Rasa bangga sebagai mediator dalam hubungan antara kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan pada remaja - USD Repository

Gratis

0
0
159
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI RASA BANGGA SEBAGAI MEDIATOR DALAM HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN DENGAN IBU DAN SENSITIVITAS TERHADAP PENOLAKAN PADA REMAJA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun Oleh: Fiona Valentina Damanik 109114059 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Halaman Motto “If you don’t take the risk, you will died” “Karena hidup tidak hanya tentang kenyang dan senang” “21Yesus menjawab mereka: ” Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Hal itu akan terjadi. 22 Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.”” (Matius 21:21) “Sebab itu jauhilah hawa nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” (2Tim2:22) “It doesn’t matter how slowly we go, as long as we don’t stop” iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Halaman Persembahan Skripsi ini kupersembahkan bagi, Tuhan Yesus Kristus yang selalu punya cara untuk menopangku, semoga skripsi ini dapat menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menjadikan kehidupan lebih bermakna. Orang tua, Bapak J.W. Damanik & Mamak Elijah Barus. Saudara perempuanku, Kak Nana, Angelia, & Putri. Pasangan hidupku, mengharapkanmu menjadi kekuatan bagiku. Sahabat-sahabatku, Solider, P2TKP, DuGem, The_Ronk_Shockz, v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI RASA BANGGA SEBAGAI MEDIATOR DALAM HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN DENGAN IBU DENGAN DAN SENSITIVITAS TERHADAP PENOLAKAN PADA REMAJA Fiona Valentina Damanik ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menegaskan peran perasaan bangga pada hubungan antara kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan. Penelitian ini menggunakan model mediasi untuk menegaskan peran perasaan bangga tersebut. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang tidak langsung antara kelekatan dengan ibu, sensitivitas terhadap penolakan, dan rasa bangga. Sehingga kecenderungan untuk bangga adalah mediator dalam hubungan antara kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan. Subjek penelitian ini sebanyak 312 remaja. Jenis penelitian ini adalah korelasional dengan teknik pengambilan sampel menggunakan quota sampling sehingga jumlah subjek penelitian sudah ditentukan terlebih dahulu oleh peneliti.Teknik analisis data adalah analisis regresi dengan SPSS 16.0. Hasil analisis penelitian ini ditemukan bahwa rasa bangga bukan mediator hubungan antara kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan. Hal tersebut menunjukkan bahwa untuk memiliki sensitivitas terhadap penolakan yang tinggi, individu yang memiliki kelekatan yang tidak aman tidak harus melalui perasaan hubristik terlebih dahulu. Kata kunci: Kelekatan dengan ibu, rasa bangga, sensitivitas terhadap penolakan vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRIDE AS A MEDIATOR BETWEEN ATTACHMENT TO MOTHER AND REJECTION SENSITIVTY IN ADOLESCENT Fiona Valentina Damanik ABSTRACT This study is aimed to explain the role of pride in the relationship between attachment to mother and rejection sensitivity. This study used mediation model to explain the indirect path. The hypothesis of this study is there is a indirect path among attachment to mother, pride, and rejection sensitivity. Pride is a mediator in the relationship between attachment to mother and rejection sensitivity. The amount subject of this study is 312 subject. Techniques used to collect the population sample was quota sampling, so that the amount of subject was determined first. The data was analyzed using regression analysis by SPSS 16.0. The result shown that pride isn’t a mediator in correlation between attachment to mother and rejection sensitivity. Keyword: Attachment to mother, pride, rejection sensitivity viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Sungguh luar biasa berkat dan penyertaan Tuhan yang melimpah-limpah dalam kehidupan penulis sehingga Skripsi dengan judul “Rasa Bangga sebagai Mediator dalam hubungan Kelekatan dengan Ibu dan Sensitivitas terhadap Penolakan pada Remaja” ini dapat diselesaikan dengan baik. Selama menulis Skripsi ini, penulis menyadari bahwa ada begitu banyak pihak yang telah berkontribusi besar dalam proses pengerjaan Skripsi ini. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada: 1. Bapak Dr. Priyo Widianto, M.Si sebagai dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 2. Ibu Ratri Sunar Astuti, M.Si. selaku Kepala Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 3. Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi selaku Dosen Pembimbing Skripsi. Terima kasih atas kesabaran, kerjasama, dan dukungan yang telah diberikan hingga Skripsi ini dapat terselesaikan dengan maksimal. 4. Bapak Victorius Didik Suryo Hartoko, M.Si dan Ibu Dra. Lusia Pratidarmanastiti, M.S. sebagai dosen penguji, dosen terfavorit dan dosen pembimbing akademik saya. Terimakasih atas ujian pendadaran yang menyenangkan. Terimakasih sudah menjadi inspirasi yang mengesankan. 5. Seluruh dosen Fakultas Psikologi yang selalu memberikan inspirasi dan nilai-nilai kehidupan yang mampu diterapkan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Mas Gandung, Ibu Nanik, Mas Muji, Mas Doni, Pak Giek, terimakasih atas senyum, canda, tawa, dan sapa yang selalu menyertai tiap langkah perjalanan peneliti selama 4 tahun di fakultas Psikologi. 7. Kepala Sekolah dan guru-guru SMP, SMA, dan SMK yang sudah mendukung dalam proses pengambilan data. 8. Bapak dan Mamak, terimakasih atas dukungannya, atas kepercayaannya, atas kasih sayang dalam segala bentuk, atas semangat yang tak kunjung henti, atas segala nasehat yang berguna bagi keberlangsungan hidup, terimakasih untuk menjadi tangga dalam menggapai mimpi, izinkan skripsi ini menjadi pengukir senyum. 9. Kak Nana, Angelia, Putri, saudari-saudariku yang cantik, selalu memberi semangat, menjadi teman yang mampu diajak berdiskusi, bersenda gurau, dan banyak hal lain, I love you so much. 10. Temen-temen penelitian Payung, Mbak Haksi, mas Bas, Rintong, Darlacung, Marlincung, Nathan, dan teman seperjuangan berdarahdarahku Ditong, atas segala dukungan yang telah diberikan dalam mengkonstrukkan cara berpikir saya yang berhamburan, atas kerja keras kita selama ini, let’s go to Melbourne. 11. SOLIDER: Daning, Pudji, Ghea, Vienna, Tista, Esti, Lusi, Pinno, dan Lolla. Terimakasih untuk persahabatan, dukungan, menjadi penyemangat dalam tiap kesempatan penulis memerlukan, terimakasih untuk selalu menemukan sisi positifku saat dimana dunia selalu memandangku secara negatif. xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12. Keluarga P2TKP, Pak Adi, Pak Toni, Mbak Tia, Bella, Pudar, Anin, Ester, Bibin, Rika, Lukas, Nats, Anju, Lito, Ardi, Grace, Yovran, Christy, dan Wuri. Terimakasih untuk membantu penulis belajar mempercayai lagi, belajar memahami orang lain, belajar mencintai diri sendiri. 13. PMK Ebenhaezer, Koko Dicky, Kak Rea, Kak Alvi, Raisa, Maureen, Leo, Itha, dan temen-temen PMK semuanya yang menjadi teman berproses dan bertumbuh dalam iman. 14. Dugem (FIO, GINA, EVI), The_Ronk_Shockz (Fiona, Dwi, Anggi, Sella, Tantri), kelas XA, XII IPA, teman-teman SMA yang masih terus mendukung dalam doa dari jauh. Terimakasih untuk setiap kalimat-kalimat penyemangat, menjadi pendengar yang baik, menjadi penghibur di kala rindu menerpa “you can if you think you can”. 15. Seluruh teman-teman angkatan 2010, terimakasih atas kebersamaan kita. 16. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan, terimakasih atas doa dan dukungan selama ini Akhir kata, tiada gading yang tak retak. Begitu pula pada skripsi yang masih jauh dari sempurna ini, skripsi ini merupakan usaha maksimal penulis. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk perkembangan penelitian selanjutnya. Terima kasih. Yogyakarta, Mei 2013 Penulis xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL............................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................iii HALAMAN MOTTO ........................................................................................ iv HALAMAN PERESEMBAHAN ....................................................................... v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ....................................... vi ABSTRAK ........................................................................................................ vii ABSTRACT .....................................................................................................viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ...................... ix KATA PENGANTAR ........................................................................................ x DAFTAR ISI ....................................................................................................xiii DAFTAR TABEL ........................................................................................... xvii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xix DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xxi BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 A. LATAR BELAKANG ......................................................................... 1 B. RUMUSAN MASALAH .................................................................... 8 C. TUJUAN PENELITIAN ..................................................................... 8 D. MANFAAT PENELITIAN ................................................................. 8 1. Teoretis .......................................................................................... 8 2. Praktis ............................................................................................ 9 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................... 11 A. SENSITIVITAS TERHADAP PENOLAKAN ................................. 11 1. Definisi ........................................................................................ 11 2. Macam-macam Sensitivitas Individu terhadap Penolakan .......... 13 3. Efek Samping Tingginya Tingkat Sensitivitas terhadap Penolakan..................................................................................... 14 4. Faktor Penyebab Individu Memiliki Sensitivitas terhadap Penolakan yang Tinggi ................................................................ 16 5. Alat ukur ...................................................................................... 19 B. KECENDERUNGAN UNTUK MERASA BANGGA..................... 22 1. Definisi ........................................................................................ 22 2. Jenis Perasaan Bangga dan Efek Sampingnya ............................ 23 3. Proses dan Faktor Munculnya Perasaan Bangga ......................... 25 4. Alat ukur ...................................................................................... 27 C. KELEKATAN ................................................................................... 29 1. Definisi ........................................................................................ 29 2. Aspek-aspek Kelekatan ............................................................... 30 3. Macam-macam Kelekatan dan Dampaknya ................................ 31 4. Mekanisme terbentuknya Kelekatan ........................................... 33 5. Kelekatan dengan Ibu .................................................................. 35 6. Alat Ukur ..................................................................................... 36 D. REMAJA ........................................................................................... 37 1. Definisi ........................................................................................ 37 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Perkembangan Remaja ................................................................ 38 3. Tugas Perkembangan Remaja ..................................................... 40 E. HUBUNGAN ANATARA KELEKATAN TERHADAP IBU, KECENDERUNGAN UNTUK BANGGA, DAN SENSITIVITAS TERHADAP PENOLAKAN ............................................................ 40 1. Rasa Bangga sebagai Mediator.................................................... 40 2. Budaya Kolektif ........................................................................... 46 F. HIPOTESIS ....................................................................................... 47 BAB III METODE PENELITIAN.................................................................... 48 A. JENIS PENELITIAN ........................................................................ 48 B. VARIABEL PENELITIAN ............................................................... 48 C. DEFINISI OPERASIONAL .............................................................. 48 1. Sensitivitas terhadap Penolakan .................................................. 48 2. Perasaan Bangga .......................................................................... 49 3. Kelekatan dengan Ibu .................................................................. 50 D. SUBJEK PENELITIAN .................................................................... 51 E. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA .......................... 52 1. Metode ......................................................................................... 52 2. Alat Pengumpulan Data ............................................................... 52 F. VALIDITAS DAN RELIABILITAS ................................................ 53 1. Validitas Skala ............................................................................. 53 2. Reliabilitas ................................................................................... 56 G. METODE ANALISIS DATA ........................................................... 59 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI H. TEKNIK ANALISIS DATA ............................................................. 61 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................. 62 A. PERSIAPAN PENELITIAN ............................................................. 62 B. PELAKSANAAN PENELITIAN ..................................................... 63 C. HASIL PENELITIAN ....................................................................... 64 1. Uji Linearitas ............................................................................... 65 2. Uji Normalitas residu................................................................... 68 3. Uji Homogenitas .......................................................................... 73 4. Analisis Regresi Perasaan Bangga sebagai Mediator .................. 76 D. PEMBAHASAN ................................................................................ 84 E. KETERBATASAN PENELITIAN ................................................... 87 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 88 A. KESIMPULAN ................................................................................. 89 B. SARAN .............................................................................................. 89 1. Bagi Remaja ................................................................................ 89 2. Bagi Institusi Pendidikan ............................................................. 89 3. Bagi Orangtua .............................................................................. 90 4. Bagi Peneliti Berikutnya .............................................................. 90 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 91 LAMPIRAN-LAMPIRAN.............................................................................. 100 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1 Data Demografi Subjek berdasarkan Pendidikan .....................................64 Tabel 2 Hasil uji F Kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang autentik .....76 Tabel 3 Hasil analisis koefisien Kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang autentik ..................................................................................................77 Tabel 4 Hasil uji F Kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang hubristik ...77 Tabel 5 Hasil analisis koefisien Kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang hubristik .................................................................................................78 Tabel 6 Hasil uji F Perasaan bangga yang autentik dan sensitivitas terhadap penolakan ...............................................................................................78 Tabel 7 Hasil analisis koefisien Perasaan bangga yang autentik dan sensitivitas erhadap penolakan .................................................................................78 Tabel 8 Hasil uji F Perasaan bangga yang hubristik dan sensitivitas terhadap penolakan ...............................................................................................79 Tabel 9 Hasil analisis koefisien Perasaan bangga yang hubristik dan sensitivitas terhadap penolakan ................................................................................79 Tabel 10. Hasil uji F Kelekatan pada ibu dan sensitivitas terhadap penolakan .....80 Tabel 11. Hasil analisis koefisien Kelekatan pada ibu dan sensitivitas terhadap penolakan ...............................................................................................80 Tabel 12. Hasil uji F Sensitivitas terhadap Penolakan pada Kelekatan dengan Ibu dan Perasaan Bangga yang Autentik .....................................................81 xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 13. Hasil analisis koefisien Sensitivitas terhadap Penolakan pada Kelekatan dengan Ibu dan Perasaan Bangga yang Autentik .................81 Tabel 14. Hasil uji F Sensitivitas terhadap Penolakan pada Kelekatan dengan Ibu dan Perasaan Bangga yang Hubristik ....................................................82 Tabel 15. Hasil analisis koefisien Sensitivitas terhadap Penolakan pada Kelekatan dengan Ibu dan Perasaan Bangga yang Hubristik ................82 xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Siklus proses munculnya sensitivitas terhadap penolakan ....................19 Gambar 2 Kelekatan aman yang tinggi dan yang rendah ......................................33 Gambar 3 Model perasaan bangga sebagai mediator .............................................45 Gambar 4 Framework penelitian perasaan bangga sebagai mediator ....................47 Gambar 5 Scatterplot kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga autentik ..........65 Gambar 6 Scatterplot kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga hubristik .........66 Gambar 7 Scatterplot perasaan bangga yang autentik dan sensitivitas terhadap penolakan ...............................................................................................66 Gambar 8 Scatterplot perasaan bangga yang hubristik dan sensitivitas terhadap penolakan ...............................................................................................67 Gambar 9 Scatterplot kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan .68 Gambar 10 Grafik normal P-P plot of regression standardized residual perasaan bangga yang autentik dan kelekatan dengan ibu ...................................69 Gambar 11 Grafik normal P-P plot of regression standardized residual perasaan bangga yang hubristik dan kelekatan dengan ibu ..................................70 Gambar 12 Grafik normal P-P plot of regression standardized residual perasaan bangga yang autentik dan sensitivitas terhadap penolakan ...................70 Gambar 13 Grafik normal P-P plot of regression standardized residual perasaan bangga yang hubristik dan sensitivitas terhadap penolakan ..................71 Gambar 14 Grafik normal P-P plot of regression standardized residual kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan ....................................72 xix

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 15 Scatterplot perasaan bangga autentik dan kelekatan dengan ibu ........73 Gambar 16 Scatterplot perasaan bangga hubristik dan kelekatan dengan ibu .......74 Gambar 17 Scatterplot perasaan bangga autentik dan sensitivtas terhadap penolakan ...............................................................................................74 Gambar 18 Scatterplot perasaan bangga hubristik dan sensitivitas terhadap penolakan ...............................................................................................75 Gambar 19 Scatterplot kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan76 xx

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A. Skala Pengukuran ...........................................................................101 Lampiran B. Skala Self-Conscious Emotions ......................................................103 Lampiran C. Skala Sensitivitas terhadap Penolakan ............................................112 Lampiran D. Skala Kelekatan dengan Ibu ...........................................................119 Lampiran E. Reliabilitas.......................................................................................123 Lampiran F. Hasil Regresi Model Mediator ........................................................129 xxi

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah diterima (Baumeister, 1995). Kebutuhan itulah yang membuat individu berperilaku sedemikian rupa agar tidak ditolak. Padahal dapat dikatakan bahwa situasi yang memungkinkan diri untuk ditolak tidak dapat dihindari. Dari beberapa blog yang berisi curhatan remaja, banyak remaja yang menjadi tidak berkembang karena takut akan penolakan, ingin keluar dari organisasi karena merasa diacuhkan oleh pimpinan (curhatonline, 2014), menjadi sangat tertekan karena merasa dikucilkan oleh teman sebaya (majalah-elfata, 2013), dan tidak berpacaran karena takut ditolak (curhatonline, 2013). Penolakan yang sesungguhnya belum terjadi tetapi banyak remaja menjadi tidak sejahtera karena memiliki sensitivitas yang tinggi akan penolakan. Selama masa remaja, kemungkinan untuk ditolak oleh lingkungan semakin besar (Rubin, Bukowski, & Parker, 2006a). Hubungan remaja semakin luas, tidak lagi hanya dengan orang tua. Remaja akan berinteraksi dengan banyak orang yang mempengaruhi dirinya seperti teman sebaya, pacar, dan sahabat (Urberg, 1992; Kiesner, Nicotra, & Notari, 2005). Semakin banyak menjalin relasi, semakin besar kemungkinan untuk ditolak. Belum lagi ketidakmatangan pemikiran remaja yang menganggap orang lain

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 selalu memperhatikan dirinya secara mendetil (imaginary audience) (Elkind dalam Santrock, 1995) meningkatkan sensitivitas remaja akan penolakan. Hasil penelitian sebelumnya menyatakan bahwa sensitivitas individu terhadap penolakan berkaitan dengan banyak hal negatif seperti agresi, orientasi pemecahan masalah yang negatif, sulit menjalin relasi dengan orang lain, kelekatan yang tidak aman, self efficacy rendah, perfomansi akademik rendah, harga diri rendah, self silencing, neurotis, phobia sosial, gangguan kepribadian menghindar, dependensi, dan depresi (MacCabe, Blankstein, & Mills, 1999; Brookings, Zembar, & Hochstetler, 2003; Harper, Dickson, & Welsh, 2006; Downey, Feldman, & Ayduk, 2000; Khoskam, Bahrami, Ahmadi, Fatehizade, & Etemadi, 2012; Berenson, Gyurak, Ayduk, Downey, Garner, Mogg, Bradley, & Pine, 2009; Feldman & Downey, 1994). Sensitivitas terhadap penolakan muncul karena adanya internalisasi kerangka berpikir dari pengalaman penolakan dan berkembangnya kelekatan yang tidak aman (Feldman & Downey, 1994). Penolakan yang memiliki pengaruh besar dalam terbentuknya working models adalah penolakan dari orang tua di masa anak-anak (Downey & Feldman, 1996). Oleh karena itu, pengalaman individu bersama significant others menjadi faktor penting dalam berkembangnya sensitivitas terhadap penolakan (Çardak, Sarıçam, & Onur, 2012). Sensitivitas individu terhadap penolakan muncul dikarenakan adanya pengalaman penolakan yang dialami oleh individu. Kelekatan yang tidak

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 aman memiliki hubungan yang signifikan dengan tingginya sensitivitas individu terhadap penolakan (Khoskam, Bahrami, Ahmadi, Fatehizade, & Etemadi, 2012; Çardak et al, 2012; Erozkan, 2009; Downey & Feldman, 1996). Kelekatan memiliki tiga komponen penting yaitu kepercayaan, komunikasi, dan pengasingan (Armsden & Greenberg, 1987). Pola kelekatan yang terbentuk sejak bayi dapat mempengaruhi tahap perkembangan selanjutnya terutama dalam menjalin hubungan dengan orang lain (Ma & Huebner, 2008). Pola kelekatan terbentuk dari interaksi anak dengan orang yang paling dekat dengannya secara emosional. Dalam budaya kolektif, orang yang paling dekat dengan anak adalah figur ibu. Hal ini disebabkan karena di budaya kolektif, ibu memiliki peran untuk merawat anak mulai dari dalam kandungan. Kelekatan yang terbentuk sejak lahir memiliki peran penting dalam perkembangan emosi anak (Pearce & Pezzot-Pearce, 2007) Beberapa penelitian menemukan beberapa faktor protektif yang dapat menghindari berkembangnya sensitivitas individu terhadap penolakan. Dukungan keluarga (Garmezy dalam McLachlan, Zimmer-Gembeck, & McGregor, 2010), kecenderungan untuk merasa bangga (Tracy, Shariff, & Cheng, 2010), kehangatan dari ibu (Patterson, John, Cohn, & Kao,1989), dan kepuasan dalam persahabatan (McLachlan, Zimmer-Gembeck, & McGregor, 2010) merupakan hal-hal yang dapat membantu mengurangi sensitivitas individu terhadap penolakan.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Kecenderungan untuk merasa bangga memiliki hubungan yang signifikan dengan sensitivitas individu terhadap penolakan (Tracy, Shariff, & Cheng, 2010; Ayduk, May, Downey & Higgins,2003). Perasaan bangga dibagi menjadi dua macam yaitu perasaan bangga yang autentik dan perasaan bangga yang hubristik (Tracy & Robins, 2004; Tracy & Robins, 2007). Perasaan bangga yang autentik merupakan perasaan bangga yang muncul karena individu mengatribusikan kesuksesan yang diperoleh merupakan hasil usahanya, kesuksesan tersebut tidak akan tercapai tanpa ada usaha yang dikerjakan dan menyadari bahwa dalam beberapa hal, ada banyak hal yang tidak selalu dapat dikontrol oleh diri kita sendiri (Tracy & Robins, 2007). Sedangkan perasaan bangga yang hubristik merupakan perasaan bangga yang muncul ketika kesuksesan yang diperoleh diatribusikan sebagai hal yang memang seharusnya terjadi. Kesuksesan tidak berasal dari usaha melainkan dikarenakan hal-hal yang melekat pada dirinya (Tracy, Cheng, Robins, & Trzesniewski, 2009). Individu yang memiliki kecenderungan untuk merasa bangga yang hubristik akan cenderung mengembangkan sensitivitas individu terhadap penolakan yang tinggi. Begitupula sebaliknya, individu yang memiliki kecenderungan untuk merasa bangga yang autentik akan cenderung mengembangkan sensitivitas individu terhadap penolakan yang rendah (Tracy, Shariff, & Cheng, 2010; Grant & Higgins, 2003).

