PENGHAYATAN PSIKOLOGI PADA PEREMPUAN YANG MENGALAMI PERKAWINAN TURUN KASTA (NYEROD) TERHADAP PENYESUAIAN SOSIAL DI BALI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Gratis

0
0
158
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGHAYATAN PSIKOLOGI PADA PEREMPUAN YANG MENGALAMI PERKAWINAN TURUN KASTA (NYEROD) TERHADAP PENYESUAIAN SOSIAL DI BALI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh: Ni Ketut Ayu Lestari NIM : 099114026 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SKRIPSI PENGHAYATAT{ PSIKOLOGI PADA PEREMPUA}'.I YA}IG MENGALAMI PERKAMNA}i T{]RI.JN KASTA (NYEROD) IERHADAP PENYESUAIAN SOSIAL DI BALI Pembimbing Skripsi Tanegal: 28 AUG 20ll

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SKRIPSI PENGIIAYATAN PSIKOLOGI PAI}A PEREMPUAI\I YANG MENGALAMI PERKAWINAI\I TURI'N KASTA (NYEROD\ TERIIADAP PEIIYESUAIAN SOSIAL DI BALI Dipersiapkan dan ditulis oleh: Ni Ketut Ayu Lestari MM: W9114026 Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal (18 Agustus 2014) dan dinyatakan memenuhi syarat untuk diterima sebagai salah satu persyaratan mencapai gelar Sarjana Psikologi Susunan Panitia Penguji : Nama Leagkap Penguji I : Drs. H. Wahyudi, M.Si. Penguji II : Dra. Penguji III : Sylvia Carolina M.Y.M., ld.Si. L. Pratidarmanastiti, M.S. Yogyakarta 20 AUG 117U ,,..._3_.{\ Dekan Fakultas Psikologi ti-iif+L$o,f; Sanata Dharma ,#m"ar =/s t, Dr. T. Priyo-Widiyanto, M. Si lI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN MOTTO HIDUP TIDAK MENGHADIAHKAN BARANG SESUATUPUN KEPADA MANUSIA TANPA BEKERJA KERAS iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Semua usaha ini aku persembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Sebagai pelindungku Ibu yang selalu bekerja keras mencukupi kebutuhan hidupku Bapak yang selalu memberiku perhatian dan dukungan kakak-kakakku yang selalu memberikan aku semangat. Serta teman-teman saya yang selalu memberikan senyuman dan semangat. v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa slaipsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian dari karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakart4 24 Agustus 2014 Penulis, IN sffiNi KetutAyu Lestari vl

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGHAYATAN PSIKOLOGI PADA PEREMPUAN YANG MENGALAMI PERKAWINAN TURUN KASTA (NYEROD) TERHADAP PENYESUAIAN SOSIAL DI BALI Ni Ketut Ayu Lestari ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana penghayatan psikologi pada perempuan yang mengalami perkawinan turun kasta (nyerod) terhadap penyesuaian sosial di Bali. Dalam proses penyesuaian sosial terdapat 4 area penyesuaian yang di teliti yaitu area kasta dalam diri sendiri, area lingkungan keluarga berkasta, area lingkungan keluarga tidak berkasta/area keluarga suami dan area masyarakat. Keempat area ini dipilih karena menggambarkan lingkungan dari perempuan yang mengalami perkawinan turun kasta (nyerod) di Bali. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan 3 perempuan yang mengalami pernikahan turun kasta (nyerod) dan tinggal bersama keluarga suami. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga subjek dapat melakukan penyesuaian sosial di lingkungan keluarga suami atau tidak berkasta. Subjek mendapatkan penerimaan dari keluarga baru dan dapat beradaptasi di dalam keluarga yang tidak berkasta. Selain itu, alasan lain mengapa subjek dapat beradaptasi dengan mudah terhadap keluarga tidak berkasta adalah kesadaran subjek akan status tidak berkasta yang diterimanya dan tidak adanya penyesalan atas kehilangan status sosialnya. Namun demikian, ketiga subjek tidak aktif dalam kegiatan di masyarakat dan kurang mampu beradaptasi di dalam masyarakat. Hal itu dikarenakan subjek kurang memiliki keinginan untuk berpartisipasi dalam kegiatan di masyarakat. Selain itu, subjek juga dibantu oleh mertua dalam berkegiatan di masyarakat sehingga semakin membuat subjek kurang aktif dalam bersosialisasi di masyarakat. Ketiga subjek tidak mampu beradaptasi di dalam keluarga berkasta karena banyaknya penolakan dari anggota keluarga berkasta. Subjek tidak hanya ditolak oleh orang tuanya tetapi juga ditolak oleh paman, bibi dan keluarga besarnya. Kata kunci : penyesuaian sosial, kasta, pernikahan turun kasta vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PSYCHOLOGICAL APPRECIATION OF WOMEN HAVING DROPPEDKASTA MARRIAGE AGAINST SOCIAL ADJUSTMENT IN BALI Ni Ketut Ayu Lestari ABSTRACT The purpose of this study is to describe the psychological appreciation of women having dropped-kasta marriage against social adjustment in Bali. In the process of social adaptation, there are 4 (four) parameters analyzed in this study, which are subjects’ point of view of caste, subjects’ adaptation in her caste family (biological family), subjects’ adaption in her non-caste family (husband’s family) and subjects’ adaptation in the community. Those four parameters will be describe the adaptation of a down-caste marriage (nyerod) women in Bali. This study using the Descriptive Qualitative Method, with 3 (Three) married women who experienced down-caste marriage (nyerod) and live with their husband’s family as subjects. The result of this study shows in terms of subjects’ social adaptation to her husband family. Subjects got acceptance from their new family and able to follow the activities on non-caste family. Futhermore by subject awareness of their non-caste status and no regrets about losing their social status was the other reason they could easily adapt to their non-caste family. However, the unwillingness to participate in community activities and the intervention of their parents-in-law in community activities caused the subjects become not active enough in the community activities and failed to adapt in community. Subjects also failed to adapt in their caste-family because of many rejections from their caste family (biological family). not only their parents, but also their uncle, aunt and other member of family. Key words : social adaptation, caste, down-caste marriage viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERIYYATAAIT PERSETUJUAFT PI]BLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAI{ AKADEIIIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : : Ni Ketut Ayu Lestari Nomor Mahasiswa : 099114026 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul : PENGIIAYATAN PSIKOLOGI PADA PEREMPUAI{ YAI\G MENGALAnIr PERKA]YINA]{ Tt Rt N KASTA (NZEROD) TERHADAP PEI\TYESUAIAN SOSIAL DI BALI Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelola memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 24 Agustus2014 tu Yang menyatakan, __try/ (Ni Ketut Ayu Lestari)

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widi Wasa karena atas asung kertha wara nugraha-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat waktu. Skripsi yang berjudul “Gambaran Penyesuaian Sosial Pada Perempuan Yang Mengalami Perkawinan Turun Kasta (Nyerod) di Bali” ini disusun sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Saya juga memohon maaf apabila dalam pengerjaan skripsi ini masih terdapat kesalahan yang tidak semestinya dilakukan. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan saran, masukan, dan koreksi yang bersifat membangun kearah yang lebih baik demi kesempurnaan ilmu yang telah peroleh di Fakultas Psikologi. Proses penyelesaian skripsi ini melibatkan banyak pihak yang dengan tulus memberikan bantuan dan dukungannya. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung saya selama proses penulisan skripsi ini. Secara khusus saya ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ida Sang Hyang Widi Wasa yang selalu memberikan kesehatan, perlindungan, dan kelancaran dalam pengerjaan skripsi ini sehingga saya bisa menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 2. Bapak, Ibu, dan kakak-kakak saya di Bali yang memberikan semangat serta dukungan agar saya dapat segera menyelesaikan skripsinya dengan baik. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Bapak Drs. H. Wahyudi, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah banyak membantu saya dalam mengembangkan dan menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih juga karena Bapak telah banyak membantu dalam proses pengerjaan skripsi ini. Terima kasih atas semangat, nasihat, bimbingan dan kesabaran bapak selama saya menjadi mahasiswa di Fakultas Psikologi. Ilmu dan pengalaman yang telah Bapak berikan akan selalu saya ingat dan mudahmudahan suatu saat nanti bisa saya balas meskipun tidak akan sebanding dengan apa yang telah Bapak berikan kepada saya. 4. Bapak Adi dan Suster Wina selaku dosen di Psikologi yang selalu memberikan semangat dan bimbingan disaat saya mengalami kesuliutan. Terima kasih atas masukan dan diskusi-diskusi yang di berikan sehingga menjadi masukan untuk saya dalam memahami pengetahuan-pengetahuan di Psikologi. 5. Dosen penguji 2 dan 3 yang berkenan menguji penelitian saya dan memberikan masukan untuk penelitian yang telah saya buat. 6. Mas Gandung dan bu Nanik yang selalu sabar membantu untuk mencari informasi seputar permasalahan di psikologi. Mas Doni dan mas Muji yang selalumu membantu dalam kegiatan di laboratorium psikologi. Pad Gie yang selalu membantu saya jika mengalami kesulitan apapun. Terima kasih banyak atas kesabaran dan bantuan kalian selama ini. 7. Teman-teman yang selalu memberi semangat dan mendukung saya yaitu : Tifany Christanti, Ayu Prativi, Fransisica Dina, Aprilia Pino, Puji, Manik Wikansari, Edwi Prabowo, Devi Jayanthi, Nikashius Shindu Natha, Kak Putu, xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Mbak Dessy, Adita Primasti, Rika, Naris dan semua teman-teman yang namanya tidak mungkin disebutkan satu per satu. Saya mengucapkan banyak trimakasih atas dukungan, semangat, diskusi dan canda tawa selama kita belajar dan mengenyam pendidikan sarjana. 8. Gede Bagus Dwi Swasti Antara sebagai orang yang saya sayangi yang selalu memberi dukungan kepada saya dalam keadaan apapun dan selalu menjadi satu-satunya alasan kenapa saya harus menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih untuk selalu memberikan kebahagiaan , selalu sabar, selalu tersenyum dan selalu memberikan hal-hal positif dalam hidup saya. 9. Teman-teman Psikologi angkatan 2009 yang tidak mungkin saya sebutkan namanya satu per satu. Terima kasih atas dukungan dan kebersamaan kalian selama kita belajar ilmu jiwa ini. 10. Terima kasih kepada seluruh pihak yang senantiasa memberikan dukungan dan doa untuk kesuksesan saya dalam menyelesaikan tugas sebagai mahasiswa. Terima kasih. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca maupun penulis sendiri untuk bahan studi selanjutnya. Astungkara. Penulis, Ni Ketut Ayu Lestari xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ........................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................................... iii HALAMAN MOTTO .................................................................................................. iv HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................................. v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................. vi ABSTRAK ..................................................................................................................... vii ABSTRACT ................................................................................................................... viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KAYA ILMIAH ................................. ix KATA PENGANTAR ................................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................................. xiii DAFTAR TABEL ......................................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................. xvii BAB I. PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang ........................................................................................ 1 B. Rumusan Masalah.................................................................................... 8 C. Tujuan Penelitian ..................................................................................... 9 D. Manfaat Penelitian ................................................................................... 9 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 11 A. Masyarakat Bali ....................................................................................... 11 1. Tatanan Sosial di Bali .......................................................................... 12 2. Perkawinan Adat Bali ............................................. …………………. 14 3. Sistem Kekeluargaan di Bali ................................. …………………. 17 4. Kasta atau Wangsa ................................................. …………………. 17 5. Kasta Pada Masyarakat Hindu................................ …………………. 18 B. Perkawinan Turun Kasta atau Dengan Cara Ngerorod ……. ................. 22 C. Konflik Perkawinan Berkasta ..................................... …………………. 23 BAB II. xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Penyesuaian Diri......................................................... …………………. 24 E. Penyesuaian Sosial ...................................................... …………………. 25 1. Pengertian Penyesuaian Sosial ............................... …………………. 25 2. Aspek Penyesuaian Sosial ......................................................... ……. 26 3. Faktor-Faktor Penyesuaian Sosial .......................... …………………. 27 F. Hubungan Manusia Dengan Lingkungan ................... …………………. 28 G. Penyesuaian Sosial Yang Berkaitan Dengan Pernikahan Turun Kasta .......................................................................... …………………. 29 H. Konsep Yang Diteliti ................................................. …………………. 30 I. Pertanyaan Penelitian ................................................ …………………. 31 J. Kerangka Penelitian.................................................... …………………. 32 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN .............................................................. 33 A. Definisi Operasional ................................................... …………………. 33 B. Jenis Penelitian ........................................................... …………………. 33 C. Fokus Penelitian ...................................................................................... 35 D. Subjek Penelitian ..................................................................................... 36 E. Metode pengambilan Data .......................................... …………………. 37 F. Metode Analisis Data .................................................. …………………. 41 G. Kredibilitas Penelitian ................................................ …………………. 43 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................................ 45 A. Proses Penelitian...................................................................................... 45 1. Persiapan Penelitian................................................ …………………. 45 2. Pelaksanaan Penelitian .............................................................. ……. 46 3. Proses Analisis Data ............................................... …………………. 47 4. Jadwal Pengambilan Data....................................... …………………. 48 B. Profil Subjek ............................................................................................ 52 C. Rangkuman Tema Temuan Penelitian ..................................................... 63 D. Deskripsi Tema........................................................... …………………. 68 1. Status Kasta ............................................................ …………………. 68 BAB IV. xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Area Lingkungan Keluarga Berkasta ..................... …………………. 71 3. Area Lingkungan Keluarga Tidak Berkasta ........... …………………. 74 4. Area Masyarakat ..................................................... …………………. 77 E. Pembahasan ................................................................ …………………. 79 F. Pembahasan Secara Menyeluruh (3 Subjek) ............. …………………. 84 KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 89 A. Kesimpulan .............................................................................................. 89 B. Saran ........................................................................................................ 90 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... …………………. 92 LAMPIRAN ...................................................................................... …………………. 95 BAB V. xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Golongan kasta (tri wangsa) ............................................................. 20 Tabel 2. Golongan sudra wangsa .................................................................... 21 Tabel 3. Pedoman wawancara ........................................................................ 38 Tabel 4. Jadwal wawancara dengan subjek 1 ................................................. 48 Tabel 5. Jadwal wawancara dengan subjek 2 ................................................. 50 Tabel 6. Jadwal wawancara dengan subjek 3 ................................................. 51 Tabel 7. Rangkuman tema temuan penelitian ................................................ 63 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Subjek 1 ................................................................................................. 96 Subjek 2 ................................................................................................. 110 Subjek 3 ................................................................................................. 126 xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini perkawinan beda kasta atau wangsa masih menjadi polemik di masyarakat Bali. Walaupun hukum Nasional sudah menghapuskan hal-hal yang berkaitan dengan perbedaan kasta, namun masyarakat Bali tetap menganut hal tersebut. Perempuan yang tergolong tri wangsa akan mengalami jatuh kasta ketika menikah dengan laki-laki yang berasal dari kasta yang lebih rendah menurut tingkatan kasta di Bali. Dengan demikian, akan terjadi perubahan identitas di dalam dirinya yang membuat dirinya harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya (Dewi,2003). Penyesuaian diri terhadap lingkungannya disebut dengan penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial ini dilakukan agar individu dapat mencapai keselarasan dan kebahagiaan dilingkungannya yang baru. Hal ini juga dilakukan oleh perempuan yang mengalami pernikahan turun kasta. Perempuan tersebut akan melakukan penyesuaian sosial dengan lingkungan keluarga asalnya dan lingkungan barunya seperti keluarga suami dan masyarakat. Hal itu dikarenakan perempuan ini menyandang identitas baru sebagai perempuan tidak berkasta. Penyesuaian sosial inipun harus dilakukan karena masyarakat Bali sangat erat dengan budaya sehingga kehidupan di masyarakat harus diperhatikan (Listyawati,2002). Masyarakat Bali memiliki tatanan sosial yang disebut awig-awig. Setiap tindakan, sikap, dan perilaku sosial yang dilakukan masyarakat Bali 1

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 tidak terlepas dengan tatanan sosial awig-awig. Tatanan sosial ini merupakan struktur dan kultur yang menaungi kehidupan masyarakat Bali. Akan tetapi, setiap daerah memiliki perbedaan isi awig-awig sesuai dengan desa-kalapatra (tempat,waktu, dan keadaan) sehingga dapat di sepakati dan digunakan oleh masyarakatnya. Suatu kenyataan bahwa hal ini dapat menimbulkan masalah sosial. Berbagai masalah sosial yang timbul dalam masyarakat Bali masa tahun2000-an, diasumsikan berkait dengan tatanan sosial sebagaimana yang ada dalam awig-awig. Berbagai masalah yang muncul, dalam bentuk “actual reality”, misalnya masih banyaknya timbul soal ketidaksederajatan manusia (Bali Post, 2004), konflik penyebutan kebangsawanan (Bali Post, 2004), serta awig-awig yang melanggar hak asasi manusia (HAM) (Bali Post, 2005) (Manuaba,2010). Menurut Mangku (2010) jaman dahulu masyarakat dari golongan tri wangsa yaitu kaum brahmana, ksatrya, dan waisya melarang anggota keluarganya untuk menikah dengan masyarakat golongan jaba wangsa yaitu sudra. Jika hal itu dilanggar maka akan mendapatkan sangsi atau hukuman berupa di buang kedua-duanya atau laki-laki di denda dan wanita di turunkan kastanya (nyerod). Pernyataan tersebut sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Maharatni & Handayani (2004) yang mengatakan bahwa terdapat larangan bagi laki-laki dari wangsa yang lebih rendah untuk menikahi perempuan dari wangsa yang lebih tinggi. Jika hal itu dilakukan maka perempuan dari wangsa yang lebih tinggi akan mendapatkan sangsi seperti akan dibuang oleh pihak keluarga besarnya karena dianggap

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 membawa aib. Hal-hal seperti itu dilakukan oleh masyarakat tri wangsa karena mereka menganggap bahwa pernikahan tersebut telah merendahkan martabat atau harga diri dari golongan tri wangsa. Perempuan yang mengalami perkawinan nyerod (turun kasta) akan mendapatkan sangsi berupa dikeluarkan dari klannya dan dijatuhkan kastanya (patita) serta ada yang mendapatkan sangsi berupa selong (buangan). Perempuan yang dikeluarkan dari klannya dan di jatuhkan kastanya tidak akan memiliki nama atau sebutan seperti di lingkungan keluarganya. Perempuan ini tidak akan menggunakan bahasa halus untuk berbicara seharihari, namun akan mengikuti bahasa dilingkungannya tinggal. Sedangkan, untuk hukuman selong (buangan), perempuan ini tidak boleh datang ke rumah keluarga besar (puri atau griya), tidak boleh mebakti (berdoa di rumah), dan tidak boleh makan bersama dengan keluarga besarnya lagi (Dewi,2003). Hal tersebut terlihat pada penggalan pengalaman dari seorang perempuan keturunan wangsa ksatrya yang menikah dengan laki-laki sudra wangsa : “Upacara pernikahan mereka berdua berlangsung khidmat dalam suasana kesederhanaan. Hanya beberapa kerabat terdekat dari IPA(nama inisial) yang menghadiri acara mereka berdua, sementara sudah menjadi tradisi bahwa seseorang yang nyerod wangsa, pantang bagi pihak keluarga dari wangsa yang lebih tinggi untuk datang apalagi menghadiri pernikahan tersebut. Terlebih lagi kedua orang tuanya menganggap telah membuang anak kesayangannya yaitu DARK.”(http://adikalinggajati.blogspot.com, 2012)

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Dari pernyataan diatas, dapat dilihat bahwa seorang perempuan yang mengalami pernikahan turun kasta (nyerod) telah mendapatkan hukumannya yaitu di buang dari keluarganya. Perempuan ini akan masuk ke keluarga yang baru yaitu menjadi seorang istri dari kasta yang lebih rendah dari keluarga asalnya. Hal itu dikarenakan hukum adat Bali yang menganut sistem perkawinan patrilineal yaitu mengikuti garis keturunan laki-laki. Dengan demikian perempuan ini akan mengalami perubahan identitas. Proses perubahan identitas ini sebenarnya sudah dialami sejak perempuan tersebut memilih untuk melepaskan klain kebangsawanannya (Dewi,2003). Pertentangan perkawinan turun kasta masih sampai saat ini. Akan tetapi, pada jaman dulu perempuan tersebut benar-benar tidak dapat pulang kerumah atau berkomunikasi dengan orang-orang berkasta di keluarganya, Namun kini untuk perempuan yang mengalami perkawinan turun kasta masih dapat berkomunikasi dengan orang-orang dilingkungan keluarga berkastanya. Hal tersebut dikarenakan adanya teknologi yang semakin maju dan kemudahan mereka untuk berkomunikasi. Selain itu, pengertian kasta terdahulu merupakan identitas seseorang dilihat dari penggolongan pekerjaan. Akan tetapi, kini kasta merupakan identitas seseorang yang dilihat dari warisan keturunan. Misalnya saja seorang yang dulunya brahmana merupakan seorang pendeta, kini orang brahmana tidak hanya seorang pendeta namun mereka juga bisa menjadi seorang pedagang. Dengan demikian, status kasta yang disandang seseorang pada jaman sekarang hanya merupakan identitas warisan dari leluhurnya saja bukan penggolongan suatu pekerjaan lagi.

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 Perempuan yang mengalami turun kasta tersebut akan mengalami perubahan indentitas. Hal tersebut dikarenakan lingkungan di sekitarnya yang berubah bukan dikarenakan individunya. Misalnya saja seperti perempuan yang terlahir di lingkungan keluarga yang memiliki kasta tinggi. Perempuan tersebut akan di hormati dan diagungkan dengan gelar kebangsawanannya. Akan tetapi, setelah perempuan itu memutuskan untuk tidak menggunakan gelarnya lagi, maka perempuan ini akan memperoleh identitas baru yaitu sebagai perempuan yang tidak memiliki kasta atau memiliki kasta yang lebih rendah dari sebelumnya. Dengan demikian, perempuan tersebut harus bisa menerima dan menyesuaikan diri dengan identitasnya yang baru tersebut (Dewi, 2003). Menurut Agustiani (2009), dalam pembentukan identitas barunya, seseorang memerlukan adanya penyesuaian diri agar dapat memperoleh keselarasan dan keharmonisan antar tuntutan dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan. Identitas baru sebagai perempuan yang tidak berkasta akan membuat perempuan ini menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya sehingga dapat dikatakan bahwa perempuan ini harus bisa melakukan penyesuaian sosial. Hal itu dilakukan agar perempuan ini mendapatkan kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Hurlock (1995) bahwa seseorang supaya bahagia harus dapat melakukan penyesuaian diri maupun penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial ini tidak bisa lepas dari penyesuaian diri sehingga seseorang harus dapat melakukan

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 penyesuaian diri terlebih dahulu untuk dapat melakukan penyesuaian sosial dengan baik (Listyawati,2002). Menurut Schneiders (1964) penyesuaian diri merupakan satu proses yang mencakup respon-respon mental dan tingkah laku, yang merupakan usaha individu agar berhasil mengatasi kebutuhan, ketegangan, konflik dan frustasi yang dialami di dalam dirinya. Selain itu, Schneiders juga mengatakan bahwa orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah orang yang mengerti keterbatasan yang ada pada dirinya dan mau belajar untuk bereaksi terhadap dirinya maupun lingkungan dengan cara yang matang. Dengan kata lain, orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik berarti dapat menerima dirinya dengan baik pula (Agustiani, 2009). Hal serupa juga dikatakan oleh Listyawati (2002) bahwa penyesuaian sebagai suatu proses untuk mencapai suatu keseimbangan sosial dengan lingkungan dan sebagai suatu proses belajar, yaitu belajar memahami, mengerti dan berusaha untuk melakukan apa yang dilakukan dan diinginkan oleh individu maupun lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, penyesuaian diri dan penyesuaian sosial harus dapat dilakukan agar mencapai keselarasan dan kebahagiaan. Penyesuaian sosial merupakan penyesuaian yang dilakukan individu terhadap lingkungan diluar dirinya. misalnya, lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat. Penyesuaian sosial ini yang akan dilakukan oleh perempuan yang mengalami turun kasta. perempuan tersebut akan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan disekitarnya atau dengan masyarakat disekitar rumahnya (Agustiani, 2009).

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 Seperti yang telah dijelaskan di awal, bahwa seseorang yang dapat menyesuaikan diri di lingkungannya dengan baik maka akan memperoleh keselarasan dan keharmonisan antara tuntutan dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungannya. Hal ini tercermin ketika seseorang mengalami perubahan identitas. Seorang yang mendapatkan identitas baru akan kembali menyesuaikan diri di lingkungannya untuk mendapatkan kenyamanan di dalam lingkungannya. Hal itu membuat orang tersebut kembali menyesuaikan diri dan melakukan penyesuaian sosial. Ketika seorang perempuan yang mengalami turun kasta mendapatkan identitas baru sebagai perempuan biasa atau jaba wangsa, maka perempuan ini harus melakukan penyesuaian sosial yaitu menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru (Dewi, 2003). Walaupun perempuan yang memutuskan untuk menikah turun kasta ini harus mendapatkan hukuman sosial berupa dibuang dari keluarga dan dijatuhkan kastanya, namun mereka tetap melakukan hal tersebut. Adapun motivasi-motivasi yang dilakukan perempuan tersebut untuk melakukan perkawinan turun kasta seperti, karena cinta dengan pasangannya yang bukan orang berkasta, menghindari perjodohan, keinginan untuk bebas, dan lainnya. Dari beberapa motivasi tersebut, perempuan yang mengalami perkawinan turun kasta ini tidak akan menyesal untuk memutuskan menikah turun kasta. Akan tetapi, apakah dengan begitu mereka tetap dapat melakukan penyesuaian sosial di lingkungan lainnya, seperti di masyarakat dan keluarga

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 tidak berkasta serta apakah mereka tetap dapat berhubungan baik dengan keluarga berkastanya? Berdasarkan dari uraian diatas, maka peneliti ingin menggambarkan bagaimana penghayatan psikologi pada perempuan yang mengalami perkawinan turun kasta (nyerod) terhadap penyesuaian sosial yaitu menyesuaikan diri dilingkungannya yang baru dalam upaya menjalankan identitas barunya sebagai perempuan berkasta lebih rendah dari keluarga asalnya. Dari penelitian ini akan terlihat bagaimana gambaran penghayatan psikologi pada perempuan yang mengalami pernikahan turun kasta (nyerod) dalam melakukan penyesuaian sosial. Hal tersebut akan di lihat dengan area penyesuaian sosial pada perempuan yang mengalami pernikahan turun kasta (nyerod) ini dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya yang baru. Area penyesuaian sosial ini antara lain lingkungan masyarakat, lingkungan keluarga yang baru dan lingkungan keluarga yang lama. Selain itu, penelitian ini juga akan menggambarkan bagaimana perempuan yang mengalami pernikahan turun kasta memandang status kasta dalam dirinya dan menerima keadaan yang telah mereka pilih sehingga dapat hidup dengan nyaman dilingkungannya yang baru. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas, permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah bagaimana penghayatan psikologi pada perempuan yang mengalami perkawinan turun kasta (nyerod) terhadap penyesuaian sosial di Bali?

