Pengalaman Lansia Terlantar Dalam Menghadapi Krisis Psikososial Tahap Kedelapan (Ego integrity vs Despair)

Gratis

0
0
115
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pengalaman Lansia Terlantar Dalam Menghadapi Krisis Psikososial Tahap Kedelapan (Ego integrity vs Despair) Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh: Devamethia G 149114109 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING SKRIPSI Pengalaman Lansia Terlantar Dalam Menghadapi Krisis Psikososial Tahap Kedelapan (Ego-integrity vs Despair) Disusun Oleh: Devamethia G 149114109 Telah disetujui oleh: Dosen Pembimbing: Prof. A. Supratiknya, Ph.D. Tanggal, ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI PENGALAMAN LANSIA TERLANTAR DALAM MENGHADAPI KRISIS PSIKOSOSIAL TAHAP KEDELAPAN (Ego-integrity vs despair) Dipersiapkan dan ditulis oleh: Devamethia G 149114109 Telah dipertanggungjawabkan di depan panitia penguji pada tanggal 25 Januari 2019 dan dinyatakan telah memenuhi syarat Susunan Panitia Penguji: Nama Penguji Tanda Tangan 1. Penguji 1 : Prof. A. Supratiknya, Ph.D. 2. Penguji 2 : Drs. H. Wahyudi, M.Si 3. Penguji 3 : Ratri Sunar Astuti, S.Psi., M.Si Yogyakarta, Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma (Dr. Titik Kristiyani, M. Psi ) iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO “Tat Tvam Asi” Aku adalah kamu, kamu adalah aku iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini saya persembahkan untuk Ida Sang Hyang Widhi dan para leluhur yang maha kasih. Untuk Bapak, Ibu, Adik dan seluruh keluarga serta teman-teman yang selalu mendukung lewat doa, kasih sayang, dan canda Untuk para kakek dan nenek yang memberitahu ku banyak rasa dari kehidupan v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya oranglain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar acuan, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 30 Januari 2019 Penulis Devamethia G. vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGALAMAN LANSIA TERLANTAR DALAM MENGHADAPI KRISIS PSIKOSOSIAL TAHAP KEDELAPAN (Ego-integrity vs Despair) Devamethia G ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana pengalaman lansia terlantar dalam menghadapi krisis psikososial tahap 8, apakah lebih didominasi oleh ego-integrity atau despair. Partisipan dalam penelitian ini adalah 4 orang lansia terlantar (usia 65-80 tahun) yang tinggal di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma Yogyakarta. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi kualitatif (AIK). Hasilnya menunjukkan bahwa lansia yang memiliki masa lalu positif (kondisi ekonomi yang baik, pekerjaan yang membanggakan dan hubungan keluarga yang hangat), kondisi kesehatan yang baik di masa kini, dan kepastian bahwa akan ada yang merawat saat mati cenderung menunjuukkan ego-integrity, sedangkan yang mengalami kondisi sebaliknya cenderung menunjukkan tanda-tanda despair. Kata kunci: Lansia, krisis psikososial, terlantar, ego-integrity, despair vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI EXPERIENCE OF NEGLECTED ELDERS IN DEALING WITH THE EIGHTH -STAGE OF PSYCHOSOCIAL CRISIS (Ego-integrity vs Despair) Devamethia G ABSTRACT The study is a qualitative research and aims to explore the experience of neglected elders in dealing with the eighth-stage of psychosocial crisis whether it is dominated by ego-integrity or despair. Participants in this study were four neglected elders (aged 65-80 years) who live in Budhi Dharma Social Services for Neglected Elders in Yogyakarta. The data collecting was conducted from interview. Further, it was analyzed by using qualitative content analysis method. The results show that the elderly who have a positive pasts (good economic conditions, proud work and warm family relationships), good health conditions in the present, and certainty that there will be carers when they passed away tend to show ego-integrity, while those who experiencing the opposite condition tends to show signs of despair. Keywords: Elderly, psychosocial crisis, neglected, ego-integrity, despair viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Devamethia G Nomor Mahasisa : 149114109 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: Pengalaman Lansia Terlantar Dalam Menghadapi Krisis Psikososial Tahap kedelapan (Ego-integrity vs Despair) Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan, dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis, tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 30 Januari 2019 Yang menyatakan (Devamethia G.) ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Om swastyastu. Puji syukur kepada Ida Shang Hyang Widhi, atas berkat dan kasih karunia-Nya saya bisa menyelesaikan karya yang berjudul Pengalaman Lansia Terlantar Dalam Menghadapi Krisis (Ego-Integrity vs Despair) dengan baik. Banyak pelajaran yang didapat dalam proses penulisan karya tersebut. Terimakasi juga untuk semua pihak yang membantu saya untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, dengan setulusnya saya ucapkan terimakasih kepada mereka yang saya tuliskan di bawah ini: 1. Ida Sang Hyang Widhi dan para leluhur, terimakasi atas kasih dan kekuatan yang selalu diberikan, khususnya dalam pengerjaan karya ini. 2. Bapak Prof. Dr. A. Supratiknya, selaku dosen pembimbing skripsi yang selalu bersemangat untuk membimbing dan mendidik penulis menyusun skripsi dari tahap ke tahap dengan sabar. 3. Dr. Titik Kristiyani, M. Psi., Psi., selaku dekan fakultas psikologi dan seluruh jajaran dekansi. 4. Dr. M. Laksmi Anantasari, M.Si, selaku Dosen Pembimbing Akademik yang memberikan saran dosen pembimbing skripsi yang sesuai dengan topik penelitian. 5. Drs. H. Wahyudi, M.Si dan Ratri Sunar Astuti, S.Psi., M.Si selaku dosen penguji. Terimakasi atas diskusi dan masukan yang diberikan untuk menjadikan skripsi ini lebih baik. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Para Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang tidak hanya membimbing saya secara akademis tapi juga menuntun saya menjadi pribadi yang lebih baik. 7. Bapak I Nyoman Gunadi, Ibu Ni Ketut Srinadi, adik Aditya Hartawan, dan seluruh keluarga yang selalu menyertai dan mendukung saya. Terimakasi atas dukungan yang tiada henti, kalian selalu bisa menjadi tempat untuk saya pulang dan berkeluh kesah. 8. Kakak asuh terbaik, Mank Indah. Terimakasih atas dukungan yang selalu ada untuk proses pengerjaan skripsi ini. Khususnya motivasi untuk membangkitkan peneliti mengerjakan revisi secepat-cepatnya. 9. Seluruh staff dan penghuni Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma Yogyakarta atas bantuan dan dukungannya selama proses penelitian. 10. Teman-teman PBB, Dewa, Gantih, Indri, Mank, Okta, dan Pande. Terimakasih untuk ruang cerita yang nyaman selama menjalani perkuliahan di perantauan selama 9 semester khususnya keluh kesah selama semestersemester kritis menjalani penulisan karya ini. Semangat untuk yang masih berjuang. 11. Desiderius Dimas Maharani Parwanto alias Kuncung sebagai jelmaan dari Prof. Supratiknya yang membantu proses berpikir dan penyuntingan tulisan di penelitian ini. 12. Teman-teman seperjuangan bimbingan skripsi “Anak-anak profesor” yang memberikan masukan serta bantuan untuk peneliti selama ini. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13. Teman-teman Psikologi angkatan 2014 khususnya kelas A, terimakasih untuk segala dinamika selama proses perkuliahan dan dukungannya selama proses pembuatan skripsi ini baik secara langsung ataupun tidak langsung. 14. Teman-teman kepanitiaan di Psikologi, AKSI 2016 & 2018 serta PSYCHOFEST 2017 yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk membangun dinamika bersama orang lain dan mengembangkan potensi saya serta doa dan dukungan selama proses pengerjaan skripsi ini. 15. Adik-adik Psikologi, Anting, Alma, dan Brian yang telah bersedia untuk saya repotkan demi kelancaran proses pembuatan skripi ini. Terimakasi juga untuk semangat yang luar biasa yang kalian berikan selama ini. 16. Semua pihak yang telah membantu dan mendoakan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih, matur suksme. Kendati segala ucapan terima kasih ini saya berikan kepada segala pihak, hanya sayalah yang bertanggung jawab penuh atas semua kesalahan yang mungkin terjadi dalam skripsi ini.Saya ingin mempersembahkan skripsi ini terutama kepada orangtua saya sebab mereka telah mengajarkan saya menjadi seorang yang mandiri dan pekerja keras. Om santi, santi, santi Yogyakarta, 30 Januari 2019 Penulis Devamethia G. xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ....................................... ii HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ................................................................ iii HALAMAN MOTTO ............................................................................................ iv HALAMAN PERSEMBAHAN ..............................................................................v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................... vi ABSTRAK ............................................................................................................ vii ABSTRACT ........................................................................................................... viii LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .................................................................................................. ix KATA PENGANTAR .............................................................................................x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xiii DAFTAR TABEL ................................................................................................ xvi BAB I ......................................................................................................................1 PENDAHULUAN ...................................................................................................1 A. Latar Belakang .............................................................................................1 B. Pertanyaan Penelitian ...................................................................................9 C. Tujuan Penelitian .........................................................................................9 D. Manfaat Penelitian .....................................................................................10 1. Manfaat Teoritis ...................................................................................10 2. Manfaat Praktis ....................................................................................10 3. Manfaat Kebijakan ...............................................................................11 BAB II ...................................................................................................................12 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................12 A. Tahap Perkembangan Psikososial Erikson.................................................12 B. Krisis Psikososial Pada Lansia ...................................................................13 1. Adapting to thriumps and disappointments .........................................15 2. Spirituality ............................................................................................16 3. Accept the past as meaningfull.............................................................17 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Tolerance and acceptance of others ....................................................18 5. A sense of being part of larger history that includes previous generation ............................................................................................19 6. Absence of death-anxiety......................................................................20 7. Freedom from the feeling that time is running out ..............................21 8. Emotional integration ..........................................................................22 9. Life satisfaction ....................................................................................23 C. Dukungan Sosial Keluarga Bagi Lansia dan Kaitannya Dengan Proses Menghadapi Krisis Psikososial Pada Lansia ..............................................24 D. Lansia Terlantar Penghuni Rumah Pelayanan Sosial.................................26 E. Kerangka Konseptual .................................................................................28 BAB III ..................................................................................................................30 METODE PENELITIAN ......................................................................................30 A. Jenis dan Desain Penelitian ........................................................................30 B. Fokus Penelitian .........................................................................................31 C. Partisipan ....................................................................................................32 D. Peran Peneliti .............................................................................................35 E. Metode Pengambilan Data .........................................................................37 F. Analisis dan Interpretasi Data ...................................................................40 G. Penegakan Kredibilitas dan Dependabilitas Penelitian .............................43 BAB IV ..................................................................................................................46 HASIL DAN PEMBAHASAN ..............................................................................46 A. Pelaksanaan Penelitian ..............................................................................46 B. Latar Belakang Partisipan dan Dinamika Proses Wawancara ..................46 C. Hasil Penelitian .........................................................................................57 1. Adapting to thriumps and disappointments .........................................57 2. Spirituality ...........................................................................................61 3. Accept the past as meaningfull.............................................................64 4. Tolerance and acceptance of others ....................................................67 5. A sense of being part of larger history that includes previous generation ........................................................69 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Absence of death-anxiety......................................................................72 7. Freedom from the feeling that time is running out ..............................73 8. Emotional integration ..........................................................................75 9. Life satisfaction ....................................................................................78 D. Pembahasan ...............................................................................................80 1. Masa lalu ..............................................................................................80 a. Kondisi ekonomi ............................................................................81 b. Pekerjaan ........................................................................................81 c. Hubungan dekat dengan keluarga atau teman ................................82 2. Kondisi fisik kini ..................................................................................83 3. Kepastian masa depan menghadapi kematian .....................................85 BAB V....................................................................................................................86 PENUTUP ..............................................................................................................86 A. Kesimpulan ................................................................................................86 B. Keterbatasan penelitian ..............................................................................86 C. Saran ..........................................................................................................87 1. Bagi peneliti selanjutnya ......................................................................87 2. Bagi perawat dan pengelola rumah pelayanan sosial ..........................88 3. Bagi pemerintahan ...............................................................................89 4. Bagi keluarga ......................................................................................89 DAFTAR ACUAN ................................................................................................90 LAMPIRAN ...........................................................................................................95 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Data Diri Partisipan ........................................................................... 35 Tabel 2. Pertanyaan Pendahuluan .................................................................. 38 Tabel 3. Pertanyaan Utama pada Masing-Masing Wilayah ........................... 38 Tabel 4. Kerangka Analisis ............................................................................ 42 Tabel 5. Waktu dan Lokasi Pelaksanaan Wawancara ..................................... 46 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian ..................................................... 29 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Contoh Lembar Persetujuan Partisipan ........................................ 96 Lampiran 2. Surat Izin Penelitian...................................................................... 97 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Erik Erikson membagi perkembangan kehidupan manusia ke dalam 8 tahap (stage) yang dimulai sejak individu lahir hingga lanjut usia (Erikson, 1989). Teori Erikson tentang tahap perkembangan manusia ini dikenal dengan teori perkembangan psiko-sosial. Setiap tahap perkembangan manusia ditandai oleh tugas perkembangan yang berbeda-beda. Tugas perkembangan dalam setiap tahap adalah menghadapi suatu krisis yang Erikson sebut sebagai krisis psikososial (Erikson, 1989). Menurut Erikson (1989), setiap krisis memiliki aspek positif dan negatif, namun suatu perkembangan yang ideal akan lebih baik jika didominasi oleh aspek positif dibandingkan dengan aspek negatif. Menurutnya pula, lansia (usia 65 tahun sampai akhir kehidupan) masuk pada tahap ke 8 dalam perkembangan psikososial yang diuraikannya. Krisis psikososial yang harus dihadapi seseorang dalam tahap lanjut usia ini adalah ego- integrity vs despair, yang berarti ego-integrity sebagai aspek positif dan despair sebagai aspek negatifnya (Feist & Feist, 2010). Erikson menjelaskan seseorang yang mencapai ego-integrity akan menemukan kedamaian dalam hidupnya, sebab mereka telah menerima hal-hal yang telah terjadi dalam hidup sebagai suatu sejarah yang tidak dapat diubah (Parker, 2013). Ego-integrity sebagai penerimaan diri terhadap siklus hidup individu menyebabkan suatu kegembiraan dan toleransi yang baik dalam diri lansia (Erikson, 1989). 1

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Erikson menguraikan ego-integrity ke dalam 9 wilayah, meliputi: (1) adapting to triumphs and disappointments (mampu beradaptasi dengan keberhasilan dan kegagalan dalam proses mencapai tujuan), (2) spirituality (hubungan individual dengan perasaan akan keberadaan Tuhan atau eksistensi Tuhan), (3) accept the past as meaningful (menerima masa lalu sebagai sesuatu yang berarti; mereka tidak mengalami penyesalan, rasa bersalah, atau ketidakpuasan dengan kehidupan yang dijalani secara umum), (4) tolerance or acceptance of others (mentoleransi dan menerima kehadiran orang lain tanpa melihat perbedaan yang ada), (5) a sense of being part of a larger history that includes previous generations (perasaan telah menjadi bagian yang berharga dalam sejarah termasuk generasi sebelumnya), (6) absence of death-anxiety (ketiadaan kecemasan atau rasa takut akan kematian), (7) freedom from the feeling that time is running out (bebas dari perasaan akan kehilangan banyak hal dalam hidup karena waktu yang dimiliki di dunia telah sedikit), (8) emotional integration (integrasi emosional), (9) satisfaction with life (kepuasan hidup) (Santor & Zuroff, 1994). Jika yang terjadi adalah lawan dari 9 hal diatas, maka lansia akan terperosok ke dalam keputusasaan atau despair. Despair adalah kesulitan untuk mengintegrasikan masa lalu, saat ini, dan masa depan menjadi sebuah arti yang utuh (Erikson, 1989). Erikson (1989) mendeskripsikan seseorang yang mengalami despair adalah mereka yang tidak dapat menerima (menyetujui) kehidupannya yang konkret. Mereka cenderung menyesali hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya dan mudah merasa putus asa. Mereka juga cenderung mengalami

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 depresi berat tentang kekecewaan, kegagalan, dan kehilangan kesempatan berharga dalam hidup (Hearn, Saulnier, Strayer, Glenham, Koopman, & Marcia, 2012). Pencapaian ego-integrity atau despair pada lansia merupakan hasil akumulasi seluruh pengalaman selama hidup. Pengalaman-pengalaman tersebut dapat terkait dengan pekerjaan, kesehatan, hubungan dengan lingkungan, dukungan sosial dan lain-lain. Apabila pengalaman-pengalaman tersebut dapat dirasakan secara positif di hari tua, hal ini mampu manjadi faktor yang dapat membantu lansia dalam pencapaian ego-integrity. Teori krisis psikososial Erikson lebih mengutamakan aspek sosial yang mempengaruhi berhasil atau gagalnya seseorang mencapai kondisi ego-integrity (Erikson, 1989). Hal tersebut menjadi alasan peneliti menggunakan teori krisis psikososial Erikson karena dirasa sesuai dengan konteks penelantaran pada lansia mengingat dukungan sosial keluarga menjadi salah satu aspek sosial yang penting untuk menghadapi krisis psikososial di hari tua. Hadirnya dukungan sosial keluarga diduga mampu membantu lansia untuk lebih mudah beradaptasi dalam menghadapi kemunduran fisik dan psikis yang dialaminya. Oleh karena itu, beberapa hal yang diperlukan lansia untuk menghadapi kondisi tersebut adalah keteraturan untuk dikunjungi dan perhatian yang berkelanjutan dari keluarga besar maupun kecil yang masih ada sebagai ungkapan dukungan sosial (Shanas, 1979). Faktanya, banyak lansia yang tidak mendapatkan dukungan sosial yang cukup dari keluarga kecil maupun besar. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 seperti ketiadaan keluarga inti karena sudah meninggal. Di sisi lain, ada pula penyebab yang sangat memprihatinkan tatkala lansia sengaja ditelantarkan karena keluarga mengganggap lansia hanya menjadi beban keluarga. Hal ini diperkuat dengan temuan Maryam, Rosidawati, Riasmini, & Suryati (2012) yang mengungkapkan bahwa sebanyak 52,2% keluarga merasa mengalami beban yang tinggi dalam merawat lansia. Kondisi-kondisi tersebutlah yang membuat lansia bisa sampai pada rumah pelayanan sosial milik pemerintah yang bersifat gratis. Menurut pekerja sosial di beberapa Panti Wredha, lansia yang ditelantarkan biasanya ditemukan di jalanan, ditinggalkan di rumah sakit atau dibiarkan menghuni rumah sendiri. Selain itu, terdapat pula keluarga yang secara langsung menitipkan lansia di yayasan sosial dan tidak pernah menghubungi mereka lagi. Penelantaran atau neglect pada lansia adalah penolakan atau kegagalan untuk memenuhi kewajiban dalam bidang pengasuhan kepada lansia baik secara fisik maupun psikologis atau keduanya (Anthony, Lehning, Austin, & Peck, 2009). Neglect bisa bersifat aktif atau disengaja dan pasif atau tidak disengaja. Passive neglect didefinisikan sebagai situasi lansia yang dibiarkan sendiri, terisolasi, atau terlupakan. Active neglect didefinisikan sebagai pengurangan halhal yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari, seperti makanan, obat-obatan, dukungan sosial, dan perawatan tubuh (Hickey & Douglass, 1891). Kementerian Sosial menyatakan bahwa dari 20,5 juta lansia terdapat 2,1 juta yang ditelantarkan dan 1,8 juta lansia berpotensi terlantar (Islam, 2017). Salah satu hunian yang menjadi rumah bagi lansia yang ditelantarkan adalah panti wredha milik pemerintah yang bersifat gratis. Berdasarkan hasil pengamatan dan

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 informasi sementara yang peneliti dapatkan, lansia yang tinggal di salah satu panti wredha milik pemerintah hampir 95% tidak mendapat kunjungan dari keluarga sejak awal mereka tinggal di panti. Penelantaran lansia mencerminkan minimnya dukungan sosial yang diberikan oleh anggota keluarga. Dukungan sosial yang seharusnya diterima lansia dari keluarganya berupa: dukungan emosional, informasi, instrumental, dan penghargaan (Friedman, 2014). Astuti (2010) menjelaskan jika lansia tidak mendapatkan dukungan sosial dari keluarga, mereka akan mengalami episode mayor dari depresi yang mengakibatkan perasaan tidak berdaya, rendah diri, melankolis, dan keinginan untuk bunuh diri. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Dong, Simon, Odwazny, & Gorbien (2008) yang mengemukakan bahwa abuse and neglect memiliki korelasi yang signifikan pada depresi. Depresi tersebut bisa saja berdampak pada tugas perkembangan yang dihadapi lansia. Hearn et al. (2012) mengungkapkan bahwa depresi memiliki korelasi yang signifikan dan positif dengan despair. Mengingat hadirnya dukungan sosial keluarga diduga mampu membantu lansia tetap meraih ego-integrity ditengah deraan kemunduran fisik dan psikis, serta semakin meningkatnya penelantaran lansia oleh keluarga di Indonesia, maka penelitian ini ingin melihat secara lebih mendalam dengan mengeksplorasi dan mendeskripsikan pengalaman lansia terlantar dalam menghadapi krisis psikososial menurut bingkai teori Erikson. Pengalaman yang dimaksud adalah untuk melihat bagaimana perasaan, pikiran, dan tindakan lansia terlantar di masa lalu, masa kini, dan harapan di masa mendatang dalam menghadapi krisis psikososial. Apa yang

