PENGARUH PENERAPAN METODE EKSPERIMEN TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP, MINAT BELAJAR, DAN NILAI KARAKTER SISWA SMA NEGERI JUMAPOLO KELAS X.1 PADA MATERI POKOK ALAT UKUR LISTRIK SKRIPSI

134 

Full text

(1)

i

PENGARUH PENERAPAN METODE EKSPERIMEN

TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP, MINAT BELAJAR,

DAN NILAI KARAKTER SISWA SMA NEGERI JUMAPOLO

KELAS X.1 PADA MATERI POKOK ALAT UKUR LISTRIK

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

Oleh:

Margareta Sri Pinilih NIM: 091424025

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk

 Tuhan Yesus Kristus

 Keluarga Bapak Ignatius Pilih, Ibu Theresia Ninik Sriwinarni, Kakak L. Endra Prasetya dan Kekasihku Unggul Prasetya

yang selalu setia mendukung dengan Cinta dan Doa.

 Almamaterku Universitas Sanata Dharma

 Almamaterku SMA Negeri Jumapolo

 Sahabat dan teman-teman

Hey kawan

Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya takut Takut tuk mencoba dan gagal, tapi…

Hay kawan

Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya mimpi Mimpi tuk menjadi berarti

Harus kita taklukan, bersama lawan rintangan Tuk jadikan dunia ini lebih indah

Tak perlu tunggu hebat (untuk berani memulai apa yang kau impikan) Hanya perlu memulai (untuk menjadi hebat raih yang kau impikan)

Seperti singa yang menerjang semua rintangan tanpa rasa takut Yakini bahwa kamu terhebat

Coba-cobalah mari kita pasti bisa taklukan dunia dengan mimpi kita Mari berbagi mari bermimpi bersama kita di sini

Yakini kau pasti bisa

(5)

PER

Saya menyataka tidak termuat karya or daftar pustaka, sebaga

v

ERNYATAAN KEASLIAN KARYA

akan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yan a orang lain, kecuali yang telah disebutkan dal

gaimana layaknya karya ilmiah.

A

(6)

vi

ABSTRAK

Margareta Sri Pinilih. 2013. Pengaruh Penerapan Metode Ekpserimen Terhadap Pemahaman Konsep, Minat Belajar, dan Nilai Karakter Siswa SMA Negeri Jumapolo Kelas X.1 Pada Materi Pokok Alat Ukur Listrik.Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pembimbing: Prof. Dr. Paul Suparno, S.J, M.S.T.

Kata Kunci: Pemahaman Konsep, Minat Belajar, dan Nilai Karakter Mata Pelajaran Fisika.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) peningkatan pemahaman konsep siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 tentang materi pokok alat ukur listrik melalui metode eksperimen; (2) peningkatan minat belajar siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 untuk materi pokok alat ukur listrik melalui metode eksperimen; (3) nilai karakter siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 untuk materi pokok alat ukur listrik melalui metode eksperimen.

Subyek penelitian yaitu siswa kelas X.1 SMA Negeri Jumapolo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Sampel berjumlah 32 siswa. Treatmen pada siswa kelas X.1 yaitu pembelajaran menggunakan metode eksperimen. Instrumen yang digunakan yaitu: tes tertulis berupa pre-test dan post-test, kuesioner minat belajar, dan kuesioner nilai karakter.

(7)

vii

ABSTRACT

Margareta Sri Pinilih. 2013. The Effect of Experimental Methods Toward Understanding Concepts, Learning Interests, and Character Values Of Senior High School Jumapolo X.1 Grade Students in The Topic Electrical Measurement. Thesis, Physics Education Study Program, Department of Mathematics and Natural Sciences, Faculty of Teacher Training and Education, Sanata Dharma University in Yogyakarta. Supervisor: Prof. Dr. Paul Suparno, S.J.,M.S.T.

Keywords: Understanding Concepts, Learning Interest, and Character Values Subjects Physics.

The purpose of this study is to determine: (1) the increase of understanding concept of Senior High School Jumapolo students in Class X.1 about subject matter of electrical measuring instrument through experimental method; (2) the increase of students interest for electrical measuring instruments subject matter through experimental method; (3) students character from electrical measuring instrument subject matter through experimental methods.

The research sample was 32 students at graders X.1 Senior High School Jumapolo, Karanganyar district, Central Java province. Treatment was learning using experimental method. The instruments used were pre-test and post-test, interest questionnaires and character values questionnaire.

(8)

PUBLIKASI

pangkalan data, mendi internet atau media lai saya maupun member saya sebagai penulis.

viii

HALAMAN PERSETUJUAN

SI KARYA ILMIAH UNTUK KEPEN

AKADEMIS

nda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Uni

rgareta Sri Pinilih 091424025

gembangan ilmu pengetahuan, saya membe versitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang be

ENERAPAN METODE EKSPERIMEN ONSEP, MINAT BELAJAR, DAN NILAI GERI JUMAPOLO KELAS X.1 PADA MAT ISTRIK

rangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan da Perpustakaan Universitas Sanata Dharm galihkan dalam bentuk media lain, mengelolany

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan karunia, rahmat, dan kesempatan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Penerapan Metode Eksperimen Terhadap Pemahaman Konsep, Minat Belajar, dan Nilai Karakter Siswa SMA Negeri Jumapolo Kelas X.1 Pada Materi Pokok Alat Ukur Listrik”. Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari semua pihak yang turut memberikan dukungan, doa, semangat, dan bantuan yang sangat bermanfaat bagi penulis. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada:

1. Romo Prof. Dr. Paul Suparno, S.J., M.S.T., selaku Dosen Pembimbing yang senantiasa memberikan motivasi, masukkan dan bantuan dalam membimbing penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak Drs. Aufridus Atmadi, M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Fisika yang selalu memberikan dukungan dan motivasi.

3. Ibu Dwi Nugraheni Rositawati, S.Si., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang selalu memberikan dukungan, semangat, dan motivasi. 4. Segenap Dosen Universitas Sanata Dharma yang telah membantu

memberikan bekal pengetahuan kepada penulis.

5. Segenap Karyawan Sekretariat JPMIPA yang telah memberikan bantuan dalam memperlancar perijinan surat ke Sekolah.

6. Bapak Drs. Sardiyo, M.Pd., selaku Kepala SMA Negeri Jumapolo yang telah memberikan ijin penelitian.

7. Bapak Hasto Tyas Haryadi, M.Pd., selaku guru matapelajaran fisika yang memberikan dukungan, bantuan, dan masukkan dalam pelaksanaan penelitian.

8. Siswa SMA Negeri Jumapolo Kelas X.1 yang menjadi partisipan dalam penelitian.

(10)

dan keluarga n perhatian, doa, dan dukungan.

habat (Veronika Winahyu, Veronica Sari Puspi Dwi Setyo Nugroho, S.Pd., Fitri Nur Rohm ulianto) dan rekan-rekan Pendidikan Fisika (Ma a Febriandhini L, Yustina Rosalin A, Nickasi

ndah Puspita, Kintan Limiansih, S.Pd., dan ndidikan Fisika angkatan 2009) serta teman-tem nulis sebutkan atas kesediaannya dalam member n, menemani, dan mendengarkan keluh kesah dari p

yadari bahwa masih banyak kekurangan yang dan kritik penulis harapkan untuk kebaikan be

ng dengan tulus

uspita, Yuliana Sri ohmawati, S.Pd., (Marcellina Anita kasius Sindhunata, n seluruh teman--teman yang tidak berikan dukungan, h dari penulis.

(11)

xi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT... vii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI... xi

DAFTAR TABEL... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR GRAFIK... xvii

DAFTAR LAMPIRAN... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian... 3

D. Manfaat Penelitian... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 5

A. Belajar dan Pembelajaran Konstruktivisme ... 5

(12)

2. Pembelajaran ... 6

3. Konstruktivisme ... 7

E. Metode Eksperimen... 8

1. Pengertian Metode Eksperimen ... 8

2. Macam-macam Metode Eksperimen... 9

F. Pemahaman Konsep ... 10

1. Pengertian Pemahaman ... 10

2. Pengertian Konsep... 11

3. Makna Pemahaman Konsep ... 12

G. Minat Belajar... 13

H. Nilai Karakter Metode Eksperimen... 14

1. Pengertian Nilai Karakter... 14

2. Sumbangan Nilai Karakter Metode Eksperimen... 16

I. Alat Ukur Listrik ... 18

1. Arus Listrik ... 18

2. Alat Ukur Kuat Arus Listrik (Kanginan, 2007) ... 19

3. Tegangan Listrik (Beda Potensial)(Nurachmandani, 2009)... 23

4. Alat Ukur Tegangan Listrik (Nurachmandani, 2009) ... 24

5. Hukum Ohm... 25

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 28

A. Desain Penelitian... 28

B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 28

1. Waktu Penelitian ... 28

2. Tempat Penelitian... 28

(13)

