PENGARUH PENERAPAN METODE EKSPERIMEN TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP, MINAT BELAJAR, DAN NILAI KARAKTER SISWA SMA NEGERI JUMAPOLO KELAS X.1 PADA MATERI POKOK ALAT UKUR LISTRIK SKRIPSI

Gratis

0
0
134
6 months ago
Preview
Full text

  

PENGARUH PENERAPAN METODE EKSPERIMEN

TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP, MINAT BELAJAR,

DAN NILAI KARAKTER SISWA SMA NEGERI JUMAPOLO

KELAS X.1 PADA MATERI POKOK ALAT UKUR LISTRIK

SKRIPSI

  Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Fisika Oleh:

  Margareta Sri Pinilih NIM: 091424025

  

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

HALAMAN PERSEMBAHAN

  

Hey kawan

Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya takut

Takut tuk mencoba dan gagal, tapi…

Hay kawan

  

Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya mimpi

Mimpi tuk menjadi berarti

Harus kita taklukan, bersama lawan rintangan

Tuk jadikan dunia ini lebih indah

  

Tak perlu tunggu hebat (untuk berani memulai apa yang kau impikan)

Hanya perlu memulai (untuk menjadi hebat raih yang kau impikan)

Seperti singa yang menerjang semua rintangan tanpa rasa takut

Yakini bahwa kamu terhebat

  

Coba-cobalah mari kita pasti bisa taklukan dunia dengan mimpi kita

Mari berbagi mari bermimpi bersama kita di sini

Yakini kau pasti bisa

  

Coboy Junior

  Skripsi ini saya persembahkan untuk  Tuhan Yesus Kristus  Keluarga Bapak Ignatius Pilih, Ibu Theresia Ninik Sriwinarni,

  Kakak L. Endra Prasetya dan Kekasihku Unggul Prasetya yang selalu setia mendukung dengan Cinta dan Doa.  Almamaterku Universitas Sanata Dharma  Almamaterku SMA Negeri Jumapolo  Sahabat dan teman-teman

  

PER ERNYATAAN KEASLIAN KARYA A

  Saya menyataka akan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yan ang saya tulis ini tidak termuat karya or a orang lain, kecuali yang telah disebutkan dal dalam kutipan dan daftar pustaka, sebaga gaimana layaknya karya ilmiah.

  

ABSTRAK

  Margareta Sri Pinilih. 2013. Pengaruh Penerapan Metode Ekpserimen Terhadap

  Pemahaman Konsep, Minat Belajar, dan Nilai Karakter Siswa SMA Negeri Jumapolo Kelas X.1 Pada Materi Pokok Alat Ukur Listrik. Skripsi, Program

  Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pembimbing: Prof. Dr. Paul Suparno, S.J, M.S.T.

  Kata Kunci: Pemahaman Konsep, Minat Belajar, dan Nilai Karakter Mata Pelajaran Fisika.

  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) peningkatan pemahaman konsep siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 tentang materi pokok alat ukur listrik melalui metode eksperimen; (2) peningkatan minat belajar siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 untuk materi pokok alat ukur listrik melalui metode eksperimen; (3) nilai karakter siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 untuk materi pokok alat ukur listrik melalui metode eksperimen.

  Subyek penelitian yaitu siswa kelas X.1 SMA Negeri Jumapolo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Sampel berjumlah 32 siswa. Treatmen pada siswa kelas X.1 yaitu pembelajaran menggunakan metode eksperimen. Instrumen yang digunakan yaitu: tes tertulis berupa pre-test dan post-test, kuesioner minat belajar, dan kuesioner nilai karakter.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada pengaruh penerapan metode eksperimen terhadap pemahaman konsep siswa, yaitu metode eksperimen dapat meningkatkan pemahaman konsep untuk materi alat ukur listrik pada siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1; (2) secara umum dari uji statistik minat belajar siswa SMA Jumapoko kelas X.1 turun, tetapi khusus untuk metode eksperimen minat sama; (3) ada pengaruh penerapan metode eksperimen yaitu dapat menyumbangkan nilai karakter bagi siswa. Nilai karakter yang dapat dibentuk dengan urutan yang paling besar yaitu nilai kerjasama, kedisiplinan, kejujuran, tanggungjawab, dan rasa ingin tahu.

  

ABSTRACT

  Margareta Sri Pinilih. 2013. The Effect of Experimental Methods Toward Understanding Concepts, Learning Interests, and Character Values Of Senior High School Jumapolo X.1 Grade Students in The Topic Electrical Measurement. Thesis, Physics Education Study Program, Department of Mathematics and Natural Sciences, Faculty of Teacher Training and Education, Sanata Dharma University in Yogyakarta. Supervisor: Prof. Dr.

  Paul Suparno, S.J.,M.S.T. Keywords: Understanding Concepts, Learning Interest, and Character Values Subjects Physics.

  The purpose of this study is to determine: (1) the increase of understanding concept of Senior High School Jumapolo students in Class X.1 about subject matter of electrical measuring instrument through experimental method; (2) the increase of students interest for electrical measuring instruments subject matter through experimental method; (3) students character from electrical measuring instrument subject matter through experimental methods.

  The research sample was 32 students at graders X.1 Senior High School Jumapolo, Karanganyar district, Central Java province. Treatment was learning using experimental method. The instruments used were pre-test and post-test, interest questionnaires and character values questionnaire.

  The results show that: (1) the experimental method can improve students understanding of the concept of electrical measuring instruments; (2) in general from statistically student show that interest don’t increase, but in particular the eksperimental method was equal result; 3) the experimental method was able to donate the value of character for students. Character values that can be created were teamwork, discipline, honesty, responsibility, and curiosity.

  

HALAMAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI SI KARYA ILMIAH UNTUK KEPEN ENTINGAN

AKADEMIS

  Yang bertanda nda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Uni Universitas Sanata Dharma:

  Nama : Marga rgareta Sri Pinilih NIM : 091424025 091424025 Demi pengem gembangan ilmu pengetahuan, saya membe mberikan kepada perpustakaan Universi versitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang be g berjudul:

  

PENGARUH PEN ENERAPAN METODE EKSPERIMEN N TERHADAP

PEMAHAMAN KO ONSEP, MINAT BELAJAR, DAN NILAI AI KARAKTER

SISWA SMA NEGE GERI JUMAPOLO KELAS X.1 PADA MAT ATERI POKOK

ALAT UKUR LIST

  ISTRIK

  Beserta peran rangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan an demikian saya memberikan kepada da Perpustakaan Universitas Sanata Dharm arma hak untuk menyimpan, mengalihka galihkan dalam bentuk media lain, mengelolany nya dalam bentuk pangkalan data, mendi endistribusikan secara terbatas, dan mempubl publikasikannya di internet atau media lai lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu m u meminta ijin dari saya maupun member berikan royalti kepada saya selama tetap menc ncantumkan nama saya sebagai penulis. is.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan karunia, rahmat, dan kesempatan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Penerapan Metode Eksperimen Terhadap Pemahaman Konsep, Minat Belajar, dan Nilai Karakter Siswa SMA Negeri Jumapolo Kelas X.1 Pada Materi Pokok Alat Ukur Listrik”. Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari semua pihak yang turut memberikan dukungan, doa, semangat, dan bantuan yang sangat bermanfaat bagi penulis. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada:

  1. Romo Prof. Dr. Paul Suparno, S.J., M.S.T., selaku Dosen Pembimbing yang senantiasa memberikan motivasi, masukkan dan bantuan dalam membimbing penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

  2. Bapak Drs. Aufridus Atmadi, M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Fisika yang selalu memberikan dukungan dan motivasi.

  3. Ibu Dwi Nugraheni Rositawati, S.Si., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang selalu memberikan dukungan, semangat, dan motivasi.

  4. Segenap Dosen Universitas Sanata Dharma yang telah membantu memberikan bekal pengetahuan kepada penulis.

  5. Segenap Karyawan Sekretariat JPMIPA yang telah memberikan bantuan dalam memperlancar perijinan surat ke Sekolah.

  6. Bapak Drs. Sardiyo, M.Pd., selaku Kepala SMA Negeri Jumapolo yang telah memberikan ijin penelitian.

  7. Bapak Hasto Tyas Haryadi, M.Pd., selaku guru matapelajaran fisika yang memberikan dukungan, bantuan, dan masukkan dalam pelaksanaan penelitian.

  8. Siswa SMA Negeri Jumapolo Kelas X.1 yang menjadi partisipan dalam penelitian. dan keluarga ga besar Unggul Prasetya, S.Kom., yang ng dengan tulus memberikan pe n perhatian, doa, dan dukungan.

  10. Seluruh sahaba habat (Veronika Winahyu, Veronica Sari Puspi uspita, Yuliana Sri Yani, S.P., D Dwi Setyo Nugroho, S.Pd., Fitri Nur Rohm ohmawati, S.Pd., Christian Yuli ulianto) dan rekan-rekan Pendidikan Fisika (Ma (Marcellina Anita P N, Audra F a Febriandhini L, Yustina Rosalin A, Nickasi kasius Sindhunata, Frederika Ind ndah Puspita, Kintan Limiansih, S.Pd., dan n seluruh teman- teman Pendidi ndidikan Fisika angkatan 2009) serta teman-tem -teman yang tidak dapat penulis nulis sebutkan atas kesediaannya dalam member berikan dukungan, masukkan, me n, menemani, dan mendengarkan keluh kesah dari p h dari penulis.

  Penulis menyad yadari bahwa masih banyak kekurangan yang ang terdapat pada skripsi ini. Saran dan dan kritik penulis harapkan untuk kebaikan be n bersama. Semoga bermanfaat.

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN................................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................. v ABSTRAK ............................................................................................................. vi ABSTRACT.......................................................................................................... vii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ........................................................................... viii KATA PENGANTAR ........................................................................................... ix DAFTAR ISI.......................................................................................................... xi DAFTAR TABEL................................................................................................. xv DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xvi DAFTAR GRAFIK............................................................................................. xvii DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... xviii

  BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah.............................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 3 C. Tujuan Penelitian......................................................................................... 3 D. Manfaat Penelitian....................................................................................... 4 BAB II KAJIAN PUSTAKA .................................................................................. 5 A. Belajar dan Pembelajaran Konstruktivisme ................................................ 5

  2. Pembelajaran ........................................................................................ 6

  2. Sumbangan Nilai Karakter Metode Eksperimen............................... 16

  1. Waktu Penelitian ................................................................................ 28

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN.............................................................. 28 A. Desain Penelitian....................................................................................... 28 B. Waktu dan Tempat Penelitian ................................................................... 28

  5. Hukum Ohm....................................................................................... 25

  4. Alat Ukur Tegangan Listrik (Nurachmandani, 2009) ....................... 24

  3. Tegangan Listrik (Beda Potensial)(Nurachmandani, 2009)............... 23

  2. Alat Ukur Kuat Arus Listrik (Kanginan, 2007) ................................. 19

  1. Arus Listrik ........................................................................................ 18

  I. Alat Ukur Listrik ....................................................................................... 18

  1. Pengertian Nilai Karakter................................................................... 14

  3. Konstruktivisme ................................................................................... 7

  H. Nilai Karakter Metode Eksperimen........................................................... 14

  G. Minat Belajar............................................................................................. 13

  3. Makna Pemahaman Konsep ............................................................... 12

  2. Pengertian Konsep.............................................................................. 11

  1. Pengertian Pemahaman ...................................................................... 10

  F. Pemahaman Konsep .................................................................................. 10

  2. Macam-macam Metode Eksperimen.................................................... 9

  1. Pengertian Metode Eksperimen ........................................................... 8

  E. Metode Eksperimen..................................................................................... 8

  2. Tempat Penelitian............................................................................... 28

  1. Populasi Penelitian ............................................................................. 28

  1. Sebelum Penelitian............................................................................. 42

  2. Minat Belajar...................................................................................... 64

  1. Pemahaman Konsep ........................................................................... 63

  C. Pembahasan ............................................................................................... 63

  3. Nilai Karakter Siswa .......................................................................... 62

  2. Minat Belajar Siswa ........................................................................... 55

  1. Pemahaman Konsep Siswa ................................................................ 53

  B. Data dan Analisis Data .............................................................................. 53

  2. Selama Pelaksanaan Penelitian .......................................................... 45

  BAB IV DATA DAN ANALISIS DATA ........................................................... 42 A. Pelaksanaan Penelitian .............................................................................. 42

  2. Sampel Penelitian............................................................................... 29

  3. Analisis Karakter Siswa. .................................................................... 40

  2. Analisis Minat Belajar Siswa ............................................................. 38

  1. Analisis Pemahaman Awal dan Akhir Siswa..................................... 35

  G. Metode Analisis Data ................................................................................ 35

  F. Pembatasan Penelitian............................................................................... 35

  2. Instrumen Pengumpulan Data ............................................................ 30 Validitas .................................................................................................... 35

  1. Instrumen Pembelajaran..................................................................... 29

  E. Instrumentasi ............................................................................................. 29

  D. Treatment .................................................................................................. 29

  3. Nilai Karakter..................................................................................... 65

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN................................................................ 66 A. Kesimpulan................................................................................................ 66 B. Saran.......................................................................................................... 66 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 68 LAMPIRAN.......................................................................................................... 72

  

DAFTAR TABEL

  Tabel 1. Kisi-kisi Soal Pre-Test dan Post-Test .................................................... 31 Tabel 2. Kisi-kisi Kuesioner Minat Belajar Fisika............................................... 33 Tabel 3. Kisi-kisi Kuesioner Nilai Karakter ........................................................ 34 Tabel 4. Skor Tiap Aspek..................................................................................... 36 Tabel 5. Kategorisasi Minat Belajar Siswa .......................................................... 39 Tabel 6. Kriteria Nilai Karakter Siswa................................................................. 41 Tabel 7. Proses Pelaksanaan Penelitian ............................................................... 45 Tabel 8. Analisis Test-T Kelompok Dependen (pretest dan posttest).................. 53 Tabel 9. Prosentase Kategori Minat Belajar Siswa Kelas X.1............................. 56 Tabel 10. Analisis Test-T Kelompok Dependen (Minat Belajar) ........................ 57 Tabel 11. Distribusi Skor Dari Pertanyaan Kuesioner Minat Belajar No. 7 ....... 59 Tabel 12. Prosentase Kategori Nilai Karakter Siswa Kelas X.1 .......................... 62 Tabel 13. Frekuensi Setiap Nilai Karakter........................................................... 63

  

DAFTAR GAMBAR

  Gambar 1. Sembilan Pilar Karakter (Adisusilo 2012:80) .................................... 15 Gambar 2. Rangkaian Terbuka (Nurachmandani, 2009) ...................................... 18 Gambar 3. Rangkaian Tertutup (Nurachmandani, 2009)...................................... 19 Gambar 4. Amperemeter....................................................................................... 20 Gambar 5. Pengukuran Arus Pada Baterai Kering................................................ 20 Gambar 6. Pengukuran Arus Pada Rangkaian Listrik .......................................... 20 Gambar 7. Basicmeter........................................................................................... 22 Gambar 8. Mengamati Skala Terkecil Basicmeter ............................................... 22 Gambar 9. Pengukuran Arus Menggunakan Basicmeter ...................................... 23 Gambar 10. Pengukuran Tegangan Pada Suatu Rangkaian Listrik ...................... 25 Gambar 11. Laboratorium Fisika SMA Negeri Jumapolo .................................... 44 Gambar 12. Lemari dan Alat-alat Laboratorium Fisika........................................ 44 Gambar 13. Siswa Kelas X.1 Mengerjakan Kuesioner Minat Belajar.................. 47 Gambar 14. Suasana Pre-test di Laboratorium Fisika .......................................... 48 Gambar 15. Siswa Melakukan Eksperimen Rangkaian Tertutup ......................... 49 Gambar 16. Siswa Melakukan Pengukuran Kuat Arus Listrik Menggunakan

  Basicmeter ....................................................................................... 50

  Gambar 17. Siswa Membaca Skala yang Ditunjukkan oleh Basicmeter Saat Mengukur Tegangan Listrik ............................................................ 51

  Gambar 18. Siswa Membaca Skala yang Terbaca dari Basicmeter...................... 52

DAFTAR GRAFIK

  Grafik 1 Hubungan Antara Kuat Arus dengan Beda Potensial........................... 26

  

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian Sekolah ........................................................... 73 Lampiran 2. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian .......................... 74 Lampiran 3. RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran) ................................. 75 Lampiran 4. LKS (Lembar Kerja Siswa) ............................................................. 87 Lampiran 5. Panduan Penggunaan Basicmeter.................................................... 97 Lampiran 6. Soal Pre-Test dan Post-Test .......................................................... 100 Lampiran 7. Kunci Jawaban Soal Pre-Test dan Post-Test................................. 101 Lampiran 8. Kuesioner Minat Belajar................................................................ 103 Lampiran 9. Kuesioner Nilai Karakter............................................................... 105 Lampiran 10. Daftar Skor Pre-Test Dan Post-Test............................................ 107 Lampiran 11. Daftar Skor Kuesioner Minat Belajar Sebelum Treatmen........... 108 Lampiran 12. Daftar Skor Kuesioner Minat Belajar Sesudah Treatmen ........... 109 Lampiran 13. Daftar Skor Kuesioner Nilai Karakter ......................................... 110 Lampiran 14. Contoh Data Hasil Penelitian Pre-Test........................................ 111 Lampiran 15. Contoh Data Hasil Penelitian Post-Test ...................................... 112 Lampiran 16. Contoh Data Hasil Penelitian Kuesioner Minat Sebelum Diberi

  Treatmen ...................................................................................... 114

  Lampiran 17. Contoh Data Hasil Penelitian Kuesioner Minat Sesudah Diberi

  Treatmen ...................................................................................... 115

  Lampiran 18. Contoh Data Hasil Penelitian Kuesioner Nilai Karakter ............. 115

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Aktivitas pendidikan tidak lepas dari kegiatan belajar dan mengajar. Kegiatan mengajar yang dimaksudkan bukanlah kegiatan mentransfer ilmu

  pengetahuan seorang guru kepada siswa, akan tetapi mengajar adalah bentuk partisipasi seorang guru menjadi fasilitator dan motivator dalam proses pemahaman atau pengertian siswa.

  Guru sebagai fasilitator dalam proses pemahaman siswa, perlu mengembangkan berbagai metode pengajaran yang dapat membantu siswa memperkaya pengalaman sekaligus menjadikan hal bermakna atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam mempersiapkan diri menggapai masa depan.

