Bentuk dan strategi dukungan sosial terhadap Psychological Well Being pada penderita kanker payudara - USD Repository

Gratis

0
0
268
4 days ago
Preview
Full text

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  PSYCHOLOGICAL WELL BEING PADA PENDERITA KANKER PAYUDARA Skripsi

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

  Program Studi Psikologi

  Oleh : Intan Ayu Anggun Purwitasari NIM : 089114086 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  ,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

“SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTU-NYA”

  “Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu”

1 Petrus 5:7 “dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

  Dan pengharapan tidak mengecewakan.” Roma 5 : 4-5a

  Segala usaha kerasku ini aku persembahakan kepada TUHAN YESUS sumber segala kehidupan, Papi dan Mami yang senantiasa mendukung dan mendoakan,

  Kakak dan adik-adikku yang aku sayangi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian dari karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 29 Oktober 2013 Penulis,

  Intan Ayu Anggun Purwitasari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  PSYCHOLOGICAL WELL BEING PADA PENDERITA KANKER PAYUDARA Intan Ayu Anggun Purwitasari

  ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah melihat bentuk dan strategi dukungan sosial yang dipersepsi mendukung dimensi psychological well being pada penderita kanker payudara. Penelitian ini penting dilakukan karena dukungan sosial merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi psychological well being dan tidak semua dukungan yang diberikan dapat diterima sebagai dukungan sosial oleh penerima dukungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini adalah 5 orang pasien kanker payudara stadium lanjut. Pemilihan subjek menggunakan teknik criterion sampling, dengan salah satu kriteria memiliki psychological well being yang baik.

  Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam kepada setiap subjek. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa jenis dukungan sosial yang diterima adalah dukungan sosial emosional, dukungan sosial instrumental, dukungan sosial informatif, dukungan sosial penghargaan, dan dukungan sosial jaringan sosial. Adapun bentuk dukungan sosial yang diterima adalah semangat, perhatian, nasihat, informasi, dorongan untuk berobat, menerima apa adanya, dukungan beraktivitas, ajakan beraktivitas, bantuan tenaga dan waktu, menanyakan kabar, serta adanya bantuan materi. Dukungan tersebut diberikan dengan cara pendampingan, pengarahan, berbagi pengalaman, pemberian

kebebasan, penerimaan, menemani, memotivasi, dan pemberian bantuan.

  Kata kunci : kanker payudara, bentuk dukungan sosial, strategi dukungan sosial, psychological well being

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Intan Ayu Anggun Purwitasari ABSTRACT The purpose of this research is to seek the form of social support and to see the strategies of social support which may influence psychological well being dimension of breast cancer patient. This research is so important to do because social support is as one factors affect psychological well being and should be noted that not all supports could be accepted by the patient as social support. This research, descriptive qualitative approach is used. Here, there are 5 advanced breast cancer patients are selected as the subjects as well as used for the criterion sampling method. One of the criteria is that they should have good psychological well being. The data was collected by conducting in-depth interview for each subject. The results of this research indicate that the sort of accepted social supports are emotional, instrumental, informative, achievement sosial support, and social community support. Whereas, the forms of social support could be in the form of courage, care, advice, information, encouragement to seek treatment, acceptance, effort of time and energy, greeting, and material assistance. Those supports could be given by mentoring way, briefing, sharing experiences, giving discretion, acceptance, accompany, motivate, and giving assistance.

  Keywords : breast cancer, forms of social support, social support strategies, psychological well being.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

LEMBAR PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Intan Ayu Anggun Purwitasari Nomor Mahasiswa : 089114086

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan Kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

  

BENTUK DAN STRATEGI DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP

PSYCHOLOGICAL WELL BEING PADA PENDERITA KANKER

PAYUDARA

  beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan Kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 29 Oktober 2013 Yang menyatakan, (Intan Ayu Anggun Purwitasari)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus Yang Maha Esa yang telah melimpahkan kasih, berkat, rahmat, dan anugrah yang melimpah, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul “Bentuk dan Strategi Dukungan Sosial Terhadap Psychological Well Being pada Penderita Kanker Payudara ” dengan baik.

  Penulisan skripsi ini merupakan kelengkapan dan pemenuhan dari salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Psikologi. Selain itu, penulisan skripsi ini juga berguna bagi penulis untuk berlatih melakukan sebuah penelitian dan menghasilkan sebuah karya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sehingga dapat bermanfaat.

  Dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis banyak mendapatkan hambatan yang berasal dari dalam diri maupun dari luar. Namun, berkat dukungan, bimbingan, saran dan masukan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

  1. Tuhan Yesus Kristus atas kasih, nafas kehidupan, anugerah kebijaksanaan, ketekunan, dan kesabaran yang tiada habisnya, terus mengalir dalam kehidupan penulis.

  2. Bapak Cornelius Siswa Widyatmoko, M.Psi. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  3. Ibu Ratri Sunar Astuti, M.Si. selaku Kaprodi dan Ibu Dewi Soerna Anggraeni, M.Psi. selaku Wakaprodi.

  4. Ibu Agnes Indar Etikawati, S.Psi., M.Si., Psi. selaku dosen pembimbing akademik.

  5. Ibu Dr. Tjipto Susana, Psi. selaku dosen pembimbing skripsi atas bimbingan, kesabaran, petunjuk, masukan, kritik yang diberikan selama proses penulisan skripsi.

  6. Mas Gandung, Pak Gik, Bu Nanik, Mas Doni, Mas Muji terima kasih atas bantuan dan kerja samanya selama ini.

  7. Direktur RS Bethesda atas perizinan yang diberikan untuk melakukan penelitian. Staff RS Bethesda atas bantuan dan partisipasinya dalam penelitian ini.

  8. Ibu S, Ibu K, Ibu D, Ibu I, dan Ibu R, atas kesediaannya menjadi subjek dan atas pengalaman hidup yang sudah dibagikan.

  9. Keluarga, Papi, Mami, terima kasih atas bimbingannya selama ini. Terima kasih untuk dukungan doa, materi, finansial, fasilitas, kasih sayang, pengertian dan segala macam kebutuhan selama proses kuliah sampai proses penulisan skripsi. Terima kasih telah menjadi pendukung terhebat dan yang paling setia.

  10. Mamas Agung, Lalak, Pampam atas keceriaan yang membahagiakan.

  11. Bude Madi (Alm.) atas pengalaman tentang penyakit kanker. Bude itu inspirasi buat aku untuk meneliti tentang kanker payudara.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  12. Teman seperjuanganku Oshin, Tiwai, Ciput, Caecil, Vina, Dessi, Koh Be, atas dukungan, bantuan, dan canda tawa yang kalian hadirkan dalam hidupku.

  13. Temen-teman Psikologi 2008 terima kasih untuk kebersamaannya selama ini.

  14. Teman satu bimbingan Evrisya, Cintya, Iness, Nopai, Puji, menggalau bersama kalian itu mengesankan sekali. Suka duka skripsi kita lalui bersama. Terima kasih teman untuk semuanya.

  15. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu yang sudah turut membantu dan mendukung.

  Penulis menyadari bahwa penelitian dan laporan Skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak.

  Akhir kata, penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan yang disengaja maupun tidak selama proses penelitian dan penulisan laporan ini.

  Sekali lagi, penulis mohon maaf dan terima kasih. Semoga hasil penelitian ini dapat berguna bagi kita semua.

  Yogyakarta, 29 Oktober 2013 Penulis,

  Intan Ayu Anggun Purwitasari

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

  ……………………………………………………….. i

  HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING

  ……..………... ii

  HALAMAN PENGESAHAN

  …………………………………………….. iii

  HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN

  …………………………. iv

  HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  …………………... v

  ABSTRAK

  …………………………………………………………………. vi

  ABSTRACT

  ………………………………………………………………... vii

  HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA

  ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  ……………………... viii

  KATA PENGANTAR

  …………………………………………………...... ix

  DAFTAR ISI

  ……………………………………………………………….. xii

  DAFTAR TABEL

  …………………………………………………………. xvi

  DAFTAR LAMPIRAN

  ……………………………………………………. xvii

  BAB I. PENDAHULUAN

  …………………………………………………. 1

  A. Latar Belakang Masalah …….……………………………………. 1

  B. Rum usan Masalah ………………………………………………… 9 C. Tujuan Penelitian

  …………………………………………………. 9 D. Manfaat Penelitian ………………………………………………… 9 1.

  Manfaat Teoretis ……………………………………………... 9 2. Manfaat Praktis ……………………………………………….. 10

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

  ………………………………………….. 11 A. Dukungan Sosial ………………………………………………….. 11

  1. Pengertian Dukungan So sial ……………………………..…… 11

  2. Jenis Dukungan Sosial ………………………………………... 12 3.

  Faktor Penentu Dukungan Sosial ……………………………... 15

  4. Penelitian-penelitian t entang Dukungan Sosial ……………… 17 B. Psychological Well Being

  …………………………………………. 18

  1. Pengertian Psychological Well Being ………………………… 18

  2. Dimensi-dimensi Psychological Well Being ………………….. 21

  3. Faktor yang Mempengaruhi Psychological Well Being ………. 24

  4. Penelitian-penelitian tentang Psychological Well Being …….. 26

  C. Penelitian-penelitian Tentang Dukungan Sosial dan Psychological

  Well Being

  ………………………………………………………… 27 BAB III. METODE PENELITIAN ..

  ……………………………………... 29 A. Jenis Penelitian ……………………………………………………. 29 B. Fokus Penelitian …………………………………………………... 30

  C. Etika Penelitian …………………………………………………… 31 D.

  Definisi Operasional ………………………………………………. 31

  E. Subjek Pen elitian ………………………………………………….. 33 F. Metode Pengu mpulan Data ……………………………………….. 34

  1. Skala I tem Tunggal …………………………………………… 34

  2. Wa wancara ……………………………………………………. 38

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  G.

  Prosedur Analisis Data ……………………………………………. 45

  1. Organisasi Data …..…………………………………………… 45

  2. Koding …..…………………………………………………..… 46 3.

  Analisis Tema …..……………………………………………... 46 4. Interpretasi …..………………………………………………… 47

  H. Kredibilitas P enelitian …………………………………………….. 47

  1. Member Checking …………………………..………………… 48

  2. Validitas Argumentatif …………………………..…………… 48

  3. Validitas Ekoligis …………………………..………………… 48

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  ……………….. 49 A. Proses Penelitian ………………………………………………….. 49 1.