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 Kecenderungan untuk bangga yang hubristik tidak hanya menyebabkan sensitivitas individu terhadap penolakan meningkat. Kecenderungan untuk bangga yang hubristik juga berhubungan negatif dengan harga diri, berhubungan positif dengan narsisme, berhubungan positif dengan kecenderungan untuk malu dan berhubungan negatif dengan sifat yang dapat diterima (agreeableness), sifat berhati-hati (conscientiousness) (Tracy & Robins, 2007), dan kebencian (Webster, Duvall, Gaines & Smith, 2003). Sebaliknya, kecenderungan untuk bangga yang autentik memiliki dampak yang positif bagi individu. Oleh karena itu, penting untuk individu mulai mengembangkan kecenderungan untuk bangga yang autentik sejak masa anak-anak. Dalam budaya kolektif, kecenderungan untuk bangga didapatkan dari membandingkan diri sendiri / individu dengan individu lain. Menurut Mesquita & Polanco dalam Stanculescu (2012) kecenderungan untuk bangga berkaitan dengan kelompok bukan dengan individu. Individu yang berada di budaya kolektif tidak terbiasa untuk mengekspresikan perasaan bangga (Eid & Diener, 2001; Tracy, Shariff, & Cheng, 2010). Definisi bangga yang dipahami oleh individu di budaya kolektif merupakan definisi dari hubristik bukan autentik sehingga rasa bangga dianggap sebagai emosi yang negatif atau sombong (Eid & Diener, 2001). Dalam beberapa penelitian, rasa bangga yang autentik dan hubristik tidak dipisahkan melainkan dianggap menjadi suatu konstruk yang sama yaitu perasaan bangga yang negatif (Tracy, Shariff,

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 & Cheng, 2010; Putri, Ferdian, Widyatmoko, & Mayawati, 2013). Di sisi lain, perasan bangga yang autentik memiliki hubungan dengan hal-hal yang positif yaitu harga diri yang baik, kesejahteraan, meningkatkan tanggung jawab personal, meningkatkan prestasi kelompok dan membuat individu bertindak sesuai dengan norma yang berlaku (Hardy & Van Vugt, 2006; Stoeber, Harris & Moon, 2007; Tracy & Robins, 2007a) Berkembangnya kecenderungan untuk bangga yang autentik atau hubristik bergantung pada pola kelekatan yang dikembangkan di masa anakanak (Murry, Brody, McNair, Luo, Gibbons, Gerrard, & Wills, 2005; Guilamo-Ramos, 2009). Perasaan bangga muncul ketika individu mulai berusia 3 tahun. Hal ini disebabkan karena pada usia 3 tahun individu baru mampu mengevaluasi diri sendiri (Stipek, Recchia, & McClintic, 1992). Pada usia 3 tahun, individu juga akan mengembangkan masa-masa emas dalam tahap perkembangannya. Apabila mulai dari masa anak-anak, individu sudah dibiasakan untuk mengalami rasa bangga yang autentik atau rasa bangga yang hubristik maka kecenderungan tersebut akan berkembang saat individu beranjak dewasa. Dari hal-hal yang telah dijelaskan di atas, maka diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara kelekatan yang dikembangkan anak dengan kecenderungan untuk bangga (Guilamo-Ramos, 2009; McBride Murry, Brody, McNair, Luo, Gibbons, Gerrard, & Wills, 2005; Alessandri, & Lewis 1993; Lewis, Alessandri, & Sullivan, 1992), kecenderungan untuk bangga

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 dengan sensitivitas individu terhadap penolakan (Grant & Higgins, 2003; Tracy, Shariff, & Cheng, 2010), dan kelekatan individu dengan ibu dengan sensitivitas individu terhadap penolakan (Çardak, Sarıçam, & Onur, 2012; Khoshkam, Bahrami, Ahmadi, Fatehizade, & Etemadi, 2012; Erozkan, 2009; Feldman & Downey, 1994; Downey & Feldman 1996). Hal tersebut membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian apakah proses munculnya sensitivitas individu terhadap penolakan tidak secara langsung berhubungan dengan kelekatan individu dengan ibu melainkan dimediasi atau melalui kecenderungan untuk bangga terlebih dahulu. Selain itu, penelitian ini juga menjawab saran dari penelitian sebelumnya mengenai sensitivitas inidividu terhadap penolakan dan rasa bangga. Leary, Twenege, & Quinlivan (2006) menyatakan bahwa perlu penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara sensitivitas penolakan dan emosi, selain itu diperlukan pula untuk dipelajari lebih lanjut mengenai prediktor dari sensitivitas individu terhadap penolakan (Butler, Doherty, & Potter, 2007). Fourie, Rauch, Morgan, Ellis, Jordaan, & Thomas (2011) menyatakan bahwa penting untuk memperjelas implikasi dari rasa bangga terhadap kesejahteraan individu dalam jangka panjang. Sampai pada saat ini, penelitian tentang perasaan bangga tergolong dalam kategori yang terbatas (Castonguay, Brunet, Ferguson & Sabistos, 2012; Tracy, Robins, & Tangney, 2007; Higgins, Friedman, Harlow, Idson, Ayduk & Taylor, 2001; Fourie, Rauch, Morgan, Ellis, Jordaan & Thomas, 2011) padahal rasa bangga

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 memiliki dampak positif dan dampak buruk yang sungguh-sungguh penting untuk disadari. Oleh karena itu, penting bagi peneliti mempelajari lebih lanjut mengenai rasa bangga. B. RUMUSAN MASALAH Apakah kecenderungan untuk merasa bangga merupakan mediator dalam struktur hubungan antara kelekatan individu dengan ibu dengan sensitivitas individu terhadap penolakan di budaya kolektif? C. TUJUAN PENELITIAN Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mencari tahu apakah ada hubungan antara kelekatan dengan ibu, rasa bangga, serta sensitivitas terhadap penolakan di budaya kolektif. Kemudian untuk mengetahui apakah kecenderungan untuk bangga memediasi hubungan antara kelekatan individu dengan ibu dengan sensitivitas individu terhadap penolakan. D. MANFAAT PENELITIAN 1. Teoretis Dalam bidang penelitian, penelitian ini menjawab saran yang diutarakan oleh peneliti sebelumnya. Penelitian ini bermanfaat menambahkan pengetahuan ilmu Psikologi, terutama Psikologi Klinis dan Psikologi Sosial mengenai sensitivitas individu terhadap penolakan dan

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 kecenderungan untuk bangga pada remaja dalam budaya kolektif. Hasil penelitian ini juga menegaskan peran dari rasa bangga dalam struktur hubungan antara kelekatan individu dengan ibu dengan sensitivitas individu terhadap penolakan, apakah perasaan bangga menjadi variabel mediator dalam hubungan antara kelekatan individu dengan ibu dan sensitivitas individu terhadap penolakan. 2. Praktis Penelitian ini dapat digunakan bagi praktisi dalam bidang Psikologi untuk membuat treatment bagi individu yang memiliki tingkat sensitivitas terhadap penolakan yang tinggi dengan mempertimbangkan rasa bangga. Mengetahui perasaan bangga sebagai mediator yang memperlemah munculnya sensitivitas individu terhadap penolakan yang tinggi dapat memberikan informasi baru bagi praktisi untuk dapat membentuk treatment yang berhubungan dengan kecenderungan untuk merasa bangga. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada orang tua agar dapat lebih memperhatikan pola pengasuhannya terhadap anak. Ketika anak mendapatkan pola pengasuhan yang baik maka anak akan mengembangkan kelekatan yang aman. Hal tersebut akan mendukung anak untuk menyelesaikan perkembangan berikutnya. tugas-tugas perkembangan di tahap

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 Berdasarkan hasil penelitian ini, para remaja bisa lebih mengenali dirinya sendiri. Bahwa sesungguhnya terdapat suatu konstruk yang bernama sensitivitas terhadap penolakan atau biasa dikenal dengan rejection sensitivity. Hal ini akan membuat remaja lebih berhati-hati dalam melakukan evaluasi diri. Apakah penolakan yang dirasakan merupakan benar-benar penolakan atau hanya berasal dari persepsi diri mereka sendiri.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 BAB II LANDASAN TEORI A. SENSITIVITAS TERHADAP PENOLAKAN 1. Definisi Sensitivitas individu terhadap penolakan adalah kecenderungan untuk mengira-ira atau menyangka bahwa akan ditolak oleh orang lain, seakan-akan telah merasakan penolakan, dan bereaksi berlebihan terhadap penolakan (Downey, Feldman, Khuri & Friedman, 1994; Downey & Feldman, 1996). Sensitivitas terhadap penolakan merupakan salah satu bentuk sistem pertahanan motivasi (defensive motivational system) (Pietrzak, Downey, & Ayduk, 2005) yang didesain untuk menyediakan respon yang cepat pada ancaman lingkungan yang berhubungan dengan adanya penolakan (Henson, Derlega, Pearson, Ferrer, & Holmes, 2013). Selain itu, Feldman & Downey (1994) mendefinisikan sensitivitas individu terhadap penolakan merupakan hasil internalisasi dari pengalaman penolakan di masa-masa awal kehidupan yang mempengaruhi hubungan interpersonal seseorang. Sensitivitas individu terhadap penolakan dapat dilihat sebagai sebuah motif untuk menghindari penolakan. Penolakan tersebut sebenarnya merupakan dugaan, bias ketika menginterpretasikan stimulus, dan bentuk regulasi diri yang mampu mempengaruhi perilaku orang-

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 orang dalam berbagai situasi sosial (Feldman & Downey, 1994). Sensitivitas terhadap penolakan merupakan bentuk kepribadian yang mana individu akan selalu cemas dengan dugaan-dugaan penolakan dan kemudian memunculkan perilaku sebagai respon dari penolakan karena merasa sudah ditolak (Downey & Feldman, 1996; Mischel & Shoda, 1995; Downey & Feldman, 1994). Sensitivitas individu terhadap penolakan dapat dilihat secara kontinum di dalam pribadi setiap individu. Terdapat individu yang memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap penolakan sampai pada individu yang memiliki sensitivitas yang rendah pada penolakan. Downey & Feldman (1996) menyatakan bahwa konstruk sensitivitas individu terhadap penolakan menjelaskan bahwa beberapa individu sangat rapuh terhadap pengalaman penolakan dan kemudian meresponnya dengan maladaptif. Semakin tinggi tingkat sensitivitas individu terhadap penolakan semakin rapuhlah individu tersebut. Begitupula sebaliknya, individu yang memiliki tingkat sensitivitas terhadap penolakan yang rendah merupakan individu yang kuat ketika menghadapi situasi yang memungkinkan terjadinya penolakan. Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa sensitivitas terhadap penolakan adalah pemikiran akan ditolak, perasaan merasa tertolak dan perilaku yang merespon penolakan yang berpola dan terus menerus muncul ketika individu berada pada situasi yang

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 memungkinkan dirinya untuk ditolak meskipun pada kenyataannya penolakan tersebut tidak terjadi. 2. Macam-macam Sensitivitas Individu Terhadap Penolakan a. Sensitivitas individu terhadap penolakan secara keseluruhan Individu merasa bahwa orang lain menolak dirinya karena dirinya memang tidak pantas untuk diterima. Individu menganggap bahwa orang lain menolak dirinya karena keseluruhan diri yang dia miliki atau secara umum, baik itu kepribadian, penampilan, dll. (Park, 2007). Perasaan ditolak ini berasal dari pengalaman penolakan yang pernah dialami oleh individu. Kemudian, pengalaman tersebut membentuk pola pikir individu dalam berinteraksi dengan orang lain (Feldman & Downey, 1994; Park, 2007). Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai sensitivitas individu yang merasa ditolak oleh lingkungan dan memahami bahwa alasan dari penolakan itu adalah keseluruhan dirinya. b. Sensitivitas individu terhadap penolakan yang didasarkan pada penampilan fisik Sensitivitas penolakan yang didasari oleh penampilan fisik merupakan sebuah sistem proses kepribadian yang berfokus pada ketidakmenarikan fisik ketika merasa tertolak. Individu yang menganggap bahwa penampilan secara fisik merupakan hal yang sangat penting, meletakkan harga diri pada pandangan orang terhadap

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 penampilan fisiknya (Park, 2007) dan selalu kurang puas dengan penampilan dirinya (Park, Calogero, & Diraddo, 2010). Pandangan masyarakat setempat mengenai fisik yang menarik memiliki peran dalam membentuk tingginya sensitivitas penolakan yang didasari oleh penampilan fisik (Park & Calogero, 2009). Sensitivitas penolakan yang disebabkan oleh penampilan fisik memiliki hubungan yang positif dengan sensitivitas penolakan secara umum (Park, 2007). Hal tersebut dikarenakan keduanya memiliki suatu pelopor yang sama yaitu pengalaman penolakan. c. Sensitivitas individu terhadap penolakan yang didasarkan pada ras Individu merasa bahwa ia ditolak karena ras yang dimiliki. Sensitivitas individu terhadap penolakan yang didasarkan pada ras muncul karena pengalaman penolakan sebelumnya berkaitan dengan ras (Henson, Derlega, Pearson, Ferrer, & Holmes, 2013). Penelitian mengenai hal ini dilakukan pada subjek pelajar Afrika-Amerika (Mendoza-Denton, Downey, Purdie, Davis, & Pietrzak, 2002; Murry, Brody, McNair, Luo, Gibbons, Gerrard, & Wills, 2005). 3. Efek Samping Tingginya Tingkat Sensitivitas terhadap Penolakan a. Gangguan kepribadian Sensitivitas terhadap penolakan yang tinggi dapat menyebabkan munculnya berbagai gangguan dalam kepribadian seperti neurotis (Berenson, et al., 2009), gangguan kepribadian

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 menghindar (Feldman & Downey, 1994; Berenson, et al., 2009), gangguan kepribadian dependensi (McCabe, Blankstein, & Mills, 1999), self efficacy rendah (Khoskam, et al., 2012), harga diri rendah (Berenson, et al., 2009), dan self-silencing (Harper, Dickson, & Welsh, 2006). b. Masalah mental dan perilaku Selain gangguan kepribadian, tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap penolakan memiliki hubungan dengan masalah mental dan perilaku seperti depresi (Brookings, Zembar, & Hochstetler, 2003; Berenson, et al., 2009), bulimia dan anoreksia (Selby, Ward, & Joiner, 2010; O’Shaughnessy & Dallos, 2009; Cardi, Matteo, Corfield, & Treasure, 2013), orientasi pemecahan masalah yang negatif (Harper, Dickson, & Welsh, 2006), agresi (Khoskam, et al., 2012), dan kebencian (Feldman & Downey, 1994). c. Interpersonal Sensitivitas terhadap penolakan juga menimbulkan masalah dalam menjalin hubungan interpersonal seperti menjadi individu yang sulit menjalin relasi dengan orang lain (Downey, Feldman, & Ayduk, 2000), phobia sosial (Feldman & Downey, 1994; Khoskam, et al., 2012), kelekatan yang tidak aman (Downey, Feldman, & Ayduk, 2000), dan memiliki kecenderungan untuk mencemarkan nama orang lain (Feldman & Downey, 1994).

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 d. Lainnya Tingkat sensitivitas penolakan yang tinggi juga memiliki hubungan dengan perfomansi akademik rendah (McCabe, Blankstein, & Mills, 1999). 4. Faktor Penyebab Individu Memiliki Sensitivitas terhadap Penolakan yang Tinggi Sensitivitas individu yang tinggi terhadap penolakan muncul karena adanya pengalaman penolakan. Pengalaman penolakan didapatkan dari berbagai orang di sekitar individu yang berada di lingkungan yang tidak suportif (Feldman & Downey, 1994). Penolakan yang mungkin terjadi adalah penolakan yang berasal dari orang tua seperti perlakuan kasar, siksaan, pengabaian, penolakan, dan kebencian. Selain itu, orang tua yang selalu bersikap kondisional, ditangkap anak sebagai sebuah bentuk penolakan (Downey, Bonica, & Rincon, 1999). Perilaku penolakan tersebut membuat anak merasa tidak diterima apa adanya dan kemudian mengembangkan kelekatan yang tidak aman (Logue, 2006). Penolakan dari teman sebaya dapat berupa menjadi korban secara fisik dan korban dalam relasi (Downey, Bonica, & Rincon, 1999; Butler, Doherty & Potter, 2007). Individu juga mungkin mendapatkan penolakan dari pacar. Semakin akrab suatu hubungan pertemanan atau pacaran maka semakin besar pula efek penolakan yang dialami mempengaruhi individu (Özen, Sümer, & Demir, 2010). Selain itu, karakteristik status kelompok

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 seperti orientasi seksual, ras/etnis dan disabilitas bisa membuat seseorang mengalami pengalaman penolakan dari teman sebaya dan lingkungan (Downey, Bonica & Rincon, 1999). Pengalaman penolakan yang dialami oleh individu baik itu dari orang tua, sahabat, pacar maupun orang asing akan membentuk internal working models atau pola berpikir individu. Pola pemikiran tersebut akan digunakan ketika individu akan menjalin relasi dengan orang lain (Downey, Bonica & Rincon, 1999; Feldman & Downey, 1994). Pola atau skema pemikiran tersebut akan muncul ketika individu berada pada situasi yang memungkinkan dirinya ditolak. Internal working models atau pola pemikiran individu dapat terbentuk melalui kelekatan, afektif-kognitif, dan hubungan interpersonal individu. Ketika kebutuhan individu di masa kecil terpenuhi dengan baik dan konsisten maka individu akan mengembangkan pola pemikiran yang aman bahwa lingkungan disekitarnya akan menerima dan mendukungnya. Begitu pula sebaliknya, bila individu di masa kecil dibesarkan dalam keadaan lingkungan yang menolak dirinya baik itu penolakan yang tersembunyi maupun yang dilakukan secara terang-terangan akan membentuk pola pemikiran yang tidak aman sehingga individu akan cenderung takut dan ragu dalam menjalin hubungan interpersonal apakah lingkungan akan menerima dan mendukungnya atau tidak. Pola berpikir yang dimiliki oleh individu dapat terus dimodifikasi selaras dengan

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 pengalaman yang dialami. Proses afektif dan kognitif individu bekerja untuk memodifikasi pola pemikiran individu dalam berinteraksi dengan orang lain. Individu yang memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap penolakan, apabila semakin sering mengalami penolakan maka pola pemikiran akan penolakan akan semakin kuat. Begitu pula sebaliknya, individu yang lebih sering mengalami pengalaman penerimaan akan memodifikasi internal working models yang dimiliki menjadi pola pemikiran yang lebih adaptif. Menurut Bowlby, interaksi individu yang intens dengan orang lain akan membentuk suatu kelekatan. Hasil penelitian sebelumnya menyatakan bahwa kelekatan memiliki hubungan yang kuat dengan sensitivitas terhadap penolakan (Khoshkam, Bahrami, Ahmadi, Fatehizade, & Etemadi, 2012). Oleh karena itu, penting untuk membangun kelekatan yang aman karena kelekatan yang tidak aman menjadi faktor pendukung munculnya sensitivitas terhadap penolakan. Individu yang memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap penolakan cenderung akan mengembangkan rasa bangga yang hubristik (Grant & Higgins, 2003; Tracy, Shariff, & Cheng, 2010). Hal ini terkait dengan pola pemikiran yang digunakan oleh individu. Individu cenderung untuk mengatribusikan suatu hal yang terjadi secara global, stabil, dan tidak dapat dikontrol. Individu merasa pengalaman penolakan yang dialami akan terjadi lagi dan penolakan tersebut karena diri individu, serta

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 individu tidak mampu mengontrol penolakan yang akan terjadi. Individu yang memiliki kecenderungan untuk bangga yang hubristik juga memiliki pola pemikiran yang sama. Individu memandang bahwa kesuksesan yang dicapai berasal dari dalam dirinya yang melekat, bukan karena usaha. Sejauh ini telah diketahui bahwa pengalaman penolakan menjadi prediktor munculnya sensitivitas individu terhadap penolakan, perlu diketahui lebih lanjut prediktor lainnya sehingga dengan demikian dapat diketahui pula cara preventif dan intervensinya. 1Pengalaman penolakan 2Proses kognitif dan afektif bahwa akan ditolak 5Lingkungan benar-benar menolak 3Muncul perilakuperilaku negatif: Agresi, withdrawal dsb. 4Lingkungan melihat perilaku negatif Gambar 1. Siklus proses munculnya sensitivitas terhadap penolakan 5. Alat ukur Alat ukur sensitivitas terhadap penolakan terdapat berbagai macam, seperti RSQ-A (Rejection Sensitivity Questionnaire– Adolescent), CRSQ (Children Rejection Sensitivity Questionnaire), RSQ-

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 R (Rejection Sensitivity - Revised), GRS (Gay-related Rejection Sensitivity), dan IPSM (Interpersonal Sensitivity Measure). Skala RSQ (Rejection Sensitivity Questionnaire) dibuat oleh Downey & Feldman. Skala ini ada 3 macam sesuai dengan tahap perkembangan manusia yaitu RSQ Adult (18 item), RSQ Adult young (9 item) dan RSQ Children (12 item). Pada kuesioner ini akan terdapat beberapa situasi. Partisipan diminta untuk membayangkan diri mereka berada pada situasi tersebut dan kemudian menjawab tiga pertanyaan pada skala Likert yang berkaitan dengan situasi tersebut. Pertanyaan pertama mengindikasikan seberapa gelisah individu akan penolakan. Skala 1 untuk sangat tidak gelisah sampai skala 6 untuk sangat gelisah disajikan secara gradasi atau dengan kata lain pada skala 3 tingkat kegelisahannya akan lebih rendah daripada skala 4. Pertanyaan kedua mau melihat seberapa marah individu akan penolakan, skala 1 untuk sangat tidak marah; 6 untuk sangat marah. Pertanyaan ketiga perkiraan subjektif individu terhadap situasi tersebut, skala 1 untuk sangat tidak sesuai; 6 untuk sangat tidak sesuai. Downey & Feldman (1996) melaporkan bahwa Cronbach α dari RSQ adalah sebesar 0.83 yang menandakan bahwa reliabilitas skala ini dalam kategori tinggi. Selain itu, RSQ juga sudah didukung dengan validasi konstruk dari tiga penelitian tambahan (Khoshkam, Bahrami, Ahmadi, Fatehizade & Etemadi 2012).

