Majas perbandingan dalam kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! Karya Djenar Maesa Ayu - USD Repository

Gratis

0
1
106
9 months ago
Preview
Full text

MAJAS PERBANDINGAN DALAM KUMPULAN CERPEN

  

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  

Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah

Disusun oleh:

Paulina Sukmana Puti

  

091224056

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

SKRIPSI MAJAS PERBANDINGAN DALAM KUMPULAN CERPEN

  Disusun oleh:

  Paulina Sukmana Puti NIM: 09 1224 056

  Telah disetujui oleh: Tanggal, 23 Juli 2013

  Pembimbing Prof. Dr. Pranowo

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

SKRIPSI MAJAS PERBANDINGAN DALAM KUMPULAN CERPEN

  Oleh:

  Paulina Sukmana Puti NIM: 09 1224 056

  Telah dipertahankan di depan panitia penguji pada tanggal 14 Agustus 2013 dan telah dinyatakan memenuhi syarat

  Susunan Panitia Penguji Nama Lengkap

  Ketua : Dr. Yuliana Setiyaningsih Sekretaris : Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum.

  Anggota : Prof. Dr. Pranowo Anggota : Dr. Y. Karmin, M.Pd.

  Anggota : Setya Tri Nugraha, S.Pd., M.Pd.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Skripsi ini saya persembahkan untuk Tuhan Yesus

Kristus, kedua orang tuaku, kedua kakakku, dan Antonius

yang selalu menyertai perjalanan hidup saya sejak awal

hingga saat ini.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

MOTTO

Teruslah berjuang meskipun banyak orang yang meremehkanmu

karena Tuhan selalu mendampingi walau terkadang jalan yang Dia

berikan tidak mulus.

  

(Paulina S.P)

Keluarga adalah kompas yang memandu (arah) kita. Ia adalah

inspirasi untuk mencapai puncak, yang menghibur saat kita

goyah.

(Brad Henry)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Paulina Sukmana Puti NIM : 09 1224 056

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: MAJAS PERBANDINGAN DALAM KUMPULAN CERPEN MEREKA BILANG, SAYA MONYET! KARYA DJENAR MAESA AYU.

  Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya .

  Yogyakarta, 14 Agustus 2013 Penulis

  , Paulina Sukmana Puti

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 14 Agustus 2013 Penulis,

  Paulina Sukmana Puti

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ABSTRAK

  Puti, Paulina Sukmana. 2013. Majas Perbandingan dalam Kumpulan Cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! Karya Djenar Maesa Ayu. Skripsi.

  Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penelitian ini menganalisis majas perbandingan dalam kumpulan cerpen

  

Mereka Bilang, Saya Monyet!. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan

  yang bertujuan menjawab majas perbandingan yang digunakan dan maknanya dalam kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet!. Teknik yang dipakai dalam pengumpulan data pada penelitian ini, yaitu teknik baca-catat.

  Analisis data dilakukan dengan tahapan: (1) peneliti menginventarisasi data yang sudah berhasil dikumpulkan, (2) peneliti mengklasifikasikan data berdasarkan kriteria tertentu, (3) peneliti mengidentifikasi data berdasarkan ciri khas yang ditemukan dari data yang sudah terkumpul, dan (4) peneliti menginterpretasi atau memaknai hasil analisis data, dan (5) peneliti mendeskripsikan hasil analisis data tersebut

  Dari hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan peneliti maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut: pertama, majas perbandingan terdiri atas empat jenis, yakni gaya bahasa metafora, gaya bahasa perumpamaan, gaya bahasa personifikasi, dan gaya bahasa alegori. Jumlah gaya bahasa secara keseluruhan ada 36. Jumlah masing-masing keempat macam gaya bahasa tersebut terdapat empat gaya bahasa metafora, 11 gaya bahasa perumpamaan, 20 gaya bahasa personifikasi, dan satu gaya bahasa alegori. Kedua, makna yang n disampaikan melalui majas perbandingan sangat beragam karena tergantung konteksnya. Namun, pengarang menggunakan gaya bahasa personifikasi agar ceritanya lebih hidup dan berwarna sehingga pembaca lebih tertarik membaca ceritanya.

  Penggunaan gaya bahasa perumpamaan merupakan upaya pengarang untuk memberikan kesan yang kuat antara dua hal yang dibandingkan agar pembaca dapat menangkap apa yang ingin digambarkan oleh pengarangnya. Penggunaan majas metafora merupakan upaya pengarang untuk menyamarkan maksud atas dasar pertimbangan agar orang-orang yang dimaksud tidak merasa tersinggung, tidak merasa dipermalukan atau direndahkan di depan umum. Penggunaan gaya bahasa alegori berujuan agar tidak menimbulkan kesan monoton bagi cerpen itu sendiri karena pembaca diajak untuk berimajinasi dan mengaitkan satu sama lain dari metafora-metafora yang berkelanjutan tersebut.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ABSTRACT

  Puti, Paulina Sukmana. 2013. Comparison Figur of Speech in Short story

  

collection entitled Mereka Bilang, Saya Monyet! by Djenar Maesa Ayu. A

  thesis. Language Education Study Program, Indonesian and Local Letters, Faculty of Education and Teacher Training, Sanata Dharma University Yogyakarta.

  This research analyzes comparison figure of speech in the short story collection entitled Mereka Bilang, Saya Monyet!. The research is a library research in nature with the aim to describe the comparison figure of speech and its meanings in the short story collection entitled Mereka Bilang, Saya Monyet!. Write reading is techniques used in collecting the data.

  There are some steps which are applied by the researcher in analyzing the data: (1) the data collected are listed by the researcher, (2) the data are classified based on certain criteria by the researcher, (3) the data are identified based on specific characteristics found from the collection of data, and (4) the result of the analyzed data is interpreted by the researcher, and (5) the result of the analyzed data is described by the researcher.

  Based on the result of data and the interpretation done the researcher, there are two conclusions which are found: First, comparison figure of speech in “Mereka Bilang, Saya Monyet!” consists of four types: the metaphor figurative language, parable figurative language, personification figurative language, and allegory figurative language. The total amount of figurative languages as a whole is 36. In addition, the total amount for each figurative language is four metaphor figurative language, 11 parable figurative language, 20 personification figurative language, and one allegory. Second, the messages conveyed by the author by using comparison figure of speech are various depending on the contexts. However, the author used mostly the personification figurative language in order to make the story alive so that the readers will be willing to read the stories.

  The use of parable is the author’s effort to create strong affection between two things compared in order to make the readers can be able to catch the intended meanings of the author. Next, the use of metaphor figurative language is the author’s effort to disguise the purpose of consideration for that person - the person in question did not feel offended, do not feel embarrassed or humiliated in public.The use of allegory is aimed to make the story more dynamics because the readers are guided to use their imaginations and to correlate each other based on the sustained metaphors.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Majas Perbandingan dalam Kumpulan Cerpen Mereka Bilang, Saya

  

Monyet Karya Djenar Maesa Ayu dengan lancar. Penyusunan skripsi ini

  bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan (Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah) pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penulis menyadari bahwa selama penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari bantuan semua pihak sehingga penulis dapat menyelesaikannya dengan lancar. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang selama ini memberikan bantuan, bimbingan, nasihat, motivasi, doa, dan kerja sama yang tidak ternilai harganya dari awal sampai akhir penulisan skripsi ini.

  Sehubungan dengan hal itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  2. Dr. Yuliana Setiyaningsih selaku Kaprodi PBSID yang telah memberikan motivasi kepada penulis selama menyelesaikan skripsi.

  3. Prof. Dr. Pranowo selaku dosen pembimbing yang banyak membantu, mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, kesabaran, dan motivasi selama membimbing penulis.

  4. Seluruh dosen PBSID yang sudah memberikan banyak ilmu pengetahuan dan wawasan kepada penulis selama menuntut ilmu di PBSID.

  5. Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah menyediakan buku- buku sebagai penunjang penulis menyelesaikan skripsi.

  6. Orang tuaku tersayang Agustinus Andang dan Agustina Sri, terima kasih atas segala doa, motivasi dan dukungan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  8. Antonius Afrianto Budi Purnomo yang telah memberi motivasi, perhatian, dan doa.

  9. Semua pihak yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

  Yogyakarta, 23 Juli 2013 Penulis,

  Paulina Sukmana Puti

  

DAFTAR ISI

  5 C. Tujuan Penelitian............................................................................

  10 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  8 B. Kajian Pustaka ................................................................................

  8 A. Penelitian Terdahulu .......................................................................

  7 BAB II LANDASAN TEORI.................................................................

  7 F. Sistematika Penyajian .....................................................................

  6 E. Batasan Istilah ................................................................................

  5 D. Manfaat Penelitian ..........................................................................

  1 B. Rumusan Masalah...........................................................................

  Halaman

  1 A. Latar Belakang ...............................................................................

  

DAFTAR ISI .......................................................................................... xii

DAFTAR TABEL .................................................................................. xiv

DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... xv BAB I PENDAHULUAN .......................................................................

  x

  ABSTRACT............................................................................................. ix KATA PENGANTAR............................................................................

  viii

  

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................. vii

ABSTRAK..............................................................................................

  vi

  HALAMAN JUDUL .............................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................. iv MOTTO ................................................................................................. v LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .............

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  4. Interpretasi ..............................................................................

  44

  48 BAB III METODOLOGI PENELITIAN .............................................

  A. Jenis Penelitian ...............................................................................

  48 B. Sumber Data dan Data ....................................................................

  48 C. Teknik Pengumpulan Data..............................................................

  48 D. Teknik Analisis Data ......................................................................

  49 BAB IV HASIL PENELITIAN .............................................................

  50 A. Deskripsi Data ................................................................................

  50 B. Hasil Analisis Data ........................................................................

  53 1. Gaya Bahasa Metafora ............................................................

  54 2. Gaya Bahasa Perumpamaan ....................................................

  56 3. Gaya Bahasa Personifikasi .......................................................

  59 4. Gaya Bahasa Alegori ..............................................................

  61 C. Pembahasan ....................................................................................

  62 1. Gaya Bahasa Personifikasi .......................................................

  63 2. Gaya Bahasa Perumpamaan .....................................................

  64 3. Gaya Bahasa Metafora .............................................................

  65 4. Gaya Bahasa Alegori ...............................................................

  66 BAB V PENUTUP ..............................................................................

  70 A. Kesimpulan.....................................................................................

  70 B. Saran ..............................................................................................

  71 DAFTAR PUSTAKA.............................................................................

  72 LAMPIRAN ...........................................................................................

  75

  91 BIODATA PENULIS.............................................................................

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  DAFTAR TABEL Tabel 1 Pengkodean Jenis Gaya Bahasa dalam Majas Perbandingan .

  49 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Analisis Jenis Gaya Bahasa dan Analisis Maknanya.............

  76 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahasa merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dari kehidupan

  manusia. Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Bahasa yang digunakan dapat berupa bahasa lisan maupun bahasa tulis.

  Dalam karya sastra, manusia mewariskan, menerima, dan menyampaikan segala pengalaman dan pengetahuan lahir batin kepada sesamanya. Dalam karya sastra, hubungan antara pengarang dan pembaca harus dipahami sebagai hubungan yang bermakna. Pengarang menciptakan bentuk-bentuk yang memungkinkan untuk mengadakan komunikasi timbal balik. Karya sastra merupakan hasil dialog kontemplasi dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan (Nurgiyantoro, 1998:4).

  Secara sederhana karya sastra dapat dikatakan sebagai sarana untuk berkomunikasi. Karya sastra berisi makna dan nilai-nilai bahkan pendapat- pendapat yang dikemukakan oleh pengarang, dan berisi suatu misi tertentu. Misi ini menjadi sebuah nyawa dalam karya sastra yang membuat karya sastra terasa hidup setelah dibaca dan dinikmati ceritanya. Nilai-nilai ini akan memberi pencerahan kepada pembaca dan suatu pemahaman baru tentang konflik yang ada dalam karya sastra. Dari situ pembaca akan menentukan sikap sesuai dengan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kemungkinan, baik itu sosial, politik, hukum-hukum, ekonomi, agama, filsafat dan sebagainya (Sunardi, 2004:14).

  Sastra mempunyai fungsi ganda, yakni menghibur dan sekaligus bermanfaat bagi pembacanya. Sastra menghibur dengan cara menyajikan keindahan, memberikan makna terhadap kehidupan (kematian, kesengsaraan, maupun kegembiraan), atau memberikan pelepasan ke dunia imajinasi (Zulfahnur, dkk, 1996:9). Bagi banyak orang, karya sastra menjadi saran untuk menyampaikan pesan tentang kebenaran, tentang apa yang baik dan buruk. Ada pesan yang sangat jelas disampaikan, ada pula yang bersifat tersirat secara halus (Budianta, 2002). Dengan demikian, pemahaman tentang teks sastra sebagai proses komunikasi massa mengarah pada proses penyampaian ide dan gagasan sastrawan melalui media yang berupa karya sastra.

  Cerita pendek dan atau kumpulan cerita pendek menjadi sarana yang dipakai oleh pengarang untuk menyampaikan fungsi dari karya sastra dalam menyajikan keindahan, memberikan makna terhadap kehidupan (kematian, kesengsaraan, maupun kegembiraan), atau memberikan pelepasan ke dunia imajinasi dengan menggunakan bahasa tulisan sebagai mediumnya. Untuk menyampaikan makna tersebut, pengarang sering menggunakan gaya bahasa atau majas untuk memberikan efek tertentu bagi pembacanya.

  Secara teoretis, gaya bahasa atau disebut juga dengan majas merupakan pemanfaatan dari kekayaan bahasa, terutama bahasa yang dipakai pada umumnya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  merupakan ciri khas dari sekelompok sastrawan saat menuliskan ide atau gagasan serta perasaannya, baik secara lisan maupun tulisan. Dengan demikian, akhirnya menjadi identitas penting dari sastrawan tersebut dilihat dari karya yang dihasilkannya.

  Gaya bahasa merupakan salah satu unsur estetis yang memperindah sebuah bacaan. Setiap penulis cerpen mempunyai gaya yang berbeda-beda dalam menuangkan setiap ide tulisannya. Setiap tulisan yang dihasilkan nantinya mempunyai gaya penulisan yang dipengaruhi oleh penulisnya, sehingga dapat dikatakan bahwa, watak seorang penulis sangat mempengaruhi sebuah karya yang ditulisnya.

  Kumpulan cerita pendek Mereka Bilang, Saya Monyet! adalah salah satu karya terbaik dari seorang penulis muda berbakat di Indonesia, Djenar Maesa Ayu, yang karyanya sudah diangkat ke layar lebar. Cerpen-cerpennya telah tersebar di berbagai media massa Indonesia seperti Kompas, The Jakarta Post, Republika, Koran Tempo, Majalah Cosmopolitan, Lampung Post, dan majalah Djakarta. Yang menarik dari Djenar Maesa Ayu adalah kemampuannya yang luar biasa dalam mengungkapkan pesan-pesan kehidupan di setiap karyanya melalui gaya bahasa atau majas.

  Tema yang berani dan cara bercerita yang lugas serta eksploratif membuat karya ini menuai banyak pujian serta kritik ketika awal diluncurkan. Di cerpen “SMS”, Djenar menggunakan format SMS untuk bercerita. Sementara cerpen

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  terbaik Kompas 2003. Dalam perjalanannya, dua dari cerpen dalam buku ini pun menjadi inspirasi bagi Djenar untuk pembuatan film Mereka Bilang, Saya

  

Monyet! yang disutradarainya sendiri. Film ini menyabet beberapa penghargaan

  pada festival bergengsi di dunia. Sutardji menyatakan bahwa dalam berbahasa, Djenar menunjukkan kepiawaiannya yang kuat pada kelugasan berucap.

  Bahasanya kuat dan padat. Itulah kecenderungannya. Ia tidak menyia-nyiakan kata-kata untuk segera secara jitu menyampaikan ikhwal yang ingin ditampilkan.

  Kumpulan cerita pendek yang juga diangkat ke layar lebar ini menceritakan tentang realitas yang memprihatinkan mengenai tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, disertai minimnya edukasi masyarakat terhadap hak asasi manusia yang sebenarnya dimiliki secara individu.

  Dalam menyampaikan pesan itu, Djenar Maesa Ayu menggunakan gaya bahasa yang indah dan memikat pembaca. Penggunaan gaya bahasa dalam buku itu nyaris muncul di setiap halamannya dan membuat kumpulan cerpen ini sangat menarik untuk dinikmati.

  Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti berminat untuk menganalisis kumpulan cerita pendek Mereka Bilang, Saya Monyet!. Dalam analisis terhadap kumpulan cerita pendek Mereka Bilang, Saya Monyet!, peneliti membatasi pada segi penggunaan gaya bahasa. Berdasarkan segi gaya bahasa karena setelah membaca kumpulan cerita pendek Mereka Bilang, Saya Monyet!, peneliti menemukan ada banyak gaya yang digunakan pengarang dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mengambil judul penelitian Majas Perbandingan dalam Kumpulan Cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! Karya Djenar Maesa Ayu.

  B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka untuk mengarahkan penelitian kepada sasaran yang ingin dicapai, peneliti menetapkan rumusan masalah sebagai berikut.

  1. Majas perbandingan apa saja yang digunakan dalam kumpulan cerpen Mereka

  Bilang, Saya Monyet! karya Djenar Maesa Ayu?

  2. Makna apa sajakah yang ingin disampaikan melalui majas perbandingan dalam kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! karya Djenar Maesa Ayu?

