Tingkat kecerdasan emosional remaja panti asuhan : studi deskriptif tingkat kecerdasan emosional pada reemaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen dan implikasinya terhadap usulan topi-topik bimbingan pribadi sosial - USD Repository

Gratis

0
1
94
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TINGKAT KECERDASAN EMOSIONAL REMAJA PANTI ASUHAN (Studi Deskriptif Tingkat Kecerdasan Emosional pada Remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi Sosial) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memproleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh : Mika Botti Br Ginting 101114028 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO DAN PERSEMBAHAN  Mudah sekali bagi siapa pun untuk bersabar ketika semuanya berjalan baik, tapi dibutuhkan hati yang baik dan pikiran yang utuh untuk membuat diri Anda tetap berada dalam kesabaran yang baik saat keadaan menjadi buruk (Mario Teguh).  Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu (Matius 7:7).  Kita bahagia karena kasih sayang, kita matang karena masalah, kita lemah karena putus asa, kita maju karena usaha, dan kita kuat karena doa. Skripsi ini kupersembahkan kepada:  Tuhan Yesus Kristus yang setia mendampingiku dalam suka dan duka saat mengerjakan skripsi.  Keluarga tercinta: Bapak dan Mamak, keadua adek ku (Heppy Ester Br Ginting dan David Remonda Ginting)  Almamaterku tercinta: Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah mendidik dan mendewasakan aku. iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK TINGKAT KECERDASAN EMOSIONAL REMAJA PANTI ASUHAN (Studi Deskriptif Tingkat Kecerdasan Emosional pada Remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi Sosial) Mika Botti Br Ginting 2014 Penelitian ini bertujuan untuk memproleh gambaran tingkat kecerdasan emosional siswa-siswi remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen. Hasil dari penelitian ini akan digunakan untuk mengusulkan topik-topik bimbingan pribadi sosial. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Subjek penelitian adalah 32 Siswa remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang disusun oleh penulis berdasarkan buku Emotional Intellegence (Goleman, 2002). Kuesioner terdiri dari 56 pernyataan yang mencakup kelima aspek kecerdasan emosional yaitu: (1) kesadaran diri (2) pengaturan diri (3) memotivasi diri sendiri (4) mengenali emosi orang lain (5) membina hubungan. Teknik analisis data yang digunakan adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel, jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah. Tingkat kecerdasan emosional remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen digolongkan menjadi rendah, sedang, tinggi, sangat tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen memiliki kecerdasan emosional rendah 1 siswa (3 %), yang memiliki kecerdasan emosional sedang 7 siswa (22 %), yang memiliki kecerdasan emosional tinggi 21 siswa ( 66 %), dan yang memiliki kecerdasan emosional sangat tinggi 3 siswa (9 %). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa-siswi telah memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Berdasarkan analisis item dalam kategori sedang, peneliti mengusulkan topik-topik bimbingan pribadi sosial. Usulan topik-topik bimbingan pribadi sosial yaitu Peranan kecerdasan emosional, kesadaran emosi, mengendalikan emosi sendiri, dorongan untuk berprestasi. vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT EMOTIONAL INTELLEGENCE LEVEL OF ADOLESCENT ORPHANAGE (A Descriptive Study on Emotional Intellegence Level it in Adolescent Orphanage Pondok Harapan Diakonia Bawen and Implications to the Sugested Topic of Personal and Social Guidance) Mika Botti Br Ginting 101114028 This research aims to obtain a description of the level emotional intellegence adolescent orphanage at Pondok Harapan Diakonia Bawen. The research of this study will be used to suggest topics of personal social guidance. This research is descriptive study. The subject of the research is 34 adolescent orphanage at Pondok Harapan Diakonia Bawen. The research istrument used is a questionnaire prepared by the research based th book in Emotional Intellegence (Golemen, 2002). The questionnarire cosists of 56 statements that include the five aspects of emotional intellegence, namely: (1) self-awareness (2) self-regulation (3) motivating yourself (4) recognizing emotions in others (5) relationship. The data analysis technique used is groping data based on a variabele, type of respondent, tabulating the data based on the variabeles of all respondents, presents the data for each variabele studied, performing calculations to answar the problem formulation. The level of emotional intellegence adolescent orphanage at Pondok Harapan Diakonia Bawen is classified „low‟ „medium‟ „high‟ „very high‟. The reserch of this indicate there are 1 studens (3%) hav low emotional intellegence. There are 7 students (22%) have medium emotional intellegence, there are 21 students (66%) have high emotional intellegence, there 3 students (9%) have very high emotional intellegence. The research showed that most students already have high emotional intellegence. Based on the analysis of the items in the medium category, the research proposes topics socio-personal guidance. The suggested topics of socio-personal guidance are: the role of emotional intellegence, emotional awareness, emotional control itself, motivation to achieve. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur peneliti haturkan kepada Tuhan Yesus Kristus, atas segala berkat, anugrah, kasih karunia dan penyertaanNya yang tidak pernah berhenti mengalir sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memproleh gelar Sarjana Pendidikan di Program Studi Bimbingan dan Konseling. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini dapat tersusun berkat bantuan, perhatian, dukungan, dan bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu diucapkan banyak terimaksih kepada: 1. Bapak Dr. Gendon Barus, M.Si, selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membantu dan memberikan kelancaran dalam proses penyelesaian skripsi ini, sekaligus sebagai dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dengan penuh kesabaran dan ketekunan serta ketulusan hati dalam membimbing, memberikan motivasi dan mendampingi penulis pada setiap tahap dan seluruh proses penyusunan skripsi ini. 2. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling yang telah mencurahkan ilmunya sepenuh hati selama penulis menuntut ilmu di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Bapak Marthen Ngguso sebagai pimpinan di Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen yang telah memberikan ijin kepada peneliti ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI untuk melaksanakan penelitian di Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen. 4. Para siswa-siswi remaja SMP dan SMA Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen atas waktu dan kesediannya sebagai responden dalam melaksanakan penelitian sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. 5. Orangtuaku tercinta Bapak Japen Ginting dan Ibu Asnita Purba atas doa yang tidak henti-hentinya selalu dipanjatkan, dukungan, perhatian, biaya yang telah diberikan kepada penulis. 6. Adek- adekku tercinta Heppy Ester Br Ginting dan David Remonda Ginting yang telah banyak mendukung dan mendoakan sehingga penulis selalu semangat menyelesaikan skripsi ini. 7. Adekku Kezia Gaviota yang selalu memotivasi, mendukung, mendoakan dan mendengarkan curhatan penulis saat mengerjakan skripsi. 8. Semua saudaraku Pak Tengah, Mak Tengah, Bibik, Bengkila, Abang, Kakak, Adek, yang telah mendoakan penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. 9. Saudara sepupuku Wanda Harianto Ginting, Devi Riana Ginting, Rut Lina Uli Simajuntak, Wandi Jupiter Ginting, Lita Khariani, Dewi Sartika yang telah memberikan semangat dan mendoakan penulis. 10. Keluarga besar Lima Serangkai yang telah memberikan ide-ide kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11. Teman- teman di Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2010 untuk kebersamaan dan kerjasamanya selama penulis menyelesaikan studi. 12. Perpustakaan USD sebagai gudang ilmu beserta karyawan perpustakaan atas pelayanan bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 13. Sahabatku Krista Br Ginting dan teman- temanku Wina Charlina, Marieta, Eva Christi yang telah memberi semangat, masukan untuk penulis sehingga skripsi ini terselesaikan dengan baik. 14. Teman-temanku di Kost Wila, Nina, Tata, Ian, Ririn yang telah ikut serta memberikan semangat dan doa kepada penulis sehingga skripsi ini dapat berjalan dengan baik. Akhirnya peneliti berharap, semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca khusunya bagi pemerhati bidang pengembangan bimbingan di luar sekolah khususnya di panti asuhan. Penulis Mika Botti Br Ginting xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL...................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING........................................... ii HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN............................................ iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA......................................................... v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS....................................... vi ABSTRAK..................................................................................................... vii ABSTRACT................................................................................................... viii KATA PENGANTAR.................................................................................... ix DAFTAR ISI.................................................................................................. xii DAFTAR TABEL.......................................................................................... xv DAFTAR GRAFIK........................................................................................ xvi DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................. xvii BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah............................................................... 1 B. Rumusan Masalah........................................................................ 4 C. Tujuan Penelitian.......................................................................... 5 D. Manfaat Penelitian........................................................................ 5 E. Defenisi Oprasional...................................................................... 6 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II: KAJIAN PUSTAKA A. Kecerdasan Emosional................................................................. 8 1. Pengertian Emosi................................................................... 8 2. Pengertian Kecerdasan Emosional...................................... 12 3. Aspek- Aspek Kecerdasan Emosional................................. 15 4. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional.. 25 5. Langkah- langkah Meningkatkan Kecerdasan Emosional..... 29 B. Siswa- Siswi Remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen ………………………………………………. 30 1. Ciri- ciri Masa Remaja........................................................... 30 2. Tugas Perkembangan Masa Remaja...................................... 30 3. Pengertian Panti Asuhan........................................................ 32 C. Bimbingan Pribadi Sosial.................................................. ......... 33 D. Pelayanan Bimbingan di Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen……………………………………...………... 34 BAB III: METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian............................................................................. 36 B. Subjek Penelitian.......................................................................... 36 C. Alat Pengumpulan Data............................................................... 37 1. Jenis Alat Ukur...................................................................... 37 2. Penentuan Skor...................................................................... 38 3. Kisi- kisi Kuesioner............................................................... 39 4. Uji Coba Alat......................................................................... 40 5. Validitas................................................................................. 41 6. Reliabilitas............................................................................. 44 D. Pengumpulan Data....................................................................... 45 E. Teknik Analisis Data..................................................................... 45 BAB IV: HASIL PENELITIAN A. Hasil Penelitian............................................................................. xiii 49

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Pembahasan Hasil Penelitian....................................................... 52 C. Usulan Topik- topik Bimbingan Pribadi Sosial........................... 56 BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan.................................................................................. 63 B. Saran............................................................................................ 64 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1 : Subjek Penelitian................................................................................36 Tabel 2 : Kisi- kisi Kuesioner............................................................................39 Tabel 3 : Rincian Item yang Valid dan yang Gugur..........................................43 Tabel 4 : Kriteria Goilford.................................................................................44 Tabel 5 : Norma Kategorisasi Tingkat Kecerdasan Emosional.........................46 Tabel 6 : Norma Kategorisasi Tingkat Kecerdasan Emosional Siswa- siswi Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen..........48 Tabel 7 : Norma Kategorisasi Skor Butir Instrumen Kecerdasan Emosional………………………………………...........48 Tabel 8 :Kategorisasi Tingkat Kecerdasan Emosional pada Siswa- Siswi SMP dan SMA Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen...................................................................49 Tabel 9 :Kategorisasi Skor Item Kecerdasan Emosional pada Siswa- Siswi SMP dan SMA Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen................................................................................................51 Tabel 10 : Usulan Topik- Topik Bimbingan Pribadi Sosial bagi Siswa- Siswi SMP dan SMA Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen................................................................................................56 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GRAFIK Halaman Grafik 1..............................................................................................................50 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1: Kuesioner Kecerdasan Emosional..................................................63 Lampiran 2: Tabulasi Skor Penelitian.................................................................67 Lampiran 4: Rincian item yang valid dan yang gugur........................................68 Lampiran 3: Surat Ijin Penelitian…………………………………………..…..73 xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini diuraikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat peneltian, dan defenisi oprasional. A. Latar Belakang Masalah Perkembangan jaman yang semakin modern terutama pada era globalisasi seperti saat ini membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas baik dan tinggi. Peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah sebagai salah satu syarat yang mutlak agar mencapai tujuan perkembangan tersebut. Salah satu cara untuk mencapai kualitas sumber daya manusia yang berkualitas baik dan tinggi adalah kecerdasan emosional kita. Kecerdasan emosional merupakan hal penting dalam kehidupan setiap individu karena setiap individu memang memiliki tingkat emosi yang berbeda-beda sehingga tingkat kecerdasan emosionalnya juga berbeda-beda. Tergantung bagaimana setiap individu mengolah, mengelola dan mengendalikan emosinya agar menjadi lebih baik lagi di setiap tahapnya sehingga menjadi suatu yang bermanfaat atau bisa disebut menjadi kecerdasan emosional dalam diri setiap individu. Jika seorang individu dapat mengelola dan mengolah emosinya menjadi suatu kecerdasan yang disebut kecerdasan emosional maka individu tersebut semakin dapat meningkatkan kualitas hidupnya menjadi lebih baik lagi agar dapat menjadi semakin maju di era yang semakin berkembang ini. 1

