Validasi efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada siswa SMP Negeri dan SMP Swasta yang berbeda di sepuluh SMP di Indonesia - USD Repository

Gratis

0
0
197
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA SMP NEGERI DAN SMP SWASTA YANG BERBEDA DI SEPULUH SMP DI INDONESIA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh : Danang Prasetyo NIM : 151114011 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA SMP NEGERI DAN SMP SWASTA YANG BERBEDA DI SEPULUH SMP DI INDONESIA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh : Danang Prasetyo NIM : 151114011 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Motto Hidup itu seperti pagelaran wayang, di mana kamu menjadi dalang atas naskah semesta yang dituliskan oleh Tuhanmu. -Sujiwo Tejo ‫ِر ِْ َمت ْ َف ْن ِ َإف‬ ‫ففا َنَِكَِ ْ َوف ْ ِلَ َ ف‬ ‫َإفا َمم ْفم ا ْمَكَْف ْ َف مِ ْمهم ْم َف نمِ هف‬ ْ ‫َ ِْ َإ ْن ْلوف ْ ِم َتت ْ َف ْنِإف‬ Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Surat Al Baqarah ayat 239 Yang penting bukan apakah kita menang atau kalah, Tuhan tidak mewajibkan manusia untuk menang sehingga kalah pun bukan dosa, yang penting adalah apakah seseorang berjuang atau tak berjuang. -Cak Nun iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Halaman Persembahan Karya skripsi ini saya persembahakan kepada: Allah SWT Kedua orang tuaku yang tidak pernah berhenti mendoakan kesuksesanku, Pak Lepasno dan Ibu Tuty Kustantinah. Kakak-kakak ku yang selalu mendukung dan menyemangatiku selama masa kuliah dan penulisan skripsi. Sahabat Petot yang selalu ada dan selalu sedia membantuku, Yoseph, Ferry, Bagas Gendut, Robert, dan Bagas Kurus. Sahabat yang selalu memberikan masukan dan sedia membantuku, Amalia. Rekan-rekan sesama peneliti yang sama-sama sudah bekerja keras, Agustin, Prisma, Ika, Cici, Ina, Tania, Mas Kris, Tera, dan Christian. Almamaterku yang Tercinta Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma v

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vi

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA SMP NEGERI DAN SMP SWASTA YANG BERBEDA DI SEPULUH SMP DI INDONESIA Danang Prasetyo Universitas Sanata Dharma 2019 Penelitian ini bertujuan: 1) menghasilkan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter; 2) mengukur kualitas soal-soal tes yang dihasilkan; 3) menganalisis efektivitas soal tes tersebut menurut penilaian siswa pada 10 SMP di Indonesia; 4) mengukur capaian hasil pendidikan karakter siswa dengan menggunakan soal tes tersebut pada 10 SMP di Indonesia; 5) menganalisis perbedaan penilaian siswa SMP Negeri dan SMP Swasta terhadap efektivitas penggunaan soal tes yang dikembangkan tersebut; 6) mengukur perbedaan capaian hasil pendidikan karakter untuk siswa SMP Negeri dan SMP Swasta. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development). Subjek penelitian adalah siswa kelas VII dan VIII di 10 SMP yang berjumlah 660 siswa. Objek penelitian ini adalah soal tes asesmen hasil pendidikan karakter.Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter dan kuesioner validasi efektivitas. Teknik uji kualitas butir soal tes menggunakan pendekatan teknik faktor analisis konfirmatori, perbedaan penilaian siswa terhadap efektivitas penggunaan soal pada siswa SMP Negeri dan SMP Swasta dianalisis dengan teknik Chis-Square dan perbedaan capaian hasil pendidikan karakter siswa SMP Negeri dan SMP Swasta dengan independent T-test. Hasil penelitian: 1) dihasilkan 88 item soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter; 2) kualitas soal tes karakter terbukti valid sebanyak 81 item soal dan reliabel dengan indeks reliabilitas 0,933 (sangat baik); 3) menurut penilaian siswa bahwa produk soal tes tersebut sangat efektif; 4) hasil pendidikan karakter dengan menggunakan produk soal tes tersebut diperoleh data 51,2% siswa dalam kategori baik dan 48,8% siswa dalam kategori cukup baik; 5) siswa SMP Negeri dan SMP Swasta tidak terdapat perbedaan dalam 30 item kualitas efektivitas, artinya soal tes tersebut efektif digunakan pada siswa SMP Negeri dan SMP Swasta; 6) terdapat perbedaan yang signifikan terhadap capaian hasil pendidikan karakter pada siswa SMP Negeri dan SMP Swasta. Kata kunci: validasi efektivitas, validitas, reliabilitas, capaian hasil pendidikan karakter, SMP Negeri dan SMP Swasta viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE EFFECTIVENESS VALIDATION OF CHARACTER MOVIE BASED CHARACTER EDUCATION RESULT ASSESSMENT TEST USAGE FOR STUDENTS FROM PUBLIC AND PRIVATE JUNIOR HIGH SCHOOL IN TEN SMP (JUNIOR HIGH SCHOOL) IN INDONESIA Danang Prasetyo Sanata Dharma University 2019 This study was aimed to: 1) produce assessment test of the character moviebased character education; 2) measure the quality of the test items that being developed; 3) analyze the effectiveness of the test according to the students assessment in 10 junior high schools in Indonesia; 4) measuring the student achievement on character education using the test in 10 junior high schools in Indonesia; 5) analyze the differences in the assessment by private and public junior high school students on the effectiveness of the developed test usage; 6) measure the differences on the character education achievement of students from private and public junior high school. The type of this research was research and development study. The research subjects were students of class VII and VIII in 10 junior high schools with total subjects were 660 students. The object of this research was the assessment test of character education. The data collection instruments used in this study was the character movie-based character education assessment test and the validation effectiveness questionnaires. The test item quality test was using confirmatory analysis factor approach technique, differences in student assessment about the effectiveness of the test usage by students from private and public junior high school were analyzed using Chis-Square technique and the differences in students’ character education achievement in private and junior high school were using independent T-test. The results of the study were: 1) there were 88 assessment test items of character movie -based character education; 2) the quality of character test questions proved to be valid with 81 items valid and reliable with a reliability index of 0.933 (very good); 3) according to students' assessment about the assessment test produced was very effective; 4) the results of character education assessed using the test produced were 51.2% of students were in good category and 48.8% of students were in quite good category; 5) there were no differences in the quality of the 30 items tested for public and private junior high school students, meaning that the test questions were effectively used by students from public and private junior high school; 6) there was a significant difference on the students character education achievement in the public and private junior high school. Keywords: effectiveness validation, validity, reliability, character education achievement, public and private junior high school ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kata Pengantar Puji dan syukur peneliti hanturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya yang selalu memberikan kekuatan, kesehatan, semangat, serta pendampingan yang luar biasa dalam penyelesaian penulisan skripsi ini, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar tanpa hambatan. Skripsi ini ditulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa ada bantuan, dukungan, dan dampingan dari banyak pihak. Oleh karena itu, dengan ketulusan hati penulis menyempaikan banyak terima kasih, khususnya kepada: 1. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma 2. Bapak Dr. Gendon Barus, M.Si., selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma, yang bersedia memberi ijin untuk melakukan penelitian, dan selaku dosen pembimbing yang selalu sabar meluangkan waktu, memberi motivasi, mendampingi dan memberikan ide-ide kepada penulis dalam proses penulisan skripsi. 3. Para dosen Program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis selama menempuh studi. 4. Bapak Lepasno dan Ibu Tuty Kustantinah yang selalu memberikan doa kepada penulis selama menempuh studi. 5. Sahabatku Petot Yoseph, Ferry, Bagas Gendut, Robert dan Bagas Kurus yang selalu memberikan dukungan dan semangat dalam menempuh studi dan penulisan skripsi. 6. Sahabat yang selalu memberikan masukan dan sedia membantuku, Amalia. 7. Tim PSHP (Agustin, Prisma, Ika, Cici, Kristali, Ina, Tania, Christian, dan Tera) yang selalu mendukung dan saling bekerja sama selama penelitian dan penulisan skripsi. 8. Kepala sekolah, Bapak dan Ibu Guru, para siswa-siswi SMP Fransiskus Tanjungkarang, SMP St. Aloysius Turi, SMP N 1 Yogyakarta, SMP Raden Fatah Cimanggu, SMP N 3 Wates, SMP N 31 Purworejo, SMP N 2 Barusjahe, SMP Maria Padang, SMP Pangudi Luhur Wedi Klaten, dan SMP N 2 Playen Gunung Kidul. x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI xi

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL. ...................................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING. ..................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN. .................................................................................... iii HALAMAN MOTTO. .................................................................................................. iv HALAMAN PERSEMBAHAN. ................................................................................. v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA. ........................................... vi HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI. ......................... vii ABSTRAK ....................................................................................................................viii ABSTRACT............................................................................................................ix KATA PENGANTAR ................................................................................................... x DAFTAR ISI. ................................................................................................................ xii DAFTAR TABEL. ....................................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR .................................................................................................xvii BAB I PENDAHULUAN . ............................................................................................ 1 A. Latar Belakang masalah . ................................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah......................................................................................... 10 C. Pembatasan Masalah atau Fokus Masalah. .................................................... 11 D. Rumusan Masalah. ............................................................................................ 11 E. Tujuan Penelitian............................................................................................... 12 F. Manfaat Penelitian. ........................................................................................... 13 1. Manfaat Teoritis ......................................................................................... 13 2. Manfaat Praktis. .......................................................................................... 13 G. Batasan Istilah.................................................................................................... 15 BAB II KAJIAN PUSTAKA . ................................................................................... 16 A. Hakikat Pendidikan Karakter di Sekolah . ..................................................... 16 1. Pengertian Karakter. ................................................................................... 16 2. Pengertian Pendidikan Karakter ............................................................... 19 3. Tujuan, Fungsi, dan Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter ................... 20 4. Nilai-nilai yang Ditanamkan dalam Pendidikan ..................................... 23 B. Hakikat Evaluasi, Asesmen, dan Tes.............................................................. 23 xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Pengertian Evaluasi, Asesmen, dan Tes. ................................................. 23 2. Tujuan dan Fungsi Asesmen ..................................................................... 25 3. Ruang Lingkup Asesmen ........................................................................... 27 4. Prinsip-prinsip Asesmen ............................................................................ 27 5. Jenis-jenis Asesmen ................................................................................... 29 6. Teknik-teknik Asesmen ............................................................................ 32 7. Tes sebagai Teknik Asesmen .................................................................... 34 C. Hakikat Asesmen Pendidikan Karakter.......................................................... 35 1. Manfaat Asesmen Pendidikan Karakter .................................................. 35 2. Teknik-teknik Asesmen Pendidikan Karakter ........................................ 35 3. Kekuatan dan Kelemahan Tes .................................................................. 36 4. Prinsip-prinsip Pengembangan dan Pengunaan Tes dalam Pendidikan Karakter ................................................................................... 40 5. Hambatan-hambatan dan Kesulitan-Kesulitan Asesmen Pendidikan Karakter Beberapa Sekolah di Indonesia ..................................................... 47 D. Media Film Dalam Pendidikan Karakter. ...................................................... 51 1. Karakteristik Media Film Karakter .......................................................... 51 2. Kekuatan-kekuatan Media Film dalam Pendidikan Karakter ............... 52 3. Film sebagai Media Asesmen ................................................................... 53 E. Hakikat SMP Negeri dan SMP Swasta .......................................................... 55 1. Pengertian SMP Negeri.............................................................................. 55 2. Pengertian SMP Swasta ............................................................................. 55 F. Kajian Penelitian yang Relevan. ..................................................................... 56 G. Kerangka Pikir. .................................................................................................. 57 BAB III METODE PENELITIAN .......................................................................... 59 A. Model Penelitian dan Pengembangan ........................................................... 59 B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan ..................................................... 60 1. Revisi Produk Operasional ...................................................................... 64 2. Uji Lapangan Produk ................................................................................ 65 C. Uji Coba Produk ............................................................................................. 66 1. Desain Uji Coba ........................................................................................ 66 xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Tempat penelitian dan Subjek Uji Coba Produk ......................................... 67 D. Jenis Data ......................................................................................................... 69 E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ................................................... 73 1. Teknik Pengumpulan Data ...................................................................... 73 2. Instrumen Pengumpulan Data ..................................................................... 74 F. Teknik Analisis Data ....................................................................................... 76 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ..................................... 90 A. Hasil Penelitian .................................................................................................. 90 B. Pembahasan ...................................................................................................... 112 BAB V PENUTUP ..................................................................................................... 119 A. Kesimpulan ...................................................................................................... 119 B. Keterbatasan Penelitian .................................................................................. 121 C. Saran ................................................................................................................ 122 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 124 LAMPIRAN................................................................................................................. 126 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.2 Tempat Penelitian ............................................................................................. 67 Tabel 3.3 Jumlah Subjek Uji Coba Penelitian .................................................................. 68 Tabel 3.4 Jumlah Subjek Uji Coba Penelitian .................................................................. 69 Tabel 3.5 Variabel Laten, Aspek yang Diukur, Skala dan Data Instrumen yang Digunakan ....................................................................................................................... 70 Tabel 3.6 Golongan Faktor Nilai Karakter ....................................................................... 83 Tabel 3.7 Kategori PAP Tipe 1 ......................................................................................... 85 Tabel 3.8 Rumus Norma Tiga Kategorisasi ...................................................................... 86 Tabel 4.1 Contoh Soal Tes Asesmen Pendidikan Karakter .............................................. 91 Tabel 4.2 Hasil Analisis Faktor Realibilitas Variabel 1 .................................................... 92 Tabel 4.3 Hasil Analisis Faktor Validitas Variabel 2 dan 3 .............................................. 93 Tabel 4.4 Hasil Analisis Faktor Validitas Variabel 4 ....................................................... 95 Tabel 4.5 Hasil Analisis Faktor Reliabilitas Variabel 5 .................................................... 96 Tabel 4.6 Hasil Uji Reliabilitas ......................................................................................... 97 Tabel 4.7 Rekapitulasi Hasil Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa pada Beberapa SMP di Indonesia .............................................................................................. 98 Tabel 4.8 Rekapitulasi Hasil Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa pada Beberapa SMP di Indonesia ............................................................................................ 100 Tabel 4.9 Rumus Norma Tiga Kategorisasi .................................................................... 101 Tabel 4.10 Pengkategorisasian........................................................................................ 102 Tabel 4.11 Capaian Hasil Pendidikan Karakter .............................................................. 103 Tabel 4.12 Penilaian Perbedaan Siswa SMP Negeri dan SMP Swasta Terhadap Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter................ 105 Tabel 4.13 Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa SMPN dan SMPS ...................... 110 Tabel 4.14 Independent Samples Test ............................................................................ 110 xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Komponen Karakter ...................................................................................... 18 Gambar 2.2 Kerangka Pikir .............................................................................................. 58 Gambar 3.1 Bagan Prosedur Pengembangan Penelitian ................................................... 63 Gambar 3.2 Model Hipotetik Soal Tes Asesmen Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter ................................................................................................. 72 Gambar 2.1 Komponen Karakter ................................................................................. 18 Gambar 2.2 Kerangka Pikir Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karaker ................................................................................... 71 Gambar 3. 1 Bagan Prosedur Pengembangan (Borg and Gall) ............................... 73 Gambar 3.2 Model hipotetik soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter .................................................................................................................... 81 Gambar 3.6 Rumus Norma Tiga Kategorisasi .................................................................. 89 xvii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI xviii

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah atau fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, spesifikasi produk yang dikembangkan, manfaat penelitian, dan definisi istilah. A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sekarang dapat dikatakan masih mengutamakan keunggulan kognitif. Seorang anak dikatakan berprestasi jika mendapat nilai yang tinggi dalam hal akademik. Pendidikan sesungguhnya merupakan suatu usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejalan dengan Undang-Undang Nomor. 20 tahun‫ف‬2003‫ف‬pasal‫ف‬3‫ف‬tentang‫ف‬Pendidikan‫ف‬Nasional‫ف‬yang‫ف‬menyatakan‫“ف‬Pendidikan‫ف‬ nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis‫ف‬serta‫ف‬bertanggung‫ف‬jawab”‫ف‬Kemendiknas,‫(ف‬2010). Pendidikan nasional harus diselenggarakan secara sistematis agar mencapai fungsi dan tujuan yang diharapkan yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter bangsa dan mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan karakter sangat penting bagi peserta didik di Indonesia, sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter. Kementrian pendidikan nasional mengembangkan grand design pendidikan 1

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 karakter untuk setiap jalur dan jenjang pendidikan. Grand design tersebut menjadi rujukan konseptual dan pengembangan, pelaksanaan, serta penilaian pada‫ ف‬setiap‫ ف‬jalur‫ ف‬dan‫ ف‬jenjang‫ ف‬pendidikan‫ ف‬yang‫ ف‬meliputi:‫“ ف‬Olah‫ ف‬Hati‫( ف‬spiritual and development) Olah Pikir (intellectual development) Olah Raga dan Kinestetik (Physical and cinestetic development) dan Olah Rasa dan karsa (Affective and Creativity development)”.‫ف‬Kemendiknas,‫(ف‬2010) Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut, yang selama ini telah diimplementasikan melalui materi pelajaran agama, budi pekerti dan juga kewarganegaraan, pendidikan jasmani dan pelajaran lainnya yang berkaitan erat dengan pendidikan karakter. Buchori (2007:4) mempertanyakan, apa yang salah dengan‫ف‬pendidikan‫ف‬karakter‫ف‬kita?‫“ف‬Pendidikan‫ف‬watak”‫ف‬diformulasikan‫ف‬menjadi‫ف‬ pelajaran agama, pelajaran kewarganegaraan, atau pelajaran budi pekerti, yang program utamanya ialah pengenalan nilai-nilai secara kognitif semata. Padahal, pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Pendidikan karakter yang telah dilaksanakan di sekolah, khususnya di SMP di seluruh tanah air selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari (Suyanto, 2011:8). Benih-benih kegagalan implementasi pendidikan karakter di SMP dapat ditunjukkan antara lain:

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 meningkatnya kenakalan, tindakan kriminalitas maupun kemerosotan nilai moral yang terjadi di kalangan remaja. Barus, (2016) mengatakan perlu dilakukan evaluasi komprehensif tentang keterlaksanan, hambatan-hambatan, dan efektivitas pendidikan karakter yang telah berlangsung. Untuk melakukan evaluasi maka dibutuhkan proses penilaian (asesmen) dan hasil tes. Untuk memperoleh hasil tes dibutuhkan suatu alat pendukung berupa alat tes atau alat ukur yang memadai agar dapat mengetahui sejauh mana pendidikan karakter sudah berjalan secara efektif di sekolah. Namun, dalam pelaksanaan pendidikan karakter di Indonesia, belum ada alat tes untuk melakukan penilaian karakter peserta didik. Kalaupun ada, model evaluasi yang digunakan hanya mengukur sebatas pada skala sikap dan berhenti pada skala kognitif saja, mestinya capaian pendidikan diukur sampai pada tataran tindakan. Pada kenyataannya selama ini model evaluasi hanya dalam bentuk observasi, skala sikap, dan penerapan sistem poin, yang tentunya memiliki kelemahan‫ ف‬dan‫ ف‬subjektifitas.‫“ ف‬Penerapan‫ ف‬sistem‫ ف‬poin‫ ف‬yang‫ ف‬berasumsi‫ ف‬bahwa‫ف‬ pelanggaran-pelanggaran‫‘ف‬kejahatan’‫ف‬siswa‫ف‬harus‫ف‬dihitung, dicatat, dan ditakar sangat tidak berakar dan tidak memanusiakan. Mengambil pandangan yang sepenuhnya negatif pada anak dengan menganggap bahwa anak dilahirkan berdosa dan jahat dan bahwa adalah tugas pendidikan untuk memperbaiki ini melalui hukuman dan melatih ketaatan, merupakan langkah awal kekeliruan dalam penerapan‫ف‬sistem‫ف‬poin”.‫(ف‬Barus,‫ف‬2016)

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Maka untuk itu, tim penelitian sosial, humaniora dan pendidikan (PSHP) Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma merancang suatu model evaluasi hasil pendidikan karakter. Model pendidikan Karakter di SMP Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan Experiential Learning telah dikembangkan melalui penelitian Stranas tahun 2014-2016, sedangkan model asesmen/evaluasinya belum dikembangkan. (Barus, 2017) Model pendidikan karakter hasil pengembangan tahun 2014-2016 tersebut perlu diinternalisasikan pada skala nasional. Untuk itu, diterbitkan Buku Pendidikan Karakter di SMP jilid 1, 2, dan 3 (ber-ISBN) dan dipublikasikan secara nasional. Sambil membangun legitimasi dan gerakan habitualisasi produk penelitian tersebut pada sekolah mitra secara nasional, sustainabilitas proses penelitian pengembangan ini perlu dilanjutkan dengan penguatan sistem penilaiannya dan ditargetkan dapat menghasilkan produk berupa Model Asesmen Pendidikan Karakter di SMP Berbasis Media Film Karakter. Produk tersebut diharapkan dapat digunakan guru mata pelajaran dan khususnya guru BK dalam melaksanakan asesmen pendidikan karakter yang lebih efektif, objektif, valid, praktis, dan berkeadilan di SMP. (Barus, 2017) Bila meninjau dari hasil penelitia Barus (2017) yang menjelaskan bahwa “most of the respondents (73%) acknowledge that the character education assessment is very important, while 25% of 51 teacher considered the assessment as important and only 1 person (2%) rated it as less important,” artinya, asesmen hasil pendidikan karakter dianggap penting oleh (73%) responden. Hal tersebut penting untuk mengetahui pada tingkat manakah

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 perilaku peserta didik yang tercermin berkarakter mengalami peningkatan dan sampai tingkat manakah peserta didik berkembang dalam hal mempraktikan karakter tersebut. Para guru mengupayakan untuk meningkatkan optimalitas hasil pendidikan karakter di sekolah melalui observasi, wawancara, penulisan buku harian, sistem poin, skala sikap dan hasil lomba/penjurian. Namun jika menelaah satu persatu, metode evaluasi tersebut memiliki kekurangankekurangan dalam penerapannya. Metode observasi dapat menjadi kurang efektif dalam menjangkau keseluruhan siswa, dinilai kurang objektif dan bertumpu pada like or dislike. Cara tersebut dianggap kurang efektif dalam mengukur secara akurat seberapa efektif metode pengajaran pendidikan karakter dan seberapa baik karakter siswa yang dihasilkan dari pendidikan karakter di sekolah. Setyawan, (2014) mengungkapkan bahwa : Assessment issues arise when school is preparing reports on student learning outcomes. In both numerical and words evaluations scale, the reports are generally less accurate in describing scale, the fact. For example, if it is stated that the Character Building value is 80%, what character qualities are implied by the number, and what is difference with the 70%? If declared in the report the learning result value is B or good? That sometimes makes Character Building lessons less meaningful to students. Artinya bahwa sekolah membutuhkan asesmen untuk menilai keberhasilan pendidikan karakter. Namun, berdasarkan penelitian Setyawan ditemukan adanya ketidak objektivan skala penilaian dan ketidaksesuaian

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 penilaian karakter siswa dengan kenyataan yang ada. Beberapa sekolah menggunakan skala persentase 1-100% untuk melakukan penilaian seberapa baik karakter siswa. Penggunaan skala persentase akan memunculkan pertanyaan karakter apa saja yang diinterpretasikan dalam skala persentase tersebut? Spesifikasi perbedaan karakter seperti apa yang membedakan hasil penilaian siswa yang mendapatkan nilai 80% dengan siswa yang mendapatkan nilai 70%? Metode evaluasi lain yang digunakan sekolah adalah penerapan sistem poin. Siswa yang menunjukkan sikap yang melanggar aturan sekolah atau hal-hal yang dinilai negatif akan mendapatkan catatan poin yang berdampak pada penilaian akhir siswa. Sistem poin tersebut tidak akurat diterapkan di sekolah, karena siswa yang memiliki masalah di rumahnya akan bertindak lebih agresif dan atraktif selama di sekolah, tetapi menjadi sangat pendiam dan murung ketika berada di rumah atau bahkan sebaliknya. Artinya bahwa sistem poin ini tidak menunjukkan sejauh mana nilai karakter tertanam dalam hati nurani siswa dan tercermin dalam tindakannya tetapi mengkondisikan siswa/i untuk menghindari hukuman atau pengurangan poin karena rasa takut. Barus (2016) mengungkapkan bahwa: Penerapan sistem poin yang berasumsi bahwa pelanggaran-pelanggaran‫‘ ف‬kejahatan’‫ ف‬siswa‫ ف‬harus‫ ف‬dihitung,‫ف‬ dicatat, dan ditakar sangat tidak berakar dan tidak memanusiakan. Mengambil pandangan yang sepenuhnya negatif pada anak dengan menganggap bahwa anak dilahirkan berdosa dan jahat dan bahwa adalah tugas pendidikan untuk

