Tingkat kematangan emosi : studi deskriptif pada mahasiswa baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik program bimbingan untuk mengembangkan kematang

Gratis

0
0
121
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TINGKAT KEMATANGAN EMOSI MAHASISWA (Studi Deskriptif pada Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Tahun Akademik 2013/2014 dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-topik Program Bimbingan untuk Mengembangkan Kematangan Emosi Mahasiswa) Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh: Prisca Anindya Dewi 101114029 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TINGKAT KEMATANGAN EMOSI MAHASISWA (Studi Deskriptif pada Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Tahun Akademik 2013/2014 dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-topik Program Bimbingan untuk Mengembangkan Kematangan Emosi Mahasiswa) Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh: Prisca Anindya Dewi 101114029 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO DAN PERSEMBAHAN T uga s kit a buka nla h un t uk ber ha sil. T uga s kit a a dalah un t uk m en coba , ka r en a di da la m m en coba it ulah kit a m en em uka n dan bela ja r m em ban gun kesem pa t a n un t uk ber hasil (M a r i o T egu h ) Ja n ga n ha n y a m eliha t en a kn y a or a n g y an g ber ha sil, t a pi t ir u kejujur a n dan ker ja ker asn y a (M a r i o T egu h ) God kn ow s y our life fr om st a r t t o fin ish, a n d it w on ’t be ov er un t il God sa y it ’s ov er . Y ou ha v e not hin g t o fea r (A n on y m u s) K u p er sem ba h k a n sk r i p si i n i k ep a d a : 1. T uha n Y esus K r ist us 2. Pr ogr a m St udi Bi m bi n ga n da n K onseli n g 3. K edua or a n gt ua ku t er ci n t a Ba pa k A n t on i us D .I .M . da n I bu M S. W iga t i M . 4 . K a ka k da n a di kku t er sa y a n g L. D i pt a M . da n A lex a n der A gr a A . 5. K eka si hku Y osef T r i N ugr oho J. iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK TINGKAT KEMATANGAN EMOSI (Studi Deskriptif pada Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Tahun Akademik 2013/2014 dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-Topik Program Bimbingan untuk Mengembangkan Kematangan Emosi Mahasiswa) Prisca Anindya Dewi Universitas Sanata Dharma 2014 Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kematangan emosi mahasiswa baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, mengidentifikasikan item-item instrumen Kematangan Emosi yang terindikasi rendah di kalangan Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan mengetahui usulan topik-topik program bimbingan yang dapat mengembangkan emosi mahasiswa. Masalah pertama yang diteliti adalah “Seberapa baik tingkat kematangan emosi Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konselig Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014?” Masalah yang kedua adalah “Berdasarkan hasil analisis item instrument Kematangan Emosi, dalam item apakah Kematangan Emosi terindikasi rendah?” Masalah yang ketiga adalah “Topik-topik usulan program bimbingan apa sajakah yang dapat mengembangkan kemtangan emosi mahasiswa?” Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survei. Subjek penelitian adalah mahasiswa baru program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 yang berjumlah 74 mahasiswa. Instrumen penelitian ini berupa kuesioner tingkat kematangan emosi yang terdiri dari 40 item pernyataan yang dikembangkan berdasarkan teknik penyusunan skala model Likert. Teknik analisis data dalam penelitian ini dengan membuat tabulasi skor dari masing-masing item, meghitung skor total masing-masing responden, menghitung skor total masing-masing item, selanjutnya mengkategorisasikan tingkat kematangan emosi mahasiswa berdasarkan distribusi normal. Kategori ini terdiri dari lima jenjang yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) Tingkat kematangan emosi mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 yang termasuk dalam kategori sangat tinggi berjumlah 2 mahasiswa (2,7%) yang termasuk dalam kategori tinggi berjumlah 44 mahasiswa (59,5%) yang termasuk dalam kategori sedang berjumlah 28 mahasiswa (37,8), termasuk kategori rendah dan sangat rendah berjumlah 0 mahasisswa (0%). (2) Berdasarkan analisis terhadap item-item kematangan emosi, diperoleh 14 item yang termasuk dalam kategori sedang. (3) Berdasarkan item-item yang termasuk dalam kategori sedang, dapat dirumuskan usulan topik-topik program bimbingan untuk mengembangkan kematangan emosi mahasiswa. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT EMOTIONAL MATURITY LEVEL (Descriptive Study Towards Academic Year 2013/2014 Freshmen in the Study Program of Guidance and Counseling, Sanata Dharma University, and Its Implication to Topics Suggestion in The Guidance Program for Student Emotional Maturity Development) Prisca Anindya Dewi Sanata Dharma University 2014 This research is a descriptive research that aims: to describe the emotional maturity level of the freshmen in Guidance and Counseling Study Program, Sanata Dharma University; to identify the items of Emotional Maturity instrument, which has been indicated as low among them; and to understand the proposed topics of guidance program that can develop students’ emotion. The first problem to be addressed is “How good is emotional maturity level of the academic year 2013/2014 freshmen in Guidance and Counseling Study Program, Sanata Dharma University?” The second problem is “According to analysis of Emotional Maturity, in which item the Emotional Maturity is indicated as low?” The third problem is “what kind of mentoring program that could develop emotional maturity of the student?” This research type is descriptive research using the method of survey. Research subjects are 74 freshmen of academic year 2013/2014 in the Study Program of Guidance and Counseling, Sanata Dharma University. The instrument used is emotional maturity level questionnaire, which consists of 40 question items developed using Likert scale. Data analysis was done by score tabulation from each item, calculating the total score of each respondent, calculating the score of each item, and then categorizing emotional maturity level based on normal distribution. Such category consists of five steps, i.e. very high, high, medium, low, and very low. The result is (1) emotional maturity level of academic year 2013/2014 Freshmen in the Study Program of Guidance and Counseling, Sanata Dharma University is as follows: very high, 2 students (2,7%), high, 44 students (59,5%), medium, 28 students (37,8%), low and very low 0 students (0%). (2) According to analysis of emotional maturity items, 14 items belong to medium category. (3) According to analysis of emotional maturity items that falls into medium category, topics proposal for guidance program to develop emotional maturity of the students can be formulated. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan bimbingan-Nya skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Adanya tugas pertanggung jawaban tugas akhir sebagai syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling ini bagi penulis memberi banyak manfaat, antara lain penulis diperoleh pengalaman untuk mengaplikasikan dan mengimplikasikan teori-teori yang telah di dapat saat menjalani proses perkuliahan di Program Studi Bimbingan dan Konseling secara langsung. Skripsi dengan judul Deskripsi Tingkat Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Tahun Akademik 2013/2014 dan Implikasinya Terhadap Usulan Program Bimbingan untuk Mengembangkan Kematangan Emosi Mahasiswa ini terselesaikan tidak hanya dengan kerja keras penulis sendiri, namun juga didukung oleh bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :. 1. Dr. Gendon Barus, M.Si selaku Kepala Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah memberikan dukungan dan membantu kelancaran dalam proses penyelesaian skripsi ini. 2. A. Setyandari, S.Pd., S.Psi., Psi., M.A, selaku Wakil Kepala Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah member dukungan dan membantu kelancaran proses penyelesaian skripsi ini. 3. Ag. Krisna Indah Marheni, S.Pd., M.A, selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan kemurahan hati dan kesabaran telah ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI memberikan dukungan serta bimbingan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 4. Dra. M.J. Retno Priyani, M.Si.dan Hayu Purbaning Tyas, M.Pd. selaku dosen penguji yang selalu memberikan masukan positif, berbagi pengalaman, memberikan dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 5. Bapak dan Ibu Dosen di Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah mendampingi penulis selama masa perkuliahan dan membekali penulis dengan berbagai ilmu pengetahuan yang telah diberikan. 6. Para mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun akademik 2013/2014 yang telah meluangkan waktu dan bersedia mengisi kuesioner dengan baik. 7. Kedua orangtua penulis Antonius Dwi Indra Maryanton dan MS. Wigati Murtiarti yang selalu setia dengan cinta dan kasih sayang memberikan dukungan, perhatian dan selalu mendoakan penulis, khususnya selama penulis berproses dalam menyusun dan melaksanakan penelitian ini. 8. Leonardus Dipta Mahardhika kakakku tercinta yang telah bersedia meluangkan waktu untuk berbagi pengalaman dan memberikan dukungan kepada penulis selama proses penyusunan dan pelaksanaan penelitian ini. 9. Yosef Tri Nugroho Jaya yang telah memberikan dukungan, doa dan perhatian selama penulis menyusun dan melaksanakan penelitian ini. 10. Teman-teman yang ada dalam penelitian payung Yulianto Setiawan, Eva Christy, Marietta L. Gaol dan Wina Carlina yang dengan sabar membantu penulis untuk belajar bersama menginput dan mengolah data penelitian. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL……………………………………………………… I HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING………………………….. Ii HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………….. Iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ………………………… Iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………………………………….. V LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA…... Vi ABSTRAK………………………………………………………………… Vii ABSTRACT………………………………………………………………… Viii KATA PENGANTAR…………………………………………………….. Ix DAFTAR ISI………………………………………………………………. Xii DAFTAR TABEL…………………………………………………………. Xv DAFTAR GRAFIK………………………………………………………... xvii DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………… xviii BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………. 1 A. Latar Belakang…………………………………………………….. 1 B. Rumusan Masalah…………………………………………………. 6 C. Tujuan Penelitian………………………………………………….. 6 D. Manfaat Penelitian………………………………………………… 7 E. Definisi Operasional………………………………………………. 8 BAB II KAJIAN TEORI………………………………………………….. 9 A. Hakekat Kematangan Emosi………………………………………. 9 1. Pengertian Kematangan Emosi………………………………... 9 2. Ciri-ciri Kematangan Emosi…………………………………... 12 3. Faktor-faktor Kematangan Emosi……………………………... 15 4. Aspek-aspek Kematangan Emosi……………………………... 17 5. Dampak Kematangan Emosi………………………………….. 18 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Masa Dewasa Awal……………………………………………….. 19 1. Pengertian Dewasa Awal……………………………………… 19 2. Karakteristik Masa Dewasa Awal…………………………….. 20 C. Mahasiswa dan Kematangan Emosi………………………………. 24 1. Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling….. 24 2. Peran Kematangan Emosi pada Mahasiswa…………………… 26 D. Konsep Dasar Usulan Topik-topik Program Bimbingan………….. 28 1. Pengertian Bimbingan……………………………………. 28 2. Bimbingan Pemeliharaan dan Pengembangan Kematangan Emosi……………………………………………………… 30 BAB III METODE PENELITIAN………………………………………... 32 A. Jenis Penelitian…………………………………………………….. 32 B. Subjek Penelitian………………………………………………….. 33 C. Instrumen Pengumpulan Data……………………………………... 34 1. Kuesioner Tingkat Kematangan Emosi……………………….. 34 2. Format Pernyataan Skala……………………………………… 35 3. Penentuan Skor………………………………………………... 36 4. Kisi-kisi item…………………………………………………... 37 D. Uji Coba Alat……………………………………………………… 38 1. Validitas……………………………………………………….. 38 2. Reabilitas………………………………………………………. 41 E. Prosedur Pengumpulan Data………………………………………. 43 1. Tahap Persiapan……………………………………………….. 43 2. Pengumpulan Data…………………………………………….. 45 F. Teknik Analisis Data………………………………………………. 45 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………………… 51 A. Hasil Penelitian…………………………………………………….. 51 1. Tingkat Kematangan Emosi…………………………………… 51 2. Hasil skor item tingkat kematangan emosi………………........ 53 B. Pembahasan Hasil Penelitian………………………………………. 57 1. Deskripsi Tingkat Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014……………… 57 2. Item-item Tingkat Kematangan Emosi………………………… 64 C. Topik-topik Bimbingan …………………………………………… BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 70 73 A. Kesimpulan………………………………………………………… 73 B. Keterbatasan Penelitian……………………………………………. 74 C. Saran……………………………………………………………….. 75 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………… 77 LAMPIRAN……………………………………………………………...... xiv 80

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL 1. Tabel 1 Data Mahasiswa Baru Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014…………..... 2. Tabel 2 25 Rincian Populasi Penelitian Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014………………………………………….. 3. Tabel 3 34 Rekapitulasi Butir dan Nomer-nomer Item Kuesioner Tingkat Kematangan Emosi………………………………………………….. 36 37 4. Tabel 4 Norma Skoring Tingkat Kematangan Emosi………………............. 5. Tabel 5 Kisi-kisi kuesioner Tingkat Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Tahun Akademik 2013/2014………………….. 37 41 6. Tabel 6 Jumlah Item-item yang Valid dan Tidak Valid…………….............. 7. Tabel 7 Kriteria Guilford……………………………………………………... 42 8. Tabel 8 Kuesioner Tingkat Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Tahun 9. Tabel 9 10. Tabel 10 akademik 2013/2014………………………………........................... 43 Norma Kategorisasi Karakter Subjek Penelitian…………………..... 46 Kategorisasi Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014……………………………..................... 48 11. Tabel 11 Norma Kategorisasi Skor Item……………………………………..... 49 12. Tabel 12 Kategorisasi Skor Item Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014……………………. 13. Tabel 13 50 Kategori Tingkat Kematangan Emosi pada Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun akademik 2013/2014………………………………… xv 52

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14. Tabel 14 Kategorisasi Skor Item Tingkat Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014……………………. 55 15. Tabel 15 Item-item Tingkat Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma 16 Tabel 16 Yogyakarta Tahun Akademik 2013/2014…………………………… 56 Topik-topik Bimbingan Pengembangan dan Pemeliharaan Kematangan Emosi pada Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun akademik 2013/2014………………………………………………… 71 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR 1 Gambar 1. Diagram Kategorisasi Tingkat Kematangan Emosi…………. 2 Gambar 2. Diagram Skor Item Deskripsi Tingkat Kematangan Emosi…. xvii 53 55

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lamiran 6 : Kuesioner Tingkat Kematangan Emosi…………… : Tabulasi Data Penelitian…………………………... : Hasil Hitung Uji Validitas Item…………………… : Hasil Uji Validitas dan Reabilitas………………… : Ijin surat uji coba dan penelitian………………….. : Rincian Kegiatan Usulan Topik Program………… xviii 80 84 85 89 90 91

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Bab pendahuluan ini berisi uraian latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional. A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi. Memegang status sebagai mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan bagi setiap pribadi. Tantangan yang akan dihadapi mahasiswa antara lain: mengatur kembali pola kehidupan sehari-hari, menyesuaikan diri dengan corak kehidupan dalam suatu asrama atau tempat kos, menyesuaikan diri dengan corak kehidupan kampus, mengembangkan sikap membina ilmu demi kemajuan bangsa, mengatasi pertentangan yang seolah-olah timbul antara ilmu dan agama, mengintegrasikan tuntutan belajar akademik di perguruan tinggi dan lain-lain (Winkel, 2006). Mahasiswa memiliki tugas dan tanggung jawab besar bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya serta menjadi harapan bangsa yang paling berharga. Mahasiswa dipersiapkan untuk memiliki pikiran, keahlian, mental, dan moral yang baik sebagai modal untuk terjun mandiri ke dunia profesi dan masyarakat (Winkel, 2006). Begitu pula halnya yang terjadi 1

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 pada mahasiswa di program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Mahasiswa Bimbingan dan Konseling diharapkan dapat berprofesi sebagai pembimbing atau konselor. Seorang pembimbing atau konselor diharapkan dapat memiliki kualitas kepribadian yang baik sehingga dapat membantu klien dengan optimal. Menurut Winkel dan Hastuti (2006) kualitas kepribadian yang harus dimiliki oleh seorang konselor adalah: (1) mengenal diri sendiri, (2) memahami orang lain dan (3) memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan orang lain. Di mana apabila seorang calon konselor tidak matang secara emosi maka ia tidak akan mampu mengenal dirinya sendiri, tidak mampu memahami orang lain dan tidak memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Kualitas kepribadian yang harus dimiliki oleh seorang konselor erat kaitannya dengan kematangan emosi individu. Individu yang tidak matang emosinya mudah terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya, sehingga dapat dikatakan bahwa individu tersebut masih mengalami ketidakstabilan emosi. Seseorang yang belum matang secara emosi akan mengalami kesulitan dalam berproses menuju individu yang memiliki kualitas kepribadian baik. Kualitas kepribadian yang baik dapat dibentuk dan dikembangkan apabila seorang mahasiswa mau lebih terbuka dan peka terhadap keadaan di sekitarnya. Mahasiswa diharapkan mampu peduli dengan keadaan di sekitar dirinya dan tidak terfokus kepada keuntungan diri sendiri.