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendeskriptifkan bagaimana penghayatan psikologi pada perempuan yang mengalami perkawinan turun kasta (nyerod) terhadap penyesuaian sosial di Bali. Selain itu,penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui pandangan perempuan ini dalam melihat status kasta yang kini mereka sandang yaitu sebagai perempuan tidak berkasta. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam bidang psikologi, terutama dalam bidang psikologi sosial. Penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana penyesuaian sosial pada perempuan yang mengalami pernikahan turun kasta (nyerod) dapat menyesuaikan dirinya di lingkungan baru dengan identitas baru yang dimilikinya. 2. Manfaat Praktis a. Bagi subjek dan perempuan yang mengalami perkawinan turun kasta Penelitian ini dapat menjadi masukan untuk subjek atau perempuan yang mengalami perkawinan turun kasta (nyerod) untuk menyadari bahwa dengan identitas baru yang mereka sandang setelah melepaskan identitas lama mereka sebagai perempuan berkasta tinggi, mereka harus bisa lebih menerima dirinya dan belajar untuk melakukan penyesuaian sosial agar kelak tidak menimbulkan masalah dalam masyarakat. Hal itu dikarenakan budaya Bali

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 yang masih erat yaitu dimana seorang individu harus dapat bersosialisasi tidak hanya dengan pasangannya saja, namun juga dengan keluarga dan masyarakat yang lebih luas. b. Bagi masyarakat Diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan informasi dan memberikan wawasan serta pemahaman yang menyeluruh bagi masyarakat untuk memahami tentang penyesuaian sosial pada perempuan yang mengalami perkawinan turun kasta (nyerod). Bagaimana permasalahan yang timbul dalam proses penyesuaian sosial pada perempuan yang mengalami perkawinan turun kasta (nyerod) tersebut, sehingga dapat memahami situasi dan kondisi dari perempuan tersebut.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Masyarakat di Bali Masyarakat Bali menyadari bahwa mereka terikat dengan suatu kebudayaan Bali yang bersumber pada ajaran agama Hindu yang mencakup pada tatanan upacara, tatanan sosial sampai pada sistem kekeluargaannya. Hal itu terlihat dari bagaimana masyarakat adat Bali melakukan upacara kelahiran (Otonan), upacara saat remaja (menek kelih), upacara pembersihan diri (mesangih/mepandes), melakukan upacara perkawinan (nganten), sampai pada upacara kematian (ngaben) yang sesuai dengan ajaran agama Hindu. Seolah-olah segala fase kehidupan manusia selalu ada perayaan yang mengiringi. Selain itu, masyarakat Bali juga memiliki Teks awig-awig yang merupakan suatu tatanan sosial masyarakat Bali. Setiap tindakan, sikap, dan perilaku sosial yang dilakukan masyarakat Bali tidak terlepas dengan tatanan sosial awig-awig. Tatanan sosial ini merupakan struktur dan kultur yang menaungi kehidupan masyarakat Bali. Dalam realitas empirik di Bali, awig-awig tertulis dimiliki oleh setiap Banjar adat yang dibuat berdasarkan kesepakatan bersama. Terdapat perbedaan yang mempengaruhi dalam pembuatan awig-awig tersebut untuk setiap banjar adat. Faktor-faktor tersebut sering disebut dengan desa-kala-patra (tempat,waktu, dan keadaan) yang menjadi penentu seperti apa awig-awig harus disepakati dan digunakan oleh masyarakatnya (Manuaba 2010). 11

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. 12 Tatanan sosial di Bali Teks awig-awig dalam masyarakat Bali adalah tata sosial kehidupan masyarakat Bali. Awig-awig merupakan salah satu istilah yang khas Bali, untuk menyebut norma yang mengatur kehidupan masyarakat, khususnya di desa adat. Awig-awig pada setiap desa adat di Bali, sudah ada sejak sebuah desa adat itu ada. Semua awig-awig yang ada pada setiap desa adat di Bali, dibuat dalam bentuk tertulis, yaitu berupa teks. Namun, awig-awig sebagai norma pada setiap desa adat di Bali, memang menjadi tata sosial yang sangat dipatuhi sejak masyarakat dibentuk. Oleh karena itu, awig-awig menjadi pengikat setiap warga desa dalam satu kesatuan desa adat. Selain itu, stabilitas desa sebagian besar ditentukan oleh awig-awig yang telah hidup dan berkembang sesuai dengan kepentingan masyarakat desa setempat. Sebagaimana halnya pertumbuhan dan perkembangan masyarakatnya, awig-awig dibuat oleh, untuk, dan dari krama desa serta dipelihara dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran (Manuaba,2010). Seiring dengan perkembangan tingkat pendidikan di Bali, terjadilah usaha penulisan awig-awig baik yang dibina oleh tim penelitian dan penulisan awigawig yang ada di setiap kabupaten maupun tanpa pembinaan oleh tim tersebut (Windia, 1997). Selain itu, Windia juga menyatakan bahwa jika penulisan awigawig yang dibina oleh tim pembinaan dari kabupaten, tidak mengalami kesulitan terutama dalam menuangkan konsep aturan yang semula belum ada atau mengubah ketentuan awig-awig yang telah mendarah-daging. Akan tetapi, jika penulisan awig-awig tidak di damping oleh tim Pembina akan mengalami banyak kesulitan.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Soeripto, 1979 (dalam Manuaba, 2010) mengungkapkan 13 bahwa perkembangan bentuk dan sistematik awig-awig memang sesuai dengan tingkat kemajuan masyarakat. Maka dari itu, dapat dilihat adanya awig-awig yang belum dan telah dituliskan. Terdapat awig-awig yang telah ditulis secara sistematik dan juga sebaliknya. Awig-awig sebagai norma dan tertib sosial, dapat dikatakan sudah ada bertahun-tahun. Namun, dalam karakteristiknya sebagai teks tertulis, awig-awig baru ada secara tertulis seiring dengan berkembangnya dunia pendidikan di Bali sekitar tahun 1920-an atau 1930-an. Tradisi penulisan awigawig juga terus mengalami penyempurnaan hingga tahun 1990-an. Sebagai sebuah norma yang disepakati wargadesa, awig-awig wajib ditaati oleh masyarakatnya. Awig-awig itulah yang mengatur seperti apa suatu masyarakat harus dijalankan, bagaimana individu-individu warga desa harus berperilaku dan bertindak dalam masyarakat (Manuaba,2010). Dalam skala yang lebih kecil sebagai bagian (sub unit) desa dikenal banjar baik adat maupun dinas. Pengertian Banjar kaitannya dengan desa adat di Bali adalah kelompok masyarakat yang lebih kecil dari desa adat serta merupakan persekutuan hidup sosial dalam keadaan senang maupun susah. Banjar sebagai lembaga tradisional merupakan bagian desa yang memiliki fasilitas lingkungan berupa Bale banjar yang dilengkapi Pura Banjar, sebagai tempat pertemuan, kegiatan sosial, upacara dan orientasi warga banjar (dwijendra, 2003). Semua banjar adat di Bali memiliki awig-awig, sebagai norma sosial yang disepakati masyarakatnya. Dikarenakan awig-awig ini berdasarkan pada kesepakatan masyarakat setempatnya, sering kali antara awig-awig yang satu

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 dengan yang lainnya memiliki perbedaan. Oleh karena itu, dari segi tujuan dan konseptualnya, awig-awig antara desa yang satu dengan yang lainnya memang sama, namun dalam muatan isinya berbeda. Dengan demikian, awig-awig desa tertentu hanya dapat berlaku untuk desa tertentu itu saja. Kondisi dari masingmasing desa sangat menentukan isi dari awig-awig (manuaba,2010). Awig-awig sebagai tata sosial masyarakat adat Bali, mengatur segala sesuatu yang berkait dengan adat kemasyarakatan, yang hanya diberlakukan khusus untuk umat Hindu. Umat Islam, Kristen-Protestan, Katolik, Budha, dan lainnya yang ada di Bali, tidak termasuk warga yang diwajibkan menjalankan awig-awig namun beberapa umat beragama ini mengikuti aturan desa dinas/kelurahan/pemerintahan desa. Awig-awig meski secara fisik berupa tatanan sosial masyarakat desa, namun sering kali disebut juga sebagai salah satu hukum adat. Isi awig-awig, umumnya mengatur pemeliharaan hubungan yang harmonis, baik antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan lingkungan masyarakatnya (palemahan), dan manusia dengan manusia lainnya di dalam hubungan kemasyarakatan (pawongan) (manuaba, 2010). 2. Perkawinan adat Bali Perkawinan di Bali dikenal dengan beberapa istilah yaitu pawiwahan, nganten, pewarang, dan lain sebagainya. Kata “kawin” dalam kehidupan seharihari di Bali disebut dengan nganten yang sebenarnya sama dengan perkawinan yang diatur dalam undang-undang perkawinan. Akan tetapi, menurut Diputra (2003) bahwa perkawinan menurut umat Hindu adalah ikatan antara seorang lakilaki dengan seorang wanita sebagai suami istri dalam rangka mengatur hubungan

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 seks yang layak guna mendapatkan keturunan anak laki-laki dalam rangka menyelamatkan arwah orang tuanya. Seperti yang telah dijelaskan diatas dalam pandangan agama Hindu perkawinan ditujukan untuk mendapatkan keturunan. Keturunan ini yang nantinya akan membantu orang tua untuk mencari jalan pada saat orang tua meninggal. Selain itu, keturunan inilah yang nantinya akan meneruskan hubungan bermasyarakat seperti misalnya mebanjar atau dadia. Maka dari itu biasanya orang Bali mencari keturunan laki-laki untuk meneruskan hal itu, karena biasanya anak perempuan di Bali akan mengikuti suaminya. Jadi laki-laki menjadi kepala keluarga dan perempuan mengikuti laki-laki sehingga keturunan laki-laki sangat diutamakan untuk meneruskan semua hal dalam keluarga. Oleh karena itu, perkawinan tidaklah hanya menyangkut perempuan dan laki-laki yang sama-sama suka, namun juga melibatkan banyak hal termasuk kekerabatan. Pernikahan itu merupakan acara yang besar dan penting sehingga tidak dapat dilakukan oleh lakilaki dan perempuan yang sama-sama suka saja namun juga akan melibatkan orang tua kedua belah pihak, saudara-saudaranya, keluarga masing-masing dan masyarakat (Diputra, 2003). Dengan kata lain, perkawinan merupakan urusan kekerabatan, urusan keluarga, sekaligus urusan dengan masyarakat karena setelah wanita dan laki-laki menikah maka mereka akan hidup bermasyarakat (Diputra, 2003). Hal ini akan menjadi berbeda jika sudah menyangkut kasta. Pernikahan dengan berbeda kasta akan menjadi masalah jika yang memiliki kasta tinggi adalah mempelai wanita. hal itu dikarenakan masyarakat Bali menganut sistem kekerabatan patrilineal

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 sehingga restu dari pihak perempuan akan sulit didapat dan akan memunculkan masalah dalam keluarga besar. Berbagai upacara harus dilakukan untuk mendapatkan pengakuan perkawinan yang sah dari masyarakat dan keluarga. Menurut bentuk perkawinan dalam masyarakat Bali, perkawinan dapat di bedakan menjadi beberapa macam perkawinan yaitu : a) Perkawinan yang berdasarkan garis keturunan, perkawinan mengukuti garis keturunan laki-laki atau patrilineal yaitu istri masuk pada klan suami b) Perkawinan yang berdasarkan pada batas-batas lingkungan tertentu yang masih mempertahankan perkawinan endogami desa yaitu semua anggota desanya tidak diperbolehkan memilih jodoh diluar desanya. Berdasarkan uraikan diatas, perkawinan dapat di golongkan dalam beberapa golongan, yaitu : a) Perkawinan pepadikan, terjadinya perkawinan dijalankan dengan peminangan dan biasanya perkawinan semacam ini adalah atas persetujuan dari orang tua kedua belah pihak. b) Perkawinan ngerorod atau merangkat, terjadinya perkawinan dengan jalan melarikan si gadis. Biasanya perkawinan semacam ini diluar persetujuan dari pihak orang tua si gadis. Perkawinan ngerorod ini lebih umum dilakukan dalam masyarakat Bali. Hal itu disebabkan karena adanya perbedaan kasta. c) Perkawinan pejangkepang, terjadinya perkawinan atas kehendak orang tua, baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan. Bentuk

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 terjadinya perkawinan seperti ini pada umumnya berlaku untuk perkawinan antar keluarga atau endogami klan dengan suatu tujuan tertentu yaitu misalnya untuk mempererat hubungan kekeluargaan, atau juga untuk mempertahankan kedudukan kastanya. (Dewi, 2003) 3. Sistem kekeluargaan di Bali Masyarakat adat Bali menganut sistem kekeluargaan patrilineal atau kebapaan yang lebih dikenal luas dalam masyarakat Bali dengan istilah kepurusa atau purusa. Sebagai konsekuensi dianutnya sistem kekeluargaan tersebut, maka dalam suatu perkawinan, si istri akan masuk dan menetap dalam lingkungan keluarga suaminya dan seorang anak laki-laki di pandang mempunyai kedudukan yang lebih utama dibandingkan anak perempuan. Akibatnya, pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak laki-laki sering “merasa” belum memiliki keturunan. (Windia,2011) Penting juga disebutkan bahwa klan (soroh) dalam masyarakat Bali yang cenderung mengarah ke sistem kasta atau wangsa, pada masa lalu yang sangat mempengaruhi hukum adat di Bali, seperti tercermin dari adanya larangan perkawinan antar wangsa yang disebut asupundung dan anglangkahi karanghulu, yang pada tahun 1951 telah dihapuskan. Akan tetapi, sampai sekarang masih di laksanakan (Windia,2011). 4. Kasta atau Wangsa Dahulu Kasta bernama warna. Dimana warna merupakan penggolongan pekerjaan. Kini sistem warna yang dulunya sejajar berubah menjadi vertikal. Perubahan yang terjadi akhirnya membentuk suatu kasta. Kasta sebenarnya

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 berasal dari bahasa portugis yang merupakan akibat dari hubungan barat dan timur dimana bangsa Portugis melihat adanya hubungan yang menurut dari sebuah keluarga. Sifat-sifat inilah yang kemudian dikenal dengan pengertian ikatan darah yang menurun, teratur dan mengikat yang oleh mereka disebut caste atau kasta. Jadi pengertian warna ini sudah berubah makna dan bentuknya menjadi kasta, yang pada dasarnya hanyalah merupakan perbedaan tugas dan pekerjaan yang di bawa secara turun temurun (Sudiasa, 1992). Akan tetapi, akhirnya berkembang menjadi suatu pranata sosial yang tetap dan teratur seperti yang kita ketahui sekarang ini. Misalnya saja, dahulu leluhurnya adalah golongan brahmana yaitu seorang yang bergerak di bidang rohani dan menyandang gelar Ida Bagus, kemudian setelah beliau menikah dan memiliki keturunan, gelar Ida Baguspun di turunkan pada anaknya, walaupun anak tersebut belum menjadi seseorang yang bekerja di bidang kerohanian. Dari sinilah warna berubah makna menjadi kasta (Sudiasa, 1992). Hal tersebut yang membuat masyarakat Hindu Bali mengalami kesalahpahaman mengenai kasta dan warna sehingga keturunan-keturunan yang memiliki gelar tersebut menjadi terbebani karena harus mencari pendamping hidup yang berada dalam kasta atau golongan yang sama. 5. Kasta pada masyarakat Hindu Jaman dahulu orang-orang Hindu di Bali tidak mengenal kasta, namun mereka lebih mengenal golongan warna yang merupakan pembagian gelar sesuai dengan profesinya masing-masing (Sudiasa, 1992). Golongan Catur Warna sebagai berikut:

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 - Golongan Brahmana, adalah mereka yang bergerak di bidang rohani dan pikiran. Tugasnya adalah selalu memikirkan dan mengajarkan cara-cara untuk mendapatkan kesejahteraan rohani dan jasmani dari masyarakat baik yang berbentuk ajaran-ajaran agama maupun ilmu-ilmu pengetahuan yang bias mempermudah hidup manusia. - Golongan Ksatriya, adalah mereka yang bergerak di bidang pemerintahan dan keamanan (pegawai dan ABRI). Tugasnya adalah mengabdi kepada masyarakat dan negara dengan tidak mementingkan diri sendiri. Secara simbolik dilukiskan sebagai tangan bahu yang bertugas memikul dan menggerakkan roda pemerintahan. - Golongan Wesya, adalah mereka yang bergerak di bidang usaha baik pertanian, maupun perdagangan, mengatur produksi untuk mencukupi dan melayani kebutuhan masyarakat. - Golongan Sudra, adalah mereka yang tidak punya tanah, tetapi mempunyai tenaga yang siap diabdikan kepada siapa saja yang memerlukan tenaganya. Mereka ini bisa disamakan dengan golongan buruh. Golongan 1,2, dan 3 disebut Tri Wangsa, sedangkan golongan ke-4 disebut Sudra Wangsa. Keempat golongan ini berbeda dalam fungsinya namun mempunyai kedudukan yang sama penting.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Tabel 1.Golongan kasta (tri wangsa) (sudiasa, 1992) Kasta Brahmana Terbagi atas golongan Nama dimuka namanya 1. Kemenuh Ida atau Ida Bagus 2. Manuaba untuk pria dan Ida Ayu 3. Keniten (Idayu) 4. Mas wanitanya. Ida Bagus 5. Antapan hanya untuk pria yang untuk ibunya juga dari kasta Brahmana Kesatrya 1. Kesatrya Dalem Ida Idewa, Cokorda, I dewa untuk panggilan laki-laki. Perempuan disebut Cokorda Istri atau anak Agung Istri. 2. Pradewa I dewa untuk pria dan Desak untuk wanita 3. Pungakan Ngakan bagi pria dan Desak bagi wanita 4. Prabagus Bagus untuk pria dan Ayu untuk wanita 5. Prasangyang Sang untuk pria dan Sang Ayu untuk wanita Wesya 1. Arya I Gusti, I Gusti Agung,

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 anak Agung bagi pria dan Ni Gusti Ayu, Sagung bagi wanita 2. Gusti Gusti (tanpa I) untuk pria dan Gusti Ayu untuk wanita Tabel 2. Golongan Sudra wangsa Kasta Titel didepan namanya Sudra I untuk laki-laki dan Ni untuk perempuan. Putu, Wayan untuk anak pertama. Kadek, Nengah untuk anak ke dua. Komang, Nyoman untuk anak ke tiga. Ketut untuk anak ke empat. Menurut Sudiasa (1992) dalam thesis sosialisasi anak dalam keluarga pada masyarakat Bali menjelaskan bahwa ada yang penting di jelaskan dalam 4 warna ini. Di dalam Reg Weda (kitab suci umat Hindu) tidak ada di singgung perbedaan kehidupan sosial mereka. Jadi tidak ada warna yang lebih tinggi dan lebih rendah. Keempat warna ini sama maka tidak ada larangan pernikahan berbeda warna. Dengan adanya pernyataan tersebut dari kitab suci agama Hindu, harusnya mereka menyadari bahwa sebaiknya pernikahan berbeda wangsa tidak di pertentangkan.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 Kurangnya informasi dan penjelasan mengenai wangsa itupun membuat kesalahpahaman ini terus bergulir. B. Perkawinan turun kasta atau dengan cara ngerorod (nyerod) Suatu perkawinan pastinya selalu ada upacaranya yang menjadi simbol pengikat antara laki-laki dengan perempuan. Begitu juga pada perkawinan perempuan berkasta dengan laki-laki yang tidak berkasta. Mereka harus melakukan perkawinan yang dapat diakui oleh masyarakat dan keluarganya masing-masing. Dengan demikian diadakanlah perkawinan turun kasta namun harus mengikuti upacara khusus agar perkawinan ini sah menurut hukum adat Bali (Pinatih, 1998). Perkawinan tersebut disebut dengan cara ngerorod yang memiliki arti bahwa pasangan melakukan perkawinan karena tidak memperoleh persetujuan kedua orang mempelai wanita dan tujuannya adalah untuk menjaga wibawa keluarga besar mempelai wanita. Oleh karena itu, kedua mempelai ini harus mengikuti serangkaian upacara yaitu, perkawinan dengan cara ngerorod (kawin lari), upacara mepati wangi di pura Balai Agung, upacara mebiya kala, upacara bale-balean. Upacara-upacara ini dilakukan agar laki-laki dan perempuan tetap bisa menikah walaupun berbeda kasta. Selain itu, upacara ngerorod dilakukan untuk menjaga wibawa keluarga besar mempelai perempuan. Kemudian upacara mepati wangi pun dilakukan untuk mensejajarkan kasta perempuan dengan kasta laki-laki. Hal tersebut dilakukan agar memiliki kesetaraan dalam keluarga (Pinatih, 1998).

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 Serangkaian upacara itu memang harus dilakukan agar tidak terjadi perdebatan dan masalah yang berkepanjangan didalam keluarga mereka. Perkawinan ini memang sangat sering dilakukan di dalam masyarakat Bali namun mereka banyak yang tidak melakukan prasyarat dengan benar, seperti yang diungkapkan dalam “dimungkinkannya buku perkawinan melaksanakan pada perkawinan gelahang dengan di Bali cara bahwa ngerorod, menyebabkan pasal 3 P.P. Nomor 9/1975, yang menentukan “kehendak melangsungkan perkawinan dicatat dan diumumkan 10 hari sebelum perkawinan dilangsungkan”, namun di Bali tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.” (Windia, 2011) C. Konflik perkawinan berkasta Dengan adanya sistem kasta, maka golongan tri wangsa menghendaki adanya perkawinan endogami kasta. Hal itu dilakukan dengan tujuan agar anggota keluarganya kawin dengan orang-orang berkasta, terutama bagi wanita. Oleh karena itu, sesuai dengan perkawinan adat Bali maka perkawinan antar keluarga dan lingkungan kasta itu sendiri atau endogami masih di pertahankan. Dengan demikian muncullah larangan perkawinan, seperti : asu pundang (larangan bagi laki-laki kaum ksatrya, weisya, sudra menikah dengan wanita brahmana) dan alangkahi karang hulu (larangan laki-laki waisya dan sudra menikah dengan wanita ksatria). Apabila salah satu wanita dengan salah satu laki-laki itu menikah, maka mereka akan dikeluarkan dari klannya dan di jatuhkan kastanya (patita) serta ada yang mendapatkan sangsi berupa selong atau buangan (Dewi, 2003).

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 Bagi mereka yang dikenakan hukum selong, akan di buang langsung dari keluarganya dan secara langsung mereka tidak boleh menggunakan nama keluarganya yang menjadi identitasnya. Dengan demikian akan terjadi perubahan identitas karena wanita ini akan mengikuti identitas suaminya karena di Bali menganut sistem patrilineal (Dewi, 2003). Dengan berubahnya identitas wanita ini mengikuti identitas suaminya maka akan ada konflik dalam dirinya yang menuju pada penyesuaian dirinya. Ketika wanita ini berubah peran dan identitasnya maka wanita ini akan berusaha menyesuaikan diri sebaik mungkin untuk mendapatkan keharmonisan diri dengan lingkungannya. D. Penyesuaian Diri Menurut psikologi sosial penyesuaikan diri dapat diartikan dalam arti luas yaitu mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri (Gerungan, 2010). Selain itu, menurut Listyawati (2002) penyesuaian diri merupakan suatu proses yang mencakup respon-respon mental dan tingkah laku, yang merupakan usaha individu agar berhasil mengatasi kebutuhan, ketegangan, konflik dan frustasi yang dialami dalam dirinya. Usaha individu tesebut bertujuan untuk memperoleh keselarasan dan keharmonisan antara tuntutan dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan. Schneiders (1964) (dalam Agustiani,2009) membagi penyesuaian diri dalam beberapa katagori. Salah satu pembagiannya itu adalah pembagian berdasarkan konteks situsional dari respon yang dimunculkan individu, yaitu terdiri atas

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penyesuaian personal, penyesuaian sosial, 25 penyesuaian perkawinan dan penyesuaian vokasional. E. Penyesuaian Sosial 1. Pengertian penyesuaian sosial Penyesuaian sosial merupakan penyesuaian yang dilakukan individu terhadap lingkungan diluar dirinya, Misalnya: lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat. Menurut Schneiders (1964) (Agustiani, 2009) penyesuaian sosial merupakan suatu kapasitas atau kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu untuk dapat bereaksi secara efektif dan bermanfaat terhadap realitas, situasi, dan relasi sosial, sehingga kriteria yang harus dipenuhi dalam kehidupan sosialnya dapat terpenuhi dengan cara-cara yang dapat diterima dan memuaskan. Menurut pandangan sosiologi dan budaya, ketika ketidakserasian dalam lingkungan masyarakat dapat dipulihkan kembali setelah terjadi perubahan, maka hal tersebut disebut dengan penyesuaian (adjustment). Adapun perbedaan yang muncul antara penyesuaian dari lembaga-lembaga kemasyarakatan dan penyesuaian dari individu yang ada dalam masyarakat tersebut. Pertama adalah menunjuk pada keadaan, dimana masyarakat berhasil menyesuaikan lembagalembaga kemasyarakatan dengan keadaan yang mengalami perubahan sosial dan budaya. Sedangkan yang kedua menunjuk pada usaha-usaha individu untuk menyesuaikan diri dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang telah diubah atau diganti, agar terhindar dari disorganisasi psikologis (Soekanto, 1982).

