SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Gratis

0
0
160
9 months ago
Preview
Full text

  

PENGALAMAN RELIGIUS

PARA PENGANUT SAPTA DARMA YANG TELAH

BERPENGALAMAN MELAKUKAN SUJUD

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

  

Program Studi Psikologi

Disusun Oleh :

  

Helios Satryo Aryo Dewo - 029114021

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2007

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Kupersembahkan karya ini untuk 1.

  Tuhan ku yang selalu melindungi dan membimbingku melalui para malaikat- malaikat Nya yang sampai saat ini telah sangat berjasa di hidupku.

  2. Kedua orang tuaku yang telah memunculkanku di dunia ini, aku mencintai kalian berdua.

  3. Seseorang yang sangat kusayangi yang telah sabar menantiku.

  4. Saudara-saudara dan teman-teman yang aku kasihi dan aku sayangi.

  5. Keluarga besar Sapta Darma.

HALAMAN MOTTO

  Musim tidak saling berebut untuk berganti, awanpun tidak bertanding

  v

  melaju lebih cepat daripada angin. Alam lebih tahu k apan merek a harus bek erja. (Dan Millman) Lebih baik tidak mengek spresik an apa-apa daripada disalahartik an. (Karl

  v

  Kraus) Jik a Tuhan memberi k ita roti y ang k eras, mak a Ia ak an memberi k ita

  v

  gigi y ang tajam. (Peribahasa Jerman) Cuk up dengan hening, hadirk an Tuhan, hay ati sif at-si f at Ny a

  v dik ehidupanmu dan ak an k au temuk an k ebahagiaan di dunia ini.

  Tantangan hidup y ang sebenarny a adal ah k eti k a k i ta berusaha bangk it

  v dari k eterpuruk an hidup.

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya orang lain, kecuali yang sudah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  

ABSTRAK

Pengalaman Religius Para Penganut Sapta Darma

Yang Telah Berpengalaman Melakukan Sujud

  Helios Satryo Aryo Dewo 029114021

  Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

  Pengalaman religius dikatakan sebagai suatu sensasi luar biasa akan Tuhan yang mampu merubah kehidupan seseorang. Pengalaman religius ini dapat difasilitasi oleh ritual, salah satunya adalah ritual sujud yang menjadi bagian dalam ajaran Sapta Darma. Oleh para praktisinya, sujud hanya dapat dipahami dengan melakukannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman-pengalaman religius para penganut Sapta Darma yang difasilitasi oleh sujud serta pengaruhnya terhadap kehidupan mereka sehari- hari.

  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dengan cara wawancara. Responden dalam penelitian ini berjumlah 3 orang, subyek pertama berusia 75 tahun dan sudah bergabung selama 50 tahun, subyek kedua berusia 51 tahun dan sudah bergabung selama 11 tahun, subyek ketiga berusia 60 tahun dan sudah melakukan sujud sejak umur 23 tahun. Dalam penelitian ini para responden menceritakan pengalaman-pengalaman religius yang mereka dapatkan melalui sujud.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa sujud mampu untuk memfasilitasi pengalaman religius. Responden merasakan suatu sensasi fisik maupun psikologis dan merasakan suatu manfaat ketika melakukan sujud, subyek juga merasakan pertemuan dengan Tuhan nya. Pengalaman religius yang dialami ole h subyek memunculkan konsep tentang Tuhan yang menghasilkan suatu pengendalian diri di dalam penghayatan akan sifat-sifat Tuhan.

  Kata kunci : Pengalaman religius, ritual sujud, pengendalian diri.

  

ABSTRACT

The Religious Experiences of Sapta Darma’s Followers

Who Are Experienced With Sujud

  Helios Satryo Aryo Dewo 029114021

  Psychology Department Sanata Dharma University

  Religious experience is being known as an extraordinary sensation of God in which it has the power of changing a human being’s life. This religious experience can be facilitated by rituals and one of them is called sujud (kneeling) ritual in which it is a part of Sapta Darma’s teaching. By its practitioners, sujud can only be understood when a person is actually experiences it. The purpose of this research paper is to describe the religious experiences of Sapta Darma’s followers which are being facilitated with sujud and also the influences to their daily life.

  This research paper was done through qualitative method. The data were collected by doing interviews. Respondents in this research were divided into 3 people, first subject was 75 years old and had been joining since 50 years ago, second is a 51 year-old follower since 11 years ago, and the third one is 60 years old and had been doing sujud since the age of 23. In this research respondents were telling their religious experiences they achieve through sujud.

  Research results show that sujud has the power to facilitate religious experiences. Respondents were felt a physical and/or psychological sensation and a great benefits when they were doing sujud, subjects also feel their meets with their God. The religious experiences being experienced by subjects finally produces a concept of God in which it creates a self control in terms of their special attentions toward God’s natural characteristics.

  Keywords : Religious experience, sujud ritual, self-control.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat, kasih dan karunia yang telah dilimpahkan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjud ul “Pengalaman Religius Para Penganut Sapta Darma Yang Difasilitasi Oleh Ritual Sujud”.

  Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak mungkin terlaksana dengan baik tanpa bantuan, dukungan dan dorongan serta kerja sama dari berbagai pihak yang terkait, oleh karena itu perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada :

  1. Tuhan, yang telah membantuku dalam pengerjaan skripsi ini dengan cara Nya yang kadang masih susah kupahami.

  2. My Big Boss alias bokap, atas dukungan finansial yang telah diberikan.

  3. Mamah yang penuh dengan permasalahan hidup tapi masih mau membantuku menyelesaikan sebagian permasalahan dalam rumah tangga, Keep Fight Mom!!!.

  4. Pak Didik selaku wakil dekan dan pembimbingku, kritikan bapak memang tajam dan kadang sangat menyakitkan tapi saran bapak sangat membantu saya dan juga terima kasih atas referensi-referensi yang diberikan, itu sangat memperkaya pengetahuan saya.

  5. Mbak Wahyu yang telah merelakan waktunya untuk membantu saya dengan mengenalkan saya kepada bapak tuntunan dan para anggota Sapta Darma.

  6. Bapak Tuntunan dan anggota Sapta Darma yang sudi menjadi responden di dalam penelitian ini.

  7. Viki, atas bantuan pinjaman laptop dan printernya serta “cambuk” yang memacuku di dalam penyelesaian skripsi ini.

  8. R. M. Harcanie yang telah mengutus abdi dalemnya untuk mencari info mengenai lokasi pusat dari Sapta Darma.

  9. Teman-teman kerjaku di shooternet, atas bantuan yang kalian berikan untuk mengisi jatah kerjaku disaat aku ingin fokus ke penyelesaian skripsi ini.

  10. Semua dosen psikologi yang telah menambah pengetahuan saya tentang dinamika manusia.

  11. Semua karyawan-karyawan di Fakultas Psikologi Sanata Dharma, Mas Dony, Mas Gandung, Mas Muji, Mbak Nani dan pak Gie atas bantuan dan peran serta kalian di dalam penyelesaian skripsi ini.

  12. Teman-temanku psikologi angkatan 2002 yang telah mendukungku untuk menyelesaikan skripsi ini.

  13. Danang dan Suko yang telah banyak sekali membantuku baik melalui dukungan serta fasilitas yang telah kalian berikan.

  14. Kocak, Richard dan Tombro yang sangat berperan dalam pengerjaan penelitian ini.

15. Buat semua orang yang tidak dapat aku sebutkan satu persatu, terima kasih atas semuanya.

  DAFTAR ISI

  Halaman Judul........................................................................................... i Halaman Persetujuan Pembimbing............................................................ ii Halaman Pengesahan................................................................................. iii Halaman Persembaha n............................................................................... iv Halaman Motto.......................................................................................... v Pernyataan Keaslian Karya........................................................................ vi Abstrak....................................................................................................... vii Abstract...................................................................................................... viii Kata Pengantar........................................................................................... ix Daftar Isi.................................................................................................... xii

  BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah................................................................ 1 B. Rumusan Masalah......................................................................... 5 C. Tujuan Penelitian.......................................................................... 5 D. Manfaat Penelitian........................................................................ 6 BAB II. LANDASAN TEORI A. Pengalaman Religius..................................................................... 7 B. Ritual............................................................................................. 11 C. Kebatinan 1. Kebatinan Secara Umum................................................... 13 2. Konsep Tuhan Dalam Kebatinan....................................... 16 3. Manunggaling Kawulo Gusti............................................. 18

  D.

  Pelaksanaan Penelitian................................................................

  42 D. Ajaran-Ajaran Dalam Sapta Darma...........................................

  39 5. Bahan-Bahan Penggalian...............................................

  38 4. Tata Tertib Penggalian...................................................

  38 3. Inti Penggalian................................................................

  37 2. Tujuan Sujud Penggalian................................................

  37 1. Gambaran Singkat Mengenai Ritual Sujud Penggalian.................................

  35 C. Ritual Sujud Penggalian..............................................................

  34 B. Proses Perkenalan dan Gambaran Komunitas Sapta Darma.......

  31 BAB IV. PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A.

  Sapta Darma................................................................................... 19 E. Sujud Sebagai Yang Memfasilitasi Pengalaman Religius...........

  30 G. Analisis Data...............................................................................

  30 F. Pedoman Wawancara..................................................................

  29 E. Subyek Penelitian........................................................................

  28 D. Data Dalam Penelitian.................................................................

  27 C. Metode Pengumpulan Data.........................................................

  27 B. Definisi Operasional....................................................................

  Metode Penelitian........................................................................

  26 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A.

  24 F. Pertanyaan Penelitian...................................................................

  44 E. Deskripsi Subyek

  1. Sy...................................................................................

  Pembahasan Tiap Kategori a.

  74 h. Makna Sujud..............................................................

  73 g. Pengalaman Di Dalam Relasi Mereka Dengan Tuhan nya.....................................................

  Manfaat Yang Dirasakan Ketika Sujud...................... 72 f. Pengaruh Ke Dalam Kehidupan Sehari-hari..............

  70 d. Pengalaman Akan Tuhan Ketika Sujud...................... 71 e.

  69 c. Sensasi Psikologis Yang Dirasakan Subyek Ketika Sujud................................................................

  Latar Belakang Subyek Melakukan Sujud.................. 68 b. Sensasi Fisik Yang Dirasakan Subyek Ketika Sujud................................................................

  65 G. Pembahasan 1.

  48 2. Sn....................................................................................

  60 2. Kategori Hasil Penelitian.................................................

  56 c. Wm..........................................................................

  50 b. Sn.............................................................................

  Sy.............................................................................

  Narasi Subyek a.

  49 F. Hasil Analisis Data 1.

  49 3. Wm.................................................................................

  74 2. Pembahasan Umum Tentang Sujud

  Dan Pengalaman Akan Tuhan.........................................

  75 BAB V. PENUTUP A.

  83 Kesimpulan..................................................................................

  B.

  Keterbatasan Penelitian................................................................ 84 C.

  85 Implikasi Untuk Psikologi...........................................................

  D.

  87 Saran............................................................................................

  DAFTAR PUSTAKA............................................................................

  88 LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akhir-akhir ini baik di televisi maupun di media- media komunikasi

  lain, sering dijumpai kisah-kisah seseorang yang menceritakan pengalaman- pengalaman religius yang dia alami, salah satunya adalah acara Solusi yang ditayangkan di SCTV. Mereka mengatakan bahwa pengalaman mereka telah merubah semua kehidupannya, mereka percaya bahwa Tuhan telah membimbing mereka di dalam menyelesaikan semua permasalahan kehidupannya dan bahkan mereka juga merasakan keajaiban-keajaiban Nya.

  Pengalaman religius dianggap sebagai suatu sensasi yang luar biasa yang telah merubah hidup seseorang menjadi lebih baik dan hal ini menjadi sangat penting bagi kehidupan manusia karena bisa membuat hidup manusia menjadi lebih mudah dan lebih bahagia dan bila memang benar bahwa pengalaman religius menjadi salah satu media untuk menyelesaikan sebagian permasalahan manusia, pengalaman religius menjadi sangat vital untuk diteliti.

  Bila berbicara mengenai pengalaman religius maka ada kemungkinan bahwa masing- masing definisi yang dimiliki setiap orang berbeda-beda.

  Pengalaman religius secara sempit dikatakan sebagai semua pengalaman akan Tuhan yang menunjukkan keberadaanNya, jadi disitu harus ada Tuhan (Swinburne, 1991). Habel mendefinisikan pengalaman religius sebagai jalan yang terstruktur dimana seseorang masuk ke dalam suatu relasi atau menerima kesadaran dari yang disucikan dalam konteks tradisi religius yang khusus (Habel dkk, 1993). Paloutzian menambahkan bahwa pengalaman religius adalah salah satu aspek yang paling inti dan yang paling penting dari keagamaan dan yang paling sulit dan yang paling cepat berlalu untuk dipelajari (1996).

  Pengalaman religius sering dihubungkan dengan ritual, ritual juga diklaim sebagai salah satu kunci untuk mencapai penga laman mistik, spiritual dan religius (Rappaport; Bloch dalam Cross Currents, 2003). Ritual dianggap sebagai suatu aturan budaya yang mendasari semua kehidupan manusia yang mampu membantu manusia untuk mengembangkan dirinya ketika berhadapan dengan permasalahan-permasalahan yang mendasar dalam hidupnya (Malinowski; Eliade dalam Diaz & Sawatzky, 1995). Ada anggapan bahwa ritual harus ada di dalam suatu kelompok masyarakat karena peran ritual di dalam suatu kelompok yaitu sebagai yang mendorong keharmonisan dalam suatu kelompok dan sebagai penopang dan yang melindungi mereka dari kehancuran (van Gennep; McManus dalam Diaz & Sawatzky, 1995).

  Di Indonesia khususnya masyarakat Jawa, ritual sesungguhnya bukanlah sesuatu yang asing lagi. Namun kini tampaknya hal ini mulai ditinggalkan oleh sebagian masyarakat Jawa. Kini hanya segelintir masyarakat Jawa yang tertarik untuk mempelajari ritual-ritual yang ada di masyarakat Jawa. Kenyataan ini menyerupai kasus yang terjadi di masyarakat asli Amerika Utara yang diteliti oleh Laughlin dan d’Aquili. Bisa jadi hal ini mengindikasikan awal kehancuran dari suatu ideologi yang telah menopang mereka (dalam Diaz & Sawatzky, 1995).

  Rappaport mengatakan bahwa hanya dengan melakukan ritual, kita baru bisa memahami apa yang sesungguhnya bisa diekspresikan olehnya (Rappaport dalam Cross Currents, 2003). Ini mungkin erat kaitannya dengan ritual sujud yang dilakukan oleh penganut salah satu aliran kejawen, aliran Sapta Darma. Melalui para praktisinya, mereka percaya bahwa kebenaran sejati dari Sapta Darma hanya dapat diekspresikan dan dialami langsung dengan melakukan sujud yang dianggap sebagai media untuk berinteraksi dengan diri sendiri, orang lain, alam, dan Tuhan-nya.

  Sapta Darma merupakan salah satu aliran kebatinan yang masih hidup di Indonesia. Sapta Darma mengajarkan kepada para pengikutnya untuk mengembangkan ketenangan batin atau rasa, dimana metode yang digunakan untuk menjalankan hal itu biasa disebut dengan sujud. Sujud merupakan sebuah upaya untuk menaikkan sari hidup yang juga disebut “air perwitosari” atau “air suci” dari tulang ekor ke ubun- ubun melalui tulang belakang serta menurunkannya lagi ke tulang ekor, bersama dengan naik turunnya air suci itu kepala harus ditundukkan hingga ke tanah dan diangkat lagi (Hadiwijono, 1999). Jika dilakukan dengan rutin, sujud diyakini akan mampu menghasilkan sesuatu yang sangat penting di dalam diri manusia, yaitu “atom berjiwa” yang dapat digunakan untuk memberantas kuman-kuman penyakit dalam tubuh, menentramkan berbagai napsu angkara, mencerdaskan pikiran serta menjadikan manusia dapat bersekutu dan mendapat bagian dari sifat-sifat Hyang Maha Kuasa (Pawenang, 1962).

  Sebelumnya pernah juga dilakukan penelitian mengenai Sapta Darma yang dilakukan oleh Giri (2003) dan Maria (2006). Penelitian yang dilakukan Giri (2003) berusaha untuk mencari apa makna kebahagiaan menurut pengikut aliran kebatinan Sapta Darma. Ada penegasan bahwa konsep “ketentraman” yang mereka miliki sifatnya lebih mendalam daripada konsep kebahagiaan. Para penganut Sapta Darma memiliki pemahaman bahwa kebahagiaan pada dasarnya terdapat di dalam diri manusia sendiri dan hal itu akan dapat tercapai apabila hidup seseorang dipergunakan untuk berbuat baik terhadap sesama serta yang paling jelas ketika hidup seseorang telah dapat masuk kedalam lingkungan yang transenden. Maria (2006) berusaha untuk menjelaskan realisasi diri penganut kerokhanian Sapta Darma ditinjau dari perspektif Jung.

  Realisasi diri adalah keberhasilan individu mengintegrasikan seluruh aspek kehidupan yang saling bertentangan, yaitu kesadaran dan ketidaksadaran, sikap ekstroversi dan introversi dan 4 fungsi psikis, baik yang rasional yaitu pikiran dan perasaan, maupun yang irasional yaitu pengindera dan intuisi.

  Pencapaian realisasi diri penganut Kerokhanian Sapta Darma didukung oleh penghayatan penganut terhadap ajarannya. Sujud sebagai sarana pengendalian diri dan mawas diri merupakan upaya aktif mengintegrasikan diri secara harmonis melalui proses memilah, mengembangkan dan mengintegrasikan potensi unsur-unsur kepribadian, baik yang disadari maupun yang tidak disadari sehingga meningkatkan kualitas pribadi yang mengarah pada realisasi diri.

  Dalam penelitian ini, yang akan menjadi fokus adalah pengalaman religius ketika seseorang melakukan ritual sujud. Sujud sebagai salah satu contoh ritual dianggap mampu memfasilitasi sua tu pengalaman religius. Adapun yang akan menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah pengalaman religius seperti apakah yang diperoleh para penganut Sapta Darma yang telah berpengalaman melakukan sujud mengingat dibutuhkannya suatu penelitian di dalam memahami sujud itu sendiri dan apa pengaruh pengalaman religius tersebut di dalam kehidupan mereka? B.

   Rumusan Masalah

  Setelah melihat latar belakang di atas, maka yang akan menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah, “Apa pengalaman religius para penganut Sapta Darma yang telah berpengalaman melakukan sujud dan apa pengaruh pengalaman itu terhadap kehidupan mereka?”

C. Tujuan Penelitian

  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apa pengalaman religius yang dialami oleh para penganut Sapta Darma yang tela h berpengalaman melakukan ritual sujud dan apa pengaruh pengalaman itu terhadap kehidupan mereka.

D. Manfaat Penelitian

  Melalui penelitian ini diharapkan ritual-ritual yang ada di masyarakat Jawa tetap terus dipertahankan dan diharapkan juga penelitian ini dapat membantu perkembangan ilmu psikologi khususnya psikologi agama di dalam melihat pengalaman religius dan pengaruhnya dalam kehidupan seseorang. Dan bagi masyarakat nantinya diharapkan dapat berpikir lebih terbuka ketika melihat fenomena- fenomena yang terjadi di masyarakat Indonesia yang berhubungan dengan pengalaman religius mereka.

BAB II LANDASAN TEORI Bab ini membahas pemahaman akan apa itu pengalaman religius dan

  komponen-komponen apa yang harus ada agar suatu pengalaman dapat disebut sebagai pengalaman religius; gambaran dan elemen-elemen yang ada di dalam ritual sujud; penjelasan mengenai kebatinan dan konsep Tuhan menurut kebatinan baru kemudian masuk ke Sapta Darma dan sujud baik itu tata cara maupun tujuannya; kemudian akan dilanjutkan dengan penjelasan dari peneliti mengenai ritual sujud sebagai yang memfasilitasi pengalaman religius; dan diakhir bab ini adalah pertanyaan dari penelitian ini.

A. Pengalaman Religius

  Pengalaman adalah suatu pengetahuan yang timbul bukan pertama- tama dari pikiran melainkan terutama dari pergaulan praktis dengan dunia.

  Pergaulan tersebut bersifat langsung, intuitif dan afektif. Istilah ‘dunia’ mencakup baik orang maupun barang. Ada penekanan pada unsur pasif.

  Dalam mengalami sesuatu, orang pertama-tama merasa ‘kena’ atau disentuh oleh sesuatu hal, lebih daripada secara aktif mengerjakan atau mengolah hal.

  Oleh karena itu keindrawian dan, afeksi dan emosi memainkan peranan yang besar dalam pengalaman. Setiap pengalaman sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dengan apa yang bersifat irasional dalam diri manusia. (Syukur, 1988)

  Pengalaman religius harus dibedakan dengan pengalaman biasa, pengalaman religius memang sulit untuk didefinisikan, James mendefinisikan pengalaman religius sebagai semua perasaan, tingkah laku dan pengalaman dari seseorang sejauh mereka melihat diri mereka sendiri di dalam relasi mereka dengan apapun yang mereka pandang sebagai Tuhan mereka (James, 1958). Pengalaman religius juga dikatakan sebagai pengalaman yang spesifik yang mencakup rasa kagum terhadap alam yang tak terbatas, keterpesonaan sekaligus misteri menanggapi kehadiran Yang Suci, ketergantungan terhadap kekuatan Tuhan atau perintah dari yang tak tampak, perasaan bersalah dan kegelisahan yang menemani kepercayaan dalam keputusan Tuhan dan perasaan damai yang mengikuti keyakinan dalam pengampunan Tuhan (religious-experience). Otto memberi syarat kepada pengalaman agar dapat disebut sebagai pengalaman religius (Otto, 1959):

  1. Adanya keterpesonaan kepada Numinous yang merupakan suatu dunia atau dimensi dari realita yang misterius dan mempesona.

  2. Adanya suatu daya tarik yang mampu mengatasi ketakutan 3.

  Adanya suatu perasaan misteri dan rasa ingin tahu yang menjadi satu dan bisa dikatakan merupakan sentuhan manusia dengan “Wholly Other” Moore dan Habel mengidentifikasikan pengalaman religius ke dalam 2 kelompok, yaitu pengalaman religus yang didapat melalui media dan pengalaman religius yang didapat tanpa melalui media apapun. Pengalaman religius yang didapat melalui media bisa didapat melalui ritual, orang yang spesial, kelompok-kelompok religius, obyek-obyek tertentu atau dari alam. Sedangkan pengalaman religius yang tidak melalui media apapun mereka dapat melalui dewa atau Tuhan nya secara langsung (Habel dkk, 1993).

  Pengalaman religius tidak dapat dipisahkan dari apa yang kita sebut sebagai pengalaman mistik, mistik dianggap sebagai suatu proses identifikasi terhadap suatu kekuatan dan realita dan semua ketidak rasionalan yang tertinggi (Otto, 1959). James menggunakan istilah “bagian mistik dari kesadaran” untuk meliputi seluruh bagian-bagian dari pengalaman, baik pengalaman yang tidak religius maupun pengalaman yang sangat religius sekalipun. Mistik dibagi menjadi 4 tanda yang menjadi bagian dari pengalaman yaitu (James, 1958): a) lebih menggambarkan suatu perasaan yang tak terlukiskan yang muncul dari pengalaman yang tidak dapat dibagikan kepada yang lain

  b) munculnya insight yang lebih kita kenal sebagai pencerahan atau wahyu yang merupakan susunan dari pengetahuan yang kita pelajari dari waktu ke waktu c) tidak bertahan lama d) bersifat pasif

  Berangkat dari pemikiran bahwa tubuh dan pikiran memiliki suatu hubungan, ditemukan suatu hasil penelitian yang menunjukkan kaitan erat antara pengalaman religius dan susunan organ tubuh. Banyak ritual-ritual religius atau latihan- latihan religius didesain untuk merangsang indra- indra dalam tubuh khususnya mata, telinga, hidung, lidah dan organ-organ pengindraan lainnya. Tidak mungkin ditemukan adanya pengalaman religius yang tidak berhubungan dengan penginderaan karena sensasi dan perasaan- perasaan diproduksi oleh organ-organ internal dalam tubuh dan oleh reaksi- reaksi dalam tubuh (Wuff, 1997).

  Setelah melihat penjelasan di atas mengenai pengalaman religius, maka dapat dikatakan bahwa suatu pengalaman dapat dikatakan sebagai pengalaman religius bila memiliki semua komponen-komponen di bawah ini: a.

  Setiap pengalaman religius menceritakan pengalaman akan pertemuan dengan Tuhan nya atau yang di Tuhan kan atau yang transenden. Maka jelas komponen utama yang harus ada dalam pengalaman religius adalah adanya kehadiran Tuhan atau apapun yang di Tuhan kan.

  b.

  Pertemuan dengan Tuhan nya biasanya akan memunculkan suatu perasaan yang kadang sulit untuk dijelaskan. Maka yang menjadi komponen kedua adalah adanya perasaan yang muncul ketika bersentuhan dengan Tuhan nya baik itu kekaguman, ketergantungan, kegelisahan dan sampai ke ketakutan sekalipun tergantung bagaimana seseorang memandang Tuhan nya sebagai yang mempesona (fascinosum) atau sebagai yang maha dahsyat (tremendum).

  c.

  Ada suatu penelitian yang menjelaskan keterkaitan pengalaman religius dengan pengindraan dalam tubuh. Jadi komponen ketiga adalah semua sensasi yang dirasakan secara fisik oleh tubuh dalam menanggapi pengalaman religius. d.

  Suatu pengalaman religius cenderung pasif dimana seseorang merasa disentuh oleh kekuatan dari luar yang dirasa sebagai kehadiran dari Tuhan mereka.

  e.

  Yang menjadi komponen terakhir dalam pengalaman religius adalah adanya suatu perubahan yang cukup berarti di dalam kehidupannya setelah pengalaman akan pertemuannya dengan Tuhan nya dan perubahan itu cenderung mengarah ke perubahan yang lebih baik meskipun tidak menutup kemungkinan itu tidak mempengaruhi hidupnya sama sekali.

B. Ritual

  Ritual merupakan susunan dari tingkah laku yang memiliki nilai- nilai simbolik yang pelaksanaannya ditentukan oleh suatu agama atau budaya dari suatu kelompok masyarakat tertentu (Ritual).

  Ritual sujud yang nantinya akan diteliti dalam penelitian ini merupakan ritual faktitif yang meningkatkan produktivitas atau kekuatan, atau pemurnian dan perlindungan dan juga tindakan religius dari para anggotanya (Dhavamony, 1995). Ritual memiliki elemen penting di dalamnya yang juga tampak dalam ritual sujud (Erikson dalam Wuff, 1997), yaitu: a.

  The Numinous Numinous seringkali dihubungkan dengan setting religius dan ritual, Erikson memikirkan ini sebagai hal yang sangat penting bagi ritual.

  Bagi Erikson penghormatan terhadap Numinous bisa mengalami distorsi sampai ke menjadi pemujaan dan ini justru merupakan perubahan ke arah yang lebih buruk.

  b.

  The Judicious Istilah- istilah yang dipilih yang bisa memberi sugesti perbedaan antara yang benar dan yang salah.

  c.

  The Formal Aspek ini meyakinkan bahwa susunan bagian-bagian dari suatu ritual tampak begitu sempurna yang kadang oleh para psikoanalis ini justru dianggap sebagai model- model dari ritual.

  d.

  The Ideological Berbeda dengan elemen-elemen sebelumnya yang dimulai pada masa anak-anak. Elemen ini menegaskan bahwa anggota-anggota yang sudah dewasa dapat secara penuh menjadi anggota dalam suatu kelompok ritual dan sudah bisa membuat suatu komitmen bagi kelompoknya serta membagikan pandangannya tentang dunia yang dia inginkan.

  e.

  The Affiliative Elemen ini berhubungan dengan ego yang diekspresikan dalam persahabatan, cinta dan pekerjaan.

  f.

  The Integral Secara tradisional, para leluhur meyakinkan makna dari roda kehidupan manusia dengan mempersonifikasi kebijaksaan suatu ritual.

  Peran mereka inilah yang oleh Erikson disebut sebagai integral yang dalam beberapa tahun kemudian dia sebut sebagai filosofi.

  Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa ritual seperti sujud merupakan suatu tradisi dari para leluhur yang memiliki nilai filosofi dan ideologi tersendiri yang selalu terhubung oleh sesuatu yang berbau dengan mistik sebagai ciri mereka dan ada kecenderungan dimana ritual hanya dapat dipahami dengan melakukan dan membuka diri terhadap pengalaman yang dimunculkan dalam ritual. Ada peran-peran penting yang harus dimainkan dala m ritual oleh anggota-anggotanya dalam hubungannya dengan kelompok tersebut. Tujuan dari ritual ada bermacam- macam, mereka mencakup pemenuhan untuk kewajiban atau pemikiran-pemikiran yang idealis akan religiusitas mereka, pemuasan dari kebutuhan emosi dan spiritualitas para praktisi, mempereta tali sosial dalam masyarakat, demonstrasi dari rasa hormat atau kepatuhan, menyatakan bergabungnya seseorang dalam suatu kelompok, mendapatkan pengakuan dari kelompok, atau kadang hanya untuk kepuasan ritual itu sendiri (Ritual).

C. Kebatinan 1. Kebatinan Secara Umum

  Aliran kebatinan lebih dikenal sebagai kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan suatu sistem kepercayaan atau sistem spiritual yang ada di Indonesia selain agama, aliran, faham, sekte atau madzab dari agama tersebut, serta bukan pula termasuk kepercayaan adat (Sofwan, 1999). Kata kebatinan itu sendiri berasal dari kata Arab, batin yang berarti sebelah dalam, inti, bagian dalam, di dalam hati, tersembunyi dan misterius

  (Mulder, 1983). Geertz mengartikan batin sebagai “dunia-dalam dari pengalaman manusia” (1963).

  Dengan lebih singkat Kamil (1985) merumuskan kebatinan sebagai olah batin yang macam apapun. Kebatinan itu sendiri seperti yang telah dirumuskan dalam kongres BKKI (Badan Kongres Kebatinan Indonesia) kedua di Sala pada tahun 1956 yang menyatakan bahwa kebatinan ialah “Sumber Azaz dan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa untuk mencapai budi

  

luhur, guna kesempurnaan hidup .” Untuk mencapainya kebatinan berprinsip

  agar manusia selalu berusaha membersihkan diri dengan semboyan “sepi ing ”.

  pamrih rame ing gawe

  Djojodigoeno (Giri, 2003) menambahkan bahwa kebatinan mempunyai 4 unsur yang penting yaitu : a.

  Ilmu gaib Ilmu yang menitik beratkan pada penggunaan ilmu- ilmu gaib untuk melayani keperluan manusia.

  b.

  Union mistik Usaha untuk menyatukan jiwa manusia dengan Tuhan.

  c.

  Sangkan paraning dumadi Bertujuan mengenal Tuhan dan menembus alam rahasia mengenai darimana manusia datang dan kemana manusia pergi.

  d.

  Budi luhur Menciptakan masyarakat yang saling menghargai dan saling mencintai sesuai perintah Tuhan.

  Mukti Ali (Soesilo, 2004) juga mengemukakan 5 sifat kebatinan, yaitu: 1)

  Bersifat “batin”, yaitu yang dipergunakan sebagai keunggulan kekuatan lahir, peraturan hukum yang diharuskan dari luar oleh pendapat umum.

  2) Bersifat subyektif, yaitu mementingkan rasa atau pengalaman rohani. 3)

  Sifat keaslian, yang merupakan ciri khas kebatinan, lebih mengutamakan gaya hidup dan kesopanan timur.

  4) Hubungan erat antar para warganya. 5) Sifat kelima adalah faktor ahklak atau budi luhur.

  Kebatinan tidak akan terlepas dari mistik, karena pada dasarnya kebatinan adalah mistik, yang berupaya menembus pengetahuan mengenai alam raya dengan tujuan mengadakan suatu hubungan langsung antara individu dengan Yang Maha Kuasa (Endraswara, 2003).

  Ada begitu banyak aliran kebatinan yang ada di Indonesia, menurut catatan yang ada pada Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM) Departemen Agama, jumlah aliran kebatinan pada tahun 1950 an mencapai kurang lebih 400 aliran. Aliran-aliran tersebut baru benar-benar terorganisir setelah kemerdekaan. Aliran kebatinan tersebut memiliki ajaran yang berbeda- beda serta motivasi dan tujuan yang berbeda-beda pula, bahkan ada diantaranya yang menyatakan diri sebagai agama atau minta diakui sebagai agama seperti Aliran Sapta Darma sehingga pemerintah merasa perlu untuk melakukan pengawasan terhadap aliran-aliran kebatinan tersebut.

