Peranan mengikuti kegiatan persekutuan doa Karismatik Katolik di Gereja Santo Antonius Kotabaru Keuskupan Agung Semarang terhadap keaktifan anggota dalam hidup menggereja - USD Repository

Gratis

0
0
159
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERANAN MENGIKUTI KEGIATAN PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK DI GEREJA SANTO ANTONIUS KOTABARU KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG TERHADAP KEAKTIFAN ANGGOTA DALAM HIDUP MENGGEREJA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh: Maria Wardayanti Perdani NIM: 091124010 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN Dengan kebahagiaan penuh, skripsi ini saya persembahkan kepada Yesus, keluarga, dan kampusku. iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11:28) v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Skripsi ini berjudul PERANAN MENGIKUTI KEGIATAN PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK DI GEREJA SANTO ANTONIUS KOTABARU KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG TERHADAP KEAKTIFAN ANGGOTA DALAM HIDUP MENGGEREJA. Skripsi ini dipilih berdasarkan perkembangan komunitas PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik) di gereja-gereja Katolik yang ada di Yogyakarta, baik PDKK kaum muda, maupun PDKK bagi orang tua yang masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan Gereja. Penulis mengulas tentang keberadaan dan perkembangan PDKK dalam Gereja St. Antonius Kotabaru KAS yang saat ini semakin tumbuh. Dalam skripsi ini, penulis membuat suatu penelitian tentang peranan PDKK terhadap hidup menggereja dalam bentuk skala Likert dan beberapa wawancara untuk menambahkan data tentang kegiatan-kegiatan yang ada dan berjalan di paroki St. Antonius Kotabaru. Sebagian besar anggota PDKK yang menjadi responden telah mengerti dan mengetahui tentang Gereja, karismatik, peranan mengikuti karismatik dan hidup menggereja. Mereka diharapkan dapat semakin menghayati makna menjadi anggota Gereja yang sejati dan semakin aktif dalam hidup menggereja, sehingga Gereja semakin berkembang ke arah yang lebih baik lagi dalam menjalankan tugas perutusan Yesus untuk mewartakan kabar sukacita. Di dalam skripsi ini juga, penulis menguraikan tentang karismatik Katolik, secara khusus dari asal kata karismatik, kekhasan, sampai pada dasar biblis yang membuktikan dan memperkuat bahwa karismatik ini benar-benar Katolik dan tidak melenceng dari ajaran dan tradisi Gereja. Penulis menggunakan dokumen Gereja untuk mendukung adanya PDKK. Para pemimpin umat Katolik pun telah menyetujui dan memberikan pernyataan agar kegiatan PDKK didukung dan oleh umat. Karismatik Katolik terlibat dalam lima dasar hidup menggereja beserta peranannya dalam mengembangkan hidup menggereja bagi anggota PDKK. Dalam proses menghayati makna menjadi anggota Gereja dan hidup menggereja, anggota PDKK memerlukan pendampingan iman dari pihak Gereja. Penulis mengusulkan bentuk katekese model Shared Christian Praxis (SCP). Shared Christian Paxis merupakan model katekese yang dilakukan dengan cara berbagi pengalaman. Dengan SCP ini, maka sharing pengalaman antar anggota PDKK akan berjalan lancar dengan pedoman tema dan tujuan yang jelas. Dengan begitu, anggota PDKK akan semakin diteguhkan satu sama lain dalam perjalanan hidupnya di dunia ini sebagai utusan Kristus. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT This thesis title is THE ROLE OF FOLLOWING CHARISMATIC PRAYER FELLOWSHIP ACTIVITY IN SAINT ANTHONY KOTABARU ARCHDIOSCE OF SEMARANG UPON MEMBERS ACTIVENESS IN CHURCH LIFE. This title is choosed based on the development PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik) community in Catholic churches in Yogyakarta, both youth PDKK and PDKK for adults that still occur problem inside the church an also its people. Writer explores about the existence and development PDKK at St. Antonius church’s that is in growing process. In this thesis, writer made a research in likert scale and some interviews to add data about activities that exist on St. Antonius Kotabaru Church. Most of the PDKK’s members that become respondents have understood and known about church, charismatic, the role of joining charismatic and church’s life. They are expected to live the meaning of being genuine church member and be more active in church’s life, so that church developes in better direction in doing Jesus duty to spread the Good News. In this thesis, writer also describes about Catholic charismatic specifically is taken from term charismatic, its typical up to biblical base that proves and strengthen charismatic truely catholic and not miss from church teaching and tradition. Writer use church document to support. The Catholic leaders also has approved and make statement so that PDKK activity supported by all its people. Catholic charismatic is also connected to five church’s life foundation with its role in developing church’s life to PDKK’s member. In proccess of living the meaning of being church’s member and church’s life, PDKK members need guidance from Church authority. Writer reccomends Shared Christian Praxis as Cathecese model are model that suitable to share experience among PDKK’s member because this model lies on the PDKK’s member faith experience concretely. Therefore, PDKK’s member will be strengthened eachother in their life journey in this world as Christ messenger. ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur saya kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan penyertaan-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul: PERANAN MENGIKUTI KEGIATAN PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK DI GEREJA SANTO ANTONIUS KOTABARU KESUUPAN AGUNG SEMARANG TERHADAP KEAKTIFAN ANGGOTA DALAM HIDUP MENGGEREJA. Dalam proses penulisan skripsi ini, penulis mengalami banyak hal yang mendukung maupun yang membuat tersendatnya penulisan. Banyak sekali suka dan duka yang membuat penulis semakin tangguh. Pengalaman suka yang penulis alami adalah mendapat pengalaman baru dengan mengikuti PDKK di Gereja St. Antonius Kotabaru, mendapatkan kenalan baru yang lebih dewasa sehingga menambah tali persaudaraan. Sedangkan pengalaman duka yang penulis alami adalah, banyaknya anggota PDKK yang sudah tua sehingga sulit untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi. Dengan segala suka duka yang penulis alami, penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada: 1. Drs. Sumarno Ds., S.J., M.A., sebagai dosen pembimbing utama yang telah memberikan bantuan, perhatian, kesabaran, kesetiaan, waktu, dan memberikan masukan serta kritik yang membangun sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini pada waktunya. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Dra. Y. Supriyati, M.Pd., selaku dosen pembimbing akademik, dosen penguji II yang membantu penelitian dan yang selalu memberikan semangat, kesetiaan, masukan, dan kritikan dalam proses penelitian dan penulisan skripsi serta selama menjalani kuliah di Prodi IPPAK. 3. Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd., sebagai bapak yang telah banyak membantu dan memberikan dukungan dalam bentuk doa dan finansial bagi penulis dalam perjalanan kuliah ini dan selama penulis menyelesaikan skripsi ini, serta sebagai dosen penguji III. 4. Drs. F.X. Heryatno W.W., S.J., M.Ed., selaku Kaprodi IPPAK-USD yang telah mendukung dan memberi kesempatan kepada penulis untuk mempertanggungjawabkan skripsi ini. 5. Keluargaku di Lampung yang selalu mendukung, mendoakan, dan memberikan kepercayaan kepada penulis sehingga dapat dengan tenang menyelesaikan skripsi ini. 6. Segenap Staf Dosen, Karyawan, dan Mahasiswa Prodi IPPAK, Universitas Sanata Dharma yang telah mendidik, membimbing, memudahkan, serta mendukung penulis selama belajar sampai selesainya skripsi ini. 7. Komunitas Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) St. Antonius Kotabaru Keuskupan Agung Semarang, sebagai komunitas yang telah bersedia menjadi responden dan terbuka sehingga sangat membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 8. Para suster FSGM di manapun berada yang telah memberi dukungan, cinta, perhatian, dan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan studi. xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................... iv MOTTO ................................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ..................................................... vii ABSTRAK ................................................................................................................ viii ABSTRACT .............................................................................................................. ix KATA PENGANTAR ............................................................................................. x DAFTAR ISI ............................................................................................................ xiii DAFTAR SINGKATAN .......................................................................................... xvii BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................................ 1 A. Latar Belakang ............................................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 4 C. Tujuan Penelitian ........................................................................................ 4 D. Manfaat Penelitian ...................................................................................... 5 E. Metode Penulisan ........................................................................................ 5 F. Sistematika Penulisan ................................................................................. 6 BAB II. SITUASI UMUM PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK DI KOTABARU ......................................................................................... 8 A. Situasi Paroki Kotabaru .............................................................................. 8 1. Situasi Umum Umat Paroki Kotabaru .................................................... 9 2. Kegiatan dalam Paroki Kotabaru Periode Satu Tahun Terakhir ............ 10 B. Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru ...................................... 15 1. Struktur Organisasi Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru Selama Satu Tahun terahir ..................................................................... 15 2. Sejarah Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru .................... 17 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Kegiatan yang Dilakukan Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) Kotabaru Selama 1 Tahun terakhir .......................................... 19 4. Langkah-Langkah Pertemuan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru ................................................................................................ 20 C. Penelitian tentang Peranan Mengikuti Krgiatan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru terhadap Keaktifan Anggota dalam Hidup Menggereja ............................................................. 22 1. Tujuan Penelitian ................................................................................... 23 2. Manfaat Penelitian ................................................................................. 23 3. Jenis Penelitian ....................................................................................... 23 4. Metode Penelitian ................................................................................... 24 5. Tempat dan Waktu Pelaksanaan ............................................................ 24 6. Responden Penelitian ............................................................................. 24 7. Instrumen Penelitian ............................................................................... 25 8. Variabel Penelitian ................................................................................. 26 9. Tekhnik Pengumpulan Data ................................................................... 26 D. Hasil Penelitian ........................................................................................... 27 1. Gambaran Peranan Mengikuti Kegiatan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru terhadap Keaktifan Anggota dalam Hidup Menggereja ....................................................................... 27 2. Keaktifan dalam Hidup Menggereja ...................................................... 31 E. Pembahasan Hasil Penelitian ...................................................................... 37 1. Gambaran Peranan Mengikuti Kegiatan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru Terhadap Keaktifan Anggota Dalam Hidup Menggereja ...................................................................... 37 2. Keaktifan dalam Hidup Menggereja ...................................................... 40 BAB III. KARISMATIK DALAM GEREJA ........................................................... 45 A. Karismatik Katolik ..................................................................................... 45 1. Sejarah Perkembangan Karismatik Dunia dan Indonesia ...................... 46 2. Pengertian Karismatik Katolik dan Pergantian Nama ........................... 51 3. Ciri Khas Karismatik: Buah-buah Roh dan Bahasa Roh ....................... 53 4. Dasar-dasar Teologi Karismatik Katolik ............................................... 61 B. Peranan PDKK dalam Hidup Menggereja .................................................. 79 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Pengertian Hidup Menggereja ................................................................ 79 2. Dasar-dasar Hidup Menggereja .............................................................. 80 3. Peranan Hidup Menggereja .................................................................... 85 4. Peran PDKK dalam 5 Bentuk Hidup Menggereja ................................. 86 BAB IV. USULAN PROGRAM KATEKESE PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK DI GEREJA ST. ANTONIUS KOTABARU MELALUI KATEKESE MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN HIDUP MENGGEREJA ....................................................................................... 90 A. Latar Belakang Pemilihan Program ............................................................ 91 B. Alasan Pemilihan Tema dan Tujuan ........................................................... 91 C. Rumusan Tema dan Tujuan ........................................................................ 92 D. Penjabaran Program .................................................................................... 94 E. Petunjuk Pelaksanaan Program ................................................................... 98 F. Contoh Persiapan Katekese ......................................................................... 98 BAB V. PENUTUP ................................................................................................... 112 A. Kesimpulan ................................................................................................. 112 B. Saran .......................................................................................................... 114 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 116 LAMPIRAN .............................................................................................................. 118 Lampiran 1: Surat ijin penelitian di Gereja St. Antonius Kotabaru ...................... (1) Lampiran 2: Salah satu contoh instrumen ............................................................ (3) Lampiran 3: Pedoman wawancara anggota organis Kotabaru ............................. (6) Lampiran 4: Pedoman wawancara anggota pendamping PIA Kotabaru .............. (7) Lampiran 5: Pedoman wawancara anggota PATEMON Kotabaru ...................... (8) Lampiran 6: Pedoman wawancara anggota OMK Kotabaru ................................ (9) Lampiran 7: Pedoman wawancara anggota PDKK Kotabaru ..............................(10) Lampiran 8: Pedoman wawancara koordinator PDKK ........................................(11) Lampiran 9: Pedoman wawancara koordinator PDKK ........................................(12) Lampiran 10: Hasil wawancara anggota organis Kotabaru ..................................(13) Lampiran 11: Hasil wawancara anggota pendamping PIA ..................................(14) Lampiran 12: Hasil wawancara anggota PATEMON Kotabaru ..........................(15) xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 13: Hasil wawancara anggota OMK Kotabaru ....................................(16) Lampiran 14: Hasil wawancara anggota PDKK Kotabaru ..................................(17) Lampiran 15: Hasil wawancara koordinator PDKK Kotabaru ............................(18) Lampiran 16: Hasil wawancara koordinator PDKK Kotabaru ............................(19) Lampiran 17: Instrumen penelitian ......................................................................(20) Lampiran 18: Intisari video “Mengasihi Tanpa Kata-Kata” .................................(23) xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR SINGKATAN A. SINGKATAN KITAB SUCI Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan kepada Umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal. 7-8. B. SINGKATAN DOKUMEN GEREJA AA : Apostolicam Actuositatem, Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam, 7 Desember 1965. DV : Dei Verbum, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, 18 November 1965 LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964. C. SINGKATAN LAIN Art : Artikel CB : Carolus Boromeus GPK : Gerakan Pembaruan Karismatik HUT : Hari Ulang Tahun KAS : Keuskupan Agung Semarang xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KWI : Konferensi Waligereja Indonesia MAWI : Majelis Agung Waligereja Indonesia OCD : Ordo Carmelitarum Discalceatorum OMK : Orang Muda Katolik PA : Pemandu Acara PAPITA : Putra-putri Altar PATEMON : Paguyuban TV Monitor PD : Persekutuan Doa PDKK : Persekutuan Doa Karismatik Katolik PIA : Pendamping Iman Anak PIR : Pendamping Iman Remaja PKK : Pembaruan Karismatik Katolik Rm : Romo SCP : Shared Christian Praxis SJ : Serikat Jesus Sr : Suster St : Santo xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Belakangan ini semakin marak terdengar gema suara karismatik di Gerejagereja Indonesia. Hampir di setiap Gereja mendirikan PD (Persekutuan Doa) ini, terutama di perkotaan. Karismatik memang cenderung mengarah pada agama Kristen. Banyak orang mengira kegiatan karismatik hanya ada pada Gereja Kristen saja. Namun, sekarang ini semakin banyak Gereja Katolik yang mendirikan Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK), dengan ritus Katolik. Kebanyakan PDKK ini mengikuti susunan acara seperti ibadat, dengan pilihan lagu-lagu yang khas karismatik. Dari hasil wawancara yang penulis lakukan, ternyata umat Katolik sendiri banyak yang belum mengetahui tentang Persekutuan Doa Karismatik Katolik ini. Masih banyak umat yang ragu untuk masuk ke dalam PD ini, karena takut seandainya ajaran itu sesat. Konsili Vatikan pada dokumen Lumen Gentium art. 12 menegaskan bahwa: Dari butir ini mau mengingatkan bahwa pemahaman karisma sebagai sesuatu yang jarang dan terbatas, maupun sebagai yang umum menunjuk pada sifat mendasar karisma sebagai sesuatu yang “istimewa”. Disebut istimewa karena karisma/karunia itu adalah karunia istimewa berdasarkan ‘cara’ bagaimana karunia-karunia itu diberikan dan berdasarkan ‘tujuan’ untuk karunia-karunia itu diberikan. Memang kewaspadaan sangat diperlukan karena di PDKK juga banyak yang menggunakan ritus Protestan yang sangat berbeda dengan ritus Katolik. Dalam skripsi ini, penulis akan membahas tentang Persekutuan Doa Karismatik Katolik yang ada di Yogyakarta, khususnya di Gereja Antonius

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Kotabaru. Penulis sudah mengikuti Persekutuan Doa ini selama bulan pertemuan di Kotabaru. Hal ini penulis lakukan pertama-tama karena keingintahuan penulis sendiri tentang PD ini. Apalagi setelah penulis mengetahui bahwa banyak orang yang belum mengetahui apa yang terjadi di dalam setiap persekutuan ini. Banyak sekali hal-hal negatif yang muncul dan beredar berhubungan dengan Persekutuan Doa Karismatik Katolik, maka dari itu penulis merasa perlu mencari tahu yang sebenarnya. Sebagian karismatik yang ada di Yogyakarta memang menggunakan ritus Kristen dengan penyembuhan luka batin secara gaib. Dalam setiap doa, ritus Kristen ini memanggil roh-roh yang bukan Roh Kudus. Lalu pemandu mulai membuat umat jatuh pingsan dan sebagainya. Namun, banyak juga Persekutuan Doa Karismatik Katolik yang sehat. Dengan memanggil Roh Kudus hadir di tengah mereka. “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (Kis 2:4). Memang tidak semua orang dapat mengucapkan bahasa Roh tersebut namun sebagian orang dapat menafsirkannya. “Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa Roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya” (1 Kor 14:13). Jadi sebenarnya tidak semua Persekutuan Doa Karismatik itu menakutkan seperti berita yang beredar. Melihat kenyataan ini, memang setiap orang yang ingin tahu tentang kegiatan ini harus masuk dan ikut serta di dalamnya karena, selain Roh dalam pembabtisan, Gereja dalam buku Iman Katolik menegaskan bahwa:

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Dalam surat gembala, KWI, 30 November 1993 dikatakan bahwa Gereja memahami Babtis dalam Roh sebagai doa permohonan iman yang sungguhsungguh agar berkat rahmat Babtis dan karisma hidup umat digairahkan dan dipenuhi dengan kekuasaan Roh Kudus. Doa permohonan diucapkan dengan penumpangan tangan sebagai tanda cinta persaudaraan (KWI, 1993: 308). Dengan begitu diri kita pribadi dapat menilai apakah kegiatan itu sehat atau malah membawa kita pada ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Yesus sendiri. Dalam observasi yang penulis lakukan, penulis tidak hanya hadir dalam pertemuan, tetapi juga mengikuti kegiatannya, sehingga penulis benar-benar dapat merasakan apa yang terjadi. Selama mengikuti Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Gereja St. Antonius Kotabaru, penulis mengetahui bahwa ternyata kegiatan ini menggunakan susunan acara seperti saat ibadat sabda diserta lagulagu khas karismatik yang penuh semangat. Kegiatan karismatik yang penulis ikuti juga ternyata tidak hanya diam sebagai suatu lembaga tersendiri, tetapi mereka ada di dalam Gereja, karena yang menjadi pesertanya adalah umat Katolik. Dengan penelitian ini, penulis berharap dapat memberikan informasi selengkap-lengkapnya tentang keberadaan Persekutuan Doa Karismatik Katolik ini. Terkadang memang timbul pertanyaan di dalam benak umat, “Apakah Karismatik masih Katolik?” Dalam Katekismus Gereja Katolik no. 799 ditegaskan bahwa: “Karisma-karisma ini, baik yang mencolok maupun yang sederhana dan biasa adalah anugerah-anugerah rahmat Roh Kudus yang langsung atau tidak langsung melayani Gereja. Semuanya ini, diberikan untuk pembangunan gereja, untuk kesejahteraan manusia dan untuk untuk kebutuhan dunia.“ Bertolak dari pertanyaan tersebut, penulis menjadi tertantang untuk mencari tahu jawabannya.

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Seribu pertanyaan dan pernyataan muncul di benak umat dan semoga dengan adanya penelitian ini, penulis dapat menjawab pertanyaan yang selama ini membuat bingung dan ragu dalam mengikuti kegiatan ini, karena kita tidak bisa memukul rata bahwa semua kegiatan dalam Persekutuan Doa Karismatik adalah ajaran sesat. Penulis juga berharap karya tulis ini dapat membantu umat menemukan jalan sejati menuju kenyamanan dalam berdoa, berinteraksi dengan Yesus dan sesama serta mendapatkan kedamaian melalui ungkapan-ungkapan hati dalam karismatik. B. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana situasi umum Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru yang telah berjalan selama ini? 2. Bagaimana perkembangan karismatik dalam Gereja selama ini? 3. Usulan program apa yang tepat bagi PDKK St. Antonius Kotabaru? C. TUJUAN PENELITIAN 1. Mengetahui situasi umum yang ada di dalam Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru. 2. Mengetahui perkembangan karismatik di dalam Gereja. 3. Menemukan bentuk pendampingan yang cocok sebagai usulan program yang tepat bagi PDKK St. Antonius Kotabaru. 4. Memenuhi salah satu syarat kelulusan Strata 1 Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 D. MANFAAT PENULISAN Penelitian ini diharapkan akan memberikan pengetahuan mengenai pengaruh karismatik terhadap keaktifan anggota dalam kegiatan menggereja. Adapun harapan tersebut antara lain sebagai berikut: 1. Bagi para calon katekis, dapat menambah wawasan bahwa kegiatan karismatik adalah sarana umat untuk memuji dan menyembah Allah dengan lebih leluasa dan bebas berekspresi. 2. Bagi umat, dapat memberikan pengertian bahwa tidak sedikit umat yang terlibat dalam kegiatan karismatik merasakan ketenangan dan kenyamanan dalam berinteraksi dengan Allah sendiri, jadi setidaknya umat mengetahui bahwa tidak semua kegiatan kharismatik itu adalah sesat. 3. Bagi penulis sendiri, dengan menulis proposal ini, penulis menjadi semakin mendalami dan mendapatkan wawasan yang luas dalam hal kegiatan menggereja yang sebelumnya tidak penulis ketahui. Selain itu yang terpenting adalah bahwa penulis mengetahui adanya pengaruh mengikuti kegiatan kharismatik ini dengan keaktifan hidup menggereja. 4. Bagi umat yang sudah masuk dalam persekutuan doa karismatik, dapat lebih menguatkan keyakinan mereka akan Roh Allah yang menaungi mereka dan semakin memperkuat iman mereka akan Allah dan Putra-Nya, Yesus. E. METODE PENULISAN Metode penulisan yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Penulis mengumpulkan data dengan cara penelitian untuk mengetahui keadaan PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik) di Gereja St. Antonius Kotabaru, dengan

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 cara wawancara dengan anggota PDKK, dan memberikan instrumen penelitian menggunakan skala Likert serta hasil studi pustaka sebagai acuan yang dapat menunjang penulisan skripsi ini. Penulis mencoba untuk memaparkan tentang situasi umat yang menjadi anggota PDKK di Gereja St. Antonius Kotabaru, dan keaktifan mereka dalam hidup menggereja. F. SISTEMATIKA PENULISAN Judul dari skripsi ini adalah PERANAN MENGIKUTI KEGIATAN PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK SANTO ANTONIUS KOTABARU KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG TERHADAP KETERLIBATAN ANGGOTA DALAM HIDUP MENGGEREJA. Sistematika penulisan akan diuraikan dalam 5 (lima) bab sebagai berikut: Dalam bab I, penulis akan berbicara tentang latar belakang penulisan, yaitu alasan-alasan penulis mengangkat masalah ini untuk diteliti dengan dukungan dari wawancara, observasi dan pendapat para pakar serta solusi yang diharapkan dari hasil tulisan ini. Penulis juga menuliskan rumusan masalah yang ada di dalam PDKK St. Antonius Kotabaru, tujuan penulisan, metode penulisan, manfaat dari penulisan skripsi ini, serta metode penulisan dan sistematika penulisan. Pada bab II, penulis masuk pada situasi umum PDKK di Kotabaru, yaitu situasi paroki kotabaru yang meliputi letak, situasi umat, dan kegiatan-kegiatan di Gereja St. Antonius Kotabaru. Selain itu, dalam bab II ini juga akan mengulas tentang Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru dengan struktur organisasi dan sejarah PDKK Kotabaru. Pada bagian terakhir bab II penulis juga

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 akan melaksanakan penelitian berkaitan dengan judul skripsi, sekaligus dengan pembahasannya. Bab III berisi tentang karismatik Katolik dalam Gereja yang meliputi sejarah karismatik Katolik, pengertian karismatik, ciri khas karismatik Katolik, dasardasar teologi karismatik Katolik. Dalam bab ini juga penulis akan membahas tentang peranan PDKK dalam hidup menggereja yang meliputi pengertian hidup menggereja, dasar-dasar hidup menggereja, peranan hidup menggereja, dan peran PDKK dalam 5 (lima) bentuk hidup menggereja. Bab IV mengemukakan usulan program katekese bagi anggota PDKK St. Antonius Kotabaru, dengan model katekese Shared Christian Praxis (SCP). Bab IV meliputi latar belakang pemilihan program, alasan pemilihan tema dan tujuan, rumusan tema dan tujuan, penjelasan program, petunjuk pelaksanaan program dan yang terakhir adalah contoh persiapan katekese model SCP. Bab V merupakan akhir dari penulisan yang berisi kesimpulan dari keseluruhan isi skripsi ini dan saran yang mendukung bagi koordinator dan pengurus inti PDKK St. Antonius Kotabaru, bagi pastor paroki Gereja St. Antonius Kotabaru dan bagi umat secara keseluruhan.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 BAB II SITUASI UMUM PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK DI KOTABARU Gereja St. Antonius Kotabaru adalah Gereja yang gedungnya terletak di pusat kota Yogyakarta. Gereja St. Antonius Kotabaru ini adalah salah satu gereja yang paling populer dan terkenal di kalangan umat Katolik Yogyakarta. Setiap perayaan ekaristi, gereja St. Antonius Kotabaru selalu dipenuhi umat yang notabene berasal dari berbagai paroki yang berada di Yogyakarta yang selalu membludak pada saat hari-hari besar (Natal, Tri Hari Suci, dan Paskah). Gereja St. Antonius Kotabaru sangat cocok dengan situasi umat perkotaan yang sibuk dan serba cepat. Selain itu, letaknya juga sangat strategis yaitu di pinggir jalan dan dengan memiliki area parkir yang luas dan mudah, walaupun seringkali masih kurang juga. Itulah situasi umum yang ada di Gereja St. Antonius Kotabaru. Paroki St. Antonius Kotabaru juga memiliki berbagai macam kegiatan yang mendukung umat untuk terlibat aktif mengembangkan iman. Salah satu kegiatan yang berjalan di paroki St. Antonius Kotabaru adalah PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik). PDKK ini adalah sebuah kegiatan yang memiliki struktur organisasi yang lengkap dan menggunakan ritus ibadat dalam setiap kegiatan doanya. A. SITUASI PAROKI KOTABARU Paroki St. Antonius Kotabaru adalah sebuah paroki yang dibangun dengan susah payah oleh seorang pastor yang bernama Romo Strater. Pada 1 Januari 1934 barulah terbentuk paroki St. Antonius Kotabaru. Terdapat 56 pastor yang berjuang

