Peranan pendidikan agama Katolik terhadap perkembangan kepribadian siswa kelas XI SMA Yos Sudarso Metro, Lampung - USD Repository

Gratis

0
0
143
3 months ago
Preview
Full text

PERANAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK TERHADAP PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN SISWA KELAS XI SMA YOS SUDARSO METRO, LAMPUNG

  

S K R I P S I

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

  

Oleh:

Briggita Ika Gandawati

NIM: 071124016

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

  

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2012

  PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan kepada: Orangtuaku Bapak Cosmos Kusno dan Ibu Elisabeth Maryuti

  Adikku Stefanus Gagas Wibowo Sahabatku Agustinus Endi Priyanto

  Teman-temanku dan para siswa SMA Yos Sudarso Metro Serta segenap keluarga besarku

  MOTTO

  Semua Akan Indah Pada Waktunya (Pengkothbah 3:14)

  

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  ABSTRAK

  Judul skripsi PERANAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

  TERHADAP PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN SISWA KELAS XI SMA YOS SUDARSO METRO, LAMPUNG dipilih berdasarkan kenyataan di SMA Yos

  Sudarso Metro Lampung bahwa perkembangan kepribadian masih sering diabaikan dalam hidup kita padahal sangatlah penting bagi hidup kita. Dan begitu pula bagi siswa SMA yang masih mencari jati dirinya. Pentingnya perkembangan kepribadian bagi siswa SMA berkaitan erat dengan pemahaman akan dirinya. Perkembangan kepribadian dalam hidup sehari-hari itu perlu dikembangkan secara terus-menerus. Perkembangan kepribadian bagi siswa dapat diupayakan secara internal maupun secara eksternal. Upaya secara eksternal salah satunya dapat diwujudkan melalui jalur pendidikan pada umumnya dan pada khususnya Pendidikan Agama Katolik.

  SMA Yos Sudarso Metro Lampung merupakan salah satu sekolah yang melaksanakan mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dalam rangkaian proses pembelajaran. Dari situasi yang ada maka penulis berusaha untuk menemukan peranan Pendidikan Agama Katolik di SMA Yos Sudarso Lampung dalam perkembangan kepribadian siswa. Untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan kepribadian siswa kelas XI dan sejauhmana peranan Pendidikan Agama Katolik dalam perkembangan kepribadian siswa kelas XI di SMA Yos Sudarso Metro Lampung maka penulis mengadakan penelitian. Dalam penelitian ini yang dijadikan sampel adalah 60 siswa yang mewakili 5 kelas XI SMA Yos Sudarso Metro Lampung. Dari hasil penelitian terungkap tentang gambaran perkembangan kepribadian siswa di kelas XI dan sejauhmana peranan Pendidikan Agama Katolik dalam mengembangkan kepribadian siswa, gambaran tersebut tercermin pada tindakan siswa yang menyadari akan hidupnya, mampu menerima diri, mampu mengendalikan emosi diri dan mempunyai kedewasaan iman yang matang.

  Dalam skripsi ini penulis juga memberikan saran mengenai pemikiran terhadap proses Pendidikan Agama Katolik dalam perkembangan kepribadian siswa kelas XI SMA Yos Sudarso Metro Lampung. Saran tersebut meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang digunakan untuk perkembangan kepribadian siswa. Untuk itu penulis menyusun dua rencana pelaksanaan pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan perkembangan kepribadian.

  

ABSTRACT

The title of the thesis “THE ROLE OF CATHOLIC EDUCATION IN THE

STUDENTS’ PERSONALITY DEVELOPMENT OF THE TENTH YEAR

  

STUDENTS IN SMA YOS SUDARSO METRO, LAMPUNG” is chosen based on

the reality that in SMA YOS SUDARSO METRO LAMPUNG, the personality

development is still being often neglected in our life. Although it is very important

for our life. And this holds true for the Senior High School students who are still

looking for their own identity. The importance of personality development for the

Senior High School has a deep correlation with self understanding. Personality

development needs to be improved continually in daily life. The personality

development for Senior High School students can be fortered internally or externally.

One of these external efforts can be implemented through education in general and

Catholic Education specifically.

  SMA Yos Sudarso is one of the schools in Lampung that holds Catholic

Education in the learning Process. From this situation, the writer attempts to find the

role of Catholic Education in SMA Yos Sudarso in the Students’ Personality

Development. To get the descrition of the Personality Development of the tenth yesr

students and how far the role of Catholic Education is in the Personality Development

of the tenth year students in SMA Yos Sudarso Lampung, the writer makes a

research. From the research result can be known that the description of the

personality development of the tenth year students and how far the role of Catholic

Education can improve the students’ personality are reflected through the students

behavior to realize their life, their ability to accept their selves, their ability to control

their emotion and their maturity in faith.

  In this thesis, the writer also gives seggestion about the Catholic Education

process in the Students Personality Development of the tenth year students in SMA

Yos Sudarso Metro Lampung. The suggestion includes the syllabus and the Lesson

Plan which are used in developing the students’ personality. There fore, the writer

tries to make two Lesson Plans which can be used as a help towards Personality

Development.

KATA PENGANTAR

  Dalam segala kelemahan dan keterbatan penulis mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan, karena berkat limpahan dan kasih sayang-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul PERANAN PENDIDIKAN AGAMA

KATOLIK TERHADAP PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN SISWA KELAS XI SMA YOS SUDARSO METRO, LAMPUNG.

  Penulisan skripsi ini sungguh telah menyerap perhatian, dorongan serta bantuan dari orang-orang yang sungguh memliki cinta. Oleh karena itu pada kesempatan ini, secara istimewa penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada:

  1. Ibu Dra. Yulia Supriyati, M.Pd. selaku dosen pembimbing utama sekaligus pembimbing akademik yang begitu sabar, tulus dan setia mendampingi dan mendukung penulis dari awal hingga penulisan skripsi ini selesai.

  2. Bapak Y.H. Bintang Nusantara, SFK., M.Hum. selaku dosen penguji II yang selama ini mendampingi dan mengingatkan penulis untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini.

  3. Bapak Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd. selaku dosen penguji III atas kesediaannya memberikan masukan dan saran demi menyempurnakan skripsi ini.

  4. Seluruh staf dosen, sekretariat dan perpustakaan, karyawan piket dan parkir Prodi IPPAK, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata

  Dharma, yang telah melimpahi penulis dengan ilmu, perhatian, dukungan, bimbingan serta senyuman sapaan yang selalu menguatkan penulis menjalani proses studi di kampus IPPAK.

  5. Keluargaku tercinta, Bapak Cosmos Kusno, Ibu Elisabeth Maryuti dan Adik Stefanus Gagas Wibowo, yang selalu membantu, perhatian, memberi motivasi, semangat dan materiil dari awal kuliah hingga penyelesaian skripsi ini.

  6. Agustinus Endi Priyanto, yang telah dengan setia mendampingi penulis.

  Terima kasih atas bantuan, dukungan, saran, perhatian serta cinta kasihnya yang selalu menguatkan penulis selama menyelesaikan skripsi ini.

  7. Keluarga besarku yang ada di Gaya Baru dan di Sritejo Lampung yang selama ini mendukung dan memberi semangat kepada penulis mulai dari awal kuliah hingga penyelesaian skripsi ini.

  8. Br. P. Triantoro, SCJ. Selaku ketua Yayasan SMA Yos Sudarso Metro Lampung yang telah menerima dan memberi kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian.

  9. Para siswa-siswi SMA Yos Sudarso Metro Lampung, khususnya kelas XI IPA I dan XI IPS I yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian.

  10. Skolastikat SCJ, yang telah berdia memberikan pinjaman buku selama penulis membutuhkan sumber-sumber yang dibutuhkan dalam penyelesaian skripsi ini.

  

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL .................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. iv MOTTO ...................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ....................................... vii ABSTRAK .................................................................................................. viii ABSTRACT ............................................................................................... xi KATA PENGANTAR ............................................................................... x DAFTAR ISI .............................................................................................. xiii DAFTAR SINGKATAN ........................................................................... xviii

  BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................... 1 A. Latar Belakang ................................................................................ 1 B. Pembatasan Masalah ....................................................................... 6 C. Rumusan Masalah ............................................................................ 6 D. Tujuan Penulisan .............................................................................. 7 E. Manfaat Penulisan ............................................................................. 7 F. Metode Penelitian............................................................................ 8 G. Sistematika Penulisan...................................................................... 8 BAB II. GAMBARAN UMUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK ..... 10 A. Pendidikan Pada Umumnya ............................................................ 10

  1. Pengertian Pendidikan ................................................................ 10

  2. Tujuan Pendidikan ...................................................................... 12

  3. Pendidikan di Sekolah ................................................................ 14

  B. Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ........................................... 15

  1. Pengertian Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ..................... 15

  2. Tujuan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah .......................... 17 3. Peranan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah .........................

  19 a. PAK Sebagai Pendidikan Iman ..............................................

  19 b. PAK Sebagai Pembinaan Sikap .............................................

  22 4. Materi Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ...........................

  24 5. Proses Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ...........................

  26 6. Khasan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ..........................

  28 C. Peranan Guru Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ....................

  30 1. Guru Agama Sebagai Pendidik Hidup Beriman .........................

  31 2. Guru Agama Sebagai Pembimbing Hidup Rohani .....................

  32 3. Guru Agama Sebagai Saksi Iman ...............................................

  33 BAB III. PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN ........................................ 35

  A. Perkembangan Kepribadian ............................................................ 35 1. Pengertian Perkembangan ..........................................................

  35 2. Ciri-ciri Perkembangan Kepribadian ..........................................

  36 a. Perluasan Perasaan Diri .........................................................

  37 b. Hubungan Hangat atau Akrab dengan Orang lain .................

  37 c. Keamanan Emosional ............................................................

  37 d. Persepsi Realitis .....................................................................

  38 e. Keterampilan-keterampilan dan Tugas ..................................

  38 f. Pemahaman Diri ....................................................................

  39 g. Filsafat Hidup yang Mempersatukan .....................................

  39 3. Pengertian Kepribadian ..............................................................

  40 4. Pengertian Perkembangan Kepribadian......................................

  44 5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kepribadian.

  46 a. Diri Sendiri ............................................................................

  47 b. Keluarga .................................................................................

  48 c. Masyarakat .............................................................................

  49

  d. Gereja atau Agama .................................................................

  50 6. Tahap-tahap Perkembangan Kepribadian ...................................

  51 a. Keterbukaan pada Pengalaman ..............................................

  51 b. Kehidupan Eksistensial ..........................................................

  52 c. Kepercayaan Terhadap Organisme ........................................

  52 d. Perasaan Bebas ......................................................................

  53 e. Kreativitas .............................................................................

  53 7. Manfaat Perkembangan Kepribadian .........................................

  54 B. Kaitan antara Pendidikan Agama Katolik dan Perkembangan Kepribadian .................................................................................... 56 1. PAK Membentuk Kedewasaan Manusiawi ................................

  56 2. PAK Membentuk Kedewasaan Iman .........................................

  57 a. Iman sebagai Kegiatan Percaya .............................................

  58 b. Iman sebagai Kegiatan Mempercayakan ...............................

  58 c. Iman sebagai Kegiatan Melakukan ........................................

  59 BAB IV. GAMBARAN UMUM PERANAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SMA YOS SUDARSO METRO,LAMPUNG ....... 61

  A. Gambaran Umum SMA Yos Sudarso Metro, Lampung ................. 61

  1. Sejarah Singkat Berdirinya SMA Yos Sudarso Metro, Lampung .....................................................................................

  61 2. Visi SMA Yos Sudarso Metro, Lampung ..................................

  62 3. Misi SMA Yos Sudarso Metro, Lampung ..................................

  62 4. Peraturan Tata Tertib SMA Yos Sudarso Metro, Lampung .......

  62 a. Kehadiran di Sekolah .............................................................

  63 b. Penampilan di Sekolah ...........................................................

  63 c. Kegiatan Belajar-Mengajar ....................................................

  64 B. Metodologi Penelitian ..................................................................... 64 1. Tujuan Penelitian ........................................................................

  64 2. Manfaat Penelitian ......................................................................

  65

  3. Jenis Penelitian ...........................................................................

  65 4. Tempat dan Waktu Penelitian.....................................................

  66 5. Responden Penelitian .................................................................

  66 6. Instrumen Penelitian ...................................................................

  67 7. Variabel Penelitian .....................................................................

  67 8. Teknik Pengumpulan Data .........................................................

  68 C. Hasil Penelitian .............................................................................. 69

  1. Gambaran Pelaksanaan PAK di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung .....................................................................................

  69

  2. Perkembangan Kepribadian Siswa SMA Yos Sudarso Metro, Lampung .....................................................................................

  74 D. Pembahasan Hasil Penelitian .......................................................... 76

  1. Gambaran Pelaksanaan PAK di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung .....................................................................................

  77 a. Hidup Keagamaan Siswa .......................................................

  77 b. Motivasi Siswa .......................................................................

  78 c. Metode dan Sarana .................................................................

  79 d. Proses KBM Pelajaran Agama Katolik .................................

  80

  2. Perkembangan Kepribadian Siswa SMA Yos Sudarso Metro, Lampung .....................................................................................

  84 a. Proses Perkembangan Kepribadian .......................................

  84

  b. Hambatan dan Hal yang Mendukung Perkembangan Kepribadian ...........................................................................

  86 BAB V. PENUTUP ..................................................................................... 89

  A. Kesimpulan ..................................................................................... 89

  B. Saran ................................................................................................ 91 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 93 LAMPIRAN ................................................................................................ 95

  Lampiran 1: Surat Keterangan Penelitian dari Sekolah.......................... (1) Lampiran 2: Kuesioner Penelitian .......................................................... (2) Lampiran 3: Silabus ............................................................................... (3) Lampiran 4: Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran .................... (4)

  DAFTAR SINGKATAN A. Singkatan Dokumen Resmi Gereja CT : Catechesi Traedendae DV : Dei Verbum GE : Gravissimum Educationis B.

   Singkatan Lain

  FKIP : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  IPPAK : Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik BK : Bimbingan Konseling KBK : Kurikulum Berbasis Kompetensi KLS : Kelas KOMKAT : Komisi Kateketik KWI : Konferensi Wali Gereja Indonesia L : Lulus OSIS : Organisasi Siswa Intra Sekolah PAK : Pendidikan Agama Katolik RPP : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran TL : Tidak Lulus SMA : Sekolah Menengah Atas Yoh : Yohanes

  SK : Standar Kompetensi KD : Kompetensi Dasar KTSP : Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KBM : Kegiatan Belajar Mengajar WIB : Waktu Indonesia Barat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan karena

  lebih menghasilkan pribadi-pribadi yang mementingkan segi intelektual tetapi kurang memperhatikan mengenai nilai-nilai hidup, moral dan sosial. Akibatnya siswa kurang mengerti akan pentingnya penghargaan terhadap martabat kehidupan, dan terjadi berbagai macam bentuk kenakalan siswa, misalnya membolos pada jam pelajaran sedang berlangsung, menyontek dan terkadang juga ada yang berani minum-minuman keras ataupun melakukan tawuran, tindakan kekerasan, ketidakadilan dan sebagainya. Oleh karena itu pendidikan di sekolah dituntut untuk menanamkan nilai dan mutu hidup siswa. Pendidikan di sekolah menjadi salah satu upaya untuk membantu perkembangan kepribadian siswa seutuhnya.

  Pendidikan diharapkan mampu menghasilkan pribadi yang berkualitas, bertanggung jawab terhadap masa depan, mampu hidup dalam situasi dan perkembangan jaman saat ini. Melalui pendidikan siswa dibantu untuk berkembang lebih baik dari segi kepribadiannya. Riyanto (2002:3) menegaskan bahwa pendidikan diselenggarakan demi pertumbuhan dan perkembangan keseluruhan diri peserta didik agar menjadi pribadi yang matang, dewasa, dan mampu menghadapi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

  Dalam hal ini pendidikan mengajak para siswa untuk mampu berkembang hadapi dalam hidup sehari-hari, selain itu siswa mampu secara matang membedakan yang benar dan yang salah dalam mengambil keputusan, dengan demikian siswa mulai berkembang pribadinya seraca utuh. Riyanto (2002:3) menegaskan bahwa pendidikan diharapkan menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di dalam masyarakatnya, yang bertanggungjawab, proaktif dan kooperatif sekaligus memiliki pribadi yang berwatak dan berbudi pengerti luhur.

  Pendidikan diharapkan mampu membantu siswa menyadari dirinya, mampu berelasi dan berguna bagi sesama yang ada disekitarnya serta membawa pengaruh yang positif terhadap masyarakat disekitarnya. Dengan demikian siswa mampu bersikap proaktif, sikap dimana siswa mempunyai kemauan berusaha secara aktif mengatasi segala permasalahan yang dimilikinya, sehingga siswa berkembang secara menyeluruh pada dirinya dan beriman kepada Tuhan.

  Pendidikan dituntut untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dengan meningkatkan mutu pembelajaran agar lebih baik dan menarik bagi para siswa sehingga pendidikan dapat memperkembangkan pribadi siswa secara utuh.

  Di dalam lingkungan sekolah katolik, pendidikan agama yang diberikan adalah pendidikan agama katolik. Melalui pendidikan agama katolik di sekolah, siswa diharapkan dapat terbantu untuk menemukan kesesuaian antara iman dengan kehidupan yang mereka alami. Pendidikan agama katolik di sekolah mengusahakan agar siswanya berkembang secara maksimal baik dalam segi intelektual maupun perkembangan kepribadiannya. Siswa diharapkan mampu untuk mencerminkan sikap, perilaku yang baik dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman.

  Ada beberapa hal yang yang dipandang menjadi orientasi penting dalam pendidikan agama katolik: seperti kita tahu demi terwujudnya Kerajaan Allah, demi kedewasaan iman dan demi kebebasan manusia. Yang menjadi penekanan dalam proses pembelajaran pendidikan agama katolik bukan semata hanya pengajaran agama saja tetapi memperhatikan proses perkembangan seluruh dimensi iman, harapan dan kasih. Pendidikan agama katolik dipahami sebagai pendidikan iman yang diselenggarakan oleh Gereja, sekolah, keluarga yang bertujuan agar pribadi siswa semakin terbentuk dan semakin beriman pada Yesus Kristus sehingga nilai-nilai Kerajaan Allah terwujud dalam hidup siswa. Kerajaan Allah merupakan kekuatan Allah yang telah menyelamatkan umat manusia.

  Kekuatan menjadi sifat utama Allah yang penuh kasih, sabar, dan setia mewujudkan kedamaian, cinta kasih dalam hidup manusia (Heryatno, 2008: 25- 26).

  Proses pembelajaran pendidikan agama katolik bisa dikatakan berhasil apabila yang menjadi tujuan pendidikan agama katolik dapat tercapai secara optimal. Salah satu tujuan pendidikan agama katolik adalah siswa mampu bertindak, berperilaku dan berkembang dalam kepribadiannya sesuai dengan ajaran imannya (Komkat KWI, 2007:5). Tujuan pendidikan agama katolik tersebut mengarah agar para siswa dapat berkembang dalam segi iman dan mewujudkannya dalam hidup sehari-hari.

  Perkembangan pribadi yang dimiliki setiap siswa akan membawa pada kedewasaan diri secara penuh. Penemuan kedewasaan diri ini tidak sekali jadi tetapi membutuhkan proses yang panjang melalui pengalaman hidup yang mereka alami sehari-hari. Perkembangan ini dapat diperoleh dengan cara melatih dan mengembangkan spiritual yang ada dalam dirinya. Perkembangan pribadi siswa dalam lingkungan sekolah dapat diperoleh melalui pendidikan agama katolik dan kesadaran dirinya melalui pendidikan yang bervisi spritual.