  C. Tujuan Penelitian

  Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu:

  

1. Mendeskripsikan majas perbandingan yang digunakan dalam kumpulan

cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! karya Djenar Maesa Ayu.

  

2. Mendeskripsikan makna yang disampaikan melalui majas perbandingan dalam

kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! karya Djenar Maesa Ayu.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

D. Manfaat Penelitian Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Manfaat teoretis, hasil penelitian ini dapat menambah khasanah keilmuan dalam pengajaran bidang bahasa dan sastra, khususnya tentang gaya bahasa perbandingan dan pembelajaran sastra.

  2. Manfaat praktis, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh beberapa pihak, antara lain.

  a. Bagi Guru Hasil penelitian ini memberikan gambaran bagi guru untuk dijadikan salah satu alternatif dalam pembelajaran sastra untuk mendorong dan menumbuhkan budaya membaca pada anak didiknya.

  b. Bagi Peneliti Hasil penelitian ini dapat menjadi jawaban dari masalah yang dirumuskan.

  Selain itu, dengan selesainya penelitian ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi peneliti untuk semakin aktif menyumbangkan hasil karya ilmiah bagi dunia sastra dan pendidikan.

  c. Bagi Pembaca Hasil penelitian ini bagi pembaca diharapkan dapat lebih memahami isi kumpulan cerpen Mereka Bilang Saya Monyet! dan mengambil manfaat darinya.

  d. Bagi Peneliti yang Lain

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  E. Batasan Istilah

  1. Cerpen adalah cerita rekaan atau cerita yang berbentuk prosa yang di dalamnya terdapat gejolak jiwa penulis yang dituangkan dalam karyanya.

  2. Majas merupakan kemampuan seorang pengarang dalam menggunakan ragam bahasa tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu dalam karyanya sehingga memberi kesan pada pembacanya.

  3. Majas perbandingan adalah gaya bahasa yang membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

  F. Sistematika Penyajian

  Sistematika penyajian skripsi dijabarkan menjadi 5 (lima) hal, yaitu pendahuluan, landasan teori, metodologi penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, dan penutup.

  Bab I adalah pendahuluan, yang meliputi: latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan istilah, dan sistematika penyajian. Bab II adalah landasan teori yang terdiri atas penelitian terdahulu dan kajian pustaka. Bab III adalah metodologi penelitian yang terdiri atas jenis penelitian, sumber data dan data, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data. Bab IV adalah hasil dan pembahasan yang meliputi: deskripsi data, hasil analisis data, dan pembahasan. Bab V adalah penutup yang terdiri atas kesimpulan dan saran.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB II LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tiga referensi penelitian. Penelitian pertama dilakukan oleh Suryadi pada tahun 2005 dengan judul Struktur dan Gaya Bahasa dalam Wacana Personality Feature pada harian Kompas terbitan 2003. Dalam penelitian ini ditemukan 20 gaya bahasa yang

  dikelompokkan menjadi empat yaitu (1) gaya bahasa perbandingan yang meliputi perumpamaan atau simile, personifikasi, antithesis, periphrasis, dan koreksio, (2) gaya bahasa pertentangan meliputi hiperbola, litotes, klimaks, dan anti klimaks, (3) gaya bahasa pertautan meliputi sinekdoke, alusio, eufemisme, antonomasio, ellipsis, dan asindenton, (4) gaya bahasa perulangan yang meliputi epizuksis, tautotes, anaphora, epistrofa, epistroto, dan anadilopsis.

  Penelitian kedua adalah penelitian yang dilakukan oleh Fitri Dwi Jayanti pada tahun 2009 dengan judul Diksi dan Gaya Bahasa pada Wacana Iklan

  

Majalah Kawanku Edisi Januari-Maret 2009. Tujuan penelitian ini adalah

  mendeskripsikan pemakaian diksi dan bentuk pemakaian gaya bahasa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini yang pertama, pemakaian kata tutur; pemakaian indra peraba, indra penglihatan, dan indra penciuman; pemakaian istilah asing; dan pemakaian makna kata berupa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dan repetisi yang terdiri atas repetisi epizeuksis, epistrofa, dan mesodiplosis; berdasarkan langsung tidaknya makna berupa gaya retoris dengan jenis hiperbola.

  Penelitian ketiga dilakukan oleh Repinus pada tahun 2010 dengan judul

  

Gaya Bahasa dalam Iklan Obat-obatan di Televisi. Tujuan dari penelitian ini

  adalah mendeskripsikan gaya bahasa yang digunakan dalam iklan obat-obatan di televisi dan mengetahui tujuan penggunaan gaya bahasa yang digunakan dalam iklan obat-obatan di televisi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif- kualitatif. Pada penelitian ini peneliti mengumpulkan data dengan teknik simak dan catat, sedangkan analisisnya dilakukan melalui empat tahap, yaitu tahap inventarisasi, identifikasi, klasifikasi, dan pemaparan. Hasil penelitian ini menemukan dua hal. Pertama, ada 10 tipe gaya bahasa yang terdapat dalam iklan obat-obatan di televisi. Kedua, peneliti mengetahui tujuan dari penggunaan gaya- gaya bahasa tersebut untuk menarik perhatian dan minat penonton untuk mengenal produk yang diiklankan serta mempersuasi agar membeli dan menggunakan produk yang diiklankan.

  Peneliti memiliki anggapan bahwa penelitian ini relevan dengan ketiga penelitian tersebut karena memiliki kesamaan yaitu sama-sama meneliti gaya bahasa. Perbedaannya, penelitian yang terdahulu membahas gaya bahasa pada iklan baik di surat kabar maupun di televisi, sedangkan penelitian ini membahas tentang gaya bahasa yang terdapat dalam majas perbandingan pada kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! karya Djenar Maesa Ayu.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

B. Kajian Pustaka

1. Definisi Cerpen

  Cerita pendek atau sering disingkat menjadi cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel.

  Cerpen adalah kependekan dari cerita pendek. Kependekan sebuah cerita pendek bukan hanya karena bentuknya yang jauh lebih pendek dari novel, tetapi karena aspek masalahnya yang sangat dibatasi. Pada cerpen aspek masalah yang diceritakan sangat dibatasi. Dengan adanya pembatasan ini, masalah yang diceritakan akan tergambar lebih jelas dan mengesankan bagi pembaca. Oleh karena itu, sebuah cerita prosa yang disebut dengan cerita pendek memang pengembangan plotnya sangat dibatasi.

  Cerpen adalah cerita yang pendek. Namun ukuran berapa pendeknya tidak ada aturan yang pasti dan tidak ada kesepakatan diantara pengarang dan para ahli (Nurgiyantoro, 1998: 10). Cerita pendek merupakan salah satu karya sastra yang habis dibaca sekali duduk. Menurut Soeharianto (1982), cerpen adalah wadah yang biasanya dipakai oleh pengarang untuk menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang. Sementara itu Panuti Sudjiman (1990: 15-16) dalam bukunya Kamus Istilah Sastra mendefinisikan cerpen sebagai berikut: cerpen adalah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kesan tunggal yang dominan; cerpen memusatkan diri pada suatu tokoh dalam satu situasi pada suatu ketika.

  Sedwick (dalam Tarigan, 1984:176) menyatakan bahwa cerita pendek adalah cerita yang menyajikan suatu keadaan tersendiri atau suatu kelompok keadaan yang memberikan kesan yang tunggal pada jiwa pembaca. Notosusanto (dalam Tarigan, 1984:176) menyatakan bahwa “cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang berpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.

  Wijaya (dalam Efendi, 1999:73), menyatakan bahwa sebuah cerita pendek adalah bagaikan mimpi baik dan mimpi buruk, tidak terlalu penting urutan jalinan karena kadang-kadang ada dan kadang tidak, yang utamanya adalah pekabaran yang diperbarunya, daya pukau magis, tamsil, ibarat, tikaman jiwa, firasat dan berbagai efek yang diberi analoginya menyerang siapa yang secara mendetail dan persis melukiskan apa yang akan terjadi, tetapi ia juga bisa kebalikan atau buram sama sekali sebagai sebuah ramalan yang memerlukan tafsir. Cerita pendek adalah teror mental kepada pembaca.

  Suharso (2009:703) mengemukakan cerpen sebagai semacam cerita rekaan yang sering kita jumpai pada media cetak. Dalam novel kritis (pergolakan) jiwa pelaku mengakibatkan perubahan nasib, tapi dalam cerpen tidak harus mengakibatkan perubahan nasib tokoh pelakunya. Edgar (dalam Suryanto, 2007:175) menyatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Sumardjo (1999:19) mengemukakan bahwa cerpen adalah cerita yang membatasi diri dalam membahas salah satu unsur fisiknya dalam obyek terkecil. Untuk menggambarkan suatu masalah secara jelas dan memberikan kesan yang kuat kepada pembaca, seorang penulis mesti selektif.

  Suryanto (2007:161) mengemukakan bahwa cerpen dapat mengungkapkan realitas sosial, budaya, sekaligus menjadi sarana merefleksikan kehidupan manusia, sebagai bahan renungan. Sementara Sumardjo (1994:132) mengemukakan bahwa semua bagian dari sebuah cerpen harus terikat pada kesatuan jiwa: pendek, padat, lengkap, tak ada bagian- bagian yang boleh dikatakan lebih dan bisa dibuang. Dalam bukunya yang berjudul Anatomi Sastra (1993: 34), Semi mengemukakan cerpen ialah karya sastra yang memuat penceritaan secara memusat kepada suatu peristiwa pokok saja. Semua peristiwa lain yang diceritakan dalam sebuah cerpen, tanpa kecuali ditujukan untuk mendukung peristiwa pokok.

  Masih menurut Semi, dalam kesingkatannya itu cerpen akan dapat menampakkan pertumbuhan psikologis para tokoh ceritanya. Hal ini berkat perkembangan alur ceritanya sendiri. Ini berarti cerpen merupakan bentuk ekspresi yang dipilih dengan sadar oleh para sastrawan penulisnya.

  Esten (2002: 12) berpendapat bahwa cerpen adalah pengungkapan suatu kesan yang hidup dari fragmen kehidupan manusia. Di dalamnya tidak dituntut terjadinya perubahan nasib dari pelaku-pelakunya. Hanya suatu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Poe (dalam Nurgiyantoro, 2007: 10) mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira antara setengah jam sampai dua jam, suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk sebuah novel. Sumardjo (2007: 202) mengatakan bahwa cerpen adalah fiksi pendek yang selesai dibaca dalam “sekali duduk”. Cerita pendek mempunyai satu arti, satu krisis, dan satu efek untuk pembacanya.

  Merujuk beberapa definisi di atas, peneliti mendefinisikan cerpen adalah cerita rekaan atau cerita yang berbentuk prosa yang di dalamnya terdapat gejolak jiwa penulis yang dituangkan dalam karyanya.

2. Definisi Gaya Bahasa atau Majas

  Sebelum menjelaskan gaya bahasa, terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian istilah gaya. Istilah gaya diangkat dari istilah style yang berasal dari bahasa Latin stilus dan mengandung arti leksikal “alat untuk menulis” (Aminuddin, 2009: 72). Aminuddin juga menjelaskan bahwa dalam karya sastra, gaya mengandung pengertian cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca. Sejalan dengan pengertian tersebut Scharbach (dalam Aminuddin 2009:72) menyebut gaya sebagai hiasan, sebagai sesuatu yang suci, sebagai sesuatu yang indah dan lemah gemulai serta sebagai

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dalam kreasi cipta sastra, dengan demikian akan menunjukkan adanya perbedaan meskipun dua pengarang itu berangkat dari satu ide yang sama.

  Tarigan (1989: 179-197) dalam bukunya yang berjudul Pengajaran Kosakata menyatakan gaya bahasa sebagai bahasa kias atau majas. Majas, kiasan, atau figure of speech adalah bahasa kias, bahasa yang indah dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda lain yang lebih umum.

  Tarigan (1985: 8-203) dalam bukunya yang berjudul Pengajaran Gaya Bahasa menyatakan gaya bahasa yaitu bahasa yang indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda lain yang lebih umum. Dengan kata lain, gaya bahasa adalah penggunaan bahasa tertentu yang dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu.

  Keraf (2004: 113) dalam bukunya yang berjudul Diksi dan Gaya Bahasa menyatakan gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Menurut Keraf, gaya bahasa dapat dibatasi dengan cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa).

  Menurut Kridalaksana (1983: 49), gaya bahasa adalah suatu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  bahasa yang digunakan untuk menciptakan efek tertentu. Menurut Wiyanto (dalam Komara, 2010) mengatakan bahwa gaya bahasa adalah cara menyampaikan pikiran dan perasaan.

  Merujuk dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa gaya adalah tatanan yang bersifat lugas, jelas, dan menjauhkan unsur-unsur gaya bahasa yang mengandung makna konotatif. Sedangkan pengarang dalam karya sastra justru akan menggunakan pilihan kata yang mengandung makna padat, reflektif, asosiatif, dan bersifat konotatif. Selain itu, tatanan kalimat- kalimatnya juga menunjukkkan adanya variasi dan harmoni sehingga mampu menuansakan keindahan dan bukan hanya nuansa makna tertentu saja. Oleh sebab itulah masalah gaya dalam sastra akhirnya juga berkaitan erat dengan masalah gaya dalam bahasa itu sendiri.

  Sudjiman (1998: 13) menyatakan bahwa sesungguhnya gaya bahasa dapat digunakan dalam segala ragam bahasa baik ragam lisan, tulis, nonsastra, dan ragam sastra, karena gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu untuk maksud tertentu. Akan tetapi, secara tradisional gaya bahasa selalu ditautkan dengan teks sastra, khususnya teks sastra tertulis. Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan leksikal, struktur kalimat, citraan, pola rima, matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra.

  Pradopo (dalan Endraswara, 2003: 72) menyatakan bahwa nilai seni

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  bahasa sangat luas, tidak hanya menyangkut masalah kata tetapi juga rangkaian dari kata-kata tersebut yang meliputi frasa, klausa, kalimat, dan wacana secara keseluruhan (Keraf, 2004: 112) termasuk kemahiran pengarang dalam memilih ungkapan yang menentukan keberhasilan, keindahan, dan kemasuk akalan suatu karya yang merupakan hasil ekspresi diri (Sayuti, 2000: 110). Sejalan dengan Sayuti, Endraswara (2003: 73) juga menyatakan bahwa gaya bahasa merupakan seni yang dipengaruhi oleh nurani. Melalui gaya bahasa sastrawan menuangkan idenya. Bagaimanapun perasaan saat menulis, jika menggunakan gaya bahasa, karya yang dihasilkan akan semakin indah.

  Jadi, dapat dikatakan gaya bahasa adalah pembungkus ide yang akan menghaluskan teks sastra.

  Gaya bahasa atau majas adalah bahasa kias, bahasa indah yang dipergunakan untuk meninggikan serta meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum (Tarigan, 1990:112, sebagaimana dalam Dale,dkk (1971: 220). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, majas adalah cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yg lain atau kiasan. Gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa agar daya tarik akan bertambah (Sumarjo dan Saini, 1984:127).

  Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa merupakan kemampuan seorang pengarang dalam menggunakan ragam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

3. Jenis-jenis Gaya Bahasa

  Gaya bahasa merupakan kemampuan pengarang dalam menggunakan ragam bahasa tertentu dalam karyanya sehingga memberi kesan pada pembacanya. Pemilihan dan penggunaan berbentuk kiasan bisa saja berhubungan dengan selera, kebiasaan, kebutuhan dan kreativitas pengarang.

  Penelitian gaya bahasa terutama dalam karya sastra yang diteliti adalah wujud (bagaimana bentuk) gaya bahasa itu dan efek apa yang ditimbulkan oleh penggunaannya atau apa fungsi penggunaan gaya bahasa tersebut dalam karya sastra.

  Hendy (1985:100) membagi gaya bahasa dalam empat kelompok, antara lain: a. Gaya Bahasa Penegasan

  Gaya bahasa penegasan ini ada 16 macam, antara lain : 1) Pleonasme , yaitu penegasan dengan menggunakan kata yang sama maksud dengan kata mendahuluinya. Misalnya: a) Majulah ke depan (ke depan sudah berarti maju)

  b) Mundur segera ke belakang (mundur sudah berarti ke belakang)

  c) Capek mulut saya berbicara (yang digunakan untuk

  berbicara memang mulut, bukan yang lain)

  2) Repetisi, yaitu penegasan dengan jalan mengulang kata yang dipakai dalam pidato atau karangan prosa. Misalnya:

a) Tidak ada kata lain selain berjuang, berjuang dan terus berjuang.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  3) Tautologi, yaitu penegasan dengan jalan mengulang sebuah kata beberapa kali dalam sebuah kalimat. Misalnya: a) Kejar, kejarlah impianmu.

  

b) Lepas, lepaskanlah semua kegelisahanmu.

  c) Biar, biarkan semuanya berjalan seperti air mengalir. 4) Paralelisme, yaitu gaya bahasa pengulangan dalam puisi.

  Paralelisme dibagi 2 macam, yaitu:

  a) Anafora, pengulangan awal baris kalimat:

  Kucari kau dalam toko-toko Kucari kau karena cemas karena sayang Kucari kau karena sayang karena bimbang Kucari kau karena kaya mesti di ganyang.

  b) Epifora, pengulangan kata pada akhir baris atau kalimat berurutan. Misalnya: Ibumu sedang memasak di dapur ketika kau tidur Aku mencercah daging ketika kau tidur

  5) Klimaks, melukiskan keadaan yang menaik. Misalnya:

  a) Semua jenis kendaraan, mulai dari sepeda, motor, sampai mobil berjajer di halaman.

  b) Baik itu RT, Kepala Desa, Camat, Bupati, Gubernur, maupun Presiden memiliki kedudukan yang sama di mata Tuhan.