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Tidak terkecuali bagi anak-anak remaja sekarang ini harus bisa dan mampu melatih emosi mereka masing-masing menjadi suatu yang lebih bermanfaat bagi kecerdasan emosional mereka. Anak dan remaja, baik yang mengikuti pendidikan di sekolah maupun yang tidak, semua berada dalam proses perkembangan. Perkembangan mencakup seluruh kepribadian individu anak dan remaja. Kepribadian individu sangat kompleks, terdiri atas banyak aspek yang saling berintraksi, bukan saja antar aspek, tetapi juga antara aspek-aspek tersebut dengan faktor –faktor lingkungan. Baik aspek kepribadian individu maupun aspek lingkungan selalu berubah dan perubahannya sangat dinamis. Menurut Goleman (2000: 14) remaja sekarang lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya. Mereka lebih kesepian dan pemurung, kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih komfulsif dan agresif. Kecerdasan emosional sangat berpengaruh bagi perkembangan individu. Menurut konsep Goleman, orang yang memiliki kecerdasan emosional adalah orang yang matang dalam pengaturan kondisi diri dan emosinya. Begitu juga dengan Remaja SMP dan SMA Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen harus bisa melatih emosi mereka menjadi lebih baik lagi untuk kecerdasan emosional mereka. Orang yang memiliki kecerdasan emosional, diharapkan mampu mengungkapkan emosinya secara konstruktif. Sebaliknya, orang yang

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 kecerdasan emosionalnya rendah akan kurang berhasil, karena cepat merasa gagal, mudah menyerah jika menghadapi kesukaran. Kecerdasan emosional yang baik dapat menentukan keberhasilan individu dalam prestasi belajar, meningkatkan kualitas belajar, mengembangkan hubungan yang baik dengan teman sebaya dan orang-orang di sekitar, khususnya dalam kalangan remaja (Goleman, 2002: 17). Dengan memiliki kecerdasan emosional, siswa-siswi mampu melatih kemampuan untuk mengelola perasaannya, kemampuan untuk memotivasi dirinya sendiri, kemampuan untuk tegar dalam menghadapi masalah, mengatur suasana hati yang reaktif, dan mampu bekerjasama dengan orang lain. Kecerdasan inilah yang dapat mendorong siswa-siswi untuk meningkatkan kualitas belajarnya untuk mendapatkan nilai yang lebih bagus dan mencapai cita-citanya. Dengan memiliki kecerdasan emosional yang tinggi akan membuat seseorang menjadi percaya diri, mampu mengelola perasaan, tidak mudah marah dan berempati dengan sesama. Namun ketika peneliti KKN selama 30 hari di Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen, peneliti melihat banyak Siswa Remaja yang kurang mampu mengelola emosinya, ketika mereka tidak suka terhadap sesuatu hal maka mereka akan marahmarah dengan membanting pintu, mengeluarkan kata-kata kotor, dan ngomong secara keras, dan lain-lain.. Lingkungan merupakan salah satu faktor yang turut mempengaruhi emosi dan perkembangan diri seseorang. Para siswa-siswi remaja Panti

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen datang dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Hidup bersama tentu tidaklah mudah, sering timbul permasalahan-permasalahan dalam hidup bersama di Panti Asuhan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyusun materi pelayanan bimbingan yang sesuai dengan taraf perkembangannya, kebutuhan dan permasalahan yang dialami oleh siswa-siswi Remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen. Dengan memberi topik bimbingan yang relevan, para siswa-siswi remaja yang tinggal di Panti Asuhan Harapan Diakonia Bawen dibantu menjadi pribadi yang mampu mengatur hidupnya, dapat bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri, memiliki kemampuan memotivasi diri sendiri, dan akhirnya mampu mengambil keputusan secara tepat. Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “TINGKAT KECERDASAN EMOSIONAL REMAJA PANTI ASUHAN (Studi Deskriptif Tingkat Kecerdasan Emosional Pada Remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi Sosial)”. B. Rumusan Masalah Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang tingkat kecerdasan emosional siswa-siswi Remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen dan implikasinya terhadap topik-topik imbingan pribadi sosial. Adapun rumusan masalah yang ingin dijawab adalah:

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 1. Seberapa tinggikah kecerdasan emosional siswa-siswi remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen? 2. Berdasarkan pencapaian butirpengukuran kecerdasan emosional yang terindikasi rendah, topik bimbingan apa yang sesuai untuk meningkatkan kecerdasan emosional siswa-siswi remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen? C. Tujuan Penelitan Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mendeskripsikan tingkat kecerdasan emosional siswa-siswi remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen. 2. Mengidentifikasi butir pengukuran kecerdasan emosional yang terindikasi rendah untuk memberikan topik-topik bimbingan yang sesuai untuk meningkatkan kecerdasan emosional siswa-siswi remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat teoritis Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah menambah pengetahuan yang berkaitan dengan kecerdasan emosional remaja.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 1. Manfaat praktis a. Pendamping Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen memproleh informasi yang dapat digunakan dalam mengembangkan kecerdasan emosional remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen. b. Para remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen memproleh informasi mengenai kecerdasan emosionalnya dan diharapkan agar termotivasi untuk meningkatkan kecerdasan emosionalnya. c. Peneliti sendiri dapat memproleh pengalaman dalam mengungkapkan tingkat kecerdasan emosional dan untuk menyusun topik-topik bimbingan mengenai kecerdasan emosional. d. Peneliti lain dapat mengembangkan penelitian ini lebih mendalam lagi. E. Definisi Oprasional Berikut dijelaskan definisi oprasional yang digunakan dalam penelitian ini: 1. Kecerdasan Emosional Kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali emosi kita sendiri dan emosi orang lain, kemampuan memotivasi diri dan kemampuan mengelola emosi serta kemampuan membina hubungan dengan orang lain.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 2. Panti Asuhan Panti asuhan adalah lembaga kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada anak terlantar serta melaksanakan penyantunan dan pengentasan anak terlantar melalui pelayanan pengganti atau perwalian anak dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental dan sosial pada anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas, tepat dan memadai bagi perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian generasi cita-cita bangsa dan sebagai insan yang turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional (Departemen Sosial RI, 1995). 3. Bimbingan Pribadi Sosial Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada siswa agar dapat memahami dirinya, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan. Bimbingan pribadi sosial adalah bimbingan dalam menghadapi keadaan batinya sendiri dan mengatasi berbagai pergumulan dalam batinnya sendiri; dalam mengatur diri sendiri di bidang kerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyauran nafsu seksual dan sebagainya; serta bimbingan dalam membina hubungan kemanusiaan dengan sesama di bidang lingkungan atau pergaulan sosial.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II KAJIAN TEORI Pada bab ini diuraikan kecerdasan emosional, siswa- siswi remaja panti asuhan pondok harapan diakonia bawen, bimbingan kelompok, pelayanan bimbingan di panti asuhan harapan diakonia bawen. A. Kecerdasan Emosional 1. Pengertian Emosi Emosi adalah perasaan apa yang sedang kita alami. Kita sering menyebut berbagai emosi yang muncul dalam diri kita dengan berbagai nama seperti sedih, gembira, kecewa, semangat, marah, benci, cinta, dll. Sebutan yang kita berikan kepada perasaan tertentu, mempengaruhi bagaiman kita berpikir mengenai perasaan itu, dan bagaimana kita bertindak. Menurut Goleman (2002: 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecendrungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dari dalam individu. Sebagai contoh, emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, sedangkan emosi sedih mendorong seseorang untuk berprilaku menangis. Chaplin (dalam Safaria, 2009) merumuskan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan8

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya, dan perubahan perilaku. Emosi cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah (approach) atau menyingkir (avoidance) terhadap sesuatu. Perilaku tersebut pada umumnya disertai adanya ekspresi kejasmanian sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi. Jika seseorang mengalami ketakutan mukanya menjadi pucat, jantungnya berdebar-debar, jadi adanya perubahan-perubahan kejasmanian sebagai rangkaian dari emosi yang dialami oleh individu yang bersangkutan Walgito (dalam Safaria, 2009). Maurus (2007: 16) mendefinisikan emosi sebagai keadaan jiwa yang sangat mempengaruhi mahluk hidup, yang disulut oleh kesadaran atas suatu benda atau pristiwa, yang ditandai dengan perasaan yang dalam, hasrat untuk bertindak, dan perubahan fisiologis pada fungsi tubuh. Dalam buku Emotion and Personality, Arnold memaparkan defenisi emosi sebagai kecenderungan untuk mendekat pada apapun yang dirasakan baik (menguntungkan) atau menjauh dari apapun yang dirasa buruk (berbahaya). The Dictionary of Psychology mengartikan emosi keadaan kompleks dari suatu organisme, termasuk perubahan dalam banyak hal misalnya pernafasan, denyut nadi, kelenjar dan lainlain yang secara kejiwaan ditandai dengan perasaan mendalam serta dorongan kuat untuk melakukan tindakan tententu.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 Devenisi lain menyatakan bahwa emosi adalah suatu respon terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus. Respon demikian terjadi baik terhadap perangsangperangsang eksternal maupun internal. Menurut Daniel Goleman (2000), sesungguhnya ada ratusan emosi bersama dengan variasi, campuran, mutasi, dan nuansanya sehingga makna yang dikandungnya lebih bayak, lebih kompleks, dan lebih halus daripada kata dan defenisi yang digunakan untuk menjelaskan emosi. 2. Jenis-jenis Emosi Daniel Goleman (2002: 411) mengemukakan beberapa macam emosi yaitu: a. Amarah: Beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan dan kebencian patologis. b. Kesedihan: Pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa, kesepian, ditolak, depresi berat. c. Rasa Takut: Cemas, gugup, khawatir, was- was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri, fobia, dan panik. d. Kenikmatan:

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 Bahagia, gembira, riang, puas, senang, terhibur, bangga, takjub dan terpesona. e. Cinta: Penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih. f. Terkejut: Terkesiap, terkejut, takjub, terpana. g. Jengkel: Hina, jijik, muak, mual, tidak suka, benci, mau muntah. h. Malu: Rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur. Seperti yang telah diuraikan di atas, semua emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberi respon atau bertingkahlaku terhadap stimulus yang ada. Menurut Mayer (Goleman, 2002: 65) orang cenderung menganut gaya- gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu: (1) Sadar diri: peka akan suasana hati mereka ketika mengalaminya, dapat dimengerti bila orang-orang memiliki kepintaran tersendiri dalam kehidupan emosional mereka. (2) tenggelam dalam permasalahan: mereka adalah orang- orang yang seringkali merasa dikuasai oleh emosi dan tak berdaya untuk melepaskan diri, seolah- olah suasana hati mereka telah mengambil