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 Selain itu, Eysenk (1972) (dalam Listyawati, 2002).mengungkapkan bahwa penyesuaian sebagai suatu proses untuk mencapai suatu keseimbangan sosial dengan lingkungan dan sebagai suatu proses belajar, yaitu belajar memahami, mengerti dan berusaha untuk melakukan apa yang dilakukan dan diinginkan oleh individu maupun lingkungan sosialnya. Penyesuaian sosial ini dilakukan agar tidak mengalami konflik dengan lingkungannya. Dengan demikian, individu mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya secara baik. Hal ini serupa dengan yang dikatakan Hurlock (1995) bahwa seseorang akan mendapatkan kebahagiaan jika melakukan penyesuaian diri maupun penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial merupakan kemampuan seseorang untuk dapat menyesuaikan diri dengan orang lain pada umumnya. Pengertian penyesuaian sosial tidak bisa lepas dari penyesuaian diri maka seseorang akan melakukan penyesuaian diri terlebih dahulu untuk dapat melakukan penyesuaian sosial dengan baik. 2. Aspek penyesuaian sosial Hurlock (1990) mengemukakan aspek-aspek dalam penyesuaian sosial, antara lain: a. Penampilan nyata “Over performance” yang diperhatikan individu sesuai norma yang berlaku didalam kelompoknya, berarti individu dapat memenuhi harapan kelompok dan dapat diterima menjadi anggota kelompok tersebut.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 b. Penyesesuaian diri terhadap kelompok Hal ini berarti bahwa individu tersebut mampu menyesuaikan diri secara baik dengan setiap kelompok yang dimasukinya, baik teman sebaya maupun orang dewasa. c. Sikap sosial Individu mampu menunjukkan sikap yang menyenangkan terhadap orang lain, ikut berpartisipasi dan dapat menjalankan perannya dengan baik dalam kegiatan sosial. d. Kepuasan pribadi Hal ini ditandai dengan adanya rasa puas dan perasaan bahagia karena dapat ikut ambil bagian dalam aktivitas kelompoknya dan mampu menerima diri sendiri apa adanya dalam situasi sosial. 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian sosial Individu selalu dihadapkan pada proses penyesuaian sosial pada proses perjalanan hidupnya, baik terhadap keadaan baru, perubahan suasana maupun kebutuhan baru. Selama periode penyesuaian tersebut, individu tidak dapat lepas dari pengaruh yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya (Brianti, 2010) menurut Agustiani (2006) Penyesuaian sosial yang dilakukan individu dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : a. Faktor fisik, yang meliputi keturunan, kesehatan, dan bentuk tubuh b. Faktor perkembangan dan kematangan, yang meliputi intelektual, sosial, moral, kematangan emosional dan lain-lain

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 c. Faktor psikologi, yang meliputi pengalaman, frustasi, konflik yang dialami individu dan faktor-faktor psikologis lain yang mempengaruhi penyesuaian sosial. d. Faktor budaya, yang meliputi adat istiadat dan agama e. Faktor lingkungan, meliputi lingkungan keluarga dan rumah Selain itu, Schneiders (1991) juga mengemukakan bahwa dalam melakukan penyesuaian sosial terdapat faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu : faktor internal dan faktor eksternal. a. Faktor internal Faktor internal adalah faktor yang timbul dari dalam individu. Faktor internal yang termasuk didalamnya adalah emosi, rasa aman, ciri pribadi, penerimaan diri, inteligensi dan perbedaan jenis kelamin. b. Faktor eksternal Faktor eksternal adalah faktor yang timbul dari luar individu. Adapun faktor eksternal yang mempengaruhi adalah keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan budaya (Listyawati,2002). F. Hubungan manusia dengan lingkungan Lingkungan sosial, yaitu merupakan lingkungan masyarakat yang di dalamnya terdapat interaksi individu dengan individu lain. Lingkungan sosial dapat dibedakan menjadi 2 yaitu lingkungan sosial primer dan lingkungan sosial sekunder. Lingkungan sosial primer yaitu lingkungan sosial dimana terdapat hubungan yang erat antara individu satu dengan yang lain, individu satu saling kenal dengan individu yang lain. Sedangkan lingkungan sosial sekunder yaitu

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 lingkungan sosial dimana hubungan individu satu dengan yang lain agak longgar, individu satu kurang mengenal dengan individu yang lain. Namun demikian pengaruh lingkungan sosial, baik lingkungan sosial primer maupun lingkungan sosial sekunder sangat besar terhadap keadaan individu sebagai anggota masyarakat (Walgito, 2003). Bagaimana hubungan antara individu dengan lingkungannya, terutama lingkungan sosial tidak hanya berlangsung searah, dalam arti bahwa hanya lingkungan saja yang mempunyai pengaruh terhadap individu. Akan tetapi, antara individu dengan lingkungannya terdapat hubungan yang saling timbal balik, yaitu lingkungan berpengaruh pada individu, tetapi sebaliknya individu juga mempunyai pengaruh terhadap lingkungan (Walgito, 2003). G. Penyesuaian sosial yang berkaitan dengan pernikahan turun kasta Berkaitan dengan penyesuaian sosial ini, perempuan yang mengalami pernikahan turun kasta harus bisa menyesuaikan diri agar dapat melakukan penyesuaian sosial dengan baik pula. Hal itu dikarenakan mereka yang mengalami pernikahan turun kasta harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru yaitu dilingkungan yang tidak berkasta. Tentunya perempuan yang menikah turun kasta ini berbeda dengan orang-orang yang menikah sesuai dengan aturannya. Dapat dikatakan berbeda karena perempuan yang menikah turun kasta harus meninggalkan identitas dirinya terdahulu. Perempuan yang menikah turun kasta akan meninggalkan identitasnya sebagai perempuan yang berkasta karena sudah memutuskan untuk menikah dengan seorang yang tidak memiliki kasta. Hal itulah yang membuat perempuan ini harus bisa melakukan penyesuaian sosial

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 dengan lingkungan sosialnya yang baru maupun yang lama sebagai wanita sudra (dewi,2003). H. Konsep yang diteliti Perempuan yang memiliki kasta tinggi tentunya ingin memiliki kebebasan dalam hal memilih pendamping hidup. Akan tetapi, perempuan berkasta ini memiliki tuntutan dan tekanan dari keluarganya untuk memiliki pasangan yang sederajat atau lebih tinggi kastanya dari keluarganya. Hal tersebut akan membuat prestise sendiri di keluarga mereka dalam hal kedudukan di masyarakat. Akan tetapi, hal ini akan menjadi masalah ketika perempuan berkasta ini memutuskan untuk menentang orang tuanya demi memilih pasangannya sendiri dan memutuskan untuk melepaskan kastanya. Contoh nyatanya saja ada perempuan berkasta yang memilih menentang keluarganya dan menerima risiko untuk menikah dengan laki-laki pilihannya. Perempuan ini akan mendapatkan hukuman seperti dibuang dari keluarganya dan penurunan gelar jika mereka menikah turun kasta. Adapun faktor-faktor yang membuat perempuan ini memutuskan untuk melepaskan kastanya. Sehubungan dengan hal tersebut maka perempuan yang memilih untuk turun kasta ini akan memiliki identitas baru dan siap untuk menyesuaiakan diri dilingkungan barunya yang disebut dengan penyesuaian sosial. Dengan demikian, perempuan ini harus melakukan penyesuaian sosial agar mendapatkan kebahagiaan dan keselarasan dalam dirinya terhadap lingkungan barunya. Selain itu, agar tidak terjadi konflik dalam dirinya. Hal ini lah yang akan di teliti dalam penelitian ini. Bagaimana seorang perempuan yang mengalami pernikahan turun kasta dapat melakukan penyesuaian sosial.

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI I. 31 Pertanyaan Penelitian Bagaimana penghayatan psikologi pada perempuan yang mengalami perkawinan turun kasta (nyerod) terhadap penyesuaian sosial di Bali ? Selanjutnya, pertanyaan diperinci menjadi 4 fokus, yaitu : 1. Bagaimana perempuan (nyerod) ini memandang dirinya? 2. Bagaimana penyesuaian sosial perempuan (nyerod) di lingkungan berkastanya? 3. Bagaimana penyesuaian sosial perempuan (nyerod) di lingkungan keluarga suami? 4. Bagaiamana masyarakat? penyesuaian sosial perempuan (nyerod) di lingkungan

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 J. KERANGKA PENELITIAN AREA STATUS KASTA WANITA BERKASTA AREA KELUARGA BERKASTA MOTIVASI MENIKAH TURUN KASTA PEMBENTUKAN IDENTITAS BARU KELUARGA BARU/SUAMI/ TIDAK BERKASTA AREA MASYARAKAT PENYESUAIAN SOSIAL (PENYESUAIAN DIRI DENGAN LIGNKUNGAN BARUNYA)

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Penyesuaian sosial merupakan penyesuaian yang dilakukan individu terhadap lingkungan diluar dirinya. Misalnya, lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat. Menurut Schneiders (1964) penyesuaian sosial merupakan suatu kapasitas atau kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu untuk dapat bereaksi secara efektif dan bermanfaat terhadap realitas, situasi, dan relasi sosial, sehingga kriteria yang harus dipenuhi dalam kehidupan sosialnya dapat terpenuhi dengan cara-cara yang dapat diterima dan memuaskan. Penyesuaian sosial ini dilakukan agar tidak mengalami konflik dengan lingkungannya. menyesuaikan diri Dengan demikian, dengan lingkungan individu mampu untuk sosialnya secara baik (Listyawati,2002). B. Jenis Penelitian Penelitian ini berjudul gambaran penyesuaian sosial pada perempuan yang mengalami pernikahan turun kasta di Bali. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif. Hal ini dikarenakan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, peneliti dapat menggambarkan bagaimana penyesuaian sosial dari perempuan yang memilih pernikahan turun kasta dalam hidupnya. Penelitian kualitatif ini berusaha untuk mengeksplorasi, 33 mendeskripsikan maupun

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 menginterpretasikan maksud dari suatu fenomena maupun pengalaman personal dan sosial yang dialami oleh subjek penelitian (Creswell, 2012). Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan analisis kualitatif deskriptif. Peleitian kualitatif deskriptif dapat diartikan sebagai penelitian yang memotret fenomena individual, situasi, atau kelompok tertentu yang terjadi secara kekinian. Penelitian deskriptif juga berarti penelitian yang dimaksudkan untuk menjelaskan fenomena atau karakteristik individual, situasi dan kelompok tertentu secara akurat. Dengan kata lain, tujuan penelitian kualitatif adalah mendeskripsikan seperangkat peristiwa atau kondisi populasi saat ini (Danim, 2002). Menurut Jane Richie (dalam Moleong, 2013) penelitian kualitatif adalah upaya untuk menyajikan dunia sosial dan perspektifnya di dalam dunia, dari segi konsep, perilaku, persepsi, dan persoalan tentang manusia yang diteliti. Dari beberapa ahli, Moleong (2013) merumuskan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lainnya secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan Bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Metode yang dapat digunakan antara lain, wawancara sebagai alat untuk mendapatkan informasi atau data.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. 35 Fokus Penelitian Penelitian ini berfokus pada bagaimana penyesuaian sosial yang dilakukan perempuan Hindu di Bali yang melakukan perkawinan turun kasta (nyerod). Pengungkapan bagaimana perempuan turun kasta ini melihat dunianya dan bagaimana dia dapat menyesuaikan dirinya di lingkungan sekitarnya. Hal tersebut akan menunjukkan bagaimana perempuan yang menikah turun kasta ini mengalami penyesuaian sosial dalam identitas barunya sebagai perempuan sudra. Perempuan yang mengalami turun kasta akan mengalami perubahan identitas yang dulunya seorang tri wangsa menjadi seorang sudra (Dewi,2003). Perubahan identitas ini akan membuat perempuan tersebut memulai untuk menyesuaikan dirinya lagi dengan lingkungan disekitarnya sehingga adanya penyesuaian sosial yang harus dilakukan oleh perempuan ini. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan keselarasan dan keharmonisan antara tuntutan didalam diri dengan apa yang diharapkan dilingkungan sekitarnya (Agustiani, 2009). Dengan demikian, peneliti ingin melihat bagaimana perempuan yang memutuskan untuk menikah turun kasta dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang disebut penyesuaian sosial dan menerima dirinya sebagai perempuan yang memiliki identitas baru yaitu sebagai perempuan yang sudah tidak memiliki kasta. Terdapat 4 fokus area lingkungan yang berpengaruh dalam penyesuaian sosial pada perempuan yang mengalami turun kasta. Area lingkungan inilah yang digunakan peneliti untuk penelitian ini, yaitu:

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 1. Area status kasta 2. Area lingkungan keluarga berkasta 3. Area lingkungan keluarga baru/suami/tidak berkasta 4. Area masyarakat D. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini berjumlah 3 orang. Subjek dipilih menggunakan Criterion Sampling yaitu cara penentuan subjek berdasarkan kriteria tertentu dari peneliti yaitu perempuan yang mengalami perkawinan turun kasta. Hal terpenting dari kriteria tersebut adalah mengalami pengalaman atas fenomena yang hendak diteliti (Creswell, 2012). Selain itu, kriteria lain seperti menggunakan subjek yang termasuk kategori dewasa awal yaitu dimulai pada awal usia 20 tahun sampai usian 30 tahun. Hal itu dikarenakan masa ini merupakan saat untuk mencapai kemandirian pribadi, ekonomi, perkembangan karier, serta bagi sebagian besar orang adalah masa untuk memilih pasangan, belajar untuk mengenal seseorang secara lebih dekat, memulai keluarga sendiri dan mengasuh anak (Santrock, 2012). Selain itu, subjek penelitian ini menggunakan perempuan yang mengalami pernikahan beda kasta dan tinggal di Bali. Subjek memeluk agama Hindu dan tinggal dilingkungan suaminya. Subjek yang diteliti ini juga memiliki masa perkawinannya 1-5 tahun. Hal itu dikarenakan, pada masa itu adalah masa-masa dimana mereka mulai beradaptasi dengan lingkungannya yang baru.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Keterangan Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3 Inisial Vs Ds Id Umur 23 23 25 Pekerjaan Wiraswasta Mahasiswi Mahasiswi Kategori kasta Anak Agung Istri Desak (Ksatrya) Ida Agung (Ksatrya) (Brahmana) E. 37 Ayu Metode Pengambilan Data Proses pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara. Wawancara adalah percakapan yang dilakukan dua pihak atau lebih yang diarahkan untuk maksud tertentu. Tujuan dari wawancara ini menurut Lincoln dan Guba, antara lain : mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi tuntutan, kepedulian, memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain, dan memverivikasi, mengubah dan memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti (moleong, 2013). Selain itu, wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain (poerwandari, 1998). Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan wawancara dengan pedoman standar terbuka atau disebut dengan semi-terstruktur. Dalam bentuk wawancara ini, pedoman wawancara ditulis secara rinci, lengkap

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 dengan pertanyaan dan penjabarannya dalam kalimat. Peneliti diharapkan dapat melaksanakan wawancara sesuai sekuensi yang tercantum, serta menanyakannya dengan cara yang sama pada responden-responden yang berbeda. Keluwesan dalam mendalami jawaban terbatas, tergantung pada sifat wawancara dan keterampilan peneliti. Tujuan penggunaan pedoman wawancara adalah untuk mengingatkan peneliti mengenai aspek-aspek yang harus dibahas, sekaligus menjadi daftar pengecek “checklist” apakah semua aspeknya sudah ditanyakan. Metode ini memungkinkan peneliti untuk bersikap fleksibel dalam mengembangkan pertanyaan sesuai dengan respon yang diberikan oleh subjek penelitian (Poerwandari, 1998). Daftar pertanyaan disusun oleh peneliti sebagai panduan selama proses wawancara agar peneliti tetap fokus dengan tujuan penelitian yang sudah ditetapkan sebelumnya. Panduan pertanyaan disusun berdasarkan fokus penelitian dan bersifat terbuka agar tidak mengarahkan subjek pada jawaban tertentu. Tabel 3. Pedoman Wawancara Area penyesuaian 1. Status kasta  Perasaan  Pikiran Pertanyaan  Bagaimana perasaan anda saat harus melepaskan gelar kebangsawanan anda?  Bagaiamana perasaan anda mengenai kenyataan saat ini bahwa anda adalah seorang yang tidak memiliki kasta lagi?  Bagaimana anda memandang diri anda sendiri setelah menikah dan melepaskan

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI  Sikap 2. Lingkungan keluarga berkasta  Perasaan  Pikiran  Sikap 3. Lingkungan keluarga baru/suami/tidak berkasta  Perasaan  Pikiran 39 gelar kebangsawanan anda?  Motivasi apa yang membuat anda mengambil keputusan tersebut?  Hambatan apa yang anda alami saat anda memutuskan untuk menikah turun kasta?  Apa yang anda harapkan dari diri anda sendiri setelah menikah turun kasta?  Bisakah anda ceritakan bagaimana anda bisa memutuskan untuk menikah turun kasta?  Apakah anda menyadari mengenai kedudukan anda setelah anda turun kasta? Dan apa yang anda lakukan?  Bagaimana perasaan dan hubungan anda dengan keluarga anda setelah menikah turun kasta?  Apakah anda merasakan perbedaan antara dulu didalam lingkungan berkasta dengan sekarang?  Apa yang anda harapkan lingkungan keluarga anda sendiri setelah anda menikah ini?  Bagaimana sikap keluarga anda ketika anda memutuskan untuk menikah turun kasta?  Bagaimana relasi anda dengan keluarga lama anda saat anda sudah turun kasta?  Bagaiamana anda dapat merepresentasikan perasaan anda pada saat anda di keluarga yang baru sebagai perempuan yang turun kasta?  Saat anda di lingkungan anda sekarang, apa saja yang anda lakukan? Apakah tetap

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI  Sikap    4. Masyarakat  Perasaan   Pikiran   Sikap      40 melakukan pekerjaanpekerjaan rumah tangga seperti biasa? atau lebih diistimewakan? Bagaimana relasi anda dengan keluarga baru anda? Bagaiamana sikap keluarga baru anda setelah anada mengalami pernikahan turun kasta? Apa saja yang anda lakukan di lingkungan anda sekarang sebagai perempuan yang turun kasta? Bagaimana perasaan anda saat berbaur dengan orangorang baru yang notabennya bukan orang berkasta? Bagaimana cara anda memahami keadaan disekitar anda yang sangat berbeda dari yang dahulu di lingkungan yang berkasta sekarang menjadi dilingkungan yang biasa saja? Apakah anda bisa beradaptasi dengan lingkungan anda yang baru, dengan identitas yang baru ini? Bagaiamana relasi anda dengan lingkungan disekitar anda kini? Apakah anda dapat berpartisipasi penuh dalam kegiatan sosial di linkungan anda sekarang yang baru? Coba ceritakan apakah anda dapat bekerjasama dengan orang-orang baru di lingkungan anda yang baru kini? Apakah anda selalu mengikuti kegiatan sosial di

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 masyarakat dengan identitas baru anda?  Bagaimana sikap lingkungan disekitar anda sekarang dengan anda? F. Metode Analisis Data Analisis data menurut Patton (dalam Moleong, 2013) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data , mengorganisasikannya ke dalam satu pola, kategori dan satu uraian dasar. Data penelitian kualitatif tidak berbentuk angka, tetapi lebih banyak berupa narasi, deskripsi, cerita, dokumen tertulis dan tidak tertulis, ataupun bentukbentuk non angka. Dalam penelitian kualitatif tidak ada rumusan baku untuk melakukan analisis data. Patton (dalam Poerwandari, 1998) menyatakan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengolahan dan analisis data yaitu, peneliti wajib memonitor dan melaporkan proses dan prosedur analisis data secara jujur dan selengkap mungkin. Berikut ini adalah langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini: 1. Organisasi Data Organisasi data diawali dengan memindahkan rekaman hasil wawancara setiap subjek dari “digital voice recorder” ke dalam bentuk tulisan dan menghasilkan transkrip verbatim yang berbentuk kolom. Pengetikan transkrip verbatim dilakukan segera setelah proses wawancara berakhir. Hal ini dilakukan agar ingatan peneliti masih segar dengan kondisi dan bahasa non verbal subjek saat wawancara berlangsung.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. 42 Pengkodean (coding) Peneliti menyusun transkripsi verbatim (kata demi kata) atau catatan lapangannya sedemikian rupa sehingga ada kolom kosong yang cukup besar disebelah kiri dan kanan transkrip. Hal ini memudahkannya membubuhkan kode-kode atau catatan tertentu atas transkrip tersebut. Kemudian, peneliti secara urut dan kontinyu melakukan penomoran pada baris-baris transkrip dan atau catatan lapangan tersebut. Sebagian peneliti mengusulkan pemberian nomor secara urut dari satu baris ke baris lain, sementara penelitian lain mengusulkan penomoran baru untuk tiap paragraf baru. Selanjutnya, peneliti memberikan nama untuk masing-masing berkas dengan kode tertentu (Poerwandari,1998). 3. Interpretasi Interpretasi mengacu pada upaya memahami data secara lebih ekstensif sekaligus mendalam. Peneliti memiliki perpektif mengenai apa yang sedang diteliti dan menginterpretasi data melalui perspektif tersebut. Peneliti beranjak melampaui apa yang secara langsung dikatakan responden, untuk mengembangkan struktur-struktur dan hubungan-hubungan bermakna yang tidak segera tertampilkan dalam teks (data mentah atau transkripsi wawancara). Proses interpretasi memerlukan distansi (upaya mengambil jarak) dari data, dicapai melalui langkah-langkah metodis dan teoritis yang jelas serta melalui diimasukkannya data kedalam konteks konseptual yang khusus (Poerwandari,1998).

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Maksud interpretasi dalam penelitian ini adalah peneliti melakukan analisis tematik dengan mencari dan menemukan tema dari data yang diperoleh. Analisis tematik dilakukan setelah data berbentuk kolom dan diberi kode. Analisis tematik merupakan proses mengkode data yang selanjutnya akan menghasilkan daftar tema dan model tema. Tema-tema yang muncul diharapkan dapat mendeskripsikan fenomena dari hasil penelitian ini dan dapat digunakan untuk menginterpretasikan data hasil penelitian. 4. Membuat Rangkuman Temuan Penelitian Rangkuman temuan penelitian dibuat setelah peneliti melakukan interpretasi dengan analisis tematik. Selanjutnya, peneliti mendeskripsikan tema-tema yang muncul dari hasil analisis dan membuat rangkuman temuan penelitian secara keseluruhan dalam bentuk tabel. G. Kredibilitas Penelitian Kredibilitas pada studi kualitatif terletak pada keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks. Konsep kredibilitas juga harus mampu mendemonstrasikan bahwa untuk memotret kompleksitas hubungan antara aspek tersebut, penelitian dilakukan dengan cara tertentu yang menjamin bahwa subjek penelitian diidentifikasi dan dideksripsikan secara akurat (Poerwandari, 1998). Menurut Poerwandari (1998), terdapat empat konsep validasi penelitian yaitu validitas kumulatif, validitas komunikatif, validitas

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 argumentatif, dan validitas ekologis. Validitas kumulatif dicapai bila temuan dari studi-studi lain mengenai topik yang sama menunjukkan hasil yang kurang lebih serupa. Validasi komunikatif ini dilakukan dengan memberikan kesempatan pada subjek penelitian untuk mengkonfirmasi hasil penelitian. Validitas argumentatif tercapai bila presentasi temuan dan kesimpulan dapat diikuti dengan baik rasionalnya, serta dapat dibuktikan dengan melihat kembali kedata mentah. Validitas ekologis menunjuk pada sejauh mana studi dilakukan pada kondisi apa adanya dan kehidupan seharihari menjadi konteks penting penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan strategi validitas member checking. Member checking ini digunakan untuk mengetahui akurasi hasil penelitian. Member checking ini dapat dilakukan dengan membawa kembali laporan akhir atau deskripsi-deskripsi atau tema-tema spesifik kehadapan partisipan untuk mengecek apakah mereka merasa bahwa laporan/deskripsi/tema tersebut sudah akurat (Creswell, 2012). Selain itu, dalam konsep validitas, peneliti menggunakan konsep validitas komunikatif yaitu dimana peneliti Mengkonfirmasikan kembali transkrip wawancara beserta analisisnya kepada subjek penelitian untuk menguji keakuratan temuan penelitian (validitas komunikatif). Subjek diminta untuk membaca transkrip hasil wawancara dan mengkoreksinya apabila terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan maksud mereka. Selanjutnya, peneliti juga menginformasikan (Poerwandari, 1998). rangkuman temuan penelitian kepada subjek

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. PROSES PENELITIAN 1. Persiapan Penelitian Persiapan yang dilakukan peneliti sebelum melakukan penelitian ini antara lain, adalah : a. Peneliti mencari subjek seorang perempuan berkasta yang telah menikah dengan laki-laki yang memiliki kasta lebih rendah dengan usia pernikahan kurang lebih antara 1-5 tahun. Informasi tentang perempuan yang menikah turun kasta ini diperoleh dengan bantuan teman dan saudara. Peneliti melakukan rapport pada subjek dengan cara bertemu langsung maupun berkomunikasi melakui SMS atau telepon. b. Setelah memastikan bahwa subjek telah menikah kurang lebih antara 1-5 tahun, maka peneliti segera meminta kesediaan subjek untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. c. Setelah subjek bersedia untuk berpartisipasi menjadi subjek penelitian ini, peneliti meminta subjek membaca surat persetujuan terlebih dahulu untuk terlibat dalam penelitian ini sebelum memberikan tanda tangannya. Peneliti juga mengatakan secara langsung kepada subjek bahwa peneliti menjamin kerahasiaan semua data yang diberikan oleh subjek karena data hanya akan dipergunakan untuk keperluan penelitian. d. Peneliti mempersiapkan digital voice recorder sebagai alat untuk mereka setiap sesi wawancara dengan subjek. Selain itu, peneliti juga menyediakan 45

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 baterai tambahan untuk mengantisipasi apabila alat perekam mati selama proses wawancara. Penelitipun juga menyediakan alat perekam lain untuk mengantisipasi jika alat perekam sebelumnya kurang dapat merekam dengan baik. e. Peneliti membuat janji secara langsung dengan subjek untuk melakukan wawancara. 2. Pelaksanaan Penelitian Pelaksanaan penelitian melewati beberapa tahapan mulai dari mencari informasi yang terkait dengan subjek, meminta persetujuan wawancara dengan subjek, pelaksanaan wawancara dengan subjek dan menunjukkan hasil verbatim dan analisis data kepada subjek untuk mendapatkan surat keterangan keabsahan hasil wawancara. Berikut ini akan dijelaskan secara runtut dan terperinci mengenai tahapan pelaksanaan penelitian ini, antara lain : a. Peneliti melakukan wawancara dengan ke tiga subjek sesuai dengan jadwal wawancara yang sudah disepakati sebelumnya. Sebelum wawancara dimulai, peneliti meminta subjek untuk membaca dan menandatangani surat persetujuan wawancara. Untuk membantu peneliti dalam proses wawancara, peneliti menggunakan panduan wawancara yang sudah disusun sebelumnya. Jumlah sesi wawancara untuk masing-masing subjek berbeda karena menyesuaikan dengan kesediaan waktu dari setiap subjek. Secara keseluruhan proses wawancara dilakukan dengan bertatap muka langsung dan seluruh pembicaraan yang relevan dengan penelitian direkam menggunakan alat perekam. Pemilihan tempat wawancara disesuaikan

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 dengan kenyamanan subjek dan situasi tempat yang memungkinkan dilangsungkannya proses wawancara. b. Setelah proses analisis data selesai dilakukan, peneliti bertemu dengan subjek dengan maksud menunjukkan hasil verbatim wawancara dan hasil analisis data untuk memastikan apakah hasil wawancara sudah benar-benar sesuai dengan realitas yang dialami oleh subjek. 3. Proses Analisis Data Proses analisis data meliputi pengorganisasian data, pengkodean, interpretasi dan pengambilan kesimpulan. Berikut ini akan dijelaskan secara rinci tentang proses analisis data yang sudah dilakukan dalam penelitian ini : a. Setelah proses wawancara untuk masing-masing subjek berakhir, peneliti melakukan organisasi data yaitu dengan segera memindahkan hasil rekaman wawancara dari alat perekam kedalam bentuk tulisan dan menghasilkan transkrip verbatim. b. Transkrip verbatim dibuat dalam bentuk tabel yang terdiri dari 4 kolom. Kolom pertama berisi penomoran untuk setiap baris kalimat pertanyaan pewawancara dan jawaban subjek atas pertanyaan wawancara, kolom kedua berisi verbatim hasil wawancara, kolom ketiga berisi koding awal, dan kolom terakhir berisi analisis tema-tema yang muncul. c. Selanjutnya, peneliti membaca secara teliti transkrip verbatim wawancara dari masing-masing subjek. Kemudian peneliti melakukan proses pengkodean yaitu dengan cara memberi garis bawah pada kalimat atau katakata subjek yang relevan dengan focus penelitian. Pada tahap ini yang

