MAKNA HIDUP ANAK JALANAN DI YOGYAKARTA Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Gratis

1
2
112
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MAKNA HIDUP ANAK JALANAN DI YOGYAKARTA Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh : Angela Dewa Nindra NIM : 089114087 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh. - Confusius Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah. - Thomas Alva Edison iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN Kupersembahkan karya sederhana ini untuk:  Tuhan Yesus, sahabat terbaik yang menyertaiku lewat cara-Nya yang misterius.  Bunda Maria, bunda terbaik yang selalu melindungi dan menyertai dikala mulai menyerah.  Mama Papa yang selalu menyemangatiku untuk segera menyelesaikan skripsi ini.  Adikku. I don’t know what must i say, i think nothing to say. But, u’re the only one who i have. Being better bro, i love you.  Keluarga besar tanpa terkecuali. Terimakasih atas support dan doanya.  Amarudin Subekti yang selalu memberiku semangat, mengingatkanku saat aku lelah dengan skripsi ini, dan selalu menemaniku untuk menyelesaikannya. Terimakasih karena kalian semua sudah memberiku semangat, mengingatkanku, dan mendoakanku. Love you all. v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 1 9 Agustus 2014 Penulis eto Angela Dewa Nindra VI

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MAKNA HIDUP ANAK JALANAN DI YOGYAKARTA Angela Dewa Nindra ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna hidup anak jalanan di Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah studi fenomenologi yang menggambarkan makna hidup anak jalanan dari pengalaman yang mereka jalani. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 3 orang. Prosedur pengambilan subjek dalam penelitian ini berdasarkan teori atau berdasarkan konstruk operasional. Subjek dipilih dengan kriteria tertentu, yaitu anak jalanan yang berusia 13-18 tahun, bekerja di jalanan minimal 1 tahun dan berdomisili di Yogyakarta. Secara umum, hasil penelitian ini adalah ketiga subjek telah menemukan dan memenuhi makna hidupnya dalam suatu penderitaan. Selain itu, mereka mampu memaknai kehidupannya secara baik karena menerima keadaan mereka sebagai anak jalanan dan dapat merasakan kebahagiaan selama menjadi anak jalanan. Kata kunci : makna hidup, anak jalanan vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MAKNA HIDUP ANAK JALANAN DI YOGYAKARTA Angela Dewa Nindra ABSTRACT This study aimed to describe the meaning of life street children in Yogyakarta. This research is a phenomenological study that illustrates the meaning of life of street children who experience them live. Subjects in this study consists of 3 people. Making procedures subjects in this study is based on a theory or based on the operational construct. Subjects chosen by certain criteria, namely street children aged 13-18 years, working on the streets at least 1 year and live in Yogyakarta. In general, the results of this study were three subjects have found the meaning of life and meet in an agony. In addition, they are able to make sense of life as well as accept their circumstances as street children and can feel happiness for becoming street children. Keywords: meaning of life, street children viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPERLUAN AKADEMIS Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Angela Dewa Nindra NIM :0891 14087 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul : MAKNA HIDUP ANAK JALANAN DI YOGYAKARTA beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian, saya memberikan hak kepada ' Perpustakaan Universitas Sanata Dharma untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selamatetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pemyataan yang saya buat dengan sebeirarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 19 Agustus 2014 ' Yang menyatakan, Angela DewaNindra tx

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan di surga atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik. Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan orang lain. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang selalu menyertai 2. Bapak Dr. Tarsisius Priyo Widiyanto M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 3. Ibu Ratri Sunar Astuti, M.Si selaku Kaprodi Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta 4. Bapak Prof. Dr. Augustinus Supratiknya selaku dosen pembimbing skripsi. Terima kasih atas semua masukan dan saran serta kritik kepada saya sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. 5. Ibu Agnes Indar Etikawati M.Si., Psikolog selaku dosen Pembimbing Akademik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. 6. Segenap staff pendidik dan pengajar Fakultas Psikologi Sanata Dharma Yogyakarta, atas pengetahuan dan pengalaman yang dibagikan kepada penulis. 7. Mas Gandung, Mba Nanik, Pak Gik, Mas Doni dan Mas Muji. Terima kasih karena selalu melayani kami – kami semua dengan baik. 8. Teman-teman Psikologi USD. Rosa, Novi, Irin, Budi, Itin, Mbak Fitri, Ce Lia, Ce Manda, Oshin, Hesti, Anggit, dll yang tidak bisa disebutkan semua. Terima kasih sudah memberiku semua tawa dan bahagia. Semua kenangan tidak akan dilupakan. Someday we wil meet again dengan STATUS yang berbeda. 9. Kak Arif, finally skripsiku selesai kak. Terima kasih udah jadi saingan untuk nyelesein skripsi ini. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10. Teman-teman pembina pramuka Sleman. Mbak tutik, mbak Dewi, den baguse Pinpin dll yang tidak bisa disebutkan semua. Terima kasih karena sudah mendorong dan menemani disaat bahagia dan sedih. 1 l. Keluarga baru di desa Kregan Wukirsari Cangkringan. Terimakasih karena kalian sudah memberi dukungan untuk menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis menerima saran dan kitik dari pembaca untuk memperbaiki skripsi ini. Yogyakarta, l9 Agustus 2AV Penulis Angela Dewa Nindra xl

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................... ii HALAMAN PENGSESAHAN ............................................................... iii HALAMAN MOTTO ............................................................................. iv HALAMAN PERSEMBAHAN .............................................................. v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................... vi ABSTRAK ............................................................................................... vii ABSTRACT .............................................................................................. viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ........ ix KATA PENGANTAR ............................................................................. x DAFTAR ISI ............................................................................................ xii DAFTAR TABEL .................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... xvii BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1 A. Latar Belakang ............................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ....................................................................... 6 C. Tujuan Penelitian ........................................................................ 6 D. Manfaat Penelitian ...................................................................... 6 1. Manfaat Teoritis ..................................................................... 6 2. Manfaat Praktis ....................................................................... 6 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................. 7 A. Makna Hidup .............................................................................. 7 1. Pengertian Makna Hidup ........................................................ 7 2. Logoterapi ............................................................................... 8 a. Kebebasan berkeinginan ..................................................... 8 b. Keinginan hidup bermakna ................................................. 9 c. Makna hidup ........................................................................ 10 3. Komponen Keberhasilan Makna Hidup ................................ 14 4. Penemuan Makna Hidup Melalui Penderitaan ...................... 15 5. Tahap Penemuan Makna ....................................................... 16 B. Anak Jalanan ............................................................................... 17 1. Pengertian Anak Jalanan ....................................................... 17 2. Masalah Anak Jalanan ........................................................... 18 3. Karakteristik Anak Jalanan .................................................... 20 4. Faktor Penyebab Anak Turun ke Jalanan .............................. 23 C. Makna Hidup Anak Jalanan ...................................................... 25 BAB III METODE PENELITIAN ........................................................ 28 A. Jenis Penelitian ........................................................................... 28 B. Fokus Penelitian ......................................................................... 29 C. Subjek Penelitian ........................................................................ 30 1. Kriteria subjek penelitian ....................................................... 30 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Prosedur pengambilan subjek penelitian ............................... 30 D. Metode Pengumpulan Data ....................................................... 31 E. Metode Analisis Data ................................................................. 33 1. Organisasi Data ...................................................................... 34 2. Koding ................................................................................... 34 3. Analisis dan Interpretasi ........................................................ 34 F. Pemeriksaan Keabsahan Data ................................................... 35 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................. 37 A. Proses Penelitian ........................................................................ 37 1. Persiapan Penelitian ............................................................... 37 2. Pelaksanaan Penelitian .......................................................... 38 3. Jadwal Pengambilan Data ...................................................... 38 4. Proses Analisis Data .............................................................. 39 B. Hasil Penelitian ............................................................................ 39 I. Analisis Per subjek ................................................................ 40 1. Subjek 1 ............................................................................ 40 a. Profil subjek ................................................................ 40 b. Hasil wawancara ......................................................... 40 c. Kesimpulan ................................................................. 45 2. Subjek 2 ............................................................................ 46 a. Profil subjek ................................................................ 46 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. Hasil wawancara ......................................................... 46 c. Kesimpulan ................................................................. 50 3. Subjek 3 ............................................................................ 51 a. Profil subjek ................................................................ 51 b. Hasil wawancara ......................................................... 51 c. Kesimpulan ................................................................. 54 II. Analisis Antar Subjek ......................................................... 55 1. Tahap Derita ....................................................................... 55 2. Tahap Penerimaan Diri ...................................................... 55 3. Tahap Penemuan Makna .................................................... 56 4. Tahap Realisasi Makna ...................................................... 57 C. Pembahasan ................................................................................. 58 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 64 A. Kesimpulan ................................................................................. 64 B. Keterbatasan Penelitian ............................................................. 65 C. Saran ........................................................................................... 67 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 69 LAMPIRAN xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Kondisi Permasalahan Anak Jalanan....................................... 19 Tabel 2. Panduan Wawancara................................................................ 32 Tabel 3. Jadwal Pengambilan Data........................................................ 38 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Surat Pernyataan Persetujuan Wawancara Subjek 1 (SS) ............72 Lampiran 2. Koding Subjek 1 (SS).................................................................... 73 Lampiran 3. Surat Keterangan Keabsahan Hasil Wawancara Subjek 1 (SS).....78 Lampiran 4. Surat Pernyataan Persetujuan Wawancara Subjek 2 (GL).............80 Lampiran 5. Koding Subjek 2 (GL)....................................................................81 Lampiran 6. Surat Keterangan Keabsahan Hasil Wawancara Subjek 2 (GL)....86 Lampiran 7. Surat Pernyataan Persetujuan Wawancara Subjek 3 (HR).............88 Lampiran 8. Koding Subjek 3 (HR)................................................................... 89 Lampiran 9. Surat Keterangan Keabsahan Hasil Wawancara Subjek 3 (HR)....94 xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fenomena anak jalanan merupakan pemandangan yang tidak asing lagi di Indonesia. Keberadaan anak jalanan dapat dilihat hampir di setiap persimpangan jalan, pasar, alun-alun kota, stasiun, terminal dan dalam bus-bus kota. Anak jalanan adalah fenomena nyata dalam kehidupan, dimana hal tersebut dianggap menimbulkan permasalahan sosial. Anggapan tersebut muncul karena anak jalanan dianggap sebagai “virus sosial” yang mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar. Hal tersebut disebabkan karena anak jalanan dianggap kurang memahami norma sosial yang berlaku didalam masyarakat. Penampilan anak jalanan yang jorok, ekonomi keluarganya yang miskin, lingkungan pemukimannya di daerah-daerah kumuh atau bahkan sama sekali tidak mempunyai tempat tinggal tetap, perangainya yang sering melakukan kejahatan dan kekhasan lain anak jalanan, menyebabkan pandangan masyarakat terhadapnya sangat rendah. Ironisnya lagi, masyarakat bahkan tidak menganggap anak jalanan sebagai manusia lazimnya. Sebab dalam anggapan masyarakat, anak jalanan adalah anak-anak yang tidak lagi mempunyai masa depan, tidak bisa diharapkan sebagai generasi penerus pembangunan dan tidak mempunyai manfaat bagi masyarakat. Statusnya sebagai anak jalanan, menyebabkan anak-anak itu harus rela dengan berbagai hinaan, cacian, makian, kekejaman, kekerasan dan pandangan-pandangan buruk masyarakat. 1

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Menurut Kepala Dinas Sosial DIY, Sulistyo, pada tahun 2013 jumlah anak jalanan yang berasal dari DIY yang terdata di dinas sosial mencapai 400 anak. Sementara yang berasal dari luar DIY diperkirakan jauh lebih banyak. Hasil observasi yang dilakukan terhadap beberapa anak jalanan di kota Yogyakarta, anak-anak yang sering menghabiskan waktu di jalanan ini, rata-rata adalah anak jalanan yang masih memiliki dan tinggal dengan orang tua mereka. Bahkan, kebanyakan anak jalanan yang berada di kota ini, masih mengenyam bangku pendidikan yang rata-rata duduk di bangku Sekolah Dasar. Jenis pekerjaan yang dilakukan pun bervariasi, seperti pengamen, penyemir sepatu, pemulung, kernet, pencuci kaca mobil, pekerja seks, pengemis, dan sebagainya. Tetapi semuanya adalah pekerjaan informal dengan upah ala kadarnya, bergantung kepada si pemberi/pemakai jasa. Namun sebagian besar pekerjaan mereka adalah pengamen. Kesempatan untuk bermain dan tumbuh kembang sudah mulai hilang. Kondisi seperti itu merupakan akibat dari ketidakberdayaan orang tua untuk melindungi anaknya, sehingga anak-anak dijadikan tumpuan untuk membantu pemenuhan kebutuhan keluarga. Fenomena anak jalanan tersebut merupakan fenomena yang menunjukkan sebuah situasi tidak nyaman, berkekurangan dan terpinggirkan. Anak jalanan tetap saja bertahan dalam kondisi yang cukup memprihatinkan tersebut. Melihat hasil penelitian sebelumnya yang berjudul Aspirasi Hidup Anak Jalanan Semarang (Pratiwi Wijayanti, 2010), anak jalanan seringkali dianggap tidak memiliki pilihan lain selain menjadi anak jalanan, namun dibalik sosok anak jalanan ada harapan dan keinginan untuk bisa menjadi anak normal yang mendapatkan hak-haknya

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 seperti sekolah, bermain dan berkreasi. Selain itu kondisi perekonomian keluarga anak jalanan pada umumnya berada pada taraf kurang mampu yang mendorong anak untuk beraktivitas di jalan. Peneliti menyimpulkan ada sebuah harapan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Aspirasi sesungguhnya didasari oleh kebutuhan dasar manusia untuk berprestasi yaitu kebutuhan untuk mewujudkan keinginan dan berbuat yang lebih baik dari keadaan sekarang. Anak jalanan, yang juga sebagai seorang manusia memiliki kebebasan untuk mengambil sikap terhadap pilihan hidupnya (Koeswara, 1992). Pilihan hidup yang mereka ambil harus menjadi konsekuensi dalam hidupnya untuk bertahan. Bekerja merupakan salah satu cara untuk bertahan hidup. Seorang manusia dalam menjalani hidup memiliki alasan mengapa mereka bertahan, begitu juga dengan anak jalanan. Segala macam anggapan dan gunjingan terhadap keberadaan mereka tidak mengubah atau menghambat sikap mereka terhadap pilihan hidupnya menjadi anak jalanan. Hasrat untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama dan keinginan setiap orang dalam hidupnya, baik itu bermakna bagi diri sendiri dan bagi sesama manusia. Menurut Frankl (dalam Bastaman, 2007) hidup merupakan sebuah tugas. Manusia hidup membawa suatu misi yang diemban. Misi tersebut adalah wujud manusia bertanggung jawab terhadap hidupnya karena dengan bertanggung jawab manusia melakukan tindakan konkrit sebagai jawaban atas misi yang dibawanya. Proses penemuan makna hidup bukanlah merupakan suatu perjalanan yang mudah bagi anak jalanan, perjalanan untuk dapat menemukan apa saja yang dapat diambil dari perjalanan mereka selama ini, serta sikap bagaimana yang diberikan

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 terhadap ketentuan atau nasib yang bisa mereka rubah, yang kesemuanya itu tak lepas dari hal-hal apa saja yang diinginkan selama menjalani kehidupan, serta kendala apa saja yang dihadapi oleh mereka dalam mencapai makna hidup. Bastaman (1996) memaparkan beberapa tahap yang harus dilalui seseorang dalam menemukan dan memenuhi makna hidup dalam suatu penderitaan, yaitu tahap derita, tahap penerimaan diri, tahap penemuan makna hidup, dan tahap realisasi makna. Berdasarkan teori-teori di atas, penulis tertarik untuk mengekplorasi pemaknaan hidup pada anak jalanan yang memang identik dengan penderitaan dalam kehidupannya. Penulis ingin melihat gambaran pemaknaan mereka terhadap hidupnya. Frankl (dalam Schultz, 1991) mengemukakan bahwa makna hidup atau arti hidup merupakan hal yang mendasar. Frankl percaya bahwa arti dapat ditemukan dalam semua situasi, termasuk penderitaan dan kematian. Tanpa arti untuk kehidupan, tidak ada alasan untuk meneruskan hidup. Melihat hasil penelitian sebelumnya yang berjudul Makna Hidup Waria (Sheila Sitarani Safitri, 2008) yang menyimpulkan bahwa ketiga subjeknya sudah dapat menemukan makna hidupnya melalui pemenuhan ketiga nilai dalam Logoterapi yaitu nilai kreatif, nilai pengalaman dan nilai sikap. Dimana nilai kreatif ditunjukkan dengan mencintai pekerjaannya. Nilai pengalaman ditunjukkan dengan percaya akan Tuhan dan agamanya dan nilai sikap ditunjukkan dengan menerima dengan tabah musibah yang dialami. Hal yang sangat kuat terungkap pada ketiga subjek adalah mereka yakin bahwa kewariaannya merupakan kodrat dari Tuhan yang harus diterima, disyukuri dan

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 dijalani. Disini menunjukkan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk menentukan tujuan hidupnya dan memaknai segala pengalaman dan peristiwa dalam hidupnya termasuk penderitaan. Sebuah penderitaan jika dipandang sebagai sesuatu yang penuh makna maka orang-orang yang hidupnya menderita akan mempunyai hidup yang penuh gairah dan mereka berusaha mempertahankan kelangsungannya. Sebuah penderitaan jika tidak dimaknai maka orang-orang miskin itu akan merasakan hidup yang kosong, tanpa tujuan dan maksud. Selain itu, penelitian sejenis mengungkap tentang Makna Hidup Buruh Gendong (Frederik Herwindra, 2010) yang menunjukkan hasil bahwa ketiga subjek telah menemukan makna hidup melalui pemenuhan ketiga nilai Logoterapi Victor Frankl dalam penderitaan. Penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu yang mengungkap tentang pemenuhan ketiga nilai Logoterapi dalam penderitaan yaitu nilai kreatif, nilai bersikap dan nilai pengalaman. Pada penelitian ini peneliti ingin mengungkap tentang makna hidup anak jalanan, dimana dipaparkan beberapa tahap yang harus dilalui anak jalanan dalam menemukan dan memenuhi makna hidupnya dalam suatu penderitaan karena melalui penderitaan diharapkan anak jalanan dapat mengisi dan memperoleh makna hidupnya, karena hidup dapat dipenuhi tidak hanya dengan mencipta dan menikmati tapi juga melalui penderitaan.