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Tuntutan dan tanggung jawab yang sama diharapkan terjadi pada mahasiswa Bimbingan dan Konseling di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, khususnya mahasiswa baru tahun akademik 2013/2014. Mahasiswa baru Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma mengalami kesulitan dalam menunjukkan kematangan emosi sebagai seorang calon konselor. Perilaku kesulitan dalam menunjukkan kematangan emosi nampak pada sikap mahasiswa yang memiliki kecenderungan menunda waktu untuk masuk ke dalam kelas, berbicara dengan teman saat dosen menjelaskan materi, menegur teman yang terlambat dengan berteriak dan berpenampilan kurang sesuai dengan tuntutan yang ada di Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta belum dapat meninggalkan sifat remaja mereka. Mahasiswa baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta memiliki kesulitan lain yang memicu permasalahan di sekitar mereka. Kesulitan tersebut berasal dari latar belakang lingkungan yang berbeda-beda antara mahasiswa satu dengan mahasiswa lain. Perbedaan lingkungan terkadang membuat individu mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri di lingkungan baru. Setiap individu memiliki pandangan yang berbeda berkaitan dengan nilai, interpretasi dan perilaku dalam menanggapi lingkungan baru. Perbedaan pandangan terkait dengan latar belakang lingkungan individu inilah yang

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 dapat mempengaruhi pola perilaku dan cara berpikir di kalangan mahasiswa baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Perbedaan yang terjadi seringkali memicu ketidaksesuaian antara tuntutan dan tahap perkembangan masa dewasa awal, karena pada masa ini individu menemui kebingungan untuk bertindak dan mengambil keputusan yang sesuai dengan keadaan sekitarnya. Ketidaksesuaian antara tuntutan dan harapan dengan tahap perkembangan mahasiswa dalam masa dewasa awal, dapat menghambat pembentukan kualitas kepribadian yang optimal. Adanya ketidak sesuaian antara usia fisik dan usia emosi yang ditunjukkan oleh mahasiswa baru seringkali juga menimbulkan berbagai macam masalah. Usia emosi sering disebut sebagai tingkat kematangan atau kedewasaan emosi. Apabila mahasiswa baru tidak dapat mengembangkan kematangan emosi mereka dengan optimal, terutama mahasiswa di program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, maka akan menyebabkan mahasiswa tidak mampu bertanggung jawab sebagai seorang calon konselor yang profesional. Hal tersebut menyampaikan bahwa betapa pentingnya proses memelihara dan mengembangkan kematangan emosi bagi para mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014. Kematangan emosi adalah proses menjadi dewasa secara emosional. Kematangan emosi juga dapat disebut sebagai kondisi atau keadaan dalam mencapai tingkat kedewasaan perkembangan emosional seseorang. Ketika

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 perkembangan emosi mencapai tingkat tertentu, maka kita dapat mengatakan bahwa seseorang itu matang emosinya. Tidak setiap orang mempunyai perkembangan yang sama dan tidak setiap orang mencapai kematangan emosionalnya. Secara umum orang belajar untuk mengontrol emosinya pada tingkat tertentu. Kematangan emosi memiliki beberapa aspek. Hurlock (2004) mengatakan bahwa ada empat aspek yang menunjukan bahwa seseorang telah matang secara emosional. Keempat aspek tersebut adalah: (1) kontrol diri, (2) bertindak sesuai harapan masyarakat, (3) memanfaatkan kemampuan mentalnya secara tepat dan (4) memahami diri sendiri. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa secara tidak langsung kematangan emosi merupakan hal yang penting terutama erat kaitannya dengan proses menuju konselor yang profesional. Namun, pada dasarnya kemampuan individu untuk memiliki kematangan emosi berbedabeda satu sama lain. Hal inilah yang menarik perhatian peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul Deskripsi Tingkat Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Tahun Akademik 2013/2014 dan Implikasinya Terhadap Usulan topik-topik Program Kematangan Emosi Mahasiswa. Bimbingan untuk Mengembangkan

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan masalah yang akan diteliti adalah : 1. Seberapa tinggi tingkat kematangan emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014? 2. Berdasarkan hasil analisis item instrument Kematangan Emosi, dalam item apakah Kematangan Emosi terindikasi rendah? 3. Usulan topik-topik program apa sajakah yang data mengembangkan kematangan emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014? C. Tujuan Penelitian 1. Mendeskripsikan tingkat kematangan emosi Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Mengidentifikasi item-item instrument Kematangan Emosi yang terindikasi rendah di kalangan Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Merumuskan usulan topik-topik program bimbingan yang dapat mengembangkan kematangan emosi.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diperoleh dari hasil penelitian ini lebih lanjut diharapkan bisa bermanfaat: 1. Secara Kajian Keilmuan Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan untuk menambah wawasan dan pengembangan penelitian dalam bidang ilmu Bimbingan dan Konseling, khususnya mengenai kematangan emosi. 2. Secara Praktis a. Program Studi Bimbingan dan Konseling Diharapkan program studi Bimbingan dan Konseling dapat membantu mahasiswa baru untuk membuat agenda kegiatan terstruktur terkait pengembangan kematangan emosi mahasiswa program Studi Bimbingan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. b. Dosen Progra Studi Bimbingan dan Konseling Diharapkan dosen program studi Bimbingan dan Konseling dapat membantu mahasiswa baru untuk lebih mengenal Tingkat Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Tahun Akademik 2013/2014 dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-topik Program Bimbingan untuk Mengembangkan Kematangan Emosi Mahasiswa.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 c. Mahasiswa Diharapkan mahasiswa dapat termotivasi agar bisa berkembang lebih optimal dan menjadi pribadi yang lebih baik. Disamping itu penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada mahasiswa mengenai manfaat, pengetahuan, dan bimbingan bagi pengolahan diri mahasiswa khususnya berkaitan dengan kematangan emosi. E. Definisi Operasional 1. Kematangan Emosi Kematangan emosi adalah kondisi atau keadaan dalam mencapai tingkat kedewasaan dalam perkembangan emosional individu, yang sesuai dengan tahap perkembangan individu tersebut. Kematangan Emosi dapat diukur dari cara individu dalam mengontrol emosi, pemahaman individu mengenai dirinya sendiri serta memiliki pengetahuan yang jelas terhadap penggunaan kritis mental mereka. 2. Mahasiswa Bimbingan dan Konseling tahun akademik 2013/2014 Mahasiswa Program studi Bimbingan dan Konseling adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada Program Studi Bimbingan dan Konseling, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II KAJIAN TEORI Pada bab ini dikaji landasan teori yang berkaitan dengan masalah penelitian. Topik-topik dalam bab ini yaitu kematangan emosi, mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling serta program bimbingan. A. Hakekat Kematangan Emosi 1. Pengertian Kematangan Emosi Kematangan dalam kamus psikologi Chaplin (2006) diartikan sebagai suatu keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan dalam perkembangan emosional. Sementara menurut Hurlock (2004) kematangan menunjukkan kesiapan yang terbentuk dari pertumbuhan dan perkembangan. Kematangan dan kemasakan memiliki arti dan makna yang sama yaitu sudah dipikirkan (dipertimbangkan) baik-baik; sudah diputuskan (disetujui bersama); sudah sempurna atau sampai pada tingkatan yang terbaik (terakhir) (Sugono, 2008). Istilah kematangan atau kedewasaan emosional seringkali membawa implikasi adanya kontrol emosional, artinya kematangan emosi membantu individu dalam mengendalikan pola sikap dan perilaku yang akan memicu individu untuk membuat suatu tindakan yang didasari oleh dorongan emosi. 9 Kemampuan seseorang untuk

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 menyesuaikan diri, menempatkan diri, dan menghadapi berbagai kondisi dengan suatu cara tertentu (Rahmawati, 2008). Pernyataan tersebut diperkuat juga dengan pendapat Goleman (2003) yang mengungkapkan bahwa kematangan emosi memuat keterampilan emosi yang mencakup kesadaran diri, mengidentifikasi, mengungkap dan mengelola perasaan, mengendalikan dorongan hati dan menunda pemuasan serta menangani kecemasan. Individu yang mempunyai kemampuan mengendalikan dorongan hati mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan, sehingga individu tersebut mampu membuat keputusan emosi yang lebih baik dengan mengendalikan dorongan terlebih dahulu kemudian bertindak dan mengidentifikasikan tindakan alternatif serta konsekuensi dari tindakannya. Young (dalam Powel, 1963) mengungkapkan bahwa kematangan emosi adalah kemampuan individu dalam mengontrol dan mengendalikan emosinya. Merchan (dalam Mayasari, 2009) menambahkan bahwa seseorang yang mempunyai ciri emosi yang sudah matang tidak cepat terpengaruh oleh rangsang (stimulus), baik dari dalam maupun dari luar dirinya. Individu yang memiliki emosi yang sudah matang, akan selalu belajar menerima kritik, mampu menangguhkan respon-respon dan memiliki saluran sosial bagi energi emosinya, misalnya bermain, menyalurkan hobi, mengikuti kegiatan organisasi dan sebagainya.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 Saat perkembangan emosi individu mencapai tingkat tertentu, maka kita dapat mengatakan bahwa seseorang itu matang emosinya. Tidak setiap orang mempunyai perkembangan yang sama, tidak setiap orang mencapai kematangan emosionalnya. Secara umum orang belajar untuk mengontrol emosinya pada tingkat tertentu. Menurut Murray (1992) individu yang memiliki banyak pengalaman atau usia yang dewasa belum tentu memiliki kematangan emosi. Emosi yang matang penting bagi individu dalam menciptakan hidup yang penuh arti serta membentuk pribadi yang kuat dalam menjalin hubungan penuh kasih sayang dengan sesama. Hal ini terjadi bila individu mau mengenal dan merasakan emosinya, sehingga individu dapat bertindak menurut naluri dan berempati berdasarkan perasaannya. Apabila individu dapat bertindak menurut naluri dan berempati sesuai dengan tempat dan waktu yang tepat maka individu akan mampu menjalin relasi yang baik dengan orang lain. Berdasarkan pengertian dari beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa kematangan emosi adalah kemampuan individu dalam mengontrol dan mengendalikan emosi, serta mewujudkannya dalam bentuk ekspresi perasaan yang tepat pada waktu dan tempat yang sesuai. Kematangan emosi juga ditandai dengan adanya pengambilan keputusan yang tepat dengan mempertimbangkan dampak dari keputusan tersebut.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 2. Ciri-Ciri Kematangan Emosi Menurut Mahmud (1989) ciri-ciri kematangan emosi yaitu: (1) tidak meledakkan emosi di hadapan orang lain tetapi mampu mengekspresikan emosi secara tepat dan wajar; (2) mampu melihat situasi secara kritis sebelum meledakkan emosinya, (3) mengabaikan rangsangan yang dapat menimbulkan ledakan emosi dan (4) mampu memberikan reaksi emosi secara stabil, tidak berubah-ubah dari suatu emosi atau suasana hati ke emosi atau suasana hati lain. Hal senada juga disampaikan oleh Hasbiansyah (1989) yang menyatakan bahwa individu yang memiliki kematangan emosi akan menampakkan sikap sebagai berikut: (1) tahu cara dan dalam situasi yang bagaimana individu tersebut harus mengungkapkan ledakan emosi seperti kemarahan, kesedihan maupun kebahagiaan; (2) mampu mengontrol luapan emosi; (3) mampu menerima kritikan dari orang lain dan tidak mudah tersinggung; (4) tidak malu mengakui kesalahan dan berani membela kebenaran; (5) mampu menghindarkan segala prasangka buruk dan tidak berpikir benar salah sebelum ada bukti yang pasti dan (6) memiliki keadaan emosi yang stabil. Menurut Finkelor (2004) ciri-ciri individu yang memiliki kematangan emosi ditunjukkan dengan: (1) mampu mengambil keputusan yang penting; (2) mampu mengambil keputusan berdasarkan fakta yang dihadapi dan kemudian dipertimbangkan; (3) mampu melaksanakan keputusan yang sudah diambilnya; (4) mampu menilai

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 kembali keputusannya dan apabila perlu mengubah atau memperbaikinya; (5) mampu menerima keputusan-keputusan yang telah diambilnya. Menurut Sanford (1974) ciri-ciri kematangan emosi adalah sebagai berikut: a. Ketepatan Emosi Memiliki respon-respon emosional yang sesuai dengan stimulusnya dan ekspresi perasaan-perasaannya, yang berarti menunjukkan kesadaran dan kesesuaian sosial. b. Kontrol Emosi Setiap individu mempunyai kontrol dalam hal penundaan pemuasan terhadap kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan saat itu. Kontrol terhadap impuls-impuls yang pada masa anak-anak segera terwujud dalam bentuk tindakan yang nyata. Kontrol yang menekan atau yang mengecilkan ledakan emosi, akan berdampak pada ekspresi emosi yang sesuai dengan cara-cara kehidupan sosialnya serta sesuai dengan tuntutan dan situasi tertentu. Individu yang matang secara emosional mampu memahami lingkungan, serta menerima dirinya dan orang lain secara objektif. Menurut Pikunas (1976), kematangan emosi seseorang ditandai dengan lima hal yaitu:

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 a. Kemampuan merespon secara berbeda-beda dalam kaitannya dengan kebutuhan dan faktor-faktor yang berada di luar dirinya yang terlibat dalam kaitannya dengan situasi-situasi tertentu. b. Kemampuan menyalurkan tekanan, impuls dan emosi dalam bentuk perilaku yang konstruktif dan mengarahkannya ke arah tujuan yang positif . c. Kemampuan membangun pola hubungan dengan sesama dan mampu memelihara peran-perannya secara fleksibel. d. Kemampuan memperkaya keterampilan dalam memahami potensipotensi keterbatasan dirinya, serta mencari penyelesaian atas problem-problemnya secara kreatif dan mendapat persetujuan dari orang lain. e. Kemampuan untuk berhubungan secara efektif dengan orang lain dan mampu memandang dirinya dan orang lain secara obyektif. Tanda- tanda kematangan emosi menurut Walgito (2004), yaitu : a. Orang yang telah matang emosinya dapat menerima baik keadaan orang lain seperti apa adanya, sesuai dengan keadaan obyektifnya. b. Orang yang telah matang emosinya pada umumnya tidak bersifat impulsif. c. Orang yang telah matang emosinya dapat mengontrol emosinya dengan baik.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 d. Karena orang yang telah matang emosinya dapat berfikir secara objektif, maka ia akan bersifat sabar, penuh pengertian dan pada umumnya matang emosinya mempunyai toleransi yang baik. e. Orang yang telah matang emosinya akan mempunyai tanggung jawab yang baik, dapat berdiri sendiri, tidak mudah mengalami frustasi, dan dapat menghadapi masalah dengan penuh pengertian. 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kematangan Emosi Menurut Hurlock (2004), faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan emosi adalah : a. Memperoleh gambaran tentang situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan membicarakan masalah pribadi kepada orang lain, keterbukaan karena perasaan dan masalah pribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan sosial. b. Katarsis emosi yaitu menyalurkan emosi dengan cara latihan fisik, bermain atau bekerja, tertawa atau menangis. Sementara Meichati (1987) menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kematangan emosi seseorang diantaranya: a. Faktor Usia Semakin bertambahnya usia seseorang maka dominasi emosinya akan berkurang dan digantikan oleh logika atau

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 pikiran. Pendapat tersebut diperkuat oleh Walgito (2004) yang menyatakan bahwa kematangan emosi individu terkait erat dengan usia individu. Semakin bertambah usia individu maka emosinya akan bertambah matang, sehingga individu dapat menguasai dan mengendalikan emosinya. b. Faktor Lingkungan Lingkungan di sekitar individu yang selalu menghargai orang lain, bisa menerima setiap perbedaan dengan tangan terbuka serta mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan membuat individu tidak mudah frustasi dan akan mampu menghadapi masalah dengan penuh pengertian. Hal ini akan membuat individu semakin matang emosinya. c. Faktor Pengalaman Faktor pengalaman ini meliputi pengalaman hidup individu yang telah memberikan masukan nilai-nilai dalam kehidupannya. Nilai yang baik dikembangkan untuk mengontrol emosi, yang buruk dijadikan pelajaran agar tidak mengulangi lagi. Semakin bertambahnya pengalaman, baik yang dialami oleh diri sendiri maupun orang lain akan membuat emosi seseorang menjadi semakin matang. d. Faktor individu Faktor individu merupakan faktor yang terdapat di dalam diri individu. Individu dapat menerima keadaan dirinya sendiri

