Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Hydroxypropyl Methycellulose (HPMC) dengan spray drying

Gratis

1
3
85
2 years ago
Preview
Full text

PENGARUH PROPORSI DRUG LOAD TERHADAP PROFIL DISOLUSIDISPERSI PADAT KURKUMIN EKSTRAK TEMULAWAK

PENGARUH PROPORSI DRUG LOAD TERHADAP PROFIL DISOLUSIDISPERSI PADAT KURKUMIN EKSTRAK TEMULAWAK(Curcuma xanthorrhiza Roxb.) DALAM HYDROXYPROPYL SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu SyaratMemperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi FarmasiOleh :

METHYLCELLULOSE (HPMC) DENGAN SPRAY DRYING

SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu SyaratMemperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi FarmasiOleh : Felix Pradana Adi NugrahaNIM : 098114071

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Pembuatan dispersi padat tersebut menggunakan metodespray dryingdengan 3 formula yang berbeda: Formula 1 yang terdiri dari ekstrak temulawak : HPMC E-15 (1 : 1), Formula 2 yang terdiri dari ekstrak temulawak :HPMC E-15 (1:2) dan formula 3 yang terdiri dari ekstrak temulawak : HPMC E- 15 (1:4). Hasil dari uji disolusi menunjukkan bahwa ada perbedaan DisolusiEfisiensi (DE) antar formula, yaitu pada Formula 3 menunjukkan disolusi efisiensi paling tinggi kemudian diikuti oleh Formula 2, dan yang paling keciladalah Formula 1.

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Temulawak merupakan salah satu tanaman yang banyak digunakan

  Dispersi padat adalah dispersi satu atau lebih bahan aktif dalam suatu pembawa inert atau matriks dalam bentuk padat yang dibuat dengan metodepeleburan, pelarutan atau pelarutan-peleburan. Teknik dispersi padat pertama kali diperkenalkan oleh Sekiguchi dan Obi tahun 1961 dengan pembawa yang mudahlarut diantaranya: polivinilpirolidon, polietilen glikol, dan urea dengan tujuan untuk memperkecil ukuran partikel, meningkatkan laju dissolusi dan absorpsi obatyang tidak larut dalam air (Chiou dan Riegelman, 1971).

B. Rumusan Masalah

  Dari uraian diatas, dapat ditarik rumusan permasalahan yaitu apakah adapengaruh proporsi drug loadterhadap profil disolusi dispesi padat kurkumindari ekstrak temulawak dalam HPMC E-15 dengan spray drying ? C.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi mengenai cara peningkatan disolusi kurkumin dengan pembuatan dispersi padat ekstraktemulawak dalam HPMC dengan metode spray drying.

2. Manfaat praktis

Penelitian ini diharapkan menghasilkan sebuah bukti ilmiah yang dapat menunjukkan pengaruh dari dispersi padat dengan pembawa HPMC dapatmeningkatkan disolusi dari kurkumin.

E. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Meningkatkan kemampuan disolusi dari kurkumin ekstrak temulawak yang memiliki kelarutanrendah dalam air.

2. Tujuan khusus

Mengetahui ada tidaknya pengaruh proporsi drug load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak dalam HPMC denganmetode spray drying.

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Kurkumin Kurkuminoid adalah suatu campuran yang kompleks berwarna kuning oranye yang diisolasi dari tanaman dan mempunyai efek terapeutik. Kurkuminoidterdiri dari kurkumin (deferuloil metan), demetoksi kurkumin

  Campuran kedua cairan inikemudian memadat dengan cepat setelah dibekukan pada penangas berisi es (ice bath) dengan pengadukan kuat lalu masa padat yang terbentuk tersebut Keuntungan utama metode ini adalah sederhana dan ekonomis. Sebagai tambahan dapat dicapai supersaturasi zat terlarut atau obat pada sistem denganmengkristalkan lelehan langsung secara cepat dari temperatur tinggi Dibawah kondisi seperti itu, molekul zat terlarut tertahan pada matriks pelarut denganproses pemadatan langsung, sehingga didapat dispersi kristalit yang lebih halus dari sistem campuran eutetis sederhana bila metode ini digunakan.

2. Metode pelarutan

  Kekurangannya adalah biaya mahal, kesukaran memisahkan pelarut secara sempurna, kemungkinan efek merugikan dari pelarut yang jumlahnya dapatdiabaikan terhadap stabilitas obat, pemilihan pelarut umum yang mudah menguap, dan kesukaran menghasilkan kembali bentuk kristal (Chiou dan Riegelman,1971). Salah satu syarat penting untuk pembuatan dispersi padat dengan metode pelarutan adalah bahwa obat dan pembawa cukup larut dalam pelarut.