  Pendidikan yang bervisi spritual dapat terwujud apabila sekolah-sekolah katolik didasari oleh cinta kasih. Pendidikan yang bervisi spritual juga dapat dilihat di SMA Yos Sudarso Metro Lampung. SMA Yos Sudarso Metro Lampung mempunyai visi untuk mewujudkan SMA Yos Sudarso Metro Lampung sebagai lembaga pendidikan yang membentuk pribadi yang menuju tata kehidupan bersama yang unggul dalam intelektual, spritual, humanis dan terampil.

  Visi yang dimiliki oleh SMA Yos Sudarso Metro Lampung diatas ingin memaparkan pentingnya mengembangkan kepribadian untuk menuju pribadi yang dewasa dan beriman. Dengan demikian siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan pribadi yang dewasa dan beriman melalui hidup sehari-hari yang mereka alami. Mengembangkan pribadi yang dewasa dapat diungkapkan dengan mewujudkan dalam tingkah laku yang dalam hidup bersama. Perwujudan perkembangan pribadi yang dewasa dapat tercermin dengan kesadaran diri terhadap hidup dan tindakan sehari-hari

  Di SMA Yos Sudarso Metro Lampung proses perkembangan kepribadian siswa untuk selalu menyadari dirinya agar tercermin kedewasaan dalam diri siswa dengan memahami pendidikan agama katolik sebagai sarana mengembangkan kepribadian siswa. Tetapi pada kenyataannya hal ini belum dipahami dan disadari oleh semua siswa. Tak jarang ada siswa yang kurang menyadari tugas dan tanggung jawabnya dalam belajar misalnya malas dan meremehkan pelajaran, membolos sekolah serta mudah terpengaruh oleh pergaulan yang ada sehingga menyebabkan prestasi belajar menurun bahkan ada siswa yang tidak naik kelas. Keadaan demikian bisa dilatih melalui pendekatan-pendekatan dalam proses pembelajaran.

  Dalam proses pembelajaran yang ada di sekolah untuk mengarah pada proses perkembangan kepribadian siswa dapat menggunakan cara yang mendukung siswa untuk memahaminya. Salah satu cara yang dapat digunakan yakni dengan melihat keprihatinan yang terjadi pada saat ini. Dengan demikian siswa dapat merasakan secara langsung dan diharapkan menyadari tergerak hatinya. Dengan cara belajar yang mendukung tersebut tujuan dari pendidikan agama katolik mengenai perkembangan pribadi sesuai dengan ajaran imannya dalam diri siswa dapat terwujud.

  Di SMA Yos Sudarso Metro Lampung belum mengarahkan pendidikan agama katolik sebagai perkembangan kepribadian. Oleh sebab itu hendaknya pendidikan agama katolik dapat menjadi sarana untuk mengembangkan pribadi siswa. Berdasarkan latar belakang di atas penulis memberi judul skripsi ini: :

PERANAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK TERHADAP

  

SUDARSO METRO, LAMPUNG. Lewat skripsi ini penulis berharap dapat ikut

  meningkatkan peranan Pendidikan Agama Katolik terhadap perkembangan kepribadian siswa kelas XI di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

B. Pembatasan Masalah

  Sehubungan dengan judul skripsi yang penulis angkat, maka pembatasan masalah terfokus pada PERANAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

TERHADAP PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN SISWA KELAS XI SMA YOS SUDARSO METRO, LAMPUNG.

  C. Rumusan Masalah

  Setelah melihat dan mengamati latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan-permasalahan sebagai berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan pendidikan agama katolik?

  2. Apakah yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian?

  3. Bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung?

  4. Bagaimana Pendidikan Agama Katolik mendukung perkembangan kepribadian di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung?

  5. Sejauh mana peranan pendidikan agama katolik terhadap perkembangan kepribadian siswa kelas XI SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

  D. Tujuan Penulisan

  Adapun tujuan penulisan yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah:

  1. Memaparkan apa yang dimaksud dengan pendidikan agama katolik.

  2. Mengetahui apa yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian.

  3. Memperoleh gambaran mengenai Pendidikan Agama Katolik kelas XI di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

  4. Mengetahui perkembangan kepribadian siswa kelas XI di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

  5. Mengetahui sejauh mana peranan pendidikan agama katolik terhadap perkembangan kepribadian siswa kelas XI di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

E. Manfaat Penulisan

  Adapun manfaat dari penulisan ini adalah:

  1. Bagi Pendidik

  Memberi sumbangan gagasan dan hasil penulisan bagi tercapainya tujuan dan maksud Pendidikan Agama Katolik dalam mengembangkan kepribadian siswa.

  2. Bagi Sekolah

  Sebagai refleksi agar dapat membuat suatu model ataupun metode guna menumbuhkembangkan kepribadian para siswa SMA Yos Sudarso sehingga mereka semakin berkembang dalam kepribadian.

  3. Bagi Penulis

  Menambah pemahaman, pengalaman, pengetahuan serta wawasan akan pentingnya peranan pendidikan agama katolik terhadap perkembangan

  F. Metode Penelitian

  Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode deskriptif analitis berdasarkan studi dan analitis pustaka, dan dilengkapi dengan penelitian kualitatif yang diperoleh melalui kuisioner yang dibagikan serta diisi oleh siswa untuk memperoleh gambaran mengenai peranan Pendidikan Agama Katolik dalam mengembangkan kepribadian siswa.

  G. Sistematika Penulisan

  Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai isi menyeluruh skripsi ini, penulis akan menggambarkan sistematika sebagai berikut: Bab pertama merupakan bagian pendahuluan dengan menguraikan latar belakang penulisan, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan serta sistematika penulisan.

  Bab kedua menguraikan gambaran umum pendidikan agama katolik, yang terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama mengenai pengertian pendidikan pada umumnya, tujuan pendidikan pada umumnya, pendidikan di sekolah. Bagian kedua pengertian pendidikan agama katolik di sekolah, tujuan pendidikan agama katolik di sekolah, peranan pendidikan agama katolik di sekolah, materi pendidikan agama katolik di sekolah, proses pendidikan agama katolik di sekolah, kekhasan pendidikan agama katolik di sekolah. Bagian ketiga mengenai peranan guru pendidikan agama katolik di Sekolah.

  Bab ketiga menguraikan perkembangan kepribadian yang terdiri atas dua bagian. Bagian pertama meliputi pengertian perkembangan, pengertian mempengaruhi kepribadian, tahap-tahap perkembangan kepribadian ciri-ciri perkembangan kepribadian, manfaat perkembangan kepribadian, aspek-aspek perkembangan kepribadian. Bagian kedua menguraikan kaitan antara pendidikan agama katolik dalam perkembangan kepribadian, peranan Pendidikan Agama terhadap perkembangan kepribadian.

  Bab keempat penulis memaparkan beberapa hal mengenai umum peranan Pendidikan Agama Katolik terhadap perkembangan kepribadaian, meliputi empat bagian. Yang pertama mengenai gambaran umum SMA Yos Sudarso Metro, Lampung, sejarah singkat berdirinya SMA Yos Sudarso Metro, Lampung, visi SMA Yos Sudarso, Misi SMA Yos Sudarso, peraturan tata tertib SMA Yos Sudarso Metro, Lampung. Yang kedua metodologi penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, responden penelitian, variabel penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data. Bagian ketiga mengenai hasil penelitian dan bagian keempat menguraikan pembahasan hasil penelitian.

  Bab kelima berisikan kesimpulan dan saran yang sebaiknya dilakukan untuk semakin membantu dalam meningkatkan pelaksanaan pendidikan agama katolik serta mengembangkan metode pendidikan yang lebih menarik demi perkembangan dan kemajuan siswa.

  BAB II GAMBARAN UMUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK Pendidikan merupakan proses terpadu untuk membantu seseorang dalam

  menyiapkan diri guna mengambil tempat yang semestinya dalam pengembangan masyarakat dan dalam dunianya dihadapan Tuhan (Mardiatmaja, 1986:19).

  Pendidikan agama katolik di sekolah juga dilaksanakan sebagai proses untuk membantu siswa dalam mempersiapkan diri untuk berkembang seluruh pribadinya, Bab II ini akan memaparkan gambaran umum tentang pendidikan agama katolik yang meliputi:

A. Pendidikan Pada Umumnya Pengertian Pendidikan 1.

  Driyarkara (1966:69) mendefinisikan pendidikan sebagai pemanusiaan manusia muda. Pendidikan adalah salah satu usaha yang terus-menerus untuk memungkinkan manusia semakin memanusiakan dirinya. Pendidikan membantu seseorang secara teratur agar mau dan mampu bertindak sebagai manusia yang mengusahakan agar seluruh sikap dan perbuatan sungguh-sungguh bersifat manusiawi. Pendidikan yang menekankan segi kemanusiaan ini membantu manusia untuk mampu menghormati, menghargai dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Pendidikan diberikan agar menyadarkan manusia supaya memiliki tanggungjawab terhadap segala tindakan yang dilakukan serta terbuka kepada setiap orang sehingga menumbuhkan sikap persahabatan satu dengan yang menempuh hidupnya dengan baik. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menuju kepada kebaikan, mengenai manusia seutuhnya dan berlangsung seumur hidup.

  Sejalan dengan pandangan Driyarkara, Supriyati (2001:4) mengatakan bahwa pendidikan merupakan hal pokok yang melekat dalam proses kehidupan manusia sehari-hari sebagai usaha untuk memanusiakan manusia muda. Pendidikan berfungsi bagi manusia untuk membentuk pribadi yang utuh agar mencapai tujuan pendidikan nasional yakni meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasaan, keterampilan, mempertinggi budi pengerti, memperkuat kepribadiaan dan mempertebal semangat kebangsaan sehingga tumbuhlah manusia-manusia yang bertanggungjawab dalam segala tindakannya.

  Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003,

  pasal 1, ayat 1, dikatakan bahwa: Pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran agar siswa mampu mengembangkan potensi dirinya. Siswa diharapkan mampu untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, bangsa dan negara. Ini berarti bahwa pendidikan dipandang sebagai pilar pembentuk manusia dan perkembangan masyarakat. UU RI No.20 tahun 2003 tersebut, menegaskan bahwa pendidikan mempunyai tujuan untuk mempersiapkan siswa dalam mengembangkan potensi diri yang dimilikinya, agar siswa tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas dan menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai keagamaan sehingga siswa menjadi pribadi yang baik. Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan memiliki peran sebagai pemandu dalam

  Menyadari peran yang ada tersebut, maka nilai-nilai dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah kebutuhan yang pokok untuk dikembangkan melalui pendidikan.

2. Tujuan Pendidikan

  Tujuan pendidikan adalah membentuk pribadi seseorang secara bertahap agar semakin tumbuh menjadi dewasa, bukan hanya tumbuh dalam kemampuan atau keterampilan saja, melainkan juga mampu berkembang dalam pribadinya, yang membuat seseorang semakin sadar atas karunia iman yang diterimanya sehingga dapat menghadapi hidup dengan jujur, dan benar (Mardiatmadja, 1986:53).

  Pendidikan membentuk pribadi secara bertahap dapat diartikan bahwa pendidikan membantu seseorang untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang dewasa sehingga siswa mempunyai kepercayaan diri yang kuat. Pendidikan membutuhkan proses yang panjang dan waktu untuk dapat mencapainya.

  Pendidikan membantu seseorang untuk berkembang maksudnya melalui pendidikan ini seseorang diharapkan mempunyai kemampuan yang berguna bagi masa depannya dan bertanggungjawab akan hidupnya dan pada akhirnya membantu perkembangan kepribadian.

  Undang-undang sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 menyebutkan tujuan pendidikan nasional untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi

  Tujuan tersebut dimaksudkan setiap pribadi manusia memiliki dasar yang kuat, dan mencerdaskan kehidupan bangsa indonesia, serta mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, bertanggungjawab dalam membangun bangsa. Pendidikan yang hendak dicapai adalah mampu mengembangkan segala potensi yang telah dianugerahkan Tuhan dan bersyukur atas anugerah yang diterimanya. Siswa diharapkan mampu mewujudkan sikap hidup sebagai orang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan melalui sikap dan tindakan dalam hidup sehari-hari.

  Melalui pendidikan diharapkan menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di dalam masyarakatnya, yang bertanggungjawab, proaktif dan kooperatif, sekaligus memiliki pribadi yang utuh. Pendidikan membantu individu berkompetensi dan mampu berperilaku dan berkembang dalam kepribadian sesuai dengan ajaran imannya (Komkat, 2007:5).

  Pembentukan pribadi yang utuh membantu siswa untuk mengenali dirinya sendiri sehingga siswa mampu mengendalikan dirinya. Pendidikan diharapkan mampu membantu siswa menjadi pribadi yang berkualitas.

  Dari beberapa pendapat mengenai tujuan pendidikan di atas dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan adalah membantu siswa untuk terus berkembang secara menyeluruh. Tujuan pendidikan juga membantu siswa untuk tumbuh menjadi pribadi yang matang dan dewasa, baik dilihat dari segi jasmani maupun rohani sehingga dapat diwujudkan dalam hidup mereka sehari-hari. Pendidikan yang dialami oleh siswa ini tidak cukup hanya dari segi intelektual tetapi juga sungguh-sungguh membawa siswa semakin berkembang menjadi pribadi yang utuh tercermin dalam sikap, tindakan dalam hidup sehari-hari.

3. Pendidikan di Sekolah

  Pendidikan di sekolah sebagai tempat pembentukan secara menyeluruh pada dimensi hidup siswa secara sestematik dan kritis, oleh karena itu pendidikan di sekolah merupakan tempat yang istimewa di mana pembentukan secara menyeluruh terjadi melalui pengajaran (Sewaka, 1991:21). Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan dalam rangka menyiapkan dirinya menghadapi masa yang mendatang. Pendidikan yang dimaksud dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu jalur sekolah dan luar sekolah. Jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang dilakukan dalam lingkup sekolah, melalui kegiatan pembelajaran secara teratur dan berkesinambungan yang mendidik siswa secara bertahap dalam bidang intelektual dan perkembangan kepribadiannya. Sedangkan pendidikan luar sekolah dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya atau masyarakat di sekitar tempat tinggal mereka.

  Pendidikan di sekolah, merupakan sistem pendidikan yang berlangsung di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, yang merupakan upaya bantuan terhadap orang tua siswa dalam mendidik anak-anaknya, karena orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka. Bantuan pendidikan yang terorganisir yang diusahakan dan ditata oleh sekolah bertujuan untuk membantu kognitif dan psikomotorik dan menjadi manusia yang berbudaya yang bertakwa kepada Tuhan, mengusakan perkembangan spritual, sikap dan nilai hidup, pengetahuan, keterampilan serta mampu mengembangkan para siswa menjadi pribadi yang utuh yang akan tercermin dalam sikap dan prilakunya dalam hidup sehari-hari (Mardiatmaja, 1986:50).

  Dalam perjalanan waktu, ternyata pendidikan formal yang terjadi di sekolah merupakan tempat yang penting, karena secara terus menerus mendidik kemampuan budi, memperkembangkan kemampuan untuk menilai suatu yang tepat, memadukan anak didik ke dalam nilai yang dijunjung tinggi oleh bangsa yang bersangkutan dan pengembangan budi dan daya manusia. Maka pendidikan formal di sekolah merupakan bantuan yang terorganisir dalam proses pembentukan dan pengembangan budi dan daya anak didik menjadi pribadi yang utuh dan mandiri (Setyakarjana, 1997:8-9).

B. Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

1. Pengertian Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

  Pendidikan agama membentuk manusia dalam segala dimensinya yang pokok dan dimensi agama merupakan bagian yang integral dari pembentukan tersebut. Pendidikan agama merupakan hak dan kewajiban yang sama dari siswa dan orang tua. Juga sekurang-kurangnya dalam agama katolik menjadi sarana yang sangat penting untuk mencapai kedalaman iman, maka pendidikan agama katolik yang berbeda dan sekaligus sebagai tempat katekese, dan harus menjadi

  Pada hakikatnya Pendidikan Agama Katolik merupakan pendidikan yang bervisi spritual. Bervisi spritual artinya pendidikan agama katolik memberikan inspirasi hidup kepada para siswa. Selain itu, pendidikan agama katolik juga diharapkan secara konsisten terus berusaha untuk memperkembangkan kedalaman hidup siswa, memperkembangkan jati diri atau inti hidup mereka. Pendidikan agama katolik juga berusaha membantu siswa memperkembangkan jiwa dan interioritas hidup mereka. Jiwa merupakan tempat dimana Allah bersemayam dan karena itu membuat manusia merasa rindu kepadaNya dan peduli pada hidup sesamanya (Heryatno, 2008:14).

  Pendidikan agama katolik sebagai komunikasi iman. Sebagai komunikasi iman pendidikan agama katolik perlu menekankan sifatnya yang praktis. Bersifat praktis berarti pendidikan agama katolik lebih menekankan tindakan dari pada konsep atau teori. Oleh sebab itu pendidikan agama katolik lebih menekankan proses perkembangan, pendewasaan iman, serta peneguhan pengharapan dan perwujudan kasih terhadap sesama (Heryatno, 2008:15-16). Dalam hal ini memang pendidikan Agama Katolik mempunyai tempat yang sentral dalam kehidupan umat Kristiani, dimana manusia diajak untuk menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup. Manusia bisa membentuk kepribadian yang utuh melalui penghayatan imannya.

  Hutabarat dalam Lokakarya Malino (1981:18) mengatakan bahwa Pendidikan Agama Katolik di sekolah merupakan salah satu bidang studi yang ada di sekolah, Pendidikan agama katolik di sekolah diharapkan dapat membawa Katolik, dan dengan demikian mudah-mudahan peserta didik berkembang secara terus menerus menjadi manusia yang beriman.

  Dalam hal ini Pendidikan Agama Katolik di sekolah juga tidak dapat disamakan dengan mata pelajaran yang lain, karena Pendidikan Agama Katolik di sekolah merupakan pendidikan iman sehingga Pendidikan Agama Katolik di sekolah sebagai upaya pembentukan pribadi manusia beriman. Pendidikan Agama Katolik di sekolah juga sebagai salah satu usaha untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan Nasional berdasarkan pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, oleh karena itu Pendidikan Agama Katolik di sekolah juga terikat pada kurikulum dan waktu yang tersedia (Setyakarjana, 1997:9).

  Dalam jenjang SMA, pendidikan agama katolik memberikan ruang gerak bagi para siswa untuk mengembangakan keterampilan dalam dirinya sehingga pendidikan agama katolik di SMA mendorong siswa untuk berkembang baik dari segi intelektual maupun dalam pembentukan pribadi yang utuh dan beriman kepada Tuhan sehingga pendidikan agama katolik berperan terhadap perkembangan kepribadian siswa.

2. Tujuan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

  Dalam Gravissimum Educationis ditegaskan bahwa ada dua tujuan dasar pendidikan yakni memperkembangkan pribadi manusia dan memperjuangkan kesejahteraan umum (GE. Art. 1). Kedua tujuan di atas tidak dapat terpisahkan tetapi saling berkaitan secara erat. Perkembangan pribadi seseorang secara utuh tidak akan terwujud apabila keduanya terpisahkan dari usaha nyata demi adalah demi tercapainya perkembangan setiap pribadi secara utuh dan demi pembentukan masyarakat yang berkeadaban dan sejahtera (Heryatno, 2008: 13).

  Perkembangan pribadi yang utuh disini dapat kita pahami sebagai perkembangan dalam pribadi siswa, bukan hanya semata-mata pengetahuan saja melainkan juga meliputi perkembangan iman siswa. Perkembangan iman yang ingin dicapai ialah perkembangan iman yang berlangsung sepanjang hidup. Jadi dapat dikatakan, ketika siswa sudah lulus dari bangku sekolah ia masih dapat mengembangkan apa yang telah didapatkan ketika masih di bangku sekolah dan ia masih dapat memperkembangkan iman yang ada dalam dirinya. Dengan demikian siswa juga dapat membentuk iman dalam diri mereka di lingkungan masing- masing tempat tinggal mereka.

