Penerapan teori konstruktivisme dalam pembelajaran pokok bahasan getaran untuk siswa kelas 2 SMP Pangudi Luhur 1 Kalibawang - USD Repository

137 

Full text

(1)

PENERAPAN TEORI KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN POKOK BAHASAN GETARAN UNTUK SISWA KELAS 2

SMP PANGUDI LUHUR 1 KALIBAWANG

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Program Studi Pendidikan Fisika

Oleh :

Heribertus Setyawan 011424001

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 28 Agustus 2008

Heribertus Setyawan Penulis,

(5)

ABSTRAK

PENERAPAN TEORI KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN POKOK BAHASAN GETARAN UNTUK SISWA KELAS 2

SMP PANGUDI LUHUR 1 KALIBAWANG

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Pangudi Luhur 1 Kalibawang dengan partisipan siswa kelas 2a SMP tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan teori konstruktivisme dalam pembelajaran pokok bahasan getaran dan meningkatkan pemahaman siswa tentang getaran.

Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Instrumen yang digunakan adalah tes tertulis, wawancara. Tes tertulis dan wawancara digunakan untuk mengetahui pemahaman awal siswa. Pemahaman awal siswa akan digunakan untuk membuat desain pembelajaran.

Pembelajaran ini dimulai dari tahap orientasi, yaitu siswa kelas 2a Smp Pangudi Luhur 1 Kalibawang sejumlah 30 anak, kemudian tahap elisitasi gagasan, yaitu pretes, kemudian tahap klarifikasi yaitu wawancara, kemudian tahap dihadapkan pada situasi konflik yaitu percobaan, kemudian tahap evaluasi, yaitu siswa menulis pengertian getaran, periode, frekuensi, amplitudo, kemudian tahap aplikasi gagasan, yaitu siswa melakukan eksperimen, kemudian tahap review perubahan dalam gagasan, yaitu postes dan wawancara, sampai tahap membandingkan dengan elisitasi gagasan, yaitu dengan T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata - rata siswa mengalami peningkatan pemahaman.

(6)

ABSTRACT

APPLICATION CONSTRUCTIVISM THEORY IN TEACHING OF VIBRATION FOR 2nd CLASS STUDENTS AT SMP PANGUDI LUHUR I

KALIBAWANG.

This reseach was carried out at SMP Pangudi Luhur 1 Kalibawang. The participants was 2nd class students at the school . The aim of this research was to study the application of constructivism theory in theacing of vibration and to improve the students understanding about vibration.

Data were collected by using writen test and interview. The data collected from pre-test was used as a basic to design teaching and learning activities.

This teaching start at orientation, then elisitation pretest, then clarification, then towarded in conflic situation step, for example trial, then aplication concept step, for example students does experiment, then change review in concept, for example postes and interview, till compare with elisitation concept step, for example T-Test. Research resulted show that average understanding students is rissing up.

(7)

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Heribertus Setyawan

Nomor Mahasiswa : 011424001

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

Penerapan Teori Konstruktivisme Dalam Pembelajaran Pokok Bahasan Getaran Untuk Siswa Kelas 2 SMP Pangudi Luhur 1 Kalibawang

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, me-ngalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 28 Agustus 2008

(Heribertus Setyawan) Yang menyatakan

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatnya sehingga skripsi yang berjudul “Penerapan teori Konstruktivisme dalam pembelajaran pokok bahasan getaran di SMP Pangudi Luhur 1 Kalibawang” sebagai syarat untuk mendapatkan gelar S1 pendidikan fisika, telah selesai dilaksanakan.

Dalam menyusun skripsi, peneliti menemukan banyak kesulitan yang dialami, dan penulis mendapat dorongan dari berbagai pihak yang telah membantunya berupa bimbingan, dorongan materi, dorongan spirituil. Peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada orang – orang yang membantunya yaitu :

1. Br Aloysius Supardji, FIC selaku Kepala Sekolah SMP Pangudi Luhur 1 Kalibawang.

2. Bapak Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph.D selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing, membantu dan mengarahkan sampai penyusunan skripsi ini. 3. Ibu Y Indah Kurniati, S.Pd selaku wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum. 4. Bapak Yohanes Dedi Setyawan, S.Pd selaku guru matematika yang telah

membantu dalam mengatur waktu untuk pengambilan data skripsi.

5. Bapak ibu guru SMP Pangudi Luhur yang telah membantu demi terlaksananya penelitian yang tidak bisa saya sebutan satu persatu.

6. Bapak (alm) FX Basirun yang selalu sabar dalam membimbing aku sewaktu masih ada.

7. Ibu Th Sutiyem yang selalu sabar dalam mendidik aku.

8. Adikku Yasinta Yekti Utami atas komunikasinya dan dorongannya

(9)

9. Novi, Mbak desi atas bantuan, dukungan dan saran. 10.Eny, atas semangatnya.

11.Anton atas titipan data di komputer. 12.Gembong atas nasihatnya dan doanya.

13.Andri, Sopyan, Oka, terima kasih atas tumpangan kontrakannya.

14.Pram, nunung, ferdinan atas kebersamaan selama di kost cansas grandes. 15.Kristian atas dorongannya.

16.Hari atas bantuan kesana kemari dan ngeprintnya 17.Deny, oma, hira, atas perjuangan selama di pfis ini. 18.Tyas, sapto, hari, desi atas sekelompok bimbingannya.

19.Anakku SMP PANGUDILUHUR 1 KALIBAWANG. Atas bantuannya. Peneliti menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyelesaian skripsi ini sehingga segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini memberikan manfaat bagi pembaca pada khususnya serta ilmu pengetahuan pada umumnya.

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv

ABSTRAK ... v

ABSTRACT... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI... x

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR TABEL... xvii

DAFTAR LAMPIRAN... xviii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Tinjauan Pustaka ... 2

1. Filsafat konstruktivisme ... 2

2. Asal Usul konstruktivisme ... 2

3. Hakekat Pengetahuan ... 3

4. Realitas dan Kebenaran ... 4

5. Hal yang membatasi Konstruksi Pengetahuan... 5

(11)

6. Faktor yang memungkinkan perubahan pengetahuan ... 5

7. Hubungan Konstruktivisme dengan Teori Belajar... 5

8. Teori belajar bermakna Ausubel ... 5

9. Metode Eksperimen ... 7

10. Definisi Penelitian Eksperimen ... 7

11. Karakteristik Penelitian Eksperimen ... 8

12. Pembelajaran Eksperimen yang konstruktivis ... 9

13. Wawancara / interview... 12

14. Observasi ... 13

15. Quesioner / angket ... 13

16. Short Answer Test ... 14

a) Ragam Benar salah ... 14

b) Mengisi Titik Titik ... 15

17. Konstruktivisme dalam kelas ... 15

18. Strategi mengajar untuk perubahan konseptual ... 16

19. Menangani pluralisme dalam kelas ... 18

20. Peranan guru dan pelajar dalam pembelajaran konstruktivisme ... 20

a. Peranan guru ... 20

b. Peranan pelajar ... 21

21. Pembelajaran ... 21

22. Getaran ... 22

a Periode ... 22

b Apakah Periode bergantung pada Amplitudo ... 22

(12)

c Frekuensi ... 23

d Simpangan ... 23

e Gaya pemulih ... 23

C. Perumusan Masalah... 24

D. Tujuan Penelitian ... 24

E. Kegunaan Penelitian ... 24

BAB II. METODOLOGI PENELITIAN... 25

A. Jenis Penelitian... 25

B. Waktu dan Tempat penelitian ... 25

C. Subyek Penelitian... 26

D. Metode Pengumpulan Data ... 26

E. Instrumen Penelitian ... 27

F. Rancangan Pembelajaran ... 29

G. Desain Penelitian ... 29

H. Metode Analisis Data ... 30

1. Analisis Tes Tertulis ... 30

2. Analisis wawancara ... 34

BAB III. DATA DAN PEMBAHASAN ... 35

A. Pelaksanaan Penelitian ... 35

B. Data dan Pembahasan ... 35

1. Tabel data pretes ... 36

2. Pemilihan siswa untuk wawancara pertama ... 38

3. Analisis hasil pretes ... 40

(13)

4. Rangkuman pemahaman awal siswa ... 53

5. Desain Pembelajaran ... 54

6. Pemilihan siswa untuk wawancara kedua ... 61

7. Data dan analisis postes ... 63

8. Rangkuman postes ... 80

9.Analisis T-Tes ... 81

10. Rangkuman analisis T-Tes... 84

11. Rangkuman pembahasan ... 84

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN ... 85

A. Kesimpulan ... 85

B. Saran ... 86

DAFTAR PUSTAKA ... 87

LAMPIRAN... 89

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Struktur umum mengajar ... 16

Gambar 2. Mistar getar ... 22

Gambar 3. Gaya pada ayunan ... 22

Gambar 4. Pendulum sederhana... 22

Gambar 5. Massa bergetar di ujung pegas ... 23

Gambar 6. (a) Pegas tanpa beban; (b) dan (e) pegas pada titik keseimbangan; (c) = (d) pegas pada simpangan terjauh; (f) = (g) pegas pada kedudukan di atas titik keseimbangan... 23

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Contoh perhitungan jumlah skor ... 31

Tabel 2. Tingkat pemahaman siswa ... 32

Tabel 3. Nilai akhir pretes siswa ... 36

Tabel 4. Total skor, jumlah bobot skor dan persentase jumlah bobot skor dari pretes ... 37

Tabel 5. Nilai akhir postes siswa ... 63

Tabel 6. Total skor, jumlah bobot skor dan persentase jumlah bobot skor dari postes ... 67