1. Populasi Penelitian ... 28

2. Sampel Penelitian... 29

D. Treatment ... 29

E. Instrumentasi ... 29

1. Instrumen Pembelajaran... 29

2. Instrumen Pengumpulan Data ... 30

Validitas ... 35

F. Pembatasan Penelitian... 35

G. Metode Analisis Data ... 35

1. Analisis Pemahaman Awal dan Akhir Siswa... 35

2. Analisis Minat Belajar Siswa ... 38

3. Analisis Karakter Siswa. ... 40

BAB IV DATA DAN ANALISIS DATA ... 42

A. Pelaksanaan Penelitian ... 42

1. Sebelum Penelitian... 42

2. Selama Pelaksanaan Penelitian ... 45

B. Data dan Analisis Data ... 53

1. Pemahaman Konsep Siswa ... 53

2. Minat Belajar Siswa ... 55

3. Nilai Karakter Siswa ... 62

C. Pembahasan ... 63

1. Pemahaman Konsep ... 63

2. Minat Belajar... 64

3. Nilai Karakter... 65

(14)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 66

A. Kesimpulan... 66

B. Saran... 66

DAFTAR PUSTAKA ... 68

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kisi-kisi SoalPre-TestdanPost-Test... 31

Tabel 2. Kisi-kisi Kuesioner Minat Belajar Fisika... 33

Tabel 3. Kisi-kisi Kuesioner Nilai Karakter ... 34

Tabel 4. Skor Tiap Aspek... 36

Tabel 5. Kategorisasi Minat Belajar Siswa ... 39

Tabel 6. Kriteria Nilai Karakter Siswa... 41

Tabel 7. Proses Pelaksanaan Penelitian ... 45

Tabel 8. AnalisisTest-TKelompok Dependen (pretestdanposttest)... 53

Tabel 9. Prosentase Kategori Minat Belajar Siswa Kelas X.1... 56

Tabel 10. Analisis Test-T Kelompok Dependen (Minat Belajar) ... 57

Tabel 11. Distribusi Skor Dari Pertanyaan Kuesioner Minat Belajar No. 7 ... 59

Tabel 12. Prosentase Kategori Nilai Karakter Siswa Kelas X.1 ... 62

(16)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Sembilan Pilar Karakter (Adisusilo 2012:80) ... 15

Gambar 2. Rangkaian Terbuka (Nurachmandani, 2009) ... 18

Gambar 3. Rangkaian Tertutup (Nurachmandani, 2009)... 19

Gambar 4. Amperemeter... 20

Gambar 5. Pengukuran Arus Pada Baterai Kering... 20

Gambar 6. Pengukuran Arus Pada Rangkaian Listrik ... 20

Gambar 7.Basicmeter... 22

Gambar 8. Mengamati Skala TerkecilBasicmeter... 22

Gambar 9. Pengukuran Arus MenggunakanBasicmeter... 23

Gambar 10. Pengukuran Tegangan Pada Suatu Rangkaian Listrik ... 25

Gambar 11. Laboratorium Fisika SMA Negeri Jumapolo ... 44

Gambar 12. Lemari dan Alat-alat Laboratorium Fisika... 44

Gambar 13. Siswa Kelas X.1 Mengerjakan Kuesioner Minat Belajar... 47

Gambar 14. SuasanaPre-testdi Laboratorium Fisika ... 48

Gambar 15. Siswa Melakukan Eksperimen Rangkaian Tertutup ... 49

Gambar 16. Siswa Melakukan Pengukuran Kuat Arus Listrik Menggunakan Basicmeter... 50

Gambar 17. Siswa Membaca Skala yang Ditunjukkan olehBasicmeterSaat Mengukur Tegangan Listrik ... 51

(17)

xvii

DAFTAR GRAFIK

(18)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian Sekolah ... 73

Lampiran 2. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian ... 74

Lampiran 3. RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran) ... 75

Lampiran 4. LKS (Lembar Kerja Siswa) ... 87

Lampiran 5. Panduan PenggunaanBasicmeter... 97

Lampiran 6. SoalPre-TestdanPost-Test... 100

Lampiran 7. Kunci JawabanSoal Pre-TestdanPost-Test... 101

Lampiran 8. Kuesioner Minat Belajar... 103

Lampiran 9. Kuesioner Nilai Karakter... 105

Lampiran 10. Daftar SkorPre-TestDanPost-Test... 107

Lampiran 11. Daftar Skor Kuesioner Minat Belajar Sebelum Treatmen... 108

Lampiran 12. Daftar Skor Kuesioner Minat Belajar Sesudah Treatmen ... 109

Lampiran 13. Daftar Skor Kuesioner Nilai Karakter ... 110

Lampiran 14. Contoh Data Hasil PenelitianPre-Test... 111

Lampiran 15. Contoh Data Hasil PenelitianPost-Test... 112

Lampiran 16. Contoh Data Hasil Penelitian Kuesioner Minat Sebelum Diberi Treatmen... 114

Lampiran 17. Contoh Data Hasil Penelitian Kuesioner Minat Sesudah Diberi Treatmen... 115

(19)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Aktivitas pendidikan tidak lepas dari kegiatan belajar dan mengajar. Kegiatan mengajar yang dimaksudkan bukanlah kegiatan mentransfer ilmu pengetahuan seorang guru kepada siswa, akan tetapi mengajar adalah bentuk partisipasi seorang guru menjadi fasilitator dan motivator dalam proses pemahaman atau pengertian siswa.

Guru sebagai fasilitator dalam proses pemahaman siswa, perlu mengembangkan berbagai metode pengajaran yang dapat membantu siswa memperkaya pengalaman sekaligus menjadikan hal bermakna atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam mempersiapkan diri menggapai masa depan.

Metode eksperimen merupakan salah satu pendekatan pembelajaran konstruktivisme. Menurut filsafat konstruktivisme, pengetahuan itu adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri yang sedang menekuninya (Suparno, 2007). Hal ini berarti bahwa metode eksperimen mengutamakan bentukan pengetahuan dari siswa sendiri.

(20)

kesimpulan saat melakukan percobaan, selain itu metode eksperimen mengasah keterampilan dalam kerja ilmiah.

Penggunaan metode eksperimen memberikan kesempatan bagi siswa untuk membentuk nilai karakter pada diri siswa. Bentuk nilai karakter yang disumbangkan melalui metode eksperimen banyak dari proses pembelajarannya. Nilai karakter dalam metode eksperimen yang sesuai dengan nilai karakter yang telah dirumuskan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mencakup beberapa nilai karakter yaitu antara lain bertanggungjawab, disiplin, jujur, komunikasi, kerja keras, toleransi, demokrastis, dan rasa ingin tahu.

Saat melakukan percobaan, siswa diharapkan dapat menerapkan sikap bertanggungjawab atas percobaan yang dilakukan, disiplin diri saat melakukan percobaan, memiliki rasa keingintahuan akan adanya percobaan, mampu bekerjasama dengan teman satu kelompok, bersikap jujur saat pengambilan data percobaan, menghargai pendapat teman, dan menyelesaikan percobaan dengan sungguh-sungguh.

Menurut Suparno, lewat pengetahuan fisika, proses pembelajaran, atau sikap belajarnya anak didik akan dibantu berpikir nalar, mengerti dasar-dasar teknologi dengan baik, dan dapat mengembangkan sikap komunikasi, kerja disiplin, tanggungjawab, kreatif, dll (Suparno, 2012: 19).

(21)

fisika, sekolah memiliki laboratorium fisika yang cukup lengkap, akan tetapi adanya laboratorium fisika belum digunakan secara maksimal dalam pembelajaran fisika.

Berdasar latar belakang permasalahan tersebut di atas, peneliti tertarik untuk meneliti Pengaruh Penerapan Metode Eksperimen Terhadap Pemahaman Konsep, Minat Belajar, dan Nilai Karakter Siswa SMA Negeri Jumapolo Kelas X.1 Pada Materi Pokok Alat Ukur Listrik.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah metode eksperimen dapat meningkatkan pemahaman konsep Siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 untuk materi pokok alat ukur listrik? 2. Apakah metode eksperimen dapat meningkatkan minat belajar siswa SMA

Negeri Jumapolo kelas X.1 dalam materi pokok alat ukur listrik?

3. Apakah metode eksperimen dapat membentuk nilai karakter siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 untuk materi pokok alat ukur listrik?

C. Tujuan Penelitian

Dari rumusan permasalahan yang telah dijabarkan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :

1. Peningkatan pemahaman konsep siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 tentang materi pokok alat ukur listrik melalui metode eksperimen;

(22)

3. Nilai karakter siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1 untuk materi pokok alat ukur listrik melalui metode eksperimen.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Sekolah

Hasil dari penelitian ini diharapkan berguna sebagai salah satu pertimbangan dalam upaya meningkatkan pemahaman konsep, minat belajar, dan nilai karakter siswa SMA Negeri Jumapolo terhadap mata pelajaran fisika melalui metode eksperimen di laboratorium.

2. Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan, yaitu pengaruh penerapan metode eksperimen terhadap pemahaman konsep, minat belajar, dan nilai karakter siswa pada mata pelajaran fisika.

3. Bagi Pengembangan Penelitian

(23)

5

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Belajar dan Pembelajaran Konstruktivisme 1. Belajar

Dituliskan beberapa pendapat oleh ahli mengenai arti belajar antara lain: a. Winkel berpendapat bahwa belajar merupakan proses perubahan dari

yang belum mampu ke arah sudah mampu, dan proses perubahan itu terjadi selama jangka waktu tertentu (Winkel: 2004).

b. Menurut Syah, belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan (Syah, 2008: 89).

c. Gagne (dalam Dahar, 2011: 2) menyatakan bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman.

d. Menurut Suyono, belajar adalah suatu aktivitas untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian (Suyono, 2011: 9).

