PENGARUH PERMAINAN LEGO BRICKS TERHADAP MOTIVASI BELAJAR DAN HASIL BELAJAR PERKALIAN BILANGAN ASLI UNTUK ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS VII SLB NEGERI 1 BANTUL TAHUN PELAJARAN 20182019 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Gratis

0
0
445
1 month ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGARUH PERMAINAN LEGO BRICKS TERHADAP MOTIVASI BELAJAR DAN HASIL BELAJAR PERKALIAN BILANGAN ASLI UNTUK ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS VII SLB NEGERI 1 BANTUL TAHUN PELAJARAN 2018/2019 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika Disusun oleh: Fransiska Intan Rosari 141414065 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGARUH PERMAINAN LEGO BRICKS TERHADAP MOTIVASI BELAJAR DAN HASIL BELAJAR PERKALIAN BILANGAN ASLI UNTUK ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS VII SLB NEGERI 1 BANTUL TAHUN PELAJARAN 2018/2019 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika Disusun oleh: Fransiska Intan Rosari 141414065 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini aku persembahkan untuk Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria yang selalu menguatkan aku dalam kasihnya di segala situasi apapun, selalu memberiku kesabaran lebih untuk menghadapi segala ringtangan yang harus dilalui. Engkaulah sumber kehidupan bagiku yang akan terus menopangku bagaikan kayu yang sedang rapuh. Teruntuk kedua orang tuaku, malaikat kehidupanku di dunia dikirimkan Tuhan khusus untukku yang selalu mendukung dan mendoakan aku dalam segala hal dan mempercayaiku dengan jalan yang kupilih. Tidak pernah bosan untuk menyanyangiku dengan tulus apapun segala kekuranganku. Untuk Masku dan Mbakku yang selalu mendukung aku, memberikan wejangan yang sangat bermanfaat untukku Untuk keluarga, sahabat, dan teman yang selalu mendampingi disaat masamasa sulitku Untuk dia yang telah mengajarkanku apa arti kesabaran, memberikan kekuatan untuk menghadapi segala rintangan dan membuka jalan pikiranku bila tidak ada kata terlambat untuk mengubah dunia iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO “Tuhan adalah kekuatanku dan perisaiku, kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.” –Mazmur 28:7 “If you have a strong commitment to your goals and dreams, if you wake up everyday with a passion to do your job, everything is possible.” -Chantal Petitclercv

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana karya ilmiah. Yogyakarta, 29 Januari 2019 Fransiska Intan Rosari vi

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Fransiska Intan Rosari. 2019. Pengaruh Permainan Lego Bricks terhadap Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Perkalian Bilangan Asli untuk Anak Tunagrahita Ringan Kelas VII SLB Negeri 1 Bantul Tahun Pelajaran 2018/2019. Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematika. Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh permainan lego bricks terhadap motivasi belajar dan hasil belajar perkalian bilangan asli untuk anak tunagrahita ringan di kelas VII SLB Negeri 1 Bantul pada tahun ajaran 2018/2019. Subjek dalam penelitian adalah 2 anak tunagrahita ringan kelas VII SLB Negeri 1 Bantul. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data melalui tiga cara yaitu observasi aktivitas belajar yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar anak didik, wawancara, dan tes (pretest dan posttest). Terdapat 2 jenis instrumen yaitu instrumen pembelajaran dan instrumen penelitian. Instrumen pembelajaran terdiri dari 2 instumen yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Sedangkan, terdapat 3 instrumen penelitian yaitu lembar tes, pedoman wawancara, dan lembar observasi. Instrumen-instrumen ini diukur validitasnya dengan menggunakan teknik expert judgment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan permainan lego bricks untuk perkalian bilangan asli antara perkalian 1 – 20 mempunyai pengaruh yang baik terhadap motivasi belajar dan hasil belajar kedua anak didik. Hal ini terlihat dari beberapa kegiatan belajar kedua anak didik yang meningkat sesuai dengan indikator motivasi belajar, contohnya seperti anak didik lebih aktif bertanya ataupun menjawab pertanyaan yang diberikan peneliti, tidak pernah putus asa untuk menyelesaikan soal-soal yang sulit, dan setiap mengerjakan latihan soal kedua anak didik dapat menyelesaikannya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Tidak hanya itu, dari salah satu hasil wawancara menyatakan apabila kedua anak didik lebih bisa memahami pembelajaran dan menyukai pembelajaran perkalian bilangan asli dengan menggunakan permainan lego bricks. Sehingga anak didik yang memiliki motivasi belajar yang tinggi cenderung terlibat dalam semua kegiatan belajar secara intensif, fokus, dan tekun selama proses pembelajaran. Karena adanya peningkatan motivasi belajar yang dimiliki anak didik maka secara tidak disadari hasil belajar anak didik juga menjadi meningkat setelah menggunakan permainan lego bricks dalam pembelajaran. Hal tersebut terlihat dari perbedaan hasil pretest dan posttest yang dimiliki kedua anak didik. Anak didik satu memperoleh hasil yaitu 70 dan 100, sedangkan untuk anak didik dua memperoleh hasil yaitu 10 dan 70. Selain itu, semakin diperkuat dari lembar pengamatan aktivitas belajar yang ditinjau dari hasil belajar anak didik. Kata kunci : tunagrahita ringan, permainan lego bricks, motivasi belajar, hasil belajar vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Fransiska Intan Rosari. 2019. The Influence of Lego Bricks Game Towards Learning Motivation and Learning Result of The Multiplication of The Natural Number for Mild Mentally Disabled Kids at the 7th Grade of SLB Negeri 1 Bantul Batch 2018/2019. Thesis. Mathematics Education, major Math and Science Studies. This research aims to discover the influence of lego bricks game towards learning motivation and learning result of the multiplication of the natural number for mild mentally disabled kids at the 7th grade of SLB Negeri 1 Bantul batch 2018/2019. Subjects in this research are two mild mentally disabled kids at the 7th grade of SLB Negeri 1 Bantul. This research used qualitative method. The data is collected in three ways; observe the learning acttivity which looked from the learning motivation and the learning result, interview, and test (pre-test and posttest).There are two instruments which are learning instrument and research instrument. Learning instrument contains of two instruments which are Learning Implementation Plan and Student Worksheet. Besides that, there are three research instruments which are test sheet, interview guidelines, and observation sheet. These instruments are quantified the validity based on expert judgement technique. This research result shows that the usage of lego bricks game in the of the multiplication of the natural number, especially between the multiplication of 1 until 20 which have the influence towards the two students’ learning motivation. It is showed from some of the two students’ activities which have increased in accordance with the learning motivation indicators, for example the students become more active in answering questions which are given by the researcher; never giving up to solve difficult questions; and they are able to accomplish every questions on time. Furthermore, one of the interview result state that they can better to understand the learning and love the natural number multiplication with used the lego bricks.Therefore, the students who have high learning motivation seem more active to participate in every learning activity, furthermore they are also more focus and keen on learning process. Moreover, due to the increasing of learning motivation which the students have, unwittingly the students’ learning results become better as well after they used lego bricks game in learning process. It seen from the difference of pre-test and post-test result of them. One of them got the 70 and 100 score result, and the another one got 10 and 70. Besides that, it had been strenghtened too by observation sheet of learning activity that observed from students’ leraning result. Keywords: mild mentally disabled, lego bricks game, learning motivation, learning results viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Fransiska Intan Rosari NIM : 141414065 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul: Pengaruh “Permainan Lego Bricks terhadap Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Perkalian Bilangan Asli untuk Anak Tunagrahita Ringan Kelas VII SLB Negeri 1 Bantul Tahun Pelajaran 2018/2019”. Dengan demikian saya memberikan hak kepada perpusatakaan Universitas Sanata Dharma untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikannya secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalty selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 29 Januari 2019 Yang Menyatakan Fransiska Intan Rosari ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan kasihnya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Permainan Lego Bricks Terhadap Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Perkalian Bilangan Asli untuk Anak Tunagrahita Ringan Kelas VII SLB Negeri 1 Bantul Tahun Pelajaran 2018/2019”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengertahuan Alam, Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terselesaikan dengan baik tanpa bimbingan, bantuan, dukungan dan terutama doa yang diberikan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria yang telah mencurahkan segala berkat dan karunia-Nya beserta kasih yang berlimpah, sehingga peneliti mampu bertahan sampai saat ini dalam menyelesaikan skripsi. 2. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 3. Bapak Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 4. Bapak Beni Utomo, M.Sc., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika. x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Ibu Maria Suci Apriani, S.Pd., M.Sc., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Matematika. 6. Bapak Antonius Yudhi Anggoro, M.Si., selaku DPA. 7. Ibu Niluh Sulistyani, M.Pd., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu dan selalu sabar untuk memberikan arahan dan bimbingan selama proses penyelesaian skripsi. 8. Bapak Dewa Putu Wiadnyana Putra, S.Pd., M.Sc., selaku validator yang telah membantu penulis dalam melakukan validasi instrumen lembar observasi dan lembar wawancara dan penguji dua. 9. Bapak Feby Sanjaya, M.Sc., selaku penguji satu. 10. Bapak Yosep Dwi Kristanto, M.Pd., selaku validator yang telah membantu penulis dalam melakukan validasi instrumen lembar tes, RPP dan LKS. 11. Segenap dosen Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma yang telah membagikan ilmu dan pengalaman kepada penulis selama mengikuti perkuliahan di Universitas Sanata Dharma. 12. Segenap staf sekretariat JPMIPA yang telah banyak membantu memberikan informasi kepada penulis selama perkulian di Universitas Sanata Dharma dan memperbaiki pembuatan surat izin penelitian yang diserahkan ke KESBANGPOL. 13. Kepala SLB Negeri 1 Bantul yang telah mengizinkan peneliti melakukan penelitian. 14. Ibu Yeni Novianti, S.Pd., selaku guru akademik kelas VII untuk tunagrahita ringan yang telah meluangkan segala waktunya untuk membantu peneliti xi

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dalam melaksanakan penelitian dan memberikan segala informasi yang penting terkait dengan sekolah dan anak didik supaya penelitian berlangsung dengan lancar. 15. Seluruh guru dan staf SLB Negeri 1 Bantul yang telah bersedia menerima peneliti dengan baik dan memberikan tempat untuk melaksanakan penelitian 16. Anak didik kelas VII Tunagrahita Ringan SLB Negeri 1 Bantul yang telah membantu peneliti selama proses penelitian berlangsung. 17. Kedua orang tua yang selalu memberikan segala kasihnya dengan tulus untuk selalu mendukung dan membimbing penulis, memberikan segala seuatuanya kepada penulis dengan tulus berupa doa dan tindakan, selalu menguatkan penulis dikala berada pada titik terendah, dan selalu menjadi alasan penulis untuk bangkit dari keterpurukan. 18. Keluarga besar yang memberikan banyak sukacita kepada penulis saat mengalami kondisi yang baik ataupun sulit. 19. Sahabat yang selalu sabar menghadapi segala tingkah laku penulis, memberikan dukungan dan doa, serta tidak bosan mengingatkan penulis untuk menyelesaikan skripsi. Selain itu, bersedia membantu penulis dalam melaksanakan penelitian dan meluangkan waktunya untuk menemani penulis mengerjakan skripsi. 20. Kakak-kakak yang selalu memberikan motivasi dan dukungan serta memberikan masukan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dilakukan penulis saat mengerjakan skripsi. xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21. Teman-teman yang selalu memberikan dukungan berupa ucapan atau tindakan dan setia menguatkan satu sama lain untuk meraih kesuksesaan bersama. 22. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan dukungan secara langsung maupun tidak langsung berupa ucapan, doa ataupun tindakan. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca guna perbaikan skripsi ini. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak . Yogyakarta, 29 Januari 2019 Fransiska Intan Rosari xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. ii HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... iv HALAMAN MOTTO .......................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS .................................................. vi ABSTRAK ........................................................................................................ vii ABSTRACT ....................................................................................................... viii LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ................................ ix KATA PENGANTAR ......................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................... xiv DAFTAR TABEL ............................................................................................ xvi DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvii BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ......................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah ............................................................................... 7 C. Pembatasan Masalah .............................................................................. 7 D. Rumusan Masalah .................................................................................. 8 E. Tujuan Penelitian ................................................................................... 8 F. Penjelasan Istilah .................................................................................... 9 G. Manfaat Penelitian ............................................................................... 10 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................ 12 A. Belajar.................................................................................................. 12 B. Motivasi Belajar ................................................................................... 18 C. Hasil Belajar ........................................................................................ 24 D. Tunagrahita Ringan .............................................................................. 27 E. Perkalian Bilangan Asli ........................................................................ 31 F. Permainan Lego Bricks......................................................................... 37 G. Perkalian Bilangan Asli dengan Menggunakan Permainan Lego Bricks untuk Anak Tunagrahita Ringan ........................................................... 42 H. Kerangka Berpikir ................................................................................ 46 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI I. Penelitian yang Relevan ....................................................................... 49 BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 56 A. Jenis Penelitian..................................................................................... 56 B. Subjek dan Objek Penelitian ................................................................. 56 C. Bentuk Data ......................................................................................... 56 D. Metode Pengumpulan Data................................................................... 57 E. Instrumen Penelitian ............................................................................. 58 F. Metode Analisis Data ........................................................................... 72 G. Kriteria Keberhasilan Penelitian ........................................................... 75 H. Tempat dan Penjadwalan Waktu Pelaksanaan Penelitian ...................... 77 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 79 A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian.......................................................... 79 B. Deskripsi Pelaksanaan Pembelajaran Anak Tungrahita Ringan ............. 84 C. Deskripsi Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Menggunakan Permainan Lego Bricks ........................................................................................ 107 D. Pembahasan ....................................................................................... 198 E. Temuan Lain ...................................................................................... 211 F. Keterbatasan....................................................................................... 214 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN............................................................ 216 A. Kesimpulan ........................................................................................ 216 B. Saran .................................................................................................. 217 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 219 LAMPIRAN .................................................................................................... 222 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Belajar Anak Didik yang Ditinjau Dari Motivasi Belajar dan Hasil Belajar ........................................... 61 Tabel 3.2 Lembar Observasi Aktivitas Belajar Anak Didik yang Ditinjau Dari Motivasi Belajar dan Hasil Belajar ................................................... 62 Tabel 3.3 Kisi-kisi Wawancara Mengenai Motivasi Belajar ............................. 68 Tabel 3.4 Panduan Wawancara Sementara Mengenai Motivasi Belajar Anak Didik ............................................................................................... 69 Tabel 3.5 Kisi-kisi Soal Pretest dan Posttest.................................................... 72 Tabel 3.6 Kriteria Hasil Presentase Skor Observasi Aktivitas Belajar yang Ditinjau dari Motivasi Belajar Anak Didik ....................................... 76 Tabel 4.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ......................................................... 83 Tabel 4.2 Hasil Penelitian Aktivitas Belajar Didik Yang Ditinjau Dari Motivasi Belajar Dan Hasil Belajar .............................................................. 163 Tabel 4.3 Hasil Penelitian Aktivitas Belajar Didik Yang Ditinjau Dari Motivasi Belajar Dan Hasil Belajar .............................................................. 164 Tabel 4.4 Hasil Penelitian Pretest Menurut Indikator Soal ............................. 175 Tabel 4.5 Hasil Penelitian Pretest Menurut Indikator Soal ............................. 181 Tabel 4.6 Hasil Penelitian Posttest Menurut Indikator Soal ........................... 187 Tabel 4.7 Hasil Penelitian Posttest Menurut Indikator Soal ........................... 193 xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Lego bricks yang mempunyai 4 titik sebanyak 20 buah ............... 43 Gambar 2.2 Lego bricks disusun di alas lego .................................................. 43 Gambar 2.3 Lego bricks yang mempunyai 8 titik, 8 titik, dan 4 titik yang apabila dijumlahkan menjadi 20 titik ....................................................... 45 Gambar 2.4 Lego bricks yang mempunyai 20 titik diambil sebanyak 4 bricks. 45 Gambar 2.5 Lego bricks dipasang di alas lego ................................................ 46 Gambar 4.1 Anak didik memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan guru ............................................................................................ 87 Gambar 4.2 Anak didik sedang mengerjakan latihan soal ............................... 88 Gambar 4.3 Anak didik membaca soal cerita dengan dibimbing oleh guru...... 90 Gambar 4.4 Anak didik mengerjakan latihan soal cerita ................................. 91 Gambar 4.5 Anak didik memperhatikan penjelasan guru ................................ 92 Gambar 4.6 Anak didik menjawab pertanyaan dari guru ................................. 93 Gambar 4.7 Anak didik mengerjakan contoh soal dan latihan soal dibimbing oleh guru ............................................................................................ 93 Gambar 4.8 Anak didik dibimbing guru dalam memperbaiki .......................... 94 Gambar 4.9 Anak didik mengerjakan soal cerita di papan tulis ....................... 95 Gambar 4.10 Anak didik mengerjakan soal cerita dengan dibimbing guru ........ 96 Gambar 4.11 Anak didik mengerjakan soal cerita ............................................. 96 Gambar 4.12 Anak didik mendengarkan penjelasan dari guru dan menjawab pertanyaannya ......................................................................... 101 Gambar 4.13 Anak didik mengerjakan latihan soal ......................................... 102 Gambar 4.14 Peneliti membantu anak didik .................................................... 103 Gambar 4.15 Anak didik memperhatikan penjelasanm dan menjawab pertanyaan dari guru.................................................................................... 105 Gambar 4.16 Anak didik mengganggu temannya yang sedang fokus mengerjakan .................................................................................................. 105 Gambar 4.17 Anak didik mencoba melihat jawaban ....................................... 106 Gambar 4.18 Anak didik terlihat mengerjakan soal sampai bosan ................... 106 Gambar 4.19 Anak didik menjawab pertanyaan dari peneliti .......................... 112 Gambar 4.20 Ekspresi anak didik ketika peneliti menunjukkan permainan lego bricks ........................................................................................ 113 Gambar 4.21 Pada saat peneliti menjelaskan materi dan membimbing anak didik menggunakan permainan lego bricks ......................................... 113 Gambar 4.22 Anak didik mengerjakan LKS dengan menggunakan permainan lego bricks ........................................................................................ 114 Gambar 4.23 Anak didik membaca dan memahami LKS ................................ 117 Gambar 4.24 Anak didik mengerjakan LKS dengan menggunakan permainan lego bricks ........................................................................................ 117 Gambar 4.25 Anak didik menuliskan jawaban di papan tulis .......................... 121 Gambar 4.26 Anak didik mengerjakan LKS menggunakan lego bricks ........... 122 Gambar 4.27 Anak didik memasang lego bricks ke alas lego .......................... 123 xvii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gambar 4.28 Anak didik menghitung titik – titik lego bricks .......................... 123 Gambar 4.29 Anak didik mendengarkan peneliti saat menjelaskan materi ...... 126 Gambar 4.30 Anak didik membaca dan memahami latihan soal LKS ............. 126 Gambar 4.31 Anak didik fokus menyelesaikan latihan soal di LKS dengan menggunakan permainan lego bricks....................................... 127 Gambar 4.32 Anak didik menghitung titik-titik lego bricks dibantu oleh peneliti .................................................................................................. 128 Gambar 4.33 Anak didik sangat serius mendengarkan peneliti menyampaikan materi pembelajaran ................................................................ 132 Gambar 4.34 Anak didik mengerjakan LKS menggunakan permainan lego bricks .................................................................................................. 133 Gambar 4.35 Anak didik memasang lego bricks ke alas lego .......................... 133 Gambar 4.36 Anak didik menghitung titik-titik lego bricks untuk memperoleh hasil dari soal perkalian yang ada di LKS .................................. 134 Gambar 4.37 Anak didik mengerjakan LKS menggunakan permainan lego bricks .................................................................................................. 137 Gambar 4.38 Anak didik memasang lego bricks ke alas lego .......................... 138 Gambar 4.39 Anak didik menghitung titik – titik lego bricks .......................... 139 Gambar 4.40 Anak didik fokus menggunakan lego bricks .............................. 139 Gambar 4.41 Anak didik mengerjakan LKS dengan menggunakan lego bricks .................................................................................................. 147 Gambar 4.42 Anak didik mengumpulkan lego bricks dan memasang lego bricks ke alas lego ............................................................................... 147 Gambar 4.43 Anak didik menghitung semua titik lego bricks yang ada di alas lego untuk memperoleh hasil perkalian pada suatu persoalan ............ 148 Gambar 4.44 Anak didik mengerjakan latihan soal di LKS dengan menggunakan lego bricks................................................................................. 150 Gambar 4.45 Anak didik memasang lego bricks ke alas lego .......................... 151 Gambar 4.46 Anak didik menghitung titik – titik pada lego bricks .................. 151 Gambar 4.47 Anak didik menuliskan jawabannya di papan tulis ..................... 155 Gambar 4.48 Anak didik mencatat informasi dari peneliti............................... 156 Gambar 4.49 Anak didik mengerjakan lembar latihan soal dengan menerpakan konsep permainan lego bricks.................................................... 156 Gambar 4.50 Anak didik mengerjakan soal tahap demi tahap dari lembar soal tersebut ..................................................................................... 157 Gambar 4.51 Anak didik mengerjakan soal di papan tulis ............................... 159 Gambar 4.52 Anak didik mencatat informasi terkait dengan materi pembelajaran yang disampaikan peneliti ......................................................... 160 Gambar 4.53 Anak didik mengerjakan lembar latihan soal ............................. 160 Gambar 4.54 Jawaban anak didik nomor 9…………………………………… 175 Gambar 4.55 Jawaban anak didik nomor 1…………………………………… 176 Gambar 4.56 Jawaban anak didik nomor 2…………………………………… 177 Gambar 4.57 Jawaban anak didik nomor 5…………………………………… 178 Gambar 4.58 Jawaban anak didik nomor 6…………………………………… 178 Gambar 4.59 Jawaban anak didik nomor 7…………………………………… 179 Gambar 4.60 Jawaban anak didik nomor 8…………………………………… 180 xviii

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gambar 4.61 Jawaban anak didik nomor 9…………………………………… 182 Gambar 4.62 Jawaban anak didik nomor 1…………………………………… 182 Gambar 4.63 Jawaban anak didik nomor 5…………………………………… 183 Gambar 4.64 Jawaban anak didik nomor 6…………………………………… 184 Gambar 4.65 Jawaban anak didik nomor 8…………………………………… 185 Gambar 4.66 Jawaban anak didik nomor 8…………………………………… 188 Gambar 4.67 Jawaban anak didik nomor 5…………………………………… 189 Gambar 4.68 Jawaban anak didik nomor 4…………………………………… 190 Gambar 4.69 Jawaban anak didik nomor 1…………………………………… 191 Gambar 4.70 Jawaban anak didik nomor 2…………………………………… 192 Gambar 4.71 Jawaban anak didik nomor 8…………………………………… 194 Gambar 4.72 Jawaban anak didik nomor 5…………………………………… 195 Gambar 4.73 Jawaban anak didik nomor 4…………………………………… 196 Gambar 4.74 Jawaban anak didik nomor 9…………………………………… 196 Gambar 4.75 Jawaban anak didik nomor 1…………………………………… 197 Gambar 4.76 Jawaban anak didik nomor 2…………………………………… 198 xix

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sangatlah penting bagi masyarakat. Pendidikan sudah dilakukan sejak dini, dimulai dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai dengan jenjang yang lebih tinggi. Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan sesuai, tidak terkecuali anak yang memiliki gangguan dari segi fisik, mental, kognitif, dan psikomotorik. Anak yang memiliki kekurangan tersebut biasa disebut dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). ABK adalah anak yang menyimpang dari rata-rata anak normal dalam ciri-ciri mental, kemampuan-kemampuan sensorik, fisik, neuromaskular, perilaku sosial dan emosinal, kemampuan berkomunikasi, maupun kombinasi dua atau lebih dari hal-hal diatas, sejauh ia mememerlukan modifikasi tugas-tugas sekolah, metode belajar atau pelayanan terkait lainnya, yang dituliskan untuk pengembangan potensi atau kapasitasnya secara maksimal (Mangunsong, 2009). Kekurangan yang dimiliki ABK bukanlah suatu penghambat untuk memperoleh pengetahuan. Sama halnya seperti anak normal lainnya, anak berkebutuhan khusus juga tetap mendapatkan hak yang sama apalagi dalam bidang pendidikan. Hanya saja hambatan fisik, mental, intelektual, dan motorik membuat anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan perhatian i

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 lebih dan layanan pendidikan yang berbeda. Anak berkebutuhan khusus memiliki banyak kategori, salah satunya adalah anak tunagrahita. Anak tunagrahita merupakan kondisi dimana perkembangan kecerdasannya mengalami hambatan sehingga tidak mencapai tahap perkembangan yang optimal (Tjutju Sutjiati Somantri, 1995: 159). Sedangkan menurut Mohammad Amin (1995: 116), “anak tunagrahita adalah anak dimana perkembangan mental tidak berlangsung secara normal, sehingga sebagai akibatnya terdapat ketidakmampuan dalam bidang intelektual, kemauan, rasa, dan penyesuaian sosial”. Dengan kata lain anak tunagrahita memiliki karakteristik yang khas pada tingkah laku, cara belajar, kesehatan fisik dan emosinya. Sehingga dalam pembelajaran anak tunagrahita sering gagal memberikan perhatian secara penuh dan sering mengalami kesulitan dalam memfokuskan perhatian pada pembelajaran. Berdasarkan klasifikasi sosial-psikologis menurut Grossman Ettel yang dikutip oleh Kirk dan Galagher (Mulyono Abdurahman, 1994: 25) terdapat 4 retardasi mental menurut skala intelegensi Wechsler yaitu salah satunya adalah Retardasi mental ringan dengan IQ 55 – 69. Anak tunagrahita ringan dikategorikan paling tinggi kecerdasaannya. Mereka masih mampu mengikuti pelajaran yang bersifat akademik, baik di sekolah reguler ataupun di sekolah luar biasa. Anak tunagrahita ringan masih memiliki kemampuan untuk berkembang dalam tiga hal yaitu: 1) Kemampuan dalam menulis, membaca dan menghitung; 2) Kemampuan dalam berbicara dengan jelas; 3) Kemampuan dalam bersosial. Meskipun

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 demikian umur kecerdasan penyandang tunagrahita ringan apabila sudah dewasa sama dengan anak normal yang berusia 12 tahun. Kesulitan yang signifikan dihadapi anak tunagrahita ringan dalam dunia akademik yaitu berpikir secara abstrak. Hal tersebut berkaitan dengan kemampuannya dalam mempelajari matematika ketika berhitung, pemahaman mengenai konsep abstrak dan simbol. Untuk mempelajari operasi hitung penjumlahan dan pengurangan dengan bilangan satuan, anak tunagrahita ringan masih dapat melakukannya. Sedangkan anak tunagrahita ringan belum dapat menguasai penjumlahan mengenai bilangan puluhan jika hanya dengan menggunakan ingatan dan tanpa alat bantu. Jika diberikan operasi perkalian bilangan asli mereka belum mampu menyelesaikannya. Anak tunagrahita ringan mengalami kesulitan dalam melakukan perkalian antara bilangan satuan dengan bilangan satuan dan bilangan puluhan dengan bilangan satuan. Hal ini dikarenakan konsep pembelajaran yang digunakan tidak berbeda jauh dengan pembelajaran untuk anak biasa dengan kata lain lebih menekankan pada ingatan anak. Demikian halnya di SLB Negeri 1 Bantul, anak tunagrahita ringan tingkat menengah pertama khususnya anak didik kelas VII telah mampu menulis bahkan ada yang sudah mampu membaca lancar tetapi ketika ditanyakan terkait dengan perkalian pada suatu bilangan asli jawabannya belum tepat. SLB Negeri 1 Bantul menggunakan pembelajaran tematik, dimana materi matematika digabung dengan pelajaran yang lainnya sesuai dengan tema yang ada. Dengan kata lain di sekolah tersebut tidak

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 mengajarkan matematika secara khusus layaknya seperti sekolah reguler yang mempelajari berbagai materi dalam mata pelajaran matematika sesuai dengan jenjang sekolahnya. Dalam mempelajari perkalian bilangan asli biasanya guru meminta anak untuk menghafal bilangan perkalian ataupun menerapkan konsep abstrak. Penerapan konsep abstrak maksudnya anak dijelaskan secara teori dimana guru menuliskan angka seperti "1,2,3, . . . ", atau menggambar berbagai macam bentuk seperti gambar apel, permen, dan simbol-simbol lainnya sebagai sarana mewakili bilangan dari suatu perkalian. Kemudian guru meminta anak untuk menghitung berapa banyak gambar atau simbol yang tertera dan jumlahnya merupakan hasil dari perkalian tersebut. Hal ini sering terjadi ketika guru hanya menjelaskan secara teori tanpa menggunakan alat bantu yang dapat merangsang kemampuan psikomotorik anak. Hal tersebut membuat respon anak didik dalam belajar matematika tidak begitu baik. Awalnya anak didik memperhatikan penjelasan dari guru. Tidak hanya itu, ada juga yang aktif bertanya tetapi belum ada 15 menit waktu berlalu ada saja kesibukan yang dilakukan oleh anak didik contohnya ada yang mengganggu temannya seperti menjahili, ada yang bermain pulpen, dan ada yang tiduran. Anak didik merasa bosan atas aktivitas yang hanya sekedar memperhatikan dan mendengarkan penjelasan dari guru. Ketika guru mulai memberikan soal dengan menuliskan soal-soal tersebut di papan tulis dan anak didik diminta untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan, respon

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 yang diberikan mereka cukup baik dan mereka merasa tertarik untuk mengerjakan. Tidak lama dari pengerjaan soal tersebut mereka mulai menemukan kesulitan-kesulitan dalam menyelesaian soal-soal tersebut dikarenakan beberapa dari mereka kesulitan untuk melakukan pernjumlahan dengan bilangan yang bernilai besar contohnya saja seperti bilangan belasan hingga puluhan. Kemudian beberapa dari peserta didik hanya berdiam diri saja dan mulai melakukan aktivitas sesuai dengan keinginannya sendiri tanpa menyelesaikan terlebih dahulu soal-soal perkalian bilangan asli yang diberikan oleh guru. Dari hal itu, terlihat jelas bahwa mereka merasa putus asa dalam menyelesaikan soal perkalian dan dapat menurunkan motivasi belajar matematika yang dimiliki mereka. Padahal motivasi belajar salah satu aspek yang sangat penting dalam memperlancar proses pembelajaran yang terjadi. Bukan hanya itu akibat rendahnya motivasi belajar matematika yang dimiliki anak didik dapat mempengaruhi hasil belajar mereka pada perkalian bilangan asli. Sehingga dapat menimbulkan hasil yang tidak optimal atau tidak ada perkembangan secara signifikan saat mempelajari perkalian bilangan asli yang disebabkan karena penerapannya berupa konsep abstrak yang sulit untuk dipahami oleh anak tunagrahita ringan. Walaupun begitu operasi perkalian pada bilangan asli merupakan salah satu materi yang perlu dikuasai karena materi tersebut sangat berpengaruh untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. IQ di bawah rata-rata yang

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 dimiliki anak tunagrahita ringan juga menjadi salah satu faktor utama kesulitan anak dalam mempelajari operasi perkalian bilangan asli yang sifatnya abstrak. Untuk itu anak tunagrahita ringan memerlukan pembelajaran yang berbeda dan latihan yang rutin sehingga dapat memahami operasi perkalian bilangan asli. Anak tunagrahita ringan perlu diberikan stimulus berupa pembelajaran secara visualiasi dengan menggunakan permainan. Banyak sekali permainan edukasi yang dapat digunakan untuk mempelajari operasi perkalian bilangan asli, salah satunya yaitu permainan lego bricks. Permainan edukasi ini sangat terkenal dengan fleksibilitasnya untuk dibuat menjadi benda apapun. Sebagai contoh, kita bisa membuat rumahrumahan, kebun binatang, dan mobil-mobilan dari lego bricks. Tetapi, ternyata belum banyak yang menyadari jika permainan lego bricks cocok digunakan untuk operasi perkalian bilangan asli. Hal ini terlihat bahwa dalam setiap lego bricks mempunyai “angka” sendiri yang ditentukan oleh jumlah titik menonjol pada balok tersebut. Nilainya bisa kelipatan 1, 2, 3, dan seterusnya. Contohnya: pada sebuah lego bricks, kita mempunyai angka 6 yang terdiri dari 3 baris dan 2 kolom dan kita mempunyai angka 2 yang terdiri dari 1 baris dan 2 kolom. Selain itu, warna lego bricks yang berwarna-warni dapat mempermudah anak untuk mempelajarinya. Misalkan untuk perkalian 2 × 2, ambil lego yang terdiri dari 2 titik sebanyak dua kali dengan warna yang berbeda kemudian gabungkan menjadi satu bentuk. Lalu untuk mendapatkan hasilnya anak diminta menghitung setiap titik dalam lego bricks tersebut. Dari proses pembelajaran dengan menerapkan permainan lego

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 bricks diharapkan dapat membantu anak tunagrahita ringan dalam melakukan operasi perkalian bilangan asli walaupun secara bertahap atau step by step. Berdasarkan uraian diatas peneliti melakukan penelitian dengan meneliti pengaruh permainan lego bricks terhadap motivasi belajar dan hasil belajar perkalian bilangan asli untuk anak tunagrahita ringan kelas VII SLB Negeri 1 Bantul tahun pelajaran 2018/2019. B. Identifikasi Masalah Masalah yang akan diteliti dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1. Anak tunagrahita ringan mengalami kesulitan dalam memahami konsep secara abstrak dan mengenal simbol bilangan 2. Anak tunagrahita ringan masih sulit dalam melakukan operasi hitung perkalian bilangan asli 3. Perpaduan antara penggunaan lego bricks dengan matematika masih sangat jarang ditemui dalam proses pembelajaran 4. Penerapan permainan edukasi berupa permainan lego bricks untuk anak tunagrahita ringan belum pernah digunakan oleh guru SLB saat proses pembelajaran mengenai operasi perkalian bilangan asli berlangsung. C. Pembatasan Masalah Peneliti membatasi masalah pada: Penerapan permainan edukasi berupa permainan lego bricks untuk anak tunagrahita ringan kelas VII dalam pembelajaran mengenai operasi perkalian

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 bilangan asli antara bilangan 1 – 20 di SLB Negeri 1 Bantul tahun pelajaran 2018/2019. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan tempat dilaksanakannya penelitian maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pengaruh penerapan permainan lego bricks terhadap motivasi belajar perkalian bilangan asli untuk anak tunagrahita ringan kelas VII SLB Negeri 1 Bantul tahun pelajaran 2018/2019? 2. Bagaimana pengaruh penerapan permainan lego bricks terhadap motivasi hasil belajar perkalian bilangan asli untuk anak tunagrahita ringan kelas VII SLB Negeri 1 Bantul tahun pelajaran 2018/2019?. E. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini yaitu : 1. Mengetahui pengaruh penerapan permainan lego bricks terhadap motivasi belajar perkalian bilangan asli untuk anak tunagrahita ringan kelas VII SLB Negeri 1 Bantul tahun pelajaran 2018/2019. 2. Mengetahui pengaruh penerapan permainan lego bricks terhadap hasil belajar perkalian bilangan asli untuk anak tunagrahita ringan kelas VII SLB Negeri 1 Bantul tahun pelajaran 2018/2019.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 F. Penjelasan Istilah Supaya tidak menimbulkan adanya perbedaan prespektif terhadap istilah-istilah yang akan digunakan, maka peneliti merasa perlu memberikan penjelasan terhadap beberapa istilah yang akan peneliti gunakan pada penelitian ini. Batasan istilah yang digunakan dalam penelitian ini beberapa diambil berdasarkan pendapat para pakar dalam bidangnya masing-masing, namun meski demikian beberapa istilah ditentukan oleh peneliti untuk kepentingan penelitian ini. Beberapa istilah yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut: 1. Permainan Lego Bricks Pemainan lego bricks adalah mainan yang berbentuk balok/brick beraneka warna yang dapat disusun dan mempunyai titik pada permukaan sebagai tempat perlekatan pada balok lainnya sehingga membentuk susunan yang teratur. 2. Anak Tunagrahita Anak tunagrahita adalah anak yang memiliki kecerdasan dibawah ratarata, mengalami hambatan tingkah laku, penyesuaian dan terjadi pada masa perkembagannya (Amin, 1995:15). 3. Anak Tunagrahita Ringan Tunagrahita ringan adalah anak tunagrahita yang memiliki IQ 50-70 dan tidak mampu untuk mengikuti pendidikan pada program sekolah biasa, tetapi mereka masih mempunyai kemampuan melalui bidang pendidikan walaupun hasilnya tidak maksimal (Mohammad Effendi, 2006: 90).

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 G. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti a. Menambah pengalaman baru mengajar matematika untuk anak tunagrahita ringan yang memiliki hambatan dalam memahami operasi hitung perkalian b. Menambah pengetahuan baru dalam menggunakan permainan lego bricks sebagai salah satu sarana untuk proses pembelajaran yang dapat memberi pengaruh pada motivasi belajar dan hasil belajar anak tunagrahita ringan c. Memperoleh jawaban berdasarkan data-data saat penelitian untuk mengetahui hasil belajar anak tunagrahita ringan dalam mempelajari matematika khususnya pada operasi perkalian bilangan asli. 2. Bagi Anak Tunagrahita Ringan a. Dapat mengikuti proses pembelajaran matematika dengan suasana yang menyenangkan sehingga mampu meningkatkan motivasi belajar matematika untuk anak tunagrahita ringan b. Dapat menggunakan permainan lego bricks sebagai alat bantu dalam menyelesaikan persoalan mengenai operasi perkalian asli c. Dapat menerapkan konsep bermain dengan lego bricks dalam memahami perkalian bilangan asli d. 3. Mampu melakukan operasi perkalian bilangan asli dengan baik. Bagi Guru

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 Guru dapat menerapkan permainan edukasi berupa permainan lego bricks saat proses pembelajaran berlangsung yang digunakan sebagai alat bantu untuk meningkatkan dan memperbaiki proses belajar terutama untuk dapat meningkatkan motivasi belajar anak didik dalam mempelajari matematika serta dapat meningkatkan hasil belajar matematika khususnya pada materi operasi perkalian bilangan asli pada anak tunagrahita ringan.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Belajar Belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat penting dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan lingkungan sekitarnya (Asep Jihad dan Abdul Haris, 2013:1). Sedangkan menurut Mustaqim (2008: 24) belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang terjadi karena latihan dan pengalaman. Dengan kata lain belajar adalah suatu aktivitas atau usaha yang disengaja dan menghasilkan perubahan berupa sesuatu yang baik yang segera nampak atau tersembunyi tetapi juga hanya berupa penyempurnaan terhadap sesuatu yang pernah dipelajari. Perubahanperubahan itu meliputi perubahan ketrampilan jasmani, kecepatan perseptual, isi ingatan, abilitas berpikir, dan sikap terhadap nilai-nilai. Perubahan tersebut relatif bersifat konstan. Selain itu, belajar merupakan suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan perilaku yang relatif tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun dalam tindakan (Zubaidah Amir & Risnawati, 2016: 5). Dari ketiga pengertian belajar diatas, peneliti menyimpulkan bahwa belajar adalah suatu i

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mempelajari dan memahami segala hal berupa pengalaman ataupun pengetahuan dengan tujuan dapat memperbaiki dan mendapatkan suatu perubahan perilaku dari kehidupan yang sebelumnya. Belajar mempunyai beberapa tahapan. Tahapan dalam belajar tergantung pada fase-fase belajar, salah satu tahapannya adalah yang dikemukakan oleh Wittig, yaitu: 1. Tahap acquisition, yaitu tahapan perolehan informasi 2. Tahap storage, yaitu tahapan penyimpanan informasi 3. Tahap retrival. yaitu tahapan pendekatan kembali informasi (Syah, 2003). Perubahan-perubahan yang terjadi didasari oleh individu yang belajar, berkesinambungan, dan akan berdampak pada fungsi kehidupan lainnya. Selain itu perubahan bersifat positif terjadi karena peran aktif dari pembelajar, tidak bersifat sementara, bertujuan, dan perubahan yang terjadi meliputi keseluruhan tingkah laku pada sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Slameto memberikan ciri-ciri tentang perubahan tingkah laku yang terjadi dalam belajar sebagai berikut: 1. Terjadi secara sadar 2. Bersifat kontinu dan fungsional 3. Bersifat positif dan aktif 4. Bukan bersifat sementara 5. Bertujuan dan terarah; dan

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 6. Mencakup seluruh aspek tingkah laku. Tidak hanya itu, Hamalik (2003) memberikan ciri-ciri belajar, yaitu: (1) proses belajar harus mengalami, berbuat, mereaksi, dan melampaui; (2) melalui bermacam-macam pengalaman dan mata pelajaran yang berpusat pada suatu tujuan tertentu; (3) bermakna bagi kehidupan tertentu; (4) bersumber dari kebutuhan dan tujuan yang mendorong motivasi secara keseimbangan; (5) dipengaruhi pembawaan dan lingkungan; (6) dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan individual; (7) berlangsung secara efektif apabila pengalaman-pengalaman dan hasil-hasil yang diinginkan sesuai dengan kematangan anda sebagai peserta didik; (8) proses belajar terbaik adalah apabila anda mengetahui status dan kemajuannya; (9) kesatuan fungsional dari berbagai prosedur; (10) hasil-hasil belajar secara fungsional bertalian satu sama lain tetapi dapat didiskusikan secara terpisah; (11) di bawah bimbingan yang merangsang dan bimbingan tanpa tekanan dan paksaan; (12) hasil-hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertianpengertian, sikap-sikap, apresiasi abilitas dan keterampilan; (13) dilengkapi dengan jalan serangkaian pengalaman yang dapat dipersamakan dan dengan pertimbangan yang baik; (14) lambat laun dipersatukan menjadi kepribadian dengan kecepatan berbeda-beda; (15) bersifat kompleks dan dapat berubahubah, jadi tidak sederhana dan statis. Seseorang melakukan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pencapaian tersebut erat kaitannya dengan keberhasilan belajar yang didapatkan oleh anak didik. Ketika seseorang mengalami keberhasilan

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 dalam belajar, hal tersebut tidak lain dipengaruhi oleh faktor-faktor belajar. Menurut Syah (2004:144), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar anak dapat dibedakan menjadi tiga macam, yakni: 1. Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni kondisi jasmani dan rohani anak didik 2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar anak didik 3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar yang meliputi strategi dan metode yang digunakan oleh sanak didik untuk melakukan kegiatan pembelajaran pada materi-materi pelajaran. Sedangkan, Dalyono (2007:55-60) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar sebagai berikut: 1. 2. Faktor internal (yang berasal dari dalam diri): a. Kesehatan b. Intelegensi dan bakat c. Minat dan motivasi d. Cara belajar Faktor eksternal (yang bersal dari luar diri) a. Keluarga b. Sekolah c. Masyarakat d. Lingkungan sekitar

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 Selain itu, Nursyaida (2014; 71-79) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar digolongkan menjadi dua golongan yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal dikelompokkan kembali menjadi 3 faktor yaitu: 1. Faktor jasmani, terdiri dari kesehatan dan cacat tubuh 2. Faktor psikologis, terdiri dari inteligensi (kecakapan), perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan, dan kesiapan 3. Faktor kelelahan, kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan, tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis). Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar diri anak didik yang ikut mempengaruhi belajarnya, antara lain: 1. Faktor yang berasal dari orang tua Faktor yang berasal dari orang tua utamanya adalah cara mendidik orang tua terhadap anaknya. Sebaiknya orang tua melakukan kebiasaankebiasaan yang positif kepada anak untuk dapat diteladani. Selain itu juga orang tua diharapkan selalu memperhatikan anak selama belajar baik langsung maupun tidak langsung, dan memberikan arahan-arahan manakala akan melakukan tindakan yang kurang tertib dalam belajar. Di dalam pergaulan di lingkungan keluarga hendaknya berubah menjadi situasi pendidikan, yaitu bila orang tua memperhatikan anak, misalnya 2. Faktor yang berasal dari sekolah

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 Faktor yang berasal dari sekolah, dapat berasal dari guru, mata pelajaran yang ditempuh, dan metode yang diterapkan. Faktor guru banyak menjadi penyebab kegagalan belajar anak, yaitu yang menyangkut kepribadian guru, kemampuan mengajarnya. Terhadap mata pelajaran, karena kebanyakan anak memusatkan perhatianya kepada yang diminati saja, sehingga mengakibatkan nilai yang diperolehnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Keterampilan, kemampuan, dan kemauan belajar anak tidak dapat dilepaskan dari pengaruh atau campur tangan orang lain. Oleh karena itu menjadi tugas guru untuk membimbing anak dalam belajar 3. Faktor yang berasal dari masyarakat Anak tidak lepas dari kehidupan masyarakat. Faktor masyarakat bahkan sangat kuat pengaruhnya terhadap pendidikan anak. Pengaruh masyarakat bahkan sulit dikendalikan. Mendukung atau tidak mendukung perkembangan anak, masyarakat juga ikut mempengaruhi. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa keberhasilan dalam belajar dapat diukur dan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal, dimana faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu sendiri tanpa dipengaruhi dari luar dan faktor ekternal adalah faktor yang berasal dari luar individu tersebut atau dipengaruhi oleh lingkungan yang ada di sekitar individu tersebut. Hal-hal yang terdapat dalam faktor-faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap keberhasilan yang dicapai anak didik dalam belajar. Sehingga anak didik yang mengalami keberhasilan

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 dalam belajar yaitu apabila anak didik tersebut melakukan aktivitas belajar dan diakhir dari aktivitasnya telah memperoleh perubahan dalam dirinya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dari belajar dan perubahan tersebut bersifat positif. Dalam penelitian ini untuk mengukur keberhasilan belajar anak didik, peneliti lebih menekankan dan melihat dari salah satu faktor internalnya yaitu motivasi belajar. Motivasi belajar anak didik dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Hal ini dikarenakan motivasi belajar dan hasil belajar mempunyai keterkaitan yang sangat kuat dalam kegiatan belajar. B. Motivasi Belajar Motivasi merupakan bagian penting dalam setiap kegiatan, termasuk aktivitas belajar, tanpa motivasi tidak ada kegiatan yang nyata. Dengan kata lain motivasi merupakan tenaga pendorong seseorang untuk melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan yang ditetapkan (Makmun Khairani, 2014: 177). Sedangkan menurut Siti Suprihatin (2015), motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat kemauan dalam melaksanakan suatu kegiatan. Selain itu, motivasi adalah suatu usaha untuk meningkatkan kegiatan dalam mencapai suatu tujuan tertentu, termasuk di dalamnya kegiatan belajar. Secara lebih khusus, motivasi belajar adalah segala sesuatu yang ditunjukkan untuk mendorong atau memberikan semangat kepada seseorang yang melakukan kegiatan belajar agar menjadi lebih giat lagi dalam belajarnya

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 untuk memperoleh prestasi yang lebih baik lagi (Purwa Atmaja Prawira, 2016: 320). Sedangkan motivasi belajar menurut Sardiman (2004: 75) adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri anak didik yang menimbulkan kegiatan atau aktivitas belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Berdasarkan beberapa pendapat mengenai motivasi, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang melakukan sesuatu hal, kegiatan atau aktivitas dengan keinginan untuk mencapai tujuan yang sudah direncanakan. Dalam kegiatan belajar di sekolah, motivasi dapat dikatakan sebagai gaya penggerak atau dorongan yang muncul di dalam diri anak didik dalam melakukan aktivitas-aktivitas belajar supaya tujuannya dapat tercapai dan mendapatkan hasil belajar secara maksimal. Motivasi belajar akan mendorong semangat belajar pada diri anak didik dan sebaliknya kurangnya motivasi belajar akan melemahkan semangat belajar yang juga akan mempengaruhi hasil belajar anak didik. Menurut Aunurrahman (2012) aktivitas belajar anak didik yang didorong oleh motivasi belajar merupakan pertanda anak didik sudah memiliki kesadaran dalam diri untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Maka dari itu, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang belajar tanpa mempunyai motivasi tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal, hal ini dapat terlihat dari aktivitas belajar anak didik di dalam kelas ketika sedang mengikuti proses pembelajaran.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Motivasi memiliki jenis-jenis yang dilihat dari dua sudut pandang yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang muncul dari dalam diri individu misalkan anak didik belajar karena didorong oleh keinginannya sendiri untuk menambah atau meningkatkan pengetahuan, misalkan seseorang berolahraga tenis karena memang ia mencintai olahraga tersebut (Wina Sanjaya, 2010: 256). Dengan demikian, tujuan motivasi intrinsik yang ingin dicapai ada dalam kegiatan itu sendiri. Selain itu, menurut Djamarah (2011: 149) yang dimaksud dengan motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Berdasarkan pendapat di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang tanpa dorongan atau rangsangan dari luar. Contohnya: anak didik yang mengikuti ekstrakulikuler berupa seni bela diri karena keinginan dan kemauannya sendiri untuk melindungi dirinya dan orang-orang disekitarnya. Hal tersebut dilakukan tanpa ada paksaan dari pihak luar ataupun rangsangan dari luar berupa hadiah dan penghargaan yang diberikan kepadanya jika dia mengikuti seni bela diri tersebut. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar diri seseorang (Djamarah, 2009: 115). Selain itu, Hamzah (2011) menyatakan bahwa terdapat perilaku individu yang hanya muncul karena adanya hukuman atau tidak muncul karena ada hukuman, motif yang menyebabkan perilaku itu seakan-akan berasal dari luar yang disebut dengan motif ekstrinsik.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 Dengan demikian peneliti dapat menyimpulkan bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari lingkungan sekitar yang dapat menimbulkan rangsangan untuk diri individu untuk melakukan suatu kegiatan. Contohnya: anak didik mendapatkan nilai 100 dari ulangan harian matematika karena ingin mendapatkan pujian ataupun hadiah dan penghargaan dari pihak lain. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru untuk membangkitkan motivasi belajar anak didik sebagaimana yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya (2010: 261-263) yaitu: 1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang jelas dapat menumbuhkan minat anak didik untuk belajar. Semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, maka akan semakin kuat motivasi belajar anak didik. Oleh sebab itu guru perlu menjelaskan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai sebelum proses pembelajaran dimulai 2. Membangkitkan minat anak didik. Anak didik akan terdorong untuk belajar, manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat siswa diantaranya: a. Hubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan anak didik b. Sesuaikan materi pelajaran dengan tingkat pengalaman dan kemampuan anak didik c. 3. Gunakan berbagai model dan strategi pembelajaran secara bervariasi Menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 4. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa 5. Berikan penilaian 6. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa 7. Ciptakan persaingan dan kerjasama. Berbagai upaya perlu dilakukan guru agar proses pembelajaran berhasil. Guru harus kreatif dan inovatif dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Menurut Nyayu Khadijah (Wahab, 2008 dalam Rohmalina Wahab, 2015: 134) peran motivasi dalam belajar adalah saat akan memulai belajar, saat sedang belajar, dan saat berakhirnya belajar. Selanjutnya ada beberapa peranan penting dari motivasi dalam belajar antara lain: 1. Peran motivasi dalam menentukan penguatan belajar Sesuatu dapat menjadi penguat belajar untuk seseorang, apabila dia sedang benar-benar mempunyai motivasi untuk belajar sesuatu. 2. Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar erat kaitannya dengan kemaknaan belajar. Anak akan tertarik untuk belajar sesuatu, jika yang dipelajari itu sedikitnya sudah dapat diketahui atau dinikmati manfaatnya bagi anak. 3. Motivasi menentukan ketekunan belajar Seorang anak yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu akan berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun dan dengan harapan memperoleh hasil yang baik. Dalam hal itu, tampak bahwa motivasi untuk belajar menyebabkan seseorang tekun belajar.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa peranan motivasi dalam belajar merupakan hal yang dilakukan ketika akan memulai belajar, sedang belajar, dan berakhirnya belajar yang digunakan untuk menentukan penguatan terhadap sesuatu yang telah dipelajari, dan memperjelas tujuan belajar serta menentukan ketekunan belajar itu sendiri. Untuk mengetahui kekuatan motivasi belajar anak didik, Handoko (1992: 59) menyatakan bahwa dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut: 1. Kuatnya kemauan untuk berbuat 2. Jumlah waktu yang disediakan untuk belajar 3. Kerelaan meninggalkan kewajiban atau tugas yang lain 4. Ketekunan dalam mengerjakan tugas. Sedangkan menurut Sardiman (2014), motivasi belajar memiliki beberapa indikator atau ciri-ciri sebagai berikut: 1. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu lama, tidak berhenti sebelum selesai) 2. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapainya) 3. Menunjukan minat terhadap bermacam-macam masalah orang dewasa (misalnya masalah pembangunan agama, politik, ekonomi, keadilan, pemberatan korupsi, dan sebagainya) 4. Lebih senang bekerja mandiri

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 5. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif) 6. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu) 7. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu. Dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini, anak didik yang dikatakan memiliki motivasi belajar adalah anak didik yang menyelesaikan suatu persoalan secara tekun, memiliki kemauan yang kuat untuk berbuat sesuatu yang positif, ulet menghadapi kesulitan, memperhatikan durasi kegiatan belajar, lebih senang bekerja mandiri, menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah, dapat mempertahankan pendapatnya dan cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin. Dengan demikian, anak didik yang memiliki motivasi belajar yang tinggi cenderung terlibat dalam semua kegiatan belajar secara intensif, fokus, dan tekun selama proses pembelajaran. C. Hasil Belajar Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku siswa secara nyata setelah dilakukan proses belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan pengajaran (Asep Jihad, 2012: 15). Menurut Sudjana (2004: 22) hasil belajar adalah kemampuan – kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada diri anak didik, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar (Ahmad Susanto, 2013: 5).