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 membentuk, membangun, mempertahankan dan mengisi serta melayani umat Katolik di paroki St. Antonius Kotabaru. Untuk mempertahankan dan mengembangkan umat, di paroki ini juga diadakan banyak kegiatan yang mendukung iman umat mulai dari umat yang masih kecil sampai yang dewasa dan tua. Banyak wadah yang dibangun untuk memperkembangkan iman umat, salah satunya adalah Persekutuan Doa Karismatik Katolik. 1. Situasi Umum Umat Paroki Kotabaru Romo Mutiara Andalas, SJ (2011: 23) menyatakan bahwa “Paroki Santo Antonius Kotabaru adalah persekutuan paguyuban-paguyuban umat beriman sebagai bagian dari Keuskupan Agung Semarang.” Paroki St. Antonius Kotabaru memiliki batas teritorial sebagai berikut, yaitu: sebelah Utara berbatasan dengan Paroki Albertus Magnus Jetis dan Paroki Keluarga Kudus Banteng, sebelah Timur berbatasana dengan Paroki St. Yohanes Rasul Pringwulung dan Paroki Kristus Raja Baciro, sebelah Selatan berbatasan dengan Paroki St. Yusuf Bintaran dan Paroki Fransiskus Xaverius Kidul Loji, dan sebelah Barat berbatasan dengan Paroki Hati St. Maria Tak Bercela Kumetiran. Paroki ini didirikan dengan perjuangan yang susah payah dalam kepemimpinan Romo Strater, SJ. Kemudian ada 56 pastor yang berkarya dari mulai dibangun Paroki ini sampai dengan mempertahankan dan mengisinya. Paroki St. Antonius Kotabaru terletak di hati kota Yogyakarta, sangat strategis bagi siapapun. Dengan jumlah umat 3.131 orang yang terbagi dalam 1.024 kepala keluarga, Paroki St. Antonius Kotabaru dibagi dalam 5 wilayah dan 24 lingkungan. Selain itu, ada beberapa tarekat biara dan lembaga Gereja yang berada di wilayah teritorial Paroki St. Antonius Kotabaru.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 Tarekat yang ada yaitu biara suster-suster Abdi Darah Mulia, biara suster Carolus Boromeus, biara bruder Maria Tidak Bercela, biara bruder Conggregatio Santo Aloysius, dan tarekat Sarekat Yesus. Sedangkan lembaga Gereja yang melayani masyarakat meliputi Lembaga Pengabdian Masyarakat Realino, Margasiswa Kemahasiswaan dan Moderasi Kuliah Agama Katolik. Ditambah dengan RS panti Rapih yang menjadi subyek pelayanan pastoral bagi orang sakit (Mutiara Andalas, 2011: 23). Sebagai Paroki yang berada di perkotaan, maka Paroki St. Antonius Kotabaru ini menyesuaikan dengan kebutuhan umat perkotaan yang serba cepat tetapi mendalam, sehingga ekaristi yang dilaksanakan memang relatif lebih cepat dan dikemas dengan menarik. 2. Kegiatan dalam Paroki Kotabaru Periode Tiga Tahun Terakhir Sebagai paroki yang berada di tengah kota Yogyakarta dan cukup terkenal di Keuskupan Agung Semarang, paroki St. Antonius Kotabaru memiliki upayaupaya untuk mengembangkan iman umat dalam rangka melaksanakan tugas perutusan dalam hubungannya dengan sesama umat beriman dalam terang kasih Injili, sesuai dengan visinya yaitu: “Paroki St. Antonius Kotabaru, sebagai umat Allah KAS, menjadi pribadi-pribadi umat beriman yang berlandaskan nilai-nilai Injil terutama belas kasih, keterbukaan, kebenaran, empati dan pelayanan untuk mengembangkan persekutuan umat Allah yang mempu memajukan persaudaraan sejati dengan siapapun yang berkehendak baik” (Mutiara Andalas, 2011: 28). Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, maka dalam buku Sejarah Gereja St. Antonius Kotabaru, Paroki St. Antonius Kotabaru mendirikan komunitas (Mutiara Andalas, 2011: 8) yang di dalamnya terdapat kegiatan umat diantaranya yaitu PIR, PIA, PATEMON, OMK, organis, PDKK, Komunitas 25+, dan PAPITA.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 a. PIR (Pendamping Iman Remaja) Menurut Erika dalam sebuah blog yang berjudul PIRKOBAR.com, keanggotaan PIR terbuka untuk semua remaja Katolik. Mereka mengadakan pertemuan yang dinamakan Teen Time setiap hari Sabtu pukul 18.00 di GKS Widya Mandala. Dalam Teen Time kegiatan yang dilakukan dimulai dengan doa pembukaan, game-game seru, pembacaan Injil (bergantian perayat), kemudian pendamping akan menghubungkan Injil tersebut dengan pengalaman nyata sesuai tema Teen Time saat itu, dilanjutkan dengan sharing anggota, mengambil inti sari dan ditutup dengan doa penutup. Tidak hanya mengadakan pertemuan rutin, tetapi PIR juga berpartisipasi dalam EKR (Ekaristi Kaum Remaja) setiap dua bulan sekali. PIR Kotabaru memiliki kepengurusan yang diketuai oleh R. Afiral Devian Rangga B. PIR Kotabaru didampingi oleh OMK Kotabaru. Dalam sebuah blog berjudul Lentera Jiwa (Erika, 2013: 1), komunitas PIR Kotabaru pernah mengadakan sebuah acara bertemakan “Lentera Jiwa”. Acara ini bertujuan untuk mempererat keakraban anggota komunitas PIR Kotabaru sehingga semakin yakin akan kemampuan komunitas untuk terus mengobarkan semangat kristiani sebagai remaja Katolik. Sasarannya adalah anggota komunitas PIR Kotabaru (Erika, 2013: 3). b. PIA (Pendamping Iman Anak) Dari hasil wawancara dengan Kristina Santa Marta, diperoleh hasil bahwa PIA Kotabaru sekarang ini beranggotakan 21 orang yang aktif. PIA Kotabaru selalu melakukan pertemuan rutin di Ruang PIA yang ada GKS Widya Mandala

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 setiap hari Jumat pukul 18.00 WIB yang diawali dengan berdoa ala PIA, dilanjutkan dengan membahas siapa yang dapat mendampingi adik-adik PIA pada hari Minggu dan membahas tentang EKA (Ekaristi Anak) kemudian ditutup dengan doa penutup. Selain pertemuan rutin antar pendamping, PIA Kotabaru juga mendampingi adik-adik PIA secara bergiliran setiap hati Minggu pukul 08.30-10.00. Kegiatan tersebut berlangsung di perpustakaan GKS Widya Mandala. PIA juga pernah mengadakan kegiatan bertemakan HAN (Hari Anak Nasional) yang diadakan di auditorium IPPAK Sanata Dharma. Tujuan dari kegiatan itu adalah mengakrabkan anak-anak PIA yang berada di paroki dan sekolah-sekolah Katolik di sekitar Kotabaru. Sasarannya adalah anak-anak PIA dan anak-anak Katolik yang berada di sekolah Katolik [Lampiran 10: (14)]. c. PATEMON (Paguyuban TV Monitor) Menurut hasil wawancara dengan Laurentius Anang Widi Prakosa yang telah menjadi anggota PATEMON selama satu tahu, PATEMON Kotabaru memiliki 23 anggota yang aktif. PATEMON bertugas mensyuting, mengontrol TV dan monitor yang ada di sudut-sudut Gereja agar umat terbantu dalam mengikuti misa kudus. PATEMON Kotabaru juga memiliki kegiatan yang rutin dilakukan yaitu regeneration dengan tujuan untuk regenerasi anggota PATEMON. Sasarannya adalah kaum muda Katolik di Kotabaru agar dapar terlibat dan bergabung dalam komunitas PATEMON Kotabaru [Lampiran 12: (15)].

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 d. OMK (Orang Muda Katolik) Veronika Dwi Lestari menyatakan bahwa OMK Kotabaru memiliki kegiatan rutin setiap bulan yang bernama Savari Lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk menggugah OMK agar peka pada lingkungan sekitar. Sasarannya adalah OMK Kotabaru. Ketua OMK Kotabaru adalah Yuyus Kurniado [Lampiran 13: (16)]. e. Organis Menurut hasil wawancara dengan seorang anggota komunitas organis Kotabaru yang bernama Yulius Frendi Pradinato yang sudah bergabung dalam organis Kotabaru selama kurang lebih 2,5 tahun, organis Kotabaru seringkali mengadakan acara pertemuan bersama apabila mendekati hari raya-hari raya besar, seperti Natal, Paskah, Rabu Abu, dan tri hari suci. Temanya adalah hari raya, dengan tujuan untuk mengkoordinasi atau membagi tugas pengiring dalam setiap koor pada hari raya. Sasarannya adalah anggota organis Kotabaru [Lampiran 10: (13)]. f. PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik) PDKK Kotabaru memiliki anggota kurang lebih 50 orang. Komunitas ini berada di bawah asuhan romo paroki Kotabaru. Pertemuan komunitas ini diadakan setiap Selasa pukul 18.00 di GKS Widya Mandala lantai dua. Langkahlangkah kegiatannya sesuai dengan ritus ibadat Gereja Katolik. Dari hasil wawancara dengan koordinator PDKK paroki St. Antonius Kotabaru yaitu bapak Beni Susanto, PDKK pernah mengadakan kegiatan ziarah ke Gua Maria Ratu Kenya. Kegiatan ini dilakukan untuk menghormati Bunda

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 Maria. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan iman kepercayaan dalam perantaraan Bunda Maria ibu Yesus, dengan sasaran anggota PDKK Kotabaru [Lampiran 14: (17)]. g. Komunitas 25+ Berdasarkan dari sebuah website www.komunitas25plus.org, komunitas 25+ adalah komunitas yang memberikan wadah bagi anggota Gereja yang sudah bekerja dan di atas usia OMK. Komunitas ini memiliki 23 anggota yang didampingi oleh Romo Kepada Gereja St. Antomius Kotabaru. Komunitas ini mengadakan pertemuan sebulan sekali sesuai dengan kesepakatan yang dikoordinasi oleh sekretaris komunitas 25+ yaitu Yohanes Indun .S. Pertemuan dilaksanakan di GKS Widya Mandala dengan langkah-langkah sebagai berikut: doa bersama, membahas kegiatan yang akan dilakukan, ngobrol santai dan ditutup doa. Komunitas ini juga seringkali mengadakan kegiatan salah satunya adalah ziarah ke Gua Maria Tritis pada tanggal 8 Desember 2013. Kegiatan ini bertema “Wisata Rohani spesial edisi Advent” dengan tujuan untuk menghormati Bunda Maria dan mengakrabkan setiap anggota. Sasarannya adalah anggota komunitas 25+ Kotabaru (Adhi Wiraswata, 2014: 2). h. PAPITA (Putra-putri Altar) Berdasarkan blog PAPITA Kotabaru (Arya dkk., 2013: 1), tanggal 28 Juni 2008 PAPITA Kotabaru telah mengadakan acara temu misdinar. Acara yang bertemakan “Temu Misdinar” ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan dan

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 silaturahmi antara PAPITA St. Antonius Kotabaru dengan PAPITA St. Yusup Cirebon. Sasarannya adalah anggota PAPITA St. Antonius Kotabaru dan St. Yusup Cirebon. Komunitas-komunitas tersebut adalah komunitas yang masih berjalan aktif sampai 3 tahun terakhir ini. Salah satu komunitas yang juga masih aktif sampai sekarang adalah PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik). Kegiatan yang didirikan dengan susah payah dan mengalami pasang surut ini ternyata tidak hanyut dan hilang begitu saja, sebaliknya malahan semakin berkembang dari hari ke hari, terlihat dari perkembangan jumlah anggota yang hadir dalam setiap kegiatan PDKK berlangsung. Mereka sangat antusias menyambut semua orang yang datang untuk bergabung dalam kegiatan doa di komunitas PDKK ini. B. PERSEKUTUAN DOA KHARISMATIK KATOLIK DI KOTABARU Persekutuan Doa Karismatik Katolik St. Antonius Kotabaru bukanlah suatu kegiatan yang didirikan hanya untuk mengisi waktu luang. Kegiatan ini sengaja didirikan untuk mengembangkan iman umat melalui Roh Kudus, maka dari itu, kegiatan PDKK memiliki struktur organisasi yang lengkap sesuai dengan fungsinya masing-masing. Selain itu, PDKK juga memiliki sejarah bagaimana berdirinya PDKK di Gereja St. Antonius Kotabaru dengan berbagai kesulitan dan tantangan yang dihadapinya. 1. Struktur Organisasi Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru selama 3 Tahun Terakhir Persekutuan Doa Karismatik Katolik adalah sebuah organisasi yang sangat terkoordinir. Organisasi ini memiliki pembagian tugas yang jelas bagi anggota

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 yang diberi kepercayaan untuk mengelola PDKK sehingga organisasi ini dapat terus berlanjut sampai saat ini, bahkan selalu berkembang setiap tahunnya. Bapak Beni Susanto koordinator PDKK Kotabaru menyatakan bahwa struktur organisasi Persekutuan Doa Karismatik Katolik Paroki Gereja St. Antonius Kotabaru adalah sebagai berikut [Lampiran 15: (18)]: Koordinator: Bapak Benny Susanto Wakil: Ibu Tini Indrayati Sekretaris: Ibu Leni Bendahara: Ibu Leli Sie liturgi: Ibu F. Yukie Sie Konsumsi: Ibu M. C. Naniek Setyawati Sie Pelayanan: Bapak Raymond Marcel Karyadi Sie Pemerhati: Bapak Hartono Sie Terima tamu: Ibu Darsini Sie Perkap: Bapak Andi Keterangan: • Koordinator memiliki tugas untuk mengecek semua personil yang dibutuhkan dalam setiap kegiatan PDKK. • Wakil koordinator memiliki peran membantu pekerjaan koordinator. • Sekretaris memiliki tanggung jawab untuk mencatat setiap kegiatan dan jumlah orang yang hadir setiap kegiatan. • Bendahara memiliki peran untuk menghitung jumlah anggaran yang keluar dan masuk.

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 • Sie liturgi bertanggung jawab untuk mempersiapkan segala hal saat PDKK bertugas di Gereja. • Sie konsumsi selalu bersiap menyediakan makanan untuk setiap kegiatan karismatik dan setiap setelah iabadat karismatik. • Sie pelayanan memiliki peran untuk mempersiapkan dan bertanggung jawab saat PDKK akan melaksanakan suatu kegiatan pelayanan. • Sie pemerhati, bertanggungjawab untuk memperhatikan berjalannya kegiatan. • Sie terima tamu, bertanggung jawab untuk mempersilakan semua anggota PDKK yang baru datang dalam suatu kegiatan. • Sie perkab, bertanggung jawab atas seluruh sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam setiap kegiatan termasuk saat ibadat karismatik. 2. Sejarah Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru Terbentuknya Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Gereja St. Antonius Kotabaru bermula dari inisiatif beberapa Tim Persekutuan Doa Karismatik Katolik dari Paroki Kumetiran yaitu: Ibu Bambang, Ibu Netty Lestari, Sdri. Yana, Sdri. Ratna, dan Sdr. Cipto. Semula, pihak Paroki Kotabaru tidak menyetujuinya, apalagi inisiatif ini bukan dari umat Paroki Kotabaru, namun kemudian, dengan berbagai cara dan pendekatan tanpa lelah, dengan cara turut serta dalam kegiatan di Paroki Kotabaru, akhirnya Pastor Paroki (Pastor Wiryapranata, SJ) menyetujui dan memberikan peluang bagi Persekutuan Doa Karismatik Katolik untuk “ada” di Paroki Kotabaru. Setelah itu, Pastor Notobudyo, Pr dan Tim Badan Pelayanan Persekutuan Doa Karismatik Katolik KAS diundang oleh beberapa Tim Persekutuan Doa Karismatik Katolik Kumetiran untuk memberikan informasi

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 tentang kegiatan tersebut pada tanggal 9 Januari 1983 di gereja St. Antonius Kotabaru. Kemudian, pada hari Selasa (11 Januari 1983), pertemuan perdana Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) dilaksanakan di Gedung Widya Mandala (Ben, 1999: 121). Dalam perjalanan selanjutnya, terjadi jatuh bangun pada Persekutuan Doa Karismatik Katolik Kotabaru. Umat yang hadir hanya terlihat banyak kalau ada acara besar seperti HUT PDKK atau Natal dan Paskah saja, sedangkan pada kegiatan rutin hanya sedikit yang hadir. Hal tersebut jadi terasa membosankan. Akhirnya, untuk menanggapi dan sebagai jalan keluar dari permasalahan tersebut, Bapak Frans Hudoro (salah satu anggota PDKK) mulai mengadakan pendekatan pada tiap pribadi untuk mengenalkan visi dan misi PDKK. Tidak hanya itu, ternyata Roh Kudus mengalir di tengah mereka dengan menggerakkan PDKK Bunda Elisabeth Puren dengan pembimbing Sr. Eligia, CB untuk membantu. Alhasil, PDKK St. Antonius Kotabaru perlahan-lahan terlihat perkembangannya, dan semakin dikenal oleh umat lain (Ben, 1999: 121). Melihat perjalanan PDKK St. Antonius Kotabaru sampai saat ini, tampak bahwa ada semangat dan motivasi dalam diri para tokoh dan atau para pemimpin tim serta anggota PDKK St. Antonius Kotabaru, sehingga masih mau bergabung dan ikut serta dalam kegiatan PDKK. Adapun semangat dan motivasi PDKK (Ben, 1999: 122) adalah: a. Mengalami kuasa Allah secara pribadi dalam hidup. Sentuhan kasih-Nya lewat kuasa Roh Kudus dialami secara khusus. Situasi ‘mengalami’ kasih Allah yang pribadi, memotivasi dirinya untuk mengajak orang lain agar ikut mengalami kasih Allah yang khusus dan pribadi. b. Mengalami suasana persaudaraan (fellowship) yang akrab dan saling paham antara yang satu dengan yang lain.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 c. Kerinduan berkumpul untuk memuji dan memuliakann Tuhan. Membalas kasih Tuhan dengan pujian dan penyembahan, yang dilakukan dengan bebas, baik itu dalam pertobatan, permohonan, maupun ungkapam syukur. d. Adanya kesaksian otentik dari beberapa peserta yang mengalami sendiri sentuhan kasih Allah, yang sifatnya menguatkan atau meneguhkan iman. e. Kerinduan untuk mengalami pencurahan Roh Kudus, terutama karunia penyembuhan. f. Keinginan untuk mengalami pembaharuan hidup iman. Persekutuan Doa Karismatik Katolik dirasakan sebagai salah satu wadah untuk meningkatkan kualitas hidup iman. g. Reaksi-reaksi yang positif dari umat yang belum mengenal Persekutuan Doa Karismatik Katolik terhadap kelompok doa ini, setelah melihat buahbuahnya yang baik. Kemudian termotivasi untuk mengenal lebih dekat apa itu Persekutuan Doa Karismatik Katolik, dan terlibat di dalamnya. 3. Kegiatan yang Dilakukan Persekutuan Doa Karismatik Kotabaru (PDKK) selama 1 Tahun Terakhir Persekutuan Doa Karismatik Katolik adalah suatu lembaga yang bersatu dengan Gereja. Lembaga ini berdiri untuk membantu umat dalam menemukan kesejatian Tuhan dalam doa. Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Gereja St. Antonius Kotabaru adalah salah satu bukti konkret bahwa tidak semua karismatik itu menentang ajaran Katolik. PDKK ini, menggunakan ritus-ritus yang masih mempertahankan tradisi Katolik yaitu dengan ritus ibadat. Selain itu, PDKK ini juga membuktikan bahwa mereka berdiri untuk berbagi kasih dengan sesama. PDKK tidak hanya berkumpul untuk ibadat, berdoa dan memuji Tuhan, tetapi mereka juga merancang kegiatan-kegiatan yang secara konkret dapat membantu orang-orang yang memang membutuhkan bantuan secara materi. Dalam PDKK ini seluruh anggota bersama-sama berdoa dan memuji Tuhan dengan bentuk ungkapan tubuh lebih bebas dan leluasa. Acara yang dilakukan adalah Acara Firman (mendengarkan Firman Tuhan dari Kitab Suci yang dibacakan), renungan, perjamuan kasih (makan bersama yang dilakukan setiap

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 selesai kegiatan PDKK), bakti sosial, Doa Taize, Doa Yesus, Sharing, Doa Rosario bersama (selama bulan Maria dan bulan Rosario), Praise and Worship, Pelayanan Doa, dan Retret Hidup Baru dalam Roh Kudus (Retret Awal) yang diadakan dua tahun sekali, kira-kira bulan September dan Februari. Dalam retret ini peserta diajak untuk mengalami dan merasakan kembali cinta kasih dari Allah dan pembaharuan hidup dalam Roh Kudus. Kegiatan lain yang juga dilakukan oleh PDKK adalah pendampingan PIA, berkunjung ke panti asuhan, ziarah bersama, liburan bersama, tugas Koor di Gereja St. Antonius Kotabaru dan Kebangunan Rohani Katolik (KRK). Semua kegiatan tersebut dilakukan secara bergantian sepanjang tahun sesuai dengan situasi yang tepat seperti bulan Rosario dan bulan Maria. PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik) St. Antonius Kotabaru selalu berusaha melakukan sesuatu yang terbaik bagi anggotanya dan bagi semua orang yang membutuhkan pelayanan, terutama bagi perkembangan Gereja untuk meningkatkan keaktifan hidup menggereja khususnya di Gereja At. Antonius Kotabaru, Yogyakarta [Lampiran 15: (19)]. 4. Langkah-langkah Pertemuan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Kotabaru Seperti yang telah diuraikan di atas, kegiatan doa dalam komunitas PDKK menggunakan ritus ibadat, jadi langkah-langkah yang terjadi dalam Persekutuan Doa Karismatik Katolik juga menggunakan model ibadat, walaupun seringkali PDKK mengundang pastor untuk datang memberikan Ekaristi. Ibadat yang dilakukan memang tidak persis sama dengan ibadat yang biasanya kita lakukan, tetapi lebih divariasi dengan lagu-lagu khas karismatik yang telah dipersiapkan oleh panitia dengan latihan-latihan sebelum kegiatan doa

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 dimulai. Lagu-lagu yang dipilih juga menggambarkan semangat dalam Roh Kudus. Dalam pelaksanaan PDKK, lagu-lagu memang lebih mendominasi. Lagu-lagu tersebut dipimpin oleh pemandu acara dan dilakukan secara bersama-sama dengan semua anggota yang hadir dengan gerakan-gerakan tubuh yang lebih bebas berekspresi. Langkah-langkah dalam PDKK di Gereja St. Antonius Kotabaru dapat dibandingkan dengan Pusat Musik Liturgi (2009: 287). ¾ Lagu pujian Lagu pujian digunakan sebagai lagu pembukaan kegiatan doa. Pada saat lagu pujian, umat dipimpin oleh pemandu acara menyanyikan dua lagu yang dipilih. ¾ Doa pembukaan Doa pembukaan dilakukan oleh pemandu dengan diiringi instrument, kemudian dilanjutkan dengan lagu penghantar tobat. ¾ Doa tobat Doa tobat menggunakan rumusan doa “Saya Mengaku”, yang didoakan bersama-sama. ¾ PA (Pemandu Acara) Pemandu acara Menghantar umat untuk mengungkapkan syukur kepada Allah secara spontan (secara bergantian). ¾ Penyembahan Penyembahan diiringi dengan lagu-lagu PDKK dan selama lagu tersebut, orang-orang yang mendapatkan anugerah Roh Kudus akan berbicara dengan bahasa Roh (khas karismatik).

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 ¾ Firman Pada saaat firman, maka salah seorang akan maju ke depan membacakan Injil (bila tidak ada imam) dilanjutkan dengan renungan dan kesaksian (dapat diisi sharing pengalaman). ¾ Kolekte diiringi dengan lagu persembahan ¾ Lagu penghantar doa umat Lagu penghantar doa umat dinyanyikan bersama-sama. ¾ Doa umat Doa umat dilakukan dengan spontan dari seluruh umat secara bergantian, dan disinilah juga terjadi nubuat dan orang yang merasa menerima nubuat tersebut, akan mendaraskannya dengan suara lantang sehingga semua umat bisa mendengarkan. ¾ Doa Bapa Kami bersama-sama yang dilanjutkan Doa Salam Maria. ¾ Pengumuman dari sie Liturgi. ¾ Penutupan dengan lagu pujian yang dinyanyikan bersama-sama. ¾ Perjamuan Kasih Perjamuan kasih adalah acara makan bersama yang selalu dilakukan setelah kegiatan doa berakhir. C. PENELITIAN TENTANG PERANAN MENGIKUTI KEGIATAN PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK DI PAROKI ST. ANTONIUS KOTABARU TERHADAP KEAKTIFAN ANGGOTA DALAM HIDUP MENGGEREJA PDKK adalah salah satu kegiatan yang ada di dalam Gereja St. Antonius Kotabaru. Banyak umat masih mengalami keraguan tentang keberadaan PDKK

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 tersebut, maka dengan penelitian ini diharapkan dapat menjawab keraguan umat dan meneguhkan anggota PDKK untuk semakin berkembang dalam hidup menggereja. Untuk mengetahui situasi umum kegiatan persekutuan doa karismatik Katolik di paroki St. Antonius Kotabaru, penulis akan mengadakan sebuah penelitian terlebih dahulu. Metodologi penelitian yang akan penulis lakukan adalah sebagai berikut: 1. Tujuan penelitian a. Mengetahui gambaran sejauh mana peserta Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) aktif dalam hidup menggereja. b. Mencari jawaban bagaimana peranan mengikuti Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) terhadap keaktifan dalam hidup menggereja. 2. Manfaat penelitian a. Mendapatkan gambaran keaktifan anggota Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) dalam hidup menggereja. b. Mengetahui Peranan mengikuti Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) terhadap keaktifan dalam hidup menggereja. 3. Jenis penelitian Dilihat dari segi permasalahan yang diangkat dan tujuannya, maka penulis menggunakan penelitian yang bersifat “ex post facto” yaitu penelitian yang dilakukan untuk meneliti sesuatu yang sudah terjadi dan kemudian melihat

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 kebelakang untuk melihat faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut (Jamal, 2011:190). 4. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode survai. Sebelum melaksanakan penelitian, penulis melakukan metode survai dengan datang pada saat kegiatan doa PDKK dilaksanakan. Penulis melaksanakan metode survai ini selama 1 bulan dengan 4 kali pertemuan. Metode survai cocok dilakukan oleh penulis karena metode ini dapat dilakukan pada penelitian populasi besar maupun kecil. Adapun tujuannya adalah mengumpulkan informasi tentang variabel dari sekelompok obyek/populasi (Jamal, 2011: 44). 5. Tempat dan waktu pelaksanaan Penulis melaksanakan penelitian ini di Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) Gereja St. Antonius Kotabaru Keuskupan Agung Semarang yang diadakan setiap hari Selasa pukul 18.00 WIB di Gedung Widya Mandala. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2013 pada saat kegiatan PDKK sedang berlangsung. 6. Responden Penelitian Responden penelitian adalah seluruh anggota Persekutuan Doa Karismatik Katolik St. Antonius Kotabaru. Populasi penelitian adalah anggota PDKK di Gereja Kotabaru. Jumlah populasi keseluruhan kurang lebih 50 orang. Namun,

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 yang akan diteliti oleh penulis berjumlah 30 orang karena sebagian anggota PDKK adalah orang lansia (orang tua lanjut usia) yang sudah sulit untuk membaca dan menulis. Pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Menurut Sutrisno Hadi (1982: 91) dalam purposive sampling, pemilihan sekelompok subjek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Responden yang dipilih adalah anggota PDKK yang masih dapat membaca dan menulis dengan lancar. Dengan kriteria tersebut, maka ada 30 responden yang memenuhi krtiteria sebagai responden. 7. Instrumen Penelitian Jenis instrumen yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert. Sugiono (2010: 134) menyatakan bahwa skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Sesuai dengan penelitian yang dilaksanakan yaitu mengukur pengaruh PDKK terhadap keterlibatan anggotanya dalam hidup menggereja. Hal tersebut ditegaskan kembali oleh Riduwan (2007: 87) yang menyatakan bahwa skala Likert ini merupakan skala yang mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Maka, instrumen penelitian yang digunakan penulis untuk mengukur nilai variabel dalam penelitian ini adalah dengan metode berbentuk skala Likert.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 8. Variabel Penelitian Kisi-kisi variabel peranan mengikuti kegiatan kharismatik di Kotabaru terhadap keaktifan anggota dalam kegiatan menggereja adalah sebagai berikut: Tabel 1 Variabel penelitian No Variabel Aspek Indikator Jumlah item (1) (2) (3) (4) (5) 1. PD Kharismatik Katolik Kognitif Afektif Psikomotorik 2. Keaktifan dalam hidup menggereja Kognitif Afektif Psikomotorik Jumlah item keseluruhan 9. 1. Mampu mengetahui pengertian Persekutuan Doa Kharismatik Katolik. 2. Mampu memahami proses pelaksanaan kegiatan PDKK 3. Mampu memiliki kepekaan akan apa yang terjadi dalam PDKK. 4. Mampu bersyukur akan segala rahmat Tuhan melalui pelayanan pada sesama. 1. Memiliki pengertian apa itu Gereja. 2. Memiliki kepekaan terhadap apa yang terjadi dan apa yang ada di dalam Gereja. 3. Mampu dan mau menjadi pewarta kabar gembira di tengah masyarakat dan menjadi contoh bagi orang lain. 4. Mampu melakukan perubahan dari hidup yang kurang baik ke hidup yang lebih baik (rekonsiliasi). 1,2,3, 4,5,6,7 8,9,10,11 12,13,14,15 16,17,18 19,20,21 22,23,24,25 26,27,28,29,30 30 Teknik Pengumpulan Data Penulis menggunakan teknik reduksi. Reduksi adalah menganalisis data secara keseluruhan dan bagian terkecil dalam data yang memiliki makna dikaitkan dengan masalah penelitian. Kemudian, data yang diperoleh akan dikelompokkan berdasarkan pertanyaan yang telah disiapkan. Moleong (2011: 288) menyatakan

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 bahwa tujuan pengelompokkan tersebut adalah untuk menemukan arti data dengan menarik hubungan-hubungan sesuai permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian. D. HASIL PENELITIAN Dalam bagian ini, penulis akan memaparkan hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan. 1. Gambaran Peranan Mengikuti Kegiatan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru Keuskupan Agung Semarang Terhadap Keaktifan Anggota dalam Hidup Menggereja Gambaran Peranan Mengikuti Kegiatan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru Keuskupan Agung Semarang terhadap Keaktifan Anggota Dalam Hidup Menggereja adalah mengenai pengertian Persekutuan Doa Karismatik Katolik, proses pelaksanaan kegiatan PDKK, kepekaan akan apa yang terjadi dalam PDKK, dan kemampuan bersyukur akan segala rahmat Tuhan yang diterima pada melalui pelayanan pada sesama. Tabel 2 Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) (N=30) No Item (1) 1. 2. Pernyataan (2) Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) adalah sarana yang digunakan untuk mengembangkan iman kepada Kristus. PDKK selalu mengutamakan peranan Roh Kudus. Alternatif jawaban (3) (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju Jumlah (4) 12 18 0 0 13 16 1 0 Persen (%) (5) 40 60 43.3 53.3 3.4 -

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 (1) 3. (2) Semua anggota Karismatik dapat mendaraskan Bahasa Roh. 4. Kegiatan PDKK menggunakan banyak lagu dengan gerakan sebagai ungkapan iman. 5. Kegiatan PDKK menggunakan kerangka ibadat. 6. Doa umat selalu mengikutsertakan umat untuk dengan spontan mengungkapkan doanya. 7. Dapat mempersiapkan kegiatan PDKK. 8. Kegiatan PDKK membuat orang semakin merindukan Tuhan. 9. Dengan mengikuti kegiatan PDKK, umat semakin rajin ke Gereja. 10. Saya merasakan Roh Kudus benarbenar hadir dalam PDKK. 11. PDKK membuat saya menjadi lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. 12. Saya dapat menjadi Pemandu Umat dalam kegiatan PDKK. 13. PDKK mendorong saya untuk lebih melayani sesama saya yang membutuhkan bantuan. 14. Saya mau menjadi relawan. 15. Saya mau memberi sumbangan kepada korban bencana alam. (3) (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) 1 8 19 1 6 22 2 0 9 20 1 0 10 20 0 0 3 19 6 2 11 19 0 0 6 24 0 0 10 20 0 0 6 22 1 1 1 19 8 2 6 24 0 0 2 23 5 0 4 26 0 0 (5) 4 28 64 4 20 73.3 6.7 30 66.7 3.3 33.3 66.7 10 63.3 20 6.7 36.7 63.3 20 80 33.3 66.7 20 73.4 3.3 3.3 3.3 63.3 26.7 6.7 20 80 6.7 76.6 16.7 0 13.3 86.7 0 0