(24)

Maka belajar dapat disimpulkan suatu aktivitas atau proses mental dan emosional yang terjadi antara individu dengan lingkungannya untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian siswa dalam jenjang pendidikan.

2. Pembelajaran

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, pembelajaran merupakan aktivitas paling utama. Pembelajaran merupakan usaha yang dilaksanakan secara sengaja, terarah dan terencana, dengan tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta pelaksanaannya terkendali, dengan maksud agar terjadi belajar pada diri seseorang (Siregar, 2010:13)

(25)

Dari pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha atau upaya yang dilaksanakan oleh guru secara terkendali, untuk mendukung proses pendewasaan diri siswa berupa perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

3. Konstruktivisme

Menurut Suparno, konstruktivisme adalah aliran filsafat pengetahuan yang berpendapat bahwa pengetahuan (knowledge) merupakan hasil konstruksi (bentukan) dari orang yang sedang belajar (Suparno, 1997). Teori konstruktivisme melihat pelajar terus-menerus melihat informasi baru terhadap aturan-aturan lama dan kemudian mengubah aturan apabila hal itu tidak lagi berguna (Slavin, 2009).

Konstruktivisme adalah sebuah filosofi pembelajaran yang dilandasi premis bahwa dengan merefleksikan pengalaman, kita membangun mengkonstruksi pengetahuan pemahaman kita tentang dunia tempat kita hidup. Konstruktivisme melandasi pemikiran bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yanggiven dari alam karena hasil kontak manusia dengan alam, tetapi pengetahuan merupakan hasil konstruksi (bentukan) aktif dari manusia itu sendiri (Suyono, 2011).

(26)

dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri menalar, (3) murid aktif mengkonstruksi terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah, (4) guru sekadar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus (Suparno, 1997: 49).

E. Metode Eksperimen

1. Pengertian Metode Eksperimen

Metode eksperimen merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang bersifat konstruktivisme. Menurut Suparno, metode eksperimen adalah metode mengajar yang mengajak siswa untuk melakukan percobaan sebagai pembuktian, pengecekan bahwa teori yang sudah dibicarakan itu memang benar (Suparno, 2007: 77). Djamarah dan Siregar menjelaskan bahwa metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari (Djamarah, 2010; Siregar, 2010: 80). Hamid menyatakan metode eksperimen adalah penyampaian materi pelajaran melalui latihan menggunakan alat ukur, bahan percobaan, dan perangkat percobaan yang dilakukan oleh murid secara individual atau secara kelompok untuk membuktikan atau menemukan konsep, prinsip, teori, azas, aturan, atau hukum-hukum fisika (Hamid, 2011).

(27)

Dengan melakukan percobaan di laboratorium, akan membuat lebih nyata ilmu pengetahuan. Agar hasil percobaan akurat dan baik diperlukan saat melakukan pengukuran, maka siswa perlu melakukannya dengan tekun dan sabar (Tobin, 1932).

2. Macam-macam Metode Eksperimen

Hamid membedakan bentuk eksperimen menjadi dua, yaitu eksperimen verifikasi dan eksperimen menemukan. Eksperimen verifikasi yaitu eksperimen yang digunakan untuk membuktikan konsep, prinsip, teori, azas, atau hukum-hukum fisika. Sedangkan eksperimen menemukan (discovery or inquiry experiment) digunakan untuk menemukan konsep, prinsip, teori, azas, atau hukum-hukum fisika (Hamid, 2011).

Menurut Druxes (dalam Fitri: 2008) kegiatan eksperimen dapat digolongkan menurut bentuk dan menurut tempat. Eksperimen menurut bentuk dibedakan menjadi: eksperimen gagasan, eksperimen komputer, dan eksperimen nyata. Sedangkan eksperimen menurut tempat dibedakan menjadi: eksperimen murid dan eksperimen guru.

(28)

rangkaian, apa yang harus diamati, diukur, dan dianalis serta disimpulkan (Suparno, 2007).

F. Pemahaman Konsep

1. Pengertian Pemahaman

Tanpa mengabaikan aspek keterampilan, sikap, dan kecenderungan, aspek pemahaman adalah aspek yang sangat penting dalam pendidikan IPA pada umumnya pendidikan fisika pada khususnya. Konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan teori-teori, menjadi bermakna dan fungsional bila dipahami, tidak sekedar dihapal (Budi, 1990: 63).

Pemahaman menurut Kartika Budi (dalam Bernardina, 2005: 13) merupakan salah satu aspek kognitif dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, karena menjadi aspek yang paling menonjol atau paling ditonjolkan. Bila diadakan kegiatan belajar mengajar, maka pertama-tama yang akan dicapai adalah memahami atau mengerti apa yang kita pelajari. Uno menyatakan bahwa pemahaman diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya (Uno, 2011: 57).

(29)

Kata yang cocok untuk dipakai dalam merumuskan Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang menyangkut kemampuan ini antara lain adalah membedakan, menyajikan, mengatur, menginterpretasikan, menjelaskan, mendemonstrasikan, memberi contoh, dan mengambil kesimpulan (Purwanto, 2006: 45).

Anderson menyatakan bahwa siswa dikatakan memahami bila mereka dapat mengkonstruksi makna dari pesan-pesan pembelajaran, baik yang bersifat lisan, tulisan ataupun grafis, yang disampaikan melalui pengajaran, buku, atau layar komputer. Proses kognitif dalam kategori memahami meliputi menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, merangkum, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan (Anderson, 2010: 105).

2. Pengertian Konsep

Konsep adalah gugusan atau sekelompok fakta/keterangan yang memiliki makna. Konsep yaitu segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang dapat timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti/isi dan sebagainya. Contoh: dalam pembelajaran Biologi, hutan hujan tropis di Indonesia sebagai sumber plasma nutfah (Suyono, 2011: 146).

Konsep merupakan abstraksi dari ciri-ciri sesuatu yang mempermudah komunikasi antara manusia dan yang memungkinkan manusia berpikir (Berg, 1991: 8).

(30)

yang mempunyai atribut yang sama. Karena orang mengalami stimulus yang berbeda-beda, orang membentuk konsep sesuai dengan pengelompokan stimulus dengan cara tertentu. Karena konsep adalah abstraksi-abstraksi yang berdasarkan pengalaman dan tidak ada dua orang yang mempunyai pengalaman yang persis sama, konsep yang dibentuk orang mungkin berbeda juga.

Konsep itu adalah hasil berpikir manusia yang merangkum beberapa pengalaman. Dalam fisika sangat penting untuk memperoleh dan mengkomunikasikan pengetahuan. Dengan menguasai konsep-konsep kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan baru pada siswa tidak terbatas. Salah satu keungggulan dari model pencapaian konsep ini ialah dalam meningkatkan kemampuan untuk belajar dengan cara lebih mudah dan lebih efektif di masa depan (Bumbungan, 2009).

3. Makna Pemahaman Konsep

(31)

G. Minat Belajar

Minat merupakan salah satu faktor psikologis yang berhubungan dengan keadaan kejiwaan siswa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, minat merupakan suatu keinginan yang kuat, gairah, atau kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu (NN1, 2008).

Minat digolongkan menjadi dua definisi, yaitu definisi konseptual: minat adalah watak yang tersusun melalui pengalaman yang mendorong individu mencari objek, aktivitas, pengertian, keterampilan untuk tujuan perhatian dan penguasaan. Definisi operasional: minat adalah keingintahuan seseorang tentang keadaan suatu objek (Mardapi, 2008: 112).

(32)

Menurut Hurlock (dalam Bernardina, 2005: 16), minat diartikan sebagai sumber motivasi yang mengarahkan seseorang terhadap apa yang mereka lakukan bila diberi kebebasan untuk memilihnya, bila mereka melihat sesuatu yang mempunyai arti bagi dirinya, maka mereka akan tertarik terhadap sesuatu itu serta menimbulkan kepuasan bagi dirinya. Dengan demikian minat adalah kesadaran seseorang terhadap sesuatu itu dengan disertai perasaan puas dan senang.

Dari pendapat beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa minat belajar adalah watak yang tersusun melalui pengalaman siswa berupa keinginan yang kuat atau ketertarikan atau kegairahan dalam mencari objek, aktivitas, dan keterampilan untuk menjadi perhatian dan penguasaan secara terus menerus yang disertai rasa senang dan puas dalam hal belajar.

H. Nilai Karakter Metode Eksperimen 1. Pengertian Nilai Karakter

Pencetus pendidikan karakter pertama yaitu pedagog Jerman yang bernama F.W Foerster. Karakter menurut Foerster, adalah sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas, menjadi ciri, menjadi sifat yang tetap, yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah, sehingga karakter adalah seperangkat nilai yang telah menjadi kebiasaan hidup sehingga menjadi sifat tetap dalam diri seseorang (Adisusilo 2012: 77).

(33)

yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik, kebiasaan dalam cara berpikir, kebiasaaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan (Lickona: 2012).

Daniel Goleman dalam (Adisusilo 2012:79), menyebutkan bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan nilai, yang mencakup sembilan nilai dasar yang saling terkait, dapat dilihat pada gambar 1 sebagai berikut:

Gambar 1. Sembilan Pilar Karakter (Adisusilo 2012:80)

Keterangan gambar :

a. Responsibility(tanggung jawab); b. Respect(rasa hormat);

(34)

f. Citizenship(rasa kebangsaan); g. Self-dicipline(disiplin diri); h. Caring(peduli), dan

i. Perseverance(ketekunan).