Tabel 7. T-Test untuk untuk penghitungan manual ... 81

Tabel 8. Paired Samples Statistics ... 82

Tabel 9. Paired Samples Correlations ... 82

Tabel 10. Paired samples Test... 83

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Wawancara dengan siswa nomor absen 2 ... 89

Lampiran 2. Wawancara dengan siswa nomor absen 13 ... 91

Lampiran 3. Wawancara dengan siswa nomor absen 15 ... 93

Lampiran 4. Wawancara dengan siswa nomor absen 16 ... 95

Lampiran 5. Wawancara dengan siswa nomor absen 19 ... 97

Lampiran 6. Wawancara dengan siswa nomor absen 20 ... 99

Lampiran 7. Lembar observasi selama pembelajaran ... 101

Lampiran 8. Kelompok pembelajaran ... 102

Lampiran 9. Lembar angket setelah pembelajaran ... 103

Lampiran 10. Lembar wawancara dengan siswa nomor absen 2... 105

Lampiran 11. Lembar wawancara dengan siswa nomor absen 13... 106

Lampiran 12. Lembar wawancara dengan siswa nomor absen 15... 108

Lampiran 13. Lembar wawancara dengan siswa nomor absen 16... 109

Lampiran 14. Lembar wawancara dengan siswa nomor absen 19... 111

Lampiran 15. Lembar wawancara dengan siswa nomor absen 19... 113

Lampiran 16. Tabel T-Test ... 115

Lampiran 17 Soal pretes dan postes ... 116

Lampiran 18 Jawaban tes ... 118

Lampiran 19 Jawaban siswa setelah pembelajaran ... 119

Lampiran 20 Surat keterangan dari Sekolah ... 120

(17)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kurikulum saat ini yang sedang digunakan adalah kurikulum tingkat satuan pelajaran (KTSP).Saat penelitian, kurikulum yang dipakai adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang mana siswa diajak untuk menjadi subyek dalam belajar, tidak lagi menjadi obyek. Subyek sendiri mempunyai arti yang melakukan bukan yang dikenai, yang artinya siswa harus aktif. Kata atau istilah mengajar sekarang berubah menjadi pembelajaran. Pembelajaran mengkaitkan proses belajar mengajar yang 2 arah, dari guru ke murid dan sebaliknya. Pembelajaran itu akan melibatkan guru murid dan pengetahuan, dalam membuat pengetahuan agar dapat dipahami oleh siswa tersebut ada banyak macam cara yang dilakukan atau ada banyak metode yang dilakukan.

Antara lain diantaranya adalah dengan cara metode pembentukan

Pengetahuan merupakan suatu proses pembentukan, maka apa yang baru adalah cara fakta – fakta itu dikonstruksikan atau diorganisasikan. Maka pengetahuan

merupakan suatu bentukan dari seseorang yang mempelajarinya. Pengetahuan tidak ada “di sana“ dan tinggal diambil. Orang harus menciptakannya sendiri dalam pikirannya. Dunia pendidikan sains dan matematika telah menunjukkan pergeseran, yaitu lebih menekankan proses belajar mengajar dan metode penelitian yang menitik beratkan konsep bahwa “dalam belajar seseorang mengkonstruksi pengetahuannya”. Salah satu mengonstruksi pengetahuannya adalah dengan belajar. Belajar adalah kegiatan aktif siswa, proses aktif ini adalah proses membuat segala sesuatu masuk akal.

(18)

Untuk dapat membuat masuk akal pengetahuan dalam diri siswa perlu metode yang tepat, karena di dalam diri siswa sudah terbentuk pengetahuan yang ada. Dengan pengetahuan yang ada tersebut akan digabungkan dengan pengetahuan yang baru dan akan terbentuk (terkonstruksi) dalam akal siswa.

Maka dari itu penulis ingin sekali menerapkan teori konstruktivisme dalam pembelajaran pokok bahasan getaran untuk siswa kelas 2 SMP PANGUDI LUHUR 1 kalibawang.

B. Tinjauan Pustaka

1 Filsafat Konstruktivisme

Menurut Driver dan Bell (dalam Suparno, 2006 : 17), ilmu pengetahuan bukanlah hanya kumpulan hukum atau daftar fakta. Ilmu pengetahuan, terutama sains adalah ciptaan pikiran manusia dengan semua gagasan dan konsepnya yang ditemukan secara bebas (Suparno, 2006 : 17). Menurut Einstein dan Ninfeld (dalam Suparno, 2006 : 17), konsep atau teori tidak menuruti pengamatan induktif yang sederhana. Hal ini terbukti dengan adanya banyak siswa yang mengalami kesulitan untuk mengabstraksikan kenyataan – kenyataan yang mereka peroleh dari percobaan – percobaan mereka. Abstraksi dan teorisasi itu melalui proses penemuan yang imaginatif (Suparno, : 2006 : 18), tidak cukup hanya dengan mengamati objek yang ada. Ada dua yang berbeda yaitu dunia kenyataan dan dunia pengertian. Untuk menjembataninya dibutuhkan proses konstruksi imaginatif.

2 Asal usul konstruktivisme

(19)

diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget. Namun, bila ditelusuri lebih jauh, gagasan pokok konstruktivisme sebenarnya sudah dimulai oleh Giambatissta Vico, seorang epistemology dari Italia, dialah cikal bakal konstruktivisme.

Pada tahun 1710, Vico dalam De antiquissima Italorum dalam (Suparno, 2006 : 24),mengungkapkan filsafatnya dengan berkata, “Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan.” Dia menjelaskan bahwa “mengetahui” berarti “mengetahui bagaimana membuat sesuatu.” Ini berarti bahwa seseorang itu baru mengetahui sesuatu jika ia dapat menjelaskan unsur – unsur apa yang membangun sesuatu itu. Menurutnya juga hanya Tuhan sajalah yang dapat mengerti alam raya ini karena hanya Dia yang tahu bagaimana membuatnya dan dari apa Ia membuatnya. Sementara itu orang hanya dapat mengetahui sesuatu yang telah dikonstruksikannya.

Menurut Von Glasersfeld (dalam Suparno, 2006 : 24), pengetahuan selalu menunjuk kepada struktur konsep yang dibentuk. Ini berbeda dengan kaum empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan itu harus menunjuk kepada dunia luar. Menurut Vico (dalam Suparno, 2006 : 24), pengetahuan tidak lepas dari orang (subyek) yang tahu. Pengetahuan merupakan struktur konsep dari pengamat yang berlaku.

3 Hakikat pengetahuan

(20)

selalu merupakan akibat dari konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang. Seseorang membentuk skema, kategori, konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan untuk pengetahuan (Suparno, 2006 : 18). Maka pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamat tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman atau dunia sejauh dialaminya. Proses pembentukan ini berjalan terus menerus dengan setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru Piaget (dalam Suparno, 2006 : 18)

4 Realitas dan Kebenaran

(21)

5 Hal yang membatasi konstruksi pengetahuan

Menurut Battencourt (dalam Suparno, 2006 : 22), menyebutkan hal yang dapat membatasi proses konstruksi pengetahuan manusia, antara lain (1) konstruksi kita yang lama, (2) domain pengalaman kita, dan (3) jaringan struktur kognitif kita. 6 Faktor yang memungkinkan perubahan pengetahuan

Menurut Battencourt (dalam Suparno, 2006 : 23), menyebutkan beberapa situasi atau konteks yang membantu perubahan, yaitu (1) konteks tindakan, (2) konteks membuat masuk akal, (3) konteks penjelasan, dan (4) konteks pembenaran (justifikasi)

7 Hubungan Konstruktivisme dengan Teori belajar

Secara garis besar prinsip – prinsip konstruktivisme yang diambil adalah (1) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun sosial, (2) pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar, (3) murid aktif mengkonstruksi terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah, guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus. Inti teori ini berkaitan dengan beberapa teori belajar seperti teori perubahan konsep, teori belajar bermakna Ausubel, dan teori skema.

8 Teori belajar bermakna Ausubel

(22)

dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Ini terjadi melalui belajar konsep, dan perubahan konsep yang telah ada, yang akan mengakibatkan pertumbuhan dan perubahan struktur konsep yang telah dipunyai siswa. Ada beberapa cara untuk mengetahui latar belakang pengetahuan siswa, antara lain yaitu dengan pretes, diskusi atau melalui pertanyaan – pertanyaan (Sulaeman, 1988 :199).

Teori belajar bermakna Ausubel ini sangat dekat dengan inti pokok konstruktivisme. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru ke dalam konsep atau pengertian yang sudah dipunyai siswa. Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif (siswa dapat aktif bekerja dan berpikir untuk menemukan jawaban dari masalah yang ada)

(23)

9 Metode eksperimen

Seperti halnya dengan metode demonstrasi, metode eksperimen dapat dilakukan oleh guru dan dapat pula dikerjakan oleh murid. Metode ini merupakan metode yang mengikuti cara – cara berfikir ilmiah karena dilakukan dengan melalui jenjang – jenjang kegiatan yang sudah dipersiapkan sebelumnya di dalam mencoba mengetahui atau membuktikan sesuatu. Metode ini sebenarnya juga merupakan metode yang mengikuti cara – cara ilmiah yang ditempuh manusia dalam penjelajahan untuk memahami dunia (Djajadisastra, 1983 : 9). Metode eksperiman sangat baik untuk digunakan sebagai suatu alat guna memberikan pengertian yang tepat mengenai suatu proses atau kejadian (Djajadisastra, 1983 : 9). Kita disini juga bisa melihat perbedaannya dengan praktikum. Praktikum adalah pekerjaan – pekerjaan dengan menggunakan alat – alat sains untuk keperluan tertentu, misalnya latihan mengukur tahanan suatu penghantar, latihan mempergunakan mikroskop untuk melihat benda – benda kecil (Winarni, 1995 :28).