  Menurut Mulder kebangkitan kebatinan Jawa secara fenomenal dalam tahun-tahun sesudah kemerdekaan tidak dapat diterangkan dengan suatu alasan sederhana saja. Ada 2 interpretasi yang muncul, yang pertama adanya perasaan muak terhadap bentuk-bentuk tingkah laku religius agama tertentu.

  Bagi penganut kebatinan, “Tuhan” ada dalam hati manusia dan hidup manusia sendiri harus menjadi doa terus menerus kepada Yang Mahakuasa. Interpretasi kedua yang dianut luas menganggap bahwa bangkitnya kebatinan merupakan reaksi melawan serangan gencar modernisasi dan sehubungan dengan itu, kemerosotan moral bangsa (Hadiwijono, 1967).

  Setelah melihat unsur dan sifat kebatinan maka dapat disimpulkan bahwa kebatinan merupakan usaha manusia yang terus menerus dalam mengolah batinnya sehingga manusia dapat bersatu dengan Tuhan untuk mencapai kesempurnaan hidup.

2. Konsep Tuhan Dalam Kebatinan

  Kebatinan mengakui Tuhan dimana wujud dan keberadaannya masih diluar jangkauan manusia sehingga Tuhan dipandang sebagai Zat yang tidak bisa digambarkan, tidak bisa dipikirkan seperti apa, yang lebih dikenal dengan istilah tan kena kinanya ngapa (Sofwan, 1999). Oleh Hadiwijono (1999), Tuhan dipandang sebagai Zat yang mutlak dalam arti falsafah yang menjadi sumber segala sesuatu.

  Ada ambivalensi dalam pandangan tentang Tuhan menurut kebatinan. Disatu sisi Tuhan dipandang sebagai Dzat yang transenden namun disisi lain Tuhan dipandang sebagai sebagai Dzat yang immanen. Tuhan sebagai Dzat yang transenden tampak ketika ia dipandang sebagai Dzat yang mutlak yang tidak bisa digambarkan seperti apa yang oleh salah satu aliran kebatinan disebut sebagai terdahulu dari segala yang terdahulu, yang paling luar dari yang paling luar. Tuhan sebagai Dzat yang immanen artinya Tuhan ada di dalam alam ini, Tuhan tersembunyi, terlibat di dalam alam yang nyata bahkan Tuhan termasuk dalam susunan alam (Sofwan, 1999).

  Pandangan tentang Tuhan sesungguhnya bertolak dari pengalaman individu menanggapi suatu Dzat Gaib, Yang Illahi. Pertama Yang Illahi diakui sebagai Fascinosum : yang menarik, yang mempesona, karib, mesra dan menimbulkan cinta pada Nya. Yang kedua, Ia diakui sebagai Tremendum : yang menakutkan, yang jauh, ya ng dashyat (Sofwan, 1999).

  Ajaran ke Tuhan an dalam kebatinan disimpulkan sebagai paham pantheisme. Pantheisme berasal dari kata pan (seluruh) dan Theos (Tuhan), bahwa seluruh yang ada ini adalah Tuhan, maka ciri khas dari ajaran ini adalah mengidentikkan Tuhan dengan akan satu keadaannya dalam dzat.

  Pentheisme mangajarkan bahwa Tuhan bukan sebagai obyek penyembahan atau kebaktian, tetapi Tuhan dipandang sebagai hukum yang merangkum keseluruhan sebagai satu kesatuan yang tak berkepribadian, kendatipun Ia dipandang sebagai yang hidup.

  Dari pendapat-pendapat di atas maka dapat dilihat bahwa sesungguhnya dalam kebatinan, manusia dipandang sebagai mikrokosmos dan Tuhan sebagai makrokosmos yang mengatur kehidupan di dalamNya. Hubungan antara manusia dan Tuhan saling mempengaruhi karena manusia hidup di dalam Tuhan sebagai keseluruhan, sehingga diantara mereka diharapkan adanya suatu keselarasan agar dapat tercipta suatu hubungan yang “satu” diantara keduanya. Manusia sebagai mikrokosmos harus mampu menyatu dalam keseluruhan dalam artian manusia yang berkedudukan sebagai “kawula” harus mampu menyatu dengan “Gusti”. Penyatuan ini yang nantinya lebih dikenal sebagai “Manunggaling Kawula Gusti”.

3. Manunggaling Kawula Gusti

  “Manunggaling Kawula Gusti”, merupakan istilah untuk menggambarkan penyatuan atau peleburan manusia sebagai “kawula” dan Tuhan sebagai “Gusti”. Ajaran tersebut menghantarkan pada suatu kesimpulan bahwa manusia yang telah mencapai taraf penyatuan dengan Tuhan, tidak lagi terbebani hukum dan bebas dari hukum. Bagi mereka yang telah menemukan kesatuan dengan hakekat hidup atau Dzat Tuhan, segala peribadatan adalah kepalsuan. Karena Tuhan tidak terkena hukum kealaman, maka manusia yang menyatu dalam Dzat Tuhan akan mencapai keabadian seperti Tuhan yang terbebas dari semua kerusakan. Puncak penyatuan “Kawulo Gusti” oleh Syekh Siti Jenar disebutkan sebagai uninong aning unong (Soesilo, 2004).

  Dalam konsep “Manunggaling Kawula Gusti”, manusia yang mampu bersatu dengan Tuhan diyakini akan memiliki sifat-sifat yang juga dimiliki oleh Tuhan. Manusia yang telah mencapai penyatuan dengan Tuhan nantinya juga akan memiliki kekuatan-kekuatan yang berasal dari Tuhan seperti kemampuan untuk menyembuhkan, kemampuan mencipta dan kemampuan- kemampuan lain yang diluar akal manusia. Kelebihan ini diharapkan dapat digunakan sebijaksana mungkin oleh mereka yang telah mencapai tahapan itu.

D. Sapta Darma

  Sapta Darma yang artinya 7 kewajiban suci merupakan wahyu yang diterima oleh bapak Hardjosapuro yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Sri Gutomo. Bapak Hardjosapuro dilahirkan di Pare, Kediri, Jawa Timur pada tanggal 27 Desember 1914. Beliau hanyalah rakyat biasa yang bekerja sebagai tukang cukur rambut ataupun sebagai tukang blangkon dan pedagang kecil karena beliau memang hanya berijazah sekolah rakyat (Giri, 2003).

  Berikut adalah hasil penelitian yang diambil dari Giri (2003). Sujud menurut Wewarah Sapta Darma bila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan dengan cara sujud yang sempurna, niscaya kita betul-betul akan mengerti apa yang dikatakan “pembangunan Rokhani” yang sesungguhnya. Karena sujud, selain membuktikan kebaktian umat terhadap Tuhan Yang Maha Esa, juga memberikan manfaat yang besar bagi tercapainya keluhuran budi dan lain sebagainya antara lain: ketenangan, kesadaran, kewaspadaan serta ketentraman hidup, yang akhirnya akan menuju kepada kebahagiaan dan kesempurnaan hidup di dunia dan di alam langgeng (Giri, 2003).

  Warga Sapta Darma diwajibkan sujud dalam sehari semalam (24 jam) sedikitnya sekali. Lebih dari itu lebih baik, dengan pengertian bahwa yang penting bukan banyak kalinya ia melakukan sujud tetapi kesungguhan sujudnya (emating sujud).

  Sikap duduk

  Duduk tegap menghadap ke timur (=timur/kawitan/asal), artinya di waktu sujud manusia harus menyadari/mengetahui asalnya. Bagi pria duduk bersila kaki kanan di depan kaki kiri. Bagi wanita bertimpuh. Namun diperkenankan, mengambil sikap duduk seenaknya asal tidak meninggalkan kesusilaan dan tidak mengganggu jalannya getaran rasa.

  Tangan bersidakep, yang kanan di luar dan yang kiri di dalam. Selanjutnya menenteramkan badan dan pikiran, mata melihat ke depan ke satu titik pada ujung kain sanggar yang terletak kurang lebih satu meter dari posisi duduk. Kepala dan punggung (tulang belakang) segaris lurus.

  Setelah merasa tenang dan tenteram, serta adanya getaran (hawa) dalam tubuh yang berjalan merambat dari bawah ke atas. Selanjutnya getaran rasa tersebut merambat ke atas sampai dikepala, karenanya lalu mata terpejam dengan sendirinya. Kemudian setelah ada tanda pada ujung lidah terasa dingin seperti kena angin (Jawa = pating trecep) dan keluar air liurnya terus ditelan, lalu mengucap dalam batin:

  Allah Hyang Maha Agung Allah Hyang Maha Rokhim Allah Hyang Maha Adil Hal ini dimaksudkan: a.

  Mengagungkan/meluhurkan nama Allah.

  b.

  Mengingat-ingat akan sifat keluhuran Allah. Ucapan itu tidak hanya diucapkan dalam mulai sujud, tetapi juga diucapkan bila Warga Sapta Darma akan memulai samadi (ening).

  Bila kepala sudah terasa berat, tanda bahwa rasa telah berkumpul di kepala. Hal ini menjadikan badan bergoyang dengan sendirinya. Kemudian dimulai dengan merasakan jalannya air sari yang ada di tulang ekor (Jawa:

  brutu

  atau silit kodok). Jalannya air sari merambat halus sekali, naik seolah- olah mendorong tubuh membungkuk ke muka. Membungkukknya badan diikuti terus (bukan karena kemampuan tapi karena ada rasa), sampai dahi menyentuh kain sanggar.

  Setelah dahi menyentuh kain sanggar, dalam batin mengucap: “Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuasa” (3 kali).

  Hyang Maha Suci ialah sebutan bagi roh suci seorang manusia yang berasal dari Sinar Cahaya Allah ialah yang meliputi seluruh tubuh seorang manusia.

  Maha berarti ter (=paling). Kuasa berarti kuasa atau menguasai. Maha Suci berarti meliputi/tersuci (terputih). Jadi maksudnya adalah kesucian yang meliputi pribadi kita bersujud pada Hyang Maha Kuasa.

  Hyang Maha Kuasa adalah sebutan Allah yang menguasai alam seisinya termasuk manusia baik rohaniah maupun jasmaniahnya.

  Sujud berarti: penyerahan diri pada Hyang Maha Kuasa atau menyembah Hyang Maha Kuasa. Jadi berarti: Roh suci kita menyerahkan purbawasesa pada Hyang Maha Kuasa.

  Selesai mengucapkan, kepala diangkat perlahan- lahan, hingga badan dalam sikap duduk tegak lagi seperti semula.

  Mengulang lagi merasakan di tulang ekor seperti tersebut di atas, sehingga dahi menyentuh kain sanggar lagi. Setelah dahi menyentuh kain sanggar di dalam batin mengucap:

  “Kesalahnnya Hyang Maha Suci Mohon Ampun Hyang Maha Kuasa”(3kali).

  Maksudnya : setelah meneliti dan menyadari kesalahan-kesalahan (dosa- dosa) setiap harinya, maka selalu Roh Suci mohon ampun pada Nya akan segala dosa-dosanya tersebut.

  Dengan perlahan- lahan tegak kembali, lalu mengulang, merasakan lagi di tulang ekor seperti tersebut di atas sampai dahi menyentuh kain sanggar yang ke tiga kalinya.

  Kemudian dalam batin mengucap: “Hyang Maha Suci bertobat Hyang Maha Kuasa”(3kali).

  Dimaksudkan untuk tidak berbuat kesalahan dan dosa lagi. Akhirnya duduk tegak kembali, masih tetap dalam sikap tersebut hingga beberapa menit lagi, baru kemudian sujud selesai.

  Sujud yang dilakukan dengan penuh kesungguhan akan memiliki dampak yang sangat besar sekali bila dilakukan minimal sehari sekali dan sungguh-sungguh.

  Sebenarnya sujud menurut wewarah tersebut bila didalami serta diteliti sungguh-sungguh adalah membimbing/menuntun jalannya air sari. Air sari yang telah tersaring sungguh-sungguh, serta menuntun Sinar Cahaya yang ada/meliputi seluruh tubuh, diratakan sampai ke sel-sel yang sedalam- dalamnya.

  Getaran atau Sinar Cahaya Allah adalah cahaya yang digambaran berwarna hijau muda (=maya) yang ada di dalam seluruh pribadi manusia.

  Adapun air sari atau air putih/suci berasal dari sari bumi yang akhirnya menjadi bahan makanan yang di makan manusia. Sari-sari makanan tersebut mewujudkan air sari yang tempatnya di ekor (Jawa=Cetik/silit kodok/brutu). Bersatu padunya getaran sinar cahaya dengan getaran air sari yang merambat berjalan halus sekali di seluruh tubuh, menimbulkan daya kekuatan yang besar sekali. Daya kekuatan ini disebut: atom berjiwa yang ada pada pribadi manusia.

  Jadi kekuatan ini mempunyai arti dan guna yang besar sekali seperti diantaranya: Dapat memberantas kuman-kuman penyakit dalam tubuh

  • Dapat menentramkan/menindas nafsu angkara
  • >Dapat mencerdaskan pikiran.

  • penglihatan, pendengaran, penciuman, tutur kata atau percakapan serta kewaskitaan rasa.

  Dapat memiliki kewaskitaan, seperti kewaskitaan akan

  Untuk mencapai itu semua maka syarat yang harus dilaksanakan adalah pengolahan/penyempurnaan budi pekerti yang menuju keluhuran pada sikap dan tindakan sehari- hari.

  Setelah melihat penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa laku sujud ini bertujuan untuk membangkitkan suatu kekuatan yang luar biasa di dalam diri kita yang tertanam di tulang ekor kita yang mereka kenal sebagai inti atom berjiwa yang kemudian mengalir melalui tulang punggung sampai ke kepala kita. Selain itu sujud juga ditujukan sebagai bukti penyerahan diri dan kebaktian kita kepada Tuhan.

E. Sujud Sebagai Yang Memfasilitasi Pengalaman Religius

  Ritual sujud yang sering dilakukan oleh penganut Sapta Darma, baik yang dilakukan sendiri maupun sujud yang dilakukan bersama-sama dalam acara-acara tertentu memfasilitasi seseorang untuk mengalami suatu pengalaman religius. Meminjam istilah “transport” dari James (Cross Currents, 2003) yang merupakan suatu mekanisme dimana individu mencapai tingkatan pengalaman religius atau mistis yang membutuhkan keterlibatan pelatihan tubuh dan mental yang memicu pengalaman. Dalam sujud Sapta Darma istilah “transport” termasuk dalam pelatihan seseorang yang akan masuk bergabung menjadi anggota Sapta Darma. Untuk melakukan sujud, pertama kali mereka harus disujudkan oleh mereka yang memiliki kewenangan untuk itu. selanjutnya bila mereka tertarik untuk menjadi warganya mereka akan diberi pelatihan khusus yang akan dibimbing oleh mereka yang berkompeten. Ada larangan bagi mereka yang ingin melakukan sujud tanpa dibimbing oleh mereka yang sudah terlatih untuk menyujudkan orang lain. Tidak ada peran khusus dalam ritual sujud yang mengatur hubungan mereka dengan sesama penganut, sujud hanya mengatur hubungan mereka dengan Tuhan. Sujud ini dianggap sebagai jalan agar manusia dapat bersatu dengan Tuhan. Oleh Fromm ritual ini hanya salah satu cara manusia untuk mengembangkan dirinya sendiri.

  “Tujuan hidup adalah memekarkan cinta dan akal manusia dan ... setiap kegiatan manusia yang lain ditujukan untuk mencapai tujuan itu.” ( Fromm dalam

  Crapps, 1993)

  Jadi ritual sujud merupakan salah satu jalan yang memfasilitasi manusia untuk mendapatkan pengalaman religius. Untuk itu mereka para pelaku sujud harus mau mengikuti pelatihan dan memahami apa dan bagaimana sujud itu.

  Sujud dalam Sapta Darma merupakan salah satu bentuk ritual tersendiri yang menjadi ciri ajaran mereka. Di dalam usaha mendekatkan diri pada Tuhan sebagai ciri kebatinan, ritual sujud ini dipercaya dapat membangkitkan inti atom berjiwa dan dapat lebih mendekatkan diri pada Tuhan bagi para pelaku sujud. Setiap sentuhan manusia dengan dunia luar tentu akan menghasilkan suatu pengalaman tersendiri yang tentu akan sama dalam hal ini ritual sujud, maka apa saja pengalaman religius yang dapat muncul? Hal inilah yang ingin dilihat dalam penelitian ini.

  Pengalaman religius yang muncul nantinya juga bisa menjelaskan hal- hal lain yang dapat dimunculkan oleh pengalaman religius. Bila berbicara tentang pengalaman religius, pasti kita juga akan berbicara tentang Tuhan, konsep akan Tuhan menurut para pelaku sujud akan tercermin atau muncul dari bagaimana mereka mengalami kedatangan Tuhan, entah itu sebagai yang mempesona atau sebagai yang menakutkan. Dari situ akan tampak bagaimana mereka memandang Tuhan nya.

F. Pertanyaan Penelitian

  Setelah melihat pernyataan di atas maka pertanyaan dalam penelitian ini adalah :

  1. Pertanyaan umum

  a. Apa pengalaman religius para penganut Sapta Darma ketika melakukan ritual sujud?

  2. Pertanyaan khusus a.

  Apa makna ritual sujud bagi para penganut Sapta Darma? b. Bagaimana para penganut Sapta Darma memandang Tuhan mereka? c. Apa yang dirasakan oleh penganut Sapta Darma ketika merasakan kehadiran Tuhan? d.

  Adakah perubahan yang mereka rasakan di dalam kehidupan setelah mereka mengalami suatu pengalaman religius dan apakah itu?

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Dalam penelitian ini metode yang akan digunakan adalah metode

  deskriptif eksploratif, yaitu jenis penelitian non hipotesis yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena tertentu untuk diangkat dan dipaparkan hasilnya dengan perolehan data yang berupa data kualitatif (Arikunto, 1996). Dalam hal ini yang akan dilihat nantinya adalah bagaimana pengalaman religius para penganut aliran Sapta Darma ketika melakukan ritual sujud. Penelitian ini tidak melihat dinamika yang terjadi antar variabel karena penelitian ini hanya ingin memaparkan bagaimana pengalaman religius para pengikut Sapta Darma ketika melakukan ritual sujud.

B. Definisi Operasional Pengalaman Religius

  Semua pengalaman seseorang yang memiliki semua komponen- komponen dibawah ini :

  1. adanya kehadiran Tuhan yang dirasakan oleh subyek 2. munculnya suatu perasaan dari subyek yang kadang sulit untuk dijelaskan ketika bersentuhan dengan Tuhan nya baik itu kekaguman, ketergantungan, kegelisahan dan sampai ke ketakutan sekalipun tergantung bagaimana seseorang memandang Tuhan nya sebagai yang mempesona (fascinosum) atau sebaga i yang maha dahsyat (tremendum) 3. adanya semua sensasi yang dirasakan secara fisik oleh subyek dalam menanggapi pengalaman religius

  4. penekanan pada unsur pasif dimana subyek merasa disentuh oleh kekuatan dari luar yang dirasa sebagai kehadiran dari Tuhan mereka

  5. adanya suatu perubahan yang cukup berarti di dalam kehidupan subyek setelah pengalaman akan pertemuannya dengan Tuhan nya dan perubahan itu cenderung mengarah ke perubahan yang lebih baik seperti yang dinyatakan dalam wawancara.

  Ritual Sujud

  Ritual sujud merupakan suatu ritual yang menjadi ajaran di dalam Sapta Darma, ada aturan-aturan yang mengatur para pelakunya di dalam melakukan sujud baik itu sikap-sikap sujud maupun doa-doa yang terkandung di dalamnya.

C. Metode Pengumpulan Data

  Dalam penelitian ini metode yang akan digunakan untuk mengumpulkan data adalah wawancara yang sifatnya lebih mendalam mengingat apa yang akan dibahas dalam penelitian ini sifatnya memang membutuhkan eksplorasi dalam interview.

  1. Wawancara Wawancara adalah percakapan yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Poerwandari, 1998). Wawancara kualitatif ini dilakukan untuk mengeksplorasi semua pengalaman dari para penganut Sapta Darma ketika melakukan ritual sujud. Wawancara dalam penelitian ini menggunakan model wawancara terbuka, yaitu model wawancara dimana pewawancara tidak mempergunakan pertanyaan yang baku dalam proses wawancara tetapi hanya berdasar pada garis besar pokok-pokok permasalahan yang akan dipertanyakan dalam proses wawancara (Moeloeng, 1989).

  2. Studi Pustaka Studi pustaka dalam penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk mengumpulkan informasi tentang pustaka atau dokumen yang berkaitan dengan aliran kebatinan Sapta Darma yang tidak dapat diperoleh di lapangan.

D. Data Dalam Penelitian

  Dalam penelitian ini data yang akan dikumpulkan berupa: 1.

  Hasil wawancara mengenai bagaimana pengalaman religius para penganut Sapta Darma melakukan ritual sujud.

2. Studi Pustaka tentang gambaran Sapta Darma secara umum baik itu sejarah, ajaran-ajaran ma upun ritual-ritual yang diselenggarakan.

  E. Subjek Penelitian

  Subjek dari penelitian ini adalah penganut Sapta Darma yang telah berpengalaman melakukan laku sujud sebagai suatu rutinitas dan minimal dilakukan sehari sekali dan juga subyek penelitian ini harus sudah pernah melakukan sujud penggalian. Subyek penelitian tidak dibatasi pada tingkatan guru maupun murid melainkan lebih ditekankan pada rutinitas laku sujud.

  Metode pengambilan sample dilakukan dengan menggunakan metode bola salju (snow ball) atau berantai. Pengambilan sample dilakukan secara berantai dengan meminta informasi pada orang lain yang telah diwawancarai atau dihubungi sebelumnya, sedemikian seterusnya.

  Peneliti bertanya pada subyek penelitian tentang narasumber lain yang penting atau harus dihubungi.

  Karena penelitian ini difokuskan pada pengalaman religius yang sifatnya lebih subyektif dan bukan pada proses generalisasi maka subyek yang akan digunakan nantinya akan ditetapkan sejumlah 3 orang. Dari situ nantinya diharapkan hasil yang didapat dapat lebih memfokuskan pada pengalaman religius subyek.

  F. Pedoman Wawancara

  Wawancara yang dilakukan bersifat terbuka sehingga wawancara dilakukan dengan berdasarkan pada pedoman wawancara yang berisi konsep-konsep yang akan dicari dalam wawancara untuk memberikan batasan akan topik yang jelas. Pedoman ini akan membantu peneliti dalam proses wawancara untuk melihat konsep mana yang belum dimunculkan dalam wawancara. Pedoman ini dibuat untuk memunculkan komponen- komponen yang ada di dalam pengalaman religius. Ada kemungkinan bahwa hasil yang didapat nantinya akan sedikit berbeda, hal ini dikarenakan sifat penelitian ini tergantung dari bagaimana hasil yang didapat dalam penelitian.

  Pertanyaan yang akan dijadikan pedoman dalam penelitian ini : 1. Sudah berapa lama Anda melakukan sujud? 2.

  Sejauh ini apa pengalaman Anda selama melakukan sujud? 3. Apa saja yang Anda rasakan ketika Anda melakukan sujud? 4. Pernahkah Anda merasakan kehadiran Tuhan ketika anda melakukan sujud?

  5. Apa yang Anda rasakan ketika Tuhan datang? 6.

  Adakah perubahan yang Anda rasakan di dalam hidup anda setelah anda mengalami berbagai pengalaman di dalam melakukan sujud?

  7. Apa makna sujud bagi Anda? G.

   Analisis Data

  Metode dari James dengan mengumpulkan semua riwayat spiritualitas dari hidup seseorang adalah teknik yang berguna untuk memahami pengalaman religius yang difasilitasi oleh ritual sujud. Oleh karena itu peneliti akan menggunakan teknik ini dimana nantinya peneliti diharapkan dapat lebih memahami pengalaman religius yang dialami oleh para penganut Sapta Darma yang melakukan ritual sujud.

  Analisis data akan menggunakan pendekatan induktif untuk melihat tema-tema yang dimunculkan dari data yang diperoleh (Thomas, 2003). Dari hasil wawancara akan dilihat mana bagian terkecil yang memiliki makna dan berkaitan dengan fokus dan masalah penelitian.

  Kemudian langkah berikutnya adalah membuat koding untuk memberikan kode pada “satuan”. Langkah selanjutnya adalah menyusun kategori untuk mengklasifikasikan setiap “satuan” yang memiliki kesamaan yang kemudian akan dicari kaitan antara satu kategori dengan kategori lain untuk menemukan konsep-konsep yang muncul. Setelah itu baru dilakukan interpretasi dengan cara melakukan uji silang antara hasil wawancara dengan konsep-konsep yang sudah ada dalam pengalaman religius.

  Berikut adalah langkah- langkah yang dilakukan oleh peneliti untuk menganalisis data yang diperoleh :

  1. Melakukan transkrip verbatim dari hasil wawancara.

  2. Membaca hasil wawancara dengan seksama dan berulang-ulang untuk memahami hasil secara keseluruhan.

  3. Melakukan proses pengkodingan atau seleksi terhadap data untuk menemukan tema-tema yang sesuai dengan pokok persoalan.

  4. Melakukan ekstraksi terhadap tema-tema yang muncul sehingga diperoleh beberapa kategori.

  5. Mengeliminasi pernyataan yang tidak relevan terhadap fenomena yang diteliti.

  6. Merangkai setiap kategori menjadi suatu deskripsi terhadap fenomena yang diteliti.

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Pelaksanaan Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti me libatkan 3 orang responden yang

  semuanya merupakan warga dari aliran kepercayaan Sapta Darma. Pemilihan responden didasarkan pada kriteria tertentu yaitu yang telah melakukan sujud penggalian dan telah rutin melakukan sujud wajib setidaknya selama 10 tahun. Hal ini dilakukan agar sampel benar-benar mewakili fenomena yang dipelajari (Strauss dan Corbin 1990, dalam Purwandari, 1998).

  Penelitian ini menggunakan teknik wawancara dan dalam setiap wawancara peneliti menggunakan alat perekam yang hasil rekamannya kemudian akan ditranskrip secara verbatim. Sebelum melakukan pengambilan data, peneliti terlebih dahulu melakukan perkenalan dengan warga maupun tuntunan dari Sapta Darma dengan melakukan kunjungan untuk memperkenalkan diri serta mengenal lebih jauh mengenai Sapta Darma.

  Selain itu peneliti juga meminta ijin kepada bapak tuntunan untuk meminta ijin melakukan penelitian terhadap para warga Sapta Darma. Dalam setiap wawancara, peneliti terlebih dahulu membina rapport dengan para responden. Hal itu dilakukan dengan tujuan supaya proses pengambilan data terlaksana dengan baik dan menghasilkan data yang optimal.

  Data yang berupa studi pustaka merupakan suatu dokumen yang berkaitan dengan Sapta Darma, penjelasan mengenai ritual sujud dan ajaran- ajaran dalam Sapta Darma. Data dari studi pustaka didapat dari tulisan tentang Sapta Darma yang dibuat sendiri oleh orang Sapta Darma serta dokumen yang ditulis oleh pihak luar diluar warga Sapta Darma yang juga menulis tentang Sapta Darma.

  B. Proses Perkenalan dan Gambaran Komunitas Sapta Darma

  Sanggar yang bersebelahan tidak jauh dari Puri Dwipari yang terletak di daerah Taman Siswa, sekilas terlihat seperti rumah biasa, hanya saja yang membedakannya dengan rumah lain adalah adanya suatu ruang khusus yang terlihat cukup sakral di bagian depan dari bangunan. Ada suasana yang menenangkan ketika peneliti pertama kali masuk ke sanggar Sapta Darma. Bagian dalam bangunan terdapat teras yang cukup luas yang berfungsi untuk menerima tamu dan terdapat patung semar dan wewarah tujuh yang menempel di dinding.

  Peneliti pertama kali diterima dengan sangat baik oleh para warga Sapta Darma yang kebetulan sedang berkumpul, mbak W kemudian menanyakan maksud dan tujuan datang ke Sapta Darma. Peneliti berusaha untuk menjelaskan maksud dan tujuan datang ke sanggar, dan mbak W dengan sukarela berkenan untuk membantu kelancaran penelitian ini. Mbak W juga menceritakan bahwa sebelumnya sudah banyak peneliti yang datang baik itu dari Indonesia maupun peneliti dari luar. Peneliti kemudian diperkenalkan dengan salah satu tuntunan yang sedang piket di situ. Peneliti menjelaskan kembali maksud dan tujuan serta sekaligus meminta ijin untuk melakukan penelitian.

  Sanggar selalu terbuka baik itu untuk para warga Sapta Darma maupun untuk orang luar yang datang dengan tujuannya tertentu. Setiap hari sanggar tidak pernah sepi, sering tampak beberapa orang yang sedang mengobrol maupun melakukan sujud di sanggar. Sanggar selalu dipimpin oleh seorang bapak tuntunan dan setiap 5 hari tuntunan akan di rolling. Bagi para penganut Sapta Darma, mereka sering berkunjung hanya sekedar mengobrol dengan warga lain maupun berkunjung untuk melakukan sujud di sanggar. Bagi mereka yang belum menjadi warga bila ingin disujudkan maka bapak tuntuanan yang nantinya akan mensujudkan karena ada larangan untuk belajar sujud sendiri tanpa bimbingan dari mereka yang sudah terlatih untuk itu.

  Peneliti merasakan adanya suatu keramahan yang ditunjukkan oleh para warga dan bapak tuntunan, hal ini cukup memudahkan peneliti untuk masuk dan memahami bagaimana serta ajaran-ajaran apa yang ada di dalam Sapta Darma. Bapak tuntunan menceritakan bahwa selain sujud wajib yang harus dilakukan setiap hari, ada juga sujud penggalian yang dilakukan pada hari- hari tertentu.

  Ketika peneliti hadir di salah satu ritual sujud penggalian yang dilakukan di bulan April yang dikhususkan untuk ibu-ibu, banyak sekali warga yang datang sampai memenuhi hampir semua ruang di sanggar. Walaupun dikhususkan untuk ibu-ibu namun ternyata banyak juga warga lain

  baik itu bapak-bapak maupun dari kalangan remaja yang datang. Berikut adalah gambaran dari ritual sujud penggalian yang dilakukan setiap 5 kali dalam setahun.

C. Ritual Sujud Penggalian

  Selain sujud wajib yang dilakukan setiap hari, ada juga sujud penggalian yang dilakukan 5 kali dalam setahun. Berikut adalah jadwal sujud penggalian yang dilakukan di dalam Sapta Darma :

  • Sebelum dan sesudah tanggal 21 April, sujud penggalian khusus wanita terutama ibu-ibu.
  • 6-12 Juli, sujud penggalian khusus remaja.
  • >22-27 September, sujud penggalian khusus petugas Sapta Da
  • Pertengahan Oktober, sujud penggalian khusus warga.
  • 20-27 Desember, sujud penggalian khusus tuntunan kabupaten ke atas sampai ke tuntunan Agung dan sekaligus memperingati turunnya wahyu sujud.

  1. Gambaran Singkat Mengenai Ritual Sujud Penggalian Ritual sujud penggalian sudah dilakukan sejak Bapak Panuntun

  Agung SRI GUTAMA masih hidup. Sujud penggalian ini dijalankan bersama-sama dan diasuh oleh satu atau dua orang tuntunan, dan beberapa orang pengawas. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota dapat langsung diawasi sujudnya dan dapat diasuh serta dibimbing mutu kerokhaniannya, menurut kemampuan masing- masing tingkat pesujudannya.

  2. Tujuan Sujud Penggalian a.

  Membentuk ksatria utama yang berbudi luhur, berkepribadian dan berkewaspadaan tinggi. Sikap-sikap itulah yang nantinya akan memunculkan manusia- manusia yang dapat Memayu hayuning Bagya Buana.

  b.

  Meningkatkan mutu kerokhanian para tuntunan dan warga Sapta Darma.

  c.

  Menyempurnakan pengabdiannnya kepada Hyang Maha Kuasa dan pada umat manusia.

  3. Inti Penggalian a.

  Sujud dalam Sapta Darma adalah bukan hanya sujud wadag saja (jasmani), melainkan sujud rokhani (rasa).

  b.

  Menanamkan pengertian kepada para penggali bahwa arti daripada sujud Sapta Darma dengan sebutan “Hyang Maha Suci sujud Hyang Maha Kuasa” betul-betul Hyang Maha Sucinya (Rokh Suci Manusia) yang sujud kepada Hyang Maha Kuasa.

  c.

  Bahwa dalam ucapan “batin” artinya bukan “batin dalam arti jasmani” (pikir), melainkan “batinnya-rokhani”.

  d.