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 lebih mewarnai pengalaman lansia terlantar, ego-integrity atau despair? Untuk melihat hal tersebut peneliti berpatokan pada sembilan wilayah ego- integrity yang dipaparkan oleh Erikson. Penelitian ini dianggap penting karena diharapkan mampu menggambarkan bagaimana lansia terlantar menghadapi tahap perkembangannya. Jika lansia didominasi oleh aspek positif, lansia tersebut akan memiliki kepuasan hidup yang tinggi dan tingkat kecemasan yang rendah (Nehrke, Bellucci, & Gabriel, 1978). Sebaliknya, jika lansia didominasi oleh aspek negatif, lansia akan cenderung mengalami depresi berat tentang kekecewaan, kegagalan, dan kehilangan kesempatan berharga dalam hidup (Hearn et al., 2012). Penelitian sebelumnya terkait dengan teori krisis psikososial Erikson pada tahap kedelapan cenderung berfokus untuk mengetahui keterkaitan antara krisis psikososial dengan aspek psikologis yang cukup familiar. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Nehrke et al. (1978) yang ingin melihat hubungan antara krisis psikososial Erikson pada tahap kedelapan (ego-integrity vs despair) dengan kecemasan, locus of control, dan kepuasan hidup. Selain penelitian tersebut, terdapat pula penelitian serupa yang dikaitkan dengan aspek psikologis yang lain seperti kepribadian dan kesehatan mental (Westerhof, Bohlmeijer, & McAdams, 2015) serta keterbukaan, persepsi terhadap kesehatan, status identitas ego, dan depresi (Hearn et al., 2012). Tedapat pula penelitian yang mencoba untuk melihat bahwa keberhasilan dalam menghadapi krisis psikososial Erikson pada tahap kedelapan tergantung pada kesuksesan strategi koping yang dilakukan oleh lansia (Wiesmann &

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 Hannich, 2011). Berbeda dengan penelitian lainnya, penelitian yang dilakukan oleh Darnley (1975) dan Smith & Nicolson (2011) justru memiliki ketertarikan untuk menggali lebih dalam suatu fenomena yang terjadi pada lansia seperti masa pensiun dan kehidupan lansia tunawisma. Lalu, terdapat pula penelitian tentang bagaimana penerapan teori wisdom mampu membantu lansia untuk menghadapi krisis psikososial Erikson tahap kedelapan (Clayton, 1975). Dilihat dari segi desain, kebanyakan penelitian di atas menggunakan metode kualitatif dengan instrumen studi literatur (Darnley, 1975; Clayton, 1975; Peachey, 1992; Haber, 2006;). Hanya sebagian kecil penelitian yang menggunakan desain penelitian kualitatif dengan metode wawancara (Smith & Nicolson, 2011; Perry, Ruggiano, Shtompel, & Hassevoort, 2015). Lainnya, menggunakan desain penelitian kuantitatif (Nehrke et al., 1978; Wiesmann & Hannich, 2011; Hearn et al., 2012; Westerhof et al., 2015) yang secara umum ingin melihat hubungan antara ego-integrity vs despair dengan aspek psikologis terkait. Berkaitan dengan subjek penelitian, keseluruhan pustaka menggunakan lansia berusia lebih dari 60 tahun dengan proporsi jenis kelamin yang seimbang antara laki-laki dan perempuan, (Darnley, 1975; Clayton, 1975; Peachey, 1992; Haber, 2006; Smith & Nicolson, 2011; Perry et al., 2015; Nehrke et al., 1978; Wiesmann & Hannich, 2011; Hearn et al., 2012; Westerhof et al., 2015). Rata-rata lansia yang digunakan sebagai subjek berusia lebih dari 60 tahun dan diperoleh dari pencarian melalui media atau keluarga dari mahasiswa daerah setempat yang

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 berminat (Wiesmann & Hannich, 2011; Hearn et al., 2012; Westerhof et al., 2015). Ditinjau dari segi lokasi, lebih banyak penelitian mengenai krisis psikososial tahap kedelapan dilakukan di luar negeri, seperti Amerika Serikat (Clayton, 1975; Darnley; Perry et al., 1975; Nehrke et al., 1978; Haber, 2006), Skotlandia (Smith & Nicolson, 2011), Jerman (Wiesmann & Hannich, 2011), Kanada (Hearn et al., 2012), dan Belanda (Westerhof et al., 2015). Peneliti belum menemukan penelitian dengan topik sejenis di Indonesia. Beberapa penelitian mengenai lansia di Indonesia lebih banyak meneliti perbedaan kondisi lansia yang tinggal di rumah dengan panti sosial seperti penelitian yang dilakukan oleh Saputri dan Indrawati (2011) dan Yuliati, Baroya, dan Ririanty (2014). Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dipaparkan, penulis menemukan beberapa defisiensi. Pertama, penelitian untuk mengeksplorasi dan mendeskripsikan pengalaman lansia terlantar dalam menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan belum pernah dilakukan di Indonesia. Kedua, memang sudah cukup banyak penelitian dengan topik sejenis dilakukan di luar negeri, namun belum ada penelitian yang menggunakan lansia terlantar sebagai fokusnya. Ketiga, dari segi desain penelitian terdahulu lebih banyak menggunakan desain penelitian kualitatif dengan metode studi literatur sehingga kurang dapat memaparkan fenomena yang ingin diteliti. Berdasarkan defisiensi tersebut, maka penelitian ini akan mengeksplorasi dan mendeskripsikan pengalaman lansia terlantar menghadapi krisis psikososial. Lansia terlantar yang dimaksud dalam penelitian ini adalam mereka yang tinggal

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 di di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma Yogyakarta. Maka, untuk meneliti hal tersebut peneliti menggunakan desain penelitian kualitatif dengan metode pengambilan data wawancara semi terstruktur. Setelah itu, data tersebut akan dianalisis menggunakan analisis isi kualitatif (AIK), menggunakan pendekatan deduktif, yaitu analisis terarah dengan cara mengumpulkan data wawancara menjadi satu untuk kemudian ditafsirkan dengan memberikan koding yang telah ditetapkan di awal berdasarkan kriteria koding yang dikembangkan dari teori krisis psikososial tahap ke 8 Erikson (ego-integrity vs despair). B. Pertanyaan Penelitian Bagaimana pengalaman lansia yang ditelantarkan oleh keluarga dalam menghadapi krisis psikososial? Apakah lebih diwarnai oleh ego-integrity yang meliputi: aadaptasi dengan keberhasilan dan kegagalan, bspiritualitas, cpenerimaan masa lalu, dmentoleransi dan menerima orang lain, epenghargaan diri dalam sejarah hidupnya, f ketiadaan kecemasan akan kematian, g kebebasan dari kekhawatiran akan kehabisan waktu dalam hidup, hintegrasi emosi, ikepuasan hidup atau lawan dari hal tersebut yang akan menuntun lansia pada kondisi despair? C. Tujuan Penelitian 1. Mengeksplorasi dan mendeskripsikan pengalaman lansia terlantar menghadapi krisis psikososial. Melalui wawancara individual, para partisipan yang berusia 65 tahun atau lebih diharapkan dapat mengungkapkan pengalaman-

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 pengalaman mereka dalam menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan (ego-integrity vs despair). 2. Mengeksplorasi dan mendeskripsikan faktor-faktor yang menentukan berhasil atau gagalnya lansia dalam menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan (ego-integrity vs despair). D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi baru dalam bidang psikogerontologi, berupa kajian mengenai pengalaman lansia terlantar dalam menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan (egointegrity vs despair). 2. Manfaat Praktis Secara umum, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa keberhasilan lansia di hari tua adalah akumulasi dari seluruh pengalaman hidup dan kepastian di masa depan. Harapannya, ketika masyarakat memahami hal tersebut, mereka dapat menentukan sikap yang mampu membuat lansia merasa berharga akan dirinya ditengah kemunduran yang dialami, sehingga lansia memiliki pandangan masa depan yang baik dan mampu meraih penuaan yang sukses. Beberapa sikap positif yang disarankan seperti, keteraturan lansia untuk dikunjungi dan melakukan aktivitas bersama seperti bercerita, bermain, berkebun, menonton, dan

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 memasak. Beberapa aktivitas tersebut menjadikan lansia memiliki perasaan berharga akan dirinya di masa tua. 3. Manfaat Kebijakan Bagi dinas sosial, diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi dan saran agar lebih mengenali lansia yang ditelantarkan dalam menghadapi tugas perkembangan (ego- integrity vs despair) sehingga dapat meningkatkan pelayanan bagi mereka.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bagian ini, pertama-tama penulis akan menjelaskan mengenai konsep tahap perkembangan psikososial Erikson secara umum. Kemudian, penulis akan menerangkan tahap perkembangan psikososial pada lansia secara lebih spesifik. Penulis juga akan menjelaskan mengenai dukungan sosial keluarga bagi lansia terlantar dan kaitannya dengan proses menghadapi krisis psikososial pada lansia. Lalu dilanjutkan dengan penjelasan mengenai lansia terlantar, khususnya sebagaimana dimaksud dalam penelitian ini dan bagaimana karakteristiknya. Pada bagian akhir, peneliti akan menyajikan kerangka konseptual penelitian. A. Tahap Perkembangan Psikososial Erikson Teori dari Erikson tentang perkembangan manusia dikenal dengan istilah perkembangan psikososial yang melibatkan faktor biologis, psikologis, dan sosial (Erikson, 1989). Dalam teori perkembangan psikososial ini, Erikson memberi perhatian lebih kepada ego dari pada id dan superego. Erikson mengembangkan ide-ide khususnya terhadap perkembangan dan peran sosial terhadap pembentukan ego. Erikson membagi perkembangan psikososial dalam kehidupan manusia ke dalam 8 tahap (stage) yang dimulai sejak individu lahir hingga lanjut usia (Erikson, 1989). Dalam setiap tahap perkembangan manusia ditandai oleh tugas perkembangan yang berbeda-beda. Tugas perkembangan dalam setiap tahap adalah menghadapi suatu krisis yang akrab disebut sebagai krisis psikososial. 12

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 Krisis merupakan suatu konflik yang berlawanan antara aspek positif dan negatif yang ditandaskan Erikson dengan istilah versus misalnya industry vs inveriority (Erikson, 1989). Konflik psikososial di setiap tahap hasilnya akan mempengaruhi perkembangan ego. Apakah akan didominasi oleh kemenangan aspek positif yang akan memberi ego sifat baik (basic strength), atau sebaliknya dimana perkembangan ego lebih dikuasai oleh aspek negatif. Kedua konflik ini tidak boleh dipahami sebagai dua hal yang bertentangan. Meskipun demikian, suatu perkembangan yang ideal akan lebih baik jika didominasi oleh aspek positif dibandingkan dengan aspek negatif (Erikson, 1989). Jika aspek positif lebih mendominasi, maka seseorang dikatakan berhasil dalam menghadapi krisis psikososial dalam tahap tertentu. Dasar dari teori ini adalah sebuah konsep yang mempunyai tahapan bertingkat dan berjalan sesuai prinsip epigenetik. Prinsip Epigenetik menjelaskan bahwa suatu bagian komponen muncul dari bagian komponen sebelumnya dan memiliki waktunya sendiri untuk muncul, namun tidak sepenuhnya menghilangkan komponen-komponen sebelumnya (Erikson, 1989). B. Krisis Psikososial Pada Lansia Lansia (usia 60 tahun sampai akhir kehidupan) masuk pada tahap ke 8 dalam perkembangan psikososial Erikson. Krisis psikososial yang harus dihadapi lansia dalam tahap lanjut usia ini adalah ego-integrity vs despair, yaitu egointegrity sebagai aspek positif dan despair sebagai aspek negatif. Erikson mendeskripsikan ego- integrity sebagai penerimaan akan siklus hidup yang harus terjadi sehingga lansia yang mampu mencapai ego-integrity ini akan merasakan

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 perasaan “enduring wholenes” atau keutuhan abadi (1963, dalam Parker, 2013; Westerhof, Bohlmeijer, & McAdams, 2015). Sebaliknya, despair adalah kesulitan untuk mengintegrasikan masa lalu, saat ini, dan masa depan menjadi sebuah arti yang utuh (Erikson, 1968). Erikson (1989) mendeskripsikan seseorang yang mengalami despair adalah mereka yang tidak dapat menyetujui dan menerima kehidupannya yang konkret. Mereka cenderung menyesali setiap hal yang terjadi dan merasa putus asa. Terhindar dari kondisi despair akan menuntun lansia pada pencapaian egointegrity sehingga membawa lansia pada kedamaian hidup yang bermakna. Artinya, bagi mereka kenangan dan pengalaman masa lalu adalah suatu sejarah yang tidak dapat diubah. Lansia yang mencapai ego-integrity jarang mengalami depresi, mampu menerima kesedihan, duka cita, dan kehilangan. Selain itu, mereka juga memiliki relasi sosial yang baik serta sering terlibat dalam kegiatan sosial (Hearn et al., 2012). Konsep ego-integrity sangatlah kompleks dan usaha untuk mengkonseptualisasikan istilah luas ini secara utuh menjadi sebuah konstruk yang terukur mungkin akan sulit. Disebabkan oleh kesamaan deskriptif antara pencapaian integritas dan kesejahteraan psikologis, beberapa penelitian telah mencoba mengukur integritas ego dengan menggunakan pengukuran kesejahteraan psikologis sebagai wakil atau penggantinya (Wagner, Lorion, Shipley, 1983, dalam Parker, 2013). Menurut pendapat peneliti, hal tersebut kurang memadai sebab pengukuran kesejahteraan psikologis tidak sepenuhnya mampu menggambarkan apakah kondisi lansia lebih diwarnai oleh ego-integrity

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 atau sebaliknya (despair). Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti mencoba untuk memparafrasekan dasar-dasar wilayah ego-integrity yang dipaparkan oleh Erikson (Santor & Zuroff, 1994) sehingga mampu memberikan gambaran mengenai dasar-dasar dari wilayah tersebut. Berikut ini adalah definisi dari 9 wilayah tersebut yang dikutip dari buku dan jurnal yang membahas tentang teori psikososial Erikson. 1. Adapting to thriumps and disappointments atau kemampuan untuk beradaptasi dengan keberhasilan dan kegagalan Erikson membedakan pengertian adaptasi ke dalam dua hal, yaitu adaptasi aktif dan adjustment sebagai adaptasi pasif (Hoare, 2002). Adaptasi aktif adalah kondisi individu bergerak untuk merubah lingkungan agar sesuai dengan kebutuhan individu atau masyarakat. Atas dasar ini, Erikson mengagumi tokoh Mahatma Gandhi. Gandhi berperan besar dalam memimpin gerakan relawan untuk membentuk kesatuan medis dan supir ambulans yang beranggotakan warga turunan India. Kontribusi Gandhi dan para relawan berhasil mencuri hati pemerintah Inggris terhadap warga keturunan India. Peristiwa bersejarah ini mencerminkan definisi adaptasi aktif menurut Erikson. Gandhi berhasil menggerakkan lingkungan untuk mengangkat derajat keturunan India di mata pemerintah Inggris. Selain itu, ia juga berhasil membebaskan India dari penjajahan Inggris dengan melakukan perlawanan tanpa kekerasan (Hoare, 2002). Salah satu contoh adaptasi aktif dalam kehidupan sehari-hari misalnya individu yang mencoba untuk memperbaiki situasi lingkungan yang kumuh menjadi asri dengan mengajak masyarakat sekitar.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 Kemudian, adaptasi pasif (adjustment) adalah bagaimana individu menyesuaikan diri sesuai dengan lingkungan saat itu (Hoare, 2002). Misalnya, seseorang yang menyesuaikan diri dengan situasi lingkungan kerja yang baru. Individu yang memiliki kecenderungan mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan akan mengarah pada kondisi ego-integrity (Hoare, 2002). Namun sebaliknya, tatkala orang tersebut tidak mampu untuk melakukan adaptasi baik itu secara aktif maupun pasif maka ia akan terjerumus dalam kondisi despair. 2. Spirituality atau spiritualitas Spirituality atau spiritualitas adalah perasaan akan keberadaan Tuhan dalam diri masing-masing individu. Erikson menyatakan bahwa individu yang sehat adalah mereka yang memiliki kecenderungan spiritualitas (Hoare, 2002). Dalam pemikiran Erikson, orang yang dewasa secara spiritual merasakan Tuhan dalam beberapa cara. Misalnya, bagi seseorang, Tuhan bukan hanya roh yang berada di luar keterbatasan ruang dan waktu di dunia, tapi merupakan sebuah cahaya inti dalam dirinya. Roh ini adalah kekuatan yang menggerakkan mereka. Di sisi lain, ada juga yang mengatakan bahwa roh adalah kehadiran yang nyata dalam diri mereka, dalam diri orang lain, dan di dalam dinamika pertemuan seseorang dengan orang lain. Hal lainnya lagi, dapat dicontohkan dari kehidupan Erikson di masa paruh baya, ia melihat tangan Tuhan melalui kehidupannya sendiri. Dalam bukunya, Erikson (Hoare, 2002) menulis (hope is an “attitude” that represents the revelation of creation in one life now nearly complete, a simple sense that the created life “is good,” as in “and he saw that it was good”). Artinya (harapan adalah “sifat” yang merepresentasikan wahyu penciptaan

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 dalam satu kehidupan yang hampir selesai, perasaan sederhana bahwa kehidupan yang diciptakan “baik” seperti dalam “dia melihat bahwa itu baik”). Peneliti menyimpulkan makna yang terkandung dalam kutipan tersebut mencerminkan bahwa spiritualitas menurut Erikson adalah bagaimana individu dapat memaknai kehidupannya secara positif dalam konteks kerohanian atau keyakinan akan keterlibatan Tuhan dalam setiap prosesnya. Singkatnya, segala yang terjadi adalah campur tangan Tuhan yang menggiring kita pada sesuatu yang baik dalam kehidupan. Seseorang dengan kecenderungan spiritualitas tinggi mampu menyelesaikan persoalan yang terjadi secara positif. Mereka mengembangkan arti penderitaan sebagai suatu hikmah positif dari kejadian yang dialami. Spiritualitas menuntun individu pada rasa keberhargaan diri, kehidupan terarah yang terlihat melalui harapan, serta mampu mengembangkan hubungan antar manusia yang positif dan menciptakan rasa syukur kepada Tuhan (Hamid, 2008). Kondisi ini akan menuntun seseorang pada ego-integrity. Sebaliknya, jika individu memaknai suatu penderitaan sebagai hal negatif serta tidak mampu mensyukuri apa yang diberikan Tuhan, mereka akan terjerumus pada kondisi despair. Mereka cenderung tidak mampu menghargai kehidupan yang diberikan oleh Tuhan sebagai sesuatu yang “baik” adanya. 3. Accept the past as meaningful atau menerima masa lalu sebagai sesuatu yang berarti Penerimaan masa lalu adalah suatu representasi atau yang mewakili kondisi seseorang untuk menerima pengalaman masa lalunya. Individu yang

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 mampu menerima masa lalunya memiliki perasaan positif tentang masa lalu tanpa memiliki perasaan negatif atau mengecewakan yang berlebihan. Hal ini bukan berarti tidak punya pengalaman negatif, mereka sangat mungkin mengalami kekecewaan, tetapi secara keseluruhan mereka dapat menerimanya. Bagi mereka, pengalaman negatif tidak lagi mengkhawatirkan atau mengganggu kehidupan mereka saat ini. Dihipotesiskan bahwa menerima masa lalu mewakili satu sumber atau penentu tercapainya ego-integrity (Santor & Zuroff, 1994). Sebaliknya, individu yang tidak dapat menerima masa lalu lebih fokus pada satu atau lebih peristiwa yang menjelaskan mengapa mereka tidak dapat menerima masa lalu. Bagi mereka, masa lalu membawa lebih banyak rasa sakit daripada kesenangan. Ada hal-hal di masa lalu yang harus diperbaiki untuk benarbenar memperoleh kebahagiaan. Selain itu, bagi mereka, ada beberapa kekecewaan dalam masa lalu yang tidak akan pernah bisa diterima. Individu yang tidak menerima masa lalu sebagai sebagai satu hal yang memuaskan cenderung mengalami gejala depresif yang lebih kuat yang dapat menjerumuskan mereka pada kondisi despair (Santor & Zuroff, 1994). 4. Tolerance and acceptance of others atau mentoleransi dan menerima kehadiran orang lain tanpa melihat pebedaan yang ada Istilah toleransi adalah istilah modern yang berasal dari bahasa Latin, yaitu tolerantia, yang artinya kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran. Dari sini dapat dipahami bahwa toleransi merupakan sikap untuk memberikan hak sepenuhnya kepada orang lain agar menyampaikan pendapatnya, sekalipun pendapatnya salah dan berbeda. Hal ini sepaham dengan pendapat

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Poerwadarminta yang mengungkapkan bahwa toleransi menurut istilah berarti menghargai, membolehkan, membiarkan pendirian pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya yang lain atau yang bertentangan dengan pendirinya sendiri, misalnya agama, ideologi, ras (Poerwadarminta, 1984). Selanjutnya, menurut Rogers (1979, dalam Pancawati, 2013) penerimaan merupakan sikap seseorang yang menerima orang lain apa adanya secara keseluruhan, tanpa adanya suatu persyaratan ataupun penilaian. Seseorang yang mampu menerima orang lain cenderung memiliki anggapan bahwa orang lain adalah sesuatu yang berhaga. Seseorang dapat mentolerir (tolerance) sesuatu tanpa harus menerimanya (acceptance), tetapi seseorang tidak dapat menerima (acceptance) sesuatu tanpa menolerirnya (tolerance). Misalnya, ketika seorang anak memberi tahu orang tua tentang pilihan karier pasangan perkawinan, atau identitas seksual yang tidak diinginkan, dia menginginkan informasi itu tidak hanya ditoleransi, tetapi untuk diterima (Fish, 2014). Individu yang cenderung mampu untuk memberikan toleransi dan menerima orang lain sepenuhnya akan menggiringnya pada kondisi ego-integrity. Sebaliknya, ketika mereka tidak mampu untuk melakukannya, maka akan terjerumus pada kondisi despair. 5. A sense of being part of a larger history that includes previous generations atau perasaan menjadi bagian berharga di masa lalu Salah satu hal yang menuntun seseorang mampu mencapai ego-integrity di masa tuanya adalah perasaan berharga, khususnya merasa pernah menjadi suatu