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 Dari pernyataan berbagai ahli, peneliti dapat menyimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak didik dalam perubahan segi kognitif, afektif, dan psikomotorik setelah melakukan proses pembelajaran. Melalui proses belajar, anak didik diharapkan dapat mencapai tujuan belajar sesuai dengan kemampuan yang dimiliki anak didik setelah menjalani proses belajar. Tujuan belajar adalah perbuatan belajar yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang baru, yang diharapkan dapat dicapai oleh anak didik. Untuk memperoleh hasil belajar, dilakukan evaluasi atau penilaian yang merupakan tindakan lanjut atau cara untuk mengukur tingkat penguasaan anak didik. Kemajuan prestasi belajar anak didik tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan tetapi juga sikap dan keterampilan. Dengan demikian penilaian hasil belajar anak didik mencakup segala hal yang dipelajari di sekolah, baik itu yang menyangkut pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Terdapat beberapa indikator yang digunakan dalam mengukur hasil belajar anak didik. Pendapat yang paling terkemuka adalah yang disampaikan oleh Bloom yang membagi klasifikasi hasil belajar dalam 3 ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik (Byram & Hu, 2013). Beragam penjelasan lanjutan dari teori Bloom dieksplikasi oleh para ilmuwan. Misalnya, Straus, Tetroe, & Graham (2013) menjelaskan bahwa ranah kognitif menitikberatkan pada bagaimana anak didik memperoleh pengetahuan akademik lewat metode pengajaran maupun penyampaian informasi; ranah afektif melibatkan

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 pada sikap, nilai, dan keyakinan yang merupakan pemeran penting untuk perubahan tingkah laku; dan ranah psikomotorik merujuk pada bidang keterampilan dan pengembangan diri yang diaplikasikan oleh kinerja keterampilan maupun praktek dalam mengembangkan penguasaan keterampilan. Adapun menurut Moore (2014), ketiga ranah hasil belajar tersebut dijabarkan sebagai berikut: 1. Ranah kognitif, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, penciptaan, dan evaluasi 2. Ranah afektif, yaitu penerimaan, menjawab, penilaian, organisasi, dan penentuan ciri-ciri nilai 3. Ranah psikomotorik , yaitu fundamental movement, generic movement, ordinative movement, dan creative movement. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa indikator hasil belajar terdiri ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga ranah digunakan untuk mengukur sejauh mana kompetensi anak didik selama kegiatan belajar. Hasil belajar tidak hanya menyangkut soal aspek pengetahuan saja (kognitif), tetapi hasil belajar juga memperhatikan perubahan tingkah laku yang lebih baik dari siswa (afektif) dan memiliki skill atau keterampilan yang mumpuni (psikomotorik), walaupun ranah kognitif menjadi ranah umum yang menjadi fokus perhatian guru dalam menilai hasil belajar. Maka dari itu dalam penelitian ini, hasil belajar yang dimaksud yaitu hasil yang diukur dari ketiga domain atau ranah sehingga menyebabkan suatu

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 perubahan dari salah satu atau ketiga domain tersebut yang disebabkan oleh proses belajar. Hasil belajar dapat dilihat dari ada tidaknya perubahan ketiga domain tersebut yang dialami anak didik setelah menjalani proses belajar. Pada ranah kognitif, peneliti mengukurnya dengan cara melihat dari pengetahuan yang dimiliki anak didik dalam mengerjakan soal yang diberikan. Pada ranah afektif, peneliti melihat dari sikap yang ditimbulkan anak didik dalam mengikuti pembelajaran dan menyelesaikan suatu persoalan. Sedangkan pada ranah psikomotorik, peneliti mengukurnya dari keterampilaan anak didik dalam menggunakan suatu alat bantu berupa permainan saat proses belajar belangsung dan penerapan permainan tersebut dalam menyelesaian suatu persoalan. D. Tunagrahita Ringan Tunagrahita berasal dari kata tuna yang berarti merugi dan grahita yang berarti pikiran. Jadi, tunagrahita dapat diartikan sebagai pikiran yang merugi atau lebih dikenal dengan istilah keterbelakangan mental (Esthy Wikasanti, 2014: 19). Tunagrahita merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Anak tunagrahita adalah anak yang mempunyai kemampuan intelektual dibawah rata – rata, yang mana memiliki arti sama dalam menjelaskan kondisi anak yang kecerdasannya di bawah rata–rata dan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial (Somantri, 2007: 103). Selain itu menurut AAMD (American Association on Mental Deficiency),

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 tunagrahita mengacu pada fungsi intelektual umum yang secara nyata berada di bawah rata-rata yaitu memiliki IQ kurang dari 84 muncul sebelum usia 16 tahun dan disertai dengan hambatan dalam tingkah laku penyesuaian diri dan semua ini berlangsung pada masa perkembangannya. Amin (1995) memberikan gambaran tentang anak tunagrahita yaitu anak tunagrahita kurang mampu dalam memikirkan hal-hal yang bersifat abstrak, yang sulit-sulit, dan yang berbelit-belit. Anak tunagrahita difokuskan pada anak-anak dengan tingkat kecerdasan jauh di bawah anak-anak yang tingkat kecerdasannya normal sehingga membutuhkan pelayanan pendidikan khusus. Kecerdasan jauh di bawah normal diukur dari kecerdasaan rata-rata anak sesuai dengan usia biologis mereka. Banyak sekali faktor yang menjadi penyebab tunagrahita. Keadaan ini bisa terjadi karena faktor yang ada pada tahap konsepsi, kehamilan, saat kelahiran, maupun setelahnya. Penyebab ketunagrahitaan pada seorang anak yaitu faktor keturunan, gangguan metabolisme dan gizi, infeksi dan keracunan, kerusakan otak, dan faktor lingkungan. anak tunagrahita dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok yaitu: 1. 2. Berdasarkan kapasitas intelektual a. Tunagrahita ringan (IQ 50-70) b. Tunagrahita sedang (IQ 35-50) c. Tunagrahita berat (IQ 20-35). Berdasarkan kemampuan akademik a. Tunagrahita mampu didik: IQ berkisar 50/55-70/75

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 3. b. Tunagrahita mampu latih: IQ berkisar 20/25-50/55 c. Tunagrahita perlu rawat: IQ 0/5-20/25 Berdasarkan keadaan tipe klinis a. Down Syndrom b. Kretin c. Hydrocephalus d. Microcephalus, Macrocephalus, Brachicephalus, dan Schaphocephalus e. Cerebral Palsy f. Rusak Otak. Pada pembahasan ini peneliti hanya menjelaskan lebih dalam mengenai anak tunagrahita ringan. Anak tunagrahita ringan merupakan anak yang mengalami keadaan perkembangan daya pikir yang kurang atau tidak lengkap yang disebabkan oleh perkembangan mental yang lambat dan mempunyai potensi untuk berkembang dalam tiga bidang yaitu akademik, sosial, dan kejuruan. Anakanak yang tergolong dalam tunagrahita ringan disebut juga dengan istilah debil atau tunagrahita yang mampu di didik. Sebutan tersebut terjadi karena anak tunagrahita dalam kategori ini masih dapat menerima pendidikan sebagaimana anak normal, tetapi dengan kadar ringan dan cukup menyita waktu. Cukup bagus apabila terus dilatih dan dibiasakan untuk belajar dan berpikir, asalkan tidak terlampau dipaksakan sehingga mereka merasa sangat terbebani.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 Tunagrahita ringan memiliki karakterisik fisik yang tidak jauh berbeda dengan anak normal, tetapi keterampilan motoriknya lebih rendah dari anak normal (Astati, 2001: 5) Karakteristik fisik yang tidak jauh berbeda dengan anak normal ini yang menyebabkan tidak terdeteksi sejak awal sebelum masuk sekolah. Anak baru terdeteksi sebagai penyandang tunagrahita ringan ketika mulai masuk sekolah baik di sekolah tingkat prasekolah atau sekolah dasar. Terdeteksi itu dengan menampakkan ciri ketidakmampuan di bidang akademik, maupun kemampuan pelajaran di sekolah yang membutuhkan keterampilan motorik. Tunagrahita ringan menurut AAMR memiliki tingkat kecerdasan (Intelligence Quotient/IQ) berkisar 55-70, dan sebagian dari mereka mencapai usia kecerdasan/mental (Mental Age/MA) yang sama dengan anak normal usia 12 tahun ketika mencapai usia kronologis (Chronoligical Age/CA) dewasa. Jadi usia kecerdasan pada anak tunagrahita ringan berkembang tidak sejalan dengan bertambahnya usia kronologisnya, hal inilah yang dianggap bahwa anak tersebut memiliki keterbelakangan mental atau sering disebut dengan anak tunagrahita. Mereka mengalami ketertinggalan 2 atau 5 tingkatan di bidang kognitif dibanding anak normal yang usianya sebaya. Semakin bertambah usia anak tunagrahita ringan maka mengalami ketertinggalan yang semakin jauh dibanding anak usia sebayanya dewasa normal. Hal ini terjadi karena perkembangan kognitifnya terbatas pada tahap operasional konkret. Ketercapaian perkembangan kognitif anak tunagrahita

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 ringan yang hanya pada tahap operasional konkret tersebut mengakibatkan mereka sulit untuk berpikir abstrak. Kesulitan berpikir abstrak dan keterbatasan di bidang kognitif ini berimplikasi pada aspek kemampuan lainnya yang digunakan untuk proses belajar. Kemampuan itu menyangkut perhatian, ingatan, dan kemampuan generalisasi. Kemampuan itu bagi tunagrahita ringan memiliki karakteristik tersendiri saat proses belajar. E. Perkalian Bilangan Asli 1. Pengertian Bilangan Asli Menurut Ved Dudeja dan V. Madhavi (2013: 1), bilangan adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan kuantitas (banyak, sedikit) dan ukuran (berat, ringan, panjang, pendek) suatu objek. Sedangkan bilangan asli adalah himpunan bilangan yang terdiri atas 1,2,3, … dimana bilangan ini digunakan untuk berhitung (Singgih S. Wibowo, 2010: 2). Bilangan asli disebut juga sebagai bilangan hitung yang umumnya dinyatakan dengan simbol ℕ. Contoh himpunan semua bilangan asli dapat dinotasikan sebagai berikut: ℕ = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, … }. Terdapat 4 golongan bilangan asli (Negoro, 2014: 34) yaitu: a) Bilangan genap (2, 4, 6, 8, … ), adalah suatu bilangan yang habis dibagi dua; b) Bilangan ganjil (1, 3, 5, 7, … ) adalah suatu bilangan yang jika dibagi dua maka bersisa 1;

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 c) Bilangan prima (2, 3, 5, 7,11, … ) adalah semua bilangan yang hanya dapat dibagi dengan bilangan satu dan bilangan itu sendiri; dan d) Bilangan komposit (4, 6, 8, 9, 10, … ) adalah bilangan asli yang lebih besar dari 1 dan bukan bilangan prima. Bilangan asli digunakan baik secara langsung (dengan lambang bilangan) atau secara tidak langsung (dengan menggunakan istilah atau kata-kata). Contoh bilangan asli secara tidak langsung dalam kehidupan sehari-hari seperti maju 3 langkah dapat ditulis 3, menang 5 poin dapat 2. ditulis 5, serta untung 5000 rupiah dapat ditulis 5000 dan sebagainya. Operasi Hitung Bilangan Asli Operasi hitung pada bilangan asli terdiri dari operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Pada penelitian ini memfokuskan pada perkalian bilangan asli yang dimulai dari konsep operasi penjumlahan. a) Operasi Penjumlahan. Misalkan Anita datang ke toko ternama untuk membeli buku tulis selama 3 hari berturut-turut. Hari pertama Anita membeli 4 buku tulis. Kemudian, hari kedua Anita kembali ke toko tersebut untuk membeli 3 buku tulis. Karena merasa belum cukup, Anita kembali ke toko tersebut untuk membeli 1 buku tulis lagi. Hitunglah berapa banyak buku tulis yang telah dibeli oleh Anita selama 3 hari berturtturut?. Penyelesaian:

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 Diketahui dari permasalahan tersebut bahwa Anita membeli buku tulis selama 3 hari berturut-turut dengan banyaknya masing-masing buku tulis tersebut yaitu 4 buku tulis, 3 buku tulis dan 1 buku tulis. Ditanya: banyak buku tulis yang telah dibeli oleh Anita selama 3 hari berturt-turut?. Jawab: Permasalahan tersebut menanyakan tentang banyaknya buku tulis yang dibeli oleh Anita selama 3 hari berturut-turut. Jika diartikan maka banyaknya buku tulis/hari yang dimiliki Anita digabungkan menjadi satu. Sehingga model matematika dari permasalahan tersebut yaitu 4 + 3 + 1. Selanjutnya, jumlahkan bilangan-bilangan tersebut seperti berikut: 4 + 3 + 1 = 8. Jadi, banyaknya buku tulis yang telah dibeli Anita selama 3 hari berturut-turut berjumlah 8 buah. Dari permasalahan dan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa operasi hitung penjumlahan bilangan asli adalah gabungan antara jumlah kuantitas dari suatu objek dengan objek lainnya. b) Operasi Perkalian Perhatikan aturan pakai yang ada di botol. Kalian dapat menjumpai tulisan seperti berikut 3 × 1 tabel/kapsul atau 3 × 2 sendok teh Bagaimana cara meminum obat yang benar? 3 × 2 artinya 2 + 2 + 2.

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Jadi, kalian meminum obat masing-masing 2 sendok teh sebanyak 3 kali sehari. Contoh lainnya: Misalnya terdapat 3 piring. Setiap piring berisi 2 apel. Jumlah semua apel diperoleh dnegan cara menjumlahkan semua apel di setiap piring seperti berikut 2 + 2 + 2 = 6 Bentuk diatas adalah penjumlahan bilangan 2 sebanyak 3 kali. 2 + 2 + 2 dapat ditulis sebagai perkalian 3 × 2 = 6. Hasil perkalian bisa ditentukan dengan pernjumlahan berulang. Contoh lain: Bella dan Roni adalah sahabat. Rumah mereka satu kompleks. Suatu hari Bella pergi ke rumah Roni untuk menjenguknya yang sedang sakit. Sebelum ke rumah Roni, terlebih dahulu Bella membeli makanan di sebuah warung dengan bejalan kaki. Jarak dari rumah Bella menuju warung tersebut sejauh 5 meter. Setelah membeli makanan untuk Roni kemudian Bella berjalan kembali dengan jarak yang sama dari warung menuju ke rumah Roni. Berapakah jarak yang ditempuh Bella dari rumahnya menuju ke rumah Roni?. Penyelesaian: Diketahui bahwa jarak dari rumah Bella menuju ke warung sama dengan jarak warung menuju ke rumah Roni yaitu berjarak 5 meter. Karena jarak yang ditempuh sama, dan Bella berjalan dari rumahnya ke warung kemudian dari warung ke rumah Roni maka pernyataan

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 tersebut dapat diasumsikan bahwa bella melakukan hal yang sama secara berulang sebanyak 2 kali. Sehingga jika dituliskan dalam bentuk matematikanya yaitu 2 × 5 (2 menunjukkan banyaknya titik yang dikunjungi dan 5 menunjukkan jarak yang ditempuh). Hal tersebut sama artinya dengan jarak tempuh bella dari rumah ke warung dan dari warung kerumah Roni yaitu 5 + 5. Dengan demikian 2 × 5 = 5 + 5 = 10. Jadi jarak tempuh yang dilalui Bella dari rumahnya menuju ke rumah Roni adalah 10 meter. Dari kedua permasalahan tersebut maka dapat dinyatakan bahwa operasi perkalian bilangan asli adalah penjumlahan berulang (Marsigit, 2009: 12). Selain itu, perkalian bilangan asli adalah proses aritmatika dasar dimana satu bilangan dilipatgandakan sesuai dengan bilangan pengalinya. Secara umum konsep perkalian dapat dituliskan seperti berikut: 𝑚 × 𝑛 = 𝑛 + 𝑛 + 𝑛 + 𝑛+. . . +𝑛 sebanyak 𝑚 Operasi hitung perkalian bilangan asli memiliki 5 sifat seperti berikut, yaitu: 1. Sifat Tertutup Terhadap Perkalian Sifat ini menyatakan bahwa hasil dari perkalian dua bilangan asli juga merupakan bilangan asli. Untuk sembarang bilangan asli 𝒂 dan 𝒃 selalu berlaku 𝑎 × 𝑏 adalah selalu bilangan asli. Contoh:

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 2. 2 × 2 = 4; 4 adalah bilangan asli. Sifat Komutatif Untuk sembarang bilangan asli 𝒂 dan 𝒃 selalu berlaku: 𝑎×𝑏 = 𝑏×𝑎 Sifat ini disebut dengan sifat komutatif (pertukaran) pada perkalian. 3. Contoh: 2 × 1 = 1 × 2 = 2 Sifat Asosiatif Untuk sembarang bilangan asli 𝒂, 𝒃, dan 𝒄 selalu berlaku: (𝑎 × 𝑏 ) × 𝑐 = 𝑎 × (𝑏 × 𝑐 ) Sifat ini disebut dengan sifat asosiatif (pengelompokkan) pada perkalian. Contoh: 4. (2 × 1) × 3 = 2 × (1 × 3) = 6 Sifat Distributif Untuk sembarang bilangan asli 𝒂, 𝒃, dan 𝒄 selalu berlaku: (𝑎 × 𝑏 ) + (𝑎 × 𝑐 ) = 𝑎 × (𝑏 + 𝑐 ) Sifat ini disebut dengan sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan. Contoh: (2 × 1) + (2 × 3) = 2 × (1 + 3) = 2 × 4 = 8 Untuk sembarang bilangan asli 𝒂, 𝒃, dan 𝒄 selalu berlaku: (𝑎 × 𝑏 ) − (𝑎 × 𝑐 ) = 𝑎 × (𝑏 − 𝑐 )

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 Sifat ini disebut dengan sifat distributif perkalian terhadap pengurangan. Contoh: (2 × 3) − (2 × 1) = 2 × (3 − 1) = 2 × 2 = 2 5. Memiliki Unsur Identitas Misalkan: 1×2=2 1×3=3 2×1=2 3×1=3 Dengan demikian bilangan asli 𝒂. 1 × 𝑎 = 𝑎 × 1 = 𝑎, untuk sembarang Dari contoh tersebut, ternyata jika 1 dikali dengan suatu bilangan asli atau suatu bilangan asli dikali dengan 1, maka hasilnya adalah bilangan itu sendiri. 1 disebut unsur identitas pada perkalian. F. Permainan Lego Bricks Permainan adalah situasi bermain yang terkait dengan beberapa aturan atau tujuan tertentu yang menghasilkan kegiatan dalam bentuk tindakan bertujuan (Misbach, 2006: 5). Permainan cukup penting bagi perkembangan jiwa anak. Oleh karena itu perlu kiranya bagi anak-anak untuk diberi

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 kesempatan dan sarana di dalam kegiatan permainannya (Abu Ahmadi, 1991: 69-70). Permainan merupakan salah satu bentuk aktivitas sosial yang dominan pada masa awal anak-anak. Sebab, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktunya di luar rumah untuk bermain dengan teman-temannya dibanding terlibat dengan aktivitas lainnya. Bagi anak-anak proses melakukan sesuatu lebih menarik daripada hasil yang akan didapatkannya (Desmita, 2005: 141). Dengan demikian permainan merupakan suatu sarana bermain yang bertujuan untuk membantu anak dalam melakukan berbagai kegiatan termasuk kegiatan belajar dengan lebih menyenangkan. Dalam permainan anak mencurahkan perhatian, perasaan dan pikiran pada proses bermain serta sifat dan bentuk alat permainannya. Secara garis besar, permainan memiliki urgensi yang bersifat kognitif, sosial dan emosional. Pada Urgensi kognitif, permainan dapat membantu perkembangan kognitif anak. Melalui permainan, anak menjelajahi lingkungannya, mempelajari objek-objek di sekitarnya, dan belajar memecahkan masalah yang dihadapinya. Menurut Piaget (1962) struktur-struktur kognitif anak perlu dilatih, dan permainan merupakan setting yang sempurna bagi pelatihan kognitif anak. Melalui permainan memungkinkan anak mengembangkan kompetensi-kompetensi dan keterampilan-keterampilan yang diperlukannya dengan cara yang menyenangkan. Hal ini dikaranekan pembelajaran berbasis permainan lebih disenangi kalangan anak-anak, tanpa menghilangkan esensi ilmu yang ingin disampaikan.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 Sedangkan pada urgensi sosial, permainan dapat meningkatkan dan mengembangkan perkembangan sosial anak. Khususnya dalam permainan fantasi dengan memerankan suatu peran, anak belajar memahami orang lain dan peran-peran yang akan ia mainkan di kemudian hari setelah tumbuh menjadi orang dewasa. Selain itu, pada urgensi emosional, permainan memungkinkan anak untuk memecahkan sebagian dari masalah emosional, belajar menagatasi kegelisahan dan konflik batin. Permainan memungkinkan anak melepaskan energi fisik yang berlebihan dan membebaskan perasaanperasaan yang terpendam. Karena tekanan-tekanan batin terlepaskan di dalam permainan, anak dapat mengatasi masalah-masalah kehidupan. Salah satu permainan yang dapat merangsang perkembangan kognitif anak adalah lego (Nad, 2005). Pada tanggal 28 Januari 2014, mainan ini tepat berusia 56 tahun sejak dipatenkan oleh penemunya Godtfred Kirk Christiansen. Nama lego sendiri diambil dari dua huruf pertama bahasa Denmark, “Leg Godt” atau permainan yang menyenangkan. Lego adalah mainan yang berbentuk batu bata (bricks) yang beraneka warna dan dapat disusun serta mempunyai titik pada permukaan sebagai tempat perlekatan pada balok lainnya sehingga membentuk susunan yang teratur. Lego terdiri dari dua sisi yang penting, yaitu bagian atas dan bawah sebagai tempat menancapkannya, terdiri dari banyak sisi, mulai 1 × 1, 1 × 2, 1 × 3, 1 × 4, . . ., 2 × 4, 2 × 8, 𝑑𝑠𝑡. Lego memiliki berbagai macam warna yang dapat membantu anak belajar membedakan bentuk dan pola-pola, serta dari bentuk-bentuk yang

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 dibuat, anak akan belajar mengenal simetri (Davida, 2004). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lego adalah permainan bongkar plastik. Sedangkan dalam definisinya lego merupakan sejenis alat permainan bongkah plastik kecil yang terkenal di dunia, khususnya di kalangan anakanak hingga remaja baik laki-laki ataupun perempuan. Bongkahan serta kepingan lain pada lego dapat disusun menjadi model apa saja, seperti bangunan, kota, mobil, patung, kapal, pesawat terbang, pesawat ruang angkasa, bahkan robot pun dapat dibuat. Menyusun lego beraneka warna ini telah menjadi mainan yang sangat terkenal di seluruh dunia dan menjadi mainan yang sangat popular. “Tumpukan lego tidak lekang oleh waktu dan terus menyihir anak karena memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan kreatifitas, imajinasi dan keinginannya dengan bebas.” kata Charlotte Simonsen, jubir lego di markasnya di barat Billund, sebuah kota di barat Denmark. Ada beragam jenis lego, mulai dari lego dasar atau lego bricks, lego creator yang dapat menjadikan anak kreatif dalam membuat benda-benda yang ada di imajinasinya, hingga lego karakter atau minifigure lego yang kepingannya sangat kecil dan melatih ketelitian anak untuk merangkai dan menjadikannya seperti karakter yang diinginkan. Semua jenis lego memiliki banyak manfaat. Namun, ada satu jenis lego yang dapat digunakan untuk membantu anak belajar matematika, yaitu lego bricks atau mungkin yang lebih dikenal dengan balok lego/lego batu bata.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 Dari berbagai peryataan tersebut dapat disimpulkan bahwa Lego bricks adalah bentuk dasar dari lego atau dengan kata lain merupakan sebuah mainan plastik berwarna-warni yang berbentuk seperti batu bata dan dapat dibongkar dengan berbagai macam cara. Lego bricks tidak hanya digunakan sebagai alat permainan tetapi juga dapat digunakan sebagai sarana belajar yang tepat bagi anak karena sifat dari permainan ini yaitu bongkar dan pasang. Hal tersebut sesuai dengan rasa ingin tahu anak dimana mereka selalu mencoba menemukan hal-hal baru untuk dicoba Selain itu lego bricks dapat membentuk karakter dan kemampuan motorik kepada individu yang memainkannya. Menurut Suryadi (2009:41), permainan motorik dapat membantu anak untuk melatih kecerdasannya, baik itu kecerdasan intelektual, matematis, sosial, ataupun emosinya. Manfaat yang ditimbulkan dalam permainan lego bricks juga banyak yaitu selain untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya, lego bricks dapat mengembangkan imajinasi dan memfokuskan konsentrasi. Terlebih lagi lego bricks juga dapat digunakan untuk mengajarkan berhitung dasar pada anak dengan menghitung bulatan yang timbul pada kepingan lego (Zetatoys, 2014). Bukan hanya itu Lego bricks dapat membantu anak dalam melakukan kegiatan berhitung dalam berbagai macam operasi bilangan seperti operasi penjumlahan, operasi pengurangan, operasi perkalian dan operasi pembagian.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 G. Perkalian Bilangan Asli dengan Menggunakan Permainan Lego Bricks untuk Anak Tunagrahita Ringan Permainan lego bricks dapat diterapkan untuk anak tunagrahita ringan dalam menyelesaikan suatu persoalan dasar mengenai perkalian bilangan asli. Penelitian ini menerapkan permainan lego bricks untuk perkalian 1 sampai dengan perkalian 20. Konsep mengenai perkalian bilangan asli dengan menggunakan permainan lego bricks dilakukan dengan cara menyusun kumpulan bricks yang masing-masing memiliki titik-titik di atas bricks sesuai dengan bilangan yang akan dihitung. Teknik pemakaiannya dengan cara menghitung titik-titik yang berada pada masing-masing lego bricks setelah dilakukan penggabungan. Lego bricks yang dimiliki peneliti hanya lego dengan susunan 1 × 1, 1 × 2, 1 × 3, 1 × 4 , 2 × 2, dan 2 × 4. Sehingga jumlah titik maksimum yang dimiliki lego bricks tersebut yaitu 8. Perkalian dua bilangan dapat dituliskan 𝑎 × 𝑏. Sehingga, dalam penerapan permainan lego bricks dimisalkan bahwa 𝑏 merupakan titik yang ada pada lego bricks dan 𝑎 merupakan banyak lego bricks dengan 𝑏 titik yang harus diambil. Contohnya: Hitung perkalian dari 20 × 4!. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah, sebagai berikut: 1. Anak didik mengambil lego bricks yang mempunyai 4 titik di atas kepala bricks tersebut sebanyak 20 buah lego bticks. Pengmbilan lego bricks yang beragam warna tidak dipermasalahkan. Warna pada lego bricks disesuaikan dengan keinginan anak didik

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 Gambar 2.1 Lego bricks yang mempunyai 4 titik sebanyak 20 buah 2. Letakkan dan gabungkan 20 buah lego bricks tersebut satu per satu ke alas lego. Peletakkan lego bricks 4 titik dilakukan secara berdekatan, tetapi tidak ditumpuk. Gambar 2.2 Lego bricks disusun di alas lego 3. Hitung banyaknya titik-titik yang ada pada 20 buah lego bricks setelah digabungkan secara berdekatan. Perhitungan tersebut adalah hasil dari persoalan yang diberikan. Dengan demikian, pada contoh soal tersebut maka diperoleh 80 titik bricks dari perkalian 20 × 4.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 Sebaliknya jika anak didik tersebut diminta untuk menghitung perkalian 4 × 20 maka hal yang harus dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Ambil lego bricks yang mempunyai 20 titik di atas kepala bricks tersebut sebanyak 4 kali. (catatan: karena lego bricks tidak menyediakan lego yang secara langsung mempunyai 20 titik di kepala bricks maka yang harus dilakukan yaitu dengan mengambil beberapa lego bricks yang mempunyai titik-titik berbeda atau sama yang apabila titik tersebut digabungkan hasilnya menjadi 20 titik. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan operasi hitung pengurangan. Salah satu contohnya yaitu dengan mengambil titik maksimum yang ada pada lego brick berupa 8 titik. Kemudian lakukan operasi hitung pengurangan seperti berikut: 20 − 8 = 12. Karena masih 12 titik maka kurangkan lagi dengan titik maksimum yaitu 8, seperti berikut: 12 − 8 = 4. Dengan demikian dapat dituliskan seperti berikut: 20 − 8 = 12 − 8 = 4. Dari pernyataan tersebut, ambil lego bricks yang mempunyai 8 titik, 8 titik dan 4 titik, apabila digabungkan menghasilkan lego bricks yang mempunyai 20 titik. Tidak hanya itu, hal tersebut dapat dilakukan dengan mengambil lego yang mempunyai titik lain bukan hanya lego dengan 8 titik ataupun 4 titik asalkan sesuai dengan titik lego yang dimiliki. Cara yang dilakukan tetap sama yaitu mengurangkan titik yang diketahui atau ditanyakan dengan titik yang dimiliki secara terus menerus sampai pada titik akhir.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 Gambar 2. 3 Lego bricks yang mempunyai 8 titik, 8 titik, dan 4 titik yang apabila dijumlahkan menjadi 20 titik 2. Lego bricks yang mempunyai 8 titik, 8 titik dan 4 titik, masing-masing diambil sebanyak 4 kali. Gambar 2.4 Lego bricks yang mempunyai 20 titik diambil sebanyak 4 bricks 3. Letakkan dan gabungkan 4 buah lego bricks tersebut ke alas lego. Peletakkan lego bricks 20 titik dilakukan secara berdekatan, tetapi tidak ditumpuk.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 Gambar 2.5 Lego bricks dipasang di alas lego 4. Hitung banyaknya titik-titik yang ada pada 4 buah lego bricks setelah digabungkan secara berdekatan, sehingga didapatkan 80 titik lego bricks. Perhitungan tersebut adalah hasil dari persoalan yang diberikan. Dengan demikian hasil dari 4 × 20 adalah 80. Penyusunan lego bricks yang dilakukan ke dalam alas lego dapat disesuaikan dengan keinginan anak, akan tetapi penyusunan lego bricks harus saling berdekatan supaya anak tidak kesulitan untuk menghitung titik–titik yang ada pada lego bricks dan tidak hanya itu penyusunan tersebut juga harus sesuai dengan perintah soal yang diberikan. H. Kerangka Berpikir Anak tunagrahita ringan adalah anak yang mengalami kesulitan dalam berpikir abstrak, tetapi masih mampu mengikuti pelajaran yang bersifat akademik. Maksud dari berpikir abstrak yaitu seseorang melakukan kegiatan berpikir secara simbolik atau imajinatif terhadap objek permasalahan tersebut

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 (biasanya berkaitan dengan konsep-konsep dan simbol-simbol) dan memerlukan kemampuan menemukan solusi dalam menyelesaikan masalah tanpa hadirnya objek permasalahan itu secara nyata. Hal tersebut yang membuat anak tunagrahita ringan kesulitan dalam melakukan kegiatan berhitung tanpa menggunakan alat bantu karena harus membayangkan atau menerawang proses penyelesaian tersebut tanpa suatu tindakan nyata. Walaupun anak tunagrahita ringan mengalami kesulitan dalam belajar tetapi jika terus dilatih dan guru menerapkan pembelajaran dengan menggunakan alat bantu berupa alat peraga ataupun permainan, maka kemampuan berhitung yang dimiliki oleh anak didik dapat dipelajari dan diperbaiki walaupun tetap pada batas kemampuan IQ yang dimilikinya. Setiap anak tunagrahita ringan dalam melakukan kegiatan berhitung memiliki kelemahan dan kemampuan dengan keunikan masing-masing dimana tingkat kelemahan dan kemampuan satu sama lain tidak akan sama walaupun tingkat kelasnya sama. Sebelumnya peneliti sudah menggali beberapa informasi dari guru kelas tersebut terhadap anak tunagrahita ringan kelas VII. Mereka sudah mampu berhitung sampai dengan bilangan ratusan ataupun ribuan. Walaupun begitu peneliti mendapatkan informasi jika mereka masih sangat kesulitan dalam melakukan perkalian bilangan asli bahkan juga dalam melakukan penjumlahan lebih rumit dengan menggunakan bilangan yang memiliki nilai yang besar. Kesulitan yang dihadapi masing-masing anak didik beragam, ada yang hanya mampu melakukan penjumlahan sampai dengan bilangan dasar dan ada yang sudah mampu melakukan penjumlahan

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 sampai dengan bilangan puluhan. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam mempelajari perkalian bilangan asli sehingga anak didik mengalami kesulitan dalam melakukan perkalian dasar berupa bilangan satuan dengan bilangan satuan, apalagi bilangan yang memiliki nilai yang lebih besar. Kendala dalam melakukan perkalian yaitu pada bagian penjumlahan karena perkalian merupakan penjumlahan berulang. Mereka biasanya menggunakan jari tangan sebagai alat bantu dalam melakukan penjumlahan dan perkalian. Tidak masalah jika anak didik menggunakan jari tangan sebagai cara dan solusi mereka dalam menyelesaikan masalah tersebut. Hanya saja dalam penggunaan jari tangan sebagai alat bantu harus menggunakan ingatan yang kuat bila bilangan tersebut lebih dari sepuluh. Sedangkan kendalanya adalah ingatan yang dimiliki anak tunagrahita ringan sangat terbatas, mereka sulit membayangkan hal yang tidak nyata dalam pikiran mereka dan mudah sekali lupa dengan angka sebelumnya. Dari latar belakang masalah yang ada maka peneliti mencari alat bantu yang lebih efisien untuk pembelajaran mengenai operasi htiung bilangan asli pada perkalian. Peneliti mencoba menerapkan permainan sebagai solusi untuk membantu anak tunagrahita ringan. Menurut peneliti salah satu permainan yang cocok dalam menyelesaikan persoalan mengenai operasi hitung terutama operasi perkalian bilangan asli adalah permainan lego bricks. Hal ini dikarenakan permainan lego sangat terkenal untuk dimainkan sebagai permainan bongkar pasang yang modern dikalangan anak-anak sampai dengan orang dewasa.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 Kelebihan yang dimiliki oleh permainan lego bricks yaitu dapat mempermudah anak didik melakukan kegiatan berhitung dan dijadikan sebagai alat bantu untuk melakukan operasi hitung terutama operasi perkalian bilangan asli. Selain mempermudah anak didik, permainan lego bricks diharapkan dapat meningkatkan motivasi anak didik dalam belajar matematika karena terciptanya kegiatan belajar yang menyenangkan. Sehingga materi ajar yang diberikan dan dijelaskan dapat diterima dengan baik. Ketika anak didik memiliki motivai belajar yang tinggi diharapkan hasil belajar anak didik menjadi lebih baik. Untuk melihat adanya pengaruh dari penerapan permainan lego bricks, peneliti melakukan wawancara, pengisian angket dan observasi kepada anak didik serta mengadakan pretest dan posttest. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengetahui pengaruh permainan lego bricks terhadap motivasi belajar dan hasil belajar dalam melakukan operasi perkalian bilangan asli. I. Penelitian yang Relevan Terdapat beberapa penelitian yang telah dipublikasikan berkaitan dengan penggunaan permainan lego bricks, dan anak tunagrahita ringan. Beberapa penelitian tersebut sebagai berikut: 1. Penelitian yang dilakukan oleh Hasanah (2016) dari Institut Agama Islam Negeri Antarsi dengan judul Efektifitas Penggunaan Media Permainan Lego pada Materi Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Siswa Kelas IV SDN Pekanpuran Raya 2 Kecamatan Banjarmasin Timur Tahun

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 Pelajaran 2015/2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar pada materi penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan menggunakan media permainan lego dan untuk mengetahui efektivitas penggunaan media permainan lego pada materi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif, menggunakan metode penelitian eksperimen. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV berjumlah 23 orang. Sampel dipilih dengan cara sampel jenuh, sehingga semua populasi dijadikan sampel. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes, dokumentasi, observasi, dan wawancara. Materi yang diajarkan adalah penjumlahan dan pengurangan pecahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media permainan lego berdampak positif terhadap hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan perubahan antara hasil pretest dan hasil posttest, hasil rata-rata pretest memperoleh 48,35 berada pada kualifikasi rendah dan hasil rata- rata nilai postest memperoleh 77,43 berada pada kualifikasi baik. Dari hasil analisis uji hipotesis yang dilakukan, dilihat dengan uji Wilcoxon 𝑍ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = −4,06 < 𝑍𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = −1,96 berarti 𝐻𝑜 ditolak, sehingga media permainan lego efektif digunakan pada materi penjumlahan dan pengurangan pecahan dan tingkat keefektifannya dengan uji gain 2. diperoleh sebesar 0,5333 berada kualifikasi sedang. Penelitian yang dilakukan oleh Nisfi Wahyu Maela (2017) dari Universitas Semarang berjudul Keefektifan Model Teams Games

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Tournament (TGT) berbantu Media Lego terhadap Minat dan Hasil Belajar Matematika Materi Pecahan dan Perbandingan untuk Siswa Kelas V SDN Pesurungan Lor 1 Kota Tegal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan model TGT berbantu media lego terhadap minat dan hasil belajar matematika materi pecahan dan perbandingan siswa kelas V SDN Pesurungan Lor 1. Desain penelitian ini adalah nonequivalent control grup design dengan populasi 52 siswa. Sampel penelitian diambil dengan teknik sampel jenuh. Variabel penelitian berupa model TGT berbantu lego, minat dan hasil belajar siswa. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, tes, dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji hipotesis perbedaan minat belajar siswa (Independent Sample T Test) diperoleh nilai yaitu 3,246 > 2,009 (𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 ) dengan signifikansi 0,002 < 0,05. Berdasarkan uji hipotesis hasil belajar diperoleh nilai 4,508 > 2,009 (𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 ) dengan signifikansi 0,000 < 0,05. Uji hubungan antara variabel terikat (Product Moment) menunjukkan nilai (r) adalah 0,332 berarti ada hubungan di rentang 0,20 − 0,399. Uji keefektifan (One Sample T Test) menunjukkan 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 (4,120 > 2,060). Jadi dapat disimpulkan bahwa model TGT berbantu lego efektif terhadap minat dan hasil belajar matematika materi pecahan dan perbandingan siswa kelas V SDN Pesurungan Lor 1 Kota Tegal.

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 3. Penelitian yang dilakukan oleh Dedy Setyawan (2013) dari Universitas Negeri Malang berjudul Pembelajaran dengan Media Lego Bricks yang Mengacu Pada CLT (Cognitive Load Theory) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Operasi Hitung Bilangan Bulat Siswa Kelas 4 SD. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas, dan bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran dengan menggunakan media lego bricks yang mengacu pada CLT yang dapat meningkatkan hasil belajar operasi hitung bilangan bulat pada siswa kelas 4 SDIT Ahmad Yani Malang pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa penerapan pembelajaran dengan media lego bricks yang mengacu pada CLT (Cognitive Load Theory) yang dapat meningkatkan hasil belajar operasi hitung bilangan bulat siswa kelas 4 SD dengan langkah-langkah sebagai berikut: (a) Pemberian motivasi dengan mengaitkan materi pada kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan beban kognitif germane. (b) Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan cara memberikan beberapa pertanyaan kepada siswa. Hal ini sebagai perwujudan pengelolaan beban kognitif intrinsic, sehingga dapat mempermudah siswa dalam memahami materi. (c) Guru menjelaskan dan mendemonstrasikan materi dengan menggunakan media lego bricks. Dengan menggunakan media lego bricks, materi yang sulit dipahami siswa disajikan dengan media yang menarik dan sudah dikenal siswa. Hal ini sebagai perwujudan dari pengelolaan beban kognitif intrinsic dan pengurangan beban kognitif extraneous, dengan

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 demikian siswa mudah dalam memahami materi dan membuat siswa lebih terfokus. (d) Guru membagikan LKS dan meminta setiap kelompok untuk berdiskusi dalam menyelesaikan masalah yang ada pada LKS. Hal ini sebagai perwujudan dari pengelolaan beban kognitif intrinsic dan pengurangan beban kognitif extraneous. (e) melibatkan siswa untuk membuat simpulan, guna mengelola beban kognitif intrinsic dan meningkatkan beban kognitif germane, sehingga siswa dapat memahami materi dengan baik. Dari hasil penelitian siklus pertama persentase ratarata skor hasil tes akhir adalah 72%. Kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan peneliti adalah 75%, tercapai pada siklus II yaitu 88%. Sehingga rata-rata hasil skor tes akhir meningkat sebesar 16% hal ini menunjukkan bahwa pemahaman materi siswa semakin baik. 4. Penelitian yang dilakukan oleh Larasati Dian (2016) dari Universitas Negeri Yogyakarta berjudul Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Pada Anak Tunagrahita Di Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Gejayan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran matematika bagi siswa tunagrahita di kelas 4 SD Negeri Gejayan, Depok, Sleman. Penelitian ini meliputi (1) pengorganisasian materi pelajaran matematika, (2) strategi pembelajaran matematika, (3) hambatan yang dialami selama pelaksanaan pembelajaran, (4) respon siswa selama pelaksanaan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif jenis studi kasus. Subjek dalam penelitian ini adalah dua orang siswa tunagrahita yang berada di kelas 4.

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Pengumpulan data menggunakan observasi, catatan lapangan, wawancara, dan dokumen. Teknik analisis data terdiri dari mereduksi data, menyajikan data, dan menyimpulkan. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi teknik dan sumber. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran matematika untuk siswa tunagrahita terdiri dari: (1) Sebagian besar dari aspek pengorganisasian materi pembelajaran matematika untuk anak tunagrahita yang berkaitan dengan program yang bersifat individual belum terlaksana, hanya beberapa aspek yang terlaksana yaitu siswa tunagrahita ikut serta dalam pelaksanaan pembelajaran dan materi yang diberikan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari; (2) Seluruh aspek dalam strategi pembelajaran matematika pada anak tunagrahita yang meliputi pemberian reinforcement, pemberian punishment, dan materi yang diklasifikasikan sesuai perkembangan anak belum terlaksana; (3) hambatan yang dialami guru selama pembelajaran antara lain: banyaknya anak berkebutuhan khusus yang ada dalam satu kelas dengan kekhususan yang beragam, sehingga materi yang diberikan masih bersifat umum; (4) respon siswa tunagrahita selama pembelajaran positif. 5. Penelitian yang dilakukan oleh Berta Lestari (2016) dari Universitas Negeri Semarang berjudul Pengembangan Media Audio Visual Math Video Education (MVE) pada Pembelajaran Matematika Bagi Anak Tunagrahita Ringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kevalidan, keefektifan, efisiensi, dan kepraktisan media audio visual

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 "Math Video Education” (MVE) dalam pembelajaran matematika di bagi siswa tunagrahita ringan kelas VIIIC di SLB Negeri Temanggung. Media MVE diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa karena media yang disajikan dalam bentuk video bermuatan materi dapat lebih menarik perhatian siswa, mudah dipahami, dan disimpan dalam memori jangka panjang. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan desain penelitian One Group Pretest Posttest. Sampel penelitian berjumlah lima orang siswa tunagrahita ringan kelas VIIIC. Pengumpulan data menggunakan observasi lapangan, wawancara, angket dan tes. Penelitian ini dilakukan selama 1 kali observasi dan 5 kali pertemuan untuk uji coba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MVE telah berhasil dikembangkan dan dinyatakan valid oleh ahli media dan ahli materi dengan rata-rata persentase penilaian kevalidan sebesar 86,6%, rata-rata ketuntasan klasikal sebesar 100% dimana empat siswa mengalami peningkatan hasil belajar dengan kriteria sedang dan seorang siswa dengan kriteria rendah, tanggapan siswa terhadap media MVE baik dan sangat baik, persentase tanggapan guru terhadap media MVE sebesar 90% dengan kriteria tanggapan sangat baik. Dengan demikian, media MVE layak diterapkan pada pembelajaran matematika di SLB untuk siswa tunagrahita ringan.

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui pengaruh permainan lego bricks terhadap motivasi belajar dan hasil belajar perkalian bilangan asli untuk anak tunagrahita ringan. Terkait dengan judul penelitian ini maka peneliti akan menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian ini menekankan pada keadaan yang sebenarnya dan ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena yang ada dari sudut atau perspektif partisipan. Partisipan adalah orang-orang yang diajak berwawancara, diobservasi, diminta memberikan data dari test yang diberikan. B. Subjek dan Objek Penelitian Pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam penentuan subjek adalah sebagai berikut: 1. Subjek penelitian adalah 2 anak tunagrahita ringan kelas VII SLB Negeri 1 Bantul pada tahun ajaran 2018/2019 2. C. Objek dalam penelitian ini adalah motivasi belajar dan hasil belajar. Bentuk Data Data yang dikumpulkan adalah data hasil observasi aktivitas belajar yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar anak tunagrahita ringan i

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 sebelum dan saat menerapkan permainan lego bricks pada proses pembelajaran, data hasil wawancara yang digunakan untuk mengukur motivasi belajar anak didik sebelum dan sesudah menggunakan atau mempelajari permainan lego bricks dalam menyelesaikan persoalan matematika, dan data hasil tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar anak didik sebelum menggunakan permainan lego bricks dan setelah menggunakan permainan lego bricks dalam melakukan operasi hitung perkalian bilangan asli. D. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Untuk memperoleh data penelitian, peneliti menggunakan beberapa metode pengumpulan data, yaitu: 1. Observasi atau pengamatan Observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan (Burhan Bungin, 2007: 115). Observasi dilakukan selama proses pembelajaran matematika mengenai perkalian bilangan asli berlangsung di kelas VII tunagrahita ringan SLB Negeri 1 Bantul. Observasi dilakukan peneliti untuk mengetahui motivasi belajar dan hasil belajar yang dimiliki anak didik.