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 alih kekuasaan. (3) pasrah: ada dua cabang jenis pasrah yaitu mereka yang terbiasa dalam suasana hati yang menyenangkan, dan dengan demikian motivasi untuk mengubahnya rendah, dan orang yang kendati peka akan perasaannya, rawan terhadap suasana hati yang jelek tetapi menerimanya dengan sikap yang tidak hirau, tidak melakukan apapun untuk mengubahnya meskipun tertekan pola yang ditemukan , misalnya pada orang-orang yang menderita depresi dan yang tenggelam dalam keputusan. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi adalah perasaan yang mendorong setiap individu untuk merespon atau bertingkahlaku terhadap stimulus- stimulus yang berasal dari dalam diri maupun dari luar diri setiap individu. 3. Pengertian Kecerdasan Emosional Istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Meyer dari University of New Hampshire (Shapiro, 2001: 5). Beberapa bentuk kualitas emosional yang dinilai penting bagi keberhasilan, yaitu: a. Empati b. Mengungkapkan dan memahami perasaan c. Kemandirian d. Kemampuan menyesuaikan diri e. Disukai

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 f. Kemampuan memecahkan masalah antar pribadi g. Ketekunan h. Kesetiakawanan i. Keramahan j. Sikap hormat Untuk memberikan pemahaman dasar tentang kecerdasan emosional, Daniel Goleman, menjelaskan dua pengertian kecerdasan emosional. Pertama, kecerdasan emosional tidak hanya berarti “bersikap ramah”. Pada saat- saat tertentu yang diperlukan mungkin bukan “sikap ramah” melainkan, mungkin sikap tegas yang barangkali memang tidak menyenangkan, tetapi mengungkapkan kebenaran yang selama ini dihindari. Kedua, kecerdasan emosional bukan berarti memberi kebebasan kepada perasaan untuk berkuasa, memanjakan perasaan, melainkan mengelola perasaan- perasaan sedemikian rupa sehingga terekspresikan secara tepat dan efektif yang memungkinkan orang bekerjasama dengan lancar menuju sasaran bersama. Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh orang- orang di sekitar, lingkungan, pergaulan, dan lain-lain. Untuk itu peranan lingkungan sekitar dan tempat tinggal kita dan orang- orang di sekitar kita sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional adalah himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah- milah semuanya

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan Shapiro (2001: 8). Gardner yang dalam bukunya berjudul Frame of Mind (Goleman, 2002: 50-53) mengatakan bahwa bukan hanya satu jenis kecerdasan yang monolitik yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan, melainkan ada spektrum kecerdasan yang lebar dengan tujuh varietas utama yaitu linguistic, matematika/logika, spasial, kinestetik, musik, interpersonal, dan intrapersonal. Kecerdasan ini dinamakan oleh Gardner (Goleman, 2002: 50-53) sebagai kecerdasan pribadi yang oleh Daniel Goleman disebut kecerdasan emosional. Menurut Gardner (Goleman, 2002: 50-53), kecerdasan pribadi terdiri dari ”kecerdasan antar pribadi yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan kecerdasan. Sedangkan kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri. Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan modal tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif Goleman(2002 : 52). Dalam rumusan lain, Gardner (Goleman, 2002: 50-53), menyatakan bahwa inti kecerdasan antar pribadi itu mencakup

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 “kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan hasrat orang lain”. Dalam kecerdasan pribadi yang merupakan kunci menuju pengetahuan diri, ia mencantumkan “akses menuju perasaan-perasaan tersebut serta memanfaatkannya untuk menuntun tingkah laku (Goleman 2002: 53). Berdasarkan kecerdasan yang dinyatakan oleh Gardner tersebut, Salovey (Goleman, 2002: 57) memilih kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal untuk dijadikan sebagi dasar untuk mengungkap kecerdasan emosional pada diri individu. Menurutnya kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain dan kemampuan untuk membina hubungan kerjasama dengan orang lain. Menurut Goleman (2002: 512) kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi (to manage our emotional life with intelegence) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial. Berdasarkan devenisi diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan mosional adalah kemampuan untuk menyadari emosi diri sendiri, mengenali emosi diri sendiri, mengelola emosi diri sendiri, memotivasi diri sendiri, dan mengenali emosi orang lain.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 4. Aspek- aspek Kecerdasan Emosional Goleman (2000: 58-59) menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam defenisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya dan memperluas kemampuan tersebut menjadi lima kemampuan utama, yaitu: a. Mengenali Emosi Sendiri (Self-Awareness) Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk menggenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Orang dikatakan berhasil mengenali emosinya apabila ia memiliki kepekaan yang tinggi atas emosinya. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer (Goleman, 2000: 64) kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi. Menurut konsep Goleman orang yang memiliki kesadaran diri akan lebih peka dan cermat menghadapi suasana hati orang lain. Kesadaran emosi sangat penting untuk memandu pengambilan keputusan, memiliki kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat (Goleman, 2000: 513).

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 Menurut Goleman (2002: 404) aspek mengenali emosi diri sendiri terdiri dari: 1) Kesadaran Emosi Orang yang memiliki kesadaran emosi yang tinggi mampu: a) Mengetahui emosi mana yang sedang dirasakan dan mengapa. b) Menyadari ketertarikan antara perasaan, pikiran, perbuatan, dan apa yang dikatakannya. c) Mempengaruhi bagaimana perasaannya mempengaruhi cara kerjanya. d) Mempunyai kesadaran yang menjadi pedoman untuk mencapai nila- nilai tujuannya. 2) Penilaian Diri Orang memiliki penilaian diri secara teliti dan tinggi mampu: a) Menyadari kekuatan dan kelemahannya. b) Memiliki kemampuan untuk mengadakan refleksi diri. c) Terbuka terhadap umpan balik yang tulus, bersedia menerima pandangan yang baru, mau terus belajar dan mengembangkan diri. d) Mampu menunjukkan rasa humor dan bersedia memandang dirinya sendiri dengan persfektif yang luas. 3) Kepercayaan Diri

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 Orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi memiliki kecendrungan: a) Berani tampil dengan keyakinan diri dan berani menyatakan kebenarannya. b) Berani mengungkapkan pendapat dan bersedia berkorban demi kebenaran. c) Bersikap tegas, mampu membuat keputusan yang baik kendati dalam keadaan tidak pasti dan tertekan. b. Mengelola Emosi Mengelola emosi adalah kemampuan setiap individu dalam menangani setiap perasaan agar dapat terungkap dengan tepat dan selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri idividu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahtraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita (Goleman, 2002: 77-78). Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaanperasaan yang menekan. Orang yang buruk pengelolaan emosinya akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung atau melarikan diri pada hal-hal negatif yang merugikan diri sendiri.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 Menurut Goleman (2002: 404) orang yang memiliki kemampuan mengelola emosi memiliki ciri/tanda sebagai berikut: 1) Toleransi yang lebih tinggi terhadap frustasi dan pengelolaan amarah 2) Berkurangnya ejekan verbal, perkelahian, dan gangguan di ruang kelas 3) Lebih mampu mengungkapkan amarah dengan tepat, tanpa berkelahi 4) Berkurangnya larangan masuk sementara dan skorsing 5) Berkurangnya perilaku agresif atau merusak diri sendiri 6) Perasaan yang lebih positif tentang diri sendiri, sekolah, dan keluarga 7) Lebih baik dalam menangani ketegangan jiwa 8) Berkurangnya kesepian dan kecemasan dalam pergaulan Orang yang kemampuan mengelola emosinya rendah, menerima keritik sebagai serangan pribadi, bukan sebagai keluhan yang harus diatasi, kurang memiliki kendali diri, mudah mencemooh atau menghina, bersikap menutup diri atau sikap bertahan yang pasif, mudah patah semangat (Goleman, 2002: 214215). Menurut Goleman (2002) aspek kemampuan mengelola emosi meliputi:

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 1) Mengendalikan emosinya sendiri Orang yang mampu mengendalikan emosinya sendiri secara tepat mampu: a) Mengelola dengan baik emosi-emosi yang menekan b) Tetap teguh, bersikap positif, dan tidak goyah sekalipun dalam situasi yang paling berat c) Berpikir dengan jernih dan tetap terfokus kendati dalam keadaan tertekan 2) Dapat dipercaya a) Bertindak seturut etika dan tidk pernah mempermalukan orang lain b) Membangun kepercayaan dengan sikap apa adanya dan jujur c) Mengakui kesalahan sendiri dan berani menegur perbuatan yang tidak dapat diterimanya d) Berpegang pada prinsip secara teguh walaupun akibatnya adalah menjadi tidak disukai c. Mengenali Emosi Orang lain Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut Goleman (2002: 57) kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 lebih mampu manangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain. Menurut Robert Rosenthal (Goleman, 2002: 136) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa orang-orang yang mampu membaca perasaan dan isyarat non verbal lebih mampu menyesuaikan diri secara emosional, lebih populer, lebih mudah bergaul, dan lebih peka. Anak-anak yang tidak mampu membaca atau mengungkapkan emosi dengan baik akan terus menerus merasa frustasi (Goleman, 2002: 172). Seseorang yang mampu membaca emosi orang lain juga memiliki kesadaran diri yang tinggi. Semakin mampu terbuka pada emosinya sendiri, mampu mengenal dan mengakui emosinya sendiri, maka orang tersebut mempunyai kemampuan untuk membaca perasaan orang lain. d. Memotivasi Diri Sendiri Kemampuan memotivasi diri adalah kemampuan memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Kemampuan ini diperlukan lebih-lebih pada waktu motivasi kita negatif, yaitu saat kita patah semangat, kehilangan pandangan ke masa depan. Tujuannya agar motivasi kita positif

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 dan kita menjadi bersemangat dalam hidup. Orang yang mampu memotivasi dirinya akan lebih berhasil dalam kehidupannya dibandingkan orang yang menunggu orang lain untuk memperhatikan dirinya. Salah satu ciri dari kemampuan untuk memotivasi diri adalah kepercayaan diri (self confidence).Individu yang memiliki motivasi tinggi akan memiliki self confidenceyang tinggi pula. Ciri utama kepercayaan diri adalah optimis dalam menghadapi berbagai tantangan. Orang yang memiliki kecakapan ini tidak mudah jatuh dalam suatu kegagalan dan tidak mudah puas terhadap apa yang dihasilkan, melainkan mempunyai kemampuan untuk terus berusaha untuk memperbaiki diri. Kemampuan memotivasi diri sendiri menurut Goleman (2000) meliputi aspek: 1) Dorongan untuk berprestasi Orang yang memiliki dorongan berprestasi memiliki kemampuan: a) Berorientasi pada tujuan dengan semangat juang yang tinggi untuk meraihnya b) Menetapkan tujuan yang menantang dan berani mengambil resiko c) Mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk mengurangi ketidakpastian dan mencari cara yang lebih tepat d) Terus belajar untuk meningkatkan prestasi

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 2) Memiliki komitmen Orang yang memiliiki komitmen tinggi mamapu: a) Berkorban demi tercapainya tujuan b) Merasakan dorongan semangat dalam mencapai tujuan yang utama dalam hidupnya c) Mempertimbangkan nilai-nilai yang diterima dalam masyarakat untuk mengambil keputusan d) Mencari peluang untuk memenuhi kebutuhannya 3) Memiliki inisiatif Orang yang memiliki inisiatif mampu: a) Mamanfaatkan peluang untuk memajukan dirinya b) Mengejar saran lebih daripada dipersyaratkan atau diharapkan c) Berani melanggar batas-batar dan aturan yang tidak prinsip apabila perlu, agar tugas dapat dilaksanakan d) Berani mengajak orang lain bekerkasama untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik 4) Optimis Orang yang memiliki sifat optimis mampu: a) Bersikap tekun dalam mengejar cita-citanya meskipun banyak hambatan b) Bekerja atau belajar dengan harapan untuk sukses dan tidak takut gagal, dan berani belajar dari kegagalan.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 e. Membina Hubungan Kemampauan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi (Goleman, 2002: 59). Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan dengan orang lain. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan membina hubungan ini akan sukses dalam bidang-bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada orang lain. Orang- orang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi teman yang menyenangkan karena kemampuannya berkomunikasi (Goleman, 2002: 59). Ramah tamah, baik hati, hormat dan disukai orang lain dapat dijadikan petunjuk positif bagaimana siswa mampu membina hubungan dengan orang lain. Sejauh mana keribadian siswa-siswi berkembang dilihat dari banyaknya hubungan interpersonal yang dilakukannya. Menurut Goleman (2002: 404 - 405) orang yang memiliki kemampuan membina hubungan yang tinggi cenderung atau memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Lebih baik dalam menyelesaikan pertikaian dan merundingkan persengketaan