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 apa adanya dengan baik, sejauh mana individu mampu menerima kelebihan dan kekurangan dirinya, begitu juga sebaliknya individu dapat menerima orang lain seperti apa adanya dan bersifat objektif. 4. Aspek-aspek Kematangan Emosi Hurlock (2004) mengemukakan bahwa ada tiga aspek dari kematangan emosi yang dapat dikembangkan menjadi indikator tertentu. Indikator tersebut dapat diukur dan diamati melalui ciri-ciri yang ada dalam setiap aspek. Tiga aspek kematangan emosi yang dimaksud yaitu : a. Kontrol emosi Individu tidak meledakkan emosinya dihadapan orang lain dan mampu mengungkapkan menunggu saat emosinya dengan yang cara-cara tepat untuk yang dapat diterima. Individu dapat melakukan kontrol diri yang bisa diterima secara sosial. Individu yang emosinya matang mampu mengontrol ekspresi emosi yang tidak dapat diterima secara sosial atau membebaskan diri dari energi fisik dan mental yang tertahan dengan cara yang dapat diterima secara sosial. b. Pemahaman diri Memiliki reaksi emosional yang lebih stabil, tidak berubah-ubah dari satu emosi atau suasana hati ke suasana hati

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 yang lain. Individu mampu memahami emosi diri sendiri, memahami hal yang sedang dirasakan, dan mengetahui penyebab dari emosi yang dihadapi individu tersebut. c. Penggunaan fungsi kritis mental Individu mampu menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional, kemudian memutuskan bagaimana cara bereaksi terhadap situasi tersebut, dan individu juga tidak lagi bereaksi tanpa berpikir sebelumnya seperti anak-anak atau individu yang tidak matang. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek individu yang telah mencapai kematangan emosi adalah individu yang memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri dengan cara yang dapat diterima; individu dapat memahami apa yang sedang dirasakan serta mengetahui sebab dari emosi yang sedang dihadapi dan individu mampu menggunakan pemikiran terlebih dahulu sebebelum membuat keputusan dengan mempertimbangkan pendapat orang lain dan dampaknya. 5. Dampak Kematangan Emosi Menurut Hurlock (1997) individu yang sudah matang dalam emosi akan mengalami :

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 a. Penerimaan secara sosial Individu yang matang secara emosi akan diterima oleh masyarakat karena individu mudah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. b. Mempunyai pikiran yang rasional Individu yang matang secara emosi akan berpikir secara rasional tidak hanya berdasarkan pemikiran emosional dan bersifat terburuburu dalam mengambil keputusan. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa individu yang telah memiliki kematangan emosi menjadi lebih mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar dan lebih mampu mengambil keputusan dengan baik dan tepat sesuai dengan pemikiran yang rasional. B . Masa Dewasa Awal 1. Pengertian Dewasa Awal Masa dewasa awal merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Individu yang berada dalam masa dewasa awal mulai diharapkan untuk memainkan peran-peran baru, seperti pencari nafkah dan mulai mengembangkan sikap-sikap baru, keinginan dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas baru. Penyesuaian diri dalam masa periode baru

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 ini menjadikan masa periode baru sebagai suatu periode yang khusus dan sulit dari rentang kehidupan seseorang (Hurlock, 1997). Hurlock menambahkan bahwa masa dewasa merupakan masa pencarian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilainilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Masa dewasa awal terjadi sesudah usia 18 tahun dengan rentang usia antara 18 sampai 40 tahun (Papalia, 2009). Individu yang berada dalam masa dewasa awal umumnya telah mampu memecahkan masalah-masalah mereka dengan cukup baik sehingga menjadi stabil dan tenang secara emosional. Namun, apabila emosi pada individu dewasa awal ini masih menggelora dengan kuat maka dapat merupakan tanda bahwa penyesuaian diri pada kehidupan individu-individu dewasa awal belum terlaksana secara memuaskan (Hurlock, 1997). Hal tersebut dapat terlihat pada sikap mahasiswa baru yang masih sering terbawa arus lingkungan sekitarnya dan berdampak pada ketidaktegasan individu dalam mengambil keputusan atau bertindak. 2. Karakteristik Masa Dewasa Awal Menurut Havinghurts (dalam Hurlock, 1997), terdapat tujuh karakteristik masa dewasa awal, yaitu:

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 a. Usia Banyak Masalah Individu yang berada pada masa dewasa awal akan mengalami banyak permasalahan. Pada masa dewasa banyak persoalan yang baru dialami. Permasalahan-permasalahan yang terjadi berbeda dengan permasalahan yang pernah dialami pada masa kanak-kanak mereka. Beberapa diantara persoalan tersebut merupakan kelanjutan atau pengembangan persoalan yang dialami dalam masa remaja akhir. Setelah individu yang berada pada masa dewasa awal menyelesaikan pendidikan sekolah mereka, maka menghadang pula persoalan yang berhubungan dengan pekerjaan dan jabatan. Persoalan yang berhubungan dengan pemilihan teman hidup, merupakan satu diantara persoalan sangan penting dalam masa dewasa awal ini. Persoalan lain yang menonjol dirasakan dalam masa dewasa awal ini adalah hal-hal yang berhubungan dengan keuangan. Persoalan ini mencakup aspek usaha mendapatkannya dan aspek pengelolaan dalam pembelanjaan. b. Usia Tegang dalam Hal Emosi Usia dewasa awal merupakan usia dimana individu akan banyak mengalami ketegangan emosi. Ketegangan emosi yang dialami pada masa dewasa awal berhubungan dengan persoalanpersoalan yang berkaitan dengan jabatan, perkawinan, keuangan dan sebagainya. Persoalan-persoalan yang dialami individu pada

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 masa dewasa awal merupakan tuntutan sekaligus tanggung jawab sebagai pemenuhan tugas perkembangan optimal dalam tahap dewasa awal. c. Usia Keterasingan Sosial Masa dewasa awal memunculkan adanya keterasingan yang berasal dari adanya semangat bersaing dengan hasrat kuat untuk maju dalam karier. Individu pada masa dewasa awal harus mencurahkan sebagian besar tenaga mereka untuk suatu pekerjaan, sehingga mereka hanya dapat menyisihkan waktu sedikit untuk bersosialisasi. Sosialisasi diperlukan untuk membina hubungan-hubungan yang akrab. Kesibukan akan pekerjaan yang menimbulkan kurangnya waktu untuk bersosialisasi mengakibatkan individu menjadi egosentris dan hal ini menambah perasaan akan masa sepi di kalangan individu dewasa awal. d. Usia Perubahan Nilai Banyak nilai masa kanak-kanak dan remaja yang berubah karena adanya pengalaman dan hubungan sosial yang lebih luas dengan orang-orang yang berbeda usia. Ada beberapa alasan yang menyebabkan perubahan nilai pada masa dewasa dini, diantaranya yang sangat umum adalah: pertama, jika orang muda dewasa ingin diterima oleh anggota kelompok orang dewasa, maka mereka harus menerima nilai-

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 nilai kelompok ini. Kedua, orang-orang muda itu segera menyadari bahwa kebanyakan kelompok sosial berpedoman pada nilai-nilai konvensional dalam hal keyakinan-keyakinan dan perilaku seperti juga halnya dalam penampilan. e. Usia penyesuaian diri dengan cara hidup baru Masa dewasa dini merupakan periode yang paling banyak menghadapi perubahan. Perubahan yang paling umum terjadi pada masa dewasa awal adalah perubahan yang berkaitan dengan penyesuaian diri terhadap gaya hidup. Menyesuaikan diri pada suatu gaya hidup yang baru memang selalu sulit, terlebih bagi kaum muda zaman sekarang karena persiapan yang mereka terima sewaktu masih anak-anak dan di masa remaja biasanya tidak berkaitan atau bahkan tidak cocok dengan gaya-gaya hidup baru masa kini. Sebagai contoh, persiapan yang diterima di rumah dan di sekolah untuk kehidupan perkawinan sangat berbeda dari yang sebenarnya dibutuhkan bagi kehidupan suami istri. Demikian pula orang-orang muda masa kini jarang sekali dipersiapkan agar mampu memikul tanggung jawab sebagai orang tua tunggal atau tugas ganda sebagai orang tua pencari nafkah di luar rumah. f. Usia Komitmen Sewaktu menjadi dewasa orang-orang muda mengalami perubahan tanggung jawab dari seorang pelajar yang sepenuhnya

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 tergantung pada orang tua menjadi orang dewasa mandiri, maka mereka menentukan pola hidup baru, memikul tanggung jawab baru dan membuat komitmen-komitmen baru. g. Usia Kreatif Orang muda banyak yang bangga karena lain dari yang umum dan tidak menganggap hal ini sebagai suatu tanda kekurangan. Bentuk kreatifitas yang akan terlihat sesudah ia dewasa akan tergantung pada minat dan kemampuan individual. C. Mahasiswa dan Kematangan Emosi 1. Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada Program Studi Bimbingan dan Konseling, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Mahasiswa tahun akademik 2013/2014 pada Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma berasal dari berbagai daerah yang memiliki kebudayaan yang berbeda. Mahasiswa tersebut sebagian besar berusia 18-21 tahun. Data usia

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun akademik 2013/2014 terdapat pada tabel 1. Tabel 1 Data Mahasiswa baru Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 NIM UMUR JK NIM UMUR JK NIM UMUR JK 131114001 33 P 131114027 19 L 131114054 20 P 131114002 20 P 131114028 19 P 131114055 17 P 131114003 20 P 131114029 20 L 131114056 18 P 131114004 19 P 131114030 19 P 131114057 20 L 131114005 26 P 131114031 20 L 131114058 25 L 131114006 20 P 131114032 19 P 131114059 19 P 131114007 19 P 131114033 19 L 131114060 19 P 131114009 19 P 131114034 20 P 131114061 19 P 131114010 20 L 131114035 20 P 131114063 18 P 131114011 19 P 131114036 19 P 131114064 19 P 131114012 20 P 131114037 19 P 131114065 20 P 131114013 20 L 131114038 19 P 131114066 19 P 131114014 19 P 131114039 19 L 131114067 17 P 131114015 19 P 131114040 19 P 131114068 19 P 131114016 21 L 131114041 20 L 131114069 20 L 131114017 21 P 131114042 28 L 131114070 22 P 131114018 19 P 131114044 20 L 131114071 19 P 131114019 19 P 131114045 19 L 131114072 22 P 131114020 20 P 131114046 18 P 131114073 19 P 131114021 19 P 131114047 19 P 131114074 19 L 131114022 18 P 131114048 20 L 131114075 20 L 131114023 19 P 131114049 19 L 131114076 19 P 131114024 19 P 131114050 19 P 131114077 19 P 131114025 20 P 131114051 22 P 131114078 19 P 131114026 20 P 131114053 19 P 131114079 21 L Menurut buku pedoman Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, para mahasiswa Bimbingan dan Konseling di didik untuk menjadi guru

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 Bimbingan dan Konseling yang berkompeten di lembaga pendidikan, khususnya sekolah; sekaligus memiliki bekal yang dapat dikembangkan untuk menjadi tenaga profesional dalam bidang pendidikan, pelatihan, pengembangan sumber daya manusia serta pemberian berbagai macam layanan bimbingan termasuk konseling di luar sekolah seperti rumah sakit, panti sosial, asrama dan industri. 2. Peran Kematangan Emosi pada Mahasiswa Perilaku yang ditunjukkan oleh mahasiswa bisa disebabkan karena mahasiswa berhadapan dengan situasi-situasi atau keadaan tertentu dalam lingkungannya (Mundy dalam Aryani, 2006). Perilaku pada mahasiswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kematangan emosi. Mahasiswa yang belum stabil dan kurang matang emosinya dapat lebih mudah memunculkan perilaku negatif dibandingakan dengan individu yang telah matang emosinya (Rahayu, 2008). Individu dengan tingkat kematangan emosi tinggi lebih mampu meredam dorongan timbulnya perilaku negatif dan mengendalikan emosinya, pandai membaca perasaan orang lain, serta dapat memelihara hubungan baik dengan lingkungannya. Apabila individu memiliki kematangan emosi yang baik, maka individu tersebut akan mampu mengendalikan perilakuperilakunya (Rahayu, 2008).

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 Individu yang telah mencapai kematangan emosi dapat diidentifikasikan sebagai individu yang dapat menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bertindak, tidak lagi bereaksi tanpa berpikir sebelumnya seperti anak-anak atau orang yang tidak matang emosinya (Hurlock, 1997). Kemampuan individu untuk merespon stimulus yang berpengaruh terhadap lingkungannya dapat ditunjukkan dengan pribadi yang sehat, terarah dan jelas sesuai dengan stimulus serta tanggung jawab atas segala keputusan dan perbuatannya terhadap lingkungannya. Jika hal tersebut terpenuhi, maka individu tersebut dikatakan matang emosinya (Cole dalam Khotimah, 2006). Berdasarkan pernyataan beberapa ahli, dapat dikatakan bahwa peranan kematangan emosi pada Mahasiswa adalah mempengaruhi segala tingkah laku, pikiran serta perasaan mahasiswa dalam menjalani aktifitasnya sehari-hari. Individu yang telah matang emosinya mampu menerima keadaan dirinya maupun orang lain apa adanya, tidak impulsif, akan memberikan tanggapan terhadap stimulus adekuat, dapat mengontrol emosi dan ekspresi emosinya dengan baik, dapat berfikir secara obyektif dan realistis sehingga bersifat sabar, penuh pengertian dan memiliki toleransi yang baik, mempunyai tanggung jawab yang baik, dapat berdiri sendiri, tidak

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 mudah mengalami frustasi dan akan menghadapi masalah dengan penuh pengertian. D. Konsep Dasar Usulan Topik-topik Program Bimbingan 1. Pengertian Bimbingan Yusuf dan Nurihsan (2010) mengungkapkan bahwa bimbingan merupakan terjemahan dari kata guidance. Secara harafiah, guidance berasal dari kata guide yang berarti mengarahkan, memandu, mengelola dan menyetir. Banyak pengertian mengenai bimbingan yang dikemukankan oleh para ahli, diantaranya sebagai berikut: Yusuf dan Nurihsan (2010) mendefinisikan bimbingan sebagai proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu memahami diri dan lingkungannya. Rochman Natawidjaja (dalam Winkel dan Hastuti, 2006) mendefinisikan bimbingan sebagai proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, dengan tujuan agar individu tersebut dapat memahami dirinya. Apabila individu berhasil memahami dirinya, maka individu tersebut akan sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat. Individu yang dapat beradaptasi sesuai dengan tuntutan dan keadaan

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 keluarga serta masyarakat, dapat menemukan titik kebahagiaan dalam hidupnya serta dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi kehidupan sosialnya. Moegandi (dalam Winkel dan Hastuti, 2006) menjelaskan bahwa bimbingan dapat berarti (1) suatu usaha untuk melengkapi individu dengan pengetahuan, pengalaman dan informasi tentang dirinya sendiri; (2) suatu cara pemberian pertolongan atau bantuan kepada individu untuk memahami dan mempergunakan secara efisien dan efektif segala kesempatan yang dimiliki untuk perkembangan pribadinya; (3) sejenis pelayanan kepada individu-individu, agar individu dapat menentukan pilihan; menetapkan tujuan dengan tepat dan menyusun rencana yang realistis; sehingga individu dapat menyesuaikan diri dengan memuaskan di dalam lingkungan dimana individu tersebut hidup; (4) suatu proses pemberian bantuan atau pertolongan kepada individu dalam hal: memahami diri sendiri; menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan; memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan dari lingkungan. Berdasarkan uraian dari beberapa pengertian mengenai bimbingan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu dengan membekali pengetahuan, pengalaman dan informasi tentang dirinya

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 sendiri yang dilakukan secara berkesinambungan. Hal tersebut bertujuan agar individu dapat memahami dirinya sendiri sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat. 2. Bimbingan Pemeliharaan dan Pengembangan Kematangan Emosi Upaya pemeliharaan dan pengembangan kematangan emosi melalui program bimbingan yang diberikan oleh seorang profesional yang ahli di bidang Bimbingan dan Konseling sungguh dibutuhkan oleh individu yang berada dalam tahap dewasa awal, khususnya para mahasiswa baru Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014. Hal tersebut sejalan dengan makna bimbingan sebagai proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, agar individu tersebut dapat memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat. Program bimbingan yang terfokus pada pelayanan program bimbingan pemeliharaan dan pengembangan kematangan emosi diharapkan mampu membantu memelihara dan mengembangkan kematangan emosi yang dimiliki oleh para mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Melalui usulan topik-topik program bimbingan