  Pendidikan agama katolik pada dasarnya bertujuan agar siswa mempunyai kemampuan untuk membangun hidup yang semakin beriman. Membangun hidup iman kristiani berarti membangun kesetiaan pada Injil Yesus Kristus, yang memiliki keprihatinan tunggal, yakni kerajaan Allah. Kerajaan Allah merupakan situasi dan peristiwa keselamatan, situasi dan perjuangan untuk keadilan, kebahagian dan kesejahteraan, persaudaraan dan kesetian. Kelestarian lingkungan hidup, yang dirindukan oleh setiap orang dari pelbagai agama dan kepercayaan (Komkat, 2007:7).

  Pendidikan agama katolik sebagai proses pendewasaan iman yang menjadi tujuan formal pendidikan iman merupakan suatu proses yang berlangsung seumur hidup. Dalam pendidikan iman, pendewasaan iman tidak terpisahkan dari perkembangan manusia secara utuh. Iman yang dewasa dapat diartikan sebagai iman yang berkembang semakin matang secara penuh dan bersifat holistik yang mencakup dari segi pemikiran, hati, dan praksis (Heryatno, 2008:23).

  Sebagai proses pendewasaan iman di sekolah pendidikan agama katolik diharapkan membantu memperkembangkan iman siswa secara seimbang dan menyeluruh pada diri para siswa. Dalam hal ini pendidikan agama katolik SMA juga mengajak siswa supaya semakin matang dalam iman dan mewujudkannya dalam tindakan konkret. Dengan iman yang dihayati dan diwujudkan para siswa dapat menyadari relevansi imannya dalam hidupnya.

  Dari tujuan pendidikan sangat terlihat jelas bahwa perkembangan iman dan kepribadian siswa yang utuh merupakan hal yang sangat penting. Dalam proses pembelajaran pendidikan agama katolik, tentunya kebutuhan hidup beriman dan pribadi siswa perlu diperhatikan. Dengan demikian akhirnya para siswa dapat terbantu dalam menghayati imannya dalam hidup sehari-hari.

3. Peranan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

a. PAK Sebagai Pendidikan Iman

  Pendidikan Agama Katolik di sekolah juga dapat dikatakan sebagai pendidikan iman, karena pendidikan agama katolik di sekolah mempunyai tugas khusus membentuk para siswa menjadi orang Kristen yang seutuhnya, merupakan bagian dari tobat sepanjang hidup sampai siswa menjadi apa yang dikehendaki Tuhan atas dirinya sehingga para siswa mampu berbagi kehidupan bersama Allah. Serta membantu orang beriman agar iman mereka semakin bermasyarakat, baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok (Adisusanto, 2000:1). Dalam Konsili Vatikan II ditegaskan lebih menyeluruh, dan lebih mengungkapkan keseluruhan sikap iman. Misalnya dalam Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu dan Iman Dei Verbum antara lain dikatakan demikian:

  Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Roma 16 : 26; lih. Roma 1 : 5; Kor 10 : 5 – 6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan” dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkan kepada Allah (DV, art. 5). Iman merupakan perjumpaan rahmat Allah yang tak terselami dan misteri kebebasan manusia. Di satu sisi kita akui bahwa dalam kenyataan iman terdapat tindakan atau keterlibatan manusia dalam suasana kebebasan. Di sisi lain, pertumbuhan dan perkembangan iman merupakan anugerah cuma-cuma Allah kepada manusia. Iman merupakan rahmat Allah yang penuh misteri. Iman juga merupakan tanggapan manusia terhadap sabda Allah. Pertama-tama perlu diingat bahwa sabda Allah bukanlah melulu suatu pengajaran, tetapi terutama merupakan suatu fakta keselamatan yang memiliki sifat hubungan antar pribadi. Inilah yang merupakan aspek esensial pewahyuan diri Allah dalam sejarah umat manusia. Menghadapi kenyataan keselamatan semacam ini manusia tidak dapat bersikap hanya diam saja dan hanya menutup diri, tetapi harus memberi tanggapan dengan memutuskan sikap yang tepat dalam keseluruhan rencana keselamatan Allah.

  Dalam hal ini, Pendidikan Agama Katolik di SMA tidak sekedar mengarahkan siswa kepada hidup beriman dan berkepribadian yang utuh. Terutama menyangkut hubungan dirinya dengan Allah. Oleh karena pendidikan iman yang terjadi hendaknya menolong para siswa untuk bertumbuh dalam kesadaran akan dirinya, kesadaran akan lingkungannya, kesadaran akan umat beriman. Kesadaran akan dirinya siswa diajak untuk memahami dirinya melalui sikap dan perilaku hidupnya, dengan ini siswa juga belajar untuk memahami lingkungan dimana mereka hidup baik dilingkungan sekolah maupun dilingkungan masyarakat dan secara sendirinya mereka juga menyadari akan hubungannya dengan Tuhan. Dalam usaha tersebut, akan ada pergumulan dan pencarian peserta didik dibentuk dalam sikap-sikap dan nilai-nilai Kristiani (Setyakarjana, 1997:10).

  Maka dalam hal ini siswa diharapkan sungguh-sungguh beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia dan berbudi pengerti luhur yang tercermin dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya secara benar serta menghormati agama orang lain. Orang yang beriman tidak hidup dalam kepasifan, tetapi aktif dan penuh semangat dalam membantu orang lain dalam menemukan Tuhan dan pribadinya.

b. PAK sebagai pembinaan Sikap

  Dalam rangka mengembangkan kepribadian yang utuh maka perlu adanya pembentukan sikap yang baik dan utuh yang akan tercermin pada tindakan dan perbuatan para siswa. Pada kenyataannya pengembangan kepribadian dan yang tidak sekali jadi. Banyak yang perlu dipertimbangkan, secara khusus segi kemampuan-kemampuan atau sikap-sikap batin. Apalagi yang berhubungan dengan kehidupan religius, yaitu menyangkut masalah-masalah kehidupan mendasar mengenai arti, makna dan tujuan hidup manusia serta keberadaannya dalam hubungannya dengan yang ilahi, dirinya sendiri, sesama dan dengan alam semesta (Kristianto,1999:22). Segi religius yang dimaksud tidak hanya menyangkut kemampuan untuk menghafal atau tahu ajaran agama-agama, namun lebih kepada penghayatan iman yang nyata dalam hidup sehari-hari sebagai pergulatan hidupnya.

  Beriman adalah relasi seseorang dengan Allah, namun tidak lepas dari peran serta orang lain yang selalu hidup berdampingan. Dalam rangka pembentukan pribadi yang utuh dan kuat bagi anak-anak SMA, Pendidikan Agama Katolik di SMA hendaknya yang memungkinkan terjadinya proses pergumulan dalam diri siswa, sehingga membantu siswa untuk membangun sikap- sikap dasar dalam hidup berdasarkan penghayatan imannya dan mengembangkan manusia dari dalam dengan membebaskan dari suasana yang mungkin menghalang-halanginya menjadi manusia yang sungguh-sungguh utuh. Dan dalam hal ini pendidikan agama umtuk SMA harus sadar dan bertolak pada pendidikannya yang mengarah kepada pertumbuhan pribadi seutuhnya (Sewaka, 1991:21-22).

  Beriman itu selalu terjadi dalam konteks tradisi keagamaan tertentu, maka belajar beriman berarti menjadikan tradisi keagamaan itu miliknya, sekaligus pribadinya, tetapi sungguh-sungguh membantu orang muda untuk memilih imannya sendiri. Di sinilah sebetulnya, mengajar agama berarti mengantar orang untuk masuk dalam komunitas beriman dalam segala macam segi kehidupan. Dalam rangka iman Kristiani, mengajar beriman berarti masuk dalam pergulatan iman Gereja dalam segala seginya, baik ketika Gereja bersama-sama mendengarkan sabda, merayakan, mewartakan, serta mewujudkan dalam hidup bersama dan di tengah masyarakat yang plural (Purwatma, 2005:3). Indikasi orang Kristiani terletak pada motivasi dan semangat hidup yang didasarkan pada sikap saling mengasihi satu sama lain. Sikap dasar inilah yang menjadi pola pergaulan dengan orang lain. Secara eksplisit sikap dasar ini telah dinyatakan oleh Yesus sendiri “sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikianlah pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:34-35). Semangat saling mengasihi inilah yang perlu diarahkan kepada semua orang, termasuk orang yang memusuhi kita. Tentu saja untuk melakukan itu tidaklah mudah, bahkan tidak hanya terjadi dalam proses pembelajaran agama di kelas saja, pengajaran itu terjadi hendaknya dalam konteks hidup siswa sendiri melalui kenyataan sehari- harinya, dalam keluarga, masyarakat dan komunitas, namun demikian bantuan guru agama merupakan hal yang sangat penting dalam proses hidup beriman serta dalam perkembangan kepribadian siswa sehingga siswa mampu bertindak dan berbuat sesuai dengan ajaran imannya, selain itu siswa diharapkan mampu berperilaku dan berkembang dalam kepribadiaan sesuai dengan ajaran imannya

4. Materi Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

  Dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama katolik di sekolah yang berlangsung di SMA, materi pendidikan agama katolik menjadi salah satu faktor yang sangat penting dalam proses pembelajaran pendidikan agama katolik. Materi pendidikan agama katolik yang ada dalam kurikulum dijadikan sarana yang utama oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran pendidikan agama katolik. Materi pembelajaran pendidikan agama katolik yang akan disampaikan tidak asal-asalan melainkan harus sesuai dengan kurikulum dan silabus Pendidikan agama katolik dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan siswa untuk mencapai tujuan dalam proses pembelajaran pendidikan agama katolik yang dilaksanakan. Materi yang digunakan dalam proses pembelajaran, menurut pakar teologi dan Kitap Suci sebaiknya mengandung 4 (empat) dimensi yaitu dimensi pribadi siswa, pribadi Yesus Kristus, Gereja dan kemasyarakatan.

  a. Dimensi atau aspek pribadi siswa Materi pendidikan agama katolik harus menyentuh pribadi siswa dan pengalaman hidupnya. Pengalaman hidup siswa dapat diolah sedemikian rupa sehingga dapat menjadi bahan dalam Pendidikan agama katolik.

  b. Dimensi pribadi Yesus Kristus Yesus adalah pribadi penentu dalam ajaran iman Kristiani. Kekhasan ajaran iman diwarnai oleh pribadi yang satu ini. Banyak teladan yang dapat diambil dari sosok pribadi Yesus Kristus. Teladan Yesus ini menjadi panutan bagi siswa untuk bertindak dan berperilaku dalam keseharian mereka. c. Dimensi Gereja Gereja merupakan persekutuan murid-murid Yesus yang melanjutkan karya Yesus Kristus. Ajaran dan iman Gereja tumbuh dan berkembang dalam persekutuan ini. Nilai-nilai ajaran Gereja sangat dibutuhkan oleh siswa dalam membangun iman katolik dalam diri. Peran Gereja dalam hal ini juga dibutuhkan dalam mengembangkan iman siswa.

  d. Dimensi Kemasyarakatan Dimensi kemasyarakatan hendaknya menjadi materi pendidikan agama katolik, sebagai bagian kecil dari masyarakat, tentunya para siswa dalam kesehariannya juga tinggal dilingkungan masyarakat juga ikut ambil bagian dalam perkembangan pribadi siswa.

  Empat dimensi di atas juga menjadi dasar dalam pemilihan materi PAK SMA. Berdasarkan 4 (empat) dimensi di atas, maka materi Pendidikan Agama Katolik dijabarkan dalam tema-tema dan materi pokok. Materi pokok merupakan bagian dari struktur keilmuan suatu bahan kajian yang ditetapkan, yang dapat berupa bidang ajaran, gugus isi, proses, keterampilan, konteks, dan atau pengertian konseptual.

  Setiap materi disertai dengan kompetensi dan tujuan yang menjadi arah dan tujuan bagi para guru dalam melaksanakan proses pembelajaran pendidikan agama katolik. Setidaknya kompetensi dan tujuan dari setiap materi dapat tercapai dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini membutuhkan proses dan pengolahan lebih lanjut dengan siswa.

5. Proses Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

  Proses Pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik di sekolah menggunakan dialog partisipatif aktif, yakni yang lebih diutamakan dalam Pendidikan Agama Katolik ialah proses komunikasi, interaksi atau dialog iman yang terjadi selama proses pembelajaran antara siswa serta antar siswa dengan guru yang berarti hubungan pribadi dengan siswa, apabila seorang guru melaksanakan hubungan itu dengan keyakinan bahwa para siswa memiliki nilai-nilai yang pada dasarnya positif, hubungan tersebut akan memungkinkan keterbukaan dan terjadi dialog yang memudahkan pemahaman terhadap kesaksian iman yang diungkapkan melalui perilaku guru (Sewaka, 1991:53). Guru dapat menjadi sahabat bagi para siswa, sehingga terjalin relasi yang harmonis dan secara aktif membantu memecahkan persoalan yang dihadapi siswa sehingga memudahkan proses pembelajaran pendidikan agama katolik sehingga proses pembelajaran agama katolik dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan para siswa. Hal tersebut bertujuan agar siswa mampu mengolah segi-segi yang berkaitan dengan hidup dan imannya, dengan demikian siswa mampu membangun dan membentuk imannya.

  Metode yang digunakan dalam proses pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik di sekolah SMA antara lain diskusi kelompok dan pleno, sharing pengalaman dan pengalaman iman, wawancara, dinamika kelompok. sehingga suasana kegiatan belajar dan mengajar perlu dibangun bersama-sama, sehingga terciptalah suasana yang ramah, terbuka, bebas, dan menyenangkan (Komkat

  Segi lain dalam proses Pendidikan Agama Katolik di SMA ingin mengembangkan segi perspektifnya dalam pengembangan iman daripada segi kehidupannya. Hal ini yang mendapat tekanan dan dikembangkan pendidikan reflektif yang dapat diartikan untuk mengembangkan kemampuan refleksi dan relasi dengan Yesus agar hubungan dengan Yesus lebih mengena dan terorientasi lebih mendalam.

  Dengan demikian melalui proses tersebut dapat memampukan manusia muda untuk berfikir, merasakan, bertindak dan sebagainya. Kemampuan ini dapat diperkembangkan melalui proses pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik di sekolah. Pada dasarnya sekolah ingin mencerdaskan manusia muda, ingin mendidik melalui pengajaran sehingga mampu memperkembangkan pemikirannya untuk pembentukan diri, serta mampu bergumul dengan permasalahan hidup yang dialami.

6. Kekhasan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

  Pendidikan Agama Katolik di sekolah tidak bisa disamakan begitu saja dengan pelajaran lain. Pengetahuan memang hal yang sangat penting, tetapi bukanlah satu-satunya. Di samping itu dipentingkan pengolahan dan pertanggungjawaban pengetahuan tersebut. Pengetahuan disampaikan tidak semata untuk diketahui dan dimengerti begitu saja, tetapi harus lebih dimengerti dan dipahami. Peserta didik diajak untuk mempertanggungjawabkan apa yang diketahuinya, diajak memikirkan kenapa, dan bagaimana. Maka dari itulah diharapkan pemahaman iman dan pribadinya mulai tumbuh, terjadi perkembangan

  Jadi Pendidikan Agama Katolik di sekolah adalah salah satu bentuk pelayanan demi perdidikan iman dalam mengembangkan pribadi dengan situasi dan kondisinya, kelemahan dan kelebihannya beserta tuntutan-tuntutannya. Maka Pendidikan Agama Katolik di sekolah mau menghantar siswa pada hidup yang lebih baik dan bermutu (Setyakarjana, 1997:9). Pendidikan Agama Katolik di sekolah mempunyai kekhasan tersendiri jika dibandingkan dengan bidang lain studi yang lain. Kekhasan Pendidikan Agama Katolik di sekolah dapat dilihat dari berbagai segi namun dalam pembahasan ini penulis ingin menguraikan dua segi yang pokok, yaitu dari segi tujuan dan dari segi proses pelaksanaan. Dari segi tujuan, pada bagian di atas telah dikatakan bahwa tujuan Pendidikan Agama Katolik di sekolah untuk memperkuat iman. Selain itu dikemukakan juga tujuan Pendidikan Agama Katolik agar peserta didik memiliki pengetahuan yang lebih luas dan mendalam, karena Pendidikan Agama Katolik di sekolah ingin mengupayakan pembentukan pribadi manusia yang utuh dan menyeluruh sebagai pribadi manusia yang beriman (Setyakarjana, 1997). Yang menunjukkan kekhasan Pendidikan Agama Katolik di sekolah dari segi tujuan adalah mengenai tahap- tahap perkembangan kegiatan belajar yang ditinjau dari perkembangan segi perilaku. Tahap-tahap perkembangan kegiatan belajar merupakan suatu proses yang berkesinambungan untuk memperkembangkan iman peserta didik. Tahap- tahap perkembangan tersebut mencakup segi untuk mengetahui, memahami, menerapkan antara pengetahuan dengan perilaku peserta didik.

  Dilihat segi proses, Proses pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik Pendidikan Agama Katolik. Proses pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik lebih dikenal sebagai proses belajar-mengajar untuk membentuk diri. Hal ini dikarenakan proses pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik di sekolah ditujukan kepada siswa demi pembentukan kepribadiaan siswa. Melalui proses pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik tersebut diharapkan dapat membantu manusia muda untuk berfikir, merasakan, bertindak dan sebagainya.

  Melalui proses pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik di sekolah yang dikenal sebagai proses belajar membentuk diri, peserta didik diajak untuk menggumuli hidupnya dan dilatih untuk hidup secara bertanggung jawab sebagai orang beriman.

C. Peranan Guru Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

  Setiap orang yang membantu pembentukan manusia yang utuh adalah seorang pendidik, tetapi guru menjadikan usaha membentuk siswa secara utuh sebagai profesi yang harus mereka jalankan (Sewaka, 1991:50). Tugas utama guru adalah mengajar agama secara sistematis dan tidak hanya itu saja, seorang guru agama terkadang juga membantu untuk menjelaskan persoalan konkret yang muncul dari pelajaran yang lain. Jadi peranan guru agama sangat penting, karena apa yang dituntut tidak memberikan ajarannya sendiri melainkan mengajarkan Yesus Kristus.

  Pendidikan Agama Katolik di sekolah adalah salah satu bentuk karya pewartaan Gereja yang dilaksanakan di sekolah unyuk membantu mewujudkan tujuan nasional pendidikan dan pendidikan agama katolik mempunyai sifat pemahaman, penghayatan dan perwujudan dalam hidup. Dalam proses penyelenggaraan belajar mengajar pendidikan agama katolik di sekolah khususnya di SMA, sosok figur guru yang memiliki spritualitas sangat diperlukan untuk memperkembangkan pribadi siswa secara utuh.

  Figur seorang guru yang digerakkan oleh spritualitas adalah seorang guru yang bersifat kristosentris, seorang guru diminta memandang para siswa sebagai pusat perhatian. Yang berarti memandang para siswa dengan kaca mata positif, di mana para siswa juga diciptakan oleh Allah menurut citra dan gambar-Nya sendiri. Relasi penuh kepercayaan dan persahabatan dengan Yesus menjadi dasar dan sumber spritualitas guru agama katolik (Heryatno, 2008:95).

