Hubungan antara kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan pada istri tentara Batalyon X - USD Repository

Gratis

0
0
175
1 month ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN TERHADAP PASANGAN DAN KEPUASAN PERKAWINAN PADA ISTRI TENTARA BATALYON X SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh: Gabriella Pundarika Taneira NIM : 139114079 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO It will get better. If there is no struggle in life, the is no progress – Frederick Douglass “For i know the plans i have for you”, declares the Lord, “plans to prosper you and not to harm you, plans to give you hope and a future”- Jeremiah 29:11 iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan kepada orangtua saya, Saudara dan keluarga besar saya. Terima kasih atas doa, kasih sayang, segala bentuk dukungan dan perhatian yang telah kalian berikan. Kepada diri sendiri, yang telah berhasil menyelesaikan skripsi ini dan mau untuk tetap maju Dan mengerjakan walaupun seringkali kesulitan silih berganti menghampiri. Atas semua usaha, tangis, putus asa. Finally, i did it. Thanyou God, You’re good, You’re my savior v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN TERHADAP PASANGAN DAN KEPUASAN PERKAWINAN PADA ISTRI TENTARA BATALYON X Gabriella Pundarika Taneira ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan pada istri tentara batalyon x. Hipotesis penelitian ini adalah adanya hubungan yang signifikan dan positif antara kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan pada istri tentara batalyon x. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 135 orang istri tentara yang berusia 18 hingga 40 tahun di Batalyon X. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala kepercayaan terhadap pasangan dan skala kepuasan perkawinan. Skala kepecayaan terhadap pasangan terdiri dari 17 item dengan koefisien reliabilitas = 0, 88 dan skala kepuasan perkawinan terdiri dari 15 item dengan koefisien reliabilitas = 0, 88. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji korelasi Pearson Product moment. Penelitian ini menghasilkan nilai korelasi r = 0, 631 dan nilai signifikansi p = 0,00 < 0,05. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan positif. Hal ini memiliki arti semakin tinggi kepercayaan terhadap pasangan maka semakin tinggi pula kepuasaan perkawinan. Sebaliknya, semakin rendah kepercayaan terhadap pasangan, semakin rendah pula kepuasan perkawinan. Kata kunci : kepercayaan terhadap pasangan, kepuasan perkawinan, istri tentara. vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI THE CORRELATION BETWEEN TRUST IN CLOSE RELATIONSHIP AND MARITAL SATISFACTION ON ARMY WIVES IN BATTALION X Gabriella Pundarika Taneira ABSTRACT This research aimed to know the correlation between trust in close relationship and marital satisfaction on army wives in battalion X. The hypothesis was that there was significant and positive relationship between trust in close relationship and marital satisfaction on army wives in battalion X. Subject in this research were 135 army wives aged 18 to 23 years old in battalion X. Data instrument be used were the scale of trust in close relationship and marital satsfaction. The reliability coeffient of trust in close relationship scale that consist of 17 items was = 0, 88 and the reliability coeffient of marital satisfaction scale that consist of 15 items was = 0, 88. The technique of data analysis is Pearson Product moment correlation test. This research showed that the value of Pearson Product moment correlation test was r = 0, 631 and significance level p = 0,00 < 0,05. The result indicated a significant and positive correlation between trust in close relationship and marital satisfaction. It was means that the higher level of trust in close relationship, the higher level of marital satisfaction on army wives in battalion x. Keywords: trust in close relationship, marital satisfaction, army wives viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Tritunggal dan Bunda Maria atas kasih karunia dan penyertaannya dalam menuntun peneliti hingga dapat menyelesaikan proses penulisan skripsi dengan judul “Hubungan Antara Kepercayaan Terhadap Pasangan Dan Kepuasan Perkawinan Pada Istri Tentara Batalyon X” ini dengan baik. Peneliti menyadari bahwa keberhasilan peneliti dalam menjalani proses penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan, dukungan, doa dan bimbingan dari berbagai pihak berikut ini, sehingga peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Ibu Dr. Titik Kristiyani, M. Psi., selaku Dekan tahun 2018 Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 2. Ibu Monica Eviandaru M., M. Psych., Ph. D., selaku Ketua Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 3. Bapak Edward Theodorus M. App. Psy., selaku dosen pembimbing. Terima kasih telah mendampingi dari awal sampai akhir. Terima kasih atas kesediaan waktu, tenaga dan kesabaran dalam membimbing setiap langkah proses penyelesaian skripsi ini. 4. Bapak Timotius Maria Raditya Hemawa M.Psi., selaku Dosen Pembimbing Akademik tahun 2013 – 2017. Terima kasih atas nasihat dan telah membimbing selama proses studi ini. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Bapak Prof. A. Supratiknya, Ph.D., selaku Dosen Pembimbing Akademik tahun 2017 – 2018. Terima kasih atas perhatiannya dan dukungannya dalam studi saya. 6. Seluruh Dosen dan staff karyawan di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan ilmu pengetahuan serta pengalaman selama masa perkuliahan. Terima kasih untuk kebaikan dan keramahannya. 7. Kepada Mama, Papa dan Adik yang sangat saya kasihi. Terima kasih untuk segala doa, dukungan, perhatian, kesabaran, dan cinta kasih yang telah kalian berikan selama ini. Terima kasih untuk selalu percaya bahwa gabby bisa menyelesaikan ini. Gabby sangat menyayangi kalian sampai kapanpun. Mama dan Papa adalah orangtua terbaik. Semoga Tuhan selalu memberkati Mama dan Papa, Amin. 8. Teruntuk wanita-wanita kuat, cabelita : Clara, Citra, Levianna, Anette, Vio, Bebing, dan Lia. Terima kasih atas banyaknya kenangan selama beberapa tahun ini. Kebersamaan ini akan sangat dirindukan. Ingatlah, jarak kita hanya sebatas chat, walaupun saya tidak bisa selalu ada bersama kalian, tapi saya akan selalu menyayangi dan mendoakan kalian. Kebersamaan kita semua akan selalu ditunggu ya, Luv! 9. Psikologi A angkatan 2013: Anette, Citra, Clara, Isabella, Leviana, Vionny, Lia, Anti, bunda Vivi, Cindy, Dea, Dhani, Dita, Doni, Erdian, Etha, Evelyn, Vita, Hans, Ignatia, Sonya, Keke, koko Edwin, Lias, mbakdi, Paskal, Praba, Rani, Rista, Sefa, SSSS, Tata, Tom, Vena, xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Vero, Yayak, Yesi, dan Yessica,. Terima kasih untuk kebersamaannya selama proses belajar di masa kuliah. Keep in touch ya. 10. Teman bimbingan skripsi : Vio, Anette, Visky, Cendy, Yayak, Ratih, Vita, Ciyus, Putri, Age, Rini, Rista, Andre, Mbakdia, Monik, Keke, Chocho, mbak Vivin, kak Dedi, Yesa, dan mbak Rini. Terima kasih untuk semangat dan bantuan kalian yang sangat memotivasiku dalam proses penyelesaian skripsi ini. Kalian luar biasa. 11. Putu Arividhea W., yang tau naik turun selama perkuliahan, dari yang pertama ngenalin kampus ini sampai tinggal bareng, dan yang mau dengerin cerita dari kanan ke kiri ga jelas tanpa menilai. Terima kasih udah mau selalu menemani, kasih semangat, kasih omelan, dan tentu canda tawa. Pokoknya terima kasih untuk semuanya. Maaf kalo pernah salah. You are truly my P-man (harusnya p-girl ya wkwk). 12. Seluruh teman di Fakultas Psikologi USD, khususnya Psikologi angkatan 2013. 13. Untuk AKSI 2016, Terima kasih atas kesempatannya untuk belajar dan mengembangkan diri. Khususnya Exhibiton 2016, Buat anindya, dicki, jessica, kezia, viona, ratna, steph, acong, dan wey, terima kasih sudah mau berdinamika bersama, jadi anak-anak yang baik dan membantu tutornya yang penuh kekurangan ini haha. Senang bgt bisa mengenal kalian dan melihat kalian sukses di berbagai kegiatan dan organisasi. Teruslah berkembang ya nak. Luv! xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14. Seluruh partisipan dalam penelitian ini yang telah mengisi dan membantu proses penyebaran skala penelitian ini yang tidak dapat peneliti sebutkan satu per satu. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mengisi skala penelitian ini. God bless you all. xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL………………………………………………………. i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING…………………. ii HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………... iii HALAMAN MOTTO…………………………………………………….... iv HALAMAN PERSEMBAHAN………………………………………….... v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA……………………. vi ABSTRAK………………………………………………………………… vii ABSTRACT…………………………………………………………………………. viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA………………....... ix KATA PENGANTAR…………………………………………………….. x DAFTAR ISI……………………………………………………………..... xiv DAFTAR TABEL…………………………………………………………. xvii DAFTAR GAMBAR……………………………………………………… xviii DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………… xix BAB I PENDAHULUAN A. Pengantar........................................................................................... 1 B. Latar Belakang……………………………………………………... 6 C. Rumusan Permasalahan..................................................................... 18 D. Ruang Lingkup Penelitian................................................................. 19 E. Tujuan Penelitian…………………………………………….... 20 F. Pertanyaan Penelitian……………………………………………... 20 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI G. Manfaat Penelitian............................................................................. 20 BAB II LANDASAN TEORI A. Pengantar........................................................................................... 22 B. Dinamika Psikologis Istri Tentara..................................................... 22 C. Kepuasan Perkawinan……………………………………………... 32 D. Kepuasan Perkawinan pada Istri Tentara……………………….…. 45 E. Kepercayaan Terhadap Pasangan………………………………...... 49 F. Kepercayaan Terhadap Pasangan pada Istri Tentara......................... 55 G. Hubungan Kepercayaan Terhadap Pasangan dan Kepuasan Perkawinan pada Istri Tentara........................................................... 58 H. Kerangka Konseptual........................................................................ 61 I. Hipotesis............................................................................................ 64 BAB III METODE PENELITIAN A. Pengantar..........……………………………………………………. 65 B. Rancangan Penelitian…………………………………………….... 65 C. Subjek Penelitian............................................................................... 66 D. Deskripsi Partisipan Penelitian........……………………………….. 67 E. Identifikasi Variabel Penelitian…………………………………..... 68 F. Definisi Operasional.......................................................................... 69 G. Prosedur Pelaksanaan........................................................................ 70 H. Instrumen Pengumpulan Data........................................................... 74 I. Validitas dan Reliabilitas................................................................... 82 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI J. Analisis Data……………………………………………….............. 87 K. Pertimbangan Etis.............................................................................. 89 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengantar.....................…………………………………………….. 92 B. Hasil Penelitian………....................……………………………….. 92 C. Pembahasan.....................………………………………………….. 101 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan………………………………………………………… 107 B. Keterbatasan Penelitian……………………………………………. 108 C. Saran.................................................................................................. 109 D. Komentar Penutup............................................................................. 111 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………… 113 LAMPIRAN……………………………………………………………….. xvi 118

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Deskripsi Jenis Kelamin Subjek ............................................. Tabel 3.2 Deskripsi Usia Subjek ....................................…………......... 68 Tabel 3.3 Blueprint Skala Kepuasan Perkawinan .................................. 76 Tabel 3.4 Distribusi item Skala Kepuasan Perkawinan .......................... 77 Tabel 3.5 Pemberian Skor Skala Kepuasan Perkawinan ........................ 79 Tabel 3.6 Blueprint skala kepercayaan terhadap pasangan ..................... 80 Tabel 3.7 Distribusi item skala kepercayaan terhadap pasangan ............ 81 Tabel 3.8 Pemberian skor skala kepercayaan terhadap pasangan ........... 81 Tabel 3.9 Hasil uji kesahihan item .......................................................... 85 Tabel 3.10 Hasil uji reliabilitas alat ukur penelitian ................................. Tabel 4.1 Jenis Kelamin Subjek ............................…………………….. 93 Tabel 4.2 Rentang Usia Subjek …………………………….......……… 93 Tabel 4.3 Data Empiris Skala Kepuasan Perkawinan ............................. 95 Tabel 4.4 Data Empiris Skala Kepercayaan Terhadap Pasangan ........... 96 Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas ............................................................... 98 Tabel 4.6 Hasil Uji Linearitas ................................................................. 99 Tabel 4.7 Kategorisasi Tingkat Korelasi dan Kekuatan Hubungan ........ 100 Tabel 4.8 Hasil Uji Korelasi ................................................................... 100 Tabel 4.9 Scatterplot ............................................................................... 103 xvii 67 87

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Skema 2.1 Kerangka Konseptual Penelitian ...........…………………….. 64 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Intrumen Penelitian......………………....... 119 Lampiran 2 Reliabilitas Skala ……………………......... 143 Lampiran 3 Hasil Uji Beda Mean …………………....... 148 Lampiran 4 Hasil Uji Beda Normalitas ……………….. 151 Lampiran 5 Hasil Uji Beda Linearitas ………………… 153 Lampiran 6 Hasil Uji Hipotesis………………………... 155 xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Pengantar Penelitian ini akan membahas mengenai kepuasan perkawinan pada istri tentara yang ditinggal suami bertugas. Peneliti memiliki ketertarikan terhadap topik ini karena: (1) peneliti merasa bangga berada dalam keluarga tentara, (2) peneliti kagum dengan ibu peneliti yang setia mendampingi ayah peneliti, (3) peneliti melihat ibu peneliti yang menjadi wanita kuat dalam menjalani peran ganda, (4) peneliti merasa prihatin kepada istri tentara yang kurang tegar saat menghadapi tekanan, (5) penelitian ini merupakan bagian dari usaha peneliti untuk memberikan kontribusi bagi keluarga tentara. Pertama, peneliti merasa bangga dan senang berada dalam keluarga tentara khususnya memiliki ibu yang bersuamikan anggota tentara. Peneliti adalah seorang anak pertama dari ayah seorang tentara sekaligus dokter dan ibu seorang perawat yang juga bekerja di rumah sakit tentara (RST). Peneliti dibesarkan dalam lingkungan keluarga tentara. Sejak kecil peneliti juga telah tinggal di dalam lingkungan komplek perumahan tentara. Peneliti merasa dapat tumbuh dan berkembang menjadi seseorang yang mandiri dan mudah beradaptasi. Hal ini dikarenakan peneliti sering berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti tugas ayah sebagai abdi negara yang harus siap ditempatkan di mana saja. Status sebagai anak seorang tentara menjadi suatu keistimewaaan tersendiri bagi peneliti. Dalam hal ini, Peneliti merasakan sesuatu yang mungkin tidak dapat dirasakan oleh anakanak lain, di mana peneliti harus cepat beradaptasi dan menerima perubahan 1

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 lingkungan serta teman di tempat yang baru. Saat anak-anak lain hanya tinggal di satu tempat dari masa kecil hingga masa dewasanya, peneliti telah tinggal di beberapa wilayah provinsi Indonesia. Peneliti pernah tinggal di Kota Kendari (Provinsi Sulawesi Tenggara), Kota Kupang (Provinsi Nusa Tenggara Timur), Kota Denpasar dan Singaraja (Provinsi Bali), dan Kota Malang (Provinsi Jawa Timur). Di sisi lain, peneliti pun merasakan pernah berpindah-pindah sekolah hingga empat kali dari Kendari hingga Denpasar. Hal ini tentunya masih kurang dengan pengalaman ayah dan ibu peneliti yang telah merasakan di tempatkan pada daerah-daerah lainnya di Indonesia sebelum peneliti dilahirkan. Namun, hal ini tidak menyurutkan kasih sayang dari orangtua untuk memperhatikan anakanaknya. Pengalaman-pengalaman yang cukup spesial inilah yang membuat peneliti memiliki kesan yang luar biasa menjadi anak tentara. Kedua, peneliti sangat kagum dengan Ibu peneliti yang selalu setia dalam mendampingi Ayah peneliti saat ditempatkan pada kesatuan militer yang baru. Ibu Peneliti sebagai istri prajuri TNI AD tentunya tidak dapat dipisahkan dari TNI AD itu sendiri, baik dalam menjalani tugas organisasi Persit (Persatuan Istri Tentara) maupun kehidupan pribadi. Ibu peneliti terbilang aktif dalam mengikuti tugas organisasi baik saat menjadi anggota kepengurusan bahkan memimpin anggotaanggota yang lain tanpa melupakan kewajibannya sebagai istri yang harus mengurus suami. Ibu peneliti setia mengikuti kemanapun Ayah peneliti ditugaskan seperti pada saat di Sulawesi, Nusa Tenggara Timur dan Jawa. Peneliti juga kagum dengan Ibu peneliti karena ibu peneliti memiliki kepercayaan yang besar kepada Ayah peneliti sewaktu Ayah peneliti ditugaskan untuk menjaga

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 keamanan negara seperti pergi ke daerah rawan konflik maupun tugas luar kota, di mana Ibu peneliti tidak pernah memikirkan hal-hal negatif, seperti hadirnya orang ketiga. Hal ini dapat peneliti lihat dari komunikasi Ibu dan Ayah peneliti yang selalu mencoba untuk tetap menjalin komunikasi seoptimal mungkin. Peneliti melihat bahwa Ibu peneliti dapat berkomunikasi melalui percakapan telepon dan pesan singkat bahkan ketika telpon genggam telah maju seperti saat ini, peneliti melihat bahwa Ayah peneliti terkadang mengirimkan foto-foto kondisi saat beliau sedang tugas di luar kota. Kekaguman peneliti atas kesetiaan ibu peneliti menjadi salah satu cerita favorit peneliti. Ketiga, peneliti melihat ibu peneliti yang menjadi wanita kuat dalam menjalani peran ganda. Di sini, peneliti melihat ibu peneliti sebagai pengganti sosok ayah yang seringkali bekerja ke luar kota. Sebelumnya, Ibu peneliti sudah memiliki pengalaman berada dalam keluarga tentara karena Ayah dari ibu Peneliti yang juga merupakan pensiunan tentara. Ibu peneliti sadar bahwa menjadi seorang istri tentara tidak hanya menjadi pendamping suami saja tetapi ikut mengabdi kepada negara. Istri tentara harus ikut larut dengan tugas-tugas suami sebagai prajurit. Istri sekaligus ibu harus menjadi sosok yang kuat, berani dan mandiri. Tugas seorang ibu tentu tidak mudah apalagi disertai dengan menjadi seorang istri tentara tetapi kedua peran tersebut harus dapat berjalan dengan selaras dan harmonis. Di samping itu, ibu peneliti juga sebagai pegawai negeri sipil yang notabene memiliki jam kerja yang telah diatur tetapi ibu peneliti dapat membagi waktunya dengan keluarga terlebih lagi ketika ditinggal bertugas oleh ayah. Hal ini membuat peneliti melihat ibu peneliti yang memiliki sikap mandiri, tegar dan

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 tabah karena adanya tanggungjawab untuk menjaga dan mengurus jalannya rumah tangga dan anak mulai dari perekonomian dan kesehatan. Keempat, peneliti merasakan keprihatinan terhadap istri-istri tentara yang kurang tegar menghadapi tekanan karena ditinggalkan oleh suami saat bertugas. Pada ujungnya, hal tersebut dapat mengarahkan istri-istri tersebut merasa sedih, stres, dan tidak bisa mengelola emosi. Waktu berkumpul dengan suami tentu menjadi harapan bagi setiap istri. Namun berbeda dengan istri tentara yang sudah harus siap jika sewaktu-waktu ada perintah untuk mengemban tugas negara seperti dinas keluar kota bahkan membantu menjaga perdamaian di perbatasan negara. Hal ini tentu tidak mudah di mana adanya kemungkinan tidak mendapatkan sinyal komunikasi untuk saling menghubungi satu sama lain bahkan ancaman-ancaman dari pihak luar yang dapat membahayakan nyawa tentara yang sedang bertugas. Kekhawatiran lain yang mungkin muncul adalah kecurigaan terhadap suaminya yang memiliki relasi dengan wanita lain saat bertugas dengan waktu yang cukup lama sehingga menimbulkan perasaan tidak aman. Pemikiran negatif akan berdampak pada kejenuhan istri dalam mengurus rumah tangga dan anak ketika ditinggal bertugas. Hal ini menjadi dasar rasa cemas dan stres yang sering kali menghinggapi para istri tentara sehingga menjadi orang yang kurang tangguh. Tugas istri tentara akan menjadi lebih berat apa lagi ketika istri tentara tersebut bukan berasal dari latarbelakang keluarga tentara di mana harus memulai dari awal mempelajari keadaan seorang tentara dan belajar beradaptasi dengan segala macam kegiatan istri tentara yang tergabung dalam Persatuan Istri Tentara (PERSIT). Setelah menjadi anggota Persit, istri tentara harus taat dengan aturan-

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 aturan yang berlaku di satuan suami. Adanya aturan dari segi etika berbicara, berpakaian dan perilaku akan membuat istri tentara merasa lebih berat. Terkadang berpindah-pindah tempat tinggal membuat istri tentara juga jauh dari keluarga sehingga seringkali merasa kesepian. Jika istri tentara tersebut terlambat menyadari tanggung jawabnya, maka akan memunculkan perasaan tidak berdaya yang akhirnya dapat mengganggu sisi psikologis istri tentara tersebut. Ketertarikan untuk mendalami tentang dinamika istri tentara menjadi salah satu alasan peneliti untuk melakukan penelitian ini. Kelima, penelitian ini merupakan bagian dari usaha peneliti untuk memberikan kontribusi bagi keluarga tentara. Sebagai mahasiswa psikologi, peneliti ingin memberikan dukungan bagi istri-istri tentara yang kesulitan mengelola emosi dengan cara yang dapat peneliti lakukan. Dalam hal ini, peneliti dapat mempelajari dari segi kognisi, afeksi, sosial dan perkembangan. Peneliti ingin melihat bagaimana kenyataan di lapangan dari relasi istri tentara dengan suaminya. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat sedikit memberi informasi bagaimana hubungan perkawinan yang terjadi. Adapun, peneliti juga dapat memberi informasi kepada Persatuan Istri Tentara (PERSIT) untuk berperan aktif dalam proses pengembangan diri istri tentara. Misalnya saja, seperti Ibu peneliti yang ikut tergabung dalam Persatuan Istri Tentara (PERSIT) menjadikan tempat tersebut sebagai sarana belajar berorganisasi, menjalin kebersamaan dan kekeluargaan antara istri tentara yang lain. Dengan begitu, penelitian ini nanti dapat memberikan hasil agar kedepannya dapat memperhatikan aspek-aspek yang masih kurang dalam memperkuat hubungan suami dan istri.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 Dari beberapa alasan yang telah peneliti sampaikan di atas, dapat dilihat bahwa peneliti memiliki ketertarikan akan relasi perkawinan pada istri tentara. Peneliti menggunakan penelitian ini sebagai wadah menggali informasi di mana diharapkan hasilnya dapat sedikit memperkaya hasil-hasil penelitian kedepannya. Dengan demikian, hal-hal menarik di atas menjadi awalan peneliti untuk memilih topik penelitian ini. Pada subbab selanjutnya peneliti akan membahas mengenai latar belakang dari penelitian ini. Selain itu, peneliti juga akan menuliskan mengenai rumusan masalah, ruang lingkup dari penelitian, tujuan penelitian dan manfaat penelitian. Latar belakang penelitian sendiri akan membahas mengenai fenomena yang terjadi dengan subjek dan sedikit penelitian terdahulu. Selanjutnya peneliti akan menjelaskan batasan kemampuan peneliti di mana hal ini akan masuk ke dalam ruang lingkup penelitian. Setelahnya, akan ada tujuan atau hasil yang diharapkan dari penelitian ini dan manfaatnya baik bagi orang lain, lembaga tekait dan tentunya komunitas ilmuwan psikologi. B. Latar belakang Indonesia sebagai negara berkembang tentu memiliki pasukan angkatan bersenjata. Salah satu angkatan bersenjata yang dimiliki Indonesia adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI) khususnya Angkatan Darat (TNI-AD). TNI-AD memiliki tugas yang cukup banyak dan terorganisir. Menurut Dinas penerangan TNI (2012), TNI-AD bertugas untuk menjaga wilayah daratan Indonesia hingga perbatasan dengan negara lain. Tugas TNI-AD juga mencakup menegakkan

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 kedaulatan negara dan mempertahankan keutuhan wilayah NKRI. Hal ini juga meliputi tugas untuk melindungi segenap bangsa dari ancaman serta gangguan. Selanjutnya, TNI-AD juga harus siap melaksanakan tugas khususnya di daerah rawan konflik, melawan separatis, melawan pemberontakan bersenjata dan aksi terorisme. Dengan kata lain, pasukan angkatan bersenjata memiliki peran yang cukup esensial bagi negara. Setiap prajurit harus siap melaksanakan keputusan yang diberikan atasannya terutama dalam hal bertugas dan siap mengesampingkan keinginan pribadi. Prajurit yang tidak taat aturan dan pedoman berarti telah membangkang atau melawan perintah atasan. Menurut Penerangan komando resor militer Halu Oleo (2016), demi menjalankan tugas yang diberikan oleh negara, seorang prajurit tentara harus memiliki sikap loyalitas, moralitas dan integritas yang tinggi. Di samping itu, sikap profesionalitas dan dedikasi juga tidak kalah pentingnya. Menurut (Purn) Panglima Jenderal TNI (dalam Komandan Lantamal VI Hadiri Pengarahan Panglima TNI Di Makassar, 2017), prajurit TNI harus taat kepada hukum, atasan dan menempatkan kepentingan rakyat dan juga kepentingan umum di atas segala-galanya. Hal ini berarti bahwa prajurit harus mementingkan satuan dan rela meninggalkan keluarga sewaktu-waktu saat diperlukan. Bagi prajurit yang telah berkeluarga, penugasan menjadi beban tersendiri karena harus berpisah dengan keluarga baik itu, orangtua, istri maupun anak. Hal ini diatur dalam Peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 39 Th. 2010 tentang administrasi prajurit tentara nasional Indonesia (Pemerintah Indonesia, 2010), di mana penugasan lebih lanjut diatur oleh Peraturan Panglima atau dalam