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 bagian yang sangat berguna di masa-masa sebelumnya bagi orang-orang di sekitarnya. Hal ini membantu lansia menyadari bahwa walaupun sekarang mereka sudah tidak bisa melakukan banyak hal karena keterbatasan kondisi fisik, ia tetap memiliki perasaan bahwa dulu ia telah melakukan sesuatu yang berharga bagi dirinya dan sekarang waktunya untuk beristirahat. Peneliti mencoba untuk menggambarkan kondisi tesebut seperti:“Dulu saya sudah berusaha sekuat tenaga membangun usaha yang saya rintis, dan saat ini saya bangga bisa mewariskan usaha tersebut kepada anak saya”. Di sisi lain, ada lansia yang selalu menganggap dirinya tidak berguna dan hanya bisa merepotkan sanak keluarga. Mereka memilih untuk mengasingkan diri karena enggan meminta pertolongan. Kondisi ini membuat lansia kesepian karena ia menarik diri dari lingkungan sebab tidak mau merepotkan lingkungan tersebut. Ketika hal ini terus berlanjut, maka lansia akan terjerumus dalam kondisi despair (Santor & Zuroff, 1994). 6. Absence of death-anxiety atau bebas dari perasaan takut akan kematian Templer (1970) mendefinisikan death anxitety sebagai "keadaan individu mengalami kecemasan terkait dengan kematian. Kecemasan merupakan suatu pikiran yang tidak menyenangkan, yang ditandai dengan kekhawatiran, rasa tidak tenang, dan perasaan yang tidak baik atau tidak enak yang tidak dapat dihindari oleh seseorang (Hurlock, 1996). Kecemasan ini membawa inividu pada perasaan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh persepsi nyata atau khayalan bahwa kematian adalah hal yang menakutkan (Moorhead et al., 2008, dalam Lehto & Stein, 2009). Secara lebih spesifik, seseorang yang mengalami kecemasan akan

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 kematian akan didominasi oleh rasa takut dan kecemasan yang tinggi ketika membicarakan soal kematian atau kondisi sakit yang berpotensi mengalami kematian (Templer, 1970; Cai, Tang, Wu, & Li, 2017). Sebagai contoh, seseorang yang mengalami kecemasan akan kematian memiliki rasa takut saat memikirkan harus menjalani operasi karena khawatir operasi tersebut akan berujung pada kematian (Templar, 1970). Templar (1970) juga menyatakan takut dan kekhawatiran juga cenderung akan muncul ketika mendengar pembicaraan yang berhubungan dengan kematian atau menyaksikan pemandangan mayat pada acara kedukaan. Selain itu, mereka cenderung sering merasa tertekan oleh waktu yang berlalu dengan sangat cepat. Rasa takut akan kematian merupakan salah satu komponen dari keputusasaan atau despair (Santor & Zuroff, 1994). Sebaliknya, kebebasan seorang individu dari kondisi kecemasan akan kematian akan merujuk pada kecenderungan tercapainya kondisi egointegrity. Seseorang yang berada dalam kondisi ego-integrity cenderung tidak memiliki ketakutan dalam menghadapi kematian. Bagi mereka, masa depan bukanlah suatu hal yang harus ditakutkan, termasuk kematian. Bagi mereka, memikirkan kematian bukanlah sesuatu yang mengganggu bahkan mereka sangat jarang memikirkannya. 7. Freedom from the feeling that time is running out atau bebas dari perasaan bahwa waktu yang dimiliki untuk hidup hampir habis Seseorang yang cenderung berhasil dalam mencapai wilayah ini diduga merasa telah mempergunakan waktu yang dimiliki dengan baik di masa hidupnya. Mereka cenderung telah merasa puas di hari tuanya karena sudah berusaha

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Perasaan puas di hari tua menggambarkan bahwa secara keseluruhan seseorang telah mampu mencapai harapan-harapan yang diinginkan. Perasaan puas di masa tua membebaskan lansia dari perasaan kehabisan waktu dalam hidupnya dan akan menggiring mereka pada kondisi ego-integrity. Sebaliknya, lansia yang terperosok dalam kondisi despair dalam wilayah ini cenderung merasakan bahwa sisa waktu yang dimiliki sudah hampir habis dan berjalan cepat. Perasaan ini muncul diduga disebabkan oleh keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu yang belum tercapai selama hidunya. Lansia yang masih cenderung diselimuti oleh harapan yang belum tercapai diduga akan menimbulkan dilema sebab penurunan kondisi fisik yang dialami (Santor & Zuroff, 1994). 8. Emotional Integration atau integrasi emosi Erikson menekankan Emotional Integration atau integrasi emosional sebagai kunci penting untuk keberhasilan aging (1963, dalam Sternberg & Jordan, 2005). Integrasi emosional adalah suatu proses dimana seseorang dapat sepenuhnya merasakan, memahami, dan merespon emosi secara tepat. Definisi ini selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Weiss (2018), dalam artikelnya. Ia menulis, “If we are emotionally mature adults we are able to feel our emotions, acknowledge them, and take responsibility for their appropriate expression in a way that still leaves us feeling whole”. Artinya, “jika kita dewasa secara emosional, kita mampu merasakan emosi kita, mengakuinya, dan merespon secara tepat dengan ekspresi yang sesuai sehingga membuat diri kita tetap merasa merasa utuh”.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Paul Ekman mengklasifikasikan emosi dasar manusia ke dalam enam jenis: senang, sedih, terkejut, marah, takut, dan jijik (Ekman, 1992). Ketika individu mampu merasakan perbedaan emosi tersebut dan meresponnya secara tepat maka ia dikatakan mampu mengintegrasikan emosinya, sehingga mereka akan mengarah pada kondisi ego-integrity. Sebaliknya, ketika individu cenderung tidak mampu mengeluarkan atau tidak mengakui emosi yang dirasakan maka mereka tidak mampu merespon emosi tersebut secara tepat, sehingga berujung pada rasa tidak puas yang akan menuntun seseorang pada kondisi despair. 9. Life Satisfaction atau kepuasan hidup Kepuasan hidup adalah sejauh mana seseorang secara positif mengevaluasi kualitas hidupnya. Dengan kata lain, seberapa banyak orang menyukai kehidupan yang ia jalani (Saris, Veenhoven, Scherpenzeel, & Bunting,1996). Kepuasan hidup melambangkan kriteria menyeluruh atau hasil akhir dari pengalaman manusia. Kepuasan hidup adalah penilaian menyeluruh dari perasaan dan sikap seseorang tentang kehidupan (Andrew, 1974, dalam Prasoon & Chaturvedi, 2016). Neugarten, Havighurst, & Tobin (1965) menyebut Life Satisfaction sebagai “definisi operasional dari penuaan yang berhasil”. Semakin positif lansia menilai kualitas hidupnya secara keseluruhan, maka ia akan berhasil mencapai egointegrity. Ungkapan-ungkapan yang biasanya muncul pada individu yang memiliki Life Satisfaction tinggi seperti, saya merasa apa yang terjadi dalam hidup secara keseluruhan dekat/mirip dengan cita-cita saya, kondisi hidup saya sangat baik, saya puas dengan hidup saya, sejauh ini saya telah mendapatkan hal-hal penting yang saya inginkan di dunia, dan dalam menjalani hidup ini, tidak

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 ada yang ingin saya ubah (Diener, Emmons, Larsen, Griffin, 1985). Sebaliknya, jika seseorang memiliki kecenderungan negatif dalam memaknai kehidupan secara menyeluruh, maka hal ini akan menjerumuskan seseorang dalam kondisi despair (Liang, 1984; Woods & Witte, 1981). Baik kondisi ego-integrity yang mendominasi atau sebaliknya (despair), semua kondisi tersebut merupakan hasil akumulasi dari seluruh pengalaman fase hidup saat lansia tua dan fase hidup sebelumnya. Menurut Erikson, setiap tahap krisis psikososial secara sistematis dihubungkan dengan tahapan pada krisis psikososial sebelumnya. Artinya, ketika integrity dan despair berada di tahap ke 8, maka integrity dan despair akan dipengaruhi pula oleh tahap sebelumnya (tahap 1-7). Dapat ditarik kesimpulan, kondisi integrity dan despair merupakan akumulasi dari pengalaman yang berada di tahap 1-7 ditambah dengan pengalamannya berada di tahap ke 8. Dengan kata lain, kondisi integrity dan despair merupakan kondisi dari akumulasi seluruh pengalaman semasa orang tersebut menjalani kehidupannya. C. Dukungan Sosial Keluarga Bagi Lansia dan Kaitannya Dengan Proses Menghadapi Krisis Psikososial Pada Lansia Menjadi tua bukanlah suatu pilihan melainkan sesuatu yang pasti akan dialami oleh setiap individu. Menua (aging) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki atau mengganti diri serta mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga sangat rentan terhadap penyakit (Santoso, 2009). Proses ini adalah proses alami yang ditandai dengan adanya penurunan pada kondisi fisik, psikologis, maupun sosial yang saling

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 berinteraksi satu sama lain (Salamah, 2005; Hurlok dalam Hutapea, 2011; Asmaningrum, Wijaya, & Permana, 2014). Perubahan kondisi fisik, sosial, dan psikologis ini akan menentukan apakah lanjut usia akan melakukan penyesuaian sosial yang baik atau buruk. Menurut Hurlock, lanjut usia memiliki kecenderungan penyesuaian diri yang buruk dari pada yang baik dan pada kesengsaraan daripada kebahagiaan (Hutapea, 2011). Hadirnya dukungan sosial keluarga mampu membantu lansia tetap meraih ego-integrity di tengah deraan kemunduran fisik dan psikis yang dialaminya. Dukungan sosial terdekat yang dapat membantu lansia dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah bersumber dari keluarga (Prabasari, Juwita, & Maryuti, 2015). Keluarga dari lansia meliputi keluarga dekat, yaitu suami, istri, dan anak, lalu keluarga besar, seperti saudara kandung dan kerabat. Keluarga dekat memiliki fungsi sebagai dukungan sosial utama untuk lansia di saat mereka berada dalam kondisi membutuhkan pertolongan (Shanas, 1979). Sementara itu, keluarga besar berfungsi sebagai penghubung utama lansia ke masyarakat (Shanas, 1979). Shanas (1979) juga menjelaskan lebih lanjut bahwa hal terpenting yang diperlukan oleh lansia adalah keteraturan untuk dikunjungi dan perhatian yang berkelanjutan dari keluarga besar maupun kecil yang masih ada sebagai ungkapan dukungan sosial. Gottlieb menyatakan bahwa dukungan keluarga dapat berupa informasi verbal maupun nonverbal, saran, bantuan, atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang terdekat berupa kehadiran serta hal-hal yang dapat memberi keuntungan emosional kepada penerimanya (1983, dalam Mundiharno, 2010,

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 dalam Jafar, Wiarsih, & Permatasari, 2011). Lansia memerlukan dukungan sosial untuk meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri untuk menghadapi penurunan dan perubahan yang terjadi (Suryono, 2013). D. Lansia Terlantar Penghuni Rumah Pelayanan Sosial Banyak keluarga besar maupun kecil yang tidak mampu memberikan dukungan sosial yang baik pada lansia antara lain karena menganggap kehadiran lansia hanyalah menambah beban keluarga. Hal ini diperkuat dengan temuan Maryam et al. (2012) yang mengungkapkan bahwa sebanyak 52,2% keluarga merasa mengalami beban yang tinggi dalam merawat lansia. Oleh karena itu, masyarakat cenderung memilih membawa lansia ke panti jompo daripada mengurus di rumah sendiri. Namun, karena biaya menitipkan lansia di panti jompo terbilang mahal, maka tidak sedikit lansia ditelantarkan begitu saja oleh orang terdekat mereka. Neglect atau penelantaran pada lansia didefinisikan sebagai penolakan atau kegagalan untuk memenuhi kewajiban dalam bidang pengasuhan kepada lansia secara fisik maupun psikologis, ataupun keduanya (Anthony et al., 2009). Neglect dapat bersifat aktif atau disengaja, dan pasif atau tidak disengaja. Passive neglect adalah situasi dimana lansia dibiarkan hidup sendiri, terisolasi, atau terlupakan. Di sisi lain, Active neglect merupakan pengurangan hal-hal yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari, seperti makanan, obat-obatan, dukungan sosial, dan perawatan tubuh (Hickey & Douglass, 1891). Penelantaran tersebut mencerminkan minimnya dukungan sosial keluarga yang diberikan untuk menghadapi perubahan dan penurunan kondisi fisik, sosial,

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 dan psikologis pada lansia. Minimnya dukungan sosial pada lansia akan membawa lansia pada penyesuaian diri yang negatif untuk menghadapi permasalahan tersebut. Sebagai contoh, penurunan kondisi fisik seperti: postur tubuh lansia mulai berubah bungkuk, kondisi kulit mulai kering dan keriput, daya ingat mulai menurun, kondisi pendengaran dan penglihatan terganggu yang terkadang membuat lansia tidak percaya diri jika harus berinteraksi dengan orang lain sehingga mereka menarik diri dari lingkungan sosial (Santrock, 2002). Penarikan diri dari lingkungan sosial akan menggiring lansia pada kesepian (loneliness) yang akan berujung pada depresi. Kondisi ini diduga mampu menghambat proses lansia menghadapi krisis psikososialnya, yaitu untuk mencapai ego-integrity (Hearn et al., 2012). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan lansia terlantar sebagai partisipan. Lansia terlantar yang dimaksud peneliti adalah mereka yang berusia 65 tahun ke atas dan tinggal di Rumah Pelayanan Sosial Lansia Terlantar Budi Dharma Yogyakarta yang bersifat gratis. Lansia penghuni panti tersebut adalah mereka yang terlantar karena beberapa hal, di antaranya: (1) terlantar karena tidak memiliki keluarga kecil lagi (meninggal), dan di sisi lain keluarga besar merasa terbebani untuk merawatnya, (2) terlantar karena anak tidak mampu merawat dan merasa terbebani yang disebabkan oleh kesulitan ekonomi, serta (3) terlantar karena keluarganya tidak diketahui keberadaannya (ditemukan di jalanan).

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 E. Kerangka Konseptual Menurut Erikson, setiap tahap perkembangan manusia ditandai oleh tugas perkembangan yang berbeda-beda. Tugas perkembangan dalam setiap tahap adalah menghadapi suatu krisis yang Erikson sebut sebagai krisis psikososial (Erikson, 1989). Pada penelitian ini, peneliti ingin mengeksplorasi dan mendeskripsikan pengalaman lansia terlantar menghadapi krisis psikososial. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah beberapa lansia yang tinggal di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma Yogyakarta dengan rentang usia 65 tahun ke atas. Penelantaran atau neglect pada lansia adalah penolakan atau kegagalan untuk memenuhi kewajiban dalam bidang pengasuhan kepada lansia baik secara fisik maupun psikologis atau keduanya (Anthony et al., 2009). Krisis pada satu tahap yang dihadapi oleh lansia terlantar merupakan hasil akumulasi pengalaman dari tahap-tahap sebelumnya. Lansia usia 65 tahun ke atas berada dalam tahap ke 8 perkembangan psikososial Erikson. Krisis psikososial tahap ke 8 adalah (kendati) merupakan hasil akumulasi pengalaman sebelumnya, diduga kondisi terlantar tetap berpengaruh pada cara lansia menghadapi krisis psikososial. Krisis psikososial yang harus dihadapi oleh lansia adalah egointegrity vs despair, dimana ego-integrity sebagai aspek positif dan despair sebagai aspek negatifnya (Feist & Feist, 2010). Erikson mendeskripsikan seseorang yang mencapai integrity adalah mereka yang sepenuhnya menjalani komitmen dan meyakini hidupnya sebagai sesuatu yang berharga. Sebaliknya, seseorang yang despair adalah mereka yang tidak dapat menyetujui dan menerima

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 kehidupannya yang konkret. Mereka cenderung menyesali setiap hal yang terjadi dan merasa putus asa (Erikson, 1989). Kondisi ego-integrity ataupun despair yang terjadi pada lansia merupakan akumulasi pengalaman hidup dari tujuh tahap sebelumnya. Untuk mengeksplorasi bagaimana pengalaman lansia menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan, peneliti menggunakan kriteria ego-integrity menurut Erikson, meliputi: 1) Adapting to thriumps and disappointments, 2) Spirituality, 3) Accept the past as meaningful, 4) Tolerance and acceptance of others, 5) A sense of being part of a larger history, 6) Absence of death-anxiety, 7) Freedom from the feeling that time is running out, 8) Emotional Integration 9) Life Satisfaction. Jika pengalaman didominasi oleh lawan dari 9 hal di atas, maka lansia akan terperosok pada despair. Agar dapat memudahkan melihat kerangka berpikir peneliti, berikut adalah gambar kerangka konseptual dalam penelitian ini. 1. 2. 3. 4. 5. Ego-Integrity (+) Krisis Psikososial Pada lansia terlantar 6. 7. 8. 9. Despair (-) Gambar 1. Kerangka konseptual penelitian Adapting to thriumps and disappointments Spirituality Accept the past as meaningful Tolerance and acceptance of others A sense of being part of a larger history Absence of death-anxiety Freedom from the feeling that time is running out Emotional Integration Life Satisfaction Negasi dari 9 wilayah Ego-integrity

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif ialah penelitian yang mencoba mendeskripsikan dan menafsirkan aneka pengalaman orang atau kelompok orang sebagaimana orang-orang itu sendiri menghadapi, menggeluti, dan menghayati aneka situasi kehidupan (Supratiknya, 2018). Desain penelitian ini menggunakan analisis isi kualitatif (AIK) dengan pendekatan deduktif terarah, yaitu metode penelitian untuk menafsirkan data berupa teks secara subjektif melalui proses klasifikasi sistematik berupa coding atau pengkodean dan pengidentifikasian aneka tema dan pola (Hsieh & Shannon, 2005, dalam Supratiknya, 2015). Peneliti memilih pendekatan deduktif terarah karena pendekatan ini cocok diterapkan ketika sudah ada teori maupun hasil-hasil penelitian sebelumnya mengenai suatu fenomena (Supratiknya, 2015). Dalam penelitian ini, peneliti mencoba untuk memahami dunia responden berdasarkan pemaknaan idiosinkratik sebagai „personal life world‟ atau pengalaman pribadi tentang bagaimana para lansia terlantar menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan, dengan menggunakan teori Erikson sebagai kerangka analisis. Apakah didominasi oleh Ego-integrity atau sebaliknya, yaitu despair. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mendeskripsikan pengalaman lansia terlantar baik yang merasa ditelantarkan atau tidak dalam menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan (integrity vs despair) berdasarkan 30

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 sudut pandang mereka. Metode pengambilan data dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur, dengan satu pertanyaan wawancara utama di setiap wilayah-wilayah Ego-Integrity diikuti beberapa kemungkinan pertanyaan tambahan dalam rangka probing jika diperlukan. Analisis data diawali dengan mentranskripkan data lisan atau rekaman elektronik menjadi teks tertulis atau dokumen. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan deskripsi yang padat dan kaya tentang fenomena yang diteliti (Supratiknya, 2015). B. Fokus Penelitian Fokus dalam penelitian ini adalah pengalaman lansia terlantar dalam menghadapi krisis psikososial. Penelantaran adalah penolakan atau kegagalan keluarga kecil ataupun besar untuk memenuhi kewajiban dalam bidang pengasuhan kepada lansia baik secara fisik maupun psikologis atau keduanya (Anthony et al., 2009). Krisis psikososial yang harus dihadapi lansia dalam tahap lanjut usia ini adalah ego-integrity vs despair, yakni ego-integrity sebagai aspek positif dan despair sebagai aspek negatif. Erikson mendeskripsikan ego-integrity sebagai penerimaan akan siklus hidup yang harus terjadi sehingga lansia yang mampu mencapai ego-integrity ini akan merasakan perasaan “enduring wholenes” atau abadi (1963, dalam Parker, 2013; Westerhof, Bohlmeijer, & McAdams, 2015). Sebaliknya, despair adalah kesulitan untuk mengintegrasikan masa lalu, saat ini, dan masa depan menjadi sebuah arti yang utuh (Erikson, 1968).