Pendidikan karakter menurut Ratna Megawangi dalam (Kesuma, 2011), yaitu sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan memperhatikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam beberapa workshop kepala sekolah, telah merumuskan 18 nilai yang dianggap karakter bangsa yang perlu ditanamkan pada anak didik di sekolah. Nilai tersebut antara lain: religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikasi, cinta damai, gemar membaca, peduli sosial, peduli lingkungan, dan tanggungjawab (Suparno, 2012).

2. Sumbangan Nilai Karakter Metode Eksperimen

(35)

Beberapa nilai karakter yang disumbangkan saat praktikum dan proyek antara lain: semangat multikultural, penghargaan pada diri, keadilan, kejujuran, daya tahan, dan ketaatan pada hukum (Suparno, 2012).

Berdasar hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Miftakhul, Sugianto dan Sarwi, nilai karakter yang dapat diamati pada saat eksperimen adalah kerjasama, disiplin, mandiri, ingin tahu, kerja keras, jujur dan santun (Miftakhul, 2012).

Nilai-nilai interpersonal dan intrapersonal dapat difasilitasi melalui pembelajaran atau kerja laboratorium. Melalui eksperimen di laboratorium, siswa berlatih bekerja secara cermat, teliti, bekerjasama, siswa belajar mendengar dan menghargai pandangan orang lain, dan belajar berkomunikasi secara efektif (Sutopo, 2011).

(36)

I. Alat Ukur Listrik 1. Arus Listrik

Pada dasarnya rangkaian listrik dibedakan menjadi 2, yaitu rangkaian listrik terbuka dan rangkaian listrik tertutup. Rangkaian listrik terbuka adalah suatu rangkaian yang belum dihubungkan dengan sumber tegangan, sedangkan rangkaian listrik tertutup adalah suatu rangkaian yang sudah dihubungkan dengan sumber tegangan (Nurachmandani, 2009).

Arus listrik dapat didefinisikan sebagai aliran muatan positif dari potensial tinggi ke potensial rendah. Arus listrik terjadi apabila ada perbedaan potensial (Nurachmandani, 2009).

(37)

Gambar 3. Rangkaian Tertutup (Nurachmandani, 2009)

Pada baterai terdapat dua kutub yang potensialnya berbeda. Jika kedua kutub tersebut terhubung dengan lampu melalui kabel, maka akan terjadi perpindahan elektron dari kutub negatif dan kutub positif atau terjadi arus listrik dari kutub positif ke kutub negatif, sehingga lampu dapat menyala, lihat gambar 2 dan gambar 3.

Selanjutnya, jika baterai yang digunakan dua buah, maka lampu menyala lebih terang. Jika baterai digunakan tiga buah lampu menyala semakin terang. Hal ini disebabkan beda potensial kutub positif dan kutub negatifnya semakin besar sehingga muatan-muatan listrik yang mengalir pada penghantar semakin banyak atau arus listriknya semakin besar. Besarnya arus listrik (disebut dengan kuat arus listrik) sebanding dengan banyaknya muatan listrik yang mengalir (Nurachmandani, 2009).

2. Alat Ukur Kuat Arus Listrik(Kanginan, 2007)

(38)

dirangkai seri dengan komponen yang akan diukur arusnya, kutub-kutub positif amperemeter dan baterai serta kutub-kutub negatif keduanya telah saling dihubungkan dengan kabel seperti gambar 4.

Gambar 4. Amperemeter

Gambar 5. Pengukuran Arus Pada Baterai Kering

(39)

Arus listrik harus mengalir masuk ke kutub positif (diberi tanda “+” atau

warna merah) dan meninggalkan amperemeter melalui kutub negatif (diberi tanda “-“ atau warna hitam), bisa dilihat pada gambar 4 dan gambar 5. Jika dihubungkan dengan polaritas terbalik, jarum penunjuk akan menyimpang dalam arah kebalikan. Ini dapat menyebabkan jarum membentur sisi tanda nol dengan gaya yang cukup besar sehingga dapat merusak amperemeter.

Tetapi jika menggunakan meter digital yang memiliki polaritas otomatis (autopolarity), hubungan dengan polaritas terbalik tidaklah masalah. Ini karena meter tetap akan memberikan bacaaan benar, hanya tanda negatif pada displai di depan angka, yang menunjukkan bahwa hubungan polaritas ke meter adalah terbalik.

Amperemeter dipasang seri dengan komponen yang akan diukur kuat arusnya, rangkaian kabel harus dipotong agar dapat menyisipkan amperemeter (lihat gambar 6).

(40)

Gambar 7.Basicmeter

Batas ukur arus : 0–10 mA–100 mA–1 A–5 A Batas ukur tegangan : 0–100 mV–1 V–10 V–50 V

Misalnya dalam pengukuran siswa menghubungkan batas ukur 1 A ke rangkaian. Jarak antara gores panjang 0 dan 20 menunjukkan x 1 A = 0,2 A. antara gores 0 dan 20 terdapat skala 10 (lihat gambar 8). Ini berarti skala kecilbasicmeteradalah: x 0,2 A= 0,02 A.

(41)

Ketelitian basi

basicmeteruntuk batas ukur 0-1 A adalah sete

0,01 A

terkecil 0,02 A dan ketidakpastiannya adalah 0,01 sil pengukuran arus dalam suatu rangkaian di m kan hasil seperti gambar 9.

bar 9. Pengukuran Arus MenggunakanBasicmet enunjukkan 4 garis sebelum angka 80, berart h 72. Ini menunjukkan kuat arus adalah sebagai beri

1 A = 0,72 A (dua desimal)

kpastian∆x = 0,01 A (juga dua desimal), maka ha porkan sebagai kuat arus:

+ ……….………..

+0,01) A

Listrik (Beda Potensial)(Nurachmandani, 2009 listrik adalah banyaknya muatan yang terdap benda dikatakan mempunyai potensial listr

setengah dari skala

h 0,01 A.

di mana batas ukur

meter

arti bacaan angka berikut:

ka hasil pengukuran

+ ……….………..(1)

+

2009)

(42)

daripada benda lain, jika benda tersebut memiliki muatan positif lebih banyak daripada benda lain.

Beda potensial listrik (tegangan) timbul karena dua benda yang memiliki potensial listrik berbeda dihubungkan oleh suatu penghantar. Beda potensial ini berfungsi untuk mengalirkan muatan dari suatu titik ke titik lainnya. Satuan beda potensial adalah volt (V).

4. Alat Ukur Tegangan Listrik (Nurachmandani, 2009)

Alat yang digunakan untuk mengukur tegangan pada suatu rangkaian disebut dengan voltmeter dan diberi simbol (V) dalam rangkaian listrik. Voltmeter harus diukur secara parallel pada komponen listrik yang akan diukur tegangannya. Untuk memasang voltmeter dalam suatu rangkaian, harus diperhatikan bahwa titik yang potensialnya lebih tinggi harus dihubungkan ke kutub positif (“+” atau warna merah) dan titik yang potensialnya lebih rendah

harus dihubungkan ke kutub negatif (“-“ atau warna hitam). Jika dihubungkan dengan polaritas terbalik, jarum penunjuk akan menyimpang sedikit kekiri tanda nol.

(43)

Gambar 10. Pengukuran Tegangan Pada Suatu Rangkaian Listrik

Melaporkan hasil pengukuran tegangan listrik pada suatu rangkaian dengan menggunakan basicmeter itu hampir sama dengan melaporkan hasil pengukuran pada arus listrik.

5. Hukum Ohm

(44)

Besar perba . Jadi, beda potensial sebanding sengan kuat arus

t dituliskan V= m x I, m adalah konstanta perb dengan kuat arus. Untuk lebih jelas lihat grafik n antara kuat arus dengan beda potensial.

. Hubungan Antara Kuat Arus dengan Beda Pote an grafik di atas, nilai m dapat diperoleh den

arus listrik selalu arus (V~I). secara

(45)

Keterangan:

V : beda potensial atau tegangan (V) I : kuat arus (A)

R : hambatan listrik (Ω )

Persamaan di atas dikenal sebagai Hukum Ohm yang berbunyi “ Kuat

(46)

28

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian eksperimental kuantitatif dengan design One-Group Pretest-Postest. Dikatakan eksperimental karena pada penelitian ini ada perlakuan pada partisipan dengan menggunakan metode eksperimen, dikatakan kuantitatif karena data yang diperoleh dalam bentuk skor atau angka yang diberikan penjelasan.

B. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 22 April 2013 sampai dengan 8 Mei 2013, di SMA N Jumapolo, Karanganyar, Jawa Tengah.

2. Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorim Fisika SMA N Jumapolo, Karanganyar, Jawa Tengah.

C. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian

(47)

2. Sampel Penelitian

Sampel dari penelitian ini adalah siswa-siswi SMA N Jumapolo Kelas X.1, Semester Genap, Tahun Ajaran 2012/2013 yang berjumlah 32 orang.