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 memperbaiki ini melalui hukuman dan melatih ketaatan, merupakan langkah awal kekeliruan dalam penerapan sistem poin. Hasil yang tidak akurat dapat menimbulkan ketidakpercayaan dan pengabaian hasil penilaian karakter dan siswa terfokus hanya pada pengembangan kognitif dan berlomba-lomba meningkatkan nilai untuk menunjukkan dirinya menjadi juara kelas, nilai semester yang tinggi dan pemenang olimpiade. Sering ditemukan siswa yang mencontek ketika ujian nasional dan siswa yang stress menjelang ujian. Padahal pendidikan karakter sangat terintregrasi pada seluruh aspek pendidikan termasuk dalam pengembangan kognitif siswa di sekolah. Bila sekolah hanya menggunakan metode observasi untuk menilai kompetensi karakter siswa. Menurut Jhonson and Jhonson, (2002:276) “ However, observation has a problem; high subjectivity. The main problem with observation is the lack of observer objectivity”. Bahwa observasi memiliki kekurangan keakuratan objektivitas karena penilaian dari hasil observasi sangat bergantung pada pemikiran objektivitas pengobservasi yang akan cenderung subjektif. Upaya untuk mengukur keberhasilan pendidikan karakter memang bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan dan aspek-aspek yang perlu untuk diperhitungan dan dipertimbangan dalam menilai karakter siswa. Aspek-aspek seperti latar belakang keluarga, lokasi tempat tinggal, pekerjaan, perekonomian dan aspek psikologi perkembangan. Aspek-aspek tersebut kemungkinan besar dapat mempengaruhi penyerapan pendidikan karakter yang diberikan oleh keluarga, sekolah bahkan lingkungan sekitar anak bertumbuh.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus diselenggarakan secara sistematis agar mencapai fungsi dan tujuan yang diharapkan yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter bangsa dan mengembangkan potensi peserta didik. Di lapangan sekolah dalam hal ini SMP menjadi dua yakni negeri dan swasta. Sekolah negeri merupakan sekolah yang dimiliki oleh pemerintah, sedangkan sekolah swasta merupakan sekolah yang dimiliki dan dikelola oleh yayasan tertentu. Namun, baik sekolah negeri dan swasta sama-sama memiliki tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian, hal yang biasanya terdapat perbedaan antara sekolah negeri dan swasta dapat dilihat dari : Manajemen sekolah dan kepemilikan, perbedaan kekuasaan tertinggi itu adalah quality controlnya. Lalu fasilitas sekolah antara sekolah negeri dan swasta juga berbeda hal ini disebabkan, manajemen sekolah negeri memiliki alokasi dana dari pemerintah sehingga fasilitas yang digunakan harus sesuai standar pemerintah. Beda dengan swasta yang manajemennya bisa bebas bereksplorasi untuk sekolah dan murid-muridnya. Latar belakang sosial sekolah swasta itu sangat khas dan cenderung pada satu agama, karena dengan keberagaman,‫ ف‬kita‫ ف‬bisa‫ ف‬mengenal‫ ف‬lebih‫ ف‬banyak‫“ ف‬pelajaran”‫ ف‬dibalik‫ ف‬kehidupan‫ف‬ teman kita yang macam-macam. Biaya pasti ada perbedaan biaya antara SMP negeri dan swasta. Swasta akan lebih mengeluarkan biaya lebih di bandingkan dengan negeri. Media film ini dipilih karena film lebih menggambarkan aspek sikap, afeksi, akomodasi, dan perilaku berkarakter yang dapat menginternalisasi

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 dibandingkan dengan pengukuran metode lainnya. Sesuai dengan kekuatan film menurut Kustandi & Sutjipto (2013) bahwa film dapat menyajikan suatu proses dengan lebih efektif dibandingkan dengan media lain, film dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari peserta didik ketika membaca, berdiskusi, dan praktik. Film ini berdurasi 1-2 menit yang memvisualisasikan dilema moral, berdasarkan film tersebut siswa diminta untuk menjawab soal-soal yang menyertainya. Penggunaan evaluasi berbasis film dirasa efektif karena langsung menyentuh pada dilema-dilema moral remaja. Film-film yang akan ditampilkan sesuai dengan nilai-nilai karakter peserta didik di SMP untuk lebih secara nyata merasakan dan memahami dilema moral yang terjadi. Sehingga yang dinilai bukan hanya perilaku anak yang bermasalah saja, namun semua peserta didik yang ada di sekolah. Tidak ada lagi penilaian objektivitas (like and dislike) dan tidak ada lagi kelemahan-kelemahan observasi yang dapat ditutupi oleh guru. Berdasarkan telah kebutuhan di atas, peneliti sebagai mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma bersama tim pada kesempatan ini peneliti ingin melanjutkan tahapan penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang sudah terlebih dahulu dilakukan oleh Tim Penelitian Sosial, Humaniora, dan Pendidikan (PSHP) Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma (2017) sampai pada tahap ke 6. Oleh sebab itu, peneliti ingin melanjutkan pengujian produk tahap ke 7 dan 8, yaitu Revisi Produk dan Uji Coba Pemakaian dengan mengangkat topik

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 tentang Analisis Validasi Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter di SMP. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan masalah dalam latar belakang yang dikemukakan di atas, masalah yang menjadi perhatian peneliti dapat diidentifikasikan berbagai masalah sebagai berikut : 1. Metode penilaian hasil pendidikan karakter selama ini kebanyakan masih mengandalkan observasi, dan penerapan sistem poin yang memiliki kelemahan dan subjektifitas. 2. Keterbatasan guru untuk melakukan penilaian hasil pendidikan karakter dan penilaian yang dirasa masih subyektif. 3. Belum adanya evaluasi pendidikan karakter yang mencakup penilaian, pengukuran, maupun evaluasi yang terstandar untuk mengevaluasi proses dan hasil pendidikan karakter. 4. Tidak tersedia alat dan cara evaluasi yang efektif digunakan dalam mengevaluasi hasil pendidikan karakter di SMP. 5. Sudah dihasilkan prototype soal tes hasil pendidikan karakter berbasis film namun produknya belum diuji validasi efektivitasnya pada sample yang luas 6. Di Indonesia belum ditemukan cara/model penilaian hasil pendidikan karakter berbasis soal-soal tes menggunakan film karakter berdasarkan siswa SMP Negeri dan SMP Swasta.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 7. Menghasilkan informasi hasil pendidkan karakter dan perbedaanya pada SMP Negeri dan SMP Swasta. 8. Menelusuri keberadaan soal tes hasil pendidikan karakter yang sudah di kembangkan pada subjek yang lebih luas meliputi sekolah Negeri dan Swasta C. Pembatasan Masalah atau Fokus Penelitian Masalah Berdasarkan identifikasi masalah dan mengingat adanya, keterbatasan peneliti, maka fokus kajian diarahkan untuk menjawab masalah-masalah pada butir 4, 7 dan 8. Fokus penelitian ini diarahkan pada tahap pengembangan dan uji pengolahan alat dan evaluasi efektifitas soal tes pendidikan karakter siswa berbasis film pada wilayah yang lebih luas dengan karakteristik sampel berdasarkan SMP Negeri dan SMP Swasta. D. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah yang telah dibuat dan dipaparkan sebelumnya, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Seperti apa produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang diujicobakan pada 10 SMP di Indonseia ? 2. Seberapa baik kualitas soal-soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang diujicobakan pada 10 SMP di Indonesia ? 3. Menurut penilaian siswa kualitas efektifitas apa saja yang terpenuhi dalam soal tes yang dikembangkan tersebut ?

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 4. Seperti apa capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia ? 5. Apakah terdapat perbedaan penilaian siswa SMP Negeri dan SMP Swasta terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia ? 6. Apakah terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter dengan menggunakan produk soal tes tersebut pada siswa SMP Negeri dan SMP Swasta ? E. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan : 1. Menghasilkan soal tes asesmen hasil pendidikan katrakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia. 2. Mengukur seberapa baik kualitas soal-soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film yang dikembangkan meliputi nilai validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesulitan. 3. Memperoleh informasi mengenai nilai-nilai efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter menurut penilaian siswa pada 10 SMP di Indonesia. 4. Memperoleh informasi mengenai capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada beberapa SMP di Indonesia.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 5. Memperoleh informasi mengenai perbedaan penilaian siswa dari SMP Negeri dan SMP Swasta terhadap efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter di Indonesia. 6. Memperoleh informasi perbedaan capaian hasil karakter dengan menggunakan produk soal tes tersebut berdasarkan SMP Negeri dan SMP Swasta. F. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat untuk berbagai pihak, baik itu manfaat secara teoristis maupun secara praktis. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan bahan kajian tentang efektivitas penilaian karakter siswa di SMP serta diharapkan mampu menambah wawasan dan pengembangan penelitian serupa terutama pada ranah pendidikan karakter. 2. Manfaat Praktis a. Bagi kepala sekolah dan para guru Penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan bagi kepala sekolah dalam mengambil keputusan dan kebijakan dalam pengembangan pendidikan karakter di sekolah. Bagi guru pendidik karakter (konselor sekolah/guru BK dan guru mata pelajaran) di SMP, proses dan produk penelitian pengembangan ini diharapkan dapat

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 memberikan suatu model asesmen pendidikan karakter berbasis media film yang lebih efektif (fisibel, realistik, ekonomis, relatif praktis dan mudah digunakan) untuk mengukur hasil pendidikan karakter di sekolah. b. Bagi lembaga pendidikan prosedur dan hasil penelitian pengembangan ini dapat digunakan sebagai bahan referensi alternatif untuk pengembangan konsep bimbingan dan konseling pendidikan karakter di sekolah, kususnya di SMP. c. Bagi peneliti Peneliti dapat mengetahui, memahami efektivitas model penilaian pendidikan karakter melalui pengembangan prototipe soal tes asesmen pendidikan karakter. Selain itu peneliti juga berkesempatan untuk membuat dan mengaplikasikan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis media film di sekolah. d. Bagi peneliti lain Prosedur penelitian ini dapat digunakan oleh penelitia lain sebagai refrensi dalam mengembangkan penelitian dengan topik pendidikan karakter di sekolah. Selain itu penelitian ini juga dapat digunakan peneliti lain sebagai sumber pengetahuan tambahan bagi peneliti yang berminat meneliti pengembangan soal tes hasil pendidikan karakter berbasis media film guna meningkatkan karakter positif peserta didik.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 G. Batasan Istilah 1. Prototipe dalam penelitian ini adalah bentuk fisik pertama dari suatu objek yang direncanakan, dibuat dalam suatu proses produksi, mewakili bentuk dan dimensi dari objek yang asli dan digunakan untuk objek penelitian dan pengembangan lebih lanjut. 2. Asesmen dalam penelitian ini adalah proses untuk mengetahui apakah proses dan hasil dari suatu program kegiatan telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang ditetapkan. 3. Pendidikan karakter dalam penelitian ini adalah upaya untuk membantu peserta didik memahami, peduli, dan bertindak sesuai dengan landasan inti nilai-nilai etis. 4. Kreatif dalam penelitian ini adalah berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. 5. Film dalam penelitian ini adalah potongan-potongan video yang bisa menghasilkan suara pandang dan dengar yang ditayangkan dengan media elektronik.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab ini berisi landasan teori yang dijadikan dasar untuk membangun kerangka konseptual. Berdasarkan judul penelitian, maka dalam bab ini peneliti mengemukakan beberapa konsep yang berhubungan dengan variabel penelitian, yaitu hakikat pendidikan karakter di sekolah; hakikat evaluasi, asesmen dan tes; hakikat asesmen pendidikan karakter di sekolah; media film dalam pendidikan karakter; hakikat kota dan desa; kajian penelitian yang relevan, dan kerangka pikir. A. Hakikat Pendidikan Karakter di Sekolah 1. Pengertian Karakter Berkowitz (Koesoema, 2012: 25) mendefinisikan karakter sebagai sekumpulan karakter psikologis yang memengaruhi kemampuan dan kecondongan pribadi agar dapat berfungsi secara moral. Sedangkan menurut Pritchard (Koesoema, 2012: 27) karakter adalah “a compex set of relatively persistent qualities of the individual person, and the term has a definite positive connotation when it is used in discussions of moral education.” Artinya, karakter merupakan sekumpulan kualitas moral yang relative stabil dalam diri seseorang. Karakter ini memiliki konotasi positif ketika diterapkan dalam diskusi moral. Dalam buku yang ditulis oleh Samani & Hariyanto (2011: 41) mengungkapkan bahwa: karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, adat istiadat, dan estetika.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 Sedangkan Lickona (Akhwan, 2014: 61) mengatakan bahwa karakter berkaitan dengan ketiga komponen, yaitu konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior). Ia juga mengatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Berkaitan dengan hal tersebut, Yaumi (2014: 7) mengatakan bahwa komponen karakter adalah moralitas, kebenaran, kebaikan, kekuatan, kekuatan, dan sikap seseorang yang ditunjukkan kepada orang lain melalui tindakan. Ia juga mengatakan, karakter seseorang terpisah dari moralitasnya, baik buruknya karakter tergambar dalam moralitas yang dimiliki. Begitu pula dengan kebenaran yang merupakan perwujudan dari karakter. Kebenaran tidak akan terbangun dengan sendirinya tanpa adanya karakter. Moralitas dan kebenaran yang telah terbentuk merupakan perwujudan dari perbuatan baik. Kebaikan inilah yang mendorong suatu kekuatan dalam diri seseorang untuk menegakkan keadilan. Kebenaran, kebaikan, dan kekuatan sikap adalah bagian integral yang menyatu dengan karakter.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Moralitas Sikap Kebenaran KARAKTER Kekuatan Kebaikan Gambar 2.1 Komponen Karakter Beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa moral dan karakter adalah dua hal yang berbeda. Moral berarti pengetahuan seseorang terhadap hal baik atau buruk, sedangkan karakter adalah tabiat, tindakan/kebiasaan seseorang yang langsung ditentukan oleh otak. Meskipun keduanya memiliki arti yang berbeda, namun moral dan karakter memiliki keterkaitan. Karakter memiliki makna lebih tinggi dari pada moral, karena bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Moral merupakan salah satu komponen yang dapat membentuk karakter individu, ketika moral behavior dapat dilakukan secara berulang. Maka, dapat dikatakan karakter adalah suatu kebiasaan (habituation) untuk melakukan yang baik berdasarkan pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 2. Pengertian Pendidikan Karakter Burke (Samani & Hariyanto, 2011: 43) juga mengatakan bahwa “pendidikan‫ ف‬karakter‫ ف‬semata-mata merupakan bagian dari pembelajaran yang baik dan merupakan bagian yang fundamental dari pendidikan yang baik.”‫ ف‬Sedangkan,‫ ف‬menurut‫ ف‬Samani‫ ف& ف‬Hariyanto‫( ف‬2011:‫ ف‬44)‫“ ف‬pendidikan‫ف‬ karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga,‫ف‬serta‫ف‬rasa‫ف‬dan‫ف‬karsa.”‫ف‬Mereka‫ف‬juga‫ف‬menyampaikan‫ف‬bahwa‫ف‬pendidikan‫ف‬ karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Character Education Partnership (CEP) (Koesoema, 2012: 57) sebuah program nasional pendidikan karakter di Amerika Serikat, mendefinisikan pendidikan karakter adalah sebagai berikut: Sebuah gerakan nasional untuk mengembangkan sekolah-sekolah agar dapat menumbuhkan dan memelihara nilai-nilai etis, tanggung jawab dan kemauan untuk merawat satu sama lain dalam diri anakanak muda, melalui keteladanan dan pengajaran tentang karakter baik, dengan cara memberikan penekanan pada nilai-nilai universal yang diterima oleh semua. Gerakan ini merupakan usaha-usaha dari sekolah, distrik, dan Negara bagian yang sifatnya intensional dan proaktif untuk menanamkan dalam diri para siswa nilai-nilai moral inti, seperti perhatian dan perawatan (caring), kejujuran, keadilan (fairness), tanggung jawab dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Beberapa definisi diatas dapat diartikan bahwa pendidikan karakter adalah proses pemberian bekal atau penanaman nilai moral mengenai karakter pribadi yang baik, sopan, bertanggungjawab, memiliki rasa hormat, jujur, adil, menghargai dan memahami satu sama lain yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui program pemerintah yang ditujukan kepada sekolah. 3. Tujuan, Fungsi dan Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter a. Tujuan pendidikan karakter Menurut pementrian pendidik nasional (2010) Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2010 tentang pengelolaan penyelenggaraan pendidikan‫ف‬pada‫ف‬pasal‫ف‬17‫ف‬ayat‫(ف‬3)‫“ف‬Pendidikan‫ف‬dasar,‫ف‬termasuk‫ف‬sekolah‫ف‬ menengah pertama (SMP) bertujuan membangun landasan bagi berkembangnnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang (a) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (b) berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; (c) berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; (d) sehat, mandiri dan percaya diri; (e) toleran, peka sosial, demokratis,‫ف‬dan‫ف‬bertanggung‫ف‬jawab.”‫ف‬ Melalui penjelasan pada pasal tersebut jelas bahwa tujuan dari pendidikan sangat berkaitan dengan pendidikan karakter. Dapat disimpulkan bahwa melalui pendidikan di sekolah nilai-nilai karakter dapat diterapkan agar membawa perubahan bagi peserta didik dalam hal; beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; memiliki ilmu, cakap, kritis, kreatif,

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 dan inovatif; selain itu juga mampu membantu peserta didik menjadi pribadi yang sehat, mandiri dan percaya diri; serta memiliki rasa toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. b. Fungsi pendidikan karakter Menurut Fathurrohman, dkk (2013: 97) fungsi pendidikan karakter adalah: 1) Pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi prilaku yang baik bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan karakter dan karakter bangsa. 2) Perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat. 3) Penyaring: untuk menyaring karakter-karakter bangsa sendiri dan karakter bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter dan karakter bangsa. c. Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan karakter Menurut Direktorat pembinaan SMP (Fathurrohman, 2013: 145146). Pendidikan karakter harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter. 2) Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 3) Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter. 4) Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian. 5) Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik. 6) Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang, yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses. 7) Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri para peserta didik. 8) Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama. 9) Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter. 10) Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter. 11) Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi karakter.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 4. Nilai-Nilai Karakter yang Utama yang di Kembangkan dalam Pendidikan (Wardani, 2018: 14) mengungkapkan bahwa hasil diskusi dan sarasehan tentang‫“ف‬Pendidikan‫ف‬Budaya‫ف‬dan‫ف‬Karakter‫ف‬Bangsa”‫ف‬menghasilkan‫ف‬ “Kesepakatan‫ ف‬Nasional‫ ف‬Pengembangan‫ ف‬Pendidikan‫ ف‬Budaya‫ ف‬dan‫ ف‬Karakter‫ف‬ Bangsa”‫ ف‬untuk‫ ف‬berbagai‫ ف‬wilayah‫ ف‬Indonesia‫ ف‬yang‫ ف‬terdiri‫ ف‬dari‫ ف‬beberapa nilai karakter yang ditanamkan dalam pendidikan, yaitu: karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, nasionalisme, inovatif, daya juang, rendah hati, memaafkan, kepemimpinan, dan kerja keras. Beberapa karakter tersebut dijadikan landasan oleh peneliti untuk mengukur karakter beberapa anak SMP di Indonesia. Karakter-karakter tersebut diciptakan dalam bentuk potongan film pendek yang diikuti dengan soal-soal karakter yang sesuai dengan potongan film. Soal yang berjumlah 88 tersebut digunakan sebagai produk asesmen pendidikan karakter bagi beberapa siswa SMP di Indonesia. B. Hakikat Evaluasi, Asesmen dan Tes 1. Pengertian Evaluasi, Asesmen, dan Tes a. Pengertian Evaluasi Wringston‫( ف‬Purwanto,‫ ف‬1992)‫ ف‬mengemukakan‫ ف‬bahwa,‫“ ف‬evalusi‫ف‬ adalah penafsiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 tujuan atau nilai yang telah ditetapkan‫ ف‬dalam‫ ف‬kurikulum.” Lessingner (Gibson,‫ ف‬1981:‫ ف‬374)‫ ف‬mendefinisikan‫ ف‬bahwa‫“ ف‬evaluasi adalah sebagai proses penilaian dengan jalan membandingkan antara tujuan yang diharapkan‫ف‬dengan‫ف‬kemajuan/prestasi‫ف‬nyata‫ف‬yang‫ف‬dicapai.”‫ف‬ Sementara Gay (Sukardi, 2014: 8) berpendapat bahwa evaluasi adalah sebuah proses sistematis pengumpulan dan penganalisisan data untuk pengambilan keputusan. Jadi, evaluasi adalah proses penilaian, pengumpulan, dan menganalisis data atau suatu kejadian pada kenyataan dengan program atau tujuan yang sudah ditetapkan. b. Pengertian Asesmen (Penilaian) Linn dan Grounlund (Uno dan Koni, 2012: 1) menegaskan “asesemen (penilaian) adalah prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang belajar siswa (observasi, rata-rata pelaksanaan tes tertulis) dan format penilaian kemajuan belajar.”‫ف‬ Suwandi (2009: 7) mengatakan bahwa “penilaian‫ف‬adalah‫ف‬suatu‫ ف‬proses‫ف‬ untuk mengetahui apakah proses dan hasil dari suatu program kegiatan telah‫ف‬sesuai‫ف‬dengan‫ف‬tujuan‫ف‬atau‫ف‬kriteria‫ف‬yang‫ف‬telah‫ف‬ditetapkan.” Penilaian merupakan kegiatan yang dilakukan guru untuk memperoleh informasi secara objektif, berkelanjutan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang dicapai siswa, yang hasilnya digunakan sebagai dasar untuk menentukan perlakuan selanjutnya (Depdiknas, 2001). Jadi, penilaian adalah suatu kegiatan mengumpulkan dan menganalisis data tentang suatu proses dan hasil

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 belajar siswa untuk mendapatkan informasi, apakah hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan tujuan atau standar yang ditetapkan atau belum. c. Pengertian Tes Jihad dan Haris‫( ف‬2008:‫ ف‬67)‫ ف‬mengatakan‫ ف‬bahwa‫“ ف‬tes‫ ف‬merupakan‫ف‬ himpunan pertanyaan yang harus dijawab, harus ditanggapi, atau tugas yang‫ ف‬harus‫ ف‬dilaksanakan‫ ف‬oleh‫ ف‬orang‫ ف‬yang‫ ف‬dites.”‫ ف‬Arikunto (2012) menegaskan “tes adalah suatu cara untuk melakukan penilaian yang berbentuk tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa.”‫ف‬ Menurut Brown (Ratnawulan dan Rusdiana, 2015: 128), “a test as a systematic procedure for measure a sample of behavior”, yang menjelaskan bahwa pada prinsipnya suatu tes merupakan suatu prosedur sistematis untuk mengukur sampel tingkah laku seseorang. Jadi, tes adalah suatu ukuran penilaian yang dijadikan patokan oleh individu (guru) untuk mengukur kemampuan individu yang diberikan tes (siswa). 2. Tujuan dan Fungsi Asesmen a. Tujuan Asesmen Menurut pedoman penilaian Depdikbud (Jihad & Haris. 2008: 63),‫ف‬tujuan‫ف‬penilaian‫ف‬adalah‫“ف‬untuk mengetahui kemajuan belajar siswa, untuk perbaikan dan peningkatan kegiatan belajar siswa serta sekaligus memberi‫ ف‬umpan‫ ف‬balik‫ ف‬bagi‫ ف‬perbaikan‫ ف‬pelaksanaan‫ ف‬kegiatan‫ ف‬belajar.”‫ف‬ Sementara‫ ف‬Jihad‫ ف& ف‬Haris‫( ف‬2008:‫ ف‬63)‫ ف‬mengatakan‫ ف‬bahwa‫“ ف‬tujuan‫ف‬ penilaian untuk mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan atau kesulitan‫ف‬belajar‫ف‬siswa,‫ف‬dan‫ف‬sekaligus‫ف‬memberi‫ف‬umpan‫ف‬balik‫ف‬yanf‫ف‬tepat.”‫ف‬

