewujudkan iman kristianinya melalui keterlibatan mereka. Ketika umat menyadari bahwa hidup mati kegiatan yang dilaksanakan gereja sangat tergantung pada keterlibatan mereka maka dengan sendirinya mereka pun semakin merasakan manfaat dari kegiatan itu.

  Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat mengetahui bagaimana pemahaman umat mengenai hidup menggereja dan seberapa besar keterlibatan umat dalam kegiatan hidup menggereja.

2. Rumusan Penelitian

  Bertolak dari latar belakang di atas, penulis mencoba merumuskan permasalahan sebagai berikut: a.

  Bagaimana umat stasi memahami atau mengerti hidup menggereja? b.

Bagaimana umat Stasi St. Lukas Sokaraja terlibat dalam hidup menggereja?

c.

Bentuk-bentuk kegiatan pendukung perkembangan penghayatan iman umat

  stasi? d.

  

Bentuk kegiatan seperti apa yang diharapkan mampu meningkatkan

  keterlibatan umat stasi dalam hidup menggereja? 3.

   Tujuan Penelitian

  Bertolak dari rumusan permasalahan di atas, tujuan penelitian ini dilaksanakan antara lain: a.

  Mengetahui pemahaman umat stasi mengenai hidup menggereja.

  b.

  

Mengetahui keterlibatan umat di Stasi St. Lukas Sokaraja dalam hidup menggereja. c.

  

Mengetahui bentuk kegiatan yang mendukung perkembangan penghayatan

iman umat di Stasi St. Lukas Sokaraja.

  d.

  

Mengetahui bentuk kegiatan yang diharapkan mampu meningkatkan

keterlibatan umat stasi dalam hidup menggereja.

4. Metodologi Penelitian a. Metode Penelitian

  Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan memanfaatkan metode wawancara serta pengamatan untuk mendapatkan data penelitian serta permasalahan yang terjadi di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Penulis mengadakan wawancara kepada beberapa umat stasi. Moleong (2011: 6) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll. Secara holistik dan dengan deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

  Penulis memilih penelitian ini karena metode penelitian kualitatif memandang manusia sebagai instrumen utama dan mengutamakan proses dari pada hasil penelitian (Moleong, 2011: 11). Melalui penelitian kualitatif penulis dapat mengenal orang (subyek) secara pribadi. Latar belakang alamiah yang mengharuskan penulis terlibat langsung dalam proses penelitian menjadi suatu tantangan tersendiri untuk berproses bersama responden dimana penelitian diadakan dan menyesuaikan diri dengan kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan.

  b. Tempat dan Waktu Penelitian

  Penelitian dengan menyebarkan kuesioner dan wawancara dilaksanakan pada 13-14 Oktober 2015 di Lingkungan Santa Maria Sokaraja dan Lingkungan Yohanes Paulus Kalibagor, Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur. Penulis mendatangi satu persatu umat (door to door) karena penulis hanya mengambil beberapa umat saja untuk dijadikan responden. Sedangkan wawancara dilakukan untuk melengkapi data dan dilaksanakan bersamaan dengan penyebaran kuesioner (beberapa responden saja) yang dianggap mengetahui banyak tentang Stasi Santo Lukas Sokaraja.

  c. Populasi dan Sampel Penelitian

  Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014: 61). Penelitian ini mengambil populasi umat (orang dewasa) Stasi Santo Lukas Sokaraja dengan jumlah 292 orang.

  Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2014: 62). Penelitian ini mengambil sampel umat Stasi Santo Lukas Sokaraja dengan jumlah 40 orang dan menggunakan simple random

  

sampling. Alasan peneliti mengambil 40 orang sebagai responden karena dari

  masing-masing Lingkungan hanya 30 umat yang aktif. Simple random sampling adalah pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono, 2014: 64). Penulis menyebar kuesioner sebanyak 40 dan semua kuesiner itu kembali lagi.

  d. Instrumen Penelitian

  Instrumen penelitian merupakan suatu alat yang digunakan mengumpulkan data (Moleong, 2011: 168). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.

  Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto Suharsimi, 1997: 128-129). Jenis kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih (Arikunto Suharsimi, 1997: 128-129). Dalam penelitian ini kuesioner diajukan kepada umat Stasi Santo Lukas Sokaraja.

  e. Variabel Penelitian

  Variabel adalah gejala-gejala yang menunjukkan variasi, baik dalam jenis maupun dalam tingkatan (Sutrisno Hadi, 2004: 250). Yang menjadi fokus penelitian dalam penelitian ini yaitu seberapa besar keterlibatan umat dalam kegiatan hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Adapun variabel yang diungkap dalam penelitian ini adalah identitas responden, pemahaman tentang hidup menggereja, keterlibatan umat dalam hidup menggereja, bentuk kegiatan pendukung perkembangan penghayatan iman umat. Masing-masing dari bagian penelitian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

  

Tabel 1: Variabel Penelitian

No Variabel-variabel No. Item Jumlah

(1) (2) (3) (4)

  1 Identitas Responden 1, 2, 3

  3

  2 Pemahaman tentang Hidup 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12,

  10 Menggereja

  13

  3 Keterlibatan Umat dalam Hidup 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20,

  14 Menggereja 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27

  4 Bentuk-bentuk Kegiatan 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34,

  9 Pendukung Perkembangan 35, 36 Penghayatan Iman Umat

  5 Harapan dan Usulan Tema 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43

  7 terkait dengan Kegiatan Hidup Menggereja

  Total

  43 5.

   Hasil dan Pembahasan Penelitian tentang Kegiatan Hidup Menggereja Umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja, Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur, Jawa Tengah Bagian ini akan dipaparkan laporan dan pembahasan hasil penelitian.

  Laporan penelitian akan disajikan dalam bentuk tabel-tabel. Data yang diperoleh sesuai dengan variabel yang telah ditentukan yaitu meliputi identitas responden, pemahaman tentang hidup menggereja, keterlibatan umat dalam hidup menggereja, bentuk-bentuk kegiatan pendukung perkembangan penghayatan iman umat, harapan dan tema terkait dengan kegiatan hidup menggereja.

  Dalam pengolahan data ini, prosentase suara responden diperoleh dengan cara membagi frekuensi suara masuk (F) dengan jumlah responden keseluruhannya (N) kemudian dikalikan dengan 100% atau dengan rumus:

  F x 100 N Berikut ini disampaikan hasil pengolahan data dari 40 kuesioner yang disajikan dalam bentuk tabel, disertai dengan pembahasan dari hasil penelitian.

a. Identitas Responden

  20 d.

  Dari tabel dua, identitas responden dari segi jenis kelamin, yaitu dengan jumlah 19 (47,5%) adalah perempuan dan 21 (52,5%) adalah laki-laki. Identitas responden dari segi umur, yaitu 15-25 tahun ada 7 (17,5%), 26-35 tahun ada 4 (10%), 36-45 tahun ada 8 (20%), 46-55 tahun ada 15 (37,5%) dan di atas 55 tahun ada 6 (15%).

  2) Pembahasan Penelitian

  50

  50

  20

  20

  Lingkungan Santa Maria Sokaraja b. Lingkungan Yohanes Paulus Kalibagor

  3 Asal Lingkungan a.

  15

  6 37,5

  15

  46-55 e. >55

  Pada identitas responden hal-hal yang akan diungkap berkenaan dengan jenis kelamin, umur dan asal Lingkungan. Berikut ini adalah data yang berkaitan dengan identitas responden.

  1) Hasil Penelitian

Tabel 2: Indentitas Responden (N=40)

No

  36-45

  10 c.

  4 17,5

  7

  15-25 b. 26-35

  2 Umur a.

  21 47,5 52,5

  19

  Laki-laki

  Perempuan b.

  1 Jenis Kelamin a.

  Item Pernyataan Frekuensi Persen (%) (1) (2) (3) (4)

  8 Identitas responden dari segi Lingkungan tempat asal, yaitu dengan jumlah 20 (50%) umat berasal dari Lingkungan Santa Maria Sokaraja dan Lingkungan Yohanes Paulus Kalibagor ada 20 (50%) umat.

  Kenyataan di atas menunjukkan bahwa lebih banyak responden laki-laki yang mengisi kuesioner dibandingkan dengan responden yang perempuan dan responden yang berumur 46-55 tahun cukup mendominasi dalam pengisian kuesioner. Dari penggolongan Lingkungan tempat asal responden berjumlah sama yaitu 20 (50%).

b. Pemahaman tentang Hidup Menggereja

  Bagian ini memaparkan sejauhmana pemahaman umat tentang hidup menggereja. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut ini:

1) Hasil Penelitian

  a.

  Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  25

  15 62,5 37,5

  5 Tugas Gereja adalah mengajar, menguduskan dan memimpin.

  4 Kata Gereja memiliki arti sebagai persekutuan orang-orang yang beriman kepada Kristus.

  Sangat Setuju b.

  Setuju c. Ragu-ragu

  17

  21

  1 42,5 52,5

  2,5

  

Tabel 3: Pemahaman tentang Hidup Menggereja (N=40)

No Item Pernyataan Jumlah Umat Persen (%) (1) (2) (3) (4)

  a.

  (1) (2) (3) (4) d.

  23

  40

  9 Gereja memiliki lima tugas pokok yaitu

  koinonia/paguyuban, kerygma/pewartaan, martyria/kesaksian hidup, liturgia/ibadat dan diakonia/pelayanan.

  a.

  Sangat Setuju b.

  Setuju c. Ragu-ragu d.

  Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  17 57,5 42,5

  16

  10 Pewartaan Sabda Allah oleh Gereja bukan hanya sekedar informasi mengenai Allah, melainkan sungguh-sungguh menghadirkan Allah di tengah dunia.

  a.

  Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  28

  11

  1

  70 27,5

  2,5

  60

  24

  Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  7 Hidup menggereja merupakan kegiatan yang menampakkan iman akan Yesus Kristus.

  1 2,5

  6 Gereja mengajarkan kebenaran-kebenaran kepada anggotanya sehingga mereka sampai pada keselamatan yang abadi.

  a.

  Sangat Setuju

  29 72,5 b.

  Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  11 27,5

  a.

  Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  22

  18

  55

  45

  8 Gereja menjalankan hidup menggerejanya didasari oleh semangat Yesus Kristus sendiri selama hidup-Nya.

  a.

  Sangat Setuju b.

  11 Kesaksian akan Yesus Kristus kita wujudkan lewat tindakan kita sehari-hari.

  (1) (2) (3) (4) a.

  22

  55 Sangat Setuju b.

  18

  45 Setuju c.

  Ragu-ragu d.

  Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  12 Hidup menggereja tidak hanya dilakukan di lingkungan gereja saja, namun juga di lingkungan masyarakat.

  a.

  24

  60 Sangat Setuju b.

  16

  40 Setuju c.

  Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  13 Sikap kita terhadap hidup menggereja sebagai umat katolik melaksanakan dengan sadar, tulus dan tanggungjawab sebagai anggota gereja, sehingga iman akan Allah semakin hari semakin berkembang.

  a.

  19 47,5

  Sangat Setuju b.

  21 52,5

  Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

2) Pembahasan Penelitian Dari tabel 3, diketahui sejauh mana pemahaman umat tentang Gereja.

  Umat menyatakan sangat setuju ada 25 (62,5%) umat dan setuju ada 15 (37,5%) umat, bahwa Gereja sebagai persekutuan orang yang beriman kepada Kristus.

  Tugas Gereja adalah mengajar, menguduskan dan memimpin, atas pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 17 (42,5%) umat, setuju 21 (52,5%) umat, ragu-ragu ada 1 (2,5%) umat dan kurang setuju ada 1 (2,5%) umat. Ada 29 (72,5%) umat menyatakan sangat setuju dan setuju ada 11 (27,5%) umat, bahwa Gereja mengajarkan kebenaran-kebenaran kepada anggotanya.

  Dari segi pemahaman tentang hidup menggereja, umat menyatakan sangat setuju ada 22 (55%) umat dan setuju ada 18 (45%) umat, bahwa hidup menggereja merupakan kegiatan yang menampakkan iman akan Yesus Kristus. Ada 24 (60%) umat menyatakan sangat setuju dan setuju ada 16 (40%) umat, bahwa Gereja menjalankan hidup menggerejanya didasari oleh semangat Yesus Kristus selama hidup-Nya.

  Umat menyatakan sangat setuju ada 23 (57,5%) dan setuju ada 17 (42,5%), bahwa Gereja memiliki lima tugas pokok yaitu koinonia, kerygma, martyria, liturgia dan diakonia.

  Pewartaan Sabda Allah oleh Gereja bukan hanya sekedar informasi, melainkan sungguh-sungguh menghadirkan Allah di dunia, terhadap pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 28 (70%), setuju ada 11 (27,5%) dan ragu-ragu ada 1 (2,5%).

  Umat menyatakan sangat setuju ada 22 (55%) dan setuju ada 18 (45%), bahwa kesaksian akan Yesus Kristus diwujudkan lewat tindakan nyata sehari-hari.

  Hidup menggereja tidak hanya dilakukan di lingkungan gereja, namun juga di lingkungan masyarakat. Dari pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 24 (60%) dan setuju ada 16 (40%).

  Umat menyatakan sangat setuju ada 19 (47,5%) dan setuju ada 21 (52,5%), bahwa sikap sebagai umat katolik terhadap hidup menggereja melaksanakan dengan sadar, tulus dan tanggungjawab.

c. Keterlibatan Umat dalam Kegiatan Hidup Menggereja Bagian ini akan memaparkan variabel tentang keterlibatan umat Stasi St.

  Lukas Sokaraja dalam hidup menggereja dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

1) Hasil Penelitian

  

Tabel 4: Keterlibatan Umat dalam Kegiatan Hidup Menggereja (N=40)

No Jumlah Persen Pernyataan Item

  Umat (%) (1) (2) (3) (4)

  14 Umat katolik adalah mereka yang selalu bersemangat dalam mengikuti kegiatan- kegiatan gerejani.

  a.

  11 27,5

  Sangat Setuju b.

  21 52,5

  Setuju c.

  1 2,5

  Ragu-ragu d.

  6

  15 Kurang Setuju e. 1 2,5

  Tidak Setuju

  15 Hidup menggereja dapat diwujudkan oleh siapa pun, kapan pun dan di mana pun orang atau sekelompok orang yang menampakkan imannya kepada Kristus.

  a.

  15 37,5

  Sangat Setuju b.

  24

  60 Setuju c.

  Ragu-ragu d.

  1 2,5

  Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  16 Kegiatan-kegiatan gerejani yang dilakukan selama ini sungguh membantu Anda dalam menghayati akan hidup menggereja.

  a.

  14

  35 Sangat Setuju b.

  24

  60 Setuju c.

  2

  5 Ragu-ragu d.

  Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  17 Peranan umat dalam hidup menggereja yaitu sebagai penerus Gereja di masa depan.

  a.

  16

  40 Sangat Setuju b.

  24

  60 Setuju c.

  Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  18 Keterlibatan umat dalam Gereja pada umumnya sama dengan peranan kaum awam yaitu sebagai warga Gereja yang tidak ditahbiskan atau orang-orang yang beriman Kristen yang oleh pembaptisan menjadi anggota Tubuh Kristus.

  a.

  10

  25 Sangat Setuju

  (1) (2) (3) (4) b.

  Sangat Setuju b.

  22 Semua umat Stasi Santo Lukas Sokaraja aktif dalam kegiatan gerejani.

  a.

  Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  5

  13

  9

  11

  2 12,5 32,5 22,5 27,5

  5

  23 Kegiatan-kegiatan gerejani di Stasi Santo Lukas Sokaraja membantu saya dalam menghayati iman.

  a.

  Setuju c. Ragu-ragu d.

  60 12,5

  Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  15

  21

  4 37,5 52,5

  10

  24 Kegiatan menggereja membantu saya dalam pembentukan karakter.

  a.

  Sangat Setuju b.

  Setuju c.

  13

  25

  2 32,5 62,5

  2,5

  25

  Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  3 22,5 67,5

  24

  5

  1

  60 12,5

  2,5

  19 Sebagai umat katolik saya sudah terlibat dalam kegiatan liturgi.

  a.

  Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  9

  27

  1

  2,5 7,5

  1

  20 Sebagai umat beriman kita perlu menjaga nama baik keluarga dan masyarakat.

  a.

  Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu

  29

  11 72,5 27,5 d.

  Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  21 Umat yang aktif adalah mereka yang selalu terlibat diberbagai kegiatan gerejani.

  a.

  Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  10

  24

  5

  5

  (1) (2) (3) (4) d.

  Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  25 Kesibukan kerja menghambat keaktifan saya dalam mengikuti kegiatan hidup menggereja.

  a.

  1 2,5

  Sangat Setuju b.

  10

  25 Setuju c. 1 2,5

  Ragu-ragu d.

  20

  50 Kurang Setuju e.

  8

  20 Tidak Setuju

  26 Kegiatan hidup menggereja di Stasi dapat mempererat relasi umat antar Lingkungan.

  a.

  18

  45 Sangat Setuju b. 21 52,5

  Setuju c.

  1 2,5

  Ragu-ragu d.

  Kurang Setuju e. Tidak Setuju 27 Saya senang mengikuti kegiatan gerejani.

  a.

  14

  35 Sangat Setuju b. 23 57,5

  Setuju c.

  2

  5 Ragu-ragu d. 1 2,5

  Kurang Setuju e. Tidak Setuju

2) Pembahasan Penelitian

  Dari tabel 4, dapat diketahui sejauh mana keterlibatan umat Stasi Santo Lukas Sokaraja dalam kegiatan hidup menggereja. Umat dengan jumlah 11 (27,5%) menyatakan sangat setuju, jumlah 21 (52,5%) umat menyatakan setuju, bahwa umat katolik adalah mereka yang selalu bersemangat dalam mengikuti kegiatan-kegiatan gerejani, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 1 (2,5%) umat, kurang setuju ada 6 (15%) umat dan tidak setuju ada 1 (2,5%) umat.

  Hidup menggereja dapat diwujudkan oleh siapa pun, kapan pun dan di mana pun orang atau sekelompok orang yang menampakkan imannya kepada Kristus, atas pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 15 (37,5%) dan menyatakan setuju ada 24 (60%) umat sedangkan yang menyatakan kurang setuju ada 1 (2,5%) umat.

  Dari tabel yang sama diperoleh juga data 14 (35%) umat menyatakan sangat setuju, 24 (60%) umat menyatakan setuju dan 2 (5%) umat menyatakan ragu-ragu, bahwa kegiatan-kegiatan gerejani yang dilakukan sungguh membantu umat dalam menghayati akan hidup menggereja. Ada 16 (40%) umat menyatakan sangat setuju dan 24 (60%) umat menyatakan setuju, bahwa peranan umat dalam hidup menggereja yaitu sebagai penerus Gereja di masa depan.

  Pemahaman yang menyatakan keterlibatan umat dalam Gereja pada umumnya sama dengan peran kaum awam sebagai warga Gereja yang tidak ditahbiskan atau orang-orang yang beriman Kristen yang oleh pembaptisan menjadi anggota Tubuh Kristus dihasilkan data umat menyatakan sangat setuju ada 10 (25%), setuju ada 24 (60%) umat, ragu-ragu 5 (12,5%) umat sedangkan yang menyatakan kurang setuju ada 1 (2,5%) umat.