D. Treatment

Treatment adalah perlakuan peneliti kepada subyek yang mau diteliti agar nantinya mendapatkan data yang diinginkan (Suparno, 2010: 51). Treatment yang digunakan dalam penelitian ini adalah penerapan metode eksperimen pada materi pokok alat ukur listrik. Eksperimen yang digunakan adalah eksperimen terbimbing dalam penelitian ini yaitu:

1. eksperimen 1: rangkaian terbuka dan tertutup 2. eksperimen 2: mengukur kuat arus listrik

3. eksperimen 3: mengukur tegangan/beda potensial listrik

4. eksperimen 4: hubungan antara kuat arus listrik dan beda potensial Pengajaran dengan metode eksperimen dapat dilihat di RPP dan LKS. RPP terlampir pada lampiran 1, LKS terlampir pada lampiran 2.

E. Instrumentasi

1. Instrumen Pembelajaran

(48)

a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dibuat untuk menentukan garis besar kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan selama pengambilan data penelitian. Bagian dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah (1) Identitas meliputi: Satuan Pendidikan, Mata Pelajaran, Kelas/ Semester, dan Alokasi waktu, (2) Standar Kompetensi, (3) Kompetensi Dasar, (4) Indikator, (5) Tujuan Pembelajaran, (6) Metode Pembelajaran, (7) Kegiatan Pembelajaran, (8) Materi Pelajaran, (9) Sumber Pembelajaran. RPP terlampir pada lampiran 1.

b. Lembar Kerja Siswa

Lembar Kerja Siswa (LKS) dibuat dan akan digunakan dalam kegiatan eksperimen. LKS terlampir pada lampiran 2.

c. Basicmeter

Model Basicmeter yang digunakan pada penelitian ini adalah basicmeter 90 dan terdapat penjelasan dan petunjuk penggunaan basicmeter. Penjelasan dan Petunjuk penggunaan basicmeter terlampir pada lampiran 3.

2. Instrumen Pengumpulan Data

(49)

a. Pre-test

Pre-test diberikan sebelum pembelajaran menggunakan metode eksperimen. Pre-test ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman awal siswa mengenai konsep alat ukur listrik. Soal pre-test sebanyak 6 soal yang terdiri dari aspek pengetahuan (ingatan), pemahaman, dan penerapan (aplikasi).

Pembuatan soal pre-test diperlukan kisi-kisi. Kisi-kisi soal berdasar pada kompetensi dasar dan indikator yang harus dicapai siswa. Kisi-kisi soalpre-test danpost-test seperti tabel 1 berikut.

Tabel 1. Kisi-kisi SoalPre-TestdanPost-Test

Kompetensi

a. Apa nama alat ukur arus listrik?

(50)

gambarkan cara

Post-test diberikan setelah pembelajaran menggunakan metode eksperimen. Soal post-test ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa mengenai konsep alat ukur listrik setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen. Jumlah dan pertanyaan soalpost-testsama dengan soal pre-test. Soalpre-testdanpost-test terlampir pada lampiran 4.

c. Kuesioner Minat Belajar

Kuesioner minat dalam penelitian bersifat tertutup atau telah disediakan alternatif jawaban. Kuesioner ini diberikan sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui minat belajar awal dan akhir siswa.

(51)

pustaka, aspek yang dinyatakan dalam kuesioner minat belajar meliputi minat belajar siswa terhadap fisika yang berkaitan dengan perasaan puas atau senang, perhatian, dan keinginan kuat atau ketertarikan untuk belajar.

Kisi-kisi kuesioner minat belajar ditunjukkan seperti tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Kisi-kisi Kuesioner Minat Belajar Fisika

Aspek Indikator

Jumlah butir soal

No Item

Minat belajar

Perasaan puas dan senang 4 1, 2, 7, 8

Memperhatikan 3 3, 5, 6

Keinginan/ketertarikan untuk belajar 3 4, 9, 10

d. Kuesioner Nilai Karakter Siswa

Kuesioner nilai karakter dalam penelitian ini bersifat tertutup atau telah disediakan alternatif jawaban. Kuesioner ini diberikan setelah kegiatan pembelajaran menggunakan metode eksperimen, untuk mengetahui nilai karakter siswa terhadap metode eksperimen.

Pembuatan kuesioner nilai karakter diperlukan kisi-kisi kuesioner nilai karakter. Dari pendapat ahli yang telah dipaparkan pada bab kajian pustaka, nilai karakter saatt siswa melakukan eksperimen antara lain nilai kerjasama, tanggungjawab, disiplin, jujur, dan rasa ingin tahu.

(52)

Tabel 3. Kisi-kisi Kuesioner Nilai Karakter

No Nilai karakter Indikator No soal

1. Kerjasama a. Siswa terlibat dalam merangkai alat eksperimen

b. Siswa saling berdiskusi atau berkomunikasi dengan teman satu kelompok saat melakukan eksperimen c. Siswa andil dalam penyimpulan hasil

eksperimen

1, 2, 3

2. Tanggungjawab a. Siswa melaksanakan dan menyelesaikan eksperimen

b. Siswa menyumbang gagasan tentang eksperimen yang dilakukan

4, 5, 6

3. Disiplin a. Siswa datang ke laboratorium tepat waktu

b. Siswa memulai eksperimen tepat waktu c. Siswa membaca petunjuk penggunaan

alat eksperimen

7, 8, 9

4. Kejujuran a. Siswa mencatat data sesuai yang dilihat b. Siswa menyimpulkan hasil eksperimen

berdasarkan data

c. Siswa sungguh terlibat mengerjakan eksperimen dalam kelompok

10, 11, 12

5. Rasa ingin tahu a. Siswa bertanya pada teman atau guru b. Siswa mencari sumber lain selain apa

yang dipelajari

c. Siswa mencoba-coba lebih dari yang diharuskan atau berkali-kali melakukan pengukuran.

(53)

Validitas

Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Validitas isi dari suatu tes hasil belajar adalah validitas yang diperoleh setelah dilakukan penganalisisan, penelusuran, atau pengujian terhadap isi yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut.

Validitas isi berpedoman pada kisi-kisi tes dan non tes yang diukur sesuai dengan indikator. Kisi-kisi tes dapat dilihat pada halaman 31. Kisi-kisi non tes yaitu kuesioner minat belajar dapat dilihat pada halaman 33, dan kuesioner nilai karakter pada halaman 34.

F. Pembatasan Penelitian

1. Peneliti tidak menggunakan kelas pembanding (kelas control/ control group) dengan populasi yang berbeda

2. Peneliti tidak meneliti apakah ada perbedaan antara kelas yang diajar dengan metode eksperimen dengan kelas yang tidak diajar dengan menggunakan metode eksperimen.

G. Metode Analisis Data

1. Analisis Pemahaman Awal dan Akhir Siswa

(54)

Tabel 4. Skor Tiap Aspek

pengetahuan 2 5 0 10

2. Pemahaman 2 8 0 16

3. Penerapan 2 12 0 24

Total 6 - - 50

Penskoran untuk masing-masing kriteria diuraikan di bawah ini: a. Aspek Ingatan/ pengetahuan (soal no 1 dan no 2)

1) Siswa memberi jawaban benar: skor 5

2) Siswa memberi jawaban mendekati benar atau hampir benar: skor 3 3) Siswa memberi jawaban salah: skor 1

4) Siswa tidak memberi jawaban sama sekali: 0 b. Aspek Pemahaman (soal no 3 dan no 4)

1) Siswa memberi jawaban secara benar semua: skor 8

2) Siswa memberi jawaban setengah lebih benar: skor antara 6 sampai 7 3) Siswa memberi jawaban setengah benar: skor 4

4) Siswa memberi jawaban kurang dari setegah benar: skor antara 2 sampai 3

5) Siswa memberi jawaban salah : skor 1 6) Siswa tidak menjawab sama sekali : skor 0 c. Aspek Penerapan

(55)

2) Siswa memberi jawaban setengah lebih benar: skor antara 8 sampai 11 3) Siswa memberi jawaban setengah benar: skor 7

4) Siswa memberi jawaban kurang dari setangah benar: skor antara 2 sampai 6

5) Siswa tidak menjawab sama sekali: skor 0.

Skor hasil belajar siswa yaitu jumlah skor setiap siswa dibagi jumlah skor maksimal dikali seratus.

Skor hasil belajar siswa = x 100

Untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep siswa maka peneliti membandingkan hasil pre-test dan post-test, peneliti menggunakan uji test-t. Test-t ini digunakan untuk mengetes dua kelompok yang dependen, atau satu kelompok yang di-test dua kali, yaitu pada pre-test dan post-test (Suparno, 2010: 97).

Rumus untuk menghitungnya adalah sebagai berikut:

| Treal| =

( )

( )

, Pencarian dihitung dengan SPSS

Dimana: X1 : skorpre-test

X2 : skorpost-test

D : Perbedaan antara skor tiap subjek (X2- X1)

(56)

2. Analisis Minat Belajar Siswa

Untuk mengetahui peningkatan minat belajar siswa, maka peneliti perlu tahu minat awal siswa sebelum diberi metode eksperimen dan minat setelah diberi metode eksperimen melalui kuesioner minat belajar siswa.

