6.1 KERANGKA KELEMBAGAAN - DOCRPIJM 01f5e8387d BAB VI6. BAB VI KERANGKA KELEMBAGAAN DAN REGULASI KABUPATEN ATAU KOTA

0
0
10
2 months ago
Preview
Full text

  X-1

BAB X ASPEK KELEMBAGAAN KERANGKA KELEMBAGAAN DAN REGULASI KABUPATEN LIMA PUH KOTA

6.1 KERANGKA KELEMBAGAAN

  Organisasi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Pekerjaan Umum Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota terdiri dari: a.

  Seksi Perizinan, Pengendalian Bangunan dan Lahan

  Seksi Survey dan Pemetaan 3)

  Seksi Penataan Ruang 2)

  g. Bidang Tata Ruang 1)

  Seksi Pengembangan Jaringan Air Minum/Air Bersih

  Seksi Penyehatan Lingkungan; 3)

  Seksi Tata Bangunan; 2)

  f. Bidang Cipta Karya : 1)

  Seksi Pembangunan Infrastruktur Permukiman:

  Seksi Pengembangan Rumah Permukiman; 2)

  e. Bidang Perumahan dan Permukiman 1)

  3) Seksi Konservasi Sungai dan Rawa;

  2) Seksi Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi;

  1) Seksi Pembangunan Jaringan Irigasi;

  Seksi Bina Teknis dan Peningkatan Sarana Prasarana; d. Bidang PSDA

  Seksi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan; 3)

  Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan; 2)

  c. Bidang Bina Marga 1)

  3) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian;

  2) Sub Bagian Keuangan;

  1) Sub Bagian Program dan Pelaporan;

  Kepala Dinas; b. Sekretariat

3) Seksi Pengendalian dan Fasilitasi Perumahan.

RENCANA TERPADU DAN PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH (RPI2JM)

  6.1 GAMBAR Struktur Organisasi Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lima Puluh Kota

  BANGUNA SUB BAGIAN SUB BAGIAN SUB BAGIAN

  KEPALA KELOMPOK JABATAN SEKSI PEMELIHARAAN JALAN DAN SEKSI BINA TEKNIK DAN PENINGKATAN SARANA DAN SEKSI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SEKSI PENGENDALIAN DAN FASILITASI SEKSI TATA BANGUNAN SEKSI PENYEHATAN LINGKUNGAN SEKSI PENYEDIAAN SARANA DAN PRASARANA AIR SEKSI SEKSI SEKSI PERIZINAN, PENGENDALIAN BANGUNAN DAN SEKSI PEMBANGUNAN JARINGAN SEKSI OPERASI DAN PEMELIHARAAN SEKSI KONSERVASI SUNGAI DAN RAWA

  B.

  Kondisi Ketatalaksanaan Bidang Cipta Karya Tata laksana organisasi yang perlu dikembangkan adalah menciptakan hubungan kerja antar perangkat daerah dengan menumbuhkembangkan rasa kebersamaan dan kemitraan dalam melaksanakan beban kerja dan tanggung jawab bagi peningkatan produktifitas dan kinerja. Penjabaran peran masing

  • – masing instansi dan hubungan kerja dalam pembangunan bidang Cipta Karya dapat dilihat pada Tabel 10.1.

Tabel 10.1 Hubungan Kerja Instansi Bidang Cipta Karya No. Instansi Peran Instansi Dalam Unit/Bagian yang Pembangunan Cipta Menangani Karya Pembangunan Bidang CIpta Karya

  1

  2

  3

  4

  

1. Bappeda Perencanaan Fisik Sarana dan

Prasaran

  2. Dinas Pekerjaan Umum Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya Cipta Karya

  

3. Dinas Kesehatan Pemberdayaan Masyarakat Bina Pengendalian

dan Kontrol Kualitas Masalah Kesehatan Kesehatan

  

4. Badan Lingkungan Hidup Pengendalian Pencemaran dan Pengendalian Dampak

Kerusakan LIngkungan Lingkungan Hidup

  Guna memperjelas pelaksanaan tugas pada setiap satuan kerja, perlu dilengkapi dengan tatalaksana dan tata hubungan kerja antar satuan kerja, serta Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk setiap pelaksanaan tugas, yang dapat dijadikan pedoman bagi pegawai dalam melakukan tugasnya. Inventarisasi SOP Bidang CIpta Karya di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat pada Tabel 10.2

RENCANA TERPADU DAN PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH (RPI2JM)

Tabel 10.2. Inventarisasi SOP Bidang Cipta Karya No. Nama SOP Instansi Yang Terlibat Tugas dan Fungsi Instansi dalam SOP