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 2. Wawancara Wawancara adalah kegiatan yang dilakukan antara dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu untuk memungkinkan peneliti mengumpulkan data yang beragam dari para responden dalam berbagai situasi dan konteks. Wawancara digunakan untuk mengetahui penggunaan permainan lego terhadap motivasi belajar anak tunagrahita ringan. 3. Tes Menurut Suharsimi (2010: 193) tes adalah serentetan pertanyaan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok. Tes dilakukan sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) mempelajari permainan lego bricks. Tes ini digunakan peneliti untuk mengetahui pengaruh hasil belajar terhadap kemampuan anak didik tunagrahita ringan kelas VII SMPLB dalam menyelesaikan persoalan mengenai perkalian bilangan asli sebelum mempelajari permainan lego bricks dan setelah mempelajari permainan lego bricks. E. Instrumen Penelitian Pada bagian ini akan diuraikan instrumen yang digunakan untuk mendapatkan data penelitian. Instrumen ini terdiri dari 2 jenis yaitu instrumen pembelajaran dan instrumen penelitian. Terdapat 2 instumen pembelajaran yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaraan (RPP) dan Lembar Kerja Siswa

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 (LKS). Sedangkan, terdapat 3 instrumen penelitian yaitu tes, pedoman wawancara, dan pedoman observasi. Sebelum digunakan dalam penelitian, instrumen-instrumen ini diukur validitasnya dengan menggunakan teknik expert judgment. 1. Instrumen Pembelajaran a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Rencana Pelakasanaan Pembelajaran dibuat oleh peneliti berdasarkan Kurikulum 2013 revisi 2018 dengan pembelajaran tematik padamateri operasi hitung perkalian bilangan asli. Di dalam RPP, peneliti menyusun pembelajaran operasi hitung perkalian bilangan asli dengan menggunakan permainan lego bricks yang terdiri dari 5 kali pertemuan. Pertemuan pertama digunakan untuk menjelaskan materi perkalian 1 sampai perkalian 9 dengan menggunakan dan menerapkan permainan lego bricks. Pertemuan kedua digunakan untuk menyelesaikan permasalahan perkalian 1 sampai perkalian 9 dengan menggunakan permainan lego bricks. Pertemuan ketiga digunakan untuk materi perkalian 10 sampai perkalian 20 dengan menggunakan dan menerapkan permainan lego bricks. Pertemuan keempat digunakan menyelesaikan permasalahan perkalian 10 sampai perkalian 20 dengan menggunakan permainan lego bricks. Pertemuan kelima digunakan untuk memperdalam pembahasan materi dari pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 mengerjakan latihan soal. Untuk lebih detailnya RPP dapat dilihat pada lampiran. b. Lembar Kerja Siswa Pada pembelajaran operasi hitung perkalian bilangan asli, peneliti menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS). Terdapat 4 LKS, masingmasing LKS terdiri dari 5 – 10 soal yang dibuat oleh peneliti sendiri. Dikerjakan secara individu oleh anak didik pada setiap pertemuan. LKS ini berguna untuk membantu anak didik dalam mengenal dan memahami penggunaan permainan lego bricks sebagai alat bantu hitung terhadap operasi perkalian bilangan asli. 2. Instrumen Penelitian a. Lembar Pengamatan (Observasi) Peneliti melakukan observasi dengan cara mengamati anak didik dalam melakukan kegiatan belajar mengenai perkalian bilangan asli. Hal tersebut dapat terlihat dari segi ketertarikan, keaktifan, dan keseriusan anak didik saat guru menjelaskan materi perkalian bilangan asli. Selain itu, peneliti mencatat segala kegiatan belajar yang dilakukan oleh anak didik saat proses pembelajaran berlangsung dan mencatat kesulitan yang dihadapi oleh anak didik terkait dengan perkalian bilangan asli.Lembar observasi yang digunakan sebagai pedoman peneliti yaitu keterlibatan anak didik dalam melakukan kegiatan belajar yang dilihat dari motivasi belajar dan hasil dari kegiatan belajar tersebut. Lembar observasi ini berupa

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 tabel dengan memberikanchecklist sesuai dengan aktifitas anak didik saat pembelajaran berlangsung. Aspek yang diamati terdiri dari 21 aspek. Berikut ini kisi-kisi dan lembar yang digunakan peneliti untuk melakukan observasi motivasi belajar dan hasil belajar Tabel 3.1 Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Belajar Anak Didik yang Ditinjau Dari Motivasi Belajar dan Hasil Belajar No Indikator No Item Jumlah item 1, 3, 13, 26 4 A Motivasi Belajar 1. Kuatnya kemauan untuk berbuat 2. Jumlah waktu yang disediakan untuk belajar 4, 14 2 3. Ketekunan dalam mengerjakan tugas 2, 12, 15, 18 4 4. Ulet dalam menghadapi kesulitan 6, 10, 19, 24 4 5. Lebih senang bekerja mandiri 9, 16 2 6. Menunjukkan minat terhadap macammacam masalah 5, 7, 8, 11 4 7. Dapat mempertahankan pendapatnya 17, 20, 21 3 8. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin 22, 23, 25 3 B Hasil Belajar 9. Menghitung perkalian bilangan asli (perkalian 1-20) 27 1 Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari mengenai 10. operasi hitung perkalian bilangan asli (perkalian 1 – 20) 28, 30 2 Menuliskan sifat-sifat operasi hitung 11. perkalian bilangan asli (perkalian 1 – 20) 29 1

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 Tabel 3.2 Lembar Observasi Aktivitas Belajar Anak Didik yang Ditinjau Dari Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Hasil Penilaian Aspek yang Diamati Keterangan SL A. Motivasi Belajar 1. Anak didik mendengarkan dan memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan oleh guru 2. Anak didik menyelesaikan latihan soal tepat waktu sesuai dengan perintah yang telah diberikan 3. Anak didik mengajukan pertanyaan kepada guru, berkaitan dengan materi tersebut 4. Anak didik memanfaatkan waktu yang ada untuk berdiskusi tentang pelajaran dengan teman maupun guru 5. Anak didik mencari sumber belajar dibuku lain atau internet 6. Anak didik tidak malu apabila mengalami kegagalan dalam mengerjakan tugas, latihan atau tes dengan tetap berusaha mengerjakan tugas – tugas yang diberikan supaya menjadi lebih baik 7. Dalam mengerjakan soal atau tugas di kelas, anak didik dapat mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari SR KD TP

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 8. Anak didik menunjukkan kepedulian terhadap temantemannya yang belum berhasil 9. Anak didik berusaha mengerjakan latihan soal atau tugas sesuai dengan kemampuannya sendiri 10. Anak didik tidak menyerah untuk mengikuti proses pembelajaran walaupun mengalami kesulitan dalam menerima informasi atau penjelasan dari guru 11. Anak didik menjawab pertanyaan yang diberikan guru terkait pembelajaran 12. Anak didik tetap mengerjakan atau menyelesaikan latihan soal perkalian bilangan asli di kelas walaupun soal tersebut sulit baginya 13. Anak didik mencatat informasi-informasi penting yang disampaikan saat pembelajaran 14. Anak didik tidak menunda tugas atau latihan soal yang diberikan oleh guru 15. Anak didik berani mengerjakan soal di papan tulis 16. Anak didik menyelesaikan tugas atau latihan soal dengan cara dan strategi lain dan berbeda dari penjelasan guru tetapi tetap sesuai dengan kaidah yang ada

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 17. Anak didik tetap mempertahankan pendapatnya mengenai perkalian bilangan asli, dan tidak memperdulikan jawaban dari temannya 18. Anak didik mengerjakan setiap contoh soal atau latihan soal di papan tulis tanpa merasa lelah atau menunjukkan sikap bermalas-malasan 19. Ketika menemukan keganjalan atau kesalahan atas pekerjaannya dalam menyelesaikan tugas atau latihan soal, anak didik memperbaiki pekerjaannya sampai benar 20. Anak didik berani mengemukakan pendapatnya terkait dengan perkalian bilangan asli di kelas 21. Jika jawaban anak didik berbeda dengan temannya, maka anak didik akan mengganti jawabannya sehingga sama dengan jawaban teman walaupun tidak tau apakah jawaban tersebut salah atau benar 22. Anak didik mengeluh saat diberikan soal yang menurutnya sulit 23. Ketika mengerjakan latihan soal, anak didik mengalihkan pekerjaan-nya dengan menceritakan halhal lain yang tidak berkaitan dengan materi pembelajaran

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 24. Apabila tidak dapat mengatasi persoalan perkalian bilangan asli yang sulit, anak didik cenderung berhenti untuk mengerjakan dan menyelesaikannya 25. Ketika guru menjelaskan materi, anak didik sibuk melakukan kegiatan lainnya yang tidak berkaitan dengan kegiatan pembelajaran 26. Anak didik melihat hasil pekerjaan temannya dalam menyelesaikan latihan soal B. Hasil Belajar 27. Anak didik menerapkan pengetahuan yang dijelaskan oleh guru dari kegiatan pembelajaran tentang perkalian bilangan asli (perkalian 1 – 20) untuk mengerjakan latihan soal dengan tepat dan benar 28. Anak didik dapat menyelesaikan persoalan dalam kehidupan seharihari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli (perkalian 1 – 20) berupa soal cerita dengan benar 29. Anak didik dapat menyebutkan dan menuliskan sifat-sifat perkalian bilangan asli secara benar

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 30. Anak didik dapat menerapkan dan menggunakan cara yang diajarkan guru akademik ataupun peneliti untuk mengerjakan perkalian bilangan asli dengan tepat dan benar Pernyataan Positif ( × 4) + ( × 3) + ( × 2) + ( × 1) = + + + = Skor Motivasi Belajar Pernyataan Negatif ( × 1) + ( × 2) + ( × 3) + ( × 4) = + + + = Jumlah Keseluruhan Motivasi Belajar Skor Hasil Belajar Skor ( × 4) + ( × 3) + ( × 2) + ( × 1) = + + + =

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 Total Keseluruhan Skor Motivasi Belajar dan Hasil Belajar b. Wawancara Berdasarkan penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur adalah kompromi antara wawancara terstruktur dan tidak terstruktur (Samaji Sarosa, 2012: 47). Peneliti menggunakan tipe wawancara semi terstruktur karena peneliti tidak inginsuasana wawancaraterlalu kaku ataupun tidak terarah pada topik pembahasan dan terlalu bebas yang dilakukan dengan anak tunagrahita ringan kelas VII dan didampingi oleh guru kelas.Dalam menggunakan tipe wawancara semi terstruktur, peneliti sudah menyiapkan topik dan daftar pertanyaan yang akan dibahas sebelum aktivitas wawancara dilaksanakan. Topik dan daftar pertanyaan biasanya digunakan sebagai panduan dalam melakukan wawancara yang berfungsi untuk memulai wawancara tersebut. Meskipun peneliti sudah menyiapkan daftar pertanyaan tetapi peneliti juga dapat menambahkan pertanyaan dari jawaban yang diberikan oleh partisipan. Hal ini dilakukan peneliti untuk dapat menelusuri lebih jauh topik yang sedang dibahas berdasarkan jawaban yang sudah diberikan oleh partisipan.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Urutan pertanyaan dan pembahasan pada wawancara semi terstruktur tidak harus sama seperti panduan yang dibuat sebelumnya, semua tergantung dengan jalannya wawancara. Hampir dapat dipastikan bahwa panduan wawancara yang telah disiapkan harus diikuti dengan pertanyaan tambahan untuk menggali lebih jauh jawaban partisipan. Panduan tersebut dapat digunakan untuk mengarahkan wawancara sehingga tidak menyimpang terlalu jauh seperti pada wawancara tidak terstruktur dimana topik yang dibahas terlalu luas dan bebas. Berikut ini adalah kisi-kisi wawancara dan daftar pertanyaan wawancara. Tabel 3.3 Kisi-kisi Wawancara Mengenai Motivasi Belajar No Indikator No Item 1. Kuatnya kemauan untuk berbuat 10, 15, 21, 24 2. Jumlah waktu yang disediakan untuk belajar 3. Ketekunan dalam mengerjakan tugas 13, 18 4. Ulet dalam menghadapi kesulitan 7, 9, 11 5. Lebih senang bekerja mandiri 12, 16 6. Menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah 7. Dapat mempertahankan pendapatnya 8. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin 17, 20, 22 2, 5, 8, 19, 23 14 1, 3, 4

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Tabel 3.4 Panduan Wawancara Sementara Mengenai Motivasi Belajar Anak Didik No. Pertanyaan Selama di Sekolah 1. Apakah kamu bersemangat untuk mengikuti pembelajaran matematika? 2. Apakah kamu menyukai pembelajaran matematika mengenai perkalian bilangan asli dengan menerapkan suatu permainan? 3. Menurut kamu, bagaimana suasana proses pembelajaran perkalian bilangan asli dengan menerapkan permainan lego bricks? 4. Menurut kamu lebih menyenangkan mempelajari perkalian bilangan asli tanpa menggunakan permainan atau dengan menggunakan permainan? 5. Apa saja kesulitan yang dihadapi dan alami dalam mempelajari perkalian bilangan asli sebelum menggunakan permainan? 6. Kendala apa yang dihadapi olehmu ketika memahami LKS dan latihan soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari atau mengenai soal cerita? 7. Apa kesulitan yang kamu rasakan saat menggunakan permainan lego bricks dalam proses belajar mengenai perkalian bilangan asli? 8. Apakah pembelajaran dengan menerapkan permainan lego bricks dapat membuat kamu lebih memahami materi mengenai operasi hitung bilangan asli? 9. Ketika mengerjakan soal-soal mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli, kesulitan apa saja yang dialami sebelum dan setelah menerapkan permainan lego bricks? 10. Apakah kamu bersemangat menjawab pertanyaan dari guru seputar pembelajaran mengenai perkalian bilangan asli? 11. Apakah kamu merasa tertantang untuk menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan operasi hitung perkalian bilangan asli?

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 12. Pada saat melakukan pretest dan posttest, apakah kamu mengerjakan soalmu sendiri? 13. Apakah kamu kesulitan untuk menerapkan konsep permainan lego bricks ketika mengerjakan soal posttest? 14. Apakah kamu merasa percaya diri untuk menyampaikan pendapat kamu mengenai perkalian di depan kelas? 15. Usaha apakah yang kamu lakukan untuk meningkatkan hasil belajarmu? 16. Apakah kamu belajar matematika tanpa di paksa oleh siapapun? 17. Apakah setiap malam kamu selalu meluangkan waktu untuk belajar matematika terutama mengenai perkalian? 18. Bagaimana cara kamu supaya tidak mudah putus asa saat menghadapi kesulitan dalam mengerjakan soal perkalian ? 19. Ketika di kelas mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran, bagaimana cara kamu untuk mengatasi masalah tersebut? Selama di rumah 20. Kalau di rumah, apakah kamu sering meluangkan waktu untuk belajar matematika? 21. Apakah kamu pernah mengulang kembali materi matematika mengenai perkalian yang diajarkan oleh guru di rumah? 21. Kalau materi pelajaran mengenai perkalian itu sulit untuk dipahami, apakah kamu tetap belajar di rumah sampai bisa ? 22. Biasanya di rumah, belajarnya berapa lama? 22. Apakah kamu tetap belajar mengenai perkalian bilangan asli di rumah walaupun tidak memiliki permainan lego bricks? 23. Bagaimana cara kamu belajar dirumah, supaya tidak lupa dengan pembelajaran menggunakan permainan lego bricks yang dijelaskan oleh guru?

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 c. Tes Tes ini berupa tes tertulis, untuk mengetahui sejauh mana kemampuan berhitung anak didik dan untuk mengukur hasil belajar anak didik, dilakukan dua kali yaitu sebelum pembelajaran (pretest) dan sesudah pembelajaran (posttest) dengan masing-masing terdiri dari 10 butir soal perkalian bilangan asli. Soal dibuat oleh peneliti sendiri, namun tidak menutup kemungkinan melihat dari berbagai sumber. Soal-soal tersebut memiliki tingkatan kesulitan. Tingkat kesulitan tersebut dibagi menjadi 3 tahap, yaitu tahap dasar mengenai perkalian bilangan satuan dengan satuan, tahap pertengahan mengenai perkalian satuan dengan belasan (sebaliknya) dan tahap atas mengenai perkalian satuan dengan pulahan (sebaliknya). Sebelum soal pretest dan posttest diujikan, terlebih dahulu soal-soal tersebut divalidasi oleh dosen pakar. Rancangan sebaran soal dalam test kemampuan berhitung disesuaikan dengan indikator pencapaian hasil belajar menurut silabus tematik. Saat melakukan pretest dan posttest anak didik diberikan waktu selama 2 jam (70 menit). Selama pretest, anak didik harus menggunakan kemampuannya sendiri sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki dan tanpa alat bantu berupa kalkulator. Sedangkan pada saat postest berlangsung anak tunagrahita ringan juga harus menggunakan kemampuannya sendiri tanpa alat bantu kalkulator, hanya saja diperbolehkan untuk menggunakan dan menerapkan

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 permainan lego bricks dalam menyelesaikan soal-soal tersebut. Saat tes berlangsung anak didik tidak diperbolehkan untuk bekerjasama satu sama lain. Berikut ini adalah kisi-kisi soal pretest dan posttest yang akan diberikan: Tabel 3.5 Kisi-kisi Soal Pretest dan Posttest Indikator Pencapaian Kompetensi Pretest Posttest 9, 10 7, 8 Menghitung perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 1, 2, 4 5, 6, 10 Menghitung perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) 3, 5 4, 9 Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 6 1 Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) 7, 8 2, 3 Menyebutkan sifat-sifat perkalian bilangan asli F. operasi hitung Metode Analisis Data Menurut Bogdan & Biklen (2007) menyatakan bahwa analisis data adalah proses pencarian dan pengaturan secara sistematik hasil wawancara, catatan-catatan, dan bahan-bahan yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap semua hal yang dikumpulkan dan memungkinkan menyajikan apa yang ditemukan. Teknik pengumpulan data dan analisis data

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 pada praktiknya tidak secara mudah dipisahkan. Kedua kegiatan tersebut berjalan serempak.Pada penelitian ini, analisis data yang digunakan adalah analisis data model Miles dan Huberman. Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan kemudian dilanjutkan setelah pengumpulan data selesai dalam periode tertentu. Miles & Huberman (1992) mengemukakan tiga tahapan yang harus dikerjakan dalam menganalisis data penelitian kualitatif, yaitu reduksi data, paparan/penyajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi. 1. Reduksi data Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Seperti telah dikemukakan, semakin lama peneliti ke lapangan, maka jumlah data akan semakin banyak, kompleks, dan rumit. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data merupakan kegiatan merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya (Sugiyono, 2018: 336). Dengan demikian peneliti mencatat semua data yang diperoleh dari hasil observasi aktivitas belajar anak didik yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar serta diperoleh dari hasil wawancara apa adanya sesuai dnegan fakta yang ada di lapangan. Sehingga data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. 2. Penyajian data Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya. Dengan menyajikan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Data yang di peroleh disajikan dalam bentuk deskriptif yang berisi tentang motivasi belajar dan hasil belajar anak didik sebelum dan sesudah menggunakan permaianan lego bricks. Penyajian data ini mempermudah peneliti untuk mengambil keputusan. 3. Penarikan/verifikasi kesimpulan Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles and Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Sehingga kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti yang telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peelitian berada di lapangan. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi lebih jelas. Data yang ditemukan mengenai pengaruh motivasi belajar dan hasil belajar anak tunagrahita ringan dalam menggunakan atau menerapkan permainan lego bricks pada operasi hitung perkalian bilangan asli. Peneliti melakukan penarikan kesimpulan berdasarkan data-data yang telah diperoleh serta dianalisis. Setelah memperoleh kesimpulan, peneliti memeriksa kembali kesalahan interpretasi dengan cara melihat kembali proses reduksi data dan penyajian data untuk memastikan tidak ada lagi kesalahan yang dilakukan. Dengan demikian pengaruh permainan lego bricks terhadap motivasi belajar dan hasil belajar perkalian bilangan asli untuk anak kelas VII tunagrahita ringan di SLB Negeri 1 Bantul dapat diketahui dan dipahami. G. Kriteria Keberhasilan Penelitian 1. Motivasi Belajar Pengaruh penggunaan permainan lego bricks ditinjau dari lembar observasi aktivitas belajar yang berkaitan dengan motivasi belajar anak didik, dan wawancara. Pada lembar observasi aktivitas belajar yang

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 ditinjau dari mtoivasi belajar memiliki total skor maksimal 104. Berdasarkan pedoman penskoran yang telah dibuat, maka dalam menghitung persentase skor hasil observasi aktivitas belajar anak didik yang ditinjau dari motivasi belajar menggunakan cara sebagai berikut: 𝑟 𝑞 = × 100% 𝑠 Keterangan: 𝑞 = persentase skor hasil observasi aktivitas belajar yang ditinjau dari motivasi belajar anak didik 𝑟 = jumlah keseluruhan skor yang diperoleh anak didik berdasarkan motivasi belajar 𝑠 = skor maksimal berdasarkan motivasi belajar Lembar aktivitas belajar dikatakan mempunyai pengaruh apabila mememenuhi kriteria keberhasilan, sebagai berikut: Tabel 3.6 Kriteria Hasil Presentase Skor Observasi Aktivitas Belajar yang Ditinjau dari Motivasi Belajar Anak Didik Persentase yang Diperoleh Keterangan 85% ≤ 𝑞 ≤ 100% Sangat Tinggi 55% ≤ 𝑞 < 70% Sedang 70% ≤ 𝑞 < 85% 40% ≤ 𝑞 < 55% 0% ≤ 𝑞 < 40% (Sumber: Riduwan, 2007: 15) Tinggi Rendah Sangat Rendah

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 2. Hasil Belajar Untuk hasil belajar dapat dilihat dari hasil pretest (sebelum mempelajari permainan lego bricks) dan posttest (setelah mempelajari permainan lego bricks). Memiliki pengaruh atau tidaknya dapat dilihat dari perbedaan hasil tes tersebut mengalami peningkatan atau penurunan. Selain itu, dapat juga dilihat dari lembar observasi aktivitas belajar yang ditinjau dari hasil belajar yang dipengaruhi juga dari motivasi belajar saat proses pembelajaran berlangsung. H. Tempat dan Penjadwalan Waktu Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakanpada semester gasal tahun ajaran 2018/2019 di kelas VII tunagrahita ringan SLB Negeri 1 Bantul, dengan rincian waktu pelaksanaan penelitian sebagai berikut: 1. Bulan pertama sampai kedelapan (Maret – Oktober 2018) pembuatan proposal dan pengurusan surat ijin observasi di SLB Negeri 1 Bantul 2. Bulan Agustus minggu pertama sampai dengan September minggu terakhir, pembuatan instrumen penelitian 3. Bulan Agustus – Oktober 2018 melakukan pra skrispsi (observasi sementara) di kelas VII SLB Negeri 1 Bantul 4. Bulan Oktober mengirimkan surat ijin penelitian dari kampus dengan melampirkan proposal kepada KESBANGPOL, meng-upload surat ijin ke DIKPORA, memberikan surar DIKPORA berserta proposal ke sekolah

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 5. Bulan Oktober melakukan validasi instrumen dengan validator 6. Akhir Oktober – Akhir November, pelaksanaan penelitian 7. Bulan November minggu kedua 2018 – Januari 2019, penulisan dan perbaikan Bab IV dan V beserta lampiran.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilaksanakan di SLB Negeri 1 Bantul pada tahun ajaran 2018/2019. SLB Negeri 1 Bantul terletak di Jl. Wates KM.3 No.147, Sonopakis Lor, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. SLB Negeri 1 Bantul menyediakan 87 kelas dengan masing-masing tipe atau golongan anak berkebutuhan khusus seperti kelas untuk anak A (Tunanetra), anak B (Tunawicara dan Tunarungu), anak C (Tunagrahita), anak D (Tunadaksa) dan anak Q (Tunalaras). Penelitian dilaksanakan dari awal bulan Juli sampai dengan akhir bulan November 2018, diawali dengan memberikan surat perizinan pra skripsi dari kampus dan memberikan surat perizinan penelitian secara resmi dari DIKPORA disertai dengan proposal penelitian ke SLB Negeri 1 Bantul surat melalui sekretariat sekolah. Kegiatan pra skripsi yang dilaksanakan peneliti yaitu melakukan observasi sementara dan bertemu dengan guru kelas VII TgR sebelum melaksanakan penelitian yang sesungguhnya. Observasi sementara dilakukan di kelas VII TgR dengan 2 anak didik. Observasi sementara dan tanya jawab dengan guru akademik kelas VII TgR bertujuan untuk mengetahui karakteristik anak didik ketika proses pembelajaran berlangsung, kelebihan dan kelemahan yang dimiliki anak didik dalam belajar, dan salah satu alternatif peneliti untuk mendekatkan diri dengan anak didik. Sebelum i

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 memulai observasi sementara, peneliti memperkenalkan diri kepada anak didik. Berdasarkan pengalaman saat melakukan observasi sementara di kelas tanya jawab dengan guru, diperoleh karaketristik kedua anak didik, sebagai berikut: 1. Anak Didik Satu Karakteristik anak didik tersebut, yaitu:  Pendiam  Pemalu  Cuek terhadap lingkungan  Mudah kehilangan konsetrasi  Sulit berbicara  Belum dapat membaca lancar  Dapat melakukan penjumlahan dengan bilangan yang sederhana tetapi sering mengalami kesalahan untuk bilangan yang nilainya besar  Tidak mudah menyerah  Mudah lupa terutama ketika sedang menjumlahkan bilangan yang nilainya besar  Dapat memahami penjelasan dari orang lain dengan cepat dan tepat  Suka bekerja secara individual  Susah bergaul dengan orang baru  Suka mengerjakan soal-soal menantang baginya

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81  Suka mencoba hal baru dan terkadang memakai pemahamannya sendiri 2. Anak Didik Dua Karakteristik anak didik tersebut, yaitu:  Banyak berbicara  Bisa membaca dengan lancar tetapi sulit untuk memahami dan memaknainya  Terkadang yang dibicarakan tidak sesuai dengan konteks dan keadaan  Tidak bisa memahami konsep, tanpa adanya benda konkret  Suka mencari perhatian  Kelemahan dalam berhitung dan bernalar  Mudah mengeluh saat pembelajaran  Mudah putus asa  Tidak menyukai matematika  Suka bermalas-malasan mempelajari matematika  Mudah bosan terhadap pembelajaran  Suka menjaili temannya  Mudah baraptaprasi dengan lingkungan sekitar  Penurut dengan orang yang dianggapnya nyaman Setelah beberapa kali melakukan observasi sementara dan selesai mengurus perizinan resmi penelitian. Penelitian lapangan dilakukan pada akhir Oktober sampai dengan akhir November 2018. Mekanisme penelitian

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 lapangan diawali dengan observasi sebanyak 7 kali dimana 2 kali pertemuan peneliti melakukan observasi aktivitas belajar anak didik yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar sebelum menggunakan permainan lego (guru memberikan pembelajaran). Sedangkan 5 kali pertemuan peneliti memberikan pembelajaran dan melakukan observasi aktivitas belajar anak didik yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar saat menggunakan permainan lego bricks. Selanjutnya melaksanakan pretest dan posttest yang diakhiri dengan wawancara bersama anak didik. Observasi pembelajaran sebelum dan saat menggunakan lego bricks bertujuan untuk memperoleh data mengenai motivasi belajar anak didik yang ditunjukkan dari aktivitas selama proses pembelajaran perkalian bilangan asli berlangsung di kelas dan berkaitan juga dengan hasil belajar yang diperoleh anak didik. Sedangkan tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar anak didik setelah mengikuti proses pembelajaran dengan guru ataupun peneliti. Selanjutnya data hasil wawancara bertujuan untuk memperkuat data mengenai motivasi belajar yang sebelumnya telah diperoleh melalui observasi pembelajaran. Penelitian lapangan menggunakan berbagai instrumen yang terlebih dahulu telah divalidasi oleh dua dosen pendidikan matematika. Validasi dilakukan untuk mengetahui kelayakan dari lembar instrumen yang digunakan dalam penelitian. Terdapat 5 instrumen yang telah divalidasi oleh dosen yaitu instrumen observasi, tes, RPP, LKS, dan wawancara. Untuk Instrumen observasi dan wawancara telah divalidasi oleh dosen satu Pendidikan Matematika. Sedangkan instrumen tes, RPP dan LKS telah

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 divalidasi oleh dosen dua Pendidikan Matematika. Hasil validasi instrumen dosen dapat dilihat pada lampiran. Hasil validasi dosen terletak pada lampiran. Pelaksanaan penelitian lapangan di kelas VII TgR SLB Negeri 1 Bantul menggunakan kurikulum 2013 revisi 2017. Penelitian didampingi oleh guru akademik kelas VII TgR yang merupakan seorang wanita muda kurang lebih berusia 28 tahun. Adapun jadwal pelaksanaan penelitian lapangan (sekolah) disajikan seperti berikut: Tabel 4. 1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Pertemuan Hari, Tanggal Kegiatan 1 Rabu, 31-10-2018 (11.00-12.10 WIB) Observasi kegiatan anak didik dan guru saat berlangsungnya pembelajaran matematika 2 Jumat, 02-11-2018 (08.10-09.20 WIB) Observasi kegiatan anak didik dan guru saat berlangsungnya pembelajaran matematika Senin, 05-11-2018 (10.10-11.20 WIB) Pretest Rabu, 07-11-2018 (07.15-08.25 WIB) Pretest ( tes susulan 1 anak didik) 4 Selasa, 06-11-2018 (09.50 - 11. 00 WIB) Mempelajari perkalian bilangan 1 – 9 dengan menggunakan permainan lego bricks dan sifat-sifat perkalian bilangan asli 5 Rabu, 07-11-2018 (11.00-12.10 WIB) Mempelajari perkalian bilangan 1 – 9 dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan permainan lego bricks ke- 3

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 B. 6 Kamis, 08-11-2018 (11.45-12.55 WIB) Mempelajari perkalian bilangan 1 – 9 dengan menggunakan permainan lego bricks dan sifat-sifat perkalian bilangan asli (susulan pembelajaran untuk anak didik dua) 7 Senin, 12-11-2018 (08.10-09.20 WIB) Mempelajari perkalian bilangan 10 – 20 dengan menggunakan permainan lego bricks 8 Senin, 12-11-2018 (10.00-11.10 WIB) Mempelajari perkalian bilangan 10 – 20 dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan permainan lego bricks 9 Senin, 19-11-2018 (08.10-09.20 WIB) Latihan soal perkalian 1 – 20 beserta sifat-sifat perkalian dan soal yang berkaitan dengan kehidupan seharihari, menggunakan konsep permainan lego bricks 10 Senin, 19-11-2018 (10.00-11.10 WIB) Posttest 11 Rabu, 26-11-2018 (11.00-13.00 WIB) Wawancara (satu per satu anak didik) Deskripsi Pelaksanaan Pembelajaran Anak Tungrahita Ringan Peneliti melakukan observasi aktivitas belajar yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar anak didik saat mengikuti pembelajaran perkalian bilangan asli 1 – 20 bersama guru akademik tanpa menggunakan lego bricks dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan. 1. Pertemuan Pertama Pertemuan pertama dilaksanakan hari rabu, 31 Oktober 2018 pukul 11.00 – 12.10 WIB. Pada pertemuan ini, guru menjelaskan materi mengenai perkalian bilangan asli dengan menggunakan metode pembelajaran ceramah dan tanya jawab. Guru memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam serta mengecek kehadiran anak didik.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Selanjutnya guru menyampaikan kepada anak didik mengenai pembelajaran yang akan dilakukan yaitu mempelajari operasi hitung perkalian bilangan asli yang sederhana seperti bilangan 1 – 9 dan berkaitan dengan perkalian bilangan asli yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Guru menjelaskan pengertian dari operasi hitung perkalian. Selanjutnya menjelaskan konsep perkalian menggunakan penjumlahan dengan memberikan contoh soal kepada anak didik. Contoh soal berkaitan dengan perkalian bilangan asli antara 1 – 10. Sembari menjelaskan, guru melakukan interaksi kepada kedua anak didik dengan memberikan beberapa kali pertanyaan dan menunggu sampai anak tersebut menjawab pertanyaannya. Setelah itu guru memberikan latihan soal kepada kedua anak didik dengan masing-masing soal memiliki tingkatan yang berbeda. Ketika anak didik mengerjakan latihan soal, guru menunggu dan sesekali bertanya kepada anak didik apakah bisa mengerjakannya . Kemudian guru memeriksa dan menilai pekerjaan anak didik pada buku tugas mereka. Apabila masih ada kekeliruan dari jawaban yang diberikan anak didik, guru mengembalikan bukunya dan meminta anak didik tersebut untuk memperbaiki jawaban yang telah diberikan keterangan oleh guru. Guru memberikan soal secara bertahap, jika anak didik dapat mnyelesaiakan dengan cepat dan jawaban yang diberikannya benar maka anak didik akan diberikan latihan soal lagi sampai benar-benar

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 menguasainya. Setelah anak didik paham, guru melanjutkan untuk menjelasakan materi perkalian bilangan asli yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan tersebut diawali dengan memberikan contoh soal cerita. Kemudian anak didik dibimbing guru untuk menyelesaikan contoh soal cerita tersebut. Setelah itu, guru memberikan latihan soal cerita dan memperhatikan anak didik dari tempat duduknya. Anak didik mengerjakan latihan soal cerita yang diberikan guru. Tetapi sebelum anak didik selesai mengerjakan soal tersebut, waktu pembelajaran sudah selesai dan menunjukkan pergantian mata pelajaraan. Sehingga guru mengakhiri pembelajaran matematika dan meminta anak didik untuk menyelesaikan latihan soal tersebut di rumah. Akhir pembelajaran ditutup dengan menyampaikan salam dan berdoa penutup. Dari pembelajaran tersebut, adapun penjelasan aktivitas masingmasing anak didik ketika mengikuti pembelajaran yang ditinjau berdasarkan motivasi belajar dan hasil belajar, sebagai berikut: a. Anak Didik Satu Saat guru menjelaskan materi, anak didik memperhatikan dengan seksama tetapi terlihat jelas ekspresi yang diberikan menandakan kebingungan. Walaupun begitu anak didik dapat dibimbing guru untuk mengikuti pembelajaran mengenai perkalian bilangan 1 – 9 dengan menerapkan konsep perkalian menggunakan penjumlahan. Anak didik merupakan tipe yang pendiam setiap

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 pembelajaran berlangsung. Hal ini terlihat jelas ketika guru memberikan pertanyaan saat sedang mengerjakan contoh soal, respon awal yang diberikan anak didik hanya diam tetapi setelah guru bertanya untuk kedua kalinya barulah anak didik menjawab pertanyaan guru. Pada saat proses pembelajaran ketika anak didik mengalami kesulitan, guru mengetahuinya dengan cara bertanya terlebih dahulu kepada anak didik karena anak didik tidak pernah mengajukan pertanyaan kepada guru terkait materi tersebut ataupun kesulitan yang dihadapinya dalam mempelajari materi ini. Sehingga apabila anak didik mengalami kesulitan dan guru tidak aktif bertanya maka guru tidak akan mengetahui apakah anak didik dapat mengikuti pembelajaran dengan baik atau justru tidak dapat mengikutinya dan mengalami kendala. Selain itu, anak didik mendapatkan pengetahuan mengenai perkalian hanya bersumber pada pembelajaran yang diberikan guru. Anak didik tidak pernah terlihat membawa buku cetak yang dipakai ataupun buku lainnya ke sekolah apalagi membuka internet untuk mencari sumber lainnya. Gambar 4.1 Anak didik memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan guru

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Ketika anak didik dapat menyelesaikan contoh soal bersama guru, anak didik diberikan latihan soal perkalian bilangan asli antara bilangan 1 – 9. Anak didik mengerjakan latihan soal sesuai dengan kemampuan sendiri. Anak didik juga tidak memperdulikan sekitar, hanya fokus dengan pekerjaannya sendiri tanpa menghiraukan pekerjaan temannya. Sehingga apabila temannya mengalami kesulitan, anak didik cenderung diam dan tetap mengerjakan pekerjaannya sampai selesai. Setelah anak didik menyelesaikan latihan soal yang diberikan guru dan hasilnya sudah diperiksa guru, anak didik memperoleh soal kembali dengan tingkatan yang lebih sulit. Terkadang terlihat sekali eskpresi dari anak didik yang mengeluh. Anak didik memang tidak secara langsung mengungkapkan keluh kesahnya tetapi hal ini dapat diketahui dari tingkat konsentrasinya yang semakin menurun anak didik dalam mengerjakan latihan soal. Walaupun begitu sebanyak dan sesulit apapun soal tersebut, anak didik tetap berusaha untuk mengerjakan dan menyelesaikan latihan soal yang diberikan guru. Gambar 4.2 Anak didik sedang mengerjakan latihan soal

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 Setelah anak didik menyelesaikan latihan soal yang kedua dan guru telah memeriksa pekerjaannya, guru mendapatkan kesalahan dari pekerjaan anak didik yang terletak pada ketidaktelitian dalam melakukan penjumlahan untuk bilangan yang hasilnya lebih dari 15. Kemudian guru mengembalikan pekerjaan tersebut dan memberitahukan kesalahan yang dilakukan anak didik. Dari hal tersebut anak didik tidak malu bahkan anak didik langsung memperbaiki pekerjaannya sampai benar. Ketidaktelitian yang dilakukannya bukan menjadi penghalang baginya justru menjadikannya lebih baik lagi dalam berhitung. Anak didik memberikan kembali pekerjaannya yang sudah diperbaiki, untuk diperiksa dan dinilai oleh guru. Karena menurut guru, jawaban yang diberikan anak didik sudah benar maka guru melanjutkan materi berikutnya yaitu perkalian bilangan asli antara 1 – 9 yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Saat guru mengajarkan dan menjelaskan materi mengenai perkalian 1 – 9 dalam kehidupan sehari-hari dengan memberikan soal cerita, anak didik memperhatikan secara seksama. Guru membantu anak didik untuk membaca soal cerita tersebut dengan cara memanggil anak didik ke depan kelas dan mengeja tulisan kata per kata yang terdapat di papan tulis karena anak didik memiliki kendala dalam membaca. Awalnya anak didik menolak untuk ke

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 depan kelas tetapi setelah guru memintanya berkali-kali akhirnya anak didik mau. Hal ini terjadi karena anak didik malu untuk maju. Anak didik mengikuti instruksi yang diberikan guru yaitu setelah membaca soal cerita, anak didik merubah soal tersebut ke model matematikanya. Kemudian menghitung perkalian bilangan asli seperti biasanya. Anak didik memahami tahapan-tahapan mengerjakan perkalian dalam bentuk soal cerita. Setelah itu, guru memberikan latihan soal lagi kepada anak didik berupa soal cerita. Karena kendala yang dialami sulit untuk diselesaikan maka guru tetap membimbingnya, sesekali peneliti membantunya dalam membaca soal cerita tersebut tetapi untuk memodelkan dan menghitung perkalian dilakukannya secara mandiri. Tidak terasa waktu pembelajaran telah selesai, sehingga soal yang belum dikerjakan dijadikan tugas oleh guru untuk di bahas pada pertemuan selanjutnya. Gambar 4.3 Anak didik membaca soal cerita dengan dibimbing oleh guru

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 Gambar 4. 4 Anak didik mengerjakan latihan soal cerita Dari aktivitas yang ditunjukkan anak didik, terdapat beberapa aspek dari 30 aspek pada lembar observasi yang sudah terlihat. Walaupun tidak semua aspek terpenuhi dengan total skor yang sempurna. Tetapi dapat dikatakan bahwa aktivitas belajar yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar anak didik berada pada tingkatan sedang dalam mempelajari perkalian bilangan asli sebelum menggunakan permainan lego bricks. b. Anak Didik Dua Saat guru menjelaskan materi mengenai perkalian bilangan asli antara bilangan 1 – 9, anak didik mendengarkan dan memperahtikan penjelasan dari guru. Hanya saja ketika guru memberikan pertanyaan terkait dengan materi tersebut, anak didik merasa didik tersebut merasa kebingungan langkah apa yang harus dilakukan dan mengalami kesulitan untuk menjawabnya. Walaupun begitu anak didik tetap menjawab dengan apa adanya dan tidak sesuai dengan yang diajarkan. Contohnya ketika guru menanyakan berapa hasil perkalian dari 2 × 3, dengan polosnya anak didik

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 menjawab 3. Anak didik belum bisa menerapkan konsep perkalian menggunakan penjumlahan. Hal ini terjadi karena anak didik belum lancar dalam melakukan operasi hitung penjumlahan. Akibat kejadian tersebut guru harus memberikan penjelasan materi yang berbeda kepada kedua anak didik sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, sehingga guru menjelaskan dan mengingatkan kembali mengenai materi penjumlahan khusus untuk anak didik ini. Diawali dengan diberikannya contoh soal mengenai operasi hitung penjumlahan. Pada saat mengerjakan contoh soal, anak didik melakukan kesalahan dalam menghitung karena ketidaktelitiannya. Selain itu, anak didik juga melakukan kesalahan dalam menerapkan konsep penjumlahan yang menggunakan gabungan dari suatu objek dengan objek lainnya. Hal ini terlihat jika anak didik tidak dapat membayangkan suatu objek tanpa ada objek tersebut secara nyata. Walaupun begitu, guru dan peneliti tetap membimbing anak didik untuk memperbaikinya. Anak didik juga diberikan latihan-latihan soal yang harus dikerjakan dan sesekali guru menuliskan soal perkalian antara bilangan 1 – 9 di buku tulis anak didik tersebut. Gambar 4.5 Anak didik memperhatikan penjelasan guru

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 Gambar 4. 6 Anak didik menjawab pertanyaan dari guru Gambar 4.7 Anak didik mengerjakan contoh soal dan latihan soal dibimbing oleh guru Setelah berkali-kali guru atau peneliti menjelaskan perbsikannya, anak didik tetap melakukan kesalahan yang sama dalam mengerjakan latihan soal penjumlahan. Karena harus memperbaiki terus menerus, akhirnya anak didik tersebut menyerah untuk mengerjakan latihan soal dengan mengatakan apabila anak tersebut tidak bisa. Selain itu, anak didik mengeluh kepada guru ataupun peneliti apabila dirinya capek karena katanya anak didik begadang di rumah untuk belajar. Pada saat mengerjakan latihan

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 soal, juga, sering kali anak didik berpaling dengan membahas hal lain yang tidak berkaitan dengan pembelajaran. Contohnya saja seperti menceritakan mengenai ibunya yang telah mengajaknya pergi belanja, dan masih banyak lagi hal yang diceritakannya. Apapun yang dilakukan anak didik, guru tetap meminta anak didik untuk menyelesaikan latihan soal yang telah diberikan. Gambar 4.8 Anak didik dibimbing guru dalam memperbaiki latihan soal yang dikerjakannya Selanjutnya guru menjelaskan materi mengenai perkalian bilangan asli antara 1 – 9 dari kehidupan sehari-hari dalam bentuk soal cerita. Tetapi dikarenakan anak didik belum dapat menyelesaikan perkalian bilangan 1 – 9 maka dari itu khusus untuk anak didik ini, guru menjelaskan mengenai operasi hitung penjumlahan dari kehidupan sehari-hari dalam bentuk soal cerita. Ketika guru menjelaskan materi ini, terkadang anak didik sibuk

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 mengganggu temannya yang sedang fokus mendengarkan dan mengikuti proses pembelajaran. Alhasil guru menuliskan soal di papan tulis, dan meminta anak didik untuk mengerjakan soal tersebut. Awalnya anak didik menolak tidak mau tetapi setelah beberapa kali guru memintanya dan anak didik melihat temannya sudah mengerjakan soal di papan tulis sebelumnya, anak didik berubah pikiran untuk mau mengerjakannya. Saat mengerjakan soal cerita tersebut anak didik dapat membaca dengan lancar walaupun membacanya di sambung tidak terdapat titik koma atau jeda, sehingga terkadang anak didik sulit untuk memahami maksud dari persoalan yang ada. Tetapi untuk kali ini, anak didik dapat memahami persoalan yang dikerjakannya di papan tulis. Hanya saja kendalanya ketika melakukan operasi hitung penjumlahan, sehingga guru membimbing anak didik untuk mengingatkan kembali cara menyelesaikan soal penjumlahan. Gambar 4. 9 Anak didik mengerjakan soal cerita di papan tulis

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Gambar 4.10 Anak didik mengerjakan soal cerita dengan dibimbing guru Setelah dirasa anak didik bisa mengikuti penjelasan dari guru, anak didik diberikan 2 latihan soal berbentuk cerita. Satu soal cerita berkaitan dengan penjumlahan, sedangkan soal cerita yang lain berkaitan dengan perkalian bilangan asli antara bilangan 1 – 9. Anak didik mengerjakan soal tersebut, kesempatan kali ini guru dan peneliti hanya sekedar mengawasi tanpa membantunya. Gambar 4.11 Anak didik mengerjakan soal cerita Hal ini dilakukan supaya anak didik tidak terlalu ketergantungan dengan orang lain dan dapat mempercayai jawabannya sendiri. Ketika diperhatikan, anak didik sudah mulai bisa melakukan penjumlahan kembaln. Dikarenakan waktu pembelajaran telah

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 selesai maka latihan soal yang belum dikerjakan dijadikannya tugas dan akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Selama proses pembelajaran berlangsung dan memperoleh kesulitan-kesulitan dalam mempelajari materi perkalian atau penjumlahan, anak didik tidak pernah bertanya kepada guru dan cenderung berdiam diri atau melakukan sesuatu hal di luar dari materi pembelajaran. Dari aktivitas belajar yang telah ditunjukkan oleh anak didik terlihat sekali bahwa anak didik belum memaksimalkan diri sepenuhnya terhadap pembelajaran. Walaupun begitu sudah terdapat beberapa aspek yang telah terlihat dari 30 aspek pada lembar pengamatan. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa aktivitas belajar yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar anak didik berada pada tingkatan sangat kurang dalam mempelajari perkalian bilangan asli sebelum menggunakan permainan lego bricks. 2. Pertemuan Kedua Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari kamis, 01 November 2018 pukul 08.10 – 09. 20 WIB. Tidak berbeda dengan pertemuan sebelumnya, guru tetap menjelaskan materi mengenai perkalian bilangan asli dengan menggunakan metode pembelajaran ceramah dan tanya jawab. Seperti biasa guru memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam serta mengecek kehadiran anak didik. Selanjutnya guru

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 menyampaikan materi pembelajaran kepada anak didik. Pada pertemuan ini, guru menjelaskan tentang sifat-sifat perkalian bilangan asli, perkalian bilangan 10 – 20 dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Sebelum melanjutkan materi, guru mengulang kembali materi sebelumnya yang bertujuan untuk mengingatkan anak didik mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli yang sederhana seperti bilangan 1 – 9 dan berkaitan dengan perkalian bilangan asli yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Cara guru mengingatkan pemahaman anak didik dengan menuliskan soal mengenai salah satu perkalian bilangan 1 – 9 di papan tulis dan kedua anak didik dengan dibimbing guru menyelesaikan soal tersebut. Setelah itu, guru mengawali materi selanjutnya dengan menjelaskan secara sekilas sifat-sifat perkalian bilangan asli dan memberikan contoh soal yang berkaitan dengan salah satu sifat dari sifatsifat perkalian bilangan asli. Saat menjelaskan proses penyelesaian tersebut, guru melakukan interaksi seperti tanya jawab dengan anak didik. Guru menuliskan contoh soal mengenai sifat asosiatif. Tahap demi tahap guru jelaskan kepada anak didik. Kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan perkalian bilangan 10 – 20. Ketika menjelaskan, guru menggunakan cara yang sama pada saat menjelaskan perkalian bilangan 1 – 9 yang berbeda hanyalah angkanya saja. Pembelajaran yang diberikan kepada kedua anak didik tidak sama karena ternyata untuk bilangan 10 –

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 20 anak didik dua mengalami kesulitan, sehingga guru memberikan dua contoh soal dengan tingkatan yang berbeda. Selanjutnya, guru memberikan latihan soal kepada kedua anak didik. Masing-masing anak didik diberi soal yang berbeda sesuai dengan kemampuannya. Anak didik dua dibimbing mengerjakan soal perkalian 1 – 9, sedangkan anak didik satu diberikan soal perkalian 10 – 20. Soal yang diberikan guru bukan hanya mengenai perkalian 1 – 20 dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, tetapi juga mengenai penerapan sifat-sifat perkalian seperti sifat komutatif dan sifat assosiatif. Sama halnya pada pertemuan sebelumnya, soal yang diberikan guru bertahap. Apabila anak didik sudah selesai mengerjakan dan guru sudah memeriksa bahkan menilainya, anak didik akan diberikan soal kembali sampai anak didik benar-benar menguasai materi tersebut. Tidak terasa pembelajaran sudah selesai. Sebelum mengakhiri pembelajaran, guru menyampaikan kepada anak didik bahwa pertemuan selanjutnya akan diajarkan oleh peneliti. Akhir pembelajaran ditutup dengan mengucapkan salam dan doa penutup. Dari penjelasan kegiatan pembelajaran, adapun penjelasan aktivitas masing-masing yang dilakukan anak didik ketika mengikuti proses pembelajaran yang ditinjau berdasarkan motivasi belajar dan hasil belajar, sebagai berikut: a. Anak Didik Satu

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 Berbeda halnya dengan pertemuan sebelumnya, pertemuan kali ini respon yang diberikan anak sudah cukup baik walaupun masih perlu ditingkan lahi. Saat guru menjelaskan materi, anak didik mendengarkan dengan seksama dan tingkat kepercayaan terhadap diri sendiri sudah lebih baik dari sebelumnya. Terlihat dari intensitas menjawab pertanyaaan dari guru mengalami peningkatan daripada pertemuan sebelumnya. Awalnya anak didik cenderung diam dan dipaksa dulu barulah menjawab, tetapi sekarang berbeda. Apalagi ketika guru memberikan contoh soal di papan tulis dan berusaha berinteraksi dengan kedua anak didik melalui pertanyaanpertanyaan yang disampaikannya, respon yang diberikan anak didik ini menjawab pertanyaan tersebut secara spontan dan jawaban yang diberikan relatif benar. Saat pembelajaran mengenai perkalian bilangan asli antara bilangan 10 – 20 dengan menerapkan konsep perkalian terhadap penjumlahan, anak didik sangat memahami bahkan lancar dalam menuliskan konsep tersebut. Hanya saja ketika anak didik mengerjakan soal, masih mengalami kesalahan yang terletak pada penjumlahan bilangan-bilangan yang bernilai besar. Anak didik menghitung dengan bilangan yang besar membutuhkan waktu lama dan mengalami kesalahan dalam ketidaktelitian melkaukan operasi hitung penjumlahan. Hal ini dikarenakan anak didik melakukan penjumlahan dengan alat bantu jari dan daya ingat. Sedangkan

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 konsetrasi yang dimilikinya mudah sekali hilang dan lupa sehingga ketika berhitung ada beberapa angka yang terlewat atau diucapkan berulang olehnya. Gambar 4.12 Anak didik mendengarkan penjelasan dari guru dan menjawab pertanyaannya Walaupun begitu, ketika guru memberikan beberapa soal untuk dikerjakan oleh anak didik tanpa pikir panjang anak didik langsung mengerjakannya. Tidak hanya itu, anak didik menyelesaikan latihan soal tepat waktu sesuai dengan perintah yang diberikan guru. Saat guru memeriksa hasil pekerjaan dari anak didik ini, beberapa jawaban yang diberikan sudah tepat tetapi ada beberapa jawaban yang masih perlu diperbaiki. Tanpa merasa putus asa, anak didik beberapa kali memperbaiki jawaban yang masih salah sampai benar dan segera mengembalikan kembali ke guru untuk diperiksa kembali.

