PENGARUH KEBIJAKAN MONETER TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA PERIODE TAHUN 2000:1 – 2010:12

Gratis

1
0
137
9 months ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan dan bimbingan yang diberikan oleh semuapihak dalam penyusunan skripsi ini, dengan kerendahan hati penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada : 1. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat berguna bagi siapa saja yang telah membacanya dan dapat mengambil manfaat atas apa yang baik danberguna dalam skripsi ini.

DAFTAR LAMPIRAN

  Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Inflasi berpengaruh negatif, Kurs berpengaruh negatif, JUB berpengaruh negatif, dan tingkat suku bunga berpengaruh negatifterhadap pertumbuhan ekonomi baik jangka panjang maupun jangka pendek. Hasil dari penelitian berdasarkan uji ECM (Error correction model) menunjukkan bahwa inflasi untuk jangka pendek memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhanekonomi dengan koefisien sebesar 0,005236, sedangkan dalam jangka panjang mempunyai pengaruh negatif dan signifikan dengan koefisien sebesar -0,123432.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu titik awal kelahiran ilmu ekonomi makro adalah adanya permasalahan

  Depresi merupakan suatu malapetaka yang terjadi dalam ekonomi di mana kegiatanproduksi terhenti akibat adanya inflasi yang tinggi dan pada saat yang sama terjadi pengangguran yang tinggi pula. Strategikebijakan moneter yang diterapkan disejumlah bank sentral untuk mencapai sasaran commit to user Banyak negara dunia berkembang, yang umumnya memiliki tingkat kesejahteraan rakyat yang relatif masih rendah, mempertinggi tingkat pertumbuhanekonomi memang sangat mutlak diperlukan untuk mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi dari negara-negara industri maju.

DESEMBER BULAN 2006 2007 2008 2009 2010

  Krisis ekonomi yang terjadi di Asia ini diawali dengan melemahnya BathThailand yang melahirkan contagion-effect (efek menular ke negara lain) dan menyebabkan krisis mata uang yang merambat ke negara Asia lainnya termasukIndonesia. Untuk meredam melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar dan tingkat inflasi yang tinggi, bank sentral meningkatkan tingkat suku bunga SBI yang padabulan November 1998 menyentuh angka 61 persen per tiga bulan.

BULAN 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 JANUARI

  Krisis ekonomi dan moneter yang dialami Indonesia telah memberikan pelajaran berharga pada peran yang seharusnya dilakukan oleh Bank Sentral dalamperekonomian dan status kelembagaanya dalam suatu negara. Dalam proses pertumbuhan ekonomi berupa sektor atau industri mengalami penciutan atau perluasan secara lambat , pergeseran atauperpindahan sumber daya dari sektor yang satu ke sektor yang lain harus dijamin mekanismenya, terjadinya mungkin sebagian besar melalui mekanisme pasarsehingga pemanfaatan atau penggunaan sumber daya dalam pertumbuhan ekonomi dapat dilaksanakan secara efisien (Jhingan, 2000).

B. Perumusan Masalah

  Bagaimana pengaruh nilai kurs terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia dalam jangka pendek dan jangka panjang ? Bagaimana pengaruh tingkat suku bunga SBI terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesi dalam jangka pendek dan jangka panjang ?

C. Tujuan Penelitian

  Dapat mengetahui pengaruh dari nilai kurs terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dapat mengetahui dari pengaruh tingkat suku bunga SBI terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesi dalam jangka pendek dan jangka panjang.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh kebijakan moneter terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia dalam jangka pendek dan jangka panjang. commit to user commit to user

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kebijakan Moneter

1. Pengertian Kebijakan Moneter

  Menurut Sadono Sukirno (2006), kebijakan moneter merupakan langkah – langkah pemerintah yang dilakukan oleh Bank Sentral ( di Indonesia BankSentralnya adalah Bank Indonesia) untuk mempengaruhi (mengubah) penawaran yang dalam perekonomian atau mengubah suku bunga, dengan maksud untuk commit to user Dalam kajian literatur ada dua jenis kebijakan moneter, yaitu kebijakan moneter ekspansif dan kebijakan moneter kontraktif. Dalam hal ini, kebijakan moneter yang diterapkan pada kondisi dimana perekonomian sedang mengalami boom ‘perkembangan yang sangat pesat, tentuberbeda dengan kebijakan moneter yang diterapkan pada kondisi dimana perekonomian sedang mengalami depression atau slump (perkembangan yangmelambat).

2. Kerangka Operasional Kebijakan Moneter

  Kerangka operasional kebijakan moneter adalah rangkaian langkah – langkah bank sentral dari penentuan dan prakiraan sasaran akhir, pemantauanvariabel – variabel ekonomi yang dijadikan dasar perumusan kebijakan moneter hingga pelaksanaan pengendalian moneter untuk mencapai sasaran akhir. Instrumen Kebijakan Moneter Instrumen kebijakan moneter adalah instrumen yang dimiliki oleh bank sentral yang dapat digunakan baik secara langsung maupun tidak langsung untukmempengaruhi sasaran-sasaran operasional yang telah ditetapkan (Warjiyo, Perry dan Solikin, 2003).

