Register kereta api di Stasiun Jebres - USD Repository

Gratis

0
1
75
10 months ago
Preview
Full text

  

REGISTER KERETA API

DI STASIUN JEBRES

  Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia Program Sastra Indonesia

  Disusun oleh :

  

DHIYAN NUGRAHENI

NIM : 044114016

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2009

  PERSEMBAHAN

  ™ Ucapan syukur kupersembahkan pada Allah Bapaku yang di surga, yang selalu memberi aku kekuatan dan kemampuan untuk melakukan segala sesuatunya. Demikian juga ketika mengerjakan skripsi ini. ™ Kedua orangtuaku yang selalu mendukung aku dalam doa. Inilah kado yang diharapkan orangtuaku dan adikku, Daniel yang selalu mendukung aku. ™ Kekasihku, Dedi Kusumo. ™ Simbah dan mbakku, yang selalu mendukung aku dalam doa. ™ Semua sahabatku yang selalu mendukung dan memberi aku semangat.

  

MOTTO

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang

memberi kekuatan kepadaku, karena Ia membuat segala

sesuatu indah pada waktunya ...”

KATA PENGANTAR

  Segala puji syukur penulis persembahkan pada Tuhan YME, Allah Bapa di surga karena selalu memberi penulis kekuatan dan kemampuan untuk menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari segala pihak, skripsi ini tidak dapat diselesaikan. Dalam kesempatan ini pula penulis mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Bapak Dr. I. Praptomo Baryadi, M. Hum, selaku pembimbing I, yang telah dengan sabar dan bijaksana membimbing dan memotivasi penulis dalam menyusun skripsi ini hingga selesai.

  2. Bapak Drs. Hery Antono, M. Hum, selaku pembimbing II, yang telah dengan sabar dan bijaksana membimbing dan memotivasi penulis dalam menyusun skripsi ini hingga selesai.

  3. Ibu S.E Peni Adji, S.S, M.Hum selaku dosen pembimbing akademik angkatan 2004.

  4. Bapak, Ibu dosen Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia, Bapak Drs. B.

  Rahmanto, M. Hum: Bapak F.X santosa, M. S; Bapak Drs. Yoseph Yapi Taum, M. Hum; Ibu Dra. Tjandrasih Adji, M. Hum; Bpk Drs. P. Ari Subagyo, M. Hum. Terima kasih atas ilmunya.

  5. Segenap staf sekretariat Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

  6. Wasiop Jogja, Bapak Sutrisno. Terima kasih untuk sedikit ilmu yang diberikan pada penulis dan seluruh karyawan Stasiun Solo Jebres yang sudah banyak membantu.

  7. Bapak Ibuku, Kornelius Supono dan Persis Anik Prihantini. Terima kasih untuk doa yang selalu menyertai.

  8. Adikku, Daniel Widhi Pranama yang selalu mendukung.

  9. Dedi Kusumo, untuk kasih sayang, pengertian, semangat dan doa yang sudah diberikan pada penulis.

  10. Teman-teman Sastra Indonesia angkatan 2004, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan sahabat-sahabatku.

  11. Teman-teman gereja Mbak Yani, Mbak Esa, Mbak Kristina, dan semuanya yang selalu mendukung dalam doa.

  12. Untuk Sita, terima kasih karena sudah dibantu menerjemahkan abstrak.

  Penulis meyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis menerima kritik dan saran untuk perbaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat.

  Yogyakarta, Penulis

  

ABSTRAK

Nugraheni, Dhiyan. 2009. Register Kereta Api. Skripsi Strata I (SI). Program

Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra,

  Universitas Sanata Dharma.

  Dalam skripsi ini dibahas tentang register kereta api. Register kereta api dipilih sebagai topik dalam penelitian ini karena dalam perkertaapian dikenal kosakata khusus yang berkaitan dengan medan, pelibat, dan sarana dari kereta api. Dalam skripsi ini, peneliti mengungkapkan medan, pelibat, dan sarana dalam register kereta api.

  Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu (i) tahap pengumpulan data, (ii) tahap analisis data, dan (iii) tahap penyajian hasil analisis data.

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dan catat. Metode simak dilaksanakan dengan menyimak penggunaan register kereta api dalam stasiun kereta api, kemudian mencatat data register. Teknik ini digunakan untuk mempermudah peneliti dalam mengklasifikasikan data yang diperoleh dan kemudian diartikan sesuai kebutuhan. Metode analisis data yang digunakan adalah metode padan. Metode padan adalah metode yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993 : 13). Penelitian ini menggunakan analisis metode padan referensial dan metode padan pragmatis.

  Data yang sudah dianalisis, selanjutnya disajikan dalam bentuk penyajian hasil analisis data. Hasil analisis data dalam penelitian ini disajikan dengan metode formal dan informal. Metode informal disajikan dengan menggunakan kata-kata biasa yaitu kata-kata yang bersifat denotatif, sedangkan metode formal disajikan dengan memanfaatkan berbagai lambang, tanda, dan sejenisnya (Sudaryanto, 1993 : 145).

  Dari penelitian ini, peneliti menemukan medan, pelibat, dan sarana register kereta api. Medan dan pelibat dalam register kereta api ini, sangat erat kaitannya karena pelibat menunjuk orang-orang yang mengambil bagian dalam medan. Dalam kereta api, khususnya stasiun terdapat sepuluh bagian penting yang beroperasi yaitu KS (Kepala Stasiun), PBD (Perbendaharaan Stasiun), PPKA

  

(Pemimpin Perjalanan Kereta Api), Loket, PJR (Petugas Jalan Rel), PJL

(Petugas Juru Langsir), Sintel (Sinyal dan Telekomunikasi), PKSt (Petugas

Kebersihan Stasiun), kondektur, dan depo (Bengkel Perbaikan atau Perawatan

Kereta Api). Kesepuluh bagian penting itu berada di bawah bidang KUPT OPSAR

  (KUPT Operasional). Bagian-bagian itulah yang menjadi pelibat dan medannya adalah bidang KUPT OPSAR, karena bidang ini sebagai pusat operasional kereta api.

  Komunikasi antarbagian dalam stasiun memakai peralatan telepon, mikrofon, semboyan, atau isyarat lainnya tetapi bisa juga lisan secara langsung. Dengan kata lain, komunikasi secara lisan itu bisa melalui media telepon, mikrofon, semboyan, atau isyarat lainnya tetapi bisa juga secara langsung. Jadi, arti semboyan dalam kereta api itu diucapkan sebagai sarana lisan. Dalam kereta diucapkan secara lisan tertulis. Untuk komunikasi hanya secara tertulis saja, hampir tidak pernah dilakukan.

  

ABSTRACT

Nugraheni, Dhiyan. 2009. Train Register. Undergraduate Thesis. Indonesian

Letter Study Program. Indonesian Letter Department Letter

  Faculty. Sanata Dharma University.

  This thesis discusses Train Register. Train register was chosen because there are specific vocabularies in train field that are related to the field, doers, and train tools. In this study, the writer revealed the field, doers, and tools that exist in train register.

  This study is a descriptive study. The research was done in three phases; they are (i) data collecting phase, (ii) data analysis phase, (iii) data presentation phase.

  The method for collecting data used in this study was listen and take notes. Listening method was conducted by listened to the speech of train register in the train station, and then made notes of the register data. This technique was done to make it easier for the writer to classify the data obtained and to be defined based on the needs. The method that was used in this study was matching method.

  Matching method is a method in which the determiner is outside, detached, and not a part of the language involved (Sudaryanto, 1993 : 13). The matching method was used to analyze train register which is suitable with the context of use, which involved the speakers’ pronunciation.

  The data that had been analyzed will be presented in a form of data analysis result presentation. The result of data analysis in this research was presented by using formal and informal method. Informal method was presented by using common denotative words, while the formal method was presented by using various symbols, signs, and so on (Sudaryanto, 1993 : 145).

  From this research, the writer found the field, doers, and tools of train register. Field and doers were tightly connected because doers referred to the people who took part in the field. In trains, especially in train station, there are ten important parts that operated. They are Head of station, Treasurer of the station,

  

Head of the train travel, Counter, Railway Officer, Shunting Officer, Signal and

Telecommunication, Cleaning Officer, Conductors and Train Maintenance and

Workshop. All those ten important things were under the KUPT OPSAR (KUPT

  Operational). Those parts became the doers and the field was the KUPT OPSAR part because this part is the center of train operational.

  Intersection communication in train station used telephone, microphone, motto, or other signals, but it also could be done orally and directly. In other words, oral communication was not only can be done by telephone, microphone, motto or other signals but also directly. So, the meaning of in trains was spoken as oral tools. In trains, especially in station, communication as oral tool was also used as written tool. If it was only used for written communication, it almost had never been done.

  

DAFTAR ISI

  Halaman Judul ...................................................................................................... i Halaman Persetujuan Pembimbing ....................................................................... ii Halaman Pengesahan ............................................................................................ iii Halaman Persembahan .......................................................................................... iv Pernyataan Keaslian Karya ................................................................................... v Kata Pengantar ......................................................................................................vii Abstrak ................................................................................................................. ix Abstract ................................................................................................................. xi Daftar Isi ............................................................................................................... xi

  BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1 I.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 4 I.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 4 I.4 Manfaat Penelitian .................................................................................... 4 I.5 Tinjauan Pustaka ....................................................................................... 5 I.6 Landasan Teori ......................................................................................... 5 I.7 Metode Penelitian ..................................................................................... 12 I.8 Sistematika Penyajian ............................................................................... 14 BAB II KATA-KATA KHUSUS DALAM REGISTER KERETA API ......... 15 BAB III KAITAN PENGGUNAAN REGISTER TERHADAP MEDAN, PELIBAT, DAN SARANA ................................................................. 23

  III.1 MEDAN DAN PELIBAT ..................................................................... 23

  III. 1.1 Pengantar ..................................................................................... 23 III.

  1.2 Klasifikasi Medan dan Pelibat .................................................... 24 III.

  2 SARANA ............................................................................................. 40 III.

  2.1 Pengantar ..................................................................................... 40 III.

  2.2 Sarana Secara Lisan ..................................................................... 41

  III. 2.2.1 Sarana Secara Lisan Yang Diucapkan Langsung ................ 41

  III. 2.2.2 Sarana Secara Lisan Yang Diucapkan Lewat Telepon ....... 47

  III. 2.2.3 Sarana Secara Lisan Yang Diucapkan Lewat Mikrofon ..... 48 III.

  2.3 Sarana Secara Lisan Tertulis ....................................................... 51

  BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 53 IV.1. Kesimpulan ................................................................................. 53 IV.2. Saran ........................................................................................... 56 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 57 LAMPIRAN TANDA DAN SINGKATAN ....................................................... 58 LAMPIRAN CONTOH ...................................................................................... 60

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Dalam skripsi ini, dibahas register kereta api. Register atau ragam bahasa, menurut adalah ragam bahasa berdasarkan pemakaiannya atau bahasa yang digunakan pada saat itu, tergantung pada apa yang sedang dikerjakan dan sifat kegiatan tersebut. Berkaitan dengan itu, register juga merupakan bentuk makna yang khususnya dihubungkan dengan konteks sosial tertentu, yang dijelaskan dengan istilah medan (field), pelibat (tenor), dan sarana (mode) (Halliday, 1992 : 56-57) Salah satu dari sekian banyak jasa angkutan umum yang berkembang di

  Indonesia dewasa ini adalah jasa angkutan umum kereta api. Secara umum, kereta api adalah alat transportasi darat yang terdiri dari rangkaian kereta (gerbong) yang ditarik oleh lokomotif, dijalankan dengan mesin diesel atau listrik yang berjalan di atas rel (rentangan baja) paralel sebagai jalurnya. Rangkaian kereta atau gerbong tersebut berukuran relatif luas sehingga mampu memuat penumpang atau barang dalam skala besar. Dalam buku Reglemen Djawatan Kereta Api (Reglemen 19, 1961 : 22), kereta api adalah kendaraan penarik yang dijalankan dalam urusan perjalanan kereta api, membawa rangkaian atau tidak. Jadi, kereta api itu adalah alat transportasi darat sebagai kendaraan penarik yang terdiri dari rangkaian kereta (gerbong), dijalankan dengan mesin diesel atau listrik yang berjalan di atas rel paralel sebagai jalurnya. Di Indonesia, kereta api dikelola oleh sebuah perusahaan kereta api yang diselenggarakan satu-satunya dalam badan penyelenggara yaitu PT Kereta Api.