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah: Bagaimana gambaran makna hidup anak jalanan di Yogyakarta? C. Tujuan Penelitian Dengan rumusan masalah diatas, maka secara umum tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan makna hidup anak jalanan di Yogyakarta. D. Manfaat Penelitian Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberi manfaat, baik secara teoritis maupun praktis. 1. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan memperkaya teori mengenai Makna Hidup Anak Jalanan Di Yogyakarta. Dengan pengetahuan ini, diharapkan juga dapat meningkatkan segala hal yang berhubungan dengan Makna Hidup Anak Jalanan Di Yogyakarta. 2. Manfaat praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak yang memiliki jiwa sosial dari kalangan pribadi, instansi pemerintah atau swasta atau sebagainya, khususnya berkaitan dengan problematika anak jalanan. 6

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Makna Hidup 1. Pengertian Makna Hidup Teori makna hidup dikemukakan oleh Viktor Frankl dalam wadah ilmu yang bernama Logoterapi (Schultz, 1991). Logoterapi merupakan salah satu cabang dalam Psikologi Eksistensial yang berkonsentrasi mengenai makna dari eksistensi manusia dalam kebutuhannya akan makna, serta teknik-teknik penyembuhan dan mengurangi atau meringankan penderitaan akibat kegagalan dalam menemukan makna hidupnya. Frankl, memahami makna hidup berarti hal-hal yang memberikan arti khusus bagi seseorang yang apabila dipenuhi akan menyebabkan kehidupan dirasakan penting dan berharga, sehingga akan menimbulkan perasaan bahagia dan dapat ditemukan dalam setiap kehidupan. Makna hidup seseorang bermula dari adanya sebuah visi kehidupan, harapan dalam hidup dan adanya alasan mengapa seseorang harus tetap hidup. Frankl (Bastaman, 2007) mengemukakan bahwa makna hidup bersifat unik dan berbeda setiap individu bahkan dalam setiap keadaan. Saat bermakna yang berarti bagi seseorang belum tentu bagi orang lain, tidak dapat diberikan oleh siapapun, melainkan harus dicari dan ditemukan sendiri oleh individu tersebut. Makna hidup melampaui intelektualitas manusia sehingga makna tidak dapat dicapai hanya dengan proses akal atau usaha intelektual. Pencapaian ditunjukkan melalui tindakan komitmen yang berasal dari pusat kepribadian individu dan dilandaskan 7

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 pada keberadaan total individu. Adanya tindakan komitmen individu, dapat menjawab tantangan yang ada sehingga jawaban tersebut memberikan makna pada hidup individu (Schultz, 1991). 2. Logoterapi Logoterapi memiliki tiga landasan filsafat (Bastaman, 2007) yaitu kebebasan berkeinginan (The Freedom of Will), keinginan akan makna (The Will to Meaning) dan makna hidup (The Meaning of Life). Kebebasan berkeinginan mengarah pada kebebasan kita pada sebagai individu untuk memilih reaksi terhadap kondisi yang ada di luar kita. Keinginan akan makna menunjuk bahwa kita memiliki kehendak untuk menjadikan hidup kita bermakna dan menjadi motivasi kita dalam menjalani kehidupan. Semakin kita mampu mengatasi diri kita, semakin kita menjadi manusia seutuhnya. Makna hidup sendiri mengarah pada kualitas penghayatan individu terhadap seberapa besar kita dapat mengembangkan dan mengaktualisasi potensi-potensi serta kapasitas yang dimiliki dan terhadap seberapa jauh kita telah mencapai tujuan-tujuan hidup, dalam rangka memberi makna kepada kehidupan kita. Hanya dalam cara ini kita benar-benar menjadi diri kita (Schultz, 1991). a. Kebebasan berkeinginan (The Freedom of Will) Kebebasan yang dimaksud merupakan kebebasan dalam batas-batas. Menurut Bastaman (2007), manusia tidak mungkin bebas dari kondisi-kondisi biologis, psikologis dan sosial, jadi yang dimaksud bukan bebas dari kondisi-kondisi tersebut. Konsep kebebasan yang dimaksud juga merupakan kebebasan yang bertanggung jawab terhadap pilihannya atas realisasi nilai-nilai dan pemenuhan makna bagi dirinya. Meskipun kita tunduk pada kondisi-kondisi dari luar yang mempengaruhi kita, namun kita tetap bebas

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 memilih reaksi dan sikap kita terhadap kondisi-kondisi ini. Kita tidak dapat mengendalikan kekuatan dan kondisi yang ada di luar diri kita, tetapi kita memiliki kebebasan untuk bersikap terhadap dunia luar dan terhadap diri kita sendiri dalam mengatasi kekuatan luar tersebut. Manusia memiliki kemampuan dan kebebasan untuk mengubah kondisi hidupnya guna meraih kehidupan yang lebih berkualitas. Tentu saja kebebasan yang dimiliki ini harus disertai dengan tanggung jawab yang besar (Bastaman, 2007). Pada saat anak jalanan mendapat tekanan dari masyarakat bukan berarti akhir dari segalanya. Anak jalanan bebas memilih sikap dan reaksi yang dimiliki atas kondisi yang berasal dari luar dirinya. Menjadi anak jalanan bukan suatu keinginan akan tetapi suatu keadaan dan mereka tidak dapat menolak hal tersebut. b. Keinginan akan makna (The Will to Meaning) Setiap individu pasti menginginkan dirinya menjadi individu yang berguna bagi orang lain, dicintai dan mencintai orang lain, bertanggung jawab atas dirinya sendiri, mempunyai cita-cita dan tujuan hidup yang penting dan jelas yang akan diperjuangkan dengan penuh semangat, dan memiliki sebuah tujuan hidup yang menjadi arahan segala kegiatannya. Setiap individu juga pasti tidak akan menginginkan menjadi individu yang tidak berguna, tidak memiliki tujuan dan arah hidup yang jelas, tidak mengetahui apa yang diinginkan dan dilakukannya. Sedikit dari banyaknya keinginan manusia ini menurut Bastaman (2007) menggambarkan hasrat yang paling mendasar dari setiap individu yaitu hasrat atau keinginan untuk hidup bermakna. Bila

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 terpenuhi akan merasa bahagia, kehidupan terasa berguna, berharga dan berarti dan sebaliknya apabila tidak terpenuhi maka akan menyebabkan kehidupan yang dirasa tidak berarti. Hasrat untuk hidup bermakna merupakan motivasi mendasar setiap individu. Hasrat ini juga mendorong individu untuk melakukan berbagai kegiatan, bekerja, berkarya dan berkreativitas. Seorang individu akan menjalani aktivitasnya dengan semangat apabila individu tersebut merasa hidupnya bermakna dan karena individu tersebut memiliki tujuan hidup yang jelas serta alasan mengapa individu tersebut harus tetap bertahan hidup. Meskipun dalam perjalanan kehidupannya individu tersebut mengalami hambatan dan penderitaan, ia akan berusaha menghayati penderitaan tersebut sehingga dapat menemukan hikmah dari penderitaan yang dialaminya. c. Makna hidup (The Meaning of Life) Makna hidup adalah hal-hal yang oleh seseorang dipandang penting, dirasakan berharga dan diyakini sebagai sesuatu yang benar serta dapat dijadikan tujuan hidupnya (Bastaman, 1995) manusia bisa (berpeluang) menemukan makna hidup atau membuat hidupnya bermakna sampai nafasnya yang terakhir. Bila itu berhasil dilakukan dan dipenuhi akan menyebabkan seseorang merasakan kehidupan yang berarti dan akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia. Makna hidup tidak dapat diciptakan oleh orang lain, hanya individu itu sendiri yang dapat menemukan makna hidup untuk dirinya sendiri. Dalam makna hidup juga terkandung tujuan hidup yakni hal-hal yang perlu dicapai

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 dan dipenuhi. Maka dari itu makna dan tujuan hidup merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling berkaitan (Bastaman, 2007). Berdasarkan uraian di atas, peneliti menarik kesimpulan bahwa makna hidup bermula dari adanya sebuah visi kehidupan, harapan dalam hidup dan adanya alasan mengapa seseorang harus tetap hidup. Makna hidup dapat ditemukan dalam keadaan bahagia, tak menyenangkan ataupun dalam penderitaan, karena makna hidup ada dalam kehidupan itu sendiri. Individu bisa menemukan makna dari hidupnya, dengan merealisasikan 3 nilai yang ada (Bastaman, 2007), yaitu : 1) Nilai-nilai kreatif (creative values) Nilai-nilai kreatif yaitu kegiatan berkarya, bekerja, mencipta serta melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab. Menekuni suatu pekerjaan dan meningkatkan keterlibatan pribadi terhadap tugas serta berusaha untuk mengerjakannya dengan sebaik-baiknya merupakan salah satu contoh dari kegiatan berkarya. Melalui karya dan kerja kita dapat menemukan arti hidup dan menghayati kehidupan secara bermakna. Bekerja itu dapat menimbulkan makna dalam hidup, secara nyata dapat kita alami sendiri apabila kita adalah seorang yang telah lama tak berhasil mendapat pekerjaan, kemudian seorang teman menawari suatu pekerjaan. Kalaupun gajinya ternyata tidak terlalu besar, besar kemungkinan kita akan menerima tawaran itu, karena kita akan merasa berarti dengan memiliki pekerjaan daripada tidak memiliki sama sekali. Sehubungan dengan itu perlu dijelaskan pula bahwa pekerjaan hanyalah merupakan sarana yang

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 memberikan kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan makna hidup; makna hidup tidak terletak pada pekerjaan, tetapi lebih bergantung pada pribadi yang bersangkutan, dalam hal ini sikap positif dan mencintai pekerjaan itu serta cara bekerja yang mencerminkan keterlibatan pribadi pada pekerjaannya. Nilai kreatif yang direalisasikan dalam bentuk aktivitas kerja menghasilkan sumbangan bagi masyarakat. Komunitas atau masyarakat pada dasarnya mengantarkan individu pada penemuan makna (Bastaman, 2007). 2) Nilai-nilai pengalaman (experiential values) Yaitu keyakinan dan penghayatan akan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, keindahan, keimanan dan keagamaan, serta cinta kasih. Menghayati dan meyakini suatu nilai dapat menjadikan seseorang berarti hidupnya. Tidak sedikit orang-orang yang merasa menemukan arti hidup dari agama yang diyakininya atau ada orang-orang yang menghabiskan sebagian besar usianya untuk menekuni suatu cabang seni tertentu. Cinta kasih dapat menjadikan pula seseorang menghayati perasaan berarti dalam hidupnya. Dengan mencintai dan merasa dicintai, seseorang akan merasakan hidupnya penuh dengan pengalaman hidup yang membahagiakan. Dalam hal-hal tertentu mencintai seseorang berarti menerima sepenuhnya keadaan orang itu seperti apa adanya serta benar-benar dapat memahami sedalam-dalamnya kepribadian dengan penuh pengertian. Cinta kasih senantiasa menunjukkan kesediaan untuk berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya kepada orang yang dikasihi, serta ingin menampilkan diri sebaik mungkin dihadapannya. Erich Fromm, seorang pakar psikoanalisis modern, menyebutkan empat unsur dari

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 cinta kasih yang murni, yakni perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengertian. Realisasi nilai pengalaman dapat dicapai melalui penerimaan diri yang baik, keyakinan diri, perasaan emosi positif, serta meningkatkan ibadah melalui realisasi nilai-nilai yang berasal dari agama maupun yang berasal dari filsafat hidup yang sekuler (Bastaman, 2007). 3) Nilai-nilai bersikap (attitudinal values) Yaitu menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran dan keberanian segala bentuk penderitaan yang tidak mungkin dielakkan lagi, seperti sakit yang tak dapat disembuhkan, kematian dan menjelang kematian, setelah segala upaya dan ikhtiar dilakukan secara maksimal. Perlu dijelaskan disini dalam hal ini yang diubah bukan keadaannya, melainkan sikap yang diambil dalam menghadapi keadaan itu. Ini berarti apabila menghadapi keadaan yang tak mungkin diubah atau dihindari, sikap yang tepatlah yang masih dapat dikembangkan. Sikap menerima dengan penuh ikhlas dan tabah hal-hal tragis yang tak mungkin dielakkan lagi dapat mengubah pandangan kita dari yang semula diwarnai penderitaan semata-mata menjadi pandangan yang mampu melihat makna dan hikmah dari penderitaan itu. Penderitaan memang dapat memberikan makna dan guna apabila kita dapat mengubah sikap terhadap penderitaan itu menjadi lebih baik lagi. Ini berarti bahwa dalam keadaan bagaimanapun (sakit, nista, dosa, bahkan maut) arti hidup masih tetap dapat ditemukan, asalkan saja dapat mengambil sikap yang dapat mengambil sikap yang tepat dalam menghadapinya. Realisasi tersebut melalui penyikapan terhadap apa yang terjadi seperti ikhlas dan tawakal, perasaan

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 bangga pada diri, optimis, serta dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa. 3. Komponen Keberhasilan Kebermaknaan Hidup Menurut Bastaman, ada 6 (enam) komponen yang menentukan keberhasilan seseorang dalam melakukan perubahan dari penghayatan hidup tak bermakna menjadi hidup bermakna. Keenam komponen tersebut antara lain yaitu: a. Pemahaman diri (self insight), yakni meningkatnya kesadaran atas buruknya kondisi diri pada saat ini dan keinginan kuat untuk melakukan perubahan ke arah kondisi yang lebih baik. Individu memiliki kemampuan untuk mengambil sikap yang tepat terhadap segala peristiwa, baik yang tragis maupun yang sempurna. b. Makna hidup (the meaning of life), yakni nilai-nilai penting dan sangat berarti bagi kehidupan pribadi yang berfungi sebagai tujuan yang harus dipenuhi dan pengarah kegiatan-kegiatannya. c. Pengubahan sikap (changing attitude), yakni pengubahan sikap dari yang semula bersikap negatif dan tidak tepat menjadi mampu bersikap positif dan lebih tepat dalam menghadapi masalah, kondisi hidup dan musibah yang tak terelakkan. Seringkali bukan peristiwanya yang membuat individu merasa sedih dan terluka, namun karena sikap negatif dalam menghadapi peristiwa tersebut. d. Keikatan diri (self commitment), yakni komitmen individu terhadap makna hidup yang ditemukan dan tujuan hidup yang ditetapkan.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Komitmen yang kuat akan membawa individu pada pencapaian makna hidup yang lebih mendalam. e. Kegiatan terarah (directed activities), yakni upaya-upaya yang dilakukan secara sadar dan sengaja berupa pengembangan potensipotensi (bakat, kemampuan dan keterampilan) yang positif serta pemanfaatan relasi antarpribadi untuk menunjang tercapainya makna dan tujuan hidup. f. Dukungan sosial (social support), yakni hadirnya seseorang atau sejumlah orang yang akrab, dapat dipercaya dan selalu bersedia memberi bantuan pada saat-saat diperlukan. 4. Penemuan Makna Hidup Melalui Penderitaan Menurut Frankl dalam buku Djamaludin Ancok (2006), hidup yang bermakna tidak hanya dapat ditemui melalui perbuatan, tetapi juga melalui pengalaman hidup sehari-hari, misalnya melalui pertemuan dengan hal-hal yang indah, dengan kebaikan dan kebenaran, dan yang tak kalah pentingnya adalah melalui pertemuan dengan orang lain, dengan segala keunikannya. Bahkan dalam situasi yang membuat seseorang kehilangan kreativitas dan daya penerimaannya, ia masih dapat menemukan makna hidupnya. Dengan kata lain, ketika seseorang dihadapkan dengan nasib, dengan situasi yang tidak ada harapannya ia masih memiliki kesempatan untuk menemukan makna hidupnya, dan itu adalah makna dari penderitaan. Melalui penderitaan diharapkan manusia dapat mengisi dan memperoleh makna hidupnya, karena hidup dapat dipenuhi tidak hanya dengan mencipta dan menikmati tapi juga melalui penderitaan. Dengan demikian, yang

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 terpenting dalam menghadapi penderitaan yang tidak dapat diubah atau dihindari adalah bagaimana kita memberi makna terhadap penderitaaan, dan hal ini terlihat dari sikap kita dalam menerimanya. Sikap dalam menghadapi penderitaan seperti inilah yang akan membuka gerbang menuju hidup yang lebih bermakna. 5. Tahap-tahap Penemuan Makna Bastaman (1996) memaparkan beberapa tahap yang harus dilalui seseorang dalam menemukan dan memenuhi makna hidupnya dalam suatu penderitaan, yaitu: a. Tahap derita, yaitu pengalaman tragis dan penghayatan hidup tanpa makna. Suatu peristiwa tragis dalam hidup seseorang dapat menimbulkan penghayatan hidup tanpa makna yang ditandai dengan perasaan hampa, gersang, apatis, bosan, dan merasa tidak lagi memiliki tujuan hidup. Kebosanan adalah ketidakmampuan seseorang untuk membangkitkan minat, sedangkan apatis adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengambil prakarsa. b. Tahap penerimaan diri, individu mulai menerima apa yang terjadi pada hidupnya, pemahaman diri, dan terjadinya perubahan sikap. Munculnya kesadaran diri biasanya didorong oleh beraneka ragam sebab. Misalnya, karena perenungan diri, konsultasi dengan para ahli, mendapat pendangan dari seseorang, hasil do’a dan ibadah, belajar dari orang lain, dan lain-lain.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI c. 17 Tahap penemuan makna hidup. Tahap ini ditandai dengan penyadaran individu akan nilai-nilai berharga yang sangat penting dalam hidupnya. Hal-hal yang dianggap berharga dan penting itu mungkin saja berupa nilai- nilai kreatif, nilai-nilai penghayatan, dan nilai-nilai bersikap. d. Tahap realisasi (keikatan diri, kegiatan terarah dan pemenuhan makna hidup). Pada tahap ini, individu akan mengalami semangat dan gairah dalam hidupnya, kemudian secara sadar melakukan keikatan diri (self commitment) untuk melakukan kegiatan nyata yang lebih terarah guna memenuhi makna hidupnya. B. Anak Jalanan 1. Pengertian Anak Jalanan Pengertian anak jalanan telah banyak dikemukakan oleh banyak ahli. Secara khusus, anak jalanan menurut PBB adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya dijalanan untuk bekerja, bermain atau beraktivitas lain. Anak jalanan tinggal di jalanan karena dicampakkan atau tercampakkan dari keluarga yang tidak mampu menanggung beban karena kemiskinan dan kehancuran keluarganya. Umumnya anak jalanan bekerja sebagai pengasong, pemulung, tukang semir, pelacur anak dan pengais sampah. Tidak jarang menghadapi resiko kecelakaan lalu lintas, pemerasan, perkelahian, dan kekerasan lain. Anak jalanan lebih mudah tertular kebiasaan tidak sehat dari kultur jalanan, khususnya seks bebas dan penyalahgunaan obat.

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 Dalam buku “Intervensi Psikososial” (Depsos, 2001:20), anak jalanan adalah anak yang berusia sekitar 5-18 tahun yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya. Dari definisi-definisi yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa “anak jalanan adalah seseorang yang masih belum dewasa (secara fisik dan phsykis) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan uang guna mempertahankan hidupnya yang terkadang mendapat tekanan fisik atau mental dari lingkungannya.” 2. Masalah Anak jalanan Menurut Rochatun dalam skripsinya yang berjudul Eksploitasi Anak Jalanan sebagai Pengemis di Simpang Lima Semarang menunjukkan bahwa masalah anak jalanan adalah merupakan fenomena yang biasa terjadi di kota-kota besar. Untuk bertahan hidup di tengah kehidupan kota yang keras, anak-anak jalanan biasanya melakukan pekerjaan di sektor informal, baik legal maupun ilegal seperti pedagang asongan di kereta api dan bus kota, menjajakan koran, menyemir sepatu, mencari barang bekas atau sampah, mengamen di perempatan lampu merah, tukang lap mobil, dan tidak jarang pula anak-anak yang terlibat pada jenis pekerjaan berbau kriminal seperti mengompas, mencuri, bahkan menjadi bagian dari komplotan perampok. Anak-anak yang hidup di jalan, mereka bukan saja rawan dari ancaman

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 tertabrak kendaraan, tetapi acap kali juga rentan terhadap serangan penyakit akibat cuaca yng tidak bersahabat atau kondisi lingkungan yang buruk seperti tempat pembuangan sampah. Sekitar 90% lebih anak jalanan biasanya sudah lazim terkena penyakit pusing-pusing, batuk, pilek dan sesak nafas. Ironisnya, meskipun sebagian besar anak jalanan acap kali terserang penyakit, tetapi hanya sedikit yang tersentuh pelayanan kesehatan (Suyanto, 2010). Sejumlah studi menemukan, anak-anak jalanan yang kecil biasanya sering dipalak oleh anak yang sudah besar. Selain itu para preman disekitarnya juga tak segan merampas barang dagangan atau meminta uang. Misalnya kalangan anak jalanan yang bekerja sebagai pengemis bis kota mereka biasanya diatur oleh seorang preman di jurusan mana mereka dibolehkan bekerja, dan jurusan mana pula yang tidak dibolehkan. Anak-anak jalanan yang bekerja sebagai pedagang Koran, terkadang juga tidak luput sebagai objek pengompasan preman (Suyanto, 2010). Berikut tabel 1 merangkum permasalahan anak jalanan yang berkaitan dengan aspek dan berbagai macam permasalahan yang dihadapi: Tabel 1 Kondisi Permasalahan Anak Jalanan Aspek Pendidikan Intimidasi Penyalahgunaan aditif dan obat-obatan Kesehatan Tempat tinggal Permasalahan yang dihadapi Sebagian besar tidak berpendidikan atau pendidikannya rendah. Menjadi sasaran tindak kekerasan anak jalanan yang lebih dewasa, kelompok lain, petugas, dan razia zat Ngelem minuman keras, pil dan sejenisnya Rentang penyakit kulit, paru-paru, dan gonorhoe  Tinggal bersama orangtua atau tidak tinggal