  Metode eksperimen merupakan salah satu pendekatan pembelajaran konstruktivisme. Menurut filsafat konstruktivisme, pengetahuan itu adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri yang sedang menekuninya (Suparno, 2007). Hal ini berarti bahwa metode eksperimen mengutamakan bentukan pengetahuan dari siswa sendiri.

  Metode eksperimen lebih menekankan keaktifan siswa dalam mengumpulkan fakta, informasi atau data melalui percobaan yang dilakukan.

  Metode eksperimen memperkaya ilmu pengetahuan serta membentuk nilai karakter yang dibangun siswa sendiri melalui sikap, proses dan mengambil kesimpulan saat melakukan percobaan, selain itu metode eksperimen mengasah keterampilan dalam kerja ilmiah.

  Penggunaan metode eksperimen memberikan kesempatan bagi siswa untuk membentuk nilai karakter pada diri siswa. Bentuk nilai karakter yang disumbangkan melalui metode eksperimen banyak dari proses pembelajarannya. Nilai karakter dalam metode eksperimen yang sesuai dengan nilai karakter yang telah dirumuskan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mencakup beberapa nilai karakter yaitu antara lain bertanggungjawab, disiplin, jujur, komunikasi, kerja keras, toleransi, demokrastis, dan rasa ingin tahu.

  Saat melakukan percobaan, siswa diharapkan dapat menerapkan sikap bertanggungjawab atas percobaan yang dilakukan, disiplin diri saat melakukan percobaan, memiliki rasa keingintahuan akan adanya percobaan, mampu bekerjasama dengan teman satu kelompok, bersikap jujur saat pengambilan data percobaan, menghargai pendapat teman, dan menyelesaikan percobaan dengan sungguh-sungguh.

  Menurut Suparno, lewat pengetahuan fisika, proses pembelajaran, atau sikap belajarnya anak didik akan dibantu berpikir nalar, mengerti dasar-dasar teknologi dengan baik, dan dapat mengembangkan sikap komunikasi, kerja disiplin, tanggungjawab, kreatif, dll (Suparno, 2012: 19).

  SMA Negeri Jumapolo merupakan salah satu sekolah menengah yang terletak di Kecamatan Jumapolo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

  Sekolah ini memiliki fasilitas, sarana dan prasarana sekolah yang memadai fisika, sekolah memiliki laboratorium fisika yang cukup lengkap, akan tetapi adanya laboratorium fisika belum digunakan secara maksimal dalam pembelajaran fisika.

  Berdasar latar belakang permasalahan tersebut di atas, peneliti tertarik untuk meneliti Pengaruh Penerapan Metode Eksperimen Terhadap Pemahaman Konsep, Minat Belajar, dan Nilai Karakter Siswa SMA Negeri Jumapolo Kelas X.1 Pada Materi Pokok Alat Ukur Listrik.

  B. Rumusan Masalah

  Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Apakah metode eksperimen dapat meningkatkan pemahaman konsep Siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 untuk materi pokok alat ukur listrik?

  2. Apakah metode eksperimen dapat meningkatkan minat belajar siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 dalam materi pokok alat ukur listrik?

  3. Apakah metode eksperimen dapat membentuk nilai karakter siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 untuk materi pokok alat ukur listrik?

  C. Tujuan Penelitian

  Dari rumusan permasalahan yang telah dijabarkan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :

  1. Peningkatan pemahaman konsep siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 tentang materi pokok alat ukur listrik melalui metode eksperimen;

  2. Peningkatan minat belajar siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 untuk

  3. Nilai karakter siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 untuk materi pokok alat ukur listrik melalui metode eksperimen.

D. Manfaat Penelitian

  1. Bagi Sekolah Hasil dari penelitian ini diharapkan berguna sebagai salah satu pertimbangan dalam upaya meningkatkan pemahaman konsep, minat belajar, dan nilai karakter siswa SMA Negeri Jumapolo terhadap mata pelajaran fisika melalui metode eksperimen di laboratorium.

  2. Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan, yaitu pengaruh penerapan metode eksperimen terhadap pemahaman konsep, minat belajar, dan nilai karakter siswa pada mata pelajaran fisika.

  3. Bagi Pengembangan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah kekayaan penelitian pendidikan di Indonesia berkaitan dengan pengaruh penggunaan metode eksperimen terhadap pemahaman konsep, minat belajar, dan nilai karakter siswa pada mata pelajaran fisika.

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran Konstruktivisme

1. Belajar

  Dituliskan beberapa pendapat oleh ahli mengenai arti belajar antara lain:

  a. Winkel berpendapat bahwa belajar merupakan proses perubahan dari yang belum mampu ke arah sudah mampu, dan proses perubahan itu terjadi selama jangka waktu tertentu (Winkel: 2004).

  b. Menurut Syah, belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan (Syah, 2008: 89).

  c. Gagne (dalam Dahar, 2011: 2) menyatakan bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman.

  d. Menurut Suyono, belajar adalah suatu aktivitas untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian (Suyono, 2011: 9).

  e. Sementara itu Uno menjelaskan bahwa belajar pada dasarnya merupakan suatu proses mental dan emosional yang terjadi secara sadar. Belajar adalah mengalami, dalam hal ini terjadi interaksi antara individu dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik/psikis

  Maka belajar dapat disimpulkan suatu aktivitas atau proses mental dan emosional yang terjadi antara individu dengan lingkungannya untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian siswa dalam jenjang pendidikan.

2. Pembelajaran

  Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, pembelajaran merupakan aktivitas paling utama. Pembelajaran merupakan usaha yang dilaksanakan secara sengaja, terarah dan terencana, dengan tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta pelaksanaannya terkendali, dengan maksud agar terjadi belajar pada diri seseorang (Siregar, 2010:13)

  Pembelajaran menurut Degeng (dalam Uno, 2005) adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Pembelajaran identik dengan pengajaran, yaitu suatu kegiatan di mana guru mengajar atau membimbing anak-anak menuju proses pendewasaan diri (Suyono, 2011). Winkel menyatakan bahwa pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian ekstrem yang berperan terhadap rangkaian kejadian-kejadian intern yang berlangsung dialami siswa (Winkel, 2004). Pembelajaran dimaknai sebagai proses interaksi peserta didik dengan lingkungannya (Kesuma, 2011). Menurut Surya, pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu

  Dari pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha atau upaya yang dilaksanakan oleh guru secara terkendali, untuk mendukung proses pendewasaan diri siswa berupa perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

3. Konstruktivisme

  Menurut Suparno, konstruktivisme adalah aliran filsafat pengetahuan yang berpendapat bahwa pengetahuan (knowledge) merupakan hasil

  konstruksi (bentukan) dari orang yang sedang belajar (Suparno, 1997). Teori

  konstruktivisme melihat pelajar terus-menerus melihat informasi baru terhadap aturan-aturan lama dan kemudian mengubah aturan apabila hal itu tidak lagi berguna (Slavin, 2009).

  Konstruktivisme adalah sebuah filosofi pembelajaran yang dilandasi premis bahwa dengan merefleksikan pengalaman, kita membangun mengkonstruksi pengetahuan pemahaman kita tentang dunia tempat kita hidup. Konstruktivisme melandasi pemikiran bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang given dari alam karena hasil kontak manusia dengan alam, tetapi pengetahuan merupakan hasil konstruksi (bentukan) aktif dari manusia itu sendiri (Suyono, 2011).

  Menurut Suparno, konstruktivisme telah banyak mempengaruhi pendidikan sains dan matematika, secara garis besar prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil adalah (1) pengetahuan dibangun oleh siswa dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri menalar, (3) murid aktif mengkonstruksi terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah, (4) guru sekadar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus (Suparno, 1997: 49).

E. Metode Eksperimen

1. Pengertian Metode Eksperimen

  Metode eksperimen merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang bersifat konstruktivisme. Menurut Suparno, metode eksperimen adalah metode mengajar yang mengajak siswa untuk melakukan percobaan sebagai pembuktian, pengecekan bahwa teori yang sudah dibicarakan itu memang benar (Suparno, 2007: 77). Djamarah dan Siregar menjelaskan bahwa metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari (Djamarah, 2010; Siregar, 2010: 80). Hamid menyatakan metode eksperimen adalah penyampaian materi pelajaran melalui latihan menggunakan alat ukur, bahan percobaan, dan perangkat percobaan yang dilakukan oleh murid secara individual atau secara kelompok untuk membuktikan atau menemukan konsep, prinsip, teori, azas, aturan, atau hukum-hukum fisika (Hamid, 2011).

  Pengalaman eksperimen di laboratorium sendiri dapat memberi apresiasi fisika lebih mendalam sebagai suatu kegiatan dan dapat menyampaikan pemahaman yang lebih baik dari topik yang dipelajari (Minh, 1970).

  Dengan melakukan percobaan di laboratorium, akan membuat lebih nyata ilmu pengetahuan. Agar hasil percobaan akurat dan baik diperlukan saat melakukan pengukuran, maka siswa perlu melakukannya dengan tekun dan sabar (Tobin, 1932).

2. Macam-macam Metode Eksperimen

  Hamid membedakan bentuk eksperimen menjadi dua, yaitu eksperimen verifikasi dan eksperimen menemukan. Eksperimen verifikasi yaitu eksperimen yang digunakan untuk membuktikan konsep, prinsip, teori, azas, atau hukum-hukum fisika. Sedangkan eksperimen menemukan (discovery or

  inquiry experiment ) digunakan untuk menemukan konsep, prinsip, teori, azas, atau hukum-hukum fisika (Hamid, 2011).

  Menurut Druxes (dalam Fitri: 2008) kegiatan eksperimen dapat digolongkan menurut bentuk dan menurut tempat. Eksperimen menurut bentuk dibedakan menjadi: eksperimen gagasan, eksperimen komputer, dan eksperimen nyata. Sedangkan eksperimen menurut tempat dibedakan menjadi: eksperimen murid dan eksperimen guru.

  Suparno membedakan metode eksperimen menjadi dua jenis, yaitu eksperimen terbimbing dan eksperimen bebas. Eksperimen terbimbing adalah eksperimen dengan seluruh jalannya percobaan sudah dirancang oleh guru sebelum percobaan dilakukan oleh siswa. Eksperimen bebas yaitu eksperimen dimana guru tidak memberikan petunjuk pelaksanaan secara rinci. Dengan kata lain, siswa harus lebih banyak berpikir sendiri, bagaimana merangkai rangkaian, apa yang harus diamati, diukur, dan dianalis serta disimpulkan (Suparno, 2007).

F. Pemahaman Konsep

1. Pengertian Pemahaman

  Tanpa mengabaikan aspek keterampilan, sikap, dan kecenderungan, aspek pemahaman adalah aspek yang sangat penting dalam pendidikan IPA pada umumnya pendidikan fisika pada khususnya. Konsep-konsep, prinsip- prinsip, hukum-hukum, dan teori-teori, menjadi bermakna dan fungsional bila dipahami, tidak sekedar dihapal (Budi, 1990: 63).

  Pemahaman menurut Kartika Budi (dalam Bernardina, 2005: 13) merupakan salah satu aspek kognitif dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, karena menjadi aspek yang paling menonjol atau paling ditonjolkan. Bila diadakan kegiatan belajar mengajar, maka pertama-tama yang akan dicapai adalah memahami atau mengerti apa yang kita pelajari. Uno menyatakan bahwa pemahaman diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya (Uno, 2011: 57).

  Pemahaman atau komprehensi adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami arti atau konsep, situasi, fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini siswa tidak hanya hapal secara verbalistis, tetapi mengerti atau paham terhadap konsep atau fakta yang ditanyakan (Purwanto,

  Kata yang cocok untuk dipakai dalam merumuskan Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang menyangkut kemampuan ini antara lain adalah membedakan, menyajikan, mengatur, menginterpretasikan, menjelaskan, mendemonstrasikan, memberi contoh, dan mengambil kesimpulan (Purwanto, 2006: 45).

  Anderson menyatakan bahwa siswa dikatakan memahami bila mereka dapat mengkonstruksi makna dari pesan-pesan pembelajaran, baik yang bersifat lisan, tulisan ataupun grafis, yang disampaikan melalui pengajaran, buku, atau layar komputer. Proses kognitif dalam kategori memahami meliputi menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, merangkum, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan (Anderson, 2010: 105).

2. Pengertian Konsep

  Konsep adalah gugusan atau sekelompok fakta/keterangan yang memiliki makna. Konsep yaitu segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang dapat timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti/isi dan sebagainya. Contoh: dalam pembelajaran Biologi, hutan hujan tropis di Indonesia sebagai sumber plasma nutfah (Suyono, 2011: 146).

  Konsep merupakan abstraksi dari ciri-ciri sesuatu yang mempermudah komunikasi antara manusia dan yang memungkinkan manusia berpikir (Berg, 1991: 8).

  Menurut Roser (1984; dalam Dahar, 2011: 63), konsep adalah suatu yang mempunyai atribut yang sama. Karena orang mengalami stimulus yang berbeda-beda, orang membentuk konsep sesuai dengan pengelompokan stimulus dengan cara tertentu. Karena konsep adalah abstraksi-abstraksi yang berdasarkan pengalaman dan tidak ada dua orang yang mempunyai pengalaman yang persis sama, konsep yang dibentuk orang mungkin berbeda juga.

  Konsep itu adalah hasil berpikir manusia yang merangkum beberapa pengalaman. Dalam fisika sangat penting untuk memperoleh dan mengkomunikasikan pengetahuan. Dengan menguasai konsep-konsep kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan baru pada siswa tidak terbatas.

  Salah satu keungggulan dari model pencapaian konsep ini ialah dalam meningkatkan kemampuan untuk belajar dengan cara lebih mudah dan lebih efektif di masa depan (Bumbungan, 2009).

3. Makna Pemahaman Konsep

  Berdasar pengertian pemahaman dan pengertian konsep yang telah dipaparkan oleh para ahli tersebut di atas maka pemahaman konsep adalah kemampuan siswa dalam membedakan, menyajikan, mengatur, menginterpretasikan, mendemonstrasikan, memberi contoh, menafsirkan, mengklasifikasikan, merangkum, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan. Hal ini berwujud pengertian-pengertian baru yang dapat timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti/isi dan sebagainya.

G. Minat Belajar

  Minat merupakan salah satu faktor psikologis yang berhubungan dengan keadaan kejiwaan siswa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, minat merupakan suatu keinginan yang kuat, gairah, atau kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu (NN1, 2008).

  Minat digolongkan menjadi dua definisi, yaitu definisi konseptual: minat adalah watak yang tersusun melalui pengalaman yang mendorong individu mencari objek, aktivitas, pengertian, keterampilan untuk tujuan perhatian dan penguasaan. Definisi operasional: minat adalah keingintahuan seseorang tentang keadaan suatu objek (Mardapi, 2008: 112).

  Syah berpendapat bahwa minat merupakan salah satu faktor psikologis siswa yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa. Minat berarti kecenderungan dan kegairahan tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Syah, 2008: 136). Slameto menyatakan minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari siswa tidak sesuai dengan minat siswa maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya (Slameto, 2010). Sedangkan Siregar menyatakan minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar untuk sesuatu. Dalam hal ini minat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu minat pembawaan dan minat yang muncul karena adanya pengaruh dari

  Menurut Hurlock (dalam Bernardina, 2005: 16), minat diartikan sebagai sumber motivasi yang mengarahkan seseorang terhadap apa yang mereka lakukan bila diberi kebebasan untuk memilihnya, bila mereka melihat sesuatu yang mempunyai arti bagi dirinya, maka mereka akan tertarik terhadap sesuatu itu serta menimbulkan kepuasan bagi dirinya. Dengan demikian minat adalah kesadaran seseorang terhadap sesuatu itu dengan disertai perasaan puas dan senang.

  Dari pendapat beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa minat belajar adalah watak yang tersusun melalui pengalaman siswa berupa keinginan yang kuat atau ketertarikan atau kegairahan dalam mencari objek, aktivitas, dan keterampilan untuk menjadi perhatian dan penguasaan secara terus menerus yang disertai rasa senang dan puas dalam hal belajar.

H. Nilai Karakter Metode Eksperimen

1. Pengertian Nilai Karakter

  Pencetus pendidikan karakter pertama yaitu pedagog Jerman yang bernama F.W Foerster. Karakter menurut Foerster, adalah sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas, menjadi ciri, menjadi sifat yang tetap, yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah, sehingga karakter adalah seperangkat nilai yang telah menjadi kebiasaan hidup sehingga menjadi sifat tetap dalam diri seseorang (Adisusilo 2012: 77).

  Karakter terdiri dari nilai operatif, yaitu nilai dalam tindakan. Karakter memiliki tiga bagian yang saling berhubungan: pengetahuan moral, perasaan yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik, kebiasaan dalam cara berpikir, kebiasaaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan (Lickona: 2012).

  Daniel Goleman dalam (Adisusilo 2012:79), menyebutkan bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan nilai, yang mencakup sembilan nilai dasar yang saling terkait, dapat dilihat pada gambar 1 sebagai berikut:

  Gambar 1. Sembilan Pilar Karakter (Adisusilo 2012:80) Keterangan gambar :

  a. Responsibility (tanggung jawab);

  b. Respect (rasa hormat);

  c. Fairness (keadilan);

  d. Courage (keberanian); f. Citizenship (rasa kebangsaan);

  g. Self-dicipline (disiplin diri);

  h. Caring (peduli), dan i. Perseverance (ketekunan).

  Pendidikan karakter menurut Ratna Megawangi dalam (Kesuma, 2011), yaitu sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan memperhatikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.

  Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam beberapa workshop kepala sekolah, telah merumuskan 18 nilai yang dianggap karakter bangsa yang perlu ditanamkan pada anak didik di sekolah. Nilai tersebut antara lain: religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikasi, cinta damai, gemar membaca, peduli sosial, peduli lingkungan, dan tanggungjawab (Suparno, 2012).

2. Sumbangan Nilai Karakter Metode Eksperimen

  Menurut Suparno, dari beberapa topik, hukum, dan teori fisika ada banyak yang dapat digunakan oleh guru untuk menanamkan nilai karakter bangsa anak didik. Suparno menekankan nilai karakter fisika dari tiga aspek yaitu pengetahuan fisika, proses fisika, dan sikap belajar fisika (Suparno, 2012).