  Persiapan Penelitian …………………………………………... 49 2. Pelaksanaan Penelitian ………………………………………... 52 3. Proses Analisis Data ………………………………………….. 54 4. Jadwal Pengambilan Data …………………………………….. 55 B. Profil Subjek ………………………………………………………. 57 1.

  Subjek Pertama ……………………………………………….. 57 2. Subjek Kedua …………………………………………………. 57 3. Subjek Ketiga …………………………………………………. 58 4. Subjek Keempat ………………………………………………. 58

  5. Subjek Kelima ………………………………………………… 59

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  C.

  Temuan Hasil Penelitian ………………………………………….. 59 1.

  Subjek Pertama ……………………………………………….. 59 2. Subjek Kedua …………………………………………………. 72 3. Subjek Ketiga …………………………………………………. 87 4. Subjek Keempat ………………………………………………. 100

  5. Subjek Kelima ………………………………………………… 113 D.

  Pembahasan ……………………………………………………….. 128

BAB V. PENUTUP

  ………………………………………………………… 145 A. Kesimpulan ………………………………………………………... 145 B. Keterbatasan Penelitian …………………………………………… 147

  C. Sar an ………………………………………………………………. 147

  1. Bagi Peneliti Selanjutnya ……………………………………... 147 2.

  Bagi Pasien Kanker Payudara ………………………………… 148 3. Bagi Keluarga Pasien Kanker Payudara ……………………… 148

  4. Bagi Pihak Rumah Sakit atau Lembaga yang Bergerak di Bidang Kanker ………………………………………………… 149

DAFTAR PUSTAKA

  ……………………………………………………… 150

  LAMPIRAN

  ………………………………………………………………... 153

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

DAFTAR TABEL

  Tabel 1. Hasil Survey Istilah Psychological Well Being …………………..... 37

  Tabel 2. Daftar Pertanyaan P anduan Wawancara …………………………… 39 Tabel 3.

  Jadwal Pelaksanaan Pengambilan Data Subjek 1 ………………….. 55 Tabel 4. Jadwal Pelaksanaan Pengambilan Data Subjek 2

  ………………….. 55 Tabel 5. Jadwal Pelaksanaan Pengambilan Data Subjek 3

  ………………….. 56 Tabel 6. Jadwal Pelaksanaan Pengambilan Data Subjek 4

  ………………….. 56 Tabel 7. Jadwal Pelaksanaan Pengambilan Data Subjek 5

  ………………….. 57

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 1. Hasil Tryout Skala

  The Ryff’s Scale of Psychological Well Being

  ………………………………………………………… 154 Lampiran 2. Hasil Perhitungan Statistik Tryout Skala

  The Ryff’s Scale of Psychological Well Being

  …………………………………… 159 Lampiran 3. Panduan Wawancara ………………………………………… 163

  Lampiran 4. Transkrip Verbatim Wawancara dan Analisis Data Subjek 1 (Ibu S)

  ……………………………………………………….. 166 Lampiran 5. Transkrip Verbatim Wawancara dan Analisis Data Subjek 2

  (Ibu K) ……………………………………………………….. 183

  Lampiran 6. Transkrip Verbatim Wawancara dan Analisis Data Subjek 3 (Ibu D)

  ……………………………………………………….. 195 Lampiran 7. Transkrip Verbatim Wawancara dan Analisis Data Subjek 4

  (Ibu I) ………………………………………………………... 212

  Lampiran 8. Transkrip Verbatim Wawancara dan Analisis Data Subjek 5 (Ibu R)

  ……………………………………………………….. 231 Lampiran 9. Surat Perizinan dari Rumah Sakit Bethesda Yog yakarta ….. 247 Lampiran 10. Informed Cons ent ……………………………………………. 248 Lampiran 11. Surat Pernyataan Persetujuan Wawancara

  …………...………. 250 Lampiran 12. Surat Keterangan Keabsahan Wawancara

  ………..……...… 251

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Kanker merupakan salah satu penyakit yang sangat ditakuti. Hal ini dikarenakan, kanker merupakan salah satu penyakit ganas yang mematikan. Di dunia, 12% seluruh kematian disebabkan oleh kanker. Data World Health Organization (WHO) dan Bank Dunia memperkirakan setiap tahun, 12 juta orang di seluruh dunia menderita kanker dan 7,6 juta orang meninggal dunia. Ironisnya, kasus ini mengalami perkembangan yang cepat pada negara miskin dan berkembang (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2010). Sebanyak dua pertiga dari penderita kanker di dunia tersebut berada di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia (Lubis, 2009). Menurut Prof. Tjandra Yoga, prevalensi penyakit tumor atau kanker di Indonesia sebesar

  4,3% per 1.000 penduduk (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2010). Data Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa jumlah penderita kanker di Indonesia mencapai 6 persen dari populasi dan menempatkan penyakit tersebut secara keseluruhan sebagai pembunuh nomor 6 dibandingkan dengan penyakit lainnya (Lubis, 2009).

  Kanker bisa menyerang siapa saja, baik laki-laki, perempuan, anak- anak, remaja maupun dewasa. Salah satu kanker yang banyak menyerang kaum perempuan adalah kanker payudara. Penyakit ini terus mengalami peningkatan pada setiap tahunnya. Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  2008, kanker payudara menempati peringkat pertama penyakit kanker pada pasien rawat inap di rumah sakit pada tahun 2004

  • – 2007. Pada tahun 2004 angka kejadian kanker payudara sebanyak 5.207 kasus, tahun 2005 sebanyak 7.850 kasus, tahun 2006 sebanyak 8.328 kasus, dan tahun 2007 sebanyak 8.277 kasus.

  Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2007, kanker payudara menempati urutan pertama pada pasien rawat inap di seluruh Rumah sakit di Indonesia, yaitu sebesar 16,85%. Selain itu, kanker yang paling banyak diderita oleh perempuan di Indonesia adalah kanker payudara dengan angka kejadian 26 per 100.000 perempuan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2010).

  Kanker dapat menimpa semua orang, pada setiap bagian tubuh, dan pada semua golongan umur, namun lebih sering menimpa orang yang berusia 40 tahun. Sebesar 60-70% kasus kanker payudara yang terjadi di Indonesia terdeteksi pada stadium lanjut (stadium 3 dan stadium 4). Sedangkan kasus yang ditemukan pada stadium 1 sebesar kurang dari 10% (Yayasan Kanker Indonesia, 2012). Hal ini dikarenakan gejala permulaan kanker payudara tidak dirasakan ataupun tidak disadari oleh penderitanya.

  Kanker payudara merupakan penyakit yang sangat ditakuti oleh kaum perempuan. Hal ini dikarenakan berkaitan dengan kondisi fisik, terutama penampilan perempuan. Payudara memiliki nilai yang tinggi bagi perempuan. Payudara merupakan tanda kewanitaan secara fisik, sebagai organ yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  memproduksi ASI, sebagai simbol peran seorang ibu, serta memiliki makna seksual yang penting.

  Seseorang yang menderita kanker payudara harus mengikuti beberapa tahap pengobatan, yaitu operasi, radiasi, dan kemoterapi. Berbagai macam pengobatan tersebut memberikan dampak fisik pada penderitanya. Dampak tersebut adalah tubuh tidak lagi indah karena kehilangan salah satu anggota tubuhnya, rambut menjadi rontok, kulit menghitam, mual, susah menelan, dan terasa nyeri pada bekas luka operasi.

  Manusia merupakan pribadi yang mempunyai sifat holistik, yaitu makhluk fisik yang sekaligus psikologis. Kedua aspek ini saling berkaitan satu sama lain dan saling mempengaruhi. Sehingga apa yang terjadi dengan kondisi fisik manusia akan mempengaruhi pula kondisi psikologisnya (Lubis, 2009). Hal ini dapat dilihat pada penderita penyakit kronis, seperti kanker payudara. Reaksi psikologis yang dapat muncul setelah pasien divonis kanker payudara pada umumnya merasa shock, takut, tidak bisa menerima kenyataan, sampai pada depresi (Hawari dalam Uila, 2009).

  Seseorang yang menderita kanker akan mengalami suatu keadaan mental yang tidak nyaman. Keadaan ini disebabkan oleh beban psikologis yang harus ditanggung. Seseorang yang terdiagnosis menderita kanker akan memiliki tekanan yang lebih besar dibandingkan seseorang yang terdiagnosis penyakit lainnya (Saphiro dalam Ozkan & Ogee, 2008). Reaksi psikologis yang dialami oleh penderita kanker sangatlah beragam. Hal tersebut disebabkan oleh keadaan dan kemampuan masing-masing individu dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menghadapi penyakitnya. Walaupun begitu, ada enam reaksi psikologis yang utama, yaitu kecemasan, depresi, perasaan kehilangan kontrol, gangguan kognitif atau status mental, gangguan seksual, serta penolakan terhadap kenyataan (Prokop dalam Lubis, 2009). Sedangkan menurut Taylor (dalam Lubis, 2009) ada 3 bentuk respon emosional yang biasanya muncul pada pasien penyakit kronis seperti kanker, yaitu penolakan, kecemasan, dan depresi.

  Pasien yang mengalami kanker akan menunjukkan stress dan depresi yang ditunjukkan dengan perasaan sedih, putus asa, pesimis, merasa gagal, tidak puas dalam hidup, merasa lebih buruk dari orang lain, penilaian rendah terhadap tubuhnya dan merasa tidak berdaya (Lubis, 2009). Selain depresi, kecemasan merupakan respon yang umum terjadi setelah penyakit kanker terdiagnosis. Seorang yang menderita kanker payudara akan terus mengalami kecemasan. Kecemasan yang dialami akan mengalami peningkatan ketika penderita membayangkan terjadinya perubahan dalam dirinya di masa depan akibat dari penyakit yang di derita, maupun akibat dari proses penanganan penyakit.