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 Menurut Suwandi, (2009:‫ف‬14)‫ف‬mengatakan‫ف‬bahwa‫“ف‬secara‫ف‬umum‫ف‬ semua jenis penilaian berbasis kelas bertujuan untuk menilai hasil belajar peserta didik di sekolah, mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat, dan untuk mengetahui ketercapaian‫ف‬mutu‫ف‬pendidikan‫ف‬secara‫ف‬umum.” b. Fungsi Asesmen Menurut Supranata & Hatta (Suwandi, 2009: 15) mengatakan bahwa penilaian berbasis kelas memiliki sejumlah fungsi, yaitu sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas, umpan balik dalam perbaikan program pengajaran, alat pendorong dalam meningkatkan kemampuan peserta didik, dan sebagai alat untuk peserta didik melakukan evaluasi terhadap kinerjanya serta bercermin diri (instropeksi) misalnya melalui portofolio. Menurut Nana Sudjana (Jihad & Haris. 2008: 56) penilaian (asesmen) berfungsi sebagai: a. Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional. Dengan fungsi ini maka penilaian (asesmen) harus mengacu kepada tujuan-tujuan intruksional. b. Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengjar. Perbaikan mungkin dapat dilakukan dalam hal tujuan instruksional, kegiatan belajar siswa, strategi mengajar guru. c. Dasar dalam menyusun laporan kemajuan siswa kepada orangtuanya. Dalam laporan tersebut dikemukakan dan kecakapan

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 belajar siswa dalam bentuk-bentuk nilai-nilai prestasi yang dicapainya. 3. Ruang Lingkup Asesmen Menurut Uno, Hamzah, dan Satria Koni (2012:17) isi model penilaian kelas ini meliputi konsep dasar penilaian kelas, teknik penilaian, langkah-langkah pelaksanaan penilaian, pengolahan hasil penilaian serta pemanfaatan dan pelaporan hasil penilaian. Dalam konsep penilaian, akan dijelaskan apa yang dimaksud dengan penilaian, manfaat penilaian, fungsi penilaian, dan rambu-rambu penilaian. Teknik penilaian akan menjelaskan berbagai cara dan alat penilaian. 4. Prinsip-prinsip Asesmen Menurut (Depdiknas tahun 2002 Suwandi, 2009: 21) mengatakan bahwa prinsip umum penilaian (asesmen) meliputi: a. Valid, artinya penilaian harus mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan alat yang dapat dipercaya dan sahih. b. Mendidik, artinya penilaian harus memberi sumbangan yang positif terhadap pencapaian hasil belajar siswa, seperti memotivasi siswa yang berhasil dan memberikan semangat untuk meningkatkan hasil belajar siswa. c. Berorientasi pada kompetensi, artinya mampu menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum. d. Adil dan objektif, artinya penilaian harus adil terhadap semua siswa dan tidak membeda-bedakan latar belakang siswa.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 e. Terbuka, artinya kriteria penilaian hendaknya terbuka bagi berbagai kalangan sehingga keputusan tentang keberhasilan siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan. f. Berkesinambungan, artinya penilaian dilakukan secara berencana, bertahap teratur, terus menerus, dan berkesinambungan untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan kemajuan belajar siswa. g. Menyeluruh, artinya penilaian dilaksanakan secara menyeluruh, utuh, dan tuntas yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik serta berlandaskan berbagai teknik dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar siswa. h. Bermakna, artinya penilaian hendaknya mudah dipahami dan mudah ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Menurut Jihad & Haris (2008: 63) sistem penilaian dalam pembelajaran, baik pada penilaian berkelanjutan maupun penilaian akhir, hendaknya dikembangkan berdasarkan sejumlah prinsip sebagai berikut: a. Menyeluruh, artinya penguasaan kompetensi dalam mata pelajaran hendaknya menyeluruh, baik menyangkut standar kompetensi, kemampuan dasar serta keseluruhan indikator ketercapaian, baik menyangkut dominan kognitif (pengetahuan), afektif (sikap, perilaku, dan nilai), serta psikomotor (keterampilan), maupun menyangkut evaluasi proses dan hasil belajar. b. Berkelanjutan, artinya penilaian seharusnya direncanakan dan dilakukan secara terus menerus guna mendapatkan gambaran yang utuh mengenai

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 perkembangan hasil belajar siswa sebagai dampak langsung (dampak instruksional/pembelajaran) maupun dampak tindak langsung (dampak pengiring/nurturan effect) dari proses pembelajaran. c. Berorientasi pada indikator ketercapaian, artinya sistem penilaian dalam pembelajaran harus mengacu pada indikator ketercapaian yang sudah ditetapkan berdasarkan kemampuan dasar/kemampuan minimal dan standar kompetensinya. d. Sesuai dengan pengalaman belajar, artinya sistem penilaian dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan pengalaman belajarnya. 5. Jenis-jenis Asesmen Menurut Uno dan Koni (2012) jenis-jenis asesmen dilaksanakan dalam berbagai teknik, seperti: penilaian kinerja (performance), penilaian sikap, dan penilaian tertulis (paper and pencil test, penilaian proyek, dan penilaian diri/self assessment). Menurut Subali (2016) berdasarkan ragam jenis asesmen dibedakan menjadi empat, yaitu: a. Asesmen penempatan. Asesmen ini dilakukan berdasarkan hasil pengukuran terhadap masing-masing peserta didik sebelum menempuh program pengajaran. Tujuannya yaitu untuk mengetahui penguasaan kemampuan prasyarat masing-masing peserta didik yang diperlukan dalam proses pembelajaran yang akan diselenggarakan bila diperlukan adanya kemampuan yang ditargetkan.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 b. Asesmen formatif. Asesmen ini dilakukan berdasarkan hasil pengukuran terhadap masing-masing peserta didik selama menempuh kegiatan pembelajaran. Tujuannya untuk mengetahui apakah setiap peserta didik melaju dengan baik selama proses pembelajarannya sampai akhir program sehingga kegiatan belajar selanjutnya menjadi lebih efektif dan efisien. c. Asesmen sumatif. Asesmen ini dilakukan terhadap masing-masing peserta didik setelah selesai menempuh suatu program pembelajaran. Tujuannya untuk menentukan nilai akhir masing-masing peserta didik yang menempuh suatu program pembelajaran untuk selanjutnya dapat ditetapkan apakah seorang peserta didik dinyatakan berhasil atau gagal. Jika berhasil peserta didik tersebut akan diberi sertifikat karena telah menguasai kecakapan atau keterampilan tertentu yang ditargetkan dalam program pembelajaran yang dirancang. d. Asesmen konfirmatori. Asesmen ini dilakukan terhadap masing-masing orang yang ingin dinilai tanpa dilakukan dengan kegiatan pembelajaran yang ditempuh. Asesmen konfirmatori dilaksanakan melalui pengukuran yang menggunakan instrument yang sahih dan handal. Dalam hal kegiatan pembelajaran, asesmen konfirmatori dapat dilakukan oleh pihak eksternal. Pemerintah menerapkan ujian nasional untuk menetapkan

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 setiap peserta didik untuk dinyatakan lulus dan tidak lulus dalam menguasai kompetensi yang diterapkan. Menurut Prijowuntato (2016: 60-66) alat yang dapat digunakan untuk menilai ketercapaian konpetensi siswa dapat dibedakan menjadi dua yaitu tes dan non tes. a. Tes. Bentuk tes yang digunakan untuk mengevaluasi peserta didik dapat berupa; pilihan ganda, uraian objektif, uraian non objektif/uraian bebas, jawaban singkat/isian singkat, menjodohkan, performans/unjuk kinerja, portofolio. Bentuk tes digunakan apabila sifat suatu objek yang diukur menyangkut tingkah laku yang berhubungan dengan apa yang diketahui, dipahami atau proses psikis lainnya yang tidak dipahami dengan indera. Tingkat berpikir yang digunakan dalam mengerjakan tes harus mencakup mulai dari yang rendah sampai yang tinggi, dengan proporsi yang sebanding sesuai jenjang pendidikan. Bentuk tes yang digunakan di sekolah dapat dikategorikan menjadi dua yaitu tes objektif dan tes non objektif. Objektif di sini dilihat dari sistem penskorannya, yaitu siapa yang memeriksa lembar jawaban tes akan menghasilkan skor yang sama. Tes non objektif adalah tes yang sistem penskorannya dipengaruhi oleh pemberi skor. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa tes objektif adalah tes yang sistem penskorannya objektif sedangkan non objektif sistem penskorannya dipengaruhi oleh subjektifitas pemberi skor.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 b. Non tes. Bentuk non tes yang digunakan untuk mengevaluasi peserta didik dapat berupa; obserfasi, catatan anekdot, daftar cek, skala nilai, kuesioner, wawancara. Bentuk non tes digunakan apabila perubahan tingkah laku yang dapat diamati dengan indera dan bersifat konkret. Konsekuensi dari pengukuran menggunakan bentuk non tes sangat bergantung pada situasi di mana perubahan tingkah laku individu itu muncul atau menggejala. Oleh karenanya, situasi pengukuran yang seragam sukar dipersiapkan. Suatu pengukuran dengan alat pengukuran non tes terjadi dalam situasi yang kurang distandarisasi, seperti waktu pengukuran yang dapat tidak sama atau seragam bagi semua siswa. 6. Teknik-teknik Asesmen Teknik yang biasanya digunakan untuk mengukur/mengevaluasi hasil ketercapaian siswa adalah menggunakan teknik tes dan teknik non-tes. Menurut Jihad & Haris (2008: 68) alat penilaian teknik tes yaitu: a. Tes tertulis, merupakan tes atau soal yang diselesaikan siswa secara tertulis. Tes tertulis ini terdiri atas bentuk objektif dan bentuk uraian. Bentuk objektif meliputi pilihan ganda, isian, benar salah, menjodohkan, serta jawaban singkat.sedangkan bentuk uraian meliputi uraian terbatas dan uraian singkat. b. Tes lisan, yang merupakan sekumpulan tes atau soal atau tugas pertanyaan yang diberikan kepada siswa dan dilaksanakan dengan cara Tanya jawab.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 c. Tes perbuatan, merupakan tugas yang pada umumnya berupa kegiatan praktek atau melakukan kegiatan yang mengukur ketrampilan. Mereka juga mengungkapkan secara rinci mengenai teknis penilaian siswa dapat dilakukan dengan cara ulangan harian, tugas kelompok, kuis, ulangan blok, pertanyaan lisan, dan juga tugas individu. Sedangkan Depdiknas, 2001 (Jihad & Haris, 2008: 69) juga mengatakan bahwa penilaian non-tes merupakan prosedur yang dilalui untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik minat, sifat, dan kepribadian. Melalui: a. Pengamatan, yakni alat penilaian yang pengisiannya dilakukan oleh guru atas dasar pengamatan terhadap perilaku siswa, baik secara perorangan maupun kelompok, di kelas maupun di luar kelas; b. Skala sikap, yaitu alat penilaian yang digunakan untuk mengungkap sikap siswa melalui pengerjaan tugas tertulis dengan soal-soal yang lebih mengukur daya nalar atau pendapat siswa; c. Angket, yaitu alat penilaian yang meyajikan tugas-tugas atau mengerjakan dengan cara tertulis; d. Catatan harian, yaitu suatu catatan mengenai perilaku siswa yang dipandang mempunyai kaitan dengan perkembangan pribadinya; e. Daftar cek, yaitu suatu daftar yang dipergunakan untuk mengecek terhadap perilaku siswa telah sesuai dengan yang diharapkan atau belum. Namun, Sukardi (2014: 104) mengatakan bahwa tes dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tes normative dan tes kriterion. Suatu tes

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 dikatakan sebagai tes normative apabila evaluator dalam mengevaluasi bisa membandingkan hasil penilaian individu antara satu individu dengan individu lainnya dalam penyelenggaraan tes yang sama. Suatu tes dikatakan kriterion jika para evaluator dalam pengukuran terhadap subjek atau objek yang dievaluasi atas dasar apa yang telah dia perbuat sesuai dengan kapasitasnya tanpa membandingkan dengan orang lain. 7. Tes sebagai Teknik Asesmen Sukardi (2014: 92) mengatakan bahwa tes atau testing merupakan prosedur sistematis yang direncanakan oleh evaluator guna membandingkan antar perilaku yang dievaluasi. Tes atau testing berisi item atau butir soal yang akan diberikan kepada peserta yang mengikuti tes. Ia juga mengatakan bahwa item atau butir soal, yaitu bagian terkecil dari suatu tes yang memuat satu fakta atau konsep yang diungkapkan melalui pertanyaan atau pernyataan yang dapat diisolasi untuk pengamatan dan pengambilan keputusan. Tes sebagai teknik asesmen dapat meyediakan informasi-informasi objektif yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penentuan keputusan yang harus diambil pendidik terhadap proses dan hasil belajar. Tes ini dilakukan sebelum, saat, dan akhir pembelajaran, sehingga bergulir tanpa henti (dynamic assesment).

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 C. Hakikat Asesmen Pendidikan Karakter di Sekolah 1. Manfaat Asesmen Pendidikan Karakter Evaluasi pendidikan karakter di SMP sangat relevan dilakukan dalam upaya untuk melihat secara jujur dan objektif apakah pendidikan karakter di SMP sungguh ada dan terlaksana sesuai dengan tujuan, prinsip, asas, dan mekanisme penyelenggaraan pelayanan bimbingan secara konseptual. Apabila itu terlaksana, apakah program itu menguntungkan, berfungsi dan bermanfaat menunjang perkembangan peserta didik? Jika dalam pelaksanaan program ditemukan faktor-faktor kendala atau hambatan, lalu apa yang perlu diperbaiki? Semua ini membutuhkan data dan analisis yang sistemis melalui program yang diharapkan dapat dilakukan sendiri oleh penyelenggara program. 2. Teknik-Teknik Asesmen Pendidikan Karakter Akhlak mulia atau karakter adalah suatu hal yang bersifat abstrak. Meskipun absrak, karakter seseorang dapat diketahui melalui asesmen. Pendidikan karakter saat ini dimasukan dalam pembelajaran di sekolah melalui mata pelajaran yang memiliki kaitan dengan moral seperti; pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, budi pekerti. Sebagai sebuah pelajaran maka guru harus membuat definisi-definisi operasional dan indikator untuk mengukur dan menilai kemudian mengevaluasi karakter siswa. Menurut Zainul & Nasution (2005: 5-8) sebagai sebuah pelajaran pendidikan karakter harus dikenakan pengukuran dan penilaian.

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 Pengukuran adalah pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu, sedangkan penilaian adalah proses pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran baik melalui instrumen tes maupun non tes. Pengukuran dan penilaian melalui instrumen tes seperti (pilihan ganda, uraian objektif, uraian non objektif/uraian bebas, jawaban singkat, atau isisan singgkat, menjodohkan, performans, benarsalah, tes lisan, portofolio. Melalui intrumen non tes (observasi, catatan anekdota, daftar cek, skal nilai, angket atau kuesioner, wawancara dan rangkuman, Prijowuntato (2016: 60). Maka guru perlu mengukur dan menilai berdasarkan indikator-indikator yang jelas sebagai landasan dalam melakukan pengukuran dan penilaian pendidikan karakter dengan menggunakan istumen asesmen yang ada. 3. Kekuatan dan Kelemahan Tes Banyak bentuk tes yang digunakan untuk mengukur perkembangan belajar terutama pendidikan karakter dari peserta didik di sekolah. Permasalahan yang ditemukan adalah bahwa guru mengalami kesulitan karena pengamatan didasarkan pada prinsip-prinsip yang masih abstrak dan belum diuraikan dalam definisi-definisi operasional dan indikator-indikator. Guru mengatakan bahwa yang dinilai adalah keterlibatan di kelas, kepedulian kepada teman. Dalam bahasa sehari-hari, apa yang dilakukan guru adalah nilai kira-kira sesuai dengan apa yang dilihat ketika di dalam kelas. Besar kemungkinan guru salah menilai atau menilai dengan subjektivitas yang sangat tinggi berdasarkan like and dislike, hal itu sangat

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 merugikan siswa. Dalam pelajaran Character Building, hal terpenting untuk dilakukan adalah observasi. Namun, observasi memiliki problem, yaitu subjektivitas yang tinggi. Menurut Prijowuntato, (2016: 66) kekuatan observasi adalah pemunculan gejala dan pengamatannya dapat dilakukan sekaligus oleh pengamat, dapat merekam atau mencatat berbagai tingkah laku peserta didik, hasil observasi dapat dipakai sebagai alat kontrol. Tetapi kelemahan dari observasi ialah banyak tergantung pada faktor-faktor yang tidak dapat dikontrol sebelumnya sehingga hasilnya kurang reliabel, tingkah laku tidak asli lagi, apabila yang diamati mengetahui bahwa tingkah lakunya sedang diamati. Arikunto (2003) menegaskan tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Tes objektif terdapat kelemahan dan kelebihan, sebagai berikut: a. Kelebihan tes objektif, yaitu. 1) Lebih respektif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat di hindari campur tangan unsur-unsur subjektif baik dari segi peserta didik maupun segi guru yang memeriksa. 2) Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat memnggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi. 3) Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain. 4) Dalam pemeriksaan tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi. 5) Untuk menjawab tes objektif tidak banyak memakai waktu

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 6) Reliabilitinya lebih tinggi kalau dibandingkan dengan tes essay, karena penilainya bersifat objektif. 7) Validitas tes objektif lebih tinggi dari tes essay, karena samplingnya lebih luas. 8) Pemberian nilai dan cara menilai tes objektif lebih cepat dan mudah karena tidak menuntut keahlian khusus. 9) Tes objektif tidak memperdulikan penguasaan bahasa, sehingga mudah dilaksanakan. b. Kelemahan tes objektif 1) Persiapan untuk menyusun jauh lebih sulit dari pada tes essay karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang lain. 2) Soal-soal cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi. 3) Banyak kesempatan untuk main untung-untungan. 4) Kerjasama antar peserta didik pada waktu mengerjakan sol tes lebih terbuka. 5) Peserta didik sering menerka-nerka dalam memberikan jawaban, karena belum menguasai bahan pelajaran tersebut. 6) Tes sampling yang diajukan kepada peserta didik cukup banyak dan hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk menjawabnya.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 7) Tidak biasa megajak peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi. 8) Banyak memakan biaya, karena lembaran item-item tes harus sebanyak jumlah pengikut tes. Beberapa bentuk tes objektif yaitu salah-benar (true-false), pilihan ganda (multiple choise), isian (completion), jawaban singkat (short answer), dan menjodohkan (matching). Masing-masing bentuk tes objektif mempunyai kelebihan dan kelemahan. Salah satu bentuk tes objektif yaitu pilihan ganda mempunya kelebihan dan kelemahan sebagai berikut: a. Kelebihan 1) Hasil belajar yang sederhana sampai yang komplek dapat diukur. 2) Terstruktur dan petunjuknya jelas. 3) Alternatif jawaban yang salah dapat memberikan informasi diagnostik 4) Tidak dimungkinkan untuk menerka jawaban 5) Penilaian mudah, objektif, dan dapat dipercaya. b. Kelemahan 1) Proses penyusunanya membutuhkan waktu yang lama 2) Sulit menemukan pengacau 3) Kurang efektif mengukur beberapa tipe pemecahan masalah, kemampuan untuk mengorganisir dan mengekspresikan ide 4) Nilai dapat dipengaruhi dengan kemampuan baca.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 4. Prinsip-prinsip Pengembangan dan Penggunaan Tes dalam Pendidikan Karakter. Untuk mendapatkan instrumen tes baik diperlukan sejumlah langkah pengembangan atau langkah umum konstruksi tes. Menurut Azwar (2014: 14-20) awal kerja penyusunan atau pengembangan suatu alat tes dimulai dari: a. Identifikasi tujuan ukur. Yaitu memilih suatu definisi, mengenali dan memahami dengan seksama teori yang mendasari konstruk atribut yang hendak diukur. b. Pembatasan domain ukur. Pembatasan domain dilakukan dengan cara menguraikan konstruk teoritik atribut yang diukur menjadi beberapa rumusan dimensi atau aspek yang lebih jelas, agar menunjang validitas isi skala. c. Oprasionalisasi aspek. Operasionalisasi aspek diperlukan agar membentuk keperilakuan yang hendak diukur dapat lebih konkret sehingga penulis item akan lebih memahami benar arah respon yang harus diungkap dari subjek. Operasionalisasi dirumuskan dalam bentuk indikator keperilakuan. Himpunan indikator-indikator kemudian dituangkan dalam kisi-kisi atau blue print dan dilengkapi dengan spesifikasi skala, sebagai acuan bagi penulisan item. Sebelum penulisan item perancang perlu menetapkan format stimulus yang hendak digunakan, format ini erat kaitanya dengan metode penskalaannya.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 d. Penulisan item. Pada tahap awal penulisan item, item dibuat dalam jumlah yang lebih banyak daripada jumlah yang direncanakan dalam spesifikasi skala, yaitu sekitar tiga kali lipat dari jumlah item yang digunakan dalam bentuk final. Tujuannya agar nantinya penyusun skala tidak kehabisan item akibat gugurnya item-iten yang tidak memenuhi syarat. e. Review penulisan item. Review pertama harus dilakukan oleh penulis item sendiri, yaitu dengan mengecek ulang setiap item sendiri, apakah telah sesuai dengan indikator prilaku yang hendak diungkap. Setelah itu review dapat dilakukan oleh orang yang berkompeten atau ahli. Semua item yang tidak sesuai dengan kaidah atau spesifikasi blue print harus diperbaiki, dan hanya item-item yang diyakini berfungsi dengan baik oleh ahli (expert judgmen), yang dapat diloloskan untuk uji empirik. f. Uji coba bahasa (evaluasi kualitatif) Kumpulan item yang telah direview kemudian dievaluasi secara kualitatif, dengan mengujicobakan pada sekelompok kecil responden untuk mengetahui apakah kalimat yang digunakan sudah tepat dan mudah dipahami oleh responden sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis item. pertanyaan-pertanyaan dari responden mengenai kata-kata dalam item menandakan bahwa kalimat dalam item masih kurang komunikatif dan memerlukan perbaikan.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 g. Field tes (evaluasi kuantitatif) Evaluasi terhadap fungsi item biasa dikenal dengan analisis item. Analisis item merupakan proses pengujian item secara kuantitatif guna mengetahui apakah item memenuhi syarat psikometrik untuk disertakan sebagai bagian dari skala. Parameter item yang diuji adalah daya beda item atau daya diskriminasi item. h. Seleksi item Pada tahap ini item-item yang tidak memenuhi syarat psikometrik tidak akan digunakan atau akan diperbaiki lebih dahulu sebelum dapat digunakan. Sebaliknya item-item yang memenuhi syarat psikometrik dengan sendirinya akan digunakan dalam skala. i. Validasi konstruk Validasi skala merupakan proses yang berkelanjutan, tetapi pada skala yang digunakan secara terbatas umumnya hanya melalui validasi isi yang dilakukan oleh ahli (expert judgment) namun sebenarnya semua skala harus teruji konstruknya. Skala yang sudah sesuai secara isi tetap perlu diuji secara empirik apakah konstruk yang digunakan dari teori sudah didukung dengan data. j. Kompilasi final Format final skala dirakit dalam tampilan yang menarik namun tetap memudahkan responden untuk membaca dan menjawabnya. Dalam bentuk final, skala dilengkapi dengan petunjuk soal dan lembar

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 jawab. Ukuran tulisan pada skala perlu disesuaikan agar tidak ada kata yang tertinggal atau tidak terbaca. Sedangkan menurut Fernandes dan Soeharto (Suwandi, 2010: 57) ada sembilan langkah dalam pengembangan insrumen tes antara lain: a. Membuat spesifikasi tujuan (penjelasan tentang pengetahuan, keterampilan, atau tingkah laku yang akan diditeksi). b. Menerjemahkan tujuan-tujuan tes dalam istilah-istilah yang operasional (tes harus mencerminkan isi dan tujuan dalam keadaan operasional dan sesuai dengan kepentingannya. c. Merumuskan tujuan dalam kata-taka yang mengambarkan tingkah laku (observable dan measurable). d. Merencanakan tes (berapa jumlah butir tes, bagaimana bentuk tes, dsb). e. Menulis butir-butir tes dengan format yang dikehendaki. f. Melakukan uji coba butir-butir tes dan menganalisisnya. g. Menyetel tes yang sudah final. h. Standarisasi (proses pengembangan alat kontrol: petunjuk pengerjaan, waktu pengerjaan, prosedur dan standar penilaian). i. Memberi atribut pada skor-skor tes (menjelaskan indeks validitas dan reliabilitas).