  Umat dengan jumlah 9 (22,5%) menyatakan sangat setuju dan 27 (67,5%) umat menyatakan setuju, bahwa sebagai umat katolik mereka sudah terlibat dalam kegiatan liturgi, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 1 (2,5%) umat dan kurang setuju ada 3 (7,5%) umat.

  Sebagai umat beriman kita perlu menjaga nama baik keluarga dan masyarakat, atas pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 29 (72,5%) dan menyatakan setuju ada 11 (27,5%). Umat dengan jumlah 10 (25%) menyatakan sangat setuju, 24 (60%) umat menyatakan setuju, 5 (12,5%) umat menyatakan ragu-ragu dan 1 (2,5%) umat menyatakan kurang setuju, bahwa umat yang aktif adalah mereka yang selalu terlibat diberbagai kegiatan gerejani.

  Semua umat Stasi Santo Lukas Sokaraja aktif dalam kegiatan gerejani, atas pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 5 (12,5%) umat dan menyatakan setuju ada 13 (32,5%) umat sedangkan yang menyatakan ragu-ragu 9 (22,5%) umat, kurang setuju 11 (27,5%) umat dan tidak setuju 2 (5%) umat.

  Kegiatan-kegiatan Gerejani di Stasi Santo Lukas Sokaraja membantu umat dalam menghayati iman. Dari pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 15 (37,5%) dan menyatakan setuju ada 21 (52,5%) umat sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 4 (10%) umat.

  Umat dengan jumlah 13 (32,5%) menyatakan sangat setuju, 25 (62,5%) umat menyatakan setuju dan 2 (5%) umat menyatakan ragu-ragu bahwa kegiatan menggereja membantu umat dalam pembentukan karakter. Kesibukan kerja menghambat keaktifan umat dalam mengikuti kegiatan hidup menggereja, atas pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 1 (2,5%) dan menyatakan setuju ada 10 (25%) umat sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 1 (2,5%) umat, menyatakan kurang setuju ada 20 (50%) umat dan menyatakan tidak setuju ada 8 (20%) umat.

  Dari tabel yang sama diperoleh juga data 18 (45%) umat menyatakan sangat setuju, 21 (52,5%) umat menyatakan setuju dan 1 (2,5%) umat menyatakan ragu-ragu, bahwa kegiatan hidup menggereja di Stasi dapat mempererat relasi umat antar Lingkungan. Ada 14 (35%) umat menyatakan sangat setuju, 23 (57,5%) umat menyatakan setuju, sedangkan 2 (5%) umat menyatakan ragu-ragu dan 1 (2,5%) umat menyatakan kurang setuju bahwa umat senang mengikuti kegiatan gerejani.

  d.

  

Bentuk-bentuk Kegiatan Pendukung Perkembangan Penghayatan Iman

Umat

  Bagian ini akan memaparkan variabel tentang bentuk-bentuk kegiatan yang mendukung perkembangan penghayatan iman umat dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

1) Hasil Penelitian

  

Tabel 5: Bentuk-bentuk Kegiatan Pendukung Perkembangan

Penghayatan Iman Umat (N=40)

No

  Jumlah Persen Pernyataan Item Umat (%) (1) (2) (3) (4)

  28 Saya selalu terlibat dalam kerja bakti membersihkan kampung saat menjelang HUT RI.

  a.

  10

  25 Sangat Setuju b.

  20

  50 Setuju c.

  6

  15 Ragu-ragu d. 3 7,5

  Kurang Setuju e.

  1 2,5

  Tidak Setuju

  29 Kegiatan gerejani mengurangi waktu kerja saya.

  a.

  1 2,5

  Sangat Setuju b.

  3 7,5

  Setuju c.

  1 2,5

  Ragu-ragu d.

  17 42,5

  Kurang Setuju e.

  18

  45 Tidak Setuju

  30 Terlibat dalam kegiatan gerejani memberi dampak positif bagi penghayatan iman saya.

  a.

  16

  40 Sangat Setuju b. 23 57,5

  Setuju c.

  1 2,5

  Ragu-ragu d.

  Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  31 Selain merayakan Ekaristi, saya juga mengikuti pendalaman iman di Lingkungan.

  a.

  10

  25 Sangat Setuju b. 19 47,5

  Setuju c.

  9 22,5

  Ragu-ragu d.

  1 2,5

  Kurang Setuju e.

  1 2,5

  Tidak Setuju

  32 Sharing pengalaman saat pendalaman iman semakin memperkaya dan meneguhkan iman saya.

  a.

  17 42,5

  Sangat Setuju b.

  19 47,5

  Setuju c.

  4

  10 Ragu-ragu d.

  Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  (1) (2) (3) (4)

  33 Selama bulan Rosario saya mengikuti doa bersama di Lingkungan.

  a.

  12

  30 Sangat Setuju b. 13 32,5

  Setuju c.

  12

  30 Ragu-ragu d.

  2

  5 Kurang Setuju e. 1 2,5

  Tidak Setuju

  34 Terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan mengakrabkan saya dengan umat yang beragama lain.

  a.

  17 42,5

  Sangat Setuju b.

  22

  55 Setuju c. 1 2,5

  Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  35 Saya tidak pernah membaca atau mendengarkan Firman Tuhan secara pribadi.

  a.

  Sangat Setuju b.

  4

  10 Setuju c.

  4

  10 Ragu-ragu d.

  16

  40 Kurang Setuju e.

  16

  40 Tidak Setuju

  36 Setiap malam dalam keluarga selalu berdoa bersama.

  a.

  6

  15 Sangat Setuju b. 25 62,5

  Setuju c.

  7 17,5

  Ragu-ragu d.

  2

  5 Kurang Setuju e.

  Tidak Setuju

2) Pembahasan Penelitian

  Dari tabel 5, dapat diketahui berbagai bentuk kegiatan pendukung perkembangan penghayatan iman umat. Keterlibatan umat dalam kegiatan kemasyarakatan. Umat menyatakan sangat setuju ada 10 (25%) dan setuju ada 20 (50%) umat, bahwa mereka selalu terlibat dalam kerja bakti membersihkan kampung saat menjelang HUT RI, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 6 (15%) umat, kurang setuju ada 3 (7,5%) umat dan tidak setuju ada 1 (2,5%) umat. Umat dengan jumlah 1 (2,5%) menyatakan sangat setuju, setuju ada 3 (7,5%) umat, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 1 (2,5%) umat, kurang setuju ada 17 (42,5%) umat dan tidak setuju ada 18 (45%) umat, bahwa kegiatan gerejani mengurangi waktu kerja umat. Terlibat dalam kegiatan gerejani memberi dampak positif bagi penghayatan iman umat, atas pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 16 (40%), setuju ada 23 (57,5%) umat sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 1 (2,5%) umat.

  Keterlibatan umat dalam kegiatan gerejani, umat dengan jumlah 10 (25%) menyatakan sangat setuju dan setuju ada 19 (47,5%) umat, bahwa selain mengikuti Perayaan Ekaristi umat juga mengikuti pendalaman iman di Lingkungan, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 9 (22,5%) umat, kurang setuju ada 1 (2,5%) umat dan tidak setuju ada 1 (2,5%) umat. Sharing pengalaman saat pendalaman iman semakin memperkaya dan meneguhkan iman umat, atas pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 17 (42,5%) dan setuju ada 19 (47,5%) umat sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 4 (10%) umat. Ada 12 (30%) umat menyatakan sangat setuju, 13 (32,5%) umat menyatakan setuju, bahwa selama bulan Rosario umat mengikuti doa bersama di Lingkungan, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 12 (30%) umat, kurang setuju 2 (5%) umat dan tidak setuju ada 1 (2,5%) umat.

  Terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan mengakrabkan umat katolik dengan umat yang beragama lain. Dari pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 17 (42,5%) dan setuju ada 22 (55%) umat, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 1 (2,5%) umat. Umat menyatakan setuju ada 4 (10%), ragu-ragu ada 4 (10%) umat, sedangkan yang menyatakan kurang setuju ada 16 (40%) umat dan tidak setuju ada 16 (40%) umat, atas pernyataan umat tidak pernah membaca atau mendengarkan Firman Tuhan secara pribadi. Sebanyak 6 (15%) umat menyatakan sangat setuju dan setuju 25 (62,5%) umat, atas pernyataan setiap malam dalam keluarga selalu berdoa bersama, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 7 (17,5%) umat dan kurang setuju ada 2 (5%) umat.

  e.

  

Harapan dan Usulan Tema Terkait dengan Kegiatan Hidup Menggereja

  Pada tabel 6, penulis memaparkan mengenai harapan dan usulan tema yang terkait dengan kegiatan hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja.

1) Hasil Penelitian

  

Tabel 6: Harapan dan Usulan Tema Terkait dengan

Kegiatan Hidup Menggereja (N=40)

No

  Jumlah Persen Pernyataan Item Umat (%) (1) (2) (3) (4)

  37 Keaktifan saya dalam kegiatan gerejani dapat mempengaruhi umat lain yang belum aktif.

  a.

  9 22,5

  Sangat Setuju b.

  14

  35 Setuju c.

  10

  25 Ragu-ragu d. 7 17,5

  Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  38 Saya lebih tahu tentang kegiatan berorganisasi saat aktif terlibat dalam hidup menggereja.

  a.

  8

  20 Sangat Setuju b. 15 37,5

  Setuju c.

  5 12,5

  Ragu-ragu d.

  12

  30 Kurang Setuju e.

  Tidak Setuju

  (1) (2) (3) (4)

  39 Harapan umat Stasi Santo Lukas Sokaraja semakin kreatif dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan gerejani.

  a.

  17 42,5

  Sangat Setuju b.

  23 57,5

  Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  40 Harapan umat Stasi Santo Lukas Sokaraja semakin maju dan berkembang keterlibatan umat dalam berbagai kegiatan gerejani.

  a.

  30

  75 Sangat Setuju b. 7 17,5

  Setuju c.

  3 7,5

  Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  41 Berani menentukan pilihan meninggalkan segalanya untuk mengikuti Kristus merupakan usulan tema yang cocok untuk katekese bagi umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja.

  a.

  27 67,5

  Sangat Setuju b.

  10

  25 Setuju c.

  2

  5 Ragu-ragu d. 1 2,5

  Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  42 Mengikuti Kristus dengan setia dalam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu tema yang cocok untuk katekse bagi umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja.

  a.

  19 47,5

  Sangat Setuju b.

  21 52,5

  Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang Setuju e. Tidak Setuju

  43 Tema menghayati hidup iman pribadi dalam hidup menggereja, keluarga dan masyarakat cocok digunakan untuk berkatekese di Stasi Santo Lukas Sokaraja.

  a.

  15 37,5

  Sangat Setuju b.

  20

  50 Setuju c. 5 12,5

  Ragu-ragu d.

  Kurang Setuju e. Tidak Setuju

2) Pembahasan Penelitian

  Dari tabel 6 dapat diketahui harapan dan usulan tema yang terkait dengan kegiatan hidup menggereja di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Umat menyatakan sangat setuju 9 (22,5%) dan setuju ada 14 (35%) umat sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 10 (25%) umat dan kurang setuju ada 7 (17,5%) umat, atas pernyataan keaktifan umat dalam kegiatan gerejani dapat mempengaruhi umat lain yang belum aktif.

  Umat lebih tahu tentang kegiatan berorganisasi saat aktif terlibat dalam hidup menggereja, atas pernyataan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 8 (20%) dan setuju ada 15 (37,5%) umat, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 5 (12,5%) umat dan kurang setuju ada 12 (30%) umat.

  Harapan umat Stasi Santo Lukas Sokaraja semakin kreatif dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan gerejani. Dari harapan tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 17 (42,5%) dan setuju ada 23 (57,5%) umat. Umat menyatakan sangat setuju ada 30 (75%) dan setuju ada 7 (17,5%) umat, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 3 (7,5%) umat, atas harapan umat Stasi Santo Lukas Sokaraja semakin maju dan berkembang dalam berbagai kegiatan gerejani.

  Berbagai usulan tema katekese bagi umat Stasi Santo Lukas Sokaraja. Berani menentukan pilihan meninggalkan segalanya untuk mengikuti Kristus, atas usulan tema tersebut umat menyatakan sangat setuju ada 27 (67,5%), setuju ada 10 (25%) umat, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 2 (5%) umat dan kurang setuju ada 1 (2,5%) umat. Sebanyak 19 (47,5%) umat menyatakan sangat setuju dan setuju ada 21 (52,5%) umat, atas usulan tema katekese mengikuti Kristus dengan setia dalam kehidupan sehari-hari. Tema menghayati hidup iman pribadi dalam hidup menggereja, keluarga dan masyarakat cocok digunakan untuk berkatekese di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Dari usulan tema tersebut, umat menyatakan sangat setuju ada 15 (37,5%), setuju ada 20 (50%) umat dan ragu- ragu ada 5 (12,5%) umat.

6. Kesimpulan Penelitian

  Pada bagian ini disampaikan pembahasan hasil penelitian yang bertitik tolak pada laporan hasil penelitian mengenai kegiatan hidup menggereja umat di Stasi Santo Lukas, Sokaraja. Pembahasan ini disampaikan menurut urutan variabel. Ada pun urutan pembahasannya sebagai berikut:

  a. Identitas Responden

  Berkenaan dengan identitas responden yang mencakup jenis kelamin, umur dan asal Lingkungan dikatakan bahwa dari 40 responden yang terlibat secara langsung dalam penelitian ini responden yang paling banyak adalah berjenis kelamin laki-laki ada 21 responden (52,5%), 7 responden berumur 15-25 tahun, 4 responden (10%) berumur 26-35 tahun, 8 responden (20%) berumur 36- 45 tahun, 15 responden (37,5%) berumur 46-55 tahun dan ada 6 responden (15%) berumur lebih dari 55 tahun. Mereka adalah umat Lingkungan Yohanes Paulus Kalibagor sebanyak 20 (50%) responden dan Lingkungan Santa Maria Sokaraja sebanyak 20 (50%) responden.

  b. Pemahaman tentang Hidup Menggereja

  Penelitian tentang variabel pemahaman tentang hidup menggereja menunjukkan bahwa 25 (62,5%) responden menyatakan bahwa tahu tentang arti kata Gereja yaitu sebagai persekutuan orang yang beriman kepada Kristus. Sebanyak 21 (52,5%) responden menyatakan bahwa mereka mengerti akan tugas Gereja yaitu mengajar, menguduskan dan memimpin. Sebanyak 29 (72,5%) responden sangat setuju dengan pernyataan Gereja mengajarkan kebenaran- kebenaran kepada anggotanya sehingga umat sampai pada keselamatan yang abadi. Sebanyak 22 (55%) responden memahami bahwa hidup menggereja merupakan kegiatan yang menampakkan iman akan Yesus Kristus. Namun, kegiatan yang menampakkan iman akan Yesus Kristus tidak hanya semata-mata ditampakkan melalui keterlibatan umat dalam kegiatan hidup menggereja dapat juga ditampakkan lewat keterlibatan mereka di lingkungan masyarakat. Sebanyak 24 (60%) responden sangat setuju dengan pernyataan bahwa Gereja menjalankan hidup menggerejanya didasari oleh semangat Yesus Kristus selama hidup-Nya.

  Sebanyak 23 (57,5%) responden memahami lima tugas pokok Gereja yaitu koinonia/paguyuban, kerygma/pewartaan, martyria/kesaksian hidup,

  

liturgia/ibadat dan diakonia/pelayanan. Sebanyak 28 (70%) responden

  menyatakan sangat setuju bahwa pewartaan Sabda Allah oleh Gereja bukan hanya sekedar informasi mengenai Allah, melainkan sungguh-sungguh menghadirkan Allah di tengah dunia. Sebanyak 22 (55%) responden memberi kesaksian akan Yesus Kristus melalui tindakan hidup sehari-hari. Sebanyak 24 (60%) responden menyatakan sangat setuju bahwa hidup menggereja tidak hanya dilakukan di lingkungan gereja saja, melainkan dilakukan juga di lingkungan masyarakat. Sebanyak 21 (52,5%) responden menyatakan setuju bahwa umat katolik mempunyai sikap sadar, tulus dan bertanggung jawab dalam melaksanakan hidup menggerejanya.

  Pembahasan di atas memaparkan hasil yang menunjukkan sejauh mana umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja paham tentang hidup menggereja dari pernyataan-pernyataan yang diajukan dapat digambarkan bahwa sebagian besar umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja paham tentang hidup menggereja.

c. Keterlibatan Umat dalam Hidup Menggereja

  Penelitian tentang variabel keterlibatan umat dalam hidup menggereja menunjukkan sebanyak 21 (52,5%) responden menyatakan setuju bahwa umat katolik adalah orang yang selalu bersemangat dalam mengikuti kegiatan-kegiatan gerejani. Sebanyak 24 (60%) responden memilih setuju bahwa hidup menggereja dapat diwujudkan oleh siapa pun, kapan pun dan di mana pun orang atau sekelompok orang yang menampakkan imannya kepada Kristus. Sebanyak 24 (60%) responden memilih setuju bahwa kegiatan-kegiatan gerejani yang dilakukan selama ini sungguh membantu dalam menghayati akan hidup menggereja. Sebanyak 24 (60%) responden setuju dengan pernyataan peran umat dalam hidup menggereja sebagai penerus Gereja di masa depan. Sebanyak 24 (60%) responden memilih setuju bahwa keterlibatan umat dalam Gereja pada umumnya sama dengan peran kaum awam sebagai warga Gereja yang tidak ditahbiskan. Sebanyak 27 (67,5%) responden menyatakan bahwa sudah terlibat dalam kegiatan liturgi. Sebanyak 29 (72,5%) responden menyatakan sangat setuju bahwa kita sebagai umat beriman perlu menjaga nama baik keluarga dan masyarakat. Sebanyak 24 (60%) responden menyatakan setuju bahwa umat yang aktif adalah mereka yang selalu terlibat diberbagai kegiatan gerejani. Sebanyak 13 (32,5%) responden menyatakan bahwa semua umat Stasi Santo Lukas Sokaraja aktif dalam kegiatan gerejani.

  Sebanyak 21 (52,5%) responden terbantu dalam menghayati iman lewat keterlibatannya dalam kegiatan-kegiatan gerejani. Sebanyak 25 (62,5%) responden menyatakan setuju bahwa kegiatan menggereja membantu dalam pembentukan karakter. Sebanyak 20 (50%) responden menyatakan kurang setuju bahwa kesibukan kerja menghambat keaktifan selama mengikuti kegiatan hidup menggereja. Sebanyak 21 (52,5%) responden menyatakan bahwa kegiatan hidup menggereja di Stasi dapat mempererat relasi umat antar Lingkungan. Sebanyak 23 (57,5%) responden senang mengikuti kegiatan gerejani.

  Pembahasan di atas menunjukkan tentang hasil penelitian menyatakan pada variabel 3 tentang keterlibatan umat dalam hidup menggereja menunjukkan bahwa umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja belum sepenuhnya terlibat dalam kegiatan hidup menggereja, namun kurang lebih setengah jumlah umat sudah banyak yang terlibat. Hal ini dibuktikan jumlah prosentase alternatif jawaban setuju yang lebih banyak daripada alternatif jawaban lain.

  d.