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 Pengalaman-pengalaman tersebut akan diungkap menggunakan kriteria Ego-integrity menurut Erikson yang meliputi: (1) Adapting to triumphs and disappointments (mampu beradaptasi dengan keberhasilan dan kegagalan dalam proses mencapai tujuan), (2) Spirituality (hubungan individu dengan perasaan akan keberadaan Tuhan atau eksistensi Tuhan), (3) Accept the past as meaningful (menerima masa lalu sebagai sesuatu yang berarti; mereka tidak mengalami penyesalan, rasa bersalah, atau ketidakpuasan dengan kehidupan yang dijalani secara umum), (4) Tolerance or acceptance of others (menerima dan mentoleransi kehadiran orang lain), (5) A sense of being part of a larger history that includes previous generations (perasaan telah menjadi bagian yang berharga dalam sejarah termasuk generasi sebelumnya), (6) Absence of death-anxiety (ketiadaan kecemasan atau rasa takut akan kematian), (7) Freedom from the feeling that time is running out (bebas dari perasaan akan kehilangan banyak hal dalam hidup karena waktu yang dimiliki di dunia telah sedikit), (8) Emotional integration (integrasi emosional), (9) Satisfaction with life (kepuasan hidup) (Santor & Zuroff, 1994). Jika yang terjadi adalah lawan dari 9 hal di atas, maka lansia akan terperosok ke dalam keputusasaan atau despair. C. Partisipan Peneliti memilih Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma sebagai lokasi penelitian yang beralamatkan di jalan Ponggalaan, UH VII/203, Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta. Mulanya peneliti mengetahui rumah pelayanan sosial ini karena sebelumnya, peneliti telah melakukan kunjungan untuk keperluan mata kuliah Gerontologi. Rumah pelayanan sosial ini

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 bersifat gratis dan berada di bawah naungan Dinas Sosial Pemerintah Kota Yogyakarta. Infrastruktur yang dimiliki Rumah pelayanan sosial ini terbilang cukup baik. Didalamnya terdapat 5 wisma yang setiap wisma dihuni oleh 5-6 lansia dan setiap lansia mendapatkan kamar dengan fasilitas seperti tepat tidur, lemari pakaian, dan ruang TV bersama. Rumah pelayanan ini memiliki waktu besuk di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Meskipun demikian, petugas rumah pelayanan tersebut mengatakan bahwa intensitas pengunjung yang ingin melihat kondisi orang tuanya sangat jarang. Bahkan hampir 95% lansia yang tinggal di tempat ini belum pernah dikunjungi oleh sanak saudara mereka. Kapasitas rumah pelayanan ini adalah 60 orang sedangkan lansia yang di lokasi saat ini sebanyak 58 orang. Sebanyak 28 lansia yang tinggal di rumah pelayanan sosial ini sudah tidak mampu untuk melakukan aktivitas secara mandiri sehingga membutuhkan dampingan perawat sepenuhnya. Lansia yang berada dalam kondisi ini tinggal di ruang isolasi. Tiga puluh (30) orang lainnya adalah lansia yang masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri misalnya makan sendiri, membersihkan kamar dan mencuci pakaian. Keseluruhan lansia yang tinggal di rumah pelayanan sosial ini dirawat oleh 6 orang perawat. Menurut pandangan peneliti, jumlah perawat yang ada kurang memenuhi karena tidak sebanding dengan jumlah lansia yang ada. Akibatnya, kondisi kebersihan kamar lansia yang berada di ruang isolasi terbilang kurang memadai. Selain itu, kebersihan tubuh pada lansia yang tinggal di ruang isolasi juga kurang memadai. Hal ini mampu tergambarkan berdasarkan observasi peneliti.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Lansia penghuni rumah pelayanan sosial tersebut terlantar karena beberapa hal seperti, tidak memiliki keluarga kecil (meninggal), ketidakmampuan keluarga untuk merawat karena kesulitan ekonomi, dan tidak mengetahui keberadaan keluarganya. Berdasarkan gambaran umum tersebut, peneliti mendapati seluruh lansia penghuni panti yang berjumlah 58 orang masuk dalam kriteria umum partisipan yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Dalam keterlibatan penelitian ini, pihak panti menyarankan peneliti untuk menggunakan lansia yang tergolong masih mampu melakukan aktivitas untuk menjadi partisipan penelitian ini. Dari 30 lansia tersebut peneliti menggunakan 4 orang lansia sebagai partisipan penelitian dengan kriteria khusus yang telah ditetapkan. Pemilihan sampel ini dilakukan secara criterion-based atau berdasarkan kriteria tertentu (Morrow, 2005; dalam Supratiknya, 2018). Kriteria yang dimaksud adalah memiliki kemampuan komunikatif dan pendengaran yang baik serta lafal pengucapan yang cukup jelas. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan ucapan yang tidak dipahami oleh peneliti dan partisipan. Proses ini dilakukan dengan melakukan pra-wawancara (wawancara pendahuluan) pada lansia yang tinggal di panti secara acak. Dalam proses pengambilan data peneliti menemukan titik redundansi berhenti pada partisipan keempat. Artinya, peneliti merasa tidak akan mendapatkan informasi baru lagi dengan menambah data pada partisipan berikutnya karena data dari keempat partisipan sudah beragam (Patton, 1990, dalam Marrow, 2005, dalam Supratiknya, 2018).

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 Tabel 1 Data Diri Partisipan Inisial Jenis Kelamin Usia (tahun) Status Riwayat Pekerjaan Agama Asal Daerah Pendidikan MG Laki-laki MS Laki-laki MT Perempuan MZ Perempuan 78 80 67 65 Duda Guru, pelawak Islam Temanggung Duda TU, Serabutan Islam Yogyakarta Janda Guru, Perawat Katolik Surabaya Tidak menikah Pegawai restoran Islam Yogyakarta Pendidikan Guru SMA Perawat SMP D. Peran Peneliti Peneliti berperan sebagai instrumen penelitian. Artinya, peneliti memainkan peran penting dalam pengambilan data. Selain itu, peneliti juga berperan untuk menangkap suara partisipan dan mengolahnya. Peneliti terjun secara langsung ke lokasi penelitian untuk mengumpulkan data dengan mewawancarai partisipan dengan sebuah protokol yaitu instrumen pengumpulan data berupa pedoman wawancara atau pedoman observasi, namun tetap peneliti sendiri yang benar-benar mengumpulkan data (Supratiknya, 2015). Lalu, peneliti juga bertugas menjadi sejenis cermin yang merefleksikan secara akurat apa yang berlangsung di dunia luar sana atau di dalam benak para partisipan penelitian; peneliti harus mampu menyajikan secara tepat atau benar (truthfully) dunia subjektif para partisipan dan terlepas dari subjektivitas peneliti sendiri (Supratiknya, 2018).

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 Peneliti tidak memiliki kaitan apapun dengan partisipan maupun dengan lokasi penelitian. Peneliti memilih Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlatar Budhi Dharma Yogyakarta sebagai lokasi penelitian karena peneliti merasa kriteria subjek yang diperlukan sesuai. Sebelum memutuskan hal tersebut, peneliti melakukan wawancara singkat dengan petugas sosial di panti tersebut. Setelah wawancara itu dilakukan, petugas sosial menyatakan bahwa kriteria subjek yang peneliti maksud sesuai dengan para lansia yang dirawat di situ. Peneliti memilih panti sebagai lokasi penelitian karena peneliti merasa bahwa panti merupakan tempat yang terkait dengan topik penelitian dan merupakan lokasi sehari-hari bagi partisipan menjalani hari tuanya. Maka dari itu, partisipan dapat lebih nyaman untuk menceritakan pengalamannya. Potensi yang paling buruk yang bisa terjadi dari penelitian ini adalah munculnya perasaan sedih atau perasaan-perasaan lain yang dapat menimbulkan ketidakyamanan dalam diri partisipan ketika mengingat pengalaman yang kurang menyenangkan dalam hidupnya. Untuk memastikan bahwa partisipan terbebas dari rasa tidak nyaman, peneliti menempuh prosedur informed consent, yaitu dengan cara mempersilahkan partisipan untuk mengetahui tema penelitian, prosedur pengambilan data, dan potensi paling buruk yang mungkin terjadi dalam penelitian. Selain itu, setelah wawancara selesai dilakukan peneliti tetap mengunjungi partisipan selama 2- 3 hari untuk melakukan aktivitas bersama seperti mengisi TTS (teka-teki silang), bertanam, atau sekedar menceritakan pengalaman menyenangkan seperti hobi. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 perasaan sedih akan ingatan masa lalu yang suram selama proses wawancara berlangsung. Isu sensitif yang mungkin muncul terkait etika adalah terbongkarnya identitas partisipan. Untuk menanggulangi hal itu, semua data mengenai identitas partisipan akan diminimalisir, peneliti akan menggunakan inisial P1, P2, dan seterusnya. E. Metode Pengambilan Data Dalam penelitian ini, metode utama yang digunakan dalam pengambilan data adalah wawancara semi terstruktur dengan menggunakan daftar pertanyaan wawancara. Pertanyaan yang diajukan ialah pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka digunakan supaya partisipan dapat lebih bebas mengutarakan pengalaman mereka tanpa dibatasi oleh bias peneliti atau temuan penelitian sebelumnya (Cresswel, 2012, dalam Supratiknya, 2015). Di dalam penelitian kualitatif, wawancara dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Meolong, 2015, dalam Supratiknya, 2015). Kemudian, peneliti akan merekam jawaban yang diberikan oleh partisipan lalu mentranskripsi dan menganalisis data yang diperoleh tersebut. Metode ini dipilih karena peneliti dapat secara langsung bertatap muka secara personal dengan partisipan sehingga menghindari timbulnya rasa enggan atau malu dari partisipan ketika mengungkapkan pengalaman pribadinya. Sebelum wawancara dilakukan, peneliti menyiapkan prosedur perekaman data berupa protokol wawancara yang berisi daftar pertanyaan yang akan diajukan

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 pada partisipan yang didasarkan pada rumusan pertanyaan penelitian dan teori ego-integrity yang digunakan peneliti. Berikut adalah daftar pertanyaan yang digunakan dalam penelitian ini: Pertanyaan pendahuluan Tabel 2 Pertanyaan Pendahuluan No. Pertanyaan No. Pertanyaan 1 Keluarga mbah tinggal di mana? 6 Mbah merindukan mereka tidak? 7 Mbah dulu kerjaannya apa? 8 Sudah berapa lama disini mbah? 2 3 4 5 Apakah mbah memiliki suami/istri? Di mana sekarang? Apakah mbah memiliki anak? Di mana mereka? Siapa saja keluarga mbah yang masih tersisa? Mbah pernah dijenguk tidak? 9 10 Mbah senang tidak tinggal di sini? Apakah mbah merasa ditelantarkan oleh keluarga? Pertanyaan Utama Mbah, coba mbah ceritakan pengalaman mbah selama mbah hidup sampai saat ini? Cerita apa saja mbah! Tabel 3 Pertanyaan Utama pada Masing-Masing Wilayah No. 1 Wilayah Ego-Integrity Adapting to triumphs and Pertanyaan Utama  Mbah pernah disappointments (mampu mempelopori/menggerakkan suatu beradaptasi dengan keberhasilan kegiatan gak?

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 No. Wilayah Ego-Integrity Pertanyaan Utama dan kegagalan dalam proses mencapai tujuan)  Bagaimana cara mbah menyesuaikan dengan lingkungan baru? Coba mbah ceritakan! - Adakah pengalaman menarik tentang hal itu? 2 Spirituality (hubungan individual  Menurut mbah Tuhan itu apa? dengan perasaan akan keberadaan - Coba ceritakan sejauh mana mbah Tuhan atau eksistensi Tuhan) dekat dengan Tuhan? - Gimana biasanya mbah menyadari akan kehadiran Tuhan dalam hidup mbah? 3 Accept the past as meaningful (menerima masa lalu sebagai saja yang sudah mbah lalui semasa sesuatu yang berarti; mereka hidup? tidak mengalami penyesalan, rasa 4  Coba ceritakan pengalaman apa - Coba ceritakan, pengalaman yang bersalah, atau ketidakpuasan paling mbah ingat boleh cerita dengan kehidupan yang dijalani senang, secara umum) kemarahan? Tolerance or acceptance of ceita sedih, cerita  Coba ceritakan bagaimana relasi others (mentoleransi dan mbah dengan orang lain? menerima kehadiran orang lain Pengalaman tentang pertemanan

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 Wilayah Ego-Integrity No. Pertanyaan Utama tanpa melihat perbedaan yang mbah gimana? Boleh cerita ada) pertemanan yang Bahagia, sedih, atau marah? 5 A sense of being part of a larger  Coba ceritakan, menurut mbah history that includes previous apakah mbah adalah seseorang generations (perasaan telah yang berguna di masa lalu? menjadi bagian yang berharga - Jika iya, pengalaman apa yang dalam sejarah termasuk generasi membuat mbah menjadi seseorang sebelumnya) yang berharga? - Kalau dulu kan mbah bisa melakukan sesuatu yang berharga itu (pengalaman berharga yang diceritakan) sekarang mbah kan udah sakit (kakinya, misal) mbah menyesal tidak? 6 Absence of death-anxiety (ketiadaan kecemasan atau rasa  Mbah takut gak kalo dipanggil Gusti? takut akan kematian) 7 Freedom from the feeling that time is running out (bebas dari perasaan akan kehilangan banyak hal dalam hidup karena waktu  Mbah punya keinginan yang belum tercapai tidak? - Mbah pernakah berpikir kok saya udah tua ya, padahal saya masih

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 No. Wilayah Ego-Integrity yang dimiliki di dunia telah Pertanyaan Utama ingin melakukan sesuatu sedikit) 8 Emotional integration (integrasi  Mbah, apakah mbah pernah merasa jengkel/marah/benci sama emosional) seseorang? - Mbah sampai mukul gak? (Kalo engga) gimana cara mbah mengontrol emosi negatif mbah itu? 9 Satisfaction with life (kepuasan hidup)  Mbah, secara umum, mbah puas tidak dengan hidup mbah?  = pertanyaan utama - = probing Pertanyaan penutup Apakah ada pengalaman yang ingin mbah ceritakan lagi? F. Analisis dan Interpretasi Data Metode analisis data yang digunakan adalah analisis isi kualitatif (AIK), yakni sebuah metode untuk menganalisis pesan-pesan komunikasi, baik tertulis, lisan maupun visual (Supratiknya, 2015). Dalam AIK, dilakukan klasifikasi atau penyaringan terhadap teks atau kata-kata ke dalam sejumlah kategori yang mewakili aneka isi tertentu. Tujuan akhir AIK adalah memperoleh pengetahuan dan pemahaman berupa konsep atau kategori tentang fenomena yang sedang diteliti (Hsieh & Shannon, 2005; Elo & Kygas, 2008, dalam Supratiknya, 2015).

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 Analisis penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif, yakni analisis isi terarah. Penelitian ini menghasilkan data berupa transkripsi dari hasil wawancara. Kemudian, data berupa transkripsi tersebut dianalisis melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1) membaca secara berulang-ulang corpus data berupa transkripsi verbatim ungkapan responden yang dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur; (2) melakukan initial coding atau menemukan kodekode berupa konsep-konsep tertentu dalam transkripsi verbatim secara induktif baris demi baris (inductive, line-by-line approach); (3) mengelompokkan kodekode ke dalam tema-tema, yaitu sejenis konsep besar dengan cakupan isi yang lebih luas dibandingkan kode, dengan tujuan menemukan sejenis narasi analitik yang koheren dari keseluruhan corpus data; dan (4) memperhalus atau mempertajam analisis dengan cara menempatkan tema-tema dalam susunan hirarkis tertentu menjadi tema-tema dan sub-sub tema di bawah masing-masing tema; tema-tema dan sub-subtema tersebut selanjutnya diberi label atau nama, masing-masing subtema dilengkapi dengan kutipan-kutipan yang dicuplik dari transkripsi verbatim sebagai bukti atau pendukung; sehingga diperoleh narasi yang utuh tentang fenomen yang diteliti. Tabel 4 Kerangka Analisis Pengalaman Lansia Terlantar dalam Menghadapi Krisis Psikososial Tahap Kedelapan (Ego-Integrity vs Despair) Integrity Wilayah Adapting to thriumps and disappointments Despair - Aktif: individu bergerak untuk merubah lingkungan agar sesuai dengan kebutuhannya - Aktif: untuk kecenderungan diam dan mengikuti arus - Pasif: cenderung sulit

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 Integrity Wilayah Despair atau masyarakat - Pasif: menyesuaikan individu menyesuaikan diri dengan lingkungan diri dengan lingkungan - Yakin akan keberadaan Spirituality Tuhan - Tidak percaya keberadaan Tuhan - Yakin akan keterlibatan Tuhan secara positif dalam setiap proses - Menyesali takdir Tuhan kehidupan - Memaknai secara kehidupan positif dalam konteks kerohanian - Memaknai penderitaan sebagai suatu hikmah positif dari kejadian yang dialami Accept the past as meaningful - Mampu menerima - Cenderung tidak pengalaman masa lalu menerima masa lalu secara keseluruhan secara keseluruhan - Memiliki perasaan positif tentang masa lalu - Dapat menerima pengalaman negatif - Tidak mampu menerima pengalaman negatif yang terjadi di masa lalu yang dialami Tolerance acceptance others and of - Menerima apa orang adanya lain secara keseluruhan, tanpa adanya suatu - Memiliki batasan untuk menerima orang lain

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 Integrity Wilayah Despair persyaratan ataupun penilaian. A sense of being - Perasaan berharga atas part of a larger pencapaian history diperoleh di masa lalu includes that yang - Merasa merepotkan - Perasaan tidak berguna previous generations Absence of deathanxiety - Terbebas dari rasa ketidaknyamanan akan - Memiliki kecemasan akan kematian kematian Freedom from the - Tidak ada feeling that time is yang running out belum tercapai keinginan disesali karena - Waktu terasa berjalan cepat - Ada - Kualitas hidup secara harapan yang belum tercapai positif - Merasakan, memahami, Emotional dan Integration merespon emosi secara tepat - Merasakan, memahami, dan merespon dengan emosi cara yang kurang tepat Life Satisfaction - Mengevaluasi keseluruhan - Tidak kualitas hidup secara positif memiliki kepuasan akan hidup yang dijalani G. Penegakan kredibilitas dan dependabilitas penelitian Peneliti menggunakan beberapa cara untuk memastikan data yang diperoleh dapat dipercaya atau kredibel. Pertama, peneliti melakukan member checking atau pengecekan bersama partisipan setelah data dirumuskan ke dalam

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 tema-tema. Peneliti membawa kembali kepada partisipan untuk mengetahui apakah tema-tema yang telah dirumuskan tersebut sudah akurat atau sesuai dengan diri partisipan. Kedua, peneliti menggunakan thick description, yaitu deskripsi mendalam dengan memaparkan secara rinci setting mulai dari latar belakang partisipan hingga kondisi lokasi penelitian dan dinamika ketika melakukan wawancara. Dengan cara itu, hasil-hasil penelitian menjadi lebih realistik dan dapat dipercaya (Supratiknya, 2015). Selain itu, dalam penelitian ini peneliti terlibat dan mengenal partisipan dalam waktu cukup lama (prolonged engagement). Peneliti juga menggunakan bantuan peer debriefer, yaitu review oleh teman sejawat untuk proses akurasi laporan penelitian. Penelitian ini menggunakan dua strategi untuk menguji konsistensi hasil penelitian. Strategi yang pertama adalah memeriksa dengan seksama transkriptranskrip rekaman wawancara sehingga tidak ada kesalahan-kesalahan serius yang bisa terjadi selama proses transkripsi. Kedua, dalam proses pengkodean, peneliti juga membandingkan data dengan kode-kode yang telah dirumuskan. Hal ini bertujuan untuk menghindari pergeseran makna kode-kode yang mungkin terjadi selama transkripsi.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada akhir bulan Juni sampai awal bulan Oktober 2018. Pengambilan data menggunakan metode wawancara semi terstruktur dengan responden empat orang lansia terlantar yang tinggal di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma Yogyakarta. Durasi wawancara bervariasi antara 1 jam sampai paling lama 2,5 jam. Rangkuman waktu dan tempat diadakan wawancara disajikan di tabel berikut ini. Tabel 5 Waktu dan Lokasi Pelaksanaan Wawancara No. 1 Lansia Terlantar P1 2 P2 3 P3 4 P4 Waktu Wawancara 22 Juni 2018 23 September 2018 28 Juni 2018 23 September 2018 27 September 2018 13 Oktober 2018 14 Oktober 2018 28 Oktober 2018 Lokasi Wawancara Teras wisma laki-laki Ruang tamu wisma laki-laki Ruang tamu wisma laki-laki Ruang tamu wisma laki-laki Ruang tamu wisma perempuan Ruang tamu wisma perempuan Ruang tamu wisma perempuan Kamar tidur partisipan B. Latar Belakang Partisipan dan Dinamika Proses Wawancara Wawancara dilakukan oleh peneliti dengan cara tatap muka langsung dengan partisipan. Sebelum wawancara dimulai, peneliti memaparkan secara garis besar mengenai penelitian dan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh partisipan. Tiap partisipan juga telah menyetujui untuk berpartisipasi dalam 46

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 penelitian ini yang dibuktikan dengan surat pernyataan persetujuan (informed consent) yang diberikan oleh peneliti. Informend consent tersebut mencakup pemberian informasi lengkap tentang penelitian termasuk resiko-resiko dan pemberian kesediaan-kesediaan untuk partisipasi sesudah tahu seluk-beluk dan resikonya. Partisipan pertama atau P1. P1 adalah laki-laki berumur 78 tahun yang berasal dari Temanggung. P1 terlahir di keluarga yang sangat taat beribadah terutama sang ayah. P1 saat ini menyandang status duda karena istrinya telah meninggal baik pada pernikahan pertama ataupun kedua. Pada pernikahan pertama, beliau dikaruniai dua orang anak namun mereka berdua telah meninggal. Anak pertama meninggal karena demam berdarah dan anak kedua meninggal sesaat setelah dilahirkan. Pada pernikahan kedua, beliau tidak dikaruniai anak namun beliau memiliki anak tiri dari istri kedua tersebut. Beliau tidak mau tinggal bersama anak tirinya karena lebih memilih untuk hidup mandiri dan berpindahpindah mengikuti grup ketoprak yang ditekuninya. Menurut beliau, dengan cara seperti itu bisa mengenal banyak orang baru sambil memperlihatkan kemampuannya untuk bermain ketoprak. Selain itu, beliau juga bisa membantu dan menghibur banyak orang. P1 pada masa lalunya memiliki riwayat pekerjaan sebagai guru dan pelawak srimulat. Beliau memilih keluar dari guru dan menekuni srimulat karena pendapatan menjadi pelawak jauh lebih besar dibandingkan gaji guru jika dikalkulasikan setiap bulannya. Selain itu, beliau juga mengakui bahwa ia sangat mencintai dunia hiburan. Kecintaan ini terlihat dari banyaknya pancapaian yang