  Kecemasan dan depresi merupakan gangguan psikologis yang sangat umum terjadi pada pasien kanker payudara. Miller dan Rober (dalam Uila, 2009) mengungkapkan bahwa seorang penderita kanker payudara juga akan mengalami kecemasan dan depresi. Hawari (dalam Uila, 2009) dalam bukunya mengungkapkan bahwa pasien yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan penyakitnya akan mengalami kecemasan dan depresi yang akan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menyebabkan penurunan kekebalan tubuh dan memperparah penyakitnya. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Colegrave (dalam Anggraeni & Ekowati, 2010) mengungkapkan bahwa terdapat peningkatan level kecemasan dan depresi pada wanita dengan kasus kanker payudara, sampai pada fase klinis-patologis.

  Karyono, Dewi, dan Lela (2008) berpendapat bahwa penyakit kanker payudara juga berkaitan dengan kualitas hidup penderitanya. Kualitas hidup tersebut terdiri atas empat dimensi, yaitu kesejahteraan fisik, psikologis, fungsional, dan sosial. Halim (dalam Karyono, 2008) mengungkapkan bahwa salah satu bentuk penurunan kualitas hidup yang dialami pasien kanker payudara adalah terjadinya penurunan kesejahteraan psikologis.

  Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kondisi psikologis, seperti kecemasan dan depresi mempengaruhi kualitas hidup penderita kanker payudara. Dalam keadaan yang seperti itu, penderita kanker payudara sangat membutuhkan dukungan sosial dari orang-orang yang berarti dalam hidupnya. Oleh sebab itu, seseorang yang menderita kanker payudara tidak hanya perlu mendapatkan penanganan secara fisik saja, tetapi juga secara psikologis. Selain membutuhkan perawatan yang cepat dan diagnosis secara akurat, pasien kanker juga sangat membutuhkan dukungan sosial dalam menjalani perawatan kanker (Clark dalam Ozkan & Ogee, 2008).

  Salah satu faktor yang mempengaruhi tinggi atau rendahnya

  psychological well being adalah faktor dukungan sosial. Seseorang yang

  sedang dihadapkan pada masalah atau kesulitan hidup dan ia mendapatkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dukungan sosial dari lingkungannya, maka beban psikologis yang harus ditanggung menjadi lebih ringan. Secara teoretis, dukungan sosial dapat menurunkan kecenderungan munculnya kejadian yang dapat mengakibatkan stress (Baziad dalam Anggraeni & Ekowati, 2010). Dukungan sosial yang diterima menjadikan individu merasa nyaman dan tenang. Selain itu, dukungan sosial juga dapat mengurangi tekanan psikologis yang disebabkan oleh penyakit.

  Dukungan sosial memiliki peran yang besar bagi seseorang yang memiliki beban berat, seperti menderita penyakit kanker. Namun, dukungan sosial yang diterima dan dirasakan dapat berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Perbedaan dikarenakan setiap individu memiliki pemaknaan yang berbeda dalam merasakan penerimaan dukungan tersebut (Salsabila, 2009). Pendapat tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Primadi dan Hadjam (2010), mereka meneliti mengenai kualitas hidup dan dukungan sosial pada Orang Dengan Epilepsi (ODE).

  Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kedua hal tersebut. Hal ini dikarenakan subjek tidak merasakan dukungan sosial dari keluarga. Dalam penelitian ini, keluarga salah satu ODE memberikan dukungan berupa perlindungan, namum ODE tersebut menilai bahwa keluarganya bersifat terlalu melindungi. Kekhawatiran keluarga akan aktivitas membuat ODE menjadi tidak tenang dalam menjalani aktivitas.

  Selama ini, penelitian mengenai dukungan sosial terhadap penderita kanker payudara hanya meneliti mengenai dampak dari dukungan sosial yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  yang diberikan kepada penderita kanker payudara. Ozkan dan Ogee (2008) mengungkapkan bahwa dukungan sosial memiliki peran penting dalam mencegah masalah-masalah psikologis, seperti kecemasan dan depresi yang umumnya terjadi pada penderita kanker. Selain itu, penelitian yang dilakukan Sari (2011) juga mengungkapkan bahwa dukungan sosial yang diperoleh penderita kanker memberikan dampak positif, sehingga penderita kanker payudara bisa mengatasi tekanan psikologisnya, seperti sedih, putus asa, cemas, dan depresi. Dampak lain dari dukungan sosial pada pasien kanker payudara adalah bahwa dengan mendapatkan dukungan sosial, pasien kanker payudara menjadi tidak mudah putus asa terhadap penyakitnya, bersemangat untuk pulih dari penyakit, lebih kuat, dan lebih rajin dalam beribadah kepada Tuhan (Sari & Prasetyadi, 2005).

  Selain itu, penelitian yang ditemukan mengenai dukungan sosial bagi penderita kanker payudara hanya membahas bentuk dukungan sosial secara umum, dan belum ditemukan penelitian yang meneliti mengenai bentuk dan strategi dukungan sosial secara konkret. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni dan Ekowati (2010) menunjukkan bahwa dukungan yang diberikan oleh keluarga berupa pemenuhan kebutuhan dasar, spiritual, afektif, manajemen konflik keluarga, finansial dan berespon positif terhadap kondisi pasien.

  Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, diketahui bahwa dukungan sosial merupakan salah satu faktor yang menentukan tinggi atau rendahnya psychological well being penderita kanker payudara (Baziad

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dalam Anggraeni & Ekowati, 2010). Selain itu, dukungan sosial memiliki hubungan yang positif dengan psychological well being, salah satunya adalah penderita kanker payudara memiliki harapan hidup yang tinggi (Denewer, Farouk, Mostafa, & Elshamy, 2011; Sari & Prasetyadi, 2005). Namun, dukungan sosial yang diberikan tidak selamanya mampu dimaknai sebagai dukungan bagi penderita kanker payudara (Salsabila, 2009; Primadi & Hadjam, 2010). Selain itu, penelitian mengenai bentuk konkret dukungan sosial yang diberikan kepada penderita kanker payudara belum ditemukan.

  Hal ini memberi peluang bagi peneliti-peneliti selanjutnya untuk mengungkap lebih detail mengenai bentuk-bentuk dukungan sosial dan strategi yang dipersepsi mendukung psychological well being berdasarkan pemaknaan penderita kanker payudara.

  Beberapa hal tersebut itulah yang melatarbelakangi peneliti untuk melakukan penelitian mengenai pemaknaan dukungan sosial menurut penderita kanker payudara yang dipersepsi mendukung psychological well

  being . Dengan melakukan penelitian mengenai pemaknaan dukungan sosial,

  maka diharapkan akan memberikan jawaban mengenai bagaimana strategi dan bentuk dukungan sosial yang dipersepsi mendukung psychological well

  being pada penderita kanker payudara.

  Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan pendekatan kualitatif. Hal ini dikarenakan peneliti ingin memahami pemaknaan dukungan sosial berdasarkan pengalaman penerima dukungan sosial, dalam hal ini adalah penderita kanker payudara. Pendekatan kualitatif yang digunakan oleh

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  peneliti mampu memfasilitasi peneliti untuk melakukan penggalian data secara langsung dari penderita kanker payudara, sehingga peneliti bisa mendapatkan data mengenai strategi dan bentuk dukungan sosial yang dipersepsi mendukung psychological well being penderita kanker payudara, serta melihat jenis dukungan sosial yang paling mempengaruhi dalam meningkatkan psychological well being penderita kanker payudara.

B. RUMUSAN MASALAH

  Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “bagaimana strategi pemberian dan bentuk dukungan sosial yang dipersepsi mendukung

  psychological well being pada penderita kanker payudara

  ?” C.

TUJUAN PENELITIAN

  Tujuan diadakannya penelitian ini adalah peneliti ingin melihat gambaran strategi pemberian dan bentuk dukungan sosial yang dipersepsi mendukung psychological well being pada penderita kanker payudara.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoretis

  Menambah pengetahuan mengenai strategi pemberian dan bentuk dukungan sosial yang dipersepsi mendukung psychological well being pada penderita kanker payudara, sehingga berguna bagi perkembangan ilmu psikologi, terutama psikologi kesehatan dan sosial.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Manfaat Praktis

  a. Membantu tenaga medis maupun psikolog kesehatan dalam memilih pendekatan dan bantuan yang akan digunakan dalam menangani pasien kanker payudara, terkait dengan bentuk dukungan sosial dan strategi yang digunakan dalam meningkatkan psychological well

  being.

  b. Menambah pengetahuan bagi keluarga, sehingga keluarga mampu memberikan dukungan yang sesuai dan menambah pengetahuan mengenai strategi yang digunakan dalam meningkatkan psychological well being pada penderita kanker payudara.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. DUKUNGAN SOSIAL

1. Pengertian Dukungan Sosial

  Manusia sangat memerlukan kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Hal ini dikarenakan, setiap manusia tidak bisa memenuhi sendiri kebutuhan fisik maupun psikologisnya. Kenyamanan fisik dan psikologis yang diberikan oleh orang lain merupakan hal yang bermanfaat dan merupakan sesuatu yang sangat efektif ketika seseorang mengalami stress (Frazier, dalam Baron & Byrne, 2005). Maka dari itu, manusia membutuhkan dukungan sosial yang berasal dari orang-orang di sekitarnya.

  Menurut Kamus Psikologi (2008), dukungan atau support adalah menyediakan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan orang lain, memberikan dorongan atau pengobatan, semangat dan nasihat kepada orang lain dalam satu situasi pembuatan keputusan.

  Dukungan sosial merupakan informasi dan umpan balik dari orang lain yang menunjukkan bahwa seseorang dicintai, diperhatikan, dihargai dan dihormati, serta dilibatkan dalam jaringan komunikasi. Dukungan sosial secara efektif mampu mengurangi tekanan psikologis, termasuk depresi ataupun kecemasan (Kim, Sherman, & Taylor, 2008).

  Menurut Sarafino (1994), dukungan sosial adalah bantuan yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  diberikan oleh orang lain atau kelompok lain, yang membuat penerima merasa nyaman, dicintai dan dihargai. Sedangkan Gottlieb dalam Smet (1994), mengungkapkan bahwa dukungan sosial terdiri dari informasi atau nasihat verbal atau non-verbal, bantuan nyata, atau tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial atau yang didapat karena mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima. Dukungan sosial merupakan jaringan yang terdiri dari orang-orang yang menyediakan landasan bagi individu, menunjukkan perhatian dan kepedulian, mengkomunikasikan penerimaan, memberikan bantuan secara langsung, dan memberikan solusi mengenai suatu masalah (Wilson, Nathan, O’ learny, & Clark, 1996).

  Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan, bahwa dukungan sosial dapat didefinisikan sebagai bantuan dan informasi verbal ataupun non-verbal yang berasal dari orang lain maupun kelompok lain yang memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima. Dengan mendapatkan dukungan sosial, seseorang merasa bahwa dirinya dicintai, dihormati, diperhatikan, dihargai, dan merasa nyaman sehingga mampu mengurangi tekanan psikologis yang dialaminya.

2. Jenis Dukungan Sosial

  Ada berbagai macam dukungan sosial yang bisa diberikan kepada orang lain (Cohen & McKay, 1984; Cutrona & Russell, 1990;

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  House, 1984; Schaefer, Coyne, & Lazarus, 1981; Willa, 1984 dalam Sarafino, 1994), mengungkapkan ada 5 jenis dukungan sosial, yaitu :

  a. Dukungan emosional Berupa perasaan empati, peduli, perhatian, memberikan hal positif, dan dorongan terhadap yang bersangkutan, memberikan kenyamanan dan kepastian dengan rasa memiliki dan dicintai pada saat mengalami tekanan.

  b. Dukungan penghargaan Berupa penerimaan secara positif, menyetujui ide orang lain, membandingkan dengan orang lain secara positif. Bantuan ini bermanfaat untuk membangun perasaan individu, kemampuan, dan menjadi bernilai. Dukungan penghargaan secara khusus digunakan selama mengalami tekanan.

  c. Dukungan instrumental Mencakup bantuan langsung, seperti memberi pinjaman uang kepada orang lain atau membantu pekerjaan pada waktu yang bersangkutan sedang mengalami stress.

  d. Dukungan informatif Mencakup memberi nasihat, petunjuk-petunjuk, saran- saran, atau umpan balik mengenai sesuatu yang sudah dikerjakan oleh yang bersangkutan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  e. Dukungan jaringan sosial Ketersediaan seseorang untuk menghabiskan waktu dengan orang lain, sehingga memberikan perasaan keanggotaan dalam kelompok orang-orang dalam berbagai minat dan aktivitas sosial.

  Stroebe, (dalam Chamberlain, 2006), mengklasifikasikan dukungan sosial ke dalam 5 jenis, yaitu : a. Dukungan emosional

  Bantuan yang diberikan berupa sikap empati, kepedulian, dan keprihatinan. Melalui dukungan emosional, pemberi dukungan memberikan rasa nyaman, kepemilikan dan memberikan rasa cinta kepada penerima.

  b. Dukungan penghargaan Dukungan yang diberikan berupa reaksi atau menerima secara posotif, seperti memberikan semangat, memahami perasaan dan lain sebagainya. Dengan memberikan dukungan penghargaan, seseorang akan merasa bahwa dirinya dihargai.

  c. Bantuan langsung Dukungan yang diberikan berupa bantuan secara langsung, seperti memberikan pinjaman uang, ataupun membantu pekerjaan.

  d. Dukungan informasi Memberikan bantuana berupa informasi yang diperlukan.

  Bantuan tersebut berupa nasihat, saran, arahan, dan umpan balik.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  e. Dukungan penilaian Memberikan bantuan dengan membantu melihat sebuah masalah dari sudut pandang yang berbeda.

  Beberapa klasifikasi mengenai bentuk dukungan sosial tersebut memberikan gambaran mengenai bentuk dukungan sosial yang pada umumnya digunakan. Secara umum, bentuk-bentuk dukungan sosial tersebut dapat digolongkan menjadi lima bentuk dukungan sosial yang biasa digunakan, yaitu dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informasi, dukungan penghargaan, dan dukungan jaringan sosial.

  Kelima bentuk dukungan tersebut bermanfaat bagi masyarakat, terutama pemberi dukungan untuk menentukan dukungan seperti apa yang akan diberikan yang sesuai dengan yang dibutuhkan penerima dukungan. Pemberian dukungan ini ditentukan oleh kebutuhan dari penerima, kondisi yang dialami oleh penerima, sehingga dukungan yang diberikan benar-benar bermanfaat bagi penerima dukungan.

3. Faktor Penentu Dukungan Sosial

  Tidak setiap orang selalu mendapatkan dukungan sosial yang diharapakannya. Banyak faktor yang mempengaruhi apakah seseorang mendapatkan dukungan sosial atau tidak. Dukungan sosial yang diterima dan dirasakan dapat berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Perbedaan dikarenakan setiap individu memiliki

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pemaknaan yang berbeda dalam merasakan penerimaan dukungan tersebut (Salsabila, 2009).

  Selain itu, perbedaan budaya yang ada juga mempengaruhi dukungan sosial yang diterima. Masyarakat yang tinggal dalam budaya yang berbeda, juga memiliki cara meminta dukungan yang berbeda- beda. Orang-orang yang hidup di daerah yang memiliki individualitas yang tinggi cenderung meminta dukungan secara tidak langsung (Kim, Sherman, & Taylor, 2008).

  Kesuksesan mendapatkan dukungan juga dipengaruhi oleh kepribadian orang yang mencari dukungan sosial (Cohen, Sherrod, & Clark, 1986, dalam Taylor 1999). Selain itu, keefektifan dukungan sosial juga dipengaruhi oleh jenis dukungan yang diberikan dan juga ditentukan oleh siapa dukungan sosial tersebut diberikan (Taylor, 1999).

  Sarafino (1994) dalam bukunya mengungkapkan bahwa terdapat faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menerima dukungan sosial. Orang lain tidak mungkin memberikan dukungan apabila dia tidak mengetahui bahwa orang lain membutuhkan dukungan. Dalam hal ini, tidak semua orang mampu dengan mudah meminta bantuan kepada orang lain. Hal ini dikarenakan mereka tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Selain itu, seseorang kemungkinan tidak menerima dukungan yang diminta dikarenakan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  oleh pemberi dukungan tersebut tidak memiliki kemampuan untuk membantunya.

  Selain itu, tipe dukungan sosial yang diterima dan dibutuhkan juga tergantung dari kondisi tekanan psikologis yang dialami individu.

  Contohnya adalah dukungan emosional dan informasi lebih dibutuhkan oleh individu yang mengalami sakit yang parah (Wortman & Dunkel-Schetter, 1987, dalam Sarafino, 1994).

4. Penelitian-penelitian tentang Dukungan Sosial

  Terdapat beberapa penelitian mengenai dukungan sosial terhadap penderita kanker payudara. Beberapa penelitian tersebut menunjukkan dampak dari dukungan sosial terhadap penderita kanker payudara. Penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Prasetyadi (2005) pada pasien penderita kanker payudara stadium IIb berusia 48 tahun dan stadium IV berusia 50 tahun menunjukkan bahwa dukungan sosial yang diterima oleh penderita kanker membuat penderita tidak mudah hilang harapan, memiliki keinginan untuk segera sembuh, lebih kuat, dan menjadi lebih rajin beribadah kepada Tuhan. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Sari (2011) terhadap 2 orang penderita kanker payudara berusia 40-60 tahun menunjukkan bahwa dukungan sosial yang diterima subjek memberikan dampak positif, sehingga subjek bisa mengatasi tekanan psikologisnya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Selama ini, penelitian mengenai dukungan sosial bagi penderita kanker payudara hanya meneliti mengenai bentuk dukungan secara umum. Pada penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni dan Ekowati (2010) ditemukan 3 bentuk dukungan keluarga yang diberikan kepada penderita kanker payudara, yaitu dukungan instrumental, psikologis, dan finansial. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Sari (2011) juga tidak menunjukkan bentuk dukungan sosial secara konkret. Hasil penelitian tersebut berupa bentuk dukungan sosial secara umum yang diberikan, yaitu dukungan penghargaan, instrumental, dan informasi.

  Hasil dari penelitian tersebut tidak menunjukkan bentuk dukungan sosial secara konkret, melainkan hanya secara umum. Selain itu, dalam penelitian tersebut juga tidak dijelaskan mengenai strategi yang digunakan dalam memberikan dukungan. Sedangkan tidak semua dukungan sosial yang diberikan mampu dimaknai sebagai dukungan. Jadi, perlu diadakan penelitian mengenai bentuk dukungan sosial dan strategi yang digunakan berdasarkan pemaknaan penderita kanker payudara.

B. PSYCHOLOGICAL WELL BEING

1. Pengertian Psychological Well Being

  Psychological well being merupakan penggambaran

  kesejahteraan psikologis seseorang. Kesejahteraan psikologis seseorang dapat dilihat melalui kemampuan seseorang dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  memenuhi kriteria fungsi psikologi positif (Ryff, 1989). Selain itu, Ryan dan Deci (2001) mengungkapkan konsep well being mengacu pada pengalaman dan fungsi psikologis yang optimal. Terdapat dua prinsip yang digunakan untuk mendefinisikan kesejahteraan, yaitu hedonic dan eudaimonic.

  Prinsip hedonic merupakan prinsip yang memiliki tujuan utama adalah mendapatkan kenikmatan atau kebahagiaan secara optimal.

  Berdasarkan prinsip ini, kebahagiaan seseorang terletak di dalam keberhasilan mengejar keinginan manusia dan mempercayai bahwa mengejar sensasi dan kesenangan adalah tujuan akhir dari sebuah kehidupan. Aktivitas hedonic yang dilakukan dengan mengejar kenikmatan dan menghindari rasa sakit akan menimbulkan well being yang bersifat sementara dan berkembang menjadi sebuah kebiasaan, sehingga lama-kelamaan akan kehilangan esensi sebagai sesuatu yang bermakna.

  Waterman, dalam Rahayu (2008) mengungkapkan bahwa konsep well being dalam pandangan eudaimonic menekankan bagaimana cara manusia untuk hidup dengan dirinya yang sejati. Diri sejati ini terjadi ketika manusia melakukan aktivitas sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya dan dilakukan secara menyeluruh, serta benar-benar terlibat di dalamnya (Ryan & Deci, 2001). Pendekatan

  eudaimonic berfokus pada realisasi diri, ekspresi pribadi, dan sejauh

  mana seseorang mampu mengaktualisasikan potensi dirinya (Ryan &

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Deci, dalam Rahayu, 2008). Aktivitas-aktivitas eudaimonic lebih dapat mempertahankan kondisi well being dalam waktu yang relatif lama dan konsisten.