4. Mekanisme Tranmisi Kebijakan Moneter

  Jarak waktu (lag) dari Kebijakan MoneterMenurut Boediono (1985), masalah kebijakan yang masih berkaitan dengan ketidakpastian ini adalah masalah jarak waktu atau lag darikebijaksanaan. Ada dua macam lag yang dikenal dalam kepustakaan kebijaksanaan ekonomi, yaitu: a) Inside lag adalah jarak waktu dari timbulnya permasalahan didalam perekonomian sampai dengan dimulainya tindakan kebijaksanaan untuk mengatasinya.

5. Kebijakan Stabilisasi

Kebijakan stabilisasi (stabilization policy) mengacu pada tindakan kebijakan yang bertujuan mengurangi tekanan fluktuasi ekonomi jangka pendek. commit to user

6. Kebijakan Moneter Inflation Targeting

  Mulai bulan Juli tahun 2005 Bank Indonesia telah mengimplementasikan kerangka kerja kebijakan moneter yang baru konsisten dengan Inflation Targeting, yang mencakup empat elemen mendasar yaitu penggunaan suku Framework bunga BI Rate sebagai sasaran operasional , proses perumusan kebijakan moneter yang antisipatif , strategi komunikasi yang lebih transparan, dan penguatankoordinasi kebijakan dengan pemerintah. Langkah – langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan efektifitas dan tata kelola (governance) kebijakan moneterdalam mencapai sasaran akhir kestabilan harga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat (Purnomo, 2010).

1. Inflation Targeting Laite

  Sejak tahun 2000, dengan diberlakukannya UU No. 23 Tahun 1999,Bank Indonesia telah menentukan dan mengumumkan sasaran inflasi sebagai sasaran akhir kebijakan moneter.

2. Inflation Targeting Framework (ITF)

  Secara umum, Inflation Targeting Framework (ITF) merupakan kerangka kerja kebijakan moneter yang secara eksplisit mentargetkan inflasidan kebijakan moneter secara transparan dan konsisten diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi dimaksud. Meskipun definisi berbeda secara rinci,terdapat konsensus umum mengenai karakteristik pokok dari rezim kebijakan moneter ini, yaitu: adanya sasaran inflasi yang secara eksplisit menjadi tujuanutama pemeliharaan kestabilan harga oleh bank sentral, terbatasnya dominasi fiskal dan tidak adanya sasaran nominal yang lain, dan otoritas moneter yangdibekali dengan independensi instrument dan beroperasi secara transparan dan terbuka kepada public (Bank Indonesia).

B. Tingkat Inflasi 1. Pengertian Inflasi

  commit to user Sedangkan yang dimaksud dengan tingkat inflasi adalah persentase kecepatan kenaikan harga – harga dalam suatu tahun tertentu, biasanya digunakansebagai ukuran untuk menunjukkan sampai dimana buruknya masalah ekonomi yang dihadapi. Sering sekali inflasi yangserius, yaitu tingkatannya mencapai 5 sampai 10 persen atau sedikit lebih tinggi, terjadi pada waktu peperangan atau ketidakstabilan politik, inflasi bisa mencapaitingkat yang sangat tinggi, yaitu inflasi yang mencapai beberapa ratus atau beberapa ribu persen.

2. Jenis – Jenis Inflasi

  Laju inflasi dapat berbeda antara satu negara dengan negara lain atau dalam satu negara untuk waktu yang berbeda. Galloping Inflation : Jenis ini adalah jenis inflasi menengah ditandai commit to user commit to usertriple digit ) dan kadang – kadang berjalan dalam waktu yang relatif pendek serta mempunyai sifat akselerasi.

3. Macam Inflasi

  Ada berbagai cara untuk menggolongkan macam inflasi dan penggolongan mana yang kita pilih tergantung pada tujuan kita. Hiperinflasi (diatas 100% setahun)Laju inflasi tersebut bukanlah suatu standar yang secara mutlak dapat mengindikasikan parah tidaknya dampak inflasi bagi perekonomian di suatuwilayah tertentu, sebab hal itu sangat bergantung pada berapa bagian dan golongan masyarakat manakah yang terkena imbas ( yang menderita ) dari inflasiyang sedang terjadi (Adwin S.

H2 D2

  Penggolongan yang ketiga adalah berdasarkan asal dari inflasi, yaitu adalah :a) Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation) Inflasi yang berasal dari dalam negeri timbul misalnya karena deficit anggaran belanja yang dibiayai dengan pencetakan uang baru,panen yang gagal, dan sebagainya. b) Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation)Inflasi yang berasal dari luar negeri adalah inflasi yang timbul karena kenaikan harga – harga (inflasi) di luar negeri atau negara –negara yang berdagang dengan negara kita.