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 hal ini adalah atasan dari prajurit. Artinya, lamanya prajurit bertugas berlaku sesuai dengan kebijakan yang diberikan oleh atasan mereka, di mana perpanjangan masa tugas maupun percepatan kembali ke markas diatur sepenuhnya oleh atasan dan tidak dapat ditolak oleh prajurit. Hal ini didukung oleh Knobloch dan Wilson (2015), menyatakan bahwa lamanya penugasan tergantung pada bentuk penugasan itu sendiri dan semakin banyak gelombang pasukan yang berangkat maka akan semakin lama penugasan. Untuk itu, waktu penugasan yang dapat berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama dan tidak pasti agaknya berimbas pada relasi perkawinan. Banyaknya prajurit yang berangkat penugasan tentu memiliki dampak tersendiri baik bagi sang prajurit dan keluarga terutama istri. Data Departemen Pertahan Amerika Serikat pada tahun 2010 (dalam Knobloch & Wilson, 2015), menunjukkan bahwa 56% prajurit telah menikah pada saat mereka operasi militer dan 44% di antaranya merupakan orangtua dan harus meninggalkan anakanaknya. Bagi prajurit, dampak penugasan dapat berupa, simptom depresi, PTSD, dan penyalahgunaan alkohol (Knobloch & Wilson, 2015). Dampak lebih besar tentu dirasakan oleh keluarga terutama sang istri, seperti gangguan kesehatan mental (Mansfield, Kaufman, Marshall, Gaynes, Morrissey & Engel, 2010) dan sulitnya menjalin komunikasi (Galvin, Braithwaite & Bylund, 2015). Istri tentara menanggung beban yang cukup banyak, baik beban psikis, fisik, dan tanggung jawab lainnya. Menurut Segal (dalam Karney & Crown, 2007), istri tentara harus menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi pada saat operasi militer, lamanya penugasan yang tak tentu karena mungkin saja

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 diperpanjang, dan perpisahan paksa yang mungkin tidak dihadapi oleh pasangan sipil. Pada saat tenang pun, keluarga militer sering merasakan relokasi tempat kerja yang memisahkan mereka dengan sumber dukungan sosial dan karier di luar militer. Salah satu kemungkinan terburuk, seperti risiko kematian pasangan dapat turut dirasakan oleh istri tentara. Gugurnya prajurit menjadi cerita pahit yang harus dirasakan oleh istri selain beban lainnya. Menurut berita yang dilansir oleh Kompas.com, salah satu istri tentara harus rela ditinggal oleh sang suami untuk bertugas selama sembilan bulan (Irawan, 2016). Ia mengaku mengalami perasaan bimbang dan sedih saat mengantar kepergian sang suami untuk bertugas di daerah perbatasan Timor Leste. Perasaan haru terlihat menyelimuti kepergian sang suami di mana pada saat itu dalam keadaan sedang mengandung anak pertama hasil pernikahan. Selain itu, berita yang dilansir oleh Pro kalimanan Timur pada tahun 2015, memuat kisah salah satu istri prajurit yang tidak dapat bertemu dengan suaminya untuk selamalamanya setelah sang suami gugur dalam penugasan di Timor Timur (sekarang Timor Leste). Hal ini membuat semakin sedih ketika sang istri tidak bisa melihat jasad sang suami karena jasadnya telah dimakamkan di Timor Leste. Setelah kepergian sang suami, Ia menjadi orangtua tunggal dan menjadi tulang punggung keluarga di mana pada saat itu Ibu tersebut baru menginjak usia 20-an (Berbagi Cerita Dengan Istri Prajurit Yang Gugur, Lambaian Pagi Itu Ternyata Yang Terakhir, 2015). Selain itu, adalah istri Kapten Penerbang yang gugur pada saat pesawat latih tempur yang diterbangkannya terjatuh pada saat bermanuver (Yanuar, 2015). Lalu, gugurnya Prajurit TNI angkatan udara yang bertugas

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 sebagai pilot pesawat hercules yang jatuh di Medan. Kapten tersebut meninggalkan seorang istri dan dua anaknya yang masih batita (Arifin, 2015). Di sisi lain, hal yang juga mengkhawatirkan adalah penularan HIV/Aids pada prajurit yang sedang penugasan. Komisi penanggulangan AIDS mengatakan bahwa tentara dan polisi termasuk profesi yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Salah satu penyebabnya adalah para prajurit tersebut sering berpisah dengan istrinya dalam jangka waktu yang cukup lama (Manggiasih & Indreswari, 2010). Hal ini tentu saja membuat para istri tentara cemas dan khawatir dengan kondisi sang suami pada saat penugasan. Ditambah lagi, istri tentara juga tetap menjalankan kegiatan-kegiatan sebagai anggota dari organisasi Persatuan Istri tentara dan/atau pegawai bagi para istri yang bekerja. Hal ini didukung oleh pernyataan Panglima kodam II/Sriwijaya, bahwa peran dan tanggung jawab istri prajurit cukup berat dibandingkan dengan istri-istri yang lain. Seperti yang telah dijelaskan, istri tentara memiliki peran ganda, yaitu sebagai pendamping suami, ibu rumah tangga dan juga anggota organisasi Persatuan Istri Tentara. Semua peran diharapkan dapat berjalan beriringan sehingga sangat dibutuhkan perencanaan dan pengaturan waktu yang baik (Pusat penerangan TNI, 2012). Menurut Ketua Umum Dharma Pertiwi, peran ganda sering dilakukan pada saat suami ditugaskan ke medan perang. Istri prajurit bertanggung jawab sepenuhnya atas keluarga, mulai dari mengurus rumah hingga anak. Lalu, istri prajurit juga harus memiliki sikap yang mandiri, tegar dan tabah. Sikap yang tabah, mandiri dan siap mental mental kunci penting sebagai istri prajurit TNI (Dinas penerangan TNI AD, 2007). Artinya, seorang istri prajurit

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 harus mampu memahami tugas, peran dan tanggung jawab sang suami sebagai seorang prajurit. Seorang istri prajurit harus memberikan dukungan secara penuh agar para suami dapat menjalankan tugas sebagaimana mestinya (Pusat penerangan TNI, 2018). Tugas istri ini mencakup semua seperti mendidik anak, mengatur keuangan, mengatur rumah tangga, serta menjaga nama baik suami, keluarga maupun satuannya TNI (Karney & Crown, 2007). Untuk itu tugas menggantikan peran suami bagi seorang ibu cukup berat. Berdasarkan berita yang dilansir oleh TribunJateng.com, seorang istri tentara yang menjalankan peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan juga bekerja di salah satu rumah sakit (Pamungkas, 2016). Ia mengaku bahwa sang suami sering bertugas hingga larut malam bahkan pernah hingga 24 jam tidak pulang ke rumah. Ia juga pernah ditinggal suami bertugas ke luar pulau seperti Timor-Timur, Aceh, Ambon, dan Kupang. Biasanya, Ia akan ditinggal bertugas selama berbulan-bulan bahkan pernah hingga 18 bulan. Rentang waktu penugasan tergantung dengan perintah atasan dan persiapan pengganti yang akan mengantikan suaminya bertugas di tempat tersebut. Hal ini cukup jelas menunjukkan bahwa istri tentara memiliki peran ganda. Permasalahan kepuasan perkawinan pada istri tentara salah satunya adalah perceraian, di mana data di Indonesia cukup sulit utnuk ditemukan karena data tentara indonesia yang bersifat tertutup. Adapun data yang dapat dihimpun berasal dari tentara Amerika. Menurut berita yang dilansir oleh Nbcnews.com tahun 2008, menunjukkan data dari Departemen Pertahanan Amerika pada tahun 2008 memperkirakan ada 10.200 dari 287.000 perkawinan tentara aktif yang berakhir

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 dengan perceraian (Divorce Rate Increases in Marine Corps, 2008). Perceraian pada tentara dilihat terus-menerus meningkat setiap tahunnya, misalnya pada tahun 2008 tingkat perceraian sebesar 3,5 persen di mana hal ini naik dari tahun sebelumnya sebesar 3,3 persen. Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian Negrusa, Negrusa, & Hosek (2014), yang menunjukkan tingkat perceraian tertinggi terjadi antara tahun 2003 dan 2007 di mana penugasan semakin sering terjadi dan semakin berbahaya. Hasil penelitian juga menunjukkan durasi penugasan selama 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan menghadapi bahaya perceraian sebesar 1,4%, 1,8% dan di atas 2%. Semakin seringnya penugasan dan relokasi, semakin tinggi tuntutan terhadap keluarga dan prajurit sehingga hal ini menguji kekuatan hubungan pasangan. Perceraian tersebut tentu menjadi salah satu dampak yang nyata terjadi pada kehidupan istri tentara. Dari yang telah dituliskan pada paragraf di atas, istri tentara mengalami beberapa kesulitan dan beban tanggung jawab yang bermacam-macam. Berangkat dari hal tersebut, kemudian diadakanlah penelitian ini untuk mengukur kepuasan perkawinan pada istri tentara. Istri tentara dapat dilihat memiliki karakteriktik yang berbeda dengan istri sipil. Oleh karena itu, hal ini menjadi sesuatu yang cukup menarik untuk diteliti. Perkawinan yang bahagia dan sejahtera tentu dambaan semua pasangan. Hal ini sesuai dengan tujuan perkawinan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia tentang perkawinan. Menurut Undang-Undang No. 1 tahun 1974 pasal 1 yang menyebutkan bawah perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Salah satu penelitian juga menyebutkan bahwa seseorang yang menikah cenderung merasa lebih bahagia dibandingkan dengan individu yang tidak menikah (Myers dalam Papalia & Feldman, 2014). Penelitian lain juga mengemukakan bahwa individu yang menikah dan tetap dalam pernikahan, terutama perempuan, cenderung memiliki taraf finansial yang lebih baik dibandingkan yang tidak menikah ataupun yang bercerai (Hirschl, Altobelli, & Rank, 2003; Wilmoth & Koso, 2002 dalam Papalia & Feldman, 2014). Perkawinan yang sejahtera dan bahagia pada psikologi dapat dilihat sebagai salah satu kategori dalam kepuasan perkawinan. Salah satu teori yang membahas mengenai kepuasan perkawinan adalah teori yang dikemukakan oleh Olson. Kepuasan perkawinan dapat diartikan sebagai hasil evaluasi terhadap area-area dalam perkawinan yang mencakup beberapa hal seperti, kepribadian, kesetaraan peran, komunikasi, resolusi konflik, pengelolaan keuangan, kegiatan mengisi waktu luang, hubungan seksual, anak dan perkawinan, keluarga dan teman, serta orientasi keagaaman (Fowers & Olson, 1993). Ada beberapa hasil penelitian terkait dengan kepuasan perkawinan. Beberapa penelitian tersebut, menunjukkan hal-hal yang dapat menurunkan kepuasan perkawinan. Penelitian yang dilakukan oleh Amato, Johnson, Booth, & Rogers dalam Papalia & Feldman, 2014), menjelaskan bahwa kepuasan perkawinan dipengaruhi secara negatif oleh kohabitasi, perselingkuhan, tuntutan pekerjaan dan lamanya jam kerja. Hal ini jelas menujukkan bahwa pasangan yang memiliki tuntutan pekerjaan yang berat dan jangka waktu kerja yang cukup lama seperti

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 halnya penugasan cenderung menyebabkan kebahagiaan dalam perkawinan menurun. Masalah perkawinan lain yang turut menyebabkan turunnya kepuasan perkawinan adalah masalah keuangan, anak, kecemburuan, keluarga dari pasangan dan penyalahgunaan alkohol (Miller, Nunes, Bean, Day, Falceto, Hollist, & Fernandes, 2014). Selanjutnya, istri yang ditinggal bertugas juga cenderung mengalami masalah harga diri, depresi dan ketidakpuasan perkawinan (Glisson, Melton, & Roggow, 1981). Dari beberapa penelitian di atas, peneliti jarang menemukan penelitian mengenai kepuasan perkawinan dengan subjek istri tentara di Indonesia. Tinggi rendahnya kepuasan perkawinan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa unsur. Menurut Walgito (2002), salah satu unsur tersebut adalah unsur psikologis, di mana di dalamnya terkandung sikap saling percaya mempercayai. Rempel, Holmes, dan Zanna (1985), mendefinisikan kepercayaan terhadap pasangan sebagai suatu kekuatan dalam sebuah hubungan, di mana di dalamnya terdapat perasaan yakin dan aman yang berasal dari respon kepedulian pasangan. Kepercayaan menjadi sangat penting dalam membina keluarga terutama bagi istri, untuk menghindari perasaan cemburu, khawatir berlebih, dan sikap kurang percaya sehingga merusak hubungan perkawinan tersebut (Rempel, Holmes, & Zanna, 1985). Pada kenyataannya, cukup banyak istri prajurit yang kurang memahami tugas suami hingga tidak tahan dengan perpisahan yang memakan waktu cukup lama hingga menyebabkan masalah kecil sampai dengan perceraian. Hal ini menjadi dasar kemungkinan adanya hubungan antara kepercayaan terhadap pasangan dan juga kepuasan perkawinan.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Atta, Adil, Shujja, & Shakir (2013), menunjukkan bahwa kepercayaan dapat mempengaruhi kepuasan perkawinan. Seseorang dengan kepercayaan yang tinggi cenderung dapat menghindari perspektif negatif terhadap pasangan dengan cara lebih saling terbuka, saling peduli serta mengontrol emosi. Penelitian ini sendiri memiliki beberapa kelemahan seperti bias yang timbul akibat beberapa subjek menolak menjawab pernyataan seputar seksualitas akibat dari latar budaya setempat. Di samping itu, penelitian yang menghubungan kedua variabel ini masil terbilang jarang ditemukan. Hasil penelitian lain yang ditemukan mengikutsertakan variabel lainnya seperti, kesetiaan, komitmen, kelekatan, komunikasi dan dukungan sosial (McCray ,2015; Renanda, 2018; Muhardeni, 2018). Akan tetapi, penelitianpenelitian tersebut hanya menegaskan adanya hubungan dan kurang menjelaskan hubungan antar variabel secara rinci. Oleh karena itu, hubungan kepercayaan terhadap pasangan dengan kepuasan perkawinan perlu diperhatikan lebih lanjut terutama dalam konteks budaya indonesia. Berdasarkan uraian di atas, penelitian terdahulu mengenai hubungan langsung antara kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan yang masih terbatas membuat peneliti tertarik untuk meneliti mengenai variabel ini. Penelitian ini juga membawa tambahan pengetahuan baru di mana belum pernah dilakukan sebelumnya, yaitu peneliti akan menggunakan subjek hanya pada istri TNI-AD saja. Oleh karena itu, pada penelitian ini, peneliti ingin meneliti mengenai hubungan antara kepercayaan terhadap pasangan dengan kepuasan perkawinan pada istri Batalyon X untuk menambah wawasan dan informasi terkait baik bagi

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 orang terdekat, lembaga maupun komunitas ilmuwan psikologi khususnya di Indonesia Penelitian ini memilih subjek istri dari prajurit tentara bukan suami dari tentara wanita karena berdasarkan tugas-tugasnya, prajurit pria dan wanita memiliki tugas yang cukup berbeda dan jumlah tentara wanita yang lebih sedikit. Menurut Dinas Penerangan Angkatan Darat (2009), tugas tentara wanita berada pada bidang-bidang penugasan tertentu yang sesuai dengan kodratnya dan bersifat non tempur. Tugas tersebut juga lebih membutuhkan keahlian, keterampilan, ketelitian dan sifat keibuan, seperti pada bidang administrasi, bidang kesehatan dan bidang hukum. Di samping itu, suami sipil juga seringkali tidak diikutsertakan untuk menghadapi tekanan psikologis dan emosional dalam komunitas militer selayaknya persatuan istri militer yang mengumpulkan para istri tentara (Crooks & Henderson dalam Smith, Brown, Varnado, & Stewart-Spencer, 2017). Oleh karena itu, peneliti melihat istri tentara sebagai subjek yang menarik karena di samping ia harus mengurus rumah tangga, anak, menjaga keutuhan hubungan, ia juga menjadi anggota organisasi serta merasakan kepergian pasangan ke medan tempur yang dapat berisiko kematian, cacat tubuh, dan hilang. Peran yang cukup besar juga dapat dilihat dari berbagai pihak seperti 1) keluarga, 2) organisasi persatuan istri tentara, dan 3) komuntas ilmuwan psikologi. Pertama, peran dari pihak keluarga dalam membantu istri tentara yang ditinggal bertugas dengan cara memberi penguatan dan penghiburan. Di atas telah disebutkan bahwa istri tentara dapat mengalami gangguan kesehatan mental dan juga sulit menjalin komunikasi. Pihak keluarga, dalam hal ini suami, anak,

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 orangtua, dan sanak saudara lainnya dapat mendukung istri tentara dengan mengunjungi dan mengajak berrekreasi atau sekedar berbincang-bincang bersama istri tentara yang ditinggal bertugas. Menurut Pratiwi (2016), dukungan sosial keluarga dapat berupa pemberian informasi baik secara verbal maupun nonverbal, saran, dan bantuan secara nyata. Tambahan pengetahuan penting bagi pihak keluarga. Dengan adanya tambahan pengetahuan, pihak keluarga dapat lebih memperhatikan istri tentara dan mendukung istri tentara dengan cara yang lebih tepat. Kedua, organisasi persatuan istri tentara yang berperan dalam membina istri tentara dengan membekali sejumlah pengetahuan dan keterampilan baik dalam hal organisasi, etika, olah tubuh, dan kesehatan (Yudha, 2017). Organisasi ini juga berperan untuk mewujudkan rasa kesatuan perjuangan antara istri tentara, dan mengikat rasa persaudaraan serta kekeluargaan (Persit Kartika Chandra Kirana Pengurus Pusat, 2017). Tambahan pengetahuan ini nantinya penting bagi organisasi agar organisasi dapat memberikan perhatian lebih pada relasi perkawinan anggota persit. Selama ini, organisasi hanya terpatok pada hal-hal dalam organisasi secara struktural saja. Komunitas ilmuwan psikologi juga memiliki andil peran untuk meningkatkan pengetahuan mengenai topik-topik penelitian. Pengembangan pengetahuan juga dilakukan untuk memahami mengenai perilaku seseorang dan juga orang lain. Tambahan pengetahuan ini penting bagi komunitas ilmuwan psikologi agar lebih berupaya untuk mengembangkan penelitian yang berkelanjutan serta memberikan kunjungan dan juga seminar untuk meningkatkan kualitas

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 perkawinan yang bahagia dan stabil kepada istri tentara maupun masyarakat umum. Kajian mengenai topik penelitian ini diperlukan guna menambah pemahaman yang berkenaan dengan dinamika psikologis istri tentara yang masih kurang. Penelitian mengenai kepuasan perkawinan pada istri TNI-AL menggunakan sampel sebanyak 52 orang di mana peneliti mengatakan bahwa penelitian tersebut memiliki banyak kendala, berlokasi di daerah Surabaya dan subjek penelitian yang masih kurang mencakup populasi sehingga diperlukan subjek yang lebih banyak agar dapat menggambarkan sampel istri tentara TNI-AL secara keseluruhan (Rachmawati & Mastuti, 2013). Oleh karena itu, penelitian yang akan diteliti ini perlu dilakukan karena beberapa alasan seperti jumlah subjek yang lebih banyak, berfokus pada istri TNI-AD dan dilakukan di daerah lain. Selain itu, penelitian ini penting guna menambah litelatur bagi yang ingin meneliti topik yang sama. C. Rumusan Permasalahan Dari beberapa teori yang telah disampaikan pada bagian latar belakang, dapat dilihat bahwa ketika seseorang merasakan kepuasan perkawinan maka ia akan menjalin relasi dengan lebih bahagia dan lebih bisa memahami satu sama lain (Matlin, 2012), serta terpenuhinya kebutuhan terlebih pada area-area perkawinan (Fowers & Olson, 1993). Hal ini tentu bertentangan dengan apa yang dirasakan oleh istri tentara di mana saat di tinggal bertugas akan mengalami hal-hal, seperti kesulitan untuk berkomunikasi (Galvin, Braithwaite & Bylund, 2015), risiko kehilangan nyawa pasangan dan tanggung jawab yang lebih besar (Karney &

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Crown, 2007). Selain itu, adanya hal lain seperti perselingkuhan dan lamanya jam kerja pasangan yang tak pasti dapat berhubungan secara negatif dengan kepuasan perkawinan (Amato, Johnson, Booth, & Rogers, 2003 dalam Papalia & Feldman, 2014). Hal tersebut dapat menimbulkan harga diri rendah, depresi dan ketidakpuasan perkawinan Glisson, Melton, & Roggow (1981). Penelitian sebelumnya mengatakan bahwa ada hubungan kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan. Menurut Atta, Adil, Shujja, & Shakir (2013), kepercayaan membantu pasangan mengelola emosi sehingga dapat menghindari pikiran-pikiran negatif. Kepercayaan juga menjadi salah satu hal yang berkaitan dengan kepuasan perkawinan (Walgito, 2002). Hal ini dapat diambil karena pada kepercayaan terkandung perasaan yakin terhadap pasangan di mana pasangan akan selalu peduli kepada pasangannya. Ditambah dengan penelitian terdahulu yang kurang banyak membahas kedua konstruk tersebut. D. Ruang lingkup penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menyadari akan keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti. Peneliti hanya akan melakukan penelitian yang telah ditetapkan oleh peneliti. Batasan dalam penelitian ini adalah mencari hubungan atau korelasi antara kepercayaan terhadap pasangan dengan kepuasan perkawinan pada istri tentara. Selain itu, penelitian ini akan mengambil data dari sampel istri tentara yang berada di Batalyon X. Hal ini berarti penelitian akan dilakukan dengan menggunakan sampel yang hanya mencakup beberapa istri tentara dari Batalyon.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 E. Tujuan penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu korelasi antara kepercayaan terhadap pasangan dengan kepuasan perkawinan pada istri tentara di Batalyon X. F. Pertanyaan penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan, yaitu: apakah ada hubungan antara kepercayaan terhadap pasangan dengan kepuasan perkawinan pada istri tentara di Batalyon X ? G. Manfaat penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat: 1. Bagi istri tentara Penelitian ini diharapkan agar dapat digunakan para istri tentara untuk merefleksikan keadaannya untuk dapat melakukan hal-hal positif walaupun dalam kondisi yang kurang berkenan, membangun kepercayaan kepada pasangan dan tidak perlu merasa sendiri sehingga para istri dapat mulai memperkuat bagian-bagian dalam perkawinan. 2. Bagi keluarga dan organisasi persatuan istri tentara Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan maupun informasi untuk keluarga dan persatuan istri tentara agar lebih memperhatikan

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 dan memberi dukungan kepada para istri tentara yang sedang menghadapi situasi di mana sang suami pergi penugasan. Di samping itu, keluarga dan persatuan istri tentara dapat berperan dengan secara berkala mengunjungi, memberi pendampingan dan mengadakan sesi pertemuan dan aktivitas yang meningkatkan suasana hati maupun lingkungan. 3. Bagi ilmuwan dan praktisi psikologi Penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber informasi dan referensi tambahan dalam hal kepercayaan terhadap pasangan dengan kepuasan perkawinan pada bidang ilmu psikologi. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan yang dapat menunjukkan hubungan antara kepercayaan terhadap pasangan dengan kepuasan perkawinan dan keterbatasan dari penelitian sebelumnya. memperbaiki

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Pengantar Pada bab ini, peneliti akan membahas mengenai dinamika psikologis yang terjadi pada istri tentara. Dinamika psikologis istri tentara akan dilihat dari dua perpektif yang berbeda, yaitu segi psikologi perkembangan dan segi psikologi sosial. Selanjutnya, peneliti juga akan membahas mengenai kepuasan perkawinan dan kepercayaan terhadap pasangan yang merupakan variabel dari penelitian. Pembahasan tersebut akan mencakup pengertian, aspek-aspek dan faktor yang mempengaruhinya menurut masing-masing variabel. Selain itu, kepuasan perkawinan dan kepercayaan terhadap pasangan juga akan dilihat dari sisi istri tentara dan hubungan kedua variabel tersebut. Berikutnya, bab ini juga akan memuat kerangka konseptual dan hipotesis penelitian yang akan diajukan oleh peneliti. B. Dinamika psikologis Istri Tentara Pada bab ini, akan dipaparkan mengenai dinamika psikologis istri tentara. Hal ini dapat menjadi rujukan untuk memahami gambaran istri tentara secara utuh. Bab ini akan membahas dinamika psikologis istri tentara dari dua perspektif yaitu, perspektif psikologi perkembangan dan psikologi sosial. 1. Istri tentara dalam perspektif Psikologi Perkembangan dewasa awal Bagian ini menjelaskan mengenai istri tentara yang berada dalam tahap dewasa awal. Dewasa awal sendiri akan dijelaskan mulai dari rentang usia, 22

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 tugas perkembangan, ciri-ciri dewasa awal, kematangan pada dewasa awal. Selain itu, hambatan yang dialami pada tahap perkembangan dewasa awal. Menurut perkembangan fisik, masa dewasa awal dimulai pada usia 18 tahun hingga 40 tahun (Hurlock, 1980). Dewasa awal menjadi puncak perkembangan kekuatan fisik seseorang yang kemudian akan pelan-pelan menurun sampai usia 40-45 tahun (Mappiare, 1983). Wanita dewasa awal mempunyai kesehatan yang baik, kematangan organ seksual, lancarnya siklus menstruasi, dan faktor kesuburan di mana wanita pada masa dewasa awal telah memungkinkan untuk memiliki dan mengasuh anak Menurut perkembangan kognitif, pada masa dewasa awal menunjukkan kemampuan mental yang jauh lebih matang. Menurut Pressey dan Kuhlen (dalam Mappiare, 1983), kemampuan mental pada masa ini dapat memudahkan dalam hal penyesuaian terhadap hal-hal baru seperti penalaran secara analogi, mengingat kembali informasi dan berpikir kreatif. Menurut perkembangan sosial, wanita dewasa awal mulai mencari lawan jenis dan mengembangkan hubungan mereka (Mappiare, 1983). Menurut Erikson (dalam Berk, 2012), pada tahap ini terjadi konflik psikologis antara keintiman vs isolasi, di mana pencapaian pada keintiman mendorong untuk membentuk komitmen cinta sedangkan tanpa hal ini maka akan mengarahkan pada kesepian dan keegoisan. Lalu, ketika ia sudah siap untuk hidup mandiri dan meninggalkan rumah, maka wanita dewasa awal akan memasuki kehidupan keluarga baru dalam pernikahan. Pernikahan sebagai gabungan

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 antara dua individu yang mulai menjalan peran pernikahan dan ke depannya peran sebagai orangtua (Berk, 2012). Tugas perkembangan pada dewasa awal menurut Havighurst (Dalam Mappiare, 1983), yaitu: a. Memilih teman bergaul (sebagai calon suami atau istri). b. Belajar hidup bersama dengan suami atau isteri. c. Mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga. d. Belajar mengasuh anak-anak. e. Mengelola rumah-tangga. f. Mulai bekerja dalam suatu jabatan. g. Mulai bertanggungjawab sebagai warga negara secara layak. h. Memperoleh kelompok sosial yang seirama dengan nilainilai pahamnya. Tugas-tugas perkembangan ini merupakan dasar keberhasilan tugas-tugas perkembangan pada usia-usia selanjutnya (Mappiare, 1983). Masa dewasa awal menjadi masa yang penting di mana masa ini berada dalam rentang usia yang panjang sehingga individu dapat meniti jenjang karir yang baik dan mendapatkan penghasilan yang tetap (Sumanto, 2014).