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Resiko kerja Hubungan keluarga Kejahatan 3. 20 bersama orangtua.  Umumnya di sembarang tempat atau di tempat kumuh Tertabrak alat-alat transportasi dengan Umumnya renggang bahkan sama sekali tidak terhubung dengan keluarga  Dianggap virus sosial oleh masyarakat  Terlibat kriminal Karakteristik Anak Jalanan Dalam buku "Intervensi Psikososial" (Depsos, 2001: 23-24), indikator anak jalanan adalah : a. Usia dibawah 18 tahun b. Orientasi hubungan dengan keluarganya adalah hubungan yang sekedarnya, tidak ada komunikasi yang rutin diantara mereka; 1) Ada yang sama sekali tidak berhubungan dengan keluarganya. 2) Masih ada hubungan sosial secara teratur minimal dalam arti bertemu sekali setiap hari. 3) Masih ada kontak dengan keluarganya, namun tidak teratur. c. Orientasi waktu Orientasi waktu mereka adalah masa kini dan waktu yang dihabiskan di jalanan lebih dari 4 jam setiap harinya. d. Orientasi tempat tinggal 1) Tinggal bersama orangtuanya. 2) Tinggal dengan teman-teman sekelompoknya. 3) Tidak mempunyai tempat tinggal, tidur disembarang tempat.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI e. 21 Orientasi tempat berkumpul mereka adalah tempat-tempat yang kumuh, kotor, banyak makanan sisa, tempat berkumpulnya orang-orang, misalkan; terminal bus, stasiun, pasar, perempatan jalan atau jalan raya. f. Orientasi aktivitas pekerjaan Kegiatan atau aktivitas yang mereka kerjakan adalah aktivitas yang berorientasi pada kemudahan mendapatkan uang sekedarnya untuk menyambung hidup, seperti menyemir sepatu, mengamen, menjajakan koran, kuli angkut, pemulung dan penjualan jasa. g. Permasalahan yang dihadapi 1) Konflik dengan kelompok lain atau teman dalam kelompok 2) Dikejar-kejar aparat 3) Korban eksploitasi sex 4) Ditolak masyarakat 5) Terlibat kriminal 6) Potensi kecelakaan lalu lintas h. Kebutuhan-kebutuhan anak jalanan 1) Rasa aman 2) Haus kasih sayang 3) Kebutuhan sandang pangan kesehatan Disamping itu, yayasan KKSP juga mengatakan karakteristik atau sifat-sifat yang menonjol dari anak jalanan diantaranya adalah: a. Keliatan kumuh atau kotor, baik kotor tubuh maupun kotor pakaian.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. 22 Memandang orang lain yang tidak hidup di jalanan sebagai orang yang dapat dimintai uang. c. Mandiri artinya anak-anak tidak terlalu menggantungkan hidup terutama dalam hal tempat tidur dan makan. d. Mimik wajah yang selalu memelas, terutama ketika berhubungan dengan orang yang bukan dari jalanan. Anak-anak tidak memiliki rasa takut untuk berinteraksi dan berbicara dengan siapapun selama di jalanan. e. Malas untuk melakukan kegiatan anak "rumahan" misalnya jadwal tidur selalu tidak beraturan, mandi, membersihkan badan, gosok gigi, menyisir rambut, mencuci pakaian dan menyimpan pakaian. Karakteristik Umum Anak Jalanan a. Tidak berpendidikan atau pendidikannya rendah b. Liar c. Kasar d. Pemahaman norma rendah e. Daya konsentrasi rendah f. Tidak memperhatikan kesehatan-kebersihan g. Mudah tersinggung h. Mudah putus asa dan cepat murung Dari uraian karakteristik dan sifat anak jalanan diatas, menunjukkan bahwa arah tujuan mereka tidak jelas yang disebabkan oleh karena tidak jelasnya makna hidup dan tidak jelasnya visi kehidupan bersama. Untuk menghindari terbentuknya masyarakat yang seperti ini diperlukan adanya visi yang baik

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 tentang tujuan hidup. Tujuan hidup ini bisa dicapai bila pendidikan anak bangsa sejak dini menekankan pada makna hidup yang baik. 4. Faktor Penyebab Anak Turun ke Jalanan Rata-rata anak jalanan di lokasi penelitian mengaku pergi ke jalan merupakan keinginan sendiri. Namun motif ini bukanlah semata-mata timbul dari dalam diri mereka melainkan juga didorong oleh faktor lingkungan. Dari hasil penelitian Tauran (2000), penyebab anak jalanan turun ke jalan sebagai berikut: a. Semata-mata menopang kehidupan ekonomi keluarga b. Mencari kompensasi dari kurangnya perhatian keluarga c. Sekedar mencari tambahan uang saku. Penyebab tipe pertama, anak jalanan pergi ke jalan karena kondisi keluarga yang tidak stabil dan mereka diposisikan sebagai tulang punggung keluarga. Umumnya ini terjadi pada anak jalanan dengan keluarga yang mengalami disharmoni dan tidak memiliki sumber-sumber ekonomi yang dapat mendukung. Anak jalanan dengan motif seperti ini umumnya membelanjakan penghasilannya hanya untuk memenuhi kebutuhan primer keluarga. Mereka seringkali diidentikkan sebagai pekerja migran kota yang pulang tidak teratur kepada orang tuanya di kampung. Pada umumnya mereka bekerja dari pagi hingga sore hari seperti menyemir sepatu, pengasong, pengamen, tukang ojek payung, dan kuli panggul. Tempat tinggal mereka di lingkungan kumuh bersama dengan saudara atau teman-teman senasibnya.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 Penyebab tipe kedua, anak pergi ke jalan sebagai kompensasi dari tidak terpenuhinya kesejahteraan anak di rumah. Biasanya anak jalanan pada motif ini berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi yang cukup stabil tetapi terabaikannya fungsi yang seharusnya diperankan oleh orang tua (perhatian, kasih sayang dan bimbingan) mereka kurang mendapat kesejahteraannya, terutama dari aspek emosional secara baik. Pada keluarga yang pecah atau tidak utuh, baik yang disebabkan oleh perceraian atau meninggalnya salah satu atau kedua orang tua akan memberikan akibat bagi anak berupa: a. Kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang dan tuntunan pendidikan orangtua. b. Kebutuhan dan harapan tidak terpenuhi c. Tidak mendapat latihan fisik dan mental Sebagai akibat ketiga bentuk pengabaian tersebut anak dapat menjadi bingung, risau, sedih, atau malu. Bahkan kadang diliputi rasa dendam dan benci sehingga kemudian mereka menjadi liar dan mencari kompensasi di luar lingkungan keluarga. Mereka mulai sering menghilang dari rumah dan lebih suka menggelandang mencari kesenangan hidup imaginer di tempat-tempat lain.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 C. Makna Hidup Anak Jalanan Menjadi anak jalanan yang dipandang buruk oleh masyarakat sekitar maupun masyarakat pada umumnya bukanlah suatu perkara yang mudah. Memerlukan mental yang kuat dan sejalan dengan kepemilikan makna hidup dalam dirinya. Menurut Bastaman (2007), tanpa makna hidup seseorang tidak dapat bertahan dalam kondisi penderitaan, seperti yang dialami kebanyakan anak jalanan. Anak jalanan ketika tidak memiliki makna hidup atau arti dalam kehidupannya, serta tidak memiliki alasan untuk apa dia bertahan hidup akan mengalami konflik intern yang hebat lalu memutuskan untuk mengakhirinya hidupnya. Berbeda dengan anak jalanan yang menjalankan aktivitasnya sebagai anak jalanan karena memiliki alasan untuk bertahan hidup, merasa tidak malu dan mampu untuk menunjukkan dirinya ke masyarakat sehingga dirasa berguna dan diakui. Kehidupan yang didominasi penderitaan membuat seorang anak jalanan tidak mudah dalam menemukan makna hidup dan dapat memberi arti bagi kehidupannya sendiri dan bagi orang lain di sekitarnya. Penderitaan yang dialami anak jalanan dapat membuat seorang anak jalanan menjadi merasakan hidupnya berarti dan dapat menemukan hikmah atas penderitaan yang dialaminya. Menurut Bastaman (1996), ada enam (6) komponen yang menentukan keberhasilan seseorang dalam melakukan perubahan dari penghayatan hidup tak bermakna menjadi hidup bermakna pemahaman diri, makna hidup, pengubahan sikap, keikatan diri, kegiatan terarah dan dukungan sosial. Selanjutnya komponen-komponen tersebut dapat dikategorikan atas empat (4) kelompok tahapan yaitu tahap derita yaitu pengalaman tragis dan penghayatan hidup tanpa

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 makna. Suatu peristiwa tragis dalam kehidupan seseorang dapat menimbulkan penghayatan tanpa makna yang ditandai dengan perasaan hampa, gersang, apatis, bosan dan merasa tidak memiliki tujuan hidup. Selanjutnya tahap penerimaan diri, yang ditandai dengan individu yang mulai menerima apa yang terjadi pada hidupnya, pemahaman diri dan terjadinya perubahan sikap. Lalu tahap yang ketiga yaitu tahap penemuan makna hidup. Pada tahap ini ditandai dengan penyadaran individu akan nilai-nilai berharga yang sangat penting dalam hidupnya yaitu nilai kreatif, nilai pengalaman dan nilai bersikap. Tahap yang terakhir adalah tahap realisasi makna. Dimana pada tahap ini individu akan mengalami semangat dan gairah dalam hidupnya, kemudian secara sadar melakukan keikatan diri untuk melakukan kegiatan nyata yang lebih terarah guna memenuhi makna hidupnya. Anak jalanan yang pada kenyataannya hidup dibawah garis kemiskinan, mengalami dinamika hidup yang penuh tantangan dan penderitaan. Bekerja keras baik dari segi fisik maupun pikiran, demi mencukupi kebutuhan hidup yang semakin hari semakin meningkat. Hidup dalam penderitaanlah yang memunculkan enam komponen yang menentukan berhasilnya seseorang dalam meraih hidup bermakna yang selanjutnya dikategorikan menjadi empat (4) tahap. Ketika anak jalanan mampu melalui tahap-tahap dalam menemukan dan memenuhi makna hidup dalam suatu penderitaan maka individu tersebut hidupnya sudah dapat dikatakan bermakna.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 Gambar 1. Kerangka Konseptual Kondisi permasalahan anak jalanan   Pengalaman tragis Penghayatan tanpa Makna Hidup Tahap Derita  Tahap Penerimaan Diri    Nilai kreatif Nilai pengalaman Nilai bersikap   Menerima apa yang terjadi pada hidupnya. Pemahaman Diri Terjadinya perubahan sikap Tahap Penemuan Makna Tahap Realisasi Makna Keikatan diri (self commitment)

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yaitu penelitian tentang data yang dikumpulkan dan dinyatakan dalam bentuk kata-kata dan gambar, kata-kata disusun dalam kalimat, misalnya kalimat hasil wawancara antara peneliti dan informan. Penelitian kualitatif bertolak dari filsafat konstruktivisme yang berasumsi bahwa kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif dan suatu pertukaran pengalaman sosial yang diinterpretasikan oleh individu-individu. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut perspektif partisipan. Partisipan adalah orang-orang yang diajak berwawancara, diobservasi, diminta memberikan data, pendapat, pemikiran, persepsinya (Poerwandari, 2005). Penelitian yang berjudul “Makna Hidup Anak Jalanan di Yogyakarta” ini bersifat dekriptif karena tujuannya mendeskripsikan gambaran makna hidup anak jalanan di Yogyakarta. Data yang dikumpulkan pada penelitian kualitatif berupa kata-kata ataupun gambar-gambar bukan berupa angka-angka. Data-data tersebut dapat diperoleh melalui wawancara, catatan lapangan, foto, video tape, dokumen pribadi, memo dan dokumen resmi lainnya (Moeloeng, 2009). Penelitian ini menggunakan desain fenomenologi. Karena terkait langsung dengan gejala-gejala yang muncul di sekitar lingkungan manusia terorganisasir dalam satuan pendidikan formal. Tujuan dari fenomenologis adalah hendak 28

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 mengungkapkan secara detail bagaimana partisipan memaknai dunia personal dan sosialnya. Fenomenologi juga berusaha untuk mengeksplorasi pengalaman personal serta menekankan pada persepsi atau pendapat personal seorang individu tentang objek atau peristiwa. Pilihan penelitian ini dinilai tepat untuk memenuhi tujuan peneliti, yaitu mengetahui makna hidup anak jalanan di Yogyakarta karena pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Mereka berusaha masuk ke dalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka di sekitar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari (Moeloeng, 2002). B. Fokus Penelitian Pada penelitian ini yang menjadi fokus adalah bagaimana gambaran makna hidup anak jalanan di Yogyakarta dan bagaimana proses dari penemuan dan pemenuhan makna hidup anak jalanan dilihat berdasarkan tahap-tahap dalam penemuan dan pemenuhan makna hidup. Pembahasan ini diangkat untuk menggali, mengumpulkan dan menganalisis secara menyeluruh dan mendalam tentang respon individu yang hidup di jalanan khususnya di Yogyakarta. Penekanan selanjutnya makna hidup adalah hal-hal khusus yang dirasakan penting dan diyakini sebagai sesuatu yang benar serta layak dijadikan sebagai tujuan hidup yang harus diraih, makna hidup dapat diuraikan sebagai hal-hal apa saja yang diinginkan selama menjalani kehidupan, serta kendala apa yang dirasakan

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 oleh anak jalanan dalam mencapai makna hidup. Hal ini akan menjadi menarik karena makna hidup ini akan diteliti pada kaum mereka, dimana mereka diartikan sebagai seseorang yang memiliki identitas jelek dalam kehidupan lingkungan masyarakat. Dalam penelitian ini istilah anak jalanan difokuskan pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga atau sudah tidak memiliki hubungan dengan keluarga lagi. C. Subjek Penelitian 1. Kriteria Subjek Penelitian Pemilihan subjek penelitian didasarkan pada ciri tertentu. Dalam penelitian ini subjek penelitiannya adalah anak jalanan. Subjek penelitian adalah individu yang berusia 13 hingga 18 tahun, bekerja di jalanan minimal 1 tahun, dan tinggal bersama orang tua atau tidak lagi tinggal bersama orangtua. Dasar peneliti memberi batasan usia pada anak jalanan yaitu pada masa ini remaja berusaha untuk melepaskan diri dari orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya atau pembentukan identitas. 2. Prosedur Pengambilan Subjek Penelitian Prosedur pengambilan subjek dalam penelitian ini adalah pengambilan subjek berdasarkan teori, atau berdasarkan konstruk operasional (theory based atau operational construct sampling). Subjek dipilih dengan kriteria tertentu, berdasarkan teori atau konstruk operasional sesuai studi-studi sebelumnya atau sesuai dengan tujuan penelitian. Hal ini dilakukan agar subjek sungguh-sungguh mewakili (bersifat representatif terhadap) fenomena yang dipelajari atau diteliti

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 (Creswell, 1998). Pengambilan data mengarahkan pemilihan subjek. Sarantakos (1993) menjelaskan pemilihan subjek, pada gilirannya juga mengarahkan peneliti pada data yang makin spesifik dalam menjawab permasalahan penelitian. Pengambilan data akan membantu peneliti menemukan kelompok yang relevan yang memungkinkan diperolehnya penambahan-penambahan data, peneliti yang melakukan pengambilan subjek akan terus menambahkan unit-unit baru dalam subjeknya sampai penelitian tersebut mencapai titik jenuh (saturation point), saat dimana penambahan data dianggap tidak lagi memberikan penambahan informasi baru dalam analisis (Poerwandari, 2005). Adapun kriteria-kriteria yang digunakan peneliti dalam pengambilan subjek adalah sebagai berikut: a. Subjek berusia 13-18 tahun. b. Tinggal bersama orang tua atau tidak lagi tinggal bersama orangtua. c. Pendidikan minimal Sekolah Dasar (SD) d. Tempat tinggal di Yogyakarta e. Minimal telah bekerja di jalan selama 1 tahun D. Metode Pengumpulan Data Wawancara Dalam penelitian ini, peneliti memiliki fokus penelitian sebagai berikut bagaimana gambaran makna hidup anak jalanan di Yogyakarta. Oleh karena itu, metode yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah dengan wawancara. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 (Moleong, 2009). Menurut Banister, dkk (1994 dalam Poerwandari, 2005), wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Peneliti menggunakan metode wawancara mendalam dengan menggunakan teknik semi structured interview. Dalam teknik ini peneliti telah memiliki gambaran mengenai aspek-aspek pengalaman individu yang akan dikaji secara mendalam. Peneliti telah membuat panduan wawancara sebagai acuan. Secara garis besar jalannya wawancara mengikuti pola kerucut, dimana wawancara dimulai dari aspek yang bersifat umum dan diarahkan menjurus ke aspek pengalaman yang bersifat khusus. Sebelum melakukan wawancara peneliti menyusun panduan pertanyaan berdasarkan fokus penelitian. Panduan pertanyaan berjenis pertanyaan yang tidak mengarahkan subjek pada jawaban tertentu. Tabel 2 Panduan wawancara Tema Besar Identitas subjek Riwayat menjadi anak jalanan Pertanyaan Siapa nama anda? Berapa usia anda? Apa pendidikan terakhir anda? Sudah berapa lama anda bekerja di jalanan? Bisakah anda menceritakan latar belakang anda dan keluarga anda? Bagaimana perjalanan awal anda hingga saat ini anda sampai bekerja bahkan tinggal di jalanan? Apa alasan anda menjadi anak jalanan? Mengapa anda sampai saat ini tetap memilih menjadi anak jalanan?

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kondisi Psikologis Makna hidup 33 Bisakah anda menceritakan suka duka menjadi anak jalanan? Bagaimana perasaan anda terhadap kehidupan anda hingga saat ini? Apakah anda mengetahui kelebihan dan kelemahan yang anda miliki? Manakah yang sering anda rasakan dalam kehidupan sehari-hari, senang atau sedih? (penjelasan disertai contoh? Bagaimana pandangan anda terhadap pekerjaan yang anda jalani saat ini? Apa yang anda lakukan agar hidup anda lebih bermakna? Apa yang mendorong anda dapat memaknai hidup ini? Apa yang menghambat anda dalam memaknai hidup? Apa harapan dan cita-cita anda? Bagaimana cara anda mewujudkan harapan dan cita-cita anda? Apakah anda sudah berhasil dalam mewujudkan harapan dan cita-cita anda? Apakah ada kendala atau hambatan dalam mewujudkan cita-cita dan harapan anda? Menurut anda, apa yang paling bernilai dalam hidup anda? Bagaimana tanggapan keluarga, teman dan masyarakat terhadap pekerjaan anda? E. Metode Analisis Data Penelitian kualitatif tidak memiliki rumus atau aturan yang absolut untuk mengolah dan menganalisis data. Dalam analisis data pada penelitian kualitatif, peneliti wajib memonitor dan melaporkan proses dan prosedur analisisnya secara jujur dan lengkap (Patton dalam Poerwandari, 2005).

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Langkah-langkah analisis data dalam penelitian kualitatif sebagai berikut: 1. Organisasi Data Data kualitatif sangat banyak dan beragam, menjadi kewajiban dari seorang peneliti untuk mengorganisasikan data dengan rapi, sistematis, dan lengkap. Menurut Highlen dan Finley (1996 dalam Poerwandari, 2005), organisasi data yang sistematis memungkinkan peneliti untuk memperolah kualitas data yang baik, mendokumentasikan analisis yang dilakukan dan menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian. Pada tahap ini, penelti memindahkan hasil wawancara dari recorder ke dalam bentuk tulisan (verbatim). 2. Koding (memberi kode) Koding dimaksudkan untuk dapat mengorganisasikan dan mensistematis data secara lengkap dan detail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. Oleh karena itu, peneliti dapat menemukan makna dari data yang dikumpulkan (Poerwandari, 2005). Peneliti memberikan kode atau nomor pada jawaban subjek sehingga peneliti dapat mudah melihat jawaban subjek yang sesuai dengan fokus penelitian. 3. Analisis dan Intepretasi Pada tahap ini, peneliti melakukan analisis tematik. Analisis tematik merupakan proses mengkode informasi yang dapat menghasilkan daftar tema, model tema atau indikator kompleks, kualifikasi yang terkait dengan tema atau hal-hal diantara atau gabungan dari yang telah disebutkan (Poerwandari, 2005). Tahap ini dilakukan setelah peneliti melakukan verbatim dan pemberian kode pada hasil wawancara. Dalam menganalisis transkrip, peneliti dapat pula

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 mengikuti langkah-langkah analisis yang disarankan Strauss dan Corbin (1990). Mereka membagi langkah koding dalam 3 bagian, yakni koding terbuka, koding aksial, dan koding selektif. Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa koding terbuka memungkinkan kiita mengidentifikasikan kategori-kategori, properti-properti, dan dimensi-dimensinya. Pada tahap berikutnnya, koding aksial mengorganisasi data dengan cara baru melalui dikembangkannya hubungan-hubungan diantara kategori dengan sub kategori sub kategori dibawahnya. Tahap terakhir adalah koding selektif, melalui mana peneliti menyeleksi kategori yang paling mendasar, secara sistematis menghubungkannya dengan kategori-kategori lain, dan memvalidasi hubungan tersebut. Patton dan Poerwandari (2001) menjelaskan bahwa proses analisis dapat melibatkan konsep-konsep yang muncul dari jawaban-jawaban atau kata-kata responden sendiri (indegenous concept) maupun konsep-konsep yang dikembangkan atau dipilih peneliti untuk menjelaskan yang dianalisis (sensitizing concept). Kata-kata kunci dapat diambil dari istilah yang dipakai oleh responden sendiri, yang oleh peneliti dianggap benar- benar tepat dan dapat mewakili fenomena yang dijelaskan. F. Pemeriksaan Keabsahan Data Yang dimaksud dengan keabsahan data menurut Moleong (2002) yaitu: (1) mendemonstrasikan nilai yang benar; (2) menyediakan dasar agar hal itu dapat diterapkan; dan (3) memperbolehkan keputusan luar yang dapat dibuat tentang

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI konsistensi dari prosedurnya dan kenetralan dari temuan 36 dan keputusan-keputusannya. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan untuk menguji keabsahan data yang diperoleh yaitu dengan menggunakan teknik member check yaitu proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data. Tujuan member check adalah untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan dan dimaksud oleh pemberi data. Data yang disepakati oleh pemberi data menunjukkan data tersebut valid sehingga dapat dipercaya/kredibel (Sugiyono, 2005).