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 pemeliharaan dan pengembangan, mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 dilatih untuk memantapkan kepribadian agar mampu memberikan bantuan ataupun manfaat bagi orang lain di sekitarnya. Desain program yang mendukung pemeliharaan dan pengembangan kematangan emosi tersebut dapat dilakukan dengan cara menciptakan lingkungan yang kondusif, mengembangkan pengetahuan mengenai kematangan emosi dan membangun sikapsikap positif dalam diri setiap mahasiswa.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini, memuat beberapa hal yang berkaitan dengan metodologi penelitian, antara lain Jenis Penelitian, Subjek Penelitian, Instrumen Penelitian, Validitas dan Reabilitas, Prosedur Penyusunan Alat dan Teknik Analisis Data. A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Menurut Sugiyono (2010), penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa dan kejadian yang terjadi saat sekarang. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian pada masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian berlangsung. Melalui penelitian deskriptif, peneliti berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan survei. Menurut Furchan (1982), penelitian deskriptif dirancang untuk memperoleh informasi tentang status gejala pada saat penelitian dilakukan. Hal tersebut dimaksudkan agar penelitian yang dilakukan menjadi lebih jelas dan terarah. Peneliti menggunakan penelitian deskriptif karena peneliti ingin memperoleh gambaran mengenai Tingkat Kematangan Emosi Mahasiswa 32

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Tahun Akademik 2013/2014. B. Subjek Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian populasi karena semua anggota populasi menjadi subjek penelitian. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014. Peneliti memilih Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta sebagai subjek penelitian dengan alasan subjek penelitian terlihat tidak memiliki kematangan emosi sebagai modal untuk mempersiapkan diri layaknya seorang calon konselor profesional. Alasan peneliti memilih mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling tahun akademik 2013/2014 karena mahasiswa baru masih menjalani proses adaptasi lingkungan baru termasuk di dalamnya lingkungan sekitar, cara mengajar dosen, tuntutan tugas, tuntutan penampilan, dan lain sebagainya. Peneliti menggunakan subjek kesuluruhan mahasiswa baru program studi karena karakteristik yang jelas memiliki kesamaan dan pengalaman dalam mengikuti uji coba dapat mempermudah mahasiswa baru dalam memahami item-item kuesioner. Rincian populasi disajikan dalam Tabel 2 pada halaman berikutnya.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Tabel 2 Rincian Populasi Subyek Penelitian Kelas Jumlah A 40 B 39 TOTAL 79 C. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang disusun sendiri oleh peneliti atas arahan dosen pembimbing. Peneliti terlebih dahulu membuat kisi-kisi dengan menentukan aspek kematangan emosi dan indikator. Kemudian peneliti membuat sejumlah item pernyataan berdasarkan indikator setiap aspek. Berikut ini dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan kuesioner : 1. Kuesioner Tingkat Kematangan Emosi Kuesioner pada penelitian ini memuat pernyataan-pernyataan yang mengungkapkan tingkat kematangan emosi. Kuesioner ini bersifat tertutup, artinya alternatif jawaban sudah disediakan sehingga mahasiswa tinggal memilih alternatif jawaban yang sesuai (Arikunto, 2002). Kuesioner yang disusun oleh peneliti memuat aspek-aspek deskripsi tingkat kematangan emosi menurut Hurlock (2004) yaitu: memiliki kontrol diri, memiliki pemahaman diri dan mampu berpikir kritis. Indikator dan item yang terkandung dalam aspek-aspek tersebut disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan mahasiswa baru

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Format pernyataan skala Pengukuran dalam penelitian ini menggunakan skala Likert dalam bentuk angket. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, persepsi sekelompok orang tentang fenomena sosial. Pada skala Likert variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel, kemudian indikator variabel tersebut dijadikan sebagai dasar untuk menyusun item-item instrument yang berupa pernyataan atau pertanyaan (Sugiyono, 2011). Pernyataan-pernyataan dalam skala memuat item-item pernyataan yang bersifat positif (favorable) dan yang bersifat negatif (unfavorable). Skala ini dilengkapi dengan 4 alternatif jawaban, yaitu: Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS) dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Alternatif jawaban dibuat hanya empat dengan maksud untuk menghilangkan kelemahan yang ada dalam skala lima tingkat, yaitu alternatif jawaban yang bersifat netral (alternatif ketiga) karena jawaban netral akan memiliki arti ganda, dengan pengertian belum dapat memutuskan atau ragu-ragu. Tersedianya jawaban netral menimbulkan kecenderungan responden untuk memilih (central tendency effect), terutama bagi responden jawabannya (Azwar, 2011). yang ragu-ragu atas kecenderungan

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 Pernyataan-pernyataan yang digunakan adalah pernyataan yang diharapkan dapat mengungkapkan perubahan-perubahan positif dalam diri mahasiswa yang erat kaitannya dengan kematangan emosi. Aspek kuesioner yang dibuat oleh peneliti didasarkan pada aspek kematangan emosi menurut Hurlock (2004). Rekapitulasi aspek-aspek dan nomor item kuesioner tentang tingkat kematangan emosi disajikan dalam Tabel 3 di bawah ini. Tabel 3 Rekapitulasi Butir dan Nomer-Nomer Item Kuesioner Tingkat Kematangan Emosi No Item Aspek 1. Kontrol Diri 2. Pemahaman Diri 3. Berpikir Kritis Jumlah Favourabel Unfavourable 1,2,5,8,9,11,14,15,17 3,4,6, 7,10, 12,13,16,18 18 20,23,25,26,29,30,33,34 19,21,22,24,27,28,31,32 16 37,38,40,41,43,45,47,48,51 35,36,39,42,44,46,49,50,52 18 TOTAL 52 3. Penentuan Skor Skor untuk alternatif jawaban tersedia dalam bentuk norma skoring. Norma skoring dikenakan terhadap pengolahan data yang dihasilkan dari instrumen kuesioner Tingkat Kematangan Emosi. Total skor setiap responden adalah hasil penjumlahan skor dari seluruh item yang tersedia dan dijadikan sebagai data olahan untuk analisis penelitian ini (Masidjo, 1995). Norma skoring Tingkat Kematangan Emosi ditentukan pada Tabel 4 di bawah ini.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Tabel 4 Norma Skoring Tingkat Kematangan Emosi Alternatif Jawaban Sangat Sesuai Sesuai Tidak Sesuai Sangat Tidak Sesuai Favourable 4 3 2 1 Skor Unfavourable 1 2 3 4 4. Kisi-kisi item Kuesioner dikonstruk berdasarkan aspek-aspek Kematangan Emosi menurut Hurlock (1997). Operasionalisasi obyek penelitian ini dijabarkan lebih jauh dalam konstruk instrument pada Tabel 5 di bawah ini. Tabel 5 Kisi-kisi Kuesioner Tingkat Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Tahun Akademik 2013/2014 No 1 Aspek Kontrol Diri Indikator a. Mengendalikan diri saat emosi b. Mengekspresikan emosi sesuai dengan situasi dan waktu yang tepat c. Mengekspresikan emosi dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya F UF 2,5,11 3,4,18 1,8,9 7,12,16 14,15,17 6,10,13

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 No 2. 3 Aspek Pemahaman Diri Berpikir kritis Indikator F UF a. Memperlihatkan kepekaan terhadap emosi yang dirasakan 20,23,25,26 19,21,22,24 b. Mengetahui cara yang tepat untuk mengatasi emosi yang dialami 29,30,33,34 17,28,31,32 a. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan 37,38,40 35.36.39 41,43,45 42,44,46 47,48,51 49,50,52 b. Menerima pendapat orang lain c. Membuat keputusan dengan mempertimbang-kan dampaknya Total Item 26 Item D. Uji Coba Alat 1. Validitas Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau instrument pengukur dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat yang bersangkutan menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud pengukuran. Suatu alat ukur yang valid, tidak sekedar mampu mengungkapkan data yang tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut (Azwar, 2005). Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Validitas isi tidak dapat dinyatakan dengan angka, namun pengesahannya perlu melalui tahap pengujian terhadap isi alat ukur 26 Item

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 dengan kesepakatan penilaian dari beberapa penilai yang kompeten (expert judgement) (Azwar, 2012). Instrument dalam penelitian dikonstruksi berdasarkan aspek-aspek yang akan diukur dan selanjutnya dikonsultasikan pada dosen pembimbing. Pemeriksaan ini dilakukan guna menelaah kualitas konstruk secara logis dari setiap butir item pernyataan kuesioner Tingkat Kematangan Emosi yang disusun oleh peneliti. Pemeriksaan ini juga bertujuan agar setiap item pernyataan yang dibuat secara logis tepat atau sesuai dengan konstruk kisi-kisinya (Nurgiyantoro, 2009). Setelah melakukan uji ahli, kemudian kuesioner tersebut diujicobakan pada mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, pada tanggal 6 Desember 2013. Jumlah mahasiswa yang mengisi kuesioner adalah 74 mahasiswa yang terdiri dari 2 kelas. Hasil konsultasi dan telaah yang telah dilakukan oleh para ahli diolah dengan menggunakan bantuan program komputer Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 16.0 for Window untuk pemeriksaan nilai validitas. Perhitungan statistika yang digunakan adalah dengan cara mengkorelasikan skor-skor item terhadap skorskor aspek melalui pendekatan analisis korelasi Pearson Product Moment (Masidjo, 1995). Formula

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Keterangan : = korelasi skor-skor total kuesioner dan total butir-butir N = jumlah subjek X = skor sub total kuesioner Y = skor total butir-butir kuesioner XY = hasil perkalian antara skor X dan skor Y Nurgiyantoro (2009) menjelaskan bahwa item-item ujicoba dapat dinyatakan valid jika koefisien korelasi (r) yang diperoleh ≥ daripada koefisien di tabel nilai-nilai kritis r yaitu pada taraf signifikasi 5% atau 1%. Peneliti menggunakan perhitungan tersebut didasarkan pada asumsi dari Azwar (2011) yaitu perhitungan koefisien bersifat relatif yang artinya tidak ada batasan universal yang menunjukkan kepada angka minimal yang harus dipenuhi agar suatu skala psikologis dikatakan valid. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan taraf signifikasi 1% dengan jumlah responden 74 sehingga item dinyatakan valid jika koefisien korelasi ≥ 0,25 sedangkan jika koefisien korelasinya ≤ 0,25 maka item yang bersangkutan tidak valid. Berdasarkan perhitungan statistik yang telah dilakukan oleh peneliti, diperoleh 38

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 item yang valid dan 14 item yang tidak valid. Jumlah item-item yang valid dan tidak valid terdapat pada tabel 6 di bawah ini. Tabel 6 Jumlah Item-item yang Valid dan Tidak Valid No 1 2. 3 Aspek Kontrol Diri Indikator a. Mengendalikan diri saat emosi b. Mengekspresikan emosi sesuai dengan situasi dan waktu yang tepat c. Mengekspresikan emosi dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya Pemahaman a. Memperlihatkan kepekaan terhadap emosi Diri yang dirasakan b. Mengetahui cara yang tepat untuk mengatasi emosi yang dialami Berpikir kritis a. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan b. Menerima pendapat orang lain c. Membuat keputusan dengan mempertimbang-kan dampaknya Total Item F 2*,5*,11* 3,4,18 UF 1,8,9* 7,12,16 14,15,17 6,10,13 20,23,25, 26 19*,21*, 22*,24 29*,30,33,3 4 17,28*,31,32 37,38,40 35*,36*,39 41,43,45* 42,44,46* 47,48*,51 49,50,52 26 Item 26 item Catatan : kode *) adalah item yang tidak valid 2. Reabilitas Reliabilitas artinya tingkat kepercayaan hasil pengukuran. Menurut Azwar (2011) pengukuran yang mempunyai reliabilitas tinggi yaitu yang mampu memberikan hasil ukur yang terpercaya, disebut reliable. Pengukuran yang menggunakan instrumen penelitian dikatakan mempunyai nilai reliabilitas yang tinggi, apabila alat ukur yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur apa yang hendak diukur. Perhitungan menggunakan indeks pendekatan reabilitas koefisien kuesioner Alpha penelitian Cronbach ini ( ).

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 Penggunaan teknik analisis Alpha Cronbach didasarkan atas pertimbangan perhitungan reliabilitas skala. Perhitungan reliabilitas skala tersebut diperoleh lewat penyajian satu bentuk skala yang dikenakan hanya sekali saja pada sekelompok responden atau single trial administration (Azwar 2011). Adapun rumus koefisien reliabilitas Alpha Cronbach ( ) adalah sebagai berikut: Keterangan rumus: ² dan ² ² = varians skor belahan 1 dan varians skor belahan 2 = varians skor skala Berdasarkan hasil data uji coba yang telah dihitung melalui program komputer Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 16.0 for Window, diperoleh perhitungan reliabilitas seluruh instrumen dengan menggunakan rumus koefisisen alpha (α), yaitu 0,70. Hasil perhitungan indeks reliabilitas dikonsultasikan dengan kriteria Guilford (Masidjo, 1995) dan tersaji dalam Tabel 7 di bawah ini. No 1 2 3 4 5 Tabel 7 Kriteria Guilford Koefisien Korelasi 0,91 – 1,00 0,71 – 0,90 0,41 – 0,70 0,21 – 0,40 Negatif – 0,20 Kualifikasi Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Berdasarkan perhitungan diatas disimpulkan bahwa koefisien reliabilitas kuesioner termasuk kualifikasi cukup. Setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas, diperoleh item-item yang digunakan dalam penelitian tentang deskripsi tingkat kematangan emosi yang dapat dilihat pada tabel 8 di bawah ini.. Tabel 8 Kuesioner Tingkat Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Tahun Akademik 2013/2014 No Aspek 1 Kontrol Diri Indikator F UF - 2,3,14 1,6 5,8,12 10,11,13 4,7,9 15,16.18 .19 17 b. Mengetahui cara yang tepat untuk mengatasi emosi yang dialami 21,24,25 20,22,23 a. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan 26,27.29 28 30,32,34 31,33 35,36.39 37,38,40 21 item 19 item a. Mengendalikan diri saat emosi b. Mengekspresikan emosi sesuai dengan situasi dan waktu yang tepat c. Mengekspresikan emosi dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya 2. 3 Pemaha man Diri a. Memperlihatkan kepekaan terhadap emosi yang dirasakan Berpikir kritis b. Menerima pendapat orang lain c. Membuat keputusan dengan mempertimbang-kan dampaknya Total Item E. Prosedur Pengumpulan Data 1. Tahap persiapan Pada tahap ini peneliti melakukan beberapa hal sebagai persiapan sebelum melaksanakan penelitian, yaitu mempelajari

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 buku-buku yang berkaitan dengan penelitian dan kematangan emosi, penyusunan kuesioner dan uji coba kuesioner. a. Peneliti mempelajari buku-buku dan jurnal yang berkaitan dengan penelitian dan kematangan emosi pada masa dewasa awal. b. Peneliti menyusun kuesioner tentang deskripsi tingkat kematangan emosi dengan mengikuti beberapa langkah berikut : 1) Menetapkan dan mendefinisikan variabel penelitian, yaitu tingkat kematangan emosi pada mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun akademik 2013/2014. 2) Menjabarkan variabel penelitian ke dalam aspek-aspek dan indikator-indikatornya. 3) Menyusun item-item pernyataan sesuai dengan aspek dan indikator yang sudah dibuat. 4) Melakukan expert judgement alat penelitian kepada dosen pembimbing. 5) Melaksanakan uji coba penelitian pada mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014. Uji coba tersebut dilakukan pada tanggal 6 Desember 2013. 6) Pengumpulan data uji coba validitas dan reliabilitas kuesioner

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 7) Pengolahan data uji empirik terhadap validitas dan reabilitas kuesioner 8) Merevisi item kuesioner dan mengkonsultasikan kepada dosen pembimbing 9) Melakukan penelitian tentang Tingkat Kematangan Emosi kepada Mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 pada tanggal 6 Desember 2013. 2. Pengumpulan data Kuesioner yang telah di uji coba dan di revisi kemudian dipergunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Pengumpulan data dilaksanakan pada Mahasiswa baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 pada tanggal 6 Desember 2013. Jumlah mahasiswa yang menjadi subjek penelitian sebanyak 74 mahasiswa. Penyebaran dan pengawasan pengisian kuesioner dilakukan oleh peneliti. F. Teknik Analisis Data Langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan analisis data, yaitu : 1. Memberi skor pada setiap alternatif jawaban yang dipilih. Norma skoring untuk pernyataan positif adalah: sangat sesuai = 4, sesuai = 3, tidak sesuai = 2, sangat tidak sesuai = 1 dan untuk pernyataan