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 telah beliau raih, seperti membintangi beberapa film layar lebar, menjadi pemain terbaik, hingga dinobatkan untuk memimpin salah satu grup srimulat Solo pada tahun 1982. Melalui kegiatan tersebut, beliau telah menjelajahi beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Denpasar, dan Surabaya untuk menampilkan pertunjukan. Selain di dunia hiburan, beliau juga aktif dalam kegiatan sosial. Beliau pernah menggerakkan mahasiswa untuk membuat drama teater kecil untuk membantu korban tsunami Aceh pada tahun 2004. Para mahasiswa inilah yang menyarankan beliau untuk tinggal di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma, karena kota Yogyakarta lebih cocok untuk tempat tinggal beliau. Menurut mahasiswa tersebut, panti di daerah Purworejo yang menjadi tempat tinggal beliau sebelumnya kurang ramai sehingga beliau tidak bisa menunjukkan keahliannya pada banyak orang. Alasan inilah yang membuat beliau bisa sampai di Yogyakarta tepatnya di Rumah Yayasan Sosial Lansia Terlantar Budhi Dharma. Beliau menceritakan bahwa tujuannya untuk tinggal di rumah pelayanan sosial ini adalah membuat pengunjung senang datang ke lokasi. Beliau sudah tinggal di rumah pelayanan sosial di Yogyakarta ini selama 12 tahun. Menurut pengakuan beliau, beliau belum pernah mendapatkan kunjungan dari keluarga selama tinggal di rumah pelayanan. Wawancara dengan partisipan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada tanggal 22 Juni dan 23 September. Pada wawancara yang pertama, partisipan menggunakan kaus singlet berwarna putih dan celana (kain) pendek berwarna hitam. Wawancara dilaksanakan selama satu jam empat menit di teras wisma laki-

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 laki. Kondisi di tempat wawancara cukup kondusif karena tidak ada kegiatan yang sedang berlangsung di rumah pelayanan sosial tersebut. Pada saat wawancara berlangsung, salah seorang teman di rumah pelayanan sosial memanggil beliau untuk mengambil belanjaan yang dititipkan pada beliau. Beliau mengatakan bahwa teman-teman di rumah pelayanan sosial sering meminta tolong untuk membelikan sesuatu di pasar karena kondisi mereka sudah tidak memungkinkan. Selama proses wawancara, beberapa kali suara partisipan terdengar kurang jelas sehingga peneliti menanyakan kembali apa yang beliau ucapkan dan mendekati arah suara. Sesaat sebelum wawancara selesai, partisipan meminta ijin untuk menunaikan sholat terlebih dahulu kemudian peneliti juga turut menutup proses wawancara hari pertama tersebut. Pada wawancara kedua, wawancara dilakukan di ruang tamu wisma laki-laki dan berlangsung selama satu jam. Partisipan menggunakan kaus berkerah berwarna abu-abu dan celana (kain) panjang berwarna hitam. Di wawancara yang kedua ini, partisipan mendominasi untuk menceritakan pengalaman hidupnya sama seperti yang diceritakan pada wawancara pertama sehingga wawancara berlangsung cukup lama. Ketika peneliti datang, partisipan tidak mengingat bahwa beliau sudah pernah melangsungkan wawancara bersama peneliti sebelumnya. Situasi saat wawancara terbilang tidak terlalu kondusif karena sedang dilangsungkan kegiatan bakti sosial oleh salah satu komunitas di Yogyakarta. Sama seperti proses wawancara sebelumnya, suara partisipan terdengar kurang jelas karena penurunan kondisi fisik yang dialami beliau.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 Partisipan kedua atau P2 adalah laki-laki berumur 80 tahun yang berasal dari Klaten. Pendidikan terakhir P2 adalah SMP, beliau tidak melanjutkan sekolah karena keterbatasan kondisi ekonomi keluarga. P2 melanjutkan untuk kerja serabutan setelah ia putus sekolah. Beberapa pekerjaan yang pernah beliau tekuni sebelum tinggal di rumah pelayanan sosial adalah berjualan lampu minyak, pecel lele, dan bubur bayi. Beliau mengakui selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, hasil dari berjualan digunakan untuk menjalani pengobatan sang istri. Saat ini, beliau menyandang status duda, istrinya telah meninggal karena diabetes. Dari hasil pernikahan tersebut, beliau dikaruniai seorang anak laki-laki. Beliau mengakui bahwa anak laki-lakinya nakal, sering melakukan balapan motor. Setelah anak satu-satunya tersebut menikah, beliau tinggal sendiri di rumah kontrakannya. Beliau hanya dijamin 5000 rupiah setiap hari oleh anaknya. Oleh karena itu, beliau sering mencari makan sendiri lewat belas kasihan tetangga. Sebab kondisi ini, salah seorang tetangga menyarankan beliau untuk tinggal di rumah pelayanan sosial. Beliau telah tinggal di rumah pelayanan sosial selama 8 bulan. Dalam rentang waktu tersebut, beliau hanya dikunjungi satu kali oleh anaknya. Beliau mengaku lebih sering mengunjungi rumah menantunya untuk dapat bertemu dengan cucunya. Beliau enggan untuk tinggal di rumah menantunya karena takut merepotkan. Kondisi ini didukung oleh keadaan ekonomi keluarga anaknya yang terbilang belum tercukupi pada saat itu. Keseharian P2 di rumah pelayanan sosial cenderung lebih sering duduk sendiri karena menurut beliau jika sering berkunjung ke wisma lain akan menimbulkan

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 cek-cok. Setiap peneliti berkunjung ke lokasi, beliau selalu duduk sendiri di sofa ruang tamu wisma yang ditinggalinya. Wawancara dengan partisipan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada tanggal 28 Juni dan 23 September. Pada wawancara pertama, partisipan menggunakan kemeja hitam bergaris dan celana (kain) panjang berwarna abu-abu. Ketika peneliti berjabat tangan dan memperkenalkan diri, tampak air mata memenuhi kelopak mata partisipan namun tak sampai menetes. Peneliti merasakan genggaman erat tangan partisipan saat bersalaman dengan peneliti. Wawancara pertama berlangsung selama 2 jam 30 menit dengan situasi cukup kondusif. Selama proses wawancara, beberapa kali peneliti tidak mendengar jelas apa yang diucapkan oleh partisipan sehingga peneliti lebih mendekatkan posisi duduk dengan partisipan. Partisipan cenderung lama menjawab pertanyaanpertanyaan yang diberikan oleh peneliti sehingga peneliti mengulangi kembali pertanyaan yang telah diberikan untuk memancing jawaban dari partisipan. Kelopak mata partisipan kembali dipenuhi air mata ketika peneliti berpamitan sehingga peneliti mengurungkan niat untuk pulang dan mengajak partisipan bercerita ringan. Wawancara kedua dilakukan di ruang tamu wisma laki-laki dan berlangsung selama 23 menit. Pada wawancara kedua ini, partisipan menggunakan baju batik dan celana kain berwarna hitam. Situasi ruangan tidak begitu kondusif karena noise dari sound system yang digunakan untuk acara di aula yang terletak berdekatan dengan wisma partisipan. Di sela-sela wawancara berlangsung, partisipan meminta izin untuk mengganti pakaian terlebih dahulu

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 karena acara di aula akan segera dimulai. Partisipan tidak mengetahui secara pasti kegiatan yang akan dilaksanakan di aula, beliau mengatakan hanya diminta untuk berkumpul di aula saja. Partisipan ketiga atau P3 adalah seorang janda berusia 67 tahun yang berasal dari Surabaya. P3 lahir dari keluarga pekerja keras. Sejak SD, P3 telah memiliki tugas untuk membantu ibunya seperti menggoreng kacang dan membungkus kue sepulang sekolah. Pekerjaan-pekerjaan ini sering membuat partisipan tidak memiliki waktu bermain bersama teman-teman seusianya. Setelah menginjak dewasa, P3 menjadi seorang guru di salah satu PAUD daerah rumahnya. Ia mengaku sangat senang bisa mengajar anak anak. Selain itu, ia juga membuka jasa les di sore hari setelah pulang dari mengajar PAUD. Berdasarkan pengakuan partisipan, kesenangan ini tak berlangsung lama karena sang ibu memintanya untuk melanjutkan pendidikan dalam bidang keperawatan. Oleh karena tidak mau menjadi anak yang durhaka, partisipan melaksanakan permintaan ibunya meski ia harus merelakan kebahagiaannya. Partisipan memiliki pengalaman pernikahan yang buruk dengan suami pertamanya. Ia mengungkapkan bahwa hanya harta yang bisa diberikan oleh suaminya tersebut dan tanpa adanya kasih sayang. Hal ini yang menyebabkan partisipan memilih untuk bercerai dengan suami pertamanya. Partisipan dipertemukan dengan seorang laki-laki yang tulus mencintainya hingga mereka dikaruniai dua orang anak. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Saat ini P3 menyandang status janda karena suami dan kedua anaknya meninggal dalam suatu

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 kecelakaan mobil. Dari kejadian tersebut, partisipan memilih untuk tinggal di rumah ibunya dan merawat hingga sang ibu meninggal. Partisipan memiliki penyesalan ketika belum bisa membuat ibunya bahagia namun ibunya sudah harus berpulang ke rumah Tuhan. Partisipan memilih untuk tinggal di rumah pelayanan sosial atas kehendaknya sendiri dengan alasan tidak mau merepotkan adik-adiknya. Beliau telah tinggal di rumah pelayanan sosial ini selama kurang lebih tiga tahun. Selama tinggal panti, beliau dikunjungi keluarga sebanyak 3 kali dan kunjungan terakhir pada Juni 2017 lalu. Tinggal di rumah pelayanan sosial ini tidak setenang yang beliau bayangkan. Beliau merasa banyak keributan yang sering dialami disini. Menurut beliau, adu mulut adalah hal yang lumrah. P3 adalah sosok yang mudah berbaur. Hal ini terlihat dari keseharian beliau yang cenderung sering bercengkrama dengan lansia di wisma lain. Ia juga dipercaya untuk menjadi koordinator agama Katolik di rumah pelayanan sosial tersebut. Bertanam adalah salah satu kegiatan yang digemari P3. Ia memiliki banyak tanaman yang di rawat setiap harinya, seperti bunga mawar, bunga anggrek, pohon jambu dan anggur. Wawancara dengan partisipan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada tanggal 27 Juni dan 23 September. Wawancara pertama dilakukan di ruang tamu wisma putri rumah pelayanan sosial selama 1 jam 13 menit. Pada wawancara pertama ini, partisipan menggunakan daster bercorak warna-warni. Setelah peneliti selesai memperkenalkan diri, P3 menceritakan bahwa ia sedang sakit dengan mata yang temaram. P3 merasa sedih karena ia sakit di saat memiliki tanggungjawab yang harus diselesaikan, yakni sebagai koordinator gereja. Peneliti

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 mencoba memberikan P3 semangat untuk menjaga pola hidup sehat agar cepat sembuh dan segera bisa menyelesaikan tugasnya. Secara keseluruhan suara partisipan terdengar jelas dan cukup keras sehingga peneliti mampu memahami apa yang dikatakan dengan baik. Hal ini juga didukung oleh situasi ruangan yang kondusif dan ketepatan partisipan dalam merespon jawaban atas pertanyaan wawancara yang diberikan. Wawancara kedua dilaksanakan selama 15 menit di ruang tamu wisma putri. Pada wawancara kali ini, P3 menggunakan blues dengan motif bunga dan celana kain berwarna hitam. Sebelum masuk ke pertanyaan wawancara, partisipan menceritakan beberapa hal mengenai keponakannya hingga membuat beliau menangis selama kurang lebih 5 menit. Percakapan ini berlangsung haru karena P3 terlihat sangat sedih sehingga suara yang dikeluarkan kecil dan lafalnya kurang jelas. Setelah P3 selesai bercerita dan tidak menangis lagi, peneliti memulai untuk memberikan pertanyaan kepada partisipan. Partisipan keempat atau P4 adalah perempuan berumur 65 tahun yang berasal dari daerah Kemetiran, Yogyakarta. P4 memilih untuk tidak menjalin hubungan pernikahan karena laki-laki yang ia senangi ternyata memiliki perilaku yang angkuh dan sampai saat ini beliau belum menikah. Partisipan mengakui bahwa ia banyak memiliki teman laki-laki ketika masih muda. Menurut beliau, tak jarang hal ini menjadi perbincangan warga sekitar rumah beliau karena beliau kerap diantar oleh teman laki-laki yang berbeda. Beliau mengungkapkan bahwa ia memang sering berganti pasangan namun hanya sebatas berhubungan sewajarnya seperti berciuman, berpelukan, dan bergandengan layaknya orang pacaran. Beliau

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 mengakui bahwa ada beberapa laki-laki yang mengajak beliau untuk berhubungan seksual, namun beliau menolak hal tersebut. Menurut beliau hubungan seksual hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami istri yang telah sah. P4 berasal dari keluarga yang kurang harmonis karena hubungan ayah dan ibu tidak terlalu baik. Hal ini disebabkan oleh perilaku ayah yang senang berjudi dan tidak mau mengurus anggota keluarganya. P4 mengaku bahwa ia sering menegur ayahnya namun tidak mendapatkan respon apapun. Sang ayah hanya diam dan meninggalkannya pergi. Oleh karena hal ini, P4 mengaku bahwa ia tidak terlalu sedih ketika ayahnya meninggal. Beliau tinggal bersama ibu dan adiknya ketika sang ayah telah meninggal. Adik dan ibu beliau sakit sehingga P4 bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka. P4 mengaku ia melakukan pekerjaan apapun untuk memenuhi kebutuhan adik dan ibunya. Salah satu pekerjaan yang beliau tekuni adalah menjadi seorang pelayan di restoran. P4 merawat ibu dan adiknya sampai mereka meninggal. Walaupun berat, ia tetap menjalaninya karena bagi beliau itu adalah tanggungjawabnya. Kemudian P4 memilih untuk tinggal bersama keponakannya di Muntilan. Beliau membantu ponakannya untuk membuat roti dan menjualnya di pasar atau warung. Namun hal ini tidak berjalan lama, P4 mengidap penyakit diabetes yang membuat kakinya terluka. Oleh karena itu, partisipan memilih untuk tinggal di rumah pelayanan sosial karena merasa merepotkan jika tinggal di rumah adiknya. Hal ini diperkuat oleh keadaan P4 yang tidak bisa membantu adiknya lagi untuk berjualan karena penyakit yang dideritanya. P4 sudah tinggal di rumah pelayanan sosial kurang lebih selama 5 tahun. P4 merasa kurang nyaman

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 tinggal di wismanya saat ini karena perilaku beberapa lansia yang mengganggu, seperti cerewet dan mendengar radio keras-keras. P4 lebih senang untuk duduk di ruang isolasi karena kondisinya lebih tenang. Wawancara dengan P4 dilakukan dua kali yaitu pada tanggal 14 Oktober 2018 dan 24 Oktober 2018. Wawancara pertama berlangsung selama 1 jam 20 menit dan wawancara ke dua selama 50 menit. Pada saat wawancara pertama, partisipan mengenakan kaus bekereah warna hijau lumut dan celana kain abu-abu. Situasi wawancara pada saat itu kurang kondusif karena ada salah seorang penghuni yang turut dalam wawancara dan sesekali ikut berbicara. P3 memiliki lafal ucapan yang kurang jelas sehingga peneliti berusaha untuk menyimak dengan sungguh-sungguh dan menanyakan kembali kata yang tidak mampu peneliti pahami. Dalam proses wawancara pertama ini, P4 terlihat kurang terbuka dengan jawaban-jawaban yang beliau berikan. Hal ini terlihat dari gerakgerik beliau seperti mengalihkan pandangan mata dan tertawa kecil. Selain itu, jawaban yang diutarakan cenderung singkat atas pertanyan yang diberikan oleh peneliti. Untuk menggali lebih jauh, peneliti melakukan wawancara kedua. Wawancara kedua dilaksanakan di kamar P4 yang berlangsung selama 50 menit. Wawancara berjalan kondusif karena di ruangan tersebut hanya ada peneliti dan partisipan. Pada wawancara kali ini, partisipan terlihat lebih leluasa untuk menceritakan pengalamannya. Hal ini terlihat dari gerak gerik beliau yang santai sambil sesekali melontarkan senyuman. Selain itu, volume suara partisipan dalam wawancara ke dua ini terdengar lebih keras. Walaupun demikian, lafal yang

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 diucapkan partisipan masih terdengar kurang jelas sehingga beberapa kali peneliti meminta beliau untuk mengulangi jawaban yang telah diberikan. Di akhir sesi wawancara, partisipan meminta tolong pada peneliti untuk menelepon keponakannya. Percakapan mereka berlangsung kurang dari satu menit. Keponakan dari partisipan terlihat menjawab dengan tergesa-gesa. Percakapan tersebut terpotong karena keponakan partisipan telah menutup teleponnya sebelum partisipan selesai berbicara. C. Hasil Penelitian Dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian, peneliti akan mengeksplorasi dan mendeskripsikan bagaimana pengalaman lansia terlantar dalam menjalani krisis psikososial. Peneliti akan memaparkan pengalaman yang tergolong pada ego-integrity atau despair berdasarkan wilayah yang telah ditetapkan. Selanjutnya, untuk memperkuat hasil, peneliti juga akan mengutip kutipan wawancara dari partisipan yang mendukung paparan hasil. Di bagian akhir peneliti juga akan memperlihatkan tabel persebaran wilayah ego-integrity dan despair pada lansia terlantar. 1. Adapting to thriumps and disappointments atau beradaptasi dengan keberhasilan dan kekecewaan a. Ego-Integrity Lansia yang berhasil mencapai Ego-integrity pada wilayah ini cenderung mampu untuk beradaptasi secara aktif (menggerakkan lingkungan) ataupun pasif (mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan). Dalam penelitian ini ditemukan pengalaman yang tergolong dalam kondisi ego-integrity, di

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 antaranya pernah mempelopori kegiatan sosial (P1 dan P3) dan kerohanian (P3). Kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk partisipasi dalam rangka menggerakan lingkungan untuk mencapai suatu tujuan yang merupakan kriteria dari adaptasi aktif. Hal ini dibuktikan dari kutipan berikut: Mempelopori kegiatan sosial P1 2005 itu anu anu saya membuat ee saya ya anu apa itu ikut meramaikan disitu. 2005 itu anu anu saya membuat ee apaa itu pentas membuat pentas nganu apa itu ya pentas lain ya macam- macam, ada apa itu. Film ada tari-tarian, ada lawak, ada lain-lain, yang tujuannya saya itu anu mencari dana untuk tsunami Aceh, tsunami Aceh tahun berapa? 2004 Terus saya ya nganu eee apa itu mahasiswa-mahasiswa itu saya gerakkan, pemuka agama, masyarakat. Nah setelah sukses lalu uangnya saya serahkan ke dompet kedaulatan rakyat cabang Mempelopori ajaran rohani P3 P3: Aaa kebetulan ni yang di ini sama sekali belum pernah mengenal agama… nanya kamu ikut apa, jawabnya ndak tauu lah bunda, lo jangan ndak tau, kita harus ikut, harus punya pegangan. Peneliti: Kalo boleh tau mbah, apa sih yang membangkitkan semangat mbah untuk melakukan hal itu kepada teman-teman mbah? P3: (uhukk) itu dari saya sendiri, kalo seperti saya kan dari nenek kakek saya memang di gereja ya, terus kan dididik agama itu dari kecil, a kedua keduanya kita juga mendengarkan khotbah dari pastur dari suster, dari kenyataan duniawi ya, bagaimana orang yang tidak punya pegangan seperti itu, kadang mau dimakamkan saja bingung. Selain itu, terdapat juga temuan lain yang tergolong dalam kondisi egointegrity yaitu mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan (P1 dan P3). Kemampuan untuk menyesuaikan diri ini menggambarkan bagaimana lansia mampu untuk berbaur di lingkungan yang menjadi tempat tinggal mereka sebagai cerminan dari adaptasi pasif. Hal ini dibuktikan dari kutipan berikut: Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan P1 Saya itu sering main mbak ke wisma yang lain, berbaur yaa semua kenal saya kadang ngobrol ya cerita yaa mudah ya menyesuaikan dengan sini,

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 dulu saya juga pindah-pindah ketemu orang yang ganti ganti, bisa-bisa mbak dulu kan saya dulu juga manggung pindah—pindah Dapat disimpulkan, pada wilayah Adapting to thriumphs and disappointments partisipan P1 dan P3 cenderung mampu mencapai egointegrity, berupa kemampuan untuk menggerakkan lingkungan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal ini diduga sesuai dengan latar belakang kedua partisipan yang memiliki pekerjaan yang membanggakan bagi diri mereka di masa lalu. Dalam menjalani pekerjaan ini, mereka terbiasa untuk bekerjasama dengan orang lain. P1 adalah pemimpin srimulat yang sering melakukan pementasan di lokasi yang berbeda sehingga banyak bertemu dengan orang-orang baru. Selain itu, P1 juga sering dilibatkan dalam kegiatan yang diadakan di rumah pelayanan seperti memberikan sambutan. Selanjutnya, P3 adalah seorang mantan guru TK dan perawat. Pekerjaannya tersebut membuat beliau mengenal banyak orang sehingga mampu mendukung kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan orang-orang baru. Selain itu, di rumah pelayanan P3 masih memiliki inisiatif untuk menggerakkan kegiatan kreativitas para lansia lainnya. b. Despair Kondisi despair pada wilayah ini cenderung mengantarkan lansia pada perasaan rendah diri yang mengakibatkan mereka enggan untuk berpartisipasi dan cenderung memiliki kesulitan untuk beradaptasi. Pada wilayah ini, penelitian menemukan pengalaman yang tergolong dalam kondisi despair yaitu keengganan untuk berpartisipasi (P2 dan P4) yang dipicu oleh rasa takut