10 Definisi penelitian eksperimen

Penelitian eksperimen adalah penelitian di mana ada perlakuan (treatment) terhadap variable indipenden. Penelitian eksperimen dapat memberikan penjelasan tentang “alasan mengapa.” Hubungan sebab – akibat bisa diketahui oleh karena peneliti dimungkinkan untuk melakukan perlakuan (treatment) terhadap obyek penelitian (Kountour, 2003 : 116).

(24)

harus dialami sendiri, dicari dan ditemukan sendiri data dan pemecahannya. Pada metode eksperimen murid dituntut untuk menganalisa suatu proses. Jika pada metode demonstrasi murid cukup dengan mengamati saja, maka pada metode eksperimen murid harus meneliti sendiri, mengalami kegiatan itu sendiri, menganalisa dan mengambil kesimpulan sendiri. Eksperimen sendiri memiliki karakteristik.

11 Karakteristik penelitian eksperimen

Penellitian eksperimen mempunyai beberapa karakteristik yaitu: (1) ada perlakuan, (2) memiliki tiga jenis variable, dan (3) randomisasi (Kountour, 2003 : 117).

Jenis – jenis variabel eksperimen a. Variabel indipenden

Variabel indipenden adalah variabel perlakuan. Peneliti memanipulasi variabel indipenden untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada variabel dipenden. Variabel indipenden menyebabkan perubahan pada variabel dipenden. Menurut (Zuriah, 2006 : 64 ) variabel indipenden disebut juga dengan variabel bebas. Terbukti dengan pengertian Variabel bebas adalah kondisi yang oleh pengeksperimen dimanipulasikan untuk menerangkan hubungannya dengan fenomena yang diobservasi

b. Variabel dipenden.

(25)

c. Confounding variable.

Seperti apa yang telah disebutkan sebelumnya, confounding variabel adalah variabel yang tidak diharapkan mempengaruhi variabel indipenden tetapi dapat mempengaruhi variabel dipenden. Itu sebabnya counfounding variable perlu dikendalikan sehingga dapat diketahui apakah benar – benar variabel dipenden dipengaruhi oleh variabel indipenden.

12. Pembelajaran eksperimen yang konstruktivis

Kadang ada orang yang menganggap bahwa konstruktivisme sama dengan teori pencarian sendiri (inquiri approach) dalam belajar. Sebenarnya, kalau kita lihat secara teliti, kedua teori ini tidak sama. Memang dalam banyak hal mereka punya kesamaan, seperti penekanan pada keaktifan siswa untuk menemukan sesuatu hal. Dapat terjadi bahwa metode mencari sendiri memang merupakan metode konstruktivisme tetapi tidak semua konstruktivisme dengan metode pencarian sendiri (Suparno, 2006 : 82).

Metode penemuan adalah metode yang dirancang sedemikain rupa sehingga dalam kegiatan belajar mengajar siswa dapat menemukan konsep – konsep dan prinsip – prinsip melalui proses mentalnya sendiri (Winarni, 2005 : 26).

(26)

Sesuai menurut (Suparno, 2006 : 71), dalam aliran konstruktivisme, guru bukanlah seorang yang mahatau dan murid bukanlah yang belum tahu dan kerena itu harus diberi tahu. Dalam proses belajar, murid aktif mencari tahu dengan membentuk pengetahuannya, sedangkan guru membantu agar pencarian itu berjalan baik. Dalam banyak hal guru dan murid bersama – sama membangun pengetahuan. Dalam artian inilah hubungan guru dan murid lebih sebagai mitra yang bersama – sama membangun pengetahuannya. Dalam eksperimen, siswa membangun pengertian tentang apa sajakah variabel yang ada dalam konteks eksperimen, apa tujuan dari eksperimen, apa saja alatnya, bagaimana caranya, ada berapa eksperimen yang akan dilakukan. Dalam hal ini siswa akan lebih berpikir. Guru konstruktivis tidak pernah membenarkan ajarannya dengan mengklaim bahwa “ini satu – satunya yang benar ”, karena murid harus membangun sendiri pengetahuan mereka, seorang guru harus melihat mereka bukan sebagai lembaran kertas putih kosong atau tabula rasa. Adapun yang dikatakan seorang murid dalam menjawab suatu persoalan adalah jawaban yang masuk akal bagi mereka pada saai itu. Ini perlu ditanggapi serius, apa pun “salah” mereka seperti yang dilihat guru. Bagi murid, dinilai salah merupakan suatu yang mengecewakan dan mengganggu.

Kegiatan siswa dalam (Winarni, 1995 :30) antara lain :

i) Siswa berlatih mengenali masalah. Dalam hal ini siswa dilatih untuk mengetahui apa yang akan dilakukan.

(27)

iii) Siswa diberi kesempatan untuk bekerja sendiri. Dalam hal ini siswa dilatih untuk bekerja sendiri atau belajar secara aktif.

iv) Siswa mempersiapkan alat apa saja yang akan digunakan

v) Siswa menentukan variabel – variabel apa saja yang terkait, variabel kontrol, variabel dipenden atau variabel indipenden

vi) Siswa menentukan variabel mana yang saling mempengaruhi vii)Siswa menentukan variabel mana yang akan di cari

viii) Siswa menetapkan tujuan eksperimen

Dalam pembelajaran, untuk dapat mengerti apakah ada periode bergantung pada panjang tali dan tidak bergantung pada massa dan amplitudo, maka dibuatlah pertanyaan – pertanyaan

a. Bagaimana pengaruh ini harus diukur ? b. Karakteristik apa yang harus dianalisis ?

c. Faktor – faktor apa sajakah yang mempengaruhi karakteristik yang harus dianalisis tersebut ?

d. Faktor – faktor manakah yang penting untuk dianalisis ? e. Berapa besar pengaruh yang dianggap penting ?

f. Perlukan eksperimen control diambil untuk dijadikan perbandingan ? g. Bagaimana eksperimen harus dilakukan ?

h. Apa tujuan eksperimen ini ?

(28)

kepada murid bahwa yang mereka pikirkan itu tidak cocok atau tidak sesuai untuk persoalan yang dihadapi. Guru konstruktivis tidak menekankan kebenaran, tetapi berhasilnya suatu operasi. Tidak ada gunanya mengatakan murid itu salah karena hanya merendahkan motivasi belajar (Suparno, 2006 :71).

Evaluasi meliputi semua aspek dari penentuan batas – batas hasil belajar, sedangkan ukuran hanya terbatas kepada aspek – aspek penilaian yang lebih bersifat tepat serta kuantitatif (Witherington, 1982 : 141) evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang getaran.

13. Wawancara / interview

(29)

bila masalah yang kita hadapi masih samar – samar bagi kita karena belum pernah diselidiki secara mendalam oleh orang. Wawancara ini menanyakan tentang getaran, pengertian getaran, periode, frekuensi, amplitudo, dan hubungan antara periode terhadap massa, periode terhadap panjang tali, periode terhadap amplitudo.

14. Observasi

Dalam (Winkel , 1987 : 377) menyebutkan bahwa beberapa orang cukup terlatih dalam mengadakan observasi dalam menggunakan suatu alat yang disesuaikan dengan apa yang akan diobservasi, menghadiri proses belajar – mengajar di dalam kelas. Salah satu sistem observasi terencana ialah sistem analisa interaksi verbal yang dikembangkan oleh Ned. A. Fladers dalam bukunya yang berjudul “Analyzing Teacher Behavior”, yang dikenal dengan nama Interaction Analyzis Categories. Salah satu dalam daftar observasi dalam (Winkel , 1987 : 378) adalah untuk mengobservasi keterlibatan siswa apakah siswa itu aktif atau agak pasif. Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kelakuan manusia seperti dalam kenyataan (Nasution, 2003 : 106).

15. Kuesioner / angket

(30)

penelitian dan meminta siswa menguraikan pendapat atau pendiriannya dengan panjang lebar bila diinginkan (Nasution, 2003 : 103).

16. Short Answer Test

Short – answer test adalah sejenis tes yang digunakan oleh sebagian besar sekolah sekolah modern dalam evaluasi, terutama dalam menilai prestasi siswa. Tes ini adalah tes tulisan. Tes ini adalah tes obyektif. Terdiri dari pertanyaan – pertanyaan yang merangsang murid agar memberikan jawaban dari hasil pemilihannya dari berbagai – bagai alternatif hanya dengan mengisikan kata atau ungkapan pendek pada ruang atau tempat yang telah disediakan (Qahar, 1972 : 83) Dalam (Winkel, 1987 : 326) disebutkan tes obyektif, dengan menggunakan soal atau pertanyaan tertutup, biasanya digunakan ragam betul – salah. Ragam betul salah ini merangsang siswa untuk berpikir, sehingga siswa dapat mengungkapkan kembali apa yang didapat dari pembelajaran dengan disertai alasan. Soal ragam betul salah ini di berikan saat awal sebelum pembelajaran dengan tujuan untuk mengetahui apa yang siswa pikirkan tentang getaran dan diberikan setelah pembelajaran dilakukan dengan tujuan diharapkan siswa memahami pengertian tentang pembelajaran. Ragam yang dipakai adalah

a. Ragam Benar Salah

(31)

pengertian getaran, periode, frekuensi, amplitudo, dan hubungan antara periode terhadap massa, periode terhadap panjang tali, periode terhadap amplitudo.

b. Mengisi titik titik

Apabila hanya ada satu kemungkinan jawaban yang benar, bentuk soal yang paling baik ialah melengkapi atau mengisi titik titik.