  Dengan sujud penggalian, manusia akan dapat “Ngunduh (memetik) Wohing Pakarti”, atau mendapatkan pengertian kerokhanian. e.

  Yang akan dicapai dalam sujud penggalian adalah “Wohing Pakartining Rasa” yang akan dapat menuju “Waskitaning Cahaya” yang akhirnya akan meningkat kepada “Waskitaning Pangandika” = kata-kata yang tepat dan benar.

  f.

  Dalam tingkatan “Warangka Manjing Curiga” para warga penggali harus melepaskan sama sekali pamrih Rokhaniah dan Jasmaniah.

4. Tata Tertib Penggalian a.

  Penggalian dilakukan bersama-sama di sanggar-sanggar di bawah bimbingan seseorang atau beberapa orang Tuntunan yang sudah pernah melakukan sujud penggalian. Disamping itu ada beberapa orang warga pengawas, guna mengawasi para warga yang sedang melakukan sujud penggalian.

  b.

  Jumlah warga penggali satu kelompok terdiri dari 12 orang warga.

  Boleh diadakan dua, tiga atau empat kelompok, yang disesuaikan dengan besar kecilnya sanggar.

  c.

  Lamanya penggalian ditentukan 12 malam berturut-turut atau apabila mungkin dapat dilakukan siang dan malam berturut-turut selama 6 hari, misalnya pagi mulai jam 09.00 sampai dengan jam 14.00 ; malam mulai jam 20.00 sampai jam 01.00.

  d.

  Selama penggalian sujud dapat dilakukan tiga kali; misalnya dimulai dari jam 20.00, jam 22.00 dan jam 24.00 selesai, atau jam 19.00, jam 21.00 dan jam 23.00 selesai. e.

  Tuntunan penggali harus luwes (supel) melihat keadaan warga, apabila keadaannya lesu, tuntunan harus bisa memberi semangat kembali dalam melakukan sujud penggalian.

  f.

  Penggalian yang dimaksud adalah sekaligus merupakan peruwatan “Saudara Dua Belas” di dalam pribadinya masing- masing warga, untuk menuju “Jejering Satria Utama”, maka tidak mengherankan apabila warga penggali mengalami masa krisis, misalnya badan terasa lesu, sakit, bosan dan macam- macam hambatan lain yang dialami dalam penggalian. Masa krisis ini biasanya berjalan selama 3 hari, maka hendaknya Tuntunan penggalian memberitahu lebih dulu sebelum penggalian dimulai.

  g.

  Sesudah hari kedua, pada waktu-waktu istirahat sesudah sujud, para warga penggali mulai melaporkan hasil pasujudannya kepada Tuntunan penggalian satu persatu diruang tersendiri untuk menghindari agar warga yang lain tidak turut mendengarkan.

  h.

  Masing-masing warga penggali tidak boleh menceritakan hasilnya kepada warga yang lain. i.

  Pada waktu-waktu tertentu sesudah hari ketujuh para warga penggali diberi pelajaran untuk berbicara di muka orang banyak, cara-cara berpidato dengan teknik tersendiri menurut Kerokhanian Sapta Darma. j.

  Para warga penggali dalam waktu-waktu senggang dirumah, diwajibkan untuk menghafalkan isi buku Wewarah jilid ke I KSD terutama tujuan KSD, Wewarah Tujuh, Simbol Pribadi Manusia dan Tali Rasa. k.

  Di dalam kamar penggalian para warga tidak diperbolehkan mempercakapkan soal-soal kejasmanian agar supaya suasana penggalian tetap pada “Sphere” suasana kerohanian. l.

  Dalam kamar penggalian tidak diperbolehkan makan, minum dan merokok, untuk ini disediakan tempat lain. m.

  Tempat duduk sebaiknya diundi untuk menjaga ketertiban, hal ini untuk melatih para peserta jangan mempunyai rasa iri hati ingin duduk di depan. Sebab dengan jalan diundi mereka akan merasa puas dengan pilihannya sendiri; dan nomornya harus diingat- ingat untuk mendapatkan giliran laporan. n.

  Tuntunan, warga serta pengawas sama kewajiban dan tanggung jawabnya. Tuntunan, warga dan pengawas penggalian merupakan “Telu-teluning Atunggal” yang sinarnya saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Para warga penggali diharuskan 15 menit sebelum pesujudan dimulai supaya siap di sanggar penggalian. o.

  Para penggali diharapkan menggunakan waktu sebaik-baiknya karena para penggali akan mendapatkan penggemblengan langsung dari Hyang Maha Kuasa untuk menjadi Pelopor Budi Luhur bagi umat manusia dan menjadi rokhaniawan yang sejati.

5. Bahan-bahan Penggalian

  Untuk dapat melaksanakan inti penggalian, maka penggalian dibagi ke dalam tiga tingkatan.

  a.

  Pada Tingkatan Pertama Para warga penggali harus dapat memisahkan Rasa dan Pangrasa, artinya segala angan-angan, pikiran, ciptaan-ciptaan dan gagasan-gagasan harus dihilangkan sama sekali, tinggal rasa yang meliputi seluruh tubuh atau “Rasa Sejati”.

  Setelah itu getaran air suci yang keluar dari tulang ekor (tali- rasa) sedetik demi sedetik melalui ruas-ruas tulang punggung naik ke atas otak kecil menuju otak besar, setelah dahi menyentuh tikar maka getaran air suci akan berkumpul di ujung lidah yang merupakan “benda hidup” (atom berjiwa) atau “sari-sarinya hidup”.

  Sari-sari hidup inilah yang akan mengisi gelombang-gelombang hidup yang dinamakan Radar.

  Apabila terasa dingin di dada, maka mulailah warga penggali akan menemukan apa yang dinamakan “RADAR” (alat kewaspadaan rasa). Dari situ para warga akan dapat “ngunduh wohing pakartining rasa” yang dicapai dalam 5 hari. Pada hari ke 6, tuntunan akan mengadakan testing soal radar.

  b.

  Pada Tingkatan Kedua Pada tingkatan ini warga penggali akan mulai meneliti “Sapta Rengga”.

  Dalam tingkatan ini terjadi “pisahing gembung dan kepala”, berarti para warga sama sekali sudah harus menghilangkan “angkara murka”, tinggalah meneliti atau memelihara Sapta Rengga nya. Untuk ini Sapta Rengga dari para warga akan mendapat pembersihan oleh sari-sarinya hidup (ge taran- getaran air suci) maka dapat dirasakan sehabis bungkukan kesatu, kedua, ketiga.

  Setelah itu para warga penggali akan menemukan “terjadinya sabda” ialah “kumpulnya rasa dan cahaya” dan menemukan alat kontrolnya sekali. Di situ para warga akan dapat mencapai tataran “ngunduh wohing pakartining cahya” untuk memiliki “waskitaning pangandika”, “sabda waskita tunggal”. Disini “rasa liniputan dening cahya”.

  Apabila warga sudah mencapai tingkatan ini maka segala kata- katanya harus betul-betul dijaga kebersiha nnya, karena sabdanya sudah gawat. Berbicaralah yang baik kepada siapapun.

  Diluar penggalian, warga penggali dianjurkan untuk mempraktekkan sabdanya untuk menolong orang-orang yang dalam kegelapan (terjadi pada hari ketujuh dan kedelapan).

  c.

  Pada Tingkatan Ketiga Tingkatan ini adalah untuk memisahkan antara “Rasa”dan “Cahya” yang akhirnya nanti cahta akan menuju sentral (Hyang Maha Kuasa) inilah yang dinamakan “Curiga Manjing Warangka”, hal ini sudah terjadi dalam alam lain. Cara pelaksanaanya : Pada hari kesembilan para warga penggali agar dapat menutupi

  “Babahan Hawa Sanga” maka sujudnya harus betul-betul sudah menyerah bulat-bulat.

  Pada hari kesepuluh, para warga penggali mulai meningkat kepada “Pudak Sinumpet”, inilah inti dari pada “Sujud Dasa Warsa”.

  Dalam hal ini seakan-akan para warga penggali akan mendapatkan “cahya” dari “sentral” yang akan menutup ubun-ubun penggali.

  Pada hari kesebelas, para warga penggali sudah harus mencapai “kukuding saudara sebelas” yang sudah mendapatkan pencaran sinar Sentral Hyang Maha Kuasa. Biasanya sujudnya sudah mengalami kebahagiaan.

  Untuk ini para warga penggali diberi pelajaran “Racut dengan duduk” agar supaya betul-betul Hyang Maha Sucinya dapat menghadap Hyang Maha Kuasa.

  Pada hari kedua belas, “Kukud saudara dua bela s” berarti telah “Jejer Satria Utama” maka untuk ini para warga penggali diberi pelajaran : racut dengan tata cara terlentang.

D. Ajaran-Ajaran Dalam Sapta Darma

  Inti sari tujuan atau cita-cita ajaran dari Kerokhanian Sapta Darma dirinci sebagai berikut (Pawenang, 1962) :

  1) Menanamkan tebalnya kepercayaan, dengan menunjukkan bukti-bukti serta persaksian, bahwa sesungguhnya Allah itu ada dan tunggal (Esa), serta memiliki lima sila (sikap perwujudan kehendak) yang mutlak, yaitu: Maha Agung, Maha Rokhim, Maha Adil, Maha Wasesa, Maha Langgeng.

  Menguasai alam semesta beserta segala isinya yang terjadi. Oleh karena itu manusia wajib mengagungkan Asma Allah, serta setia dan tawakal menjalankan segala perintah-perintah Nya. 2)

  Melatih kesempurnaan sujud, yaitu berbaktinya manusia pada Hyang Maha Kuasa. Mencapai keluhuran budi dengan cara-cara yang mudah dan sederhana, dapat dijalankan atau dilakukan oleh semua umat manusia.

  3) Mendidik manusia bertindak suci dan jujur, mencapai napsu, budi dan pekerti yang menuju pada keluhuran dan keutamaan guna bekal hidupnya di dunia dan alam langgeng. Maka warga Sapta Darma akan dididik menjadi Ksatria Utama yang dengan penuh kesusilaan, bertabiat dan bertindak pengasih dan penyayang, suka menolong kepada siapa saja yang sedang menderita dan kegelapan juga akan dididik untuk dapat hidup dengan kepercayaan atas kekuatannya sendiri.

  4) Mengajar warganya untuk dapat mengatur hidupnya mengingat hidup manusia di dunia adalah rohaniah dan jasmaniah, maka diwaktu siang diwajibkan bekerja diwajibkan bekerja demi mencukupi kebutuhan jasmaniah sedangkan diwaktu malam dan diwaktu senggang digunakan untuk memenuhi kebutuhan rohaniah seperti melakukan sujud. Bila kedua hal tersebut dilakukan secara bersungguh-sungguh dan tertib pasti akan mencapai luhurnya jasmani dan rokhani.

  5) Menjalankan wewarah tujuh yang dilandasi kesempurnaan sujud dan bila dijalankan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh serta penuh rasa yang halus sekali, menurut Kerokhanian Sapta Darma dapat mempengaruhi dan menyebabkan manusia memiliki ketajaman dan kewaspadaan (kewaskitaan) yang bermacam- macam antara lain: a.

  Waskita akan penglihatan (pandulu), b. Waskita akan penciuman (pangganda), c. Waskita akan pendengaran (pamiarsa), d. Waskita akan tutur kata (pangandika).

  Untuk mencapai kewaskitaan tersebut dapat dilakukan di sanggar-sanggar bersama warga lain di bawah asuhan tuntunan sanggar. Bila dirumah dan guna melatih diri dapat dilakukan dalam segala waktu, ditempat pesujudan yang khusus disediakan, yaitu tempat yang bersih atau suci. Berarti tempat tidur sehari- hari seyogyanya tidak digunakan untuk tempat sujud.

  Wewarah tujuh merupakan kewajiban sekaligus menjadi pandangan dan pedoman hidup manusia baik secara vertikal dengan sesama manusia maupun secara horisontal dengan Hyang Maha Kuasa selama manusia hidup di dunia ini. Adapun wahyu wewarah tujuh adalah sebagai berikut :

  Wewarah Pitu Wajibing Warga Sapta Darma

  1. Setya t uhu marang anane Pancasila 2.

   Kanthi jujur lan suci ati kudu setya nindakake angger-angger Negarane

  3. Melu cawe-cawe acancut taliwanda anjaga adeging Nusa lan Bangsane

  4. Tetulung marang sopo bae yen perlu, kanti ora anduweni

pamrih apa bae kajaba mung rasa welas lan asih

  5. Wani urip kanti kapitayan saka kekuwatane dewe 6.

   Tanduke marang warga bebrayan kudu susila kanti alusing budi pakarti tansah agawe pepadang lan mareming liyan

  7. Yakin yen kahanan donyo iku ora langgeng tansah owah gingsir (anyakra manggilingan)

  Terjemahan dalam bahasa Indonesia sebagai berikut :

  Wewarah Tujuh Kewajiban warga Sapta Darma

  1. Setia tuhu kepada adanya Pancasila 2.

   Dengan jujur dan suci hati, harus setia melaksanakan undang- undang negaranya

  3. Turut serta menyingsingkan lengan baju, menegakkan berdirinya nusa dan bangsanya

  4. Menolong kepada siapa saja bila perlu, tanpa mengharapkan sesuatu balasan apapun, melainkan hanya berdasarkan rasa cinta kasih 5. Berani hidup berdasarkan kepercayaan dan kekuatannya sendiri

  6. Sikapnya dalam hidup bermasyarakat, keluarga, harus susila beserta halusnya budi pekerti, selalu merupakan penunjuk

jalan yang mengandung jasa serta memuaskan

7. Yakin bahwa keadaan dunia ini tidak abadi, melainkan selalu berubah-ubah (Anyakra manggilingan)

  6) Memberantas kerpercayaan akan takhayul dalam segala macam bentuk dan manifestasinya. Kerokhanian Sapta Darma mengajarkan kepada manusia untuk melakukan atau mengagungkan Allah Hyang Maha Kuasa, serta menyadari bahwa manusia adalah mahluk yang tertinggi martabatnya, dimana hidupnya ada dalam kekuasaan Nya.

E. Deskripsi Subyek 1.

  Sy Bapak Sy mulai bergabung dengan Sapta Darma tahun 1956, sejak berumur 25 tahun. Ketika itu beliau masih bekerja sebagai guru SD. Di usianya yang sudah mencapai 75 tahun, bapak Sy masih bergabung dengan Sapta Darma dan menjabat sebagai salah satu tuntunan di Sapta Darma.

  Saat ini bapak Sy sudah pensiun dari pekerjaannya dan tinggal berdua dengan istrinya. Beliau memiliki 2 anak yang sudah bekerja, salah satu anaknya sudah bekerja telkom Bandung dan satunya bekerja di dinas kesehatan di Semarang. Setiap bulan sekali bapak Sy bergiliran menjaga sanggar selama 5 hari di Yogyakarta.

  Dalam kesehariannya sebagai tuntunan Sapta Darma, ada sikap disiplin yang selalu diperlihatkannya, mungkin ini dikarenakan peran beliau sebagai sekretaris tuntunan agung Sapta Darma yang menuntut kecepatan dan kecermatan dalam pekerjaannya. Sikap disiplinnya bukan sesuatu yang tidak fleksibel, masih ada sikap toleran yang sering ditunjukkan oleh bapak Sy sepanjang itu masih memiliki alasan yang masih dapat diterimanya.

  2. Sn Bapak Sn sudah bergabung dengan Sapta Darma selama 11 tahun sampai saat ini beliau sudah berusia 51 tahun. Awal mula Bapak Sn bergabung dengan Sapta Darma adalah ketika beliau mendapat saran dari neneknya yang terlebih dulu sudah bergabung dengan Sapta Darma.

  Latar belakang ekonomi bapak Sn bisa dikatakan kurang dan saat ini beliau hanya bekerja serabutan. Bapak Sn seringkali terlihat bekerja di sanggar Sapta Darma, hal ini dikarenakan pada saat itu sanggar Sapta Darma sedang membutuhkan pekerja untuk renovasi bangunan.

  Ada kerelaan yang dimunculkan oleh bapak Sn ketika bekerja di sanggar. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya keinginan yang kuat dari beliau untuk mengabdi di Sapta Darma, ada pemikiran dari bapak Sn bahwa dengan melayani dan bekerja sebaik mungkin untuk perkembangan Sapta Darma hal itu nantinya akan bermanfaat juga bagi dirinya.

  3. Wm Bapak Wm mulai bergabung dengan Sapta Darma pada tahun 1970 sejak beliau berumur 23 tahun, sampai saat bapak Wm sudah berusia 60 tahun dan menjabat sebagai salah satu tuntunan di Sapta Darma.

  Saat ini kehidupan ekonomi dari bapak Wm bisa dikatakan sudah berkecukupan. Bapak Wm memiliki rumah makan di Semarang tempat beliau tinggal bersama dengan keluarganya. Rumah makan tersebut dikelola oleh keluarga mereka sendiri dan hasilnya sudah dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.

  Di dalam kesehariannya bapak Wm terlihat ramah dengan semua orang, ada keterbukaan yang ditunjukkan oleh beliau dan juga terlihat adanya sikap dan perkataan yang tegas ketika beliau berbicara dengan orang lain. Bapak Wm kadang memiliki kemampuan untuk memahami apa yang sedang dipikirkan oleh orang lain. Kadang bila ada warga yang sedang bermasalah, beliau akan menghampiri dan mengajaknya untuk berbicara untuk mencari solusi yang terbaik bagi permasalahannya. Ada sikap empati yang ditunjukkan oleh bapak Wm, beliau akan berusaha memahami bagaimana karakter seseorang dan akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan orang lain.

F. Hasil Analisis Data 1. Narasi Subyek a.

  Sy Latar belakang Sy melakukan sujud adalah perasaan dimana dia merasa cocok setelah mendapat cerita dari temannya yang baru sekali melakukan sujud. Beliau merasa bahwa dia secara otomatis merasa ingin disujudkan tanpa alasan yang jelas.

  Begitu saya diberi cerita diceritani tentang Sapta Darma. Itu yang menceritani itu juga baru berpengalaman satu hari satu malam, lalu bercerita pada saya. Saya kok otomatis minta dituntuni, minta disujudkan. Akhirnya disujudkan saja dan waktu itu yang diceritakan pada saya hanya caranya sujud (5-11).

  Ketika melakukan sujud, sensasi fisik yang dirasakan oleh bapak Sy adalah dia merasa ada getaran-getaran yang berjalan mulai dari ujung kaki, lewat sumsum tulang belakang, naik sampai ke ubun- ubun. Setelah sampai di ubun- ubun mata bapak Sy terasa berat dan secara otomatis matanya akan tertutup. Getaran itu akan terus berjalan sampai ke lidah, dan akan terasa seperti ada setrum di lidah. Kemudian tubuh membungkuk secara otomatis sampai dahi menyentuh kain mori yang terletak di lantai. Bila beliau sudah melakukan kontak dengan Tuhan, akan muncul sinar dari Hyang Maha Kuasa yang dianggap sebagai santapan rohani menurut Sapta Darma.

  Dalam situasi ening itulah rasa istilah lainnya rohani itu akan aktif melaksanakan sujud itu terasa, rasanya giming- giming gitu. Pokoknya ada rasa yang berjalan mulai dari kaki. Dia akan naik ke atas, ini mata masih terbuka. Nanti klo sudah dikepala nanti akan terasa berat. Nah setelah berat nanti diperhatikan trus sampai menyatu di ubun- ubun ini. Setelah menyatu di ubun- ubun ini barulah nanti akan turun ke bawah menutup mata sampai di mulut, ujung lidah nanti di ujung lidah akan terasa yang istilah jawanya pating trecep, seperti ada setrum. Ini nanti klo sudah ada setrum listrik itu (75- 86). Nanti akan ada rasa yang datang dari tulang ekor, dari sana akan ada rasa yang naik lewat sumsum tulang belakang, naik ke atas sampai menyatu diubun-ubun. Klo sudah sampai di ubun-ubun pada waktu ini badannya sudah membungkuk dengan sendirinya. Pada waktu disini ditahan sedikit trus sampai di mori putih nah ini rasa yang dari sumsum tulang belakang sudah sampai di ubun- ubun kemudian dirasakan lagi keujung lidah, sampai di ujung lidah nanti kita seakan-akan menyatu lagi atau kontak dengan Yang Maha Kuasa dengan mengucap sujud, ucapannya Hyang Maha Suci sujud Hyang Maha Kuasa 3 kali diucapkan lalu kembali tegak. (99-112).

  Prinsipnya habis sujud kembali tegak ini harus dirasakan sebab itu ketika kita kontak dengan Hyang Maha Kuasa, itu kita mendapat sinar dari Hyang Maha Kuasa, sinar baru, nah inilah santapan rohani menurut (152-156). Sapta Darma

  Sensasi psikologis yang dirasakan ketika bapak Sy melakukan sujud adalah dia merasa sangat tenang, dan tidak ada beban sama sekali ketika dia sujud.

  Kemudian setelah itu nanti ada rasa lagi turun ke bawah. Rasanya enak gitu, tenang, dalam perasaan tenang sekali, pokoknya ga da beban apa-apa sampai rasa itu menyentuh disini (91-94).

  Ketika melakukan sujud, Sy merasakan bahwa dirinya sedang menghadap Tuhan. Di dalam melakukan sujud, beliau menekankan pada hening, beliau berusaha mempasifkan semua jasmani dan rohani untuk menyatu dengan Tuhan dan bila penyatuan sudah terjadi, akan terlihat cahaya yang dianggap sebagai sinar dari Tuhan.

  Ini nanti klo sudah ada setrum listrik itu, ini otomatis perhatian rohani trus merasa menghadap kepada Yang Maha Kuasa kemudian meluhurkan asma Allah yang bunyinya Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Rokhim, Allah Hyang Maha Adil (86-91) nanti kita seakan-akan menyatu lagi atau kontak dengan

  (108-110).

  Yang Maha Kuasa dengan mengucap sujud ketika kita kontak dengan Hyang Maha Kuasa, itu kita mendapat sinar dari Hyang Maha Kuasa, sinar baru (153- 155).

  Bapak Sy merasa banyak sekali manfaat yang didapatnya. Melalui sujud beliau merasa semua napsu-napsu yang ada di dirinya dapat dikendalikan, bapak Sy juga merasa sujud berfungsi sebagai pembenahan pribadi, ketika ada alat-alat atau organ-organ yang tidak bagus dengan sujud alat-alat tersebut dapat tersembuhkan, dan sujud dianggap mampu menghilangkan getaran- getaran yang kurang bagus bagi tubuh.

  Dalam hati pembersihan untuk mengendalikan napsu, musuh kita yang tersisa, napsu dalam pribadi kita yang dikendalikan supaya kita bisa berbuat baik. Sampai ke bawah. Juga berfungsi untuk pembenahan pribadi klo ada alat yang kurang bagus bisa menjadi bagus, alat yang kurang sehat bisa menjadi sehat (124-129). Perbedaannya ya itu sebelum sujud mungkin masih membawa getaran- getaran yang tidak baik itu rasanya berat di badan tapi setelah sujud nanti tidak, enteng, lego (183-186).

  Dari pengalaman-pengalaman yang didapat bapak Sy selama melakukan sujud, penting pengaruhnya bagi keseharian kehidupannya.

  Beliau merasa lebih tenang dan perasaan nerimo dari bapak Sy terkesan lebih kental karena selalu berusaha merasa cukup di dalam kekurangan hidupnya. Ketika bapak Sy mendapat godaan-godaan dari luar, beliau dapat lebih mengendalikan diri untuk berusaha menahan godaan- godaan yang dapat menghancurkan perkawinannya. Ada kemungkinan bapak Sy merasakan adanya ketidak puasan dengan latar belakang keluarga nya, terutama pernikahan kedua orang tuanya ataupun dari kakek dan neneknya. Hal ini terlihat dari bagaimana beliau menyatakan ingin membuat sejarah baru mengenai pernikahannya yang ingin berbeda dengan kondisi keluarganya sebelumnya sehingga Sy berusaha untuk menghayati pernikahannya dan berusaha untuk mengendalikan godaan yang datang.

  Yang jelas saya merasa tenang dan saya sebelum ketemu Sapta Darma saya juga merasa cukup, tidak pernah merasa kurang. Sebab itu saya terima, teman- teman keluar sebagai guru, saya tetap menjadi guru. Meskipun pada waktu itu gajinya mung sedikit saya (225-230). rasa sudah cukup Pokoknya saya merasa syukurlah pada Tuhan Yang Maha Esa saya diberikan tuntunan, bimbingan lalu yang penting lagi pada waktu saya berangkat untuk menikah saya pamit kepada orang tua, saya ingin membuat sejarah baru, tidak seperti mbah- mbah saya, seperti bapak ibu saya. Pokoknya saya ingin membuat sejarah baru. Akhirnya setelah saya hayati itu perkawinan saya ternyata saya ada saja godaan tapi saya dapat mengendalikan terutama godaan itu, godaan mata itu.

  (258-

  Tapi saya dapat mengendalikan sampe sekarang 268).

  Selain itu Sy juga memiliki pengalaman-pengalaman yang luar biasa yang menceritakan bagaimana relasinya dengan Tuhan nya. Sy mampu menyembuhkan orang termasuk anaknya sendiri yang ketika itu sedang sakit perut dengan hening, bersatu dengan Tuhan dan mengucapkan sabda waras. Kadang Sy merasa ada suatu perintah dari yang tak tampak yang membuatnya melakukan hal yang masih asing dan baru baginya. Sy pernah merasa ada sesuatu yang mengisi jari- jarinya ketika ada seorang anak yang sakit, kemudian Sy meletakkan jari-jarinya di tub uh anak itu dan mengagungkan nama Tuhan dan seketika anak itu langsung sembuh. Ada pengalaman lain yang diceritakan oleh Sy yaitu ketika ada orang yang sedang kerasukan, tidak ada seorang pun yang mampu menyembuhkannya termasuk orang pintar yang memiliki kelebihan yang lebih kita kenal dengan sebutan dukun. Sy merasa kasihan dan tiba-tiba Sy merasakan ada setrum di kedua jarinya kemudian dia letakkan kedua jarinya di ketiak dari orang yang kerasukan tadi dan tanpa dia ketahui sebelumnya Sy kemudian menutup jalur dari tubuh orang tersebut agar roh tadi tidak dapat masuk kembali, hal ini sebelumnya belum pernah Sy ketahui dan ternyata memang cara itu yang benar menurut beberapa orang yang dia kenal.

  Yang pertama anak saya yang pada waktu itu berumur 3 bulan itu sakit perut kemudian saya hanya hening, mengheningkan cipta. Klo memusatkan kan hanya hening saja, hanya diam, dalam hati menyatu dengan Tuhan kemudian disabdakan, sabda waras. Hanya sabda waras itu sabdanya kemudian anak saya menjadi sembuh (19-25). Demikian pula murid saya, saya kan seorang guru. Yang pertama kali menjadi kejutan atau menambah keyakinan saya, murid saya bermain- main, jatuh kemudian tak bernapas. Kemudian saya meminta anak- anak lain untuk meletakkannya di meja. Saya belum diberitahu tapi kok saya ada perasaan jari-jari saya diisi, jari-jari tengah saya ini saya pegangkan pada pusat kemudian saya luhurkan asma Allah, Allah Hyang Maha Agung, Allah HyangRohkim, Allah Hyang Maha adil dan saya sabda waras, anak itu seketika bangun trus lari- lari lagi. Itu yang membuat saya tambah yakin dan (25-37). banyak lagi Beberapa hari kemudian ga sampai lama ada tetangga yang istilahnya apa itu ya, kesurupan, kemasukan roh jahat. Sudah dipanggilkan yang namanya mbah Joremi yang biasanya memberikan penyembuhan, itu ndak mampu. Akhirnya saya kok merasa kasihan saya melihat merasa kasian, anak-anak masih disekolah itu, akhirnya timbul rasa untuk memberi penyembuhan, pangusadan. Itu otomatis saya ini, ini ada seperti ada setrumnya ini di driji dua ini, ini saya tunjukkan pada ketiaknya dua-duanya nah itu roh yang ada di dalamnya itu lari, orangnya trus sadar. Nah setelah sadar, juga belum pernah saya diberitahu sebelumnya oleh orang yang menuntuni saya itu klo sudah begitu ini tuh diping maksudnya menutup agar rohnya itu tidak bisa kembali lagi. Itu yang menambah saya menjadi tambah yakin,

  (37-53).

  tambah tekunlah saya sujud Sy memaknai sujud sebagai suatu kewajiban, dimana manusia yang berasal dan nantinya akan kembali lagi pada Tuhan harus bersujud dan memo hon ampun kepada Tuhan atas semua kesalahan- kesalahan yang pernah dia perbuat.

  Jadi kemudian timbul pengertian bahwa sujud itu terutama disamping merupakan kewajiban didalam hidup kita ini berasal dari Yang Maha Kuasa maka kita harus sujud kepada Yang Maha Kuasa (53-57).

  b.

  Sn Awal mula Sn mulai melakukan sujud adalah ketika Sn mengalami krisis ekonomi, Sn kesulitan untuk mencari nafkah bagi dirinya maupun keluarganya, dengan sujud Sn merasa kehidupannya sedikit demi sedikit mulai terkatrol. Selain itu ada ketakutan dari Sn terhadap karma dari perilaku-perilaku buruk yang telah dia perbuat selama hidupnya, Sn tidak mau karma tersebut nantinya menimpa dia dan keluarganya.

  Kita ingin seperti itu jangan sampai nanti anak istri, anak-anak yang kita tinggalkan menuai hukum karma orang tua. Jadi kita Sangkan paraning dumadi , kita akan kembali kesana lagi tapi kan kita…ya walau dosa kita sebesar apapun kalo tiap hari kita melakukan pertobatan dan tidak melakukan itu kan kita nanti akan kembali ke asal yang cahaya Allah yang baik lagi (44- 51). dulu kehidupan saya tu ya…dalam bahasa jawa krisis ekonomi kemaren yang payah ya mencari nafkah. Setelah kita bersujud dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa secara olah roso, kita bisa terkatrol ya kehidupan saya ya

  (63-68).

  Ketika melakukan sujud sensasi fisik yang dirasakan Sn adalah Sn merasa melihat cahaya yang subyek anggap sebagai sinar cahaya Allah. Ada keterpesonaan yang tampak di dalam menanggapi kehadiran Tuhan nya yang menunjukkan rasa kekagumannya melihat cahaya Allah.

  Yang kita dapatkan tu ya waktu kita pemula, memulai sujud pertama kali tu kita langsung bisa melihat sinar cahaya Allah itu betul-betul woh inilah yang dikatakan Tuhan itu berwujud seperti sinar cahaya Allah (29-34).

  Sn merasakan suatu kedamaian, rasa tenteram dan rasa nyaman di hati ketika melakukan sujud.

  Ya pengalaman saya tu waktu sujud tu kita mendapatkan suatu kedamaian, ketentraman hati, dan rasa ayem gitu lo bahasa jawanya (2-4).

  Dalam sujud, Sn merasakan adanya suatu kebenaran yang membuatnya percaya bahwa Tuhan itu sungguh ada setelah Sn merasakan pertemuan dengan Nya. Tuhan dianggap sebagai sosok yang selalu mengabulkan apa yang diharapkan oleh Sn, karena Dia selalu memberikan apa yang diinginkan oleh Sn. Sn melihat suatu cahaya yang dia anggap sebagai wujud dari Tuhan. Bahwa Tuhan tu memang ada betul dan kita bisa merasakan bahwa, gimana ya..kita bisa istilahnya klo orang ketemulah (8-10). Ya apa yang kami harapkan Tuhan memberikan dan apa yang kita inginkan Dia juga memberi

  (12-14)

  Allah itu betul-betul woh inilah yang dikatakan Tuhan itu berwujud seperti sinar cahaya Allah (32-34) Manfaat yang dirasakan Sn dengan melakukan sujud adalah Sn dapat menemukan apa yang selama ini ingin dia cari. Dengan latar belakang ekonomi Sn yang dirasa masih kurang, Sn menemukan bahwa dengan melakukan sujud, Sn dapat lebih terkatrol kehidupan ekonominya. Selain itu Sn merasa dengan melakukan sujud, semua dosa dan kesalahan-kesalahan yang telah dia perbuat selama hidupnya dapat terampuni.

  Jadi apa yang kita cari kita bisa menemuken (4-5). Dalam kehidupan sehari- harinya Sn merasakan kedamaian. Ada ketakutan dari Sn ketika dia ingin berbuat kesalahan, Sn merasa ada sesuatu kekuatan yang menghalanginya dan yang memberitahunya bila perbuatan yang akan dia perbuat nantinya akan merugikan dirinya atau orang lain. Hal ini menunjukkan bagaimana Sn selalu berhati-hati dalam berperilaku agar Sn terhindar dari kesalahan-kesalahan yang akan menimbulkan karma yang buruk bagi dirinya dan keluarganya.