  Beberapa nilai karakter yang disumbangkan saat praktikum dan proyek antara lain: semangat multikultural, penghargaan pada diri, keadilan, kejujuran, daya tahan, dan ketaatan pada hukum (Suparno, 2012).

  Berdasar hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Miftakhul, Sugianto dan Sarwi, nilai karakter yang dapat diamati pada saat eksperimen adalah kerjasama, disiplin, mandiri, ingin tahu, kerja keras, jujur dan santun (Miftakhul, 2012).

  Nilai-nilai interpersonal dan intrapersonal dapat difasilitasi melalui pembelajaran atau kerja laboratorium. Melalui eksperimen di laboratorium, siswa berlatih bekerja secara cermat, teliti, bekerjasama, siswa belajar mendengar dan menghargai pandangan orang lain, dan belajar berkomunikasi secara efektif (Sutopo, 2011).

  Berdasar pendapat para ahli tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa metode eksperimen sangat bermanfaat dalam membentuk nilai karakter siswa.

  Nilai karakter yang bisa diamati saat siswa melakukan eksperimen di laboratorium antara lain nilai kerjasama, tanggungjawab, disiplin, jujur, dan rasa ingin tahu. Selain nilai-nilai tersebut dapat diamati oleh peneliti, nilai tersebut bermanfaat bagi siswa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan sangat bermanfaat bagi masa depan siswa, bangsa, dan Negara.

I. Alat Ukur Listrik

1. Arus Listrik

  Pada dasarnya rangkaian listrik dibedakan menjadi 2, yaitu rangkaian listrik terbuka dan rangkaian listrik tertutup. Rangkaian listrik terbuka adalah suatu rangkaian yang belum dihubungkan dengan sumber tegangan, sedangkan rangkaian listrik tertutup adalah suatu rangkaian yang sudah dihubungkan dengan sumber tegangan (Nurachmandani, 2009).

  Arus listrik dapat didefinisikan sebagai aliran muatan positif dari potensial tinggi ke potensial rendah. Arus listrik terjadi apabila ada perbedaan potensial (Nurachmandani, 2009).

  Gambar 2. Rangkaian Terbuka (Nurachmandani, 2009) Gambar 3. Rangkaian Tertutup (Nurachmandani, 2009) Pada baterai terdapat dua kutub yang potensialnya berbeda. Jika kedua kutub tersebut terhubung dengan lampu melalui kabel, maka akan terjadi perpindahan elektron dari kutub negatif dan kutub positif atau terjadi arus listrik dari kutub positif ke kutub negatif, sehingga lampu dapat menyala, lihat gambar 2 dan gambar 3.

  Selanjutnya, jika baterai yang digunakan dua buah, maka lampu menyala lebih terang. Jika baterai digunakan tiga buah lampu menyala semakin terang. Hal ini disebabkan beda potensial kutub positif dan kutub negatifnya semakin besar sehingga muatan-muatan listrik yang mengalir pada penghantar semakin banyak atau arus listriknya semakin besar. Besarnya arus listrik (disebut dengan kuat arus listrik) sebanding dengan banyaknya muatan listrik yang mengalir (Nurachmandani, 2009).

2. Alat Ukur Kuat Arus Listrik (Kanginan, 2007)

  Alat yang digunakan untuk mengukur kuat arus listrik (I) disebut amperemeter, apabila mengukur arus yang mengalir melalui suatu komponen dirangkai seri dengan komponen yang akan diukur arusnya, kutub-kutub positif amperemeter dan baterai serta kutub-kutub negatif keduanya telah saling dihubungkan dengan kabel seperti gambar 4.

  Gambar 4. Amperemeter Gambar 5. Pengukuran Arus Pada Baterai Kering Arus listrik harus mengalir masuk ke kutub positif (diberi tanda “+” atau warna merah) dan meninggalkan amperemeter melalui kutub negatif (diberi tanda “-“ atau warna hitam), bisa dilihat pada gambar 4 dan gambar 5. Jika dihubungkan dengan polaritas terbalik, jarum penunjuk akan menyimpang dalam arah kebalikan. Ini dapat menyebabkan jarum membentur sisi tanda nol dengan gaya yang cukup besar sehingga dapat merusak amperemeter.

  Tetapi jika menggunakan meter digital yang memiliki polaritas otomatis (autopolarity), hubungan dengan polaritas terbalik tidaklah masalah. Ini karena meter tetap akan memberikan bacaaan benar, hanya tanda negatif pada displai di depan angka, yang menunjukkan bahwa hubungan polaritas ke meter adalah terbalik.

  Amperemeter dipasang seri dengan komponen yang akan diukur kuat arusnya, rangkaian kabel harus dipotong agar dapat menyisipkan amperemeter (lihat gambar 6).

  Umumnya amperemeter yang digunakan di laboratorium sekolah sebuah

  basicmeter . Basicmeter memiliki beberapa batas ukur (range) dan dapat

  digunakan untuk mengukur arus dan tegangan DC. Pada foto basicmeter gambar 7, terdapat 9 terminal, 4 terminal merah di kiri untuk arus dan 4 terminal merah di kanan untuk tegangan. Satu terminal warna di sisi tengah bawah adalah kutub negatif baik untuk arus atau tegangan.

  Gambar 7. Basicmeter Batas ukur arus : 0 – 10 mA – 100 mA – 1 A – 5 A Batas ukur tegangan : 0 – 100 mV – 1 V – 10 V – 50 V

  Misalnya dalam pengukuran siswa menghubungkan batas ukur 1 A ke rangkaian. Jarak antara gores panjang 0 dan 20 menunjukkan x 1 A = 0,2 A. antara gores 0 dan 20 terdapat skala 10 (lihat gambar 8). Ini berarti skala kecil basicmeter adalah: x 0,2 A= 0,02 A.

  Ketelitian basi basicmeter untuk batas ukur 0-1 A adalah sete setengah dari skala terkecil, yaitu: x 0,02 A = 0,01 A 0,01 A Diperoleh skala te terkecil 0,02 A dan ketidakpastiannya adalah 0,01 h 0,01 A.

  Melaporkan hasil sil pengukuran arus dalam suatu rangkaian di m di mana batas ukur 0-1 A memberikan h kan hasil seperti gambar 9.

  Gambar bar 9. Pengukuran Arus Menggunakan Basicmet meter Jarum menunj enunjukkan 4 garis sebelum angka 80, berart arti bacaan angka skala adalah 72. Ini h 72. Ini menunjukkan kuat arus adalah sebagai beri berikut: x = x 1 A

  1 A = 0,72 A (dua desimal) Karena ketidakpast kpastian ∆x = 0,01 A (juga dua desimal), maka ha ka hasil pengukuran kuat arus melapork porkan sebagai kuat arus:

  • i = (0,72 + 0,01 0,01) A + +
  • ∆x i = x ………………….……………………………………….. ………………….………………………………………..(1)

3. Tegangan List Listrik (Beda Potensial) (Nurachmandani, 2009 2009)

  Potensial list listrik adalah banyaknya muatan yang terdap dapat dalam suatu daripada benda lain, jika benda tersebut memiliki muatan positif lebih banyak daripada benda lain.

  Beda potensial listrik (tegangan) timbul karena dua benda yang memiliki potensial listrik berbeda dihubungkan oleh suatu penghantar. Beda potensial ini berfungsi untuk mengalirkan muatan dari suatu titik ke titik lainnya. Satuan beda potensial adalah volt (V).

4. Alat Ukur Tegangan Listrik (Nurachmandani, 2009)

  Alat yang digunakan untuk mengukur tegangan pada suatu rangkaian disebut dengan voltmeter dan diberi simbol (V) dalam rangkaian listrik.

  Voltmeter harus diukur secara parallel pada komponen listrik yang akan diukur tegangannya. Untuk memasang voltmeter dalam suatu rangkaian, harus diperhatikan bahwa titik yang potensialnya lebih tinggi harus dihubungkan ke kutub positif (“+” atau warna merah) dan titik yang potensialnya lebih rendah harus dihubungkan ke kutub negatif (“-“ atau warna hitam). Jika dihubungkan dengan polaritas terbalik, jarum penunjuk akan menyimpang sedikit kekiri tanda nol.

  Untuk memasang voltmeter cukup langsung menghubungkan ujung- ujung komponen yang akan diukur beda potensialnya ke kutub-kutub voltmeter dengan polaritas yang benar. Gambar 10 berikut menunjukkan pengukuran tegangan pada suatu rangkaian. Gambar 10. Pengukuran Tegangan Pada Suatu Rangkaian Listrik Melaporkan hasil pengukuran tegangan listrik pada suatu rangkaian dengan menggunakan basicmeter itu hampir sama dengan melaporkan hasil pengukuran pada arus listrik.

5. Hukum Ohm

  Pada rangkaian listrik tertutup, terjadi aliran arus listrik. Arus listrik mengalir karena adanya beda potensial antara dua titik pada suatu penghantar, seperti lampu senter, radio, dan televisi. Alat-alat tersebut dapat menyala (berfungsi) karena adanya aliran listrik dari sumber tegangan yang dihubungkan dengan peralatan tersebut sehingga menghasilkan beda potensial.

  Orang pertama yang menyelidiki hubungan antara kuat arus listrik dengan beda potensial pada suatu penghantar adalah Georg Simon Ohm, ahli fisika dari Jerman. Ohm berhasil menemukan hubungan secara matematis antara kuat arus listrik dan beda potensial, yang kemudian dikenal dengan Hukum Ohm.

  Besar perba rbandingan antara beda potensial dan kuat ar arus listrik selalu sama (konstan). Ja . Jadi, beda potensial sebanding sengan kuat arus arus (V~I). secara matematis dapat di t dituliskan V= m x I, m adalah konstanta perb rbandingan antara beda potensial den dengan kuat arus. Untuk lebih jelas lihat grafik fik 1 berikut yaitu grafik hubungan a n antara kuat arus dengan beda potensial.

  Grafik 1. H . Hubungan Antara Kuat Arus dengan Beda Pote otensial Berdasarkan an grafik di atas, nilai m dapat diperoleh den dengan persamaan

  ∆ ∆ ∆

  m= Nilai m m yang tetap ini kemudian didefinisikan se n sebagai besaran .

  ∆ ∆ ∆

  hambatan listrik k yang dilambangkan R, dan diberi satuan ohm n ohm (Ω ), untuk menghargai Geor org Simon Ohm. Jadi, persamaan tersebut d but dapat dituliskan sebagai berikut. .

  R = atau V = I x R Keterangan: V : beda potensial atau tegangan (V) I : kuat arus (A) R : hambatan listrik (Ω )

  Persamaan di atas dikenal sebagai Hukum Ohm yang berbunyi “ Kuat arus yang mengalir pada suatu penghantar sebanding dengan beda potensial antara ujung-ujung penghantar itu dengan syarat suhunya konstan/tetap”.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Pada penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian eksperimental

  kuantitatif dengan design One-Group Pretest-Postest. Dikatakan eksperimental karena pada penelitian ini ada perlakuan pada partisipan dengan menggunakan metode eksperimen, dikatakan kuantitatif karena data yang diperoleh dalam bentuk skor atau angka yang diberikan penjelasan.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

  1. Waktu Penelitian

  Penelitian dilaksanakan pada tanggal 22 April 2013 sampai dengan 8 Mei 2013, di SMA N Jumapolo, Karanganyar, Jawa Tengah.

  2. Tempat Penelitian

  Penelitian dilaksanakan di Laboratorim Fisika SMA N Jumapolo, Karanganyar, Jawa Tengah.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

  Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi SMA N Jumapolo Tahun Ajaran 2012/2013.

2. Sampel Penelitian

  Sampel dari penelitian ini adalah siswa-siswi SMA N Jumapolo Kelas X.1, Semester Genap, Tahun Ajaran 2012/2013 yang berjumlah 32 orang.

  D. Treatment

  Treatment adalah perlakuan peneliti kepada subyek yang mau diteliti agar nantinya mendapatkan data yang diinginkan (Suparno, 2010: 51). Treatment yang digunakan dalam penelitian ini adalah penerapan metode eksperimen pada materi pokok alat ukur listrik. Eksperimen yang digunakan adalah eksperimen terbimbing dalam penelitian ini yaitu:

  1. eksperimen 1: rangkaian terbuka dan tertutup 2. eksperimen 2: mengukur kuat arus listrik 3. eksperimen 3: mengukur tegangan/beda potensial listrik 4. eksperimen 4: hubungan antara kuat arus listrik dan beda potensial Pengajaran dengan metode eksperimen dapat dilihat di RPP dan LKS. RPP terlampir pada lampiran 1, LKS terlampir pada lampiran 2.

  E. Instrumentasi

1. Instrumen Pembelajaran

  Instrumen pembelajaran ini terdiri dari 3 instrumen yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), serta petunjuk penggunaan alat ukur arus dan tegangan listrik(basimeter).

  a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dibuat untuk menentukan garis besar kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan selama pengambilan data penelitian. Bagian dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah (1) Identitas meliputi: Satuan Pendidikan, Mata Pelajaran, Kelas/ Semester, dan Alokasi waktu, (2) Standar Kompetensi, (3) Kompetensi Dasar, (4) Indikator, (5) Tujuan Pembelajaran, (6) Metode Pembelajaran, (7) Kegiatan Pembelajaran, (8) Materi Pelajaran, (9) Sumber Pembelajaran. RPP terlampir pada lampiran 1.

  b. Lembar Kerja Siswa

  Lembar Kerja Siswa (LKS) dibuat dan akan digunakan dalam kegiatan eksperimen. LKS terlampir pada lampiran 2.

  c. Basicmeter

  Model Basicmeter yang digunakan pada penelitian ini adalah

  basicmeter 90 dan terdapat penjelasan dan petunjuk penggunaan basicmeter . Penjelasan dan Petunjuk penggunaan basicmeter terlampir

  pada lampiran 3.

2. Instrumen Pengumpulan Data

  Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: (1) tes tertulis yang terdiri dari pre-test dan post-test, dan (2) kuesioner yang terdiri dari kuesioner minat belajar dan kuesioner nilai

a. Pre-test

  Pre-test diberikan sebelum pembelajaran menggunakan metode

  eksperimen. Pre-test ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman awal siswa mengenai konsep alat ukur listrik. Soal pre-test sebanyak 6 soal yang terdiri dari aspek pengetahuan (ingatan), pemahaman, dan penerapan (aplikasi).

  Pembuatan soal pre-test diperlukan kisi-kisi. Kisi-kisi soal berdasar pada kompetensi dasar dan indikator yang harus dicapai siswa. Kisi-kisi soal pre-test dan post-test seperti tabel 1 berikut.

  Tabel 1. Kisi-kisi Soal Pre-Test dan Post-Test

  Kompetensi Dasar

Indikator Pertanyaan

Aspek

  Kognitif

  Merangkai alat ukur listrik, menggunakannya secara baik dan benar dalam rangkaian listrik

  1. Membedakan jenis dan fungsi alat ukur listrik a. Apa nama alat ukur arus listrik? b. Apa nama alat ukur tegangan listrik?

  Ingatan/ pengetahuan Ingatan/ pengetahuan

  2. Menjelaskan cara membaca dan memasang alat ukur kuat arus dan alat ukur tegangan listrik a. Jelaskan cara membaca hasil pengukuran dengan menggunakan alat ukur arus listrik!

  b. Jelaskan cara membaca hasil pengukuran dengan alat ukur tegangan listrik!

  Pemahaman Pemahaman gambarkan cara memasang alat ukur arus listrik pada suatu rangkaian!

  d. Jelaskan dan gambarkan cara memasang alat ukur tegangan listrik pada suatu rangkaian!

  Penerapan Penerapan

  b. Post-test Post-test diberikan setelah pembelajaran menggunakan metode

  eksperimen. Soal post-test ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa mengenai konsep alat ukur listrik setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen. Jumlah dan pertanyaan soal post-test sama dengan soal pre-test. Soal pre-test dan post-test terlampir pada lampiran 4.

  c. Kuesioner Minat Belajar

  Kuesioner minat dalam penelitian bersifat tertutup atau telah disediakan alternatif jawaban. Kuesioner ini diberikan sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui minat belajar awal dan akhir siswa.

  Pembuatan kuesioner minat belajar diperlukan kisi-kisi kuesioner minat pustaka, aspek yang dinyatakan dalam kuesioner minat belajar meliputi minat belajar siswa terhadap fisika yang berkaitan dengan perasaan puas atau senang, perhatian, dan keinginan kuat atau ketertarikan untuk belajar.

  Kisi-kisi kuesioner minat belajar ditunjukkan seperti tabel 2 di bawah ini.

  Tabel 2. Kisi-kisi Kuesioner Minat Belajar Fisika

  Aspek Indikator Jumlah butir soal No Item

  Minat belajar Perasaan puas dan senang 4 1, 2, 7, 8

  Memperhatikan 3 3, 5, 6 Keinginan/ketertarikan untuk belajar 3 4, 9, 10

d. Kuesioner Nilai Karakter Siswa

  Kuesioner nilai karakter dalam penelitian ini bersifat tertutup atau telah disediakan alternatif jawaban. Kuesioner ini diberikan setelah kegiatan pembelajaran menggunakan metode eksperimen, untuk mengetahui nilai karakter siswa terhadap metode eksperimen.

  Pembuatan kuesioner nilai karakter diperlukan kisi-kisi kuesioner nilai karakter. Dari pendapat ahli yang telah dipaparkan pada bab kajian pustaka, nilai karakter saatt siswa melakukan eksperimen antara lain nilai kerjasama, tanggungjawab, disiplin, jujur, dan rasa ingin tahu.

  Kisi-kisi kuesioner nilai karakter seperti tabel 3 berikut.

  Tabel 3. Kisi-kisi Kuesioner Nilai Karakter

  c. Siswa membaca petunjuk penggunaan alat eksperimen 7, 8, 9

  b. Siswa mencari sumber lain selain apa yang dipelajari c. Siswa mencoba-coba lebih dari yang diharuskan atau berkali-kali melakukan pengukuran.

  a. Siswa bertanya pada teman atau guru

  5. Rasa ingin tahu

  10, 11, 12

  b. Siswa menyimpulkan hasil eksperimen berdasarkan data c. Siswa sungguh terlibat mengerjakan eksperimen dalam kelompok

  a. Siswa mencatat data sesuai yang dilihat

  4. Kejujuran

  a. Siswa datang ke laboratorium tepat waktu b. Siswa memulai eksperimen tepat waktu

  No Nilai karakter Indikator No soal

  3. Disiplin

  4, 5, 6

  a. Siswa melaksanakan dan menyelesaikan eksperimen b. Siswa menyumbang gagasan tentang eksperimen yang dilakukan

  2. Tanggungjawab

  c. Siswa andil dalam penyimpulan hasil eksperimen 1, 2, 3

  a. Siswa terlibat dalam merangkai alat eksperimen b. Siswa saling berdiskusi atau berkomunikasi dengan teman satu kelompok saat melakukan eksperimen

  1. Kerjasama

  13, 14, 15

  Validitas Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi.