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 dilakukan peneliti adalah mengeluarkan atau menemukan kata-kata atau kalimat kunci yang relevan dengan fokus penelitian. Kalimat atau kata-kata subjek mengarah pada fokus penelitian tersebut kemudian dituliskan kembali secara ringkas tanpa mengubah esensi kalimat yang disampaikan oleh subjek kedalam kolom koding awal. d. Setelah itu, peneliti mencoba membuat analisis dari hasil koding untuk menemukan kemungkinan tema-tema yang muncul. e. Langkah terakhir yang dilakukan peneliti adalah membuat rangkuman hasil temuan penelitian dalam bentuk table dan skema untuk memudahkan pembaca mengetahui hasil penelitian. 4. Jadwal Pengambilan Data Berikut ini adalah jadwal wawancara dengan ketiga subjek penelitian : Tabel 4 Jadwal wawancara dengan subjek 1 (Vs) Hari,tanggal Waktu tempat Kegiatan Rumah - Kondisi lingkungan (Wita) Jumat, desember 20 15.0015.30 Vs Memastikan kesedian 2013 kembali Tempat cukup sepi Vs menjadi subjek melakukan penelitian. - Meminta untuk dan nyaman untuk wawancara. Vs membaca menandatangani Ada untuk adik ipar Vs yang dan berada surat tengah di ruang rumah

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 pernyataan persetujuan sedang bermain PS, wawancara. - namun Menanyakan data mengganggu proses pribadi Vs. - tidak wawancara. Menanyakan bagaimana keadaan dan perasaan Vs di lingkungan yang baru - Menanyakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan turun perkawinan kasta yang dipilihnya. Kamis,2 12.00- Rumah januari 2014 12.30 VS - Melengkapi tentang turun data Tempat cukup sepi perkawinan dan nyaman untuk kasta dilakukannya. yang proses wawancara. Tidak ada orang lain selain peneliti dan Vs di rumah tersebut sehingga semakin memudahkan Vs dalam menceritakan pengalamannya.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 Tabel 5 Jadwal wawancara dengan subjek 2 (Ds) Hari, Waktu Tanggal (Wita) Senin,30 desember 2013 tempat Kegiatan 13.20- Depan - 13.50 ruang membaca dosen menandatangani kampus surat Undiksha persetujuan orang yang Denpasar wawancara. lalang di - - Kondisi lingkungan Meminta Ds untuk Tempat cukup ramai, dan namun tidak mengganggu pernyataan wawancara. Menanyakan proses Banyak sekitar data tempat dilakukannya pribadi Ds. proses Menanyakan Akan wawancara. tetapi bagaimana keadaan tersebut dan perasaan Ds di membuat lingkungan - Ds malu yang atau tidak nyaman dalam Menanyakan wawancara ini. tentang hal-hal yang dengan perkawinan turun kasta yang dipilihnya. hal tidak baru berkaitan lalu proses

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Senin,6 14.00- Depan - Melengkapi januari 2014 14.30 ruang mengenai dosen pernikahan turun proses kampus kasta yang Walaupun Undiksha dilakukan oleh Ds. 51 data Tempat cukup sepi dan nyaman untuk Denpasar wawancara. ada beberapa saja mahasiswa yang lewat di depan ruang dosen tersebut, namun tidak mengganggu proses wawancara. Tabel 6 Jadwal wawancara subjek 3 (Id) Hari, Waktu tanggal (wita) Selasa, 7 14.00- januari 2014 tempat Kegiatan Rumah Id - 14.30 Kondisi lingkungan Meminta Id untuk Kondisi membaca - id dan cukup sepi dan sunyi. menandatangani surat rumah Hal tersebut pernyataan mendukung jalannya persetujuan wawancara sehingga wawancara. id Menanyakan pribadi Id. dapat data menceritakan dengan nyaman tanpa takut

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI - Menanyakan 52 ada orang lain yang bagaimana keadaan mendengarkan dan perasaan Id di lingkungan yang baru - Menanyakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan perkawinan turun kasta yang dipilihnya. Sabtu,11 15.00- januari 2014 15.30 Rumah Id Melengkapi mengenai turun data Keadaan rumah Id pernikahan cukup kasta sepi dan yang nyaman. Walau ada dilakukan oleh Id. mertua Id, namun hal itu tidak mengganggu jalannya wawancara. B. Profil Subjek Berikut ini adalah profil subjek dalam penelitian ini: Keterangan Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3 Inisial Vs Ds Id Umur 23 23 25

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pekerjaan Wiraswasta Kategori kasta Anak Agung Istri Desak (Ksatrya) Ida Agung (Ksatrya) (Brahmana) 1. Mahasiswi 53 Mahasiswi Ayu Subjek 1 (Vs) a. Deskripsi subjek Subjek pertama dalam penelitian ini adalah seorang perempuan yang berusian 23 tahun dengan inisial Vs. Perempuan yang lahir di Denpasar pada tanggal 1 januari 1991 ini memiliki kulit berwarna coklat dengan tinggi sekitar 155cm dan tubuh yang tidak terlalu gemuk. Vs adalah pribadi yang ramah namun sedikit malu-malu.Walaupun awalnya terkesan malumalu dalam bercerita namun di pertengahan wawancara Vs semakin terbuka dan tidak malu-malu lagi untuk menceritakan pengalamannya dalam pernikahan turun kasta ini. Saat ini Vs sedang mengandung anak pertamanya. Perempuan yang sedang hamil 5 bulan ini adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Perempuan yang telah menikah dengan suaminya selama kurang lebih 2 tahun ini baru menyelesaikan studinya di sebuah universitas swasta di Bali.Walaupun Vs sudah menikah dan keluar dari keluarganya, namun Vs tetap datang kerumah orang tuanya untuk melihat keadaan orang tuanya dan adikadiknya. b. Gambaran umum mengenai pernikahan turun kasta yang dilakukan subjek 1 (Vs)

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Vs melakukan pernikahan turun kasta dikarenakan orang tua Vs mengetahui bahwa pada saat KKN, Vs menginap di rumah suaminya yang pada saat itu adalah pacar Vs. Vs menginap disana karena pada saat itu Vs ingin bersama suaminya tersebut. Orang tua Vs dapat mengetahuinya karena pada saat itu orang tua Vs sedang menuju ke lokasi KKN Vs untuk mengetahui keadaan Vs namun Vs tidak ada di lokasi. Hal tersebut membuat orang tua Vs marah dan ingin berbicara dengan keluarga suami Vs. Pada saat itu terjadi kesalahpahaman yang mengakibatkan orang tua suami Vs datang untuk melamar Vs. Dalam pertemuan keluarga itu terdapat keluarga besar Vs yaitu orang tua Vs, kakek, nenek dan paman Vs. Saat orang tua suami Vs dapat dan berdiskusi dengan keluarga Vs, kakek dan nenek Vs sangat kecewa dan terpukul atas kejadian tersebut. Kakek dan nenek Vs merasa malu dengan perbuatan Vs maka mereka menyuruh orang tua Vs untuk menikahkan Vs dengan suaminya. Saat pertemuan keluarga itu, Vs merasa suasana rumah sangatlah suram dan menyeramkan. Akan tetapi, Vs senang karena Vs bisa menikah dengan suaminya. Hal itu dikarenakan Vs tidak ingin dijodohkan dengan orang yang belum dia kenal dan akan menjadi suaminya. Oleh karena itu, pada saat kakek dan nenek dari ibu Vs menyuruh Vs untuk menikah, Vs sangat senang. Walaupun Vs dengan suaminya baru 6 bulan berpacaran, namun hal itu tidak menyurutkan keinginan Vs untuk menikah dengan suaminya. Disisi lain, walau subjek sangat senang karena akan menikah dengan suaminya, Vs juga sangat sedih karena harus menikah dengan

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 keadaan seperti itu. Vs mengatakan bahwa Vs bingung antara diberikan izin atau tidak mereka menikah. Hal itu dikarenakan sampai sekarang keluarga dari ibu Vs belum menyetujui Vs untuk menikah turun kasta, namun keluarga dari ayah Vs sudah dapat menerima keadaan Vs yang kini hanyalah seorang jaba wangsa. Vs sangat dekat dengan keluarga ibu Vs sehingga sampai pada saat ini subjek masih sedih karena belum bisa direstui oleh keluarga ibunya. Penolakan yang didapat Vs karena menikah turun kasta sangat membuat Vs sedih dan takut. Vs menceritakan bahwa penolakan yang dilakukan oleh kakek dan nenek Vs dari ibunya sampai-sampai tidak mau melihat Vs. Diceritakan bahwa saat itu Vs sedang berada di kampung ayahnya karena ada upacara adat. Pada saat itu subjek sedang berada di halaman bersama dengan suami dan saudara-saudara yang lain. Tidak lama kemudian nenek dari ibu Vs datang dan melihat Vs. Nenek Vs itupun langsung pingsan dan histeris melihat Vs saat itu. Vs pun ketakutan dan ibu Vs menyuruh Vs untuk bersembunyi. Saat kejadian itu, Vs tidak berani bertemu dengan kakek dan nenek dari ibu Vs sampai sekarang. Saat ini Vs tinggal bersama suami, adik-adik iparnya, ibu dan ayah mertuanya.Vs merasa cukup nyaman tinggal bersama keluarga suaminya. Hal tersebut dikarenakan Vs sudah dianggap seperti anak sendiri oleh orang tua suaminya. Begitu pula di kampung suaminya, Vs sangat di agungkan dan di sepesialkan oleh nenek suaminya. Orang-orang dalam keluarga suaminya juga sangat terbuka dan menerima Vs dengan senang hati. Vs pun

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 menceritakan bahwa dia bukan satu-satunya orang yang turun kasta di keluarga suaminya. Kebetulan ibu mertua Vs juga turun kasta saat menikah dengan ayah mertuanya. Selain itu masih ada kakak dari ayah mertuanya yang menikah dengan orang berkasta. Jadi memang sudah tidak ada masalah dengan perkawinan turun kasta dalam keluarga suami Vs. Lingkungan dirumah Vs pun juga tidak mempermasalahkan pernikahan Vs yang turun kasta. Hal itu dikarenakan Vs tinggal di lingkungan yang rata-rata penduduknya adalah muslim. Sehingga tidak terlalu mempermasalahkan kasta dan kedudukan Vs. Hal serupa juga dirasakan Vs dalam keluarga ayahnya. Memang awalnya tidak setuju dengan pernikahan turun kasta yang dilakukan oleh Vs. namun seiring dengan waktu untuk mempersiapkan pernikahan, keluarga dari ayah Vs merestui dan ikut membantu dalam proses pernikahan Vs dengan suaminya. Setelah menikahpun Vs sering pulang kerumah orang tuanya untuk menengok kabar kedua orang tuanya atau sekedar mampir. Vs juga sering membantu ibunya untuk beribadah dirumah pada saat ibunya sedang berhalangan (menstruasi). Akan tetapi, berbeda dengan keluarga dari ibu Vs yang sampai saat ini masih merasa berat Vs tidak dapat menemukan pasangan yang sederajat atau sekasta dengannya. Vs tidak merasakan perbedaan yang drastis antara dulu pada waktu masih memiliki kasta dan kini hanya sebagai istri dari seorang sudra. Hanya saja yang berbeda adalah panggilan kepada ibu kandungnya. Dulu pada saat Vs masih memiliki kasta, Vs memanggil ibunya ibu dan kini Vs memanggil

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 ibunya dengan sebutan tu ibu.Selain itu juga, dulu pada saat masih di rumah sendiri Vs lebih bisa bersantai dan tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Akan tetapi, kini setelah menikah Vs harus bisa membersihkan rumah sendiri dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sendiri. Dalam lingkungan bermasyarakat Vs juga merasakan perbedaan yang cukup berbeda. Dulu pada saat Vs masih memiliki status berkasta, jika ada upacara adat Vs dibantu oleh para pengayah (orang-orang yang membantu seseorang yang kastanya lebih tinggi). Akan tetapi, kini Vs harus turun tangan sendiri dalam mempersiapkan upacara adat tersebut. 2. Subjek 2 (Ds) a. Deskripsi subjek Subjek kedua dalam penelitian ini adalah perempuan berinisial Ds. Ds adalah anak pertama dari dua bersaudara. Perempuan yang lahir di tabanan, 7 oktober 1991 ini memiliki tinggi sekitar 150cm dan bertubuh sedikit gemuk. Saat ini Ds berumur 23 dan sedang menyelesaikan studinya di salah satu universitas negeri di Bali. Perempuan yang memiliki warna kulit yang cukup gelap ini merupakan pribadi yang ramah dan cukup terbuka. Hal itu ditunjukkannya pada saat diwawancara, Ds tidak terlalu berpikir pada saat proses wawancara. Ds langsung menjawab apapun yang ditanyakan peneliti dan Ds sangat antusias dalam menceritakan kisah pernikahannya. Ds telah menikah dengan suaminya sudah sekitar 3 tahun. Selama3 tahun itu, Ds telah dikaruniai dua orang anak. Sejak menikah dengan suaminya, Ds tinggal bersama suami dan keluarga suaminya. Walaupun

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 sudah keluar dan turun kasta karena menikah dengan kasta yang di bawahnya, Ds tetap diperbolehkan pulang dan tidak mengalami kesulitan apapun. b. Gambaran umum mengenai pernikahan turun kasta yang dilakukan subjek 2 (Ds) Ds menikah dengan suaminya dikarenakan telah hamil diluar nikah. Selama ini Ds dan suaminya telah berpacaran selama 4 tahun dan belum mendapatkan restu dari orang tua Ds. Walaupun suami Ds dulunya sering menjempun Ds untuk pergi jalan-jalan namun orang tua Ds tetap biasa dan tidak mau menganggap suami Ds adalah pacar Ds. Dengan demikian suami Ds mengatakan kepada Ds dengan bahasa Bali yang artinya “aku kesel sama orang tuamu, jadi apa aku hamilin aja kamu ya?” kemudian mereka melakukan hal tersebut dan akhirnya Ds hamil. Pada saat diketahui bahwa Ds hamil, orang tua Ds hanya berpikir untuk menikahkan Ds dengan suaminya. Akhirnya merekapun menikah dan tidak ada halangan yang menghambat pernikahan mereka. Hal itu dikarenakan keluarga besar Ds tidak mempermasalahkan pernikahan turun kasta yang dilakukan Ds. Menurut mereka hal ini sudah takdir dan harus dijalani. Selain itu, hal ini juga di permudah oleh keluarga Ds karena memang sebelumnya dari keluarga Ds sudah banyak yang menikah turun kasta. Oleh karena itu tidak terlalu masalah saat Ds memutuskan untuk menikah dengan suaminya. Ds juga menjelaskan bahwa akan berbeda jika

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Ds adalah orang pertama yang menikah turun kasta. Mungkin tidak akan segampang itu dan sepengertian itu keluarga Ds. Saat ini Ds tinggal dengan keluarga suaminya yang tidak jauh dari rumah Ds. Dikarenakan rumah Ds dengan rumah suaminya tidak terlalu jauh sehingga memudahkan Ds untuk sering pulang kerumah keluarganya. Ds mengaku bahwa dirinya sangat senang dapat dengan bebas pulang kerumahnya. Hal itu dikarenakan suami dan keluarga suaminya tidak mempermasalahkan dan membiarkan Ds untuk kapanpun pulang kerumahnya. Dspun juga diijinkan untuk menginap di rumah keluarganya asalkan Ds dapat mengatakan sebelumnya kepada suami dan keluarga suaminya agar tidak mengkhawatirkan. Sejak Ds menikah dengan suaminya dan keluar dari lingkungan kastanya, Ds tidak terlalu merasa ada perbedaan. Hal itu dikarenakan lingkungan dari keluarga suaminya tetap meghormati Ds dan bersikap sopan dengan Ds. Hal itu dijelaskan Ds bahwa jika keluarga suami Ds berbicara dengan orang-orang dari keluarganya dan setara denganya atau sama-sama jaba wangsa, keluarga suaminya akan menggunakan bahasa kasar atau bahasa madya (bahasa yang tidak terlalu kasar dan bahasa tidak terlalu halus). Akan tetapi jika berbicara dengan Ds dan anaknya, keluarga suaminya dan orang-orang di lingkungan suaminya akan menggunakan bahasa halus dan lebih sopan kepada Ds dan anaknya. Dalam keseharian Ds memang tidak pernah mendengar perkataan kasar dan Ds juga selalu

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 menggunakan bahasa halus jika berbicara dengan keluarganya ataupun orang-orang di sekitarnya. Dilingkungan bermasyarakat, Ds belum diijinkan oleh keluarga suaminya untuk ikut berbaur dalam bermasyarakat. Ds mengatakan bahwa mertua Ds merasanya masih mampu dan bisa melakukan hal-al yang ada di masyarakat misalya membantu dalam proses upacara adat. Mertua Ds mengatakan bahwa Ds di rumah saja mengurus anaknya dan fokus dalam kuliahnya. Hal itu dirasa wajar oleh Ds karena Ds dapat segera menyelesaikan studinya dan dapat mengurusi kedua anaknya. Oleh karena itu, sampai sekarang bermasyarakat dan Ds Ds belum menjadi masuk tidak dalam mengenal kegiatan-kegiatan orang-orang di lingkungannya. Ds merasa bahwa sampai saat ini Ds tidak mengenal orangorang dilingkungannya. Hal itu dikarenakan Ds jarang bersosialisasi karena Ds sibuk dengan studinya dan mengurusi anaknya. Ds hanya mengetahui orang-orang yang pernah datang kerumahnya untuk bertemu mertuanya saja. 3. Subjek 3 a. Deskripsi subjek Subjek ketiga dalam penelitian ini adalah perempuan berinisial Id. Id merupakan anak tunggal dari kedua orang tuanya. Perempuan yang lahir di Sanur, pada tanggal 22 januari 1989 ini memiliki perawakan yang besar dengan tinggi sekitar 169 cm dan berat badan sekitar 65 kg. Saat ini Id berumur 25 tahun dan sedang menyelesaikan studi S2 nya. Kini perempuan

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 yang berkulit coklat ini memiliki seorang anak laki-laki. Id memiliki pribadi yang ramah dan cukup terbuka. Hal itu dikarenakan pada saat wawancara Id tidak malu atau merasa enggan untuk mengakui bagaimana sikap dan kenyataan yang telah dihadapinya berkaitan dengan kehidupannya dalam lingkungan barunya. Perempuan yang telah menikah selama 2 tahun ini kini tinggal bersama suami, anak dan mertuanya. Didalam lingkungannya Id termasuk anak yang pendiam dan tidak banyak bersosialisasi. Hal itu diakui Id pada saat diwawancara karena Id merasa malas untuk membangun pembicaraan dengan orang yang tidak ia kenal. b. Gambaran umum mengenai pernikahan turun kasta yang dilakukan subjek 3 (Id) Subjek ke tiga ini menikah dengan suaminya dikarenakan hamil. Hal itu membuat keluarga besarnya kecewa ditambah Id hamil dengan orang yang kastanya dibawah mereka. Hal itu membuat Id susah mendapat restu dari keluarga besarnya. Id sangat sulit mendapatkan restu dari keluarga besarnya sampai mertuanya pada saat itu harus membawa temannya untuk membantu mertua Id dalam acara pelamaran. Saat itu suasana sangat tegang dan Id sampai sekarang tidak mendapatkan restu dari kakeknya. Walau ibu dan ayah Id telah akhirnya memberikan restu namun saat itu tidak sepenuhnya restu itu diberikan. Pemberian restu untuk menikah sematamata untuk anak Id yang harus lahir dan memiliki orang tua. Akan tetapi, lambat tahun orang tua Id merestui dengan ikhlas. Walaupun demikian,

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 kakek dan keluarganya yang lain masih belum memberikan Id restu dan sampai sekarang keluarga besar Id masih melihat Id sebelah mata karena Id menikah dengan jaba wangsa. Saat Id pacaran dengan suaminya kini, Id memang sudah tidak direstui oleh keluarganya. Selain itu, Id juga sudah dijodohkan dengan laki-laki yang masih ada hubungan keluarga dengan keluarganya walaupun masih terhitung keluarga jauh. Hal itu mungkin yang membuat Id berbuat nekat dengan suaminya kini. Id merasa tidak ingin dinikahkan dengan laki-laki yang tidak ia suka dan cintai. Id pun mengakui bahwa lebih baik dia dengan suminya kini dibandingkan harus menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya tersebut. Akhirnya Id menikah dengan suaminya kini walau restu tidak sepenuhnya didapatkannya. Id tidak menyesal dengan keputusan yang telah diambilnya. Id menikmati setiap apapun yang ia lakukan walau Id harus susah beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Id merasa harus lebih bisa belajar untuk memahami lingkungan disekitarnya untuk mendapatkan kenyamanan bersama antara dirinya, lingkungan dan keluarganya. Terkadang Id merasa sedih karena sikap yang diterimanya dahulu dan sekarang sangatlah berbeda. Id merasa dulu sangat jarang melakukan pekerjaan rumah namun kini setelah menikah Id harus bisa melakukan pekerjaan rumahnya sendiri. Selain itu, Id juga merasa bahwa orang-orang dilingkungannya sekarang lebih kasar dalam hal berbicara. Hal itulah yang terkadang membuat Id tidak nyaman karena biasanya dulu Id menggunakan bahasa halus dan Id selalu

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 berada dilingkungan yang orang-orangnya menggunakan bahasa halus dalam berbicara. Akan tetapi, Id merasa dirinya harus bisa terbiasa dengan hal tersebut dan berusaha untuk belajar mengerti dan memahami keadaan yang ada. Id mengaku bahwa dirinya adalah orang yang sudah dalam memulai sebuah pembicaraan sehingga pada saat ada kesempatan untuk berbaur dan bersosialisasi dengan lingkungannya yang baru Id malah menutup diri dan memilih diam tidak berbicara. Selain itu jika id di ajak ke banjar untuk nguwopin (bantu-bantu), Id memilih untuk diam di rumah dan tidak mengikuti mertuanya ke banjar. Id mengakui bahwa ia juga malas dan lebih banyak pekerjaan rumah yang dilakukan mertuanya uintuk membantu Id. C. Rangkuman Tema Temuan Penelitian Tabel 7. Rangkuman tema temuan penelitian Fokus penelitian Area Status Kasta Rumusan tema temuan penelitian 1. Adanya keterkekangan karena kasta 2. Adanya keterikatan dengan kasta 3. Adanya perbedaan karena kedudukan yang sudah turun 4. Adanya pertimbangan yang dilakukan dalam mengambil keputusan 5. Adanyakepasrahan dalam hidup 6. Adanya perbedaan perlakuan karena status kasta

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 7. Adanya perasaan tetap dihormati 8. Tetap mendapat penghormatan 9. Adanya peraturan-peraturan yang dilakukan agar tidak menjadi masalah 10. Tidak adanya penyesalan 11. Adanya keputusan yang diambil untuk mencapai sesuatu yang diinginkan 12. Adanya perasaan kebingungan dalam mengambil keputusan 13. Adanya pemahaman akan posisi diri Area lingkungan keluarga berkasta 1. Adanya penolakan dari keluarga besar 2. Adanya kesalahpahaman 3. Pada akhirnya adanya penerimaan dari kelurga 4. Adanya kebingungan karena harus menikah turun kasta 5. Adanya keputusan dari keluarga besar 6. Adanya respon yang berbeda-beda dari keluarga besar 7. Adanya harapan kepada keluarga besar 8. Adanya ketakutan 9. Adanya harapan dari keluarga besar 10. Adanya kesedihan mendalam karena

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 keadaan 11. Adanya perasaan masih dibutuhkan oleh keluarga 12. Adanya perbedaan yang dirasakan karena keadaan 13. Adanya pertentangan dengan orang tua 14. Adanya hambatan pada saat menikah turun kasta 15. Adanya keinginan untuk diterima oleh keluarga besar 16. Adanya rasa membebani orang tua 17. Tidak adanya perbedaan sikap di lingkungan keluarga berkasta 18. Tidak ada hambatan dalam keluarga besar 19. Adanya ketidak nyamanan dalam keluarga besar 20. Adanya perasaan senasib dengan anggota keluarga lain 21. Adanya kemungkinan yang dipikirkan 22. Adanya hubungan yang baik antara dua keluarga 23. Adanya keterpaksaan

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 24. Adanya bantuan dari orang lain 25. Adanya keraguan 26. Adanya rasa mengecewakan orang tua 27. Adanya keinginan untuk menentang orang tua 28. Adanya pertahanan kasta dari keluarga besar 29. Adanya kesulitan mencapai sesuatu 30. Kurangnya keinginan untuk mencoba Area lingkungan keluarga baru/ 1. Adanya penerimaan karena kesamaan suami/tidak berkasta yang dialami oleh keluarga suami 2. Adanya penerimaan dari keluarga 3. Adanya kecemasan atau kekhawatiran di lingkungan keluarga baru 4. Adanya kemampuan dalam melakukan penyesuaian sosial dengan lingkungan keluarga baru 5. Adanya perlakuan yang berbeda 6. Tidak ada masalah dalam lingkungan keluarga baru 7. Adanya kebebasan yang dirasa untuk mengunjungi keluarga berkasta 8. Adanya pengertian dari keluarga

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 9. Adanya bantuan dari keluarga 10. Tidak ada hambatan dalam perkawinan 11. Adanya hubungan baik anatara dua keluarga 12. Tidak ada halangan dalam melakukan penyesuaian sosial dengan keluarga baru 13. Adanya perubahan dalam kehidupan di keluarga baru 14. Adanya ketidakbebasan karena kurang terbiasa 15. Adanya perbedaan yang dirasa 16. Adanya rasa canggung 17. Adanya perasaan kurang memahami keadaan 18. Adanya harapan bantuan dari orang lain 19. Adanya keterikatan dengan kebiasaan lama Area masyarakat 1. Kurang dapat berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungan sekitar 2. Adanya perasaan apatis atau acuh tak acuh dengan lingkungan disekitar 3. Kurangnya keinginan untuk melakukan penyesuaian sosial dengan lingkungan

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 masyarakat 4. Adanya perbedaan budaya di lingkungan masyarakat 5. Adanya keinginan untuk memahami lingkungan di sekitar 6. Adanya keinginan untuk dibantu oleh orang lain 7. Kurang ada yang memotivasi dalam melakukan penyesuaian sosial di masyarakat 8. Adanya kesadaran diri 9. Adanya keinginan untuk belajar D. Deskripsi Tema Berdasarkan hasil analisis data yang sudah dilakukan pada ketiga subjek penelitian, diperoleh rumusan tema mengenai area dalam lingkungan berkasta, area dalam lingkungan tidak berkasta, area masyarakat dan status kasta. Berikut ini akan dijelaskan secara lebih detail mengenai area-area tersebut dan pandangan status kasta yang berhubungan dengan hasil wawancara. 1. Status Kasta Analisis data dari keseluruhan subjek bahwa ketiga subjek mengakui mereka tidak mengalami masalah ketika mereka harus kehilangan kastanya setelah menikah. Mereka menganggap biasa saja setelah menikah turun kasta. Hal itu dikarenakan ketiga subjek mendapatkan perilaku yang tidak jauh berbeda