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 2) Lebih baik dalam menyelesaikan persoalan yang timbul dalam hubungan 3) Lebih tegas dan tampil dalam berkomunikasi 4) Lebih populer dan mudah bergaul, bersahabat dan terlibat dengan teman sebaya 5) Lebih dibutuhkan oleh teman sebaya 6) Lebih menuruh perhatian dan bertenggang rasa 7) Lebih memikirkan kepentingan sosial dan selaras dalam kelompok 8) Lebih suka berbagi rasa, bekerjasama, dan suka menolong 9) Lebih demokratis dalam bergaul dengan orang lain 5. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional Menurut Goleman (2002: 57) faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional adalah sebagai berikut: a. Faktor internal Faktor internal adalah faktor yang berasal dari indvidu sendiri. Faktor internal dipengaruhi oleh keadaan otak emosional seseorang. Mula-mula pesan yang diterima melalui indra, seperti pengelihatan, pendengaran, penciuman, dan lain-lain dicatat oleh bagian struktur otak yang disebut amygdala, bagian struktur otak yang paling banyak berurusan dengan pengolahan dan penyimpanan data kenangan emosional. Pesan-pesan itu kemudian

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 masuk dan diolah oleh bagian struktur otak yang disebut neocortex, bagian struktur otak yang berurusan dengan proses kegiatan rasional. Karena itu ketika menghadapi sesuatu terlebih dahulu bereaksi secara emosional, sebelum disadari sepenuhnya oleh rasio. Kecerdasan emosional yang tinggi akan membantu untuk menjaga hubungan komunikasi terbuka. Ini akan membuat orang mampu menguasai diri, memahami emosi orang lain secara empatik, dan menyesuaikan diri dengan emosi orang lain atau lingkungan yang dihadapi (Goleman, 2000: 23-25). b. Faktor eksternal Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar diri individu dan memepengaruhi individu untuk mengubah sikap. Gottman dan De Claire, (2003) berpendapat bahwa faktor eksternal yang mempengaruhi kecerdasan emosional adalah: 1) Keluarga Keluarga merupakan sekolah yang pertama mempelajari untuk mempelajari emosi. Orang tua merupakan pelatih emosi anak pertama kali. Orang tua sebagai pelatih emosi, tidak cukup hanya bersikap hangat dan positif saja, karena sikap demikian belum berarti mengajarkan kecerdasan emosional, mengingat biasanya orangtua tidak mampu secara efektif mengatasi perasaan-perasaan negative anak mereka. Gottman dan De Claire (2003: 4-5) mengidentifikasikan tiga tipe orangtua yang

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 gagal mengajarkan kecerdasan emosional kepada anak-anak mereka, yaitu: a) Orangtua yang mengabaikan, yang tidak menghiraukan, menganggap sepi, atau meremehkan emosi-emosi negative anak mereka. b) Orangtua yang tidak menyetujui, yang bersifat kritis terhadap ungkapan perasan-perasaan negative anak mereka, dan baranggkali memarahi atau menghukum mereka, karena mengungkapkan emosinya. c) Orangtua Laisse-Faire, menerima emosi anak mereka dan berempati dengan mereka, tetapi tidak memberikan bimbingan atau menentukan batas-batas pada tingkah laku anak mereka. Orangtua sebagai pelatih emosi, seharusnya menerima kesedihan anaknya, menolong memberi nama emosi itu, membiarkan mengalami perasaan-perasaannya, dan mendampingi sewaktu menangis, tidak memarahi apabila anaknya sedih. Menurut Prasetyo (2003: 27) pola pengasuhan yang demokratis diterapkan oleh orangtua yang menerima kehadiran anak dengan sepenuh hati serta memiliki pandangan atau wawasan kehidupan masa depan dengan jelas. Mereka tidak hanya memikirkan masa kini, tetapi memahami bahwa masa depan harus dilandasi oleh tindakan-tindakan masa kini.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 Menurut Prasetyo orangtua yang demokratis tidak ragu-ragu dalam mengendalikan anak, berani menegur anak bila berprilaku buruk. Mereka mengarahkan perilaku anak sesuai dengan kebutuhan anak agar memiliki sikap, pengethauan, dan keterampilan yang dibutuhkan anak untuk mengarungi hidup dan kehidupan dimasa mendatang. 2) Pengalaman Pengalaman hidup juga mempengaruhi emosi (Albin, 1986: 90) pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman mengungkapkan emosi, misalnya anak perempuan boleh mengungkapkan rasa takut, tetapi anak laki-laki diharapkan tidak menyatakan perasaan tersebut, sebaliknya rasa marah dan perlawanan boleh dinyatakan oleh anak laki-laki. Pengalaman dengan orangtua, teman-teman, guru-guru mempengaruhi watak asli kita dan mejadikan kita orang yang unik dalam mengalami emosi, dalam mengungkapkannya dan dalam keterbukaan terhadap orang lain. 3) Lingkungan Mangunhardjana (1986: 13) mengungkapkan bahwa perkembangan emosi Nampak pada gairah remaja yang meledak-ledak, munculnya reaksi adaptis, keras kepala dan perbuatan yang kurang sopan. Dengan adanya keadaan emosi remaja yang belum stabil tersebut, diharapkan adanya toleransi

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 dari lingkungan terhadap remaja itu sendiri. Lingkungan (khususnya lingkungan sosial) mempunyai pengaruh cukup besar bagi perkembangan kepribadian orang. Pencapaian kematangan emosi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dimana remaja berada, baik lingkungan sekolah, maupun masyarakat. Lingkungan yang harmonis akan mendukung remaja dalam pencapaian kematangan emosi, sebaliknya lingkungan yang kurang mendukung akan membuat remaja mengalami kegelisahan, kecemasan, sikap apatis, sehingga sulit untuk mencapai kematangan. 6. Langkah- langkah Meningkatkan Kecerdasan Emosional Kecerdasan emosional dapat ditingkatkan melalui berbagai usaha, langkah-langkah yang ditempuh menurut Gottman dan De Claire (2003: 102-105) adalah sebagai berikut: a. Menyadari emosi-emosi remaja b. Mengakui emosi sebagai peluang untuk kedekatan dan mengajar c. Mendengarkan dengan empatik d. Menyebutkan nama emosi e. Membantu menemukan solusi B. Siswa- Siswi Remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen 1. Ciri- ciri Masa Remaja

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Hurlock (1997) berpendapat bahwa masa remaja dibagi menjadi dua bagian yaitu masa remaja awal (dimulai dari usia 13 tahun sampai dengan 16 atau 17 tahun), dan masa remaja akhir (di mulai dari usia 17 tahun sampai 18 tahun). Sejalan dengan pembagian tahap-tahap masa remaja seperti yang dikemukakan oleh Hurlock (1997). Siswa-siswi remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen termasuk remaja awal yang berumur 13-16 tahun, dan remaja akhir yaitu berumur 17-18 tahun. Remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen memiliki cirri-ciri yang Nampak dalam sikap dan prilakunya. Ciri-ciri remaja menurut Mangunhardjana (986: 12) adalah sebagai berikut: a. Pertumbuhan fisik b. Perkembangan emosional c. Perkembangan intelektual d. Perkembangan sosial e. perkembangan agama Masa remaja merupakan salah satu masa dalam rentang kehidupan manusia yang memberikan kesempatan kepada orang untuk mencoba gaya hidup baru. Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa (Sarwono, 1988: 51). Masa remaja merupakan masa yang paling penting karena individu harus mempersiapkan diri menjadi individu yang dewasa, yang tidak lagi sepenuhnya tergantung pada

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 orang tua, dan berani bertanggung jawab sebagai anggota keluarga (Gunarsa, 1990). 2. Tugas Perkembangan Masa Remaja Setiap fase perkembangan perkembangan yang harus manusia, diselesaikan. memiliki Hurlock tugas-tugas (1994: 10) mengemukakan bahwa tugas-tugas perkembangan remaja meliputi: a. Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita. Adanya kemampuan dalam menjalin relasi membuat remaja maupun bekerjasama dengan yang lain b. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita. Ini berarti bahwa remaja perlu belajar agar mampu memegang tanggung jawab sebagai pria dan wanita sesuai dengan jenis kelamin. c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif, artinya remaja diharapkan mempu mengenal dirinya, baik kelebihan aupun kekurangan yang dimilikinya,sekaligus mampu menerima keberadaannya. d. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab, artinya remaja mampu mengembangkan tugas-tugas dalam keluarga dan sekaligus dalam masyarakat. e. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orangorang dewasa lainnya, artinya remaja diharapkan mampu bersikap mandiri dan bertanggung jawab atas dirinya.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 Kemandirian remaja dapat dilihat dari ketidak tergantungannya pada orangtua dan orang dewasa lainnya, misalnya dalam mengambil keputusan. Kemandirian emosional merupakan salah satu perkembangan remaja. f. Mempersiapkan karier, artinya remaja sudah mulai mengenal kemampuan dan keterbatasan dirinya sebagai pribadi dan mulai memikirkan serta merencanakan kerir yang sesuai bagi dirinya. g. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga, artinya remaja belajar untuk mengetahui seluk beluk berkeluarga, memikirkan, merencanakan masa depan, dan mampu memutuskan pilihan hidupnya. h. Memproleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berprilaku dalam hidupnya, artinya remaja belajar agar mampu memilih mana yang penting dan mana yang tidak penting. 3. Pengertian Panti Asuhan Panti Asuhan adalah lembaga kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada anak terlantar serta melaksanakan penyantunan dan pengentasan anak terlantar melalui pelayanan pengganti atau perwalian anak dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental dan sosial pada anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas, tepat dan memadai bagi perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 sebagai bagian generasi cita-cita bangsa dan sebagai insan yang turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional (Departemen Sosial RI, 1995). C. Bimbingan Pribadi Sosial Bimbingan mengandung arti bantuan atau pelayanan, artinya bimbingan itu terjadi karena adanya kesukarelaan dari pembimbing dan yang dibimbing. (Winkel, 2010: 66) mengatakan bahwa bimbingan adalah proses membantu orang-orang untuk memahami dirinya dan dunianya. Senada dengan Prayitno dkk (1997: 23) mendefenisikan bimbingan di sekolah sebagai bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan diri pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan. Rachman Natawidjaja (Winkel, 2010: 67) mengartikan bimbingan sebagai proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat. Ini berarti bahwa bimbingan itu dilaksanakan dalam rentang waktu yang relatif panjang, tidak hanya sepintas, sewaktu-waktu, tetapi dilakukan secara sistematis, terencana dan memiliki program.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Bimbingan pribadi-sosial yang diberikan di jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi sebagian disalurkan melalui bimbingan kelompok dan sebagian lagi melalui bimbingan individual, serta mengandung unsur-unsur sebagai berikut: 1. Informasi tentang fase atau tahap perkembangan yang sedang dilalui oleh siswa remaja dan mahasiswa, antara lain tentang konflik batin yang timbul dan tentang cara bergaul yang baik. Termasuk di sini apa yang disebut sex education, yang tidak hanya mencakup penerangan seksual, tetapi juga corak pergaulan antara jenis kelamin. 2. Penyadaran akan keadaan masyarakat dewasa ini yang semkin berkembang ke arah masyarakat modern, antara lain ciri- ciri kehidupan modern, dan apa makna ilmu pengetahuan serta teknologi bagi kehidupan masyarakat. 3. Pengetahuan diskusi kelompok mengenai kesulitan yang dialami oleh kebanyakan siswa dan mahasiswa, misalnya menghargai orang tua yang taraf pendidikannya lebih rendah daripada anak-anaknya. Khususnya siswa remaja dapat merasa lega bila dia menyadari bahwa teman-temannya mengalami kesulitan yang sama; dia lalu tidak akan memandang dirnya sebagai orang abnormal. 4. Pengumpulan data yang relevan untuk mengenal kepribadian siswa, misalnya sifat kepribadian yang tampak dalam tingkah laku, latar belakang keluarga dan keadaan kesehatan.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 D. Pelayanan Bimbingan di Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen Pelayanan bimbingan di Panti Asuhan sangat penting untuk membantu siswa-siswi menjadi pribadi yang lebih dewasa dan dapat mengatur hidupnya sendiri. Pelayanan bimbingan di panti asuhan perlu dikembangkan melihat bahwa banyak remaja yang masih membutuhkan pendampingan dalam tahap perkembangannya. Seorang pembimbing di panti asuhan dapat memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk memberikan layanan bimbingan. Misalnya untuk mengembangkan kecerdasan emosional setiap individu. Salah satu cara yang dapat mendukung terciptanya kerukunan, keharmonisan di panti asuhan adalah bersikap empati. Empati adalah kemampuan untuk menyadari, memahami, dan menghargai perasaan dan pikiran orang lain (Stein dan Book, 2002). Orang yang empati adalah orang yang mampu membaca sudut pandang emosi orang lain.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini diuraikan jenis penelitian, subjek penelitian, instrumen penelitian, prosedur pengumpulan data, dan teknik analisis data. A. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Menurut Furchan (1982: 447) penelitian deskriptif dirancang untuk memproleh informasi tentang status gejala saat penelitian dilakukan. Peneliti menggunakan penelitian deskriptif karena peneliti ingin memproleh gambaran tentang kecerdasan emosional siswa-siswi remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen. B. Subjek Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian populasi karena semua anggota menjadi subjek penelitian. Populasi penelitian ini adalah Siswa-siswi SMP dan SMA Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen. Siswa SMP berjumlah 18 dan SMA berjumlah 14. Berdasarkan data yang diproleh dari pengasuh Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen, sebaran anggota subjek penelitian adalah seperti yang disajikan dalam tabel 1. Tabel 1 Subjek Penelitian Kelas Kelas 1-3 SMP Kelas 1-3 SMA Total Jumlah Siswa 18 14 32 36