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Gambar 4.13 Anak didik mengerjakan latihan soal Anak didik memang mengalami kendala, tetapi hal itu tidak membuatnya untuk bertanya kepada guru. Apabila peneliti tidak melihat pekerjaannya, peneliti tidak tahu jika anak didik merasa kebingungan ketika menjumlahkan bilangan 15 + 15 + 15 + 15. Kebingungan yang dirasakannnya bukan jadi penghalang anak didik utnuk mengerjakan soal tersebut dan tidak menjadi alasannya untuk berhenti mengerjakannya. Anak didik memang terlihat bingung tetapi anak tersebut tetap berusaha mencoba dan beberapa kali menghitungnya. Tetapi karena anak didik hanya menggunakan alat bantu jari tangan yang cenderung terbatas sehingga membuatnya mengulangi kesalahan yang sama. Melihat perjuangan yang dilakukan anak didik, peneliti secara spontan membantunya dengan meminjamkan 5 jari tangan untuk dihitung dan anak didik menghitungnya. Peneliti membantu hanya sebatas itu, selebihnya anak didik mengerjakan latihan soal secara mandiri dan hasil yang diperolehnya benar. Selain itu, anak didik juga tidak pernah berdiskusi dengan temannya ketika mengerjakan

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 soal bahkan terlihat sangat cuek dan tidak memperdulikan temannya. Anak didik hanya fokus dengan pekerjaannya dan memperbaiki jawabannya yang kurang tepat. Gambar 4.14 Peneliti membantu anak didik Soal yang diberikan guru bukan sekedar perkalian biasa, tetapi terdapat soal cerita dimana ketika mengerjakan soal cerita anak didik tetap dibantu guru untuk membaca, tetapi anak didik paham untuk memaknai soal cerita tersebut. Apalagi ketika diminta untuk megubahnya ke dalam model matematika, anak didik tidak mengalami kesulitan aoabila soal tersebut telah dibacakan. Walaupun anak didik sudah memberikan respon yang baik, untuk mengerjakan soal-soal yang telah diberikan di papan tulus anak didik masih perlu disuruh dan sedikit dipaksa oleh guru. Hal ini karena anak didik masih merasa malu. Untuk pemahaman terkait dengan sifat-sifat dari perkalian bilangan asli, peningkatannya hanya sedikit. Anak didik masih perlu bimbingan ketika memahami sifat mana yang digunakan pada soal

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 tersebut. Hal ini terjadi karena, sumber pengetahuan yang diperoleh anak didik hanya dari guru, tidak pernah dari sumber lainnya dan hanya memanfaatkan ketika pembelajaran berlangsung. Dari aktivitas belajar yang telah ditunjukkan oleh anak didik terlihat bahwa anak didik sudah mengalami peningkatan daripada pertemuan sebelumnya. Sehingga terdapat beberapa aspek dari 30 aspek pada lembar pengamatan yang telah terlihat. Selain itu, total skor dengan persentase skor yang diperoleh mengalami peningkatan. Walaupun begitu, aktivitas belajar yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar anak didik tetap berada pada tingkatan sedang dalam mempelajari perkalian bilangan asli sebelum menggunakan permainan lego bricks. b. Anak Didik Dua Berbeda dengan anak didik satu, respon yang diberikan anak didik masih cenderung sama seperti pertemuan sebelumnya walaupun memiliki peningkatan sedikit dalam hal menjawab. Khusus untuk anak didik ini, guru menjelaskan materi mengenai perkalian bilangan asli antara bilangan 1– 9 dan sifat-sifat perkalian bilangan asli. Saat guru menjelaskan materi tersebut dengan menuliskan contoh soal, anak didik mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari guru. Ketika guru mencoba berinteraksi dengan anak didik dan memberikan beberapa pertanyaan, anak didik menjawabnya walaupun tetap dibimbing

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 guru untuk menjawabnya. Anak didik juga mencatat contoh soal yang dikerjakan bersama-sama dengan guru. Gambar 4.15 Anak didik memperhatikan penjelasan dan menjawab pertanyaan dari guru Ketika diberikan latihan soal, anak didik mengerjakan dengan dibimbing oleh guru. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, apalagi ketika guru sedang tidak mengawasinya. Anak didik cenderung mengganggu temannya yang sedang fokus mengerjakan latihan soal. Supaya tidak berlanjut, guru mengawasinya kembali dengan berada di depannya dan membantunya untuk menyelesaikan latihan soal yang diberikan. Selain itu, anak didik mencoba melihat hasil pekerjaan temannya. Gambar 4.16 Anak didik mengganggu temannya yang sedang fokus mengerjakan

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 Gambar 4.17 Anak didik mencoba melihat jawaban Tidak hanya itu, sikap mudah putus asa saat mengerjakan soal tetap ditunjukkannya. Karena harus memperbaiki terus menerus, akhirnya anak didik tersebut menyerah untuk mengerjakan latihan soal dengan mengatakan apabila anak tersebut tidak bisa. Selain itu, anak didik mengeluh kepada guru ataupun peneliti apabila dirinya capek karena katanya anak didik begadang di rumah untuk belajar. Pada saat mengerjakan latihan soal, juga, sering kali anak didik berpaling dengan membahas hal lain yang tidak berkaitan dengan pembelajaran. Apapun yang terjadi, guru tetap meminta anak didik untuk menyelesaikan latihan tersebut sampai selesai. Sikap bermaslaasan-malasan tetap ditunjukkannya sampai akhir pembelajaran. Gambar 4.18 Anak didik terlihat mengerjakan soal sampai bosan

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 Dari aktivitas belajar yang telah ditunjukkan oleh anak didik terlihat bahwa anak didik masih belum memaksimalkan diri sepenuhnya terhadap pembelajaran yang ditinjau dari motivasi belajar anak didik dan berkaitan dengan hasil belajar anak didik. Walaupun begitu sudah terdapat beberapa aspek yang telah terlihat dari 30 aspek pada lembar pengamatan. Selain itu, total skor dengan persentase skor yang dihasilkan dari lembar observasi aktivitas belajar yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar mengalami peningkatan walaupun hanya sedikit. Akan tetapi, motivasi belajar yang dimiliki anak didik dan hasil belajar yang diperolehnya selama pembelajaran berlangsung tetap berada pada tingkatan sangat kurang dalam mempelajari perkalian bilangan asli sebelum menggunakan permainan lego bricks. C. Deskripsi Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Menggunakan Permainan Lego Bricks 1. Aktivitas Pembelajaran Menggunakan Lego Bricks a. Pertemuan Pertama Pertemuan Pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 06 November 2018 dikelas VII TgR SLB Negeri 1 Bantul pada jam 09.50 - 11. 00 WIB. Pada pertemuan ini hanya dihadiri anak didik satu sedangkan anak didik dua tidak dapat hadir karena sakit. Sedangkan untuk anak didik dua dilakukan pertemuan susulan pada

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 hari Kamis, 08 November 2018 dikelas VII TgR SLB Negeri 1 Bantul pukul 11.45 - 12.55 WIB dengan satu anak didik yang mengikuti susulan pembelajaran. Walaupun berbeda hari, penerapan kegiatan yang dilakukan tetap sama untuk kedua anak didik. Pada pertemuan ini, peneliti menjelaskan materi mengenai perkalian bilangan asli dengan menggunakan metode pembelajaran yaitu ceramah, tanya jawab, diskusi dan demonstrasi permainan lego bricks. Peneliti memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam, menanyakan kabar anak didik, serta mengecek kehadiran anak didik. Sebelum melanjutkan pembelajaran hari ini, untuk mengingatkan kembali pengetahuan mengenai perkalian menggunakan konsep perkalian menggunakan penjumlahan peneliti memberikan satu pertanyaan seputar operasi hitung perkalian bilangan asli. Contohnya berapa hasil perkalian dari 2 × 3?. Setelah itu, peneliti menyampaikan materi atau topik pembelajaran kepada anak didik mengenai perkalian bilangan asli (perkalian 1 sampai dengan perkalian 9) beserta sifat-sifatnya. Tidak lupa juga peneliti membetitahukan tujuan pembelajaran yaitu anak didik diharapkan mampu menghitung perkalian 1 sampai dengan 9 dan menuliskan sifat-sifat perkalian bilangan asli secara aktif dan bertanggungjawab melalui penjelasan dari guru, kegiatan permainan lego bricks, permasalahan yang diberikan, tanya-jawab, berdiskusi. Kemudian peneliti menanyakan kepada anak didik tentang macam-

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 macam alat bantu yang dapat digunakan untuk melakukan perkalian bilangan asli. Karena anak didik tidak tau maka peneliti memberitahukan dan menjelaskan beberapa permainan atau alat bantu apa saja yang dapat digunakan untuk melakukan perkalian bilangan asli, dengan menunjukkan beberapa gambar seperti gambar permainan ular tangga yang didalamnya terdapat angka – angka, kartu domino bertuliskan angka, dan congkak. Selanjutnya peneliti memperkenalkan permainan lego bricks kepada anak didik dengan menunjukkan lego bricks tersebut sembari menjelaskannya. Lalu peneliti membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS), permainan lego bricks dengan masing-masing lego yang sudah dikelompokkan dalam bungkus plastik sesuai dengan titik dan diberi label angka pada masing-masing plastik, serta alas lego kepada setiap anak didik. Ketika masuk dalam materi, peneliti memulainya dengan menjelaskan dan memperagakan cara bermain lego bricks untuk operasi hitung perkalian 1 sampai perkalian 9 dengan mengambil contoh yang terdapat pada LKS. Hal ini dikarenakan supaya anak didik juga dapat memperhatikan lewat instruksi yang sudah tersedia di LKS, hanya saja diperjelas kembali oleh peneliti. Misalkan: hitung perkalian 9 × 2. Hal pertama yang dilakukan peneliti yaitu mengambil lego bricks yang mempunyai 2 titik di atas kepala brick, sebanyak 9 buah bricks (boleh sama warna ataupun beda warna). Setelah itu, peneliti menaruh dan memasang

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 lego bricks tersebut ke alas lego secara berdekatan. Kemudian peneliti menghitung banyaknya titik-titik yang berada pada lego bricks tersebut, dalam hal ini terdapat 18 titik. Sehingga dapat dinyatakan bahwa hasil dari perkalian 9 × 2 = 18. Setelah menjelaskan langkah-langkahnya, peneliti meminta anak didik untuk mempraktekan sendiri permainan lego bricks yang sudah disediakan dengan menggunakan contoh soal dari salah satu soal yang ada pada pretest. Contohnya hitung perkalian dari 3 × 3!. Selain itu, peneliti juga menjelaskan sifat-sifat pada operasi hitung perkalian bilangan asli seperti sifat tertutup, sifat komutatif, asosiatif, distributif perkalian terhadap penjumlahan, distributif perkalian terhadap pengurangan dan mempunyai elemen identitas. Peneliti menyampaikan dan menerangkan sifat-sifat perkalian bilangan asli dengan menyelesaikan persoalan perkalian yang dituliskan di papan tulis. Sembari menjelaskan, peneliti melakukan interaksi dengan anak didik berupa tanya jawab. Kemudian peneliti meminta anak didik memahami dan melihat kembali yang terdapat pada LKS, lalu anak didik harus menyelesaikan soal-soal yang ada di LKS. Ketika anak didik mengerjakan LKS, peneliti selalu membimbing dan mendampingi anak didik. Setelah anak didik menyelesaikan semua soal yang ada di LKS, peneliti membahas dan mengoreksi satu per satu hasil pekerjaan anak didik secara bersamasama.

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 Tidak terasa waktu pembelajaran hampir selesai dan kurang dari 10 menit. Sebelum mengakhiri pembelajaran, peneliti menanyakan kesan pertama anak didik setelah menggunakan dan menerapkan permainan lego bricks dalam proses pembelajaran. Tidak hanya itu, peneliti juga mengajak dan membantu anak didik untuk merefleksikan hasil yang didapatkan selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana. Selain itu, peneliti menanyakan kesulitan apa saja yang dihadapi anak didik ketika melakukan pembelajaran menggunakan permainan lego bricks dan peneliti juga tidak lupa mengucapkan terimakasih atas keikutsertaan anak didik melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. Akhir pembelajaran ditutup dengan menyampaikan salam dan berdoa penutup. Dari penjelasan kegiatan pembelajaran, adapun penjelasan aktivitas masing-masing yang dilakukan anak didik ketika mengikuti proses pembelajaran yang ditinjau berdasarkan motivasi belajar dan hasil belajar, sebagai berikut: 1) Anak Didik Satu Saat memulai pembelajaran, anak didik membalas salam dari peneliti, selain itu menjawab bahwa kabarnya baik dan siap untuk mengikuti pembelajaran. Anak didik mendengarkan informasi yang disampaikan oleh peneliti. Ketika peneliti menanyakan kembali mengenai perkalian bilangan 1 – 9 dengan

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 konsep perkalian menggunakan penjumlahan, awalnya anak didik lupa dan malu-malu tetapi tetap menjawab soal tersebut. Jawaban yang diberikan anak didik benar dengan dibimbing oleh peneliti. Setelah itu, peneliti menjelaskan apabila pembelajaran hari ini akan menerapkan permainan. Dimulai dari menerangkan beberapa alat bantu yang dapat digunakan untuk perkalian dengan menunjukkan gambar. Respon yang diberikan anak didik terlihat bersemangat dan bahkan menjawab setiap pertanyaan yang diberikan peneliti sehingga terjadi interaksi antara anak didik dan peneliti. Gambar 4.19 Anak didik menjawab pertanyaan dari peneliti Sebelum melanjutkan materi, peneliti memperkenalkan terlebih dahulu permainan lego bricks dan menunjukkan lego bricks tersebut kepada anak didik. Saat itu anak didik terlihat excited. Kemudian peneliti membagikan lego bricks beserta LKS. Ketika peneliti menjelaskan cara menggunakan lego bricks dan menjelaskan sifat-sifat perkalian bilangan asli, anak didik mendengarkan secara seksama. Tidak membutuhkan

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 waktu lama untuk memahaminya, anak didik langsung mempraktekkan penggunaan permainan lego bricks pada contoh soal perkalian yang terdapat di LKS dengan dibimbing oleh peneliti. Gambar 4.20 Ekspresi anak didik ketika peneliti menunjukkan permainan lego bricks Gambar 4.21 Pada saat peneliti menjelaskan materi dan membimbing anak didik menggunakan permainan lego bricks Setelah itu, anak didik mengerjakan latihan soal yang terdapat di LKS. Tanpa menundanya anak didik langsung mengerjakan. Selama mengerjakan LKS, anak didik tidak

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 pernah mengeluh kesulitan. Bahkan ketika anak didik mendapatkan soal yang menurutnya sulit, anak didik memanggil peneliti kemudian bertanya dengan memberikan kode seperti menaruh kedua tangan diatas seperti menandakan “ini bagaimana?”. Walaupun dibimbing peneliti tetapi anak didik mengerjakannya secara mandiri. Peneliti hanya memberitahu ketika anak didik mengalami kesulitan dan apabila anak didik melakukan kesalahan dalam berhitung. Kesalahan tersebut, langsung diperbaikinya walaupun harus membuat anak didik menghitung dari awal tetapi tidka membuat anak didik menyerah. Anak didik memperbaiki sampai jawaban yang dituliskannya benar. Anak didik tepat waktu dalam menyelesaikan semua soal yang terdapat pada LKS sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh peneliti. Setelah itu, anak didik membahas hasil pekerjaannya bersama-sama dengan peneliti. Gambar 4.22 Anak didik mengerjakan LKS dengan menggunakan permainan lego bricks

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 Anak didik menyampaikan hasil pekerjaannya tanpa paksaan dan semua jawaban yang dituliskannya benar, walaupun masih sedikit malu untuk menyampaikannya. Kemudian peneliti mempertegas jawaban yang disampaikan anak didik. Sebelum mengakhiri pembelajaran dengan dibimbing peneliti, anak didik menyampaikan kesan pertama mempelajari perkalian bilangan asli yaitu menyenangkan dan seru. Kemudian anak didik juga tidak merasa pusing mengerjakan soal-soal yang diberikan. Selain itu, dengan menggunakan lego bricks anak didik merasa lebih memahami dan mudah untuk diterapkan. Setelah itu anak didik menjawab salam dan doa penutup. Dari aktivitas belajar yang telah ditunjukkan oleh anak didik terlihat bahwa anak didik mengalami peningkatan berkaitan dengan motivasi belajar dan hasil belajar dari pertemuan sebelumnya. Sehingga beberapa aspek yang tadinya belum terlihat sekarang menjadi terlihat dan bahkan terdapat peningkatan total skor dengan persentase skor dari pertemuan sebelumya. Persentase skor yang diperoleh dan tercantum pada lembar observasi menyatakan bahwa aktivitas belajar anak didik yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar berada pada tingkatan tinggi. 2) Anak Didik Dua

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 Pembelajaran ini hanya dilakukan oleh anak didik sendiri tanpa temannya yang lain. Hal ini terjadi karena pertemuan kali ini merupakan pembelajaran susulan dari materi perkalian bilangan 1 – 9. Walaupun begitu, dengan senang hati anak didik tetap mengikuti pembelajaran sampai selesai. Sebelumnya, anak didik sudah mempelajari perkalian 1 – 9 dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan lego bricks dan cukup baik memahaminya, sehingga pada pertemuan kali ini tidak begitu sulit bagi anak didik untuk memahaminya dan melakukan perkalian. Perbedaannya hanya terletak pada bentuk soal saja, sebelumnya berbentuk soal cerita sedangkan kali ini merupakan soal perkalian biasa.. Kemudain peneliti membagikan LKS, permainan lego bricks dan alas lego. Setelah mendapatkan LKS, seperti biasa anak didik membaca dan memahami LKSnya terutama pada bagian contoh soal sembari mendengarkan peneliti menerangkan dan menjelaskan dan menjelaskan secara sekilas untuk mengingatkan kembali pemahaman anak didik menggunakan lego bricks. Selanjutnya anak didik mengerjakan soal tersebut dengan serius. Selama mengerjakan LKS, beberapa kali anak didik mengajukan pertanyaan kepada anak didik terkait dengan penyelesaiannya sudah benar atau belum. Pada saat nak didik

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 mengalami kesulitan, anak didik tetap mengerjakan tanpa henti sampai selesai. Gambar 4.23 Anak didik membaca dan memahami LKS Gambar 4.24 Anak didik mengerjakan LKS dengan menggunakan permainan lego bricks Setelah selesai mengerjakan, dilanjutkan dengan membahas soal-soal perkalian yang terdapat pada LKS. Selama membahas persoalan anak didik berani berpendapat dengan menyampaikan jawabannya secara langsung. Jawaban dari anak didik sudah benar dari 10 soal terdapat 8 soal yang benar, maka

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 dapat dinyatakan apabila anak didik sudah dapat menerapkan pengetahuannnya menggunakan lego bricks untuk menyelesaikan perkalian 1 – 9 dalam bentuk perkalian biasa dan menyebutkan sifat-sifat perkalian bilangan asli. Sebelum mengakhiri pembelajaran, seperti biasa anak didik menyimpulkan kegiatan pembelajaran dan merefleksikan hasil yang didapatkan selama melakukan kegiatan pembelajaran. Anak didik menyampaikan jika tidak mengalaimi kesulitan selama menggunakan lego brikcs dan menurutnya pembajaran yang dilakukan seru dan tidak membuatnya bosan. Akhir pembelajaran ditutup dengan menyampaikan salam dan berdoa penutup. Berdasarkan aktivitas belajar anak didik selama proses pembelajaran berlangsung yang ditunjukkan dari lembar observasi berkaitan dengan motivasi belajar dan hasil belajar, menyatakan bahwa terdapat peningkatan dari pertemuan yang sebelumnya. Pembelajaran kali ini, total skor dengan persentase skor mengalami peningkatan sesuai dengan aspek yang diamati dari lembar observasi. Dengan demikian, anak didik dinyatakan memiliki motivasi belajar dengan intensitas tinggi sehingga membuat hasil belajar yang diperoleh juga mengalami peningkatan dari pertemuan yang sebelumnya.

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 b. Pertemuan kedua Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Rabu, 07-11-2018 pukul 11.00 – 12.10 WIB. Pada pertemuan ini, peneliti menjelaskan materi mengenai perkalian bilangan asli dengan menggunakan metode pembelajaran yaitu ceramah, tanya jawab, diskusi dan demonstrasi permainan lego bricks. Peneliti memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam, menanyakan kabar anak didik, serta mengecek kehadiran anak didik. Kedua anak didik hadir. Pada pertemuan kali ini, materi atau topik pembelajaran yaitu mengenai perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan sifat-sifat perkalian bilangan asli dengan metode pembelajaran demonstrasi. Tidak lupa LKS, permainan lego bricks dengan masing-masing lego yang sudah dikelompokkan dalam bungkus plastik sesuai dengan titik dan diberi label angka pada masing-masing plastik, serta alas lego dibagikan kepada setiap anak didik. Peneliti memulainya dengan menjelaskan dan memperagakan cara bermain lego bricks dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari pada operasi hitung perkalian 1 sampai perkalian 9 dengan mengambil contoh yang terdapat pada LKS dengan melakukan interaksi kepada kedua anak didik berupa tanya jawab. Selanjutnya, anak didik mempraktekan kembali dengan soal yang sama. Kemudian anak didik menyelesaikan soal-soal yang ada di LKS.

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 Pembahasan latihan soal di LKS dilakukan secara satu per satu dengan meminta anak didik untuk menuliskan jawabannya di papan tulis. Peneliti memeriksa dan membahas jawaban yang telah dituliskan. Setelah itu, pembelajaran diakhiri dengan menyimpulkan, merefleksikan, menyampaikan kesulitan yang dihadapi, menyampaikan ucapan terimakasih, salam dan doa penutup. Dari kegiatan pembelajaran, adapun penjelasan aktivitas yang dilakukan masing-masing anak didik ketika mengikuti proses pembelajaran yang ditinjau berdasarkan motivasi belajar dan hasil belajar, sebagai berikut: 1) Anak Didik Satu Pada saat peneliti menjelaskan materi, anak didik mendengarkan secara seksama. Selain itu, pertemuan kali ini anak didik terbilang lebih aktif dari sebelumnya. Awalnya peneliti bertanya seputar materi perkalian sebelumnya, tanpa ragu anak didik menjawab dengan suara yang lantang. Pertanyaan yang seharusnya ditujukkan kepada temannya, anak didik ini yang menjawabnya. Setelah anak didik mendapatkan lego bricks beserta alat lego dan LKS, anak didik memperhatikan LKSnya. Saat peneliti membahas contoh soal dan melakukan interaksi dengan bertanya, anak didik selalu menjawab pertanyaan dari peneliti.

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 Walauapun anak didik belum dapat membaca lancar ketika didikte oleh peneliti, anak didik dapat memaknai dan memahami permasalahan tersebut. Pembahsan contoh soal tersebut menunjukkan langkah-langkah yang harus dilakukan anak ddik dalam menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Untuk mengetahui apakah anak didik memahami pembahasan yang sudah disampaikan, peneliti membuat soal kembali dan menuliskannya di papan tulis. Anak didik yang satunya membaca soal cerita tersebut. Setelah itu, peneliti melakukan tanya jawab dari soal tersebut dan meminta salah satu anak didik untuk menyelesaikannya. Dengan semangat, anak didik ini maju dan mengambil spidol yang ada di meja guru. Hal yang dilakukan anak didik memodelkan soal cerita tersebut ke dalam bentuk matematika. Kemudian anak didik, menghitung perkalian dengan menggunakan lego bricks dan menuliskan hasil perkalian yang diperolehnya. Jawaban yang dituliskannya tepat dan benar. Gambar 4.25 Anak didik menuliskan jawaban di papan tulis

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 Selanjutnya anak didik mengerjakan latihan soal yang terdapat di LKS. Bedanya pengerjaan LKS kali ini peneliti membantu membacakan soal cerita. Walaupun begitu untuk memaknai dan menghitung perkaliannya, anak didik mengerjakan sendiri bahkan terlihat tidak mengalami kesulitan ataupun kesalahan yang ditimbulkannya. Kendalanya hanya terletak saat harus membaca kalimat yang panjang. Ketika peneliti belum melanjutkan membaca soal yang lain dan anak didik sudah selesai tanpa ragu, anak didik memanggil peneliti dan bertanya kepada peneliti, “bagaimana bacanya?” dengan pelafalan yang kurang jelas. Anak didik tidak malu lagi untuk bertanya walaupun dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Terlihat bahwa anak didik tidak menyerah untuk menyelesaikannya, bahkan anak didik mengerjakan soal dengan santai tanpa ada beban yang dirasakannya. Gambar 4.26 Anak didik mengerjakan LKS menggunakan lego bricks

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 Gambar 4.27 Anak didik memasang lego bricks ke alas lego Gambar 4.28 Anak didik menghitung titik – titik lego bricks Setelah itu, anak didik menyampaikan kepada peneliti apabila dirinya sudah selesai mengerjakan. Ketika peneliti memeriksa pekerjaannya tidak ada kesalahan yang dilakukannya, baik dari memodelkan ataupun kesalahan dalam berhitung. Anak didik menyelesaikan latihan soal di LKS, tepat waktu. Kemudian latihasn soal tersebut dibahas bersama-sama dan alhasil jawaban dari anak didik benar semua. Ketika

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 mengetahui bahwa jawaban dari soal yang dikerjakannya benar semua, anak didik sangat senang sembari tertawa. Sebelum mengakhiri pembelajaran, seperti biasa anak didik menyimpulkan kegiatan pembelajaran dengan cara melakukan tanya jawab bersama peneliti. Kemudian peneliti mempertegas kembali dari hasil tanya jawab yang dilakukan. Selain itu, anak didik merefleksikan hasil yang didapatkan selama melakukan kegiatan pembelajaran hari ini mengenai perkalian bilangan asli 1 – 9 dalam kehiduapan sehari-hari yaitu anak didik dapat mengerjakan soal cerita dengan tepat yang diawali dari mengubah soal cerita ke dalam model matematika da diperoleh soal perkalian, serta menghitung hasil pekalian dengan menggunakan lego bricks. Ketika ditanyakan terkait dengan kesulitan apa saja yang dihadapi, anak didik menjawab apabila anak didik tidak ada kesulitan apapun dan menyampaikan bahwa pembajarannya menyenangkan. Akhir pembelajaran dilakukan dengan menyampaikan salam dan berdoa penutup. Berdasarkan aktivitas belajar anak didik selama proses pembelajaran berlangsung yang ditunjukkan dari lembar pengamatan mengenai motivasi belajar dan hasil belajar, menyatakan bahwa terdapat peningkatan dari pertemuan yang sebelumnya. Total skor dengan persentase skor sesuai dengan

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 aspek yang diamati dari lembar observasi aktivitas belajar yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar mengalami peningkatan. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa anak didik memiliki motivasi belajar dengan intensitas tinggi sehingga mempengaruhi hasil belajar yang diperolehnya selama kegiatan pembelajaran . 2) Anak Didik Dua Berbeda merupakan dengan temannya, pertemuan pertama pertemuan kedua untuknya ini menggunakan permainan lego bricks sebagai alat bantu untuk menyelesaikan perkalian. Anak didik sangat antusias mengikuti pembelajaran, terlihat dari memperhatikan keseriusannya peneliti saat mendengarkan menyampaikan materi. dan Saat pembelajaran berlangsung, anak didik fokus terhadap peneliti dan tidak melakukan kegiatan di luar pembelajaran. Bahkan selama pembalajaran, beberapa kali anak didik bertanya kepada penelit, contohnya seperti : “bagaimana cara melakukannya?” kata anak didik, ataupun pertanyaan – pertanyaan lain yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Tidak lupa, anak didik juga mencatat informasi-informasi yang disampaikan oleh peneliti di buka tulisnya.

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126 Gambar 4.29 Anak didik mendengarkan peneliti saat menjelaskan materi Anak didik juga terlebih dahulu membaca dan memahami LKS yang telah diberikan, sebelum melanjutkan kegiatan berikutnya. Selama peneliti menjelaskan contoh soal sembari melakukan tanya jawab, anak didik bersama temannya menjawab pertanyaan secara kompak. Walaupun itu merupakan hari pertama baginya menggunakan lego bricks, tetapi respon yang diberikan anak didik cukup baik. Gambar 4.30 Anak didik membaca dan memahami latihan soal LKS

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127 Saat diminta untuk mengerjakan LKS dengan menggunakan lego bricks, anak didik tidak menundanya sama sekali. Anak didik langsung sibuk dan fokus menggunakan lego bricks untuk menyelesaikan soal perkalian. Anak didik juga bersedia untuk membaca soal cerita nomor 1 tanpa ada unsur pemaksaan. Selama mengerjakan LKS juga terlihat anak didik jarang sekali mengeluh, hanya sesekali ketika anak didik mengalami kebingungan. Gambar 4.31 Anak didik fokus menyelesaikan latihan soal di LKS dengan menggunakan permainan lego bricks Selain itu, anak didik hanya sesekali mengalihkan pekerjaannya dengan mencerikan hal – hal yang tidak berkaitan dengan materi tetapi anak didik tetap melanjutkan dan menyelasaikan latihan soal yang ada di LKS. Ketika anak didik mengerjakan, dan mengalami ketidaktelitian dalam berhitung anak didik dengan segera mengerjakannya kembali sampai

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128 benar. Anak didik juga tidak pernah lagi mencoba untuk melihata jawaban dari temannya, anak didik asyik menggunakan permainan lego bricks. Perubahan sikap yang terjadi pada pertemuan ini, dikarenakan dari rasa penasaran yang tinggi dan ketertarikannya terhadap lego bricks. Gambar 4.32 Anak didik menghitung titik-titik lego bricks dibantu oleh peneliti Setelah selesai mengerjakan, dilanjutkan dengan membahas soal-soal perkalian yang terdapat pada LKS. Selama membahas persoalan karena merasa tertantang melihat temannya maju untuk menuliskan hasil pekerjaannya, anak didik ini juga tanpa ragu menuliskan hasil jawabannya di papan tulis. Beberapa jawaban dari anak didik sudah benar, maka dapat dinyatakan apabila anak didik sudah dapat menerapkan pengetahuannnya menggunakan lego bricks untuk menyelesaikan perkalian 1 – 9 dalam kehidupan sehari-hari, dan menyebutkan sifat-sifat perkalian bilangan asli walaupun masih perlu banyak bimbingan.

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129 Sebelum mengakhiri pembelajaran, seperti biasa anak didik dan temannya secara bergantian menyimpulkan kegiatan pembelajaran dengan cara melakukan tanya jawab bersama peneliti. Kemudian peneliti mempertegas kembali dari hasil tanya jawab yang dilakukan. Selain itu, anak didik merefleksikan hasil yang didapatkan selama melakukan kegiatan pembelajaran hari ini mengenai perkalian bilangan asli 1 – 9 dalam kehiduapan sehari-hari yaitu anak didik dapat mengerjakan soal cerita dengan menggunakan lego bricks. Ketika ditanyakan terkait dengan kesulitan apa saja yang dihadapi, anak didik menjawab apabila anak didik bisa melakukan perkalian dan menyampaikan bahwa pembajarannya seru dan tidak membuatnya bosan. Selain itu anak didik ingin sekali belajar kembali menggunakan permainan lego bricks. Akhir pembelajaran ditutup dengan menyampaikan salam dan berdoa penutup. Berdasarkan aktivitas belajar anak didik selama proses pembelajaran yang ditunjukkan dari lembar observasi mengenai yang berkaitan dengan motivasi belajar dan hasil belajar, apabila aspek yang diamati dari anak didik mengalami peningkatan. Hal tersebut terlihat dari total skor dengan persentase skor pada lembar observasi aktivitas belajar yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar anak didik.

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130 Dengan demikan, anak didik dinyatakan memiliki motivasi belajar dengan intensitas sedang sehingga membuat hasil belajar yang diperoleh juga mengalami peningkatan dari pertemuan sebelumnya ketika belum menggunakan permainan lego bricks. c. Pertemuan Ketiga Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Senin, 12 November 2018 pukul 10.00 – 11.10 WIB. Pada pertemuan ini, peneliti menjelaskan materi mengenai perkalian bilangan asli dengan menggunakan metode pembelajaran yaitu ceramah, tanya jawab, diskusi dan demonstrasi permainan lego bricks. Peneliti memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam, menanyakan kabar anak didik, serta mengecek kehadiran anak didik. Pertemuan kali ini, kedua anak didik hadir. Peneliti menanyakan kembali tentang pembelajaran pada pertemuan sebelumnya yaitu mengenai perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan lego bricks. Selanjutnya, materi atau topik pembelajaran mengenai perkalian bilangan asli antara perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 dan sifat-sifat perkalian bilangan asli. Seperti biasanya LKS, permainan lego bricks, dan alas lego dibagikan kepada setiap anak didik sebelum menjelaskan materi.

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131 Setelah itu, membahas contoh soal mengenai operasi hitung perkalian 10 sampai perkalian 20. Sembari menjelaskan, peneliti melakukan interaksi kepada kedua anak didik dengan memberikan beberapa kali pertanyaan dan menunggu sampai anak tersebut menjawab pertanyaannya. Selanjutnya peneliti menjelaskan kembali mengenai sifat-sifat perkalian bilangan asli yaitu tertutup, komutatif, asosiatif, distributif terhadap penjumlahan, distributif terhadap pengurangan, dan memiliki identitas dengan menggunakan contoh soal. Kegiatan berikutnya yaitu kedua anak didik mengerjakan LKS yang telah dibagikan. Anak didik diperbolehkan berdiskusi satu sama lain ataupun dengan peneliti selama mengerjakan soal-soal yang ada di LKS. Setelah kedua anak didik menyelesaikan semua soal yang ada di LKS, anak didik menuliskan jawabannya di papan tulis untuk dibahas bersama-sama. Selesai membahas beberapa soal, kemudian LKS tersebut dikumpulkan untuk diberi nilai. Setelah itu, peneliti mengembalikan LKS kepada masing-masing anak didik. Sebelum mengakhiri pembelajaran anak didik menyimpulkan kegiatan pembelajaran dan merefleksikan hasil yang didapatkan selama melakukan perkalian bilangan asli 10 – 20 dengan dibimbing peneliti. Selain itu, anak didik dipersilahkan untuk menyampaikan kesulitan yang dihadapi selama mengikuti pembelajaran menggunakan permainan lego bricks. Akhir pembelajaran ditutup dengan ucapan terimakasih, salam dan berdoa penutup.

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132 Dari penjelasan mengenai kegiatan pembelajaran secara umum, adapun penjelasan aktivitas masing-masing yang dilakukan anak didik ketika mengikuti proses pembelajaran yang ditinjau berdasarkan motivasi belajar dan hasil belajar, sebagai berikut: 1) Anak Didik Satu Saat memulai pembelajaran, anak didik mengucapkan salam dan menjawab kabar yang ditanyakan peneliti. Anak didik juga menyampaikan apabila sudah siap untuk mengikuti pembelajaran. Saat peneliti menerangkan materi, anak didik mendengarkan sangat serius. Setiap pertanyaan yang diberikan peneliti, anak didik selalu menjawab. Walaupun anak didik tidak pernah membawa buku cetak ataupun mencari materi pada sumber lainnya, anak didik selalu dapat menerapkan ilmu yang telah diperolehnya dengan tepat, dan selalu mengambil informasi – informasi penting yang disampaikan peneliti. Gambar 4.33 Anak didik sangat serius mendengarkan peneliti menyampaikan materi pembelajaran

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133 Setelah itu, anak didik mengerjakan LKS yang telah dibagikan. Ketika mengerjakan LKS, tanpa ragu anak didik langsung mengambil alas lego beserta lego bricks dan menggunakan permainan tersebut untuk menyelesaikan soal – soal perkalian. Anak didik fokus menggunakan lego bricks dengan baik, dimulai dari mengambil lego bricks sesuai dengan banyakanya titik. Kemudian memasangnya dan dilanjutkan dengan menghitung semua titik – titik dari lego bricks untuk memperoleh hasil dari perkalian tersebut. Gambar 4.34 Anak didik mengerjakan LKS menggunakan permainan lego bricks Gambar 4.35 Anak didik memasang lego bricks ke alas lego

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134 Gambar 4.36 Anak didik menghitung titik-titik lego bricks untuk memperoleh hasil dari soal perkalian yang ada di LKS Saat mengerjakan latihan soal di LKS, anak didik sedikitpun tidak pernah mengeluh walaupun soal yang harus dikerjakan sangat sulit baginya. Bahkan apabila anak didik mengalami kesulitan, anak didik tidak merasa malu lagi untuk bertanya menggunakan bahasa isyarat ataupun berbicara dengan suara yang terdengar kurang jelas. Hal tersebut tidak menjadikan suatu halangan untuknya mengikuti pembelajaran dengan semangat. Anak didik mengerjakan latihan tanpa mengganggu teman lainnya dan berusaha mengerjakan secara mandiri. Sekalipun peneliti membantunya ketika anak didik kurang teliti dalam menghitung. Kemudian anak didik langsung memperbaiki ketidaktelitian yang dilakukannya tanpa ada kata menyerah. Kesalahan yang terjadi bukan menjadi bagian yang

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135 membuatnya putus asa, tentunya membuat anak didik semakin tekun mengerjakan soal – soal yang diberikan sampai selesai. Saat anak didik selesai mengerjakan LKS dan melihat temannya belum selesai mengerjakan, anak didik melihat temannya dan mecoba membantu menghitung walaupun sebentar. Sembari menunggu, anak didik juga melakukan diskusi dengan peneliti. Cara berdiskusinya berbeda dengan yang lain yaitu anak didik menuliskan soal sendiri sesuai keinginanya, kemudian anak didik mengerjakannya dan meminta peneliti memeriksa jawaban yang dituliskan anak didik sudah benar atau belum. Setelah semua anak didik menyelesaikan LKS, peneliti melanjutkan dengan membahas hasil pekerjaan dari masingmasing anak didik. Ketika membahas LKS, anak didik dengan lantang menyampaikan pendapatnya dari hasil pekerjaannya yang dituliskan di LKS. Terlihat bahwa anak didik sudah memahami perkalian bilangan asli antara perkalian bilangan 10 – 20. Selain itu, anak didik juga dapat menuliskan dan menerapkan sifat-sifat perkalian bilangan asli terutama berkaitan dengan sifat tertutup,komutatif, dan asosiatif. Sedangkan untuk sifat distributif terhadap penjumlahan atau pegruangan, anak didik dibimbing oleh peneliti. dapat menerapkannya asalkan

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136 Sama halnya dengan pertemuan sebelumnya, dalam mengakhiri pembelajaran terlebih dahulu anak didik menyimpulkan dan merefleksikan hasil yang diperoleh selama pembelajaran berlangsung. Anak didik menyampaikan apabila kegiatan yang dilakukan menyenangkan dan seru. Anak didik juga tidak merasa kesulitan, bahkan mengatakan jika dirinya sudah dapat melakukan perkalian bilangan asli dengan tepat. Berdasarkan aktivitas belajar anak didik dalam proses pembelajaran terlihat bahwa aspek-aspek yang terdapat pada lembar pengamatan sudah dapat dipenuhi bahkan total skor dengan persentase skor yang diperoleh anak didik mengalami peningkatan dari pertemuan – pertemuan yang telah dilakukan. Dengan demikian dari hasil observasi aktivitas belajar yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar, dapat dinyatakan bahwa anak didik mempunyai motivasi belajar dengan intensitas sangat tinggi sehingga hasil belajar mengenai perkalian bilangan asli yang diperoleh juga mengalami peningkatan. 2) Anak Didik Dua Saat peneliti menjelaskan materi, anak didik mendengarkan dan memperhatikan secara seksama. Anak didik juga sering menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh peneliiti. Tanpa ada rasa malu ataupun malas, anak didik

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137 mengikuti pembelajaran dengan semangat. Hal ini ditujukkan ketika diberikan pertanyaan, anak didik saling berebut dengan temannya untuk menjawab pertanayan itu. Kemudian anak didik diminta untuk mengerjakan latihan soal yang terdapat di LKS. Anak didik langsung mengerjakan tanpa menundanya terlebih dahulu. Bahkan anak didik tidak menyerah ketika menjumpai soal yang menurutnya sulit. Anak didik tidak berhenti mengerjakan, sebaliknya justru membuatnya semakin ingin menyelesaikan persoalan dengan menggunakan lego bricks. Selama mengerjakan soal – soal tersebut, anak didik fokus dan sama sekali tidak menceritakan hal – hal lain yang tidak berkaitan dengan pembelajaran. Gambar 4.37 Anak didik mengerjakan LKS menggunakan permainan lego bricks Anak didik sangat serius menggunakan lego bricks dimulai dari mengumpulkan lego bricks sesuai dengan titik yang ditanyakan. Kemudian dilanjutkan dengan memasang lego dan

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138 menghitung semua titik lego yang telah dipasang di alas lego untuk mendapatkan hasil dari perkalian tersebut. Hal tersebut dilakuka anak didik secara berulang selama mengerjakan LKS sesuai dengan soal perkalian yang ditanyakan. Selain itu, anak didik tidak mengganggu anak didik lainnya, melainkan memberikan semangat dan menyuruh temannya untuk menyelesaikan LKS tersebut. Padahal anak didik juga masih dalam proses mengerjakan. Tindakan itu biasa dilakukan anak didik, tetapi sama sekali tidak bermaksud untuk mengganggu temannya dalam menyelesaikan LKS. Anak didik juga sudah tidak elihat pekerjaan dari temannya, anak didik berusaha mengerjakan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Gambar 4.38 Anak didik memasang lego bricks ke alas lego

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139 Gambar 4.39 Anak didik menghitung titik – titik lego bricks Gambar 4.40 Anak didik fokus menggunakan lego bricks Setelah selesai mengerjakan, dilanjutkan dengan membahas soal-soal perkalian yang terdapat pada LKS. Selama membahas persoalan anak didik tidak mau kalah dengan temannya, anadk didik juga berani berpendapat dengan menyampaikan jawabannya secara langsung. Jawaban dari anak didik sudah benar, maka dapat dinyatakan apabila anak didik

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140 sudah dapat menerapkan pengetahuannnya menggunakan lego bricks untuk menyelesaikan perkalian bilangan asli antara bilangan 10 – 20 dalam bentuk perkalian biasa dan menyebutkan sifat-sifat perkalian bilangan asli. Sebelum mengakhiri pembelajaran, seperti biasa anak didik menyimpulkan kegiatan pembelajaran dan merefleksikan hasil yang didapatkan selama melakukan kegiatan pembelajaran. Anak didik menyampaikan jika tidak mengalaimi kesulitan selama menggunakan lego brikcs dan menurutnya pembajaran yang dilakukan seru dan tidak membuatnya bosan. Akhir pembelajaran ditutup dengan menyampaikan salam dan berdoa penutup. Berdasarkan aktivitas belajar anak didik yang ditunjukkan selama proses pembelajaran apabila ditinjau dari lembar observasi mengenai motivasi belajar dan hasil belajar, menyatakan bahwa terjadi peningkatan dari pertemuan sebelumnya. Hal ini terlihat dari total skor dengan persentase skor pada lembar observasi yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar. Dengan demikan, anak didik dinyatakan memiliki motivasi belajar dengan intensitas sangat tinggi sehingga membuat hasil belajar yang diperoleh juga mengalami peningkatan dari pertemuan yang sebelumnya.

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141 d. Pertemuan keempat Pertemuan keempat dilaksanakan pada hari Senin, 12 November 2018 pukul 10.00 – 11.10 WIB. Pada pertemuan ini, peneliti menjelaskan materi mengenai perkalian bilangan asli dengan menggunakan metode pembelajaran yaitu ceramah, tanya jawab, diskusi dan demonstrasi permainan lego bricks. Peneliti memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam, menanyakan kabar anak didik, serta mengecek kehadiran anak didik. Pada pertemuan kali ini, kedua anak didik hadir. Peneliti menanyakan kembali tentang pembelajaran pada pertemuan sebelumnya yaitu mengenai perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 menggunakan lego bricks. Selanjutnya, peneliti menyampaikan materi atau topik pembelajaran hari ini kepada anak didik mengenai perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 dalam kehidupan sehari-hari dan juga berkaitan dengan sifat-sifat perkalian bilangan asli. Peneliti juga menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu anak didik diharapkan mampu menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari mengenai operasi hitung operasi hitung perkalian 10 sampai dengan perkalian 20, menuliskan dan menyebutkan sifat-sifat perkalian bilangan asli secara bertanggungjawab dan kritis dengan melalui penjelasan dari peneliti, kegiatan bermain lego bricks, permasalahan yang diberikan, tanya-jawab, dan berdiskusi.