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 dengan saat mereka menjadi perempuan berkasta seperti lingkungan sekitarnya yang baru jika berbicara dengan subjek masih menggunakan tutur kata yang halus. Hal itu yang membuat subjek masih merasa dihormati seperti dilingkungan berkastanya dulu. Walaupun mereka sangat memahami kedudukan mereka sekarang yaitu sebagai perempuan tidak berkasta namun terkadang mereka masih merasa adanya perhormatan karena dibedakan dengan keluarga yang lain. Disisi lain, ketiga subjek juga merasakan adanya kepasrahan dengan keputusan yang telah mereka ambil. Mereka memang mengatakan tidak sedih dan tidak menyesal menikah turun kasta namun ada hal-hal lain yang membuat mereka harus menikah turun kasta seperti misalnya hamil diluar nikah dan keinginan untuk bebas dari perjodohan orang tua mereka, maka mereka memutuskan untuk menikah turun kasta. Adanya pertimbangan yang dilakukan untuk mengambil keputusan ini. hal itu dikarenakan subjek merasa bingung karena sangat sulit mengambil keputusan untuk menikah turun kasta. Selain itu adanya keterikatan dengan kasta membuat subjek harus mengikuti peraturanperaturan yang ditentukan oleh adat agar tidak menjadi masalah dikemudian hari dengan pernikahannya. Hal ini di tunjukkan dari isi wawancara berikut ini : (Subjek I) “… 6 bulan. Ya gara-gara aku kkn aku disuruh nikah. Jadi waktu aku kkn kan aku harusnya di karangasem, tapi aku malah disini. Iya, trus bapakku tahu. Makanya dinikahin. Ya udah sih pasrah aja kalok dinikahin.” (I. No. 418-432) “… Ada hambatan dari orang tua. Kasian. Ya sedih ma orang tua aja.” (I, no. 336340)

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 “… karena aku cinta sama suamiku. Ehhm dibanding aku dijodohin. Iya. Dibanding aku dijodohin sama orang kaya, sama pejabat, tapi aku gak, yang aku gak cinta.” (I, no. 315-334) “...Dulu waktu aku baru baru nikah tu kan eh jangan gek nya disuruh gini, duduk aja, awal awal kamu nikah?Enggak waktu di rumahnya (kakek nenek si cowok) di sana di karangasem (kampung). Pokoknya kalok aku dateng itu lebih gimana gitu. Gek gek sini duduk. Lebih kayak gitu. Itu di karangasem,...” (I, no.363-388) (subjek II) “… Gak masalah. Orang dah tau dulu. Orang kan dulu istilahnya dimalingkan, abis tu lagi satu setengah tahunnya baru diresmiin, baru mepamit dirumahkan semua ikut nganter ke rumah suami. Men mau gimana men. Udah nasib je namanya kayak gini. Ya gitu aja sih.” (II, no 267-279) “… Kalau sedih, dari dulu kan berarti saya gak mau pacaran sama dia. Enggak sih. Ya gimana ya. Udah dari dulu, udah dari satu setengah tahun dah hamper dua tahun pacaran sama dia. Kalau misalnya ada gitu perasaan sedih kan seharusnya gak usah dah lagi di lanjutin pacarannya ini. Kan seharusnya gitu dari dulu. Tapi ini gak. Apa emang udah cinta gitu ya. Gak ada perasaan gini gitu, gak ada penyesalan.” (II, no. 400-418) (Subjek III) “… eEhm gimana ya, kalok dibilang menikmati sih menikmati ya. Cuma kan kadang kita ngerasa sedih kesel karena harus kayak gini. Cuma ya kan karena emang aku yang milih jalan ini dan aku harus terima konsekuensinya.” (III, no. 36-52)

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. 71 Area Lingkungan Keluarga Berkasta Ketiga subjek mengungkapkan bahwa dirinya memiliki masalah dengan keluarga berkasta mereka. Sebelum mereka menikah memang terjadi penolakan yang kuat dari masing-masing keluarga. Akan tetapi, setelah mereka menikah ada keluarga yang menerima subjek namun ada juga yang masih menolak keputusan subjek menikah turun kasta sampai saat ini. Ada harapan dari subjek untuk dapat diterima dan dapat berkumpul lagi dengan keluarga. Akan tetapi, hal itu sulit karena beberapa dari keluarga subjek masih sangat menolak sampai tidak ingin bertemu subjek. Disisi lain, salah satu subjek walaupun sudah diterima oleh keluarga berkastanya bahwa kini subjek adalah perempuan yang tidak berkasta namun subjek tetap tidak bisa berbaur atau merasa tidak nyaman dengan keluarga berkastanya. Subjek merasa malu dan tidak enak harus berkumpul dengan keluarga besarnya. Hal-hal tersebut membuat masing-masing subjek harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan di keluarga berkastanya lagi karena identitas barunya sebagai perempuan tidak berkasta. Dalam keadaannya kini, subjek mengakui bahwa subjek mengalami adanya perubahan selama subjek menjadi perempuan tidak berkasta. Hal itu dikarenakan beberapa perilaku dan kebiasaan yang berbeda di puri atau griya (tempat orangorang berkasta) dengan di lingkungannya sekarang. Perbedaan atau perubahan itu seperti cara bicara orang-orang dilingkungan sekitar yang baru sangat berbeda dengan lingkungan subjek sebelumnya. Selain itu, perbedaan yang lain yaitu dulu subjek dibantu oleh orang-orang yang tidak berkasta untuk melakukan kegiatan di

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 masyarakat, namun kini subjek melakukannya sendiri. Pernyataan diatas di tunjukkan dalam hasil wawancara berikut ini : (Subjek I) “… Tetep nikah. Terus direstuin. Keluarga dari ibu enggak ngerestuin sampai sekarang. Belum dapat restu. Tapi keluarga dari bapak udah biasa aja. Tapi waktu mau nikah enggak direstuin, trus abis tu karena udah terlanjur ya udah nikah.” (I, no. 21-31) “…Ehm paling ama tante tanteku, ipar-iparnya ibuku, biasa. Tapi kalok sodaranya ibuku om ku, yang kandung gak pernah aku berhubungan sama sekali. Ketemu pernah tapi ehm aku yang nanyain dari mana, tapi gak da jawaban yaudah aku diem aja. Di kacangin gitu? Iya. Kalok ama tanteku biasa aja. Berhubungan aku sama keluarga dari ibu paling lewat facebook. Paling lewat facebook, kalok lewat sms jarang. Kalok sama nenekku gak pernah. Nenekku yang paling gak bisa gini. Ma kakekku juga.” (I, no. 238-260) “...Ada. Kalok misalnya dirumah, kalok aku dirumah ehmm kalok aku dulu di rumah misalnya ada upacara di banjar ya ikut terus biasanya sih di puri itu kan ada pengayah yang bantuin, kalok disini aku yang turun langsung seharusnya kayak gitu...” (I, no. 195-216) (Subjek II) “… Karena kan beda kasta ni kan ya. Dari pertama pacaran ni ya orang udah ndak disetujuin ama orang tua saya dirumahkan. Tu dah gara- gara itu dah mungkin ya bisa lah nekat sampek berbuat gitu yak an sampek hamil. Gara-gara itu dah gara – gara gak disetujuin makanya kayak gitu.” (II, no 1-12)

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 “… Mungkin karena dulu masih bajang, bisa gitu dirumah sendiri. Karena sekarang sudah menikah kan dan dirumah orang jadi ya gitu. Bangun harus jam 6 gitu bangun, kalau dirumah kan boleh bangun jam berapa aja. Dan kalau liburlibur sekarang harus lebih gini lah.” (II, no. 446-460) “…. Cuma dari lingkungannya. Kalau dirumah kayak gini, kalau di rumah suami kayak gini. Kalau di jero biasalah sama orang-orang kan udah dari kecil dan kenal semua. Tapi kalau dirumah suamikan masih belum kenal ini siapa ini siapa. Jadi gak leluasa mau kesana kesini. Ya masih canggung jadinya sama yang dirumah suami sekarang.” (II, no. 462-479) “…jadi kalok ngomong sama saya sama anak saya tetep ngomong halus. Tapi kalok mereka sama-sama dari sana ya tetep ngomong kasar. Kalok ngomong sama saya sama anak saya baru je ngomong halus gitu. Soalnya kan kalok saya ngomong gitu juga, tiang gitu. Gak gak bisa. Soalnya gimana ya meskipun udah lama diem disana tetep gak bisa ngomong kasar kasar. Gitu dah.” (II, no. 108142) (Subjek III) “...Kan awalnya aku ni pacaran kan. Emang gak dikasi ma orang tua kan buat pacaran sama yang jaba gitu. Trus ya akhirnya hamil dah. Ya hamil sih karena emang karena suka sama suka ya. Abis tu bilang sama ajik. Ajik waktu itu gak terima, gak mau dinikahin. Walau mertuaku dah datang buat minta lah ya istilahnya kayak ngelamar gitu tetep di tolak sama ajik. Akhirnya ada temennya mertua di ajak sama mertua ketemu sama ajik. Dijelasin dah semuanya dan di bilangin ini sudah ada cucu, masak gak mau dinikahin juga. Nanti anak dalam

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 kandungannya ini susah, karena gak ada orang tuanya, gitu dah temennya mertua ngomong. Trus lama tu nunggu keputusan boleh nikahnya. Akhirnya boleh nikah. Trus nikah kan.” (III, no. 106-123) “…Tapi kalok sama keluargaku sendiri pasti tegang. Apalagi kalok ada acara keluarga misalnya ada odalan dirumah keluargaku kan aku datang. Gak berani dah aku ngomong gitu. Diem aja. Ya masih dipandang sebelah mata soalnya. Kan udah nyerod. Untuk sembahyang juga gitu. Paling Cuma datang aja ke acaranya tapi gak ikut sembahyang. Kalok dulu kan ikut sembahyang, sekarang enggak.” (III, no. 437-453) 3. Area Lingkungan Keluarga Tidak Berkasta Pada area lingkungan keluarga tidak berkasta yaitu keluarga dari suami subjek, ketiga subjek tidak mendapatkan masalah ataupun kesulitan dalam menyesuaikan diri dilingkungan keluarga tidak berkasta ini. Hal itu dikarenakan subjek mendapat penerimaan dari masing-masing keluarga. Selain itu, keluarga suami subjek juga membantu subjek dalam kegiatan bermasyarakat misalnya saja jika ada kegiatan bermasyarakat mertua subjek lebih sering mengikutinya dari pada subjek. Hal itu dilakukan mertua subjek karena menurut subjek mertua subjek menganggap bahwa dirinya sedang sibuk dengan kegiatannya dalam studi dan mengurus anak sehingga akan lebih mudah jika mertuanya yang mengikuti kegiatan bermasyarakat terlebih dahulu. Jika waktunya nanti tiba, baru subjek yang terjun langsung kedalam masyarakat. Akan tetapi, hal itu tidak membantu subjek dalam bersosialisasi dengan masyarakat disekitar karena subjek menjadi tidak mengenal lingkungan disekitarnya.

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Disisi lain, subjek juga memiliki keinginan untuk memahami keluarga barunya ini. Hal itu dikarenakan kebiasaaan yang berbeda dari keluarga berkastanya dahulu dengan keluarga tidak berkastanya sekarang. Contohnya saja saat sekarang subjek harus belajar terbiasa untuk mendengarkan bahasa-bahasa kasar yang digunakan di lingkungannya sekarang. Walaupun mereka tidak berbicara dengan subjek menggunakan bahasa kasar namun mereka tetap berbicara kasar dengan orang-orang dilingkungannya tesebut sehingga subjek harus terbiasa mendengarkan perkataan seperti itu. Selain itu subjek juga berusaha untuk menjalankan kewajibannya sebagai istri. Hal itu dilakukan subjek agar dapat tetap diterima oleh keluarga suaminya. Hal itu diakui subjek karena subjek tidak ingin dipulangkan kerumah asalnya. Dalam kehidupan subjek kini di lingkungan keluarga suaminya, ketia subjek merasakan kebebasan yang diberikan oleh keluarga suaminya. Subjek diijinkan untuk pualng dan tinggal beberapa hari di rumah asalnya. Subjek tidak mendapatkan larangan untuk pulang kerumah asalnya. Disisi lain, subjek merasakan adanya ketidak bebasan dalam berprilaku di rumah keluarga barunya. Hal itu dikarenakan subjek merasa canggung dan tidak terbiasa. Subjek menjadi lebih sopan dan tidak sembarangan karena subjek merasa bukan dirumahnya sendiri. jika subjek dirumahnya sendiri, subjek mengatakan bahwa subjek bisa seenaknya. Akan tetapi, jika di rumah suaminya subjek tidak berani untuk bertindak seenaknya. Pernyataan tersebut terdapat dalam wawancara subjek sebagai berikut : (Subjek I)

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 “…Kalok di karang asem ikut. Kalok disini odalan sembahyang aja. Tapi gak ikut bantu bantuin.” (I, no. 132-148) “…enggk sih. mertuaku juga jarang ikut yang gitu-gitu. jadi aku ngikut aja. suamiku kan gak masuk muda-mudi di mana-mana. trus kalok meninggal? kemaren sih neneknya suamiku meninggal di kremasiinnya disini. soalnya di karang asemkan biayanya mahal.tapi kalok misalnya ikut adat adat gitu gak juga? ikut, kalok sembahyang, kalok ada acara di karang asem kan banyak acaranya kalok ada acara-acara gitu ikut. tapi kayak ngebantu-ngebantu gitu aku enggak. akunya yang gak. (I, no. 150-177) “….Oh dulunya ak gak pernah nyetrika, disini aku nyetrika. Dulu aku gak pernah bersih-bersih. Sekarang disini aku bersih-bersih. Terpaksa bersih bersih. Itu karena udah jadi istri, iya. Apa karena dirumah emang. Karena aku sudah jadi istri dan dirumah sama mertua dan emang kewajibanku. Apalagi nanti kalok aku di pulangin ma suamiku.” (I,no. 218-236) (Subjek II) “…Ya gitu dah, mungkin ngerti mertua saya. Karena saya kan masih sekolah jadinya di kasik lah sekolah, trus misalnya pas libur-libur ada nguopin (bantubantu di pura) gitu di kasi ngempu (jaga anak) di rumah. “ya ngempu aja di rumah, biar saya yang nguopin” gitu dah dia (mertua). Ya ngertilah dia.” (II, no. 370-383) (Subjek III) “…Ikut sih di rumah. Tapi jarang ke banjar. Paling kalok ada odalan (upacara adat) mertua yang kesana. Aku di rumah aja. Ya gak mau sih gak ngerti, gak kenal

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 juga. Kan ibu mertua mangku tu (pemuka agama) jadi ya lebih bisa kan dari pada aku.” (III, no. 295-306) “…Jarang. Jarang banget. Soalnya kan udah mertua yang kesana. Aku mah kalok suamiku ikut baru aku ikut. Suamiku aja jarang ikut.” (III,no. 308-316) “…Iya. Tapi ya kadang aku males kalok di suruh ikut ngowopin (bantu-bantu) gitu. Jadi ya paling di rumah aja. Jarang keluar mah aku ni.” (III, no. 405-416) 4. Area Masyarakat Pada area masyarakat, ketiga subjek mengaku bahwa kurang dapat berpartisipasi dalam sebuah kegiatan dengan baik. Hal itu dikarenakan subjek yang jarang mengikuti kegiatan di masyarakat dan masih di cover oleh mertua mereka. Mereka juga mengatakan bahwa dirinya kurang dapat berbaur dalam bermasyarakat sehingga menyulitkan subjek untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat. Dengan demikian subjek menjadi tidak mengenal orang-orang disekitarnya, sehingga terlihat bahwa subjek kurang dapat melakukan penyesuaian sosial dengan baik di masyarakat. Disisi lain, subjek memiliki kesadaran untuk belajar memahami orang-orang disekitarnya. hal tersebut sesuai dengan pernyataan subjek dalam wawancara sebagai berikut : (Subjek I) “… Ikut kalau sembahyang. Kalau ada acara di karangasem kan banyak acaranya kalau ada acara-acara gitu ikut. Tapi kayak ngebantu-bantu gitu enggak. Akunya yang gak mau.” (I, no. 150-177) (Subjek II)

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 “…Karena itu dah, karena ngayah gak pernah, nguopin (bantu-bantu di pura) gak pernah, jadi tu gak tau. Misalnya di kasi tau bapak ini, gak tau saya. Palingan Cuma yang sering ke rumah aja taunya. Tapi kalok di suruh nyari kerumahnya gak tau saya. Sama sekali gak tau. Bahkan disatu banjar saya gak tau ini siapa ini siapa. Gak tau saya.” (II, no. 351-369) “…Ya gitu dah, mungkin ngerti mertua saya. Karena saya kan masih sekolah jadinya di kasik lah sekolah, trus misalnya pas libur-libur ada nguopin (bantubantu di pura) gitu di kasi ngempu (jaga anak) di rumah. “Ya ngempu aja di rumah, biar saya yang nguopin” gitu dah dia (mertua). Ya ngertilah dia.” (II, no. 370-383) (Subjek III) “… Relasi sama orang-orang dilingkungan sih biasa aja. Orang gak terlalu kenalkan. Paling tau-tau aja, gak pernah ngobrol. Soalnya akunya juga males ngobrol.” (III, no. 418-428) “… Ya sadar sih. Cuma ya mau gimana lagi. Akunya yang susah buat berbaur kan sama orang-orang. Apalagi dengan cara bicara yang gak biasa aku dengar harus aku lakuin gitu. Trus belum lagi kan beda kebiasaan waktu dipuri sama disini. Jadi ya memang harus bisa lebih belajar lagi sih.” (III, no. 455-469) “… Ya diem aja. Gak ngomong. Duduk aja. Aku juga gak tau orangnya kayak apa. Nanti malah takut salah ngomong.”(III, no. 318-327) “…Jarang. Jarang banget. Soalnya kan udah mertua yang kesana. Aku mah kalok suamiku ikut baru aku ikut. Suamiku aja jarang ikut.” (III, no. 308-316)

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI E. Pembahasan 1. Subjek 1 79 Dari keempat fokus dalam penelitian ini, subjek pertama dapat menerima dirinya sebagai perempuan tidak berkasta. Subjek merasa bahagia menikah dengan suaminya kini karena subjek tidak ingin di jodohkan oleh orang tua. Tekadang subjek memang merasa sedih karena harus meninggalkan orang tuanya dan adanya konflik di keluarga besarnya. Akan tetapi, subjek tetap bisa merasa bahagia karena terkadang subjek diijinkan untuk menjenguk kedua orang tuanya. Subjek masih sering pulang kerumah kecilnya untuk bertemu kedua orang tuanya. Komunikasipun masih lancar antara orang tua dan subjek. Hanya saja untuk berkumpul dengan keluarga besar subjek tidak bisa, namun hal itu tidak membuat subjek menyesal menikah. Subjek menjadi lebih pasrah mengenai keadaan hidupnya kini. Hal ini menunjukkan subjek sesuai dengan aspek penyesuaian sosial di bidang kepuasan pribadi. Adanya perasaan bahagia dalam diri subjek setelah menikah turun kasta. Selain itu, subjek juga merasa dirinya dapat diterima dengan baik di keluarga tidak berkasta atau keluarga suaminya. Hal itu membuat subjek bahagia dan tidak terlalu memikirkan kasta. Keadaan ekonomi yang menjadi salah satu faktor pun juga tidak menjadi masalah dalam hidup subjek. Subjek merasa berkecukupan dan tidak menuntut hal tersebut. Beberapa keluarga dari suami subjek juga ada yang turun kasta, sehingga subjek tidak canggung karena ada yang bernasib sama dengannya. Hal tersebut yang membuat subjek dengan keluarga suaminya dapat melakukan penyesuaian sosial dengan baik. hal ini

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 sesuai dengan aspek penyesuaian sosial pada penyesuaian diri terhadap kelompok. Subjek mampu menyesuaikan diri di lingkungan keluarga suaminya. Pada lingkungan tidak berkasta, subjek menjadi kurang dapat melakukan penyesuaian sosial. Hal itu dikarenakan masih adanya penolakan di keluarga besar subjek. Walaupun keluarga kecil subjek sudah menerima, namun keluarga besar subjek masih menolak sehingga subjek menjadi mengalami kesusahan ketidak melakukan penyesuaian sosial di lingkungan keluarga berkastanya. Hal ini tidak sesuai dengan aspek penyesuaian sosial bagian penampilan nyata, dimana subjek kurang dapat memenuhi harapan kelompoknya yaitu tetap menjadi perempuan berkasta. Pada lingkungan masyarakat, subjek juga kurang dapat melakukan penyesuaian sosial. Hal itu dapat dilihat dari kurangnya keinginan subjek dalam mengikuti kegiatan di masyarakat. Subjek merasa enggan dan tidak mau berbaur dengan masyarakat. Padahal subjek tinggal di Bali yang ketat dengan kebudayaan sosialnya dimana individu harus dapat bersosialisasi lingkungan tersebut karena segala kegiatan berhubungan dengan masyarakat di desa adat tersebut. Memang subjek saat berada di rumah dinas yaitu di Denpasar lingkungan subjek banyak yang bukan umat Hindu. Akan tetapi, pada saat subjek di kampung suaminya yang merupakan umat Hindu, subjek juga tidak ikut serta dalam kegiatan di masyarakat. Subjek mengakui bahwa sudah ada ibu mertuanya yang melakukan kegiatan di masyarakat, namun sebagai umat Hindu dan masyarakat Bali subjek yang sudah menikah memiliki tanggung jawabnya sendiri dalam berkegiatan di masyarakat. Hal ini tidak sesuai dengan aspek penyesuaian sosial pada sikap

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 sosial. Subjek tidak ikut berpartisipasi dan kurang dapat menjalankan perannya dengan baik dalam kegiatan sosial. 2. Subjek 2 Subjek kedua juga memiliki perasaan yang sama ketika harus menikah turun kasta. Subjek merasa sangat bahagia dan tidak ada penyesalan dalam hidupnya ketika menikah turun kasta. Subjek mengakui memang dari saat pacaran subjek dan suami berpikir untuk menikah dan jika tidak diijinkan maka suaminya akan menghamili subjek. Akhirnya hal itupun terjadi, dan subjek menikah dikarenakan hamil terlebih dahulu. Sampai pada akhirnya subjek menikah dengan suaminya dengan restu semua keluarganya. Hal ini sesuai dengan aspek penyesuaian sosial pada kepuasan pribadi. Subjek merasa bahagia dengan status kasta yang kini subjek sandang yaitu sebagai perempuan tidak berkasta. Hal tersebut dikarenakan subjek telah menikah dengan suaminya yang subjek cintai. Pada lingkungan keluarga tidak berkasta subjekpun juga merasa senang. Subjek sangat diterima dan tidak mengalami masalah dalam berkehidupan di lingkungan suaminya tersebut. keluarga suaminyapun tidak pernah melarang jika subjek ingin pulang dan bertemu orang tua kandungnya. Hal itu membuat subjek merasa nyaman tinggal di lingkungan keluarga suaminya. Kebebasan dan dukungan untuk subjek sangat dirasakan subjek. Subjekpun juga merasa dirinya harus dapat melakukan hal baik di keluarga suaminya. Hal itu tercermin ketika subjek beraktivitas dilingkungan keluarga suaminya. Subjek menjadi lebih rajin bangun pagi untuk melakukan kegiatan rumah tangga di banding ketika subjek berada dirumah ornag tuanya. Hal ini sesuai dengan aspek penyesuaian sosial

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 yang menyatakan bahwa subjek mampu menyesuaikan diri di lingkungan yang baru. Pada lingkungan keluarga berkasta, subjek tidak mendapat penolakan. Akan tetapi, subjek tidak ingin berkumpul dengan keluarga besarnya. Hal itu dikarenakan subjek merasa malu karena menikah turun kasta karena hamil. Subjek tidak masalah ketika harus menikah turun kasta, namun karena subjek hamil maka subjek kurang dapat berbaur dengan keluarga berkasta subjek. Hal ini tidak sesuai dengan aspek penyesuaian sosial pada sikap sosial. Hal itu dikarenakan subjek kurang mampu menunjukkan sikap yang menyenangkan terhadap keluarga berkastanya. Walaupun keluarga berkastanya sudah dapat menerima subjek, namun subjek yang menjauh dari keluarga berkastanya dikarenakan malu. Kemudian, untuk dilingkungan masyarakat terlihat subjek juga kurang dapat berbaur dengan masyarakat disekitarnya. Hal itu diakui subjek bahwa subjek tidak mengenal orang-orang di sekitar rumahnya. Subjek juga tidak pernah mengikuti kegiatan di masyarakat karena sudah mertuanya yang mengikuti kegiatan tersebut. pdahal harusnya subjek ikut serta dalam kegiatan tersebut dikarenakan subjek sudah berkeluarga. Subjek memiliki tanggung jawabnya sendiri dalam berkegiatan dimasyarakat. Hal ini tidak sesuai dengan aspek penyesuaian sosial pada sikap sosial. Subjek tidak ikut berpartisipasi dan kurnag dapat menjalankan perannya dengan baik dalam kegiatan sosial

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. 83 Subjek 3 pada subjek ketiga, subjek juga mengaku bahagia menikah turun kasta. Walaupun subjek mendapatkan penolakan yang sangat besar dari keluarga berkastanya namun subjek tetap merasa bahagia. Subjek awalnya merasa sedih karena harus menghadapi penolakan yang sangat besar. Akan tetapi, sejalannya waktu keluarga berkasta subjek dapat menerima subjek sebagai perempuan tidak berkasta dan subjekpun turut bahagia dengan penerimaan tersebut. Subjek memang tidak masalah ketika subjek harus turun kastanya. Subjek merasa bahagia dengan status kastanya karena dengan demikian subjek dapat bersama dengan orang yang dicintainya. Pernyataan ini sesuai dengan aspek penyesuaian sosial yang menyatakan adanya rasa puas, perasaan bahagia dan mampu menerima diri sendiri apa adanya dalam situasi sosialnya kini. Pada lingkungan keluarga tidak berkasta yaitu keluarga suaminya, subjek juga merasa bahagia karena dia dapat diterima dengan baik di lingkungan tersebut. Subjek merasa tidak ada masalah di lingkungan keluarga suaminya. Subjek mendapat prilaku yang baik dan subjekpun berusaha untuk berprilaku yang baik. Hal ini sesuai dengan aspek penyesuaian sosial ketika subjek dapat menyesuaikan diri secara baik di lingkungan keluarga ini. Selain itu, pada lingkungan keluarga berkasta subjek terlihat masih takut untuk berkumpul dengan keluarganya. Walaupun kini keluarga subjek sudah menerima subjek, namun kakek subjek masih kaku dan tidak dapat menerima penurunan kasta subjek. Hal tersebut membuat subjek menjadi jarang pulang kerumah orang tua kandungnya dan jarang mengikuti kegiatan upacara di

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 lingkungan keluarga berkastanya. Hal tersebut tidak sesuai dengan penampilan nyata pada aspek penyesuaian sosial. Hal tesebut dikarenakan subjek tidak dapat memenuhi harapan kelompok yaitu sebagai perempuan berkasta. Pada lingkungan masyarakat, subjek juga kurang dapat melakukan penyesuaian sosial. Hal itu dikarenakan subjek yang jarang mengikuti kegiatan di masyarakat dan lebih mengandalkan mertuanya dalam berkegiatan di masyarakat. Subjek tidak pernah berbaur dan keluar dari rumah suaminya. Subjek merasa lebih nyaman di lingkungan keluarga suaminya dibanding harus berkegiatan di masyarakat. Jika ada kegiatan di masyarakat dan subjek di ajak oleh mertuanya subjek hanya ikut namun diam dan tidak berbicara ataupun berbaur dalam kegiatan sosial tersebut. Hal tersebut membuktikan bahwa subjek kurang dapat melakukan penyesuaian sosial. Aspek yang tidak sesuai adalah sikap sosial dimana subjek kurang mampu berpartisipasi dan kurang dapat menjalankan perannya dengan baik dalam kegiatan sosial. F. Pembahasan secara menyeluruh (3 subjek) Dari fokus penelitian terdapat empat area penyesuaian diri yang dilakukan subjek dalam lingkungannya. Keempat area ini merupakan gambaran bagaimana subjek dapat melakukan penyesuaian sosial dengan status barunya sebagai perempuan tidak berkasta dan lingkungan barunya. Area-area ini menunjukkan bagaimana subjek dapat menyesuaiakan diri dengan status barunya yaitu sebagai perempuan tidak berkasta, kemudian dengan lingkungannya lamanya yaitu di keluarga berkasta, kemudian lingkungan barunya yaitu di keluarga suaminya dan masyarakat tempat dimana subjek tinggal.