  1

  2

  3

  4

  1. Pengembangan Permukiman Dinas Pekerjaan Umum, Bappeda, Dinas Kesehatan, DPKAD, Sekretariat Daerah, Dinas Perikanan, BLH

  2. Penataan Bangunan dan Bappeda, Dinas Kesehatan, Lingkungan DPKAD, BLH

  3. Pengembangan Air Minum Dinas Pekerjaan Umum, Bappeda, DPKAD, Sekretariat Daerah, Dinas Kesehatan,

PDAM, BLH

  4. Pengembangan PLP Dinas Pekerjaan Umum, Bappeda, BLH, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial

5. SOP Non Teknis 1.

  Upaya memperkuat tugas dan fungsi regulator dan operator penyelenggaraan SPAM (BAPPEDA, Dinas Pekerjaan Umum, UPT, PDAM dan kelompok masyarakat) di Kabupaten Lima Puluh Kota dilakukan dengan cara meningkatkan sumber daya manusia yang ada melalui: Sosialisasi , pelatihan, peningkatan kualitas air minum, memperkuat fungsi dinas-dinas terkait, memperkuat PDAM, membentuk UPT/ BLU, memberdayakan kelompok masyarakat, dst.

  2. Upaya memperkuat prinsip kepengusahaan pada lembaga penyelenggaraan (PDAM) di Kabupaten Lima Puluh Kota dilakukan melalui penyehatan PDAM, regionalisasi PDAM, penyesuaian tarif, peningkatan SDM, dst.

RENCANA TERPADU DAN PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH (RPI2JM)

  3. Upaya penyusunan peraturan perundang-undangan (Perda, dll) yang berkaitan dengan penyelenggaraan SPAM di Kabupaten Lima Puluh Kota dilakukan dengan cara penyusunan PERDA/ mengimplementasikan Peraturan Menteri (Permen) yang ada menjadi PERDA dan mengimplementasikan NSPM,dst.

  4. Khusus masalah persampahan, karena kabupaten baru memiliki ibukota kabupaten , maka dengan itu perlu penanganan secara profesional tentang sampah ini. Di kabupaten Lima Puluh Kota sampah ini telah dikelola oleh dinas Linkungan Hidup semenjak tahun 2007 . Jadi untuk kedepannya adalah bagaimana lebih meningkatkan jumlah dan mutu pelayanan terhadap masyarakat .

  C.

  Kondisi Sumber Daya Manusia (SDM) Bidang Cipta Karya

  Bagian ini menguraikan kondisi SDM di keorganisasian instansi yang menangani bidang Cipta Karya, yang dapat dilakukan dengan mengisi tabel berikut mengenai komposisi pegawai dalam unit kerja bidang Cipta Karya. Komposisi pegawai dalam unit bidang Cipta Karya dapat dilihat pada Tabel 9.3.

Tabel 9.3 Komposisi Pegawai dalam Unit Kerja Bidang Cipta Karya

  

No. Golongan Jenis Kelamin Latar Belakang Jabatan

Pendidikan Fungsional

  1

  2

  

3

  4

  5

  1. Dinas Pekerjaan Umum Pria : 8 orang SMA : 4 orang Wanita : 2 orang S1 : 5 orang S2 : 1 orang

  2. Bappeda Pria : 4 orang SMA : 1 orang Wanita : 6 orang S1 : 8 orang S2 : 2 orang

  3. Dinas Kesehatan Pria : 3 orang SMA : 1 orang Wanita : 11 orang D3 : 3 orang

RENCANA TERPADU DAN PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH (RPI2JM)

  S1 : 7 orang S2 : 3 orang

  4. Badan Lingkungan Hidup Pria : 2 orang SMA : 1 orang Wanita : 5 orang S1 : 2 orang S2 : 3 orang 10.1.

   Analisis Kelembagaan

  Masalah yang Dihadapi Berdasarkan kondisi kekinian dan gambaran yang dijalankan oleh berbagai SKPDserta pihaklainnya di kabupaten Lima Puluh

  Kota,terdapat berbagai permasalahan baik dalam aspek kelembagaan maupun implementasi kegiatan dilapangan serta pendanaan perlu ditangani secara sistematis dan terpadu.

  Permasalahan tersebut terwujud dalam bentuk : Keterbatasan tingkat pendidikan , pengetahuan dan keterampilan

  • SDM aparatur yang profesional untuk menangani/mengelola pembangunan bid Keciptakaryaan.
  • lainnya seperti ruang kerja, piranti lunak, prangkat survey serta sarana mobilisasi.