  Validitas isi dari suatu tes hasil belajar adalah validitas yang diperoleh setelah dilakukan penganalisisan, penelusuran, atau pengujian terhadap isi yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut.

  Validitas isi berpedoman pada kisi-kisi tes dan non tes yang diukur sesuai dengan indikator. Kisi-kisi tes dapat dilihat pada halaman 31. Kisi-kisi non tes yaitu kuesioner minat belajar dapat dilihat pada halaman 33, dan kuesioner nilai karakter pada halaman 34.

  F. Pembatasan Penelitian

  1. Peneliti tidak menggunakan kelas pembanding (kelas control/ control

  group ) dengan populasi yang berbeda

  2. Peneliti tidak meneliti apakah ada perbedaan antara kelas yang diajar dengan metode eksperimen dengan kelas yang tidak diajar dengan menggunakan metode eksperimen.

  G. Metode Analisis Data

1. Analisis Pemahaman Awal dan Akhir Siswa

  Soal pre-test dan post-test terdiri masing masing 6 soal. Skor maksimal untuk masing-masing benar disesuaikan dengan bobot soal. Kriteria pemberian skor ditetapkan seperti tabel 4 berikut.

  Tabel 4. Skor Tiap Aspek

  Jumlah Skor Skor Skor No Apek soal maksimum minimum total

  Ingatan/ 1.

  2

  5

  10 pengetahuan Pemahaman 2.

  2

  8

  16

  3. Penerapan

  2

  12

  24

  6 - - Total

  50 Penskoran untuk masing-masing kriteria diuraikan di bawah ini:

  a. Aspek Ingatan/ pengetahuan (soal no 1 dan no 2) 1) Siswa memberi jawaban benar: skor 5 2) Siswa memberi jawaban mendekati benar atau hampir benar: skor 3 3) Siswa memberi jawaban salah: skor 1 4) Siswa tidak memberi jawaban sama sekali: 0

  b. Aspek Pemahaman (soal no 3 dan no 4) 1) Siswa memberi jawaban secara benar semua: skor 8 2) Siswa memberi jawaban setengah lebih benar: skor antara 6 sampai 7 3) Siswa memberi jawaban setengah benar: skor 4 4) Siswa memberi jawaban kurang dari setegah benar: skor antara 2 sampai 3 5) Siswa memberi jawaban salah : skor 1 6) Siswa tidak menjawab sama sekali : skor 0

  c. Aspek Penerapan

  2) Siswa memberi jawaban setengah lebih benar: skor antara 8 sampai 11 3) Siswa memberi jawaban setengah benar: skor 7 4) Siswa memberi jawaban kurang dari setangah benar: skor antara 2 sampai 6 5) Siswa tidak menjawab sama sekali: skor 0.

  Skor hasil belajar siswa yaitu jumlah skor setiap siswa dibagi jumlah skor maksimal dikali seratus.

  Skor hasil belajar siswa = x 100 Untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep siswa maka peneliti membandingkan hasil pre-test dan post-test, peneliti menggunakan uji test-t.

  Test-t ini digunakan untuk mengetes dua kelompok yang dependen, atau satu kelompok yang di-test dua kali, yaitu pada pre-test dan post-test (Suparno, 2010: 97).

  Rumus untuk menghitungnya adalah sebagai berikut: | T real | =

  ( ) ( )

  , Pencarian dihitung dengan SPSS Dimana:

  X

  1

  : skor pre-test

  X

  2 : skor post-test

  D : Perbedaan antara skor tiap subjek (X

  2 - X 1 )

  N : Jumlah pasangan skor

2. Analisis Minat Belajar Siswa

  Untuk mengetahui peningkatan minat belajar siswa, maka peneliti perlu tahu minat awal siswa sebelum diberi metode eksperimen dan minat setelah diberi metode eksperimen melalui kuesioner minat belajar siswa.

  Mengukur minat belajar siswa, menggunakan penilaian dengan model skala Likert yaitu dengan kriteria sebagai berikut:

  

Sangat Setuju – Setuju – Tidak Setuju – Sangat Tidak Setuju

  (4) (3) (2) (1) Kuesioner berisi 10 butir pernyataan dengan 4 (empat) pilihan jawaban untuk mengukur minat belajar peserta didik. Hasil pengukuran berupa skor atau angka. Skor butir pernyataan bersifat positif:

  a. Skor untuk setiap siswa Skor minimal = 1 x 10 = 10 Skor maksimal = 4 x 10 =40 Range = 40-10 =30

  b. Pembagian interval Range dibagi dalam 4 interval, maka lebar interval 30: 4 = 7,5 dibulatkan menjadi 8.

  Skor ini dikualifikasikan menjadi empat kategori, yaitu sangat tinggi (sangat baik), tinggi (baik), rendah (kurang), dan sangat rendah (sangat kurang). Berdasarkan kategori ini dapat ditentukan minat belajar siswa.

  Penentuan kategori hasil pengukuran minat dapat dilihat pada tabel 5 berikut.

  ) N : Jumlah pasangan skor Df : N-1

  X

  1

  2

  : skor minat belajar sesudah treatmen D : Perbedaan antara skor tiap subjek (X

  2

  X

  1 : skor minat belajar sebelum treatmen

  , Pencarian dihitung dengan SPSS Dimana:

  Tabel 5. Kategorisasi Minat Belajar Siswa

  ( ) ( )

  | =

  real

  Rumus untuk menghitungnya adalah sebagai berikut: | T

  Untuk mengetahui peningkatan minat belajar siswa peneliti membandingan hasil kuesioner minat belajar sebelum dan sesudah treatmen metode eksperimen, peneliti menggunakan uji Test-t. Test-t ini digunakan untuk mengetes dua kelompok yang dependen, atau satu kelompok yang di-tes dua kali.

  1. 34-41 Sangat tinggi/ sangat baik 2. 26- 33 Tinggi/ baik 3. 18-25 Rendah/ kurang 4. 10- 17 Sangat rendah/ sangat kurang

  No Skor peserta didik Kategori minat

  • X

3. Analisis Karakter Siswa.

  Untuk mengetahui nilai karakter siswa, peneliti menggunakan kuesioner nilai karakter. Mengukur nilai karakter siswa, peneliti menggunakan alat penilaian model skala Likert yaitu dengan kriteria sebagai berikut:

  Sangat Setuju – Setuju – Tidak Setuju – Sangat Tidak Setuju

  (4) (3) (2) (1) Kuesioner berisi 15 butir pernyataan dengan 4 (empat) pilihan jawaban untuk mengukur nilai karakter peserta didik. Hasil pengukuran berupa skor atau angka. Skor butir pernyataan bersifat positif:

  a. Skor untuk setiap siswa Skor minimal = 1 x 15 = 15 Skor maksimal = 4 x 15 =60 Range = 60-15= 45

  b. Pembagian interval Range dibagi dalam 4 interval, maka lebar interval 45: 4= 11,2 dibulatkan menjadi 12.

  Skor ini dikualifikasikan menjadi empat kategori, yaitu sangat tinggi (sangat baik), tinggi (baik), rendah (kurang), dan sangat rendah (sangat kurang). Berdasarkan kategori ini dapat ditentukan nilai karakter siswa.

  Penentuan kategori hasil pengukuran dapat dilihat pada tabel 6 berikut.

  Tabel 6. Kriteria Nilai Karakter Siswa

  No Skor peserta didik Kategori 1.

  51-62 Sangat tinggi/ sangat baik 2. 39-50 Tinggi/ baik 3. 27-38 Rendah/ kurang 4. 15-26 Sangat rendah/ sangat kurang

BAB IV DATA DAN ANALISIS DATA A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilakukan pada siswa kelas X.1 SMA Negeri Jumapolo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, dan dilaksanakan pada tanggal 22 April 2013 sampai dengan tanggal 8 Mei 2013. Penelitian dilakukan pada saat jam pelajaran fisika berlangsung. Pelajaran fisika untuk kelas X.1 dilaksanakan 2 kali pertemuan dalam satu Minggu yaitu pada hari Senin dan hari Rabu. Alokasi waktu untuk pelajaran fisika pada hari Senin yaitu 1 x 45 menit, sedangkan pada hari Rabu yaitu 2 x 45 menit. Pada penelitian ini, peneliti berperan sebagai guru dan fasilitator dalam

  pelaksanaan proses pembelajaran. Peneliti dibantu oleh Veronika Winahyu, yang berperan sebagai dokumentator selama proses pembelajaran berlangsung. Proses pengambilan data dijelaskan sebagai berikut:

1. Sebelum Penelitian

  Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti mempersiapkan instrumen- instrumen yang digunakan untuk melaksanakan penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan ada dua jenis yaitu instrumen pembelajaran dan instrumen pengambilan data. Instrumen pembelajaran terdiri dari: RPP, LKS, basicmeter, alat-alat rangkaian listrik seperti kabel, baterai, lampu, dan dudukan lampu. Sedangkan instrumen pengambilan data antara lain soal pre-

  test, soal pos-test, kuesioner minat belajar, kuesioner nilai karakter, serta alat dokumentasi berupa kamera digital.

  Selain mempersiapkan instrumen penelitian, peneliti melakukan observasi laboratorium fisika. Observasi ini bertujuan untuk mengetahui keadaan, kelengkapan, dan kesiapan laboratorium fisika. Observasi laboratorium fisika dilakukan oleh peneliti sebanyak 2 kali. Pertama pada hari Jumat tanggal 1 April 2013 dan kedua hari Selasa tanggal 23 April 2013.

  Hasil observasi laboratorium fisika SMA Negeri Jumapolo yaitu bahwa alat eksperimen laboratorium fisika yang cukup lengkap. Alat untuk eksperimen antara lain pesawat Atwood, ayunan matematis, alat-alat ukur (mikrometer sekrup, meteran, basicmeter, jangka sorong, termometer), konstanta pegas, kaca, catu daya, kabel-kabel, dudukan lampu, resistor, kapasitor, dan masih ada beberapa alat yang belum bisa peneliti sebutkan karena masih di dalam kardus dan dalam ruangan sebelah.

  Selain terdapat alat eksperimen, di dalam laboratorium terdapat meja dan kursi untuk guru, papan tulis (white board), jadwal pemakaian laboratorium fisika (tahun ajaran pada semester ganjil atau semester sebelumnya), jam dinding, foto Presiden dan Wakil Presiden, Lambang Negara Indonesia yaitu Garuda, korden, tempat cuci tangan, meja dan kursi eksperimen siswa.

  Adapun hasil observasi ditunjukkan pada gambar 11 dan gambar 12 berikut:

  Gambar 11 Gambar bar 11. Laboratorium Fisika SMA Negeri Jumapol bar 12. Lemari dan Alat-alat Laboratorium Fisika apolo isika

2. Selama Pelaksanaan Penelitian

  Berikut adalah jadwal dan proses pengambilan data yang dilakukan di kelas X.1 seperti pada tabel 7: Tabel 7. Proses Pelaksanaan Penelitian

  No Hari/tanggal Pukul Kegiatan Peneliti

  

1. Senin, 22 April 11.15- 11.30 Perkenalan dan memberikan kuesioner

2013 minat belajar kepada siswa

2. Rabu, 24 April 07.15-08.40

  a. Mendampingi siswa melakukan

2013 eksperimen 1 yaitu rangkaian

terbuka dan tertutup

  b. Mendampingi siswa melakukan eksperimen 2 yaitu mengukur kuat arus listrik

  3. Senin, 29 April 10.15-10.45 Mendampingi siswa melakukan 2013 eksperimen 3 yaitu mengukur tegangan listrik

  4. Senin, 6 Mei 2013 10.20-10.50 Mendampingi siswa melakukan eksperimen 4 yaitu hubungan antara kuat arus dan tegangan listrik

  

5. Rabu, 8 Mei 2013 07.15-08.40 Memberikan post-test, kuesioner minat

belajar, dan kuesioner nilai karakter siswa.

  Penelitian tidak berjalan sesuai dengan rencana dikarenakan beberapa hal seperti berikut: a. Pada hari Senin tanggal 22 April 2013, terjadi pengurangan jam pelajaran dalam rangka upacara memperingati hari Kartini dan adanya rapat dan

  breafing

  guru bersama dengan Kepala Sekolah dan siswa kelas XII

  b. Pada hari Senin tanggal 29 April 2013, terjadi pengurangan jam pelajaran c. Pada hari Rabu tanggal 1 Mei 2013, digunakan untuk gerak jalan se- Kecamatan Jumapolo memperingati hari Pendidikan Nasional, tidak ada pembelajaran untuk jam pertama sampai jam ke lima, sehingga terjadi penundaan penelitian

  d. Pada hari Senin tanggal 6 Mei 2013, terjadi pengurangan jam pelajaran karena adanya rapat guru e. Saat peneliti melaksanakan penelitian, tidak seluruh sampel bisa diteliti karena ada beberapa siswa yang mengikuti pelatihan PASKIBRA, lalu ada siswa yang sakit, dan ada halangan yaitu nenek meninggal sehingga siswa tersebut tidak bisa mengikuti pembelajaran.

  Adapun proses pelaksanaan penelitian dijelaskan sebagai berikut :

a. Pelaksanaan Penelitian Pada Hari Senin, 22 April 2013

  Pada hari Senin ini sekolah merayakan hari Kartini, maka jam pelajaran dipotong sebanyak 15 menit, peneliti masuk ke kelas pada pukul 11.10 WIB bersama guru fisika kelas X.1 yaitu Bapak Tyas Haryadi, M.Pd.

  Pertama Bapak Hasto membuka pelajaran, menjelaskan materi pelajaran, kemudian memperkenalkan peneliti kepada siswa, lalu peneliti membagikan kuesioner minat belajar kepada siswa. Sebanyak 3 siswa tidak masuk dikarenakan 2 siswa mengikuti pelatihan Paskibra dan satu siswa sakit.

  Sehingga sampel untuk penelitian minat belajar sebelum treatmen sebanyak 28 siswa.

  Berikut aktivitas saat mengerjakan kuesioner minat belajar ditunjukkan Gambar 13. Si . Siswa Kelas X.1 Mengerjakan Kuesioner Mina Minat Belajar

b. Pelaksanaan P aan Penelitian Pada Hari Rabu, 24 April 2013 2013

  Pelajaran be n berlangsung di laboratorium fisika SMA Ne Negeri Jumapolo, tidak seluruh sisw swa datang di tepat waktu, kurang lebih 10 meni enit seluruh siswa hadir dalam labora boratorium, baru pelajaran bisa dimulai.

  Peneliti me membuka pelajaran dengan memberi salam m dan doa, lalu memberikan penj penjelasan sedikit mengenai materi yang a akan dipelajari. kemudian peneliti liti memberikan soal pre-test kepada seluruh uruh siswa, hampir semua mengeluh uh karena belum belajar. Siswa mengerjakan n soal selama 25 menit, gambar 14 14 berikut merupakan aktivitas siswa saat m mengerjakan soal pre-test .

  Gamba bar 14. Suasana Pre-test di Laboratorium Fisika sika Peneliti me membagi siswa kelas X.1 berdasar nomor ur or urut menjadi 6 kelompok, banya yak siswa yang protes karena sebelumnya a telah memiliki kelompok, namun un beberapa siswa senang dengan adanya kelom kelompok baru, dan mereka tetap me melaksanakan berkelompok seperti yang tel telah dibagi oleh peneliti.

  Peneliti me memberikan LKS kepada siswa, lalu mem embimbing siswa melakukan eksper ksperimen rangkaian terbuka dan tertutup. Ada da satu kelompok yang belum berha rhasil melakukan eksperimen, hal ini dikarenak nakan beberapa hal yakni siswa hany nya menggunakan satu kabel untuk menghubun hubungkan lampu dengan baterai, l , lalu kabel yang dihubungkan tidak tersam sambung menjadi rangkaian, dan susun n susunan antara baterai satu dengan yang kedua t dua terbalik.

  Berikut mer erupakan aktivitas siswa saat melakukan ekspe ksperimen pertama

  Gambar 15. S

  15. Siswa Melakukan Eksperimen Rangkaian Te n Tertutup Sebelum m membimbing eksperimen kedua, peneliti m menjelaskan cara

  basicmeter

  menggunakan basi . Tidak seluruh siswa memperhatikan kan penjelasan dari peneliti, karena na masih mencoba-coba rangkaian. Lalu sisw siswa melakukan eksperimen denga gan menggunakan basicmeter untuk mengukur ukur arus listrik dari rangkaian listrik. k.

  Peneliti meng engunjungi dan mengecek cara merangkai alat e lat eksperimen dan cara membaca ska skala pada setiap kelompok, ada dua kelompok pok yang memasang alat ukur secara te terbalik, sehingga jarum yang ditunjukkan basi basicmeter menuju arah yang terbali alik, dan juga siswa belum bisa membaca ska skala yang telah ditunjukkan basicm basicmeter . Lalu peneliti membimbing siswa dalam lam kelompok.

  Aktivitas sisw s siswa saat melakukan eksperimen mengguna unakan basicmeter Gambar 16. Siswa swa Melakukan Pengukuran Kuat Arus Listrik Me k Menggunakan

  

Basicmeter

c. Pelaksanaan P aan Penelitian Pada Hari Senin, 29 April 2013 2013

  Pelajaran be n berlangsung di laboratorium, akan tetapi siswa swa masih di dalam kelas karena masi asih mengikuti pelajaran bahasa Inggris, se s, sehingga waktu penelitian berkura kurang 10 menit.

  Siswa mel elakukan eksperimen menggunakan basic basicmeter sebagai voltmeter, beberap rapa kelompok sudah bisa menggunakannya, a, akan tetapi ada satu kelompok y pok yang bingung dan bertanya. Peneliti membe mberi kesempatan kepada teman dar dari kelompok lain untuk mengajari satu kelom lompok. Sehingga mereka bisa meng ngukur tegangan listrik dengan menggunakan basi n basicmeter.