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Hasil penelitian yang berfokus pada area status kasta pada diri subjek menunjukkan bahwa ketiga subjek merasa tidak ada masalah dengan status kasta yang hilang. ketiga subjek merasa bahagia ketika mereka melepaskan kastanya. Hal itu dikarenakan motivasi subjek yang menikah dikarenakan sangat mencintai pasangannya. Selain itu, motivasi lainnya yaitu ingin menghindari adanya perjodohan dan perkawinan dikarenakan hamil diluar nikah. Adapun yang hamil diluar nikah karena ingin menikah dengan pasangannya sehingga sampai saat ini ketiga subjek tidak merasa menyesal dan sedih ketika mereka harus menikah turun kasta dan melepaskan kastanya. Hal ini sesuai dengan aspek penyesuaian sosial dimana adanya rasa puas dan perasaan bahagia karena mampu menerima diri sendiri apa adanya dalam situasi sosial. Selain itu, Ketiga subjek merasa tetap bisa melakukan segala aktivitasnya dilingkungan barunya. Akan tetapi, terkadang subjek masih harus belajar untuk memahami kebiasaan-kebiasaan baru di lingkungan barunya. Hal itu seperti cara bicara orang-orang dilingkungan yang baru berbeda dengan lingkungannya yang lama. Selain itu, kebiasaan yang dulunya subjek dibantu jika ada kegiatankegiatan di masyarakat namun sekarang subjek harus turun sendiri. Walau subjek jarang mengikuti kegiatan di masyarakat namun subjek mengetahui hal itu akan terjadi jika subjek harus turun ke masyarakat. Hal ini sesuai dengan teori penyesuaian yang diungkapkan oleh Esysenk (1972). Esysenk mengungkapkan bahwa penyesuaian sebagai suatu proses untuk mencapai suatu keseimbangan sosial dengan lingkungan dan sebagai suatu proses belajar, yaitu belajar memahami, mengerti dan berusaha untuk melakukan apa yang dilakukan dan

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 diinginkan oleh individu maupun lingkungan sosialnya. Namun sesegera mungkin subjek harus mempelajari kegiatan-kegiatan di masyarakat tersebut. hal itu dikarenakan kebudayaan masyarakat Bali yang mengharuskan individu melakukan penyesuaian sosial di masyarakat. Hal tersebut dilakukan sejak dini agar subjek ada yang mengajari dan tidak terlanjur manjadi bahan pergunjingan orang. Jika hal itu terjadi maka individu kurang mampu menunjukkan sikap yang menyenangkan terhadap orang lain dan membuat individu menjadi kurang dapat berpartisipasi dalam kegiatan kelompok. Dengan demikian, individu ini tidak sesuai dengan aspek penyesuaian sosial dalam hal penyesuaian diri terhadap kelompok. Fokus penelitian pada lingkungan berkasta yaitu lingkungan pada keluarga asli subjek. Subjek menyatakan bahwa dirinya masih mengalami penolakan yang cukup kuat. Hal itu dinyatakan subjek dalam wawancaranya bahwa subjek satu dan tiga masih mendapatkan penolakan dari keluarga besarnya. Akan tetapi untuk subjek kedua, subjek lebih menolak untuk kumpul bersama keluarga besarnya karena masih merasa malu dengan pernikahannya. Hal itu dirasakan subjek karena subjek merasa malu menikah dikarenakan hamil terlebih dahulu sehingga subjek enggan untuk menghadiri upacara adat dikeluarga berkastanya karena harus bertemu dengan keluarga besarnya. Kerenggangan tersebut membuat ketiga subjek menjadi jarang berkumpul dengan keluarga berkastanya. Dengan demikan, subjek menjadi kurang dapat menyesuikan diri dengan lingkungan keluarga berkastanya. Hal itu ditunjukkan subjek dengan adanya penolakan dari keluarga subjek dan subjek menjadi tidak berani untuk berbaur dengan keluarganya.

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Dari hasil penelitian yang berfokus pada lingkungan keluarga berkasta dapat dilihat bahwa subjek kurang dapat melakukan penyesuaian sosial. Hal itu dilihat dari teori penyesuaian sosial menurut Schneiders (1964) bahwa subjek kurang dapat memenuhi kriteria yang harus dipenuhi dalam kehidupan sosialnya yaitu di lingkungan keluarga berkastanya sehingga subjek mendapatkan penolakan dari lingkungan keluarga berkastanya. Lingkungan tidak berkasta subjek adalah lingkungan dikeluarga suaminya. Subjek mengaku bahwa dirinya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dikeluarga suaminya. Hal itu sesuai dengan pernyataan subjek yang mengatakan bahwa subjek dapat dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek dapat menyesuaikan diri dengan keluarga inti di lingkungan tidak berkastanya. Dari pembahasan diatas, bahwa subjek sesuai dengan aspek penyesuaian sosial yang dijelaskan oleh Hurlock (1990) pada bagian penyesuaian diri terhadap kelompok. Hal itu dikarenakan subjek mampu menyesuiakan diri secara baik dengan setiap kelompok yang dimasukinya, baik teman sebaya maupun orang dewasa. Dari hasil penelitian, subjek kurang dapat menyesuaikan diri dilingkungan masyarakat. Hal itu dikarenakan subjek jarang dan ada yang tidak pernah mengikuti kegiatan bermasyarakat. Subjek mengakui bahwa subjek tidak ingin mengikuti kegiatan di masyarakat karena memang subjek tidak ingin. Selain itu, masih ada ibu mertua subjek yang mengikuti kegiatan tersebut sehingga subjek menjadi lebih santai dan tidak terlalu memikirkan untuk bermasyarakat kini. Hal itu membuat subjek menjadi kurang dapat bersosialisasi dengan baik dilingkungan

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 masyarakat. Apalagi subjek tinggal di Bali yang masih mengedepankan kegiatan dimasyarakat seperti mebanjar. Hal itu membuat subjek menjadi tertutup dan kurang dapat mengenal orang-orang dilingkungan barunya. Hal itu diakui subjek bahwa subjek tidak mengenali orang-orang disekitar dilingkungan tidak berkastanya. Selain itu, subjek juga mengakui bahwa dirinya kurang dapat berbaur dengan orang-orang baru dilingkungan tidak berkasta. Subjek mengatakan bahwa subjek jarang berbicara dan jika tau orang-orang disekitarnya hanya sekedar tahu. Subjek juga menyatakan jika subjek mengetahui orang-orang disekitarnya karena memang dikenalkan oleh keluarga suaminya dan orang tersebut memang kebetulan datang kerumah. Akan tetapi, jika tidak dikenalkan subjek tidak akan mengetahuinya walau tetangga dekat sekalipun. Dengan demikian subjek menjadi kurang dapat terbuka dan menyesuaikan diri dilingkungan barunya. Dari pembahan diatas diketahui bahwa subjek kurang dapat melakukan penyesuaian sosial di lingkungan masyarakatnya. peryataan subjek tidak sesuai dengan aspek penyesuaian sosial yang di jelaskan oleh Hurlock (1990) pada bagian sikap sosial. Hal itu dikarenakan pada bagian sikap sosial individu dikatakan mampu menunjukkan sikap yang menyenangkan terhadap orang lain, ikut berpartisipasi dan dapat menjalankan perannya dengan baik dalam kegiatan sosial. Akan tetapi, ketiga subjek tidak dapat ikut berpastisipasi dan kurang dapat menjalankan perannya dengan baik dalam kegiatan sosial. Hal itulah yang menunjukkan subjek kurang dapat melakukan penyesuaian sosial di masyarakat.

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Secara garis besar berdasarkan hasil penelitian terdapat persamaan mendasar mengenai penyesuaian sosial yang dialami oleh seorang perempuan yang melakukan pernikahan turun kasta. Ketiga subjek memiliki masalah penyesuaian sosial pada keluarga berkastanya. Subjek pertama dan ketiga sampai saat ini masih belum sepenuhnya diterima oleh keluarga besar di lingkungannya berkasta. Sedangkan untuk subjek kedua, ia sudah diterima oleh keluarga besar berkastanya namun subjek yang tidak bisa melakukan penyesuaian sosial karena subjek merasa malu harus berkumpul dengan keluarga besarnya karena hamil diluar nikah. Selain itu, ketiga subjek juga tidak bisa melakukan penyesuaian sosial di lingkungan masyarakat. Hal itu dikarenakan ketiga subjek kurang dapat mengikuti kegiatan di masyarakat dan kurang dapat berbaur dengan masyarakat. Ketiga subjek masih di cover oleh mertua mereka yaitu ibu suaminya untuk melakukan segala aktifitas dimasyarakat sehingga subjek menjadi kurang dapat bersosialisasi dengan baik di masyarakat. Disisi lain, subjek dapat melakukan penyesuaian sosial di lingkungan keluarga tidak berkasta. Hal itu terlihat dari tidak adanya masalah yang dialami oleh subjek di lingkungan keluarganya yang baru. Subjek mengatakan menikmati kehidupannya kini dan tidak menyesal telah menikah turun kasta. Selain itu, 89

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 subjek juga mengakui bahwa dirinya telah menerima dan mengerti kedudukannya saat ini yaitu sebagai perempuan tidak berkasta. Adapun motivasi-motivasi yang berbeda-beda dari setiap subjek dalam melakukan pernikahan turun kasta, misalnya : karena benar-benar cinta, karena menghindari perjodohan, karena hamil diluar nikah. Akan tetapi, walau pun mereka memiliki motivasi yang berbeda untuk menikah turun kasta, mereka tetap merasa bahagia dan tidak menyesal menikah turun kasta. Hal itu dikarenakan subjek merasa bebas dan tidak terikat lagi dengan aturan-aturan kasta yang pernah mereka jalani. Contohnya : ketika subjek telah memiliki keturunan (anak) anak mereka tidak merasa susah mencari pasangan atau pendamping hidup, karena tidak harus mencari yang sederajat atau kastanya lebih tinggi dari anaknya. Adanya rasa merdeka dan bebas yang terlihat dari ketiga subjek ketika telah melepaskan kastanya. B. Saran 1. Bagi peneliti selanjutnya Bagi para peneliti selanjutnya yang berminat dengan topik yang sama yaitu penyesuaian sosial diharapkan dapat meneliti penyesuaian sosial pada subjek yang berbeda dari penelitian ini. Hal itu dikarenakan pemilihan subjek yang berbeda misalnya budaya, daerah, dan usia akan turut menyumbangkan informasi baru mengenai topik ini. 2. Bagi perempuan yang mengalami pernikahan turun kasta Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, ditemukan bahwa semua subjek mengalami masalah dengan keluarga berkastanya dan kurang dapat

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 melakukan penyesuaian sosial dengan masyarakat sekitarnya kini. Oleh karena itu, disarankan untuk perempuan yang mengalami pernikahan turun kasta untuk menyiapkan diri ketika memang memutuskan untuk menikah turun kasta. Pahami betul bagaimana keadaan keluarga dan motivasi yang di gunakan dalam memutuskan untuk melakukan perkawinan turun kasta. Pengertian dan pemahaman apa yang sebaiknya diberikan kepada keluarga agar kedepannya tidak bersengketa dengan keluarga besar. Selain itu untuk penyesuaian sosial di masyarakat di sarankan perempuan yang mengalami perkawinan turun kasta untuk tidak menunda belajar berbaur dan menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya, agar perempuan tersebut terbiasa melakukan kegiatan dimasyarakat bersama sama dengan orang-orang dilingkungannya kini. Hal itu dikarenakan budaya Bali yang masih ketat dengan kegiatan di masyarakat. Budaya masyarakat bali yang mengharuskan individu dapat bersosialisasi tidak hanya dengan pasangannya saja, namun juga dengan keluarga dan masyarakat yang lebih luas.

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Agustiani, Hendriati. (2006). Psikologi Perkembangan.Bandung : PT. Refika Aditama Agustiani, Hendriati. (2009). Psikologi Perkembangan.Bandung : PT. Refika Aditama Brianti, Yuninta Ayu (2010). Perbedaan Penyesuian Sosial Pada Anak yang Menjalani Sistem Pembelajaran Taman Kanak-Kanak Full Days dan Reguler.Skripsi.Surakarta : Fakultas Kedokteran universitas Sebelas Maret Surakarta Creswell, John W (2012). Research Design Pendekatan Kualitatif,Kuantitatif, dan mixed. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Danim, Dr. Sudarwan (2002). Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandunng : CV. Pustaka Setia Dewi, Ni Nyoman Ariyani Puspa, (2003). Perubahan Identitas Wanita Brahmana yang Turun Kasta Menjadi Sudra Karena Perkawinan.Skripsi.Jogjakarta : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Diputra, Ida Bagus(2003). Pola Penyelesaian Perkawinan Nyeburin Berbeda Wangsa di Wilayah Pemerintahan Daerah kabupaten Tabanan, Thesis.Semarang : Fakultas Hukum Universitas Diponegoro. Dwijendra,Ngakan Ketut Acwin, (2003). Perumahan dan permukiman Tradisional bali. Jurnal permukiman “natah” vol. 1 no. 1 - pebruari 2003 Gerungan, W.A. (2010). Psikologi Sosial. Bandung : PT. Refika Aditama 92

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 Hurlock, E. (1990). Perkembangan Anak (Terjemahan Meitasari Tjandrasa dan Muswlichan Zarkasi). Jakarta : PT. Gramedia Hurlock, E. (1995). Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Alih Bahasa Istiwidayanti), Edisi ke-5, Jakarta : Penerbit Erlangga Listyawati, Crisensia Dany. (2002). Penyesuaian social di liar panti asuhan pada remaja yang tinggal di panti asuhan ditinjau dari penerimaan diri dan jenis kelamin.Skripsi.Semarang : Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Maharatni, Ida Ayu Alit & Handayani, Christina Siwi. (2004). Konflik Peran Seorang Jero Karena Perkawinan. Jurnal Suksma Vol.2 No 2, Mei 2004, Hal 100-105 Mangku, I Nyoman.(2010). Pelaksanaan Perkawinan Nyeburin Beda Wangsa Menurut Hukum Ada Bali Di Kabupaten Tabanan Provinsi Bali.Thesis.Jogjakarta : Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada Manuaba, I.B.Putera, (2010). Wacana Dominan dalam Teks Awig-awig, Volume 23, Nomer 3,Hal: 236-243 Moleong, L. J. (2006). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Pinatih, Dawisni Manik. (1998). Beberapa Catatan Tentang Perkawinan Menurut Hukum Adat di Bali.kertha patrika No. 69 Thn XXIII mei-Agustus Poerwandari, E.K. (1998). Pendekatan Kualitatif dalam Psikologi. Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Penelitian Psikologi Universitas Indonesia. Santrock, john w. (2012).Life span development/perkembangan masa hidup. Edisi ketiga belas jilid I. Jakarta : erlangga

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Schneiders, A. A. (1991). Personal Adjustment and Mental health. New York : Holt, Rinchart and Winston Soekanto, Suryono. (1982). Sosiologi suatu pengantar. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada 1999 Sudiasa, I Dewa Ketut.(1992). Sosialisasi Anal Dalam Keluarga Pada Masyarakat Bali.Thesis.Bogor : Program Studi Sosiologi Pedesaan Institut Pertanian Bogor Walgito, Dr. Bimo (2003). Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). Yogyakarta : Andi Wartawan Bali Post (2004) Konflik Sebutan Kebangsawanan di Bali.(http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/10/16/S1 htm). Di unduh 20 februari 2014 ; 15.00 WIB. Wartawan Bali Post (2005) Benahi Awig-awig yang Langggar HAM(http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/7/26/02 htm). di unduh 20 februari 2014 ; 16.00 WIB. Windia, WP (1997) Penuntun Penyuratan Awig-awig.Denpasar: Upada Sastra Windia, Wayan P. dkk, 2011. Perkawinan Pada Gelahang di Bali. Bali: Udayana University Press. http://adikalinggajati.blogspot.com/ di unduh 3 juni 2013; 17.00 WIB

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 95

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Subjek 1 Nomer Verbatime Koding Awal Tema 1 jadi waktu kamu melepaskan  Subjek  2 gelarmu sebagai anak agung, merasa tidak keterkekangan 3 apa yang kamu rasakan? bebas dengan  Adanya 4 biasa aja. maksudna apakah kasta yang keterikatan 5 kamu tidak merasakan dia bawa (1-10) 6 kesedihan? enggak. Soalnya 7 sama aja sih. Gak ada yang 8 berubah. Tapi ya gitu kalok 9 berkasta cuma waktu nikahnya 10 aja yang susah. Gak bisa bebas. Adanya 11  12 trus keluarga kamu gimana? Subjek merasa 13 maksudna saat kamu nyerod bahwa keluarga penolakan 14 keluarga kamu gimana? besarnya tidak (12-19) 15 keluarga besar dan keluarga merestuinya 16 inti. keluarga besar dan 17 keluarga inti sedih, berat, yang 18 seperti apa? enggak 19 ngerestuin. Adanya 20  21 trus tetep nikah? tetep nikah. Subjek merasa 22 terus direstuin. trus keluarga diterima setelah penerimaan dari 23 yang mana? bapak sama mengalami salah satu 24 ibu? keluarga dari ibu enggak penolakan keluarga 25 ngerestuin sampai sekarang. 26 belum dapat restu . tapi penolakan 27 keluarga dari bapak udah biasa (21-31) 28 aja. tapi waktu mau nikah  Adanya Adanya

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 29 enggak direstuin, terus abis tu 30 karena udah terlanjur, ya udah 31 nikah. 32  33 gimana ya aku jelasinnya. aku Subjek merasa 34 nikahnya kan sebelumnya adanya 35 gara-gara aku salah ngomong. kesalahpahaman 36 gara-gara aku apa namanya pada saat 37 ketahuan pacaran sama ini abis pertemuan 38 tu bapakku marah. abis tu keluarga keputusan 39 disuruh sama bapakku ajak sehingga suasana (33-62) 40 orang tuanya kesini. trus makin keruh 41 cowokku nyampeinnya salah. sampai 42 disuruh nikahin. trus orang keputusan turun 43 tuanya dia dateng kerumahku. kasta di 44 pokoknya kita tu sebenernya keluarkan 45 gak da maksud ngomongin 46 nikah trus sana mikirnya, 47 maunya pertemuan keluarga 48 aja biar ortuku kenal ortunya 49 dia juga kenal keluargaku. kita 50 gak da giniin nikah. tapi 51 bapakku karena gak enak eh 52 ortunya dia mau dateng 53 keluarga dari ibuku disuruh 54 dateng. keluarga dari bapakku 55 disuruh dateng, kakek nenekku 56 ni semua dateng. abis tu kakek 57 nenekku baru tau disitu aku 58 pacaran sama orang biasa abis 59 tu kakekku nyuruh kayak gini Adanya kesalah pahaman  Adanya penolakan  Adanya

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 60 “udah nikahin aja” itu 61 ngomong ama itu “udah ajak 62 aja”. aku aja kaget disuruh 63 nikah. kayak gitu pokoknya. 64  65 trus? abis tu ya semua marah Subjek merasa 66 lah pasti. gimana ya, aku gak keluarga 67 tau itu namanya di restuin apa besarnya marah 68 gak. tapi pokoknya kayak gitu dan subjek penolakan 69 intinya. pokoknya jalannya bingung apakah (65-73) 70 kayak gitu. tapi sampai diberikan restu 71 sekarang keluarga dari ibuku atau tidak 72 belum nerima. aku gak pernah 73 ketemu sama keluarga ibuku. Adanya kebingungan  Adanya 74 75 sampai sekarang gak pernah Sampai sekarang  Adanya 76 ketemu? gak pernah. eh subjek penolakan 77 pernah ketemu. tapi waktu mengalami (75-81) 78 ketemu ada tangis-tangisan penolakan dari 79 kayak gitu, lagi trauma kayak keluarganya 80 gitu, nenekku ampek pingsan 81 kayak gitu. iya kah? iya. 82  83 tapi keluarga bapakku dia dah Subjek 84 sering kok main ke sini. dari mendapatkan yang berbeda- 85 bapakku biasa aja. tapi dari perlakuan yang beda dari 86 ibumu, iya gak nerima. tapi berbeda dari keluarga besar 87 kalok kamu pulang keuarga ayah (83-91) 88 sembahyang gitu? boleh? dan ibunya 89 kerumah bapak kuboleh, tapi 90 kerumah ibuku gak pernah Adanya respon

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 91 pulang. 92 93 tapi dulunya waktu bajang Subjek merasa  Adanya harapan 94 (masih remaja) sering? iya. bahwa  Adanya 95 kan aku cewek satu-satunya keluarganya ketakutan 96 dirumah ibuku. cucu satu- takut kalau (93-106) 97 satunya. ow cucu satu- subjek menderita 98 satunya? cewek satu-satunya, dikarenakan 99 cucu pertama aku. trus tapi turun kasta 100 mungkin karena pengalaman, 101 kakaknya ibuku nyerod, kakak 102 ibuku yang pertama nyerod 103 sama orang jaba. trus hidupnya 104 menderita. tinggal ma 105 suaminya. makanya keluargaku 106 takut aku kayak gitu. 107  108 keluarga bapakku gak. kalok Subjek merasa 109 keluargaku biasa aja. sering diterima oleh menerimaan 110 main kesini. kayaknya biasa keluarga (108-111) 111 aja. bapaknya 113 awal-awalnya gak dikasi sih Subjek merasa 114 setaun kerumah (rumah orang bingung karena kebingungan 115 tua). “jangan pulang setahun”. Adanya harapan 116 kerumah mana ni? awalnya dilarang  namun subjek 117 ketunggung ametung (rumah tetap diharapkan (113-121) 118 orang tua). tapi belum setahun oleh kedua orang 119 bapakku telpon, main na tuanya 120 kerumah. nah itu apa namanya 121 direstuin gak ya namanya. Mendapat 112  Adanya dari keluarga

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 122  123 kalok misalnya kamu disini Subjek merasa 124 ngapain aja? maksudnya itu diterima oleh penerimaan 125 apa kah kamu dari turun tu keluarga karena 126 kamu dah diterima langsung pasangan karena kesamaan 127 di keluarga sini? mertuaku adanya (123-130) 128 juga anak agung. ow nyerod kesamaan 129 juga? iya. jadinya ya udah di 130 terima aja? iya. Adanya 131  132 tapi kalok misalnya kamu Subjek kurang 133 keluar gitu, maksudnya itu paham dengan berpartisipasi 134 kamu mebanjar kan disini? peraturan adat dengan 135 enggak. loh? dikarang asem dilingkungannya lingkungan 136 mebanjar, tapi oh suamimu dan subjek disekitar 137 asli karang asem? iya. trus? hanya mengikuti (132-148) 138 di karang asem mebanjarnya. beberapa 139 ow gak disini? kegiatan tanpa 140 enggak.mebanjar dinas juga ikut membantu 141 enggak? banjar dinas iya. aku di masyarakat 142 jg kurang ngerti hehhee. trus 143 kalok apa disini ada rainan 144 gitu ikut bantu bantu di 145 banjar? kalok di karang asem 146 ikut. kalok disini odalan 147 sembahyang aja. tapi gak ikut 148 bantu bantuin. Kurang dapat 149 150 kalok misalnya kamu di Subjek tidak 151 karang asem ada acara gitu pernah 152 kamu ikut bantu-bantu? mengikuti  Adanya perasaan apatis

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 153 enggk sih. mertuaku juga kegiatan di atau acuh tak 154 jarang ikut yang gitu-gitu. jadi masyarakat acuh dengan 155 aku ngikut aja. suamiku kan walaupun ada lingkungan 156 gak masuk muda-mudi di kegiatan subjek disekitar 157 mana-mana. trus kalok hanya mengikuti  Kurang dapat 158 meninggal? kemaren sih acara puncak bersosialisasi 159 neneknya suamiku meninggal tanpa ikut dengan 160 di kremasiinnya disini. soalnya membantu dalam lingkungan di 161 di karang asemkan biayanya kegiatan tersebut masyarakat 162 mahal.tapi kalok misalnya 163 ikut adat adat gitu gak juga? 164 ikut, kalok sembahyang, kalok 165 ada acara di karang asem kan 166 banyak acaranya kalok ada 167 acara-acara gitu ikut. tapi 168 kayak ngebantu-ngebantu gitu 169 aku enggak. akunya yang gak. 170 mertuamu juga gak? yang 171 cowok kadang-kadang. yang 172 cewek? ngikut ma yang 173 cowok. masak sendiri ke 174 karang asem.gak maksudna 175 klk dah sampk disana ikut 176 dia? iya. tapi jarang? heem 177 jarang. (150-177) 178 179 kalok kamu disini Subjek mendapat  Adanya 180 dipanggilnya apa? gek?iya panggilan yang penerimaan 181 gek. gek juga? iya. berarti sama dengan dalam keluarga 182 gak lepas ya? dirumah kamu panggilan di (179-193) 183 di panggil apa? gek? gung. tu rumah orang

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 184 gung. ow kalok di sini gek tuanya dan 185 aja? heem.tapi adek adek subjek juga 186 iparku semuanya manggil aku mendapatkan 187 sama manggilnya mbok gung. panggilan yang 188 sama kayak aku d rumah. sama sama dengan 189 kayak di rumah mbok mertuanya 190 gung.kenapa gitu ? gak tau. 191 mereka manggilnya kayak gitu. 192 mertuaku juga di panggil ma 193 adek adek iparnya mbok gung. 194  195 berarti kayak gak da Subjek 196 bedanya ya kamu di sana merasakan perbedaan 197 sama kamu disini? gak perbedaan saat karena 198 sih.kamu ngerasainnya ada berada kedudukan 199 bedanya gak? ada. kalok dilingkungan yang sudah 200 misalnya dirumah, kalok aku berkasta dengan turun (dulunya 201 dirumah ehmm kalok aku dulu dilingkungannya berkasta 202 di rumah misalnya ada upacara sekarang yang sekarang tidak) 203 di banjar ya ikut terus biasanya menjadi rakyat (195-216) 204 sih di puri itu kan ada bisa 205 pengayah yang bantuin, kalok 206 disini aku yang turun langsung 207 seharusnya kayak gitu. tapi 208 karena aku tidak ikut mebanjar 209 jadi aku gak ikut.ow jadi 210 kalok misalnya disana tu 211 kamu ikut tapi ada yang 212 bantuin. heem ada yang 213 ngayahin.tapi kalok disini 214 kamu harusnya turun. iya Adanya