  Keterbatasan sarana dan prasarana kerja dan faktor penduduk

  • kabupaten, masyarakat dan swasta dalam pelaksanaan sanitasi lingkungan, air limbahdomestik, sampah.

  Kurangnya sinergisitas yang terbangun antara Pemerintah

  • program/kegiatanbidang Keciptakaryaan.

  dukungan dana dalam melaksanakan Keterbatasan

  • tahun 2007. Terjadinya keterbatasan kinerja layanan di bidang Keciptakaryaan serta kebijakan yang dikeluarkan belum optimal memenuhi sasaran . Hal ini disebabkan oleh kekuranganjelasan dan ketidaksesuaian tupoksi serta ketidakseimbangan kapasitas layanan dengan beban kerja institusi.

  Secara institusi dalam struktur organisasi baru berdasarkan PP 41

  • yang terintegrasi dan sistematis yang disosialisasikan kepada seluruh pemangku kepentingan di kabupaten Lima Puluh Kota.

  Kurangnya rencana kerja pembangunan bidang Keciptakaryaan

RENCANA TERPADU DAN PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH (RPI2JM)

  Analisis Permasalahan Pengembangan dan peningkatan kapasitas (capacity building) Bidang Cipta

  Karya di Kabupaten Lima Puluh Kota sangat dibutuhkan sehingga mampu mengikuti perkembangan waktu, informasi dan teknologi. Peningkatan SDM melalui pendidikan formal, pelatihan, kursus singkat dll sangat diperlukan sehingga perlu dipersiapkan SDM yang mau dan mampu dalam meningkatkan kapasitasnya. Pengembangan teknologi dan informasi Bidang Cipta Karya sangat cepat dan ini perlu kecepatan pula dalam menangkap dan meresponnya, untuk itu peningkatan SDM Bidang Cipta Karya di Kabupaten Lima Puluh Kota sangat dibutuhkan. Bantuan teknis berupa pelatihan, kursus singkat (persampahan, air minum, tata bangunan, Air Limbah dan lingkungan dll) dan peningkatan pendidikan formal (mengikuti program S2, S3) serta dukungan dari Departemen Pekerjaan Umum dalam pengembangan dan peningkatan kapasitas (capacity building) Bidang Cipta Karya di Kabupaten Lima Puluh Kota masih sangat dibutuhkan.

  Analisis SWOT Kelembagaan merupakan suatu metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) di bidang kelembagaan. Analisis SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya, kemudian menerapkannya dalam matriks SWOT. Berdasarkan penjabaran dari kondisi eksisting kelembagaan, serta pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab dalam analisis kelembagaan, maka diperlukan melakukan analisis SWOT kelembagaan bidang CK di yang meliputi aspek organisasi, tata laksana dan sumber daya manusia. Uraian Analisis SWOT tentang kelembagaan bidang Cipta Karya di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat pada Tabel 9.4.

RENCANA TERPADU DAN PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH (RPI2JM)

Tabel 9.4 Matriks Analisis SWOT Kelembagaan

  Faktor Eksternal Peluang : Ancaman : 2. Pemerintah pusat bersedia membantu beban kerja institusi

  1. Tersedianya Diklat untuk meningkatkan Karya di daerah pendanaan untuk pembangunan di bidang CIpta profesionalitas SDM 2. Ketidakseimbangan kapasitas layanan dan 1. Kekurangjelasan dan ketidaksesuaian tupoksi Kekuatan : Strategi SO : Strategi ST : Faktor Internal

  

1. Tersedianya tenaga harian Meningkatkan kemampuan profesionalitas SDM Memanfaatkan THL yang tersedia untuk membantu

2. Hubungan kepala SKPD hasil diklat tersebut dibagikan ke THL baik tugas pelayanan pembangunan Bidang yang cukup oleh pemerintah pusat. Kemudian ilmu umum. dengan pemerintah pusat yang tersedia. Sehingga pelaksanaan lepas (THL) dengan jumlah dengan mengikuti Diklat yang disediakan pelaksanaan tupoksi dari fungsional Cipta Karya bisa memenuhi SPM. Kelemahan : Strategi WO Strategi WT : Meningkatkan hubungan antara pemerintah pusat proses penerimaan dana hibah/APBN dan daerah sehingga memperlancar

2. Keterbatasan sarana dan yang disediakan oleh pemerintah pusat antara kapasitas pelayanan dan beban

  

1. Keterbatasan jumlah SDM Meningkatkan kualitas profesionalitas jumlah SDM Memperbaiki kebijakan mengenai organisasi dan

3. Kebijakan mengenai yang berkualitas yang terbatas dengan mengikuti Diklat tupoksi sehingga terjadi keseimbangan prasarana belum optimal memenuhi sasaran kerja organisaisi dan tupoksi Menjaga hubungan yang baik dengan pemerintah pendanaan dari pemerintah pusat untuk pusat, sehingga memperlancar proses kerja institusi Cipta Karya memperbaiki kualitas kinerja di Bidang 10.2.