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Proses Penelitian 1. Persiapan Penelitian Sebelum melakukan penelitian terhadap subjek yang akan diwawancarai, peneliti melakukan beberapa persiapan. Penelitian ini menggunakan wawancara untuk mendapatkan data dari narasumber, oleh sebab itu pada tahap pertama peneliti membuat panduan wawancara sesuai dengan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui makna hidup anak jalanan di Yogyakarta. Setelah mengalami beberapa kali revisi tentang panduan wawancara yang diperiksa oleh dosen pembimbing, panduan wawancara siap untuk digunakan. Selama pembuatan panduan wawancara peneliti juga mencari subjek yang sesuai dengan tujuan yang dari penelitian ini yaitu anak jalanan yang berusia 13-18 tahun, bekerja di jalanan minimal 1 tahun dan berdomisili di Yogyakarta. Peneliti sempat mengalami beberapa hambatan di antaranya adalah ada beberapa subjek yang sesuai dengan kriteria penelitian namun mereka tidak bersedia untuk berbagi pengalamannya. Peneliti mencari subjek dengan cara menanyakan kepada teman-teman peneliti tentang subjek yang sesuai dengan kriteria dalam penelitian ini. Akhirnya peneliti berhasil mendapatkan tiga subjek yang sesuai. Setelah mendapatkan kepastian tentang ketersediaan subjek, peneliti menjelaskan kepada subjek bahwa semua data yang bersifat pribadi akan dijamin kerahasiannya. Beberapa persiapan lainnya sebelum melakukan wawancara adalah menghubungi 37

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 subjek dan meminta kesediaannya untuk diwawancarai. Setelah semua subjek menyatakan bersedia lalu peneliti membuat janji dengan subjek untuk melakukan proses wawancara. 2. Pelaksanaan Penelitian Pelaksanaan wawancara dilakukan dalam beberapa pertemuan. Peneliti dan subjek menentukan waktu untuk melakukan wawancara. Sebelum melakukan wawancara, peneliti terlebih dahulu membuat panduan wawancara untuk mempermudah jalannya wawancara. Pada pelaksanaan wawancara, peneliti menggunakan alat rekam untuk merekam sesi wawancara. Sesi wawancara tiap subjek berbeda tergantung respon yang diberikan oleh masing-masing subjek. Tempat dilaksanakannya wawancara untuk ketiga subjek di tempat yang sama karena subjek berada di kota yang sama. 3. Jadwal Pengambilan Data Tabel 3 Jadwal pengambilan data SUBJEK WAKTU TEMPAT SS Minggu, 17 November 2013 Minggu, 26 Januari 2014 Selasa, 28 Januari 2014 Pinggir jalan raya di Yogyakarta Pinggir jalan raya di Yogyakarta Pinggir jalan raya di Yogyakarta GL HR KEGIATAN Wawancara Wawancara Wawancara

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 4. Proses Analisis Data Setelah peneliti mendapatkan data wawancara, peneliti lalu membuat verbatim berdasarkan rekaman percakapan antara peneliti dengan subjek. Semua yang diceritakan oleh subjek ditulis dengan apa adanya dan dimasukkan ke dalam tabel yang telah diberi nomor urut. Kemudian peneliti mulai menganalisis kata per kata yang diucapkan oleh subjek terkait dengan tujuan penelitian. Peneliti membuat kolom yang berisi kutipan wawancara yang berhubungan dengan makna hidup yang dialami subjek. Pada kolom tersebut juga terdapat hasil analisis terhadap kutipan wawancara yang menggambarkan makna hidup subjek. Proses tersebut dilakukan peneliti kepada ketiga subjek berdasarkan verbatim yang telah dibuat. Setelah proses tersebut di atas selesai dilakukan, peneliti lalu membuat ringkasan hasil analisis ketiga subjek tersebut. Ringkasan ini berbentuk tabel yang memuat makna hidup subjek. Cara tersebut dibuat agar peneliti mudah melihat dan membandingkan makna hidup ketiga subjek. B. Hasil Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui makna hidup anak jalanan di Yogyakarta. Makna hidup adalah hal-hal khusus yang dirasakan penting dan diyakini sebagai sesuatu yang benar serta layak dijadikan sebagai tujuan hidup yang harus diraih (Bastaman, 2007). Terkait dengan pokok bahasan di atas, peneliti akan menjabarkan menurut dua bahasan yaitu analisis per subjek dan analisis antar subjek. Analisis per subjek

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 akan melihat makna hidup yang dimiliki oleh masing-masing subjek, sedangkan analisis antar subjek akan melihat makna hidup yang dilmiliki oleh ketiga subjek secara menyeluruh. Berikut deskripsi makna hidup yang dimiliki subjek: I. 1. Subjek 1 (SS) a. Profil Subjek Analisis Per Subjek Subjek pertama (SS) ini adalah seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun. SS lahir pada tanggal 20 Januari 1998 ini memiliki tubuh kurus, kulit sawo matang dan rambut yang dicat merah. Subjek (SS) merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua adik SS masing-masing berumur 7 tahun dan 3 tahun. Ibu SS bekerja sebagai buruh serabutan. Sedangkan ayah SS tidak diketahui keberadaannya. Ayah SS sudah pergi meninggalkan keluarga kurang lebih tiga tahun. Setelah ayah SS pergi, ibu SS lebih banyak menyendiri di kamar dan bersikap murung. Namun lama kelamaan ibu SS mulai bangkit dan melupakan sikap ayahnya yang pergi meninggalkan rumah begitu saja. SS bekerja di jalanan sudah hampir 2 tahun. Walaupun SS jarang pulang ke rumah, hubungan SS dengan ibu dan kedua adiknya cukup dekat. SS tinggal di jalanan namun masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin. b. Hasil Wawancara Pada awal wawancara, subjek terkesan seorang yang tidak kooperatif. Karena subjek lebih senang berbincang dengan teman-temannya. Namun, lama kelamaan,

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 subjek bisa lebih fokus terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. Tahap Derita SS ditinggal ayahnya pergi saat ibu SS hamil. Semenjak ditinggal ayahnya, SS dan adiknya merasa ditelantarkan oleh ibunya. Ibu SS sehari-harinya hanya berdiam diri dan menangis di kamar. SS berjuang sendiri untuk meneruskan hidupnya dan adiknya. Sejak ditinggalkan ayahnya, keadaan ekonomi SS menjadi tidak stabil. Ibunya bekerja serabutan. Tidak jarang ibunya berhutang demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. SS sebagai anak pertama merasa bertanggung jawab membantu ibunya. Sehingga dia menjadi anak jalanan. SS merasa kecewa dengan sikap yang diambil ayahnya. Namun, SS juga merindukan kehadiran ayahnya untuk berkumpul bersama dengan SS dan keluarganya. SS dan ibunya berusaha mencari ayahnya di rumah saudara-saudaranya, namun mereka dimarahi oleh saudara-saudaranya. Situasi tersebut dapat dilihat dari kutipan wawancara berikut: Kalau bapak, aku nggak tau dimana mbak. Soalnya waktu mamak hamil adekku yang ketiga, bapak pergi. Sampai sekarang nggak balik-balik. Padahal adekku sekarang udah umur 3 tahun. (10-14) Terus selama ini kehidupan adek sama keluarga adek gimana? Yah, sebelum bapak pergi, kehidupanku sama keluarga bisa dibilang cukup lha mbak. Yah cukup buat makan, cukup buat sekolah, yah pokoknya cukup mbak. Soalnya bapak kerja jadi supir trek yang biasa bawa pasir dari merapi itu mbak. Tapi setelah bapak pergi, mamak jadi sering murung terus nangis sendiri. Bahkan mamak sering nelantarin aku sama adekku mbak. Nelantarin gimana dek? Yah kayak ngga dikasih makan gitu. Pernah tuh, aku pulang sekolah adekku nangis keras banget. Ceritanya ngadu ke aku kalo dia kelaparan. Yauda aku cuma bisa bikinin dia mie aja. Pernah juga aku sama adek seharian cuma makan semangkok mie untuk berdua. Sedangkan mamak cuma ngurung diri dikamar.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 (20-37) Terus mamak mulai deh jadi buruh cuci buat hidup kami mbak. Yah, aku juga bantu mbak. Dengan jadi pengamen ini. Aku bisa lha bantu sedikit-sedikit untuk bayar utang-utang mamak mbak. (42-46) Kasihan kalau cuma mamak yang kerja sendirian. Aku sebagai anak pertama kan yo harus ikutan kerja. (61-63) Inget bapak? Kangen ya dek sama bapak? Yah, ada kangennya mbak. Tapi yang jelas ki kecewa karo bapak. Kok iso ninggalke ibu. Lha wes lha mbak. Ra sah crito tentang bapak mbak. Males aku. (95-99) Harapan dan cita-cita adek apa? Sebenarnya harapan sih pingin bahagiain mamak sama adek-adek. Terus pingin lanjutin sekolah lagi. Pingin bapak pulang dan kumpul sama keluarga lagi. Cita-cita sebenarnya pingin jadi pemain sepak bola mbak. Kaya Evan Dimas itu... (163-169) Terus masalah bapak, aku nggak tau bapak sekarang dimana. Nggak ada yang tau bapak pergi kemana. Aku udah cari kerumah saudara bapak sama mamak, mereka juga nggak tau. Yang ada aku sama mamak malah dimarah-marahin. Lha dimarahin kenapa dek? Ya dimarahin, katanya dibilang nggak becus urus suami, terus bisanya nyusahin orang lain. Ya gitu lha mbak. (190-199) SS merasa hidupnya tidak berarti dan merasa putus asa dalam mencari pekerjaan lain karena pendidikannya yang rendah. Selain itu, semenjak menjadi anak jalanan banyak hal duka yang SS alami. Situasi tersebut dapat dilihat dalam wawancara sebagai berikut: Ngga pingin cari kerja yang lain? Cari kerja lain? Lulusan SD kaya aku gini bisa kerja apa mbak. (69-71) Lha terus suka dukanya jadi pengamen gini apa dek? Suka duka jadi pengamen mbak? Sebenarnya sih banyak dukanya mbak. Udah panas-panas gini, kadang dapet uangnya cuma dikit. Dah gitu, kadang diceramahin orang mbak. Terus pernah tu di kejar-kejar sama satpol PP po yo mbak jenenge. Lali aku. Njuk, sering ki saingan karo sek liyane. Saingan gimana dek? Yo saingan ngono kuwi mbak. Kan okeh tho sek dadi pengamen. Terus sering juga aku dipandang rendah sama mereka-mereka mbak. Mereka-mereka itu siapa dek? Ya itu yang aku minta-mintain. Yang pake mobil, yang pake motor juga. (72-87)

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Kalo kelemahan sih banyak ya mbak. Lagipula kelemahan dan kelebihan kita itu yang menilai orang lain. Yang jelas aku tu nggak punya banyak kelebihan mbak. Kaya merasa nggak berharga aja buat orang lain. (123-127) Tahap Penerimaan Diri SS sadar bahwa pekerjaan yang dipilihnya memiliki banyak resiko. Salah satunya adalah berpisah dengan ibu dan adik-adiknya. SS juga menyadari bahwa dirinya memiliki banyak kelemahan. Dukungan sosial hanya datang dari ibunya saja. Sedangkan keluarganya dan lingkungan sekitar justru memandang rendah SS. Namun, SS menerima keadaannya sebagai anak jalanan dengan bersikap cuek terhadap pandangan lingkungan sekitarnya. Situasi tersebut dapat dilihat dalam wawancara sebagai berikut: Terus apa kelebihan dan kelemahan yang ada di diri adek? Kelemahan dan kelebihan ya? Kalo kelebihan mungkin ya mbak, karena aku udah bisa bantu mamakku sedikit-sedikit mbak buat urusan rumah lha. Kan jarang tu seumuran aku udah bisa bantu orangtuanya. Mereka bisanya cuma ngabisin uang orangtuanya. Terus kalo kelemahan, semenjak aku kerja di jalanan gini, aku jarang pulang dan ngabisin waktu bareng keluarga mbak. Aku lebih banyak di jalan. Yah, sebenarnya kangen sih mbak bercanda sama adek, ngobrol sama mamak, tapi "kahanan" mau gimana lagi. (108-121) Terus, ada lagi nggak dek? Kalo kelemahan sih banyak ya mbak. Lagipula kelemahan dan kelebihan kita itu yang menilai orang lain. Yang jelas aku tu nggak punya banyak kelebihan mbak. Kaya merasa nggak berharga aja buat orang lain. (122-127) Bagaimana pandangan adek terhadap pekerjaan yang adek jalani saat ini? Sebenarnya pekerjaan ini cukup berat ya mbak. Mana resikonya banyak, dah gitu lingkungannya nggak sehat, dah gitu saingannya banyak, sering dipalakin juga mbak sama preman-preman disini. Tapi ya saat ini cuma ini yang bisa aku jalani mbak. (142-149) Kalau keluarga besar sih, mereka udah cuek mbak. Udah nggak peduli sama keadaan keluargaku. Kalau teman, ya ada sih yang mandang rendah aku sampai

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 nggak mau negur aku kalau ketemu di jalan atau di mana. Tapi ada juga yang masih mau main dan negur aku mbak. Tapi aku lebih banyak temen di jalan ini mbak. Yang sesama anak jalanan gini. Kalau pandangan tetangga ya gitu lha mbak. Mereka nganggap aku kaya orang yang nggak berharga aja. Tapi masih ada kok tetangga yang anggap aku sama kaya mereka. Terus sikap adek terhadap pandangan mereka gimana? Kalo aku sih cuek aja mbak. Toh pekerjaanku juga nggak merugikan mereka kok. Aku juga makan nggak minta dari mereka. (215-231) Tahap Penemuan Makna Hidup SS bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Allah. Bagi SS yang paling berharga adalah keluarga. Menurut SS keluarga yang utuh akan menimbulkan perasaan bahagia dan hidup menjadi lebih nyaman dan tentram. Selain itu, SS juga ingin hidupnya lebih bahagia dari saat ini. SS menerapkan nilai bersikap (attitudinal values) untuk menemukan makna hidupnya yaitu dengan menerima dengan penuh ikhlas dan nilai pengalaman (experiential values) atas rasa syukur terhadap karunia dan nikmat yang terjadi dalam hidupnya saat ini. Situasi tersebut dapat dilihat dalam wawancara sebagai berikut: Yang paling berharga dan bernilai itu keluarga mbak. Ngga ada yang lain. Karena kalau keluarga utuh dan bahagia pastinya hidup kita lebih nyaman dan tentram tho mbak? Walaupun dalam kekurangan juga, yang penting masih ada keluarga yang saling mendukung mbak. (203-208) Apa yang adek lakukan agar hidup adek saat ini lebih bermakna? Yah paling bersyukur mbak. Mensyukuri segala nikmat dan karunia yang diberikan sama Allah (150-153) Apa yang mendorong adek untuk memaknai hidup ini? Yang mendorong aku untuk memaknai hidup ini mbak? Apa ya? Yah paling karena aku ingin lebih bahagia aja mbak. Nggak terlalu mikirin beban yang ada. (154-159)

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Tahap Realisasi Makna SS memiliki harapan untuk membahagiakan ibu dan adik-adiknya. Dia juga ingin menjadi pemain sepak bola seperti Evan Dimas. Dalam mewujudkan harapan tersebut, SS berusaha dan bekerja keras tak lupa SS selalu menyertakan doa setiap dia melangkah. Harapan SS memang belum semua berhasil. Namun SS tetap berusaha untuk mewujudkannya. Situasi tersebut dapat dilihat dalam wawancara sebagai berikut: Harapan dan cita-cita adek apa? Sebenarnya harapan sih pingin bahagiain mamak sama adek-adek. Terus pingin lanjutin sekolah lagi. Pingin bapak pulang dan kumpul sama keluarga lagi. Cita-cita sebenarnya pingin jadi pemain sepak bola mbak. Kaya Evan Dimas itu... Bagaimana cara adek untuk mewujudkan harapan dan cita-cita anda? Ya caranya dengan berusaha dan bekerja keras mbak. Nggak lupa disertai doa dalam setiap langkah. Terus, apa adek sekarang udah berhasil mewujudkan harapan dan cita-cita adek? Belum semua mbak. Ya paling yang gampang-gampang dulu mbak. Kayak yah, bahagiain mamak sama adek-adek. Emang bahagiain gimana dek? Bahagiain mamak sama adek-adek ngga usah mahal-mahal mbak. Cukup kalau aku pulang, aku bawa makanan yang penting cukup untuk mamak sama adekku yang pertama mbak. Kalo adekku yang paling kecil paling aku bawain mainan mbak. Yah pokoknya nggak mahal si. (163-186) c. Kesimpulan Semenjak ditinggal ayahnya pergi, ibu subjek yang saat itu sedang hamil mengurung diri di kamar. Subjek dan adiknya merasa ditelantarkan oleh ibunya dan merasa kecewa terhadap sikap ayahnya. Subjek sebagai anak pertama merasa bertanggung jawab membantu ibunya mencari nafkah. Sehingga subjek memutuskan untuk menjadi anak jalanan (pengamen). Subjek merasa rendah diri untuk mencari pekerjaan lain karena pendidikannya rendah. Menjadi anak jalanan,

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 bagi subjek banyak menimbulkan pengalaman yang tidak menyenangkan. Subjek juga menyadari besarnya resiko yang akan dihadapi ketika memutuskan untuk menjadi anak jalanan. Namun subjek mampu menerima resiko dan pandangan dari orang lain terhadap pekerjaannya tersebut. Saat ini, subjek lebih memilih untuk menerima keadaannya dan bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah Tuhan berikan kepadanya. Subjek memiliki harapan untuk membahagiakan ibu dan adik-adiknya. Selain itu, subjek ingin menjadi pemain sepak bola seperti Evan Dimas idolanya. Untuk mewujudkan harapannya, subjek berusaha dan bekerja bekerja keras. Tak lupa dia selalu menyertakan doa dalam setiap langkahnya. 2. Subjek 2 (GL) a. Profil Subjek Subjek kedua dalam penelitian ini adalah seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dengan inisial GL. GL lahir pada tanggal 13 Februari 1997 ini memiliki tubuh agak gemuk, kulit sawo matang dan berambut ikal panjang. Penampilan GL terlihat kumuh dan kotor. GL adalah anak pertama dari lima bersaudara. GL bekerja di jalanan sudah sekitar tiga tahun. Orangtua GL bekerja sebagai pemulung. GL tinggal bersama orangtuanya, namun terkadang GL memilih tinggal di jalanan ketika merasa lelah. Subjek menghabiskan waktu dengan bekerja di jalanan. b. Hasil Wawancara Wawancara pertama dan kedua berlangsung di tempat yang sama. Yaitu di pinggir jalan raya di Yogyakarta. Suasana di sekitar jalan raya memang tidak

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 kondusif. Namun, subjek dapat menjawab semua pertanyaan yang peneliti ajukan dengan jelas. Subjek kedua termasuk orang yang kaku. Terlihat dari mimik muka subjek ketika diwawancarai. Namun, subjek cukup kooperatif dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Tahap Derita GL lahir dari keluarga yang bisa dibilang kurang berada dalam ekonomi. Orangtua GL bekerja sebagai pemulung. Untuk makan saja, terkadang GL harus mengalah demi adik-adiknya. GL pernah mencoba untuk bekerja di rumah makan, namun pemilik rumah makan menolaknya hanya karena lantaran penampilan GL yang terlihat kumuh dan kotor. Aku kan dari keluarga yang bisa dibilang nggak mampu. Mana adekku banyak. Ya akhirnya aku turun ke jalanan buat kerja. (15-18) Oo gitu mas. Lha bapak sama ibu mas bekerja? Kerja cuma sebagai pemulung gitu mbak. Makanya ekonomi keluarga kami nggak bisa stabil. Bahkan untuk makan saja masih kesusahan. Kadang kami makan sehari sekali. Kadang aku bapak sama ibu ngalah untuk nggak makan dan mentingin adek-adek aja mbak. Yang terpenting adek-adek mbak. (29-37) Terus pernah juga nglamar jadi pelayan, nggak diterima. Malah dipandang rendah sama pemilik rumah makannya. Dipandang rendah gimana mas? Ya dibilang, kamu dandanan kucel gini mau kerja di sini? Yang ada pelanggan saya kabur semua gara-gara liat kamu. (63-70) Tahap Penerimaan Diri GL sadar karena dirinya terlahir dari keluarga yang kurang berada, sehingga dia memutuskan untuk turun ke jalanan menjadi pengamen. Selain menjadi