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 215 harusnya aku yang turun.tapi 216 kamu gak. iya 217  218 trus apa aja yang kamu Subjek merasa 219 lakuin disini? maksudnya harus melakukan 220 itu, kegiatannmu yang disana pekerjaan rumah 221 ama disini sama aja? sama yang dulunya 222 aja. yang dulunya kamu tidak pernah dia perbedaan 223 nyetrika sendiri sekarang lakukan dari perilaku 224 nyetrika juga sendiri? oh pada harus dirumah 225 dulunya ak gak pernah dipulangkan dengan 226 nyetrika, disini aku nyetrika. kerumah orang dirumah suami 227 dulu aku gak pernah bersih- tuanya oleh (218-236) 228 bersih. sekarang disini aku suaminya 229 bersih-bersih.terpaksa bersih 230 bersih. itu karena udah jadi 231 istri, iya.apa karena dirumah 232 emang. karena aku sudah jadi 233 istri dan dirumah sama mertua 234 dan emang kewajibanku. 235 apalagi nanti kalok aku di 236 pulangin ma suamiku. Adanya kecemasan atau kekhawatiran  Adanya 237  238 berarti untuk relasimu Subjek 239 dengan keluargamu yang mendapatkan penerimaan dan 240 dimana namanya ehm sama perilaku yang penolakan dari 241 ibu itu bener-bener gak ada? berbeda-beda keluarga 242 ehm gak ada. sama sekali? dari keluarganya (238-260) 243 ehm paling ama tante tanteku, yaitu ada yang 244 ipar-iparnya ibuku, biasa. tapi bersikap biasa 245 kalok sodaranya ibuku om ku, saja dan ada Adanya

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 246 yang kandung gak pernah aku yang bersikap 247 berhubungan sama sekali. acuh karena 248 ketemu pernah tapi ehm aku subjek sudah 249 yang nanyain dari mana, tapi turun kasta 250 gak da jawaban yaudah aku 251 diem aja.di kacangin gitu? 252 iya. kalok ama tanteku biasa 253 aja. berhubungan aku sama 254 keluarga dari ibu paling lewat 255 facebook. paling lewat 256 facebook, kalok lewat sms 257 jarang. kalok sama nenekku 258 gak pernah. nenekku yang 259 paling gak bisa gini. ma 260 kakekku juga. 261  262 berarti kalok misalnya ya Subjek merasa 263 udah gak da kakek nenekmu takut dan tidak 264 gak boleh sembahyangin berani mencoba 265 kesana?ndak tau aku. aku untuk bertemu kesedihan 266 pulang aja aku gak berani. dengan salah mendalam 267 belum mencoba. takut. aku satu keluarganya karena keadaan 268 ketemu di kampung waktu yang menolak 269 odalan di kampung bapakku hubungannya penolakan 270 kan aku sembahyang kesana, dengan (262-280) 271 dateng kan nenek kakekku pasangannya 272 yang dari ibu, pingsan 273 nenekku, aduh takut aku 274 jadinya. disuruh sembunyi aku 275 ma ibuku. aduh sampek 276 pingsan gitu. akhirnya aku Adnya ketakutan   Adanya Adanya

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 277 sembunyi di dalem biar gk 278 keliatan. waktu itu kamu 279 nangis?ya iya lah, kan gimana 280 gitu. 281  282 tapi kalok sembahyang Subjek merasa 283 kerumah biasa?biasa. aku ada perbedaan masih 284 sering di suruh mebanten kalok dalam keluarga dibutuhkan 285 ibuku lagi dapet.kalok sama namun tetap 286 ibu bapakku biasa aja. tapi dibutuhkan 287 kalok manggil aja yang beda. karena keadaan 288 dulu kan ibu sekarang tu ibu. (282-288)  Subjek merasa Adanya perbedaan 289  290 untuk saat ini kamu Subjek masih 291 menyadari posisimu membawa keinginan untuk 292 sekarang?iya. sangat kebiasaan bersosialisasi 293 menyadari? iya trus apa yang dirumah dan 294 kamu lakukan dengan kurang dapat masyarakat 295 posisimu sekarang? ada gak bersosialisasi di yang baru 296 usahamu sekarang, sekarang masyarakat (290-302) 297 kan aku dah jadi jaba, ya 298 selayaknya orang jaba gitu 299 bermasyarakat, kayak-kayak 300 gitu?ya, gak sih, males 301 soalnya. masih kebiasaan yang 302 di rumah. Kurangnya dengan 303  304 pada saat kamu disuruh ya Subjek merasa 305 udah deh nikah aja, kamu senang karena pertimbangan 306 langsung mengiyakan atau diijinkan yang dilakukan 307 gimana?adalah pikir pikir. menikah namun Adanya

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 308 berontak gitu?pemberontakan subjek juga dalam 309 sih gak, Cuma ya pikir-pkir merasa sedih mengambil 310 aja. aku sih di suruh nikah karena harus keputusan 311 seneng aja. Cuma beratnya berpisah dengan (304-313) 312 harus pisah sama orang tua. itu orang tuanya. 313 aja sih. 314  315 trus kamu bisa menceritakan Subjek tidak 316 gak gimana kamu bisa ingin dijodohkan pertentangan 317 memutuskan untuk ya udah oleh orang dengan orang 318 lah aku nyerod aja kayak tuanya dengan tua 319 gitu? apa yang memotivasi laki-laki yang (315-334) 320 kamu sampai kamu tidak subjek 321 memutuskan untuk cintai dan subjek 322 itu?karena aku cinta sama sangat mencintai 323 suamiku. Cuma itu? gak juga pasangannya 324 sih. ya habis aku dah tua kini 325 umurnya. jadi gak ada 326 motivasi lain selain kamu 327 menyukainya gitu?ehmm di 328 banding aku di jodohin. oh 329 jadi dari pada kamu di 330 jodohin jadi di suruh nyerod 331 ya nyerod aja.iya, dibanding 332 aku di jodohin sama orang 333 kaya, sama pejabat, tapi aku 334 gak, yang aku gak cinta. Adanya 335 336 ada hambatan gak waktu Subjek merasa 337 kamu menikah?ada hambatan orang tuanya 338 dari orang tua. kasian. trus?ya menjadi  Adanya hambatan

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 339 sedih ma orang tua aja. 340 hambatan saat (336-340) menikah 341  342 berarti kamu saat dengan Subjek merasa 343 statusmu sekarang ini jarang bisa beradaptasi kemampuan 344 mengikutinkegiatan sosial dengan orang dalam 345 ya?iya. menurut pemikiran baru di 346 kamu, kamu bisa gak keluarganya 347 beradaptasi dengan lingkunganya 348 lingkunganmu (342-361) 349 sekarang?bisa. 350 kenapa?karena dirumah aku 351 sudaah terbiasa beradaptasi 352 dengan orang-orang baru. 353 emang udah sering ketemu 354 orang baru. trus emang dari 355 kecil udah di ajarin untuk 356 bersosialisasi sama orang, jadi 357 gak susah sih. gak berat. waktu 358 aku nikah gak ada keluargaku 359 yang dateng aku biasa aja. 360 maksudnya bisa gitu lo. tapi ya 361 emang sedih aja.  Adanya beradaptasi dengan 362  363 berarti kamu sekarang ini Subjek lebih 364 hanya melakukan pekerjaan- diperhatikan dan perlakuan yang 365 pekerjan rumah tangga aja lebih di berbeda 366 ya?iya. apakah kamu merasa manjakan oleh (363-388) 367 diistimewakan karena kamu nenek suaminya 368 dulunya berkasta?enggak sih, ketika berada di 369 soalnya disini mamahku desa di Adanya

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 370 (mertua) juga kan nyerod, trus bandingkan saat 371 ini juga gak tinggal sama subjek berada 372 kakek neneknya, kan biasanya dikota dengan 373 orang-orang tua yang jaman mertuanya 374 dulu yang lebih kayak gitu. 375 dulu waktu aku baru baru 376 nikah tu kan eh jangan gek nya 378 disuruh gini, duduk aja, awal 379 awal kamu nikah?enggak 380 waktu di rumahnya (kakek 381 nenek si cowok) di sana di 382 karangasem (kampung). 383 pokoknya kalok aku dateng itu 384 lebih gimana gitu. gek gek sini 385 duduk. lebih kayak gitu. itu di 386 karangasem, tapi kalok disini 387 (rumah di kota) gak?enggak. 388 biasa aja. 389  390 trus relasi kamu dengan Subjek merasa 391 orang-orang disekitar, sama bahwa tidak ada kesamaan yang 392 temen kamu itu gimana?kan maslaah ketika membautnya 393 waktu aku menikah aku masih subjek masuk ke diterima 394 kuliah. jadi biasa aja. gak ada keluarga (390-407) 395 masalah. sama keluarga suaminya karena 396 suami juga gak masalah?ya banyak 397 emang gak ada masalah. kesamaan yang 398 karena di keluarga suamiku dialaminya 399 bapaknya, eh pamannya juga 400 anak agung istrinya. kakaknya 401 papahku (mertua) yang Adanya

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 402 pertama nikah sama anak 403 agung. papahku nikah ama 404 anak agung, suamiku sama 405 aku. jadi ya gitu. memang 406 pengincar anak agung (sambil 407 tertawa). 408  409 tapi kamu tinggal disini Subjek tidak 410 orang-orang disini tau kamu mengalami perbedaan 411 nyerod?tau. trus mereka masalah dengan budaya 412 biasa aja?biasa aja. soalnya lingkungannya 413 orang-orang disini orang jawa karena adanya masalah dalam 414 semua. ya kebanyakan. perbedaan lingkungan budaya tempat tinggal 415  416 Adanya Tidak adanya (409-416) 417  418 Jadi kamu tinggal di Subjek berpikir 419 lingkungan yang tidak bahwa keadaan kepasrahan 420 terlalu memikirkan itu. tapi yang dalam hidup 421 kalok di karangasem kamu membuatnya (418-432) 422 diistimewakan gitu.iya. kamu seperti sekarang 423 ama suamimu dah berapa sehingga subjek 424 tahun pacaran? 6 bulan. ya menjadi lebih 425 gara-gara aku kkn aku disuruh pasrah 426 nikah. jadi waktu aku kkn kan 427 aku harusnya di karangasem, 428 tapi aku malah disini. oh jadi 429 kamu tinggal disini?iya, trus 430 bapakku tahu. makanya 431 dinikahin. Ya udah sih pasrah 432 aja kalok di nikahin. Adanya

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 Subjek 2 Nomer Verbatime Koding Awal Tema  1 awalnya desak bisa menikah Subjek tidak 2 dengan suami gimana cerita? disetujui 3 karena kan beda kasta ni kan ya. berhubungan 4 dari pertama pacaran ni ya dengan keinginan 5 orang udah ndak disetujuin ama pasangannya untuk di 6 orang tua saya dirumah kan. tu sehingga memilih terima 7 dah gara gara itu dah mungkin untuk hamil agar (1-12) 8 ya bisa lah nekat sampek dapat menikah 9 berbuat gitu ya kan sampk 10 hamil. gara gara itu dah gara 11 gara gak disetujuin makanya 12 kayak gitu. Adanya penolakan  Adanya 13  14 ow jadi gara-gara hamil trus Orang tua sempat 15 nikah?iya gitu. trus gimana menolak namun 16 setelah tau hamil trus nikah subjek merasa 17 orang tua langsung ngijinin kasihan dengan membebani 18 atau gimana? orang tua sih orang tuanya orang tua 19 sebenernya gak. maunya sih di karena harus 20 rumah aja gak usah nikah. tapi menanggung penerimaan 21 kan kasian juga orang tua di beban malu dan (14-28) 22 rumah kan udah kayak gini, lagi akhirnya diterima 23 nanggung beban malukan 24 maksudnya nanti biar gak 25 terlalu memalukan di keluarga 26 dan di masyarakat soalnya di 27 desakan.gitu dah akhirnya 28 nikah. Disetujuin dah nikah. Adanya penolakan   Adanya rasa Adanya

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 29  30 trus kalok misalnya desak Subjek masih 31 pulang gitu boleh?masih diijinkan kebebasan 32 boleh. orang setiap hari orang mendatangi rumah (30-43) 33 pulang kampus pulang ke orang tuanya 34 rumah, entar baru pulang ke 35 rmh suami. trus suaminya 36 tinggal di mana?di selemadeg 37 (salah satu daerah di bali). 38 orang sama kok deket (daerah 39 yang sama). biasanya juga 40 kayak waktu ini seminggu 41 nginep di rumah sendiri abis itu 42 balik kerumah suami. gak terus- 43 terus diem dirumah suami. Adanya 44  45 trus dari keluarga gak ada Subjek merasa 46 yang nolak gitu?keluarga? keluarganya harapan dari 47 keluargamu?gak ada yang mengharapkan keluarga 48 nolak. ya biasa aja. malah di kedatangannya (45-50) 49 suruh lagi pulang kerumah. 50 nginep dirumah. Adanya 51 52 trus kalok suami menerima Subjek dibebaskan  Adanya 53 biasa gitu?iya biasa. orang dia untuk mendatangi kebebasan 54 gak terlalu, terserah. kalok rumah (52-57) 55 misalnya mau pulang di kasi keluarganya 56 pulang. orang gak ampek 57 jangan pulang. gak ampek gitu. 58

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112  59 trus kalok di rumah suami Subjek tidak 60 kan ikut mebanjar gitu, kalok pernah berpastisipasi 61 misalnya ada rainan gitu tu bermasyarakat dalam 62 ikut bntu bntu di sana?rainan? karena suatu hal masyarakat 63 misalnya mebanten gitu? ikut. (59-72) 64 tapi kalok masalah nguopin, 65 ngayah (bantu-bantu di pura) itu 66 gak pernah. dari dulu sampek 67 sekarang gak pernah. kan 68 soalnya kuliah kan jadi gak 69 sempet. kalok libur pasti 70 ngempu kan dirumah (jaga 71 anak). tetep mertua, jadi gak 72 pernah. Kurangnya 73 74 ow jadi kamu gak pernah Subjek merasa 75 turun ke masyarakat.?iya. ya mendapat 76 ngerti lah orang tuanya, kan lagi permakluman 77 sekolah, klk dirumah liburan karena banyaknya 78 gitu lagi ngempu. ya dia dah kegiatan 79 (mertua) yang mau gini ke pura 80 gitu, orang masih siteng juga 81 mertuanya. (masih kuat).  Adanya pengertian dari keluarga (74-81) 82  83 trus kamu gimana men Subjek merasa 84 perasaan kamu undah gk tidak ada perbedaan 85 berkasta lagi?biasa aja je. gak perbedaan ketika dulu dengan 86 ada perbedaan apa apa. masih berkasta sekarang 87 biasanya kalok orang turun dengan sudah (83-101) 88 kasta tu kan ada yang kayak turun kasta 89 gini kalok pulang kerumah Tidak adanya

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 90 sendiri pasti ngomongnya alus 91 kan. kalok aku biasa aja. sama 92 siapa itu biasa. sama aji 93 dirumah biasa je. gak perlu 94 manggil ini itu, gak perlu 95 manggil gitu. ya ngerti lah juga 96 keluarga orang udah terlalu 97 gini. ya biasa sih. ampek suami 98 biasa ngomong ajik ajik, gak isi 99 ehm klk biasanya kan 100 manggilnya dewa ajik, kalok ini 101 biasa aja. gak terlalu. 102  103 ehm trus, berarti gak ada Subjek tidak 104 penolakan ya dari keluarga merasakan penerimaan 105 suami maupun dari penolakan dari (103-106) 106 keluargamu?gak ada. keluarga pasangan 108 trus pernah gak kamu merasa Subjek tidak 109 diistimewakan antara merasakan adanya mengalami 110 dirumah dengan di rumah perbedaan perbedaan 111 suami?diistimewakan kayak perlakuan antara perlakuan 112 gimana? misalnya di rumah lingkungan yang 113 suamimu itu karena kamu dahulu dengan keinginan 114 anak berkasta kamu gak yang sekarang dan untuk tetap 115 boleh kerja ini itu?gak sih gak subjek tetap dihormati 116 pernah, Cuma kayak gini aja merasa dihormati (108-142) 117 sih. kalok orang jaba kan biasa walau subjek 118 ngomong yang kasar-kasar sudah turun kasta 119 kayak cang ake (bahasa kasar di 120 bali) gitu. kalok saya dirumah Adanya 107   Tidak Adanya

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 121 gak digituin. tetep manggilnya 122 rage tiang (bahasa halus di 123 bali). tetep dia ngomong gitu, 124 Cuma itu aja perbedaannnya. 125 gak ada yang lain. tapi kalok 126 sama yang lainnya?ya sama 127 jadi halus ngomongnya. jadi 128 kalok ngomong sama saya sama 129 anak saya tetep ngomong halus. 130 tapi kalok mereka sama-sama 131 dari sana ya tetep ngomong 132 kasar. kalok ngomong sama 133 saya sama anak saya baru je 134 ngomong halus gitu. soalnya 135 kan kalok saya ngomong gitu 136 juga, tiang gitu. gak gak bisa. 137 soalnya gimana ya meskipun 138 udah lama diem disana tetep 139 gak bisa ngomong kasar kasar. 140 gitu dah. makanya tetep sampek 141 sekarang orang sana juga tetep 142 lah hormat gitu. 143  145 di rumah suami di panggilnya Subjek tetap 146 apa? dirumah suami?iya. ada mengalami keinginan 147 sih yang manggil kan di rumah perbedaan untuk 148 saya kan sakde dah di panggil. panggilan namun dihormati 149 trus di rumah suami sak tu di subjek tetap (145-155) 150 panggil. sama-sama kayak merasa panggilan 151 orang berkasta je di panggilnya. tersebut tetap 152 iya sama gitu, saktu gitu. Cuma berkasta Adanya

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 153 bedanya kalok di rumah sendiri 154 sakde, kalok di rumah suami 155 sak tu jadinya gitu. gitu aja sih. 156  157 kalok misalnya di rumah Subjek jarang 158 suami biasa gitu ngambil mengambil bantuan dari 159 pekerjaan rumah gitu?biasa. pekerjaan rumah keluarga 160 kalok gak sekolah biasa gitu. dan masih di (157-166) 161 biasanya anak saya mertua gitu cover oleh mertua 162 yang ngajak, iya. kalok masak 163 sih enggak, pagi-pagi gak 164 pernah. kan sekolah kan 165 berangkat pagi. jadi masih 166 mertua. Adanya 167  168 berarti anakmu dah 4 tahun Subjek merasa 169 ya?baru 3 setengah. trus biasa saja ketika mendapatkan 170 lingkungan disekitarmu kastanya lebih penghormat- 171 gimana men memandang karena subjek an 172 kamu turun gitu?ada tu ehm masih merasa (168-190) 173 biasa aja, masih ngormatin dihormati di 174 kamu yang berkasta atau lingkungan 175 diem-diem aja?gitulah kayak pasangannya 176 yang tadi saya bilang semua 177 orang disana gitu ngomongnya 178 halus kalok sama saya. bukan 179 hanya mertua saja tapi 180 semuanya gitu. satu banjar 181 bahkan di lain banjar juga 182 kayak gitu kan tau semuanya. 183 anggaplah di semua desa itu Tetap

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 184 gitu jadinya. ngomongnya alus. 185 bahkan ada lagi yang mungkin 186 gimana gitu masak 187 ngomongnya enggih ampun 188 enggih ampun (bahasa bali yang 189 halus) masih ada yang ngomong 190 gitu. 191  192 trus kalok dirumah kan Subjek tidak 193 berapa tahun dah nikah sama merasakan adanya hambatan 194 suami? 4 tahun. selama 4 masalah dengan dalam 195 tahun ini, pernah ada pasangan perkawinan 196 masalah gak dengan keluarga 197 suami, atau 198 keluargamu?ehmastungkara 199 sih sampai sekarang gak pernah, 200 gak pernah sampek ribut ribut. 201 kalok ama suami gak ampek 202 ribut ribut. palingan diem-diem 203 sebentar, tar lagi baikan. gak 204 sampek segitunya. Tidak ada (192-204) 205  206 berarti dari keluarga yang Subjek merasa 207 cowok, sama keluarga mu tidak ada masalah 208 baik baik aja?iya baik baik aja. dalam keluarga dalam 209 orang sering kok keluarga antara keluarga keluarga 210 mertua dateng kerumah saya. suami dengan besar 211 main, misalnya kayak galungan keluarganya (206-217) 212 (hari raya hindu) gitu, kesana sendiri 213 dah melali (jalan-jalan). orang 214 tua saya juga sering dateng Tidak ada hambatan

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 215 kerumah sana liat cucunya. 216 bahkan dulu dua hari sekali 217 kesana kerumah saya. 218  219 kalok kamu masih boleh Subjek merasa 220 pulang kerumah? katana diberikan kebebasan 221 denger denger kalok turun itu kebebasan karena (219-238) 222 gak boleh?kalok dulu habis diijinkan pulang 223 nikah ni ya kan pertama nya di kerumah orang 224 maling, kalok karena saya tuanya 225 berkasta kan gak boleh di minta, 226 makanya di maling kan. 227 sekarang di maling 3 hari gak 228 boleh pulang, orang emang gitu 229 kan. kayak dipingit gitu kan. 3 230 hari gak boleh pulang. abis 3 231 hari boleh dah pulang. sampek 232 waktu itu baru seminggu di 233 rumah dia dan pulang dah 234 nginep. gak di apa apain sama 235 keluarga suami. bilang aja sama 236 suami mau nginep di sini di 237 rumah, iya gitu dah dia. gak ada 238 gini gini. Adanya 239  240 trus kalok di rumah bajang Subjek merasa 241 (rumah orang tua) gitu boleh tidak mengalami peraturan- 242 sembahyang gitu?boleh. oh masalah dalam peraturan 243 gak masalah gitu?enggak. kedudukannya yang 244 enggak masalah sih. cuman sekarang namun dilakukan 245 karena sekarang kan udah harus ada hal-hal Adanya

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 246 punya anak jadi kayak bawa yang dilakukan agar tidak 247 dah lagi banten (sesajen) yang agar semuanya terjadi 248 lain. untuk karena baru lagi. jadi dapat berjalan masalah 249 karena ada orang baru yang (240-253) 250 mau sembahyang di sana jadi 251 bawa banten baru kayak 252 perkenalan gitu. kalok saya 253 sendiri boleh. dengan lancar 254  255 ow gak masalah itu?gak Subjek merasa 256 masalah. eh malah biasanya di tidak nyaman dan ketidak 257 suruh pulang kalok ada odalan malu jika harus nyamanan 258 di merajan dirumah kan. berkumpul dengan (255-265) 259 disuruh pulang. tapi saya nya keluarga besar 260 yang gak mau. lah kenapa gak 261 mau? ya gak papa sih cm kan 262 rame, ya gak gini aja. Gak 263 nyaman aja. Kan karena hamil 264 diluar nikah. Jadi ya adalah 265 perasaan malu, gak enak gitu. Adanya 266  267 truskeluarga besar gimana Subjek merasa 268 gak masalah juga?gak tidak ada masalah perasaan 269 masalah. orang dah tau dulu. dengan keluara pasrah 270 orang kan dulu istilahnya di besarnya dan lebih menerima 271 maling tu kan, abis tu lagi satu pasrah menerima nasib 272 setengah tahunnya baru di keadaan (267-279) 273 resmiin , baru mepamit di 274 rumah kan, semuanya ikut 275 nganter ke rumah suami. semua 276 nganter gak ada masalah. men adanya

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 277 mau gimana men. udah nasib je 278 namanya. kayak gini, ya gitu aja 279 sih. 280  281 kan biasanya orang turun Subjek merasa 282 kasta tukan masalahnya sama tidak ada maslah perasaan 283 keluarga, keluarga besar gitu ketika harus turn senasib 284 kan, biasanya gak boleh kasta karena dengan 285 nyerod gitu kan, itu juga gak banyak keluarga keluarga 286 di jadiin masalah gitu?enggak yang lain sudah yang lain 287 sih. men kalok diliat ya diliat mengalami turun (281-300) 288 dari turun temurun yang kasta 289 sebelum sebelumnya ya, ya 290 emang gitu cewek-ceweknya. 291 gak ada yang suaminya dewa. 292 pasti kebanyakan yang nyerod. 293 pasti di tiap generasi tu pasti 294 ada aja yang nyerod. oh gitu. 295 iya gitu di rumah saya. saya 296 juga gak ngerti ya. dari kakak 297 yang duluan ada jg yang kayak 298 gitu, pokoknya di tiap generasi 299 pasti ada. jadi itu gak di jadiin 300 masalah. adanya 301  302 tapi kalok saya yang pertama Subjek merasa 303 nyerod baru jadi masalah. kan jika dia yang kemungkinan 304 udah dari dulu kan, jadi ya gini. pertama turun yang 305 ya dari dulu pasti aja ada. kasta maka pasti dipikirkan 306 akan mengalami (302-307) 307 masalah. adanya

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120  308 tetep sih kayak kakek kan Adanya 309 bilang meskipun kamu nyerod penerimaan dari penerimaan 310 tapi kamu tetep cucu saya. gitu. keluarga subjek yang 311 gak ada, kan katanya ada gitu yang membuat didapatkan 312 yang dia di keluarga lain, subjek merasa (308-318) 313 karena udah nyerod gak lagi di tidak berbeda 314 anggep cucu gak dianggep ketika harus 315 anak. kalok kakekku bilang melepaskan 316 kamu tetep cucu saya. gak ada kastanya 317 perbedaan perbedaan apa-apa 318 lagi. adanya 319  320 orang dikeluarga suami itu juga Subjek merasa 321 deket sama, gimnana ya bahwa dari dulu hubungan 322 istilahnya. ehmm dari buyut sudah ada yang baik 323 keluarga suami sama buyut hubungan yang anatara dua 324 keluarga saya itu temenan dulu. baik antara keluarga 325 masih ada hubungannya gitu. keluarganya (320-331) 326 tapi baru ketemu sekarang dengan keluarga 327 jadinya. karena saya nikah sama pasangannya 328 dia. makanya gak dijadiin sehingga tidak 329 masalah. soalnya udah tau juga menjadi masalah 330 kan keluarganya dia kayak ketika mereka 331 gimana. menikah 333 waktu kamu menikah ini ada Subjek merasa 334 gak hambatan? hambatan kyak dari awal penolakan 335 gimna misalnya? misalnya gak berhubungan (333-342) 336 direstuin lah apa lah, kalok sudah tidak 337 kamu ada gak hambatan mendapatkan restu 338 hambatan lain adanya 332  adanya

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 339 gitu?pertamanya sih emang ya. 340 bukannya gak di restuin, tapi 341 emang sih dari pacaran emang 342 gak di restuin. 343  344 trus karena udah nikah kan ya Subjek merasa 345 perlahan lahan mulai lah. perlahan-lahan penerimaan 346 terutama ajik sama ibu ya. mendapatkan dari keluarga 347 bisalah mulai menerima. apalagi penerimaan dari 348 sekarang udah ada cucunya. 349 udah gini udah biasa. adanya (344-349) keluarga 350  351 kalau sampai sekarang kamu Subjek tidak 352 sudah bisa memahami gak pernah mengikuti berpartisipasi 353 dengan kamu posisimu kegiatan di dan 354 sekarang udah nyerod gitu masyarakat dan bersosialisasi 355 trus kamu bisa gak di subjek juga tidak dengan 356 lingkunganmu itu berbaur pernah masyarakat 357 sama masyarakat mengetahui orang- (351-369) 358 biasa?karena itu dah, karena orang yang ada 359 ngayah gak pernah, nguopin dilingkungannya 360 (bantu-bantu di pura) gak 361 pernah, jadi tu gak tau. 362 misalnya di kasi tau bapak ini, 363 gak tau saya. palingan Cuma 364 yang sering ke rumah aja 365 taunya. tapi kalok di suruh nyari 366 kerumahnya gak tau saya. sama 367 sekali gak tau. bahkan disatu 368 banjar saya gak tau ini siapa ini 369 siapa. gak tau saya. kurangnya