  Register kereta api adalah ragam bahasa yang digunakan pada bidang sesuai konteksnya dan penyampaiannya secara lisan, tertulis, atau gabungan keduanya. Berikut ini contoh register kereta api : (1) Alat pemindah rel dan persinyalan juga masih asli model jaman baheula. Relnya hanya ada 2 sepur. Satu sebagai jalur lintas, satunya untuk langsir. (mka jan, 2007 : 39)

  (2) Jika wesel mengalami gangguan, tak jarang Mantik harus turun dari ruangannya. Untuk mengamankan agar pengaturan sinyal dan wesel tidak ada yang mengotak-atik, Mantik mencabut kunci kontak meja pelayanan. (mka maret, 2007 : 39)

  Dalam kedua contoh (1) dan (2) di atas terdapat register kereta api yaitu

  

langsir, sinyal, dan wesel . Langsir adalah pekerjaan menyusun rangkaian kereta

  api yang akan berangkat atau memisah-misahkan rangkaian kereta api yang datang, begitu pula pekerjaan memindah-mindahkan gerbong-gerbong, kereta- kereta dan lain-lain jenis material dari suatu tempat ke lain tempat emplasemen (Reglemen 19, 1961 : 24). Sinyal adalah tanda yang dapat memperlihatkan kereta api harus berhenti atau kereta api boleh berjalan terus. Sinyal biasanya terletak mendekati stasiun (Reglemen 19, 1961 : 20). Wesel adalah rel pemindah jalur kereta api.

  Register kereta api dipilih sebagai topik dalam penelitian ini didasarkan alasan bahwa dalam perkeretaapian ternyata dikenal kosa kata khusus.

  Kekhususan itu terkait dengan bidang tertentu, misalnya : (3) (a) Prameks jurusan Kutoarjo jam berapa?

  (b) Pukul 12.30, 1 hargannya Rp 14.000,00. berapa? (a) 1. (b) Makasih. (4) 486, 486, siap berangkat

  (5) Mohon bantuan untuk mempersiapkan bancik-bancik, untuk kereta yang akan segera masuk.

  Berdasarkan contoh di atas, contoh (3) dipakai dalam bidang OPSAR (Operasional), khususnya bagian loket. Contoh (4) dipakai dalam bidang OPSAR, khususnya bagian PPKA sedangkan contoh (5) dipakai dalam bidang OPSAR khususnya KS (Kepala Stasiun).

  Contoh (3) adalah register yang dipakai oleh bagian loket kepada calon penumpang yang membeli tiket dan register ini disampaikan secara lisan ketika calon penumpang bertanya jam keberangkatan kereta Prameks tujuan Kutoarjo dan membeli tiket kereta tersebut. Contoh (4), memiliki arti kereta Prameks dengan nomor kereta 486 siap untuk diberangkatkan menuju stasiun tujuan. Register ini dipakai secara lisan oleh PPKA dan ditujukan oleh masinis, dalam hal ini masinis kereta api Prameks. Pada contoh (5) adalah register yang dipakai oleh KS (Kepala Stasiun) kepada bagian PKSt dan disampaikan lisan. Arti dari register itu adalah sebuah perintah mempersiapkan bancik-bancik, untuk kereta yang akan segera masuk. Bancik-bancik adalah tangga kecil untuk membantu penumpang ketika akan naik atau turun kereta.

  Sejauh pengamatan penulis, sudah ada penelitian tentang register misalnya

  

Register Pekerja Pertambangan Batu Bara oleh Cahyadi Haryo Pratomo, Register

Game Komputer Dalam Majalah Game 21 Edisi Januari s.d. Desember 2004 oleh

  Kingkin Kartikarini, dan Register Aba-Aba Peraturan Dasar Militer oleh Yohanes Purwanto. Namun, penelitian tentang Register Kereta Api belum pernah dilakukan. Hal inilah yang juga menjadi alasan penulis melakukan penelitian tentang Register Kereta Api.

  1.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan uraian dalam butir 1.1, masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini dirumuskan sebagai berikut :

  1.2.1 Apa saja kata-kata khusus yang termasuk register bidang perkeretaapian di Stasiun Jebres?

  1.2.2 Bagaimana penggunaan register bidang perkeretaapian terkait dengan medan, pelibat, dan sarana?

  1.3 Tujuan Penelitian

  Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan register PT Kereta Api yang terinci sebagai berikut :

  1.3.1 Mendeskripsikan kata-kata khusus yang termasuk register bidang perkeretaapian di Stasiun Jebres.

  1.3.2 Mendeskripsikan penggunaan kata-kata register bidang perkeretaapian terkait dengan medan, pelibat, dan sarana.

  1.4 Manfaat Penelitian

  Hasil penelitian ini adalah deskripsi register kereta api berdasarkan medan, pelibat, dan sarana. Masing-masing hasil penelitian medan, pelibat, dan sarana bermanfaat untuk mengetahui bidang-bidang yang terdapat dalam kereta api, partisipan tutur, dan penggunaan register dalam bentuk komunikasi secara lisan, tertulis, atau gabungan keduanya. Jadi, hasil penelitian ini memberikan sumbangan bagi perkembangan sosiolinguistik.

  Penelitian ini juga dapat memberikan manfaat praktis yaitu menyediakan istilah perkeretaapian dan penggunaannya sebagai bahan untuk menyusun kamus istilah perkeretaapian. Kamus tersebut sangat berguna bagi pemakai bahasa untuk memahami penggunaan istilah perkeretaapian.

1.5 Tinjauan Pustaka

  Kajian tentang register telah diteliti oleh beberapa orang, tetapi berbeda- beda. Yohanes Purwanto (2004) meneliti tentang register dengan judul “Register

  

Aba-Aba Peraturan Militer Dasar”. Penelitiannya membahas tentang register

  aba-aba peraturan militer dasar. Yang dibahas adalah struktur, fungsi, dan unsur suprasegmental dari aba-aba peraturan militer dasar.

  Kingkin (2006) meneliti register game komputer dalam majalah Game 21 edisi Januari s.d. Desember 2004. Dari penelitiannya, dipaparkan ada sebelas jenis register game komputer dan tiga bahasa sumber register game komputer. Sebelas jenis register tersebut diantaranya adalah register tentang jenis game komputer, register tentang tema game komputer, register tentang cara bermain game komputer, register tentang penginstalan game komputer, register tentang kerusakan dalam game komputer, register tentang karakter atau tokoh dalam game komputer, tentang cara pandang dalam game komputer, register tentang pihak yang berperan penting dalam game komputer, tentang sistem kontrol karakter atau tokoh dalam game komputer, tentang menu utama dalam game komputer, dan register tentang pendukung animasi dalam game komputer. Tiga bahasa sumber register game komputer adalah bahasa Inggris, bahasa Rusia, dan bahasa kreasi pencipta game komputer.

  Haryo (2006) meneliti register pekerja pertambangan batu bara. Penelitiannya membahas mengenai register yang terkait tiga hal yaitu medan, pelibat, dan sarana dalam register pertambangan batu bara.

  Penelitian ini memfokuskan tiga hal yaitu, medan, pelibat, dan sarana register konteks kereta api.

1.6 Landasan Teori

1.6.1 Pengertian Register

  Pateda (1990 : 64), memaparkan konsep register adalah variasi bahasa bila dilihat dari segi pemakaiannya yang berhubungan dengan pekerjaan atau kegiatan seseorang. Menurut Pateda, register dibagi menjadi beberapa jenis yaitu oratorikal (frozen), deliberatif (formal), konsultatif, kasual, dan intim. Register oratorikal digunakan oleh para pembicara profesional seperti ahli pidato yang digunakan untuk menarik perhatian. Register deliberatif ditujukan kepada pendengar untuk memperluas pembicaraan. Kedua register ini bersifat monolog. Register konsultatif terdapat pada transaksi perdagangan, khususnya saat dialog untuk memperoleh kesepakatan. Register kasual dipergunakan untuk menghilangkan rintangan-rintangan komunikasi. Register intim dipergunakan dalam suasana kekeluargaan.

  Wardhaugh (1991 : 49) mengemukakan bahwa register merupakan sekelompok kosa kata yang dipakai dalam bidang pekerjaan tertentu atau kelompok sosial tertentu. Hal itu dapat ditunjukan dengan bahasa yang dipakai oleh ahli bedah, pilot-pilot pesawat terbang, manager bank, para pramuniaga, penggemar musik jazz, dan cabang-cabang pengguna kosa kata yang berbeda seperti pedagang, ahli arkeolog, pendaki gunung, dan ahli ekonomi.

  Register atau ragam bahasa, menurut Halliday (1992 : 56-57), adalah ragam bahasa berdasarkan pemakaiannya atau bahasa yang digunakan pada saat itu, tergantung pada apa yang sedang dikerjakan dan sifat kegiatan tersebut. Berkaitan dengan itu, register juga merupakan bentuk makna yang khususnya dihubungkan dengan konteks sosial tertentu, yang dijelaskan dengan istilah medan (field), pelibat (tenor), dan sarana (mode).

  Menurut Halliday (1992 : 53-55), kategori register beragam dari sesuatu yang erat dan terbatas sampai sesuatu yang bisa dikatakan bebas dan terbuka.

  Register yang erat dan terbatas itu disebut register selingkung terbatas, sedangkan register yang bebas dan terbuka itu disebut register yang lebih terbuka.

  Register selingkung terbatas adalah register yang mempunyai sifat register terbatas dan tertentu jumlah beritanya, sehingga tidak perlu mengirim berita dengan kata-kata yang perlu dikirimkan adalah nomor indeksnya. Sifat lain dari register ini tidak mempunyai tempat bagi individualitas atau bagi kreatifitas, kemungkinan maknanya sangat terbatas. Misalnya, bahasa penerbangan internasional yang harus menggunakan bahasa tertentu dan harus menjaga supaya macam berita itu masih dalam lingkungan yang telah ditetapkan, register bahasa dalam menu makanan yang berasal dari bahasa Perancis.

  Register yang lebih terbuka adalah register yang mempunyai sifat register tidak berbatas atau lebih terbuka, mempunyai tempat bagi individualitas atau bagi kreatifitas. Misalnya, register bahasa dalam dokumen-dokumen kecil seperti tiket dan barang-barang resmi, register dalam judul berita dan resep makanan, register dalam buku petunjuk teknis dan dokumen hukum lainnya, register dalam jual beli perlelangan, di toko, di pasar, serta bahasa komunikasi antara dokter dan pasien.

  Dari kedua register di atas, dapat disimpulkan bahwa register kereta api termasuk dalam contoh register selingkung terbatas karena register ini tidak mempunyai tempat bagi individualitas atau bagi kreatifitas. Seperti contohnya bahasa percakapan dalam PPKA yang harus menggunakan bahasa tertentu.

  1.6.2 Pengertian Medan

  Medan dalam register menunjuk pada hal yang sedang terjadi, pada sifat tindakan sosial yang sedang berlangsung: apa yang sesungguhnya yang sedang disibukkan oleh para pelibat, yang di dalamnya bahasa ikut serta sebagai unsur pokok tertentu. Bisa juga medan arti rampatnya yaitu perihal sesuatu. (Halliday, 1992 : 16-33)

  Mengarah pengertian yang dijelaskan oleh Halliday di atas, dapat disimpulkan medan adalah perihal tentang sesuatu yang menjadi konteks yang dilakukan oleh para pelibat, yang di dalamnya bahasa ikut serta sebagai unsur pokok.

  1.6.3 Pengertian Pelibat

  Pelibat menunjuk pada orang-orang yang mengambil bagian, pada sifat para pelibat, kedudukan dan peranan mereka: jenis-jenis hubungan peranan apa yang terdapat di antara pelibat, termasuk hubungan-hubungan tetap dan sementara, baik jenis peranan tuturan yang mereka lakukan dalam percakapan maupun rangkaian keseluruhan hubungan-hubungan yang secara kelompok mempunyai arti penting yang melibatkan mereka. Pelibat juga mengenai hubungan persona yang terlibat. (Halliday, 1992 :16-33)

  Mengacu pengertian pelibat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pelibat adalah orang-orang yang terlibat dalam konteks dan hubungan persona yang terlibat tersebut baik sementara dan tetap. Jadi, antara medan dan pelibat sangat erat kaitannya.

  1.6.4 Pengertian Sarana

  Sarana menunjuk pada bagian yang diperankan oleh bahasa, hal yang diharapkan oleh para pelibat diperankan bahasa dalam situasi itu: organisasi simbolik teks, kedudukan yang dimilikinya, dan fungsinya dalam konteks, termasuk salurannya (apakah dituturkan atau dituliskan atau semacam gabungan keduanya) dan juga mode retoriknya, yaitu apa yang akan dicapai teks berkenaan dengan pokok pengertian seperti bersifat membujuk, menjelaskan, mendidik, dan semacamnya. (Halliday, 1992 : 16-17)

  Melihat dari pengertian Halliday di atas, dapat diberi kesimpulan bahwa sarana adalah bagian tertentu yang diperankan bahasa oleh para pelibat dalam proses interaktif baik itu sacara dituturkan, dituliskan, atau gabungan keduanya.