  

Bentuk-bentuk Kegiatan Pendukung Perkembangan Penghayatan Iman

Umat

  Penelitian terhadap variabel bentuk-bentuk kegiatan pendukung perkembangan penghayatan iman umat menunjukkan bahwa 20 (50%) responden menyatakan bahwa umat katolik terlibat dalam kerja bakti membersihkan kampung saat menjelang HUT RI. Keterlibatan umat di masyarakat dapat juga mempererat persaudaraan dengan umat yang beragama lain, sehingga tumbuh rasa saling menghargai satu sama lain. Sebanyak 18 (45%) responden menyatakan tidak setuju bahwa kegiatan gerejani mengurangi waktu kerja mereka. Sebanyak 23 (57,5%) responden menyatakan setuju bahwa terlibat dalam kegiatan gerejani memberi dampak positif bagi penghayatan iman mereka.

  Sebanyak 19 (47,5%) responden menyatakan setuju bahwa selain merayakan Ekaristi, mereka juga mengikuti pendalaman iman di Lingkungan.

  Sebanyak 19 (47,5%) responden merasa diperkaya dan diteguhkan lewat sharing pengalaman saat pendalaman iman berlangsung. Sebanyak 13 (32,5%) responden mengikuti doa Rosario bersama di Lingkungan selama bulan Rosario.

  Sebanyak 22 (55%) responden menyatakan setuju bahwa terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan mengakrabkan umat katolik dengan umat yang beragama lain. Sebanyak 16 (40%) responden menyatakan kurang setuju dan tidak setuju bahwa mereka tidak pernah membaca atau mendengarkan Firman Tuhan secara pribadi. Sebanyak 25 (62,5%) responden menyatakan bahwa setiap malam dalam keluarga selalu berdoa bersama.

  Pemahaman di atas, memaparkan hasil yang menunjukkan bentuk-bentuk kegiatan pendukung perkembangan penghayatan iman umat. Dari pernyataan- pernyataan yang diajukan dapat digambarkan secara garis besar bahwa umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja merasa terbantu dalam menghayati imannya melalui keterlibatan mereka dalam kegiatan-kegiatan gerejani.

  e.

  

Harapan dan Usulan Tema terkait dengan Kegiatan Hidup Menggereja

  Hasil penelitian pada variabel harapan dan usulan tema terkait dengan kegiatan hidup menggereja menunjukkan bahwa 14 (35%) responden menyatakan setuju bahwa keaktifan mereka dalam kegiatan gerejani dapat mempengaruhi umat lain yang belum aktif. Sebanyak 15 (37,5%) responden menyatakan bahwa mereka lebih tahu tentang kegiatan berorganisasi saat aktif terlibat dalam hidup menggereja. Sebanyak 23 (57,5%) responden memiliki harapan umat Stasi Santo Lukas Sokaraja semakin kreatif dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan gerejani.

  Sebanyak 30 (75%) responden memiliki harapan umat Stasi Santo Lukas Sokaraja semakin maju dan berkembang keterlibatan umat dalam berbagai kegiatan gerejani. Sebanyak 27 (67,5%) responden menyatakan sangat setuju dengan usulan tema berani menentukan pilihan meninggalkan segalanya untuk mengikuti Kristus. Sebanyak 21 (52,5%) responden menyatakan setuju dengan usulan tema mengikuti Kristus dengan setia dalam kehidupan sehari-hari. Sebanyak 20 (50%) responden menyatakan setuju dengan usulan tema menghayati hidup iman pribadi dalam hidup menggereja, keluarga dan masyarakat.

  Pembahasan di atas menunjukkan hasil dari variabel tentang harapan dan usulan tema terkait dengan kegiatan hidup menggereja. Dari pernyataan- pernyataan yang diajukan dapat digambarkan secara garis besar umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja memiliki harapan umat semakin kreatif dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan gerejani dan semakin maju dan berkembang keterlibatan umat dalam berbagai kegiatan gerejani. Oleh karena itu tema katekese yang banyak dipilih oleh umat tentang keberanian menentukan pilihan meninggalkan segalanya untuk mengikuti Kristus.

BAB III KEHIDUPAN MENGGEREJA UMAT MELALUI KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP) Dalam Gereja maupun masyarakat, sering kali kita temui berbagai

  kegiatan pemberdayaan maupun pengembangan diri, seperti pendampingan, pelatihan dan kegiatan-kegiatan lain, dengan harapan kegiatan-kegiatan tersebut sungguh dapat membantu dan mengembangkan setiap peserta dalam mengembangkan dirinya dan mampu menemukan nilai-nilai baru dalam memperkembangkan dirinya.

  Kegiatan-kegiatan gerejani sebagai salah satu bentuk karya pastoral Gereja yang bermaksud membantu umat agar memahami akan pentingnya keterlibatan dan peranan mereka dalam Gereja. Kegiatan gerejani tidak mungkin akan berkembang tanpa keterlibatan umatnya sehingga sangat dibutuhkan sekali peran dan keterlibatan umat. Gereja sangat mengharapkan umat memiliki kesadaran dalam mengembangkan Gereja lewat keterlibatan mereka. Hanya dengan keterlibatan umatlah kegiatan-kegiatan gerejani dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

A. Hidup Menggereja Umat

  Sebagai anggota Gereja, tentunya kita tidak boleh acuh tak acuh terhadap kegiatan-kegiatan yang ada. Namun kita harus ikut terlibat di dalamnya sehingga kegiatan-kegiatan yang ada dapat semakin hidup dan berkembang. Hidup menggereja umat mencakup arti Gereja, model-model Gereja dan hidup

1. Arti Gereja

  Kata Gereja bukanlah semacam batasan atau definisi. Jemaat perdana kadang-kadang memahami diri dan merumuskan karya keselamatan Tuhan

  

dengan berkata “Gereja Allah” atau juga “jemaat Allah”. Maksud sebutan itu

  menjadi jelas dari 1 Kor 11:17-22. Di situ Paulus berbicara mengenai jemaat yang berkumpu

  l untuk perayaan Ekaristi. Mereka menjadi “jemaat” atau “Gereja“

  karena iman mereka akan Yesus Kristus, khususnya akan wafat dan kebangkitan- Nya. Gereja adalah jemaat Allah yang dikuduskan dalam Kristus Yesus (KWI, 1996: 332).

  Pengertian Gereja yang terdapat dalam Kitab Suci dan Ajaran Gereja tidak mengenal batasan arti. Menurut buku Iman Katolik (KWI, 1996: 333), di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru tiga nama yang dipakai untuk Gereja: Gereja Umat Allah, Gereja Tubuh Kristus dan Gereja Bait Roh Kudus. Pengertian yang lain dikatakan oleh Dr. Tom Jacobs (1987: 23), Lumen Gentium memberikan

  

penjelasan bahwa faham Gereja sebagai “Tubuh Kristus” tidak boleh seolah-olah

diganti dengan faham Gereja sebagai “Umat Allah”. Gereja adalah sekaligus umat

  Allah dan tubuh Kristus.

  Dengan demikian definisi Gereja sangatlah luas karena tidak hanya satu sumber saja yang menjelaskan arti Gereja itu sendiri. Definisi tersebut tergantung pada konteksnya. Namun pada intinya Gereja merupakan persekutuan orang- orang yang beriman kepada Kristus sebagai perwujudan karya Allah yang konkret. Allah mencintai dan memanggil manusia untuk ikut ambil bagian dalam karya penyelamatan-Nya di dunia.

2. Model-model Gereja

  Model-model Gereja menurut Avery Dulles yang dikutip oleh Sumarno Ds.(2014: 22-28) meliputi (a) Gereja sebagai Institusi; (b) Gereja sebagai Persekutuan Mistik; (c) Gereja sebagai Sakramen; (d) Gereja sebagai Umat Allah; (e) Gereja sebagai Pewarta.

a. Gereja sebagai Institusi

  Gereja harus memiliki suatu kesatuan yang memiliki struktur dan harus tetap merupakan persekutuan seperti yang didirikan oleh Kristus. Model pesekutuan memperlihatkan bahwa Gereja harus disatukan dengan Allah oleh rahmat, dalam kesatuan rahmat itu anggota-anggotanya harus disatukan oleh kasih. Di dalam ekklesiologi yang berpusat pada institusi itu, kekuasaan dan tugas Gereja pada umumnya dibagi atas tiga: mengajar, menguduskan dan memimpin.

  Pembagian kekuasaan mengarah pada suatu perbedaan antara Gereja yang mengajar dan Gereja yang diajar, antara Gereja yang menguduskan dan Gereja yang dikuduskan, antara Gereja yang memimpin dan Gereja yang dipimpin (Sumarno Ds., 2014: 22).

  Model Gereja institusional memiliki ciri yaitu mempertimbangkan konsep tentang kekuasaan atau otoritas yang hirarkis (Sumarno Ds., 2014: 22).

  Gereja tidak dipahami sebagai masyarakat yang menganut sistem perwakilan, tetapi sebagai masyarakat dimana pelimpahan kekuasaan memimpin terpusat di dalam tangan suatu golongan tertentu. Pelayanan yang dilakukan oleh Gereja institusional sebatas untuk para anggotanya sendiri. Gereja mengajarkan kebenaran-kebenaran kepada anggotanya sehingga mereka sampai pada

b. Gereja sebagai Persekutuan Mistik

  Gereja adalah umat yang dikumpulkan oleh Allah dan disatukan oleh ikatan rohani yang erat (Wignyanta, 1990: 66). Tekanan pada Gereja model persatuan mistik ialah persatuan antar anggota dan dengan Allah dan Kristus, rahmat karunia batiniah dari Roh Kudus sebagai pengikat persatuannya.

  Pelayanan Gereja dalam model ini diberikan kepada para anggotanya tetapi anggota harus dimengerti dalam arti yang lebih spiritual, yaitu mereka yang dijiwai oleh kasih dan iman yang adikodrati. Tujuan Gereja memimpin orang- orang kepada persatuan dengan Allah. Kesatuan diberikan dengan sendirinya, karena adanya Gereja. Di mana pun Gereja hadir, orang telah dipersatukan dengan Allah (Sumarno Ds., 2014: 23).

  Paham communion (persekutuan) mendasari “komunikasi” di antara para anggota Gereja sendiri. Oleh karena itu kesatuan communion ini berarti keanekaragaman dalam cara berkomunikasi, sebab Roh Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, dan memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan (KWI, 1996: 340).

  Model Gereja sebagai persekutuan mistik memiliki beberapa kekurangan. Salah satu kekurangannya yaitu model ini tidak berhasil memberi kepada orang Kristiani suatu pengertian yang jelas mengenai identitas atau tugas perutusannya.

  Karena tidak bisa dipastikan apakah orang dikaruniai Roh Kudus hanya melalui evangelisasi, pembaptisan atau keanggotaan Gereja, sehingga motivasi untuk misi Kristiani agak kabur (Sumarno Ds., 2014: 24).

  c. Gereja sebagai Sakramen

  Kristus adalah sakramen Allah, maka Gereja merupakan sakramen Kristus bagi kita; Gereja mewakili Dia secara penuh dan asli serta membuat Dia sungguh-sungguh hadir (Sumarno Ds., 2014: 24).

  Gereja sebagai sakramen sama artinya dengan gereja sebagai misteri karena kedua kata tersebut tidak dapat dipisahkan yaitu sakramen dan misteri (KWI, 1996: 338). Kedua kata tersebut bersama menunjukkan inti-pokok kehidupan Gereja.

  Dalam perkembangan teologi kata misteri dipakai terutama untuk menunjuk pada segi ilahi (dan tersembunyi) rencana dan karya Allah, sedangkan kata sakramen lebih menunjuk pada aspek insani (KWI, 1996: 338). Gereja disebut sakramen karena misteri Allah tampak di dalam Gereja.

  d. Gereja sebagai Umat Allah

  Kata Umat Allah merupakan istilah dari Perjanjian Lama. Yang paling menonjol dalam sebutan ini ialah bahwa Gereja itu umat terpilih Allah (1 Ptr 2:9) yang memiliki hubungan antara manusia dan Allah yang Satu. Oleh Allah yang Satu manusia diciptakan untuk menjadi umat manusia yang satu. Dari ketiadaan kita dipanggil dan disebut pada nama kita sendiri-sendiri. Ini merupakan kebijaksanaan dan kebaikan Tuhan kepada manusia, karena panggilan Allah manusia menjadi ada dan sekaligus diangkat untuk mengambil bagian dalam kehidupan Ilahi (Pusat Kateketik Yogyakarta, 1968: 3).

  Gambaran Gereja sebagai umat Allah dilihat sebagai persekutuan dari pribadi-pribadi yang bebas, menekankan kasih Allah yang tak berkesudahan perjanjian dengan semua manusia, dan karena itu atas salah satu cara semua orang merupakan anggota Umat Allah. Gereja atau persekutuan Krisiani barangkali lebih baik dinamakan Umat Allah Perjanjian Baru. Perjanjian ini melengkapi dan memperjelas relasi kesetiaan dan cinta, yang diikat Allah sendiri dengan umat manusia berkat Putra-Nya tercinta Yesus Kristus (Sumarno Ds., 2014: 26).

e. Gereja sebagai Pewarta

  Gereja sebagai pewarta mengutamakan Sabda, sedangkan kedudukan sakramen di bawah Sabda tersebut. Menurut model ini Gereja dikumpulkan dan dibentuk oleh Sabda Allah. Adapun misi dari Gereja model ini yaitu mewartakan apa yang sudah didengarnya, dan sudah diserahkan kepadanya untuk diwartakan (Sumarno Ds., 2014: 26). Model ini mengutamakan iman dan pewartaan daripada hubungan-hubungan interpersonal dan persekutuan mistik. Gereja menerima kabar suci dan bertugas untuk mewartakannya di tengah-tengah umat. Pewartaan yang dibawakan oleh Gereja berpusat pada Kristus dan Kitab Suci sebagai saksi utama Kristus. Pegangan utama Gereja dalam menyampaikan pewartaannya ialah Sabda Allah sendiri dan sabda tersebut harus sampai ke seluruh dunia, disampaikan dengan jujur dan tekun. Melalui sabda yang diwartakannya tetap mengenangkan perbuatan-perbuatan Allah yang mengagumkan dalam sejarah masa lalu, teristimewa perbuatan-perbuatan-Nya yang berkuasa dalam diri Yesus Kristus (Sumarno Ds., 2014: 27).

3. Hidup Menggereja

  Memeluk agama Katolik tentu bukan hanya sebagai status saja tetapi harus kita wujudkan melalui tindakan nyata. Tindakan yang dapat kita lakukan diantaranya terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Dengan keterlibatan tersebut berarti kita menampakkan iman kita terhadap Yesus. Hidup menggereja mencakup arti dan dasar-dasar hidup menggereja.

a. Arti Hidup Menggereja

  Dengan adanya lembaga Gereja, umat Allah mendapat tempat untuk ikut berperanserta dalam karya Allah yang terlibat dalam dunia ini (Ardhisubagyo, 1987: 22). Gereja berdiri kokoh atas dasar Kristus sebagai Kepala dan Allah yang berkarya memanggil umat-Nya untuk diberikan tanggung jawab dan kebebasan.

  Hidup menggereja diartikan sebagai pengabdian secara sukarela untuk mengambil bagian dalam lima tugas Gereja yaitu koinonia, kerygma, martyria, liturgia dan

  diakonia.

  Menurut Prasetya (2003: 40), umat Katolik yang telah dibaptis dan menerima sakramen Penguatan atau Krisma diharapkan untuk mengambil bagian dalam tugas perutusan Yesus Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja. Dalam perkembangan gereja, kaum awam dapat melibatkan diri secara aktif di dalam kegiatan-kegiatan gerejani, seperti pendalaman iman, koor, doa Rosario, kepengurusan paroki maupun stasi, dsb. Sedangkan di luar gereja, kaum awam juga dapat mengambil bagian di tengah-tengah masyarakat seperti dalam sosio- edukatif, politik, ekonomi, religius, kesehatan dan lingkungan hidup (Prasetya, 2003: 111-198). Oleh karena itu, sebagai awam melaksanakan tugas Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja. Karena berperan serta dalam tugas Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja, kaum awam berperan aktif dalam kehidupan dan kegiatan Gereja (Hardawiryana, 1993: 353).

b. Dasar-dasar Hidup Menggereja

  Hidup menggereja didasari oleh semangat Yesus Kristus sendiri selama hidup-Nya. Maka dari itu Gereja sebagai Tubuh Kristus mempunyai tugas untuk melanjutkan dan mengambil bagian dalam tugas Yesus Kristus. Dasar-dasar hidup menggereja mencakup lima dasar yaitu koinonia atau paguyuban, kerygma atau pewartaan, martyria atau kesaksian hidup, liturgia atau ibadat dan diakonia atau pelayanan.

  1)

  Koinonia (Paguyuban)

  Kata koinonia pada dasarnya berarti persekutuan-persaudaraan. Pola dasar bagi koinonia ini adalah pengalaman jemaat kristiani perdana yang menanamkan hidup sehati-sejiwa, milik bersama, hidup dalam kasih karunia yang berlimpah-limpah (Ardhisubagyo, 1987: 24). Dasar dari cara hidup yang demikian

  

ialah perintah Yesus sendiri, yang berbunyi “… supaya kamu saling mengasihi,

sama seperti Aku mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”

  Di satu pihak koinonia dapat dikatakan sebagai pangkal dan tujuan dan di lain pihak juga merupakan tugas. Dengan koinonia sebagai pangkal dimaksudkan bahwa Gereja, dan dengan demikian juga paroki, dalam arti tertentu betapapun tidak sempurnanya sedikit banyak sudah merupakan koinonia. Dengan koinonia sebagai tujuan dimaksudkan bahwa Gereja dan dengan demikian juga paroki, hanyalah pangkal yang harus terus tumbuh dan berkembang menjadi koinonia dalam arti yang lebih mendalam dan penuh, tanpa dapat disebut di mana batas- batasnya yang jelas.

  Koinonia disebut sebagai tugas paroki yang fundamental dan sentral.

Koinonia disebut sebagai tugas paroki yang sentral karena dari koinonia sebagai

  subjek mengalir tugas-tugas lainnya seperti kerygma-martyria, liturgia dan

  

diakonia baik sebagai ungkapan maupun sebagai sarana vitalitas paroki. Koinonia

  disebut sebagai tugas paroki yang sentral karena menjadi arah dan tolok ukur aneka kegiatan paroki (Sumarno Ds., 2014: 56).

  2)

  Kerygma (Pewartaan) Kerygma berarti pewartaan, mewartakan tentang kabar gembira bahwa

  dalam Yesus Kristus Allah menyelamatkan manusia. Pewartaan akan Yesus Kristus harus terus dijalankan tanpa henti agar umat beriman dapat senantiasa berjumpa dengan Yesus Kristus dan mengenal-Nya (Ardhisubagyo, 1987: 27).

  Namun sebagai anggota Gereja diharapkan untuk tidak hanya menerima pewartaan saja tetapi juga bisa menjadi pewarta bagi orang lain. Sebagai wujud pewartaan umat Allah dapat dilakukan dengan memimpin pendalaman iman, terlibat dalam kegiatan Gereja, selalu bersedia menerima tugas yang diberikan saat terlibat dalam kegiatan menggereja.