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 Sementara itu, menurut Surapranata (Suwandi, 2010: 59-64) prinsip-prinsip pengambangan dan penggunaan tes meliputi: a. Penentuan tujuan. Tahap awal yang sangat penting dalam pengembangan tes adalah menentukan tujuan. Secara umum tes antara lain dikembangkan untuk kepentingan penempatan yang terdiri atas pre tes kesiapan dan pre tes penempatan, formatif, diagnostik, dan sumatif. b. Pemilihan soal. Pemilihan soal merupakan salah satu langkah penting untuk dapat menghasilkan tes yang baik. Pemilihan soal dari 190 butir soal yang valid akan dipilih 80 butir untuk dikembangkan. c. Review dan revisi soal. Riview dan refisi soal pada prinsipnya adalah upaya untuk memperoleh informasi mengenai sejauh mana suatu soal telah berfungsi secara efektif dan telah memenuhi kaidah yang telah ditetapkan, misalnya kaidah konstruksi, bahasa, dan penulisan soal. Review dan revisi idealnya dilakukan oleh orang lain (bukan si penulis soal) yang terdiri atas suatu tim penelaah yang terdiri atas ahli-ahli materi, pengukuran dan bahasa. d. Uji coba dan analisis. Uji coba soal pada prinsipnya adalah upaya untuk mendapatkan informasi yang empirik mengenai seberapa baik

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 sebuah soal dapat mengukur apa yang hendak diukur. Informasi empirik tersebut pada umumnya menyangkut segala hal yang dapat mempengaruhi validitas soal seperti aspek-aspek keterbacaan soal, tingkat kesulitan soal, pola jawaban, tingkat daya pembeda, pengaruh budaya, dan sebagainya. Dari hasil uji coba akan diketahui‫ ف‬apakah‫ ف‬suatu‫ ف‬soal‫“ ف‬lebih‫ ف‬berfungsi”.‫ ف‬Hasil‫ ف‬uji‫ ف‬coba‫ف‬ tersebut selanjutnya dianalisis dengan teknik yang telah ditentukan. e. Praktikan soal. Soal-soal yang baik hasil dari uji coba dapat dirakit sesuai dengan kebutuhan tes. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perakitan antara lain; penyebaran soal, penyebaran tingkat kesulitan soal, daya pembeda atau validitas soal penyebaran jawaban, dan lay out tes. f. Penyajian tes. Hal yang perlu diperhatikan dalam penyajian tes ini adalah administrasi penyajian tes yang antara lain meliputi: petunjuk pengerjaan, cara menjawab, alokasi waktu yang disediakan, ruangan, tempat duduk peserta didik, dan pengawasan. g. Penskoran. Penskoran atau pemeriksaan atas jawaban peserta didik dan pemberian angka dilakukan dalam rangka mendapatkan informasi kuantitatif dari masing-masing peserta didik. Peskoran harus dilakukan secara objektif.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 h. Pelaporan hasil tes. Setelah tes digunakan dan dilakukan penskoran, hasilnya dilaporkan. Pelaporan dapat diberikan kepada peserta didik yang bersangkutan, orang tua peserta didik, kepala sekolah, dan pihakpihak yang berkepentingan. i. Pemanfaatan hasil tes. Hasil pengukuran yang diperoleh melalui tes berguna sesuai dengan tujuan dilakukanya tes. Informasi hasil pengukuran dapat dimanfaatkan untuk perbaikan atau penyempurnaan sistem, proses atau kegiatan belajar mengajar, maupun sebagai data untuk mengambil keputusan atau menentukan kebijakan selanjutnya. Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip pengembangan dan penggunaan tes harus memiliki langkah-langkah; seperti menentukan tujuan dari alat tes yang akan dibuat, merancang tes (membuat kisi-kisi, merancang butir-butir tes, format tes, menulis soal tes), mereview dan merevisi soal tes yang akan digunakan, setelah itu melakukan uji coba dan analisis, soal tes hasil analisis selanjutnya dirakit menjadi soal-soal tes yang memiliki kriteria baik, dan diberikan kepada peserta didik. Setelah itu dilakukan penskoran dari hasil jawaban peserta didik, hasil penskoran lalu diberikan kepada peserta didik dan pihak-pihak yang berkepentingan agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dan menentukan kebijakan.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 5. Hambatan-Hambatan dan Kesulitan-Kesulitan Asesmen Pendidikan Karakter Beberapa Sekolah di Indonesia. Menurut Barus, dkk (2017: 47) Hambatan-hambatan dan kesulitankesulitan Asesmen Pendidikan Karakter di Indonesia, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Kesadaran para guru tentang pentingnya asesmen pendidikan sangat tinggi, namun kesadaran tersebut belum diikuti dengan langkah konkrit dalam perencanaan dan pelaksanaannya. 2. Para guru mengaku ada perencanaan dan pelaksanaan yang rutin dari pihak sekolah tentang asesmen pendidikan karakter, namun sebagain besar tidak sampai pada tahapan pelaksanaan asesmen yang prosedural. Kebanyakan mereka terhenti pada merencanakan tetapi tidak sampai pada tahap implementasi dan analisis hasil. 3. Sedikit sekali guru yang membaca dan memahami isi Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMP (Direktur Pembinaan SMP, Kemendiknas, 2010) yang disosialisasikan pemerintah. Sebagian besar mereka mengaku bahwa nilai karakter terpilih hanya sekedar tertempel pada RPP, namun sulit dilaksanakan dan dinilai. 4. Sebagaian besar guru mengandalkan teknik observasi dalam mengakes karakter siswa, namun pelasanaannya belum mengikuti prosedur yang benar, misalnya tanpa pencatatan data, sporadic, tidak rutin, berbasis perilaku negative (pelanggaran tata tertib).

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 5. Meski sebagian besar guru mengandalkan observasi sebagai cara penilaian karakter siswa yang paling sering digunakan, meski mereka mengakui banyak kelemahan dari penggunaan observasi itu. 6. Sebagian besar guru pada 11 SMP dari berbagai kota di Indonesia mengaku di sekolah mereka ada perencanaan pendidikan karakter yang operasional. Mereka juga mengaku dilibatkan dalam membuat perencanaan itu, namun hanya sedikit sekali guru yang merasa mampu melaksanakan rencana ini. 7. Sebagaian besar (hampir 71%) guru mengaku kurang berhasil atau “gagal”‫ف‬mendaratkan‫ف‬perencanaan‫ف‬itu‫ف‬dengan‫ف‬hasil‫ف‬yang‫ف‬baik.‫ف‬ 8. Sekolah-sekolah swasta memiliki keragaman dan lebih kaya dalam variasi kegiatan pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah ketimbang sekolah-sekolah negeri. 9. Kehadiran Guru BK di sekolah-sekolah negeribelum difungsikan secara optimal sebagai saluran pendidikan karakter, sementara itu pada sekolah-sekolah swasta guru BK diberi jam bimbingan masuk kelas yang dapat digunakan sebagai sarana dan kesempatan memberikan “Bimbingan‫ف‬Karakter”‫ف‬bagi‫ف‬semua‫ف‬siswa‫ف‬di‫ف‬kelas.‫ف‬ 10. Banyak guru di SMP negeri maupun swasta memilih kegiatan keagamaan sebagai muatan kegiatan pendidikan karakter, namun sedikit sekali (hanya 6 orang) guru yang merasakan adanya peningkatan kesadaran siswa bertaqwa, berdoa, dan beribadah sebagai indikasi keberhasilan pendidikan karakter.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 11. Sementara itu, kantin kejujuran sebagai sebuah gerakan yang menggelegar pada tahun 2010 bersamaan dengan masa pencanangan pendidikan karakter di sekolah, kini kehilangan momen, mulai terlupakan. 12. Banyak indikasi keberhasilan karakter yang dapat ditunjukkan para guru dalam survey ini, namun lebih banyak lagi noda hitam keprihatinan yang menandai ketidakberhasilan pendidikan karakter di sekolah. Masih banyak siswa berperilaku buruk, kurang sopan, melanggar peraturan/tata tertib, kurang jujur, tidak disiplin, masih ada siswa yang suka bolos, bersikap brutal dan menentang guru, putus sekolah karena kawin di usia dini, bahkan ada yang melakukan klitih merupakan sinyal ketidakberhasilan pendidikan karakter di SMP. 13. Jadi, maraknya perkelahian antarsiswa, mengganasnya perilaku bullying‫ف‬dan‫“ف‬klitih”,‫ف‬makin‫ف‬menggilanya‫ف‬perilaku‫ف‬sex‫ف‬bebas‫ف‬dan‫ف‬aborsi‫ف‬ di‫ف‬kalangan‫ف‬remaja,‫ف‬bisa‫ف‬jadi‫ف‬merupakan‫ف‬sinyal‫“ف‬gagalnya”‫ف‬pendidikan‫ف‬ karakter di sekolah dan keluarga. 14. Sebagian besar guru mengaku telah melaksanakan asesmen pendidikan karakter secara rutin, namun pelasanaannya sebagian besar masih sebatas perencanaan, angan-angan. Hanya sedikit guru yang mengakui telah sampai pada tahap menghimpun, mengolah, dan menginterpretasi hasil penilaian tersebut. 15. Pengakuan mereka telah melaksanakan asesmen pendidikan karakter secara rutin ternyata terbantahkan ketika pada bagian lain mereka

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 mengakui bahwa frekuensi pelaksanaannya tidak menentu, tergantung kebijakan sekolah. Ditemukan inkonsistensi responsi mereka. Artinya, pelaksanaan asesmen hasil pendidikan karakter pada 11 SMP yang diteliti belum seperti yang diharapkan, masih terabaikan, belum dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip asesmen afektif yang benar. 16. Hanya sedikit guru yang dapat merumuskan secara tepat tujuan asesmen pendidikan karakter, sementara sisanya (70%) merumuskan tujuan asesmen campur aduk dengan tujuan pendidikan karakter itu sendiri. 17. Sabagian guru menjelaskan bahwa perancangan asesmen pendidikan karakter diserahkan kepada satu tim kerja, sementara sisanya mengaku tanggung jawab itu diserahkan kepada masing-masing guru dan sebagian besar guru mengakui tiada hasil/sulit melakukannya. 18. Fakta di atas menunjukkan bahwa asesmen pendidikan karakter di SMP belum terlaksana secara baik dan masih menemukan banyak kendala. Meskipun demikian, penilaian karakter siswa yang diperoleh dengan cara-cara seadanya dan belum teruji kehandalan serta diragukan validitas/objektivitasnya seperti itu diakui oleh 76,5% reponden hasilnya digunakan sebagai penentu keputusan kenaikan kelas siswa. Jangan-jangan cara kerja semacam ini tidak mendidik, mengorbankan siswa, dan mengaburkan visi-misi serta tujuan pendidikan karakter yang sesungguhnya.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 D. Media Film Dalam Pendidikan Karakter 1. Karakteristik Media Film Karakter Menurut Kustandi dan Sutjipto (2016: 64) film atau gambar merupakan kumpulan gambar-gambar dalam frame. Sedangkan Susilana (Desma Yulia dan Muhammad Arifin, 2016: 35) mengatakan bahwa media film merupakan media yang menyajikan pesan audio visual dan gerak. Sama halnya menurut Trianton (Desma Yulia dan Muhammad Arifin, 2016: 35) media film adalah alat penghubung yang berupa film, media masa alat komunikasi seperti radio, televise, surat kabar, majalah yang memberikan penerangan kepada orang banyak dan mempengaruhi pikiran mereka. UU No. 8 Tahun 1992 Pasal 3 juga menjelaskan bahwa perfilman di Indonesia diarahkan pada pelestarian dan pengembangan nilai budaya bangsa, pembangunan watak dan kepribadian bangsa serta peningkatan harkat dan martabat manusia, pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa, peningkatan kecerdasan bangsa, terpeliharanya ketertiban umum dan rasa kesusilaan, penyajian hiburan yang sehat sesuai dengan norma-norma kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan tetap berpedoman pada asas usaha bersama dan kekeluargaan. Dalam media ini, setiap frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu hidup. Film bergerak dengan capat dan bergantian sehingga memberikan visualisasi yang kontinu. Sama halnya dengan film, video dapat menggambarkan suatu objek yang bergerak bersama-sama dengan suara

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 alamiah atau suara yang sesuai. Film dan video dapat menyajikan informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep-konsep yang rumit, mengajarkan keterampilan, menyingkat atau memperpanjang waktu, dan mempengaruhi sikap. 2. Kekuatan-kekuatan Media Film dalam Pendidikan Karakter Kustandi dan Sutjipto (2016: 64-65) mengungkapkan bahwa keefektifan dari media film sebagai media pendidikan karakter adalah sebagai berikut: a. Film dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari siswa ketika mereka membaca, berdiskusi, praktik, dan lain-lain. Film merupakan pengganti alam sekitar, dan bahkan dapat menunjukan objek secara normal yang tidak dapat dilihat. b. Film dapat menggambarkan suatu proses secara tepat dan dapat disaksikan secara berulang jika diperlukan. Di samping mendorong dan meningkatkan motivasi, melalui media film dapat menanamkan sikap dan segi-segi afektif lainnya. c. Film yang mengandung nilai-nilai positif dapat mengundang pemikiran dan pembahasan dalam kelompok siswa. Bahkan, film seperti selogan yang sering didengar, dapat membawa dunia ke dalam kelas. d. Film dapat menyajikan peristiwa kepada kelompok besar atau kelompok kecil, kelompok yang heterogen maupun perorangan. e. Kemampuan dan teknik penggambilan gambar frame demi frame, film yang dalam kecepatan normal memakan waktu satu minggu dapat

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 ditampilkan dalam satu atau dua menit. Misalnya, bagaimana kejadian mekarnya kembang, mulai dari lahirnya kuncup bunga hingga kuncup itu mekar. Keterbatasan dalam menggunakan media film sebagai berikut: a. Pengadaan film umumnya memerlukan biaya mahal dan waktu yang banyak. b. Pada saat film dipertunjukan, gambar-gambar bergerak terus sehingga tidak semua siswa mampu mengikuti informasi yang ingin disampaikan melalui film tersebut. c. Film yang tersedia tidak selalu sesuai dengan kebutuhan dan tujuan belajar yan diinginkan, kecuali film itu dirancang dan diproduksi khusus untuk kebutuhan sendiri. 3. Film sebagai Media Asesmen Morris (Yasri & Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa kreativitas dalam pembelajaran menjadi hal utama yang harus diperhatikan guru. Oleh sebab itu, gaya pembelajaran yang monoton akan membosankan bagi siswa, karena siswa tidak diperkenalkan dengan hal-hal yang baru. Otte (Yasri & Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa kreativitas dalam pembelajaran dapat diwujudkan dengan menghadirkan pengalamanpengalam belajar bagi siswa. Dale (Yasri & Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa terdapat 11 macam pengalaman belajar siswa yaitu (1) pengalaman verbal, (2) pengalaman lambang visual, (3) pengalaman melalui radio, (4) pengalaman melalui film, (5) pengalaman melalui televisi,

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 (6) pengalaman melalui pameran, (7) pengalaman karyawisata, (8) pengalaman demonstrasi, (9) pengalaman melalui drama, (10) pengalaman melalui benda tiruan, dan (11) pengalaman langsung. Dalam uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu metode dalam pembelajaran yang dapat digunakan yaitu dengan menggunakan media film. Masterpiece (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa siswa cenderung lebih banyak memahami hal-hal yang terinterpretasikan dalam film dari pada dalam buku teks. Bukan hanya sebagai media pembelajaran saja, film juga dapat digunakan sebagai media asesmen yang mungkin jarang atau bahkan belum pernah dilakukan. Jika dalam pembelajaran media film sudah sering digunakan dan sudah teruji efektifitasnya, maka peneliti ingin mengangkat film sebagai media tes untuk mengukur karakter siswa. Film juga mampu mengasah kemampuan analisis siswa dalam menjawab soal-soal yang sudah disiapkan dan berkaitan dengan film tersebut. Berhubungan dengan itu, Champoux (Yasri dan Mulyani, 2016: 139) mengatakan bahwa film mampu mencapai ranah kognitif dan afektif siswa secara bersamaan.

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 E. Hakikat SMP Negeri dan SMP Swasta 1. Pengertian SMP Negeri Sekolah Menengah Pertama diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan sekolah menengah pertama negeri di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Kementerian Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah kabupaten/kota, sedangkan Kementerian Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, sekolah menengah pertama negeri merupakan unit pelaksana teknis dinas pendidikan kabupaten/kota. 2. Pengertian SMP Swasta Sekolah swasta merupakan satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh organisasi masyarakat atau yayasan yang berbadan hukum. Sekolah swasta berbentuk independen artinya dalam penyelenggaraannya sekolah tersebut tidaklah dikelola oleh pemerintah daerah, ataupun nasional seperti sekolah negeri. Pendirian sekolah swasta dididirikan atas nama perorangan, kelompok atau yayasan yang dilatarbelakangi tujuan yang beragam baik keagamaan, kebudayaan ataupun kedaerahan. Pengelolaan sekolah swasta diarahkan untuk menjawab tantangan dan kebutuhan pasar, artinya kebutuhan pengguna jasa atau masyarakat terhadap pendidikan yang dihasilkan oleh sekolah swasta

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 menjadi prioritas. Kemudian, unsur-unsur pendidikan menjadi penentu keberhasilan proses peningkatan mutu pendidikan dalam pencapaian tujuan pendidikan di satuan pendidikan. Menurut Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 23 Tahun 2014 pasal 1 ayat 12 unsur-unsur di antaranya: 1. Subjek yang dibimbing (peserta didik), 2. Orang yang membimbing (Pendidik), 3. Interaksi antara Pendidik dan Peserta didik (Interaksi edukatif), 4. Bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan), 5. Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan), 6. Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan Metode), Lingkungan pendidikan sering disebut dengan tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. F. Kajian Penelitian yang Relevan Penelitian yang terkait dengan analisa validasi efektifitas pendidikan karakter penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter siswa SMP berdasarkan latar belakang tempat tinggal siswa di desa atau kota, masih sedikit untuk dijadikan sebagai sumber hasil penelitian yang relevan. Berikut merupakan hasil penelitian yang relevan yang bersangkutan dengan pendidikan karakter berbasis film.

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Penelitian yang dilakukan oleh Ni Nyoman Diastrimarina (2017) dengan judul‫“ف‬Pengembangan‫ف‬Prototipe Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Daya‫ف‬Juang‫ف‬dan‫ف‬Karakter‫ف‬Kerja‫ف‬Keras‫ف‬Berbasis‫ف‬Film‫ف‬Karakter.” Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang berawal dari adanya potensi dan masalah yang terkait dengan program pendidikan karakter, serta masalah penilaian karakter dari hasil penerapan pendidikan karakter di sekolah. Relevansi dari penelitian ini dengan penelitian yang dikembangkan oleh peneliti ialah memiliki kesamaan dalam prosedur pengembangannya yaitu menggunakan (R&D) dan memiliki media penilaian karakter yaitu menggunakan film karakter. G. Kerangka Pikir Model soal tes asesmen hasil pendidikan karakter yang efektif belum banyak tersedia di SMP. Kalaupun ada, pendidikan karakter yang terintegrasi dari kurikulum dan implementasi pada sekolah secara khusus pada jenjang SMP, dimana sekolah hanya mampu menilai secara kognitif saja dan belum sampai pada tahap afeksinya. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan soal tes dari 20 karakter yang ada melalui media film yang didalamnya berisi dilema moral yang berkaitan dengan ke-20 karakter tersebut. Melalui media film yang bermuatan dilema moral tersebut, peserta didik dapat membayangkan kebiasaan yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari, ketika mereka menghadapi situasi seperti apa yang terlihat dalam film tersebut. Produk ini juga dapat mempermudah guru untuk menilai hasil pendidikan karakter yang telah diaplikasikan kepada peserta didik. Guru hanya hanya perlu menayangkan film karakter tersebut, dimana didalamnya sudah

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 terdapat potongan film pendek berupa dilema moral beserta pilihan jawaban yang tersusun secara degradasi. SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER Dianalisis Kualitatif Kuantitatif Kesesuaian Karakter Validitas Reliabilitas Bahasa Daya Beda Konstruksi Distribusi Jenjang Ranah Kognitif dan Afeksi Gambar 2.2 Kerangka Pikir Tingkat Kesukaran Keefektifitas Soal Test

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab ini menjelaskan model penelitian dan pengembangan, prosedur penelitian dan pengembangan, uji coba produk, jenis data, teknik dan instrumen pengumpulan data, dan teknik analisis data. A. Model Penelitian dan Pengembangan Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (research and development). Sebagaimana telah dipaparkan, Borg and Gall (Silalahi, 2018: 9) R & D merupakan proses untuk memvalidasi dan mengembangkan produk-produk penelitian. Menurut Sugiyono (2013: 297) penelitian R & D adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan dan menguji keefektifan suatu produk tertentu. Menurut Syaodih (Putra, 2008: 66) penelitian R & D adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Menurut Putra (2015: 67) penelitian R & D didefinisikan sebagai metode penelitian yang secara sengaja, sistemis, bertujuan untuk mencaritemukan, merumuskan, memperbaiki, mengembangkan, menghasilkan, menguji keefektifan produk, model, metode, dan jasa, prosedur tertentu yang lebih unggul, baru, efektif, efisien, produktif, dan bermakna. Dapat disimpulkan dari penjelasan para ahli tersebut bahwa Research and Development merupakan jenis penelitian yang menghasilkan dan mengembangkan suatu produk tertentu dengan cara yang sistematis. Penelitian

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 ini disebut penelitian pengembangan, karena peneliti mengembangkan suatu produk berupa Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter di Beberapa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan Prosedur pengembangan ini menggunakan tahapan penelitian (Research and Development). Langkah-langkah R & D oleh Borg & Gall (Silalahi, 2018: 10) terdapat 10 langkah, yaitu: 1. Research and information collection (melakukan penelitian dan pengumpulan informasi). Sebagai penelitian awal terkait dengan produk pendidikan yang akan dikembangkan, yang termasuk dalam langkah ini antara lain: studi literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji, pengukuran kebutuhan, penelitian dalam skala kecil, dan persiapan untuk merumuskan kerangka kerja penelitian. 2. Planning (membuat perencanaan). Pada tahap ini hal yang perlu dilakukan adalah menyusun rencana penelitian yang meliputi merumuskan kecakapan dan keahlian yang berkaitan dengan permasalahan, menentukan tujuan yang akan dicapai pada setiap tahapan, desain atau langkah-langkah penelitian dan jika mungkin/diperlukan melaksanakan studi kelayakan secara terbatas.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 3. Develop Preliminary form of Product (mengembangkan bentuk awal produk). Pada tahap ini yang perlu dilakukan adalah mengembangkan bentuk permulaan dari produk yang akan dihasilkan, termasuk dalam langkah ini persiapan komponen pendukung, menyiapkan pedoman dan buku petunjuk, dan melakukan evaluasi terhadap kelayakan alat-alat pendukung (misalnya pengembangan bahan pembelajaran, proses pembelajaran, dan instrumen evaluasi). 4. Preliminary Field Testing (melakukan uji lapangan awal). Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan uji coba lapangan awal dalam skala terbatas, dengan melibatkan 1 sampai dengan 3 sekolah, dengan jumlah 6-12 subyek. Pengumpulan dan analisis data dapat dilakukan dengan cara wawancara, observasi, atau angket. 5. Main Product Revision (melakukan revisi produk utama). Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan perbaikan terhadap produk awal yang dihasilkan uji coba awal. Perbaikan ini sangat mungkin dilakukan lebih dari satu kali sesuai dengan hasil yang ditunjukkan dalam uji coba terbatas sampai diperoleh draft produk utama yang siap diuji coba lebih luas. 6. Main Field Testing (melakukan uji lapangan untuk produk utama). Biasanya disebut uji coba utama yang melibatkan khalayak lebih luas, yaitu 5 sampai 15 sekolah, dengan jumlah subyek 30 sampai dengan 100 orang. Pengumpulan data dilakukan sebelum dan sesudah penerapan

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 uji coba. Hasil yang diperoleh dari uji coba ini adalah sebagai hasil evaluasi terhadap pencapaian hasil uji coba produk yang dibandingkan terhadap pencapaian kelompok control. Pada umumnya, langkah ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen. 7. Operational Product Revision (melakukan revisi produk operasional). Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan perbaikan/penyempurnaan terhadap hasil uji coba lebih luas, sehingga produk yang dikembangkan sudah merupakan desain model operasional yang siap divalidasi. 8. Operational Field Testing (melakukan uji lapangan terhadap produk) Langkah uji validasi terhadap model operasional yang telah dihasilkan, dilaksanakan pada 10 sampai dengan 30 sekolah, melibatkan 40 sampai dengan 200 subyek. Pengujian ini dilakukan melalui angket, wawancara, observasi dan analisis hasilnya. Tujuan langkah ini adalah untuk menentukan apakah desain model yang dikembangkan sudah dapat dipakai di sekolah tanpa harus dilakukan pengarahan atau pendampingan oleh peneliti/pengembang model. 9. Final Product Revision (melakukan revisi produk final) Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan perbaikan akhir terhadap model yang dikembangkan agar menghasilkan produk akhir. 10. Disemination and Implementation (diseminasi dan implementasi) Tahap ini merupakan langkah menyebarluaskan produk/model yang dikembangkan kepada khalayak/masyarakat luas. Pada tahap ini bertujuan

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 untuk mengkomunikasikan dan mensosialisasikan produk, baik dalam bentuk seminar hasil penelitian, publikasi pada jurnal, maupun pemaparan kepada skakeholders yang terkait dengan produk tersebut. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan menurut Borg and Gall ditunjukkan pada bagan berikut: Penelitian dan pengumpulan informasi Uji Lapangan Produk Revisi Produk Final Perencanaan Revisi Produk Operasional Mengembangk an bentuk awal produk Uji Lapangan Produk Utama Uji Lapangan Awal Revisi Produk Utama Diseminasi dan Implementasi Gambar 3.1 Bagan Prosedur Pengembangan Penelitian Tim penelitian sebelumnya pada tahun 2017 telah melaksanakan penelitian yang sama dan sampai tahap ke 6. Langkah-langkah yang sudah ditempuh adalah seperti potensi dan masalah, pengumpulan informasi, desain produk, validasi desain, revisi desain, dan uji coba. Tim peneliti pada tahun 2018 melanjutkan langkah-langkah selanjutnya yaitu pada tahap 7 dan 8 pada revisi produk dan uji lapangan terhadap produk.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 1. Revisi Produk Operasional Revisi produk ini dilakukan karena dalam pemakaian produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter ini memiliki kekurangan maupun kelemahan. Pada tahap revisi produk ini, ada beberapa kriteria atau syarat yang harus dipenuhi dan diperbaiki, seperti: a. Potongan film pendek harus menampilkan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai karakter Kepmendiknas (2010). b. Potongan film harus didukung oleh pemain film yang notabene anak SMP, karena subjek merupakan siswa di beberapa SMP di Indonesia. c. Film merupakan film Indonesia dan berbahasa Indonesia. Hal tersebut dipilih karena notabene subjek adalah WNI (Warga Negara Indonesia). Oleh sebab itu, pemilihan jenis film dan bahasa sangat diperhatikan untuk membantu pemahaman siswa ketika mengerjakan soal tes asesmen. d. Kalimat dan tanda baca dalam soal harus sesuai dengan EYD (ejaan yang disempurnakan). EYD juga sangat membantu siswa dalam mengerjakan dan memahami soal beserta jawaban yang ada di dalam film tersebut. e. Durasi yang dipilih pada setiap soal ± 2 menit. Durasi tersebut dirasa cukup dengan bentuk soal yang sederhana dan jawaban yang bergradasi, sehingga siswa tidak terlalu lama dalam mengerjakan sebanyak 88 soal.

