Diajukan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Gratis

0
0
90
2 months ago
Preview
Full text

  

VALIDITAS PREDIKTIF UJIAN NASIONAL

TERHADAP PRESTASI BELAJAR PADA MAHASISWA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

  

Program Studi Psikologi

  Disusun Oleh : Joana Francisca Reni Dwi Astuti

  059114039

  

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2010

  

MOTTO

Days have gone away in this life,

Today will be last and tomorrow will come,

a day with

a new hope,

a new challenge,

a new spirit,

a bright future.......

HALAMAN PERSEMBAHAN

  

My Great Creator, My Savior, and My Best

Friend Jesus Christ My Beloved Family My Friends and My Self...

  

VALIDITAS PREDIKTIF UJIAN NASIONAL TERHADAP PRESTASI

BELAJAR MAHASISWA

  Studi Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  

Joana Francisca Reni Dwi Astuti

ABSTRAK

  Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris mengenai validitas prediktif

Ujian Nasional (UN) tahun ajaran 2004/2005 dalam memprediksi prestasi belajar mahasiswa di

perguruan tinggi. Subyek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2005

Universitas Sanata Dharma. Jumlah subyek sebanyak 78 orang merupakan mahasiswa yang aktif

studi mulai dari semester I hingga semester VII dan mengikuti (UN) pada tahun ajaran 2004/2005.

Peneliti memiliki beberapa pertanyaan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan

UN dalam menjalankan fungsi prediksinya terhadap Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa di

semester IV dan VII. Tidak hanya UN secara keseluruhan namun kemampuan tiap subtes dalam

menjalankan fungsi prediksinya pun juga dibahas dalam penelitian ini. Terakhir, skor keseluruhan

UN yang dibedakan berdasarkan jurusan akan dianalisis untuk melihat jurusan manakah yang

lebih berpotensi memiliki keberhasilan belajar apabila seorang mahasiswa diterima di Fakultas

Psikologi. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi. Analisis

data dilakukan dengan SPSS versi 17.00 menggunakan analisis Product Moment Pearson. Hasil

analisis data menunjukkan tidak adanya korelasi antara skor UN dengan IPK mahasiswa baik

semester IV (r=0.176, p=0.123) maupun semester VII (r=0.188, p=0.099). Kemampuan tiap-tiap

subtes dalam menjalankan fungsi prediksinya terhadap IPK yakni masing-masing sebagai berikut:

subtes Bahasa Indonesia (r=0.236, p=0.038), Bahasa Inggris (r=-0.011, p=0.925), Matematika (r=-

0.078, p=0.652), dan Ekonomi (r=0.462, p=0.002). Mahasiswa dari jurusan IPS (r=0.355,

p=0.023) lebih memiliki potensi keberhasilan belajar daripada jurusan IPA (r=0.048, p=0.783).

Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa Ujian Nasional memiliki validitas prediktif

yang rendah sehingga rencana penambahan fungsi Ujian Nasional sebagai alat seleksi masuk

perguruan tinggi sebaiknya dipertimbangkan kembali. Kata Kunci : validitas prediktif Ujian Nasional, prestasi belajar

  

PREDICTIVE VALIDITY OF NATIONAL EXAMINATION TOWARD

STUDENTS LEARNING ACHIEVEMENT IN UNIVERSITY

  Study in Psychology Faculty at Sanata Dharma University

  

Joana Francisca Reni Dwi Astuti

ABSTRACT

  This research aims to investigate the empirical evidence of predictive validity of

2004/2005 National Examination toward students’ learning achievement in university. The

research participants were 78 active students of 2005 academic year of Psychology Faculty at

Sanata Dharma University. The students went through the 2004/2005 National Examination. The

research questions addressed in this study aim to examine the predictive validity of the National

Examination toward Students’ Grade Point Average (GPA) in their fourth and seventh semester.

The predictive validity of each sub-test was also taken into consideration in this research. All

scores of National Examination, differentiated based on senior-high school majors (social and

science), were analyzed to find out which senior-high school major was potential to achieve

learning success in Psychology Faculty. To gather the data, the writer employed documentation

method. The data analysis was conducted using SPSS version 17.00 by employing Product

Moment Pearson analysis. The results showed that there was no significant correlation between

National Examination Scores and GPA, either of Fourth Semester Students (r=0.176, p=0.123) or

of Seventh Semester Students (r=0.188, p=0.099). The predictive validity of subtests toward GPA

were Bahasa Indonesia (r=0.236, p=0.038), English (r=-0.011, p=0.925), Mathematics (r=-

0.078, p=0.652), and Economics (r=0.462, p=0.002). Students with social class background

(r=0.355, p=0.023) were more potential to obtain learning success than those with science class

background (r=0.048, p=0.783). Based on the results, it is concluded that the National

Examination had a low predictive validity. This implied that the national examination was not able

to carry out its predictive function well. Therefore, it is not suggested to use the results of national

examinations as a prerequisite to enter universities.

  Keywords : predictive validity of National Examination, learning achievement

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Allah Bapa yang maha kasih atas segala rahmat, kasih dan anugerahnya sehingga penulis pada akhirnya dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik.

  Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar sarjana Psikologi Strata 1 Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penulis dengan segala kerendahan hati ingin mengucapkan terima kasih atas segala petunjuk, bimbingan, bantuan, dorongan, dan perhatian serta fasilitas yang telah penulis dapatkan dalam proses pembuatan skripsi ini kepada:

  1. Ibu Dr. Ch. Siwi Handayani, selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  2. Bapak Y. Agung Santoso, S.Psi., MA., selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan kesabarannya membimbing serta meluangkan waktunya untuk penulis hingga terselesaikannya penulisan skripsi ini.

  3. Seluruh dosen Fakultas Psikologi yang telah membagikan ilmunya kepada penulis.

  4. Mbak Nanik, mas Gandung, mas Doni, mas Muji dan tak lupa pak Gie terima kasih yang dengan ramah, tulus dan selalu tersenyum melayani keluarga besar Fakultas Psikologi.

  5. Wakil Rektor I yang telah memberikan izin untuk pengambilan data di BAPSI serta BAA.

  6. Romo Hari Suparwito, S.J., selaku Kepala BAPSI serta Ibu Retno yang telah memfasilitasi penulis selama proses pengambilan data.

  7. Kepala BAA dan segenap karyawan BAA terima kasih atas keramahan dan bantuannya selama proses pengambilan data.

  8. Keluargaku tercinta, almarhum ayahku yang masih gagah dalam ingatanku, ibuku yang cantik sekaligus perkasa yang tak henti-hentinya menanyakan kelanjutan skripsiku, kakakku dan kakak ipar beserta „anak- anak tirinya‟ yang selalu menghiburku, dan adikku dengan kegilaan dan khayalan yang luar biasanya. Terima kasih....

  9. Seluruh keluarga besarku, terutama Eyang Kakung dan Bulik Yuli yang sudah tenang di surga.

  10. Untuk teman-temanku tercinta Uci, Rindi, Agnez, Sherly, Kriwil, Budi, Arya terima kasih kalian memang luar biasa......

  11. Teman-teman bermainku Ade, Wibi, Iwul, Mbak Tika, Desta...Terima kasih untuk semuanya....

  Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, setiap saran dan masukan sangat diharapkan penulis dari semua pihak.

  Akhir kata penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

  Yogyakarta, 23 Juli 2010

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN HALAMAN JUDUL..................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING............................ ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI (3 DOSEN ................................. iii HALAMAN MOTTO.................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN.................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA....................................................... vi ABSTRAK.................................................................................................... vii ABSTRACT................................................................................................. viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .............. ix KATA PENGANTAR................................................................................... x DAFTAR ISI ................................................................................................ xii DAFTAR GAMBAR................................................................................... xv DAFTAR TABEL........................................................................................ xvi

  BAB I. PENDAHULUAN............................................................................ 1 A. Latar Belakang Masalah..................................................................... 1 B. Rumusan Masalah.............................................................................. 7 C. Tujuan Penelitian............................................................................... 7 D. Manfaat Penelitian............................................................................. 7 BAB II. LANDASAN TEORI......................................................................9 A. Ujian Nasional................................................................................... 9

  2. Tujuan dan Fungsi Ujian Nasional...............................................11

  C. Validitas.............................................................................................28

  G. Pertanyaan Penelitian.........................................................................42

  F. Validitas Prediktif Ujian Nasional terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Fakultas Psikologi Angkatan 2005 Universitas Sanata Dharma...................................................................................38

  E. Indeks Prestasi sebagai Representasi Prestasi Belajar .......................36

  D. Validitas Prediktif..............................................................................34

  2. Bukti-bukti Validitas....................................................................30

  1. Pengertian Validitas.....................................................................28

  4. Fungsi Tes Psikologi.....................................................................25

  3. Peserta Ujian Nasional................................................................12

  3. Syarat Tes yang Baik....................................................................21

  2. Klasifikasi dalam Tes Psikologi...................................................17

  1. Pengertian Tes Psikologi..............................................................16

  B. Ujian Nasional sebagai Salah Satu Tes Psikologi...............................16

  5. Standar Kelulusan Ujian Nasional Tahun Ajaran 2004/2005........14

  4. Penyelenggaraan Ujian Nasional..................................................13

  BAB III. METODOLOGI PENELITIAN................................................... 43 A. Identifikasi Variabel...........................................................................43 B. Definisi Operasional...........................................................................43 C. Subyek Penelitian...............................................................................45

  E. Metode Pengumpulan Data............................................................... 46

  F. Metode Analisis Data.........................................................................46

  BAB IV. HASIL PENELITIAN.................................................................. 48 A. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian................................................ 48 B. Deskripsi Subyek Penelitian................................................................48 C. Hasil Penelitian...................................................................................49 D. Pembahasan........................................................................................53 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................61 A. Kesimpulan.........................................................................................61 B. Saran...................................................................................................62 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................63 LAMPIRAN-LAMPIRAN

  DAFTAR GAMBAR

  Halaman

  1. Gambar. 1 Diagram klasifikasi tes menurut atribut yang diungkap........................................................................ 18

  

DAFTAR TABEL

  Halaman

  1. Tabel. 1 UN dengan Indeks Prestasi Kumulatif.............................. 50

  2. Tabel. 2 Subtes

  • – Subtes UN dengan IPK semester VII................. 51

  3. Tabel. 3 Skor Total UN dengan IPK semester VII berdasarkan Jurusan.............................................................. 52

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam

  pembangunan di setiap negara. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Ps. 1, Undang-undang No. 20/2003). Pendidikan bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja, tetapi juga tanggungjawab warga negara terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan tersebut. Setiap warga negara berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan (Ps. 8, Undang-undang No.20/2003).

  Tanggungjawab masyarakat tidak hanya terbatas pada jenjang pendidikan dasar saja, namun masyarakat juga turut bertanggungjawab terhadap seluruh jenjang pendidikan yang dimulai dari pendidikan dasar (SD dan SMP), pendidikan menengah (SMA), dan pendidikan tinggi.

  Universitas Sanata Dharma sebagai salah satu institusi yang memiliki perhatian terhadap perkembangan dunia pendidikan juga turut berperan serta dalam keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan tersebut. pendidikannya yaitu mencerdaskan putra-putri bangsa sehingga memiliki kemampuan akademik sesuai dengan bidang studi dan integritas kepribadian yang tinggi .

  Hampir serupa dengan tujuan pendidikan di atas, berdasarkan Undang-Undang No. 2 Tahun 1989, Bab V bagian keempat pasal 16 ayat 1 dan Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 1990, Bab II Pasal 3 tujuan dari pendidikan tinggi adalah mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan kemampuan profesional, sehingga mampu menerapkan, mengembangkan, dan menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kesejahteraan bangsa dan umat manusia di bumi.

  Usaha untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut diwujudkan dalam program-program pendidikan yang berkualitas mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi yakni perguruan tinggi itu sendiri. Kualitas setiap program pendidikan dapat dilihat melalui proses evaluasi. Salah satu bentuk evaluasi yang sering dikenal adalah Ujian Nasional (UN). Evaluasi tersebut dilakukan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. UN merupakan salah satu bentuk evaluasi atau penilaian hasil belajar tingkat nasional yang diselenggarakan pada akhir tahun pelajaran dan diterapkan pada beberapa mata pelajaran yang dianggap penting.

  UN berfungsi sebagai alat pengendali mutu pendidikan secara nasional, pendorong peningkatan mutu pendidikan secara nasional, bahan dalam seleksi penerimaan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Kepmendiknas RI no. 114/U/2004).