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 Hasil penelitian menyatakan bahwa kebanyakan dari responden memilih setuju untuk hampir semua pernyataan dari nomor 1 sampai 13. Pada item 1, ada 18 responden yang memilih setuju (60%). Hal tersebut menyatakan responden yakin bahwa PDKK adalah sarana untuk mengembangkan iman umat. Hal ini positif karena tidak ada yang memilih kurang setuju (0%) dan tidak setuju (0%). Pada item 2, terdapat 16 responden yang memilih setuju (53,3%), namun ada 1 responden yang tampak ragu-ragu dan memilih kurang setuju (3,3%) dengan pernyataan tersebut. Dilihat dari persentase yang ada, secara garis besar, responden setuju dengan pernyataan PDKK selalu mengutamakan peranan Roh Kudus. Pada pernyataan di item 3, ada 19 responden yang memilih jawaban kurang setuju (63,3%), 1 responden menjawab tidak setuju (3,3%) Hal tersebut menunjukkan bahwa secara garis besar responden kurang menyetujui akan pertanyaan bahwa semua anggota PDKK dapat mendaraskan bahasa Roh. Pada item ke-4, ada 22 responden yang memilih jawaban setuju (73,3%), dan tidak ada yang memilih tidak setuju (0%), maka dapat disimpulkan bahwa responden setuju dengan pernyataan item nomor 4 yaitu kegiatan PDKK menggunakan banyak lagu dengan gerakan sebagai ungkapan iman. Ada 20 responden yang memilih jawaban setuju (66,7%) untuk item nomor 5 dan 1 responden menjawab kurang setuju (3,3%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara keseluruhan responden setuju pada pernyataan kegiatan PDKK menggunakan kerangka ibadat. Walaupun ada yang tampak ragu-ragu. Dalam pernyataan item nomor 6, ada 20 responden yang memilih jawaban setuju (77,7%) Tidak ada yang memilih jawaban kurang setuju dan tidak setuju

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 (0%). Dari hasil tersebut menunjukkan responden setuju bahwa doa umat selalu mengikutsertakan umat untuk dengan spontan mengungkapkan doanya. Dan responden juga sudah turut serta dalam doa umat secara spontan. Pada item nomor 7, ada 19 responden yang setuju (63,3%) bahwa mereka dapat mempersiapkan kegiatan PDKK dan ada 2 orang yang tidak menyanggupinya (6,7%). Dengan begitu berarti secara keseluruhan responden dapat mempersiapkan kegiatan PDKK. Item nomor 8 sungguh mendapatkan respon dari responden, karena ada 19 orang yang menyatakan setuju (63,3%) dan tidak ada satupun responden yang ragu-ragu dan tidak setuju (0%). Hal tersebut menunjukkan semua responden setuju bahwa kegiatan PDKK membuat orang semakin merindukan Tuhan. Semua responden merasakan kerinduan tersebut. Semua responden menyetujui item nomor 9 yaitu dengan mengikuti PDKK, umat semakin rajin ke Gereja. Ada yang yakin, bahkan sangat yakin yaitu 24 orang menyatakan yakin (80%) dan 6 responden yang sangat yakin (20%). Hal tersebut memperlihatkan bahwa responden merasa dengan mengikuti PDKK, semakin termotivasi untuk pergi ke Gereja. Selanjutnya, pada item nomor 10, ada 20 responden yang setuju (66,7%) bahwa mereka merasakan Roh Kudus benar-benar hadir dalam PDKK. Bahkan ada 10 responden yang sangat yakin dengan pernyataan tersebut (33,3%).. Semua merasakan bahwa Roh Kudus benar-benar hadir di tengah mereka saat PDKK. Pada item nomor 11, ada 22 responden yang menyatakan yakin (73,3%) bahwa mengikuti PDKK mendorong mereka untuk lebih peduli terhadap

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 lingkungan sekitar. Namun, ada 1 responden merasa ragu-ragu dan 1 responden tidak terdorong untuk peduli pada lingkungan sekitar dengan mengikuti PDKK. Secara garis besar, responden setuju dengan pernyataan bahwa PDKK membuat saya menjadi lebih peduli terhada lingkungan sekitar. Item nomor 12, menyatakan bahwa responden dapat menjadi pemandu dalam PDKK. Memang ada yang menyadari diri bahwa mereka kurang mampu untuk menjadi seorang pemandu dalam PDKK namun ada 19 responden yang setuju bahwa mereka dapat menjadi pemandu dalam PDKK (63,3%), dan ada 1 orang yang sangat setuju dan yakin bahwa dia dapat menjadi pemandu dalam PDKK. Pada item nomor 13, responden tampak antusias dengan pernyataan bahwa PDKK mendorong responden untuk lebih melayani sesama yang membutuhkan bantuan. Ada 24 reponden yang menyatakan setuju (80%) dan 6 responden yang sangat setuju (20%). Pada item nomor 14, ada 23 responden menyatakan mau dan setuju untuk menjadi relawan (76,7%), dan ada 2 orang yang sangat setuju untuk menjadi relawan (6,7%). Akhirnya, pada item nomor 15, ada 26 responden yang setuju (86,7%) untuk memberikan sumbangan pada korban bencana alam, dan tidak ada satupun responden yang ragu-ragu atau tidak setuju untuk memberikan sumbangan (0%). Semuanya mendukung untuk memberikan sumbangan pada korban bencana alam. 2. Keaktifan dalam Hidup Menggereja Di dalam bagian ini, penulis akan memaparkan bahwa keikutsertaan umat menjadi anggota PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik) diharapkan dapat meningkatkan keaktifan anggota PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik)

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 dalam hidup menggereja. Untuk mengetahui seberapa besar peranan PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik) terhadap keaktifan anggota dalam hidup menggereja, maka penulis akan memaparkan secara kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan dan gagasan) dan sikap (aksi konkret) tentang keaktifan anggota dalam hidup menggereja. Di bawah ini akan diuraikan tentang hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan oleh penulis terhadap 30 anggota Persekutuan Doa Karismatik Katolik di St. Antonius Kotabaru: Tabel 3 Pengertian Gereja dan Kepekaan terhadap Segala Hal di dalam Gereja N=30 No Item (1) 16. Pernyataan (2) Gereja adalah gedung dimana umat Katolik menjalankan kewajiban agamanya. 17. Persekutuan umat yang percaya kepada Kristus disebut Gereja. 18. Gereja dapat digunakan untuk mencari penghasilan. 19. Saya merasa Yesus masuk ke dalam hati saya ketika saya makan Hosti. 20. Damai sejahtera ada di dalam hati saya sepulang dari Gereja. 21. Yesus hadir dalam Konsekrasi pada Doa Syukur Agung. Alternatif jawaban (3) (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju Jumlah (4) 10 23 6 1 10 17 3 0 0 1 9 20 22 8 0 0 13 16 1 0 18 11 1 0 Persen (%) (5) 30 76.7 20 3.3 33.3 56.7 10 3.3 30 66.7 73.3 26.7 43.3 53.4 3.3 60 36.7 3.3 - Pada item nomor 16, ada 26 responden yang menyatakan setuju (76,7%) dengan pernyataan Gereja adalah gedung dimana umat Katolik menjalankan kewajiban agamanya. Dan ada 1 responden yang tidak setuju (3,3%).

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 Kemudian, pada item nomor 17, terdapat 17 responden yang menyatakan setuju (56,7%) dengan pernyataan bahwa persekutuan umat yang percaya kepada Kristus disebut Gereja. Dan tidak ada satupun responden yang memilih tidak setuju (0%). Secara keseluruhan maka dapat dikatakan bahwa responden setuju dengan pernyataan pada item 17. Selanjutnya, ada 20 responden yang menyatakan tidak setuju (66,7%), dan 1 responden setuju (3,3%) dengan pernyataan pada item 18 bahwa Gereja dapat digunakan untuk mencari penghasilan. Berarti, secara garis besar, responden merasa tidak setuju dengan pernyataan tersebut, karena responden merasa gereja adalah tempat untuk beribadah. Pada item nomor 19, terdapat 22 responden yang menjawab sangat setuju (73,3%) dan Tidak ada responden yang meragukan adan tidak merasakan kehadiran Yesus (0%). Hal tersebut menunjukkan bahwa semua responden benarbenar merasakan Yesus yang masuk ke dalam hati ketika makan Hosti. Lalu, pada item yang ke-20, ada 16 responden yang setuju (53,3%) bahwa mereka merasakan damai di dalam hatinya sepulang dari Gereja. namun ada 1 responden yang masih kurang setuju (3,3%) karena dia belum merasakan damai sepulang dari Gereja. Pada item nomor 21, ada 18 responden menyatakan sangat setuju (60%) bahwa mereka merasakan kehadiran Yesus dalam konsekrasi pada Doa Syukur Agung. Itu berarti mereka benar-benar merasakan kehadiran Yesus. Namun 1 responden yang kurang setuju (3,3%) karena belum merasakan kehadiran Yesus.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Tabel 4 Kemampuan dan Kemauan Menjadi Pewarta Kabar Gembira di Tengah Masyarakat dan Menjadi Contoh Bagi Orang Lain N=30 No Item (1) 22. Pernyataan (2) Berani membuat tanda salib di manapun saya berada. 23. Berdoa menjadi keutamaan dalam menjalani aktivitas hidup seharihari. 24. Berpartisipasi dalam kegiatan Gereja untuk mempersiapkan calon komuni pertama. 25. Ikut serta dalam kerja bakti di Gereja untuk menyambut Paskah. Alternatif jawaban (3) (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju Jumlah (4) 19 10 1 0 16 14 0 0 4 16 8 2 2 25 2 1 Persen (%) (5) 63.4 33.3 3.3 53.3 46.7 13.3 53.3 26.7 6.7 6.7 83.3 6.7 3.3 Pada item 22, ada 19 responden menyatakan sangat setuju untuk berani membuat tanda salib di manapun berada (63,3%). Namun ada 1 responden yang kurang berani untuk membuat tanda salib dimanapun dia berada (3,3%). Pada item 23, ada 16 responden merasa sangat setuju (53,3%) dan 14 responden yang merasa setuju (46,7%) bahwa berdoa menjadi keutamaan dalam menjalani aktivitas hidup sehari-hari. Tidak ada responden yang meragukan pernyataan tersebut dan tidak setuju. Hal ini menunjukkan bahwa semua responden menjadikan berdoa sebagai keutamaan dalam menjalani aktivitas. Kemudian, pada item 24, ada 16 responden menyatakan setuju (53,3%) dan 2 reponden menyatakan tidak setuju (6,7%). Hal tersebut menyatakan bahwa tidak

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 semua responden mampu berpartisipasi dalam kegiatan gereja dengan cara mempersiapkan calon komuni pertama. Hal tersebut memang memerlukan bekal yang cukup banyak. Namun sebagian besar menyatakan setuju untuk berpartisipasi. Pada item 25, ada 25 responden setuju (83,3%) untuk ikut serta dalam kerja bakti menyambut Paskah, dan 1 responden tidak setuju (3,3%) karena merasa tidak sanggup yang disebabkan faktor usia dan kesehatan yang semakin menurun. Tabel 5 Kemampuan melakukan perubahan dari hidup yang kurang baik ke hidup yang lebih baik (rekonsiliasi) N=30 No Item (1) 26. Pernyataan (2) Saya adalah anggota Gereja yang peka. 27. Berani meminta maaf kepada orang yang disakiti. 28. Perubahan tingkah laku saya membuahkan kedamaian di tengah masyarakat tempat saya tinggal. 29. Ada dukungan dari lingkungan sekitar saya yang membuat saya rajin ke Gereja. 30. Saya mengaku dosa dan melaksanakan penitensi tobat saya secara konkret. Alternatif jawaban (3) (4) Sangat setuju (3) Setuju (2)Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2) Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2)Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2)Kurang setuju (1) tidak setuju (4) Sangat setuju (3) Setuju (2)Kurang setuju (1) tidak setuju Jumlah (4) 2 22 4 2 12 17 1 0 7 21 2 0 2 20 6 2 10 17 2 1 Persen (%) (5) 6.7 73.3 13.3 6.7 40 56.7 3.3 23.3 70 6.7 6.6 66.7 20 6.7 33.3 56.7 6.7 3.3 Ada 22 responden yang setuju (73,3%) bahwa dia adalah anggota Gereja yang peka (item 26). Ada 2 responden yang sangat setuju (6,7%) bahwa mereka

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 sudah menjadi anggota Gereja yang peka, hal tersebut berarti 2 responden tersebut bukanlah anggota Gereja yang peka. Selanjutnya, pada item 27, terdapat 17 responden menyatakan setuju (56,7%) bahwa mereka berani meminta maaf kepada orang yang disakiti. Tidak ada responden yang memilih jawaban tidak setuju (0%) Pada item 28, ada 21 responden yang setuju (70%) dengan pernyataan bahwa perubahan tingkah lakunya dapat membawa kedamaian kepada masyarakat tempat dia tinggal. Ternyata PDKK membuat tingkah laku mereka berubah dan membawa kedamaian bagi masyarakat mereka. Namun, ada 2 responden yang kurang setuju (6,7%) karena mereka belum mengalami perubahan tingkah laku yang membawa kedamaian. Secara keseluruhan, responden setuju bahwa dengan ikut PDKK, responden bisa membawa kedamaian bagi masyarakat, walaupun ada beberapa yang belum mengalaminya. Kemudian, pada item 29, terdapat 20 responden menyatakan setuju (66,7%) bahwa mereka mendapatkan dukungan dari lingkungan tempat tinggalnya sehingga dapat membuat mereka untuk rajin ke gereja dan 2 responden tidak setuju (6,7%). Pada item yang terakhir yaitu item 30, ada 17 responden yang menyatakan setuju (56,7%). Hal tersebut berarti mereka mengaku dosa dan melaksanakan penitensi tobatnya secara konkret dalam kehidupannya. Namun, ada 1 responden yang tidak setuju (3,3%) jadi responden ini kemungkinan tidak pernah mengaku dosa dan tidak pernah menjalankan penitensi tobatnya secara konkret.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 E. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Setelah mengetahui hasil penelitian dari 30 responden, maka penulis akan menguraikan pembahasan dari hasil penelitian di atas sebagai berikut: 1. Gambaran Peranan Mengikuti Kegiatan Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru Keuskupan Agung Semarang Terhadap Keaktifan Anggota Dalam Hidup Menggereja Hasil pada tabel 2 menunjukkan bahwa rata-rata anggota sudah memiliki pengetahuan tentang PDKK. Anggota kebanyakan sudah mengetahui bahwa PDKK adalah sarana yang digunakan untuk mengembangkan iman. Hal itu terbukti ada 18 (60%) anggota menyetujui pernyataan tersebut, dan ada 12 (40%) anggota yang sangat setuju. Para anggota juga menyadari bahwa PDKK selalu mengutamakan peranan Roh Kudus di dalam setiap kegiatannya. Ada 16 (53,3%) anggota sangat merasakan karya Roh Kudus tersebut. Namun ada 1 anggota meragukan peranan Roh Kudus dalam setiap kegiatan PDKK. Sebaiknya diberikan penjelasan lebih lanjut agar seluruh anggota benar-benar yakin bahwa Roh Kudus datang dan menaungi dalam setiap kegiatan PDKK. Kekhasan dari PDKK adalah bahasa roh yang diyakini berasal dari Roh Allah sendiri, namun tidak semua anggota dapat mendaraskannya. Hal tersebut terbukti ada 19 (63,3%) anggota yang meragukan kemampuannya mendaraskan bahasa roh, namun ada 1 (3,3%) anggota yang dengan yakin menyatakan semua anggota PDKK dapat mendaraskan bahasa roh dan ini adalah pemahaman yang keliru. Dari pernyataan tersebut, maka perlu diberikan pemahaman kepada anggota

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 tentang bahasa roh. Kegiatan PDKK yang menggunakan ritus ibadat memang berbeda dengan ibadat yang biasa kita lakukan. Dalam PDKK terdapat banyak gerak dan lagu yang dinyanyikan bersama-sama. Para anggota sangat mengetahui hal tersebut berdasarkan pengalaman mereka mengikuti PDKK, terbukti dengan adanya 22 (66,7%) anggota mengalami hal tersebut, namun ada 2 (6,7%) anggota yang ragu-ragu. Kesimpulannya, 2 anggota ini perlu mengikuti PDKK dengan lebih rajin lagi. PDKK menggunakan kerangka ibadat dalam pelaksanaan kegiatannya. 20 (66,7%) anggota telah mengetahuinya dengan baik, namun ada 1 (3,3%) anggota yang meragukannya, maka sebaiknya anggota diberikan susunan acara dalam setiap kegiatan, sehingga menyadari bahwa PDKK menggunakan kerangka ibadat untuk mempertahankan kekatolikannya. Dalam kegiatannya, PDKK selalu mengikutsertakan anggota dalam doa umat. Ada 20 (66,7%) anggota yang menyatakan bahwa mereka ikut ambil bagian dan 10 (33,3%) anggota sangat antusias dalam berpartisipasi. Kegiatan PDKK selalu tampak dipersiapkan dengan baik dalam setiap kegiatannya. Hal tersebut dirasakan oleh anggota. Ada 19 (63,3%) anggota yang menyatakan dapat mempersiapkan kegiatan PDKK dengan baik, namun ada 2 (6,7%) anggota yang menyatakan tidak dapat mempersiapkan kegiatan PDKK. Sebenarnya, cara mempersiapkan ibadat PDKK dapat dipelajari, maka sebaiknya diberikan pelatihan bagi yang ingin berlatih mempersipakan kegiatan PDKK. Dalam setiap kegiatannya, PDKK tidak pernah kehilangan anggotanya, para anggota merasakan kerinduan yang mendalam kepada Tuhan dengan mengikuti

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 kegiatan ini. Semua anggota merasakan hal yang sama, terlihat dari hasil penelitian ada 19 (63,3%) anggota yang merindukan Tuhan dan bahkan 11 (36,7%) anggota sangat merindukan Tuhan dengan mengikuti kegiatan PDKK. Kesimpulannya, kegiatan ini perlu dilestarikan, diteruskan untuk mengembangkan Gereja. Akibat dari kerinduan mendalam kepada Tuhan, 24 (80%) anggota menyatakan bahwa mereka semakin rajin ke Gereja, dan bahkan 6 (20%) anggota menjadi rajin sekali ke Gereja. Hal yag dapat dipetik adalah bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi umat dan mendorong mereka untuk lebih dekat dengan Tuhan dalam persekutuan sebagai Gereja. Anggota PDKK juga merasakan Roh Kudus yang sama seperti yang diterima oleh para rasul. Dalam setiap kegiatan PDKK, 20 (66,7%) anggota merasakan kehadiran Roh Kudus di tengah mereka, dan 10 (33,3%) anggota sangat percaya dan merasakan kehadiran Roh Kudus itu. Kesimpulannya, Roh kudus benar-benar bekerja dan berkarya di tengah umat manusia, khususnya Gereja. PDKK tidak berhenti pada doa saja, namun juga berlanjut pada tindakan nyata dalam keseharian. 22 (73,3%) anggota merasa digerakkan oleh Roh Kudus untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar, namun sungguh disesalkan ada 1 (3,3%) anggota yang tidak menjadi lebih peka dengan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa Roh Kudus berkarya pada ladang yang telah siap ditanam, namun tidak akan berbuah jika seseorang itu belum menyiapkan ladangnya untuk karya Roh Kudus. Setiap orang harus belajar membuka diri bagi Tuhan. Dalam PDKK, anggota selalu dipandu oleh pemandu acara (PA). Memang bukan orang sembarangan yang dapat menjadi PA, namun dari pengalaman

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 anggota, ada 19 (63,3%) anggota menyatakan siapa untuk menjadi seorang PA dan bahkan ada 1 (3,3) anggota yang sangat siap. Hal ini menunjukkan besarnya minat dan keinginan anggota untuk terjun sebagai anggota yang aktif ikut menghidupkan PDKK, hal itu sungguh sangat baik untuk dikembangkan. Melayani ada suatu tindakan yang diajarkan oleh Yesus sendiri. para anggota PDKK, sangat menyadari hal itu terbukti ada 24 orang terdorong untukk melayani sesama dan bahkan 6 anggota sangat terdorong untuk melayani dan membantu sesama yang menderita. PDKK telah memberikan pengaruh baik bagi para anggotanya. Walaupun mereka adalah orang tua, namun apabila ada musibah, 23 (76,7%) mereka siap menjadi relawan. Dan 2 orang bahkan sangat siap. Dan mereka juga mau memberikan sumbangan secara sukarela. Anggota PDKK menyadari bahwa membantu sesama ada sesuatu yang diajarkan Yesus tanpa andang bulu. Ada 26 (86,7%) anggota bersedia membantu dan memberikan sumbangan kepada korban bencana alam dan 4 (13,3%) anggota sangat siap memberikan sumbangan. 2. Keaktifan dalam Hidup Menggereja Dalam tabel 3, tampak bahwa anggota PDKK telah menunjukkan keaktifan dalam hidup menggereja. Gereja bukanlah sekedar gedung yang digunakan untuk beribadah orang Katolik, namun lebih kepada persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus. namun ternyata ada 23 (76,7%) anggota PDKK yang masih merasa Gereja adalah gedung. Hanya 1 (3,3%)anggota yang memahami Gereja lebih dari sekedar temat ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa diperlukan pertemuan khusus yang berisi pemahaman tentang Gereja sehingga sebagai anggota PDKK dan sebagai anggota Gereja semakin memahami peranannya.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Rata-rata anggota sangat mengetahui bahwa persekutuan umat yang percaya kepada Yesus disebut Gereja. Hal ini terbukti dengan adanya 17 (56,7%) anggota yang mengetahui hal itu. Namun, ada 3 (10%) anggota yang masih meragukan pernyataan tersebut. Perlu diberikan suatu pertemuan dalam PDKK yang dengan tema Gereja, sehingga semakin memperkuat keyakinan setiap anggota Gereja tentang jati dirinya. Sebagaimana makna Gereja sebagai persekutuan umat beriman, maka hampir semua anggota PDKK menyatakan tidaklah baik jika Gereja dipandang sebagai tempat untuk mencari penghasilan. Namun ada 1 (3,3%) yang memandang Gereja sebagai temapt mencari penghasilan. Ini sangat disayangkan dan diperlukan bantuan dari anggota PDKK lainnya untuk menyadarkan dan memberikan pemahaman tentang Gereja. Anggota PDKK menyadari dan percaya bahwa hosti yang diterima saat misa kudus adalah Yesus sendiri. 18 (60%) anggota benar-benar merasakan Yesus yang memasuki hati mereka saat menyambut hosti, dan bahkan 12 (43,3%) anggota sungguh sangat merasakan Yesus. Damai yang diberikan Yesus begitu nyata dalam hati umatnya, apalagi sepulangnya kita dari perayaan ekaristi. Hampir semua anggota PDKK merasakan damai Tuhan. Terbukti ada 16 (53,3%) anggota menyetujui pernyataan tersebut karena mengalami hal serupa, namun sayangnya, masih ada 1 (3,3%) orang anggota yang meragukan damai Yesus atau mungkin meragukan datangnya kedamaian yang dari Yesus sendiri. Sebelum menerima hosti kudus dalam perayaan ekaristi terdapat Doa Syukur Agung (DSA). Di dalam DSA ada bagian konsekrasi, dimana roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Yesus. 18 (60%) anggota sangat percaya bahwa Yesus hadir pada saat tersebut, namun ada 1 (3,3%) anggota PDKK yang masih meragukan kehadiran Yesus dalam konsekrasi. Hal menunjukkan diperlukan

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 suatu pertemuan untuk membahas tentang ekaristi yang menjadi kehidupan bagi umat Katolik. Selanjutnya, tabel 4 menunjukkan bahwa anggota PDKK sudah memiliki kemampuan dan kemauan menjadi pewarta kabar gembira di tengah masyarakat dan menjadi contoh bagi orang lain. Hal ini dibuktikan dengan adanya 19 (63,3%) anggota PDKK yang sangat berani untuk membuat tanda salib di manapun mereka berada, tanpa malu-malu. Namun memang ada 1 (3,3%) anggota PDKK yang masih ragu-ragu untuk membuat tanda salib di tempat umum. Sebagai anggota PDKK mereka semua menyadari bahwa doa adalah bagian dari hidup mereka. Hal ini tampak dengan adanya 16 (53,3%) anggota yang sangat menjadikan doa sebagai keutamaan dalam menjalani aktivitas hidup sehari-hari, didukung dengan 14 (46,3%) anggota yang juga menyetujui hal itu. PDKK sebagai bentuk hidup menggereja juga ikut membantu dalam kegiatan menggereja lainnya. Anggota PDKK menyadari hal itu dengan adanya 16 (53,3%) anggota yang mau berpartisipasi dalam mempersiapkan calon komuni pertama, namun memang ada 2 (6,7%) anggota yang tidak mau membantu dalam persiapan komuni pertama, dikarenakan faktor usia. Selain itu, pada saat menjelang Paskah, umat sebagai Gereja mengadakan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan gereja. Anggota PDKK juga menyadari hal itu dan mau ikutserta di dalamnya. Hal ini dibuktikan dengan ada 25 (83,3%) anggota yang menyatakan kesanggupannya ikut kerja bakti, namun memang ada 1 (3,3%) anggota yang tidak mau, diduga karena faktor usia. Pada tabel yang terakhir yaitu tabel 5, anggota PDKK sudah menunjukkan kemampuan mereka melakukan perubahan dari hidup yang kurang baik ke hidup

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 yang lebih baik (rekonsiliasi). Rata-rata anggota sudah menjadi anggota Gereja yang peka. 22 (73,3%) anggota menyatakan perubahannya, namun memang ada 2 (6,7%) anggota yang masih belum bias berubah lebih peka. Diperlukan adanya pelatihan untuk mengasah hati agar lebih peka kepada orang lain. Di samping kepekaan, dengan mengikuti PDKK juga para anggota belajar untuk memaafkan orang lain. Hampir semua anggota sudah dapat melakukannya. Ada 17 (56,7%) anggota yang sudah dapat melakukannya, namun ada 1 (3,3%) anggota yang masih ragu-ragu untuk mencoba. Perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik biasanya membuahkan kedamaian di lingkungan sekitar. Begitu pula yang dirasakan dan dialami oleh anggota PDKK. 21 (70%) anggota PDKK sudah merasakan hal itu, walaupun ada 2 (6,7%) anggota yang masih ragu-ragu. Lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia yang baik pula. Begitu juga dengan anggota PDKK. 20 (66,7%) dari mereka menyatakan bahwa keadaan lingkungan mereka sangat mendukung mereka untuk rajin ke Gereja, dan mereka merasakan hal itu. Namun, ada 2 (6,7%) anggota PDKK yang menyatakan bahwa sebenarnya lingkungan mereka tidak mendukung untuk rajin ke gereja. Dari pernyataan tersebut terdapat hal positif bahwa walaupun kondisi lingkungan tidak mendukung rajin ke Gereja, 2 orang ini tetap rajin ke Gereja. Manusia bukanlah makhluk sempurna yang terbebas dari kesalahan. Maka, dalam Gereja Katolik ada sakramen tobat sebagai sarana bagi umat untuk mengakukan dosanya kepada Tuhan melalui romo. Dalam setiap pengakuan dosa, ada penitensi atau denda dosa yang diberikan kepada si pengaku untuk

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 dilaksanakan, biasanya berupa doa dan perubahan tindakan. Semua anggota PDKK mengetahui hal ini dengan baik, terbukti 17 (56,7%) anggota yang menjalankan penitensinya dengan baik. Namun ada juga 1 (3,3%) anggota yang tidak menjalankan penitensinya dengan baik. Diperlukan suatu pertemuan dengan tema sakramen tobat sehingga anggota PDKK semakin mengerti belas kasih Allah kepada kita melalui sakramen tobat.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 BAB III KARISMATIK KATOLIK DALAM GEREJA Sakramen babtis mempersatukan umat Katolik dengan Tritunggal Mahakudus. Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus bersemayam dalam seseorang yang telah dibabtis, oleh karena itu, seseorang yang sudah dibabtis juga mengemban tiga tugas pokok Yesus, Putra Allah sebagai nabi (mewartakan), imam (menguduskan) dan raja (memimpin dan mempersatukan). Melakukan tiga tugas pokok sebagai nabi, imam dan raja bukanlah hal yang mudah, namun dengan bimbingan dari Roh Kudus tugas pokok sangat mungkin dilakukan. Seorang beriman dapat melakukan tugas tersebut dalam berbagai bentuk atau kegiatan yang mendukung terwujudnya tiga tugas itu. Sebagai umat Katolik rahmat yang diberikan oleh Allah Bapa ini berperan untuk mengembangkan Gereja. Rahmat ini digunakan sebagai dasar hidup menggereja dalam koinonia (persekutuan), leiturgia (liturgi), kerygma (pewartaan), diakonia (pelayanan) dan martyria (kesaksian). Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) memiliki peranan dalam mewujudkan kelima bentuk hidup menggereja tersebut dengan segala kegiatannya. A. KARISMATIK KATOLIK Persekutuan Doa Karismatik Katolik bukanlah nama yang diberikan sejak awal dari kegiatan ini. PDKK dimulai dengan nama Pentakosta Katolik kemudian berubah menjadi Karismatik Katolik, Gerakan Pembaruan Karismatik, lalu Pembaruan Karismatik Katolik dan akhirnya Persekutuan Doa Karismatik Katolik.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Walaupun menggunakan ritus ibadat, PDKK memiliki kekhasan, antara lain kesadaran akan karunia Roh Kudus dan bahasa Roh. Persekutuan Doa Karismatik Katolik memiliki dasar-dasar dari Tradisi Gereja yang mendukung terbentuknya kegiatan ini. Kegiatan ini bukanlah suatu kegiatan yang dibentuk karena kebetulan, namun benar-benar karena karya Roh Kudus yang memiliki sejarah umum dan sejarah khusus di Indonesia. 1. Sejarah Perkembangan Karismatik Dunia dan Indonesia PDKK bukanlah sebuah komunitas yang muncul secara mendadak, dan langsung menjadi komunitas yang diterima oleh umat Katolik. PDKK memiliki perjalanan panjang untuk sampai pada penerimaan di kalangan umat Katolik sendiri dengan segala perubahan yang disesuaikan dengan tradisi Gereja Katolik. PDKK memiliki sejarah dunia yang lebih luas dan sejarah perjalanan bagaimana PDKK bisa sampai ke Indonesia. a. Sejarah Perkembangan Karismatik Dunia Deshi Ramadhani (2008: 35) menyatakan tentang asal-usul pembaruan kharismatik katolik sering ditunjuk sebuah peristiwa khusus yakni “Duquesne Weekend” (akhir pekan di Duquesne). Yang dimaksud di sini adalah sebuah retret akhir pekan yang diadakan oleh mahasiswa-mahasiswi beserta beberapa dosen dari Universitas Duquesne di Pittsburg, Amerika Serikat, pada 16-18 Februari 1967. Tanggal itu kemudian dikenal sebagai tanggal lahirnya pembaruan Karismatik Katolik. Sebenarnya, pembaruan karismatik ini memiliki dua makna yaitu jawaban Tuhan dari doa Paus Yohanes XXIII dan pemenuhan dari salah satu dokumen Konsili Vatikan II sendiri yaitu Lumen Gentium art. 12.