  Menjadi seorang pewarta tidak berarti bisa menguasai Sabda melainkan menempatkan Sabda sebagai tuan atasnya. Tugas pewarta yaitu mengaktualisasikan apa yang disampaikan Allah dalam Kristus sebagaimana diwartakan para rasul. Melalui Sabda yang disampaikan oleh pewarta, Allah sungguh datang kepada manusia dan menyelamatkan mereka yang mendengarkan pewartaan Gereja. Pewartaan Sabda Allah oleh Gereja bukan hanya sekedar informasi mengenai Allah dan Yesus Kristus, melainkan sungguh-sungguh menghadirkan Kristus di tengah dunia. Kristus datang menyelamatkan, menyembuhkan hati setiap orang yang mendengarkan dan membuka diri terhadap Sabda yang disampaikan (KWI, 1996: 382-386).

  3)

  Martyria (Kesaksian Hidup)

  Menurut Kamus Liturgi (Maryanto, 2004: 122) Martyria berasal dari bahasa Yunani yaitu kesaksian dalam bidang hidup atau pelayanan Gereja yang berpusat pada kesaksian kepada masyarakat, baik lewat kata-kata maupun terutama lewat karya nyata. Ibadah koinonia yang berpusat atas dasar Baptisan, Firman Tuhan dan Perjamuan Kudus bukan bertujuan hanya untuk persekutuan itu secara eksklusif tetapi harus melahirkan komitmen untuk memberitakan dan menyaksikan berita keselamatan kepada semua makhluk. Pemberitaan dan kesaksian itu harus dilakukan oleh orang percaya baik secara individu maupun sebagai persekutuan.

  Kita dipanggil oleh Tuhan Yesus secara individu maupun persekutuan untuk melaksanakan misi Tuhan di bumi ini. Yesus Kristus mati di kayu salib kita percaya Tuhan Allah datang ke dunia ini di dalam Anak-Nya Yesus Kristus yang telah mati untuk menyelamatkan kita dan dunia ini. Oleh sebab itu tugas pemberitaan (marturia) itu harus dilakukan oleh persekutuan Gereja baik individu maupun persekutuan masing-masing. Setiap orang sadar akan kemuridannya (discipleship) dalam perjalanan hidupnya. Sekali kita menyadari hal itu maka kita harus memiliki komitmen dan kesetiaan sebagai murid Yesus Kristus. Dengan kesadaran sedemikian persekutuan menjadi alat yang kuat untuk mengkominikasikan berita keselamatan Kristus (Midiankhsirait, 2014: 1).

  4)

  Liturgia (Ibadat) Liturgia merupakan tanda kehidupan paroki yang kualitatif paling

  mencolok. Kehidupan liturgi ditingkatkan dalam Gereja untuk dapat mencapai tujuannya, yakni menjadi sumber dan puncak kegiatan Gereja dalam arti yang tepat (Sumarno Ds., 2013: 57). Dalam Sacrosanctum Concilium, art. 42 Konsili Vatikan II menegaskan:

  Paroki-paroki itu sedikit banyak mementaskan Gereja yang nampak dan tersebar di seluruh bumi. Maka kehidupan liturgis paroki dan hubungannya dengan Uskup dalam budi dan perbuatan kaum beriman dan klerus harus diperdalam. Harus diusahakan agar cita-cita berparoki tumbuh terutama dalam perayaan Ekaristi Minggu. Dari pernyataan di atas ingin menegaskan bahwa kehidupan liturgi akan berpengaruh terhadap pertumbuhan hidup berparoki. Orang yang semakin mendalami kehidupan liturginya akan semakin mudah dalam mewujudkan imannya akan Yesus Kristus. Kehidupan liturgi juga harus diperdalam lewat peningkatan hubungan dengan Uskup, kaum beriman dan klerus.

  Leitourgia menjaga hubungan dengan Yesus Kristus yang mendasari kehidupam jemaat dan pengabdian agar terpelihara (Ardhisubagyo, 1987: 29).

  Liturgi harus menjadi sumber untuk hidup umat sehari-hari, dan hidup sehari-hari harus memuncak dalam liturgi, maka liturgi tidak dilihat terkecuali dari hidup.

  Liturgi bukan dan tidak boleh menjadi tempat pelarian dari hidup sehari-hari (eskapisme), melainkan justru perutusan dan penugasan (Sumarno Ds., 2013: 57).

  5)

  Diakonia (Pelayanan)

  Kata diakonia biasanya diartikan sebagai pelayanan. Pelayanan Gereja yang didasari oleh Yesus sendiri, Sang Kepala Gereja, yang menyembuhkan, memperhatikan orang-orang kecil dan mengampuni dosa (Ardhisubagyo, 1987: 30). Pelayanan Gereja ditujukan ke dalam, kepada sesama anggota jemaat, dengan mengutamakan mereka yang miskin dan tertindas, misalnya memberikan pelayanan kepada anggota gereja yang kurang mampu berupa materi maupun perhatian. Pelayanan yang diberikan oleh Gereja tidak hanya sebatas dalam lingkup Gereja saja tetapi terbuka juga untuk masyarakat luas karena Gereja bukan sebuah lingkungan tertutup yang kuatir akan pengaruh luar dan mengasingkan diri dari masalah-masalah kehidupan masyarakat (Ardhisubagyo, 1987: 31).

  Melalui pelayanan atau diakonia maka kita diharapkan untuk menyadari bahwa kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain khususnya mereka yang membutuhkan uluran tangan kita, sehingga dalam kehidupan kita tidak hanya menuntut untuk dilayani, namun juga mau untuk melayani sesama.

  B. Gambaran Umum Katekese

  Katekese merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Gereja sebagai usaha untuk menjawab keprihatinan umat akan imannya yang kurang mendalam tentang Yesus Kristus. Beriman kepada Yesus berarti mau dan siap untuk melayani dan mewartakan Kerajaan Allah melalui tindakan-tindakan nyata dalam kehidupan bersama. Dengan melayani Kerajaan Allah, Gereja sepenuh hati menginginkan dan mengusahakan terwujudnya keselamatan seluruh umat manusia secara utuh seperti yang dikehendaki oleh Allah sendiri. Hal tersebut dilakukan karena katekese bukan suatu hal yang mati tetapi kegiatan Gereja yang terus berkembang sesuai dengan zamannya. Persatuan umat dalam Gereja bukan hanya dalam doa, ekaristi dan liturgi saja, melainkan juga umat terpanggil menjalankan pelayanan kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan.

1. Pengertian Katekese

  Anjuran apostolik Catechesi Tradendae menegaskan tentang katekese sebagai pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen (CT, art. 18).

  Katekese merupakan pembinaan iman yang memiliki sasaran bukan hanya bagi anak-anak tetapi bagi kaum muda dan orang-orang dewasa. Pembinaan iman dimaksudkan untuk mengantar umat yang percaya kepada Yesus Kristus sampai pada kepenuhan hidup Kristen. Katekese sendiri memliki elemen yaitu proklamasi awal Injil atau pewartaan misioner melalui kerygma untuk membangkitkan iman, penyelidikan alasan-alasan untuk beriman, pengalaman hidup Kristen, perayaan Sakramen-Sakramen, integrasi ke dalam jemaat gerejawi, dan kesaksian apostolik-misioner.

  Dalam berbagai tulisan maupun Kitab Suci sendiri, terdapat berbagai istilah maupun pengertian mengenai katekese. Katekese bukanlah sesuatu hal baru bagi umat kristiani, melainkan suatu bentuk pengajaran iman yang telah ada sejak zaman Yesus. Katekese dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman dan pendidikan iman orang-orang Kristen semakin dewasa dalam iman. Jadi biasanya katekese diperuntukkan bagi orang-orang Kristen yang sudah dibaptis. Selain itu pula katekese seringkali dipakai sebagai pengajaran sekaligus latihan-latihan bagi para calon baptis untuk membantu mereka mengenal dan memahami akan imannya kepada Allah (Telaumbanua, 1999: 4). Dengan kata lain katekese adalah usaha-usaha dari pihak Gereja untuk menolong umat agar semakin memahami, menghayati dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari melalui tindakan konkret.

  2. Tujuan Katekese

  Tujuan katekese dijelaskan dalam Catechesi Tradendae, Paus Yohanes Paulus II sebagai berkat bantuan Allah mengembangkan iman yang baru mulai tumbuh, dan dari hari ke hari memekarkan menuju kepenuhannya serta makin memantapkan perihidup Kristen umat beriman, muda maupun tua (CT, art. 20).

  Tujuan katekese dapat dirumuskan tergantung dari bagaimana orang mengartikan katekese itu (Sumarno Ds., 2014: 1). Berdasarkan peristilahan, apabila katekese dipahami sebagai suatu pengajaran iman, maka katekese bertujuan untuk menjadikan peserta mengerti akan isi iman. Apabila dipahami sebagai komunikasi iman, maka katekese bertujuan agar pengalaman iman hidup peserta dapat diungkapkan dengan baik dan diharapkan iman umat dapat bertambah dan berkembang. Sedangkan apabila dimengerti dalam rangka pendidikan iman, maka katekese bertujuan untuk mendidik manusia mencapai kematangan atau kedewasaan iman.

  3. Tugas Katekese

  Secara ringkas, katekese memiliki 3 (tiga) tugas utama yaitu: katekese memberitakan sabda Allah, mewartakan Kristus, katekese mendidik umat beriman, katekese mengembangkan Gereja (Telaumbanua, 1999: 9-10).

  a. Katekese memberitakan Sabda Allah, mewartakan Kristus

  Kitab Suci merupakan Sabda Allah yang memuat berita-berita tentang Yesus Kristus sebagai penyelamat umat manusia. Dalam diri Yesus, maklumat diri Allah dikonkretkan dan rencana penyelamatan umat manusia direalisasikan (Telaumbanua, 1999: 9). Manusia menemukan arti hidup dalam diri Kristus sebagai puncak segala wahyu. Melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, Kristus menyelamatkan manusia menuju pertemuan abadi dengan Allah Tritunggal. Dengan demikian katekese bertugas menghadirkan sabda Allah agar manusia dapat bertemu secara pribadi dengan Kristus.

  Katekese haruslah bersifat kristosentris karena Yesus Kristus dalam kepenuhan pribadi-Nya adalah pusat yang tak dapat dibantah dalam katekese.

  Seorang pewarta, seperti katekis atau tenaga pastoral pada umumnya harus menyadari dengan sungguh bahwa yang ia wartakan kepada umat adalah Yesus Kristus, sehingga isi dari pewartaannya diusahakan dapat membantu umat untuk bertemu secara pribadi dengan Kristus, sang Guru Ilahi. Pewarta disini hanya sebagai alat yang dipakai oleh Kristus untuk menjadi saluran akan pertemuan manusia dengan Kristus.

  b. Katekese mendidik umat beriman

  Iman merupakan suatu anugerah yang diberikan oleh Allah kepada manusia sehingga seseorang mau percaya kepada-Nya, berserah dan menaati Allah. Manusia mempunyai peran yang sifatnya sekunder sehingga kita harus mampu untuk menciptakan suasana yang membuat iman kita semakin dapat dirasakan, bertumbuh dan berubah. Katekese merupakan sarana untuk menemukan jawaban manusia akan tawaran yang diberikan oleh Allah. Selain itu, katekese juga menolong umat agar mereka terpikat pada diri Allah, yang diwartakan oleh Yesus Kristus dan agar mereka terdorong untuk melakukan kehendak dan perintah-Nya. Dengan demikian diharapkan adanya pembaharuan pada diri manusia yang percaya kepada Allah.

  Manusia yang hidup pada zamannya dalam konteks budaya tertentu semakin mengalami perkembangan hidup rohaninya yang lebih berkenan di hadapan Allah. Iman yang dihidupi membutuhkan suatu proses yang panjang untuk dapat berkembang. Maka dalam berkatekese ada 3 komponen yang memainkan peran, yakni komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen

  

operatif. Artinya, dalam berkatekese disajikan pemahaman agar orang semakin

yakin dan dapat bertanggung jawab atas iman atau agamanya (kognitif).

  Perasaan/penghayatan perlu dibangkitkan sehingga umat semakin mencintai agamanya, Allahnya dan berkobar untuk berbakti, bersembah dan bersyukur (afektif). Dalam berkatekese tidak hanya berbicara tentang teori saja tetapi perlu juga memberikan contoh-contoh konkret sehingga umat dapat mewujudkan imannya melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari (operatif). Iman yang dihayati akan lebih berguna bila dapat diwujudkan melalui tindakan nyata sehingga orang lain pun dapat merasakannya (Telaumbanua, 1999: 9-10).

c. Katekese mengembangkan Gereja

  Gereja merupakan umat Allah yang mengimani Kristus sebagai pemimpin dan Juru selamatnya. Di dalam Gereja perlulah kegiatan-kegiatan yang mendukung dalam pengembangan iman anggota gereja itu sendiri. Kegiatan tidak hanya bersifat sebagai pendukung saja tetapi juga dapat mengukuhkan persaudaraan Gerejawi dan mengobarkan iman para anggotanya sehingga umat terdorong untuk terlibat aktif dalam kegiatan menggereja demi perkembangan gereja itu sendiri. Hal tersebut merupakan tugas utama katekese. Tidak ada katekese yang benar kalau bukan dalam konteks kegerejaan (Telaumbanua, 1999: 10).

  Perkembangan suatu Gereja sangatlah tergantung pada usaha-usaha katekis dalam mewartakan sabda penyelamatan Allah kepada manusia. Gereja ada, berkembang dan menyebar karena aktivitas yang dilakukan oleh para katekis. Katekis menjadi saluran Tuhan untuk bertemu dan menyapa umat-Nya.

4. Kekhasan katekese

  Ciri khas katekese, sebagai momen yang terbedakan dari pemakluman awal Injil yang mengantar kepada pertobatan, mempunyai sasaran rangkap, yakni mematangkan iman awal dan membina murid Kristus yang sejati melalui pengertian yang lebih mendalam dan lebih sistematis tentang pribadi maupun amanat Tuhan kita Yesus Kristus (CT, art. 19).

  Kekhasan katekese terbedakan dari pemakluman awal Injil yang mengantar kepada pertobatan, mempunyai sasaran rangkap, yakni mematangkan iman awal dan membina murid Kristus yang sejati melalui pengertian yang lebih mendalam dan lebih sistematis tentang pribadi maupun amanat Tuhan kita Yesus Kristus (Sumarno Ds., 2014: 38).

  Katekese merupakan komunikasi (sharing) pengalaman dan pengetahuan iman antar jemaat. Sharing pengalaman dapat berlangsung saat para anggota jemaat berkumpul untuk saling berbagi dan bertukar pengalaman maupun pengetahuan satu sama lain. Dalam kegiatan katekese para jemaat diharapkan menanamkan sikap saling menghargai dan menghormati, artinya saat ada salah satu orang yang berbicara yang lainnya mendengarkan. Selain itu, diharapkan juga adanya sikap saling percaya di dalam kelompok sehingga mereka dengan bebas dapat saling berbagi. Katekese sendiri mempunyai tujuan membantu umat untuk semakin memahami, menghayati serta mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari (Telaumbanua, 1999: 5). Iman tidak cukup hanya dipahami saja tetapi harus dapat diwujudkan dalam tindakan konkret karena iman tanpa perbuatan adalah mati. Maka dari itu, katekese diharapkan juga dapat membantu umat untuk dapat mewujudkan iman yang dihayatinya serta dapat mengembangkan iman umat menuju kedewasaan dan kematangan (Sumarno Ds., 2014: 1). Perwujudan iman tersebut dapat dilakukan dengan cara memberikan perhatian kepada orang-orang yang membutuhkan sehingga orang lain juga dapat merasakan kasih Allah melalui uluran tangan umat-Nya.

5. Isi Katekese

  Melalui katekese, umat diharapkan semakin mendalami isi warta Kristiani karena katekese merupakan momen dan aspek dalam mewartakan Injil, yakni mewartakan Kabar Gembira keselamatan yang terus didengar dan diterima dengan setulus hati. Isi dari katekese merupakan pewartaan Injil itu sendiri dengan harapan kehidupan pribadi seseorang terus sadar dan mau berkomitmen untuk secara penuh mengintegrasikannya dalam keseluruhan hidupnya dengan selaras hidup Kristen dalam masyarakat dan dunia (CT, art. 26).

  Katekese harus mengumandangkan situasi hidup orang-orang yang mendengarkannya, harus mengumandangkan cita-cita dasar, yang mencari pernyataan dan kepenuhannya di dalam arus masa kini dan dalam peristiwa- peristiwa yang dialami oleh masyarakat tertentu dalam periode sejarahnya yang tertentu. Hidup seutuhnya di dalam jaringan-jaringan yang konkret, memerlukan terang dan bimbingan iman. Maka katekese harus memancarkan sinar kepada semua kenyataan itu, masalah dan situasi pribadi dan keluarga, lingkungan sosial serta lingkungan kerja, agar semua itu dapat dilihat, dimengerti dan dipandang dan dihayati oleh orang Kristen sesuai dengan sabda Kristus (Sumarno Ds., 2013: 41).

  C. Gambaran Katekese Umat

  Katekese Umat pertama kali dicetuskan dalam Pertemuan Komisi Kateketik Keuskupan seIndonesia (PKKI) yang pertama berlangsung di Sindanglaya, Jawa Barat dari tanggal 10 s/d 16 Juli 1977. Dalam pembicaraan PKKI yang berlangsung empat tahun sekali senantiasa mengangkat Katekese Umat sebagai tema pembicaraannya.

  Pertemuan PKKI yang pertama menghasilkan gagasan Katekese Umat yang disadari sebagai Arah Katekese di Indonesia masa kini (Huber, 1981: 7).

  Pertemuan PKKI II dilaksanakan di Wisma Samadi Klender pada 29 Juni s/d 5 Juli 1980 bermaksud untuk memantapkan Katekese Umat. Dengan bertukar pengalaman mereka ingin mencari kemungkinan pengikutsertaan semakin banyak orang dalam proses pembinaan dan pendalaman iman; menjernihkan gagasan dan arah Katekese Umat; mencari bagaimana kelompok dan sarananya serta Kitab Suci dapat berfungsi secara memadai, sehingga umat semakin memenuhi panggilannya dalam masyarakat (Huber, 1981: 7-8; bdk. Lalu, 2005: 2-5).

1. Pengertian Katekese Umat

  Dalam PKKI II yang terjadi pada 29 Juni s/d 5 Juli 1980 di Wisma Samadi Klender merumuskan arti dan makna Katekese Umat untuk menyempurnakan hasil Katekese Umat yang dibahas dalam pertemuan PKKI I.

  Katekese Umat diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman antara anggota kelompok/jemaat yang berkumpul dalam suatu tempat, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara lebih sempurna (Komisi Kateketik KWI, 1995: 11). Katekese Umat juga mempunyai pengertian sebagai berikut:

  KATEKESE UMAT diartikan sebagai sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antara anggota jemaat/kelompok. Melalui kesaksian para peserta. Tekanan yang utama dalam Katekese Umat yaitu pada penghayatan iman, meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Katekese Umat mengandalkan ada perencanaan (Huber, 1981: 15; bdk. Lalu, 2005: 5).