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 ketika orang lain tidak mau melaksanakannya. Hal ini dapat terlihat dari kutipan berikut. Keengganan untuk berpartisipasi P2 Saya nggak mau ikut-ikut seperti itu gak mau. Saya takutnya begini, misal saya itu menggerakkan ya satu orang dua orang, mungkin mau yang lainnya kan engga. Kayak misal yang saya khawatirkan disitu. Saya sendiri hanya nunut yaa hanya mondok gitu kan, nanti kalo ada apa-apa saya terus di gursah gitu kan susah sendiri saya. Selain itu, pengalaman lain yang tergolong dalam kondisi despair adalah sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan (P2 dan P4). Kondisi ini membuat lansia lebih memilih untuk sendirian atau mengasingkan diri dari lingkungan yang disebabkan oleh rasa takut pada perselisihan ketika berbaur dengan orang lain seperti apa yang dilakukan oleh P2 dan P4 di lingkungan panti. Hal ini dapat terlihat dari kutipan berikut. Kesulitan menyesuaikan diri P4 Peneliti: Kalo sama orang-orang satu wisma sini mbah aman mbah? P4: Saya gak tahan mbak, omong-omongannya ganas-ganas, tapi tak nengke wae. Kalo gitu saya tak tinggal pergi, main di belakang bengokbengok ogah, kan lebih bagus. Daripada bengok kan masalah bengok, kalo pergi kan gapapa Peneliti: Kalo yang paling nyaman siapa mbah? P4: Ya Gak ada mbak, semua biasa aja, kalo mau sama saya ya iya, kalo engga yasudah, nengke wae. Peneliti: Berarti mbah secara keseluruhan belum merasa nyaman ya mbah disini? P4: Menyesal, tapi ya bagaimana lagi ya mbak ya, wong hari itu masih panjang. Dapat disimpulkan, pada wilayah Adapting to thriumphs and disappointments partisipan P2 dan P4 cenderung terperosok pada kondisi despair. P2 dan P4 cenderung tidak memiliki inisiatif untuk berperan dalam kegiatan masyarakat. Hal ini diduga terkait dengan latar belakang tempat

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 tinggal partisipan dulu yang cenderung memiliki masa lalu yang suram. P2 tinggal bersama ibu tiri yang cenderung galak dan di masa tuanya beliau dibiarkan tinggal sendiri di rumah kontrakan sehingga kehidupan beliau mengandalkan belas kasihan tetangga sekitar. P4 tumbuh di lingkungan keluarga yang kurang harmonis karena sosok ayah yang pemabuk. Sang ayah sering tidak mendengarkan nasihat dari P4 dan cenderung mengabaikanya. Selain itu, P4 cenderung sering dibicarakan oleh tetangga sekitar karena pekerjaan yang dijalani cenderung sering berinteraksi dengan banyak laki-laki. 2. Spirituality atau spiritualitas a. Ego-integrity Dalam wilayah Spiritualitas, kondisi ego-integrity mencerminkan bagaimana lansia cenderung memaknai kehidupan secara positif karena keterlibatan Tuhan di dalamnya. Pada penelitian ini, ditemukan beberapa pengalaman yang mencerminkan kepercayaan seseorang terhadap kehadiran Tuhan yang mereka aplikasikan lewat kekuatan doa (P1, dan P3). Pengalaman ini terdiri dari dua konteks yang berbeda seperti, berdoa untuk meminta sesuatu dan berdoa untuk pengampunan dosa. Berdoa untuk meminta sesuatu kepada Tuhan agar orang lain merasa senang ketika berkunjung ke panti, misalnya pada kutipan berikut: Berdoa agar tamu senang P1 Oh saya itu yang namanya dengan Tuhan dekat sekali, sebab saya itu tidak mengurangi sholat itu. Nuwun sewu bagi usia saya kalo mau bangun jam 12 itu sangat berat. Tapi saya usahakna jam 12 tahajud.. agar tamunya nanti seneng disini, sebab kalo begitu itu kebanggan bagi saya.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 Selain itu, pengalaman lainnya yang muncul adalah berdoa untuk pengampunan dosa (P3) yang pernah diperbuat selama masa hidupnya misalnya pada kutipan berikut: Berdoa tobat akan dosa P3 Malam itu betul-betul aku gunakan untuk berdoa terus, ya yang pertama jelasnya mohon ampun ya, doa tobat. Dosa aku kan udah banyak sekali dari 0 sampe ke sekian tua, supaya besok tu ndak terlalu berat, banyak dosaku itu, ndak bisa dihitung Terdapat pula pengalaman bersyukur (P1 dan P3) atas apa yang dikehendaki Tuhan dan menjalani hal tersebut apa adanya. Hal ini dapat terlihat dari kutipan berikut. Bersyukur atas kehendak tuhan P1 Penyesalan dulu anu, apa itu saya kok dilahirkan di tempat di tempat orang yang seneng berjudi seneng tawuran, itu dulu, dulu. La tetapi kan itu kemauan Tuhan yang demikian itu saya syukuri, lah sebab saya manusia itu kan seperti wayang saja, wayang lulang itu toh. Nah itu kan manut kepada dalangnya, nah seperti orang di dunia ini lak manut dengan Tuhan, ya hanya manusia di lalu di bayar usaha. Tapi yang menentukan tu sana yaa. Yaa akan masuk neraka masuk surga ya sana. Dari pemaparan di atas, P1 dan P3 cenderung mampu untuk mencapai kondisi ego-integrity dalam wilayah Spirituality. Mereka memiliki kepercayaan akan keberadaan Tuhan dalam kehidupannya dan memaknai hal tersebut sebagai hal positif. Kemampuan untuk merefleksikan hal ini diduga didukung oleh latar belakang keluarga yang sering memberikan nasihat keagamaan. Keluarga mendampingi mereka untuk percaya akan keberadaan Tuhan yang selalu mengantarkan umatnya pada kebaikan sehingga mereka cenderung mensyukurinya dan menjalaninya dengan ikhlas. Hal ini dicerminkan oleh perilaku yang cenderung rajin berdoa dan bersyukur atas karunia Tuhan. Di

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 masa tuanya P1 dan P3 mengaku bahwa mereka meluangkan waktu lebih banyak untuk berdoa dan bersyukur atas apa yang telah terjadi dalam kehidupan mereka. b. Despair Lansia yang terperosok pada kondisi despair dalam wilayah spirituality cenderung menyesali kehendak Tuhan yang terjadi dalam hidupnya sehingga mereka enggan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan. Dalam penelitian ini ditemukan dua partisipan yang memiliki kecenderungan despair, mereka memiliki penyesalan akan takdir Tuhan yang mereka jalani saat ini (P2). Hal ini dapat terlihat dari kutipan berikut: Menyesali takdir Tuhan P2 Kok Tuhan kok memberi saya begini gitu lah, haa itu sa anu sa anu gandeng sa anu apa itu cep sa gandengken sama pepesen. Pepesaen itu, nasibnya. Nasibnya dari sana saya harus begini. Jadi saya hanya menjalankan apa yang dikehendakinya, yaa sering-sering tu kesel kok saya begini aa tu sering-sering begitu kan. Kok saya tidak seperti itu, itu gitu Berkaitan dengan hasil sebelumnya, peneliti juga menemukan bahwa lansia yang terperosok pada kondisi despair dalam wilayah ini memiliki keengganan untuk melaksanakan ibadah (P4). Hal ini dilakukan karena partisipan merasa beribadah dalam keadaan kesal terhadap orang lain tidak akan ada gunanya. Hal ini dapat terlihat dari kutipan berikut: Berhenti sholat lima waktu P4 Partisipan: Kalo mbah masih rutin sholatnya 5 waktu? P4: Saya ini, mandek. Besok kalo kalo nek (misalnya) sholat tur (tapi) jengkel kan percuma to mbak?…banyak yang gak suka sama saya,

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 banyak, tapi saya diamkan saja. Biasa saya gitu, saya kesel mbak. Saya gak terima mbak umpama, Berdasarkan pemaparan di atas, P2 dan P4 cenderung terperosok pada kondisi despair. Dalam hal ini, mereka menyesali takdir yang diberikan Tuhan pada kehidupannya. Kondisi ini menjadi salah satu alasan perilaku enggan beribadah sebagai salah satu bentuk penyesalan kepada Tuhan akan kehidupan yang selalu diselimuti oleh kesulitan. Penyesalan terhadap Tuhan ini diduga sesuai dengan keadaan himpitan ekonomi yang selalu menyelimuti kehidupan P2 dan P4 di masa lalunya. Mulai dari kehidupan keluarga yang tidak berkecukupan sehingga mereka harus putus sekolah dan memutuskan untuk bekerja serabutan. 3. Accept the past as meaningful atau menerima masa lalu sebagai sesuatu yg berarti a. Ego-integrity Lansia yang didominasi oleh kondisi Ego-integrity pada wilayah ini memiliki kecenderungan untuk menerima pengalaman masa lalu secara positif. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa P1 dan P3 cenderung mampu untuk menerima pengalaman negatif dalam hidupnya seperti kegagalan. Beliau menerima kegagalan dengan cara menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Hal ini dapat terlihat dari kutipan berikut. Kegagalan sebagai motivasi P1 Mirik I enggo marmoyo olo ben di nganu di kuyuh kuyuh penonton (mengejek marmoyo saya jelek, saya di permalukan penonton). Gitu iya

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 iya. Ini sebetulnya demikan ya yang namanya gagal, gagal ya situ jangan sampai takut gagal. Takut gagal jangan sampai sebab gagal itu bukan suatu kehancuran, justru gagal itu awal dari kesuksesan… Lah itu saya lak belum tau nah… saya pagi-pagi minta anu pamit dengan anu saya akan mencari anu apa itu e bahan apa itu bahan ngapak dan dari ceritanya dan lain-lain saya bisa akhirnya…jadi kalo gak saya gak rame waktu itu. P1 dan P3 cenderung mampu untuk mencapai kondisi Ego-integrity dalam wilayah ini. Hal yang memotivasi P1 untuk menerima pengalaman negatif yang terjadi dalam hidupnya adalah dengan memaknai pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang perlu diperbaiki untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam konteks ini, P1 menjadikan pengalaman kegagalan yang terjadi di masa lalu sebagai motivasi untuk terus belajar mengembangkan kemampuan lawakannya sehingga dapat terus menghibur orang banyak. Motivasi ini juga didukung oleh teman-teman seperjuangan P1 dalam grup lawak yang sama, yaitu Giyok grup. b. Despair Seseorang yang terperosok dalam kondisi despair pada wilayah ini cenderung tidak menerima pengalaman masa lalunya. Mereka menyesali apa yang telah terjadi di masa lalu. Dalam penelitian ini, penyesalan masa lalu utama yang ditemukan bersumber dari keluarga. Penyesalan ini muncul karena perilaku keluarga (P2 dan P4) yang tidak sesuai dengan keinginan responden, seperti kenakalan pada anak dan perilaku menyimpang pada ayah. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut: Menyesali perilaku anak P2 Tapi anak saya itu nakal sekali, pertama ya waktu saya masih bisa ya dia itu minta motor, motor ninja itu lo. Untuk balapan itu, tiap malam itu dia

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 itu di kalasan, SGM untuk balapan liar. Ya hura-hura. Masuk SMA Piri aa katanya masuk sekolah tapi nyatanya engga padahal sekolahan Piri sama tempat saya itu hanya deket…Hari raya yang kemarin dulu itu saya nyesel, artinya itu ada dari anak saya itu di beri roti sama apa minuman itu yaa. Tapi yang kemarin itu engga, yang kemarin lagi engga lagi yasudah. Menyesali perilaku ayah P4 Yaa dulu saya kan di rumah itu di kemetiran, bapak saya itu ya gitu mbak seneng judi tu lo bapak saya.mangkel e mbak, gk tanggung jawab to itu, nyiksa anak barang to mbak, lali mbak keluarga nek udah judi mbak. Pengalaman masa lalu lainnya yang masih belum diterima sepenuhnya adalah kehidupan masa lalu yang cenderung berkekurangan dalam hal ekonomi. Hal ini dapat terlihat dari kutipan berikut: Hidup tidak berkecukupan P2 saya disitu mungkin dipandang orang-orang yang apa sekitar tempat saya itu rekoso gitu, rekasa. Rekasa itu, sengsara gitu lah… untuk makan susah…soalnya misalnya kadang cari sendiri, ya betul kalo saya itu diberi jaminan (oleh anak), tapi jaminan kan gak cukup soalnya hanya sehari dijamin 5000. P2 dan P4 cenderung diselimuti oleh kondisi despair. Hal ini terlihat dari perasaan menyesal akan masa lalu yang belum bisa diterima oleh partisipan. Penyesalan ini diduga muncul karena perilaku keluarga yang tidak sesuai dengan apa yang responden inginkan ditambah lagi dengan kondisi ekonomi yang terbilang jauh dari cukup. Faktanya, P2 dan P4 sama-sama hidup di antara keluarga yang tidak memperdulikan mereka. P2 memiliki anak yang nakal dan di masa tuanya beliau dibiarkan menghuni rumah kontrakan sendiri oleh anaknya sehingga mengandalkan belas kasihan dari warga sekitar. P4 hidup di

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 tengah sosok ayah yang hobi berjudi dan tidak menghiraukan kehidupan istri dan anak-anaknya. 4. Tolerance and acceptance of others atau mentoleransi dan menerima kehadiran orang lain a. Ego-integrity Dalam wilayah Tolerance and acceptance of others, kondisi ego-integrity mencerminkan bagaimana lansia secara keseluruhan mampu menerima perbedaan yang ada pada setiap individu tanpa adanya persyaratan ataupun penilaian. Dalam penelitian ini ditemukan pengalaman yang cenderung mengarah pada kondisi tersebut, yaitu menerima perbedaan orang lain dengan cara menyesuaikan diri dengan karakteristik individu yang berbedabeda. Hal ini terlihat dari kutipan beikut: Menerima perbedaan P1 Sekarang saja ya kalo di panti ini, di panti ini kan orangnya itu dulu profesinya itu lak lain-lain. Nah jadi wataknya itu kesemuanya jadi saya itu menghadapi orang-orang disini, nah ada skitar 60 hati saya saya bagi 60 demikian jadi, sebab saya yang lebih dituakan disini, nah yayasudah. Pokoknya anu ngapa itu, sana kok orangnya seneng ini ya, yo beri ini lo ini ok seneng e gulo yo, gulo, ini kok uyah begini..Jadi kita dapat melayani yaitu yang namanya bahagia disini letaknya, tidak lalu mempunyai gedung yang mewah, ndah-ndak. Dari pemaparan di atas, P1 cenderung mampu mencapai kondisi egointegrity dalam wilayah ini. Hal ini diperlihatkan melalui perilaku P1 yang cenderung menerima karakteristik pribadi yang berbeda-beda. Beliau mencoba untuk menerima mereka dengan cara menyesuaikan diri dengan karakter orang lain yang ditemuinya. Kemampuan ini dilatarbelakangi oleh kegiatan P1 yang sering melakukan pementasan lawak di daerah yang berbeda sehingga bertemu

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 banyak orang dengan karakter yang berbeda pula. Dari hal inilah, beliau belajar melihat perbedaan orang lain dan menerimanya. b. Despair Kondisi despair pada wilayah ini mencerminkan bagaimana seseorang belum mampu untuk menerima orang lain sepenuhnya. Mereka memiliki syarat bagi orang lain untuk bisa diterima. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa partisipan cenderung memiliki penilaian negatif terhadap orang lain (P2, P3, dan P4) karena mereka memiliki kriteria untuk dapat menerima orang lain seutuhnya. Ketika kriteria tersebut tidak terpenuhi, mereka cenderung memiliki pandangan negatif kepada orang lain. Hal ini dapat terlihat dari kutipan berikut: Belum bisa menerima perilaku seseorang P3 Kita kalo gak melihat dari asal usul dia ya udahlah sama-sama gila, bagaimana engga, dia dari 8 tahun loh hidup dijalanan, sampai usia 60, nah kan sifatnya sudah lain to, banyak liarnya, banyak rusaknya, apalagi setelah dewasa, ngamen kesana kemari sama anak laki-laki terus kumpulannya preman-preman bagaimana kita mau lawan, aku mikirnya kesitu….Kalo karakternya memang sudah gak karu-karuan ya, banyak disini yang udah jadi korbannya itu, yang lain wisma maksudku ya, yang dimusuhi dia banyak…aku itu, kalo saat ini memang belum bisa menerima….untuk saat ini belum, aku sebelum lihat dia jadi orang baikbaik kayak yang lain aku gak bisa aku, kecuali dia sudah bertobat. Dapat disimpulkan, terhadap wilayah Tolerance and acceptance of others tiga partisipan (P2, P3, dan P4) lebih didominasi oleh kondisi despair. Kondisi despair ini muncul dalam bentuk penilaian negatif tentang para penghuni lansia lainnya yang dipicu oleh perbedaan norma setiap individu. Lansia yang terperosok dalam kondisi despair pada wilayah ini cenderung tidak memiliki kemampuan untuk menerima perbedaan dan memahami norma individu lain yang berbeda dengan dirinya. Hal ini dilatarbelakangi oleh kehidupan

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 partisipan sebelumnya dimana mereka cenderung menerima penilaian negatif dari lingkungan sekitar. Sebagai contoh, P4 sering menerima kritikan negatif dari tetangga sekitar karena pekerjaan yang dilakoni. P4 adalah seorang pelayan di sebuah restaurant yang pengunjungnya didominasi oleh laki-laki dan P4 bertugas untuk melayani pesanan dari pengunjung tersebut. Tidak jarang P4 diantar pulang oleh pengunjung yang telah ia layani. Peristiwa inilah yang memicu gosip di kalangan masyarakat tentang P4. 5. A sense of being part of a larger history that includes previous generations atau perasaan menjadi bagian berharga di masa lalu. a. Ego-integrity Dalam wilayah A sense of being part of a larger history that includes previous generations, kondisi ego-integrity mencerminkan bagaimana partisipan cenderung memiliki kebanggaan atas apa yang mereka lakukan di masa lalu. Pada penelitian ini, ditemukan beberapa pengalaman yang mencerminkan kebanggaan atas apa yang telah mereka lakukan semasa hidupnya. Hal yang dominan muncul dan membuat lansia merasa bangga berkaitan dengan pekerjaan (P1, P3, dan P4) yang mereka lakukan di masa lalu. Pekerjaan ini membuat mereka bangga karena mampu memenuhi kebutuhan keluarga pada saat itu. Hal ini terlihat dari kutipan berikut: Bekerja untuk membantu P4 Mesti kerja terus, kerja di restoran barang…Kerja apa aja jual roti jalan solo, pasar demangan jual pelastik, ketandan yo pernah saya, buntelin permen di kemetiran itu, apa apa saya kerjain mbak, tukang saya ngewangi itu. Seneng mbak, anak kecil kan gak bisa apa-apa to mbak. Kan adik saya punya anak kecil, semua saya lakoni..Yaa walaupun saya

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 ndak bisa apa-apa mbak, tapi saya ming bisa membantu, merawat dia sampai dia meninggal ibu saya sama adik saya itu. Saya juga merawat 3 anaknya, sekarang udah kerja…bangga saya mbak, merawat bapak e barang. Kerja rekoso tapi kan dikit-dikit. Gk ketang makan apa tapi kan makan…. Di sisi lain, pekerjaan merupakan sesuatu yang membuat seseorang bangga karena melalui pekerjaan mereka mampu menuai banyak pujian dan apresiasi. Bangga dengan pekerjaan P1 Jawab: Penonton senang dengan saya. Lalu, pindah pindah pindah dan tiap saya berkata dengan jawa kromo selalu saya selingi dengan lafal arab. Lah itu sampai Jawa Tengah kalo marmoyo bukan saya gak anu dulu. Gak rame anu di Magelang dulu pasar malem, nek marmoyo jikok pak Giyo pak Gio ae, mesti (mengajungkan jempol) kae (kalau mau ada pertunjukan lawak undang pak giyo aja pasti sip itu) nah gitu itu. Tanya: Oh, di request gitu yaa. Jawab: Iyaa iya, dimana-mana saya... Lalu saya suruh pulang lalu nganu ngapa itu menduduki disitu apa itu anu membina kebudayaan di kabupaten Temanggung Berdasarkan pemaparan di atas, terlihat bahwa P1, P3, dan P4 cenderung mampu mencapai kondisi ego-integrity dalam wilayah ini. Salah satu hal utama yang membuat mereka merasa berharga berkaitan dengan pekerjaan yang pernah mereka laukan di masa lalu. P1 bangga atas pekerjaannya sebagai seorang pelawak yang mampu menyebarkan nasihat melalui lawakannya dan menghibur banyak orang. P3 adalah seorang guru yang kemudian memutuskan untuk menjadi seorang perawat. Penghasilan dari pekerjaannya ini mampu membantu kehidupan keluarga kecilnya serta adik kandungnya untuk melanjutkan sekolah. P4 pernah menjadi seorang pelayan restoran, pembuat roti, dan tukang pijat. Semua pekerjaan ini mampu membuat beliau