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 1) Jawaban Tuhan dari Doa Paus Yohanes XXII Teks doa itu berbunyi demikian (Deshi Ramadhani, 2008: 60) : Perbaruilah kejaiban-kejaiban-Mu pada hari ini, sebagaimana halnya dengan sebuah Pentakosta yang baru. Berikanlah kepada Gereja-Mu, agar dengan bersatu hati dab bertekun dalam doa bersama Maria, Bunda Yesus, dan mengikuti pimpinan Petrus yang terberkati, Gereja mampu mempercepat kerajaan Penyelamat Illahi kami, kerajaan kebenaran dan keadilan, kerajaan kasih dan kedamaian. Amin. Pembaruan karismatik ini ternyata berawal dari sebuah buku yang dibaca oleh beberapa dosen Katolik di Universitas Daquesne Amerika Serikat dan beberapa imam. Buku ini berisi tentang pengalaman yang diceritakan oleh seorang Pendeta Pentakosta yaitu David Wilkerson. Dalam bukunya, ia yang berkarya di daerah dengan tingkat kriminalitas sangat tinggi berhasil melakukan pembabtisan Roh kepada para kriminal dan pencandu narkoba tersebut. Banyak orang mengalami pertobatan setelah pembabtisan Roh itu (Deshi Ramadhani, 2008: 48). Para dosen dan beberapa imam yang juga membaca buku itu menjadi sangat tertarik dan mengalami kerinduan akan roh yang sama, yaitu Roh Tuhan sendiri, namun mereka bingung harus berbuat apa. Mereka ingin mengalami Pentakosta tanpa merubah atau menentang tradisi Katolik (Deshi Ramadhani, 2008: 51). Mereka tetap ingin memperjuangkan identitas Katolik, sehingga pada akhirnya, mereka mengadakan pertemuan tersebut yang diisi dengan penumpangan tangan dan berdoa berdasarkan empat bab dalam Kisah Para Rasul. Dalam doa tersebut, diawali dari beberapa mahasiswa yang merasakan gerakan kuat dari kehadiran Yesus, akhirnya semua dari mereka merasakan kehadiran Yesus dan mereka hanya memuji sepanjang malam, berdoa bahkan menangis sebagai ungakapan syukur mereka atas kehadiran Roh Tuhan sendiri.

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Dalam proses kelahiran dan perkembangan Pembaruan Karismatik Katolik ada satu pengalaman penting yang dialami oleh banyak orang, yaitu pengalaman pertobatan setelah adanya pengalaman babtisan dalam Roh Kudus. Doa Paus yang sebelum Konsili ternyata langsung dijawab Tuhan setelah Konsili berakhir (Deshi Ramadhani, 2008: 61). 2) Pemenuhan dari Lumen Gentium art. 12 Deshi Ramadhani (2008: 62) menyatakan bahwa LG art. 12 berbunyi: Selain itu, Roh Kudus juga tidak hanya menyucikan dan membimbing Umat Allah melalui sakramen-sakramen serta pelayanan-pelayanan, dan menghiasnya dengan keutamaan-keutamaan saja. Melainkan Ia juga “membagi-bagikan” kurnia-kurnia-Nya “kepada masing-masing menurut kehendak-Nya” (1 Kor 12:11).......................”Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama” (1 Kor 12:7). Agar karunia tersebut dijalankan dan dilaksanakan dengan baik dan untuk kepentingan bersama, maka diberikanlah seeorang yang dapat dan memiliki wewenang untuk mengontrol dan menguji para penerima karunia, seperti yang dinyatakan dalam dokumen ini: Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang pengalamannya secara teratur, termasuk wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja. Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (1 Tes 5:12 dan 19-21). Deshi Ramadhani (2008: 64) menyatakan bahwa atas dasar dokumen Lumen Gentium akan karunia Roh Kudus yang merupakan rahmat dari Tuhan yang dibagikan kepada umat dan adanya para hirarki yang menjaga dan mempertahankan karunia tersebut, maka Paus Yohanes Paulus II memberikan pernyataan yang semakin mendukung untuk berdirinya gerakan karismatik yaitu sebagai berikut:

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Karena gerakan karismatik, sejumlah besar orang Kristiani, laki-laki dan perempuan, orang-orang muda dan orang-orang dewasa telah menemukan kembali Pentakosta sebagai sebuah kenyataan yang hidup dalam kehidupan mereka setiap hari. Saya berharap bahwa spiritualitas Pentakosta akan menyebar dalam Gereja sebagai sebuah dorongan yang diperbarui untuk doa, kekudusan, kesatuan, dan pewartaan (hal ini diucapkan beliau di lapangan St. Petrus pada tanggal 29 Mei 2004). Dukungan kuat dari pemimpin tertinggi umat Katolik, yaitu Paus telah mejadi dasar bagi para imam untuk mendampingi Gerakan Karismatik Katolik ini yang mulai berkembang ini. Paus mengharapkan, yang tersebar bukanlah melulu Gerakan Karismatiknya namun lebih pada dorongan yang lebih kuat ke arah halhal baik itu sebagai buah nyata yang dihasilkan bagi pembaruan Gereja seperti tujuan diberikannya karisma itu, untuk pembangunan Gereja (Deshi Ramadhani, 2008: 65). b. Sejarah Perkembangan Karismatik Indonesia Dalam buku yang berjudul Mungkinkah Karismatik Sungguh Katolik, Deshi Ramadhani (2008: 65) menyatakan bahwa titik awal Karismatik Katolik secara resmi di Indonesia pada tahun 1976. Sebelum itu (tahun 1972) beberapa orang sudah memperkenalkan gerakan ini secara sendiri-sendiri. Persekutuan doa karismatik ini sudah diperkenalkan oleh seorang suster yang bernama Sr. Bernadette, RGS di Susteran Gembala Baik Jakarta namun kegiatan ini dihentikan (tidak jelas kapan waktunya) sesuai dengan permintaan Mgr. Leo Sukoto, SJ yang juga pernah belajar dari persekutuan doa karismatik katolik Immanuel di Bribbane, Australia di bawah koordinasi Brian Smith. Persekutuan doa karismatik ini juga berkembang di Bandung dan Lembang yang dipimpin oleh Sr. Yohana, OCD namun dalam perjalanan muncul berbagai

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 persoalan. Pemimpin Karmel datang dari Roma, dan kepada Sr. Yohana diberikan dua pilihan: tetap tinggal dalam jalur spiritualitas Karmel atau pergi. Dan Sr. Yohana memilih keluar dari biara dan pergi ke Amerika Serikat padahal Sr. Yohana telah berinisiatif untuk mengundang Rm. Paul O’Brien, SJ (Superior SJ Thailand yang berdomisili di Bangkok) dan Rm. Herbert Schneider, SJ. (dosen Kitab Suci di Loyola School of Theology, Manila). Persekutuan doa ini juga ada Di Malang, Jawa Timur yang diusahakan oleh Rm. Yohanes Indrakusuma, O. Carm. Selain itu sebelum tahun 1976 sudah ada awam yang ikut dalam berbagai persekutuan doa karismatik yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Krisriani yang lain. Setelah Sr. Yohana pergi, usulan ini diambil alih oleh Mgr. Leo Soekoto, SJ dan meminta kepada kedua imam tersebut agar secara resmi memperkenalkan gerakan ini di Indonesia. Maka mulailah gerakan ini disusun dengan rangkaian pertemuan yang dimulai pada awal Mei 1976. Pertemuan ini berakhir pada tanggal 24-28 Mei 1976. Setelah selesainya pertemuan itu, dibentuklah sebuah kelompok inti yang terdiri dari 20 orang yang secara rutin mengadakan persekutuan doa ini, sehingga ada banyak umat yang tertarik dan peserta semakin bertambah banyak. Pada tahun 1983, Konferensi Wali Gereja Indonesia (waktu itu masih disebut sebagai MAWI) mengeluarkan dokumen resmi yang pertama yang berkaitan dengan pembaruan karismatik. Judul dokumen tersebut adalah Pedoman Pastoral Para Uskup Indonesia Mengenai Pembaruan Karismatik. Sepuluh tahun kemudian (1993) KWI mengeluarkan sebuah surat gembala berjudul Aneka Karunia, Satu Roh: Surat Gembala Mengenai Pembaruan Karismatik Katolik. Surat gembala tersebut ditujukan kepada semua pihak secara umum dalam dokumen ini dikatakan bahwa “Gereja sekarang memahami ‘Babtis

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 dalam Roh’ sebagai doa permohonan iman yang sungguh-sungguh agar berkat rahmat baptis dan krisma, hidup umat digairahkan dan dipenuhi dengan Roh Kudus”. Dua tahun kemudian (1995), KWI mengeluarkan sebuah dokumen yang berjudul Pembaruan Hidup Kristiani Sebagai Karisma Roh: Pedoman Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia. Dokumen ini khusus ditujukan kepada mereka yang sudah terlibat dalam Pembaruan karismatik. 2. Pengertian Karismatik Katolik dan Pergantian Nama Kata ‘karismatik’ berasal dari bahasa Yunani ‘kharis’. Istilah ‘kharis’ dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai ‘rahmat’. Istilah ‘kharisma’ diterjemahkan sebagai ‘karya atau karunia rahmat’. Sedangkan kharisma menurut St. Paulus memiliki tiga arti: rahmat yang mendasar yang dibutuhkan agar orang mengalami penebusan dan hidup abadi; pemberian khusus dari Allah; dan pemberian-pemberian Allah yang dibagi-bagikan diantara para anggota jemaat (Deshi Ramadhani, 2008: 175). Deshi Ramadhani (2008: 35) menyatakan bahwa istilah Persekutuan Doa Karismatik Katolik berawal dengan nama ‘Pentakosta Katolik’. Istilah ‘Pentakosta’ disini ingin menunjuk pada pengalaman Gereja Perdana sebagaimana dikisahkan dalam bab-bab pertama Kisah Para Rasul. Sebagaimana pada hari Pentakosta para Rasul menerima sebuah kekuatan baru untuk menjadi saksi-saksi kebangkitan, demikian pula Gereja Katolik mengalami kembali kekuatan yang sama secara baru. Dalam perkembangan selanjutnya, nama “Pentakosta Katolik” berubah menjadi “Karismatik Katolik”. Nama ‘karismatik’ bukanlah pilihan yang khas Katolik. Ketika Pentakostalisme berkembang, pengalaman Pentakosta bergerak

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 melampaui batas-batas Gereja. Unsur utama dalam pengalaman Pentakosta adalah manifestasi karunia-karunia Roh Kudus secara luar biasa. Karunia/karisma, sebagaimana dikisahkan di dalam Kis 2:1-17, dialami secara nyata oleh orangorang di zaman modern ini. Kemudian nama “Karismatik Katolik” berubah lagi menjadi “Gerakan Pembaruan Karismatik” (GPK). Kapan karismatik Katolik diganti dengan nama ‘Gerakan Pembaruan Karismatik’ tidak diketahui secara pasti. Dalam perkembangan, kata ‘gerakan’ tidak digunakan dan lebih menekankan pada kata ‘pembaruan’. ‘Karismatik’ tetap digunakan karena mengandung kekhasan pengalaman dan juga secara praktis lebih mudah digunakan untuk secara spesifik menunjuk segi pengalaman. Dalam konteks Indonesia, nama itu kemudian berubah lagi menjadi adalah “Pembaruan Karismatik Katolik” (PKK). Setelah berubah beberapa kali, maka nama bagi karismatik Katolik yang digunakan sekarang adalah Persekutuan Doa Karismatik Katolik. Merujuk pada sebuah skripsi tulisan Margaretha Suwartinah (1999: 79), nama Persekutuan Doa Karismatik Katolik dipilih karena salah satu unsur dasar dan tulang punggung pembaruan karismatik katolik adalah Persekutuan Doa Karismatik. Dasar PDKK mengacu pada Ensiklik Paus Yohanes Paulus II Dominum et Vivificantemart. 65 yaitu: Zaman kita yang sulit sekarang ini secara khusus membutuhkan doa ... Sejak beberapa tahun yang lalu terdapat sejumlah orang yang makin hari makin bertambah jumlahnya, baik dalam gerakan-gerakan maupun dalam kelompokkelompok yang selalu makin berkembang. Mereka memprioritaskan doa dan pembaharuan hidup rohani. Hal ini merupakan suatu fakta yang penuh arti dan hiburan, sebab berdasarkan pengalaman ini, doa benar-benar dapat dibangun kembali di tengah-tengah orang-orang beriman.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Ensiklik itu menunjukkan bahwa Bapa Paus sungguh menerima dan bahagia menyambut hadirnya Persekutuan Doa Karismatik Katolik yang memprioritaskan doa sebagai tanggapan dari karunia-karunia yang diberikan Roh Kudus. Pada umumnya, dalam PDKK umat mulai membagi-bagikan doa bersama dengan saudara mereka di bawah bimbingan Roh Kudus serta kesadaran akan kedatangan Yesus (Suwartinah,1999: 86). 3. Ciri Khas Karismatik: Buah-buah Roh dan Bahasa Roh a. Buah-buah Roh Gerakan karismatik berangkat dari mendasarkan diri pada roh kudus dan karisma rahmat roh kudus. Para karismatik percaya bahwa hanya roh-lah pemberi karunia karisma. Allah yang hidup menganugerahkan karisma kepada setiap orang beriman seturut kehendak-Nya, “hendaknya setiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan baginya” (1 Kor 7:17) dan setiap orang telah beroleh pengurapan dari Roh Kudus. Buah-buah Roh kudus adalah: berkata-kata dengan hikmat, berkata-kata dengan pengetahuan, karunia iman yang meliputi kuasa untuk mengadakan mukjizat, dan bernubuat, dan karunia pembeda roh yaitu karunia berbahasa roh dan menafsirkan bahasa roh “dan semuanya itu dikerjakan oleh roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakinya” (1 Kor 12:7-11). Karisma penyembuhan badani serta kerasulan kasih kemanusiaan berasal dari roh kudus. “Sebab roh yang sama memberikan karunia untuk menyembuhkan dan melakukan mukjizat” (1 Kor 12:9-13 ).

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Karya Roh Kudus semakin nampak bekerja menghasilkan buah-buah yang dapat dirasakan umat. Buah yang secara alami berbuah karena rahmat yang dari Roh Kudus sendiri. Buah-buah Roh menurut Gal 5:19-23adalah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kesetiaan, kelemah-lembutan, kebaikan, dan penguasaan diri. 1) Kasih Kasih (agape) merupakan buah pertama dan terutama, menjadi sumber mengalirnya semua buah yang lain (Gal 5:14; bdk. 1 Kor 13). Kasih merupakan “ukuran dan tujuan kemerdekaan”, sebab setiap orang beriman yang telah dibebaskan dari cengkraman hukum taurat, umat harus saling melayani dalam kasih dan ini menjadi ukuran bagaimana mereka mengasihi sesamanya. Kasih adalah rahmat yang melebihi semua karunia rohani, melebihi iman dan harapan sesuai dengan pernyataan dalam Kitab Suci pada 1 Kor 13:13, ”Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (Mariella dkk., 2009: 29). 2) Sukacita Sukacita ini biasanya berhubungan dengan Allah, sukacita religius. St. Paulus melukiskan sebagai sukacita dalam Tuhan pada suratnya kepada jemaat Filipi 2:13 yang berbunyi: Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Inilah sukacita bagi orang beriman yang memasrahkan dirinya kepada Allah Sang Pencipta (Mariella dkk., 2009: 29). Sikap menjadi hamba itu adalah lambang sukacita sejati karena seperti meneladani yesus sendiri hendaklah kita menjadi pelayan bagi orang lain. dengan pelayanan berarti kita melayani Allah sendiri yang hadir dalam diri orang tersebut. 3) Damai sejahtera Bahasa Ibrani ‘shalom’ berarti lebih dari sekedar tiadanya perang atau masalah. Secara positif kata ini mengacu pada: segala sesuatu yang utuh, kesejahteraan, ketenangan pikiran karena sadar akan hubungan yang benar dengan Allah dan sesama. Karena itu dalam Gereja setiap orang beriman “harus berusaha memelihara kesatuan roh dalam ikatan damai” (Ef 4:3). Sebab semuanya dipanggil kepada kedamaian Kristus sebagai anggota-anggota dari satu tubuh (1Kor 12). Ciri dari karisma Roh Kudus sejati ialah membuat damai sejahtera, shalom. Shalom sejati, yang berasal dari karisma Roh Kudus, adalah ciri Kerajaan Allah yang dibangun dari penebusan Kristus dan karunia-karunia Roh. Memang damai sejahtera tidak dapat dipisahkan dari sukacita Injil dalam Roh Kudus. Kerajaan Allah bukanlah soal makan dan minum, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Mariella dkk., 2009: 29). 4) Kesabaran Berjiwa besar atau pertama-tama kesabaran adalah kualitas Allah sendiri (Kel 34:6). Arti etimologis dapat dilihat dalam dua segi: yang pertama adalah tawakal menderita, yang berarti tahan penderitaan; dan yang kedua adalah kesabaran dalam menanggung kesalahan tanpa dendam atau marah.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Allah itu penuh kebaikan, toleransi dan panjang sabar (Rm 2:4). Kebaikan Allah yang mengandung kesabaran di dalamnya hendaknya membawa orang kepada pertobatan (Mariella dkk., 2009: 29). 5) Kemurahan Istilah ini hanya muncul dalam tulisan St. Paulus. Istilah ini menunjuk kepada sikap penuh rahmat dan tindakan kepada para pendosa. Dalam diri Yesuslah tindakan kemurahan Allah mencapai puncaknya. Dalam sengsara dan wafat Yesus (2 Kor 1:5), Tuhan menjadi Mahamurah. Setiap orang beriman, yang mengalami kemurahan Allah dalam Kristus, seyogyanya mendandani diri dengan kemurahan hati dan berlaku baik seorang kepada yang lain (Mariella dkk., 2009: 30). 6) Kesetiaan Kesetiaan adalah kualitas yang sangat diperlukan bagi seorang pelayan danpengajar (1 Kor 4:2;bdk. 2 Tim 2:2; 1 Tim 3:2-11). Yesus sendiri setia kepada Bapa untuk membebaskan manusia dari kutuk hukum taurat dengan wafat di kayu salib (Gal 3:13), dan Yesus datang sebagai pelayan sebagaimana yang dilakukannya kepada para rasul dengan membasuh kaki mereka (Mat 20:28) dan mengajar. Sebagai murid-murid Yesus, kita diperintahkan untuk mewartakan-Nya (Mat 28:19) melalui sikap dan tindakan kita dalam keseharian (Mariella dkk., 2009: 30). Selain itu, dalam Kisah Para Rasul, jemaat perdana memberikan suatu teladan bagi kita untuk sehati sejiwa dalam berdoa (Kis 1:14) dan sehati sejiwa

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 dalam hal material sehingga kekayaan mereka adalah kekayaan bersama (Kis 4:32). Kesetiaan untuk mengikuti Yesus ini menghasilkan buah limpah dengan bertambahnya anggota jemaat di seluruh pelosok negeri. 7) Kelemah-lembutan Kata ini jangan ditafsirkan sebagai kurangnya semangat, kekuatan atau energi, tetapi harus diartikan secara positif sebagai sikap lemah-lembut dan penuh pengertian terhadap orang lain seperti tertulis dalam 2 Tim2:25: ”dan dengan lemah-lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran.” Dalam arti religius kelemah- lembutan sekaligus mengandung makna taqwa, yakni keyakinan akan kebaikan dan kemampuan Allah, bersama dengan memasrahkan diri kepada Allah. Dalam kehidupan orang Kristen kelemah-lembutan merupakan kerendahan hati terhadap kehendak Allah, yang tampak dalam kesadaran, rendah hati dan ketekunan dalam menderita, sekali pun mungkin diperlakukan tidak adil seperti ada tertulis dalam 2 Kor 10:1: ”Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah” (Mariella dkk.,2009: 30). 8) Kebaikan Kebaikan adalah kekuatan untuk melakukan apa yang benar secara moral. Ia mempertimbangkan apa yang selama-lamanya merupakan hal yang terbaik bagi

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 orang lain. Jika hal buruk terjadi, itu semua bertujuan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, yaitu agar manusia serupa dengan Kristus. Dalam Rm 8:29 ditegaskan, “Sebab semua orang yang dipilihnya dari semula, mereka juga ditentukannya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anaknya itu, menjadi yang sulung diantara banyak saudara”. Dalam Rm 8:30 juga dinyatakan bahwa kebaikan adalah anugerah dari Kristus, sehingga manusia akan dibenarkan dan dimuliakan dengan kasih-Nya yang telah dinyatakan melalui wafat-Nya di kayu salib (Dodik Haryono, 2013: 1). 9) Penguasaan diri Penguasaan diri adalah kualitas menguasai diri (mengontrol diri) yang muncul dalam 1 Ptr 1:5. Kata penguasaan diri tidak pertama-tama tertuju kepada dorongan sexual belaka, meskipun bisa dikaitkan, namun tidak eksklusif, hal-hal yang harus dikontrol dan dikuasai ialah segala dorongan diri, dorongan nafsu, dorongan kehendak yang meledak-ledak baik di dalam diri sendiri maupun berhubungan dengan orang lain, misalnya: dorongan untuk mabuk-mabukan, dorongan sexual, kecenderungan marah, dll (Mariella dkk., 2009: 30). b. Bahasa roh Ciri khas Karismatik yang lain adalah bahasa Roh, yang diyakini sebagai bahasa dari Roh Kudus. Njiolah (2003: 5) menyatakan bahwa “Dalam kegiatan Karismatik selalu ada yang menerima bahasa Roh dan tidak seorangpun mengerti apa yang diucapkan atau arti dari bahasa Roh tersebut”.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 1) Pengertian bahasa Roh Njiolah (2003:1) menyatakan bahwa dalam bahasa Yunani, “bahasa roh” disebut ‘glossolalia’,yang berasal dari kata ‘glosa’ yang berarti ‘lidah’ dan kata ‘lalei’ yang berarti ‘berbicara’. Jadi ‘glossolalia’ secara harafiah berarti ‘berbicara dengan lidah’ atau ‘berkata-kata dengan bahasa’. Menurut konteks pemakaiannya, kata benda ‘glossa’ sendiri sesungguhnya dapat diartikan dalam arti pneumatologis yaitu ‘bahasa roh’, yang berfungsi sebagai wahana doa manusia kepada Allah. St. Paulus mengartikan bahasa Roh itu sebagai bahasa malaikat (Njiolah, 2003: 6).‘Glossa’ dalam artian ‘bahasa roh’ atau ‘bahasa malaikat’ ini merupakan bahasa gaib yang sulit untuk dipahami, sehingga membutuhkan penafsiran atau penjelasan khusus. Keistimewaan bahasa gaib ini lazim diungkapkan dengan pengertian “berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru”. Fenomena bahasa gaib ini terdiri dari artikulasi lidah atau pengucapan kata-kata yang tidak jelas, sehingga sulit dipahami oleh pendengar. Bahasa gaib ini memang sering diucapkan oleh seorang Kristen saat mengalami kegembiraan yang luar biasa akibat kepenuhan Roh Kudus. Njiolah (2003: 12) menyatakan bahwa dalam Kitab Suci terdapat ayat yang menyatakan: “berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya (Kis 2:4)” dan “berkata-kata dalam bahasa Roh dan memuliakan Allah (Kis 10:46)” serta “berkata-kata dalam bahasa Roh dan bernubuat (Kis 19:6)” (Njiolah, 2003: 8). Ketiga ayat di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa gaib ini kemungkinan berasal dari kuasa Roh Kudus. Menurut St. Paulus, bahasa gaib ini adalah suatu “karunia Roh”, karisma yang dianugerahkan kepada orang tertentu.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Menurut St. Lukas, St. Petrus maupun St. Yohanes, bahasa Roh tidak lain adalah karunia istimewa dari Roh Kudus untuk kepentingan pemberitaan Injil tentang Yesus Kristus. Seperti yang ditegaskan dalam Kis 1:8 yaitu “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” 2) Asal-usul bahasa roh Bahasa roh memang lebih populer di kalangan saudara kita Protestan, namun sebenarnya terdapat juga pada agama yang lain. Secara umum gejalanya adalah roh dari allah atau dewa memasuki tubuh orang tertentu dan berbicara melalui orang itu. Selama hal itu terjadi, orang itu tidak sadarkan diri. Pada umumnya, fenomena bahasa roh ini berupa “karunia Roh kenabian” yang memungkinkan orang untuk “bernubuat” seperti yang dinyatakan dalam 2 Ptr 1:21 yaitu: “sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” Fenomena kepenuhan roh ini sebenarnya sudah terjadi sejak zaman dahulu di antara para nabi dan orang-orang pilihan Allah (Njiolah, 2003: 6). Pemberian karunia Roh kenabian yang bersifat bebas dan gratis ini sama sekali tidak dapat dan tidak boleh dicegah oleh manusia. 3) Pemakaian bahasa roh dalam jemaat Bahasa Roh pertama kali muncul dan dipakai oleh jemaat perdana di Yerusalem, pada saat perayaan hari Pentakosta (Kis 2:4). Sesuai dengan janji Yesus kepada para rasul, Yesus mengirimkan penghibur di tengah mereka dengan

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 lambang lidah-lidah api, sehingga kemudian para rasul tidak takut lagi dan mulai memberikan kesaksian ke seluruh bangsa. Bagaimana wujud bahasa Roh itu tidak ada orang yang tahu tetapi efek dari bahasa Roh tersebut dirasakan banyak orang. Setelah mendengar perkataan para rasul, banyak orang yang terharu, tercengang dan memberikan diri dibabtis (Kis 2:7). Ini merupakan mukjizat yang sungguh nyata bagi para rasul. Para rasul juga seringkali menggunakan bahasa Roh dalam ibadat bersama dengan syarat ada yang menafsirkan sehingga semua pihak itu dapat mempersembahkan sesuatu demi pembangunan jemaat bukan pembangunan diri sendiri (Njiolah, 2003: 14). 4. Dasar-dasar Teologi Karismatik Katolik Karismatik tidak pernah terlepas dari peranan Roh Kudus yang adalah Roh Allah sendiri, maka dasar dari karismatik dapat ditelusuri dengan teologi tentang Roh Kudus. Peristiwa turunnya Roh Kudus kepada para rasul pada peristiwa Pentakosta, menjadi dasar terbentuk dan berdirinya kegiatan karismatik. Sebagai umat Allah yang mengimani Yesus sebagai penyelamat, kita juga dianugerahi rahmat Roh Kudus seperti para rasul yang membantu dan mengarahkan hidup kita umat-Nya untuk menuju keselamatan, maka karismatik sangat dipengaruhi oleh peranan Roh Kudus. Dalam kehidupan umat Katolik dewasa ini, banyak sekali umat yang kehilangan arah kedamaian dalam Roh Kudus, maka dibentuklah suatu kegiatan Karismatik dimana setiap anggotanya dapat merasakan curahan Roh Kudus secara lebih nyata dan mendalam.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Dalam dasar-dasar teologis karismatik katolik ini, akan ditemukan banyak hal tentang Roh Kudus yang merupakan penggerak dan jiwa dalam karismatik, karena karismatik selalu mengarah pada Roh Kudus yang menghibur umat setelah kenaikan Yesus ke surga. a. Dasar Biblis Dasar biblis untuk Karismatik dibatasi pada perjanjian lama yaitu trito Yesaya dan perjanjian baru yaitu surat rasul Paulus pada jemaat di Korintus. Dalam Kitab Suci perjanjian lama, penulis kitab tidak banyak membicarakan tentang Roh Kudus. Memang ada tulisan mengenai Roh tetapi semuanya itu untuk menggambarkan Roh Tuhan dan tidak ada kaitannya dengan Roh Kudus. Sedangkan dalam perjanjian baru, St. Paulus dan para penginjil memang menuliskan banyak sekali hal dan kisah yang berkaitan dengan Roh Kudus. Namun, sebagai dasar biblis Karismatik Katolik hanya akan dibatasi pada kitab Yesaya dan 1 Korintus saja. 1) Yesaya Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Yes 11:1-3 dinyatakan bahwa ada satu tokoh yang dinantikan dari garis keturunan Daud yang memiliki keistimewaan karena Roh Tuhan ada pada-Nya. Hal tersebut dinyatakan dengan tegas dalam trito Yesaya. Ada tujuh ciri Roh Tuhan yang akan nampak bila Roh Tuhan benarbenar ada pada orang pilihan Tuhan (Mesias yang dinanti-nantikan dari garis keturunan Daud), kehadiran Roh itu akan dikenali dalam hikmat, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, kesalehan dan takut akan Tuhan yang ada secara nyata dalam diri orang tersebut (Deshi Ramadhani, 2008:171).