1. Guru Agama Sebagai Pendidik Hidup Beriman

  Pendidik adalah orang yang bertugas mendidik. Sebagai seorang pendidik, guru harus membantu siswa untuk mencapai hidup beriman, guru mengajak para siswa dengan penuh kepercayaan membuka hati utuk mengenal Bapa, Putra dan Roh Kudus melalui doa pribadi dan doa liturgi, pengalaman iman bukan sesuatu yang dipaksakan melainkan sebagai suatu jawaban bebas dan cinta kepada Allah yang mencintai kita, iman akan selalu berkembang dalam hidup kita (Sewaka, 1991:116-117). Guru harus memberikan pengetahuan dan pemahaman yang cukup terhadap masyarakat yang ada disekitarnya, sehingga para siswa mampu memahaminya dan berinteraksi dengan lingkungannya serta mampu mencapai perkembangannya untuk mencapai pribadi yang utuh (Komkat, 2007:5). Dan bukan hanya sebagai pengajar tetapi juga mendidik agar siswa terbantu dan kehidupan diri siswa. Perubahan hidup hanya mungkin terjadi bila siswa sudah memiliki hubungan pribadi dengan Yesus. Dengan menggunakan dasar ini, barulah guru dapat menghubungkan kebenaran yang diajarkan dengan kehidupan atau permasalahan yang mereka hadapi dalam kenyataan hidup para siswa yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.

  Seorang guru Pendidikan Agama Katolik memiliki tugas untuk mendidik hidup siswa agar semakin dewasa dalam iman dan dewasa pribadinya.

  Pendewasaan iman dalam diri siswa juga menjadi salah satu tujuan dalam pendidikan agama katolik. Oleh karena itu guru pendidikan agama katolik diharapkan untuk dapat mengarahkan siswa kepada perkembangan iman yang lebih utuh. Seorang guru merupakan salah satu teladan bagi para siswanya. Jadi diharapkan guru memiliki kedewasaan dalam hidup beriman agar bisa menjadi teladan untuk para siswanya.

2. Guru Agama Sebagai Pembimbing Hidup Rohani

  Membimbing adalah proses pemberian bantuan kepada individu untuk mencapai pemahaman yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimal terhadap keluarga, masyarakat dan sekolah. Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pendidikan. Seorang guru hendaknya mampu menjadi pengarah, pembimbing, memberi kemudahan kepada para siswa dengan menyediakan fasilitas belajar dan mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif yang menantang para siswa untuk berfikir. Hal tersebut tidak hanya dilakukan di dalam kelas saja melainkan guru harus menjadi pembimbing di luar proses pembelajaran sehingga guru mempunyai hubungan yang dekat dengan para siswa.

  Peranan guru sebagai pembimbing dalam proses belajar mengajar merupakan salah satu tugas dari figur seorang guru. Setiap guru bertugas memberikan dan mendampingi siswa dalam memperoleh suatu pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti tingkah laku pribadi dan spritual di masyarakat, dengan mengajak para siswa mengadakan acara rekoleksi, retret, camping rohani, dan acara persaudaraan kelas lainnya (Heryatno, 2008:3). Dengan demikian hidup kerohanian siswa juga akan tercermin dari hasil belajar yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial tingkah laku sosial siswa.

  Bimbingan juga merupakan suatu upaya untuk membantu para siswa dalam mencapai tujuan pendidikan di sekolah. di samping itu, proses bimbingan tersebut diharapkan dapat membantu siswa agar mampu memiliki pengetahuan dan membentuk kepercayaan diri siswa. Dan untuk mencapai tujuan yang lebih luhur, yakni hidup baru dalam Kristus. Sehingga siswa mengalami perubahan hidup dan perubahan hidup tersebut tercermin dalam perilaku dan berkembang dalam kepribadian sesuai dengan ajaran imannya (Komkat, 2007:5).

3. Guru Agama Sebagai Saksi Iman

  Tugas guru yang tidak kalah penting adalah menjadi saksi iman bagi para siswa-siswanya. Dengan kesaksian iman pelajaran agama katolik di sekolah menjadi hidup, kesaksian seorang guru menjadi contoh konkret yang nyata bagi siswa. Kesaksian hidup dan keteladanan menjadi cara yang utama untuk menghayati spritualitas sebagai guru agama katolik di sekolah (Sewaka, 1991:96) dengan itu kita didorong untuk menghayati semangat pertobatan yang terus- menerus yang membawa kita pada persatuan dengan Kristus dan dengan semua peserta didik. Sebagai sosok pendidik tentunya guru menjadi teladan bagi siswanya di sekolah.

  Sebagai saksi iman hendaknya guru pendidikan agama katolik menyadari kerasulannya dengan baik, untuk mengusahakan pendidikan moral dan keagamaan bagi para siswa dan membimbing iman mereka dan mengajari siswa untuk mengenal umat dan memasyarakat sesuai dengan ajaran imannya serta mampu bertindak sesuai dengan ajaran imannya (Komkat, 2007:5). Sehingga membentuk kepribadian hidup siswa untuk mengenal masyarakat, menumbuhkan sikap dan perilaku yang positif pada diri siswa dalam menghadapi kehidupan yang semakin menggelobal dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu dalam menyampaikan ajaran keselamatan, guru pendidikan agama katolik memberi kesaksian hidup secara konkret. Tindakan-tindakan nyata dari seorang guru pendidikan agama katolik jauh lebih penting ketimbang pada teori. Semakin lengkap kesaksian konkret yang diberikan oleh guru pendidikan agama katolik, maka guru pendidikan agama katolik akan semakin dipercaya dan dicontoh oleh para siswa (GE, Art. 7).

BAB III PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN Memiliki pribadi yang utuh merupakan keinginan manusia. Perkembangan

  pribadi manusia merupakan proses yang panjang sejak manusia usia dini. Orang yang berkepribadian adalah orang yang mempunyai pribadi yang dewasa yaitu pribadi yang dapat menggunakan secara penuh potensi dirinya. Dalam Bab ini akan dipaparkan mengenai perkembangan kepribadian, Pemaparan mengenai perkembangan kepribadian ini akan di dahului tentang:

A. Perkembangan Kepribadian

1. Pengertian Perkembangan

  Perkembangan merupakan serangkaian perubahan yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Seperti yang dikatakan oleh Van Den Daelle dalam Paulus Budiraharjo (1998:27) perkembangan berarti perubahan secara kualitatif. Ini berarti perkembangan bukan sekedar penambahan melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Perkembangan bertujuan untuk memungkinkan orang menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana ia hidup. Untuk mencapai tujuan ini, maka perlu merealisasikan diri yang biasanya disebut dengan aktualisasi diri adalah sangat penting, namun tujuan ini tidak pernah statis. Tujuan dapat dianggap sebagai suatu dorongan untuk melakukan sesuatu yang tepat dan menjadi manusia seperti yang diinginkan baik secara fisik maupun secara psikologis.

  Sumadi Suryabrata (1993:178) mengatakan bahwa perkembangan adalah suatu perubahan ke arah yang lebih maju, lebih dewasa. Secara teknis, perubahan tesebut adalah suatu proses. Jadi pada garis besarnya bahwa perkembangan itu adalah suatu proses, dimana manusia diajak untuk membentuk dan mengembangkan apa yang dimiliki dalam dirinya. Perkembangan itu juga merupakan hal yang kontinu, akan tetapi untuk lebih mudah memahami dan mempersoalkannya biasanya orang menggambarkan perkembangan itu dalam fase-fase atau priode-priode tertentu.

  Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat dikatakan bahwa perkembangan itu tidak dapat sekali jadi, tetapi perkembangan adalah suatu proses yang terjadi secara bertahap dan membutuhkan waktu yang relatif panjang. Perlu adanya penyesuaian terhadap lingkungan dan masyarakat maupun diri sendiri, supaya orang dapat berkembang secara maksimal dan penuh.

2. Ciri-ciri Perkembangan Kepribadian

  Kepribadian melekat lebih dalam daripada kulit kita. Kepribadian terus menerus tercermin dalam tingkah laku sehari-hari, dan berakar dalam jiwa dan tubuh. Kepribadian tidak sama dengan nama baik, yang merupakan pendapat baik buruk orang lain terhadap diri kita. Kepribadian terbentuk semenjak manusia dilahirkan.

  Dalam hal ini G.W.Allport (1991:30-36) menegaskan bahwa ciri-ciri orang yang berkepribadian ada tujuh kriteria antara lain, Perluasan Perasaan Diri, Realitis, Keterampilan-keterampilan dan Tugas, Pemahaman Diri dan Filsafat Hidup yang Mempersatukan.

  a. Perluasan Perasaan Diri

  Ketika orang menjadi matang maka dia mulai mengembangkan perhatian- perhatian di luar dirinya. Perhatian-perhatian ini tidak hanya mencakup interaksi dengan satu orang atau dengan suatu pekerjaan tetapi ikut berpartisipasi secara penuh. Seseorang yang memiliki kepribadian mampu meluaskan diri ke aktivitas dan aktivitas tersebut harus relevan dan penting bagi dirinya juga bagi banyak orang. Jika demikian maka orang tersebut akan semakin sehat dan matang dalam perkembangan kepribadiannya. Perluasan-perluasan diri juga berkaitan dengan kemampuan merencanakan masa depan.

  b. Hubungan Hangat atau Akrab Dengan Orang lain

  Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang-orang: kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu.

  Orang yang berkepribadian mampu memperlihatkan hubungan keintiman (cinta) terhadap orang-orang yang dicintainya seperti orang tua, anak, pather atau teman akrab. Sedangkan tipe kehangatan kedua yakni perasaan terharu suatu pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua orang tanpa membeda-bedakan. Orang yang mempunyai pribadi memiliki pemahaman akan kondisi orang lain dan mampu berempati dengan orang lain. Inilah tandanya bahwa kepribadian seseorang berkembang dengan baik.

  c. Keamanan Emosional Keamanan emosional meliputi beberapa kualitas seperti: penerimaan diri.

  Penerimaan diri merupakan kualitas yang paling utama. Penerimaan diri di sini termasuk bagaimana seseorang mampu menerima kelemahan atau kekurangan tanpa menyerah pada titik kelemahan melainkan justru berproses untuk memperbaiki diri. Kualitas berikutnya adalah mampu menerima emosi-emosi manusia, berusaha untuk mengontrolnya sehingga tidak mengganggu aktivitas antar pribadi dan mengarahkannya ke hal-hal yang lebih kondusif. Kualitas yang terakhir adalah sabar terhadap kekecewaan. Bagi mereka yang mempunyai kepribadian selalu berusaha untuk sabar menghadapi kemunduran-kemunduran dalam hidup tanpa menyerahkan diri kepada kekecewaan melainkan berusaha memikirkan cara-cara yang berbeda untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

  d. Persepsi Realistis

  Orang yang berkepribadian akan memiliki kemampuan untuk memandang orang lain, objek dan situasi tertentu sebagaimana adanya tanpa prasangka.

  Mereka tidak perlu percaya bahwa orang lain atau situasi-situasi semuanya jahat atau semuanya baik menurut suatu prasangka pribadi terhadap realitas. Mereka juga tidak berusaha keras untuk mengubah realitas agar sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka.

  e. Ketrampilan-ketrampilan dan Tugas

  Memiliki ketrampilan-ketrampilan yang relevan tidaklah cukup. Bagi ketrampilan-ketrampilan yang dimilikinya secara ikhlas, antusias, melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan atau tugas pekerjaan mereka.

  Tanggung jawab terhadap suatu pekerjaan, memberikan arti dan perasaan kontinuitas untuk hidup. Orang yang berkepribadian akan melakukan pekerjaan yang penting dengan dedikasi, komitmen dan ketrampilan-ketrampilan.

  f. Pemahaman Diri

  Seorang dikatakan berkepribadian sehat dan utuh jika telah mencapai pemahaman diri, pengenalan diri yang menuntut pemahaman tentang hubungan atau perbedaan antara gambaran tentang diri yang dimiliki seseorang dengan gambaran dirinya menurut keadaan yang sesungguhnya. Pribadi yang utuh terbuka pada pendapat orang lain dalam merumuskan suatu gambaran diri yang objektif. Orang yang sudah mencapai tingkat pemahaman diri yang tinggi tidak akan memproyeksikan kualitas pribadinya yang negatif kepada orang lain.

  g. Filsafat Hidup yang Mempersatukan

  Pribadi yang sehat dan utuh selalu mengarahkan hidupnya ke masa depan didorong oleh tujuan-tujuan tertentu dan rencana-rencana jangka panjang. Mereka mempunyai keinginan kuat untuk mengerjakan sesuatu sampai selesai, mereka mempunyai arah dalam hidup. Arah dan nilai-nilai hidup yang dipilih sangat penting bagi perkembangan suatu filsafat hidup yang mempersatukan.

  Dengan mengetahui berbagai macam ciri-ciri yang mempengaruhi perkembangan kepribadiaan seseorang, kita dapat mengetahui apakah seseorang melalui hidup seseorang dalam lingkungannya, misalnya apakah orang tersebut mampu berelasi dengan orang lain, mampu mengontrol emosinya dalam menghadapi permasalahan yang dihadapinya dalam hidup sehari-hari. Dari situ dapat terlihat bahwa perkembangan pribadinya sudah matang dan utuh.

3. Pengertian Kepribadian

  Kepribadian yang sehat merupakan unsur yang sangat penting dalam pembentukan hidup manusia. Tetapi orang jarang sekali merasa puas dengan kepribadian yang dimilikinya, semua orang ingin mengembangkan kepribadiannya, karena kepribadian dapat membuat orang merasa tentram, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain. Kepribadian merupakan suatu pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang baik yang jasmani, mental, rohani, emosional maupun yang sosial (Tarsis Tarmudji, 1998:11). Semua ini ditata dalam caranya yang khas, dibawah beraneka pengaruh dari luar, pola ini terwujud dalam tingkah lakunya, dalam usahanya menjadi manusia sebagaimana yang dikehendakinya. Pengertian diatas mempunyai arti, dari kata pola menyeluruh semua kemampuan, perbuaatan serta kebiasaan seseorang baik yang jasmani, mental, rohani, emosional maupun yang sosial. Mempunyai arti bahwa kepribadian bukan hanya tumpukan sifat-sifat yang tepisah-pisah sama seperti sebuah rumah. Kepribadian merupakan suatu kesatuan yang harmonis. Kesatuan atau pola inilah yang membedakan saudara dengan orang lain. hal ini juga menunjukan bahwa kepribadian bukan hanya perangai cita luhur semata-mata. Kepribadian merupakan gabungan yang harmonis dari sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia. Kepribadian tidak dikembangkan hanya dengan mencapai beberapa sifat atau tabiat tertentu saja. Memang, bijaksanalah menahan kebijakan seperti kejujuran, memperhatikan orang lain, semangat berkurban. Namun, kebijakan-kebijakan belum dapat menciptakan kepribadian secara utuh dan dewasa.

  Fromm dalam Paulus Budiraharjo (1997:66-69) berpendapat bahwa kepribadian merupakan sesuatu yang ditentukan oleh kekuatan sosial yang mempengaruhi individu dalam masa kanak-kanaknya, dan merupakan kekuatan historis yang mempengaruhi perkembangan manusia. Dalam hal ini Fromm mengatakan bahwa kekuatan-kekuatan sosial dan kultural merupakan unsur yang sangat penting dalam proses mengembangkan kepribadian, maka perlu menganalisis struktur masyarakat supaya kita memahami struktur anggota- anggota individu dalam masyarakat. Menurut Fromm kepribadian merupakan salah satu produk kebudayaan. Kesehatan jiwa adalah bagaimana menyesuaikan diri dengan kebutuhan dasar semua individu.

  Allport dalam Paulus Budiraharjo (1997:86-90) merumuskan bahwa kepribadian merupakan organisasi dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungan. Kemudian dia memberikan sedikit revisi atas definisi kepribadian tersebut menjadi kepribadian adalah organisasi dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan penyesuainnya yang unik terhadap kepribadian secara konstan dapat berkembang dan berubah. Organisasi menunjukkan bahwa dalam diri individu ada semacam pusat pengaturan yang menyatukan berbagai komponen kepribadian dan menghubungkan komponen- komponen tersebut secara erat. Kepribadian bukan hanya suatu konsep yang hanya ingin menjelaskan perilaku orang, melainkan suatu bagian fungsional individu yang memainkan peran aktif dalam perilaku individu. Kepribadian yang sehat memperjuangkan kearah masa depan dengan mempersatukan seluruh kepribadian tanpa dibimbing oleh kekuatan-kekuatan tak sadar atau pengalaman yang sudah terjadi.

  Kepribadian itu berpangkal pada kenyataan, bahwa kepribadian manusia itu tidak sama atau bermacam-macam dan dapat digolongkan secara tertentu.

  Kepribadian bisa dikatakan mengenal sesama menurut apa adanya, menurut sifat- sifatnya yang khas, karena dengan penggolongan dengan sifat-sifat tertentu orang dapat menyembunyikan sifat yang dimiliki (Sumadi Suryabrata, 1993:77-78). Kepribadian memberi tata-tertib dan keharmonisan terhadap segala macam tingkah laku berbeda-beda yang dilakukan individu, kepribadian mencakup usaha- usaha menyesuaikan diri yang beraneka ragam namun khas yang dilakukan oleh individu dan merupakan hakikat keadaan manusiawi. Kepribadian merupakan keseluruhan dari individu yang terorganisis, dan terdiri atas disposisi-disposisi psikhis serta fisis, yang memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk memperbedakan ciri-cirinya yang umum dengan pribadi lainnya. Kepribadian merupakam satu struktur totalitas atau struktur unitas multipleks, dimana seluruh aspek-aspeknya berhubungan erat satu dengan yang lainnya. Aspek-aspek tersebut merupakan harmini yang bekerja sama dengan baik (Kartini Kartono, 1980:7).

  Dalam buku Tantangan Membina Kepribadian ditegaskan sebagai berikut: “kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang baik yang jasmani, mental, rohani, emosional maupun yang sosial, semuanya ini ditatanya dalam caranya yang khas di bawah beraneka pengaruh dari luar. Pola ini terwujud dalam tingkahlakunya, dalam usahanya menjadi manusia sebagaimna dikehendakinya”. Dalam rumusan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kepribadian adalah meliputi banyak unsur jasmani dan rohani, kepribadian juga sesuatu yang ditata, diatur dan diusahakan oleh tiap-tiap orang secara khas atas beberapa pengaruh yang ada. Kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri khas dan prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atau baku, sehingga kalau di katakan pola sikap, maka sikap itu sudah melekat dan berlaku terus menerus secara konsisten dalam menghadapi apa yang terjadi dalam proses kehidupan di dalam masyarakat dewasa ini, sehingga seseorang mempunyai kepribadian yang matang, terorganisir dan konsisten. Akhirnya, kepribadian adalah sesuatu yang nampak dalam hidup, terwujud juga dalam tindakan seseorang.

  Berdasarkan pemikiran dan pemahaman kepribadian sehat menurut ahli- ahli tersebut, penulis kemudian mencoba menjelaskan kodrat kesehatan psikologis. Orang yang berkepribadian adalah pribadi yang tidak pernah berhenti tumbuh. Setiap hari manusia menjalani pengalaman-pengalaman baru dan akibatnya mereka berubah. Orang yang memiliki kesempatan cukup besar dengan dirinya sendiri untuk mengadakan percobaan-percobaan dengan petunjuk berbeda untukmelihat petunjuk mana yang berlaku dalam kehidupan mereka.

4. Pengertian Perkembangan Kepribadian

  Jung dalam Paulus Budiraharjo (1997:53-56) berpendapat bahwa perkembangan kepribadian merupakan suatu dinamika dan proses evolusi yang terjadi sepanjang hidup. Individu secara kontinu berkembang dan belajar keterampilan baru serta bergerak menuju realisasi diri. Gerakan untuk menuju hal ini tidak mudah bahkan sering kali malah merupakan proses yang sulit dan menyakitkan. Secara kontinu ini memang merupakan usaha individu untuk memahami pengalamannya dan mengembangkan sikap-sikap yang sehat. Proses gerakan untuk mengaktualisasi diri tidak dapat terjadi secara otomatis. Jika ada seseorang yang hidup dalam lingkungan yang sehat, maka akan tumbuh menjadi individu yang utuh serta dewasa. Melainkan jika seseorang itu tumbuh dalam kondisi lingkungan yang tidak sehat atau mengancam, maka kemungkinan perkembangan kepribadiannya akan mengalami gangguan.