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 Selain RSQ terdapat skala lain untuk mengukur sensitivitas terhadap penolakan yaitu Interpersonal Sensitivity Measure (IPSM). IPSM dikemukakan oleh Boyce & Parker pada tahun 1989. IPSM terdiri dari 36 item yang mengukur ciri-ciri dari sensitivitas terhadap penolakan dalam hubungan interpersonal. Skala ini berisi lima subskala yaitu kesadaran akan hubungan interpersonal, kebutuhan untuk disetujui, kecemasan yang terbagi, malu-malu, dan keadaan dalam diri yang rapuh (Luterek, Harb, Heimberg, & Marx, 2004). Pada setiap pernyataan dalam IPSM, partisipan diminta untuk memilih salah satu dari empat skala yang bertingkat mulai dari “sesuai dengan diriku” sampai “sangat tidak sesuai dengan diriku”. IPSM memiliki konsistensi internal yang baik dengan memiliki alpha cronbach sebesar 0.85, dan reliabilitas tes-retes sebesar 0.70 (Butler, Doherty, & Potter, 2007). IPSM memiliki korelasi dengan neurotis dan skala RSQ (Butler, Doherty, & Potter, 2007). Skala terakhir adalah Gay-related Rejection Sensitivity. Skala ini digunakan pada subjek yang memiliki orientasi seksual minoritas (homoseksual). Skala ini mengukur kecemasan individu karena orientasi seksual yang dimilikinya. Pada skala ini terdapat 14 situasi dan masingmasing situasi terdapat dua pertanyaan yang berkaitan dengan situasi yang telah dijelaskan. GRS memiliki reliabilitas alpha cronbach sebesar 0.86.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 B. KECENDERUNGAN UNTUK MERASA BANGGA 1. Definisi Bangga adalah salah satu bentuk emosi moral (Tangney, 2002). Syarat utama untuk menjadi bangga sama dengan syarat emosi moral lainnya yaitu diperlukannya kesadaran diri dan evaluasi diri (Tracy & Robins, 2004). Individu akan merasakan bangga ketika individu menyadari bahwa ia hidup sesuai dengan beberapa kriteria diri idealnya atau dapat mencapai tujuannya (Carver, Sinclair & Johnson, 2010). Perasaan bangga dibagi menjadi dua macam yaitu perasaan bangga yang autentik dan perasaan bangga yang hubristik (Tracy & Robins, 2004; Tracy & Robins, 2007). Perasaan bangga yang autentik merupakan perasaan bangga yang muncul karena individu mengatribusikan kesuksesan yang diperoleh merupakan hasil usahanya, kesuksesan tersebut tidak akan tercapai tanpa ada usaha yang dikerjakan dan menyadari bahwa dalam beberapa hal, ada banyak hal yang tidak selalu dapat dikontrol oleh diri kita sendiri (Tracy & Robins, 2007). Kecenderungan untuk merasa bangga yang autentik dapat membuat seseorang menjadi semangat untuk berprestasi, meraih kesuksesan dan status, menarik perhatian pasangan dsb. (Tracy, Shariff, & Cheng, 2010; Williams & DeSetno, 2009). Perasaan bangga yang hubristik merupakan perasaan bangga yang muncul ketika kesuksesan yang diperoleh diatribusikan sebagai hal yang

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 memang seharusnya terjadi. Kesusksean tidak berasal dari usaha melainkan dikarenakan hal-hal yang melekat pada dirinya (Tracy, Cheng, Robins, & Trzesniewski, 2009). Kecenderungan untuk merasa bangga yang hubristik juga berhubungan dengan kecenderungan individu untuk memiliki kecenderungan narsisme, egois dan hanya berfokus pada diri sendiri (Alessandri & Lewis, 1993). Kecenderungan untuk bangga dapat berkorelasi dengan berbagai macam konsekuensi sosial yang positif dan sekaligus dengan konsekuensi sosial yang merugikan individu (Carver, Sinclair & Johnson, 2010). Oleh karena itu, beberapa peneliti menyarankan untuk membedakan perasaan bangga yang memiliki konsekuensi positif (autentik) dan perasaan bangga yang memiliki konsekuensi negatif (hubristik) (Ekman, 2003). 2. Jenis Perasaan Bangga dan Efek Sampingnya Perbedaan antara bangga yang autentik dan hubristik terletak pada atribusi individu terhadap tercapainya tujuan. Perasaan bangga yang autentik dan hubristik memiliki dampak yang berbeda-beda pada interaksi sosial individu. a. Kecenderungan untuk merasa bangga yang autentik Individu menganggap yang bahwa mengembangkan keberhasilannya bangga dalam yang mencapai autentik tujuan dikarenakan usaha dari dirinya (Tracy, Shariff, Cheng, 2010; Liu, Lu,

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 Yu, & Chen, 2012; Tracy, Cheng, Robins, & Trzesniewski, 2009). Contohnya, ketika seorang siswa mendapatkan nilai yang baik, siswa ini menganggap bahwa nilai yang baik tersebut didapatkan karena dia belajar dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian, individu menyadari bahwa untuk mendapatkan kesuksesan atau untuk merasakan bangga individu harus berusaha sedemikian rupa. Bangga yang autentik memiliki hubungan dengan perilaku-perilaku yang positif seperti prososial, keramahan, kesuksesan dalam menjalin hubungan sosial, dan kesehatan mental (Tracy & Robins 2004; Tangney & Tracy, 2012). Selain itu, perasaan bangga yang autentik memungkinkan individu untuk meningkatkan produktivitasnya (Williams & DeSetno, 2009). Perasaan bangga yang autentik juga mampu meningkatkan harga diri individu (Liu, et al, 2012; Stanculescu, 2012). Individu ini mampu merasa bangga akan kesuksesan yang didapat meskipun tidak ada orang yang menyadari dan memuji usaha dirinya untuk mencapai kesuksesan tersebut. Individu yang memiliki perasaan bangga yang autentik juga cenderung memiliki regulasi diri yang baik (Grant & Higgins, 2003). b. Kecenderungan untuk merasa bangga yang hubristik Bangga yang hubristik dikembangkan oleh individu yang menganggap kesuksesan yang didapatkan bukan dari usaha melainkan dari berbagai hal yang melekat dalam diri mereka (Tracy, Shariff,

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 Cheng, 2010; Liu, Lu, Yu, & Chen, 2012; Tracy, Cheng, Robins, & Trzesniewski, 2009). Misalnya, seorang siswa mendapatkan nilai yang baik. Kemudian, siswa ini menganggap bahwa nilai baik tersebut memang pantas untuk dia dapatkan karena dia memang hebat, dia adalah anak guru dan siswa yang selalu berada dalam peringkat 10 besar. Individu menggeneralisasi keberhasilannya dan tidak spesifik terhadap suatu perilaku tertentu melainkan pada hal yang melekat pada dirinya. Individu ini akan merasa bangga ketika ada orang yang memujinya. Bangga yang hubristik berhubungan dengan narsisme, sensitivitas terhadap penolakan yang tinggi, antisosial, dan egois (Tracy & Robins, 2004; Tracy & Robins, 2007). 3. Proses dan Faktor Munculnya Perasaan Bangga Menurut Tracy & Robins (2007), kecenderungan untuk bangga muncul ketika individu mengalami beberapa peristiwa yang memunculkan perasaan bahagia karena bangga. Tiga hal penting yang diperlukan dalam proses merasa bangga, yaitu memfokuskan perhatian pada representasi diri, membandingkan representasi diri dengan tujuan yang dimiliki, dan mengetahui secara jelas penyebab dari kesuksesan. Awalnya, individu mengalami peristiwa tertentu dan kemudian mengevaluasi dirinya terhadap peristiwa yang dialami, apakah perilaku yang membuat peristiwa ini muncul sesuai dengan tujuan dirinya atau

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 tidak. Apabila peristiwa yang terjadi sesuai dengan tujuannya maka individu akan mulai mengatribusikan atau mencari tahu apa yang membuat tujuannya tercapai. Dengan mengetahui hal tersebut, maka individu akan cenderung melakukan hal yang sama karena dapat mencapai tujuan memunculkan perasaan yang menyenangkan. Dalam merasakan bangga, individu cenderung mengatribusikan kesuksesan tersebut secara internal. Dalam melakukan atribusi internal, individu melakukannya secara spesifik. Dilihat dari stabilitas, kemampuan individu untuk mengontrol dan atribusi internal yang dilakukan spesifik atau global. Apabila individu menganggap bahwa kesuksesan yang didapat merupakan suatu hal yang memang harusnya terjadi dan selalu akan terjadi pada dirinya (stabil), kemudian kesuksesan yang didapat bukan merupakan suatu hal yang muncul karena usaha (tidak dapat dikontrol), dan mengatribusikan kesuksesan karena dirinya memang hebat (global) maka inidividu akan mengembangan kecenderungan untuk bangga yang hubristik (Alessandri & Lewis, 1993). Individu akan mengembangkan bangga yang autentik bila individu mengatribusikan internal kesuksesan yang dicapai bukan merupakan hal yang biasa dicapai (tidak stabil) karena diperlukan usaha yang besar untuk mencapai setiap kesuksesan (dapat dikontrol) dan kesuksesan tersebut

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 hanya dapat dicapai karena indiviu memahami bahwa kesuksesan hanya dapat dicapai dengan berusaha (spesifik). Kecenderungan individu untuk memunculkan perasaan bangga yang autentik maupun hubristik memiliki kaitan dengan bagaimana pola asuh orang tua pada individu. Orang tua yang cenderung memuji atau memarahi anak secara global atau tidak spesifik pada suatu perilaku, misalnya “Kamu anak yang sangat pintar.” atau “Kenapa kamu bodoh sekali.” cenderung akan membuat anak berpikir secara global sehingga mengembangkan rasa bangga yang hubristik. Anak merasa bahwa kesuksesan maupun kesalahan yang dialaminya bukan berasal dari perilaku yang spesifik melainkan berasal dari hal yang melekat pada dirinya, suatu hal yang bertahan lama, dan tidak dapat diubah. Tanggapan global yang diberikan oleh orang tua, membuat anak bingung untuk merasa bangga akan hal yang mana atau harus mengubah hal yang mana. Hal tersebut membuat individu mengembangkan pola kelekatan yang tidak aman. 4. Alat ukur Alat ukur untuk mengukur kecenderungan untuk bangga terdapat beberapa macam, misalnya Authentic and Hubristic Pride Scales, Regulaatory Focus Questionnaire (RFQ), Trait Compassion and Pride (TCP), dan subskala pada Test of Self-Conscious Affect for Adolescent (TOSCA-A). Authentic and Hubristic Pride Scales (AHPS) merupakan

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 skala yang dapat mengukur perasaan bangga yang autentik dan hubristik. Item AHPS terdiri dari 14 item, 7 item autentik, dan 7 item hubristik. Pada skala ini, partisipan diminta untuk mengidentifikasi kata-kata atau ungkapan yang ada dan kemudian perasaan mana yang dominan pada partisipan ketika partisipan membaca kata-kata tersebut. Skala ini merupakan bentuk skala Likert, skala 1 untuk partisipan yang tidak merasa, skala 2 untuk partispan yang agak merasakan, skala 3 untuk partisipan yang rata-rata, skala 4 untuk partisipan yang sangat merasa, dan skala 5 untuk partisipan yang merasa sangat ekstrim (Tracy & Robins, 2007). Alat ukur yang kedua adalah Regulaatory Focus Questionnaire (RFQ). RFQ merupakan alat ukur rasa bangga yang teridiri dari dua subskala. Subskala pertama merupakan Promotion subscale yang mengukur subjektivitas individu mengenai pengalamannya untuk mencapai kesuksesan, sedangkan subskala kedua merupana Prevention subscale yang mengukur subjektivitas individu mengenai hal-hal yang dilakukan untuk tidak mencapai kesuksesan (Higgins, Friedman, Harlow, Idson, Ayduk, & Taylor, 2001). Alat ukur yang ketiga adalah Trait Compassion and Pride (TCP). TCP mengukur kecenderungan individu untuk memiliki emosi yang positif. Skala ini terdiri dari pengukuran perilaku, kognitif, dan komponen-komponen fenomenologi emosi. Skor alpha cronbach untuk TCP adalah sebesar 0.82. Skala 1 menunjukkan

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 sangat tidak setuju sampai skala 7 yang menunjukkan sangat setuju (Oveis, Horberg, & Keltner, 2010). Kecenderungan untuk bangga adalah salah satu subskala dari pengukuran emosi moral. Oleh karena itu, pada remaja alat ukur yang digunakan untuk mengukur pride adalah Test of Self-Conscious Affect for Adolescents (TOSCA-A). Skala ini terdiri dari 15 cerita mengenai kehidupan sehari-hari yang diikuti dengan respon yang mewakili kognitif, afektif, dan perilaku. Subjek akan diminta untuk memberi penilaian dengan menekankan pada respon yang paling sesuai dengan diri mereka ketika berada pada situasi yang sama. Skala 1 untuk tidak sesuai dan skala 5 untuk sangat sesuai dengan keadaan. 5 item pada skala ini mengindikasikan bangga yang hubristik dan 5 item mengindikasikan bangga yang autentik. Koefisien α cronbach untuk skala ini adalah 0.67 yang menunjukkan bahwa reliabilitas skala ini dalam kategori moderat sedang (Stanculescu, 2012). C. KELEKATAN 1. Definisi Secara umum, kelekatan didefinisikan sebagai sebuah ikatan emosional yang sangat penting antara bayi dan pengasuhnya (Armsden & Greenberg, 1987). Menurut Ainsworth, kualitas kelekatan diartikan sebagai sensitivitas dan responsivitas figur kelekatan dalam berperilaku dan berinteraksi dengan individu (dalam Armsden & Greenberg 1978).

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Kelekatan yang terbentuk dari pola pengasuhan orang tua akan sangat mempengaruhi kehidupan individu di tahap perkembangan berikutnya (Fabes, Leonard, Kupanoff, & Martin, 2001). 2. Aspek-aspek Kelekatan a) Kepercayaan Kepercayaan adalah sikap yang menganggap suatu pemahaman merupakan hal yang baik dan benar (Ishak, Yunus, & Iskandar, 2010). Kepercayaan dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam menjalin hubungan interpersonal (Larzelere & Huston, 1980). Kepercayaan memunculkan perasaan aman dan keyakinan bahwa orang lain akan membantu atau memenuhi kebutuhannya saat dibutuhkan. Bayi membangun kepercayaan melalui proses belajar. Keberadaan figur kelekatan dalam memenuhi kebutuhan bayi menjadi sarana bagi bayi untuk mengembangkan kepercayaan. Kualitas kepercayaan bergantung pada seberapa sensitif seorang ibu terhadap kebutuhan anaknya dan seberapa konsistennya ibu dalam memenuhi kebutuhan anak (Ishak, Yunus, & Iskandar, 2010). Armsden & Greenberg (1987) menyatakan bahwa kepercayaan yang terbentuk akan memberikan pengaruh pada tahap perkembangan berikutnya. b) Komunikasi Komunikasi adalah cara individu untuk berhubungan dengan individu lain. Komunikasi yang efektif antara individu dan

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pengasuhnya menjadi salah satu hal yang penting 31 dalam perkembangan kelekatan yang aman (Ishak, Yunus, & Iskandar, 2010). Komunikasi yang baik dapat mengembangkan kepercayaan dan perasaan dapat dipercaya antara dua individu yang saling berinteraksi. Komunikasi individu dan bayi akan membentuk internal working models individu dalam menghadapi lingkungan dan ikatan emosional (Bretherton, 1990). c) Alienasi Alienasi atau keterasingan disebabkan adanya pengabaian yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak. Pada masa anak-anak, figur yang diharapkan hadir tidak hadir karena sibuk dengan pekerjaan atau karena hal lain sehingga anak akan merasa tertolak dan tidak diharapkan. Alienasi berkaitan erat dengan penghindaran dan penolakan seperti amarah, tidak bertanggung jawab, dan ketidakkonsistenan hadirnya pengasuh pada bayi. Alienasi yang dilakukan oleh orang tua berperan penting dalam terbentuknya kelekatan anak (Lowenstein, 2010). 3. Macam-macam Kelekatan dan Dampaknya Berdasarkan tiga komponen kelekatan (Kepercayaan, Komunikasi dan Alienasi), Armsden & Greenberg (1987) menyatakan bahwa kelekatan dapat dikategorikan menjadi dua kategori kelekatan, sbb:

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 a) Kelekatan aman yang tinggi Individu dikategorikan dalam kelompok yang memiliki kelekatan aman yang tinggi apabila skor alienasi tidak tinggi, dan skor kepercayaan dan komunikasi berada pada level medium. Hal ini dikarenakan pentingnya teori yang dinyatakan oleh Bowlby terhadap kepercayaan dalam hubungan kelekatan. Dalam hal ini, ketika skor kepercayaan pada level medium dan skor alienasi di level medium juga maka kelekatan aman yang tinggi tidak akan terbentuk. Individu yang memiliki kelekatan aman yang tinggi, mampu berkembang menjadi individu yang memiliki harga diri yang positif, kepuasan hidup, kesejahteraan hidup, kesuksesan akademik, rasa bangga yang autentik, serta memiliki penyesuaian sosial dan emosional yang baik (Khoshkam, Bahrami, Ahmadi, Fatehizade, & Etemadi, 2012; Nickerson & Nagle, 2005; Bell, Allen, Hauser & O'Connor, 1996; Cutrona, Cole, Colangelo, Assouline, & Russell, 1994) b) Kelekatan aman yang rendah Individu dikategorikan dalam kelompok yang memiliki kelekatan aman yang rendah bila skor kepercayaan dan komunikasi berada pada tingkat rendah, dan skor alienasi berada di tingkat medium atau tinggi. Dalam hal ini, apabila skor kepercayaan atau skor komunikasi berada di level medium dan yang lain rendah, kelekatan

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 aman yang rendah terbentuk jika alienasi berada pada skor yang tinggi. Individu yang memiliki kelekatan aman yang rendah cenderung akan mengembangkan perilaku agresi, perilaku submisif, kriminal, gangguan kecemasan, depresi, dan mengalami penolakan dari teman sebaya, sensitivitas terhadap penolakan yang tinggi (Fabes, Leonard, Kupanoff, & Martin, 2001; Erozkan, 2009; Downey & Feldman 1996) Kepercay aan Tinggi Kepercay aan rendah Komuni kasi Medium Komunik asi Rendah Alienas i Rendah Alienasi Tinggi Kelekatan Aman yang Tinggi Kelekatan Aman yang Rendah Gambar 2. Kelekatan aman yang tinggi dan yang rendah 4. Mekanisme terbentuknya Kelekatan Kelekatan muncul dan mulai berkembang sejak lahir. Bayi belum mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu, bayi memerlukan pengasuh untuk memenuhi kebutuhannya. Interaksi antara bayi dan pengasuh ini akan mengarahkan pembentukan kelekatan. Melihat teori Piaget (dalam Santrock, 1995), kognitif bayi berada pada tahap sensori-motor yang mana bayi belum memahami bahwa adanya suatu benda yang eksis atau ada. Apabila ibu sebagai pengasuh bayi pergi

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 untuk bekerja dan tidak bisa terus menerus memenuhi kebutuhan bayi maka bayi akan cenderung menganggap bahwa ibu hilang atau tidak eksis. Dengan pengalaman tersebut bayi akan mengembangkan pemikiran bahwa bayi tidak dapat mempercayai orang lain. Selain itu, bayi juga akan merasa terabaikan karena kebutuhannya tidak terpenuhi dengan baik. Pengalaman-pengalaman pada masa bayi tersebut membuat bayi mengembangkan kelekatan aman yang rendah. Interaksi yang sedemikian rupa akan membentuk internal working model individu dalam berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian, individu akan berperilaku dalam situasi tertentu berdasarkan kerangka berpikir yang terbentuk sejak kecil. Pengalaman pengabaian atau tertolak mampu berkontribusi dalam meningkatkan tingkat sensitivitas individu terhadap penolakan. Oleh karena itu, kelekatan aman yang rendah memiliki hubungan atau menjadi prediktor pada sensitivtas terhadap penolakan. Anak yang mengembangkan kelekatan yang aman pada anak memiliki pola pengasuhan yang baik terhadap anak sehingga mampu membiasakan anak untuk mengembangkan emosi secara baik dalam situasi tertentu. Dalam penelitian ini, emosi yang relevan adalah kecenderungan perasaan bangga dalam menyikapi suatu kesuksesan. Apakah individu cenderung mengembangkan rasa bangga yang autentik atau hubristik. Orang tua yang cenderung memberikan pujian terhadap kesuksesan didasarkan pada usaha yang telah dikerjakan oleh anak akan cenderung

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 mengembangkan rasa bangga yang autentik. Di sisi lain, apabila orang tua cenderung memberikan pujian terhadap kesuksesan didasarkan pada suatu hal yang melekat pada anak, misalnya anak mendapatkan nilai yang bagus tidak karena belajar melainkan karena anak memang sudah pintar, maka anak akan cenderung mengembangkan perasaan bangga yang hubristik. Pola berpikir anak terbentuk berdasarkan pengalaman yang diterima, menilai suatu hal secara spesifik atau secara global. 5. Kelekatan dengan Ibu Kelekatan dengan ibu berperan penting dalam perkembangan emosi dan perilaku anak di masa remaja dan masa-masa selanjutnya (Patterson, Cohn, & Kao, 1989 dalam McLachlan, Zimmer-Gembeck, & McGregor). Walaupun kelekatan ayah tidak kalah penting dalam perkembangan remaja, kelekatan terhadap ibu tetap menjadi fokus utama. Hal ini dikarenakan adanya pertimbangan budaya yang kemungkinan ibu menjadi pengasuh bayi sangat besar. Selain itu, dalam penelitian sebelumnya diketahui bahwa apabila individu memiliki kelekatan aman yang tinggi dengan ibu maka individu akan cenderung memiliki kelekatan yang aman dengan ayah (Ainsworth, 1967; Caldera, 2004 dalam Benware, 2013).

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 6. Alat Ukur Alat ukur kelekatan anak pada ibu terdapat bebera macam, seperti Ainsworth’s Strange Situation (ASS), Picture Attachment Test (PAT), Kerns Security Scale (KSS), dan Inventory of Parent and Peer Attachment – Mother (IPPA-M). Ainsworth’s Strange Situation merupakan sebuah metode yang dibuat oleh Ainsworth untuk mengukur kelekatan anak. Alat ukur ini merupakan sebuah eksperimen dalam sebuah ruangan dengan berbagai situasi yang memunculkan atau menghilangkan ibu dan orang asing. ASS telah diuji reliabilitasnya dengan menguji bayi berumur 18 bulan dan kemudian diuji kembali pada umur 6 tahun. Hasilnya menunjukkan adanya reliabilitas yang baik. Beberapa opini dari validitas ASS menyatakan bahwa eksperimen tersebut tidak mengukur kelekatan anak dengan ibu melainkan mengukur hubungan antara anak dan ibu saja. Meskipun demikian, beberapa penelitian mendukung validitas dari ASS (Grienenberger, Kelly, & Slade, 2005; Benoit, 2004). Picture Attachment Test (PAT) merupakan alat untuk mengukur kelekatan pada ibu. PAT terdiri dari 2 bagian yang masing-masing memiliki 8 kartu. Bagian pertama untuk perempuan dan bagian kedua untuk laki-laki. Setiap kartu berisi situasi sehari-hari. Validitas PAT tampak dari korelasi hasil PAT dengan pola ASS. Alat ukur yang ketiga adalah Kerns Security Scale (KSS). KSS terdiri dari 15 item, semakin tinggi skor yang didapatkan maka kelekatan yang ditunjukkan semakin

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 aman. Reliabilitas dan validitas dari KSS telah dibuktikan dalam penelitian. Relibilitas KSS dengan alpha cronbcah sebesar 0.93, yang menunjukkan KSS memiliki reliabilitas yang sangat tinggi. Selain itu, KSS memiliki hubungan yang signifikan dengan jumlah persahabatan, penerimaan oleh teman sebaya, dan tidak adanya perasa sendiri (Lieberman, Doyle, Markiewicz, 1999). Inventory of Parent and Peer Attachment – Mother (IPPA-M) dikembangkan oleh Greenberg (1987) dan kemudian di reveisi oleh Armsden (2009). Skala ini mengukur cara pandang remaja pada hubungan mereka dengan ibu mereka. Skala ini terdiri dari 25 item yang mengukur kepercayaan, komunikasi dan alienasi. Reliabilitas (Cronbach’s alpha) skala asli ini adalah 0.87 yang mana menunjukkan reliabilitas yang tinggi. Item-item pada skala ini menggunakan skala likert, skala 1 menunjukkan hampir tidak pernah atau tidak benar, 2 menunjukkan seringkali tidak benar, 3 menunjukkan kadang-kadang benar, 4 menunjukkan seringkali benar, dan 5 menunjukkan hampir selalu sepanjang waktu atau selalu benar (Armsden & Greenberg, 1987; Gullone & Robinson, 2005). D. REMAJA 1. Definisi Remaja merupakan masa perkembangan transisi antara masa anakanak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional (Santrock, 2003). Batasan usia remaja yang digunakan

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 oleh para ahli adalah antara 12 tahun sampai 21 tahun. Rentang waktu usia remaja biasanya dibedakan menjadi tiga, yaitu remaja awal yang rentangan umurnya berkisar 12 tahun sampai 15 tahun, kemudian remaja tengah berkisar 15 tahun sampai 18 tahun, dan remaja akhir mulai 18 tahun sampai 21 tahun. Di Indonesia, Sarlito (2008) menyatakan bahwa rentang usia remaja Indonesia adalah 11 – 24 tahun dan belum menikah. 2. Perkembangan Remaja a) Perkembangan Fisik Pada masa remaja, tubuh individu akan berkembang. Remaja memberi perhatian yang besar dan kemudian merasa tidak puas terhadap gambaran tubuh yang dimiliki (Santrock, 2003). Tidak dapat menerima perubahan fisik pada tubuh membuat remaja berada pada situasi yang mendukung munculnya sensitivitas terhadap penolakan yang tinggi. b) Perkembangan Kognitif Menurut Piaget, remaja termasuk dalam tahap operasional formal. Hal tersebut menandakan bahwa remaja dapat melakukan penalaran dan membayangkan secara nyata berbagai situasi abstrak (Santrock, 2003). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perkembangan kognitif pada masa remaja memungkinkan remaja untuk mampu membayangkan situasi penolakan yang akan terjadi pada dirinya. Selain itu, pada masa remaja berkembang berbagai