  Terkait dengan fungsinya yang terakhir, UN dapat dijadikan sebagai alat seleksi ke jenjang pendidikan tinggi, yang sebelumnya hanya dijadikan sebagai acuan kelulusan seorang siswa saja. Hal tersebut dipertegas lagi dengan adanya wacana dari beberapa tokoh-tokoh pendidikan seperti, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Fasli Jalal yang menyatakan bahwa Departemen Pendidikan Nasional akan mengkaji kemungkinan mempergunakan hasil UAN Sekolah Menengah Atas sebagai salah satu syarat penyeleksian untuk masuk perguruan tinggi. “Tujuannya agar sistem pendidikan dasar terintegrasi dengan pendidikan tinggi”, ujar Fasli (TEMPO Interaktif, Sabtu, 26 Juli 2008).

  Pemerintah berencana mengintegrasikan sistem pendidikan antara pendidikan menengah dan tinggi dengan mempergunakan hasil UN sebagai salah satu syarat seleksi untuk masuk perguruan tinggi negeri. Pemikiran tersebut tampaknya didasarkan pada asumsi bahwa keberhasilan pada program pendidikan sebelumnya akan menentukan keberhasilan pada program berikutnya (Azwar, 2006).

  Wacana UN menjadi alat seleksi sepertinya dimaksudkan didasarkan untuk mengurangi duplikasi ujian masuk mahasiswa. Saat ini mahasiswa harus menjalani UN secara nasional terlebih dahulu, barulah dapat mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Proses seleksi perguruan tinggi pun biasanya menggunakan serangkaian tes yang harus dikerjakan oleh calon mahasiswa. berusaha memperbaiki sistem seleksi masuk perguruan tinggi yang ada sekarang ini dengan menggunakan UN sebagai alat seleksi.

  Beberapa masalah akan muncul ketika UN dijadikan sebagai dasar seleksi masuk perguruan tinggi. Masalah ini digolongkan menjadi dua kelompok yaitu masalah yang terkait dengan persoalan teknis di lapangan dan persoalan konseptual. Permasalah teknis di lapangan sudah banyak terjadi ketika UN belum berfungsi sebagai alat seleksi. Misalnya saja pada kutipan kasus berikut:

  Kasus kecurangan Ujian Nasional (UN) tampaknya

merata di seluruh daerah. Forum Guru Garut (Fogar) menemukan

kecurangan ujian yang diduga melibatkan Dinas Pendidikan Kab

Garut. Menurut Ketua Fogar Dadang Johar, Jumat (25/4/2008),

kecurangan dan kebocoran soal UN di Kab Garut terjadi dengan

modus operandi yang lebih rapi dibandingkan tahun

sebelumnya. (http://www.okezone.com, Jum'at, 25 April 2008).

  Selain itu ada pula sebuah kasus, Ketua Komisi Pendidikan DPRD Jawa Tengan M.

  

Iqbal Wibisono mengatakan, praktek kecurangan dalam ujian

nasional bisa dilakukan oleh para pejabat dinas pendidikan. Sebab

selama ini ada anggapan jika tingkat kelulusan siswa di suatu

daerah rendah, maka daerah tersebut akan dianggap tidak maju.

Sebaliknya, jika tingkat kelulusan tinggi maka daerah itu dianggap

daerah yang maju.(TEMPO Interaktif, Senin, 21 April 2008)

  Beberapa kutipan berita di atas hanyalah sebagian kasus kecurangan yang terjadi pada Ujian Nasional 2008. Sementara itu ada permasalahan konseptual yang muncul mengiringi pelaksanaan UN saat ini. Pertama, UN diberlakukan pemerintah untuk mengukur pencapaian kompetensi namun juga akan difungsikan sebagai alat seleksi masuk perguruan tinggi. Padahal UN ini mengukur kompetensi yang sempit. Kemampuan yang dipelajari di sekolah perguruan tinggi dapat saja dipengaruhi kemampuan-kemampuan kognitif di luar penguasaan materi di SMA.

  Masalah kedua, soal-soal UN yang dibuat oleh pemerintah, dalam hal ini melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), mungkin saja tidak sinergis dengan kegiatan belajar mengajar yang telah diikuti oleh peserta didik di daerah lain. Materi yang dipelajari oleh peserta didik yang ada di sekolah yang satu dan yang lainnya dapat berbeda karena tiap-tiap daerah memiliki otonominya sendiri. Adanya otonomi tersebut tidak dapat dipungkiri pula akan menimbulkan perbedaan sistem pendidikan beserta kurikulum. Oleh karena itu menggunakan tes prestasi sebagai alat seleksi untuk masuk perguruan tinggi dianggap kurang adil (Zwick, 2006).

  Kebijakan pemerintah tersebut sebenarnya tidak terlalu berpengaruh bagi Universitas Sanata Dharma yang merupakan perguruan tinggi swasta.

  Pihak universitas berhak memiliki otonomi sendiri untuk melakukan proses seleksi mahasiswa. Kebijakan pemerintah tersebut kemudian direspon oleh universitas dengan mempergunakan UN sebagai alternatif lain dari alat seleksi yang biasa digunakan. Namun layak atau tidaknya penggunaan UN sebagai alternatif alat seleksi akan dibuktikan terlebih dahulu.

  Salah satu tuntutan terhadap sistem seleksi menurut Suryabrata (1987) yaitu alat seleksi harus memenuhi aspek prediction effectiveness yang memiliki makna bahwa hasil seleksi dapat meramalkan keberhasilan mahasiswa. Pada jangka pendek berarti mahasiswa yang terpilih oleh sistem pendidikannya dalam waktu yang telah ditentukan. Hal tersebut terkait dengan pernyataan Fasli Jalal selaku Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi yang mengkaji kemungkinan menggunakan hasil UN SMA sebagai salah satu alat seleksi untuk masuk perguruan tinggi negeri. Jika UN hendak dijadikan alat seleksi untuk masuk perguruan tinggi, maka UN harus mampu menunjukkan kemampuan prediksi (predictive effectiveness) yang memadai.

  Kemampuan memprediksi suatu tes merupakan suatu hal yang sangat penting. Semakin tepat dan cermat suatu tes dalam memprediksi keberhasilan mahasiswa dalam mencapai keberhasilan belajar maka makin baik pula kualitas tes tersebut. Tanpa kemampuan memprediksi, seperangkat instrumen tes yang dipergunakan untuk seleksi tidak akan berarti.

  Kemampuan prediktif merupakan salah satu cara membuktikan validitas alat ukur, yang sering disebut sebagai validitas prediktif. Validitas prediktif dilakukan untuk menentukan ada tidaknya kecocokan antara pengukuran sekarang dengan kemampuan seseorang dalam melakukan tugas- tugas tertentu dimasa yang akan datang (Anastasi, 2006). Pengukuran validitas prediktif UN sangatlah diperlukan untuk melihat sejauhmana kemampuan alat tersebut dalam memprediksi performansi mahasiswa di masa yang akan datang khususnya di Universitas Sanata Dharma.

  Validitas prediktif memerlukan kriteria pembanding dan tes yang kita uji validitas prediktifnya menjadi prediktor (Azwar, 2003). Ukuran atau data yang digunakan sebagai kriteria, diperoleh setelah selang waktu tertentu Kriteria pembanding dalam kasus UN sebagai alat seleksi adalah prestasi belajar mahasiswa. Kriteria ini dipilih karena indeks prestasi kumulatif sangat memungkinkan dipengaruhi oleh proses belajar individu. Indeks prestasi juga dapat dipahami sebagai representasi prestasi belajar.

  Prestasi belajar merupakan suatu istilah yang menunjukan tingkat keberhasilan mahasiswa mencapai tujuan belajarnya setelah mengikuti proses belajar dari suatu program yang ditentukan. Prestasi belajar secara umum adalah bukti usaha yang dapat dicapai, atau bukti perubahan yang dapat terjadi pada siswa dalam bidang pengetahuan, ketrampilan, dan sikap sebagai hasil dari proses belajar (Winkel, 1996). Hasil dari prestasi belajar memberikan informasi sejauhmana mahasiswa sudah berhasil menguasai materi kuliah dan pada bagian mana mahasiswa gagal menguasai materi kuliah yang telah diberikan oleh dosen yang bersangkutan.

  Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan melalui penyelenggaraan ujian-ujian dan tugas-tugas yang relevan. Proses penilaian pada suatu mata kuliah adalah proses penentuan taraf pencapaian kompetensi mahasiswa dalam mata kuliah tersebut. Hasil pengukuran taraf pencapaian kompetensi mahasiswa dinyatakan dalam bentuk skor yang kemudian dinyatakan dalam bentuk huruf A, B, C, D, atau E (Pedoman Program Studi Psikologi USD, 2006).

  Estimasi validitas prediktif ini akan dilakukan dengan menghitung korelasi skor UN dengan indeks prestasi kumulatif. Skor UN yang akan dikorelasikan dengan indeks prestasi kumulatif untuk mengestimasi validitas prediktif. Korelasi antara skor UN dengan indeks prestasi kumulatif bertujuan untuk mengetahui seberapa besar daya prediktor skor UN terhadap indeks prestasi kumulatif mahasiswa. Selain itu, skor komposit akan dipilah-pilah berdasarkan jurusan yang ditempuh mahasiswa ketika di SMA. Hal tersebut

  

bertujuan untuk melihat jurusan manakah yang berpotensi memiliki keberhasilan,

khususnya apabila seorang mahasiswa diterima di Fakultas Psikologi. Hasil penelitian

tersebut akan sangat berguna untuk menjaring

  calon mahasiswa dengan kriteria yang diharapkan.

  Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui validitas prediktif Ujian Nasional untuk memprediksi prestasi belajar mahasiswa untuk menentukan layak atau tidaknya UN difungsikan sebagai alat seleksi di masa yang akan datang. Penelitian ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menentukan kebijakan selanjutnya sehubungan dengan mutu alat evaluasi pendidikan yang diterapkan selama ini. Bagi Universitas Sanata Dharma sendiri penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan mengenai sistem seleksi mahasiswa baru di masa yang akan datang. Secara khusus, bagi

  akan sangat berguna untuk menjaring

  Fakultas Psikologi penelitian ini calon mahasiswa dengan kriteria yang diharapkan.

  B. Rumusan Masalah

  Apakah nilai Ujian Nasional merupakan prediktor yang baik bagi indeks prestasi kumulatif mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma?

  C. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris mengenai validitas prediktif Ujian Nasional untuk memprediksi prestasi belajar mahasiswa di perguruan tinggi. Bukti empiris tersebut dapat dipergunakan untuk menentukan layak atau tidaknya UN difungsikan sebagai alat seleksi di masa yang akan datang.

  D. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritik Hasil yang diperoleh melalui penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan informasi dan pertimbangan mengenai validitas prediktif UAN.

  2. Manfaat Praktis Bagi Departemen Pendidikan Nasional, hasil penelitian ini dapat menjadi informasi dan bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan yang terkait dengan tujuan dan fungsi penyelenggaraan Ujian Nasional untuk digunakan menjadi sebuah alat seleksi yang lebih baik.

BAB II LANDASAN TEORI A. Ujian Nasional

  1. Definisi Ujian Nasional Ujian Nasional telah mengalami beberapa kali perubahan nama berikut dengan definisinya. Sebelum tahun ajaran 2002/2003,

  Indonesia mengenal alat evaluasi dengan sebutan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas). Pada tahun ajaran 2002/2003 berdasarkan Kepmendiknas RI No. 153/U/2003 pasal 1 ayat 3, Ebtanas diubah menjadi salah salah satu jenis penilaian hasil belajar secara nasional yang dinamakan Ujian Akhir Nasional (UAN).

  Berdasarkan Kepmendiknas RI No.38/P/2004 pasal 1 ayat 1, UAN berubah nama lagi menjadi Ujian Nasional (UN) hingga sampai sekarang ini.

  Berikut ini merupakan definisi-definisi yang pernah tertuang dalam undang-undang. Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS) merupakan kegiatan penilaian hasil belajar secara nasional yang dilaksanakan pada akhir pendidikan di SD/MI, SDLB, SLTP/MTs, SMU/MA, dan SMK baik negeri maupun swasta dalam lingkungan pembinaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dan Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam (Ps. 1 ay. 2, Keputusan Bersama Mendiknas, MenAg, dan

  Pada tahun ajaran 2002/2003, pemerintah mengganti EBTANAS dengan Ujian Akhir Nasional (UAN). Selain menggantikan sebutannya, UAN juga mengalami perubahan- perubahan kebijakan dari alat evaluasi sebelumnya. UAN merupakan kegiatan pengukuran dan penilaian hasil belajar peserta didik yang berada pada tingkat SLTP/MTs, SMU/MA, dan SMK baik negeri maupun swasta yang diselenggarakan secara nasional (Ps. 1 ay. 3, Kepmendiknas No. 153/U/2003).