  6) Antiklimaks, melukiskan keadaan yang makin menurun.

  Misalnya: Orang tua, dewasa, remaja, dan anak-anak

semuanya hadir dalam kegiatan bakti sosial itu.

7) Retorik, pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban,karena telah sama-sama dimaklumi jawabannya. Biasanya dipakai

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  a) Menegaskan: Siapa yang tidak ingin hidup bahagia dunia akhirat? b) Mengejek: Apa ini hasil dari pekerjaanmu selama bertahun-tahun?

  8) Inversi, susunan kalimat yang predikatnya mendahului subjek, untuk menghidupkan pernyataan. Misalnya:

  a) Merahlah mukanya mendengar caci maki sahabat karibnya.

  

b) Merantaulah mereka ke negeri seberang.

  9) Elipsis, pemakaian kalimat elipsis, yaitu menyebutkan salah satu bagian kalimat saja,mungkin subjeknya saja, atau objeknya saja, karena sudah dalam suasana yang sama-sama dimaklumi. Misalnya:

  a) Dia dan ibunya ke Tasikmalaya (penghilangan predikat pergi).

  b) Lari! (penghilangan predikat kamu).

  10)Koreksio, penggunaan kata lain yang lebih tepat sebagi koreksi terhadap kata yang dipakai terdahulu. Misalnya:

  a) Silakan Riki maju, bukan, maksud saya Rini!

  b) Tadi malam… oh bukan, tadi pagi maksud saya, tetangga sebelah mencuri mangga tetangga sebelahnya.

  11)Interupsi, yaitu penyisipan kata atau kelompok kata pada kalimat. Misalnya: a) Pak Karto, lurah desaku, orangnya sangat baik.

  b) Yogyakarta, kota pelajar itu, mulai hari ini menjadi tuan rumah AFTA. 12)Asindenton, yaitu menyebutkan sesuatu berturut-berturut tanpa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Bus, truk, motor, semuanya ditahan dan penumpangnya diperiksa satu persatu.

  13)Polisendenton yaitu melukiskan rangkaian kejadian dengan menggunakan kata penghubung, lebih-lebih dalam sastra lama.

  Misalnya:

  Maka apabila sampailah dekat kepada kampung orang, apabila orang empunya kampung itu melihat akan dia, maka diusirnyalah dengan kayu, maka si miskin itupun larilah ia ke pasar.

  14) Preterito, yaitu menyembunyikan maksud yang sebenarnya supaya pendengar berpikir dan turut menyelidiki. Misalnya:

  Hal ini tak usah saya ceritakan lagi, umum sudah tahu.

  15) Enumersi, yaitu uraian secara satu persatu dengan kalimat singkat agar bagian-bagian itu jelas dalam keseluruhannya.

  Misalnya:

  Saling jaga tata susila Saling bina martabat bersama Agar semua hidup bahagia

  16) Esklamasi, Pemakaian kata-kata seru untuk mempertegas seruan. Misalnya:

  

Subhanallah, indah benar pemandangan ini!

  b. Gaya Bahasa Perbandingan 1) Metafora, yaitu membandingkan dua hal secara langsung,tetapi dalam bentuk yang singkat. Misalnya:

  a) Sang ratu malam telah muncul di ufuk timur. (ratu malam=bulan)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  2) Personifikasi, yaitu kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan. Misalnya:

a) Nyiur melambai memanggil beta ke pantai.

  b) Awan hitam menebal diiringi halilintar bersahut-sahutan.

  3) Litotes, yaitu gaya bahasa untuk merendahkan diri dengan menyebutkan keadaan yang berlawanan. Misalnya:

  a) Terimalah hadiah ini ala kadarnya ! (padahal hadiahnya

  mahal-mahal ) b) Apa yang kami berikan ini memang tak berarti buatmu. (padahal pemberiannya sangat berharga)

  4) Metonimia, yaitu melukiskan arti yang mengkhusus karena telah merupakan istilah yang tertentu dan telah bergeser dari arti yang semula. Misalnya: Ayah baru saja membeli zebra, padahal saya ingin kijang (mobil)

  5) Simbolik atau pelambang, yaitu melukiskan suatu benda dengan simbol atau lambang. Misalnya:

  

a) Bunga kemboja adalah lambang kematian

  b) Bunga adalah lambang wanita dan keindahan

  6) Eufimisme, yaitu pemakaian kata-kata halus sebagai ganti kata- kata dianggap kasar ,kurang sopan atau tabu. Misalnya:

  a) Penjahat perang Bosnia telah diamankan PBB. (penjahat

  perang=teroris)

  b) Karyawan Adam Air telah dirumahkan sejak tiga bulan yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  7) Hiperbola, gaya bahasa yang dipakai untuk melebih-lebihkan sesuatu. Misalnya:

  a) Ayah bekerja membanting tulang demi kami. (membanting tulang = kerja keras)

b) Pekik merdeka berkumandang di angkasa.

  8) Alusio, pemakaian karmina atau penting, kilat yang tidak diselesaikan, untuk menyampaikan suatu maksud yang tersembunyi. Misalnya:

  a) Apakah setiap guru harus bernasib seperti Umar Bakri?

b) Kartini kecil itu memperjuangkan haknya.

  9) Parabel, maksud yang samar-samar yang terdapat dalam uraian sebuah cerita, pembaca harus menelaah sedalam-dalamnya agar mengerti maksud karangan tersebut. Misalnya:

  Cerita Ramayana melukiskan maksud bahwa yang benar tetap benar.

  10) Asosiasi, perbandingan yang menimbulkan asosiasi terhadap keadaan yang sebenarnya. Misalnya:

  Mukanya pucat bagaikan mayat.

  11) Tropen, kilasan dengan kata atau istilah lain terhadap pekerjaan yang dilakukan seseorang. Misalnya:

  Wawa duduk melamun, hanyut dibawa perasaannya.

  12) Pars pro toto, menyebut sebagian, tapi yang dimaksudkan seluruh bagian. Misalnya:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  13) Totem proparte, menyebutkan seluruh bagian, tapi yang dimaksudkan sebagian saja. Misalnya:

  a) Sekolah kami memenangkan pertandingan itu. (yang menang

  sesungguhnya tim yang main saja)

  b) Indonesia meraih medali perunggu dalam kejuaraan Uber

  Cup 2008. (Yang meraih medali perunggu sesungguhnya hanya semua regu Uber Cup) 14) Ferifrasi, gaya bahasa perbandingan dengan jalan mengganti sebuah kata dengan gabungan (frase) yang sama arti dengan kata yang diganti tersebut. Misalnya:

Mila telah menyelesaikan kuliahnya tahun 2008.

  15) Antonomasia, gelaran atau julukan kepada seseorang. Misalnya: Si gendut suka sekali melucu.

  16) Alegori, suatu cerita singkat yang mengandung kilasan makna.

  Misalnya:

  Pasangan suami istri itu menjalani bahtera rumah tangganya dengan tenang.

  c. Gaya Bahasa Sindiran Gaya bahasa sindiran ada 3 macam yaitu :

  1) Ironi, gaya bahasa sindiran halus. Misalnya: a) Rajin benar, jam 9 baru bangun.

b) Bagus benar tulisanmu, seperti cakar ayam.

  2) Sinis, gaya bahasa yang berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  3) Sarkasme, cemooh yang kasar, bahkan kadang-kadang merupakan kutukan. Misalnya:

  a) Kamu bodoh.

  b) Aku muak melihat wajahmu.

  d. Gaya Bahasa Pertentangan Gaya bahasa pertentangan ada 4 macam,antara lain:

  1) Kontradiksi, yaitu gaya bahasa pertentangan dengan jalan menggunakan sebuah kata yang dipakai terdahulu. Misalnya:

  a) Semua kelas telah diperiksa, hanya kelas satu yang belum.

  (kalau masih ada yang belum diperiksa, mengapa dikatakan ‘semua’ telah diperiksa?) b) Semua penduduk telah mengungsi, kecuali perempuan tua itu.

  (kalau masih ada yang belum mengungsi, mengapa dikatakan ‘semua’ telah mengungsi?)

  2) Paradoks, yaitu melukiskan sesuatu yang seolah-olah berlawanan tetapi logikanya ada. Misalnya:

  Dia itu kaya harta tapi miskin hati.

  3) Antitesis, yaitu pemakaian kata-kata yang berlawanan arti, untuk lebih menghidupkan pernyataan. Misalnya:

  a) Tua-muda, besar-kecil, pria-wanita, berduyun-duyun pergi ke lapangan.

  b) Hujan-panas, siang-malam, pagi-sore, tak henti-hentinya dia mencari anaknya yang hilang itu.

  4) Okupasi, yaitu gaya bahasa yang menyatakan bantahan atau keberatan terhadap sesuatu yang oleh umum (orang banyak dianggap benar). Misalnya:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Moeliono (1989: 175) membedakan gaya bahasa menjadi tiga. Gaya bahasa tersebut antara lain: (1) perbandingan yang meliputi perumpamaan metafora, dan penginsanan; (2) pertentangan yang meliputi hiperbola, litotes, dan ironi; (3) pertautan yang meliputi metonomia, sinekdoke, kilatan, dan eufemisme. Sementara itu dalam bukunya Bimbingan Pemantapan Bahasa

  Indonesia, Kosasih (2004) menjabarkan macam-macam majas atau gaya

  bahasa menjadi empat jenis antara lain: 1. majas perbandingan yang meliputi: personifikasi, perumpamaan, metafora, dan alegori; 2. majas pertentangan yang meliputi: hiperbola, litotes, ironi, paradox, dan antithesis; 3. majas pertautan yang meliputi: metonimia, sinekdoke, alusi, dan ellipsis; 4. majas perulangan yang meliputi: aliterasi, antanaklasis, repetisi, dan paralelisme.

  Menurut Gorys Keraf (2009:115), gaya bahasa terbagi menjadi dua bagian yaitu dari segi nonbahasa dan segi bahasa. Dilihat dari segi nonbahasa, gaya bahasa terbagi menjadi tujuh bagian, yaitu: (1) gaya bahasa berdasarkan pengarang, (2) gaya bahasa berdasarkan masa, (3) gaya bahasa berdasarkan medium, (4) gaya bahasa berdasarkan subjek, (5) gaya bahasa berdasarkan tempat, (6) gaya bahasa berdasarkan hadirin, (7) gaya bahasa berdasarkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dilihat dari segi bahasa atau unsur-unsur bahasa yang digunakan, maka gaya bahasa dapat dibedakan berdasarkan titik tolak unsur bahasa yang dipergunakan, antara lain:

  1. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata Berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa ini mempersoalkan kata mana yang paling tepat dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian bahasa dalam masyarakat. Dengan kata lain, gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian pemakaian bahasa dalam situasi- situasi tertentu. Gaya bahasa ini dapat dibedakan menjadi gaya bahasa resmi, gaya bahasa tidak resmi, dan gaya bahasa percakapan.

  a. Gaya bahasa resmi adalah gaya bahasa yang bentuknya lengkap dan dipergunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, seperti dalam pidato presiden, berita Negara, dan pidato-pidato penting lainnya.

  b. Gaya bahasa tak resmi merupakan gaya bahasa yang dipergunakan dalam bahasa standar atau kesempatan yang kurang formal. Gaya bahasa ini biasanya dipergunakan dalam karya-karya tulis, artikel- artikel, dan sebagainya. Gaya bahasa tak resmi adalah gaya bahasa yang umum dan normal bagi pelajar.

  c. Gaya bahasa percakapan adalah gaya bahasa yang ada sejalan dengan kata-kata percakapan. Dalam gaya bahasa ini, pilihan katanya adalah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  2. Gaya bahasa berdasarkan nada Gaya bahasa berdasarkan nada didasarkan pada sugesti yang dipancarkan dari rangkaian kata-kata yang terdapat dalam sebuah wacana.

  Sering kali sugesti ini akan lebih nyata di dalam bahasa lisan.

  3. Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat Gaya bahasa ini diciptakan berdasarkan struktur kalimat. Struktur kalimat disini adalah kalimat bagaimana tempat sebuah unsur kalimat yang dipentingkan dalam kalimat tersebut. Keraf membagi gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat menjadi: a. Klimaks, gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang bersifat periodik. Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang dimulai dari gagasan yang kurang penting kepada hala-hal yang lebih penting.

  b. Antiklimaks, gaya bahasa yang yang gagasannya diurutkan dari yang paling penting ke gagasan yang kurang penting.

  c. Paralelisme adalah gaya bahasa yang bersifat sejajar dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Namun bila terlalu banyak digunakan, maka kalimat-kalimat akan menjadi kaku dan mati.

  d. Antitesis adalah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  e. Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk member tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Jenis-jenis repetisi diantaranya adalah epizeuksis, tautotes, anaphora, epistrofa, symploche, mesodiplosis, epanalepsis, dan anadiplosis.

  4. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna Gaya bahasa berdasarkan ketidaklangsungan makna ini biasanya disebut sebagai trope atau figure of speech. Dalam gaya bahasa ini, terjadi suatu penyimpangan bahasa secara evaluatif atau secara emotif dari bahasa biasa dalam ejaan, pembentukkan kata, konstruksi kalimat, klausa, frasa, ataupun aplikasi sebuah istilah untuk memperoleh kejelasan, penekanan, hiasan, humor, atau sesuatu efek yang lain. Fungsi dari figure of speech ini adalah menjelaskan, memperkuat, menghidupkan obyek mati, menstimulasi asosiasi, menimbulkan gelak ketawa atau untuk hiasan. Gaya bahasa ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu:

  a. Gaya bahasa retoris adalah gaya bahasa yang mengalami penyimpangan dari konstruksi biasa untuk mencapai efek tertentu.

  Macam-macam gaya bahasa retoris adalah sebagai berikut: 1) Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi atau kadang dalam prosa.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  3) Anastrof atau inverse adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat. 4) Apofasis atau preterisio adalah gaya bahasa yang mana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi seperti menyangkalnya. 5) Apostrof adalah semacam gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir. Cara ini biasanya digunakan oleh orator klasik. 6) Asindeton adalah suatu gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat dan mampat di mana beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung. 7) Polisindeton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asyndeton. Beberapa kata, frasa, atau klausa yang berurutan dihubungkan oleh kata sambung. 8) Kiasmus adalah gaya bahasa yang terdiri atas dua bagian, baik frasa maupun klausa, yang sifatnya berimbang dan dipertentangkan satu sama lain. 9) Elipsis adalah suatu gaya bahasa yang menghilangkan suatu unsur kalimat agar ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar, sehingga struktur gramatikal kalimatnya memenuhi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  10) Eufemisme adalah gaya bahasa yang semacam acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang, atau ungkapan yang halus untuk menggantikan kata-kata yang mungkin dirasakan menghina.

  11) Litotes adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri.

  Unggapan yang menyatakan suatu gagasan yang berlawanan. 12) Histeron proteron adalah gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis atau sesuatu yang wajar.

  13) Pleonasme dan tautology adalah gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. 14) Perifrasis adalah gaya bahasa yang mirip dengan pleonasme, namun kata-kata yang berlebihan dalam gaya bahasa perifrasis ini sebenarnya dapat digantikan dengan satu kata saja. 15) Prolepsis atau Antisipasi adalah gaya bahasa di mana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi. 16) Erotesis adalah gaya bahasa yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satunya yang berhubungan dengan kata pertama. 18) Koreksio atau epanortosis adalah suatu gaya yang berwujud, mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya. 19) Hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan sesuatu. 20) Paradoks adalah gaya bahasa pertentanggan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.

  21) Oksimoron adalah gaya bahasa yang berusaha menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan. Gaya bahasa ini mengandung pertentangan denga mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama.

  b. Gaya bahasa kiasan adalah gaya bahasa yang mengalami penyimpangan lebih jauh, khususnya dalam bidang makna.

  1) Persamaan/simile Persamaan / simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Yang dimaksud dengan perbandingan eksplisit ialah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  eksplisit menunjukkan kesamaan itu, yaitu kata-kata: seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagainya.

  a) Kikirnya seperti kepiting batu

  b) Bibirnya seperti delima merekah

  2) Metafora Metafora adalah bahasa kiasan sejenis perbandingan namun todak menggunakan kata pembanding. Di sini perbandingan dilakukan secara langsung tanpa kata sejenis bagaikan, ibarat, laksana, dan semacamnya. Misalnya:

  a) Kesabaran adalah bumi

  b) Kesadaran adalah matahari

  c) Keberanian menjelma kata-kata

  3) Alegori Alegori adalah kata kiasan berbentuk lukisan/cerita kiasan, merupakan metafora yang dikembangkan. Misalnya: Sanjak “Menuju Ke Laut” karya Sutan Takdir Alisyahbana. Biasanya bersifat simbolis. 4) Personifikasi

  Personifikasi adalah gaya bahasa yang mempersamakan benda-benda dengan manusia, punya sifat, kemampuan, pemikiran, perasaan, seperti yang dimiliki dan dialami oleh manusia. Misalnya:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  5) Alusi Alusi adalah semacam acuan yang berusaha mensugestikan kesamaan antara orang, tempat, atau peristiwa. Misalnya:

  Kartini kecil itu turut memperjuangkan persamaan haknya.

  6) Eponim Eponim adalah suatu gaya dimana seseorang yang namanya begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Misalnya:

  Hercules dipakai untuk menyatakan kekuatan; Hellen dari Troya untuk menyatakan kecantikan.