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 ketidak-matangan pemikiran, salah satunya adalah egosentris. Menurut Elkind (dalam Santrock, 2003), egosentrisme remaja dapat dibagi menadi dua yaitu: 1) Imaginary audience: remaja berkeyakinan bahwa orang lain memberikan perhatian yang sangat terhadap dirinya. 2) Personal fable: remaja berkeyakinan bahwa tidak ada orang lain yang dapat memahami dirinya. Kedua egosentrisme remaja ini membuat remaja semakin memiliki peluang untuk mengembangkan sensitivitas terhadap penolakan. Remaja yang beranggapan bahwa dirinya akan diperhatikan secara detil oleh orang lain akan rapuh atau sangat mudah mengalami emosi negatif seperti perasaan tertolak ketika remaja tersebut tidak mampu menampilkan diri sesuai dengan harapan orang lain. Keyakinan remaja yang menganggap bahwa tidak ada yang memahami dirinya, membuat remaja merasa sangat unik atau berbeda dengan orang lain baik dalam pemikiran maupun dalam pengambilan keputusan. Kecenderungan cara berpikir seperti ini, membuat remaja merasa tidak diterima dalam suatu kelompok. Remaja akan selalu berpikir bahwa orang lain tidak mampu untuk menerimanyaa karena hanya dirinya sajalah yang memahami dirinya sendiri.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 c) Perkembangan Sosial Pada masa remaja, lingkungan sosial yang dimiliki lebih luas dibandingkan anak-anak. Remaja mulai menjalin hubungan romantis dan memiliki sahabat. Semakin luas hubungan personal remaja, semakin besar pula peluang remaja untuk mengalami situasi penolakan. d) Perkembangan Emosi Pada tahun 1904, G. Stanley Hall mengajukan istilah “badai dan stres” (storm and stress) untuk menggambarkan masa remaja yang merupakan masa bergolak yang diwarnai konflik dan perubahan suasana hati. 3. Tugas Perkembangan Remaja Menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1991) tugas perkembangan remaja adalah sebagai berikut: a) Memperluas hubungan antar pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan. b) Memperoleh peranan sosial c) Menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif d) Memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya e) Mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri f) Memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 g) Mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga h) Membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup E. HUBUNGAN ANTARA KECENDERUNGAN KELEKATAN UNTUK BANGGA, TERHADAP DAN IBU, SENSITIVITAS TERHADAP PENOLAKAN DI BUDAYA KOLEKTIF 1. Rasa Bangga sebagai Mediator Sensitivitas terhadap penolakan merupakan suatu konstruk yang tergolong baru dikenal dan perlu dilakukan penelitian yang mendalam (Leary, Twenege, & Quinlivan, 2006). Langkah awal untuk dapat menjadi sehat secara mental atau sejahtera secara psikologis adalah dengan menyadari kecenderungan-kecenderungan yang dimiliki. Adanya kesadaran akan kecenderungan yang membuat diri merespon stimulus dengan perilaku tertentu dapat mempermudah individu untuk mengenali diri dan mampu berusaha untuk mengurangi atau memperkuat kecenderungan yang ada. Dengan melakukan penelitian ini, peneliti berusaha untuk memperkenalkan konstruk sensitivitas terhadap penolakan kepada remaja, sehingga remaja yang memiliki sensitivitas terhadap penolakan yang tinggi mampu berefleksi mengenai kecenderungan yang dimiliki. Dalam kehidupan sehari-hari peneliti dan berdasarkan pada curhatan remaja di media internet, banyak remaja yang tidak mampu menggunakan masa-masa produktifnya sebagai remaja karena tingginya

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 sensitivitas terhadap penolakan. Remaja tidak mampu untuk memulai suatu hal yang baru dikarenakan merasa takut, cemas, dan marah akan penolakan bahkan bereaksi berlebihan ketika berada pada situasi yang memungkinkan dirinya ditolak. Dalam tahap perkembangan remaja, banyak hal yang memungkinkan remaja untuk memunculkan kecenderungan yang tinggi dalam sensitivitas terhadap penolakan. Tampak dari cara berpikir remaja yang belum matang, interaksi remaja yang semakin luas seperti menjalin relasi dengan pacar, teman, dan orang tua memungkinkan individu mengalami penolakan. Masa remaja merupakan masa yang penting untuk bereksplorasi mengenai ketertarikan yang dimiliki sehingga mampu menemukan jati diri dan berkarya. Apabila remaja yang memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap penolakan tidak menyadari akan kecenderungannya dan tetap merespon setiap stimulus yang memunkinkan adanya penolakan dengan perilaku berlebihan maka pencarian jati diri pada remaja tidak akan selesai atau jelas. Hal tersebut akan mengganggu tahap perkembangan individu selanjutnya. Prediktor terbesar dari tingginya sensitivitas terhadap penolakan merupakan pengalaman penolakan orang tua terhadap anak pada masa bayi. Pengalaman penolakan tersebut dapat berkembang menjadi kelekatan yang tidak aman. Dari beberapa penelitian, diketahui bahwa kelekatan yang tidak aman berhubungan signifikan dengan sensitivitas

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 terhadap penolakan. Peneliti tertarik untuk melihat proses terbentuknya sensitivitas yang tinggi terhadap penolakan dengan kelekatan dengan ibu. Berdasarkan literatur, peneliti mengetahui bahwa kelekatan yang terbentuk sejak lahir memiliki peran penting dalam perkembangan emosi (Pearce & Pezzot-Pearce, 2007) dan pada masa remaja terdapat pergolakan emosional yang tinggi (Santrock, 2003). Peneliti melihat emosi menjadi hal penting dalam hubungan antara kelekatan dengan sensitivitas terhadap penolakan. Perasaan yang berkaitan dengan kelekatan dan sensitivitas terhadap penolakan adalah perasaan bangga yang hubristik dan autentik. Peneliti tertarik mengambil perasaan bangga sebagai variabel yang berkontribusi dalam proses hubungan antara kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan karena perasaan bangga merupakan salah satu faktor protektif untuk dapat mengurangi tingginya sensitivitas individu terhadap penolakan. Selain itu, perasaan bangga merupakan jenis perasaan yang jarang diteliti dan masih perlu dipelajari (Castonguay, Brunet, Ferguson & Sabistos, 2012; Tracy, Robins, & Tangney, 2007; Higgins, Friedman, Harlow, Idson, Ayduk & Taylor, 2001; Fourie, Rauch, Morgan, Ellis, Jordaan & Thomas, 2011) terutama di budaya kolektif yang menganggap individu yang merasa bangga merupakan suatu hal yang negatif. Terbentuknya perasaan bangga yang hubristik memiliki kesamaan dalam hal pola pikir dengan terbentuknya sensitivitas terhadap penolakan. Individu yang memiliki

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 perasaan bangga yang hubristik cenderung memandang bahwa kesuksesan yang diperoleh berasal dari suatu hal yang melekat pada dirinya. Individu yang mengembangkan perasaan bangga yang hubristik akan merasa bangga hanya ketika ada orang yang memuji dirinya. Individu yang hubristik dikenal dengan individu yang sombong. Individu yang seringkali menceritakan kesuksesannya untuk mendapatkan pujian memiliki kemungkinan untuk mengalami pengalaman penolakan. Di budaya kolektif, individu yang sombong akan dijauhi. Individu yang hubristik ketika tidak mendapatkan pujian dari kesuksesannya maka akan merasa tertolak. Pengalaman penolakan tersebut memperkuat sensitivitas terhadap penolakan yang dimiliki oleh individu. Dengan demikian, kelekatan yang tidak aman merupakan bibit dari munculnya sensitivitas terhadap penolakan. Sensitivitas terhadap penolakan tidak akan menjadi tinggi apabila individu mengembangkan perasaan bangga yang autentik. Sensitivitas terhadap penolakan akan menjadi tinggi ketika individu mengembangkan perasaan bangga yang hubristik. Perasaan bangga yang hubristik muncul dari kelekatan tidak aman yang tercipta dari hubungan antara orang tua dan anak. Orang tua memberikan tanggapan yang global terhadap perilaku anak, sehingga anak tidak tahu perilaku mana yang membuat orang tua merasa bangga akan dirinya. Apabila pola tersebut terus berulang-ulang maka anak akan tumbuh dengan menganggap bahwa kesuksesan yang dia alami bukan dari

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 usahanya melainkan dari hal yang melekat pada dirinya dan tujuannya adalah untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Oleh karena itu, penting untuk melakukan penelitian mengenai posisi yang jelas antara kelekatan, perasaan bangga, dan sensitivitas terhadap penolakan. Apakah perasaan bangga merupakan mediator dalam hubungan antara kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan. Hal tersebut menandakan bahwa individu yang memiliki kelekatan tidak aman akan menjadi individu yang memiliki sensitivitas terhadap penolakan yang tinggi apabila individu memiliki kecenderungan untuk bangga. Penelitian ini memiliki urgensi teoritis yang berangkat dari saran peneliti sebelumnya. mempelajari tentang Peneliti sebelumnya sensitivitas terhadap menyarankan untuk penolakan dengan mengaitkannya pada aspek lain dan menemukan prediktor lain dari sensitivitas individu terhadap penolakan (Leary, Twenge & Quinlivan, 2006; Butler, Doherty, & Potter, 2007). Penelitian ini juga menjawab saran peneliti berikutnya tentang mempelajari perasaan bangga kaitannya dengan kesejahteraan individu dalam jangka waktu yang panjang (Fourie, Rauch, Morgan, Ellis, Jordaan, & Thomas, 2011) serta menambah penelitian tentang perasaan bangga di budaya kolektif. Perasaan bangga memiliki dampak yang besar. Perasaan bangga mampu memotivasi individu untuk terus melakukan perilaku yang dapat menghasilkan

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 perasaan bangga. Meskipun demikian, perasaan bangga juga mampu berdampak negatif bagi diri individu. Memperkenalkan macam-macam perasaan bangga juga merupakan hal penting untuk diketahui oleh para remaja, orangtua, dan guru. Dengan demikian, orangtua dan guru dapat lebih memperhatikan didikan yang diberikan kepada anak agar anak tidak mengembangkan perasaan bangga yang hubristik. Memuji dengan tepat dan spesifik merupakan langkah awal untuk mengembangkan perasaan bangga yang autentik. Kecenderungan Rasa bangga Kelekatan dengan ibu Sensitivitas terhadap penolakan Gambar 3. Model perasaan bangga sebagai mediator 2. Budaya Kolektif Perbedaan budaya dapat mempengaruhi cara individu untuk merespon stimulus yang dialami. Budaya kolektif sangat khas dengan perasaan yang terkait dengan individu lain (Gudykunst, et al., 1996). Individu berusaha untuk mampu menyesuaikan diri dalam kelompok. Nilai keberhasilan individu, perasaan bangga dan harga diri didapatkan

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 apabila individu dianggap mampu untuk menjadi bagian penting dalam kelompoknya. Individu berfokus pada penghargaan dan tanggung jawab sosialnya. Dengan demikian, standar, peraturan dan tujuan (SRG) individu dibuat dengan tujuan kepentingan kelompok bukan diri sendiri. Penghargaan dari individu lain menjadi hal penting dalam diri individu. Mendapatkan penghargaan membuat individu merasa diterima sebagai kelompok. Sehingga, individu berusaha untuk tidak ditolak. F. HIPOTESIS Ada hubungan yang tidak langsung antara kelekatan dengan ibu, sensitivitas terhadap penolakan, dan rasa bangga di budaya kolektif. Dengan demikian, kecenderungan untuk bangga adalah mediator dalam hubungan antara kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 - Kepercayaan (↓) - Komunikasi (↓) - Pengabaian (↑) Kelekatan dengan ibu - Kepercayaan (↑) - Komunikasi (↑) - Pengabaian (↓) - Memfokuskan perhatian pada representasi diri - Membandingkan representasi diri dengan tujuan yang dimiliki - Kepercayaan yang rendah, komunikasi yang rendah, dan pengabaian yang tinggi, membuat individu menggeneralisasi penyebab kesuksesan yang dicapai Pola berpikir (internal working model) generalisasi dan penolakan/pengabaian yang dialami membuat individu cenderung mengalami sensitivitas terhadap penolakan yang tinggi. - Memfokuskan perhatian pada representasi diri - Membandingkan representasi diri dengan tujuan yang dimiliki - Kepercayaan yang tinggi, komunikasi yang tinggi, dan pengabaian yang rendah, membuat individu memahami secara jelas (spesifik) hal-hal apa yang membuat dirinya mencapai kesuksesan Ketika individu mengalami penolakan, individu mengetahui bahwa yang ditolak bukan dirinya melainkan perilaku tertentu yang telah dilakukan sehingga individu cenderung mengalami sensitivitas terhadap penolakan yang rendah dan mampu memperbaiki perilakunya. Gambar 4 Framework penelitian perasaan bangga sebagai mediator

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian korelasional yang menghubungkan antara variabel independen dan variabel dependen. Peneliti ingin melihat hubungan tidak langsung antara kelekatan dengan ibu, perasaan bangga, dan sensitivitas terhadap penolakan. Selain itu, dalam penelitian ini dapat dilakukan pula pengujian kembali hubungan antara kelekatan dengan rasa bangga, kelekatan dengan sensitivitas terhadap penolakan, dan rasa bangga dengan sensitivitas terhadap penolakan pada remaja di Indonesia. B. VARIABEL PENELITIAN 1. Variabel dependen Variabel dependen dalam penelitian ini adalaha sensitivitas terhadap penolakan. 2. Variabel independen Variabel independen dalam penelitian ini adalah kelekatan dengan ibu. 3. Variabel mediasi Variabel mediasi dalam penelitian ini adalah rasa bangga. C. DEFINISI OPERASIONAL 1. Sensitivitas terhadap penolakan Sensitivitas terhadap penolakan merupakan kecenderungan individu untuk menduga, merasa ditolak, dan kemudian merespon

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 penolakan tersebut dengan perilaku yang tidak adaptif (Downey & Feldman, 1996). Penolakan yang dimaksud bukanlah penolakan yang sesungguhnya, penolakan yang direspon oleh individu merupakan hasil dari pola pikir. Sensitivitas terhadap penolakan muncul ketika individu berada dala situasi yang memungkinkan terjadinya penolakan oleh orangorang terdekat (Feldman & Downey, 1994). Sensitivitas individu terhadap penolakan akan diukur menggunakan skala Children Rejection Sensitivity Questionnaire (CRSQ). Adapun tingkat tinggi rendahnya sensitivitas terhadap penolakan dapat dilihat berdasarkan besarnya skor yang diperoleh pada skala. Semakin besar nilai skor total pada skala, maka semakin tinggi kecenderungan individu memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap penolakan, begitu pula sebaliknya, semakin kecil nilai skor total pada skala, maka semakin rendah tingkat sensitivitas individu terhadap penolakan. Skala Children Rejection Sensitivity Questionnaire (CRSQ) digunakan untuk subjek remaja di Indonesia. Hal ini disebabkan karena apabila dibandingkan, skala CRSQ lebih sesuai dengan konteks remaja di Indonesia dibandingkan dengan skala RSQ for Adolsecent. 2. Perasaan Bangga Perasaan bangga merupakan bentuk emosi moral yang muncul ketika individu berhasil mencapai tujuan dan berperilaku sesuai standar dan aturan (Tracy, Shariff, & Cheng, 2010). Perasaan bangga dapat

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 dibagi menjadi perasaan bangga yang hubristik dan autentik berdasarkan atribusi individu terhadap perasaan bangga yang dialami. Apabila individu beranggapan bahwa individu bangga akan suatu hal karena halhal yang melekat akan dirinya maka individu mengembangkan perasaan bangga yang hubristik. Individu akan mengembangkan perasaan bangga yang autentik apabila individu menganggap bahwa keberhasilan individu didapatkan karena usaha yang telah dilakukan. Perasaan bangga memungkinkan individu untuk terus bertindak sesuai peraturan yang ada dan memotivasi individu untuk terus mencapai apa yang telah menjadi tujuan hidupnya (Tracy & Robins, 2007). Adapun kecenderungan individu untuk mengembangkan perasaan bangga yang hubristik atau autentik dapat dilihat dari subskala perasaan bangga yang terdapat pada skala TOSCA-A (Tests Of Self Conscious Affect for Adolescent). Apabila total skor pada autentik lebih besar daripada hubristik, maka individu tersebut memiliki kecenderungan untuk mengembangkan perasaan bangga yang autentik, begitu pula sebaliknya. Kecilnya total skor pada autentik daripada hubristik, menggambarkan bahwa individu cenderung untuk mengembangkan perasaan bangga yang hubristik. 3. Kelekatan dengan ibu Kelekatan dengan ibu merupakan ikatan emosional antara bayi dan ibu. Terdapat tiga karakteristik yang mendukungnya pembentukan kelekatan yaitu kepercayaan, komunikasi, dan alienasi atau keterasingan.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Kepercayaan, komunikasi, dan alienasi yang terjadi antara individu di masa bayinya dan ibu menjadi faktor pembentuk kelekatan individu terhadap ibu yang akan mempengaruhi interaksi individu dengan lingkungannya. Individu akan berkembang dengan kelekatan aman yang tinggi apabila individu memiliki kepercayaan yang tinggi, komunikasi yang medium dan alienasi yang rendah. Demikian pula sebaliknya, individu mengembangkan kelekatan aman yang rendah apabila individu memiliki kepercayaan yang rendah, komunikasi yang rendah dan alienasi yang tinggi. Skor tersebut dapat dilihat berdasarkan besarnya skor yang diperoleh pada skala Inventory of Parent and Peer Attachment - Mother (IPPA-M). D. SUBJEK PENELITIAN Subjek penelitian ini adalah remaja berjumlah 323 orang. Kriteria subjek yang dipilih adalah remaja laki-laki dan perempuan yang memiliki usia berkisar antara 12 tahun sampai 22 tahun. Kriteria ini dapat diketahui dengan cara menyediakan formulir identitas diri yang harus diisi oleh subjek pada lembar akhir skala penelitian, seperti inisial, usia, dan jenis kelamin. Jenis pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah quota sampling yang berarti jumlah untuk pengambilan sampel telah ditentukan terlebih dahulu. Persyaratan subjek adalah remaja laki-laki dan perempuan yang berada di SMP dan SMA.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 E. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA 1. Metode Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode skala. Skala adalah alat ukur psikologis dalam bentuk pertanyaanpertanyaan sikap yang disusun sedemikian rupa sehingga respon seseorang terhadap pernyataan tersebut dapat diberi skor dan dapat diinterpretasikan. 2. Alat Pengumpulan Data Dalam penelitian ini ada tiga skala yang digunakan yakni: (1) Sensitivitas terhadap penolakan CRSQ (Children Rejection Sensitivity Questionnaire) yang dikembangkan oleh Downey untuk mengukur tingkat sensitivitas seseorang terhadap penolakan. Skala ini berisi 12 cerita yang mana masing-masing situasi terdapat tiga pertanyaan yang berkaitan dengan respon individu terhadap situasi tersebut. (2) Perasaan bangga Peneliti menggunakan TOSCA-A (Test of Self-Conscious Affect for Adolescent) yang dikembangkan oleh Tangney (1991) untuk mengukur kecenderungan untuk merasa bangga. Skala ini memiliki 15 situasi yang secara umum bertujuan untuk mengukur kecenderungan untuk malu, perasaan bersalah, eksternalisasi, detachment, perasaan bangga yang autentik, dan perasaan bangga yang hubristik.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 (3) Kelekatan Untuk mengukur kelekatan, peneliti menggunakan IPPA-M (Inventory of Parent scale and Peer Attachment - Mother) yang dikembangkan oleh Greenberg (1987) dan kemudian di revisi oleh Armsden (2009). Skala ini mengukur cara pandang remaja pada hubungan mereka dengan ibu mereka. F. VALIDITAS DAN RELIABILITAS 1. Validitas Skala Validitas tes adalah tingkat kemampuan tes mengukur atribut yang hendak diukur (Sarwono, 2006). Alat ukur yang memiliki validitas yang tinggi menandakan bahwa alat ukur tersebut mampu manjalankan fungsi ukur dengan akurat dalam melakukan pengukuran (Azwar, 1999). Mengingat bahwa tiga skala yang digunakan dalam penelitian ini merupakan skala yang dikembangkan dari luar negeri, maka diperlukan metode penerjemahan. Penerjemahan suatu skala menjadi hal yang dibutuhkan dalam melakukan penelitian. Menurut Hambleton & Patsula (dalam Suharsono & Istiqomah, 2014) menerjemahkan skala ke dalam bahasa lain disebabkan karena (1) menerjemahkan skala cenderung lebih murah daripada membuat skala yang baru; (2) adanya perasaan aman ketika menggunakan skala yang sudah terjamin reliabilitas dan validitasnya daripada skala yang baru dibuat, terutama skala yang digunakan adalah skala yang sudah terkenal; (3) adanya kecenderungan

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 memperoleh hasil pengukuran yang sama, meskipun berbeda bahasa. Dengan menerjemahkan skala asing, diharapkan skala tersbeut dapat dimengerti oleh subjek penelitian sehingga respon-respon jawaban serupa dengan skala aslinya. Metode terjemahan yang digunakan adalah Back-translation. Dalam metode ini, seseorang yang menguasai ilmu Psikologi dan yang ahli berbahasa Inggris diminta untuk menerjemahkan skala bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Kemudian, skala bahasa Indonesia tersebut diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Inggris oleh penerjemah kedua yang tidak tahu tentang skala aslinya. Penerjemah kedua merupakan orang yang pernah tinggal di luar negeri yang berbahasa Inggris selama minimal 2 tahun. Lalu, hasil terjemahan bahasa Inggris didiskusikan dan dibandingkan dengan skala asli oleh peneliti, penerjemah pertama, dan penerjemah kedua untuk mendapatkan sense dari setiap item pada skala. Apabila sesuai maka item-item skala dapat digunakan. Setelah meendiskusikan setiap item, skala kemudian di try-out kan pada subjek yang memiliki umur paling kecil yaitu bekisar 12 tahun. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah ada kalimat pada item skala yang tidak dipahami dan berapa waktu yang diperlukan untuk mengerjakan skala. Apabila terdapat item yang kurang dipahami, maka peneliti akan mendiskusikannya kembali untuk menemukan kalimat yang lebih mudah untuk dipahami oleh subjek. Proses penerjemahan dengan metode Back

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 translation sampai try out skala merupakan validasi isi dari skala yang digunakan dalam penelitian ini. a) Sensitivitas terhadap penolakan Dalam usaha untuk melihat validasi CRSQ, beberapa peneliti melakukan penelitian dengan menggunakan CRSQ untuk melihat validitasnya. Terdapat penelitian yang mendukung validasi RSQ, yakni penelitian yang berjudul Rejection sensitivity and children’s interpersonal difficulties (Downey, Lebolt, Rincon, & Freitas, 1998). Pada penelitian tersebut diketahui CRSQ memiliki hubungan yang positif dengan kebencian, dan negatif pada kepekaan sosial dan kecakapan perilaku. b) Rasa bangga Terdapat beberapa penelitian yang dilakukan untuk melihat validitas skala untuk mengukur rasa bangga yang autentik dan hubristik. Validitas pada skala ini tampak dari hubungannya dengan variabel lain yang relevan (Tracy & Robins, 2007). Rasa bangga yang autentik berkorelasi dengan harga diri, ekstraversi, agreeableness, conscientiousness, dan stabilitas emosi. Sedangkan rasa bangga yang hubristik berkorelasi dengan narsistik dan kecenderungan untuk malu (Tracy & Robins, 2007). Penelitian lain yang mendukung validasi skala tosca adalah Moral affect: the good, the bad, an the ugly (Tangney, 1991); The mixed legacy of the superego: Adaptive and maladaptive aspects of shame and guilt (Tangney, 1994); Shame-

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 proneness, guilt-proneness, and psychological symptoms (Tangney, Wagner, & Gramzow, 1993). c) Kelekatan dengan ibu Skala asli IPPA-M memiliki korelasi yang tinggi dengan skor skala lingkungan keluarga (Armsden & Greenberg, 1987). Kelekatan orang tua juga memiliki korelasi dengan tingkat coping keluarga seperti komunikasi antar anggota keluarga dan fokus pada masalah keluarga. Kelekatan juga berhubungan dengan depresi. Kelekatan dnegan ibu juga berkorelasi dengan harga diri, kepuasan hidup, dan kecemasan, alienasi, kemarahan, dan kesendirian. Penelitianpenelitian tersebut menggambarkan validitas skala asli IPPA-M baik. 2. Reliabilitas Reliabilitas mengindikasikan apakah suatu kuesioner meenunjukkan suatu konsistensi hasil (Greco, Walop, & McCarthy, 1987). Hasil pengukuran dapat dipercaya apabila adalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subyek belum berubah. Dalam hal ini relatif sama berarti tetap adanya toleransi terhadap perbedaan-perbedaan kecil diantara hasil beberapa kali pengukuran. Bila perbedaan itu sangat besar maka hasil pengukuran tidak dapat dipercaya dan dikatakan tidak reliabel. Pada penelitian ini untuk menentukan reliabilitas digunakan koefisien alpha (α) dari Cronbach.