4. Tinjaun Teori Tentang Inflasi a Teori Kuantitas

  Dengan keadaan daya beli antara golongan yang ada di masyarakat tidak sama (heretogen), maka selanjutnya akan terjadi realokasi barang –barang yang tersedia dari golongan masyarakat yang memiliki daya beli yang relatif rendah kepada golongan masyarakat yang memiliki daya beli yang lebihbesar. Sehingga, goncangan ekonomi yang bersumber dari dalam negeri, misalnya gagal panen (akibat faktor eksternalpergantian musim yang terlalu cepat, bencana alam, dan sebagainya), atau hal commit to user Fenomena struktural yang disebabkan oleh kesenjangan atau kendala struktural dalam perekonomian di negara berkembang, sering disebut denganterutama terjadi dalam tiga hal, structural bottlenecks.

5. Akibat-akibat Buruk Inflasi

  Pengalaman beberapa negara yang telah pernah mengalami inflasi hiper menunjukkan bahwa inflasi yang buruk akan menimbulkan ketidakstabilansosial dan politik, dan tidak mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Terlebih dahulu ekonomi harus distabilkan, dan ini termasuk usaha menstabilkanharga-harga, sebelum pertumbuhan ekonomi yang teguh dapat c) Tingkat bunga meningkat dan akan mengurangi investasi.

6. Cara Mencegah Inflasi

  Disamping cara ini bank sentral bisa juga dapat menggunakan kebijakan diskonto, apabila tingkatdiskonto dinaikkan (oleh bank sentral) maka gairah bank umum untuk meminjam makin kecil sehingga cadangan yang ada pada bank sentral jugamengecil, akibatnya kemampuan bank umum memberikan pinjaman pada masyarakat makin kecil sehingga jumlah uang beredar turun dan inflasi dapatdicegah. Kebijakan FiskalKebijakan fiskal menyangkut pengaturan tentang pengeluaran pemerintah serta perpajakan yang secara langsung dapat mempengaruhipermintaan total dengan demikian akan mempengaruhi harga kebijakan fiskal yang berupa pengurangan pengeluran pemerintah serta kenaikan pajak akandapat mengurangi permintaan total, sehingga inflasi dapat ditekan.

C. Jumlah Uang Beredar

  Uang kartal adalah uang tunai yangdikeluarkan pemerintah atau bank sentral yang langsung dibawah kekuasaan masyarakat umum untuk menggunakannya Sedangkan uang giral adalah seluruh nilaisaldo rekening koran (giro) yang dimiliki masyarakat pada bank – bank umum(Boediono, 1993) Kewajiban sistem moneter yang terdiri atas uang kartal dan uang giral dalam arti sempit atau narrow money (M1). Hal itu disebut uang beredar dalam arti luas (broad money) dan dirumuskansebagai berikut : M2 = M1 + TDimana :M2 = uang yang beredar dalam arti luas (broad money)M1 = uang yang beredar dalam arti sempit (narrow money) T = saldo deposito berjangka dan tabungan miliki masyarakat pada bank.

D. Nilai Tukar Atau Kurs

1. Pengertian Nilai Tukar Atau Kurs

  Sedangkanmenurut Mishkin (2001), nilai tukar mata uang suatu negara adalah harga mata uang suatu negara tersebut yang dihitung dalam mata uang negara lain. MenurutHossain dan Chowdhury (1998), kurs nominal adalah harga dari mata uang asing dalam bentuk mata uang domestik, kurs nominal dapat dinyatakan dalampersamaan berikut: e = Pd / Pf Dimana: e = kurs nominal, Pd = harga domestik, Pf = harga luar negeriMenurut Mankiw (2000), nilai tukar dibagi menjadi dua yaitu nilai tukar nominal (nominal exchange rate) dan nilai tukar riil (real exchange rate).

2. Sistem Nilai Tukar

  Pada sistem ini nilai tukar ditetapkan pada nilai tertentu, bank sentral akan selalu siap untuk menjual atau membeli kebutuhan devisa untukmempertahankan nilai tukar yang telah ditetapkan. Sistem Nilai Tukar Mengambang BebasMenurut Warjiyo (2004), Pada sistem nilai tukar mengambang , nilai tukar dibiarkan bergerak sesuai dengan (floating exchange rate) kekuatan permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar.

3. Teori Nilai Tukar atau Kurs

  Pendekatan Moneter terhadap Pembentukan KursPendekatan ini menyatakan bahwa kurs tercipta dalam proses penyamaan atau penyeimbangan stok atau total permintaan dan penawaran commit to user Peningkatan penawaran uang yang kemudian mengakibatkan penurunan suku bunga riil dapat mempengaruhi situasi di pasar – pasarfinansial dan besaran kurs secara seketika. Dengan demikian jika nilai dollar AS terapresiasi berarti kurs dollar AS terhadap rupiah meningkat, masyarakat cenderung akan memilih memegang dollarAS dan menabung atau mendepositokan uangnya dalam bentuk valuta asing, dimana rekening dan deposito dalam valuta asing ini merupakan komponen uang kuasi,sehingga uang kuasi akan meningkat, yang berarti jumlah uang beredar pun akan meningkat.