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 pengamen, GL juga bekerja sebagai pengantar koran. Hal itu ia lakukan demi membantu ekonomi keluarganya. GL menyadari bahwa menjadi anak jalanan membuat generasi muda seperti dirinya menjadi malas. Karena sudah tahu cara mendapatkan uang dengan mudah. GL juga menyadari bahwa dirinya memiliki kelemahan dan kelebihan. Namun menurut GL, lebih banyak kelemahan yang dia miliki. Dalam kehidupan sehari-hari, GL lebih sering merasakan kesedihan namun dia tidak ambil pusing memikirkannya. Dia menikmati hidupnya dengan perasaan senang. Lingkungan sekitar GL banyak yang memandang rendah GL, namun GL tidak mempedulikan pandangan mereka. Karena bagi GL, mereka tidak dirugikan oleh pekerjaan GL. Awalnya ya karena biaya mbak. Aku kan dari keluarga yang bisa dibilang nggak mampu. Mana adekku banyak. Ya akhirnya aku turun ke jalanan buat kerja. (15-18) Ini selain ngamen, aku juga nyambi kok mbak. Jadi tukang antar koran. Lumayan lah mbak. Apa yang bisa menghasilkan uang, aku kerjain. Karena disini aku butuh uang untuk bantu kehidupan keluarga mbak. (77-82) Pandanganku mbak? Jane yo kerjaan kaya gini bikin kita males untuk berusaha mbak. Lha kita udah dimanjain sama mudahnya cari uang dengan cara seperti ini mbak. (148-151) Apa ya mbak? Nek kelebihan, mungkin karena aku ganteng po yo mbak? Hahahahahaha... Aku iso nggitar, kencrungan, terus suaraku yo ora elek-elek amat mbak. Terus, opo neh yo mbak? Welah, malah tanya. Ya mas merasa kelebihan apa aja yang mas punya. Ketoke uwes ngono wae mbak. Nek kelemahan, akeh tenan mbak. Soalnya orang kaya aku gini kan isinya kelemahan semua. Terus, yang sering mas rasakan dalam kehidupan sehari-hari tu apa? Sedih atau senang? Yo akehe ki sedih mbak. Tapi nek dipikir terus marai mumet mbak. Dadi tak gawe seneng wae. (118-133) Kalo tanggapan tetangga sama teman-teman ya gitu lha mbak. Ada yang mandang rendah, ada yang bersikap biasa aja. Tapi kebanyakan ya mandang rendah mbak. Mungkin dipikir mereka, aku kerja di jalanan jadi anak berandalan kali ya. Soalnya

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 pandangan mereka itu lho mbak. Kadang mereka juga kaya curiga sama aku. Tapi dah lha nggak tak pikir kok mbak. Terserah mereka mau berpikiran seperti apa sama aku. Aku nggak ngurusin mereka. Toh aku juga nggak minta makan sama mereka kok mbak. (232-344) Tahap Penemuan Makna Hidup Menurut GL, yang paling berharga dalam hidupnya adalah keluarga. Baginya keluarganya adalah alasan untuk GL bekerja. GL menerapkan nilai kreatif terlebih dahulu yaitu dengan kegiatan berkarya dan melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggung tanggung jawab. Kemudian diikuti dengan penerapan nilai sikap yaitu menerima dengan penuh ketabahan dan kesabaran. Subjek juga menerapkan nilai pengalaman yaitu dengan cara tidak melupakan kewajibannya terhadap Tuhan dengan menjalankan sholat. Walaupun belum bisa menjalankan sepenuhnya, namun GL memiliki kesadaran akan kewajibannya. Paling bernilai ya keluarga mbak. Tanpa keluarga, aku mesti urip karo sopo mbak? Nek ra ono keluarga, mungkin aku ra bakal kerjo koyo ngene mbak. Malah mung tura turu wae. (222-226) Paling ya dengan berkarya dan bekerja secara sungguh-sungguh sih mbak. Yang jelas nggak lupa bersyukur sama ALLAH. (157-160) Ya karena keadaanku ya seperti ini mbak yang mendorong aku untuk dapat memaknai hidup. (182-184) Ya nek sholat kan wajib mbak. Itu cara kita bersyukur. Tapi nek sholat 5 waktu belum bisa mbak. Paling ya kalo dhuhur, maghrib sama kalo hari jumat itu mbak. (174-177) Tahap Realisasi Makna GL memiliki harapan untuk membahagiakan orangtua dan adik-adiknya. Selain itu, GL juga ingin membuatkan warung kecil untuk usaha ibunya. Hal ini ia lakukan, agar ibu GL bisa bekerja di rumah dan menjaga adik-adiknya yang masih

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 membutuhkan perhatian. Dalam mewujudkan harapannya, GL bekerja keras. GL mengerjakan apa saja yang di beri orang lain yang menurutnya halal. Mmmm harapanku si bisa bahagiain bapak ibu sama adek-adek mbak. Terus bisa bikinin ibu usaha di rumah. Biar ibu bisa njaga adek-adek di rumah mbak. (193-196) Ya berusaha dengan bekerja keras mbak. Makanya kerjaan yang dikasih orang dan yang penting halal, aku lakuin mbak. Nggak ketang aku kadang nggak pulang ke rumah karena kerja. Yang penting aku bisa ngumpulin uang untuk bukain usaha buat ibu mbak. (203-209) c. Kesimpulan GL lahir di keluarga yang bisa dibilang memiliki ekonomi yang kurang baik. Untuk makan saja GL dan keluarganya merasa kekurangan. Terkadang GL dan orangtuanya mengalah untuk adik-adiknya. Akhirnya GL memutuskan untuk menjadi anak jalanan. Menurutnya, pekerjaan apa lagi yang bisa ia lakukan selain di jalanan. Karena GL merasa tidak memiliki kemampuan. GL juga menyadari bahwa menjadi anak jalanan hanya membuat generasi muda sepertinya menjadi malas. Karena anak jalanan bisa mendapat uang tanpa harus bekerja keras. Dalam kehidupan sehari-hari, GL sering merasa sedih. Namun, hal itu tidak dia ambil pusing. GL menikmati kehidupan yang dia jalani saat ini. Banyak orang yang memandang rendah pekerjaan GL, namun GL tidak mempedulikannya. Karena menurut GL, pekerjaannya tidak merugikan mereka. Dalam menemukan makna hidup, GL menerapkan nilai kreatif terlebih dahulu yang kemudian disusul nilai bersikap dan nilai penghayatan. GL memiliki harapan untuk membahagiakan orangtua dan adik-adiknya. Untuk mewujudkan harapan tersebut, GL bekerja keras. Terkadang GL juga menerima pekerjaan yang diberikan oleh tetangganya.

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Subjek 3 (HR) a. Profil Subjek 51 Subjek ketiga dalam penelitian ini berinisial HR. HR adalah seorang remaja laki-laki yang berusia 17 tahun memiliki perawakan yang tinggi, kurus, dengan kulit sawo matang dan potongan rambutnya cepak. HR lahir di Sleman pada tanggal 20 Desember 1997. HR adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak pertama HR saat ini bekerja di Kalimantan. Menurut HR, kakaknya sudah lama tidak memberi kabar. Sedangkan kakak kedua HR, sudah meninggal saat bayi. HR saat ini tinggal seorang diri. Kedua orangtua HR sudah meninggal. Di Jogja, HR tidak memiliki saudara lain. Karena kedua orangtua HR bukan orang asli Jogja. b. Hasil Wawancara Pada awal wawancara, subjek menyambut peneliti dengan ramah dan sedikit canda. Sesi wawancara ini, dilaksanakan di pinggir jalan raya di Yogyakarta. Sama seperti pada saat wawancara subjek pertama dan subjek ketiga. Suasana sekitar siang itu cukup ramai. Menurut peneliti, suasana tersebut kurang kondusif. Tapi, subjek ingin wawancara dilakukan di tempat tersebut. Nyatanya, subjek mampu menjawab semua pertanyaan yang diberikan peneliti dengan baik. Tahap Derita HR adalah seorang anak yatim piatu. Dia menjadi anak jalanan karena faktor ekonomi. Saat ini, dia tinggal seorang diri. Kakak pertamanya, merantau di

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Kalimantan sedangkan kakaknya yang kedua, meninggal saat bayi. HR tidak memiliki saudara di Jogja, karena orangtua HR asli Sumatra. Karena faktor ekonomi mbak Iya mbak. Aku ki anak yatim piatu. Nggak punya orangtua. Lha orangtuanya mas kemana? Udah nggak ada mbak. Dah lama kok. (26-27) (31-34) Tinggal sendiri mbak. Lha kakakku yang laki-laki merantau di Kalimantan. Dah lama nggak ada kabar. Yang perempuan, udah meninggal. Waktu bayi le meninggal mbak. (39-42) Nggak ada mbak. Soalnya bapak sama ibu juga bukan orang asli jogja. Bapak sama ibu asli sumatra mbak. (76-78) Tahap Penerimaan Diri Walau tinggal seorang diri, HR terlihat tegar. HR menikmati pekerjaannya menjadi anak jalanan. Karena di jalan, HR memiliki banyak teman yang dia anggap sebagai saudaranya. HR menyadari menjadi anak jalanan lebih banyak duka ketimbang suka. Selain itu, subjek sadar bahwa menjadi anak jalanan hanya akan membuat generasi muda menjadi malas. Dalam kehidupan sehari-harinya, HR merasa sedih karena tinggal seorang diri dan harus menjadi anak jalanan. Namun HR merasa nyaman menjadi anak jalanan ketimbang harus bekerja di toko. HR menyadari kelemahan dan kelebihan yang dia miliki. Lingkungan sekitar memandang rendah HR. Menurut HR, dirinya tidak pantas untuk diajak ngobrol. Namun HR tidak mempedulikan pandangan orang lain terhadap dirinya. Bukan itu maksudnya mbak. Aku ki dah kebal kalo masalah-masalah sedih. (48-50)

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Iya mbak nyaman di jalanan kie. Karna aku nggak ada keluarga mbak, terus di jalanan ini aku ketemu banyak teman jadi aku anggep kaya saudara sendiri mbak. Itu kan ada ibu-ibu juga tho mbak?(sambil menunjuk ke arah seorang ibu yang sedang berjualan di pinggir jalan) Nah itu udah aku anggep kaya ibu aku sendiri mbak. Orangnya baik mbak. Baik sama aku, sama temen-temen yang lain juga. Kadang, kita sering dikasih makan mbak. Ya pokoknya baik lha mbak. Soalnya ibuke ki juga nggak punya anak. (53-63) Apa ya mbak? Emmmm.... Nek sukanya ya tadi yang aku bilang mbak. Karena banyak temen yang udah dianggep kaya saudara sendiri. Terus nemuin sosok pengganti ibu mbak. Nek dukanya ya kadang kepanasan, kehujanan, terus kadang di cemooh ma orang lain. Dikejar satpol PP. Kalo lagi istirahat di depan toko gitu, kadang diusir mbak. (109-116) Ya sedih mbak. Mana ada sih orang yang seneng kalo tinggal sendiri sebatang kara. Dah gitu nyari uangnya cuma di jalan lagi. (127-129) Enggak mbak. Udah betah. Soalnya bebas, ramai, nggak ada yang ngomel-ngomel, terus banyak saudara. (139-141) Hehehe.. Ya sebenarnya nggak baik juga sih mbak jadi pengamen gini. Karna bisa membuat anak muda seperti aku ini males. Yah contohnya aku ini. (182-185) orangnya gampang akrab sama orang lain terus aku ganteng mbak. Terus aku ki yo lumayan pinter lho mbak. Wong waktu lulus SMP tu aku masuk peringkat 5 besar mbak. Berarti kan aku nggak bodo-bodo amat tho mbak. Terus aku juga bisa main gitar mbak. Nek kelemahane ki yo banyak mbak. Aku anak yatim piatu. Nggak punya keluarga lagi. Terus nggak ada kasih sayang yang aku dapet. Terus aku juga jarang sholat. Ya masih banyak lha mbak nek kelemahan ki. Soale ya orang kaya aku kan emang banyak kelemahannya. (145-156) Pandangan mereka ya gitu lha mbak. Kayaknya mereka tu orang paling baik, paling kaya aja. Terus bisa ngliat kita yang kerja di jalanan ni sebagai makhluk yang menjijikan. Yang emang nggak pantes buat diajak ngomong lha disapa aja kayaknya nggak pantes. Itu lingkungan sekitar rumah mas yang bersikap seperti itu? Ya nggak cuma tetanggaku aja mbak. Orang-orang yang aku temui di jalanan juga bersikap kaya gitu. Tapi aku sih cuek aja. Yang penting aku nggak niat ganggu mereka kok. Aku di jalanan kan juga buat cari nafkah untuk diriku sendiri. Untuk kebutuhanku. (242-255) Tahap Penemuan Makna Bagi HR, saat ini yang paling berharga adalah kehidupannya sendiri. HR menerapkan nilai bersikap untuk menemukan makna hidupnya dengan menerima penuh ketabahan dan kesabaran.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Apa ya mbak? Mmmm......... Biar lebih bermakna ya mbak? Ya dinikmati aja mbak. Alias bersyukur aja, karena masih memiliki kehidupan ini. Selain itu sabar mbak dalam menghadapi kehidupan yang keras ini. (193-197) Karena keadaan mbak. Keadaanku kaya gini. Kalo aku nggak sabar, nggak bersyukur, yang ada aku malah gila sendiri mbak. (200-202) Tahap Realisasi Makna HR memiliki harapan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Untuk mewujudkannya, HR berdoa, berusaha dan bekerja keras. Harapanku mbak? Mmm saat ini harapanku cuma pingin nerusin sekolah mbak. Pingin sekolah sampe lulus SMA aja. Yah nggak usah di SMA, SMK juga ngga papa sih mbak. (212-215) Mmmm yaitu mbak dengan berdoa sama berusaha. Sama yang kaya mbak bilang barusan. Yang jelas sekarang ni aku lagi rajin-rajinnya kerja mbak. Biar bisa wujudin harapanku itu. (222-225) c. Kesimpulan HR adalah seorang anak yatim piatu. Saat ini HR tinggal seorang diri. HR memiliki seorang kakak laki-laki. Namun, kakak HR pergi merantau ke Kalimantan dan tidak ada kabar hingga saat ini. HR merasa nyaman ketika harus bekerja di jalanan. Menurut HR, dia menemukan banyak saudara dan menemukan sosok pengganti ibu. Walau lingkungan sekitar memandangnya rendah, HR tidak mempedulikannya. HR memiliki harapan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Untuk mewujudkannya, HR berusaha untuk bekerja keras.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 II. Analisis Antar Subjek Berdasarkan analisis per subjek telah menjelaskan gambaran tahap-tahap penemuan dan pemenuhan makna hidup yang dialami oleh ketiga subjek. Selanjutnya dalam bagian ini, peneliti akan menjelaskan analisis antar subjek terkait dengan gambaran tahap-tahap penemuan dan pemenuhan makna hidup yang dialami oleh ketiga subjek. 1. Tahap Derita Tahap derita yaitu pengalaman tragis dan penghayatan hidup tanpa makna. Suatu peristiwa tragis dalam hidup seseorang dapat menimbulkan penghayatan hidup tanpa makna yang ditandai dengan perasaan hampa, gersang, apatis, dan merasa tidak lagi memiliki tujuan hidup serba bosan dan apatis. Kebosanan adalah ketidakmampuan seseorang untuk membangkitkan minat, sedangkan apatis adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengambil prakarsa. Ketiga subjek melalui tahap ini ditandai dengan perasaan hampa dimana rasa putus asa, rendah diri dan sedih menjadi penyebabnya. Rasa putus asa, rendah diri dan sedih membuat subjek turun ke jalan dan menjadi anak jalanan untuk membantu ekonomi keluarga dan mencukupi kebutuhan dirinya sendiri. 2. Tahap Penerimaan Diri Tahap penerimaan diri, dimana individu mulai menerima apa yang terjadi pada hidupnya, pemahaman diri, dan terjadinya perubahan sikap. Biasanya, munculnya kesadaran ini didorong oleh aneka ragam sebab. Penerimaan diri ketiga subjek didorong oleh alasan yang sama yaitu karena perenungan diri sendiri.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Subjek 1 menyadari bahwa menjadi anak jalanan memiliki banyak resiko. Pada subjek 2 dan 3 mereka menyadari bahwa menjadi anak jalanan hanya akan membuat generasi muda menjadi malas untuk bekerja. Karena sudah mengetahui bagaimana mudahnya mendapatkan uang. Ketiga subjek tidak memiliki dukungan sosial dari lingkungan sekitar. Lingkungan sekitar memandang rendah mereka. Namun mereka tidak mempedulikan pandangan orang lain terhadap pekerjaannya. Karena menurut mereka, pekerjaannya tidak merugikan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, ketiga subjek lebih merasakan perasaan sedih. Subjek 1, merasa sedih karena melihat anak seumurannya bersekolah. Subjek 2, merasa sedih namun tidak diambil pusing untuk memikirkannya. Sedangkan pada subjek 3, merasa sedih karena harus tinggal seorang diri dan menjadi anak jalanan. Ketiga subjek menyadari bahwa dirinya memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. 3. Tahap Penemuan Makna Tahap penemuan makna hidup (penemuan makna hidup dan penentuan tujuan), ditandai dengan penyadaran individu akan nilai-nilai berharga yang sangat penting dalam hidupnya. Hal-hal yang dianggap berharga, dan penting itu mungkin saja berupa nilai-nilai kreatif, nilai-nilai pengalaman, dan nilai-nilai bersikap. Hal yang paling berharga, menurut subjek 1 adalah keluarga. Bagi subjek, keluarga yang utuh akan menimbulkan perasaan bahagia dan hidup menjadi lebih nyaman dan tentram. Pada subjek 2 hal yang paling berharga adalah keluarga. Bagi subjek, keluarga adalah penyemangatnya untuk bekerja lebih giat. Sedangkan pada subjek 3 hal yang paling berharga adalah kehidupannya sendiri.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Karena sudah tidak ada orang lain yang memikirkan kehidupannya. Pada subjek 1 menerapkan nilai bersikap terlebih dahulu yaitu dengan menerima keadaan penuh ikhlas. Kemudian dilanjutkan dengan nilai pengalaman yaitu dengan bersyukur terhadap karunia dan nikmat yang Tuhan berikan. Subjek 2 menerapkan nilai kreatif terlebih dahulu yaitu dengan berkarya dan melaksanakan tugas dan kewajiban dengan sebaik-baiknya yang diikuti dengan penerapan nilai sikap yaitu menerima dengan penuh ketabahan dan sabar. Kemudian di lanjutkan dengan menerapkan nilai pengalaman dengan tidak melupakan kewajiban terhadap Tuhan dengan menjalankan sholat. Sedangkan pada subjek 3 menerapkan nilai sikap yaitu dengan menerima penuh tabah dan sabar. 4. Tahap Realisasi Makna Tahap realisasi (keikatan diri, kegiatan terarah dan pemenuhan makna hidup) dimana individu akan mengalami semangat dan gairah dalam hidupnya, kemudian secara sadar melakukan keikatan diri (self commitment) untuk melakukan berbagai kegiatan nyata yang lebih terarah guna memenuhi makna hidupnya. Ketiga subjek menemukan makna hidupnya yang berawal dari pemahaman diri, yang kemudian membuatnya menyadari makna hidupnya, lalu diwujudkan dalam kegiatan terarah yang mendukung pemenuhan makna hidup, sehingga membawa pengubahan sikapnya menjadi lebih baik. Ketiga subjek menyadari bahwa nilai sikap yang mereka terapkan membawa dampak positif bagi hidupnya sehingga terus mereka terapkan sampai saat ini. Ketiga subjek melakukan kegiatan terarah demi memenuhi makna dan tujuan hidup mereka dengan bekerja keras dan berusaha. Tak lupa mereka juga berdoa.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 C. Pembahasan Makna hidup seseorang bermula dari adanya sebuah visi kehidupan, harapan dalam hidup dan adanya alasan mengapa seseorang harus tetap hidup. Menurut Frankl (Bastaman, 2007) makna hidup dapat ditemukan pada keadaan bahagia, tak menyenangkan ataupun dalam penderitaan, karena makna hidup ada dalam kehidupan itu sendiri. Kondisi apapun dalam diri individu, maka makna hidup ada didalamnya. Dalam Logoterapi di kemukakan tiga cara untuk mencapai kebermaknaan hidup, yaitu yang pertama dengan memberi kepada dunia lewat suatu ciptaan. Yang kedua, dengan sesuatu yang kita ambil dari dunia dalam pengalaman. Yang ketiga, dengan sikap yang kita ambil terhadap penderitaan (Schultz, 2001). Dalam penelitian ini, ketiga subjek menunjukkan usaha dalam pemenuhan ketiga nilai tersebut. Dalam penelitian ini ketiga subjek mengalami banyak tantangan atau masalah, situasi yang tidak menyenangkan dan kondisi yang sulit untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Menjadi anak jalanan adalah suatu bentuk tindakan dari subjek untuk mengatasi kondisi yang sulit tersebut. Sebuah pekerjaan yang bisa dikatakan berat dilakukan mengingat usia mereka yang masih tergolong kecil dimana mereka seharusnya masih menempuh pendidikan dan masih menikmati masa bermainnya bersama dengan teman-teman seusia mereka namun mereka harus mencari nafkah untuk membantu ekonomi keluarga dan mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri. Dalam prosesnya untuk bertahan hidup, semua