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Dalam Kitab Yesaya memang tidak tampak ada kata ‘karisma’ dan bukan teks ini juga yang menggerakkan umat untuk mengalami kerinduan akan Roh Kudus, namun, kitab ini adalah satu-satunya kitab dalam Perjanjian Lama yang menyinggung atau menyatakan tentang Roh, yaitu Roh Tuhan seperti dinyatakan dalam Kitab Yesaya 61:1: Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara. 2) 1 Korintus Dalam 1 Kor 12:7-10, St. Paulus menyatakan ada 9 karisma/karunia Roh Kudus yakni: Roh untuk berkata-kata dengan hikmat, Roh untuk berkata-kata dengan pengetahuan, iman, untuk menyembuhkan, untuk mengadakan mukjizat, untuk bernubuat, untuk membedakan bermacam-macam Roh, untuk berkata-kata dalam bahasa Roh, dan untuk menafsirkan bahasa Roh. Kesembilan Roh ini dimaksudkan untuk kepentingan bersama. Kesembilan karisma/karunia Roh Kudus ini memegang peran dalam ruang hubungan antar pribadi dalam sebuah komunitas. Di dalam PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik) yang merupakan komunitas, kesembilan karunia Roh ini sangat mendukung sehingga dapat saling melengkapi dalam mewarta. Masing-masing orang dapat merasakan kehadiran Roh Kudus melalui sesamanya dalam PDKK tersebut. 1 Kor 14:13-19 menyatakan adanya karunia bahasa Roh. Ia berdoa dengan bahasa Roh (1 Kor 14:14). Ia juga berkata-kata dalam bahasa Roh (1 Kor 14:18).

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Di sinilah peringatan Paulus menjadi penting. Karena fokus perhatiannya adalah kesatuan tubuh jemaat yang nyata, sehingga dalam pertemuan jemaat pentinglah agar orang membatasi diri dalam penggunaan bahasa Roh. Ketika orang berdoa dengan bahasa Roh maupun ketika ia berkata dengan bahasa Roh, orang tersebut tidak akan membangun jemaat bila bahasa roh itu tidak bisa ditafsirkan. Karena itulah St. Paulus mendorong orang yang dapat berkata-kata dalam bahasa Roh agar berdoa juga supaya diberi karunia untuk menafsirkan bahasa Roh itu. Santo Paulus mengajarkan untuk tidak sombong menggunakan bahasa roh yang menjadi karunia dari Roh Allah sendiri. Dalam setiap pertemuan PDKK juga pasti ada seseorang yang menerima karunia berbahasa Roh, namun sesuai dengan anjuran St. Paulus, orang itu akan membatasi dan berdoa agar dapat menafsirkannya. Paulus mengingatkan agar orang yang berkata-kata dengan bahasa Roh tidak dilarang dan syarat yang kembali diulang adalah agar ‘segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur’ (1 Kor 14:39-40). Di sini dapat dilihat bahwa dalam jemaat Paulus di Korintus ketika itu sudah ada ungkapan - ungkapan yang berlebihan dalam penggunaan bahasa Roh. PDKK juga selalu mendukung dan memuji Allah apabila ada seseorang yang menerima karunia bahasa Roh tersebut. Dalam suratnya pada jemaat di Galatia (5:19-23), St. Paulus memberi rincian tentang perbedaan antara hidup menurut daging dan hidup menurut Roh yang dapat menjadi acuan bagi seseorang untuk melihat suatu tindakan seseorang. Hidup menurut Roh memanglah tidak mudah karena kita manusia terbiasa dengan tindakan daging. Namun di dalam PDKK, setiap orang saling membantu untuk selalu memenuhi dirinya dengan Roh sehingga dapat hidup di dalam Roh pula.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 b. Dasar-dasar dalam Ajaran Gereja Dasar-dasar dalam ajaran Gereja tentang Karismatik akan dibatasi dalam dokumen-dokumen konsili Vatikan II (Lumen Gentium,Apostolicam Actuasitatemdan Dei Verbum), buku Iman Katolik, Katekismus Gereja Katolik, Pedoman Pastoral para Uskup Indonesia mengenai Pembaruan Karismatik Katolik,Surat Gembala Mengenai Pembaruan Karismatik Katolik: Aneka Karunia Satu Roh, dan Pedoman Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia. 1) Konsili Vatikan II Karismatik berkaitan langsung dengan karisma, Roh Kudus dan wahyu, maka penulis membatasi dokumen dalam Konsili Vatikan II sebagai dasar-dasar tentang karismatik. Dokumen tersebut adalah Lumen Gentium, Apostolicam Actuasitatem, dan Dei Verbum. Ketiga dokumen tersebut berbicara tentang karisma, Roh Kudus dan wahyu, sehingga ketiga bidang inilah yang penulis pilih sebagai dasar biblis ajaran Gereja tentang karismatik dari Konsili Vatikan II. a) Lumen Gentium Dalam LG, art. 4 dinyatakan bahwa ada pembedaan karisma yakni karunia hirarkis dan karismatis. Karunia hirarkis bergerak dikalangan para pemimpin yang berperan membimbing Gereja melalui posisi dan tugas mereka di dalam hirarki. Karunia karismatis secara khusus menunjuk pada karunia Roh Kudus sebagaimana dikatakan dalam surat-surat Paulus. Yang penting diperhatikan disini adalah deskripsi tentang peran karisma tersebut untuk mempersatukan, melengkapi dan membimbing Gereja. Konsili Vatikan II dalam dokumen LG, art.

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 4 menyatakan bahwa Rohlah yang menghantar Gereja menuju kebenaran dengan aneka karunia hierarkis dan karismatis. Roh jugalah yang memperbarui Gereja sebagai mempelai Allah, berdasarkan kesatuan Bapa, Putra dan Roh Kudus dalam Tritunggal Mahakudus. Pada LG, art.12 dinyatakan adanya Persekutuan Doa Karismatik Katolik adalah untuk menyalurkan berbagai karisma yang telah diterima oleh semua umat untuk dibagikan kepada umat yang lainnya dengan tujuan untuk kebahagiaan bersama. Semua karisma itu diberikan dengan cara dan tujuan yang berbeda sesuai dengan keadaan dan kebutuhan umat Allah. Untuk itulah karisma ini disebut istimewa sesuai dengan LG, art. 12 yang mengingatkan bahwa pemahaman karisma sebagai sesuatu yang jarang dan terbatas, maupun sebagai yang umum menunjuk pada sifat mendasar karisma sebagai sesuatu yang “istimewa”. Disebut istimewa berdasarkan ‘cara’ bagaimana karunia-karunia itu diberikan dan berdasarkan ‘tujuan’ untuk karunia-karunia itu diberikan. b) Apostolicam Actuasitatem AA, art. 3 menyatakan bahwa semua umat Katolik dipersatukan dengan pembabtisan. Dengan begitu, umat menjadi bagian dari Tritunggal Mahakudus. Setiap umat yang sudah dibabtis, memiliki kewajiban untuk menjadi pewarta Injil dalam kehidupan sehari-hari, merasul untuk bersaksi tentang Yesus bagi sesama dan masyarakat. Agar tidak pudar, kegiatan merasul yang dilakukan oleh umat selalu dikuatkan kembali melalui sakramen-sakramen terutama Ekaristi sebagai jiwa kerasulan.

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Masing-masing dari setiap pribadi diberi karunia-karunia yang dapat digunakan bagi kepentingan bersama seluruh umat. Dalam menggunakan karuniakarunia tersebut, umat harus bertanggungjawab dan menggunakannya benar-benar demi kepentingan Gereja. Semua yang dilakukan oleh umat akan dibimbing oleh Roh melalui para Gembala. Roh Kudus menyucikan umat Allah sehingga dapat menerima karunia-karunia Roh dan dapat mengamalkannya dengan melayani sesama. Konsili Vatikan II dalam dokumen Apostolicam Actuasitatem art. 3 menegaskan: Kaum awam menerima tugas serta haknya untuk merasul berdasarkan persatuan mereka dengan Kristus Kepala. Sebab melalui babtis mereka disaturagakan dalam Tubuh Mistik Kristus, melalui Penguatan mereka diteguhkan oleh kekuatan Roh Kudus, dan demikian oleh Tuhan sendiri ditetapkan untuk merasul. Melalui sakramen, terutama Ekaristi Suci, disalurkan dan dipupuklah cinta kasih, yakni bagaikan jiwa seluruh kerasulan. Kerasulan dijalankan dalam iman, harapan, dan cinta kasih yang dicurahkan oleh Roh Kudus dalam hati semua anggota Gereja......menganugerahkan karunia-arunia khusus juga kepada Umat Beriman dan membagikannya kepada masing-masing menurut kehendak-Nya. ......berdasarkan penerimaan karisma-karisma itu, juga yang bersifat lebih sederhana, setiap orang beriman mendapat hak dan tugas untuk mengamalkannya demi kesejahteraan sesama dan pembangunan Gereja. c) Dei Verbum Allah sangat menyayangi umat manusia. Walaupun betapa berdosanya umat manusia, Ia selalu melakukan berbagai upaya untuk membawa umat manusia yang jatuh ke dalam dosa kembali kepada-Nya dalam kasih karunia-Nya. Seperti kita bersama ketahui, banyak nabi yang telah diutus-Nya bagi manusia, namun semua nabi berakhir pada pembunuhan keji umat manusia. Sampai akhirnya, sebagai tanda kasih-Nya yang besar kepada manusia, Ia mengutus putera-Nya sendiri yang penuh dengan Roh-Nya dan memberikan Roh itu tinggal dalam

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 manusia. Sungguh Bapa yang luar biasa bagi kita manusia. Sebagaimana yang dinyatakan dalam Dei Verbum art. 4 bahwa Allah telah berulang kali mengirimkan nabi-Nya untuk menyertai manusia, dan akhirnya Allah mengutus Anak-Nya sendiri untuk memperkenalkan Allah secara dalam dan untuk meneguhkan denga kesaksian bahwa Allah menyertai kita manusia sepanjang waktu. Yesus telah memberikan Roh Kebenaran kepada kita manusia, maka manusia menjawab pemberian Yesus itu dengan ketaatan seperti Yesus yang taat pada Bapa-Nya. Manusia sulit untuk taat dan cenderung berbuat menyimpang, maka Roh Kudus berperan untuk menyempurnakan iman ketaatan kita manusia melalui berbagai karunia-Nya. Seperti yang yang diserukan dalam Dei Verbum art. 5 yang berbunyi: Kepada Allah yang menympaikan wahyu, manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rm 16:26; lih. Rm 1:5; 2Kor 10:5-6). ......dan dengan sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikaruniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, juga bantuan batin Roh Kudus yang menggerakkan hati ..... supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus juga senantiasa menyempurnakan iman melalui karunia-karuniaNya. 2) Buku Katekismus Gereja Katolik Setiap manusia memiliki karunia yang spesial yang merupakan anugerah dari Tuhan. Karunia tersebut dikenal dengan sebutan karisma. Dengan karisma yang ada dalam diri setiap umat, Roh Kudus bekerja melalui orang tersebut untuk berkarya dalam rangka memperkembangkan iman umat. Hal tersebut dipertegas dalam KGK, no. 799 yang berbunyi: “karisma yang dianugerahkan oleh Roh Kudus adalah anugerah yang diberikan kepada manusia untuk mengembangkan iman dan mengembangkan karya Roh di dunia”.

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Katekismus Gereja Katolik yang menjadi dasar para katekis dalam pengajarannya dahulu juga sudah menyadari akan adanya karunia atau karisma yang ada pada diri setiap umat. Banyak umat belum atau tidak menyadari akan karisma yang ada dalam dirinya, padahal karisma itu adalah suatu hal yang sangat baik untuk disyukuri karena itu adalah anugerah yang diberikan bagi perkembangan Gereja, seperti yang ditegaskan dalam KGK, no. 800: “karismakarisma itu harus disyukuri oleh seluruh umat sebagai kekayaan yang melimpah bagi Gereja.” Dengan disyukurinya karisma tersebut, maka hal itu benar-benar akan menjadi kekayaan bagi diri dan Gereja Katolik sendiri. Dalam mempergunakan atau menerapkan karisma-karisma guna mewartakan Injil Yesus Kristus, umat beriman memerlukan bimbingan dari Roh Kudus sendiri melalui para Gembala Gereja, sehingga apapun yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan karisma itu diberikan. Para gembala Gereja memiliki tugas menjaga nyala Roh Kudus dalam karisma setiap umat beriman, bukan untuk memadamkan Roh, seperti yang ditegaskan dalam KGK, no. 801: “tidak ada satu karisma pun membebaskan dari kewajiban untuk menghormati gembala-gembala Gereja karena terutama mereka itulah yang berfungsi bukan untuk memadamkan Roh melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik.” 3) Buku Iman Katolik KWI (1993: 299) mengatakan bahwa Gereja memahami Babtis dalam Roh sebagai doa permohonan iman yang sungguh-sungguh, agar berkat rahmat Babtis dan karisma hidup umat digairahkan dan dipenuhi dengan kekuasaan Roh Kudus.

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 KWI (1996: 299) menyatakan bahwa “dari surga, Ia mengutus Penolong yang lain.” Roh Kudus yang diturunkan kepada para rasul adalah ‘Roh Penolong’ yang tak nampak tetapi terlihat ‘karya-Nya’ di tengah dunia, dan semua itu merupakan ‘rahmat’ dari Allah sendiri dan akhirnya menghantar para rasul dan kita umat-Nya kepada ‘pengalaman akan Roh Kudus’. Semua hal itu akan dijabarkan dalam: roh penolong, karya roh, rahmat, pengalaman akan roh, a) Roh Penolong Iman katolik membicarakan tentang Roh kudus sebagai roh penolong (KWI, 1996: 299). Pada perjamuan terakhir bahkan sampai lima kali Yesus menjanjikan Roh itu, guna meneruskan karya-Nya sendiri melalui para rasul-Nya (Yoh 14:1617.25-26;bdk.15: 26-27; 16:7-11. 12-15). Seperti Yesus sendiri disebut “Penolong” begitu pula sesudah kebangkitan-Nya diutus oleh-Nya seorang Penolong yang lain berupa Roh Kudus, yang akan membantu para rasul dalam karya perutusan mereka. Dengan “mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan mengingatkan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26). Kehadiran Roh berarti kehadiran Yesus yang mulia di dalam Gereja. Paulus juga berkata: “Tuhan (yang mulia) adalah Roh” (2 Kor 3:17). Yoh 6:63 menyatakan Yesus sendiri sudah bersabda sebelumnya: “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah Roh dan hidup” (KWI, 1996: 299). b) Karya Roh Dalam Iman Katolik, KWI (1996: 301) menyatakan bahwa seluruh kehidupan jemaat perdana sebagaimana dilukiskan oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul ditandai oleh karya Roh, bukan hanya pada awal atau kesempatan istimewa, tetapi

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 selalu dan dimana-mana (Kis 6-8). Roh Kudus adalah daya kekuatan Allah yang mengangkat dan mengarahkan hidup kaum beriman. Roh Kudus adalah “Roh iman” (2 Kor 4:13;bdk. 1 Kor 12:9), yang menggerakkan orang supaya bertobat kepada Kristus. Maka “oleh Roh dan karena iman kita menantika kebenaran yang kita harapkan” (Gal 5:5). c) Rahmat “Rahmat“ berarti “kita mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita”; mengakui bahwa “Allah adalah kasih“ (1 Yoh 4 :16), dan “kasih itu telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Kasih itu disebut “rahmat” karena merupakan pemberian diri Allah. Rahmat berarti kasih abadi Allah bagi seorang manusia. Dengan sewajarnya itu disebut “rahmat” atau kerahiman karena dari pihak manusia tidak memiliki apa-apa yang dapat dipandang sebagai dasar atau “hak” atas kasih Allah itu. Rahmat adalah kasih Allah yang sungguh tidak disangka-sangka dan tidak diduga-duga. Bahkan rahmat itu, sebagai misteri kasih pribadi Allah, mengatasi segala pikiran dan angan-angan manusia (KWI, 1996: 303). Disebut rahmat juga karena didapatkan oleh manusia secara cuma-cuma dari Allah, bukan karena jasa manusia sendiri. d) Pengalaman akan Roh Roh Kudus itu Roh Allah, maka dikatakan “tak tercipta”. Tetapi hasil karya Roh, yang disebut “rahmat” adalah kenyataan hidup manusia. Dalam arti sesungguhnya rahmat pertama-tama adalah Allah sendiri, yang menghubungi

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 manusia dan manusia tentu tidak mampu “menjangkau” Allah. Namun kalau Allah memberikan diri kepada manusia dalam suatu pertemuan pribadi, Ia juga dapat dikenal dan dicintai oleh manusia. Untuk itu perlu “suatu” pengalaman akan Allah, khususnya akan Roh Allah. Untuk itu pulalah Yesus turun ke dunia hidup bersama manusia. Yesus menyatakan kepada manusia bahwa Allah itu Bapa kita yang tidak jauh dari manusia tetapi tinggal diantaranya. Yesus dengan segala hal yang dilakukannya menunjukkan pengalaman akan karya Roh Kudus. Mulai dari mukjizat-mukjizat yang dilakukan sampai dengan kebangkitan-Nya. Kiranya pembaharuan karismatik mempunyai hubungan langsung dengan soal pengalaman rahmat atau pengalaman Roh ini. Lebih khusus hal itu berhubungan dengan Baptis dalam Roh, yang sekarang biasanya disebut Pencurahan Roh (Kis 1:5). Hal yang pokok dari kharisma-kharisma bukanlah pengalaman yang luar biasa, melainkan pertemuan dengan Tuhan yang lebih mendalam, pengenalan akan Kristus yang sungguh berarti suatu hubungan pribadi yang membahagiakan (KWI, 1996 :307). 4) Pedoman Pastoral para Uskup Indonesia mengenai Pembaruan Karismatik Katolik Tahun 1982 Menanggapi gejala-gejala pembaruan karismatik yang terjadi dalam umat Katolik, para Uskup mengadakan pertemuan yang menghasilkan suatu pedoman terkait dengan pembaruan karismatik. Para Uskup menyadari bahwa pembaharuan hidup dalam Roh Kudus sangat penting untuk kehidupan umat. Dalam Pedoman Para Uskup Mengenai Pembaruan Karismatik Katolik art. 4 dinyatakan bahwa

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 melalui ibadat dan karya amal orang dibawa kepada pertobatan (metanoia) dan kepenuhan hidup dalam Roh. Sebaliknya, pertobatan dan kepenuhan hidup dalam Roh akan menghidupkan ibadat dan karya amal. Liturgi Gereja mengenal dua masa khusus sebagai masa pertobatan dan pembaharuan hidup, yaitu masa Adven dan Masa Prapaskah. Kita harus selalu memperbaharui diri agar semakin mampu memperlihatkan semangat Kristus dalam tingkah laku kita, sebab pembaharuan hidup tidak pernah selesai. Umat Katolik sejak Gereja Purba, selalu memohon dan berusaha agar Roh Kristus melayani, karunia mengajar, karunia memimpin (1 Kor 12:28) makin hari makin hidup dalam Umat-Nya, dalam diri kita. Agar kita dapat mencerminkan Kristus dalam hidup kita, maka Roh dan semangat Kristus harus menjiwai kita. Seluruh Gereja memerlukan terang ilahi Roh Kudus (MAWI, 1983: 9). Dalam Pedoman Para Uskup Mengenai Pembaruan Karismatik Katolik art. 6, istilah “pembaharuan hidup dalam Roh” mendapat arti khusus, karena digunakan oleh kelompok-kelompok orang katolik yang mengikuti gerakan pembaharuan karismatik. MAWI (1983: 9) menyatakan dalam Gereja sejak awal umat berdoa agar dijiwai oleh Roh Kudus pada Hari Raya Pentakosta (Kis 2:113). Sejak saat itu umat berdoa “Datanglah Roh Kudus”. Roh Kudus memperbaharui hidup para rasul sehingga mereka menjadi saksi-saksi Kristus “sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8). Roh Kudus mendorong kita semua untuk menjadi saksi-saksi Kristus juga. Jadi inti ajaran pembaharuan karismatik Katolik adalah sesuai dengan isi iman kita (MAWI, 1983: 10). Pembaruan karismatik memiliki nilai-nilai positif yang layak untuk didukung dan dikembangkan dalam diri umat. Melalui suatu proses penyadaran dan

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 pertobatan banyak orang mengalami karunia hidup rohani yang mendalam sehingga lebih mengenal Yesus Kristus. Sebagai contoh: karena perjumpaan yang baru dengan Yesus maka doa menjadi lebih hidup dan bersifat pribadi. Penghayatan sakramen-sakramen menjadi lebih hidup, terutama Ekaristi dan Sakramen Tobat. Dalam Pedoman Para Uskup Mengenai Pembaruan Karismatik Katolik art. 9 dinyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti pembaruan karismatik mengalami beberapa hal yaitu: - Orang biasanya tertarik untuk mengenal Allah lebih mendalam lewat SabdaNya dalam Kitab Suci. - Orang dikuatkan untuk membebaskan diri dari pelbagai macam ikatan, seperti misalnya perbudakan hawa nafsu, dendam, kebencian, iri hati, perjudian, alkohol danmorfin. - Orang menjadi lebih peka terhadap penderitaan sesamanya, rela mengabdi serta berkembang dalam iman dan pengharapan yang kokoh. - Penghayatan persaudaraan menjadi lebih mendalam, baik dengan kelompoknya sendiri, maupun dengan orang lain di luar kelompok. - Beberapa imam dan rohaniwan-rohaniwati terdorong lebih menghayati imamat dan hidup membiara mereka. - Dalam keluarga timbul hubungan baru antara suami-istri dan antara orang tua dengan anak-anak, ditandai dengan saling pengertian dan cinta kasih. - Banyak orang tergerak untuk mewartakan iman. Mereka menyadari bahwa pewartaan iman bukan hanya tugas para imam melainkan juga tugas semua orang beriman. Melihat hasil yang sungguh baik ini maka para Uskup merasa gembira atas buah-buah Roh Kudus seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri” (Gal 5:2223) yang tampak dalam diri anggota gerakan ini. Buah-buah ini sungguh terlihat dalam hidup para pengikut Pembaharuan Karismatik yang sehat. Oleh karena itu, dihimbau agar para Pastor dan Pemimpin Umat mendukung pembaharuan karismatik dan tidak menghalang-halanginya (MAWI, 1983: 11). Roh Kudus yang telah lama didambakan oleh para rasul dahulu, kini juga dapat dirasakan

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 kehadiran-Nya dalam setiap kegiatan karismatik. Pembaharuan karismatik ini berdampak positif bagi perkembangan iman umat Katolik. 5) Aneka Karunia Satu Roh Sebagai sebuah jemaat yang bersatu di dalam nama Yesus, umat Katolik dicurahi berbagai karunia oleh Roh Tuhan yang telah diutus setelah kenaikan-Nya ke surga. Walaupun berbeda-beda karunia, umat beriman tetap berada dalam satu Roh yang mempersatukan umat. Menanggapi permohonan konvensi nasional Pembaharuan Karismatik Katolik di Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dalam sidangnya pada bulan November 1993 mengeluarkan Surat Gembala, yang berjudul Aneka Karunia, Satu Roh. Surat Gembala tersebut dialamatkan kepada semua umat beriman Katolik. Para Uskup menyadari bahwa memang Roh Kuduslah yang berkarya sebagai penggerak umat beriman untuk mempertahankan dan memperkokoh imannya. Bahkan, Roh Kudus dicurahkan dalam setiap sakramen. Dalam surat gembala “Aneka Karunia, Satu Roh”art. 9 dinyatakan bahwa: Di tengah arus besar pembaruan Gereja itu, kami melihat pembaruan karismatik Katolik pertama-tama sebagai suatu cara baru menghayati keyakinan bahwa karisma dasar kita adalah iman akan Roh yang memberi kita kepercayaan kepada Bapa dalam Yesus Kristus (bdk. Rom 3:21-31). Atas dasar itu Gereja adalah persekutuan orang yang beriman bahwa hidup manusia bukanlah melulu rangkaian sebab-akibat ekonomik atau kumpulan kegiatan politik atau tali-temali proses kebendaan belaka, melainkan wujud manusiawi dari kegiatan Roh yang menggerakkan seluruh umat manusia dalam cinta kasih menuju kepada persatuan kekal dengan Allah berkat ajaran Yesus Kristus. Bagi pembaruan karismatik Katolik, iman itu menjadi darahdaging, dalam arti bahwa keluarga karismatik mengalami hidup dan karya Roh dalam segala segi hidup sampai ke inti diri. Pembaruan karismatik Katolik menghayati hidup karismatis itu dalam keterbukaan pada pengutusan Gereja, agar dunia betul dinaungi oleh Kerajaan Allah, Kerajaan Kebenaran dan Kehidupan, Kerajaan Kesucian dan Rahmat, Kerajaan Keadilan, Cintakasih dan Damai.

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Dalam pernyataan tersebut sangat jelas bahwa karismatik merupakan suatu cara yang baik untuk menyadari bahwa Roh Kuduslah yang menyatukan kita dengan Allah di dalam Yesus Kristus. Roh Kudus pula yang akhirnya menggerakkan umat beriman Katolik untuk menjalankan tugas perutusan mewartakan Kerajaan Allah di dunia ini. Perlu disadari bahwa Roh Kudus yang ada pada saat ini adalah Roh Kudus yang sama pula pada saat Pentakosta yang dialami oleh para rasul setelah kenaikan Yesus ke surga. Para Uskup menegaskan hal pada surat gembala “Aneka Karunia, Satu Roh”art. 10 tersebut dengan menyatakan bahwa pembaruan karismatik Katolik mengahormati Pentakosta dimana para murid mendapatkan Roh yang luar biasa sehingga membuat para murid merasa bersatu dengan Kristus. Sebagai usaha pembaruan rohani Gereja, pembaruan karismatik Katolik juga berdasarkan atas Kitab Suci yang diimani oleh umat Katolik sendiri, dimana Yesus adalahjuruselamat yang dilahirkan, dan kemudian wafat dan bangkit dengan mulia. Bagaimana Ia yang telah naik ke surga mengirimkan penghibur bagi para murid-Nya hingga saat ini. Karismatik selalu diperbarui agar sesuai dengan keadaan Gereja pada zaman tertentu, karena Gereja menyadari bahwa zaman terus berubah. Dalam surat gembala “Aneka Karunia, Satu Roh” art. 11 juga dinyatakan bahwa setiap pembaharuan yang dilakukan selalu berdasarkan Kitab Suci sebagai sumber kekuatan dan kerendahatian di dalam Roh Kudus, selain itu setiap pembaharuan juga akan dievaluasi secara berkala. 6) Pedoman Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia Melengkapi surat gembala tentang”Aneka Karunia, Satu Roh: Surat Gembala Mengenai Pembaruan Karismatik Katolik”, para Uskup membuat sebuah

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 pedoman yang ditujukan kepada semua orang yang bergabung di dalam karismatik. Hal ini memperlihatkan bahwa pembaruan karismatik Katolik sudah diakui dan didukung, bahkan dilindungi dan dibimbing oleh para hirarki. Gerakan karismatik Katolik ini adalah gerakan awam yang menanggapi perkembangan zaman dari abad ke abad. Iman terus-menerus diperbarui seperti yang ditegaskan dengan pernyataan para Uskup dalam Pedoman Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia art. 10 bahwa dari zaman terdahulu pembaharuan telah diusahakan dengan berbagai cara oleh Yesus, para murid, santo/santa yang terdorong oleh bimbingan Roh Kudus untuk membarui iman dan hidup. Pembaruan karismatik Katolik pada hakikatnya tumbuh dalam arus pembaruan dari abad ke abad itu. Umat Katolik yang telah menerima sakramen inisiasi adalah umat yang siap untuk bersaksi dalam perutusannya mewartakan sabda Allah di dunia. Teori saja tidaklah cukup untuk mewartakan Allah, tetapi perlu diwujudnyatakan. Namun tidaklah mudah untuk mewujudkan karya pengutusan tersebut, seperti yang diuraikan para Uskupdalam Pedoman Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia art. 13: Bersama seluruh Gereja sejak jaman para Rasul sampai kepada Ibu Teresa dari Calcutta kita menemukan bahwa daya kekuatan cinta Roh Allah perlu diwujud-nyatakan: dalam pelayanan satu sama lain untuk mencari nafkah sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat secara nyata; dalam pengabdian kita di tengah orang-orang yang mengalami kedukaan, penyakit, kehilangan tempat tinggal atau kebebasan politiknya; dalam upaya kita menciptakan persatuan antara kita sendiri maupun dengan semua orang yang berkehendak baik; dalam aneka usaha untuk lebih memahami rahasia alam sebagai misteri Rencana Penyelamatan Allah; dalam aneka bentuk ibadat dan persekutuan doa yang mau mengungkapkan rasa bakti kita kepada Tuhan yang penuh kasih. Sebenarnya kita semua dipanggil untuk memberi bentuk pribadi kepada semua wujud itu. Akan tetapi, keterbatasan menyebabkan kita memilih sesuatu wujud yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan kita yang konkret sehingga dapat kita laksanakan, tanpa meremehkan wujud pengutusan yang lain. Kepada setiap orang dikaruniakan karisma Roh Allah itu untuk kepentingan bersama.