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Adapun alasan memilih Panti Asuhan Pondok Harapan Diakoni Bawen sebagai subjek penelitian karena: 1) Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen mempunyai banyak siswa-siswi remaja, di mana remaja sering menghadapi berbagai permasalahan yang penyelesiannya membutuhkan kecerdasan emosional. 2) Hasil dari penelitian ini dapat ditindaklanjuti sebagai acuan memberikan layanan bimbingan kepada siswa-siswi remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen. 3) Hasil dari penelitian ini dapat meningkatkan kualitas dan mutu pembinaan Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen. 4) Lebih mudah mengurus surat ijin untuk penelitian karena peneliti sudah pernah KKN di panti asuhan pondok harapan diakonia bawen C. Alat Pengumpulan Data 1. Jenis alat ukur Penelitian ini menggunakan alat pengumpulan data berupa kuesioner kecerdasan emosional. Kuesioner adalah sekumpulan daftar pertanyaan tertulis yang diberikan pada subjek penelitian. Kuesioner ini disusun sendiri oleh peneliti. Bentuk kuesioner yang digunakan yaitu kuesioner tertutup. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga responden siap memilih jawaban yang telah disediakan oleh peneliti.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Adapun alternatif jawaban yang disediakan oleh peneliti yaitu, selalu, sering, kadang-kadang, dan tidak pernah. Alternatif jawaban dibuat hanya empat dengan maksud untuk menghilangkan kelemahan dalam tingkat tiga (alternatif tengah/ netral). 2. Penentuan skor Penentuan skor untuk setiap jawaban dari item-item pernyataan adalah sebagai berikut: No 1. 2. 3. 4. Pertanyaan bersifat positif Pilihan Skor Selalu 4 Sering 3 Kadang-kadang 2 Tidak pernah 1 Pertanyaan bersifat negatif pilihan Skor Selalu 1 Sering 2 Kadang-kadang 3 Tidak pernah 4 Siswa diminta untuk memilih satu dari empat alternatif jawaban yang disediakan peneliti pada setiap pernyataan dengan cara memberi tanda centang (√) pada kolom alternatif jawaban. Semakin tinggi skor total item yang bersifat favorable, maka semakin tinggi pula kecerdasan emosional siswa, sebaliknya semakin tinggi skor total item yang bersifat unfavorable, maka semakin rendah kecerdasan emosional siswa. 3. Kisi-kisi Kuesioner Kisi-kisi yang mengungkapkan aspek keserdasan emosional disajikan dalam tabel 2.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Tabel 2 Kisi-kisi Kuesioner Tingkat Kecerdasan Emosional Nomor Item No Aspek- Indikator Favorable Unfavorable Jlh aspek 1. 2. 3. 4. 5. Mengenali a.Kesadaran emosi 3, 4, 5 1, 2 5 Emosi b.Penilaian diri 8, 9 7, 6 4 Sendiri c.Dapat Dipercaya 10 11 2 Mengelola a.Mengendalikan emosi sendiri 12, 13 14 3 Emosi b.Dapat dipercaya 15, 16 17 3 Memotivasi a.Dorongan untuk berprestai 18, 19 20, 21 4 diri lain b.Memiliki komitmen 24, 25 22, 23 4 c.Memiliki inisiatif 28, 29 26, 27 4 d.Optimis 30, 33 31 3 Mengenali a.Mampu menerima sudut pandang orang lain 35, 36 32, 34 4 emosi orang b.Mampu berempati dan peka terhadap perasaan orang lain 38, 39, 40 37 4 lain c.Mampu mendengarkan orang lain 43, 44 41, 42 4 Membina a.Mampu menyelesaikan persoalan yang timbul dalam hubungan dengan orang lain 46, 47 45 3 Hubungan b.Mampu bergaul dengan siapa saja dengan bertenggang rasa 49, 50 48, 51 4 52, 55, 56 53, 54 5 c.Mampu bekerjasama dengan suka menolong TOTAL 56

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 4. Uji coba alat Sebelum kuesioner digunakan untuk penelitian, terlebih dahulu akan diuji cobakan untuk mendapatkan keterangan mengenai kuesioner tersebut. Pengujian alat ukur dilakukan untuk mengetahui tingkat validitas dan reliabilitas alat ukur yang digunakan, sehingga diperoleh kelayakan sebagai alat ukur dan dapat mengungkapkan hal yang ingin diteliti. Disini peneliti menggunakan uji coba terpakai. Adapun alasan peneliti memakai uji coba terpakai karena keterbatasan waktu, sehingga peneliti tidak dapat melakukan uji coba. Selain itu peneliti kesulitan menemukan panti asuhan yang memiliki banyak anak remaja. Jika melakukan penelitian di panti asuhan yang lain maka hasilnya akan jauh berbeda karena pola asuh yang mereka terima berbeda dengan panti asuhan yang lainnya. Uji coba dilaksanakan di Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen pada hari Senin 9 Juni 2014. Responden adalah semua siswa-siswi remaja yang berjumlah 33 orang. Peneliti akan terlebih dahulu memberi salam pengantar dan memberikan penjelasan petunjuk pengisian kuesioner dan setelah itu peneliti membagikan kuesioner dan juga memberikan kesempatan kepada responden serta menanyakan hal-hal yang belum jelas. Proses pengisian kuesioner berlangsung kurang lebih 20 menit.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 5. Validitas Validitas merupakan derajad ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan yang dapat dilaporkan oleh peneliti (Sugiyono, 2010:363). Menurut Azwar (2009:5) validitas mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu instrumen dikatakan valid jika instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur. Validitas merupakan dukungan bukti dan teori terhadap penefsiran skor tes sesuai dengan tujuan penggunaan tes. Oleh karena itu validitas merupakan fundamen paling dasar dalam mengembangkan dan mengevaluasi suatu tes. Validitas adalah penafsiran skor tes seperti yang tercantum pada tujuan penggunaan tes, bukan tes itu sendiri. Apabila skor tes digunakan ditafsirkan lebih dari satu makna, setiap penafsiran atau pemaknaan harus valid. Validitas yang diuji untuk instrumen penelitian ini adalah validitas isi. Validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi alat ukur dengan analisis rasional dengan cara professional judgement (Azwar 2011:45). Menurut Ary, Jacobs, dan Razavieh (2007:296) validitas isi tidak dapat dinyatakan dengan angka namun pengesahannya berdasarkan pertimbangan yang diberikan oleh ahli (expert judgement). Dalam penelitian ini, instrumen penelitian

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 dikonstruksi berdasarkan aspek-aspek yang akan diukur dan selanjutnya dikonsultasikan pada ahli (dosen pembimbing). Hasil konsultasi yang dilakukan oleh ahli dilengkapi dengan pengujian empirik dengan cara mengkorelasikan skor-skor setiap item instrumen terhadap skor-skor total aspek dengan teknik korelasi Spearman's rho menggunakan aplikasi program komputer SPSS for Window. Rumus korelasi Spearman's rhoadalah sebagai berikut : Keterangan : Keputusan ditetapkan dengan nilai koefisien validitas yang minimal sama dengan 0,30 (Azwar, 2007:103). Apabila terdapat item yang memiliki nilai koefisien dibawah 0,30 maka item tersebut dinyatakan gugur. Adapun rincian item yang valid dan gugur dapat dilihat pada tabel 3.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Tabel 3 Rincian Item yang Valid dan Gugur No 1. 2. 3. 4. 5. Aspek Indikator Mengenali Emosi Sendiri a.Kesadaran Emosi b.Penilaian Diri c.Dapat Dipercaya Mengelola a.Mengendalikan Emosi Sendiri Emosi b.Dapat di percaya Memotivasi a.Dorongan untuk berprestai diri sendiri b.Memiliki komitmen c.Memiliki inisiatif d.Optimis Mengenali a.Mampu menerima sudut pandang emosi orang orang lain lain b.Mampu berempati dan peka terhadap perasaan orang lain c.Mampu mendengarkan orang lain Membina a.Mampu menyelesaikan persoalan Hubungan yang timbul dalam hubungan dengan orang lain b.Mampu bergaul dengan siapa saja dengan bertenggang rasa c.Mampu bekerjasama dengan suka menolong TOTAL Favorable Unfavorable Item Valid Item Gugur 3, 4, 5 8, 9 10 12, 13 15, 16 18, 19 24, 25 28, 29 30, 33 35, 36 1, 2 7, 6 11 14 17 20, 21 22, 23 26, 27 31 32, 34 3,4,5,1,2 9,7,6 10,11 12,13 15,16,17 18,19,20,21 24,25,22,23 28,29,26 30,31,33 35,36,32,34 8 14 27 - 38, 39, 40 37 38,39,40,37 - 43, 44 46, 47 41, 42 45 41,42 46, 47 43,44 45 49, 50 48, 51 49, 50,48, 51 - 52, 55, 56 53, 54 52,55,56,53, 54 50 6