17.Konstruktivisme dalam kelas

Pluralisme dalam pendidikan dapat ditinjau dari 2 sudut yaitu dari kebiasaan sehari – hari yang merupakan dampak dari sifat pluralistik masyarakat kita dan dari sifat konsepsi anak yang terungkap selama proses belajar mengajar berlangsung. Kedua kenyataan itu dapat memberikan dampak negatif terhadap hasil pendidikan kita, maka perlu dicoba mencari jalan untuk mengurangi dampak itu sampai seminim mungkin, dengan menerapkan konstruktivisme dalam PBM sebagai fenomena wacana (Sindhunata : 2004 :171).

Diantara konsepsi – konsepsi anak ada yang merupakan penghambat dalam belajar. Karena itu konsepsi anak yang demikian sedapat mungkin ditiadakan melalui proses perubahan konseptual.

(32)

Segi kegunaannyalah yang sangat menentukan terjadinya perubahan konseptual. Segi kegunaan merupakan hal yang kompleks dan sulit untuk dicapai ditinjau dari siswa, kegunaan dapat disebabkan oleh faktor – faktor eksternal misalnya macam ujian yang baru ditepuhnya atau internal misalnya apakah gagasan baru itu mempunyai kekuatan kemampuan menerangkan yang lebih unggul bila diterapkan pada fenomena – fenomena lain. Kegunaan internal lebih memungkinkan terjadinya perubahan konseptual

18. Strategi mengajar untuk perubahan konseptual

Ada beberapa strategi mengajar yang dapat digunakan untuk berlangsungnya perubahan konseptual pada siswa dalam kelas. Salah satu streategi yaitu dengan strategi Driver. Driver menyebut modelnya struktur umum urutan mengajar terdiri dari fase – fase utama orientasi, elisitasi, restukturisasi, aplikasi dan review seperti pada gambar dibawah ini

Restrukturisasi gagasan Orientasi

Elisitasi gagasan

Klarifikasi dan pertukaran

Dihadapkan pada situasi konflik

Konstruksi pada gagasan baru

Evaluasi

Aplikasi gagasan Review perubahan dalam gagasan Membandingkan dengan

gagasan sebelumnya

(33)

Orientasi. Murid diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari suatu topic. Murid diberi kesempatan untuk mengadakan observasi terhadap topic yang hendak dipelajari. Elisitasi : Murid dibantu untuk mengungkapkan idenya secara jelas dengan berdiskusi, menulis.

Inti dari struktur ini terletak pada fase restrukturisasi. Kondisi – kondisi yang harus dipenuhi agar perubahan konseptual terjadi, tampak dalam model Driver ini ketidak puasan siswa akan gagasan yang dimilikinya terjadi waktu ia dihadapkan pada suatu gagasan baru yang bertentangan dengan gagasan yang dimilikinya, yaitu pada fase dihadapkan pada situasi konflik. Menurut Carey (dalam Suparno, 2006 : 51) menguraikan adanya 2 perubahan konsep yaitu restrukturisasi kuat dan restrukturisasi lemah, dalam rekstrukturisasi kuat seseorang mengubah konsep lama yang telah mereka punyai, sedangkan dalam proses restrukturisasi lemah seseorang tidak mengubah konsep lama mereka, melainkan hanya memperluasnya. Restrukturisasi kuat mirip dengan proses akomodasi sedangkan restrukturisasi lemah mirip dengan asimilasi yang sesuai dengan model ausubel yaitu dari belajar bermakna ausubel.

Penggunaan ide dalam banyak situasi. Ide atau pengetahuan yang telah dibentuk oleh siswa perlu diaplikasikan pada bermacam – macam situasi yang dihadapi. Hal ini akan membuat pengetahuan murid lebih lengkap dan bahkan lebih rinci dengan segala macam pengecualiannya.

(34)

gagasannya entah dengan menambahkan suatu keterangan ataupun mungkin dengan mengubahnya menjadi lebih lengkap.

19. Menangani pluralisme dalam kelas

Model di atas adalah sebagai titik tolak untuk menangani pluralisme yang kita hadapi dalam pendidikan, dengan memperlihatkan peranan guru dan siswa selama PBM berlangsung.

Peranan guru terlihat pada bagaimana ia memilih dan mengendalikan wacana dalam kelas, memberikan dukungan selektif terhadap interpretasi yang dikemukakan siswa, baik mengenai isi interpretasi maupun cara atau sikap memberikan interpretasi. Guru membuat para siswa sadar dan bertanggung jawab atas proses belajar mereka. Dengan penguasaan materi, subyek yang luas dan mendalam, guru lebih mudah mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang meminta para siswa berfikir, dan merangsang mereka mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang berkualitas dalam usaha mengkonstruksi pengetahuan.

(35)

Pendekatan pembelajaran secara konstruktivisme dapat dibagi lima format yaitu (http://planet.time.net.my/KLCC/azm01/teori/Teori_Pembelajaran_Konstruktiv ism.htm) :

a. Penglibatan : Simulasi perasaan ingin tahu pelajar melalui pemberian suatu tugasan, topik atau konsep, memupuk minat dan membangkitkan persoalan. b. Penjelajahan : Adalah bertujuan untuk memuaskan perasaan ingin tahu

melalui penggunaan pendekatan inkuiri untuk menjelajah dan menyiasat, melalui eksperimen, menggalakkan pelajar untuk bekerjasama dan menyoal. c. Penerangan: Pendekatan yang melibatkan definisi konsep dan penyataan.

Pertanyaan tentang penerangan orang lain dan membuat pertimbangan dan penjelasan.

d. Penguraian: Memperdalamkan lagi konsep ke dalam sudut kandungan yang lain. Pelajar akan menghubungkan dan mengkaitkan dan melihat perhubungan sesuatu konsep atau topik dalam sudut kandungan yang lain dan membuat perkiatan dengan konsep/ topik ke dalam situasi dunianya.

(36)

20.Peranan guru dan pelajar dalam pembelajaran konstruktivisme. a. Peranan Guru

Guru memainkan peranan sebagai fasilitator yang akan merancang dan

menekankan aktivitas yang berpusatkan pada pelajar. Guru merupakan pembimbing yang akan membantu pelajar menyedari kerelevanan kurikulum kepada kehidupan mereka. Guru akan mengenal pasti pengetahuan awal siswa dan merancang pengajarannya dengan sifat asas pengetahuan tersebut. Guru juga merupakan pembuat bentuk bahan pengajaran yang menyediakan peluang kepada murid untuk membina pengetahuan baru. Guru sentiasa berfikiran terbuka yang sentiasa menggalakkan pelajar menerangkan ide mereka serta menghargai pandangan mereka.

(37)

b. Peranan Pelajar

Perubahan ke atas peranan pelajar dalam pembelajaran secara konstruktivisme melibatkan sikap bertanggungjawab terhadap pembelajaran mereka sendiri dan boleh menyelesaikan masalah. Pelajar juga perlu mempunyai inisiatif mengemukakan persoalan-persoalan dan isu dan membuat analisis dan menjawab soalan-soalan yang dikemukakan. Perbincangan juga penting dalam membantu pelajar mengubah atau mengukuhkan idea-idea mereka, mengemukakan pendapat dan mendengar idea orang lain dan membina asas pengetahuan yang mereka faham.

Selain itu pelajar perlu menerapkan hipotesis yang telah dibuat dan digalakkan untuk membuat ramalan.

(http://planet.time.net.my/KLCC/azm01/teori/Teori_Pembelajaran_Konstruktivism.ht m)

21.Pembelajaran

(38)

22.Getaran

Getaran adalah gerak bolak balik secara berkala melalui titik keseimbangan (Kanginan, 2004 : 97).

Apabila bagian ujung penggaris di luar tepi meja makin panjang, getarannya akan semakin lambat (Humizar, 2005:86)

a. Periode

Periode adalah selang waktu untuk menempuh satu getaran, satuannya dalam SI adalah sekon (disingkat s).

Massa tali diabaikan. Panjang tali = L

θ

b. Apakah periode bergantung pada amplitudo

A B

C

Gambar 4. Pendulum sederhana

Periode tidak bergantung pada massa dan pada amplitudo tetapi tergantung pada panjang tali. Jika beban ditarik ke satu sisi dan dilepaskan, maka beban akan berayun melalui titik keseimbangan manuju ke sisi yang lain. Jika amplitude ayunan kecil, maka bandul sederhana akan melakukan getaran harmonik (kanginan, 1997: 115)

L

mg sinθ (gaya pemulih)

mg cosθ

θ

mg

(39)

c. Frekuensi

Frekuensi adalah bayaknya getaran yang dilakukan dalam satu sekon; satuannya dalam SI adalah hertz (disingkat Hz). Hubungan antara kedua besaran ini dinyatakan oleh rumus

T = 1/f atau f = 1/T d. Simpangan

Simpangan adalah jarak benda dari titik seimbangnya. Simpangan paling besar disebut amplitudo. Periode getaran ayunan sederhana bergantung pada panjang tali, tetapi tidak bergantung pada massa beban dan amplitudo getaran.

e. Gaya pemulih

Semua pegas memiliki panjang alami dimana pada keadaan ini pegas tidak memberikan gaya pada massa m, dan posisi massa di titik ini disebut posisi setimbang. Jika massa dipindahkan apakah ke kiri, yang menekan pegas atau ke kanan, yang merentangkan pegas, pegas memberikan gaya pada massa, yang bekerja dalam arah mengembalikan massa ke posisi setimbangnya. Oleh sebab itu gaya ini disebut “Gaya pemulih”. Besar gaya pemulih F ternyata berbanding lurus dengan simpangan x dari pegas yang direntangkan atau ditekan dari posisi setimbang (Giancoli, 2001: 365).

m

Gambar 5. Massa bergetar di ujung pegas

w

(40)

Tanda minus menandakan bahwa gaya pemulih selalu mempunyai arah yang berlawanan dengan simpangan x, jika pegas ditekan, x negatif (kekiri) tetapi gaya f bekerja ke arah kanan. F= -kx

Makin besar nilai k, makin besar gaya yang dibutuhkan untuk meregangkan pegas sejauh jarak tertentu sehingga, makin kaku pegas, makin besar konstanta pegas k.