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 a. Sensitivitas terhadap penolakan Skala asli Children Rejection Sensitivity Questionnaire memperlihatkan reliabilitas internal yang baik, yakni pada dugaan kemarahan memiliki α = 0.79; pada reaksi marah α = 0.84; dan untuk perasaan tidak disukai α = 0.72 (Downey, Lebolt, Rincon, & Freitas, 1998). CRSQ juga telah diuji reliabilitasnya secara eksternal, yaitu dengan menunjukkan reliabilitas tes-retes yang tinggi. Dua sampai tiga minggu setelah administrasi tes pertama, RSQ diadministrasikan kembali. Korelasi antara administrasi pertama dan kedua memiliki skor 0.83. Meskipun telah diketahui reliabilitas skala asli CRSQ termasuk dalam ketagori baik, Azwar (2006) mengatakan bahwa koefisien reliabilitas hasil ukur bagi subjek penelitian masih tetap diperlukan. Subjek penelitian dianggap sebagai kelompok individu yang lain daripada subjek yang dijadikan dasar pengujian reliabilitas alat ukur asli. Oleh karena itu, akan dilakukan reliabilitas pada kelompok subjek penelitian, sehingga dapat diketahui secara lebih spesifik data yang sebenarnya yang dimiliki oleh subjek. Skor α cronbach pada skala CRSQ secara keseluruhan adalah 0.883, untuk skor α cronbach pada subskala Kegelisahan adalah 0.870 dan Kemarahan = 0.872. Hal tersebut menunjukkan bahwa reliabilitas skala yang digunakan tergolong dalam kategori tinggi.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 b. Rasa bangga Reliabilitas skala asli tosca terutama pada subskala rasa bangga tergolong memiliki konsistensi internal yang tinggi (Tracy & Robins, 2007). Skor alpha cronbach yang dimiliki adalah 0.88 untuk rasa bangga yang autentik, sedangkan rasa bangga yang hubristik memiliki skor alpha cronbach sebesar 0.90. Meskipun telah diketahui reliabilitas skala asli RSQ termasuk dalam ketagori baik, Azwar (2006) mengatakan bahwa koefisien reliabilitas hasil ukur bagi subjek penelitian masih tetap diperlukan. Subjek penelitian dianggap sebagai kelompok individu yang lain daripada subjek yang dijadikan dasar pengujian reliabilitas alat ukur asli. Oleh karena itu, akan dilakukan reliabilitas pada kelompok subjek penelitian, sehingga dapat diketahui secara lebih spesifik data yang sebenarnya yang dimiliki oleh subjek. Skor α cronbach pada subskala perasaan bangga adalah 0.802. Hal tersebut menunjukkan bahwa reliabilitas skala yang digunakan tergolong dalam kategori tinggi. Skor α cronbach pada perasaan bangga yang autentik adalah sebesar 0.656; perasaan bangga yang hubristik adalah sebesar 0.643. c. Kelekatan Skala asli kelekatan dengan ibu yaitu Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA-M) menunjukkan reliabilitas yang baik. Reliabilitas IPPA-M diuji dengan dua cara yaitu tes-retes reliabilitas dan internal reliabilitas yaitu alpha cronbach. Tes administrasi kedua

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 dilakukan setelah tiga minggu tes administrasi pertama dan diketahui korelasinya adalah 0.93 yang dapat dikategorikan dalam reliabilitas yang baik. Reliabilitas internal IPPA-M dilihat dari skor alpha cronbach yaitu sebesar 0.87 (Armsden & Greenberg, 1989). Hal tersebut menunjukkan reliabilitas internal IPPA-M tergolong baik. Reliabilitas skala kelekatan dengan ibu pada penelitian ini diuji dengan melihat alpha cronbach yang didapat dari skor subjek penelitian. Skor α cronbach pada skala kelekatan dengan ibu adalah sebesar 0.897. Skor tersebut menunjukkan reliabilitas yang tinggi pada skala kelekatan dengan ibu. Pada skala Kepercayaan skor α cronbach adalah 0.821; Komunikasi = 0.811; Pengabaian = 0.684. G. METODE ANALISIS DATA Penelitian ini menggunakan teknik analisis data dengan SPSS yaitu analisis regresi. Hal ini disebabkan karena penelitian ini memiliki dua variabel prediktor yaitu kelekatan dengan ibu dan rasa bangga yang dikaitkan dengan variabel dependen yaitu sensitivitas terhadap penolakan. Tahapan analisis yang digunakan untuk membuktikan bahwa ketiga variabel tersebut memiliki hubungan yang tidak langsung dan rasa bangga sebagai variabel mediatornya adalah sebagai berikut: a. Meregresikan variabel rasa bangga dengan kelekatan Kelekatan Rasa bangga

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 b. Meregresikan variabel sensitivitas terhadap penolakan dengan rasa bangga Rasa bangga Sensitivitas terhadap penolakan c. Meregresikan variabel kelekatan dengan ibu dengan sensitivitas terhadap penolakan Kelekatan Sensitivitas terhadap penolakan d. Meregresikan variabel dependen pada dua variabel independen Kelekatan Rasa bangga Sensitivitas terhadap penolakan Pada analisis ini, rasa bangga menjadi variabel mediator antara kelekatan dan sensitivitas terhadap penolakan, apabila hasil regresi dari kelekatan dan rasa bangga, rasa bangga dengan sensitivitas terhadap penolakan, dan kedua variabel prediktor dengan sensitivitas terhadap penolakan harus signifikan (p≤ 0.05). Jika hasil regresi menunjukkan signifikansi terhadap ketiga alur regresi tersebut maka dapat dikatakan model penelitian adalah mediator (Baron & Kenny, 1986).

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 H. TEKNIK ANALISIS DATA 1. Uji Asumsi a) Uji Linearitas Uji linearitas digunakan untuk melihat apakah model yang dibangun mempunyai hubungan linear atau tidak. b) Uji Heteroskedasitas Uji heteroskedasitas digunakan untuk melihat apakah terdapat ketidaksamaan varians dari residual. c) Uji Normalitas Uji Normalitas digunakan untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Pada regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang terdistribusi normal. 2. Uji Hipotesis Pengujian hipotesis menggunakan korelasi dan regresi dengan SPSS 16.00. Dengan demikian dapat diketahui hubungan antar variabel dan apakah rasa bangga dapat menjadi mediator dalam hubungan tidak langsung antara kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadapa penolakan.

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. PERSIAPAN PENELITIAN Persiapan penelitian yang dilakukan pertama-tama adalah meminta izin untuk menterjamahkan dan menggunakan skala pada pembuat skala asli. Kemudian melakukan proses penerjemahan dengan metode back translation. Proses penerjemahan dari skala asli yang merupakan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dibantu oleh seseorang yang pernah tinggal di negara yang menggunakana bahasa Inggris sebagai bahasa ibu (ABC = America, British, Canada) minimal dua tahun dan yang mengenal tentang Psikologi. Setelah mendapatkan skala dalam bahasa Indonesia, skala bahasa Indonesia tersebut diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Inggris oleh seseorang yang ahli dalam bahasa Inggris dan sering menterjemahkan skala-skala Psikologi. Skala dalam bahasa Inggris tersebut dikirimkan kembali kepada profesor yang membuat skala asli dan mendapatkan tanggapan mengenai keselarasan terjemahan dengan skala asli. Peneliti melakukan try out pada skala dalam bahasa Indonesia pada subjek yang memiliki karakteristik yang sama dengan subjek penelitian. Try out ini dilakukan dengan tujuan agar peneliti mendapatkan tanggapan mengenai bahasa dalam kalimat-kalimat setiap item, apakah mudah dipahami atau tidak. Setelah skala siap untuk dibagikan, peneliti mengurus surat izin penelitian ke kantor Gubernur dan kantor BAPPEDA. Melalui izin tersebut,

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 peneliti dapat mengambil data ke sekolah-sekolah baik itu SMP maupun SMA dan mendapatkan subjek dalam kelompok besar. Setelah mendapatkan izin, peneliti kembali bernegosiasi dengan perizinan dari sekolah-sekolah yang akan diambil datanya. Beberapa sekolah yang mengizinkan untuk mengambil data kemudian merencanakan waktu pengambilan data. B. PELAKSANAAN PENELITIAN Penelitian dilaksanakan selama bulan Maret dan April tahun 2014 di beberapa SMP, SMA, dan SMK di Sleman dan kota Jogja. Dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti dibantu oleh beberapa rekan yang mengunjungi ke beberapa sekolah untuk mengambil data. Subjek yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMP kelas VIII, SMA kelas X & XI, SMK kelas X & XI yang masih tergolong remaja. Dari beberapa sekolah yang datanya diambil, terkumpul 323 subjek. Meskipun demikian, setelah dilakukan screening data dan missing value, terdapat 11 subjek yang gugur. Dengan demikian, subjek penelitian yang dianggap memenuhi kriteria adalah sebanyak 312 subjek yang terdiri dari laki-laki sejumlah 156 orang, perempuan sejumlah 136 orang, dan yang tidak diketahui sejumlah 20 orang.

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tingkat Pendidikan Jumlah (N) Presentase (%) SMP 68 21.8% SMA 113 36.3% SMK 131 41.9% Total 312 100% 65 Tabel 1. Data Demografi Subjek berdasarkan Pendidikan Hasil analisis deskriptif pada tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah subjek yang SMP sebanyak 21.8% (68 subjek), subjek yang SMA sejumlah 36.3% (113 subjek), subjek yang SMK sebanyak 41.9% (131 subjek). C. HASIL PENELITIAN Seluruh jawaban subjek di-input ke dalam program SPSS 16.0 berdasarkan label yang telah dipersiapkan sebelumnya pada bagian variabel view. Hasil skor yang telah dilakukan kemudian dianalisis regresi.

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 1. Uji Linearitas a) Perasaan bangga autentik pada kelekatan dengan ibu Gambar 5. Scatterplot kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga autentik Berdasarkan gambar scatterplot di atas, sebaran data menunjukkan tidak ada pola non-linier. Pola non-linier adalah pola data yang menunjukkan pola U atau S. Oleh karena itu, hasil dari data antara variabel kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang autentik adalah linier yang berarti terdapat korelasi antara kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang autentik.

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 b) Perasaan bangga hubristik pada kelekatan dengan ibu Gambar 6. Scatterplot kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga hubristik Berdasarkan gambar scatterplot di atas, sebaran data menunjukkan tidak ada pola non-linier. Pola non-linier adalah pola data yang menunjukkan pola U atau S. Oleh karena itu, hasil dari data antara variabel kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang hubristik adalah linier yang berarti terdapat korelasi antara kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang hubristik. c) Sensitivitas terhadap penolakan pada perasaan bangga autentik Gambar 7. Scatterplot perasaan bangga yang autentik dan sensitivitas terhadap penolakan

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Berdasarkan gambar scatterplot di atas, sebaran data menunjukkan tidak ada pola non-linier. Pola non-linier adalah pola data yang menunjukkan pola U atau S. Oleh karena itu, hasil dari data antara variabel perasaan bangga yang autentik dan sensitivitas terhadap penolakan adalah linier yang berarti terdapat korelasi antara perasaan bangga yang autentik dan sensitivitas terhadap penolakan. d) Sensitivitas terhadap penolakan pada perasaan bangga hubristik Gambar 8. Scatterplot perasaan bangga yang hubristik dan sensitivitas terhadap penolakan Berdasarkan gambar scatterplot di atas, sebaran data menunjukkan tidak ada pola non-linier. Pola non-linier adalah pola data yang menunjukkan pola U atau S. Oleh karena itu, hasil dari data antara variabel perasaan bangga yang hubristik dan sensitivitas terhadap penolakan adalah linier yang berarti terdapat korelasi antara perasaan bangga yang hubristik dan sensitivitas terhadap penolakan.

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 e) Sensitivitas terhadap penolakan pada kelekatan dengan ibu Gambar 9. Scatterplot kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan Berdasarkan gambar scatterplot di atas, sebaran data menunjukkan tidak ada pola non-linier. Pola non-linier adalah pola data yang menunjukkan pola U atau S. Oleh karena itu, hasil dari data antara variabel kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan adalah linier yang berarti terdapat korelasi antara kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan. 2. Uji Normalitas Residu Uji normalitas bertujuan untuk melihat sebaran data normal atau tidak. Uji normalitas dilihat dari gambar normal p-p plots of regression standardized residual pada program SPSS 16.0. Uji normalitas perlu dilakukan sesuai tahapan regresi antara variabel dependen pada variabel independen. Berikut pembagian, gambar, dan penjelasannya:

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 a) Perasaan bangga autentik pada kelekatan dengan ibu Gambar 10. Grafik normal P-P plot of regression standardized residual perasaan bangga yang autentik dan kelekatan dengan ibu Berdasarkan grafik normal P-P plot of regression standardized residual, data tersebar mendekati garis normal yang melintang sehingga dapat dikatakan bahwa asumsi ini terpenuhi atau dapat dikatakan dapat berdistribusi normal.

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 b) Perasaan bangga hubristik pada kelekatan dengan ibu Gambar 11. Grafik normal P-P plot of regression standardized residual perasaan bangga yang hubristik dan kelekatan dengan ibu Berdasarkan grafik normal P-P plot of regression standardized residual, data tersebar mendekati garis normal yang melintang sehingga dapat dikatakan bahwa asumsi ini terpenuhi atau dapat dikatakan dapat berdistribusi normal. c) Sensitivitas terhadap penolakan pada perasaan bangga autentik Gambar 12. Grafik normal P-P plot of regression standardized residual perasaan bangga yang autentik dan sensitivitas terhadap penolakan

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Berdasarkan grafik normal P-P plot of regression standardized residual, data tersebar mendekati garis normal yang melintang sehingga dapat dikatakan bahwa asumsi ini terpenuhi atau dapat dikatakan dapat berdistribusi normal. d) Sensitivitas terhadap penolakan pada perasaan bangga hubristik Gambar 13. Grafik normal P-P plot of regression standardized residual perasaan bangga yang hubristik dan sensitivitas terhadap penolakan Berdasarkan grafik normal P-P plot of regression standardized residual, data tersebar mendekati garis normal yang melintang sehingga dapat dikatakan bahwa asumsi ini terpenuhi atau dapat dikatakan dapat berdistribusi normal.

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 e) Sensitivitas terhadap penolakan pada kelekatan dengan ibu Gambar 14. Grafik normal P-P plot of regression standardized residual kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan Berdasarkan grafik normal P-P plot of regression standardized residual, data tersebar mendekati garis normal yang melintang sehingga dapat dikatakan bahwa asumsi ini terpenuhi atau dapat dikatakan dapat berdistribusi normal.

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 3. Uji Homogenitas a) Perasaan bangga autentik pada kelekatan dengan ibu Gambar 15. Scatterplot perasaan bangga autentik dan kelekatan dengan ibu Berdasarkan Scatterplot di atas tampak bahwa adanya sebaran data yang bersifat acak dan tidak membentuk pola megaphone. Oleh karena itu data dapat dikatakan homogen atau memiliki variasi variabel dependen yang sama untuk tiap nilai dari variabel independen.

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 b) Perasaan bangga hubristik pada kelekatan dengan ibu Gambar 16. Scatterplot perasaan bangga hubristik dan kelekatan dengan ibu Berdasarkan Scatterplot di atas tampak bahwa adanya sebaran data yang bersifat acak dan tidak membentuk pola megaphone. Oleh karena itu data dapat dikatakan homogen atau memiliki variasi variabel dependen yang sama untuk tiap nilai dari variabel independen. c) Sensitivitas terhadap penolakan pada perasaan bangga autentik Gambar 17. Scatterplot perasaan bangga autentik dan sensitivtas terhadap penolakan

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Berdasarkan Scatterplot di atas tampak bahwa adanya sebaran data yang bersifat acak dan tidak membentuk pola megaphone. Oleh karena itu data dapat dikatakan homogen atau memiliki variasi variabel dependen yang sama untuk tiap nilai dari variabel independen. d) Sensitivitas terhadap penolakan pada perasaan bangga hubristik Gambar 18. Scatterplot perasaan bangga hubristik dan sensitivitas terhadap penolakan Berdasarkan Scatterplot di atas tampak bahwa adanya sebaran data yang bersifat acak dan tidak membentuk pola megaphone. Oleh karena itu data dapat dikatakan homogen atau memiliki variasi variabel dependen yang sama untuk tiap nilai dari variabel independen.

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 e) Sensitivitas terhadap penolakan pada kelekatan dengan ibu Gambar 19. Scatterplot kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan Berdasarkan Scatterplot di atas tampak bahwa adanya sebaran data yang bersifat acak dan tidak membentuk pola megaphone. Oleh karena itu data dapat dikatakan homogen atau memiliki variasi variabel dependen yang sama untuk tiap nilai dari variabel independen. 4. Analisis Regresi Perasaan Bangga sebagai Mediator a. Kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang autentik Model Sum of df squares Mean F Sig. 0.339 0.561 Square Regression 3.053 1 3.053 Residual 2790.999 310 9.003 Tabel 2. Hasil uji F Kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang autentik

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Unstandasrdized Standardized coefficients Coefficients T Sig Std. B Beta Error (Constant) 14.292 1.272 12.808 0.000 Kelekatan -0.008 0.13 -0.033 -0.582 0.561 Tabel 3. Hasil analisis koefisien Kelekatan dengan ibu dan perasaan Model bangga yang autentik Setelah melakukan analisis regresi sesuai dengan tahapan-tahapan yang diperlukan, hasil regresi antara variabel kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang autentik menunjukkan bahwa kelekatan dengan ibu menjadi prediktor yang tidak baik bagi perasaan bangga yang autentik (F(1,310) = 0.339, p = 0.561). Selain itu, pada tabel coefficients dapat diketahui bahwa terdapat korelasi negatif yang tidak signifikan pada kedua variabel tersebut (B = -0.08 , p = 0.561). b. Kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang hubristik Model Sum of df squares Mean F Sig. 0.501 0.480 Square Regression 4.455 1 4.455 Residual 2755.953 310 8.890 Tabel 4. Hasil uji F Kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang hubristik

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Unstandasrdized Standardized coefficients Coefficients T Sig Std. B Beta Error (Constant) 14.607 1.264 11.556 0.000 Kelekatan 0.009 0.13 0.040 0.798 0.480 Tabel 5. Hasil analisis koefisien Kelekatan dengan ibu dan perasaan Model bangga yang hubristik Begitu pula hasil regresi pada variabel kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang hubristik. Kelekatan dengan ibu menjadi prediktor yang tidak baik bagi perasaan bangga yang hubristik (F(1,310) = 0.501, p = 0.480). Pada tabel coefficients diketahui bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan positif yang tidak signifikan (B = 0.009, p = 0.480). c. Perasaan bangga yang autentik dan sensitivitas terhadap penolakan Model Sum of df squares Mean F Sig. 3.281 1.32 Square Regression 105.016 1 Residual 14270.644 310 105.016 46.034 Tabel 6. Hasil uji F Perasaan bangga yang autentik dan sensitivitas terhadap penolakan Unstandasrdized Standardized coefficients Coefficients T Sig Std. B Beta Error (Constant) 20.897 2.034 10.276 0.000 Bangga autentik -0.194 0.128 -0.085 -1.510 0.132 Tabel 7. Hasil analisis koefisien Perasaan bangga yang autentik dan Model sensitivitas terhadap penolakan

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Hasil regresi variabel perasaan bangga yang autentik dan sensitivitas terhadap penolakan menunjukkan bahwa perasaan bangga yang autentik tidak menjadi prediktor yang baik bagi sensitivitas terhadap penolakan (F(1,310) = 2.281, p = 0.132). Pada tabel coefficients diketahui bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan negatif yang tidak signifikan (B = -0.194, p = 0.132). d. Perasaan bangga yang hubristik dan sensitivitas terhadap penolakan Model Sum of df squares Mean F Sig. 1.546 0.215 Square Regression 71.352 1 Residual 14304.309 310 71.352 46.143 Tabel 8. Hasil uji F Perasaan bangga yang hubristik dan sensitivitas terhadap penolakan Unstandasrdized Standardized coefficients Coefficients T Sig Std. B Beta Error (Constant) 20.372 2.040 9.987 0.000 Bangga hubristik -0.161 0.129 -0.070 -1.244 0.215 Tabel 9 Hasil analisis koefisien Perasaan bangga yang hubristik dan Model sensitivitas terhadap penolakan Pada hasil regresi variabel perasaan bangga yang hubristik dan sensitivitas terhadap penolakan menunjukkan bahwa perasaan bangga yang hubristik tidak menjadi prediktor yang baik bagi sensitivitas terhadap penolakan (F(1,310) = 1.546, p = 0.215). Pada tabel coefficients

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 diketahui bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan negatif yang tidak signifikan (B = -0.161, p = 0.215). e. Kelekatan pada ibu dan sensitivitas terhadap penolakan Model Sum of df squares Mean F Sig. 17.674 0.000 Square Regression 775.412 1 Residual 13600.249 310 775.412 43.872 Tabel 10. Hasil uji F Kelekatan pada ibu dan sensitivitas terhadap penolakan Unstandasrdized Standardized coefficients Coefficients T Sig Std. B Beta Error (Constant) 29.580 2.808 10.534 0.000 Kelekatan -0.123 0.29 -0.232 -4.204 0.000 Tabel 11. Hasil analisis koefisien Kelekatan pada ibu dan sensitivitas terhadap penolakan Model Pada hasil regresi variabel kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan menunjukkan bahwa kelekatan dengan ibu menjadi prediktor yang baik bagi sensitivitas terhadap penolakan (F(1,310) = 17.674, p = 0.000). Pada tabel coefficients diketahui bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan negatif yang signifikan (B = -0.123, p = 0.000).

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 f. Sensitivitas terhadap Penolakan pada Kelekatan dengan Ibu dan Perasaan Bangga yang Autentik Model Sum of df squares Mean F Sig. 10.322 0.000 Square Regression 900.278 2 Residual 13475.383 309 450.139 43.610 Tabel 12. Hasil uji F Sensitivitas terhadap Penolakan pada Kelekatan dengan Ibu dan Perasaan Bangga yang Autentik Unstandasrdized Standardized coefficients Coefficients T Sig Std. B Beta Error (Constant) 33.026 3.462 9.540 0.000 Rasa bangga -0.212 0.125 -0.093 -1.692 0.092 autentik Kelekatan -0.124 0.029 -0.235 -4.270 0.000 Tabel 13. Hasil analisis koefisien Sensitivitas terhadap Penolakan Model pada Kelekatan dengan Ibu dan Perasaan Bangga yang Autentik Di samping itu, untuk hasil regresi dari kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang autentik dengan sensitivitas terhadap penolakan, kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang autentik dapat menjadi prediktor yang baik bagi sensitivitas terhadap penolakan (F(2,309) = 10.322, p = 0.000) dan perlu juga diketahui pada tabel coefficients dapat diketahui bahwa terdapat korelasi antara kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang autentik yang menunjukkan adanya korelasi negatif yang tidak signifikan (B = -0.21, p = 0.092). Sedangkan korelasi antara kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan (B = -0.124, p = 0.000).