  Penggunaan nama UAN hanya bertahan selama satu tahun saja yang selanjutnya disebut Ujian Nasional atau yang sering disingkat dengan UN. UN inilah yang kita gunakan sampai sekarang ini. UN adalah kegiatan penilaian hasil belajar peserta didik yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan pada jalur sekolah/madrasah yang diselenggarakan secara nasional (Ps. 1 ay. 1, Kepmendiknas RI No.

  38/P/2004). Adapun pengertian UN yang lain menurut Permendiknas RI no.1/2005 pasal 1 ayat 1, yakni kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.

  Berbagai macam pengertian UN di atas, sebagian besar dipahami sebagai sebuah kegiatan evaluasi dalam bentuk penilaian hasil belajar secara nasional. Kegiatan penilaian tersebut tentu saja membutuhkan sebuah alat tes yang mampu merepresentasikan sebutan yang sama dengan kegiatan evaluasi yakni UN itu sendiri.

  Dengan demikian, UN dapat kita pahami sebagai sebuah alat evaluasi peserta didik yang digunakan dalam kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah yang dilaksanakan pada akhir masa jenjang pendidikan.

  2. Tujuan dan Fungsi Ujian Nasional Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik

  Indonesia No. 1 Tahun 2005, Ujian Nasional tahun ajaran 2004/2005 diselenggarakan oleh pemerintah yang dibuat berdasarkan kurikulum 2004 sebagai kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Kurikulum 2004 ini sudah diterapkan secara terbatas mulai tahun pelajaran 2001/2002.

  UN bertujuan untuk mengukur dan menilai kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi peserta didik pada mata pelajaran yang ditentukan dalam rangka pencapaian standar nasional pendidikan (Ps. 3, Peraturan Mendiknas RI No.1/2005). Sedangkan hasil UN digunakan sebagai dasar untuk (Ps. 4, Peraturan Mediknas RI No.1/2005) : a. penentuan kelulusan peserta didik dari suatu satuan pendidikan ;

  b. seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya ;

  c. pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan ;

  d. akreditasi satuan pendidikan; dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.

  3. Peserta Ujian Nasional Setiap peserta didik pada tahun pelajaran terakhir satuan pendidikan wajib dan berhak mengikuti satu kali UN tanpa dipungut biaya. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 1 Tahun 2005 tentang Ujian Nasional tahun ajaran 2004/2005 pasal 5, peserta yang berhak mengikuti UN yakni peserta didik yang belajar pada tahun terakhir SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, dan SMK. Peserta didik harus memenuhi persyaratan untuk mengikuti UN, yakni sebagai berikut (Ps. 5, Peraturan Mendiknas No.1/2005) :

  a. memiliki laporan lengkap penilaian hasil belajar pada satuan pendidikan sekurang-kurangnya sampai dengan semester I tahun terakhir ;

  b. memiliki nilai kelompok pendidikan agama dan kepribadian/budi pekerti sekurang-kurangnya baik berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh satuan pendidikan ;

  c. memiliki ijazah atau surat keterangan lain yang setara, atau berpenghargaan sama, dengan ijazah dari satuan pendidikan yang setingkat lebih rendah.

  Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila peserta mengikuti UN di satuan pendidikan yang bersangkutan, dapat mengikuti UN di satuan pendidikan lain. Selain itu, peserta didik yang karena alasan tertentu dan disertai bukti yang sah tidak dapat mengikuti UN utama dapat mengikuti UN susulan.

  Bagi peserta didik yang belum lulus UN memiliki hak untuk mengikuti UN berikutnya tanpa dipungut biaya. Pada tahun ajaran ini tidak terdapat UN ulangan bagi siswa yang tidak lulus seperti pada tahun ajaran 2002/2003 ataupun 2003/2004 yang lalu.

  4. Penyelenggaraan Ujian Nasional Ujian Nasional (UN) dilaksanakan dua kali, terdiri atas (Ps. 7,

  Peraturan Mendiknas No.1/2005) :

  a. Ujian Nasional yang pertama dilaksanakan antara minggu kedua bulan Mei 2005 dan minggu pertama bulan Juni 2005 ; b. Ujian Nasional yang kedua dilaksanakan antara minggu kedua bulan Oktober 2005 dan minggu pertama bulan November 2005.

  Ujian kompetensi keahlian dilaksanakan sebelum pelaksanaan UN. UN yang kedua merupakan ujian yang diselenggarakan bagi peserta didik yang mengikuti program Kejar Paket B/C.

  Mata pelajaran yang diujikan pada Ujian Nasional (Ps. 6, Permendiknas No. 1/2005) adalah :

  a. Untuk jenjang SMP, MTs, dan SMPLB meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika; dan Sastra Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika;

  c. Untuk jenjang SMA dan MA program studi IPS meliputi Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Inggris, dan Ekonomi; d. Untuk jenjang SMA dan MA program studi Bahasa meliputi

  Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Asing Lainnya;

  e. Untuk jenjang SMALB meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika; f. Untuk jenjang SMK meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan Kompetensi Keahlian.

  Materi yang akan diujikan pada masing-masing subtes UN tercantum pada lampiran peraturan. Lampiran tersebut memuat Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang berkaitan dengan ruang lingkup materi dari mata pelajaran yang diujikan (Lampiran I, Permendiknas RI No. 1/2005).

  5. Standar Kelulusan Ujian Nasional Tahun Ajaran 2004/2005 Penetapan kelulusan para peserta didik dilakukan oleh sekolah/madrasah penyelenggara melalui Rapat Dewan/Majelis Guru.

  Peserta didik dinyatakan lulus apabila memenuhi kriteria (Ps. 14, Permendiknas RI No. 1/2005):

  a. telah mengikuti seluruh mata pelajaran yang diujikan; dan

  b. memiliki nilai di atas ambang kelulusan 4,25 untuk setiap mata

  Proses penentuan kelulusan peserta didik pada tahun ajaran 2004/2005 ini murni ditentukan oleh nilai-nilai UN dari mata pelajaran yang diujikan tanpa adanya pertimbangan dari kemampuan-kemampuan lainnya ketika menjalani pendidikan selama tiga tahun. Berbeda dengan penentuan kelulusan peserta didik sebelum tahun ajaran 2002/2003 ketika UN masih berbentuk Ebtanas. Penentuan siswa yang dinyatakan tamat belajar dilakukan oleh sekolah/madrasah penyelenggara dalam suatu rapat dewan guru dengan mempertimbangkan nilai-nilai rapor, Ebta, dan Ebtanas, serta sikap/perilaku/budi pekerti siswa yang bersangkutan (Ps. 17, Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah No. 2/U/SKB/2001).

  Standar kelulusan tahun-tahun berikutnya juga mengalami sejumlah peningkatan. Baik peningkatan pada standar nilai dari tiap mata pelajaran yang diujikan, rata-rata mata pelajaran juga diperhitungkan sebagai syarat kelulusan. Pada UN tahun 2006, seorang peserta didik dinyatakan lulus apabila memiliki nilai rata-rata minimal 5,00 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan tidak ada nilai di bawah 4,25. Peserta didik diperbolehkan memiliki nilai minimal 4,00 pada salah satu mata pelajaran dengan nilai dua mata pelajaran lainnya minimal 6,00 (Ps. 18, Permendiknas No. 45/2006). Begitu pula pada tahun-tahun selanjutnya dengan peningkatan pada standar nilai

B. Ujian Nasional sebagai Salah Satu Tes Psikologi

  1. Pengertian Tes Psikologi Tes dilihat secara fisik tidak lain merupakan sekumpulan pertanyaan yang harus dijawab atau yang harus dikerjakan. Tes psikologi akan memberikan informasi mengenai aspek psikologis tertentu berdasarkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan atau cara dan hasil subjek dalam melakukan tugas-tugas tersebut (Azwar, 2003). Tes psikologi dapat diterjemahkan sebagai suatu alat pengukuran yang obyektif dan standar terhadap sampel perilaku (Anastasi, 2006).

  Pendapat yang lebih lengkap mengenai tes psikologi yang mengemukakan bahwa tes psikologi merupakan prosedur yang sistematis, yaitu yang dilakukan berdasarkan tujuan dan tata cara yang jelas. Tes tersebut juga melakukan pengamatan terhadap perilaku seseorang dan mendeskripsikan perilaku tersebut dengan bantuan skala angka atau suatu sistem penggolongan (Cronbach dalam Azwar, 2003).

  Berdasarkan pendapat-pendapat mengenai tes psikologi di atas dapat disimpulkan bahwa tes psikologi dapat didefinisikan sebagai suatu kumpulan pertanyaan atau tugas-tugas yang obyektif, standar dan sistimatik yang bertujuan untuk mengamati perilaku seseorang dan mendeskripsikan perilaku tersebut dengan bantuan skala angka atau sistem penggolongan.

  UN merupakan salah satu bentuk tes psikologi berdasarkan standar dan sistimatik yang memiliki tujuan tersendiri terkait dengan penggunaannya di area pendidikan. Hasil dari UN ini pun mendeskripsikan perilaku yaitu kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi para peserta didik dalam bentuk nilai-nilai murni dari mata pelajaran yang diujikan.

  2. Klasifikasi Tes dalam Psikologi Cronbach (dalam Azwar, 2003) membagi tes menjadi dua kelompok besar, yaitu tes yang mengukur performansi maksimal

  (maximum performance) dan tes yang mengukur performansi tipikal (typical performance).

  Tes yang mengukur performansi maksimal (maximum

  perfomance ) merupakan tes yang dirancang untuk mengungkap apa

  yang mampu dilakukan oleh seseorang dan seberapa baik ia mampu melakukan hal tersebut. Termasuk dalam jenis ini adalah tes intelegensi, tes bakat, tes prestasi belajar, dan sebagainya. UN sebagai salah satu bentuk tes prestasi merupakan tes yang dirancang untuk mengungkap kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi para peserta didik sekaligus menunjukkan seberapa baik peserta didik tersebut mengerjakannya.

  Lain halnya dengan kelompok tes yang mengukur performansi tipikal (typical performance), tes ini lebih dirancang untuk mengungkap kecenderungan reaksi atau perilaku subjek ketika berada untuk mengetahui apa yang mampu dilakukan oleh seseorang melainkan apa yang cenderung ia lakukan. Jenis tes yang termasuk dalam kategori ini ialah tes atau inventori minat, skala sikap, inventori kepribadian, dan semacamnya.

  Apabila ditinjau dari cara klasifikasi lain, tes dapat pula dikelompokkan sebagai tes yang mengungkap atribut kognitif dan tes yang mengungkap atribut non-kognitif (Azwar, 2003).

  Tes Kognitif

  Abilitas Potensial Abilitas Potensial Umum (intelegensi) Abilitas Potensial Khusus (bakat)

  Abilitas Aktual (prestasi)

  Non-kognitif Gambar 1.

  

Diagram klasifikasi tes menurut atribut yang diungkap (Azwar,

2006)

  Apabila dikaitkan dengan klasifikasi Cronbach, tes kognitif adalah tes yang mengukur performansi maksimal dan tes non-kognitif adalah tes yang mengungkap performansi tipikal. Berdasarkan diagram di atas dapat dipahami pula bahwa UN dapat sekaligus abilitas aktualnya. Pada hal ini abilitas yang telah diterjemahkan dalam bentuk performansi nyata. Performansi nyata di sini sering disebut dengan prestasi ini merupakan hasil dari proses belajar. UN merupakan salah satu bentuk alat evaluasi hasil belajar yang diharapkan mampu mendeskripsikan performansi peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar selama kurang lebih tiga tahun.

  Jadi, UN bukan merupakan tes yang mengungkap abilitas potensial baik umum ataupun khusus. Abilitas potensial merupakan atribut yang diasumsikan sebagai suatu bentuk kemampuan bawaan (latent) yang belum tampak dalam performansi. Abilitas potensial yang berupa kemampuan menghadapi persoalan yang bersifat umum, yaitu menghendaki pengerahan strategi pemecahan masalah secara umum yang sering disebut dengan intelegensi. Selain itu, adapula abilitas yang bersifat khusus yang artinya merupakan kemampuan yang dapat dikembangkan hanya pada bidang-bidang tertentu atau yang disebut aptitude atau bakat.

  Ragam tes psikologi juga dapat dibedakan menurut cara administrasi dan atribut psikologis yang diukurnya (Gregory, 2000).