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 f. Kecocokan soal dengan potongan video. Setiap soal harus cocok dengan potongan video pendek yang ditayangkan, karena hal tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat mengukur apakah soal tersebut efektif atau tidak. g. Kejelasan suara dan kejernihan film. Suara dan kejernihan film menjadi salah satu faktor utama dalam proses menjawab soal dan memilih jawaban. 2. Uji Lapangan Produk Pada tahap ini peneliti melakukan uji coba produk yang sudah direvisi kepada peserta didik. Setelah diketahui kelemahnnya dan diperbaiki, pengujian dapat dilakukan dengan eksperimen. Hal ini diperlukan karena terkadang apa yang telah dikonsepkan belum tentu sesuai dengan kenyataan dilapangan. Pengujian diberikan kepada peserta didik sebagai analisis validasi efektivitas pengunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film pada siswa. Pengujian diberikan kepada peserta didik sebagai analisis validasi efektivitas pengunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa SMP di Indonesia, antara lain: SMP Fransiskus Tanjungkarang, Lampung; SMP St. Aloysius Turi, Yogyakarta SMP N 1 Yogyakarta; SMP Raden Fatah Cimanggu; SMP N 3 Wates; SMP N 31 Purworejo; SMP N 2 Barusjahe, Medan; SMP Maria Padang; SMP Pangudi Luhur Wedi, Klaten; SMP N 2 Playen Gunungkidul, Yogyakarta. Tujuan dari uji coba produk ini adalah untuk mengetahui apakah produk dari Soal

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang sudah melalui tahap revisi, memiliki kualitas yang baik dan efektif digunakan sebagai alat tes untuk mengukur karakter siswa di beberapa SMP tersebut. C. Uji Coba Produk 1. Desain Uji Coba Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data, mengetahui kualitas dan efektivitas soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter yang telah dibuat oleh tim peneliti. Data dari hasil uji coba produk digunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan produk soal tes asesmen berbasis film karakter. Uji coba produk juga melihat sejauh mana produk yang dibuat dapat mencapai sasaran dan tujuan.

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 2. Tempat Penelitian dan Subjek Uji Coba Produk a. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada beberapa SMP di Indonesia, yaitu: Tabel 3.2 Tempat Penelitian No Nama Sekolah 1 SMP Fransiskus Tanjungkarang 2 SMP St. Aloysius Turi 3 SMP N 1 Yogyakarta 4 SMP Raden Fatah Cimanggu 5 SMP N 3 Wates 6 SMP N 31 Purworejo 7 SMP N 2 Barusjahe 8 SMP Maria 9 SMP Pangudi Luhur Wedi 10 SMP N 2 Playen Alamat Jalan Mangga 1, Pasirgintung, Tanjungkarang Pusat, Lampung, 35113 Donokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta, 55551 Cik Di Tiro, no. 29, Yogyakarta, 55225 Jalan Raya Genteng, Kec. Cimanggu, Kab. Cilacap, 53256 Jalan Purworejo Km.07, Sogan, Wates, Kulon Progo Jalan Brigjend Katamso 24, Purworejo, 54114 Desa Sinaman, Kec. Barusjahe, Kab. Karo, Medan, Sumatra Utara, 22172 Jalan Gereja, no. 39, Padang, Sumatra Barat Desa Karangrejo, Pandes, Wedi, Glodogan, Klaten Sel., KabupatenKlaten, Jawa Tengah 57426 Gading II, Gading, Playen, GunungKidul, Yogyakarta 55861

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 b. Subjek penelitian Subjek uji penelitian yang akan diteliti adalah peserta didik kelas kelas VII dan VIII tahun ajaran 2018/2019 pada beberapa SMP di Indonesia. Berikut adalah jumlah subjek penelitian masing-masing sekolah: 4 Tabel 3.3 Jumlah Subjek Uji Coba Penelitian Sekolah Kelas Kelas VIII VII SMP Fransiskus 31 siswa 34 siswa Tanjungkarang SMP Raden Fatah 35 siswa 31 siswa Cimanggu SMP Santo Aloyius 20 siswa 43 siswa Turi SMP N 3 Wates 35 siswa 35 siswa 5 SMP N 31 Purworejo 30 siswa 31 siswa 61 siswa 6 SMP Negeri 1 Yogyakarta SMP Negeri 2 Barusjahe SMP Maria 31 siswa 32 siswa 63 siswa 37 siswa 32 siswa 69 siswa 35 siswa 35 siswa 70 siswa 9 SMP Pangudi Luhur Wedi 35 siswa 35 siswa 70 siswa 10 SMP N 2 Playen 31 siswa 32 siswa 63 siswa No 1 2 3 7 8 Keseluruhan Jumlah 65 siswa 66 siswa 63 siswa 70 siswa 660 siswa

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 c. Objek penelitian Objek penelitian ini adalah soal tes asesmen pendidikan karakter peduli berbasis film karakter untuk peserta didik kelas VII dan VIII tahun ajaran 2018/2019 pada beberapa SMP di Indonesia. d. Waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16-17 April 2018 untuk menguji soal tes asesmen ini di kelas VII A dan VIII A. Tabel 3.4 Jumlah Subjek Uji Coba Penelitian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sekolah SMP Fransiskus Tanjungkarang SMP Raden Fatah Cimanggu SMP Santo Aloyius Turi SMP N 3 Wates SMP N 31 Purworejo SMP Negeri 1 Yogyakarta SMP Negeri 2 Barusjahe SMP Maria SMP Pangudi Luhur Wedi SMP N 2 Playen Waktu Penelitian 24 April 2018 17 April 2018 21 April 2018 20 April 2018 8 Mei 2018 18 dan 19 April 2018 28 April 2018 23 dan 24 April 2018 19 April 2018 8 Mei 2018 D. Jenis Data Data dalam penelitian ini terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif menyangkut validasi model dengan instrumen validasi, keterlaksanaan, dan instrumen soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film tentang variabel pendidikan karakter (menurut Kementrian Pendidikan Kebudayaan) Y, kebebasan mengemukakan pendapat (X1), menghargai orang lain (X2), menghargai pendapat orang lain (X3) dan kreatif (X4).

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 Tabel 3.5 Variabel laten, aspek yang diukur, skala dan data instrumen yang digunakan Variable laten Aspek yang diukur Skala Instrumen Demokratis Kebebasan mengemukakan pendapat Tertutup 1-4 Soal tes asesmen pendidika n karakter berbasis film karakter Tertutup 1-4 Soal tes asesmen pendidika n karakter berbasis film karakter Menghargai orang lain Menghargai pendapat orang lain Kreatif Kepemimpinan Pengelolaan diri Penyelesaian diri Kesadaran diri Bertanggungjawab Perhitungan koefisien validitas konstruk ini dilakukan dengan analisis faktor konfirmatori atau Confirmatory Factor Analisis (CFA). Uji validitas bertujuan untuk menentukan kemampuan indikator dalam mengukur variabel laten. Validitas suatu indikator sebenarnya dapat dievaluasi dengan tingkat signifikan dengan pengaruh antara satu variabel laten dengan indikatornya. Hitungan langsung antara indikator dan variabel laten‫(ف‬λ)‫ف‬digambarkan‫ف‬dengan‫ف‬persamaan‫ف‬berikut:

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Dimana: 𝜒 = 𝜆𝜉 + 𝛿 𝜒 = Chi 𝜉 = Variabel laten eksogen δ‫ ف= ف‬measurement error untuk variabel eksogen menurut JÖreskog & SÖrbom, (Siswanto, 2011:162). Melalui rotasi faktor akan didapat muatan faktor (factor loading). Standar muatan faktor > 0,50 sangat signifikan tetapi jika masih > 0,30 maka butir soal tersebut masih bisa dipertimbangkan untuk tidak dihapus menurut Borden & Abbot (Siswanto, 2011:162). Berdasarkan hal diatas, dalam penelitian ini digunakan besar muatan faktor > 0,30. Sebaliknya jika muatan faktor < 0,30 maka butir soal tersebut tidak mengukur indikatornya dan dinyatakan gugur atau tidak valid. Maka analisis faktor konfirmatori dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisis validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukaran soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film. Perhitungan analisis menggunakan bantuan software program komputer LISREL 8.80, dengan kriteria penilaian muatan faktor (factor loading) sebagaimana yang dikemukakan Borden & Abbot (Siswanto, 2011:163)

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Gambar 3.2 Model hipotetik soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter X1 X2 X3 X4 PendKrDem î1 Pendidikan Karakter (λ) X5 X6 X7 X8 PendKrPemi î2 Konstruk-konstruk yang dibangun dalam diagram jalur pada gambar 3.2 merupakan konstruk endogen. Konstruk endogen (Endogeneous Constructs) adalah faktor-faktor yang diprediksi oleh satu atau lebih konstruk endogen lainnya tetapi kontruk endogen hanya dapat berhubungan kausal dengan konstruk endogen. Dalam diagram jalur hubungan antara konstruk akan dinyatakan melalui anak panah. Anak panah yang lurus menunjukan sebuah hubungan klausal yang langsung antara satu kelompok dengan anak panah pada setiap ujungnya menunjukan korelasi antar konstruk.

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data Menurut Zuriah (2007: 171) penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang objektif. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah menggunakan potongan film yang berdurasi 1-2 menit dan pada akhir film akan dimunculkan soal-soal karakter yang akan dijawab oleh siswa dengan waktu yang sudah ditentukan. Siswa akan mengerjakan sebanyak 88 soal dan dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama siswa akan mengerjakan 44 soal dijeda dengan istirahat selama setengah jam, setelah itu dilanjutkan pada sesi dua. Soal-soal karakter tersebut tidak ada yang salah dan benar, namun dalam bentuk gradasi soal. Film dan soal karakter yang disajikan adalah sebanyak 88 soal dengan topik yang berbeda, seperti karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Setelah siswa selesai mengerjakan soal yang diberikan, maka siswa di minta untuk mengisi angket penilaian (validasi) siswa. Angket tersebut merupakan angket tertutup yang memuat penilaian atau pendapat siswa mengenai pengembangan efektivitas model soal tes asesmen yang menggambarkan dilema moral berdasarkan potongan-potongan film karakter.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Di samping itu peneliti juga memberikan angket keterlaksanaan dan hambatan asesmen pendidikan karakter di Sekolah Menengah Pertama (SMP) kepada para guru yang memiliki kaitan erat dengan pendidikan karakter di sekolah. Angket penilaian terhadap model asesmen yang dikembangkan oleh tim peneliti, bertujuan agar mengetahui masukan dari para guru mata pelajaran yang memiliki kaitan erat dengan pendidikan karakter di sekolah. Angket keterlaksanaan dan hambatan asesmen pendidikan karakter diberikan bersamaan dengan angket penilaian terhadap model asesmen kepada guru saat tes diberikan kepada para siswa. Validasi siswa yang digunakan untuk menilai efektivitas dari pengembangan soal tes, diberikan pada akhir sesi pengerjaan soal. 2. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data hasil penelitian (Zuriah, 2007: 168). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ialah soal tes yang berupa pilihan berganda (multiple choice) dengan menggunakan skala jenjang dan kuesioner validasi siswa terhadap model asesmen yang dikembangkan, kuesioner penelitian berbentuk pernyataan checklist menggunakan skala Guttman. Pada sub bab ini akan menjelaskan berbagai alat instrumen yang digunakan : a. Kuesioner Validasi Efektivitas model pengembangan oleh siswa Validasi model pengembangan oleh siswa berbentuk pernyataan checklist menggunakan skala Guttman. Sugiyono, (2016: 111) menjelaskan bahwa skala pengukuran dengan tipe ini, akan mendapatkan

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 jawaban‫ ف‬yang‫ ف‬tegas,‫ ف‬yaitu‫“ ف‬ya-tidak”;‫“ ف‬benar-salah”;‫“ ف‬pernah-tidak pernah”;‫ ف‬positif-negatif”;‫ ف‬dan‫ ف‬setuju-tidak‫ ف‬setuju”.‫ ف‬Data‫ ف‬yang‫ ف‬diperoleh‫ف‬ dapat berupa data interval dan data rasio. Skala Guttman digunakan dalam validasi model pengembangan prototipe soal tes karakter, tujuannya untuk melihat efektivitas dari model pengembangan yang dibuat berdasarkan penilaian siswa. b. Soal Tes Hasil Pendidikan Karakter Menurut Sudjana (2010: 35) alat penilaian hasil belajar dapat digolongkan dalam dua jenis yaitu tes uraian dan tes objektif. Sedangkan, dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah tes objektif. Tes objektif berupa pilihan berganda (multiple choice) dengan menggunakan skala jenjang. Tes diberikan kepada siswa yang berbeda tingkatan (kelas VII dan kelas VIII) yang mana bertujuan untuk melihat perbedaan antara keduanya dan mendapatkan data yang diperlukan. Tes diberikan dalam bentuk cuplikan video yang menggambarkan perilaku berkarakter. Tes ini di kemas dalam bentuk video dengan tampilan pertanyaan dan pilihan jawaban, sehingga siswa tidak lagi membaca dalam bentuk lembaran. Dalam penelitian ini tes bersifat tertutup (pilihan ganda), karena hanya diberikan pertanyaan dan 4 alternatif jawaban yang bergradasi. Siswa dapat memilih jawaban yang menurut mereka paling tepat dan sesuai dengan kebiasaan yang meraka lakukan. Jawaban pada pilihan ganda memiliki nilai. Nilai yang terdapat

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 pada jawaban pilihan ganda tersebut mulai dari angka 1 sampai 4 dan tidak ada jawaban salah/nol. F. Teknik Analisis Data Sugiyono (2010) mengatakan bahwa teknik analisis data diarahkan untuk menjawab rumusan masalah. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada rumusan masalah. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Gambaran Produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang di Analisis dengan Teknik Deskriptif Kualitatif. Produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter ini dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Teknik deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk menjelaskan proses revisi dan uji coba dilapangan pada tahap ke 7 dan 8 dalam tahap R & D. Produk soal tes ini telah melalui proses perevisian yang begitu ketat, antara lain: revisi kalimat dan tata bahasa menurut EYD pada soal tes asesmen, revisi waktu pemutaran potongan film dan soal supaya lebih efektif dan efisien, pemilihan potongan film berdasarkan pemain utama anak Indonesia dan ber-setting tempat di Indonesia, pemilihan potongan film yang dimainkan oleh anak SMP, mengedit kejernihan film, mengedit kejelasan suara, memilih dan mengedit kecocokan soal tes dengan potongan film. Beberapa

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 revisian pada produk ini, menghasilkan produk yang layak diujicobakan pada beberapa anak SMP di Indonesia. Produk ini mencakup potongan film pendek yang menampilkan karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Produk ini memakan waktu ± 4 jam yang dibagi menjadi 2 sesi. Alurnya, siswa SMP diminta untuk melihat potongan film ± 2 menit. Setelah film selesai diputar, maka akan muncul soal tes dan pilihan jawaban yang bergradasi yang akan dipilih oleh siswa/i. Setelah siswa/i SMP selesai mengerjakan 88 soal tes asesmen, maka disodorkan selembar kertas Uji Validasi Siswa. Lembar Uji Validasi Siswa ini mewakili pendapat siswa mengenai efektif atau tidaknya produk ini digunakan. Uji Validasi ini merupakan tes tertutup‫ف‬yang‫ف‬mana‫ف‬hanya‫ف‬ada‫ف‬pilihan‫ف‬jawaban‫“ف‬ya”‫ف‬dan‫“ف‬tidak”.‫ف‬Bukan‫ف‬ hanya itu saja, agar produk ini layak digunakan di beberapa SMP di Indonesia, kita memerlukan masukan dan pendapat dari guru untuk memperbaiki dan mengoptimalkan produk ini. Peneliti juga memberikan Lembar Uji Validasi Guru yang berisikan pendapat guru mengenai efektifitas dan kelayakan produk ini digunakan. Lembar Uji Validasi Guru ini berupa angket terbuka dan tertutup.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 2. Gambaran Kualitas soal-soal tes asesmen hasil penelitian pendidikan karakter berbasis film karakter yang di uji cobakan pada beberapa SMP di Indonesia. Berdasarkan kajian nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum, etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM, telah teridentifikasi 80 butir nilai karakter yang dikelompokkan menjadi lima, yaitu nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan (1) Tuhan Yang Maha Esa, (2) diri sendiri, (3) sesama manusia, dan (4) lingkungan, serta (5) kebangsaan. Namun demikian, penanaman kedelapanpuluh nilai tersebut merupakan hal yang sangat sulit. Oleh karena itu, pada tingkat SMP dipilih 20 nilai karakter utama yang disarikan dari butir-butir SKL SMP (Permen Diknas nomor 23 tahun 2006) dan SK/KD (Permen Diknas nomor 22 tahun 2006). Berikut adalah daftar 20 nilai utama yang dimaksud dan diskripsi ringkasnya. a. Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan (Religius) Pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya. b. Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri: i. Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain. ii. Bertanggung jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan YME. iii. Bergaya hidup sehat Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. iv. Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. v. Kerja keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya. vi. Percaya diri Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 vii. Berjiwa wirausaha Sikap dan perilaku yang mandiri dan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya. viii. Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif Berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki. ix. Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. x. Ingin tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. xi. Cinta ilmu Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan.

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 c. Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama. i. Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain. ii. Patuh pada aturan-aturan sosial Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum. iii. Menghargai karya dan prestasi orang lain Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain. iv. Santun Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang. v. Demokratis Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. d. Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 alam yang sudah terjadi dan selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. e. Nilai kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. i. Nasionalis Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya. ii. Menghargai keberagaman Sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama.

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Tabel 3.6 Golongan Faktor Nilai Karakter Golongan Faktor Karakter Faktor 1: Nilai karakter dengan Tuhan dalam hubungannya Religius Nomor soal 65-68 Faktor 2: Jujur Karakter dalam hubungannya dengan Tanggung diri sendiri jawab Kreatif Inovatif Daya juang Kerja keras Disiplin Mandiri Rasa ingin tahu Faktor 3: Menghargai Nilai karakter dalam hubungannya prestasi dengan sesama. Demokratis Rendah hati Kepemimpinan Memaafkan Peduli sosial Bersahabat Cinta damai Faktor 4: Peduli Nilai karakter dalam hubungannya lingkungan dengan lingkungan. 17-20 21-24 Faktor 5: Nilai kebangsaan Nasionalisme Toleransi 77-80 69-72 Cinta tanah air 73-76 25-28 29-32 37-40 33-36 41-44 45-48 1-4 5-8 57-60 49-52 61-64 53-56 9-12 81-84 85-88 13-16 Pengujian dilakukan dengan menggunakan Confirmatory Factor Analysis atau yang disebut juga uji Validitas dalam SPSS. Untuk reliabilitas diuji menggunakan Alpha Cronbrach. Menurut Hair, Black, Babin, dan Anderson (2010), derajat reliabilitas Alpha

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Cronbrach berkisar antara 0.6 sampai 0.7 dinyatakan sebagai batas minimum penerimaan. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti memutuskan derajat Alpha Cronbrach yang digunakan 0.7. 3. Gambaran Nilai-Nilai Efektifitas Menurut Penilaian Siswa pada Beberapa SMP di Indonesia dalam Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter. Untuk mengukur nilai-nilai efektifitas, maka siswa diberikan selembar kertas Uji Penilaian Siswa yang berisikan 7 pernyataan negatif dan 28‫ ف‬pernyataan‫ ف‬positif.‫ ف‬Siswa‫ ف‬diminta‫ ف‬untuk‫ ف‬memilih‫ ف‬jawaban‫“ ف‬ya” atau “tidak”‫ ف‬sesuai‫ ف‬dengan‫ ف‬hati‫ ف‬nuraninya.‫ ف‬Oleh‫ ف‬sebab‫ ف‬itu,‫ ف‬untuk‫ ف‬mengukur‫ف‬ apakah poin-poin pernyataan memiliki nilai efektifitas yang bergradasi, maka peneliti menentukan skor kriteria yang berpatokan dengan kategori PAP (Penilaian Acuan Patokan) Tipe I (Masidjo, 1995: 153). Penilaian responden dikatakan efektif apabila mencapai 80%. Hal ini dilakukan peneliti karena bentuk jawaban yang disajikan dalam kuesioner Penilaian Efektifitas Model Soal Tes Asesmen menurut siswa sebagai penilai menuntut jawaban tegas yaitu Ya atau Tidak. Berikut rumus beserta table Kategori PAP Tipe I.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Pem = ∑𝑓 𝑁 100 Keterangan: Pem = Persentase capaian skor ∑ 𝑓 = Jumlah jawaban setiap item N = Jumlah responden Tabel 3.7 Kategori PAP Tipe 1 Kategori Persentase (%) Sangat Efektif 90%-100% Efektif 80%-89% Cukup Efektif <80% Kurang efektif 55%-64% Tidak efektif <55% 4. Gambaran Capaian Hasil Pendidikan Karakter yang Diukur dengan Menggunakan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter pada Beberapa SMP di Indonesia. Kontinum jenjang pada penelitian ini adalah dari yang sangat rendah sampai yang sangat tinggi. Norma kategorisasi pada penelitian ini

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 berdasarkan pada PAN (Penilaian Acuan Norma). PAN bertujuan untuk membedakan individu kelompok-kelompok mulai dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi. Tabel 3.8 Rumus Norma Tiga Kategorisasi Rendah Sedang Tinggi X < M – 1SD M – 1SD < X < M + 1SD M + 1SD < X Keterangan:  Skor maksimum teoritik: Skor tertinggi yang diperoleh subyek penelitian berdasarkan perhitungan skala.  Skor minimum: Skor terendah yang diperoleh subjek penelitian menurut perhitungan skala  Standar‫ف‬deviasi‫(ف‬σ/sd):‫ف‬luas‫ف‬jarak‫ف‬rentangan‫ف‬yang‫ف‬dibagi‫ف‬dalam‫ف‬ 6 satuan deviasi sebaran  Mean teoritik (µ): rata-rata teoritis skor maksimum dan minimum 5. Perbedaan Penilaian Siswa Terhadap Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Dilihat dari Siswa SMP Negeri dan SMP Swasta. Untuk melihat adanya perbedaan penilaian siswa SMP negeri dan SMP Swasta terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter. Peneliti menggunakan chi square atau tes kai kuadrat tergolong ke dalam jenis statistik nonparametik sehingga chi square test tidak memerlukan syarat data berdistribusi normal. Karakteristik chi square