3. Metode pelarutan-pelelehan

  Sistem dispersi padat dibuat dengan melarutkan dahulu obat dalam pelarut yang sesuai dan mencampurnya dengan lelehan polietilen glikol, dapatdicapai dibawah suhu 70º C, tanpa memisahkan pelarut (Chiou dan Riegelman, 1971). Beberapa alasan menggunakan polimer HPMC yaitu (1) kelarutan polimer yang khas dalam cairan lambung-usus serta dalam sistem pelarut organik (3) fleksibilitas,mengurangi resistensi, tidak memiliki rasa atau bau, (4) stabil terhadap panas, cahaya, udara, dan dapat disesuaikan dengan tingkat kelembaban,(5) mempunyai kemampuan untuk mencampurkan zat warna atau zat aditif lainnya kedalam lapisan tipis tanpa kesukaran (Lachman, dkk., 1994).

E. Disolusi

  KLT-Densitometri Kromatografi didefinisikan sebagai prosedur pemisahan zat terlarut oleh suatu proses migrasi diferensial dinamis oleh sistem yang terdiri dari dua fase ataulebih, salah satu diantaranya bergerak secara berkesinambungan dalam arah Kromatografi lapis tipis adalah suatu cara pemisahan yang berdasarkan pada pembagian campuran senyawa dalam dua fase, dimana fase gerak bergerakterhadap fase diam dan fase diam berupa suatu bidang datar. Analisis dengan kromatografi lapis tipis (KLT) sering digunakan karena prosedurnya sederhana,pemisahan lebih cepat dan baik serta dapat memisahkan dalam jumlah yang relatif kecil sampai beberapa mikrogram (Stahl, 1969).

H. Landasan Teori

  Dispersi padat adalah dispersi satu atau lebihbahan aktif dalam suatu pembawa inert atau matriks dalam bentuk padat yang dibuat dengan metode peleburan, pelarutan atau pelarutan-peleburan. Teknikdispersi padat pertama kali diperkenalkan oleh Sekiguchi dan Obi (1961) dengan Drug loadyaitu jumlah kurkumin yang terkandung dalam keseluruhan total kurkumin dan pembawa.

I. Hipotesis

Berdasarkan landasan teori, dapat dihipotesiskan bahwa proporsi drug load berpengaruh terhadap peningkatan disolusiefisiensi kurkumin ekstrak temulawak dalam HPMC dengan spray drying,dimana semakin kecil proporsi drug load diperkirakan semakin besardisolusiefisiensikurkuminekstrak temulawak.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental karena adanya

B. Variabel dan Definisi Operasional 1. Variabel a

  Drug load adalah kurkumin yang terkandung dalam keseluruhan total antara pembawa (HPMC) dan ekstrak temulawak. Spray drying adalah metode yang digunakan untuk mengeringkan dengan cara bahan yang ingin dikeringkan, diubah ke dalam bentuk butiran-butiranair dengan cara diuapkan menggunakan atomizer.

C. Bahan Penelitian

  Pembuatan campuran fisik Campuran fisik dibuat dengan mencampurkan serbuk ekstrak ekstrak temulawak dan HPMC, yang masing-masing telah diayak sebelumnyadenganayakan no. Jumlah serbuk ekstrak temulawak dan HPMC yang dicampurkan dihitung berdasarkan jumlah dispersi padat yang diperolehtiapreplikasinya.

3. Uji disolusi

  Uji disolusi dilakukan dengan mendisolusikan dispersi padat dan campuran fisik ke dalam medium disolusi, yaitu Buffer Phosphat pH 6. Cuplikan yang telah diambil kemudian disaring dan di ekstraksi dengan etil asetat dan dianalisis kadarnya dengan KLT-Densitometri.

F. Penetapan kadar kurkumin dalam Cuplikan disolusi Ekstrak Temulawak dengan TLC-Densitometri

  Seri larutan baku konsentrasi 50 g/ml, 200 g/ml, dan 350 g/ml masing-masing ditotolkan dengan volume penotolan 1 µ L pada plat KLT dengan fasediam silika gel GF 60 dan setelah kering dikembangkan dalam bejanakromatografiyang telah dijenuhi dengan fase gerak. Seri larutan baku konsentrasi 50 g/ml, 100 g/ml, 150 g/ml, 200 g/ml,250 g/ml, 300 g/ml, dan 350 g/ml.masing-masing ditotolkan denganvolume penotolan 1 µL pada plat KLT dengan fase diam silika gel G 60 dan setelah kering dikembangkan dalam bejana kromatografi yang telah dijenuhidengan fase gerak.