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 g. Sensitivitas terhadap Penolakan pada Kelekatan dengan Ibu dan Perasaan Bangga yang Hubristik Model Sum of Df squares Mean F Sig. 9.457 0.000 Square Regression 829.203 2 Residual 13546.457 309 414.602 43.840 Tabel 14. Hasil uji F Sensitivitas terhadap Penolakan pada Kelekatan dengan Ibu dan Perasaan Bangga yang Hubristik Unstandasrdized Standardized coefficients Coefficients T Sig Std. B Beta Error (Constant) 31.621 3.358 9.418 0.000 Rasa bangga -0.140 0.126 -0.061 -1.108 0.269 hubristik Kelekatan -0.122 0.029 -0.230 -4.158 0.000 Tabel 15. Hasil analisis koefisien Sensitivitas terhadap Penolakan pada Kelekatan dengan Ibu dan Perasaan Bangga yang Hubristik Model Di sisi lain, untuk hasil regresi dari kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang hubristik dengan sensitivitas terhadap penolakan, kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang hubristik dapat menjadi prediktor yang baik bagi sensitivitas terhadap penolakan (F(2,309) = 9.457, p = 0.000) dan perlu juga diketahui pada tabel coefficients dapat diketahui bahwa terdapat korelasi antara kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang hubristik yang menunjukkan adanya korelasi negatif yang tidak signifikan (B = -0.14, p = 0.269). Sedangkan korelasi antara kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan (B = -0.122, p = 0.000).

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Pada syarat model mediasi, semua tahapan regresi yang dilakukan harus menghasilkan parameter yang signifikan (p ≤ 0.05). Kemudian hubungan antara variabel mediator dan variabel dependen harus memiliki skor regresi (B Understandardized Coefficients) yang lebih besar daripada skor regresi (B Understandardized Coefficients) pada hubungan antara variabel independen dan variabel dependen pada hubungan kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan ketika terdapat variabel mediator dalam persamaan regresinya (Baron & Kenny, 1986). Dengan demikian, hubungan antara kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga harus signifikan. Kemudian hubungan antara perasaan bangga baik autentik ataupun hubristik dan sensitivitas terhadap penolakan juga harus signifikan. Hubungan antara kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan harus tidak signifikan atau memiliki tingkat hubungan yang lebih rendah ketika terdapat perasaan bangga dalam persamaan regresinya. Pada penelitian ini, satu-satunya parameter yang signifikan hanya terdapat pada korelasi antara kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa model mediasi dianggap tidak memenuhi syarat. Penelitian ini menunjukkan bahwa perasaan bangga yang autentik maupun hubristik tidak berperan sebagai mediator.

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 D. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, penelitian ini menunjukkan bahwa kelekatan dengan ibu tidak dapat menjadi prediktor pada perasaan bangga yang autentik maupun hubristik. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian McBride, Brody, McNair, Luo, Gibbons, Gerrard, & Wills (2005), Guilamo-Ramos (2009), Alessandri & Lewis (1993), dan Lewis, Alessandri, & Sullivan (1992) yang menunjukkan bahwa berkembangnya kecenderungan perasaan bangga individu, autentik ataupun hubristik bergantung pada pola kelekatan yang dikembangkan di masa anakanak. Menarik untuk diketahui bahwa hasil penelitian ini bertolak belakang dengan beberapa hasil penelitian sebelumnya. Beberapa penelitian sebelumnya dapat menjelaskan hasil penelitian ini, penelitian ini dilakukan pada budaya yang berbeda yaitu budaya kolektif. Menurut Eid & Diener (2001) dan Tracy, Shariff, & Cheng (2010) individu yang berada di budaya kolektif tidak terbiasa untuk mengekspresikan perasaan bangga. Di budaya kolektif, individu lebih menekankan pada emosi moral berupa perasaan malu (Damanik, Widodo, Sutandi, Widyatmoko, & Mayawati, 2013). Perasaan bangga dianggap sebagai hal yang negatif sedangkan perasaan malu dianggap menjadi hal yang baik (Eid & Diener, 2001). Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan remaja mampu mengevaluasi diri dengan perasaan malu karena diinternalisasi melalui orang tua. Sedangkan, remaja tidak terbiasa mengevaluasi diri dengan perasaan bangga karena internalisasi dari orang tua pula. Dengan demikian, pada penelitian ini,

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 kelekatan dengan ibu tidak menjadi prediktor yang baik dengan perasaan bangga. Kecenderungan perasaan bangga yang dimiliki oleh remaja mungkin tidak berasal dari kelekatan dengan ibu melainkan berasal dari hal lain seperti guru, teman sebaya, pacar, dan lain sebagainya. Selain itu, di budaya kolektif, perasaan yang dialami oleh individu sangat berkaitan dengan bagaimana perasaan orang di sekitarnya. Berbeda dengan individu yang berada di budaya individualistik, individu di budaya individualistik memiliki otonomi yang lebih tinggi pada dirinya, termasuk perasaan apa yang dia alami dan bagaimana mengekspresikannya. Perasaan bangga yang autentik ataupun hubristik tidak menjadi prediktor yang baik bagi sensitivitas terhadap penolakan. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian Grant & Higgins (2003) dan Tracy, Shariff, & Cheng (2010). Masih dengan penjelasan yang sama, hasil penelitian ini terkait dengan budaya kolektif yang tidak membiasakan individu mengembangkan perasaan bangga. Hal lain yang dapat dilihat mengapa perasaan bangga tidak menjadi prediktor bagi sensitivitas terhadap penolakan adalah mengenai alat ukur yang digunakan. Alat ukur yang digunakan merupakan skala yang memerlukan kesadaran individu untuk merngukur perasaan bangga individu, sehingga individu memiliki kemungkinan untuk menjawab sesuai dengan social desirability. Ada kemungkinan hasil yang berbeda apabila alat ukur untuk perasaan bangga merepresentasikan ketidaksadaran. Dengan demikian dapat diketahui apakah secara tidak sadar individu sesungguhnya memiliki kecenderungan untuk

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 merasa bangga yang autentik atau hubristik. Meskipun di budaya lain, perasaan bangga menjadi suatu hal yang penting, berbeda dengan budaya kolektif, individu merasa perasaan bangga merupakan hal yang negatif (Eid & Diener, 2001). Berikutnya, hasil penelitian yang ketiga, kelekatan dengan ibu dapat menjadi prediktor pada sensitivitas terhadap penolakan. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian dari Çardak, Sarıçam, & Onur (2012), Khoshkam, Bahrami, Ahmadi, Fatehizade, & Etemadi (2012), Erozkan (2009), Feldman & Downey (1994), dan Downey & Feldman (1996). Pengalaman penolakan dari significant others menjadi suatu prediktor yang kuat untuk membuat individu memiliki sensitivitas yang tinggi pada penolakan. Faktor-faktor dari kelekatan dengan ibu adalah kepercayaan, komunikasi, dan pengabaian (Armsden & Greenberg, 1987). Hal ini semakin jelas bahwa pengabaian menjadi faktor penting dalam terbentuknya kelekatan atau ikatan emosional antara anak dan pengasuhnya. Kelekatan dengan ibu bila di regresikan bersama-sama dengan perasaan bangga yang autentik maupun hubristik sebagai variabel independen pada sensitvitas penolakan sebagai variabel dependen, kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang autentik maupun hubristik menjadi prediktor yang baik bagi sensitivitas terhadap penolakan. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa apabila individu yang memiliki kelekatan yang tidak aman dan kemudian ditambah dengan adanya kecenderungan individu untuk merasakan

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 perasaan bangga yang hubristik, maka individu akan memiliki kecenderungan sensitivitas yang tinggi pada penolakan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa perasaan bangga autentik maupun hubristik tidak menjadi mediator yang baik pada hubungan antara kelekatan dengan ibu dan sensitivitas terhadap penolakan. Dengan demikian, maka hipotesis (H0) ditolak. E. KETERBATASAN PENELITIAN Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, yang pertama adalah peneliti mengukur variabel kelekatan dengan ibu saja. Kelekatan dapat meliputi kelekatan dengan ayah, sahabat, dan pacar. Oleh karena itu, hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasi pada kelekatan dengan ayah, sahabat, dan pacar. Selain itu, hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan pada individu dengan tahap perkembangan yang berbeda. Hal ini disebabkan subjek dalam penelitian ini adalah remaja. Keterbatasan yang ketiga, penelitian ini dilakukan di budaya kolektif sehingga tidak dapat digeneralisasikan pada budaya lain.

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada remaja, penelitian ini menjawab pertanyaan penelitian peneliti bahwa kelekatan dengan ibu tidak menjadi prediktor pada kecenderungan individu untuk merasa bangga yang autentik ataupun hubristik di budaya kolektif. Selain itu, perasaan bangga yang autentik dan hubristik tidak menjadi prediktor yang baik pada sensitivitas terhadap penolakan. Meskipun demikian, kelekatan dengan ibu dan kecenderungan perasaan yang autentik maupun hubristik mampu menjadi prediktor bagi sensitivitas terhadap penolakan. Perasaan bangga yang autentik maupun hubristik tidak menjadi mediator yang baik dalam hubungan antara kelekatan dengan ibu dan sensitivitas individu terhadap penolakan. Dengan demikian, kelekatan aman yang tinggi ataupun kelekatan aman yang rendah tidak memiliki pengaruh pada kecenderungan individu untuk merasa bangga yang autentik ataupun yang hubristik. Selain itu, perasaan bangga yang autentik maupun yang hubristik tidak memiliki pengaruh pada tinggi rendahnya sensitivitas individu terhadap penolakan. Kelekatan dengan ibu dan perasaan bangga yang autentik mampu memberi pengaruh pada tinggi rendahnya sensitivitas individu terhadap penolakan. Begitu pula dengan perasaan bangga yang hubristik, kelekatan dengan ibu

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 dan perasaan bangga yang hubristik mampu memberi pengaruh pada tinggi rendahnya sensitivitas individu terhadap penolakan. Selain itu, dapat disimpulkan pula bahwa dalam proses hubungan kelekatan dengan ibu sebagai prediktor terhadap tinggi rendahnya sensitivitas individu terhadap penolakan tidak harus melewati perasaan bangga yang autentik ataupun yang hubristik. B. SARAN 1. Bagi Remaja Bagi remaja yang memiliki sensitivitas terhadap penolakan yang tinggi disarankan untuk menyadari dan kemudian merefleksikan mengenai kecemasan akan penolakan yang dialami. Kecemasan akan penolakan akan mungkin berubah bila remaja dapat mengalami penerimaan. Oleh karena itu, baik bila remaja berusaha untuk membuat orang lain merasa diterima. 2. Bagi Institusi Pendidikan Institusi pendidikan dapat memperhatikan para remaja yang memiliki sensitivitas terhadap penolakan yang tinggi dan remaja yang memiliki kecenderungan untuk memiliki perasaan bangga yang hubristik. Institusi pendidikan dapat memfasilitasi remaja dengan menyediakan waktu untuk berdiskusi atau melakukan konseling kelompok sehingga remaja dapat lebih mengenali diri mereka sendiri dan kemudian mampu menjadi lebih baik.

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 3. Bagi Orangtua Ikatan emosional orangtua dan anak menjadi hal yang paling penting dalam hubungan intrapersonal dan interpersonal di tahap perkembangan selanjutnya. Oleh karena itu, kiranya orangtua dapat lebih memberikan perhatian kepada anak agar anak di masa emasnya dapat memiliki pengalaman yang baik. Pengalaman baik di masa kecil mampu berkontribusi agar anak berkembang menjadi pribadi yang lebih positif. 4. Bagi Peneliti Berikutnya Peneliti selanjutnya diharapkan dapat mempelajari lebih dalam mengenai perasaan bangga yang autentik dan hubristik. Mungkin pengambilan data dengan cara lain seperti focus group discussion (FGD) dapat lebih menggambarkan bagaimana kecenderungan perasaan bangga pada budaya kolektif. Selain itu, sensitivitas terhadap penolakan kaitannya dengan kelekatan dengan teman sebaya.

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 DAFTAR PUSTAKA Alessandri,S.M., & Lewis, M. (1993). Parental evaluation and its relation to shame and pride in young children. Sex Roles, 29(5-6), 335-343. Arbona, C., & Power, T.G. (2003). Parental attachment, self-esteem, and antisocial behaviors among African American, European American, and Mexican American adolescents. Journal of Counseling Psychology, 50(1), 40-51. Armsden, G. C., & Greenberg, M. T. (1989). Inventory of parent and peer attachment (IPPA). University of Washington. Armsden, G.C., & Greenberg, M.T. (1987). The inventory of parent and peer attachment: Individual differences and their relationship to psychological well-being in adolescence. Journal of youth and adolescence, 16(5), 427454. Ayduk, O., Mendoza-Denton, R., Mischel, W., Downey, G., Peake, P.K., & Rodriguez, M. (2000). Regulating the interpersonal self: strategic selfregulation for coping with rejection sensitivity. Journal of personality and social psychology, 79(5), 776-792. Baumeister, R.F., & Leary, M.R. (1995). The need to belong: desire for interpersonal attachments as a fundamental human motivation. Psychological bulletin, 117(3), 497-529. Bell, K.L., Allen, J.P., Hauser, S.T., & O'Connor, T.G. (1996). Family factors and young adult transitions: Educational attainment and occupational prestige.Transitions through adolescence: Interpersonal domains and context, 345-366. Benware, J. (2013). Predictors of Father-Child and Mother-Child Attachment in Two-Parent Families. Dissertation Publishing. Berenson, K.R., Gyurak, A., Ayduk,Ö., Downey,G., Garner, M., Mogg, K., Bradley, B.P., Pine, D.S. (2009). Rejection sensitivity and disruption of attention by social threat cues. Journal of Research in Persoanlity, 43, 1064-1072. Brendgen, M., Vitaro, F., Tremblay, R.E., & Wanner, B. (2002). Parent and Peer Effects on Delinquency‐related Violence and Dating Violence: A Test of Two Mediational Models. Social Development, 11(2), 225-244.

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 Bretherton, I. (1990). Communication patterns, internal working models, and the intergenerational transmission of attachment relationships. Infant Mental Health Journal, 11(3), 237-252. Buist, K.L., Deković, M., Meeus, W., & van Aken, M.A. (2002). Developmental patterns in adolescent attachment to mother, father and sibling. Journal of Youth and Adolescence, 31(3), 167-176. Butler, J.C., Doherty, M.S., & Potter, R.M. (2007). Social antecedents and consequences of interpersonal rejection sensitivity. Personality and Individual Differences, 43(6), 1376-1385. Caldera, Y.M. (2004). Paternal involvement and infant-father attachment: A Q-set study. Fathering: A Journal of Theory, Research, and Practice about Men as Fathers, 2(2), 191-210. Cardi, V., Matteo, R.D., Corfield, F., & Treasure, J. (2013). Social reward and rejection sensitivity in eating disorders: An investigation of attentional bias and early experiences. The World Journal of Biological Psychiatry, 14(8), 622-633. Carver, C.S., Sinclair, S., & Johnson, S.L. (2010). Authentic and hubristic pride: Differential relations to aspects of goal regulation, affect, and selfcontrol. Journal of Research in Personality, 44(6), 698-703. Castonguay, A.L., Brunet, J., Ferguson, L., & Sabiston, C.M. (2012). Weightrelated actual and ideal self-states, discrepancies, and shame, guilt, and pride: Examining associations within the process model of self-conscious emotions. Body Image. Cutrona, C. E., Cole, V., Colangelo, N., Assouline, S. G., & Russell, D. W. (1994). Perceived parental social support and academic achievement: An attachment theory perspective. Journal of Personality and Social Psychology,66(2), 369. Damanik, F. V., Widodo, M. K. D. N., Sutandi, M., Widyatmoko, C.S., & Mayawati, E. H. (2010). Shame mediates attachment and submissive behavior in adolescent. Proceeding Book International Conference on Psychology in Health, Education, Social, and Organizational Settings (ICP-HESOS), 612-617. Del Greco, L., Walop, W., & McCarthy, R. H. (1987). Questionnaire development: 2. Validity and reliability. CMAJ: Canadian Medical Association Journal, 136(7), 699.

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Downey, G., & Feldman, S. I. (1996). Implications of rejection sensitivity for intimate relationships. Journal of personality and social psychology, 70(6), 1327. Downey, G., Bonica, C., & Rincon, C. (1999). Rejection sensitivity and adolescent romantic relationships. The development of romantic relationships in adolescence, 148-174. Downey, G., Feldman, S., & Ayduk, O. (2000). Rejection sensitivity and male violence in romantic relationships. Personal Relationships, 7(1), 45-61. Downey, G., Feldman, S., Khuri, J., & Friedman, S. (1994). Maltreatment and childhood depression. In W.M Reynolds & H. F. Johnson (Eds.), Handbook of Depression in Children and Adolescent (pp. 481 - 508), New York : Plenum Downey, G., Freitas, A. L., Michaelis, B., & Khouri, H. (1998). The self-fulfilling prophecy in close relationships: rejection sensitivity and rejection by romantic partners. Journal of personality and social psychology, 75(2), 545. Downey, G., Lebolt, A., Rincon, C., Freitas, A. L., (1998). Rejection sensitivity and children’s interpersonal difficulties. Journal Child Development, 69 (4), 1074-1091 Downey, G., Mougios, V., Ayduk, O., London, B. E., & Shoda, Y. (2004). Rejection sensitivity and the defensive motivational system: Insights from the startle response to rejection cues. Psychological Science, 15(10), 668-673. Eid, M., & Diener, E. (2001). Norms for experiencing emotions in different cultures: Inter- and intra-national differences. Journal of Personality and Social Psychology,81(5), 869–885. Erozkan, A. (2009). Rejection sensitivity levels with respect to attachment styles, gender, and parenting styles: A study with Turkish students. Social Behavior and Personality: an international journal, 37(1), 1-14. Fabes, R. A., Leonard, S. A., Kupanoff, K., & Martin, C. L. (2001). Parental coping with children's negative emotions: Relations with children's emotional and social responding. Child Development, 72(3), 907-920. Feldman, S., & Downey, G. (1994). Rejection sensitivity as a mediator of the impact of childhood exposure to family violence on adult attachment behavior.Development and Psychopathology, 6, 231-231.

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Feres, Nashla. (2006). The Role Of Mother-Child And Father-Child Attachment Security On Physiological Reactivity To Conflict Among Maltreated And Non-Maltreated Adolescents. Faculty of The Graduate School University of Southern California. Fourie, M. M., Rauch, H. G., Morgan, B. E., Ellis, G. F., Jordaan, E. R., & Thomas, K. G. (2011). Guilt and pride are heartfelt, but not equally so.Psychophysiology, 48(7), 888-899. Goodsell, T. L., & Meldrum, J. T. (2010). Nurturing fathers: a qualitative examination of child–father attachment. Early Child Development and Care,180(1-2), 249-262. Grant, H., & Higgins, E. T. (2003). Optimism, promotion pride, and prevention pride as predictors of quality of life. Personality and Social Psychology Bulletin,29(12), 1521-1532. Grienenberger, J., Kelly, K., & Slade, A. (2005). Maternal reflective functioning, mother-infant affective communication, and infant attachment: exploring the link between mental states and observed caregiving behavior in the intergenerational transmission of attachment. Attachment & Human Development, 7(3), 299-311. Gudykunst, W. B., Matsumoto, Y., Ting‐Toomey, S. T. E. L. L. A., Nishida, T., Kim, K., & Heyman, S. (1996). The influence of cultural individualism‐collectivism, self construals, and individual values on communication styles across cultures. Human communication research, 22(4), 510-543. Guilamo-Ramos, V. (2009). Maternal influence on adolescent self-esteem, ethnic pride and intentions to engage in risk behavior in Latino youth. Prevention science, 10(4), 366-375. Gullone, E., & Robinson, K. (2005). The Inventory of Parent and Peer Attachment—Revised (IPPA‐R) for children: a psychometric investigation.Clinical Psychology & Psychotherapy, 12(1), 67-79. Harper, M. S., Dickson, J. W., & Welsh, D. P. (2006). Self-silencing and rejection sensitivity in adolescent romantic relationships. Journal of Youth and Adolescence, 35(3), 435-443. Henson, J. M., Derlega, V. J., Pearson, M. R., Ferrer, R., & Holmes, K. (2013). African American Students' Responses to Racial Discrimination: How Race-Based Rejection Sensitivity and Social Constraints are Related to

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Psychological Reactions. Journal Psychology, 32(5), 504-529. of Social and 96 Clinical Higgins, E. T., Friedman, R. S., Harlow, R. E., Idson, L. C., Ayduk, O. N., & Taylor, A. (2001). Achievement orientations from subjective histories of success: Promotion pride versus prevention pride. European Journal of Social Psychology, 31(1), 3-23. Holliday, K. (2007). The relationship of rejection sensitivity to aggression and social withdrawal in children. Alliant International university. Ishak, N. M., Yunus, M. M., & Iskandar, I. P. (2010). Trust, communication and healthy parental attachment among Malaysian academically talented college students. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 9, 15291536. Karin. (2013, Juni 6). Galau. Curhatonline. Diambil 14 Maret 2014, dari http://www.curhatonline.net/pacar/galau-17/ Khoshkam, S., Bahrami, F., Ahmadi, S. A., Fatehizade, M., & Etemadi, O. (2012). Attachment Style and Rejection Sensitivity: The Mediating Effect of Self-Esteem and Worry Among Iranian College Students. Europe’s Journal of Psychology, 8(3), 363-374. Kiang, L., Blumenthal, T. D., Carlson, E. N., Lawson, Y. N., Shell, J. C. (2009). Physiologic responses to racial rejection images among young adults from african-american backgrounds. Journal Youth Adolescence, 38, 164-174. Kupersmidt, J. B., Patterson, C. J. (1991). Childhood peer rejection, aggression, withdrawal, and perceived competence as predictors of self-reported behavior problems in preadolescence. Journal of Abnormal Child Psychology, 29(4). Larzelere, R. E., & Huston, T. L. (1980). The dyadic trust scale: Toward understanding interpersonal trust in close relationships. Journal of Marriage and the Family, 595-604. Leary, M. R., Twenge, J. M., & Quinlivan, E. (2006). Interpersonal rejection as a determinant of anger and aggression. Personality and Social Psychology Review, 10(2), 111-132. Lewis, M., Alessandri, S.M., Sullivan, M.W. (1992). Differences in shame and pride as a function of children’s gender and task difficulty. Child Development. 63, 630-638.