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142 Sebelum menjelaskan materi tersebut, peneliti membagikan LKS, permainan lego bricks dengan masing-masing lego yang sudah dikelompokkan dalam bungkus plastik sesuai dengan titik dan diberi label angka pada masing-masing plastik, serta alas lego kepada setiap anak didik. Setelah itu, peneliti memulainya dengan menjelaskan dan memperagakan cara bermain lego bricks dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari pada operasi hitung perkalian 10 sampai perkalian 20 dengan mengambil contoh yang terdapat pada LKS. Misalkan: Delon mempunyai 8 karung bola kasti. Satu karung berisikan 15 bola kasti. Berapakah bola kasti yang dimiliki Delon?. Peneliti menjelaskan dan menyelesaikan contoh soal tersebut dengan melakukan tanya jawab keadapa anak didik. Awalnya peneliti meminta anak didik dua untuk membaca contoh soal yang berbentuk soal cerita tersebut, kemudian peneliti mempertegas dengan bertanya. Contohnya seperti: “Delon punya berapa karung bola kasti?”. Setelah itu peneliti bersama-sama dengan kedua anak didik menyelesaikan contoh soal tersebut. Hal pertama kali yang dilakukan yaitu mengubah soal cerita tersebut menjadi soal yang sederhana seperti me-nuliskan dalam bentuk matematika yaitu 8 × 15. Kemudian ambil lego bricks yang mempunyai 15 titik, karena titik maksimal yang terdapat pada satu lego bricks yaitu 8 titik sehingga ambil lego-lego bricks yang apabila dijumlahkan hasilnya

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143 15 titik. Untuk mempermudah ambil satu lego bricks yang mempunyai titik maksimal yaitu 8 titik. Kemudian sisianya lagi yaitu 7 titik karena pada lego bricks ini tidak ada yang secara langsung mempunyai 7 titik dalam satu bricks, maka ambil kembali beberapa lego yang apabila titiknya dijumlahkan menjadi 7 tiitik. Ambil 2 lego bricks yang masing-masing lego mempunyai 4 titik dan 3 titik. Dari hal yang dilakukan itu sehingga ambil 3 lego bricks yang mempunyai 8 titik, 4 titik, dan 3 titik yang jika dijumlahkan menjadi lego bricks yang mempunyai 15 titik. Lakukan hal tersebut sebanyak 8 kali. Setelah itu, peneliti menaruh dan memasang lego bricks tersebut ke alas lego secara berdekatan. Kemudian peneliti bersama anak didik menghitung banyaknya titik-titik yang berada pada lego bricks tersebut, dalam hal ini terdapat 90 titik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil dari perkalian 8 × 15 = 90. Selanjutnya, peneliti meminta anak didik untuk menyelesaikan soal-soal yang ada di LKS. Ketika anak didik mengerjakan LKS, peneliti membimbing anak didik dengan meminta salah satu anak didik untuk membacakan satu soal cerita untuk dikerjakan bersamasama terlebih dahulu. Peneliti mendampingi kedua anak didik untuk mengerjakan soal secara tersebut. Seperti biasa anak didik emngerjakan soal secara individu tetapi diperbolehkan untuk diskusi dnegan teman atau peneliti. Sama halnya dengan pertmeuan ke-2, salah satu anak didik yang belum dapat membaca lancar dibantu oleh

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144 peneliti untuk membaca dengan mengeja kata per kata. Setelah kedua anak didik menyelesaikan 5 soal yang ada di LKS, peneliti mulai membahas satu per satu dengan meminta anak didik untuk menuliskan jawabannya di papan tulis. Peneliti mengoreksinya dan membahas jawaban yang telah dituliskan. Sebelum mengakhiri pembelajaran, peneliti membantu anak didik untuk menyimpulkan kegiatan pembelajaran dan merefleksikan hasil yang didapatkan selama melakukan kegiatan pembelajaran hari ini mengenai perkalian bilangan asli dalam kehiduapan sehari-hari dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana sehingga dapat dipahami kedua anak didik. Selain itu, peneliti menanyakan menanyakan kesulitan apa saja yang dihadapi anak didik ketika melakukan pembelajaran menggunakan permainan lego bricks dan peneliti juga tidak lupa mengucapkan terimakasih atas keikutsertaan anak didik melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. Akhir pembelajaran ditutup dengan menyampaikan salam dan berdoa penutup. Dari penjelasan kegiatan pembelajaran, adapun penjelasan aktivitas masing-masing yang dilakukan anak didik ketika mengikuti proses pembelajaran yang ditinjau berdasarkan motivasi belajar dan hasil belajar, sebagai berikut: 1) Anak Didik Satu

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145 Saat pembelajaran dimulai, seperti biasa anak didik mengucapkan salam dan menjawab kabar ang ditanyakan peneliti. Anak didik menyatakan apabila dirinya sehat dan siap untuk melangsungkan proses pembelajaran. Ketika peneliti menyampaikan materi, anak didik mendengarkan dengan seksama dan melakukan interaksi bersama peneliti dengan menjawab berbagai pertanyaan yang disampaikan. Tidak hanya itu, anak didik juga mencatat beberapa informasi penting mengenai perkalian karena informasi yang diperoleh hanya dari catatannya. Anak didik tidak pernah membawa referensi lain berupa buku cetak atauapun mencari segala sesuatunya menggunakan internet. Akan tetapi, anak didik dapat memanfaatkan penjelasan dari guru secara maksimal sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan anak didik tidak menjupai masalah yang terlalu sulit. Kendala yang dialami anak didik saat belajar mengenai perkalian bilangan asli dalam kehidupan sehari-hari hanya terletak pada soal cerita yang diberikan. Permasalahan yang terjadi bukan terletak pada ketidaktahuannya dalam berhitung atau memaknai soal tersebut tetapi berkaitan dengan membaca. Seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya apabila anak didik ini mengerjakan soal cerita, peneliti membantnya dalam membaca. Pada saat peneliti memberikan contoh soal, kali ini

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146 anak didik diminta untuk membacanya dengan dibantu oleh peneliti. Anak didik membaca dengan cara melafalkan kata demi kata. Terlihat jelas apabila anak didik mengalami kesulitan. Walaupun begitu hal tersebut tidak pernah memadamkan semangatnya untuk mengikuti pembelajaran mengenai perkalian, sebaliknya anak didik semakin bersemangat dengan menunjukkan percaya dirinya dalam menyampaikan pendapatnya saat melakukan interaksi tanya jawab dengan peneliti. Anak didik termasuk anak yang tidak mudah menyerah dan putus asa begitu saja. Semakin menemukan kesulitan, membutnya juga semakin untuk menyelesaikannya. Pada saat mengerjakan LKS dengan menggunakan lego bricks, peneliti membacakan kelima soal tersebut terlebih dahulu dan selanjutnya anak didik menghitung perkalian tersebut. Selama dibacakan, anak didik memaknai dan memahami soal tersebut dnegan menuliskan model matematikanya. Kemudian anak didik menghitung perkalian – perkalian yang sudah diperoleh pada masing – masing soal secara mandiri. Peneliti hanya membantu ketika anak didik tidak teliti dalam berhitung. Setelah diperiksa dan mendapati kesalahan, anak didik langsung mengerjakan kembali sampai jawaban yang dituliskannya benar. Selama pengerjaan, anak didik fokus terhadap LKSnya

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147 dan tidak mengganggu temannya. Hanya sesekali anak didik memberikan semangat kepada temannya dengan menggunakan bahasa isyarat seperti menaikan satu tangannya dan mengepalnya dengan tersenyum dan terawa. Tidak hanya itu, anak didik juga membantu menghitung walaupun hanya sebentar. Gambar 4.41 Anak didik mengerjakan LKS dengan menggunakan lego bricks Gambar 4.42 Anak didik mengumpulkan lego bricks dan memasang lego bricks ke alas lego

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148 Gambar 4.43 Anak didik menghitung semua titik lego bricks yang ada di alas lego untuk memperoleh hasil perkalian pada suatu persoalan Setelah menyelesaikan latihan soal, anak didik membahas dengan menyampaikan hasil pekerjaannya didepan kelas dengan suara yang lantang walaupun hanya membaca angakanya saja. Tetapi jawaban yang disampaikannya benar semua tidak ada kesalahan. Hal tersebut terlihat jelas apabila anak didik semakin memahami perkalian bilangan asli beserta sifat-sifat dari perkalian bilangan asli. Sama halnya dengan pertemuan sebelumnya, sebelum mengakhiri pembelajaran anak didik menyimpulkan dan merefleksikan hasil yang diperoleh selama pembelajaran berlangsung. Selain itu, anak didik menyampaikan apabila kegiatan yang dilakukan tidak membuatnya bosan dan menyukai permainan lego bricks. Anak didik juga tidak merasa kesulitan untuk menyelesaikan persoalan mengenai perkalian.

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149 Berdasarkan aktivitas anak didik dalam proses pembelajaran terlihat bahwa aspek-aspek yang terdapat pada lembar pengamatan sudah dapat dipenuhi bahkan semakin hari skor yang diperoleh anak didik mengalami peningkatan dari pertemuan – pertemuan yang telah dilakukan. Dari hasil pengamatan yang diperoleh peneliti dapat dinyatakan bahwa pada pertemuan 4 dengan menggunakan permainan lego bricks, anak didik mempunyai motivasi belajar dengan intensitas tinggi sehingga hasil belajar mengenai perkalian bilangan asli yang diperoleh juga mengalami peningkatan dan anak didik dapat mempertahankan hasil belajar yang baik sampai dengan pertemuan hari ini. 2) Anak Didik Dua Selama pembelajaran berlangsung, anak didik dapat mengikuti pembelajaran dengan semangat. Anak didik mendengarkan dan memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan oleh peneliti. Sembari memperhatikan, ketika peneliti memberikan pertanyaan anak didik menjawabnya. Tanpa bermalas-malasan, anak didik mengikuti pembelajaran dengan sukacita. Hal tersebut terlihat ketika diminta untuk mengerjakan latihan soal yang terdapat di LKS tanpa menundanya terlebih mengerjakannya. dahulu, anak didik langsung

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150 Anak didik sampai sekarang tidak pernah putus asa lagi dan tidak menyerah ketika menjumpai soal yang menurutnya sulit. Anak didik menunjukkan sikap serius mengerjakan persoalan dengan menggunakan lego bricks sampai selesai. Anak didik sama sekali tidak pernah menunjukkan untuk berhenti mengerjakan LKS. Tidak hanya itu, selama mengerjakan soal – soal tersebut, anak didik fokus dan sama sekali tidak menceritakan hal – hal lain yang tidak berkaitan dengan pembelajaran. Bahkan tidak melakukan hal di luar pembelajaran. Anak didik juga mengerjakan secara individual tanpa melihat pekerjaan temannya. Gambar 4.44 Anak didik mengerjakan latihan soal di LKS dengan menggunakan lego bricks

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151 Gambar 4.45 Anak didik memasang lego bricks ke alas lego Gambar 4.46 Anak didik menghitung titik – titik pada lego bricks Setelah selesai mengerjakan, dilanjutkan dengan membahas soal-soal perkalian yang terdapat pada LKS. Selama membahas persoalan anak didik tidak mau kalah dengan temannya, anadk didik juga berani berpendapat dengan

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152 menyampaikan jawabannya secara langsung. Jawaban dari anak didik sudah benar, maka dapat dinyatakan apabila anak didik sudah dapat menerapkan pengetahuannnya menggunakan lego bricks untuk menyelesaikan perkalian bilangan asli antara bilangan 10 – 20 dalam kehidupan sehari-hari dan menyebutkan sifat-sifat perkalian bilangan asli. Sebelum mengakhiri pembelajaran, seperti biasa anak didik menyimpulkan kegiatan pembelajaran dan merefleksikan hasil yang didapatkan selama melakukan kegiatan pembelajaran. Anak didik menyampaikan jika tidak mengalaimi kesulitan selama menggunakan lego brikcs dan menurutnya pembajaran yang dilakukan seru dan tidak membuatnya bosan. Akhir pembelajaran ditutup dengan menyampaikan salam dan berdoa penutup. Berdasarkan aktivitas belajar anak didik yang ditunjukkan selama proses pembelajaran apabila ditinjau dari lembar pengamatan mengenai motivasi belajar dan hasil belajar, menyatakan bahwa terjadi peningkatan dari pertemuan sebelumnya. Hal ini terlihat dari perolehan total skor dengan persentase skor pada lembar observasi aktivitas belajar yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar. Dengan demikan, anak didik dinyatakan memiliki motivasi belajar dengan

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 153 intensitas tinggi sehingga membuat hasil belajar yang diperoleh juga mengalami peningkatan dari pertemuan yang sebelumnya. e. Pertemuan Kelima Pertemuan kelima dilaksanakan pada hari Senin, 19 November 2018 pukul 08.10 – 09.20 WIB. Peneliti menjelaskan materi mengenai perkalian bilangan asli dengan menggunakan metode pembelajaran yaitu ceramah, tanya jawab, dan diskusi. Peneliti memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam, menanyakan kabar anak didik, serta mengecek kehadiran anak didik. Selanjutnya peneliti menyampaikan pemberajaran hari ini yaitu mengulang kembali semua materi yang telah dijelaskan dari pertemuan ke-1 sampai pertemuan ke-4 yang telah terangkum dalam bentuk soalsoal. Pertemuan kali ini berbeda dengan 4 pertemuan lainnya. Sebelumnya anak didik selalu menggunakan permainan lego bricks untuk meyelesaikan perkalian bilangan asli. Kali ini anak didik akan menerapkan konsep dari permainan lego bricks untuk menyelesaikan perkalian bilangan asli antara perkalian 1 sampai dengan perkalian 20 dan sifat-sifat perkalian dari bilangan asli dengan cara menggambar lego yang mempunyai titik sesuai dengan yang ditanyakan. Anak didik diberikan lembar latihan soal kemudian

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 154 dikerjakan secara individu, tetapi diperbolehakan untuk berdiskusi satu sama lain. Terdapat 15 soal yang harus dikerjakan anak didik. Pertemuan kali ini, pengerjaan soal dilakukan secara bertahap. Peneliti meminta anak didik untuk mengerjakan 5 soal terlebih dahulu. Apabila kelima soal tersebut sudah selesai, peneliti bersama dengan anak didik membahas satu per satu hasil pekerjaan tersebut. Setelah kedua anak didik menyelesaikan 5 soal pada tahap pertama, anak didik diperbolehkan untuk melanjutkan ke tahap kedua untuk mengerjakan 5 soal kembali. Kemudian hasil dan jawaban anak didik dibahas bersama-sama dengan peneliti. Ketika kelima soal pada tahap kedua sudah selesai dibahas, anak didik dipersilahkan kembali untuk melanjutkan ke tahap ketiga yaitu mengerjakan 5 soal terakhir yang ada di lembar latihan soal individu. Akan tetapi belum sempat menyelesaikan dan membahas 5 soal terakhir pada tahap ketiga, waktu pembelajaran hampir selesai hanya kurang dari 10 menit lagi. Sehingga soal-soal yang belum terselesaikan di lembar tersebut, dapat diselesaikan di rumah sebagai referensi untuk belajar perkalian. Dari penjelasan kegiatan pembelajaran, adapun penjelasan aktivitas masing-masing yang dilakukan anak didik ketika mengikuti proses pembelajaran yang ditinjau berdasarkan motivasi belajar dan hasil belajar, sebagai berikut:

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 155 1) Anak Didik Satu Pembelajaran kali ini berbeda dari pembelajaran sebelumnya. Saat peneliti menjelaskan konsep permainan lego bricks untuk diterapkan dalam melakukan perkalian bilangan asli antara perkalian 1 – perkalian 20, anak didik mendengarkan dan memahaminya dengan sangat baik. Hal ini dapat terlihat dari interaksi anak didik dan peneliti saat menyelesaikan contoh soal yang terdapat di papan tulis. Setelah itu, peneliti memberikan dan menuliskan soal kembali di papan tulis, tanpa diminta untuk mengerjakannya anak didik memberikan isyrata untuk mengerjakan dengan cara tunjuk tangan. Anak didik maju dan mengerjakannya soal tersebut. Hasil yang dituliskan dari soal perkalian tersebut sangat tepat dan anak didik dapat menerapkan dengan sangat baik. Gambar 4.47 Anak didik menuliskan jawabannya di papan tulis Sebelum melanjutkan kegiatan selanjutnya, anak didik berinisiatif mencatat konsep permainan lego bricks dan segala pada informasi penting yang disampaikan peneliti di buku

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 156 tulisnya. Anak didik juga sangat bersemangat untuk mengikuti pembelajaran, terutama ketika menyampaikan pendapatnya di kelas. Setelah itu, masing-masing anak didik diberikan lembar latihan soal yang harus dikerjakan. Soal tersebut terdiri dari 15 nomor. Tanpa mengeluh dengan banyaknya soal tersebut, sebaliknya anak didik mengerjakan dan menyelesaikan soal tersebut dengan santai tetapi serius. Gambar 4.48 Anak didik mencatat informasi dari peneliti Gambar 4.49 Anak didik mengerjakan lembar latihan soal dengan menerpakan konsep permainan lego bricks Tahap demi tahap telah dilaluinya, setiap soal pada tahap tersebut telah diselesaikannya. Ketika peneliti memeriksanya,

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 157 jawaban beserta prosesnya dapat dituliskan oleh anak didik dengan tepat. Anak didik sangat menyukai menggambar lego bricks dengan berbagai titik yang berbeda pada masing – masing soal. Walaupun terdapat soal yang membuat anak didik harus menggambar dengan cukup banyak, hal tersebut tidak membuat anak didik untuk menyerah dan putus asa. Semakin soal tersebut mempunyai tingkat kesulitan tinggi, semakin meningkat juga rasa penasaran anak didik untuk mengerjakannya sampai menemukan hasil yang benar. Gambar 4.50 Anak didik mengerjakan soal tahap demi tahap dari lembar soal tersebut Pada saat membahas lembar soal tersebut, anak didik percaya diri menjawab pertanyaan dari peneliti dan menyampaikan hasil pekerjaannya dengan suara lantang. Ketika peneliti menyatakan jika jawaban yang disampaikan anak didik benar, anak didik memasang muka yang sagat bahagia. Bukan

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 158 hanya itu saja, hal tersebut semakin membuat anak didik ingin menyampaikan jawabannya kembali dari soal-soal berikutnya. Sebelum mengakhiri pembelajaran, seperti biasa anak didik menyimpulkan dan merefleksikan segala kegiatan pemnbalajaran yang diperolehnya dengan dibimbing peneliti. Anak didik juga menyampaikan apabila dirinya menyukai perkalian dengan menggunakan lego bricks ataupun menggambar lego bricks sebagai penerapan konsep permainan lego bricks. Selain itu, anak didik juga sudah siap untuk melakukan posttest yang dilaksanakan pada waktu pembelajaran berikut setelah intirahat berlangsung. Berdasarkan aktivitas belajar anak didik dalam proses pembelajaran terlihat bahwa aspek-aspek yang terdapat pada lembar observasi sebagian besar sudah dapat terpenuhi bahkan total skor dengan persentase skor yang diperoleh anak didik termasuk yang tertinggi dari pertemuan sebelum menggunakan lego bricks ataupun saat menggunakan lego bricks. Dengan demikian hasil observasi aktivitas belajar yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar dapat dinyatakan bahwa anak didik mempunyai motivasi belajar dengan intensitas sangat tinggi sehingga hasil belajar mengenai perkalian bilangan asli yang diperoleh juga mengalami peningkatan dan anak didik

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 159 dapat mempertahankan hasil belajar yang baik sampai dengan pertemuan terakhir melakukan pembelajaran dengan peneliti. 2) Anak Didik Dua Saat peneliti menjelaskan konsep permainan lego bricks untuk diterapkan dalam perkalian bilangan asli antara perkalian 1 – perkalian 20, anak didik mendengarkan dan memahaminya dengan seksama. Hal ini dapat terlihat dari interaksi anak didik dan peneliti saat menyelesaikan contoh soal yang terdapat di papan tulis. Setelah itu, peneliti memberikan dan menuliskan soal kembali di papan tulis, secara bergantian anak didik mengerjakan soal tersebut. Hasil yang dituliskan anak didik tepat dan anak didik dapat menerapkan konsep tersebut dengan benar. Gambar 4.51 Anak didik mengerjakan soal di papan tulis Sebelum melanjutkan pembelajaran, anak didik juga ikut mencatat konsep permainan lego bricks dan segala informasi penting yang disampaikan peneliti di buku tulisnya. Anak didik juga sangat bersemangat untuk mengikuti pembelajaran, terutama ketika menyampaikan pendapatnya di kelas. Setelah

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 160 itu, masing-masing anak didik diberikan lembar latihan soal yang harus dikerjakan. Soal tersebut terdiri dari 15 nomor. Gambar 4.52 Anak didik mencatat informasi terkait dengan materi pembelajaran yang disampaikan peneliti Tanpa mengeluh anak didik mengerjakan soal tersebut dengan serius. Anak didik fokus mengerjakan latihan soal yang terdapat pada lembar soal tersebut secara mandiri. Tahap demi tahap di selesaikannya dengan tepat waktu. Hanya saja pada tahap ketiga anak didik belum dapat menyelsaikannya karena waktu pembelajaran sudah berakhir. Tetapi hal tersebut tidak membuatnya menjadi putus asa, justru tetap diselesaikannya walaupun pembelajaran telah berakhir. Gambar 4.53 Anak didik mengerjakan lembar latihan soal

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 161 Setelah selesai mengerjakan tahap 1 dan 2, dilanjutkan dengan membahas soal-soal perkalian yang terdapat pada lembar latihan soal tersebut. Selama membahas persoalan anak didik tidak mau kalah dengan temannya, anadk didik juga berani berpendapat dengan menyampaikan jawabannya secara langsung. Jawaban dari anak didik sudah benar, maka dapat dinyatakan apabila anak didik sudah dapat menerapkan konsep permainan lego bricks yang digunakan untuk menyelesaikan perkalian bilangan asli antara bilangan 1 – 20 yang berbentuk soal perkalian biasa ataupun soal cerita yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan menyebutkan sifat-sifat perkalian bilangan asli. Sebelum mengakhiri pembelajaran, seperti biasa anak didik menyimpulkan kegiatan pembelajaran dan merefleksikan hasil yang didapatkan selama melakukan kegiatan pembelajaran. Anak didik menyampaikan jika tidak mengalami kesulitan dalam menerapkan konsep permainan lego bricks, kendala yang terjadi terletak pada ketidaktelitian anak didik menggambar banyaknya titik yang terdapat pada lego bricks sesuai dengan yang ditanyakan dan menurutnya pembelajaran yang dilakukan seru dan tidak membuatnya bosan. Tidak hanya itu, anak didik juga menyampaikan apabila dirinya siap untuk mengikuti posttest yang akan dilakukakan setelah istirahat. Akhir

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 162 pembelajaran ditutup dengan menyampaikan salam dan berdoa penutup. Berdasarkan aktivitas belajar anak didik yang ditunjukkan selama proses pembelajaran apabila ditinjau dari lembar observasi mengenai motivasi belajar dan hasil belajar, menyatakan bahwa mengalami peningkatan. Pembelajaran terakhir dengan menerapkan konsep permainan lego bricks, membuat total skor dengan persentase skor tertinggi dari pertemuan sebelumnya sesuai dengan aspek yang diamati pada lembar observasi aktivitas belajar yang ditinjau dari motivasi belajar dan hasil belajar. Dengan demikan, anak didik dinyatakan memiliki motivasi belajar dengan intensitas sangat tinggi sehingga membuat hasil belajar yang diperoleh juga mengalami peningkatan dari pertemuan yang sebelumnya. Dari penjelasan di atas mengenai hasil penelitian aktivitas belajar masing-masing anak didik yang ditinjau terhadap motivasi belajar dan hasil belajar dengan melakukan pengamatan mengalami perubahan dan perbedaan. Hal tersebut terjadi pada masing-masing anak didik, seperti berikut: a). Anak didik Satu Berdasarkan data yang diperoleh dari pengamatan sebelum menggunakan lego bricks dan saat menggunakan lego bricks, dirangkum secara keseluruhan pada tabel 4.2.

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 163 Tabel 4.2 Hasil Penelitian Aktivitas Belajar Didik Yang Ditinjau Dari Motivasi Belajar Dan Hasil Belajar Sebelum Menggunakan Lego Bricks Setelah Menggunakan Lego Bricks  Anak didik malu  Anak didik lebih berani untuk ketika diminta untuk menyampaikan pendapatnya menyampaikan dan menuliskan hasil pendapatnya ataupun pekerjaannya di papan tulis hasil pekerjaannya  Ketika mengalami kesulitan,  Selama pembelajaran, anak didik bertanya dengan anak didik tidak peneliti menggunakan pernah bertanya berbagai cara seperti walaupun mengalami menggunakan bahasa isyarat kesulitan ataupun mengatakan walaupun dengan lafal yang kurang jelas  Ketika guru  Anak didik selalu menjawab memberikan pertanyaan, terkadang pertanyaan peneliti dengan anak didik suara lantang bahkan sampai menjawabnya berebutan menjawab dengan temannya  Anak didik termasuk anak yang sangat cuek  Anak didik memperhatikan dengan keadaan di keadaan di sekitarnya, sekitarnya contohnya dengan memberikan semangat kepada temannya yang belum  Anak didik tidak menyelesaikan latihan soal. pernah peduli apa yang Bahkan juga membantu dilakukan temannya peneliti untuk membagikan atauoun membereskan  Ketika mengerjakan pemainan lego bricks soal di papan tulis, anak didik harus dipaksa terlebih  Selama proses pembelajaran anak didik sudah mulai dapat dahulu untuk bersosialisai dengan temannya. mengerjakannya Contohnya : terkadang anak didik membantu temannya  Anak didik tidak terus dalam mengerjakan latihan menerus mencatat walaupun hanya sebentar informasi-informasi penting, Mencatat sesuai dengan  Anak didik sering mencatat informasi-informasi penting keinginannya. yang disampaikan oleh peneliti  Anak didik sepenuhnya belum dapat

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 164 mengaitkan pelajaran  Anak didik berani dan dengan kehidupan berinisiatif untuk mengerjakan sehari-hari soal di papan tulis  Anak didik belum  Anak didik sudah dapat dapat memahami dan mengaitkan pelajaran dengan menyebutkan sifatkehidupan sehari-hari sifat perkalian bilangan asli  Anak didik sudah dapat memahami dan menyebutkan sifat-sifat perkalian bilangan asli. b). Anak Didik Dua Berdasarkan data yang diperoleh dari pengamatan sebelum menggunakan lego bricks dan saat menggunakan lego bricks, dirangkum secara keseluruhan pada tabel 4.3. Tabel 4.3 Hasil Penelitian Aktivitas Belajar Didik Yang Ditinjau Dari Motivasi Belajar Dan Hasil Belajar Sebelum Menggunakan Lego Bricks Setelah Menggunakan Lego Bricks  Anak didik selalu  Anak didik tidak pernah mengeluh ketika harus mengeluh sama sekali untuk mengerjakan latihan mengerjakan soal perkalian soal yang berkaitan bilangan asli sekalipun soal dengan penjumlahan tersebut tingkatannya sulit ataupun perkalian  Anak didik menyukai  Anak didik tidak suka pembelajaran matematika mengikuti karena menurutnya pembelajaran pembelajaran tersebut matematika yang menjadi seru dan menurutnya menyenangkan untuk membosankan dilakukan  Selama pembelajaran,  Anak didik tidak pernah lagi anak didik selalu menceritakan hal – hal yang menceritakan hal-hal tidak berkaitan dengan pembelajaran di luar materi perkalian

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 165  Ketika mengalami  Anak didik mencoba tetap kesulitan dalam berusaha untuk menerima menerima informasi informasi walaupun yang disampaikan mengalami kesulitan guru, anak didik menyerah begitu saja  Apabila anak didik tidak dapat mengatasi soal  Ketika menghadapi perkalian yang menurutnya soal yang sulit, anak sulit, anak didik tetap didik cenderung mengerjakan dengan cara berhenti mengerjakan bertanya kepada peneliti soal apalagi saat tidak diawasi oleh guru  Anak didik sering menjawab tersebut. Anak didik pertanyaan dari peneliti dan sama sekali tidak lebih percaya diri untuk bertanya kepada guru menyampaikan pendapatnya. terlebih dahulu Walaupun terkadang sebelum berhenti pendapat yang untuk disampaikannya kurang menyelesaikannya sesuai tetapi hal tersebut tidak menbuatnya malu untuk  Untuk menjawab menjawab lagi pertanyaan, guru harus memaksa anak didik  Tanpa diminta untuk terlebih dahulu. mengerjakan soal di depan, Alasannya anak didik merasa tertarik dikarenakan anak untuk maju dan didik malu untuk mengerjakannya. menyampaikan pendapatnya  Anak didik juga sering menolak dan bermalas-malas untuk mengerjakan soal di papan tulis. 2. Wawancara Kegiatan wawancara dilaksanakan pada hari Rabu, 26 November 2018 pukul (11.00-01.00 WIB) di kelas VII TgR tanpa didampingi guru akademik. Guru tersebut berhalangan hadir karena harus mengikuti rapat di luar SLB Negeri 1 Bantul. Pelaksanaan wawancara terbagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama, peneliti melakukan wawancara bersama anak didik

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 166 dua dikarenakan anak didik satu masih mengikuti keterampilan kriya kayu. Sedangkan sesi kedua, peneliti melakukan wawancara dengan anak didik satu. Setiap anak didik diberikan waktu selama 60 menit dalam pelaksaaan wawancara. a. Anak didik Satu Pada saat melakukan wawancara, jawaban yang diberikan anak didik cenderung singkat dan apa adanya. Hal ini terjadi karena anak didik belum lancar berbicara dan susah untuk merangkai sebuah kalimat. Akan tetapi, anak didik dapat memahami dan memaknai pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. Hanya saja tidak dapat mengeluarkan jawabannya jika pertanyaannya membutuhkan jawaban yang detail dan berkaitan dengan penjelasan. Jadi peneliti memakai cara verbal dengan menulis jawaban di kertas dan memberikan beberapa alternatif jawaban di setiap pertanyaan yang berkaitan dengan penjelasan. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan anak didik diperoleh data bahwa anak didik bersemangat dalam mengikuti pembelajaran matematika mengenai perkalian bilangan asli terutama ketika menggunakan permainan lego bricks. Hal tersebut terlihat dari cara anak didik suka menjawab pertanyaan peneliti berkaitan dengan materi tersebut. Anak didik merasa proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, apalagi yang awalnya memang sudah menyukai matematika semakin menyukainya. Selain itu menurut

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 167 anak didik dengan menggunakan permainan lego bricks saat pembelajaran berlangsung, suasananya menjadi tidak membosankan dan lebih seru sampai akhirnya anak didik tidak menyadari apabila pembelajaran telah selesai. Hal ini terjadi karena anak didik beranggapan jika belajar perkalian menggunakan lego bricks seperti bermain bongkar pasang. Setelah mengenal permainan lego bricks, untuk menyelesaikan soal perkalian anak didik cenderung lebih memilih menggunakan permainan lego bricks atau menerapkan konsep permainan lego bricks karena mempermudahnya dalam menghitung bilangan dengan nilai yang besar, misalkan menghitung bilangan lebih dari 15. Apalagi ketika peneliti menjelaskan cara menggunakan lego bricks¸anak didik tidak mengalami kesulitan untuk menerapkannya. Hal ini terjadi karena ketika anak didik menerapkan konsep penjumlahan untuk menyelesaikan soal perkalian bilangan asli yang bernilai besar, alat bantu yang digunakan untuk menjumlahkan suatu bilangan tersebut hanyalah jari tangannya dan daya ingatnya. Sedangkan jumlah jari tangan seseorang terbatas sehingga membuat anak didik memerlukan konsentrasi lebih untuk mengingat angka yang telah disebutkan sebelumnya, padahal anak didik mengakui jika sering lupa dan kebingungan menyebutkan angka berikutnya berapa contohnya seperti pada saat anak didik sudah berhitung dari 1 – 15, angka

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 168 selanjutnya yang disebutkan yaitu 17. Dari kejadian tersebut anak didik mengganggap jika dengan menggunakan permainan lego bricks dan menerapkan konsep dari permainan tersebut, anak didik lebih memahami materi perkalian bilangan asli termasuk yang berkaitan dengan sifat-sifat perkalian bilangan asli terutama. Walaupun begitu ketika anak didik mempelajari perkalian yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan menerapkan soal cerita yang tertera pada LKS maupun contoh soal, kendala yang dihadapi yaitu anak didik kesulitan dalam membaca atau dengan kata lain tidak dapat membaca lancar. Kendala yang di alami anak didik, tidak membuatnya putus asa untuk menyelesaikan soal cerita. Menurutnya mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari peneliti (guru) dengan baik merupakan salah satu solusi untuk dapat mengatasi kesulitan tersebut. Banyaknya rintangan yang dihadapi tidak membuat anak didik menjadi seseorang yang suka melihat pekerjaan orang lain terutama ketika melakukan test. Anak didik mengerjakan test secara mandiri tanpa bertanya atau berniat untuk melihat pekerjaan temannya. Tidak berhenti hanya di sekolah saja, anak didik menyatakan jika setiap malam hari yang dilakukan di rumahnya yaitu belajar. Untuk pelajaran matematika anak didik belajar 4 kali dalam seminggu dengan ibunya selama kurang lebih 2 jam. Anak didik mengulang materi yang telah diajarkan di sekolah mengenai

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 169 perkalian bilangan asli dengan menggunakan konsep penjumlahan ataupun menerapkan konsep permainan lego bricks. Walaupun tidak mempunyai lego bricks di rumah, tetapi anak didik tetep memperlajarinya dengan menggambar lego bricks sesuai persoalan yang ditanyakan sebagau cara untuk menerapkan konsep permainan lego bricks. Sesulit apapun pelajaran yang dipelajari dan soal yang diberikan, tidak membuat anak didik menjadi putus asa. Melainkan membuatnya tetap berusaha untuk mempelajari segala kesulitan yang dihadapi sampai berhasil menyelesaikannya sehingga ketika berada di sekolah anak didik dapat mengikuti pelajaran tersebut dengan lancar dan melanjutkan ke materi berikutnya. b. Anak Didik Dua Berbeda dengan anak didik satu yang sulit berbicara, anak didik ini dapat berbicara dengan lancar hanya saja sering kali perkataan dan jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan pertanyaan dari peneliti. Cara mengatasinya yaitu dengan membuat alternatif jawaban untuk dipilih, dan apabila pertanyaan yang diberikan belum terjawab maka peneliti mengikuti alur cerita yang dijelasakannya kemudian bertanya kembali dengan pertanyaan yang maknanya sama kepada anak didik tetapi menggunakan bahasa yang lebih sederhana. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan anak didik diperoleh data bahwa anak didik lebih suka menggunakan

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 170 permainan lego bricks dalam mempelajari perkalian bilangan asli. Akibatnya anak didik menjadi bersemangat untuk mengikuti pembelajaran matematika. Menurut anak didik, suasana kelas menjadi lebih menyenangkan dan seru ketika menerapkan permainan dalam pembelajaran. Selain itu, pembelajaran yang diciptakan menjadi tidak membosankan sehingga menarik perhatian anak didik untuk mendengarkan penjelasan peneliti lebih dalam dan terus mencoba permainan lego bricks sesulit apapun perkalian yang diberikan. Kegiatan menggunakan pemainan lego bricks membuat anak didik dapat lebih memahami perkalian bilangan asli dibandingkan dengan sebelum mengenal permainan sebagai alternatif melakukan perkalian. Sebelum menggunakan permainan lego bricks, anak didik menyampaikan jika pembelajaran matematika cenderung membosankan karena pembelajarannya kurang berwarna sehinga disela pelajaran membuat anak didik malas mengerjakan latihan soal dan mengeluh dengan berbagai alasan terutama capek ketika diminta untuk mengerjakan latihan soal. Dari kejadian tersebut berdampak pada pemahamannya mengenai matematika terutama perkalian. Anak didik menjadi kesulitan melakukan perkalian bilangan asli dengan menganggap perkalian sebagai penjumlahan berulang. Anak didik juga merasa kebingungan untuk melakukan langkah berikutnya dan mengakui jika belum dapat melakukan operasi

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 171 penjumlahan dengan tepat dan lancar apalagi ketika bilangan yang dijumlahkan bernilai besar. Akibat kejadian tersebut membuat anak didik lebih memilih menggunakan permainan lego bricks atau menerapkan konsep permainan lego bricks daripada menganggap perkalian sebagai penjumlahan berulang. Penerapan permainan lego bricks memang membuat anak didik menjadi lebih bisa melakukan perkalian. Akan tetapi bukan berarti anak didik merasa bahwa menerapkan konsep lego bricks merupakan hal yang mudah. Anak didik juga mengalami kendala walaupun tidak separah sebelumnya. Kendala yang dialaminya ketika menerapkan konsep permainan lego bricks dengan menggambar lego yang mempunyai banyak titik sesuai yang ditanyakan. Terkadang anak didik menggambar titik tidak sesuai dengan yang ditanyakan, bisa lebih ataupun kurang. Tetapi apabila menerapkan dan menggunakan permainan lego secara nyata anak didik merasa bisa. Mempelajari perkalian bukan hal yang mudah baginya tetapi setelah mengenal lego bricks anak didik merasa tertantang mengerjakan dan menyelesaikan soal perkalian bilangan asli sehingga sesulit apapun soal perkalian tersebut, anak didik tetap mencoba walaupun masih terdapat beberapa kesalahan yang dilakukannya.. Saat pembelajaran berlangsung anak didik mengatakan jika ia semangat menjawab pertanyaan dari guru

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 172 mengenai perkalian tetapi terkadang malu sehingga beberapa kali sering menyuruh temannya untuk menjawab. Hal tersebut bukan berarti kepercayaan diri anak didik terhadap jawabannya menjadi berkurang bahkan semakin bertambah. Selain itu, dalam memahami LKS anak didik tidak tidak mendapatkan kendala apapun karena anak didik dapat membaca secara lancar hanya saja yang terjadi terletak pada waktu yang tidak mencukupi untuk menyelesaikan soal-soal tersebut. Walaupun begitu anak didik mengatakan jika soal yang belum selesai telah diselasaikannya di rumah dan sebagai bahan untuk belajar. Anak didik juga mengatakan jika setiap ada tes selalu mengerjakan secara mandiri tanpa bantuan orang lain. Usaha yang bisa dilakukannya untuk dapat memahami perkalian bilangan asli dan mendapatkan nilai yang bagus yaitu dengan belajar terus menerus sampai bisa melakukannya. Hal ini dikarenakan anak didik selalu mengingat pesan ibunya apabila anak didik harus rajin belajar, jangan malas-malasan supaya bisa naik kelas. Menurutnya belajar perkalian tidak pernah dipaksa siapapun karena baginya perkalian berguna untuk jenjang berikutnya terutama pada jenjang kuliah, perkalian sangat terpakai. Anak didik ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi sehingga menurutnya harus paham dengan operasi hitung perkalian. Apalagi anak didik merasa senang dan bangga pada saat mendapatkan nilai yang tinggi setelah berhasil menyelesaikan soal perkalian bilangan

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 173 asli yang terdapat dalam LKS, dan menganggap usahanya selama ini tidak sia-sia. Anak didik bukan hanya belajar di sekolah tetapi ketika berada di rumah anak didik tetap meluangkan waktunya untuk belajar bersama ibunya. Kegiatan belajar di rumah dilakukannya setiap hari dan katanya anak didik selalu belajar mtematika terutama perkalian, apalagi setelah mengenal permainan lego bricks. Walaupun anak didik tidak mempunyai lego bricks di rumah, anak didik tetap belajar perkalian seperti menerapkan konsep permainan lego bricks yang telah dipelajarinya di sekolah dengan menggambar lego bricks sesuai dengan pertanyaannya. Biasanya anak didik belajar pada waktu malam hari selama 1 jam – 1 jam 30 menit. Anak didik berusaha untuk memperbaiki kesalahannya dengan mengulang materi yang telah diajarkan di sekolah sampai bisa dan berhasil melakukan perkalian bilangan asli. 3. Tes Pelaksanaan tes terdiri dari pretest dan posttest a. Pretest Tes dilakukan pada hari Senin, 07 November 2018 dikelas VII TgR SLB Negeri 1 Bantul pada pukul 08.10 - 09. 20 WIB. Pada saat itu hanya ada satu anak didik yang masuk kelas dan mengikuti pretest, sehingga peneliti mengadakan tes susulan untuk satu anak

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 174 didik lagi yang tidak masuk. Tes susulan diadakan pada hari Rabu, 09 November 2018 dikelas VII TgR SLB Negeri 1 Bantul pada pukul 07.15-08.25 WIB. Kegiatan pretest dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar anak didik mengenai perkalian bilangan asli 1 – 20 selama pembelajaran menggunakan konsep penjumlahan tanpa menerapkan atau menggunakan alat bantu atau permainan. Soal pretest terdiri dari tiga soal biasa mengenai perkalian 1 – 9, dua soal biasa mengenai perkalian 10 – 20, satu soal cerita perkalian 1 – 9, dua soal cerita perkalian 10 – 20, dan 2 soal mengenai penerapan sifat-sifat perkalian bilangan asli. Untuk soal cerita, soal tersebut di dikte oleh peneliti. Hal ini dikarenakan salah satu anak didik tidak dapat membaca dengan lancar dan masih sangat kesulitan. Pengerjaan pretest tidak diperbolehkan menggunakan alat bantu elektronik dan dikerjakan secara individual tanpa dibantu oleh peneliti ataupun guru. 1) Anak didik satu Selama pelaksanaan tes, anak didik mengerjakan secara mandiri dan dapat menerapkan konsep perkalian menggunakan penjumlahan yang telah diajarkan oleh guru di setiap soal yang dikerjakan. Anak didik juga dapat memaknai bentuk soal cerita yang dibacakan oleh peneliti dan dapat mengubah soal cerita tersebut ke dalam model matematika. Dari pekerjaan anak didik,

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 175 diperoleh hasil pretest yaitu 4 soal benar dengan point yang sempurna yaitu point 2 untuk 3 soal dan point 4 untuk 1 soal. Sedangkan 6 soal lagi bernilai salah dengan 1 soal mendapatkan point 3, 3 soal mendapatkan point 2, dan 2 soal mendapatkan point 1. Berdasarkan 5 indikator soal diperoleh data pretest pada tabel 4.4, sebagai berikut: Tabel 4.4 Hasil Penelitian Pretest Menurut Indikator Soal Menyebutkan sifat-sifat operasi hitung perkalian bilangan asli. Terdapat pada nomor 9 dan 10. Karena kedua nomor memiliki indikator yang sama, maka peneliti mengambil salah satu hasil pekerjaan dari anak didik untuk dibahas. Peneliti mengambil soal nomor 9 yang digunakan sebagai data hasil penelitian. Soal nomor 9 mengenai perkalian bilangan asli antara 1 – 9, hanya saja disajikan dalam bentuk mengisi bagian yang kosong. Soal ini berkaitan dengan salah satu sifat perkalian bilangan asli. Selain itu, soal tersebut meminta anak didik menuliskan sifat apa yang digunakan. Indikator 1 Gambar 4.54 Jawaban anak didik nomor 9 Dari gambar 4.54 jawaban yang diberikan anak didik sudah benar hanya saja tidak menuliskan sifat perkalian pada soal tersebut. Langkah yang dilakukan yaitu mengisi bagian yang kosong dengan angka 8. Setelah itu memilih salah satu dari perkalian untuk dihitung hasilnya. Anak didik memilih 7 × 8 dengan menuliskan angka 8 sebayak 7 kali secara berulang menggunakan operasi penjumlahan. Hasil penjumlahan yang dilakukan anak didik sudah benar dimana 8 + 8 + 8 + 8 + 8 + 8 + 8 = 4. Karena anak didik menerapkan konsep perkalian menggunakan penjumlahan maka hasil penjumlahan angka 8 sebanyak 7 kali menjadi hasil perkalian dari

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 176 7 × 8 yaitu 48. Walaupun proses dan hasil perkalian yang dituliskan benar tetapi anak didik tidak menuliskan sifat apa yang digunakan pada soal tersebut. Soal ini menggunakan salah satu sifat perkalian bilangan asli yaitu sifat komutatif. Jadi anak didik menjawab pertanyaan untuk nomor 9 belum sepenuhnya benar. Menghitung perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 Terdapat pada nomor 1, 2, dan 4. Ketiga nomor soal memiliki indikator yang sama, berkaitan dengan perkalian bilangan asli antara perkalian 1– 9 dan berbentuk perkalian biasa. Bedanya hanya terletak pada bilangan yang akan dihitung perkaliannya. Walaupun begitu dua jawaban dari ketiga soal yan dituliskan anak didik salah. Sehingga peneliti memilih dua dari tiga nomor soal yang digunakan sebagai contoh dari hasil pekerjaan anak didik untuk dibahas. Peneliti mengambil soal nomor 1 dengan jawaban yang benar dan soal nomor 2 dengan jawaban yang salah, untuk digunakan sebagai data hasil penelitian. Soal nomor 1 mengenai salah satu dari perkalian bilangan 3. Contoh soalnya yaitu hitunglah hasil perkalian dari 3 × 3. Jawaban yang diberikan anak didik terlihat pada gambar 4.55 Indikator 2 Gambar 4.55 Jawaban anak didik nomor 1 Dari gambar 4.55 terlihat bahwa jawaban yang diberikan oleh anak didik sudah tepat dan proses pengerjaannya sudah benar. Anak didik satu menuliskan angka 3 secara berulang sebanyak 3 kali menggunakan penjumlahan sesuai dengan yang ditanyakan. Setelah memaknai soal tersebut anak didik terlebih dahulu melakukan penjumlahan dua bilangan untuk mendapatkan hasilnya. Hasil dari penjumlahan awal dituliskan tepat dibawah dua bilangan yang sebelumnya telah dijumlahkan. Kemudian dari hasil tersebut anak didik menjumlahkan kembali bilangan berikutnya dengan hasil itu dan untuk memperjelas proses penyelesaiannya, anak didik menggunakan garis bantuan yang

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 177 mengibaratkan sebagai tanda panah dari proses pengerjaan. Bagian akhir dari penjumlahan menjadi hasil dari perkalian dan anak tersebut memperjelas dengan menuliskan kembali hasilnya di soal tersebut. Soal nomor 2 mengenai salah satu dari perkalian bilangan 9. Soal tersebut berbentuk perkalian biasa. Sama halnya seperti nomor 1, anak didik mengerjakannya dengan menerapkan konsep perkalian menggunakan penjumlahan dimana banyaknya bilangan yang dijumlahkan sesuai dengan angka yang terdapat pada soal tersebut. Gambar 4.56 Jawaban anak didik nomor 2 Dari gambar 4.56 jawaban yang dituliskan anak didik salah. Langkah dan strategi yang diterapkan dalam menyelesaikan soal tersebut sudah benar, yaitu anak didik terlebih dahulu memaknai perkalian dengan menuliskan konsep perkalian menggunakan penjumlahan sesuai dengan yang ditanyakan. Anak didik menuliskan angka 5 sebanyak 9 kali dengan menggunakan tanda tambah. Kemudian menjumlahkan angka 5 satu per satu sampai memperoleh hasil akhir. Ketika menjumlahkan dua bilangan pertama hasilnya sudah tepat yaitu 10, tetapi terdapat kesalahan untuk langkah selanjutnya. Kesalahan dari jawaban anak didik terletak pada saat menghitung hasil dari 10 + 5 yang seharusnya adalah 15 bukan 20. Walaupun langkah selanjutnya sudah benar dan jawabannya tepat tetapi tetap saja hasil hasil akhir dari perkalian tersebut tidak benar karena anak didik kurang teliti dalam berhitung. Jadi, hasil akhir dari 9 × 5 adalah 45 bukan 50. Menghitung perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) Indikator 3 Terdapat pada nomor 3 dan 5. Karena kedua nomor memiliki indikator yang sama dan jawaban dari penyelesaian kedua soal yang ditulisakannya sama-sama bernilai benar, maka peneliti mengambil salah satu nomor dari hasil pekerjaan anak didik untuk dibahas. Peneliti

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 178 mengambil soal nomor 5 yang digunakan sebagai data hasil penelitian. Soal nomor 5 yang berkaitan dengan materi perkalian 1 – perkalian 20. Sama halnya dengan nomor-nomor yang sebelumnya soal tersebut berbentuk perkalian biasa dan menjawabnya langsung dengan menerapkan konsep perkalian menggunakan penjumlahan. Gambar 4.57 Jawaban anak didik nomor 5 Dari gambar 4.57 jawaban yang dituliskan anak didik benar. Apabila dilihat dari proses pengerjaannya tidak terdapat kesalahan. Cara anak didik menghitung menggunakan berbagai alat tulis sebagai pengingat dan membantunya dalam berhitung. Anak didik mengumpulkan banyak benda yang berjumlah 18 kemudian menghitung bendabenda tersebut. Setelah itu menyimpan hasil penjumlahan sebelumnya dalam pikirannya dan melanjutkan berhtiung secara berulang sebanyak 5 kali. Hal ini menunjukkan bahwa anak didik fokus melakukan penjumlahan sehingga tidak menimbulkan hasil yang salah karena ketidaktelitian yang terjadi. Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan seharihari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 Indikator 4 Terdapat pada soal nomor 6. Soal nomor 6 berbentuk soal cerita yang berkaitan dengan perkalian 1 – 9 tepatnya perkalian bilangan 7. Soal tersebut mengenai 7 mobil pick up yang terparkir di lapangan sepak bola. Jika setiap mobil membawa 6 keranjang sayur. Berapakah total keranjang yang dibawa oleh mobil-mobil pick up tersebut?. Gambar 4.58 Jawaban anak didik nomor 6 Dari gambar 4.58 proses pengerjaan yang dituliskan oleh anak didik sudah tepat. Terlebih

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 179 dahulu anak didik memaknai soal cerita dengan mengubahnya ke dalam model matematika perkalian 7 ×6. Anak didik menuliskan bilangan 6 sebanyak 7 kali dengan menggunakan operasi penjumlahan. Pada bagian awal anak didik menghitung hasil dari dua bilangan pertama yaitu 6 + 6. Hasil yang diperoleh adalah 12. Kemudian langkah selanjutnya anak didik menjumlahkan kembali hasil yang sebelumnya dengan bilangan 6 tetapi pada saat menjumlahan 12 + 6, anak didik tidak teliti sehingga hasil yang dituliskan bukan 18 tetapi 17. Tidak hanya itu anak didik juga tidak teliti saat menjumlahkan bilangan selanjutnya sehingga hasil akhir yang dituliskan salah, seharusnya hasil perkalian dari 7 × 6 = 42 bukan 37. Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan seharihari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) Indikator 5 Terdapat pada soal nomor 7 dan 8. Walaupun kedua nomor memiliki indikator yang sama, akan tetapi jawaban yang dituliskan anak didik untuk soal nomor 7 benar sedangkan soal nomor 8 salah. Hal tersebut membuat peneliti mengambil hasil pekerjaan anak didik dari kedua soal tersebut untuk dibahas dan digunakan sebagai data hasil penelitian. Soal nomor 7 berbentuk soal cerita yang berkaitan dengan materi perkalian bilangan 10 – 20, khusunya perkalian bilangan 11. Soal tersebut yaitu ibu suka membuat boneka dari kain flanel. Satu hari, ibu membuat boneka sebanyak 11 buah. Berapa total boneka yang dibuat oleh ibu dalam 5 hari?. Gambar 4.59 Jawaban anak didik nomor 7 Dari gambar 4.59, langkah dan hasil akhir yang dituliskan anak didik dalam menyelesaikan soal cerita mengenai perkalian bilangan asli sudah sangat tepat dan benar. Anak didik terlebih dahulu mengubah soal cerita ke dalam model matematika. Hal yang dilakukannya yaitu menuliskan perkalian 11 × 5. Setelah menuliskan model matematikanya,

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 180 yang dilakukan anak didik yaitu menuliskan bilangan 5 sebanyak 11 kali menggunakan operasi penjumlahan. Selanjutnya anak didik menjumlahkan dua bilangan pertama dan hasil yang diperolehnya dijumlahkan kembali dengan bilangan 5, hal ini dilakukan terus – menerus sebanyak 11 kali. Sehingga diperoleh hasil akhir dari penjumlahan tersebut yaitu 55. Hasil akhir dari penjumlahan tersebut merupakan hasil dari perkalian 11 × 5. Anak didik memperjelas hasilnya dengan menuliskan kembali pada bagian perkalian seperti berikut: 11 × 5 = 55. Soal nomor 8 mengenai salah satu dari perkalian bilangan 17. Soal tersebut berbentuk soal cerita dimana anak didik memaknai terlebih dahulu sebelum berhitung. Soalnya yaitu jumlah anggota pramuka kelas V adalah 17 siswa. Jika setiap anggota mendapat 2 bendera, berapa jumlah seluruh bendera tersebut?. Gambar 4.60 Jawaban anak didik nomor 8 Dari gambar 4.60 proses pengerjaan yang dituliskan sudah benar tetapi hasil yang dituliskan tidak tepat atau salah. Pada proses pengerjaan, anak didik mengubah terlebih dahulu soal cerita kedalam model matematika sehingga diperoleh perkalian 17 × 2. Kemudian anak didik menghitung hasil dari perkalian tersebut dengan cara menuliskan dan menjumlahkan angka 2 sebanyak 17 kali. Anak didik sudah tepat dalam menuliskan cara menyelesaikan persoalan tersebut, tetapi terlihat bahwa anak didik kurang teliti saat menjumlahkannya. Anak didik menuliskan hasil penjumlahan dari 8 + 2 = 20, hasil yang dituliskan kurang tepat seharusnya hasil penjumlahan dari 8 + 2 yaitu 10bukan 20. Letak ketidaktelitian terlihat kembali saat menjumlahkan bilangan 40 + 2 = 45 yang seharusnya yaitu 42. Ketidaktelitian yang telah dilakukan anak didik sangat berpengaruh untuk hasil akhir, sehingga hasil akhir yang dituliskan anak didik tidak tepat yaitu 45. Seharusnya hasil perkalian