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Berbagai cara dilakukan dalam rangka menjalankan tugas perutusan di dunia ini. Pembaruan karismatik Katolik juga adalah salah satu cara melaksanakan perutusan untuk mewarta. Para Uskup juga menegaskan dalam Pedoman Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia art. 18 dengan pernyataan bahwa banyak umat terpanggil terlibat dalam pembaruan karismatik Katolik, sehingga Gereja mengakui pembaruan karismatik Katolik adalah salah satu upaya untuk membuat umat tersentuh oleh daya kekuatan Roh Kudus. Terpanggilnya banyak orang untuk bergabung dalam pembaruan karismatik Katolik tidak lepas dari peran Roh Kudus. Roh Kudus dengan segala karunia yang diberikan kepada manusia, membantu manusia untuk bekerjasama dengan yang lain mengembangkan iman. Roh Kudus adalah jiwanya Gereja, seperti yang diyatakan juga dalam Pedoman Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia art. 23 bahwa Gereja dihidupi oleh Roh Kudus, maka bersifat karismatik yang merangsang Gereja untuk merasakan daya Roh Kudus dalam keseluruhan hidup umat. Di dalam kegiatan karismatik juga dikenal adanya bahasa Roh. Bahasa yang diyakini berasal dari Roh Kudus, Roh Tuhan sendiri. Dapat mengucapkan bahasa Roh adalah karunia tersendiri bagi umat yang mengalaminya. Tidak semua orang dapat mengatakannya apabila tanpa karunia Roh Kudus. Dalam Pedoman Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia art. 29 para uskup menyatakan bahwa bahasa Roh adalah suatu cara berdoa yang tidak ada satupun mengerti artinya, maka sering juga disebut bahasa cinta. Bahasa Roh membuahkan sesuatu yang baru bagi manusia, yaitu sesuatu yang menyelamatkan, maka bahasa Roh harus digunakan dengan bijaksana.

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Dalam teks ditegaskan bahwa bahasa Roh ini merupakan tradisi bernyanyi dan berdoa dalam Gereja. Zaman sekarang, Gereja memang tidak lagi menggunakan bahasa Roh dalam setiap perayaannya. Maka, dalam pembaruan karismatik Katolik, bahasa Roh semakin dirasakan sebagai karunia dari Allah. Bahasa Roh ini tidak dapat digunakan secara sombong dan sembarangan. Bahasa Roh juga adalah suatu cara untuk berdoa kepada Tuhan. B. PERANAN PDKK DALAM HIDUP MENGGEREJA Umat Katolik adalah anggota Gereja sebagai Persekutuan dengan Allah Tritunggalyang Mahakudus. Gereja sendiri memiliki pengertian dan makna yang sangat mendaam dan luas. Dalam menjalani peziarahan hidup di dunia ini, umat Katolik menjalankan tugas Kristus sebagai imam, nabi dan raja dalam hidup menggereja yang diwujudkan dalam 5 tugas/dasar hidup menggereja yaitu koinonia (persekutuan), leiturgia (liturgi), martyria (kesaksian), kerygma (pewartaan), dan diakonia (pelayanan). Salah satu bentuk hidup menggereja adalah PDKK. 1. Pengertian Hidup Menggereja Pengertian Gereja berasal dari kata ‘igreja’ yang merupakan ejaan Portugis untuk bahasa Latin ecclesia yang ternyata berasal dari kata Yunani, ‘ekklesia’. ‘Ekklesia’ berarti kumpulan, pertemuan, dan rapat. ‘Ekklesia’ sendiri berasal dari kata yang berarti memanggil. Jadi, Gereja adalah kumpulan umat/jemaat yang dipanggil Tuhan (KWI, 1996: 332). Dengan kata lain Gereja sekarang lebih

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 dikenal sebagai persekutuan umat beriman kepada Yesus Kristus. Akar kata dari ”gereja” bukan berhubungan dengan gedung, namun dengan umat. Dalam Rm 16:5 dinyatakan: “Salam juga kepada jemaat di rumah mereka...” Paulus menunjuk pada Gereja di rumah mereka, bukan pada gedung gereja, namun kumpulan orang-orang percaya. Sebagai anggota Gereja, maka umat juga diharapkan dapat hidup menggereja dengan pedoman 5 dasariah Gereja yaitu koinonia, leiturgia, kerygma, martyria, dan diakonia. 2. Dasar-Dasar Hidup Menggereja Hidup menggereja didasari oleh peristiwa Kerajaan Allah dalam fungsi- fungsi hidup Gereja yang terarah pada masyarakat yang lebih manusiawi, adil dan merdeka. Hidup menggereja adalah hidup yang dijalani umat yang mengimani Yesus sebagai juruselamat dunia yaitu umat Katolik di seluruh dunia. Menurut buku Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda (KWI, 1995: 25) terdapat istilah panca tugas (lima tugas) penyelamatan Gereja yaitu koinonia, diakonia, liturgia, kerygma, martyria. a. Koinonia Adalah tanggung jawab setiap anggota umat Allah membangun dan mengembangkan hidup komunitas, untuk menciptakan dan memperkuat persaudaraan, kesatuan, keutuhan, kehangatan, sehingga umat merasa memiliki karena ada perasaan sehati sejiwa sebagai umat Allah. Seperti Gereja adalah koinonia yang berarti persatuan atau persekutuan umat beriman yang percaya

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 kepada Yesus. Koinonia juga berarti ikut serta dalam persekutuan atau persaudaraan sebagai anak-anak Bapa dengan pengantaraan Kristus dalam kuasa Roh KudusNya. Sebagai orang beriman, kita dipanggil dalam persatuan erat dengan Allah Bapa dan sesama manusia melalui Yesus Kristus, PuteraNya, dalam kuasa Roh Kudus. Melalui bidang karya ini, dapat menjadi sarana untuk membentuk jemaat yang berpusat dan menampakkan kehadiran Kristus. Hal ini berhubungan dengan ‘cura anima’ (pemeliharaan jiwa-jiwa) dan menyatukan jemaat sebagai Tubuh Mistik Kristus. Oleh karena itu diharapkan dapat menciptakan kesatuan: antar umat, umat dengan paroki/keuskupan dan umat dengan masyarakat. Paguyuban ini diwujudkan dalam menghayati hidup menggereja baik secara territorial (Keuskupan, Paroki, Stasi/Lingkungan, keluarga) maupun dalam kelompok-kelompok kategorial yang ada dalam Gereja (KWI, 1995: 25). b. Diakonia KWI (1998: 25) menegaskan segala bentuk pelayanan kasih setiap anggota umat Allah terhadap satu sama lain dalam wujud dan bentuk yang konkret, khususnya dibidang kehidupan sehari-hari: material, sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan sehingga terwujud suatu kehidupan yang layak bagi seluruh umat Allah. Diakonia berarti ikut serta dalam melaksanakan karya karitatif/cinta kasih melalui aneka kegiatan amal kasih Kristiani, khususnya kepada mereka yang miskin, telantar dan tersingkir. Melalui bidang karya ini, umat beriman menyadari akan tanggungjawab pribadi mereka akan kesejahteraan sesamanya. Oleh karena itu dibutuhkan adanya kerjasama dalam kasih, keterbukaan yang penuh empati,

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 partisipasi dan keikhlasan hati untuk berbagi satu sama lain demi kepentingan seluruh jemaat (Kis 4:32-35). c. Leiturgia Keterlibatan dan peran serta secara aktif tiap-tiap anggota umat Allah dalam ibadat dan perayaan bersama untuk menyembah dan bersyukur kepada Allah dalam doa bersama, mendengarkan sabda-Nya dalam Kitab Suci dan terutama dalam Perayaan Ekaristi Kudus dan sakramen-sakramen yang lain. Maka dari itu setiap minggu kita diberi kesempatan untuk merayakan liturgi. Dalam liturgi ini berarti mengamalkan tiga tugas pokok Kristus sebagai Imam, Guru dan Raja. Dalam kehidupan menggereja, peribadatan menjadi sumber dan pusat hidup beriman. Melalui bidang karya ini, setiap anggota menemukan, mengakui dan menyatakan identitas Kristiani mereka dalam Gereja Katolik. Hal ini dinyatakan dengan doa, simbol, lambang-lambang dan dalam kebersamaan umat. Partisipasi aktif dalam bidang ini diwujudkan dalam memimpin perayaan liturgis tertentu seperti: memimpin Ibadat Sabda/Doa Bersama; membagi komuni; menjadi: lektor, pemazmur, organis, mesdinar, paduan suara, penghias Altar dan Sakristi; dan mengambil bagian secara aktif dalam setiap perayaan dengan berdoa bersama, menjawab aklamasi, bernyanyi dan sikap badan (KWI, 1998: 26). d. Kerygma Keterlibatan aktif dari setiap anggota umat Allah dalam pengajaran dan pewartaan kabar gembira melalui usaha-usaha saling mengajar dan saling meneguhkan, memperkaya iman dan pemahamannya dengan sharing, katekese

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 umat, katekese sekolah, katekese katekumenat, dan pendalaman iman. Jadi, pewartaan bukanlah hanya tanggungjawab hirarki saja, melainkan semua umat yang telah dibabtis, melalui babtisan yang sama secara Katolik. Pewartaan bukanlah anjuran, tetapi perintah yang dikatakan oleh Yesus sendiri sebelum naik ke surga. Kerygma juga berarti ikut serta membawa Kabar Gembira, bahwa Allah telah menyelamatkan dan menebus manusia dari dosa melalui Yesus Kristus, PuteraNya. Melalui bidang karya ini, diharapkan dapat membantu Umat Allah untuk mendalami kebenaran Firman Allah, menumbuhkan semangat untuk menghayati hidup berdasarkan semangat Injili, dan mengusahakan pengenalan yang semakin mendalam akan pokok iman Kristiani supaya tidak mudah goyah dan tetap setia. Beberapa karya yang termasuk dalam bidang ini, misalnya: pendalaman iman, katekese para calon baptis dan persiapan penerimaan sakramen-sakramen lainnya. Termasuk dalam kerygma ini adalah pendalaman iman lebih lanjut bagi orang yang sudah Katolik lewat kegiatan-kegiatan katekese (KWI, 1998: 26) e. Martyria Kesediaan dan perutusan bagi setiap orang yang telah dibabtis untuk bersaksi tentang kabar gembira Yesus Kristus kepada setiap orang dalam hidup sehari-hari. Memberikan kesaksian juga adalah salah satu kewajiban bagi umat katolik dan sudah dibabtis dan menerima sakramen Krisma. Dengan kedua sakramen itu, umat dikuatkan untuk tugas perutusan dan memberikan kesaksian tentang TUHAN keseluruh dunia. Kesaksian iman menuntut keberanian dan kesetiaan bahkan rela mati dari setiap umat Allah melalui sikap, perbuatan, kata-kata dan

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 karya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kesaksian akan kejujuran, persaudaraan, kasih, pengorbanan, kesahajaan, kerendahan hati, keadilan, membela orang kecil, dan sebagainya, seperti yang telah diteladankan oleh para santo-santa dan Yesus sendiri, Putra Tunggal Allah yang Kudus. Martyria juga berarti ikut serta dalam menjadi saksi Kristus bagi dunia. Hal ini dapat diwujudkan dalam menghayati hidup sehari-hari sebagai orang beriman di tempat kerja maupun di tengah masyarakat, ketika menjalin relasi dengan umat beriman lain, dan dalam relasi hidup bermasyarakat. Melalui bidang karya ini, umat beriman diharapkan dapat menjadi ragi, garam dan terang di tengah masyarakat sekitarnya. Sehingga mereka disukai semua orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan (KWI, 1998: 27). Dalam Pengantar PAK Paroki yang disusun oleh Drs. M. Sumarno Ds., S.J., M.A (2005: 6) dinyatakan bahwa kelima tugas penyelamatan ini dipenuhi dengan karya pastoral dalam tiga bentuk pelayanan sabda dengan mewartakan (kerygma), pelayanan ibadat dengan merayakan (leiturgia), dan pelayanan pengarahan dengan mengorganisisr dan mendidik umat Kristus (koinonia), supaya penuh cinta kasih dan matang untuk memberi kesaksian (martyria) dan pengabdian kepada sesama (diakonia). Dengan begitu, kelima tugas penyelamatan saling berhubungan satu sama lain, terkait satu dengan yang lainnya untuk menuju kepada keselamatan dalam Kristus. Melakukan kelima tugas penyelamatan Gereja berarti kita juga menjadi murid Yesus yang sejati dalam setiap perilaku yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Karya keselamatan semakin nyata apabila kita juga turut serta dalam tugas Kristus.

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 3. Peranan Hidup Menggereja Hidup menggereja dalam 5 dasariah Gereja sangat berperan penting dalam menggembangkan jemaat dan kehidupan Gereja di tengah masyarakat dan dunia. Dasar yang pertama adalah koinonia (persekutuan), kita umat beriman Katolik diajarkan dan diajak untuk hidup terbuka dalam persektuan serta peka akan segala hal berkaitan dengan penderitaan dan kesulitan yang dialami oleh masyarakat sekitar kita. Kita diajak untuk peka tanpa memandang ras, suku, bangsa, bahkan agama. Dasar yang kedua adalah kerygma (pewartaan), dengan mewartakan Yesus melalui apa yang kita lakukan secara nyata di dunia ini bagi masyarakat, maka kita umat beriman dapat menemukan sosok Yesus dalam diri sesama kita, lebih dari itu, kita juga membagikan kasih Kristus kepada orang yang memang membutuhkannya. Dasar yang ketiga adalah Leiturgia (liturgi), dasar ini semakin menguatkan dua dasar di atas, di mana kita mempersembahkan segala yang terjadi kepada Tuhan. Dalam perayaan Liturgi, kita disatukan dengan Kristus dalam ekaristi dan membuat kita semakin sadar bahwa kita hanya debu yang tidak ada artinya tanpa kehadiran Tuhan dalam hati kita. Dasar yang keempat adalah Martyria. Martyria adalah perwujudan yang dilakukan terutama setelah umat kristiani menerima sakramen Krisma, atau penguatan. Martyria berarti kesaksian, jadi setiap umat kristiani harus berani bersaksi tentang imannya kepada Yesus Kristus. Dasar yang terakhir adalah Diakonia (pelayanan), dasar ini adalah dasar dari seluruh gerak Gereja. Pelayanan adalah bukti nyata dari seluruh dasar Gereja yang telah diuraikan di atas. Yesus sendiri menjadi pelayan bagi murid-murid-Nya dan bagi seluruh dunia, ”Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mrk 10:45).

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Peranan dari kelima dasar hidup menggereja tampak pada kegiatan-kegiatan sosial Gereja. Partisipasi dari kelompok-kelompok dan organisasi dalam usahanya untuk membangun dan mengembangkan masyarakat, misalnya dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Kelompok dan organisasi ini memang bersifat umum dan tidak kentara kekatolikannya selain dari semangat pengabdiannya yang lebih mengutamakan untuk membantu dalam pelayanan daripada mencari keuntungan belaka. Salah satu kelompok yang mendukung perkembangan Gereja adalah Kelompok Persekutuan Doa Karismatik Katolik. Sebagai Persekutuan Doa, Karismatik Katolik tidak hanya berhenti pada berkumpul untuk berdoa saja, namun sebagai bentuk kepedulian dan kepekaan mereka akan penderitaan sesama maka sebagai bagian dari Gereja, mereka ikut serta dalam hidup menggereja yaitu dengan menyalurkan bantuan kepada yang membutuhkan dengan kegiatankegiatan yang diselenggarakan. 4. Peran PDKK dalam 5 Bentuk Hidup Menggereja Karismatik memiliki kedudukan dalam hidup menggereja. PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik) adalah salah satu bentuk hidup menggereja. Bentuk hidup menggereja yang pertama adalah leiturgia. Leiturgia adalah keterlibatan dan peran serta secara aktif tiap-tiap anggota umat Allah dalam ibadat dan perayaan bersama untuk menyembah dan bersyukur kepada Allah dalam doa bersama, mendengarkan sabda-Nya dalam Kitab Suci dan terutama dalam Perayaan Ekaristi Kudus dan sakramen-sakramen yang lain (KWI, 1998: 26). Leiturgia juga memperlihatkan keterlibatan dalam kebersamaan dengan umat yang lainnya dengan menjadi lektor, menjawab aklamasi, organis, mesdinar, dan lain-lain. Dalam leiturgia, PDKK juga membangun suatu

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 keterlibatan pada pada anggotanya dengan menjadi lektor dan kesaksian serta pemandu. Bahkan, dalam setiap kegiatannya, PDKK menggunakan ritus ibadat secara Katolik. Bentuk hidup menggereja yang kedua adalah kerygma. Kerygma merupakan bentuk sharing pengalaman iman, pendalaman iman, katekese para calon babtis, dan persiapan menerima sakramen-sakramen. Kerygma juga berarti ikut serta membawa Kabar Gembira, bahwa Allah telah menyelamatkan dan menebus manusia dari dosa melalui Yesus Kristus, Putera-Nya. Melalui bidang karya ini, diharapkan dapat membantu Umat Allah untuk mendalami kebenaran Firman Allah, menumbuhkan semangat untuk menghayati hidup berdasarkan semangat Injili (KWI, 1998: 26). Manfaat PDKK dalam bidang ini adalah menjadi kegiatan dimana seseorang dapat sharing tentang pengalaman iman berkaitan dengan kebaikan Tuhan dalam hidupnya sehingga semakin memperkuat iman. Di dalam kegiatan PDKK, selalu disertai dengan pembacaan Injil dan kesaksian dari seseorang berkaitan dengan Injil yang dibacakannya, sehingga PDKK juga memiliki kedudukan dalam mewartakan Yesus Karistus yang hadir dalam setia kesempatan kehidupan. Bentuk hidup menggereja yang ketiga adalah koinonia. Koinonia adalah tanggung jawab setiap anggota umat Allah untuk membangun dan mengembangkan hidup komunitas, untuk menciptakan dan memperkuat persaudaraan, kesatuan, keutuhan, kehangatan, sehingga umat merasa memiliki karena ada perasaan sehati sejiwa sebagai umat Allah (KWI, 1998: 25). Koinonia dapat menjadi sarana untuk membentuk jemaat yang berpusat dan menampakkan kehadiran Kristus. PDKK sebagai suatu komunitas, sungguh merupakan persekutuan umat beriman. Dalam PDKK umat kembali disadarkan bahwa doa

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 bersama sangat penting bagi seorang Katolik. Setiap akhir kegiatan bahkan diadakan santap malam bersama untuk mempererat tali persaudaraan dalam komunitas. Hidup menggereja yang keempat adalah martyria. Martyria adalah kesediaan dan perutusan bagi setiap orang yang telah dibabtis untuk bersaksi tentang kabar gembira Yesus Kristus kepada setiap orang dalam hidup sehari-hari. Martyria adalah kesaksian akan kejujuran, persaudaraan, kasih, pengorbanan, kesahajaan, kerendahan hati, keadilan, membela rakyat kecil, dan sebagainya (KWI, 1998: 27). Anggota PDKK adalah semua orang yang telah menerima babtisan yang sama. Dengan begitu otomatis memiliki tanggungjawab yang sama untuk bersaksi dalam kehidupan sehari-hari dengan tindakan yang sederhana. Sebagai suatu komunitas, PDKK memiliki kegiatan yang memberikan kesaksian betapa baiknya Tuhan dan kerinduan untuk bersaksi akan karya Tuhan dalam hidupnya di setiap kegiatan PDKK. Bentuk hidup menggereja yang kelima adalah diakonia. Diakonia berarti ikut serta dalam melaksanakan karya cinta kasih melalui aneka kegiatan amal kasih Kristiani, khususnya kepada mereka yang miskin, telantar dan tersingkir. PDKK tidak berhenti pada kegiatan yang di dalam ruangan saja. Tidak berhenti pada ritus dan pengajaran saja, namun PDKK juga mewujudnyatakan ajaran cinta kasih Kristus dalam hidup di tengah masyarakat (KWI, 1998: 25). Pada saat gempa terjadi, PDKK langsung bergerak menghimpun dana dan sumbangan-sumbangan yang dibutuhkan para korban. Karya-karya amal kasih juga diselenggarakan setiap tahunnya untuk orang-orang yang kekurangan tanpa memandang bulu.

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Persekutuan Doa Karismatik Katolikadalah salah satu bentuk hidup menggereja yang memiliki suatu tujuan untuk melaksanakan karya perutusan di tengah Gereja yang adalah dunia ini. PDKK sangat mendukung tujuan-tujuan Gereja didirikan. Keluar dari gedung gereja, namun tidak meninggalkan Gereja tetapi justru semakin mengokohkan iman setiap anggotanya. Identitas Katolik sebuah PDKK selalu ditampakkan sehingga tidak menyimpang atau kehilangan identitas.

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 BAB IV USULAN PROGRAM KATEKESE PERSEKUTUAN DOA KARISMATIK KATOLIK DI GEREJA ST. ANTONIUS KOTABARU MELALUI KATEKESE MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN HIDUP MENGGEREJA Katekese adalah salah satu contoh hidup menggereja yang dapat dilakukan oleh umat Katolik. Tanpa adanya katekese, umat Katolik terasa kering dan hampa. Katekese yang merupakan komunikasi iman antar umat Katolik dapat dilaksanakan dengan berbagai model, salah satunya adalah Shared Christian Praxis (SCP). Shared Christian Praxis adalah model berkatekese dimana umat saling berbagi pengalaman hidupnya masing-masing sesuai dengan tema yang diangkat dalam SCP. Dengan katekese ini diharapkan dapat membantu para anggota PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik) untuk semakin menyadari dan terlibat aktif dalam hidup menggereja dalam rangka mewujudkan karunia Roh yang ada dalam diri mereka masing-masing. Shared Christian Praxis memiliki langkah-langkah pelaksanaan sebagai berikut, yaitu: mengungkapkan pengalaman hidup peserta, mendalami pengalaman hidup peserta, menggali pengalaman Kristiani, menerapkan iman dalam situasi konkret peserta dan mengusahakan suatu aksi konkret.

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 A. Latar Belakang Pemilihan Program Persekutuan Doa Karismatik Katolik adalah persekutuan yang mengutamakan peranan Roh Kudus. Roh Kudus yang adalah Roh Allah sendiri menaungi dengan berbagai karunia untuk kepentingan umat bersama, karena itulah Paus menyetujui adanya pembaharuan Karismatik Katolik. Dalam perjalanannya, PDKK mengalami banyak rintangan dan tantangan mewujudkan suatu persekutuan doa yang dapat diterima oleh umat Katolik, dan timbullah pertanyaan-pertanyaan di benak umat sebagai antara lain: Apakah karismatik itu Katolik? Apakah dengan ikut PDKK tidak perlu ke Gereja lagi? Apakah Roh Kudus benar-benar hadir saat PDKK? Apakah bahasa Roh itu nyata? Melalui katekese model SCP ini, anggota PDKK diharapkan dapat lebih memahami tentang karismatik katolik. Dimana PDKK bukanlah pengganti Ekaristi dan PDKK membuat semangat berkobar-kobar karena Roh Kudus yang membuat umat semakin aktif dalam hidup menggereja. Karena karya Roh Kudus dapat dilihat dari apa yang kita kerjakan. Orang yang dikuasai Roh Allah akan menampakkan kebaikan. B. Alasan Pemilihan Tema dan Tujuan Belakangan ini buah-buah Roh sudah semakin terlupakan oleh umat Kristiani termasuk anggota PDKK sendiri. Padahal buah-buah Roh adalah karunia yang diberikan oleh Roh Allah sendiri kepada jemaat perdana yang diteruskan kepada kita. Seharusnya, sebagai anggota Gereja yang meneladani jemaat perdana, umat Katolik juga terus mengembangkan karunia Roh Kudus.

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Pada zaman dahulu, Gereja pernah mengalami masa kegelapan dimana para pejabatnya kehilangan buah-buah Roh dalam penggembalaannya. Sampai akhirnya muncullah Kristen yang menyadarkan Gereja. Pada zaman ini, kebanyakan dari kita hanya menjalankan rutinitas saja tanpa mengetahui makna dan tujuan kita melakukan hal tersebut. Gereja hampir melupakan buah-buah Roh dalam hidup, semuanya hanya tertinggal pada wacana saja, atau kotbah di Gereja. Tema yang akan diangkat dalam usulan program ini adalah buah-buah Roh Kudus. Tema ini diangkat untuk kembali meneguhkan umat khususnya para anggota PDKK, agar kembali memaknai hidupnya dan menyadari adanya rahmat yang bergerak tumbuh dalam hidup mereka. Melalui katekese model SCP ini, para anggota PDKK dapat berbagi pengalaman iman mereka dan saling meneguhkan satu sama lain sehingga tidak merasakan kekeringan dalam hidup rohaninya. C. Rumusan Tema dan Tujuan Tema umum : Buah-buah Roh Kudus Tujuan Umum : Membantu umat agar lebih memahami buah-buah Roh Kudus sehingga menjadikannya bekal hidup dan mewujudkannya dalam hidup menggereja. Tema 1 : Kasih yang Menyelamatkan Tujuan Tema 1 : Membantu anggota PDKK untuk menyadari kasih sebagai hukum utama dan pertama, sehingga mewujudnyatakan kasih kepada sesama. umat dapat

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 Tema 2 : Kemurahan Hati Mempererat Persaudaraan Tujuan Tema 2 : Membantu Anggota PDKK untuk dapat peka terhadap orang lain yang memerlukan uluran tangan tanpa membedabedakan. Tema 3 : Kesetiaan Sejati Membuahkan Sukacita Tujuan Tema 3 : Membantu anggota PDKK untuk memiliki sikap yang setia kepada Allah sesuai dengan teladan dari Yesus yang rela wafat di salib dan teladan dari jemaat perdana yang sehati sejiwa setia melakukan kehendak Allah, sehingga dapat menjadi pewarta yang tangguh dan percaya.