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Lieberman, M., Doyle, A., Markiewicz, D. (1999). Developmental patterns in security of attachment to mother and father in late childhood and early adolescence: associations with peer relations. Child Development. 70 (1), 202-213. Liu, C., Lu, K.., Yu, G., & Chen, C. (2012). Implicit association between authentic pride and prestige compared to hubristic pride and dominance 1, 2, 3. Psychological reports, 111(2), 424-442. Logue, M. (2006). Aggressive response to peer rejectionn and acceptance as a function of rejection sensitivity and attachment style. York University. Toronto, Ontario. Lowenstein, L. F. (2010). Attachment theory and parental alienation. Journal of Divorce & Remarriage, 51(3), 157-168. Luterek, J. A., Harb, G. C., Heimberg, R. G., Marx, B. P. (2004). Interpersonal rejection sensitivity in childhood sexual abuse survivors. Journal of Interpersonal Violence, 19 (1), 90-107. Ma, C. Q., & Huebner, E. S. (2008). Attachment relationships and adolescents' life satisfaction: Some relationships matter more to girls than boys. Psychology in the Schools, 45(2), 177-190. Marpaung, N. W (2007). Perbedaan Tingkat Asertivitas Antara Mahasiswa Batak Toba Yang Ada Di Yogyakarta Dengan Mahasiswa Batak Toba Yang Ada Di Medan. McCabe, R. E., Blankstein, K. R., & Mills, J. S. (1999). Interpersonal sensitivity and social problem-solving: Relations with academic and social selfesteem, depressive symptoms, and academic performance. Cognitive Therapy and Research, 23(6), 587-604. McDonald, K. L., Bowker, J. C., Rubin, K. H., Laursen, B., & Duchene, M. S. (2010). Interactions between rejection sensitivity and supportive relationships in the prediction of adolescents’ internalizing difficulties. Journal of Youth and Adolescence, 39(5), 563-574. McLachlan, J., Zimmer-Gembeck, M. J., & McGregor, L. (2010). Rejection sensitivity in childhood and early adolescence: Peer rejection and protective effects of parents and friends. Journal of Relationships Research, 1(1), 31-40. Mendoza-Denton, R., Downey, G., Purdie, V. J., Davis, A., & Pietrzak, J. (2002). Sensitivity to status-based rejection: implications for African American

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI students' college experience. Journal psychology,83(4), 896. of personality and 98 social Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2010). Attachment in adulthood: Structure, dynamics, and change. Guilford Press. Mischel, W., & Shoda, Y. (1995). A cognitive-affective system theory of personality: reconceptualizing situations, dispositions, dynamics, and invariance in personality structure. Psychological review, 102(2), 246. Murry, M. V., Brody, G. H., McNair, L. D., Luo, Z., Gibbons, F. X., Gerrard, M., & Wills, T. A. (2005). Parental involvement promotes rural african american youths’ self‐pride and sexual self‐concepts. Journal of Marriage and Family, 67(3), 627-642. Nallia. (2014, Februari 12). Sekolah, DAMN!. Diambil 14 Maret 2014, dari http://www.curhatonline.net/sekolah/sekolah-damn/ Nickerson, A. B., & Nagle, R. J. (2005). Parent and peer attachment in late childhood and early adolescence. The journal of early adolescence, 25(2), 223-249. O'Shaughnessy, R., & Dallos, R. (2009). Attachment research and eating disorders: A review of the literature. Clinical child psychology and psychiatry,14(4), 559-574. Oveis, C., Horberg, E.J., & Keltner, D., (2010). Compassion, pride, and social intuitions of self-other similarity. Journal of Personality and Social Psychology, 98 (4), 618-630 Overall, N. C., & Sibley, C. G. (2009). When rejection sensitivity matters: Regulating dependence within daily interactions with family and friends. Personality and Social Psychology Bulletin, 35(8), 1057-1070. Özen, A., Sümer, N., & Demir, M. (2010). Predicting friendship quality with rejection sensitivity and attachment security. Journal of Social and Personal Relationship. Park, L. E. (2007). Appearance-based rejection sensitivity: Implications for mental and physical health, affect, and motivation. Personality and Social Psychology Bulletin, 33(4), 490-504. Park, L. E., Calogero, R. M., Young, A. F., & Diraddo, A. M. (2010). Appearance-based rejection sensitivity predicts body dysmorphic

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 disorder symptoms and cosmetic surgery acceptance. Journal of Social and Clinical Psychology, 29(5), 489-509. Park, L. E., DiRaddo, A. M., & Calogero, R. M. (2009). Sociocultural influence and appearance‐based rejection sensitivity among college students. Psychology of Women Quarterly, 33(1), 108-119. Pearce, J. W., & Pezzot-Pearce, T. D. (2007). Psychotherapy of abused and neglected children. Guilford Press. Pietrzak, J., Downey, G., & Ayduk, O. (2005). Rejection sensitivity as an interpersonal vulnerability. Interpersonal cognition, 62-84. Putri, F. A. S., Ferdian, F. R., Widyatmoko, C.S., & Mayawati, E. H. (2010). Gender and Attachment to Mother Predict Adolescent’s Pride. Proceeding Book Internationa Conference on Psychology in Health, Education, Social, and Organizational Settings (ICP-HESOS), 216-222 Rubin, K. H., Bukowski, W., & Parker, J. G. (2006a). Peer interactions, relationships, and groups. In W. Damon, R. Lerner, & N. Eisenberg (Eds.),Handbook of child psychology(6th ed.), vol. 3. Social, emotional, and personality development (pp. 571–645). New York: Wiley.Çardak, M., Sarıçam, H., & Onur, M. (2012). Perceived Parenting Styles and Rejection Sensitivity in University Students. The Online Journal of Counselling and Education, 57. Santoso, A. (2010). Statistik untuk psikologi: buku.Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Dari blog menjadi Santrock, J. W., & Personal name (added entry). (1995). Life-span development. WCB Brown & Benchmark Publishers. Selby, E. A., Ward, A. C., & Joiner, T. E. (2010). Dysregulated eating behaviors in borderline personality disorder: Are rejection sensitivity and emotion dysregulation linking mechanisms?. International journal of eating disorders,43(7), 667-670. Stanculescu, E. (2012). The self-conscious emotion of pride as mediator between selfesteem and positive affect. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 33, 263-267. Suharsono, Y., & Istiqomah. (2014). Validitas dan reliabilitas skala self efficacy.Jurnal Ilmia Psikologi Terapan, 02(01), 144-151. Tangney J., P. (1989). Self Conscious Emotions : The Self as A Moral Guide.

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Tangney, J. P. (2002). Self-conscious emotions: The self as a moral guide. Tracy, J. L., & Robins, R. W. (2004). " Putting the Self Into Self-Conscious Emotions: A Theoretical Model". Psychological Inquiry, 15(2), 103-125. Tracy, J. L., & Robins, R. W. (2007). Emerging insights into the nature and function of pride. Current Directions in Psychological Science, 16(3), 147-150. Tracy, J. L., & Robins, R. W. (2007). Self-conscious emotions: Where self and emotion meet. The Self in Social Psychology, 187-209. Tracy, J. L., Cheng, J. T., Robins, R. W., & Trzesniewski, K. H. (2009). Authentic and hubristic pride: The affective core of self-esteem and narcissism.Self and Identity, 8(2-3), 196-213. Tracy, J. L., Shariff, A. F., & Cheng, J. T. (2010). A naturalist’s view of pride.Emotion Review, 2(2), 163-177. Truhandito, P. (2010, September 16). Pantas ngga sih aku cemburu. Temancurhatku. Diambil 14 Maret 2014, dari http://temancurhatku.blogspot.com/2010/09/pantas-ngga-sih-aku-cemburu.html Vivie. (2014, Februari 10). Pertemanan dan Organisasi. Diambil 14 Maret 2014, dari http://www.curhatonline.net/sekolah/pertemanan-dan-organisasi/ Webster, J. M., Duvall, J., Gaines, L. M., & Smith, R. H. (2003). The roles of praise and social comparison information in the experience of pride. The Journal of social psychology, 143(2), 209-232. Williams, L. A., & DeSteno, D. (2009). Pride Adaptive Social Emotion or Seventh Sin?. Psychological Science, 20(3), 284-288. Yazid. (2013, September 2013). Selalu dikucilkan. Diambil 14 Maret 2014, dari http://majalahelfata.com/index.php?option=com_content&view=article&id=193:selaludikucilkan&catid=42:curhat-bareng-fata&Itemid=135

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN-LAMPIRAN 101

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran A. Skala Pengukuran ANGKET Diri dan Relasi 102

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 Penjelasan dan Pernyataan Kesediaan Teman-teman, Perkenankan kami memperkenalkan diri dulu ya… Kami adalah mahasiswa dan dosen dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Kami ingin lebih memahami dinamika pengalaman remaja seperti kalian semua: perasaan, pergaulan dengan teman dan pacar, serta relasi dengan orang tua. Untuk itu kami ingin meminta teman-teman untuk mengisi angket yang telah kami siapkan ini. Jika teman-teman mengisi angket ini, maka teman-teman memberikan sumbangsih pada pemahaman tentang remaja dewasa ini. Informasi yang teman-teman berikan menjadi informasi yang berharga apabila teman-teman memberikan jawaban yang jujur, spontan, dan apa adanya. Tidak ada jawaban yang benar atau salah, jawaban yang tepat adalah jawaban yang paling sesuai dengan keadaan diri teman-teman. Kami sangat memahami bahwa informasi yang teman-teman berikan mungkin bersifat pribadi dan sangat privasi, oleh karena itu kami menjaga kerahasiaan jawaban teman-teman. Angket ini bersifat anonim atau tanpa nama sehingga kami tidak mengetahui identitas teman-teman. Jika teman-teman telah menyelesaikan mengisi angket ini, teman-teman bisa memasukkan angket ini ke dalam amplop yang telah kami sediakan. Jangan lupa untuk merekatkan tutup amplop sehingga tidak ada orang lain yang melihat jawaban teman-teman. Kami akan sangat berterima kasih jika teman-teman mau menjawab semua pertanyaan yang ada sesuai dengan diri teman-teman. Tapi, jika ada pertanyaan yang tidak ingin dijawab, kalian boleh melewatkan pertanyaan tersebut. Jika ada hal-hal yang masih belum jelas, kalian dapat bertanya pada kakak-kakak yang menyebarkan angket ini atau melalui no HP: 089632624893. Jika teman-teman sudah jelas dengan penjelasan kami, dan bersedia mengisi angket, silakan teman-teman memberikan tanda tangan sebagai tanda persetujuan bahwa kalian bersedia mengisi angket ini. _______________________________________________________________________________ Saya telah membaca dan memahami penjelasan tentang pengisian angket ini, dan saya bersedia mengisi angket ini. Ttd, ………………………………………………..

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 Lampiran B. Skala Self-Conscious Emotions BAGIAN 1 Di bawah ini terdapat beberapa gambaran situasi/keadaan yang berbeda-beda. Di masing-masing situasi/keadaan, kamu akan membaca beberapa pernyataan yang menunjukkan hal-hal yang mungkin dirasakan atau dipikirkan orang. Ketika kamu membaca masing-masing gambaran situasi/keadaan, cobalah bayangkan bahwa kamu mengalami situasi itu sekarang. Setelah itu, nilailah semua pernyataan yang ada dengan cara memberi tanda silang (X) pada lingkaran yang paling sesuai denganmu. Lingkaran yang terbesar menunjukkan bahwa pernyataan itu sangat sesuai denganmu, sementara lingkaran yang terkecil menunjukkan bahwa pernyataan itu sangat tidak sesuai denganmu. Setelah itu, lihatlah pernyataan mana yang paling sesuai dengan dirimu dan tulislah alasanmu memilih pernyataan tersebut. Contoh: Situasi: Pada suatu hari kamu bangun sangat pagi. Pernyataan Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku Ο Ο Ο Ο a. Aku akan segera sarapan. Ο Ο Ο Ο b. Aku akan berusaha menyelesaikan PR-ku sebelum pergi ke sekolah. Ο Ο Ο Ο c. Aku akan melanjutkan tidur-tiduran dulu. Ο Ο Ο Ο Ο Aku akan bertanyatanya mengapa aku Ο Ο bangun sepagi ini. Pastikan kamu telah memberi nilai pada semua pernyataan, bukan memilih salah satu. d. Ο Tidak ada nilai benar atau salah untuk setiap jawaban yang kamu berikan. Selamat mengerjakan 

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 1. Kamu berjalan di kantin dan menumpahkan minuman temanmu. Pernyataan a. b. c. d. Aku akan merasa semua orang melihatku dan menertawakanku. Aku akan merasa sangat bersalah. Seharusnya aku berhati-hati dalam berjalan. Aku akan merasa biasabiasa saja karena minuman itu harganya tidak terlalu mahal. Aku akan berpikir: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Lantainya licin.” Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο 2. Selama beberapa hari kamu mencoba tidak berbicara pada gurumu tentang tugas yang belum kamu kumpulkan. Akhirnya, kamu bicara pada gurumu tentang tugas tersebut, dan ternyata pembicaraan berjalan dengan baik. Pernyataan a. b. c. d. e. Aku akan berpikir: “Ternyata aku lebih meyakinkan atau lebih baik dari yang aku kira.” Aku akan menyesal mengapa kemarin-kemarin aku berusaha tidak membicarakannya. Aku akan merasa seperti seorang pengecut. Aku akan berpikir: “Aku dapat mengatasi persoalan tersebut dengan baik.” Aku akan berpikir: “Pak/Bu Guru seharusnya menanyaiku sejak awal. Itu adalah kewajibannya.” Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 3. Ketika sedang bermain, kamu melempar sebuah bola dan bola tersebut mengenai wajah temanmu. Pernyataan a. b. Aku akan merasa bodoh karena aku tidak becus melempar bola. Aku akan berpikir: “Sepertinya temanku butuh banyak latihan menangkap bola.” Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο c. Aku akan berpikir: “Ini hanya ketidaksengajaan.” Ο Ο Ο d. Aku akan meminta maaf dan memastikan bahwa temanku baik-baik saja. Ο Ο Ο Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku 4. Kamu dan teman-teman sekelompokmu berusaha keras mengerjakan suatu tugas kelompok. Setelah tugas selesai, Pak/ Bu Guru memberimu nilai lebih tinggi dibandingkan teman-teman sekelompokmu. Pernyataan Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku a. Aku akan berpikir: “Pak/Bu Guru pilih kasih.” Ο Ο Ο Ο Ο b. Aku akan merasa sendirian dan terpisah dari temanteman sekelompokku. Ο Ο Ο Ο Ο c. Aku akan merasa kerja kerasku terbayar. Ο Ο Ο Ο Ο d. Aku akan merasa memiliki kemampuan dan bangga dengan diriku. Ο Ο Ο Ο Ο e. Aku akan memberi tahu Pak/Bu Guru bahwa semua orang sebaiknya mendapat nilai yang sama. Ο Ο Ο Ο Ο

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 5. Kamu memecahkan suatu barang di rumah temanmu dan kemudian menyembunyikannya. Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai a. Aku akan berpikir: ”Hal ini membuatku khawatir. Aku perlu memperbaiki atau menggantinya.” Ο Ο Ο Ο Ο b. Aku akan menghindari bertemu temanku tersebut selama beberapa waktu. Ο Ο Ο Ο Ο c. Aku akan berpikir: “Banyak barang yang tidak dibuat dengan kualitas yang sangat baik”. Ο Ο Ο Ο Ο d. Aku akan berpikir: “Ini hanya ketidaksengajaan”. Ο Ο Ο Ο Ο Pernyataan Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku 6. Di sekolah, kamu merencanakan suatu kegiatan dengan sangat serius hingga menit-menit terakhir, namun setelah selesai, hasil perencanaanmu ternyata jelek. Pernyataan Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku a. Aku akan merasa tidak berguna dan tidak memiliki kemampuan. Ο Ο Ο Ο Ο b. Aku akan berpikir: “Waktu dalam sehari memang tidak pernah cukup.” Ο Ο Ο Ο Ο c. Aku akan merasa bahwa sudah sepantasnya aku mendapat nilai yang jelek. Ο Ο Ο Ο Ο d. Aku akan berpikir: “Yang lalu biarlah berlalu.” Ο Ο Ο Ο Ο

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 7. Kamu terbangun di pagi hari dan menyadari bahwa hari ini adalah ulang tahun Ibumu. Kamu lupa membelikan kado untuk Ibumu. Pernyataan Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku a. Aku akan berpikir: “Bukan kado yang penting. Yang terpenting adalah aku menyayanginya.” Ο Ο Ο Ο Ο b. Aku akan berpikir: “Ibu sudah melakukan banyak hal untukku, kok bisabisanya aku lupa ulang tahunnya?” Ο Ο Ο Ο Ο c. Aku akan merasa bahwa aku orang yang tidak bertanggung jawab dan kurang memiliki perhatian. Ο Ο Ο Ο Ο d. Aku akan berpikir: “Seharusnya ada orang yang mengingatkanku.” Ο Ο Ο Ο Ο 8. Kamu menyelesaikan suatu ujian dan merasa bahwa kamu sudah mengerjakan dengan sangat baik. Kemudian kamu mendapati nilaimu jelek. Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai a. Aku akan merasa bahwa seharusnya aku bisa mengerjakan dengan lebih baik. Seharusnya aku belajar lebih giat. Ο Ο Ο Ο Ο b. Aku akan merasa aku orang yang bodoh. Ο Ο Ο c. Aku akan berpikir: “Ini cuma ujian kok.” Ο Ο Ο d. Aku akan berpikir: “Pak/Bu Guru pasti salah memberi nilai.” Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Pernyataan Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 9. Kamu membuat suatu kesalahan di sekolah dan ternyata justru salah seorang temanmu yang disalahkan. Pernyataan Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο a. Aku akan berpikir: “Pak/Bu Guru tidak menyukai temanku itu.” Ο Ο Ο b. Aku akan berpikir: “Hidup memang tidak adil.” Ο Ο Ο c. Aku akan diam saja dan menghindari temanku itu. Ο Ο Ο d. Aku akan merasa tidak nyaman dan ingin meluruskan situasi tersebut. Ο Ο Ο 10. Kamu ngobrol di kelas dan temanmu yang disalahkan. Kamu mendatangi Pak/Bu guru dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Pernyataan Aku akan berpikir: “Pak/Bu Guru seharusnya a. mengetahui duduk perkaranya sebelum menyalahkan temanku.” Aku akan merasa seperti b. selalu membuat orang lain mengalami kesulitan. Aku akan merasa aku adalah orang yang baik karena c. meluruskan persoalan tersebut. Aku akan bangga terhadap d. diriku karena menjadi orang yang jujur. Aku akan berpikir: “Aku orang yang seharusnya e. berada dalam masalah. Seharusnya aku tidak mengajak temanku ngobrol.” Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 11. Kamu dan temanmu ngobrol di kelas dan kamu dimarahi Pak/Bu Guru. Pernyataan Aku akan berpikir: “Aku a. seharusnya mengetahui hal ini. Aku pantas dimarahi.” Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku Ο Ο Ο Ο Ο b. Aku akan berpikir: “Kami hanya bisik-bisik saja.” Ο Ο Ο Ο Ο c. Aku akan berpikir: “Pak/Bu Guru tidak adil.” Ο Ο Ο Ο Ο Aku akan merasa sepertinya semua teman di kelas d. menatapku dan akan menertawakanku. Ο Ο Ο Ο Ο 12. Kamu membuat janji untuk menemui salah seorang temanmu. Kemudian kamu sadar kamu tidak bisa menemuinya. Pernyataan Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku a. Aku akan berpikir: “Aku tidak memperhatikan temanku.” Ο Ο Ο Ο b. Aku akan berpikir: “Ah, temanku akan memahamiku.” Ο Ο Ο Ο Ο Ο c. Aku akan mencoba secepatnya mengganti waktu janjian sesuai dengan waktu luang temanku. Ο Ο Ο Ο Ο d. Aku akan berpikir: “Tiba-tiba ada orang yang menyela waktuku sehingga aku tidak bisa bertemu temanku.” Ο Ο Ο Ο Ο

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 13. Dengan sukarela kamu terlibat dalam usaha penggalangan dana untuk suatu tujuan yang baik. Kemudian kamu ingin berhenti, tapi kamu tahu bantuanmu sangat dibutuhkan. Pernyataan Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku Ο Ο a. Aku akan merasa egois dan merasa bahwa sebenarnya aku pemalas. Ο Ο Ο b. Aku akan berpikir: “Aku terpaksa membantu.” Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο c. d. e. Aku akan berpikir: “Seharusnya aku lebih fokus untuk melakukan apa pun yang bisa aku lakukan untuk membantu.” Aku akan merasa sebagai orang yang hebat karena telah membantu. Aku akan merasa sangat puas dengan diriku. 14. Rapormu tidak sebaik yang kamu harapkan. Kamu menunjukkan pada orangtuamu ketika kamu sampai rumah. Pernyataan Aku akan berpikir: “Suatu a. ketika semua orang pernah mendapatkan nilai jelek." Aku akan berpikir: “Seharusnya aku tidak b. mendapat nilai sejelek itu, ini terjadi bukan karena salahku.” Sekarang aku mendapat nilai c. jelek. Aku akan merasa tidak berharga. Aku akan berpikir: “Seharusnya aku menyimak d. semua kata-kata Pak/Bu Guru dan belajar lebih giat.” Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο Ο

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 15. Baru-baru ini kamu pindah sekolah dan semua kenalan barumu sangat baik. Kadang-kadang kamu meminta tolong mereka untuk mengerjakan beberapa hal yang berat dan kamu membalas kebaikan mereka sesegera mungkin. Sangat Tidak Sesuai Dengan Diriku Tidak Sesuai Dengan Diriku Kadang SesuaiKadang Tidak Sesuai Sesuai Dengan Diriku Sangat Sesuai Dengan Diriku a. Aku akan merasa gagal karena tidak bisa mengatasi kesulitanku sendiri. Ο Ο Ο Ο Ο b. Aku akan berpikir: “Sepertinya sekolah baruku tidak melakukan upaya yang cukup untuk membantu murid baru.” Ο Ο Ο Ο Ο c. Aku akan bersikap baik terutama pada mereka yang telah membantuku. Ο Ο Ο Ο Ο d. Aku akan berpikir: “Aku pintar dalam meminta tolong ketika aku membutuhkan bantuan.” Ο Ο Ο Ο Ο e. Aku akan merasa bangga karena aku membalas bantuan yang aku terima. Ο Ο Ο Ο Ο Pernyataan Keterangan cara skoring (Tangney, J. P., Wagner, P. E., Gavlas, J., & Gramzow, R. 1991): Item-item yang digunakan untuk mengukur rasa bangga adalah 2D, 4C, 10C, 13D, dan 15E (autentik); 2A, 4D, 10D, 13E, 15D (hubristik).