  7) Epitet Epitet adalah semacam acuan yang menyatakan suatu sifat atau cirri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal.

  Keterangan itu adalah suatu frasa deskriptif yang menjelaskan atau menggantikan nama seseorang atau suatu barang.

  a) Lonceng pagi untuk ayam jantan

  b) Puteri malam untuk bulan

  c) Raja rimba untuk singa

  8) Sinekdoke Sinekdoke adalah suatu istilah yang diturunkan dari kata Yunani synekdechesthai yang berarti menerima bersama-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  keseluruhan (pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totum pro parte). Misalnya:

a) Setiap kepala dikenakan sumbangan sebesar Rp 1.000,-

  b) Dalam pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia di Stadion Utama Senayan, tuan

rumah menderita kekalahan 3 - 4.

  9) Metonimia Kata Metonomia diturunkan dari kata Yunani meta yang berarti menunjukkan perubahan dan onoma yang berarti nama. Dengan demikian, metonomia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal yang lain karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Misalnya:

  Ia membeli sebuah Chevrolet.

  10) Antomonasia Antonomasia merupakan sebuah bentuk khusus dari sinekdoke yang berwujud penggunaan sebuah epiteta untuk menggantikan nama diri atau gelar resmi, atau jabatan untuk menggantikan nama diri. Misalnya:

  Yang Mulia tidak dapat menghadiri pertemuan ini.

  11) Hipalase Hipalase adalah semacam gaya bahasa dimana sebuah kata tertentu dipergunakan untuk menerangkan sebuah kata, yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kebalikan dari suatu relasi alamiah antara dua komponen gagasan. Misalnya:

  Ia berbaring di atas sebuah bantal yang gelisah ( yang gelisah adalah manusianya, bukan bantalnya)

  12) Ironi Ironi adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan menggunakan hal lain yang berlawanan dengan tujuan agar orang yang dituju tersindir secara halus. Misalnya: Untuk apa susah-susah belajar, kau kan sudah pintar.

  13) Satire Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Bentuk ini tidak harus bersifat ironis. Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia. Misalnya:

  Jangan pernah berpikir kau adalah dewa, menghadapi masalah seperti ini pun kau sudah kewalahan.

  14) Inuendo Inuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Misalnya: Setiap ada pesta ia pasti sedikit mabuk karena kebanyakan minum.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  15) Antifrasis Antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri. Misalnya: Lihatlah sang raksasa telah datang (maksudnya si cebol).

  16) Paronomasia Paronamasia adalah kiasan dengan mempergunakan kemiripan bunyi yang berupa permainan kata, tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya. Misalnya: “Engkau orang kaya!” “Ya, kaya monyet!”.

  Menurut Tarigan (1985) dalam bukunya yang berjudul Pengajaran

  Semantik, gaya bahasa dikelompokkan menjadi empat kelompok besar yaitu:

  (1) Majas Perbandingan, (2) Majas Pertentangan, (3) Majas Pertautan, dan (4) Majas Perulangan. Adapun penjelasan masing-masing gaya bahasa di atas adalah sebagai berikut:

  1. Majas perbandingan Majas perbandingan adalah jenis majas bahasa Indonesia yang memperbandingkan sesuatu dengan yang lain. Majas perbandingan dapat dikelompokan sebagai berikut:

  a. Metafora adalah gaya pengungkapan berupa perbandingan analogis menghilangkan kata seperti, layaknya, bagaikan, antara dua hal yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  1) Aku adalah angin yang kembara 2) Dia adalah anak emas pamanku 3) Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar

  b. Alegori adalah suatu cara yang menyatakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, melalui kiasan atau penggambaran. Alegori merupakan metafora yang diperluas dan berkesinambungan, tempat atau wadah obyek atau gagasan yang diperlambangkan.

  Contohnya: 1) Iman adalah kemudi dalam mengarungi zaman 2) Hidup kita diumpamakan dengan biduk atau bahtera yang

  terkatung-katung di tengah lautan

  3) Berhati-hatilah dalam mengemudikan bahtera hidup

  keluargamu sebab lautan kehidupan ini penuh badai, topan yang ganas, batu karang, dan gelombang yang setiap saat dapat menghancurkan. Oleh karena itu, nahkoda dan para awaknya harus selalu seia sekata dan satu tujuan agar dapat

mencapai pantai bahagia dengan selamat.

  c. Simile adalah sejenis majas yang membandingkan antara dua hal yang pada dasarnya berlainan atau sengaja dianggap sama antara satu dengan lainnya yang dinyatakan dengan kata-kata depan dan penghubung seperti : layaknya, bagaikan, dan lain-lain.

  Contohnya: 1) Pikirannya kusut bagai benang dilanda ayam 2) Seperti langit dan bumi 3) Ibarat mengejar bayangan di siang hari

  d. Personifikasi adalah jenis majas yang melekatkan sifat insan kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak. Majas ini dapat pula

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Contohnya: 1) Mentari mengintip wajahku lewat jendela; 2) Hujan memandikan tanaman disiang hari; 3) Badai menderu-deru, lautan mengamuk; 4) Hatinya berkata bahwa perbuatan itu tak boleh dilakukannya.

  e. Antitesis adalah sejenis majas yang mengadakan komparasi atau perbandingan antara dua antonim (yaitu salah satu yang mengandung ciri-ciri semantik yang bertentangan).

  1) Dia bergembira ria atas kegagalan dalam ujian itu. 2) Aneh, gadis secantik si Ida diperisteri pemuda sejelek si Deni.

  2. Majas Pertautan

  a. Majas Metonemia Majas yang menggunakan sebuah nama yang nama tersebut bertaut dengan benda/orang sehingga dapat menggantikan benda yang dimaksudkan.

  Contohnya:

  1) Ibu ke pasar naik bebek 2) Adik memakai bata 3) Adik menulis dengan pilot 4) Khairil Anwar banyak dibaca masyarakat

  b. Majas Sinekdoke Majas yang menyebutkan sebagian/seluruhnya mengenai suatu benda.

  1) Sinekdoke Pars Prototo Majas yang menyebutkan sebagian suatu benda tetapi yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Contohnya:

  a) Ayah membeli dua ekor kambing

  b) Ia tidak mau menginjakkan kakinya di sini

  2) Sinekdoke Totem Pro Parte Majas yang menyebutkan keseluruhan suatu benda tetapi yang dimaksudkan sebagian.

  Contohnya:

  a) Kaum putri pada tanggal 21 April memperingati Hari Kartini

b) Perang Dunia II berakhir pada tahun 1498

  c. Majas Eufimisme Majas yang menggunakan kata-kata yang dianggap lebih sopan, lebih halus, untuk menggantikan kata-kata yang dianggap kasar/tabu.

  Contohnya:

  1) Ia baru saja keluar dari LP

2) Karena ditinggal suaminya, ia agak kurang waras

  d. Majas Alusio Majas yang menggunakan kata ungkapan/peribahasa yang ditulis sebagian saja karena secara umum orang sudah mengetahui maksud dan kelanjutan peribahasa tersebut. Contohnya:

  1) Hendaknya kita sedia payung dalam berbagai kegiatan 2) Setiap usaha umumnya berakit-rakit ke hulu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  3. Majas Perulangan

  a. Majas Aliterasi Majas perulangan (repetisi) yang mengulang pada huruf konsonan yang terjadi dalam baris atau kalimat.

  Contohnya:

  1) Kuda kami kian kemari 2) Bagai batu membesi benar

  b. Majas Asonansi Majas yang mengulang pada huruf vokal terjadi pada baris puisi atau kalimat.

  Contohnya:

  Mati api di dalam hati

  c. Majas Anafora Majas yang mengulang pada kata awal dalam kalimat.

  Contohnya:

  Kamu bilang hidup ini berengsek, kamu bilang hidup ini tak berarti

  d. Majas Epifora Majas yang mengulang kata akhir dalam baris kalimat.

  Contohnya: Selusin gelas ditumpuk tak pecah, selusin piring ditumpuk tak pecah.

  4. Majas pertentangan Majas pertentangan dapat dikelompokkan ke dalam delapan bagian

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Majas yang melukiskan keadaan/peristiwa secara berlebih-lebihan tujuannya untuk menegaskan arti.

  Contohnya:

  1) Badannya kurus, kulit membalut tulangnya 2) Ia bekerja membanting tulang, memeras keringat, dan memutar otak

  b. Litotes Majas yang mengungkapkan keadaan yang berlawanan artinya dengan keadaan yang sebenarnya tujuannya untuk merendahkan diri.

  Contohnya:

  1) Makanlah dengan garam saja 2) Mampirlah ke gubuk saya

  c. Ironi Majas yang mengungkapkan keadaan yang berlawanan artinya dengan keadaan yang sebenarnya tujuannya untuk menyindir secara halus.

  Contohnya:

  

1) Bagus benar tulisanmu sehingga sulit dibaca

2) Kopi ini manis sekali, gula mahal, iya?

  d. Sarkasme Majas yang mengungkapkan sindiran secara kasar.

  Contohnya:

  Muak aku melihat tampangmu

  e. Antitesis

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Contohnya:

  1) Besar kecil, tua muda, semua berbondong-bondong ke lapangan

2) Kaya miskin seseorang tidak mempengaruhi sifatnya

  f. Paradoks Majas pertentangan/perlawanan yang pertentangan itu bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya.

  Contohnya:

  

1) Ia merasa kesepian di tengah keramaian kota

2) Ia merasa terhimpit di antara harta yang melimpah

  g. Klimaks Majas yang menunjukkan keadaan semakin lama semakin meningkat/tinggi.

  Contohnya:

  PKn diajarkan sejak SD, SMP, SMA, dan di Perguruan Tinggi

  h. Anti Klimaks Majas yang mengungkapkan keadaan/pernyataan dari yang tinggi ke yang rendah.

  Contohnya: Jangankan seribu, seratus, bahkan serupiah pun aku tak punya Sementara Tarigan (1985) dalam bukunya yang berjudul Pengajaran

  Gaya Bahasa, membagi gaya bahasa dalam empat kelompok besar. Pertama,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  prolepsis, dan koreksio. Kedua, gaya bahasa pertentangan yang terdiri atas: hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, paranomasia, paralipsis, zeugma, satire, innuendo, antifrasis, paradoks, klimaks, anti klimaks, apostrof, anastrof, apofasis, histeron proteron, hipalase, sinisme, dan sarkasme. Ketiga, gaya bahasa pertautan yang terdiri atas: metonimia, sinekdoke, alusi, eufemisme, eponim, epitet, antonomasia, erotesis paralelisme, ellipsis, gradasi, asindenton, dan polisindenton. Terakhir, gaya bahasa perulangan yang terdiri atas: aliterasi, asonansi, antanaklasis, kiasmus, epizeukis, tautotes, anaphora, epistrofa, simploke, mesodilopsis, epanalepsis, dan anadiplosis.

  Menurut Agni (2009:107), majas terdiri atas empat kategori yaitu: majas perbandingan, majas sindiran majas penegasan, dan majas pertentangan.

  Majas perbandingan terdiri atas alegori, alusio, simile, metafora, antroposfimisme, sintesia, antonomasia, apronim, metonimia, litotes, hiperbola, personifikasi, depersonifikasi, pars pro toto, totum pro parte, eufemisme, hipokorisme, disfemisme, fable, dan parabel. Majas sindiran terdiri atas sinisme, sarkasme, ironi, satire, dan innuendo. Majas penegasan terdiri atas apofasiasi, pleonasme, repetisis, parairama, aliterasi, paralelisme, tautology, sigmantisme, antanaklasis, klimaks, antiklimaks, inverse, retoris, ellipsis, koreksio, polisindenton, asidenton, dan zeugma. Majas pertentangan terdiri atas paradox, oksimoron,dan anakroisme.

  Dari beberapa pendapat di atas, ada perbedaan mengenai istilah majas

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  istilah tersebut. Dari berbagai pendapat tersebut, peneliti mencoba untuk mengerucutkan istilah majas dan gaya bahasa. Peneliti menyimpulkan bahwa gaya bahasa merupakan bagian dari majas. Hal ini karena majas merupakan bahasa yang dipergunakan secara imajinatif, bukan dalam pengertian yang sebenarnya. Dalam menyampaikan maksudnya, pengarang tentu memanfaatkan kekayaan bahasa untuk mengungkapkan makna dari apa yang ditulisnya. Pemanfaatan bahasa itu diwujudkan pengarangnya dengan penggunaan kata-kata yang diolah sedemikian rupa sehingga dapat mempengaruhi pembacanya. Penggunaan kata-kata itu ada berbagai macam cara atau gaya pengungkapan, tergantung dari kepribadian penulis. Dari situlah pengarang dapat menggunakan berbagai macam gaya bahasa dalam menyampaikan tulisannya. Dari situlah maka dapat disimpulkan bahwa majas terbagi dalam empat kategori yaitu majas perbandingan, majas pertentangan, majas pertautan, dan majas perulangan. Dalam setiap majas itulah terdapat berbagai jenis gaya bahasa.

  Dari ulasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa majas perbandingan terdiri atas empat jenis yaitu: gaya bahasa perumpamaan/ simile, gaya bahasa personifikasi, gaya bahasa metafora, dan gaya bahasa alegori.

4. Interpretasi

  Widi (2010: 74) menyatakan bahwa interpretasi merupakan penafsiran makna fakta dan hubungan antara satu fakta dengan fakta lain.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  orang lain sehingga menjadi fakta sejarah. Dalam tahapan ini seringkali subyektivitas peneliti mulai muncul. Oleh karena itu agar hal itu tidak terjadi atau paling tidak diminimalkan, maka diperlukan analisis dan sintesis.

  Ada beberapa jenis interpretasi, antara lain:

  a. Interpretasi verbal: interpretasi ini berkaitan dengan beberapa factor, antara lain: a) Bahasa

  Kebanyakan pendekatan terhadap arti sebuah dokumen terletak pada kata dan kalimat. Interpretasi verbal berfungsi menjelaskan arti kata-kata atau kalimat tersebut. Penjelasan ini tidak bias diperoleh tanpa mengetahui bahasa yang dipergunakan dalam menuliskan suatu dokumen.

  b) Perbendaharaan kata Perbendaharaan kata selayaknya dikuasai peneliti secara kompleks sehingga dapat menginterpretasi suatu sumber sehingga mengetahui ungkapan-ungkapan yang dipergunakan dalam dokumen.

  c) Tata bahasa dan konteks Tata bahasa dan konteks berfungsi untuk mengetahui arti kata, kalimat, maupun wacana. Oleh karena itu peneliti harus

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  d) Terjemahan atau tafsiran Sumber yang digunakan adalah sumber yang belum diterjemahkan karena jika sumber yang digunakan telah diterjemahkan akan dikhawatirkan hasilnya kurang akurat.

  b. Interpretasi teknis Interpretasi teknis dari sebuah dokumen pada dua pertimbangan. Pertama tujuan penyusunan dokumen, yang kedua bentuk tulisan aslinya. Tujuan interpretasi teks tidak hanya menyampaikan informasi tetapi juga untuk penikmatan intelektual, emosional, dan seni.

  c. Interpretasi logis Interpretasi logis didasarkan pada pola berpikir, artinya pola pikir berdasarkan cara berpikir yang benar. Jadi dalam menafsirkan sebuah dokumen harus dipandang secara keseluruhan serta memuat gagasan yang logis.

  d. Interpretasi psikologis Interpretasi psikologis adalah interpretasi yang berusaha untuk membaca dengan tinjauan (kaca mata) pembuat dokumen yang menyangkut dua aspek yaitu general dan individual. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi psikologis dalam diri seorang pengarang, antara lain: a) Asal-usul, lingkungan, tempat hidup, dan pengalaman pribadi

  b) Pembentukan cultural

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  e. Interpretasi faktual Interpretasi faktual adalah interpretasi yang tidak didasarkan atas kata-kata tetapi pada fakta. Dalam hal ini yang menjadi titik pertimbangan adalah membiarkan fakta “berbicara” sendiri tanpa perlu membuat penafsiran yang macam-macam sehingga interpretasi factual dapat dikatakan menyempurnakan interpretasi lainnya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan atau sering juga disebut

  studi pustaka. Zed (2004:3) menjelaskan bahwa studi pustaka adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. Sangadji (2010:28) menjelaskan bahwa penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan literasi (kepustakaan) baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian dari peneliti terdahulu.

  B. Sumber Data dan Data

  Sumber data dalam penelitian ini adalah kumpulan cerpen yang terdapat dalam buku Mereka Bilang, Saya Monyet! karya Djenar Maesa Ayu. Data penelitian ini adalah kalimat-kalimat yang mengandung gaya bahasa dalam kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! karya Djenar Maesa Ayu.

  C. Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik baca-catat. Teknik baca mempunyai maksud pembacaan dilakukan secara

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

D. Teknik analisis data

  Dengan teknik tersebut, peneliti melakukan analisis data melalui tahapan- tahapan sebagai berikut: (1) peneliti menginventarisasi data yang sudah berhasil dikumpulkan, (2) peneliti mengklasifikasikan data berdasarkan kriteria tertentu, (3) peneliti mengidentifikasi data berdasarkan ciri khas yang ditemukan dari data yang sudah terkumpul, dan (4) peneliti menginterpretasi atau memaknai hasil analisis data, dan (5) peneliti mendeskripsikan hasil analisis data tersebut.