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 181 menggunakan konsep penjumlahan dari 17 × 2 = 34 bukan 45. 2) Anak Didik Dua Anak didik dua melaksanakan tes susulan pada hari Rabu, 09 November 2018 di kelas VII TgR pukul 07.15-08.25 WIB yang didampingi oleh guru dan peneliti. Selama pelaksanaan tes, anak didik mengerjakan soal tanpa bantuan. Walaupun begitu setelah diperhatikan anak didik mengerjakan tanpa menerapkan konsep perkalian menggunakan penjumlahan atau cara lain yang sesuai dan tepat untuk menyelesaikan perkalian bilangan asli. Anak didik hanya mengisi lembar tes secara sembarangan. Selain itu anak didik tidak membutuhkan waktu lama untuk mengerjakan soal-soal yang telah disediakan. Dari pekerjaan anak didik, diperoleh hasil pretest yaitu 10 soal salah dengan 7 soal tidak mendapatkan point sama sekali dan 3 soal mendapatkan point 1. Berdasarkan 5 indikator soal, diperoleh data pretest yang tertera pada tabel 4.5, sebagai berikut: Tabel 4. 5 Hasil Penelitian Pretest Menurut Indikator Soal Menyebutkan sifat-sifat operasi hitung perkalian bilangan asli. Indikator 1 Terdapat pada nomor 9 dan 10. Karena kedua nomor memiliki indikator yang sama dan jawaban dari penyelesaian kedua soal yang ditulisakannya sama-sama bernilai salah, maka peneliti mengambil salah satu nomor dari hasil pekerjaan anak didik untuk dibahas. Peneliti

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 182 mengambil soal nomor 9 yang digunakan sebagai data hasil penelitian. Soal nomor 9 mengenai perkalian bilangan 1 – 9, lebih terpatnya berkaitan dengan salah satu perkalian dari bilangan 8. Soal ini disajikan dengan mengisi bagian yang kosong dan berkaitan dengan salah satu sifat perkalian bilangan asli. Selain itu, soal tersebut meminta anak didik menuliskan sifat apa yang digunakan. Gambar 4.61 jawaban anak didik nomor 9 Dari gambar 4.61 terlihat bahwa anak didik dapat mengisi titik-titik yang ada pada soal tersebut dengan tepat, hanya saja untuk hasil yang dituliskan masih salah. Selain itu anak didik juga salah dalam menuliskan sifat yang digunakan pada soal tersebut. Anak didik menuliskan 12 sebagai hasil dari perkalian 8 × 7 = 7 × 8 dan menyebutkan bahwa perkalian tersebut bersifat komunitafik. Padahal untuk memperoleh hasil perkalian dari soal tersebut, anak didik dapat memilih salah satu. Anak didik dapat memilih perkalian 7 × 8 untuk dihitung hasilnya. Hasil yang diperoleh dari perkalian 7 × 8 = 8 + 8 + 8 + 8 + 8 + 8 + 8 = 56 bukan 12 dan perkalian tersebut bersifat komutatif. Menghitung perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 Indikator 2 Terdapat pada nomor 1, 2, dan 4. Karena ketiga nomor memiliki indikator yang sama dan jawaban dari penyelesaian kedua soal yang ditulisakannya sama-sama bernilai salah, maka peneliti mengambil salah satu nomor dari hasil pekerjaan anak didik untuk dibahas. Peneliti mengambil soal nomor 1 yang digunakan sebagai data hasil penelitian. Soal nomor 1 mengenai perkalian bilangan 1 – 9. Soal tersebut berkaitan dengan perkalian 3 dan berbentuk perkalian biasa dalam artian anak didik langsung menghitung perkalian tersebut tanpa harus memodelkan ke bentuk matematika terlebih dahulu. Gambar 4.62 Jawaban anak didik nomor 1 Dari gambar 4.62, jawaban yang diberikan anak didik tidak tepat dan sama sekali tidak menuliskan

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 183 langkah penyelesainnya. Anak didik tidak menerapkan cara yang telah diajarkan oleh guru. Terlihat dari jawaban tersebut bahwa anak didik hanya sekedar menuliskan jawaban yang diperoleh dari soal itu sendiri. Seharusnya dalam menyelesaikan soal tersebut anak didik menuliskan angka 3 sebanyak 3 kali disertai dengan operasi penjumlahan seperti berikut: 3 + 3 + 3. Kemudian hal selanjutnya yang dilakukan yaitu menjumlahan 2 bilangan pertama yaitu 3 + 3 dan hasil dari penjumlahan tersebut selanjutnya dijumlahkan kembali dengan bilangan 3, sehingga dapat dituliskan seperti berikut: 3 + 3 + 3 = 6 + 3 = 9. Hasil akhir dari penjumlahan 3 + 3 + 3 merupakan hasil dari perkalian 3 × 3. Dengan demikian seharusnya hasil dari 3 × 3 = 9 bukan 3. Menghitung perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) Terdapat pada soal nomor 3 dan 5. Karena kedua nomor memiliki indikator yang sama dan jawaban dari penyelesaian kedua soal yang ditulisakannya sama-sama bernilai salah, maka peneliti mengambil salah satu nomor dari hasil pekerjaan anak didik untuk dibahas. Peneliti mengambil soal nomor 5 yang digunakan sebagai data hasil penelitian. Soal nomor 5 merupakan soal perkalian biasa yang berkaitan dengan materi bilangan 10 – 20. Indikator 3 Gambar 4.63 Jawaban anak didik nomor 5 Dari gambar 4.63, jawaban yang diberikan anak didik tidak tepat. Anak didik memberikan jawaban hanya sekedar menuliskan bilangan yang diinginkannya, tanpa menghitungnya terlebih dahulu menggunakan proses atau langkah penyelesaian. Hal yang seharusnya dilakukan yaitu menuliskan angka 18 sebanyak 5 kali dengan disertai operasi penjumlahan, seperti berikut: 18 + 18 + 18 + 18 + 18. Terlebih dahulu menjumlahkan 2 bilangan pertama, kemudian hasil dari penjumlahan tersebut dijumlahkan kembali dengan bilangan selanjutnya. Hal tersebut dilakukan secara berulang sebanyak 5 kali dan diperoleh hasil akhir dari penjumlahan bilangan – bilangan berikut yaitu 90. Hasil penjumlahan tersebut merupakan hasil dari perkalian

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 184 5 × 18, sehingga dapat dituliskan bahwa hasil dari 5 × 18 = 90. Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan seharihari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 Terdapat pada soal nomor 6. Soal nomor 6 mengenai materi perkalian bilangan 1 – 9, lebih tepatnya berkaitan dengan salah satu perkalian dari bilangan 8. Soal tersebut berbentuk soal cerita yang diambil dari kehidupan sehari-hari, seperti berikut: Terdapat 7 mobil pick up yang terparkir di lapangan sepak bola. Jika setiap mobil membawa 6 keranjang sayur. Berapakah total keranjang yang dibawa oleh mobil-mobil pick up tersebut?. Penyelesian yang dilakukan juga berbeda dengan soal nomor 1 – 5. Soal ini harus diubah terlebih dahulu ke dalam model matematika, selanjutnya dapat dihitung hasil perkaliaannya. Gambar 4.64 Jawaban anak didik nomor 6 Indikator 4 Dari gambar 4.64 langkah awal yang dilakukan anak didik sudah tepat yaitu mengubah soal cerita ke dalam model matematika. Hanya saja model matematika yang dituliskan dari soal cerita tersebut kurang tepat. Seharusnya soal ini berkaitan dengan salah satu perkalian dari bilangan 7, seperti berikut: 7 × 6 bukan perkalian bilangan 8 yang tertera seperti pada gambar 4. . Selain itu, jawaban yang diberikan anak didik tidak tepat. Anak didik menuliskan angka 7 sebagai hasil dari perkalian bilangan-bilangan tersebut. Seharusnya hal yang dilakukan anak didik menuliskan angka 6 sebanyak 7 kali disertai dengan operasi penjumlahan, seperti berikut6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6. Kemudian menjumlahkan 2 bilangan pertama, hasil dari bilangan tersebut dijumlahkan kembali dengan 6. Hal ini dilakukan secara berulang sampai menemukan hasil akhir dari penjumlahan tersebut yaitu 42. Hasil akhir dari penjumlahan 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 merupakan hasil dari perkalian 7 × 6 yaitu 42 bukan 7.

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 185 Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan seharihari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) Terdapat pada soal nomor 7 dan 8. Karena kedua nomor memiliki indikator yang sama dan jawaban dari penyelesaian kedua soal yang ditulisakannya sama-sama bernilai salah, maka peneliti mengambil salah satu nomor dari hasil pekerjaan anak didik untuk dibahas. Peneliti mengambil soal nomor 8 yang digunakan sebagai data hasil penelitian. Soal nomor 8 berkaitan dengan materi perkalian 10 – perkalian 20. Lebih tepatnya mengenai salah satu dari perkalian bilangan 17 yang dituliskan dalam bentuk soal cerita. Sama seperti soal nomor 6 dan 7, soal ini diambil dari kehidupan sehari-hari yaitu seperti berikut: jumlah anggota pramuka kelas V adalah 17 siswa. Jika setiap anggota mendapat 2 bendera, berapa jumlah seluruh bendera tersebut?. Indikator 5 Gambar 4.65 Jawaban anak didik nomor 8 Dari gambar 4.65 langkah awal yang dilakukan anak didik sudah tepat yaitu mengubah soal cerita menjadi model matematika. Anak didik menuliskan model matematika dengan tepat, tetapi jawaban yang diberikan anak didik salah. Anak didik menuliskan angka 14 sebagai hasil dari perkalian 17 × 2. Walaupun begitu, anak didik tidak menuliskan proses penyelesaian untuk memperoleh hasil dari perkalian tersebut. Seharusnya anak didik menuliskan angka 2 sebanyak 17 kali disertai dengan operasi penjumlahan, seperti berikut: 2 + 2+2+2+2+2+2+2+2+2+2+2+2+ 2.Selanjutnya menghitung bilangan-bilangan tersebut dengan menjumlahkan 2 bilangan pertama dan hasil dari bilangan tersebut dijumlahkan kembali dengan angka 2. Hal ini dilakukan secara berulang samapi memperoleh hasil akhir sesuai dengan langkah yang dituliskan sebelumnya. Penjumlahan yang dilakukan akan memperoleh hasil yaitu 34. Hasil akhir dari penjumlahan tersebut merupakan hasil dari perkalian 17 × 2 = 34 bukan 14.

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 186 b. Posttest Tes dilakukan pada hari Senin, 19 November 2018 dikelas VII TgR SLB Negeri 1 Bantul pada pukul 10.00 - 11. 10 WIB. Posttest diikuti oleh dua anak didik. Kegiatan posttest dilakukan untuk mengetahui hasil belajar yang dimiliki anak didik, apakah hasil belajar yang diperoleh anak didik mendapatkan perubahan atau tidak setelah mempelajari perkalian bilangan asli 1 – 20 dengan menggunakan dan menerapkan permainan lego bricks. Soal-soal yang ada pada posttest jenis atau bentuknya, dan jumlah soal sama dengan soal – soal pretest. Perlakuan yang diberikan untuk pengerjaan posttest sama halnya saat mengerjakan pretest. Pada kegiatan posttest, peneliti juga membacakan soal cerita dan tidak memperbolehkan anak didik menggunakan alat bantu elektronik. Tidak hanya itu pengerjaan posttest tidak diperbolehkan menggunakan permainan lego bricks secara langsung, hanya diperbolehkan menerapkan konsep permainan lego bricks saja. Selain konsep permainan, anak didik dibebaskan menyelesaikan soal perkalian dengan menggunakan konsep yang lainnya seperti konsep penjumlahan pada perkalian. 1) Anak Didik Satu Selama pelaksanaan tes, anak didik mengerjakan secara mandiri tanpa bertanya dengan teman atau menggunakan alat bantu. Anak didik menerapkan berbagai cara untuk

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 187 menyelesaikan persoalan perkalian. Anak didik menggunakan konsep permainan lego bricks dengan menggambar lego di lembar jawabnya. Tidak hanya itu, anak didik juga tetap menggunakan konsep penjumlahan untuk menyelesaikan perkalian atau dengan kata lain mengartikan perkalian sebagai penjumlahan berulang. Anak didik juga dapat memaknai bentuk soal cerita yang dibacakan peneliti dan dapat memodelkan soal tersebut ke dalam model matematika. Dari pekerjaan anak didik, diperoleh hasil posttest yaitu 10 soal bernilai benar dengan kata lain anak didik mengerjakan semua soal dengan benar. Berdasarkan 5 indikator soal, diperoleh data posttest yang tertera pada tabel 4.6, sebagai berikut: Tabel 4. 6 Hasil Penelitian Posttest Menurut Indikator Soal Menyebutkan sifat-sifat operasi hitung perkalian bilangan asli. Indikator 1 Terdapat pada nomor 7 dan 8. Karena kedua nomor memiliki indikator yang sama dan jawaban dari penyelesaian kedua soal yang ditulisakannya sama-sama bernilai benar, maka peneliti mengambil salah satu nomor dari hasil pekerjaan anak didik untuk dibahas. Peneliti mengambil soal nomor 8 yang digunakan sebagai data hasil penelitian. Soal nomor 8 mengenai perkalian bilangan 1 – 20 yang berkaitan dengan salah satu sifat dari perkalian bilangan asli. Sama seperti soal nomor 7, soal ini juga meminta anak didik untuk melengkapi titik-titik yang kosong dan menghitung hasil dari perkalian. Selain itu, menuliskan sifat perkalian apa yang digunakan untuk soal tersebut.

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 188 Gambar 4.66 Jawaban anak didik nomor 8 Dari gambar 4.66, jawaban yang diberikan anak didik sudah benar. Hal yang dilakukan anak didik terlebih dahulu yaitu mengisi bagian yang kosong atau rumpang dengan angka 2 dan 3. Sama seperti mengerjakan soal sebelumnya, anak didik memilih salah satu bentuk perkalian untuk dihitung hasil perkaliannya. Pada soal ini, anak didik memilih 2 × (4 × 3) sebagai perwakilan untuk dikerjakan. Terlebih dahulu anak didik menghitung perkalian bilangan yang terdapat di dalam tanda kurung dengan menerapkan konsep penjumlahan berulang untuk menyelesaikan soal perkalian tersebut. Saat menjumlahkan bilangan-bilangan, tidak terdapat kesalahan atau ketidaktelitian yang dilakukan anak didik. Hasil akhir dari menjumlahkan yaitu 12. Hasil tersebut dinyatakan sebagai hasil perkalian dari 4 × 3 dan dituliskan di bawah bilangan tersebut. Tidak berhenti sampai disitu, anak didik melanjutkan dengan mengalikan bilangan 2 dan bilangan 12. Ketika menentukan hasil dari 2 × 12, anak didik tidak menggunakan penjumlahan berulang tetapi menerapkan konsep permainan lego bricks. Anak didik menggambar 2 buah lego bricks yang masingmasing lego memiliki 12 titik. Ketika mengggunakan lego bricks asli untuk mendapatkan lego yang memiliki titik lebih dari 8 harus dilakukan penggabungan dengan lego lainnya, tetapi dikarenakan anak didik hanya boleh menerapkan konsep permainan lego bricks dengan cara menggambar lego bricks sehingga apabila satu lego brick terdapat banyak titik yang digambarkan dan jumlahnya sesuai dengan yang ditanyakan maka hal tersebut tidak menjadi permasalahan. Setelah itu anak didik menghitung semua titik yang terdapat pada 2 buah lego bricks dan diperoleh 24 titik secara keseluruhan dan dapat dinyatakan bahwa hasil dari 2 × 12 = 24. Selain itu juga, anak didik dapat menjawab sifat yang diterapkan pada perkalian bilangan asli tersebut yaitu sifat asosiatif.

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 189 Menghitung perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 Terdapat pada nomor 5, 6, dan 10. Karena ketiga nomor memiliki indikator yang sama dan jawaban dari penyelesaian kedua soal yang ditulisakannya sama-sama bernilai salah, maka peneliti mengambil salah satu nomor dari hasil pekerjaan anak didik untuk dibahas. Peneliti mengambil soal nomor 5 yang digunakan sebagai data hasil penelitian. Soal nomor 5 berkaitan dengan materi perkalian bilangan 1 – 9, lebih tepatnya mengenai salah satu dari perkalian bilangan 4. Soal tersebut berbentuk soal perkalian biasa. Anak didik hanya perlu menghitung perkalian tersebut dengan menggunakan berbagai cara yang dipahaminya. Indikator 2 Gambar 4.67 Jawaban anak didik nomor 5 Dari gambar 4.67 terlihat bahwa anak didik menghitung perkalian yang terdapat dalam soal tersebut tidak dengan menggambar lego bricks, tetapi mengartikan bahwa perkalian sebagai penjumlahan berulang atau dengan kata lain anak didik menjumlahkan bilangan 4 sebanyak 4 kali. Setelah itu anak didik menghitung dua bilangan pertama, hasil dari penjumlahan dua bilangan pertama dijumlahkan kembali dengan bilangan selanjutnya. Anak didik menuliskan hasil penjumlahan kedua bilangan tersebut di bawah bilangan yang dijumlahkan dan diberikan tanda panah sebagai keterangan untuk melakukan langkah berikutnya. Ketika anak didik menjumlahkan bilangan-bilangan tersebut tidak ada yang salah, sehingga hasil akhir penjumlahan yang diperolehnya juga benar yaitu 16. Hasil akhir penjumlahan dari 4 + 4 + 4 + 4 merupakan hasil perkalian dari 4 × 4, sehingga jawaban yang dituliskan anak didik benar dimana hasil dari 4 × 4 = 16. Indikator 3 Menghitung perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya)

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 190 Terdapat pada nomor 4 dan 9. Karena kedua nomor memiliki indikator yang sama dan jawaban dari penyelesaian kedua soal yang ditulisakannya sama-sama bernilai salah, maka peneliti mengambil salah satu nomor dari hasil pekerjaan anak didik untuk dibahas. Peneliti mengambil soal nomor 4 yang digunakan sebagai data hasil penelitian. Soal nomor 4 tentang perkalian biasa untuk kategori bilangan 10 – 20, lebih tepatnya mengenai salah satu dari perkalian bilangan 16. Soal tersebut berbentuk soal perkalian biasa dimana anak didik langsung saja mengitung hasil perkalian tanpa harus memodelkan ke dalam bentuk matematika terlebih dahulu. Gambar 4.68 Jawaban anak didik nomor 4 Dari gambar 4.68, jawaban yang diberikan anak didik benar. Bukan hanya hasil yang dituliskan saja, tetapi terlihat dari proses penyelesaian terhadap persoalan yang dilakukan juga benar. Terlebih dahulu anak didik menggambar lego sebanyak 16 buah dengan masing-masing lego mempunyai 3 titik. Tidak hanya sekedar menggambar, tetapi anak didik juga memberikan keterangan nomor pada setiap lego bricks untuk menandakan urutan lego bricks tersebut dan memastikan jumlah lego bricks ada 16. Setelah menggambar, anak didik menghitung semua titik yang berada pada lego-lego tersebut dan diperoleh hasil 48. Hasil tersebut merupakan hasil dari perkalian 16 × 3. Hasil dari anak didik mengenai perkalian tersebut benar dimana 16 × 3 = 48. Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan seharihari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 Indikator 4 Terdapat pada soal nomor 1. Soal nomor 1 merupakan soal cerita yang berkaitan dengan bilangan kurang dari 10 atau dengan kata lain mengenai perkalian bilangan 1 – perkalian 9, lebih tepatnya salah satu perkalian dari bilangan 5. Sama halnya seperti pretest, soal yang berbentuk cerita dibacakan oleh peneliti. Soal tersebut diambil dari kehidupan sehari-hari, yaitu ayah membawa 5 plastik yang berisi buah jambu. Setiap plastik berisi

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 191 8 buah jambu. Berapakah jumlah jambu yang dibawa oleh ayah?. Gambar 4.69 Jawaban anak didik nomor 1 Pada gambar 4.69 terlihat bahwa anak didik dapat memahami makna yang ada dalam soal cerita. Proses penyelesaian yang ditulisakan anak didik sudah sesuai dan hasil dari perkalian tersebut dituliskan dengan benar dan tepat. Hal pertama yang dilakukan anak didik yaitu mengubah/memodelkan soal cerita tersebut menjadi bentuk perkalian matematika. Kemudian untuk melakukan perkalian, anak didik menerapkan konsep permainan lego bricks dimana terlihat bahwa anak didik menggambar jumlah lego dan titik lego sesuai dengan soal yang diberikan. Anak didik menggambar 8 titik lego bricks secara berulang sebanyak 5 kali, dalam kata lain masingmasing satu lego bricks mempunyai 8 titik. Hanya saja letak titik yang digambarkan pada lego 1 dan 2 berbeda dengan lego 3, 4 dan 5. Walaupun begitu titik – titik yang terdapat pada masing-masing lego bricks sudah tepat. Setelah itu, anak didik menghitung semua titik yang terdapat pada kelima lego bricks dan menuliskan angka 40 sebagai hasil yang diperolehnya. Jawaban yang diberikan benar, dimana 5 × 8 = 40. Indikator 5 Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan seharihari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) Terdapat pada soal nomor 2 dan 3. Karena kedua nomor memiliki indikator yang sama dan jawaban dari penyelesaian kedua soal yang ditulisakannya sama-sama bernilai salah, maka peneliti mengambil salah satu nomor dari hasil pekerjaan anak didik untuk dibahas. Peneliti mengambil soal nomor 2 yang digunakan sebagai data hasil penelitian. Soal nomor 2 berbentuk soal cerita mengenai bilangan 10 – 20. Lebih tepatnya mengenai salah satu dari perkalian bilangan 15. Soal tersebut berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti berikut: Pak Anto memelihara 15 ekor ayam. Ayam

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 192 memiliki 2 kaki. Jadi berapakah jumlah seluruh kaki ayam yang dipelihara pak Anto?. Gambar 4.70 Jawaban anak didik nomor 2 Dari gambar 4.70 terlihat bahwa anak didik menuliskan proses menyelesaikan persoalan tersebut dengan sangat tepat. Terlebih dahulu anak didik memaknai soal cerita dengan menuliskan model matematika yang berkaitan dengan perkalian. Setelah menuliskan model matematika untuk mempermudah apa yang ditanyakan, selanjutnya anak didik menghitung perkalian dari 15 × 2.Anak didik menggunakan konsep permainan lego bricks dengan menggambar lego bricks yang mempunyai 2 titik sebanyak 15 kali. Anak didik menggambar dengan jelas bahkan menuliskan keterangan angka pada masing-masing lego. Kemudian anak didik menghitung semua titik yang berada pada lego bricks dan hasil yang diperoleh merupakan hasil dari perkalian tersebut. Sehingga hasil dari perkalian 15 × 2 = 30 dan terlihat bahwa jawaban yang dituliskan anak didik untuk soal nomor 2 benar. 2) Anak Didik Dua Berbeda dengan pretest, anak didik dua dapat mengerjakan soal posttest dengan baik. Walaupun begitu waktu yang diperlukan anak didik untuk mengerjakan soal posttest lebih lama daripada ketika mengerjakan soal pretest. Anak didik juga lebih terstrutur dalam pengerjaannya. Selama pelaksanaan tes anak didik mengerjakan secara mandiri tanpa bertanya

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 193 dengan teman, tanpa melirik teman, dan tanpa menggunakan alat bantu. Pada saat mengerjakan posttest, anak didik menerapkan konsep permainan lego bricks yang diajarkan oleh peneliti sebagai guru sementara dengan menggambar lego di lembar jawabnya. Selain itu, satu nomor soal yang dikerjakan anak didik dengan menerapkan konsep perkalian menggunakan penjumlahan atau mengartikan perkalian sebagai penjumlahan berulang. Anak didik juga dapat memaknai bentuk soal cerita yang dibacakan peneliti dan memodelkan soal ke dalam model matematika. Walaupun begitu tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan baik, ada beberapa soal yang diisikan anak didik dengan sembarangan tanpa menuliskan proses penyelesaiannya. Hal tersebut dapat dilihat dari lembar yang dikerjakan anak didik. Dari pekerjaan anak didik, diperoleh hasil posttest yaitu 5 soal benar dengan point yang sempurna sedangkan 5 soal lagi bernilai salah dengan 1 soal mendapatkan point 3, 2 soal mendapatkan point 2, dan 2 soal tidak mendapatkan point. Berdasarkan 5 indikator soal diperoleh data posttest yang tertera pada tabel 4.7, sebagai berikut: Tabel 4.7 Hasil Penelitian Posttest Menurut Indikator Soal Indikator 1 Menyebutkan sifat-sifat operasi hitung perkalian bilangan asli.

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 194 Terdapat pada nomor 7 dan 8. Karena kedua nomor memiliki indikator yang sama dan jawaban dari penyelesaian kedua soal yang ditulisakannya sama-sama bernilai salah, maka peneliti mengambil salah satu nomor dari hasil pekerjaan anak didik untuk dibahas. Peneliti mengambil soal nomor 8 yang digunakan sebagai data hasil penelitian. Soal nomor 8 mengenai perkalian bilangan 1 – 20 yang berkaitan dengan salah satu sifat dari perkalain bilangan asli. Soal ini disajikan dalam bentuk mengisi bagian yang kosong atau rumpang, dilanjutkan dengan menentukan hasil dari perkalian. Selain itu, anak didik menuliskan sifat apa yang digunakan untuk soal perkalian tersebut. Gambar 4.71 Jawaban anak didik nomor 8 Dari gambar 4.71 anak didik dapat mengisi bagian yang rumpang dengan benar yaitu angka 2 berada di luar tanda kurung dan angka 3 berada di dalam tanda kurung. Sifat perkalian bilangan asli yang dituliskan anak didik juga benar yaitu sifat asosiatif. Hanya saja ketika melakukan operasi hitung perkalian, terlihat bahwa anak didik mengisikan jawaban tersebut seadanya tanpa menggunakan proses penyelesaian seperti jawaban-jawaban yang dituliskan pada nomor-nomor sebelumnya. Sama halnya dengan nomor 7 untuk menentukan hasil perkalian, anak didik tidak menerapkan konsep permainan lego bricks ataupun mengartikan perkalian sebagai penjumlahan berulang. Seharusnya hasil dari (2 × 4) × 3 = 2 × (4 × 3) = 2 × 12 = 24 bukan (2 × 4) × 3 = 2 × (4 × 3) = 17 × 2 = 16, sehingga hasil perkalian yang dituliskan anak didik salah. Menghitung perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 Indikator 2 Terdapat pada nomor 5, 6, dan 10. Ketiga nomor soal memiliki indikator yang sama, berkaitan dengan perkalian bilangan asli antara perkalian 1– 9 dan berbentuk perkalian biasa. Bedanya hanya terletak pada bilangan yang akan dihitung perkaliannya. Walaupun begitu satu jawaban dari ketiga soal yang dituliskan anak didik salah. Sehingga peneliti memilih dua dari tiga nomor soal yang digunakan sebagai contoh dari hasil pekerjaan anak didik untuk dibahas. Peneliti

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 195 mengambil soal nomor 5 dengan jawaban yang benar dan soal nomor 6 dengan jawaban yang salah, untuk digunakan sebagai data hasil penelitian. Soal nomor 5 mengenai salah satu dari perkalian bilangan 4. Soal tersebut merupakan soal perkalian biasa dimana anak didik langsung dapat menghitung perkalian tersebut tanpa harus memodelkan soal cerita ke bentuk matematika. Gambar 4.72 Jawaban anak didik nomor 5 Dari gambar 4.72 jawaban yang diberikan anak didik benar. Ketika menyelesaikan soal perkalian, anak didik menerapkan konsep permainan lego bricks dengan menggambar 4 buah lego bricks yang masing-masing lego memiliki 4 titik. Berbeda dengan jawaban dari nomor-nomor sebelumnya, anak didik tidak menuliskan nomor untuk setiap lego sebagai tanda bahwa banyaknya lego yang digambarkan sudah sesuai. Walaupun anak didik tidak menuliskan keterangan, tetapi banyaknya lego yang digambarkan sudah sesuai. Saat menentukan hasil perkalian yang dilakukan anak didik yaitu menghitung semua titik yang terdapat pada lego bricks. Anak didik memperoleh 16 titik secara keseluruhan dari 4 lego brikcs dengan masingmasing memiliki 4 titik lego. Hasil tersebut dinyatakan sebagai hasil perkalian dari 4 × 4 = 16. Menghitung perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) Indikator 3 Terdapat pada nomor 4 dan 9. Kedua nomor soal memiliki indikator yang sama, berkaitan dengan perkalian bilangan asli antara perkalian 10 – 20 dan berbentuk perkalian biasa. Bedanya hanya terletak pada angka. Walaupun begitu salah satu jawaban dari kedua soal tersebut bernalai salah. Sehingga peneliti memilih kedua nomor soal yang digunakan sebagai contoh dari hasil pekerjaan anak didik untuk dibahas. Peneliti mengambil soal nomor 4 dengan jawaban yang benar dan soal nomor 9 dengan jawaban yang salah, untuk digunakan sebagai data hasil penelitian.

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 196 Soal nomor 4 berkaitan dengan salah satu dari perkalian bilangan 16. Soal ini merupakan soal perkalian biasa dimana anak didik langsung dapat menentukan hasil perkalian sesuai dengan yang ditanyakan. Gambar 4.73 Jawaban anak didik nomor 4 Dari gambar 4.73, hasil dan proses penyelesaian yang dituliskan anak didik benar. Ketika menentukan hasil perkaslian, anak didik menerapkan konsep permainan lego bricks dengan menggambar 16 buah lego yang masing-masing lego terdiri dari 3 titik. Anak didik juga menuliskan nomor pada masing-masing lego. Setelah itu, anak didik menghitung semua titik yang terdapat pada lego-lego tersebut dan 48 titik yang ada pada 16 lego bricks. Hasil menghitung titik-titik lego tersebut dinyatakan sebagai hasil perkalian, sehingga dapat dituliskan bahwa hasil dari 16 × 3 = 48. Soal nomor 9 berkaitan dengan salah satu dari perkalian bilangan 10. Soal ini merupakan soal perkalian biasa dimana anak didik langsung dapat menentukan hasil perkalian sesuai dengan yang ditanyakan. Gambar 4.74 Jawaban anak didik nomor 9 Dari gambar 4.74, jawaban yang dituliskan anak didik salah. Terlihat dalam soal ini bahwa anak didik hanya sekedar mengisi jawaban saja tanpa menggunakan proses penyelasaian. Berbeda dengan jawaban-jawaban sebelumnya dari soal nomor 1 sampai 6, anak didik tidak menerapkan konsep permainan lego bricks ataupun mengartikan perkalian sebagai penjumlahan berulang. Apabila anak didik menerapkan konsep permainan lego bricks maka anak didik harus menggambar sebanyak 10 buah lego yang masing-masing lego terdiri dari 6 titik. Kemudian mengitung semua titik yang terdapat pada lego. Hasil perhitungan tersebut dinyatakan sebagai hasil dari perkalian, sehingga dapat dituliskan bahwa hasil dari 10 × 6 = 60.

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 197 Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan seharihari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 Terdapat pada soal nomor 1. Soal nomor 1 mengenai materi perkalian antara bilangan 1 – 9, tepatnya salah satu dari perkalian bilangan 5. Soal ini merupakan soal cerita yang diambil dari kehidupan sehari-hari, seperti berikut: ayah membawa 5 plastik yang berisi buah jambu. Setiap plastik berisi 8 buah jambu. Berapakah jumlah jambu yang dibawa oleh ayah?. Indikator 4 Gambar 4.75 Jawaban anak didik nomor 1 Dari gambar 4.75 terlihat bahwa jawaban yang dituliskan anak didik benar. Terlebih dahulu anak didik mengubah soal cerita ke dalam model matematika mengenai salah satu dari perkalian bilangan 5. Kemudian untuk menentukan hasil perkalian, anak didik menerapkan konsep permainan lego bricks dengan menggambar lego sebanyak 5 buah dan masing-masing lego bricks memiliki 8 titik. Gambar yang dibuat oleh anak didik sudah benar. Setelah itu, untuk memperoleh hasil dari perkalian hal yang dilakukan anak didik yaitu menghitung semua titik yang terdapat pada kelima lego tersebut. Ketika menghitung semua titik pada lego tersebut, diperoleh 40 titik. Sehingga dapat dinyatakan bahwa hasil dari 5 × 8 = 40. Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan seharihari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) Indikator 5 Terdapat pada soal nomor 2 dan 3. Karena kedua nomor memiliki indikator yang sama dan jawaban dari penyelesaian kedua soal yang ditulisakannya sama-sama bernilai salah, maka peneliti mengambil salah satu nomor dari hasil pekerjaan anak didik untuk dibahas. Peneliti mengambil soal nomor 2 yang digunakan sebagai data hasil penelitian.

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 198 Soal nomor 2 merupakan soal cerita yang berkaitan dengan perkalian 10 – 20 khusunya mengenai salah satu perkalian bilangan 15. Tidak berbeda dengan soal nomor 1, soal ini diangkat dari kehidupan sehari-hari seperti berikut: Pak Anto memelihara 15 ekor ayam. Ayam memiliki 2 kaki. Jadi berapakah jumlah seluruh kaki ayam yang dipelihara pak Anto?. Soal ini meminta anak didik untuk memaknainya dengan cara mengubah bentuk soal ke dalam model matematika. Gambar 4.76 Jawaban anak didik nomor 2 Dari gambar 4.76, jawaban yang diberikan anak didik sudah benar. Sama halnya seperti nomor 1, anak didik menerapkan konsep permainan lego bricks untuk menyelesaikan perkalian bilangan asli. Anak didik menggambar 15 buah lego bricks dengan masing-masing lego memiliki 2 titik. Tidak hanya itu, setiap lego bricks diberikan nomor 1 – 15, supaya banyaknya lego yang digambar sesuai dengan pertanyaan yang ada. Kemudian anak didik menghitung semua titik pada 15 lego bricks dan terdapat 30 titik dari 15 lego bricks tersebut. Hasil mengitung semua titik lego, dapat dinyatakan sebagai hasil dari perkalian. Sehingga dapat dinyatakan bahwa hasil dari 15 × 2 = 30. Apabila dikembalikan pada pertanyaan dari soel cerita tersebut maka jumlah seluruh kaki ayam yang dipelihara Pak Anto yaitu 30 kaki ayam. D. Pembahasan 1. Motivasi Belajar Salah satu hal yang sangat mempengaruhi kegiatan belajar dan pembelajaran yaitu motivasi belajar yang dimiliki anak didik. Penelitian yang dilakukan di kelas VII TgR SLB Negeri 1 Bantul menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai perkalian bilangan asli menggunakan

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 199 permainan lego bricks dapat meningkatkan motivasi belajar anak didik. Hal ini ditunjukkan oleh data yang diperoleh dari hasil lembar observasi aktivitas anak didik di kelas sebelum menggunakan permainan lego bricks dan saat menggunakan permainan lego bricks, serta hasil wawancara dengan kedua anak didik. Sebelum menggunakan permainan lego bricks dalam mempelajari perkalian bilangan asli, guru lebih sering menggunakan metode ceramah dan tanya jawab untuk menjelaskan perkalian bilangan asli dengan menerapkan konsep perkalian menggunakan penjumlahan. Akan tetapi, kegiatan tersebut membuat motivasi belajar anak didik kurang baik. Hal ini tercantum dalam lembar pengamatan dari 26 aspek yang diamati sesuai dengan indikator motivasi belajar, dari pertemuan pertama sampai dengan kedua sebelum menggunakan permainan lego bricks. Hasil pengamatan menyatakan bahwa saat pembelajaran anak didik satu tidak pernah bertanya kepada guru terkait dengan kesulitan yang dialami. Anak didik juga terkadang mencatat informasi-informasi penting yang disampaikan guru mengenai materi pembelajaran, sesuai dengan kemauannya saja. Hal tersebut tidak sesuai dengan salah satu indikator motivasi belajar yang menyatakan apabila anak didik memiliki kemauan yang kuat untuk berbuat sesuatu (Handoko, 1992: 59). Selain itu, anak didik tidak sering menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Hal ini terjadi karena anak didik tidak berani untuk mengemukakan pendapatnya di dalam kelas.

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 200 Kemudian pada pertengahan pembelajaran, terkadang anak didik melakukan kegiatan yang tidak berkaitan dengan pembelajaran seperti menggambar di buku tulis. Anak didik juga harus dipaksa terlebih dahulu untuk menyelesaikan soal yang berada di papan tulis dan terkadang respon yang diberikan anak didik setiap mengerjakan soal di papan tulis terlihat seperti lelah atau dengan kata lain menunjukkan sikap bermalasmalasan. Hal tersebut termasuk ke dalam indikator. Selama kegiatan observasi untuk dua kali pertemuan sebelum menggunakan permainan lego bricks, anak didik tidak pernah memanfaatkan waktu yang ada untuk berdiskusi dengan teman maupun guru. Selain itu ketika diberikan latihan soal, anak didik tidak pernah melihat atau bertanya kepada temannya. Hal ini termasuk dalam katergori lebih senang bekerja mandiri (Sardiman, 2014). Dari lembar observasi yang mencakup 26 aspek untuk diamati terkait dengan motivasi belajar pada pertemuan pertama dan kedua, anak didik satu memperoleh total skor yaitu 61 dan 67 dengan persentase skor yang diperoleh 58,6%, dan 64,4%. Berdasarkan persentase skor yang diperoleh dari masing-masing pertemuan menyatakan bahwa aktivitas anak didik yang ditinjau berdasarkan motivasi belajar memiliki intensitas sedang ketika mengikuti pembelajaran sebelum menggunakan permainan lego bricks. Sehingga dapat dinyatakan apabila anak didik masih memiliki motivasi belajar dan masih bisa mengikuti pembelajaran mengenai perkalian walaupun dengan tingkatan yang sedang.

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 201 Untuk anak didik dua, hasil lembar observasi menyatakan bahwa awal pembejaran anak didik sering mendengarkan dan memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan guru, tetapi pada saat pertengahan pembelajaran anak didik sering sibuk melakukan kegiatan lain yang tidak berkaitan dengan pembelajaran. Anak didik juga tidak pernah bertanya sama sekali dengan guru walaupun sedang mengalami kesulitan dalam mempelajari materi perkalian. Selama pembelajaran anak didik tidak sering menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Hal ini terjadi karena anak didik tidak berani untuk mengemukakan pendapatnya dan cenderung memperlihatkan sikap bermalas-malasan di dalam kelas. Ketika diberikan soal, anak didik tidak pernah menyelesaikan latihan soal tepat waktu sebaliknya anak didik selalu mengeluh saat diberikan soal terutama soal yang menurutnya sulit. Anak didik cenderung berhenti untuk mengerjakan dan menyelesaikannya bahkan anak didik suka mengalihkan pekerjaannya dengan menceritakan hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan materi pembelajaran dan yang diceritakan tersebut terkadang tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Respon yang ditunjukkan anak didik tersebut terlihat apabila anak didik tidak begitu antusias dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, selama kegiatan observasi untuk dua kali pertemuan sebelum menggunakan permainan lego bricks, anak didik tidak pernah memanfaatkan waktu yang ada untuk berdiskusi dengan teman maupun guru. Dari lembar observasi yang mencakup 26 aspek untuk diamati

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 202 terkait dengan motivasi belajar pada pertemuan pertama dan kedua, anak didik dua memperoleh total skor yaitu 36 dan 39 dengan persentase skor yang diperoleh 34,6%, dan 37,5%. Berdasarkan persentase skor yang diperoleh dari masing-masung pertemuan menyatakan bahwa aktivitas anak didik yang ditinjau berdasarkan motivasi belajar memiliki intensitas yang sangat rendah. Sehingga dapat dinyatakan apabila anak didik belum mempunyai motivasi belajar dalam mengikuti pembelajaran sebelum menggunakan permainan lego bricks. Sehingga hal ini mempengaruhi hasil belajar anak didik yang nilainya sangat kurang selama megikuti pembelajaran dengan guru. Sedangkan saat menggunakan permainan lego bricks dalam mempelajari perkalian bilangan asli, peneliti menggunakan metode pembelajaran seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, dan demosntrasi. Kegiatan pembelajaran dalam pekalian menggunakan permainan lego bricks membuat motivasi belajar kedua anak didik mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini tercantum dalam lembar observasi yang mencakup 26 aspek untuk diamati sesuai dengan indikator, pada pertemuan pertama sampai pertemuan kelima saat menggunakan permainan lego bricks dalam pembelajaran mengenai perkalian. Hasil dari lembar observasi untuk anak didik satu selama 5 kali pertemuan menggunakan permainan lego bricks menyatakan bahwa anak didik tidak malu lagi untuk mengungkapkan pendapatnya di kelas, bahkan anak didik selalu menjawab pertanyaan dari peneliti. Bukan

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 203 hanya itu saja, anak didik selalu mengerjakan soal yang ada di papan tulis dengan penuh percaya diri dan rasa berani yang ada di dalam dirinya tanpa paksaan dari peneliti. Ketika anak didik mengalami belum memahami materi perkalian menggunakan lego bricks ataupun memperoleh soal yang sulit, anak didik terkadang mengajukan pertanyaan mengenai kesulitan yang dihadapinya. Selain itu, anak didik sudah dapat mengaitkan pelajaran mengenai perkalian dengan kehidupan sehari-hari. Setiap peneliti menyampaikan informasi penting mengenai materi pembelajaran secara inisiatif anak didik mencatatnya di buku tulis. Dari lembar observasi yang mencakup 26 aspek untuk diamati terkait dengan motivasi belajar pada pertemuan pertama sampai dengan pertemuan kelima, anak didik satu memperoleh total skor masing-masing yaitu 79, 83, 87, 90 dan 94 dengan persentase skor yang diperoleh 76%, 79,8%, 83,6%, 86,5%, dan 90,4%. Berdasarkan persentase skor yang diperoleh dari masing-masing pertemuan menyatakan bahwa aktivitas anak didik yang ditinjau berdasarkan motivasi belajar memiliki intensitas tinggi sampai dengan sampai tinggi. Apalagi selama pertemuan, persentase skor yang dimiliki anak didik meningkat. Hal ini dapat dikatakan apabila anak didik memiliki motivasi belajar yang tinggi saat mengikuti pembelajaran mengenai perkalian bilangan asli menggunakan permainan lego bricks. Untuk anak didik dua, hasil lembar observasi menyatakan bahwa selama pembelajaran berlangsung, anak didik tidak pernah lagi

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 204 melakukan kegiatan diluar dari pembelajaran. Anak didik lebih fokus untuk mendengarkan dan memperhatikan materi yang disampaikan apalagi pada saat peneliti melakukan demonstrasi permainan lego bricks di depan anak didik untuk menyelsaikan contoh soal sembari menjelaskan langkah-langkah penggunaan lego bricks. Anak didik juga menjadi sering bertanya kepada peneliti terkait dengan permainana lego bricks. Tidak hanya itu, anak didik tidak pernah mengeluh kepada peneliti ketika diberikan latihan soal sekalipun soal tersebut sulit. Bahkan anak didik tetap berusaha mengerjakan soal perkalian tersebut dengan menggunakan permaianan lego bricks sampai selesai. Anak didik juga menunjukkan antusiasnya dalam mengikuti pembelajaran seperti menyatakan jika dirinya tidak sabar mengikuti pembelajaran berikutnya menggunakan permainan lego bricks. Dari lembar observasi yang mencakup 26 aspek untuk diamati terkait dengan motivasi belajar pada pertemuan pertama sampai dengan pertemuan kelima, anak didik dua memperoleh total skor masing-masing yaitu 74, 68, 83, 86 dan 89 dengan persentase skor yang diperoleh 71,1%, 65,4%, 79,8%, 82,7%, dan 85,6%. Berdasarkan persentase skor yang diperoleh dari masing-masing pertemuan menyatakan bahwa aktivitas anak didik yang ditinjau berdasarkan motivasi belajar memiliki intensitas sedang, tinggi, sampai dengan sangat tinggi. Skor yang dimiliki anak didik dari pertemuan kedua sampai dengan pertemuan kelima selalu meningkat bahkan dapat dikatakan jika persentase skor

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 205 meningkat. Sehingga dapat dinyatakan apabila anak didik memiliki motivasi belajar yang tinggi saat mengikuti pembelajaran mengenai perkalian bilangan asli menggunakan permainan lego bricks. Pernyataan tersebut semakin diperkuat dari data hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada masing-masing anak didik. Data hasil wawancara dari kedua anak didik menyatakan apabila pembelajaran mengenai perkalian bilangan asli dengan menggunakan permainan lego bricks menjadi lebih menyenangkan dan seru. Kedua anak didik juga tidak merasa bosan untuk mengikuti proses pembelajaran. Selain itu, penggunaan permainan lego bricks membuat anak didik menjadi tertarik untuk mempelajari perkalian. Sehingga anak didik merasa senang ketika diberikan soal mengenai perkalian terutama .Kedua anak didik juga menyatakan selain di sekolah, setiap malam mereka selalu belajar di rumah. Walaupun di rumah tidak mempunyai permainan lego bricks tetapi kedua anak didik tetap belajar perkalian dengan menerapkan konsep pemainan lego bricks. Berdasarkan lembar observasi aktivitas anak didik yang ditinjau dari motivasi belajar sebelum dan saat menggunakan permainan lego bricks dalam pembelajaran perkalian bilangan asli mengalami perbedaan yang cukup signifikan dari kedua anak didik. Selain itu, dari hasil wawancara peneliti dengan kedua anak didik terlihat jelas jawabanjawaban yang disampaikan anak didik bahwa lebih menyukai pembelajaran dengan menggunakan permainan lego bricks daripada

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 206 menerapakan konsep perkalian menggunakan penjumlahan. Sehingga motivasi belajar kedua anak didik saat menggunakan permainan lego bricks mengalami peningkatan dari sebelum menggunakan permainan lego bricks. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran mengenai perkalian bilangan asli menggunakan permainan lego bricks memiliki pengaruh terhadap motivasi belajar anak didik tunagrahita ringan kelas VII di SLB Negeri 1 Bantul. 2. Hasil Belajar Hasil belajar anak didik diketahui dengan memberikan pretest dan posttest. Pretest dilakukan sebelum anak didik mempelajari perkalian menggunakan permainan lego bricks. Pemberian pretest bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal anak didik terkait dengan perkalian bilangan asli antara bilangan 1 - 20. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa anak didik satu memperoleh nilai pretest sebesar 70 dan anak didik dua memperoleh nilai 10 untuk pretest. Hal ini terlihat dari kegiatan yang dilakukan anak didik selama pembelajaran di kelas bersama dengan guru. Pada lembar observasi untuk pertemuan pertama dan kedua sebelum menggunakan lego bricks, anak didik satu belum dapat memahami dan mempelajari sifat-sifat perkalian bilangan asli secara benar. Selain itu, anak didik juga masih mengalami kesalahan dalam menghitung perkalian bilangan asli antara perkalian bilangan 1 – 20. Kesalahan yang terjadi akibat ketidaktelitian anak didik saat menjumlahkan bilangan satu dengan yang lain. Anak didik belum dapat

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 207 menjumlahkan dengan bilangan yang bernilai besar sehingga sangat rentan sekali mengalami kesalahan. Sedangkan anak didik dua sama sekali tidak paham dengan penjelasan yang disampaikan oleh guru. Hal ini terbukti dari selama pembelajaran tanpa bimbingan guru secara terus menerus, anak didik belum dapat menyelesaikan perkalian bilangan asli antara perkalian bilangan 1 – 20 dengan menerapkan konsep perkalian menggunakan penjumlahan. Dikarenakan anak didik belum bisa melakukan penjumlahan dengan baik dan anak didik mengalami kebingungan untuk menuliskan maksud dari perkalian kedua bilangan sehingga anak didik tidak mengetahui langkah atau strategi apa yang harus dilakukannya untuk menyelesaikan perkalian bilangan asli. Selain itu, anak didik selama pembelajaran tidak mengikuti secara serius dan membuat materi yang disampaikan oleh guru tidak sampai kepada pemahamannya sehingga sangat mempengaruhi hasil belajarnya. Setelah mempelajari perkalian bilangan asli 1 – 20 menggunakan permainan lego bricks dengan peneliti, maka anak didik diberikan posttest. Tujuan diadakannya posttest untuk mengetahui hasil belajar anak didik mengenai perkalian bilangan asli setelah menggunakan permainan lego bricks dan menerapkan konsep permainan lego bricks. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa anak didik satu memperoleh nilai posttest sebesar 100 dan anak didik dua memperoleh nilai posttest sebesar 70. Hal ini terlihat dari aktivititas yang ditunjukkan anak didik selama 5 kali pembelajaran di kelas bersama dengan peneliti

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 208 menggunakan permainan lego bricks. Pada lembar observasi dari pertemuan pertama sampai dengan pertemuan kelima menggunakan permainan lego bricks, anak didik satu sudah dapat memahami sifat-sifat perkalian bilangan asli dengan sangat baik dan dapat menyebutkan sifatsifat perkalian tersebut dengan benar. Sehingga ketika terdapat persoalan mengenai sifat-sifat perkalian bilangan asli, anak didik dapat mengerjakan dengan benar dan tepat. Selain itu, anak didik dapat menghitnng perkalian dengan bilangan yang bernilai besar, hal tersebut terjadi karena terdapat benda konkret yang membantunya dalam berhitung dan tingkat ketidaktelitian yang ditimbulkan dapat diminimalisirnya. Sedangkan, selama pembelajaran menggunakan permainan lego bricks dari pertemuan pertama sampai dengan pertemuan kelima, anak didik dua mengalami perkembangan yang cukup drastis. Anak didik dua sudah dapat melakukan perkalian bilangan asli antara perkalian bilangan 1 – 20 dalam bentuk soal perkalian biasa ataupun soal cerita mengenai perkalian dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan permainan lego bricks dan menerapkan konsep permainan lego bricks. Selain itu, semakin memperkuat pemahamannya terhadap sifat – sifat perkalian bilangan asli. Anak didik juga tidak pernah mengeluh dan merasa lelah mengerjakan segala latihan soal yang diberikan dan dengan senang hati menyelesaikannya menggunakan permainan lego bricks.