G. Pertumbuhan Ekonomi 1. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi

  Dengan adanya pertumbuhan ekonomi makadiharapkan pendapatan masyarakat sebagai pemilik faktor produksi juga akan commit to user Pertumbuhan ekonomi memiliki dua pengertian, yaitu pertumbuhan dalamGNP real atau NNP real yang terjadi dalam jangka waktu tertentu, atau pertambuhan dalam GNP real perkapita atau NNP real per kapita denganberlangsungnya waktu. Menurut Schumpeter pertumbuhan ekonomi adalah proses peningkatan output masyarakat yang disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah faktorproduksi yang digunakan dalam proses produksi masyarakat tanpa ada perubahan dalam cara atau teknologi prouksi.

2. Karakteristik Pertumbuhan Ekonomi

  Tingkat kenaikan total produktivitas faktor yang tertinggiKarakteristik kedua dari pertumbuhan ekonomi modern adalah laju kenaikan total produktivitas faktor (TPF, total factor productivity) yakni,output yang dihasilkan masing – masing unit input dari seluruh input atau fktor produksi yang dipergunakan untuk membuat output tersebut yangrelative dipergunakan untuk membuat output tersebut, yang relative amat tinggi. Tingkat transformasi social, politik, dan ideologi yang tinggiAgar perubahan ekonomi secara struktural dapat berlangsung secara cepat dalam suatu masyarakat, maka masyarakat itu sendiri harusmengupayakan transformasi sikap, kelembagaan dan ideology dalam waktu yang bersamaan.

3. Tahap-tahap pertumbuhan ekonomi W. W Rostow

  Dalam tahap konsumsi tinggi, terdapat tiga macam tujuan masyarakat yang saling bersaing untuk mendapatkan sumber-sumber daya yang tersedia, yaitu sebagai berikut : a) Memperbesar kekuasaan dan pengaruh Negara ke Negara lain b) Menciptakan suatu kemakmuran yang merata pada penduduknya dengan cara terciptanya pembagian pendapatan yang lebih meratamelalui system perpajakan lebih negative. Jika Negara yang bersangkutan mampu memanfaatkannya semaksimal mungkin, dengan adanya sifat-sifat sumber daya alam yang berbeda-beda pula demi kelestarian pembangunan ekonomi Negara yang bersangkutan.

H. Penelitian Sebelumnya 1. Penelitian Irawan dan Safuan

  Irawan dan Safuan dalam penelitian mereka yang berjudul “Kebijakan Moneter, Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi : Pengujian Hipotesis Ekspektasi , menganalisis efektivitas kebijakan moneter di Rasional dengan Analisis VAR” Indonesia dengan rentan waktu dan decade terakhir. Dengan menggunakan pendekatan rational expectation dengan data Indonesia, studi ini menemukanbahwa tingkat inflasi di Indonesia dipengaruhi secara signifikan oleh kebijakan moneter yang bersifat dapat diantisipasi.

2. Penelitian Djivre dan Ribon (2003)

  Djivre dan Ribon (2003) dalam penelitiannya yang berjudul “Inflation, Unemployment, The Exchange Rate, and Monetary Policy in Israel, 1990-99: a SVAR Approach ”, menjelaskan efek kebijakan moneter pada perekonomian Israel, tingkat pengangguran dan evolusi harga pada periode 1990-1999, dengan menggunakan pendekatan Structural Vector Autoregression (SVAR). Penelitian Nuryati, Siregar, dan Ratnawati Nuryati, Siregar, dan Ratnawati melakukan penelitian dengan judul “Dampak Kebijakan Inflation Targeting Terhadap Bebebrapa Variabel Makroekonomi di Indonesia” .

I. Kerangka Teoritis

  Selain inflasi BankIndonesia juga menetapkan sasaran-sasaran moneter lainnya yaitu tingkat suku bunga, kurs yang menganut nilai tukar mengambang dan jumlah uang beredar. Apabila JUB meningkat akan mengakibatkan inflasi sehingga permintaan masyarakat akan barang dan jasa menurun dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi menurun.

BAB II I METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh dari kebijakan moneter

  Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan data runtut waktu (time series) antara tahun 2000-2010, sehingga diperoleh data 20 data time series yang terdiri darisatu variabel terikat yaitu pertumbuhan ekonomi dan empat variabel bebas yaitu inflasi, kurs, tingkat suku bunga SBI, dan JUB. Pemilihan periode waktu tersebutdimaksudkan karena kondisi perekonomian di Indonesia mengalami pasca krisis akibat krisis ekonomi dan moneter yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomimengalami ketidakstabilan dan mengubah kebijakan moneter melalui penetapan sasaran moneter (Inflation Targeting Framework) sehingga menarik untuk diamati.

B. Jenis dan Sumber Data

  Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, jadi teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu dengan studi kepustakaan. Yangdimaksud dengan teknik kepustakaan meliputi bahan-bahan bacaan yang relevan dengan mengumpulkan berbagai data maupun teori-teori yang relevan gunamendapatkan bahan yang berhubungan dengan penelitian ini.