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 6. Reliabilitas Reliabilitas artinya adalah tingkat kepercayaan hasil pengukuran (Azwar, 2007). Pengukuran yang mempunyai reliabilitas tinggi yaitu yang mampu memberikan hasil ukur yang terpercaya, disebut sebagai reliabel (Azwar, 2007:176). Sukardi (2003: 127) mengatakan bahwa pengukuran yang menggunakan instrumen penelitian dikatakan mempunyai nilai reliabilitas yang tinggi, apabila alat ukur yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur apa yang hendak diukur. Perhitungan indeks reliabilitas kuesioner penelitian ini menggunakan pendekatan koefisien Alpha Cronbach (α). Adapun rumus koefisien reliabilitas Alpha Cronbach (α) adalah sebagai berikut: α = 2[1- ] Keterangan rumus : S12 dan S22 : varians skor belahan 1 dan varians skor belahan 2 Sx2 : varians skor skala Hasil perhitungan indeks reliabilitas dikonsultasikan dengan kriteria Guilford (Masidjo, 1995: 209). Tabel 4 Kriteria Guilford No 1 2 3 4 5 Koefisien Korelasi 0,91 – 1,00 0,71 – 0,90 0,41 – 0,70 0,21 – 0,40 negatif – 0,20 Kualifikasi Sangat tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Dari hasil uji coba empirik kepada siswa remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen pada tanggal 9 Juni 2014 dengan jumlah subjek 32 siswa, diperoleh perhitungan koefisien reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0.853. Berdasarkan peninjauan terhadap hasil perhitungan koefisien reliabilitas pada kriteria Guilford, dapat disimpulkan bahwa koefisien reliabilitas instrumen masuk dalam kriteria tinggi. D. Pengumpulan Data Berikut ini adalah tahap-tahap yang ditempuh dalam pengumpulan dan analisis data: 1. Menyusun kuesioner kecerdasan emosional 2. Revisi kuesioner yang telah di koreksi oleh Dosen Pembimbing 3. Pengumpulan data penelitian yang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada siswa SMP dan SMA Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen. 4. Analisis data penelitian E. Teknik Analisis Data Sugiyono (2011: 207) mengatakan bahwa analisis data merupakan kegiatan mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, serta melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah. Berikut merupakan langkah-langkah teknik analisis data yang ditempuh dalam penelitian ini:

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 1. Menentukan skor dan pengolahan data Penentuan skor pada item kuesioner dilakukan dengan cara memberikan nilai dari angka 1 sampai 4 berdasarkan norma skoring yang berlaku dengan melihat sifat pernyataan favorable atau unfavorable, selanjutnya memasukkannya ke dalam tabulasi data dan menghitung total jumlah skor subjek serta jumlah skor item. Tahap selanjutnya adalah menganalisis data secara statistik menggunakan program aplikasi SPSS. 2. Menentukan kategori Pengkategorian tingkat kecerdasan emosional siswa-siswi remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia disusun berdasarkan model distribusi normal. Tujuan kategorisasi ini adalah menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang menurut suatu kontinum berdasarkan atribut yang diukur (Azwar, 2009: 107 ). Kontinum jenjang pada penelitian ini adalah dari sangat rendah sampai dengan sangat tinggi. Norma kategorisasi disusun berdasar kriteria Azwar (2009:108) yang mengelompokkan distribusi data ke dalam lima kategori: sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi dengan norma kategorisasi sebagai berikut: Tabel 5 Norma Kategorisasi Tingkat Kecerdasan Emosional Siswa-siswi Remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen Norma/Kriteria Skor Kategori

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 X≤ µ -1,5σ µ - 1,5 σ
(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Tabel 6 Norma Kategorisasi Tingkat Kecerdasan Emosional Siswa-Siswi Remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Norma/Kriteria Skor X≤ µ -1,5σ µ - 1,5 σ
(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini memuat hasil penelitian dan pembahasan. Penyajian hasil penelitian di dasarkan pada rumusan masalah. A. Hasil Penelitian 1. Tingkat kecerdasan emosional pada siswa-siswi remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen Berdasarkan perolehan data penelitian yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner kecerdasan emosional, dilakukan analisis data dengan teknik deskriptif kategoris dan persentase yang disajikan dalam tabel 8 dan dalam grafik 1. Tabel 8 Kategorisasi Tingkat Kecerdasan Emosional pada Siswa siswi remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen Kriteria Skor Kategori 164
(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 Tingkat Kecerdasan Emosional Siswa-siswi Remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen 5 4 3 2 1 0 Sangat Tinggi Sangat Tinggi Tinggi Tinggi Sedang Sedang Rendah Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Grafik 1. Grafik Tingkat Kecerdasan Emosional Siswa-siswi Remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen Pengamatan pada tabel maupun grafik menunjukkan: a. Terdapat 3 siswa (9%) yang memiliki kecerdasan emosional sangat tinggi. b. Terdapat 21 siswa (66%) yang memiliki kecerdasan emosional tinggi. c. Terdapat 7 siswa (22%) yang memiliki kecerdasan emosional sedang. d. Terdapat 1 siswa (3%) yang memiliki kecerdasan emosional rendah.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 e. Tidak terdapat siswa (0%) yang memiliki kecerdasan emosional sangat rendah. Jadi, sebagian besar siswa-siswi remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen memiliki tingkat kecerdasan emosional sedang (22%) dan tinggi (66%). 2. Skor item kecerdasan emosional pada siswa-siswi Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen. Tabel 9 Kategori Skor Item Kecerdasan Emosional pada Siswa-siswi Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen Rentang Skor < 116 Kategori Sangat Tinggi No Item 16 Jumlah 1 94-115 Tinggi 24 72- 93 Sedang 50- 71 < 49 Rendah Sangat Rendah 4,5,6,8,9,13,15,22,23,29,31,32,33,34,3 5,36,37,43,44,46,47,48,49,50 1,2,3,7,10,11,12,14,17,18,19,20,21,24, 25,26,27,28,38,39,40,41,42,45 30 Total 24 1 0 50 Data yang terdapat dalam tabel di atas menunjukkan bahwa item dengan skor yang berada dalam kategori sangat tinggi berjumlah 1 item, item dengan skor yang berada dalam kategori tinggi berjumlah 24 item, item dengan skor yang berada dalam kategori sedang berjumlah 24 item, item yang berada dalam kategori rendah 1 item, dan tidak ada satupun item yang berada dalam kategori sangat rendah. Oleh karena itu, item-item kecerdasan emosional yang teridentifikasi dalam kategori rendah

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 digunakan menjadi dasar untuk merumuskan usulan topik-topik bimbingan pribadi-sosial, khususnya dalam upaya peningkatan kecerdasan emosional siswa. B. Pembahasan Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang tergambar dalam tabel 8, terdapat 3 siswa (9%) memiliki tingkat kecerdasan emosional dalam kategori sangat tinggi. Terdapat 21 siswa (66 %) memiliki tingkat kecerdasan emosi dalam kategori tinggi. Terdapat 7 siswa (22%) memiliki tingkat kecerdasan emosional dalam kategori sedang. Terdapat 1 siswa (3%) memiliki tingkat kecerdasan emosional dalam kategori rendah serta tidak ada siswa yang memiliki tingkat kecerdasan emosional dalam kategori sangat rendah. Berdasarkan paparan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswasiswi Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen memiliki tingkat kecerdasan emosional sedang dan tinggi. Berdasarkan pengamatan yang diperoleh peneliti pada pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan Bimbingan dan Konseling di Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen selama satu bulan, tampak perilaku yang mengindikasikan bahwa siswa-siswi tersebut memiliki kecerdasan emosional yang rendah. Namun hasil penelitian menyebutkan bahwa sebagian besar siswa-siswi tersebut memiliki kecerdasan emosional yang sedang. Ada berbagai kemungkinan bahwa

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 sebagian besar siswa- siswi remaja tersebut ketika mengalami emosi hanya emosi sesaat dan setelah mengalami emosi tersebut mereka akan lupa penyebab emosi tersebut. Pengalaman-pengalaman yang membuat mereka emosi juga mungkin hanya sesaat. Sehingga tidak sulit bagi mereka untuk meredakan emosi mereka. Menurut Hurlock 1997:213 (Jurnal Lusi 09-09-13) masa remaja dikatakan sebagai masa teransisi, sebagai priode peralihan, sebagai priode perubahan, sebagai usia bermasalah, sebagai masa mencari identitas sebagai usia yang menimbulkan ketakutan, sebagai masa yang tidak realistik dan sebagai ambang masa dewasa, karena belum mempunyai pegangan sementara kepribadiannya masih mengalami suatu perkembangan, remaja masih belum mampu menguasai fungsifungsi fisiknya. Remaja masih labil dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya, sehingga diproleh suatu gambran yang jelas tentang dirinya supaya remaja bisa menjalankan apa yang sudah didapatkannya. Dalam melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan, semua orang mempunyai kakuatan dan keinginan yang berbeda-beda. Salah satu faktor yang membuat seseorang dapat melakukan apa yang dia inginkan adalah ketika ia dapat memiliki kecerdasan emosional yang baik, serta dapat menyesuaikan diri di lingkungan tempat dia berada. Selain faktor tersebut ada dua faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosional, yaitu:

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 1. Faktor internal Faktor internal adalah faktor yang berasal dari indvidu sendiri. Faktor tersebut dipengaruhi oleh keadaan otak emosional seseorang. Mula-mula pesan yang diterima melalui indra, seperti pengelihatan, pendengaran, penciuman, dan lain-lain dicatat oleh bagian struktur otak yang disebut amygdala, bagian struktur otak yang paling banyak berurusan dengan pengolahan dan penyimpanan data kenangan emosional. Kecerdasan emosional yang tinggi akan membantu untuk menjaga hubungan komunikasi. Ini akan membuat orang mampu menguasai diri, memahami emosi orang lain secara empatik, dan menyesuaikan diri dengan emosi orang lain atau lingkungan yang dihadapi (Goleman, 2000: 23-25). 2. Faktor eksternal Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar diri individu dan memepengaruhi individu untuk mengubah sikap. Siswa yang mengalami peningkatan kecerdasan emosional karena mendapatkan model yang mampu meningkatkan kecerdasan emosional mereka. Orang-orang yang mampu memberikan penguatan tersebut adalah selain diri sendiri atau teman adalah pimpinan di panti asuhan, pengasuh-pengasuh di panti asuhan dan guru mereka di sekolah dan orang-orang di sekitar mereka

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mungkin mempunyai fisik yang lebih baik. Fisik yang baik dan sehat lebih mampu menerima diri dan mengelola kecerdasan emosional lebih baik. Selain itu siswa tersebut juga mempunyai emosi yang positif. Emosi sungguh berperan dalam meningkatkan kualitas hasil atas unjuk kerja yang dilakukan siswa. Siswa yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi biasanya memiliki sifat yang sabar, teliti, tenang, dan tidak terburu-buru dalam mengerjakan tugas. Begitu juga dengan pengolahan terhadap emosi mereka, ketika mengalami masalah, marah terhadap sesuatu hal, marah kepada orang lain mereka akan lebih cenderung bisa mengontrol emosi. Tinggi atau rendahnya kecerdasan emosional siswa dapat dipengaruhi oleh gaya pola asuh terhadap anak. Gaya pola asuh anak yang tinggal di panti asuhan bermacam-macam. Banyak pengasuh yang menangani setiap anak yang berbeda- beda dalam setiap karakternya serta penangananya. Begitu juga sebaliknya anak- anak di panti asuhan menerima didikan dan pengajaran yang berbeda setiap harinya. Siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mungkin banyak belajar dari pengalaman-pengalaman yang di alami setiap hari. C. Usulan Topik- topik Bimbingan Pribadi Sosial Berdasarkan hasil penelitian, diusulkan topik bimbingan pribadi sosial berdasarkan skor butir yang teridentifikasi rendah.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Adapun usulan topik-topik bimbingan yang akan diusulkan adalah sebagai berikut:

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Tabel 10 Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi Sosial untuk peningkatan Kecerdasan Emosional bagi Siswa- siswi remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen No Aspek Sub No. Item Aspek Topik Motivasi belajar 30. Saya 2 diri sendiri Indikator Sumber Siswa mampu a. Siswa dapat menjelaskan arti dari motivasi belajar meningkatkan b. Siswa dapat menjelaskan jenis-jenis dan fungsi prestasi motivasi belajar belajarnya c. Siswa dapat menjelaskan manfaat motivasi belajar a. Tanya jawab Priyitno, Elida. 1989. Motivasi dalam Belar. Jakarta: P2LPTK Siswa mampu a. Siswa dapat menjelaskan pengertian minat belajar belajar dengan b. Siswa dapat menyebutkan dan baik menjelaskan faktorfaktor yang mempengaruhi minat belajar c. Siswa dapat menjelaskan keuntungan memimiliki minat belajar a. Tanya jawab Bimbingan 1 Memotivasi Metode Tujuan Optimis belajar setiap hari walaupun tidak ada PR Minat belajar b. Menonton Film Insfiratif b. Sharing c. Evaluasi Slameto. 2003, Belajar dan Faktor-faktor yang Memoengaruhiny a. Jakarta:Rineka Cipta