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 subjek mengalami pemaknaan dalam hidupnya yang ditunjukkan lewat tahap-tahap pemenuhan makna hidup dalam teori Logoterapi Viktor Frankl. Tahap derita menurut Bastaman (1996) adalah pengalaman tragis dan penghayatan hidup tanpa makna. Suatu peristiwa tragis dalam hidup seseorang dapat menimbulkan penghayatan hidup tanpa makna yang ditandai dengan perasaan hampa, gersang, apatis, bosan, dan merasa tidak lagi memiliki tujuan hidup. Kebosanan adalah ketidakmampuan seseorang untuk membangkitkan minat, sedangkan apatis adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengambil prakarsa. Dalam pemenuhan tahap ini, ketiga subjek melalui tahap ini dengan ditandai perasaan hampa dimana rasa putus asa, rendah diri dan sedih menjadi penyebabnya. Rasa putus asa, rendah diri dan sedih membuat subjek turun ke jalan dan menjadi anak jalanan untuk membantu ekonomi keluarga dan mencukupi kebutuhan dirinya sendiri. Subjek pertama, sejak ditinggal oleh ayahnya dia merasa ibunya menelantarkan dirinya dan adiknya hal tersebut yang membuat dirinya merasa sedih. Selain itu, subjek pertama merasa putus asa dalam mencari pekerjaan yang lebih baik karena pendidikannya yang rendah. Sedangkan pada subjek kedua yang datang dari keluarga yang memiliki ekonomi yang rendah dan ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik dengan mencari pekerjaan lain yaitu melamar menjadi pelayan disebuah rumah makan. Namun pemilik rumah makan menolaknya karena penampilannya yang terlihat kumuh dan kotor. Hal ini yang membuat subjek merasa rendah diri untuk mencari pekerjaan lain. Pada subjek ketiga, tinggal seorang diri di Yogyakarta tanpa sanak saudara membuat dirinya

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 sedih, disamping itu, kemampuan finansial subjek ketiga termasuk rendah. Rasa sedih, putus asa dan rendah diri yang dialami oleh ketiga subjek membuat mereka memutuskan untuk turun ke jalan mencari nafkah demi meningkatkan ekonomi keluarga dan memenuhi kebutuhan diri sendiri. Ketiga subjek berusaha untuk menerima keadaan yang mereka jalani saat ini dengan berbagai macam pemahaman. Hal ini adalah suatu kekhasan dalam penemuan makna hidup anak jalanan terutama dalam tahap penerimaan diri. Menurut Bastaman (1996) tahap penerimaan diri, dimana individu mulai menerima apa yang terjadi pada hidupnya, pemahaman diri, dan terjadinya perubahan sikap. Biasanya, munculnya kesadaran ini didorong oleh aneka ragam sebab. Penerimaan diri ketiga subjek didorong oleh alasan yang sama yaitu karena perenungan diri sendiri. Subjek 1 menyadari bahwa menjadi anak jalanan memiliki banyak resiko. Pada subjek 2 dan 3 mereka menyadari bahwa menjadi anak jalanan hanya akan membuat generasi muda menjadi malas untuk bekerja. Karena sudah mengetahui bagaimana mudahnya mendapatkan uang. Ketiga subjek tidak memiliki dukungan sosial dari lingkungan sekitar. Lingkungan sekitar memandang rendah mereka. Namun mereka tidak mempedulikan pandangan orang lain terhadap pekerjaannya. Karena menurut mereka, pekerjaannya tidak merugikan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, ketiga subjek lebih merasakan perasaan sedih. Subjek 1, merasa sedih karena melihat anak seumurannya bersekolah. Subjek 2, merasa sedih namun tidak diambil pusing untuk memikirkannya. Sedangkan pada subjek 3, merasa sedih karena harus tinggal seorang diri dan menjadi anak jalanan. Ketiga subjek menyadari

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 bahwa dirinya memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing dan menyadari bahwa menjadi anak jalanan dapat sedikit meringankan ekonomi keluarga dan sedikit menghilangkan perasaan sedih yang mereka alami. Ketiga subjek memiliki pemahaman diri yang sama yaitu bekerja di jalanan untuk membantu meningkatkan ekonomi keluarga dan memenuhi kebutuhan hidup. Ketiga subjek pun mulai menemukan makna dan tujuan hidup mereka masing-masing. Menurut Bastaman (1996) tahap penemuan makna hidup ditandai dengan penyadaran individu akan nilai-nilai berharga yang sangat penting dalam hidupnya. Pada subjek pertama dan kedua, keluarga adalah hal yang paling berharga. Bagi mereka, keluarga yang utuh menimbulkan perasaan bahagia dan hidup menjadi lebih nyaman dan tentram. Selain itu, keluarga adalah penyemangat untuk bekerja lebih giat. Sedangkan pada subjek ketiga, hal yang paling berharga adalah kehidupannya sendiri. Menurutnya, tidak ada orang lain yang memikirkan kehidupannya selain dirinya sendiri. Dari hasil penelitian, dapat dilihat masing-masing subjek memiliki hal berbeda yang dianggap berharga, mereka juga memiliki sumber makna hidup yang berbeda. Seperti yang diungkapkan oleh Bastaman, individu bisa menemukan makna hidupnya dengan merealisasikan 3 nilai yang ada. Dimana sumber makna hidup subjek pertama didominasi oleh nilai sikap dan nilai pengalaman. Nilai bersikap ditunjukkan dengan menerima keadaan penuh ikhlas. Kemudian dilanjut dengan nilai pengalaman yaitu dengan bersyukur terhadap karunia dan nikmat yang Tuhan berikan. Sedangkan, subjek kedua didominasi oleh nilai kreatif, nilai sikap dan nilai pengalaman. Subjek 2 menerapkan nilai kreatif terlebih dahulu yaitu dengan

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 berkarya dan melaksanakan tugas dan kewajiban dengan sebaik-baiknya yang diikuti dengan penerapan nilai sikap yaitu menerima dengan penuh ketabahan dan sabar. Kemudian di lanjut dengan menerapkan nilai pengalaman dengan tidak melupakan kewajiban terhadap Tuhan dengan menjalankan sholat. Subjek ketiga, didominasi oleh nilai sikap yang ditunjukkan dengan menerima penuh tabah dan sabar. Penemuan ini semakin memperkuat pendapat yang mengatakan bahwa makna hidup itu bersifat unik dan pribadi artinya apa yang dianggap berarti oleh seseorang belum tentu pula berarti pula bagi orang lain. Adanya tujuan hidup membuat ketiga subjek melakukan kegiatan terarah untuk memenuhi makna hidupnya. Hal ini ditunjukkan dengan usaha yang dilakukan oleh ketiga subjek, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarga. Ketiga subjek bekerja keras demi mencukupi ekonomi keluarga dan kebutuhan hidup diri sendiri. Subjek pertama dan kedua berusaha membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan agar perannya dapat berjalan dengan seimbang untuk memenuhi makna hidup mereka. Hal demikian menjadikan hidup mereka bermakna karena bisa berguna untuk keluarganya yang pada akhirnya mendatangkan kebahagiaan bagi kedua subjek. Sedangkan subjek ketiga, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Dalam hal ini, dapat dilihat bahwa subjek cenderung bertahan dan dapat mengambil hikmah dari situasi dan kondisinya tersebut dengan menerima dan lebih mendekatkan pada Tuhan Yang Maha Esa. Ketidakberdayaan yang dialaminya secara terus menerus tanpa adanya perubahan yang yang pasti membuat subjek pada keadaan yang dihadapinya. Kehidupan yang berat seolah

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 tidak memberikan kesempatan lagi padanya untuk menghindar. Dalam keadaan ini, subjek serta merta menyerahkan dirinya pada keadaan dengan membiarkan saja segala yang menimpanya. Hal ini membuat subjek menjadi bisa menerima keadaan. Dengan mengalami penderitaan tersebut subjek mampu menyikapi segala persoalan dalam hidupnya dengan lebih bijaksana dan membuat harapan subjek dalam hidupnya lebih realistis. Dari semua penderitaan yang dialaminya itu, subjek memiliki pemaknaan dalam hidupnya, bahwa manusia tak akan pernah bahagia jika tidak berpasrah pada Tuhan dan mensyukuri setiap penderitaan yang diberikan-Nya. Dengan berpasrah pada keadaan itu subjek bisa merasakan ketenangan dalam hidupnya. Ketika subjek bisa menyikapi pengalaman penderitaan hidupnya dengan lebih positif maka hal tersebut menjadikan subjek cenderung lebih bahagia dalam menjalani hidupnya.

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan dari penelitian yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ketiga anak jalanan telah menemukan dan memenuhi makna hidupnya dalam penderitaan dengan melalui beberapa tahap seperti yang diungkap oleh Bastaman (1996). Tahap derita, tahap penerimaan diri, tahap penemuan makna dan tahap realisasi makna dipenuhi oleh ketiga subjek dengan caranya masing-masing. Makna hidup tersebutlah yang telah membuat ketiga subjek mampu bertahan sebagai anak jalanan di Yogyakarta di tengah kesulitan-kesulitan dalam mencukupi kebutuhan hidup dan pandangan buruk dari masyarakat sekitar maupun umum. Ketiga subjek mengalami tahap derita yang ditandai dengan perasaan hampa dimana rasa putus asa, rendah diri dan sedih menjadi penyebabnya. Hal tersebut yang membuat mereka memutuskan untuk turun ke jalan. Mereka menerima keadaan yang mereka jalani saat ini dengan berbagai pemahaman. Pada tahap penerimaan diri, ketiga subjek didorong oleh alasan yang sama yaitu karena perenungan diri sendiri. Selain itu, mereka menyadari bahwa masing-masing diantara mereka memiliki kelemahan dan kelebihan. Ketiga subjek menyadari bahwa menjadi anak jalanan dapat sedikit meringankan ekonomi dan sedikit menghilangkan perasaan sedih yang mereka alami. 64

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data dapat dilihat bahwa ketiga subjek telah melalui tahap penemuan makna yang ditandai dengan menemukan makna hidupnya dengan sumber makna hidup yang berbeda. Sumber makna hidup pada subjek pertama didominasi oleh penerapan nilai bersikap dan nilai pengalaman sementara subjek kedua didominasi oleh penerapan nilai kreatif diikuti dengan penerapan nilai sikap yang kemudian dilanjutkan dengan menerapkan nilai pengalaman. Sedangkan pada subjek ketiga menerapkan nilai sikap yaitu dengan menerima penuh tabah dan sabar. Ketiga subjek telah menemukan makna dalam hidupnya. Makna dalam hidup tersebutlah yang membuat ketiga subjek sampai saat ini masih mempertahankan hidup dengan segala macam usaha yang dilakukan ditengah penderitaan yang dialami oleh subjek. Dengan mengalami penderitaan tersebut, subjek mampu menyikapi segala persoalan dalam hidupnya dengan lebih bijaksana dan membuat harapan subjek dalam hidupnya lebih realistis. B. Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan, antara lain: 1. Ruang lingkup penelitian ini sangat terbatas hanya pada makna hidup anak jalanan di Yogyakarta dan dengan jumlah subjek yang relatif sedikit. Sehingga hanya dapat mengungkap makna hidup anak jalanan yang ada di Yogyakarta dan belum tentu sesuai dengan makna hidup anak jalanan di kota lain. Selain itu menyebabkan hasil penelitian nantinya tidak dapat

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 digeneralisasi atau dijadikan sebuah kesimpulan umum untuk permasalahan yang serupa. 2. Ada beberapa pertanyan dalam panduan wawancara yang sulit dijawab oleh subjek sehingga diharapkan pada peneliti selanjutnya untuk membuat panduan wawancara lebih sederhana agar dimengerti oleh subjek. 3. Dalam proses wawancara, terkadang terganggu dengan kondisi sekitar karena proses wawancara berlangsung di pinggir jalan raya kota Yogyakarta sehingga peneliti perlu mengulang dan menjelaskan kembali pertanyaan yang diajukan.

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 C. Saran Berdasarkan penelitian dan hasil penelitian yang dilakukan maka didapatkan beberapa saran yang akan dikemukakan, yaitu: 1. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan memperhatikan pembangunan rapport tidak hanya pada anak, tetapi juga pada orang tua dan lingkungan sosial anak, sehingga diharapkan akan mendapatkan data penelitian yang lebih valid. Selain itu peneliti lain diharapkan menambah a) pengumpulan data dan informasi dari subjek anak jalanan melalui metode lain. b) subjek, karena subjek yang ada dalam penelitian ini terlalu minim, dalam penelitian selanjutnya agar dipertimbangkan jumlah anak jalanan lalu diprosentasekan agar subjek penelitian dapat mewakili komunitas anak jalanan di area penelitian atau seluruhnya. c) pertanyaan yang lebih bersifat naratif karena panduan wawancara dalam penelitian susah untuk dijawab dan dipahami oleh subjek. 2. Bagi subjek penelitian, dalam hal ini adalah anak jalanan khususnya di Yogyakarta, dengan hasil penelitian ini diharapkan agar subjek dapat mempertahankan sisi positifnya dalam menemukan makna hidup. Penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan contoh bahwa kehidupan sebagai anak jalanan lebih ringan jika segala kondisi yang dialami dapat disikapi dengan lebih bijaksana. 3. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi supaya tidak ada lagi hinaan dan pandangan buruk terhadap anak jalanan

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 yang ada di sekitarnya, bahwa anak jalanan memiliki makna dan tujuan dalam hidupnya. 4. Bagi pemerintah kota Yogyakarta, diharapkan dapat memberikan bantuan didalam usaha memberdayakan anak jalanan, baik berupa materil, sarana prasarana, kegiatan-kegiatan, pelatihan-pelatihan yang diperlukan.

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Ancok, D. (2002). Victor E. Frankl: Logoterapi. terapi psikologi melalui pemaknaan eksistensi (Murtadlo, penerj.) Yogyakarta: Kreasi Wacana Bastaman, H.D. (1995). Integrasi psikologi dengan islam menuju psikologi islami. Yogyakarta : Yayasan Insan Khamil & Pustaka Pelajar. Bastaman, H.D. (1996). Meraih hidup bermakna kisah pribadi dengan pengalaman tragis. Jakarta : Paramadina Bastaman, H.D. (2007). Logoterapi: Psikologi untuk menemukan makna hidup dan meraih kehidupan bermakna. Jakarta: Rajawali Press Creswell, J. W. (1998). Qualitative inquiry and research design : Choosing among five tradition. London : Sage Publication. Departemen Sosial. (2001). Intervensi psikososial. kesejahteraan Anak Keluarga dan Lanjut Usia. Jakarta: Direktorat Herwindra, Frederik. (2010). Skripsi. Makna hidup buruh gendong. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Koeswara, E. (1992). Logoterapi. Psikoterapi Viktor Frankl. Yogyakarta: Kanisius. Lubis, N. L & Priyanti, D. (2009). Makna hidup pada penderita kanker leher rahim. Diunduh 21 maret 2013, dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18359/1/mkn-mar200942%20(7).pdf Maryani, Nani. (2012). Proses pencapaian makma hidup perempuan pekerja seks komersial. Semarang: Universitas Katolik Soegijapranata. Moleong, Lexy J. (2002). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Moleong, Lexy J. (2009). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Poerwandari, K. (2005). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Jakarta: LPSP3 Universitas Indonesia. Rochatun, Isti. (2011). Skripsi. Eksploitasi anak jalanan sebagai pengemis di kawasan simpang lima semarang. Semarang: Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang 69

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Scultz, Duane. (1991). Psikologi pertumbuhan, model-model kepribadian sehat (Yustinus, penerj.). Yogyakarta: Kanisius. Sitarani, Sheila. (2008). Skripsi. Makna hidup waria. Yogyakarta: Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma. Sugiyono. (2005). Memahami penelitian kualitatif. Bandung: ALFABET. Surbakti. (1997). Prosiding lokakarya persiapan survei anak rawan; Study rintisan di Kotamadya Bandung. Jakarta: kerjasama BPS dan UNICEF. Suyanto, Bagong. (2010). Masalah sosial anak. Jakarta: Kencana Tauran. (2000). Studi Profil Anak Jalanan Sebagai Upaya Perumusan Model Kebijakan. Jurnal Administrasi Negara volume, 1(1), 88-101. Wijayanti, Pratiwi. (2010). Aspirasi hidup anak jalanan Semarang. Semarang: Universitas Diponegoro.

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SUBJEK I 71

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 Verbatim Adek kerja di jalan udah berapa lama? Udah 2 tahunan Bisa ngga adek ceritain kehidupan keluarga adek? Yah kayak berapa saudara adek, terus orangtua adek kerja dimana, yah pokoknya yang seperti itu lha... Mmm... Gimana ya mbak. Bingung mau cerita darimana. Gini mbak. Aku itu anak pertama dari tiga bersaudara. Adek-adekku masih kecil mba. Terus mamak kerjanya serabutan gitu. Kalau bapak, aku nggak tau dimana mbak. Soalnya waktu mamak hamil adekku yang ketiga, bapak pergi. Sampai sekarang nggak balik-balik. Padahal adekku sekarang udah umur 3 tahun. Berarti bapak adek, udah lama ngga pulang ke rumah? Iya mbak.. Dah lama. Yah ada 3 tahun lebih lha. Hampir kaya bang toyib mbak yang 3 kali lebaran ngga pulang-pulang. Terus selama ini kehidupan adek sama keluarga adek gimana? Yah, sebelum bapak pergi, kehidupanku sama keluarga bisa dibilang cukup lha mbak. Yah cukup buat makan, cukup buat sekolah, yah pokoknya cukup mbak. Soalnya bapak kerja jadi supir trek yang biasa bawa pasir dari merapi itu mbak. Tapi setelah bapak pergi, mamak jadi sering murung terus nangis sendiri. Bahkan mamak sering nelantarin aku sama adekku mbak. Nelantarin gimana dek? Yah kayak ngga dikasih makan gitu. Pernah tuh, aku pulang sekolah adekku nangis keras banget. Ceritanya ngadu ke aku kalo dia kelaparan. Yauda aku cuma bisa bikinin dia mie aja. Pernah juga aku sama adek seharian cuma makan semangkok mie untuk berdua. Sedangkan mamak cuma ngurung diri dikamar. Tapi lama kelamaan banyak tetangga yang ngasih tahu mamak, kalau masih ada aku sama adek yang perlu diurus. Bahkan masih ada dedek dalam perut yang butuh perhatian dan gizi. Mulai dari situ, mamak mulai bangkit lagi mbak. Terus mamak mulai deh jadi buruh cuci buat hidup kami mbak. Yah, aku juga bantu mbak. Dengan jadi pengamen ini. Aku bisa lha bantu sedikit-sedikit untuk bayar utang-utang mamak mbak. Adek bisa jadi pengamen gini tu awalnya gimana? Awalnnya di ajak temen mba buat main di jalan. Tapi aku ngga ngira kalo dia itu ngamen. Nah, aku ngliat dia yang dengan mudahnya dapet uang gitu mbak. Kok jadi pengin nyoba. Ya Koding awal Subjek bekerja di jalan sudah 2 thn. Bapak subjek pergi meninggalkan subjek dan keluarganya. 73 Analisis Latar keluarga belakang Setelah bapak pergi, subjek dan adiknya ditelantarkan oleh ibunya. Subjek menjadi pengamen agar bisa membantu ibunya untuk membayar hutang. Salah satu faktor anak turun ke jalan. Awal mula menjadi pengamen karena diajak teman. Pengaruh teman juga menjadi faktor penyebab anak turun ke jalanan.