  1.6.5 Sejarah Perkeretaapian Indonesia

  Menurut Soemino Eko Saputro, sejarah perkeretaapian Indonesia tak terlepas dari masa penjajahan Belanda. Belanda, selain meninggalkan luka sejarah penindasan, juga meninggalkan hal-hal yang berguna bagi bangsa ini, salah satu di antaranya adalah Kereta Api Indonesia.

  Pembangunan jalan kereta api (KA) di Indonesia dimulai dari desa Kemijen menuju desa Tanggung sepanjang 26 km dengan lebar sepur 1435 mm.

  Pencangkulan pertama dilakukan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr

  LAJ Baron Sloet van den Beele, Jumat 17 Juni 1864. Jalan kereta api ini mulai dioperasikan untuk umum Sabtu, 10 Agustus 1867.

  Pembangunan jalan KA ini diprakarsai sebuah perusahaan swasta Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV NISM) yang dipimpin oleh Ir JP de Bordes lalu setelah ruas rel Kemijen - Tanggung, dilanjutkan pembangunan rel yang dapat menghubungkan kota Semarang - Surakarta (110 Km), pada 10 Februari 1870. Masih jaman penjajah Belanda, minat investor untuk membangun jalan KA di daerah lainnya pun bermunculan sehingga pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864 - 1900 sangat pesat. Jika tahun 1867 baru 25 km, tahun 1870 sudah 110 km, tahun 1880 mencapai 405 km, tahun 1890 menjadi 1.427 km dan pada tahun 1900 mencapai 3.338 km.

  Setelah sukses di Jawa, pembangunan rel KA merambah ke Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), dan Sulawesi (1922) sepanjang 47 km antara Makasar - Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923. Bahkan rel Ujungpandang - Maros sudah dimulai namun belum sempat diselesaikan. Sementara di Kalimantan, juga belum sempat dibangun, tapi studi jalan KA Pontianak - Sambas (220 km) sudah diselesaikan. Begitu pula di pulau Bali dan Lombok, telah dilakukan studi pembangunan jalan KA. Jenis jalan rel KA di Indonesia dibedakan dengan lebar sepur 1.067 mm, 750 mm (di Aceh) dan 600 mm di beberapa lintas cabang dan tram kota.

  Pada masa penjajahan Belanda, tepatnya sampai 1939, panjang jalan KA di Indonesia telah mencapai 6.811 km. Tetapi, ironisnya setelah merdeka, tepatnya pada 1950, panjangnya justru berkurang menjadi 5.910 km. Sepanjang kurang lebih 901 km raib, yang diperkirakan karena dibongkar semasa pendudukan Jepang dan diangkut ke Burma untuk pembangunan jalan KA di sana. Bahkan saat ini (2006, data Ditjen Perkeretaapian) jaringan jalan rel yang beroperasi hanya 4.360 km dan tidak beroperasi sepanjang 2.122.

  Semasa pendudukan Jepang (1942-1943), jalan rel yang dibongkar sepanjang 473 km dan yang dibangun 83 km antara Bayah-Cikara dan 220 km antara Muaro - Pekanbaru. Pembangunan jalan KA Muaro-Pekanbaru yang diprogramkan pembangunannya harus selesai dalam 15 bulan, memperkerjakan 27.500 orang, di antaranya 25.000 adalah Romusha. Pembangunan jalan yang melintasi rawa-rawa, perbukitan, serta sungai yang deras arusnya ini, banyak menelan korban yang makamnya bertebaran sepanjang Muaro - Pekanbaru.

  Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, karyawan KA yang tergabung dalam “Angkatan Moeda Kereta Api” (AMKA) mengambil alih penguasaan perkeretaapian dari pihak Jepang pada tanggal 28 September 1945. Hari itu dibacakan pernyataan sikap oleh Ismangil dan sejumlah anggota AMKA lainnya, menegaskan bahwa mulai tanggal 28 September 1945 kekuasaan perkeretaapian berada di tangan bangsa Indonesia.

  Sejak hari itu, orang Jepang tidak diperkenankan lagi campur tangan dengan urusan perkeretaapian di Indonesia. Bersamaan dengan itu dibentuklah Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI). Peristiwa bersejarah inilah yang melandasi ditetapkannya 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api di

  www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/soemino/biografi/17.shtml

  Indonesia. (http : // ) didownload 14 Oktober 2008.

  Sejarah kereta api tersebut menjelaskan sudah ada register kereta api, seperti rel, kereta api, dan NV NISM (Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij),

1.7 Metode dan Teknik Penelitian

  Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis data.

1.7.1 Metode Pengumpulan Data

  Objek penelitian ini adalah register kereta api. Objek berada dalam data yang berupa tuturan. Data yang dikumpulkan adalah berupa tuturan yang mengandung register kereta api. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak di lapangan. Data diambil dari sebuah stasiun kereta api yang berada di wilayah Jebres, Surakarta. Data berupa tuturan yang digunakan oleh para pekerja pada stasiun tersebut. Metode simak adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan menyimak langsung penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993 : 133). Teknik yang digunakan dalam tahap pengumpulan data adalah dengan mengamati dan mencatat data berupa istilah atau register kereta api. Data yang terkumpul kemudian diklasifikasikan berdasarkan kategori dan jenisnya. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah simak dan catat.

  Peneliti menyimak penggunaan register kereta api dalam stasiun kereta api, kemudian mencatat data register. Teknik ini digunakan untuk mempermudah peneliti dalam mengklasifikasikan data yang diperoleh dan kemudian diartikan sesuai kebutuhan.

1.7.2 Metode dan Teknik Analisis Data

  Data yang telah diklasifikasikan, kemudian langkah yang kedua adalah menganalisis data tersebut. Data dianalisis dengan menggunakan metode padan, yaitu metode yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan. Dengan kata lain, metode padan adalah metode yang menggunakan alat penentu referen, organ wicara, langue lain, tulisan, dan mitra wicara (Sudaryanto, 1993 : 13-14).

  Penelitian ini menggunakan analisis metode padan referensial dan metode padan pragmatis. Metode padan referensial adalah metode yang alat penentunya ialah kenyataan yang ditunjuk oleh bahasa atau referent bahasa. Referent (referen) atau apa yang dibicarakan, organ wicara atau mulut beserta dengan bagian- bagiannya, tulisan, dan orang yang menjadi mitra wicara, jelas, kesemuanya bukanlah bahasa. Contohnya, bila orang sampai kepada suatu penentuan bahwa nomina yang sering juga disebut “kata benda”itu adalah kata yang menunjuk pada atau menyebabkan benda-benda dan verba yang disebut “kata kerja” ialah kata yang menyatakan tindakan tertentu. Dengan kata lain, dalam sebuah pembicaraan antara mitra bicara dengan lawan bicara bisa menimbulkan referen (Sudaryanto, 1993 : 13-14).

  Metode padan pragmatis adalah metode yang alat penentunya mitra wicara. Contohnya, bila orang sampai kepada penentuan bahwa kalimat perintah ialah kalimat yang bila diucapkan menimbulkan reaksi tindakan tertentu dari mitra wicaranya (Sudaryanto, 1993 : 14-15). Misalnya dalam contoh (5) di atas :

  (5) Mohon bantuan untuk mempersiapkan bancik-bancik, untuk kereta yang akan segera masuk. Dalam contoh di atas adalah register yang dipakai oleh KS (Kepala Stasiun) kepada bagian PKSt dan disampaikan secara lisan. Dari pembicaraan itu, bagian PKSt mempunyai referen untuk mempersiapkan bancik-bancik untuk penumpang kereta yang akan segera masuk.

1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data

  Data yang sudah dianalisis, selanjutnya disajikan dalam bentuk penyajian hasil analisis data. Hasil analisis data dalam penelitian ini disajikan dengan metode formal dan informal. Metode informal disajikan dengan menggunakan kata-kata biasa yaitu kata-kata yang bersifat denotatif, sedangkan metode formal disajikan dengan memanfaatkan berbagai lambang, tanda, dan sejenisnya (Sudaryanto, 1993 : 145).

1.8 Sistematika Penyajian

  Sistematika dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut. Laporan penelitian ini terbagi menjadi empat bab. Bab I berisi tentang latar belakang masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metodologi penelitian, dan sistematika penyajian. Bab II berisi tentang analisis medan dan pelibat register kereta api. Bab III berisi tentang analisis sarana register kereta api. Bab IV berisi penutup, yang terdiri dari kesimpulan penelitian dan saran.

BAB II KATA-KATA KHUSUS DALAM REGISTER KERETA API Hasil penelitian tentang register kereta api, peneliti menemukan kata-kata

  khusus yang ada dalam register kereta api dan dikelompokkan menurut alfabetis, seperti yang ada di bawah ini :

  1. Anjlok : roda kereta keluar dari rel. Kata anjlok biasa digunakan dalam bidang PJR (Petugas Jalan Rel). Dalam

  KBBI, kata anjlok berarti meloncat ke bawah dari tempat ketinggian (dengan posisi kedua kaki sebagai tumpuan).

  2. Balas, amblesan : batuan-batuan kecil sebagai penahan bantalan. Kata balas, amblesan biasa digunakan dalam bidang PJR (Petugas Jalan

  Rel). Dalam KBBI, balas berarti reaksi; ganjaran sedangkan amblesan berarti tenggelam; turun ke dalam tanah.

  3. Bancik-bancik : tangga kecil untuk membantu penumpang ketika akan naik atau turun kereta.

  Kata bancik-bancik, biasa digunakan dalam PKSt (Petugas Kebersihan Stasiun). Dalam KBBI, bancik-bancik berarti kuda-kuda dari kayu yang menahan berat gendang, biasanya berbentuk seperti dua huruf x yang dihubungkan dengan titik silangnya.

  4. Bantalan rel : kayu atau besi atau beton yang digunakan untuk landasan rel.

  Kata bantalan rel, biasa digunakan dalam PJR (Petugas Jalan Rel). Dalam KBBI, bantalan berarti barang yang menyerupai bantal (seperti balok ganjal rel kereta api).

  5. Depo : tempat penyimpanan barang, tempat perbaikan dan perawatan lokomotif, kereta, dan gerbong bila mengalami kerusakan.

  Kata depo, adalah sebuah tempat tetapi biasa digunakan dalam bidang depo itu sendiri.

  6. Emplasemen : tempat terbuka / tanah lapang yang disediakan untuk perangkat penunjang operasional PT Kereta Api berupa bangunan, jaringan sepur-sepur, rel berikut sistem wesel, dll. Kata emplasemen, adalah sebuah tempat. Biasa digunakan dalam bidang

  PKSt, karena itu menjadi bagian tanggung jawab PKSt. Dalam KBBI, emplasemen mempunyai arti tempat terbuka atau tanah lapang yang disediakan untuk jawatan atau satuan bangunan (seperti tanah lapang di dekat stasiun untuk kepentingan jawatan kereta api).

  7. Gandar : sumbu, poros. Kata gandar biasa digunakan dalam bidang depo. Kata itu digunakan waktu pemeriksaan lokomotif atau kereta. Dalam KBBI, gandar berarti tongkat untuk memikul; pikulan.

  8. Gerbong : wagon kereta (untuk orang atau barang). Kata gerbong biasa digunakan dalam bidang depo, tetapi biasa juga digunakan bidang PPKA waktu pangumuman pada penumpang.

  9. Karcis : surat kecil (carik kertas khusus sebagai tanda telah membayar ongkos. Kata karcis biasa digunakan dalam bidang PBD, loket, dan kondektur.

  10. KBD : kartu identitas yang hanya dimiliki oleh kelurga karyawan kereta api.

  Kata KBD itu adalah sebuah kartu identitas. Biasa digunakan oleh penumpang yang mempunyai kartu tersebut dan kondektur pada waktu pemeriksaan.

  11. Kepala stasiun : seorang pegawai yang menguasai atau untuk sementara menguasai stasiun dan disamping itu juga bertanggungjawab atas urusan perjalanan kereta api dan urusan langsir seluas-luasnya, jika kepadanya tidak diperbantukan seorang Pemimpin perjalanan kereta api atau seorang Pengawas peron.