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 Lampiran C. Skala Sensitivitas terhadap Penolakan BAGIAN 2 Di bawah ini terdapat situasi-situasi atau keadaan-keadaan yang biasa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Bayangkanlah dirimu berada dalam situasisituasi tersebut, dan ceritakanlah bagaimana perasaanmu jika kamu mengalami situasi atau keadaan itu. Berilah tanda silang (X) pada nomor yang paling menggambarkan perasaanmu. 1. Bayangkan kamu ingin membeli kado untuk seseorang yang penting bagimu, tapi uangmu tidak cukup. Lalu kamu mendekati salah seorang teman di kelasmu untuk meminjam uang. Temanmu berkata, “Tunggu aku di luar gerbang setelah sekolah selesai. Nanti aku bawakan uangnya”. Setelah sekolah selesai kamu menunggu di luar gerbang sekolah. Sambil menunggu, kamu bertanya-tanya dalam hati apakah temanmu benar-benar akan datang. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan temanmu akan datang/ tidak datang? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan temanmu akan datang/ tidak datang? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah temanmu akan datang untuk meminjamkan uangnya? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6 2. Bayangkan suatu hari kamu adalah anak terakhir yang keluar dari kelas untuk makan siang di kantin. Kamu sedang berlari menuruni tangga menuju kantin. Lalu kamu mendengar beberapa anak berbisik di beberapa anak tangga di bawahmu. Kamu bertanya-tanya dalam hati apakah mereka sedang membicarakanmu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan anakanak tersebut berbicara buruk tentangmu? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan anakanak tersebut berbicara buruk tentangmu? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah mereka berbicara buruk tentangmu? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6 3. Bayangkan salah seorang teman di kelasmu melapor ke Pak/Bu Guru bahwa kamu mengganggunya. Kamu mengatakan bahwa kamu tidak mengganggunya. Pak/Bu Guru memintamu untuk menunggu di luar kelas untuk berbicara denganmu. Kamu bertanya-tanya dalam hati apakah Pak/Bu Guru akan percaya padamu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan Pak/Bu Guru akan mempercayai/ tidak mempercayai ceritamu? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan Pak/Bu Guru akan mempercayai/ tidak mempercayai ceritamu? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah Pak / Bu Guru akan mempercayai ceritamu? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6 4. Bayangkanlah baru-baru ini kamu bertengkar sengit dengan salah seorang temanmu. Sekarang kamu memiliki masalah yang berat dan kamu ingin menceritakan masalahmu dengan temanmu tersebut. Kamu memutuskan untuk menunggu temanmu setelah sekolah selesai untuk berbicara dengannya. Kamu bertanya-tanya dalam hati apakah temanmu mau berbicara denganmu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan temanmu mau berbicara/ tidak mau berbicara denganmu dan mendengarkan masalahmu? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan temanmu mau berbicara/ tidak mau berbicara denganmu dan mendengarkan masalahmu? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah temanmu mau berbicara denganmu dan mendengarkan masalahmu? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6 5. Bayangkanlah ada orang terkenal akan berkunjung ke sekolahmu. Pak/Bu Guru akan memilih 5 anak untuk bertemu dengan orang tersebut. Kamu bertanya-tanya dalam hati apakah kamu akan dipilih. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan kamu akan dipilih/ tidak dipilih? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan kamu akan dipilih/ tidak dipilih? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah kamu akan dipilih untuk bertemu dengan tamu istimewa tersebut? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6 6. Bayangkanlah kamu baru saja pindah sekolah dan sekarang kamu sedang berjalan pulang dari sekolah. Kamu berharap ada teman yang bisa menemanimu berjalan pulang. Kamu melihat di depanmu ada seorang teman sekelasmu sedang berjalan pulang juga. Kamu memutuskan untuk menyusul dan mengajaknya ngobrol. Ketika kamu sedang bergegas menyusulnya, kamu bertanya-tanya dalam hati apakah dia mau ngobrol denganmu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan dia mau ngobrol/ tidak mau ngobrol denganmu? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan dia mau ngobrol/tidak mau ngobrol denganmu? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 Menurutmu, apakah dia mau ngobrol denganmu? YA!! 1 2 3 4 6 TIDAK!! 5 6 7. Bayangkanlah kamu duduk di kelas bagian belakang. Pak/Bu Guru meminta agar beberapa anak dapat membantu pesta syukuran kelasmu secara sukarela. Pak /Bu Guru meminta agar anak yang mau membantu mengacungkan tangan. Banyak anak mengacungkan tangan sehingga kamu bertanya-tanya dalam hati apakah Pak/Bu Guru akan memilihmu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan kamu akan dipilih/ tidak dipilih oleh Pak/Bu Guru? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan kamu akan dipilih/ tidak dipilih oleh Pak/Bu Guru? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 Menurutmu, apakah Pak/ Bu Guru akan memilihmu? YA!! 1 2 3 4 5 6 TIDAK!! 6 8. Bayangkanlah pada suatu hari Sabtu siang kamu membawa barang belanjaan pulang ke rumah karena diminta orang tuamu. Saat itu hujan deras dan kamu ingin segera sampai di rumah. Tiba-tiba tas belanjaanmu robek dan barang-barang belanjaanmu tumpah. Kamu melihat ke sekeliling dan terlihat olehmu dua orang teman sekelasmu sedang berjalan cepat-cepat. Kamu bertanya-tanya dalam hati apakah mereka mau berhenti dan membantumu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan temantemanmu mau berhenti/ tidak mau berhenti dan mau membantumu? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan temantemanmu mau berhenti/ tidak mau berhenti dan mau membantumu? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah teman-temanmu mau menawarkan diri untuk membantumu? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6 9. Bayangkanlah kamu baru saja pindah sekolah. Di sekolah yang baru, Pak/Bu Guru mengijinkan murid-murid untuk meminjam program video game untuk dibawa pulang dan dimainkan di rumah setiap akhir pekan (SabtuMinggu). Beberapa minggu berlalu dan selama ini kamu hanya melihat temanmu meminjam program video game untuk dibawa pulang. Sekarang kamu memutuskan mendatangi Pak/Bu Guru untuk bertanya apakah pada Sabtu-Minggu ini kamu boleh meminjam program video game. Kamu bertanyatanya dalam hati apakah Pak/Bu Guru akan mengijinkanmu meminjam program video game. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan Pak/Bu Guru mengijinkanmu/ tidak mengijinkanmu meminjam program video game untuk Sabtu-Minggu ini? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan Pak/Bu Guru mengijinkanmu/ tidak mengijinkanmu meminjam program video game untuk Sabtu-Minggu ini? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah Pak/Bu Guru mengijinkanmu membawa pulang program video game untuk Sabtu-Minggu ini? YA!! TIDAK!! 1 10. 2 3 4 5 6 Bayangkanlah kamu berada di dalam kelas. Semua anak di kelas membentuk kelompok-kelompok untuk mengerjakan suatu tugas kelompok. Kamu duduk melihat banyak anak-anak lain dipilih teman-temannya untuk bergabung dalam kelompok mereka. Ketika kamu menunggu, kamu bertanyatanya dalam hati apakah teman-temanmu akan memilihmu menjadi anggota kelompok mereka.

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan temantemanmu memilihmu/ tidak memilihmu untuk menjadi anggota kelompok mereka? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan temantemanmu memilihmu/ tidak memilihmu untuk menjadi anggota kelompok mereka? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah teman-temanmu memilihmu menjadi anggota kelompok mereka? YA!! TIDAK!! 1 11. 2 3 4 5 6 Bayangkanlah keluargamu baru saja pindah ke daerah yang baru, dan kamu pindah ke sekolah yang baru. Besok akan ada ulangan Matematika yang penting, dan kamu sangat cemas karena kamu sama sekali tidak paham materi pelajaran yang akan diujikan! Kamu memutuskan untuk menemui gurumu dan membicarakan masalahmu pada saat sekolah selesai. Kamu bertanya-tanya dalam hati apakah Pak/Bu Guru akan berbaik hati menawarkan diri untuk membantumu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan Pak/ Bu Guru akan menawarkan diri untuk membantumu? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan Pak/ Bu Guru akan menawarkan diri untuk membantumu/ tidak membantumu? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah Pak/ Bu Guru akan menawarkan diri untuk membantumu? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 12. Bayangkanlah kamu sedang di kamar mandi di sekolahmu. Dari dalam kamar mandi, kamu mendengar sayup-sayup dua orang gurumu di luar sedang memperbincangkan tentang salah seorang murid. Kamu mendengar bahwa Pak/Bu Guru sangat tidak suka anak tersebut ada di kelasnya. Kamu bertanya-tanya dalam hati apakah murid yang dimaksud Pak/Bu Guru adalah kamu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan Bu Guru sedang membicarakanmu/ tidak sedang membicarakanmu? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan Bu Guru sedang membicarakanmu/ tidak sedang membicarakanmu? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah murid yang tidak disukai Bu Guru di kelasnya adalah kamu? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 Lampiran D. Skala Kelekatan dengan Ibu BAGIAN 3 Pernyataan-pernyataan di bawah ini menanyakan tentang perasaanperasaan terhadap ibumu atau terhadap orang lain yang berperan sebagai ibumu. Jika kamu memiliki lebih dari satu orang yang berperan sebagai ibu (misalnya, ibu kandung dan ibu tiri), maka jawablah pernyataan-pernyataan di bawah ini berdasar pada satu orang yang kamu rasa paling mempengaruhimu. Bacalah setiap pernyataan dengan seksama. Pilih dan berilah tanda silang (X) pada kolom yang mengungkapkan seberapa benar pernyataan di bawah ini terjadi pada dirimu. Tidak ada jawaban yang benar atau salah. Jawablah sesuai kenyataan yang ada pada dirimu. No. Pernyataan 1. Ibuku menghargai perasaanku. 2. Aku merasa Ibuku bertindak sebagai ibu yang baik. 3. Aku berharap memiliki Ibu yang berbeda. 4. Ibuku menerimaku apa adanya. 5. Aku merasa perlu mengetahui pendapat Ibuku tentang halhal aku pikirkan. 6. Aku merasa bahwa menunjukkan perasaanku kepada ibuku adalah tindakan yang tidak ada gunanya. 7. Ibuku tahu ketika aku sedang jengkel. Hampir Tidak Pernah atau Tidak Benar Sering Tidak Benar Kadangkadang Benar Sering Benar Hampir Selalu atau Selalu Benar

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. Pernyataan 8. Membicarakan masalah-masalahku dengan Ibuku membuatku merasa malu atau bodoh. 9. Ibuku berharap terlalu banyak padaku. 10. Aku mudah merasa kesal ketika berada dekat dengan Ibuku. 11. Sebenarnya ada lebih banyak kejengkelan yang aku rasakan dibandingkan yang diketahui Ibuku. 12. Ketika kami mendiskusikan sesuatu, Ibuku memperhatikan pendapatku. 13. Ibuku mempercayai keputusan atau penilaianku terhadap suatu hal. 14. Ibuku memiliki masalah-masalahnya sendiri sehingga aku tidak mengganggu beliau dengan masalah-masalahku. 15. Ibuku membantuku memahami diriku dengan lebih baik. Hampir Tidak Pernah atau Tidak Benar Sering Tidak Benar Kadangkadang Benar Sering Benar 121 Hampir Selalu atau Selalu Benar

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. Pernyataan 16. Aku bisa menceritakan masalah-masalah dan kesulitankesulitanku pada Ibuku. 17. Aku merasa marah pada Ibuku. 18. Aku tidak mendapatkan banyak perhatian dari Ibuku. 19. Ibuku mendukungku untuk membicarakan kesulitan-kesulitan yang aku alami. 20. Ibuku memahamiku. 21. Ketika aku marah, Ibuku mencoba untuk memahami. 22. Aku mempercayai Ibuku. 23. Ibuku tidak memahami apa yang aku alami dalam hari-hari ini. 24. Aku dapat mengandalkan Ibuku ketika aku butuh melepaskan beban yang menyesak di dadaku. 25. Jika Ibuku mengetahui ada sesuatu yang menggangguku, ia akan menanyakan hal itu kepadaku. Hampir Tidak Pernah atau Tidak Benar Sering Tidak Benar Kadangkadang Benar Sering Benar 122 Hampir Selalu atau Selalu Benar

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Usia : .................... tahun Jenis Kelamin : L / P (lingkari jawaban yang betul) Terimakasih atas kesediannya berbagi bersama kami  123

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 Lampiran E. Reliabilitas 1. Skala Sensitivitas terhadap Penolakan Case Processing Summary N Cases Valid % 312 100.0 0 .0 312 100.0 a Excluded Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .883 36 Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Corrected ItemItem Deleted Total Correlation Alpha if Item Deleted ANXIOUS EXPECTATION 106.21 416.972 .400 .880 ANGRY EXPECTATION 106.89 415.430 .445 .879 LIKELIHOOD OF RS 107.36 416.884 .383 .880 ANXIOUS EXPECTATION 106.72 407.124 .490 .878 ANGRY EXPECTATION 106.94 412.561 .437 .879 LIKELIHOOD OF RS 105.90 455.867 -.354 .893 ANXIOUS EXPECTATION 106.11 411.432 .432 .879 ANGRY EXPECTATION 106.64 412.308 .488 .878 LIKELIHOOD OF RS 107.05 419.752 .340 .881 ANXIOUS EXPECTATION 106.10 414.624 .397 .880 ANGRY EXPECTATION 107.02 409.839 .540 .878

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 LIKELIHOOD OF RS 106.99 422.391 .265 .882 ANXIOUS EXPECTATION 106.46 409.949 .419 .880 ANGRY EXPECTATION 107.45 407.893 .500 .878 LIKELIHOOD OF RS 106.72 435.221 .025 .887 ANXIOUS EXPECTATION 107.07 405.226 .558 .877 ANGRY EXPECTATION 107.75 411.236 .522 .878 LIKELIHOOD OF RS 107.83 420.945 .353 .881 ANXIOUS EXPECTATION 107.07 407.772 .533 .877 ANGRY EXPECTATION 107.78 412.939 .527 .878 LIKELIHOOD OF RS 106.90 425.743 .227 .883 ANXIOUS EXPECTATION 106.44 406.136 .538 .877 ANGRY EXPECTATION 107.10 408.015 .518 .878 LIKELIHOOD OF RS 107.31 425.538 .220 .883 ANXIOUS EXPECTATION 107.14 407.074 .546 .877 ANGRY EXPECTATION 107.58 411.034 .500 .878 LIKELIHOOD OF RS 107.42 424.606 .233 .883 ANXIOUS EXPECTATION 106.11 403.221 .559 .877 ANGRY EXPECTATION 107.13 405.505 .581 .877 LIKELIHOOD OF RS 107.23 421.937 .278 .882 ANXIOUS EXPECTATION 106.26 402.970 .569 .876 ANGRY EXPECTATION 107.22 408.120 .518 .878 LIKELIHOOD OF RS 107.63 427.253 .176 .884 ANXIOUS EXPECTATION 106.46 404.043 .524 .877 ANGRY EXPECTATION 107.33 406.116 .566 .877 LIKELIHOOD OF RS 106.06 447.215 -.198 .890

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 2. Skala Kecenderungan Perasaan Bangga yang Autentik Case Processing Summary N Cases Valid a Excluded Total % 312 100.0 0 .0 312 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .656 5 Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Item Deleted MENGATASI DENGAN BAIK=BETA PRIDE KERJA KERAS TERBAYAR=BETA PRIDE AKU BAIK=BETA PRIDE MERASA HEBAT=BETA PRIDE MERASA BANGGA=BETA PRIDE Scale Variance if Corrected ItemItem Deleted Total Correlation Alpha if Item Deleted 12.14 7.006 .306 .647 12.09 6.211 .355 .632 12.66 6.284 .481 .575 13.02 5.961 .453 .582 12.33 5.758 .463 .577

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 3. Skala Kecenderungan Perasaan Bangga yang hubristik Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .643 5 Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Corrected ItemItem Deleted Total Correlation Alpha if Item Deleted BERPIKIR DIRI MEYAKINKAN=ALPHA 12.27 6.668 .349 .612 12.12 5.886 .429 .574 11.93 5.998 .437 .570 12.53 5.603 .469 .552 13.13 6.782 .297 .634 PRIDE BANGGA PADA DIRI=ALPHA PRIDE BANGGA DIRI JUJUR=ALPHA PRIDE DIRI PUAS=ALPHA PRIDE AKU PINTAR=ALPHA PRIDE

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 4. Skala Kelekatan dengan Ibu Case Processing Summary N Cases Valid a Excluded Total % 312 100.0 0 .0 312 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .897 25

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Corrected ItemItem Deleted Total Correlation Alpha if Item Deleted IPPA_M_1 91.2396 151.464 .638 .890 IPPA_M_2 90.8326 154.392 .564 .892 IPPA_M_3r 90.9095 155.615 .347 .896 IPPA_M_4 90.8441 153.417 .587 .891 IPPA_M_9r 92.3838 159.103 .178 .901 IPPA_M_12 91.5537 149.683 .652 .889 IPPA_M_13 91.5761 153.928 .502 .893 IPPA_M_20 91.1659 150.316 .689 .889 IPPA_M_21 91.5120 150.916 .573 .891 IPPA_M_22 90.7373 155.454 .548 .893 IPPA_M_5 91.4896 154.199 .458 .894 IPPA_M_7 91.5052 154.584 .421 .895 IPPA_M_14r 92.4287 159.946 .153 .901 IPPA_M_15 91.2685 149.397 .633 .890 IPPA_M_16 91.7236 148.032 .600 .890 IPPA_M_19 91.5665 149.562 .617 .890 IPPA_M_24 91.8020 150.100 .534 .892 IPPA_M_6r 91.3005 149.841 .581 .891 IPPA_M_8r 91.7620 155.885 .321 .897 IPPA_M_10r 91.0729 154.664 .447 .894 IPPA_M_11r 91.9095 154.919 .346 .897 IPPA_M_17r 91.4031 157.373 .333 .896 IPPA_M_18r 91.2108 151.363 .512 .892 IPPA_M_23r 91.7460 151.774 .473 .893 IPPA_M_25 91.4992 149.662 .606 .890

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 Lampiran F. Hasil Regresi Model Mediator 1. Perasaan bangga yang autentik pada kelekatan dengan ibu Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered TS_attALL_siap b Variables Removed a Method . Enter a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: TS_Autentik_Pride Model Summary Std. Error of the Model R 1 R Square .033 a Adjusted R Square .001 Estimate -.002 3.00054 a. Predictors: (Constant), TS_attALL_siap b ANOVA Model 1 Sum of Squares Regression df Mean Square 3.053 1 3.053 Residual 2790.999 310 9.003 Total 2794.052 311 a. Predictors: (Constant), TS_attALL_siap b. Dependent Variable: TS_Autentik_Pride F Sig. .339 .561 a

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 Coefficients a Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) TS_attALL_siap Coefficients Std. Error 16.292 1.272 -.008 .013 Beta t -.033 Sig. 12.808 .000 -.582 .561 a. Dependent Variable: TS_Autentik_Pride 2. Perasaan bangga yang hubristik pada kelekatan dengan ibu Variables Entered/Removed Model 1 Variables Variables Entered Removed TS_attALL_siap b a Method . Enter a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: TS_Hubristik_Pride Model Summary Model R 1 .040 R Square a Adjusted R Std. Error of the Square Estimate .002 -.002 2.98164 a. Predictors: (Constant), TS_attALL_siap b ANOVA Model 1 Sum of Squares Regression df Mean Square 4.455 1 4.455 Residual 2755.953 310 8.890 Total 2760.408 311 a. Predictors: (Constant), TS_attALL_siap b. Dependent Variable: TS_Hubristik_Pride F Sig. .501 .480 a

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 Coefficients a Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) Coefficients Std. Error Beta 14.607 1.264 .009 .013 TS_attALL_siap t .040 Sig. 11.556 .000 .708 .480 a. Dependent Variable: TS_Hubristik_Pride 3. Regresi Sensitivitas terhadap Penolakan pada Perasaan Bangga yang Autentik Variables Entered/Removed Model 1 Variables Variables Entered Removed TS_Autentik_Pri de b Method . Enter a a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: TS_Rejection_Sensitivity Model Summary Model 1 R .085 R Square a Adjusted R Std. Error of the Square Estimate .007 a. Predictors: (Constant), TS_Autentik_Pride .004 6.78486

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 b ANOVA Model 1 Sum of Squares Regression df Mean Square F 105.016 1 105.016 Residual 14270.644 310 46.034 Total 14375.661 311 Sig. 2.281 .132 a a. Predictors: (Constant), TS_Autentik_Pride b. Dependent Variable: TS_Rejection_Sensitivity Coefficients a Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) TS_Autentik_Pride Coefficients Std. Error 20.897 2.034 -.194 .128 Beta t -.085 10.276 .000 -1.510 .132 a. Dependent Variable: TS_Rejection_Sensitivity 4. Regresi Sensitivitas terhadap Penolakan pada Perasaan Bangga yang Hubristik Variables Entered/Removed Model Variables Entered 1 TS_Hubristik_Pride b Variables Removed a a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: TS_Rejection_Sensitivity Method . Enter Sig.

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 Model Summary Model R 1 .070 R Square a Adjusted R Std. Error of the Square Estimate .005 .002 6.79286 a. Predictors: (Constant), TS_Hubristik_Pride b ANOVA Model 1 Sum of Squares Regression df Mean Square F 71.352 1 71.352 Residual 14304.309 310 46.143 Total 14375.661 311 Sig. 1.546 .215 a a. Predictors: (Constant), TS_Hubristik_Pride b. Dependent Variable: TS_Rejection_Sensitivity Coefficients a Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) Std. Error 20.372 2.040 -.161 .129 TS_Hubristik_Pride Coefficients Beta t -.070 9.987 .000 -1.244 .215 a. Dependent Variable: TS_Rejection_Sensitivity 5. Regresi Sensitivitas terhadap Penolakan pada Kelekatan dengan Ibu Variables Entered/Removed Model 1 Variables Variables Entered Removed TS_attALL_siap a b Method . Enter a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: TS_Rejection_Sensitivity Sig.

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 Model Summary Model R 1 .232 R Square a Adjusted R Std. Error of the Square Estimate .054 .051 6.62358 a. Predictors: (Constant), TS_attALL_siap b ANOVA Model 1 Sum of Squares Regression df Mean Square 775.412 1 775.412 Residual 13600.249 310 43.872 Total 14375.661 311 F Sig. 17.674 .000 a a. Predictors: (Constant), TS_attALL_siap b. Dependent Variable: TS_Rejection_Sensitivity Coefficients a Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) TS_attALL_siap Std. Error 29.580 2.808 -.123 .029 a. Dependent Variable: TS_Rejection_Sensitivity Coefficients Beta t -.232 Sig. 10.534 .000 -4.204 .000

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 6. Regresi Sensitivitas terhadap Penolakan pada Kelekatan dengan Ibu dan Perasaan Bangga yang Autentik Variables Entered/Removed Model 1 Variables Variables Entered Removed b Method TS_attALL_siap, TS_Autentik_Pri de . Enter a a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: TS_Rejection_Sensitivity Model Summary Model R 1 .250 R Square a Adjusted R Std. Error of the Square Estimate .063 .057 6.60376 a. Predictors: (Constant), TS_attALL_siap, TS_Autentik_Pride b ANOVA Model 1 Sum of Squares Regression df Mean Square 900.278 2 450.139 Residual 13475.383 309 43.610 Total 14375.661 311 a. Predictors: (Constant), TS_attALL_siap, TS_Autentik_Pride b. Dependent Variable: TS_Rejection_Sensitivity F 10.322 Sig. .000 a

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 Coefficients a Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) Coefficients Std. Error Beta 33.026 3.462 TS_Autentik_Pride -.212 .125 TS_attALL_siap -.124 .029 t 9.540 .000 -.093 -1.692 .092 -.235 -4.270 .000 a. Dependent Variable: TS_Rejection_Sensitivity 7. Regresi Sensitivitas terhadap Penolakan pada Kelekatan dengan Ibu dan Perasaan Bangga yang Hubristik Variables Entered/Removed Model 1 b Variables Entered Variables Removed Method TS_attALL_siap, TS_Hubristik_Pride . Enter a a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: TS_Rejection_Sensitivity Model Summary Model 1 R R Square .240 a .058 Adjusted R Std. Error of the Square Estimate .052 a. Predictors: (Constant), TS_attALL_siap, TS_Hubristik_Pride 6.62115 Sig.

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 b ANOVA Model 1 Sum of Squares Regression df Mean Square F 829.203 2 414.602 Residual 13546.457 309 43.840 Total 14375.661 311 Sig. 9.457 .000 a a. Predictors: (Constant), TS_attALL_siap, TS_Hubristik_Pride b. Dependent Variable: TS_Rejection_Sensitivity Coefficients a Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) Std. Error 31.621 3.358 TS_Hubristik_Pride -.140 .126 TS_attALL_siap -.122 .029 a. Dependent Variable: TS_Rejection_Sensitivity Coefficients Beta t Sig. 9.418 .000 -.061 -1.108 .269 -.230 -4.158 .000

(160)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Sikap remaja terhadap seks sebagai mediator dalam hubungan komunikasi seksual dalam keluarga dan perilaku seksual pranikah remaja.
0
1
162
Hubungan antara kelekatan terhadap ibu dengan tingkat stres pada mahasiswa perantau.
2
9
138
Hubungan antara kesejahteraan psikologis dengan pola kelekatan dewasa pada ibu bekerja.
1
9
198
Psychological ownership to organization sebagai mediator dalam hubungan antara Leader-Member Exchange(LMX) dan prosocialvoice pada perawat.
2
13
127
Hubungan kelekatan terhadap ibu dan efikasi diri akademik remaja SMP.
3
12
121
Korelasi antara sensitivitas terhadap penolakan dan performansi kerja agen asuransi jiwa.
0
6
111
Perilaku seksual pada remaja berpacaran ditinjau dari kelekatan terhadap ibu dan rentang usia.
1
3
122
Perbedaan frekuensi aktivitas seksual antara remaja dengan sensitivitas penolakan yang tinggi dan yang rendah di SMA A Yogyakarta.
0
1
126
Mindfulness sebagai mediator dalam hubungan antara kelekatan pada ibu dan self-silencing pada remaja laki dan perempuan.
1
7
175
Hubungan antara kelekatan terhadap ibu dengan tingkat stres pada mahasiswa perantau
2
9
136
Sikap remaja terhadap seks sebagai mediator dalam hubungan komunikasi seksual dalam keluarga dan perilaku seksual pranikah remaja
0
11
160
Gaya kelekatan sebagai prediktor tingkat keintiman dalam hubungan berpacaran pada individu di masa dewasa awal - USD Repository
0
0
182
Hubungan antara kualitas kelekatan dan penyelesaian konflik antara remaja awal dengan orang tua - USD Repository
0
0
159
Peran mindfulness dalam memediasi hubungan antara kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity pada remaja - USD Repository
0
1
150
Hubungan antara efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orangtua dan kecenderungan perilaku bullying pada remaja awal - USD Repository
0
0
153
Show more