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 209 Pembelajaran perkalian bilangan asli menggunakan permainan lego bricks, membuat kedua anak didik semangat untuk mempelajarinya. Ketika peneliti memberikan pertenyaan, kedua anak didik bersama-sama menjawabnya bahkan sampai berebut pertanyaan untuk dijawab. Selain itu, saat peneliti meminta salah satu anak didik untuk mengerjakan soal perkalian di papan tulis, tanpa perlu dipaksa anak didik menyelesaikannya dengan rasa percaya diri yang tinggi. Anak didik juga sangat antusias mengerjakan segala bentuk latihan soal perkalian di LKS ataupun lembar latihan soal menggunakan permainan lego bricks. Hal ini dapat dilihat dari ketepatan waktu yang ditunjukkan anak didik dalam menyelesaikan latihan perkalian tersebut dan anak didik tidak pernah lagi menunda pekerjaannya. Selanjutnya dalam menggunakan permainan lego bricks untuk penyelesaian soal perkalian, kedua anak didik selalu mengambil lego bricks dengan bermacam-macam warna dan bentuk. Selain itu, selalu meletakkan lego bricks sesuai dengan keinginanya dan membentuk hal – hal unik, berbeda, dan tidak monoton tetapi tetap membuatnya tidak kesulitan dalam berhitung. Proses pembelajaran perkalian saat menggunakan permainan lego bricks memiliki kondisi kelas yang berbeda saat sebelum menggunakan permainan lego bricks. Pembelajaran perkalian menggunakan permainan lego bricks memiliki kondisi kelas yang lebih aktif dalam belajar tetapi tidak mengalami kegaduhan, dan saat mengerjakan latihan soal juga keadaan menjadi lebih tenang. Selain itu ketika peneliti menjelaskan

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 210 materi perkalian, anak didik lebih memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama dan tidak melakukan hal-hal lain di luar pembelajaran. Kondisi kelas yang kondusif dan tidak monoton, membuat anak didik memiliki semangat belajar. Dari semangat belajar yang ditujukkan melalui aktivitas – aktivitas kedau anak didik yang telah dijelaskna, hal tersebut sangat mempengaruhi hasil belajarnya. Hal tersebut juga didukung dengan adanya faktor yang mempengaruhi hasil belajar menurut Dalyono (2007:55-60) yaitu faktor internal (yang berasal dari dalam diri), dan faktor eksternal (yang berasal dari luar diri) seperti kondisi kelas. Berdasarkan semua analisis yang dilakukan, diketahui bahwa nilai pretest dan posttest dari kedua anak didik sangat berbeda. Nilai posttest dari masing-masing anak didik lebih tinggi dibandingkan nilai pretest yang diperoleh masing-masing anak didik. Selain itu, selama pembelajaran anak didik banyak mengalami perubahan dalam diri dan mengalami peningkatan keinginan untuk belajar sehingga membuat hasil belajar anak didik juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Jadi, dari semua hasil analisis dapat disimpulkan bahwa pembelajaran mengenai perkalian bilangan asli menggunakan permainan lego bricks memiliki pengaruh terhadap hasil belajar anak didik tunagrahita ringan kelas VII di SLB Negeri 1 Bantul.

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 211 E. Temuan Lain Selama memberikan pembelajaran kepada anak tunagrahita ringan, banyak hal menarik yang tak dapat bisa dilupakan. Mengajar anak TgR tidak sama seperti mengajar anak umum lainnya. Peneliti harus lebih eksta dalam segi kesabaran, perhatian, bimbingan, kelembutan, pengertian dan keramahan. Satu hal juga yang paling penting yaitu harus dapat masuk ke dalam lingkupnya mereka. Hal ini bertujuan untuk membuat anak didik nyaman terhadap peneliti, ketika anak didik merasa nyaman secara disadari atau tidak disadari anak didik akan mencurahkan segala kemampuannya dan perhatiannya di dalam pembelajaran ataupun di luar pembelajaran. Contohnya yaitu anak didik akan lebih mengikuti pembelajaran tanpa paksaan dari orang lain. Walaupun begitu peneliti juga harus bersikap tegas ketika anak didik melakukan kesalahan yang fatal. Akan tetapi selama mengikuti proses pembelajaran, peneliti sama sekali tidak menemukan kesalahan perbuatan yang dilakukan mereka bahkan yang dilakukan mereka yaitu patuh kepada peneliti dan tidak pernah membuat kegaduhan sama sekali terutama saat pembelajaran berlangsung. Selain itu, segala tindakan yang dilakukan anak didik atas dasar kemauan anak didik itu sendiri, tanpa dipaksa, tanpa diberikan ketegasan, pembelajaran dapat mengikuti alur begitu saja dan berlangsung dengan sangat baik bahkan hasil yang mereka tunjukkan di luar pemikiran peneliti. Kejadian tersebut terjadi karena anak didik dapat menerima peneliti dengan baik, sehingga setiap perkataan positif yang disampaikan peneliti

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 212 kepada anak didik dapat mereka pikirkan bahkan lakukan dengan penuh sukacita. Tidak dipungkiri apabila selama mengajar di SLB peneliti merasa 3 kali lipat lebih sulit dari sebelumnya. Tetapi hal tersebut dapat terbayarkan begitu saja dengan melihat semangat belajar anak didik dan kemauan untuk berbuat hal yang positif. Respon yang diberikan anak didik bukan hanya ketika berada di dalam kelas saja tetapi di luar pembelajaran. Saat peneliti datang ke lingkungan sekolah, anak didik satu selalu tersenyum lebar sembari berjalan atau berlari mendekai peneliti dan mengulurkan tangannya kepada peneliti. Hal tersebut tidak hanya dilakukan sekali saja, tetapi setiap peneliti ke sekolah walaupun sekedar ingin bertemu dengan guru saja. Hal yang ditunjukkan anak didik, membuat peneliti kagum dan terharu bahkan saat peneliti merasa lessu atau apapun yang dirasakan peneliti dapat hilang begitu saja karena penyambutan anak didik kepada peneliti sangatlah sopan dan hangat sehingga menjadi keakraban peneliti bersama anak didik. Bukan hanya itu, keterbatasan yang mereka punya bukan menjadi suatu penghalang mereka untuk melakukan apapun sehingga anak didik selalu menunjukkan bahwa mereka bisa melakukan sesulit apapun itu. Anak didik melakukan itu untuk meraih mimpi yang mereka dambakan. Pada suatu hari, peneliti berbagi cerita dengan anak didik dan terdapat hal yang menarik dari cerita yang disampaikan mereka. Anak didik dua mengatakan alasannya untuk selalu belajar yaitu ingin lulus sekolah dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi seperti kuliah walaupun dia tau itu

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 213 sangat sulit baginya. Anak didik tersebut ingin sekali kuliah seperti kakaknya yang tidak punya keterbatasan. Hal tersebut dikarenakan anak didik ingin membuat ibunya bangga kepadanya dan menunjukkan kepada lingkungan sekitar bahwa apapun keterbatasan yang dimilikinya tidak membuat anak tersebut untuk menggampai impian seperti layaknya anak normal lainnya. Kejadian tersebut semakin menyadarkan peneliti bahwa setiap orang sangat diperbolehkan punya impian dan bisa menjadi orang yang sukses seperti apa yang diimpikan asalkan harus dengan usaha apalagi tidak memandang keterbatasan yang dimilikinya. Pengalaman yang diperoleh peneliti menjadi sebuah pembelajaran tersendiri untuk peneliti supaya tetap berusaha dan tidak putus asa terhadap keadaan dan situasi apapun Pengalaman mengajar di SLB merupakan pengalaman yang sangat berkesan dalam hidup peneliti dan secara tidak langsung membuat peneliti bangga karena bisa memberikan ilmu kepada mereka. Bukan hanya mendapatkan pengalaman mengajar, tetapi peneliti juga mendapatkan pembelajaran kehidupan yang sangat berarti sebagai bekal menggapai kesuksesan yang sedang menanti. Untuk membuat mereka dapat menerima peneliti tidak semudah yang dibayangkan, peneliti harus melakukan observasi pra skripsi selama kurang lebih 3 bulan dimulai dari bulan Juli. Tetapi hal tersebut tidak menjadikan peneliti menyesal untuk mengajar di SLB bahkan jika diberikan kesempatan kembali peneliti bersedia melakukannya dengan penuh kebahagian yang tak akan cukup diungkapkan melalui kata dan kalimat.

(234) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 214 F. Keterbatasan Penelitian ini memiliki keterbatasan, seperti berikut: 1. Ada beberapa penelitian yang dilakukan tidak sesuai dengan waktu pelaksanaan penelitian yang telah disusun saat mengajukan proposal. Hal tersebut terjadi karena penyesuaian terhadap jadwal, situasi, serta kondisi berada di lapangan. 2. Ruangan yang tidak besar dan tergabung dengan laboratorium komputer cenderung membuat proses pembelajaran menjadi kurang nyaman. Apalagi ketika kelas lain melaksanakan pembelajaran di laboratorium komputer, suara yang ditimbulkan terlalu kencang dan anak didik lain dari kelas tersebut mengintip dari jendela ataupun pintu bahkan membuat kehebohan dengan bersikap yang kurang baik. Hal tersebut terkadang mengganggu konsentrasi anak didik kelas VII TgR saat pembelajaran berlangsung. Tidak hanya itu, hal tersebut juga berpengaruh dalam pengambilan foto yang sesuai kebutuhan penelitian dengan spot yang sangat terbatas. 3. Dalam melakukan kegiatan wawancara, peneliti mengalami kesulitan yang berbeda saat mewawancarai kedua anak didik. Anak didik satu dapat memahami pertanyaan dari peneliti hanya saja ketika menjawab pertanyaan, anak didik tersebut kesulitan dalam berbicara dan merangkai sebuah kata. Alhasil untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, peneliti memberikan sebuah pertanayaan yang berkaitan dengan perkalian bilangan asli dan meminta anak didik mengerjakannya. Tidak hanya itu

(235) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 215 peneliti menggunakan pilihan ganda pada beberapa pertanyaan, supaya anak didik tidak bingung dan dapat memberikan jawabannya. Walaupun tidak mendapatkan secara keseluruhan tetapi hal tersebut dapat meringankan peneliti untuk mendapatkan infromasi. Sedangkan mewawancarai anak didik dua, peneliti menggunakan kalimat sesederhana mungkin untuk setiap pertanyaan dan menerapkan cara yang sama digunakan saat mewawancari anak didik satu. Selain itu, apabila pertanyaan-pertanyaan yang diberikan peneliti belum terjawab oleh anak didik yang dilakukan peneliti yaitu memberikan pertanayaan yang sama dengan mengikuti alur perkataannya sebelum menuju ke pertanyaan yang sebenarnya. Hal ini dilakukan karena terdapat beberapa pertanyaan dimana jawaban anak didik tidak sesuai dengan pertanyaan yang diberikan peneliti dan cenderung memberikan jawaban sama yang sebelumnya sudah dikatakan untuk pertanyaan yang sebelumnya.

(236) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan pelaksanaan penelitian, hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Motivasi belajar kedua anak didik menggunakan permainan lego bricks dan menerapkan konsep permainan lego bricks dalam mempelajari perkalian bilangan asli mengalami peningkatan dari sebelum menggunakan permainan lego bricks. Hal ini terlihat dari hasil lembar observasi aktivitas belajar anak didik, dan wawancara. Selain itu, perubahan kedua anak didik yang sudah bisa melakukan perkalian bilangan asli antara 1-20. Jadi, dapat dinyatakan bahwa pembelajaran menggunakan lego bricks mempunyai pengaruh yang baik terhadap motivasi belajar anak didik tunagrahita ringan kelas VII di SLB Negeri 1 Bantul. 2. Hasil belajar anak didik terhadap perkalian bilangan asli menggunakan permainan lego bricks dan menerapkan konsep permainan lego bricks mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari nilai pretest dan nilai posttest anak didik satu yaitu 70 dan 100. Sedangkan nilai pretest dan nilai posttest anak didik dua yaitu 10 dan 70. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa pembelajaran menggunakan lego bricks mempunyai i

(237) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 217 pengaruh yang baik terhadap hasil belajar anak didik tunagarhita ringan kelas VII di SLB Negeri 1 Bantul. B. Saran Berdasaran hasil penelitian dan kesimpulan yang telah diuraikan peneliti diatas, peneliti ingin memberikan beberapa saran yang dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi pihak-pihak yang berkepentingan khususnya yang ingin mengembangkan penelitian berkaitan dengan permainan lego bricks terhadap motivasi belajar dan hasil belajar perkalian bilangan asli untuk anak tunagrahita ringan kelas VII sebagai berikut: 1. Kepada Guru Matematika Guru matematika dapat menerapkan dan menggunakan permainan lego bricks sebagai alat bantu berhitung pada materi untuk pembelajaran matematika di SLB ataupun sekolah dasar supaya menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, kreatif, dan aktif. Selain itu dapat membantu mempermudah anak didik untuk memahami materi yang ada pada matematika dengan jelas terutama yang berkaitan dengan operasi hitung bilangan asli. 2. Kepada Calon Peneliti Dengan Penelitian Serupa Sebelum penelitian sebaiknya calon peneliti lebih mendekatkan diri kepada anak didik dan memahami karakteristik dari masing-masing anak didik dengan cara melakukan obserasi secara mendalam. Selain itu, calon peneliti diharapkan dapat mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan

(238) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 218 dengan penelitian secara matang dan detail, supaya penelitian yang dilaksanakan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan. Selama penelitian, calon peneliti diharapkan sering berkomunikasi dengan guru akademik (matematika) seputar anak didik ataupun segala informasi mengenai kegiatan sekolah. Calon peneliti juga diharapkan dapat mengembangkan penelitian mengenai permainan lego bricks yang dapat digunakan atau diterapkan dalam pembelajaran yang berkaitan dengan materi lainnya contohnya seperti operasi hitung penjumlahan bilangan bulat atau bilangan asli, operasi hitung pengurangan bilangan bulat atau bilangan asli, operasi hitung pembagian bilangan bulat atau bilangan asli. Tidak hanya itu, dapat juga digunakan untuk materi geometeri (dimensi dua atau bangun datar) walaupun terbatas yaitu untuk menghitung keliling dan luas persegi panjang dan persegi.

(239) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman, Mulyono. 1994. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Amin Siti, M., dan M. Sani Amin. 2004. Matematika SD di sekitar kita untuk sekolah dasar kelas IV semester 1. Jakarta: Esis. Amin, Moh. 1995. Ortopedagogik Anak Tunagrahita. Bandung: Depdikbud. Amir, Zubaidah., dan Risnawati. 2016. Psikologi Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Aswaja Pressindo. Astati. 2001. Persiapan Pekerjaan Penyandang Tunagrahita. Bandung: Pendawa. Aunurrahman. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabetta. Basrowi., dan Suwandi. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta. Bryam, Michael., and Adelheid Hu. 2013. Routledge Encyclopedia Of Laguage Teaching and Learning. New York: Routledge. Dalyono. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Djamarah, Syaiful Bahri. 2009. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Dudeja, Ved., dan V. Madhavi. 2013. Jelajah Matematika 1 SMP Kelas VII. Jakarta: Yudhistira. Efendi, Mohammad. 2006. Psikopedagogik Anak Berkelainan. Jakarta: Bumi Aksara. Gunawan, Imam. 2014. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik. Jakarta: Bumi Aksara. Hamalik, Oemar. 2013. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Handoko, T. Hani. 1992. Manajemen personal dan sumber daya manusia, edisi kedua, cetak ke empat. Penerbit Yogyakarta: UGM. Herdiansyah, Haris. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu sosial. Jakarta: Salemba Humanika. Herdiansyah, Haris. 2015. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu Psikologi. Jakarta: Salemba Humanika. i

(240) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 220 Jihad, Asep., dan M. Abdul Haris. 2012. Evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo. Jihad, Asep., dan M. Abdul Haris. 2013. Evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo. Khafid Kasri, M., dan Gunanto. 2008. Matematika Aktif untuk Sekolah Dasar Kelas III. Jakarta: Esis. Khairani, H. Makmun. 2014. Psikologi Belajar. Yogyakarta: Aswaja. Khobir, Abdul. Upaya Mendidik Anak Melalui Permainan Edukatif. Forum tarbiyah Vol.7 No.2 (2009) Kunandar. 2014. Penilaian auntentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013). Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada. Mangunsong, F,. 2009. Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Jilid I. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Kampus Baru UI, Depok. Marsigit. 2009. Matematika SMP Kelas VII. Jakarta: Yudhistira. Mustaqim, H,. 2008. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Nana, Sudjana. 2004. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Narbuko, Cholid., dan Abu Achmadi. 2007. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara. Negoro, ST., dan B. Harahap. 2014. Ensiklopedia Matematika. Bogor: Ghalia Indonesia. Nursyaida. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Peserta Didik. Jurnal Pendidikan Agama Islam IAIN-Padang (2014) Nur, Haerani. Membangun Karakter Anak Melalui Permainan Anak Tradisional. Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun III, No.1 (2013) Prawira, Purwa Atmaja. 2016. Psikologi Pendidikan dalam Perspektif baru. Jogjakarta: Ar-ruzz Media. Putri, Ni Putu Ratna Udyani, Putu Aditya Antara, Luh Ayu Tirtayani. Pengaruh Permainan Konstruktif Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Kelompok A2 Rabaitulmutaallim Tegalinggah Singaraja. e-Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Vol.4. No.3 (2016) Riduwan. 2007. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Bandung: Alfabeta.

(241) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 221 Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana. Sardiman, A. M,. 2014. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers. Somantri, S,. 2007. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT. Refika Aditama. Sugiyono. 2018. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi. Bandung: Alfabeta. Suprihatin, Siti. Upaya Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan Ekonomi UM Metro, 2442-9449 Vol.3.No.1 hal 73-82 (2015) Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: PT. Kharisma Putra Utama. Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Utami, Arsanti Dwi. Meningkatkan keterampilan siswa kelas IV dalam menentukan hasil perkalian suatu bilangan dengan satu angka melalui metode pembiasan perkalian satu angka. Jurnal PINUS Vol.1,No.3 (2015) Uno, H. Hamzah. B. 2011. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Wahab, Romalina. 2015. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Pustaka. Wibowo, Singgih S., 2012. Matematika Menyongsong OSN SMP. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wikasanti, Esthy. 2014. Pengembangan Life Skill untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Maxima.

(242) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN i

(243) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 223 LAMPIRAN I 1.1 Surat Izin Penelitian dari Kampus 1.2 Surat Izin Penelitian dari KESBANGPOL 1.3 Surat Izin Penelitian dari DIKPORA 1.4 Surat Keterangan Pelaksanaan Penelitian dari SLB Negeri 1 Bantul

(244) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 224 SURAT IZIN PENELITIAN 1.1 Surat Izin Penelitian dari Kampus

(245) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 225 1.2 Surat Izin Penelitian dari KESBANGPOL

(246) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 226 1.3 Surat Izin Penelitian dari DIKPORA

(247) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 227 1.4 Surat Keterangan Pelaksanaan Penelitian dari SLB Negeri 1 Bantul

(248) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 228 LAMPIRAN II 2.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) Satuan Pendidikan : SLB Negeri 1 Bantul Tema/subtema : Mengenal cuaca dan musim/iklim Mata Pelajaran : Matematika Kelas/Semester : Tema Bab : Operasi Hitung Bilangan Asli Sub Tema Bab : Operasi Perkalian Bilangan Asli Alokasi Waktu : 5 Pertemuan (5 x 70 menit) VII Tunagrahita Ringan/1 Kompetensi Inti (KI) 1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya 2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru 3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati, mendengar, membaca dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah 4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia A. Kompetensi Dasar dan Indikator Kompetensi Dasar 3.1 Memahami sifat – sifat operasi hitung bilangan asli melalui pengamatan pola penjumlahan dan Indikator 3.1.1 Menyebutkan sifat operasi hitung perkalian bilangan asli

(249) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 229 perkalian 4.1 Menuliskan sifat – sifat operasi hitung bilangan asli melalui pengamatan pola penjumlahan dan perkalian 4.1.1 4.1.2 4.1.3 4.1.4 Menghitung perkalian 1 sampai perkalian 9 dengan menggunakan permainan lego bricks Menghitung perkalian 10 sampai perkalian 20 dengan menggunakan lego bricks dimulai dari bilangan satuan dengan satuan Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 1 sampai dengan 9, menggunakan permainan lego bricks Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya), menggunakan permainan lego bricks B. Tujuan Pembelajaran 1. Melalui penjelasan dari guru, permasalahan yang diberikan, tanya-jawab, dan berdiskusi, anak didik diharapkan mampu menyebutkan sifat-sifat operasi hitung perkalian bilangan asli dengan aktif 2. Melalui penjelasan dari guru, kegiatan permainan lego bricks, permasalahan yang diberikan, tanya-jawab, dan berdiskusi, anak didik diharapkan mampu menghitung perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 secara aktif dan bertangggungjawab 3. Melalui penjelasan dari guru, kegiatan permainan lego bricks, permasalahan yang diberikan, tanya-jawab, dan berdiskusi, anak didik diharapkan mampu menghitung perkalian 10 sampai dengan perkalian 20

(250) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 230 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) secara aktif dan bertangggungjawab 4. Melalui penjelasan dari guru, kegiatan permainan lego bricks, permasalahan yang diberikan, tanya-jawab, dan berdiskusi, anak didik diharapkan mampu menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 secara bertanggungjawab dan kritis 5. Melalui penjelasan dari guru, kegiatan permainan lego bricks, permasalahan yang diberikan, tanya-jawab, dan berdiskusi, anak didik diharapkan mampu menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) secara bertanggungjawab dan bekerja keras. B. Materi Ajar (Terlampir) Menurut Ved Dudeja dan V. Madhavi (2013: 1), bilangan adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan kuantitas (banyak, sedikit) dan ukuran (berat, ringan, panjang, pendek) suatu objek. Sedangkan bilangan asli adalah himpunan bilangan yang terdiri atas 1,2,3, … dimana bilangan ini digunakan untuk berhitung (Singgih S. Wibowo, 2010: 2). Bilangan asli disebut juga sebagai bilangan hitung yang umumnya dinyatakan dengan simbol ℕ. Contoh himpunan bilangan asli dapat dinotasikan sebagai berikut: ℕ = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, … }. C. Pendekatan, Model dan Metode Pembelajaran Pendekatan : Kontekstual Model Pembelajaran : Kontekstual Metode Pembelajaran : Ceramah, tanya jawab, diskusi dan demonstrasi

(251) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 231 D. Langkah-langkah Kegiatan Pertemuan Pertama : 2 JP ( 2 x 35 menit ) Indikator yang dikembangkan : 3.1.1 dan 4.1.1 Kegiatan Pendahuluan Kegiatan Guru Kegiatan Anak Didik Alokasi Waktu 1. Mengawali kegiatan 1. Menjawab salam dan pembelajaran dengan kabar 5 menit memberikan salam, dan 2. Menjawab menanyakan kabar anak pertanyaan dari guru didik 3. Memperhatikan penjelasan dari guru 2. Mengecek kehadiran saat menyampaikan anak didik topik atau materi pembelajaran, Apersepsi 3. Memberikan pertanyaan metode pembelajaran, dan seputar operasi hitung tujuan pembelajaran perkalian bilangan asli. Contohnya: berapa hasil 4. Menyiapkan pembelajaran perkalian dari 2 × 3?. Hal ini dilakukan guru untuk mengetes apakah anak didik masih ingat cara mengerjakan perkalian menggunakan konsep penjumlahan secara manual dengan tepat 4. Menyampaikan materi atau topik pembelajaran hari ini kepada anak didik yaitu mengenai perkalian bilangan asli (perkalian 1 – 9 ) dengan metode pembelajaran demonstrasi, dimana anak didik diminta memperagakan atau menggunakan alat bantu berupa permainan untuk membantu proses pembelajaran 5. Menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu melalui penjelasan dari guru, kegiatan permainan lego bricks, permasalahan yang diberikan, tanya-jawab,

(252) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 232 Kegiatan Kegiatan Guru Kegiatan Anak Didik Alokasi Waktu dan berdiskusi, anak didik diharapkan mampu menghitung perkalian 1 – 9 dengan secara aktif dan bertanggungjawab 6. Menjelaskan kegiatan pembelajaran yaitu anak didik mengerjakan LKS mengenai perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 dengan menggunakan permainan. Inti 1. Menanyakan kepada anak didik tentang macam-macam alat bantu yang dapat digunakan untuk melakukan perkalian bilangan asli. Misalkan: Apa saja alat bantu yang dapat digunakan untuk mempermudah melakukan perkalian bilangan asli? 2. Memberitahukan beberapa permainan atau alat bantu apa saja yang dapat digunakan untuk melakukan perkalian bilangan asli, dengan menunjukkan beberapa gambar seperti gambar permainan ular tangga yang didalamnya terdapat angka – angka, kartu domino bertuliskan angka, dan congkak 3. Memperkenalkan permainan lego bricks kepada anak didik. Contohnya seperti lego bricks adalah sebuah permainan bongkar pasang yang beraneka warna dan mempunyai 1. Menjawab pertanyaan dari guru mengenai macammacam alat bantu yang dapat digunakan untuk perkalian bilangan asli dengan dibimbing oleh guru 2. Mendengarkan dan memperhatikan pernyataan guru 3. Mendengarkan, 55 menit memperhatikan penjelasan dari guru dengan ikut mempraktekkan pada masing-masing lego bricks yang telah dibagikan sebelumnya 4. Mencatat atau menggarisbawahi rangkuman mengenai sifat dari operasi hitung perkalian bilangan asli yang ada pada LKS 5. Menerapkan penjelasan dari guru dan menyelesaikan contoh soal perkalian bilangan asli satuan

(253) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 233 Kegiatan Kegiatan Guru Kegiatan Anak Didik banyak titik yang berbeda-beda. 4. Membagikan lembar kerja siswa (LKS), lego bricks dan alas lego kepada setiap anak didik 5. Menjelaskan dan memperagakan cara bermain lego bricks dalam melakukan operasi hitung perkalian 1 sampai perkalian 9 dengan mengambil contoh yang terdapat pada LKS. Hal ini dikarenakan supaya anak didik juga dapat memperhatikan lewat instruksi yang sudah tersedia di LKS, hanya saja diperjelas kembali oleh guru. Misalkan: hitung perkalian 9 × 2. Hal pertama yang dilakukan guru yaitu mengambil lego bricks dengan 2 titik di atas kepala brick, dilakukan secara berulang sebanyak 9 kali (boleh sama warna ataupun beda warna). Setelah itu, guru menaruh dan memasang lego bricks tersebut ke alas lego secara berdekatan. Kemudian guru menghitung banyaknya titik-titik yang berada pada lego bricks tersebut, dalam hal ini terdapat 18 titik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil dari perkalian 9 × 2 = 18 dengan satuan menggunakan permainan lego bricks 6. Mengerjakan LKS dengan bimbingan dari guru untuk menerapkan permainan lego bricks sebagai alat bantu menyelesaikan soal-soal perkalian tersebut 7. Membahas pekerjaannya dengan dibantu oleh guru Alokasi Waktu

(254) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 234 Kegiatan Kegiatan Guru Kegiatan Anak Didik Alokasi Waktu 6. Meminta masingmasing anak didik untuk mempraktekan sendiri permainan lego bricks yang sudah disediakan, dengan menggunakan contoh dari salah satu soal yang ada pada pretest. Contohnya: hitung perkalian dari 3 × 3! 7. Menjelaskan sifat-sifat yang ada pada operasi hitung perkalian bilangan asli seperti sifat tertutup, sifat komutatif, asosiatif, distributif, dan mempunyai elemen identitas 8. Meminta anak didik untuk membaca dan melihat kembali LKS, lalu mengerjakan soal– soal yang ada di LKS 9. Membantu anak didik mengerjakan latihan soal yang ada di LKS dengan menggunakan permainan lego bricks 10. Membahas pekerjaan anak didik secara bersama-sama. Penutup 1. Menanyakan kesan 1. Menjawab 10 menit pertama anak didik pertanyaan dari guru setelah menggunakan dengan dan menerapkan menyampaikan permainan lego bricks kesan setelah dalam proses pemmengikuti belajaran. Misalkan pembelajaran pembelajaran 2. Melakukan refleksi menggunakan pembelajaraan permainan lego bricks secara bersama-sama menjadi menarik dan dengan guru asyik 3. Menjawab salam. 2. Mengajak anak didik untuk merefleksikan hasil yang didapatkan

(255) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 235 Kegiatan Kegiatan Guru Kegiatan Anak Didik Alokasi Waktu selama melakukan kegiatan pembelajaran hari ini. Misalkan: pada pembelajaran hari ini, penerapan permainan lego bricks dapat membantu dan mempermudah dalam berhitung ketika mendapatkan angka dengan jumlah yang besar 3. Menyampaikan rasa terima kasih karena kegiatan pembelajaran berjalan dengan lancar 4. Menyampaikan salam. Pertemuan Kedua : 2 JP ( 2 x 35 menit ) Indikator yang dikembangkan : 3.1.1 dan 4.1.3 Kegiatan Kegiatan Guru Pendahuluan 1. Mengawali kegiatan pembelajaran dengan memberikan salam, dan menanyakan kabar anak didik 2. Mengecek kehadiran anak didik Apersepsi 3. Menanyakan kembali tentang pembelajaran pada pertemuan sebelumnya yaitu mengenai perkalian 1 sampai 9 menggunakan permainan lego bricks beserta sifat-sifatnya. Misalkan: bagaimana cara menyelesaikan perkalian 2 × 2 dengan Kegiatan Anak Didik Alokasi Waktu 1. Menjawab salam 2. Memperhatikan 10 menit penjelasan dari guru saat menyampaikan topik atau materi pembelajaran, metode pembelajaran, serta tujuan pembelajaran 3. Menyiapkan pembelajaran

(256) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 236 Kegiatan Kegiatan Guru Kegiatan Anak Didik menggunakan lego bricks? 4. Menyampaikan materi atau topik pembelajaran hari ini kepada anak didik yaitu mengenai perkalian 1 – 9 yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan metode pembelajaran demonstrasi 5. Menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu melalui penjelasan dari guru, kegiatan permainan lego bricks, permasalahan yang diberikan, tanya-jawab, dan berdiskusi, anak didik diharapkan mampu menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari mengenai operasi hitung perkalian 1 – 9 secara bertanggungjawab dan kritis 6. Menjelaskan kegiatan pembelajaran yaitu anak didik dibagikan LKS kemudian diminta utnuk menyelesaikan persoalan yang terdapat pada LKS tersebut dengan menggunakan dan menerapkan permainan lego bricks. Inti 1. Membagikan lembar kerja siswa (LKS), lego bricks dan alas lego kepada setiap anak didik 2. Menjelaskan dan memperagakan cara bermain lego bricks untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari pada operasi 1. Menerima LKS, lego bricks dan alas lego yang dibagikan oleh guru 2. Mendengarkan, memperhatikan penjelasan dari guru dengan ikut mempraktekkan pada Alokasi Waktu

(257) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 237 Kegiatan Kegiatan Guru hitung perkalian 1 – 9 dengan mengambil contoh yang terdapat pada LKS. Misalkan: Pak Andi menjual 5 sangkar burung. Di dalam masing-masing sangkar tersebut terdapat 3 ekor burung beo. Berapakah total burung beo yang dijual oleh Pak Andi?. Hal pertama kali yang dilakukan guru adalah mengubah soal cerita tersebut menjadi soal yang sederhana seperti me-nuliskan dalam bentuk matematika yaitu 5 × 3. Selanjutnya guru melakukan prosedur yang sama seperti pada pertemuan sebelumnya 3. Memberikan contoh soal kemudian meminta anak didik untuk mencoba permainan lego bricks dengan menyelesaikan contoh soal tersebut. Contoh soal diambil dari salah satu soal pretest yang berbentuk soal cerita. Contohnya yaitu terdapat 7 mobil pick up yang terparkir di lapangan sepak bola. Jika setiap mobil membawa 6 keranjang sayur. Berapakah total keranjang yang dibawa oleh mobil-mobil pick up tersebut? 4. Meminta anak didik untuk membaca dan melihat kembali LKS, lalu mengerjakan soal– soal yang ada di LKS Kegiatan Anak Didik Alokasi Waktu masing-masing lego bricks yang telah dibagikan sebelumnya 50 menit 3. Menerapkan penjelasan guru dan menyelesaikan contoh soal perkalian bilangan asli satuan dengan satuan menggunakan permainan lego bricks 4. Mengerjakan LKS dengan bimbingan dari guru untuk menerapkan permainan lego bricks sebagai alat bantu menyelesaikan soal-soal perkalian tersebut 5. Membahas LKS secara bersama-sama dengan guru

(258) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 238 Kegiatan Kegiatan Guru Kegiatan Anak Didik Alokasi Waktu 5. Membantu anak didik mengerjakan LKS dengan menggunakan permainan lego bricks 6. Membahas persoalan yang terdapat pada LKS dengan cara berinteraksi dengan anak didik. Penutup 1. Membantu anak didik untuk menyimpulkan pembelajaran mengenai perkalian bilangan asli. Contohnya: untuk menyelesaikan persoalan pada kehidupan seharihari mengenai perkalian bilangan asli, hal pertama yang harus dilakukan yaitu mengubah soal ke dalam bentuk matematika kemudian menggunakan dan menerapkan permainan lego bricks untuk membantu berhitung 2. Mengajak anak didik untuk merefleksikan hasil yang didapatkan selama melakukan kegiatan pembelajaran hari ini. Misalkan: pembelajaran hari ini, mengajarkan betapa pentingnya perkalian dalam kehidupan seharihari dan pengetahuan yang didapatkan berguna untuk diterapkan dalam menyelesaikan perkalian di kehidupan nyata 3. Menanyakan kesulitan yang dihadapi anak didik ketika pembelajaran meng-gunakan permainan lego bricks 4. Mengucapkan rasa terima kasih karena 1. Menyimpulkan pembelajaran dengan dibantu oleh guru 2. Melakukan refleksi pembelajaran secara bersama-sama dengan guru 10 menit 3. Menjawab salam.

(259) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 239 Kegiatan Kegiatan Guru Kegiatan Anak Didik Alokasi Waktu proses kegiatan pembelajaran berjalan dengan lancar 5. Menyampaikan salam. Pertemuan Ketiga : 2 JP ( 2 x 35 menit ) Indikator yang dikembangkan : 3.1.1 dan 4.1.2 Kegiatan Pendahuluan Kegiatan Guru Kegiatan Anak Didik Alokasi Waktu 1. Mengawali kegiatan 1. Menjawab salam pembelajaran dengan 2. Memperhatikan 5 menit memberikan salam, dan penjelasan guru saat menanyakan kabar anak menyampaikan didik tujuan pembelajaran 2. Mengecek kehadiran 3. Menyiapkan anak didik pembelajaran Apersepsi 3. Menanyakan kembali mengenai pembelajaran pada pertemuan sebelumnya yaitu perkalian 1 – 9 dalam penerapan di kehidupan sehari-hari. Misalkan: sebutkan langkahlangkah dalam menggunakan permainan lego bricks saat mengerjakan soal cerita? 4. Menyampaikan materi atau topik pembelajaran hari ini kepada anak didik yaitu mengenai perkalian bilangan asli (perkalian 10 sampai perkalian 20) dengan metode pembelajaran demonstrasi 5. Menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu melalui penjelasan dari guru, kegiatan permainan lego bricks,

(260) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 240 permasalahan yang diberikan, tanya-jawab, dan berdiskusi, anak didik diharapkan mampu menghitung perkalian 10 sampai perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) secara aktif dan bertangggungjawab 6. Menjelaskan kegiatan pembelajaran Inti 1. Membagikan lembar 1. Menerima LKS, lego kerja siswa (LKS), lego bricks, dan alas lego bricks dan alas lego yang diberikan oleh kepada setiap anak didik guru 2. Menjelaskan dan 2. Mendengarkan, memperagakan cara memperhatikan bermain lego bricks penjelasan dari guru dalam melakukan dengan ikut memoperasi hitung perkalian praktekkan pada 10 – 20 (perkalian satuan masing-masing lego dengan puluhan dan bricks yang telah disebaliknya) dengan bagikan sebelumnya mengambil contoh yang 3. Menerapkan 55 menit terdapat pada LKS. penjelasan guru dan Misalkan: hitung menyelesaikan contoh soal perkalian perkalian 18 × 3. Hal bilangan asli satuan pertama yang dilakukan dengan satuan mengguru yaitu mengambil gunakan permainan lego bricks dengan 3 titik lego bricks di atas kepala brick, dilakukan secara 4. Mengerjakan LKS dengan bimbingan berulang sebanyak 18 dari guru untuk kali (boleh sama warna menerapkan ataupun beda warna). permainan lego Setelah itu, guru bricks sebagai alat menaruh dan memasang bantu menyelesaikan lego bricks tersebut ke soal-soal perkalian alas lego secara tersebut berdekatan. Kemudian guru menghitung 5. Membahas soal-soal bersama dengan banyaknya titik-titik guru. yang berada pada lego bricks tersebut, dalam hal ini terdapat 54 titik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil

(261) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 241 3. 4. 5. Penutup 1. 2. 3. 4. dari perkalian 18 × 3 = 54 Memberikan contoh soal kemudian meminta anak didik untuk mencoba permainan lego bricks dengan menyelesaikan contoh soal tersebut Membantu anak didik mengerjakan LKS dengan menggunakan permainan lego bricks Membahas soal-soal yang terdapat dalam LKS bersama dengan anak didik. Membantu anak didik 1. Menyimpulkan untuk menyimpulkan pembelajaran dengan pembelajaran mengenai dibantu oleh guru perkalian bilangan asli. 2. Melakukan refleksi Mengajak anak didik pembelajaran dengan untuk merefleksikan bimbingan dari guru hasil yang didapatkan 3. Menjawab salam. 10 menit selama melakukan kegiatan pembelajaran hari ini. Misalkan: pembelajaran hari ini tingkatannya lebih sulit dari sebelumnya sehingga anak didik harus berlatih dengan giat Mengucapkan rasa terima kasih karena proses kegiatan pembelajaran berjalan dengan lancar Menyampaikan salam. Pertemuan Keempat : 2 JP ( 2 x 35 menit ) Indikator yang dikembangkan : 4.1.4 Kegiatan Pendahuluan Kegiatan Guru 1. Mengawali pembelajaran kegiatan dengan Kegiatan Anak Didik 1. Menjawab salam Alokasi Waktu

(262) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 242 Kegiatan Kegiatan Guru memberikan salam, dan menanyakan kabar anak didik 2. Mengecek kehadiran anak didik Apersepsi 3. Menanyakan kembali mengenai pembelajaran pada pertemuan sebelumnya mengenai perkalian 10 sampai 20. Misalkan: berapa hasil dari 2 × 10! 4. Menyampaikan materi atau topik pembelajaran hari ini kepada anak didik yaitu mengenai perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan metode pembelajaran demonstrasi 5. Menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu melalui penjelasan dari guru, kegiatan permainan lego bricks, permasalahan yang diberikan, tanya-jawab, dan berdiskusi, anak didik diharapkan mampu menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari mengenai operasi hitung perkalian 1 – 9 secara bertanggungjawab dan kritis 6. Menjelaskan kegiatan pembelajaran yaitu anak didik dibagikan LKS kemudian diminta untuk menyelesaikan persoalan yang terdapat pada LKS tersebut dengan menggunakan Kegiatan Anak Didik Alokasi Waktu 2. Memperhatikan 10 menit penjelasan guru saat menyampaikan tujuan pembelajaran 3. Menyiapkan pembelajaran.

(263) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 243 Kegiatan Inti Kegiatan Guru Kegiatan Anak Didik Alokasi Waktu dan menerapkan permainan lego bricks. 1. Membagikan lembar 1. Mendengarkan, kerja siswa (LKS), lego memperhatikan bricks dan alas lego penjelasan dari guru kepada setiap anak didik dengan ikut mem2. Guru menjelaskan dan praktekkan pada memperagakan cara masing-masing lego bermain lego bricks cara bricks yang telah untuk menyelesaikan dibagikan sebelumpersoalan sehari-hari nya pada operasi hitung 2. Menerapkan perkalian 10 sampai 20 penjelasan guru dan dengan mengambil menyelesaikan contoh yang terdapat contoh soal perkalian 50 menit pada LKS. Misalkan: bilangan asli satuan dengan satuan mengDelon mempunyai 8 gunakan permainan karung bola kasti. Satu lego bricks karung berisikan 15 bola kasti. Berapakah bola 3. Mengerjakan LKS dengan bimbingan kasti yang dimiliki dari guru untuk Delon?. Hal pertama kali menerapkan yang dilakukan guru permainan lego yaitu mengubah soal bricks sebagai alat cerita tersebut menjadi bantu menyelesaikan soal yang sederhana soal-soal perkalian seperti me-nuliskan tersebut dalam bentuk LKS matematika yaitu 8 × 4. Membahas secara bersama-sama 15. Selanjutnya, guru dengan guru. me-lakukan prosedur yang sama seperti pada pertemuan sebelumnya. 3. Contoh soal kemudian meminta anak didik untuk mencoba permainan lego bricks dengan menyelesaikan contoh soal tersebut. Contoh soal diambil dari salah satu soal pretest yang berbentuk soal cerita. Contohnya yaitu Ibu suka membuat boneka dari kain flanel. Dalam satu hari, ibu membuat boneka sebanyak 11 buah.

(264) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 244 Kegiatan Kegiatan Guru Kegiatan Anak Didik Alokasi Waktu Berapa total boneka yang dibuat oleh ibu dalam 5 hari? 4. Meminta anak didik untuk mengerjakan latihan soal yang terdapat pada LKS 5. Membantu anak didik mengerjakan LKS dengan menggunakan permainan lego bricks 6. Membahas beberapa persoalan yang terdapat pada LKS dengan cara berinteraksi dengan anak didik. Penutup 1. Menanyakan kesulitan 1. Menyimpulkan yang dihadapi ketika pembelajaran, pembelajaran dibantu oleh guru menggunakan permainan 2. Menjawab lego bricks berlangsung. pertanyaan dari guru Misalkan: kesulitan mengenai kesulitan dalam menghiutng yang dihadapi saat 10 menit bilangan yang bernilai pembelajaran besar dan memahami berlangsung serta memaknai soal 3. Menjawab salam. cerita 2. Mengajak anak didik untuk merefleksikan hasil yang didapatkan selama melakukan kegiatan pembelajaran hari ini. Misalkan: pembelajaran hari ini menyenangkan dan membutuhkan konsentrasi yang maksimal untuk dapat menyelesaikan segala soal cerita dengan tepat 3. Mengucapkan rasa terima kasih karena proses kegiatan pembelajaran berjalan dengan lancar 4. Menyampaikan salam.

(265) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 245 Pertemuan Kelima : 2 JP ( 2 x 35 menit ) Indikator yang dikembangkan : 3.1.1, 4.1.1, 4.1.2, 4.1.3, dan 4.1.4 Kegiatan Kegiatan Guru Pendahuluan 1. Mengawali kegiatan pembelajaran dengan memberikan salam, dan menanyakan kabar anak didik 2. Mengecek kehadiran anak didik Apersepsi 3. Menanyakan kembali mengenai pembelajaran pada pertemuan sebelumnya yaitu berkaitan dengan perkalian 10 – 20 dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari. 4. Menjelaskan kegiatan pembelajaran hari ini yaitu anak didik mengerjakan latihan soal operasi hitung perkalian 1 – 20 dengan menerapkan konsep permainan lego bricks. Inti 1. Menuliskan contoh soal di papan tulis. Misalkan seperti: Tentukan hasil dari 2 × 3!. 2. Menjelaskan cara menerapkan konsep permainan lego bricks dengan menggambar lego bricks tersebut beserta titik legonya sesuai dengan yang ditanyakan melalui contoh soal yang telah dituliskan. Penyelesaiannya, yaitu: Kegiatan Anak Didik Alokasi Waktu 1. Menjawab salam 2. Menjawab 5 menit pertanyaan dari guru 3. Memperhatikan penjelasan guru saat menjelaskan kegiatan pembelajaran 4. Menyiapkan pembelajaran 1. Mendengarkan, memperhatikan penjelasan dari guru dengan ikut mempraktekkan pada masing-masing lego bricks yang telah dibagikan sebelumnya 2. Menerapkan penjelasan guru dan menyelesaikan contoh soal perkalian 55 menit bilangan asli satuan dengan satuan menggunakan permainan lego bricks

(266) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 246 Kegiatan Kegiatan Guru  Gambarlah lego bricks yang mempunyai 3 titik sebanyak 2 buah lego, seperti pada gambar.  Sama seperti menggunakan lego bricks asli, hitung semua titik lego pada gambar lego bricks tersebut.  Banyaknya titik lego yaitu 6 sehingga hasil dari 2 × 3 = 6 3. Membagikan lembar latihan soal kepada masing-masing anak didik 4. Membantu anak didik mengerjakan lembar latihan soal dengan menggunakan permainan lego bricks 5. Membahas beberapa nomor pada lembar latihan soal dengan menanyakan satu per satu kepada anak didik sembari membimbing mereka ketika menjelaskan hasil pekerjaannya. Penutup 1. Membantu anak didik untuk menyimpulkan pembelajaran mengenai perkalian bilangan asli. Misalkan: menerapkan konsep permainan lego brciks untuk menyelesaikan perkalian dengan cara menggambar lego yang mempunyai titik Kegiatan Anak Didik Alokasi Waktu 3. Mengerjakan lembar latihan soal dengan bimbingan dari guru dengan menerapkan permainan lego bricks 4. Menjelaskan hasil kerjanya dibantu oleh guru 1. Menyimpulkan pembelajaran, dibantu oleh guru 2. Menjawab pertanyaan dari guru mengenai kesulitan yang dihadapi saat 10 menit pembelajaran berlangsung

(267) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 247 Kegiatan Kegiatan Guru 2. 3. 4. 5. 6. sebanyak yang diketahui atau ditanyakan Mengajak anak didik untuk merefleksikan hasil yang didapatkan selama melakukan kegiatan pembelajaran hari ini. Misalkan: pembelajaran hari ini memperkaya akan solasoal perkalian sehingga dapat mempermudah untuk menyelesaikan soal-soal berikutnya dengan menerpakan konsep permainan lego bricks Menyampaikan informasi jika pada pertemuan selanjutnya akan dilakukan posttest untuk mengetahui perkembangan anak didik dalam melakukan perkalian bilangan asli dari perkalian 1 sampai perkalian 20 dengan menggunakan permainan lego bricks Meminta anak didik untuk selalu belajar di rumah Mengucapkan rasa terima kasih karena proses kegiatan pembelajaran berjalan dengan lancar Menyampaikan salam. Kegiatan Anak Didik 3. Mendengarkan informasi dan nasehat dari guru 4. Menjawab salam. E. Penilaian 1. Sikap spiritual dan sosial a. Teknik Penilaian : Observasi atau pengamatan b. Instrumen : Lembar observasi Alokasi Waktu

(268) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 248 c. Contoh Instrumen : Terlampir 2. Pengetahuan a. Teknik Penilaian : Tes tertulis dan penugasan b. Instrumen : Lembar kerja (essay dan uraian) c. Contoh Instrumen : Terlampir 3. Keterampilan a. Teknik Penilaian : Observasi atau pengamatan b. Instrumen : Lembar observasi c. Contoh Instrumen : Terlampir F. Sumber dan Alat Belajar 1. Media : Alat : a. Spidol b. Papan Tulis c. Permainan Lego bricks d. Alas Lego 2. Bahan :- 3. Sumber : Kasri, M. Khafid dan Gunanto. 2008. Matematika Aktif untuk Sekolah Dasar kelas III. Jakarta: Penerbit Erlangga Lembar Kerja Siswa (LKS 1 – LKS 3) Yogyakarta, 02 November 2018 Guru Akademik Yeni Novianti, S.Pd NIP. 19891182014022003

(269) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 249 Lampiran 1 Kompetensi Dasar : 3.1 Memahami sifat – sifat operasi hitung bilangan asli melalui pengamatan pola penjumlahan dan perkalian 4.1 Menuliskan sifat – sifat operasi hitung bilangan asli melalui pengamatan pola penjumlahan dan perkalian Materi Ajar: 1. Bilangan Asli Menurut Ved Dudeja dan V. Madhavi (2013: 1), bilangan adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan kuantitas (banyak, sedikit) dan ukuran (berat, ringan, panjang, pendek) suatu objek. Sedangkan bilangan asli adalah himpunan bilangan yang terdiri atas 1,2,3, … dimana bilangan ini digunakan untuk berhitung (Singgih S. Wibowo, 2010: 2). Bilangan asli disebut juga sebagai bilangan hitung yang umumnya dinyatakan dengan simbol ℕ. Contoh himpunan bilangan asli dapat dinotasikan {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, … }. sebagai berikut: ℕ= Terdapat 4 golongan bilangan asli (Negoro, 2014: 34) yaitu: e) Bilangan genap (2, 4, 6, 8, … ); f) Bilangan ganjil (1, 3, 5, 7, … ); g) Bilangan prima (2, 3, 5, 7,11, … ); dan h) Bilangan komposit (4, 6, 8, 9, 10, … ). Bilangan asli digunakan baik secara langsung (dengan lambang bilangan) atau secara tidak langsung (dengan menggunakan istilah atau kata-kata). Contoh bilangan asli secara tidak langsung dalam kehidupan sehari-hari seperti maju 3 langkah dapat ditulis 3, menang 5 poin dapat ditulis 5, serta untung 2. 5000 rupiah dapat ditulis 5000 dan sebagainya. Operasi Hitung Perkalian Bilangan Asli Dalam melakukan operasi hitung perkalian bilangan asli, terlebih dahulu harus dapat mengusai operasi hitung penjumlahan.