G. Analisis statistik penetapan kadar kurkumin terlarut dan Disolusi Efisiensi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pembuatan Dispersi Padat Dispersi padat isolat ekstrak temulawak - HPMC E-15 dibuat dengan

  mencampurkan ekstrak temulawak dengan HPMC E-15 sesuai dengan proporsi drug load yang tertera dalam tabel II. Serbuk isolat ekstrak temulawak yang digunakan dalam penelitian ini adalah serbuk ektrak rimpang temulawak yang berasal dari PT Phytochemindo Reksa memiliki kandungan kurkuminoidsebanyak 15 %, kemudian dianalisis dengan menggunakan KLT-Densitometri untuk mendapatkan kadar kurkumin dari ekstrak tersebut.

B. Pembuatan Campuran Fisik

  Campuran fisik dibuat dengan cara mencampur isolat temulawak denganHPMC E-15 secara manual dalam mortir sampai homogen. Perhitungan jumlah campuran isolat temulawak dengan HPMC E-15 dalam campuran fisik sama Hasil disolusi dari campuran fisik akan dibandingkan dengan dispersi padat.

C. Pembuatan Fase Gerak

D. Pembuatan Larutan Baku

  Pembuatan fase gerak pada penelitian ini menggunakan fase gerak yang diperoleh dari penelitian Martono (1996) yaitu kloroform : etanol : aquadest(25:0,96:0,004). Pemilihan fase gerak sangat penting karena hal ini dapat mempengaruhi waktu retensi dan komponen-komponen dalam sampel yang akandianalisis akan terpisah secara optimal.

E. Penetapan Panjang Gelombang Maksimum Kurkumin

  Penggunaan 3 seri konsentrasi ini bertujuanuntuk melihat apakah pada konsentrasi yang dianggap mewakili seluruh konsentrasi pada seri baku ini dihasilkan spektrum serapanmaksimum yang sama. Konsentrasi yang digunakan merupakan konsentrasi rendah,sedang, dan tinggi dari konsentrasi seri baku, yaitu 50 g/ml, 200 g/ml, dan 350 g/ml.

1. Selektivitas

  Cara menganalisis hasil dari parameter spesifisitas pada metode validasi penetapan kadar kurkumin dalam temulawak dalam penelitian ini adalah denganmembandingkan data Rfdari baku dan data Rfdari sampel dalam campuran pada kondisi yang sama. Parameter lain dari selektivitas adalah resolusi, dimana Linearitas Linearitas suatu metode analitik adalah kemampuannya untuk memperoleh hasil uji yang proporsional dengan konsentrasi analit pada sampelyang dinyatakan dengan koefisien korelasi (r), dimana nilai r ini menunjukkan korelasi hubungan antara konsentrasi dengan respon pengukuran, dalam hal iniAUC.

3. Akurasi

  Data % recoverypada 3 konsentrasi yang berbedaKadar % Recovery Rata kurkumin RataReplikasi Replikasi Replikasi Replikasi Replikasi ( g/ml) I II III IV V 50 99,1 101,26 101,2 99,97 99,49 100,21200 101,25 100,64 99,36 101,78 101,57 100,92 350 98,57 101,38 99,32 99,01 99,03 99,46 Berdasarkan hasil yang diperoleh, nilai recovery yang masuk pada rentang 98-102% adalah konsentrasi level rendah hingga tinggi. Oleh karena itu,metode ini dikatakan memiliki akurasi yang baik pada kadar 50 g/ml dan 350 g/ml, sehingga dapat digunakan untuk menetapkan kadar kurkumin pada leveltersebut.

4. Presisi

  Data Coefficient of Variation (CV) Kadar kurkumin pada 3 konsentrasi yang berbedaKadar StdRata-rata CV (%) kurkumin Deviation( g/ml) 50 0,49 50,104 0,98 200 1,94 201,842 0,96 350 3,86 348,114 1,11Dari hasil perhitungan data yang diperoleh, nilai CV pada konsentrasi 50 g/ml, 200 g/ml, dan 350 g/ml kurang dari 2 %. Oleh karena itu, metodepenetapan kadar kurkumin ini dikatakan memiliki presisi yang baik, sehingga penetapan kadar kurkumin pada level konsentrasi tersebut menggunakan metodeini akan memberikan kedekatan hasil pengukuran.