1. Varibel Dependen

  Variabel dependenyang digunakan dalam penelitian ini adalah pertumbuhan ekonomi tahun 2000 - 2010. Pertumbuhan ekonomi adalah perubahan tingkat kegiatan ekonomi yang berlaku dari tahun ke tahun dalam persentase.

1 Namun dalam penelitian ini Pertumbuhan ekonomi bersumber dari laporan

2. Variabel Independen

  Hasil yang diterima dari penempatan dana dalam bentuk SBI dinyatakan sebagaitingkat suku bunga SBI yang besarnya dinyatakan dalam bentuk persen (%) pertahun setiap bulan, data ini diperoleh dari laporan tahunan Bank Indonesia. Uang giral adalah simpanan Rupiah milikpenduduk pada sistem moneter yang terdiri atas rekening giro, kiriman uang(transfer) dan kewajiban segera lainnya antara lain simpanan berjangka yang telah jatuh waktu.

E. Metode Analisis

  Dalam penelitian ini, analisa data yang digunakan untuk mengetahuifaktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dengan melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen pada periode tersebut. Alasan dipilihnya model ECM adalah kemampuannyadalam meliput lebih banyak variabel dalam menganalisis fenomena ekonomi jangka pendek dan jangka panjang, dan mengkaji konsisten tidaknya model empirik denganteori ekonomi, serta dalam usaha mencari pemecahan terhadap variabel runtut waktu yang tidak stasioner dan persoalan regresi lancung (Gujarati, 1995 ; Thomas, 1993,1997 ,Insukindro, 1999 ).

1. Seleksi Model Empirik

  a Uji Model Mackinnon, White dan Davidson (MWD test)Pemilihan bentuk fungsi model empirik merupakan masalah empirik yang sangat penting, karena teori ekonomi tidak secara spesifik menunjukkanapakah sebaiknya bentuk fungsi suatu model empirik dinyatakan dalam bentuk linear atau log linear atau bentuk fungsi lainnya (Aliman, 2000). Keadaan ini diperlukan untuk dapat membentuk persamaanyang mampu menggambarkan keadaan variabel di masa lalu dan di masa yang akan datang.

F. Analisis Ekonometrika 1. Analisis Error Correction Model

  Pendekatan model dinamis koreksi kesalahan digunakan karena keunggulan-keunggulan yangdimilikinya antara lain kemampuan model koreksi kesalahan untuk meliput lebih banyak variabel yang digunakan dalam analisis jangka pendek maupun jangkapanjang, dan mengkaji konsisten tidaknya model empirik yang dibentuk dengan teori ekonomika serta dalam usaha mencari pemecahan terhadap variabel runtunwaktu yang tidak stasioner sehingga dapat memecahkan masalah regresi lancung dan korelasi lancung. Hal ini dikarenakan akibat yang ditimbulkan dari sebuahregresi lancung antara lain adalah koefisisen regresi penaksir tidak efisien, peramalan berdasarkan regresi tersebut akan meleset dan uji baku yang umumuntuk koefisien regresi terkait menjadi salah atau invalid (Gujarati, 2003).

4 SBIt………………..(3.7)

  = vector variabel penentu tingkatGrowth dalam hal ini diasunsikan Z B = backward lag operator (t-1) t ò ] )) 1 ( 1 [( 2 2 Grwth Growth b ) ( t t 1 2 * C ……….. (3.8)Dimana : de t Z B Grwth B b Growth Grwth b C ò ) 1 [( ( 1 2 2 * 2 Kedua : Membentuk fungsi biaya dalam formulasi ECM(khususnya fungsi biaya kuadrat tunggal) yang dirumuskan : INF = inflasiKurs = nilai tukar rupiah terhadap dollar ASJUB = Jumlah uang beredarSBI = Tingkat suku bunga SBI (%) Dimana : Growth = Pertumbuhan Ekonomi α ] )) 1 ( t SBI ).

2 Kurs t-1 +(1-b)

3 JUB t – (1-b) 3 JUB t-1 + (1-b) 4 SBI t – (1-b) ∫ ∫ ∫ ∫

4 SBI t-1

∫ 1 b + (1-b) 1 ]Inf t 2 b + (1-b) 2 ]Kurs t 3 b + Growth= b + [ + [ + [α α ∫ α ∫ α 4 4 t 1 t-1 2 t- (1-b) ]JUB + [ b(1-b) ]SBI - (1-b) Inf - (1-b) Kurs∫ α ∫ ∫ ∫ commit to user 1 Inf t + C 2 Kurs t + C 3 JUB + t + C 4 SBI t + C 5 Inf t-1 + C 6 Kurs t-1 C 7 JUB t-1 + C 8 SBI t-1 + C 9 Growth t-1 …………………………….(3.10) Dimana : C b C 1 1 b + (1-b) 1 = =α α ∫ C 2 2 b + (1-b)