  Menurut cara administrasinya, UN lebih termasuk dalam tes kelompok (group test) dibandingkan tes individual yang harus diadministrasikan secara tatap muka. UN merupakan tes yang berbentuk pencil

  • – and - paper test sehingga dapat diadministrasikan
terdaftar mengikuti ujian berada dalam kelompok-kelompok yang sesuai dengan jurusannya untuk mengikuti ujian secara serentak.

  Menurut atribut yang diukur, ada banyak kategori dalam klasifikasi ini yakni : tes inteligensi, tes kemampuan, tes prestasi, tes kreativitas, tes kepribadian, inventori minat, behavioral procedures, dan neuropsikologis. Jika dipahami dengan seksama, UN sebenarnya memiliki fungsi ganda. Fungsi pertama yakni sebagai indikator keberhasilan belajar di jenjang pendidikan sebelumnya. UN dapat dikatakan sebagai bentuk tes prestasi. Tes prestasi disusun berdasarkan silabus mata pelajaran yang lebih mengungkapkan hasil pembelajaran seseorang (Azwar, 2008). Tes prestasi ini bertujuan untuk mengukur taraf belajar, keberhasilan, atau prestasi dalam suatu mata pelajaran. Tes prestasi ini menentukan seberapa banyak dari materi pelajaran yang berhasil diserap atau dikuasai oleh peserta didik.

  UN dapat berfungsi mendeteksi sejauh mana materi yang diberikan telah dikuasai oleh siswa.

  UN dapat pula digolongkan menjadi tes kemampuan. Tes kemampuan ini memiliki fungsi untuk memprediksikan keberhasilan dalam suatu pekerjaan, pelatihan atau pendidikan. Fungsi prediksi inilah yang merupakan fungsi UN yang kedua. Pada jenjang pendidikan tertentu, UN memiliki fungsi untuk memprediksi keberhasilan peserta didik pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dasar (SMP) digunakan sebagai alat seleksi jenjang pendidikan yang lebih tinggi yakni jenjang pendidikan menengah (SMA). UN tersebut berfungsi sebagai prediktor terhadap keberhasilan dalam belajar ketika di SMA. Ketika akan masuk ke perguruan tinggi masih harus menggunakan alat seleksi lain sesuai dengan otoritas perguruan tinggi yang bersangkutan. Namun demikian, terkait wacana UN sebagai alat seleksi perguruan tinggi akan dikaji lebih lanjut dalam penelitian ini.

  3. Syarat Tes yang Baik Tes psikologi sebagai alat pengumpulan data diharapkan mampu memperoleh data yang obyektif, relevan dan akurat. Untuk memenuhi harapan tersebut maka tes memerlukan syarat-syarat tertentu. Adapun persyaratan tes yang baik tersebut meliputi : valid, reliabel, distandarisasikan, obyektif, diskriminatif, komprehensif, dan mudah digunakan (Fudyartanta, 2004).

  a. Valid Suatu alat tes atau instrumen pengukuran dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut mampu menjalankan fungsi ukurnya, atau memberi hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilaksanakan pengukuran tersebut (Suryabrata, 1987; Azwar, 2003; Anastasi, 2006). Hal ini menunjuk pada pengertian apakah hasil tes telah sesuai dengan kriteria yang telah b. Reliabel Azwar (2003) mengatakan walaupun reliabilitas memiliki berbagai nama lain seperti keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, konsistensi dan sebagainya. Ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya.

  c. Distandarisasikan Situasi pengetesan harus benar-benar diusahakan sama bagi setiap subjek yang dites, sehingga hasilnya dapat dibandingkan dari subjek satu dengan subjek yang lainnya. Hal yang baku di sini tentu saja relatif, tergantung dari norma atau standar yang dipakai.

  Adapun hal-hal yang perlu distandarisasi itu adalah : materi tes, penyelenggaraan tes, skoring tes dan interpretasi hasil tes (Fudyartanta, 2004). (1) Materi tes

  Materi tes di sini meliputi bahan-bahan pembuatan tes (misal kertas, karton, hardboard, tinta, dan sebagainya), aitem- aitemnya (misalnya kata-kata, gambar, tanda-tanda, ukuran besar kecil, dan sebagainya).

  (2) Penyelenggaraan tes Penyelenggaraan tes mencakup perlengkapan (seperti meja, kursi, penerangan dan sebagainya), situasi (suhu, ketenangan), cara penyajian, petunjuk-petunjuk cara mengerjakan serta waktu yang disediakan untuk mengerjakan tes tersebut.

  (3) Skoring tes Skoring tes mencakup cara-cara memberikan skor, pertimbangan-pertimbangan untuk memberikan skor (ada semacam kunci), sistem skoring (lambang-lambang yang digunakan serta arti-artinya, batasan-batasan dan sebagainya).

  Penskoran tes seharusnya menggunakan seperangkat jawaban yang telah ditetapkan sebelumnya.

  (4) Interpretasi hasil tes Hal tersebut berarti bahwa terhadap hasil testing yang sama harus diberikan interpretasi yang sama.

  d. Obyektif Obyektifitas suatu tes ditinjau dari sejauh mana tester mempunyai pengaruh terhadap penilaian hasil testing. Sukadi (1990) mengatakan bahwa pendapat-pendapat, opini, bias, sikap, dan sebagainya dari orang yang berbeda tidak mempengaruhi hasil- hasilnya. Tes yang obyektif akan memberikan hasil yang sama jika dinilai oleh tester yang berlainan.

  Tipe-tipe tes obyektif yang paling lazim adalah berisi pertanyaan

  mutiple-choice yang mencantumkan jawaban khas dan telah ditetapkan sebelumnya. e. Diskriminatif Tes yang diskriminatif akan mampu menunjukkan perbedaan- perbedaan kecil mengenai sifat (faktor) tertentu pada individu- individu yang berbeda. Suatu tes aitem yang ideal pembedanya harus dapat menggolongkan seluruh subjek yang dipakai sebagai dasar penentuan standar atau norma.

  f. Komprehensif Komprehensif dapat diartikan menyeluruh. Tes yang komprehensif, aitem-aitem tesnya mencakup seluruh area yang akan diukur sehingga dapat diasumsikan bahwa suatu tes akan semakin komprehensif jika aitem-aitemnya semakin dapat mencakup area yang akan diukur.

  g. Mudah digunakan Jika semua syarat yang di atas telah terpenuhi akan tetapi tes tersebut sukar untuk digunakan maka tes tersebut tetap mempunyai kelemahan. Nilai tes terletak pada kegunaannya sehingga kalau tes tersebut sukar digunakan maka tes tersebut memiliki nilai manfaat yang kurang.

  Berdasarkan penjelasan mengenai syarat-syarat tes yang baik, peneliti belum dapat menyimpulkan apakah UN sudah layak disebut tes yang baik ataukah belum. UN memang sudah memenuhi persyaratan tes seperti standarisasi, diskriminatif, obyektif, dan mudah lampiran penjelasan undang-undang yang bersangkutan. Jadi penyelenggaraan UN di seluruh Indonesia sudah memiliki standar sendiri baik penyajian maupun materinya. Persyaratan obyektif juga sudah dipenuhi oleh UN. Bentuk soal mutiple-choice dan cara skoringnya sudah menunjukkan bahwa UN merupakan tes yang obyektif. Karena bentuk soal mutiple-choice, maka UN dapat dengan mudah disajikan hanya dengan membutuhkan lembar jawaban dan alat tulis untuk mengerjakannya.

  Syarat tes haruslah komprehensif belum dapat dipenuhi oleh UN. Berdasarkan penelitian Kartowagiran (2008), subtes Matematika hanya mengukur sepertiga kemampuan matematika dari para siswa.

  Ada beberapa syarat tes yang belum mampu dibuktikan secara empirik yaitu reliabel, dan valid. Belum ada penelitian yang mempublikasikan mengenai kualitas psikometrik dari UN. Penelitian ini berusaha memberikan bukti empirik mengenai validitas untuk dapat menentukan kelayakan UN disebut sebagai tes yang baik.

  4. Fungsi Tes Psikologi Secara umum, tes membantu tester membuat keputusan- keputusan tentang individu atau program-program tertentu. Secara rinci dapat dibedakan sejumlah manfaat tes sebagai berikut (Gregory, 2000) : a. Klasifikasi Untuk menempatkan seseorang pada satu kategori sebagai dasar untuk memberikan jenis perlakuan tertentu. Berikut ini merupakan macam-macam bentuk klasifikasi : (1) Penempatan (placement)

  Tes yang dipergunakan di sini berfungsi untuk memilih individu untuk ditempatkan pada aneka program sesuai dengan kebutuhan atau kemampuan masing-masing. (2) Penyaringan (screening)

  Tes atau prosedur sederhana untuk mengidentifikasikan orang- orang yang mungkin memiliki ciri-ciri atau kebutuhan- kebutuhan khusus tertentu. (3) Sertifikasi

  Sertifikasi bersifat lulus atau gagal. Jikalau lulus dalam tes tertentu maka seseorang akan mendapatkan privelese tertentu, misalnya hak untuk melakukan praktik. Jadi, sertifikasi mengimplikasikan bahwa seseorang memiliki kemahiran minimum dalam disiplin atau kegiatan tertentu. (4) Seleksi

  Konsepnya seperti sertifikasi seleksi bersifat lulus/gagal. Jika lulus mendapatkan privilese, seperti belajar di perguruan tinggi atau bekerja. b. Diagnosis dan merencakan tritmen/tindakan Diagnosis mencakup dua hal yang berkaitan erat :

  (1) menentukan bentuk dan sumber perilaku abnormal seseorang (2) menggolongkan pola perilaku tersebut ke dalam sistem diagnostik tertentu

  Fungsi diagnosis merupakan prasyarat bagi usaha penyembuhan atau pemberian tindakan terhadap gangguan tertentu. Diagnosis tidak boleh hanya sekadar klasifikasi, seperti memberi label belaka melainkan harus harus memberikan informasi tentang kekuatan, kelemahan pola perilaku menyimpang yang sedang dihadapi, etiologi atau asal-muasalnya, serta alternatif-alternatif yang terbaik untuk remediasi/penyembuhan.

  c. Pemahaman diri Tes dengan fungsi ini memberikan umpan balik untuk meningkatkan pemahaman diri. Dalam sejumlah kasus, umpan balik semacam itu sangat mengukuhkan individu yang bersangkutan sehingga mampu mengubah jalan hidupnya secara menyeluruh. Namun dalam banyak kasus, tes tidak memberikan informasi baru kepada yang bersangkutan. Artinya, yang bersangkutan sedikit banyak sudah tahu tentang dirinya menyangkut hal-hal yang diinformasian oleh hasil tes. d. Evaluasi program Tes ini dipakai untuk mengevaluasi keberhasilan suatu program, baik program pendidikan (educational program) atau program kemasyarakatan (social program).

  e. Penelitian Tes sering juga dipakai dalam penelitian, baik penelitian dasar atau terapan.

  Berdasarkan fungsinya UN merupakan salah satu bentuk tes yang memiliki fungsi untuk mengevaluasi program. Penyelenggaraan UN tersebut bertujuan untuk mengevaluasi keberhasilan suatu program pendidikan pada tiap-tiap jenjang pendidikan. Selain itu, UN juga memiliki fungsi lain yakni dalam fungsi klasifikasi khususnya dalam seleksi meskipun masih terbatas penggunaannya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Terkait wacana UN sebagai alat seleksi perguruan tinggi akan dikaji lebih lanjut dalam penelitian ini.

C. Validitas

  1. Pengertian Validitas Validitas dari masa ke masa telah mengalami perubahan konsep. Sebelum 1950, validitas dipahami sebagai kesesuaian antara apa yang diukur serta fungsi suatu tes dalam proses pengukuran suatu sampel perilaku. Selain itu terdapat konsep trinitarian yang biasa isi dan validitas berdasar kriterion. Konsep tersebut sudah lama ditinggalkan dan beralih pada konsep unitarian yang saat ini digunakan.

  Validitas merupakan konsep unitarian yang mengacu pada ketepatan dan kebermaknaan dari fungsi dan kesimpulan tertentu yang dihasilkan oleh skor tes. Proses validasi bukan ditujukan pada suatu tes atau perangkat pengamatan melainkan interpretasi atau kesimpulan yang diperoleh dari skor tes atau indikator lain (Messick, 1989; Gregory, 2000).

  Selain itu terdapat pemahaman bahwa validitas merupakan argumen. Validitas menyediakan analisis yang koheren dari semua bukti-bukti yang mendukung ataupun menentang interpretasi, dan juga bukti-bukti yang mendukung interpretasi alternatif dari tes yang sama (Kane, 2006).