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 yaitu nilai chi square selalu positif karena merupakan hasil pengkuadratan, terdapat beberapa kelompok distribusi chi square, yaitu distribusi chi square dengan dk = 1, 2, 3, dst, dan datanya berbentuk diskrit atau nominal. Chi Square dapat digunakan untuk menguji hipotesis deskriptif satu sampel atau satu variabel, yang terdiri atas dua kategori atau lebih. Selain itu dapat digunakan untuk menguji hipotesis komparatif 2 sampel atau 2 variabel serta untuk menguji hipotesis asosiatif yang berskala nominal. Berikut hipotesis sementara peneliti: 1) Ho: Tidak terdapat perbedaan terhadap hasil penilaian siswa dari SMP Negeri dan SMP Swasta terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. 2) Ha: Terdapat perbedaan terhadap hasil penilaian siswa dari berbagai wilayah SMP Negeri dan SMP Swasta terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. 6. Perbedaan Capaian Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film pada Beberapa Siswa SMP di Indonesia yang Berada di SMP Negeri dan SMP Swasta. Untuk melihat adanya perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa siswa SMP di Indonesia yang bersekolah di SMP Negeri dan SMP Swasta, peneliti menggunakan perhitungan Independent Sample T-Test pada SPSS. Independent Sample T-Test ini digunakan untuk membandingkan dua kelompok mean dari dua sampel

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 yang berbeda (independent). Adapun perhitungan manual atau perhitungan matematik yang dapat digunakan, sebagai berikut: T= (𝑋1−𝑋2)−(𝛼1−𝛼2)0 1 1 𝑆𝑃 √𝑛 −√𝑛 1 2 V= n1 + n2 – 2 𝑆2𝑃 = (𝑛1 − 1)𝑆21 + (𝑛2 − 1)𝑆22 𝑛1 + 𝑛2 − 2 Keterangan: X1= Rata-rata Variabel SMPS X2= Rata-rata Variabel SMPN α‫ف‬1=‫ف‬Alpha‫ف‬SMPS α‫ف‬2=‫ف‬Alpha‫ف‬SMPN SP= Simpangan Baku n 1= Jumlah Sampel SMPS n 2= Jumlah Sampel SMPN 𝑆21 = Varians Sampel SMPS 𝑆22 = Varians Sampel SMPN Berikut hipotesis sementara dari peneliti adalah: Ho: Tidak terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa SMP di Indonesia di berbagai sekolah SMP Negeri dan SMP Swasta.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 Ha: Terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa SMP di Indonesia di berbagai sekolah SMP Negeri dan SMP Swasta

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini menjelaskan hasil-hasil penelitian dan pengembangan serta pembahasan. Sistematika pemaparan mengikuti urutan rumusan masalah yang diajukan pada Bab 1 dalam penelitian ini. Dengan cara ini dimaksudkan pertanyanpertanyaan penelitian dapat dijawab secara berurutan. A. Hasil Penelitian 1. Produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang diujikembangkan dalam penelitian ini. Sebagaimana dipaparkan pada bab 3 dalam metodologi penelitian pendidikan mengenai prosedur model penelitian pengembangan Borg and Gall (Silalahi, 2018) mengungkapkan bahwa Educational Research and Development merupakan proses untuk mengembangkan dan memvalidasi produk-produk pendidikan. Langkah-langkah Research and Development menurut Borg and Gall (Silalahi, 2018) meliputi 10 langkah, yaitu: (1) Research and information collection (melakukan penelitian dan pengumpulan informasi); (2) Planning (membuat perencanaan); (3) Develop Preliminary form of Product (mengembangkan bentuk awal produk); (4) Preliminary Field Testing (melakukan uji lapangan awal); (5) Main Product Revision (melakukan revisi produk utama); (6) Main Field Testing (melakukan uji lapangan untuk produk utama); (7) Operational Product Revision (melakukan revisi produk operasional); (8) Operational 90

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 Field Testing (melakukan uji lapangan terhadap produk); (9) Final Product Revision (melakukan revisi produk final); (10) Disemination and Implementation (diseminasi dan implementasi). Sedangkan, penelitian ini telah memasuki pada tahap (7) Operational Product Revision (melakukan revisi produk operasional); (8) Operational Field Testing (melakukan uji lapangan terhadap produk). Pada tahapan ini peneliti telah melakukan perevisian produk dan mengujicobakan produk tersebut ke 10 sekolah yang ada di Indonesia. Tahap revisi produk yang telah peneliti lakukan adalah memilih potongan film pendek yang menampilkan karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab; memilah potongan film yang notabene adalah anak SMP (sesuai dengan umur subjek); mensortir film berbahasa Indonesia dan berasal dari Indonesia; mengedit kalimat dan tanda baca yang sesuai EYD; mengedit durasi setiap soal yaitu kurang lebih 2 menit; mencocokan soal dengan potongan video; mengedit kejelasan suara; dan memilih kejernihan film. Setelah melewati proses yang panjang maka produk penelitian pengembangan pada tahap revisi produk ini terfilterisasi 88 soal tes yang terseleksi dari 440 butir soal tes yang telah dikembangan oleh tahun sebelumnya. Setelah itu, 88 butir soal tes tersebut diujicobakan secara

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 empirik di lapangan seperti yang telah dijelaskan pada bab 3. Bentuk fisik 88 soal itu telah didokumentasikan pada sebuah dvd (foto sampul dvd). Produk final soal tes yang dikembangkan peneliti bersama tim merupakan hak otoritas pengemban. Berikut ini disajikan satu contoh soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Hasil penelitian merupakan hak otoritas pengembang, peneliti hanya mencantumkan salah satu contoh soal. Bagi pihak yang membutuhkan soal tes asesmen tersebut dapat menghubungi Dr. Gendon Barus, M.Si melalui alamat e-mail: (bardon.usd@gmail.com). Jika kamu adalah siswa yang mampu menerima akibat dari perbuatanmu, bila kamu menjadi anak dalam film tadi. Apa yang kamu lakukan agar dapat memahami materi ujian besok? a. Saya melanjutkan belajar setelah tidur https://www.youtube. setengah jam com/watch b. Tidur sekitar dua jam dan bangun kembali ?v=Gq0-QqW7eHU untuk belajar yang lebih serius c. Tidur sampai subuh dan belajar sebelum berangkat ke sekolah d. Tidur sampai pagi dan belajar di sekolah Tabel 4.1 Contoh Soal Tes Asesmen Pendidikan Karakter

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 2. Kualitas soal-soal tes asesmen hasil penelitian pendidikan karakter berbasis film karakter yang di uji cobakan pada 10 SMP di Indonesia. Untuk menguji kualitas tes yang dikembangkan dalam penelitian (validitas dan reabilitas) dan uji menggunakan Confirmatory Factor Analysis atau yang disebut juga uji Validitas dalam SPSS. Jika perolehan nilai KMO-MSA >0,5 dan signifikansi Barlett’s 0,000 atau 0,05 menunjukkan bahwa instrument penelitian layak digunakan. Tabel rotated component matrix menunjukkan item-item yang membentuk faktor. Nilai faktor yang berada dalam satu kolom mengartikan item tersebut dalam faktor yang sama. Berdasarkan data uji coba produk diperoleh hasil uji validitas dan reliabilitas sebagai berikut: a. Validitas i. Hasil Analisis Faktor Variabel 1 Berikut disajikan hasil analisis faktor pada variabel 1 berdasarkan kategori nilai KMO-MSA >0,5 dan signifikansi Barlett’s 0,000 atau 0,05: Tabel 4.2 Hasil Analisis Faktor Reliabilitas Variabel 1 KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Approx. Chi-Square Sphericity Df Sig. Rotated Component Matrixa Component 1 2 f1.65 .664 .502 36.020 6 .000

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 f1.66 f1.67 f1.68 .823 .662 .784 Hasil hitung validasi menunjukkan bahwa hasil analisis faktor variabel 1 memiliki nilai KMO-MSA sebesar 0,502 dan signifikansi Barlett’s 0,000. Hasil analisis faktor validasi variabel 1 pada keempat item memiliki faktor 0,5 sehingga seluruh item valid dan membentuk 2 faktor dimana faktor pertama terdiri dari item 65 dan 68 sedangkan faktor kedua terdiri dari item 66 dan 67. ii. Hasil Analisis Faktor Variabel 2 dan Variabel 3 Berikut disajikan hasil analisis faktor pada variabel 1 berdasarkan kategori nilai KMO-MSA >0,5 dan signifikansi Barlett’s 0,000 atau 0,05: Tabel 4.3 Hasil Analisis Faktor Validitas Variabel 2 dan 3 KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. .954 Bartlett's Test of Approx. Chi-Square 19133.516 Sphericity df 2278 Sig. .000 Rotated Component Matrixa Component 1 2 f2.1 .720 f2.2 .621 f2.3 .577 f2.4 .658 f2.17 .601 f2.18 .509 f2.19 .666

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 f2.20 f2.21 f2.22 f2.23 f2.24 f2.25 f2.26 f2.27 f2.28 f2.29 f2.30 f2.31 f2.32 f2.33 f2.34 f2.35 f2.36 f2.37 f2.38 f2.39 f2.40 f2.41 f2.42 f2.43 f2.44 f2.45 f2.46 f2.47 f2.48 f3.5 f3.6 f3.7 f3.8 f3.9 f3.10 f3.11 f3.12 f3.49 f3.50 f3.51 f3.52 f3.53 f3.54 f3.55 .595 .577 .602 .605 .634 .659 .566 .671 .524 .621 .600 .555 .647 .503 .586 .560 .556 .584 .525 .504 .551 .556 .520 .542 .531 .654 .590 .819 .545 .639 .710 .716 .632 .584 .606 .612 .546 .620 .617 .526 .501

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 f3.56 f3.57 f3.58 f3.59 f3.60 f3.61 f3.62 f3.63 f3.64 f3.81 f3.82 f3.83 f3.84 f3.85 f3.86 f3.87 f3.88 .576 .684 .505 .578 .569 .614 .727 .633 .656 .624 .575 .556 .690 .548 .574 Hasil hitung validasi menunjukkan bahwa hasil analisis faktor variabel 2 dan 3 memiliki nilai KMO-MSA sebesar 0,954 dan signifikansi Barlett’s 0,000. Hasil analisis faktor validasi variabel 2 dan 3 diperoleh banyaknya 2 item tidak valid pada variabel 2 yaitu item 34 dan 39 dan 3 item tidak valid pada variabel 3 yaitu item 11, 84 dan 85. iii. Hasil Analisis Faktor Variabel 4 Berikut disajikan hasil analisis faktor pada variabel 4 berdasarkan kategori nilai KMO-MSA >0,5 dan signifikansi Barlett’s 0,000 atau 0,05:

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 Tabel 4.4 Hasil Analisis Faktor Validitas Variabel 4 KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Approx. Chi-Square Sphericity Df Sig. .502 20.878 6 .002 Rotated Component Matrixa Component 1 2 f4.13 .704 f4.14 .731 f4.15 -.715 f4.16 .707 Hasil hitung validasi menunjukkan bahwa hasil analisis faktor variabel 4 memiliki nilai KMO-MSA sebesar 0,502 dan signifikansi Barlett’s 0,002. Hasil analisis faktor validasi variabel 4 pada keempat item memiliki faktor 0,5 sehingga seluruh item valid dan membentuk 2 faktor dimana faktor pertama terdiri dari item 15 dan 16 sedangkan faktor kedua terdiri dari item 13 dan 14. iv. Hasil Analisis Faktor Variabel 5 Berikut disajikan hasil analisis faktor pada variabel 5 berdasarkan kategori nilai KMO-MSA >0,5 dan signifikansi Barlett’s 0,000 atau 0,05:

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 Tabel 4.5 Hasil Analisis Faktor Reliabilitas Variabel 5 KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Approx. Chi-Square Sphericity Df Sig. f5.69 f5.70 f5.71 f5.72 f5.73 f5.74 f5.75 f5.76 f5.77 f5.78 f5.79 f5.80 .758 693.702 66 .000 Rotated Component Matrixa Component 1 2 3 .641 .635 .652 .630 .592 .560 .553 .533 .580 .684 Hasil hitung validasi menunjukkan bahwa hasil analisis faktor variabel 5 memiliki nilai KMO-MSA sebesar 0,758 dan signifikansi Barlett’s 0,000. Hasil analisis faktor validasi variabel 5 pada kedua belas item membentuk 3 faktor yaitu pada faktor pertama terdiri dari item 69,70,71,72, faktor kedua terdiri dari item 73,74,76 dan faktor ketiga terdiri dari item 77,78,80. Pada variabel 5 ini terdapat 2 item tidak valid yaitu item 75 dan 79.

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 b. Reliabilitas Berikut disajikan hasil analisis reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach: Tabel 4.6 Hasil Uji Reliabilitas Keterangan Cases Jumlah siswa Valid Excludeda Total Cronbach’s Alpha .933 Persentase (%) 660 100.0 0 0.0 660 100.0 Jumlah Item 88 Hasil hitung reliabilitas menunjukkan bahwa hasil analisis uji reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach mendapatkan derajat validasi 0.933. Berdasarkan derajat reliabilitas Alpha Cronbrach berkisar antara 0.6 sampai 0.7 dinyatakan sebagai batas minimum penerimaan dan peneliti memutuskan derajat Alpha Cronbrach yang digunakan 0.7 maka dapat dikatakan bahwa reliabilitas item termasuk dalam kategori baik, artinya secara keseluruhan item layak untuk digunakan. 3. Nilai Nilai Efektivitas yang Terpenuhi dalam Penggunaan Soal Tes yang Dikembangkan Untuk mengukur nilai-nilai efektifitas yang terdapat dalam soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter, kepada siswa diberikan skala perseptual. Penggunaan inventori tersebut pada partisipan penelitian memberikan data sebagai berikut, dapat dilihat pada tabel 4.7.

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 Tabel 4.7 Rekapitulasi Hasil Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa pada Beberapa SMP di Indonesia (N=660) No Ya Tidak Ya Pernyataan F F % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Menarik dan asyik Menyenangkan dan menghibur Sangat bermanfaat untuk menyadari kualitas diri Menyadarkan saya untuk memperbaiki perilaku Membuka mata hati/nuraniku Mendorong tekad/keberanian berbuat lebih baik Menyadarkanku bahwak ku pernah berbuat salah Membuatku merasa malu pada diri sendiri Menumbuhkan rasa diri berharga Menyadarkan diriku bahwa aku punya kelemahan/kekurangan diri Membuatku merasa sedih dan prihatin terhadap keadaan sekelilingku Sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik Menimbulkan rasa menyesal dalam diriku terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan Menumbuhkan keinginan menolong orang lain Menumbuhkan rasa bersyukur Menantang diri untuk bertobat dari perilaku buruk Membosankan dan melelahkan Soal-soalnya sangat berat dan sulit Soalnya terlalu panjang dan rumit Mendorong/menumbuhkan keberanian bertanggungjawab Membangkitkan kesadaran menghargai teman Menumbuhkan rasa kemanusiaan dan empati pada orang lain 631 617 29 43 95.6% 93.5% 652 8 98.8% 652 637 8 23 98.8% 96.5% 642 18 97.3% 636 444 602 24 216 58 96.4% 67.3% 91.2% 642 18 97.3% 586 74 88.8% 644 16 97.6% 598 62 90.6% 644 646 16 14 97.6% 97.9% 589 141 92 174 71 519 568 486 89.2% 78,3% 86,1% 73.7% 635 25 96.2% 649 11 98.3% 643 17 97.4%

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Mempererat rasa persaudaraan/persahabatan Menumbuhkan ketaatan terhadap norma/peraturan Membangkitkan keinginan berusaha/gigih/berdaya juang Sangat baik/cocok/tepat untuk mengukur karakter siswa Beberapa potongan film tidak nyambung dengan pertanyaan & opsi jawaban Menumbuhkan keinginan berbagi/rela berkorban Mendorong siswa lebih disiplin/berperilaku baik/tertib pada aturan Waktu mengerjakan tes ini terburu-buru dan terlalu singkat/kurang waktu Tes ini merupakan cara menilai karakterku (siswa) secara jujur dan adil Tes ini bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter siswa Tes ini jika dilakukan secara berulang dapat menolong siswa untuk lebih sadar berperilaku dan membangun karakter yang lebih baik Tes ini kurang bermanfaat bahkan membuang-buang waktuku (siswa) Dalam menjawab soal tes ini siswa mungkin kurang jujur sesuai nuraninya 640 20 97% 645 15 97.7% 646 14 97.9% 629 31 95.3% 1 659 99,85% 625 35 94.7% 633 27 95.9% 211 449 68.1% 640 20 97% 595 65 90.2% 617 43 93.5% 65 595 90.16% 316 344 52.2% Keterangan: pernyataan nomor 17,18,19,27,30,34,35 adalah item negatif. Berdasarkan tabel 4.7 Terdapat 35 nomor item yang mengandung 28 item positif dan 7 item negatif. Dari 35 nomor item tersebut yang masuk dalam kriteria sangat efektif (90%-100%) adalah 27 item, efektif (80%89%) sebanyak 3 item, cukup efektif (< 80%) sebanyak 4 item, dan tidak efektif (<55%) sebanyak 1 item.

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Tabel 4.8 Rekapitulasi Hasil Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa pada Beberapa SMP di Indonesia (N=660) Sangat Efektif Persentase (%) 90%-100% Banyak Item 27 Efektif 80%-89% 3 1, 2, 3, 4 ,5, 6, 7,9, 10, 12, 13, 14, 15, 20, 21, 22,23,24, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 32,33,34 11, 16,18 Cukup Efektif <80% 4 8,30, 19,17 Kurang efektif 55%-64% 1 0 Tidak efektif <55% 0 35 Kategori Nomor Pernyataan Dapat disimpulkan bahwa siswa yang menilai soal tes asesmen hasil pendidikan karakter ini efektif karena dapat menimbulkan perasaan asyik dan menarik dalam diri siswa, senang dan terhibur, menyadari kualitas diri, menyadarkan diri siswa untuk memperbaiki perilaku, membuka mata hati/nurani siswa, mendorong tekad dan keberanian berbuat baik, menyadarkan siswa bahwa pernah berbuat salah, dan perasaan-perasaan positif lainnya. Akan tetapi, sebagaian dari mereka dalam menjawab soal tes ini kurang jujur dan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Artinya, ketika mereka melihat cuplikan video dan menjawab soal, disana ada dilema moral yang sedang mereka hadapi. Hal ini baik, karena produk ini benar-benar mampu menyadarkan siswa akan perbuatannya.

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 4. Capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia. Untuk mengukur capaian hasil pendidikan karakter dengan menggunakan soal tes asesmen berbasis film karakter pada 10 siswa SMP yang ada di Indonesia, sebanyak 660 siswa SMP diperlihatkan potongan film karakter pendek. Potongan film tersebut berdurasi -+ 1 sampai 2 menit beserta soal dengan waktu yang sudah ditentukan. Pilihan jawaban disajikan bergradasi, sehingga tidak ada jawaban benar dan salah. Dalam hal ini siswa memilih jawaban yang menurutnya paling sesuai dengan dirinya. Hasil pendidikan karakter tersebut dihitung menggunakan Norma Kategorisasi Azwar, sebagai berikut: Tabel 4.9 Rumus Norma Tiga Kategorisasi Rendah Sedang Tinggi X < M – 1SD M – 1SD < X < M + 1SD M + 1SD < X Melalui rumus norma tiga kategorisasi tersebut, dapat di cari skorskor mana saja yang termasuk dalam kategori rendah, sedang, maupun tinggi. Oleh sebab itu, sebelum masuk ke SPSS, peneliti mencari skor-skor tersebut terlebih dahulu sebagai berikut:

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 X maks = jumlah soal asesmen x nilai terbesar. = 88 x 4 = 352 X min = jumlah soal asesmen x nilai terkecil = 88 x 1 = 88 Simpangan baku/SD = Mean/X = 𝑋𝑚𝑎𝑘𝑠+ 𝑋𝑚𝑖𝑛 2 Kategori Rendah Sedang Tinggi 𝑋 𝑚𝑎𝑘𝑠−𝑋 𝑚𝑖𝑛 6 = 352 + 88 2 = = 440 2 352−88 6 = = 220 264 6 = 44 Tabel 4.10 Norma Pengkategorisasian Rumus Pengkategorisasian Definisi M – 1SD < 220 – 1*44 < 220 Dikategorisasikan X 176 < 220 rendah apabila memiliki nilai antara 88 sampai 175. M– 220 – 1*44 ≤ 220 < Dikategorisasikan 1SD < X < 220 + 1*44 sedang apabila M + 1SD 176 ≤ 220 <264 memiliki nilai antara 176 sampai 263. X
(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 Tabel 4.11 Capaian Hasil Pendidikan Karakter Capaian Hasil Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Tinggi 338 51.2 51.2 51.2 Sedang 322 48.8 48.8 100.0 Total 660 100.0 100.0 Berdasarkan hasil perhitungan, tabel di atas menunjukkan bahwa dari 660 siswa yang mengerjakan soal tes ini, terdapat 338 siswa yang termasuk memiliki karakter dalam kategori tinggi. Terdapat 322 siswa yang termasuk memiliki karakter dalam kategori sedang dan tidak ada anak yang memiliki karakter yang berkategori rendah. hasil pendidikan karakter yang diukur menggunakan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter pada 660 siswa di beberapa SMP di Indonesia dalam kategori tinggi sebanyak 338 siswa dan kategori sedang 322 siswa serta tidak ada siswa yang masuk dalam kategori rendah.