(270) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 250 a. Operasi Penjumlahan Ingat konsep penjumlahan, seperti berikut: Misalkan Anita datang ke toko ternama untuk membeli buku tulis selama 3 hari berturut-turut. Hari pertama Anita membeli 4 buku tulis. Kemudian, hari kedua Anita kembali ke toko tersebut untuk membeli 3 buku tulis. Karena merasa belum cukup, Anita kembali ke toko tersebut untuk membeli 1 buku tulis lagi. Hitunglah berapa banyak buku tulis yang telah dibeli oleh Anita selama 3 hari berturt-turut?. Penyelesaian: Diketahui dari permasalahan tersebut bahwa Anita membeli buku tulis selama 3 hari berturut-turut dengan banyaknya masing-masing buku tulis tersebut yaitu 4 buku tulis, 3 buku tulis dan 1 buku tulis. Ditanya: banyak buku tulis yang telah dibeli oleh Anita selama 3 hari berturt-turut?. Jawab: Permasalahan tersebut menanyakan tentang banyaknya buku tulis yang dibeli oleh Anita selama 3 hari berturut-turut. Jika diartikan maka banyaknya buku tulis/hari yang dimiliki Anita digabungkan menjadi satu. Sehingga model matematika dari permasalahan tersebut yaitu 4 + 3 + 1. Jumlahkan bilangan-bilangan tersebut seperti berikut: 4 + 3 + 1 = 8. Jadi, banyaknya buku tulis yang telah dibeli Anita selama 3 hari berturutturut berjumlah 8 buah. Dari permasalahan dan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa operasi hitung penjumlahan bilangan asli adalah gabungan antara jumlah kuantitas dari suatu objek dengan objek lainnya yang mempunyai kriteria atau jenis yang sama. b. Operasi Perkalian Perhatikan aturan pakai yang ada di botol. Kalian dapat menjumpai tulisan seperti berikut 3 × 1 tabel/kapsul atau 3 × 2 sendok teh Bagaimana cara meminum obat yang benar?

(271) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 251 3 × 2 artinya 2 + 2 + 2. Jadi, kalian meminum obat masing-masing 2 sendok teh sebanyak 3 kali sehari. Contoh lainnya: Misalnya terdapat 3 piring. Setiap piring berisi 2 apel. Jumlah semua apel diperoleh dnegan cara menjumlahkan semua apel di setiap piring seperti berikut 2 + 2 + 2 = 6 Bentuk diatas adalah penjumlahan bilangan 2 sebanyak 3 kali. 2 + 2 + 2 dapat ditulis sebagai perkalian 3 × 2 = 6. Hasil perkalian bisa ditentukan dengan pernjumlahan berulang. Jadi, perkalian adalah penjumlahan berulang. Apabila dituliskan dalam bentuk matematika yaitu sebagai berikut: 𝑚 × 𝑛 = 𝑛 + 𝑛 + 𝑛 + 𝑛+. . . +𝑛 sebanyak 𝑚 Operasi hitung perkalian bilangan asli memiliki 5 sifat seperti berikut, yaitu: 6. Sifat Tertutup Terhadap Perkalian Sifat ini menyatakan bahwa hasil dari perkalian dua bilangan asli juga merupakan bilangan asli. Untuk sembarang bilangan asli 𝒂 dan 𝒃 selalu berlaku 𝑎 × 𝑏 adalah selalu bilangan asli. Contoh: 2 × 2 = 4; 4 adalah bilangan asli. 7. Sifat Komutatif Untuk sembarang bilangan asli 𝒂 dan 𝒃 selalu berlaku: 𝑎×𝑏 =𝑏×𝑎 Sifat ini disebut dengan sifat komutatif (pertukaran) pada perkalian. Contoh: 2×1 = 1×2= 2

(272) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 252 8. Sifat Asosiatif Untuk sembarang bilangan asli 𝒂, 𝒃 dan 𝒄 selalu berlaku: (𝑎 × 𝑏 ) × 𝑐 = 𝑎 × (𝑏 × 𝑐 ) Sifat ini disebut dengan sifat asosiatif (pengelompokkan) pada perkalian. Contoh: 9. (2 × 1) × 3 = 2 × (1 × 3) = 6 Sifat Distributif Untuk sembarang bilangan asli 𝒂, 𝒃, dan 𝒄 selalu berlaku: (𝑎 × 𝑏 ) + (𝑎 × 𝑐 ) = 𝑎 × (𝑏 + 𝑐 ) Sifat ini disebut dengan sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan. Contoh: (2 × 1) + (2 × 3 ) = 2 × (1 + 3) = 2 × 4 = 8 Untuk sembarang bilangan asli 𝒂, 𝒃, dan 𝒄 selalu berlaku: (𝑎 × 𝑏 ) − ( 𝑎 × 𝑐 ) = 𝑎 × (𝑏 − 𝑐 ) Sifat ini disebut dengan sifat distributif perkalian terhadap pengurangan. Contoh: (2 × 3) − (2 × 1 ) = 2 × (3 − 1) = 2 × 2 = 2 10. Memiliki Unsur Identitas Misalkan: 1×2 = 2 1×3 = 3 2×1 = 2 3×1 = 3 Dengan demikian 1 × 𝑎 = 𝑎 × 1 = 𝑎, untuk sembarang bilangan asli 𝒂. Dari contoh tersebut, ternyata jika 1 dikali dengan suatu bilangan asli atau suatu bilangan asli dikali dengan 1, maka hasilnya adalah bilangan itu sendiri. 1 disebut unsur identitas pada perkalian.

(273) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 253 3. Perkalian Bilangan Asli dengan Menggunakan Permainan Lego Bricks a. Pengertian Permainan Lego Bricks Lego adalah mainan yang berbentuk batu bata atau balok (bricks) yang beraneka warna dan dapat disusun serta mempunyai titik pada permukaan sebagai tempat perlekatan pada bricks lainnya sehingga membentuk susunan yang teratur. Lego terdiri dari dua sisi yang penting yaitu bagian atas dan bawah sebagai tempat menancapkannya, terdiri dari banyak sisi, mulai 1 × 1, 1 × 2, 1 × 3, 1 × 4, . . ., 2 × 4, 2 × 8, 𝑑𝑠𝑡. Lego memiliki berbagai macam warna seperti merah, putih, hijau, kuning, coklat, biru dan sebagainya. b. Penggunaan Permainan Lego Bricks Konsep mengenai perkalian bilangan asli dengan menggunakan permainan lego bricks dilakukan dengan cara menyusun kumpulan bricks yang masing-masing memiliki titik-titik di atas bricks sesuai dengan bilangan yang akan dihitung. Teknik pemakaiannya adalah dengan cara menghitung titik-titik yang berada pada masing-masing lego bricks setelah dilakukan penggabungan. Perkalian dua bilangan dapat dituliskan 𝑎 × 𝑏. Dalam penerapan permainan lego bricks dimisalkan bahwa 𝑏 merupakan titik yang ada pada lego bricks dan 𝑎 merupakan banyak lego bricks dengan 𝑏 titik yang harus diambil. Contohnya: Hitung perkalian dari 20 × 4!. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah, sebagai berikut: 1. Ambil lego bricks yang mempunyai 4 titik di atas kepala bricks tersebut sebanyak 20 kali. Gambar:

(274) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 254 2. Letakkan dan gabungkan 20 buah lego bricks tersebut satu per satu ke alas lego. Peletakkan lego bricks 4 titik dilakukan secara berdekatan, tetapi tidak ditumpuk. Gambar: 3. Hitung banyaknya titik-titik yang ada pada 20 buah lego bricks setelah digabungkan secara berdekatan. Perhitungan tersebut adalah hasil dari persoalan yang diberikan. Dengan demikian, pada contoh soal tersebut maka diperoleh 80 titik bricks dari perkalian 20 × 4. Penyusunan lego bricks yang dilakukan ke dalam alas lego dapat disesuaikan dengan keinginan anak, akan tetapi penyusunan lego bricks harus saling berdekatan supaya anak tidak kesulitan untuk menghitung titik–titik yang ada pada lego bricks dan tidak hanya itu penyusunan tersebut juga harus sesuai dengan perintah soal yang diberikan.

(275) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 255 Lampiran 2 KISI-KISI LEMBAR PENILAIAN Indikator Pencapaian Kompetensi Pretest Posttest hitung 9, 10 7, 8 Menghitung perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 1, 2, 4 5, 6, 10 Menghitung perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) 3, 5 4, 9 Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 1 sampai dengan perkalian 9 6 1 Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) 7, 8 2, 3 Menyebutkan sifat-sifat perkalian bilangan asli operasi

(276) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 256 Lampiran 3A LEMBAR PRETEST Nama : ……………………………………………….. Kelas : ……………………………………………….. Sekolah : SLB Negeri 1 Bantul Jawablah Pertanyaan Berikut Ini dengan Baik dan Benar! Untuk no. 1- 5 hitunglah perkalian berikut ini: 1. 3×3 = Jawab: 2. 9×5 = Jawab: 3. 2 × 10 = Jawab: 4. 6×4 = Jawab: 5. 5 × 18 = Jawab: Bacalah dan pahamilah soal cerita tersebut (untuk no. 6- 8) 6. Terdapat 7 mobil pick up yang terparkir di lapangan sepak bola. Jika setiap mobil membawa 6 keranjang sayur. Berapakah total keranjang yang dibawa oleh mobil-mobil pick up tersebut? Jawab:

(277) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 257 7. Ibu suka membuat boneka dari kain flanel. Dalam satu hari, ibu membuat boneka sebanyak 11 buah. Berapa total boneka yang dibuat oleh ibu dalam 5 hari? Jawab: 8. Jumlah anggota pramuka kelas V adalah 17 siswa. Jika setiap anggota mendapat 2 bendera, berapa jumlah seluruh bendera tersebut? Jawab: Untuk soal nomor 9 dan nomor 10, isilah titik-titik berikut berdasarkan sifat-sifat perkalian bilangan asli yang telah diketahui dan dipelajari, hitung hasilnya dan sebutkan sifat yang digunakan! 9. 8 × 7 = 7 × ....= . . . Perkalian tersebut merupakan perkalian yang bersifat . . . 10. (2 × 3) × 5 = . . . . .× (. . . .× 5) = . . . Perkalian tersebut merupakan perkalian yang bersifat . . .

(278) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 258 Lampiran 3B LEMBAR KERJA SISWA (LKS 1) Nama : .......................................... Kelas : VII Tunagrahita Ringan Materi : Operasi Hitung Perkalian Bilangan Asli A. Kompetensi Dasar 3.1 Memahami sifat – sifat operasi hitung bilangan asli melalui pengamatan pola penjumlahan dan perkalian 4.1 Menuliskan sifat – sifat operasi hitung bilangan asli melalui pengamatan pola penjumlahan dan perkalian B. Indikator 3.1.1 Menyebutkan sifat operasi hitung perkalian bilangan asli 4.1.1 Menghitung perkalian 1 sampai perkalian 9 dengan menggunakan permainan lego bricks C. Petunjuk Pahami soal-soal yang diberikan Kerjakan LKS secara individual, apabila kurang memahami sebaiknya diskusikan penyelesaian tersebut bersama teman dan guru D. Kegiatan Anak Didik 1. Anak didik diminta untuk menyelesaikan persoalan mengenai perkalian bilangan satuan dengan satuan pada LKS

(279) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 259 2. Anak didik menyelesaikan persoalan perkalian menggunakan alat bantu berupa permainan lego bricks. Silahkan baca dan pahami intisari materi di bawah ini. Semangat‼‼ Penggunaan Lego Bricks Hitung hasil dari 9 × 2! Jawab: Langkah-langkah yang harus dilakukan yaitu sebagai berikut: 1. Ambil lego bricks yang mempunyai 2 titik, seperti pada gambar. 2. Lakukan hal tersebut secara berulang sebanyak 9 kali, seperti pada gambar.

(280) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 260 3. Letakkan dan gabungkan lego bricks tersebut ke alas lego secara berdekaan, seperti pada gambar. 4. Hitung titik-titik pada lego yang telah digabungkan. 5. Setelah dihitung titik-titiknya diperoleh 18 titik. Sehingga hasil perkalian dari 9 × 2 = 18. Sifat-sifat Perkalian Sifat-sifat perkalian bilangan asli, yaitu: 1. Sifat Tertutup Terhadap Perkalian Untuk sembarang bilangan asli 𝒂 dan 𝒃 selalu berlaku 𝑎 × 𝑏 adalah selalu bilangan asli. Contoh: 2×2= 4 4 adalah bilangan asli. 2. Sifat Komutatif Untuk sembarang bilangan asli 𝒂 dan 𝒃 selalu berlaku: 𝑎×𝑏 =𝑏×𝑎 Sifat ini disebut dengan sifat komutatif (pertukaran) pada perkalian. Contoh: 3 × 6 = 6 × 3 = 18

(281) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 261 3. Sifat Asosiatif Untuk sembarang bilangan asli 𝒂, 𝒃 dan 𝒄 selalu berlaku: (𝑎 × 𝑏 ) × 𝑐 = 𝑎 × (𝑏 × 𝑐 ) Sifat ini disebut dengan sifat asosiatif (pengelompokkan) pada perkalian. Contoh: (2 × 1) × 4 = 2 × (1 × 4) = 8 4. Sifat distributif perkalian  Untuk sembarang bilangan asli 𝒂, 𝒃 dan 𝒄 selalu berlaku: (𝑎 × 𝑏 ) + (𝑎 × 𝑐 ) = 𝑎 × (𝑏 + 𝑐 ) Sifat ini disebut dengan sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan. Contoh: (2 × 3) + (2 × 4) = 2 × (3 + 4) = 2 × 7 = 14  Untuk sembarang bilangan asli 𝒂, 𝒃 dan 𝒄 selalu berlaku: (𝑎 × 𝑏 ) − (𝑎 × 𝑐 ) = 𝑎 × (𝑏 − 𝑐 ) Sifat ini disebut dengan sifat distributif perkalian terhadap pengurangan. Contoh: (2 × 5) − (2 × 1) = 2 × (5 − 1) = 2 × 4 = 8 5. Memiliki Unsur Identitas Misalkan: 1×2= 2 1×3= 3 2×1= 2 3×1= 3 Dengan demikian 1 × 𝑎 = 𝑎 × 1 = 𝑎 ,untuk sembarang bilangan asli 𝒂. Maka dari itu, unsur identitas pada perkalian yaitu 1.

(282) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 262 Ayo Kerjakan Soal ! E. Latihan Soal Hitunglah hasil perkalian berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 3×2= 6×5= 9×4= 7×6= (8 × 3) = (3 ×. . . . ) = . . . Perkalian tersebut merupakan perkalian yang bersifat . . . 6. 7. 8. 9. 5×8= 4×4= 8×7= 6×9= 10. (5 × 9) − (5 × 7) = 5 × (. . . . −. . . . ) = . . . Perkalian tersebut merupakan perkalian yang bersifat . . .

(283) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 263 Lampiran 3C LEMBAR KERJA SISWA (LKS 2) Nama : .......................................... Kelas : VII Tunagrahita Ringan Materi : Operasi Hitung Perkalian Bilangan Asli A. Kompetensi Dasar 3.1 Memahami sifat – sifat operasi hitung bilangan asli melalui pengamatan pola penjumlahan dan perkalian 4.1 Menuliskan sifat – sifat operasi hitung bilangan asli melalui pengamatan pola penjumlahan dan perkalian B. Indikator 3.1.1 Menyebutkan sifat operasi hitung perkalian bilangan asli 4.1.3 Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 1 sampai perkalian 9 dengan menggunakan permainan lego bricks C. Petunjuk Pahami soal-soal yang diberikan Kerjakan LKS secara individual, apabila kurang memahami sebaiknya diskusikan penyelesaian tersebut bersama teman dan guru

(284) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 264 D. Kegiatan Anak Didik 1. Anak didik diminta untuk menyelesaikan persoalan mengenai perkalian bilangan satuan dengan satuan pada LKS 2. Anak didik menyelesaikan persoalan perkalian menggunakan alat bantu berupa permainan lego bricks. Silahkan baca dan pahami intisari materi di bawah ini sebelum kalian mulai mengerjakan soal-soal latihan. Semangat‼‼ Penggunaan Lego Bricks Pak Andi menjual 5 sangkar burung. Di dalam masing-masing sangkar tersebut terdapat 3 ekor burung beo. Berapakah total burung beo yang dijual oleh Pak Andi? Penyelesaian: 1. 2. Ubah soal tersebut ke dalam bentuk matematika, seperti berikut: 5 × 3 = Ambil lego bricks yang mempunyai 3 titik, seperti pada gambar.

(285) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 265 3. Lakukan hal tersebut secara berulang sebanyak 5 kali, seperti pada gambar. 4. Letakkan dan gabungkan lego bricks tersebut ke alas lego secara berdekatan, seperti pada gambar. 5. Hitung titik-titik pada lego bricks yang telah digabungkan. 6. Setelah dihitung titik-titiknya diperoleh 15 titik, dapat ditulis seperti 7. berikut: 5 × 3 = 15. Kembalikan pada konteks persoalan maka total burung beo yang dijual oleh Pak Andi adalah 15 ekor burung beo.

(286) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 266 Ayo Kerjakan Soal ! E. Latihan Soal 1. Dinda membawa 2 piring ke meja makan. Masing-masing piring tersebut berisi 8 tempe goreng. Berapakah total tempe goreng yang dibawa oleh Dinda? Jawab: 2. Beno memelihara dua jenis kucing di rumahnya. Jenis pertama yaitu kucing Persia dan jenis kedua yaitu kucing Anggora. Kucing Persia sebanyak 5 ekor dan kucing Anggora sebanyak 7 ekor. Berapakah jumlah kaki seluruh kucing yang dipelihara oleh Beno?. Sebutkan sifat yang terdapat pada perkalian dari persoalan berikut! Jawab: 3. Rina membeli 6 dus donat. Setiap dus isinya 6 donat. Berapa banyak donat yang dibeli oleh Rina? Jawab:

(287) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 267 4. Di perumahan Sentosa terdapat 9 macam model rumah. Setiap model terdiri dari 3 rumah. Tentukanlah jumlah rumah di perumahan Sentosa! Jawab: 5. Satu sisir pisang terdiri dari 4 buah pisang. Jika ada 5 sisir, berapa jumlah semua pisang? Jawab:

(288) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 268 Lampiran 3D LEMBAR KERJA INDIVIDU (LKS 3) Nama : .......................................... Kelas : VII Tunagrahita Ringan Materi : Operasi Hitung Perkalian Bilangan Asli A. Kompetensi Dasar 3.1 Memahami sifat – sifat operasi hitung bilangan asli melalui pengamatan pola penjumlahan dan perkalian 4.1 Menuliskan sifat – sifat operasi hitung bilangan asli melalui pengamatan pola penjumlahan dan perkalian B. Indikator 3.1.1 Menyebutkan sifat operasi hitung perkalian asli10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian 4.1.2 Menghitungbilangan perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) menggunakan permainan lego bricks C. Petunjuk Pahami soal-soal yang diberikan Kerjakan LKS secara individual, apabila kurang memahami sebaiknya diskusikan penyelesaian tersebut bersama teman dan guru D. Kegiatan Anak Didik 1. Anak didik diminta untuk menyelesaikan persoalan mengenai perkalian bilangan satuan dengan satuan pada LKS

(289) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 269 2. Anak didik menyelesaikan persoalan perkalian menggunakan alat bantu berupa permainan lego bricks. Silahkan baca dan pahami intisari materi di bawah ini. Semangat‼‼ Penggunaan Lego Bricks Hitung hasil dari 18 × 3! Jawab: Langkah-langkah yang harus dilakukan yaitu sebagai berikut: 1. Ambil lego bricks yang mempunyai 3 titik, seperti pada gambar. 2. Lakukan hal tersebut secara berulang sebanyak 18 kali, seperti pada gambar.

(290) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 270 3. Letakkan dan gabungkan lego bricks tersebut ke alas lego secara berdekatan, seperti pada gambar. 4. Hitung titik-titik pada lego yang telah digabungkan. 5. Setelah dihitung titik-titiknya diperoleh 54 titik. Sehingga hasil perkalian dari 18 × 3 = 54. E. Latihan Soal Hitunglah perkalian berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 11 × 9 = 4 × 14 = 11 × 6 = 17 × 3 = 20 × 8 = 13 × 2 = 6 × 15 = 8 × 16 = 12 × 5 =. . . . .×. . . . . = . . . Perkalian tersebut merupakan perkalian yang bersifat . . . 10. (4 × 12) + (4 × 6) = . . . .× (. . . . +. . . . ) = . . . Perkalian tersebut merupakan perkalian yang bersifat . . .

(291) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 271 Lampiran 3E LEMBAR KERJA INDIVIDU (LKS 4) Nama : .......................................... Kelas : VII Tunagrahita Ringan Materi : Operasi Hitung Perkalian Bilangan Asli A. Kompetensi Dasar 3.1 Memahami sifat – sifat operasi hitung bilangan asli melalui pengamatan pola penjumlahan dan perkalian 4.1 Menuliskan sifat – sifat operasi hitung bilangan asli melalui pengamatan pola penjumlahan dan perkalian B. Indikator 4.1.4 Menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari mengenai operasi hitung perkalian bilangan asli dimulai dari perkalian 10 sampai dengan perkalian 20 (perkalian satuan dengan puluhan dan sebaliknya) menggunakan permainan lego bricks C. Petunjuk Pahami soal-soal yang diberikan Kerjakan LKS secara individual, apabila kurang memahami sebaiknya diskusikan penyelesaian tersebut bersama teman dan guru D. Kegiatan Anak Didik 1. Anak didik diminta untuk menyelesaikan persoalan mengenai perkalian bilangan satuan dengan satuan pada LKS

(292) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 272 2. Anak didik menyelesaikan persoalan perkalian menggunakan alat bantu berupa permainan lego bricks. Silahkan baca dan pahami intisari materi di bawah ini. Semangat‼‼ Penggunaan Lego Bricks Delon mempunyai 8 karung bola kasti. Satu karung berisikan 15 bola kasti. Berapakah bola kasti yang dimiliki Delon? Penyelesaian: 1. Ubah soal tersebut ke dalam bentuk matematika, seperti berikut: 8 × 15 2. Ambil beberapa lego bricks yang apabila dijumlahkan, lego tersebut mempunyai 15 titik. Misalkan ambil 3 lego bricks yang masing-masing lego mempunyai 8 titik, 4 titik, dan 3 titik. Lego-lego tersebut jika dijumlahkan menjadi lego bricks yang mempunyai 15 titik, seperti pada gambar:

(293) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 273 3. Lakukan hal tersebut secara berulang sebanyak 8 kali, seperti pada gambar: 4. Letakkan dan gabungkan lego bricks tersebut ke alas lego secara berdekatan, seperti pada gambar. 5. Hitung titik-titik pada lego bricks yang telah digabungkan. 6. Setelah dihitung titik-titiknya diperoleh 120 titik.

(294) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 274 7. Tuliskan hasil perhitungan titik-titik tersebut seperti berikut: 8 × 15 = 120. 8. Kembalikan pada konteks persoalan maka bola kasti yang dimiliki Delon yaitu 120 bola kasti. E. Latihan Soal Soal cerita untuk nomor 1 – nomor 2 Andre dan Ben membawa kaleng yang berisi kelereng dengan masing-masing 13 kaleng dan 3 kaleng ke lapangan bermain. Satu kaleng yang dibawa oleh Andre berisi 6 kelereng, sedangkan satu kaleng yang dibawa Ben berisi 11 kelereng. 1. Berapakah kelereng yang dimiliki oleh Andre ? Jawab: 2. Berapakah total kelereng yang dimiliki oleh Ben? Jawab: 3. Jelita merupakan anak yang suka mengoleksi jam tangan dengan berbagai merk dan model. Koleksi jam tangannya, dia letakkan di 9 etalase. Satu etalase berisi 10 buah jam tangan. Berapa banyak jam tangan yang dikoleksi oleh Jelita sekarang? Jawab: 4. Suatu distributor semen mengirimkan 6 truk yang berisi semen ke salah satu toko pengecer, toko tersebut bernama toko Sanjaya Perkasa. Setiap truk berisi 20 sak semen.

(295) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 275 Berapa sak semen yang diterima oleh toko Sanjaya Perkasa? Jawab: 5. Ayah membeli 16 karung beras untuk persediaan di tokonya. Jika tiap karung beras berisi 4 kg, berapa kilogram berat beras seluruhnya?. Jawab:

(296) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 276 Lampiran 3E LEMBAR LATIHAN SOAL INDIVIDU Nama : .......................................... Kelas : .......................................... Kegiatan: Hitunglah perkalian bilangan asli berikut ini dengan menggunakan lego bricks ! 1. Pak Budi mempunyai 7 kandang bebek di halaman rumah. Satu kandang berisi 5 ekor bebek. Berapakah jumlah bebek yang dimiliki pak Budi? 2. Rian bekerja di konter Ajib sebagai penjual hp. Dalam sehari Rian dapat menjual hp sebanyak 12 buah. Apabila selama 5 hari banyaknya hp yang dijual sama, maka berapakah total hp yang dapat dijual oleh Rian selama 5 hari? 3. 9×8 = 4. 10 × 7 = . . .×. . . = . . . Perkalian tersebut bersifat . . . 5. 11 × 3 = 6. (3 × 18) + (3 × 2) = . . .× (. . . + . . . ) =. . .×. . . = . . . Perkalian tersebut bersifat . . . 7. Sandi membawa 2 kardus roti. Setiap kardus berisi 4 bungkus roti. Jumlah seluruh roti adalah . . . 8. 14 × 5 =

(297) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 277 9. (13 × 8) − (13 × 4) =. . .× (. . . − . . . ) = . . .×. . . =. . . Perkalian tersebut bersifat . . . 10. Suci suka mengoleksi sepatu. Dia mempunyai 3 rak sepatu besar yang berada pada ruangan khusus di dekar kamarnya. Masing-masing rak sepatu berisi 10 pasang sepatu. Hitung seluruh sepatu yang dimiliki oleh Suci? 11. 14 × (2 × 5 ) = (. . .×. . . ) ×. . . = . . .×. . . =. . . Perkalian tersebut bersifat . . . 12. Dede merupakan penggemar permainan digital. Satu permainan dapat menghabiskan memori sebesar 6 GB, sedangkan dia memasang sebanyak 8 macam permainan di laptopnya. Berapa total memori yang diperlukan oleh Dede untuk memasang permainan digital? 13. 6 × 7 = 14. Kiara adalah seorang perancang dan pembuat busana. Dia mendapatkan pesanan dari pelanggannya untuk membuat 9 potong pakaian. Untuk membuat satu potong pakaian saja memerlukan 3 meter kain. Berapa meter kain yang diperlukan kiara untuk membuat seluruh baju pesanannya? 15. Paman Tian mengoleksi 5 mobil sport. Tiap mobil menghabiskan 17 liter bensin per hari. Berapa liter bensin yang dibutuhkan oleh paman untuk keempat mobilnya dalam sehari?

(298) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 278 Lampiran 3F LEMBAR POSTTEST Nama : ……………………………………………….. Kelas : ……………………………………………….. Sekolah : SLB Negeri 1 Bantul Jawablah Pertanyaan Berikut Ini dengan Baik dan Benar! (Keterangan: boleh menggunakan alat bantu berupa permainan lego bricks) 1. Ayah membawa 5 plastik yang berisi buah jambu. Setiap plastik berisi 8 buah jambu. Berapakah jumlah jamby yang dibawa oleh ayah? Jawab: 2. Pak Anto memelihara 15 ekor ayam. Jumlah seluruh kaki ayam yang dipelihara pak Anto adalah . . . Jawab: 3. Angga membeli 4 kardus mie instan. Setiap kardus berisi 20 bungkus mie. Berapa bungkus jumlah seluruh mie yang dibeli oleh Angga? Jawab: Untuk no. 4-6 hitunglah perkalian berikut ini: 4. 16 × 3 = Jawab:

(299) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 279 5. 4×4 = Jawab: 6. 5×7 = Jawab: Untuk soal nomor 7 dan nomor 8, isilah titik-titik berikut berdasarkan sifat-sifat perkalian bilangan asli yang telah diketahui dan dipelajari, hitung hasilnya dan sebutkan sifat yang digunakan! 7. 5 × 13 = . . . . .× 5 = . . . Perkalian tersebut merupakan perkalian yang bersifat . . . 8. (2 × 4) × 3 = . . . . .× (4 ×. . . . ) = . . . Perkalian tersebut merupakan perkalian yang bersifat . . . Untuk no. 9-10 hitunglah perkalian berikut ini: 9. 10 × 6 = Jawab: 10. 2 × 5 = Jawab:

(300) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 280 Lampiran 4A KUNCI JAWABAN DAN RUBRIK PENILAIAN PRETEST Jawaban : Penilaian Pertama No. Soal 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kunci Jawaban 3×3 = 3+3+3 = 9 9 × 5 = 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 = 45 2 × 10 = 10 + 10 = 20 6 × 4 = 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 24 5 × 18 = 18 + 18 + 18 + 18 + 18 = 90 Diketahui: Terdapat 7 buah mobil pick up dan 6 keranjang sayur (pada masingmasing mobil pick up) Ditanya: Berapakah total keranjang yang dibawa oleh mobil-mobil pick up tersebut? Jawab: Apabila dituliskan kedalam model matematika, maka diperoleh: 7 × 6 = 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 = 42 Jadi, total keranjang yang dibawa oleh masing-masing mobil pick up tersebut adalah 42 keranjang sayur. Diketahui: Ibu membuat boneka sebanyak 11 buah dalam satu hari. Ditanya: Berapa total boneka yang dibuat oleh ibu dalam 5 hari? Jawab: Apabila dituliskan kedalam model matematika, maka diperoleh: 11 × 5 = 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 = 55 Jadi, total total boneka yang dibuat oleh ibu dalam 5 hari adalah 55 boneka. Diketahui: Anggota pramuka kelas V terdiri dari 17 siswa. Setiap anggota mendapat 2 bendera. Ditanya: Berapa jumlah seluruh bendera tersebut? Jawab: Apabila dituliskan kedalam model matematika, maka diperoleh: 17 × 2 = 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 = 34 Jadi, jumlah seluruh bendera tersebut adalah 34 bendera. Skor 2 2 2 2 2 4 4 4

(301) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 281 9. 10. 8 × 7 = 7 × 8 = 56 Perkalian tersebut merupakan perkalian yang bersifat komutatif. (2 × 3) × 5 = (6) × 5 = 30 2 × (3 × 5 ) = 2 × (15) = 30 Dengan demikian, (3 × 2) × 5 = 3 × (2 × 5 ) = 30 Perkalian tersebut merupakan perkalian yang bersifat asosiatif. Total Skor 𝒏𝒊𝒍𝒂𝒊 = ∑ 𝑷𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉𝒂𝒏 𝑺𝒌𝒐𝒓 × 𝟏𝟎𝟎 ∑ 𝑺𝒌𝒐𝒓 𝒎𝒂𝒌𝒔𝒊𝒎𝒂𝒍 4 4 30

(302) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 282 Lampiran 4B KUNCI JAWABAN DAN RUBRIK PENILAIAN POSTTEST Jawaban : Penilaian Kedua No. Soal 1. Kunci Jawaban Skor Diketahui: Ayah membawa 5 plastik dan setiap plastik berisi 8 buah jambu. Ditanya: Berapakah jumlah jambu yang dibawa oleh ayah? Jawab: Apabila dituliskan kedalam model matematika, menjadi: 5 × 8. Terdapat beberapa cara untuk menyelesaikan perkalian sebagai berikut: Cara 1 (menerapkan konsep permainan lego bricks) Penyelesaiannya, yaitu: 4 Secara keseluruhan diperoleh 40 titik lego. Hasil tersebut merupakan hasil dari 5 × 8. Jadi, hasil dari 5 × 8 adalah 40. Atau Cara 2 (menerapkan konsep perkalian terhadap penjumlahan) Penyelesaiannya, seperti berikut: 5 × 8 = 8 + 8 + 8 + 8 + 8 = 40 Dengan demikian, jumlah jambu yang dibawa oleh ayah adalah 40 buah. 2. Diketahui: Pak Anto memelihara 15 ekor ayam. Ditanya: Jumlah seluruh kaki ayam yang dipelihara Pak Anto adalah . . . Jawab: Telah diketahui bahwa 1 ekor ayam mempunyai 2 kaki sehingga apabila dituliskan kedalam model matematika, seperti berikut: 15 × 2. Cara 1 (menerapkan konsep permainan lego bricks) Penyelesaiannya, yaitu: Jadi, hasil dari 15 × 2 = 30 atau Cara 2 (menerapkan konsep perkalian terhadap penjumlahan) 15 × 2 = 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 4

(303) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 283 2+2+2 = 30 Dengan demikian, jumlah seluruh kaki ayam yang dipelihara Pak Anto adalah 30 kaki ayam 3. Diketahui: 4 kardus mie instan dan setiap kardus berisi 20 bungkus mie. Ditanya: Berapa bungkus jumlah seluruh mie yang dibeli oleh Angga? Jawab: Apabila dituliskan kedalam model matematika, menjadi: 4 × 20. Cara 1 (menerapkan konsep permainan lego bricks) Penyelesaiannya, yaitu: 4 4. Jadi, hasil dari 4 × 20 = 80 Atau Cara 2 (menerapkan konsep perkalian terhadap penjumlahan) 4 × 20 = 20 + 20 + 20 + 20 = 80 Dengan demikian, jumlah seluruh mie yang dibeli oleh Angga adalah 80 bungkus mie. Hitunglah perkalian dari 16 × 3! Jawab: Cara 1 (menerapkan konsep permainan lego bricks) 16 × 3, penyelesaian seperti berikut: 2 Jadi, hasil dari 16 × 3 adalah 48. Atau Cara 2 (menerapkan konsep perkalian terhadap penjumlahan) 16 × 3 = 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3 +3+3+3+3+3+3 = 48

(304) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 284 5. 6. Hitunglah perkalian dari 4 × 4! Jawab: Cara 1 (menerapkan konsep permainan lego bricks) 4 × 4, penyelesaian menjadi: 2 Jadi, hasil dari 4 × 4 adalah 16 Atau Cara 2 (menerapkan konsep perkalian terhadap penjumlahan) 4×4 = 4+4+4+4 = 16 Hitunglah perkalian dari 5 × 7! Jawab: Cara 1 (menerapkan konsep permainan lego bricks) 5 × 7, penyelesaiannya seperti berikut: 2 7. Jadi, hasil dari 5 × 7 = 35 atau Cara 2 (menerapkan konsep perkalian terhadap penjumlahan) 5×7 = 7+7+7+7+7 = 35 Hitung hasilnya dan sebutkan sifat yang digunakan! 5 × 13 = 13 × 5 = . . . Perkalian tersebut merupakan perkalian yang bersifat . . . Jawab: Cara 1 (menerapkan konsep permainan lego bricks) Pilih salah satu perkalian untuk dihitung hasil perkaliannya, misalkan:  5 × 13, penyelesaiannya seperti berikut: 4 diperoleh 5 × 13 = 65 atau

(305) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 285  8. 13 × 5, penyelesaiannya seperti berikut: diperoleh 13 × 5 = 65 Jadi, hasil dari 5 × 13 = 13 × 5 = 65 Perkalian tersebut merupakan perkalian yang bersifat komutatif. Atau Cara 2 (menerapkan konsep perkalian terhadap penjumlahan) Pilih salah satu perkalian untuk dihitung hasil perkaliannya, misalkan:  5 × 13 = 13 + 13 + 13 + 13 + 13 = 65 atau  13 × 5 = 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 +5 = 65 Perkalian tersebut merupakan perkalian yang bersifat komutatif. Hitung hasilnya dan sebutkan sifat yang digunakan! (2 × 4) × 3 = 2 × (4 × 3) = (8) × 3 = 2 × (8) = . . . Perkalian tersebut merupakan perkalian yang bersifat . . . Jawab: Cara 1 (menerapkan konsep permainan lego bricks) Pilih salah satu perkalian untuk dihitung hasil perkaliannya, misalkan:  (2 × 4) × 3 = (8) × 3 2 × 4, penyelesaiannya seperti berikut: diperoleh 2 × 4 = 8 Selanjutnya, (8) × 3 penyelesaiannya seperti berikut:  diperoleh (8) × 3 = 24 Jadi, hasil dari (2 × 4) × 3 = (8) × 3 = 24 atau 2 × (4 × 3) = 2 × (12) 4 × 3, penyelesaiannya seperti berikut: diperoleh 4 × 3 = 12 Selanjutnya, 2 × (12) penyelesaiannya seperti berikut: 4

(306) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 286 diperoleh 2 × (12) = 24 Jadi, hasil dari 2 × (4 × 3) = 2 × (12) = 24 9. Atau Cara 2 (menerapkan konsep perkalian terhadap penjumlahan) Pilih salah satu perkalian untuk dihitung hasil perkaliannya, misalkan:  (2 × 4) × 3 = (8) × 3 Penyelesaiannya, seperti berikut: 2×4 = 4+4 =8 selanjutnya, (8) × 3 = 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3 = 24 Jadi, hasil dari (2 × 4) × 3 = (8) × 3 = 24  2 × (4 × 3) = 2 × (12) Penyelesaiannya, seperti berikut: 4 × 3 = 3 + 3 + 3 = 12 selanjutnya, 2 × (12) = 12 + 12 = 24 Jadi, hasil dari 2 × (4 × 3) = 2 × (12) = 24 Perkalian tersebut merupakan perkalian yang bersifat asosiatif. Hitunglah perkalian dari 10 × 6! Jawab: Cara 1 (menerapkan konsep permainan lego bricks) 10 × 6, penyelesaiannya seperti berikut: 2 10. Jadi, hasil dari 10 × 6 adalah 60 Atau Cara 2 (menerapkan konsep perkalian terhadap penjumlahan) 10 × 6 = 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 = 60 Hitunglah perkalian dari 2 × 5! Jawab: Cara 1 (menerapkan konsep permainan lego bricks) 2 × 5, penyelesaiannya seperti berikut: Jadi, hasil dari 2 × 5 adalah 10 2

(307) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 287 Atau Cara 2 (menerapkan konsep perkalian terhadap penjumlahan) 2×5 = 5+5 = 10 Total Skor 𝒏𝒊𝒍𝒂𝒊 = ∑ 𝑷𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉𝒂𝒏 𝑺𝒌𝒐𝒓 × 𝟏𝟎𝟎 ∑ 𝑺𝒌𝒐𝒓 𝒎𝒂𝒌𝒔𝒊𝒎𝒂𝒍 30

(308) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 288 Lampiran 5 LEMBAR PENILAIAN AFEKTIF Hasil Penilaian No. Aspek yang diamati SS 1. Anak didik mendengarkan dan memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan oleh guru 2. Anak didik menyelesaikan latihan soal tepat waktu sesuai dengan perintah yang telah diberikan 3. Anak didik mengajukan pertanyaan kepada guru, berkaitan dengan materi tersebut 4. Anak didik memanfaatkan waktu yang ada untuk berdiskusi tentang pelajaran dengan teman maupun guru 5. Anak didik mencari sumber belajar dibuku lain atau internet 6. Anak didik tidak malu apabila mengalami kegagalan dalam mengerjakan tugas, latihan atau tes dengan tetap berusaha mengerjakan tugas – tugas yang diberikan supaya menjadi lebih baik 7. Dalam mengerjakan soal atau tugas di kelas, anak didik dapat mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari 8. Anak didik menunjukkan kepedulian terhadap temantemannya yang belum berhasil S KD TP Keterangan

(309) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 289 9. Anak didik berusaha mengerjakan latihan soal atau tugas sesuai dengan kemampuannya sendiri 10. Anak didik tidak menyerah untuk mengikuti proses pembelajaran walaupun mengalami kesulitan dalam menerima informasi atau penjelasan dari guru 11. Anak didik menjawab pertanyaan yang diberikan guru terkait pembelajaran 12. Anak didik tetap mengerjakan atau menyelesaikan latihan soal perkalian bilangan asli di kelas walaupun soal tersebut sulit baginya 13. Anak didik mencatat informasiinformasi penting yang disampaikan saat pembelajaran 14. Anak didik tidak menunda tugas atau latihan soal yang diberikan oleh guru 15. Anak didik berani mengerjakan soal di papan tulis 16. Anak didik menyelesaikan tugas atau latihan soal dengan cara dan strategi lain dan berbeda dari penjelasan guru tetapi tetap sesuai dengan kaidah yang ada 17. Anak didik tetap mempertahankan pendapatnya mengenai perkalian bilangan asli, dan tidak memperdulikan jawaban dari temannya

(310) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 290 18. Anak didik mengerjakan setiap contoh soal atau latihan soal di papan tulis tanpa merasa lelah atau menunjukkan sikap bermalasmalasan 19. Ketika menemukan keganjalan atau kesalahan atas pekerjaannya dalam menyelesaikan tugas atau latihan soal, anak didik memperbaiki pekerjaannya sampai benar 20. Anak didik berani mengemukakan pendapatnya terkait dengan perkalian bilangan asli di kelas 21. Anak didik antusias mengikuti proses pembelajaran (menunjukkan respon positif) 22. Anak didik mengeluh saat diberikan soal yang menurutnya sulit 23. Ketika mengerjakan latihan soal, anak didik mengalihkan pekerjaan-nya dengan menceritakan hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan materi pembelajaran 24. Apabila tidak dapat mengatasi persoalan perkalian bilangan asli yang sulit, anak didik cenderung berhenti untuk mengerjakan dan menyelesaikannya 25. Ketika guru menjelaskan materi, anak didik sibuk melakukan kegiatan lainnya yang tidak

(311) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 291 berkaitan dengan pembelajaran 26. kegiatan Anak didik melihat hasil pekerjaan temannya dalam menyelesaikan latihan soal Keterangan: SS = Sangat Sering S = Sering KD = Kadang-kadang TP = Tidak Pernah PETUNJUK PENENTUAN NILAI AFEKTIF 1. Menentukan skor untuk masing-masing kategori, yakni SS = 4, S = 3, KD = 2, TP = 1 2. Menjumlahkan skor perolehan untuk 26 aspek yang diamati 3. Rumus Penghitungan Skor Akhir 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐴𝑘ℎ𝑖𝑟 = Keterangan: 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑘𝑜𝑟 × 100% 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 = 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑘𝑎𝑡𝑜𝑟 × 4 Konversi skala 4 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐴𝑘ℎ𝑖𝑟 × 4 4. Kategori nilai sikap anak didik didasarkan pada Permendikbud No 81A Tahun 2013 yaitu : Sangat Baik (SB) : apabila memperoleh skor akhir : 3.33 < 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 Baik (B) ≤ 4.00 : apabila memperoleh skor akhir : 2.33 < 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟

(312) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 292 Cukup (C) Kurang (K) ≤ 3.33 : apabila memperoleh skor akhir : 1.33 < 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 ≤ 2.33 : apabila memperoleh skor akhir : 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 ≤ 4.00

(313) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 293 Lampiran 6 LEMBAR PENILAIAN PSIKOMOTORIK No Nama Peserta Didik Aspek Diana 1. Menerapkan permainan lego bricks untuk menghitung perkalian bilangan asli (perkalian 1 – 20) 2. Menggunakan permainan lego bricks untuk menyelesaikan persoalan perkalian bilangan asli (perkalian 1 – 20) yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari 3. Memaknai dan menafsirkan maksud dari soal dalam bentuk cerita 4. Langkah-langkah menggunakan permainan lego bricks berdasarkan petunjuk yang diberikan 5. Menyampaikan kesimpulan kegiatan pembelajaran Catatan Arya dari Keterangan : Rentang skor 1-4 dengan kriteria: 1 = Kurang Kompeten (menunjukkan sedikit capaian hasil belajar yang diharapkan) 2 = Cukup kompeten (menunjukkan sedikit capaian hasil belajar yang diharapkan) 3 = Kompeten (menunjukkan sebagian besar capaian hasil belajar yang diharapkan) 4 = Sangat kompeten (menunjukkan capaian hasil belajar yang diharapkan)

(314) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 294 LAMPIRAN III 3.1 Validasi RPP 3.2 Validasi LKS 3.3 Validasi Instrumen Lembar Observasi Aktivitas Belajar Anak Didik yang Ditinjau Dari Motivasi Belajar dan Hasil Belajar 3.4 Validasi Instrumen Lembar Tes 3.5 Validasi Instrumen Panduan Wawancara Sementara Mengenai Motivasi Belajar Anak Didik

(315) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 295 3.1 Validasi RPP

(316) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 296

(317) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 297

(318) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 298

(319) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 299

(320) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 300

(321) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 301 3.2 Validasi LKS

(322) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 302

(323) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 303

(324) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 304

(325) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 305 3.3 Validasi Instrumen Lembar Observasi Aktivitas Belajar Anak Didik yang Ditinjau Dari Motivasi Belajar dan Hasil Belajar

(326) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 306

(327) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 307

(328) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 308 3.4 Validasi Instrumen Lembar Tes

(329) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 309

(330) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 310

(331) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 311 3.5 Validasi Instrumen Panduan Wawancara Sementara Mengenai Motivasi Belajar Anak Didik

(332) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 312

(333) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 313

(334) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 314

(335) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 315

(336) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 316

(337) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 317 LAMPIRAN IV 4.1 Hasil Lembar Observasi Aktivitas Belajar Anak Didik yang Ditinjau Dari Motivasi Belajar dan Hasil Belajar 4.2 Hasil Lembar Tes Anak Didik

(338) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 318 4.1 Hasil Lembar Observasi Aktivitas Belajar Anak Didik yang Ditinjau Dari Motivasi Belajar dan Hasil Belajar

(339) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 319

(340) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 320

(341) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 321

(342) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 322

(343) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 323

(344) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 324

(345) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 325

(346) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 326

(347) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 327

(348) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 328

(349) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 329

(350) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 330

(351) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 331

(352) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 332

(353) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 333

(354) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 334

(355) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 335

(356) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 336

(357) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 337

(358) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 338

(359) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 339

(360) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 340

(361) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 341

(362) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 342

(363) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 343

(364) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 344

(365) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 345

(366) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 346

(367) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 347

(368) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 348

(369) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 349

(370) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 350

(371) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 351

(372) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 352

(373) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 353

(374) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 354

(375) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 355

(376) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 356

(377) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 357

(378) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 358

(379) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 359

(380) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 360

(381) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 361

(382) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 362

(383) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 363

(384) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 364

(385) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 365

(386) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 366

(387) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 367

(388) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 368

(389) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 369

(390) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 370

(391) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 371

(392) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 372

(393) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 373

(394) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 374

(395) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 375

(396) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 376

(397) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 377

(398) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 378

(399) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 379

(400) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 380

(401) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 381

(402) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 382

(403) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 383

(404) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 384

(405) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 385

(406) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 386

(407) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 387

(408) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 388

(409) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 389

(410) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 390

(411) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 391

(412) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 392

(413) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 393

(414) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 394

(415) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 395

(416) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 396

(417) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 397

(418) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 398

(419) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 399

(420) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 400

(421) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 401

(422) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 402

(423) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 403

(424) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 404

(425) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 405

(426) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 406

(427) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 407

(428) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 408

(429) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 409

(430) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 410

(431) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 411

(432) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 412

(433) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 413

(434) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 414

(435) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 415

(436) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 416 4.2 Hasil Lembar Tes Anak Didik

(437) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 417

(438) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 418

(439) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 419

(440) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 420

(441) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 421

(442) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 422

(443) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 423

(444) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 424

(445) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 425

(446)

Dokumen baru

Download (445 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA KANTONG BILANGAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS D5 DI SLB C YSSD SURAKARTA TAHUN AJARAN 2012/2013.
0
0
19
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
26
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
16
PENGARUH REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR MATA PELAJARAN FIQIH SISWA KELAS VIII MTS NEGERI SALATIGA TAHUN PELAJARAN 20162017 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidika
0
0
188
KEGIATAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS 1 SD DENGAN METODE MONTESSORI PADA POKOK BAHASAN MEMBACA DAN MENULIS LAMBANG BILANGAN DENGAN BANTUAN PAPAN SEGUIN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
0
0
146
PENGARUH PENGGUNAAN ALAT PERAGA KEPING PECAHAN TERHADAP MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN PECAHAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS IV SLB B KARNNAMANOHARA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pend
0
0
363
PERBEDAAN MOTIVASI BELAJAR MATA PELAJARAN MATEMATIKA ANTARA SISWA DENGAN SISWI KELAS VII SMP TAMAN DEWASA JETIS YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20092010 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mempe
0
0
121
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DAN SUASANA BELAJAR DALAM KELUARGA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMP BOPKRI 2 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20112012 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Progr
0
0
233
DESKRIPSI MOTIVASI BELAJAR INTRINSIK DALAM BELAJAR SISWA KELAS VII SMP STELLA DUCE 2 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20112012 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidi
0
0
115
DESKRIPSI MOTIVASI BELAJAR INTRINSIK PARA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 5 YOGYAKARTA TAHUN PELAJARAN 20112012 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN MODUL PENGEMBANGAN MOTIVASI BELAJAR SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pen
0
0
164
PEMANFAATAN MEDIA PERMAINAN ULAR TANGGA PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI MATERI FILUM CHORDATA UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X-F SMA N 11 YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidi
0
0
198
PENGARUH MOTIVASI DAN MINAT TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI LUAS PERMUKAAN DAN VOLUM PADA SISWA KELAS VIII-G SMP NEGERI 1 BANGUNTAPAN BANTUL DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperol
0
0
253
PEMANFAATAN PENDEKATAN ILMIAH (SCIENTIFIC APPROACH) TERKAIT MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN PERSEGI DAN PERSEGIPANJANG DI KELAS VII-H SMP NEGERI 1 BANGUNTAPAN BANTUL TAHUN AJARAN 20132014 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syar
0
0
248
PENERAPAN MEDIA ANIMASI PADA MATERI VIRUS UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X-4 SMA NEGERI 1 SIMO BOYOLALI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi
0
0
161
Show more