  Rogers dalam Duanne Schult (1991:41-50) mengatakan bahwa pribadi yang berfungsi sepenuhnya, mampu mengalami secara mendalam keseluruhan emosi, kebahagian atau kesedihan, gembira atau putus asa. Ciri-ciri dari kepribadian sehat ini adalah memiliki perasaan yang kuat, dapat memilih, bertindak bebas, kreatif dan spontan. Memiliki keberanian untuk menjadi “ada” yaitu menjadi diri sendiri tanpa bersembunyi dibalik topeng atau berpura-pura

  Orang yang berkepribadian adalah orang yang mempunyai pribadi yang produktif dan kreatif yaitu pribadi yang dapat menggunakan secara penuh potensi dirinya (Schultz, 1991:71). Ada 4 segi tambahan dari kepribadian sehat yaitu cinta, pikiran, kebahagian dan suara hati yang produktif. Cinta yang produktif adalah cinta yang memperhatikan serta membantu pertumbuhan dan perkembangan orang lain. Pikiran yang produktif adalah pikiran yang berfokus pada gejala-gejala dan mempelajarinya secara keseluruhan, bukan hanya dalam potongan-potongan. Suara hati yang produktif adalah suara hati yang memimpin dan mengatur diri sendiri (Fromm dalam Schultz 1991:71).

  Perkembangan kepribadiaan merupakan perubahan dalam organisasi dan struktur tingkah laku. Makin bertambah umur anak tidak hanya variasi tingkah lakunya yang berubah atau bertambah, tetapi juga organisasi serta struktur tingkah laku berubah, menjadi lebih kompleks. Hal ini yang mengalami perubahan struktur relasi mulai bertambah, tingkah laku semakin kompeks (Sumadi Suryabrata, 1993:291-292).

  Pengembangan kepribadian berarti mengembangkan bakat yang dimiliki, mewujudkan impian-impian, meningkatkan rasa percaya diri, menjadi kuat dalam menghadapi percobaan, dan menjalani hubungan yang baik dengan sesamanya. Perkembangan kepribadian ini juga bukan terjadi dengan sendirinya melainkan melalui hubungan dan pergaulan dengan individu-individu lainnya, yang sering kita sebut interaksi. Melalui hal ini individu tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan dewasa serta bijaksana dalam melakukan sesuatu yang dianggap baik dan dapat dikatakan, bahwa perkembangan kepribadian adalah belajar mempergunakan cara-cara baru dalam merekduksikan tegangan, yang timbul karena mengalami tegangan yang dapat menimbulkan tegangan dalam hidupnya.

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kepribadian

  Perkembangan kepribadian merupakan ciri, karakteristik, dan sifat-sifat yang sangat khas yang dimiliki oleh manusia, oleh sebab itu banyak hal yang dapat mempengaruhi kepribadian manusia. Adapun faktor-faktor yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian manusia yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan dimana kita tinggal.

  Faktor genetik merupakan faktor dalam atau faktor yang dibawa sejak lahir, baik yang bersifat kejiwaan maupun yang bersifat ketubuhan. Kejiwaan merupakan yang berujud seperti pikiran, perasaan, kemauan, fantasi, ingatan dan masih banyak lagi yang manusia bawa sejak lahir, hal itu membantu seseorang dalam memperkembangkan pribadinya. Selain itu keadaan jasmani pun juga mempengaruri perkembangan pribadi seseorang seperti panjang pendeknya leher, susunan urat saraf, otot-otot dan lain-lain. Sedangkan faktor lingkungan yaitu segala sesuatu yang diluar manusia, baik yang hidup maupun yang mati. baik itu tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, batu-batu, gunung-gunung, angin, musim, keadaan udara, hasil-hasil budaya yang bersifat material maupun yang bersifat spiritual. Hal itu juga dapat membentuk perkembangan kepribadian seseorang yang berada didalam lingkungan maka seseorang yang tinggal di suatu tempat lingkungan dan lingkungan dirubah oleh si pribadi tersebut. Faktor-faktor intern ini berkembang dan hasil perkembangan digunakan untuk mengembangkan pribadi lebih lanjut (Agus Sujanto, 1986: 4-5).

  Lingkungan sosial ditengah masyarakat yang beraneka ragam juga dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang, misalnya lingkungan yang kacau, tidak tenang dan tidak terkendali akan membentuk kepribadian yang kurang baik pada seseorang yang berada didalamnya, begitu juga sebaliknya pabila seseorang berada didalam lingkungan yang harmonis, nyaman, seseorang juga akan tumbuh menjadi pribadi yang baik. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa kepribadian itu terbentuk dari keadaan-keadaan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang terjalin ditengah masyarakat dan keluarga serta yang dibawa sejak lahir.

  Selain hal-hal tersebut ada pun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian antara lain, Diri Sendiri, Keluarga, Masyarakat, dan Gereja.

a. Diri Sendiri

  Dinamika kehidupan jaman sekarang memang sulit diduga. Saat-saat tertentu mereka kelihatan ceria atau bahagia dan terkadang menjadi sedih dan muram, hal ini kerena bermacam-macam persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka sehari-hari. pendirian dan emosi mereka cepat untuk berubah seiring perubahan dan perkembangan zaman yang mereka alami saat ini.

  Banyak gagasan baru yang ditawarkan melalui media massa, (televisi, mereka) tidak semua media berdampak positif bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka, semua media yang ditawarkan kepada mereka menciptakan pemikiran yang bermental instant.

  Dari segi fisik maupun psikis, masalah perkembangan mereka ditandai oleh dua dorongan: dorongan kelamin (nafsu sex) dengan gejolak-gejolaknya, terkadang juga menjadi pemicu segala kegelisahan dan keingintahuan yang disalurkan dalam berbagai macam cara atau justru melakukan percobaan sendiri, yang pada gilirannya menyebabkan permasalahan baru dalam dirinya.

  Dorongan aku atau nafsu ego, menggejala dalam perilaku “aneh” yang sebenarnya meminta perhatian, penghargaan dan lain-lain. Gejolak ingin diakui akan diungkapkan melalui berbagai macam prestasi atau macam-macam keberhasilam dengan harapan mereka mempeoleh pujian dan sanjungan dari orang lain. Persoalan akan muncul apabila orang lain baik keluarga dan masyarakat tidak memberi dukungan yang selayaknya seperti yang mereka harapkan, apalagi kalau keluarga, masyarakat sampai menentangnya atau justru melihatnya sebagai suatu kebetulan atau karena ada campur tangan para orang tua. Sehingga keberhasilan atau prestasi yang telah mereka raih merasa tidak diberi pengharapan atau tidak berarti.

  Perkembangan emosi dan afeksi mengakibatkan mereka bebas memelihara dan mengembangkan selera dan cita rasanya sendiri. Perkembangan intelek memampukan mereka melihat dan menilai segala sesuatu dengan nilainya sendiri, mampu memandang jauh ke depan dengan berusaha untuk membuat rencana-

  b. Keluarga

  Keluarga merupakan tempat yang pertama dan utama untuk mengembangkan kepribadian. Keluarga merupakan tempat awal bagi manusia untuk memulai kehidupannya. Tetapi terkadang hal ini malah menjadi masalah antara orang tua dan anak, karena orang tua sering kali menggunakan aturan zaman dulu, sementara anak sekarang cenderung mengikuti perkembangan zaman yang semakin pesat, baik itu dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi maupun budaya. Hal itu sangat berbeda dengan kenyataan yang terjadi pada masa lampau dimana semuanya belum mengalami perkembangan dan mempunyai pengaruh untuk kehidupan.

  Banyak permasalahan seperti konsumerisme telah menjalar ke dalam kehidupan keluarga yang seiring dengan kesibukan yang menjadikan lupa segalanya. Hal ini disadari atau tidak sebenarnya telah mengurangu perhatian orang tua kepada anaknya, khususnya keluarga yang berstatus sosial menengah ke atas. Di satu pihak para orang tua termotivasi untuk mencari dan mengumpulkan harta, namun di lain pihak kebutuhan, perhatian dan sapaan terhadap segenap anggota keluarga menjadi terabaikan. Situasi inilah yang menyebabkan mereka menjadi merasa kurang diperhatikan oleh para orang tuanya (Tangdilintin, 1984: 26).

  c. Masyarakat

  Pesatnya kemajuan dan peningkatan dalam taraf hidup masyarakat yang terjadi di zaman sekarang ini, ternyata dapat menjadi dampak positif dan negatif bagi perkembangan kehidupan dewasa ini, dan keadaan ini telah menjalar dalam kehidupan masyarakat yang sedang mengalami perkembangan.

  Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dan dukungan dari orang lain disekitarnya. Sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat lepas dari masyarakat disekitarnya. Keterlibatan dan peran mereka sangat diperlukan. Namun terkadang keterlibatan mereka dalam masyarakat mendatangkan peluang sekaligus hambatan bagi perkembangan pribadinya. Salah satu hambatan yang dijumpai adalah budaya serba instan. Hal ini dapat mematikan semangat dan usaha untuk terus berjuang dalam menghadapi kehidupan ini, karena kebanyakan orang lebih memilih yang cepat tanpa harus berusaha dalam waktu yang panjang. Budaya instans ini menjadi gangguan dalam pribadi mereka, karena mematikan semangat dan daya kreativitas mereka sebagai orang muda.

d. Gereja

  Agama mempunyai peranan yang sangat besar dalam mengembangkan kepribadian, nilai iman, harapan dan kasih yang telah diajarkan oleh agama mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengembangkan kepribadiaan. Iman memberi kepercayaan bahwa kepribadian yang baik adalah cita-cita yang perlu diwujudkan dan benar. Harapan menumbuhkan keyakinan yang optimis dalam hidup untuk selalu berkembang. Kasih dan cinta, merupakan kemampuan mengasihi yang tulus orang akan mencapai kepribadian yang dewasa. Agama juga memberi pandangan hidup, yang mengarahkan cita-cita, cara berfikir dan sikap kita. Dengan pandangan hidup yang diberikan oleh agama seseorang akan mencapai kepribadian yang utuh dan seimbang.

  Melihat apa yang telah terungkap diatas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian maka dapat disimpulkan bahwa banyak sekali faktor yang mendukung perkembangan kepribadian seseorang, diantaranya adalah faktor keturunan, faktor lingkungan baik fisik maupun sosial, dan masih banyak lagi faktor yang dapat mengembangkan perkembangan kepribadian seseorang. Dengan demikian seseorang diharapkan dapat mencapai kepribadian yang utuh, matang dan seimbang.

6. Tahap-tahap Perkembangan Kepribadian

  Perkembangan manusia dalam dunia ini tidak sekali jadi, tetapi melalui proses yang panjang. Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari anak-anak sampai tubuh menjadi orang dewasa. Dalam hal ini C.R.Rogers mengatakan bahwa setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi orang dewasa. Tahap ini sangat penting bagi perkembangan sifat-sifat kepribadian yang bersifat dan berfungsi penuh. Dalam hal ini ada lima tahap perkembangan pribadi yang berfungsi penuh.

  Menurut C.R.Rogers (1991,51-55) dalam buku Paulus Budiraharjo tahap tersebut antara lain, Keterbukaan pada Pengalaman, Kehidupan Eksistensial, Kepercayaan terhadap Organisme Orang Lain, Perasaan Bebas dan Kreativitas.

  a. Keterbukaan pada Pengalaman

  Keterbukaan pada pengalaman yang berarti bahwa seseorang tidak bersifat kaku melainkan orang tersebut bersifat fleksibel, tidak hanya menerima pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempetan lahirnya persepsi dan ungkapan-ungkapan baru.

  Orang yang berfungsi penuh lebih “emosional” daripada yang defensif dalam arti dia mengalami banyak emosi yang positif dan negatif (kegembiraan dan kesusahan) dalam hidupnya.

  b. Kehidupan Eksistensial

  Kehidupan eksistensial adalah orang tidak mudah berprasangka ataupun memanipulasi pengalaman-pengalaman melainkan dapat menyesuaikan diri karena kepribadiannya terus-menerus terbuka kepada pengalaman-pengalaman baru. Rogers percaya kualitas kehidupan eksistensial ini merupakan segi yang sangat esensial dari kepribadian yang sehat.

  c. Kepercayaan Terhadap Organisme Orang Lain

  Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri yang berarti bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar, merupakan pedoman yang sangat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan yang lebih diandalkan daripada faktor-faktor rasional atau intelektual. Orang yang berfungsi penuh dapat bertindak bijaksana dalam bertingkah laku dan mempunyai kebebasan, dan tidak sama dengan bertindak buru-buru atau sama sekali tidak memperhatikan konsekuensi-

  d. Perasaan Bebas

  Perasaan bebas adalah semakin seseorang sehat secara psikologis, semakin mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Dia memiliki perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan dan peristiwa masa lampau. Oleh karena itu dia mempunyai banyak pilihan dalam kehidupan dan merasa mampu melakukan apa saja yang dapat dilakukan.

  e. Kreativitas

  Kreativitas adalah seorang yang kreatif bertindak dengan bebas dan menciptakan hidup, menciptakan ide-ide dan rencana yang konstruktif, serta dapat mewujudkan kebutuhan dan potensinya secara kreatif dan dengan cara yang memuaskan. Orang yang kreatif tidak terbelenggu dalam peraturan konvensional serta kebiasaan masyarakat. Biasanya orang yang berfungsi penuh lebih mampu menyesuaikan diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastis dalam kondisi-kondisi lingkungan.

  Dengan mengetahui berbagai macam tahap menjadi pribadi yang penuh dan utuh yang mempengaruhi perkembangan kepribadiaan seseorang, kita dapat mengetahui apakah seseorang sudah mempergunakan tahap-tahap tersebut dalam hidup mereka sehari-hari. hal tersebut dapat dilihat melalui cara hidup seseorang dalam lingkungan tempat tinggal mereka. Apakah seseorang tersebut mampu terbuka terhadap orang lain dan tidak mudah berprangsa buruk terhadap sesamanya. Dengan demikian dapat kita lihat bahwa orang tersebut sudah melaksanakan tahap-tahap dalam proses perkembangan pribadinya yang membuat seseorang mempunyai pribadi yang utuh dan menyeluruh.

7. Manfaat Perkembangan Kepribadian

  Kepribadian membuat seseorang lebih bermakna dalam hidupnya. Dengan kepribadian manusia dapat menunjukkan bahwa dirinya mempunyai kualitas hidup. seseorang yang mempunyai kepribadian yang kuat tidak akan pernah takut dalam menghadapi segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Kepribadian yang baik membuat seseorang lebih bertanggng jawab dalam hidup mereka dan cita-cita untuk masa depan pun akan dapat tercapai.

  Agus Sujanto (1986:5-6) menyatakan bahwa manfaat dari perkembangan kepribadian manusia dapat mengetahui pribadi seseorang, itu merupakan hal yang pertama dan utama, orang atau diri sendiri. Hal ini dapat diketahui dengan introspeksi diri, yaitu melihat ke diri kita sendiri, dengan begitu orang dapat mengoreksi diri sendiri dari kekeliruan yang telah diperbuat. Dengan demikian orang dapat langsung merubah yang telah menjadi kekeliruannya sebelum orang lain merubahnya. Dan orang kedua yang dapat mengenal pribadi seseorang adalah seorang pendidik, baik itu orang tua maupun guru di sekolah, dengan mengenal pribadi seseorang seseorang akan mampu bertindak dengan tepat dalam lingkup hidupnya, misalnya: bagaimana dia harus berbicara, bagaimana dia harus bersikap, bagaimana cara agar dia disenangi. Dalam hidup sehari-hari orang dapat meletakkan pribadi pada waktu dan tempatnya sehingga akan terhindar dari apa

  Dalam hal ini Agus Sujanto (1986:7) menegaskan yang paling tepat memanfaatkan pengetahuan kepribadian ini adalah para guru. Manfaatnya antara lain ialah;

  a. Agar guru dapat mengenal sifat anak-anaknya masing-masing, sehingga pelayanannya dapat mudah diterima oleh sianak.

  b. Guru dapat kesempatan seluas-luasnya, untuk memberikan pembinaan lebih lanjut dan mendalam terhadap bakat, hobi dan kegemaran anak- anaknya yang itu adalah demi kehidupan anak dikemudian hari.

  c. Dengan mengenal sifat anak itu, siguru akan dapat mencegah kemungkinan timbulnya frustasi anak, dan itu berarti suatu sukses besar didalam proses belajar mengajar.

  d. Dengan mengetahui keadaan pribadi si anak, guru dapat dengan tepat memperlakukannya, menolongnya dan sebagainya sehingga dengan demikian, maka dapat diharapkan si anak segera dapat diserahi tanggungjawab sendiri, yang berarti dapat dalam waktu singkat mencapai kedewasaannya.

  e. Dengan mengenal anak-anaknya itu si guru akan terhindar dari kemungkinan timbul konflik dengan anak-anaknya sendiri, yang berarti bahwa guru telah kehilangan wibawa dimata murid-muridnya, dan apakah yang akan dapat diharapkan dengan hasil pendidik seperti itu? Dalam hal ini masih banyak lagi manfaat yang dapat ditemukan satu persatu mengenai perkembangan kepribadian, tetapi untuk sekedar mengenal dan mewakili untuk dapat mengenal dan mengetahuinya. Karena perkembangan kepribadian juga dapat kita ketahui tidak hanya dari pendidik melainkan dapat kita ketahui melalui diri sendiri dalam hidup sehari-hari, dari cara dan bertindak seseorang yang tercermin dalam tingkah lakunya.

  

B. Kaitan Antara Pendidikan Agama Katolik Dan Perkembangan

Kepribadian

1. PAK Membentuk Kedewasaan Manusiawi

  Pendidikan Agama Katolik di sekolah juga dikatakan sebagai sarana untuk membentuk kedewasaan manusiawi. Kedewasaan merupakan soal aktual yang sangat menarik perhatian kita, kedewasaan itu muncul dari kesadaran dalam setiap pribadi. Seorang yang dewasa secara manusiawi adalah seseorang yang telah mencapai suatu kesatuan yang fundamental dalam kepribadiannya. Ia tidak lagi dalam proses penemuan atau realisasi diri sendiri seperti halnya dengan para remaja (Seri Puskat 3, 1972:4). Seorang yang dewasa merupakan orang yang kepribadiannya matang, dewasa, dan mampu memahami nilai-nilai hidup.

  Orang yang matang kepribadiannya, maka dia akan mulai mempunyai perhatian yang ada di luar dirinya, hal ini merupakan interaksi dengan orang lain tidak hanya dengan satu orang saja namun dengan semua orang yang dijumpainya dan mempunyai hubungan yang akrab dengan orang lain. Selain itu orang yang dewasa mampu mengendalikan emosi, mampu menerima dirinya, sabar dalam mengolah permasalahan yang sedang dihadapinya dan mempunyai persepsi yang dalam situasi yang tertentu tanpa adanya prasangka. Memiliki keterampilan- keterampilan yang cukup dan bertanggungjawab terhadap pekerjaannya dengan komitmen yang mereka miliki sehingga seseorang mampu mencapai pemahaman terhadap dirinya sendiri dan selalu mengarahkan dirinya ke masa depan yang didorong dengan rencana dan tujuan-tujuan hidup yang ingin dicapainya di masa yang akan datang.