  12. Kereta ketel : kereta khusus untuk mengangkut BBM Pertamina, baik itu berupa kerosin, premium, dan solar.

  Kereta ketel adalah sebuah kereta khusus. Penyebutan kereta ini biasa digunakan dalam bidang PPKA dan depo. Ketel dalam KBBI, berarti kuali besi untuk menanak nasi; tangki di kapal, loko, dan sebagainya, untuk memanaskan air yang tenaga uapnya dipakai untuk menggerakkan mesin. Dalam kereta api, kereta ketel itu sebutan untuk kereta angkutan BBM Pertamina.

  13. Kondektur : pegawai yang memeriksa karcis atau menarik ongkos.

  14. Langsir : pekerjaan menyusun rangkaian kereta api yang akan berangkat atau memisah-misahkan rangkaian kereta api yang datang, begitu pula pekerjaan memindah-mindahkan gerbong-gerbong, kereta- kereta dan lain-lain jenis material dari suatu tempat ke lain tempat emplasemen.

  Kata langsir biasa digunakan dalam bidang PJL (Petugas Juru Langsir) dan PPKA. Dalam KBBI, langsir berarti mengatur sambil menggandeng-gandengkan gerbong kereta api.

  15. Lokomotif : kepala kereta api. Kata lokomotif biasa digunakan dalam bidang PJL dan depo.

  16. Masinis : orang yang menjalankan atau mesin, juru mesin.

  17. Ngeloks : mengemudikan loko kereta api. Kata ngeloks ini, adalah istilah yang dipakai antar sesama masinis dalam menjalankan tugasnya sebagai masinis.

  18. Negatif check : pengecekan untuk mengetahui kelainan peralatan sinyal.

  Kata negatif check , dalam KBBI tidak ada arti khusus karena kata ini hanya ada dalam istilah perkeretaapian. Kata ini biasa dipakai dalam bidang sintel dan PPKA.

  19. Overhaul : pemeliharaan besar, biasa dilakukan setahun sekali. Kata ini dalam KBBI tidak ada arti khusus, karena kata ini hanya ada dalam istilah perkeretaapian. Kata ini biasa digunakan dalam bidang depo.

  20. PBD : salah satu bagian stasiun yang mengurusi perbendaharaan stasiun termasuk tiket.

  21. Peron : pelataran (halaman) pada stasiun kereta api, tempat penumpang menunggu atau tampat naik turun dari kereta.

  Kata peron biasa digunakan dalam bidang PKSt dan artinya salam dalam KBBI.

  22. Persilangan / kress: kereta yang bersilang dalam dua jalur yang akhirnya bertemu di jalur yang sama sehingga salah satu kereta harus mengalah. Kata persilangan / kress dalam KBBI tidak ada artinya khusus karena kata ini hanya ada dalam istilah perkeretaapian. Kata ini biasa digunakan dalam bidang

  PJR (Petugas Jalan Rel).

  23. Pintu perlintasan : pintu yang mengamankan kereta api dari angkutan umum jalan raya atau pembatas antara kereta api dengan angkutan umum jalan raya yang lain. Pintu perlintasan disebut juga dengan pintu palang kereta api.

  Kata perlintasan sendiri dalam KBBI, berarti peralihan sedangkan pintu berarti tempat untuk keluar masuk. Jadi kalau diartikan secara perkeretaapian, tidak sesuai. Pintu perlintasan adalah istilah yang biasa dipakai dalam bidang PJR.

  24. PKSt : bagian dari stasiun yang bertugas mengurusi kebersihan stasiun, dengan anak buah porter.

  25. PPKA : seorang pegawai di stasiun atau di pos yang tidak termasuk lingkungan salah satu stasiun, yang diserahi tugas melakukan segala tindakan untuk menjamin keamanan dan ketertiban perjalanan kereta api dan segala sesuatu yang langsung bersangkutan dengan itu.

  26. Regelmen : aturan yang harus ditaati oleh anggota.

  27. Rumah sinyal : sebuah bangunan yang dibangun secara khusus untuk pengaturan sinyal, biasanya terletak agak jauh dari stasiun.

  Kata rumah sinyal dalam KBBI tidak ada artinya, karena istilah ini hanya ada dalam kereta api. Kata ini biasa dipakai dalam bidang sintel.

  28. Semboyan : suatu benda atau suara yang mempunyai arti atau maksud menurut bunyi, wujud, dan warnanya, tetapi tidak menurut tulisan atau angka yang dapat terbaca pada benda itu.

  29. Sepur : jalur, kereta api.

  30. Sinyal masuk : sinyal utama yang dapat memperlihatkan tanda memberi izin atau melarang kereta api masuk stasiun.

  Kata sinyal masuk dalam KBBI tidak ada artinya khusus karena kata ini hanya ada dalam istilah perkeretaapian. Kata ini biasa digunakan dalam bidang sintel.

  31. Stabling : kereta dalam keadaan berhenti, baik menunggu persilangan atau menunggu pemberangkatan atau memang sudah selesai tugas. Kata stabling dalam KBBI tidak ada artinya khusus karena kata ini hanya ada dalam istilah perkeretaapian. Kata ini biasa digunakan dalam bidang PJL dan

  PPKA.

  32. Stasiun : tempat tunggu bagi bagi calon penumpang kereta api, tempat pemberhentian dan pemberangkatan kereta api.

  33. Teknisi : ahli teknik.

  34. Tiket suplisi : tiket yang yang diberikan oleh kondektur pada penumpang yang kedapatan tidak mempunyai tiket dan harus membeli tiket di atas kereta api (pada waktu perjalanan) dan biasanya penumpang dikenakan biaya dua kali harga tiket.

  Kata tiket suplisi dalam KBBI tidak ada artinya khusus karena kata ini hanya ada dalam istilah perkeretaapian. Kata ini biasa digunakan dalam bidang kondektur 35. Tingkapan blok ke : sinyal pemberangkatan kereta api.

  Kata tingkapan blok ke dalam KBBI tidak ada artinya khusus karena kata ini hanya ada dalam istilah perkeretaapian. Kata ini biasa digunakan dalam bidang sintel.

  36. Tingkapan sepur tunggal : pemberitahuan untuk memberi rasa aman pada kereta yang akan masuk atau keluar stasiun.

  Kata tingkapan sepur tunggal dalam KBBI tidak ada artinya khusus karena kata ini hanya ada dalam istilah perkeretaapian. Kata ini biasa digunakan dalam bidang sintel.

  37. Transmisi hidromekanik : sebuah transmisi yang menggunakan prinsip kerja hidrolik dan mekanik.

  Kata transmisi hidromekanik dalam KBBI tidak ada artinya khusus karena kata ini hanya ada dalam istilah perkeretaapian. Kata ini biasa digunakan dalam bidang depo.

  38. Troubel : memperbaiki loko yang rusak. Kata troubel dalam KBBI tidak ada artinya khusus karena kata ini hanya ada dalam istilah perkeretaapian. Dalam bahasa inggris artinya rusak, sehingga untuk dipakai dalam perkeretaapian tidak sesuai. Kata tersebut diguanakan dalam bidang depo.

  39. Warta kereta : sebuah buku yang berisi tentang pemberitahuan bahwa kereta aman dan meminta kereta berangkat. Kata warta dalam KBBI berarti kabar; berita. Arti dalam perkeretaapian berbeda, karena itu kata ini hanya ada dalam perkeretaapian. Kata ini biasa digunakan dalam bidang PPKA.

  40. Wesel : rel pemindah jalur kereta api. Kata wesel dalam KBBI berarti surat pos untuk mengirimkan uang sedangkan dalam perkeretaapian berarti rel pemindah jalur, karena itu kata ini hanya ada dalam perkeretaapian. Kata ini biasa digunakan dalam bidang sintel.

BAB III KAITAN PENGGUNAAN REGISTER TERHADAP MEDAN, PELIBAT, DAN SARANA III. 1. MEDAN DAN PELIBAT III. 1.1 Pengantar Medan dalam register menunjuk pada hal yang sedang terjadi, pada sifat

  tindakan sosial yang sedang berlangsung: apa yang sesungguhnya yang sedang disibukkan oleh para pelibat, yang di dalamnya bahasa ikut serta sebagai unsur pokok tertentu. Bisa juga medan arti rampatnya yaitu perihal sesuatu. (Halliday, 1992 : 16-33)

  Mengarah pengertian yang dijelaskan oleh Halliday di atas, dapat disimpulkan medan adalah perihal tentang sesuatu yang menjadi konteks yang dilakukan oleh para pelibat, yang di dalamnya bahasa ikut serta sebagai unsur pokok.

  Medan sangat erat kaitannya dengan pelibat, karena pelibat menunjuk orang-orang yang mengambil bagian dalam medan. Pelibat wacana adalah orang- orang yang mengambil bagian, pada sifat para pelibat, kedudukan dan peranan mereka: jenis-jenis hubungan peranan apa yang terdapat di antara pelibat, termasuk hubungan-hubungan tetap dan sementara, baik jenis peranan tuturan yang mereka lakukan dalam percakapan maupun rangkaian keseluruhan hubungan-hubungan yang secara kelompok mempunyai arti penting yang melibatkan mereka. Pelibat juga mengenai hubungan persona yang terlibat.

  Dalam kereta api, khususnya stasiun terdapat sepuluh bagian penting yang beroperasi yaitu KS (Kepala Stasiun), PBD (Perbendaharaan Stasiun), PPKA (Pemimpin Perjalanan Kereta Api), Loket, PJR (Petugas Jalan Rel), PJL (Petugas Juru Langsir), Sintel (Sinyal dan Telekomunikasi), PKSt (Petugas Kebersihan Stasiun), Kondektur, dan Depo (Bengkel Perbaikan atau Perawatan Kereta Api).

  Kesepuluh bagian penting itu berada di bawah bidang KUPT OPSAR (KUPT Operasional).

III. 1.2 Klasifikasi Medan dan Pelibat

  Di bawah ini merupakan contoh register di kereta api : (6) (a) kereta jurusan Tanah Abang jam 5 ada?

  (b) tempat duduknya habis, bagaimana? Berdiri mau tidak? (a) ooh, ya sudah. Tidak apa-apa mas. (b) berapa? (a) satu mas. (7) (a) kereta prameks jurusan Kutoarjo

  (b) berapa orang? (a) 2 orang, Rp 28.000,00 (b) ya, terimakasih.

  (8) (a) Bengawan berangkat jam berapa? (b) jam 16.30. berangkat kapan? (a) hari ini, satu saja mas.

  (b) ya, Rp 38.000,00. Terimakasih. (9) (a) Prameks Kutoarjo jam berapa? (b) pukul 12.45.

  (10) (a) kereta ke bandung jam berapa? (b) pukul 12.00 (11) (a) prameks jogja mbak.

  (a) 1 (b) Rp 7.000,00 (a) berangkat jam berapa? (b) pukul 12.30

  bojonegoro ada?

  (12) (a) yang ke (b) tidak ada, soalnya itu lewat utara.

  (b) bisanya naik bus saja. (a) oh ya sudah, terimakasih. (13) (a) argo lawu besok masih ada?

  (b) masih, berapa? (a) atas nama siapa? (b) Tri Widodo (b) tapi berangkat dari Balapan ya? (a) iya, Pukul 08.00 ya? (b) iya

  (DIPROSES) (b) eksekutif, gerbong 4, no 2B

  (a) Iya, berapa? (b) Rp 260.000,00 (a) terimakasih.

  (14) (a) bengawan sore jam berapa? (b) pukul 16.45 (a) berapa? (b) 5, sampingan ya mas.

  (a) ini bu, Rp 190.000,00. terimaksih (b) terimakasih. (15) (a) mas, kereta ekonomi yang berangkat ke Jakarta apa saja?

  (b) Bengawan, Gaya Baru malam. Tapi, tiket Bengawan untuk minggu ini sudah habis.

  (a) sampai minggu? (b) iya. Apa naik Gaya Baru malam saja?

  (a) ya sudah mas, minta 1.

  (b) baiklah, ini tiketnya. Terimakasih.

  (a) terimakasih. (16) (a) mas, minta tiket bengawan yang KM

  (b) KM bu? Kenapa? (a) biar tidak pindah-pindah (b) ya sudah, saya kasih 1 ya bu? (a) iya, berapa? (b) Rp 30.500,00 (a) terimakasih.

  (17) (a) mas, saya mau pesan tiket pakai KBD bisa? (b) ada fotokopinya? (a) ada.

  (b) tiket apa? Untuk tanggal berapa? Bisa. (a) Senja Utama Jogja, tanggal 24. (b) berapa orang? (a) 1 (b) ini tiketnya, 117.