C. Perumusan masalah

Penulis merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Penerapan Teori Konstruktivisme dalam Pembelajaran pokok bahasan getaran yang dilakukan peneliti ?

2. Apakah penerapan Teori Konstruktivisme dalam pembelajaran pokok bahasan getaran dapat meningkatkan pemahaman pemahaman siswa tentang pokok bahasan getaran?

D. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah, maka tujuan penelitian adalah :

1. Untuk mengetahui Penerapan Teori Konstruktivisme dalam Pembelajaran pokok bahasan getaran yang dapat membantu pemahaman Siswa.

2. Untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa dari sebelum dilakukan pembelajaran dan sesudah dilakukan pembelajaran.

E. Kegunaan Penelitian

1. Penelitian ini berguna untuk mengetahui langkah – langkah pembelajaran secara konstruktivis tentang getaran dengan metode eksperimen

(41)

BAB II

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini termasuk penelitian diskriptif kuantitatif / kualitatif termasuk diskriptif kuantitatif karena penelitian ini dilakukan dengan menjelaskan kejadian – kejadian yang sedang berlangsung melalui pengumpulan data yang kemudian data – data itu yang sedang berlangsung melalui pengumpulan data yang kemudian data – data itu diubah dalam bentuk skor kuantitatif. Sedangkan untuk kejelasan adalah dengan alasan yang mereka tuliskan yang ini menjadi kualitatif dari penelitian

Menurut kamus besar ilmu pengetahuan, metode kualitatif adalah metode penelitian yang lebih menitik beratkan mutu dari data yang dikumpulkan ketimbang aspek – aspek kuantitatifnya. Setelah terhimpun, data kualified itu dianalisa agar sasaran penelitian dapat terwujudkan secara mendalam dan memuaskan.

Sedangkan metode kuantitatif, adalah metode penelitian yang lebih mengutamakan aspek – aspek kauntitatif dari data ketimbang aspek – aspek kualitatifnya.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kelas 2 semester 1 tahun ajaran 2006 / 2007 di SMP PANGUDILUHUR 1 Kalibawang, Kulonprogo. Pelaksanaan penelitian ini dimulai tanggal 28 September 2006 sampai 16 November 2006.

(42)

C. Subyek Penelitian

Populasi dari penelitian ini adalah Siswa – Siswi kelas 2 SMP PANGUDILUHUR 1 Kalibawang, Kulonprogo tahun ajaran 2006 / 2007

Sampel penelitian adalah kelas 2a jumlah sampel yang diambil adalah 30 siswa

D. Metode Pengumpulan Data

Data – data yang diperlukan dalam penelitian antara lain data yang berkaitan dengan prestasi siswa dan keterlibatan siswa. Untuk mendapatkan data itu menggunakan (1) tes tertulis (2) angket (3) wawancara atau dialog (4) lembar observasi.

1. Tes tertulis

(43)

2. Wawancara atau dialog

Tujuan dari adanya wawancara atau dialog ini adalah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa dengan cara menanyai tentang soal tes tertulis 1. Siswa juga diwawancarai untuk mengungkapkan kembali dengan kata kata mengenai materi pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan diberi pertanyaan lisan, siswa menjawab dengan lisan. Dialog dilakukan setelah pre tes dan pos tes. Setelah pre tes, peneliti melakukan wawancara untuk mereka yang nilainya masih dibawah cukup. Dan setelah post, peneliti melakukan wawancara yang sama kepada mereka yang nilainya dibawah cukup. Adapun wawancara ini dilakukan dengan menggunakan perekam suara

3. Angket

Angket ini digunakan untuk mengetahui pendapat siswa, komentar siswa, usul siswa, yang ditangkap siswa, yang dipikirkan siswa. Isi dari angket ini adalah berupa pernyataan mengenai pembelajaran.

4. Lembar Observasi

Tujuan dari adanya lembar observasi adalah untuk mengetahui keterlibatan siswa dalam pembelajaran.

E. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan beberapa instrumen penelitian, yaitu tes tertulis, angket, wawancara, lembar observasi.

(44)

1. Tes tertulis 1

Tes tertulis 1 disusun berdasarkan konsep yang terkait dengan materi getaran. Tes tertulis 1 ini diberikan kepada siswa berdasarkan kisi – kisi materi getaran. Tujuan dari tes tertulis 1 ini adalah untuk mengetahui pengetahuan awal tentang getaran.

Sebelum peneliti memberikan treatmen kepada siswa terlebih dahulu peneliti meneliti apakah soal tes tertulis 1 yang dibuat itu sudah layak untuk mengukur kemampuan awal. Peneliti terlebih dahulu mengkonsultasikan soal untuk tes tertulis 1 tersebut kepada dosen pembimbing.

2. Tes tertulis 2

Tes tertulis 2 bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa setelah mengikuti pembelajaran. Soal dari tes tertulis 2 ini adalah soal yang sama dengan tes tertulis 1. Hasil dari tes tertulis 2 inilah yang menjadi hasil dari prestasi belajar secara kuantitatif setelah diberi pembelajaran mengenai getaran. Dalam soal tes tertulis 2 ini, siswa juga mengisi penjelasan

3. Angket

(45)

pendiriannya dengan penjang lebar yang diinginkannya. Keuntungan dari angket terbuka ini adalah siswa dapat mengungkapkan secara bebas.

4. Wawancara atau Dialog

Dialog atau wawancara adalah upaya untuk mengetahui daya ingat siswa dan dapat mengungkapkan kembali dengan lisan. Adapun data yang diperoleh dalam wawancara ini adalah berupa data kualitatif.

5. Lembar Observasi

Observasi digunakan untuk mengetahui keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Apa yang dilakukan oleh siswa, dicatat dalam lembar observasi. Peneliti meminta bantuan kepada orang lain untuk mencatat kegiatan siswa yang akan dilakukan atau observer

F. Rancangan pembelajaran

Pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti berpedoman pada pemahaman awal siswa. Desain pembelajaran ada pada bab III.

G. Desain Penelitian

(46)

dilakukan, siswa diberi angket untuk mengetahuai bagaimana pendapat, komentar, usul, dan yang dipikirkan siswa saat pembelajaran. Untuk mengetahui pemahaman mereka dilakukan wawancara kepada 6 siswa yang melakukan wawancara 1, karena ingin mengetahuai perubahan siswa. Setelah dilakukan wawancara kemudian dilakukan tes tertulis 2. Diharapkan setelah dilakukan pembelajaran ini siswa mengalami restrukturisasi lemah, atau asimilasi.

Wawancara 1 Tes tertulis

Diperoleh data kuantitatif dan kualitatif

Diperoleh data kualitatif

Pembelajaran Selama pembelajaran ada

yang mencatat kegiatan siswa yang dilakukan Lembar observasi

Angket

Diperoleh data kualitatif

Tes tertulis Wawancara 2

Diperoleh data kuantitatif dan kualitatif H. Metode Analisis Data

1 Analisis tes tertulis

(47)

berikutnya diekivalensikan dengan 2, skor nilai tinggi berikutnya diekivalesikan dengan 3 dan skor nilai tertinggi diekivalensikan dengan 4.

Kemudian digunakan sistem bobot dalam memberikan nilai terhadap jawaban siswa pada setiap nomornya. Bobot nilai yang digunakan adalah sama yaitu 4 Soal-soal tes uraian yang digunakan sebanyak 13 soal

Tabel 1. Contoh perhitungan jumlah skor

Nomor Soal Skor yang diperoleh Bobot Soal Bobot Skor ( B.S )

Sistem penilaian yang digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan Percentages Correction, atau penilaian yang didasarkan pada persentase. Besarnya nilai yang diperoleh siswa merupakan persentase dari skor maksimal yang seharusnya dicapai (Ngalim Purwanto, 1984). Rumus penilaiannya adalah :

(48)

Dengan S = Nilai Akhir yang dicari R = Total skor yang diperoleh siswa N = Skor maksimal

SM= Standard Mark ( besarnya skala penilaian yang dikehendaki, misalnya : 1 – 10 atau 1 - 100)

Dari contoh diatas, kita dapat menghitung nilai yang diperoleh widiasto dengan cara: jumlah skor yang diperoleh / jumlah skor maksimal x Standard mark

Maka nilai yang diperoleh widiasto adalah 20/ 208x 100 = 9.6

Setelah itu kita masukkan persentase tingkat kebenaran yang dimiliki oleh siswa ke dalam kriteria penilaian dengan passing score 56% (Masidjo, 1995). Kriteria ini disebut persentil minimal, karena passing score pada percentil 56 dianggap merupakan batas penguasaan kompetensi minimal yang paling rendah. Untuk nilai-nilai diatasnya dan dibawahnya ditulis sebagai berikut:

Tabel 2. Tingkat pemahaman siswa

Tingkat Penguasaan (%) Nilai Huruf Keterangan

81 – 100 A Sangat Paham

66 – 80 B Paham

56 – 65 C Cukup Paham

46 - 55 D Kurang paham

< 46 E Tidak Paham

(49)

T-tes digunakan untuk mengetes dua kelompok yang dependen atau satu kelompok yang dites dua kali, yaitu dengan pretes dan postes (suparno:2001: hal

59). Berikut adalah rumus untuk menghitung : trel =

( )

(

)

N = jumlah pasang skor (jumlah pasangan)

Df = N-1

Berikut adalah analisis data dengan menggunakan spss. Setelah data dimasukkan ke dalam data editor dan dilakukan uji T dengan menggunakan Menu Analyse pada Compare Means pada Paired samples T tes (Wahana: 2006: hal 345 - 347).