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini dikemukakan kesimpulan dan saran. A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa: 1. Tingkat kecerdasan emosional Siswa-siswi remaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen sedang sehingga masih perlu ditingkatkan. 2. Sebagian besar siswa-siswi memiliki kecerdasan emosi sedang sehingga hal ini akan berpengaruh pada pembinaan relasinya dengan orang lain. 3. Siswa yang memiliki kecerdasan emosional sangat tinggi hanya sebagian kecil saja. Dari hasil penelitian tersebut diusulkan beberapa topik-topik bimbingan yang sesuai untuk mengembangkan kecerdasan emosional mereka di Panti Asuhan antara lain: 1. Memotivasi diri sendiri 2. Memotivasi orang lain 57

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 B. Saran-saran Dari hasil penelitian berikut akan dikemukakan saran-saran untuk berbagai pihak. 1. Pemimpin Panti Asuhan dan Pendamping a. Pimpinan Panti Asuhan dan Pendamping hendaknya memberikan perhatian kepada pengembangan kecerdasan emosional siswa-siswi di Panti Asuhan, di antaranya menciptakan kondisi lingkungan yang kondusif. b. Mengingat banyaknya tanggung jawab yang diberikan kepada pendamping Panti Asuhan serta kompleknya berbagai persoalan, dan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti kiranya perlu diadakan seorang tenaga profesional dalam bidang bimbingan dan konseling. Tenaga profesional ini bertugas untuk memberikan bimbingan kepada siswa-siswi di Panti Asuhan untuk meningkatkan kecerdasan emosional mereka. 2. Peneliti Lain Mengingat pentingnya kecerdasan emosional, diharapkan peneliti lain mau mengembangkan penelitian yang lebih mendalam tentang masing-masing aspek- aspek kecerdasan emosional.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Albin, Rochelle Sammel. 1986. Emosi Bagaimana Mengenal, Menerima, dan Mengarahkannya. Yogyakarta: Kanisius. Ali, Mohamad. 2011. Psikologi Remaja. Jakarta: Bumi Aksara. Ary D, Jacobs, L.C., dan Razavieh, A. 2007. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Diterjemahkan oleh Arief Furchan, judul buku asli tidak disebutkan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, Saifudin. 2000. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta. Pustaka Belajar Azwar, Saifudin. 2007. Sikap Manusia Ed. 2. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Azwar, Saifudin. 2009. Penyusunan Skala Psikologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Brian S. Friedlander, dkk. 2002. Cara-cara Efektif Mengasah EQ Remaja. Bandung. Kaifa Douglas, Mack R. 1990. Menuju Puncak Prestasi. Yogyakarta: Kanisius. Furchn, Arief. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional. Goleman, Daniel. 2000. Emotional Intelligence (terjemahan). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Goleman, Daniel. 2000. Working with Emotional Intelligence (terjemahan). Jakarta: Gramedia Pusta Utama. Goleman, 2002. Emotional Intelligence. Jakarta: Gramedia. Gottman dan De Clarie . 2003. Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional. Jakarta: Gramedia Pustaka. Gottman John & De Clarie. 2008. Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak. Jakarta: Gramedia. 59

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Gunarsa. 1990. Psikologi Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hurlock, Elizabeth B. 1994. Psikologi Perkembangan. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentan Kehidupan (Terjemahan). Jakarta: Erlangga. Hurlock, Elizabeth B. 1997. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga. Http://www.psychologymania.com/2014/13/pengertian-panti-asuhan.html Lusi. http://ejournal.psikologi.fisipunmul.ac.id/2014/05/kecerdasanemosional-dan-penyesuaian-diri.html Maurus . 2007. Mukjizat Emosi. Manfaat Emosi dalam Meraih Kesuksesan. Yogyakarta: Trobadur. Mangunhardjana. 1986. Pendampingan Kaum Muda. Yogyakarta: Kanisius. Masidjo, I. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah.Yogyakarta: Kanisius. Masidjo, I. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah.Yogyakarta: Kanisius. Prasetyo. 2003. Pola Pengasuhan Ideal. Jakarta: Elex Media Komputindo. Prayitno. 1997. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta. Rineka Cipta. Safaria Triantoro & Saputra Nofrans Eka. Manajemen Emosional. Jakarta. Bumi Aksara. Sarwono. Sarlito Wirawan. 1998. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja. Shapiro, Lawrence E. 2001. Mengajarkan Emotional Intellegence pada anak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Stein dan Book. 2002. Ledakan EQ 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses. Bandung. Kaifa.

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan (Kompetensi dan Praktiknya). Jakarta: Bumi Aksara. Winkel & Hastuti. 2010. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogykarta: Media Abadi.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 L A M P I R A N

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 lampiran 1 Kuesioner Kata pengantar Pada kesempatan ini saya mohon kesediaan anda untuk mengisi pernyataan-pernyataan dalam kuesioner ini. Informasi yang anda berikan dalam menjawab kuesioner ini akan di olah dan hasilnya akan digunakan untuk mengembangkan bimbingan dalam kelompok. Oleh karena itu anda diminta untuk menjawab dengan sungguh-sungguh, kuesioner ini bersifat rahasia, oleh karena itu saya mengharapkan anda menjawab dengan jujur sesuai dengan pengalaman sendiri. Atas bantuan anda saya ucapkan terimakasih. Petunjuk: 1. Kuesioner ini terdiri dari 56 item 2. Disebelah kanan setiap item tersedia kolom-kolom berisi alternatif jawaban yang harus dipilih 3. Tugas anda adalah menjawab setiap item dengan cara memilih salah satu dari alternatif jawaban yang tersedia, yaitu: a) Selalu : (SL) b) Sering : (SR) c) Kadang-kadang : (KK) d) Tidak Pernah : (TP)

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 4. Kerjakan pada lembar jawaban dengan cara memberi centang (√) pada kolom sebelah kanan sesuai dengan jawaban yang anda pilih 5. Jangan ada satupun pernyataan yang terlewati

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 ITEM PERNYATAAN NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 9. PERNYATAAN Saya kurang mampu menyadari emosi yang ada dalam diri saya Saya kurang mampu mengelola emosi Saya mampu mengenali emosi yang ada dalam diri saya Saya menyadari ketika energi positif atau negatif yang saya rasakan Saya menyadari penyebab emosi saya Saya menolak keritikan dari teman-teman Saya merasa direndahkan ketika pendapat saya kurang diterima Saya menjadikan kelebihan dan kekurangan saya menjadi motivasi 10. 11. 12. 13. 15. 16. 17. 18. 19. Saya dipercayai oleh teman-teman saya Ketika saya bercerita ada teman yang kurang percaya Ketika marah saya dapat menahan emosi 20. 21. 22. Saya mudah putus asa apabila tujuan saya belum tercapai Saya mudah mengeluh jika mengalami kesulitan Ketika malas megerjakan tugas, saya membiarkannya berlarutlarut Saya suka menunda-nunda pekerjaan Jika memiliki kesulitan dalam belajar saya bertanya kepada teman/guru Saya mengerjakan tugas dengan benar agar memproleh hasil yang baik Saya kurang suka mengerjakan PR jika banyak 23. 24. 25. 26. 28. 29. Ketika marah saya senang melakukan aktivitas diluar Saya mampu menjaga rahasia orang lain Saya bisa menjaga kepercayaan pengasuh kepada saya Saya kurang dipercayai oleh pengasuh panti asuhan Saya yakin dapat meraih cita-cita saya Saya menyelesaikan dengan baik tugas yang diberikan oleh guru Ketika teman saya ijin di sedkolah, saya memberitahukan jika ada PR Ketika saya ijin sekolah, saya berusaha menanyakan PR kepada teman 30. Saya siap sedia jika ada ujian dadakan 31. Saya kurang peka akan setiap kesalahan yang saya perbuat 32. Saya kurang mampu menerima pendapat dari teman saya ALTERNATIF JAWABAN SL SR KK TP

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 33. NO 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. Saya belajar setiap hari walaupun tidak ada PR PERNYATAAN Saya kurang bisa menghargai usulan dari teman saya Saya menghargai pendapat teman-teman saya Saya menghargai usul dan saran teman-teman saya Saya kurang peduli atas apa yang orang lain alami Jika teman saya memiliki masalah saya akan membantu dan mendengarkan curhatannya Saya membantu teman jika dalam kesulitan saya memberi pertolongan kepada orang yang kesusahan Saya kurang suka mendengarkan perintah dari siapapun Saya kurang suka mendengarkan nasehat teman saya Jika ada masalah dengan teman. Saya menyelesaikan dengan baik Saya mengajak teman bicara baik-baik jika ada masalah Saya menghindari orang-orang yang kurang saya sukai Saya berusaha menjadi pribadi yang menyenangkan Saya setia kawan dalam pergaulan Saya kurang suka menyapa orang terlebih dahulu Apabila ada orang membutuhkan, saya senang menawarkan bantuan Saya membiarkan teman saya bekerja sendirian Saya kurang peduli dengan pekerjaan teman saya, karena menurut saya pekerjaan teman bukan pekerjaan saya Saya senang bekerjasama dengan semua orang Saya belum bisa tenang kalau melihat orang lain kesusahan ALTERNATIF JAWABAN SL SR KK TP