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 Ciri-ciri pada masa dewasa awal menurut Mappiare (1983), yaitu: a. Usia reproduktif (Reproductive age) Fase ini ditandai dengan memasuki tahap membangun rumah tangga bersama pasangan dan memulai peran sebagai orangtua dalam mengasuh anak-anak. Namun, beberapa orang dewasa awal yang menunda untuk membangun rumah tangga sebelum menyelesaikan kepentingan dalam hal pendidikan ataupun mencapai jenjang karir tertentu. b. Usia memantapkan letak kedudukan (settling-down age) Fase ini ditandai dengan individu menjalankan perannya sebagai orangtua dan memiliki kemantapan karir. Individu akan mengembangkan pola dalam kehidupannya secara individual dan menjadi jati dirinya selama rentang kehidupannya. c. Usia banyak masalah (Problem age) Fase ini ditandai dengan timbulnya masalah baru dengan tingkat yang lebih kompleks daripada masa perkembangan sebelumnya. Masalahmasalah akan timbul dari berbagai sisi yang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Individu yang tidak dapat menyelesaikan masalahnya akan mengalami kesulitan dalam melewati tugas perkembangannya. d. Usia tegang dalam hal emosi (Emotional tension) Fase ini ditandai dengan timbulnya masalah dalam hal karir, perkawinan, dan ekonomi. Permasalahan ini muncul karena adanya ketidaksinambungan antara harapan dan kemampuan yang dimiliki oleh

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 individu. Biasanya ketegangan secara emosional akan muncul dalam bentuk ketakutan atau kekhawatiran. Ketegangan emosi dapat berkurang apabila ada penyesuaian terhadap masalah yang muncul. Usia dewasa awal merupakan suatu masa di mana individu melakukan penyesuaian terhadap pola-pola kehidupan yang baru. Individu pada usia ini ditandai sebagai individu yang telah memasuki usia reproduktif, dan memantapkan letak kedudukannya. Selain itu, individu pada usia ini juga di hadapi pada ketegangan dalam emosi dan timbulnya berbagai masalah. Ciri-ciri kematangan pada dewasa awal menurut Anderson (dalam Mappiare, 1983), yaitu: a. Berorientasi pada tugas, bukan pada diri atau ego; individu yang telah matang akan lebih mengarah pada tugas-tugas yang sedang dikerjakan daripada mementingkan kepentingan dan perasaan diri sendiri. b. Tujuan-tujuan yang jelas dan kebiasaan-kebiasaan yang efisien; individu yang matang mengetahui mana hal yang pantas dan tidak pantas serta memiliki tujuan yang telah direncanakan secara saksama. c. Mengendalikan perasaan pribadi; individu yang telah matang tidak hanya memikirkan perasaan diri sendiri tetapi juga memikirkan perasaan-perasaan orang lain. d. Keobjektifan; individu yang telah matang pertimbangan sesuai dengan kenyataan yang ada. dapat memutuskan

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 e. Menerima kritik dan saran; individu yang telah matang dapat secara terbuka dalam menerima kritik dan saran dari orang lain. f. Pertanggungjawaban terhadap usaha-usaha pribadi; individu yang telah matang secara realistis dapat terbuka untuk menerima bantuan dari orang lain dengan tetap menanggung tanggungjawab secara pribadi. g. Penyesuaian yang realistis terhadap situasi-situasi baru; individu yang telah matang memiliki ciri-ciri yang fleksibel dan dapat menempatkan dirinya pada waktu dan tempat yang baru. Kematangan emosi merupakan hal yang cukup penting. Individu pada masa ini, tidak hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tetapi juga orang lain. Dari ketujuh ciri2 tersebut ada 4 ciri-ciri yang tampaknya penting yaitu orang tersebut memiliki tujuan yang jelas, dapat mengendalikan perasaan dan terbuka atas kritik dan saran serta bertanggungjawab. Tidak semua individu dapat berkembang sesuai tugas-tugasnya pada masa ini untuk mencapai kedewasaan atau kematangan. Ada cukup banyak yang kurang mampu untuk mengatasi masalah dengan baik. Adapun hambatan yang di alami individu akan dijelaskan di bawah ini : Hambatan dalam melewati tugas-tugas perkembangan masa dewasa awal (Mappiare, 1983), yaitu : a. Latihan yang tidak berkesinambungan (discontinuities in training). Hal ini berhubungan dengan proses belajar dan pengalaman masa lalu individu tersebut. Misalnya, ketika individu mengalami masa yang tidak

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 menyenangkan dengan lawan jenis ketika di masa remaja lalu memiliki pandangan tersendiri untuk menjauhi lawan jenis maka ketika dewasa ia akan mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan lawan jenis sehingga hal ini menyulitkannya untuk memilih calon suami atau istri. b. Perlindungan yang berlebihan (overprotectiveness). Hal ini berhubungan dengan pola asuh dari orangtua individu tersebut. Pola asuh yang sangat melindungi anak dapat membuat anak kurang mencoba hal baru dan melatih kemampuan dan keahliannya sehingga anak tumbuh menjadi orang yang kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan orang lain atau lingkungan baru, kesulitan dalam menghadapi tuntutan yang diberikan kepadanya dan menjadi orang dengan sikap yang selalu bergantung kepada orang lain. c. Perpanjangan pengaruh oleh peer-group (prolongation of peer-group influences). Hal ini berhubungan dengan teman-teman sebaya pada masa remaja individu tersebut. Pembentukan kelompok-kelompok pada saat masa remaja dapat mempengaruhi orang tersebut dalam urusan mencari pasangan lawan jenis dan persiapan memasuki dunia kerja. Teman sebaya yang tergabung dalam kelompok baik kelompok kecil maupun kelompok besar biasanya memiliki nilai-nilai yang dianut oleh anggota kelompok. Sikap konformitas yang tinggi dapat mengarahkan orang tersebut terlalu terikat dengan kelompok dan merasa telah nyaman berada dalam kelompok sehingga tidak memikirkan mengenai pasangan ataupun bekerja.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 d. Aspirasi yang tidak realistis (unrealistic aspirations). Hal ini berhubungan dengan kesulitan individu dalam tahap penyesuaian masa dewasa awal. Kesulitan ini dipengaruhi oleh konsepkonsep yang tidak realistis di dalam pikiran individu. Misalnya, ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan maka individu akan bingung menentukan pilihan. Dengan bertambahnya usia, semakin bertambah pula masalah yang muncul pada individu. Tidak dapat dipungkuri bahwa masalah tersebut dapat menjadi hambatan bagi seseorang untuk berkembang. Hambatan tersebut dapat berupa latihan yang tidak berkesinambungan dan perlindungan yang berlebihan. Selain itu, hambatan yang juga dapat terjadi adalah pengaruh teman sebaya dan ketidakrealistissan. Pada bagian selanjutnya akan dibahas mengenai dinamika psikologis yang dilihat melalui perspektif sosial. 2. Istri tentara dalam perkspektif Psikologi Sosial Perspektif kali ini menjelaskan mengenai bagaimana relasi antara istri tentara bersama orang lain, baik suami, keluarga, maupun organisasi persatuan istri tentara. Bagian ini mencoba untuk membantu memahami pikiran, perasaan, dan perilaku istri tentara yang dipengaruhi oleh orangorang disekitarnya. Menurut Lee (dalam Lestari, 2012), keluarga inti adalah anggota keluarga yang hanya diisi oleh tiga posisi sosial, yaitu: suami-ayah, istri-ibu, dan anak-

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 saudara. Menurut Galvin, Braithwaite & Bylund (2015), Keluarga militer merasakan perpisahan dan tingkat stres yang berbeda dan lebih mendalam daripada keluarga pada umumnya. Istri yang juga termasuk dalam anggota keluarga tetap dapat melakukan komunikasi dan pemeliharaan hubungan dengan sang suami yang bertugas tetapi dengan media yang berbeda. Menurut Carter, Loew, Allen, Stanley, Rhoades & Markman (dalam Galvin, Braithwaite & Bylund, 2015), Komunikasi dapat tertunda lebih lama apabila melalui surat, paket, dan surat elektronik atau dapat secara interaktif menggunakan panggilan telepon, pesan singkat serta video telepon. Namun hal ini dapat memunculkan rasa khawatir jika kontak tidak dapat terjadi setiap hari (Hall dalam Galvin, Braithwaite & Bylund, 2015). Menurut Galvin, Braithwaite & Bylund (2015), sebuah penelitian terhadap istri militer saat sang suami bertugas di mana pasangan tersebut memiliki sedikitnya satu anak mengatakan bahwa kadang kala istri militer menggunakan protective buffering technique atau menutupi informasi yang bersifat penuh tekanan dari sang suami. Hal ini kemungkinan dilakukan untuk menghindari meningkatnya tekanan sang suami yang sedang bertugas. Istri militer cenderung menutupi informasi ketika hal tersebut dapat menimbulkan risiko terhadap keselamatan sang suami seperti masalah kesehatan yang memburuk. Menurut Galvin, Braithwaite & Bylund (2015), Pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh cenderung menghadapi tantangan khusus, seperti pada halnya keluarga militer. Pasangan tersebut harus memiliki strategi tertentu

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 karena adanya halangan dalam berbagi tugas rumah tangga dan berbagi jaringan sosial. Jika istri sepenuhnya bergantung pada media pesan singkat untuk menjalin komunikasi maka pasangan cenderung menghindari topik yang sulit walapun dapat mengakibatkan stagnansi hubungan. Pertengkaran rumah tangga dapat terjadi ketika istri ditinggal oleh sang suami untuk bekerja. Penugasan dalam waktu yang lama juda dapat menyebabkan keharmonisan keluarga menjadi terganggu, memicu kecurigaan dan ketakutan terlebih ketika keluarga tersebut telah dikaruniai anak (Litiloly & Swastiningsih, 2014) Menurut Yuwana dan Maramis (1990), pada dasarnya, seorang istri menginginkan adanya dukungan, rasa aman dan penghargaan yang diberikan oleh sang suami. Bila hal ini tidak dapat terpenuhi, maka sang istri dapat merasa sedih, tidak berdaya, kesepian dan tidak mendapatkan dukungan dari sang suami. Selain itu, Istri memiliki sikap yang lebih sensitif terhadap masalah yang terjadi dalam rumah tangga (Amato, Booth & Johnson; Dion & Dion dalam Matlin. 2012). Oleh karena itu, sang suami tidak diperbolehkan mengesampingkan perasaan cemas, takut dan kesulitan yang dihadapi oleh istri (Yuwana & Maramis, 1990). Di sisi lain, pasangan suami istri yang dipisahkan karena bertugas dapat belajar menerapkan strategi dalam merawat hubungan sehingga membantu untuk mengatasi selama perpisahan dan ketidakpastian. Selain itu, istri militer melaporkan bahwa tugas dapat menguatkan hubungan antar suami istri dan lebih menghargai hubungan perkawinannya (Knobloch Theiss dalam Galvin,

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 Braithwaite & Bylund, 2015). Hal senada juga disampaikan oleh Kail & Cavanaugh (2010) di mana masalah serius yang terjadi dalam hubungan cenderung kurang merugikan satu sama lain dan mungkin dapat membuatkan ikatan kedua pasangan semakin kuat. Menurut Merolla (dalam Galvin, Braithwaite & Bylund, 2015), penelitian terhadap istri militer yang ditinggal bertugas menemukan bahwa terdapat tiga strategi dalam menjaga hubungan yang digunakan oleh pasangan. Pertama, strategi menjaga hubungan intrapersonal di mana dapat dilakukan dengan menulis buku harian, membangun pikiran positif, dan berdoa. Kedua, strategi mediasi di mana dapat dilakukan dengan mengirim surat elektronik, aplikasi webcam, paket, dan tidak terlepas dari afeksi dan intimasi. Ketiga, strategi dukungan keluarga dan sosial. Pada bagian selanjutnya akan dibahas mengenai kepuasan perkawinan. C. Kepuasan perkawinan Pada bagian ini, peneliti akan menjabarkan hal-hal yang berkaitan dengan variabel kepuasan perkawinan, mulai dari definisi, aspek-aspek yang membentuk kepuasan perkawinan, dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan perkawinan. lalu, bagian terakhir akan membahas mengenai proses yang terjadi dalam kepuasan perkawinan serta dampak yang ditimbulkan. 1. Definisi Kepuasan Perkawinan Menurut Matlin (2012), kepuasan perkawinan adalah sebuah kondisi perkawinan yang stabil, bahagia, saling memahami, saling menghargai dan

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 terpenuhinya kebutuhan emosional antara suami istri. Menurut Terman (dalam Hurlock, 1953), menjelaskan kepuasan perkawinan sebagai hasil dari sebuah perkawinan tergantung dari hal-hal penting yang ada di dalam perkawinan tersebut, yaitu sikap kepada pasangan, prioritas suami istri, pola kebiasaan dan perasaan emosional serta penyesuain diri satu sama lain. Lestari (2012), berpendapat bahwa kepuasan perkawinan merupakan suatu evaluasi kognitif yang dimiliki oleh pasangan suami istri yang berisi perasaan positif atas perkawinan dan memandang kepuasan lebih luas dari kenikmatan dan kesenangan. Menurut Noller & Fitzpatrick (1993), kepuasan perkawinan mengacu pada bagaimana cara suami dan istri dalam menggambarkan dan mengevaluasi kualitas perkawinan mereka. Ada pula definisi kepuasan perkawinan menurut Lemme (1995), yaitu penilaian yang dilakukan oleh pasangan suami istri dan cenderung dapat berubah-ubah sepanjang perjalanan hubungan perkawinan. Selain itu, Menurut Fowers & Olson (1993), menyebutkan bahwa kepuasan perkawinan sebagai hasil evaluasi terhadap area-area dalam perkawinan yang mencakup beberapa hal seperti, kepribadian, kesetaraan peran, komunikasi, resolusi konflik, pengelolaan keuangan, kegiatan mengisi waktu luang, hubungan seksual, anak dan perkawinan, keluarga dan teman, orientasi keagaaman. Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kepuasan perkawinan adalah sebuah hasil dari evaluasi secara menyeluruh dan berkesinambungan yang dilakukan oleh pasangan suami istri guna

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 melihat kualitas hubungan mereka sesuai dengan area-area di dalam perkawinan. 2. Aspek-aspek kepuasan perkawinan Menurut Olson & Olson (2000), terdapat beberapa aspek yang dapat menjadi indikator kepuasan perkawinan. Aspek-aspek tersebut antara lain : a. Komunikasi Komunikasi adalah suatu hal yang paling penting dalam perkawinan. Komunikasi merupakan perasaan dan sikap yang muncul terhadap pasangan untuk membantu menjaga keharmonisan suatu hubungan. Komumikasi dapat dibangun dengan cara memulai percapakan satu sama lain setiap harinya. Selain itu, pasangan yang memiliki komunikasi yang baik memiliki sikap saling terbuka, sikap asertif, menjadi pendengar yang aktif dan saling memberikan pujian. Komunikasi yang kurang baik akan menimbulkan kesalahpahaman antar pasangan sehingga dapat menimbulkan konflik. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Olson & Olson (2000), komunikasi dapat melihat tingkat kenyaman satu sama lain dalam membagi perasaan dan kepercayaan, memahami kemampuan pasangan dalam hal mendengarkan dan berbicara dengan pasangan, serta memahami kemampuan dirinya sendiri dalam berkomunikasi dengan pasangan.

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 b. Fleksibilitas pasangan Fleksibilitas pasangan adalah perasaan dan sikap antar pasangan dalam berbagi peran dalam perkawinan dan keluarga. Hal ini dapat ditingkatkan dengan cara saling peduli satu sama lain. Dalam Olson & Olson (2000), fleksibilitas pasangan menggambarkan kapasitas pasangan dalam menghadapi perubahan dan mampu beradaptasi dengan hal tersebut. Fleksibilitas dapat berfokus pada isu kepemipinan dalam rumah tangga, kemampuan dalam menukar tanggung jawab pasangan dan mengatur peraturan yang ada. Selain itu, pasangan yang membagi tugas secara sama rata dalam hal urusan rumah tangga, mengurus anak dan tanggung jawab bersama dalam mengambil keputusan dapat disebut sebagai pasangan egalitarian. Adanya hubungan egalitarian membuat pasangan merasa lebih bahagia karena mereka membagi tugas secara sama rata dan sebaliknya. Pasangan juga dapat membagi tugas sesuai dengan keahliaan dan ketertarikan dalam tugas rumah. c. Kepribadian Kepribadian merupakan sifat atau perilaku masing-masing individu. Di dalam suatu hubungan, pasangan yang baik tidak ditentukan oleh kesamaan hobi, pekerjaan ataupun karakter untuk dapat bersatu dalam perkawinan. Perbedaan ini dapat di atasi dengan adanya penerimaan diri dan rasa pengertian dari setiap invidu kepada pasangannya. Menurut Olson & Olson (2000), ketidakcocokan kepribadian pada pasangan dapat lihat

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 dari sifat amarah, emosi yang berubah-ubah, kecemburuan, dan perilaku posesif. Selain itu, pasangan yang memiliki kepribadian yang cenderung buruk dapat dilihat dari perilaku memperlihatkan keintiman pada khalayak umum dan pengunaan zat-zat berbahaya. Sedangkan, pasangan yang memiliki kepribadian yang baik dilihat memiliki sikap yang tidak terlalu mengatur. d. Resolusi konflik Resolusi konflik didefinisikan sebagai suatu sikap, perasaan dan pikiran seseorang terhadap keberadaan suatu masalah dalam hubungannya. Resolusi konflik digambarkan sebagai pemecahan masalah untuk mencari jalan keluar yang baik bagi satu sama lain. Resolusi konflik merupakan strategi dan proses yang digunakan untuk mengakhiri perdebatan sehingga menghasilkan tingkat kepuasan terhadap perilaku pasangan saat menyelesaikan masalah. Resolusi konflik yang baik dapat dilihat dari cara pasangan dalam saling terbuka dalam menyelesaikan masalah. Pasangan yang memiliki resolusi konflik yang cenderung buruk memiliki cara resolusi yang kurang efektif seperti menyalahkan pasangan dan membawa kembali masalah di masa lalu. e. Relasi seksual Relasi seksual adalah perasaan puas karena telah terpenuhinya keintiman afeksi yang diperoleh dari pasangan dalam melakukan

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 hubungan seksual. Pasangan yang cenderung kurang memiliki kepercayaan dengan pasangannya, selalu berpikiran mengenai masalah keuangan dan selalu mengalami konflik destruktif di mana dapat mempengaruhi kepuasan hubungan seksual satu sama lain. Lalu, pasangan yang memiliki relasi seksual yang rendah cenderung kurang memberikan afeksi dan mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya mengenai hubungan seksual. Di sisi lain, pasangan yang mempunyai ikatan emosi yang baik cenderung memiliki hubungan fisik yang baik pula. Hal ini dapat dilihat dari terciptanya hubungan seksual yang berasal dari keintiman secara emosional berdasarkan komunikasi yang terbuka dan kejujuran. Oleh karena itu, kepuasan relasi seksual dapat ditingkatkan dengan menjaga afeksi dan komunikasi terhadap kebutuhan dan ketertarikan masing-masing individu. f. Pengaturan ekonomi Pengaturan ekonomi merupakan sikap pasangan dalam memperhatikan masalah keuangan. Sikap yang baik dalam mengatur keuangan dapat mengolah pendapatan untuk kebutuhan menabung dan berbelanja. Pengaturan ekonomi yang tinggi dapat mengukur batas-batas pengeluaran, bersama-sama dalam membuat keputusan pengeluaran, dan membuat anggaran belanja bersama. Sebaliknya, sikap yang buruk dapat menyebabkan Perbedaan yang semakin besar antara berbelanja dan menabung di mana hal ini akan membuat semakin besar pula kemungkinan

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 untuk munculnya konflik antar pasangan akibat masalah keuangan. Selain itu, pasangan akan cenderung tidak dapat mengontrol pemakaian kartu kredit yang mengarah pada utang yang lebih besar. Keseimbangan dalam pemasukan dan pengeluaran adalah tanggung jawab bersama sehingga pengelolaan keuangan tetap berjalan secara stabil. g. Pemanfaatan waktu luang Pemanfaatan waktu luang dapat diartikan sebagai sarana individu dalam melewatkan waktu senggang. Waktu luang merupakan sarana yang tepat untuk melepaskan rasa penat sehingga dapat kembali menjalani rutinitas dengan energi yang pulih. Pemanfaatan waktu luang dapat dilakukan sendiri, bersama dengan keluarga ataupun sahabat. h. Keluarga dan teman Hal ini didefinisikan sebagai perasaan dan sikap seseorang terhadap keluarga, sanak saudara ipar, dan teman-teman. Sikap yang baik akan memiliki waktu untuk dilewatkan bersama keluarga ataupun teman dan sebaliknya. Di samping itu, Sosok teman menjadi orang yang dapat memberikan bantuan atau pendapat saat tertimpa persoalan. i. Spiritualitas Spiritualitas merujuk pada kualitas kebatinan individu dengan Tuhan dan makhluk lain. Pasangan yang memiliki spriritualitas yang tinggi

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 cenderung membagikan nilai-nilai religiusitas kepada pasangan untuk meningkatkan hubungan mereka. Pasangan tersebut juga cenderung merasa lebih dekat satu sama lain ketika mereka membagikan keyakinan spiritualitas mereka. Keyakinan yang dimiliki oleh pasangan juga dapat menjadi patokan bagi pasangan ketika mengalami kesulitan. Menurut penelitian Mahoney, Pargament, Swank, Scott, Emery, & Rye (dalam Olson & Olson, 2000), pasangan yang memasukkan keagaman dalam perkawinan mereka cenderung lebih baik dalam penyesuaian perkawinan, lebih merasakan keuntungan dari perkawinan dan sedikit mengalami konflik. Di sisi lain, tingkat spiritualitas pasangan dapat menjadi sumber masalah dalam praktik keagamaan apabila pasangan memiliki agama yang berbeda. j. Pola pengasuhan Pola pengasuhan adalah tanggung jawab orangtua dalam perkembangan anak-anak mulai dari harga diri, rasa tanggung jawab, nilai moral, kesehatan fisik, kesehatan emosional dan kebutuhan anak dalam mengembangkan sikap sosial dan emosi. Pola pengasuhan seperti pengasuhan demokrasi, pengasuhan otoriter, pengasuhan permisif, pengasuhan yang mengabaikan dan pengasuhan yang sama sekali tidak terlibat akan menghasilkan perilaku anak-anak yang baik ataupun buruk. Pola pengasuhan yang baik dapat timbul dengan cara memprioritaskan kerjasama antar pasangan sebagai suatu tim yang solid. Selain itu, pola

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 pengasuhan juga dapat dibangun dengan cara saling mendukung dan memiliki aturan disiplin yang sama. Berdasarkan uraian di atas, terdapat beberapa aspek kepuasan perkawinan di antaramya, komunikasi, fleksibilitas pasangan, kepribadian, resolusi konflik, relasi seksual, pengaturan ekonomi, pemanfaatan waktu luang, keluarga dan teman, spiritualitas dan pola pengasuhan. 3. Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Perkawinan Dalam sebuah perkawinan memiliki dinamika yang terus berubah dan berkembang sepanjang waktu. Setiap perkawinan memiliki faktor yang mempengaruhi kepuasan. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi atau mendukung tercapainya kepuasan perkawinan tersebut. Menurut Hurlock (1953); Hurlock (1980), mengatakan bahwa kepuasan perkawinan di pengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya: a. Usia suami maupun istri, Pasangan dapat merasa bahagia ketika mereka memiliki pasangan lebih tua atau bahkan usia yang setara. Usia berhubungan denggan perkembangan psikologis, pertumbuhan ekonomi dan sosial seseorang (Walgito, 2002). Usia tahap dewasa awal merupakan orang yang sudah mulai matang dalam berpikir dan bertingkah laku (Walgito, 2002).