  Tabel 1 Pengkodean Jenis Gaya Bahasa dalam Majas Perbandingan

  Klasifikasi Kode

  Jenis Gaya Bahasa dalam Majas Perbandingan

  1. Gaya Bahasa Metafora M

  2. Gaya Bahasa Simile/ Perumpamaan S

  3. Gaya Bahasa Personifikasi P

  4. Gaya Bahasa Alegori A

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini, akan dibahas tentang: deskripsi data, hasil analisis data yang meliputi analisis gaya bahasa dan analisis makna, dan pembahasan. A. Deskripsi Data

  1. Cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet!

No. Kalimat Kode

  1. “Sepanjang hidup saya melihat manusia berkaki empat. M.1 Berekor anjing, babi atau kerbau. Berbulu serigala, landak atau harimau. Dan berkepala ular, banteng atau keledai” (hal 1)

  2. “Hati saya terasa ngilu bagai disayat-sayat sembilu” (hal 2) S.1 3. “Atau akal merekakah yang sedang memerintah hati untuk P.1 membohongi perasaannya sendiri?” (hal 6) 4. “Di depan umum ia hanyalah wanita berkepala anjing dan M.2 berbuntut babi yang kerap menyembunyikan buntutnya di kedua belah paha singanya” (hal 8)

  5. “Mata saya bertubrukan dengan mata Si Kepala Buaya” (hal 8) P.2

  2. Cerpen Lintah No. Kalimat Kode

  6. “Keingintahuan saya mendesak kuat” (hal 12) P.3 7. “Dan mata lintah kelihatan benar-benar tertawa” (hal 14) P.4 8. “Saya pernah membaca di surat kabar bahwa Ibu sudah diberi M.3 julukan penyanyi Medusa” (hal 14) 9. “Bau wangi menyergap hidung saya” (hal 16) P.5 10. “Angin membuka tirai jendela” (hal 18) P.6

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  3. Cerpen Durian No. Kalimat Kode

  11. “Ia ingin menjilati tangannya yang sedikit berdarah tergores P.7 duri dan terkena daging buah durian yang sedikit menyeruak ketika ia membukanya” (hal 22)

  12. “Bau durian keemasan telah mengepung seisi rumah besar itu” P.8 (hal 23)

  4. Cerpen Melukis Jendela No. Kalimat Kode

  13. “Luka bekas sayatan di pipinya mulai memudar dan ternyata P.9 tidak juga dapat menyembunyikan kecantikan Mayra” (hal 36)

  14. “Tiba-tiba ia diserang rasa perasaan cemas jika mimpinya P.10 menjadi kenyataan” (hal 37) 15. “Ia sering masuk ke dalam jendela itu lalu menemukan P.11 dirinya terbaring di hamparan hangat pasir putih dan riak ombak menggelitik pucuk jari kakinya” (hal 38)

  16. “Bayangan rambut hitam laki-laki yang tergerai hingga dada P.12 menari-nari tertiup angin di atas kuda putih tak berpelana” (hal 38)

  17. “Udara pagi menusuk kulitnya namun hatinya hangat oleh P.13 rasa suka cita” (hal 39) 18. “Seperti kerbau dicucuk hidungnya mereka mengikuti S.2 langkah Mayra menuju kantin” (hal 39)

  5. Cerpen SMS

No. Kalimat Kode

  Tidak Ada Data yang Ditemukan

  6. Cerpen Menepis Harapan No. Kalimat Kode

  19. “Suara gong selalu menyambut kedatangan tamu di lobby P.14 hotel ini” (hal 56)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menghujam bumi” (hal 58) 22. “Dan ia merasa sangat jauh terasing dari pengunjung hotel M.4 yang sekedar datang untuk makan, minum, dan bermalam.

  Merasa tidak menjadi bagian dari kemewahan dan kebahagiaan itu. Merasa dirinya cuma serpihan debu yang menyelinap secara sembunyi-sembunyi di antara denting gelas kristal, gemerlap mutiara dan berlian” (hal 61)

  23. Malam hadirkan bulan. Bulan cipta cahaya. Cahaya menyeka A angkasa. Angkasa mengirim hujan. Hujan menyapa angin.

  Angin menggoyang perahu. Perahu tempat mereka bercinta dan menjalin lamanya tiga tahun hubungan. Namun angin hanya menggoyang perahu mereka tanpa pernah mengirim ke pelabuhan. Pelabuhan dimana mereka bisa menepi dan membangun rumah bahagia dengan fondasi cinta. Angin hanya mengombang-ambingkan perahu dan menggulung ombak hingga mereka tertelan ke dalam samudera tanpa dasar (hal. 62)

  24. “Di atas tempat duduk bar yang tinggi ia harus berusaha P.16 duduk dengan sikap yang benar atau belahan tinggi pada pahanya akan memancing kerlingan mata-mata nakal” (hal 63)

  25. “Semua berdesing-desing bagai letusan senapan di S.4 sekelilingnya ketika ia melihat sesosok laki-laki berdiri menatapnya” (hal 64)

  7. Cerpen Nayla No. Kalimat Kode

  26. “Ia menjadi muram seperti cahaya bulan yang bersinar suram” S.5 (hal 65)

  27. “Waktu bagaikan seorang pembunuh yang selalu membuntuti S.6 dan mengintai dalam kegelapan” (hal 66) 28. “Nayla ingin menghantamkan palu ke arah jam sehingga P.17 suara alarmnya bungkam” (hal 72) 29. “Mungkin hidup adalah ibarat mobil berisikan satu tangki S.7 penuh bahan bakar”(hal 75)

  8. Cerpen Wong Asu No. Kalimat Kode

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  9. Cerpen Namanya, … No. Kalimat Kode

  31. “Cara ibu merunduk rendah ketika menyuguhkan minuman hingga buah dadanya bagai akan meloncat keluar” (Hal 98) S.8

  10. Cerpen Asmoro No. Kalimat Kode

  32. “Dari sinar kemerahan itu, burung-burung senja berkepakan terbang dan sebagian yang tertinggal di belakang mau tidak mau tertelan air laut yang siap luluh bagai pohon tumbang” (hal 107)

  S.9 33. “Ketika Adjani hampir sampai di bibir pantai, angkasa sudah menyulap senja menjadi malam” (hal 108)

  P.19 34. “Aktivitas di kota itu lumpuh” (hal 109) P.20 35. “Keinginannya meledak-ledak untuk segera berjumpa dan keinginan untuk lebih lama bersama, bagai satu mata koin dengan dua sisi yang berbeda” (hal 111)

  S.10

  11. Cerpen Manusya dan Dia No. Kalimat Kode

  36. “Hatinya menciut bagai seorang gadis kecil yang bersembunyi di sudut kegelapan” (hal 116).

  S.11

B. Hasil Analisis Data

  Majas merupakan kemampuan seorang pengarang dalam menggunakan ragam bahasa tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu dalam karyanya sehingga memberi kesan pada pembacanya. Pemajasan merupakan suatu teknik pengungkapan bahasa yang maknanya tidak menunjuk pada makna harafiah, tetapi menuju pada makna tersirat. Tujuan digunakan majas dalam satu karya sastra dimaksudkan untuk memperoleh efek keindahan, kepuitisan dan tujuan-tujuan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Bilang, Saya Monyet! Karya Djenar Maesa Ayu. Majas yang dianalisis hanya

  majas perbandingan karena fokus penelitian hanya meneliti penggunaan majas perbandingan, tidak seluruh kategori majas.

  Majas perbandingan terdiri atas gaya bahasa perumpamaan, gaya bahasa metafora, gaya bahasa personifikasi, dan gaya bahasa alegori. Ada beberapa majas yang digunakan oleh Djenar Maesa Ayu dalam kumpulan cerpen Mereka Bilang,

  

Saya Monyet!. Dalam uraian ini, penulis akan menjabarkan analisis data dari majas

  perbandingan yang ditemukan. Mengingat jumlah kalimat yang sudah ditemukan cukup besar, maka dalam sajian ini masing-masing gaya bahasa hanya akan ditampilkan sebanyak tiga sampai empat kalimat sebagai contoh, namun untuk gaya bahasa alegori hanya ada satu karena hanya ditemukan satu gaya bahasa saja.

  Uraian yang lebih lengkap pada seluruh kalimat dapat dilihat pada lampiran.

1. Gaya Bahasa Metafora

  Gaya bahasa metafora adalah gaya bahasa perbandingan yang diungkapkan secara singkat dan padat. Bedanya dengan simile, metafora tidak menggunakan kata-kata pembanding. Dalam kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! ditemukan berbagai majas metafora sebagai berikut: a. “Sepanjang hidup saya melihat manusia berkaki empat. Berekor anjing,

  babi atau kerbau. Berbulu serigala, landak atau harimau. Dan berkepala ular, banteng atau keledai” (hal 1) M.1

  b. “Di depan umum ia hanyalah wanita berkepala anjing dan berbuntut babi

  yang kerap menyembunyikan buntutnya di kedua belah paha singanya” (hal 8) M.2

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Gaya bahasa metafora pada kalimat (a) mempunyai dua gagasan, yang pertama “manusia” sesuatu yang dipikirkan yang menjadi objek sedangkan yang satunya “berkaki empat. Berekor anjing, babi atau kerbau. Berbulu serigala, landak atau harimau. Dan berkepala ular, banteng atau keledai” merupakan perbandingan dari pernyataan pertama. Gaya bahasa metafora adalah sejenis gaya bahasa perbandingan yang singkat, padat, tersusun rapi. Di dalamnya terlihat dua gagasan: yang satu adalah suatu kenyataan, sesuatu yang dipikirkan, yang menjadi objek dan yang satu lagi merupakan pembanding terhadap kenyataan tadi. Majas perbandingan diungkapkan secara singkat dan padat.

  Penggunaan gaya bahasa metafora pada kalimat nomor (a) memberi makna bahwa sepanjang hidup tokoh saya melihat manusia-manusia yang mengaku memiliki akal budi dan berkelakuan baik namun sebenarnya itu hanya semacam tameng untuk menutupi kelakuan mereka yang liar seperti binatang.

  Analisis metafora pada kalimat (b) nampak pada cara pengarang membandingkan wanita dengan bagian-bagian tubuh dari anjing, babi, dan singa.

  Atau dengan kata lain, majas metafora di atas mempunyai dua gagasan, yang pertama “wanita” sesuatu yang dipikirkan yang menjadi objek sedangkan yang satunya “berkepala anjing, berbuntut babi, dan paha singa” merupakan perbandingan dari pernyataan pertama. Hal ini dilakukan pengarang tanpa menggunakan kata-kata seperti, bagai, bagaikan, layaknya seperti dalam majas perumpamaan yang menggunakan kata-kata pembanding tersebut.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pandai menyembunyikannya dengan bersikap layaknya orang baik-baik di depan orang banyak.

  Gaya bahasa metafora pada kalimat (c) terdapat pada “Ibu” yang menjadi objek dan yang menjadi pembanding adalah “medusa”. Dalam mitologi Yunani, Medusa (berarti "penjaga" atau "pelindung") adalah seorang wanita cantik dengan ular sebagai rambutnya. Medusa pada awalnya adalah seorang perawan cantik dan merupakan pendeta wanita di kuil milik Athena. Namun suatu ketika ia diperkosa oleh Poseidon di dalam kuil Athena. Hal ini membuat Athena marah, ia pun mengubah rambut Medusa menjadi ular dan mengutuk Medusa sehingga siapapun yang melihat matanya, akan menjadi batu.

  Penggunaan gaya bahasa metafora pada kalimat nomor (c) memberi makna bahwa Ibu dari tokoh saya adalah seorang penyanyi terkenal yang sering diundang ke luar kota. Surat kabar menuliskan bahwa ibu tersebut dijuluki penyanyi Medusa karena kecantikan yang memikat mata orang-orang, terutama mata laki-laki. Mungkin, kecantikan tersebut dianggap menjadi kutukan bagi laki- laki yang tertarik tidak hanya terhadap suara, tetapi juga dengan paras cantiknya.

2. Gaya Bahasa Perumpamaan

  Gaya bahasa perumpamaan/simile adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berbeda tetapi sengaja dianggap sama. Gaya bahasa ini ditandai dengan kata pembanding seperti, bagaikan, bagai, bak, serupa, dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  a. “Hati saya terasa ngilu bagai disayat-sayat sembilu” (hal 2) S.1

  b. “Seperti kerbau dicucuk hidungnya mereka mengikuti langkah Mayra

  menuju kantin” (hal 39) S.2

  c. “Rintik hujan mulai jatuh bagai jutaan jarum emas menghujam bumi”

  (hal 58) S.3

  d. “Semua berdesing-desing bagai letusan senapan di sekelilingnya

  ketika ia melihat sesosok laki-laki berdiri menatapnya” (hal 64) S.4

  Analisis gaya bahasa perumpamaan pada kalimat (a) yakni pengarang menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan menggunakan kata pembanding seperti, bagai, ibarat untuk menegaskan bahwa kalimat tersebut menggunakan gaya bahasa perumpamaan. Namun, kalimat tersebut menggunakan kata bagai untuk menandakan adanya gaya bahasa perumpamaan. Pengarang mengibaratkan rasa sakit hati manusia dengan sayatan sembilu.

  Kalimat (a) menunjukan bahwa sembilu adalah sebilah pisau yang terbuat dari bambu yang tipis, kecil, dan tajam. Sembilu ini biasa digunakan oleh orang zaman dahulu untuk mengiris usus atau bagian-bagian tubuh ayam yang disembelih. Benda ini tidak dapat digunakan untuk memotong, tetapi khusus untuk mengiris atau menyayat. Dengan ketajamannya, usus ayam dengan mudah dapat diiris dan dibersihkan bagian dalamnya. Dengan memperhatikan keampuhan sembilu dalam menyayat itulah sembilu digunakan untuk menyatakan betapa pedih dan sakitnya perasaan tokoh saya karena ditertawakan dan merasa tidak dipedulikan. Pengarang ingin menunjukkan bahwa sakit hati yang dirasakan tokoh saya begitu besar sehingga tidak cukup disebut dengan kata “ngilu”.

  Analisis gaya bahasa perumpamaan pada kalimat (b) yakni pengarang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menggunakan gaya bahasa perumpamaan. Namun, kalimat tersebut menggunakan kata seperti untuk menandakan adanya gaya bahasa perumpamaan. Pengarang mengibaratkan mereka (teman-teman Mayra) dengan hewan kerbau.

  Kalimat (b) menunjukkan bahwa sebagaimana dengan kuda dan gajah, kerbau juga menjadi binatang yang dapat digunakan untuk membantu aktivitas manusia. Karena kekuatannya, kerbau dapat dikendalikan untuk membajak sawah atau pun mendorong pedati. Untuk mengendalikan kerbau, seseorang tidak cukup menggunakan cambuk tetapi juga menggunakan semacam cincin yang dipasang di antara rongga hidung kerbau. Untuk memasukkan cincin tersebut, hidung kerbau harus dicucuk dan dilubangi. Selanjutnya, cincin tersebut dimasuki dengan tali yang dapat digunakan untuk mengendalikan kerbau. Tindakan mereka mengikuti Langkah Mayra menuju kantin diibaratkan seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Artinya, mereka mengikuti Mayra begitu saja seperti ada tarikan kuat yang berasal dari Mayra. Mungkin tarikan itu berupa pesona Mayra yang seolah- olah mengendalikan mereka untuk mengikutinya. Pesona tersebut membuat laki- laki tak berdaya.

  Pada kalimat (c), pengarang membandingkan “rintik hujan” dengan “jutaan jarum emas”. Kalimat di atas menggunakan gaya bahasa perumpamaan karena perbandingannya ditandai dengan kata bagai.

  Kalimat (c) menunjukan bahwa jarum melambangkan ketajaman. Emas dapat menunjukkan suatu benda yang berharga yang dapat dimanfaatkan untuk

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  orang-orang berusaha menghindarinya agar tidak sakit walaupun di sisi lain hujan juga sangat berharga karena manusia membutuhkannya untuk berbagai keperluan.

  Pada kalimat (d), gaya bahasa perumpamaan terdapat pada cara pengarang membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam kalimat di atas yang dibandingkan yaitu kata “semua berdesing-desing” dan “letusan senapan” yang ditandai dengan kata pembanding bagai.

  Kalimat (d) menunjukkan bahwa senapan bila ditembakkan akan mengeluarkan suara yang bising, menyakitkan, dan tidak karuan. Makna dari kalimat itu bahwa dengan kalimat itu, pengarang ingin menggambarkan suasana hati tokoh ia yang perasaannya tidak karuan ketika melihat sesosok laki-laki yang berdiri menatapnya. Sosok itu adalah laki-laki yang selama ini mengisi hatinya namun juga melukai perasaannya.

3. Gaya Bahasa Personifikasi

  Gaya bahasa personifikasi adalah gaya bahasa yang membandingkan benda-benda tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat seperti manusia atau denagn pengertian lain, majas personifikasi adalah jenis majas yang melekatkan sifat insan kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak. Dalam kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! ditemukan berbagai gaya bahasa personifikasi sebagai berikut.

  a. “Atau akal merekakah yang sedang memerintah hati untuk

  membohongi perasaannya sendiri?” (hal 6) P.1

  b. “Mata saya bertubrukan dengan mata Si Kepala Buaya” (hal 8)

  P.2

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Analisis gaya bahasa personifikasi pada kalimat (a) terbukti pada usaha penginsanan terhadap benda mati atau ide yang abstrak yang seolah-olah memiliki sifat seperti manusia. Gaya bahasa personifikasi terdapat pada kata “memerintah”. Memerintah merupakan suatu kegiatan manusia untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu yang dia inginkan. Hal ini sejalan dengan pengertian gaya bahasa personifikasi dimana gaya bahasa personifikasi adalah jenis gaya bahasa yang melekatkan sifat insan kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak. Dalam hal ini, “akal” digambarkan memiliki sifat seperti manusia yang dapat memberi perintah.