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 5. Perbedaan penilaian siswa dari 10 sekolah terdiri dari SMP Negeri dan SMP Swasta terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter di Indonesia. Untuk melihat apakah terdapat perbedaan penilaian dari siswa SMP Negeri dan SMP Swasta terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen, peneliti memberikan 1 lembar kertas penilaian. Lembar efektifitas siswa tersebut berisikan 35 pernyataan mengenai efektif atau tidaknya penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Tabel 4.12 Penilaian Perbedaan Siswa SMP Negeri dan SMP Swasta Terhadap Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter NO PERNYATAAN SIGNIFIKAN Sig Pv 98% 93% 96% 91% 99% 99% 99% 99% ,786 96% 97% ,670 98% 97% 1 Menarik dan asyik YA 0,005 2 Menyenangkan dan menghibur Sangat bermanfaat untuk menyadari kualitas diri Menyadarkan saya untuk memperbaiki perilaku YA 0,009 TIDAK 0,498 ,498 3 4 5 6 Membuka mata hati/nuraniku Mendorong tekad/keberanian berbuat lebih baik PRESENTASE SMPN SMPS TIDAK TIDAK TIDAK

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 7 8 9 Menyadarkanku bahwak ku pernah berbuat salah Membuatku merasa malu pada diri sendiri TIDAK TIDAK 16 Menumbuhkan rasa bersyukur Menantang diri untuk bertobat dari perilaku buruk 17 Membosankan dan melelahkan 11 12 13 14 15 26 27 28 91% 92% ,488 98% ,062 91% 97% ,826 98% ,484 91% ,142 98% 97% ,621 98% 98% ,043 92% 87% ,000 16% 27% ,221 12% 16% ,079 23% 29% ,003 98% 94% ,383 99% 98% ,239 98% 97% ,956 97% 97% ,075 99% 97% ,115 99% ,223 96% 94% 0% 0% 90% TIDAK TIDAK YA YA TIDAK 25 ,617 TIDAK Soalnya terlalu panjang dan rumit Mendorong/menumbuhkan keberanian bertanggungjawab Membangkitkan kesadaran menghargai teman Menumbuhkan rasa kemanusiaan dan empati pada orang lain Mempererat rasa persaudaraan/persahabatan Menumbuhkan ketaatan terhadap norma/peraturan Membangkitkan keinginan berusaha/gigih/berdaya juang Sangat baik/cocok/tepat untuk mengukur karakter siswa Beberapa potongan film tidak nyambung dengan pertanyaan & opsi jawaban Menumbuhkan keinginan berbagi/rela berkorban 24 68% 98% 19 23 67% TIDAK TIDAK 22 ,785 87% Soal-soalnya sangat berat dan sulit 21 96% TIDAK 18 20 97% TIDAK Menumbuhkan rasa diri berharga Menyadarkan diriku bahwa aku punya kelemahan/kekurangan diri Membuatku merasa sedih dan prihatin terhadap keadaan sekelilingku Sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik Menimbulkan rasa menyesal dalam diriku terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan Menumbuhkan keinginan menolong orang lain 10 ,722 TIDAK YA TIDAK TIDAK TIDAK TIDAK 97% TIDAK TIDAK ,323 TIDAK ,427 TIDAK 95% 94%

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 29 30 31 32 33 Mendorong siswa lebih disiplin/berperilaku baik/tertib pada aturan Waktu mengerjakan tes ini terburuburu dan terlalu singkat/kurang waktu Tes ini merupakan cara menilai karakterku (siswa) secara jujur dan adil Tes ini bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter siswa Tes ini jika dilakukan secara berulang dapat menolong siswa untuk lebih sadar berperilaku dan membangun karakter yang lebih baik 96% ,513 95% ,838 32% ,393 98% TIDAK 32% TIDAK 96% TIDAK 87% ,017 93% YA 95% ,133 92% TIDAK 9% 34 35 Tes ini kurang bermanfaat bahkan membuang-buang waktuku (siswa) Dalam menjawab soal tes ini siswa mungkin kurang jujur sesuai nuraninya ,417 11% TIDAK 50% ,208 45% TIDAK Keterangan: pernyataan nomor 17, 18, 19, 27, 30, 34, 35 adalah item negatif tetapi dalam rangka implementasi diberi tanda kurang. Diperoleh penilaian khusus dari siswa SMP Negeri dan SMP Swasta terhadap validitas efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia. Dari Tabel 4.12 diperoleh 5 item pernyataan yang signifikan, diantaranya adalah nomor 1, 2, 16, 17, 20 dan 32. Artinya, pada item nomor 1 menunjukkan bahwa ada perbedaan penilaian mengenai perasaan menarik dan asik dari siswa SMP Negeri dan SMP Swasta, ketika sedang mengerjakan soal tes tersebut. Perbedaan perasaan tersebut ditunjukkan melalui persentase, yaitu siswa

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 SMP Negeri mampu merasakan perasaan menarik dan asik sebanyak 98% sedangkan siswa SMP Swasta 93%. Item nomer 2 menunjukan bahwa terdapat perbedaan penilaian mengenai menyenangkan dan menghibur dari siswa SMP Negeri dan SMP Swasta, ketika sedang mengerjakan soal tersebut. Perbedaan perasaan tersebut ditunjukkan melalui persentase, yaitu siswa SMP Negeri mampu merasakan perasaan menarik dan asik sebanyak 96% sedangkan siswa SMP Swasta 91%. Item nomor 16 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penilaian mengenai keinginan menantang diri untuk bertobat dari perilaku buruk pada siswa SMP Negeri dan SMP Swasta . Perbedaan perasaan tersebut juga dapat ditunjukkan melalui presentase, yaitu pada siswa SMP Negeri mampu memiliki keinginan menantang diri untuk bertobat sebanyak 92%, sedangkan siswa SMP Swasta 87%. Item nomor 17 menunjukkan adanya perbedaan penilaian mengenai perasaan bosan dan melelahkan dalam mengisi tes, perbedaan ini dapat dilihat dari presentase, yaitu siswa SMP Negeri 16% dan SMP Swasta 27%. Dan yang terakhir pada item nomor 20 menunujukkan adanya perbedaan nilai mengenai tumbuhnya keberanian bertanggungjawab setelah mengikuti tes ini pada siswa SMP Negeri dan SMP Swasta, perbedaan nilai dapat dilihat dari presentase yakni siswa SMP Negeri 98% dan siswa SMP Swasta 94%. Walaupun pada item-item pernyataan tersebut menunjukkan perbedaan penilaian, namun hasilnya tidak terlalu siginifikan. Begitupun sama halnya dengan item pernyataan pada nomor 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 18, 19, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 33, 34, dan 35merupakan

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 item pernyataan yang tidak signifikan. Artinya, pada item-item pernyataan tersebut tidak ada perbedaan penilaian siswa SMP Negeri dan siswa SMP Swasta terhadap soal tes asesmen hasil pendidikan karakter. Dengan begitu, artinya produk ini layak digunakan oleh siswa yang bersekolah di sekolah negeri dan swasta. Hasil perhitungan menyatakan bahwa siswa sekolah negeri dan swasta mampu merasakan atau sependapat dengan item-item pernyataan tersebut, walaupun ada perbedaan namun hasilnya tidak terlalu siginifikan, maka hal ini menunjukkan bahwa tes berbasis film seperti ini sangat baik digunakan untuk siswa baik di SMP Negeri maupun di SMP Swasta. 6. Perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada 10 SMP di Indonesia di berbagai sekolah SMP Negeri dan SMP Swasta. Untuk melihat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter, peneliti memberikan produk berupa asesmen penilaian pendidikan karakter pada siswa yang berasal dari SMP Negeri dan SMP Swasta. Perbedaan capaian hasil tersebut dapat diperoleh melalui perhitungan SPSS yang dapat dilihat hasilnya sebagai berikut. Tabel 4.13 Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa SMPN dan SMPS VAR00001 VAR00090 SMPN 326 Mean 264,18 Std. Deviation 13,789 SMPS 334 261,34 13,970 N Std. Error Mean ,764 ,764

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 Pada tabel 4.14 menunjukkan perbedaan nilai Mean pada siswa SMP Negeri = 264,18 dan SMP Swasta = 261,34 selisihnya adalah 2,84. Artinya, siswa yang berasal dari SMP Negeri memiliki hasil pendidikan karakter yang lebih baik tetapi selisihnya sangat tipis atau tidak signifikan. Tabel 4.14 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances VAR00 090 Equal varian ces assum ed Equal varian ces not assum ed F ,148 Sig. ,701 t-test for Equality of Means T 2,625 Df 658 2,625 657,9 17 Sig. (2tailed) ,009 Mean Differ ence 2,837 Std. Error Differ ence 1,081 ,009 2,837 1,081 95% Confidence Interval of the Difference Low Upp er er ,715 4,95 9 ,715 4,95 8 Sedangkan, apabila dilihat dari table 4.15 tampak bahwa ada F=0,148 dan Sig (P)=0,701 karena P > 0,05, maka dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan pada data siswa yang berasal dari SMP Negeri dan SMP Swasta (data equal homogen). Maka, diketahui bahwa data siswa yang berasal dari SMP Negeri dan SMP Swasta bersifat homogen, jadi yang diperhatikan adalah Equal Variance Assumed. Sedangkan, terhitung bahwa

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 nilai t=2,625, artinya tidak ada perbedaan antara karakter siswa yang berasal dari SMP Negeri dan SMP Swasta. Maka dapat disimpulkan Ha ditolak dan Ho diterima. B. Pembahasan 1. Produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang diujikembangkan dalam penelitian ini. Produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berdasarkan film karakter yang telah diujikan oleh peneliti pada 10 sekolah yang ada di Indonesia sudah dikatakan berhasil. Berdasarkan tahapan penelitian Research and Development menurut Borg and Gall terdapat 10 tahapan penelitian. Peneliti telah memasuki pada tahap 7 dan 8, yaitu Operational Product Revision (melakukan revisi produk operasional) dan Operational Field Testing (melakukan uji lapangan terhadap produk). Operational Product Revision itu sendiri menurut Borg and Gall (Silalahi, 2018) adalah suatu tahap dalam melakukan perevisian produk yang telah diujicobakan pada wilayah yang lebih luas, sehingga menghasilkan produk desain model operasional yang siap divalidasi. Berdasarkan pernyataan tersebut, produk ini sudah melalui tahap perevisian sesuai dengan syarat yang telah ditentukan oleh Tim Peneliti Sosial, Humaniora, dan Pendidikan (PSHP) Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma. Sehingga dapat dikatakan bahwa produk ini cocok digunakan di lapangan. Adapun kegiatan perevisian produk yang telah

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 peneliti lakukan yaitu, memilih potongan film pendek yang menampilkan karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab; memilah potongan film yang notabene adalah anak SMP (sesuai dengan umur subjek); mensortir film berbahasa Indonesia dan berasal dari Indonesia; mengedit kalimat dan tanda baca sesuai dengan EYD; mengedit durasi setiap soal yaitu kurang lebih 2 menit; mencocokan soal dengan potongan video; mengedit kejelasan suara; dan memilih kejernihan film. Pada tahap berikutnya adalah Operational Field Testing yang mana pada tahap ini peneliti melakukan uji lapangan terhadap produk. Peneliti melakukan uji validasi terhadap model operasional yang dilaksanakan pada 10 sekolah dengan melibatkan 660 subjek penelitian melalui wawancara kepada guru, angket penilaian siswa dan guru mengenai produk yang telah diujicobakan, dan observasi. Sedangkan, analisis hasilnya digunakan untuk melihat apakah desain model produk ini sudah dapat dipakai di sekolah tanpa harus dilakukan pengarahan atau pendampingan oleh peneliti. Maka dengan ini peneliti menyatakan bahwa produk ini telah berhasil diujicobakan di lapangan, karena sudah sesuai dengan pernyataan Borg and Gall dalam teorinya mengenai 10 tahapan penelitian Research and Development.

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 Pengukuran efektivitas soal tes asesmen hasil pendidikan karakter menurut penilaian siswa dilakukan peneliti dengan menggunakan kuesioner berbentuk pernyataan checklist dengan skala Guttman. Skala Guttman digunakan dengan tujuan untuk melihat nilai-nilai efektivitas dari model pengembangan yang dibuat berdasarkan penilaian siswa. Berdasarkan hasil hitung pada kuisoner efektifitas oleh siswa 35 item pernyataan, dari nilai hasil ada 28 item positif dan ada 7 item negatif, terdapat 27 item yang masuk dalam kriteria (sangat efektif) 90%-100%, 3 item yang masuk dalam kriteria (efektif) 80%-89%, dan 5 item yang masuk dalam kriteria (cukup efektif) <79. Hasil dari 28 item positif tersebut bila dikonversikan dalam kriteria Guilford masuk dalam ketegori sedang. Hasil penilaian tersebut diketahui bahwa siswa benar-benar mengalami pernyataan pada item positif dan kurang mengalami pernyataan pada item negatif, saat soal tes karakter dikerjakan. Proses penggunaan produk ini juga mendapatkan penilaian dari siswa. Hasil penilaian dari siswa diperoleh data bahwa produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter ini sangat efektif. Hal ini dibuktikan, banyak siswa mengalami perasaan-perasaan positif yang ada di dalam dirinya, antara lain: asyik dan menarik dalam diri siswa, senang dan terhibur, menyadari kualitas diri, menyadarkan diri siswa untuk memperbaiki perilaku, membuka mata hati/nurani siswa, mendorong tekad

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 dan keberanian berbuat baik, menyadarkan siswa bahwa pernah berbuat salah, dan perasaan-perasaan positif lainnya. Hal ini selaras dengan pendapat Masterpiece (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) yang menyebutkan bahwa siswa cenderung lebih banyak memahami hal-hal yang terinterpretasikan dalam film dari pada dalam buku teks. Sedangkan, Champoux (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) juga mengatakan bahwa film mampu mencapai ranah kognitif dan afektif siswa secara bersamaan. Maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa produk ini diterima oleh siswa dan mampu mengukur tingkat internalisasi pendidikan karakter di sekolah sehingga membentuk suatu karakter siswa. Hasil pendidikan karakter yang diukur menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada beberapa SMP di Indonesia adalah sedang sampai tinggi. Skor dalam kategori tinggi sebanyak 338 siswa dan kategori sedang 322 siswa, serta tidak ada siswa yang masuk dalam kategori rendah. Dilihat melalui hasil tersebut, maka peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa pendidikan karakter yang ditanamkan pada 10 SMP di Indonesia berhasil masuk dalam kehidupan 660 siswa. Hal tersebut sejalan dengan teori Samani & Hariyanto (2011: 44) yang mengatakan bahwa pendidikan karakter dapat mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 sehari-hari dengan sepenuh hati. Hal yang sama juga disampaikan oleh Lickona (Akhwan, 2014: 61) yang mengatakan bahwa karakter berkaitan dengan ketiga komponen, yaitu konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior). Artinya, karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Penilaian dari siswa SMP Negeri dan SMP Swasta terhadap validitas efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia. Dari Tabel 4.13 diperoleh 5 item pernyataan yang signifikan, diantaranya adalah nomor 1, 2, 16, 17, 20 dan 32. Artinya, pada item nomor 1 menunjukkan bahwa ada perbedaan penilaian mengenai perasaan menarik dan asik dari siswa SMP Negeri dan SMP Swasta, ketika sedang mengerjakan soal tes tersebut. Perbedaan perasaan tersebut ditunjukkan melalui persentase, yaitu siswa SMP Negeri mampu merasakan perasaan menarik dan asik sebanyak 98% sedangkan siswa SMP Swasta 93%. Item nomer 2 menunjukan bahwa terdapat perbedaan penilaian mengenai menyenangkan dan menghibur dari siswa SMP Negeri dan SMP Swasta, ketika sedang mengerjakan soal tersebut. Perbedaan perasaan tersebut ditunjukkan melalui persentase, yaitu siswa SMP Negeri mampu merasakan perasaan menarik dan asik sebanyak 96% sedangkan siswa SMP Swasta 91%. Item nomor 16 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penilaian mengenai keinginan menantang diri untuk bertobat dari perilaku buruk pada siswa SMP Negeri dan SMP

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 Swasta . Perbedaan perasaan tersebut juga dapat ditunjukkan melalui presentase, yaitu pada siswa SMP Negeri mampu memiliki keinginan menantang diri untuk bertobat sebanyak 92%, sedangkan siswa SMP Swasta 87%. Item nomor 17 menunjukkan adanya perbedaan penilaian mengenai perasaan bosan dan melelahkan dalam mengisi tes, perbedaan ini dapat dilihat dari presentase, yaitu siswa SMP Negeri 16% dan SMP Swasta 27%. Dan yang terakhir pada item nomor 20 menunujukkan adanya perbedaan nilai mengenai tumbuhnya keberanian bertanggungjawab setelah mengikuti tes ini pada siswa SMP Negeri dan SMP Swasta, perbedaan nilai dapat dilihat dari presentase yakni siswa SMP Negeri 98% dan siswa SMP Swasta 94%. Pembelajaran maupun alat tes menggunakan film masih sangat jarang digunakan di Indonesia, hal ini merupakan inovasi baru yang mana menggunakan film sebagai alat tes, selain itu, penggunaan film ini baik digunakan dan menarik bagi siswa. Terbukti bahwa gaya pembelajaran menggunakan film yang diikuti dengan soal tes karakter menurut siswa SMP Negeri dan siswa SMP Swasta sangat efektif digunakan. Selanjutnya, Masterpiece (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) juga menyebutkan bahwa siswa cenderung lebih banyak memahami halhal yang terinterpretasikan dalam film dari pada dalam buku teks. Hal yang sama juga disampaikan oleh Champoux (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) yang mengatakan bahwa film mampu mencapai ranah kognitif dan afektif siswa secara bersamaan. Dari beberapa

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 pernyataan tersebut mampu memperkuat hasil penilaian siswa yang mengatakan bahwa produk ini efektif digunakan oleh siswa SMP Negeri dan siswa Swasta, karena film mampu mencapai ranah kognitif maupun afektif siswa dan siswa cenderung memahami hal-hal yang ada di film dari pada buku teks. Terdapat perbedaan hasil capaian pendidikan karakter pada SMP Negeri dan SMP Swasta. Hal ini ditunjukkan dari hasil perhitungan statistika yaitu SMP Negeri memiliki mean 264, 18 dan SMP Swasta memiliki mean 261, 34. Meskipun memiliki selisih yang tipis namun perbedaan ini tetap signifikan, pada tabel 4.15 menunjukkan tingkat signifikan perbedaan adalah ,009. Siginikansi ini dapat dilihat dengan membandingkan p = ,009 ≤‫ف‬α‫ف=ف‬.05. Perbedaan hasil ini dapat disebabkan oleh ketersediaan fasilitas. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa tes ini membutuhkan beberapa fasilitas menunjang. Sekolah swasta yang menjadi lokasi penelitian tidak semuanya memiliki fasilitas yang lengkap untuk menunjang pelaksanaan tes. Ketidaklengkapan fasilitas dapat membuat pesan dari film menjadi kurang tersampaikan atau kurang terserap oleh siswa. Contohnya ketika tidak soundsystem atau speaker maka suara dari film yang ada kurang terdengar oleh siswa sehingga makna dan pesan dari suara film tersebut kurang bisa ditangkap dengan baik.

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP Pada bab ini menguraikan kesimpulan tentang produk, keterbatasan penelitian, dan saran berdasarkan hasil penelitian. A. Simpulan tentang Produk Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, peneliti dapat menyimpulkan menjadi beberapa hal yaitu: 1. Telah dihasilkan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang 81 butir soal tes valid telah melalui proses perevisian produk dan mengujicobaan produk pada 10 SMP di Indonesia. Produk soal tes yang dihasilkan didokumentasikan dalam produk rekam DVD 2. Berdasarkan nilai validitas dan reliabilitas yang dihitung menggunakan analisis faktor konfirmatori dari 88 soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter tersebut di peroleh 81 butir soal valid dengan indeks alpa Cronbach sebesar 0,933. Artinya soal tes ini sangat valid dan sangat terpercaya dan mampu mengukur karakter siswas. 3. Berdasarkan hasil penilaian dari siswa diperoleh data bahwa produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter ini sangat efektif. Siswa yang mengerjakan soal tes ini mampu mengalami perasaan-perasaan positif yang ada di dalam dirinya, antara lain: asyik dan menarik dalam diri siswa, senang dan terhibur, menyadari kualitas diri, menyadarkan diri siswa untuk memperbaiki perilaku, membuka mata hati/nurani siswa, 119

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 mendorong tekad dan keberanian berbuat baik, menyadarkan siswa bahwa pernah berbuat salah, dan perasaan-perasaan positif lainnya. Dapat dikatakan produk ini diterima oleh siswa dan mampu mengukur penginternalisasian pendidikan karakter di sekolah sehingga membentuk suatu karakter siswa. 4. Berdasarkan capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen berbasis film karakter pada beberapa SMP di Indonesia adalah sebanyak 338 capaian hasil pendidikan karakter masuk dalam kategori baik dan 322 siswa yang masuk dalam kategori karakter cukup baik. Maka dapat disimpulkan bahwa hampir separuh dari jumlah siswa yang di teliti, capaian hasil pendidikan karakter belum optimal tidak terdapat perbedaan. 5. Berdasarkan perbedaan hasil penilaian siswa yang bersal dari SMP Negeri dan Swasta terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter di Indonesia, hanya pada 5 butir efektivitas penilaian siswa dari berbagai SMP Negeri dan SMP Swasta terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Oleh sebab itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter dapat digunakan pada siswa SMP Negeri dan SMP Swasta. 6. Terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter siswa yang di ukur dengan menggunakan soal tes asesmen berbasis film karakter pada beberapa SMP di Indonesia, dinyatakan bahwa ada perbedaan hasil

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 pendidikan karakter pada siswa yang berasal dari SMP Negeri dan SMP Swasta. Perbedaan hasil ini dipengaruhi oleh kelengkapan fasilitas. SMP Negeri memiliki fasilitas yang lebih lengkap untuk menunjang proses penggunaan tes ini, sedangkan SMP Swasta yang menjadi lokasi penelitian tidak semuanya memiliki fasilitas yang lengkap, sehingga hal ini mempengaruhi hasil tes siswa. Oleh karena itu, hasil karakter yang diperoleh siswa SMP Negeri dan SMP Swasta ada perbedaan. B. Keterbatasan Penelitian Pelaksanaan penelitian asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada beberapa SMP di Indonesia, sudah dirancang secara konseptual, sistematik, dan telah mengikuti aturan procedural. Tim PSHP telah mengupayakan produk ini agar mendapatkan hasil yang optimal, sehingga menjadi sebuah produk soal tes hasil pendidikan karakter yang mumpuni. Akan tetapi penelitian ini masih banyak kekurangan dan perlu perbaikan oleh tim selanjutnya. Berikut beberapa catatan dari keterbatasan penelitian ini: 1. Kurangnya fasilitas pendukung seperti ruangan yang sempit dan LCD yang kurang memadai, sehingga dalam pengerjaan siswa merasa kurang nyaman dan mempengaruhi kinerja siswa dalam mengerjakan soal. 2. Durasi pemutaran produk asesmen yang cukup lama dan ada beberapa soal beserta jawaban yang ditampilkan terlalu panjang, sehingga membuat siswa mudah lelah. 3. Asesmen ini memakan waktu yang lama pada saat pengerjaan soal.

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 4. Kesulitan peneliti dalam tahap perevisian produk soal tes yang rumit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. 5. Pelaksanaan penelitian berbarengan denagn libur ujian nasional, sehingga banyak anak yang tidak masuk sekolah/absen. C. Saran Berikut ini merupakan beberapa saran yang dapat peneliti uraikan untuk pengembangan produk soal tes asesmen agar menjadi lebih baik. 1. Bagi Pemerintah Peneliti menyarankan kepada pemerintah untuk melanjutkan pengembangan produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter ini agar menjadi lebih baik. Pemerintah juga dapat menetapkan produk ini sebagai salah satu alat ukur untuk mengetahui hasil pendidikan karakter pada diri siswa. 2. Bagi Guru BK Produk ini dapat digunakan sebagai alat ukur/penilaian karakter yang lebih objektif, efektif, valid, praktis, dan berkeadilan pada jenjang SMP. Guru BK juga harus mempersiapkan game yang membuat anak kembali bersemangat setelah menyelesaikan soal tes ini. 3. Bagi Peneliti Lain Penelitian ini dapat digunakan sebagai patokan dalam membuat produk soal tes agar lebih baik lagi. Akan tetapi, produk ini perlu adanya

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 pengembangan agar siswa tidak merasa lelah saat mengerjakan soal tes. Sehingga, produk asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film ini dapat menjadi lebih optimal sebagai alat ukur.