  Dalam hal ini Pendidikan agama katolik di sekolah SMA juga ingin mengajak para siswa untuk memiliki kedewasaan yang matang. Pendidikan Agama Katolik tidak hanya mengajarkan kepada siswa mengenai pengetahuan saja melainkan Pendidikan Agama Katolik di SMA juga mengajak para siswa untuk menjadi pribadi yang dewasa secara manusiawi yang mampu memahami dirinya sendiri melalui penerimaan diri dan mampu menghayati nilai-nilai individu dalam dirinya sehingga Pendidikan Agama Katolik di SMA berperan dalam membentuk kedewasaan secara manusiawi kepada para siswanya sehingga menjadi pribadi yang matang secara menyeluruh dan tercermin melalui hidupnya sehari-hari.

2. PAK Membentuk Kedewasaan Iman

  Pendidikan Agama Katolik di sekolah mempunyai tempat yang sentral dalam membentuk kedewasaan iman, dimana manusia diajak untuk menyadari kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Manusia membentuk imannya melalui penghayatan iman yang mereka alami. Manusia diajak untuk tahu tentang iman dan mewujudkan iman itu dalam hidup nyata. Thomas Groome (2010,81-94) dimensi yang esensial antara lain, Iman sebagai kegiatan percaya (faith as

  

believing) , Iman sebagai kegiatan mempercayakan (faith as trusting), Iman

sebagai kegiatan melakukan (faith as trusting).

  a. Iman sebagai kegiatan percaya (faith as believing)

  Kegiatan iman Kristen mewajibkan sebagian keyakinan yang teguh pada kebenaran yang diusulkan sebagai kepercayaan. Iman merupakan anugerah dari Allah yang mengggerakkan batin manusia dan manusia percaya akan anugerah iman dari Allah tersebut. Yang menjadi penekanan iman adalah tekanan iluminasi batiniah yang merupakan peringatan iman yang penting bahwa iman selalu pemberian dari Allah, timbul dari anugerah Allah yang bekerja di dalam.

  Keyakinan rasional selalu merupakan bagian dari iman, karena manusia merupakan makhluk yang rasional, selalu ada dimensi rasional dalam kegiatan iman kita, karena iman didasarkan pada pernyataan Allah dan refleksi dari umat Kristen yang menjadi kepercayaan sepanjang perjalanan hidup. Jadi, iman Kristen sekurang-kurangnya adalah kepercayaan, tetapi iman juga harus lebih daripada kepercayaan jika iman adalah realitas yang hidup.

  b. Iman sebagai kegiatan mempercayakan (faith as trusting)

  Dimensi iman yang bersifat afektif/kepercayaan ini mengambil bentuk hubungan pribadi yang penuh kepercayaan dengan Allah yang menyelamatkan di dalam Yesus Kristus dan mempercayakan diekspresikan dalam kesetiaan, kasih, dan kelekatan, karena Allah setia kita dapat menyerahkan diri kita dengan penuh berdasarkan kepercayaan memperlihatkan kebenaran yang tidak pernah boleh diabaikan atau dianggap sudah otomatis. Panggilan Kerajaan Allah merupakan panggilan dari Allah untuk menjalin relasi kepercayaan yang tak terbatas dengan kesetiaan Allah dan kuasa Allah yang menyelamatkan.

c. Iman sebagai kegiatan melakukan (faith as doing)

  Iman sebagai respon terhadap Kerajaan Allah dalam Kristus harus mencakup melakukan kehendak Allah. Secara lebih khusus, melakukan kehendak Allah harus diwujudkan dalam kehidupan yang setia pada hidup, mengasihi Allah dengan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Jadi, iman itu harus dinyatakan secara nyata dalam hidup sehari-hari yang kita alami tercermin dalam tindakan/tingkah laku kita. Iman yang hidup sekurang-kurangnya memiliki tiga kegiatan yang penting yaitu kegiatan percaya (believing), mempercayakan

  

(trusting) , dan melakukan (doing). Meskipun ketiganya dapat kita bedakan untuk

  memperoleh kejelasan, tetapi tidak dapat dibedakan dalam iman Kristen. Dengan menyadari dan menhayati ketiga dimensi iman tersebut, manusia akan mempunyai kedewasaan iman yang sangat mendalam dalam hidupnya yang akan tercermin dalam kematangan pribadinya.

  Sehubungan dengan hal tersebut, Pendidikan Agama Katolik di sekolah SMA juga menanamkan pembelajaran yang menyangkut ketiga dimensi tersebut, agar para siswa dapat menyadari dan menghayati dimensi tersebut untuk membentuk kedewasaan iman yang utuh. Dengan begitu siswa menyadari akan hidupnya dan pribadinya sehingga mengalami kedewasaan yang membuat hidup keluarga, masyarakat maupun lingkungan sekolah. Melalui penyadaran akan hidup iman mereka, siswa mulai dapat membentuk hidupnya dengan mengembangkan kepribadiannya yang mereka lakukan melalui tindakan nyata yang mereka alami dalam perjalanan hidupnya.

  BAB IV GAMBARAN UMUM PERANAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SMA YOS SUDARSO METRO, LAMPUNG A. Gambaran Umum SMA Yos Sudarso Metro, Lampung Berdasarkan informasi yang diperoleh penulis baik secara langsung,

  maupun berdasarkan hasil sharing dari beberapa siswa di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung bahwa Pendidikan Agama Katolik merupakan mata pelajaran wajib yang harus dilaksanakan dan diikuti oleh para siswa. Dalam perjalanan para siswa kurang menghayati bahwa Pendidikan Agama Katolik merupakan mata pelajaran yang penting demi memperkembangkan kepribadiaan siswa itu sendiri.

  Para siswa di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung berpandangan perkembangan kepribadiaan itu tidak penting, mereka menganggap bahwa yang harus mempunyai kepribadian yang matang itu adalah para guru dan orangtua. Proses belajar mengajar Pendidikan Agama Katolik di SMA tersebut memang berjalan dengan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh sekolah, namun kegiatan untuk pengembangan kepribadian siswa belum sepenuhnya mendapat perhatian, walaupun sebenarnya kegiatan untuk pengembangan kepribadian sudah selalu diberikan tetapi belum begitu mengena pada diri siswa itu sendiri.

  Dalam buku “Yos Sudarso The Big Family” sebagai panduan uraian tentang gambaran umum situasi SMA Yos Sudarso Metro, Lampung yang meliputi sejarah singkat berdirinya SMA Yos Sudarso Metro, Lampung, visi, misi

  61

  dan peraturan tata tertib SMA Yos Sudarso Metro, Lampung. Maka pada bagian ini penulis akan menguraikan bagian tersebut secara lebih jelas.

1. Sejarah Singkat Berdirinya SMA Yos Sudarso Metro, Lampung

  Pada tahun 1965 situasi Negara kurang menguntungkan bagi umat beragama, keadaan masyarakat sangat menderita dan terkekang. Pada jaman tersebut bisa dikatakan bahwa masyarakat sangat miskin dan bodoh. Maka berkumpullah tokoh-tokoh Kristiani kota Metro. Para tokoh tersebut berpikir sangat sederhana, yakni ingin membantu mencerdaskan bangsa dengan karyanya dibidang pendidikan dan ikut serta dalam memperdalam iman katolik dengan cita- cita ingin memperluas Kerajaan Allah dalam dunia. Maka dengan ijin pendirinya No. 2242/ 1. 52. B/ 4/ 1991 tanggal 5 Agustus 1991 dan berlaku sejak tanggal 1 Juni 1965 berdirilah SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

  Awal pendirian SMA Yos Sudarso Metro, Lampung masih menumpang di SD Xaverius Metro dengan jumlah siswa saat itu ada 35 orang. Tahun 1966 menjadi 85 orang tahun ke-3 yakni tahun 1967 menjadi 125 orang dengan lulusan pertama pada tahun 1968 ada 99 orang. pada tahun 1980 SMA Yos Sudarso pindah lokasi di Jalan Gunung Lawu 21 Polos Yosodadi. Semakin tahun SMA Yos Sudarso semakin banyak diminati oleh para pelajar. Mulai tahun 1999 mengalami kejayaan serta terkenal dengan kedisiplinannya. Bahkan sampai sekarang masih banyak diminati oleh para pelajar, jumlah kelulusan hingga saat ini mencapai 9395 orang yang tersebar di Propinsi Lampung dan sekitarnya. Dan pada pertengahan tahun 2009 SMA Yos Sudarso pindah tangan yang dulunya

  62

  2. Visi SMA Yos Sudarso Metro, Lampung

  Mewujudkan SMA Yos Sudarso sebagai lembaga pendidikan yang membentuk pribadi yang menuju tata kehidupan bersama yang unggul dalam intelektual, spritual, humanis dan terampil.

  3. Misi SMA Yos Sudarso Metro, Lampung a. Menciptakan komunitas sekolah yang hidup berlandaskan cinta kasih.

  b. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif agar siswa berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya.

  c. Menyelenggarakan pembelajaran sebagai upaya membentuk manusia muda yang memiliki kematangan emosi, berelasi, bersahabat sehingga memiliki rasa toleransi, suka menolong dan cakap berkomunikasi.

  d. Menyelenggarakan pendidikan dengan pelatihan keterampilan.

  e. Menyelenggarakan pendidikan untuk semua orang.

  f. Menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah.

  4. Peraturan Tata Tertib SMA Yos Sudarso Metro, Lampung

  Berikut ini beberapa peraturan tata tertib yang disusun, dimaksudkan sebagai upaya untuk menjamin tercapainya keamanan, ketertiban, ketentraman dan kedamaian di lingkungan sekolah sehingga dapat mendukung tercapainya tujuan penyelenggaraan sekolah.

  63

  a. Kehadiran di Sekolah

  1) Para siswa hadir di sekolah sepuluh menit sebelum jam belajar dimulai jam 07.15 WIB.

  2) Dalam hal terlambat, siswa perlu melapor kepada Kepala Sekolah atau guru piket ataupun kepada petugas atau karyawan sekolah untuk memperoleh ijin mengikuti pelajaran. 3) Dalam hal berhalangan hadir, siswa perlu mengirim surat permohonan ijin tidak masuk sekolah dengan sepengetahuan orang tua atau wali, serta mengirim surat keterangan dokter jika siswa sakit. 4) Dalam hal meninggalkan kompleks sekolah, untuk sementara, perlu ijin kepada guru piket. Untuk pulang perlu ijin kepada wakil kepala sekolah.

  b. Penampilan di Sekolah

  1) Para siswa wajib berpakaian seragam sekolah dengan rapi dan bersih. Hari senin s.d. selasa menggunakan baju putih berlengan pendek dan bawahan atau celana panjang warna abu-abu. Hari rabu s.d. kamis menggunakan seragam khusus dan hari jumat dan sabtu menggunakan seragam pramuka.

  2) Baju seragam dilengkapi dengan bagde OSIS dan tanda lokasi. 3) Calana atau rok seragam dilengkapi dengan ikat pinggang warna hitam. 4) Rambut disisir rapi dan bagi putra dipotong pendek (tidak gondrong). 5) Siswa tidak perlu mengenakan perhiasan dan siswa putri cukup bertata rias sederhana.

  64

c. Kegiatan Belajar-Mengajar

  1) Setiap hari kegiatan belajar-mengajar dimulai jam 07.15 WIB, diawali dengan doa bersama dan jam terakhir ditutup juga dengan doa bersama di bawah pimpinan guru. 2) Semua siswa wajib mengikuti semua mata pelajaran yang ditentukan kelasnya. Untuk kegiatan ekstrakulikuler yang ditentukan harus dilaksanakan dengan penuh perhatian dan penuh kesungguhan. 3) Kegiatan belajar-mengajar sedapat mungkin dilaksanakan dengan memberdayakan buku (paket) yang tersedia di perpustakaan yang masih relevan. 4) Dalam hal pelajaran olah raga praktik, siswa mengenakan seragam olah raga atau kaos yang ditentukan.

B. Metodologi Penelitian

  Untuk mengetahui situasi umum peranan Pendidikan Agama Katolik di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung, penulis mengadakan penelitian terlebih dahulu. Adapun metodologi penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Tujuan Penelitian

  Penelitian yang dilakukan penulis tidak hanya sekedar penelitian saja, namun memiliki tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini. Adapun tujuan yang akan dicapai untuk mengetahui:

  65

  a. Gambaran pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

  b. Perkembangan kepribadian siswa di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

  c. Sejauh mana peranan Pendidikan Agama Katolik terhadap perkembangan kepribadian siswa di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

  2. Manfaat Penelitian

  Adapun manfaat yang didapat dalam penelitian ini untuk memperoleh:

  a. Gambaran dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik bagi siswa kelas XI di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

  b. Peranan Pendidikan Agama Katolik di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

  c. Kegiatan untuk perkembangan kepribadian yang dilaksanakan untuk para siswa kelas XI di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

  3. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ex Post Facto.

  Jenis penelitian Ex Post Facto adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian melihat kembali ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut (Riduwan, 2010:50). Dan dalam penelitian menggunakan metode survei. Metode survei adalah metode penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari

  66

  4. Tempat dan Waktu Penelitian

  Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 19 s.d 20 Juli 2011 di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

  5. Responden Penelitian

  Responden dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Yos Sudarso Metro, Lampung periode 2010-2011 seluruhnya berjumlah 150 orang yang terbagi menjadi 5 kelas. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik

  

purposive sampling. Teknik purposive sampling digunakan penulis untuk

  mencapai tujuan-tujuan tertentu dalam pelaksanaan penelitian. Dalam purposive

  

sampling , pemilihan sekolompok subjek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat

  tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Sutrisno Hadi, 2004: 90).

  Teknik purposive sampling ini ditujukan untuk para siswa yang diwakili oleh kelas XI IPA dan XI IPS I sebagai sambel penelitian.

  Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Yos Sudarso Metro Lampung. Jumlah populasi yang di SMA Yos Sudarso Metro Lampung khususnya kelas XI ada 150 siswa. Dalam hal ini populasi yang akan diteliti adalah 60 orang dari jumlah keseluruhan siswa kelas XI sebagai sampel yang memenuhi syarat. Dengan pertimbangan pengambilan sampel 60 orang dari keseluruhan siswa kelas XI dilihat dari usia yang sejajar yang kemungkinan mempunyai karekter dan sifat yang sama.

  67

  6. Instrumen Penelitian Instrumen atau alat yang digunakan dalam penelitian adalah kuesioner.

  Kuesioner merupakan bentuk instrumen pengumpulan data yang mudah digunakan. Tujuan pembagian kuesioner kepada responden ialah untuk mencari informasi yang lengkap mengenai suatu masalah dan responden tanpa merasa khawatir bila responden memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam pengisisan daftar pertanyaan. Data yang diperoleh melalui penggunaan kuesioner adalah data yang dikategorikan sebagai data faktual. Kuesioner dalam penelitian bersifat semi tertutup artinya setiap pertanyaan telah disediakan jawaban yang dapat dipilih, tetapi juga memberi peluang kepada responden untuk menyampaikan usulan-usulan (Saifudin Azwar, 2009:101).

  7. Variabel Penelitian

  Dalam penelitian ini ada dua variabel yang hendak penulis teliti yakni peranan Pendidikan Agama Katolik dan perkembangan kepribadian siswa.

  Tabel I. Variabel Penelitian

No Variabel yang Aspek yang diungkap No. Jumlah

diungkap

  Soal (1) (2) (3) (4) (5)

1 Peranan PAK

  a. 1,2

  2 Hidup keagamaan siswa

  b. 3,4

  2 Motivasi siswa sekolah di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung c.

  5

  1 Sarana dalam pembelajaran PAK

  d. 6,7

  2 Metode dan sarana yang digunakan dalam pembelajaran PAK

  68 (1) (2) (3) (4)

2 Perkembangan Kepribadian a.

  1

  23

  24

  25

  26

  27

  1

  1

  2

  19

  1

  1

  1

  1 Jumlah item Keseluruhan

  27

  Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Dalam pengumpulan data penulis melakukan reduksi, yaitu menganalisa data secara keseluruhan dan bagian terkecil dalam data yang memiliki makna dikaitkan

  20 21,22

  Hal-hal yang mendukung terlaksananya PAK

  (5) g. Kekhasan PAK di Sekolah h. Materi PAK yang digunakan dalam pembelajaran i.

  2

  Kedudukan PAK di Sekolah j. Suasana yang dirasakan dalam pembelajaran PAK k.

  Sebelum dan sesudah pelajaran PAK berdoa terlebih dahulu Peranan PAK di Sekolah

  10,11 12,13

  14

  15

  16 17,18

  2

  1

  Kesulitan atau hambatan dalam mengikuti PAK h.

  1

  1

  2

  Proses perkembangan kepribadian b. Pelaksanaan kegiatan

  Perkembangan kepribadian yang dilaksanakan di Sekolah c. Manfaat perkembangan kepribadian d.

  Mampu memahami dan menerima kekurangan dan kelebihan orang lain e. Mampu bekerja sama dengan orang lain f.

  Peranan PAK terhadap perkembangan kepribadian g.

8. Teknik Pengumpulan Data

  69

  pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan. Pengelompokan ini bertujuan untuk menemukan arti data-data dengan cara menarik hubungan-hubungan sesuai dengan permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini (Moleong, 2007: 288).

C. Hasil Penelitian

  Pada bagian ini penulis akan melaporkan hasil penelitian dan pembahasaannya berdasarkan variabel penelitian seperti yang tercantum dalam variabel penelitian.

  1. Gambaran Pelaksanaan PAK di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

  Gambaran pelaksanaan pendidikan agama katolik terdiri dari berbagai macam proses kegiatan pembelajaran dan kegiatan rohani yang mengembangkan pribadi para siswa. Seperti materi, metode, sarana, situasi, keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran pendidikan agama katolik. Siswa diharapkan mengerti, memahami dan mengetahui sejauh mana proses pelaksanaan pendidikan agama katolik yang dijalankan dengan baik. Untuk mengetahui hal tersebut dapat dilihat dari hasil kuesioner pada tabel 2 di bawah ini:

  

Tabel 2 : Hidup Keagamaan Siswa (N=60)

  No Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah Persen Item

  (%) (1) (2) (3) (4) (5)

  1 Kegiatan sembayangan a.

  36

  60

  1 Kali atau pendalaman iman b.

  7

  11.67

  1.66

  38.33

  Selalu mengerjakan b.

  Sering mengerjakan c.

  Jarang mengerjakan d.

  Tidak pernah mengerjakan

  26

  23

  11

  43.33

  18.33

  3 Mengerjakan tugas tepat pada waktunya.

  a.

  Selalu bertanya b. Sering bertanya c. Jarang bertanya d. Tidak pernah bertanya

  22

  29

  8

  1

  36.66

  48.33

  13.33

  a.

  (%) (1) (2) (3) (4) (5)

  70

  Tidak pernah mengikuti

  (1) (2) (3) (4) (5) d.

  Tidak Pernah

  8

  13.33

  2 Mengikuti kegiatan wajib kerohanian di sekolah.

  a.

  Selalu mengikuti b.

  Sering mengikuti c.

  Jarang mengikuti d.

  28

  Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah Persen

  6

  14

  12

  46.66

  10

  23.33

  20 Ada 36 responden yang mengikuti 1 kali kegiatan sembayangan dalam 1 minggu (60%) dan 8 responden yang tidak pernah mengikuti sembayangan (13.33%). Sebanyak 28 responden selalu mengikuti kegiatan kerohanian di sekolah (46.66%) dan 12 responden yang tidak pernah mengikuti kegiatan di sekolah (20%).

  Tabel 3: Motivasi Siswa (N=60)

  No Item

  • 4 Bertanya ketika mengalami kesulitan dalam belajar.

  71 Ada 26 responden yang selalu termotivasi untuk selalu mengerjakan tugas

  a.