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 b. Lamanya masa pengenalan, penyesuaian yang baik akan terjadi ketika pasangan sama-sama telah mengenal dalam waktu yang cukup lama (Locke & Karlsson dalam Hurlock, 1953). c. Pendidikan, pasangan yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi akan memiliki tingkat kepuasan perkawinan dan penyesuaian seksual yang lebih baik (Terman & Olden dalam Hurlock, 1953) d. Latar belakang budaya, latar belakang seperti pendidikan, keagamaan dan keluarga yang cukup berbeda dapat menjadi alasan ketidakpuasan dalam perkawinan apabila pasangan tidak ingin mempelajari hal tersebut. e. Status ekonomi, penghasilan yang stabil dapat mempengaruhi kepuasan perkawinan. Semakin rendah penghasilan maka makin besar kemungkinan pasangan mengalami ketidakpuasan. Penghasilan yang mencukupi dalam berperan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. f. Jumlah anak, ada tidaknya anak atau banyak sedikitnya anak cukup mempengaruhi kepuasan perkawinan pada pasangan suami istri. Selain itu, cara merawat anak juga dapat menjadi alasan perselisihan pada suami istri. g. Minat sosial, pasangan suami istri yang memiliki aktivitas sosial dan sering bersosialisasi memiliki kepuasan perkawinan yang baik daripada pasangan yang kurang memilikinya. h. Kepribadian, pasangan suami istri lebih merasakan kepuasan ketika mereka memiliki kesamaan dalam hal pandangan atau sikap untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman atau terlalu sering berargumen.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 i. Pengalaman masa kecil, pengalaman dapat meninggalkan kesan yang tidak dapat dihilangkan dari pikiran dan dapat berefek pada sikapnya di masa depan. j. Sikap terhadap seks, pasangan yang dapat berbicara terbuka atau tidak kaku dilihat lebih menarik daripada pasangan yang canggung. Menurut Matlin (2012), kepuasan perkawinan yang ditunjukkan dengan adanya kondisi perkawinan yang bahagaia, awet dan stabil memiliki beberapa karakteristik yang dapat dilihat, yaitu : a. Kestabilan emosi. b. Komunikasi yang baik dan saling memahami. c. Memberikan saran yang membangun dan menunjukkan kasih sayang. d. Resolusi konflik. e. Kepercaayaan kepada pasangan. f. Saling mendukung. g. Memperhatikan kesejateraan pasangan. k. Fleksibilitas pasangan. l. Bekerja sama dalam mengasuh anak dan tugas rumah tangga. h. Bekerja sama dalam membuat keputusan. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa kepuasan perkawinan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di bawah ini, akan dijelaskan mengenai bagaimana proses perkawinan seseorang dan seperti apa dampak yang

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 ditimbulkan baik dari kepuasan perkawinan yang tinggi dan juga rendah. Di samping itu, Penelitian ini akan lebih banyak membahas mengenai faktor usia sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan perkawinan. 4. Proses dan dampak Kepuasan Perkawinan Seperti hubungan pada umumnya, perkawinan juga dapat mencapai titik tertinggi dan titik terendah. Perkawinan mempunyai polanya tersendiri bagi pasangan suami-istri. Pada penelitian yang pernah dilakukan, kebanyakan pasangan merasakan kepuasan perkawinan tertinggi pada awal perkawinan, lalu menurun pada saat pasangan memiliki anak dan meningkat ketika anak mulai meninggalkan rumah. Kemudian naik lebih tinggi lagi pada tahapan umur selanjutnya (Kail & Cavanaugh, 2010). Pola perkawinan yang terjalin selama bertahun-tahun dapat ditentukan oleh sifat ketergantungan pasangan kepada satu sama lain. Perkawinan dapat terjalin dengan kuat dan dekat antar pasangan jika satu sama lain memiliki sifat ketergantungan yang seimbang dan setara. Hal ini dapat menimbulkan stress dan konflik apabila salah satu pasangan memiliki sifat ketergantungan yang lebih tinggi (Kail & Cavanaugh, 2010). Awal perkawinan merupakan jalinan hubungan yang paling bergairah. Pasangan yang baru saja sah menjadi suami istri cenderung membagikan kegiatan-kegiatan mereka dan mencoba pengalaman-pengalaman yang baru secara bersama-sama (Olson & mccubin dalam Kail & Cavanaugh, 2010). Masa awal perkawinan tersebut dianggap sebagai fase yang paling

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 membahagiakan bagi para pasangan yang baru saja menikah (Karney & Bradbury dalam Matlin, 2012). Pada awal perkawinan juga ditandai dengan adanya cinta yang mendalam untuk pasangan mereka sesuai dengan kualitas yang miliki dari pasangan tersebut. Misalnya, pasangan wanita cenderung melihat pasangan pria dalam hal perilaku yang mendukung, perasaan yang terkendali dan kurangnya risiko perceraian (Neff & Karney dalam Kail & Cavanaugh, 2010). Menurut Hurlock (1980), wanita dengan kepuasan perkawinan yang tinggi dapat mengarahkan kepada perasaan yang optimis dan memandang hari-hari ke depan dengan lebih realistis. Selain itu, ia akan memandang dirinya dengan citra yang positif dan memiliki penyesuaian diri yang baik sehingga merasa lebih puas dan lebih bahagia. Kepuasan perkawinan yang tinggi pada wanita juga berhubungan dengan kerjasama suami yang ikut membantu tugas-tugas rumah tangga (Matlin, 2012). Di samping itu, pasangan yang memiliki komitmen yang nyata dan berkelanjutan akan menjalani hubungan yang berkualitas dan tetap awet (Berk, 2012). kepuasan perkawinan meningkatnya yang tinggi kesejahteraan wanita juga dapat muda. Dalam dikaitkan dengan hubungan ini, kesejahteraan dapat diartikan sebagai kesejahteraan secara umum maupun seperti kesejahteraan finansial, kesejahteraan subjektif dan kesejahteraan psikologis (Thoresen, Goldsmith, & Thoresen, 1987; Wadsworth, 2015; Suhail & Chaudhry, 2004; Gove, Hughes, & Style, 1983). Hasil penelitian menjelaskan bahwa kesejahteraan bisa timbul karena ada unsur yang

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 mempengaruhi, seperti gender, pemasukan rumah tangga, status pekerjaan, usia, ras, status perkawinan dan jumlah anak. Hal ini bisa terjadi karena perkawinan menawarkan sesuatu yang berbeda bagi setiap orang seperti, hubungan sosial, emosional, ekonomi, fisik, dan hubungan seksual yang mengarah pada kebahagiaan dan kepuasan hidup (Wadsworth, 2015). Pada dasarnya, kesejahteraan orang yang telah menikah cenderung meningkat lebih tinggi dan memberikan efek positif daripada orang yang tidak menikah atau hidup sendiri. Hal ini lantaran ia membutuhkan orang lain untuk menemani dan memberikan dukungan sosial (Gove et al., 1983). Bagaimanapun juga, kepuasan adalah suatu yang kompleks di mana dapat berubah sepanjang waktu. Kepuasan perkawinan pada pasangan usia lanjut dapat saja meningkat ketika pasangan memasuki masa pensiun tetapi bisa saja kembali menurun karena datangnya masalah kesehatan dan faktor usia senja (Miller, Hemesath, & Nelson dalam Kail & Cavanaugh, 2010). D. Kepuasan perkawinan pada istri tentara Masa dewasa awal adalah waktu di mana wanita muda mulai menjajaki hubungan yang serius dengan lawan jenis. Hal ini sesuai dengan tugas perkembangannya di mana pada masa dewasa awal wanita muda digambarkan mulai memikirkan mengenai hidup bersama suami dan membangun keluarga (Havighurst dalam Mappiare, 1983). Hal ini juga dijelaskan dalam ciri-ciri masa dewasa awal di mana pada masa ini wanita muda mulai memasuki fase usia reproduktif (Mappiare, 1983). Hal ini didukung dengan wanita muda mulai

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 membangun hubungan dekat seperti halnya hubungan asmara dengan orang lain (Berk, 2012). Hubungan asmara tampak sebagai babak untuk memilih pasangan sesuai dengan budaya dan pengalaman cinta yang dianut. Hubungan asmara ini tentu berbeda dengan hubungan asmara pada masa remaja dan dewasa madya. Hubungan asmara pada remaja dianggap masuk dalam minat dan perilaku seks yang dorong dari tekanan-tekanan sosial dan simbol status seperti teman sebaya dan rasa keingintahuan belaka (Hurlock, 1980). Sedangkan pada dewasa madya, hubungan asmara lebih dilihat dari fase melepaskan anak-anak yang mulai meninggalkan rumah atau sarang kosong dan menyesuaikan diri dengan peran baru sebagai kakek-nenek. Oleh karena itu, tingkat keberhasilan pada masa dewasa awal dapat mementukan kepuasan hubungannya kelak (Hurlock, 1980). Kepuasan perkawinan menjadi tolak ukur atas keberhasilan perkawinan. Salah satu penelitian yang dikaitkan dengan kepuasan perkawinan adalah penyesuaian perkawinan. Pada penelitian yang dilakukan oleh Rachmawati & Mastuti (2013), di mana bertujuan untuk melihat perbedaan tingkat kepuasan perkawinan yang ditinjau dari tingkat penyesuaian perkawinan yang dilakukan pada istri Brigif 1 Marinir TNI-AL. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa istri yang memiliki tingkat penyesuaian perkawinan yang tinggi akan memiliki tingkat kepuasan perkawinan yang lebih tinggi dibandingkan istri dengan tingkat penyesuaian yang rendah. Hal ini dapat terjadi karena adanya komunikasi yang baik, dukungan dari pasangan, kerja sama dalam mengambil keputusan, durasi perpisahan, dan kebersamaan. Selain itu, hal ini juga didukung oleh beberapa

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 faktor yang mempengaruhi, seperti penyesuaian diri, kebutuhan seksual, kehadiran anak, usia perkawinan, lama pacaran dan keadaan sosial ekonomi (Papalia dalam Rachmawati & Mastuti, 2013). Penelitian yang lain mengaitkan kepuasan perkawinan dengan konseling pranikah (Schumm, Resnick, Silliman, 1998). Hasil penelitian menunjukkan bahwa istri gabungan anggota militer angkatan darat, udara dan laut Amerika yang mengikuti konseling pranikah memiliki kepuasan perkawinan yang lebih tinggi dibandingkan istri yang tidak mengikuti konseling pranikah. Konseling pranikah dianggap mampu menyokong semangat dan kesiapan para istri sebagai bagian dari institusi dengan tugas yang berat tidak hanya bagi anggota militer tetapi juga bagi keluarga. Konseling pranikah juga berguna untuk membangun dukungan keluarga agar memiliki sikap optimis. Hal yang sama juga diungkap oleh Stanley, Amato, Johnson & Markman (dalam Papalia & Feldman, 2014), bahwa pasangan yang aktif mengikuti konseling pranikah cenderung merasa lebih puas dan memiliki komitmen yang kuat dibandingkan dengan pasangan yang tidak mengikuti konseling pranikah di mana mereka cenderung berakhir dengan perceraian. Selanjutnya, menurut Olson, DeFrain, & Skogrand (2011), keluarga anggota militer yang bertugas akan merasakan perpisahan lalu dilain waktu akan kembali bersatu. Namun, hal ini menjadi sesuatu yang tidak pasti karena baik pasangan dan keluarga tidak memiliki kontrol atas kapan dan di mana pasangan akan ditugaskan. Hal ini cenderung dapat membuat pasangan yang dalam hal ini adalah istri mengalami ketakutan akan kehilangan, menghadapi tantangan

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 mempertahankan rumah tangga, menjadi satu-satunya orangtua yang tersedia bagi anak-anak, dan bersitegang selama perpisahan (Mansfield, Kaufman, Marshall, Gaynes, Morrissey& Engle dalam Olson et al., 2011). Selain itu, istri tentara juga dapat mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan dan gangguan tidur (Mansfield et al., 2010 dalam Olson et al., 2011). Hal ini kemungkinan bisa dikurangi dengan melakukan pengungkapan stres di mana pengungkapan ini akan terkait dengan kepuasan perkawinan yang lebih tinggi (Joseph & Afifi dalam Galvin, Braithwaite & Bylund, 2015). Penelitian yang mendukung bahwa istri yang ditinggal bertugas cenderung mengalami masalah kesehatan mental adalah penelitian dari Glisson, Melton, & Roggow (1981). Hasil penelitian menunjukkan bahwa istri angkatan laut Hawaii yang ditinggal bertugas mengalami masalah harga diri, depresi dan ketidakpuasan perkawinan. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya perselisihan yang seringkali terjadi, kesalahanpahaman, dan kemarahan ketika akan ditinggal kembali. Sementara itu, para istri juga harus menghadapi kenyataan apabila sang suami mulai stress akan waktu keberangkatan tugas. Para istri memikul tanggungjawab lebih untuk menjaga kestabilan emosi keluarga, mengisi waktu sebelum keberangkatan dengan kegiatan yang bermanfaat agar dapat mengalihkan perhatian dari perpisahan untuk sementara waktu. Menurut Skolnik (dalam Lemme, 1995), sesungguhnya kepuasan perkawinan dapat terwujud dengan adanya perilaku yang penuh kasih sayang, pribadi yang menyenangkan, dan kebersamaan. Selain itu, menjalankan peran orangtua yang

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 baik, adanya penerimaan konflik, serta homogami antar pasangan dapat ikut serta meningkatkan kepuasan perkawinan. Setelah membahas mengenai kepuasan perkawinan, selanjutnya peneliti akan membahas mengenai kepercayaan terhadap pasangan. Dalam konteks ini, kepercayaan terhadap pasangan bisa saja mempengaruhi kepuasan perkawinan yang telah dibahas sebelumnya. Hal tersebut mungkin terjadi karena kepercayaan termasuk dalam unsur psikologis dalam perkawinan. Oleh karena itu, segi psikologis kemungkinan dapat berkaitan erat dengan kepercayaan yang dilakukan oleh seseorang. E. Kepercayaan Terhadap Pasangan Setelah membahas mengenai kepuasan perkawinan, pada bagian ini akan dilanjutkan dengan membahas mengenai kepercayaan terhadap pasangan. Penjelasan mengenai variabel ini akan dimulai dengan definisi, dilanjutkan dengan aspek-aspek yang membentuk variabel, dan terakhir adalah proses dan dampak. 1. Definisi Kepercayaan Terhadap Pasangan Kepercayaan didefinisikan sebagai hubungan timbal balik antara pemberi kepercayaan dan penerima kepercayaan yang dibentuk melalui interaksi satu sama lain (Chang, Yang, Yeh, & Hsu, 2016). Di dalam sebuah hubungan, kepercayaan mampu meningkatkan rasa aman dan membuat pasangan leluasa dalam berbagi perasaaan dan harapan (Stinnett & Walters dalam Larzelere & Huston, 1980). Di samping itu, Menurut Scanzoni (dalam Rempel, Holmes,

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 & Zanna, 1985), kepercayaan adalah kesediaan seseorang dalam mengatur kembali dan menyerahkan aktivitasnya kepada orang lain karena yakin bahwa orang tersebut akan memberikan kepuasan yang diharapkan. Menurut Larzelere & Huston (1980), kepercayaan dapat diraih apabila seseorang telah percaya kepada orang lain bahwa orang tersebut memiliki kebaikan hati dan kejujuran. Menurut Rotter (dalam Rempel et al., 1985), kepercayaan dianggap sebagai harapan umum seseorang bahwa ia dapat mengandalkan kata-kata, janji dan pernyataan baik tertulis maupun lisan dari orang lain ataupun pasangannya. Kepercayaan terhadap pasangan pada awalnya diteliti oleh beberapa tokoh yang bernama Rempel, Holmes, dan Zanna pada tahun 1985. Berdasarkan penelitian tersebut, kepercayaan terhadap pasangan diartikan sebagai suatu kekuatan dalam sebuah hubungan, di mana di dalamnya terdapat perasaan yakin dan aman yang berasal dari respon kepedulian pasangan (Rempel et al., 1985). Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kepercayaan adalah suatu harapan atau keyakinan seseorang kepada pasangannya atas perkataan maupun janji pasangan yang akan membantu tercapainya kepuasan dan rasa aman dalam sebuah hubungan. Kepercayaan juga merupakan keyakinan bahwa pasangannya akan berperilaku sesuai harapan.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 2. Aspek Kepercayaan Terhadap Pasangan Menurut Rempel et al. (1985), ada tiga aspek utama mengenai kepercayaan terhadap pasangan. Aspek kepercayaan terhadap pasangan tersebut, yaitu : a. Predictability (Keadaan yang dapat diperkirakan) Hal ini merupakan kemampuan seseorang dalam memperkirakan atau meramalkan perilaku pasangannya di masa yang akan datang. Seseorang dapat mengetahui perilaku pasangannya berdasarkan interaksi bersama dengan pasangan, pengalaman di masa lalu dan proses belajar selama menjalin hubungan. Selanjutnya, pasangan yang telah menemukan urutan perilaku tertentu yang konsisten dapat membentuk stabilitas dan kontrol atas pola perilaku yang ditunjukkan pasangan. Seseorang yang dapat meramalkan perilaku pasangan dengan baik dapat saling memahami dan saling mengerti perilaku masing-masing sehingga dapat menghadapi situasi yang akan datang. b. Dependability (Keadaan yang dapat diandalkan) Hal ini mengacu kepada kepercayaan seseorang dapat ditempatkan pada diri pasangannya. Artinya, pasangan memiliki hasil evaluasi karakteriktik yang berkualitas dengan sikap yang responsif. Dengan kata lain, seseorang yang yakin bahwa pasangannya dapat diandalkan jika pasangan memberikan respon secara tanggap dan dapat memenuhi kebutuhannya.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 Untuk itu, hal ini juga mencakup harapan seseorang bahwa pasangannya dapat memberikan perlindungan, perhatian dan rasa peduli. c. Faith (Keyakinan) Hal ini dapat diartikan sebagai keyakinan seseorang bahwa pasangannya dapat menjaga komitmen dan berani mengambil risiko dalam membuat keputusan di masa depan. Bentuk keyakinan ini tidak dilihat dari pengalaman masa lalu tetapi lebih cenderung membutuhkan pembuktian komitmen yang nyata. Di samping itu, situasi-situasi atau tekanan yang baru dianggap sesuatu yang tidak dapat diantisipasi sehingga membutuhkan kekuatan keyakinan. Pasangan yang memiliki keyakinan yang tinggi cenderung menyingkirkan perasaan-perasaan negatif dan keraguan yang dirasakan serta yakin bahwa pasangannya akan tetap cepat tanggap dan peduli meskipun adanya perubahan yang tidak pasti di masa depan. Berdasarkan uraian di atas, terdapat beberapa aspek kepercayaan terhadap pasangan di antaramya, keadaan yang dapat diperkirakan, keadaan yang dapat diandalkan dan keyakinan. 3. Proses dan Dampak Kepercayaan Terhadap Pasangan Kepercayaan dapat berkembang dengan baik apabila pasangan dapat menanggulangi tingkat kekhawatirannya saat sedang menjalin hubungan. Pada dasarnya, pasangan dapat dengan kuat menerka perilaku pasangan dari

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 pengalaman sebelumnya. Menurut Rempel et al. (dalam Holmes & Rempel, 1989), mengungkapkan bahwa perkembangan kepercayaan dapat dilihat dari perilaku pasangan yang dapat diramalkan (Predictability). Sehubungan dengan itu, pasangan dapat membangun kepercayaan dari interaksi-interaksi yang sebelumnya telah dilalui. Untuk itu, pasangan yang stabil dan memiliki pikiran yang positif kepada pasangannya dapat saling berbagi ketertarikan, nilai-nilai, dan membangun komitmen yang kuat (Kelly & Thibaut dalam Holmes & Rempel, 1989). Akan tetapi, pasangan yang memiliki perilaku yang berubah-ubah dan tidak menentu dapat mengganggu harapan dari pasangannnya. Selain itu. Pasangan juga akan merasa cemas dan memunculkan atribusi yang tidak jelas. Pasangan dapat disebut sebagai seseorang yang bisa dipercaya apabila ia melakukan sesuatu bukan karena dia sekedar dapat melakukannya melainkan ia menunjukkan bahwa ia benar-benar peduli. Selanjutnya, pasangan dapat dilihat lebih bisa dipercaya (Dependability) apabila ia menunjukkan bahwa ia bisa diandalkan, jujur, kooperatif, baik, dan suka menolong (Johnson-George & Swap, 1982; Larzelere & Huston, 1980; Rempel et al., 1985 dalam Holmes & Rempel, 1989). Dalam perkawinan, hubungan romantis digambarkan sebagai hubungan yang minim pengalaman dan terasa sangat berarti. Hubungan yang sedang hangat tersebut dianggap dapat memenuhi harapan dan bayang-bayang dari keinginan pasangan (Holmes & Rempel, 1989). Pada tahap ini, kepercayaan masih didasari oleh perasaan yang sedang menggebu-gebu, didukung dengan

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 perasaan yang timbal-balik sehingga menciptakan optimisme untuk memungkiri bahwa pasangan cenderung kekurangan bukti kepastian yang cukup (Holmes & Rempel, 1989). Menurut Larzelere & Huston (dalam (Holmes & Rempel, 1989), pada masa ini, kepercayaan cenderung tinggi dan sangat kuat berhubungan dengan cinta antar pasangan yang sedang menjalin hubungan dekat. Hal senada juga diungkap oleh Larzelere & Huston (dalam Holmes & Rempel, 1989), masa awal perkawinan cenderung memiliki kepercayaan yang tinggi dan berhubungan dengan cinta sehingga mampu memulihkan tingkat komitmen dalam hubungan. Menurut Holmes & Rempel (1989), Pasangan yang semakin dalam terikat pada suatu hubungan akan semakin menyadari dan meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap kemungkinan sakit hati yang bisa saja terjadi. Pasangan akan mulai meningkatkan harapan dan kepercayaan mereka di masa depan. Hal ini dapat meningkatkan ketergantungan kepada pasangan. Namun, ketergantungan yang meningkat tersebut juga cenderung menimbulkan kecemasan. Akan tetapi, ketidakpastian yang muncul dapat dikurangi dengan cara lebih peka terhadap perilaku kepedulian pasangan. Kepercayaan dapat memungkinkan pasangan untuk mengurangi masalah psikologis dan kembali menguatkan emosi cinta yang dirasakan. Tambahan, seseorang yang memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap pasangan cenderung mempunyai harapan, sikap optimisme dan pemikiran yang positif (Holmes & Rempel, 1989). Selain itu, orang tersebut juga mampu menyelesaikan masalah dalam hubungannya di mana ia akan

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 secara tanggap bertanggungjawab memenuhi kebutuhan dan perasaan pasangannya (Holmes & Rempel, 1989). Selanjutnya, ia juga tidak menghindari elemen-elemen negatif dalam hubungannya tetapi cenderung memilih untuk berkomunikasi dengan pasangan (Holmes & Rempel, 1989). Di sisi lain, seseorang yang memiliki tingkat kepercayaan yang rendah terhadap pasangan cenderung memiliki perasaan takut dan berjaga-jaga apabila pasangan akan kembali membuat ia kecewa (Holmes & Rempel, 1989). Sesudah itu, seseorang yang memiliki tingkat kepercayaan yang rendah juga cenderung menghindari masalah yang sedang terjadi dan malah menyiapkan penjelasan dari masalah di masa lalu. Hal ini akan cenderung memunculkan kurangnya komitmen untuk menyelesaikan masalah sehingga pasangan dapat kehilangan kesempatan untuk memulihkan kembali kepercayaan dengan cara menunjukkan perhatiaan dan kepedulian. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Holmes (dalam Holmes & Rempel, 1989), bahwa permasalahan di dalam perkawinan timbul dikarenakan sikap mengabaikan atau tidak peduli dari pasangan dan usaha untuk mengontrol pasangan. F. Kepercayaan Terhadap Pasangan pada Istri Tentara Masa dewasa awal tidak hanya dianggap sebagai masa usia reproduktif, tetapi masa dewasa awal juga dianggap sebagai masa komitmen (Hurlock, 1980). Komitmen hanya dapat dilakukan oleh seorang wanita yang telah matang secara emosi sehingga ia mampu menyelesaikan masalah dengan sikap yang baik dan penuh kedewasaan. Masa ini akan membuat wanita muda menjadi seseorang yang

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 mandiri guna mentukan pola hidup baru, mengemban tanggung jawab baru dan komitmen baru (Hurlock, 1980). Pola hidup baru seperti halnya membangun keluarga dalam ikatan perkawinan menuntutnya untuk bertanggungjawab tidak hanya kepada dirinya sendiri tetapi kepada keluarga termasuk di dalamnya suami dan anaknya kelak. Hal ini tentunya berbeda daripada saat-saat masa remaja, di mana dulu semua kebutuhan menjadi sepenuhnya tergantung pada orangtua. Penelitian yang dilakukan oleh Wieselquist, Rusbult, Foster, & Agnew (1999), mengenai komitmen, perilaku prohubungan dan kepercayaan menunjukkan bahwa komitmen dan perilaku prohubungan memiliki hubungan positif dan perilaku prohubungan memiliki hubungan positif pula dengan kepercayaan, di mana artinya ketiga hal ini saling berkaitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan menjadi kekuatan pengukuran seberapa besar pasangan memiliki komitmen dalam hubungan untuk dapat diandalkan. Lalu, perilaku prohubungan juga dapat berhubungan dengan meningkatnya komitmen, di mana hal ini melihat bagaimana sikap akomodatif dan kerelaan untuk berkorban. Kemudian, sikap akomodatif dan kerelaan berkorban inilah menambah kepercayaan pasangan. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Asmarina & Lestari (2017), mengenai gambaran kepercayaan, komitmen pernikahan dan kepuasan hubungan seksual menjelaskan bahwa kepercayaan dipengaruhi oleh sifat mempercayai dan dipercayai. Lalu, komitmen pernikahan terbentuk dari kepuasan hubungan dan kehadiran anak. Selanjutnya, kepuasan seksual dipengaruhi oleh komunikasi dan keseimbangan kedudukan seperti frekuensi melakukan hubungan seks dan afeksi.

