Full text

(1)

KATA/FRASA YANG TIDAK (BISA) INDAH

Oleh Aprinus Salam

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, ada kata atau frasa yang tidak bisa dipaksa untuk menjadi (dirasakan) indah, katakanlah jika frasa tersebut dipakai dalam puisi. Frasa tersebut antara lain; orde lama, orde baru, reformasi, kolusi, nepotisme, undang-undang, sesuai dengan hukum yang berlaku, dan sebagainya. Tulisan ini menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi.

Terdapat sejumlah aras bagaimana kata/frasa dipakai untuk dikomunikasikan, dipahami, dimaknai, dan tidak kalah pentingnya dirasakan. Aras tersebut adalah aras denotatif, konotatif, dan yang jarang dibicarakan adarah aras rasa/perasaan, atau hal-hal yang bersifat emosional. Secara umum kita bisa menganggap tidak ada masalah pada aras denotatif. Hal itu berkaitan dengan konvensi pengertian kata/frasa dalam pengertian pertamanya. Hal yang secara umum disepakati oleh pengguna bahasa dalam satu wilayah politik, sosial, dan kultural tertentu.

Akan tetapi, setiap kata/frasa bisa juga berdimensi konotatif. Sebagai sesuatu yang arbitrer dimensi konotatif bergantung pada konvensi simbolik penggunanya. Konvensi simbolik itu bergantung sejarah pengalaman masyarakat pengguna kata/frasa tersebut. Dalam sejarah pengalaman inilah konvensi simbolik tersebut menciptakan ruang-ruang tersendiri untuk dimaknai lebih lanjut. Ruang-ruang tersebut bisa ruang politik, ekonomi, atau sosial, dsb. Pemaknaan terhadap warna merah atau meja hijau bisa berbeda-beda untuk wilayah politik dan kultural yang berbeda.

Dalam konotasi penciptaan ruang tersebutlah kata/frasa berhubungan dengan persoalan rasa, rasa berbahasa. Ada rasa berbahasa yang bisa membuat marah, sedih, terharu, gembira, atau mendatangkan suasana atau rasa keindahan tertentu. Kata kucing garong, misalnya, memenuhi syarat untuk dimensi itu, baik dalam aras denotasi, konotasi, atau secara simbolik. Untuk hal-hal emosional, tergantung bagaimana ungkapan tersebut digunakan.

Kembali ke persoalan, terdapat kata/frasa yang tidak bisa (dirasakan) indah. Hal tersebut dimungkinkan karena kata/frasa memiliki sejarah perjalanannya sendiri-sendiri. Frasa orde baru, jika kata tersebut berdiri sendiri-sendiri, mungkin memiliki potensi nuansa rasa tersendiri. Gerimis baru, kata lama memberikan suasana. Orde tabung, juga memberikan kesan tersendiri. Akan tetapi, gerimis orde baru, bukan saja memberikan suasana yang tidak puitis, tetapi justru kesan tidak menyenangkan pada gerimisnya.

(2)

politik atau kritik sosial, sehingga kata tersebut tidak mampu menembus rasa indah berbahasa penggunanya. Inilah yang sering terjadi mengapa banyak puisi rasa keindahan puitiknya begitu lemah karena penyair tidak mampu menyiasati pilihan diksi/frasa karena memberdayakan puisinya untuk melakukan kritik, bahkan secara verbal.

Persoalannya, mengapa ruang-ruang politik atau kritik sosial tidak mampu membangun imaji puitik yang secara langsung berhubungan dengan nuansa keindahan? Hal ini disebabkan bahhwa perjalanan politik kita memang tidak pernah memberikan pengalaman keindahan. Bisa jadi bahwa imaji politik memang bertentangan atau tidak pernah cocok dengan imaji dan perasaan keindahan.

Memang menjadi persoalan tersendiri apa itu yang disebut dengan (perasaan) indah atau merasa sesuatu ada keindahan di dalamnya. Sebetulnya, keindahan juga terkait dengan objek yang diwakili oleh keindahan itu sendiri. Ketika seseorang mengatakan matahari terbenam di ujung danau. Kemudian, kita membayangkan suatu pemandangan matahari di kala sore menjelang dia terbenam, dan sebuah danau yang berwarna kemerah-merahan yang siap menyembunyikan sang matahari di balik jubirnya. Jika banyak orang sepakat hal itu sebagai sesuatu yang indah, maka hal itu memang indah.

Hal tersebut akan berbeda jika kita mengatakan rezim orde baru/ melahirkan para koruptor rakus/ pelanggar undang-undang. Sebagai bahasa kritik dalam ruang dan imajinasi politik frasa tersebut bisa diterima, tetapi tetap tidak ada keindahan di dalamnya. Inilah yang saya sebut hilangnya perasaan indah ketika kata atau frasa tertentu membawa kita pada satu imajinasi sejarah tertentu yang di dalamnya tidak menyimpan memori (atau semacam postmemory), yang ketika coba dikenang sekarang, tidak ada hal-hal yang indah dan menyenangkan di dalamnya. Bahkan yang ada hanya semacam trauma.

Maksud lain dari tulisan ini ingin menjelaskan bahwa sastrawan atau penyair perlu bersiasat untuk mengatasi imaji-imaji puitik tertentu, menyiasati postmemory tertentu agar karyanya sebagai satu representasi makna yang penuh dengan hal-hal konotatif tidak terjebak pada hal-hal yang semata-mata kognitif, tetapi hal-hal (perasaan) indah tetap terjaga di dalamnya. Paling tidak perlu ada upaya, taktik, strategi, siasat bagaimana kemudian menempatkan kemungkinan kata atau frasa yang dalam sejarahnya tidak memiliki imaji keindahan, dapak dikalahkah oleh kekuatan puitik, baik pada tataran sintaksis maupun pada tataran yang lebih besar daripada sintaksis.

(3)

(periodisasi selera). Itulah sebabnya, tidak mengherankan jika masih ditemukan karya sastra yang ditulis oleh sastrawan atau penyair hari-hari ini bergaya Balai Pustaka atau Pujangga Baru. Sekali lagi, ini memang soal pilihan dan selera. Akan tetapi, jelas karya sastra seperti ini dari segi estetika dan perasaan keindahan sudah sangat tertinggal. Bahasa yang lebih umum, sudah tidak musimnya.

Akhirnya, bagaimanapun juga menulis karya sastra itu adalah suatu perjuangan menguasaikan kata-kata, menaklukan bahasa. Jika penulis sastra tidak mampu menaklukan kata-kata dan bahasa, maka dia hanya sekadar bisa menulis dan pengekor. Ketika dia mampu menaklukan kata-kata dan bahasa, maka ia akan menjadi dirinya. Dirinya itu adalah ciri khas bagaimana dia menaklukan kata-kata atau bahasa itu. Karena setiap orang punya cara sendiri-sendiri dalam menaklukan kata-kata atau bahasa.

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (3 pages)