  (a) berapa pak? Ini fotokopi KBDnya (b) Rp 55.000,00 (a) terimakasih.

  (18) Kepada para penumpang dimohon antri sesuai kereta tujuan. (19) Bila persediaan tiket menipis, dimohon dengan kesadaran mengambil di PBD.

  Sri Tanjung berapa?

  (20) (c) (b) 142

  kelas 2 laku berapa?

  (21) (b) tadi (b) 1. Senja Utama Solo. (22) (b) bisnis masih? (b) bisnis tergantung wasi. Contoh (6) sampai dengan (22) di atas adalah contoh register kereta api yang pada bagian loket atau tiket kereta api. Contoh no (6) sampai dengan (18), adalah register yang dipakai oleh bagian loket kepada calon penumpang.

  Contoh (6) adalah register yang berupa sebuah pertanyaan penumpang kepada loket ketika menanyakan kereta yang akan berangkat ke Tanah Abang, tetapi bagian loket memberi penjelasan bahwa tempat duduknya habis dan menawarkan untuk tiket berdiri saja. Contoh (7) dan (11) adalah register yang berupa sebuah pertanyaan penumpang kepada loket tentang kereta Prameks tujuan Kutoarjo dan Yogyakarta, dan bagian loket menanyakan untuk berapa orang sekaligus memberitahu harga tiketnya.

  Contoh (8) adalah register penumpang yang menanyakan keberangkatan kereta Senja Bengawan dan langsung membeli tiket untuk satu penumpang.

  Contoh (9) dan (10) adalah register penumpang yang menanyakan keberangkatan kereta Prameks dan kereta ke arah Bandung. Contoh (12) adalah register yang berupa penawaran bagian loket kepada calon penumpang yang menanyakan kereta jurusan Bojonegoro tidak ada, sehingga memberikan pilihan lebih baik naik bus saja. Contoh (13) adalah register pemesanan tiket kereta eksekutif secara langsung meskipun tiket tersebut untuk keberangkatan esok hari setelah pemesanan tiket.

  Contoh (14) adalah register yang berupa pertanyaan calon penumpang yang menanyakan keberangkatan kereta Bengawan dan langsung membeli tiket sebanyak lima buah dengan duduk bersampingan.

  Contoh (15) adalah register yang berupa penawaran dari bagian loket pada calon penumpang untuk menaiki kereta yang lain, dikarenakan tiket kereta yang akan dibeli calon penumpang sudah habis. Contoh (16) adalah register yang berupa permintaan penumpang membeli tiket kereta api dengan tempat duduk di bagian KM atau kereta makan. Contoh (17) adalah register dalam pemesan tiket kereta api oleh calon penumpang dengan menggunakan KBD (Kartu Bukti Diri). KBD atau Kartu Bukti Diri adalah kartu identitas yang hanya dimiliki oleh kelurga karyawan kereta api. Keistimewaan kartu ini adalah apabila yang memiliki kartu ini bepergian naik kereta api dengan jarak yang dekat, tidak perlu membeli tiket tetapi bila bepergian naik kereta api dengan jarak jauh, masih memerlukan kartu lain yang disebut SAP (Surat Angkutan Percuma). Seperti contohnya bepergian ke Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Contoh (18) adalah register yang berupa himbauan kepada calon penumpang yang akan membeli tiket supaya mengantri pada loket susai dengan kereta tujuan.

  Contoh (19) dan (20) adalah register yang dipakai oleh bagian PBD

  

(Perbendaharaan Stasiun) kepada bagian loket. Contoh (19) adalah register yang

  berupa himbauan apabila persediaan tiket yang ada di loket, diharapkan mengambil tiket yang ada di bagian PBD. PBD adalah salah satu bagian stasiun yang mengurusi perbendaharaan stasiun termasuk tiket. Contoh (20) adalah register yang berupa pertanyaan dari bagian PBD ketika mengecek tiket kereta yang sudah terjual, terutama kereta Sri Tanjung.

  Contoh (21) dan (22) adalah register yang dipakai oleh sesama karyawan bagian loket. Contoh (21) adalah register yang berupa pertanyaan salah satu karyawan loket pada karyawan lain, saat mengecek tiket kereta kelas 2 atau kereta bisnis yang sudah terjual, terutama kereta Senja Utama Solo. Contoh (22) adalah register yang berupa jawaban bahwa masih atau tidaknya tiket kereta bisnis tergantung oleh Wasi. Wasi adalah wakil seksi, yang terbagi menjadi 2 yaitu wasi Solobalapan dan Solo Jebres.

  (23) (d) maaf bu, tiketnya?anaknya bu? (a) ini pak, tapi anak saya biasanya tidak pakai tiket.

  (d) tapi bu, usia anak ibu ini berapa? (a) 5 tahun. (d) begini bu, anak usia di atas 3 tahun harus memakai tiket. (a) oh begitu. Ya sudah berapa pak? (d) Rp 7.000,00 (a) ini bu tiket suplisinya. Terimakasih. (24) “Besok saya ngeloks kereta Prameks ke Kutoarjo pagi”, kata masinis Prameks. (25) 1402 masuk jalur 3, Prameks siap berangkat. (26) Prameks tunggu 45. (27) Jalur 3 dari arah barat akan segera masuk kereta Logawa 158.

  Pada para penumpang tujuan Surabaya, untuk mempersiapkan diri di jalur no 3. Sebelumnya periksa kembali karcis dan barang bawaan, jangan sampai tertinggal di stasiun maupun terbawa pengantar. (28) Ekspres Banyu Biru tujuan Semarang siap diberangkatkan dari jalur 2. (29) Kereta Pasundan 149 tunggu persilangan dengan kereta 150 di

  Solo Jebres. Setelah kereta 150 masuk, kereta 149 segera diberangkatkan kembali. Para penumpang mohon mempersiapkan diri. (30) Selamat siang kepada para penumpang Sri Tanjung, anda telah sampai di Stasiun Solo Jebres. Sebelum meninggalkan tempat duduk, periksa kembali karcis dan barang bawaan, jangan sampai tertinggal di dalam kereta. pintu keluar di sebelah timur. (31) Prameks tunggu langsir KA-116.

  (32) Jalur 2 dari arah barat, akan segera masuk lokomotif CC 201 16. (33) Kereta Sri Tanjung lepas 1K3, no 1 dari belakang karena ada roda benjol.

  3312 sepur 6 persiapan, sepur 6 tunggu luncuran 156.

  (34) (35) Kereta api barang 2303, masuk sepur 6.

  kdr Prameks dari LPN

  (36) Hari ini (37) Pintu perlintasan mohon ditutup, akan masuk kereta Sancaka. (38) Sinyal masuk mohon ditarik, bila kereta nampak mohon beri tahu. (39) Kereta 153-154, dilepas 1k3 no. 86711 diganti 1k3 no. 85620, posisi paling belakang. (40) Wesel no.10 tidak bisa dilayani karena kawat wesel putus, mohon segera diperbaiki. (41) Mohon tiap pagi check list peralatan pelayanan kereta. (42) Sebelum bekerja berdoa terlebih dahulu. (43) Tiap pagi, juru rumah sinyal A atau B untuk melumasi wesel- wesel dan negatif check alat. (44) Para petugas PKSt, mohon kerja bakti membersihkan emplasemen. (45) Check persediaan tiket di loker penjualan tiket. (46) Mohon untuk mengontrol penyesuaian tarif kereta bisnis dan eksekutif tiap minggu. (47) Langsiran berhenti sepur 5 dengan semboyan 50.

  Contoh (23) adalah register dari kondektur (kdr) pada penumpang kereta api. Register tersebut berupa pertanyaan dan penjelasan. Penumpang yang membeli tiket di atas kereta api (pada waktu perjalanan), tiket yang diberikan kondektur pada penumpang adalah tiket suplisi. Tiket suplisi adalah tiket yang yang diberikan oleh kondektur pada penumpang yang kedapatan tidak mempunyai biasanya penumpang dikenakan biaya dua kali harga tiket. Tiket suplisi atau karcis suplisi dicetak pada kertas dengan dasar berwarna dan disusun sebagai tembusan (Reglemen 22, 1956 : 58).

  Contoh (24) adalah register yang dipakai sesama masinis kereta api. Arti dari ngeloks adalah mengemudikan loko kereta api.

  Contoh (25) sampai dengan contoh (40) adalah register kereta api yang dipakai oleh bagian PPKA (Pemimpin Perjalanan Kereta Api). PPKA adalah seorang pegawai di stasiun atau di pos yang tidak termasuk lingkungan salah satu stasiun, yang diserahi tugas melakukan segala tindakan untuk menjamin keamanan dan ketertiban perjalanan kereta api dan segala sesuatu yang langsung bersangkutan dengan itu (Reglemen 19, 1961 : 22). Register itu berupa pemberitahuan dan perintah.

  Contoh (25) adalah register dari PPKA pada penumpang dan masinis. Maksud dari register itu adalah kereta ketel Pertamina dengan nomor kereta 1402 masuk di jalur 3, kereta Prameks siap untuk diberangkatkan. Maka, para penumpang yang berada di stasiun supaya berhati-hati di jalur 3 dan jangan terlalu dekat dengan jalur kereta Prameks. Kereta ketel adalah kereta khusus untuk mengangkut BBM Pertamina, baik itu berupa kerosin, premium, dan solar

  Contoh (26) adalah register dari PPKA pada masinis. Maksud register dari contoh (26), adalah kereta Prameks diberangkatkan menunggu kereta ekonomi Bengawan dengan nomor kereta 45 yang masuk ke stasiun sampai berhenti.

  Contoh (27) adalah register dari PPKA pada penumpang. Maksud dari register itu adalah pemberitahuan dari PPKA kepada penumpang, khususnya penumpang dengan tujuan Surabaya supaya mempersiapkan diri di jalur 3 dan anjuran supaya memeriksa kembali tiket dan barang bawaan supaya tidak tertinggal di stasiun atau terbawa oleh pengantar.

  Contoh (28) adalah register dari PPKA pada penumpang dan masinis. Maksud dari register tersebut adalah pemberitahuan kepada penumpang kereta api Banyu Biru tujuan Semarang sudah siap untuk diberangkatkan, dan masinis siap untuk memberangkatkan kereta.

  Contoh (29) adalah register dari PPKA pada penumpang dan masinis. Maksud dari register itu adalah pemberitahuan pada masinis kereta Pasundan dengan nomor kereta 149, supaya memberangkatkan kembali kereta menunggu

  

persilangan dengan kereta nomor 150. Untuk para penumpang, dimohon

  mempersiapkan diri. Kata persilangan ini istilah lainnya adalah kress, yang berarti kereta yang bersilang dalam dua jalur yang akhirnya bertemu di jalur yang sama sehingga salah satu kereta harus mengalah.

  Contoh (30) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada penumpang. Maksud dari register itu adalah pemberitahuan pada penumpang kereta api Sri Tanjung bahwa telah sampai di Stasiun Solo Jebres. Di samping itu, PPKA menganjurkan supaya sebelum meninggalkan tempat duduk dalam kereta, memeriksa kembali barang bawaan dan karcis sehingga tidak tertinggal di kereta.

  Contoh (31) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada masinis. Arti dari register itu adalah pemberitahuan dan himbauan pada masinis supaya memberangkatkan kereta Prameks menunggu langsir kereta Senja Utama yang bernomor 116. Langsir adalah pekerjaan menyusun rangkaian kereta api yang akan berangkat atau memisah-misahkan rangkaian kereta api yang datang, begitu pula pekerjaan memindah-mindahkan gerbong-gerbong, kereta-kereta dan lain- lain jenis material dari suatu tempat ke lain tempat emplasemen (Reglemen 19, 1961 : 24). Secara umum, langsir itu berarti merangkai gerbong.

  Contoh (32) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada penumpang. Arti dari register ini adalah supaya penumpang berhati-hati dengan jalur 2, jangan mendekat ke arah jalur 2 karena akan masuk lokomotif CC 201 16. Maksud dari lokomotif CC 201 16 adalah lokomotif yang memiliki tiga gandar penggerak ganda (CC), tranmisi diesel elektrik (2), seri kedua (01), dengan nomor urut 16.

  (Sudjono, 2008 : 43) Contoh (33) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada teknisi kereta api. Arti dari register ini adalah pemberitahuan dan perintah pada teknisi supaya satu gerbong kereta ekonomi nomor satu dari belakang dilepas, karena ada roda

  

benjol (ada kerusakan / kelainan pada roda). K3 adalah singkatan dari kereta

ekonomi, K2 singkatan kereta bisnis, dan K1 adalah singkatan kereta eksekutif.