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Ketiga hal tersebut berpengaruh sangat penting dalam kelangsungan hubungan perkawinan jarak jauh. Menurut Walgito (2002), perkawinan menjadi tanda ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan wanita yang kemudian menjadi seorang suami istri. Perkawinan juga menjadi kesatuan antara dua belah pihak untuk mencapai tujuan yang sama. Tujuan yang sama akan menghasilkan keluarga yang bahagia dan juga berlangsung selama-lamanya tanpa ada kata perpisahan. Dengan kata lain, tujuan perkawinan harus dicapai bersama-sama dan adanya pemenuhan unsur-unsur fisiologis maupun psikologis. Unsur psikologis sendiri terdiri dari kematangan emosi, sikap toleransi, sikap saling atau bersama-sama, sikap pengertian, sikap menerima dan memberikan cinta, serta sikap percaya mempercayai. Dalam keluarga, suami dan istri sebaiknya memang saling menerima dan memberikan kepercayaan kepada dan dari masing-masing sisi kedua belah pihak (Walgito, 2002). Kepercayaan menjadi sesuatu yang penting bagi pasangan baru, di mana untuk menjalani perkawinan masing-masing pihak membutuhkan penyesuaian dan orientasi yang mendalam baik dalam kehidupan sehari-hari, lingkungan sosial, pekerjaan dan keluarga besar. Istri seharusnya dapat menerima dan memberikan kepercayaan kepada suami dan sebaliknya. Berkaitan dengan hal itu, apabila kepercayaan tidak dapat diiandalkan lagi, maka hal tersebut akan menimbulkan kecurigaan, prasangka, dan saling tuduh. Selain itu, tidak adanya kepercayaan juga dapat menimbulkan ketidaktenangan dan ketentraman dalam keluarga.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 Menurut (Walgito, 2002), Kepercayaan menjadi sangat penting dalam membina keluarga terutama bagi istri, untuk menghindari perasaan cemburu, khawatir berlebih, dan sikap kurang percaya. Hal ini bisa saja akan mengarah kepada sikap yang kadang-kadang tidak perlu ada dan tidak memiliki alasan yang kuat. Kendati demikian, bila hal ini terus berkembang maka akan dapat merusak hubungan perkawinan antara suami istri. Oleh sebab itu, kepercayaan dapat tercipta apabila masing-masing pihak melakukan tindakan sesuai dengan apa yang telah dikatakan (Walgito, 2002). G. Hubungan Antara Kepercayaan terhadap Pasangan dan Kepuasan Perkawinan Pada Istri Tentara Kepercayaan terhadap pasangan merupakan intensi atau keyakinan seseorang kepada pasangannya atas kepedulian yang dirasakan sebagai dasar kekuatan jalinan suatu hubungan (Rempel et al., 1985). Kepercayaan mengarah kepada harapan seseorang bahwa ia dapat mengandalkan pasangannya baik dalam hal apapun (Rotter dalam Rempel et al., 1985). Kepercayaan menjadi salah satu hal yang sangat penting dalam ikatan perkawinan. Menurut Walgito (2002), perkawinan yang bahagia akan dapat dicapai oleh kedua pasangan apabila mereka memiliki salah satu sikap, seperti halnya sikap kepercayaan. Kepercayaan diyakini mampu membawa ketentraman dalam ikatan hubungan keluarga. Menurut Larzelere & Huston (dalam (Holmes & Rempel, 1989), kepercayaan yang cukup tinggi berhubungan dengan cinta antar pasangan yang sedang menjalin hubungan dekat di mana dalam hal ini perkawinan. Perkawinan yang

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 bahagia tentu akan selaras dengan kepuasan perkawinan yang dirasakan individu. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Atta, Adil, Shujja, & Shakir (2013), menunjukkan bahwa kepercayaan baik pada pasangan yang salah satunya bekerja atau pasangan yang dua-duanya bekerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan perkawinan. Hal ini dikarenakan individu yang memiliki kepercayaan yang tinggi cenderung kurang berprasangka negatif kepada pasangan mereka. Individu tersebut cenderung kooperatif dan menunjukkan perilaku yang peduli. Selain itu, individu tersebut juga cenderung jarang menunjukkan rasa kecewa dan amarah kepada pasangannya sehingga kepercayaan membuatnnya lebih puas dalam hubungan perkawinan. Para istri yang bekerja cenderung masih dapat menyesuaikan diri dengan kewajiban mereka untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga dan menghormati suami. Para istri juga tidak reaktif terhadap perasaan negatif karena mereka menghormati suami dan percaya bahwa suami mereka juga berkomitmen pada hubungan perkawinan. Hal ini tentu saja dapat meningkatkan kepuasan perkawinan pasangan. Masih dari Hasil penelitian yang dilakukan oleh Atta, Adil, Shujja, & Shakir (2013), Seseorang dengan kepercayaan yang tinggi dapat dilihat melalui sikapnya, seperti sikap saling lebih terbuka, saling peduli serta mampu mengontrol emosi. Sedangkan sikap saling terbuka merupakan bagian dari aspek komunikasi yang dapat meningkatkan kepuasan perkawinan (Olson & Olson, 2000). Kepercayaan terhadap pasangan ditunjukkan melalui sikap saling terbuka. Sikap ini membantu pasangan untuk dapat memahami satu sama lain dan mencurahkan isi hati mereka serta dapat meningkatkan komunikasi antar pasangan. Sehubungan dengan itu,

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 komunikasi yang tinggi menjadi salah satu karakter dalam kepuasan perkawinan (Olson & Olson, 2000). Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Suryani & Nurwidawati (2016), yang menunjukkan ada hubungan antara keterbukaan dan kepercayaan. Selanjutnya, hasil penelitian yang dilakukan oleh McCray (2015), menjelaskan bahwa ada hubungan antara komitmen dan kepercayaan pada kepuasan perkawinan terhadap istri militer. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa ada efek negatif yang terjadi selama sang suami berangkat penugasan. Hal ini menyebabkan pasangan mengalami penarikan diri dan emosi negatif karena pasangan jarang bertemu atau jarang melakukan kontak fisik. Selain itu, seorang prajurit seringkali menahan perasaan dengan sengaja untuk menghindari kontak dengan istri mereka. Hal tersebut kemungkinan mengakibatkan sang istri beranggapan bahwa sang suami tidak peduli kepada hubungan mereka dan lebih berkomitmen kepada satuan militer. Akhirnya, istri cenderung menjadi kurang berkomitmen dalam hubungan perkawinan. Komitmen dalam pernikahan juga mempunyai peran dalam menentukan kepercayaan yang dimiliki istri. Temuan dari penelitian ini menekankan bahwa istri yang memiliki kepercayaan lebih tinggi terhadap hubungan pernikahan mereka dan memiliki tingkat komitmen perkawinan yang tinggi juga dan sebaliknya. Hasil dari penelitian ini juga mendukung bahwa dampak dari kepercayaan dan komitmen pernikahan akan mempengaruhi kepuasan perkawinan tersebut. Kepuasan perkawinan merupakan salah satu hal yang penting dalam hubungan antar pasangan yang telah menikah. Hasil penelitian yang dilakukan

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 oleh Renanda (2018), menunjukkan bahwa ada hubungan antara kepercayaan dan kepuasan hubungan romantis di mana salah satu hubungan romantis merupakan hubungan perkawinan. Tambahan pula, hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhardeni (2018), yang juga menunjukkan ada hubungan antara kepercayaan dan kebahagiaan perkawinan di mana dalam kepuasan perkawinan juga terdapat perkawinan yang bahagia dan stabil (Matlin, 2012). Dalam hal ini, Kepuasan perkawinan dianggap bahagia dan stabil apabila pasangan salah satunya dapat saling memenuhi kebutuhan pasangan (Matlin, 2012). Menurut Rempel et al. (1985), Pasangan yang dapat memenuhi kebutuhan pasangan termasuk dalam karaktek kepercayaan, yaitu keadaan yang dapat diandalkan (dependability). Berkaitan dengan uraian di atas, kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan perlu untuk diperhatikan. H. Kerangka konseptual Pada masa dewasa awal, wanita muda telah mencapai perkembangan fisik, kognitif dan sosio-emosi secara matang. Perkembangan-perkembangan tersebut dapat berupa, penuaan biologis, kerja motorik, dan kesehatan, seksualitas, struktur pemikiran, hubungan dekat, serta pernikahan (Berk, 2012). Individu cenderung akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar untuk membentuk jalan kehidupannya. Selain itu, individu juga mulai memikirkan untuk membangun karier dan juga mulai hidup berkeluarga sesuai dengan tugas perkembangan pada masa ini. Berkaitan dengan hal itu, perkawinan menjadi salah satu aktivitas individu yang ingin dicapai guna menapaki tujuan bersama untuk membentuk

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 keluarga yang bahagia. Dengan adanya perkawinan, seorang wanita dan seorang laki-laki memiliki ikatan lahir batin yang jelas sesuai dengan norma yang ada. Pada situasi ini, wanita muda yang memilih suami dari kalangan militer tentu menghadapi tantangan khusus. Istri tentara akan merasakan perpisahan untuk ditinggal bertugas pada daerah rawan konflik (Galvin, Braithwaite, & Bylund, 2015). Saat suami pergi penugasan, istri tentara akan mengalami gangguan dalam hal komunikasi, tugas rumah tangga dan support baik dari keluarga maupun teman. Istri tentara juga cenderung menghindari informasi yang akan menyebabkan tekanan tambahan bagi sang suami di medan konflik (Galvin et al., 2015). Perpisahan dalam jangka waktu lama tentu akan mengganggu keharmonisan pasangan akibat komunikasi yang tidak lancar. Hal ini dapat memicu kecurigaan, kekhawatiran, ketakutan, lebih sensitif, dan gangguan kesehatan (Litiloly & Swastiningsih, 2014; Glisson et al., 1981). Berdasarkan penjelasan di atas, kepercayaan yang tinggi kepada pasangan tentu dapat menghindari dari perasaan-perasaan negatif yang muncul. Seseorang yang memiliki kepercayaan yang tinggi cenderung memiliki sikap pantang menyerah, dapat diandalkan dan bertanggung jawab. Sedangkan orang yang memiliki kepercayaan yang rendah cenderung memiliki perasaan cemburu, tidak berkomitmen, dan tidak dapat menyelesaikan masalah (Holmes & Rempel, 1989). Adapun kepuasan perkawinan dapat tercapai apabila pasangan saling terbuka, memberi dan menerima kepercayaan, berkomitmen dan dapat memenuhi kebutuhan pasangan dalam hal apapun

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Kepuasan perkawinan yang tinggi cenderung akan memandang dirinya dengan citra yang positif dan memiliki penyesuaian diri yang baik. Selain itu, kepuasan perkawinan yang tinggi juga mengarah pada kualitas hubungan yang akan terjalin langgeng hingga masa yang akan datang (Berk, 2012). Sedangkan, kepuasan perkawinan yang rendah akan cenderung berakhir dengan perceraian. Di samping itu, perlu diketahui bahwa jika seseorang memiliki kepuasan perkawinan yang tinggi maka hal tersebut akan berdampak pada tingkat kesejahteraannya. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kesejahteraan yang muncul dapat berupa kesejahteraan secara umum maupun seperti kesejahteraan finansial, kesejahteraan subjektif dan kesejahteraan psikologis (Thoresen, Goldsmith, & Thoresen, 1987; Wadsworth, 2015; Suhail & Chaudhry, 2004; Gove, Hughes, & Style, 1983). Penelitian menunjukkkan bahwa semakin tinggi kepuasan perkawinan maka akan semakin tinggi juga tingkat kesejahteraan seseorang. Hal ini bisa terjadi karena area-area dalam perkawinan, seperti halnya hubungan sosial, emosional, ekonomi, fisik, dan hubungan seksual mempunyai kepuasan yang tinggi sehingga mengarahkan kepada kebahagiaan dan kepuasan hidup berelasi (Wadsworth, 2015). Dengan demikian, wanita dewasa awal khususnya istri tentara dapat melaksanakan tugas perkembangan sesuai dengan evaluasi kehidupan perkawinan dan dapat melewatkan masa krisis sehingga dapat berkembang lagi pada tahap selanjutnya.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 Istri tentara yang ditinggal bertugas di Yogyakarta Kepercayaan terhadap pasangan tinggi Kepercayaan terhadap pasangan rendah Kepuasan perkawinan tinggi Kepuasan perkawinan rendah (Output) (Output) Well-being tinggi Well-being rendah Gambar 2. 1. Kerangka Konseptual Penelitian : Hubungan antara Kepercayaan terhadap Pasangan dan Kepuasan Perkawinan pada Istri Tentara di Batalyon X I. Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang signifikan dan positif antara kepercayaan terhadap pasangan dengan kepuasan perkawinan pada istri tentara di Batalyon X.

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Pengantar Bab ini akan menunjukkan jenis penelitian dan subjek yang akan digunakan oleh peneliti. Selanjutnya, peneliti juga akan menjelaskan mengenai tata cara pelaksanaan dan analisis data penelitian ini. Sebelum itu, peneliti akan membahas mengenai definisi operasional di mana terdapat pengertian secara singkat tentang variabel penelitian, dan metode penskalaan. Selain itu, di dalam bagian ini juga terdapat validitas dan reliabilitas. Berikutnya, bab ini akan diakhiri dengan pertimbangan etis dalam psikologi. B. Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Metode ini disebut juga metode ilmiah (scientific) di mana metode ini telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah, seperti konkret, obyektif, terukur, rasional dan sistematis (Sugiyono, 2008). Metode ini juga menekan pada data yang berupa angka-angka dan menggunakan analisis statistik dengan tujuan menguji hipotesis yang telah ditentukan (Sugiyono, 2008). Selain itu, penelitian ini menggunakan tenik pengumpulan data berupa metode survei, di mana peneliti akan memberikan kuesioner (angket) kepada para subjek (S. Azwar, 2009). Metode survei adalah pernyataan-pernyataan dengan format praktis dan terstruktur untuk menggali informasi dari para subjek mengenai perilaku, penilaian, perasaan dan pikirannya (Goodwin, 2010). Dalam hal ini, kuesioner yang diberikan akan mengandung 65

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 pernyataan tertulis untuk dijawab oleh para subjek. Kuesioner juga sesuai untuk digunakan bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan jawaban yang diharapkan dari para subjek serta jumlah subjek yang cukup besar (Sugiyono, 2008). Selanjutnya, penelitian ini menggunakan hubungan korelasional yang dapat terjadi antara dua atau lebih variabel penelitian, hingga dapat diketahui apakah terdapat hubungan antar variabel penelitian (S. Azwar, 2009). Oleh karena itu, penelitian ini akan melihat apakah terdapat hubungan yang terjadi antara kepercayaan terhadap pasangan dengan kepuasan perkawinan pada istri tentara Batalyon X. C. Subjek Penelitian Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode nonprobability atau nonrandom purposive sampling. Teknik ini dilakukan dengan cara menentukan sampel atas dasar adanya pertimbangan-pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2008). Dengan artian bahwa subjek penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan karena tidak semua populasi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sampel (Purwanto & Sulistyastuti, 2007; Hikmawati, 2017). Adapun kriteria atau ciri-ciri dari subjek dalam penelitian ini, yaitu : 1. Istri tentara yang berusia 18-40 tahun. 2. Istri tentara di Batalyon X 3. Istri tentara yang sedang atau pernah ditinggal bertugas oleh sang suami .

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 D. Deskripsi subjek penelitian Penelitian ini akan menggunakan subjek wanita yang memiliki kriteria usia 18-40 tahun serta telah menikah. Dalam hal ini, wanita tersebut menikah dengan seorang tentara serta sedang atau pernah ditinggal bertugas oleh sang suami. setelah melalui tahap penyaringan subjek, di mana subjek yang sebelumnya berjumlah 200 orang menjadi 135 subjek yang layak dan dapat dijadikan sebagai subjek dalam penelitian ini. Deskripsi data subjek yang diperoleh sebagai berikut : Tabel 3. 1. Deskripsi Jenis Kelamin subjek Jenis Kelamin Jumlah Persentase Wanita 135 100% Total 135 100%

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Tabel 3. 2. Deskripsi Usia Subjek Usia Jumlah Persentase 23 tahun 3 2,2% 24 tahun 8 6,0% 25 tahun 11 8,2% 26 tahun 7 5,2% 27 tahun 11 8,2% 28 tahun 12 9,0% 29 tahun 13 9,7% 30 tahun 17 12,7% 31 tahun 12 9,0% 32 tahun 12 9,0% 33 tahun 9 6,7% 34 tahun 8 6,0% 35 tahun 7 5,2% 36 tahun 1 0,7% 37 tahun 1 0,7% 38 tahun 1 0,7% 40 tahun 1 0,7% Total 135 100% E. Identifikasi variabel penelitian Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai yang diambil dari seseorang atau suatu obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu di mana telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2013). Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu :

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Variabel Tergantung : Kepuasan Perkawinan Variabel Bebas : Kepercayaan Terhadap Pasangan F. Definisi operasional variabel penelitian 1. Kepercayaan Terhadap Pasangan Kepercayaan terhadap pasangan didefinisikan sebagai interaksi dua arah yang berdasarkan perasaan aman dan yakin kepada pasangannya di mana hal ini dapat mengukuhkan hubungan antarpribadi (Rempel et al., 1985). Kepercayaan terhadap pasangan dapat dilihat melalui persepsi seseorang terhadap harapan, respon perhatian, dan bentuk perilaku baik tertulis ataupun lisan. Kepercayaan terhadap pasangan dalam penelitian ini diukur menggunakan Trust Scale (Rempel et al., 1985). Skala ini dipilih karena, dalam penelitian yang dilakukan oleh Rempel et al., (1985) terkonsentrasi pada hubungan dekat (close relationship) di mana hubungan tersebut diartikan sebagai hubungan yang yang memiliki ikatan emosional yang kuat, melibatkan ketertarikan fisik dan sesual, serta memiliki komitmen satu sama lain. Misalnya, yang sudah menikah, kohabitas atau pasangan yang berkencan (dating couple). Skala ini memiliki 17 item untuk mengukur tiga aspek kepercayan terhadap pasangan. Skor pada skala Trust menunjukkan kepercayaan terhadap pasangan seseorang. Semakin tinggi skor, maka semakin tinggi kepercayaan terhadap pasangan yang dimiliki seseorang. Dalam hal ini, aspek kepercayaan

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 terhadap pasangan yang ingin diteliti adalah Predictability (Keadaan yang dapat diperkirakan), Dependability (Keadaan yang dapat diandalkan), dan Faith (Keyakinan). 2. Kepuasan Perkawinan Kepuasan perkawinan (Fowers & Olson, 1993), yaitu perasaan positif seperti nyaman, puas dan bahagia yang dirasakan oleh seseorang atas hubungan perkawinannya dengan pasangan. Dalam hal ini, kepuasan perkawinan tersebut berkaitan dengan kepribadian, kesetaraan peran, komunikasi, resolusi konflik, pengelolaan keuangan, kegiatan mengisi waktu luang, hubungan seksual, anak dan perkawinan, keluarga dan teman, orientasi keagaaman. Kepuasan perkawinan pada penelitian ini diukur menggunakan ENRICH (evaluation and nurturing relationship issues, communication and happiness) Marital Satisfaction Scale (EMS). Skala ini dibuat oleh Fowers & Olson (1993). Skor pada EMS menunjukkan kepuasan seseorang. Semakin tinggi skor, maka semakin tinggi pula kepuasan perkawinan seseorang. G. Prosedur Pelaksanaan Pada bagian ini, peneliti akan menjabarkan prosedur pelaksanaan menjadi dua bagian, yaitu tahap pertama sebagai persiapan penelitian dan tahap kedua sebagai pelaksanaan penelitian. Dalam tahap persiapan penelitian, peneliti akan membahas mengenai hal-hal apa saja yang dilakukan sebelum melakukan penelitian. Sedangkan pada tahap pelaksaan penelitian, peneliti akan menjelaskan

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 mulai dari tahap mengurus perizinan di Batalyon hingga jumlah subjek yang akhirnya masuk kriteria sebagai subjek pada penelitian ini. 1. Persiapan Penelitian Dalam tahap ini, peneliti melakukan beberapa hal sebelum diizinkan untuk menyebarkan skala kepada subjek penelitian. Pertama-tama, peneliti menyiapkan dua skala yang akan digunakan dalam penelitian ini. Dua skala tersebut adalah skala Trust Scale dan ENRICH (evaluation and nurturing relationship issues, communication and happiness) Marital Satisfaction Scale (EMS). Skala kepercayaan (Trust Scale) dan skala kepuasan perkawinan (EMS) diadaptasi dan barulah digunakan sebagai skala penelitian. Proses adaptasi skala diawali dengan meminta izin kepada peneliti skala asli. Setelah mendapatkan izin, peneliti mulai menerjemahkan kedua skala tersebut dengan bantuan Unit Layanan Terjemahan yang terpercaya. Item-item pada kedua skala tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh penerjemah yang tentunya menguasai Bahasa Inggris. Hasil tersebut kemudian diteliti kembali oleh peneliti agar sesuai dengan konteks budaya dan subjek yang dituju. Selanjutnya, hasil tersebut juga ditinjau oleh dosen pembimbing guna mengetahui apakah skala tersebut telah dapat dipahami dengan baik serta melakukan validasi isi (professional judgment). Sehabis melakukan perbaikan pada hasil terjemahan, peneliti melakukan penerjemahan kembali ke dalam Bahasa Inggris dengan bantuan Unit Layanan Terjemahan yang sama. Setelah itu, terjemahan dalam Bahasa

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Inggris dicocokkan dengan skala asli guna memeriksa apakah ada perubahan makna yang cukup besar dari keduanya. Pada proses adaptasi yang terakhir ini, peneliti meminta bantuan kepada rekan dari lulusan pendidikan bahasa inggris untuk melakukan hal tersebut agar prosesnya tetap terjamin dengan baik. Setelah pengecekan selesai dilakukan, item-item pada skala siap untuk digunakan. Tahap berikutnya masuk pada proses pengajuan surat izin ke Batalyon X. Pada mulanya peneliti mengurus surat izin penelitian melalui sekretariat fakultas Psikologi agar surat yang keluar berupa surat formal. Surat dari fakultas inilah yang peneliti bawa dan serahkan kepada staff divisi 3 batalyon yang bertugas menerima surat-surat pengajuan dari luar. Pada saat mengajukan surat izin penelitian di Batalyon tersebut, peneliti juga melakukan pendekatan dengan Komandan Peleton Kesehatan Batalyon dan menjelaskan secara lebih mendalam mengenai penelitian yang akan peneliti lakukan. Peneliti juga menjelaskan mengenai target subjek dan kriteria yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Selain itu, peneliti juga menjelaskan bahwa data yang peneliti dapatkan nanti adalah data yang akan digunakan sebagai hasil data skripsi peneliti. 2. Pelaksanaan penelitian Sebelum peneliti melakukan penelitian, peneliti menunggu kabar hingga surat izin penelitian telah mendapatkan persetujuan dari Komandan Batalyon. Peneliti menunggu kepastian bahwa peneliti dapat melakukan penelitian di

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Batalyon X selama 1 minggu. Setelah mendapatkan kabar bahwa peneliti dapat melakukan penelitian, peneliti datang kembali ke Batalyon X untuk memberikan kuesioner penelitian sejumlah 200 buah. Namun, penelitian tidak dilakukan dengan peneliti berhadapan dengan para istri tentara secara langsung untuk memberikan kuesioner. Kuesioner penelitian tersebut peneliti serahkan kepada Komandan Peleton Kesehatan Batalyon untuk kemudian disebarkan kepada para istri tentara. Kuesioner penelitian akan disebarkan kepada para istri tentara yang bertempat tinggal di dalam markas besar Batalyon saja. Kuesioner penelitian tersebut peneliti serahkan setelah peneliti mendapatkan persetujuan untuk melakukan penelitian. Peneliti menyerahkan kuesioner penelitian pada tanggal 9 juli 2018. Pada kuesioner penelitian, peneliti mencantumkan informed consent di mana peneliti buat untuk memberitahukan kepada subjek bahwa peneliti akan menjaga kerahasiaan dan akan menggunakan data hanya sebagai data penelitian skripsi. Peneliti juga menulis pada lembar persetujuan untuk meminta subjek mengerjakan dengan jujur dan sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya terjadi maupun yang dirasakan. Akan tetapi peneliti kurang dapat melihat respons subjek saat mengisi kuesioner penelitian yang disebabkan oleh kuesioner tersebut hanya peneliti titipkan kepada orang yang berwenang dan sesuai aturan yang disampaikan kepada peneliti. Kuesioner penelitian baru dapat peneliti ambil pada tanggal 23 juli 2018. Hal ini karena Komandan Peleton Kesehatan Batalyon meminta waktu untuk mendistribusikan kuesioner tersebut kepada para istri tentara, waktu untuk

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 mengisi kuesioner dan pengumpulan kembali kuesioner. Proses penyebaran kuesioner penelitian hingga sampai kembali kepada peneliti berlangsung selama kurang lebih 2 minggu. Dari kuesioner penelitian yang diperoleh peneliti mendapatkan 200 data. Akan tetapi, dari jumlah data tersebut harus tereliminasi hampir sepertiga dari jumlah data yang didapatkan. Oleh karena itu, dari 200 data yang ada, terdapat 66 subjek yang tereliminasi karena tidak layak, di mana sebagian besar tidak masuk dalam kriteria dan beberapa lainnya tidak mengisi kuesioner penelitian secara lengkap serta tanpa identitas. Oleh sebab itu, dari pengambilan data yang dilakukan pada Batalyon X , subjek yang dapat digunakan dalam penelitian ini berjumlah 135 orang. H. Instrumen Pengumpulan Data Peneliti mengumpulkan data dengan menyebarkan skala di mana skala digunakan untuk memperoleh data mengenai kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan. Skala pengukuran adalah mengkuantifikasikan informasi pada respon subjek untuk melihat seberapa banyak atribut psikologis yang dimiliki oleh subjek (Supratiknya, 2014). Jenis skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert. Skala Likert memuat sejumlah pernyataan yang telah disusun untuk mengukur atribut psikologis di mana subjek diminta untuk memberikan respon yang berkenan dengan pribadi subjek dari pernyataan yang diberikan (Supratiknya, 2014). Peneliti menyebarkan skala yang telah

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 dipersiapkan dengan cara langsung memberikan kepada subyek dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya 1. Skala Kepuasan Perkawinan Skala kepuasan perkawinan pada penelitian ini diadaptasi berdasarkan aspek yang telah dikemukakan oleh Fowers & Olson (1993), yaitu :

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 Tabel 3. 3. Blueprint Skala Kepuasan Perkawinan Aspek Komunikasi Indikator Mampu menjalin komunikasi dengan Total Item 1 nyaman dan memahami maksud dari pasangan Fleksibilitas Mampu bertanggungjawab dengan pasangan tugas rumah tangga dan anak. Kepribadian Mampu memahami sifat dan 1 1 kebiasaan pasangan Resolusi konflik Mampu membuat keputusan untuk 1 menyelesaikan masalah Relasi seksual Mampu mengungkapkan perasaan 1 mengenai hubungan seksual dan perilaku seksual Pengaturan Mampu mengatur keuangan, baik ekonomi pengeluaran dan menabung Pemanfaatan Mampu mengatur waktu dengan diri, waktu luang orang lain dan pasangan Keluarga dan Mampu mengatur waktu dengan teman orang-orang terdekat Spiritualitas Mampu menghargai keyakinan dan 1 1 1 1 nila-nilai agama Pola pengasuhan Mampu menjalankan peran sebagai orangtua dalam mengurus anak 1

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 Tabel 3. 4. Distribusi Item Skala Kepuasan Perkawinan Aspek Komunikasi No. Item Favorable Unfavorable Jumlah Item - 5 1 3 - 1 Kepribadian - 2 1 Resolusi konflik 7 - 1 Relasi seksual 11 - 1 - 8 1 10 - 1 - 14 1 15 - 1 - 12 1 Fleksibilitas pasangan Pengaturan ekonomi Pemanfaatan waktu luang Keluarga dan teman Spiritualitas Pola pengasuhan Total Item 10 Skala EMS merupakan skala dengan total item sebanyak 15 butir. Skala ini terdiri dari skala kepuasan perkawinan sebanyak 10 butir dan skala distorsi idealistik (idealistic distortion) sebanyak 5 butir. Setiap 10 butir item skala kepuasan perkawinan mewakili satu dari setiap aspek. Item-item inilah yang dianggap sangat penting dan dapat mengindikasikan validitas isi dari skala EMS (Fournier, Olson, & Druckman, 1983 dalam Fowers & Olson, 1993). Skala distorsi idealistik (idealistic distortion) merupakan skala modifikasi dari Edmonds (dalam Fowers & Olson, 1993). Skor pada skala ini digunakan

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 untuk memperbaiki skor skala kepuasan perkawinan, di mana subjek memiliki kecederungan dalam menggambarkan hubungan perkawinan mereka secara tidak realistik dan terlalu positif. Nomor item yang menunjukkan sifat favorable adalah nomor 1, 4, 6, dan 13. Sedangkan, nomor yang menunjukkan sifat unfavorable adalah nomor 9. Selanjutnya, skala kepuasan perkawinan, sejumlah pernyataan yang terdapat dalam skala akan bersifat favorable dan unfavorable. Alternatif respon jawaban terhadap pernyataan-pernyataan dalam skala tersebut akan terdiri atas lima respon. Respon-respon jawaban tersebut meliputi “Sangat Tidak Setuju”, “Tidak Setuju”, “Netral”, “Setuju”, “Sangat Setuju”. Dalam pemberian skor pilihan jawaban untuk item favorable adalah skor 5 untuk pilihan respon “Sangat Setuju”, skor 4 untuk respon “Setuju”, skor 3 untuk respon “Netral”, skor 2 untuk respon “Tidak Setuju”, dan skor 1 untuk respon “Sangat Tidak Setuju”. Sedangkan untuk item unfavorable, skornya adalah skor 1 untuk pilihan respon “Sangat Setuju”, skor 2 untuk respon “Cukup Setuju”, skor 3 untuk respon “Setuju Atau Tidak Setuju”, skor 4 untuk respon “Cukup Tidak Setuju”, dan skor 5 untuk respon “Sangat Tidak Setuju”.