2 C

3 3 b + (1-b) 3 = =α ∫ α ∫ C 4 4 C 5 5 b + (1-b) 5 = =α4b + (1-b) ∫ α ∫ 6 6 7 7 α6b + (1-b) ∫ α ∫C 7 C = C = b + (1-b) 8 8 C 9 9 b + (1-b) 9 = =α8b + (1-b) ∫ α ∫ Persamaan diatas disebut sebagai Model Linear Dinamis, yang meliputi variabel tak bebas sebagai fungsi dari variabel bebas pada periode tersebut.persamaan tersebut kemudian dikurangi dengan :Growth t-1 = C 1 Inf t-1 + C 2 Kurs t-1 + C 3 JUB t-1 + C 4 SBI t-1 + PDB – t-1 C 1 Inf t-1 - C 2 kurs t-1 – C

3 JUB t-1 – C

4 SBI t-1 + Inf + t-1 Kurs t-1 + JUB t-1 +SBI t-1 - Inf t-1 – Kurs + t-1 – JUB t-1 – SBI t-1 9 Inf t-1 + C 9 Kurs t-1 + C 9 JUB t-1 + C 9 SBI t-1 – C 9 Inf t-1 C 9 Kurs t-1 – C 9 JUBt-1 – C 9 SBIt-1………………………...(3.11) Hasil pengurangan persamaan 3.10 dengan 3.11 yakni:Growth t -Growth t-1 =C + C

1 Inf + t - CInf t- + C

2 Kurst – C 2 Kurs t-1 C 3 JUB t -C + 3 JUB t-1 +C 4 SBI t -SBI t-1 +C 5 Inf t-1 +C 1 Inf t-1 C 6 Kurs t-1 + C 2 Kurs t-1 + C 9 Kurs t-1 Kurs t-1 + C +

7 JUB t-1 + C

3 JUB t-1 + C 9 JUB t-1 –JUB t-1 C

4 SBI t-1 + C

  b Uji HeterokedasitasHeteroskedastisitas akan muncul jika terjadi gangguan pada fungsi regresi yang mempunyai varian tidak sama sehingga penaksir OLS tidak lagiefisien baik dalam sample kecil maupun dalam sampel besar (tetapi tetap tidak bias dan konsisten). Jika nilai Obs*R 2 < X maka tidak signifikan secara statistik, berarti hipotesa yang menyatakan bahwa model empirik tidak terdapat masalah heteroskedastisitas tidak ditolak.c Uji autokorelasi Uji Autokorelasi adalah uji untuk mengetahui apakah variabel gangguan di suatu observasi berkorelasi dengan variabel gangguan padaobservasi lainnya.

3. Uji Statistik

  Adapaun nilai T table : Keterangan := derajat signifikansi αN = jumlah data yang diobservasiK = jumlah parameter dalam model termasuk intercept Daerah Kritis Gambar (3.1) Uji t Sumber: Mudrajad Kuncoro (2004) commit to user Hal ini dapat dikatakan bahwa Xi secara statistic berpengaruh terhadap Y pada tingkat α . Hal ini dapatdikatakan bahwa Xi secara statistic tidak berpengaruh terhadap Y pada tingkat α (Gujarati, 2003).b Uji F Uji F merupakan pengujian variabel-variabel independent secara keseluruhan dan serentak yang dilakukan untuk melihat apakah variabelindependen mempengaruhi variabel dependen secara signifikan (Gujarati, 2003).

2 R digunakan untuk mengetahui basarnya sumbangan dari variabel

2 independen terhadap naik turunnya variabel dependen, maka digunakan R dimana dirumuskan sebagai berikut ini (Gujarati, 2003) : 2 (N-K)∑ ei 2 R = 2 (N-1)∑ yi Di mana :K = banyaknya parameter dalam model, termasuk unsur interceptN = banyaknya observasi commit to user

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Perkembangan Variabel

1. Perkembangan Tingkat Inflasi Secara umum inflasi menunjukkan kepada kenaikan harga-harga barang

  Penelitian ini menggunakan data inflasi bulanan (month to month, mtm) yaitu inflasi yang dihitung dari perubahan indeks bulan yang bersangkutan dengan indeks padabulan sebelumnya. Peningkatan inflasi tersebut tercermin padapeningkatan inflasi bulanan pada 2004 yang secara rata-rata lebih tinggi dibandingkan inflasi bulanan pada tahun 2003 yaitu sebesar 6,4%.

2. Perkembangan Jumlah Uang Beredar (JUB)

  Jumlah uang beredar dalam penelitian ini adalah jumlah dalam arti luas (M2) meliputi uang kartal, uang giral dan uang kuasi. Permintaan uangkartal tersebut menjadi meningkat, seiring dengan meningkatnya kebutuhan uang untuk transaksi akibat meningkatnya harga-harga barang yang dipicu oleh kebijakanpemerintah di bidang harga dan pendapatan.

3. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap US Dollar (KURS)

  commit to user commit to user 9,675 9,0158,389 9,170 10,310 9,235 9,137 9,378 9,681 8,924 Perkembangan suku bunga SBI pada tahun 2002 cenderung menurun yaitu pada awal tahun sebesar 17,09% dan d akhir tahun menjadi 12,99%. Di tahun 2005 suku bunga mengalami kenaikan yaitu dari bulan awal sebesar 7,42% dan di akhir tahun mencapai Pada tahun 2000 tingkat suku bunga SBI cenderung untuk meningkat, pada bulan Januari tingkat suku bunga sebesar 11,48% dan pada bulan Desember tingkatsuku bunga sebesar 13,43%.

4. Perkembanga Tingkat Suku Bunga SBI

  Hal ini Pertumbuhan ekonomi dalam penelitian ini bersumber dari laporan perkembangan beberapa indikator utama sosial ekonomi Indonesia yang diterbitkanoleh Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) pada bulan Mei 2011. Pada tahun 2006 dan 2007 tingkat suku bunga mengalami kestabilan yang menurunkan suku bunga secara statis.

5. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi

  Hal ini dikarenakan nilai tukar rupiah yang melonjak dan kondisi politik yang buruk sehingga dunia usaha pun juga terpuruk dan akibatnyaperekonomian sulit tumbuh. Pertumbuhan PDB pada tahun 2001 hingga tahun 2005, mengalami peningkatan dan di tahun 2006, pertumbuhan PDB mengalami penurunan menjadi0,055% dan di tahun 2007 hingga 2009 juga mengalami penurunan yaitu sebesar 0,063%, 0,06% dan 0,032%.

B. Analisis Data

  Pada penelitian ini akan dijelaskan mengenai bagaimana perkembangan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia dan variabel-variabel independen yangmempengaruhinya yaitu kebijakan moneter seperti tingkat inflasi, jumlah uang beredar, nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar, bunga SBI dengan menggunakan data time seriesbulanan tahun 2000:1-2010:12. Pertumbuhanekonomi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pertumbuhan ekonomi berdasarkan harga konstan bulanan yang diperoleh dari perhitungan pertumbuhan ekonomi hasilinterpolasi data PDB tahunan yang bersumber dari SEKI terbitan Bank Indonesia.

C. Data Empirik Penelitian

  Seluruh data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang berbentuk time series. Data variabel yang akan dianalisis dalam penelitian inimenggunakan data dalam bulanan mulai Januari 2000 sampai dengan Desember 2010.

D. Model Analisis

E. Hasil Analisis Data

  Dalam penelitian ini, uji kointegrasi yang digunakan adalah metode Engel-Granger dengan memakai uji statistik DF dan ADF commit to user commit to user nilai DF dan ADF terlebih dahulu dibuat persamaan regresi kointegrasi dengan metode kuadrat terkecil biasa (OLS). Hasil akhir uji kointegrasi terhadap nilai residual adalah : Tabel 4.12 Nilai Uji Kointegrasi dengan Metode DF dan ADF pada Ordo 1[1(1)] DF ADF DF ADF RESID -2.8838 -3.4450 -8.165374 -8.131409 VARIABEL NILAI HITUNG MUTLAK NILAI KRITIS MUTLAKα Sumber: Hasil Olahan data Eviews 3.0 Dari hasil uji kointegrasi di atas, terlihat bahwa nilai hitung mutlak dengan metode DF dan ADF lebih besar daripada nilai kritis mutlak pada tingkat α = 5%.

9 INFLASI : ( c + c ) / c = (0,005236 + 0,130615) / 0,130615 = 1,040087

1 9 9 LJUB : ( c + c ) / c = (0,099450+ 0,130615) / 0,130615 = 1,761398 2 9 9 LKURS : (c + c ) / c = (0,015941+ 0,130615) / 0,130615 = 1,122046 3 9

9 SBI : (c + c ) / c = (-0,007500 + 0,130615) / 0,130615 = -0,4257

4 9

9 Maka hubungan jangka panjang dari hasil regresi model ECM dapat dituliskan

  Uji tUji t adalah uji Uji t merupakan pengujian variabel-variabel independen secara individu yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh masing-masing variabel independen dalam mempengaruhi perubahan variabel dependen, dengan asumsi variabel independen lainnya dalam keadaan tetap atau konstan. Uji ini dilakukan dengan membandingkan nilai t-statistic (t ) dengan nilai t hitung atau membandingkan nilai probabilitasnya dengan derajat signifikansinya tabel pada tingkat keyakinan 95% atau pada derajat signifikansi sebesar 5% ( α = 0,05).

INFLASI(-1)

  Nilai F > F ini berarti semua tabel hitung tabel variabel bebas atau independen yaitu inflasi dalam jangka panjang dan pendek, Jumlah Uang Beredar (JUB) dalam jangka panjang dan pendek, kursdalam jangka panjang dan pendek, dan suku bunga SBI dalam jangka panjang dan pendek secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabeltidak bebas atau dependen yaitu pertumbuhan ekonmi di Indonesia pada derajat signifikansi 5%. Koefisien determinasi (R ) yang digunakan adalah R yang telah memperhitungkan jumlah variabel independen dalam suatu model commit to user 2 2 commit to user Berdasarkan hasil estimasi menunjukkan bahwa nilai R² adalah sebesar0,109306 yang berarti 10,9306% variasi perubahan variabel pertumbuhan ekonomi dapat dijelaskan oleh variasi perubahan variabel Inflasi, JUB, KURS,dan SBI dalam jangka panjang dan jangka pendek.