Paired samples statistics menunjukkan ringkasan dari data - data dan standar deviasi dari kedua perbandingan. (Wahana: 2006: hal 345 - 347).

Output paired sample correlations menunjukkan hasil korelasi antara 2 buah sampel(Wahana: 2006: hal 345 - 347).

Inti dari analisis ini adalah output ketiga (pada tabel paired samples test). (Wahana: 2006: hal 345 - 347).

Ho : Rata - rata populasi sebelum dan sesudah adalah identik H1 : Rata - rata populasi sebelum dan sesudah adalah tiodak identik Jika probabilitas > 0.05, maka Ho diterima

(50)

2 Analisis wawancara

(51)

BAB III

DATA DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2006 sampai dengan bulan November 2006. Pada saat penelitian, materi getaran belum diajarkan. Berikut adalah kegiatan yang dilakukan selama penelitian:

Observasi kelas : 28 September 2006 – 5 Oktober 2006

Mengajar di kelas 2b, 2c : 5 Oktober 2006

Pretes di kelas 2a : 5 Oktober 2006

Wawancara : 7 November 2006

Pembelajaran : 9 November 2006

Angket : 9 November 2006

Wawancara : 16 November 2006

Postes di kelas 2a : 23 November 2006

B. Data dan Pembahasan

Pengambilan data pretes diikuti oleh 30 siswa kelas 2a yang ada di SMP PANGUDI LUHUR 1 KALIBAWANG. Pretes dilaksanakan dalam waktu 45 menit. Hasil dari pretes tersebut menunjukkan apakah siswa sudah paham tentang getaran atau belum. Setelah pretes, penulis memeriksa, memberi skor, dan memberi nilai. Kriteria skor yang diberikan untuk setiap soal adalah antara 0 sampai 4. Soal diskor 0 jika tidak ada jawaban atau salah sama sekali, 1 jika jawabannya diisi dan isinya masih ada hubungannya dengan fisika, 2 jika

(52)

jawabannya diisi dan isinya memuat sedikit konsep, 3 jika jawabannya diisi dan isinya memuat banyak konsep tetapi tidak benar semua, dan 4 jika jawabannya diisi, dan isinya memuat konsep dan benar. Struktur mengajar terdiri dari fase - fase utama yaitu orientasi, elisitasi, restrukturisasi, aplikasi dan review (lih gambar 1, hal 16). Orientasi adalah siswa. Elisitasi gagasan adalah berupa pretes, murid diajak untuk mengungkapkan pemahaman atau gagasan. Proses elisitasi adalah ketika siswa mengerjakan soal tes tertulis. Hasil dari elisitasi adalah pemahaman awal siswa yang belum sempurna (kurang paham) dan pemahaman awal siswa yang tidak sempurna (tidak paham) tentang pengertian getaran.

1. Tabel data pretes

Tabel data pretes ada 2 yaitu tabel 1, tabel nilai akhir siswa dan tabel 2, tabel total skor, jumlah bobot skor dan persentase jumlah bobot skor dari pretes. Berikut adalah tabel 1, tabel nilai akhir siswa

Tabel 3: Nilai Akhir pretes Siswa

No Nama Skor S/NxSM Nilai Tingkat Penguasaan

(53)

Tabel 3: Nilai Akhir pretes Siswa

Skor rata-rata kelas 54.67

nilai rata-rata kelas 26.28

Keterangan:

S = Total Skor yang diperoleh siswa

N = Skor Maksimal

SM=Standard Mark (Besarnya skala penilaian yang dikehendaki Misalnya 1-10 atau 1-100) S/NxSM = persentase total skor yang diperoleh siswa

Berikut adalah tabel.2 total skor, jumlah bobot skor dan persentase jumlah bobot skor dari pretes :

Tabel 4.Total skor, jumlah bobot skor dan persentase jumlah bobot skor dari pretes

(54)

Tabel 4.Total skor, jumlah bobot skor dan persentase jumlah bobot skor dari pretes

2. Pemilihan siswa untuk wawancara pertama

(55)

penguasaan soal kurang paham. Untuk mengungkap konsistensi jawaban yang ditulis oleh siswa saat melakukan pretes, maka dilakukan wawancara dengan 6 siswa. Wawancara yang dilakukan adalah berkisar soal nomer 1 sampai 5. untuk soal nomer 6 sampai 13 tidak dilakukan wawancara karena berkaitan aplikasi pemahaman. Siswa yang diwawancara adalah siswa yang memiliki nilai akhir sangat rendah berdasarkan hasil analisis tes tertulis pertama (lih tabel.3 halaman 36). Berikut ini adalah keenam siswa yang diwawancara.

a. Siswa nomor absen 20 : mendapat skor 28 (nilai akhirnya 13), tingkat penguasaan soal tidak paham, dan menjawab soal nomor 1,2,3,4,5,6,9 dengan jawaban yang mempunyai hubungan dengan fisika, mengosongkan soal nomor 7,8,10,11,12,13

b. Siswa nomor absen 19 : mendapat skor 24 (nilai akhirnya 12), tingkat penguasaan soal tidak paham, menjawab soal nomor 1,2,3,4,5,7 dengan jawaban yang mempunyai hubungan dengan fisika, mengosongkan soal nomor 6,8,9,10,11,12,13

c. Siswa nomor absen 13 : mendapat skor 24(nilai akhirnya 12), tingkat penguasaan soal tidak paham, menjawab soal nomor 1,2,3,4 dengan jawaban yang mempunyai hubungan dengan fisika, menjawab soal nomor 5 dengan jawaban yang memuat sedikit konsep, mengosongkan soal nomor 6,7,8,9,10,11,12,13,

(56)

jawaban yang memuat sedikit konsep, mengosongkan soal nomor 4,5,6,7,8,9,11,12,13

e. Siswa nomor absen 15 : mendapat skor 20 (nilai akhirnya 10), tingkat penguasaan soal tidak paham, menjawab soal nomor 1,2,3,4,5 dengan jawaban yang mempunyai hubungan dengan fisika, mengosongkan soal nomor 6,7,8,9,10,11,12,13

f. Siswa nomor absen 2 : mendapat skor 20 (nilai akhirnya 10), tingkat penguasaan soal tidak paham, menjawab soal nomor 1,2,3,4,10 dengan jawaban yang mempunyai hubungan dengan fisika, mengosongkan soal nomor 5,6,7,8,9,11,12,13

3. Analisis hasil pretes

Jumlah siswa yang melakukan pretes adalah 30 orang. Setiap siswa mengerjakan 13 soal, skor maksimal dari tes tertulis pertama adalah 208. Didalam pretes ini skor terendah yang diperoleh siswa adalah 20, dan skor tertinggi yang diperoleh siswa adalah 112. Konversi antara skor dan nilai dihitung dengan rumus

N R

xSM. Dari 30 siswa yang melakukan pretes, 28 siswa tingkat penguasaan soal

tidak paham, 2 siswa tingkat penguasaan soal kurang paham. Skor rata - rata kelas 54.66 dan nilai rata rata kelas 26.28 (lih tabel.3 halaman 36).

Siswa nomor absen 21 mendapat skor 112. Skor 112 dikonversi dengan

rumus N R

xSM menghasilkan nilai 54. Nilai 54 masuk dalam tingkat penguasaan soal

(57)

tabel.2 halaman 32). Tingkat penguasaan soal yang kurang paham juga terjadi pada siswa nomor absen 27 (lih tabel.3 halaman 36).

Siswa nomor absen 2 mendapat skor 20. Skor 20 dikonversi dengan rumus

N R

xSM menghasilkan nilai 10. Nilai 10 masuk dalam tingkat penguasaan soal <46.

Tingkat penguasaan soal <46 adalah tidak paham (lih tabel.2 halaman 32). Tingkat penguasaan soal yang tidak paham juga terjadi pada siswa nomor absen 3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,22,23,24,25,26,28,29,30,31 (lih tabel.3 halaman 36).

Skor rata-rata kelas adalah 54.67. Skor rata-rata kelas jika dikonversi dengan

rumus N R

xSM menghasilkan nilai rata-rata kelas yaitu 26.28. Nilai rata-rata kelas

masuk dalam tingkat penguasaan soal <46. tingkat penguasaan soal <46 adalah tidak paham (lih tabel.2 halaman 32).

Tidak ada satupun siswa yang tingkat penguasannya cukup paham, dapat diaklumi bahwa siswa belum belajar.

Dari tiga belas soal yang diberikan oleh penulis ke siswa, soal yang mendapat skor tertinggi adalah soal nomor 1 yaitu 248, dengan persentase skor 52 %. Sedangkan soal yang mendapat skor terendah adalah soal nomor 8 yaitu 44, dengan persentase skor 9.2 %.

(58)

Soal nomor 5 berhubungan dengan pemahaman siswa tentang pengaruh periode terhadap amplitudo, massa beban, dan panjang tali. Soal ini meminta siswa untuk menyilang (B) jika pernyataan benar, sedangkan (S) jika pernyataan salah. Soal ini juga meminta siswa untuk menulis pernyataan yang benar, jika menyilang (S).