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 menggantikan peran ayahnya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. b. Despair Lansia yang terperosok pada kondisi despair dalam wilayah ini cenderung merasa tidak berguna karena tidak memiliki pencapaian yang berarti semasa hidupnya. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa P2 cenderung merasa tidak berguna karena semasa hidupnya ia belum mampu memberikan penghidupan yang layak bagi keluarga kecilnya. P2 terbilang sering mendapatkan bantuan dari keluarganya yang lain untuk memenui kehidupan sehari-harinya. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut: Sering menerima bantuan P2 P2: Saya disitu mungkin dipandang orang-orang yang apa sekitar tempat saya itu rekoso gitu, rekasa Peneliti: Apa itu mbah indonesianya mbah? P2: Rekasa itu, sengsara gitu lah…mbok bereknya itu, mbok berek itu yang jualan ayam goreng, itu melihat keadaan saya terus saya itu setiap siang disuruh minta makan situ, pokoknya tiap jam 12… saya dapat bantuan dari mbak ina itu sehari. Pokoknya 10 kg itu 5 hari 10 kg. Oh 5 hari 10 kg. Itu tiap minggu Berdasarkan kutipan di atas, P2 cenderung didominasi oleh kondisi despair. P2 lebih cenderung merepotkan orang lain karena ia tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi dirinya sendiri ataupun keluarganya di masa lalu. Kondisi ini disebabkan oleh pekerjaan yang tidak menetap sehingga penghasilan yang diperoleh juga tidak dapat diandalkan. Hal itu membuat P2 teperosok ke dalam perasaan tidak berharga. Pada saat peneliti menanyakan

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 seputar kehidupan masa lalunya, P1 tampak berderai air mata saat menceritakan kehidupannya yang tidak berkecukupan. 6. Absence of death-anxiety atau bebas dari perasaan takut akan kematian a. Ego-integrity Absence of death-anxiety adalah suatu kondisi lansia yang cenderung tidak memiliki ketakutan akan kematian. Seseorang yang memiliki kecenderungan ego-integrity dalam wilayah ini menganggap kematian bukanlah sesuatu yang mengganggu dan mereka sangat jarang memikirkannya. Peneliti menemukan bahwa seluruh partisipan tidak memiliki ketakutan dalam menghadapi kematian karena mereka mengaggap hal tersebut adalah kehendak Tuhan yang harus dijalani. Hal ini terlihat dari kutipan sebagai berikut. Tidak takut mati P1 Ohh enggak-enggak. Itu saya hanya terserah sana kok, saya terserah. P2 Kalo mati tu ndak takut, kan sudah itu sudah apa sudah harus dijalani. P3 Endak.. engga mbah aku malah kalo dalam doa mintanya jangan sampai aku itu di tarok di isolasi ya, kalo memang Tuhan mau ambil P4 Enggak, tidak takut. Terserah sana mbak, ya saya yaa sudah siap mbak Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa partisipan cenderung tidak memiliki ketakutan akan kematian (P1, P2, P3, dan P4). Mereka menganggap kematian adalah sesuatu yang pasti dan berjalan sesuai kehendak Tuhan sehingga mereka berpasrah sepenuhnya kepada yang kuasa. Selain alasan tersebut, ditemukan pula alasan yang mendukung partisipan cenderung

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 tidak takut akan kematian, yaitu biaya pemakaman gratis. Pihak Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma Yogyakarta memberikan pelayanan gratis bagi pemakaman seluruh lansia. Aturan ini diterapkan sebab rata-rata lansia yang tinggal di rumah pelayanan ini sudah tidak memiliki kontak dengan keluarganya. Menurut pihak rumah pelayanan, keluarga yang dihubungi atas berita kedukaan lebih sering menyerahkan sepenuhnya kepada pihak panti. Terkait kematian, terbukti tidak satupun para responden menunjukkan gejala despair. 7. Freedom from the feeling that time is running out atau bebas dari perasaan bahwa waktu yang dimiliki untuk hidup hampir habis a. Ego-integrity Lansia yang berhasil mencapai ego-integrity dalam wilayah ini cenderung tidak memiliki keinginan yang belum tercapai. Ia cenderung sudah menyelesaikan tujuan yang diinginkan semasa hidupnya. Dalam penelitian ini, P1 adalah partisipan yang cenderung mampu mencapai ego-integrity. P1 mengungkapkan bahwa sudah tidak ada lagi keinginan yang belum tercapai. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut: Tidak ada keinginan yang belum tercapai P1 Peneliti: Kalo dari apa cerita mbah tadi, mbah punya gak sih keinginan yang dari dulu belum tercapai sampai sekarang? P1: Ohh ndak-ndak. Peneliti: Ndak ada mbah? Berarti sudah ya istilahnya sudah tercapai ya lah mbah ya. P1: Iya, saya sudah apa itu semuanya ya sudah saya rasakan ya Berdasarkan pemaparan di atas, P1 cenderung mampu untuk mencapai kondisi ego-integrity. Hal ini didukung oleh latar belakang partisipan yang

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 diuangkapkan beliau lewat cerita-ceritanya. Cerita hidup beliau didominasi oleh pengalaman-pengalaman yang memuaskan, seperti menjadi pelawak terkenal, mampu menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi, menjadi narasumber aktif di rumah pelayanan sosial, serta penuh dengan tutur kata bijak. Melalui hasil observasi, beliau terlihat menikmati sisa hidupnya di rumah pelayanan. Beliau sering melakukan hal-hal yang ia senangi, contohnya dengan bernyanyi, jalan-jalan ke pasar, dan membersihkan koleksi batu akik yang dimilikinya. b. Despair Lansia yang terperosok dalam kondisi despair pada wilayah ini menghantarkan mereka pada pikiran bahwa waktu berjalan sangat cepat dan hampir habis. Pikiran ini muncul karena mereka masih memiliki keinginan yang belum tercapai, seperti harapan untuk sehat, harapan untuk dapat melihat kesuksesan anak atau cucu, dan harapan untuk dapat hidup mandiri. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut: Berharap sehat P3 Aku bilang ya cepet ya, cepat. Kenapa mbah menurut mbah, kenapa waktu berjalan cepat? Cepatnya gini ya, sekarang taro aja, umpama ini hari minggu ya, kondisi ku kemarin aja lo, ini yang fakta lo ya, kondisi ku seminggu lalu aja masih seger, waktu disana masih sehat to, aa terus masuk sini, sakit, kurang sehat, nah ditambah hari ditambah usia tabah kesehatan menurun Berharap dapat kesuksesan cucu P2 Yang kurang ya itu seperti yang saya omongkan tadi, belum mengetahui hidup cucu saya, misalnya gitu to. Aaa kalau seandainya saya sudah tau itu yaa hanya senang. Belum puas kalo belum lihat cucu saya itu rasanya. Masa saya masih mampu 6 tahun lagi kan ya belum tentu, 6 tahun tu lama

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 e. Nanti kan SMA kelas 3, 3 tahun mahasiswanya berapa, setelah kelas 3 SMA masih kuliah lagi kan. Berharap mempunyai pekerjaan dan rumah P4 Saya kepinginnya anu kok mbak, mandiri umpama disuruh jualan pa gitu mau umpama jual apa, jual makan-makanan saya seneng, mandiri… punya nggon punya rumah, seneng mandiri saya mbak, tapi gak punya rumah. Berdasarkan pemaparan di atas, P2, P3, dan P4 cenderung didominasi oleh kondisi despair pada wilayah ini. Harapan berupa memiliki pekerjaan dan rumah, menyaksikan kesuksesan cucu sebelum meninggal, serta memiliki kesehatan yang lebih prima belum mampu mereka rasakan karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan. Seperti halnya P2 yang dirundung desakan ekonomi sehingga harus tinggal berpisah dengan cucunya. Dalam harapannya, beliau ingin tinggal bersama cucunya dan melihat tumbuh kembangnya. P3 yang didera oleh penurunan fisik yang tiba-tiba sehingga tidak bisa menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang koordinator agama Katolik dan hal tersebut membuat beliau sedih. Ketika peneliti menanyakan hal ini, beliau meneteskan air mata, meratapi kondisi fisiknya yang sudah tidak seperti dulu lagi. P4 yang memiliki keinginan untuk bisa hidup mandiri, memiliki rumah, dan berjualan, terpaksa harus tinggal di rumah pelayanan karena desakan ekonomi dan penyakit diabetes yang dideritanya. 8. Emotional Integration atau integrasi emosi a. Ego-integrity Lansia yang berhasil mencapai ego-integrity pada wilayah ini cenderung mampu untuk merasakan emosi yang dialami, memahami emosi yang

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 dirasakan, dan mengungkapkannya dengan cara yang tepat. Dalam penelitian, ditemukan bahwa P1 dan P3 cenderung mampu mencapai integrasi emosi karena mereka cenderung mampu mengintegrasikan emosi sedih dan kecewa kepada orang lain. Mengintegrasikan emosi kecewa P1 Peneliti: Emm emmm. mbah pernah gk marah-marah sama orang panti? Orang panti yang sama tinggal di anti atau pengurusnya. P1: Wohh anu ada, apa itu nakal nakal nguji saya. Satu contoh ada tamu kemarin. Peneliti: He em. P1: Ada tamu, tamunya itu bilang sama saya mbah ini nanti nganu untuk mbah-mbah 100, toh hanya diberikan 50. Lalu saya melangkah ke kantor menanyakan sebetulnya bagaimana. Nah ini kok yang memberi sedemikian. Apa perlu ini saya masukan dalam surat kabar. Lah paginya di tambahin seket-seket. Mengintegrasikan emosi sedih P3 Suatu saat aku tu bilang, kak cobalah jangan buat ke billiard terus, kalo kalah gini kan sayang uangnya sampe abis gitu, kan bisa buat nambah beli kendaraan lagi apa apa, marah. Ini kan dia mau berangkat dinas ya, meja makan itu di gitu (memperagakan) jadi pecah semua, ancur berantakan, tapi aku gak ini aku cuma nangis tok, ya kecewa, ya sedih. Terus aku bilang, kan bapak mertuaku….Jadi aku ngebel,…Aku bilang, abah abah kerumah sebentar, kenapa? Itu kak Yeninya marah lagi kenapa? Udah nanti abah tau, udah dia datang baru aku cerita gini gini gini. Dapat disimpulkan, pada wilayah Emotional Integration P1 dan P3 cenderung mampu mencapai ego-integrity berupa kemampuan untuk mengintegrasikan emosi negatif seperti emosi sedih dan kecewa. Hal ini diduga sesuai dengan latar belakang kedua partisipan yang memiliki hubungan dekat dengan teman-teman atau keluarga di masa lalu. Kedekatan ini mendukung partisipan untuk menceritakan pengalaman negatif yang dirasakan dan mencari jalan keluar yang tepat. P1 memiliki banyak teman di masa lalu dan

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 pertemanannya berjalan dengan baik sehingga mereka sering untuk bercerita bersama. P3 memiliki kedekatan dengan kakek, nenek, maupun kedua orangtuanya di masa yang lalu. b. Despair Kondisi despair dalam wilayah ini mencerminkan bagaimana seseorang cenderung tidak mampu untuk mengintegrasikan emosinya pada suatu peristiwa. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa partisipan cenderung untuk tidak mengungkapkan emosi marah pada orang lain (P2 dan P4). Mereka memendamnya hingga menimbulkan perasaan tidak nyaman seperti sedih atau marah. Menekan emoni negatif marah P4 Yaa engga, semua itu banyak yang gak suka sama saya, banyak, tapi saya diamkan saja, saya gak minta makan sana, saya dibiayai pemerintah gitu aja. Kok mbah bisa tau kalo mereka gak suka sama mbah? Tau to, saya tu wong tau, oh itu sifatnya begini, oh itu begini, yasudah. Gimana rasanya mbah denger kalo mereka gak suka sama mbah? Yaa wong itu biasa to, iri dengki. Apa yang membuat mereka iri? Yaa gak tau, wong saya tak diamkan saja mbak, Atos tu lo mbak, sama-sama orang tua kok begitu, ya gak mau kalo digitukan. Contohnya gimana mbah? Kalo gitu saya tak tinggal pergi, main di belakang bengok-bengok ogah, kan lebih bagus. Kenapa lebih bagus? Daripada bengok kan masalah bengok, kalo pergi kan gapapa Dapat disimpulkan, terhadap wilayah Emotional Integration pada P2 dan P4 cenderung didominasi oleh kondisi despair. Hal ini diduga dipicu oleh kondisi masa lalu partisipan yang cenderung tidak memiliki ruang untuk mengungkapkan emosi yang mereka rasakan karena kondisi keluarga yang tidak harmonis. Kondisi ini diduga berkaitan ungkapan partisipan yang secara umum tidak memiliki kedekatan yang intens dengan siapapun selama tinggal di

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 rumah pelayanan. Hubungan pertemanan yang mereka jalani hanya teman biasa, tidak ada momen bagi mereka untuk dapat menceritakan hal-hal yang lebih bersifat pribadi. Oleh karena itu, keterbukaan yang terjalin antar lansia ataupun petugas panti terbilang rendah. 9. Life satisfaction atau kepuasan hidup Kepuasan hidup adalah sejauh mana penilaian menyeluruh dari perasaan dan sikap seseorang tentang kehidupan yang dijalani. Semakin mampu seseorang menilai positif kualitas hidupnya secara keseluruhan, maka ia akan berhasil mencapai ego-integrity. a. Ego-integrity Kondisi ini mencerminkan bagaimana seseorang secara keseluruhan mampu menilai kehidupan yang dijalani secara positif meskipun ada beberapa hal yang belum tercapai. Dalam penelitian ini, dua partisipan (P1 dan P3) mengaku bahwa mereka cenderung puas akan kehidupan yang telah dijalani. Mereka mengungkapkan bahwa penilaian positif akan kehidupan lebih besar dibandingkan dengan hal-hal negatif. Hal ini tercermin dari kutipan berikut: Cenderung puas dengan hidup P3 Peneliti: Seberapa kepuasan hidup mbah menurut mbah pribadi? P3: Kalo untuk saya itu sebetulnya aku bilang 80% gini ya, selama saya di dunia tadi udah cerita to dari kecil aku udah udah di atas delapan delapan puluh persenan. Karena merasakan hidup enak ya, remajanya ndak begitu, nah sekarang ni kan tinggal masa tua ya, harus dijalani seperti ini. Dari pemaparan di atas, P1 dan P3 cenderung puas dengan kehidupannya secara keseluruhan. Mereka menyadari bahwa memang ada beberapa hal yang

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 belum tercapai, namun hal tersebut mereka terima sebagai sesuatu yang harus terjadi. P3 meyakini bahwa ini adalah jalan yang sudah disediakan Tuhan dan kewajiban yang harus beliau lakukan adalah bersyukur. Salah satu hal yang membantu P3 untuk mampu menerima kehidupannya secara positif adalah kedekatan beliau dengan Tuhan. Beliau meluangkan banyak waktu untuk mengucap syukur dan berdoa di masa tuanya. b. Despair Kondisi despair pada wilayah ini cenderung menghantarkan lansia pada perasaan cenderung tidak puas akan kehidupan (P2, dan P4) yang mereka jalani. Ungkapan-ungkapan kekecewaan lebih mendominasi ketika wawancara dilakukan. Hal ini dapat terlihat dari kutipan berikut: Tidak puas akan kehidupan P2 P2: Hehe, sbetulnya hidup itu rasa puasnya itu ndak ada sebetulnya, hanya mengatakan puas itu hanya diluar saja, sebetulnya dalam hati itu ndak ada kepuasan. Perasaan ini diduga muncul karena kehidupan yang lansia jalani di masa lalu didominasi oleh keadaan yang sulit seperti desakan ekonomi, sakit, keluarga yang tidak harmonis, dan kesepian yang terjadi di masa lalu. Berdasarkan pemaparan hasil di atas, dapat disimpulkan bahwa dua partisipan (P1 dan P3) cenderung didominasi oleh pengalaman positif dalam menghadapi krisis psikososial tahap delapan. Oleh karena itu, P1 dan P3 secara keseluruhan dikatakan berhasil dalam menghadapi krisis psikososial tahap delapan karena lebih didominasi oleh pengalaman ego-integrity dibandingkan

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 dengan despair. Sebaliknya, P2 dan P4 lebih didominasi oleh pengalaman negatif di masa tuanya yang menuntun mereka pada kondisi despair. D. Pembahasan Dalam pembahasan ini, peneliti akan memaparkan penemuan yang berkaitan dengan pengalaman lansia terlantar menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan. Keberhasilan dalam menghadapi krisis ini akan menuntun partisipan pada kondisi yang didominasi oleh ego-integrity. Sebaliknya, ketika partisipan gagal dalam menghadapinya, maka mereka akan terperosok ke dalam kondisi despair. Dalam penelitian ini, ditemukan 3 faktor yang diduga menentukan berhasil atau tidaknya partisipan dalam menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan. Faktor-faktor tersebut adalah masa lalu, kondisi fisik masa kini, dan masa depan menghadapi kematian, berikut pemaparannya. 1. Masa lalu Masa lalu diduga menjadi salah satu faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya partisipan dalam menghadapi krisis psikososial di masa tua mereka. Partisipan yang didominasi oleh pengalaman positif di masa lalu cenderung mampu mencapai kondisi ego-integrity di masa tuanya. Akan tetapi, partisipan yang didominasi oleh pengalaman negatif di masa lalu cenderung terperosok pada kondisi despair. Masa lalu dalam penelitian ini berupa pengalaman yang berkaitan dengan (1) kondisi ekonomi, (2) pekerjaan, dan (3) hubungan dekat dengan keluarga di masa lalu.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 a. Kondisi ekonomi Partisipan yang terlahir di keluarga dengan kondisi ekonomi menengah cenderung tercukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti makanan, pakaian, dan obat-obatan. Selain itu, partisipan juga terpenuhi dalam bidang pendidikan sehingga mereka memiliki kesempatan untuk menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Kondisi ini mendukung partisipan terbebas dari perasaan akan kehabisan waktu di masa tua karena keinginan yang mereka inginkan cenderung sudah dapat terpenuhi di masa lalu. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang tidak baik di masa lalu mengakibatkan partisipan harus ikut mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lebih daripada itu, kondisi ini juga diduga membuat partisipan tidak mampu mewujudkan keinginannya di masa lalu, salah satunya adalah keinginan untuk menuntut pendidikan yang lebih tinggi. Keinginan yang belum tercapai di masa lalu diduga membuat lansia cenderung tidak mampu menerima keadaan masa lalu secara utuh di masa tuanya sehingga menuntun mereka pada kondisi despair. b. Pekerjaan Pekerjaan yang digeluti di masa lalu juga menjadi salah satu hal yang diduga membantu partisipan mencapai ego-integrity. Pekerjaan yang menghasilkan mampu membantu orang-orang yang ada di sekitar partisipan dan kalangan yang membutuhkan uluran tangan mereka. Memberi bantuan kepada orang lain menjadi kebanggaan bagi partisipan saat ini karena perannya di masa lalu yang bermanfaat. Selain itu, melalui pekerjaan para partisipan mampu membangun relasi yang luas di masa lalu. Kepandaian partisipan menjalin relasi

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 di dunia kerja diduga mampu mendukung kemampuan untuk beradaptasi di masa tuanya. Partisipan yang telah terbiasa memiliki peran dalam bidang pekerjaan di masa lalu akan cenderung lebih aktif dalam kegiatan-kegiatan di masa tua. Terlihat dalam penemuan dari penelitian ini, yakni partisipan yang memiliki pengalaman positif dalam kegiatan berelasi cenderung memiliki inisiatif yang cukup tinggi untuk melakukan perubahan demi mencapai sebuah tujuan atau yang sering dikenal sebagai adaptasi aktif. Selain uraian di atas, kemampuan ini juga mendukung partisipan untuk lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. Namun, pekerjaan yang kurang menjanjikan di masa lalu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari karena hasil yang diperoleh tidak menentu. Hal ini cenderung memicu perasaan gagal di masa lalu karena tidak mampu menghasilkan pundi-pundi uang yang lebih di usia produktif mereka. Kegagalan di masa lalu menjadikan partisipan cenderung memaknai dirinya sebagai seseorang yang tidak berguna di masa tuanya. Partisipan dalam kondisi ini cenderung diselimuti oleh perasaan kecewa terhadap kehendak Tuhan yang terjadi pada dirinya di masa lalu sehingga memicu kerenggangan hubungan spiritual dengan sang Pencipta di masa tuanya. c. Hubungan dekat dengan keluarga atau teman Hubungan dekat/hangat dengan keluarga diduga menjadi salah satu faktor yang membantu partisipan berhasil mencapai kondisi ego-integrity di masa tuanya. Salah satu peran keluarga atau teman-teman di masa lalu adalah membantu seseorang untuk bangkit dari kegagalan yang dialami kala itu sehingga tidak ada lagi penyesalan yang terbawa hingga hari tua. Partisipan yang memiliki

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 kedekatan dengan keluarga atau teman di masa lalu cenderung mampu untuk mengungkapkan perasaan negatif yang dialami. Mereka mengungkapkan hal ini kepada orang-orang terdekatnya untuk mendapatkan masukan sehingga memicu perasaan lega atas peristiwa negatif yang dialami. Sebaliknya, kondisi keluarga yang kurang harmonis di masa lalu seperti cenderung meninggalkan dan memarahi membuat partisipan tidak memiliki ruang untuk berkeluh kesah tentang peristiwa yang dialami. Peristiwa ini membuat partisipan cenderung menyimpan perasaan yang dirasakan sehingga di masa tua mereka kesulitan untuk melakukan integrasi emosi. Kegagalan partisipan untuk mengintegrasikan emosi di masa tua diduga mendukung mereka untuk terperosok dalam kondisi despair. Pemaparan di atas kiranya sesuai dengan teori epigenetik yang diungkapkan Erikson yang menyatakan bahwa keberhasilan seseorang dalam menghadapi krisis psikososial ditentukan juga oleh keberhasilan seseorang menjalani tahap-tahap sebelumnya di masa lalu (Erikson, 1989). 2. Kondisi fisik kini Kondisi fisik partisipan di masa tua berkaitan dengan berhasil atau tidaknya mereka dalam menghadapi krisis psikososial tahap delapan. Partisipan yang didominasi oleh kondisi fisik yang sehat di masa tuanya cenderung lebih diselimuti oleh kondisi ego-integrity. Kondisi fisik yang cenderung sehat memberikan kesempatan bagi partisipan untuk dapat melakukan kegiatan yang berperan bagi lingkungan sehingga menimbulkan perasaan berharga bagi diri sendiri. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa partisipan yang cenderung memiliki kondisi fisik yang sehat masih terbilang aktif dalam kegiatan di

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 lingkungan tempat tinggal mereka, seperti menjadi koordinator agama atau kegiatan lainnya bagi teman-teman. Kondisi fisik yang cenderung sehat di masa tua juga memudahkan partisipan untuk melakukan hal-hal yang dia inginkan untuk menikmati masa-masa tuanya, seperti berjalan-jalan, bertanam, dan mengoleksi benda-benda unik. Sebaliknya, partisipan yang didominasi oleh kondisi fisik yang tidak sehat di masa tuanya cenderung lebih diselimuti oleh kondisi despair. Kondisi fisik yang kurang sehat di masa tua menghambat partisipan untuk melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan. Mereka didominasi oleh perasaan mengeluh di masa tuanya karena kondisi fisik yang kurang sehat. Keluhan yang mereka ungkapkan ialah penurunan kondisi tubuh yang tiba-tiba sehingga menghambat kegiatan yang ingin mereka lakukan. Selain itu, kondisi fisik juga menghalangi partisipan untuk mewujudkan keinginan yang belum tercapai di masa-masa sebelumnya. Beberapa hambatan tersebut berujung pada perasaan tidak berdaya di masa tua karena tidak mampu memenuhi keinginan diri sendiri dan tidak mampu berperan bagi lingkungan sekitar. Partisipan cenderung akan menarik diri dari lingkungan sosial karena ia merasa tidak berguna. Penarikan diri dari lingkungan sosial akan menggiring lansia pada kondisi kesepian (loneliness) yang akan berujung pada depresi (Singh & Misra, 2009). Menurut penelitian sebelumnya, kondisi ini diduga mampu menghambat proses lansia menghadapi krisis psikososialnya yaitu untuk mencapai ego-integrity (Hearn et al., 2012).