2.61 E-05 0.002587 0.010107 0.9920

  Besarnya koefisien inflasi ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan inflasi 1 % akan menyebabkan penurunanpertumbuhan ekonomi sebesar 0,005236 persen dan sebaliknya apabila terjadi penurunan inflasi 1 % maka akan menyebabkan peningkatan pertumbuhan Dalam jangka panjang koefisien variabel inflasi sebesar -0,123432 dan signifikan pada tingkat signifikansi 5% yaitu sebesar 0,0012. Kondisi ini tidak sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan di awal penelitian yang menyatakan bahwa SBI berpengaruhnegatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia dalam jangka pendek.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian dan uraian pada bab sebelumnya mengenai pengaruh dari

  Kondisi ini sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan diawal penelitian yaitu inflasi berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia dalam jangkapendek, dan dalam jangka panjang. Dengan melihat dari koefisien regresi untuk variabel ECT yang signifikan secara statistik dengan probabilitas 0.0007, dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatanmodel menggunakan Error Corection Model (ECM) untuk menganalisis perkembangan pertumbuhan ekonomi Januari 2000 sampai dengan Desember 2010menghasilkan model yang valid (sahih).

B. Saran

  Dengan melihat dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa adanya hubungan dimana inflasi dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang signifikan dalamjangka pendek dan jangka panjang, maka dalam memformulasikan kebijakan moneter, Bank Indonesia digolongkan berhasil menggunakan inflasi sebagai sasaranakhir dan mengendalikan fluktuasi nilai tukar dalam rangka mencapai sasaran inflasi. Dengan melihat hasil dari penelitian yang menunjukkan bahwa adanya hubungan dimana tingkat suku bunga SBI dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yangsignifikan dalam jangka panjang dan tidak signifikan pada jangka pendek, maka ebijakan suku bunga SBI ini harus dilakukan secara hati-hati oleh BI karena dengantingkat suku bunga yang sangat tinggi akan menyebabkan kepercayaan investor menurun.

Dokumen baru

Download (137 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

ANALISIS EFISIENSI, EFEKTIVITAS, DAN ELASTISITAS PENDAPATAN ASLI DAERAH DI KABUPATEN NGAWI (2004-2010)
0
0
112
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION (GI) MELALUI PROYEK TERBIMBING DAN EKSPERIMEN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATERI UNSUR, SENYAWA DAN CAMPURAN PADA SISWA KELAS VII SEMESTER I SMP NEGERI 2 KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 20112012
0
0
91
ANALISIS TINGKAT KESEHATAN PD BPR BANK DAERAH KARANGANYAR TAHUN 2007-2010
0
0
145
PENGARUH ENVIRONMENTAL PERFORMANCE TERHADAP CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DISCLOSURE DAN ECONOMIC PERFORMANCE
1
1
65
PERANAN PERS DALAM KONGRES PEMUDA II TAHUN 1928
0
0
96
ANALISIS PENGELUARAN KONSUMSI PADA RUMAH TANGGA MISKIN DI KOTA SURAKARTA (STUDI KASUS KECAMATAN BANJARSARI)
0
0
103
SIKAP KONSUMEN JAMU TRADISIONAL PADA PASAR TRADISIONAL DI KABUPATEN SUKOHARJO
0
0
98
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI SMK NGAWI (STUDI KASUS DI SMK ISLAMIYAH WIDODAREN NGAWI)
0
0
91
PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN STAD DITINJAU DARI KEAKTIFAN SISWA DI KELAS
0
0
100
LAYANAN PERPUSTAKAAN KELILING DI KANTOR ARSIP DAN PERPUSTAKAAN KABUPATEN KLATEN
0
3
85
RESPON PETANI TERHADAP PROGRAM PENINGKATAN INFRASTRUKTUR PEDESAAN DI KECAMATAN TENGARAN KABUPATEN SEMARANG
0
1
99
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEUNTUNGAN USAHA PEDAGANG DI PASAR BATIK GROSIR BATIK SETONO PEKALONGAN
0
0
110
ANALISIS PENGARUH HARGA MINYAK DUNIA TERHADAP PERGERAKAN HARGA FOREX PADA PT.INTERPAN PASIFIK FUTURES SOLO BARU
0
0
76
ANALISIS KINERJA KEUANGAN KUD SUSU DI MOJOSONG KABUPATEN BOYOLALI
0
0
104
KOMPLEKS SENI PERTUNJUKAN TRADISIONAL JAWA TENGAH DI SURAKARTA
0
0
220
Show more