  Ryff dan Singer (1998) mengungkapkan bahwa kebahagiaan dan kepuasan hidup dirasakan lebih besar ketika individu mengalami pengalaman membina hubungan dengan orang lain dan merasa menjadi bagian dalam kelompok tertentu, dapat menerima diri sendiri, dan memiliki makna dan tujuan hidup. Konsep psychological well

  being merujuk kepada perasaan seseorang mengenai aktivitasnya

  sehari-hari. Hal tersebut ditandai dengan adanya kebahagiaan, kepuasan hidup, dan tidak adanya gejala depresi (Ryff 1995).

  Kebahagiaan yang dialami seseorang merupakan hasil dari kesejahteraan psikologis dan merupakan tujuan tertinggi yang ingin dicapai oleh setiap manusia (Bradburn dalam Ryff, 1989).

  Orang yang sehat secara psikologis memiliki sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Mereka membuat keputusan mereka sendiri dan mengatur perilaku mereka sendiri, dan mereka memilih atau membentuk lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Mereka memilih tujuan yang membuat hidup mereka bermakna, dan mereka berjuang dan mengembangkan diri mereka sepenuh mungkin. (Ryff dalam Papalia, 2009).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Dimensi-dimensi Psychological Well Being

  Menurut Ryff dalam Papalia (2009), Psychological Well Being memiliki enam dimensi, yaitu : a. Dimensi penerimaan diri

  Penerimaan diri dengan nilai yang tinggi ditandai dengan memiliki nilai positif terhadap diri sendiri, mengakui dan menerima berbagai aspek dalam diri termasuk yang baik maupun yang buruk, dan memiliki perasaan positif terhadap kehidupan yang sudah terjadi. Sedangkan dimensi penerimaan diri dengan nilai yang rendah ditandai dengan memiliki perasaan tidak puas terhadap diri sendiri, memiliki perasaan dikecewakan oleh apa yang telah terjadi di masa lalu, merasa bersalah dengan beberapa kualitas diri, dan memiliki keinginan untuk menjadi berbeda dengan keadaan diri saat ini.

  b. Dimensi hubungan positif dengan orang lain Individu yang mampu menjalin hubungan positif dengan orang lain merupakan individu yang memiliki kehangatan, kepuasan, memiliki hubungan yang terpercaya dengan orang lain, peduli dengan kesejahteraan orang lain, empati, memiliki afeksi dan intimasi yang kuat, saling memberi dan menerima dalam hubungan antar manusia. Namun, individu yang memiliki nilai rendah untuk dimensi ini, ditandai dengan tidak adanya hubungan yang dekat dan dipercaya dengan orang lain. Selain itu, mereka

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  juga mengalami kesulitan untuk bisa merasa hangat, terbuka, dan peduli terhadap orang lain, merasa terisolasi dan frustasi dalam hubungan interpersonal. Hal lain yang menunjukkan adanya penilaian yang rendah dalam dimensi ini adalah tidak adanya keinginan untuk membuat kompromi untuk mempertahankan ikatan yang penting dengan orang lain.

  c. Dimensi otonomi Seorang dapat dikatakan memiliki nilai tinggi dalam dimensi otonomi apabila dapat menentukan segalanya seorang diri dan mandiri, serta mampu mengambil keputusan tanpa tekanan dan campur tangan orang lain. Selain itu juga mampu mengatur perilaku dari dalam diri dan mampu mengevaluasi diri dengan standar. Sedangkan seorang yang memiliki nilai rendah dalam dimensi otonomi apabila orang tersebut sangat memperhatikan dan mempertimbangkan harapan dan evaluasi dari orang lain, tergantung kepada orang lain untuk membuat keputusan yang penting.

  d. Dimensi penguasaan lingkungan Seorang dapat dikatakan memiliki penguasaan lingkungan yang baik apabila mampu untuk memiliki keyakinan dan kompetensi dalam mengatur lingkungannya, serta mampu membuat atau memilih konteks yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai personal. Sedangkan dikatakan kurang baik apabila

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mengalami kesulitan dalam mengelola tugas sehari-hari, hanya memiliki sedikit tujuan, tidak menyadari peluang yang ada di sekeliling, dan kurang memiliki kontrol terhadap dunia luar.

  e. Dimensi tujuan hidup Seorang yang dikatakan memiliki nilai tinggi pada dimensi ini, apabila ia memiliki tujuan dalam hidup dan perasaan diarahkan, merasa memiliki makna pada kehidupan masa datang dan masa lampau, serta memiliki tujuan dan objektivitas untuk hidup. Sedangkan seorang yang memiliki nilai rendah dalam dimensi ini, merupakan seorang yang kurang peka dalam memaknai kehidupan, memiliki sedikit tujuan atau arah, tidak melihat adanya tujuan dalam kehidupan masa lalu, serta tidak memiliki pandangan atau keyakinan yang memberikan makna pada kejadian kehidupan.

  f. Dimensi pertumbuhan pribadi Seorang yang memiliki pertumbuhan pribadi dengan nilai yang tinggi, ditandai dengan adanya perasaan mengenai pertumbuhan yang berlanjut dalam dirinya, melihat diri sendiri bertumbuh dan berkembang, mau menerima pengalaman baru, sadar akan potensi dalam diri, serta dapat berubah menjadi pribadi yang efektif. Sedangkan seorang yang memiliki pertubuhan pribadi yang rendah akan merasa dirinya mengalami stagnasi, tidak merasakan adanya peningkatan dalam dirinya, merasa bosan dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  tidak tertarik terhadap kehidupannya, serta tidak mampu mengembangkan sikap dan tingkah laku yang lebih baik.

3. Faktor yang Mempengaruhi Psychological Well Being

  a. Usia Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Ryff, ditemukan bahwa dimensi penguasaan lingkungan dan dimensi otonomi serta dimensi penerimaan positif dengan orang lain, akan mengalami peningkatan seiring bertambahnya usia. Sedangkan dimensi tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Sedangkan untuk dimensi penerimaan diri tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

  b. Jenis kelamin Dimensi yang mengalami perbedaan antara laki-laki dengan perempuan adalah dimensi hubungan positif dengan orang lain.

  Sejak kecil, stereotype gender telah tertanam dalam diri manusia, bahwa anak laki-laki digambarkan sebagai pribadi yang agresif dan mandiri, sedangkan perempuan sebagai pribadi yang pasif dan tergantung, serta sensitif terhadap perasaan orang lain. Hal inilah yang menyebabkan wanita memiliki skor yang lebih tinggi dalam dimensi hubungan positif dengan orang lain.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  c. Status sosial ekonomi Pendidikan tinggi dan status pekerjaan akan meningkatkan dimensi penerimaan diri dan tujuan hidup. Seorang yang memiliki status tinggi maka akan memiliki perasaan yang positif terhadap diri sendiri dan lebih memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya, dibandingkan dengan mereka yang berada di kelas sosial lebih rendah.

  d. Budaya Sistem nilai individualisme-keloktivisme memberikan dampak terhadap psychological well being. Budaya barat menyebabkan perolehan skor yang tinggi dalam dimensi penerimaan diri dan otonomi, sedangkan budaya timur menyebabkan perolehan skor tinggi pada dimensi hubungan positif dengan orang lain.

  e. Dukungan sosial Individu yang mendapat dukungan dari lingkungan sosial akan memiliki Psychological well being yang tinggi dibandingkan dengan individu yang tidak mendapat dukungan sosial. Dukungan sosial dapat diartikan sebagai rasa nyaman, perhatian, penghargaan, atau pertolongan yang didapat dari orang lain.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

4. Penelitian-penelitian tentang Psychological Well being

  Seseorang yang terdiagnosis penyakit kanker memiliki beban yang yang lebih berat dibandingkan dengan seseorang yang terdiagnosis penyakit lainnya (Saphiro dalam Ozkan & Ogee, 2008). Penyakit kanker payudara selain berkaitan dengan kondisi fisik pasien, juga berkaitan dengan kondisi psikologis pasien, dalam hal ini berkaitan dengan penurunan kualitas hidup penderitanya. Salah satu bentuk penurunan kualitas hidup penderita kanker payudara adalah terjadinya penurunan kesejahteraan psikologis (Halim, 2003).

  Hawari (dalam Uila, 2009) mengungkapkan bahwa pasien yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan penyakitnya akan mengalami kecemasan dan depresi yang akan menyebabkan penurunan kekebalan tubuh dan memperparah penyakitnya. Penelitian yang dilakukan oleh Colegrave (dalam Anggraeni & Ekowati, 2010) mengungkapkan bahwa terdapat peningkatan level kecemasan dan depresi pada wanita dengan kasus kanker payudara, sampai pada fase klinis-patologis.

  Berdasarkan penelitian tersebut, jelas diketahui bahwa seseorang yang menderita penyakit parah, seperti kanker payudara akan mengalami penurunan kesejahteraan psikologis (Halim, dalam Karyono, 2008).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

C. PENELITIAN-PENELITIAN TENTANG DUKUNGAN SOSIAL DAN PSYCHOLOGICAL WELL BEING

  Salah satu faktor yang menentukan tinggi atau rendahnya tingkat psychological well being seseorang adalah faktor dukungan sosial.

  Menurut Davis (dalam Rahayu, 2008), individu yang mendapatkan dukungan sosial memiliki tingkat psychological well being yang lebih tinggi, dibandingkan dengan individu yang tidak mendapatkan dukungan sosial.

  Seseorang yang menderita kanker payudara tidak hanya membutuhkan penanganan secara fisik saja, tetapi juga secara psikologis.

  Pasien kanker payudara juga membutuhkan dukungan sosial dalam menjalani perawatan kanker (Clark dalam Ozkan & Ogee, 2008).

  Baziad (dalam Anggraeni & Ekowati, 2010) mengungkapkan secara teoretis bahwa dukungan sosial dapat menurunkan kecenderungan munculnya kejadian yang dapat mengakibatkan stress. Dukungan sosial yang diterima menyebabkan individu merasa tenang dan nyaman, serta dapat mengurangi tekanan psikologis yang disebabkan oleh penyakit.