Soal nomor 6 sampai 13 berhubungan dengan penerapan pemahaman getaran, periode, frekuensi dan amplitudo dengan menghitung. Soal ini meminta siswa untuk menulis jawaban secara ringkas, padat dan jelas.

Berikut adalah analisis soal mulai dari soal yang persentase skornya paling tinggi ke soal yang persentase skornya paling rendah.

a. Soal no 1.

Getaran adalah ...

Pada soal nomor 1 ini, skor maksimal adalah 248 dan persentase skor adalah 52% (lih tabel 4. halaman 37). Soal tersebut meminta siswa untuk menjawab pengertian getaran. Soal ini digunakan untuk mengetahui pemahaman awal siswa tentang pengertian getaran. Dari persentase skor yang didapat yaitu 52%, siswa kurang paham tentang pengertian getaran.

Dari wawancara terungkap bahwa siswa belum paham tentang pengertian getaran. Siswa tidak menyebutkan konsep-konsep yang ada di dalam getaran. Indikator bahwa siswa tidak menyebutkan konsep-konsep yang ada dalam getaran adalah terlihat dari wawancara berikut :

(lampiran 1, halaman 89, pada siswa nomor absen 2)

P Apa yang anda ketahui tentang pengertian getaran ?

M Pergetaran pada sisi yang lain pada sama orang

P Misalkan ada bandul yang diikatkan pada tali, titik kiri A, titik tengah B dan titik kanan C. Getaran itu dari mana ke mana ?

M Dari titik A, B trus C

(59)

(lampiran 1, halaman 89, pada siswa nomor absen 2)

M A, B, C, D, E

Dari wawancara tersebut terungkap bahwa konsep mengenai getaran belum diungkapkan. Siswa nomor absen 2 belum mengungkapkan pengertian getaran.

Sedangkan dari wawancara dengan nomor absen 13

(lampiran 2, halaman 91, pada siswa nomor absen 13)

P Apa yang anda ketahui tentang getaran

M (siswa diam)

P Lupa? M Lupa

P Lupa atau gak tau ?

M Gak tau

Dari wawancara tersebut terungkap bahwa siswa tidak tahu. Siswa nomor absen 13 tidak mengungkapkan pengertian getaran. Jawaban yang sama terjadi pada siswa nomor absen 15,16,19,20. siswa tidak tahu pengertian getaran dan tidak menyebutkan konsep - konsep yang ada pada getaran.

Dari analisis tes tertulis pertama soal nomor 1 dan wawancara terjadi ketidaksinkronan jawaban. Nilai rata-rata tes tertulis pertama kurang paham sedangkan jawaban wawancara tidak paham, hal ini dapat dimaklumi karena tes tertulis pertama dilakukan oleh 30 siswa dimana ada sejumlah siswa yang paham, sedangkan wawancara dilakukan oleh 6 siswa.

b. Soal no 4.

Lihat gambar nomor 2

Amplitudo adalah ...

(60)

gambar nomor 2. Soal ini digunakan untuk mengetahui pemahaman awal siswa tentang pengertian amplitudo. Dari persentase skor yang didapat yaitu 43%, siswa tidak paham tentang pengertian amplitudo.

Dari wawancara terungkap siswa tidak tahu pengertian amplitudo. Siswa tidak menyebutkan konsep konsep yang ada pada amplitudo

(lampiran 5, halaman 97, pada siswa nomor absen 19)

P Apakah pernah dengar amplitudo ?

M Pernah

P Apa pengertian amplitudo?

M Gerakan yang tadi

P Gerakan yang tadi yang mana ?

M A (titik kiri dari titik keseimbangan)ke B(titik tengah/titik keseimbangan)ehh B ke A

P Apakah dari C(titik kanan dari titik keseimbangan) ke A bisa disebut amplitudo?

M Kurang tau

P Apakah dari B ke C bisa disebut amplitudo ?

M Ya mungkin..

P Mengapa?

M Kurang tahu

Siswa tidak menyebutkan jarak terjauh dari titik keseimbangan selama ayunan. Siswa memusatkan pengertian amplitudo adalah gerakan.

Sedangkan dari wawancara dengan siswa nomor absen 20, siswa tidak paham tentang amplitudo.

(lampiran 6, halaman 99, pada siswa nomor absen 20)

P Apakah pernah dengar amplitudo ?

M Pernah

P Apa pengertian amplitudo ?

M Lupa

P Lupa? Atau gak tau ?

M Gak tau deng

Dari wawancara di atas terungkap siswa tidak tahu pengertian amplitudo, hal yang sama terjadi oleh siswa nomor absen 2,13,15,16.

(61)

c. Soal no 10.

Suatu benda bergetar di antara dua titik yang berjarak 30 cm. Benda itu melakukan 50 getaran dalam waktu 25 sekon. hitunglah :

a. Frekuensi getaran dalam Hz ... b. Periode getaran dalam sekon ... c. Amplitudo getaran dalam cm ...

Pada soal nomor 10 ini, skor maksimal adalah 176 dan persentase skor adalah 37% (lih tabel 4. halaman 37). Soal tersebut meminta siswa untuk menghitung frekuensi, periode dan amplitudo. Soal ini digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang pengertian frekuensi, periode dan amplitudo yang di terapkan dengan menghitung. Dari persentase skor yang didapat yaitu 37%, siswa tidak paham bagaimana menghitung berapa frekuensi, periode, dan amplitudo.

Soal nomor 10 tidak dilakukan wawancara karena berkaitan dengan aplikasi pemahaman.

d. Soal no 2.

Perhatikan gambar bandul yang digoyangkan dibawah ini

Dengan melihat gambar di atas, Periode adalah...

Pada soal nomor 2 ini, skor maksimal adalah 172 dan persentase skor adalah 36% (lih tabel 4. halaman 37). Soal tersebut meminta siswa untuk menjawab pengertian periode. Soal ini digunakan untuk mengetahui B

A C

3 2

1

(62)

pemahaman awal siswa tentang pengertian periode. Dari persentase skor yang didapat yaitu 36%, siswa tidak paham pengertian periode.

Siswa tidak paham pengertian periode terlihat saat wawancara dengan siswa

(lampiran 6, halaman 99, pada siswa nomor absen 20)

P Apa pengertian periode ?

M Waktu mulainya getaran sampai berhentinya

P Kapan waktu berhentinya ?

M Saat stop wacthnya distop

Sedangkan wawancara dengan siswa lain

(lampiran 1, halaman 89, pada siswa nomor absen 2)

P Besaran apa saja yang ada dalam getaran ?

M Periode

P Periode itu satuannya apa ?

M Gak tau

P Periode itu pengertiannya apa ?

M Lupa

P Lupa atau gak tau ?

M Gak tau

Jawaban yang sama dijawab oleh siswa nomor absen 16,15,13 siswa tidak paham pengertian periode.

Sedangkan wawancara dengan siswa nomor absen 19 didapat siswa sudah tahu satuan sekon sedangkan pengertian periode tidak paham. Siswa belum menjawab waktu yang diperlukan untuk melakukan 1 kali getaran.

(lampiran 5, halaman 97, pada siswa nomor absen 19)

P Apa pengertian periode ?

M Lamanya gerak A ke B, B ke C

P Apa satuannya periode?

M Sekon

(63)

e. Soal no 3.

Lihat gambar pada nomor 2

Frekuensi adalah ...

Pada soal nomor 3 ini, skor maksimal adalah 152 dan persentase skor adalah 32% (lih tabel 4. halaman 37). Soal tersebut meminta siswa untuk menjawab pengertian frekuensi. Soal ini digunakan untuk mengetahui pemahaman awal siswa tentang pengertian frekuensi. Dari persentase skor yang didapat yaitu 32%, siswa tidak paham pengertian frekuensi.

Dari wawancara yang dilakukan didapat siswa tidak paham tentang pengertian frekuensi. Siswa tidak menyebutkan frekuensi adalah banyaknya getaran yang terjadi selama 1 sekon.

(lampiran 5, halaman 97, pada siswa nomor absen 19)

P Apakah pernah dengar frekuensi?

M Pernah

P Apa pengertian frekuensi?

M Jarak antara suatu benda yang bergerak dari jarak yang pertama ke yang kedua

P Gerakannya gimana?

M Umpamanya tu jarum dikasih benang trus digerakan

P Gerakannya yang mana?

M Jarum yang bergoyang

Sedangkan dari wawancara dengan siswa juga didapat siswa tidak paham tentang pengertian frekuensi.

(lampiran 1, halaman 89, pada siswa nomor absen 2)

P Apakah ada frekuensi ?

M Ada

P Pengertian frekuensi itu apa ?

M Bandingan benda yang digetarakan oleh kita

P Bandingan apa ?

M Misalnya benda yang besar dengan benda yang lebih seimbang yaitu dengan benda yang besar

P Dibandingkan maksudnya gimana?

M Misalkan benda besar itu diadukan, trus ada yang mantul gitu..

P Ada apa lagi selain frekuensi

M Udah cukup

Sedangkan jawaban wawancara dendan siswa nomor absen 13. Siswa tidak tahu pengertian frekuensi. Hal yang sama terjadi pada siswa nomor absen 15,16,20.

(lampiran 2, halaman 91, pada siswa nomor absen 13)

(64)

(lampiran 2, halaman 91, pada siswa nomor absen 13)

M Gak tau

P Gak tau atau lupa?

M Lupa

P Pernah tau?

M Pernah dulu waktu sd kelas 6

P Berhubungan dengan getaran atau berhubungan dengan bunyi ?

M Bunyi

Dari analisis tes tertulis pertama soal nomor 3 dan wawancara, hasil tes tertulis pertama sinkron dengan hasil wawancara. Hal ini bisa dimaklumi karena nilai rata – rata tes tertulis pertama untuk soal nomor 3 dan hasil wawancara tidak paham

f. Soal no 9.