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122  370 itu kamu emang kamu gak di Subjek merasa 371 kasi nguopin(bantu-bantu di bahwa mertuanya pengertian 372 pura) apa emang gak sempet mengerti dari keluarga 373 atau gimana?ya gitu dah, keadaanya untuk 374 mungkin ngerti mertua saya. tidak berpartisipasi 375 karena saya kan masih sekolah berpartisipasi di dalam 376 jadinya di kasik lah sekolah, dalam masyarakat masyarakat 377 trus misalnya pas libur-libur ada 378 nguopin (bantu-bantu di pura) 379 gitu di kasi ngempu (jaga anak) 380 di rumah. “ya ngempu aja di 381 rumah, biar saya yang nguopin” 382 gitu dah dia (mertua). ya 383 ngertilah dia.  adanya kurang dapat (370-383) 384  385 ada gak yang kamu harapin Subjek merasa 386 dari diri kamu sendiri dengan sampai saat ini halangan 387 lingkungan kamu dan tidak ada halangan dalam 388 keluarga kamu setelah kamu dalam perkawinan bersosialisasi 389 menikah?ada gak harapan maupun didalam dalam 390 harapan dari lingkunganmu keluarganya keluarganya 391 sendiri lingkunganmu 392 sekarang kayak gitu? apa ya 393 harapannya, ehm sejauh ini sih 394 berjalan dengan lancar gak ada 395 halangan gak ada apa. gak ada 396 sih kayaknya. soalnya 397 semuanya udah lancar-lancar 398 aja. 399 tidak ada (385-398)

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 400 berarti sampai sekarang ini Subjek tidak 401 kamu ngerti posisi kamu ya? merasakan 402 iya, ngerti. apa perasaan kamu penyesalan 403 setelah turun kasta? kamu dengan 404 sedih gak sih? ehm gimana ya keadaannya 405 kalok sedih, mah dari dulu kan sekarang 406 berarti saya gak mau pacaran 407 sama dia. enggak sih. ya gimana 408 ya. udah dari dulu, udah dari 409 satu setengah taun dah hampir 410 dua tahun pacaran sama dia, 411 kalok misalnya ada gitu 412 perasaan sedih kan seharusnya 413 gak usah dah lagi di lanjutin 414 pacarannya ini. kan seharusnya 415 gitu dari dulu. tapi ini gak. apa 416 emang udah cinta gitu ya. gak 417 ada perasaan gini gitu ya, gak 418 ada penyesalan. biasa aja.  tidak ada penyesalan (400-418) 419 420 berarti motivasi kamu nikah Subjek melakukan  adanya 421 karena kamu udah hamil pernikahn turun penolakan 422 gitu? iya. karena itu dah karena kasta ini dari keluarga 423 gak disetujuin sama orang tua. dikarenakan tidak 424 dulu kan waktu pacaran emnag disetujui dan keputusan 425 gak disetujuin pacaran ma dia. mengambil jalan yang di ambil 426 pernah main kerumah kan gak hamil agar dapat untuk 427 disetujuin. karena dia tau dia direstui mencapat 428 gak berkasta kan. gara gara gitu sesuatu yang 429 dah. gini dia ngomong suami diinginkan 430 saya gini dia ngomong. “nah  adanya

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 431 mun seng setujuinen ben mani 432 kal belingine panak nak e.”(ya 433 kalau tidak di setujuin saya 434 hamilin anaknya) gitu dia 435 ngomong kan. akhirnya 436 kejadian dah itu. padahal baru 437 baru kuliah disini lo itu. udah 438 kuliah itu. (420-438) 439  440 trus temen-temen kamu biasa Subjek merasa 441 gitu manggilnya?iya biasa tidak ada hal yang perbedaan 442 manggil desak gitu. berbeda di yang di 443 lingkungan rasakan 444 pertemanan (440-444) tidak ada 445 446 ada gak perubahan kamu Subjek mengalami  adanya 447 yang dulu di tempat kamu berubahan saat dia perubahan 448 berkasta sama sekarang? apa masih remaja dalam 449 Cuma tutur kata nya aja? dengan kini sudah hidupnya kini 450 perbedaannya dulu ama menikah (446-460) 451 sekarang, mungkin karena dulu 452 masih bajang, bisa gitu di 453 rumah sendiri. karena sekarang 454 udah nikah kan dan di rumah 455 orang jadi ya gitu. bangun harus 456 jam 6 gitu bangun, kalok 457 dirumah kan boleh bangun jam 458 berapa aja. dan kalok libur- 459 libur. sekarang harus lebih gini 460 lah bangunnya. 461

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125  462 trus kalok tentang kedudukan Subjek merasa 463 kamu sebagai cewek berkasta bahwa jika di ketidak 464 ada gak? gak ada sih Cuma itu rumah orang bebasan 465 aja. dari ngomongnya aja. tapi tuanya subjek 466 tetep yang lain sama. Cuma dari dapat melakukan bersosialisasi 467 lingkungannya. kalok di rumah apapun dengan dengan 468 kayak gini, kalok di rumah leluasa namun kini lingkungan 469 suami kayak gini. kalok di subjek tinggal di yang baru 470 jero(rumah orang berkasta) rumah (462-479) 471 biasa lah sama orang orang kan pasangannya 472 udah dari kecil dan kenal subjek menjadi 473 semua. tapi kalok di rumah tidak leluasa 474 suamikan masih belum kenal ini karena tidak 475 siapa ini siapa. jadi gak leluasa mengenal satu 476 mau kesana kesini. ya masih sama lainnya 477 canggung jadinya sama yang 478 dirumah suami sekarang. itu aja 479 sih.  adanya kurang dapat

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 Subjek 3 Nomer Verbatime Koding Awal Tema  1 Bagaimana perasaan Subjek merasa 2 kamu saat kamu canggung dengan perbedaan yang 3 melepaskan kastamu? keadaanya sekarang dirasakan 4 Ehhmm biasa aja sih. karena subjek 5 Cuma ya ngerasa beda aja. merasa berbeda canggung 6 Kan kalok dulu di rumah karena dulu saat (1-18) 7 itu manggil ajik ibu, berkasta subjek 8 sekarang biasa aja. Belum mendapatkan 9 lagi kan kan kalok di perlakuan seperti 10 rumah lebih di alusin apa dan sekarang 11 ngomong ketimbang disini. seperti apa 12 Alok di bilang sedih karena 13 udah gak berkasta sih 14 enggak ya. Tapi perlakuan 15 yang berbeda yang 16 membuat aku masih 17 canggung dan harus bisa 18 terbiasa gitu.  Adanya Adanya rasa 19 20 Trus gimana perasaan Subjek terkadang 21 kamu setelah berbaur merasa sedih karena 22 dengan orang-orang yang keadaan yang tidak 23 dilingkunganmu 24 sekarang ini? Ehmm biasa 25 aja sih. Cuma ya gitu. 26 Sesekali aku ngerasa sedih 27 soalnya kalok di rumah aku 28 jarang banget kerja disini biasa  Adanya perasaan kurang dapat memahami (20-34)

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 29 aku harus kerja sendiri. 30 Belum lagi kalok 31 ngomongnya nyablak- 32 nyablak, kasar kasar gitu 33 lo. Jadi ya memang harus 34 di biasakan. 35  36 Apakah kamu menikmati Subjek merasa 37 dengan keadaanmu sedih dan kesal kepasrahan 38 sekarang?Apakah kamu karena harus seperti dalam 39 dapat merepresentasikan ini namun subjek menghadapi 40 perasaan kamu sebagai tetap menerimanya kenyataan 41 perempuan yang udah 42 turun kastanya? 43 Ehhmmm gimana ya. 44 Kalok di bilang menikmati 45 sih ya harus di nikmati ya. 46 Cuma kan kadang kita 47 ngerasa sedih kesel karena 48 harus kayak gini. Cuma ya 49 kan karena emang aku 50 yang milih jalan ini dan 51 aku harus terima 52 konsekuensinya. Adanya (36-52) 53 Subjek merasa tidak  54 Ya kan karena aku hamil 55 duluan ni. Makanya ya siap menyesal dengan 56 gak siap mau gak mau ya keputusan yang 57 harus di jalani. Kadang sih telah diambil perasaan tidak 58 emang kesel gitu kan ya namun terkadang sesuai 59 gak kayak di rumah, tapi merasa kesal Adanya penerimaan  Adanya

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 60 eh ak gak nyesel kok kan 61 aku emang cinta ama 62 suamiku. Ya kebetulan 63 keluarga suamiku jg baik 64 kok. (54-64) 65  66 Apakah kamu Subjek menyadari 67 memahami diri kamu dirinya sebelum pemahaman 68 sebelum dan sesudah subjek menikah akan posisi diri 69 menikah? Ehm ya dengan sesudah dia (66-81) 70 lumayan sih. Kalok dulu menikah 71 aku manjanya minta 72 ampun, tapi karang sudah 73 menikah, menikahnya 74 sama orang biasa ya harus 75 bisa mandiri. Soalnyakan 76 kalok di puri itu bisa minta 77 tolong ini itu sama parekan 78 (orang yang membantu 79 orang-orang berkasta) tapi 80 kalok sekarang gak ada 81 yang bantu. Adanya 82  83 Apakah ada harapan Subjek berharap 84 dengan diri kamu sendiri dapat lebih keinginan untuk 85 dan lingkungan sama mengerti memahami 86 keluarga mu setelah bagaimana di lingkungan di 87 menikah ni? Ehmm rumah sekitarnya kini 88 harapan sih ya gimana ya, pasanagannya (83-104) 89 gak ada sih. Cuma ya kalok karena subjek 90 ke keluarga mah udah gini merasa belum Adanya

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 91 aja seneng kok. Mertua memahami 92 juga ngerti aku lagi S2 jadi lingkungan di 93 gak terlalu di beratkan. sekitarnya kini 94 Cuma ya kalok ada rainan 95 (upacara adat) aja ya sibuk 96 gitu. Kan mertua 97 pemangku (pemuka 98 agama) jadi ya sibuk gitu. 99 Kalok aku mah berharap 100 aku bisa lebih ngerti 101 keadaan rumah suamiku. 102 Soalnya aku sama sekali 103 gak tau apa-apa tentang 104 adat-adat gitu. 105  106 Sebenarnya gimana Subjek memang 107 awalnya kamu bisa dari awal sudah 108 menikah turun kasta? tidak di restuii oleh 109 Kan awalnya aku ni keluarganya namun keterpaksaan 110 pacaran kan. Emang gak karena sudah hamil (106-123) 111 dikasi ma orang tua kan membuatnya harus 112 buat pacaran sama yang menikah dengan 113 jaba gitu. Trus ya akhirnya pasangannya 114 hamil dah. Ya hamil sih 115 karena emang karena suka 116 sama suka ya. Abis tu 117 bilang sama ajik. Ajik 118 waktu itu gak terima, gak 119 mau dinikahin. Walau 120 mertuaku dah datang buat 121 minta lah ya istilahnya Adanya penolakan  Adanya

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 122 kayak ngelamar gitu tetep 123 di tolak sama ajik. 124 Subjek merasa  125 Akhirnya ada temennya 126 mertua di ajak sama mertua dibantu oleh rekan 127 ketemu sama ajik. dari mertuanya 128 Dijelasin dah semuanya untuk mendapatkan penerimaan 129 dan di bilangin ini sudah restu dari orang (125-139) 130 ada cucu, masak gak mau tuanya dan akhirnya 131 dinikahin juga. Nanti anak diijinkan menikah 132 dalam kandungannya ini 133 susah, karena gak ada 134 orang tuanya, gitu dah 135 temennya mertua 136 ngomong. Trus lama tu 137 nunggu keputusan boleh 138 nikahnya. Akhirnya boleh 139 nikah. Trus nikah kan. Adanya bantuan dari orang lain  Adanya 140 141 Ajik masih belum terima Subjek masih  Adanya keraguan 142 waktu itu. Masih kayak merasa belum  Adanya 143 setengah hati gitu. Tapi direstui sepenuhnya penerimaan 144 sampek anaknya lahir baru oleh orang tuanya (141-148) 145 bisa ketawa, seneng lah namun setelah 146 ibaratnya. memiliki anak 147 orang tuanya mulai 148 bersikap biasa 149 150 Emang kenapa kok Subjek merasa 151 sampek segitunya? Ya membuat orang 152 kan mungkin ajik malu tuanya malu karena  Adanya rasa mengecewakan

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 153 karena hamil di luar nikah. telah hamil diluar orang tua 154 Ajik kan dokter masak gak nikah dan tidak (150-158) 155 bisa ngasi tau anaknya kan mendapatkan 156 gitu orang-orang mikir. pasangan yang 157 Apalagi dapetnya gak sederajat 158 sekasta. 159 Subjek merasa tidak  160 Kamu nyesel gak sih? Ya 161 gak sih. Aku emang sayang menyesal dengan mengecewakan 162 sama suamiku. Aku sih gak apa yang telah orang tua 163 nyesel. Cuma ya tau dilakukan namun (160-171) 164 sendiri kan kalok orang subjek hanya 165 berkasta dapet orang jaba merasa sedih 166 ribetnya gimana. membuat orang 167 Belum lagi ibu juga sedih tuanya kecewa 168 waktu itu harus nyerod gini 169 anaknya. Kalok aku sih 170 biasa aja cuma sedih liat 171 orang tua kaya gitu. Adanya perasaan 172  173 Trus kalok Subjek merasa 174 dilingkunganmu dapat beradaptasi bersosialisasi di 175 sekarang, apakah kamu namun kurang lingkungan- 176 bisa beradaptasi? dapat bersosialisasi lingkungan 177 Ehmmm gimana ya, kalok di lingkungan- tertentu 178 di bilang bisa sih bisa ya. lingkungan tertentu (173-193) 179 Kan bapak ibu(mertua) 180 sering kepura tu apalagi 181 kalok ada rainan gede 182 (upacara adat yang besar). 183 Datang dah ke pura Kurangnya

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 184 semuanya nah disana dah 185 dikenalin diajak ngobrol ya 186 tau lah Cuma ya waktu di 187 pura aja berbaurnya. Kalok 188 di sekitar rumah jarang. 189 Soalnya kan aku masih 190 sekolah. Jadi jarang keluar 191 rumah. Paling kalok 192 dirumah di kamar aja 193 ngurus si kecil. 194  195 Apakah ada perbedaan Subjek merasakan 196 dulu saat berkasta perbedaan saat dulu perbedaan yang 197 dengan sekarang? Ehmm dia berkasta dengan dirasakan 198 ada sih. Kalok dulu aku sekarang menjadi (195-204) 199 gak pernah ngapa-ngapain perempuan yang 200 kalok ada rainan (upacara biasa saja 201 adat), sekarang harus sibuk 202 karena harus di pura dan 203 dirumah ngurusin banten 204 (sesajen). Adanya 205  206 Trus kalok dulu kan aku Subjek merasa 207 gak pernah tu denger harus terbiasa keinginan untuk 208 omongan kasar, disini dengan keadaan beradaptasi 209 semuanya keras-keras yang ada (206-211) 210 kalok ngomong. Jadi ya 211 harus terbiasa. Adanya 212 213 Trus pakah kamu Subjek sebenarnya 214 memutuskan untuk turun tidak ingin  Adanya

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 215 kasta karena hamil aja? mengecewakan keinginan untuk 216 Ehm iya sih. Kan karena orang tuanya tidak 217 hamil duluan. Sebenarnya namun subjek mengecewakan 218 sih gak mau ya ngecewain merasa ini sudah orang tua 219 orang tua, keluarga besar. nasib 220 Tapi ya mau gimana lagi kepasrahan 221 ini udah jalannya. (213-221)  Adanya 222  223 Dan sebenarnya sampai Sampai saat ini 224 sekarang kakiangku (kakek subjek masih tidak penolakan 225 subjek) belum merestui. di restui oleh (223-232) 226 Kakiangku yang sangat beberapa keluarga 227 menolak pernikahan ku ini. besar subjek 228 Ya kan dulu ibu sama ajik 229 juga gak ngerestuin tapi 230 akhirnya ngerestuin. Nah 231 Cuma kakek aja ni ya 232 belum ngerstuin aku. Adanya 233  234 Dan sebenarnya kan aku Subjek akan 235 ada ni dijodohin sama ajik. dijodhkan dengan 236 Masih sodara sebenarnya saudaranya namun 237 sama aku Cuma sodara subjek menolak dan keinginan untuk 238 jauh gitu lo. Jadi ya aku memilih menolak 239 gak mau. Dari pada ama pasangannya (234-241) 240 dia mending sama suamiku sendiri 241 karang ya. Adanya pertenangan  Adanya 242 243 Emang boleh sodara gitu Subjek merasa 244 nikah? Kalok di tempat boleh menikah 245 lain gak tau ya, tapi kalok dengan saudara  Adanya pertahanan

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 246 di keluargaku mah boleh agar kasta tidak kasta dari 247 banget. Soalnya ya gitu turun keluarga 248 biar gak nyerod. Trus 249 masih di lingkungan sana 250 aja nikahnya. (243-250) 251  252 Ada gak sih hambatan Subjek berpikir 253 waktu kamu nikah?Ya bahwa 254 paling restu itu. Susah hambatannya dalam 255 banget dapet restu dari menikah adalah kesulitan 256 ajik. Apalagi dari kakiang. restu yang sulit mencapai susatu 257 Ini untung dah bisa nikah didapatkan (252-267) 258 sekarang. Ni sampai 259 sekarang kakiang belum 260 kasi restu. Ya aku sih mikir 261 banget orang tua ya 262 keluarga gitu. Gimana 263 caranya bisa aku bisa di 264 kasi restu. Tapi ya mau 265 gimana lagi, kakiang jek 266 sampek sekarang gak mau 267 liat aku. Adanya penolakan  Adanya 268 269 Trus kamu boleh Subjek merasa takut  Adanya 270 kerumah? Kalok kerumah untuk bertemu ketakutan 271 sih sering ya. Tapi kalok dengan salah satu (269-277) 272 kerumah kakiang gak keluarganya karena 273 pernah. Taut lah. Gak di belum diberi restu 274 kasi juga sama ajik. atas pernikahannya 275 Soalnya kakiang masih 276 marah. Dan masih belum

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 277 mau ketemu. 278  279 Dilingkunganmu Subjek merasa 280 sekarang kamu bisa susah beradaptasi 281 beradaptasi gak sih? Ya karena tidak tahu 282 gitu dah kayak yang aku bagaimana cara beradaptasi 283 bilang tadi. Kalok di pura mendekatkan diri (279-293) 284 gitu kan karena di kenalin dan kurang dapat 285 sama ibu bapak jadi tau. bersosialisasi 286 Tapi kalok di rumah ya dengan baik 287 enggak soalnya jarang 288 keluar juga. Tapi kalokpun 289 di pura juga jarang aku 290 ngobrol. Kan sama ibu-ibu 291 tu ngobrolnya. Kadang aku 292 gak ngerti apa yang di 293 omongin. Jadi ya diem aja. Kurang dapat bersosialisasi  Kurang dapat 294  295 Kamu ikut mebanjar? Subjek merasa 296 Ikut sih di rumah. Tapi kurang dapat 297 jarang ke banjar. Paling bersosialisasi di 298 kalok ada odalan (upacara lingkungannya bantuan orang 299 adat) mertua yang kesana. sekarang sehingga lain 300 Aku di rumah aja. Ya gak masih (295-306) 301 mau sih gak ngerti, gak mengandalkan 302 kenal juga. Kan ibu mertua mertuanya untuk 303 mangku tu (pemuka mengikuti kegiatan 304 agama) jadi ya lebih bisa di masyarakat 305 kan dari pada aku (sambil 306 tertawa). 307 Kurang dapat bersosialisasi  Mengharapkan

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136  308 Jadi kamu sama sekali Subjek jarang 309 gak pernah nguwopin mengikuti kegiatan memotivasi 310 (bantu-bantu dalam bermasyarakat dalam 311 upacara adat)? Jarang. dikarena bersosialisasi di 312 Jarang banget. Soalnya kan pasangannya juga masyarakat 313 udah mertua yang kesana. jarang (308-316) 314 Aku mah kalok suamiku mengikutikegiatan 315 ikut baru aku ikut. tersebut 316 Suamiku aja jarang ikut. Kurang ada yang 317  318 Trus kalok kamu di Subjek berpikir 319 rumah atau di pura gitu untuk lebih memilih 320 klok gak kenal gimana diam agar tidak 321 men kamu? Ya diem aja. salah bicara 322 Gak ngomong. Duduk aja. mencoba 323 Men apa men yang di (318-327) 324 omongin. Aku juga gak tau 325 ornag nya kayak apa. Nanti 326 malah takut salah 327 ngomong. Adanya ketakutan  Kurangnya keinginan untu 328  329 Trus orang-orang Subjek merasa 330 dilingkunganmu itu tau masih di hormati di perasaan 331 kamu nyerod? Tau. Ya lingkungannya dihormati 332 mereka juga biasa aja sih. sekarang (329-265) 333 Cuma ya gitu kalok 334 ngomong sama aku pakek 335 bahasa halus jadinya. 336 Mungkin karena tau aku 337 dulunya berkasta jadi 338 masih gak enak kalok Adanya

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 339 pakek bahasa kasar 340 ngomong. Kalaupun ada 341 yang ngomong kasar sama 342 aku aku pasti ngomngnya 343 pakek bahasa halus. 344 Mungkin itu yang buat 345 mereka pakek bahasa halus 346 ngomongnya ama aku. 347 Lah trus kalok keluarga 348 suamimu? Kalok di rumah 349 pakeknya bahasa ya biasa. 350 Gak halus banget. Yang 351 biasa aja. Kalok di rumah 352 bajang (rumah orang 353 tua)kan pakek bahasa 354 halus. Kalok di rumah 355 suami pakek bahasa bali 356 yang biasa. 357  358 Trus gimana keluarga Subjek merasa di 359 suamimu sama terima oleh penerimaan dari 360 keluargamu bersikap keluarga keluarga 361 dengan kamu yang pasangannya pasangan 362 sekarang turun kasta? namun keluarganya 363 Kalok keluarga suami sih sendiri subjek penolakan dari 364 biasa aja ya. Ya nerima- merasa belum keluarga besar 365 nerima aja. Keluarga suami diterima 366 juga pernah lah kerumah karenatelah turun 367 orang tuaku, tapi ya gitu. kasta 368 keluarga besarku yang 369 belum menerima aku untuk  Adanya Adanya (258-273)

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 370 turun kasta. Orang tuaku 371 sih sekarang dah bisa 372 nerima dari yang dulunya 373 gak nerima gitu. 374  375 Trus gimana sikap Perkawinan subjek 376 keluarga besarmu wktu sampai sekarang penolakan dari 377 tau dulu kamu mau masih di tentang keluarga besar 378 nyerod itu? Wah oleh keluarga (375-383) 379 menentang sekali. Semua besarnya 380 menentang. Kakiang yang 381 paling keras 382 menentangnya. Sampai 383 sekarang. Adanya 384 385 Sekarang ngapain aja Subjek merasa tidak  Adanya harapan 386 men kamu di rumah diistimewakan oleh bantuan dari 387 suamimu? Apakah kamu lingkungan orang lain 388 merasa diistimewakan? disekitarnya, namun  Adanya 389 Maksudna karena kamu subjek masih keterikatan 390 dulu berkasta gak di kasi terbawa dengan dengan 391 ngambil kerjaan gitu? keadaan dirumah kebiasaan lama 392 Aku sih ngerasa biasa aja. sehingga mertuanya (385-403) 393 Ya tetep aku ngerjain masih 394 pekerjaan rumah. Malah membantunya 395 dulu aku gak pernah untuk melakukan 396 ngambil pekerjaan rumah suatu kegiatan 397 sekarang jadi ngambil 398 pekerjaan rumah. Gak di 399 istimewakan sih. Cuma 400 kadang aku yang males

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139 401 malesan. Jadi ya kadang 402 mertuaku yang 403 ngerjainnya. 404  405 Berarti setelah kamu Subjek jarang mau 406 turun kasta ini, kamu mengikui kegiatan keinginan untuk 407 jadi melakukan bermasyarakat ikut 408 pekerjaan rumah sendiri, sehngga subjek berpartisipasi 409 jadi turun ke lebih sering dalam sebuh 410 masyarakat, gitu ya? Iya. dirumah kegiatan 411 Tapi ya kadang aku males 412 kalok di suruh ikut 413 ngowopin (bantu-bantu) 414 gitu. Jadi ya paling di 415 rumah aja. Jarang keluar 416 mah aku ni. Kurangnya (405-416) 417 Subjek malas untuk  418 Gimana relasimu sama 419 orang-orang disekitarmu, berinteraksi dengan 420 temen-temenmu, 421 keluarga suamimu sama lain 422 keluargamu? Relasi sama (418-428) 423 orang-orang di lingkungan 424 sih biasa aja. Orang gak 425 terlalu kenalkan. Paling 426 tau-tau aja gak pernah 427 ngobrol. Soalnya akunya 428 juga males ngobrol. Kurang dapat bersosialisasi orang lain dengan orang 429 430 Kalok sama keluarga Subjek merasa 431 suami sama temen-temen dapat lebih dekat  Dapat

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140 432 sih biasa aja ya. Ya deket dengan orang-orang bersosialisasi 433 lah bisa ngobrol bercanda yang sudah dengan orang- 434 gitu. dikenalnya orang tertentu 435 (430-435) 436  437 Tapi kalok sama Subjek merasa 438 keluargaku sendiri pasti masih di pandang penolakan dari 439 tegang. Apalagi kalok ada sebelah mata oleh keluarga besar 440 acara keluarga misalnya keluarga besarnya (437-453) 441 ada odalan dirumah sehingga setiap kali 442 keluargaku kan aku datang. berkunjung suasa 443 Gak berani dah aku 444 ngomong gitu. Diem aja. 445 Ya masih dipandang 446 sebelah mata soalnya. Kan 447 udah nyerod. Untuk 448 sembahyang juga gitu. 449 Paling Cuma datang aja ke 450 acaranya tapi gak ikut 451 sembahyang. Kalok dulu 452 kan ikut sembahyang, 453 sekarang enggak. Adanya menjadi tegang 454  455 Apakah anda menyadari Subjek menyadari 456 kedudukanmu setelah bahwa diriya susah 457 kamu turun kasta? Trus dalam beradaptasi 458 apa yang kamu lakukan? sehingga subjek bersosialisasi 459 Ya sadar sih. Cuma yamau ingin dapat lebih dengan 460 gimana lagi akunya yang belajar dalam lingkungan 461 susah buat berbau kan bersosialisasi yang baru 462 sama orang-orang. Apalagi Adanya kesadaran diri  Kurangnya

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141  463 dengan cara bicara yang 464 gak biasa aku denger aku keinginan untuk 465 lakuin gitu. Trus belum belajar 466 lagi kan beda kebiasaan (455-469) 467 waktu di puri sama di sini. 468 Jadi ya memang harus bisa 469 lebih belajar lagi sih. Adanya

(159)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
117
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
145
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
144
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
2
125
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
92
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
2
181
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
112
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
105
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
106
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
1
143
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
89
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
101
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
177
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
1
99
Show more