  6

  2

  11.66

  75

  10

  3.33

  7 Sarana yang mendukung, membantu pembelajaran Pendidikan Agama Katolik.

  LCD b. Televisi c. Tape d. Cerita bergambar

  7

  51

  3

  2

  4

  85

  5

  3.33

  45

  Sangat semangat b. Semangat c. Tidak semangat d. Sangat tidak semangat

  tepat pada waktunya (43.33%) sedangkan 11 responden jarang mengerjakan (18.33%). Ada 29 responden yang sering bertanya ketika mengalami kesulitan dalam belajar (48.33%) sedangkan 1 responden tidak pernah bertanya (1.66%).

  Tidak sama sekali

  Tabel 4: Metode dan Sarana (N=60)

  No Item

  Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah Persen (%)

  (1) (2) (3) (4) (5)

  5 Memanfaatkan fasilitas di sekolah untuk mengembangkan diri.

  a.

  Sangat Memanfaatkan b. Memanfaatkan c. Kadang-kadang memanfaatkan d.

  17

  a.

  30

  12

  1

  28.33

  50

  20

  1.66

  6 Metode Pendidikan Agama Katolik menumbuhkan semangat.

  6.66 Ada 30 responden mengatakan bahwa memanfaatkan fasilitas yang ada di sekolah untuk mengembangkan diri mereka (50%). Ada 45 responden yang menyatakan bahwa metode yang digunakan dalam pembelajaran PAK memberi semangat dalam proses pembelajaran (75%) dan 2 responden menyatakan bahwa metode yang digunakan tidak memberi semangat (3.33%). Ada 51 menyatakan

  72

  41.66

  37

  15

  Sangat baik b. Baik c. Cukup baik d. Kurang baik

  a.

  12 Penilaian terhadap materi Pendidikan Agama Katolik.

  6.66

  5

  45

  1

  4

  3

  25

  27

  Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

  a.

  11 Pendidikan Agama Katolik mengembangkan kepribadian dalam diri.

  7

  25

  8.33

  2

  12

  Sangat setuju

  14 Pendidikan Agama a.

  3.33

  5

  33.33

  58.33

  3

  61.66

  20

  35

  Ya b. Kadang-kadang c. Tidak d. Tidak sama sekali

  a.

  13 Materi Pendidikan Agama Katolik dapat diterima dan dipahami oleh murid.

  1.66

  11.66

  1.67

  30

  lebih untuk memahami pelajaran (85%) dan ada 2 responden menyatakan bahwa tape yang mendukung pembelajaran PAK karena siswa merasa kebingungan dalam memahami pelajaran (3.33%).

  36

  1.66

  1.66

  36.66

  60

  1

  1

  22

  Tidak menggugah d. Tidak sama sekali

  a.

  Ya, menggugah b. Kadang-kadang menggugah c.

  a.

  8 Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dapat menggugah penghayatan iman.

  (1) (2) (3) (4) (5)

  Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah Persen (%)

  No Item

  Tabel 5: Proses KBM Pelajaran Agama Katolik (N=60)

  9 Terlibat aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah.

  Selalu terlibat aktif b. Sering terlibat aktif c.

  60

  3.33

  1

  5

  18

  36

  Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

  a.

  10 Pendidikan Agama Katolik menumbuhkan penghayatan iman.

  28.33

  Jarang terlibat aktif d.

  35

  31.67

  2

  17

  21

  19

  Tidak Pernah terlibat aktif

  20

  73

  3.33

  1.66

  17 Pendidikan Agama Katolik mendorong untuk menolong dan peduli terhadap sesama.

  a.

  Ya b. Kadang-kadang c. Tidak d. Tidak sama sekali

  40

  16

  2

  2

  66.66

  25

  3.33

  31.66

  18 Pendidikan Agama Katolik membantu dalam memahami ajaran iman katolik.

  a.

  Sangat terbantu b. Terbantu c. Tidak terbantu d. Sangat tidak terbantu

  30

  24

  3

  3

  50

  40

  5

  3.33

  63.33

  (1) (2) (3) (4) (5) kedudukan yang sama dengan mata pelajaran yang lain.

  35

  c.

  Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

  12

  2

  20

  3.33

  15 Situasi dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Katolik.

  a.

  Sangat senang b. Senang c. Tidak Senang d. Sangat tidak senang

  18

  5

  1

  2

  30

  58.33

  8.33

  3.33

  16 Sebelum dan sesudah pembelajaran Pendidikan Agama Katolik selalu berdoa.

  a.

  Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

  38

  19

  2

  5 Sejumlah 36 responden menyatakan bahwa proses pembelajaran PAK mampu menggugah penghayatan iman (60%) sedangkan 1 responden menyatakan proses pembelajaran PAK tidak menggugah penghayatan iman (1.66%). 36 responden menyatakan setuju bahwa pembelajaran PAK mengembangkan penghayatan iman (60%). Ada 37 responden mengatakan materi PAK yang diterima di sekolah sudah baik dan sesuai dengan kebutuhan siswa (61.66%). Ada 35 responden mengatakan materi PAK yang disampaikan mudah dipahami dan dimengerti oleh siswa (58.33%). Sebagian dari responden menyatakan suasana dalam proses pembelajaran PAK menyenangkan, ada 35 (58.33% ) sedangkan 2

  74

  menyatakan sangat setuju jika sebelum dan sesudah pembelajaran PAK selalu berdoa terlebih dahulu (63.33%) . Sedangkan 40 responden menyatakan dengan pembelajaran PAK mendorong diri untuk peduli terhadap sesama yang ada disekitarnya 66.66%) dan 2 responden mengatakan bahwa PAK sama sekali tidak mendorong untuk peduli terhadap sesama (3.33%).

2. Perkembangan Kepribadian siswa SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

  

Tabel 6: Proses Perkembangan Kepribadian (N=60)

  Ya b. Ragu-ragu c. Tidak d. Tidak sama sekali

  86.66

  10

  1.66

  1.66

  21 Mengembangkan pribadi yang utuh sangat bermanfaat bagi proses kehidupan.

  a.

  52

  1

  5

  2

  1

  86.66

  8.33

  3.33

  1.66

  1

  6

  No Item

  11

  Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah Persen (%)

  (1) (2) (3) (4) (5)

  19 Perkembangan kepribadian terbentuk sejak manusia dilahirkan.

  a.

  Ya b. Ragu-ragu c. Tidak d. Tidak sama sekali

  37

  10

  2

  52

  61.66

  16.66

  18.33

  3.33

  20 Pelaksanaan kegiatan di sekolah sebagai sarana mengembangkan kepribadian.

  a.

  Pada bagian ini, penulis ingin mengetahui sejauh mana pendidikan agama katolik mempunyai peranan dalam perkembangan kepribadian siswa. Hal ini dapat dilihat dari jawaban responden dalam bentuk tabel dibawah ini:

  Ya b. Ragu-ragu c. Tidak d. Tidak sama sekali

  75

  83.33

  1.66

  6.66

  90

  1

  1

  4

  54

  Tidak sama sekali

  Ya b. Ragu-ragu c. Tidak

  a.

  24 Menjalin kerjasama penting bagi perkembangan diri.

  1.66

  1.66

  13.33

  1

  (1) (2) (3) (4) (5) kepribadian mampu menumbuhkembangkan kesadaran bagi perkembangan iman dan mampu bekerja sama serta bertanggungjawab.

  1

  8

  50

  Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

  a.

  23 Menerima kekurangan dan kelebihan orang lain adalah sikap terpuji.

  1.66

  8.33

  46.66

  1

  5

  28

  Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

  b.

  1.66 Sejumlah 37 responden mengatakan ya bahwa proses perkembangan kepribadian terbentuk sejak manusia dilahirkan (61.66%) sedangkan 2 responden mengatakan bahawa perkembangan kepribadian tidak terbentuk sejak manusia dilahirkan (3.33%). Sebagian besar 52 responden mengatakan kegiatan yang ada di sekolah merupakan sarana untuk mengembangkan kepribadian (86.66%). Ada 52 responden menyatakan ya bahwa mengembangkan pribadi yang utuh bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari (86.66%). Ada 50 responden mengatakan sangat setuju bahwa Menerima kekurangan dan kelebihan orang lain adalah sikap terpuji (83.33%) sedangkan 1 mengatakan sangat tidak setuju (1.66%). 54 responden mengatakan ya bahwa menjalin kerjasama sangat penting bagi perkembangan diri (90%).

  76 Tabel 7: Hambatan dan Hal yang Mendukung Perkembangan Kepribadian

(N=60)

  No Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah Persen Item

  (%) (1) (2) (3) (4) (5)

  25 Pendidikan Agama katolik a.

  51

  85 Ya berperan penting dalam b.

  3

  5 Ragu-ragu perkembangan c.

  5

  8.33 Tidak kepribadian, misalnya d.

  1

  1.66 Tidak sama proses pembelajaran, sekali metode, materi dan sarana yang digunakan dalam proses pembelajaran.

  26 Kesulitan yang dijumpai a.

  20

  33.33 Ya dalam proses b.

  15

  25 Ragu-ragu pembelajaran Pendidikan c.

  22

  36.66 Tidak Agama Katolik d.

  3

  5 Tidak sama mempengaruhi sekali perkembangan Kepribadian, misalnya misalnya metode, materi dan sarana yang digunakan dalam proses pembelajaran

  27 Pembelajaran PAK sangat a.

  50

  83.33 Ya mendukung dalam b.

  5

  5 Ragu-ragu perkembangan c.

  10

  10 Tidak kepribadian. misalnya d.

  1

  1.66 Tidak sama suasana, metode, materi, sekali sarana dan sikap guru dalam proses pembelajaran.

  Sejumlah 51 responden mengatakan ya bahwa Pendidikan Agama katolik berperan penting dalam perkembangan kepribadian (85%). Sebagian besar responden mengatakan ya bahwa Pembelajaran PAK sangat mendukung dalam

  77

  perkembangan kepribadian ada 50 (83.33%) dan 1 (1.66%) bahwa PAK tidak mendukung dalam perkembangan kepribadian.

D. Pembahasan Hasil Penelitian

  Dari 60 kuesioner hasil penelitian yang diseleksi dari kelas XI IPA dan XI

  IPS I, akan termuat dalam pembahasan penelitian di bawah ini:

1. Pelaksanaan PAK di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung

  a. Hidup Keagamaan Siswa Dalam Tabel 2 kegiatan sembayangan atau pendalaman iman diikuti siswa dalam seminggu. Yang menjawab 1 kali dalam satu minggu ada 36 responden

  (60%). Jawaban tersebut dapat bersifat representatif artinya mewakili pernyataan secara keseluruhan. Dapat dikatakan dalam hal ini siswa umumnya mempunyai kerinduan untuk mengikuti kegiatan lingkungan yang setidaknya 1 kali mereka ikuti dalam satu minggu, sedangkan ada 8 responden mengatakan tidak pernah mengikuti kegiatan sembayangan atau pendalaman iman (13.33%). Hal ini terjadi karena mereka malas untuk mengikuti kegiatan tersebut karena adanya kegiatan yang lebih penting dan menarik bagi mereka dibandingkan mengikuti kegiatan pendalaman iman yang terkadang membosankan sehingga mereka lebih memilih untuk tidak pernah mengikuti pendalaman iman.

  Kegiatan kerohanian selalu dikuti siswa di sekolah. Responden memilih jawaban selalu mengikuti sebanyak 28 responden (46.66%). Hal ini memberikan gambaran bahwa siswa SMA Yos Sudarso Metro, sebagian besar mempunyai

  78

  sebagai sarana untuk mengembangkan hidup keimanan mereka, sedangakan 12 responden tidak pernah mengikuti kegiatan yang diadakan sekolah (20%). Dalam hal ini dikatakan bahwa para siswa tidak mau mengikuti kegiatan dengan alasan, misalnya kegiatannya monoton serta kurangnya kerinduaan para siswa untuk dekat dengan Tuhan, sehingga mereka memutuskan untuk tidak pernah mengikuti kegiatan tersebut.

  b. Motivasi Siswa Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa siswa mengerjakan tugas tepat pada waktunya. 26 responden yang memberikan jawaban selalu mengerjakan (43.33%).

  Hal ini mencerminkan bahwa siswa mempunyai motivasi untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga mereka mempunyai kesadaran untuk mengerjakan tugas yang diberikan kepada mereka tepat pada waktunya, sedangkan 11 responden yang memberikan jawaban jarang mengerjakan (18.33%). Hal ini mencerminkan siswa kurang mempunyai kesadaran pentingnya terlibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga mereka tidak semangat dalam mengerjakan tugas. Tetapi dalam pernyataan ini tidak ada siswa yang menjawab tidak pernah mengerjakan tugas sekolah. jadi dapat dikatakan bahwa sebagian besar siswa mengalami kesadaran penuh dalam mengikuti pelajaran Pendidikan agama katolik.

  Siswa bertanya kepada guru atau teman ketika mengalami kesulitan dalam belajar. 29 responden yang memberikan jawaban sering bertanya ketika mengalami kesulitan (48,33%). Dapat dikatakan bahwa siswa mempunyai

  79

  mengerti apa yang mereka pelajari, dalam hal ini siswa mempunyai nilai tambah karena keaktifan mereka, sedangkan 1 responden yang menjawab tidak pernah bertanya ketika mengalami kesulitan dalam belajar (1.66%). Dapat dikatakan siswa mengalami keminderan dalam mengunggkapkan apa yang dialami sehingga siswa ini hanya diam ketika mengalami kesulitan. Dapat dikatakan bahwa siswa di SMA Yos Sudarso Metro mempunyai keinginan untuk meraih prestasi belajar yang luar biasa selain itu siswa mempunyai pribadi yang dapat diandalkan.

  c. Metode dan Sarana Siswa mempunyai keterampilan yang ingin dikembangkan sesuai dengan pernyataan memanfaatkan fasilitas di sekolah untuk mengembangkan diri. Dari pernyataan diatas ternyata ada 30 responden yang menjawab memfaatkan fasilitas di sekolah (50%), sedangkan 1 responden yang menjawab sama sekali tidak memanfaatkan fasilitas di sekolah (1.66%). Hal ini memberikan gambaran bahwa melalui berbagai macam fasilitas yang disediakan sekolah, sebagian siswa memanfaatkan dan merasa terbantu dengan berbagai fasilitas yang disediakan untuk mengembangkan keterampilan yang ada dalam diri mereka.

  Keberhasilan pendidikan agama katolik melalui metode seperti dalam pernyataan bahwa metode pendidikan agama katolik menumbuhkan semangat.

  Dari pernyataan tersebut 45 responden yang menyatakan bahwa metode yang digunakan dapat menumbuhkan semangat para siswa (75%), sedangakan 2 responden yang mengatakan metode pendidikan agama katolik sama sekali tidak menumbuhkan semangat siswa (3.33%). Jelas dapat dikatakan bahwa dari

  80

  mempunyai metode-metode yang dapat menumbuhkan semangat bagi para siswa dalam mengikuti proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

  Siswa semakin terbantu dalam belajar seperti dalam pernyataan yang menyatakan sarana yang mendukung, membantu dalam pembelajaran pendidikan agama katolik. 51 responden menyatakan bahwa LCD merupakn sarana yang sangat mendukung dan membantu dalam pembelajaran (85%), sedangkan 2 responden menyatakan tape yang sangat mendukung dan membantu proses pembelajaran (3.33%). Dari pernyataan diatas dapat dilihat dengan jelas bahwa perkembangan teknologi juga mempengaruhi proses pembelajaran, dalam hal ini adalah LCD yang dominan membuat para siswa lebih mengerti pelajaran ketimbang menggunakan sarana lainnya seperti televisi, tape dan cerita bergambar.

  d. Proses KBM Pelajaran Agama Katolik Pendidikan agama katolik menggugah penghayatan iman. 36 responden menjawab bahwa pendidikan agama katolik itu dapat menggugah penghayatan iman (60%), dapat dikatakan jawaban tersebut sudah mewakili sebagian siswa. siswa sudah menyadari bahwa pendidikan agama katolik mampu menguatkan hidup keimanan mereka yang selama ini belum mereka kembangkan secara optimal, sedangkan 1 responden yang mengatakan bahwa pendidikan agama katolik tidak menggugah penghayatan iman (1.66%). Dapat dikatakan hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran para siswa untuk mengembangkan hidup keimanan mereka sehingga ketika mendapatkan pembelajaran mengenai

  81

  menyadari bahwa pendidikan agama katolik menggugah penghayatan iman mereka.

  Keterlibatan siswa secara aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sejumlah 21 responden yang mengatakan sering terlibat aktif dalam proses belajar mengajar di sekolah (35%), sedangkan 2 responden mengatakan tidak pernah terlibat aktif dalam proses mengajar di sekolah (3.33%), para siswa hanya berangkat sekolah tanpa memikirkan pentingnya memperhatikan pelajaran. Tetapi sebagian dari siswa sudah menyadari perlunya terlibat aktif dalam proses pembelajaran, karena menurut mereka hal ini merupakan salah satu kesempatan untuk mengembangkan diri mereka.

  Pendidikan agama katolik menumbuhkan penghayatan iman, ini terlihat dari jawaban responden. 36 responden mengatakan sangat setuju (60%) dan 1 responden yang mengatakan sangat tidak setuju bahwa pendidikan agama katolik menumbuhkan penghayatan iman (1.66%). Hal ini tampak bahwa siswa merasa imannya semakin dikuatkan setelah mengikuti pendidikan agama katolik.

  Pendidikan agama katolik mengembangkan kepribadian dalam diri siswa untuk semakin mendewasakan diri siswa. Sejumlah 27 Responden mengatakan sangat setuju (45%), sejumlah 25 responden menyatakan setuju (41.66%) dan 3 responden menyatakan sangat tidak setuju bahwa pendidikan agama katolik mengembangkan kepribadian dalam diri mereka (5%). Disini dapat mengatakan bahwa para siswa menyadari bahwa pendidikan agama katolik membantu mereka dalam mengembangkan kepribadian dan kedewasaan dalam diri mereka.

  82 Penilaian siswa terhadap materi pendidikan agama katolik seperti dalam

  pernyataan penilaian terhadap materi pendidikan agama katolik. Dari pernyataan tersebut ternyata 37 responden lebih banyak menjawab baik (61.66%) sedangkan 1 responden menjawab kurang baik (1.66%). Hal ini memberi gambaran bahwa materi pendidikan agama katolik sudah baik dan mendukung para siswa dalam mengikuti proses pembelajaran pendidikan agama katolik.

  Penyampaian materi pendidikan agama katolik mengalami keberhasilan seperti dalam pernyataan bahwa materi pendidikan agama katolik dapat diterima oleh murid. 35 responden yang menyatakan ya bahwa materi pendidikan agama katolik dapat diterima oleh murid (58%), sedangkan 2 responden menyatakan bahwa materi pendidikan agama katolik sama sekali tidak dapat diterima oleh murid (3.33%). Pada pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa materi pendidikan agama katolik dalam pembelajaran di sekolah sudah mengalami kemajuan dan keberhasilan, hal ini terbukti bahwa materi pendidikan agama katolik dapat diterima oleh murid dengan baik.

  Pendidikan agama katolik memiliki kedudukan yang sama dengan mata pelajaran lainnya. 34 responden menyatakan setuju bahwa pendidikan agama katolik itu mempunyai kedudukan yang sama dengan pelajaran yang lainnya (56.66%), sedangkan 2 responden menyatakan sangat tidak setuju bahwa pendidikan agama katolik memiliki kedudukan yang sama dengan mata pelajaran yang lain (3.33%). Hal ini dapat dikatakan bahwa pendidikan memang sama dengan mata pelajaran yang lain. Sama-sama mendidik siswa dan menjadi bagian

  83 Situasi dalam mengikuti pelajaran pendidikan agama katolik, hal ini

  terlihat dari jawaban responden. Sejumlah 35 responden menyatakan senang dalam mengikuti pelajaran pendidikan agama katolik (58.33%), sedangkan 2 responden menjawab sangat tidak senang (3.33%). Melihat kenyataan yang terjadi tampak bahwa siswa senang dalam mengikuti pelajaran pendidikan agama katolik.