  Dukungan sosial memiliki peran penting dalam mencegah masalah-masalah psikologis pada penderita kanker payudara (Ozkan & Ogee, 2008). Dukungan sosial yang diperoleh penderita kanker memberikan dampak positif, sehingga penderita kanker bisa mengatasi tekanan psikologis yang dialaminya (Sari, 2011). Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Prasetyadi (2008) mengungkapkan bahwa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dengan mendapatkan dukungan sosial, pasien kanker payudara menjadi tidak mudah putus asa, bersemangat untuk sembuh, lebih kuat, dan lebih rajin dalam beribadah kepada Tuhan.

  Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial memiliki hubungan yang positif dengan

  psychological well being. Namun, dukungan sosial yang diberikan tidak

  selamanya mampu dimaknai sebagai dukungan sosial bagi penderita kanker payudara (Salsabila, 2009; Primadi & Hadjam, 2010).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode penelitian

  kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif, seperti transkrip wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekaman video dan lain sebagainya (Poerwandari, 2005). Menurut Bodgan dan Taylor (dalam Moleong, 2006), metodologi penelitian kualitatif didefinisikan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

  Pemilihan metode penelitian menggunakan metode kualitatif ini dinilai tepat karena sesuai dengan tujuan peneliti, yaitu ingin mengetahui strategi pemberian dukungan sosial dan bentuk dukungan sosial dalam rangka meningkatkan psychological well being penderita kanker payudara, yang dilihat berdasarkan pengalaman dan pemaknaan penderita kanker payudara terhadap dukungan sosial yang diterima. Hal ini dikarenakan penelitian kualitatif berusaha untuk mengeksplorasi, memahami, mendeskripsikan, maupun menginterpretasikan maksud dari suatu fenomena maupun pengalaman personal dan sosial yang dialami oleh subjek penelitian (Creswell, 2010).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Menurut Poerwandari (2005), di dalam perspektif teoretis ilmu- ilmu sosial, peneliti kualitatif biasanya berada di bawah payung paradigma interpretif atau fenomenologis. Tujuan dari penelitian fenomenologis adalah hendak mengungkapkan secara detail bagaimana partisipan memaknai dunia personal dan sosialnya. Pendekatan ini berusaha untuk mengeksplorasi pengalaman personal serta menekankan pada persepsi atau pendapat personal seorang individu tentang objek atau peristiwa (Smith, 2009). Alasan-alasan tersebut sesuai dengan tujuan penelitian yang dimiliki peneliti, yaitu memahami kehidupan pribadi dan sosial subjek.

  Dalam penelitian ini, data yang dihasilkan adalah berupa transkrip wawancara yang akan diolah menjadi bentuk deskripsi. Sehingga, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif.

B. FOKUS PENELITIAN

  Pada penelitian ini, yang menjadi fokus penelitian adalah bentuk dukungan sosial dan strategi yang digunakan untuk memberikan dukungan kepada penderita kanker payudara. Kedua hal tersebut dilihat berdasarkan sudut pandang penerima dukungan, yaitu penderita kanker payudara. Hal ini dilakukan supaya mendapatkan data mengenai bentuk dukungan sosial secara konkret dan strategi dukungan sosial yang benar-benar mampu meningkatkan psychological well being penderita kanker payudara.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  C. ETIKA PENELITIAN

  1. Meminta ijin untuk mengadaptasi

  The Ryff’s Scale of Psychological

Well Being, dengan cara mengirim email kepada penyusun.

  2. Tidak menggugurkan item yang tidak valid pada skala

  The Ryff’s Scale of Psychological Well Being.

  3. Meminta ijin kepada rumah sakit untuk meminta data pasien yang akan dijadikan subjek, dengan mengajukan surat permohonan ijin beserta proposal penelitian.

  4. Pemberian informed consent kepada subjek penelitian sebelum penelitian berlangsung.

  5. Penandantanganan surat persetujuan wawancara sebelum wawancara dilakukan.

  6. Penandatanganan surat keabsahan wawancara setelah seluruh proses wawancara berlangsung.

  7. Menjaga kerahasiaan data dengan tidak menerbitkan atau mempublikasikan dalam bentuk original. Dalam hal ini tidak mencantumkan tanda tangan dan identitas asli subjek pada lampiran.

  8. Mencantumkan data penulis dari referensi yang digunakan dalam penelitian ini.

  D. DEFINISI OPERASIONAL

  Definisi operasional dalam penelitian ini akan memberikan batasan dari variabel yang akan diukur menggunakan skala, yaitu psychological

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  well being. Adapun definisi operasional psychological well being dalam

  penelitian ini adalah sebuah kondisi dimana individu memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan sendiri dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat menciptakan dan mengatur lingkungan yang kompatibel dengan kebutuhannya, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.

  Psychological well being diukur berdasarakan 6 dimensi, yaitu :

  1. Dimensi penerimaan diri Dapat mengaktualisasikan diri, berfungsi optimal, memiliki nilai positif terhadap diri sendiri, mengakui dan menerima diri sendiri apa adanya.

  2. Dimensi hubungan positif dengan orang lain Memiliki hubungan yang hangat, intim, dan terpercaya dengan orang lain.

  3. Dimensi otonomi Dapat menentukan dan mengambil keputusan seorang diri tanpa tekanan dan campur tangan orang lain, bebas, mampu untuk menentukan nasib dan mengontrol perilaku sendiri.

  4. Dimensi penguasaan lingkungan Mampu memilih, menciptakan, dan mengelola lingkungan agar sesuai dengan kondisi psikologis dalam rangka mengembangkan diri.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  5. Dimensi tujuan hidup Memiliki tujuan dalam hidup dan memiliki makna pada kehidupan masa datang.

  6. Dimensi pertumbuhan pribadi Mampu dan memiliki keinginan untuk terus berkembang dan mengembangkan potensi, adanya perasaan menerima pengalaman baru, sadar akan potensi dalam diri, serta dapat berubah menjadi pribadi yang efektif.

  Keenam dimensi tersebut akan digunakan untuk mengukur tinggi rendahnya kondisi psychological well being seseorang yang menderita kanker payudara, dengan menggunakan skala The

  Ryff’s Scale of Psychological Well Being. Semakin tinggi skor yang diperoleh, maka

  semakin baik kondisi psychological well beingnya.

E. SUBJEK PENELITIAN

  Subjek dalam penelitian ini berjumlah lima orang. Jumlah subjek tersebut tidak terlalu banyak sehingga tidak menyulitkan peneliti dan diharapkan akan memberikan jumlah kasus yang mencukupi untuk kesamaan dan perbedaan antar partisipan (Smith, 2009).

  Kelima subjek yang ditentukan menggunakan Criterion Sampling, yaitu memilih subjek berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan sebelumnya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Kriteria tersebut adalah : 1. Wanita usia 35-65 tahun.

  2. Dinyatakan kanker payudara stadium lanjut.

  3. Memiliki Psychological Well Being yang baik.

  Subjek dengan psychological well being yang baik ditentukan dengan cara menilai rentang kebahagiaan.

F. METODE PENGUMPULAN DATA

1. Skala Item Tunggal

  Untuk melihat kondisi kesejahteraan psikologis subjek, pada awalnya, peneliti akan menggunakan skala yang merupakan hasil adaptasi dari skala The

  Ryff’s Scale of Psychological Well Being. Skala

  ini terdiri dari 42 item yang masing-masing item memiliki rentang 1 sampai 6. Keseluruhan item pada skala ini merepresentasikan 6 dimensi psychological well being, sehingga masing-masing dimensi terdiri dari 7 pernyataan. Pernyataan-pernyataan dalam skala ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu favorable dan unfavorable.

  Namun, hasil yang didapat setelah dilakukan uji coba pada skala ini adalah daru 42 item yang tersedia, terdapat 20 item yang gugur. Berdasarkan hasil uji coba tersebut, maka peneliti memutuskan untuk tidak menggunakan

  The Ryff’s Scale of Psychological Well Being untuk melihat kondisi kesejahteraan psikologis. Peneliti tidak

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menggunakan

  The Ryff’s Scale of Psychological Well Being

  dikarenakan hanya sedikit item yang valid untuk digunakan, dan sebaran item yang valid tidak seimbang pada setiap indikatornya.

  Selain itu, karena skala tersebut merupakan skala yang diadaptasi dari skala luar negeri, ada kemungkinan isi dari skala tersebut tidak sesuai dengan budaya yang ada di Indonesia. Adapun distribusi item skala pengukuran psychological well being beserta hasil uji coba skala dapat dilihat pada lampiran. (lampiran 1)

  Untuk tetap bisa melihat kondisi kesejahteraan psikologis yang dimiliki subjek, maka peneliti membuat skala yang isi dari skala tersebut sesuai dengan budaya yang ada di Indonesia. Pengukuran tersebut menggunakan Skala Item Tunggal. Untuk memperkuat hasil skala item tunggal mengenai psychological well being ini, peneliti menambahkan beberapa pertanyaan mengenai kondisi psychological

  well being dalam proses wawancara.

  Skala tersebut disusun dengan melakukan survey terlebih dahulu. Survey tersebut dilakukan terhadap 73 orang (27 laki-laki, 46 perempuan) dengan rentang usia 19-38 tahun. Survey tersebut dilakukan dengan cara menanyakan langsung kepada masyarakat dan dengan menyebar kuesioner secara on line. Sebanyak 17 orang dilakukan survey secara langsung, dan sisanya, yaitu sebanyak 56 orang dilakukan survey secara on line.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Survey ini dilakukan untuk mencari padanan pengertian dari psychological well being yang digunakan masyarakat di Indonesia.

  Survey ini menggunakan 1 pertanyaan yang secara sederhana sudah mencakup seluruh dimensi Psychological Well Being. Pertanyaan tersebut adalah “Jika ada seseorang, yang dalam kondisi apapun, dia mampu menerima diri apa adanya, mampu berelasi dengan baik, mandiri, bisa menguasai lingkungannya, mampu mengembangkan diri, dan memiliki tujuan hidup, menurut Anda, apa yang orang tersebut sudah alami/rasakan

  ?”. Pada awalnya, dalam pertanyaan tersebut tidak diberi pilihan jawaban, namun karena beberapa orang tidak memahami, maka pertanyaan tersebut dilengkapi dengan 4 pilihan jawaban. Adapun keempat pilihan jawab tersebut adalah “kesejahteraan”, “kebahagiaan”, “ketentraman”, dan “lain-lain”.