  Siswa mel elakukan eksperimen menggunakan basic basicmeter sebagai voltmeter ditunjukka unjukkan gambar 17 di bawah ini. Gambar 17. Siswa swa Membaca Skala yang Ditunjukkan oleh Basi asicmeter Saat Mengukur Tegangan Listrik

d. Pelaksanaan P aan Penelitian Pada Hari Senin, 6 Mei 2013

  Saat perga gantian jam pelajaran, siswa masih mengikuti pe kuti pelajaran bahasa Inggris di kelas, se s, sehingga waktu untuk pelajaran fisika terpot rpotong 10 menit.

  Setelah seluruh si uh siswa siap mengikuti pelajaran di laborat boratorium, Peneliti membimbing sisw siswa dalam melakukan eksperimen hubungan n antara kuat arus dengan tegangan an listrik. Seluruh kelompok sudah bisa bisa menggunakan

  basicmeter

  , nam amun siswa mengalami kendala dalam m membuat grafik hubungan antara kua a kuat arus dengan tegangan listrik.

  Aktivitas si s siswa saat melakukan eksperimen yaitu ditunj ditunjukkan seperti gambar 18 di baw bawah ini. Gambar 18. S . Siswa Membaca Skala yang Terbaca dari Basi asicmeter

e. Pelaksanaan P n Penelitian Pada Hari Senin, 8 Mei 2013

  Peneliti mem embuka pelajaran dengan salam dan doa. Pene eneliti mengabsen siswa, dan pada ha hari rabu ini terdapat 2 siswa yang tidak meng engikuti pelajaran, satu siswa dikaren renakan nenek meninggal dan satu siswa tanpa ke npa keterangan.

  Peneliti mem emberikan soal post-test, seusai siswa menger ngerjakan soal post-

  test, Peneliti mem embagikan kuesioner minat belajar, dan memba bagikan kuesioner

  nilai karakter. Pe Peneliti mengulas kembali tentang eksperim rimen yang telah dilakukan oleh sisw h siswa, lalu siswa menyimpulkan pengalaman an apa yang telah dilakukan saat me melakukan eksperimen.

B. Data dan Analisis Data

1. Pemahaman Konsep Siswa

  

34

  50

  

28

  40 Siswa 10

  

30

  30 Siswa 9

  

22

  88 Siswa 8

  

38

  44 Siswa 7

  

12

  86 Siswa 6

  a. Data Pretest dan Posttest

  Untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep siswa, peneliti menggunakan data pre-test dan post-test. Hasil dari pre-test dan post-test siswa kelas X.1 dalam bentuk skor dapat dilihat pada lampiran 10.

  

34

  36 Siswa 4

  

24

  92 Siswa 3

  

44

  60 Siswa 2

  

24

  Kode Siswa Pretest Posttest Siswa 1

  Tabel 8. Analisis Test-T Kelompok Dependen (pretest dan posttest)

  Data pre-test dan post-test dianalisis dengan menggunakan statistik Test-T untuk kelompok dependen. Analisis data dari skor pre-test dan post-test ditunjukkan pada tabel 8 di bawah ini.

  b. Analisis Data

  Selain menggunakan data pre-test dan post-test, peneliti juga mengecek apakah siswa sudah memahami pelajaran dengan laporan hasil praktikum dari siswa. Jumlah sampel yang dapat diteliti untuk tingkat pemahaman konsep siswa yaitu sebanyak 29 siswa kelas X.1.

  52 Siswa 5 Siswa 12

  36

  44 Siswa 29

  18

  42 Siswa 26

  30

  46 Siswa 27

  24

  54 Siswa 28

  22

  26

  22

  56 Siswa 31

  12

  70 Siswa 32

  38

  50 Data pre-test dan pos-test diuji dengan program SPSS dengan

  analisis Paired Sample Test untuk kelompok dependen atau satu kelompok yang dites dua kali. Hasil SPSS data pre-test dan post-test siswa kelas X.1 adalah sebagai berikut

  

Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviation Std. Error Mean Pair 1 Pretest

  34 Siswa 25

  54 Siswa 24

  42 Siswa 13

  78 Siswa 18

  22

  40 Siswa 14

  22

  36 Siswa 15

  20

  34 Siswa 16

  26

  26

  22

  54 Siswa 19

  32

  72 Siswa 20

  34

  52 Siswa 21

  20

  72 Siswa 22

  26.76 29 7.698 1.430 Posttest 54.55 29 17.467 3.244

  

Paired Samples Correlations

N Correlation Sig.

  Pair 1 pretest & posttest 29 .451 .014

Paired Samples Test

  Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference

  Std. Std. Error Sig. (2- Mean Deviation Mean Lower Upper T df tailed) Pair Pretest -

  • -27.793 15.587 2.894 -33.722 -21.864 -9.602

    28 .000

1 Posttest

  Hasil output SPSS dapat dilihat bahwa: T = -9.602, p = 0.000, dengan level signifikan α = 0.05, mean pre-test = 26.76, mean post-test =

  54.55. Oleh karena p = 0.000 < α = 0.05 maka hasil signifikan. Berarti kedua kelompok yaitu pre-test dan post-test ada perbedaan. Karena X > X (mean post-test > mean pre-test), maka post-test lebih baik dari pre- test.

2. Minat Belajar Siswa

a. Data Kuesioner Minat Belajar Sebelum dan Sesudah Treatmen

  Untuk mengetahui peningkatan minat belajar siswa, peneliti menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah treatmen. Jumlah sampel yang dapat diteliti untuk tingkat minat belajar yaitu sebanyak 29 siswa. Hasil kuesioner minat belajar siswa kelas X.1 dalam bentuk skor dapat dilihat pada lampiran 11 dan lampiran 12.

b. Analisis Data

  Berdasar data minat sebelum dan sesudah treatmen, minat belajar siswa kelas X.1 dapat dikategorikan seperti tabel 9 di bawah ini.

  Tabel 9. Prosentase Kategori Minat Belajar Siswa Kelas X.1

  

Skor Kategori Minat Sebelum (%) Sesudah (%)

34-41 Sangat tinggi/ sangat baik

  10

  10 26-33 Tinggi/ baik

  76

  73 18-25 Rendah/ kurang

  14

  17 10-17 Sangat rendah/ sangat kurang

  Hasil dari kategori minat belajar siswa kelas X.1 sebelum peneliti memberikan treatmen minat belajar siswa tinggi dan sangat tinggi sebesar 86% dan yang rendah sebesar 14%, lalu untuk minat siswa setelah peneliti memberikan treatmen berubah yaitu minat yang tinggi dan sangat tinggi sebesar 83% dan yang rendah 17%. Jadi ada penurunan minat belajar siswa kelas X.1 yang tinggi menjadi rendah terhadap mata pelajaran fisika sebesar 3 %.

  Data minat belajar sebelum dan sesudah treatmen dianalisis dengan menggunakan statistik Test-T untuk kelompok dependen. Analisis data dari skor minat belajar sebelum dan sesudah treatmen ditunjukkan pada tabel 10 di bawah ini. Tabel 10. Analisis Test-T Kelompok Dependen (Minat Belajar)

  

Kode Siswa Sebelum Treatmen Sesudah Treatmen

Siswa 1

  32

  31

  32 Siswa 20

  28

  26 Siswa 21

  33

  32 Siswa 22

  23

  24 Siswa 24

  28

  27 Siswa 25

  34

  29 Siswa 26

  30 Siswa 27

  31

  35

  27 Siswa 28

  33

  34 Siswa 29

  28

  28 Siswa 30

  25

  25 Siswa 31

  29

  25 Siswa 32

  30

  29 Data minat sebelum dan sesudah treatmen diuji dengan program

  30 Siswa 19

  36 Siswa 18

  27

  30 Siswa 8

  26 Siswa 2

  33

  33 Siswa 3

  24

  25 Siswa 4

  28

  28 Siswa 5

  28

  28 Siswa 6

  25

  27 Siswa 7

  29

  28

  34

  27 Siswa 9

  26

  23 Siswa 11

  30

  27 Siswa 12

  27

  28 Siswa 13

  27

  26 Siswa 14

  30

  27 Siswa 15

  33

  35 Siswa 16

  SPSS dengan analisis Paired Sample Test untuk kelompok dependen atau satu kelompok yang dites dua kali. Hasil SPSS data minat belajar siswa kelas X.1 adalah sebagai berikut:

  

Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviation Std. Error Mean Pair 1 Sebelum

  29.28 29 3.206 .595 Sesudah 28.41 29 3.279 .609

  

Paired Samples Correlations

N Correlation Sig.

  Pair 1 Sebelum & Sesudah 29 .757 .000

Paired Samples Test

  Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Std. Std. Error Sig. (2-

  Mean Deviation Mean Lower Upper T df tailed) Pair Sebelum -

.862 2.263 .420 .001 1.723 2.051

28 .050

1 Sesudah

  Hasil output SPSS dapat dilihat bahwa: T = 2.051, p = 0.050, dengan level signifikan α = 0.05, mean minat belajar sebelum treatmen = 29.28, mean minat belajar sesudah treatmen = 28.41.

  Oleh karena p = 0.050 = α = 0.05 maka hasil signifikan. Berarti kedua kelompok yaitu minat belajar sebelum treatmen dan minat belajar sesudah treatmen ada perbedaan. Karena X < X (mean minat belajar sesudah treatmen < mean minat belajar sebelum treatmen), maka minat belajar sebelum treatmen lebih baik dari minat belajar sesudah treatmen.

  Berdasar data hasil penelitian dari pertanyaan pada kuesioner minat minat belajar siswa turun. Namun setelah dianalisa, pertanyaan dari kuesioner tersebut masih terlalu umum untuk mengetahui minat belajar siswa terhadap penerapan metode eksperimen. Pertanyaan yang benar- benar menyangkut praktikum yaitu adalah pertanyaan nomor 7. Maka untuk mengetahui adanya peningkatan minat belajar siswa terhadap metode eksperimen maka data skor dari pertanyaan soal kuesioner minat belajar nomor 7 baik sebelum treatmen dan sesudah treatmen dianalisis dengan statistik Test-t untuk kelompok dependen atau satu kelompok yang dites dua kali.

  Analisis data skor dari pertanyaan soal kuesioner minat belajar nomor 7 ditunjukkan pada tabel 11 di bawah ini.

  3

  3

  3 Siswa 14

  3

  4 Siswa 13

  4

  4 Siswa 12

  4

  3 Siswa 11

  4

  3 Siswa 9

  3

  4 Siswa 8

  4 Siswa 7

  Tabel 11. Distribusi Skor Dari Pertanyaan Kuesioner Minat Belajar No. 7

  2

  4 Siswa 6

  3

  3 Siswa 5

  3

  2 Siswa 4

  2

  3 Siswa 3

  4

  4 Siswa 2

  3

  Kode Siswa Distribusi Skor dari Pernyataan No. 7 Sebelum Treatmen Sesudah Treatmen Siswa 1

  3 Siswa 16

  4

  3

  3.38 29 .622 .115 Sesudah 4.79 29 7.370 1.369

  

Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviation Std. Error Mean Pair 1 Sebelum

  diuji dengan program SPSS dengan analisis Paired Sample Test untuk kelompok dependen atau satu kelompok yang dites dua kali. Hasil SPSS data minat belajar siswa untuk soal pertanyaan nomor 7 adalah sebagai berikut:

  4 Data skor pertanyaan nomor 7 minat sebelum dan sesudah treatmen

  4

  4 Siswa 32

  4

  3 Siswa 31

  3

  3 Siswa 30

  3

  3 Siswa 29

  3

  3 Siswa 28

  4 Siswa 27

  4 Siswa 18

  4

  4

  4 Siswa 19

  4

  4 Siswa 20

  3

  3 Siswa 21

  4 Siswa 22

  4

  3

  3 Siswa 24

  3

  3 Siswa 25

  4

  3 Siswa 26

  

Paired Samples Correlations

N Correlation Sig.

  

Paired Samples Test

Paired Differences t df

  Sig. (2- Mean tailed) Std.

  Deviatio n Std.

  Error Mean 95% Confidence Interval of the

  Difference Lower Upper Pair

  • 1.414 7.253 1.347 -4.173 1.345
  • 1.050 28 .303

  1 Sebelum - Sesudah

  Hasil output SPSS dapat dilihat bahwa: T = -1.050, p = 0.303, dengan level signifikan α = 0.05, mean dari soal nomor 7 minat belajar sebelum treatmen = 3.38, mean dari soal nomor 7 minat belajar sesudah treatmen = 4.79.

  Oleh karena p = 0.303 > α = 0.05 maka hasil tidak signifikan. Berarti kedua kelompok yaitu minat belajar sebelum treatmen dan minat belajar sesudah treatmen tidak ada perbedaan, meskipun X = 4.79 > X =

  3.38 (mean dari skor nomor 7 minat belajar sesudah treatmen > mean minat belajar sebelum treatmen).

  Hasil analisa untuk poin nomor 7 yaitu mengenai minat belajar terhadap metode eksperimen sebelum dan sesudah treatmen adalah sama.

  Kemungkinan minat menjadi turun disebabkan oleh: 1) Pertanyaan minat dalam kuesioner kurang baik karena masih terlalu umum untuk mengetahui minat belajar siswa yang berkaitan dengan penerapan metode eksperimen

  2) Siswa lelah karena mempunyai banyak tugas sehingga menjadi

3. Nilai Karakter Siswa

  a. Data

  Untuk mengetahui sumbangan nilai karakter metode eksperimen, peneliti menggunakan kuesioner nilai karakter. Jumlah sampel yang diteliti untuk nilai karakter yaitu 27 siswa siswa kelas X.1. Hasil kuesioner nilai karakter siswa kelas X.1 dalam bentuk skor dapat dilihat pada lampiran 13.

  b. Analisis data

  Berdasar hasil kuesioner nilai karakter siswa kelas X.1, dapat dikategorikan nilai karakter seperti tabel 10 di bawah ini.

  Tabel 12. Prosentase Kategori Nilai Karakter Siswa Kelas X.1

  

No Skor Kategori Nilai Karakter Jumlah Siswa Prosentase (%)

1. 51-62 Sangat tinggi/ sangat baik 9 33% 2. 39-50 Tinggi/ baik

  17 63% 3. 27-38 Rendah/ kurang 1 4% 4. 15-26 Sangat rendah/ sangat kurang 0%

  Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa melalui penerapan metode eksperimen dalam pelajaran fisika sebanyak 96% siswa kelas X.1 memiliki karakter yang baik dan sangat baik, lalu 4% siswa memiliki karakter yang kurang baik.

  Berdasar skor hasil kuesioner nilai karakter siswa, dapat dibandingkan frekuensi dari karakter yang dibentuk melalui metode eksperimen seperti tabel 13 di bawah ini.

  Tabel 13. Frekuensi Setiap Nilai Karakter

  2

  12

  86

  4

  14

  9

  11

  87 258

  17

  15

  8

  10

  4. Kejujuran

  88

  2

  16

  9

  9

  8

  4

  No Nilai Karakter No Soal Jumlah Siswa Memilih Pernyataan Skor Total SS S TS STS

  16

  Materi alat ukur listrik merupakan salah satu materi baru untuk siswa

  paling besar disumbangkan melalui penerapan metode eksperimen yaitu nilai kerjasama. Nilai kerjasama memiliki skor paling tinggi yaitu 270, nilai tanggungjawab sebesar 250, nilai disiplin 261, nilai kejujuran sebesar 258, nilai rasa ingin tahu sebesar 244.

  89 Dari tabel tersebut di atas, dapat dilihat bahwa nilai karakter yang

  3

  13

  11

  15

  67

  9

  85

  2

  14

  88 244

  3

  14

  10

  13

  5. Rasa ingin tahu

  83

  5

  15

  1

  2. Tanggungjawab

  85

  4

  15

  8

  3

  90

  16

  7

  10

  2

  95 270

  1

  11

  15

  1

  1. Kerjasama

  4

  15

  7

  5

  8

  90 261

  3

  15

  9

  7

  3. Disiplin

  85

  3

  20

  4

  6

  82

  3

  20

  4

  5

  83 250

C. Pembahasan

1. Pemahaman Konsep

  sebelumnya pernah menggunakan laboratorium fisika yaitu pada materi optika, dan belum pernah eksperimen menggunakan alat ukur listrik.

  Siswa belum mengenal, memahami, dan cara memakai alat ukur listrik yang digunakan untuk metode eksperimen dalam penelitian ini, yaitu

  basicmeter

  . Setelah melakukan eksperimen dengan menggunakan alat ukur listrik di laboratorium, siswa menjadi mengenal dan juga bisa menggunakan

  basicmeter baik sebagai alat ukur arus listrik maupun sebagai alat ukur

  tegangan listrik. Contoh data hasil pre-tes dan post-test yaitu pada lampiran 14 dan lampiran 15.

  Jadi, metode eksperimen sungguh membantu meningkatkan pemahaman siswa pada konsep alat ukur listrik pada siswa SMA Negeri Jumapolo kelas

  X.1. Hal ini didukung dengan hasil analisis data pre-test dan post-test yaitu adanya perbedaan antara pre-test dan post-test dan hasil dari post-test lebih baik dari pre-test.

2. Minat Belajar

  Berdasar analisis data kuesioner minat belajar siswa menunjukkan bahwa terjadi penurunan minat belajar siswa sebesar 3%, serta hasil analisis dari SPSS menunjukkan p =0.05 = level signifikan α= 0.05 yang berarti hasil hasil signifikan yaitu ada perbedaan minat sebelum dan sesudah treatmen.

  Contoh data hasil kuesioner minat belajar sebelum dan sesudah treatmen dapat dilihat pada lampiran 16 dan 17.

  Berdasar analisis data minat belajar siswa kelas X.1 secara umum untuk minat belajar memang turun, akan tetapi untuk minat belajar terhadap metode eksperimen adalah sama.

3. Nilai Karakter

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penerapan metode eksperimen menyumbangkan nilai karakter bagi siswa SMA Negeri Jumapolo. Nilai karakter yang dibentuk berdasar urutan paling tinggi yaitu nilai kerjasama, nilai tanggungjawab, nilai disiplin, nilai kejujuran, dan nilai rasa ingin tahu.

D. Keterbatasan Penelitian

  1. Tidak ada instrumen pengamatan atau observasi, padahal apabila ingin mengetahui minat dan nilai karakter semakin baik jika mengamati secara langsung.