  Konsep validitas tidak dapat lepas dari proses validasi yakni proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti validitas. Dengan kata lain, usaha validasi merupakan usaha melakukan uji hipotesis atau uji teori/model secara luas (Messick, 1989; Cohen, 2005; Kane, 2006).

  Berdasarkan pemahaman di atas terdapat dua konsep yang mencakup pemahaman validitas yaitu relevansi dan representatif.

  Suatu tes dapat dikatakan memiliki validitas yang baik ketika data

  Suatu tes akan dianggap representatif apabila inferensi yang dihasilkan mampu mewakili sampel perilaku yang bersangkutan.

  Oleh karena itu, validitas dapat dipahami sejauh mana data interpretasi yang diperoleh dari skor tes memiliki relevansi serta representasi yang sesuai dengan sampel perilaku yang diukur. Dalam prosesnya tersebut dibutuhkan analisis yang koheren dari semua bukti- bukti yang mendukung ataupun menentang interpretasi. Usaha pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti validitas tersebut dikenal sebagai proses validasi.

  2. Bukti-bukti Validitas Proses validasi tidak dapat lepas dari pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti validitas. Bukti-bukti validitas diperlukan sebagai pendukung ataupun penentang sebuah interpretasi. Bukti-bukti validitas tersebut adalah sebagai berikut: a. Validitas Tampang

  Validitas tampang adalah validitas yang paling rendah signifikansinya karena hanya didasarkan pada penilaian terhadap format penampilan tes. Tes yang memiliki validitas muka yang tinggi (tampak meyakinkan) akan memancing motivasi individu yang dites untuk menghadapi tes tersebut dengan sungguh- sungguh. Motivasi ini merupakan aspek penting dalam setiap b. Validitas Isi Validitas isi ditentukan oleh sejauh mana pertanyaan, tugas, atau aitem pada tes mewakili keseluruhan sampel atau perilaku yang akan diukur karena cakupannya akan sangat luas (Gregory, 2000). Validasi dilakukan dengan meminta penilaian „ahli‟ terhadap isi tes dengan membandingkan tes terhadap teori atau kurikulum (blueprint tes) yang bersangkutan. Usaha validasi tersebut dilakukan sebelum tes diujicobakan sehingga bukan interpretasi skor yang divalidasi namun pada isinya, dengan asumsi testee akan merespon sesuai dengan isi tes (Kane, 2006)

  c. Validitas Konstruk Validitas konstruk adalah tipe validitas yang menunjukkan sejauh mana tes mengungkap suatu trait atau konstruk teoritik yang hendak diukur (Allen & Yen, 1979). Jadi, perilaku skor tes yang didapatkan harus sesuai dengan teori yang mendasari pembuatan tes. Oleh karena itu, validitas konstrak membutuhkan akumulasi informasi secara bertahap dari berbagai sumber. Data apapun yang menyoroti hakikat dari sifat yang dipertimbangkan dan kondisi yang mempengaruhi perkembangan dan perwujudannya menunjukkan bukti yang tepat untuk validasi ini (Anastasi, 2006). Berikut ini merupakan bukti-bukti validitas konstruk (Messick, 1989; Kane, 2006):

  1) Analisis faktor terhadap item-item dan/atau tes Validitas konstruk sebuah tes dapat diselidiki dengan cara melakukan analisis faktor terhadap tes yang bersangkutan sekaligus terhadap serangkaian tes diketahui mengukur sejumlah faktor atau marker test (Allen & Yen, 1979).

  Analisis faktor merupakan kumpulan prosedur matematik yang kompleks guna menganalisis hubungan antara variabel-variabel dan menjelaskan antar hubungan tersebut dalam bentuk kelompok variabel yang terbatas yang disebut faktor (Azwar, 2003).

  2) Multi trait multi method

  Pendekatan ini dapat digunakan bilamana terdapat dua sifat atau lebih yang diukur oleh dua macam metode atau lebih.

  Dasar pemikiran dalam validasi ini adalah validitas yang baik diperlihatkan oleh korelasi yang tinggi antara dua pengukuran terhadap trait yang sama oleh dua metode yang berbeda. Selain itu, ditambah dengan korelasi yang rendah antara dua pengukuran terhadap dua trait yang berbeda walaupun menggunakan metode yang serupa (Azwar, 2003).

  3) Contrastive group

  Merupakan pendekatan validasi dengan membandingkan alat yang mengukur trait atau konstruk yang sama. Apabila korelasi antara kelompok satu dan lainnya memiliki hasil yang relatif sama maka dapat disimpulkan bahwa alat tersebut mengukur trait atau konstruk yang sama (Santoso, 2010).

  4) Sensitivy to instruction/development

  Dasar pemikiran dari pendekatan ini hampir sama seperti pada contrastive group. Hal yang membedakan terdapat pada tambahan treatment yang diberikan pada salah satu kelompok. Apabila salah satu dari dua kelompok penelitian diberikan tambahan treatment khusus maka setidaknya akan menghasilkan perbedaan. Namun jika ternyata tidak terdapat perbedaan pada hasilnya, maka dapat menunjukkan bahwa alat tersebut memiliki validitas konstruk yang rendah (Santoso, 2010). 5) Mental operation check

  Item yang baik adalah item yang mampu memunculkan tahapan atau proses berpikir tertentu sesuai dengan tujuan item yang ingin dicapai. Apabila sebuah item ditujukan untuk mengukur kemampuan evaluasi maka dalam proses pengerjaannya akan terdapat tahapan berpikir seperti analisis, pembedaan, dst. Oleh karena itu diperlukan dilewati ketika mengerjakan item pada subjek (Santoso, 2010).

  d. Validitas Berdasar Kriteria Prosedur pendekatan validitas berdasarkan kriteria menghendaki tersedianya kriteria eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor tes. Suatu kriteria adalah variabel perilaku yang akan diprediksikan oleh skor tes atau berupa suatu alat ukur lain yang relevan. Untuk melihat tingginya validitas berdasarkan kriteria dilakukan komputasi korelasi antara skor tes dengan skor kriteria (Azwar, 2003).

  Prosedur-prosedur validasi-kriteria menunjukkan efektivitas sebuah tes untuk memprediksi kinerja seseorang dalam aktivitas tertentu. Prosedur validasi berdasarkan kriteria ini dapat dilakukan dengan dua macam validitas, yaitu validitas prediktif dan validitas konkuren.

  Apabila skor tes dan skor kriteria dapat diperoleh dalam waktu yang sama, maka korelasi antara kedua skor termaksud merupakan koefisien validitas konkuren. Sebagai contoh dalam penyusunan suatu skala inteligensi. Kita dapat menguji validitas skala inteligensi yang kita susun dengan cara menghitung korelasi antara skor skala tersebut dengan skor pada tes inteligensi lain yang telah valid, misalnya skala Wechsler (Azwar, 2003).

  Validitas prediktif penting artinya bila tes dimaksudkan untuk berfungsi sebagai prediktor bagi performansi waktu yang akan datang. Berkaitan dengan validitas prediktif ini akan dibahas lebih lanjut dalam sub bahasan berikutnya.

D. Validitas Prediktif

  Validitas prediktif merupakan salah satu prosedur validasi yang menunjukkan efektivitas sebuah tes dalam memprediksi kinerja seseorang dalam aktivitas-aktivitas tertentu. Istilah prediksi ini dapat digunakan dalam pengertian lebih luas, untuk merujuk pada prediksi dari tes pada suatu kriteria apapun, atau dalam pengertian prediksi lebih terbatas selama interval waktu tertentu (Anastasi, 2006).

  Penerimaan para pelamar kerja, seleksi mahasiswa untuk diterima ke perguruan tinggi dan sekolah-sekolah profesional, dan penempatan personil militer pada program-program pelatihan jabatan merupakan contoh-contoh dari jenis keputusan yang memerlukan pengetahuan tentang validitas prediktif tes. Skor-skor tes mahasiswa dapat dibandingkan dengan indeks prestasi kumulatif mereka guna mengetahui validitas prediktif tes seleksi mahasiswa (Anastasi, 2006).

  Cara menentukan tinggi rendahnya daya prediksi suatu variabel prediktor adalah dengan menggunakan analisis statistik teknik korelasi, yaitu dengan mengestimasi korelasi antara variabel prediktor dengan diperlakukan sebagai prediktor, sementara kriterionnya adalah prestasi belajar mahasiswa yang dinyatakan dalam Indeks Prestasi Kumulatif.

  Validitas prediktif UN ini dikatakan baik jika terdapat korelasi yang tinggi antara nilai komposit UN dengan indeks prestasi. Dengan kata lain UN dapat menjalankan fungsi ukurnya yaitu mampu memprediksikan prestasi belajar mahasiswa. Begitu juga sebaliknya, jika terdapat korelasi yang rendah antara nilai komposit UN dengan indeks prestasi maka dapat dikatakan bahwa UN kurang mampu menjalankan fungsi ukurnya dengan baik, yaitu memprediksikan prestasi belajar mahasiswa.

E. Indeks Prestasi sebagai Representasi Prestasi Belajar

  Prestasi belajar atau keberhasilan belajar dioperasionalkan dalam bentuk indikator-indikator berupa nilai raport, indeks prestasi, angka kelulusan, prediksi keberhasilan dan sebagainya (Azwar, 1996). Perguruan tinggi pada umumnya menggunakan indeks prestasi yang dilambangkan dengan angka 0 sampai dengan 4 sebagai indikator prestasi belajar.

  Penilaian hasil belajar dinyatakan dalam suatu pendapat yang perumusannya bermacam-macam. Ada yang digolongkan dengan melambangkan huruf (A, B, C, D, E, dan F) dan ada pula yang dilambangkan dalam bentuk angka atau skala sampai sebelas tingkat yaitu mulai dari 0 sampai 10, dan ada pula yang memakai penilaian dari 0

  Universitas Sanata Dharma menyatakan penilaian terhadap hasil belajar dengan dilambangkan huruf A, B, C, D, E dan F yang tertuang dalam Indeks Prestasi. Huruf A ekuivalen dengan bobot 4 yang berarti amat baik, huruf B ekuivalen dengan bobot 3 yang berarti baik, huruf C ekuivalen dengan bobot 2 yang berarti cukup, huruf D dengan bobot 1 yang berarti kurang, huruf E yang ekuivalen dengan bobot 0 yang berarti jelek, dan terakhir F yang berarti siswa dianggap tidak mengikuti perkuliahan sehingga tidak memiliki nilai hasil belajar atau kosong (Pedoman Program Studi Psikologi USD, 2006).

  Nilai-nilai akhir dari hasil belajar merupakan akumulasi dari komponen-komponen ujian sisipan, ujian akhir semester, dan penyelesaian tugas-tugas yang diberikan. Penentuan nilai-nilai tersebut berbeda-beda tiap dosen pengajar. Nilai-nilai tersebut biasa disimbolkan dengan angka- angka disertai dengan pembobotan pada tiap komponennya. Misalnya, pada mata kuliah A terdapat ujian sisipan dengan bobot sebesar 30%, tugas-tugas 20%, dan ujian akhir 50%. Setelah seluruh nilai-nilai terakumulasi, maka dosen pengajar mengkonversikannya dalam bentuk huruf mulai dari A, B, C, D, E, bahkan F.

  Apabila seluruh nilai mata kuliah pada satu semester telah lengkap, maka dapat dihitung berdasarkan bobot tiap nilainya. Hasil akumulasi seluruh nilai tersebut yang kemudian disebut Indeks Prestasi (IP). Indeks Prestasi biasa ditulis sampai dengan dua angka di belakang

  (K) dan bobot nilai (N) dibagi dengan jumlah kredit yang direncanakan atau dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :

  KN

  IP K

  Universitas Sanata Dharma memiliki program penilaian khusus yang disebut penilaian sisip program. Penilaian sisip program ini diberikan pada mahasiswa pada akhir semester IV dan semester VII terhitung dari saat seseorang terdaftar sebagai mahasiswa. Mahasiswa yang gagal memenuhi kriteria penilaian sisip program tidak diperkenankan melanjutkan kuliah. Seorang mahasiswa dianggap memenuhi syarat penilaian sisip program jika pada semester IV telah menempuh minimal 45 sks serta IPK minimal 2,00 (Pedoman Program Studi Psikologi USD, 2006).