Mengukur minat belajar siswa, menggunakan penilaian dengan model skala Likert yaitu dengan kriteria sebagai berikut:

Sangat SetujuSetujuTidak SetujuSangat Tidak Setuju

(4) (3) (2) (1)

Kuesioner berisi 10 butir pernyataan dengan 4 (empat) pilihan jawaban untuk mengukur minat belajar peserta didik. Hasil pengukuran berupa skor atau angka. Skor butir pernyataan bersifat positif:

a. Skor untuk setiap siswa Skor minimal = 1 x 10 = 10 Skor maksimal = 4 x 10 =40 Range = 40-10 =30

b. Pembagian interval

Range dibagi dalam 4 interval, maka lebar interval 30: 4 = 7,5 dibulatkan menjadi 8.

(57)

Tabel 5. Kategorisasi Minat Belajar Siswa

No Skor peserta didik Kategori minat

1. 34-41 Sangat tinggi/ sangat baik

2. 26- 33 Tinggi/ baik

3. 18-25 Rendah/ kurang

4. 10- 17 Sangat rendah/ sangat kurang

Untuk mengetahui peningkatan minat belajar siswa peneliti membandingan hasil kuesioner minat belajar sebelum dan sesudah treatmen metode eksperimen, peneliti menggunakan uji Test-t. Test-t ini digunakan untuk mengetes dua kelompok yang dependen, atau satu kelompok yang di-tes dua kali.

Rumus untuk menghitungnya adalah sebagai berikut:

| Treal| =

( )

( )

, Pencarian dihitung dengan SPSS

Dimana: X1 : skor minat belajar sebelum treatmen

X2 : skor minat belajar sesudah treatmen

D : Perbedaan antara skor tiap subjek (X2- X1)

(58)

3. Analisis Karakter Siswa.

Untuk mengetahui nilai karakter siswa, peneliti menggunakan kuesioner nilai karakter. Mengukur nilai karakter siswa, peneliti menggunakan alat penilaian model skala Likert yaitu dengan kriteria sebagai berikut:

Sangat SetujuSetujuTidak SetujuSangat Tidak Setuju

(4) (3) (2) (1)

Kuesioner berisi 15 butir pernyataan dengan 4 (empat) pilihan jawaban untuk mengukur nilai karakter peserta didik. Hasil pengukuran berupa skor atau angka. Skor butir pernyataan bersifat positif:

a. Skor untuk setiap siswa Skor minimal = 1 x 15 = 15 Skor maksimal = 4 x 15 =60 Range = 60-15= 45

b. Pembagian interval

Range dibagi dalam 4 interval, maka lebar interval 45: 4= 11,2 dibulatkan menjadi 12.

(59)

Tabel 6. Kriteria Nilai Karakter Siswa

No Skor peserta didik Kategori

1. 51-62 Sangat tinggi/ sangat baik

2. 39-50 Tinggi/ baik

3. 27-38 Rendah/ kurang

(60)

42

BAB IV

DATA DAN ANALISIS DATA

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dilakukan pada siswa kelas X.1 SMA Negeri Jumapolo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, dan dilaksanakan pada tanggal 22 April 2013 sampai dengan tanggal 8 Mei 2013. Penelitian dilakukan pada saat jam pelajaran fisika berlangsung.

Pelajaran fisika untuk kelas X.1 dilaksanakan 2 kali pertemuan dalam satu Minggu yaitu pada hari Senin dan hari Rabu. Alokasi waktu untuk pelajaran fisika pada hari Senin yaitu 1 x 45 menit, sedangkan pada hari Rabu yaitu 2 x 45 menit.

Pada penelitian ini, peneliti berperan sebagai guru dan fasilitator dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Peneliti dibantu oleh Veronika Winahyu, yang berperan sebagai dokumentator selama proses pembelajaran berlangsung. Proses pengambilan data dijelaskan sebagai berikut:

1. Sebelum Penelitian

(61)

pre-test, soalpos-test, kuesioner minat belajar, kuesioner nilai karakter, serta alat dokumentasi berupa kamera digital.

Selain mempersiapkan instrumen penelitian, peneliti melakukan observasi laboratorium fisika. Observasi ini bertujuan untuk mengetahui keadaan, kelengkapan, dan kesiapan laboratorium fisika. Observasi laboratorium fisika dilakukan oleh peneliti sebanyak 2 kali. Pertama pada hari Jumat tanggal 1 April 2013 dan kedua hari Selasa tanggal 23 April 2013.

Hasil observasi laboratorium fisika SMA Negeri Jumapolo yaitu bahwa alat eksperimen laboratorium fisika yang cukup lengkap. Alat untuk eksperimen antara lain pesawat Atwood, ayunan matematis, alat-alat ukur (mikrometer sekrup, meteran, basicmeter, jangka sorong, termometer), konstanta pegas, kaca, catu daya, kabel-kabel, dudukan lampu, resistor, kapasitor, dan masih ada beberapa alat yang belum bisa peneliti sebutkan karena masih di dalam kardus dan dalam ruangan sebelah.

Selain terdapat alat eksperimen, di dalam laboratorium terdapat meja dan kursi untuk guru, papan tulis (white board), jadwal pemakaian laboratorium fisika (tahun ajaran pada semester ganjil atau semester sebelumnya), jam dinding, foto Presiden dan Wakil Presiden, Lambang Negara Indonesia yaitu Garuda, korden, tempat cuci tangan, meja dan kursi eksperimen siswa.

(62)

Gambar 11

Gambar

bar 11. Laboratorium Fisika SMA Negeri Jumapol

bar 12. Lemari dan Alat-alat Laboratorium Fisika apolo

(63)

2. Selama Pelaksanaan Penelitian

Berikut adalah jadwal dan proses pengambilan data yang dilakukan di kelas X.1 seperti pada tabel 7:

Tabel 7. Proses Pelaksanaan Penelitian

No Hari/tanggal Pukul Kegiatan Peneliti

1. Senin, 22 April 2013

11.15- 11.30 Perkenalan dan memberikan kuesioner minat belajar kepada siswa

2. Rabu, 24 April

2013

07.15-08.40 a. Mendampingi siswa melakukan

eksperimen 1 yaitu rangkaian

terbuka dan tertutup

b. Mendampingi siswa melakukan eksperimen 2 yaitu mengukur kuat

arus listrik

3. Senin, 29 April 2013

10.15-10.45 Mendampingi siswa melakukan eksperimen 3 yaitu mengukur tegangan

listrik

4. Senin, 6 Mei 2013 10.20-10.50 Mendampingi siswa melakukan

eksperimen 4 yaitu hubungan antara kuat arus dan tegangan listrik

5. Rabu, 8 Mei 2013 07.15-08.40 Memberikanpost-test, kuesioner minat

belajar, dan kuesioner nilai karakter siswa.

Penelitian tidak berjalan sesuai dengan rencana dikarenakan beberapa hal seperti berikut:

a. Pada hari Senin tanggal 22 April 2013, terjadi pengurangan jam pelajaran dalam rangka upacara memperingati hari Kartini dan adanya rapat dan breafingguru bersama dengan Kepala Sekolah dan siswa kelas XII

(64)

c. Pada hari Rabu tanggal 1 Mei 2013, digunakan untuk gerak jalan se-Kecamatan Jumapolo memperingati hari Pendidikan Nasional, tidak ada pembelajaran untuk jam pertama sampai jam ke lima, sehingga terjadi penundaan penelitian

d. Pada hari Senin tanggal 6 Mei 2013, terjadi pengurangan jam pelajaran karena adanya rapat guru

e. Saat peneliti melaksanakan penelitian, tidak seluruh sampel bisa diteliti karena ada beberapa siswa yang mengikuti pelatihan PASKIBRA, lalu ada siswa yang sakit, dan ada halangan yaitu nenek meninggal sehingga siswa tersebut tidak bisa mengikuti pembelajaran.

Adapun proses pelaksanaan penelitian dijelaskan sebagai berikut :

a. Pelaksanaan Penelitian Pada Hari Senin, 22 April 2013

Pada hari Senin ini sekolah merayakan hari Kartini, maka jam pelajaran dipotong sebanyak 15 menit, peneliti masuk ke kelas pada pukul 11.10 WIB bersama guru fisika kelas X.1 yaitu Bapak Tyas Haryadi, M.Pd.

Pertama Bapak Hasto membuka pelajaran, menjelaskan materi pelajaran, kemudian memperkenalkan peneliti kepada siswa, lalu peneliti membagikan kuesioner minat belajar kepada siswa. Sebanyak 3 siswa tidak masuk dikarenakan 2 siswa mengikuti pelatihan Paskibra dan satu siswa sakit. Sehingga sampel untuk penelitian minat belajar sebelum treatmen sebanyak 28 siswa.