  Waktu kita belum melakukan sujud dan kita seperti orang yang menganut suatu agama ya. Kita itu hanya mengandalkan pisik jasmaninya saja tapi setelah kami menemukan pisik jasmani dan rohani kita bisa bersatu, kita damai (52-57). apa yang kita hadapi tuh kita bisa mengerti dan kita akan berbuat tuh dalam hati sudah berkata itu tidak baik kalau ingin yang berbuat kejahatan ya, nanti kita ada yang ngandani lah bahasa jawanya (58-62).

  Ada berbagai pengalaman yang Sn ceritakan yang berkaitan dengan hubungannya dengan Tuhan nya. Ketika istrinya terserang tumor di leher, dokter sudah melakukan operasi sampai 3 kali namun masih saja tumor itu tetap tumbuh, Sn kemudian memasrahkan semua kepada Tuhan dan memohon agar istrinya dapat disembuhkan dan kesembuhanlah yang akhirnya dia dapatkan. Sn juga menceritakan bagaimana dia dan keluarganya dapat terselamatkan ketika gempa besar melanda Yogyakarta. Sn menceritakan bagaimana Tuhan menyelamatkan dia dan keluarganya ketika gempa itu datang, Sn dan keluarga masih diijinkan untuk bisa keluar dari rumah sebelum rumah itu roboh. Oleh Sn, Tuhan dipandang sebagai suatu kekuatan yang mampu mengatasi semua ketakutan.

  Kemaren tu saya menghadapi contoh ya, istri saya sakit keras, yang paling parah itu pengalaman saya tu istri saya kena penyakit tumor itu di leher, bengkak, besar itu kan. Sama dokter udah dioperasi 3 kali, masih tumbuh trus. Akhirnya saya udah kebingungan ya ga punya apa-apa, operasi trus. Ya sudah akhirnya saya pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan memberikan permohonan saya, istri saya bisa sembuh tanpa mengeluarkan biaya apapun (71-80). waktu gempa itu lo kita diberi keselamatanlah, rumah runtuh kita bisa diluar semua baru rumahnya runtuh (99-

  100).

  Oleh Sn, sujud dimaknai sebagi suatu pegangan dalam hidupnya yang Sn pakai sebagai suatu acuan dalam berperilaku maupun sebagai sarana untuk memohonkan ampun kepada Tuhan nya bila selama hidupnya Sn telah melakukan suatu kesalahan untuk menghindari karma bagi dirinya dan keluarganya.

  Makna saya tu, sujud tuh suatu pegangan ya, pegangan hidup (112-114).

  c.

  Wm Latar belakang Wm melakukan sujud adalah Wm tidak menemukan apa yang selama ini ingin dia cari dari agama yang telah dia anut, Wm tidak menemukan “rasa” yang selama ini ingin dia temukan. Namun ketika dia mengenal tentang sujud, Wm merasa bahwa ini yang dia cari. Sujud tidak dapat begitu saja dengan mudah dipahami, tidak asal menghapal ucapan dan gerakan kemudian selesai seperti di agama-agama yang dia anut. Selain itu latar belakang Wm melakukan sujud juga dikarenakan latar belakang ekonomi yang rendah, Wm merasa dengan melakukan sujud kehidupan ekonominya bisa meningkat.

  Kita ya sujud itu memang membutuhkan suatu perjuangan, perjuangan untuk sujud itu tidak semudah seperti orang-orang lain di dalam ajaran yang lain seperti yang pernah saya lakukan seperti Islam ya, dulu kan saya juga sholat ya. Itu tidak seperti ini, kan asal hapal, diucapkan bergerak seperti itu selesai (227-233). kehidupan bisa meningkat (276).

  Wm merasa bahwa sensasi fisik dari setiap orang sifatnya rahasia dan hanya bisa dipahami oleh individu- individu itu sendiri.

  Ketika sujud Wm merasakan adanya suatu gelombang-gelombang yang berjalan tanpa menceritakan dan menjelaskan secara lebih mendetail mengenai gelombang- gelombang itu. Ketika mulai melakukan sujud, meskipun dalam keadaan gelap, Wm melihat suatu cahaya yang menutupi semua yang ada di depan nya. Selain itu Wm juga merasakan adanya tekanan yang berat sekali yang memaksanya untuk memejamkan matanya, dan Wm merasa tidak mampu untuk membuka matanya bahkan untuk membuka sedikitpun Wm merasa tidak mampu. Wm juga merasa mendengar sesuatu yang berkata kepadanya dan Wm berusaha untuk menirukannya dengan mengucapkannya. itu seperti gelombang-gelombang rasa yang berjalan (78- 79). walaupun mata kita memandang melek begini ya karena awalnya kan juga melek ya tapi apapun yang ada di depan kita ga kelihatan yang kelihatan cuma cahaya, walaupun dalam keadaan gelap akan timbul cahaya (154-

  158)

  Kalau mata sudah menutup dengan sendirinya, mata dibuka pun kita tidak mampu membuka gini tuh kita tidak mampu. Ya rasanya berat sekali, menutup akhirnya nanti kita merasakan lagi ada yang asma 3 itupun juga, kita mendengarkan dan menirukan jadi disana ada yang mengatakan. Kita dengar, kita disini didalam hati

  (250-257).

  jasmani menirukan apa yang diucap itu tadi

  Dengan melakukan sujud, Wm merasakan suatu kebahagiaan dan keindahan bila sujud yang dilakukannya dapat ia hayati dengan baik dan berhasil.

  Itu kalau betul-betul bisa seperti itu setiap hari hebat, indah, kebahagiaan yang didapat (257-259).

  Ketika sujud, Wm melihat suatu cahaya yang berasal dari Tuhan sebagai tanda bahwa Wm masih diberikan suatu kehidupan karena ketika cahaya itu tidak ada lagi maka begitupun juga kehidupan manusia. Wm menekankan bahwa sesungguhnya Tuhan itu ada di dalam ha ti kita, kita tidak perlu bersusah-susah mencari Nya. Yang kita butuhkan hanyalah keinginan dan niat kita untuk bersatu dengan Tuhan melalui doa. walaupun dalam keadaan gelap akan timbul cahaya. Sinar itu muncul darimana? Dari sana yang memancarkan, semua manusia yang masih hidup di dunia ini dipancari oleh sinar Allah. Kalau tidak mendapatkan sinar Allah ya... kita tidak hidup lagi... karena rohani manusia adalah bagian dari sinar Allah sendiri, jadi dimana Tuhan itu? Ada di dalam kita, ga usah mencari kemana- mana. Gitu to? Kalau kita sudah berdoa gini dimana? Ya di dalam hati kita kan? Tidak dimana- mana kan Tuhan itu, buat apa kita jauh-jauh? Kita diam..seperti sujud itu juga, mampu ga jiwa saya menyatu dengan Yang Maha Kuasa (157-169).

  Ada banyak manfaat yang dirasakan Wm dari sujud. Sujud oleh Wm dianggap mampu untuk mengurangi hawa-hawa napsu yang ada di dirinya dan Wm menjadi lebih mampu untuk mengendalikan dirinya dan sifat-sifat dengki dan amarah yang ada di dirinya. Dengan sering melakukan sujud, Wm percaya hal itu akan membawa kedamaian, kebahagiaan dan ketentraman dalam pribadinya. Selain itu sujud juga dipercaya oleh Wm dapat meningkatkan taraf hidupnya, Wm banyak bercerita bagaimana sekarang dia sudah memiliki rumah sendiri sebagai buah dari sujud. Sujud dianggap mampu untuk mengabulkan semua keinginan dan cita-cita dari Wm dan kadang itu terjadi tanpa dia sadari bagaimana hal itu bisa terjadi.

  Setelah sujud, kita melaksanakan sujud ini, kita mengolah rasa akhirnya dengan hawa napsu- napsu itu bisa berkurang dari sedikit (7-10). dengan orang lain tidak punya rasa dengki, atau ingin marah walaupun kita diterpa oleh perkataan-perkataan yang ga pas dengan rasa kita, kita bisa mengendalikan diri, itu hasil dari sujud (13-16). Jadi semakin lama kita semakin sujud dan kita mau tekun dengan sujud, kita akan membuahkan rasa damai, bahagia dan ketentraman dalam pribadi...gitu (16-19). Kehidupan sehari-hari juga ada perubahan. Perubahannya banyak mas misalnya dulu kita ga punya rumah dengan sujud begini kita dapat bangun rumah, kehidupan bisa meningkat (273-276) Apa yang saya inginkan, apa yang saya cita-citakan terlaksana dengan kita tidak tau

  (317-318).

  Semua pengalaman Wm membawa pengaruh ke kehidupannya sehari- hari. Wm menjadi lebih pasrah menerima apapun yang diperuntukkan baginya karena bila ada sesuatu musibah yang menimpanya, dia percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang lebih baik lagi baginya. Di dalam berperilaku khususnya dalam mengucap, Wm menjadi lebih hati- hati karena ada ketakutan dari dia bila nantinya apa yang dia ucapkan terpengaruh oleh emosinya dan hal itu benar- benar terjadi maka hal itu akan mengakibatkan efek yang buruk bagi dirinya maupun orang lain. Wm selalu mengintrospeksi dirinya, dan melihat kembali kesalahan-kesalahan apa yang telah dia perbuat dan memohonkan ampun kepada Tuhan atas kesalahan-kesalahan yang telah dia perbuat.

  Ini sudah kehendak Tuhan, kita monggo, saya serahkan asal nantinya jadinya lebih baik lagi dari yang sekarang

  (311-313).

  Ini dalam ajaran Sapta Darma, maka kalo orang-orang dalam Sapta Darma jangan sekali-kali, belajarlah berkata baik dan benar. Karena apa? Apa yang dikatakan nanti bisa terjadi sungguhan, itu yang kasihan

  (385-389).

  kalo kita merasa sakit kita harus introspeksi, menelurusi kesalahan-kesalahan yang pernah kita buat kita mohonkan ampun, kalo ngga suatu saat kita akan melihat kesalahan saya (403-407)

  Wm juga menceritakan bagaimana pengalamannya di dalam relasinya dengan Tuhan nya. Ketika Wm akan membangun rumah tapi dana yang dimilikinya sangat terbatas, dengan percaya dan yakin kepada Tuhan bahwa Dia akan membantunya, rumah itupun jadi. Hal ini menjadi pertanyaan dari sejumlah orang dan bagi diri Wm sendiri, bagaimana hal itu terjadi karena bila dilakukan kalkulasi, dana yang dimiliki oleh Wm tidak mungkin dapat menyelesaikan rumah itu tanpa bantuan dana dari luar. Oleh Wm, Tuhan dianggap sebagai suatu kekuatan yang selalu memberikan jalan yang kadang tidak dapat dia pahami bagaimana hal itu dapat terjadi, karena hal itu merupakan sesuatu yang mustahil bagi dirinya dan orang lain. Wm merasa bila Tuhan sudah berkehendak, maka tidak ada yang mustahil bagi Nya. Wm merasa heran, kadang dia sering mengucapkan kata-kata yang dia sendiri tidak tahu kenapa subyek mengatakan itu, Wm menganggap itu sebagai petunjuk dari Nya akan sesuatu hal yang nantinya dapat digunakan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi kemudian.

  Saya bangun rumah ga punya duit. Uang 30 juta, material yang ada cuma kusen pintu sama jendela jangan daun pintu sama jendela. Padahal saya tanya sama yang mborong tenaga, rumah saya karena terlalu gede ya. Itu biaya tukangnya saja sudah 28 juta itu belum finishing, baru buat pondasi sampai batu bata naik masang itu kusen-kusen sama sampai gendeng, itu belum semuanya ya. Itu sudah 28 juta, uang tingal 2 juta. Apa mungkin itu terjadi kalau itu bukan kehendak Tuhan? Dengan saya yakin seyakin-yakinnya, Tuhan akan memberikan saya rumah, jadi ...(281-293). karena saya yakin kalo kita dekat dengan Tuhan, maka kita akan dibimbing, diberi petunjuk walaup un kadang- kadang kita itu sok-sok ga mudeng ya, sampai-sampai saya kok gak mudeng apa yang saya katakan itu seolah- olah keluar dari mulut karena saya (365-370).

  Sujud oleh Wm dimaknai sebagai suatu perjuangan yang harus dilakukan oleh setiap orang untuk memohonkan pengampunan dari Nya atas semua kesalahan-kesalahan yang pernah subyek perbuat. Selain itu sujud juga dianggap sebagai suatu syarat untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup. itu artinya kita dapat bahagia di dunia ini dan bahagia nanti di alam langgeng sana untuk mencapai itu maka kita dengan sujud tekun (22-25). Kita ya sujud itu memang membutuhkan suatu perjuangan (227-228).

2. Kategori Hasil Penelitian

  No Kategori Subyek Subyek Subyek

  I II

  III

  1 Latar belakang melakukan sujud

  a. v Merasa cocok b.

  Ada perasaan misteri sekaligus rasa ingin tahu v c. v

  Menghindari karma d. v v

  Krisis ekonomi e. Dianggap sebagai suatu perjuangan v

  2 Sensasi fisik yang dirasakan ketika sujud a. v v

  Ada getaran yang berjalan b.

  Mata akan tertutup dengan sendirinya v v c. v

  Lidah terasa seperti disetrum d.

  Tubuh membungkuk dengan sendirinya v e. v v v

  Melihat cahaya f. Mendengar dari sesuatu yang tak tampak v

  3 Sensasi psikologis yang dirasakan ketika sujud a. v

  Merasa tenang

  b. v Merasa tidak ada beban c. v

  Damai d. v

  Tenteram e. v

  Ayem f. v

  Indah g. v

  Bahagia

  4 Pengalaman akan Tuhan ketika sujud

  a. v v Pertemuan dengan Tuhan

  b. v Bersatu dengan Tuhan c.

  Melihat atau mendapatkan cahaya dari Tuhan v v d. v

  Tuhan dilihat sebagai cahaya e. v

  Tuhan sebagai Sang Pemberi f. Tuhan ada di dalam hati manusia v

  6

  Selalu berusaha cukup di dalam kekurangan c.

  Adanya perintah dari yang tak tampak c.

  Tuhan sebagai pemberi kesemb uhan b.

  Pengalaman di dalam relasi mereka dengan Tuhan nya a.

  Adanya ketergantungan kepada Tuhan g. Lebih menjaga perkataan h. Melakukan instropeksi diri

  Merasa damai e. Adanya suatu ketakutan akan suatu akibat yang ditimbulkan melalui kesalahan yang akan dibuat f.

  Mampu mengendalikan godaan yang datang d.

  Merasa lebih tenang b.

  7 a.

  Pengaruh ke dalam kehidupan sehari- hari a.

  Mampu memberikan perasaan kedamaian, kebahagiaan dan ketentraman h. Meningkatkan kehidupan ekonomi

  Mampu mengendalikan rasa dengki dan amarah g.

  Bisa membantu menemukan apa yang selama ini ingin dicari f.

  Menghilangkan getaran-getaran yang kurang baik e.

  Pembenahan pribadi c. Kesehatan tubuh serta alat- alatnya d.

  Napsu dapat terkendali b.

  Tuhan dianggap sebagai yang mengatasi semua bencana dan permasalahan hidup d. Tuhan sebagai pemberi mukjizat v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v

  8 Makna sujud

  a. v Sebagai suatu kewajiban b. v

  Pegangan c. Syarat untuk mencapai kebahagiaan v d. v

  Sebagai suatu perjuangan G.

   Pembahasan 1. Pembahasan Tiap Kategori a.

  Latar Belakang Subyek Melakukan Sujud Kategori ini menjelaskan bagaimana latar belakang para subyek berkeinginan untuk melakukan sujud. 2 dari 3 subyek mengatakan bahwa mereka melakukan sujud dikarenakan latar belakang ekonomi mereka yang jauh dari cukup. Mereka menganggap bahwa dengan melakukan sujud mereka akan mendapat kehidupan yang sejahtera baik itu di kehidupan sekarang ataupun di kehidupan akherat nantinya.

  Dari situ tampak bagaimana sujud dipandang oleh para subyek sebagai suatu ritual yang mampu menyelesaikan permasalahan yang mendasar di kehidupannya, konsep ini sesuai seperti yang sudah dikonsepkan sebelumnya oleh Malinowski dan Eliade ( dalam Diaz & Sawatzky, 1995) yang menganggap bahwa ritual merupakan aturan dari suatu budaya yang mendasari semua kehidupan manusia, sehingga dengan melakukan ritual, manusia akan mampu menyelesaikan semua permasalahan yang mendasar di hidupnya.

  Selain itu ada juga subyek yang melakukan sujud dikarenakan adanya suatu perasaan cocok ketika mendapatkan cerita dari temannya yang baru melakukan sujud sehari semalam yang membuatnya otomatis ingin disujudkan tanpa alasan yang jelas. Hal ini menunjukkan adanya suatu rasa misteri dan rasa ingin tahu yang menjadi satu dari subyek yang menggerakannya untuk disujudkan, oleh subyek sujud dianggap sebagai yang mampu memfasilitasi kehadiran Tuhan. Rasa misteri dan ingin tahu yang menjadi satu ini bisa dikatakan sesuai dengan apa yang sudah dijelaskan sebelumnya oleh Otto ketika manusia bersentuhan dengan “Wholly Other”, perasaan ini dapat muncul ketika manusia bersentuhan dengan Yang Suci yang dikenal sebagai The Numinous yang merupakan suatu misteri yang mencakup perasaan tremendum sekaligus fascinosum (1959).

  Latar belakang lain yang membuat salah satu subyek melakukan sujud adalah dikarenakan adanya suatu daya tarik yang mampu mengatasi ketakutan-ketakutannya terhadap karma yang nantinya bisa menimpa dirinya atau keluarganya akibat kesalahan- kesalahan yang pernah dia perbuat semasa hidupnya. Ada juga subyek yang mengatakan latar belakang kenapa dia melakukan sujud dikarenakan selama ini dia tidak dapat menemukan “rasa” yang ingin dicarinya dari agama-agama yang telah dia pelajari sebelumnya namun justru dia temukan dengan melakukan sujud.

  b.

  Sensasi Fisik Yang Dirasakan Subyek Ketika Sujud

  Kategori ini mencoba menceritakan apa saja sensasi fisik yang dirasakan oleh sebagian dari subyek atau semua subyek ketika mereka melakukan sujud. Ada getaran-getaran atau gelombang-gelombang yang berjalan yang berjalan dari silit kodok menuju ke ubun-ubun melalui sumsum tulang bekalang. Ketika sampai di ubun-ubun akan terasa suatu tekanan yang berat yang akan menutup kedua mata subyek. Getaran itu akan berjalan sampai ke lidah dan akan memunculkan sensasi setrum di lidah, setelah itu baru tubuh akan membungkuk dengan sendirinya. Ada juga subyek yang menceritakan bahwa subyek seperti mendengar suara yang kemudian berusaha dia tirukan. Semua sensasi yang dimunculkan melalui sujud mungkin akan dirasakan berbeda-beda bagi setiap subyek meskipun ada juga persamaan-persamaan yang mereka rasakan.

  Perbedaan ini bisa muncul tergantung dari bagaimana para pelaku sujud mau untuk meneliti semua sensasi yang mereka rasakan.

  Sujud sebagai salah satu contoh dari ritual religius, merangsang para pelakunya untuk melatih kepekaan indra- indra yang dimilikinya, karena memang ritual-ritual religius atau latihan-latihan religius didesain untuk merangsang indra-indra dalam tubuh khususnya mata, telinga, hidung, lidah dan organ-organ pengindraan lainnya (Wuff, 1997), sehingga salah satu penekanan sujud ada pada penelitian terhadap semua sensasi yang dirasakan oleh tubuh.

  c.

  Sensasi Psikologis Yang Dirasakan Subyek Ketika Sujud

  Kategori ini mencoba untuk menggambarkan semua perasaan yang dimunculkan ketika sujud. Para subyek menggunakan ungkapan kata-kata yang berbeda-beda dalam mengungkapkan perasaan mereka ketika melakukan sujud. Ketika melakukan sujud, para subyek merasakan suatu ketenangan, tidak ada beban, damai, tenteram, ayem, indah dan bahagia. Perasaan-perasaan yang dimunculkan oleh sujud sesungguhnya juga tidak dapat terlepas dari bagaimana para pelaku sujud merasakan sensasi fisik ketika melakukan sujud karena semua pengindraan baik itu sensasi fisik dan perasaan dimunculkan atau diproduksi melalui reaksi-reaksi dari organ-organ yang sama dalam tubuh manusia. Hasil dari pengindraan inilah yang nantinya dapat memunculkan pengalaman-pengalaman religius dari subyek. Tidak mungkin ditemukan adanya pengalaman religius yang tidak berhubungan dengan penginderaan karena sensasi dan perasaan- perasaan diproduksi oleh organ-organ internal dalam tubuh dan oleh reaksi-reaksi dalam tubuh (Wuff, 1997).

  d.

  Pengalaman Akan Tuhan Ketika Sujud Ketika melakukan sujud, para pelaku merasakan bagaimana mereka dapat berkomunikasi dengan Tuhan nya, sebagai bukti bahwa mereka telah terhubung dengan Tuhan nya mereka mengatakan bahwa mereka telah melihat suatu cahaya Allah. Ada 2 perbedaan bagaimana para pelaku memandang cahaya itu, salah satu subyek mengatakan bahwa cahaya itu adalah wujud dari Allah itu sendiri sehingga ia mengalami Tuhan secara langsung, namun subyek yang lain mengatakan bahwa cahaya itu merupakan pemberian Tuhan sebagai hadiah dan sebagai tanda bahwa mereka masih diberi kehidupan oleh Nya karena bila cahaya itu sudah tidak ada maka itu sama saja dengan kematian. Ada penekanan pada hening untuk dapat bersatu dengan Tuhan karena sesungguhnya Tuhan itu ada di dalam hati manusia, penyatuan inilah yang nantinya dikenal sebagai Manunggaling Kawulo

  Gusti yaitu istilah yang digunakan untuk menggambarkan penyatuan atau peleburan manusia sebagai “kawula” dan Tuhan sebagai “Gusti” .

  Ada ambivalensi yang dimunculkan ketika para pelaku sujud memandang Tuhan mereka, disatu sisi Tuhan dipandang sebagai Dzat yang Transenden namun disatu sisi Tuhan juga dipandang sebagai Dzat yang Immanent. Tuhan dipandang sebagai Dzat yang transenden ketika Tuhan dianggap sebagai Dzat yang mutlak yang tidak bisa digambarkan, berbeda dengan bila dipandang sebagai Dzat yang Immanen yang berpikir bahwa sesungguhnya Tuhan ada di alam ini dan menjadi bagian dari alam ini. Hal ini juga ditegaskan oleh Sofwan, bagaimana ambivalensi yang dimunculkan ketika kebatinan memandang Tuhan mereka, Tuhan dipandang sebagai yang Transenden dan sebagai yang Immanen (1999).

  e.

  Manfaat Yang Dirasakan Melalui Sujud Ada banyak manfaat yang didapat oleh para subyek melalui sujud. Oleh para subyek, sujud dianggap mampu untuk mengendalikan napsu- napsu yang mereka miliki, juga rasa dengki dan amarah mereka. Sujud juga bermanfaat untuk menyehatkan tubuh serta alat-alatnya dan menghilangkan getaran- getaran yang kurang baik yang menempel di tubuh. Secara psikologis pun, sujud dirasa dapat memberikan perasaan damai, kebahagiaan dan ketentraman dan dapat berguna sebagai pembenahan pribadi. Selain itu sujud juga dianggap mampu untuk menemukan apa yang selama ini dicari oleh subyek termasuk juga peningkatan kehidupan ekonomi dari subyek.

  f.

  Pengaruh Ke Dalam Kehidupan Sehari-hari Dari manfaat yang mereka rasakan, hal itu akan berpengaruh ke dalam kehidupan mereka. Sujud yang dianggap mampu untuk mengendalikan napsu-napsu yang mereka miliki, membuat mereka mampu untuk mengendalikan godaan- godaan yang datang, mencoba merasa cukup di dalam segala kekurangannya dan selalu berusaha menjaga setiap perkataannya. Tidak menutup kemungkinan kemampuan pengendalian diri ini juga dikarenakan adanya ketakutan dari subyek akan akibat dari kesalahan yang akan dia perbuat nantinya yang akan menyebabkan dirinya atau keluarganya akan mendapat karma yang buruk sebagai akibat dari perbuatannya. Kadang para subyek pun tidak mengetahui kesalahan-kesalahan yang pernah dia perbuat. Ketika musibah datang, mereka akan berusaha untuk memohonkan ampun kepada Tuhan dan mengintrospeksi dirinya sendiri, melihat kesalahan-kesalahan apa yang telah mereka perbuat dan bila mereka telah menemukannya mereka akan memohonkan pengampunan atas kesalahannya kepada Tuhan nya.

  Sikap pasrah para subyek dengan mengembalikan semua permasalahan kepada Tuhan, menunjukkan adanya suatu ketergantungan kepada Tuhan sehingga mereka selalu memasrahkan semua permasalahannya kepada Tuhan, karena mereka percaya bila Tuhan sudah berkehendak maka itu lah yang akan terjadi, mereka kadang merasa adanya suatu perintah dari yang tak tampak yang kadang mereka juga tidak tahu kenapa mereka mengikuti perintah itu.

  g.

  Pengalaman di dalam relasi mereka dengan Tuhan nya Kategori ini mencoba menggambarkan bagaimana pengalama n para subyek ketika mereka menjalin suatu hubungan dengan Tuhan nya, nantinya pengalaman ini akan membentuk konsep mereka tentang Tuhan nya. Dari pengalaman-pengalaman para subyek Tuhan dianggap sebagai suatu kuasa yang mampu memberikan penyembuhan dan pemberi mukjizat. Ada suatu daya tarik dari Nya yang mampu mengatasi semua ketakutan di dalam hidup para subyek baik itu bencana maupun semua permasalahan hidup subyek. 2 dari 3 subyek menceritakan mendapat suatu perintah dari yang tak tampak yang mereka anggap itu sebagai tuntunan atau petunjuk dari Tuhan, kadang mereka sendiripun tidak tahu darimana dan mengapa mereka mengikuti perintah itu.

  h.

  Makna Sujud

  Dari pengalaman-pengalaman yang didapat para subyek ketika mereka melakukan sujud, hal itu nantinya akan memunculkan penilaian mereka tentang sujud, bagaimana mereka memandang dan memaknai sujud. Subyek memaknai sujud sebagai suatu kewajiban, dengan mengingat bahwa manusia itu berasal dari Tuhan dan manusia harus wajib untuk sujud dan memohon ampun kepada penciptanya.

  Sujud juga dimaknai sebagai suatu pegangan hidup dimana nantinya akan selalu digunakan ketika subyek harus menyelesaikan semua permasalahan yang mendasar di hidupnya sebagai syarat untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akherat nantinya. Selain itu sujud juga dimaknai sebagai suatu perjuangan, karena untuk mendapatkan apa yang bisa difasilitasi oleh sujud bukanlah sesuatu yang mudah.

2. Pembahasan Umum Tentang Sujud dan Pengalaman Akan Tuhan

  Sujud sebagai salah satu contoh dari ritual mampu unt uk memunculkan suatu pengendalian diri dari para pelakunya. Hal ini bisa dikatakan bahwa salah satu tujuan dari ritual sujud ini adalah terbentuknya sikap untuk mampu mengendalikan diri atas semua napsu-napsu yang ada di diri manusia.

  Pengendalian diri yang muncul melalui ritual sujud maupun pengalaman akan Tuhan, ada kemungkinan bahwa itu merupakan bagian dari proses dan sekaligus hasil dari proses. Dengan melihat pengertian dari kebatinan secara umum, sebagai suatu usaha manusia untuk terus menerus mengolah batinnya untuk mencapai kesempurnaan hidup maka timbul suatu pengertian bahwa pengendalian diri yang dimunculkan baru suatu proses manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup. Hidup manusia pun selalu berproses dan tidak akan pernah statis. Jadi dapat dis impulkan bahwa pengendalian diri yang muncul melalui ritual maupun pengalaman akan Tuhan bisa dikatakan sebagai suatu efek namun juga dapat dikatakan sebagai suatu proses.

  Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Diaz dan Sawatzky, mereka melakukan penelitian terhadap ritual penduduk asli Amerika Utara. Ada penekanan bahwa dengan melakukan ritual para pelakunya menjadi mampu untuk melalui semua transisi kehidupan mereka, merasakan suatu rasa aman dan dukungan ketika mereka menghadapi permasalan-permasalahan dalam hidupnya serta menemukan kembali identitas sosial asli mereka sehingga memungkinkan terjadinya suatu perpaduan yang harmonis di dalam kehidupan mereka (van Gennep; McManus dalam Diaz & Sawatzky, 1995).

  Untuk bisa mendapatkan apa yang mampu difasilitasi sujud bukanlah sesuatu yang mudah, seperti apa yang dikatakan oleh salah satu subyek, sujud membutuhkan suatu perjuangan. Sujud dapat dikatakan berhasil dan dapat dikatakan gagal tergantung dari bagaimana kemampuan subyek untuk melakukan hening, bersikap pasif atau pasrah baik jasmani maupun rokhani dengan mengosongkan pikiran, menghilangkan semua angan atau gagasan-gagasan yang ada di pikiran, menghilangkan emosi- emosi dan napsu-napsu yang akan mengganggu jalannya sujud. Ketika terjadi suatu kegagalan melakukan hening maka tidak akan dirasakan suatu sensasi yang diharapkan, karena yang akan terjadi nantinya justru hanya asal bergerak dan asal mengucap seperti yang sudah dituliskan dalam ajaran Sapta Darma dan ini juga akan berakibat pelaku tidak akan mendapatkan manfaat yang bisa didapatkan melalui sujud dan juga tidak akan mempengaruhi ke kehidupan sehari- harinya.

  Jasmaninya diusahakan pasif, tidak hanya wujudnya jasmani ini saja tapi juga pikirannya juga pasif. Klo sudah bisa pasif semua pikiran, angan dan (SI, 72-75). sebagainya itu yang dinamakan ening

  Pertama waktu kita mau sujud saja sudah harus mengosongkan pikiran padahal mengosongkan pikiran sulitnya bukan main, loh iya toh, sulitnya bukan main. Kalo sudah baru dapat ketenangan, kalo sudah tenang baru kita dapat merasakan sesuatu atau yang disebut tadi rasa yang meliputi seluruh tubuh, lah inilah yang menggerakkan kita untuk manembah pada Tuhan, menggerakkan jasmani kita karena itu juga berjalan ya bergerak akhirnya kita dapat mengucap dengan ucapan yang ada betul-betul dari rasa kita atau dari roh kita, kalo bisa, kalo bisa itu karena tidak setiap hari mampu kita karena terpengaruh oleh perbuatan kita sewaktu kita bekerja di kantor atau bekerja dimana saja itu kan ada getaran- getaran yang menerpa kita, lah itu

(SIII, 38-53).

pengaruhnya besar sekali pada waktu sujud untuk menentramkan gagasan itu sulitnya bukan main ya akhirnya sujudnya ya itu tadi asal bungkuk asal ngucap sudah... lalu tidak menggunakan rasa karena rasa itu akan bergerak dan (SIII, 133-138). berjalan pada saat kita hening

  Itu karena pengaruh yang kita lakukan siang tadi, kadang sujud pun ga berhasil (SIII, 126-127). Sikap pengendalian diri para subyek dengan mengendalikan godaan- godaan yang datang, menjaga perilaku dan seringnya melakukan introspeksi diri yang menjadi pengaruh sujud di dalam kehidupan sehari- hari memunculkan suatu pertanyaan baru dalam penelitian ini. Apakah sikap pengendalian diri tersebut muncul dari sujud itu sendiri atau pengalaman mereka akan Tuhan nya melalui sujud yang justru lebih berperan dalam perubahan perilaku mereka?

  Untuk menjawab pertanyaan ini, maka terlebih dulu akan dilihat konsep Tuhan yang sudah terbentuk dari pengalaman masing- masing subyek akan Tuhan nya melalui sujud. Nantinya akan tampak adakah pengaruh pengalaman mereka akan Tuhan terhadap perilaku mereka sehari- hari.

  Oleh subyek I, Tuhan dipandang sebagai yang menciptakan manusia, sehingga manusia harus sujud kepada Nya. Tuhan juga dianggap sebagai pembimbing dan penuntun subyek di setiap kehidupannya. Ada sikap tunduk yang harus dilakukan oleh subyek untuk membalas apa yang telah diberikan oleh Nya kepadanya sehingga subyek memaknai sujud sebagai suatu kewajiban yang harus dilakukan manusia untuk membalas semua kebaikan yang telah diberikan oleh Nya.