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 sampe sekarang ini akhirnya jadi ketagihan. Terus ketagihan sampai sekarang ini? Iya mbak. Alasan kamu jadi pengamen tu kenapa? Alesannya ya karena enak aja mbak. Gampang le cari uang. Cuma modal tangan sama mulut ya kadang "icik-icik" mbak. Selain itu ya buat bantu bayar utangnya mamak mbak. Ya yang jelas buat bantu mamak lha mbak. Kasihan kalau cuma mamak yang kerja sendirian. Aku sebagai anak pertama kan yo harus ikutan kerja. Terus kenapa sampai sekarang tetap jadi pengamen? Ya karena itu mbak, karena sudah merasakan enaknya dapat uang dengan cara yang mudah, jadi keterusan sampe sekarang. Ngga pingin cari kerja yang lain? Cari kerja lain? Lulusan SD kaya aku gini bisa kerja apa mbak. Lha terus suka dukanya jadi pengamen gini apa dek? Suka duka jadi pengamen mbak? Sebenarnya sih banyak dukanya mbak. Udah panas-panas gini, kadang dapet uangnya cuma dikit. Dah gitu, kadang diceramahin orang mbak. Terus pernah tu di kejar-kejar sama satpol PP po yo mbak jenenge. Lali aku. Njuk, sering ki saingan karo sek liyane. Saingan gimana dek? Yo saingan ngono kuwi mbak. Kan okeh tho sek dadi pengamen. Terus sering juga aku dipandang rendah sama mereka-mereka mbak. Mereka-mereka itu siapa dek? Ya itu yang aku minta-mintain. Yang pake mobil, yang pake motor juga. Ouw gitu... Lha terus sukanya apa dek? Nek sukane ki yo akeh koncone mbak. Yo meski koncone ki yo saingane dhewe, tapi nek lagi leren ki yo biasa wae. Terus sek pasti ki bebas mbak. Ibarat kata ngga ada jam kerjanya lha. Dah gitu bisa ngilangin stres mbak. Nek cuma dirumah aja, aku stres mbak. Inget bapak sek jelas ki. Inget bapak? Kangen ya dek sama bapak? Yah, ada kangennya mbak. Tapi yang jelas ki kecewa karo bapak. Kok iso ninggalke ibu. Lha wes lha mbak. Ra sah crito tentang bapak mbak. Males aku. Oo ya sudah. Dengan pekerjaan adek yang seperti ini, perasaan adek gimana? Yo sedih mbak. Harusnya kan anak seumuran aku masih bisa sekolah. Terus masih bisa main sama temen-temen. Tapi ini udah ditinggal bapak, mesti kerja bantu mamak. Belum lagi pandangan 74 Alasan menjadi pengamen karena faktor Faktor ekonomi ekonomi. menjadi faktor penyebab anak turun Subjek merasa harus membantu ibunya ke jalanan. bekerja. Subjek menikmati mendapatkan uang. mudahnya Subjek merasa menjadi anak jalanan lebih banyak duka ketimbang suka. Menjadi anak jalanan lebih banyak duka ketimbang suka. Subjek sering dipandang rendah oleh orang lain. Subjek merasa kerja di jalan lebih bebas. Subjek kecewa dengan bapaknya. Namun disisi lain subjek merasa kangen. Subjek merasa sedih karena tidak bisa seperti anak seumurannya yang bisa bersekolah dan bermain. Menjadi anak jalanan membuat mereka merasa bebas. Berawal dari kekecewaan dan kehampaan hidup sebagai akibat tidak berhasilnya memenuhi motivasi utama.

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 orang lain mbak. Seakan-akan aku tu makhluk yang menjijikan buat mereka. Terus apa kelebihan dan kelemahan yang ada di diri adek? Kelemahan dan kelebihan ya? Kalo kelebihan mungkin ya mbak, karena aku udah bisa bantu mamakku sedikit-sedikit mbak buat urusan rumah lha. Kan jarang tu seumuran aku udah bisa bantu orangtuanya. Mereka bisanya cuma ngabisin uang orangtuanya. Terus kalo kelemahan, semenjak aku kerja di jalanan gini, aku jarang pulang dan ngabisin waktu bareng keluarga mbak. Aku lebih banyak di jalan. Yah, sebenarnya kangen sih mbak bercanda sama adek, ngobrol sama mamak, tapi "kahanan" mau gimana lagi. Terus, ada lagi nggak dek? Kalo kelemahan sih banyak ya mbak. Lagipula kelemahan dan kelebihan kita itu yang menilai orang lain. Yang jelas aku tu nggak punya banyak kelebihan mbak. Kaya merasa nggak berharga aja buat orang lain. Oh gitu ya dek. Terus yang sering adek rasakan dalam kehidupan sehari-hari, senang atau sedih? Yah kalo pas seneng ya seneng. Kalo pas sedih ya sedih mbak. Seimbang lah. Tapi ya banyaknya sedih si. Senengnya ya kadang-kadang. Sedih dan senangnya tu kaya gimana dek? Ya kalo seneng itu pas kumpul bareng sesama anak jalanan gitu mbak. Bisa nyanyi-nyanyi, ketawa-ketawa, kaya ngga ada beban lha. Lah kalo sedih tu pas liat anak sekolah dibonceng bapaknya. Nelongso banget mbak. Selain itu, kalo pas ujan-ujan nggak dapet penghasilan sama sekali. Belum lagi kalo inget mamak sama adek-adek dirumah. Kangen mbak. Bagaimana pandangan adek terhadap pekerjaan yang adek jalani saat ini? Sebenarnya pekerjaan ini cukup berat ya mbak. Mana resikonya banyak, dah gitu lingkungannya nggak sehat, dah gitu saingannya banyak, sering dipalakin juga mbak sama preman-preman disini. Tapi ya saat ini cuma ini yang bisa aku jalani mbak. Apa yang adek lakukan agar hidup adek saat ini lebih bermakna? Yah paling bersyukur mbak. Mensyukuri segala nikmat dan karunia yang diberikan sama Allah. Apa yang mendorong adek untuk memaknai hidup ini? Yang mendorong aku untuk memaknai hidup ini mbak? Apa ya? Yah paling karena aku ingin lebih bahagia aja mbak. Nggak terlalu mikirin beban 75 Kelebihan subjek: sudah bisa bekerja untuk membantu orangtua. Pemahaman negatif. diri Kelemahan subjek: waktunya terbuang habis di jalan. Sehingga subjek tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Subjek merasa tidak memiliki banyak kelebihan sehingga tidak berharga untuk orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari subjek lebih banyak merasakan sedih daripada bahagia. Subjek menyadari bahwa pekerjaan yang dijalaninya saat ini penuh resiko. Subjek mensyukuri nikmat dan karunia dari Tuhan. Perasaan ingin lebih mendorong subjek memaknai hidup. bahagia yang untuk lebih menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran dan keberanian segala bentuk penderitaan yang tidak mungkin dielakkan lagi (nilai bersikap)

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 yang ada. Terus ada nggak si hambatan yang dialami adek dalam memaknai hidup? Nggak ada kok mbak. Harapan dan cita-cita adek apa? Sebenarnya harapan sih pingin bahagiain mamak sama adek-adek. Terus pingin lanjutin sekolah lagi. Pingin bapak pulang dan kumpul sama keluarga lagi. Cita-cita sebenarnya pingin jadi pemain sepak bola mbak. Kaya Evan Dimas itu... Bagaimana cara adek untuk mewujudkan harapan dan cita-cita anda? Ya caranya dengan berusaha dan bekerja keras mbak. Nggak lupa disertai doa dalam setiap langkah. Terus, apa adek sekarang udah berhasil mewujudkan harapan dan cita-cita adek? Belum semua mbak. Ya paling yang gampang-gampang dulu mbak. Kayak yah, bahagiain mamak sama adek-adek. Emang bahagiain gimana dek? Bahagiain mamak sama adek-adek ngga usah mahal-mahal mbak. Cukup kalau aku pulang, aku bawa makanan yang penting cukup untuk mamak sama adekku yang pertama mbak. Kalo adekku yang paling kecil paling aku bawain mainan mbak. Yah pokoknya nggak mahal si. Terus hambatannya untuk mewujudkan harapan dan cita-citanya adek ki apa? Banyak mbak. Yang jelas masalah biaya ya mbak. Terus masalah bapak, aku nggak tau bapak sekarang dimana. Nggak ada yang tau bapak pergi kemana. Aku udah cari kerumah saudara bapak sama mamak, mereka juga nggak tau. Yang ada aku sama mamak malah dimarah-marahin. Lha dimarahin kenapa dek? Ya dimarahin, katanya dibilang nggak becus urus suami, terus bisanya nyusahin orang lain. Ya gitu lha mbak. Oh yauda. Terus menurut adek yang paling bernilai atau berharga lah dalam hidup adek tu apa? Yang paling berharga dan bernilai itu keluarga mbak. Ngga ada yang lain. Karena kalau keluarga utuh dan bahagia pastinya hidup kita lebih nyaman dan tentram tho mbak? Walaupun dalam kekurangan juga, yang penting masih ada keluarga yang saling mendukung mbak. Terus, tanggapan keluarga, teman atau lingkungan rumah tentang pekerjaan adek gimana? 76 Harapan memberikan sebuah peluang dan solusi serta tujuan baru Subjek ingin membahagiakan ibu dan yang menjanjikan adik-adiknya selain itu subjek ingin yang dapat melanjutkan sekolah. menimbulkan Subjek bercita-cita sebagai pemain sepak semangat dan bola. optimisme. Untuk mewujudkannya dengan berusaha dan bekerja keras tidak lupa berdoa. Masalah ekonomi menjadi salah satu faktor penghambat bagi subjek untuk mewujudkan harapan dan cita-citanya. Ekonomi menjadi salah satu faktor penghambat dalam meraih harapan. Bagi subjek, hal yang paling berharga adalah keluarga.

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 Kalau keluarga sih awalnya marah ya mbak. Apalagi mamak. Mamak tu marah banget. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, mamak bisa ngerti mbak. Kalau keluarga besar sih, mereka udah cuek mbak. Udah nggak peduli sama keadaan keluargaku. Kalau teman, ya ada sih yang mandang rendah aku sampai nggak mau negur aku kalau ketemu di jalan atau di mana. Tapi ada juga yang masih mau main dan negur aku mbak. Tapi aku lebih banyak temen di jalan ini mbak. Yang sesama anak jalanan gini. Kalau pandangan tetangga ya gitu lha mbak. Mereka nganggap aku kaya orang yang nggak berharga aja. Tapi masih ada kok tetangga yang anggap aku sama kaya mereka. Terus sikap adek terhadap pandangan mereka gimana? Kalo aku sih cuek aja mbak. Toh pekerjaanku juga nggak merugikan mereka kok. Aku juga makan nggak minta dari mereka. Oh gitu ya dek? Yauda dek, sekian dulu ya wawancaranya. Terimakasih ya dek. Iya mbak sama-sama. Tanggapan keluarga terhadap pekerjaan subjek, awalnya tidak bisa menerima namun seiring berjalannya waktu, ibu subjek mengerti. Sedangkan keluarga yang lain mereka bersikap acuh dan tidak peduli. Tanggapan teman subjek, ada beberapa teman subjek yang memandang pekerjaan subjek adalah pekerjaan rendah. 77 Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar dapat membantu pada saat dibutuhkan.

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 SUBJEK II

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 Verbatim Selamat siang mas Siang mbak Ganggu nggak nih? Yah, sedikit sih mbak. Makanya le nanya jangan kebanyakan ya mbak. Oh, iya mas. Nggak terlalu banyak kok le tanya. Mmm... Oke deh. Kalau boleh tau, mas sudah berapa lama ya kerja di jalanan? Udah 3 tahunan mbak Ooo... Udah 3 tahun ya. Lama juga ya. Terus, mas kerja di jalanan seperti ini, awalnya gimana? Awalnya ya karena biaya mbak. Aku kan dari keluarga yang bisa dibilang nggak mampu. Mana adekku banyak. Ya akhirnya aku turun ke jalanan buat kerja. Karena pikirku waktu itu, diumur segitu aku bisa kerja apa? Aku belum punya keahlian apa-apa. Yang aku pikir cuma mau bantu ibu sama bapak untuk urusan keuangan aja. Kasihan orangtuaku mbak. Kasihan orangtua? Kenapa mas? Ya itu mbak, untuk makan aja kami selalu kekurangan. Bapak sama ibu kadang milih untuk nggak makan demi aku dan adek-adekku. Sedih ngliatnya mbak. Oo gitu mas. Lha bapak sama ibu mas bekerja? Kerja cuma sebagai pemulung gitu mbak. Makanya ekonomi keluarga kami nggak bisa stabil. Bahkan untuk makan saja masih kesusahan. Kadang kami makan sehari sekali. Kadang aku bapak sama ibu ngalah untuk nggak makan dan mentingin adek-adek aja mbak. Yang terpenting adek-adek mbak. Ooo gitu.. Terus kalau bapak sama ibu kerja, adek-adek sama siapa mas? Adek-adek kadang ikut kadang di rumah mbak. Kalau di rumah kan ada simbah yang njagain. Oo jadi di rumah itu ada simbah juga? Simbah dari siapa? Simbah dari ibu mbak. Tinggal simbah putri dari ibu aja mbak yang aku punya. Yang lainnya udah sedo. Oo gitu. Terus alasan mas hingga saat ini jadi anak jalanan apa? Pertama karena masalah ekonomi ini ya mbak. Aku cuma pingin bantu orangtua. Koding awal 81 Analisis Subjek sudah bekerja di jalan selama 3 tahun Masalah ekonomi menjadi faktor utama subjek menjadi anak jalanan. Subjek ingin membantu orangtuanya. Subjek iba dengan kondisi keluarganya. Faktor ekonomi menjadi salah satu faktor anak turun ke jalanan. Pekerjaan orangtua subjek yang membuat ekonomi keluarga tidak stabil. Masalah ekonomi dan merasa tidak memiliki Tidak memiliki keahlian lain menjadi alasan anak untuk tetap bekerja di jalanan.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 Kedua karena aku nggak tahu mesti kerja apalagi selain ini mbak. Aku sebenarnya pingin kerja yang lain. Tapi aku ngerasa nggak punya kemampuan lain. Aku juga pingin punya kerjaan yang lebih baik dari saat ini mbak. Oo gitu.. Terus udah pernah nyoba untuk cari kerja yang lebih baik dari ini? Udah mbak. Sempet aku kerja jadi tukang cuci motor, sebenarnya kerjaannya nggak susah ya mbak, tapi baru kerja 2 bulan, udah di pecat. Nggak tau kenapa. Terus pernah juga nglamar jadi pelayan, nggak diterima. Malah dipandang rendah sama pemilik rumah makannya. Dipandang rendah gimana mas? Ya dibilang, kamu dandanan kucel gini mau kerja di sini? Yang ada pelanggan saya kabur semua gara-gara liat kamu. Gitu mbak. Gimana nggak sakit hati. Terus sempet kerja jadi kuli bangunan mbak. Tapi begitu bangunan udah jadi, ya aku berhenti lagi mbak dan balik lagi ke jalanan. Oo gitu ya mas. Panjang juga ya deretan cerita kerja mas. Hehehe.... Iya mbak. Lumayan panjang. Ini selain ngamen, aku juga nyambi kok mbak. Jadi tukang antar koran. Lumayan lah mbak. Apa yang bisa menghasilkan uang, aku kerjain. Karena disini aku butuh uang untuk bantu kehidupan keluarga mbak. Yah bagus kan mas? Malah itu buktiin kalau mas tekun. Terus mas bisa ceritain suka dukanya jadi anak jalanan? Iya mbak. Yang penting kerjaannya halal. Nggak nyolong. Hehehehehe.... Suka duka ya mbak? Apa ya mbak? Bingung aku. Kalo sukanya sih jarang ada. Tapi dukanya banyak banget. Bisa disebutin nggak mas? Sek mbak. Opo yo? Nek dukane kie, kadang dipalak sama preman, terus tidur di pinggir jalan, di kejar satpol PP, saingane banyak. Ya masih banyak lagi mbak. Lha nek sukane apa mas? Sukane apa ya? Ya banyak temen mbak. Terus bebas. Nggak mesti mikir pelajaran. Ora mumet mbak sek jelas. Ooo jadi sukanya karena nggak harus belajar ya mas? Iya mbak. Nek sinau wae ki mumet. Terus bagaimana perasaan mas terhadap kehidupan mas hingga saat ini? 82 keahlian lain yang menjadi alasan subjek tetap bekerja di jalan hingga saat ini. Subjek sempat bekerja di tempat lain selain di jalan. Subjek dipandang rendah oleh pemilik rumah makan karena penampilannya. Subjek merasa menjadi anak jalanan lebih banyak duka ketimbang suka. Penampilan anak jalanan sering dipandang rendah oleh orang lain. Menjadi anak jalanan lebih banyak duka ketimbang suka. Duka: dipalak, tidur di pinggir jalan, dikejar satpol PP, banyak saingan. Suka: banyak teman, bebas dan tidak pusing mikir pelajaran. Rendahnya mempengaruhi karier. pendidikan jenjang

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 Yo sedih mbak. Liat temen yang lain bisa kerja enak. Nggak perlu kepanasan keujanan kaya gini. Pingin kerja di ruangan yang ber AC mbak. Tapi, lulus SMP aja nggak. Masa mau kerja di tempat kaya gitu. Ngimpi kali ya mbak. Hehehehehe... Ya mimpi boleh aja kok mas. Yang penting sambil berusaha. Iya mbak. Tapi mesti berusaha sampe berapa lama ya mbak? Ah uwes lha, ora tak pikir. Marai mumet tok mbak. Hehehe... Iya mas. Oia, mas tahu apa kelebihan dan kelemahan yang mas miliki? Apa ya mbak? Nek kelebihan, mungkin karena aku ganteng po yo mbak? Hahahahahaha... Aku iso nggitar, kencrungan, terus suaraku yo ora elek-elek amat mbak. Terus, opo neh yo mbak? Welah, malah tanya. Ya mas merasa kelebihan apa aja yang mas punya. Ketoke uwes ngono wae mbak. Nek kelemahan, akeh tenan mbak. Soalnya orang kaya aku gini kan isinya kelemahan semua. Terus, yang sering mas rasakan dalam kehidupan sehari-hari tu apa? Sedih atau senang? Yo akehe ki sedih mbak. Tapi nek dipikir terus marai mumet mbak. Dadi tak gawe seneng wae. Lha sedih kenapa mas? Ya karna kerjaan ini mbak. Mikir apa ra ono kerjaan sek lewih apik. Sek lewih penak. Kadang yo mikirke adek-adek wes do mangan durung. Neng omah karo sopo. Yo ngono lha mbak. Oo gitu. Lha emang mas nggak ada niat untuk berhenti jadi pengamen seperti ini? Niat sih ada. Tapi nek berhenti, nantinya mau kerja apa mbak. Malah tambah bingung tho. Yo opo sek ono dilakoni sek. Masalah, sesok yo dipikir sesok mbak. Terus bagaimana pandangan mas terhadap pekerjaan yang mas jalani saat ini? Pandanganku mbak? Jane yo kerjaan kaya gini bikin kita males untuk berusaha mbak. Lha kita udah dimanjain sama mudahnya cari uang dengan cara seperti ini mbak. Berarti mas salah satunya ya? Iya sih mbak. Tapi aku kan juga kerja antar koran kalo tiap pagi. Oiya ya. Mmm terus apa yang mas lakukan agar hidup mas lebih bermakna? Apa ya mbak? Paling ya dengan berkarya 83 Subjek merasa rendah diri dalam kariernya karena hanya sekolah hingga kelas 1 SMP. Kelebihan: ganteng, pandai main alat musik dan memiliki suara yang tidak terlalu jelek. Pemahaman diri negatif. Subjek merasa memiliki banyak kelemahan. Dalam kehidupan sehari-hari, subjek merasa sedih karena menjadi anak jalanan. Selain itu subjek juga memikirkan nasib adik-adiknya. Meningkatnya kesadaran atas buruknya kondisi diri pada saat ini dan keinginan kuat untuk melakukan perubahan ke arah kondisi Pandangan subjek: membuat malas untuk yang lebih baik. berusaha karena sudah dimanjakan dengan mudahnya mendapatkan uang. Subjek juga bekerja sebagai loper koran. Hidup lebih bermakna: Melalui karya dan kerja dapat menemukan arti hidup dan menghayati kehidupan secara bermakna (CV). Menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran dan keberanian segala bentuk penderitaan yang tidak mungkin dielakkan lagi (AV).