  Siswa mulai menyadari pentingnya berelasi dengan Tuhan maka sebelum dan sesudah pembelajaran pendidikan agama katolik selalu berdoa. ada 38 responden menjawab sangat setuju bahwa sebelum dan sesudah pelajaran berdoa (63.33%), sedangkan 1 responden menyatakan sangat tidak setuju jika sebelum dan sesudah pelajaran berdoa (1.66%). Dengan situasi ini dapat dikatakan bahwa para siswa sudah menyadari bahwa berelasi dengan Tuhan itu sangat penting, mereka mengerti dengan berdoa maka kegiatan mereka semakin dimudahkan dan dilancarkan sehingga dengan kekuatan doa mereka merasa terbantu dalam setiap karya mereka.

  Pendidikan agama katolik mendorong untuk peduli terhadap sesama yang ada disekitarnya. Pada pernyataan 40 responden menyatakan ya bahwa pendidikan agama katolik mengajari mereka untuk peduli terhadap sesama yang mengalami kesulitan (66.66%), hal ini merupakan manusia sudah mempunyai kedewasaan secara manusiawi. Hal ini terlihat dalam kepedulian mereka terhadap sesama yang ada disekitarnya, sedangkan 2 responden menyatakan bahwa pendidikan agama katolik tidak mendorong hati mereka untuk peduli terhadap sesama disekitar yang sedang mengalami kesulitan (3.33%). Disini ingin menyampaikan bahwa para

  84

  sikap peduli terhadap sesama yang sedang membutuhkan uluran tangan kita, karena ditanamkan ajaran kasih sehingga membuat para siswa menyadari masih banyak orang yang membutuhkan bantuan mereka, kesadaran siswa yang ingin membantu sesama yang membutuhkan ini mencerminkan pribadi yang sempurna.

  Siswa belajar untuk memahami ajaran iman katolik seperti dalam pernyataan bahwa pendidikan agama katolik membantu para siswa dalam memahami ajaran iman katolik. 30 responden merasa sangat terbantu bahwa pendidikan agama katolik membantu mereka untuk memahami ajaran iman katolik (50%), sedangkan 3 responden menyatakan bahwa sangat tidak terbantu dalam memahami ajaran iman katolik (5%). Disini terlihat sangat jelas bahwa sebagian besar responden merasa bahwa pelajaran pendidikan agama katolik membantu mereka dalam memahami ajaran iman katolik, sehingga siswa terbentuk hidup keimanan mereka melalai pelajaran pendidikan agama katolik.

2. Perkembangan Kepribadian siswa SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

  a. Proses Perkembangan Kepribadian Dari 60 responden, hasil jawaban responden pada tabel 6 menunjukkan bahwa 37 responden mengatakan ya bahwa perkembangan kepribadian terbentuk sejak manusia dilahirkan (61.66%), sedangkan 2 responden menjawab tidak sama sekali bahwa perkembangan kepribadian terbentuk sejak manusia dilahirkan (3.33%). Jawaban responden sangat mewakili pernyataan di atas bahwa

  85

  sejak manusia dilahirkan dan bagaimana manusia itu mengembangkan menjadi pribadi yang matang.

  Kegiatan pengembangan diri yang diadakan sekolah adalah salah satu sarana untuk mengembangkan kepribadian siswa melalui pendidikan di sekolah.

  Sejumlah 52 responden yang menjawab ya ada bahwa kegiatan di sekolah sebagai sarana untuk mengembangkan pribadi (86.66%), sedangkan 1 responden menyatakan bahwa kegiatan di sekolah tidak sama sekali sebagai sarana untuk mengembangkan pribadi siswa (1.66%). Dari pernyataan diatas, dapat dikatakan bahwa perkembangan kepribadian juga terbentuk melalui kegiatan-kegiatan yang mengembangkan salah satunya kegiatan yang ada di sekolah.

  Mengembangkan pribadi yang utuh sangat bermanfaat bagi proses kehidupan anda dalam hidup yang anda jalani sehari-hari. Sejumlah 52 responden yang menjawab ya bahwa mempunyai pribadi yang utuh bermanfaat bagi kehidupan mereka (86.66%), sedangkan responden 1 menyatakan tidak sama sekali bermanfaat bagi kehidupan (1.66%). Sebagian besar responden sudah mempunyai pribadi yang baik sehingga mereka dapat merasakan hal itu bermanfaat bagi kehidupan mereka sehari-hari.

  Manfaat perkembangan kepribadian ialah semakin menumbuhkan kembangkan kesadaran untuk memperkembangkan iman Kristiani agar dapat menjadi seorang yang mampu bekerja sama dan tanggungjawab atas hidupnya. Sejumlah 28 responden yang menyatakan setuju (46.66%) sedangkan 1 responden menyatakan sama sekali tidak setuju bahwa mengembangkan

  86

  menyampaikan bahwa para responden sudah merasakan bahwa mengembangkan kepribadian itu dapat mengembangkan pribadi mereka, hal ini karena kesadaran dengan mempunyai kepribadian yang baik itu membuat mereka juga tergerak untuk mengembangkan iman mereka, mereka berfikir tidak hanya pribadinya yang matang namun kehidupan imannya juga matang sehingga keduanya dapat seimbang.

  Menerima kekurangan dan kelebihan orang lain adalah sikap terpuji. Dari pernyataan ini banyak yang menjawab sangat setuju, hal ini dapat dilihat dari jawaban responden. Sejumlah 50 Responden menyatakan sangat setuju (88.33%), sedangkan 1 responden menyatakan sangat tidak setuju menerima kekurangan dan kelebihan orang lain (1.66%). Terlihat jelas responden menghargai orang lain sesuai dengan keadaan mereka tanpa memandang hal yang lainnya, karena hal tersebut merupakan sikap terpuji yang harus dikembangkan dalam kehidupan mereka dengan demikian pribadi mereka juga semakin dimantapkan.

  Kerjasama penting bagi perkembangan diri. Ada 54 responden yang menjawab ya (90%), sedangkan 1 responden yang memberikan jawaban itu sedangkan responden menyatakan hal itu sangat tidak penting (1.66%). Kerjasama memang penting dalam proses kehidupan ini tanpa membangun kerjasama dengan orang lain manusia sama saja tidak bisa hidup, karena manusia hidup membutuhkan kerjasama orang lain.

  b. Hambatan dan Hal yang Mendukung Perkembangan Kepribadian Pendidikan agama katolik mempunyai peranan yang sangat penting dalam

  87

  menyatakan ya. pendidikan agama katolik mempunyai peran yang penting dalam perkembangan kepribadian (85%), sedangakan 1 responden menyatakan tidak sama sekali bahwa pendidikan agama katolik tidak mempunyai peran penting dalam perkembangan kepribadian (1.66%). Dengan melihat sebagian responden yang menyatakan pendidikan agama katolik mempunyai peranan dalam mengembangkan kepribadian, hal itu memang dapat dirasakan bahwa ada dampak yang mencerminkan demikian.

  Kesulitan yang anda jumpai dalam mengikuti proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian anda, misalnya misalnya metode, materi dan sarana yang digunakan dalam proses pembelajaran. Sejumlah 22 responden menyatakan tidak, bahwa kesulitan dalam mengikuti pembelajaran pendidikan agama katolik dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian (36.66%), sedangkan 3 responden menyatakan bahwa keslitan dalam mengikuti pembelajaran pendidikan katolik tidak sama sekali dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian (5%). Dari pernyataan diatas menyampaikan bahwa kesulitan dalam belajar tidak mempengaruhi dalam perkembangan kepribadian, tetapi terkadang juga mempengaruhi perkembangan kepribadian, karena ketika mengalami kesulitan emosi juga ada yang tidak bisa terkontrol.

  Proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik yang diterima sangat mendukung dalam memperkembangkan kepribadian anda, misalnya suasana, metode, materi, sarana dan sikap guru dalam proses pembelajaran. Sejumlah 50

  88

  memperkembangkan kepribadian yang dilihat dari segi suasana, metode, materi dan lain-lain (83.33%), sedangkan 1 responden menyatakan bahwa pendidikan agama katolik tidak sama sekali mendukung dalam memperkembangkan kepribadian (1.66%). Dalam penyataan ini sangat jelas sebagian besar responden mengatakan bahwa pendidikan agama katolik sangat mendukung perkembangan kepribadian mereka.

  Jika ada kekurangan dari hasil penelitian ini, hal tersebut merupakan keterbatasan penelitian ini. Mungkin untuk mengetahui lebih jelas lagi dapat diteliti pada penelitian berikutnya.

BAB V PENUTUP Pada bagian penutup penulis mengemukakan beberapa hal sebagai

  kesimpulan dari keseluruhan isi skripsi. Selain itu penulis juga menyampaikan saran yang diharapkan dapat berguna bagi siapa saja yang terlibat dalam proses pembelajaran pendidikan agama katolik yang diselenggarakan di SMA Yos Sudarso Metro, Lampung.

A. KESIMPULAN

  1. Pendidikan yang diselenggarakan di sekolah merupakan salah satu usaha untuk membantu seseorang untuk dapat berkembang secara utuh ke arah hidup yang lebih baik, baik iman maupun kepribadiannya. Pendidikan Agama Katolik (PAK) sebagai pendidikan iman tidak hanya memperhatikan segi intelektual, pemahaman siswa, tetapi juga mengolah hidup keimanan maupun pribadi siswa. PAK yang dilaksanakan di sekolah merupakan upaya yang membantu para siswa untuk menghayati imannya sehingga para siswa mempunyai kepribadian yang utuh dan mampu hidup dalam masyarakat. Proses pembelajaran agama katolik yang dilaksanakan di sekolah merupakan salah satu titik awal untuk pembentukan manusia secara utuh baik hidup kerohanian maupun kepribadiannya. Pelaksanaan proses pembelajaran PAK harus sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga siswa mudah untuk memahaminya serta menerapkan dalam hidupnya. Perlu usaha

  90

  dewasa dalam iman, tindakan sehari-hari, berani bersikap jujur serta bertanggungjawab atas hidup yang telah dianugerahkan Tuhan atas dirinya.

  2. Perkembangan Kepribadian siswa adalah merupakan proses yang panjang untuk membantu siswa SMA untuk belajar menjadi manusia yang dewasa dan mampu menghadapi segala permasalahan yang dihadapinya dengan mengolah segala aspek pribadi. Upaya yang dilakukan untuk membantu siswa dalam mengembangkan kepribadiannya dapat dilakuka melalui kesadaran pribadi itu sendiri dengan mengolah aspek pribadi. Selain itu juga dapat dilakukan dengan bantuan orang lain, misalnya pihak sekolah, guru dan teman yang mengarahkan siswa pada pencapaian perkembangan kepribadiannya.

  3. Berdasarkan dari hasil penelitian mengenai pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik (PAK) dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pendidikan agama katolik sudah baik, dari materi, metode, sarana, keterlibatan siswa serta kesadaran siswa dalam mengikuti proses pembelajaran PAK. Melalui pembelajaran PAK siswa merasa terbantu dan termotivasi untuk semakin berkembang dalam iman maupun kepribadian mereka dan hal ini perlu ditingkatkan secara terus-menerus. Guru dituntut untuk menyiapkan metode pembelajaran yang kreatif dan menarik yang dapat memotivasi siswa agar lebih bersemangat untuk mengikuti keseluruhan proses pembelajaran.

  Sarana yang mendukung dalam proses pembelajaran pendidikan agama katolik juga harus dipersiapkan secara matang oleh guru sehingga siswa

  91

  semakin berkembang pribadinya sehingga mampu mewujudkan dalam hidup sehari-hari dalam masyarakat.

B. SARAN

  Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan saran sehubungan dengan peningkatkan pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama katolik demi mengembangkan kepribadian siswa.

  1. Bagi Sekolah

  a. Perlu adanya pembinaan dan pendampingan bagi guru PAK semakin kreatif, sehingga membantu siswa berkembang dari segi intelektual, iman dan pribadinya untuk mengembangkan proses pembelajaran yang optimal.

  b. Perlu menyediakan sarana-sarana yang mendukung proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik (PAK) untuk mengembangkan kepribadian siswa.

  2. Bagi Guru

  a. Guru perlu menciptakan kelas sebagai komunitas belajar dan menerapkan komponen kepribadian dalam proses pembelajaran yang disesuaikan dengan keadaan siswa sehingga dapat membantu siswa dalam proses pengembangan kepribadiannya.

  b. Guru menggunakan rencana pelaksanaan pembelajaran yang bisa dipakai sesuai dengan materi PAK kelas XI yang dilaksanakan sekolah dan menerapkan komponen kepribadian, terdiri dari silabus dan contoh rencana pelaksanaan pembelajaran (Lampiran 3 dan 4).

  92

  3. Bagi Siswa SMA Perkembangan kepribadian tidak hanya dilakukan secara eksternal yaitu melalui orang lain yang ada disekitar, tetapi perkembangan kepribadian akan semakin terbentuk dengan adanya kesadaran dari dirinya sendiri.

  

DAFTAR PUSTAKA

Adisusanto, F.X. (2000). Katekese sebagai Pendidikan Iman. Yogyakarta: Puskat.

  Alwisol. (2008). Psikologi Kepribadian. Malang: UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah. Beeby. C. E. (1987). Pendidikan di Indonesia. Jakarta: LP3ES anggota IKAPI. Chadwick. A. Bruce. dkk. (1991). (Sulistia. dkk, penerjemah). Metode Penelitian Ilmu Pengetahuan Sosial . Semarang: IKIP Semarang Press. Duane Schultz. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius. Driyarkara, N. (1996). Driyarkara Tentang Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius. Groome. Thomas H. (2010). (Daniel Stefanus, penerjemah) Christian Religious Education. Jakarta: Gunung Mulia. Honey Peter. (1985). Memecahkan Persoalan Pribadi. Jakarta: ARCAN. Heryatno Wono Wulung. F.X. (2008). Diktat Mata Kuliah Pengantar PAK Sekolah.

  Yogyakarta: IPPAK Universitas Sanata Dharma. _______. (2008). Pokok-pokok Pendidikan Agama Katolik. Yogyakarta: IPPAK Universitas Sanata Dharma.

  Hurlock, B. Elizabeth. (1990). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga. Kartini Kartono. (1980). Teori Kepribadian. Bandung: Percetakan Offset Alumni. Komisi Kateketik Konferensi Wali Gereja Indonesia. (2007). Silabus Pendidikan

  Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Atas SMA/SMK . Yogyakarta: Kanisius.

  _______. (2007). Perutusan Murid-murid Yesus Yogyakarta: Kanisius Malik Fadjar, A. (2003). Undamg-Undang RI No. 20 Tahun 2003: Tentang Pendidikan Nasional . Jakarta: Mendiknas.

  Mangunhardjana, A.M. ( 1981). Mengatasi Hambatan-hambatan Kepribadian.

  Yogyakarta: Kanisius. Mardiatmadja, B.S. (1986). Tantangan Dunia Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius. Maslow. Abraham H. (1984). Motivasi dan Kepribadian. Jakarta: Gramedia. Moleong, M.A. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: PT Remaja Rosdakarya.

  Monks. F. J. dkk. (2001). Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Pres. Paulus Budiraharjo. (1997). Mengenal Teori Kepribadian Mutakir. Yogyakarta: Kanisius. Riduwan. (2007) Belajar Mudah Penelitian untuk: Guru, Karyawan, dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta.

  94 Ryanto Theo. (2002). Pembelajaran Sebagai Proses Bimbingan Pribadi. Jakarta: Grasindo.

  Saifudin Azwar, MA., Dr. (2009). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Seri Puskat 3. (1972). Kedewasaan Manusiawi dan Kedewasaan Kristiani.

  Yogyakarta: Pradnjawidya. Setyakarjana, J. (1982). Pelajaran Agama Katolik Di Sekolah. Yogyakarta: Pradnyawidya.

  Sewaka. A. (1991). Ajaran dan Pedoman Gereja Tentang Pendidikan Katolik.

  Jakarta: Grasindo. Sujanto Agus. dkk. (1986). Psikologi Kepribadian. Jakarta: AKSARA BARU. Sumadi Suryabrata. (1993). Psikologi Kepribadian. Jakarta: CV. Rajawali. _______. (1993). Psikologi Pendidikan. Jakarta Utara: Grafindo Persada. Supratiknya. A. (1993). Teori-teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius. Suprihadi Sastrosupono. M. (1979). Etika dan Kepribadian. Semarang: SATYA WACANA.

  Supriyati, Yulia. (2001). Pengantar Pendidikan. Diktat Mata Kuliah untuk Mahasiswa Semester I, Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Tangdilintin, Philip. (1984). Pembinaan Generasi Muda Visi dan Latihan. Jakarta: Obor. Tarmudji Tarsis. (1998). Pengembangan Diri. Yogyakarta: Liberty. Widyarta, B. (1971). Beberapa Gagasan Tentang Kepribadian Yang Masak.

  Yogyakarta.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

pengaruh pendidikan agama islam terhadap akhlak siswa SMA Negeri 51 Jakarta
4
29
93
Peranan pendidikan agama islam dalam pembentukan kepribadian siswa di SMP Negeri 66 Kebayoran Lama Jakarta Selatan
1
19
57
Pemahaman tentang pacaran yang sehat pada siswa kelas X SMA Yos Sudarso Cilacap tahun ajaran 2015/2016 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan.
0
2
86
Deskripsi kemampuan komunikasi interpersonal siswa kelas Xi SMA Yos Sudarso Cilacap tahun ajaran 2015/2016 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan klasikal.
0
0
84
Peranan Pendidikan Agama Katolik (PAK) di sekolah bagi perkembangan tanggung jawab siswa kelas XI SMA Stella Duce II Yogyakarta.
2
30
126
Peranan Pendidikan Agama Katolik di sekolah terhadap perkembangan iman siswa kelas VIII SMP Negeri I Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
0
1
156
Hubungan persepsi guru tentang supervisi akademik dengan kinerja guru di SMA Yos Sudarso Sokaraja - USD Repository
0
1
122
Perbandingan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika di kelas XI SMA yang dikelola oleh dua orang guru - USD Repository
0
0
161
Partisipasi siswa SMA Bopkri I Yogyakarta kelas XI IPA tahun pelajaran 2008-2009 dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah demi perkembangan diri - USD Repository
0
0
89
Ciri-ciri kepribadian guru pembimbing yang dianggap perlu oleh siswa kelas XI SMA Kristen I Surakarta tahun ajaran 2006/2007 - USD Repository
0
0
109
Pengaruh pendidikan iman dalam keluarga terhadap pestasi belajar pendidikan agama Katolik siswa kelas XI di SMU Pangudi Luhur Santo Yohanes Ketapang Kalimantan Barat tahun ajaran 2009-2010 - USD Repository
0
0
129
Deskripsi tingkat kecemasan berbicara di depan kelas siswa kelas X dan kelas XI SMA Fransiskus Bandar Lampung tahun ajaran 2009/2010 - USD Repository
0
1
157
Sumbangan media audiovisual dalam proses pembelajaran pendidikan agama Katolik di SMA Pangudi Luhur Sedayu - USD Repository
0
2
187
Studi deskriptif pengambilan keputusan siswa SMA kelas XI dalam memilih jurusan - USD Repository
0
0
110
Pendidikan agama Katolik dalam upaya mengembangkan sikap solider siswa kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta - USD Repository
0
4
139
Show more