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 negatif mendapatkan skor sebaliknya yaitu: sangat sesuai = 1, sesuai = 2, tidak sesuai = 3 dan sangat tidak sesuai = 4. 2. Mentabulasi data, menghitung skor total masing-masing responden maupun item kuesioner dan skor rata-rata responden maupun ratarata butir. 3. Mengkategorisasikan subjek dan item penelitian tentang deskripsi tingkat kematangan emosi dengan tahap-tahap sebagai berikut : a. Kategorisasi subjek penelitian Norma kategorisasi subjek penelitian yang digunakan berpedoman pada norma kategorisasi Azwar (2012) dengan lima jenjang kategori diagnosis yaitu: sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Norma kategorisasi yang digunakan dapat dilihat pada tabel 9 di bawah ini. Tabel 9 Norma Kategorisasi Karakter Subjek Penelitian Perhitungan Skor Keterangan μ+ 2σ < X Sangat Tinggi μ + 1 σ < X ≤ μ+ 2 σ Tinggi μ-1σ
(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 X Minimum Teoritik : Skor terendah yang diperoleh subjek penelitian dalam skala. σ (Standart Deviasi) : Luas jarak rentang yang dibagi dalam 6 satuan deviasi sebaran. µ (Mean Teoritik) : Rata-rata teoritis dari skor maksimum dan minimum. Kategori di atas digunakan untuk mengelompokkan tinggi rendah tingkat kematangan emosi mahasiswa baru. Perhitungan dalam penggolongan norma kategorisasi disesuaikan dengan jumlah item penelitian sebanyak 40 item. Nilai tertinggi untuk masing-masing alternatif jawaban adalah 4 dan nilai terendahnya adalah 1, sehingga perhitungannya adalah sebagai berikut : X maximum teoritik : 4 x 40 = 160 X minimum teoritik : 1 x 40 = 40 luas jarak (standar deviasi) µ (mean teoritik) : 160 – 40 = 120 : 120 : 6 = 20 : (160+40)/2 = 100 Setelah dilakukan perhitungan maka didapat kategori skala. Kategorisi skor dapat dilihat pada tabel 10 pada halaman berikut :

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Tabel 10 Kategorisasi Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Tahun akademik 2013/2014 Perhitungan Skor Rerata Skor Keterangan μ+ 2σ < X x > 140 Sangat Tinggi μ + 1 σ < X ≤ μ+ 2 σ 120 < x ≤ 140 Tingi μ-1σ
(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Tabel 11 Norma Kategorisasi Skor Item Perhitungan Skor Keterangan μ+ 2σ < X Sangat Tinggi μ + 1 σ < X ≤ μ+ 2 σ Tingi μ-1σ
(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 Maka penentuan kategorisasi skor item dapat dilihat dalam tabel 12 di bawah ini. Tabel 12 Kategorisasi Skor Item Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 Perhitungan Skor Rerata Skor Keterangan μ+ 2σ < X x > 259 μ + 1 σ < X ≤ μ+ 2 σ 222 < x ≤ 259 Tingi μ-1σ
(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi uraian mengenai hasil penelitian mengenai deskripsi tingkat kematangan emosi mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 dan pembahasan hasil penelitian. A. Hasil Penelitian 1. Tingkat kematangan emosi Berdasarkan menggunakan data kriteria yang Azwar terkumpul (2011) dan dapat diolah dengan diketahui tingkat kematangan emosi mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun akademik 2013/2014 seperti dapat dilihat pada tabel 13 di bawah ini Tabel 13 Kategori Tingkat Kematangan Emosi pada Mahasiswa Baru Program Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun akademik 2013/2014 Formula Kriteria Rerata Skor Frek Prese Kategori uensi ntase μ+ 2σ < X x > 140 2 2,7% Sangat Tinggi μ + 1 σ < X ≤ μ+ 2 σ 120 < x ≤ 140 44 59,5% Tinggi μ-1σ
(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Kategorisasi tentang tingkat kematangan emosi jika digambarkan dalam bentuk diagram dapat dilihat sebagai berikut Gambar 1 Diagram Kategorisasi Tingkat Kematangan Emosi Berdasarkan tabel 8 dan gambar 1, terlihat bahwa : a. Terdapat 2 atau 2,7% mahasiswa yang memiliki tingkat kematangan emosi yang tergolong sangat tinggi b. Terdapat 44 atau 59,5% mahasiswa yang memiliki tingkat kematangan emosi yang tergolong tinggi. c. Terdapat 28 atau 37,8% mahasiswa yang memiliki tingkat kematangan emosi yang tergolong sedang.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 d. Terdapat 0 atau 0% mahasiswa yang memiliki tingkat kematangan emosi yang tergolong rendah. e. Terdapat 0 atau 0% mahasiswa yang memiliki tingkat kematangan emosi yang tergolong sangat rendah. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa rata-rata tingkat kematangan emosi mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 tergolong tinggi yaitu 59,5%. 2. Hasil skor item tingkat Kematangan Emosi Berdasarkan data yang terkumpul dan diolah dengan menggunakan kriteria Azwar (2011) terdapat skor-skor item yang masuk dalam kategorisasi sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Item-item dengan skor yang berada dalam kategori sedang hingga sangat rendah adalah item yang akan digunakan sebagai bahan penyusunan usulan program bimbingan untuk mengembangkan kematangan emosi mahasiswa. Hasil pengkategorisasian item-item skala dapat dilihat pada tabel 14 pada halaman selanjutnya.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Tabel 14 Kategorisasi Skor Item Tingkat Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Tahun Akademik 2013/2014 Formula Kriteria Rerata Skor Frekuensi Presentase Kategori μ+ 2σ < X x > 140 2 2,7% Sangat Tinggi μ + 1 σ < X ≤ μ+ 2 σ 120 < x ≤ 140 44 59,5% Tingi μ-1σ
(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 yang berada pada kategori sedang. Jadi secara keseluruhan hasil pengkategorisasian item pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada item yang berada pada kategorisasi rendah maupun sangat rendah. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa item yang terendah adalah item yang termasuk dalam ketegorisasi sedang. Hal ini diputuskan berdasarkan hasil pengolahan data yang menunjukkan kategorisasi sedang sebagai kategori terakhir yang memiliki hasil perhitungan. Itemitem yang rendah tersebut dapat dilihat pada tabel 15 di bawah ini. Tabel 15 Item-item Tingkat Kematangan Emosi Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 Aspek Kontrol Diri Indikator No. Item Mengendalikan diri saat emosi 4 Saya mudah tersinggung ketika teman bersikap acuh Mengekspresikan emosi dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya 6 Saya spontan berbicara kasar saat diliputi amarah Mengekspresikan emosi sesuai dengan situasi dan waktu yang tepat 7 Saya memarahi teman yang mengejek walaupun itu di depan banyak orang 12 Saya kurang memperhatikan audience saat presentasi 16 Saya mencari kesibukan lain (berbicara dengan teman, bermain hp, mendengarkan musik, dsb) saat materi perkuliahan terasa membosankan 17 Saya mengangkat tangan terlebih dahulu sebelum berbicara di kelas

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Aspek Pemahaman Diri Berpikir Kritis Indikator No. Item Memperlihatkan kepekaan terhadap emosi yang dirasakan 24 Saya ikut bercerita saat orang lain sedang asyik bercerita Mengetahui cara yang tepat untuk mengatasi emosi yang dialami 31 Tidur saya terganggu saat sedang merasa sedih 32 Perasaan saya mudah berubah tanpa alasan yang jelas. 34 Saya tetap berpikir positif saat sedang mengalami ketakutan Tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan 39 Saya mengambil keputusan dengan melibatkan pikiran saat itu saja. Membuat keputusan dengan mempertimbangkan dampaknya 49 Saya menyesal setelah mengetahui dampak dari keputusan yang sudah diambil 50 Saya ceroboh dalam membuat keputusan 52 Saya pergi jalan-jalan dengan teman walaupun banyak tugas Item-item yang tergolong rendah akan digunakan sebagai dasar pembuatan program bimbingan untuk mengembangkan kematangan emosi mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 B. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Deskripsi tingkat kematangan emosi mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 Hasil penelitian membuktikan bahwa mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 dapat dikatakan matang secara emosi. Hal tersebut dibuktikan dengan kategori tingkat Kematangan Emosi mahasiswa baru yang termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 telah matang secara emosi atau memiliki kematangan emosi yang baik. Mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 memiliki kemampuan untuk: pertama, mahasiswa memiliki kontrol diri artinya para mahasiswa mampu mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang dapat diterima oleh lingkungan sosialnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Chaplin (2002) yang mengatakan bahwa individu dikatakan telah mencapai kematangan emosi apabila mampu mengontrol dan mengendalikan emosinya sesuai dengan taraf perkembangan emosinya. Kontrol emosi pada mahasiswa baru progam studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 tahun akademik 2013/2014 terlihat dari sikap mahasiswa yang mau mengedepankan pendapat tanpa melakukan kekerasan atau hal-hal lain yang sifatnya mengganggu ketenangan lingkungan sekitarnya (aksi demokrasi, tawuran dan lain sebaginya). Kedua, mahasiswa baru memiliki pemahaman diri yang baik. Hal ini terlihat dari sikap mahasiswa baru Bimbingan dan Konseling yang berpenampilan rapi dan sesuai dengan tuntutan yang ada di program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dhama Yogyakarta. Berpenampilan rapi dan sesuai dengan tuntutan program studi Bimbingan dan Konseling menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kesadaran diri untuk mampu berpenampilan sesuai dengan tuntutan yang ada. Kesadaran diri yang baik menunjukkan bahwa individu telah matang secara emosi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Goleman (2003) yang mengatakan bahwa orang yang memiliki kematangan emosi akan memiliki keterampilan emosi yang baik, salah satunya mencakup kesadaran diri. Kesadaran diri yang ada pada mahasiswa baru Bimbingan dan Konseling yaitu: menggunakan baju berkerah dan minimal sepatu sandal selama berada di dalam kampus, serta tidak menggunakan anting maupun acessoris berlebihan bagi mahasiswa pria. Pemahaman ini muncul karena para mahasiswa sadar bahwa dirinya

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 telah menjadi bagian dalam proses menuju pendidik yang profesional. Ketiga, yaitu berpikir kritis artinya mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 mampu menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional. Hal ini sesuai dengan pendapat Young (dalam Powel, 1963) yang menyatakan bahwa kematangan emosi adalah kemampuan seseorang dalam mengontrol dan mengendalikan emosi. Berpikir kritis yang ada pada mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling terlihat pada sikap mahasiswa yang aktif bertanya selama ada permasalahan atau materi baru yang belum dapat atau kurang mereka pahami. Wujud konkrit yang nyata terjadi yaitu: terdapat beberapa mahasiswa baru yang menanyakan tujuan dan manfaat yang peneliti dapatkan selama peneliti melakukan penelitian di dalam kelas. Hal ini menunjukkan adanya pemikiran kritis bahwa mahasiswa baru tidak sembarangan dalam mengerjakan suatu pekerjaan yang belum mereka pahami sebelumnya. Beberapa faktor yang mempengaruhi sebagian besar mahasiswa masuk pada kategori tinggi dan sangat tinggi dalam hal kematangan emosi, seperti yang dijelaskan Hurlock (2004) yaitu: faktor keterbukaan dan katarsis emosi yang tepat. Mahasiswa baru Bimbingan dan Konseling yang masuk dalam kategori tinggi dan

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 sangat tinggi, diindikasikan telah memiliki keterbukaan untuk memperoleh gambaran tentang situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Keterbukaan membuat individu mendapatkan rasa aman atas situasi yang sedang mereka hadapi. Selain itu Hurlock (2004) juga menjelaskan bahwa keterbukaan akan membantu individu memperoleh hubungan sosial yang baik dengan lawan bicara atau lingkungan sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa adanya rasa untuk ingin lebih mengenal lingkungan sekitar tempat mahasiswa berproses selama belajar di program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Faktor lain adalah adanya katarsis emosi yang tepat pada mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014. Mahasiswa baru yang masuk dalam kategori sangat tinggi dan tinggi diindikasikan telah memiliki pengalihan perasaan yang tepat sesuai dengan tempat dan waktu yang tepat pula. Mahasiswa baru yang masuk dalam kategori sangat tinggi dan tinggi dalam tingkat kematangan emosi akan memiliki dampak positif yang sesuai dengan pendapat Hurlock (2004) antara lain: mendapatkan penerimaan secara sosial dan memiliki pikiran yang rasional. Kedua dampak positif ini akan membantu mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dalam hal memenuhi tugas perkembangan mereka

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 sebagai individu yang berada dalam masa dewasa awal. Tugas perkembangan yang dimaksud yaitu: pemenuhan tanggung jawab sebagai warga Negara dan mencari kelompok sosial yang menyenangkan. Kedua pernyataan tersebut memiliki dua kaitan, yang pertama: apabila individu mampu berpikir secara rasional maka ia akan mampu meminimalisir masalah-masalah yang ada di sekitarnya. Permasalahan yang ada di sekitar individu akan erat kaitannya dengan Negara, maka pemikiran rasional akan membantu individu memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang warga Negara. Kedua yaitu: penerimaan secara sosial yang akan membantu individu dalam masa dewasa awal memenuhi tugas perkembangannya dalam hal mendapatkan kelompok sosial yang menyenangkan. Apabila seorang individu dapat diterima secara sosial maka akan mudah baginya untuk menciptakan atau membentuk kelompok sosial yang menyenangkan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa terdapat mahasiswa baru yang berada dalam kategori sedang. Mahasiswa yang masuk dalam kategori sedang, pada dasarnya sudah matang secara emosi namun belum optimal. Kondisi ini dikarenakan, para mahasiswa sedang berproses untuk belajar mencapai tingkat kematangan emosi sesuai dengan usia perkembangan masa dewasa awal mereka, seperti

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 mampu untuk belajar mengontrol emosi, mampu memiliki pemahaman diri dan mampu berpikir kritis. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi mahasiswa baru belum optimal dalam hal kematangan emosi sesuai dengan pendapat Meichati (1987) yaitu, pertama: berbedanya lingkungan di sekitar mahasiswa. Mahasiswa yang berada dalam kategori kematangan emosi yang sedang, diindikasikan bahwa mahasiswa berada dalam lingkungan yang kurang mendukung perkembangan kematangan emosi mereka secara optimal. Oleh karena itu, mahasiswa yang berada dalam kategori sedang membutuhkan lingkungan yang mendukung perkembangan dan pemeliharaan kematangan emosi individu, sehingga mahasiswa memiliki kesempatan dan pengalaman untuk belajar mencapai kematangan emosi yang baik. Lingkungan yang mendukung perkembangan individu dalam mencapai kematangan emosi bukan saja dari lingkungan keluarga, melainkan bisa dari lingkungan kampus maupun lingkungan sosial. Kedua yaitu: faktor pengalaman yang pasti berbeda-beda antara individu yang satu dan lainnya. Pengalaman akan mengajarkan seseorang untuk menghadapi situasi atau permasalahan dan mampu mengambil makna dari setiap situasi atau permasalahan itu dengan baik. Namun, pada mahasiswa yang memiliki kematangan emosi sedang diindikasi memiliki pengalaman, tetapi belum dapat memaknai pengalaman yang dialaminya secara optimal. Faktor

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 ketiga adalah faktor individu itu sendiri. Individu yang memiliki kematangan emosi umumnya mampu menerima keadaan diri sendiri dan orang lain secara apa adanya dengan baik. Mahasiswa yang masuk dalam kategori sedang diindikasi belum mampu menerima keadaan sendiri maupun orang lain secara apa adanya dengan optimal. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa: pertama tingkat kematangan emosi pada mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 terindikasi baik dan dapat terus dikembangkan Pengembangan dan dan dipelihara pemeliharaan agar kematangan lebih optimal. emosi dapat diberikan kepada mahasiswa baru yang masuk dalam kategori sangat tinggi, tinggi dan sedang. Kedua, beragamnya kemampuan dan pengalaman mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 yang berada dalam tahap perkembangan masa dewasa awal. Para mahasiswa sedang berproses menuju perkembangan menjadi dewasa secara emosi sesuai dengan umur atau tahap perkembangan dalam masa perkembangan masa dewasa awal. Perbedaan kemampuan dan pengalaman mahasiswa baru dipengaruhi juga oleh kondisi lingkungan sosial dan kondisi dalam diri individu itu sendiri.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Berdasarkan penjelasan tersebut, faktor lingkungan sekitar dan faktor individu saling berkaitan dan saling mempengaruhi kemampuan dan pengalaman mahasiswa dalam proses mencapai kematangan emosi. Ketiga, adanya indikasi cara berpikir dan bersikap dalam hal penyesuaian diri mahasiswa dari masa remaja akhir menuju masa dewasa yang penuh peran dan tanggung jawab baru. Penyesuaian diri ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi individu untuk melewati masa dewasa yang berada dalam periode khusus dan sulit dalam rentang kehidupan seseorang. Tantangan dalam kehidupan masa dewasa awal ini dapat menjadi penentu dimana seorang individu mampu memenuhi tugas perkembangannya secara optimal atau justru mengalami penurunan akibat terpengaruh hal-hal yang negatif di sekitar dirinya. 2. Item-item tingkat kematangan emosi Berdasarkan hasil analisis item tingkat kematangan emosi mahasiswa baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014, terdapat 14 item yang terindikas rendah. Keempat belas item tersebut masuk dalam tiga aspek dan tujuh indikator. Aspek pertama yaitu Kontrol Diri dengan indikator mengendalikan diri saat emosi, item yang dimaksud adalah “saya mudah tersinggung ketika teman bersikap acuh”. Redahnya item pada indikator ini menunjukkan