(65)

Gambar 13. Si

. Siswa Kelas X.1 Mengerjakan Kuesioner Mina

aan Penelitian Pada Hari Rabu, 24 April 2013

n berlangsung di laboratorium fisika SMA Ne swa datang di tepat waktu, kurang lebih 10 meni boratorium, baru pelajaran bisa dimulai.

membuka pelajaran dengan memberi salam penjelasan sedikit mengenai materi yang a liti memberikan soal pre-test kepada seluruh uh karena belum belajar. Siswa mengerjakan

(66)

Gamba

bar 14. SuasanaPre-testdi Laboratorium Fisika

membagi siswa kelas X.1 berdasar nomor ur yak siswa yang protes karena sebelumnya un beberapa siswa senang dengan adanya kelom melaksanakan berkelompok seperti yang tel

memberikan LKS kepada siswa, lalu mem ksperimen rangkaian terbuka dan tertutup. Ada rhasil melakukan eksperimen, hal ini dikarenak

nya menggunakan satu kabel untuk menghubun , lalu kabel yang dihubungkan tidak tersam n susunan antara baterai satu dengan yang kedua t

erupakan aktivitas siswa saat melakukan ekspe da gambar 15 di bawah ini.

sika

or urut menjadi 6 a telah memiliki kelompok baru, dan telah dibagi oleh

(67)

Gambar 15. S arah yang terbali ditunjukkanbasicm

Aktivitas sisw sebagai ampereme

15. Siswa Melakukan Eksperimen Rangkaian Te

membimbing eksperimen kedua, peneliti m basicmeter. Tidak seluruh siswa memperhatikan

na masih mencoba-coba rangkaian. Lalu sisw gan menggunakanbasicmeteruntuk mengukur k.

engunjungi dan mengecek cara merangkai alat e skala pada setiap kelompok, ada dua kelompok

terbalik, sehingga jarum yang ditunjukkanbasi alik, dan juga siswa belum bisa membaca ska basicmeter. Lalu peneliti membimbing siswa dalam

s siswa saat melakukan eksperimen mengguna meter ditunjukkan gambar 16 di bawah ini.

(68)

Gambar 16. Siswa

c. Pelaksanaan P

Pelajaran be kelas karena masi penelitian berkura

swa Melakukan Pengukuran Kuat Arus Listrik Me Basicmeter

aan Penelitian Pada Hari Senin, 29 April 2013

n berlangsung di laboratorium, akan tetapi siswa asih mengikuti pelajaran bahasa Inggris, se kurang 10 menit.

elakukan eksperimen menggunakan basic rapa kelompok sudah bisa menggunakannya, pok yang bingung dan bertanya. Peneliti membe

dari kelompok lain untuk mengajari satu kelom ngukur tegangan listrik dengan menggunakanbasi

elakukan eksperimen menggunakan basic unjukkan gambar 17 di bawah ini.

(69)

Gambar 17. Siswa

d. Pelaksanaan P

Saat perga Inggris di kelas, se Setelah seluruh si membimbing sisw

swa Membaca Skala yang Ditunjukkan olehBasi Mengukur Tegangan Listrik

aan Penelitian Pada Hari Senin, 6 Mei 2013

gantian jam pelajaran, siswa masih mengikuti pe s, sehingga waktu untuk pelajaran fisika terpot uh siswa siap mengikuti pelajaran di laborat

siswa dalam melakukan eksperimen hubungan an listrik. Seluruh kelompok sudah bisa amun siswa mengalami kendala dalam m

a kuat arus dengan tegangan listrik.

(70)

Gambar 18. S dilakukan oleh sisw dilakukan saat me

. Siswa Membaca Skala yang Terbaca dariBasi

n Penelitian Pada Hari Senin, 8 Mei 2013

embuka pelajaran dengan salam dan doa. Pene hari rabu ini terdapat 2 siswa yang tidak meng renakan nenek meninggal dan satu siswa tanpa ke

emberikan soal post-test, seusai siswa menger embagikan kuesioner minat belajar, dan memba Peneliti mengulas kembali tentang eksperim h siswa, lalu siswa menyimpulkan pengalaman

(71)

B. Data dan Analisis Data

1. Pemahaman Konsep Siswa a. Data Pretest dan Posttest

Untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep siswa, peneliti menggunakan data pre-test dan post-test. Hasil dari pre-test dan post-test siswa kelas X.1 dalam bentuk skor dapat dilihat pada lampiran 10.

Selain menggunakan data pre-test dan post-test, peneliti juga mengecek apakah siswa sudah memahami pelajaran dengan laporan hasil praktikum dari siswa. Jumlah sampel yang dapat diteliti untuk tingkat pemahaman konsep siswa yaitu sebanyak 29 siswa kelas X.1.

b. Analisis Data

Datapre-test dan post-test dianalisis dengan menggunakan statistik Test-T untuk kelompok dependen. Analisis data dari skor pre-test dan post-testditunjukkan pada tabel 8 di bawah ini.

(72)

Siswa 12 36 42

Siswa 13 22 40

Siswa 14 22 36

Siswa 15 20 34

Siswa 16 26 78

Siswa 18 26 54

Siswa 19 32 72

Siswa 20 34 52

Siswa 21 20 72

Siswa 22 22 54

Siswa 24 22 34

Siswa 25 18 42

Siswa 26 30 46

Siswa 27 24 54

Siswa 28 22 44

Siswa 29 26 56

Siswa 31 12 70

Siswa 32 38 50

Data pre-test dan pos-test diuji dengan program SPSS dengan analisisPaired Sample Testuntuk kelompok dependen atau satu kelompok yang dites dua kali. Hasil SPSS data pre-test dan post-test siswa kelas X.1 adalah sebagai berikut

Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviation Std. Error Mean

Pair 1 Pretest 26.76 29 7.698 1.430

(73)

Paired Samples Correlations

N Correlation Sig.

Pair 1 pretest & posttest 29 .451 .014

Paired Samples Test

Posttest -27.793 15.587 2.894 -33.722 -21.864 -9.602 28 .000

Hasil output SPSS dapat dilihat bahwa: T = -9.602, p = 0.000, dengan level signifikanα = 0.05, mean pre-test =26.76, mean post-test= 54.55.

Oleh karena p = 0.000 < α = 0.05 maka hasil signifikan. Berarti kedua kelompok yaitu pre-test dan post-test ada perbedaan. Karena X > X (mean post-test > mean pre-test), maka post-test lebih baik dari pre-test.

2. Minat Belajar Siswa

a. Data Kuesioner Minat Belajar Sebelum dan Sesudah Treatmen

(74)

Hasil kuesioner minat belajar siswa kelas X.1 dalam bentuk skor dapat dilihat pada lampiran 11 dan lampiran 12.

b. Analisis Data

Berdasar data minat sebelum dan sesudah treatmen, minat belajar siswa kelas X.1 dapat dikategorikan seperti tabel 9 di bawah ini.

Tabel 9. Prosentase Kategori Minat Belajar Siswa Kelas X.1

Skor Kategori Minat Sebelum (%) Sesudah (%)

34-41 Sangat tinggi/ sangat baik 10 10

26-33 Tinggi/ baik 76 73

18-25 Rendah/ kurang 14 17

10-17 Sangat rendah/ sangat kurang 0 0

Hasil dari kategori minat belajar siswa kelas X.1 sebelum peneliti memberikan treatmen minat belajar siswa tinggi dan sangat tinggi sebesar 86% dan yang rendah sebesar 14%, lalu untuk minat siswa setelah peneliti memberikan treatmen berubah yaitu minat yang tinggi dan sangat tinggi sebesar 83% dan yang rendah 17%. Jadi ada penurunan minat belajar siswa kelas X.1 yang tinggi menjadi rendah terhadap mata pelajaran fisika sebesar 3 %.

(75)

Tabel 10. Analisis Test-T Kelompok Dependen (Minat Belajar) Kode Siswa Sebelum Treatmen Sesudah Treatmen

Siswa 1 27 26

(76)

Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviation Std. Error Mean

Pair 1 Sebelum 29.28 29 3.206 .595

Sesudah 28.41 29 3.279 .609

Paired Samples Correlations

N Correlation Sig.

Pair 1 Sebelum & Sesudah 29 .757 .000

Paired Samples Test

Sesudah .862 2.263 .420 .001 1.723 2.051 28 .050

HasiloutputSPSS dapat dilihat bahwa: T = 2.051, p = 0.050, dengan level signifikan α = 0.05, mean minat belajar sebelum treatmen = 29.28, mean minat belajar sesudah treatmen = 28.41.

Oleh karena p = 0.050 = α = 0.05 maka hasil signifikan. Berarti kedua kelompok yaitu minat belajar sebelum treatmen dan minat belajar sesudah treatmen ada perbedaan. Karena X < X (mean minat belajar sesudah treatmen < mean minat belajar sebelum treatmen), maka minat belajar sebelum treatmen lebih baik dari minat belajar sesudah treatmen.

(77)

minat belajar siswa turun. Namun setelah dianalisa, pertanyaan dari kuesioner tersebut masih terlalu umum untuk mengetahui minat belajar siswa terhadap penerapan metode eksperimen. Pertanyaan yang benar-benar menyangkut praktikum yaitu adalah pertanyaan nomor 7. Maka untuk mengetahui adanya peningkatan minat belajar siswa terhadap metode eksperimen maka data skor dari pertanyaan soal kuesioner minat belajar nomor 7 baik sebelum treatmen dan sesudah treatmen dianalisis dengan statistikTest-tuntuk kelompok dependen atau satu kelompok yang dites dua kali.

Analisis data skor dari pertanyaan soal kuesioner minat belajar nomor 7 ditunjukkan pada tabel 11 di bawah ini.

Tabel 11. Distribusi Skor Dari Pertanyaan Kuesioner Minat Belajar No. 7

(78)

Siswa 16 4 4

Data skor pertanyaan nomor 7 minat sebelum dan sesudah treatmen diuji dengan program SPSS dengan analisis Paired Sample Test untuk kelompok dependen atau satu kelompok yang dites dua kali. Hasil SPSS data minat belajar siswa untuk soal pertanyaan nomor 7 adalah sebagai berikut:

Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviation Std. Error Mean

Pair 1 Sebelum 3.38 29 .622 .115

Sesudah 4.79 29 7.370 1.369

Paired Samples Correlations

N Correlation Sig.