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Tabel 3. 5. Pemberian Nilai Skor Skala Kepuasan Perkawinan Skor Kategori Jawaban Favorable Unfavorable 1 5 Tidak setuju (TS) 2 4 Netral (N) 3 3 Setuju (S) 4 2 Sangat setuju (SS) 5 1 Sangat tidak setuju (STS) 2. Skala Kepercayaan Terhadap Pasangan Skala kepercayaan terhadap pasangan pada penelitian ini diadaptasi berdasarkan aspek yang telah dikemukan oleh Rempel et al. (1985), yaitu :

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Tabel 3. 6. Blueprint Skala Kepercayaan terhadap Pasangan Aspek Indikator Total Item Predictability Mampu menilik pola perilaku yang ditunjukkan (Keadaan yang oleh pasangan, mengontrol pola perilaku dapat pasangan, memahami setiap perilaku pasangan, diperkirakan) mengetahui tindakan pasangan yang pasti 4 maupun tidak pasti Dependability Mampu mengandalkan pasangan atas tindakan (Keadaan yang atau respons yang diambil, mengandalkan dapat pasangan untuk memenuhi kebutuhan, dapat diandalkan) menepati kesepakatan Faith Mampu mempercayai setiap komitmen dan (Keyakinan) keputusan yang diambil oleh pasangan, memiliki keyakinan yang berkelanjutan, tidak memiliki keraguan terhadap pasangan 6 7

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 Tabel 3. 7. Distribusi Item Skala Kepercayaan terhadap Pasangan Aspek No. Item Jumlah Item Favorable Unfavorable 12 8, 9, 21 4 Dependability 4, 11, 20, 22, 10, 6 (Keadaan yang 25 - 7 Predictability (Keadaan yang dapat diperkirakan) dapat diandalkan) Faith (Keyakinan) 6, 7, 14, 15, 16, 18, 24 Total Item 17 Tabel 3. 8. Pemberian Nilai Skor Skala Kepercayaan terhadap Pasangan Kategori Jawaban Skor Favorable Unfavorable Sangat tidak setuju (STS) -3 3 Tidak setuju (TS) -2 2 Agak tidak setuju (ATS) -1 1 Netral (N) 0 0 Agak setuju (AS) 1 -1 Setuju (S) 2 -2 Sangat setuju (SS) 3 -3

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 I. Validitas dan Reliabilitas Pada bagian ini, peneliti akan menjelaskan mengenai jenis validitas yang akan digunakan dalam penelitian. Selanjutnya, peneliti juga akan menjelaskan mengenai teknik analisis yang digunakan untuk melihat reliabilitas dan menyertakan keterangan tentang kategori koefisien reliabilitas pada setiap variabel penelitian ini. 1. Validitas Validitas adalah sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu skala atau alat ukur dalam menjalankan fungsi pengukurannya (Azwar, 2003). Dalam hal ini, suatu pengukuran dikatakan valid apabila skala tersebut dapat mengukur apa yang menjadi tujuan pengukuran. Alat ukur juga akan memiliki validitas yang tinggi apabila alat tersebut dapat menjalankan fungsinya dan sesuai dengan tujuan dilakukannya penelitian tersebut sehingga menghasilkan data yang tepat mengenai gambaran variabel yang diteliti (Azwar, 2015). Dalam penelitian ini, skala kepuasan perkawinan atau Enrich Marital Satisfaction Scale (EMS) dan skala kepercayaan terhadap pasangan atau Trust in close relationship scale (TS) diuji validitasnya dengan menggunakan validitas isi. Validitas isi adalah sejauh mana kesesuaian seperangkat item dalam suatu instrumen alat ukur dapat menggambarkan konstrak yang diukur oleh skala tersebut (Azwar, 2015). Kedua alat ukut dalam penelitian ini menggunakan validitas isi melalui validitas logis yang dilakukan oleh professional

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 judgement. Validitas ini dapat memastikan bahwa item sudah baik dan benar dan selaras dengan konstrak. Professional judgement dilakukan oleh dosen pembimbing di mana peneliti mengkonsultasikan item-item agar item tersebut mendapat penelitian mengenai kelayakannya dan kesesuaiannya dengan konstrak yang dibuat. 2. Kesahihan item Setelah peneliti melakukan validasi pada skala yang telah diterjemahkan dan telah mendapatkan penilaian dari professional judgement, kedua skala kemudian diuji cobakan kepada istri-istri tentara di Batalyon X. Peneliti menggunakan uji coba terpakai atau tryout terpakai. Hal ini dikarenakan keterbatasan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini dan perizinan pengambilan data yang memerlukan waktu yang cukup lama. Selain itu, lokasi Batalyon lain yang cukup jauh dari lokasi peneliti saat ini. Menurut Hadi (2005), uji coba terpakai merupakan suatu teknik uji validitas dan reliabilitas yang hasilnya sekaligus digunakan sebagai data penelitian yang dianalisis. Uji coba terpakai ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanaannya. Kelebihannya, peneliti dapat menghemat waktu, biaya, tenaga dalam melakukan analisis data, dan jumlah butir yang sahih lebih banyak. Sedangkan kekurangannya adalah risiko jumlah butir item yang gugur di mana peneliti tidak memiliki kesempatan untuk merevisi item tersebut. Akan tetapi, uji coba terpakai tetap dapat digunakan untuk keperluan

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 penelitian yang memiliki rentang waktu penyelesaian yang terbatas seperti halnya skripsi (Hadi, 2005). Uji coba ini dilakukan untuk melihat kelayakan atau kualitas dari butirbutir item terhadap atribut psikologis. Kualitas item diukur dengan cara memastikan bahwa setiap item memiliki daya diskriminasi yang baik (Supratiknya, 2014). Uji kesahihan item ini dapat dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi item total ( ) dan diuji menggunakan program IBM SPSS versi 20 (Azwar, 2015). Nilai koefisien korelasi item total bergerak dari kisaran angka 0,0 sampai dengan angka 1,0 baik itu positif maupun negatif (Azwar, 2015). Selanjutnya toleransi yang dberikan untuk item yang memiliki skor rendah berada pada rentang skor 0,25 – 0,30 (Azwar, 2015). Apabila ada item yang menunjukkan skor dibawah 0,25 maka item tersebut dapat dikatakan kurang memenuhi syarat sehingga perlu digugurkan atau dilakukan perbaikan item dan direvisi secara total (Supratiknya, 2014)

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Tabel 3. 9. Hasil Uji Kesahihan Item No. Item Skala Kepuasan Skala Kepercayaan terhadap Perkawinan Pasangan 1 0,64 0,48 2 0,57 0,45 3 0,51 0,62 4 0,54 0,41 5 0,59 0,36 6 0,55 0,45 7 0,52 0,58 8 0,55 0,63 9 0,52 0,60 10 0,47 0,61 11 0,43 0,65 12 0,52 0,62 13 0,56 0,67 14 0,64 0,43 15 0,44 0,62 16 - 0,56 17 - 0,54 Pada penelitian ini, kedua alat ukur baik itu skala kepuasan perkawinan dan skala kepercayaan terhadap pasangan memiliki kualitas yang cukup baik karena semua item pada kedua skala memiliki korelsi lebih dari 0,30. Berdasarkan hasil uji coba di atas, skala kepuasan perkawinan yang dikembangkan oleh Fowers & Olson (1993), mendapatkan hasil koefisien korelasi item total yang berkisar dari ( ) = 0,43 hingga 0,64. Sedangkan, skala kepercayaan terhadap pasangan oleh Holmes & Rempel (1985) berada

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 antara skor ( ) = 0,36 hingga 0,67. Hasil tersebut menunjukkan bahwa korelasi item total yang cukup baik. 3. Reliabilitas Reliabilitas merupakan konsistensi hasil suatu proses pengukuran yang dapat dipercaya (Azwar, 2015). Dalam hal ini, reliabilitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana konsistensi dari suatu pengukuran apabila pengukuran dilakukan beberapa kali terhadap gejala dan alat ukur yang sama (Siregar, 2013). Uji reliabilitas dapat diukur dengan alat ukur internal consistency, yaitu Alpha Cronbach (Siregar, 2013). Artinya, uji tersebut dapat dilakukan dengan mencoba alat ukur cukup sekali kemudian dianalisis dengan teknik tertentu seperti Alpha Cronbach (Siregar, 2013). Koefisien reliabilitas berada pada kisaran angka 0,0 sampai dengan angka 1,0 (Azwar, 2015). Suatu instrumen penelitian dapat dikatakan semakin reliabel jika mendekati skor 1 dan dikatakan reliabel jika koefisien reliabilitas α > 0,6 (Siregar, 2013). Dengan demikian, suatu penelitian yang baik tentu membutuhkan validitas dan reliabilitas dari alat ukur yang baik pula. Maka dari itu, peneliti memeriksa kembali alat ukur yang digunakan sesuai dengan proses penting yang digunakan dalam skala adaptasi (Azwar, 2017).

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Tabel 3. 10. Hasil Uji Reliabilitas Alat Ukur Penelitian Variabel Koefisien Reliabilitas Kepercayaan terhadap Pasangan 0,88 Kepuasan Perkawinan 0,88 Berdasarkan hasil analisis menggunakan IBM SPSS versi 20, skala kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan yang diuji menggunakan Alpha Cronbach menunjukkan skor > 0,6 yaitu sebesar 0,88. Berdasar hal tersebut, seluruh alat ukur penelitian ini memiliki koefisien reliabilitas yang telah memenuhi syarat. Oleh karena itu, alat ukur tersebut dapat dikatakan memadai dan reliabel untuk digunakan dalam penelitian. J. Analisis Data Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai uji asumsi di mana uji asumsi terdiri dari uji normalitas dan uji linearitas. Teknik analisis yang digunakan juga akan memakai IBM SPSS versi 20. Begitupun dengan bagian uji hopotesis yang akan menjelaskan teknik analisis korelasi yang akan digunakan dalam penelitian ini. Metode analisis data dapat menggunakan analisis korelasi Pearson Product moment bagi data yang terdistribusi normal. Apabila data dalam penelitian ini memiliki distribusi tidak normal maka akan menggunakan metode analisis data non-parametrik dengan Rank Spearman’s Rho.

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Uji normalitas adalah uji yang dilakukan terhadap serangkaian data untuk mengetahui data penelitian tersebut berasal dari populasi dengan sebaran yang normal (Santoso, 2010). Data dapat dikatakan memiliki sebaran data normal apabila nilai signifikanainya bernilai lebih dari 0,05 (> 0,05), sedangkan data yang memiliki sebaran data yang tidak normal apabila nilai signifikasinya bernilai kurang dari 0,05 (< 0,05) (Santoso, 2010). Data yang telah terdistribusi normal dapat menggunakan uji statistik berjenis parametrik. Sedangkan, data yang tidak terdistribusi secara normal menggunakan uji statistik non-parametrik (Siregar, 2013). Uji normalitas dilakukan dengan teknik Kolmogorov-Smirnov dengan IBM SPSS versi 20. b. Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan linear antara variabel independen dengan variabel dependen (Siregar, 2013). Dengan kata lain, apabila hubungan antar variabel mengikuti garis lurus, maka akan terjadi peningkatan atau pengurungan pada satu variabel dan peningkatan atau pengurangan pada variabel yang lainnya (Santoso, 2010). Dalam penelitian ini, uji linearitas dilakukan dengan menggunakan uji Test for Linearity yang terdapat dalam IBM SPSS versi 20. Data dapat dikatakan memiliki hubungan yang linear apabila kedua variabel yang diteliti memiliki signifikansi kurang dari 0,05 (p<0,05).

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 2. Uji Hipotesis Pada penelitian ini, uji hipotesis dilakukan untuk melihat apakah terdapat hubungan yang signifikan antara kepercayaan terhadap pasangan dengan kepuasan perkawinan pada istri tentara di Batalyon X. Uji hipotesis penelitian dilakukan dengan menggunakan analisis korelasi Pearson Product moment pada IBM SPSS versi 20 jika data terdistribusi normal. Apabila data dalam penelitian ini memiliki distribusi tidak normal maka akan menggunakan metode analisis data non-parametrik dengan Rank Spearman’s Rho. Kedua variabel dikatakan memiliki hubungan yang signifikan apabila hasil uji korelasi menunjukkan taraf signifikansi kurang dari 0,05 (p<0,05). Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini uji normalitas akan duji menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Selajutnya, uji linearitas menggunakan teknik Test for Linearity. Lalu, pada uji hipotesis menggunakan teknik analisis korelasi Pearson Product moment. Di samping itu, teknik-teknik yang digunakan tersebut terdapat pada program IBM SPSS versi 20. K. Pertimbangan Etis Pada bagian ini, peneliti akan membahas mengenai etika penelitian yang mengarah pada berbagai tindakan dan perilaku baik dari sisi peneliti maupun dari sisi subjek yang berkaitan dengan pelaksanaan penelitian. Etika penelitian merupakan batasan-batasan yang boleh atau tidak boleh dilakukan baik dengan subjek atau rekan sesama peneliti dan sebaliknya yang mungkin saja terjadi.

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Beberapa hal yang perlu diketahui adalah subjek psikologi yang merupakan mahkluk hidup khususnya manusia. Penelitian tersebut tidak dimaksudkan untuk mengubah sesuatu dan tidak mendatangkan akibat buruk baik secara langsung dan tidak langsung serta secara fisik maupun secara psikologis (Azwar, 2017). Hal ini diatur oleh etik psikologi Indonesia pasal 15 mengenai penghindaran dampak buruk (Kode Etik Psikologi Indonesia, 2010). Selanjutnya, kode etik yang diatur American Psychologist Association (dalam Goodwin, 2010) mengatur mengenai persetujuan lembaga atau instansi yang berkaitan dengan penelitian. Apabila lembaga atau instansi tersebut membutuhkan perizinan maka peneliti harus memberikan informasi secara akurat mengenai penelitian yang dilakukan. Lalu, peneliti juga harus mematuhi protokol penelitian yang telah disetujui, baik dalam perencanaan, pelaksaan dan publikasi penelitian. Hal ini juga diatur oleh etik psikologi Indonesia pasal 47 mengenai aturan dan izin penelitian (Kode Etik Psikologi Indonesia, 2010). Berikutnya, peneliti memberikan pernyataan tertulis kepada subjek. Peneliti juga menerangkan bahwa keikutsertaan subjek penelitian dengan sukarela dan atas kemauan sendiri serta telah mengetahui informasi yang cukup mengenai penelitian tersebut. Peneliti juga harus menjamin kerahasiaan selama proses berlangsung dan batas sejauh mana apabila kerahasiaan tersebut akan dibuka. Hal ini juga diatur oleh etik psikologi Indonesia pasal 49 mengenai informed-consent dalam penelitian (Kode Etik Psikologi Indonesia, 2010). Berikutnya, peneliti mempertimbangan norma etika untuk membangun dukungan dari masyarakat atau dalam hal ini subjek terhadap penelitian. Subjek

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 cenderung akan bersedia berpatisipasi dan memberikan jawaban yang sebenarnya bilamana subjek telah percaya dengan kualitas dan kredibilitas penelitian tersebut (Azwar, 2017). Selain itu, peneliti tidak diperkenankan atau tidak terlibat dalam perilaku yang melecehkan atau merendahkan subjek yang terlibat baik secara seksual, gender, ras, suku, agama dan lainnya. Hal ini dapat menimbulkan perasaan sakit hati, tidak nyaman, rasa takut dan merugikan kedua belah pihak. Hal ini tercatum dalam pasal 14 mengenai pelecehan (Kode Etik Psikologi Indonesia, 2010).

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENGANTAR Bab ini akan membahas mengenai hasil dari penelitian yang telah peneliti lakukan. Perhitungan statistik dalam penelitian ini akan dihitung dengan menggunakan IBM SPSS versi 20. Pada subbab hasil penelitian, peneliti akan menjabarkan deskripsi data penelitian. Selanjutnya, peneliti akan membahas perhitungan statistik yang meliputi perhitungan mean teoritis dan mean empiris, perhitungan uji asumsi dan perhitungan uji hipotesis. Selain itu, pada bab ini peneliti juga akan menjabarkan analisis hasil penelitian yang akan masuk pada subbab bagian pembahasan. B. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Data Subjek Subjek dalam penelitian ini merupakan istri tentara di Batalyon X. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data yang diperoleh dari 135 orang. Data yang telah terkumpul kemudian dikelompokkan dan dideskripsikan berdasarkan data demografisnya. Berikut ini merupakan deskripsi data subjek menurut data demografis subjek dalam penelitian ini : 92

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 Tabel 4. 1. Jenis Kelamin Subjek Jenis Kelamin Jumlah Persentase Wanita 135 100% Total 135 100% Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa seluruh subjek dalam penelitian ini merupakan subjek wanita dengan persentase sebesar 100% dari total subjek sebesar 135 orang. Tabel 4. 2. Rentang Usia Subjek Usia Jumlah Persentase 23 tahun 3 2,2% 24 tahun 8 6,0% 25 tahun 11 8,2% 26 tahun 7 5,2% 27 tahun 11 8,2% 28 tahun 12 9,0% 29 tahun 13 9,7% 30 tahun 17 12,7% 31 tahun 12 9,0% 32 tahun 12 9,0% 33 tahun 9 6,7% 34 tahun 8 6,0% 35 tahun 7 5,2% 36 tahun 1 1,5% 37 tahun 1 0,7% 38 tahun 1 0,7% 40 tahun 1 0,7% Total 135 100%

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 Subjek dalam penelitian ini merupakan dewasa awal dengan rentang usia 18 tahun hingga 40 tahun (Hurlock, 1980). Sesuai dengan rentangan tersebut, mayoritas subjek dalam penelitian ini berusia 30 tahun dengan persentase sebesar 12,7% dari total subjek 135 orang. 2. Deskripsi Data Penelitian Peneliti melakukan analisis deskripsi data penelitian dengan tujuan untuk mengetahui tinggi rendahnya tingkat kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan yang dimiliki oleh subjek. Deskripsi data tersebut dilakukan dengan cara mencari mean empiris dan mean teoritis. Mean teoritis merupakan hasil perhitungan manual yang dilakukan oleh peneliti berdasarkan skor terendah dan skor tertinggi yang diraih dalam sebuah skala penelitian. Dalam hal ini, skor mean teoritis dapat dirumuskan sebagai berikut: Mean teoritis (MT) = ( ) ( ) Sedangkan, mean empiris merupakan rata-rata dari skor subjek penelitian. Mean empiris yang lebih tinggi dari mean teoritis menunjukkan arti bahwa subjek memiliki tinggkat kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan yang cukup tinggi. Sebaliknya, apabila mean empiris lebih rendah dari mean teoritis hal tersebut menunjukkan bahwa subjek memiliki tingkat kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan yang cukup rendah. Peneliti menggunakan One-Sample Test untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan antara mean teoritis dan mean empiris. Skor

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 mean empiris dan uji One-Sample Test diperoleh dengan menggunakan IBM SPSS versi 20. Berdasarkan skala penelitian yang digunakan, maka didapatkan hasil perhitungan mean teoritik kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan sebagai berikut : = = ( ( ) ( ) ( ) = = 45 ) Tabel 4. 3. Data Empiris Skala Kepuasan Perkawinan One-Sample Statistics N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Kepuasan 135 50,69 8,781 ,756

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 One-Sample Test Test Value = 45 T df Sig. (2- Mean 95% Confidence Interval tailed) Difference of the Difference Lower kepuasan 7,527 134 ,000 5,689 Upper 4,19 7,18 Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan antara mean empiris dan mean teoritis. Mean teoritis skala kepuasan perkawinan sebesar 45 sedangkan mean empiris sebesar 50,69. Dengan demikian. Mean empiris secara signifikan lebih besar dari mean teoritisnya. Hal ini berarti bahwa subjek dalam penelitian ini memiliki tingkat kepuasan perkawinan yang cenderung tinggi Tabel 4. 4. Data Empiris Skala Kepercayaan terhadap Pasangan One-Sample Statistics N Kepercayaan Mean 135 21,03 Std. Deviation 12,918 Std. Error Mean 1,112

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 One-Sample Test Test Value = 0 t df Sig. (2- Mean 95% Confidence tailed) Difference Interval of the Difference Lower Kepercayaan 18,915 134 ,000 21,030 18,83 Upper 23,23 Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap pasangan memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal ini berarti bahwa ada perbedaan signifikan antara mean empiris dan mean teoritis. Mean teoritis pada kepercayaan terhadap pasangan memperoleh hasil sebesar 0 sedangkan mean empiris sebesar 21,03. Berdasarkan hal tersebut, subjek dalam penelitian ini memiliki tingkat kepercayaan terhadap pasangan yang cenderung tinggi. 3. Uji Normalitas Penelitian ini menggunakan uji normalitas untuk mengetahui apakah sebaran data pada penelitian ini terdistribusi secara normal atau tidak. Data dapat dikatakan memiliki sebaran data normal apabila nilai signifikansinya bernilai lebih dari 0,05 (> 0,05). Sebaliknya, data yang memiliki sebaran data yang tidak normal apabila nilai signifikansinya bernilai kurang dari 0,05 (< 0,05) (Santoso, 2010). Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan IBM SPSS versi 20. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel berikut :

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 Tabel 4. 5. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnova Statistic Df Sig. Kepuasan ,066 135 ,200* Kepercayaan ,054 135 ,200* Berdasarkan tabel di atas, hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa variabel kepercayaan terhadap pasangan (p = 0,200) dan kepuasan perkawinan (p = 0,200) memiliki nilai p < 0,05. Artinya, kedua variabel dalam penelitian ini memiliki persebaran data yang normal. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa distribusi data pada penelitian ini memenuhi uji normalitas dan menggunakan uji statistik jenis parametrik. 4. Uji Linearitas Dalam penelitian ini, uji linearitas dilakukan dengan menggunakan uji Test for Linearity yang terdapat dalam IBM SPSS versi 20. Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan linear antara variabel independen dengan varibel dependen yang bersifat linear dan berada dalam satu garis lurus (Siregar, 2013). Data dapat dikatakan memiliki hubungan yang linear apabila kedua variabel yang diteliti memiliki signifikansi kurang dari 0,05 (p<0,05). Hasil dari uji linearitas dapat dilihat sebagai berikut :

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 Tabel 4. 6. Hasil Uji Linearitas Berdasarkan tabel di atas, hasil uji asumsi linearitas menunjukkan bahwa antara variabel kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan memiliki nilai signifikansi p = 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa variabel kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan berada dalam satu garis lurus atau linear dan signifikan. Oleh sebab itu, peneliti dapat melanjutkan ke tahap uji hipotesis yang akan dibahas pada subab selanjutnya. 5. Uji Hipotesis Berdasarkan hasil uji asumsi yang telah dijelaskan di atas, dapat dilihat bahwa persebaran data dari kedua variabel dalam penelitian ini terdistribusi secara normal dan memiliki hubungan yang linear antara variabel kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan. Penelitian ini kemudian dapat dilanjutkan dengan menggunakan metode korelasional yang bersifat parametrik untuk menguji hipotesis. Uji hipotesis dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan. Pengujian tersebut dilakukan dengan uji korelasi menggunakan teknik analisis Pearson Product moment pada IBM SPSS versi 20 karena data yang diperoleh terdistribusi secara normal. Kedua variabel

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 dikatakan memiliki hubungan yang signifikan apabila hasil uji korelasi menunjukkan taraf signifikansi kurang dari 0,05 (p<0,05) (Santoso, 2010). Hubungan dua variabel terlihat dalam nilai signifikansi (p). Nilai signifikansi p < 0,01 menyatakan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang signifikan. Nilai koefisien korelasi (r) bergerak dari angka 0 – 1,00 dan dapat bersifat negatif. Artinya, semakin mendekati angka 1, maka korelasi akan semakin kuat. Pembagian kategori koefisien korelasi menurut Sarwono (2006) dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. 7. Kategori Tingkat Korelasi dan Kekuatan Hubungan Nilai Korelasi Tingkat Hubungan 0,00 – 0,25 Sangat Lemah >0,25 – 0,5 Cukup >0,50 – 0,75 Kuat 0,75 – 0,99 Sangat Kuat 1 Sempurna Tabel 4. 8. Hasil Uji Korelasi Kepercayaan Pearson Correlation Kepercayaan Kepuasaan 1 ,631** Sig. (1-tailed) N Kepuasaan Pearson Correlation ,000 135 135 ,631** 1 Sig. (1-tailed) ,000 N 135 **. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed). 135