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 bahwa mahasiswa baru memiliki ikatan yang mulai longgar dengan teman sebaya saat memasuki masa dewasa. Individu sudah mulai selektif dalam membina hubungan yang intim dengan individuindividu tertentu yang sepaham. Di sisi lain ada perasaan dalam diri individu yang bergejolak ketika mendapatkan penolakkan dalam proses menjalin hubungan (Papalia, 2012). Hal ini memicu adanya rangsang yang menimbulkan emosi tertentu, dalam hal ini emosi yang dimaksud adalah merasa tersinggung. Mahasiswa baru masih memunculkan perasaan tersinggung hanya karena diacuhkan atau diabaikan oleh lawan bicara atau teman sebaya. Mahasiswa baru merasa tidak siap untuk menerima penolakan yang sebenarnya wajar terjadi apabila individu tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan teman sebayanya. Namun, perilaku ini dapat diatasi dengan cara membantu mahasiswa baru mengolah perasaan yang ada dalam dirinya agar tidak mudah tersinggung hanya karena diabaikan oleh teman lain. Pengolahan rasa yang dimaksud adalah mengembangkan sikap pengendalian diri pada mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014. Indikator kedua yaitu mengekspresikan emosi dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya dengan item “saya spontan berbicara kasar saat diliputi amarah”. Rendahnya item ini diindikasikan bahwa mahasiswa baru masih belum bisa

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 meninggalkan sifat remaja mereka yang cenderung agresif. Mahasiswa baru belum memiliki penyaluran yang tepat untuk mengelola rasa marah mereka, sehingga masih memilih untuk berbicara kasar secara spontan saat marah tanpa peduli perannya sebagai seorang calon pendidik. Perilaku ini dapat diatasi dengan cara membantu mahasiswa mengembangkan sikap asertif sehingga mahasiswa terbiasa untuk mengungkapkan emosi-emosi yang positif sekalipun berada dalam kondisi marah, kesal maupun jengkel. Indikator ketiga yaitu mengekspresikan emosi sesuai dengan situasi dan waktu yang tepat. Terdapat 4 item rendah dalam indikator ini. Item-item yang dimaksud yaitu: “saya memarahi teman yang mengejek walaupun itu di depan banyak orang”, “saya kurang memperhatikan audience saat presentasi”, saya mencari kesibukan lain saat materi perkuliahan terasa membosankan” dan “saya mengangkat tangan terlebih dahulu sebelum berbicara di kelas”. Rendahnya keempat item tersebut diindikasi bahwa mahasiswa baru masih kurang mampu mengendalikan emosi mereka dan mengekspresikannya dalam situasi dan waktu yang tepat. Hal ini dapat terjadi karena lingkungan mahasiswa yang kurang mendukung individu dalam mengekspresikan emosi sesuai dengan situasi dan waktu yang tepat. Lingkungan yang kurang mendukung individu dalam proses memiliki kematangan emosi menggambarkan bahwa kurang adanya

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 model yang baik bagi individu untuk meniru perilaku baik dalam mengekspresikan emosi pada situasi dan waktu yang tepat. Perilaku ini dapat diatasi dengan cara membantu mahasiswa untuk mengembangkan sikap saling menghargai antar sesama terutama teman dan dosen sehingga dapat mengekspresikan emosi yang diterima oleh lingkungan sosial dimana mahasiswa berada. Aspek kedua yaitu aspek Pemahaman Diri, terdapat dua indikator dengan empat item terendah dalam aspek ini. Indikator pertama yaitu memperlihatkan kepekaan terhadap emosi yang dirasakan dengan item “saya ikut bercerita saat orang lain sedang asyik bercerita”. Rendahnya item ini diindikasikan bahwa mahasiswa baru belum atau kurang mampu dalam merespon reaksi emosional orang lain. Perilaku ini dapat diatasi dengan cara membantu mahasiswa baru untuk mengembangkan sikap empati terhadap keadaan yang terjadi di sekitarnya. Indikator kedua yaitu mengetahui cara yang tepat untuk mengatasi emosi yang dialami. Terdapat tiga item yang rendah dalam indikator ini. Item-item yang dimaksud adalah “tidur saya terganggu saat sedang merasa sedih”, “perasaan saya mudah berubah tanpa alasan yang jelas” dan “saya tetap berusaha berpikir positif saat sedang mengalami ketakutan”. Rendahnya ketiga item tersebut diindikasikan bahwa mahasiswa baru masih belum mampu mengidentifikasikan dan meminimalisir emosi negatif yang ada

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 dalam dirinya. Hal ini terjadi karena kurangnya keterbukaan dalam diri individu sehingga masih mudah terpengaruh emosi negatif yang ada dalam dirinya. Perilaku ini dapat diatasi dengan cara membantu mahasiswa baru untuk mengembangkan sikap keterbukaan agar dapat menyalurkan atau bahkan menghilangkan emosi negatif dalam diri dengan cara yang tepat. Aspek ketiga adalah berpikir kritis, terdapat dua indikator dengan empat item terendah dalam aspek ini. Indikator pertama adalah tidak tergesa-gesa dalam megambil keputusan dengan satu item terendah yaitu “saya mengambil keputusan dengan melibatkan pikiran saat itu saja”. Rendahnya item ini mengindikasikan bahwa mahasiswa baru belum memiliki prinsip yang dapat membantunya untuk tegas dalam mengambil keputusan dan belum dapat memikirkan dampak atau konsekuensi yang akan diterimanya. Perilaku ini dapat diatasi dengan cara membantu mahasiswa untuk mengembangkan sikap tegas dan memiliki pikiran kreatif dalam memecahkan masalah (problem solving). Indikator kedua adalah membuat keputusan dengan mempertimbangkan dampaknya. Terdapat tiga item yang rendah dalam indikator ini. Ketiga item yang dimaksud adalah “saya menyesal setelah mengetahui dampak dari keputusan yang sudah diambil”, “saya ceroboh dalam membuat keputusan”, “saya pergi jalan-jalan dengan teman walaupun banyak tugas”. Rendahnya

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 ketiga item tersebut diindikasikan bahwa mahasiswa baru belum mampu bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambilnya. Perilaku ini dapat diatasi dengan cara membantu mahasiswa baru untuk mengembangkan sikap bertanggung jawab atas segala keputusan yang telah diambilnya. Berdasarkan hasil penelitian, item-item yang tergolong sedang ini mengindikasikan bahwa perlu adanya pemeliharaan dan pengembangan bagi mahasiswa baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 terkait dengan kemampuan untuk mengendalikan diri saat emosi, mengekspresikan emosi dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya, mengekspresikan emosi sesuai dengan situasi dan waktu yang tepat, memperlihatkan kepekaan terhadap emosi yang dirasakan, mengetahui cara yang tepat untuk mengatasi emosi yang dialami, tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan membuat keputusan dengan mempertimbangkan dampaknya. Oleh karena itu mahasiswa baru sangat membutuhkan bimbingan dan pendampingan dari orang lain khususnya dosen, mengingat salah satu faktor untuk mencapai kematangan emosi yang optimal adalah lingkungan yang mendukung individu agar dapat selalu menghargai dan menerima keadaan di sekitar dirinya. Hal ini dapat terwujud salah satunya di dalam lingkungan kampus, di mana

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 mahasiswa baru menghabiskan lebih banyak waktu mereka di kampus. C. Topik-topik Bimbingan Berdasarkan butir-butir item yang terindikasi rendah dalam aspek kontrol diri, pemahaman diri dan berpikir kritis, adapun topiktopik bimbingan yang implikatif dapat diusulkan untuk memelihara dan mengembangkan kematangan emosi pada mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 terdapat pada tabel 16 di halaman berikut :

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 16 Topik-topik Bimbingan Pengembangan dan Pemeliharaan Kematangan Emosi pada Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun akademik 2013/2014 No Item Indikator Tema Metode Rincian Kegiatan Dinamika Kelompok, Diskusi dan ceramah Dinamika Kelompok, diskusi Menggabungkan titik (terlampir pada halaman 91) Kirimkan saya sebuah catatan (terlampir pada halaman 94) 1 Saya mudah tersinggung ketika teman bersikap acuh Mengendalikan diri saat emosi Olah Rasa 2 Saya spontan berbicara kasar saat diliputi amarah Mengekspresikan emosi dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya Komunikasi Antar Pribadi 3 Saya memarahi teman yang mengejek walaupun itu di depan banyak orang. Mengekspresikan emosi sesuai dengan situasi dan waktu yang tepat Saling Menghargai Dinamika Kelompok, diskusi, ceramah Terlalu banyak solusi? (terlampir pada halaman 96) Memperlihatkan kepekaan terhadap emosi yang dirasakan Empati Dinamika Kelompok, diskusi Kerjasama (terlampir pada halaman 98) Saya kurang memperhatikan audience saat presentasi. Saya mencari kesibukan lain (berbicara dengan teman, bermain hp, mendengarkan mudik, dsb) saat materi perkuliahan terasa membosankan. Saya mengangkat tangan terlebih dahulu sebelum berbicara di kelas. 4 Saya ikut bercerita saat orang lain sedang asyik bercerita. 71

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No 5 Item Tidur saya terganggu saat sedang merasa sedih Indikator Mengetahui cara yang tepat untuk mengatasi emosi yang dialami Tema Katarsis emosi Metode Rincian Kegiatan Dinamika Kelompok, diskusi, ceramah Garis waktu (terlampir pada halaman 100) Perasaan saya mudah berubah tanpa alasan yang jelas Saya tetap berpikir positif saat sedang mengalami ketakutan 72

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini akan dikemukakakan mengenai kesimpulan hasil penelitian dan saran-saran terhadap kegiatan pengembangan bagi Mahasiswa Baru di Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. A. Kesimpulan Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian adalah hasil penelitian ini secara umum menunjukkan bahwa deskripsi tingkat kematangan emosi pada mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 termasuk dalam tingkat kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian terdapat indikator-indikator yang termasuk ke dalam kategori rendah. Indikator yang termasuk dalam kategori rendah adalah: mengendalikan diri saat emosi, mengekspresikan emosi dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya, mengekspresikan emosi sesuai dengan situasi dan waktu yang tepat, memperlihatkan kepekaan terhadap emosi yang dirasakan, mengetahui cara yang tepat untuk mengatasi emosi yang dialami, tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan membuat keputusan dengan mempertimbangkan dampaknya. 73

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 B. Keterbatasan Penelitian Adanya keterbatasan pada penelitian ini antara lain dugaan awal penelitian berbeda dengan hasil akhir penelitian. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut : (1) Subjek peneliti kurang berkonsentrasi pada saat menjawab kuesioner. Hal ini disebabkan karena keterbatasan waktu. Keterbatasan waktu yang ada membuat subjek penelitian kurang teliti dalam memahami isi dari item kuesioner penelitian. (2) Kondisi yang kurang kondusif saat diadakannya penelitian, seperti: subjek penelitian terindikasi kurang berminat dengan kuesioner tingkat kematangan emosi dan subjek penelitian dalam keadaan lelah setelah mengikuti ujian akhir semester. (3) Subjek penelitian sudah berproses dengan situasi yang ada selama mengikuti perkuliahan dan program-program pengembangan yang diadakan oleh Program Studi Bimbingan dan Konseling. Hal ini mempengaruhi pola berpikir mahasiswa dalam menjawab pernyataan yang ada pada kuesioner penelitian. (4) Adanya indikasi bahwa mahasiswa ingin dipandang baik dari sisi emosi, sehingga mahasiswa berusaha menjawab kuesioner yang dianggap paling baik bagi dirinya.

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 C. Saran 1. Program Studi Bimbingan dan Konseling Program Studi Bimbingan dan Konseling dapat menyusun program-program bimbingan untuk membantu mahasiswa dalam mengembangkan dan memelihara kematangan emosi Hal ini dikarenakan, kemungkinan dapat terjadi perubahan kondisi mahasiswa dari sisi emosi, dimana terdapat banyak faktor yang ikut mempengaruhi perkembangan mahasiswa, khususnya dari segi emosi. Selain itu, program pengembangan dan pemeliharaan kematangan emosi bagi mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling dirasa penting mengingat tuntutan yang ada pada mahasiswa yang merupakan calon konselor atau calon pendidik. Sebagai calon konselor atau pendidik individu dituntut untuk memiliki kepribadian yang baik dan matang, salah satunya dapat terlihat dari kematangan emosi individu tersebut. 2. Dosen Bimbingan dan Konseling Dosen Bimbingan dan Konseling diharapkan dapat membantu para mahasiswa dalam hal memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang bertujuan sebagai sarana pengembangan dan pemeliharaan kematangan emosi. Hal ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam hal mempersiapkan diri sebagai individu yang memiliki kualitas kepribadian yang baik, sehingga individu dapat menjadi konselor professional.

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 3. Peneliti lain Apabila peneliti lain ingin mengadakan penelitian terhadap topik dan subjek penelitian yang sama, diharapkan dapat lebih meninjau kembali instrument penelitian, indikator dan aspek-aspek yang hendaknya dapat dibuat lebih konkrit dan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh mahasiswa baru. Hal ini ditujukan agar instrument penelitian dapat mengungkap tingkat kematangan emosi secara lebih tepat dan lengkap. Selain itu, peneliti lain juga dapat menggunakan instrument lain, misalnya dengan metode observasi dan menggunakan catatan anecdota. Hal ini dikarenakan keadaan mahasiswa yang selalu berubah akibat situasi kelas, perasaan atau pikiran masing-masing individu dan adanya efektivitas dari program pelatihan yang didapat oleh subjek penelitian yang mempengaruhi terjadinya bias dalam penelitian, sehingga melalui metode tersebut diharapkan peneliti lain dapat memperoleh informasi dan data penelitian yang lebih lengkap.

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Aryani, D. 2006. Efektivitas Layanan BK Bidang Sosial untuk Mengurangi Perilaku Agresif Verbal Remaja Pada Siswa kelas VIII SMP Teuku Umar Semarang. Semarang: Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Negeri Semarang Azwar, Saifuddin. 2005. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. _____________. 20011. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. _____________. 2012. Penyusunan Skala Psikologi (Edisi 2). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Chaplin, J.P. 2002. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. __________. 2006. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Finkelor, Dorothy C. 2004. Peranan Emosi dalam Hidup Anda. Yogyakarta: Zenith. Furchan, Arief. 1982. Pengantar Penelitian Pedidikan. Surabaya: Usaha Nasional. Goleman, Daniel. 2003. Kecerdasan Emosional. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hurlock, B. Elizabeth. 1997. Psikologi Perkembangan – Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Terjemahan). Jakarta: Erlangga ________________. 2004. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Khotimah Husnul. 2013. Hubungan Antara Kelekatan Orang tua, Dimensi Kepribadian Big Five dan Kecenderungan Emosional dengan Kecenderungan Psikopat Pada Remaja di Lembaga Pemasyarakatan. Yogyakarta: Tesis Psikologi Universitas Gajah Mada. Mahmud, M Dimyati. 1989. Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Masidjo, Ign. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius. Mayasari, Elisabeth Desiana. 2009. Perbedaan Kematangan Emosi Remaja Akhir yang Ibunya Bekerja dan Tidak Bekerja. Yogyakarta: Skripsi Universits Sanata Dharma. Meichati, Siti. 1983. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Uiversitas Gajah Mada. Murray, J. 1992. Are You Growing Up-Or Just Getting Older? Emotional Maturity: http://www.betteryou.com/maturity.htm. Nurgiyantoro, Burhan. 2009. Statistik Terapan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Papalia, Diane E. dkk. 2009. Human Development (Psikologi Perkembangan), Edisi Kesembilan Bagian V-IX. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. __________________. 2014. Menyelami Perkembangan Manusia. Jakarta: Salemba Humanika Pikunas. 1976. Human Development and Emergent Science. New York: MC. Graw Hill Books Company.