  Dari konsep yang sudah terbentuk, bisa saja ini mempengaruhi bagaimana subyek akan berperilaku. Sikap subyek yang selalu mengendalikan dirinya dan nerimo bisa muncul karena subyek merasa apa yang telah diberikan oleh Tuhan sudah dirasa cukup olehnya dan untuk itu subyek harus membayarnya dengan berbuat seperti apa yang diinginkan oleh Nya.

  Melalui sujud, subyek II mengkonsepsikan Tuhan sebagai suatu daya tarik yang mampu mengatasi semua ketakutan-ketakutannya akan karma yang dapat berakibat buruk baginya maupun keluarganya. Subyek merasa bahwa selama melakukan sujud, Tuhan selalu memberikan apa yang diinginkannya. Ada keterpesonaan yang muncul ketika subyek bertemu dengan Tuhan nya. Dari situ ada kemungkinan bahwa subyek akan menjaga semua perilakunya yang bertentangan dengan Tuhan nya. Subyek merasakan ada suatu kekuatan yang menghalanginya melalui suatu “bisikan” bila perbuatan yang akan dilakukannya dirasa salah. Ada kehati- hatian subyek dalam berperilaku untuk terhindar dari kesalahan-kesalahan yang nantinya dapat mengakibatkan karma buruk bagi dirinya dan keluarganya.

  Oleh subyek III, Tuhan dipandang sebagai suatu kekuatan yang mampu mengatasi semua permasalahan hidup subyek, hal ini memunculkan ketergantungan dari subyek akan Tuhan. Setiap ada permasalahan yang sedang dihadapi, subyek selalu berusaha bersikap pasrah karena ada keyakinan dari subyek bahwa Tuhan akan memberikan sesuatu yang lebih baik lagi. Subyek selalu berhati- hati dalam berperilaku maupun mengucap karena ada ketakutan dari subyek bila apa yang di ucapkan bercampur dengan cahaya Allah dan diucapkan dengan emosi maka bisa berakibat fatal bagi orang lain maupun dirinya dikemudian hari. Subyek selalu mengintrospeksi dirinya untuk melihat kembali adakah kesalahan-kesalahan ya ng tidak berkenan di hati Tuhan, karena nantinya itu akan berakibat buruk bagi dirinya juga. Hal ini menunjukkan adanya ketakutan dari subyek akan hukuman- hukuman dari Tuhan akan kesalahan-kesalahannya, sehingga subyek di dalam berperilaku selalu berusaha dilandaskan oleh keyakinan akan Tuhan nya.

  Dari dinamika para subyek terlihat bagaimana sesungguhnya ada peran yang besar dari pengalaman mereka akan Tuhan ketika melakukan sujud terhadap perilaku mereka sehari- hari. Pengalaman mereka akan Tuhan membentuk suatu konsep akan Tuhan dimana itu akan menjadi landasan mereka untuk berperilaku. Tuhan dianggap sebagai sosok yang mampu mengatasi semua ketakutan, sebagai sang pencipta, sebagai sesuatu yang mempesona, sebagai yang mampu mengatasi semua permasalahan di dunia, sebagai sang pembimbing dan sebagai sang penghukum.

  Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Diaz dan Sawatzky (1995), penelitian yang mereka lakukan terhadap masyarakat asli Amerika Utara menemukan bahwa dengan melakukan ritual, para pelaku menjadi mampu untuk melewati semua transisi kehidupan mereka dan merasakan suatu dukungan dan kenyamanan dari lingkungan asli mereka ketika mereka kehilangan identitas sosial mereka di dalam masyarakat dan memungkinkan munculnya suatu perpaduan yang harmonis di dalam kehidupan mereka.

  Perbedaan ini bisa dimunculkan oleh beberapa faktor. Pengendalian diri yang dihasilkan melalui ritual sujud ada dugaan muncul dari bagaimana dosa selalu menjadi ancaman di dalam kehidupan kita yang sering kita dengar dari orang tua maupun para pemuka-pemuka agama. Apapun yang kita lakukan di dalam kehidupan kita, kita selalu berusaha untuk menghindari dosa dan menghindari suatu dunia yang dinamakan “neraka” oleh beberapa agama yang ada di Indonesia, terlepas dari ada tidaknya neraka itu. Ketakutan yang muncul ini mungkin melahirkan suatu sosok yang mampu untuk mengantarkan kita pada dunia yang lebih baik yang lebih kita kenal sebagai Tuhan. Tuhan digambarkan sebagai sosok yang mewakili semua kebaikan dan kebenaran di dunia.

  Denga n mengikuti semua perilaku dan aturan-aturan yang dibuat Nya, maka ada harapan dari para pelaku untuk terhindar dari kesalahan- kesalahan yang memungkinkannnya menjadi semakin dekat dengan neraka. Pencarian akan Tuhan juga hampir selalu menjadi pilihan akhir ketika manusia mengalami suatu permasalahan-permasalahan hidup yang tidak dapat mereka selesaikan. Ritual sujud dianggap oleh para pelakunya mampu untuk menghubungkan mereka dengan Tuhan. Pengalaman mereka akan Tuhan akan membentuk konsep mereka tentang Tuhan, Tuhan yang digambarkan sebagai yang mewakili semua kebaikan dan kebenaran di dunia akan berusaha dipahami oleh para pelaku dan dihayati di dalam hidupnya, inilah yang nantinya akan memunculkan suatu pengendalian diri di dalam kehidupan sehari-hari para pelaku sujud.

  Berbeda dengan apa yang dipahami oleh para pelaku ritual masyarakat asli Amerika utara, manusia datang di dunia sebagai mahluk yang murni dari ciptaan Sang Pencipta. Mereka belum pernah sekalipun mendengar cerita dari para sesepuh mereka bahwa manusia sudah berdosa sejak lahir atau selalu saja membicarakan dosa di dalam kehidupan mereka. Perbedaan pemikiran ini yang mungkin memunculkan bagaimana cara berpikir yang berbeda antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat asli Amerika Utara. Selain itu para pelaku ritual dari masyarakat asli Amerika Utara pun berangkat dari latar belakang pergolakan dari keterasingan diri mereka di dalam masyarakat, karena mereka merasa tidak memiliki identitas sosial asli mereka di dalam masyarakat saat itu. Sampai akhirnya ritual yang mereka lakukan membuat para pelaku menjadi lebih merasa diterima dan mereka akhirnya dapat menemukan kembali identitas asli mereka.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari penelitian yang dilakukan, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa

  ritual sujud yang menjadi ajaran di dalam Sapta Darma, mampu untuk memfasilitasi hadirnya suatu pengalaman religius. Untuk mendapatkan apa yang mampu difasilitasi oleh sujud dibutuhkan sikap hening baik itu jasmani maupun rohani yang menekankan pada sikap pasif fisik dan pikiran, sehingga ada kecenderungan bahwa para pelaku bisa gagal untuk mendapatkan apa yang mampu difasilitasi oleh ritual sujud dikarenakan gagalnya menekan semua gagasan dan emosi di pikiran mereka.

  Perbedaan sensasi fisik yang dirasakan oleh para pelaku disebabkan karena tingginya atau rendahnya kemauan dan kemampuan untuk berusaha meneliti dan memahami apa yang dirasakan ketika melakukan sujud. Ketika melakukan sujud, para pelaku sama-sama merasakan suatu kedamaian, ketena ngan dan perasaan terlepas dari semua beban.

  Pertemuan para pelaku dengan Tuhan nya ketika melakukan sujud memunculkan cara pandang yang berbeda. Suatu cahaya yang muncul ketika melakukan sujud dapat dianggap sebagai wujud Tuhan itu sendiri (Tuhan dipandang sebagai yang immanent) atau merupakan hadiah dari Tuhan sebagai tanda bahwa mereka masih mendapat anugerah dari Nya (Tuhan dipandang sebagai yang transenden). Konsep akan Tuhan juga dipengaruhi dari bagaimana para pelaku melihat peran serta Tuhan di dala m kehidupan mereka setelah melakukan ritual sujud.

  Ritual sujud yang memfasilitasi pengalaman religius menghasilkan suatu pengendalian diri. Pengendalian diri yang dimunculkan di dalam kehidupan sehari- hari subyek dapat muncul dari proses mereka mengenal Tuhan nya dan menghayati sifat-sifat Nya di dalam kehidupan mereka.

B. Keterbatasan Penelitian

  Beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan dalam penelitian ini yang berjudul “Pengalaman Religius Para Penganut Sapta Darma Yang Difasilitasi Oleh Ritual Sujud” ya itu: 1.

  Peneliti masih merasakan kurangnya kedekatan dengan subyek serta komunitas Sapta Darma sehingga ada kecenderungan data yang diperoleh dari subyek serta latar belakangnya kurang menyeluruh dan kurang dapat mewakili keadaan yang sebenarnya dari subyek.

  2. Jumlah subyek juga dirasa terlalu sedikit dan kurang dapat mewakili semua penganut Sapta Darma sehingga penyimpulan dirasa kurang dapat mewakili semua penganut Sapta Darma.

3. Peneliti merasa kurang menguasai ajaran-ajaran yang ada di dalam Sapta Darma.

  4. Peneliti masih merasa perlu untuk menambah referensi-referensi dari teori- teori yang mendukung penelitian ini serta penelitian-penelitian lain yang serupa dengan penelitian ini.

C. Implikasi Untuk Psikologi

  Penelitian ini memunculkan suatu pandangan yang berbeda di dalam teknik psikoterapi, khususnya di dalam pengendalian diri. Psikoterapi secara umum merupakan teknik yang secara psikologis berusaha untuk melihat dan menyelesaikan abnormalitas seseorang dengan berdasarkan pada pemikiran- pemikiran yang rasional serta prosedur yang jelas. Teknik yang diperoleh dalam penelitian ini sedikit meninggalkan rasionalitas yang menjadi landasan berpikir dalam psikoterapi. Tuhan yang oleh Otto dipandang sebagai yang merupakan suatu dunia atau dimensi yang mewakili semua

  numinous

  ketidak rasionalan dan juga memunculkan perasaan misteri baik itu yang mempesona dan menakutkan secara bersamaan, dimunculkan dalam ritual sujud. Hadirnya Tuhan mampu memunculkan pengendalian di dalam diri subyek. Pengendalian diri ini terbentuk dari konsep Tuhan yang sudah terbentuk melalui sujud.

  Selain itu didalam psikoterapi subyek akan cenderung diposisikan sebagai seseorang yang terganggu, berbeda dengan teknik ini yang membuat subyek justru merasa “lebih” dikarenakan adanya pemikiran yang memunculkan kepercayaan diri di dalam diri subyek bahwa dia mampu untuk sendiri menyelesaikan permasalahan di dalam dirinya. Ada pemikiran yang ditanamkan kepada para penganut Sapta Darma bahwa mereka tidak boleh bergantung kepada orang lain dan mereka harus percaya kepada diri sendiri bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan- permasalahan hidupnya dan bahkan mereka mampu untuk membantu orang lain (Pawenang, 1962). Penempatan posisi ini mungkin dapat dipertimbangkan oleh psikoterapi untuk pengembangan teknik-teknik di dalam psikoterapi.

  Dihilangkannya hubungan antara status psikoterapis dan klien yang terganggu dengan dirubah menjadi manusia yang sama-sama merupakan mahluk yang berakal budi dan mahluk hidup yang tertinggi statusnya dibandingkan dengan mahluk hidup lain yang ada di bumi diharapkan dapat memunculkan perasaan lebih dari klien untuk meningkatkan keyakinan bahwa sesunguhnya mereka bukanlah orang yang terganggu tetapi itu hanyalah proses yang harus mereka lewati dan mereka mampu untuk melewati semua itu.

  Melalui sujud, para pelaku diajak untuk lebih aktif mengenal dan memahami diri mereka sendiri dengan melakukan komunikasi intrapersonal dengan diri mereka sendiri dan mencoba merasakan semua sensasi yang dirasakan oleh tubuh dan mengembangkan semua indera yang mereka miliki.

  Para pelaku sujud berusaha untuk melihat kembali reinforcement dan ganjaran yang mereka dapatkan dari setiap perilakunya. Ada kebutuhan yang harus diseimbangkan di dalam diri manusia menurut Sapta Darma yaitu kebutuhan jasmani dan rohani. Pengenalan terhadap diri sendiri mungkin perlu ditekankan di dalam teknik psikoterapi untuk lebih mempertanggung jawabkan semua perilaku kepada dirinya sendiri dan bukan kepada pihak- pihak di luar dirinya, nantinya hal ini diharapakan mampu untuk memunculkan suatu pengendalian diri yang kuat dan sehat karena pengendalian diri yang muncul datang dari dalam dan bukan pengendalian dari pihak luar.

D. Saran

  Dari penelitian ini diharapkan akan lebih banyak lagi para peneliti yang tertarik untuk mempelajari ritual budaya di Indonesia dan manfaatnya bagi kehidupan umat manusia. Penelitian ini juga diharapkan dikembangkan dengan menambah jumlah subyek dengan pembatasan kriteria yang lebih khusus agar faktor-faktor lain diluar penelitian dapat terkontrol. Bagi peneliti selanjutnya diperlukan persiapan yang lebih matang sebelum melakukan penelitian kualitatif studi deskriptif, terutama mempelajari dan mempersiapkan keahlian dalam menjalankan proses penelitian sehingga dapat meminimalkan kekuranga n yang berkaitan dengan proses penelitian tersebut.

  Perlunya membuat perbandingan dengan penelitian lain yang sejenis memungkinkan munculnya perspektif-perspektif baru yang dapat memperkaya hasil penelitian. Hasil yang akan didapat tentu akan menjadi jauh berbeda bila kita membandingkan hasil penelitian kita dengan penelitian lain yang sejenis.

  Oleh karena itu diharapkan peneliti-peneliti baru nantinya dapat mempertimbangkan hal ini untuk memajukan ilmu psikologi khususnya.

  

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsini (1996). Prosedur penelitian: Suatu Pendekatan Praktek .

  Yogyakarta: PT Rineka Cipta. Crapps, W. Robert (1993). Dialog Psikologi dan Agama. Yogyakarta: Kanisius. Diaz, Sandra & Sawatzky (1995). Rediscovering Native Rituals: “Coming Home To My Self”. The Journal of Transpersonal Psychology Vol. 27, No. 1.

  Dhavamony, Maria (1995). Fenomenologi Agama. Yogyakarta: Kanisius. Endraswara, Suwardi (2003). Mistik kejawen : sinkretisme, simbolisme dan sufisme dalam budaya spiritual Jawa . Yogyakarta : Narasi.

  Geertz, Clifford (1963). Agricultural Involution: The Processes of Ecological

  Change in Indonesia

  . Berkeley and Los Angeles: University of California Press. Giri (2003). Makna Kebahagiaan Menurut Pengikut Aliran Kebatinan Sapta Darma . Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Habel, Norman, O'Donoghue, Michael and Maddox, Marion (1993). 'Religious experience'. In: Myth, ritual and the sacred. Underdale: University of

  South Australia dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Religious_experience. (dikutip tanggal 2 Agustus 2007) Hadiwijono, Harun (1999). Kebatinan dan Injil. Jakarta: Gunung Mulia.

  Hadiwijono, Harun (1967). Man in the Present Javanese Mysticism. Baarn: Bosch en Keuning N. V. James, W. (1958). The Varieties of Religious Experience. United States of America: The New American Library of World Literature, Inc. Kartapradja, Kamil. Prof. (1985). Aliran Kebatinan dan Kepercayaan. Jakarta: Yayasan Masagung. Maria (2006). Realisasi Diri Penganut Kerokhanian Sapta Darma Menurut

  Perspektif Carl Gustav Jung . Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.

  Mulder, Niels, Dr. (1983). Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa.

  (Terjemahan: Nugroho, Alois, A, Drs). Jakarta: Gramedia. Otto, Rudolf (1959). The Idea of the Holy. (tanslated by: John W. Harvey). Great Britain: Penguin Books. Paloutzian, F. Raymond (1996). Invitation To The Psychology of Religion. USA: Ally & Bacon. Pawenang, Sri. (1962). Wewarah Kerokhanian Sapta Darma. Yogyakarta: Sekretariat Tuntunan Agung Unit Penerbitan Surokarsan. Pawenang, Sri. Dasa Warsa Kerokhanian Sapta Darma. Yogyakarta: Sekretariat Tuntunan Agung Unit Penerbitan Surokarsan. Pawenang, Sri. Pedoman Penggalian Pribadi Manusia Secara Kerokhanian Sapta

  Darma

  . Yogyakarta: Sekretariat Tuntunan Agung Unit Penerbitan Surokarsan. Poerwandari, Kristi E. (1998). Pendekatan Kualitatif Dalam Penelitian Psikologi.

  Jakarta: LPSP3 Universitas Indonesia. Religious Experience dalam http://www.britannica.com/eb/article-

  9109480/religious-experience. (dikutip tanggal 7 Agustus 2007)

  Ritual and Religious Experience: William James and the Study of Alternative Spiritualities dalam Cross Currents, Fall 2003, Vol. 53, No 3. Ritual dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Ritual. (dikutip tanggal 2 Agustus 2007) Sofwan, Ridin Drs. H. (1999). Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan. Semarang: Aneka Ilmu. Soesilo (2004). Kejawen : philosofi & perilaku. Jakarta: Yayasan "Yusula". Syukur, Nico, Dr. (1988). Pengalaman dan Motivasi Beragama. Yogyakarta: Kanisius. Swinburne, Richard (1991). The Existence of God. Oxford University Press, pp254-271 dalam

  http://philosophyofreligion.info/religiousexperience.html. (dikutip tanggal

  10 Agustus 2007) Thomas, David, R. (2003). A General Inductive Approach for Qualitative Data

  Analysis . New Zealand: University of Auckland.

  Wuff, M. David (1997). Psychology of Religion Classic & Contemporary. USA: John Wiley & Sons, Inc.

  LAMPIRAN Transkrip Verbatim Subyek I Nama : Waridjan Setyoatmojo Umur : 75 tahun Waktu wawancara : Kamis, 6 September 2007

  

Bapak mulai melakukan sujud sejak kapan pak? Mulai sepuluh November lima puluh

  enam sampai sekarang sudah berapa lama itu…mulai saya umur 25. Selama bapak

  

melakukan sujud, ada pengalaman apa saja pak? Kalo dari pengalaman yang bersifat

rohani, yang bersifat abstrak ga ada. Hanya dalam perasaan saya merasa cocok begitulah.

  Begitu saya diberi cerita, diceritani tentang Sapta Darma. Itu yang me nceritani itu juga baru berpengalaman satu hari satu malam. Baru belajar sujud satu hari satu malam, lalu bercerita pada saya. Saya kok otomatis minta dituntuni, minta disujudkan. Akhirnya disujudkan saja dan waktu itu yang diceritakan pada saya hanya caranya sujud. Setelah dituntuni belajar sujud, hanya diberi pesan supaya nanti dipraktekkan, dalam praktek ini yang maksudnya disambil praktek sujud setiap hari juga dipesan supaya dibuktikan dengan modal merasa mampu untuk memberikan pertolongan pada orang lain, terutama orang sakit. Dari sedikit, perasaan saya menjadi tambah percaya dan bertambah yakin itu karena hasil dari pengobatan itu. Yang pertama anak saya yang pada waktu itu berumur 3 bulan itu sakit perut kemudian saya hanya hening, mengheningkan cipta. Klo memusatkan kan hanya hening saja, hanya diam, dalam hati menyatu dengan Tuhan kemudian disabdakan, sabda waras. Hanya sabda waras itu sabdanya kemudian anak saya menjadi sembuh. Demikian pula murid saya, saya kan seorang guru. Yang pertama kali menjadi kejutan atau menambah keyakinan saya, murid saya bermain- main, jatuh kemudian tak bernapas. Kemudian saya meminta anak-anak lain untuk meletakkannya di meja. Saya belum diberitahu tp kok saya ada perasaan jari-jari saya diisi, jari-jari tengah saya ini saya pegangkan pada pusat kemudian saya luhurkan asma Allah, Allah Hyang Maha Agung, Allah HyangRohkim, Allah Hyang Maha adil dan saya sabda waras, anak itu seketika bangun trus lari- lari lagi. Itu yang membuat saya tambah yakin dan banyak lagi. Beberapa hari kemudian ga sampai lama ada tetangga yang istilahnya apa itu ya, kesurupan, kemasukan roh jahat. Sudah dipanggilkan yang namanya mbah Joremi yang biasanya memberikan penyembuhan, itu ndak mampu. Akhirnya saya kok merasa kasihan saya melihat merasa kasian, anak-anak masih disekolah itu, akhirnya timbul rasa untuk memberi penyembuhan, pangusadan. Itu otomatis saya ini, ini ada seperti ada setrumnya ini di driji dua ini, ini saya tunjukkan pada ketiaknya dua-duanya nah itu roh yang ada di dalamnya itu lari, orangnya trus sadar. Nah setelah sadar, juga belum pernah saya diberitahu sebelumnya oleh orang yang menuntuni saya itu klo sudah begitu ini tuh diping (menunjukkan telapak tangan, perut, dahi)maksudnya menutup agar rohnya itu tidak bisa kembali lagi. Itu yang menambah saya menjadi tambah yakin, tambah tekunlah saya sujud. Jadi kemudian timbul pengertian bahwa sujud itu terutama disamping merupakan kewajiban didalam hidup kita ini berasal dari Yang Maha Kuasa maka kita harus sujud kapada Yang Maha Kuasa. Yang sujud itu hidup kita ini, jasmaninya hanya ikut saja membungkuk tiga kali. Itu yang menyebabkan saya bertambah yakin dan banyak lagi. Bukan hanya puluhan tp sudah ratusan. Tentang sujud itu setiap hari wajib menurut petunjuk di buku yang sudah tertulis, satu hari satu malam 24 jam minimal satu kali, itu yang benar tp lebih dari satu kali lebih baik. Tapi satu kali sudah dapat melakukan sujud benar-benar itu sudah baik. Ketika bapak melakukan sujud, bisa

  

dijelasin apa yang bapak rasakan? Oh iya jadi pada waktu sujud, kita merasakan.

  Pertama-tama teori sujud kan duduk bersila (kemudian menunjukkan posisi sujud yang benar). Setelah duduk di mori putih itu terus duduk bersila untuk bapak-bapak, duduk bertimpuh untuk ibu. Lalu sedakep, klo sudah sedakep, jasmani sudah diatur kemudian mulai rohani sekarang yang harus bekerja. Jasmaninya diusahakan pasif, tidak hanya wujudnya jasmani ini saja tapi juga pikirannya juga pasif. Klo sudah bisa pasif semua pikiran, angan dsb itu yang dinamakan ening. Dalam situasi ening itulah rasa istilah lainnya rohani itu akan aktif melaksanakan sujud itu terasa, rasanya giming- giming gitu. Pokoknya ada rasa yang berjalan mulai dari kaki. Dia akan naik ke atas, ini mata masih terbuka. Nanti klo sudah dikepala nanti akan terasa berat. Nah setelah berat nanti diperhatikan trus sampai menyatu di ubun-ubun ini. Setelah menyatu di ubun-ubun ini barulah nanti akan turun ke bawah menutup mata sampai di mulut, ujung lidah nanti di ujung lidah akan terasa yang istilah jawanya pating trecep, seperti ada setrum. Ini nanti klo sudah ada setrum listrik itu, ini otomatis perhatian rohani trus merasa menghadap kepada Yang Maha Kuasa kemudian meluhurkan asma Allah yang bunyinya Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Rokhim, Allah Hyang Maha Adil. Kemudian setelah itu nanti ada rasa lagi turun ke bawah. Rasanya enak gitu, tenang, dalam perasaan tenang sekali, pokoknya ga da beban apa-apa sampai rasa itu menyentuh disini (menunjukkan titik di bawah pusar). Istilahnya dalam Sapta Darma sampai di bundelan tali roso do, klo menurut Sapta Darma kan ada dua belas saudara antara lain yang namanya Sukmo Kencono nanti klo sudah sampai disini maka kita tingkatkan ening kita, lebih pasif lagi, angan-angan tidak boleh bekerja. Nanti akan ada rasa yang datang dari tulang ekor, dari sana akan ada rasa yang naik lewat sumsum tulang belakang, naik ke atas sampai menyatu diubun- ubun. Klo sudah sampai di ubun-ubun pada waktu ini badannya sudah membungkuk dengan sendirinya. Pada waktu disini ditahan sedikit (posisi memb ungkuk kepala menempel di lantai) trus sampai di mori putih nah ini rasa yang dari sumsum tulang belakang sudah sampai di ubun-ubun kemudian dirasakan lagi keujung lidah, sampai di ujung lidah nanti kita seakan-akan menyatu lagi atau kontak dengan Yang Maha Kuasa dengan mengucap sujud, ucapannya Hyang Maha Suci sujud Hyang Maha Kuasa 3 kali diucapkan lalu kembali tegak. Mengapa Hyang Maha Suci yang mengucap sujud? Karena yang sujud itu rasa kita, ya sinar atau nur kita yang berasal dari Hyang Maha Kuasa itu yang berhak sujud. Jadi manusia itu yang bisa sujud hanya nur kita, jadi klo sudah bisa rasa yang meliputi seluruh tubuh kita sudah tersaring klo sudah jadi nur, nur itulah yang bisa sujud kepada Hyang Maha Kuasa. Jadi tidak cukup hanya ucapan, jadi yang mengucap itu nur tadi istilahnya dalam batin jadi mengucap dalam batin.

  Sesudah mengambil sujud ini dirasakan dari ubun-ubun turun ke bawah sampai ke muka ini terasa. Dalam hati pembersihan untuk mengendalikan napsu, musuh kita yang tersisa, napsu dalam pribadi kita yang dikendalikan supaya kita bisa berbuat baik. Sampai ke bawah. Juga berfungsi untuk pembenahan pribadi klo ada alat yang kurang bagus bisa menjadi bagus, alat yang kurang sehat bisa menjadi sehat. Oleh karena itu kalo benar- benar sujudnya pada Yang Maha Kuasa dan selalu mengurangi kesalahan, ingat pada kesalahan nanti akan dapat berbuat baiklah. Itu bungkukan yang pertama, terus dirasakan terus sampai ke do lagi. Kemudian dirasakan lagi dari silit kodok, begitupun untuk bungkukan kedua caranya sama. Nah setelah sampai di mori lalu paling tidak ingat, syukur tahu. Jadi klo diketahui kesalahan apa saja yang pernah diperbuat sejak umur 5 tahun. Menurut Sapta Darma orang itu sudah memiliki kesalahan atau dapat dikatakan salah klo sudah berumur 5 tahun. Nah sejak umur 5 tahun itu nanti akan kelihatan paling tidak ingat kesalahan yang pernah dibuat. Setelah ingat kesalahan yang pernah dibuat, kemudian ini terus dirasakan terus nurnya agar dapat terus berhubungan dengan Yang Maka Kuasa lalu dalam batin mengucap kesalahan Hyang Maha Suci nyuwun pangapura Hyang Maha Kuasa dalam bahasa Jawa. Di Indonesiakan juga boleh Kesalahan Hyang Maha Suci mohon ampun Hyang Maha Kuasa boleh 3 kali juga. Sesudah itu kembali tegak, sama dirasakan turunnya seperti tadi. Prinsipnya habis sujud kembali tegak ini harus dirasakan sebab itu ketika kita kontak dengan Hyang Maha Kuasa, itu kita mendapat sinar dari Hyang Maha Kuasa, sinar baru, nah inilah santapan rohani menurut Sapta Darma. Santapan rohani menurut Sapta Darma itu setipa habis sujud dirasakan. Disamping untuk memelihara kesehatan, untuk memperbaiki napsu- napsu yang kurang baik itu juga fungsinya. Kemudian dirasakan lagi ketiga kalinya dari silit kodok sampai naik lagi ke ubun- ubun kemudian dahi dan ujung hidung ini menyentuh mori putih kemudian ingat kepada kesalahan tadi. Lalu dengan mengucap Hyang Maha Suci mertobat Hyang Maha Kuasa. Jadi dengan ingat kesalahan tadi lalu mengucap Hyang Maha Suci mertobat Hyang Maha Kuasa 3 kali. Mengapa Hyang Maha Suci kok mertobat? Sebetulnya Hyang Maha Suci itu tugasnya mengendalikan saudara yang ada dalam pribadi, napsu yang ada dalam pribadi ini . klo Hyang Maha Suci tidak bisa menguasai, tidak bisa masesa kepada napsu-napsu itu berarti salah Hyang Maha Suci, sebab yang bisa sujud itu Hyang Maha Suci. Jadi saudara yang lain hanya berbuat salah karena ingin menguasai pribadi manusia sebetulnya napsu-napsu itu. Klo orang dikuasai napsu- napsunya yang berlebihan lalu menjadi orang yang angkara murka seperti Dasamuka. Demikian teorinya sujud setelah dirasakan sampai lerem, sampai tenteram, sampai tenang dan dirasakan betul-betul ada perbedaannya sebelum sujud dan setelah

sujud itu ada perbedaannya. Bisa dijelaskan perbedaannya? Perbedaannya ya itu sebelum sujud mungkin masih membawa getaran-getaran yang tidak baik itu rasanya berat di badan tapi setelah sujud nanti tidak, enteng, lego. Itu perbedaannya. Nah manfaat sujud banyak sekali klo manfaat sujud. Yang pertama kali tadi memenuhi kewajiban, hidup wajib sujud kepada yang memberi hidup kemudian untuk kepentingan pribadi sujud bisa mendatangkan kesehatan. Dibuktikan sebelum sujud dan sesudah sujud rasanya lebih enak, lebih segar daripada sebelum sujud. Itu untuk pribadi. Yang lainnya tadi untuk mengendalikan napsu, untuk memperbaiki napsu. Nah klo merasakan disini tadi istilahnya dalam Sapta Darma, istilahnya membangun sanggar candi sapta rengga. Ini lambang daripada sanggar candi sapta rengga. Kenapa disebut sanggar candi sapta rengga? Karena bagian tubuh manusia yang paling atas ini lah yang disebut sebagai manusia. Ini mukanya yang dihiasi atau direngga dengan alat, lubang banyaknya tujuh, mata dua, telinga dua, lubang hidung dua, tutuk satu. Orang itu enak dan tidak enak, bejo dan ciloko itu tergantung pada ini, sapta rengga ini. Klo ini berkata yang tidak baik mungkin akan ditempeleng orang, lah klo ini mencium yang bukan haknya akan ditempeleng orang. Demikian pula klo ini mendengar suara orang lalu amarah kemudian timbul cekcok kan juga mendatangkan yang tidak enak. Matapun demik ian itu pula.

  Lebih- lebih kalau sudah berkeluarga itu harus bisa mengendalikan, harus bisa mengendalikan rumah tangganya supaya tetap utuh bersatu. Klo di jalan bertemu orang yang cantik jangan sampai lupa dengan istrinya, salah satu contoh itu. Ini yang penting, klo kita bisa mengendalikan mata, telinga, hidung dan tutuk dengan baik akan selamat.

  Syukur klo bisa melaksanakan ini sampai dengan titik darah penghabisan, artinya sudah waktunya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, itu menurut Sapta Darma. Kalau sudah seperti istilahnya kesalahan-kesalan yang sudah habis dimohonkan ampun, bersih jadi langsung tidak usah ke neroko tapi langsung suarga menurut Sapta Darma. Dari

  

pengalaman-pengalaman bapak yang telah anda dapatkan ini, adakah pengaruhnya

ke kehidupan sehari-hari? Yang jelas saya merasa tenang dan saya sebelum ketemu

  Sapta Darma saya juga merasa cukup, tidak pernah merasa kurang. Sebab itu saya terima, teman-teman keluar sebagai guru, saya tetap menjadi guru. Meskipun pada waktu itu gajinya mung sedikit saya rasa sudah cukup. Sampai dengan keluarga saya juga bahagia. Istri satu dan memang sudah menjadi cita-cita saya sebelum ketemu Sapta Darma, saya masih jejaka itu juga ingin kawin itu satu saja. Malah menjadi motivasi saya, Nabi Adam.

  Yang Maha Kuasa menurunkan Nabi Adam hanya satu jodoh, ya satu itu saja jodoh dan pada waktu itu saya minta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, belum ketemu Sapta Darma lo..saya mohon anak dua saja cukup. Jadi pemerintah belum menganjurkan Keluarga Berencana, saya sudah mengeluarkan. Saya minta dua saja, satu laki satu perempuan.