(79)

Paired Samples Test

1.414 7.253 1.347 -4.173 1.345

-Oleh karena p = 0.303 >α= 0.05 maka hasil tidak signifikan. Berarti kedua kelompok yaitu minat belajar sebelum treatmen dan minat belajar sesudah treatmen tidak ada perbedaan, meskipun X = 4.79 > X = 3.38 (mean dari skor nomor 7 minat belajar sesudah treatmen > mean minat belajar sebelum treatmen).

Hasil analisa untuk poin nomor 7 yaitu mengenai minat belajar terhadap metode eksperimen sebelum dan sesudah treatmen adalah sama.

Kemungkinan minat menjadi turun disebabkan oleh:

1) Pertanyaan minat dalam kuesioner kurang baik karena masih terlalu umum untuk mengetahui minat belajar siswa yang berkaitan dengan penerapan metode eksperimen

(80)

3. Nilai Karakter Siswa a. Data

Untuk mengetahui sumbangan nilai karakter metode eksperimen, peneliti menggunakan kuesioner nilai karakter. Jumlah sampel yang diteliti untuk nilai karakter yaitu 27 siswa siswa kelas X.1. Hasil kuesioner nilai karakter siswa kelas X.1 dalam bentuk skor dapat dilihat pada lampiran 13.

b. Analisis data

Berdasar hasil kuesioner nilai karakter siswa kelas X.1, dapat dikategorikan nilai karakter seperti tabel 10 di bawah ini.

Tabel 12. Prosentase Kategori Nilai Karakter Siswa Kelas X.1 No Skor Kategori Nilai Karakter Jumlah Siswa Prosentase (%)

1. 51-62 Sangat tinggi/ sangat baik 9 33%

2. 39-50 Tinggi/ baik 17 63%

3. 27-38 Rendah/ kurang 1 4%

4. 15-26 Sangat rendah/ sangat kurang 0 0%

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa melalui penerapan metode eksperimen dalam pelajaran fisika sebanyak 96% siswa kelas X.1 memiliki karakter yang baik dan sangat baik, lalu 4% siswa memiliki karakter yang kurang baik.

(81)

Tabel 13. Frekuensi Setiap Nilai Karakter paling besar disumbangkan melalui penerapan metode eksperimen yaitu nilai kerjasama. Nilai kerjasama memiliki skor paling tinggi yaitu 270, nilai tanggungjawab sebesar 250, nilai disiplin 261, nilai kejujuran sebesar 258, nilai rasa ingin tahu sebesar 244.

C. Pembahasan

1. Pemahaman Konsep

(82)

sebelumnya pernah menggunakan laboratorium fisika yaitu pada materi optika, dan belum pernah eksperimen menggunakan alat ukur listrik.

Siswa belum mengenal, memahami, dan cara memakai alat ukur listrik yang digunakan untuk metode eksperimen dalam penelitian ini, yaitu basicmeter. Setelah melakukan eksperimen dengan menggunakan alat ukur

listrik di laboratorium, siswa menjadi mengenal dan juga bisa menggunakan basicmeter baik sebagai alat ukur arus listrik maupun sebagai alat ukur tegangan listrik. Contoh data hasilpre-tesdanpost-testyaitu pada lampiran 14 dan lampiran 15.

Jadi, metode eksperimen sungguh membantu meningkatkan pemahaman siswa pada konsep alat ukur listrik pada siswa SMA Negeri Jumapolo kelas X.1. Hal ini didukung dengan hasil analisis data pre-test dan post-test yaitu adanya perbedaan antara pre-test dan post-test dan hasil dari post-test lebih baik daripre-test.

2. Minat Belajar

(83)

Berdasar analisis data minat belajar siswa kelas X.1 secara umum untuk minat belajar memang turun, akan tetapi untuk minat belajar terhadap metode eksperimen adalah sama.

3. Nilai Karakter

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penerapan metode eksperimen menyumbangkan nilai karakter bagi siswa SMA Negeri Jumapolo. Nilai karakter yang dibentuk berdasar urutan paling tinggi yaitu nilai kerjasama, nilai tanggungjawab, nilai disiplin, nilai kejujuran, dan nilai rasa ingin tahu.

D. Keterbatasan Penelitian

1. Tidak ada instrumen pengamatan atau observasi, padahal apabila ingin mengetahui minat dan nilai karakter semakin baik jika mengamati secara langsung.

Gambar

Grafik 1 Hubungan Antara Kuat Arus dengan Beda Potensial........................... 26
Grafik 1 Hubungan Antara Kuat Arus dengan Beda Potensial 26. View in document p.17
Gambar 1. Sembilan Pilar Karakter (Adisusilo 2012:80)
Gambar 1 Sembilan Pilar Karakter Adisusilo 2012 80 . View in document p.33
Gambar 2. Rangkaian Terbuka (Nurachmandani, 2009)
Gambar 2 Rangkaian Terbuka Nurachmandani 2009 . View in document p.36
Gambar 3. Rangkaian Tertutup (Nurachmandani, 2009)
Gambar 3 Rangkaian Tertutup Nurachmandani 2009 . View in document p.37
Gambar 4. Amperemeter
Gambar 4 Amperemeter. View in document p.38
gambar 7, terdapat 9 terminal, 4 terminal merah di kiri untuk arus dan 4
gambar 7, terdapat 9 terminal, 4 terminal merah di kiri untuk arus dan 4. View in document p.39
Gambar 7. Basicmeter
Gambar 7 Basicmeter. View in document p.40
Gambar 10. Pengukuran Tegangan Pada Suatu Rangkaian Listrik
Gambar 10 Pengukuran Tegangan Pada Suatu Rangkaian Listrik. View in document p.43
Grafik 1. H. Hubungan Antara Kuat Arus dengan Beda Pote
Grafik 1 H Hubungan Antara Kuat Arus dengan Beda Pote. View in document p.44
Tabel 1. Kisi-kisi Soal Pre-Test dan Post-Test
Tabel 1 Kisi kisi Soal Pre Test dan Post Test. View in document p.49
Tabel 2. Kisi-kisi Kuesioner Minat Belajar Fisika
Tabel 2 Kisi kisi Kuesioner Minat Belajar Fisika. View in document p.51
Tabel 7. Proses Pelaksanaan Penelitian
Tabel 7 Proses Pelaksanaan Penelitian. View in document p.63
Gambar 13. Si. Siswa Kelas X.1 Mengerjakan Kuesioner Mina
Gambar 13 Si Siswa Kelas X 1 Mengerjakan Kuesioner Mina. View in document p.65
Gambar 15. S15. Siswa Melakukan Eksperimen Rangkaian Te
Gambar 15 S15 Siswa Melakukan Eksperimen Rangkaian Te. View in document p.67
Gambar 16. Siswaswa Melakukan Pengukuran Kuat Arus Listrik Me
Gambar 16 Siswaswa Melakukan Pengukuran Kuat Arus Listrik Me. View in document p.68
Gambar 17. Siswaswa Membaca Skala yang Ditunjukkan oleh
Gambar 17 Siswaswa Membaca Skala yang Ditunjukkan oleh. View in document p.69
Gambar 18. S. Siswa Membaca Skala yang Terbaca dari
Gambar 18 S Siswa Membaca Skala yang Terbaca dari. View in document p.70
Tabel 8. Analisis Test-T Kelompok Dependen (pretest dan posttest)
Tabel 8 Analisis Test T Kelompok Dependen pretest dan posttest . View in document p.71
Tabel 9. Prosentase Kategori Minat Belajar Siswa Kelas X.1
Tabel 9 Prosentase Kategori Minat Belajar Siswa Kelas X 1. View in document p.74
Tabel 10. Analisis Test-T Kelompok Dependen (Minat Belajar)
Tabel 10 Analisis Test T Kelompok Dependen Minat Belajar . View in document p.75
Tabel 11. Distribusi  Skor Dari Pertanyaan Kuesioner Minat Belajar No. 7
Tabel 11 Distribusi Skor Dari Pertanyaan Kuesioner Minat Belajar No 7. View in document p.77
Tabel 12. Prosentase Kategori Nilai Karakter Siswa Kelas X.1
Tabel 12 Prosentase Kategori Nilai Karakter Siswa Kelas X 1. View in document p.80
Tabel 13. Frekuensi Setiap Nilai Karakter
Tabel 13 Frekuensi Setiap Nilai Karakter. View in document p.81
Gambar 1. Rangkaian Terbuka
Gambar 1 Rangkaian Terbuka. View in document p.98
Gambar 3. Amperemeter
Gambar 3 Amperemeter. View in document p.99
Gambar 6. Basicmeter
Gambar 6 Basicmeter. View in document p.100
Gambar 7. Mengamati skala terkecil Basicmeter
Gambar 7 Mengamati skala terkecil Basicmeter. View in document p.101
Gambar 9 Pengukuran tegangan pada suatu rangkaian listrik
Gambar 9 Pengukuran tegangan pada suatu rangkaian listrik. View in document p.103
Grafik hubunk hubungan antara kuat arus dengan beda potensial
Grafik hubunk hubungan antara kuat arus dengan beda potensial. View in document p.104
Gambar 1. Basicmeter
Gambar 1 Basicmeter. View in document p.107

Referensi

Memperbarui...

Download now (134 pages)