  2. Tidak ada control group.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasar hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan

  sebagai berikut:

  1. Ada pengaruh penerapan metode eksperimen terhadap pemahaman konsep siswa, yakni metode eksperimen dapat meningkatkan pemahaman konsep untuk materi alat ukur listrik pada siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1.

  2. Secara umum dari uji statistik minat belajar siswa kelas X.1 SMA Negeri Jumapolo turun, khusus tentang metode eksperimen minat sama.

  3. Penerapan metode eksperimen menyumbangkan atau membentuk nilai karakter bagi siswa. Nilai karakter yang dibentuk dengan urutan paling besar yaitu nilai kerjasama, kedisiplinan, kejujuran, tanggungjawab, dan rasa ingin tahu.

B. Saran

  Beberapa saran yang dapat diberikan untuk pengembangan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Disarankan bagi guru SMA Negeri Jumapolo menggunakan metode eksperimen untuk meningkatkan pemahaman konsep dan membentuk nilai karakter siswa, metode eksperimen juga bisa diterapkan untuk topik lain dalam matapelajaran fisika.

  3. Sebaiknya untuk penelitian selanjutnya agar lebih baik ada observasi

DAFTAR PUSTAKA

  Adisusilo, Sutarjo. 2012. Pembelajaran Nilai Karakter. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

  Anderson, Lorin W. 2010. Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  Berg, Euwe v. d. 1991. Miskonsepsi Fisika dan Remediasi. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.

  Bernardina, Anastasia. 2005. (Skripsi) Pemahaman, Minat, dan Keaktifan Anak-

  Anak SD Dalam Pembelajaran Sains Dengan Menggunakan Teori Intelegensi Ganda (Multiple Intelligences) Pada Pokok Bahasan Energi Bunyi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Budi, Y. K. 1990. Peta dan Pemetaan Konsep Serta Peranannya Dalam Kegiatan Belajar Mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (Sains). Widya Dharma Majalah Ilmu dan Pendidikan . 63.

  Bumbungan, Rosiana. 2009. (Skripsi) Peningkatan Pemahaman Siswa Mengenai

  Getaran Pada Bandul Sederhana Melalui Pembelajaran Dengan Metode Eksperiemen Terbimbing Menggunakan LKS Pada Siswa Kelas VIII SMP Karitas Ngaglik Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Dahar, Ratna W. 2011. Teori-teori Belajar & Pembelajaran. Bandung: PT Gelora Aksara Pratama.

  Djamarah, Syaiful B. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Fitri, Eka H. 2008. (Skripsi) Penggunaan Metode Eksperimen Untuk Mengurangi

  Miskonsepsi Mekanika Fluida Pada Mahasiswa Program Studi

  Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Hamid, Ahmad A. 2011. Pembelajaran Fisika di Sekolah. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

  Kanginan, Marthen. 2007. Fisika Untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga. Kesuma, Dharma. 2011. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di

  Sekolah . Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

  Lickona, Thomas. 2012. Mendidik Untuk Membentuk Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.

  Mardapi, Djemari. 2008. Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Non Tes.

  Yogyakarta: Mitra Cendikia. Miftakhul Jannah, Sugianto, S. 2012. Pengembangan Perangkat Pembelajaran

  Berorientasi Nilai Karakter Melalui Inkuiri Terbimbing Materi Cahaya Pada Siswa Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama. Journal of Innovative Science Education. 54- 60.

  Minh, Richard J. 1970. Laboratory Experiences: An Approach to Teaching Physics. The Physics Teacher 8. 146.

  NN1. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya: Reality Publisher. Nurachmandani, Setya. 2009. Fisika 1 Untuk SMA/MA kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

  Purwanto, M. N. 2006. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung : PT.

  Remaja Rosdakarya Offset. Siregar, Evelin. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia. Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Bandung: Slavin, Robert E. 2009. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. Jakarta: PT.

  Indeks. Sudijono, Anas. 2011.

  Pengantar Evaluasi Pendidikan . Jakarta: PT.

  RajaGrafindo. Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

  Suparno, Paul. 2006. Diktat Statistik Untuk Mahasiswa Pendidikan Fisika.

  Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Suparno, Paul. 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika Konstruktivistik dan

  Menyenangkan . Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Suparno, Paul. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Fisika. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Suparno, Paul. 2012. Sumbangan Pendidikan Fisika Terhadap Pembangunan

Karakter Bangsa . Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Surya, Mohamad. 2004. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

  Sutopo. 2011. Kontribusi Matapelajaran Fisika Pada Pendidikan Karakter. Fisika FMIPA UM . 10-11.

  Suyono. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

  Tobin, J. A. 1932. Laboratory Experiments in Physics. Chesnut Hill: Department of Physics Boston College.

  Uno, Hamzah. 2005. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: PT.

  Uno, Hamzah. 2011. Belajar Dengan Pendekatan Pailkem. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

  Winkel, W.S. 2004. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.

  

LAMPIRAN

  Lampiran 1. Surat Ijin P in Penelitian Sekolah Lampiran 2. Surat Keterangan Telah Melaksa laksanakan Penelitian

  Lampiran 3. RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran)

  

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

  Sekolah : SMA Negeri Jumapolo Mata Pelajaran : Fisika Kelas/Semester : X/ II Alokasi Waktu : 4 x 45 menit

  A. Standar Kompentensi

  Menerapkan konsep kelistrikan (baik statis maupun dinamis) dan kemagnetan dalam berbagai penyelesaian.

  B. Kompetensi Dasar Merangkai alat ukur listrik, menggunakannya secara baik dan benar dalam rangkaian listrik.

  C. Indikator 1. Membedakan jenis dan fungsi alat ukur listrik.

  2. Menjelaskan cara membaca dan memasang alat ukur kuat arus dan alat ukur tegangan.

  3. Menggunakan amperemeter dan voltmeter dalam rangkaian.

  D. Tujuan Pembelajaran

  1. Siswa dapat membedakan jenis dan fungsi alat ukur listrik

  2. Siswa dapat menjelaskan cara membaca dan memasang alat ukur kuat arus dan alat ukur tegangan.

  3. Siswa dapat menggunakan amperemeter dan voltmeter dalam rangkaian.

  E. Metode Pembelajaran Metode eksperimen di laboratorium.

F. Kegiatan Pembelajaran No

  Pertemuan I Alokasi Peneliti waktu

  Siswa 1. Membuka Pelajaran :

1. Peneliti membuka pelajaran dengan salam

  2. Peneliti menyampaikan topik yang akan dipelajari dan tujuan pembelajaran yang harus dicapai

  3. Peneliti menjelaskan metode pembelajaran menggunakan eksperimen

  1. Siswa memberi salam

  2. Siswa mendengarkan penjelasan peneliti 2 menit 7 menit

2. Kegiatan inti:

  3. Peneliti mengambil hasil jawaban siswa

  4. Siswa menerima kuesioner minat belajar

  Mengerjakan soal pre-test dan kuesioner

  1. Peneliti membagikan soal pre-test kepada siswa

  20 menit 2 menit 10 menit 2 menit 2 menit 10 menit 5 menit

  2. Siswa melakukan eksperimen pertama dan mendiskusikan hasil eksperimen 3. siswa memberi kesimpulan hasil eksperimen 2 menit

  1. Siswa duduk dalam kelompok

  5. Siswa menyerahkan kuesioner minat belajar

  3. Siswa menyerahkan jawaban kepada peneliti

  4. Peneliti membagikan kuesioner minat belajar

  2. Siswa mengerjakan soal pre-test

  1. Siswa menerima soal prê-test

  4. Peneliti merangkum hasil kesimpulan siswa

  3. Peneliti membimbing dan mengamati siswa yang sedang melakukan eksperimen pertama

  2. Peneliti menunggu siswa mengerjakan soal pre-test

  1. Peneliti membagi siswa dalam kelompok

  5. Peneliti mengambil hasil kuesioner minat belajar Melakukan eksperimen pertama

  2. Peneliti mengajak siswa untuk melakukan eksperimen pertama yaitu eksperimen rangkaian terbuka dan tertutub

  Melakukan eksperimen kedua

  1. Peneliti menjelaskan eksperimen kedua yaitu eksperimen tentang penggunaan alat ukur arus listrik dengan menggunakan basicmeter

2. Peneliti menjelaskan cara menggunakan basicmeter

  3. Peneliti membimbing dan mengamati siswa yang sedang melakukan eksperimen

  4. Peneliti merangkum hasil kesimpulan siswa 1. siswa mendengarkan penjelasan peneliti 2. siswa mendengarkan dan membaca cara menggunakan basicmeter 3. siswa melakukan eksperimen kedua 4. siswa menyimpulkan hasil eksperimen

  2 menit 10 menit 10 menit 5 menit

5. Menutup pelajaran: 1.

  Peneliti memberitahukan kegiatan untuk pertemuan berikutnya

  2. Peneliti menutup pelajaran dengan salam

  1. Siswa menjawab salam penutup Total 90 menit

  No Pertemuan II

  3. Peneliti merangkum hasil kesimpulan siswa

  2. Siswa memberi salam 3menit 2 menit

  1. Siswa mendengarkan

  2. Peneliti menutup pelajaran dengan salam penutup

  1. Peneliti memberitahukan kegiatan pertemuan berikutnya

  3. Menutup pelajaran

  5 Menit

  2 Siswa memberi kesimpulan hasil eksperimen 10 menit 5 menit 10 menit

  1 Siswa melakukan eksperimen pertama dan mendiskusikan hasil eksperimen

  1. Siswa melakukan eksperimen pertama dan mendiskusikan hasil eksperimen 2. siswa memberi kesimpulan hasil eksperimen

  2. Peneliti membimbing dan mengamati siswa yang sedang melakukan eksperimen

  Alokasi Peneliti waktu Siswa

  1. Peneliti mengajak siswa melakukan eksperimen keempat yaitu hubungan antara arus listrik dan beda potensial

  3. Peneliti merangkum hasi kesimpulan siswa Melakukan eksperimen keempat

  2. Peneliti membimbing dan mengamati siswa yang sedang melakukan eksperimen

  1. Peneliti mengajak siswa untuk melakukan eksperimen ketiga yaitu eksperimen tegangan listrik

  Kegiatan inti: Melakukan eksperimen ketiga

  2. Siswa mendengarkan penjelasan peneliti 2 menit 3 menit 2.

  1. Siswa memberi salam

  2. Peneliti menyampaikan kegiatan yang akan dilaksanakan

  1. Peneliti membuka pelajaran dengan salam

  1. Membuka Pelajaran :

  Total 40 menit

  No Pertemuan III

  3. Peneliti mengambil hasil jawaban siswa

  1. Siswa memberi salam penutup 5 menit Total

  2. Berterimakasih

  1. Memberi salam penutup

  3. Menutup pelajaran

  3. Siswa memberikan hasil jawaban kepada peneliti 2 menit 20 menit 3 menit 2 menit 20 menit 3menit

  2. Siswa mengerjakan kuesioner minat belajar dan nilai karakter

  1. Siswa menerima kuesioner minat belajar dan nilai karakter

  3. Siswa memberikan hasil jawaban kepada peneliti

  2. Siswa mengerjakan soal post-test

  1. Siswa menerima soal post-test

  2. Peneliti menunggu siswa mengerjakan kuesioner minat belajar dan nilai karakter

  Alokasi Peneliti waktu Siswa

  1. Peneliti membagikan kuesioner minat belajar dan nilai karakter kepada siswa

  3. Peneliti mengambil hasil jawaban siswa Mengerjakan kusioner minat belajar

  2. Peneliti menunggu siswa mengerjakan soal post-test

  1. Peneliti membagikan soal post-test kepada siswa

  Kegiatan inti: Mengerjakan soal post-test

  2. Siswa mendengarkan penjelasan peneliti 2 menit 3 menit 2.

  1. Siswa memberi salam

  2. Peneliti menyampaikan kegiatan yang akan dilaksanakan

  1. Peneliti membuka pelajaran dengan salam

  1. Membuka Pelajaran :

  60 menit

G. Materi Pembelajaran

1. Alat Ukur Listrik

a. Arus Listrik

  Pada dasarnya rangkaian listrik dibedakan menjadi 2, yaitu rangkaian listrik terbuka dan rangkaian listrik tertutup. Rangkaian listrik terbuka adalah suatu rangkaian yang belum dihubungkan dengan sumber tegangan, sedangkan rangkaian listrik tertutup adalah suatu rangkaian yang sudah dihubungkan dengan sumber tegangan.

  Arus listrik dapat didefinisikan sebagai aliran muatan positif dari potensial tinggi ke potensial rendah. Arus listrik terjadi apabila ada perbedaan potensial.

  Gambar 1. Rangkaian Terbuka Gambar 2. Rangkaian Tertutup

  Pada baterai terdapat dua kutub yang potensialnya berbeda. Jika kedua kutub tersebut terhubung dengan lampu melalui kabel, maka akan terjadi perpindahan elektron dari kutub negatif dan kutub positif atau terjadi arus listrik dari kutub positif

  Selanjutnya, jika baterai yang digunakan dua buah, maka lampu menyala lebih terang. Jika baterai digunakan tiga buah lampu menyala semakin terang. Hal ini disebabkan beda potensial kutub positif dan kutub negatifnya semakin besar sehingga muatan-muatan listrik yang mengalir pada penghantar semakin banyak atau arus listriknya semakin besar. Besarnya arus listrik (disebut dengan kuat arus listrik) sebanding dengan banyaknya muatan listrik yang mengalir.

b. Alat Ukur Kuat Arus Listrik

  Alat yang digunakan untuk mengukur kuat arus listrik (I) disebut amperemeter, apabila mengukur arus yang mengalir melalui suatu komponen listrik, maka diberi simbol (A) dalam rangkaian listrik. Amperemeter harus dirangkai seri dengan komponen yang akan diukur arusnya, kutub-kutub positif amperemeter dan baterai serta kutub-kutub negatif keduanya telah saling dihubungkan dengan kabel seperti gambar berikut.

  Gambar 3. Amperemeter Gambar 4. Pengukuran Arus Pada Baterai Kering Gambar 5. Pengukuran Arus Pada Rangkaian Listrik Arus listrik harus mengalir masuk ke kutub positif (diberi tanda “+” atau warna merah) dan meninggalkan amperemeter melalui kutub negatif (diberi tanda “-“ atau warna hitam), bisa dilihat pada gambar 4 dan gambar 5. Jika dihubungkan dengan polaritas terbalik, jarum penunjuk akan menyimpang dalam arah kebalikan. Ini dapat menyebabkan jarum membentur sisi tanda nol dengan gaya yang cukup besar sehingga dapat merusak amperemeter. Tetapi jika menggunakan meter digital yang memiliki polaritas otomatis (autopolarity), hubungan dengan polaritas terbalik tidaklah masalah. Ini karena meter tetap akan memberikan bacaaan benar, hanya tanda negatif didisplai di depan angka, yang menunjukkan bahwa hubungan polaritas ke meter adalah terbalik.

  Amperemeter dipasang seri dengan komponen yang akan diukur kuat arusnya, rangkaian kabel harus dipotong agar dapat menyisipkan amperemeter (lihat gambar 6).

  Umumnya amperemeter yang digunakan di lab sekolah sebuah basicmeter. Basicmeter memiliki beberapa batas ukur (range) dan dapat digunakan untuk mengukur arus dan tegangan DC. Pada foto basicmeter gambar 6, terdapat 9 terminal, 4 terminal merah di kiri untuk arus dan 4 terminal merah di kanan untuk tegangan. Satu terminal warna di sisi tengah bawah adalah kutub negatif baik untuk arus atau tegangan. Batas ukur arus : 0 – 10 mA – 100 mA – 1 A – 5 A Batas ukur tegangan : 0 – 100 mV – 1 V – 10 V – 50 V Misalnya dalam pengukuran siswa menghubungkan batas ukur 1 A ke rangkaian.

  Jarak antara gores pajang 0 dan 20 menunjukkan x 1 A = 0,2 A. antara gores 0 dan 20 terdapat skala 10 (lihat Gambar 2.5). ini berarti skala kecil basicmeter adalah: x 0,2 A= 0,02 A.

  Gambar 7. Mengamati skala terkecil Basicmeter Ketelitian basicmeter untuk batas ukur 0-1 A adalah setengah dari skala terkecil, yaitu: x 0,02 A = 0,01 A Diperoleh skala terkecil 0,02 A dan ketidakpastiannya adalah 0,01 A.

  Melaporkan hasil pengukuran arus dalam suatu rangkaian dimana batas ukur 0-1 A memberikan hasil seperti gambar berikut : Gambar 8. Pengukuran arus menggunakan basicmeter

  Jarum menunjukkan 4 garis sebelum angka 80, berarti bacaan angka skala x = x 1 A = 0,72 A (dua desimal) Karena ketidakpastian ∆x = 0,01 A (juga dua desimal), maka hasil pengukuran kuat arus melaporkan sebagai kuat arus

  • ∆x i = x ………………….………………………………………..(1) i = (0,72 + 0,01) A

  c. Tegangan Listrik (Beda Potensial) Potensial listrik adalah banyaknya muatan yang terdapat dalam suatu benda.

  Suatu benda dikatakan mempunyai potensial listrik lebih tinggi daripada benda lain, jika benda tersebut memiliki muatan positif lebih banyak daripada benda lain.

  Beda potensial listrik (tegangan) timbul karena dua benda yang memiliki potensial listrik berbeda dihubungkan oleh suatu penghantar. Beda potensial ini berfungsi untuk mengalirkan muatan dari suatu titik ke titik lainnya. Satuan beda potensial adalah volt (V).

  d. Alat Ukur Tegangan Listrik

  Alat yang digunakan untuk mengukur tegangan pada suatu rangkaian disebut dengan voltmeter dan diberi simbol (V) dalam rangkaian listrik. Voltmeter harus diukur secara parallel pada komponen listrik yang akan diukur tegangannya. Untuk memasang voltmeter dalam suatu rangkaian, harus diperhatikan bahwa titik yang potensialnya lebih rendah harus dihubungkan ke kutub positif (“+” atau warna merah) dan titik yang potensialnya lebih rendah harus dihubungkan ke kutub negatif (“-“ atau warna hitam). Jika dihubungkan dengan polaritas terbalik, jarum penunjuk akan menyimpang sedikit kekiri tanda nol.

  Untuk memasang voltmeter cukup langsung menghubungkan ujung-ujung komponen yang akan diukur beda potensialnya ke kutub-kutub voltmeter dengan polaritas yang benar. Gambar berikut menunjukkan pengukuran tegangan pada suatu rangkaian.