  Ketemu Sapta Darma saya kawin. Artinya kawin trus anak saya umur 38 ketemu Sapta Darma. Nah ndilalah anak saya itu yang pertama sebelum ketemu Sapta Darma tapi saya sudah mengerti tidak tahu lo ya, tapi mengerti bahwa anak saya nanti laki- laki sebab itu masih umur 6 bulan dalam kandungan sudah saya beri nama. Tapi klo yang kedua saya sudah melakukan sujud. Sudah sujud juga kemudian, 6 bulan dalam kandungan sudah saya beri nama Sri, Sri Astuti dan namanya saya ketemukan dua, Sri Astuti dan Sri Ratna Astuti. Akhirnya pada waktu lahir saya namakan Sri Astuti tapi setelah masuk kelas satu, anaknya minta ditambahkan Ratna jadi Sri Ratna Astuti. Klo yang laki- laki Wijayakusuma saya berikan nama itu. Dan anak saya dua itu sudah dewasa semua. Yang satu sudah berumur 51 tahun, yang nomer dua 49 tahun. Pokoknya saya merasa syukurlah pada Tuhan Yang Maha Esa saya diberikan tuntunan, bimbingan lalu yang penting lagi pada waktu saya berangkat untuk menikah saya pamit kepada orang tua, saya ingin membuat sejarah baru, tidak seperti mbah- mbah saya, seperti bapak ibu saya. Pokoknya saya ingin membuat sejarah baru. Akhirnya setelah saya hayati itu perkawinan saya ternyata saya ada saja godaan tapi saya dapat mengendalikan terut ama godaan itu, godaan mata itu. Tapi saya dapat mengendalikan sampe sekarang, anak saya yang satu bekerja di Bandung di telkom, yang satu di dinas kesehatan di Semarang. Jadi saya tinggal lagi berduaan dengan istri saya.

  No Jawaban subyek

  35

  26

  27

  28

  29

  30

  31

  32

  33

  34

  36

  24

  37

  38

  39

  40

  41

  42

  43

  44

  45 Mulai sepuluh November lima puluh enam sampai sekarang sudah berapa lama itu, mulai saya umur 25.

  25

  23

  1

  11

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  10

  12

  22

  13

  14

  15

  16

  17

  18

  19

  20

  21

  Kalo dari pengalaman yang bersifat rohani, yang bersifat abstrak ga ada. Hanya dalam perasaan saya merasa cocok begitulah. Begitu saya diberi cerita diceritani tentang Sapta Darma. Itu yang menceritani itu juga baru berpengalaman satu hari satu malam, lalu bercerita pada saya. Saya kok otomatis minta dituntuni, minta disujudkan. Akhirnya disujudkan saja dan waktu itu yang diceritakan pada saya hanya caranya sujud. Setelah dituntuni belajar sujud, hanya diberi pesan supaya nanti dipraktekkan, dalam praktek ini yang maksudnya disambil praktek sujud setiap hari juga dipesan supaya dibuktikan dengan modal merasa mampu untuk memberikan pertolongan pada orang lain, terutama orang sakit. Dari sedikit, perasaan saya menjadi tambah percaya dan bertambah yakin itu karena hasil dari pengobatan itu. Yang pertama anak saya yang pada waktu itu berumur 3 bulan itu sakit perut kemudian saya hanya hening, mengheningkan cipta. Klo memusatkan kan hanya hening saja, hanya diam, dalam hati menyatu dengan Tuhan kemudian disabdakan, sabda waras. Hanya sabda waras itu sabdanya kemudian anak saya menjadi sembuh. Demikian pula murid saya, saya kan seorang guru. Yang pertama kali menjadi kejutan atau menambah keyakinan saya, murid saya bermain- main, jatuh kemudian tak bernapas. Kemudian saya meminta anak-anak lain untuk meletakkannya di meja. Saya belum diberitahu tapi kok saya ada perasaan jari- jari saya diisi, jari-jari tengah saya ini saya pegangkan pada pusat kemudian saya luhurkan asma Allah, Allah Hyang Maha Agung, Allah HyangRohkim, Allah Hyang Maha adil dan saya sabda waras, anak itu seketika bangun trus lari- lari lagi. Itu yang membuat saya tambah yakin dan banyak lagi. Beberapa hari kemudian ga sampai lama ada tetangga yang istilahnya apa itu ya, kesurupan, kemasukan roh jahat. Sudah dipanggilkan yang namanya mbah Joremi yang biasanya memberikan penyembuhan, itu ndak mampu. Akhirnya saya kok merasa kasihan saya melihat merasa kasian, anak- anak masih disekolah itu, akhirnya timbul rasa untuk memberi penyembuhan, pangusadan. Itu otomatis saya ini, ini ada seperti ada setrumnya ini di driji dua

  46

  81

  72

  73

  74

  75

  76

  77

  78

  79

  80

  82

  70

  83

  84

  85

  86

  87

  88

  89

  90

  91 ini, ini saya tunjukkan pada ketiaknya dua-duanya nah itu roh yang ada di dalamnya itu lari, orangnya trus sadar. Nah setelah sadar, juga belum pernah saya diberitahu sebelumnya oleh orang yang menuntuni saya itu klo sudah begitu ini tuh diping maksudnya menutup agar rohnya itu tidak bisa kembali lagi. Itu yang menambah saya menjadi tambah yakin, tambah tekunlah saya sujud. Jadi kemudian timbul pengertian bahwa sujud itu terutama disamping merupakan kewajiban didalam hidup kita ini berasal dari Yang Maha Kuasa maka kita harus sujud kepada Yang Maha Kuasa. Yang sujud itu hidup kita ini, jasmaninya hanya ikut saja membungkuk tiga kali.

  71

  69

  47

  57

  48

  49

  50

  51

  52

  53

  54

  55

  56

  58

  68

  59

  60

  61

  62

  63

  64

  65

  66

  67

  Itu yang menyebabkan saya bertambah yakin dan banyak lagi. Bukan hanya puluhan tapi sudah ratusan. Tentang sujud itu setiap hari wajib menurut petunjuk di buku yang sudah tertulis, satu hari satu malam 24 jam minimal satu kali, itu yang benar tp lebih dari satu kali lebih baik. Tapi satu kali sudah dapat melakukan sujud benar-benar itu sudah baik. Oh iya jadi pada waktu sujud, kita merasakan. Pertama-tama teori sujud kan duduk bersila. Setelah duduk di mori putih itu terus duduk bersila untuk bapak-bapak, duduk bertimpuh untuk ibu. Lalu sedakep, klo sudah sedakep, jasmani sudah diatur kemudian mulai rohani sekarang yang harus bekerja. Jasmaninya diusahakan pasif, tidak hanya wujudnya jasmani ini saja tapi juga pikirannya juga pasif. Klo sudah bisa pasif semua pikiran, angan dsb itu yang dinamakan ening. Dalam situasi ening itulah rasa istilah lainnya rohani itu akan aktif melaksanakan sujud itu terasa, rasanya giming- giming gitu. Pokoknya ada rasa yang berjalan mulai dari kaki. Dia akan naik ke atas, ini mata masih terbuka. Nanti klo sudah dikepala nanti akan terasa berat. Nah setelah berat nanti diperhatikan trus sampai menyatu di ubun-ubun ini. Setelah menyatu di ubun- ubun ini barulah nanti akan turun ke bawah menutup mata sampai di mulut, ujung lidah nanti di ujung lidah akan terasa yang istilah jawanya pating trecep, seperti ada setrum. Ini nanti klo sudah ada setrum listrik itu, ini otomatis perhatian rohani trus merasa menghadap kepada Yang Maha Kuasa kemudian meluhurkan asma Allah yang bunyinya Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Rokhim, Allah Hyang Maha Adil. Kemudian setelah itu nanti ada rasa lagi turun

  92

  93

  94

  95

  96

  97

  98

  99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 ke bawah. Rasanya enak gitu, tenang, dalam perasaan tenang sekali, pokoknya ga da beban apa-apa sampai rasa itu menyentuh disini. Istilahnya dalam Sapta Darma sampai di bundelan tali roso do, klo menurut Sapta Darma kan ada dua belas saudara antara lain yang namanya Sukmo Kencono nanti klo sudah sampai disini maka kita tingkatkan ening kita, lebih pasif lagi, angan-angan tidak boleh bekerja. Nanti akan ada rasa yang datang dari tulang ekor, dari sana akan ada rasa yang naik lewat sumsum tulang belakang, naik ke atas sampai menyatu diubun- ubun. Klo sudah sampai di ubun-ubun pada waktu ini badannya sudah membungkuk dengan sendirinya.

  Pada waktu disini ditahan sedikit trus sampai di mori putih nah ini rasa yang dari sumsum tulang belakang sudah sampai di ubun-ubun kemudian dirasakan lagi keujung lidah, sampai di ujung lidah nanti kita seakan-akan menyatu lagi atau kontak dengan Yang Maha Kuasa dengan mengucap sujud, ucapannya Hyang Maha Suci sujud Hyang Maha Kuasa 3 kali diucapkan lalu kembali tegak. Mengapa Hyang Maha Suci yang mengucap sujud? Karena yang sujud itu rasa kita, ya sinar atau nur kita yang berasal dari Hyang Maha Kuasa itu yang berhak sujud. Jadi manusia itu yang bisa sujud hanya nur kita, jadi klo sudah bisa rasa yang meliputi seluruh tubuh kita sudah tersaring klo sudah jadi nur, nur itulah yang bisa sujud kepada Hyang Maha Kuasa. Jadi tidak cukup hanya ucapan, jadi yang mengucap itu nur tadi istilahnya dalam batin jadi mengucap dalam batin. Sesudah mengambil sujud ini dirasakan dari ubun- ubun turun ke bawah sampai ke muka ini terasa. Dalam hati pembersihan untuk mengendalikan napsu, musuh kita yang tersisa, napsu dalam pribadi kita yang dikendalikan supaya kita bisa berbuat baik. Sampai ke bawah. Juga berfungsi untuk pembenahan pribadi klo ada alat yang kurang bagus bisa menjadi bagus, alat yang kurang sehat bisa menjadi sehat. Oleh karena itu kalo benar-benar sujudnya pada Yang Maha Kuasa dan selalu mengurangi kesalahan, ingat pada kesalahan nanti akan dapat berbuat baiklah. Itu bungkukan yang pertama, terus dirasakan terus sampai ke do lagi. Kemudian dirasakan lagi dari silit kodok, begitupun untuk bungkukan kedua caranya sama. Nah setelah sampai di mori lalu paling tidak ingat, syukur tahu. Jadi klo diketahui kesalahan apa

  138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 saja yang pernah diperbuat sejak umur 5 tahun.

  Menurut Sapta Darma orang itu sudah memiliki kesalahan atau dapat dikatakan salah klo sudah berumur 5 tahun. Nah sejak umur 5 tahun itu nanti akan kelihatan paling tidak ingat kesalahan yang pernah dibuat. Setelah ingat kesalahan yang pernah dibuat, kemudian ini terus dirasakan terus nurnya agar dapat terus berhubungan dengan Yang Maka Kuasa lalu dalam batin mengucap kesalahan Hyang Maha Suci nyuwun pangapura Hyang Maha Kuasa dalam bahasa Jawa. Di Indonesiakan juga boleh Kesalahan Hyang Maha Suci mohon ampun Hyang Maha Kuasa boleh 3 kali juga. Sesudah itu kembali tegak, sama dirasakan turunnya seperti tadi. Prinsipnya habis sujud kembali tegak ini harus dirasakan sebab itu ketika kita kontak dengan Hyang Maha Kuasa, itu kita mendapat sinar dari Hyang Maha Kuasa, sinar baru, nah inilah santapan rohani menurut Sapta Darma. Santapan rohani menurut Sapta Darma itu setiap habis sujud dirasakan. Disamping untuk memelihara kesehatan, untuk memperbaiki napsu- napsu yang kurang baik itu juga fungsinya. Kemudian dirasakan lagi ketiga kalinya dari silit kodok sampai naik lagi ke ubun- ubun kemudian dahi dan ujung hidung ini menyentuh mori putih kemudian ingat kepada kesalahan tadi. Lalu dengan mengucap Hyang Maha Suci mertobat Hyang Maha Kuasa. Jadi dengan ingat kesalahan tadi lalu mengucap Hyang Maha Suci mertobat Hyang Maha Kuasa 3 kali. Mengapa Hyang Maha Suci kok mertobat? Sebetulnya Hyang Maha Suci itu tugasnya mengendalikan saudara yang ada dalam pribadi, napsu yang ada dalam pribadi ini . klo Hyang Maha Suci tidak bisa menguasai, tidak bisa masesa kepada napsu- napsu itu berarti salah Hyang Maha Suci, sebab yang bisa sujud itu Hyang Maha Suci. Jadi saudara yang lain hanya berbuat salah karena ingin menguasai pribadi manusia sebetulnya napsu-napsu itu. Kalo orang dikuasai napsu-napsunya yang berlebihan lalu menjadi orang yang angkara murka seperti Dasamuka. Demikian teorinya sujud setelah dirasakan sampai lerem, sampai tenteram, sampai tenang dan dirasakan betul-betul ada perbedaannya sebelum sujud dan setelah sujud itu ada perbedaannya. Perbedaannya ya itu sebelum sujud mungkin masih

  184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 membawa getaran- getaran yang tidak baik itu rasanya berat di badan tapi setelah sujud nanti tidak, enteng, lego. Itu perbedaannya. Nah manfaat sujud banyak sekali klo manfaat sujud. Yang pertama kali tadi memenuhi kewajiban, hidup wajib sujud kepada yang memberi hidup kemudian untuk kepentingan pribadi sujud bisa mendatangkan kesehatan.

  Dibuktikan sebelum sujud dan sesudah sujud rasanya lebih enak, lebih segar daripada sebelum sujud. Itu untuk pribadi. Yang lainnya tadi untuk mengendalikan napsu, untuk memperbaiki napsu. Nah klo merasakan disini tadi istilahnya dalam Sapta Darma, istilahnya membangun sanggar candi sapta rengga. Ini lambang daripada sanggar candi sapta rengga. Kenapa disebut sanggar candi sapta rengga? Karena bagian tubuh manusia yang paling atas ini lah yang disebut sebagai manusia. Ini mukanya yang dihiasi atau direngga dengan alat, lubang banyaknya tujuh, mata dua, telinga dua, lubang hidung dua, tutuk satu. Orang itu enak dan tidak enak, bejo dan ciloko itu tergantung pada ini, sapta rengga ini. Klo ini berkata yang tidak baik mungkin akan ditempeleng orang, lah klo ini mencium yang bukan haknya akan ditempeleng orang. Demikian pula klo ini mendengar suara orang lalu amarah kemudian timbul cekcok kan juga mendatangkan yang tidak enak. Matapun demikian itu pula. Lebih- lebih kalau sudah berkeluarga itu harus bisa mengendalikan, harus bisa mengendalikan rumah tangganya supaya tetap utuh bersatu. Klo di jalan bertemu orang yang cantik jangan sampai lupa dengan istrinya, salah satu contoh itu. Ini yang penting, klo kita bisa mengendalikan mata, telinga, hidung dan tutuk dengan baik akan selamat. Syukur klo bisa melaksanakan ini sampai dengan titik darah penghabisan, artinya sudah waktunya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, itu menurut Sapta Darma. Kalau sudah seperti istilahnya kesalahan-kesalan ya ng sudah habis dimohonkan ampun, bersih jadi langsung tidak usah ke neroko tapi langsung suarga menurut Sapta Darma. Yang jelas saya merasa tenang dan saya sebelum ketemu Sapta Darma saya juga merasa cukup, tidak pernah merasa kurang. Sebab itu saya terima, teman- teman keluar sebagai guru, saya tetap menjadi guru. Meskipun pada waktu itu gajinya mung sedikit saya

  230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 rasa sudah cukup. Sampai dengan keluarga saya juga bahagia. Istri satu dan memang sudah menjadi cita- cita saya sebelum ketemu Sapta Darma, saya masih jejaka itu juga ingin kawin itu satu saja. Malah menjadi motivasi saya, Nabi Adam. Yang Maha Kuasa menurunkan Nabi Adam hanya satu jodoh, ya satu itu saja jodoh dan pada waktu itu saya minta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, belum ketemu Sapta Darma lo..saya mohon anak dua saja cukup.

  Jadi pemerintah belum menganjurkan Keluarga Berencana, saya sudah mengeluarkan. Saya minta dua saja, satu laki satu perempuan. Ketemu Sapta Darma saya kawin. Artinya kawin trus anak saya umur 38 ketemu Sapta Darma. Nah ndilala h anak saya itu yang pertama sebelum ketemu Sapta Darma tapi saya sudah mengerti tidak tahu lo ya, tapi mengerti bahwa anak saya nanti laki- laki sebab itu masih umur 6 bulan dalam kandungan sudah saya beri nama. Tapi klo yang kedua saya sudah melakukan sujud. Sudah sujud juga kemudian, 6 bulan dalam kandungan sudah saya beri nama Sri, Sri Astuti dan namanya saya ketemukan dua, Sri Astuti dan Sri Ratna Astuti. Akhirnya pada waktu lahir saya namakan Sri Astuti tapi setelah masuk kelas satu, anaknya minta ditambahkan Ratna jadi Sri Ratna Astuti. Klo yang laki- laki Wijayakusuma saya berikan nama itu. Dan anak saya dua itu sudah dewasa semua. Yang satu sudah berumur 51 tahun, yang nomer dua 49 tahun. Pokoknya saya merasa syukurlah pada Tuhan Yang Maha Esa saya diberikan tuntunan, bimbingan lalu yang penting lagi pada waktu saya berangkat untuk menikah saya pamit kepada orang tua, saya ingin membuat sejarah baru, tidak seperti mbah- mbah saya, seperti bapak ibu saya. Pokoknya saya ingin membuat sejarah baru. Akhirnya setelah saya hayati itu perkawinan saya ternyata saya ada saja godaan tapi saya dapat mengendalikan terutama godaan itu, godaan mata itu. Tapi saya dapat mengendalikan sampe sekarang, anak saya yang satu bekerja di Bandung di telkom, yang satu di dinas kesehatan di Semarang. Jadi saya tinggal lagi berduaan dengan istri saya. No Kategori Pernyataan Tema 1 Latar belakang melakukan sujud Hanya dalam perasaan saya merasa cocok Ada perasaan cocok melakukan sujud. begitulah (4-5). Begitu saya diberi cerita diceritani tentang Mendapat cerita dari teman kemudian Sapta Darma. Itu yang mencerit ani itu juga otomatis juga minta disujudkan, hal ini baru berpengalaman satu hari satu malam, menunjukkan adanya perasaan misteri lalu bercerita pada saya. Saya kok otomatis sekaligus rasa ingin tahu untuk minta dituntuni, minta disujudkan. Akhirnya melakukan sujud. disujudkan saja dan waktu itu yang diceritakan pada saya hanya caranya sujud (5-11).

  2 Sensasi fisik yang dirasakan ketika Dalam situasi ening itulah rasa istilah Ada yang berjalan mulai dari kaki sujud lainnya rohani itu akan aktif melaksanakan sampai ke kepala (ubun-ubun). sujud itu terasa, rasanya giming- giming gitu. Pokoknya ada rasa yang berjalan mulai Setelah sampai di ubun-ubun getaran dari kaki. Dia akan naik ke atas, ini mata tadi akan turun menutup mata dan masih terbuka. Nanti klo sudah dikepala ketika sampai di lidah, akan terasa nanti akan terasa berat. Nah setelah berat seperti ada setrum listrik di lidah. nanti diperhatikan trus sampai menyatu di ubun-ubun ini. Setelah menyatu di ubun- ubun ini barulah nanti akan turun ke bawah menutup mata sampai di mulut, ujung lidah nanti di ujung lidah akan terasa yang istilah jawanya pating trecep, seperti ada setrum. Ini nanti klo sudah ada setrum listrik itu (75-86).

  Nanti akan ada rasa yang datang dari tulang Ada rasa yang berjalan melalui sumsum ekor, dari sana akan ada rasa yang naik tulang belakang, sampai menyatu di lewat sumsum tulang belakang, naik ke atas ubun-ubun. sampai menyatu diubun-ubun. Klo sudah sampai di ubun-ubun pada waktu ini Tubuh akan membungkuk dengan badannya sudah membungkuk dengan sendirinya. sendirinya. Pada waktu disini ditahan sedikit trus sampai di mori putih nah ini rasa Rasa tersebut akan sampai di ujung yang dari sumsum tulang belakang sudah lidah. sampai di ubun-ubun kemudian dirasakan lagi keujung lidah, sampai di ujung lidah Tubuh tegak kembali. nanti kita seakan-akan menyatu lagi atau kontak dengan Yang Maha Kuasa dengan mengucap sujud, ucapannya Hyang Maha Suci sujud Hyang Maha Kuasa 3 kali diucapkan lalu kembali tegak. (99-112).

  Prinsipnya habis sujud kembali tegak ini Melihat sinar dari Tuhan Yang Maha harus dirasakan sebab itu ketika kita kontak Kuasa. dengan Hyang Maha Kuasa, itu kita mendapat sinar dari Hyang Maha Kuasa, sinar baru, nah inilah santapan rohani menurut Sapta Darma (152-156).

  3 Sensasi psikologis yang dirasakan Kemudian setelah itu nanti ada rasa lagi Ada rasa enak, tenang sekali dalam ketika sujud turun ke bawah. Rasanya enak gitu, tenang, perasaan dan merasa tidak ada beban dalam perasaan tenang sekali, pokoknya ga sama sekali ketika melakukan sujud. da beban apa-apa sampai rasa itu menyentuh disini (91-94).

  4 Pengalaman akan Tuhan ketika sujud Ini nanti klo sudah ada setrum listrik itu, ini Ada perasaan sedang menghadap otomatis perhatian rohani trus merasa Tuhan. menghadap kepada Yang Maha Kuasa kemudian meluhurkan asma Allah yang bunyinya Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Rokhim, Allah Hyang Maha Adil (86-91) nanti kita seakan-akan menyatu lagi atau Bersatu dengan Tuhan. kontak dengan Yang Maha Kuasa dengan mengucap sujud (108-110). ketika kita kontak dengan Hyang Maha Mendapatkan sinar dari Tuhan. Kuasa, itu kita mendapat sinar dari Hyang Maha Kuasa, sinar baru (153-155).

  5 Manfaat yang dirasakan melalui sujud Dalam hati pembersihan untuk Mengendalikan napsu. mengendalikan napsu, musuh kita yang tersisa, napsu dalam pribadi kita yang Pembenahan pribadi. dikendalikan supaya kita bisa berbuat baik. Sampai ke bawah. Juga berfungsi untuk Menyehatkan kembali alat-alat yang pembenahan pribadi klo ada alat yang kurang bagus. kurang bagus bisa menjadi bagus, alat yang kurang sehat bisa menjadi sehat (124-129).

  Perbedaannya ya itu sebelum sujud Menghilangkan getaran- getaran yang mungkin masih membawa getaran- getaran kurang baik. yang tidak baik itu rasanya berat di badan tapi setelah sujud nanti tidak, enteng, lego

  (183-186).

  6 Pengaruh ke dalam kehidupan sehari- Yang jelas saya merasa tenang dan saya Merasa tenang. hari sebelum ketemu Sapta Darma saya juga merasa cukup, tidak pernah merasa kurang. Selalu berusaha merasa cukup di dalam

  Sebab itu saya terima, teman-teman keluar kekurangan. sebagai guru, saya tetap menjadi guru. Meskipun pada waktu itu gajinya mung sedikit saya rasa sudah cukup (225-230).

  Akhirnya setelah saya hayati itu perkawinan Mampu mengendalikan godaan yang saya ternyata saya ada saja godaan tapi saya datang. dapat mengendalikan terutama godaan itu, godaan mata itu. Tapi saya dapat mengendalikan sampe sekarang (265-268).

  7 Pengalaman di dalam relasi mereka Yang pertama anak saya yang pada waktu Dengan hening dan menyatu dengan dengan Tuhan nya itu berumur 3 bulan itu sakit perut Tuhan, kesembuha n akan didapat. kemudian saya hanya hening, mengheningkan cipta. Klo memusatkan kan hanya hening saja, hanya diam, dalam hati menyatu dengan Tuhan kemudian disabdakan, sabda waras. Hanya sabda waras itu sabdanya kemudian anak saya menjadi sembuh (19-25). Demikian pula murid saya, saya kan Ada perasaan jari-jari tangan diisi yang seorang guru. Yang pertama kali menjadi diikuti dengan meluhurkan nama kejutan atau menambah keyakinan saya, Tuhan, kemudian mengucap sabda murid saya bermain- main, jatuh kemudian waras dan kesembuhan didapat. tak bernapas. Kemudian saya meminta anak-anak lain untuk meletakkannya di Ada perintah dari yang tak tampak yang meja. Saya belum diberitahu tapi kok saya membimbing untuk melakukan ada perasaan jari-jari saya diisi, jari-jari penyembuhan. tengah saya ini saya pegangkan pada pusat kemudian saya luhurkan asma Allah, Allah Hyang Maha Agung, Allah HyangRohkim, Allah Hyang Maha adil dan saya sabda waras, anak itu seketika bangun trus lari- lari lagi. Itu yang membuat saya tambah yakin dan banyak lagi (25-37).

  Beberapa hari kemudian ga sampai lama Ada perasaan jari- jari seperti disetrum ada tetangga yang istilahnya apa itu ya, dan seperti sudah mengetahui kesurupan, kemasukan roh jahat. Sudah sebelumnya bahwa untuk menutup agar dipanggilkan yang namanya mbah Joremi roh itu tidak dapat kembali lagi, jalur- yang biasanya memberikan penyembuhan, jalur khusus sebagai jalannya disilang. itu ndak mampu. Akhirnya saya kok merasa kasihan saya melihat merasa kasian, anak- Ada perintah dari yang tak tampak yang anak masih disekolah itu, akhirnya timbul membimbing untuk melakukan rasa untuk memberi penyembuhan, penyembuhan orang yang kerasukan. pangusadan. Itu otomatis saya ini, ini ada seperti ada setrumnya ini di driji dua ini, ini saya tunjukkan pada ketiaknya dua-duanya nah itu roh yang ada di dalamnya itu lari, orangnya trus sadar. Nah setelah sadar, juga belum pernah saya diberitahu sebelumnya oleh orang yang menuntuni saya itu klo sudah begitu ini tuh diping maksudnya menutup agar rohnya itu tidak bisa kembali lagi. Itu yang menambah saya menjadi tambah yakin, tambah tekunlah saya sujud (37-53).

  8 Makna sujud Jadi kemudian timbul pengertian bahwa Sujud sebagai suatu kewajiban. sujud itu terutama disamping merupakan kewajiban didalam hidup kita ini berasal dari Yang Maha Kuasa maka kita harus sujud kepada Yang Maha Kuasa (53-57).

  Transkrip Verbatim Subyek II Nama : Sunardji Umur : 51 tahun Waktu wawancara : Minggu, 16 September 2007

  

Bapak melakukan ritual sujud sudah berapa lama pak? Saya sudah sebelas tahun. Dari

bapak melakukan sujud bisa diceritakan ga pengalaman-pengalamannya? Ya

  pengalaman saya tu waktu sujud tu kita mendapatkan suatu kedamaian, ketentraman hati, dan rasa ayem gitu lo bahasa jawanya. Jadi apa yang kita cari kita bisa menemuken. Di dalam suatu bentuk kita sebagai orang beranut agama ya to di dalam sujud kita bisa merasakan benar-benar bahwa Tuhan tu benar-benar kita ada diantaranya Dia. Bahwa Tuhan tu memang ada betul dan kita bisa merasakan bahwa, gimana ya..kita bisa istilahnya klo orang ketemulah. Ya kita itu, kita bisa menemukanlah gitu loh istilahnya.

  Ya apa yang kami harapkan Tuhan memberikan dan apa yang kita inginkan Dia juga memberi. Jadi kita merasa suatu ketentraman, kedamaian di dalam bahasa agama itu dikatakan, kalau orang nasrani itu bahasa jawanya wulang roso wewarahing Gusti Allah ya to, disini saya menemukan disini olah roso wewarahing Gusti Allah jadi kita bukan hanya suatu teori tapi memang kita bisa menyatakan bukti bahwa teori itu bisa kita buktikan dengan sujud ini, olah roso ini. Ketika bapak melakukan sujud itu apa yang

  

bapak rasakan? Yang saya rasakan tu hanya apa ya…kita bisa tadi itu, kita bisa

  menemukan apa yang kita kehendaki. Jadi kalo kita ingin menghendaki sujud itu adalah sujud tesdumadining manusia ya, kita..tesdumadining manusia kan wiwitane manusia itu berada, ada. Kita menghadap sujud menghadap ke timur itu kan kawitan. Disitu kita bisa menemukan sinar cahaya Allah yang benar-benar kita bisa ketemu. Yang kita dapatkan tu ya waktu kita pemula, memulai sujud pertama kali tu kita langsung bisa melihat sinar cahaya Allah itu betul-betul woh inilah yang dikatakan Tuhan itu berwujud seperti sinar cahaya Allah. Kemudian kita melakukan sujud terus ritual-ritual gitu itu adalah istilahnya kita itu mohon pengampunan dosa dan bertobat. Jadi ritual kita hanya itu saja, kita mengakui bahwa saya tu manusia yang bersalah dan kita bertobat untuk tidak mengulangi apa yang telah kita perbuat. Dalam bahasa jawanya Sangkan Paraning Dumadi ya, jadi kita sudah berada, ada jadi manusia ini kan kita ini nanti juga akan tidak ada lagi. Jadi kita juga harus bisa melihat aku ki asale soko ngendi dan kembali kemana lagi? Kita ingin seperti itu jangan sampai nanti anak istri, anak-anak yang kita tinggalkan menuai hukum karma orang tua. Jadi kita Sangkan paraning dumadi , kita akan kembali kesana lagi tapi kan kita…ya walau dosa kita sebesar apapun kalo tiap hari kita melakukan pertobatan dan tidak melakukan itu kan kita nanti akan kembali ke asal yang cahaya Allah yang baik lagi. Dari pengalaman-pengalaman bapak melakukan sujud

  

berpengaruh ga terhadap kehidupan bapak? Wo.. jelas mas berpengaruh. Waktu kita

  belum melakukan sujud dan kita seperti orang yang menganut suatu agama ya. Kita itu hanya mengandalkan pisik jasmaninya saja tapi setelah kami menemukan pisik jasmani dan rohani kita bisa bersatu, kita damai ya to? dan ayem dalam bahasa jawanya. Kita punya pengalaman apa yang kita hadapi tuh kita bisa mengerti dan kita akan berbuat tuh dalam hati sudah berkata itu tidak baik kalau ingin yang berbuat kejahatan ya, nanti kita ada yang ngandani lah bahasa jawanya. Trus pengalaman untuk kehidupan sehari-hari misalkan dulu kehidupan saya tu ya…dalam bahasa jawa krisis ekonomi kemaren yang payah ya mencari nafkah. Setelah kita bersujud dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa secara olah roso, kita bisa terkatrol ya kehidupan saya ya. Misalkan besok itu kita tidak punya yang kita makan untuk anak-anak itu, kita tidak tau, tau-tau loh kok ada orang yang ngasih, pak ini tolong dikerjakan pak, oh iya pak, kita selesai dapat grebekan.

  Kemaren tu saya menghadapi contoh ya, istri saya sakit keras, yang paling parah itu pengalaman saya tu istri saya kena penyakit tumor itu di leher, bengkak, besar itu kan.