F. Validitas Prediktif Ujian Nasional terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Fakultas Psikologi Angkatan 2005 Universitas Sanata Dharma

  Universitas Sanata Dharma, khususnya Fakultas Psikologi merupakan salah satu institusi pendidikan yang memiliki misi untuk mendidik mahasiswa menjadi manusia yang utuh, kritis, dewasa, dan memiliki kepekaan sosial, sekaligus lembaga yang mempersiapkan tenaga kependidikan secara profesionalUntuk mewujudkan misi tersebut maka dibutuhkan generasi-generasi mahasiswa yang terbaik. Generasi-generasi mahasiswa yang terbaik tersebut diperoleh berdasarkan sistem seleksi yang secara independent diberikan oleh universitas dengan menggunakan Tes Potensi Akademik Plus.

  Perkembangan dalam dunia pendidikan kita telah memberikan sebuah wacana bahwa Ujian Nasional (UN) akan digunakan sebagai alat seleksi untuk masuk perguruan tinggi. Hal tersebut memang sudah tertuang dalam tujuan UN yakni sebagai seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya (Ps. 4, Permendiknas RI No.1/2005), akan tetapi pelaksanaannya masih terbatas pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) saja. Berdasarkan wacana di atas, tidak dapat dipungkiri bila UN pada tingkat pendidikan menengah (SMA) selanjutnya akan dipergunakan sebagai alat seleksi masuk perguruan tinggi. Padahal UN sebelumnya hanya dipergunakan sebagai syarat kelulusan saja. Atau dengan kata lain, adanya penambahan fungsi UN sebagai alat seleksi masuk perguruan tinggi.

  UN merupakan sebuah alat evaluasi peserta didik yang digunakan dalam kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah yang dilaksanakan pada akhir masa jenjang pendidikan. UN dapat kita golongkan sebagai salah satu bentuk tes psikologi yang penggunaannya terbatas hanya dibidang pendidikan saja. UN ini memuat kumpulan pertanyaan yang obyektif, standar dan sistimatik yang memiliki tujuan ini pun mendeskripsikan perilaku atau dalam hal ini kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi para peserta didik dalam bentuk nilai-nilai murni dari mata pelajaran yang diujikan.

  UN sebagai salah satu bentuk tes psikologi memiliki fungsi- fungsi layaknya alat tes lainnya. UN merupakan salah satu bentuk tes yang memiliki fungsi untuk mengevaluasi program. Penyelenggaraan UN tersebut bertujuan untuk mengevaluasi keberhasilan suatu program pendidikan pada tiap-tiap jenjang pendidikan. UN juga memiliki fungsi lain yakni fungsi klasifikasi khususnya dalam seleksi. UN merupakan salah satu bahan pertimbangan kelulusan seorang peserta didik ketika akan mendaftar ke jenjang pendidikan selanjutnya (Ps. 4, Permendiknas RI No.

  1/2005).

  Fungsi seleksi inilah yang masih menjadi pro dan kontra ketika keberadaan UN akan dipergunakan untuk mengintegrasikan antara sistem pendidikan dasar, pendidikan menengah dengan pendidikan tinggi. Untuk mencapai fungsi di atas maka alat seleksi dituntut untuk mampu memenuhi aspek prediction effectiveness. Aspek tersebut memiliki makna bahwa hasil seleksi dapat meramalkan keberhasilan mahasiswa Suryabrata (1987). Pada jangka pendek berarti mahasiswa yang terpilih oleh sistem seleksi akan menunjukkan prestasi yang baik, dan dapat menyelesaikan pendidikannya dalam waktu yang telah ditentukan.

  Kemampuan prediktif merupakan salah satu cara membuktikan mengetahui kelayakan UN digunakan sebagai alat seleksi di masa yang akan datang maka diperlukan pengujian yaitu dengan uji validitas prediktif terhadap UN. Validitas prediktif sangat penting artinya bila tes tersebut berfungsi sebagai prediktor bagi performansi di masa yang akan datang (Azwar, 2003).

  Validitas prediktif memerlukan kriteria pembanding dan tes yang kita uji validitas prediktifnya akan menjadi prediktor (Azwar, 2003).

  Ukuran atau data yang digunakan sebagai kriteria, diperoleh setelah selang waktu tertentu sejak pengukuran atau pengambilan data tes yang menjadi prediktornya.

  UN yang dipergunakan sebagai prediktor dioperasionalkan dalam bentuk skor komposit beserta skor tiap-tiap subtesnya. Skor tiap-tiap subtesnya akan berbeda-beda berdasarkan jurusan mahasiswa ketika di SMA. Skor komposit tersebut juga akan dibedakan berdasarkan jurusan yang ditempuh mahasiswa yaitu IPA, IPS, dan bahasa. Pembedaan ini bertujuan untuk melihat jurusan manakah yang berpotensi memiliki keberhasilan apabila seorang mahasiswa diterima di Fakultas Psikologi.

  Hal tersebut bertujuan untuk melihat jurusan manakah yang berpotensi memiliki

  

keberhasilan, khususnya apabila seorang mahasiswa diterima di Fakultas

Psikologi. Hasil penelitian tersebut akan sangat berguna untuk menjaring calon

  mahasiswa dengan kriteria yang diharapkan.

  Kriteria pembanding dalam penelitian ini adalah prestasi belajar mahasiswa. Prestasi belajar merupakan suatu istilah yang menunjukan tingkat keberhasilan mahasiswa mencapai tujuan belajarnya setelah mengikuti proses belajar dari suatu program yang ditentukan. Prestasi belajar secara umum adalah bukti usaha yang dapat dicapai, atau bukti perubahan yang dapat terjadi pada siswa dalam bidang pengetahuan, ketrampilan, dan sikap sebagai hasil dari proses belajar (Winkel, 1996).

  Calon mahasiswa yang memperoleh nilai UN tinggi berarti calon mahasiswa tersebut dianggap mempunyai potensi atau kemampuan belajar yang tinggi. Kemampuan belajar yang baik akan memudahkan mahasiswa untuk menguasai setiap mata kuliah yang diikuti sehingga setelah mengikuti evaluasi hasil belajar kemungkinan memperoleh indeks prestasi yang baik akan semakin besar.

  Sebaliknya, apabila calon mahasiswa yang memperoleh nilai UN rendah berarti calon mahasiswa tersebut dianggap mempunyai potensi atau kemampuan belajar yang rendah pula. Kemampuan belajar yang kurang akan menghambat mahasiswa untuk menguasai setiap mata kuliah yang diikuti sehingga setelah mengikuti evaluasi hasil belajar kemungkinan memperoleh indeks prestasi yang baik semakin kecil.

  Berdasarkan analogi di atas, UN ditempatkan sebagai alat yang mampu mengukur dan menilai kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi para siswa yang terwujud dalam bentuk nilai-nilai mata pelajaran yang diujikan dalam UN. Prestasi belajar dapat ditempatkan sebagai bukti usaha yang telah dicapai atau bukti perubahan yang terjadi dalam bidang pengetahuan dan ketrampilan sebagai hasil dari proses belajar yang terwujud dalam indeks prestasi.

  Koefisien korelasi antara skor tes dan skor kriteria merupakan indikator mengenai saling hubungan antara prediktor dengan kriterion yang merupakan koefisien validitas prediktif (Azwar, 2006). Jadi hasil korelasi antara nilai UN dengan indeks prestasi merupakan koefisien validitas prediktif. Angka korelasi ini dapat ditentukan layak atau tidaknya UN sebagai alat seleksi perguruan tinggi di masa yang akan datang.

G. Pertanyaan Penelitian

  1. Bagaimana kemampuan UN dalam menjalankan fungsi prediksinya terhadap Indeks Prestasi Kumulatif mahasiswa di semester IV dan VII?

  2. Bagaimana kemampuan tiap subtes UN dalam menjalankan fungsi prediksinya terhadap Indeks Prestasi Kumulatif mahasiswa semester

  VII?

  3. Bagaimana kemampuan UN dalam menjalankan fungsi prediksinya terhadap Indeks Prestasi Kumulatif mahasiswa semester VII berdasarkan penjurusan?

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Berikut merupakan variabel-variabel yang akan digunakan dalam

  penelitian ini yaitu :

  1. Prediktor dalam penelitian ini adalah nilai UN termasuk di dalamnya nilai dari masing-masing mata pelajaran yang diujikan pada UN tahun ajaran 2004/2005.

  2. Kriterion dalam penelitian ini adalah indeks prestasi kumulatif mahasiswa pada semester IV dan semester VII dimana biasa dilakukan penilaian khusus yang disebut penilaian sisip program.

B. Definisi Operasional

  1. Nilai Ujian Nasional tahun ajaran 2004/2005 Nilai Ujian Nasional adalah skor yang diperoleh peserta didik pada masing-masing mata pelajaran yang diujikan pada UN. Nilai komposit sering disebut nilai total, sehingga nilai komposit UN tahun ajaran 2004/2005 adalah nilai total yang diperoleh dengan menjumlahkan nilai ketiga mata pelajaran yang diujikan. Nilai-nilai mata pelajaran tersebut dapat diperoleh di BAA. Mata pelajaran yang diujikan yakni dengan rincian sebagai berikut (Ps. 6, Permendiknas No. 1/2005) : a. Untuk jenjang SMA dan MA program studi IPA meliputi Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika;

  b. Untuk jenjang SMA dan MA program studi IPS meliputi Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Inggris, dan Ekonomi;

  c. Untuk jenjang SMA dan MA program studi Bahasa meliputi Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Asing Lainnya; d. Untuk jenjang SMALB meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan

  Matematika;

  e. Untuk jenjang SMK meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan Kompetensi Keahlian.

  2. Indeks Prestasi Kumulatif Indeks prestasi kumulatif adalah jumlah dari hasil perkalian nilai dengan kredit tiap mata kuliah dibagi dengan jumlah kredit mata kuliah yang direncanakan pada semester genap dan gasal. Indeks prestasi kumulatif merupakan indikator dari prestasi belajar. Data-data indeks prestasi kumulatif tersebut dapat diperoleh di BAPSI.

  ( NK ) gasal ( NK ) genap

  IP K Kgasal Kgenap

  Keterangan :

  IP = Indeks prestasi kumulatif K

  N = Nilai mata kuliah dalam satu semester

C. Subjek Penelitian

  Subjek penelitian adalah sumber utama data penelitian, yaitu memiliki data mengenai variabel-variabel yang diteliti dan yang akan dikenai kesimpulan hasil penelitian.

  Subjek yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma angkatan 2005. Fakultas Psikologi dipilih sebagai sampel awal dari penelitian ini. Kedepannya diharapkan terdapat penelitian yang memiliki cakupan yang lebih luas. Hal lain yang juga berpengaruh yakni terkait dengan usaha untuk mengetahui mahasiswa dengan kemampuan seperti apakah yang diprediksi memiliki keberhasilan belajar jika kelak diterima di Fakultas Psikologi. Angkatan 2005 dipilih sebagai subjek karena pada angkatan ini dapat diperoleh data indeks prestasi secara keseluruhan. Alasan lain yang lebih kuat karena pada tahun ajaran ini tidak terdapat ujian ulangan apabila mahasiswa dinyatakan tidak lulus. Maka skor yang dihasilkan oleh keseluruhan subjek diperoleh dari alat ukur yang sama.

  Sampel penelitian diambil dengan menggunakan teknik purposive

  sampling , yaitu sampel yang dipilih berdasarkan ciri-ciri yang sudah

  ditentukan sebelumnya. Batasan subjek penelitian adalah subjek yang aktif mengikuti perkuliahan mulai dari semester satu sampai tujuh (tidak cuti), indeks prestasi tidak sama dengan nol dan mengikuti Ujian Nasional tahun ajaran 2004/2005.

  D. Prosedur Penelitian

  Adapun prosedur pengambilan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini:

  1. Meminta surat izin pengambilan data dari fakultas psikologi untuk diserahkan pada Wakil Rektor I, BAPSI, dan BAA.

  2. Mengambil data skor nilai murni UN 2004/2005 serta indeks prestasi mahasiswa dari semester I hingga semester VII.

  3. Memasukan data skor nilai murni UN 2044/2005 dan indeks prestasi mahasiswa ke program SPSS 17.

  4. Menganalisis data dengan analisis korelasi product moment dari Pearson untuk melihat koefisien validitas UN pada mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2005.

  E. Metode Pengumpulan Data

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Dokumen yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah skor nilai UN tahun ajaran 2004/2005 dan indeks prestasi mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2005.

  Skor nilai UN tahun ajaran 2004/2005 diperoleh dari BAA. Sedangkan indeks prestasi mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2005 diperoleh dari BAPSI atas izin pihak Universitas Sanata Dharma.