  Katekese Umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam iman yang sederajat, yang saling bersaksi tentang iman mereka. Katekese berisi mengenai pengalaman-pengalaman iman umat dalam hidup sehari-hari. Peserta berdialog dalam suasana terbuka, ditandai sikap saling menghargai dan saling mendengarkan. Dalam dialog atau sharing lebih menekankan pada penghayatan iman, meskipun pengetahuan tidak dilupakan sehingga mengharapkan adanya keterlibatan seluruh umat untuk menciptakan suasana katekese yang hidup. Tukar pengalaman iman yang terjadi dalam Katekese Umat yaitu memberi kesaksian diri tentang apa yang diimani dan dihayati ialah Yesus Kristus sendiri. Menjadi perantara Allah dalam menanggapi sabda-Nya dengan cara bersaksi di tengah umat mewartakan yang diimani.

2. Tujuan Katekese Umat

  Dalam hubungan dengan tujuan Katekese Umat, PKKI II menegaskan bahwa tujuan komunikasi iman sebagai berikut (Huber, 1981: 16; bdk. Lalu, 2005: 5-6):

  1)

  supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman-

  pengalaman kita sehari-hari; 2)

  dan kita bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari

  kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup sehari-hari; 3)

  dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap,

  mengamalkan cinta kasih, dan makin dikukuhkan hidup kristiani kita; 4)

  pula kita makin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin tegas

  mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta; 5)

  sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat.

  Kelima butir rumusan di atas menyoroti tujuan Katekese Umat dari sudut pandang yang berbeda-beda. Ketiga nomor pertama lebih-lebih memperhatikan peserta sendiri dimana peserta menyadari arti pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari dalam terang Injil, bertobat kepada Allah dan semakin menyadari akan kehadiran Allah dalam kehidupannya sehingga dapat mewujudkannya melalui tindakan yang nyata dengan mengamalkan cinta kasih kepada sesama. Kedua nomor yang lainnya lebih menegaskan tujuan sebagai Gereja yang berpuncak kepada “hidup kita di tengah masyarakat” (Lalu, 2005: 74).

  Katekese Umat membantu umat untuk hidup semakin sadar, semakin mendalam atau utuh. Pengalaman religius ditempatkan di dalam kehidupan konkret/nyata. Dengan demikian para peserta ditolong untuk menafsirkan riwayat hidupnya sebagai sejarah penyelamatannya.

  Gereja bukan tujuan melainkan sarana untuk bersaksi tentang Kristus melalui pengabdian kepada manusia konkret, agar Kristus semakin berpengaruh dalam masyarakat, itulah yang dicita-citakan Katekese Umat (Huber 1981: 23).

3. Kekhasan Katekese Umat

  Katekese Umat menunjukkan kesaksian tentang iman kita akan Yesus Kristus, pengantara Allah yang bersabda kepada kita dan pengantara kita menanggapi sabda Allah (Huber, 1981: 19; bdk. Komkat KWI, 1995: 11). Yesus Kristus sebagai pola dan penentu Katekese Umat. Bukan sembarang tukar pengalaman tetapi usaha tekun yang ditandai Kristus baik mengenai isi maupun mengenai cara. Dalam Kristus kita berjumpa dengan Allah dan melalui Dialah pula Allah mendatangi kita. Kesaksian umat terhadap imannya akan Yesus tersebut dilakukan dengan membagikan pengalaman-pengalaman iman pribadi kepada orang lain. Hal tersebut dapat dilakukan dalam pelaksanaan Katekese Umat di suatu kelompok tertentu. Dalam kegiatan Katekese Umat tidak hanya satu orang saja yang bersaksi akan imannya kepada Yesus Kristus tetapi seluruh umat yang berkumpul dan mengimani Kristus. Artinya kegiatan ini melibatkan seluruh umat yang mengimani Kristus dan secara bebas mereka saling berbagi pengalaman imannya.

  Katekese Umat sering disebut katekese dari umat, oleh umat, dan untuk umat. Artinya dalam proses Katekese Umat semua peserta aktif berpikir, aktif berbicara, aktif mengambil keputusan. Umat menjadi subjek utama dalam berkatekese. Katekese Umat sebagai sarana untuk membantu peserta semakin kreatif, kritis, dan otonom serta dapat menumbuhkan rasa percaya diri, kepribadian dan martabat seseorang (Lalu, 2005: 79).

  Katekese Umat membantu untuk hidup semakin sadar, semakin mendalam/utuh. Katekese Umat mendorong proses pemanusiaan kristiani.

  Katekese Umat membantu apa yang sering disebut pendewasaan umat (Huber,

  1981: 23). Selain itu, Katekese Umat juga berbicara mengenai pengalaman hidup nyata yang dialami oleh para peserta dan dilihat dalam terang Injil. Hal ini membantu umat untuk semakin menyadari akan keterlibatan Allah dalam kehidupan mereka sehingga dengan sendirinya mereka akan senantiasa menghormati Allah dengan melaksanakan apa yang menjadi kehendak-Nya. Katekese Umat juga mengajak umat untuk aktif dalam berkomunikasi. Berkomunikasi tentang hidup nyata dalam terang iman. Semakin umat berkomunikasi iman, umat akan semakin menjadi communio (persekutuan), semakin menjadi Gereja (Lalu, 2005: 79).

D. Katekese Umat Model Shared Christian Praxis

  Katekese Shared Christian Praxis merupakan salah satu model katekese umat yang dapat digunakan dalam proses katekese. Shared Christian Praxis (SCP) dapat dimengerti sebagai katekese yang menekankan pada proses yang bersifat dialogal dan partisipatif yang bermaksud mendorong peserta, berdasarkan

  

konfrontasi antara “tradisi” dan “visi” hidup mereka dengan “Tradisi” dan “Visi”

  Kristiani, agar baik secara pribadi maupun bersama, mampu mengadakan penegasan dan mengambil keputusan demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di dalam kehidupan manusia yang terlibat dalam dunia (Sumarno Ds., 2014: 14).

  Model katekese Shared Christian Praxis (SCP) bermula dari pengungkapan pengalaman hidup para peserta yang kemudian direfleksikan oleh masing-masing pribadi untuk menemukan makna bagi dirinya dan kemudian dihubungkan dengan pengalaman hidup iman dan Visi Kristiani. Pada akhirnya baik secara pribadi maupun bersama peserta dapat memiliki ketegasan dan kesadaran yang baru sebagai motivasi untuk menjalankan kehidupan serta melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan gereja (Groome, 1997: 1).

  Katekese model ini menggarisbawahi peran atau keterlibatan peserta sebagai subyek yang bebas dan bertanggung jawab. Peserta diharapkan aktif dan mau dengan terbuka saling berbagi pengalaman imannya sehingga dapat saling meneguhkan satu sama lain dan iman mereka akan Kristus semakin disempurnakan. Dialog antar subyek (inter subyektivitas) yang ditekankan dalam model ini tidak hanya terjadi antara para peserta dengan pendamping tetapi juga antar peserta itu sendiri (Groome, 1997: 1). Dialog yang terjadi tidak hanya dengan pendamping dan antar peserta saja tetapi dialog juga terjadi antara peserta

  dengan “teks” dan keadaan hidup masyarakat setempat.

1. Komponen utama dalam Shared Christian Praxis (SCP)

  Sesuai dengan tiga huruf (S-C-P), katekese model ini memiliki tiga komponen utama yaitu shared, christian, praxis.

a. Shared

  Istilah shared atau sharing mengandung pengertian adanya komunikasi dan timbal balik antara semua peserta katekese. Dalam sharing menekankan adanya unsur dialog partisipatif peserta yang ditandai dengan adanya kebersamaan, keterlibatan, dan keterbukaan satu sama lain (Groome, 1997: 4).

  Dengan demikian masing-masing pribadi diharapkan untuk ikut ambil bagian dengan membagikan pengalamannya dalam kegiatan katekese sehingga suasana katekese menjadi hidup dan menambah pengetahuan baru juga bagi para peserta.

  

Sharing tidak hanya menekankan pada keaktifan peserta saja tetapi para peserta

  juga harus siap untuk mendengarkan dengan hati dan berkomunikasi dengan kebebasan hati.

  Dikatakan pula bahwa sharing berarti berbagi rasa, pengalaman, pengetahuan serta saling mendengarkan pengalaman orang lain. Ada dua unsur penting yaitu membicarakan dan mendengarkan. Yang dimaksud membicarakan disini yaitu membagikan kepada orang lain tentang pengalaman hidupnya dan tidak lebih-lebih memberi nasehat kepada orang lain tetapi bercerita sesuai dengan kenyataan yang dialami dan dirasakan. Dalam bercerita juga dibutuhkan keterbukaan serta kejujuran sehingga apa yang disampaikan tidak dibuat-buat tetapi benar-benar pengalaman yang pernah dialami atau dirasakan. Sedangkan mendengarkan yang dimaksud adalah mendengar dengan hati dan rasa, tidak hanya sekedar mendengar saja apa yang disampaikan orang lain tetapi dengan hati sehingga peserta dapat menemukan diri sendiri dan menemukan kehendak Tuhan. Mendengarkan melibatkan keseluruhan diri untuk dapat menimbulkan gerak hati, empati terhadap apa yang disampaikan atau dikomunikasikan oleh orang lain (Sumarno Ds., 2014: 17; bdk. Groome, 1997: 4).

b. Christian

  Christian atau kristiani dalam Shared Christian Praxis (SCP)

  mempunyai maksud untuk mengusahakan supaya kekayaan iman kristiani sepanjang sejarah dan visinya makin terjangkau dan relevan bagi kehidupan peserta. Kekayaan iman yang ditekankan dalam model katekese ini yaitu pengalaman hidup iman kristiani dan visinya (Groome, 1997: 2).

  Tradisi kristiani mengungkapkan realitas iman jemaat kristiani yang hidup sebagai tanggapan manusia terhadap perwahyuan diri Allah yang terlaksana dalam kehidupan manusia. Tradisi perlu dipahami sebagai perjumpaan antara rahmat Allah dalam Kristus yang senantiasa menyertai kehidupan manusia dan bagaimana tanggapan manusia itu sendiri.

  Tradisi (dengan huruf besar T) dalam Gereja berarti bukan hanya sejarah naratif atau adat istiadat ritual masa lampau saja, tetapi seluruh pengalaman iman umat dalam bentuk apapun yang sudah terungkap dan yang sudah dibakukan oleh Gereja dalam rangka menanggapi perwahyuan Allah di dunia ini. Orang tidak bisa begitu saja menciptakan Tradisi sendiri. Bahkan dalam Gereja tidak semua tradisi yang ada diterima sebagai Tradisi (Sumarno Ds., 2014: 17).

  Tradisi tidak dapat diciptakan begitu saja oleh manusia karena Tradisi menyangkut pengalaman hidup yang konkret dalam kehidupan sehari-hari.

  Manusia memperoleh pengalaman harus menjalani kehidupan yang tidak sebentar tetapi dengan proses dan perjuangan.

  Visi kristiani menegaskan tuntutan dan janji yang terkandung dalam tradisi, tanggung jawab dan pengutusan orang kristiani sebagai jalan untuk menghidupi semangat dan sikap kemuridan (Groome, 1997: 3).

  Tradisi dan Visi Kristiani tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena keduanya saling berkaitan. Visi bukan sekedar suatu pengetahuan saja, tetapi suatu kenyataan hadirnya atau manifestasi konkrit dari isi Tradisi (Sumarno Ds., 2014: 17).

c. Praxis

  Praxis merupakan suatu tindakan manusia yang mempunyai tujuan untuk

  mencapai pada suatu transformasi kehidupan. Di dalam transformasi kehidupan terkandung suatu proses kesatuan dialegtis dan teori. Praxis sendiri memiliki tiga komponen yang saling berkaitan yaitu: aktivitas, refleksi, dan kreativitas (Groome, 1997: 2; bdk. Sumarno Ds., 2014: 15). Ketiga komponen tersebut berfungsi membangkitkan berkembangnya imajinasi, meneguhkan kehendak, dan mendorong praksis baru yang secara etis dan moral dapat dipertanggung jawabkan.

  Praxis dalam pengertian model katekese Shared Christian Praxis (SCP)

  bukan hanya suatu praktek saja, tetapi suatu tindakan yang sudah direfleksikan (Sumarno Ds., 2014: 15). Perbuatan atau tindakan yang dimaksud meliputi seluruh keterlibatan manusia dan segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia dengan tujuan tertentu atau dengan sengaja. Praxis merupakan suatu praktek yang didukung oleh refleksi teoritis dan sekaligus suatu refleksi teoritis yang didukung oleh praktek. Selain itu, praxis juga merupakan suatu ungkapan seseorang meliputi ungkapan fisik, emosional, intelektual, spiritual dari hidup manusia.

2. Langkah-langkah Katekese Model Shared Christian Praxis

  Shared Christian Praxis (SCP) sebagai model berkomunikasi tentang

  makna pengalaman hidup para peserta dalam berkatekese. Model katekese ini memiliki lima langkah yang berurutan dan saling berkaitan satu sama lain. Kelima langkah tersebut dapat digabung tetapi tidak boleh ada satu langkah pun yang dihilangkan atau dilewati karena langkah awal sampai akhir saling berkaitan.

  

“Yang paling pokok adalah bahwa semua langkah itu mengalir dalam suatu

  kesatuan yang menyeluruh dan bukan langkah-

  langkah yang terlepas” (Sumarno Ds., 2014: 23).

a. Langkah I: Mengungkapkan Pengalaman Hidup Peserta

  Kekhasan pada langkah I adalah sharing, dimana peserta membagikan (to share) pengalaman hidup yang sungguh-sungguh dialami dan tidak boleh ditanggapi sebagai suatu laporan. Sharing yang diungkapkan oleh peserta merupakan pengalaman hidupnya sehari-hari entah yang dialami oleh diri sendiri maupun menceritakan pengalaman orang lain atau keadaan masyarakatnya (Groome, 1997: 5).

  Salah satu tujuan langkah ini yaitu untuk mendorong peserta sebagai subyek utama menemukan topik pertemuan yang bertolak dari kehidupan konkret yang selanjutnya dijadikan sebagai tema dasar pertemuan. Dengan demikian tema dasar pertemuan yang diangkat mencerminkan pokok-pokok kehidupan para peserta dan sesuai dengan kebutuhan peserta. Dialog dalam langkah ini tidak mengharuskan peserta untuk berbicara menyampaikan pendapatnya tetapi dialog

  

dapat juga dilakukan dengan diam karena “diam” pun merupakan salah satu cara

  berdial og. “Diam” tidak sama dengan tidak terlibat.

  Pada tahap ini pendamping sebagai fasilitator yang menciptakan suasana pertemuan menjadi hangat dan mendukung peserta untuk membagikan praxis hidupnya berkaitan dengan tema dasar. Ia diharapkan dapat merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang jelas, terarah, tidak menyinggung harga diri seseorang, sesuai dengan latar belakang peserta, dan bersifat terbuka dan obyektif misalnya: gambaran, lukisan, atau ceritakan apa yang Anda temui, lihat, dengar, dan lakukan? (Sumarno Ds., 2014: 19).

  b. Langkah II: Mendalami Pengalaman Hidup Peserta

  Langkah ini memiliki kekhasan yaitu refleksi kritis yang meliputi ingatan dan kreatifitas. Dalam refleksi ini peserta diajak untuk memperdalam pengalaman faktual yang telah diungkapkan dalam langkah pertama. Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam langkah ini yaitu mengantar peserta pada kesadaran kritis akan keterlibatan mereka, akan asumsi dan alasan/pemahaman, motivasi, sumber historis/pengenangan, kepentingan dan konsekuensi yang disadari dan hendak diwujudkan/imajinasi. Dengan refleksi kritis pada pengalaman konkret peserta diharapkan sampai pada nilai dan visinya yang pada langkah keempat akan dikonfrontasikan dengan pengalaman iman Gereja sepanjang sejarah (Tradisi) dan Visi Kristiani (Groome, 1997: 5-6).

  Pada tahap ini pendamping bertanggung jawab untuk menciptakan suasana pertemuan yang menghormati dan mendukung setiap gagasan serta sumbangan saran peserta, untuk mengundang refleksi kritis setiap peserta, untuk mendorong peserta supaya mengadakan dialog dan penegasan bersama yang bertujuan memperdalam, menguji pemahaman, kenangan, imajinasi peserta, mengajak setiap peserta untuk berbicara tetapi tidak memaksa. Pendamping menggunakan pertanyaan yang menggali tidak menginterogasi dan mengganggu harga diri dan apa yang dirahasiakan peserta serta menyadari kondisi peserta, lebih-lebih mereka yang tidak biasa melakukan refleksi kritis terhadap pengalaman hidupnya (Sumarno Ds., 2014: 20).

  c. Langkah III: Menggali Pengalaman Iman Kristiani

  Langkah ini memiliki sedikit perbedaan dengan langkah pertama dan langkah kedua. Dalam langkah ini peserta tidak lagi banyak berbicara melainkan pendamping yang lebih banyak berbicara karena dalam langkah ini merupakan penyampaikan akan Tradisi dan Visi Kristiani. Tradisi yang disampaikan tidak terbatas pada pengajaran Gereja (dogma) tetapi juga merangkum Kitab Suci, spiritualitas, devosi, kebiasaan hidup beriman, aneka kesenian Gereja, liturgi, kepemimpinan, dsb. Visi merefleksikan harapan dan janji, mandat dan tanggung jawab yang muncul dari tradisi suci yang bertujuan untuk mendorong dan meneguhkan iman jemaat dalam keterlibatannya untuk mewujudkan kehadiran nilai-nilai Kerajaan Allah (Groome, 1997: 6).

  Tujuan yang hendak dicapai dari langkah ini ialah mengkomunikasikan nilai-nilai Tradisi dan Visi Kristiani agar lebih terjangkau dan lebih mengena untuk kehidupan peserta yang konteks dan latar belakang kebudayaan berlainan (Sumarno Ds., 2014: 20).

  Peran pendamping pada langkah ini yaitu membantu peserta dalam menafsirkan Tradisi Gereja atau Kitab Suci sehingga nilai-nilai Tradisi dan Visi Kristiani menjadi milik peserta. Pendamping berusaha secara kritis, berdasar kehidupan konkret peserta, menafsirkan Tradisi Gereja dan Visi Kristiani dan juga harus menggunakan metode yang tepat sehingga dapat menarik perhatian peserta, mengantar peserta ke tingkat kesadaran; tidak mengulang-ulang rumusan; tidak

  

bersikap sebagai “guru”, adakalanya bersikap sebagai “murid” yang siap belajar.

  Sebagai pendamping juga mau memberikan kesaksian iman, harapan dan hidupnya sendiri dalam memberikan tafsiran (Sumarno Ds., 2014: 21).

  d.

  

Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani dalam Situasi Peserta Konkret

  Langkah ini lebih menekankan interpretasi yang dialektis antara tradisi dan visi faktual peserta dengan Tradisi dan Visi Kristiani yang akan melahirkan kesadaran sikap dan niat baru sebagai jemaat Kristiani. Kekhasan dalam langkah ini adalah mengajak peserta sampai pada pengalaman iman.