  Contoh (34) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada penumpang dan masinis. Arti dari register ini adalah lokomotif dengan nomor kereta 3312 di jalur 6 persiapan untuk diberangkatkan, tetapi menunggu kereta Progo dengan nomor kereta 156 yang diberangkatkan terlebih dahulu. Untuk calon penumpang yang masih berada di stasiun, supaya berhati-hati di jalur 6.

  Contoh (35) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada penumpang. Arti dari register ini adalah pemberitahuan pada penumpang yang ada di stasiun bahwa akan segera masuk kereta api barang dengan nomor kereta 2303 di jalur 6, supaya penumpang berhati-hati di jalur 6.

  Contoh (36) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada kondektur. Arti dari register ini adalah pemberitahuan bahwa kondektur Prameks hari ini adalah kondektur dari Lempuyangan. Kdr, singkatan dari kondektur. LPN, singkatan dari Lempuyangan.

  Contoh (37) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada PJR (Petugas Jalan Rel). Arti dari register itu adalah pemberitahuan dan perintah pada petugas jalan rel bahwa kereta api Sancaka akan segera lewat, supaya pintu perlintasan segera ditutup. Pintu perlintasan adalah pintu yang mengamankan kereta api dari angkutan umum jalan raya atau pembatas antara kereta api dengan angkutan umum jalan raya yang lain. Pintu perlintasan disebut juga dengan pintu palang kereta api.

  Contoh (38) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada bagian Sintel (Sinyal dan Telekomunikasi) khususnya pada rumah sinyal. Arti dari register ini adalah pemberitahuan atau sebuah perintah agar sinyal masuk kereta ditarik dan bila kereta api sudah tampak, agar memberitahu PPKA. Sinyal masuk adalah sinyal utama yang dapat memperlihatkan tanda memberi izin atau melarang kereta api masuk stasiun. (Reglemen 19, 1961 : 20)

  Contoh (39) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada bagian PJL (Petugas Juru Langsir). Arti dari register itu adalah sebuah perintah pada bagian PJL agar kereta api dengan nomor 153-154, dilepas satu gerbong ekonomi nomor 86711 diganti dengan satu gerbong ekonomi nomor 85620 dengan posisi paling belakang.

  Contoh (40) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada teknisi peralatan. Arti dari register itu adalah sebuah perintah dan pemberitahuan bahwa wesel nomor 10 tidak bisa dipakai karena kawat wesel putus, supaya bagian teknisi peralatan segera memperbaiki. Wesel adalah rel pemindah jalur kereta api.

  Contoh (41) sampai dengan contoh (47) adalah register yang dipakai oleh KS (Kepala Stasiun). Kepala stasiun adalah seorang pegawai yang menguasai atau untuk sementara menguasai stasiun dan disamping itu juga bertanggungjawab atas urusan perjalanan kereta api dan urusan langsir seluas-luasnya, jika kepadanya tidak diperbantukan seorang Pemimpin perjalanan kereta api atau seorang Pengawas peron (Reglemen 19, 1961 : 22). Register itu berupa himbauan dan perintah.

  Contoh (41) adalah register yang dipakai oleh KS pada PPKA. Arti dari register itu adalah himbauan pada PPKA supaya setiap pagi mengecek fungsi setiap peralatan pelayanan kereta api.

  Contoh (42) adalah register yang dipakai oleh KS pada PPKA. Arti dari register ini adalah himbauan pada seluruh bagian PPKA agar setiap kali sebelum bekerja, dimulai dengan berdoa terlebih dahulu.

  Contoh (43) adalah register yang dipakai oleh KS pada Sintel (Sinyal dan Telekomunikasi) khususnya rumah sinyal. Rumah sinyal adalah sebuah bangunan yang dibangun secara khusus untuk pengaturan sinyal, biasanya terletak agak jauh dari stasiun. Arti dari register itu adalah himbauan pada rumah sinyal A atau B, supaya setiap pagi untuk melumasi wesel dan negatif check alat-alat. Negatif

  check adalah pengecekan untuk mengetahui kelainan pealatan sinyal.

  Contoh (44) adalah register yang dipakai oleh KS pada bagian PKSt. Bagian PKSt adalah bagian dari stasiun yang bertugas mengurusi kebersihan stasiun, dengan anak buah porter.

  Dalam contoh (44), arti dari register itu adalah sebuah perintah pada petugas PKSt, supaya kerja bakti membersihkan emplasemen stasiun.

  

Emplasemen adalah tempat terbuka / tanah lapang yang disediakan untuk

  perangkat penunjang operasional PT Kereta Api berupa bangunan, jaringan sepur- sepur, rel berikut sistem wesel, dll. Menurut KBBI, emplasemen adalah tempat terbuka / tanah lapang yang disediakan untuk jawatan atau satuan bangunan (seperti tanah lapang di dekat stasiun untuk keperluan jawatan kereta api).

  Contoh (45) dan contoh (46) adalah register yang dipakai oleh KS pada PBD. PBD adalah bagian perbendaharaan stasiun. Arti register dalam contoh (45) adalah himbauan dan perintah dari KS pada PBD supaya memeriksa persediaan tiket di loker penjualan tiket, tepatnya di bagian loket.

  Arti dari register contoh (46) adalah himbauan dan perintah dari KS pada PBD supaya mengontrol penyesuaian harga tiket setiap kereta bisnis dan eksekutif, bila ada perubahan ataukah tidak dalam setiap minggunya.

  Contoh (47) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada PJL. Arti dari register itu adalah langsiran kereta ekonomi yang berada di jalur 4, supaya berhenti di jalur 5 dengan menggunakan semboyan 50. Semboyan 50 artinya langsiran melalui pintu lintasan (Semboyan Kereta Api, 2008 : 50)

  (48) Mohon cek tingkapan blok ke.

  semboyan 3.

  (49) Masinis segera (50) Masinis segera semboyan 2A, 2B, dan 2C untuk masuk stasiun.

  bantalan rel dekat rumah sinyal A dan

  (51) Tolong perbaikan tambahan balas, amblesan, supaya tidak terjadi anljok.

  tingkapan sepur tunggal kereta Prameks, semboyan 5.

  (52) PPKA, (53) Kereta api barang 2303 masuk sepur 6. (54) Jangan lupa catat setiap laporan pekerjaan di buku Warta Kereta (WK). Contoh (48) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada bagian Sintel (Sinyal dan telekomunikasi). Register itu berupa sebuah perintah dan himbauan.

  Arti dari register itu adalah PPKA memberikan pesan yang berbentuk perintah dan himbauan supaya bagian Sintel, mengecek keadaan tingkapan blok ke. Tingkapan

  blok ke adalah sinyal pemberangkatan kereta api.

  Contoh (49) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada masinis. Arti dari register itu adalah peringatan dari PPKA pada masinis kereta supaya memperhatikan semboyan 3 untuk keadaan yang tidak aman bagi kereta.

  

Semboyan 3 artinya keadaan berbahaya, tidak aman sehingga kereta api harus

  berhenti. (Semboyan Kereta Api, 2008 : 3) Contoh (50) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada masinis. Arti dari register ini adalah himbauan dari PPKA pada masinis kereta supaya memperhatikan semboyan 2A, 2B, dan 2C dalam memasuki stasiun. Semboyan 2A artinya pembatasan kecepatan kereta api tidak boleh berjalan dengan kecepatan lebih dari 40 km sejam. Semboyan 2B berarti pembatasan kecepatan kereta api tidak boleh lebih dari 20 km sejam, dan Semboyan 2C yang berarti pembatasan kecepatan kereta api harus berjalan dengan kecepatan orang berjalan kaki (5 km sejam). (Semboyan Kereta Api, 2008 : 5-9)

  Contoh (51) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada PJR (Petugas Jalan Rel) khususnya bagian regu langsung pekerja. Arti register ini adalah perintah pada petugas jalan rel untuk memperbaiki bantalan rel yang berada di dekat rumah sinyal A dan menambah balas, amblesan, supaya tidak terjadi anjlok bila kereta lewat. Bantalan rel adalah kayu atau besi atau beton yang digunakan untuk landasan rel. Balas, Amblesan adalah batuan-batuan kecil sebagai penahan bantalan. Anjlok adalah roda kereta keluar dari rel. Hal itu bisa terjadi karena penambat kereta sering terjadi pencurian oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Faktor lain kereta bisa anjlok karena bantal rel yang mulai rapuh, lebar rel yang tergeser, as roda patah, kelebihan muatan, usia kereta, dan bencana alam.

  Contoh (52) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada bagian Sintel (Sinyal dan Telekomunikasi). Arti dari register itu adalah pemberitahuan dan perintah dari Sintel pada PPKA bahwa tingkapan sepur tunggal dengan semboyan untuk kereta Prameks yang akan masuk stasiun. Tingkapan sepur tunggal

  5

  maksudnya adalah pemberitahuan untuk memberi rasa aman pada kereta yang akan masuk atau keluar stasiun. Semboyan 5 artinya aman, kereta api boleh masuk (Semboyan Kereta Api, 2008 : 12) Contoh (53) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada penumpang.

  Arti dari register ini adalah pemberitahuan pada penumpang yang ada di stasiun bahwa akan segera masuk kereta api barang dengan nomor kereta 2303 di jalur 6, supaya penumpang berhati-hati di jalur 6.

  Contoh (54) adalah register yang dipakai oleh sesama PPKA. Arti dari register ini adalah himbauan pada setiap para karyawan PPKA supaya mencatat setiap laporan pekerjaannya di buku Warta Kereta (WK). Warta Kereta (WK) adalah sebuah buku yang berisi tentang pemberitahuan kalau kereta aman dan meminta kereta berangkat (Reglemen 19, 1961 : 24).

  (55) Perbaikan KRD New Kaligung dari Semarang pada transmisi hidromekanik nya rusak. (56) Utama Solo masuk overhaul. (57) Kondektur Prameks semboyan 40 dan 41. (58) Masinis Bengawan, kereta stabling sepur 5. Contoh (55) dan (56) adalah register yang dipakai oleh sesama karyawan bagian depo. Depo atau Balai Yasa adalah tempat perbaikan dan perawatan lokomotif, kereta, dan gerbong bila mengalami kerusakan. Arti dari contoh (55) adalah himbauan dan perintah untuk memperbaiki KRD New Kaligung yang mengalami kerusakan pada bagian transmisi hidromekanik. KRD adalah Kereta Rel Diesel. Transimisi hidromekanik adalah sebuah transmisi yang menggunakan prinsip kerja hidrolik dan mekanik. Dalam prinsip kerja hidrolik ini, momen putar dari motor diesel diteruskan melalui suatu alat penerus daya yang berisi poros input / poros output, pompa putar, turbin radial, suhu tetap dan cairan oli dalam kotak yang tertutup. Sedangkan prinsip kerja mekanik ini, momen putar dari motor diesel ke kopling gesek, ke roda gigi, gardan, ke roda gigi, poros / as kemudian ke roda penggerak. Jadi, transmisi hidromekanik yang dimaksud adalah sebuah transmisi denan prinsip kerja hidrolik dan mekanik, dalam hal ini mempunyai dua tingkat yaitu kecepatan 0 sampai 40 km/jam daya ditransmisikan secara hidrolik menggunakan torque converter, sedangkan pada kecepatan 40 sampai 90 km/jam daya ditransmisikan secara mekanik, artinya langsung menggunakan roda gigi. (Hartono, 2008 : 9-10)

  Arti dari contoh register (56) adalah sebuah himbauan dan perintah bahwa kereta Senja Utama Solo yang baru saja masuk, harap di Overhaul. Overhaul adalah pemeliharaan besar. Overhaul ini biasa dilakukan setahun sekali.

  Contoh (57) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada kondektur. Arti dari register ini adalah kereta api Prameks siap untuk diberangkatkan dengan menggunakan semboyan 40 dan semboyan 41. Semboyan 40 artinya ijin kepada kondektur pemimpin untuk memberangkatkan kereta api. Semboyan 41 artinya ijin kondektur pemimpin kepada masinis untuk berangkat, dengan cara membunyikan suling mulut dengan suara panjang sebanyak satu kali (Semboyan Kereta Api, 2008 :42 - 43)

  Contoh (58) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada masinis. Arti dari register ini adalah himbauan agar masinis kereta api Bengawan memposisikan keretanya dalam posisi stabling di jalur 5. Stabling adalah kereta dalam keadaan berhenti, baik menunggu persilangan atau menunggu pemberangkatan atau memang sudah selesai tugas.