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 Daftar Pustaka Akhwan, Muzhoffar. (2014). Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasinya dalam Pembelajaran di Sekolah/Madrasah. El-Tarbawi,7(1), 62. Arikunto, Suharsimi. (1997). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara. Azwar, Saifuddin. (2014). Penyusunan skala psikologi (edisi 2). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Barus, Gendon. (2017). The Implementation of Assessment Character Education Result in Secondary School. Advances in Social Science, Education, and Humanities Research, Volume 188 Blum, L. a. (1988). Gilligan and Kohlberg: Implications for Moral Theory. Ethics, 98(3), 472. Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 23 Tahun 2014 pasal 1 ayat 12 Fathurrohman, Pupuh., AA Suryana., Fenny Fitriani. (2013). Pengembangan pendidikan karakter. Bandung: PT Refika Aditama. Koesoema, Doni. (2012). Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh. Yogyakarta: Kanisius. Kustandi, C & Sutjipto, B. (2016). Media pembelajaran; manual dan digital. Bogor: Ghalia Indonesia. Jamaludin, Adon Nasrullah. (20115). Sosiologi Perkotaan: Memahami Masyarakat Kota dan Problematikanya. Bandung: CV Pustaka Setia. Jihad, Asep & Haris, Abdul. (2008). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo. Practice, T., & Apr, M. D. (2007). Moral‫ف‬Development :‫ف‬A‫ف‬Review‫ف‬of‫ف‬the‫ف‬Theory‫ف‬ Lawrence‫ف‬Kohlberg ;‫ف‬Richard‫ف‬H‫ف‬.‫ف‬Hersh,‫ف‬16(2), 53–59. Prihana, Rani. (2017). Peningkatan Karakter Ksatria Melalui Pendidikan Karakter Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Dengan Pendekatan Experiential Learning. di unggah pada tanggal 17 Januari 2018. Prijowuntato, Widanarto. S. (2016). Evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Sanata Dharma university Press. Ratnawulan, Elis & Rusdiana. (2015). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: CV Pustaka Setia. Samani, Muchlas & Hariyanto. (2011). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. Silalahi, Albinus. (2018). Development Research (Penelitian Pengembangan) dan Research & Development (Penelitian & Pengembangan) dalam Bidang Pendidikan/Pembelajaran. ResearchGate, 1-13. Subali, Bambang. (2016). Prinsip Asesmen dan Evaluasi Pembelajaran Edisi Kedua. Yogyakarta: UNY Press. Sugiyono. (2015). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 Sukardi. (2014). Evaluasi Program Pendidikan Dan Kepelatihan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Sumadilaga, Rukman. (1986). Sosiologi dan Antropologi untuk SMA Jilid 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Suwandi, Sarwiji. (2009). Model Assesmen dalam Pemberlajaran. Surakarta: Yuma Pustaka bekerja sama dengan FKIP UNS. Uno, Hamzah B. & Koni, Satria. (2012). Assessment Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Wardani, Silvia Yula. (2018). Peranan Konselor Dalam Penguatan Pendidikan Karakter. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, h.14. Yasri, H. L & Mulyani, Endang. (2016). Efektivitas Penggunaan Media Film untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas X. Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS, 3, 138-149. Yaumi, M. (2014). Pendidikan Karakter Landasan, Pilar & Implementasi. Jakarta: Prenadamedia Grup. Yulia, Desma & Arifin Muhammad. Pengaruh Penggunaan Media Film Animasi Dalam Pembelajaran IPS Terpadu Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII di SMP Kartini 1 Batam Tahun Pelajaran 2013/2014. Historia, 10, 31-45. Zainul & Nasution. (2005). Penilaian hasil belajar. Cetakan ke-5. Jakarta: PPAUPPAI Universitas Terbuka. Zhang,‫ف‬Q.,‫ف&ف‬Zhao,‫ف‬H.‫(ف‬2017).‫ف‬An‫ف‬Analytical‫ف‬Overview‫ف‬of‫ف‬Kohlberg’s‫ف‬Theory‫ف‬of‫ف‬ Moral Development in College Moral Education in Mainland China. Open Journal of Social Sciences, 05(08), 151–160. Zuriah Nurul. (2007). Metode penelitian sosial dan pendidikan. Jakarta : PT Bumi Aksara. DAFTAR PUSTAKA BUKU KUNING

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126 LAMPIRAN

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127 Lampiran 1 DATA TABULAS

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135 Lampiran 2 Perbedaan penilaian siswa dari 10 sekolah terdiri dari SMP Negeri dan SMP Swasta terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter di Indonesia VAR00002 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00002 tidak ya Total SMP N 7 2% SMPS 22 7% Total 29 319 98% 312 93% 631 326 334 660 Chi-Square Tests 1 Asymp . Sig. (2sided) ,005 6,720 1 ,010 8,129 1 ,004 Linear-by-Linear Association 7,729 1 ,005 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio Value 7,740a df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,007 ,004 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 14,32. b. Computed only for a 2x2 table

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136 VAR00003 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00003 tidak ya Total SMP N 13 4% SMPS 30 9% Total 43 313 96% 304 91% 617 326 334 660 Chi-Square Tests 1 Asymp . Sig. (2sided) ,009 5,961 1 ,015 6,942 1 ,008 Linear-by-Linear Association 6,746 1 ,009 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Value 6,756a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,011 ,007 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 21,24. b. Computed only for a 2x2 table VAR00004 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00004 tidak ya Total SMP N 3 1% SMPS 5 1% 8 323 99% 329 99% 652 326 334 Total 660

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square 1 Asymp . Sig. (2sided) ,498 ,103 1 ,748 ,464 1 ,496 Value ,458a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association ,458 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,725 ,376 ,499 a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3,95. b. Computed only for a 2x2 table VAR00005 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00005 tidak ya Total SMP N 3 1% SMPS 5 1% 8 323 99% 329 99% 652 326 334 Total 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio 1 Asymp . Sig. (2sided) ,498 ,103 1 ,748 ,464 1 ,496 Value ,458a df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association ,458 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,725 ,376 ,499 a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3,95. b. Computed only for a 2x2 table

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138 VAR00006 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00006 tidak ya Total SMP N 12 4% SMPS 11 3% Total 23 314 96% 323 97% 637 326 334 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square 1 Asymp . Sig. (2sided) ,786 ,004 1 ,953 ,074 1 ,786 Value ,074a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association ,074 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,834 ,476 ,786 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 11,36. b. Computed only for a 2x2 table VAR00007 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00007 tidak ya Total SMP N 8 2% SMPS 10 3% Total 18 318 98% 324 97% 642 326 334 660

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square 1 Asymp . Sig. (2sided) ,670 ,035 1 ,852 ,182 1 ,670 Value ,181a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association ,181 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,812 ,427 ,670 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,89. b. Computed only for a 2x2 table VAR00008 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00008 tidak ya Total SMP N 11 3% SMPS 13 4% Total 24 315 97% 321 96% 636 326 334 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio 1 Asymp . Sig. (2sided) ,722 ,022 1 ,883 ,126 1 ,722 Value ,126a df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association ,126 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,836 ,442 ,722 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 11,85. b. Computed only for a 2x2 table

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140 VAR00009 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00009 tidak ya Total SMP N 108 33% SMPS 107 32% Total 215 218 67% 226 68% 444 326 333 659 Chi-Square Tests 1 Asymp . Sig. (2sided) ,785 ,036 1 ,849 ,074 1 ,785 Linear-by-Linear Association ,074 1 ,785 N of Valid Cases 659 Pearson Chi-Square Value ,074a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,804 ,425 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 106,36. b. Computed only for a 2x2 table VAR00010 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00010 tidak ya Total SMP N 30 9% SMPS 27 8% Total 57 296 91% 306 92% 602 326 333 Chi-Square Tests 659

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141 1 Asymp . Sig. (2sided) ,617 ,130 1 ,718 ,250 1 ,617 Linear-by-Linear Association ,249 1 ,618 N of Valid Cases 659 Pearson Chi-Square Value ,250a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,678 ,359 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 28,20. b. Computed only for a 2x2 table VAR00011 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00011 tidak ya Total SMP N 7 2% SMPS 10 3% Total 17 319 98% 323 97% 642 326 333 659 Chi-Square Tests 1 Asymp . Sig. (2sided) ,488 ,200 1 ,655 ,483 1 ,487 Linear-by-Linear Association ,479 1 ,489 N of Valid Cases 659 Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio Value ,480a df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,625 ,328 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,41. b. Computed only for a 2x2 table

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142 VAR00012 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00012 tidak ya Total SMP N 29 9% SMPS 45 13% Total 74 297 91% 289 87% 586 326 334 660 Chi-Square Tests 1 Asymp . Sig. (2sided) ,062 3,028 1 ,082 3,499 1 ,061 Linear-by-Linear Association 3,467 1 ,063 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Value 3,472a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,065 ,041 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 36,55. b. Computed only for a 2x2 table VAR00013 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00013 tidak ya Total SMP N 7 2% SMPS 8 2% Total 15 319 98% 325 98% 644 326 333 Chi-Square Tests 659

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143 1 Asymp . Sig. (2sided) ,826 0,000 1 1,000 ,048 1 ,826 Linear-by-Linear Association ,048 1 ,826 N of Valid Cases 659 Pearson Chi-Square Value ,048a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) 1,000 ,517 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7,42. b. Computed only for a 2x2 table VAR00014 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00014 tidak ya Total SMP N 28 9% SMPS 34 10% Total 62 298 91% 300 90% 598 326 334 660 Chi-Square Tests 1 Asymp . Sig. (2sided) ,484 ,321 1 ,571 ,491 1 ,483 Linear-by-Linear Association ,490 1 ,484 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio Value ,490a df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,507 ,286 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 30,62. b. Computed only for a 2x2 table

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144 VAR00015 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00015 tidak ya Total SMP N 5 2% SMPS 11 3% Total 16 321 98% 323 97% 644 326 334 660 Chi-Square Tests 1 Asymp . Sig. (2sided) ,142 1,480 1 ,224 2,215 1 ,137 Linear-by-Linear Association 2,156 1 ,142 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Value 2,160a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,205 ,111 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7,90. b. Computed only for a 2x2 table VAR00016 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00016 tidak ya Total SMP N 6 2% SMPS 8 2% Total 14 320 98% 326 98% 646 326 334 660

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square 1 Asymp . Sig. (2sided) ,621 ,050 1 ,823 ,245 1 ,620 Value ,245a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association ,244 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,788 ,412 ,621 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6,92. b. Computed only for a 2x2 table VAR00017 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00017 ya tidak Total SMP N 27 8% SMPS 44 13% Total 71 299 92% 290 87% 589 326 334 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio 1 Asymp . Sig. (2sided) ,043 3,618 1 ,057 4,151 1 ,042 Value 4,112a df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association 4,105 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,045 ,028 ,043 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 35,07. b. Computed only for a 2x2 table

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146 VAR00018 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00018 ya tidak Total SMP N 51 16% SMPS 90 27% Total 141 275 84% 244 73% 519 326 334 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio 1 Asymp . Sig. (2sided) ,000 11,880 1 ,001 12,685 1 ,000 Value 12,544a df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association 12,525 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,000 ,000 ,000 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 69,65. b. Computed only for a 2x2 table VAR00019 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00019 ya tidak Total SMP N 40 12% SMPS 52 16% Total 92 286 88% 282 84% 568 326 334 Chi-Square Tests 660

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147 1 Asymp . Sig. (2sided) ,221 1,234 1 ,267 1,501 1 ,221 Linear-by-Linear Association 1,494 1 ,222 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Value 1,497a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,261 ,133 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 45,44. b. Computed only for a 2x2 table VAR00020 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00020 tidak ya Total SMP N 76 23% SMPS 98 29% Total 174 250 77% 236 71% 486 326 334 660 Chi-Square Tests 1 Asymp . Sig. (2sided) ,079 2,786 1 ,095 3,095 1 ,079 Linear-by-Linear Association 3,084 1 ,079 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio Value 3,088a df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,093 ,047 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 85,95. b. Computed only for a 2x2 table

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148 VAR00021 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00021 tidak ya Total SMP N 5 2% SMPS 20 6% Total 25 321 98% 314 94% 635 326 334 660 Chi-Square Tests 1 Asymp . Sig. (2sided) ,003 7,801 1 ,005 9,617 1 ,002 Linear-by-Linear Association 8,968 1 ,003 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Value 8,982a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,003 ,002 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12,35. b. Computed only for a 2x2 table VAR00022 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00022 tidak ya Total SMP N 4 1% SMPS 7 2% Total 11 322 99% 327 98% 649 326 334 Chi-Square Tests 660

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149 1 Asymp . Sig. (2sided) ,383 ,322 1 ,570 ,770 1 ,380 Linear-by-Linear Association ,759 1 ,384 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Value ,760a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,546 ,287 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,43. b. Computed only for a 2x2 table VAR00023 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00023 tidak ya Total SMP N 6 2% SMPS 11 3% Total 17 320 98% 323 97% 643 326 334 660 Chi-Square Tests 1 Asymp . Sig. (2sided) ,239 ,869 1 ,351 1,410 1 ,235 Linear-by-Linear Association 1,386 1 ,239 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio Value 1,388a df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,327 ,176 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,40. b. Computed only for a 2x2 table

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150 VAR00024 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00024 tidak ya Total SMP N 10 3% SMPS 10 3% Total 20 316 97% 324 97% 640 326 334 660 Chi-Square Tests 1 Asymp . Sig. (2sided) ,956 0,000 1 1,000 ,003 1 ,956 Linear-by-Linear Association ,003 1 ,956 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Value ,003a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) 1,000 ,568 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9,88. b. Computed only for a 2x2 table VAR00025 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00025 tidak ya Total SMP N 4 1% SMPS 11 3% Total 15 322 99% 323 97% 645 326 334 660

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151 Pearson Chi-Square Value 3,172a Continuity Correctionb Likelihood Ratio Chi-Square Tests Asymp . Sig. (2df sided) 1 ,075 2,310 1 ,129 3,302 1 ,069 Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association 3,167 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,115 ,063 ,075 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7,41. b. Computed only for a 2x2 table VAR00026 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00026 tidak ya Total SMP N 4 1% SMPS 10 3% Total 14 322 99% 324 97% 646 326 334 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio 1 Asymp . Sig. (2sided) ,115 1,703 1 ,192 2,566 1 ,109 Value 2,481a df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association 2,477 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,175 ,095 ,116 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6,92. b. Computed only for a 2x2 table

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152 VAR00027 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00027 ya tidak Total SMP N 12 4% SMPS 19 6% Total 31 314 96% 315 94% 629 326 334 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square 1 Asymp . Sig. (2sided) ,223 1,071 1 ,301 1,499 1 ,221 Value 1,485a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association 1,483 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,271 ,150 ,223 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 15,31. b. Computed only for a 2x2 table VAR00028 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00028 tidak ya Total SMP N 0 326 326 0% 100 % SMPS 1 333 334 Total 0% 1 100 % 659 660

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 153 Pearson Chi-Square Value ,978a Continuity Correctionb Likelihood Ratio Chi-Square Tests Asymp . Sig. (2df sided) 1 ,323 0,000 1 1,000 1,364 1 ,243 Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association ,976 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) 1,000 ,506 ,323 a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is ,49. b. Computed only for a 2x2 table VAR00029 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00029 tidak ya Total SMP N 15 5% SMPS 20 6% Total 35 311 95% 314 94% 625 326 334 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio 1 Asymp . Sig. (2sided) ,427 ,386 1 ,534 ,634 1 ,426 Value ,632a df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association ,631 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,489 ,268 ,427 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 17,29. b. Computed only for a 2x2 table

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 154 VAR00030 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00030 ya tidak Total SMP N 15 5% SMPS 12 4% Total 27 311 95% 322 96% 633 326 334 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square 1 Asymp . Sig. (2sided) ,513 ,209 1 ,647 ,428 1 ,513 Value ,428a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association ,427 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,560 ,324 ,513 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13,34. b. Computed only for a 2x2 table VAR00031 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00031 tidak ya Total SMP N 103 32% SMPS 108 32% Total 211 223 68% 226 68% 449 326 334 660

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 155 Pearson Chi-Square Value ,042a Continuity Correctionb Likelihood Ratio Chi-Square Tests Asymp . Sig. (2df sided) 1 ,838 ,014 1 ,904 ,042 1 ,838 Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association ,042 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,868 ,452 ,839 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 104,22. b. Computed only for a 2x2 table VAR00032 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00032 tidak ya Total SMP N 8 2% SMPS 12 4% Total 20 318 98% 322 96% 640 326 334 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio 1 Asymp . Sig. (2sided) ,393 ,392 1 ,531 ,733 1 ,392 Value ,728a df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association ,727 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,497 ,266 ,394 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9,88. b. Computed only for a 2x2 table

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 156 VAR00033 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00033 tidak ya Total SMP N 23 7% SMPS 42 13% Total 65 303 93% 292 87% 595 326 334 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square 1 Asymp . Sig. (2sided) ,017 5,056 1 ,025 5,742 1 ,017 Value 5,661a Continuity Correctionb Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association 5,652 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,019 ,012 ,017 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 32,11. b. Computed only for a 2x2 table VAR00034 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00034 ya tidak Total SMP N 26 8% SMPS 17 5% Total 43 300 92% 317 95% 617 326 334 660

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 157 Pearson Chi-Square Value 2,255a Continuity Correctionb Likelihood Ratio Chi-Square Tests Asymp . Sig. (2df sided) 1 ,133 1,807 1 ,179 2,269 1 ,132 Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association 2,252 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,156 ,089 ,133 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 21,24. b. Computed only for a 2x2 table VAR00035 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00035 ya tidak Total SMP N 29 9% SMPS 36 11% Total 65 297 91% 298 89% 595 326 334 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio 1 Asymp . Sig. (2sided) ,417 ,464 1 ,496 ,660 1 ,417 Value ,659a df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association ,658 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,436 ,248 ,417 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 32,11. b. Computed only for a 2x2 table

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 158 VAR00036 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00036 ,00 1,00 Total SMP N 148 45% SMPS 168 50% Total 316 178 55% 166 50% 344 326 334 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio 1 Asymp . Sig. (2sided) ,208 1,397 1 ,237 1,588 1 ,208 Value 1,588a df Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association 1,585 N of Valid Cases 660 1 Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) ,213 ,119 ,208 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 156,08. b. Computed only for a 2x2 table VAR00002 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00002 Total ,00 SMPN 7 2% SMPS 22 7% Total 29 YA 319 98% 312 93% 631 326 334 660

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 159 VAR00003 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00003 ,00 SMPN 13 4% SMPS 30 9% Total 43 YA 313 96% 304 91% 617 Total 326 334 660 VAR00004 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00004 ,00 SMPN 3 1% SMPS 5 1% 8 YA 323 99% 329 99% 652 Total 326 Total 334 660 VAR00005 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00005 ,00 SMPN 3 1% SMPS 5 1% 8 YA 323 99% 329 99% 652 Total 326 Total 334 660 VAR00006 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00006 Total ,00 SMPN 12 4% SMPS 11 3% Total 23 YA 314 96% 323 97% 637 326 334 660

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 160 VAR00007 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00007 ,00 SMPN 8 2% SMPS 10 3% Total 18 YA 318 98% 324 97% 642 Total 326 334 660 VAR00008 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00008 ,00 SMPN 11 3% SMPS 13 4% Total 24 YA 315 97% 321 96% 636 Total 326 334 660 VAR00009 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00009 ,00 SMPN 108 33% SMPS 107 32% Total 215 YA 218 67% 226 68% 444 Total 326 333 659 VAR00010 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00010 Total ,00 SMPN 30 9% SMPS 27 8% Total 57 YA 296 91% 306 92% 602 326 333 659

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 161 VAR00011 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00011 ,00 SMPN 7 2% SMPS 10 3% Total 17 YA 319 98% 323 97% 642 Total 326 333 659 VAR00012 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00012 ,00 SMPN 29 9% SMPS 45 13% Total 74 YA 297 91% 289 87% 586 Total 326 334 660 VAR00013 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00013 ,00 SMPN 7 2% SMPS 8 2% Total 15 YA 319 98% 325 98% 644 Total 326 333 659 VAR00014 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00014 Total ,00 SMPN 28 9% SMPS 34 10% Total 62 YA 298 91% 300 90% 598 326 334 660

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 162 VAR00015 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00015 ,00 SMPN 5 2% SMPS 11 3% Total 16 YA 321 98% 323 97% 644 Total 326 334 660 VAR00016 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00016 ,00 SMPN 6 2% SMPS 8 2% Total 14 YA 320 98% 326 98% 646 Total 326 334 660 VAR00017 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00017 ,00 SMPN 27 8% SMPS 44 13% Total 71 YA 299 92% 290 87% 589 Total 326 334 660 VAR00018 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00018 YA TIDAK Total SMPN 51 16% SMPS 90 27% Total 141 275 84% 244 73% 519 326 334 660

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 163 VAR00019 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00019 YA TIDAK Total SMPN 40 12% SMPS 52 16% Total 92 286 88% 282 84% 568 326 334 660 VAR00020 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00020 YA TIDAK Total SMPN 76 23% SMPS 98 29% Total 174 250 77% 236 71% 486 326 334 660 VAR00021 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00021 ,00 SMPN 5 2% SMPS 20 6% Total 25 YA 321 98% 314 94% 635 Total 326 334 660 VAR00022 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00022 Total ,00 SMPN 4 1% SMPS 7 2% Total 11 YA 322 99% 327 98% 649 326 334 660

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 164 VAR00023 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00023 ,00 SMPN 6 2% SMPS 11 3% Total 17 YA 320 98% 323 97% 643 Total 326 334 660 VAR00024 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00024 ,00 SMPN 10 3% SMPS 10 3% Total 20 YA 316 97% 324 97% 640 Total 326 334 660 VAR00025 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00025 ,00 SMPN 4 1% SMPS 11 3% Total 15 YA 322 99% 323 97% 645 Total 326 334 660 VAR00026 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00026 Total ,00 SMPN 4 1% SMPS 10 3% Total 14 YA 322 99% 324 97% 646 326 334 660

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 165 VAR00027 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00027 ,00 SMPN 12 4% SMPS 19 6% Total 31 YA 314 96% 315 94% 629 Total 326 334 660 VAR00028 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00028 YA TIDAK Total SMPN 0 0% SMPS 1 0% 1 326 100% 333 100% 659 326 Total 334 660 VAR00029 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00029 ,00 SMPN 15 5% SMPS 20 6% Total 35 YA 311 95% 314 94% 625 Total 326 334 660 VAR00030 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00030 Total ,00 SMPN 15 5% SMPS 12 4% Total 27 YA 311 95% 322 96% 633 326 334 660

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 166 VAR00031 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00031 YA TIDAK Total SMPN 103 32% SMPS 108 32% Total 211 223 68% 226 68% 449 326 334 660 VAR00032 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00032 ,00 SMPN 8 2% SMPS 12 4% Total 20 YA 318 98% 322 96% 640 Total 326 334 660 VAR00033 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00033 ,00 SMPN 23 7% SMPS 42 13% Total 65 YA 303 93% 292 87% 595 Total 326 334 660 VAR00034 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00034 Total ,00 SMPN 26 8% SMPS 17 5% Total 43 YA 300 92% 317 95% 617 326 334 660

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 167 VAR00035 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00035 YA TIDAK Total SMPN 29 9% SMPS 36 11% Total 65 297 91% 298 89% 595 326 334 660 VAR00036 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00036 YA TIDAK Total SMPN 148 45% SMPS 168 50% Total 316 178 55% 166 50% 344 326 334 660

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 168 VAR00037 * VAR00001 Crosstabulation Count VAR00001 VAR00037 Total 15,00 SMPN 1 SMPS 1 Total 16,00 0 1 1 20,00 2 0 2 21,00 1 4 5 22,00 0 3 3 23,00 3 0 3 24,00 2 2 4 25,00 3 3 6 26,00 3 5 8 27,00 4 11 15 28,00 8 18 26 29,00 17 24 41 30,00 16 25 41 31,00 25 18 43 32,00 41 57 98 33,00 68 59 127 34,00 75 63 138 35,00 57 40 97 326 334 660 2

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 169 Lampiran 3 Lembar Penilaian Siswa

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 170 Lampiran 4 Lembar Jawab Tes

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 171 Lampiran 5 Surat MOU

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 172 Lampiran 6 Surat Pernyataan Lampiran 3

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 173 Lampiran 7 Surat Keterangan

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 174 Lampiran 8 Daftar Hadir

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 175

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 176

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 177

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 178 Lampiran 9 Dokumentasi

(198)

Dokumen baru

Download (197 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Kontribusi efektivitas penggunaan buku paket terhadap hasil belajar pendidikan ekonomi siswa SMP Moh.Husni Thamrin Gintung Ciputat
0
24
80
Implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SMP PGRI 1 Ciputat
0
7
148
Pengaruh pembelajaran berbasis pendidikan karakter terhadap prestasi belajar siswa pada materi himpunan di kelas VII SMP Pangudi Luhur Boro Yogyakarta tahun ajaran 2015/2016.
1
8
151
Evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa : studi evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa tahun ajaran 2014/2015 dan implikasinya terhadap penyusunan silabus pendidikan karakte.
0
1
251
Hasil pendidikan karakter pada siswa SMP (analisis evaluatif hasil pendidikan karakter terintegrasi ditinjau dari jenis kelamin pada siswa SMP Negeri 6 Surakarta tahun ajaran 2013/2014 dan implikasinya terhadap penyusunan silabus.
0
2
171
Keterlaksanaan dan hambatan-hambatan pendidikan karakter terintegrasi : studi evaluatif keterlaksanaan dan hambatan-hambatan pendidikan karakter terintegrasi di SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta tahun ajaran 2014/2015.
0
1
267
Evaluasi keterlaksanaan pendidikan karakter di SMP Negeri 13 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 (studi pendapat kepala sekolah dan guru di SMP Negeri 13 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014).
0
0
125
Hasil pendidikan karakter terintegrasi pada siswa SMP (analisis evaluatif hasil pendidikan karakter terintegrasi pada siswa berdasarkan urutan kelahiran di SMP Negeri 13 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 dan implikasinya terhadap penyusunan silabus dan mo
0
0
175
Hasil pendidikan karakter terintegrasi di smp (studi evaluatif ketercapaian hasil pendidikan karakter terintegrasi pada siswa kelas VII dan Kelas VIII di SMP Negeri 13 Yogyakarta dan SMP Negeri 6 Surakarta tahun ajaran 2013/2014 serta implikasinya terhada
0
0
207
Pengaruh kompetensi guru PAI terhadap karakter siswa di SMP Al-Islam Krian.
0
0
164
Implementasi Kurikulum 2013 dengan pendidikan karakter dalam pembentukan kepribadian siswa di SMP Islam Sidoarjo.
0
0
151
Integrasi pendidikan karakter dalam desain pembelajaran seni tari di SMP
0
0
15
artikel karakter SMP
0
0
6
Kepuasan siswa terhadap kualitas pelayanan pendidikan di SMP Negeri 2 Moyudan - USD Repository
0
0
131
Pendidikan karakter terintegrasi dalam pembelajaran menulis Bahasa Indonesia untuk siswa SMP kelas VIII semester 1 dan 2 - USD Repository
0
0
244
Show more