  Tujuan dari langkah ini yaitu mengajak peserta menemukan nilai hidup lewat pengalaman-pengalaman pribadinya berdasarkan nilai Tradisi dan Visi Kristiani. Nilai-nilai hidup yang diperoleh oleh peserta diintegrasikan dalam Tradisi dan Visi Kristiani, dan dilain pihak peserta mempersonalisasikan dan memperkaya dinamika Tradisi dan Visi Kristiani (Sumarno Ds., 2014: 21; bdk.

  Groome, 1997: 7).

  Peranan pendamping adalah menghormati kebebasan dan hasil penegasan peserta, termasuk peserta yang menolak tafsiran pembimbing, meyakinkan peserta bahwa mereka mampu mempertemukan nilai pengalaman hidup dan visi mereka dengan nilai Tradisi dan Visi Kristiani, mendorong peserta untuk merubah sikap dari pendengar pasif menjadi pihak yang aktif, menyadari bahwa tafsiran pembimbing bukan kata mati, serta mendengar dengan hati tanggapan, pendapat dan pemikiran peserta (Sumarno Ds., 2014: 21-22).

e. Langkah V: Mengusahakan suatu Aksi Konkret

  Kekhasan pada langkah ini adalah mengusahakan tindakan konkret dan niat-niat bersama sesuai dengan tema dasar, konteks, permasalahan, kepentingan dan kebutuhan mereka (Groome, 1997: 34). Peserta diajak untuk sampai pada keputusan praktis yakni mendorong keterlibatan baru dengan jalan mengusahakan pertobatan pribadi dan sosial yang kontinyu.

  Pada langkah ini pendamping berperan menyadari hakikat praktis, inovatif, dan transformatif dari langkah ini, merumuskan pertanyaan operasional (tidak perlu muluk-muluk) yang membantu kearah itu, menekankan sikap optimis yang realistis pada peserta, merangkum hasil langkah pertama sampai langkah keempat supaya dapat lebih membantu peserta dan mengusahakan supaya peserta sampai pada keputusan pribadi dan bersama (Sumarno Ds., 2014: 22).

3. Catatan Khusus Shared Christian Praxis (SCP)

  Agar Shared Christian Praxis dapat dilaksanakan dengan lebih baik, Sumarno Ds. (2014: 22-24), mengutip pendapat dari Thomas H. Groome mengenai beberapa catatan refleksi dalam variasi dan urutan langkah, pemilihan waktu dalam Shared Christian Praxis, lingkungan untuk Shared Christian Praxis.

a. Variasi dan urutan langkah

  Katekese model Shared Christian Praxis sebetulnya bukan suatu metode pedagogis, melainkan suatu pendekatan umum yang di dalamnya bermacam- macam metode dapat dipakai (Sumarno Ds., 2014: 22). Shared Christian Praxis membutuhkan sejumlah ketrampilan dasar, katekis harus tahu dengan jelas apa yang menjadi tugasnya dalam setiap langkah sehingga daya cipta dan imajinasi dapat berguna dalam pelaksanaannya.

  Pada umumnya SCP memiliki 5 (lima) langkah yang dipakai, yaitu pengungkapan pengalaman hidup konkret peserta, merefleksikan, menghadirkan tradisi iman kristiani sehubungan dengan tema, mengkonfrontasikan pengalaman hidup mereka dengan pengalaman iman kristiani dan akhirnya peserta diajak untuk membuat niat-niat sebagai perwujudan keterlibatan baru mereka dalam kehidupan sehari-hari (Sumarno Ds., 2014: 22-23). Namun seringkali katekis mengikuti urutan lain dan mengatur langkah-langkah itu dalam kombinasi yang berbeda-beda dengan memberikan tekanan yang berbeda kepada langkah yang berbeda dari satu unit ke unit yang lain. Hal tersebut tidak menjadi masalah karena yang terpenting adalah semua langkah mengalir dalam suatu kesatuan yang menyeluruh dan bukan langkah-langkah yang terlepas.

  Langkah pertama tidak mutlak harus dimulai dengan pengalaman bersama. Yang terpenting ada kebersamaan tertentu dalam setiap tindakan, dan khususnya hal ini sangat benar dengan praksis kristiani, yang dapat diungkapkan dan direfleksikan bersama.

  b. Pemilihan waktu dalam Shared Christian Praxis

  Dari pengalaman Shared Christian Praxis (SCP) kelima langkah yang ada di dalamnya cukup fleksibel untuk dipergunakan dengan efektif dalam kerangka waktu yang berbeda-beda, karena soal waktu sebenarnya tidak dipermasalahkan. Dalam sepuluh menit pun pendekatan Shared Christian Praxis bisa dipakai, misalnya dengan mengajak peserta untuk mengungkapkan dan merefleksikan pengalaman, memberikan sedikit masukan dari tradisi iman mereka sendiri dan mengambil keputusan tentangnya untuk langkah hidup selanjutnya (Sumarno Ds., 2014: 24).

  Kenyataan yang terjadi dalam suatu kelas waktu terpendek untuk menyelesaikan suatu unit adalah 40 menit. Jelas dengan waktu yang singkat itu kedalaman dan keluasan refleksi serta dialog akan sangat terbatas sehingga perlu adanya pertimbangan waktu juga bagi katekis atau pemandu SCP supaya tujuan pelaksanaan SCP dapat tercapai.

  c. Lingkungan untuk Shared Christian Praxis

  Lingkungan untuk SCP merupakan sesuatu yang vital untuk menjamin mutu/kualitas pendidikan yang dilaksanakan. Ada dua dimensi lingkungan: Emosional dan Physis.

  1)

  Lingkungan Emosional

  Keseluruhan suasana pertemuan harus merupakan suasana saling menerima, hangat dan terbuka. Dalam Shared Christian Praxis peserta perlu merasa diterima, bebas, dan santai serta percaya bahwa sumbangan mereka dihargai dan diperhatikan (Sumarno Ds., 2014: 24).

  Hal di atas berkaitan erat dengan suasana percaya. Dialog yang terjadi dalam Shared Christian Praxis dibutuhkan rasa percaya serta dukungan dari masing-masing peserta sehingga refleksi kritis, mendengarkan pengalaman, resiko mengambil keputusan dapat terjadi. Selain itu, dengan adanya rasa percaya satu sama lain umat juga lebih bebas dalam mengungkapkan pengalaman imannya karena merasa dihargai dan diperhatikan.

  2)

  Lingkungan Physis

  St. Agustinus sebagaimana dikutip Sumarno Ds., 2014: 24 dalam De

  

Catechizandis Rudibus menekankan bahwa lingkungan belajar harus

  menyenangkan secara physis bagi peserta. Lingkungan yang secara physis ideal untuk Shared Christian Praxis

  adalah lingkungan yang “lembut”, yang berbeda

  dengan lingkungan yang keras, misalnya: lantai bertutup lebih cocok daripada lantai kosong; kursi yang nyaman, tapi bukan kursi malas atau bangku. Untuk menciptakan lingkungan perlu juga memperhatikan cahaya, cara mengatur tempat duduk, susunan warna, tutup lantai, hiasan, dll. Tidak hanya itu yang diperhatikan dalam lingkungan physis. Namun, besarnya kelompok juga perlu diperhatikan sehingga para peserta dapat saling berkontak satu sama lain. Singkatnya kata, lingkungan physis diusahakan menyenangkan dan memberi kesan mesra, hangat, dan terbuka sehingga peserta merasa nyaman dalam kelompok.

E. Peranan Katekese Umat Model Shared Christian Praxis (SCP) dalam Kegiatan Hidup Menggereja Umat

  Katekese berperan untuk membantu usaha Gereja dalam menjawab keprihatinan yang paling mendasar yaitu melayani Kerajaan Allah. Katekese Umat model Shared Christian Praxis dilaksanakan dengan melibatkan umat hendaknya dikemas sedemikian rupa agar mereka lebih bersemangat dalam mengikutinya terlebih dalam upaya menumbuhkan iman Kristiani mereka. Katekese bukan merupakan hal yang mati melainkan kegiatan Gereja yang terus berkembang sesuai zamannya.

  Katekese umat model Shared Christian Praxis merupakan salah satu model katekese yang dapat membantu umat untuk terlibat aktif dalam kegiatan katekese. Melalui katekese model tersebut, umat semakin terbantu dalam menemukan dan merefleksikan pengalaman-pengalaman pribadinya. Di bawah ini akan diuraikan mengenai peran Shared Christian Praxis dalam koinonia (Paguyuban), kerygma (Pewartaan), martyria (Kesaksian Hidup), liturgia (Ibadat) dan diakonia (Pelayanan).

1. Peran Shared Christian Praxis (SCP) dalam Koinonia (Paguyuban)

  Gereja adalah umat Allah, persekutuan orang-orang beriman kepada Yesus Kristus. Gereja terjadi apabila ada umat yang beriman kepada Yesus Kristus dan berkumpul atas nama-Nya (Ardhisubagyo, 1987: 24).

  Salah satu kegiatan yang diselenggarakan dengan mengumpulkan umat

  

Christian Praxis mengajak umat untuk semakin mendalami imannya lewat

  pengalaman-pengalaman hidup mereka. Di mana dalam kegiatan ini terjadi komunikasi iman melalui sharing pengalaman peserta. Dari sharing yang dibagikan oleh masing-masing peserta dapat membantu dalam menyempurnakan iman mereka akan Yesus Kristus. Pengalaman mereka tidak hanya disharingkan saja tetapi melalui katekese Shared Christian Praxis mereka juga dibantu untuk menemukan nilai-nilai yang berguna bagi dirinya sehingga ada sesuatu yang didapat untuk melanjutkan hidup yang lebih baik lagi. Dengan demikian pengalaman peserta tidak berlalu begitu saja tetapi memiliki makna yang mendalam bagi masing-masing pribadi.

2. Peran Shared Christian Praxis (SCP) dalam Kerygma (Pewartaan)

  Tugas menjadi seorang pewarta merupakan suatu panggilan. Jadi seseorang yang mau menjadi pewarta harus dapat mendekatkan diri kepada Yesus Kristus karena apa yang diwartakannya bersumber dari Dia, nasib yang diwartakan akan menjadi nasibnya, penderitaan menjadi bagian hidupnya, ia diutus dan diserahkan kepada umat yang mendengar pewartaannya dan harus mempunyai komitmen yang utuh kepada umat. Pewartaan sendiri merupakan tugas dan panggilan setiap orang yang percaya kepada Kristus. Secara khusus tugas ini dipercayakan kepada imam atau biarawan-biarawati, dan lebih khusus

  

lagi “barisan para katekis, baik pria maupun wanita, yang dijiwai semangat

  merasul dan dengan banyak jerih payah memberi bantuan istimewa dan yang sungguh perlu demi penyebarluasan iman Gereja” (AG, art. 17).

  Umat katolik yang percaya kepada Yesus Kristus memiliki tugas untuk mewartakan kabar gembira dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka tidak hanya belajar dan mendalami Injil saja tetapi harus sampai pada kesadaran untuk menerapkannya dalam tindakan konkret. Katekese Shared Christian Praxis merupakan salah satu model yang dapat membantu umat untuk mewujudkan hal tersebut. Di dalam katekese model Shared Christian Praxis umat tidak hanya diajak mendalami Injil saja tetapi juga diajak untuk memikirkan aksi-aksi konkret yang dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari baik itu untuk pribadi maupun kelompok. Dengan demikian umat juga ikut ambil bagian dalam pewartaan Yesus Kristus di dunia.

3. Peran Shared Christian Praxis (SCP) dalam Martyria (Kesaksian Hidup)

  Sebagai anggota Gereja berarti ikut serta untuk menjadi saksi Kristus, memberi kesaksian mengenai Kerajaan Allah di tengah dunia. Dalam mengikuti Kristus dan menjadi saksi-Nya tidaklah mudah, kita dituntut untuk mau

  

berkorban, karena mengandung resiko “Kamu akan dikucilkan bahkan akan

  datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat b

  akti bagi Allah” (Yoh 16:2). Teladan kita dalam memberi

  kesaksian yaitu Yesus Kristus sendiri yang rela mati untuk mewartakan Kerajaan Allah.

  Kesaksian-kesaksian yang bisa kita lakukan sebagai perwujudan dalam kehidupan bersama melalui katekese model Shared Christian Praxis yaitu ikut serta mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini dengan memberitakan kabar gembira tentang Yesus Kristus. Kita dapat memberikan contoh sikap dan tindakan yang baik kepada orang lain sehingga setiap orang yang berjumpa dengan kita merasakan kehadiran Yesus sendiri lewat sikap dan tindakan kita. Shared

  

Christian Praxis mengajak kita untuk mewujudkan sikap dan tindakan itu dengan

  membuat aksi konkret yang ada dalam langkah kelima. Selain membuat aksi konkret peserta juga diajak untuk sampai pada pertobatan pribadi guna mendorong keterlibatan baru dalam kehidupan bersama (Sumarno Ds., 2014: 22).

4. Peran Shared Christian Praxis (SCP) dalam Liturgia (Ibadat)

  Dalam Liturgi Gereja mengenangkan penuh syukur karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus (Ardhisubagyo, 1987: 29). Hal ini terungkap dalam perayaan Ekaristi dan juga dalam sakramen-sakramen lainnya.

  Orang-orang beriman mengungkapkan persatuan mereka dengan Yesus Kristus melalui tanda-tanda sakramental. Selain melalui tanda-tanda sakramental, orang beriman juga dapat bertemu dan bersatu dengan Yesus lewat perjumpaan yang dialami dalam kehidupan sehari-hari yaitu melalui pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan. Mereka mempercayai bahwa Yesus Kristus senantiasa membimbing kehidupannya di dalam dunia ini sehingga kita manusia tidak perlu takut dalam menghadapi setiap cobaan hidup.

  Katekese model Shared Christian Praxis berperan membantu umat dalam menghayati dan memaknai setiap pengalaman yang telah terjadi sehingga setiap kejadian memiliki nilai-nilai yang dapat menjadi pegangan dalam menjalankan kehidupan selanjutnya. Selain itu juga umat harus sampai pada kesadaran bahwa setiap kejadian yang dialami tidak semata-mata kekuatan manusia sendiri tetapi juga merupakan campur tangan Tuhan. Langkah Shared

  

Christian Praxis yang keempat membantu umat dalam mendalami pengalaman

  iman mereka sehingga mereka dapat menemukan nilai-nilai hidup yang berguna bagi dirinya, menghilangkan sikap-sikap picik yang ada dalam dirinya dan menemukan nilai-nilai baru yang hendak dikembangkan (Sumarno Ds., 2014: 21).

5. Peran Shared Christian Praxis (SCP) dalam Diakonia (Pelayanan)

  Gereja dipanggil untuk melayani seluruh umat manusia. Jadi pelayanan yang dilakukan oleh Gereja bukan hanya kepada sesama anggota jemaat saja tetapi juga melayani masyarakat luas khususnya mereka yang miskin dan tertindas. Dasar pelayanan Gereja yaitu Yesus sendiri yang menyembuhkan, memperhatikan orang-orang kecil dan mengampuni dosa (Ardhisubagyo, 1987: 30).

  Dalam Kitab Suci dikatakan bahwa “Karena Anak Manusia juga datang

  bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa- Nya me

  njadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45). Yesus ingin menyatakan

  bahwa Dia datang ke dunia bukan untuk dilayani oleh umat-Nya tetapi Dia ingin melayani bahkan sampai rela memberikan nyawa-Nya demi keselamatan umat manusia. Sikap Yesus yang demikian memberikan contoh kepada kita untuk mau melayani sesama yang membutuhkan. Melayani bukan berarti merendahkan, namun mengangkat orang karena membuatnya sama dengan Kristus dan guru.

  Orang yang mengimani Kristus diharapkan untuk mempunyai semangat dalam hidup yaitu semangat pelayanan. Semangat pelayanan ini dilakukan melalui tindakan nyata seperti memberikan bantuan kepada mereka yang miskin dan tertindas. Katekese model Shared Christian Praxis merupakan salah satu model yang dapat membantu umat dalam mewujudkan imannya. Katekese model ini memiliki beberapa langkah. Namun, tidak semua langkah berbicara mengenai pengalaman pribadi dan pendalaman Kitab Suci tetapi ada langkah yang mengajak para peserta untuk memikirkan tindakan nyata yang akan dilakukan guna mewujudkan kepedulian mereka terhadap sesama. Hal demikian sangat membantu para peserta untuk mewujudkan imannya di tengah-tengah kehidupan bersama.

BAB IV USULAN PROGRAM KATEKESE UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN UMAT DALAM HIDUP MENGGEREJA DI STASI SANTO LUKAS SOKARAJA Berdasarkan hasil penelitian, kiranya banyak hal yang perlu diperhatikan

  untuk dapat meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja. Beberapa usulan program yang menarik bagi umat sehingga mereka dapat semakin tertarik untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Hal yang berkaitan dengan usulan-usulan program tersebut yaitu latar belakang penyusunan program katekese, alasan pemilihan tema dan tujuan katekese, usulan tema dan tujuan program katekese, penjabaran program, petunjuk pelaksanaan program dan contoh Satuan Pertemuan.

A. Latar Belakang Penyusunan Program Katekese untuk Meningkatkan Keterlibatan Umat dalam Hidup Menggereja

  Gereja mengharapkan sekali keterlibatan umat untuk meningkatkan keterlibatan umat dalam kegiatan hidup menggereja. Namun, pada kenyataannya kebanyakan dari umat stasi Santo Lukas Sokaraja kurang memiliki kesadaran untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja, sehingga kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Stasi maupun Lingkungan kurang mendapat dukungan dari umat. Salah satu kebutuhan dari umat sendiri yaitu memerlukan adanya komunikasi atau sharing pengalaman iman antar umat sehingga masing-masing umat saling memperkaya dan meneguhkan satu sama lain. Sharing pengalaman iman juga membantu umat dalam memaknai setiap peristiwa pengalaman hidup.

  Penyusunan program katekese ini dimaksudkan untuk membantu umat dalam berkomunikasi satu sama lain serta membantu umat dalam memaknai peristiwa hidup umat. Selain itu juga mengharapkan adanya peningkatan kesadaran umat akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota Gereja sehingga mereka semakin mau terlibat dalam kegiatan hidup menggereja.

  Katekese merupakan salah satu bentuk kegiatan hidup menggereja. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan keterlibatan hidup menggereja umat dan konsekuensinya dalam hidup menggereja akan disusun dalam bentuk katekese. Melalui katekese ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran keterlibatan hidup menggereja umat. Katekese ini akan dikemas dalam bentuk SCP (Shared

  Christian Praxis).

  Shared Christian Praxis adalah katekese yang menekankan pada proses

  berkatekese yang bersifat dialogal dan partisipasif yang bermaksud mendorong

  

peserta, berdasarkan konfrontasi antara “tradisi” dan “visi” hidup mereka dengan

“Tradisi” dan “Visi” Kristiani, agar baik secara pribadi maupun bersama, mampu

  mengadakan penegasan dan mengambil keputusan demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di dalam kehidupan manusia yang terlibat dalam dunia. SCP meliputi lima langkah: mengungkapkan pengalaman hidup peserta, mendalami pengalaman hidup peserta, menggali pengalaman iman Kristiani, menerapkan iman Kristiani dalam situasi konkret dan mengusahakan suatu aksi konkret (Sumarno Ds., 2014: 14-22)

  Oleh karena itu katekese umat model Shared Christian Praxis cocok digunakan bagi umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja. Penulis merasa katekese ini dapat membantu umat untuk saling berkomunikasi dengan membagikan pengalaman iman pribadi, sehingga umat saling meneguhkan dan memperkaya satu sama lain.