F. Metode Analisis Data

  Penelitian ini menggunakan analisis korelasi product moment dari Pearson untuk melihat korelasi antara skor komposit UN tahun ajaran 2004/2005 dengan indeks prestasi mahasiswa. Semakin besar nilai korelasi maka semakin besar keeratan hubungan UN dengan indeks prestasi mahasiswa yang diperoleh. Nilai koefisien korelasi bergerak dari -1 hingga 1. Validitas prediktif akan dinyatakan baik jika nilai koefisien korelasinya positif dan signifikan. Nilai korelasi signifikan jika taraf signifikansinya kurang dari 0,05.

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian Persiapan pertama yang dilakukan dalam penelitian ini yakni meminta

  izin penelitian dari Fakultas Psikologi untuk diserahkan kepada Wakil Rektor I Universitas Sanata Dharma. Atas persetujuan Wakil Rektor I, maka peneliti diperbolehkan untuk mengambil data yang dibutuhkan untuk penelitian ini di BAPSI dan BAA.

  Pengambilan data yang dilaksanakan di BAA dimulai dengan mencari dokumen-dokumen mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2005. Dokumen yang dibutuhkan adalah Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) yang berisi nilai- nilai murni Ujian Nasional dari mahasiswa. Setelah semua dokumen yang dibutuhkan ditemukan, peneliti memindahkan semua data tersebut ke dalam komputer secara manual.

  Pengambilan data di BAPSI dilakukan oleh staf internal dengan mengumpulkan IPK mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2005 semester IV dan semester VII.

B. Deskripsi Subjek Penelitian

  Jumlah subjek yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 78 orang, dari 102 mahasiswa angkatan 2005 yang diterima sebagai mahasiswa lolos kriteria yang telah ditetapkan. Kriteria subjek yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mahasiswa yang diterima dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru, mahasiswa yang mengikuti Ujian Nasional tahun ajaran 2004/2005, subjek yang aktif mengikuti perkuliahan mulai dari semester satu sampai tujuh (tidak cuti), dan indeks prestasi tidak sama dengan nol.

  Indeks Prestasi Kumulatif yang digunakan adalah pada semester IV dan semester VII. Pada semester IV ini biasa dilakukan penilaian khusus yang disebut penilaian sisip program. Pada semester ini mahasiswa yang gagal memenuhi kriteria penilaian sisip program tidak diperbolehkan untuk melanjutkan kuliah. Seorang mahasiswa dianggap memenuhi syarat penilaian sisip program jika pada semester IV telah menempuh minimal 45 sks serta IPK minimal 2,00 (Pedoman Program Studi Psikologi USD, 2006). Semester VII merupakan semester terakhir mahasiswa mengambil mata kuliah teori sehingga seluruh nilai yang diperoleh sudah terakumulasi pada IPK semester ini.

C. Hasil Penelitian

  1. Validitas Prediktif UN Secara Umum Pengujian terhadap pertanyaan dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis korelasi Product-moment dari Pearson melalui program SPSS versi

  . Pengujian tersebut diperoleh hasil analisis sebagai berikut:

  17.0

  Tabel 1 UN dengan Indeks Prestasi Kumulatif

  2 No. IPK r xy p r

  1. IPK semester IV 0.176 0.123 0.031

  2. IPK semester VII 0.188 0.099 0.035 Hasil analisis menunjukkan korelasi yang tidak signifikan antara

  UN dengan IPK semester IV (r = 0.176, p = 0.123). Taraf signifikasi yang ada menunjukkkan bahwa p>0.05. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa antara UN dengan IPK semester IV tidak terdapat hubungan yang signifikan.

  Begitu pula pada hasil analisis korelasi antara UN dengan IPK semester VII (r = 0.188, p = 0.099). Karena taraf signifikasi yang dihasilkan menunjukkan p>0.05, maka dapat dikatakan antara UN dan IPK semester VII tidak terdapat hubungan yang signifikan.

  2. Validitas Prediktif Tiap Subtes UN Berikutnya dengan menggunakan analisis korelasi, dapat diperoleh hasil korelasi antara subtes UN yang meliputi subtes Bahasa Indonesia,

  Bahasa Inggris, Matematika, dan Ekonomi dengan Indeks Prestasi Kumulatif semester VII. Analisis korelasi hanya dilakukan pada semester

  VII karena keseluruhan nilai yang diperoleh mahasiswa sudah terakumulasi pada IPK semester ini. Nilai IPK pada semester VII dianggap dapat mewakili pencapaian prestasi belajar mahasiswa selama perkuliahan. Hasil

  Tabel 2 Subtes

  • – Subtes UN dengan IPK semester VII

   No. Subtes UN r xy p

  1. Bahasa Indonesia 0.236* 0.038

  2. Bahasa Inggris -0.011 0.925

  3. Matematika -0.078 0.652

  4. Ekonomi 0.462** 0.002 Keterangan : * Korelasi signifikan dengan taraf kepercayaan 0.05

  • Korelasi signifikan dengan taraf kepercayaan 0.01

  Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa korelasi antara nilai tiap subtes UN dengan Indeks Prestasi Kumulatif semester VII terdapat beberapa subtes yang memiliki koefisien korelasi yang cukup tinggi. Subtes Bahasa Jerman tidak dapat dianalisis karena hanya terdapat satu subjek.

  Subtes Ekonomi merupakan subtes yang memperoleh hasil korelasi yang tertinggi dibandingkan subtes lainnya. Hasil analisis menunjukkan korelasi yang signifikan (r = 0.462**, p = 0.002). Maka dapat disimpulkan bahwa antara subtes Ekonomi dengan IPK semester VII memiliki hubungan yang signifikan.

  Hasil analisis juga menunjukkan korelasi yang signifikan antara subtes Bahasa Indonesia dengan IPK semester VII (r = 0.236, p = 0.038).

  Taraf signifikasi yang ada menunjukkan p<0.05 sehingga dapat dikatakan bahwa antara subtes Bahasa Indonesia dengan IPK semester VII memiliki

  Hasil analisis antara subtes Matematika dengan IPK semester VII menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi yang signifikan (r = -0.078, p = 0.652). Taraf signifikasi yang ada menunjukkan bahwa p>0.05 yang dapat diartikan tidak terdapat hubungan antara subtes Matematika dengan IPK semester VII.

  Hasil analisis juga menunjukkan korelasi yang tidak signifikan antara subtes Bahasa Inggris dengan IPK semester VII (r = -0.011, p = 0.925). Karena taraf signifikasi yang dihasilkan menunjukkan p>0.05, maka dapat dikatakan antara subtes Bahasa Inggris dan IPK semester VII tidak terdapat hubungan yang signifikan.

  3. Validitas Prediktif Skor UN Berdasarkan Jurusan Selain itu, peneliti juga mengkorelasikan skor UN keseluruhan dari subjek tiap jurusan dengan IPK semester VII. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan analisis korelasi yakni sebagai berikut: Tabel.3 Skor UN dengan IPK semester VII berdasarkan Jurusan No. Jurusan r xy p

  1. IPA 0.048 0.783

  2. IPS 0.355* 0.023

  3. Bahasa - - Keterangan : * Korelasi signifikan dengan taraf kepercayaan 0.05

  • Korelasi signifikan dengan taraf kepercayaan 0.01
Peneliti mengkorelasikan skor UN tiap subjek berdasarkan jurusan dengan IPK semester VII dengan tujuan untuk melihat jurusan manakah yang berpotensi memiliki keberhasilan apabila seorang mahasiswa diterima di Fakultas Psikologi.

  Skor UN pada jurusan IPS memiliki korelasi yang signifikan dengan

  IPK pada semester VII (r = 0.355, p = 0.023). Hasil korelasi tersebut menunjukkan bahwa antara skor UN pada jurusan IPS dengan IPK semester

  VII memiliki hubungan yang signifikan.

  Lain halnya korelasi antara skor UN pada jurusan IPA dengan IPK semester VII diperoleh hasil yang tidak signifikan yakni r = 0.048 dengan p = 0.783. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa antara skor UN pada jurusan IPA dengan IPK semester VII tidak terdapat hubungan yang signifikan.

  Terakhir, untuk jurusan Bahasa tidak dapat dianalisis karena hanya terdapat satu subjek.

D. Pembahasan

  Berdasarkan hasil analisis data dengan teknik korelasi menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi antara UN dengan IPK semester IV. Dalam hal ini, semakin tinggi nilai UN tidak akan diikuti oleh semakin tingginya perolehan IPK semester IV dan begitu pula sebaliknya. Hal tersebut didasarkan pada perolehan taraf signikasi (p = 0.123) yang lebih besar dari 0.05.

  Berdasarkan hasil penelitian, tampak juga bahwa tidak terdapat tidak signifikan, maka dapat dikatakan antara UN dengan IPK semester VII tidak terdapat korelasi. Dalam hal ini, semakin tinggi nilai UN tidak akan diikuti oleh semakin tingginya perolehan IPK semester VII dan begitu pula sebaliknya.

  Hal tersebut dapat dipahami karena UN tidak lain adalah salah satu bentuk tes prestasi yang secara jelas ditujukan sebagai alat evaluasi hasil belajar seorang peserta didik. UN yang merupakan tes prestasi disusun berdasarkan silabus materi pada mata pelajaran tertentu yang akan diujikan.

  Oleh karena itu, abilitas yang diukur UN sangat spesifik dibandingkan kebutuhan yang diperlukan untuk memasuki perguruan tinggi. Sebagai contoh, dalam proses pengerjaan subtes Matematika diperlukan kemampuan kalkulus beserta rumus-rumus yang rumit. Padahal kemampuan yang dibutuhkan lebih pada penalaran dan strategi pemecahan masalah kuantitatif yang bersifat umum (Azwar, 2008).

  Tidak adanya korelasi antara UN dengan IPK semester IV maupun semester VII menunjukkan bahwa UN dapat dianggap kurang layak dijadikan sebagai prediktor keberhasilan mahasiswa dalam belajar ketika berada di Fakultas Psikologi. Mahasiswa yang memperoleh nilai UN tinggi, tidak dapat dipastikan apakah mereka akan memiliki IPK yang tinggi juga. Demikian pula dengan mahasiswa yang memiliki nilai UN yang rendah.

  Berdasarkan hasil penelitian pula menunjukkan bahwa hanya subtes Ekonomi dan Bahasa Indonesia saja yang memiliki korelasi yang signifikan. dengan p = 0.002. Analisis data tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara subtes Ekonomi dengan IPK semester VII.

  Semakin tinggi perolehan nilai subtes Ekonomi akan semakin tinggi pula indeks prestasi kumulatifnya.

  Berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) menunjukkan bahwa sebagian besar ruang lingkup materi yang diujikan pada subtes Ekonomi lebih merupakan materi yang bersifat teoritis. Soal-soal yang diujikan sendiri berasal dari materi pelajaran Ekonomi mulai dari kelas X hingga kelas XII. Hal tersebut menggambarkan bahwa pemahaman verbal merupakan kemampuan yang sangat dibutuhkan untuk mengerjakan subtes ini. Selain itu, subtes Ekonomi juga memuat soal-soal yang membutuhkan kemampuan matematika. Soal-soal yang berupa perhitungan akuntansi, pajak, bunga, dan sebagainya (Lampiran I, Permendiknas RI No. 1/2005).

  Jika dikaitkan dengan materi yang diajarkan di Fakultas Psikologi yang sebagian besar berbentuk teori maka subtes Ekonomi tersebut setidaknya dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan mahasiswa. Seseorang yang memiliki skor yang tinggi pada subtes ini dapat diartikan memiliki kemampuan pemahaman verbal sekaligus kemampuan matematika yang baik. Dengan kemampuan yang baik tersebut mahasiswa yang diterima di Fakultas Psikologi diprediksi memiliki IPK yang baik pula.

  Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara subtes Bahasa Indonesia dengan IPK semester VII (r = 0.236, p = yakni kemampuan mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing). Namun hanya kemampuan mendengarkan dan membaca saja yang diujikan secara nasional (Lampiran I, Permendiknas RI No. 1/2005). Dalam proses pengerjaan subtes Bahasa Indonesia setidaknya dibutuhkan kemampuan membaca yang baik. Kemampuan membaca tersebut dibutuhkan karena soal-soal yang diujikan sebagian besar berupa bacaan beserta pertanyaan yang berhubungan dengan bacaan tersebut. Jika dikaitkan dengan materi yang ada di Fakultas Psikologi maka kemampuan membaca ini sangatlah dibutuhkan. Materi yang diberikan di Fakultas Psikologi lebih dominan berupa teori yang membutuhkan kemampuan membaca yang baik untuk mencapai pemahaman yang maksimal. Maka dapat dikatakan apabila mahasiswa mendapat skor tinggi pada subtes Bahasa Indonesia diartikan memiliki kemampuan membaca yang baik. Dengan begitu, mahasiswa yang memiliki kemampuan membaca yang baik diprediksi akan memperoleh IPK yang baik pula.