Ujung sebuah tali mendatar digetarkan naik – turun dengan periode 2 sekon. Banyak getaran

yang terjadi dalam 1 menit adalah ...

Pada soal nomor 9 ini, skor maksimal adalah 144 dan persentase skor adalah 30% (lih tabel 4. halaman 37). Soal tersebut meminta siswa untuk menghitung banyaknya getaran yang terjadi dalam 1 menit. Soal ini digunakan untuk mengetahui pemahaman awal siswa tentang pengertian getaran yang diterapkan dengan menghitung. Dari persentase skor yang didapat yaitu 30%, siswa tidak paham bagaimana menghitung getaran yang terjadi dalam 1 menit.

Soal nomor 9 tidak dilakukan wawancara karena berkaitan dengan aplikasi pemahaman.

g. Soal no 5.

Periode getaran pada ayunan bergantung pada ampltudo, massa beban dan tidak bergantung panjang tali (B) (S)

(65)

Pada soal nomor 5 ini, skor maksimal adalah 132 dan persentase skor adalah 28% (lih tabel 4. halaman 37). Soal tersebut meminta siswa untuk menyilang B untuk benar atau S untuk salah dari pernyataan. Soal ini digunakan untuk mengetahui pemahaman awal siswa tentang ketergantungan periode dengan amplitudo, massa, dan panjang tali. Dari persentase skor yang didapat yaitu 28%, siswa tidak paham ketergantungan periode dengan amplitudo, massa dan panjang tali.

Dari wawancara yang dilakukan dengan siswa, siswa tidak paham tentang pengaruh massa, amplitudo dan sudut ayunan terhadap periode. Siswa tidak menyebutkan periode getaran ayunan sederhana tidak bergantung pada massa beban dan amplitudo getaran terlihat saat wawancara dengan siswa nomor absen 2

(lampiran 1, halaman 89, pada siswa nomor absen 2)

P Misalkan benda ini di tambah bebannya apakah goyangannya tambah lambat atau tambah cepat?

M Tambah cepat

P Mengapa ?

M Karena berkaitan dengan gaya gravitasi

P Mengapa kok gaya gravitasi

M Gak tau

P Pengertian gaya gravitasi itu apa ?

M Gaya gravitasi adalah gaya yang kebawah

P Kalau talinya diperpanjang, trus jarak ayunan sama. Apakah tambah lambat atau tambah cepat?

M Tambah lambat

P Mengapa?

M Karena jaraknya tambah panjang.

P Kok bisa?

M Gak tau.

P Kalau sudutnya diperbesar antara titik seibang ke simpanganannya, apakah tambah lambat atau

tambah cepat ? M Cepat

P Mengapa ?

M gak tau.

(66)

Dari wawancara tersebut siswa sudah menjawab pengaruh panjang tali terhadap periode. Siswa tidak tahu pengaruh panjang tali terhadap periode. Jawaban yang sama terjadi pada siswa nomor absen 13

Sedangkan dari wawancara dengan siswa lain didapat pemahaman akan pengaruh perubahan massa, perubahan amplitudo belum paham. Sedangkan pemahaman akan perubahan panjang tali terhadap periode masih kurang paham karena tidak bisa menjelaskan.

(lampiran 4, halaman 95, pada siswa nomor absen 16)

P Bagaimana cara mengukur periode jika ada perubahan massa, panjang tali dan amplitudo.

M Gak tau.

P Kalau beban ini saya tambah bagaimana waktu ayunnya ?tambah cepat atau lambat?

M Tambah cepat

P Mengapa?

M Gak tau

P Kalau talinya diperpanjang, bagaimana waktu ayunannya ?tambah cepat atau lambat?

M Tambah lambat

P Mengapa?

M Gak tau

P Kalau sudutnya diperlebar, bagaimana waktu ayunannya?tambah cepat atau tambah lambat?

M Cepat P Mengapa?

Menurut mereka jika beban di tambah maka waktu ayunan tambah cepat. mereka tidak tahu mengapa jika beban ditambah waktunya tambah cepat. Menurut mereka jika sudut ayunan diperlebar waktunya tambah cepat, sedangkan jika panjang tali diperpanjang maka waktunya semakin lambat. Jawaban yang sama dilakukan oleh siswa nomor absen 15,19,20

Dari analisis tes tertulis pertama soal nomor 5 dan wawancara, hasil tes tertulis sinkron dengan hasil wawancara. Hal ini bisa dimaklumi karena nilai rata – rata tes tertulis untuk soal nomor 5 dan hasil wawancara tidak paham

h. Soal no 13.

Sebuah bandul sederhana bergetar dengan periode 0.25 sekon. Tentukan

(67)

Banyak getaran dalam waktu 1 menit...

Pada soal nomor 13 ini, skor maksimal adalah 114 dan persentase skor adalah 23% (lih tabel 4. halaman 37). Soal tersebut meminta siswa untuk menghitung selang waktu dalam 8 getaran dan banyaknya getaran dalam 1 menit. Soal ini digunakan untuk mengetahui pemahaman awal siswa tentang pengertian periode, frekuensi dengan menghitung. Dari persentase skor yang didapat yaitu 23%, siswa tidak paham bagaimana menghitung selang waktu untuk melakukan 8 getaran dan menghitung getaran dalam 1 menit.

Soal nomor 13 tidak dilakukan wawancara karena berkaitan dengan aplikasi pemahaman.

i. Soal no 7.

Periode (T) sebuah getaran 2/5 detik. Frekuensinya ...

Pada soal nomor 7 ini, skor maksimal adalah 72 dan persentase skor adalah 15% (lih tabel 4. halaman 37). Soal tersebut meminta siswa untuk menghitung frekuensi. Soal ini digunakan untuk mengetahui pemahaman awal siswa tentang pengertian frekuensi dengan menghitung. Dari persentase skor yang didapat yaitu 15%, siswa tidak paham bagaimana menghitung frekuensi.

Soal nomor 7 tidak dilakukan wawancara karena berkaitan dengan aplikasi pemahaman.

j. Soal no 6.

Gambar

Gambar 2. Mistar getar ..................................................................................
Gambar 2 Mistar getar . View in document p.14
Gambar 1. Struktur umum mengajar
Gambar 1 Struktur umum mengajar . View in document p.32
Gambar 3.  Gaya pada ayunan
Gambar 3 Gaya pada ayunan . View in document p.38
Gambar 6. (a) Pegas tanpa beban; (b) dan (e) pegas pada titik keseimbangan; (c) = (d) pegas pada simpangan terjauh; (f) = (g) pegas pada kedudukan di atas titik keseimbangan
Gambar 6 a Pegas tanpa beban b dan e pegas pada titik keseimbangan c d pegas pada simpangan terjauh f g pegas pada kedudukan di atas titik keseimbangan. View in document p.39
Gambar 5. Massa bergetar di ujung pegas
Gambar 5 Massa bergetar di ujung pegas . View in document p.39
Tabel 1. Contoh perhitungan jumlah skor
Tabel 1 Contoh perhitungan jumlah skor . View in document p.47
Tabel 2. Tingkat pemahaman siswa
Tabel 2 Tingkat pemahaman siswa . View in document p.48
Tabel data pretes ada 2 yaitu tabel 1, tabel nilai akhir siswa dan tabel 2, tabel
Tabel data pretes ada 2 yaitu tabel 1 tabel nilai akhir siswa dan tabel 2 tabel . View in document p.52
Tabel 3: Nilai Akhir pretes Siswa
Tabel 3 Nilai Akhir pretes Siswa . View in document p.53
Tabel 4.Total skor, jumlah bobot skor dan persentase  jumlah bobot skor dari pretes
Tabel 4 Total skor jumlah bobot skor dan persentase jumlah bobot skor dari pretes . View in document p.54
gambar nomor 2.  Soal ini digunakan untuk mengetahui pemahaman awal
Soal ini digunakan untuk mengetahui pemahaman awal . View in document p.60
Tabel 5 Nilai akhir postes Siswa
Tabel 5 Nilai akhir postes Siswa . View in document p.79
Tabel 5 Nilai akhir postes Siswa
Tabel 5 Nilai akhir postes Siswa . View in document p.80
Tabel 6. Total skor, jumlah bobot skor dan persentase  jumlah bobot skor dari postes
Tabel 6 Total skor jumlah bobot skor dan persentase jumlah bobot skor dari postes . View in document p.83
Tabel 6. Total skor, jumlah bobot skor dan persentase  jumlah bobot skor dari postes
Tabel 6 Total skor jumlah bobot skor dan persentase jumlah bobot skor dari postes . View in document p.84
gambar nomor 2.  Soal ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana
Soal ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana . View in document p.90
Tabel 7. T-Test untuk untuk penghitungan manual
Tabel 7 T Test untuk untuk penghitungan manual . View in document p.97
Tabel 7. T-Test untuk untuk penghitungan manual
Tabel 7 T Test untuk untuk penghitungan manual . View in document p.98
Tabel 10. Paired Samples Test
Tabel 10 Paired Samples Test . View in document p.99
Tabel 11. Tabel rangkuman pembahasan
Tabel 11 Tabel rangkuman pembahasan . View in document p.100
gambar. Talinya ini tipis supaya kemungkinan kecil ada gesekan udara.
Talinya ini tipis supaya kemungkinan kecil ada gesekan udara . View in document p.110
gambar. Talinya ini tipis supaya tidak ada gesekan udara.misalkan beban
Talinya ini tipis supaya tidak ada gesekan udara misalkan beban . View in document p.125

Referensi

Memperbarui...

Download now (137 pages)