   Rencana Pengembangan Kelembagaan

  Usulan program dalam pengembangan dan peningkatan kapasitas (capacity building) Bidang Cipta Karya di Kabupaten Lima Puluh Kota ditekankan pada pelatihan dan kursus singkat, seperti pengelolaan persampahan, air minum, bangunan gedung dll yang diharapkan selama 5 (lima) tahun kedepan ada peningkatan kualitas SDM. Disamping pembangunan fisik dilapangan diharapkan dari peningkatan kapasitas SDM Bidang Cipta Karya ini, dapat diimplementasikan dalam aktivitas kerja dan pelayanan ke masyarakat. Setelah melakukan analisis SWOT, maka perencanaan pengembangan kapasitas kelembagaan dapat dirangkum kedalam sebuah tabel.

  Rangkuman mengenai strategi dan rencana aksi pengembangan kapasitas kelembagaan dapat dilihat pada Tabel 9.5

RENCANA TERPADU DAN PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH (RPI2JM)

Tabel 9.5 Rangkuman Rencana Aksi Pengembangan Kapasitas Kelembagaan

  Aspek Kelembagaan Strategi Rencana Aksi

  1

  

2

  3 Organisasi

menyusun analisis jabatan dan

beban kerja dalam rangka mendayagunakan PNS dan THL yang tersedia

  Tata Laksana Memperbaiki kebijakan mengenai organisasi dan tupoksi sehingga terjadi keseimbangan antara kapasitas pelayanan dan beban kerja institusi

  Sumber Daya Manusia Meningkatkan kemampuan profesionalitas SDM dengan mengikuti Diklat yang disediakan oleh pemerintah pusat. Kemudian ilmu hasil diklat tersebut dibagikan ke THL yang tersedia.

RENCANA TERPADU DAN PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH (RPI2JM)

6.2 KERANGKA REGULASI

6.2.1 MATRIKS KEBUTUHAN REGULASI

RENCANA TERPADU DAN PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH (RPI2JM)

Dokumen baru

Aktifitas terbaru

Download (10 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

BAB II KERANGKA TEORI
0
9
21
BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS - Proposal Penelitian Bab II
0
0
15
BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS - BAB II Kompre
0
0
38
BAB II KERANGKA DASAR DAN STRUKTUR KURIKULUM - 02. BAB II
0
0
38
PEMETAAN MODEL BISNIS DAN REKOMENDASI KERANGKA REGULASI PENYELENGGARAAN LAYANAN CLOUD COMPUTING DI INDONESIA
0
0
8
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN - Bab III
0
0
25
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH - BAB III Buku RKPD 2016
0
0
15
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN - Bab III RKPD Kabupaten Purwakarta Tahun 2016
0
0
18
BAB VII KERANGKA PENDANAAN PEMBANGUNAN DAN PROGRAM PERANGKAT DAERAH 7.1 Kerangka Pendanaan Pembangunan - BAB VII KERANGKA PENDANAAN DAN PROGRAM PERANGKAT DAERAH_PERUBAHAN RPJMD 2016-2021
0
0
103
BAB III GAMBARAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN - BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN
0
1
40
BAB VII KERANGKA PENDANAAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DEARAH VII- 1 - BAB VII KERANGKA PENDANAAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH
0
0
45
BAB IV KONSTRUKSI KELEMBAGAAN PENYELESAIAN SYIQAQ DI INDONESIA DAN REKONSTRUKSI KEDUDUKAN KELEMBAGAAN PENYELESAIAN SYIQAQ BERDASARKAN ASAS MEMPERSULIT PERCERAIAN A. Kelembagaan Penyelesaian Syiqaq di Indonesia - Rekonstruksi kedudukan kelembagaan penyeles
0
1
46
BAB II KERANGKA TEORITIES - BAB II
0
1
66
6.1 MEKANISME PEMBIAYAAN DAN KELEMBAGAAN - 6-Arahan Pemanfaatan Ruang RTRW
0
0
46
13 BAB II KERANGKA TEORI
0
0
27
Show more