  Pada subtes Matematika diperoleh hasil yang tidak signifikan dengan perolehan r = -0.078 dan p = 0.652. Analisis data tersebut menunjukkan bahwa antara subtes Matematika dengan IPK semester VII tidak berkorelasi. Dalam hal ini, semakin tinggi perolehan subtes Matematika tidak akan diikuti oleh semakin tingginya perolehan IPK semester VII dan begitu pula sebaliknya.

  Hal tersebut mungkin saja dikarenakan di Fakultas Psikologi hanya ada beberapa mata kuliah saja yang membutuhkan kemampuan matematika. Kartowagiran (2008) disimpulkan bahwa perangkat tes UN tahun ajaran 2005 hanyalah mengukur 3 faktor yakni aljabar, geometri dan pengukuran.

  Perangkat tes tersebut hanya mampu menjelaskan sekitar 35% atau sekitar sepertiga varians kemampuan matematika siswa. Hal ini mengindikasikan bahwa masih banyak kemampuan matematika yang belum dimunculkan dalam soal UN Matematika.

  Faktor lain yang juga berpengaruh yakni dalam subtes Matematika memuat materi-materi yang spesifik. Materi yang spesifik ini membutuhkan penguasaan rumus-rumus matematika tertentu dalam proses pengerjaannya. Fakultas Psikologi memang terdapat beberapa mata kuliah yang membutuhkan kemampuan matematika yang baik. Namun kemampuan tersebut bukanlah kemampuan aritmatika yang rumit seperti yang harus dibutuhkan pada subtes Matematika di atas. Kemampuan yang berupa penalaran dan strategi pemecahan masalah kuantitatif yang bersifat umum akan lebih dibutuhkan (Azwar, 2008). Dengan kata lain, kemampuan yang diukur dalam subtes Matematika tersebut memang tidak berkaitan dengan kemampuan matematika yang dibutuhkan di Fakultas Psikologi.

  Hal serupa juga terjadi pada subtes Bahasa Inggris dengan perolehan koefisien korelasi sebesar -0.011 dan taraf signifikasi 0.925. Karena taraf signifikasi yang diperoleh lebih dari 0.05, maka koefisien yang berharga negatif pun tidak akan berpengaruh. Oleh karena itu dapat dikatakan antara subtes Bahasa Inggris dengan IPK semester VII tidak memiliki korelasi. Semakin tinggi nilai subtes Bahasa Inggris yang diperoleh tidak diikuti oleh peningkatan perolehan IPK ataupun sebaliknya.

  Subtes Bahasa Inggris merupakan subtes yang mengungkap performansi maksimal seorang siswa dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan (Azwar, 2003). Subtes Bahasa Inggris tersebut berusaha mengukur kemampuan siswa atas tata bahasa dan kosa kata Bahasa Inggris. Kemampuan tata bahasa sekaligus kosa kata Bahasa Inggris yang baik akan sangat berpengaruh apabila mahasiswa belajar di fakultas yang memang membutuhkan kemampuan tersebut. Lain halnya di Fakultas Psikologi yang bukan merupakan fakultas ilmu bahasa ataupun sastra melainkan ilmu sosial yang memang tidak terlalu menonjolkan kemampuan tersebut. Meskipun materi dalam silabus menggunakan literatur yang berbahasa Inggris, namun para mahasiswa tetap diperbolehkan untuk menggunakan literatur lain yang berbahasa Indonesia. Oleh karena itu, subtes Bahasa Inggris ini tidak memiliki kemampuan prediksi yang baik khususnya di Fakultas Psikologi.

  Peneliti juga mengkorelasikan skor total UN mahasiswa berdasarkan jurusan dengan IPK semester VII. Peneliti bertujuan untuk melihat mahasiswa dari jurusan manakah yang akan berpotensi memiliki keberhasilan apabila seorang mahasiswa diterima di Fakultas Psikologi. Hasil penelitian menunjukkan hanya jurusan IPS saja yang memperoleh korelasi yang signifikan dengan perolehan r = 0.355 dan p = 0.023. Jurusan Bahasa tidak dapat dianalisis karena hanya terdapat satu subjek.

  Hasil analisis tersebut mengindikasikan bahwa mahasiswa yang berasal dari jurusan IPS lebih berpotensi memiliki keberhasilan apabila diterima di Fakultas Psikologi. Hal tersebut kemungkinan dikarenakan materi yang diberikan di Fakultas Psikologi lebih dominan berupa ilmu-ilmu sosial yang sebagian sudah diajarkan ketika mahasiswa dengan jurusan IPS duduk di bangku SMU. Lain halnya dengan mahasiswa jurusan IPA yang lebih dominan dengan ilmu eksakta seperti matematika, fisika, kimia dan lain-lain.

  Secara keseluruhan hasil korelasi yang diperoleh dalam penelitian ini tergolong rendah. Hal lain yang mempengaruhi hasil korelasi serta merupakan kelemahan dari penelitian ini yaitu terjadinya restriksi sebaran. Restriksi sebaran didefinisikan sebagai keadaan menyempitnya variasi skor dikarenakan berkurangnya jumlah subjek atau dikarenakan sangat homogennya skor subjek (Azwar, 2006). Siswa dapat dinyatakan lulus jenjang SMU jika nilai yang diperoleh lebih dari 4,25. Oleh karena itu variasi skor yang ada menyempit atau dengan kata lain skor subjek sangat homogen karena hilangnya nilai-nilai terendah. Selanjutnya ketika dikorelasikan dengan indeks prestasi kumulatif maka hasil korelasi cenderung lebih rendah karena dalam kondisi idealnya variasi skornya normal dari tinggi hingga rendah.

  Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka peneliti menyimpulkan bahwa UN memiliki validitas yang rendah. Maka penambahan fungsi UN sebagai dasar seleksi untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya tampaknya harus dipertimbangkan lagi (Ps. 4, Permendiknas RI gambaran bahwa UN kurang mampu melaksanakan fungsinya dengan baik sebagai alat tes untuk pengklasifikasian khususnya seleksi.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa Ujian Nasional

  memiliki validitas prediktif yang kurang baik, dalam artian kemampuan memprediksi Ujian Nasional terhadap prestasi belajar dimasa yang akan datang dapat dikatakan masih rendah.

  Hal tersebut diperkuat dengan hasil korelasi tiap subtes Ujian Nasional dengan Indeks Prestasi Kumulatif semester VII. Hanya subtes Ekonomi dan Bahasa Indonesia memiliki korelasi yang signifikan, meskipun masih dikategorikan rendah. Subtes yang lain seperti Bahasa Inggris dan Matematika bahkan tidak berkorelasi. Hal tersebut mengindikasikan bahwa hanya subtes Ekonomi dan Bahasa Indonesia saja yang memiliki kemampuan memprediksi prestasi belajar mahasiswa dibandingkan subtes-subtes lainnya. Semakin tinggi nilai subtes yang diperoleh mahasiswa, maka akan semakin tinggi pula perolehan indeks prestasi kumulatifnya.

  Hasil korelasi tiap subtes di atas juga merujuk pada hasil korelasi yang signifikan antara skor Ujian Nasional mahasiswa pada jurusan IPS dengan Indeks Prestasi Kumulatif semester VII. Hal ini mengungkapkan bahwa mahasiswa yang berasal dari jurusan IPS lebih berpotensi memiliki keberhasilan belajar apabila diterima di Fakultas Psikologi.

B. Saran

  Berdasarkan hasil kesimpulan di atas, maka dapat diberikan saran- saran sebagai berikut:

  1. Untuk Pemerintah pada Khususnya Departemen Pendidikan Nasional Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ujian Nasional memiliki validitas prediktif yang rendah dalam fungsinya sebagai alat seleksi. Oleh karena itu, adanya rencana penambahan fungsi Ujian Nasional sebagai alat seleksi masuk perguruan tinggi tersebut sebaiknya dipertimbangkan lagi. Kalaupun akan dipergunakan, maka sangatlah diperlukan pembenahan dan peningkatan kualitas. Pembenahan dan peningkatan kualitas mulai dari materi yang diujikan, kualitas item, bentuk tes, dan sebagainya. Harapan di masa yang akan datang apabila setelah diperbaiki dapat dijadikan alat seleksi masuk perguruan tinggi yang mampu menjaring mahasiswa yang berprestasi.

  2. Untuk Peneliti Selanjutnya Adapun beberapa saran yang ditujukan pada peneliti selanjutnya :

  a. Untuk penelitian berikutnya diharapkan memiliki cakupan yang lebih luas agar dapat memberi gambaran yang lebih menyeluruh. Penelitian tersebut dapat pula membandingkan efektivitas Ujian Nasional dengan Tes Potensi Akademik dalam melakukan seleksi calon mahasiswa.

  Dengan begitu, dapat diketahui bentuk tes yang paling cocok untuk dipergunakan dalam proses seleksi masuk perguruan tinggi. b. Validitas prediktif merupakan salah satu dari berbagai bukti validitas.

  Usaha memvalidasi tidak lagi cukup dinyatakan hanya dengan menyajikan salah satu bukti validitas saja. Maka dari itu, sangatlah diperlukan pengujian bukti-bukti validitas yang lainnya seperti validitas isi, validitas konstruk, dan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

  Allen, M.J. & Yen, W.M. 1979. Introduction to Measurement Theory. Monterey : Brooks/Cole Publishing Company. Anastasi. 2006. Tes Psikologi. Jakarta: PT. Prenhallindo. Azwar, S. 2003. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Azwar, S. 2003. Dasar-dasar Psikometri. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Azwar, S. 2003. Pengantar Psikologi Inteligensi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Azwar, S. 2006. Tes Prestasi: Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Azwar, S. 2008. Kualitas Tes Potensi Akademik Versi 07A. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan / No. 2. Fudyartanta, Ki. 2004. Pengantar Psikodiagnostik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Cohen, R.J. 2005. Psychological Testing and Assesment : An Introduction to Test

  and Measurement (6th ed). New York : The McGraw-Hill Companies, Inc.

  Gregory, R.J. 2000. Psychological Testing, History, Principle, and Application.

  3th ed. Boston : Allyn and Bacon.

  Harti, Y. (2008, April 2008). Kontroversi Ujian Nasional. Dipungut 8 Januari, 2009, dari Kane, M.T. (2006). Validation. Dalam R.L. Brennan (Ed.), Educational

  measurement (edisi keempat, 19-62). Westport, CT : American Council on Education and Preeger Publisher .

  Messick, S.T. (1989). Validity. Dalam R.L. Linn (Ed.), Educational measurement

  (edisi ketiga, 13-103). New York : American Council on Education dan Macmillan.

  Peraturan Akademik Fakultas Psikologi. 2006. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.

  Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pendidikan Nasional Tahun Ajaran 2000/2001.

  2001. Jakarta : CV. Eko Jaya Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pendidikan Nasional Tahun Ajaran 2002/2003. 2003. Jakarta : CV. Eko Jaya. Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pendidikan Nasional Tahun Ajaran 2003/2004.

  2004. Jakarta : BP. Cipta Jaya. Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pendidikan Nasional Tahun Ajaran 2004/2005.

  2005. Jakarta : CV. Eko Jaya. Santoso, A. 2010. Handout Mata Kuliah Psikometri. Naskah yang tidak diterbitkan, Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma.

  Senopati, A. (2008, April 21). Kecurangan UN, Potret Pendidikan Nasional.

  Dipungut 8 Januari, 2009, da Sukadi. 1990. Analisis Tes Psikologi. Yogyakarta : Renika Cipta. Susanti, R.M. (2008, Juli 26). Ujian Nasional Syarat Masuk Perguruan Tinggi.

  TEMPO. Dipungut

  23 Maret, 2009, dari Suryabrata, S. 1987. Pembimbing ke Psikodiagnostik. Yogyakarta : Andi Offset. Winkel, W.S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Grasindo. Zwick. R. 2006. Higher education admissions testing. Educational Measurement.

  Brennan. R.L (ed). Westport , CT: Praeger Publisher.

Dokumen baru

Download (90 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
165
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
92
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
120
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
169
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
121
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
138
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi.) Program Studi Psikologi
0
0
234
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
100
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
84
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
1
148
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
145
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
143
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
117
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
249
Show more