  III. 2. SARANA

  III. 2.1 Pengantar

  Sarana wacana menunjuk pada bagian yang diperankan oleh bahasa, hal yang diharapkan oleh para pelibat diperankan bahasa dalam situasi itu: organisasi simbolik teks, kedudukan yang dimilikinya, dan fungsinya dalam konteks, termasuk salurannya (apakah dituturkan atau dituliskan atau semacam gabungan keduanya) dan juga mode retoriknya, yaitu apa yang akan dicapai teks berkenaan dengan pokok pengertian seperti bersifat membujuk, menjelaskan, mendidik, dan semacamnya. (Halliday, 1992 : 16-17)

  Melihat dari pengertian Halliday di atas, dapat diberi kesimpulan bahwa sarana adalah bagian tertentu yang diperankan bahasa oleh para pelibat dalam proses interaktif baik itu secara dituturkan (lisan), dituliskan (tertulis), atau gabungan keduanya (lisan dan tertulis). Menurut wawancara dengan PBD Stasiun Jebres (Rahmat, 16 Mei 2009), “Komunikasi antarbagian dalam stasiun memakai peralatan telepon, mikrofon, semboyan, atau isyarat lainnya tetapi bisa juga lisan secara langsung”. Semboyan yang dimaksudkan adalah suatu benda atau suara yang mempunyai arti atau maksud menurut bunyi, wujud, dan warnanya, tetapi tidak menurut tulisan atau angka yang dapat terbaca pada benda itu (Semboyan Kereta Api, 2008 : 1). Dengan kata lain, komunikasi secara lisan itu bisa melalui media telepon, mikrofon, semboyan, atau isyarat lainnya tetapi bisa juga secara langsung. Jadi, arti semboyan dalam kereta api itu diucapkan sebagai sarana lisan.

  Dalam kereta api, khususnya dalam stasiun komunikasi sebagai sarana terucap secara lisan juga diucapkan secara lisan tertulis. Untuk komunikasi hanya secara tertulis, hampir tidak pernah dilakukan.

  III. 2.2 Sarana Secara Lisan

  Dalam contoh medan dan pelibat pada bab II setelah diklasifikasikan ke dalam sarana, yang termasuk contoh sarana secara lisan adalah :

  III. 2.2.1 Sarana Secara Lisan Yang Diucapkan Langsung :

  (6) (a) Prameks jurusan Kutoarjo jam berapa? (b) Pukul 12.30, 1 hargannya Rp 14.000,00. berapa? (a) 1.

  (b) Makasih. (6) (a) kereta jurusan Tanah Abang jam 5 ada?

  (b) tempat duduknya habis, bagaimana? Berdiri mau tidak? (a) ooh, ya sudah. Tidak apa-apa mas. (b) berapa? (a) satu mas. (7) (a) kereta prameks jurusan Kutoarjo

  (b) berapa orang? (a) 2 orang, Rp 28.000,00 (b) ya, terimakasih.

  (8) (a) bengawan berangkat jam berapa?

  (a) hari ini, satu saja mas. (b) ya, Rp 38.000,00. Terimakasih. (9) (a) prameks Kutoarjo jam berapa? (b) pukul 12.45.

  (10) (a) kereta ke bandung jam berapa? (b) pukul 12.00 (11) (a) prameks jogja mbak.

  (b) berapa? (a) 1 (b) Rp 7.000,00 (a) berangkat jam berapa? (b) pukul 12.30

  (12) (a) yang ke bojonegoro ada? (b) tidak ada, soalnya itu lewat utara.

  (b) bisanya naik bus saja. (a) oh ya sudah, terimakasih. (13) (a) argo lawu besok masih ada?

  (b) masih, berapa? (a) atas nama siapa? (b) Tri Widodo (b) tapi berangkat dari Balapan ya? (a) iya, Pukul 08.00 ya? (b) iya

  (DIPROSES) (b) eksekutif, gerbong 4, no 2B (a) Iya, berapa? (b) Rp 260.000,00 (a) terimakasih. (14) (a) bengawan sore jam berapa?

  (b) pukul 16.45 (a) berapa?

  (b) 5, sampingan ya mas. (a) ini bu, Rp 190.000,00. terimaksih (b) terimakasih.

  (15) (a) mas, kereta ekonomi yang berangkat ke Jakarta apa saja? (b) Bengawan, Gaya Baru malam. Tapi, tiket Bengawan untuk minggu ini sudah habis. (a) sampai minggu?

  (b) iya. Apa naik Gaya Baru malam saja? (a) ya sudah mas, minta 1. (b) baiklah, ini tiketnya. Terimakasih. (a) terimakasih. (16) (a) mas, minta tiket bengawan yang KM

  (b) KM bu? Kenapa? (a) biar tidak pindah-pindah (b) ya sudah, saya kasih 1 ya bu? (a) iya, berapa? (b) Rp 30.500,00 (a) terimakasih.

  (17) (a) mas, saya mau pesan tiket pakai KBD bisa? (b) ada fotokopinya? (a) ada.

  (b) tiket apa? Untuk tanggal berapa? Bisa. (a ) Senja Utama Jogja, tanggal 24. (b) berapa orang? (a) 1 (b) ini tiketnya, 117.

  (a) berapa pak? Ini fotokopi KBDnya (b) Rp 55.000,00 (a) terimakasih.

  (18) Kepada para penumpang dimohon antri sesuai kereta tujuan. Contoh (3) adalah register yang dipakai bagian loket pada penumpang. Register itu disampaikan secara lisan lewat percakapan langsung pada waktu penumpang membeli tiket.

  Contoh (6) s.d (18) adalah register yang dipakai bagian loket pada penumpang. Register itu disampaikan secara lisan lewat percakapan langsung pada waktu penumpang membeli tiket.

  (20) (c) Sri Tanjung berapa? (b) 142

  (21) (b) tadi kelas 2 laku berapa? (b) 1. Senja Utama Solo. (22) (b) bisnis masih? (b) bisnis tergantung wasi.

  Contoh (20) adalah register yang dipakai PBD pada bagian loket. Register itu disampaikan secara lisan lewat percakapan langsung, ketika PBD menanyakan penjualan tiket kereta Sri Tanjung.

  Contoh (21) dan (22) adalah register yang dipakai sesama karyawan bagian loket. Register itu disampakan secara lisan lewat percakapan langsung, ketika mengecek penjualan tiket.

  (23) (a) maaf bu, tiketnya?anaknya bu? (b) ini pak, tapi anak saya biasanya tidak pakai tiket.

  (a) tapi bu, usia anak ibu ini berapa? (b) 5 tahun. (a) begini bu, anak usia di atas 3 tahun harus memakai tiket. (b) oh begitu. Ya sudah berapa pak? (a) Rp 7.000,00 (b) ini bu tiket suplisinya. Terimakasih.

  (24) “Besok saya ngeloks kereta Prameks ke Kutoarjo pagi”, kata masinis Prameks. (33) Kereta Sri Tanjung lepas 1K3, no 1 dari belakang karena ada roda benjol. (36) Hari ini kdr Prameks dari LPN

  Contoh (23) adalah register yang dipakai kondektur pada penumpang kereta api. Register itu disampaikan secara lisan lewat percakapan langsung pada waktu kondektur memeriksa tiket penumpang di dalam kereta api.

  Contoh (24) adalah register yang dipakai sesama masinis kereta api,. Register itu disampaikan secara lisan lewat percakapan biasa.

  Contoh (33) adalah register yang dipakai PPKA pada teknisi kereta. Register ini disampaikan secara lisan lewat percakapan langsung, pada waktu PPKA mengontrol kereta. Register ini berupa pemberitahuan dan perintah.

  Contoh (36) adalah register yang dipakai PPKA pada kondektur Prameks. Register ini disampaikan secara lisan lewat percakapan langsung, pada waktu pergantian kondektur di stasiun.

  (41) Mohon tiap pagi check list peralatan pelayanan kereta. (42) Sebelum bekerja berdoa terlebih dahulu.

  Contoh (41) dan (42) adalah register yang dipakai KS pada PPKA. Register ini disampaikan secara lisan lewat percakapan secara langsung, pada waktu breafing setiap pagi. Register ini berupa himbauan.

  (44) Para petugas PKSt, mohon kerja bakti membersihkan emplasemen. (45) Check persediaan tiket di loker penjualan tiket. Contoh (44) adalah register yang dipakai KS pada PKSt. Register ini disampaikan secara lisan lewat percakapan secara langsung, pada waktu breafing setiap pagi. Register ini berupa perintah.

  Contoh (45) adalah register yang dipakai KS pada PBD. Register ini disampaikan secara lisan lewat percakapan secara langsung. Register ini berupa himbauan dan perintah.

  (51) Tolong perbaikan bantalan rel dekat rumah sinyal A dan tambahan balas, amblesan, supaya tidak terjadi anljok. (54) Jangan lupa catat setiap laporan pekerjaan di buku Warta Kereta (WK).

  Contoh (51) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada PJR (Petugas Jalan Rel) khususnya bagian regu langsung pekerja. Register ini disampaikan secara lisan lewat percakapan langsung ketika PPKA menemui langsung bagian PJR. Register ini berupa perintah.

  Contoh (54) adalah register yang dipakai oleh sesama PPKA. Register ini disampaiakan secara lisan lewat percakapan langsung. Register ini berupa himbauan.

  (55) Perbaikan KRD New Kaligung dari Semarang pada transmisi hidromekanik nya rusak. (56) Utama Solo masuk overhaul. Contoh (55) dan (56) adalah register yang dipakai oleh sesama karyawan bagian depo. Register ini disampaikan secara lisan lewat percakapan langsung ketika kereta dibawa masuk ke dalam depo. Register ini berupa himbauan dan perintah.

III. 2.2.2 Sarana Secara Lisan Yang Diucapkan Lewat Telepon :

  (37) Pintu perlintasan mohon ditutup, akan masuk kereta Sancaka. (38)

  Sinyal masuk mohon ditarik, bila kereta nampak mohon beri tahu.

  Contoh (37) adalah register yang dipakai PPKA pada PJR (Petugas Jalan Rel). Register ini disampaikan secara lisan lewat pesan telepon, yang berupa pemberitahuan dan perintah.

  Contoh (38) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada Sintel (Sinyal dan Telekomunikasi). Register ini disampaikan secara lisan lewat pesan telepon, yang berupa perintah dan pemberitahuan.

  (48) Mohon cek tingkapan blok ke. (50) Masinis segera semboyan 2A, 2B, dan 2C untuk masuk stasiun.

  (52) PPKA, tingkapan sepur tunggal kereta Prameks, semboyan 5.

  Contoh (48) adalah register yang dipakai PPKA pada bagian Sintel (Sinyal dan telekomunikasi). Register ini disampaikan secara lisan lewat telepon, supaya mengecek tingkapan blok ke. Register ini berupa perintah dan himbauan.

  Contoh (50) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada masinis. Register ini disampaiakan secara lisan lewat telepon khusus, supaya masinis memperhatikan semboyan ketika kereta memasuki stasiun. Register ini berupa humbauan.

  Contoh (52) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada bagian Sintel (Sinyal dan Telekomunikasi). Register ini disampaikan secara lisan lewat telepon, supaya memperhatikan tingkapan sepur tunggal. Register ini berupa pemberitahuan dan perintah.

III. 2.2.3 Sarana Secara Lisan Yang Diucapkan Lewat Mikrofon

  (7) 486, 486, siap berangkat (8) Mohon bantuan untuk mempersiapkan bancik-bancik, untuk kereta yang akan segera masuk.

  (25) 1402 masuk jalur 3, Prameks siap berangkat. (26) Prameks tunggu 45. (27) Jalur 3 dari arah barat akan segera masuk kereta Logawa

  158. Pada para penumpang tujuan Surabaya, untuk mempersiapkan diri di jalur no 3. Sebelumnya periksa kembali

  karcis dan barang bawaan, jangan sampai tertinggal di stasiun maupun terbawa pengantar.

  (28) Ekspres Banyu Biru tujuan Semarang siap diberangkatkan dari jalur 2. (29) Kereta Pasundan 149 tunggu persilangan dengan kereta 150 di Solo Jebres. Setelah kereta 150 masuk, kereta 149 segera diberangkatkan kembali. Para penumpang mohon mempersiapkan diri. (30) Selamat siang kepada para penumpang Sri Tanjung, anda telah sampai di Stasiun Solo Jebres. Sebelum meninggalkan tempat duduk, periksa kembali karcis dan barang bawaan, jangan sampai tertinggal di dalam kereta. pintu keluar di sebelah timur. (31) Prameks tunggu langsir KA-116. (32) Jalur 2 dari arah barat, akan segera masuk lokomotif CC 201 16.