  Makna dari kalimat (a) yaitu walaupun perasaan manusia tahu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi pikiran mendorong perasaan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran yang diyakini oleh perasaan tersebut.

  Analisis gaya bahasa personifikasi pada kalimat (b) terdapat pada kata ”bertubrukan”. Bertubrukan merupakan suatu kegiatan manusia dimana manusia yang satu dengan yang lain tidak sengaja saling beradu. ”Mata” diibaratkan seperti manusia yang bisa bergerak dan dapat bertubrukan dengan orang lain. Hal ini sejalan dengan pengertian gaya bahasa personifikasi dimana gaya bahasa personifikasi adalah jenis gaya bahasa yang melekatkan sifat insan kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak.

  Makna dari kalimat (b) bahwa mata dari tokoh saya tidak sengaja

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  yang seperti buaya darat (orang yang suka berganti-ganti pasangan walaupun orang itu sudah memiliki pasangan tetap).

  Pada kalimat (c), kata “keingintahuan” merupakan sesuatu yang sifatnya abstrak. Kata “mendesak” mengacu pada perbuatan manusia untuk segera melakukan sesuatu. Pengarang membuat seolah-olah rasa ingin tahu dapat melakukan sesuatu layaknya manusia. Kalimat (c) menunjukkan bahwa “mendesak” yaitu memaksa untuk segera dilakukan sesuatu. Hal ini biasa dilakukan manusia ketika mereka ada dalam keadaan yang sangat genting sehingga harus memutuskan sesuatu dengan cepat. Makna dari kalimat di atas yaitu keingintahuan tokoh saya seolah-olah memaksanya untuk segera melakukan sesuatu agar ia dapat menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya.

  Pada kalimat (d), ”mata” merupakan sesuatu yang tidak bernyawa. Kata “tertawa” mengacu pada indera penglihatan yang dimiliki makhluk hidup untuk melihat sesuatu. Pengarang mengibaratkan mata dapat tertawa layaknya manusia.

  Hal ini sejalan dengan pengertian dari gaya bahasa personifikasi. Kalimat (d) menggambarkan mata orang yang diberi julukan lintah itu seolah-olah tertawa layaknya manusia yang sedang tertawa. Manusia tertawa di saat mereka merasa bahagia. Dalam cerpen, tokoh lintah terlihat sangat senang, rasa senang itu terpancar dari sorot matanya yang memancarkan kebahagiaan.

4. Gaya Bahasa Alegori

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  diperluas dan berkesinambungan, tempat atau wadah obyek atau gagasan yang diperlambangkan.

  Malam hadirkan bulan. Bulan cipta cahaya. Cahaya menyeka angkasa.

Angkasa mengirim hujan. Hujan menyapa angin. Angin menggoyang perahu.

Perahu tempat mereka bercinta dan menjalin lamanya tiga tahun hubungan.

Namun angin hanya menggoyang perahu mereka tanpa pernah mengirim ke

pelabuhan. Pelabuhan dimana mereka bisa menepi dan membangun rumah

bahagia dengan fondasi cinta. Angin hanya mengombang-ambingkan perahu dan

menggulung ombak hingga mereka tertelan ke dalam samudera tanpa dasar (hal.

62) A

  Analisis gaya bahasa alegori pada pada kalimat di atas dapat dilihat dari cara pengarang menyatakan perbandingan antara hal yang satu dengan hal yang lain secara implisit dan saling berkesinambungan.

  Kalimat di atas bermakna bahwa tokoh utama dalam cerpen tersebut tidak dapat hidup bersama dengan Glen, pria beristri yang dicintainya. Walaupun mereka sudah beberapa tahun menjalin hubungan namun mereka tidak bisa bersatu. Hal ini dikarenakan pria beristri tersebut lebih memilih meninggalkan wanita itu untuk hidup bersama istrinya dan anak-anaknya.

C. Pembahasan

  Hasil penelitian memperlihatkan terdapat sebanyak 36 gaya bahasa yang terdapat dalam kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet!. Jumlah masing- masing keempat macam gaya bahasa tersebut dalam kumpulan cerpen Mereka

  

Bilang, Saya Monyet!, yakni: gaya bahasa metafora sebanyak empat buah, gaya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  memperlihatkan bahwa dalam kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! lebih dominan menggunakan gaya bahasa personifikasi.

  1. Gaya bahasa personifikasi Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa dalam kumpulan cerpen

  “Mereka Bilang, Saya Monyet!”, pengarang lebih menyukai gaya penceritaan dengan memanfaatkan gaya bahasa personifikasi. Dalam kumpulan cerpen tersebut, banyak hal yang tidak bernyawa atau ide yang abstrak digambarkan seolah-olah bernyawa.

  Contoh: “Mata saya bertubrukan dengan mata Si Kepala Buaya” (hal 8) Kalimat di atas merupakan kalimat yang menggunakan gaya bahasa personifikasi. Penggunaan gaya bahasa personifikasi ditunjukkan pada kata ”bertubrukan”. Bertubrukan merupakan suatu kegiatan manusia dimana manusia yang satu dengan yang lain tidak sengaja saling beradu.

  Pada kalimat di atas, ”mata” diibaratkan seperti manusia yang bisa bergerak dan dapat bertubrukan dengan orang lain.

  Makna dari kalimat di atas bahwa mata dari tokoh saya tidak sengaja bertatapan dengan mata seseorang yang dijuluki Si Kepala Buaya karena sifatnya yang seperti buaya darat (orang yang suka berganti-ganti pasangan walaupun orang itu sudah memiliki pasangan tetap).

  Pengarang menggunakan gaya bahasa personifikasi agar ceritanya lebih hidup dan berwarna sehingga pembaca lebih tertarik membaca

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  personifikasi adalah jenis majas yang melekatkan sifat insan kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak atau dapat pula diartikan sebagai penggambaran benda-benda yang tak bernyawa seolah-olah memiliki sifat seperti manusia. Hal ini didukung pendapat Hendy (1985:100) yang mengatakan bahwa personifikasi adalah kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan.

  2. Gaya bahasa perumpamaan Pada kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! banyak ditemukan kalimat yang menggunakan gaya bahasa yang membandingkan antara dua hal yang pada dasarnya berlainan atau sengaja dianggap sama antara satu dengan lainnya yang dinyatakan dengan kata-kata pembanding.

  Contoh: “Seperti kerbau dicucuk hidungnya mereka mengikuti langkah

  Mayra menuju kantin” (hal 39)

  Kalimat di atas merupakan kalimat yang menggunakan gaya bahasa perumpamaan karena menggunakan kata “seperti” untuk menyamakan tokoh “mereka” dengan “kerbau”. Makna dari kalimat di atas bahwa mereka mengikuti Mayra begitu saja seperti ada tarikan kuat yang berasal dari Mayra. Mungkin tarikan itu berupa pesona Mayra yang seolah-olah mengendalikan mereka untuk mengikutinya. Pesona tersebut membuat laki-laki tak berdaya.Hal ini sejalan dengan pengertian gaya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  antara dua hal yang pada dasarnya berlainan atau sengaja dianggap sama antara satu dengan lainnya yang dinyatakan dengan kata-kata depan dan penghubung seperti: layaknya, bagaikan, bagai, dan lain-lain. Hal ini juga didukung pendapat Gorys Keraf (2009:115) yang menyatakan bahwa gaya bahasa perumpamaan adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Yang dimaksud dengan perbandingan eksplisit ialah bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu ia memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu, yaitu kata-kata: seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagainya. Penggunaan majas perumpamaan merupakan upaya pengarang untuk memberikan kesan yang kuat antara dua hal yang dibandingkan agar pembaca dapat menangkap apa yang ingin digambarkan oleh pengarangnya.

  3. Gaya bahasa metafora Pada kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! ditemukan beberapa kalimat yang membandingkan dua hal yang berlainan yang sengaja dianggap sama namun tidak menggunakan kata-kata pembanding seperti gaya bahasa perumpamaan. Hal ini sudah dapat terlihat dari beberapa judul cerpen dalam buku kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya

  Monyet!. Judul-judul yang mengandung metafora yaitu: Mereka Bilang, Saya Monyet!, Lintah, dan Wong Asu. Selain dapat dilihat jelas dari

  beberapa judul tersebut, penggunaan gaya bahasa metafora juga dapat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (1985) bahwa gaya bahasa metafora adalah gaya pengungkapan berupa perbandingan analogis menghilangkan kata seperti, layaknya, bagaikan, antara dua hal yang berbeda.

  Penggunaan majas metafora merupakan upaya pengarang untuk menyamarkan maksud atas dasar pertimbangan agar orang-orang yang dimaksud tidak merasa tersinggung, tidak merasa dipermalukan atau direndahkan di depan umum.

  4. Gaya bahasa alegori Pada kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! ditemukan satu kalimat yang menyatakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, melalui kiasan atau penggambaran. Gaya bahasa ini mirip metafora namun berkelanjutan.

  Contoh: Malam hadirkan bulan. Bulan cipta cahaya. Cahaya

  menyeka angkasa. Angkasa mengirim hujan. Hujan menyapa angin. Angin menggoyang perahu. Perahu tempat mereka bercinta dan menjalin lamanya tiga tahun hubungan. Namun angin hanya menggoyang perahu mereka tanpa pernah mengirim ke pelabuhan. Pelabuhan dimana mereka bisa menepi dan membangun rumah bahagia dengan fondasi cinta. Angin hanya mengombang-ambingkan perahu dan menggulung ombak hingga mereka tertelan ke dalam samudera tanpa dasar (hal. 62)

  Kalimat di atas merupakan gaya bahasa alegori karena setiap kalimatnya merupakan gaya bahasa metafora yang dilanjutkan. Hal ini dapat dilihat karena kalimat yang satu dengan kalimat selanjutnya berkelanjutan dan merupakan satu kesatuan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dicintainya. Walaupun mereka sudah beberapa tahun menjalin hubungan namun mereka tidak bisa bersatu. Hal ini dikarenakan pria beristri tersebut lebih memilih meninggalkan wanita itu untuk hidup bersama istrinya dan anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Tarigan (1985) bahwa gaya bahasa alegori adalah suatu cara yang menyatakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, melalui kiasan atau penggambaran.

  Alegori merupakan metafora yang diperluas dan berkesinambungan, tempat atau wadah obyek atau gagasan yang diperlambangkan.

  Penggunaan gaya bahasa alegori tersebut tujuannya agar tidak menimbulkan kesan monoton bagi cerpen itu sendiri karena pembaca diajak untuk berimajinasi dan mengaitkan satu sama lain dari metafora- metafora yang berkelanjutan tersebut.

  Jadi, seluruh penggunaan gaya bahasa dalam kumpulan cerpen ini bertujuan untuk membuat cerita lebih hidup dan berwarna, untuk memberikan kesan yang kuat antara dua hal yang dibandingkan agar pembaca dapat menangkap apa yang ingin digambarkan oleh pengarangnya, untuk menyamarkan maksud atas dasar pertimbangan agar tidak menyinggung perasaan orang yang dimaksud, dan mengembangkan imajinasi dan melatih pembaca untuk dapat mengaitkan metafora-metafora yang berkesinambungan. Jadi pengarang menggunakan gaya bahasa dalam karyanya tujuannya untuk menciptakan efek tertentu. Kemunculan efek-efek itulah yang tentunya diharapkan pengarang untuk

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dalam karyanya karena hal itu disesuaikan dengan kepribadian pengarangnya. Hal ini didukung pendapat Gorys Keraf (1984: 113) yang mengatakan bahwa gaya bahasa merupakan cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Hal senada dikemukakan oleh Tarigan (1990:112) bahwa gaya bahasa adalah bahasa kias, bahasa indah yang dipergunakan untuk meninggikan serta meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Hal senada juga dikemukakan oleh Sumarjo dan Saini (1984:127) bahwa gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa agar daya tarik akan bertambah. Demikian juga menurut Kridalaksana (1983: 49) bahwa gaya bahasa adalah suatu pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur kata atau menulis.

  Pada penelitian ini, peneliti membahas tentang penggunaan berbagai macam gaya bahasa, dan juga menganalisis makna yang terkandung dalam penggunaan gaya bahasa tersebut. Hal ini dilakukan karena dalam membaca suatu karya sastra diperlukan pemahaman maknanya, bukan hanya sekedar tahu bahwa pengarangnya menggunakan berbagai gaya bahasa untuk memperindah tulisannya. Jika pengetahuan pembaca hanya sebatas tahu apa saja gaya bahasa yang ada dalam cerita pendek tersebut tentu pembaca juga akan kesulitan memahami makna gaya bahasa yang beraneka ragam itu sehingga diperlukan penjelasan mengenai makna dari gaya bahasa tersebut sesuai konteksnya. Hal ini

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  ragam bahasa baik ragam lisan, tulis, nonsastra, dan ragam sastra, karena gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu untuk maksud tertentu.

  Makna tersirat dari berbagai penggunaan gaya bahasa sangat beragam. Peneliti hanya mencoba membantu dalam memahami makna penggunaan gaya bahasa yang sudah ditemukan agar pembaca yang belum begitu memahami makna dari berbagai gaya bahasa tersebut mengerti sehingga mereka tidak kesulitan dalam mengetahui isi keseluruhan cerita pendek tersebut.

  Hal yang perlu diperhatikan bahwa setiap pengarang mempunyai gaya penulisan yang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh kepribadian penulisnya sehingga dapat dikatakan bahwa watak seorang penulis sangat mempengaruhi sebuah karya yang ditulisnya. Hal yang menarik dari seorang Djenar Maesa Ayu adalah kemampuannya yang luar biasa dalam mengungkapkan pesan-pesan kehidupan di setiap karyanya melalui berbagai gaya bahasa yang dikemas dengan menarik sehingga peneliti tertarik untuk selalu membaca karya-karyanya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan

  peneliti dalam kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet!, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

  1. Dalam cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet!, majas perbandingan yang ditemukan meliputi empat jenis, yakni gaya bahasa metafora, gaya bahasa perumpamaan, gaya bahasa personifikasi, dan gaya bahasa alegori. Jumlah gaya bahasa secara keseluruhan ada 36. Jumlah masing-masing keempat macam gaya bahasa tersebut terdapat empat gaya bahasa metafora, 11 gaya bahasa perumpamaan, 20 gaya bahasa personifikasi, dan satu gaya bahasa alegori.

  2. Makna yang ingin disampaikan melalui majas perbandingan sangat beragam karena tergantung konteksnya. Namun, pengarang menggunakan gaya bahasa personifikasi agar ceritanya lebih hidup dan berwarna sehingga pembaca lebih tertarik membaca ceritanya. Penggunaan gaya bahasa perumpamaan merupakan upaya pengarang untuk memberikan kesan yang kuat antara dua hal yang dibandingkan agar pembaca dapat menangkap apa yang ingin digambarkan oleh pengarangnya. Penggunaan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  merasa tersinggung, tidak merasa dipermalukan atau direndahkan di depan umum. Penggunaan gaya bahasa alegori tersebut tujuannya agar tidak menimbulkan kesan monoton bagi cerpen itu sendiri karena pembaca diajak untuk berimajinasi dan mengaitkan satu sama lain dari metafora- metafora yang berkelanjutan tersebut.

B. Saran

  Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, peneliti mengajukan beberapa saran bagi para peneliti selanjutnya terutama yang melakukan penelitian yang sejenis. Saran dari peneliti adalah sebagai berikut:

  1. Penelitian ini hanya membahas majas perbandingan dan makna yang disampaikan dari penggunaan gaya bahasa tersebut pada kumpulan cerpen

  Mereka Bilang, Saya Monyet! karya Djenar Maesa Ayu. Peneliti berharap

  apabila ada peneliti lain yang ingin melakukan penelitian yang sejenis, peneliti lain sebaiknya meneliti seluruh majas, tidak hanya terbatas pada satu atau dua majas sehingga akan lebih banyak gaya bahasa yang ditemukan dalam suatu objek penelitian.

  2. Objek yang diteliti sebaiknya tidak hanya kumpulan cerpen tetapi bisa juga novel, karya sastra yang lainnya, atau pun film.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  DAFTAR PUSTAKA Agni, Bingar. 2008. Sastra Indonesia Lengkap. Jakarta:H-Fet.

  Aminuddin. 2009. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algen Sindo. Ayu, Djenar Maesa. 2002. Mereka Bilang, Saya Monyet!. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Budianta, Melani. 2002. Membaca Sastra. Jakarta: Indonesiatera. Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna. Bandung: PT Eresco. Efendi, Haris Thahar. 1999. Kiat Menulis Cerita Pendek. Bandung: Angkasa. Endraswara, Suwardi.2003. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widiyatama. Esten, Mursal. 2000. Kesusatraan: Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung: Angkasa. Jayanti, Fitri Dwi. 2009. Diksi dan Gaya Bahasa Pada Wacana Iklan Majalah

  Kawanku Edisi Januari-Maret 2009. Skripsi. Yogyakarta: PBSID, FKIP, Universitas Sanata Dharma.

  Keraf, Gorys. 1996. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kosasih, A. 2004. Bimbingan Pemantapan Bahasa Indonesia. Bandung: Yrama Widya.

  Moeliono, Anton. M. 1989. Kembara Bahasa. Jakarta: PT Gramedia. Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

  Repinus. 2010. Gaya Bahasa dalam Iklan Obat-obatan di Televisi. Skripsi.