  Gambar 9 Pengukuran tegangan pada suatu rangkaian listrik Melaporkan hasil pengukuran tegangan listrik pada suatu rangkaian dengan menggunakan basicmeter itu hampir sama dengan melaporkan hasil pengukuran pada arus lisrtik.

e. Hukum Ohm

  Pada rangkaian listrik tertutup, terjadi aliran arus listrik. Arus listrik mengalir karena adanya beda potensial antara dua titik pada suatu penghantar, seperti lampu senter, radio, dan televisi. Alat-alat tersebut dapat menyala (berfungsi) karena adanya aliran listrik dari sumber tegangan yang dihubungkan dengan peralatan tersebut sehingga menghasilkan beda potensial.

  Orang pertama yang menyelidiki hubungan antara kuat arus listrik dengan beda potensial pada suatu penghantar adalah Georg Simon Ohm, ahli fisika dari Jerman. Ohm berhasil menemukan hubungan secara matematis antara kuat arus listrik dan beda potensial, yang kemudian dikenal dengan Hukum Ohm.

  Besar perbandingan antara beda potensial dan kuat arus listrik selalu sama (konstan). Jadi, beda potensial sebanding dengan kuat arus (V~I). secara matematis dapat dituliskan V= m x I, m adalah konstanta perbandingan antara beda potensial dengan kuat arus.

  Grafik hubun Berdasarkan grafik

  ∆ ∆

  Nilai m yang tetap ini ke dilambangkan R, dan di Jadi, persamaan tersebut

  Keterangan: V : beda potensial I : kuat arus (A) R : hambatan listr

  Persamaan di atas dike mengalir pada suatu pe penghantar itu dengan sy

  1. Judul Buku: Fisika 1 U Pengarang: Setya Nura Kota Terbit : Jakarta Penerbit : Departemen P

  2. Judul Buku : Fisika unt Pengarang: Marthen Ka

  R k hubungan antara kuat arus dengan beda potensial afik di atas, nilai m dapat diperoleh dengan pe

  ∆ ∆

  ni kemudian didefinisikan sebagai besaran ham diberi satuan ohm (Ω ), untuk menghargai G but dapat dituliskan sebagai berikut. nsial atau tegangan (V)

  ) istrik (Ω ) dikenal sebagai Hukum Ohm yang berbunyi penghantar sebanding denganbeda potensial a n syarat suhunya konstan/tetap”.

  1 Untuk SMA/MA Kelas X (E Book)- urachmandani en Pendidikan Nasional untuk Kelas X n Kanginan

  R= atau V = I x R nsial n persamaan m =

  ∆ ∆

  . hambatan listrik yang Georg Simon Ohm. i “ Kuat arus yang l antara ujung-ujung

H. Sumber Pembelajaran

  Lampiran 4. LKS (Lembar Kerja Siswa)

  Eksperimen 1: Kuat arus listrik

  A. Tujuan

  Siswa dapat memahami kuat arus listrik

  B. Alat

  1. Tiga buah baterai 2. 1 buah lampu

  3. Kabel

  4. Dudukan bolam lampu

  C. Landasan Teori

  Pada dasarnya rangkaian listrik dibedakan menjadi 2, yaitu rangkaian listrik terbuka dan rangkaian listrik tertutup. Rangkaian listrik terbuka adalah suatu rangkaian yang belum dihubungkan dengan sumber tegangan, sedangkan rangkaian listrik tertutup adalah suatu rangkaian yang sudah dihubungkan dengan sumber tegangan.

  Arus listrik dapat didefinisikan sebagai aliran muatan positif dari potensial tinggi ke potensial rendah. Arus listrik terjadi apabila ada perbedaan potensial.

  D. Langkah kerja

  1. Rangkailah bola lampu dan sebuah baterai dengan menggunakan kabel di atas papan seperti gambar di samping!

  2. Amatilah nyala bola lampu!

  3. Lakukanlah kegiatan di atas dengan menggunakan 2 baterai dan 3 baterai!

  4. Bandingkan nyala bola lampu!

  Eksperimen 2: Mengukur Kuat Arus Listrik

  A. Tujuan

  Siswa dapat menggunakan alat ukur arus listrik

  B. Alat

  1. Dua buah baterai

  2. Satu buah lampu

  3. Kabel

  4. Dudukan bolam lampu

  5. Basicmeter

C. Landasan Teori

  Alat yang digunakan untuk mengukur kuat arus listrik (I) disebut amperemeter, apabila mengukur arus yang mengalir melalui suatu komponen listrik, maka diberi simbol (A) dalam rangkaian listrik. Amperemeter harus dirangkai seri dengan komponen yang akan diukur arusnya, kutub-kutub positif amperemeter dan baterai serta kutub-kutub negatif keduanya telah saling dihubungkan dengan kabel.

  Umumnya amperemeter yang digunakan di lab sekolah sebuah

  basicmeter. Basicmeter memiliki beberapa batas ukur (range) dan dapat

  digunakan untuk mengukur arus dan tegangan DC. Pada foto

  basicmeter

  terdapat 9 terminal, 4 terminal merah di kiri untuk arus dan 4 terminal merah di kanan untuk tegangan. Satu terminal warna di sisi tengah bawah adalah kutub negatif baik untuk arus atau tegangan.

  Gambar 1. Basicmeter Batas ukur arus : 0 – 10 mA – 100 mA – 1 A – 5 A Batas ukur tegangan : 0 – 100 mV – 1 V – 10 V – 50 V

  Misalnya dalam pengukuran siswa menghubungkan batas ukur 1 A ke rangkaian. Jarak antara gores pajang 0 dan 20 menunjukkan x 1 A = 0,2 A. antara gores 0 dan 20 terdapat skala 10 (lihat gambar 2). ini berarti skala kecil basicmeter adalah: x 0,2 A= 0,02 A.

  Gambar 2. Mengamati Skala Terkecil Basicmeter Ketelitian basicmeter untuk batas ukur 0-1 A adalah setengah dari skala terkecil, yaitu:

  Melaporkan hasil pengukuran arus dalam suatu rangkaian dimana batas ukur 0-

1 A memberikan hasil seperti gambar berikut :

1 A memberikan hasil seperti gambar berikut :

  Gambar 3. Pengukuran Arus Menggunakan Basicmeter Jarum menunjukkan 4 garis sebelum angka 80, berarti bacaan angka skala adalah 72. Ini menunjukkan kuat arus adalah sebagai berikut: x = x 1 A = 0,72 A (dua desimal)

  Gambar 3. Pengukuran Arus Menggunakan Basicmeter Jarum menunjukkan 4 garis sebelum angka 80, berarti bacaan angka skala adalah 72. Ini menunjukkan kuat arus adalah sebagai berikut: x = x 1 A = 0,72 A (dua desimal)

  Karena ketidakpastian ∆x = 0,01 A (juga dua desimal), maka hasil pengukuran kuat arus melaporkan sebagai kuat arus: i = x

  Melaporkan hasil pengukuran arus dalam suatu rangkaian dimana batas ukur 0-

1 A memberikan hasil seperti gambar berikut :

  Gambar 3. Pengukuran Arus Menggunakan Basicmeter Jarum menunjukkan 4 garis sebelum angka 80, berarti bacaan angka skala adalah 72. Ini menunjukkan kuat arus adalah sebagai berikut: x = x 1 A = 0,72 A (dua desimal)

  Karena ketidakpastian ∆x = 0,01 A (juga dua desimal), maka hasil pengukuran kuat arus melaporkan sebagai kuat arus: i = x

  Karena ketidakpastian ∆x = 0,01 A (juga dua desimal), maka hasil pengukuran kuat arus melaporkan sebagai kuat arus: i = x

  Melaporkan hasil pengukuran arus dalam suatu rangkaian dimana batas ukur 0-

  • ∆x ………………….………………………………………..(1) i = (0,72 + 0,01) A
  • ∆x ………………….………………………………………..(1) i = (0,72 + 0,01) A
  • ∆x ………………….………………………………………..(1) i = (0,72 + 0,01) A

D. Langkah kerja

D. Langkah kerja

D. Langkah kerja

  a. Memasang alat ukur arus listrik dengan menggunakan basicmeter dengan memilih mode pengoperasian alat sebagai amperemeter atau menggeser binding post ke arah kanan c. Lalu pilih batas ukur amperemeter yang paling besar

  1. Memasang alat ukur kuat arus seperti pada gambar disamping dengan cara sebagai berikut:

  a. Memasang alat ukur arus listrik dengan menggunakan basicmeter dengan memilih mode pengoperasian alat sebagai amperemeter atau menggeser binding post ke arah kanan

  1. Memasang alat ukur kuat arus seperti pada gambar disamping dengan cara sebagai berikut:

  a. Memasang alat ukur arus listrik dengan menggunakan basicmeter dengan memilih mode pengoperasian alat sebagai amperemeter atau menggeser binding post ke arah kanan

  1. Memasang alat ukur kuat arus seperti pada gambar disamping dengan cara sebagai berikut:

  d. Lalu terminal positif dari amperemeter (songket warna merah) dihubungkan dengan kutub positif dari sumber tegangan baterai e. Terminal negatif dari amperemeter (songket warna hitam) dihubungkan dengan satu kabel yang terhubung dengan lampu f. Kabel dari lampu yang satunya dihubungkan dengan kutub negatif dari sumber tegangan.

  g. Lalu dilihat apakah jarum pada amperemeter bergerak atau menyimpang, atau lampu menyala.

  h. Jika jarum amperemeter belum menyimpang atau maka dicek dahulu apakah kabel sudah terhubung dangan baik, jika belum bergerak batas ukur diperkecil dari batas ukur sebelumnya.

  2. Baca skala yang terbaca.

  3. Tuliskan nilai yang terbaca.

  Soal Kompetensi :

  1. Perhatikan gambar rangkaian berikut ! (A) (B)

  Tentukan rangkaian yang benar ketika anda ingin mengukur arus dengan menggunakan amperemeter.

  2. Apa yang anda ketahui tentang arus listrik ? jelaskan!

  Eksperimen 3: Mengukur beda potensial / tegangan listrik

  A. Tujuan

  Siswa dapat menggunakan alat ukur tegangan listrik

  B. Alat dan bahan

  1. Bola lampu

  2. Batu baterai

  3. Basicmeter

  4. Kabel

  C. Dasar Teori

  Alat yang digunakan untuk mengukur tegangan pada suatu rangkaian disebut dengan voltmeter dan diberi simbol (V) dalam rangkaian listrik.

  Voltmeter harus diukur secara parallel pada komponen listrik yang akan diukur tegangannya. Untuk memasang voltmeter dalam suatu rangkaian, harus diperhatikan bahwa titik yang potensialnya lebih rendah harus dihubungkan ke kutub positif (“+” atau warna merah) dan titik yang potensialnya lebih rendah harus dihubungkan ke kutub negatif (“-“ atau warna hitam). Jika dihubungkan dengan polaritas terbalik, jarum penunjuk akan menyimpang sedikit kekiri tanda nol.

  Untuk memasang voltmeter cukup langsung menghubungkan ujung-ujung komponen yang akan diukur beda potensialnya ke kutub-kutub voltmeter dengan polaritas yang benar.

  D. Langkah kerja

  1. Rangkailah alat tersebut seperti gambar disamping

  2. Cara memasang voltmeter:

a. Memasang alat ukur tegangan listrik dengan

  pengoperasian alat sebagai voltmeter atau menggeser binding post ke arah kiri b. Pastikan sebelum pengukuran jarum penunjuk menunjuk kearah 0

  c. Lalu pilih batas ukur voltmeter yang paling besar

  d. Menghubungkan bolam lampu dengan kabel ke sumber tegangan

  e. Hubungkan terminal positif dari voltmeter dengan kutub positif dari sumber tegangan f. Hubungkan terminal negatif dari voltmeter dengan kutub negatif dari sumber tegangan g. Lalu dilihat apakah jarum pada voltmeter bergerak atau menyimpang

  h. Jika jarum voltmeter (basicmeter) belum menyimpang atau maka dicek dahulu apakah kabel sudah terhubung dangan baik, jika belum bergerak batas ukur diperkecil dari batas ukur sebelumnya.

  3. Catatlah beda potensial yang ditunjukkan voltmeter .

  4. Ulangi kegiatan diatas dengan menggunakan 2 dan 3 baterai dan catatlah hasilnya.

  5. Bandingkan antara dengan menggunakan 1, 2, dan 3 baterai.

  6. Apa kesimpulan anda? Soal kompetensi:

1. Antara potensial listrik dan arus listrik, mana yang lebih berbahaya?

  Jelaskan alasan anda!

  2. Mengapa burung-burung yang hinggap pada kabel listrik tegangan tinggi tidak mati? Jelaskan dengan konsep beda potensial!

  3. Manakah dari gambar rangkaian berikut yang benar untuk mengukur beda potensial? ( A) (B)

  Eksperimen 4: Hubungan Kuat Arus Listrik dengan Beda Potensial

  A. Tujuan

  Siswa dapat mengetahui hubungan antara kuat arus listrik dengan beda potensial

  B. Alat dan bahan

  1. 3 buah baterai 1,5 volt

  2. Amperemeter

  3. Bola lampu 4. Kabel.

  C. Dasar Teori

  Pada rangkaian listrik tertutup, terjadi aliran arus listrik. Arus listrik mengalir karena adanya beda potensial antara dua titik pada suatu penghantar, seperti lampu senter, radio, dan televisi. Alat-alat tersebut dapat menyala (berfungsi) karena adanya aliran listrik dari sumber tegangan yang dihubungkan dengan peralatan tersebut sehingga menghasilkan beda potensial.

  Besar perbandingan antara beda potensial dan kuat arus listrik selalu sama (konstan). Jadi, beda potensial sebnading sengan kuat arus (V~I). secara matematis dapat dituliskan V= m x I, m adalah konstanta perbandingan antara beda potensial dengan kuat arus.

  D. Langkah Kerja

  1. Rangkailah sebuah baterai, amperemeter, dan lampu seperti pada gambar di samping dengan menggunakan kabel

  2. Baca dan catat skala yang ditunjukkan oleh amperemeter ke dalam tabel seperti berikut:

  No Jumlah Beda potesial Kuat arus baterai (Volt) (A)

  1

  2

  3

  4

  Lampiran 5. Panduan Penggunaan Basicmeter

  BASICMETER 90

  1. Penjelasan Basicmeter 90 Basicmeter 90 adalah alat ukur dasar yang dapat mengukur besaran tegangan dan besaran arus. Alat ini tidak memerlukan catu daya dari luar, jadi dapat langsung dipakai. Basicmeter 90 dapat difungsikan sebagai voltmeter maupun amperemeter DC. Adapun batas ukur maksimum alat ini adalah:

  a. Pengukuran Tegangan : 100 mV, 1 V, 5 V, 50 V

  b. Pengukuran arus : 100µA, 100 mA, 1 A, 5 A

  2. Keterangan

  a. Binding Post, untuk memilih batas ukur maksimum

  b. Saklar pemilih fungsi (tegangan/arus)

  c. Ground/ nol

  d. Penyetel nol

  3. Petunjuk penggunaan

  a. Petunjuk pembaca skala Pada meter terdapat 2 buah skala:  -5 s/d 50 (skala I)  -10 s/d 100 (skala II) Skala I dipakai untuk pengukuran tegangan pada batas ukur maksimum 5 V atau

  50 V dan untuk pengukuran arus pada batas ukur maksimum 5 A Skala II dipakai untuk pengukuran tegangan pada batas ukur maksimum 100 mV dan 1 V atau untuk pengukuran arus 100µA, 100 mA, dan 1 A.

  Cara pembacaan pada basicmeter 90 : Hasil pengukuran : x batas ukur maksimum Contoh : Misalkan meter akan dipakai untuk mengukur tegangan dalam batas (range) 5.

  Hubungkan kabel hitam ke terminal hitam (0) pada meter, kabel merah dihubungkan dengan terminal merah 10 V. Pembacaan dilakukan dengan melihat sala tertinggi 100. Pada saat meter dengan terminal merah 10 V. Pembacaan dilakukan dengan melihat skala teringgi 100. Pada saat meter dihubungkan dengan sirkuit, misalkan jarum penunjuk menunjukkan angka 30, maka: Hasil pengukuran = x10 = 3 V

  b. Pengoperasian alat Pada keadaan tidak dipakai, jarum meter harus menunjukkan angka nol. Apabila terjadi penyimpangan dapat dikalibrasi dengan penyetel nol (d).

  1.) Pilihlah mode pengoperasian alat (Sebagai voltmeter/ amperemeter) dengan menggeser sakelar pemilih fungsi (b) ke kiri/ kanan 2.) Pada pengoperasian sebagai voltmeter, alat dipasang parallel, sedangkan jika sebagai amperemeter dipasang secara seri.

  3.) Perhatikan polaritas meter pada saat dipakai 4.) Pililah batas ukur maksimum tegangan/ arus yang sesuai (a). jika anda tidak tahu berapa besar tegangan/arus yang akan diukur, mulailah dengan batas ukur maksimum yang paling besar.

  Lampiran 6. Soal Pre-Test dan Post-Test Alat Ukur Listrik

  1. Apa nama alat ukur arus listrik ?

  2. Apa nama alat ukur tegangan listrik?

  3. Jelaskan cara membaca hasil pengukuran dengan menggunakan alat ukur arus listrik!

  4. Jelaskan cara membaca hasil pengukuran dengan menggunakan alat ukur tegangan listrik!

  5. Jelaskan dan gambarkan cara memasang alat ukur arus listrik pada suatu rangkaian!

  6. Jelaskan dan gambarkan cara memasang alat ukur tegangan listrik pada suatu rangkaian!

SELAMAT MENGERJAKAN 

  Lampiran 7. Kunci Jawaban Soal Pre-Test dan Post-Test

  1. Apa nama alat ukur arus listrik ? Amperemeter

  2. Apa nama alat ukur tegangan listrik? Voltmeter

  3. Jelaskan cara membaca hasil pengukuran dengan menggunakan alat ukur arus listrik!

  a. Lihat skala penunjuk jarum menunjukkan angka berapa

  b. Lihat batas ukur yang digunakan dari amperemeter berapa

  c. Lihat skala maksimum dari amperemeter

  d. Nilai pengukuran = x batas ukur

  4. Jelaskan cara membaca hasil pengukuran dengan menggunakan alat ukur tegangan listrik!

  a. Lihat skala penunjuk jarum menunjukkan angka berapa

  b. Lihat batas ukur yang digunakan dari amperemeter berapa

  c. Lihat skala maksimum dari voltmeter

  d. Nilai pengukuran = x batas ukur

  5. Jelaskan dan gambarkan cara memasang alat ukur arus listrik pada suatu rangkaian!

  a. Memasang alat ukur arus listrik dengan menggunakan basicmeter dengan memilih mode pengoperasian alat sebagai amperemeter atau menggeser binding post ke arah kanan b. Pastikan sebelum pengukuran jarum penunjuk menunjuk kearah 0 c. Lalu pilih batas ukur amperemeter yang paling besar d. Lalu terminal positif dari amperemeter (songket warna merah) dihubungkan dengan kutub positif dari sumber tegangan baterai e. Terminal negatif dari amperemeter (songket warna hitam) dihubungkan dengan satu kabel yang terhubung dengan lampu f. Kabel dari lampu yang satunya dihubungkan dengan kutub negatif dari sumber g. Lalu dilihat apakah jarum pada amperemeter bergerak atau menyimpang, atau lampu menyala.

  h. Jika jarum amperemeter belum menyimpang atau maka dicek dahulu apakah kabel sudah terhubung dangan baik, jika belum bergerak batas ukur diperkecil dari batas ukur sebelumnya.