5. Range

  Range merupakan interval antara konsentrasi analit pada level bawah dan level atas dalam suatu sampel, yang masih memenuhi parameter linearitas, akurasi, dan presisi. Range ini menunjukkan area analisis yang memenuhi parameter linearitas, akurasi, dan presisi.

H. Penentuan Akurasi dan Presisi Baku Kurkumin dalam Sampel

  Penentuan akurasi dan presisi baku kurkumin dalam sampel dilakukan dengan menambahkan baku kurkumin ke dalam matriks sampel. Recovery dan CV baku kurkumin dalam matriks sampelRep % CV (%) Recovery 1 98.72 2 103.073 104.01 2.74 4 97.86 5 99.37 Kadar baku yang ditambahkan pada sampel adalah 90 g/ml, maka nilai recovery yang dapat diterima yaitu 95-105% dan nilai nilai CV adalah 5% (Harmita, 2004).

I. Uji Disolusi

  Jadi kurkumin yang diformulasikan dalam dispersi padat akan lebih mudah melarut dalam mediumdisolusi dibandingkandengan kurkumin yang diformulasikan dalam serbuk campuran fisik karena dalam serbuk campuran fisikkurkumin masih berada dalambentuk kristal(Leuner dan Dressman, 2000). Hal ini dikarenakan semakin kecil proporsi drug load maka jumlahpembawa yang adadalam sistem lebih banyak jika dibandingkan denganjumlah pembawa yang terkandung dalam sistem dispersi padat dengan proporsi drug load yang besar,sehingga sistem dispersi padat dengan proporsi drug load yang kecilakan menghasilkan disolusi yang lebih tinggi.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa ada

B. Saran 1

  pengaruh proporsi drugload terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak dalam HPMC. Dispersi padat dengan drug load 2,4 %memberikan Efisiensi Disolusi yang lebih tinggi daripada pada drug load 4 % dan 6 %, dan dari uji disolusi diperoleh bahwa disolusi kurkumin meningkat seiringdengan meningkatnya jumlah HPMC E-15 dalam dispersi padat.

2. Perlu dilakukan uji bioavailibilitas

DAFTAR PUSTAKA

  Formula 1 ( 1 : 1 )Ekstrak temulawak Wadah kosong = 0,210 gWadah + isi = 5,212 gWadah + sisa = 0,210 gEkstrak temulawak = 5,002 g HPMCWadah kosong = 0,310 gWadah + isi = 5,314 gWadah + sisa = 0,311 gEkstrak temulawak = 5,003 gDrug load = 12% � 5,0025,003 +5,002 = 6 % b. R = 0.999 500010000 1500020000 2500030000 50 100 150 200 250 300 350 400 A U C konsentrasi (µg/ml) AUC vs konsentrasi Replikasi Replikasi Replikasi Replikasi Replikasi kurkumin I II III IV V 50 2643 2723,4 2721,5 2675,4 2657,5200 14067,4 13975,3 13784,8 14145,7 14114 350 24710,2 25443,6 24906,6 24823,5 24829,6 Contoh perhitungan recoveryBobot kurkumin hasil penimbangan = 0,0050 g = 50,0 mg Kadar stok kurkumin = 50 mg / 25 ml = 2 mg / ml = 2000 g/mlKadar rendah = C1.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh rasio polivinil pirolidon K30 / Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap disolusi kurkumin.
2
7
60
Pengaruh rasio poloxamer 407/Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) terhadap disolusi kurkumin.
0
2
64
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) dengan spray drying.
2
6
96
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Hydroxypropyl Methycellulose (HPMC) dengan spray drying.
0
2
87
Pengaruh rasio polivinil pirolidon K30 Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap disolusi kurkumin
1
2
58
Pengaruh rasio poloxamer 407 Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) terhadap disolusi kurkumin
2
2
62
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam polivinil pirolidon dengan vaccum rotary evaporator.
1
3
90
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) dengan spray drying
0
2
94
Pembuatan Micropowder Kurkumin yang Mudah Dikonsumsi dari Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb).
0
0
2
Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat spray dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma donestica C 95)-HPMC E-5 - USD Repository
0
2
118
Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat spray dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15 - USD Repository
0
0
89
Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat spray dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-PVP K-25 - USD Repository
0
1
102
Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat vacuum dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-Gom Guar - USD Repository
0
0
99
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam polivinil pirolidon dengan vaccum rotary evaporator - USD Repository
0
0
88
Perbedaan Drug Load dalam dispersi padat ekstrak kunyit-Poloxamer407 terhadap Disolusi Kurkumin : metode penguapan pelarut menggunakan Spray Dryer - USD Repository
0
0
58
Show more