  Berdasarkan hasil survey ini, terdapat banyak istilah yang digunakan oleh masyarakat dalam menggambarkan kondisi psikologis seseorang. Istilah-istilah yang muncul dalam survey ini adalah kesejahteraan, kebahagiaan, ketentraman, penerimaan diri, aktualisasi diri, menemukan jati diri, kedamaian, sukses dalam hidup, pemahaman diri, ketenangan, dan keharmonisan. Berdasarkan hasil survey, sebagian besar menjawab dengan istilah Kebahagiaan (28 jawaban). Sehingga, istilah “Kebahagiaan” akan dipakai dalam skala item tunggal ini untuk melihat kondisi psychological well being subjek.

  Adapun rincian hasil survey terdapat pada tabel 1.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  1. Kesejahteraan

  73 Istilah yang ditemukan ini, digunakan peneliti untuk menanyakan kepada subjek tentang kondisi psychological well being saat ini. Untuk mengetahui kondisi psychological well being yang dimiliki, subjek diminta untuk menilai dari 1-10 tingkat kebahagiaan yang dirasakan saat ini. Pertanyaan yang digunakan untuk

  1 Jumlah jawaban

  1

  1 10. Ketenangan

  9. Pemahaman diri

  1

  8. Sukses dalam hidup

  1

  7. Kedamaian

  Tabel 1 Hasil Survey Istilah Psychological Well Being

No. Istilah yang Ditemukan Jumlah

  6. Menemukan jati diri

  1

  5. Aktualisasi diri

  2

  4. Penerimaan diri

  21

  3. Ketentraman

  28

  2. Kebahagiaan

  15

  1

11. Keharmonisan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menggambarkan kondisi psycholocal well being yang dimiliki adalah “Silakan Anda menilai, dari 1 sampai 10, berapakah nilai kebahagiaan Anda saat ini?” Subjek dengan nilai kebahagiaan di atas 5 akan dijadikan subjek penelitian untuk selanjutnya akan dilakukan wawancara.

2. Wawancara

  Metode kedua yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melakukan wawancara. Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara kualitatif dilakukan guna memperoleh pengetahuan tentang makna- makna subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu-isu atau suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain (Poerwandari, 2005).

  Wawancara yang dilakukan adalah wawancara dengan pedoman umum. Dalam proses wawancara, peneliti dilengkapi dengan pedoman wawancara yang mencantumkan isu-isu yang harus diliput. Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan peneliti mengenai aspek-aspek yang harus dibahas, sekaligus menjadi daftar pengecek (checklist) apakah aspek yang relevan telah dibahas atau ditanyakan (Poerwandari, 2005).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Proses wawancara dalam penelitian ini dilakukan untuk menggali data mengenai bentuk dukungan sosial dan strategi yang digunakan yang mampu meningkatkan psychological well being pada penderita kanker payudara. Proses wawancara ini terdiri dari 4 tema besar, yaitu riwayat penyakit, kondisi psikologis ketika divonis sampai berobat, kondisi psychological well being berdasarkan 6 dimensi, dan dukungan sosial yang diterima. Adapun panduan wawancara dapat dilihat pada Tabel 2.

  Tabel 2 Daftar Pertanyaan Panduan Wawancara

Tema Besar Pertanyaan Tujuan Pertanyaan

  Riwayat Penyakit Bisakah Anda menceritakan bagaimana awal mula Anda dinyatakan menderita kanker payudara?

  Untuk mengetahui awal mula diketahui terkena kanker payudara.

  Apakah ada tanda/gejala yang lain yang Anda rasakan? Untuk mengetahui gejala yang dirasakan.

  Apakah di dalam keluarga Anda ada riwayat sakit kanker payudara? Sudah berapa lama Anda menderita sakit kanker

  Untuk mengetahui sejarah penyakit kanker dalam keluarga. Untuk mengetahui lamanya menderita

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  payudara? kanker.

  Kondisi Psikologis Ketika pertama kali Anda divonis kanker payudara, apa yang Anda rasakan?

  Untuk mengetahui perasaan yang dialamai ketika divonis kanker payudara.

  Apakah Anda mengalami kesedihan mendalam ketika itu?

  Untuk melihat pengalaman kesedihan mendalam karena kanker payudara.

  Selama sakit tersebut, tindakan pengobatan apa saja yang sudah Anda lakukan?  Jenis obat, jangka waktu Apakah ada pengobatan

  lain selain pengobatan medis?

  Bagaimana perasaan Anda ketika harus menjalani berbagai pengobatan tersebut?

  Untuk mengetahui usaha yang dilakukan untuk pengobatan kanker.

  Untuk mengetahui pengalaman yang dialami selama menjalani pengobatan.

  Psychological Well Bagaimana Anda memandang Untuk melihat dimensi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Being diri Anda saat ini? penerimaan diri.

   Apakah ada perbedaan

  cara memandang diri sendiri?

  Tujuan hidup Anda apa saja? Untuk melihat dimensi  Apakah sejak dari dulu tujuan hidup.

  seperti itu?

   Apakah ada perubahan

  tujuan hidup semenjak Anda sakit?

   Bagaimana hal itu

  (berubah/tidak) bisa terjadi?

  Menurut Anda, apakah orang Untuk melihat dimensi yang kanker payudara itu ada pengembangan diri. kemungkinan untuk mengembangkan diri? Mengapa? Pengembangan diri yang

  seperti apa?

   Bagaimana dengan diri

  Anda sendiri?

  Apa saja kegiatan sehari-hari Untuk melihat dimensi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Anda? penguasaan lingkungan. Bagaimana cara mengatur

  kegiatan sehari-hari?

   Kalau ada kegiatan lain,

  bagaimana cara Anda mengaturnya?

  Bagaimana cara Anda dalam Untuk melihat dimensi mengambil keputusan yang otonomi. berkaitan dengan keseharian, apakah Anda terbiasa menentukan sendiri atau meminta bantuan?  Kepada siapa? Dalam hal keputusan apa

  saja?

   Bagaimana dengan

  keputusan pengobatan?

  Bisa Anda ceritakan Untuk melihat dimensi hubungan Anda dengan orang hubungan positif lain semenjak Anda dengan orang lain. didiagnosis kanker payudara?  Suami? Anak?

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   Masyarakat sekitar? Lingkungan sosial?

  (kantor, komunitas, dll)

  Dukungan Sosial Apakah mereka memberikan Untuk melihat tindakan yang Diterima dukungan untuk kesembuhan orang lain.

  Anda? Siapa saja yang memberikan Untuk melihat pemberi dukungan selama ini? dukungan yang paling  Diantara orang-orang berpengaruh.

  tersebut, siapakah yang paling mendukung?

   Mengapa? Dukungan apa saja yang Untuk melihat bentuk Anda terima dari mereka? dukungan sosial yang  Apa saja yang mereka diterima.

  

lakukan untuk mendukung

Anda?

  Bagaimana cara mereka Untuk mengetahui cara memberikan dukungan orang lain dalam tersebut? memberikan dukungan  Apa saja yang mereka sosial.

  

lakukan untuk mendukung

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Anda?

  Bagaimana pengaruh dari dukungan orang-orang tersebut bagi hidup Anda?

  Untuk melihat pengaruh dari dukungan sosial yang diterima. Apakah ada pengalaman Anda tidak mendapatkan dukungan sosial? Mengapa?

  Untuk melihat pengalaman tidak mendapat dukungan.

  Daftar pertanyaan wawancara tersebut disusun dengan tujuan sebagai panduan peneliti dalam menggali data. Pertanyaan wawancara dapat berubah sesuai dengan kondisi dan respon subjek dalam menjawab pertanyaan.

  Proses wawancara ini dilakukan melalui berbagai tahap : 1) Menyusun panduan wawancara yang bersifat semi-terstruktur.

  2) Mencari subjek yang sesuai dengan kriteria dan bersedia untuk berpartisipasi menjadi subjek penelitian.

  3) Membangun rapport, menjelaskan tujuan penelitian, dan memastikan kembali kesediaan subjek untuk berpartisipasi dalam penelitian. Subjek mengisi informed consent. 4) Menyusun jadwal wawancara berdasarkan kesepakatan antara peneliti dan subjek.

  5) Melakukan wawancara.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Data hasil wawancara akan direkam menggunakan digital

  recorder dan selanjutnya akan disalin dalam bentuk transkrip

  verbatim. Kemudian setelah peneliti mendapatkan data yang dibutuhkan, langkah selanjutnya adalah melakukan interpretasi data.

G. PROSEDUR ANALISIS DATA

  Analisis data merupakan kegiatan mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan kesatuan uraian dasar. Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Bogdan & Biklen, dalam Moleong, 2009). Menurut Patton (dalam Poerwandari, 2005) peneliti wajib memonitor dan melaporkan proses dan prosedur- prosedur analisisnya sejujur dan selengkap mungkin. Dalam menganalisis data hasil wawancara, perlu dilakukan beberapa langkah (Poerwandari, 2005) :

1. Organisasi Data

  Data yang sudah diperoleh diorganisasikan secara rapi dan sistematis. Higlen dan Finley (dalam Poerwandari 2005) mengatakan bahwa organisasi data yang sistematis akan memungkinkan peneliti memperoleh kualitas data yang baik, mendokumentasikan analisis

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  yang dilakukan, serta menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian.

  Pengorganisasian data hendaknya dilakukan sesegera mungkin setelah proses wawancara berakhir. Tahap ini diawali dengan memindahkan hasil rekaman wawancara ke dalam bentuk tulisan dan menghasilkan bentuk transkrip verbatim wawancara dalam bentuk kolom-kolom.

  2. Koding

  Setelah melakukan organisasi data dengan cara membuat transkrip verbatim, langkah berikutnya adalah melakukan koding.

  Koding dilakukan dengan cara memberikan penomoran untuk setiap baris transkrip verbatim dan memberikan kode.

  Koding dimaksudkan untuk dapat mengorganisasi dan mensistematisasi data secara lengkap dan mendetail, sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. Dengan demikian, peneliti akan menemukan makna dari data yang dikumpulkan (Poerwandari, 2005).