(112) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT D. Penjabaran Program Tema Umum : Buah-Buah Roh Kudus Tujuan Umum : Membantu umat agar lebih memahami buah-buah Roh Kudus sehingga menjadikannya bekal hidup dan mewujudkannya dalam hidup menggereja No (1) 1 Tema Tujuan (2) (3) Kasih yang menyelamatkan. Membantu anggota PDKK untuk menyadari kasih sebagai hukum utama dan pertama. sehingga umat dapat mewujudnyatak an kasih kepada sesama. Judul pertemuan (4) a. Saling mengasihi seperti Yesus mengasihi. b. Kasih yang sebenarnya menyebabkan sukacita sejati. Tujuan pertemuan Materi (5) (5) 1) Arti kasih Bersama pendamping, 2) Makna kasih peserta semakin Yesus menyadari arti 3) Mengasihi kasih terhadap seperti Yesus sesama yang tinggal sebagai saudara, sehingga menciptakan kerukunan dalam komunitas PDKK. Bersama 1) Makna kasih pendamping, sejati peserta semakin 2) Arti sukacita menyadari bahwa 3) Kasih yang kasih yang sejati membuat Metode (6) - Informasi - Tanya jawab - Diskusi kelompok - Sharing kelompok - Refleksi pribadi - Informasi - Dialog - Refleksi pribadi - Informasi Sarana (7) Sumber bahan (8) - Teks lagu “Kasih” - Teks Kitab Suci - Video “Mengasihi Tanpa KataKata” - Leptop - LCD - Speaker - Salib - Lilin - Yoh 15:917 - Skripsi ini halaman 54 - Teks lagu “Sukacita Surga” - Teks Kitab Suci - Video “Zakheus” - Leptop - Mat 9:1117 - Skripsi ini halaman 54 94

(113) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT (1) (2) (3) (4) c. Mengasihi menjadi sumber kedamaian. 2 Kemurahan hati mempereret persaudaraan Membantu Anggota PDKK untuk dapat peka terhadap orang lain, sehingga dapat menguluran tangan tanpa membedabedakan. a. Jangan raguragu untuk murah hati. (5) (5) selalu menimbulkan 4) sukacita sukacita. 5) Akibat dari sukacita Bersama 1) Kasih yang pendamping, sejati peserta mau 2) Makna melakukan tindakan kedamaian kasih sehingga 3) Kasih yang menimbulkan mendamaikedamaian di dalam kan komunitas. 1) Arti murah Bersama hati pendamping, peserta semakin 2) Keberanian menyadari bahwa untuk dengan murah hati, mengulurkan persaudaraan akan tangan pada semakin erat. sesama. (6) - Sharing Kelompok - Refleksi pribadi - Informasi - Dialog - Refleksi pribadi - Informasi - Sharing Kelompok - Refleksi pribadi - Informasi - Tanya jawab - Diskusi kelompok - Sharing kelompok Refleksi pribadi - - (7) LCD Speaker Salib Lilin Teks lagu “Bahasa Cinta” Teks Kitab Suci Teks cerita “Persahabatan” Leptop Speaker Salib Lilin - Teks lagu “Allah Peduli” - Teks Kitab Suci - Teks cerita “Uluran Tangan di Saat yang Tepat” - Leptop - Speaker - Salib - Lilin (8) - 2 Kor 13:3-13 - Skripsi ini halaman 54 - Mat 5:1-15 - Skripsi ini halaman 56 95

(114) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT (1) 3 (2) Kesetiaan sejati membuahkan sukacita. (3) Membantu anggota PDKK untuk memiliki sikap yang setia kepada Allah sesuai dengan teladan dari Yesus yang rela wafat di salib dan teladan dari (4) b. Murah hati dengan bijaksana (5) Bersama pendamping, peserta dapat bermurah hati dengan lebih bijaksana kepada orang yang tepat. c. Berbagi kepada sesama dengan murah hati. a. Meneladani kesetiaan Yesus. (5) 1) Makna murah hati menurut Yesus 2) Murah hati tanpa pilihpilih namun tepat sasaran (6) - Informasi - Sharing - Tanya jawab - Diskusi kelompok (A Cup of Tea) (7) - Teks lagu “ - Teks Kitab Suci - Video “Kepekaan” - Leptop - LCD - Speaker - Salib - Lilin Bersama 1) Arti kata pendamping, berbagi peserta dapat mulai Berbagi berbagi dengan dengan ikhlas murah hati kepada kepada sesama yang sesama membutuhkan. - Informasi - Tanya jawab - Diskusi kelompok - Sharing kelompok Refleksi pribadi - Teks lagu “Sentuh Hatiku” - Teks Kitab Suci - Teks cerita “Lunas dengan Segelas Susu” - Leptop - Speaker - Salib - Lilin Bersama 1) Arti kesetiaan 2) Kesetiaan pendamping, Yesus pada peserta menyadari Bapa-Nya. bahwa Yesus adalah guru teladan hidup kita, sehingga kita dapat meneladani kesetiaan-Nya kepada Bapa. - Informasi - Tanya jawab - Diskusi kelompok - Sharing - Refleksi pribadi - Teks lagu “Kasih Setia-Mu, ya Tuhan” - Teks Kitab Suci - Video “Father Love’s Letter” - Leptop - LCD - Speaker - Salib - Lilin (8) - Mat 20:118 - Skripsi ini halaman 56 - Kis 4:3237 - Skripsi ini halaman 56 - Kis 1:1420 - Skripsi ini halaman 56 96

(115) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT (1) (2) (3) jemaat perdana yang sehati sejiwa setia melakukan kehendak Allah, sehingga dapat menjadi pewarta yang tangguh dan percaya. (4) b. Kesetiaan membuahkan hasil yang membahagiakan (5) Bersama pendamping, peserta menyadari akan hasil dari sebuah kesetiaan. (5) 1) Contoh kesetiaan 2) Makna kesetiaan 3) Akibat sebuah kesetiaan (6) - Informasi - Sharing - Diskusi kelompok - Refleksi pribadi c. Setia dalam susah dan senang di salam komunitas. Bersama pendamping, peserta dapat setia di dalam komunitas. 1) Kesetiaan tanpa batas. 2) Kesetiaan dalam komunitas. Mewujudkan kesetiaan dalam komunitas - Informasi - Tanya jawab - Diskusi kelompok - Sharing - Refleksi pribadi (7) (8) - Teks lagu “Kasih - Luk 19:1226 Setiaku” - Teks Kitab Suci - Skripsi - Teks cerita halaman “Setia Sampai 56 Yesus Datang” - Leptop - Speaker - Salib - Teks lagu “Allah - Luk 16:915 Peduli” - Skripsi - Teks Kitab Suci halaman - Teks cerita 56 “Bersama Semakin Teguh” - Leptop - Speaker - Salib Lilin 97

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 E. Petunjuk Pelaksanaan Program Program pendampingan ini diusulkan bagi anggota PDKK di Gereja St. Antonius Kotabaru. Program ini dapat dilaksanakan selama 4,5 bulan, pada tahun 2015 dengan sembilan (9) kali pertemuan. Penulis akan memandu pada pertemuan pertama. Untuk selanjutnya, pertemuan akan didampingi oleh seorang PA (Pemandu Acara) secara bergantian. Pertemuan dilaksanakan secara berurutan sesuai dengan penjabaran program yang telah dibuat. Pertemuan dilaksanakan setiap satu bulan dua kali, pada hari Selasa minggu kedua dan keempat. Setiap pertemuan dilaksanakan selama maksimal dua jam. Pertemuan untuk berkatekese bertempat di gedung Widya Mandala. Dengan usulan program katekese tersebut, diharapkan pemandu acara (PA) atau pastur dapat mempergunakan model SCP ini sebagai bentuk pendampingan bagi anggota PDKK di Gereja St. Antonius Kotabaru. F. Contoh Persiapan Katekese 1. Identitas katekese a. Tema : Saling mengasihi seperti Yesus mengasihi. b. Tujuan : Bersama pendamping, peserta semakin menyadari arti kasihterhadap sesama yang tinggal sebagai saudara, sehingga menciptakan kerukunandalam komunitas PDKK. c. Peserta : Anggota PDKK di Gereja St. Antonius Kotabaru d. Tempat : Gedung Widya Mandala Kotabaru e. Waktu : 18.00-20.00

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 f. Model : SCP (Shared Christian Praxis) g. Metode : - Informasi - Tanya jawab - Diskusi kelompok - Sharing kelompok - Refleksi pribadi h. Sarana : - Teks lagu “Kasih” - Teks Kitab Suci - Video “Mengasihi Tanpa Kata-Kata” - Leptop - LCD - Speaker - Salib - Lilin i. Sumber bahan : - Yoh15:9-17 - Skripsi halaman 54 2. Pemikiran Dasar Belakangan ini, kata ‘kasih’ seolah hanya kata kiasan yang hanya diucapkan saja tanpa ada perwujudannya. Bahkan banyak orang bingung akan definisi tentang kasih itu sendiri. Dalam berita-berita yang kita dengar juga banyak sekali pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan dengan sadis oleh orang terdekat korban, seakan-akan membunuh itu sudah sangat biasa dan nyawa manusia disamakan dengan ayam atau binatang lainnya.

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Kasih merupakan suatu relasi kebaikan yang dibuat orang seperti orang tua kepada anak. Kasih yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya tidak pernah ada batasnya. Ketika seseorang berani mencintai berarti ia mengungkapkannya dan merasakannya dengan hati. Kasih yang adalah cinta itu biasanya pasang surut. Ketika cinta itu masih berkobar-kobar biasanya orang yang merasakan cinta tersebut akan merasakan suatu kebahagiaan yang sangat mendalam, apalagi ketika seorang merasakan bagaimana memberikan cinta kepada sesama. Seringkali cinta yang kita berikan untuk sesama kita tidak tulus, tetapi mengharapkan imbalan. Imbalan tersebut membuat cinta menjadi arti yang tidak mendalam. Dengan menghargai kebaikan orang lain dengan kasih maka kita juga akan merasakan kasih dari orang lain. Kasih yang paling besar ialah ketika kita mau berkorban bagi sesama kita terutama kepada sesama yang membutuhkan pertolongan dan ketika kita berani mengasihi musuh kita. Sebagai manusia yang dilahirkan dengan ras, kebudayaan dan latar belakang yang berbeda-beda tentu banyak perbedaan yang muncul. Bahkan terkadang perbedaan itu menyebabkan perpecahan. Tidak jarang pula dalam kehidupan kita setiap hari di tengah lingkungan hidup. Kita seringkali bersikap cuek terhadap sesama kita. Kasih hanya digunakan sebagai topeng yang ampuh yang mampu diungkapkan dengan kata-kata tetapi tidak bisa diwujudnyatakan dalam kehidupan. Dalam Injil Yohanes 15:9-17, Yesus membicarakan tentang cinta agape dimana Tuhan mencintai kita tanpa memilih dan melihat siapa yang akan Ia cintai. Cinta kasih Tuhan tidak pernah setengah-setengah, melainkan mampu memberikan hatinya dengan seutuhnya bagi manusia. Kasih itu dimulai dari kasih Bapa terhadap Yesus dan kasih ini kemudian disebarkan kepada murid-muridNya. Kasih sejati itu juga diterima oleh para murid-Nya untuk mencintai, maka

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 mereka juga saling mencintai sebagai sumber kasih dan kedamaian dalam persahabatan dengan sesama dan dengan Tuhan. Yesus mengajak kita untuk mengikuti perintah-Nya yaitu supaya setiap manusia dapat saling mengasihi satu dengan yang lainya. Yesus mengatakan bahwa kita adalah sahabatnya, bukan lagi hambanya. Dengan saling mengasihi kita akan merasakan kedamaian begitupun dengan sahabat-sahabat yang hidup bersama dengan kita. Dalam pertemuan kali ini kita diajak untuk mampu berbagi kasih terhadap sesama kita, khususnya bagi saudara yang ada dalam satu komunitas yaitu PDKK. Ketika ada saudara kita yang mengalami kesulitan atau mengalamai kesedihan yang lain mampu memberikan penghiburan. Dengan saling meneguhkan serta saling mendengarkan antara satu sama lain maka akan tercipta persahabatan yang semakin erat dan harmonis diantara semua anggota komunitas PDKK. 3. Pengembangan Langkah-Langkah a. Pembukaan 1) Pengantar Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, kasih yang berkembang dalam zaman ini adalah cinta yang selalu mengharapkan imbalan. Kasih yang bersyarat. Banyak manusia telah kehilangan arti kasih yang sejati, yaitu kasih Kristus sendiri. Telah kita ketahui bahwa Yesus mengajarkan kita untuk selalu mengasih satu sama lain. Tetapi terkadang kita melupakan itu semua, kita sibuk dengan kepentingan kita sendiri tanpa melihat sesama kita yang sedang mengalami kesulitan. Manusia hidup dengan berbagai macam perbedaan yang ada dalam setiap pribadi yang tidak jarang akan menimbulkan ketidakcocokan. Dalam

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 kehidupan sehari-hari tentu tidak jarang sering terjadi kesalah pahaman, dengan begitu lebih senang melihat sahabatnya menderita sehingga tidak mampu menciptakan suatu kedamaian dalam hidup bersama. Dalam Injil Yohanes, Yesus memberikan perintah agar kita saling mengasihi diantara sesama kita. Seperti Bapa telah mengasihi Yesus, dan Yesus mengasihi kita sehingga Ia merelakan nyawa-Nya untuk menyelamatkan manusia. Yesus juga berani merendahkan diri dengan menganggap kita sahabat-Nya bukan lagi hamba bagi-Nya karena Yesus sungguh mengasihi kita sama seperti Ia mengasihi Bapa. Kasih yang besar diberikan oleh Yesus agar setiap manusia juga mampu menaruh kasih terhadap sesamanya. Semoga dengan pertemuan hari ini, kita bersama dapat melihat dan merasakan kasih Allah melalui sesama kita, terlebih disaat sahabat kita mengalami banyak kesulitan dalam kehidupannya. Teman-teman yang terkasih untuk memulai pertemuan kita hari ini, marilah kita menyanyikan lagu untuk menyatukan hati kita. 2) Lagu pembukaan: “Kasih” 3) Doa pembukaan: Allah Bapa yang Mahabaik, kami sungguh bersyukur atas berkat yang Kau limpahkan kepada kami dalam PDKK ini. Terimakasih karena pada kesempatan ini Engkau telah mengijinkan kami mengenal kembali kasih-Mu. Kasih yang akhir-akhir ini telah hilang karena keegoisan dan keserakahan kami sendiri. Bapa, Engkau tak henti-hentinya memberkati perjuangan kami dari awal sampai saat ini. Dengan kasih yang luar biasa, Engkau selalu membangkitkan semangat kami saat kami hampir menyerah. Bapa, kini kami semua menghadap-Mu, untuk belajar tentang kasih yang berasal dari-Mu. Bantulah kami memahami kasih-Mu,

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 sehingga kami pun dapat menirusuri teladan-Mu untuk mengasihi Engkau, lewat sesama kami. Hadirlah di tengah kami Bapa, sentuhlah hati kami dengan kehangatan kasih-Mu. Semua doa ini, kami hunjukkan keada-Mu dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin. b. Langkah I: Mengungkapkan Pengalaman Hidup Peserta 1) Mengajak peserta untuk menyaksikan sebuah video berjudul “Mengasihi Tanpa Kata- Kata” [Lampiran 13: (13)]. 2) Intisari Cerita Video tersebut merupakan kutipan inspirasi tentang bagaimana kita saling mengasihi sesama kita. Seperti seorang ayah yang sungguh mengasihi anaknya dengan segala keterbatasan yang ia miliki, tetapi ia sesalu memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tetapi anaknya meresa malu memiliki orang tua yang memiliki keterbatasan, sehingga ia menjadi anak yang tidak mau mendengarkan nasihat dari ayahnya. Walaupun begitu sang ayah tetap setia dengan mengasihi anaknya. Sama seperti Yesus mengasihi kita walaupun kita telah melukai hatiNya tetapi ia selalu memberikan pengampunan dan kasih yang begitu besar bagi semua orang. Kasih yang sejati tidak menuntut imbalan apapun baik dalam situasi apapun dan dalam keadaan seburuk apapun, karena kasih akan selalu menghadirkan kadamaian dan sukacita bagi hati setiap manusia. Video ini berisi kutipan inspirasi bagaimana kita peduli terhadap situasi yang dialami oleh banyak orang. Kepedulian satu orang akan mendatangkan kepedulian yang amat besar dari dalam hati banyak orang. Begitupun Allah tidak akan pernah membiarkan kita sendiri menapaki kesulitan hidup kita, Allah selalu memegang

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 tangan kita asalkan kita percaya dengan sungguh bahwa ia selalu peduli dan setia untuk membantu kita. Allah peduli tanpa memandang siapa yang harus ditolongNya tetapi karena Allah yang peduli selalu menolong dengan kuasa kasih-Nya. 3) Pengungkapan pengalaman: peserta diajak untuk mendalami cerita tersebut dengan tutunan beberapa pertanyaan - Ceritakanlah pengalaman bapak tersebut dalam mencintai anaknya! - Ceritakanlah pengalaman saudara-saudari dalam mengasihi sesama? 4) Suatu Contoh Arah Rangkuman: Dalam slide show tentang mengasihi dalam diam, diungkapkan banyak hal tentang bagaimana kita mengasihi sesama dan bagaimana kita mampu menanggapi kasih yang diberikan sesama kepada kita. Kita mampu mengasihi siapa saja baik orang tua,saudara, atau pun sahabat-sahabat kita yang sedang mengalami banyak masalah. Karena dengan mengasihi satu dengan yang lainnya maka akan mengubah semua keterpurukan yang menimpa sahabat-sahabat kita atau siapapun itu. Kita diajak untuk membuka hati kita dengan mengasihi sesama kita walaupun kasih yang kita berika itu tidak diterima dengan ketulusan hati, tetapi dengan begitu Tuhan akan membantu kita untuk mampu menyadari bahwa dengan kasih maka akan mampu mengubah dunia yang suram menjadi kedamaian dan kebahagiaan yang mendalam. Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita juga punya banyak pengalaman ketika kita salaing mengasihi antara sahabat-sahabat kita makan kita akan mengalami rasa kedamaian tersendiri didalam hati. Seperti ketika didalam kehidupan bersama kita mampu membantu teman yang sakit dengan membelikan obat, atau belajar kelompok bersama untuk dapat saling memperkaya ilmu

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 pengetahuan. Dengan begitu kasih yang diberikan oleh Allah tidak berhenti pada diri kita sendiri tetapi mampu kita bagikan kepada sahabat-sahabat kita,orang tua dan sesama kita terlebih sesama kita yang mengalami kesulitan. Dengan hal-hal yang kecil kita mampu membangun kasih yang besar didalam hati sesama kita. c. Langkah II: Mendalami Pengalaman Hidup Peserta 1) Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman atau cerita di atas dengan panduan pertanyaan sebagai berikut: - Mengapa saudara-saudari mengasihi sesama? 2) Dari jawaban yang telah diungkapkan oleh peserta, pendamping memberikan arahan rangkuman singkat, misalnya: Teman-teman yang terkasih dalam Kristus, dalam kehidupan kita menaruh kasih terhadap sesama kita. Karena Allah sendiri telah mengasihi kita, oleh karena itu kita sebagai manusia juga memiliki tanggungjawab untuk saling mengasihi. Allah telah memberikan suatu contoh nyata dalam kehidupan kita setiap hari, dengan saling mengasihi akan membuat hati kita dan sesama kita terasa damai. Apa bila manusia di dunia ini dapat hidup dengan damai maka perpecahan di dunia ini tidak akan ada lagi. Yesuspun mengajarkan kita untuk saling mengasihi karena dengan saling mengasihi maka kita dapat tinggal bersama dengan Allah dalam kedamaian. d. Langkah III: Menggali Pengalaman Kristiani 1) Salah seorang peserta diminta untuk membacakan perikope Kitab Suci, Injil Yohanes 15:9-17 dari teks Fotocopy yang dibagikan.

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 2) Masing-masing peserta diberi kesempatan untuk hening sejenak, merenungkan dan menanggapi pembacaan Kitab Suci dengan dibantu beberapa pertanyaan berikut: - Ayat-ayat manakah yang menunjukan cinta kepada sesama? - Sikap-sikap mencintai yang bagaimana yang ingin ditanamkan dari Yoh 15:9-17tersebut dalam hidup para murid? 3) Peserta diajak untuk mencari dan menemukan sendiri pesan inti perikope sehubungan dengan dua pertanyaan di atas. 4) Pendamping memberi tafsiran dari Injil Yohanes 15:9-17: Ayat 12: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” Perikope ini menunjukan bahwa Bapa mengasihi Yesus. Kasih Yesus ini ditanggapi dalam ketaatan kasih para murid terhadap Kristus karena Yesus mengasihi para muridnya, dan bersinar dalam kasih mereka satu sama lain. Yesus menuruti perintah Bapa-Nya demikian juga para muridnya menuruti perintah Yesus dan tinggal bersama Yesus. Adanya sikap saling mengasihi dengan penuh maka akan timbul suatu yang dinamakan sukacita. Dengan inilah yang akan menjadi sumber dari kedamaian diantara mereka, dan akhirnya akan tercapai suatu persahabatan sejati antara Yesus dengan para muridNya. Wujud cinta kasih Yesus adalah Yesus tidak lagi menganggap para muridNya sebagai hamba melainkan sebagai sahabat. Kasih yang Yesus berikan bukan hanya penyerahan nyawa, tetapi juga penyerahan pengetahuan, perwahyuan, dan pemberitahuan.Tidak ada lagi tuan dan hamba diantara mereka dan tidak ada lagi rahasia. Inilah yang dinamakan kasih yang membawa kedamaian.

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 Kasih Yesus tidak hanya memberikan teladan tetapi juga memberikan jalan untuk memilih, karena kasih-Nya Allah telah memilih Yesus menjadi penyelamat dan memberikan nama yang sesuai dengan Pilihan-Nya. Sehingga segalanya menjadi karya kasih-Nya yang abadi. Ayat 17: “Inilah perintah-Ku kepadamu: kasihilah seorang terhadap yang lain”. Dari perikope ini menunjukan bahwa Yesus telah memilih orang-orang yang menerima pernyataan ini. Tanggapan kasih inilah yang diterapkan oleh para murid-murid-Nya dalam hidup mereka. Sikap-sikap yang ingin ditanamkan dari perikope tersebut adalah bahwa supaya kita dapat saling mengasihi. Bapa kita di surga sudah memberikan teladan mengasihi dengan mengasihi Yesus, Putra-Nya. Yesuspun menanggapi kasih Bapa sekaligus membuktikan kasih-Nya kepada umat manusia dengan taat sampai wafat di kayu salib.Dalam kasih-Nya, Yesus menganggap murid-Nya bukanlah hamba, melainkan sahabat. Hal itulah yang saat ini seringkali dilupakan karena orang selalu ingin terlihat lebih dari yang lainnya. Direktur dan karyawan, orang kaya dan orang miskin, dan lain sebagainya. Yesus mengajarkan bahwa status atau jabatan bukanlah segalanya dan tidak bisa sebagai perbandingan dalam mengasihi dengan tulus. Sebagai murid Yesus, kita adalah orang-orang pilihan untuk meneruskan kasih-Nya kepada semua orang di dunia ini. Kita dipanggil untuk mewartakan kasih-Nya di dalam kehidupan secara konkret. Kasih ituhanya satu tetapi kasih itu juga akan berkembang menjadi banyakdimulai dari kasih Bapa kepada Kristus, lalu dari Kristus kepada sahabat-sahabat-Nya. Kasih merupakan sumber kedamaian, karena dengan kasih akan memunculkan suatu harapan akan

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 kedamaian. Oleh karena itu bila kita saling mengasihi satu dengan yang lainnya tentu kita akan tinggal di dalam kasih Allah. e. Langkah IV: Menerapkan Iman dalam Situasi Konkret Peserta 1) Pengantar Teman-teman, dalam perbincangan-perbincangan kita tadi, kita sudahmendalami kutipan-kutipan inspirasi dari Video berjudul “Mengasihi dalam Diam” dan dari Injil Yohanes tadi juga kita telah mengetahui bahwa Yesus memerintahkan kita untuk dapat saling mengasihi terhadap sesama kita. Dalam komunitas PDKK ini, kasih itu dapat diwujudkan dengan menjalin kerukunan dengan sesama, peduli, peka dan masih banyak hal lainnya. Maka, marilah kita bersama mewujudkan kasih tersebut di dalam komunitas PDKK Kotabaru ini, sehingga kita semakin dapat menirusuri teladan Yesus sebagai guru dan sahabat kita. Sebagai bahan refleksi agar kita dapat saling peduli sesuai dengan perintah Yesus. Kita akan merenungkan pertanyaan ini sebagai berikut: - Sejauh mana saudara-saudari saling mengasihi untuk mewujudkan kerukunan di komunitas PDKK ini ? 2) Saat hening diiringi dengan musik instrumental dari laptop. Kemudian peserta diberi kesempatan secukupnya untuk mengungkapkan hasil-hasil permenungan pribadinya itu. 3) Arah rangkuman Saling mengasihi mewujudkan kerukunan di dalam komunitas PDKK dapatdilakukan dengan banyak hal dari hal yang paling kecil, misalnya: kalau ada

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 persoalan bisa diselesaikan dengan baik, peduli terhadap sesama, dan mampu memerima segala kelebihan dan kekurangan sesama. Semua yang ada di dalam PDKK ini adalah keluarga, saudara yang sudah semestinya kita kasihi seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Dengan demikian kita dapat menyadari bahwa dengan mengasihi akan mendatangkan kerukunan sebagai saudara yang hidup dalam sebuah komunitas. f. Langkah V: Mengusahakan Suatu Aksi Konkret 1) Pengantar Saudara-saudari, kita bersama-sama sudah menggali pengalaman dengan melihat video “Mengasihi Tanpa Kata-Kata”. Kita sudah mengetahui bagaimana kasih itu yang telah digambarkan di video tadi. Kasih seorang bapak kepada anaknya seperti kasih Allah yang tanpa batas dan tidak pernah mengharapkan imbalan. Kita bersama juga telah sharing pengalaman mengasihi dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya kita juga telah menggali pengalaman kristiani dengan panduan Kitab Suci dalam Injil Yohanes 15:9-17 tentang kasih, yang menunjukan kepada kita bahwa Yesus sendiri memerintahkan kita untuk saling mengasihi. Dimulai dari Bapa kepada Kristus dan Kristus kepada sahabat-sahabat-Nya samapai Ia rela mengorbankan nyawa-Nya. Dengan demikian Yesus mau mengajak semua orang untuk saling mengasihi, karena dengan saling mengasihi maka Allah hadir dalam kedamaian. Dalam kehidupan berkomunitas kita juga harus saling mengasihi dan menyadari bahwa kita adalah sahabat-sahabat Yesus, maka dengan kasih Yesus tersebut akan terwujudnya suatu kerukunansejati di dalam Kristus.

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 2) Marilah sekarang kita memikirkan niat dan tindakan apa yang dapat kita lakukan sehingga kita dapat saling mengasihi sahabat dalam komunitas ini. Selanjutnya peserta sendiri diberi kesempatan dalam suasana hening selama 3 menit untuk memikirkan sendiri-sendiri tentang niat-niat yang akan dilakukan. Dengan saling mengasihi maka persaudaraan dalam komunitas PDKK ini akan semakin tumbuh berkembang dalam kasih Yesus. Peserta diminta memikirkan dan mengungkapkan niatnya dengan panduan pertanyaan: - Niat-niat saling mengasihi apa saja yang dilakukan untuk mewujudkan hidup yang rukun sebagai saudara dalam komunitas PDKK di Gereja St. Antonius Kotabaru ? 3) Kemudian niat-niat pribadi diungkapkan agar dapat mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. 4) Kemudian, pendamping mengajak peserta untuk membicarakan dan mendiskusikan bersama untuk kemudian menemukan niat bersama yang konkret, yang dapat segera diwujudkan agar mereka dapat saling mengasihi sebagai saudara di dalam komunitas PDKK. g. Penutup 1) Setelah itu salib dan lilin yang telah bernyala diletakan di tengah-tengah peserta. 2) Kesempatan doa umat spontan yang diawali oleh pendamping dengan menghubungkan kebutuhan dan situasi peserta sebagai saudara dalam komunitas PDKK. Dan setelah itu doa umat disusul secara spontan oleh peserta yang lain.

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 Kemudian semua doa tersebut dipersatukan dengan doa Bapa kami. Akhirnya doa ditutup dengan doa spontan dari pendamping. 3) Doa penutup: Bapa yang maha baik, kami bersyukur dan berterimakasih kepada-Mu. Karena telah menyertai kami dalam pertemuan malam ini. Dari awal kami sudah belajar dari video tentang mengasihi dalam diam. Kami semakin yakin bahwa kasih itu memberi tanpa mengharapkan imbalan, kasih itu tulus untuk mencintai dengan sepenuh hati tidak setengah-setengah, kasih juga mampu mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Ya Bapa, kami juga telah berbagi pengalaman tentang mengasihi yang kami lakukan selama ini dan kami menyadari masih banyak kekurangan kami dalam mengasihi. Maka, kami pun berusaha menggali pengalaman kristiani kami melalui Injil Yohanes. Dan kini Bapa, kami bersama telah menentukan niat pribadi dan niat bersama kami. Berkatilah yang telah kami sepakati dalam pertemuan ini yaitu hidup rukun, semoga kami dapat mewujudkannya di dalam komunitas ini. Amin. 4) Sesudah Doa Penutup, pertemuan diakhiri dengan menyanyikan lagu “Betapa hatiku”.

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN Suatu komunitas yang sudah berdiri tentu saja mengalami perjalanan yang penuh tantangan. Apalagi komunitas itu adalah komunitas baru yang belum familiar di tengah umat, seperti komunitas Karismatik Katolik yang mengalami perubahan nama beberapa kali sampai pada sebuah nama Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK). PDKK pada mulanya banyak menghadapi kesulitan baik dari luar, maupun dari dalam Gereja Katolik sendiri. Umat pada umumnya belum benar-benar menerima adanya karismatik dalam Gereja Katolik. Banyak keraguan apakah PDKK ini benar-benar Katolik atau malah menyimpang dari ajaran-ajaran Gereja Katolik sendiri. Semua keraguan dan penolakan terhadap adanya PDKK ini ternyata karena banyak umat tidak tahu-menahu secara pasti tentang Persekutuan Doa Karismatik Katolik ini. Banyak umat hanya merasa PDKK tidak baik, namun banyak umat tidak mencari tahu, padahal komunitas ini adalah komunitas Gereja Katolik yang sangat terbuka pada siapapun yang ingin mengetahui dan mengikuti kegiatannya. Selain itu, PDKK ini berdiri dengan kokoh dengan dasar biblis yang kuat dalam ajaran-ajaran Gereja Katolik yaitu Kitab Suci, Konsili Vatikan, Katekismus Gereja Katolik, dan Pedoman Pembaharuan Karismatik. Bahkan beberapa pastur seperti Rm. Deshi Ramadhani, SJ sudah menuliskan tentang karismatik katolik dalam bukunya yang berjudul “Mungkinkah Karismatik Katolik?”. Dalam buku itu dijelaskan secara lengkap tentang karismatik katolik dari sejarah sampai perkembangannya.