  Yogyakarta: PBSID, FKIP, Universitas Sanata Dharma. Sangadji, Etta Mamang.2010. Metodologi Penelitian: Pendekatan Praktis dalam

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Semi, M. Atar. 1993. Anatomi Sastra. Padang: FBSS IKIP Padang. Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar

  Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

  Sudjiman, Panuti. 1990. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: UI. ______________. 1998. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya. Suryadi. 2005. Struktur dan Gaya Bahasa dalam Wacana Personality Feature

  pada harian Kompas terbitan 2003. Skripsi. Yogyakarta: PBSID, FKIP, Universitas Sanata Dharma.

  Suryanto, Alex dan Agus Hariyanto. 2007. Panduan Belajar Bahasa dalam Sastra Indonesia. Tangerang: ESIS. Suharso dan Ana Retnoningsih. 2009. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semarang: Widya Karya. Sumardjo, Jakob. 1994. Menulis Cerpen. Bandung: Pustaka Pelajar. ______________. 2007. Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sunardi, St. 2004. Semiotika Negativa. Yogyakarta: Penerbit Buku Baik. Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa. ______________. 1985. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa. ______________. 1989. Pengajaran Kosakata. Bandung: Angkasa. ______________. 1990. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa. Wellek dan Warren. 1989. Teori Kesusastraan (diIndonesiakan oleh Melani Budianta). Jakarta: Gramedia. Widi, Restu Kartiko. 2010. Asas Metodologi Penelitian: Sebuah Pengenalan dan Penuntun Langkah demi Langkah Pelaksanaan Penelitian.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Zed, Mestika. 2004. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Zulfahnur, dkk. 1996. Sastra Bandingan. Jakarta: Depdikbud.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  75 Lampiran: Analisis Jenis Gaya Bahasa dan Analisis Maknanya

1. Cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! No. Kalimat Kode Analisis Gaya Bahasa Analisis Makna

  1 “Sepanjang hidup saya melihat manusia berkaki empat. Berekor anjing, babi atau kerbau. Berbulu serigala, landak atau harimau. Dan berkepala ular, banteng atau keledai” (hal 1) M.1 Gaya bahasa metafora pada kalimat (1) mempunyai dua gagasan, yang pertama “manusia” sesuatu yang dipikirkan yang menjadi objek sedangkan yang satunya “berkaki empat. Berekor anjing, babi atau kerbau. Berbulu serigala, landak atau harimau. Dan berkepala ular, banteng atau keledai” merupakan perbandingan dari pernyataan pertama. Gaya bahasa metafora adalah sejenis gaya bahasa perbandingan yang singkat, padat, tersusun rapi. Di dalamnya terlihat dua gagasan: yang satu adalah suatu kenyataan, sesuatu yang dipikirkan, yang menjadi objek dan yang satu lagi merupakan pembanding terhadap kenyataan tadi. Majas perbandingan diungkapkan secara singkat dan padat.

  Penggunaan gaya bahasa metafora pada kalimat (1) memberi makna bahwa sepanjang hidup tokoh saya melihat manusia- manusia yang mengaku memiliki akal budi dan berkelakuan baik namun sebenarnya itu hanya semacam tameng untuk menutupi kelakuan mereka yang liar seperti binatang.

  2 “Hati saya terasa ngilu bagai disayat-sayat sembilu” (hal 2) S.1 Analisis gaya bahasa perumpamaan pada kalimat (2) yakni pengarang menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan menggunakan kata pembanding seperti, bagai,

  Kalimat (2) menunjukan bahwa sembilu adalah sebilah pisau yang terbuat dari bambu yang tipis, kecil, dan tajam. Sembilu ini biasa digunakan oleh orang zaman dahulu untuk

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  76 kalimat tersebut menggunakan kata bagai untuk menandakan adanya gaya bahasa perumpamaan. Pengarang mengibaratkan rasa sakit hati manusia dengan sayatan sembilu. untuk memotong, tetapi khusus untuk mengiris atau menyayat. Dengan ketajamannya, usus ayam dengan mudah dapat diiris dan dibersihkan bagian dalamnya. Dengan memperhatikan keampuhan sembilu dalam menyayat itulah sembilu digunakan untuk menyatakan betapa pedih dan sakitnya perasaan tokoh saya karena ditertawakan dan merasa tidak dipedulikan. Pengarang ingin menunjukkan bahwa sakit hati yang dirasakan tokoh saya begitu besar sehingga tidak cukup disebut dengan kata “ngilu”. 3 “Atau akal merekakah yang sedang memerintah hati untuk membohongi perasaannya sendiri?” (hal 6)

  P.1 Analisis gaya bahasa personifikasi pada kalimat (3) terbukti pada usaha penginsanan terhadap benda mati atau ide yang abstrak yang seolah-olah memiliki sifat seperti manusia. Gaya bahasa personifikasi terdapat pada kata “memerintah”. Memerintah merupakan suatu kegiatan manusia untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu yang dia inginkan. Hal ini sejalan dengan pengertian gaya bahasa personifikasi dimana gaya bahasa personifikasi adalah jenis gaya bahasa yang melekatkan sifat insan kepada barang yang tidak bernyawa Makna dari kalimat (3) yaitu walaupun perasaan manusia tahu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi pikiran mendorong perasaan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran yang diyakini oleh perasaan tersebut.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  77 4 “Di depan umum ia hanyalah wanita berkepala anjing dan berbuntut babi yang kerap menyembunyikan buntutnya di kedua belah paha singanya” (hal 8) M.2 Analisis metafora pada kalimat (4) nampak pada cara pengarang membandingkan wanita dengan bagian-bagian tubuh dari anjing, babi, dan singa. Atau dengan kata lain, majas metafora di atas mempunyai dua gagasan, yang pertama “wanita” sesuatu yang dipikirkan yang menjadi objek sedangkan yang satunya “berkepala anjing, berbuntut babi, dan paha singa” merupakan perbandingan dari pernyataan pertama. Hal ini dilakukan pengarang tanpa menggunakan kata-kata seperti, bagai, bagaikan, layaknya seperti dalam majas perumpamaan yang menggunakan kata-kata pembanding tersebut.

  Penggunaan gaya bahasa metafora pada kalimat (4) memberi makna bahwa sebenarnya wanita tersebut memiliki perilaku yang buruk namun dia pandai menyembunyikannya dengan bersikap layaknya orang baik-baik di depan orang banyak.

  5 “Mata saya bertubrukan dengan mata Si Kepala Buaya” (hal 8)

  P.2 Analisis gaya bahasa personifikasi pada kalimat (5) terdapat pada kata ”bertubrukan”. Bertubrukan merupakan suatu kegiatan manusia dimana manusia yang satu dengan yang lain tidak sengaja saling beradu. ”Mata” diibaratkan seperti manusia yang bisa bergerak dan dapat bertubrukan dengan orang lain. Hal ini sejalan dengan pengertian gaya bahasa personifikasi dimana gaya bahasa personifikasi adalah jenis gaya bahasa yang melekatkan sifat insan kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak.

  Makna dari kalimat (5) bahwa mata dari tokoh saya tidak sengaja bertatapan dengan mata seseorang yang dijuluki Si Kepala Buaya karena sifatnya yang seperti buaya darat (orang yang suka berganti-ganti pasangan walaupun orang itu sudah memiliki pasangan tetap).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  78 No. Kalimat Kode Analisis Gaya Bahasa Analisis Makna

  6 “Keingintahuan saya mendesak kuat” (hal 12) P.3 Kalimat (6) merupakan gaya bahasa personifikasi. Hal ini terlihat jelas pada usaha penginsanan ide yang abstrak. Pada kalimat tersebut, kata “keingintahuan” merupakan sesuatu yang sifatnya abstrak. Kata “mendesak” mengacu pada perbuatan manusia untuk segera melakukan sesuatu. Pengarang membuat seolah- olah rasa ingin tahu dapat melakukan sesuatu layaknya manusia. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa “mendesak” yaitu memaksa untuk segera dilakukan sesuatu. Hal ini biasa dilakukan manusia ketika mereka ada dalam keadaan yang sangat genting sehingga harus memutuskan sesuatu dengan cepat.

  Makna dari kalimat di atas yaitu keingintahuan tokoh saya seolah-olah memaksanya untuk segera melakukan sesuatu agar ia dapat menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya 7 “Dan mata lintah kelihatan benar-benar tertawa” (hal 14)

  P.4 Kalimat (7) merupakan gaya bahasa personifikasi. Hal ini terlihat jelas pada usaha penginsanan pada benda atau ide yang abstrak. Pada kalimat (7), ”mata” merupakan sesuatu yang tidak bernyawa. Kata “tertawa” mengacu pada indera penglihatan yang dimiliki makhluk hidup untuk melihat sesuatu. Pengarang mengibaratkan mata dapat tertawa layaknya manusia. Hal ini sejalan dengan pengertian dari gaya bahasa personifikasi.

  Kalimat (7) menggambarkan mata orang yang diberi julukan lintah itu seolah-olah tertawa layaknya manusia yang sedang tertawa. Manusia tertawa di saat mereka merasa bahagia. Dalam cerpen, tokoh lintah terlihat sangat senang, rasa senang itu terpancar dari sorot matanya yang memancarkan kebahagiaan.

  8 “Saya pernah membaca di surat M.3 Gaya bahasa metafora pada kalimat (8) terdapat pada

  Penggunaan gaya bahasa metafora pada kalimat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  79 (berarti "penjaga" atau "pelindung") adalah seorang wanita cantik dengan ular sebagai rambutnya. Medusa pada awalnya adalah seorang perawan cantik dan merupakan pendeta wanita di kuil milik Athena. Namun suatu ketika ia diperkosa oleh Poseidon di dalam kuil Athena. Hal ini membuat Athena marah, ia pun mengubah rambut Medusa menjadi ular dan mengutuk Medusa sehingga siapapun yang melihat matanya, akan menjadi batu. diundang ke luar kota. Surat kabar menuliskan bahwa ibu tersebut dijuluki penyanyi Medusa karena kecantikan yang memikat mata orang-orang, terutama mata laki-laki. Mungkin, kecantikan tersebut dianggap menjadi kutukan bagi laki-laki yang tertarik tidak hanya terhadap suara, tetapi juga dengan paras cantiknya.

  9 “Bau wangi menyergap hidung saya” (hal 16) P.5 Gaya bahasa personifikasi ditunjukkan pada kata ”menyergap”. Kata menyergap mengacu pada suatu kegiatan manusia untuk menangkap sesuatu. Sedangkan bau wangi diandaikan seperti manusia yang bisa bergerak dan menangkap sesuatu. Hal ini sejalan dengan pengertian gaya bahasa personifikasi dimana gaya bahasa personifikasi adalah jenis majas yang melekatkan sifat insan kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak.

  Makna dari kalimat di atas, bau wangi yang dirasakan oleh hidung tokoh saya sangat pekat sehingga seolah-olah tidak bisa lepas dari bau tersebut karena bau tersebut seolah mengelilingi dirinya.

  10 “Angin membuka tirai jendela” (hal 18) P.6 Kalimat (10) menggunakan gaya bahasa personifikasi dimana angin seolah-olah seperti menyingkap tirai jendela yang tadinya tertutup menjadi tidak tertutup (terbuka). Hal ini membuat Makna kalimat (10) yaitu tirai jendela yang tadinya menutupi jendela tiba-tiba tersibak (terbuka) karena tertiup angin sehingga cahaya dari luar jendela dapat masuk. Hal ini

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  80

  3. Cerpen Durian No. Kalimat Kode Analisis Gaya Bahasa Analisis Makna

11 “Ia ingin menjilati P.7 Kalimat (11) merupakan gaya Makna dari kalimat (11)

tangannya yang sedikit bahasa personifikasi. Hal ini yaitu buah durian itu berdarah tergores duri ditunjukkan pada kata seolah-olah berusaha untuk dan terkena daging “menyeruak”. Kata keluar dari sesuatu yang buah durian yang “menyeruak” mengacu pada menghalanginya (kulit sedikit menyeruak suatu cara manusia untuk buah durian). ketika ia keluar dari suatu kerumunan membukanya” (hal 22) atau sesuatu yang menghalangi jalannya. Pengarang menggunakan kata “menyeruak” untuk daging buah durian itu layaknya manusia yang menerobos sesuatu yang menghalanginya.

12 “Bau durian keemasan P.8 Pada kalimat (12), gaya Makna kalimat (12) yaitu

telah mengepung seisi bahasa personifikasi bau durian itu seolah-olah rumah besar itu” (hal ditunjukkan pada kata mengelilingi atau 23) “mengepung”. Kata memenuhi ruangan yg ada

  “mengepung” mengacu pada di dalam rumah besar itu suatu kegiatan manusia sehingga penghuninya mengelilingi sesuatu. tidak dapat meloloskan Sedangkan bau durian diri dari bau tersebut. diandaikan seperti manusia yang dapat mengelilingi sesuatu.

  4. Cerpen Melukis Jendela

13 “Luka bekas sayatan P.9 Pada kalimat (13), gaya Pengarang menggunakan

di pipinya mulai bahasa personifikasi kalimat itu untuk memudar dan ternyata ditunjukkan pada kata menunjukkan kepada tidak juga dapat “menyembunyikan”. pembaca bahwa Mayra menyembunyikan Menyembunyikan mengacu memiliki luka bekas kecantikan Mayra” pada suatu kegiatan manusia sayatan di pipinya. Namun (hal 36) untuk menutupi sesuatu meskipun demikian, bekas

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  81 berharga atau bahkan sesuatu yang jelek (perbuatan, cacat, aib, dan lain-lain). Sedangkan luka bekas sayatan diandaikan dapat menutupi sesuatu

layaknya manusia.

  14 “Tiba-tiba ia diserang rasa perasaan cemas jika mimpinya menjadi kenyataan” (hal 37) P.10 Gaya bahasa personifikasi ditunjukkan pada kata “diserang”. Kata diserang mengacu pada kegiatan manusia menyerbu sesuatu. Sedangkan perasaan diandaikan sebagai manusia yang dapat menyerang sesuatu.

  Makna kalimat (14) yaitu bahwa rasa cemas seolah- olah menyerbu perasaan tokoh ia. Tokoh ia dilanda kecemasan karena takut mimpinya menjadi kenyataan.

  15 “Ia sering masuk ke dalam jendela itu lalu menemukan dirinya terbaring di hamparan hangat pasir putih dan riak ombak menggelitik pucuk jari kakinya” (hal 38)

  P.11 Gaya bahasa personifikasi ditunjukkan pada kata “menggelitik”. Kata menggelitik mengacu pada suatu perbuatan yang dilakukan manusia untuk menyebabkan rasa geli di bagian tubuh. Sedangkan riak ombak diandaikan seperti manusia yang melakukan perbuatan menggelitik seseorang.

  Kalimat (15) bermakna bahwa riak ombak seolah- olah menggelitik pucuk jari kaki tokoh dalam cerpen sehingga ia merasakan kegelian seperti halnya manusia yang menggelitik orang lain.

  16 “Bayangan rambut hitam laki-laki yang tergerai hingga dada menari-nari tertiup angin di atas kuda putih tak berpelana” (hal 38) P.12 Gaya bahasa personifikasi ditunjukkan pada kata “menari-nari”. Menari dilakukan manusia dengan menggerak-gerakkan badannya, biasanya dengan diiringi bunyi-bunyian. Pada kalimat di atas, bayangan rambut diandaikan seperti manusia yang dapat menari.

  Kalimat (16) bermakna bahwa bayangan rambut laki-laki itu bergerak- gerak seolah-olah sedang menari saat tertiup angin.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  82 rasa suka cita” (hal 39) mengacu pada perbuatan manusia untuk memasukkan sesuatu ke dalam suatu bagian tubuh atau pun benda. Pada kalimat di atas, udara pagi seolah-olah dapat menusuk

layaknya manusia.

  Kalimat di atas ingin menggambarkan bahwa meskipun dia merasa kedinginan yang amat sangat, namun dia merasakan suatu kebahagiaan yang tak terkira sehingga dinginnya pagi yang seolah-olah menusuk kulitnya tidak dia rasakan. 18 “Seperti kerbau dicucuk hidungnya mereka mengikuti langkah Mayra menuju kantin” (hal 39) S.2 Analisis gaya bahasa perumpamaan pada kalimat (18), yakni pengarang menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan menggunakan kata seperti, bagai, bagaikan, dan ibarat untuk menegaskan bahwa kalimat tersebut menggunakan majas perumpamaan. Namun, kalimat tersebut menggunakan kata seperti untuk menandakan adanya majas perumpamaan. Pengarang mengibaratkan mereka (teman-teman Mayra) dengan hewan kerbau.

  Sebagaimana dengan kuda dan gajah, kerbau juga menjadi binatang yang dapat digunakan untuk membantu aktivitas manusia. Karena kekuatannya, kerbau dapat dikendalikan untuk membajak sawah atau pun mendorong pedati. Untuk mengendalikan kerbau, seseorang tidak cukup menggunakan cambuk tetapi juga menggunakan semacam cincin yang dipasang di antara rongga hidung kerbau. Untuk memasukkan cincin tersebut, hidung kerbau harus dicucuk dan dilubangi. Selanjutnya, cincin tersebut dimasuki dengan tali yang dapat digunakan untuk mengendalikan kerbau. Tindakan mereka mengikuti Langkah Mayra menuju kantin diibaratkan seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  83 Mungkin tarikan itu berupa pesona Mayra yang seolah-olah mengendalikan mereka untuk mengikutinya. Pesona tersebut membuat laki-laki tak berdaya.