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Lampiran 2 Tabulasi Skor Penelitian No Nama/Item 1 abraham 2 jefri 3 rifan 4 maria 5 elisabeth 6 andreas 7 hosea 8 khorin 9 ester 10 reka 11 orlando 12 kaleb 13 rizki 14 tidar 15 rindi 16 hana 17 rustin 18 silvi 19 yohanes 20 riska 21 anjas 22 yenita 23 gerald 24 nana 25 selvanda 26 asep 27 kezia 28 betsyeba 29 daniel 30 elwar 31 anggi 32 diana 1 3 3 3 2 3 3 4 1 1 3 3 2 3 3 3 3 3 2 1 3 3 1 1 2 3 2 3 2 1 3 1 3 77 2 3 4 3 1 4 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 3 1 3 1 2 3 1 4 1 2 3 3 2 2 3 1 2 80 3 4 5 6 7 3 4 4 3 3 2 2 2 3 3 2 2 3 3 3 2 2 4 3 4 2 3 1 3 2 1 3 4 3 3 3 4 4 4 3 2 4 4 3 3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 2 2 4 3 3 2 3 3 4 3 2 4 4 3 3 3 2 4 3 3 2 2 2 3 3 4 4 2 3 3 2 4 3 3 2 2 4 4 3 1 4 4 4 3 3 3 4 4 4 3 2 2 2 2 1 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 3 2 4 3 3 3 4 2 4 3 3 3 2 4 4 3 3 2 4 4 1 4 3 2 2 3 3 2 4 4 2 2 2 3 4 3 4 4 2 1 86 102 103 102 94 8 9 10 11 12 13 4 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 2 2 2 4 3 3 4 2 3 3 4 3 3 3 2 3 1 3 3 2 4 2 3 3 3 3 4 4 3 2 3 1 3 2 4 3 3 2 1 3 4 4 4 2 4 4 2 2 3 2 2 4 4 4 3 3 2 4 4 4 3 2 2 4 4 3 3 2 2 4 2 2 3 2 1 2 3 4 3 2 4 4 4 3 2 2 4 3 2 4 3 2 3 4 3 4 4 2 2 4 4 4 4 4 2 4 4 2 1 1 1 4 1 4 3 4 1 2 4 2 1 2 2 3 2 3 3 2 2 4 4 2 2 4 4 4 3 4 4 2 2 4 3 3 4 2 2 4 2 3 2 2 1 4 2 2 4 2 3 3 4 2 3 1 2 2 2 2 2 3 1 2 96 95 94 72 76 107 14 15 16 3 3 4 3 3 3 3 3 4 2 1 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 4 3 4 2 3 3 2 3 4 2 3 4 2 3 4 3 2 4 4 3 4 3 2 4 2 3 2 2 3 4 4 4 4 2 4 4 3 3 3 4 4 4 1 3 4 3 3 4 2 3 4 2 3 4 3 4 4 2 3 3 3 3 4 3 2 4 4 4 4 2 3 4 2 2 3 87 97 121 17 3 3 4 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2 2 1 2 2 2 4 3 3 4 2 1 79 18 3 4 3 3 3 3 3 2 3 2 4 3 4 2 3 3 3 3 1 2 3 1 1 1 3 4 2 2 2 3 3 1 83 19 3 3 3 2 3 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3 2 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 3 3 3 85 20 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 3 3 1 3 2 2 4 3 3 3 1 1 1 3 4 3 3 1 3 3 4 83 21 22 2 4 3 3 4 3 3 4 4 2 4 4 3 1 2 2 3 3 3 4 3 2 3 2 3 3 1 2 3 4 3 3 3 4 2 4 2 4 3 3 3 4 1 3 1 4 1 3 4 2 4 4 4 4 3 3 2 3 3 3 4 4 4 4 91 102 23 24 25 26 4 3 3 4 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 2 4 2 4 4 2 3 2 1 2 3 3 1 2 2 2 1 3 1 2 1 3 3 4 4 4 4 4 4 3 1 2 1 3 3 3 2 3 1 3 2 4 3 2 4 2 3 2 2 3 1 2 2 3 4 3 4 4 3 2 1 2 2 3 2 4 4 4 4 4 1 4 3 2 1 2 2 2 3 2 4 2 3 2 2 4 3 4 2 4 4 2 3 4 3 4 4 3 1 2 2 3 3 3 2 2 2 1 4 2 3 3 4 98 82 88 85 27 2 3 2 1 2 2 1 3 3 2 4 2 3 4 2 2 2 3 2 2 4 2 4 2 2 2 3 2 3 3 2 3 79 28 29 3 4 1 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 3 2 3 4 3 4 4 3 2 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 1 4 3 3 2 3 2 3 3 4 3 4 2 3 3 1 2 3 2 4 86 100 30 31 32 33 34 35 36 37 2 3 3 4 3 4 4 4 3 3 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 2 4 4 4 4 4 4 4 1 4 3 3 3 4 4 3 1 2 3 3 4 3 3 3 1 4 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 2 4 4 4 1 4 4 4 4 2 3 3 2 4 4 4 4 4 3 3 2 4 3 3 4 4 4 4 1 3 2 2 3 4 2 2 1 4 4 4 4 4 4 4 1 3 4 4 4 4 4 4 1 4 2 2 3 4 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 1 3 2 2 3 4 3 3 3 3 3 3 2 4 4 4 2 2 4 4 4 4 4 3 1 2 4 4 3 3 3 3 4 3 2 4 3 4 4 4 2 1 4 4 4 4 4 4 2 3 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 3 3 3 2 3 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 4 3 4 3 4 2 3 2 2 3 2 2 2 4 4 4 4 4 3 2 3 1 3 3 3 3 2 1 2 3 4 4 2 4 3 4 1 61 103 103 106 108 113 107 104 38 39 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 3 4 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 4 2 2 4 2 2 3 2 4 91 94 40 3 3 4 2 3 2 4 3 1 3 3 2 4 2 2 2 3 3 3 3 4 2 2 2 4 4 3 3 2 3 3 4 91 41 42 43 44 45 3 2 4 4 3 3 2 2 3 3 2 3 4 3 3 2 3 2 2 2 3 3 4 4 4 2 2 4 4 3 4 2 2 3 4 3 1 4 4 3 1 4 4 2 1 2 4 3 3 4 2 2 4 4 1 2 2 4 3 2 4 3 4 4 3 4 3 4 4 3 3 3 2 4 3 2 3 2 3 3 3 2 4 4 3 3 2 4 4 2 3 1 4 2 3 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 2 1 2 4 4 2 1 2 4 1 2 3 4 3 3 4 3 4 4 3 2 1 4 4 1 3 3 2 3 3 3 2 4 4 4 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 4 3 2 3 1 2 3 3 86 74 105 108 90 46 47 48 49 50 3 3 3 4 4 2 3 3 3 2 3 3 3 3 4 3 4 4 2 4 4 3 3 4 3 3 3 3 2 2 2 4 4 3 2 4 3 2 4 4 1 3 2 2 1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 2 2 4 3 4 4 3 2 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 4 4 3 3 4 3 3 3 4 1 3 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 1 2 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 1 3 4 4 2 3 4 4 3 3 3 3 4 4 3 2 2 3 2 2 4 3 3 4 2 2 4 2 4 3 2 4 4 4 4 97 107 104 107 97 161 138 148 144 158 144 146 140 126 163 168 124 166 150 149 125 141 157 138 150 181 128 136 139 152 160 162 160 113 151 127 141

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 LAMPIRAN 3 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Hasil Correlation0,495725 Sig. (2-taile0,003912 N 32 Correlation0,481511 Sig. (2-taile0,005267 N 32 Correlation0,530551 Sig. (2-taile0,001786 N 32 Correlation 0,48341 Sig. (2-taile0,005066 N 32 Correlation0,281901 Sig. (2-taile0,118024 N 32 Correlation0,635812 Sig. (2-taile 9,21E-05 N 32 Correlation0,421065 Sig. (2-taile0,016399 N 32 Correlation0,144367 Sig. (2-taile0,430512 N 32 Correlation0,393084 Sig. (2-taile0,026041 N 32 Correlation 0,59466 Sig. (2-taile0,000332 N 32 Correlation0,534893 Sig. (2-taile 0,00161 N 32 Keputusan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid tidak valid Valid Valid Valid

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 No hasil 12 Correlation0,514101 Sig. (2-taile0,002613 N 32 13 Correlation0,665555 Sig. (2-taile 3,23E-05 N 32 14 Correlation0,227398 Sig. (2-taile0,210695 N 32 15 Correlation0,341961 Sig. (2-taile0,055408 N 32 16 Correlation0,622637 Sig. (2-taile0,000142 N 32 17 Correlation0,567727 Sig. (2-taile0,000701 N 32 keputusan valid valid tidak valid valid valid valid

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 No VAR00035 18 Correlation0,067488 Sig. (2-taile0,713618 N 32 19 Correlation0,425352 Sig. (2-taile0,015226 N 32 20 Correlation0,534885 Sig. (2-taile 0,00161 N 32 21 Correlation0,591274 Sig. (2-taile0,000366 N 32 22 Correlation0,620012 Sig. (2-taile0,000154 N 32 23 Correlation0,509035 Sig. (2-taile0,002927 N 32 24 Correlation 0,30034 Sig. (2-taile 0,09488 N 32 0,5767 25 Correlation Sig. (2-taile 0,00055 N 32 26 Correlation0,738038 Sig. (2-taile 1,43E-06 N 32 27 Correlation0,234533 Sig. (2-taile0,196342 N 32 28 Correlation0,542197 Sig. (2-taile0,001348 N 32 0,5348 29 Correlation Sig. (2-taile0,001613 N 32 30 Correlation0,083568 Sig. (2-taile0,649309 N 32 31 Correlation0,400709 Sig. (2-taile0,023041 N 32 33 Correlation 0,35878 Sig. (2-taile0,043746 N 32 valid valid valid valid valid valid valid valid valid tidak valid valid valid valid valid valid

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 No hasil 32 Correlation 0,27752 Sig. (2-taile0,124093 N 32 34 Correlation0,365235 Sig. (2-taile0,039831 N 32 35 Correlation0,624218 Sig. (2-taile0,000135 N 32 36 Correlation0,725904 Sig. (2-taile 2,58E-06 N 32 37 Correlation0,563084 Sig. (2-taile0,000793 N 32 38 Correlation0,550109 Sig. (2-taile0,001107 N 32 39 Correlation0,628743 Sig. (2-taile0,000116 N 32 40 Correlation0,693476 Sig. (2-taile 1,08E-05 N 32 41 Correlation0,564418 Sig. (2-taile0,000766 N 32 42 Correlation0,520501 Sig. (2-taile0,002258 N 32 43 Correlation0,268049 Sig. (2-taile0,137998 N 32 44 Correlation0,212825 Sig. (2-taile 0,24221 N 32 keputusan valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid tidak valid tidak valid

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 No hasil 45 Correlation -0,01608 Sig. (2-taile 0,93038 N 32 46 Correlation0,571311 Sig. (2-taile0,000637 N 32 47 Correlation0,553017 Sig. (2-taile0,001028 N 32 48 Correlation0,369384 Sig. (2-taile0,037466 N 32 49 Correlation0,395166 Sig. (2-taile0,025192 N 32 50 Correlation0,457621 Sig. (2-taile0,008451 N 32 51 Correlation0,531986 Sig. (2-taile0,001726 N 32 52 Correlation0,546554 Sig. (2-taile 0,00121 N 32 53 Correlation0,397198 Sig. (2-taile0,024385 N 32 54 Correlation0,459994 Sig. (2-taile0,008075 N 32 55 Correlation 0,63161 Sig. (2-taile0,000106 N 32 56 Correlation0,573507 Sig. (2-taile 0,0006 N 32 keputusan tidak valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73

(95)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Deskripsi tingkat kecerdasan emosional siswa kelas VII SMP Stella Duce 2 Yogyakarta tahun pelajaran 2014/2015 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan klasikal.
0
0
132
Tingkat kecerdasan emosi remaja panti asuhan : studi deskriptif tingkat kecerdasan emosi pada remaja Panti Asuhan St. Yusup Sindanglaya yang mengalami kekerasan dan tidak mengalami kekerasan serta implikasinya terhadap topik-topik bimbingan pribadi sosial
0
5
120
Studi deskriptif kemampuan mengelola emosi remaja putra Panti Asuhan Sancta Maria Boro dan implikasinya terhadap usulan program bimbingan pribadi – sosial.
0
0
123
perbedaan tingkat kecerdasan emosional
0
0
14
Studi deskriptif kecerdasan emosional pada wiraniaga PT. Herbalife cabang Yogyakarta - USD Repository
0
0
134
Deskriptif tingkat kecerdasan emosional perawat rumah sakit St. Elisabet Purwokerto - USD Repository
0
0
152
Deskripsi tingkat kemampuan penyesuaian sosial remaja terhadap kelompok sebaya Panti Asuhan Wira Karya Tama Purworejo tahun 2007/2008 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan pribadi sosial - USD Repository
0
0
113
Deskripsi tingkat kecerdasan spiritual para suster yunior Ordo Santa Ursula tahun 2007/2008 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan kelompok - USD Repository
0
1
126
Pengaruh kecerdasan emosional terhadap pemahanan akuntansi : studi kasus mahasiswa akuntansi angkatan 2006 - USD Repository
0
0
114
Deskripsi kecerdasan emosional para siswi remaja asrama putri Santa Yulia Surabaya tahun ajaran 2009/2010 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan kelompok : tinjauan dari berbagai aspek kecerdasan emosional - USD Repository
0
0
150
Studi kasus tentang kecerdasan emosional para remaja perempuan penghuni Panti Asuhan Panti Rini Purworejo tahun 2009-2011 - USD Repository
0
0
127
Pengaruh kecerdasan emosional pada performansi penjualan - USD Repository
0
0
125
Pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja karyawan : studi pada PT Astra International Tbk - Honda Regional Yogyakarta - USD Repository
0
0
237
Tingkat religiusitas dan moralitas remaja awal di asrama : studi deskriptif pada remaja Asrama St. Aloysius, Turi dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan dan konseling di asrama - USD Repository
0
0
138
Tingkat kemampuan mengelola rasa marah : studi deskriptif siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur Bayat tahun ajaran 2013-2014 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan pribadi sosial - USD Repository
0
0
93
Show more