  Sama dokter udah dioperasi 3 kali, masih tumbuh trus. Akhirnya saya udah kebingungan ya ga punya apa-apa, operasi trus. Ya sudah akhirnya saya pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan memberikan permohonan saya, istri saya bisa sembuh tanpa mengeluarkan biaya apapun. Kalo di dokter kan berapa juta ya (tertawa). Memang pengalaman tu memang dicoba oleh Yang Maha Kuasa apa kita bis a memanfaatkan ga hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa. Istri saya sakit lagi, pembuluh jantungnya tersumbat, dokter mengatakan kamu harus opname di rumah sakit tapi kita dengan sujud permohonan pengampunan bisa sembuh. Pengalaman kehidupan sehari-hari hidup kita sudah ya layaklah, klo untuk dipandang ke ekonomi ke atas jelas kita ga sama. Anak-anak diwaktu sekolah kita ga punya biaya, tau-tau ada orang yang ngasih, beasiswa dari pemerintah, orang tua asuh tanpa kita minta dia sudah mengulurkan tangannya sehingga kehidupan saya merasa oh ini to yang kita cari bisa ketemu. Memanfaatkan banyak kita gunakan untuk kesembuhan orang sakit, dalam bahasa jawa pangusadan, kita juga kami dan rekan-rekan juga sama pengalaman seperti itu. Pengalamannya banyak, waktu gempa itu lo kita diberi keselamatanlah, rumah runtuh kita bisa diluar semua baru rumahnya runtuh (tertawa), seharusnya kita ga bisa kerja to, bapak itu ada bantuan dari saudara-saudara kita, dari perkumpulan maupun dari lain- lain bisa dipake untuk kehidupan kita. Itu kalo pengalaman sujud yah, hasil karya sujud. Kalo ritual ya jelas kita ritualnya sujud tiap hari itu ndak ada ritual apapun. Seperti halnya kalo manusia ya kita klo orang Islam ya ke mesjid, sholat kalo orang nasrani ke gereja. Saya tiap hari kesini tu kan ya sujud, setelah sujud hati kita merasa tenteram, pulang dengan anak istri merasakan kedamaian di dalam keluarga. Dari semua itu, makna sujud bagi bapak itu apa? Makna saya tu, sujud tuh suatu pegangan ya, pegangan hidup bahwa saya merasa, saya itu… makna itu… Tuhan berada bersama saya. Jadi kalau saya pengen berpikiran yang kotor gitu ya, kita sudah..oh iya saya ingat sujud itu adalah pengampunan dosa dengan Tuhan, apa saya harus berbuat kesalahan lagi, dan kita bisa mengekang hawa napsu dan kita punya maknanya tu ya seperti kita dalam bahasa jawanya tu hastabrata ya bahasa ibrani, bahasa orang timur juga hastabrata itu dari jawa ya punya sifat delapan ya. Hastabrata itu kan delapan ..opo…hmmm norma ya seperti opo.. patokanlah hidup itu manusia itu pertama harus selalu ingat dalam bahasa jawanya eling, kedua mituhu, ketiga percaya, keempat itu relo, nerimo, temen, sabar, budi luhur. Nah dengan sujud itu kita bisa mengolah kedelapan hastabrata itu, jadi kita akhirnya menjadi orang yang tenang, ayem dan segala sesuatunya kalo kita ingin…kalo akan terjadi sesuatu kita sudah seperti ada yang firasat gitulah. Woh besok akan jadi begini, kita harus hati- hati. Itu makna sujud kami kan seperti itu, dalam bahasa jawa yang saya pegang itu hastabrata karena hastabrata itu adalah ujud dari waktu manusia diciptakan itu punya tiga bentuk ya, tiga norma yaitu bahasa jawanya toto urip, toto laku, toto kromo. Nah toto urip itu kita kan udah jelas, kita ingin hidup yang tenteram, nyaman terus toto laku itu kan kita harus melakukan, ya sebagi orang sapta darma sujud nah toto kromo hubungan kita dengan sesama dan hubungan dengan Tuhan kita dengan Tuhan sebetulnya tatanan, probositolah bahasa jawanya. Ya itu kita akhirnya bisa menemukan makna sujud itu seperti buat saya ya.

  No Jawaban subyek Tema

  35

  26

  27

  28

  29

  30

  31

  32

  33

  34

  36

  24

  37

  38

  39

  40

  41

  42

  43

  44

  45 Saya sudah sebelas tahun.

  25

  23

  1

  11

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  10

  12

  22

  13

  14

  15

  16

  17

  18

  19

  20

  21

  Ya pengalaman saya tu waktu sujud tu kita mendapatkan suatu kedamaian, ketentraman hati, dan rasa ayem gitu lo bahasa jawanya. Jadi apa yang kita cari kita bisa menemuken. Di dalam suatu bentuk kita sebagai orang beranut agama ya to di dalam sujud kita bisa merasakan benar-benar bahwa Tuhan tu benar-benar kita ada diantaranya Dia. Bahwa Tuhan tu memang ada betul dan kita bisa merasakan bahwa, gimana ya..kita bisa istilahnya klo orang ketemulah. Ya kita itu, kita bisa menemukanlah gitu loh istilahnya. Ya apa yang kami harapkan Tuhan memberikan dan apa yang kita inginkan Dia juga memberi. Jadi kita merasa suatu ketentraman, kedamaian di dalam bahasa agama itu dikatakan, kalau orang nasrani itu bahasa jawanya wulang roso wewarahing Gusti Allah ya to, disini saya menemukan disini olah roso wewarahing Gusti Allah jadi kita bukan hanya suatu teori tapi memang kita bisa menyatakan bukti bahwa teori itu bisa kita buktikan dengan sujud ini, olah roso ini. Yang saya rasakan tu hanya apa ya…kita bisa tadi itu, kita bisa menemukan apa yang kita kehendaki. Jadi kalo kita ingin menghendaki sujud itu adalah sujud tesdumadining manusia ya, kita..tesdumadining manusia kan wiwitane manusia itu berada, ada. Kita menghadap sujud menghadap ke timur itu kan kawitan. Disitu kita bisa menemukan sinar cahaya Allah yang benar-benar kita bisa ketemu. Yang kita dapatkan tu ya waktu kita pemula, memulai sujud pertama kali tu kita langsung bisa melihat sinar cahaya Allah itu betul-betul woh inilah yang dikatakan Tuhan itu berwujud seperti sinar cahaya Allah. Kemudian kita melakukan sujud terus ritual- ritual gitu itu adalah istilahnya kita itu mohon pengampunan dosa dan bertobat. Jadi ritual kita hanya itu saja, kita mengakui bahwa saya tu manusia yang bersalah dan kita bertobat unt uk tidak mengulangi apa yang telah kita perbuat. Dalam bahasa jawanya Sangkan Paraning Dumadi ya, jadi kita sudah berada, ada jadi manusia ini kan kita ini nanti juga akan tidak ada lagi. Jadi kita juga harus bisa melihat aku ki asale soko ngendi dan kembali kemana lagi? Kita ingin seperti itu jangan sampai nanti anak istri, anak-anak yang kita tinggalkan

  46

  81

  72

  73

  74

  75

  76

  77

  78

  79

  80

  82

  70

  83

  84

  85

  86

  87

  88

  89

  90

  91 menuai hukum karma orang tua. Jadi kita Sangkan paraning dumadi , kita akan kembali kesana lagi tapi kan kita…ya walau dosa kita sebesar apapun kalo tiap hari kita melakukan pertobatan dan tidak melakukan itu kan kita nanti akan kembali ke asal yang cahaya Allah yang baik lagi.

  71

  69

  47

  57

  48

  49

  50

  51

  52

  53

  54

  55

  56

  58

  68

  59

  60

  61

  62

  63

  64

  65

  66

  67

  Wo.. jelas mas berpengaruh. Waktu kita belum melakukan sujud dan kita seperti orang yang menganut suatu agama ya. Kita itu hanya mengandalkan pisik jasmaninya saja tapi setelah kami menemukan pisik jasmani dan rohani kita bisa bersatu, kita damai ya to? dan ayem dalam bahasa jawanya. Kita punya pengalaman apa yang kita hadapi tuh kita bisa mengerti dan kita akan berbuat tuh dalam hati sudah berkata itu tidak baik kalau ingin yang berbuat kejahatan ya, nanti kita ada yang ngandani lah bahasa jawanya. Trus pengalaman untuk kehidupan sehari- hari misalkan dulu kehidupan saya tu ya…dalam bahasa jawa krisis ekonomi kemaren yang payah ya mencari nafkah. Setelah kita bersujud dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa secara olah roso, kita bisa terkatrol ya kehidupan saya ya. Misalkan besok itu kita tidak punya yang kita makan untuk anak-anak itu, kita tidak tau, tau-tau loh kok ada orang yang ngasih, pak ini tolong dikerjakan pak, oh iya pak, kita selesai dapat grebekan. Kemaren tu saya menghadapi contoh ya, istri saya sakit keras, yang paling parah itu pengalaman saya tu istri saya kena penyakit tumor itu di leher, bengkak, besar itu kan. Sama dokter udah dioperasi 3 kali, masih tumbuh trus. Akhirnya saya udah kebingungan ya ga punya apa-apa, operasi trus. Ya sudah akhirnya saya pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan memberikan permohonan saya, istri saya bisa sembuh tanpa mengeluarkan biaya apapun. Kalo di dokter kan berapa juta ya (tertawa). Memang pengalaman tu memang dicoba oleh Yang Maha Kuasa apa kita bisa memanfaatkan ga hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa. Istri saya sakit lagi, pembuluh jantungnya tersumbat, dokter mengatakan kamu harus opname di rumah sakit tapi kita dengan sujud permohonan pengampunan bisa sembuh. Pengalaman kehidupan sehari- hari hidup kita sudah ya layaklah, klo untuk dipandang ke ekonomi ke atas jelas kita ga sama. Anak-anak diwaktu sekolah kita ga punya biaya, tau-tau ada orang yang ngasih, beasiswa dari

  92

  93

  94

  95

  96

  97

  98

  99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 pemerintah, orang tua asuh tanpa kita minta dia sudah mengulurkan tangannya sehingga kehidupan saya merasa oh ini to yang kita cari bisa ketemu.

  Memanfaatkan banyak kita gunakan untuk kesembuhan orang sakit, dalam bahasa jawa pangusadan, kita juga kami dan rekan-rekan juga sama pengalaman seperti itu. Pengalamannya banyak, waktu gempa itu lo kita diberi keselamatanlah, rumah runtuh kita bisa diluar semua baru rumahnya runtuh (tertawa), seharusnya kita ga bisa kerja to, bapak itu ada bantuan dari saudara-saudara kita, dari perkumpulan maupun dari lain- lain bisa dipake untuk kehidupan kita. Itu kalo pengalaman sujud yah, hasil karya sujud. Kalo ritual ya jelas kita ritualnya sujud tiap hari itu ndak ada ritual apapun. Seperti halnya kalo manusia ya kita klo orang Islam ya ke mesjid, sholat kalo orang nasrani ke gereja. Saya tiap hari kesini tu kan ya sujud, setelah sujud hati kita merasa tenteram, pulang dengan anak istri merasakan kedamaian di dalam keluarga. Makna saya tu, sujud tuh suatu pegangan ya, pegangan hidup bahwa saya merasa, saya itu… makna itu… Tuhan berada bersama saya. Jadi kalau saya pengen berpikiran yang kotor gitu ya, kita sudah..oh iya saya ingat sujud itu adalah pengampunan dosa dengan Tuhan, apa saya harus berbuat kesalahan lagi, dan kita bisa mengekang hawa napsu dan kita punya maknanya tu ya seperti kita dalam bahasa jawanya tu hastabrata ya bahasa ibrani, bahasa orang timur juga hastabrata itu dari jawa ya punya sifat delapan ya. Hastabrata itu kan delapan ..opo…hmmm norma ya seperti opo.. patokanlah hidup itu manusia itu pertama harus selalu ingat dalam bahasa jawanya eling, kedua mituhu, ketiga percaya, keempat itu relo, nerimo, temen, sabar, budi luhur. Nah dengan sujud itu kita bisa mengo lah kedelapan hastabrata itu, jadi kita akhirnya menjadi orang yang tenang, ayem dan segala sesuatunya kalo kita ingin…kalo akan terjadi sesuatu kita sudah seperti ada yang firasat gitulah. Woh besok akan jadi begini, kita harus hati- hati. Itu makna sujud kami kan seperti itu, dalam bahasa jawa yang saya pegang itu hastabrata karena hastabrata itu adalah ujud dari waktu manusia diciptakan itu punya tiga bentuk ya, tiga norma yaitu bahasa jawanya toto urip, toto laku, toto kromo. Nah toto urip itu kita kan

  138 139 140 141 142 143 144 145 udah jelas, kita ingin hidup yang tenteram, nyaman terus toto laku itu kan kita harus melakukan, ya sebagi orang sapta darma sujud nah toto kromo hubungan kita dengan sesama dan hubungan dengan Tuhan kita dengan Tuhan sebetulnya tatanan, probositolah bahasa jawanya. Ya itu kita akhirnya bisa menemukan makna sujud itu seperti buat saya ya. No Kategori Pernyataan Tema 1 Latar belakang melakukan sujud Kita ingin seperti itu jangan sampai nanti Menghindari karma. anak istri, anak-anak yang kita tinggalkan menuai hukum karma orang tua. Jadi kita Sangkan paraning dumadi , kita akan kembali kesana lagi tapi kan kita…ya walau dosa kita sebesar apapun kalo tiap hari kita melakukan pertobatan dan tidak melakukan itu kan kita nanti akan kembali ke asal yang cahaya Allah yang baik lagi (44-51). dulu kehidupan saya tu ya…dalam bahasa Masalah krisis ekonomi. jawa krisis ekonomi kemaren yang payah ya mencari nafkah. Setelah kita bersujud dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa secara olah roso, kita bisa terkatrol ya kehidupan saya ya (63-68).

  2 Sensasi fisik yang dirasakan ketika Yang kita dapatkan tu ya waktu kita Melihat Tuhan yang berwujud seperti sujud pemula, memulai sujud pertama kali tu kita cahaya. langsung bisa melihat sinar cahaya Allah itu betul-betul woh inilah yang dikatakan Tuhan itu berwujud seperti sinar cahaya Allah (29-34).

  3 Sensasi psikologis yang dirasakan Ya pengalaman saya tu waktu sujud tu kita Merasa damai, tenteram dan rasa ayem. ketika sujud mendapatkan suatu kedamaian, ketentraman hati, dan rasa ayem gitu lo bahasa jawanya (2-4).

  4 Pengalaman akan Tuhan ketika sujud Bahwa Tuhan tu memang ada betul dan kita Bertemu dengan Tuhan. bisa merasakan bahwa, gimana ya..kita bisa istilahnya klo orang ketemulah (8-10).

  Ya apa yang kami harapkan Tuhan Tuhan sebagai pemberi. memberikan dan apa yang kita inginkan Dia juga memberi (12-14) Allah itu betul-betul woh inilah yang Tuhan berwujud seperti cahaya. dikatakan Tuhan itu berwujud seperti sinar cahaya Allah (32-34)

  5 Manfaat yang dirasakan melalui sujud Jadi apa yang kita cari kita bisa menemuken Bisa menemukan apa yang selama ini (4-5). dicari.

  6 Pengaruh ke dalam kehidupan sehari- Waktu kita belum melakukan sujud dan kita Merasa damai. hari seperti orang yang menganut suatu agama ya. Kita itu hanya mengandalkan pisik jasmaninya saja tapi setelah kami menemukan pisik jasmani dan rohani kita bisa bersatu, kita damai (52-57). apa yang kita hadapi tuh kita bisa mengerti Setiap ingin berbuat yang tidak baik, dan kita akan berbuat tuh dalam hati sudah merasa seperti ada yang memberitahu berkata itu tidak baik kalau ingin yang bahwa itu tidak benar. berbuat kejahatan ya, nanti kita ada yang ngandani lah bahasa jawanya (58-62). Adanya suatu perasaan takut akan perbuatan yang salah dan mungkin takut akan konsekuensi yang nantinya bisa dimunculkan akibat perbuatan yang salah.

  7 Pengalaman di dalam relasi mereka Kemaren tu saya menghadapi contoh ya, Tuhan memberikan mukjizat dengan dengan Tuhan nya istri saya sakit keras, yang paling parah itu penyembuhan. pengalaman saya tu istri saya kena penyakit tumor itu di leher, bengkak, besar itu kan. Tuhan sebagai penyembuh. Sama dokter udah dioperasi 3 kali, masih tumbuh trus. Akhirnya saya udah kebingungan ya ga punya apa-apa, operasi trus. Ya sudah akhirnya saya pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan memberikan permohonan saya, istri saya bisa sembuh tanpa mengeluarkan biaya apapun (71-80). waktu gempa itu lo kita diberi Tuhan dianggap sebagai penyelamat keselamatanlah, rumah runtuh kita bisa dari bencana. diluar semua baru rumahnya runtuh (99- 100).

  8 Makna sujud Makna saya tu, sujud tuh suatu pegangan Sujud sebagai suatu pegangan. ya, pegangan hidup (112-114).

  Transkrip Verbatim Subyek III Nama : Waiman Sukamtono Umur : 60 tahun Waktu wawancara : Kamis, 4 Oktober 2007

  

Bapak sudah berapa lama melakukan sujud? Saya melakukan sujud sejak tahun tujuh

  puluh. Sejak umur? Sejak umur 23 tahun. Bisa diceritakan pengalaman-pengalaman

  

yang bapak dapat selama melakukan sujud? Ya pengalaman-pengalaman yang saya

  terima ya kita sebagai manusia lumrah ya mas ya, itu pertama kita dapat ini… hawa napsu kita itu dapat berkurang sedikit demi sedikit, yang dulu kita itu pemarah atau punya rasa jahil dengan orang lain. Setelah sujud, kita melaksanakan sujud ini, kita mengolah rasa akhirnya dengan hawa napsu-napsu itu bisa berkurang dari sedikit. Nah mungkin entah nanti kapan ya, sampai akhir mungkin itu bisa ya tidak mendekati semp urna ya mas ya tapi kita lalu punya ini..dengan orang lain tidak punya rasa dengki, atau ingin marah walaupun kita diterpa oleh perkataan-perkataan yang ga pas dengan rasa kita, kita bisa mengendalikan diri, itu hasil dari sujud. Jadi semakin lama kita semakin sujud dan kita mau tekun dengan sujud, kita akan membuahkan rasa damai, bahagia dan ketentraman dalam pribadi...gitu. Jadi memang tujuan dari Sapta Darma, tujuan dari Sapta Darma ya..itu untuk membentuk manusia yang dapat memayu hayu bagya bawana, itu artinya kita dapat bahagia di dunia ini dan bahagia nanti di alam langgeng sana untuk mencapai itu maka kita dengan sujud tekun, karena disini tuh ada sujud, 2 ya..sujud wajib dan sujud penggalian jadi kita kalo wajib kita harus tekun dengan kewajiban itu entah kita satu hari satu kali atau dua kali tapi wajib satu kali, satu hari satu malam satu kali tapi lebih baik klo kita ada waktu terluang begini, nganggur.. ya digunakan untuk sujud untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Yang ditekankan kuantitasnya apa kualitasnya

  

dari sujud? Kualitas, bukan kuantitas, kuantitas kan banyaknya sujud ya tapi kualitasnya

  sujud jadi isinya bagaimana kita untuk kualitas itu mencapai apa yang sesuai dengan yang ada di dalam buku maupun dari bapak-bapak pengalaman-pengalaman kita dalam waktu sujud karena kita untuk mencapai itu memang tidak mudah ya mas ya. Pertama waktu kita mau sujud saja sudah harus mengosongkan pikiran padahal mengosongkan pikiran sulitnya bukan main, loh iya toh, sulitnya bukan main. Kalo sudah baru dapat ketenangan, kalo sudah tenang baru kita dapat merasakan sesuatu atau yang disebut tadi rasa yang meliputi seluruh tubuh, lah inilah yang menggerakkan kita untuk manembah pada Tuhan, menggerakkan jasmani kita karena itu juga berjalan ya bergerak akhirnya kita dapat mengucap dengan ucapan yang ada betul-betul dari rasa kita atau dari roh kita, kalo bisa, kalo bisa itu karena tidak setiap hari mampu kita karena terpengaruh oleh perbuatan kita sewaktu kita bekerja di kantor atau bekerja dimana saja itu kan ada getaran-getaran yang menerpa kita, lah itu pengaruhnya besar sekali. Sedangkan seperti kita waktu berjalan di jalan raya naik kendaraan trus ada orang nyalip dengan ugal- ugalan woh itu didada kan panas ya mas, nanti waktu sujud itu pengaruhnya besar sekali itu.

  Kenapa saya kok sujudnya seperti ini, kita introspeksi nah pada waktu kita nanti sujud itu kita akan melihat kesalahan kita sendiri, wah ternyata seperti itu to tadi siang saya dongkol dengan orang yang nyalip saya keliatan itu gambar itu, orang nyalip kita wah di dada panas. Itu pengaruhnya besar sekali mas, maka kita harus berhati- hati walaupun dimana saja kalau kita misalnya mendengar ada orang marah- marah pada kita ya kita introspeksi kenapa orang itu kok marah? apa tersinggung? apa masalah sesuatu? tapi kita kan harus mengendalikan diri… dengan cara kita mengendalikan diri karena kita sudah mendapatkan sinar-sinar dari Allah itu, akhirnya yang tadi juga ingin marah ya tapi bisa diredam dengan dada kita yang dapat dingin, ketika dada dingin kan kita sudah tenang- tenang saja. Memang pengalaman-pengalaman seperti itu kita tidak sama ya, ada si A ada si B apa hasilnya atau pada proses sujudnya pun tidak sama. Ketika bapak melakukan

  

sujud itu bisa diceritakan ga pak apa yang bapak rasakan? Kalo kita merasakan sesuatu

  yang ada di dalam tubuh kita, itu seperti gelombang-gelombang rasa yang berjalan, itu termasuk rahasia pribadi. Jadi semua orang sujud tidak sama, walaupun satu tujuan sama tapi hasilnya tuh ga sama mas. Jadi sesuai dengan kemampuan pribadi-pribadi kita sendiri atau kemampuan-kemampuan kita untuk mengendalikan hawa napsu. Jadi kita sujud yang sudah sekian tahun seperti saya ya mungkin tingkatannya dengan pak Narji pun ga sama ya dalam kemampuan atau kita berdarma karena disini juga dituntut untuk berdarma ya, berdarma adalah sikap kita kepada sesama hidup untuk menolong kepada seseorang karena pertolongan itu tidak hanya dengan dana, uang ataupun harta kekayaan, darma kan bukan dengan itu, mungkin hanya dengan solusi untuk mengambil kebijakan di dalam kita menghadapi suatu masalah itu kan sudah merupakan suatu darma juga, misalnya seperti mas ini ada sesuatu masalah lalu minta tolong pak bagaimana ya caranya untuk menyelesaikan masalah ini, mari kita bersama-sama membongkar, membuka lembaran-lembaran itu untuk mencari solusi yang dianggap paling baik, itu kan juga dianggap suatu sikap untuk menolong orang lain tapi di dalam ajaran Sapta Darma ada lagi yaitu untuk menolong orang sakit. Sampai dimana kemampuan kita, kehendak Tuhan itu bagaimana, sanggup ga kita menyatukan rasa dengan cahaya, nah ini disini ada tingkatan seperti itu mas, karena cahaya itu adalah miliknya Tuhan bukan kita, kita hanya sebagai perantara, kita sudah berusaha tapi kan Tuhan sudah menentukan yang lain tapi apakah kita merasakan ga kalo orang tersebut sudah saatnya akan meninggal atau orang itu bisa sembuh tapi cuma sebentar karena waktunya sudah tinggal beberapa hari lagi, kan gitu to mas? Loh disabda waras kan bisa saja tapi pada saatnya mati ga bisa apa-apa, itu sudah kodrat. Jadi seperti itu kemampuan seseorang juga ditentukan oleh kebersihan jiwa, apakah sudah bersih apakah pendekatan diri pada Tuhan sudah mulus ya misalnya ya to, kita kan ga tau to hubungan kita dengan Tuhan, hanya Tuhan yang tau sampai dimana orang ini? bagaimana tata cara dia menyembah kepada Tuhan? apakah saat menyembah mesti diterima oleh Tuhan? Kan tidak tentu... loh betul.. karena tadi sujud jam 5 sore mencapai suatu titik perjalanan dari sini ke beringharjo ya misalnya ya, saya misalkan seperti itu... trus sujud jam 7 kita lebih jauh lagi mungkin sampai ke jombor kesana, karena apa? Itu karena pengaruh yang kita lakukan siang tadi, kadang sujud pun ga berhasil. Loh sujud kok sampe ga berhasil? Itu bagaimana pak? Karena gagasan kita gak bisa ditenangkan jadi gagasan itu keluar trus kan. Loh betul ga? Suatu saat kita kalut, tadi siang ada peristiwa misalnya seperti orang yang sudah berkeluarga ya, istri maunya marah- marah karena kurang ini kurang itu, kita kan di dalam hati kita kan juga tertekan, pada waktu sujud untuk menentramkan gagasan itu sulitnya bukan main ya akhirnya sujudnya ya itu tadi asal bungkuk asal ngucap sudah... lalu tidak menggunakan rasa karena rasa itu akan bergerak dan berjalan pada saat kita hening, isitilahe wong jowo iso nutupi babahan howo songo, babahan itu tempat keluarnya masuk hawa napsu, termasuk dua mata, dua telinga, lubang hidung dua, mulut satu, bawah ada dua, kan ada 9 itu.

  Itulah kalau kita dapat menutup rapat, jadi ada suara kita tidak mendengar ya walupun mendengar tapi kita tidak dapat menerima apa yang tadi diucapkan mereka walaupun saya diam disini, mas sama mbak wahyu cerita disitu mungkin ceritanya ga masuk cuma

  dengar ada orang bicara tapi ga masuk. Kalau disini melihat sesuatu tuh seolah-olah kita gambaran-gambaran seperti itu tidak perlu dihiraukan, ada nyamuk nggigit itu ga akan terasa, tapi nanti kalau sudah selesai sujud baru gatal ini. Berarti pada saat sujud bisa menutup itu tadi, pendengaran kita tertutup, rasa kita tertutup, penglihatan kita walaupun mata kita memandang melek begini ya karena awalnya kan juga melek ya tapi apapun yang ada di depan kita ga kelihatan yang kelihatan cuma cahaya, walaupun dalam keadaan gelap akan timbul cahaya. Sinar itu muncul darimana? Dari sana yang memancarkan, semua ma nusia yang masih hidup di dunia ini dipancari oleh sinar Allah.

  Kalau tidak mendapatkan sinar Allah ya... kita tidak hidup lagi... karena rohani manusia adalah bagian dari sinar Allah sendiri, jadi dimana Tuhan itu? Ada di dalam kita, ga usah mencari kemana- mana. Gitu to? Kalau kita sudah berdoa gini dimana? Ya di dalam hati kita kan? Tidak dimana- mana kan Tuhan itu, buat apa kita jauh-jauh? Kita diam..seperti sujud itu juga, mampu ga jiwa saya menyatu dengan Yang Maha Kuasa? Dapat ga roh kita tuh menyembah pada Tuhan karena di dalam ajaran Sapta Darma menyembah pada Tuhan tidak menggunakan jasmani, kalau bisa kita melihat...dengan keheningan itu kita melihat rohani kita, sujud pada Yang Maha Kuasa lalu merasakan dan melihat kesalahan- kesalahan kita mungkin dari jaman yang kita belum mengenal dosa istilahnya ya umur 5 tahun sampai sekarang itu, suatu saat kita tuh pernah berbuat kesalahan pada orang tua atau orang lain yang betul-betul Tuhan itu...bahwa itu adalah kesalahan yang paling besar. Itu kalo kelihatan kita mohon ampun, disitu... apa kita mampu ga seperti itu tapi untuk melihat itu sudah tidak ketemu. Mungkin hanya teringat saya dulu kok pernah melempari mangganya si A, ya to pada waktu saya kecil. Itu juga dosa, dosa kan? Itu milik orang lain... dengan seperti itu lalu kita untuk kehidupan sehari-hari memang kita

  harus berhati- hati menjalankan wewarah tujuh tuh ya...kalo harus sempurna ga mungkin, kita ga mampu sebagai manusia biasa ga akan mampu melaksanakan wewarah tujuh seratus persen. Kita ga bisa, saya yakin itu. Saya rasa semua warga Sapta Darma belum ada yang mampu menjalankan seratus persen wewarah tujuh, kalau Cuma ya...ini dilaksanakan-dilaksanakan tapi tidak seratus persen soalnya sulit...sulit mas... Apakah kita selalu mentaati peraturan ne gara? Mungkin ada forbidden aja kita masuk ya betul ga? Secara jasmani melanggar secara rohani pun melanggar. Sudah tau ada larangan kok dilanggar. Maka kalau kita sudah tau larangan ya jangan dilanggar. Itu kan peraturan negara, apa kita sudah ikut melaksanakan pembangunan negara kita di tingkat lingkungan RT maupun RW, kampung kita pernahkah kita kerja bakti? Pernahkah kita ikut ronda malam kalau memang ditugaskan? Nah yang sepele-sepele itu belum tentu kalau kita dapat melaksanakan terus menerus, itu saja sudah melanggar wewarah tujuh. Kita dimintai tolong saudara-saudara kita atau lingkungan sekitar kita atau diperjalanan ada orang minta tolong, kita ada tapi kita bilang ga ada, itu sudah tidak sesuai dengan wewarah tujuh. Kita harus bener-bener ikhlas, kalau ada orang nembung minta utang pada kita, apakah orang itu nanti akan mengembalikan atau tidak nah karena warga Sapta Darma sudah diberi alat kontrol, kalau orang ini besok tidak akan mengembalikan. Orang ini mau menipu, kita tidak boleh mengecewakan dia kan? Ya ada tapi ini untuk keperluan hari ini, kalau anda yang pake saya kan juga harus mementingkan diri saya sendiri, kebutuhan saya sendir ya monggo cari yang lain. Kalau itu diberi ya itu ga akan kembali, itu pengalaman saya. Jadi kita rasakan ini komentar seperti ini apa benar? Jadinya sesuai dengan pengecekan kita itu tadi, ini tidak akan jadi, tidak akan berhasil itu kita sudah medapatkan suatu gambaran, atau suatu rasa ya, wah ini keliru tapi biarkan saja sebagai pengalaman. Betul ga? Kita ya sujud itu memang membutuhkan suatu perjuangan, perjuangan untuk sujud itu tidak semudah seperti orang-orang lain di dalam ajaran yang lain seperti yang pernah saya lakukan seperti Islam ya, dulu kan saya juga sholat ya. Itu tidak seperti ini, kan asal hapal, diucapkan bergerak seperti itu selesai. Mulai bersama- sama ada Imam kita makmum, Imam selesai kita selesai sebetulnya ga bisa. Siapa yang ngimami? Ga ada, kita sendiri. Tuh lo baring-baring disitu, mapan jam 7 sore ini dateng bareng-bareng 5 atau 10 orang, tapi selesainya? Ada yang 15 menit sudah selesai ada yang setengah jam, mungkin ada yang satu jam, mungkin ada yang satu jam lebih.

  Karena apa? Karena dari mereka ini ya ada yang betul-betul mau meneliti, meneliti betul- betul, dirasakan satu persatu sampai selesai tapi ada yang kadang cuma acak. Acak

  

gimana pak? cuma terasa sedikit langsung gerak, itu kan seperti diacak gitu ya to? Wah

  sudah terasa kok matanya udah langsung merem, nah ini karena sujud ini..mata memandang tidak boleh berkedip, memandang satu titik tidak boleh berkedip supaya nanti dapat menutup dengan sendirinya. Kalau mata sudah menutup dengan sendirinya, mata dibuka pun kita tidak mampu membuka gini tuh kita tidak mampu. Rasanya berat

  

seperti itu ya pak? Ya rasanya berat sekali, menutup akhirnya nanti kita merasakan lagi

  ada yang asma 3 itupun juga, kita mendengarkan dan menirukan jadi disana ada yang mengatakan. Kita dengar, kita disini didalam hati jasmani menirukan apa yang diucap itu tadi. Itu kalau betul-betul bisa seperti itu setiap hari hebat, indah, kebahagiaan yang didapat. Ini untuk mencapai kebahagiaan tuh kita harus betul-betul menggali rasa yang meliputi seluruh tubuh itu. Ini pengalaman saya. Mungkin seperti pak Narji atau pak Setyo lain lagi karena beliau pengalamannya... seperti pak Setyo dengan saya sudah lama pak Setyo, pak Setyo masih bisa bertemu dengan Bopo Panuntun Agung kalau saya kan sudah ga, lebih tua lagi. Pak Setyoatmojo tuh masih menerima langsung dari Bopo Panuntun Agung klo seperti saya kan baru ibu Sri Pawenang tapi sebenarnya sama saja.

  Pengalamannya ya lebih banyak beliau, pengalaman di dalam sujud atau dalam kehidupan sehari-hari mengatasi segala permasalahan itu kan lebih pengalaman. Kalau

  

untuk bapak pengaruh pengalaman tadi ke kehidupan bapak bagaimana? Kehidupan

  sehari- hari juga ada perubahan. Perubahannya banyak mas misalnya dulu kita ga punya rumah dengan sujud begini kita dapat bangun rumah, kehidupan bisa meningkat.