  5. Cerpen SMS No. Kalimat Kode Analisis Gaya Bahasa Analisis Makna Tidak ada data yang ditemukan

  6. Cerpen Menepis Harapan No. Kalimat Kode Analisis Gaya Bahasa Analisis Makna 19 “Suara gong selalu menyambut kedatangan tamu di lobby hotel ini” (hal 56) P.14 Gaya bahasa personifikasi ditunjukkan pada kata “menyambut”. Kegiatan menyambut biasa dilakukan manusia saat mereka kedatangan tamu dalam suatu acara. Pada kalimat di atas, suara gong diandaikan seperti manusia yang dapat

menyambut tamu.

  Manusia biasa menyambut tamu saat mereka mengadakan suatu acara. Pengarang membuat suara gong seolah-olah dapat menyambut tamu layaknya manusia. Kalimat (19) bermakna bahwa suara gong seolah- olah selalu menyongsong kedatangan orang-orang di lobby hotel.

  20 “Gelak tawa dan derap kaki anak-anak kecil berlari menyapa hangat telinganya” (hal 56) P.15 Gaya bahasa personifikasi ditunjukkan pada kata “menyapa”. Menyapa mengacu pada kegiatan manusia untuk sekedar menegur atau mengajak bercakap-cakap orang lain. Pada kalimat di atas, “gelak tawa dan derap kaki” diandaikan seperti manusia yang dapat menyapa

  Kalimat (20) bermakna bahwa tokoh ia seolah- olah diajak bercakap- cakap oleh tawa dan derap kaki anak-anak kecil yang sedang berlari.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  84 jarum emas menghujam bumi” (hal 58) jarum emas”. Kalimat (21) menggunakan gaya bahasa perumpamaan karena perbandingannya ditandai

dengan kata bagai.

menunjukkan suatu benda yang berharga yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Mungkin pengarang hendak menggambarkan betapa mengerikannya rintik hujan tersebut. Rintik hujan tersebut sangat deras sehingga orang-orang berusaha menghindarinya agar tidak sakit walaupun di sisi lain hujan juga sangat berharga karena manusia membutuhkannya untuk berbagai keperluan. 22 “Dan ia merasa sangat jauh terasing dari pengunjung hotel yang sekedar datang untuk makan, minum, dan bermalam. Merasa tidak menjadi bagian dari kemewahan dan kebahagiaan itu. Merasa dirinya cuma serpihan debu yang menyelinap secara sembunyi-sembunyi di antara denting gelas kristal, gemerlap mutiara dan berlian” (hal 61)

  M.4 Gaya bahasa metafora terdapat kata ”ia” dan ”serpihan debu”.

  Pengarang mencoba membandingkan “ia” dengan ”serpihan debu” tanpa menggunakan kata-kata pembanding seperti, bagai, bak, dan kata pembanding lainnya. Tokoh “ia” diandaikan seperti seorang penyelinap, seperti halnya “serpihan debu” yang begitu kecil dan mudah menyelinap

di berbagai tempat.

kalimat (22) memiliki makna bahwa tokoh ia merasa asing di antara para pengunjung yang datang ke tempat itu. Itu disebabkan karena ia merasa memiliki tujuan yang berbeda dengan para pengunjung. Ia berada di tempat itu untuk bekerja mencari uang, sedangkan mereka datang ke tempat itu untuk bersenang- senang menghamburkan uang.

  23 Malam hadirkan bulan. Bulan cipta cahaya. Cahaya menyeka angkasa. Angkasa mengirim hujan. Hujan menyapa angin. Angin menggoyang perahu.

  A Gaya bahasa alegori pada kalimat (23) dapat dilihat dari cara pengarang menyatakan perbandingan antara hal yang satu dengan hal yang lain secara implisit dan saling

berkesinambungan.

  Kalimat (23) bermakna bahwa tokoh utama dalam cerpen tersebut tidak dapat hidup bersama dengan Glen, pria beristri yang dicintainya. Walaupun mereka sudah beberapa tahun menjalin hubungan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  85 angin hanya menggoyang perahu mereka tanpa pernah mengirim ke pelabuhan. Pelabuhan dimana mereka bisa menepi dan membangun rumah bahagia dengan fondasi cinta. Angin hanya mengombang- ambingkan perahu dan menggulung ombak hingga mereka tertelan ke dalam samudera tanpa dasar (hal. 62) meninggalkan wanita itu untuk hidup bersama istrinya dan anak-anaknya.

  24 “Di atas tempat duduk bar yang tinggi ia harus berusaha duduk dengan sikap yang benar atau belahan tinggi pada pahanya akan memancing kerlingan mata-mata nakal” (hal 63) P.16 Gaya bahasa personifikasi ditunjukkan pada kata “memancing”. Memancing mengacu pada kegiatan manusia dengan menggunakan sesuatu untuk memikat sasarannya. Pada kalimat di atas, “belahan tinggi pada paha” diandaikan seperti manusia yang dapat

memancing sesuatu.

  Makna dari kalimat (24), tokoh dalam cerpen berusaha duduk dengan sikap yang benar agar pahanya tidak terlihat. Hal ini dikarenakan busana yang ia kenakan cukup pendek sehingga apabila pahanya terlihat, hal itu dapat mengundang para para lelaki untuk melihatnya dan membuat mereka membayangkan sesuatu yang nakal.

  25 “Semua berdesing- desing bagai letusan senapan di sekelilingnya ketika ia melihat sesosok laki- laki berdiri menatapnya” (hal 64) S.4 Gaya bahasa perumpamaan terdapat pada cara pengarang membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam kalimat di atas yang dibandingkan yaitu kata “semua berdesing-desing” dan “letusan senapan” yang ditandai dengan kata

pembanding bagai.

  Senapan bila ditembakkan akan mengeluarkan suara yang bising, menyakitkan, dan tidak karuan. Pengarang menggambarkan suasana hati tokoh ia yang perasaannya tidak karuan ketika melihat sesosok laki-laki yang berdiri menatapnya. Sosok itu adalah laki-laki yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  86

7. Cerpen Nayla No. Kalimat Kode Analisis Gaya Bahasa Analisis Makna

  26 “Ia menjadi muram seperti cahaya bulan yang bersinar suram” (hal 65)

  S.5 Gaya bahasa perumpamaan pada kalimat (26), pengarang menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan menggunakan kata seperti untuk menandakan bahwa kalimat tersebut merupakan gaya bahasa perumpamaan. Dalam kalimat tersebut pengarang menyamakan “ia” dengan “bulan”.

  Keindahan bulan seringkali digunakan untuk menggambarkan kemolekan wajah wanita. Maka tidak menjadi masalah jika kemuraman wajah wanita juga digambarkan dengan suramnya cahaya bulan. Bila cahaya bulan mulai meredup, bulan akan tampak kabur dan terlihat seperti kehilangan semangatnya. Pengarang menggambarkan wajah tokoh ia yang terlihat sedih.

  27 “Waktu bagaikan seorang pembunuh yang selalu membuntuti dan mengintai dalam kegelapan” (hal 66)

  S.6 Gaya bahasa perumpamaan pada kutipan cerita pendek di atas yakni pengarang menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan menggunakan kata bagai untuk menandakan bahwa kalimat tersebut merupakan gaya bahasa perumpamaan. Dalam kalimat tersebut pengarang menyamakan “waktu” dengan “seorang pembunuh”.

  Kalimat (27) menyamakan waktu dengan seorang pembunuh. Dengan menggambarkan waktu sebagai seorang pembunuh, pengarang hendak menunjukkan betapa menakutkannya waktu. Waktu membuat gelisah dan tidak nyaman karena keberadaannya seolah-olah seperti penjahat yang selalu mengintai dan membuntuti kemanapun kita melangkah.

  28 “Nayla ingin menghantamkan palu ke arah jam sehingga P.17 Gaya bahasa personifikasi ditunjukkan pada kata “bungkam”. Bungkam

  Bungkam biasa dilakukan manusia saat mereka tidak ingin berbicara dengan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  87 dengan menutup mulutnya rapat-rapat sehingga tidak bersuara. Pada kalimat di atas, “alarm” diandaikan seperti manusia yang dapat berbicara atau pun diam. bersuara. Nayla ingin menghantamkan palu ke arah jam agar suara alarm yang mengganggunya tidak berbunyi lagi. 29 “Mungkin hidup adalah ibarat mobil berisikan satu tangki penuh bahan bakar”(hal 75) S.7 Kalimat (29) menggunakan gaya bahasa perumpamaan. Hal ini ditunjukkan pada penggunaan kata pembanding ibarat untuk membandingkan antara “hidup” dengan “mobil”.

  Makna dari kalimat itu dapat terlihat jelas bila kita membaca kalimat selanjutnya. Maknanya bahwa manusia seringkali menyia-nyiakan waktunya untuk melakukan hal-hal yang kurang berguna. Manusia baru berpikir menggunakan kesempatannya untuk melakukan hal-hal yang selama ini belum pernah mereka lakukan ketika mereka menyadari bahwa waktu yang dimiliki untuk menggunakan kesempatan itu hampir tidak ada sehingga yang tersisa hanyalah penyesalan.

8. Cerpen Wong Asu No. Kalimat Kode Analisis Gaya Bahasa Analisis Makna

  30 “Jasad anjing itu terbawa makin ke tengah. Gelap malam menelan tubuhnya yang pasrah terombang-ambing hingga punah dari penglihatan” (hal 83)

  P.18 Gaya bahasa personifikasi ditunjukkan pada kata “menelan”. Menelan mengacu pada suatu tindakan manusia saat menyantap makanan atau minuman. Pada kalimat di atas, “gelap malam” diandaikan seperti manusia yang dapat menyantap sesuatu.

  Makna dari kalimat (30) bahwa malam yang gelap karena tidak adanya cahaya seolah-olah menelan jasad anjing hingga orang tidak lagi dapat melihat dimana letak jasad anjing itu. Jasad anjing itu seolah-olah menghilang begitu saja.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  88 No. Kalimat Kode Analisis Gaya Bahasa Analisis Makna

  31 “Cara ibu merunduk rendah ketika menyuguhkan minuman hingga buah dadanya bagai akan meloncat keluar” (Hal 98) S.8 Gaya bahasa perumpamaan pada kalimat (31), pengarang menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan menggunakan kata bagai untuk menandakan bahwa kalimat tersebut merupakan gaya bahasa perumpamaan.

  Djenar Maesa Ayu memang tipe penulis yang sangat gamblang dalam berbahasa, terutama dalam membicarakan bagian tubuh manusia yang tabu dibicarakan. Gambaran buah dada yang akan meloncat keluar hendak menunjukkan bahwa buah dada ibu sangat padat berisi. Hal itu nampak jelas terlihat ketika ibu sedang merunduk. Keadaan tersebut didukung dengan pakaian yang terbuka sehingga orang yang ada dapat melihat dengan jelas sebagian buah dada sang ibu.

10. Cerpen Asmoro No. Kalimat Kode Analisis Gaya Bahasa Analisis Makna

  32 “Dari sinar kemerahan itu, burung-burung senja berkepakan terbang dan sebagian yang tertinggal di belakang mau tidak mau tertelan air laut yang siap luluh bagai pohon tumbang” (hal 107)

  S.9 Kalimat (32) merupakan gaya bahasa perumpamaan, hal ini terlihat dari cara pengarang menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan menggunakan kata bagai untuk menandakan bahwa kalimat tersebut merupakan gaya bahasa perumpamaan.

  Air laut yang siap luluh bagai pohon tumbang menjadi gambaran burung-burung yang terbang rendah di laut hendak disapu oleh ombak air laut yang sangat besar yang seolah-olah hendak menimpa mereka. Karena terlalu terbang rendah, maka sudah dipastikan burung-burung itu tersapu ombak. 33 “Ketika Adjani hampir P.19 Gaya bahasa personifikasi Menyulap biasa dilakukan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  89 108) atraksi sulap. Menyulap merupakan kegiatan mengubah rupa sesuatu dengan cepat dan dengan cara yg ajaib. Pada kalimat di atas, “angkasa” diandaikan seperti manusia yang dapat mengubah sesuatu dengan ajaib. dengan cepat dan dengan cara yang ajaib. Makna dari kalimat di atas bahwa sebelum Adjani pergi ke pantai, keadaan saat itu masih sore. Namun ketika Adjani hampir sampai di bibir pantai ternyata hari sudah malam. 34 “Aktivitas di kota itu lumpuh” (hal 109)

  P.20 Gaya bahasa personifikasi ditunjukkan pada kata “lumpuh”. Lumpuh. merupakan suatu keadaan dimana manusia tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Aktivitas merupakan suatu kegiatan. Pada kalimat di atas, “aktivitas” diandaikan seperti manusia yang tidak dapat berjalan.

  Kalimat (34) bermakna bahwa seluruh kegiatan yang ada di kota itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Semua orang berhenti dari kesibukannya.

  35 “Keinginannya meledak-ledak untuk segera berjumpa dan keinginan untuk lebih lama bersama, bagai satu mata koin dengan dua sisi yang berbeda” (hal 111)

  S.10 Kalimat (35) merupakan gaya bahasa perumpamaan, hal ini terlihat dari cara pengarang menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan menggunakan kata bagai untuk menandakan bahwa kalimat tersebut merupakan gaya bahasa perumpamaan.

  Koin memiliki dua sisi yang berbeda. Walaupun berada di satu koin tapi kedua sisi yang berbeda itu tidak akan pernah bertemu. Penggambaran dari majas di atas yaitu meskipun tokoh Asmoro berusaha keras untuk dapat berlama-lama dengan imajinasinya bersama Adjani namun Asmoro pun harus segera menyudahi imajinasinya itu agar tulisannya menjadi cerita yang utuh.

11. Cerpen Manusya dan Dia

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  90

kecil yang terlihat dari cara pengarang bersembunyi di sudut

bersembunyi di sudut menggunakan perbandingan kegelapan memperlihatkan

kegelapan” (hal 116). eksplisit yang dinyatakan keadaan takut dan ngeri

dengan menggunakan kata ketika melihat keadaan bagai untuk menandakan yang menakutkan. Dia bahwa kalimat tersebut tidak berdaya. Tidak ada merupakan gaya bahasa yang bisa dilakukan selain perumpamaan. bersembunyi. Hati orang dalam cerpen tersebut tidak hanya menyerah dan ciut, tetapi juga takut dan tidak berdaya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  94

BIODATA PENULIS

  Paulina Sukmana Puti, putri ketiga dari pasangan Agustinus Andang dan Agustina Sri ini lahir di Purbalingga, 2 Desember 1991. Pendidikan Sekolah Dasar penulis tempuh di SD Pius. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di SMP 1 Purbalingga. Pendidikan SMA penulis tempuh di SMA 1 Purbalingga. Setelah lulus dari SMA, penulis melanjutkan pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dan tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah angkatan 2009. Masa pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta diakhiri penulis dengan menulis skripsi sebagai tugas akhir dengan judul Majas Perbandingan dalam Kumpulan Cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! Karya Djenar Maesa Ayu.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

REALITAS BUDAYA PEREMPUAN METROPOLITAN DALAM CERPEN (Analisis Semiotik Cerpen Karya Djenar Maesa Ayu Dengan Judul Jangan Mainmain(Dengan Kelaminmu), Moral, dan Staccato)
0
7
2
PESAN KEKERASAN RUMAH TANGGA DALAM FILM Studi Analisis Isi pada Film “Mereka Bilang, Saya Monyet”Karya Djenar Maesa Ayu
0
7
2
Kajian id, ego, dan superego dalam diri tokoh Nayla dan tokoh ibu dalam novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu : sebuah kajian psikoanalisis.
6
23
77
Majas perbandingan dalam kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! Karya Djenar Maesa Ayu.
1
35
108
Perilaku Menyimpang Tokoh Utama dalam Novel Nayla Karya Djenar Maesa Ayu: Kajian Psikosastra
0
0
6
Perilaku Menyimpang Tokoh Utama dalam Novel Nayla Karya Djenar Maesa Ayu: Kajian Psikosastra
0
0
2
Perilaku Menyimpang Tokoh Utama dalam Novel Nayla Karya Djenar Maesa Ayu: Kajian Psikosastra
0
1
15
Perilaku Menyimpang Tokoh Utama dalam Novel Nayla Karya Djenar Maesa Ayu: Kajian Psikosastra
0
0
5
Perilaku Menyimpang Tokoh Utama dalam Novel Nayla Karya Djenar Maesa Ayu: Kajian Psikosastra
0
0
1
Perilaku Menyimpang Tokoh Utama dalam Novel Nayla Karya Djenar Maesa Ayu: Kajian Psikosastra
1
1
9
POLITIK TUBUH PEREMPUAN DALAM CERPEN (Analisis Wacana Sara Mills tentang Politik Tubuh Perempuan dalam Cerpen Jangan Main-Main dengan Kelaminmu Karya Djenar Maesa Ayu - UNS Institutional Repository
0
5
141
Penyebab dan tipe kenakalan tokoh nayla dalam novel nayla karya Djenar Maesa Ayu tinjauan psikologi sastra - USD Repository
0
0
85
Feminisme tokoh perempuan dalam kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! Karya Djenar Maesa Ayu - USD Repository
0
0
125
Tuturan yang bermaksud merendahkan perempuan dalam kumpulan cerpen Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu) karya Djenar Maesa Ayu : bentuk dan referen - USD Repository
0
0
97
Disfemisme dalam Novel Nayla Karya Djenar Maesa Ayu - Repository UNRAM
0
0
21
Show more