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 3. Kepastian masa depan menghadapi kematian Masa lansia adalah masa seseorang mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Dalam penelitian ini, semua partisipan mengaku tidak memiliki kecemasan akan kematian yang akan dihadapi. Ketiadaan kecemasan ini diduga karena kepastian yang telah diperoleh partisipan berkaitan dengan siapa yang akan merawat jenazah, pemuka agama yang akan mendoakan, dan biaya pemakaman secara keseluruhan sebab semua kebutuhan tersebut telah disiapkan oleh pihak rumah pelayanan. Ketiadaan akan kecemasan ini menuntun partisipan untuk terhindar dari kondisi despair dalam menghadapi kematian kelak. Meskipun cenderung tidak memiliki kecemasan akan kematian, partisipan yang didominasi oleh kondisi despair di sebagian besar wilayah lainnya memiliki harapan sebelum mereka menghadapi kematian. Harapan-harapan tersebut meliputi harapan untuk sehat, melihat anak dan cucu sukses serta hidup mandiri. Adanya harapan yang belum terwujud memicu munculnya perasaan belum puas akan kehidupannya sehingga diduga akan menggiring partisipan pada perasaan belum ikhlas untuk menghadapi kematian. Pengalaman berupa harapan yang masih mengganjal tersebut diduga mampu menggiring partisipan pada kondisi despair di masa tua (Soleimani, Lehto, Negarandeh, Bahrami, & Nia, 2015; Tahreen & Shahed, 2014).

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil analisis dan pembahasan, dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai pengalaman lansia terlantar dalam menghadapi krisis psikososial, yaitu: 1. Secara umum, dua partisipan cenderung diwarnai oleh pengalaman egointegrity dan dua partisipan lainnya cenderung diwarnai oleh pengalaman despair. 2. Pengalaman masa lalu meliputi kondisi ekonomi, pekerjaan/karir, serta hubungan keluarga dan teman diduga turut berperan dalam keberhasilan atau kegagalan lansia menghadapi krisis psikososial. Partisipan dengan masa lalu positif cenderung berhasil menghadapi krisis psikososial tahap kedelapan sehingga lebih diwarnai oleh kondisi ego-integrity di masa tuanya. Sebaliknya, partisipan yang didominasi oleh pengalaman yang suram di masa lalu cenderung mengalami kegagalan untuk meraih kesuksesan menghadapi krisis psikososial di masa tua sehingga terjerumus pada kondisi despair. 3. Kondisi fisik diduga turut mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan partisipan menghadapi krisis psikososial. Partisipan yang memiliki kondisi fisik baik (cenderung sehat) lebih didominasi oleh pengalaman-pengalaman positif di masa tuanya yang akan menuntun mereka pada kondidi egointegrity. Sebaliknya, partisipan yang memiliki kondisi fisik lemah (mudah sakit) cenderung didominasi oleh perasan tidak berguna di masa tuanya yang akan menjerumuskan mereka pada kondisi despair. 86

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 4. Kepastian masa depan sesudah meninggal dunia diduga mendukung partisipan untuk terhindar dari kondisi despair terhadap kecemasan akan kematian (death anxiety) dan cenderung lebih mudah untuk mencapai ego-integrity. B. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan: 1. Peneliti kurang membangun rapport yang baik pada P4 karena peneliti kelelahan setelah melakukan wawancara kedua dengan P1 dan P2. Oleh karena itu, P4 cenderung menjawab pertanyaan secara singkat dan kurang terbuka. 2. Pemilihan lokasi wawancara dengan dua responden yang kurang tepat sehingga dalam rekaman terdengar cukup banyak noise, yang sesekali menutup suara partisipan. 3. Ketika melakukan pentranskripan rekaman wawancara, terdapat beberapa ucapan yang tidak dapat peneliti pahami sehingga peneliti perlu melakukan wawancara tambahan untuk memastikan ucapan yang tidak terdengar jelas. C. Saran Bertolak dari kesimpulan dan keterbatasan di atas, peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut: 1. Bagi peneliti selanjutnya a. Peneliti selanjutnya diharapkan mampu membangun rapport dengan baik kepada seluruh partisipan. Peneliti menyarankan untuk mengunjungi lansia beberapa kali dalam kurun waktu yang jaraknya tidak terlalu jauh untuk

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 membantu lansia mengingat perjumpaan-perjumpaan bersama peneliti sebelumnya. b. Peneliti selanjutnya diharapkan memilih lokasi yang tidak terlalu ramai dengan penghuni lansia lain agar rekaman terdengar jelas dan partisipan menjadi lebih terbuka terhadap jawaban yang diberikan. c. Peneliti selanjutnya perlu melakukan pentranskripan data secara langsung setelah wawancara usai. Hal ini untuk meminimalisir keambiguan ucapan yang diutarakan saat wawancara. 2. Bagi perawat dan pengelola rumah pelayanan sosial a. Meningkatkan sikap positif seperti memberikan motivasi, semangat, dan membangkitkan rasa percaya diri pada lansia agar mereka merasa nyaman dalam menghabiskan hari tuanya di rumah pelayanan sosial. b. Meningkatkan aktivitas produktif sesuai dengan kegemaran lansia, seperti bertanam, menyulam, bernyanyi, dan sebagainya. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pemaknaan diri ataupun sesuatu yang bermanfaat bagi individu. c. Meningkatkan layanan kesehatan serta kebersihan lingkungan bagi lansia terlantar sehingga mendukung kondisi yang sehat secara jasmani. d. Meningkatkan kegiatan spiritual secara personal pada lansia terlantar sebagai persiapan menghadapi kematian. e. Meningkatkan jumlah perawat yang bertugas di rumah pelayanan sosial agar lansia terlantar yang tinggal mendapatkan pendampingan penuh secara fisik ataupun psikis.

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 f. Meningkatkan kualitas perawat dalam hal memahani tugas perkembangan yang sedang dihadapi lansia guna mendukung pendampingan yang efektif. 3. Bagi pemerintah a. Membangun lebih banyak rumah pelayanan sosial yang bersifat gratis bagi lansia terlantar sehingga mereka memiliki hunian untuk menjalani masa tua yang lebih baik. b. Bagi dinas sosial, diharapkan dapat lebih meningkatkan anggaran guna memenuhi seluruh fasilitas di setiap rumah pelayanan sosial bagi lansia terlantar sehingga mereka mendapatkan kehidupan yang baik di masa tuanya. 4. Bagi keluarga Keluarga diharapkan meningkatkan perannya bagi lansia, seperti meluangkan waktu sejenak untuk mengunjungi lansia yang mereka titipkan di rumah pelayanan sosial atau panti jompo. Hal ini dilakukan mengingat pentingnya dukungan keluarga sebagai social support demi keberhasilan menghadapi krisis psikososial.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 DAFTAR ACUAN Anthony, E. K., Lenning, A. J., Austin, M. J., & Peck, M. D. (2009). Assessing elder mistreatment: Instrument development and implication for adult protective service. Journal of Gerontological Social Work, 52(8), 815-836. Asmaningrum, N., Wijaya, D., & Permana, C. (2014). Dukungan sosial keluarga sebagai upaya pencegahan stress pada lansia dengan andropause di Kabupaten Jember. Jurnal IKESMA. 10(1), 78-87. Astuti, V. W. (2010). Hubungan keluarga dengan tingkat depresi pada lansia di posyandu sejahtera GBI setia bakti Kediri. Jurnal STIKES RS. Baptis Kediri, 3(2), 78-83. Cai, W., Tang, Y., Wu, S., & Li, H. (2017). Scale of death anxiety (SDA): Development and validation. Frontiers in Psychology, 8(858), 1-11. Clayton, V. (1975). Erikson’s theory of human development as it applies to the aged: Wisdom as contradictive cognition. Human Development, 18, 119128. Darnley, F. (1975). Adjustment to retirement: Integrity or despair. The Family Coordinator, 24(2), 217-266. Diener, ED., Emmons, R., Griffen, S. (1985). The satisfaction with life scale. Journal of Personality Assessment, 49(1), 71-75 Dong, X., Simon, M. A., Odwazny, R., & Gorbien, M. (2008). Depression and elder abuse and neglect among a community-dwelling Chinese elderly population. Journal of Elder Abuse and Neglect, 20(1), 25-41. Ekman, P. (1992). Facial expressions of emotion: New findings, new questions. Journal Of Psychological Science, 3(1), 34-38. Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and crisis. New York: Norton. Erikson, E. H. (1989). Identitas dan siklus hidup manusia. Edisi Bunga Rampai 1. Diterjemahkan oleh: Agus Cremers. Jakarta: PT Gramedia. Feist, J., & Feist, G. J. (2010). Teori kepribadian. Edisi ke 7. Diterjemahkan oleh: Handriatno. Jakarta: Salemba Humanika.

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 Fish, J. (2014). Tolerance, acceptance, and understanding differ in everyday life and in research. Diunduh 12 Maret, 2018, dari https://www.psychologytoday.com/intl/blog/looking-in-the-culturalmirror/201402/tolerance acceptance-understanding. Friedman, M., Bowden, V., & Jones, G. (2014). Buku ajar keperawatan keluarga, Edisi 5, Alih Bahasa: Achir Yani S. Hamid dkk, Jakarta: EGC. Haber, D. (2006). Life review: Implementation, theory, research, and therapy. Journal Aging and Human Development, 63(2), 153-171. Hamid, Y. (2008). Bunga Rampai Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC. Hearn, S., Saulnier, G., Strayer, J., Glenham, M., Koopman, R., & Marcia, J. (2012). Between integrity and despair: Toward construck validation of Erickson’s eight stage. Journal Adult Development, 19, 1-20. Hickey, T., & Douglass, R. L. (1891). Mistreatment of the elderly in the domestic setting: An exploratory study. American Journal of Public Health, 71(5), 500-507. Hoare, C. (2002). Erikson on development in adulthood: New insight from unpublished papers. New York: Oxford University Press. Hurlock, E.B. (1996). Psikologi perkembangan, suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan (terjemahan), Jakarta: Penerbit Erlangga. Hutapea, B. (2011). Emotional intelligence and Psychological well-being pada manusia lanjut usia anggota organisasi berbasis keagamaan di Jakarta. Jurnal Psikologi Universitas Persada Indonesia Y.A.I, 13(2), 64-73. Islam, S. (2017, Agustus). Data kemensos, 2,1 juta lansia di Indonesia terlantar dan 1,8 juta lainnya berpotensi serupa. Dipungut 9 November, 2017, dari https://news.okezone.com/read/2017/08/05/337/1750328/data-kemensos2-1-jutalansia-diindonesia-terlantar-dan-1-8-juta-lainnya-berpotensiserupa. Jafar, N., Wiarsih, W., & Permatasari, H. (2011). Pengalaman lanjut usia mendapatkan dukungan keluarga. Jurnal Keperawatan Indonesia, 14(3), 157-164. Lehto, R ., & Stein, K. (2009). Death anxiety: An analysis of an evolving concept. Research and Theory for Nursing Practice: An International Journal, 23(1), 23-41.

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 Liang, J. (1984). Dimensions of the Life Satisfaction Index A: A structural formulation. Journal of Gerontology, 39, 613–622. Maryam, R. S., Rosidawati., Riasmini, N. M., & Suryati, E. (2012). Beban keluarga merawat lansia dapat memicu tindakan kekerasan dan penelantaran terhadap lansia. Jurnal Keperawatan Indonesia, 15(3), 143150. Nehrke, M. F., Bellucci, G., & Gabriel, S. J. (1978). Death anxiety, locus of control and life satisfaction in the elderly: Toward a definition of egointegrity. Omega, 8(4), 359-368. Neugarten, B., Havighurst, R., & Tobin, S. (1965). The measurement of life satisfaction. Committee on Human Development; University of Chicago,) 134-143. Parker, Daniel W. (2013). The relationship between ego-integrity and death attitudes in older adults. American Journal OF Applied Psychology, 2(1), 7-15. Peachey, N. H. (1992). Helping the elderly person resolve integrity versus despair. Perspectives in Psychiatric Care, 28(2), 29-30. Perry, T. E., Ruggiano, N., Shtompel, N., & Hassevoort, L. (2015). Applying Erikson’s wisdom to self-management practices of older adults: Findings from two field studies. Research on Aging, 37(3), 253-274. Poerwadarminta. (1984). Kamus umum bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Prabasari, N., Juwita, L., & Maryuti, A. (2015). Pengalaman keluarga dalam merawat lansia di rumah. Jurnal Ners LENTERA, 5(1), 56-68. Prasoon, R., & Chaturvedi, K. (2016). Life satisfaction: A literature review. International Journal of Management Humanities and Social Sciences, 1 (2), 25-32. Pancawati, R. (2013). Penerimaan diri dan dukungan orangtua terhadap anak autis. eJournal Psikologi, 1(1), 38-47. Salamah. (2005). Kondisi psikis dan alternatif penanganan masalah kesejahteraan sosial lansia di panti wredha. Jurnal PKS, 4(11), 55-61. Santor, Daroy A & Zuroff, David C. (1994). Depressive symtoms: Effects of negative affectivity and failing to accept the past. Journal of Personality Assessment, 63(2), 294-312.

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 Santoso, H. dan Ismail, A. (2009). Memahami krisis lanjut usia. Jakarta: Gunung Mulia. Santrock. J. W. (2002). Life-span development: Perkembangan masa hidup. Edisi kelima, Jakarta: Erlangga. Saputri, M., & Indrawati, E. (2011). Hubungan antara dukungan sosial dengan depresi pada lanjut usia yang tinggal di panti wredha wening wardoyo jawa tengah. Jurnal Psikologi Undip, 9(1), 65-72. Saris, W., Veenhoven, R., Scherpenzeel, A., & Bunting, B. 1996. A comparative study of satisfaction with life. Europe: Eotvos University Press. Shanas, E. (1979). The family as a social support system in old age. Gerontologist Oxford Journals, 19(2), 169-174. Singh, A., & Misra, N. (2009). Loneliness, depression and sociability in old age. Industrial Psychiatry Journal,18, 51-5. Smith, G., & Nicolson, P. (2011). Despair? Older homeless men’s accounts of their emotional trajectories. Oral History Society, 39(1), 30-42. Soleimani, M., Lehto, R., Negarandeh, R., Bahrami, N., & Nia, H. (2016). Relationship between death anxiety and quality of life in iranian patients with cancer. Asia-Pacific Journal of Oncology Nursing, 3(2), 183-191. Sternberg, R., & Jordan, J. (2005). A handbook of wisdom. New York: Cambridge University Press. Supratiknya, A. (2015). Metodologi penelitian kuantitatif & kualitatif dalam psikologi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Supratiknya, A. (2018). Diktat metodologi penelitian. Yogyakarta: Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma. Suryono. (2013). Studi kasus depresi pada lansia. Jurnal AKP, 4(2), 20-24. Tahreen, S., & Shahed, S. (2014). Relationship between ego-integrity, despair, social support and health quality of life. Pakistan Jurnal of Social and Clinical Psychology. 12(1), 26-33 Templer, D. (1970). The construction and validation of a death anxiety scale. Journal of General Psychology, 82,165-177.

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 Westerhof, G. J., Bohlmeijer, E. T., & McAdams, D. (2015). The relation of egointegrity and despair to personality traits and mental health. Journal of Gerontology: Psychological Sciences, 00(00), 1-9. Weiss, P. (2018). Emotional Integration. Diunduh 12 Maret, 2018, dari http://thewholehealthcenter.org/emotional-integration/ Wiesmann, U., & Hannich, Hans Joachim. (2011). Absalutogenic analysis of developmental tasks and ego-integrity vs. despair. Journal Aging and Human Development, 73(4), 351-369. Woods, N., & Witte, K. (1981). Life satisfaction, fear of death, and ego identity in elderly adults. Bulletin of the Psychonomic Society, 18(4), 165-168. Yuliawati, A., Baroya, N., & Ririanty, M. (2014). Perbedaan kualitas hidup lansia yang tinggal di komunitas dengan di pelayanan sosial lanjut usia. Jurnal Pustaka Kesehatan, 2(1), 87-94.

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 Lampiran 1 Informed Consent Kesepakatan Partisipasi Penelitian Saya menyatakan bersedia berpartisipasi sebagai subjek dalam penelitian yang dilakukan oleh Devamethia G bersama tim dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Saya paham bahwa penelitian ini bertujuan memperoleh informasi tentang pengalaman saya menghadapi krisis psikososial tahap 8 dalam kondisi terlantar. Saya adalah salah satu dari lima orang yang akan dilibatkan sebagai subjek dalam penelitian ini. 1 Partisipasi saya dalam penelitian ini bersifat suka rela. Saya paham bahwa sebagai subjek saya tidak akan memperoleh imbalan materi. Saya bisa membatalkan dan tidak melanjutkan partisipasi saya sebagai subjek tanpa sanksi apa pun. Jika saya memutuskan membatalkan dan tidak melanjutkan partisipasi saya sebagai subjek, tidak seorang pun akan tahu selain (para) peneliti. 2 Saya paham bahwa apa yang akan saya lakukan dalam penelitian ini penting dan mungkin menarik. Namun bila ternyata saya merasa tidak nyaman melakukannya maka saya berhak menolak memberikan jawaban atau melakukan tugas yang diminta. 3 Saya paham bahwa partisipasi yang dibutuhkan dari saya adalah menjalani wawancara dan observasi yang diselenggarakan oleh para peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Kegiatan tersebut membutuhkan waktu selama 1,5 jam. Para peneliti mungkin akan membuat catatan-catatan, membuat rekaman audio-video saat kegiatan berlangsung dan melakukan tanya-jawab pada akhir kegiatan. 4 Saya paham bahwa para peneliti tidak akan menyebutkan nama saya dalam laporan yang disusun berdasarkan informasi yang diperoleh dari penelitian ini, dan bahwa kerahasiaan saya sebagai subjek dalam penelitian ini dijamin sepenuhnya. Data dan informasi lain yang diperoleh dari penelitian ini hanya akan digunakan untuk kepentingan ilmiah yang menjamin kerahasiaan individu dan institusi yang menjadi sumbernya. 5 Saya paham bahwa dosen atau pihak lain di kampus tidak akan pernah mengetahui jawaban atau hasil pengerjaan tugas saya dalam penelitian ini. Dengan demikian saya tidak akan pernah mengalami akibat negatif apa pun dari apa yang saya katakan atau lakukan dalam penelitian ini. 6 Saya paham bahwa penelitian ini sudah mendapatkan persetujuan dari Dewan Penilai Kelayakan Penelitian di kampus. Jika ada masalah atau pertanyaan terkait subjek dalam penelitian ini, saya bisa menghubungi Dekan Fakultas Psikologi di 08121562470.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 7 Saya telah membaca dan memahami penjelasan yang diberikan kepada saya. Saya telah memperoleh jawaban yang memuaskan terhadap semua pertanyaan saya, dan secara suka rela saya menyatakan sepakat berpartisipasi sebagai subjek dalam penelitian ini. 8 Saya telah memperoleh salinan Kesepakatan Partisipasi Penelitian ini. Mengetahui, Devamethia G Yogyakarta, … …………. ….. … ……………………

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 Lampiran 2 Surat Izin Penelitian

(116)

Dokumen baru