  6. Jelaskan dan gambarkan cara memasang alat ukur tegangan listrik pada suatu rangkaian!

  a. Memasang alat ukur arus listrik dengan menggunakan basicmeter dengan memilih mode pengoperasian alat sebagai voltmeter atau menggeser binding post ke arah kiri

  b.

  Pastikan sebelum pengukuran jarum penunjuk menunjuk kearah 0

  c.

  Lalu pilih batas ukur voltmeter yang paling besar d. Menghubungkan bolam lampu dengan kabel ke sumber tegangan

  e. Hubungkan terminal positif dari voltmeter dengan kutub positif dari sumber tegangan f.

  Hubungkan terminal negatif dari voltmeter dengan kutub negatif dari sumber tegangan

  g. Lalu dilihat apakah jarum pada voltmeter bergerak atau menyimpang h.

  Jika jarum voltmeter (basicmeter) belum menyimpang atau maka dicek dahulu apakah kabel sudah terhubung dangan baik, jika belum bergerak batas ukur diperkecil dari batas ukur sebelumnya.

  Lampiran 8. Kuesioner Minat Belajar KUESIONER MINAT BELAJAR

  Nama : _________________________________ Kelas/no absen: _________________________________ Tanggal : _________________________________

PENJELASAN DAN PEDOMAN MENGISI

  A. PENJELASAN

  1. Pengisian daftar pernyataan ini bukan merupakan pengerjaan suatu tes, jadi tidak akan mempengaruhi nilai-nilai mata pelajaran anda.

  2. Agar betul-betul dapat bermanfaat, daftar pernyataan ini hendaknya anda isi dengan jujur.

  B. PEDOMAN

  1. Pada halaman-halaman berikut terdapat sejumlah pernyataan tentang minat belajar yang berpengaruh pada belajar akademik anda di sekolah.

  2. Jawaban anda mohon ditulis pada lembar jawaban yang telah disediakan 3. Berikan tanda centang(√) disalah satu lajur di lembar jawaban.

  Kolom 1 : Sangat Setuju (SS) Kolom 2: Setuju(S) Kolom 3 : Tidak Setuju(TS) Kolom 4 : Sangat Tidak Setuju (STS) 4. Berikan jawaban yang paling sesuai dengan minat belajar anda sekarang .

  5. Jawab semua pernyataan.

  

No Pernyataan (SS) (S) (TS) (STS)

1. Saya menyukai pelajaran fisika.

  2. Saya belajar fisika dengan penuh semangat

  3. Saya menjawab pertanyaan guru fisika saat pelajaran berlangsung

  4. Saya mempelajari fisika tidak hanya dari buku saja

  5. Saya memikirkan secara mendalam apa yang diajarkan guru fisika

  6. Saya bertanya kepada guru fisika tentang materi pelajaran

  7. Saya menyukai fisika dengan metode eksperimen di laboratorium

  8. Saya masuk di kelas pelajaran fisika dengan penuh antusias

  9. Saya mencoba mengerjakan soal fisika di buku sampai selesai

  10. Saya berdiskusi dengan teman mengenai materi pelajaran fisika

  Lampiran 9. Kuesioner Nilai Karakter KUESIONER NILAI KARAKTER

  Nama : ______________________________________________ Kelas/no absen: ______________________________________________ Tanggal : ______________________________________________

PENJELASAN DAN PEDOMAN MENGISI

  A. PENJELASAN

  1. Pengisian daftar pernyataan ini bukan merupakan pengerjaan suatu tes, jadi tidak akan mempengaruhi nilai-nilai mata pelajaran anda.

  2. Agar betul-betul dapat bermanfaat, daftar pernyataan ini hendaknya anda isi dengan jujur.

  B. PEDOMAN

  1. Pada halaman-halaman berikut terdapat sejumlah pernyataan tentang nilai karakter yang berpengaruh pada belajar akademik anda di sekolah.

  2. Jawaban anda mohon ditulis pada lembar jawaban yang telah disediakan 3. Berikan tanda centang(√) disalah satu lajur di lembar jawaban.

  Kolom 1 : Sangat Setuju (SS) Kolom 2 : Setuju(S) Kolom 3 : Tidak Setuju(TS) Kolom 4 : Sangat Tidak Setuju (STS) 4. Berikan jawaban yang paling sesuai dengan minat belajar anda sekarang.

  5. Jawab semua pernyataan.

  

No Pernyataan (SS) (S) (TS) (STS)

  1. Saya merangkai alat eksperimen bersama-sama teman satu kelompok

  2. Saya senang berdiskusi dengan teman tentang materi yang diajarkan

  3. Saya ikut andil dalam menyimpulkan hasil eksperimen

  4. Saya ikut menyumbang gagasan saat pelaksanaan eksperimen

  5. Saya menyampaikan pendapat tentang hasil eksperimen dalam kelompok

  6. Saya mampu menyelesaikan eksperimen dengan baik dalam kelom

  7. Saya datang ke laboratorium tepat waktu

  8. Saya memulai eksperimen tepat waktu

  9. Saya membaca petunjuk penggunaan alat praktikum

  10. Saya mencatat data sesuai dengan yang saya lihat

  11. Saya menyimpulkan hasil eksperimen berdasar hasil pengamatan

  12. Saya sungguh terlibat mengerjakan eksperimen dalam kelompok

  13. Saya bertanya kepada guru atau teman

  14. Saya mencari sumber lain selain apa yang saya pelajari

  15. Saya mencoba-coba atau berkali-kali melakukan pengukuran saat melakukan eksperimen

  Lampiran 10. Daftar Skor Pre-Test Dan Post-Test

  34 Siswa 25

  78 Siswa 18

  

26

  54 Siswa 19

  

32

  72 Siswa 20

  

34

  52 Siswa 21

  

20

  72 Siswa 22

  

22

  54 Siswa 24

  

22

  

18

  34 Siswa 16

  42 Siswa 26

  

30

  46 Siswa 27

  

24

  54 Siswa 28

  

22

  44 Siswa 29

  

26

  56 Siswa 31

  

12

  70 Siswa 32

  

38

  50 Catatan : (1) Saat pengambilan data pre-test siswa dengan kode Siswa 23 mengikuti

  

26

  

20

  Kode Siswa Pretest Posttest Siswa 1

  

38

  

24

  60 Siswa 2

  

44

  92 Siswa 3

  

24

  36 Siswa 4

  

34

  52 Siswa 5

  

34

  86 Siswa 6

  

12

  44 Siswa 7

  88 Siswa 8

  36 Siswa 15

  

22

  30 Siswa 9

  

30

  40 Siswa 10

  

28

  50 Siswa 11

  

34

  74 Siswa 12

  

36

  42 Siswa 13

  

22

  40 Siswa 14

  

22

  pelatihan Paskibra untuk dilombakan, dan Siswa 30 tidak masuk tanpa keterangan. (2) Saat pengambilan data post-test siswa dengan kode Siswa 17 ada halangan neneknya meninggal,

  Lampiran 11. Daftar Skor Kuesioner Minat Belajar Sebelum Treatmen

  4

  2

  2

  3

  2

  2

  2

  33 Siswa 22

  3

  2

  4

  4

  3

  3

  3

  2

  4

  3

  2

  28 Siswa 21

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  28 Siswa 25

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  1

  2

  3

  4

  23 Siswa 24

  3

  3

  4

  3

  2

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  31 Siswa 19

  34 Siswa 18

  4

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  4

  3

  4

  3

  2

  3

  2

  2

  2

  4

  3

  31 Siswa 20

  3

  4

  2

  4

  4

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  4

  25 Siswa 31

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  2

  3

  2

  2

  28 Siswa 30

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  30 Catatan : (1) sebanyak 3 siswa tidak mengikuti pelajaran sehingga tidak mengikuti pelajaran

  4

  2

  3

  4

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  30 Siswa 32

  4

  2

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  32 Siswa 27

  4

  2

  4

  4

  2

  4

  4

  3

  3

  3

  34 Siswa 26

  4

  4

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  33 Siswa 29

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  4

  35 Siswa 28

  4

  3

  4

  3

  Kode Siswa

Distribusi Skor Pernyataan

Skor Total

  2

  3

  2

  3

  3

  28 Siswa 5

  3

  3

  3

  2

  3

  2

  2

  3

  3

  4

  24 Siswa 4

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  4

  25 Siswa 7

  4

  2

  3

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  3

  28 Siswa 6

  4

  2

  3

  3

  2

  10 Siswa 1

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  9

  2

  8

  7

  6

  5

  4

  3

  2

  1

  2

  3

  2

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  33 Siswa 3

  3

  27 Siswa 2

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  2

  3

  31 Siswa 16

  3

  27 Siswa 14

  3

  3

  2

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  27 Siswa 13

  3

  2

  2

  4

  3

  3

  3

  2

  3

  4

  2

  2

  4

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  30 Siswa 15

  3

  3

  4

  3

  2

  3

  3

  2

  3

  2

  2

  2

  28 Siswa 9

  3

  2

  4

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  29 Siswa 8

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  30 Siswa 12

  4

  2

  3

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  24 Siswa 11

  2

  3

  2

  4

  (siswa dengan kode siswa 10, siswa 17, dan siswa 23), (2) total sampel yang bisa diteliti yaitu sebanyak 29 siswa.

  Lampiran 12. Daftar Skor Kuesioner Minat Belajar Sesudah Treatmen

  2

  2

  3

  32 Siswa 22

  4

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  2

  4

  3

  26 Siswa 21

  2

  2

  3

  2

  2

  2

  3

  3

  3

  27 Siswa 25

  3

  2

  3

  3

  2

  2

  2

  3

  3

  3

  24 Siswa 24

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  36 Siswa 18

  4

  3

  3

  4

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  35 Siswa 16

  4

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  32 Siswa 20

  4

  3

  3

  4

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  30 Siswa 19

  3

  2

  3

  3

  3

  4

  3

  25 Siswa 31

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  3

  2

  2

  3

  28 Siswa 30

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  29 Catatan : (1) sebanyak 2 siswa tidak mengikuti pelajaran sehingga tidak mengikuti pelajaran

  4

  2

  3

  4

  3

  2

  2

  3

  2

  3

  25 Siswa 32

  3

  2

  3

  4

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  30 Siswa 27

  3

  2

  3

  4

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  29 Siswa 26

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  34 Siswa 29

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  27 Siswa 28

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  Kode Siswa

Distribusi Skor Pernyataan

Skor Total

  3

  2

  3

  3

  2

  3

  3

  28 Siswa 5

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  4

  4

  2

  3

  2

  3

  2

  2

  3

  3

  4

  27 Siswa 7

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  2

  2

  2

  28 Siswa 6

  25 Siswa 4

  2

  4

  10 Siswa 1

  4

  3

  2

  2

  2

  3

  3

  9

  2

  8

  7

  6

  5

  4

  3

  2

  1

  2

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  2

  3

  2

  3

  33 Siswa 3

  3

  26 Siswa 2

  4

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  2

  4

  3

  3

  2

  3

  3

  28 Siswa 13

  3

  2

  4

  2

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  27 Siswa 12

  4

  2

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  3

  27 Siswa 15

  3

  2

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  3

  3

  26 Siswa 14

  3

  3

  2

  4

  3

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  27 Siswa 9

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  30 Siswa 8

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  2

  3

  3

  26 Siswa 11

  3

  2

  3

  2

  3

  2

  2

  2

  3

  3

  23 Siswa 10

  3

  (siswa dengan kode siswa 17, dan siswa 23). Dari data kuesioner minat sebelum dan sesudah treatmen, karena ada beberapa siswa yang tidak masuk maka jumlah dari sampel yang bisa

  Lampiran 13. Daftar Skor Kuesioner Nilai Karakter

  3

  4

  4

  3

  54 Siswa 21

  2

  2

  2

  2

  4

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  4

  53 Siswa 20

  4

  3

  4

  3

  3

  3

  4

  3

  4

  2

  4

  4

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  44 Siswa 24

  3

  2

  3

  3

  4

  4

  4

  2

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  43 Siswa 16

  2

  4

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  4

  3

  3

  4

  55 Siswa 19

  4

  3

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  59 Siswa 18

  4

  46 Siswa 25

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  43 Siswa 31

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  56 Siswa 29

  4

  3

  4

  3

  3

  4

  3

  48 Catatan : sebanyak siswa tidak masuk (siswa 17 dan 23), lalu siswa melewatkan tidak

  4

  2

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  50 Siswa 32

  4

  2

  4

  3

  4

  3

  4

  3

  4

  3

  50 Siswa 26

  4

  4

  3

  3

  3

  2

  3

  4

  4

  4

  4

  3

  4

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  42 Siswa 28

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  51 Siswa 27

  3

  38 Siswa 14

  Kode Siswa

Distribusi Skor Pernyataan

Skor

  3

  4

  43 Siswa 5

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  4

  45 Siswa 4

  4

  4

  4

  4

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  47 Siswa 6

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  4

  12

  4

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  4

  15 Siswa 1

  14

  13

  11

  4

  10

  9

  8

  7

  6

  5

  4

  3

  2

  1

  Total

Kerjasama Tanggungjawab Disiplin Kejujuran Rasa ingin tahu

  4

  3

  3

  3

  4

  2

  3

  2

  2

  49 Siswa 3

  4

  2

  3

  4

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  4

  3

  48 Siswa 2

  3

  2

  3

  3

  52 Siswa 7

  3

  4

  3

  3

  53 Siswa 12

  4

  2

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  40 Siswa 11

  2

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  2

  2

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  47 Siswa 13

  3

  2

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  2

  3

  3

  4

  2

  2

  2

  2

  3

  3

  51 Siswa 8

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  3

  4

  3

  4

  4

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  45 Siswa 10

  3

  2

  3

  4

  2

  3

  3

  4

  4

  4

  3

  2

  2

  3

  4

  40 Siswa 9

  3

  2

  mengisi salah satu pernyataan (siswa 15 dan siswa 22) untuk nomor pernyataan 10. Jadi total

  Lampiran 14. Contoh Data Hasil P sil Penelitian Pre-Test Lampiran 15. Contoh Data Hasil P l Penelitian Post-Test

  Lampiran 16. Contoh D oh Data Hasil Penelitian Kuesioner Minat Sebelum lum Diberi Treatmen

  Lampiran 17. Contoh D oh Data Hasil Penelitian Kuesioner Minat Sesuda sudah Diberi Treatmen

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENERAPAN METODE EKSPERIMEN BERPENDEKATAN INKUIRI PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN SIKAP ILMIAH SISWA
1
8
315
PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME MELALUI METODE EKSPERIMEN DAN DEMONSTRASI DITINJAU DARI KETRAMPILAN MENGGUNAKAN ALAT UKUR TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA POKOK BAHASAN GERAK LURUS
0
12
171
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP, SIKAP ILMIAH DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA PADA MATERI SISTEM RESPIRASI DI SMA NEGERI 1 AIRBATU.
1
2
27
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK, INKUIRI, DAN KONVENSIONAL TERHADAP HASIL BELAJAR, PEMAHAMAN KONSEP, DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DI SMA NEGERI 1 KISARAN.
0
4
27
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM-BASED LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR, KERJA SAMA DAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK KOLOID KELAS XI MA NEGERI 1 MEDAN.
0
3
19
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK LISTRIK DINAMIS DI KELAS X SEMESTER II SMA NEGERI 8 MEDANT.P. 2013/2014.
0
2
18
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI BERBASIS EKSPERIMEN TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK LISTRIK DINAMIS DI KELAS X SMA NEGERI 4 TEBING TINGGI T.P. 2012/2013.
0
0
20
PENGARUH STRATEGI GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK LISTRIK DINAMIS DI KELAS X SMA NEGERI 1 SEI BINGAI T.P. 2012/2013.
0
2
15
PENGARUH PENERAPAN ADOBE FLASH DAN POWER POINT TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK LISTRIK DINAMIS DI KELAS X SMA SWASTA PARULIAN II MEDAN T.P. 2012/2013.
0
1
18
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN INTEGRASI KARAKTER TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK LISTRIK DINAMIS KELAS X SEMESTER II SMA NEGERI 1 STABAT T.A. 2011/2012.
0
1
19
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING DENGAN INTEGRASI KARAKTER TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X PADA SUB MATERI ALAT UKUR DAN DAYA LISTRIK DI SMA N 1 HINAI SEMESTER II TAHUN AJARAN 2011/2012.
0
0
21
PENERAPAN METODE EKSPERIMEN UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA DENGAN MATERI POKOK SIFAT-SIFAT CAHAYA.
0
0
34
PENGARUH PEMAHAMAN SISWA TERHADAP NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU BIOGRAFI CHAIRUL TANJUNG SI ANAK SINGKONG PADA PEMUNCULAN NILAI PENDIDIKAN KARAKTER TOKOH DALAM NASKAH DRAMA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 2 BANDUNG.
0
1
31
ALAT DAN UKUR DAN LISTRIK
0
0
98
PENGARUH PERBEDAAN GENDER TERHADAP PEMAHAMAN SISWA KELAS IX SMP NEGERI I SRAGEN PADA POKOK BAHASAN RANGKAIAN LISTRIK SEDERHANA MENGGUNAKAN METODE INQUIRY
0
0
135
Show more