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa nilai dari koefisien kolerasi adalah 0,631 dan nilai signifikansinya sejumlah 0,00. Hal ini menunjukkan bahwa ada korelasi yang positif dan signifikan antara kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan. Nilai koefisian korelasi (r = 0,631) juga menunjukkan korelasi yang kuat. C. Pembahasan Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan pada istri tentara di Batalyon X. Hasil analisis data menggunakan uji korelasi Pearson Product moment pada IBM SPSS versi 20. Uji korelasi tersebut menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) antara kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan sebesar 0,631 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan. Artinya, semakin tinggi kepercayaan terhadap pasangan, maka semakin tinggi pula kepuasan perkawinan pada istri tentara di Batalyon X. Hal tersebut juga berlaku sebaliknya, semakin rendah kepercayaan terhadap pasangan, maka semakin rendah pula kepuasan perkawinan pada istri tentara di Batalyon X. Dengan demikian, berdasarkan hasil yang telah diperoleh maka dapat dikatakan bahwa hipotesis penelitian ini diterima, yaitu ada hubungan positif antara

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan pada istri tentara di Batalyon X. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian sebelumnya mengatakan bahwa ada hubungan antara kepercayaan terhadap pasangan dengan kepuasan perkawinan (Atta et al., 2013; McCray, 2015; Muhardeni, 2018; Renanda, 2018). Pada penelitian ini, hubungan yang signifikan antara kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan pada istri tentara di Batalyon X bisa saja dikarenakan adanya sikap keterbukaan dalam meningkatkan komunikasi antar pasangan. Penjelasan lebih lanjutnya adalah pasangan yang memiliki kepercayaan yang tinggi ditunjukkan melalui sikap saling terbuka, di mana sikap ini merupakan bagian dari komunikasi yang dapat meningkatkan kepuasan perkawinan (Olson & Olson, 2000). Hal ini berarti bahwa kepuasan perkawinan dapat terwujud karena pasangan saling berusaha meningkatkan komunikasi dengan menggunakan surat, paket, dan surat elektronik atau dapat secara interaktif menggunakan panggilan telepon, pesan singkat serta video telepon (Carter et al. dalam Galvin, Braithwaite & Bylund, 2015). Seseorang yang memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap pasangan cenderung mempunyai harapan, dan sikap serta pemikiran yang positif (Holmes & Rempel, 1989). Adanya hubungan positif dan signifikan antara kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan pada istri tentara di Batalyon X, di mana keduanya memiliki hubungan yang tinggi mengantarkan pada tingkat kesejahteraan. Dalam hal ini, kesejahteraan baik secara umum maupun seperti

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 kesejahteraan finansial, kesejahteraan subjektif dan kesejahteraan psikologis (Thoresen, Goldsmith, & Thoresen, 1987; Wadsworth, 2015; Suhail & Chaudhry, 2004; Gove, Hughes, & Style, 1983). Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi kepuasan perkawinan maka akan semakin tinggi juga tingkat kesejahteraan seseorang. Tabel 4. 9. Scatterplot Hasil data deskripsi menunjukkan rata-rata subjek memiliki kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan yang tinggi. Mean empiris (x = 21,03) kepercayaan terhadap pasangan lebih tinggi dibandingkan dengan mean teoretis (x = 0). Hal ini memperlihatkan bahwa kepercayaan terhadap pasangan yang dimiliki oleh subjek tergolong tinggi. Kemudian, mean

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 empiris kepuasan perkawinan (x = 50,69) lebih tinggi dibandingkan dengan mean teoretis (x = 45). Hasil ini sejalan dengan uji hipotesis yang menunjukkan hubungan positif kedua variabel. Hal ini juga dapat dilihat dari grafik diagram pencar (scatter plot), di mana hasil bentuk grafik menunjukkan nilai variabel kepercayaan terhadap pasangan (x) dan variabel kepuasan (y) dapat ditarik garis lurus pada pancaran titik-titik kedua variabel tersebut (Tabel 4. 9). Jadi, kepercayaan terhadap pasangan berhubungan dengan kepuasan perkawinan sehingga kepercayaan terhadap pasangan perlu dijaga atau ditingkatkan karena akan berakibat secara positif bagi pasangan. Di samping itu, kepercayaan terhadap pasangan yang cenderung tinggi membuat istri tentara mempunyai sikap dan pemikiran yang lebih terbuka serta positif (Holmes & Rempel, 1989). Individu juga mampu memahami pasangan, memenuhi harapan pasangan, dan tidak memiliki kecurigaan kepada pasangannya (Holmes & Rempel, 1989). Sementara itu, istri tentara dengan kepuasan perkawinan yang cenderung tinggi mempunyai sikap yang bertanggung jawab dengan keluarganya, dapat mengambil keputusan dengan tepat, dan memegang teguh nilai-nilai agama (Fowers & Olson, 1993). Individu tersebut juga mampu mengatur keuangan dan waktu luang untuk bercengkrama dengan keluarga ataupun kolega (Fowers & Olson, 1993). Istri tentara dapat dikatakan memiliki kualitas yang baik dalam berinteraksi dengan pasangan. Subjek dalam penelitian ini adalah wanita dewasa awal berusia 18-40 tahun yang sudah menjalankan hubungan perkawinan dan membentuk

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 keluarga (Berk, 2012). Rentang usia ini dianggap berperan dalam mendukung suatu hubungan perkawinan (Walgito, 2002). Menurut Walgito (2002), peranan usia dapat dilihat dari beberapa segi fisiologis, psikologis dan sosial. Dari segi fisiologis, rentang usia tersebut dapat dikatakan telah siap untuk mengadakan hubungan seksual. Lalu dari segi psikologis, seseorang dengan rentang usia ini telah dianggap memiliki kondisi yang semakin matang dalam berpikir dan bertingkah laku. Dari segi sosial, individu semakin memiliki pengalaman untuk melakukan sosialisasi dan mulai tergerak untuk bekerja dan tidak bergantung kepada pihak lain termasuk orangtua serta berusaha menjaga kelangsungan keluarganya (Walgito, 2002). Dalam hal ini, wanita dewasa awal yang dimaksud adalah sebagai istri militer. Istri militer dijelaskan merasakan perpisahan dan tingkat stress yang lebih besar terutama pada saat ditinggal sang suami berangkat penugasan (Galvin, Braithwaite & Bylund, 2015). Penugasan dalam waktu yang lama juga dapat menyebabkan kebahagiaan dan kestabilan perkawinan menjadi terganggu (Litiloly & Swastiningsih, 2014). Seseorang yang telah menikah tentu menginginkan sebuah kondisi perkawinan yang stabil dan bahagia di mana hal ini dapat dicapai dengan cara memenuhi bidang-bidang dalam perkawinan (Fowers & Olson, 1993). Pada dasarnya, hasil dari pemenuhan bidang-bidang perkawinan disebut dengan kepuasan perkawinan (Fowers & Olson, 1993). Kepuasan perkawinan dapat ditingkatkan dengan adanya sikap-sikap yang positif pada pasangan (Hurlock, 1980).

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 Salah satu sikap positif untuk dapat mencapai harapan perkawinan yang bahagia adalah sikap saling percaya mempercayai (Walgito, 2002). Dalam hubungan suami istri, penting bagi keduanya untuk saling memberikan kepercayaan satu sama lain (Walgito, 2002). Kepercayaan menjadi hal yang penting dalam hubungan perkawinan agar pasangan dapat saling memahami, saling mengandalkan, dan memiliki keyakinan walaupun beda pada masamasa yang penuh dengan ketidakpastian (Rempel et al., 1985). Dengan adanya kepercayaan, pasangan dapat menyingkirkan perasan ataupun pikiran negatif. Di sisi lain, penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel nonprobability atau nonrandom purposive sampling. Teknik ini dilakukan dengan cara menentukan sampel atas dasar adanya pertimbanganpertimbangan tertentu (Sugiyono, 2008). Pertimbangan tersebut adalah peneliti memilih subjek berdasarkan kemudahan peneliti untuk mendapatkan subjek penelitian. Dengan artian bahwa subjek penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan karena tidak semua populasi menjadi sampel penelitian (Purwanto & Sulistyastuti, 2007; Hikmawati, 2017). Hal ini sepertinya kurang dapat menggambarkan variasi data dari populasi.

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN Berdasarkan perhitungan dan penjelasan dari bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini adalah adanya hubungan positif dan signifikan antara kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan pada istri tentara di Batalyon X. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi kepercayaan terhadap pasangan, maka semakin tinggi pula kepuasan perkawinan pada istri tentara di Batalyon X. Selain itu, hal tersebut juga berlaku sebaliknya, di mana jika semakin rendah kepercayaan terhadap pasangan, maka semakin rendah pula kepuasan perkawinan pada istri tentara di Batalyon X. Dengan begitu, hasil yang telah diperoleh tersebut dapat menjelaskan bahwa hipotesis pada penelitian ini diterima. Hipotesis tersebut, yaitu ada hubungan positif antara kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan pada istri tentara di Batalyon X. Hal ini cenderung didukung pula salah satu faktor, yaitu usia. Hal ini cenderung ikut mendukung kepuasan perkawinan pada istri tentara. Hasil penelitian yang didapatkan juga menunjukkan bahwa subjek dalam penelitian ini memiliki kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan yang tinggi secara signifikan. Di samping itu, subjek penelitian ini merupakan istri tentara yang berusia antara 18-40 tahun yang telah masuk ke dalam tahapan dewasa awal sehingga mampu mengolah pikiran, persaan dan perbuatan secara matang sesuai dengan tugas perkembangannya. 107

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 B. KETERBATASAN PENELITIAN Setelah melewati proses penelitian, peneliti menyadari bahwa penelitian ini tidak lepas dari keterbatasan dan kekurangan. Ada lima hal yang menjadi keterbatasan dalam penelitian ini, yaitu berkaitan status subjek penelitian, uji coba terpakai, peraturan kesatuan militer, teknik pengambilan sampel, dan latar belakang pendidikan peneliti. Pertama, subjek yang digunakan dalam penelitian ini kurang bisa mewakili status istri pada umumnya. Penelitian ini hanya berfokus pada status sebagai istri militer yang memiliki ciri-ciri yang berbeda. Kedua, penelitian ini menggunakan skala adaptasi dan bersifat uji coba terpakai (try out terpakai), di mana tidak ada alat ukur sebelumnya dan seleksi item. Jika ada item dari skala yang kurang reliabel, maka peneliti tidak bisa mengganti atau memperbaiki sehingga dapat mempengaruhi konstruk yang diukur Ketiga, pada proses pengambilan data, kesatuan militer memilih menyebarkan skala sendiri tanpa didampingi oleh peneliti karena alasan tertentu. Maka dari itu, peneliti kurang dapat memantau pada proses pengisian skala. Hal ini juga menjadi keterbatasan peneliti untuk dapat mengantisipasi atau menanggulangi apabila ada subjek yang kurang paham saat proses pengisian skala. Keempat, pengambilan sampel dengan teknik nonprobability atau nonrandom purposive sampling. Peneliti menggunakan teknik ini dengan pertimbangan kemudahan peneliti dalam mendapatkan data. Akan tetapi, teknik ini tidak dapat digeneralisasikan karena tidak semua populasi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sampel (Purwanto & Sulistyastuti, 2007; Hikmawati, 2017). Kelima, peneliti merupakan seorang mahasiswa S1 yang masih

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 belum berpengalaman dalam bidang penelitian di mana peneliti masih membutuhkan pendampingan oleh ahli yang dalam hal ini adalah dosen pembimbing. Peneliti menyadari belum baik dalam menganalisis hasil dan kurang membuat pembahasan yang mendalam. Akan tetapi, penelitian ini telah didampingi oleh dosen yang berpengalaman sehingga penelitian ini masih masuk dalam standar penelitian ilmiah. C. SARAN Seperti pada Bab 1 penelitian ini, kiranya ada beberapa manfaat yang diharapkan dapat berguna bagi beberapa pihak terkait. Adapun pihak-pihak tersebut adalah sebagai berikut : 1. Bagi Istri Tentara Berdasarkan hasil dari data deskriptif pada penelitian ini yang menunjukkan bahwa rata-rata subjek memiliki kepercayaan terhadap pasangan dan kepuasan perkawinan yang tinggi maka subjek dianggap memiliki kemampuan untuk mengendalikan perasaan, situasi yang baru dan orang lain yang cukup baik. Mengacu pada temuan tersebut maka istri tentara diharapkan turut membantu sesama agar dapat saling membangun perasaan yang lebih positif. Individu juga diharapkan lebih peka terhadap orang lain dan saling menyokong individu yang mengalami kondisi yang sama terutama yang kurang mampu mengendalikan perasaan-perasaan negatifnya.

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 2. Bagi Keluarga dan Organisasi Persatuan Istri Tentara Keluarga dan organisasi persatuan diharapkan senangtiasa terus memberikan dukungan kepada istri tentara yang ditinggal bertugas. Dukungan tersebut sangat penting guna menghindari perasaan-perasaan negatif yang berkepanjangan. Dukungan sosial keluarga dapat berupa pemberian informasi baik secara verbal maupun non-verbal, saran, dan bantuan secara nyata. Selain itu, organisasi persatuan istri tentara juga dapat memberikan berbagai kegiatan untuk mengisi hari-hari istri tentara yang ditinggal bertugas. 3. Bagi Komunitas Ilmuwan Psikologi Penelitian selanjutnya mungkin perlu memperhatikan untuk adanya uji coba (try-out instrument) pengukuran. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki apabila ada item dari skala yang kurang reliabel sehingga dapat diperbaiki atau diganti agar tidak berpengaruh terhadap konstruk yang ingin diukur. Selain itu, subjek pada penelitian ini yang hanya terbatas pada kriteria tertentu. Berkaitan dengan hal itu, penelitian selanjutnya diharapkan mengambil populasi yang berasal dari kriteria berbeda agar dapat menambah literatur penelitian dan hasilnya dapat digeneralisasikan. Di samping gitu, apabila memungkinkan pada penelitian selanjutnya agaknya dapat memperhatikan proses pengambilan data mulai dari penyebaran hingga pengisian skala penelitian secara langsung. Dengan begitu, peneliti

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 selanjutnya dapat meminimalisir bias atau kebingungan dari subjek dalam hal pemberian respon pada skala penelitian. Hal lain yang mungkin bisa dilakukan oleh penelitian selanjutnya adalah melakukan penelitian dengan teknik penelitian yang berbeda, seperti penelitian kualitatif atau menambah aspek demografis (usia pernikahan, jumlah anak, pendidikan, jenis pekerjaan dan jumlah pendapatan). Teknik ini dapat menghasilkan proses atau hasil yang lebih mendalam dan lebih mendetail terkait topik ini. Peneliti selanjutnya dapat menggunakan topik lain untuk dikaitkan dengan kepuasan perkawinan atau penelitian lain yang terkait dengan istri tentara agar penelitian tentang subjek tersebut dapat lebih kaya lagi. Berdasarkan uraian di atas, peneliti berharap bahwa beberapa saran atau masukan yang telah peneliti sampaikan dapat diterima dan ditindaklanjuti dengan bijak oleh pihak-pihak terkait. D. KOMENTAR PENUTUP Pada Bab 1 di awal , peneliti telah menyampaikan beberapa hal mengenai alasan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan topik ini. Peristiwa-peristiwa yang cukup memprihatikan ini membangkitkan keingintahuan peneliti untuk melihat yang sebenarnya terjadi. Setelah melewati penelitian ini, peneliti cukup senang karena mendapatkan hasil bahwa subjek penelitian tidak memiliki peniliaian yang rendah terhadap perkawinannya dan merasa cukup puas dengan perkawinan tersebut. Selain

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 itu, cukup puas karena dari ruang lingkup penelitian ini saja mampu menunjukkan bahwa masih ada sikap positif yang dipegang oleh istri tentara pada saat mereka ditinggal bertugas oleh sang suami. Hal ini artinya, masih ada istri tentara yang dapat mengendalikan perasaan-perasaan negatif mereka dan lebih mengandal sikap saling percaya yang dapat dilihat melalui sikap saling terbuka. Peneliti berharap bahwa penelitian ini tidak hanya bermanfaat bagi peneliti tetapi dapat bermanfaat juga bagi orang lain. Peneliti juga berharap nantinya semakin banyak penelitian mengenai topik ini ataupun yang masih berkaitan dengan topik ini sehingga tidak kesulitan lagi mencari tambahan literatur seperti yang peneliti rasakan. Di samping itu, pentingnya dukungan sosial sebagai upaya untuk dapat mendampingi para istri tentara tentu terus sangat dibutuhkan baik dari keluarga maupun dari organisasi terkait.

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Arifin, Z. (2015, July 1). Istri pilot pesawat hercules Sandy diusahakan jadi PNS. Liputan6.Com. Retrieved from http://news.liputan6.com/read/2263806/istripilot-pesawat-hercules-sandy-diusahakan-jadi-pns?source=search Asmarina, N. L. P. G. M., & Lestari, M. D. (2017). Gambaran kepercayaan, komitmen pernikahan dan kepuasan hubungan seksual pada istri dengan suami yang bekerja di kapal pesiar. Jurnal Psikologi Udayana, 4(2), 239– 249. Atta, M., Adil, A., Shujja, S., & Shakir, S. (2013). Role of trust in marital satisfaction among single and dual-career couples. International Journal of Research Studies in Psychlogy, 2(4), 53–62. https://doi.org/10.5861/ijrsp.2013.339 Azwar, S. (2003). Reliabilitas dan validitas (edisi 4). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2009). Metode penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2015). Reliabilitas dan validitas (edisi 4). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2017). Metode penelitian psikologi (edisi 2). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Berbagi Cerita Dengan Istri Prajurit Yang Gugur, Lambaian Pagi Itu Ternyata Yang Terakhir. (2015, October 5). Prokal.Co. Retrieved from http://kaltim.prokal.co/read/news/245634-berbagi-cerita-dengan-istriprajurit-yang-gugur-lambaian-pagi-itu-ternyata-yang-terakhir Berk, L. E. (2012). Development through the lifespan (5 ed.). Boston: Pearson Education, Inc. Chang, J. H. Y., Yang, H., Yeh, K. H., & Hsu, S. C. (2016). Developing trust in close personal relationships: Ethnic Chinese’s experiences. Journal of Trust Research, 6(2), 167–193. https://doi.org/10.1080/21515581.2016.1207543 Dinas Penerangan Angkatan Darat. (2009). Pahami Konsekuensi Tugas Sebagai Kowad. Retrieved February 11, 2019, from https://tni.mil.id/view-12705pahami-konsekuensi-tugas-sebagai-kowad.html Dinas Penerangan Angkatan Darat. (2012). Tugas. Retrieved December 8, 2018, from https://tniad.mil.id/2012/07/tugas/ Dinas penerangan TNI AD. (2007, September 21). Istri prajurit TNI harus tegar dan mandiri. Kabar Indonesia. Retrieved from http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=8&dn=20070921160617 Divorce Rate Increases in Marine Corps. (2008, December 2). Divorce Rate Increases in Marine Corps. Nbcnews.Com. Retrieved from http://www.nbcnews.com/id/28023452/ns/us_news-military/t/divorce-rateincreases-marine-corps-army/#.XGAxMjAzbIX Fowers, B. J., & Olson, D. (1993). ENRICH marital satisfaction scale: A brief 113

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 research and clinical tool. Journal of Family Psychology, 7(2), 176–185. https://doi.org/10.1037/0893-3200.7.2.176 Galvin, K. M., Braithwaite, D. O., & Bylund, C. L. (2015). Family communication: Cohesion and change (9th ed.). New Jersey: Pearson Education, Inc. Glisson, C. A., Melton, S. C., & Roggow, L. (1981). The effect of separation on marital satisfaction, depression and self-esteem. Journal of Social Service Research, 4(1), 61–76. https://doi.org/10.1300/J079v04n01_05 Goodwin, C. J. (2010). Research in psychology methods and design (6th editio). New Jersey: John Wiley & Sons. Gove, W. R., Hughes, M., & Style, C. B. (1983). Does marriage have positive effects on the psychological well-being of the individual? Journal of Health and Social Behavior, 24(2), 122–131. https://doi.org/10.2307/2136639 Hadi, S. (2005). Aplikasi ilmu statistika di Fakultas Psikologi. Anima Indonesia Psychological Journal, Vol. 20(No. 3), 203–229. Hikmawati, F. (2017). Metodologi penelitian. Depok: Rajawali Pers. Holmes, J. G., & Rempel, J. . (1989). Trust in close relationships. Review of Personality and Social Psychology, Vol. 10, 187–220. Hurlock, E. B. (1953). Development psychology. USA: McGraw-Hill Book Company. Hurlock, E. B. (1980). Psikologi perkembangan: Suatu Pendekatan sepanjang rentang waktu kehidupan manusia (Edisi 5). Jakarta: Erlangga. Irawan, Y. K. (2016, June 8). “Jadi Istri Tentara Itu Harus Kuat...” Kompas.Com. Retrieved from https://regional.kompas.com/read/2016/06/08/16460001/.jadi.istri.tentara.itu. harus.kuat. Kail, R. V., & Cavanaugh, J. C. (2010). Human development: A life-span view (5th ed). California: Wadsworth Cengage Learning. Karney, B. R., & Crown, J. S. (2007). Families under stress : An assessment of data, theory, and research on marriage and divorce in the military. California: RAND Corporation. Knobloch, L. K., & Wilson, S. R. (2015). Communication in military families across the deployment. In L. H. Turner & R.West (Eds.), The SAGE handbook of family communication (pp. 370–385). California: Sage Publications Inc. https://doi.org/10.4135/9781483375366.n24 KODE ETIK PSIKOLOGI INDONESIA. (2010). Jakarta: Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia. Komandan Lantamal VI Hadiri Pengarahan Panglima TNI Di Makassar. (2017, October 16). Peloporwiratama. Retrieved from http://peloporwiratama.co.id/2017/10/16/komandan-lantamal-vi-hadiripengarahan-panglima-tni-di-makassar/ Larzelere, R. E., & Huston, T. L. (1980a). The dyadic trust scale: Toward understanding interpersonal trust in close relationships. Journal of Marriage

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 and the Family, 42(3), 595. https://doi.org/10.2307/351903 Larzelere, R. E., & Huston, T. L. (1980b). The dyadic trust scale: Toward understanding interpersonal trust in close relationships. Journal of Marriage and Family, Vol. 42, N, 595–604. https://doi.org/10.2307/351903 Lemme, B. H. (1995). Development In adulthood. MA: Allyn and Bacon. Lestari, S. (2012). Psikologi keluarga: Penanaman nilai dan penanganan konflik dalam keluarga (edisi 1). Jakarta: Kencana Prenadamedia Group. Litiloly, F., & Swastiningsih, N. (2014). Manajemen stres pada istri yang mengalami long distance marriage. Jurnal Fakultas Psikologi, 2(2), 53–61. Manggiasih, B., & Indreswari, A. (2010, August 15). Tentara dan polisi Rawan tertular HIV/AIDS. Tempo.Co. Retrieved from https://nasional.tempo.co/read/271273/tentara-dan-polisi-rawan-tertularhivaids Mansfield, A. J., Kaufman, J. S., Marshall, S. W., Gaynes, B. N., Morrissey, J. P., & Engel, C. C. (2010). Deployment and the use of mental health services among U.S. Army wives. The New England Journal of Medicine, 362(2), 101–109. https://doi.org/10.1056/NEJMoa0900177 Mappiare, A. (1983). Psikologi orang dewasa bagi penyesuaian dan pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional. Matlin, M. W. (2012). The psychology of woman (7th ed). California: Wadsworth Cengage Learning. McCray, M. L. (2015). Infidelity, trust, commitment, and marital satisfaction among military wives during husbands’ deployment (Dissertation Doctoral). Walden University. Retrieved from http://scholarworks.waldenu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1757&context= dissertations Miller, R. B., Nunes, N. A., Bean, R. A., Day, R. D., Falceto, O. G., Hollist, C. S., & Fernandes, C. L. (2014). Marital problems and marital satisfaction among Brazilian couples. The American Journal of Family Therapy, 42(2), 153– 166. https://doi.org/10.1080/01926187.2012.741897 Muhardeni, R. (2018). Peran intensitas komunikasi, kepercayaan, dan dukungan sosial terhadap kebahagiaan perkawinan pada istri tentara saat menjalani long distance marriage (ldm) di batalyon infanteri 407/padmakusuma kabupaten Tegal. Jurnal Psikologi Sosial, 16(01), 34–44. https://doi.org/10.7454/jps.2018.4 Negrusa, S., Negrusa, B., & Hosek, J. (2014). Gone to war : have deployments increased divorces ? Journal of Population Economics, 27(2), 473–496. https://doi.org/10.1007/s00148-013-0485-5 Noller, P., & Fitzpatrick, M. A. (1993). Communication in family relationships. New Jersey: Prentice Hall Inc. Olson, D. H., DeFrain, J., & Skogrand, L. (2011). Marriages and families: Intimacy, diversity, and strengths (7th editio). New York: McGraw-Hill Book Company.