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 dan bekerja secara sungguh-sungguh sih mbak. Yang jelas nggak lupa bersyukur sama ALLAH. Berkarya? Berkarya seperti apa mas? Ya kadang aku kirim-kirim puisi ke koran atau majalah mbak. Ya kadang ada sih yang di muat. Kalo nggak dimuat pun, aku tetep bikin kok mbak. Soalnya aku seneng bikin puisi. Oo gitu mas. Boleh nih kapan-kapan aku dibikinin puisinya. Boleh mbak. Besok nek pas aku lagi bengong, tak gaweke wes. Sip, tak tunggu mas karyamu. Oke mbak. Terus, ngomong-ngomong bersyukur, mas juga sering sholat? Ya nek sholat kan wajib mbak. Itu cara kita bersyukur. Tapi nek sholat 5 waktu belum bisa mbak. Paling ya kalo dhuhur, maghrib sama kalo hari jumat itu mbak. Wah termasuk rajin juga ya mas. Hehehehe... Mbak bisa aja. Terus apa yang mendorong mas dapat memaknai hidup ini? Apa ya mbak? Ya karena keadaanku ya seperti ini mbak yang mendorong aku untuk dapat memaknai hidup. Apa yang menghambat mas dalam memaknai hidup? Yang menghambat mbak? Waduh opo neh yo mbak? Ketoke ra ono ki mbak. Oo berarti selama ini lancar ya mas dalam memaknai hidup ini? Alhamdulilah lancar mbak. Terus, apa harapan atau cita-cita mas? Mmmm harapanku si bisa bahagiain bapak ibu sama adek-adek mbak. Terus bisa bikinin ibu usaha di rumah. Biar ibu bisa njaga adek-adek di rumah mbak. Terus, udah berhasil belum mas? Belum mbak. Ini lagi berusaha. Doain aja ya mbak biar modalnya terkumpul. Iya mas. Saya doain. Terus cara mas mewujudkan harapan atau cita-cita mas itu gimana? Ya berusaha dengan bekerja keras mbak. Makanya kerjaan yang dikasih orang dan yang penting halal, aku lakuin mbak. Nggak ketang aku kadang nggak pulang ke rumah karena kerja. Yang penting aku bisa ngumpulin uang untuk bukain usaha buat ibu mbak. Oo gitu. Tapi sekarang modalnya udah berkarya, bekerja dengan sungguh-sungguh dan tak lupa bersyukur. 84 Realisasi nilai pengalaman dapat dicapai melalui penerimaan diri yang baik, keyakinan diri, perasaan emosi positif, serta meningkatkan ibadah melalui realisasi nilai-nilai yang berasal dari agama (EV). Subjek tidak melupakan kewajibannya terhadap Tuhan. Karena keadaan yang mendorong subjek untuk memaknai hidup. Harapan memberikan sebuah peluang dan solusi serta tujuan baru yang menjanjikan yang dapat menimbulkan semangat dan optimisme. Harapan: membahagiakan keluarganya dan membuatkan usaha untuk ibunya. Subjek bekerja keras untuk mewujudkan harapannya. Dukungan dari keluarga dan

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 terkumpul belum? Udah sih mbak. Tapi ya baru dikit lha. Belum cukup untuk buka usaha ibu. Soalnya kalo uangnya udah kekumpul lumayan, pasti ada aja halangannya. Emang apa mas halangannya? Ya kadang bapak sakit atau adek sakit lha. Kadang untuk bayar sekolah adek dulu. Ya banyak lha mbak halangannya. Oo gitu. Terus menurut mas, apa yang paling bernilai dalam hidup mas? Yang paling bernilai mbak? Apa ya? Paling bernilai ya keluarga mbak. Tanpa keluarga, aku mesti urip karo sopo mbak? Nek ra ono keluarga, mungkin aku ra bakal kerjo koyo ngene mbak. Malah mung tura turu wae. Terus tanggapan keluarga, tetangga dan teman-teman terhadap pekerjaan mas gimana? Tanggapan keluarga yo biasa wae mbak. Kan keluarga dah tau kerjaanku apa dan alasan aku kerja di jalanan apa. Jadi ya mereka memaklumi aja. Kalo tanggapan tetangga sama teman-teman ya gitu lha mbak. Ada yang mandang rendah, ada yang bersikap biasa aja. Tapi kebanyakan ya mandang rendah mbak. Mungkin dipikir mereka, aku kerja di jalanan jadi anak berandalan kali ya. Soalnya pandangan mereka itu lho mbak. Kadang mereka juga kaya curiga sama aku. Tapi dah lha nggak tak pikir kok mbak. Terserah mereka mau berpikiran seperti apa sama aku. Aku nggak ngurusin mereka. Toh aku juga nggak minta makan sama mereka kok mbak. Ooo gitu mas. Jadi mas lebih bersikap cuek terhadap pandangan tetangga ataupun teman-teman mas terhadap pekerjaan mas ya? Iya mbak cuek aja lah. Yauda mas, sekian dulu wawancaranya. Terimakasih ya mas. Sama-sama mbak. Semoga saya bisa membantu mbak ya. Iya mas semoga saja. Hambatan dalam mewujudkan harapan: belum memiliki modal yang cukup karena banyak halangan ketika mengumpulkannya. Bernilai dalam hidup subjek adalah keluarga. Tanggapan keluarga subjek biasa saja karena keluarga sudah mengetahui alasan subjek kerja di jalanan. Tanggapan tetangga lebih banyak memandang rendah subjek karena subjek bekerja di jalan. Subjek cuek. lebih bersikap lingkungan membantu dibutuhkan. 85 sekitar pada dapat saat

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SUBJEK III 87

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 Verbatim Sore mas Sore mbak. Darimana nih mbak? Dari rumah mas. Sama siapa tu mbak? Pacarnya ya? Ooo itu mas, iya mas.. Hehehehehe..... Langsung aja ya mas wawancaranya. Ntar malah aku yang diinterogasi sama masnya. Hahahahahahahaha....... Mbaknya bisa aja. Kan cuma tanya mbak. Nggak boleh ya? Boleh kok mas. Tapi ini langsung aja ya. Bisa kan? Oiya mbak, lali aku.. Oke capcus mbak. Pertanyaan pertama. Welah, gaul men tho mas. Heheheheh... Oke langsung ya mas. Mas udah berapa lama kerja di jalan? Maksudnya dah berapa lama jadi anak jalanan gitu mbak? Iya mas. Ooo udah sekitar 2 tahunan mbak. Ooo 2 tahun mas? Iya mbak. Baru sebentar itu. Masih belum banyak pengalaman. Ooo gitu mas. Terus kenapa mas kerja di jalanan? Ya nggak jauh beda sih mbak sama yang lain (sambil menunjuk ke arah SS dan GL). Karena faktor ekonomi mbak tapi juga karena nyaman aja di jalanan. Emang mas maaf ni ya. Mas dari keluarga kurang mampu gitu? Iya mbak. Aku ki anak yatim piatu. Nggak punya orangtua. Lha orangtuanya mas kemana? Udah nggak ada mbak. Dah lama kok. Karena apa mas? Sakit mbak. Bapak karena sakit stroke, terus ibu karena sakit paru-paru mbak. Oo gitu. Jadi mas sekarang tinggal sama siapa? Tinggal sendiri mbak. Lha kakakku yang laki-laki merantau di Kalimantan. Dah lama nggak ada kabar. Yang perempuan, udah meninggal. Waktu bayi le meninggal mbak. Ooo turut prihatin ya mas. Maaf ya mas kalau saya bikin mas sedih. Nggak papa mbak. Tenang wae. Wes tahan banting aku mbak. Ooo sering main gulat ya mas? Hahahahahaha mbaknya bisa aja. Bukan itu maksudnya mbak. Aku ki dah kebal kalo masalah-masalah sedih. O gitu mas. Tadi mas bilang nyaman di jalanan? Nyamannya gimana mas? Iya mbak nyaman di jalanan kie. Karna aku Koding awal Subjek menjadi anak jalanan karena faktor ekonomi dan perasaan nyaman. Subjek adalah anak yatim piatu. 89 Analisis Faktor ekonomi dan perasaan nyaman menjadi faktor turunnya anak ke jalanan. Subjek merasa nyaman di Perasaan nyaman

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 nggak ada keluarga mbak, terus di jalanan ini aku ketemu banyak teman jadi aku anggep kaya saudara sendiri mbak. Itu kan ada ibu-ibu juga tho mbak?(sambil menunjuk ke arah seorang ibu yang sedang berjualan di pinggir jalan) Nah itu udah aku anggep kaya ibu aku sendiri mbak. Orangnya baik mbak. Baik sama aku, sama temen-temen yang lain juga. Kadang, kita sering dikasih makan mbak. Ya pokoknya baik lha mbak. Soalnya ibuke ki juga nggak punya anak. Oo gitu mas. Jadi nyaman karena teman-teman yang di jalanan ini udah seperti saudara dan mas juga menemukan sosok pengganti ibu mas ya? Yak bener banget mbak... Sama mereka aku bisa bercanda, ketawa-ketawa, cerita-cerita. Lha pokoknya nyaman lha mbak. Kadang aku juga ngajak mereka nginep di rumahku mbak. Yah walaupun rumahku kecil, jelek yang penting bisa buat tidur mbak. Oo gitu. Kalo boleh tau mas, mas di jogja ini nggak punya saudara lain? Kaya pakdhe atau paklik bulik gitu? Nggak ada mbak. Soalnya bapak sama ibu juga bukan orang asli jogja. Bapak sama ibu asli sumatra mbak. Asli sumatra? Kok bisa sampai jogja mas? Ya karena dulu tu bapak sama ibu nggak direstuin atau apa gitu mbak. Terus kawin lari gitu. Terus merantau sampai di jogja. Ya gitu lha mbak. Bingung aku le crito. Soale ibu le crito yo setengah-setengah mbak. Dadine aku yo ra patio donk. Oo gitu mas. Wah agak rumit juga ya.. Hahahahahaha iya mbak.. Rumit bin ruwet... Terus mas pernah nyoba hubungin kakak mas yang di kalimantan nggak? Mmm... Dulu sih pernah mbak. Waktu ibu masih ada. Tapi waktu pas mau ngabarin kalo ibu udah ngga ada, itu nomernya udah nggak bisa dihubungin mbak. Ya sampe sekarang ini bener-bener nggak pernah hubungan sama sekali. Nggak tau masih hidup atau nggak. Nggak mikir mbak. Dia juga belum tentu mikirin aku kok. Jadi ngapain pusing-pusing mikirin dia. Mending mikirin gimana caranya dapat uang buat makan sama kebutuhan sehari-hari. Oo gitu. Nggak kangen mas? Nggak tu mbak. Kayaknya dia juga nggak bakal kangen sama aku. Lanjut aja ya mas. Ketimbang nanti mas nangis. Nggak bakal nangis mbak. Kan aku dah bilang tadi kalo aku tahan banting. Jadi nggak bakal nangis. jalan karena menemukan keluarga baru yaitu teman-temannya. Subjek tidak saudara di jogja. memiliki Subjek lose contact dengan kakaknya yang bekerja di Kalimantan. 90 timbul karena merasa berada di tengah keluarga ketika di jalan.

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 Hahahaha iya deh mas. Oia mas, suka dukanya jadi anak jalanan tu apa? Apa ya mbak? Emmmm.... Nek sukanya ya tadi yang aku bilang mbak. Karena banyak temen yang udah dianggep kaya saudara sendiri. Terus nemuin sosok pengganti ibu mbak. Nek dukanya ya kadang kepanasan, kehujanan, terus kadang di cemooh ma orang lain. Dikejar satpol PP. Kalo lagi istirahat di depan toko gitu, kadang diusir mbak. Diusir kenapa mas? Ya gara-gara kita-kita ni anak jalanan. Diomong nanti ngotori lha. Nanti bikin rusuh lha. Ya macem-macem lha mbak. Masa sih mas sampe segitunya? Iya mbak. Nggak percaya? Tanya aja sama yang lain. Iya deh mas nanti tak tanya sama mereka. Terus perasaan mas sama kehidupan mas yang sekarang ini gimana? Ya sedih mbak. Mana ada sih orang yang seneng kalo tinggal sendiri sebatang kara. Dah gitu nyari uangnya cuma di jalan lagi. Emang mas nggak pernah nyari kerjaan lain? Dulu pernah mbak. Lulus sekolah tu, aku nglamar jadi penjaga toko. Diterima mbak. Terus aku keluar. Bosen sih. Kerjanya cuma gitu-gitu aja. Dah gitu, bosnya cerewet. Terus akhirnya aku diajak gitu sama temenku buat ngamen. Eh keterusan deh sampe sekarang. Terus selama ini nggak pernah berusaha lagi untuk nyari kerjaan lain? Enggak mbak. Udah betah. Soalnya bebas, ramai, nggak ada yang ngomel-ngomel, terus banyak saudara. Ooo gitu. Terus nih mas, mas tahu nggak apa kelebihan sama kelemahan yang mas miliki? Mmmm apa ya mbak? Nek kelebihan sih aku ki orangnya gampang akrab sama orang lain terus aku ganteng mbak. Terus aku ki yo lumayan pinter lho mbak. Wong waktu lulus SMP tu aku masuk peringkat 5 besar mbak. Berarti kan aku nggak bodo-bodo amat tho mbak. Terus aku juga bisa main gitar mbak. Nek kelemahane ki yo banyak mbak. Aku anak yatim piatu. Nggak punya keluarga lagi. Terus nggak ada kasih sayang yang aku dapet. Terus aku juga jarang sholat. Ya masih banyak lha mbak nek kelemahan ki. Soale ya orang kaya aku kan emang banyak kelemahannya. Terus ni mas, yang sering mas rasain dalam kehidupan sehari-hari sekarang tu seneng atau sedih mas? 91 Suka: nyaman karena banyak teman yang sudah dianggap saudara. Duka: kepanasan, kehujanan, dicemooh orang lain, dikejar satpol PP, terkadang ketika istirahat di pinggir toko diusir. Menjadi anak jalanan lebih banyak duka ketimbang suka. Subjek merasa sedih karena tinggal seorang diri dan hanya menjadi anak jalanan. Pemahaman negatif. Subjek bosan penjaga toko. diri menjadi Subjek merasa bebas, ramai, Bebas tidak ada yang memarahinya langkah dan banyak saudara di sendiri. jalanan. Kelebihan: supel, ganteng, dan pintar. Kelemahan: yatim piatu, kurang mendapat kasih sayang, jarang sholat, dan masih banyak lagi kelemahan yang subjek miliki. memilih tindakan

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 Apa ya mbak? Nek seneng ya bisa dibilang seneng, nek sedih yo bisa dibilang sedih. Tapi sekarang banyak senengnya sih mbak. Soalnya banyak temen. Jadi nggak nglangut sendiri. Bisa bercanda gitu. Nek sedihnya ya waktu keinget almarhum bapak sama ibu. Terus kalo inget aku tu udah nggak punya saudara lagi. Saudara tinggal satu aja nggak tau kabarnya. Yah yang sabar ya mas. Doain aja kakaknya mas tu sehat dan cepet pulang. Biar bisa kumpul bareng mas lagi. Iya mbak. Lanjut ya mas. Belum nangis tho? Ikh mbaknya ki. Ra bakal nangis mbak. Tenang wae. Hehehehe iya mas. Nah terus sekarang ini gimana tho pandangan mas sama pekerjaan yang mas jalani saat ini? Pandanganne mbak? Mmm biasa wae ki mbak. Tapi yo sakjane dadi pengamen ki ngga baik ya mbak? Kok malah tanya mas. Hehehe.. Ya sebenarnya nggak baik juga sih mbak jadi pengamen gini. Karna bisa membuat anak muda seperti aku ini males. Yah contohnya aku ini. Wah mas ngakuin ya kalo mas ini males? Iyalah mbak. Ngakuin kok. Nek nggak ngaku ntar salah. Hehehehehehehe.... Wah mas bisa aja nih. Oiya mas, lanjut ya. Iya mbak Apa sih yang mas lakuin biar hidup mas lebih bermakna? Apa ya mbak? Mmmm......... Biar lebih bermakna ya mbak? Ya dinikmati aja mbak. Alias bersyukur aja, karena masih memiliki kehidupan ini. Selain itu sabar mbak dalam menghadapi kehidupan yang keras ini. Terus yang mendorong mas dapat memaknai hidup tu apa? Karena keadaan mbak. Keadaanku kaya gini. Kalo aku nggak sabar, nggak bersyukur, yang ada aku malah gila sendiri mbak. Ga papa mas nek gila kan mas malah bisa ke pakem. Hahahahaha.... Bercanda lho mas. Hahahaha iya mbak. Tenang aja. Aku seneng kok bercanda. Lanjut ya mas. Yang menghambat mas dalam memaknai hidup tu apa? Nggak ada mbak. Nggak ada yang menghambat aku dalam memaknai hidup. Terus apa harapan mas? Harapanku mbak? Mmm saat ini harapanku 92 Subjek merasakan perasaan yang seimbang antara senang dan sedih dalam kehidupannya. Subjek memandang bahwa menjadi anak jalanan membuat pemuda menjadi malas bekerja. meningkatnya kesadaran atas buruknya kondisi diri pada saat ini Agar hidup subjek lebih bermakna, subjek bersyukur Realisasi nilai dan sabar dalam menghadapi pengalaman dapat kehidupannya. dicapai melalui penerimaan diri yang baik, keyakinan diri, Yang mendorong subjek dan perasaan memaknai hidup adalah emosi positif. keadaannya. Tidak ada yang menghambat subjek dalam memaknai hidup. Subjek memiliki harapan

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 cuma pingin nerusin sekolah mbak. Pingin sekolah sampe lulus SMA aja. Yah nggak usah di SMA, SMK juga ngga papa sih mbak. Tapi kapan ya mbak bisa nerusin sekolah? Ngimpiku ketinggian ya mbak. Berdoa dan berusaha aja mas. Siapa tau Tuhan ngasih jalan buat wujudin harapan mas. Iya mbak. Gimana cara mas buat ngewujudin harapan mas? Mmmm yaitu mbak dengan berdoa sama berusaha. Sama yang kaya mbak bilang barusan. Yang jelas sekarang ni aku lagi rajin-rajinnya kerja mbak. Biar bisa wujudin harapanku itu. Amin.. Semoga terwujud ya mas. Terus ada hambatan apa ni mas dalam mewujudkan harapannya? Banyak mbak. Yang jelas nggak ada dananya untuk ngewujudin harapanku. Menurut mas, yang paling berharga saat ini untuk mas tu apa? Yang paling berharga ya kehidupanku sendiri mbak. Soalnya selain aku sendiri yang mikir, nggak ada orang lain yang mikirin kehidupanku mbak. Kalo kehidupanku nggak berharga buat aku, mungkin aku udah dari dulu bunuh diri mbak. Udah sendirian, nggak punya saudara, nggak ada harta warisan, apa nggak stres mbak. Hehehehe iya si mas. Terus gimana tanggapan masyarakat terhadap pekerjaan mas? Pandangan mereka ya gitu lha mbak. Kayaknya mereka tu orang paling baik, paling kaya aja. Terus bisa ngliat kita yang kerja di jalanan ni sebagai makhluk yang menjijikan. Yang emang nggak pantes buat diajak ngomong lha disapa aja kayaknya nggak pantes. Itu lingkungan sekitar rumah mas yang bersikap seperti itu? Ya nggak cuma tetanggaku aja mbak. Orang-orang yang aku temui di jalanan juga bersikap kaya gitu. Tapi aku sih cuek aja. Yang penting aku nggak niat ganggu mereka kok. Aku di jalanan kan juga buat cari nafkah untuk diriku sendiri. Untuk kebutuhanku. Ya semoga aja mereka nggak terus menerus berpandangan seperti itu ya mas. Iya mbak. Amin. Semoga saja. Yauda mas, segitu dulu wawancaranya. Nanti kalau ada yang kurang, aku hubungin lagi. Terimakasih ya mas. Iya mbak. Sama-sama mbak. untuk meneruskan sekolah. Cara subjek mewujudkan harapannya dengan berdoa dan berusaha. Masalah ekonomi yang menjadi faktor prnghambat subjek dalam mewujudkan harapan. Yang paling berharga bagi subjek saat ini adalah kehidupannya. 93 Harapan memberikan sebuah peluang dan solusi serta tujuan baru yang menjanjikan yang dapat menimbulkan semangat dan optimisme Faktor ekonomi menjadi penghambat untuk mewujudkan harapan dan cita-cita. Memiliki alasan untuk meneruskan kehidupan. Subjek merasa orang lain memandang dirinya adalah orang yang paling rendah yang tidak pantas untuk diajak berinteraksi. Subjek bersikap terhadap pandangan lain. cuek orang Secara pribadi bertanggung jawab terhadap tingkah laku hidupnya dan sikap yang mereka anut terhadap nasib sendiri.

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94

(113)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
117
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
145
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
121
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
138
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
100
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
1
148
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
132
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
112
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
106
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
1
143
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
101
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
177
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
1
99
Show more