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 PDKK yang menggunakan ritus ibadat dalam kegiatan doanya, memiliki kekhasan yaitu bahasa roh yang diyakini sebagai bahasa dari Roh Kudus, Roh Allah sendiri. Bahasa Roh juga menimbulkan berbagai pertentangan di kalangan Gereja Katolik sendiri. Walaupun St. Paulus dalam surat-suratnya telah menyebutkan tentang adanya bahasa roh. Banyak yang khawatir bahasa roh yang muncul hanya dibuat-buat saja. Hal itu memang dimungkinkan karena belum ada satupun umat atau anggota PDKK St. Antonius Kotabaru yang dapat menafsirkan bahasa roh. Namun, ada satu hal yang dapat dijadikan pegangan yaitu, apabila orang tersebut benar-benar mendaraskan bahasa roh yang berasal dari Roh Kudus sendiri, maka segala perilaku dan tindakan yang dilakukannya akan menimbulkan kebaikan bagi orang lain dan dirinya. PDKK memiliki banyak peranan untuk menumbuhkan keaktifan anggota PDKK dalam hidup menggereja. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya anggota PDKK yang terlibat aktif dalam hidup menggereja seperti menjadi prodiakon, ketua lingkungan, melayani dan mendampingi orang-orang sakit yang membutuhkan, dan masih banya lagi. Anggota PDKK St. Antonius Kotabaru bukanlah para pengangguran yang tidak memiliki kegiatan rutin, namun mereka adalah para pengusaha yang sibuk tetapi selalu memberikan waktu untuk Tuhan melalui sesama. Dari situ terlihat bahwa PDKK memiliki peranan yang cukup besar dalam kehidupan para anggota PDKK untuk semakin peka dan melayani. Melalui katekese model Shared Christian Praxis (SCP), penulis ingin membantu anggota untuk semakin mendalami dirinya sebagai umat Katolik yang tergabung dalam komunitas PDKK St. Antonius Kotabaru. Sebagai anggota komunitas, anggota PDKK tidak melupakan bahwa mereka juga anggota Gereja. Dengan kasih, kesetiaan dan kemurahan yang diangkat sebagai tema SCP, penulis

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 memberikan wadah untuk berbagi pengalaman antar sesama sehingga semakin menguatkan satu sama lain. Kasih akan mengingatkan tentang kasih Yesus yang tak terbatas. Kesetiaan akan semakin meneguhkan iman anggota PDKK untuk taqwa dan pasrah kepada Allah. Dan kemurahan akan membantu anggota untuk tanpa ragu mengulurkan tangan pada sesama yang membutuhkan. Usulan program ini merupakan salah satu cara agar komunitas PDKK ini tidak terlepas dari Gereja. Sebagi katekese, SCP akan meningkatkan komunikasi iman antar anggota PDKK St. Antonius Kotabaru. Katekese model SCP ini juga sudah disertai dengan program-program yang dapat dilaksanakan sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh anggota PDKK dan pembaca, sehingga pertemuan SCP yang dilaksanakan akan dapat menjawab kebutuhan dan harapan anggota PDKK St. Antonius Kotabaru. SCP bersifat dialogis partisipasif yang bertolak dari pengalaman hidup anggota PDKK St. Antonius Kotabaru. Dengan SCP ini diharapkan anggota PDKK akan dapat mengkomunikasikan tujuan Gereja dan tujuan PDKK sehingga dapat mengambil keputusan pribadi dan keputusan bersama yang sejalan. Selain itu, dengan berkomunikasi, akan tercipta rasa terbuka dan percaya antar anggota PDKK sehingga semakin erat sebagai keluarga di dalam Yesus. B. SARAN Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis memiliki beberapa saran yang mungkin dapat berguna bagi perkembangan anggota PDKK maupun umat Katolik di St. Antonius Kotabaru.

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 1. Koordinator dan pengurus inti komunitas PDKK St. Antonius Kotabaru PDKK memerlukan rencana untuk melakukan suatu pembekalan atau rekoleksi bagi anggota PDKK Kotabaru sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan anggota tentang karismatik katolik dan tentang Gereja katolik. 2. Pastor paroki Gereja St. Antonius Kotabaru Bila dimungkinkan, sebaiknya pastor paroki mendampingi kegiatan doa setiap kegiatan PDKK dilaksanakan, sebagai bentuk dukungan dan menjalankan fungsi pastor paroki sebagai pengawas dengan lebih baik lagi sehingga dapat menjaga kegiatan PDKK ini sesuai dengan tradisi Gereja Katolik. 3. Umat Secara keseluruhan umat sebaiknya mencaritahu dahulu sebelum menyatakan bahwa hal tersebut tidak baik. Setelah itu baru memutuskan hal tersebut baik atau tidak. Sesuatu yang tidak baik, tidak akan diberkati oleh Tuhan, namun sesuatu yang baik, pasti diberkati Tuhan sehingga berkembang.

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 DAFTAR PUSTAKA Adhi Wiraswata, F. http://komunitas25plus.org/produk-109-f-adhi-wiraswata.html accesed on June 26, 2014. Agus Handoyo. https://id-id.facebook.com/notes/hidup-baru/repost-kanonikpembaharuan-karismatik-katolik/393382147285 accesed on January 27, 2014. Alkitab. (2002). Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia. Arya, dkk. papitanews.blogspot.com/?m=1 accesed on 12 june 2013. Ben, Benardus. (1999). Sumbangan Katekese Umat bagi Persekutuan Doa Pembaharuan Karismatik Katolik Paroki Antonius Kotabaru Yogyakarta. Skripsi Mahasiswa Prodi IPPAK, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Deshi Ramadhani. (2008). Mungkinkah Karismatik Sungguh Katolik? Yogyakarta: Kanisius. Dewo. http://mazdewo.blogspot.com/2012/10/pengertian-gereja.html accesed on October 19, 2012. Dodik Hariono. http://kitabterbuka.blogspot.com/2013/02/memahami-artikebaikan-dalam-roma-828.htmlAdd a comment accesed on November 18, 2013. Erika. http://www.pirkobar.com/2013/09/teentime-lentera-jiwa.html accesed on June 18, 2013. Jamal Ma’mur Asmani. 2011. Tuntunan Lengkap Metodologi Praktis Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Diva Press. Konferensi Waligereja Indonesia. (1995a). Katekismus Gereja Katolik. Ende: Arnoldus. ________. (1995b). Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda. Ende: Arnoldus. ________. (1996). Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi.Yogyakarta: Kanisius. ________. https://www.facebook.com/notes/iman-katolik/panca-tugas-gerejaliturgia-koinonia-kerygma-diakonia-martyria/10150456710675178 accesed on July 15, 2013a. ________. http://katolisitas.org/9453/dokumen-kwi-mengenai-pembaharuankarismatik-katolik-aneka-karunia-satu-roh accesed on August 13, 2013b. ________.http://katolisitas.org/9579/dokumen-kwi-mengenai-pembaruan-hidupkristiani-sebagai-karisma-roh accesed on January 27, 2014. Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1966). Mariella, dkk. (2009). Pelaksanaan Persekutuan Doa Karismatik Katolik. Makalah Tugas Pastoral Paroki Mahasiswa Semester V, Prodi IPPAK, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. MAWI. (1983). Pedoman Pastoral Para Uskup Indonesia Mengenai Pembaharuan Karismatik Katolik. Jakarta: Obor. Mojau, Julianus. http://www.oaseonline.org/artikel/mojauperubahansosial.htm accesed on December 2, 2013. Moleong, Lexy J. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 Mutiara Andalas. (2011). 85th Gereja St. Antonius Kotabaru.Yogyakarta: Kanisius. Njiolah, P. Hendrik. (2003). Misteri Bahasa Roh. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama. Prodi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik. 2006. Pedoman Penulisan Skripsi. Yogyakarta: Prodi IPPAK. Pusat Musik Liturgi. (2009). Madah Bakti. Yogyakarta: PD Selamat. Riduwan. (2007). Belajar Mudah Penelitian: untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta. Sugiono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif-Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sumarno Ds., M. (2005). Pengantar Pendidikan Agama Katolik Paroki. Diktat Mata Kuliah Pengantar Pendidikan Agama Katolik Paroki untuk Mahasiswa Semester VI, Program Studi IPPAK, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. ________. (2014). Pendidikan Agama Katolik Paroki. Diktat Mata Kuliah Pendidikan Agama Katolik Paroki untuk Mahasiswa Semester IV, Program Studi IPPAK, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sutrisno Hadi. (1982). Metodologi Research 3. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Suwartinah, Margaretha. (1999). Katekese dan Relevansinya bagi Persekutuan Doa Pembaharuan Karismatik Katolik dalam Rangka Pembinaan Iman Remaja di Sekolah bagi Siswa SMU Negeri 1 Kasihan Bantul. Skripsi Mahasiswa Prodi IPPAK, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1: Surat Ijin Penelitian kepada Romo Paroki dan Koordinator PDKK Gereja St. Antonius Kotabaru (1)

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (2)

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 2 : Salah Satu Contoh Instrumen (3)

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (4)

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (5)

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3: Pedoman wawancara anggota organis Kotabaru 1. 2. 3. 4. 5. Berapa lama anda tergabung dalam tim organis Kotabaru? Apakah tim organis memiliki jadwal pertemuan rutin? Bilamana pertemuan tersebut dilaksanakan? Apa saja yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut? Apa tujuan pertemuan tersebut? (6)

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4: Pedoman wawancara anggota pendamping PIA Kotabaru 1. Selama kakak bergabung dalam PIA Kotabaru, berapa banyak anggota PIA yang aktif? 2. Apakah ada pertemuan rutin antar anggota PIA? Bilamana pertemuannya berlangsung? 3. Biasanya dalam pertemuan rutin, apa saja yang dibicarakan? 4. Apa saja kegiatan yang dilakukan tim PIA Kotabaru selain pendampingan PIA pada hari Minggu? 5. Di mana acara HAN berlangsung? 6. Apa tujuan dan sasaran dari kegiatan tersebut? (7)

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5: Pedoman wawancara anggota PATEMON Kotabaru 1. Sudah berapa lama menjadi anggota PATEMON? 2. Selama anda bergabung dalam komunitas PATEMON, ada berapa anggota yang aktif? 3. Apa tugas PATEMON? 4. Apakah ada kegiatan rutin yang dilakukan oleh komunitas ini? 5. Siapakah sasarannya? (8)

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6: Pedoman wawancara anggota OMK Kotabaru 1. 2. 3. 4. 5. Apakah OMK Kotabaru memiliki kegiatan rutin yang dilakukan? Apa yang dimaksud dengan savari lingkungan itu? Apa tujuan dilaksanakannya savari lingungan tersebut? Siapakah sasarannya? Siapakah ketua OMK Kotabaru sekarang ini? (9)

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7: Pedoman wawancara anggota PDKK Kotabaru 1. Selama ini berapa orang anggota PDKK yang terlibat aktif dalam komunitas ini? 2. Bilamana diadakan kegiatan doa dalam PDKK ini? 3. Di mana tempat dilaksanakannya kegiatan doa ini? 4. Bagaimana langkah-langkah kegiatan doa dalam kegiatan ini? 5. Apakah ada kegiatan yang dilakukan komunitas ini selain kegiatan rutin? 6. Dalam rangka apa ziarah yang dilakukan oleh komunitas ini? 7. Apa tujuannya? (10)

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 8:Pedoman wawancara koordinator PDKK tentang struktur organisasi PDKK St. Antonius Kotabaru 1. Sebagai sebuah organisasi, apakah komunitas PDKK ini memiliki struktur organisasi yang formal? 2. Apakah tugas dari masing-masing bidang dalam struktur tersebut? (11)

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 9: Pedoman wawancara koordinator PDKK 1. 2. 3. 4. Menurut bapak, dari segi mana PDKK ini dapat dilihat sebagai karismatik yang Katolik? Adakah kegiatan lain yang dilakukan oleh PDKK ini selain kegiatan doa? Apa saja kegiatan tersebut? Mengapa kegiatan tersebut merasa dibutuhkan untuk dilakukan? (12)

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 10: Hasil wawancara anggota organis Kotabaru A. Pelaksanaan 1. Responden : Yulius Frendi Pradinato 2. Tanggal : 16 Juni 2013 3. Tempat : Kos-kosan tempat Frendi tinggal B. Pokok-pokok Pertanyaan dan Rangkuman Hasil Wawancara 1. Berapa lama anda tergabung dalam tim organis Kotabaru? Jawaban: Saya sudah 2,5 tahun bergabung dalam organis Kotabaru. Dulu sebelum bergabung di dalam tim organis Kotabaru, saya sempat kursus di PML. Jadi ketika praktek saya juga melakukannya di Gereja Kotabaru. 2. Apakah tim organis memiliki jadwal pertemuan rutin? Jawaban: Jadwal pertemuan rutin memang selalu diadakan pada saat menjelang hari raya-hari raya besar di Gereja seperti Natal, Tri hari suci, Paskah dan pestapesta orang kudus. 3. Apakah salah satu tema yang diangkat dalam pertemuan? Jawaban: Ya, temanya tentang hari raya atau perayaan yang bersangkutan. Kalau sudah menjelang Natal ya temanya lagu-lagu natal, dan seterusnya. 4. Apa saja yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut? Jawaban: Biasanya kami membicarakan tentang lagu-lagu yang akan dimainkan saat perayaan Ekaristi dan membagi tugas siapa yang bisa bertugas di hari yang bersangkutan. 5. Apa tujuan pertemuan tersebut? Siapakah sasarannya? Jawaban: Seperti saya katakan tadi, ya tujuannya adalah untuk mengkoordinir agar jelas siapa yang bertanggung jawab mengiringi koor saat perayaan ekaristi berlangsung. Sasarannya adalah anggota tim organis Kotabaru. (13)

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 11: Hasil wawancara anggota pendamping PIA A. Pelaksanaan 1. 2. 3. Responden: Kristina Santa Marta Tanggal : 25 Juli 2013 Tempat : Kampus V Sanata Dharma (IPPAK) B. Pokok-pokok Pertanyaan dan Rangkuman Hasil Wawancara Selama kakak bergabung dalam PIA Kotabaru, berapa banyak anggota PIA yang aktif? Jawaban: Saat ini ada 21 pendamping yang aktif, namun selalu ada tambahan dan ada pula yang memutuskan keluar. 1. 2. Apakah ada pertemuan rutin antar anggota PIA? Bilamana pertemuannya berlangsung? Jawaban: Ya ada. Kami melakukan pertemuan di ruang PIA yang ada di gedung widya mandala Kotabaru. Pertemuannya diadakan setiap hari Jumat pukul 18.00 WIB. 3. Biasanya dalam pertemuan rutin, apa saja yang dibicarakan? Jawaban: Biasanya kami membicarakan tentang PIA di hari minggu. Siapa yang bisa mendampingi anak-anak. Apabila akan ada EKM, kami akan membagi tugas untuk mempersiapkan EKA tersebut. 4. Apa saja kegiatan yang dilakukan tim PIA Kotabaru selain pendampingan PIA pada hari Minggu? Jawaban: EKA (Ekaristi Anak), dan kemudian mendampingi anak-anak setiap hari minggu, dan kami juga selalu membuat spesial HAN. Kami menyusun rencana untuk mengadakan acara dalam rangka Hari Anak Nasional. Pada tahun lalu juga kami mengadakan HAN. 5. Di mana acara HAN berlangsung? Jawaban: Tahun lalu kebetulan kami memilih mengadakan acara HAN di kampus V Sanata Dharma (IPPAK). 6. Apa tujuan dan sasaran dari kegiatan tersebut? Jawaban: Tujuan dari kegiatan itu adalah mengakrabkan anak-anak PIA yang berada di paroki dan sekolah-sekolah Katolik di sekitar Kota Baru. Sasarannya adalah anak-anak PIA dan anak-anak Katolik yang berada di sekolah Katolik. (14)

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 12: Hasil wawancara anggota PATEMON Kotabaru A. Pelaksanaan 1. Responden : Laurentius Anang Widi Prakosa 2. Tanggal : 12 Mei 2013 3. Tempat : Kampus V Sanata Dharma (IPPAK) B. 1. Pokok-pokok Pertanyaan dan Rangkuman Hasil Wawancara Sudah berapa lama menjadi anggota PATEMON? Jawaban: Sudah satu tahun ini. 2. Selama anda bergabung dalam komunitas PATEMON, ada berapa anggota yang aktif? Jawaban: Ada 23 anggota yang aktif dan secara bergantian bertugas saat misa berlangsung. 3. Apa tugas PATEMON? Jawaban: Mensyuting, mengontrol TV dan monitor yang ada di sudut-sudut Gereja agar umat terbantu dalam mengikuti misa. 4. Apakah ada kegiatan rutin yang dilakukan oleh komunitas ini? Jawaban: Ada. Regeneration setiap tahunnya dengan tujuan untuk regenerasi anggota PATEMON. 5. Siapakah sasarannya? Jawaban: Sasarannya kaum muda Katolik di Kotabaru yang mau terlibat dan mampu mengemban tugas. (15)

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 13: Hasil wawancara anggota OMK Kotabaru A. Pelaksanaan 1. Responden : Veronika Dwi Lestari 2. Tanggal : 14 Agustus 2013 3. Tempat : Asrama Retno Wulan, Tukangan B. Pokok-pokok Pertanyaan dan Rangkuman Hasil Wawancara 1. Apakah OMK Kotabaru memiliki kegiatan rutin yang dilakukan? Jawaban: Iya ada yaitu savari lingkungan. 2. Apa yang dimaksud dengan savari lingkungan itu? Jawaban: Savari lingkungan adalah sebutan untuk acara bersih desa atau lingkungan. 3. Apa tujuan dilaksanakannya savari lingungan tersebut? Jawaban: Untuk menggugah OMK lingkungan agar mereka memiliki kepekaan terhadap lingkungan hidup sekitar mereka. 4. Siapakah sasarannya? Jawaban: Sasarannya adalah OMK-OMK lingkungan Gereja St. Antonius Kotabaru. 5. Siapakah ketua OMK Kotabaru sekarang ini? Jawaban: Saat ini OMK Kotabaru diketuai oleh mas Yuyus Kurniado. (16)

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 14: Hasil wawancara anggota PDKK Kotabaru A. Pelaksanaan 1. Responden: Benny Susanto 2. Tanggal : 19 Maret 2013 3. Tempat : GKS Widya Mandala B. 1. Pokok-pokok Pertanyaan dan Rangkuman Hasil Wawancara Selama ini berapa orang anggota PDKK yang terlibat aktif dalam komunitas ini? Jawaban: Ada 50 orang yang hadir setiap kegiatan doa PDKK ini. 2. Bilamana diadakan kegiatan doa dalam PDKK ini? Jawaban: Kegiatan doa ini selalu dilakukan rutin pada setiap hari Selasa pada pukul 18.00 samapi 20.00 WIB. 3. Di mana tempat dilaksanakannya kegiatan doa ini? Jawaban: Kami selalu mengadakan kegiatan doa ini di gedung ini, Widya Mandala, karena kami umat Kotabaru sehingga memudahkan kami untuk bertemu di gedung ini. 4. Bagaimana langkah-langkah kegiatan doa dalam kegiatan ini? Jawaban: Kami menggunakan ritus ibadat dalam tata caranya. Hanya perbedaannya caranya saja. Seperti penggunaan lagu-lagu yang khas karismatik dan ekspresi yang leluasa untuk menunjukkan, merasakan keagungan Tuhan melalui Roh Kudus. 5. Apakah ada kegiatan yang dilakukan komunitas ini selain kegiatan rutin? Jawaban: Kami sering melakukan perjalanan untuk ziarah ke Gua Maria Ratu Kenya di wonogiri. 6. Dalam rangka apa ziarah yang dilakukan oleh komunitas ini? Jawaban: Ini adalah perjalanan ziarah yang kami lakukan saat bulan Mari dan bulan Rosario. Jadi bulan Mei dan Oktober. 7. Apa tujuannya? Siapakah sasarannya? Jawaban: Tujuannya tentu saja meningkatkan iman kepercayaan kami dalam perantaraan Bunda Maria ibu Yesus, dengan sasarannya adalah anggota PDKK Kotabaru ini. (17)

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 15: Hasil wawancara koordinator PDKK Kotabaru A. Pelaksanaan 1. Responden: Benny Susanto 2. Tanggal : 19 Maret 2013 3. Tempat : GKS Widya Mandala B. 1. 2. Pokok-pokok Pertanyaan dan Rangkuman Hasil Wawancara Sebagai sebuah organisasi, apakah komunitas PDKK ini memiliki struktur organisasi yang formal? Jawaban: Tentu saja ada. Kami memiliki struktur organisasi yang cukup jelas. Saya sebagai koordinator. Ibu Tini sebagai wakil saya. kemudian saya juga memiliki sekretaris yaitu Ibu Leni dan bendahara Ibu Leli. Dalam sie liturgi, ada ibu Yukie sebagai penanggungjawabnya, sie konsumsi oleh ibu Naniek, sie pelayanan bapak Raymond, sie pemerhati bapak Hartono, sie terima tamu ibu Darsini dan sie perkap oeh bapak Andi. Apakah tugas dari masing-masing bidang dalam struktur tersebut? Jawaban: Mereka memiliki anggota-anggota sebagai partner dalam bekerja. Masingmasing sie memiliki tugasnya masing-masing yaitu: - Koordinator memiliki tugas untuk mengecek semua personil yang dibutuhkan dalam setiap kegiatan PDKK. - Wakil koordinator memiliki peran membantu pekerjaan koordinator. - Sekretaris memiliki tanggung jawab untuk mencatat setiap kegiatan dan jumlah orang yang hadir setiap kegiatan. - Bendahara memiliki peran untuk menghitung jumlah anggaran yang keluar dan masuk. - Sie liturgi bertanggung jawab untuk mempersiapkan segala hal saat PDKK bertugas di Gereja. - Sie konsumsi selalu bersiap menyediakan makanan untuk setiap kegiatan karismatik dan setiap setelah iabadat karismatik. - Sie pelayanan memiliki peran untuk mempersiapkan dan bertanggung jawab saat PDKK akan melaksanakan suatu kegiatan pelayanan. - Sie pemerhati, bertanggungjawab untuk memperhatikan berjalannya kegiatan. - Sie terima tamu, bertanggung jawab untuk mempersilakan semua anggota PDKK yang baru datang dalam suatu kegiatan. - Sie perkab, bertanggung jawab atas seluruh sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam setiap kegiatan termasuk saat ibadat karismatik. (18)

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 16: Hasil wawancara koordinator PDKK Kotabaru A. Pelaksanaan 1. Responden: Benny Susanto 2. Tanggal : 19 Maret 2013 3. Tempat : GKS Widya Mandala B. Pokok-pokok Pertanyaan dan Rangkuman Hasil Wawancara 1. Menurut bapak, dari segi mana PDKK ini dapat dilihat sebagai karismatik yang Katolik dan tidak menentang Katolik? Jawaban: Persekutuan Doa Karismatik Katolik di Gereja St. Antonius Kotabaru adalah salah satu bukti konkret bahwa tidak semua karismatik itu menentang ajaran Katolik. PDKK ini, menggunakan ritus-ritus yang masih mempertahankan tradisi Katolik yaitu dengan ritus ibadat. Selain itu, PDKK ini juga membuktikan bahwa mereka berdiri untuk berbagi kasih dengan sesama. 2. Adakah kegiatan lain yang dilakukan oleh PDKK ini selain kegiatan doa? Jawaban: Tentu saja. 3. Apa saja kegiatan tersebut? Jawaban: Kami tidak hanya berhenti pada berdoa saja, namun juga beraksi secara konkret. Kami melakukan bakti sosial, Doa Taize, Doa Yesus, Sharing, Doa Rosario bersama (selama bulan Maria dan bulan Rosario), Praise and Worship, Pelayanan Doa, dan Retret Hidup Baru dalam Roh Kudus (Retret Awal) yang diadakan dua tahun sekali, kira-kira bulan September dan Februari. Dalam retret ini peserta diajak untuk mengalami dan merasakan kembali cinta kasih dari Allah dan pembaharuan hidup dalam Roh Kudus. Kegiatan lain yang juga dilakukan oleh PDKK adalah pendampingan PIA, berkunjung ke panti asuhan, ziarah bersama, liburan bersama, tugas Koor di Gereja St. Antonius Kotabaru dan Kebangunan Rohani Katolik (KRK), dan kami melaksanakan semuanya itu secara bergantian. 4. Mengapa kegiatan tersebut merasa dibutuhkan untuk dilakukan? Jawaban: Ya, karena kami selalu berusaha melakukan sesuatu yang terbaik bagi anggotanya dan bagi semua orang yang membutuhkan pelayanan, terutama bagi perkembangan Gereja untuk meningkatkan keaktifan hidup menggereja khususnya di Gereja At. Antonius Kotabaru. (19)

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 17: Instrumen Penelitian INSTRUMEN PENELITIAN PERANAN MENGIKUTI KEGIATAN PERSEKUTUAN DOA KHARISMATIK (PDKK) GEREJA ST. ANTONIUS KOTABARU KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG TERHADAP KEAKTIFAN ANGGOTA DALAM KEGIATAN MENGEREJA A. IDENTITAS Nama : Usia : B. PETUNJUK PENGISIAN INSTRUMEN a. Bacalah masing-masing pertanyaan berikut dengan teliti. Kemudian berilah tanda Check ( √ ) pada kolom alternatif jawaban anda pilihlah sesuai dengan keadaanya. Misalnya: SS = Sangat Setuju S = Setuju KS = Kurang Setuju TS = Tidak Setuju No. 1. Pernyataan Pergi ke Gereja hanya formalitas saja. Alternatifjawaban 4 3 2 1 SS S KS TS √ C. JAWABLAH PERTANYAAN SESUAI DENGAN PENGALAMAN NO 1 2 3 4 Pernyataan 4 SS Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) adalah sarana yang digunakan untuk mengembangkan iman kepada Kristus. Persekutuan Doa Karismatik Katolik selalu mengutamakan peranan Roh Kudus. Semua anggota Karismatik dapat mendaraskan Bahasa Roh. Kegiatan PDKK menggunakan banyak lagu dengan gerakan sebagai ungkapan iman. (20) Alternatif jawaban 3 2 S KS 1 TS

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Kegiatan PDKK menggunakan kerangka ibadat. Doa umat selalu mengikutsertakan umat untuk dengan spontan mengungkapkan doanya. Dapat mempersiapkan kegiatan PDKK. Kegiatan PDKK membuat orang semakin merindukanTuhan. Dengan mengikuti kegiatan PDKK, umat semakin rajin ke Gereja. Saya merasakan Roh Kudus benar-benar hadir dalam PDKK. PDKK membuat saya menjadi lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Saya dapat menjadi Pemandu Umat dalam kegiatan PDKK. PDKK mendorong saya untuk lebih melayani sesama saya yang membutuhkan bantuan. Saya mau menjadi relawan. Saya mau memberi sumbangan kepada korban bencana alam. Gereja adalah gedung dimana umat Katolik menjalankan kewajiban agamanya. Persekutuan umat yang percaya kepada Kristus disebut Gereja. Gereja dapat digunakan untuk mencari penghasilan. Saya merasa Yesus masuk ke dalam hati saya ketika saya makan Hosti. Damai sejahtera ada di dalam hati saya sepulang dari Gereja. Yesus hadir dalam Konsekrasi pada Doa Syukur Agung. Berani membuat tanda salib di manapun saya berada. Berdoa menjadi keutamaan dalam menjalani aktivitas hidup sehari-hari. Berpartisipasi dalam kegiatan Gereja untuk mempersiapkan calon komuni pertama. Ikut serta dalam kerja bakti di Gereja untuk menyambut Paskah. Saya adalah anggota Gereja yang peka. Berani meminta maaf kepada orang yang disakiti. (21)

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 29 30 Perubahan tingkah laku saya membuahkan kedamaian di tengah masyarakat tempat saya tinggal. Ada dukungan dari lingkungan sekitar saya yang membuat saya rajin ke Gereja. Saya mengaku dosa dan melaksanakan penitensi tobat saya secara konkret. =============================================== Terimakasih, Berkah Dalem (22)

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 18: Intisari video mengasihi tanpa kata-kata Video tersebut merupakan kutipan inspirasi tentang bagaimana kita saling mengasihi sesama kita. Seperti seorang ayah yang sungguh mengasihi anaknya dengan segala keterbatasan yang ia miliki, tetapi ia sesalu memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tetapi anaknya meresa malu memiliki orang tua yang memiliki keterbatasan, sehingga ia menjadi anak yang tidak mau mendengarkan nasihat dari ayahnya. Walaupun begitu sang ayah tetap setia dengan mengasihi anaknya. (23)

(160)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Peranan lagu rohani ekaristi dalam meningkatkan pemaknaan perayaan ekaristi bagi kaum muda Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru.
0
3
146
Keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di Paroki Santo Petrus Sungai Kayan Keuskupan Tanjung Selor Kalimantan Utara.
1
43
171
Pengaruh kelompok doa karismatik Katolik Vinea Dei di Kevikepan Yogyakarta terhadap perkembangan hidup doa pribadi anggota.
1
34
159
Pengaruh sosok katekis terhadap minat umat dalam mengikuti katekese orang dewasa di Lingkungan Santo Yosef Benediktus Sagan Paroki Santo Antonius Kota Baru Yogyakarta.
0
1
173
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari.
0
3
159
Pengaruh sosok katekis terhadap minat umat dalam mengikuti katekese orang dewasa di Lingkungan Santo Yosef Benediktus Sagan Paroki Santo Antonius Kota Baru Yogyakarta
1
31
171
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari
2
17
157
Relevansi spiritualitas kosmis St. Fransiskus Asisi bagi pemberdayaan jemaat di Keuskupan Agung Pontianak dalam rangka pelestarian lingkungan hidup - USD Repository
0
0
177
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di Paroki Santo Antonius, Bade, Keuskupan Agung Merauke melalui shared christian praxis - USD Repository
0
0
141
Peran film “Cheng-Cheng Po� untuk mananamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik di Stasi Santo Antonius Padua, Paroki Santo Hendrikus, Melolo, Sumba Timur - USD Repository
0
0
128
Pemaknaan Orang Muda Katolik (OMK) pada kegiatan gereja : sebuah studi fenomenologi di Paroki Pugeran, Kevikepan DIY, Keuskupan Agung Semarang - USD Repository
0
0
144
Makna di balik fenomena praktek penyembuhan nonmedis dalam kelompok-kelompok persekutuan doa : studi kasus di Kupang, Nusa Tenggara Timur - USD Repository
0
0
226
Upaya meningkatkan pembinaan iman remaja di Panti Asuhan Santo Louis Grignon de Monfort di Sikumana Keuskupan Agung Kupang - USD Repository
0
0
191
Peranan doa bersama dalam keluarga Katolik bagi pembentukan karakter remaja di Stasi Yohanes Chrisostomus Pojok, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Yogyakarta - USD Repository
0
0
159
Peranan doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di Lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo - USD Repository
0
0
139
Show more