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Powel, M. 1963. The Psychology of Adolescence. New York: The BobsMeril.Co. Rahayu, C. 2008. Hubungan Antara Kematangan Emosi dan Konformitas dengan Perilaku Agresif pada Suporter Sepak Bola. Surakarta: Skripsi Fakultas Psikologi Muhammadiyah Surakarta. Rahmawati, Erna Ipak. 2008. Skala Kemasakan Emosi. Yogyakarta : Tesis Fakultas Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Sanford, FH. 1974. Management of Emotion Problem of Children Anadolence. Philadelphia: JB. Tipp Company. Sugiyono Prof. Dr. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif. Dan R&D. Bandung: Alfabeta __________________ 2011. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta. Sugono, Dr. Dendy. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Walgito, Bimo. 2004. Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Widowati, Patrisia Cintani. 2009. Hubungan Antara Kematangan Emosi dengan Perilaku Seksual Pranikah pada Remaja Akhir. Yogyakarta: Skripsi Universitas Sanata Dharma. Winkel, W.S dan M.M. Sri Hastuti. 2006. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi. Yusuf, Dr. Syamsu dan Dr. Achmad Juntika Nurihsan. 2010. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 LAM PIRAN 1 Kuesioner Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Petunjuk: 1. Sebelum Anda menjawab semua soal, kami meminta Anda lebih jauh membaca dan memahami setiap soal dalam lembar pernyataan ini 2. Pilih salah satu dari empat jawaban yang tersedia, yaitu : a. SS = jika pernyataan tersebut sangat sesuai dengan diri Anda b. S = jika pernyataan tersebut sesuai dengan diri Anda c. TS = jika pernyataan tersebut tidak sesuai dengan diri Anda d. STS Anda = Jika pernyataan tersebut sangat tidak sesuai dengan diri 3. Cara memberi jawaban adalah dengan memberi tanda (X) silang pada jawaban yang paling sesuai dengan keadaan diri Anda. 4. Tidak ada pernyataan yang benar dan salah, yang penting Anda telah menjawab sesuai dengan keadaan Anda. 5. Bila sudah selesai, periksa kembali, jangan ada pernyataan-pernyataan yang terlewatkan. 6. Selamat mengerjakan dan terimakasih atas kesediaan Anda mengisi kuesioner ini. Isilah identitas Anda sebelum mengerjakan NIM : Semester/Kelas : Usia :

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Kuesioner Mahasiswa Bimbingan dan Konseling No Pernyataan Pilihan Jawaban 1 Saya menghabiskan waktu dengan kegiatan positif (berolahraga, mencuci baju, membereskan kamar,dsb) untuk melupakan kesedihan SS S TS STS 2 Saya bersikap sabar ketika ada orang lain yang menyerobot antrian SS S TS STS 3 Saya bolos kuliah saat sedang sedih atau patah hati SS S TS STS 4 Saya mudah tersinggung ketika teman bersikap acuh SS S TS STS 5 Saya memandang setiap masalah secara positif SS S TS STS 6 Saya spontan berbicara kasar saat diliputi amarah SS S TS STS 7 Saya memarahi teman yang mengejek walaupun itu di depan banyak orang SS S TS STS 8 Saya berempati terhadap teman yang mengalami kesulitan SS S TS STS 9 Saya bersikap proaktif saat mengerjakan tugas kelompok SS S TS STS 10 Saya menertawakan teman yang terjatuh SS S TS STS 11 Saya tetap tersenyum di hadapan teman-teman walaupun memiliki banyak masalah SS S TS STS 12 Saya kurang memperhatikan audience saat presentasi SS S TS STS 13 Saya menegur teman yang terlambat dengan berteriak SS S TS STS 14 Saya berpenampilan sesuai dengan tuntutan yang ada di program studi Bimbingan dan Konseling (menggunakan minimal kaos berkerah sopan dan rapi, menggunakan sepatu sandal/sepatu tertutup, tidak memakai tindikan atau tato) SS S TS STS SS S TS STS TS STS 15 16 Saya menggunakan bahasa Indonesia yang baku saat berhadapan dengan orang yang lebih tua Saya mencari kesibukan lain (berbicara dengan teman, bermain hp, mendengarkan musik, dsb) saat SS S

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 materi perkuliahan terasa membosankan 17 Saya mengangkat tangan terlebih dahulu sebelum berbicara di kelas SS S TS STS 18 Saya ragu saat berbicara dengan orang lain yang berbeda RAS SS S TS STS 19 Saya berpura-pura senang dihadapan orang lain ketika sedang terpuruk SS S TS STS 20 Saya menjadi pendengar yang baik saat teman bercerita tentang permasalahannya SS S TS STS 21 Saya mudah terpengaruh perasaan orang lain SS S TS STS 22 Saya ingin mendapat perhatian dari semua orang saat sedang mengalami masalah SS S TS STS 23 Saya menenangkan diri saat dalam keadaan kesal SS S TS STS 24 Saya ikut bercerita saat orang lain sedang asyik bercerita SS S TS STS 25 Saya berusaha menghibur teman yang sedang sedih. SS S TS STS 26 Saya mudah memaafkan kesalahan orang lain. SS S TS STS 27 Saya mengalihkan perasaan marah dengan membuat orang lain kesal. SS S TS STS 28 Intensitas makan saya menurun saat mengalami stress SS S TS STS 29 Saya memilih untuk bertemu banyak orang saat merasa kesepian SS S TS STS 30 Saya mencoba merefleksikan diri saat dijauhi teman SS S TS STS 31 Tidur saya terganggu saat sedang merasa sedih SS S TS STS 32 Perasaan saya mudah berubah tanpa alasan yang jelas. SS S TS STS 33 Saya memanfaatkan waktu dengan mengerjakan tugas saat merasa senang. SS S TS STS 34 Saya tetap berpikir positif saat sedang mengalami ketakutan SS S TS STS 35 Saya bertindak cepat dalam mengambil keputusan. SS S TS STS

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 36 Mudah bagi saya untuk memilih suatu keputusan SS S TS STS 37 Saya mencari banyak informasi sebelum mengambil suatu keputusan SS S TS STS 38 Saya bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keputusan yang sudah diambil SS S TS STS SS S 39 Saya mengambil keputusan dengan melibatkan pikiran saat itu saja. TS STS 40 Saya membutuhkan waktu untuk mengambil suatu keputusan SS S TS STS 41 Saya sangat menghargai pendapat orang lain. SS S TS STS 42 Pendapat saya lebih baik daripada pendapat orang lain SS S TS STS 43 Saya senang apabila ada orang lain yang berani mengajukan pendapat SS S TS STS 44 Pengetahuan saya sudah luas tanpa pendapat orang lain SS S TS STS 45 Saya menjadikan kritik atau saran orang lain sebagai bahan refleksi SS S TS STS 46 Saya lebih fokus apabila pembagian kerja kelompok dilakukan secara individu SS S TS STS 47 Saya mencatat setiap materi kuliah agar dapat mengerjakan tugas dengan baik SS S TS STS 48 Saya membuat keputusan dengan mempertimbangkan dampaknya terlebih dahulu SS S TS STS 49 Saya menyesal setelah mengetahui dampak dari keputusan yang sudah diambil SS S TS STS 50 Saya ceroboh dalam membuat keputusan SS S TS STS 51 Saya tetap berangkat kuliah walaupun hujan deras SS S TS STS 52 Saya pergi jalan-jalan dengan teman walaupun banyak tugas SS S TS STS

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 LAM PIRAN 2 13-01 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 2 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 34 35 36 37 38 39 40 Jumlah 2 3 3 2 3 3 3 110 13-02 3 4 2 1 3 3 3 2 4 4 3 2 3 2 3 4 2 3 2 3 3 1 2 4 3 3 4 2 4 3 3 4 3 3 3 3 3 2 4 3 116 13-03 4 4 3 2 2 3 3 4 4 4 4 2 4 4 4 3 1 4 1 4 4 1 2 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 2 4 2 132 13-04 4 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 4 2 2 3 3 3 4 2 3 4 3 3 4 4 3 2 3 3 4 3 129 13-05 3 3 3 2 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 3 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 2 3 4 3 124 13-06 3 4 3 3 4 4 4 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 2 3 3 4 3 3 3 2 4 3 3 3 3 3 2 3 3 4 3 128 13-07 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 116 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 1 3 3 4 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 3 4 2 4 4 1 4 2 4 3 3 3 3 3 2 113 13-08 13-09 13-10 0 3 2 2 2 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 107 13-11 3 4 2 2 3 3 4 2 4 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 4 3 4 3 3 3 3 2 2 2 115 13-12 1 1 1 1 2 4 4 4 1 3 3 2 4 4 4 4 2 4 4 4 4 1 2 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 4 3 4 3 2 3 1 117 13-13 3 3 3 2 3 3 2 2 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 111 13-14 4 4 2 2 2 4 4 3 4 3 3 3 3 3 4 3 2 3 4 2 4 2 2 3 3 3 3 2 4 4 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 121 13-15 3 3 2 2 3 3 3 3 3 4 3 2 3 4 3 3 3 4 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 125 13-16 3 2 2 2 3 3 2 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 105 13-17 4 4 1 4 4 4 3 2 4 4 3 3 3 4 3 3 2 4 3 4 4 1 3 3 3 4 3 3 4 4 2 4 4 4 4 4 2 3 4 4 133 13-18 4 4 4 2 4 4 4 3 4 4 1 1 1 4 4 2 1 4 4 3 4 1 1 4 2 3 4 3 4 4 2 4 4 4 4 3 1 2 4 4 124 13-19 4 4 3 3 2 4 3 3 4 3 3 2 3 4 4 4 3 4 4 4 4 3 2 3 2 3 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 2 4 2 132 13-20 3 4 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 113 13-21 3 4 3 3 4 3 4 2 4 4 3 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 2 3 3 3 3 4 3 3 4 3 4 4 1 3 3 3 3 3 4 129 13-22 4 4 4 2 4 3 2 3 4 3 3 2 4 3 4 4 2 3 3 2 3 4 1 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 3 3 3 3 2 3 2 124 13-23 3 3 2 3 3 3 4 3 2 4 4 2 3 2 3 4 4 3 3 3 4 2 2 4 2 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 1 3 4 3 127 13-24 3 2 2 2 3 3 3 2 3 3 2 2 2 3 3 3 2 3 4 3 4 2 3 3 4 3 3 2 3 3 3 3 2 4 4 4 2 3 4 3 115 13-25 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 4 4 3 4 3 3 4 3 4 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 2 3 3 4 2 135 13-26 3 3 2 3 3 3 3 2 3 4 4 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 112 13-27 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 4 3 145 13-28 3 4 2 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 2 3 4 3 3 3 4 4 3 2 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 2 119 13-29 3 4 2 4 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 115 13-30 4 4 3 4 4 4 2 3 2 4 4 3 3 4 4 4 3 4 3 4 3 2 2 4 4 3 4 1 4 4 3 3 3 3 4 4 3 3 4 2 133 13-31 3 4 4 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 2 122 13-32 4 4 2 2 3 4 3 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 3 4 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 1 3 4 4 3 3 4 3 3 4 2 123 13-33 3 4 3 2 3 4 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 3 4 3 4 4 1 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 2 136 13-34 4 3 2 2 2 3 3 3 3 4 4 2 3 3 3 4 2 3 1 3 4 1 1 3 3 4 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 115 13-35 4 4 3 3 3 4 3 3 4 4 4 3 2 4 4 4 2 4 3 3 4 1 2 2 4 4 4 3 2 4 4 4 3 4 4 4 3 3 4 4 135 13-36 4 3 3 2 2 3 3 3 3 4 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 117 13-37 3 4 2 1 2 3 3 4 4 4 4 2 3 2 3 3 3 4 4 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 4 4 3 3 3 4 3 124 13-38 4 4 2 1 2 3 4 3 4 4 4 1 4 4 4 3 3 4 2 3 3 1 2 2 3 2 3 3 4 4 3 3 4 3 3 2 2 2 3 3 118 13-39 3 4 3 2 3 3 2 2 4 4 3 2 3 2 3 3 4 3 3 4 4 4 2 3 2 4 4 3 3 3 3 4 4 4 2 3 2 3 3 2 122 13-40 4 4 2 3 3 4 3 3 3 4 3 2 2 3 3 4 2 4 4 3 4 1 1 3 2 2 2 1 3 4 4 4 4 4 4 3 3 2 3 1 118 13-41 4 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 4 3 2 4 4 2 4 3 3 3 4 4 4 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 4 2 121 4 3 3 3 2 4 2 3 4 4 4 3 3 3 4 3 3 3 4 3 4 2 3 3 3 4 4 3 2 4 3 4 3 4 3 3 3 3 3 2 128 13-44 3 2 3 2 3 3 4 3 4 3 4 2 3 3 4 3 1 3 3 4 4 2 1 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 2 3 3 3 120 13-45 4 3 2 1 1 3 2 1 2 4 2 1 2 2 4 3 2 3 4 3 2 4 2 2 3 4 4 1 3 4 2 4 2 4 1 3 1 3 2 1 101 13-42 13-43 0 13-46 4 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 4 3 2 4 4 2 4 3 3 3 4 4 4 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 4 2 121 13-47 4 4 2 2 3 3 3 3 2 4 3 2 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 4 4 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 2 123 13-48 4 4 3 4 2 4 3 2 3 4 4 4 3 4 4 4 1 4 4 4 4 1 2 4 4 4 4 1 4 4 3 4 1 4 4 4 1 4 4 4 134 13-49 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4 3 4 4 2 4 3 3 4 1 3 3 3 4 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 125 13-50 3 4 2 2 3 4 2 2 2 4 4 1 2 3 3 3 3 4 3 3 3 3 1 3 2 3 3 2 3 4 3 3 3 2 3 3 2 2 4 3 112 13-51 4 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 4 3 2 4 2 3 3 2 2 3 3 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 2 2 3 3 121 3 4 3 4 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 123 13-52 13-53 0 13-54 4 3 1 1 1 4 3 1 3 4 4 1 4 3 4 4 1 4 4 1 4 1 1 4 3 3 3 1 4 4 2 4 3 4 4 4 1 1 4 1 111 13-55 3 4 3 2 3 3 3 2 4 3 4 2 3 3 4 3 2 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 122 13-56 4 4 2 2 3 4 2 3 2 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 1 2 4 2 3 4 3 3 4 4 4 4 4 4 1 2 3 4 3 128 13-57 4 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 4 2 3 2 3 3 2 111 13-58 4 4 3 4 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 124 13-59 3 4 2 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 2 3 4 2 4 1 3 4 4 4 4 3 4 4 1 4 4 4 4 4 3 2 4 4 129 13-60 4 1 3 3 3 4 3 3 3 4 3 2 3 3 4 3 3 3 3 3 4 1 2 3 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 3 3 3 1 122 13-61 4 4 2 3 3 4 2 2 3 4 4 2 2 4 4 4 1 4 3 4 4 1 1 3 3 3 4 2 4 4 3 4 4 4 3 4 3 3 4 3 127 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 2 3 3 3 120 13-62 13-63 0 13-64 4 4 4 2 2 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 2 2 4 3 3 3 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 141 13-65 3 3 1 2 3 4 2 3 4 4 4 3 3 3 4 3 2 3 4 3 3 2 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 124 13-66 3 4 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 4 4 3 2 3 2 4 1 113 13-67 3 2 2 2 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 3 2 2 2 3 3 2 3 2 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 103 13-68 4 4 2 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 2 3 3 3 4 4 3 3 1 1 4 2 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 4 129 13-69 3 4 2 3 3 4 4 3 4 4 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 4 2 1 3 3 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 134 4 4 2 2 2 3 2 3 3 4 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 3 1 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 2 3 4 3 119 13-70 13-71 0 13-72 2 3 3 2 2 3 2 3 3 2 2 3 2 3 3 2 2 3 2 3 2 3 2 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 2 3 2 101 13-73 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 117 13-74 3 4 3 4 4 3 4 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 2 3 3 2 123 13-75 3 4 2 3 3 4 3 3 3 4 3 2 3 3 4 4 3 4 4 3 3 3 3 4 4 3 3 2 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 2 3 127 13-76 3 4 3 3 3 3 4 2 4 3 3 3 3 4 3 3 1 3 3 4 3 4 2 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 4 3 3 4 3 126 13-77 4 3 2 2 3 3 3 3 4 4 3 4 1 3 4 4 4 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 4 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 124 13-78 3 3 2 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 123 13-79 4 3 2 2 2 4 3 3 3 4 4 2 3 3 3 3 3 4 3 2 1 3 2 3 3 3 3 2 2 4 2 3 3 4 4 2 2 2 3 2 113