  3312 sepur 6 persiapan, sepur 6 tunggu luncuran 156.

  (34) (35) Kereta api barang 2303, masuk sepur 6. (39) Kereta 153-154, dilepas 1k3 no. 86711 diganti 1k3 no.

  85620, posisi paling belakang.

  (49) Masinis segera semboyan 3. (53) Kereta api barang 2303 masuk sepur 6. (57) Kondektur Prameks semboyan 40 dan 41. (58) Masinis Bengawan, kereta stabling sepur 5.

  Contoh (4) adalah register yang dipakai PPKA pada masinis. Register itu disampaikan secara lisan lewat mikrofon, yang berupa pengumuman. Contoh (5) adalah register yang dipakai oleh KS (Kepala Stasiun) kepada bagian PKSt. Register itu disampaikan lisan, yang berupa sebuah perintah.

  Contoh (25) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada penumpang dan masinis. Register itu disampaikan secara lisan lewat mikrofon, yang berupa pengumuman dari PPKA.

  Contoh (26) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada masinis. Register itu disampaikan secara lisan lewat mikrofon, yang berupa pemberitahuan dari PPKA.

  Contoh (27) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada penumpang. Register itu disampaikan secara lisan lewat mikrofon, yang berupa pemberitahuan dari PPKA.

  Contoh (28) dan (29) adalah register yang dipakai PPKA pada penumpang dan masinis. Register ini disampaikan secara lisan lewat mikrofon, yang berupa pemberitahuan dari PPKA.

  Contoh (30) adalah register yang dipakai PPKA pada penumpang. Register ini disampaikan secara lisan lewat mikrofon, yang berupa pemberitahuan dari PPKA.

  Contoh (31) adalah register yang dipakai PPKA pada masinis. Register itu himbauan supaya masinis Prameks memberangkatkan keretanya menunggu langsiran.

  Contoh (32) adalah register yang dipakai PPKA pada penumpang. Register itu disampaikan secara lisan lewat mikrofon yang berupa pemberitahuan dari PPKA.

  Contoh (34) adalah register yang dipakai PPKA pada masinis dan penumpang. Register ini disampaikan secara lisan lewat mikrofon, yang berupa pemberitahuan dari PPKA.

  Contoh (35) adalah register yang dipakai PPKA pada penumpang. Register itu disampaikan secara lisan lewat mikrofon yang berupa pemberitahuan dari PPKA.

  Contoh (39) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada PJL (Petugas Juru Langsir). Register ini disampaikan secara lisan lewat mikrofon pada waktu PPKA mengawasi jalannya langsir. Register ini berupa sebuah perintah.

  Contoh (47) adalah register yang dipakai KS pada PJL. Register ini disampaikan secara lisan lewat mikrofon, ketika PPKA mengawasi langsiran.

  Register ini berupa himbauan dan perintah.

  Contoh (49) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada masinis. Register ini disampaikan secara lisan lewat mikrofon, ketika posisi kereta tidak jauh dari stasiun, sehingga PPKA memberikan peringatan pada masinis.

  Contoh (53) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada penumpang. Register itu disampaikan secara lisan lewat mikrofon, yang berupa pemberitahuan dari PPKA.

  Contoh (57) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada kondektur. Register ini disampaikan secara lisan lewat mikrofon, ketika kereta akan diberangkatkan. Register ini berupa himbauan.

  Contoh (58) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada masinis. Register ini disampaikan secara lisan lewat mikrofon. Register ini berupa himbauan.

III. 2.3 Sarana Secara Lisan Tertulis.

  Dalam contoh medan dan pelibat pada bab II setelah diklasifikasikan ke dalam sarana, yang termasuk contoh sarana secara lisan dan tertulis adalah : (19) Bila persediaan tiket menipis, dimohon dengan kesadaran mengambil di PBD (40) Wesel no.10 tidak bisa dilayani karena kawat wesel putus, mohon segera diperbaiki. (43) Tiap pagi, juru rumah sinyal A atau B untuk melumasi wesel-wesel dan negatif check alat. (46) Mohon untuk mengontrol penyesuaian tarif kereta bisnis dan eksekutif tiap minggu.

  Contoh (19) adalah register yang dipakai PBD (Perbendaharaan Stasiun) kepada bagian loket. Register ini disampaikan secara lisan dan tertulis. Register disampaikan secara lisan lewat percakapan langsung dari PBD pada loket. Register disampaiakan juga secara tertulis lewat surat pesan pada loket. Register ini berupa himbauan.

  Contoh (40) adalah register yang dipakai oleh PPKA pada teknisi peralatan. Register ini disampaikan secara lisan dan tertulis. Register disampaikan secara lisan lewat telepon khusus ke bagian peralatan, setelah PPKA melakukan pengecekan. Register disampaiakan juga secara tertulis lewat surat pesan pada teknisi peralatan. Register ini berupa perintah dan pemberitahuan.

  Contoh (43) adalah register yang dipakai oleh KS pada Sintel (Sinyal dan Telekomunikasi) khususnya rumah sinyal. Register ini disampaikan secara lisan dan tertulis. Register disampaikan secara lisan lewat telepon khusus ke bagian Juru Rumah Sinyal. Register disampaiakan juga secara tertulis lewat pesan surat yang ditempel di bagian Sintel (Rumah Sinyal). Register ini berupa himbauan.

  Contoh (46) adalah register yang dipakai oleh KS pada PBD. Register ini disampaikan secara lisan dan tertulis. Register disampaikan secara lisan lewat percakapan langsung, pada waktu KS ke ruang PBD. Register disampaiakan juga secara tertulis lewat surat pesan pada PBD. Register ini berupa perintah dan pemberitahuan.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN IV. 1. Kesimpulan Register kereta api, penentunya berdasar pada tiga hal, yaitu medan,

  pelibat, dan sarana. Medan adalah perihal tentang sesuatu yang menjadi konteks yang dilakukan oleh para pelibat, yang di dalamnya bahasa ikut serta sebagai unsur pokok. Pelibat adalah orang-orang yang terlibat dalam konteks dan hubungan persona yang terlibat tersebut baik sementara dan tetap. Jadi, antara medan dan pelibat sangat erat kaitannya. Sarana adalah bagian tertentu yang diperankan bahasa oleh para pelibat dalam proses interaktif baik itu secara dituturkan (lisan), dituliskan (tertulis), atau gabungan keduanya (lisan dan tertulis).

  Hasil penelitian tentang register kereta api, peneliti menemukan kata-kata khusus yang terdapat dalam register kereta api. Misalnya anjlok, karcis, loko, bantalan rel, bancik-bancik, dan masih banyak yang lainnya. Kata-kata tersebut digunakan oleh masing-masing bidang yang bersangkutan.

  Medan sangat erat kaitannya dengan pelibat, karena pelibat menunjuk orang-orang yang mengambil bagian dalam medan. Dalam kereta api, khususnya stasiun terdapat sepuluh bagian penting yang beroperasi yaitu KS (Kepala

  

Stasiun), PBD (Perbendaharaan Stasiun), PPKA (Pemimpin Perjalanan Kereta

Api), Loket, PJR (Petugas Jalan Rel), PJL (Petugas Juru Langsir), Sintel (Sinyal

dan Telekomunikasi), PKSt (Petugas Kebersihan Stasiun), Kondektur, dan Depo

(Bengkel Perbaikan atau Perawatan Kereta Api). Kesepuluh bagian penting itu berada di bawah bidang KUPT OPSAR (KUPT Operasional). Bagian-bagian itulah yang menjadi pelibat dan medannya adalah bidang KUPT OPSAR, karena bidang ini sebagai pusat operasional kereta api.

  TABEL MEDAN DAN PELIBAT REGISTER KERETA API No Medan dan Pelibat Register

  1. KS (Kepala Stasiun) KS 2. PBD (Perbendaharaan) Karcis.

  3. PPKA (Pemimpin Perjalanan Warta kereta, stabling, sepur, reglemen, Kereta Api) peron, persilangan / kress, kereta ketel.

  4. Loket Karcis.

  5. PJR (Petugas Jalan Rel) Pintu perlintasan, bantaalan rel, balas, amblesan, anjlok.

  6. PJL (Petugas Juru Langsir) Langsir, lokomotif, stabling.

  7. Sintel (Sinyal dan Wesel, tingkapan blok ke, tingkapan Telekomunikasi) sepur tunggal, sinyal masuk, rumah sinyal, telepon, negatif check.

  8. PKSt (Petugas Kebersihan Bancik-bancik, emplasemen, peron.

  Stasiun) 9. Kondektur Tiket suplisi, KBD, karcis.

  10. Depo Overhaul, teknisi, trouble, depo, transmisi hidromekanik, gandar, lokomotif, gerbong, kereta ketel.

  Komunikasi antarbagian dalam stasiun memakai peralatan telepon, mikrofon, semboyan, atau isyarat lainnya tetapi bisa juga lisan secara langsung.

  Dengan kata lain, komunikasi secara lisan itu bisa melalui media telepon, mikrofon, semboyan, atau isyarat lainnya tetapi bisa juga secara langsung. Jadi, arti semboyan dalam kereta api itu diucapkan sebagai sarana lisan.

  Dalam kereta api, khususnya dalam stasiun, komunikasi sebagai sarana terucap secara lisan juga diucapkan secara lisan tertulis. Untuk komunikasi hanya secara tertulis saja, hampir tidak pernah dilakukan.

  Hal itu terlihat seperti contoh di bawah ini : (6) Tolong trouble loko CC 201 55.

  (6) Langsir loko kereta ketel doubel bogie.

  Contoh (59) di atas adalah register yang dipakai oleh sesama karyawan bagian depo. Arti dari register itu adalah sebuah perintah untuk memperbaiki loko yang rusak, yaitu loko CC 201 55. Register itu diucapkan secara lisan, lewat percakapan secara langsung. Trouble artinya memperbaiki loko yang rusak.

  Contoh (60) di atas adalah register yang dipakai oleh PPKA pada PJL (Petugas Juru Langsir). Arti dari register itu adalah sebuah perintah untuk merangkai loko dua bogie. Bogie dalam lokomotif diesel berfungsi untuk mendukung rangka dasar dan badan lokomotif beserta mesin dan peralatannya. (Hartono, 2008 : 24).

IV. 2. Saran

  Objek penelitian ini sebatas tentang register kereta api ditinjau dari segi unsur-unsur pendukung yang sesuai dengan konteksnya. Unsur-unsur itu meliputi medan (field), pelibat (tenor), dan sarana (mode). Oleh karena itu, masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya ditinjau dari segi padanan dengan bahasa lain atau etimologis. Hal ini perlu dilakukan untuk memperluas kajian baru sehingga kekayaan bahasa sungguh dapat dinikmati oleh kalangan yang lebih luas.

DAFTAR PUSTAKA

  AF, Sudjono. 2008. Rahasia Nomor Seri Lokomotif. Depok : PT. Ilalang Sakti Komunikasi. Djawatan Kereta Api. 1956. Reglemen Djawatan Kereta Api : Reglemen 22.

  Jakarta. Djawatan Kereta Api. 1961. Reglemen Djawatan Kereta Api : Reglemen 19.

  Jakarta. Halliday, M.A.K, Requiya Hasan. 1992. Bahasa, Konteks, dan Teks terjemahan Drs. Barori T, MA . Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

  Hartono, IR, AS, MM. 2008. Lokomotif dan Kereta Rel Diesel Di Indonesia.

  Depok : PT. Ilalang Sakti Komunikasi. Kartikarini, Kingkin. 2006. “Register Game Komputer dalam Majalah Game 21 Edisi Januari s.d Desember 2004”. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Sastra.

  Universitas Sanata Dharma. Pateda, Mansoer. 1990. Sosiolinguistik. Bandung : Angkasa. Pratomo, Cahyadi Haryo. 2006. “Register Pekerja Pertambangan Batubara”.

  Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Sastra. Universitas Sanata Dharma. PT. Ilalang Sakti Komunikasi. 2008. Semboyan Kereta Api : Reglemen 3 PT Kereta Api (Persero). Depok.

  Purwanto, Yohanes. 2004. “Register Aba-Aba Peraturan Militer Dasar”. Skripsi.

  Yogyakarta : Fakultas Sastra. Universitas Sanata Dharma. Sudaryanto, 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta : Duta Wacana University Press.

  Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2003. Kamus

  Besar Bahasa Indonesia : edisi ketiga. Jakarta : Balai Pustaka

  Wardhaugh, Ronald. 1991. An Introduction to Sosiolinguistics. Jakarta : Gramedia.

Dokumen baru