B. Alasan Pemilihan Tema dan Tujuan Katekese untuk Meningkatkan Keterlibatan Umat dalam Hidup Menggereja

  Umat Stasi Santo Lukas Sokaraja merupakan harapan Gereja guna meningkatkan dan mengembangkan kegiatan hidup menggereja stasi. Kesadaran umat untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja sangat diharapkan karena dengan itu kegiatan gerejani dapat berkembang. Tema yang diangkat dalam usulan program ini bermaksud untuk semakin menyadarkan umat akan pentingnya terlibat dalam kegiatan hidup menggereja, sehingga iman akan Kristus semakin berkembang dan mampu mewujudkannya dalam kehidupan konkret sehari-hari.

  Tema umum yang akan diangkat dalam usulan program ini adalah

  

“Panggilan hidup menggereja umat mengikuti Kristus dengan dasar iman”. Tema

  umum tersebut diambil dari keprihatinan penulis terhadap umat yang ada di Stasi Santo Lukas Sokaraja yang belum semua mau ikut terlibat aktif dalam kegiatan- kegiatan Gereja.

  Tujuan dari tema umum ini adalah supaya umat semakin aktif terlibat dalam kegiatan hidup menggereja sebagai wujud imannya akan Yesus Kristus, sehingga iman mereka akan Yesus Kristus semakin dihayati lewat keterlibatannya dalam kegiatan hidup menggereja.

  Tema umum yang diangkat oleh penulis dijabarkan lagi menjadi tiga tema dan dari masing-masing tema tersebut memiliki dua judul pertemuan. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah umat dalam memahami setiap tema yang ada. Tema-tema yang diambil oleh penulis berkaitan dengan hidup menggereja umat yaitu konsekuensi mengikuti Kristus, perwujudan iman dan panggilan iman akan Yesus Kristus.

C. Tema dan Tujuan

  Tema Umum : Panggilan untuk meningkatkan hidup menggereja umat mengikuti Kristus dengan dasar iman Tujuan Umum : Bersama pendamping umat semakin menyadari panggilan mereka dalam kegiatan hidup menggereja sebagai wujud imannya akan Yesus Kristus, sehingga iman mereka akan Yesus Kristus semakin meningkat dihayati lewat keterlibatannya dalam hidup menggereja.

  Tema I : Konsekuensi mengikuti Kristus Tujuan I : Bersama pendamping umat semakin menyadari adanya konsekuensi menjadi orang katolik sehingga lebih setia dan berani menentukan pilihan untuk mengikuti Kristus. Tema II : Perwujudan iman Tujuan II : Bersama pendamping umat semakin menyadari pentingnya perwujudan iman sehingga mewujudkan iman dalam perbuatan konkret sehari-hari. Tema III : Panggilan iman akan Yesus Kristus Tujuan III : Bersama pendamping umat semakin menyadari pentingnya menghayati panggilan iman akan Yesus Kristus sehingga mampu menerapkannya dalam hidup menggereja, keluarga dan masyarakat.

D. Penjabaran Program

E. Petunjuk Pelaksanaan Program

  Program ini dilaksanakan bagi umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja yang dikemas dalam bentuk pertemuan berkala. Program yang ditawarkan ini bersifat usulan dan selalu terbuka terhadap masukan yang lebih menunjang terpenuhinya kebutuhan peserta, artinya waktu pelaksanaan bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta di lapangan.

  Umat dalam pelaksanaan program ini dipandang sebagai subyek yang memiliki kekayaan rohani berupa pengalaman iman sehingga perlu dibagikan kepada orang lain. Dengan demikian masing-masing peserta memiliki peran dan tugas yang sama bukan hanya sebagai penonton atau pendengar setia melainkan terlibat aktif dalam keseluruhan proses pendalaman iman. Harapannya program katekese umat model Shared Christian Praxis (SCP) dapat membantu umat dalam meningkatkan keterlibatan mereka dalam kegiatan hidup menggereja.

  Program ini akan dilaksanakan setiap 2 bulan sekali selama 1 tahun bersamaan dengan pertemuan rutin bapak-bapak dan ibu-ibu WK yaitu pada Minggu ke 2 dalam bulan. Penulis mengambil 2 bulan sekali karena mereka sudah memiliki acara dalam setiap pertemuan rutin, sehingga program ini hanya sebagai variasi. Setiap pertemuan dilaksanakan dalam waktu sekitar 90 menit. Tempat pendalaman iman akan dilakukan secara bergilir di setiap rumah umat. Peserta pendalaman iman secara khusus adalah umat katolik (orang dewasa) di stasi Santo Lukas Sokaraja.

  Program ini akan dilaksanakan oleh penulis sendiri dengan memakai katekese umat model SCP. Tema-tema katekese yang ada tidak harus dibahas secara berurutan, artinya menyesuaikan kebutuhan umat. Tema yang dianggap sangat dibutuhkan oleh umat dapat dibahas di awal pertemuan dan tema yang lain menyesuaikan.

  F.

  

Contoh Persiapan Katekese Umat model Shared Christian Praxis (SCP)

1. Identitas a.

  Pelaksana : Agnes Jajar Anur Umastuti

  b. : Mengikuti Kristus dengan setia dalam kehidupan sehari-hari

  Tema c. Tujuan : Bersama pendamping umat semakin menyadari pentingnya

  mengikuti Yesus dengan setia dalam kehidupan sehari-hari, sehingga terciptanya sikap untuk mampu meneladani Yesus Kristus yang rela berkorban dan menderita demi perkembangan umat.

  d.

  Peserta : Umat (orang dewasa) Stasi Santo Lukas Sokaraja e. Tempat : Kediaman Bpk. Bernadus Sudarisman f. Hari/Tgl : Sabtu, 14 Mei 2016 g.

  Waktu : 19.00-20.30 WIB

  h. : SCP (Shared Christian Praxis)

  Model i. Metode :  Sharing pengalaman

   Refleksi pribadi  Informasi  Tanya jawab j. Sarana :  Teks lagu “Jangan Lelah”

   Teks pertanyaan pendalaman  Teks/Kitab Suci Perjanjian Baru

   Laptop dan LCD  Slide “Lilin Harapan”  Musik instrument (dari laptop)  Lilin dan Salib

  k.

  Sumber Bahan :  Mrk 8:34-9:1  Dianne Bergant & Karris, (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru.

  Yogyakarta: Kanisius. Hal 97

   Sumarno Ds., (2014). Diktat Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik Paroki. Hal: 31-38.

2. Pemikiran Dasar

  Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang kristiani yang kurang menyadari bahwa betapa pentingnya mengikuti jalan Tuhan dengan setia. Maka tidak jarang banyak yang meninggalkan Dia yang menyelamatkan kita umat manusia. Segala sesuatu yang berhubungan dengan penderitaan dan pengorbanan, selalu dirasakan oleh kita adalah hal yang berat untuk dilaksanakan dan tidak dilakukan dengan kesungguhan hati. Banyak diantara kita masih merasa takut untuk bersaksi dan takut untuk mewartakan Kerajaan Allah dihadapan orang banyak, sehingga kita kurang melibatkan diri dalam kegiatan hidup menggereja.

  Kita masih terlalu sibuk dengan kepentingan diri kita sendiri, kurang memiliki waktu untuk aktif terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Maka kunci kesetiaan kepada Kristus adalah sikap rela berkorban dan rela menderita bersama Dia (Yesus Kristus), dan juga kerjasama serta saling berbagi diantara sesama yang membutuhkan uluran tangan kita. Kerelaan kita dalam mengikuti Kristus diwujudkan dengan membagi waktu sebaik mungkin untuk kepentingan bersama dan pribadi, sehingga sesibuk apapun kegiatan kita masih memiliki waktu untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Apabila kita takut bersaksi dan apabila kita malu terhadap apa yang dikatakan Yesus maka kita tidak layak disebut pengikut Kristus.

  Injil Markus 8:34-9:1, menampilkan bahwa syarat untuk mengikuti Yesus adalah rela menyangkal dirinya dan memikul salib-Nya. Yesus tidak mau para pengikut-Nya hanya menjadi penonton sengsara-Nya, tetapi tumbuh dalam iman dan paham lewat partisipasi nyata dalam sengsara-Nya. Yesus menyadarkan para murid-murid-Nya dengan perkataan yang tegas. Barang siapa malu karena Yesus dan karena perkataan Yesus, maka Yesus pun akan malu karena orang itu. Yesus sendiri berkata dengan jelas bahwa jalan-Nya adalah jalan penderitaan. Jalan Mesias adalah jalan salib.

  Dari pertemuan ini kita berharap semakin mampu meneladani sikap Yesus yang rela berkorban dan menderita demi Kerajaan Allah. Kita sebagai orang yang beriman semakin setia mengikuti Yesus Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga semakin berani berkorban dan menderita demi perkembangan umat. Sikap tersebut dapat kita wujudkan lewat kerelaan kita meluangkan waktu untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja dan peduli kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan kita. Hidup menggereja tidak hanya kita wujudkan dalam lingkungan gereja saja, namun dapat juga kita wujudkan dalam kehidupan di masyarakat, misalnya saja ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan seperti kerja bakti menyambut HUT RI, ikutserta dalam kepengurusan RT/RW, dsb. Sikap peduli juga perlu kita wujudkan dalam kehidupan bersama, saling menghargai satu sama lain, karena kita hidup tidak hanya dengan orang yang memiliki keyakinan sama dengan kita tetapi juga hidup bersama dengan orang yang beda keyakinan.

3. Pengembangan Langkah-langkah

a) Pembukaan

  1)

  Pengantar

  Bapak/ibu yang terkasih, kita pantas mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan karena kasih karunia-Nya yang telah mempersatukan kita disini sebagai orang yang setia mengikuti Dia. Kita semua tahu kesetiaan kita sebagai murid Kristus perlu kita wujudkan dalam tindakan hidup kita sehari-hari, misalnya dengan rela berkorban dan menderita meluangkan waktu kita untuk kepentingan bersama, sehingga memampukan kita untuk berani melibatkan diri dalam kegiatan hidup menggereja, agar apa yang dikehendaki Allah dapat sungguh-sungguh diresapi dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

  Bacaan Kitab Suci pada malam hari ini mengajak kita sebagai pengikut Kristus berani menyangkal diri dan mau memikul salib. Yesus tidak mau para pengikut-Nya hanya menjadi penonton sengsara-Nya, tetapi tumbuh dalam iman dan paham lewat partisipasi nyata dalam sengsara-Nya. Partisipasi tersebut dapat kita wujudkan lewat keterlibatan kita di dalam kegiatan hidup menggereja.

  Semoga dengan keterbukaan dan saling berbagi dalam pertemuan ini, kita kehidupan sehari-hari, sehingga tercipta sikap untuk meneladan Yesus Kristus yang rela berkorban dan menderita demi perkembangan umat.

  2)

  Lagu Pembukaan: Bapa yang Setia [Lampiran 9: (23)]

  3)

  Doa Pembukaan:

  Bapa yang penuh kasih, kami mengucap syukur kepada-Mu karena kasih dan penyertaan-Mu kami semua dapat berkumpul di tempat ini. Saat ini, kami akan mencoba bersama-sama menggali sejauh mana kesetian kami mengikuti Kristus Putera-Mu. Bantulah kami ya Bapa agar cinta-Mu sungguh-sungguh dapat kami alami sehingga kami mampu untuk mengikuti Putera-Mu dengan setia dan rela berkorban serta menderita bersama Putera-Mu. Seperti dalam Injil Markus yang akan kami dengarkan nanti Engkau mengajarkan kepada kami untuk berani menyangkal diri dan mau memikul salib.

  Bapa kami serahkan seluruh pertemuan kami malam ini, dan juga pembicaraan kami. Semoga Roh-Mu selalu berada bersama kami, sehingga kami dapat saling terbuka dan mau berbagi satu sama lain. Tujuan kami bersama dapat tercapai yaitu kami semakin menyadari pentingnya mengikuti Yesus Kristus dengan setia dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tercipta sikap untuk meneladan Yesus Kristus yang rela berkorban dan menderita demi perkembangan umat khususnya umat di Stasi Santo Lukas Sokaraja ini. Kami yakin dan percaya Bapa, Engkau selalu membimbing hidup kami untuk dapat mewujudkan impian kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

b) Langkah I : Mengungkapkan Pengalaman Hidup Peserta

  1)

  Pemutaran slide tentang “Lilin Harapan“ [:Lampiran 8: (22)]

  Pendamping meminta salah satu peserta untuk mencoba menceritakan kembali dengan singkat tentang isi pokok dari slide

  2)

  Intisari slide “Lilin Harapan“

  Slide ini menceritakan, ada empat lilin yang sedang menyala dan kemudian meleleh. Dalam keheningan terdengar percakapan antara keempat lilin ini. Lilin pertama yang menamainya adalah Damai mengeluh karena sekarang manusia tidak menghiraukannya lagi sehingga dia ingin mati atau padam saja, kemudian lilin kedua yang juga menamainya adalah Iman juga menyampikan hal yang sama yaitu manusia tidak lagi mengenalnya dan lilin yang ketiga yang dinamai Cinta mengatakan bahwa manusia tidak memandang dan menganggapnya lagi. Maka ketiga lilin ini pun mati.

  Tinggallah lilin keempat, ketika seorang anak datang ia memandang keempat lilin itu, ia melihat bahwa yang masih menyala adalah lilin keempat. Lilin keempat ini tetap setia kepada anak tersebut. Hingga ketiga lilin yang sudah mati tadi dapat dihidupkan kembali berkat lilin keempat yang masih menyala.

  3)

  

Pengungkapan pengalaman: peserta diajak untuk mendalami slide tersebut

  dengan tuntunan beberapa pertanyaan:  Ceritakanlah kesetiaan lilin keempat dalam slide tadi.

   Ceritakanlah pengalaman bapak/ibu setia dalam mengikuti Kristus!

  4)

  Arah rangkuman

  Dalam slide ini menceritakan keempat lilin yang sedang menyala dan kemudian masing-masing meleleh. Keempat lilin tersebut memiliki sikap yang berbeda-beda. Lilin yang pertama adalah Damai karena manusia tidak menghiraukannya ia mati, dan lilin kedua adalah Iman, karena manusia tidak lagi mengenalnya maka ia pun mati, begitu pula dengan lilin ketiga yang adalah Cinta, karena manusia tidak memandang dan menganggapnya lagi maka ia mati. Dan lilin keempat walaupun begitu banyak persoalan yang dihadapi ia tetap setia, ia tetap punya harapan.

  Kesetiaan lilin yang keempat membuat anak yang datang dapat kembali menghidupkan lilin yang sudah mati tadi, sehingga keempat lilin ini dapat sama- sama hidup dengan harapan tetap setia terhadap situasi apapun. Kita sebagai pengikut Kristus juga harus setia dalam panggilan kita dengan ikut mengembangkan kegiatan-kegiatan gerejani. Namun, dalam kenyataan hidup sehari-hari kita masih kurang setia karena sering kali masih mengutamakan kepentingan diri sendiri daripada terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Selain kesetiaan itu kita diharapkan juga untuk bisa saling melayani dan penuh pengharapan.

c) Langkah II : Mendalami Pengalaman Hidup Peserta

  1)

  

Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman atau slide di atas

  dengan bantuan pertanyaan sebagai berikut:

   Cara manakah yang telah ditempuh bapak/ibu dalam menghadapi

  kesulitan-kesulitan mengikuti Kristus? 2)

  

Dari jawaban yang diungkapkan oleh peserta, pendamping memberi arahan

rangkuman singkat.

  Bapak/ibu yang terkasih dalam Kristus, dalam sharing tadi mengungkapkan bahwa cara yang ditempuh untuk menghadapi kesulitan-kesulitan mengikuti Kristus yaitu dengan mempertahankan kesetiaan kita dalam mengikuti Kristus. Kita tetap berpegang teguh pada iman kita meskipun dalam situasi sesulit apapun. Kita mengandalkan Kristus untuk membimbing setiap langkah hidup kita sehingga kita selalu dikuatkan dan tetap beriman kepada-Nya. Kesetiaan dalam mengikuti kegiatan hidup menggereja kita usahakan dengan membagi waktu sebaik mungkin sehingga kepentingan pribadi dan kepentingan gereja tetap berjalan dengan baik. Sesibuk apapun kegiatan pribadi kita tidak akan mengganggu keterlibatan kita dalam kegiatan hidup menggereja bila kita dapat membagi waktu dengan baik.

d) Langkah III : Menggali Pengalaman Iman Kristiani

  1)

  

Salah seorang peserta dimohon bantuannya untuk membacakan perikop

  langsung dari Kitab Suci, Mrk 8:34-9:1 atau dari teks fotocopy yang dibagikan.

  2)

  

Peserta diberi waktu sebentar untuk hening sejenak sambil secara pribadi

  merenungkan dan menanggapi pembacaan Kitab Suci dengan bantuan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

   Ayat-ayat manakah yang mengajak kita untuk selalu setia dalam mengikuti

  Kristus?

   Sikap-sikap mana yang ingin ditunjukkan Yesus dalam hal mengikuti-

  Nya? 3)

  

Peserta diajak untuk sendiri mencari dan menemukan pesan inti perikop

sehubungan dengan jawaban atas 2 (dua) pertanyaan di atas.

  4)

  

Pendamping memberi tafsiran dari Injil Mrk 8:34-9:1 dan

  menghubungkannya dengan tanggapan peserta dalam hubungan dengan tema dan tujuan, sebagai berikut:

  Ayat 34, Menggambarkan kisah Yesus memanggil murid-murid-Nya. Bahwa setiap orang yang ingin mengikuti Yesus harus mengambil bagian dari perjuangan para murid menghadapi kenyataan yang keras, dingin, bahwa Yesus

  

bukan seseorang yang “akan membereskan segala-galanya dengan cepat”, seperti

  mereka harapkan. Mereka dapat mendengar Ia secara langsung kepada mereka, setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salib-Nya dan mengikuti Aku. Demikian juga dengan kita, kalau kita ingin mengikuti Yesus kita harus rela berkorban dan menderita bersama Dia.

  Ayat 35-37, dalam ayat ini mengajak kita untuk memahami pernyataan yang begitu mutlak dan radikal, yang mengikuti Yesus: karena siapa yang mau menyelamatkan nyawannya, ia akan kehilangan nyawanya... siapa pun yang menyebut dirinya pengikuti Yesus harus kehilangan hidupnya bagi Yesus dan bagi Injil atau menyerahkan diri dalam kepercayaan kepada Mesias yang menderita, yang kita ikuti. Untuk itu kita perlu membuka diri agar lebih bisa mendengarkan perkataan yang tidak menyenangkan: anak manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus (ayat 38).