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 LAM PIRAN 3 Correlation Spearman’s rho No Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Parameter Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Hasil Hitung .363** 0.001 74 0.099 0.4 74 .490** 0 74 .347** 0.002 74 0.203 0.082 74 .425** 0 74 .379** 0.001 74 .332** 0.004 74 0.144 0.221 74 .318** 0.006 74 0.17 0.148 74 .292* 0.012 74 .449** 0 74 .442** 0 74 .335** Keputusan Valid Tidak Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 0.004 74 .542** 0 74 .369** 0.001 74 .366** 0.001 74 0.117 0.319 74 .329** 0.004 74 0.116 0.324 74 0.147 0.211 74 .357** 0.002 74 .273* 0.019 74 .411** 0 74 .271* 0.02 74 .277* 0.017 74 0.016 0.896 74 0.175 0.136 74 .474** 0 74 Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Tidak Valid Valid

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) .368* 0.563 74 .259 0.074 74 .273* 0.019 74 .247* 0.034 74 0.042 0.722 74 0.119 0.315 74 .350** 0.002 74 .455** 0 74 .350** 0.002 74 .281* 0.015 74 .308** 0.008 74 .280* 0.016 74 .355** 0.002 74 .250* 0.031 74 0.226 0.053 74 0 0.999 Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Tidak Valid

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 N 47 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 48 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 49 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 50 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 51 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 52 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). 74 .520** 0 74 .234* 0.045 74 .308** 0.008 74 .415** 0 74 .486** 0 74 .410** 0 74 Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 LAM PIRAN 4 Scale: ALL VARIABLES Case Processing Summary N Cases Valid a Excluded Total Reliability Statistics Cronbach's Alpha .703 N of Items 53 74 % 100.0 0 .0 74 100.0

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 LAM PIRAN 5

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 LAM PIRAN 6 MENGGABUNGKAN TITIK Garis besar: Merupakan Latihan yang sederhana namun efektif bagi peserta untuk melatih ide berpikir diluar “kotak kesabaran diri” kita. Tujuan: Membiarkan peserta melihat bahwa jawaban untuk beberapa masalah tertentu ada di luar batas pemikiran mereka Waktu yang dibutuhkan 10-15 menit Jumlah Peserta Tidak dibatasi Materi yang dibutuhkan 3 lembar kertas dan sebuah pulpen untuk masing-masing peserta. Sebuah whiteboard atau flipchart untuk menggambarkan titik-titik, atau sebuah transparansi OHP yang telah disiapkan Prosedur 1. Katakan kepada peserta bahwa yang kita miliki adalah cara berpikir tradisional dalam memecahkan masalah. Bagikan kertas dan pulpen 2. Berikan masalah 9 titik kepada para peserta. Katakan bahwa mereka mempunyai waktu 2 menit untuk menggabungkan kesembilan titik tersebut dengan 4 garis lurus yang tidak terputus dan peserta tidak diperbolehkan mengangkat pulpen dari atas kertas atau membuat garis double.

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 3. Setelah 2 menit, tunjukkan kepada peserta bagaimana cara melakukannya. Tekankan gagasan bahawa peserta harus berpikir di luar “kotak keterbatasan diri” yang terkadang kita gunakan dalam berpikir 4. Selanjutnya berikan masalah 12 titik kepada peserta.Mereka harus menggabungkan kedua bels titik tersebut dengan 5 garis lurus yang tidak terputus. Sekali lagi, mereka tidak boleh mengangkat pulpen dari atas kertas atau membuat garis double. 5. Bagi para peserta yang belum juga menemukan solusi yang tepat, tunjukkan jawabannya dan sekali lagi tekankan gagasan bahwa peserta harus berpikir di luar batas pemikiran mereka. 6. Akhirnya berikan masalah 16 titik kepada peserta. Peserta harus menggabungkan titik-titik tersebut dengan 6 garis yang tidak terputus. Peserta tidak diperbolehkan mengangkat pulpen dari atas kertas atau membuat kertas double. 7. Tunjukkan solusi kepada para peserta yang berupaya keras mencari jawabannya. Lagi-lagi tekankan bahwa mereka harus meningkatkan batas pemikiran mereka. 8. Pilihan: sebelum mengakhiri latihan ini katakan kepada peserta bahwa ada solusi kedua untuk masalah 9 titik. Biarkan mereka berpikir semalaman untuk mencari solusi tersebut. Poin diskusi 1. Adakah yang sanggup memecahkan ketiga masalah tersebut? 2. Dapatkah kini setiap orang melihat bahwa kita benar-benar menggunakan batasan dalam pemikiran kita? 3. Dapatkah aplikasi ini digunakan dalam tempat kerja?

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 Variasi 1. Ketiga latihan ini dapat digunakan dalam waktu yang berlainan selama pelatihan. 2. Bisa 1 atau 2 masalah saja yang digunakan. Solution

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 KIRIMKAN SAYA SEBUAH CATATAN Garis besar Icebreaker ini dapat digunakan pada hari akhir suatu pelatihan yang lama. Tujuan 1. Membuat peserta berpikir positif. 2. Memberikan kesempatan kepada peserta untuk memberikan pesan pribadi yang positif kepada peserta lain. Waktu yang dibutuhkan 30-60 menit tergantung banyaknya peserta. Jumlah peserta Tidak dibatasi, tapi semakin banyak peserta maka waktunya akan semakin lama. Materi yang dibutuhkan Sebuah pulpen dan amplop besar untuk masing-masing peserta. Juga dibutuhkan potongan kertas yangbanyak. Prosedur 1. Katakan kepada peserta bahwa mereka akan terlibat dalam latihan refleksi positif. Mintalah mereka memindahkan kursi mereka untuk membentuk sebuah lingkaran besar. 2. Berikan sebuah pulpen, amplop dan potongan kertas secukupnya kepada masing-masing peserta untuk menuliskan satu komentar untuk setiap orang dalam kelompok tersebut. Mintalah mereka menulis nama mereka sendiri di depan amplop tersebut. 3. Kemudian mintalah mereka memberikan amplop itu kepada orang yang duduk di sebelah kanannya. Katakan orang ini agar memikirkan sebuah poin positif atauyang menyenangkan tentang orang yang namanya tertera pada amplop,

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 tulislah poin terseut pada sebuah potongan kertas dan memasukkannya ke dalam amplop. Kemudian amplop tersebut diberikan kepada orang yang duduk di sebelah kanan, demikian seterusnya. Pastikan bahwa setiap orang memahami betul bahwa seluruh komentar harus positif. 4. Setelah amplop diedarkan ke seluruh peserta, beritahukan peserta bahwa mereka boleh membuka amplopnya masing-masing dan membaca komentar dari peserta lain. Mereka harus membawa pemikiran positif ini k tempat kerja. Poin diskusi 1. Bagaimana perasaan setiap orang? 2. Adakah yang ingin membicarakan komentar yang ada di dalam amplopnya? Variasi 1. Berikan selembar kertas kepada masing-masing peserta di akhir latihan untuk menempelkan potongan-potongan kertas tersebut. Kertas ini dapat disimpan sebagai suatu referensi permanen untuk dilihat setiap kali mereka merasa down. 2. Fasilitator boleh ikut atau tidak berpartsipasi. Jika Anda telah terlibat lama dengan para peserta sejak awal, maka sangat dianjurkan agar Anda berpartisipasi dalam latihan ini. Sumber Diambil dari saran Georgina Rea, Lakemba, NSW.

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 TERLALU BANYAK SOLUSI? Garis besar Permainan ini mengamati manfaat brainstorming terhadap sekelompok peserta dalam mengatasi masalah yang diberikan. Tujuan 1. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. 2. menghasilkan sebanyak mungkin ide dari sekelompok orang dengan menggunakan tekhnik brainstorming. 3. Memperkenalkan dan menerapkan sinergi. Waktu yang dibutuhkan 30-60 menit (tergantung tipe masalah yang diberikan). Jumlah peserta Tidak dibatasi, tapi perlu dibagi ke dalam subkelompok yang terdiri dari 5-7 peserta. Materi yang dibutuhkan Kertas flipchart dan spidol untuk masing-masing subkelompok. Prosedur 1. Bagi peserta menjadi tim yang terdiri dari 5-7 peserta. 2. Berikan sebuah masalah kepada tim untuk diatasi. Masalah tersebut bisa berupa masalah yang berhubungan dengan pekerjaan atau masalah imajiner. Misalnya, bagaimana mendapatkan lebih banyak pelanggan untuk toko kita? Atau bagaimana caranya menjual es kepada orang Eskimo? Peraturan: 1. Masing-masing tim harus memilih seorang juru tulis.juru bicara. Juru tulis ini harus menggali ide sebanyak mungkin dari anggota timnya selama 10-15 menit. Tidak ada diskusi pendapat selama 10-15 menit tersebut.

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 2. Juru tulis diminta untuk mendorong anggota timnya mengeluarkan ide apapun meski menggelikan atau tidak masuk akal. 3. Setelah 10-15 menit habis, masing-masing tim harus mengevaluasi setiap ide yang dihasilkan timnya. Lalu memutuskan tiga ide terbaik. Setelah memperoleh kesepakatan, masing-masing juru bicara harus mempresentasikan hasil yang diperoleh timnya kepada seluruh peserta. 4. Setelah masing-masing tim mempresentasikan idenya, seluruh peserta kemudian harus memutuskan satu ide terbaik yang telah disebutkan. Poin diskusi 1. Tim mana yang memiliki ide paling banyak? Mengapa? 2. Apakah setiap orang terkejut dengan jumlah ide yang dihasilkan? 3. Apakah ide aneh dan menggelikan dapat mengarahkan peserta untuk menggali lebih banyak ide produktif? 4. Siapa yang memiliki masalah dengan konsep tidak ada diskusi pada saat pertama ide dikeluarkan? 5. Anggota kelompok mana saja yang memberikan semangat kepada anggota lain untuk mengeluarkan lebih banyak ide? Variasi 1. Jika peserta memiliki masalah yang sama, dapat digunakan dalam latihan ini 2. masing-masing tim dapat diberikan masalah yang berbeda untuk diatasi.

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 KERJASAMA Garis besar Latihan ini menekankan mengapa orang harus bekerja sama. Tujuan Membuat peserta melihat bahwa mereka dapat mencapai lebih banyak tujuan jika mereka bekerja sama daripada bersaing satu sama lain. Waktu yang dibutuhkan 5 menit. Jumlah peserta Tidak dibatasi. Materi yang dibutuhkan Tidak ada Prosedur 1. Mintalah anggota kelompok berdiri dan berpasang-pasangan. 2. Katakan kepada setiap pasangan untuk saling berhadapan dan memegang tangan kanan rekannya dengan tangan kananya sendiri. Sama seperti berjabat tangan. 3. Sekarang beritahukan mereka agar mengucapkan keinginan sebanyak yang mereka bisa selama 60 detik, sambil tetap memegang tangan rekannya. 4. Setelah 60 detik, katakan kepada mereka bahwa satu keinginan mereka akan terkabul setiap kali mereka berhasil memegang pinggul sebelah kanan mereka sendiri dengan menggunakan tangan kanan mereka (sambil tetap memegang tangan kanan rekannya). Sekarang mereka memiliki waktu 60 detik untuk berusaha mengabulkan keinginan sebanyak-banyaknya.

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 5. Setelah waktu habis, tanyakan berapa pasang pesera yang tidak satupun keinginannya terkabul. Kemudian tanyakan ada berapa pasang peserta yang 15 keinginannya terkabul. Akhirnya tanyakan ada berapa pasang peserta yang seluruh keinginannya terkabul, lebih dari cukup. 6. Kemudian Anda harus meminta satu pasangan dari setiap kategori untuk menunjukkan bagaimana mereka mencoba mengabulkan keinginan mereka. Mulai dengan yang nilainya 0 dan seterusnya hingga nilai tertinggi. Dengan menunjukkan cara ini, seluruh peserta akan dapat melihat bahwa pasangan yang bekerja sama memperoleh lebih banyak keinginan yang terkabul daripada mereka yang tidak bekerja sama Poin diskusi 1. Mengapa ada beberapa pasangan yang tidak satu pun keinginannya terkabul? 2. Apakah kita semua pada dasarnya bersifat kompetitif? Mengapa? 3. Dapatkah kita mengubah kebiasaan ini? 4. Bagaimana kita dapat bekerja sama? Variasi 1. Mintalah seluruh peserta menutup mata mereka atau menggunakan penutup mata.

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 GARIS WAKTU Garis besar Latihan ini akan memberikan kesempatan kepada peserta agar lebih akrab dengan perasaan satu sama lain. Juga dapat digunakan untuk menilai tingkat stress dalam kehidupan para peserta. Tujuan 1. Memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengidentifikasi 6 perubahan besar dalam hidup mereka. 2. Memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyusun perubahan tersebut dan mengungkapkannya jika mereka bersedia. Waktu yang dibutuhkan 15 menit. Jumlah peserta Tidak dibatasi. Materi yang dibutuhkan Selembar kertas dan sebuah pulpen untuk masing-masing peserta. Prosedur 1. Berikan selembar kertas dan pulpen kepada masing-masing peserta. Mintalah mereka mengidentifikasi 6 perubahan besar dalam hidup mereka yang dapat mereka ingat. Juga beritahukan bahwa meski mereka tidak akan diminta untuk menyatakan keenam peristiwa tersebut, mereka diminta berbagi satu diantaranya dengan seorang rekan. 2. Setelah mereka memikirkan perubahan hidup ini, mintalah mereka menggambar suatu garis waktu dimulai dari peristiwa besar pertama dan berakhir sampai detik ini. Bersamaan dengan garis waktu tersebut mereka

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 diminta untuk menandai keenam perubahan. Mereka tidak diminta menuliskan peristiwa apa saja perubahan tersebut. 3. Setelah keenam peristiwa ditandai, mintalah mereka berbalik menghadap rekannya dan memberitahukan salah satu dari keenam peristiwa tersebut. Setelah keduanya menggambarkan peristiwa masing-masing, mintalah mereka mengindikasikan perasaan apa yang mereka miliki sebelum, selama dan setelah perubahan hidup ini. 4. Sekarang pimpinlah sebuah diskusi tentang topik ini. Poin diskusi 1. Apakah orang yang memiliki mayoritas peristiwa ini berkelompok bersamasama? 2. Dapatkah kita menggunakan sesuatu semacam garis waktu ini untuk mengidentifikasi orang yang mengalami stress hebat? Variasi Anda dapat meminta garis waktu dimulai dari usia 1, 5, 10 atau 20 tahun atau bahkan sejak lahir.

(122)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Tingkat kecerdasan emosi mahasiswa angkatan 2015 program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan implikasinya terhadap usulan topik-topik kegiatan pengembangan diri.
0
0
92
Tingkat kematangan karier mahasiswa (studi deskriptif pada mahasiswa prodi bimbingan dan konseling angkatan 2014/2015 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan karier).
0
1
2
Persefsi mahasiswa terhadap perilaku asertifnya : studi deskriftif pada mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan tahun 2014 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan pribadi sosial.
0
2
99
Konsep diri mahasiswa : studi deskriptif pada mahasiawa angkatan 2015/2016 program studi bimbingan dan konseling Universitas Sanata Dharma dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan.
0
3
120
Motivasi belajar pada mahasiswa : studi deskriptif tingkat motivasi belajar pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Angkatan 2013/2014 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan akademik.
0
1
79
Deskripsi tingkat kesiapan mahasiswa menghadapi pernikahan (studi deskriptif pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Angkatan 2012 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan implikasinya pada usulan topik-topik bimbingan persiapan berkeluarga).
0
0
84
Gaya belajar mahasiswa angkatan 2013 Program Studi Bimbingan Dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2013/2014 dan implikasinya pada usulan topik-topik bimbingan belajar.
0
2
87
Kecerdasan emosi mahasiswa baru : studi deskriptif pada mahasiswa semester II kelas A angkatan 2013 Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 dan implikasinya pada usulan topik-topik bimbingan pribad
0
0
132
Tingkat kecerdasan emosi mahasiswa angkatan 2015 program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan implikasinya terhadap usulan topik topik kegiatan pengembangan diri
0
0
90
Kecerdasan emosi mahasiswa baru studi deskriptif pada mahasiswa semester II kelas A angkatan 2013 Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun ajaran 20132014
0
1
130
Tingkat kejenuhan belajar mahasiswa (studi deskriptif pada mahasiswa angkatan 2013 program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
4
17
97
Deskripsi tingkat prokrastinasi akademik dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan belajar : studi deskriptif pada mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, angkatan 2013, semester 2 - USD Reposito
0
0
109
Deskripsi tingkat resiliensi terhadap stres dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan kelompok : studi deskriptif pada mahasiswa angkatan 2013, semester 2 kelas A program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahu
0
0
150
Deskripsi tingkat kemandirian belajar mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2013 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan klasikal - USD Repository
0
0
112
Deskripsi gaya belajar mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan Dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun akademik 2013/2014 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan belajar - USD Repository
0
0
99
Show more