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 Olson, D. H., & Olson, A. K. (2000). Empowering couples: Building on your strengths (2nd ed). Minnesota: Life Inovations Inc. Pamungkas, R. T. (2016). Cerita bisik-bisik para istri tentara yang ditinggal bertugas berbulan-bulan tak pulang. TribunJateng.Com. Retrieved from http://jateng.tribunnews.com/2016/10/05/cerita-bisik-bisik-para-istri-tentarayang-ditinggal-bertugas-berbulan-bulan-tak-pulang Papalia, D. E., & Feldman, R. D. (2014). Menyelami perkembangan manusia (edisi 12). Jakarta: Salemba Humanika. Pemerintah Indonesia. (2010). Undang-undang no. 39 tahun 2010 yang mengatur tentang administrasi prajurit tentara nasional Indonesia. Retrieved from http://www.bphn.go.id/data/documents/10pp039.pdf Penerangan komandon resor 143/Halu Oleo. (2016). Loyalitas, moralitas dan integritas wujud prajurit TNI yang profesional dan di cintai rakyat. Retrieved December 8, 2018, from http://korem143.kodam14hasanuddintniad.mil.id/loyalitas-moralitas-dan-integritas-wujud-prajurit-tni-yangprofesional-dan-di-cintai-rakyat/ Persit Kartika Chandra Kirana Pengurus Pusat. (2017). Tujuan & tugas pokok. Retrieved December 8, 2018, from https://www.persitpusat.or.id/tujuantugas-pokok/ Purwanto, E. A., & Sulistyastuti, D. R. (2007). Metode penelitian kuantitatif untuk administrasi publik dan masalah-masalah sosial. Yogyakarta: Gava Media. Pusat penerangan TNI. (2018, January 11). Ketum dharma pertiwi : Istri prajurit TNI harus pahami tugas suami. PUSPEN Markas Besar Tentara Nasional Indonesia. Retrieved from https://tni.mil.id/view-124902-ketum-dharmapertiwi-istri-prajurit-tni-harus-pahami-tugas-suami.html PUSPEN. (2012, April 4). Tugas Ganda Sebagai Istri Prajurit. PUSPEN Markas Besar Tentara Nasional Indonesia. Retrieved from http://www.tni.mil.id/view-34804-tugas-ganda-sebagai-istri-prajurit.html Rachmawati, D., & Mastuti, E. (2013). Perbedaan tingkat kepuasan perkawinan ditinjau dari tingkat penyesuaian perkawinan pada istri Brigif 1 Marinir TNIAL yang menjalani long distance marriage. Jurnal Psikologi Pendidikan Dan Perkembangan, Vol. 2(No. 02), 1–8. Rempel, J. K., Holmes, J. G., & Zanna, M. P. (1985). Trust in close relationships. Journal of Personality and Social Psychology, 49(1), 95–112. https://doi.org/10.1037/0022-3514.49.1.95 Renanda, S. (2018). Hubungan kelekatan dan kepuasan hubungan romantis pada mahasiswa politeknik kesehatan dr. Soepraoen Malang yang di mediasi oleh kepercayaan. Jurnal Ecopsy, 5(1), 29–35. https://doi.org/10.20527/ecopsy.v5i1.4882 Santoso, A. (2010). Statistik untuk psikologi dari blog menjadi buku. Yogyakarta: Universita Sanata Dharma. Sarwono, J. (2006). Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 Schumm, W. R., Resnick, G., Silliman, B., & Bell, D. B. (1998). Premarital counseling and marital satisfaction among civilian wives of military service members. Journal of Sex & Marital Therapy, 24(1), 21–28. https://doi.org/10.1080/00926239808414665 Siregar, S. (2013). Statistik parametrik untuk penelitian kuantitatif. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Smith, B., Brown, A., Varnado, T., & Stewart-Spencer, S. (2017). Deployments and marital satisfaction of civilian male spouses. Journal of Military and Government Counseling, 5(1), 70–85. Sugiyono. (2008). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r&d (edisi 5). Bandung: ALFABETA. Sugiyono. (2013). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r&d (edisi 19). Bandung: ALFABETA. Suhail, K., & Chaudhry, H. R. (2004). Predictors of subjective well-being in an Eastern muslim culture. Journal of Social and Clinical Psychology, 23(3), 359–376. https://doi.org/10.1521/jscp.23.3.359.35451 Supratiknya, A. (2014). Pengukuran psikologis. Yogyakarta: Universita Sanata Dharma. Suryani, A., & Nurwidawati, D. (2016). Self disclosure dan trust pada pasangan dewasa muda yang menikah dan menjalani hubungan jarak jauh. Jurnal Psikologi Teori Dan Terapan, 7(1), 9–15. Thoresen, R. J., Goldsmith, E. B., & Thoresen, R. J. (1987). The relationship between army families’ financial well-being and depression, general wellbeing, and marital satisfaction. The Journal of Social Psychology, 127(5), 545–547. https://doi.org/10.1080/00224545.1987.9713742 Wadsworth, T. (2015). Marriage and subjective well-being: How and why context matters. Social Indicators Research, 126(3), 1025–1048. https://doi.org/10.1007/s11205-015-0930-9 Walgito, B. (2002). Bimbingan dan konseling perkawinan. Yogyakarta: Penerbit Andi Yogyakarta. Wieselquist, J., Rusbult, C. E., Foster, C. A., & Agnew, C. R. (1999). Commitment, pro-relationship behavior, and trust in close relationships. Journal of Personality and Social Psychology, 77(5), 942–966. https://doi.org/10.1037/0022-3514.77.5.942 Yanuar. (2015, December 21). Pilot pesawat tempur jatuh kapten Dwi dimakamkan, istri pingsan. Liputan6.Com. Retrieved from http://news.liputan6.com/read/2395270/pilot-pesawat-tempur-jatuh-kaptendwi-dimakamkan-istri-pingsan?source=search Yudha, A. A. (2017). “Peran Persit” organisasi, ibu rumah tangga dan pendamping suami. Retrieved December 8, 2018, from https://www.persitpusat.or.id/peran-persit-organisasi-ibu-rumah-tangga-danpendamping-suami/

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 LAMPIRAN

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 LAMPIRAN 1 Instrumen Penelitian

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 Lampiran 1.1 Skala kepercayaan terhadap pasangan Skala trust in close relationship No . 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. My partner has proven to be trustworthy and I am willing to let him/her engage in activities which other partners find too threatening. Even when I don't know how my partner will react, I feel comfortable telling him/her anything about myself; even those things of which I am ashamed. Though times may change and the future is uncertain; I know my partner will always be ready and willing to offer me strength and support. 1 am never certain that my partner won't do something that I dislike or will embarrass me. My partner is very unpredictable. I never know how he/she is going to act from one day to the next. I feel very uncomfortable when my partner has to make decisions which will affect me personally. I have found that my partner is unusually dependable, especially when it conies to things which are important to me. My partner behaves in a very consistent manner. Whenever we have to make an important decision in a situation we have never encountered before, I know my partner will be concerned about my welfare. Even if I have no reason to expect my partner to share things with me, I still feel certain that he/she will. I can rely on my partner to react in a positive way when I expose my weaknesses to him/her. When I share my problems with my partner, I know he/she will respond in a loving way even before I say anything. Designated category D F F P P D D P F F F F

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 13. I am certain that my partner would not cheat on me, even if the opportunity arose and there was no chance that he/she would get caught. 14. I sometimes avoid my partner because he/she is unpredictable and I fear saying or doing something which might create conflict. 15. I can rely on my partner to keep the promises he/she makes to me. 16. When I am with my partner I feel secure in facing unknown new situations. 17. Even when my partner makes excuses which sound rather unlikely, I am confident that he/she is telling the truth. • F = faith; D = dependability; P = predictability. D P D F D

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 Lampiran 1.2 skala terjemahan kepercayaan terhadap pasangan No. Pernyataan 1. Pasangan saya telah terbukti dapat dipercaya dan saya bersedia untuk membiarkan dia terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang pasangan lain rasakan terlalu mengancam 2. Tidak peduli akan reaksi pasangan saya, saya merasa nyaman menceritakan apa pun tentang diri saya; bahkan hal-hal yang membuat saya malu 3. Walaupun waktu dapat berubah dan masa depan tidak pasti; Saya tahu bahwa pasangan saya akan selalu siap dan bersedia memberi saya kekuatan dan dukungan 4. Saya tidak pernah yakin bahwa pasangan saya tidak akan melakukan sesuatu yang tidak saya sukai atau akan mempermalukan saya 5. Pasangan saya sangat tidak bisa diprediksi. Saya tidak pernah tahu bagaimana dia akan bertindak dari satu hari ke berikutnya 6. Saya merasa sangat tidak nyaman ketika pasangan saya harus membuat keputusan yang akan mempengaruhi saya secara pribadi 7. Saya merasa bahwa pasangan saya sangat dapat diandalkan, terutama ketika menyangkut sesuatu yang penting bagi saya 8. Pasangan saya berperilaku dengan cara yang sangat konsisten 9. Kapanpun kami harus membuat keputusan penting dalam situasi yang belum pernah kami hadapi sebelumnya, saya tahu bahwa pasangan saya akan peduli tentang kesejahteraan saya 10. Bahkan jika saya tidak memiliki alasan untuk mengharapkan pasangan saya berbagi sesuatu dengan saya, saya masih merasa yakin bahwa dia akan melakukannya 11. Saya dapat mempercayai pasangan saya untuk bereaksi dengan cara yang positif ketika saya membuka kelemahan saya kepadanya 12. Ketika saya berbagi masalah saya dengan pasangan saya, saya tahu dia akan menanggapi dengan cara yang penuh kasih bahkan sebelum saya mengatakan apa pun 13. Saya yakin bahwa pasangan saya tidak akan mengkhianati saya, bahkan jika kesempatan itu muncul dan tidak ada peluang dia akan ketahuan 14. Terkadang saya menghindari pasangan saya karena dia tidak dapat ditebak dan saya takut mengatakan atau melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan konflik 15. Saya dapat mengandalkan pasangan saya untuk menepati janji-janji yang dia buat untuk saya

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 16. Ketika saya bersama pasangan saya, saya merasa aman dalam menghadapi situasi baru yang tidak diketahui 17. Bahkan ketika pasangan saya membuat alasan yang terdengar agak tidak dapat dipercaya, saya yakin bahwa dia mengatakan yang sebenarnya

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 Lampiran 1.3 skala kepuasan perkawinan

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 Lampiran 1.4 skala terjemahan kepuasan perkawinan No. Pernyataan 1. Pasangan saya dan saya memahami satu sama lain dengan sempurna 2. Saya tidak senang dengan sifat kepribadian dan kebiasaan pribadi pasangan saya 3. Saya sangat senang dengan cara kami melakukan tanggung jawab peran dalam pernikahan kami 4. Pasangan saya benar-benar memahami dan bersimpati dengan setiap suasana hati saya 5. Saya tidak senang dengan komunikasi kami dan merasa bahwa pasangan saya tidak memahami saya 6. Hubungan kami adalah sebuah kesuksesan yang sempurna 7. Saya sangat senang dengan cara kami membuat keputusan dan menyelesaikan konflik 8. Saya tidak senang dengan keadaan keuangan kami dan cara kami membuat keputusan keuangan 9. Saya mempunyai beberapa kebutuhan yang tidak terpenuhi dari hubungan kami 10. Saya sangat senang dengan cara kami mengatur kegiatan waktu luang kami dan waktu yang kami habiskan bersama 11. Saya sangat senang dengan cara kami mengungkapkan kasih sayang dan berhubungan secara seksual 12. Saya tidak puas dengan cara kami masing-masing melakukan tanggung jawab kami sebagai orang tua 13. Saya tidak pernah menyesali hubungan saya dengan pasangan saya, bahkan untuk sesaat pun 14. Saya tidak puas dengan hubungan kami dengan orang tua, keluarga besan, dan/atau teman-teman saya 15. Saya merasa sangat nyaman dengan cara kami masing-masing melaksanakan keyakinan dan nilai-nilai agama kami

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126 Lampiran 1.5 Kuesioner penelitian SKALA PENELITIAN Sebagai bagian dalam Penyusunan Skripsi Program Studi Psikologi Disusun oleh: Gabriella Pundarika Taneira 139114079 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2018

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127 Penjelasan dan Pernyataan Kesediaan Ibu yang terhormat, Perkenalkan, nama saya Gabriella Pundarika Taneira, saya adalah mahasiswi tingkat akhir Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Saat ini, saya di bawah bimbingan dosen, Edward Theodorus, M.App., Psy., sedang mempelajari mengenai hubungan perkawinan. Untuk itu, saya bermaksud meminta kesediaan Anda untuk berpartisipasi dalam penelitian ini dengan mengisi kuesioner yang telah saya sediakan. Dengan mengisi kuesioner ini, Anda telah memberikan sumbangsih pada pemahaman mengenai perkawinan dan membantu saya untuk menambah pengetahuan serta pemahaman saya mengenai kehidupan perkawinan yang telah anda jalani di masa ini. Pada kepentingan kali ini, Saya sangat berterima kasih apabila Anda memberikan jawaban yang jujur, spontan, dan apa adanya. Dalam pengisian kuesioner ini, tidak ada jawaban yang benar ataupun salah. Semua jawaban atau respons yang diisi adalah jawaban yang baik, bila diisi sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, silahkan Anda memberikan jawaban yang jujur sesuai dengan keadaan diri Anda. kuesioner ini bersifat anonim atau tanpa nama, sehingga informasi yang Anda berikan tidak akan menunjuk pada orang tertentu. Saya sangat memahami bahwa topik penelitian ini merupakan topik yang cukup sensitif dan informasi yang Anda berikan bersifat pribadi dan/ privasi, namun saya akan menjaga kerahasiaan informasi yang Anda berikan. Selain itu,

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128 orang lain tidak akan mengetahui identitas asli Anda dan kuesioner ini hanya digunakan dalam penelitian saya saja Apabila ada hal-hal yang kurang jelas, Anda dapat menghubungi saya di nomor 081353737653 atau melalui email : gabriellapundarika@gmail.com. Terima kasih banyak atas perhatian dan kesediaan Anda. Saya telah membaca dan memahami penjelasan mengenai pengisian kuesioner ini dan saya bersedia mengisi angket ini. Ttd, ............................................

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129 Identitas diri 1. Inisial : .................... (Silahkan dibuat seperti kode unik kombinasi huruf dan angka yang dapat anda ingat, contoh : GPT17) 2. Usia : .................... 3. Jenis Kelamin : ....................

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130 BAGIAN 1 Di bawah ini ada beberapa pernyataan yang Anda alami dalam kehidupan. Silahkan baca dan perhatikan pernyataan-pernyataan di bawah ini dengan seksama dan berilah tanda silang (X) pada jawaban yang paling menggambarkan perasaan Anda. Jawaban tersebut adalah: SS = Sangat setuju S = Setuju N = Netral TS = Tidak setuju STS = Sangat tidak setuju Di bawah ini adalah contoh pernyataan dan contoh jawabannya: No. 1. Pernyataan Saya senang pasangan memuji SS S N TS STS X penampilan saya Artinya pernyataan tersebut sangat menggambarkan atau sangat sesuai dengan perasaan Anda. Jika Anda ingin mengganti jawaban, silahkan memberi tanda “=” pada tanda silang (X) sebelumnya, lalu berikan tanda silang (X) pada kolom jawaban yang baru sesuai dengan keadaan Anda saat ini. berikut merupakan contohnya:

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131 No. 1. Pernyataan Saya senang pasangan memuji SS X S N TS STS X penampilan saya Mohon kesediaan untuk menjawab setiap pernyataan yang ada pada kuesioner ini dan jangan sampai ada yang terlewatkan. Jawaban yang diharapkan adalah jawaban yang sesuai dengan keadaan dan kondisi Anda sesungguhnya.

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132 No. 1. Pernyataan Pasangan saya dan saya memahami satu sama lain dengan sempurna 2. Saya tidak senang dengan sifat kepribadian dan kebiasaan pribadi pasangan saya 3. Saya sangat senang dengan cara kami melakukan tanggung jawab peran dalam pernikahan kami 4. Pasangan saya benar-benar memahami dan bersimpati dengan setiap suasana hati saya 5. Saya tidak senang dengan komunikasi kami dan merasa bahwa pasangan saya tidak memahami saya 6. Hubungan kami adalah sebuah kesuksesan yang sempurna 7. Saya sangat senang dengan cara kami membuat keputusan dan menyelesaikan konflik 8. Saya tidak senang dengan keadaan keuangan kami dan cara kami membuat keputusan keuangan SS S N TS STS

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133 9. Saya mempunyai beberapa kebutuhan yang tidak terpenuhi dari hubungan kami 10. Saya sangat senang dengan cara kami mengatur kegiatan waktu luang kami dan waktu yang kami habiskan bersama 11. Saya sangat senang dengan cara kami mengungkapkan kasih sayang dan berhubungan secara seksual 12. Saya tidak puas dengan cara kami masing-masing melakukan tanggung jawab kami sebagai orang tua 13. Saya tidak pernah menyesali hubungan saya dengan pasangan saya, bahkan untuk sesaat pun 14. Saya tidak puas dengan hubungan kami dengan orang tua, keluarga besan, dan/atau teman-teman saya 15. Saya merasa sangat nyaman dengan cara kami masing-masing melaksanakan keyakinan dan nilainilai agama kami

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134 Periksa kembali jawaban Anda, jangan sampai ada yang tidak terisi. Silahkan lanjut ke halaman berikutnya.

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135 BAGIAN 2 Di bawah ini ada beberapa pernyataan yang Anda alami dalam kehidupan. Silahkan baca dan perhatikan pernyataan-pernyataan di bawah ini dengan seksama dan berilah tanda silang (X) pada jawaban yang paling menggambarkan perasaan Anda. Jawaban tersebut adalah: SS = Sangat setuju S = Setuju AS = Agak setuju N = Netral ATS = Agak tidak setuju TS = Tidak setuju STS = Sangat tidak setuju Di bawah ini adalah contoh pernyataan dan contoh jawabannya: No Pernyataan SS Saya sulit X . 1. mengutaraka n perasaan saya kepada S AS N ATS TS STS

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136 pasangan Artinya pernyataan tersebut sangat menggambarkan atau sangat sesuai dengan perasaan Anda. Jika Anda ingin mengganti jawaban, silahkan memberi tanda “=” pada tanda silang (X) sebelumnya, lalu berikan tanda silang (X) pada kolom jawaban yang baru sesuai dengan keadaan Anda saat ini. berikut merupakan contohnya: No. 1. Pernyataan Saya sulit mengutarakan SS X S AS N ATS TS STS X perasaan saya kepada pasangan Mohon kesediaan untuk menjawab setiap pernyataan yang ada pada kuesioner ini dan jangan sampai ada yang terlewatkan. Jawaban yang diharapkan adalah jawaban yang sesuai dengan keadaan dan kondisi Anda sesungguhnya.

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137 No. 1. Pernyataan Pasangan saya telah terbukti dapat dipercaya dan saya bersedia untuk membiarkan dia terlibat dalam kegiatankegiatan yang pasangan lain rasakan terlalu mengancam 2. Tidak peduli akan reaksi pasangan saya, saya merasa nyaman menceritakan apa pun tentang diri saya; bahkan hal-hal yang membuat saya malu 3. Walaupun waktu dapat berubah dan masa depan tidak pasti; Saya tahu bahwa pasangan saya akan selalu siap dan bersedia memberi saya kekuatan dan dukungan 4. Saya tidak pernah yakin bahwa pasangan saya tidak akan melakukan sesuatu yang tidak saya sukai atau akan SS S AS N ATS TS STS

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138 mempermalukan saya 5. Pasangan saya sangat tidak bisa diprediksi. Saya tidak pernah tahu bagaimana dia akan bertindak dari satu hari ke berikutnya 6. Saya merasa sangat tidak nyaman ketika pasangan saya harus membuat keputusan yang akan mempengaruhi saya secara pribadi 7. Saya merasa bahwa pasangan saya sangat dapat diandalkan, terutama ketika menyangkut sesuatu yang penting bagi saya 8. Pasangan saya berperilaku dengan cara yang sangat konsisten 9. Kapanpun kami harus membuat keputusan penting dalam situasi yang belum pernah kami hadapi

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139 sebelumnya, saya tahu bahwa pasangan saya akan peduli tentang kesejahteraan saya 10. Bahkan jika saya tidak memiliki alasan untuk mengharapkan pasangan saya berbagi sesuatu dengan saya, saya masih merasa yakin bahwa dia akan melakukannya 11. Saya dapat mempercayai pasangan saya untuk bereaksi dengan cara yang positif ketika saya membuka kelemahan saya kepadanya 12. Ketika saya berbagi masalah saya dengan pasangan saya, saya tahu dia akan menanggapi dengan cara yang penuh kasih bahkan sebelum saya mengatakan apa pun 13. Saya yakin bahwa pasangan

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140 saya tidak akan mengkhianati saya, bahkan jika kesempatan itu muncul dan tidak ada peluang dia akan ketahuan 14. Terkadang saya menghindari pasangan saya karena dia tidak dapat ditebak dan saya takut mengatakan atau melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan konflik 15. Saya dapat mengandalkan pasangan saya untuk menepati janji-janji yang dia buat untuk saya 16. Ketika saya bersama pasangan saya, saya merasa aman dalam menghadapi situasi baru yang tidak diketahui 17. Bahkan ketika pasangan saya membuat alasan yang terdengar agak tidak dapat dipercaya, saya yakin bahwa

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141 dia mengatakan yang sebenarnya Periksa kembali jawaban Anda, jangan sampai ada yang tidak terisi. Silahkan lanjut ke halaman berikutnya.

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142 Ucapan Terima kasih kepada ibu-ibu, Peneliti akan memberikan voucher belanja senilai Rp 150.000,- bagi tiga (3) orang yang beruntung. Voucher belanja tersebut dapat digunakan pada toko Alfamart seluruh indonesia. Voucher ini nantinya akan diberikan langsung kepada orang yang beruntung. Oleh karena itu, peneliti meminta ijin untuk mengisi kontak telepon yang aktif dan tentunya dapat dihubungi oleh peneliti. Kontak telepon tersebut akan peneliti digunakan untuk menghubungi orang yang beruntung guna memberikan voucher belanja. Peneliti akan menjamin kerahasiaan nomor HP yang Anda berikan disini. Terima kasih. Nomor HP/WA/EMAIL : ...............................................................

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143 LAMPIRAN 2 Reliabilitas Skala Kepercayaan Terhadap Pasangan dan Skala Kepuasan Perkawinan

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144 Lampiran 2.1 Reliabilitas Skala kepercayaan terhadap pasangan Case Processing Summary N Cases Valid Excludeda Total % 134 100,0 0 ,0 134 100,0 A. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach' s Alpha N of Items ,883 17 Item Statistics Std. Mean Deviation N item1 1,42 1,610 134 item2 1,43 1,601 134 item3 1,78 1,140 134 item4 ,19 2,016 134 item5 ,30 1,935 134 item6 ,28 1,940 134

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145 item7 1,78 1,198 134 item8 1,62 1,181 134 item9 1,71 1,219 134 item10 1,56 1,271 134 item11 1,72 1,128 134 item12 1,61 1,320 134 item13 1,68 1,301 134 item14 ,21 1,966 134 item15 1,49 1,407 134 item16 1,87 1,156 134 item17 1,38 1,460 134

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146 Lampiran 2.1 Reliabilitas Skala kepuasan perkawinan Case Processing Summary N Cases Valid % 134 99,3 1 ,7 135 100,0 Excludeda Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items ,882 15

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147 Item-Total Statistics Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Cronbach's Alpha Item Deleted Item Deleted Total Correlation if Item Deleted item1 35,87 99,230 ,641 ,872 item2 34,78 97,479 ,578 ,873 item3 35,79 99,475 ,516 ,876 item4 35,69 99,282 ,541 ,875 item5 34,94 94,628 ,594 ,872 item6 35,67 98,613 ,558 ,874 item7 35,63 98,807 ,524 ,875 item8 34,70 96,091 ,556 ,874 item9 34,94 97,620 ,526 ,875 item10 35,75 100,116 ,471 ,878 item11 35,82 102,299 ,433 ,879 item12 35,01 98,549 ,521 ,876 item13 35,55 98,294 ,565 ,874 item14 35,10 94,810 ,648 ,870 item15 35,72 102,009 ,448 ,878

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148 LAMPIRAN 3 Hasil Uji Mean Teoritik dan Mean Empirik

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149 Lampiran Hasil Uji T A. Skala kepercayaan terhadap pasangan One-Sample Statistics N Kepercayaan Mean 135 Std. Deviation 21,03 Std. Error Mean 12,918 1,112 One-Sample Test Test Value = 0 t df Sig. (2- Mean 95% Confidence Interval of tailed) Difference the Difference Lower Upper Kepercayaa 18,915 n 134 ,000 21,030 18,83 23,23

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150 B. Skala kepuasan perkawinan One-Sample Statistics N Kepuasan Mean 135 Std. Deviation 50,69 Std. Error Mean 8,781 ,756 One-Sample Test Test Value = 45 t df Sig. (2- Mean 95% Confidence Interval of tailed) Difference the Difference Lower kepuasan 7,527 134 ,000 5,689 4,19 Upper 7,18

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151 LAMPIRAN 4 Hasil Uji Normalitas

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152 Lampiran 4.1 Uji normalitas Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic df Shapiro-Wilk Sig. Statistic df Sig. Kepuasaan ,066 135 ,200* ,988 135 ,315 Kepercayaa ,054 135 ,200* ,987 135 ,257 n *. This is a lower bound of the true significance. a. Lilliefors Significance Correction

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 153 LAMPIRAN 5 Hasil Uji Linearitas

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 154 Lampiran 5.1 Hasil uji linearitas

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 155 LAMPIRAN 6 Hasil Uji Hipotesis

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 156 Lampiran 6.1 Hasil Uji Hipotesis Correlations Kepercayaa n Kepercayaa Pearson n Kepuasaan 1 Correlation Sig. (1-tailed) N Kepuasaan ,631** Pearson ,000 135 135 ,631** 1 Correlation Sig. (1-tailed) ,000 N 135 **. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed). 135

(176)

Dokumen baru

Download (175 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan antara promosi dengan kepuasan kerja para prajurit TNI di Batalyon Armed 11/Kostrad.
0
0
116
Hubungan antara komunikasi yang efektif dan kepuasan perkawinan pada istri Suku Jawa.
1
1
142
Hubungan antara kematangan emosi dengan kesetiaan perkawinan pada pasangan suami isteri.
2
15
122
Hubungan antara penyesuaian diri dalam perkawinan dengan kepuasan dalam perkawinan pada wanita yang bekerja.
0
1
160
Hubungan antara kecerdasan emosi dengan kepuasan perkawinan
0
0
141
Hubungan antara materialisme dan kepuasan perkawinan pada individu suami istri
0
0
87
Hubungan antara kecemasan dan persepsi terhadap kepuasan seksual suami pada istri yang mengalami menopause - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
38
Hubungan religiusitas dengan kepuasan perkawinan pada pasangan muslim - USD Repository
0
0
65
Hubungan antara kepuasan kerja dengan komitmen organisasi - USD Repository
0
0
61
Perbedaan tingkat kecemburuan terhadap pasangan antara wanita dan pria usia dewasa awal - USD Repository
0
0
221
Hubungan antara dukungan sosial suami terhadap tingkat kecemasan istri dalam menghadapi masa menopause - USD Repository
0
0
120
Hubungan antara penyesuaian diri dalam perkawinan dengan kepuasan dalam perkawinan pada wanita yang bekerja - USD Repository
0
0
158
Hubungan antara karakteristik pekerjaan dengan kepuasan kerja karyawan - USD Repository
0
0
127
Hubungan antara kepuasan konsumen dan citra merek terhadap loyalitas merek pada produk pembersih wajah Pond`s - USD Repository
0
0
119
Hubungan antara kepuasan kerja dan organizational citizenship behavior pada Spa Terapis di Yogyakarta - USD Repository
0
0
155
Show more