  Dalam perikop ini Yesus menegaskan bahwa syarat untuk mengikuti Dia adalah rela berkorban dan menderita bersama Dia. Hal ini dapat kita lakukan dengan setia kepada Yesus, sehingga apa yang nampak dari sikap Yesus kepada murid-murid-Nya dapat menghantarkan kita untuk belajar dari sikap setia Yesus dan dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

  Sikap-sikap yang nampak dari perikop ini memiliki sikap yang setia kepada Bapa, yaitu rela menderita demi umat manusia. Maka dari itu kita sebagai berkorban bersama Dia. Kesetiaan kita wujudkan dengan ikut terlibat mengembangkan kegiatan-kegiatan gerejani. Kita mau meluangkan waktu kita untuk kepentingan Gereja sehingga tidak melulu sibuk dengan kepentingan pribadi, karena perkembangan Gereja membutuhkan keterlibatan kita juga.

  Keterlibatan yang diharapkan oleh Gereja tidak semata-mata hanya keterlibatan fisik saja tetapi terlibat dengan sepenuh hati, artinya saat kita mengikuti kegiatan gerejani, fisik, hati dan pikiran kita tertuju pada kegiatan tersebut, sehingga diharapkan kita mampu ikutserta dalam mengembangkan Gereja.

  e)

Langkah IV : Menerapkan Iman Kristiani dalam Situasi Peserta

  Konkret

  1)

  Pengantar

  Bapak/ibu, dalam perbincangan kita tadi, kita sudah mendalami cerita

  

“Lilin Harapan” tentang kesetiaan lilin keempat yang tetap menyala hingga dapat

  menyalakan kembali ketiga lilin yang sudah mati. Bacaan Injil tadi mengajak kita sebagai pengikut Kristus berani untuk menyangkal diri dan memikul salib. Setiap orang yang ingin mengikuti Yesus harus mengambil bagian dari perjuangan para murid menghadapi kenyataan yang keras, dingin, bahwa Yesus bukan seseorang

  

yang “akan membereskan segala-galanya dengan cepat”, seperti mereka harapkan.

  Telah kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari sebagai umat katolik di Stasi Santo Lukas Sokaraja ini juga banyak pengalaman dalam hal rela berkorban dan memikul salib. Rela berkorban kita wujudkan dengan mau membagi waktu sebaik mungkin untuk kepentingan pribadi dan kepentingan gereja, sehingga kita tidak melulu sibuk dengan kepentingan pribadi kita. Kita perlu juga meluangkan waktu untuk terlibat dalam kegiatan gereja, karena perkembangan Gereja membutuhkan keterlibatan umatnya.

  Yesus mengajarkan kita untuk mau rela berkorban baik berkorban kepentingan diri sendiri maupun berkorban untuk orang lain. Saat kita berani untuk berkorban dan menjalankannya dengan hati yang tulus pasti akan merasakan kegembiraan. 2)

  

Sebagai bahan refleksi agar kita semakin mampu menghayati dan menyadari

  kesetiaan kita mengikuti Kristus dalam kehidupan sehari-hari, maka kita akan merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini sebagai berikut:

   Sikap apa yang harus kita perjuangkan untuk membangun sikap setia dan

  rela berkorban dalam mengikuti Kristus di Stasi Santo Lukas Sokaraja? 3)

  Arah rangkuman penerapan pada situasi peserta

  Yesus, Sang Penyelamat bagi kita umat manusia. Ia telah banyak mewartakan tentang Kerajaan Allah bagi kita selaku umat yang setia kepada-Nya.

  Untuk itu mari kita wujudkan sikap setia kepada-Nya dengan rela berkorban dan menderita seperti yang diajarkan-Nya kepada kita, agar kita semakin pantas mengikuti-Nya dan menjadi saksi keselamatan daripada-Nya. Oleh sebab itu kita harus lebih berani meninggalkan hal-hal yang menjadi kendala kita untuk lebih setia dalam mengikuti Yesus. Kita sebagai murid Kristus yang ada di Stasi Santo Lukas Sokaraja harus bisa membagi waktu kita untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan gereja. Dengan demikian tidak ada alasan bagi kita untuk tidak terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Hanya saja membutuhkan kesadaran dan kerelaan kita untuk dapat meluangkan waktu. Kita belajar dari Yesus yang setia kepada Bapa, sehingga kita dapat memikul salib kita sendiri

f) Langkah V : Mengusahakan suatu Aksi Konkret

  Bapak/ibu, kita bersama-sama sudah menggali pengalaman dari slide

  

“Lilin Harapan” yang menceritakan lilin keempat sebagai lilin yang penuh

  dengan harapan untuk lebih setia dalam situasi apapun. Bahkan dengan harapan lilin itu mampu menghidupkan ketiga lilin yang sudah mati. Demikian juga pengalaman kesetiaan kita sebagai umat beriman Kristiani, kita semakin memiliki kesadaran untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja dengan mau membagi waktu kita untuk kepentingan pribadi dan kepentingan gereja. Karena lewat kesetiaan itu iman kita akan Yesus semakin berkembang dan kegiatan hidup menggereja pun semakin berkembang. Kesetiaan juga kita wujudkan dengan sikap saling melayani satu sama lain baik antar umat katolik maupun dengan umat yang beragama lain.

  Markus dalam Injilnya menegaskan bahwa Yesus memanggil murid- murid-Nya. bahwa setiap orang yang ingin mengikuti Yesus harus mengambil bagian dari perjuangan para murid menghadapi kenyataan yang keras, dingin,

  

bahwa Yesus bukan seseorang yang “akan membereskan segala-galanya dengan

cepat”, seperti yang mereka harapkan. Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia

  harus menyangkal dirinya, memikul salib-Nya dan mengikuti Aku. Demikian juga dengan kita, kalau kita ingin mengikuti Yesus kita harus rela berkorban dan menderita bersama Dia.

  Yesus sebagai penyelamat bagi kita umat manusia. Ia telah banyak mewartakan tentang Kerajaan Allah bagi kita selaku umat yang setia kepada-Nya.

  Untuk itu mari kita wujudkan sikap setia kepada-Nya dengan rela berkorban dan menderita seperti yang diajarkan-Nya kepada kita, agar kita semakin pantas mengikuti-Nya dan menjadi saksi keselamatan daripada-Nya. Kita wujudkan kesetiaan tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari di dunia ini.

  Marilah kita memikirkan niat dan tindakan apa yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kesetiaan kita mengikuti Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. 1)

  

Memikirkan niat-niat dan bentuk keterlibatan kita yang baru (pribadi,

  kelompok atau bersama-sama) untuk lebih meningkatkan pelayanan kita, khususnya mengikuti Yesus dengan setia, rela berkorban dan memikul salib.

  Sesuai dengan yang dikehendaki oleh Yesus Kristus kepada kita dalam hal mengikuti Dia. Marilah kita bersama-sama merenungkan dengan tuntutan pertanyaan berikut: a.

  Niat apa yang hendak kita lakukan untuk semakin setia, rela berkorban dan

  memikul salib dalam mengikuti Yesus khususnya dalam kehidupan bapak/ibu di Stasi Santo Lukas Sokaraja? b.

  Hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan untuk mewujudkan niat-niat

  tersebut? 2)

  

Selanjutnya peserta diberi kesempatan dalam suasana hening memikirkan

  sendiri niat-niat pribadi/kelompok yang akan dilakukan. Sambil memikirkan niat tersebut dapat diiringi dengan musik instrumen.

  3)

  

Niat-niat pribadi dapat diungkapkan dalam kelompok bersama untuk saling

meneguhkan.

  4)

  

Kemudian, pendamping mengajak peserta untuk membicarakan dan

  mendiskusikan bersama guna menentukan niat bersama secara konkret, yang dapat diwujudkan, agar mereka dapat saling memperbaharui sikap setia, rela berkorban dan mau memikul salib sebagai pengikut Kristus.

g) Penutup

  1)

  

Bapak/Ibu yang terkasih, setelah kita membuat niat-niat pribadi dan bersama,

  marilah kita bersama-sama memohon semangat dan kekuatan dari Yesus Kristus, agar segala niat yang telah kita buat tadi dapat sungguh-sungguh terwujud dalam kehidupan kita sehari-hari. Di depan kita terletak salib dan lilin. Salib sebagai lambang akan kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita sedangkan lilin sebagai lambang terang Kristus yang senantiasa menerangi kehidupan kita sehari-hari. Oleh sebab itu dengan hati yang terbuka dan dengan hati yang tulus, marilah kita menyampaikan permohonan kita masing- masing secara spontan. 2)

  

Doa umat secara spontan dapat diawali oleh pendamping, setelah itu disusul

  oleh peserta yang lain. Akhir doa umat ditutup dengan doa penutup dari pendamping yang merangkum keseluruhan langkah dalam pertemuan malam ini. 3)

  Doa Penutup

  Allah Bapa Yang Maha Kasih, kembali kami mengucapkan syukur dan berterima kasih kepada-Mu karena berkat dan rahmat-Mu pertemuan kami pada malam hari ini dapat berjalan dengan baik dan lancar. Banyak hal yang kami dapatkan dan pelajari pada malam hari ini baik lewat sharing pengalaman iman maupun cerita lilin harapan yang kami dengar tadi. Bantulah kami agar tetap setia meneladan serta mengikuti Yesus Kristus dengan ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan gerejani. Bacaan Injil malam hari ini juga mengajarkan kepada kami untuk mau berkorban dan mau memikul salib. Kita diajak untuk berkorban kita hadapi. Kami yakin dan percaya Tuhan, Engkau senantiasa membimbing hidup kami.

  Kami serahkan juga segala niat yang telah kami buat bersama. Bantulah kami untuk dapat mewujudkan niat tersebut sehingga hidup kami semakin pantas dan layak kepada-Mu. Doa permohonan ini kami haturkan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

  4)

  Lagu Penutup: “Jangan Lelah” [Lampiran 10: (24)]

BAB V PENUTUP Pada bagian ini disampaikan kesimpulan dan saran mengenai “Upaya Meningkatkan Keterlibatan Umat dalam Hidup Menggereja di Stasi Santo Lukas, Sokaraja, Paroki Santo Yosep, Purwokerto Timur, Jawa Tengah melalui Katekese Umat Model Shared Christian Praxis ”. A. Kesimpulan Keterlibatan dan keikutsertaan umat dalam kegiatan hidup menggereja

  sangat diharapkan. Gereja turut memberi perhatian kepada umat dalam pelaksanaan karya pastoral. Stasi mewadahi umat dengan mengadakan berbagai kegiatan hidup menggereja, supaya lewat kegiatan-kegiatan tersebut umat mampu menghayati imannya dalam menanggapi situasi dan kondisi zamana sekarang.

  Umat diharapkan dapat terlibat aktif dalam setiap tugas dan peranan Gereja secara keseluruhan. Namun, dalam kenyataannya umat Stasi Santo Lukas Sokaraja kurang memiliki kesadaran untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja sehingga tidak semua kegiatan yang dilaksanakan di Stasi maupun Lingkungan mendapat dukungan penuh dari umat.

  Beriman Katolik tentu bukan hanya sebagai status saja tetapi harus kita wujudkan melalui tindakan nyata. Tindakan yang dapat kita lakukan diantaranya terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Dengan keterlibatan tersebut berarti kita menampakkan iman kita terhadap Yesus Kristus. Hidup menggereja sendiri diartikan sebagai pengabdian sukarela untuk mengambil bagian dalam lima tugas Gereja yaitu koinonia, kerygma, martyria, liturgia dan diakonia (Ardhisubagyo 1987: 22). Umat katolik yang telah dibaptis dan menerima sakramen Penguatan atau Krisma diharapkan mampu untuk mengambil bagian dalam tugas perutusan Yesus Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja. Dengan demikian kegiatan hidup menggereja dapat maju dan berkembang.

  Keterlibatan dan keikutsertaan umat dalam hidup menggereja sangat diharapkan. Keterlibatan umat tidak hanya aktif ketika mengikuti Perayaan Ekaristi dan koor saja. Umat diharapkan dapat terlibat aktif dalam setiap tugas dan peranan Gereja secara keseluruhan.

  Mengenai bentuk kegiatan yang mampu meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja, kegiatan yang dapat diusulkan yaitu berupa katekese model SCP (Shared Christian Praxis). Usulan katekese model SCP diharapkan dapat meningkatkan kreativitas umat dalam merancang suatu kegiatan yang lebih menarik sehingga semakin banyak umat yang mau terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Tema umum yang akan diangkat dalam usulan program ini adalah

  

“Panggilan untuk meningkatkan hidup menggereja umat mengikuti Kristus

dengan dasar iman”. Melalui tema ini diharapkan umat semakin menyadari

  panggilan mereka dalam kegiatan hidup menggereja sebagai penghayatan imannya.

B. Saran

  Pada bagian ini dipaparkan beberapa saran untuk meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Santo Lukas, Sokaraja melalui ditujukan kepada Ketua Dewan Pastoral Stasi Santo Lukas Sokaraja, Para Ketua Bidang, Ketua Lingkungan, Umat, Pemandu Pendalaman Iman dan Dewan Pastoral Stasi.

  1. Ketua Dewan Pastoral Stasi St. Lukas Sokaraja

  Ketua dewan pastoral Stasi hendaknya mengatur kegiatan-kegiatan yang sudah ada sehingga dapat diikuti oleh semua umat Stasi Santo Lukas Sokaraja.

  2. Dewan Pastoral Stasi

  Dewan pastoral stasi hendaknya menyesuaikan situasi dan kondisi umat dalam menentukan tema, materi maupun sarana yang dipakai dalam setiap kegiatan, terutama kegiatan pendalaman iman dan saresehan. Dengan harapan apa yang disampaikan dalam kegiatan sungguh-sungguh berguna bagi umat dan mereka semakin termotivasi untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja dan bermasyarakat.

  3. Para Ketua Bidang

  Para ketua bidang hendaknya mengadakan rapat koordinasi juga dengan tim kerjanya secara rutin sehingga program yang telah tersusun dapat terlaksana dengan lancar dan baik.

  4. Ketua Lingkungan

  Masing-masing ketua Lingkungan berusaha melibatkan lebih banyak umat di Lingkungan untuk lebih banyak yang terlibat dalam kegiatan hidup menggereja.

  5. Pemandu Pendalaman Iman

  Pemandu pendalaman iman diharapkan lebih siap dalam memimpin. Dengan demikian segala sesuatu yang dibutuhkan perlu dipersiapkan dengan baik.

  6. Umat

  Setiap umat perlu memiliki kesadaran dan saling mendukung satu sama lain sehingga semakin banyak umat yang terlibat dalam kegiatan hidup menggereja.

  DAFTAR PUSTAKA Ardhisubagyo, Y. (1987). Menggereja di Kota (Seri Pastoral No. 136).

  Yogyakarta: Pusat Pastoral Yogyakarta. Arikunto Suharsimi. (1997). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

  Jakarta: PT Asdi Mahasatya. Bergant, Dianne& Karris, Robert. (Ed). (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru.

  Yogyakarta: Kanisius. Boland, B.J. Dr. (1982). Tafsir Lukas II. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Groome, Thomas H. (1997). Shared Christian Praxis (SCP): Suatu Model

  Berkatekese (F.X. Heryatno Wono Wulung, Penyadur). Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat. (Buku asli diterbitkan 1991).

  Huber, Th. (1981). Katekese Umat. Yogyakarta: Kanisius. Jacobs, Tom. SJ. (1987). Gereja Menurut Vatikan II. Yogyakarta: Kanisius. Komisi Kateketik KWI. (1995). Katekese Umat dan Evangelisasi Baru.

  Yogyakarta: Kanisius. Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius.

  Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Kansili Vatikan II (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. Lalu, Yosef. (2005). Katekese Umat. Jakarta: Komisi Kateketik KWI. Leks, Stefan. (2003). Tafsir Injil Markus. Yogyakarta: Kanisius. Maryanto, Ernest. (2004). Kamus Liturgi. Yogyakarta: Kanisius. Midiankhsirait.https://midiankhsirait.wordpress.com/2012/01/18/koinonia-marturia- diakonia/.Accesed on April, 2014) Moleong, Lexy J. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Prasetya, L. (2003). Keterlibatan Awam sebagai Anggota Gereja. Malang: Dioma. Pusat Kateketik Yogyakarta. (1968). Geredja dan Sakramen-sakramennja.

  Yogyakarta: Kanisius. Sacra Congregatio Pro Clerici. (1991). Directorium Catechisticum Generale,

  (Direktorium Kateketik Umum). (Thom Wignyanta&Lukas Lege, Penerjemah). Flores: Nusa Indah.

  Sugiyono. (2014). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta. Sumarno Ds., M. (2013). Pengantar Pendidikan Agama Katolik Paroki. Diktat mata kuliah Pengantar Pendidikan Agama Katolik Paroki untuk Mahasiswa

  Semester III, Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  . (2014). Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama

  Katolik Paroki. Diktat mata kuliah Program Pengalaman Lapangan

  Pendidikan Agama Katolik untuk Mahasiswa Semester VI, Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Sutrisno Hadi. (2004). Metodologi Research Jilid 3. Yogyakarta: Andi.

  Telaumbanua, Marianus, OFMCap. (1999). Ilmu Kateketik. Jakarta: Obor. Yohanes Paulus II. (1992). Catechesi Tradendae, (Penyelenggaraan Katekese).

  (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1979).

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Tingkat Pengetahuan dan Sikap Remaja dalam Mencegah HIV/AIDS di SMA Santo Thomas 1 Medan
0
30
66
Fungsi Dan Peranan Gondang Dalam Penerimaan Sakramen Krisma Di Gereja Katolik Santo Diego Martoba Paroki Pasar Merah Medan: Sebuah Kajian Deskriptif
1
69
73
Upaya meningkatkan pemahaman konsep trigonometri siswa kelas X MA At-Tasyri Tangerang melalui model pembelajaran kooperatif metode course review horay
10
84
322
Pemberdayaan ekonomi umat melalui zakat produktif : studi kasus pada Badan Amil Zakat Daerah/ BAZDA Kota Tangerang
2
12
488
Peranan shalat dalam pembinaan akhlak yang mulia bagi umat Islam (analisis tentang pembinaan akhlak)
0
3
67
Upaya meningkatkan kemampuan membaca al-qur’an melalui program BTA di SMP Yanusa Jakarta
15
152
93
Upaya meningkatkan hasil belajar IPA pada konsep sumber daya alam melalui penerapan model pembelajaran cooperative tipe STAD
0
3
134
Kerukunan hidup umat beragama di sekolah : studi kasus di SMK Yadika 5 Pondok Aren
2
40
77
Disintegrasi umat Islam: study tentang keruntuhan kekuasaan Islam di Andalusia abad XI
1
19
149
Pendayagunaan dan Zis Pada pos Keadilan peduli umat (PKPU) dalam upaya meningkatakan gizi masyarkata Bintaro-Tangerang Selatan melalui program Budarzi (Ibu Sadar Gizi)
3
20
103
Pola kerjasama antara lembaga amil zakat infak dan shodaqoh (Lazis) PLN P3B Jawa Bali dengan pos keadilan peduli umat (PKPU) dalam pemberdayaan dana zakat
0
6
102
Perubahan hubungan militer dengan umat Islam di Indonesia Periode 1990-1998
0
29
140
Pernak pernik natal, Kisah Natal berasal dari Injil Santo Lukas dan Santo Matius dalam Perjanjian Baru
0
1
6
Diutus Untuk Menghasilkan umat yang Kudus:Eksposisi Yesaya 6:1-13
0
4
26
Perhitungan umur umat Islam
0
0
31
Show more