  Memang sesuai dengan ajaran Sapta Darma, barangsiapa dapat sujud Sapta Darma dunia dan akhirat akan bahagia. Ini sudah saya rasakan karena saya betul-betul membuktikan kalau saya tuh cuma punya...saya ceritakan ya ini pengalaman saya. Saya bangun rumah ga punya duit. Terus bagaimana itu pak? Uang 30 juta, material yang ada cuma kusen pintu sama jendela jangan daun pintu sama jendela. Padahal saya tanya sama yang mborong tenaga, rumah saya karena terlalu gede ya. Itu biaya tukangnya saja sudah 28 juta itu belum finishing, baru buat pondasi sampai batu bata naik masang itu kusen-kusen sama sampai gendeng, itu belum semuanya ya. Itu sudah 28 juta, uang tingal 2 juta. Apa mungkin itu terjadi kalau itu bukan kehendak Tuhan? Dengan saya yakin seyakin- yakinnya, Tuhan akan memberikan saya rumah, jadi... Dengan perjuangan usaha saya ya yang sederhana itu akhirnya dapat jadi rumah itu dengan sanggarnya, jangka waktu satu tahun mas dengan modal 30 juta. Tenaga saja sudah 28 juta setelah finish, pasang keramik, nglepo, ngecat trus masang plafon itu 28 juta lagi, tenaganya tok itu. Sisa-

  

sisanya? Lah gimana itu, tinggal percaya atau tidak, inilah kehendak Tuhan. Kenapa kok

  sampai seperti itu dan ini pun sekarang rumah yang saya tempati ini tadi pagi sudah diukur bangunannya eh kemaren bangunannya sekarang tanahnya mau kena jalan tol, itupun sudah kehendak Tuhan. Mungkin nanti akan lebih meningkat lagi, nanti saya akan carikan tempat yang agak luas mungkin sanggar akan saya sendirikan. Ini mungkin bukan kehendak kita kan, kenapa kok saya beli tanah disitu trus bangun disitu, baru saya tempati 3 tahun, tahun 2004 ampe 2007 malah kena proyek jalan tol. Ini sudah kehendak Tuhan, kita monggo, saya serahkan asal nantinya jadinya lebih baik lagi dari yang sekarang. Sanggar dapat pisah dengan rumah, tanahnya dapat luas, rumah sendiri. Kemaren kan jadi satu, masih gandeng itu lo mas. Dengan begitu ini hasil sujud, karena apa? Apa yang saya inginkan, apa yang saya cita-citakan terlaksana dengan kita tidak tau. Loh bener ga? Bila kita secara waras ya mas, secara matematika anak saya, adik-adik saya pun menyangsikan. Mereka tanya, “kamu punya uang berapa?”, cuma 30, “ini bangunanmu tidak cukup 100 juta”, ya mboh saya bilang gitu. Ini bukan urusan saya tapi urusan Tuhan karena ini kehendak Tuhan. Seperti yang saya katakan ke anak-anak mau tanggap warsa, tahun barunan. Itu saja anak-anak ga yakin dan ga percaya dan istri saya pun masih meragukan apa yang saya katakan ya, kamu harus menyediakan snack 700 dos. Loh kan ga meyakinkan to, padahal warga Sapta Darma yang ada di kecamatan ungaran saja cuma 12 orang kenapa saya harus menyediakan 700. Itu bukan juga kehendak saya, saya mengucap begitupun saya ga merasa. Saya perintah sama kamu, tugasmu sediakan snack 700 dos, kemudian dia tanya, “untuk apa pak?”. Buat tanggap warsa besok, besok itu tanggap warsa lo, “iya saya tau tapi masa sekian?”. Iya 700 dos, kamu yang biaya, bapak urusan makan sama sound system sama tempat, kamu cuma saya suruh carikan snack 700 dos. Dia lari pesen di catering, setelah jadi ya diantar, yang dipesen aja bertanya, “loh mas untuk apa?”, “untuk tahun barunan”, “loh undangannya berapa?”, “ga da undangan”.

  Dibuktikan, terbukti mas, tingal seratus dos aja ga ada, 50 aja ga ada, habis itu...

  Makanya tetangga saya pada heran, “loh ditempatnya pak Waiman ada apa?”, mantu ga tapi kok tamunya seperti itu banyaknya. Itu kalo kita tidak dekat dengan Tuhan ya hasilnya seperti itu mas. Jadi apa yang kita katakan mungkin akan terjadi, karena ketika kita berkata kita seolah-olah ga menyadari. Seperti buat rumah ya seperti, “ya besok kita bangun” padahal uang ga punya... kan aneh to? itu kehendak Tuhan kok, seperti snack 700 dos, saya bilang liat saja nanti. Sedangkan itu ya mertuanya anak saya juga kaget lo mas kateringnya juga gitu, orang tahun barunan kok 700 dos untuk apa? Orang mantu aja ga sampe segitu, ga tau bapak yang suruh kok, bapak kalo nyuruh ga dituruti nanti kurang saya dimarahin. Istri saya juga, “pak mosok masak segini banyaknya?, “Iya!”, “bapak yakin?”, “yakin buktikan sendiri nanti”. Itu tamu darimana? Ya dari sekabupaten Semarang, walaupun tanpa undangan, cuma woro-woro ya, ada tanggap warsa besok, datang semua. Itu saja saya rasa belum semuanya, tidak ada separo dari warga. Karena apa? karena saya yakin kalo kita dekat dengan Tuhan, maka kita akan dibimbing, diberi petunjuk walaupun kadang-kadang kita itu sok-sok ga mudeng ya, sampai-sampai saya kok gak mudeng apa yang saya katakan itu seolah-olah keluar dari mulut karena saya juga pernah ya mas waktu saat itu masih kuliah ya. Saya mau berangkat kuliah saya bilang sama mbok saya, ibu saya, “mbok kulo mau berangkat sekolah, mengke niki jam 9 pagi mbah meninggal dunia, ada kabar ke sini, jam 9 nanti bapak kesana”. Saya pulang bapak pergi, lah saya tanya, “bapak pergi kemana?” layat tempat mbah itu, lah yang ngomong itu siapa ga mudeng... “Kamu itu...” kalo dalam bahasa jawanya itu ngalup ya.

  

Apa itu pak? Ngalup itu mendoakan yang ga baik, mendoakan orang yang masih hidup

  dikatakan mati. “kamu itu ga pas..”, loh nyatanya mati kok. Betul to? Itu waton berucap gitu antara sadar dan tidak sadar jadi dimana ya seolah-olah ini mulut bicara sendiri, ini

  petunjuk ini. Ini dalam ajaran Sapta Darma, maka kalo orang-orang dalam Sapta Darma jangan sekali-kali, belajarlah berkata baik dan benar. Karena apa? Apa yang dikatakan nanti bisa terjadi sungguhan, itu yang kasihan. Misalnya ada anak yang memanjat pohon, kalo memperingatkan jangan terlalu emosi ya..”mas ora sah menek... mbok pake galah aja..” klo kita sampe “kamu jangan menek nanti jatuh” sekali waktu terjadi, klo ini pas ada itu..terbawa oleh sinar.. sabda Allah ...itu yang bahaya karena kadang-kadang kita ga menyadari. Harus kontrol bener-bener? Kontrol bener... maka didalam Sapta Darma mengucap sumpah aja ga boleh, kalo kamu berani sumpah hati- hati...kalo kamu berbuat apa yang kamu sumpah itu celaka sendiri. Karena gini ya mas dalam ajaran Sapta Darma ya dari pengalaman saya mas..kalo saya berbuat kesalahan salah ya...tapi saya kadang menyadari kalo saya salah itu artinya juga dapat dendam mas, sakit... kalo kita merasa sakit kita harus introspeksi, menelurusi kesalahan-kesalahan yang pernah kita buat kita mohonkan ampun, kalo ngga suatu saat kita akan melihat kesalahan saya...saya pernah ya mas pagi-pagi karena saya kan jualan nasi ya ngangkat itu lo kuah soto..padahal itu dalam keadaan mendidih ya itu tumpah kena kaki, woh itu sakitnya bukan main, puanas... Setelah malam itu saya introspeksi kenapa kaki saya kok tersiram ini..kemudian? setelah sujud melihat beberapa hari yang lalu saya tuh nebangi ini palem, raja... padahal itu di pekarangan saya sendiri ya yang sekarang saya tempati rumah ini ya, itu kan saya beli sudah ada palemnya rojo sekian-sekian ini. Emang kan tidak saya pake, tapi kan karena saya nebangnya dengan marah, ini dadanya panas..karena dicuri orang, yang lain diambil ga mau meminta pada saya, kalo minta Pak Waiman pohonnya palem mbok saya gunakan saja ya karena saya butuh uang atau gimana ya ngomong, tidak... Disini kan melihat dicuri kan mangkel ya, namanya juga manusia akhirnya yang lainnya saya tebang

  semua. Ini juga kan pertama merugikan perasaan orang lain tersinggung juga..mungkin lo itu atau kenapa tanaman baik-baik kok ditebangin tidak dimanfaatin untuk dijual atau diberikan ke orang lain kan juga bisa bermanfaat untuk orang lain saya tebangin gitu aja, itu kesalahan saya. Sampai kaki juga dihukum...lalu setelah merasakan sujud betul-betul perilaku kita ya nantinya akan berkurang sedikit-sedikit dengan sendirinya tapi kita juga berusaha ngerem sedangkan mbatin saja ga boleh mas, mbatin yang jelek ya atau curiga pada orang lain.. kalo bisa itu dijauhin karena itu nanti juga mempengaruhi waktu sujud. Bagaimana? Sulit ya? Itu pengalaman saya... apa yang saya lakukan kalo itu memang kehendak Tuhan ya mas, jadi usaha apa saja kalo itu kehendak Tuhan itu akan jadi. Kalo kita akan berusaha apapun kita harus sujud terlebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan-pekerjaan itu supaya kita berhasil karena kehendak Tuhanlah semua itu akan jadi tapi kalo Tuhan tidak menghendaki ya tidak akan jadi.

  No Jawaban subyek

  35

  26

  27

  28

  29

  30

  31

  32

  33

  34

  36

  24

  37

  38

  39

  40

  41

  42

  43

  44

  45 Mulai sepuluh November lima puluh enam sampai sekarang sudah berapa lama itu, mulai saya umur 25.

  25

  23

  1

  11

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  10

  12

  22

  13

  14

  15

  16

  17

  18

  19

  20

  21

  Kalo dari pengalaman yang bersifat rohani, yang bersifat abstrak ga ada. Hanya dalam perasaan saya merasa cocok begitulah. Begitu saya diberi cerita diceritani tentang Sapta Darma. Itu yang menceritani itu juga baru berpengalaman satu hari satu malam, lalu bercerita pada saya. Saya kok otomatis minta dituntuni, minta disujudkan. Akhirnya disujudkan saja dan waktu itu yang diceritakan pada saya hanya caranya sujud. Setelah dituntuni belajar sujud, hanya diberi pesan supaya nanti dipraktekkan, dalam praktek ini yang maksudnya disambil praktek sujud setiap hari juga dipesan supaya dibuktikan dengan modal merasa mampu untuk memberikan pertolongan pada orang lain, terutama orang sakit. Dari sedikit, perasaan saya menjadi tambah percaya dan bertambah yakin itu karena hasil dari pengobatan itu. Yang pertama anak saya yang pada waktu itu berumur 3 bulan itu sakit perut kemudian saya hanya hening, mengheningkan cipta. Klo memusatkan kan hanya hening saja, hanya diam, dalam hati menyatu dengan Tuhan kemudian disabdakan, sabda waras. Hanya sabda waras itu sabdanya kemudian anak saya menjadi sembuh. Demikian pula murid saya, saya kan seorang guru. Yang pertama kali menjadi kejutan atau menambah keyakinan saya, murid saya bermain- main, jatuh kemudian tak bernapas. Kemudian saya meminta anak-anak lain untuk meletakkannya di meja. Saya belum diberitahu tapi kok saya ada perasaan jari- jari saya diisi, jari-jari tengah saya ini saya pegangkan pada pusat kemudian saya luhurkan asma Allah, Allah Hyang Maha Agung, Allah HyangRohkim, Allah Hyang Maha adil dan saya sabda waras, anak itu seketika bangun trus lari- lari lagi. Itu yang membuat saya tambah yakin dan banyak lagi. Beberapa hari kemudian ga sampai lama ada tetangga yang istilahnya apa itu ya, kesurupan, kemasukan roh jahat. Sudah dipanggilkan yang namanya mbah Joremi yang biasanya memberikan penyembuhan, itu ndak mampu. Akhirnya saya kok merasa kasihan saya melihat merasa kasian, anak- anak masih disekolah itu, akhirnya timbul rasa untuk memberi penyembuhan, pangusadan. Itu otomatis saya ini, ini ada seperti ada setrumnya ini di driji dua

  46

  81

  72

  73

  74

  75

  76

  77

  78

  79

  80

  82

  70

  83

  84

  85

  86

  87

  88

  89

  90

  91 ini, ini saya tunjukkan pada ketiaknya dua-duanya nah itu roh yang ada di dalamnya itu lari, orangnya trus sadar. Nah setelah sadar, juga belum pernah saya diberitahu sebelumnya oleh orang yang menuntuni saya itu klo sudah begitu ini tuh diping maksudnya menutup agar rohnya itu tidak bisa kembali lagi. Itu yang menambah saya menjadi tambah yakin, tambah tekunlah saya sujud. Jadi kemudian timbul pengertian bahwa sujud itu terutama disamping merupakan kewajiban didalam hidup kita ini berasal dari Yang Maha Kuasa maka kita harus sujud kepada Yang Maha Kuasa. Yang sujud itu hidup kita ini, jasmaninya hanya ikut saja membungkuk tiga kali.

  71

  69

  47

  57

  48

  49

  50

  51

  52

  53

  54

  55

  56

  58

  68

  59

  60

  61

  62

  63

  64

  65

  66

  67

  Itu yang menyebabkan saya bertambah yakin dan banyak lagi. Bukan hanya puluhan tapi sudah ratusan. Tentang sujud itu setiap hari wajib menurut petunjuk di buku yang sudah tertulis, satu hari satu malam 24 jam minimal satu kali, itu yang benar tp lebih dari satu kali lebih baik. Tapi satu kali sudah dapat melakukan sujud benar-benar itu sudah baik. Oh iya jadi pada waktu sujud, kita merasakan. Pertama-tama teori sujud kan duduk bersila. Setelah duduk di mori putih itu terus duduk bersila untuk bapak-bapak, duduk bertimpuh untuk ibu. Lalu sedakep, klo sudah sedakep, jasmani sudah diatur kemudian mulai rohani sekarang yang harus bekerja. Jasmaninya diusahakan pasif, tidak hanya wujudnya jasmani ini saja tapi juga pikirannya juga pasif. Klo sudah bisa pasif semua pikiran, angan dsb itu yang dinamakan ening. Dalam situasi ening itulah rasa istilah lainnya rohani itu akan aktif melaksanakan sujud itu terasa, rasanya giming- giming gitu. Pokoknya ada rasa yang berjalan mulai dari kaki. Dia akan naik ke atas, ini mata masih terbuka. Nanti klo sudah dikepala nanti akan terasa berat. Nah setelah berat nanti diperhatikan trus sampai menyatu di ubun-ubun ini. Setelah menyatu di ubun- ubun ini barulah nanti akan turun ke bawah menutup mata sampai di mulut, ujung lidah nanti di ujung lidah akan terasa yang istilah jawanya pating trecep, seperti ada setrum. Ini nanti klo sudah ada setrum listrik itu, ini otomatis perhatian rohani trus merasa menghadap kepada Yang Maha Kuasa kemudian meluhurkan asma Allah yang bunyinya Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Rokhim, Allah Hyang Maha Adil. Kemudian setelah itu nanti ada rasa lagi turun

  92

  93

  94

  95

  96

  97

  98

  99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 ke bawah. Rasanya enak gitu, tenang, dalam perasaan tenang sekali, pokoknya ga da beban apa-apa sampai rasa itu menyentuh disini. Istilahnya dalam Sapta Darma sampai di bundelan tali roso do, klo menurut Sapta Darma kan ada dua belas saudara antara lain yang namanya Sukmo Kencono nanti klo sudah sampai disini maka kita tingkatkan ening kita, lebih pasif lagi, angan-angan tidak boleh bekerja. Nanti akan ada rasa yang datang dari tulang ekor, dari sana akan ada rasa yang naik lewat sumsum tulang belakang, naik ke atas sampai menyatu diubun- ubun. Klo sudah sampai di ubun-ubun pada waktu ini badannya sudah membungkuk dengan sendirinya.

  Pada waktu disini ditahan sedikit trus sampai di mori putih nah ini rasa yang dari sumsum tulang belakang sudah sampai di ubun-ubun kemudian dirasakan lagi keujung lidah, sampai di ujung lidah nanti kita seakan-akan menyatu lagi atau kontak dengan Yang Maha Kuasa dengan mengucap sujud, ucapannya Hyang Maha Suci sujud Hyang Maha Kuasa 3 kali diucapkan lalu kembali tegak. Mengapa Hyang Maha Suci yang mengucap sujud? Karena yang sujud itu rasa kita, ya sinar atau nur kita yang berasal dari Hyang Maha Kuasa itu yang berhak sujud. Jadi manusia itu yang bisa sujud hanya nur kita, jadi klo sudah bisa rasa yang meliputi seluruh tubuh kita sudah tersaring klo sudah jadi nur, nur itulah yang bisa sujud kepada Hyang Maha Kuasa. Jadi tidak cukup hanya ucapan, jadi yang mengucap itu nur tadi istilahnya dalam batin jadi mengucap dalam batin. Sesudah mengambil sujud ini dirasakan dari ubun- ubun turun ke bawah sampai ke muka ini terasa. Dalam hati pembersihan untuk mengendalikan napsu, musuh kita yang tersisa, napsu dalam pribadi kita yang dikendalikan supaya kita bisa berbuat baik. Sampai ke bawah. Juga berfungsi untuk pembenahan pribadi klo ada alat yang kurang bagus bisa menjadi bagus, alat yang kurang sehat bisa menjadi sehat. Oleh karena itu kalo benar-benar sujudnya pada Yang Maha Kuasa dan selalu mengurangi kesalahan, ingat pada kesalahan nanti akan dapat berbuat baiklah. Itu bungkukan yang pertama, terus dirasakan terus sampai ke do lagi. Kemudian dirasakan lagi dari silit kodok, begitupun untuk bungkukan kedua caranya sama. Nah setelah sampai di mori lalu paling tidak ingat, syukur tahu. Jadi klo diketahui kesalahan apa

  138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 saja yang pernah diperbuat sejak umur 5 tahun.

  Menurut Sapta Darma orang itu sudah memiliki kesalahan atau dapat dikatakan salah klo sudah berumur 5 tahun. Nah sejak umur 5 tahun itu nanti akan kelihatan paling tidak ingat kesalahan yang pernah dibuat. Setelah ingat kesalahan yang pernah dibuat, kemudian ini terus dirasakan terus nurnya agar dapat terus berhubungan dengan Yang Maka Kuasa lalu dalam batin mengucap kesalahan Hyang Maha Suci nyuwun pangapura Hyang Maha Kuasa dalam bahasa Jawa. Di Indonesiakan juga boleh Kesalahan Hyang Maha Suci mohon ampun Hyang Maha Kuasa boleh 3 kali juga. Sesudah itu kembali tegak, sama dirasakan turunnya seperti tadi. Prinsipnya habis sujud kembali tegak ini harus dirasakan sebab itu ketika kita kontak dengan Hyang Maha Kuasa, itu kita mendapat sinar dari Hyang Maha Kuasa, sinar baru, nah inilah santapan rohani menurut Sapta Darma. Santapan rohani menurut Sapta Darma itu setiap habis sujud dirasakan. Disamping untuk memelihara kesehatan, untuk memperbaiki napsu- napsu yang kurang baik itu juga fungsinya. Kemudian dirasakan lagi ketiga kalinya dari silit kodok sampai naik lagi ke ubun- ubun kemudian dahi dan ujung hidung ini menyentuh mori putih kemudian ingat kepada kesalahan tadi. Lalu dengan mengucap Hyang Maha Suci mertobat Hyang Maha Kuasa. Jadi dengan ingat kesalahan tadi lalu mengucap Hyang Maha Suci mertobat Hyang Maha Kuasa 3 kali. Mengapa Hyang Maha Suci kok mertobat? Sebetulnya Hyang Maha Suci itu tugasnya mengendalikan saudara yang ada dalam pribadi, napsu yang ada dalam pribadi ini . klo Hyang Maha Suci tidak bisa menguasai, tidak bisa masesa kepada napsu- napsu itu berarti salah Hyang Maha Suci, sebab yang bisa sujud itu Hyang Maha Suci. Jadi saudara yang lain hanya berbuat salah karena ingin menguasai pribadi manusia sebetulnya napsu-napsu itu. Kalo orang dikuasai napsu-napsunya yang berlebihan lalu menjadi orang yang angkara murka seperti Dasamuka. Demikian teorinya sujud setelah dirasakan sampai lerem, sampai tenteram, sampai tenang dan dirasakan betul-betul ada perbedaannya sebelum sujud dan setelah sujud itu ada perbedaannya. Perbedaannya ya itu sebelum sujud mungkin masih

  184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 membawa getaran- getaran yang tidak baik itu rasanya berat di badan tapi setelah sujud nanti tidak, enteng, lego. Itu perbedaannya. Nah manfaat sujud banyak sekali klo manfaat sujud. Yang pertama kali tadi memenuhi kewajiban, hidup wajib sujud kepada yang memberi hidup kemudian untuk kepentingan pribadi sujud bisa mendatangkan kesehatan.

  Dibuktikan sebelum sujud dan sesudah sujud rasanya lebih enak, lebih segar daripada sebelum sujud. Itu untuk pribadi. Yang lainnya tadi untuk mengendalikan napsu, untuk memperbaiki napsu. Nah klo merasakan disini tadi istilahnya dalam Sapta Darma, istilahnya membangun sanggar candi sapta rengga. Ini lambang daripada sanggar candi sapta rengga. Kenapa disebut sanggar candi sapta rengga? Karena bagian tubuh manusia yang paling atas ini lah yang disebut sebagai manusia. Ini mukanya yang dihiasi atau direngga dengan alat, lubang banyaknya tujuh, mata dua, telinga dua, lubang hidung dua, tutuk satu. Orang itu enak dan tidak enak, bejo dan ciloko itu tergantung pada ini, sapta rengga ini. Klo ini berkata yang tidak baik mungkin akan ditempeleng orang, lah klo ini mencium yang bukan haknya akan ditempeleng orang. Demikian pula klo ini mendengar suara orang lalu amarah kemudian timbul cekcok kan juga mendatangkan yang tidak enak. Matapun demikian itu pula. Lebih- lebih kalau sudah berkeluarga itu harus bisa mengendalikan, harus bisa mengendalikan rumah tangganya supaya tetap utuh bersatu. Klo di jalan bertemu orang yang cantik jangan sampai lupa dengan istrinya, salah satu contoh itu. Ini yang penting, klo kita bisa mengendalikan mata, telinga, hidung dan tutuk dengan baik akan selamat. Syukur klo bisa melaksanakan ini sampai dengan titik darah penghabisan, artinya sudah waktunya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, itu menurut Sapta Darma. Kalau sudah seperti istilahnya kesalahan-kesalan ya ng sudah habis dimohonkan ampun, bersih jadi langsung tidak usah ke neroko tapi langsung suarga menurut Sapta Darma. Yang jelas saya merasa tenang dan saya sebelum ketemu Sapta Darma saya juga merasa cukup, tidak pernah merasa kurang. Sebab itu saya terima, teman- teman keluar sebagai guru, saya tetap menjadi guru. Meskipun pada waktu itu gajinya mung sedikit saya

  230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 rasa sudah cukup. Sampai dengan keluarga saya juga bahagia. Istri satu dan memang sudah menjadi cita- cita saya sebelum ketemu Sapta Darma, saya masih jejaka itu juga ingin kawin itu satu saja. Malah menjadi motivasi saya, Nabi Adam. Yang Maha Kuasa menurunkan Nabi Adam hanya satu jodoh, ya satu itu saja jodoh dan pada waktu itu saya minta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, belum ketemu Sapta Darma lo..saya mohon anak dua saja cukup.

  Jadi pemerintah belum menganjurkan Keluarga Berencana, saya sudah mengeluarkan. Saya minta dua saja, satu laki satu perempuan. Ketemu Sapta Darma saya kawin. Artinya kawin trus anak saya umur 38 ketemu Sapta Darma. Nah ndilala h anak saya itu yang pertama sebelum ketemu Sapta Darma tapi saya sudah mengerti tidak tahu lo ya, tapi mengerti bahwa anak saya nanti laki- laki sebab itu masih umur 6 bulan dalam kandungan sudah saya beri nama. Tapi klo yang kedua saya sudah melakukan sujud. Sudah sujud juga kemudian, 6 bulan dalam kandungan sudah saya beri nama Sri, Sri Astuti dan namanya saya ketemukan dua, Sri Astuti dan Sri Ratna Astuti. Akhirnya pada waktu lahir saya namakan Sri Astuti tapi setelah masuk kelas satu, anaknya minta ditambahkan Ratna jadi Sri Ratna Astuti. Klo yang laki- laki Wijayakusuma saya berikan nama itu. Dan anak saya dua itu sudah dewasa semua. Yang satu sudah berumur 51 tahun, yang nomer dua 49 tahun. Pokoknya saya merasa syukurlah pada Tuhan Yang Maha Esa saya diberikan tuntunan, bimbingan lalu yang penting lagi pada waktu saya berangkat untuk menikah saya pamit kepada orang tua, saya ingin membuat sejarah baru, tidak seperti mbah- mbah saya, seperti bapak ibu saya. Pokoknya saya ingin membuat sejarah baru. Akhirnya setelah saya hayati itu perkawinan saya ternyata saya ada saja godaan tapi saya dapat mengendalikan terutama godaan itu, godaan mata itu. Tapi saya dapat mengendalikan sampe sekarang, anak saya yang satu bekerja di Bandung di telkom, yang satu di dinas kesehatan di Semarang. Jadi saya tinggal lagi berduaan dengan istri saya. No Kategori Pernyataan Tema

  1 Latar belakang melakukan sujud Kita ya sujud itu memang membutuhkan Sujud dianggap lebih membutuhkan suatu perjuangan, perjuangan untuk sujud perjuangan. itu tidak semudah seperti orang-orang lain di dalam ajaran yang lain seperti yang pernah saya lakukan seperti Islam ya, dulu kan saya juga sholat ya. Itu tidak seperti ini, kan asal hapal, diucapkan bergerak seperti itu selesai (227-233). kehidupan bisa meningkat (276). Keterbatasan ekonomi.

  2 Sensasi fisik yang dirasakan ketika itu seperti gelombang-gelombang rasa yang Ada gelombang yang berjalan. sujud berjalan (78-79). walaupun mata kita memandang melek Melihat suatu cahaya. begini ya karena awalnya kan juga melek ya tapi apapun yang ada di depan kita ga kelihatan yang kelihatan cuma cahaya, walaupun dalam keadaan gelap akan timbul cahaya (154-158) Kalau mata sudah menutup dengan Mata akan terasa berat. sendirinya, mata dibuka pun kita tidak mampu membuka gini tuh kita tidak Mendengar ada yang berkata Allah mampu. Hyang Maha Agung, Allah Hyang Ya rasanya berat sekali, menutup akhirnya Maha Rokhim, Allah Hyang Maha Adil nanti kita merasakan lagi ada yang asma 3 untuk kemudian ditirukan. itupun juga, kita mendengarkan dan menirukan jadi disana ada yang Mendengar dari sesuatu yang tidak mengatakan. Kita dengar, kita disini tampak. didalam hati jasmani menirukan apa yang diucap itu tadi (250-257).

  3 Sensasi psikologis yang dirasakan Itu kalau betul-betul bisa seperti itu setiap Merasakan kebahagiaan. ketika sujud hari hebat, indah, kebahagiaan yang didapat (257-259).

  4 Pengalaman akan Tuhan ketika sujud walaupun dalam keadaan gelap akan timbul Tuhan memancarkan cahaya sebagai cahaya. Sinar itu muncul darimana? Dari yang memberi kehidupan. sana yang memancarkan, semua manusia yang masih hidup di dunia ini dipancari Manusia adalah bagian dari Tuhan dan oleh sinar Allah. Kalau tidak mendapatkan Tuhan ada di dalam manusia. sinar Allah ya... kita tidak hidup lagi... karena rohani manusia adalah bagian dari sinar Allah sendiri, jadi dimana Tuhan itu? Ada di dalam kita, ga usah mencari kemana- mana. Gitu to? Kalau kita sudah berdoa gini dimana? Ya di dalam hati kita kan? Tidak dimana- mana kan Tuhan itu, buat apa kita jauh-jauh? Kita diam..seperti sujud itu juga, mampu ga jiwa saya menyatu dengan Yang Maha Kuasa (157-169).

  5 Manfaat yang dirasakan melalui sujud Setelah sujud, kita melaksanakan sujud ini, Mampu mengurangi hawa napsu. kita mengolah rasa akhirnya dengan hawa napsu- napsu itu bisa berkurang dari sedikit (7-10). dengan orang lain tidak punya rasa dengki, Mampu mengendalikan diri dari rasa atau ingin marah walaupun kita diterpa oleh dengki dan marah. perkataan-perkataan yang ga pas dengan rasa kita, kita bisa mengendalikan diri, itu hasil dari sujud (13-16). Jadi semakin lama kita semakin sujud dan Mampu memberikan rasa damai, kita mau tekun dengan sujud, kita akan bahagia dan ketentraman dalam pribadi. membuahkan rasa damai, bahagia dan ketentraman dalam pribadi...gitu (16-19).

  Kehidupan sehari-hari juga ada perubahan. Sujud mampu meningkatkan kehidupan Perubahannya banyak mas misalnya dulu ekonomi. kita ga punya rumah dengan sujud begini kita dapat bangun rumah, kehidupan bisa meningkat (273-276) Apa yang saya inginkan, apa yang saya cita- Mampu memberikan apa yang citakan terlaksana dengan kita tidak tau diinginkan atau dicita-citakan. (317-318).

  6 Pengaruh ke dalam kehidupan sehari- Ini sudah kehendak Tuhan, kita monggo, Memasrahkan semua pada Tuhan. hari saya serahkan asal nantinya jadinya lebih baik lagi dari yang sekarang (311-313). Adanya ketergantungan pada Tuhan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Ini dalam ajaran Sapta Darma, maka kalo Menjaga perkataan. orang-orang dalam Sapta Darma jangan sekali-kali, belajarlah berkata baik dan benar. Karena apa? Apa yang dikatakan nanti bisa terjadi sungguhan, itu yang kasihan (385-389). kalo kita merasa sakit kita harus introspeksi, Melakukan instropeksi diri untuk menelurusi kesalahan-kesalahan yang melihat kesalahan yang pernah dibuat. pernah kita buat kita mohonkan ampun, kalo ngga suatu saat kita akan melihat kesalahan saya (403-407)

  7 Pengalaman di dalam relasi mereka Saya bangun rumah ga punya duit. Biaya untuk membangun rumah tidak dengan Tuhan nya Uang 30 juta, material yang ada cuma kusen cukup tapi ternyata rumah dapat selesai pintu sama jendela jangan daun pintu sama dibangun. jendela. Padahal saya tanya sama yang mborong tenaga, rumah saya karena terlalu Kehendak Tuhan merupakan suatu gede ya. Itu biaya tukangnya saja sudah 28 mukjizat. juta itu belum finishing, baru buat pondasi sampai batu bata naik masang itu kusen- kusen sama sampai gendeng, itu belum semuanya ya. Itu sudah 28 juta, uang tingal 2 juta. Apa mungkin itu terjadi kalau itu bukan kehendak Tuhan? Dengan saya yakin seyakin- yakinnya, Tuhan akan memberikan saya rumah, jadi...(281-293)

  8 Makna sujud karena saya yakin kalo kita dekat dengan Tuhan, maka kita akan dibimbing, diberi petunjuk walaupun kadang-kadang kita itu sok-sok ga mudeng ya, sampai-sampai saya kok gak mudeng apa yang saya katakan itu seolah-olah keluar dari mulut karena saya (365-370). itu artinya kita dapat bahagia di dunia ini dan bahagia nanti di alam langgeng sana untuk mencapai itu maka kita dengan sujud tekun (22-25).

  Kita ya sujud itu memang membutuhkan suatu perjuangan (227-228).

  Bila dekat dengan Tuhan, Dia akan membimbing, memberi petunjuk meskipun kadang tidak tahu apa maksud dan tujuannya.

  Adanya suatu perintah dari tak tampak yang memberi petunjuk melalui ucapannya yang kadang tidak disadari bagaimana dan kenapa itu diucapkan.

  Sujud sebagai suatu syarat untuk bahagia di dunia dan di akherat.

  Sujud merupakan suatu perjuangan.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP HAPPINESS AT WORK SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
0
0
13
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan NIKIE RAMSI TAMNGE NIM 20111112047
0
1
17
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar SARJANA PENDIDIKAN
0
0
14
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
15
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
17
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan LINDA ROHMAWATI NIM. 20121110045
0
0
13
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
1
26
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan DEWI KURNIASIH NIM. 20121110008
0
0
16
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan NUR AZIZAH NIM. 20121113025
0
0
15
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan SITI MULYATI NIM. 20131111105
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
16
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Hukum Islam
0
0
102
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Hukum Islam
0
0
121
Susukan Tahun 2010 ) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Hukum Islam
0
0
84
Show more