  3. Analisis Tema

  Setelah melakukan proses koding, langkah berikutnya adalah menganalis tema yang muncul. Tema-tema inilah yang biasanya menjadi hasil utama dalam penelitian kualitatif. Setelah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mengidentifikasi tema-tema, peneliti memanfaatkan lebih jauh tema- tema tersebut untuk membuat analisis yang lebih kompleks, yaitu membentuknya menjadi deskripsi umum (Creswell, 2010).

4. Interpretasi

  Langkah terakhir yang dilakukan peneliti adalah melakukan interpretasi. Interpretasi bisa berupa makna yang berasal dari perbandingan antara hasil penelitian dengan informasi yang berasal dari literatur atau teori (Creswell, 2010).

H. KREDIBILITAS PENELITIAN

  Kredibilitas penelitian kualitatif terletak pada keberhasilannya mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks. Salah satu ukuran kredibilitas penelitian kualitatif adalah deskripsi yang mendalam yang menjelaskan kemajemukan atau kompleksitas aspek-aspek yang terkait dan interaksi dari berbagai aspek (Poerwandari, 2005).

  Kredibilitas atau validitas dalam penelitian kualitatif merupakan pemeriksaan terhadap akurasi hasil penelitian dengan menerapkan prosedur-prosedur tertentu. Kredibilitas ini didasarkan pada kepastian apakah hasil penelitian sudah akurat dari sudut pandang peneliti, partisipan, atau pembaca secara umum (Creswell, 2010). Tahap-tahap

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  yang dilakukan peneliti dalam melakukan pengecekan terhadap kredibilitas penelitian adalah :

  1. Member Checking Member checking dilakukan untuk mengetahui akurasi hasil

  penelitian. Proses ini dilakukan dengan membawa kembali laporan akhir atau deskripsi-deskripsi atau tema-tema ke hadapan subjek penelitian untuk mengecek apakah mereka merasa bahwa laporan tersebut sudah akurat.

  2. Validitas Argumentatif

  Validitas argumentatif dicapai apabila deskripsi penelitian dan kesimpulan dapat diikuti rasionalnya dengan baik serta dapat dibuktikan kembali dengan melihat kembali data mentah.

  3. Validitas Ekologis

  Validitas ekologis tercapai apabila penelitian yang dilakukan pada kondisi alamiah, apa adanya, dan dalam kehidupan sehari-hari subjek yang menjadi konteks penting dalam penelitian.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. PROSES PENELITIAN

1. Persiapan Penelitian

  Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan beberapa proses persiapan penelitian, yaitu : a. Uji coba skala Psychological Well Being

  Sebelum digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian, peneliti melakukan uji coba untuk melihat validitas dan reliabilitasnya. Uji coba dilakukan pada tanggal 3 – 16 Maret 2013. Uji coba dilakukan kepada sekelompok wanita usia 35-65 tahun. Alat ukur yang disebarkan untuk diuji coba adalah sebanyak 65 eksemplar, namun 1 eksemplar tidak kembali, sehingga yang diujicobakan sebanyak 64 subjek.

  Dari hasil uji coba tersebut, diperoleh hasil bahwa dari 42 item, hanya 19 item yang lolos seleksi. Item yang lolos seleksi dipilih berdasarkan hasil koefisien korelasi yang mendapatkan skor ≥ 0,3. Item yang gugur memiliki koefisien korelasi < 0,3.

  Sedikitnya jumlah item yang valid, maka skala ini tidak jadi digunakan untuk mengukur psychological well being. Alasan tidak jadi dipakainya skala ini adalah skala yang digunakan ini merupakan skala hasil adaptasi dari

  The Ryff’s Scale of

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Psychological Well Being yang berasal dari luar negeri. Oleh sebab

  itu, ada kemungkinan isi dari skala ini tidak sesuai dengan budaya yang ada di Indonesia.

  b. Penyusunan single item scale Untuk menyusun skala item tunggal, peneliti melakukan survey ke 73 orang untuk menanyakan mengenai istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kondisi psychological

  well being. Survey dilakukan pada tanggal 14-24 April 2013. Hasil

  survey menunjukkan bahwa istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kondisi psychological well being adalah istilah “kebahagiaan”. Istilah yang ditemukan akan digunakan untuk item pada skala item tunggal pengukuran psychological well being.

  Alasan penggunaan skala item tunggal ini adalah skala item tunggal merupakan metode pengukuran yang sederhana dan metode ini yang sesuai dengan tujuan dari penggunaan skala pengukuran, yaitu mengukur tingkat psychological well being yang isi dari skala tersebut sesuai dengan budaya di Indonesia. Akan tetapi, skala ini menjadi lemah karena hanya menggunakan 1 temuan istilah, yang berjumlah 28 suara, dari total 73 suara.

  c. Melakukan perizinan ke Rumah Sakit untuk mendapatkan subjek penelitian.

  Untuk mendapatkan subjek penelitian, peneliti mengajukan permohonan izin ke Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Pengajuan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  surat perizinan dilakukan pada 4 Maret 2013 dan mendapatkan kepastian perizinan dari pihak rumah sakit pada tanggal 23 Maret 2013.

  Setelah mendapatkan izin dari pihak Rumah Sakit, maka peneliti meminta izin ke bagian Bedah dan bagian Rekam Medis rumah sakit untuk melakukan perizinan meminta data pasien dan meminta keterangan tentang stadium kanker pasien.

  d. Mencari subjek penelitian Peneliti menghubungi beberapa pasien kanker payudara untuk memintanya menjadi subjek penelitian.

  e. Mempersiapkan panduan wawancara Agar proses pengambilan data dapat berjalan lancar, maka sebelum wawancara dimulai peneliti mempersiapkan panduan wawancara yang akan digunakan. Persiapan panduan wawancara ini dilakukan dengan mengujicobakan panduan yang telah disusun kepada penderita kanker payudara.

  f. Perkenalan dan penjelasan tujuan penelitian Setelah panduan wawancara siap digunakan, peneliti kembali menghubungi calon subjek penelitian untuk memastikan kesanggupan menjadi subjek. Peneliti melakukan perkenalan dan pendekatan kepada subjek supaya subjek merasa nyaman ketika proses wawancara berlangsung.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Selain itu, peneliti juga memberikan penjelasan penelitian kepada subjek supaya subjek paham maksud dan tujuan dari penelitian ini. Setelah subjek memastikan bahwa dirinya sanggup untuk diwawancara, maka subjek diminta untuk membaca dan menandatangani informed consent.

  g. Penentuan jadwal wawancara Sebelum wawancara dimulai, peneliti dan subjek menentukan terlebih dahulu jadwal wawancara. Waktu dan lokasi wawancara ditentukan oleh subjek, sesuai dengan kondisi subjek.

2. Pelaksanaan Penelitian

  Pelaksanaan penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap, mulai dari pengukuran tingkat psychological well being, meminta persetujuan wawancara, pelaksanaan proses wawancara, melakukan transkrip data dan menganalisis hasil wawancara, serta menunjukkan hasil verbatim dan hasil analisis kepada subjek untuk mendapatkan keterangan keabsahan data dari subjek. Adapun urutan proses pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut :

  a. Peneliti melakukan pengukuran tingkat psychological well being dengan meminta subjek untuk menentukan sendiri skor tingkat

  psychological well being nya berdasarkan rentang angka yang ada.

  Setelah dapat dipastikan bahwa subjek memiliki psychological well

  being yang baik, maka langkah selanjutnya adalah meminta

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  persetujuan wawancara. Peneliti melakukan wawancara sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Sebelum wawancara dimulai, subjek diminta untuk membaca dan menandatangani surat persetujuan wawancara. Dalam melakukan wawancara, peneliti menggunakan panduan wawancara yang telah dipersiapkan. Banyaknya proses pertemuan wawancara untuk masing-masing subjek berbeda-beda karena menyesuaikan dengan kondisi dan waktu subjek. Untuk merekam proses wawancara, peneliti menggunakan alat perekam suara. Lokasi wawancara ini dilakukan di tempat yang kondusif dan memungkinkan untuk dilaksanakannya proses wawancara.

  b. Tahap berikutnya, setelah proses wawancara selesai, peneliti melakukan transkrip data hasil wawancara, melakukan koding, dan melakukan analisis data.

  c. Setelah selesai melakukan analisis data, peneliti menunjukkan transkrip verbatim dan hasil analisis data kepada subjek untuk memastikan apakah hasil wawancara sesuai dengan yang dialami subjek. Kemudian, setelah subjek memastikan kebenaran hasil wawancara, subjek diminta untuk membaca dan menandatangani surat keterangan keabsahan wawancara.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

3. Proses Analisis Data

  Dalam penelitian ini, proses analisis data meliputi pengorganisasian data, koding, analisis tema-tema, dan interpretasi.

  a. Setelah proses wawancara selesai dilakukan, peneliti segera melakukan pengorganisasian data, yaitu dengan melakukan pemindahan hasil rekaman wawancara ke dalam bentuk tulisan yang menghasilkan transkrip verbatim.

  b. Transkrip verbatim disusun dalam bentuk tabel dengan 4 kolom.

  Kolom pertama berisi penomoran untuk setiap baris kalimat pertanyaan maupun jawaban. Kolom kedua berisi hasil verbatim wawancara. Kolom ketiga berisi koding awal berdasarkan hasil verbatim. Kolom keempat berisi analisi dari tema-tema yang muncul.

  c. Tahap berikutnya yang dilakukan peneliti setelah melakukan analisis tema-tema, peneliti melakukan interpretasi tema-tema yang muncul sesuai dengan topik penelitian.

  d. Setelah interpretasi selesai dilakukan, peneliti melakukan penarikan kesimpulan berdasarkan hasil interpretasi kesuluruhan berdasarkan topik penelitian.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

4. Jadwal Pengambilan Data

  Berikut adalah jadwal wawancara dengan kelima subjek

  Tabel 3 Jadwal Pelaksanaan Pengambilan Data Subjek 1

  Tanggal Waktu Kegiatan

  29 April 2013

  16.00

  • Menjelaskan kepada subjek tentang penelitian.
  • Meminta subjek menandatangani surat persetujuan wawancara.
  • Melakukan wawancara tahap 1.
    • – 16.30
    • – 11.30 Melakukan wawancara tahap 2.

  • Menjelaskan kepada subjek tentang penelitian.
  • Meminta subjek menandatangani surat persetujuan wawancara.
  • Melakukan wawancara
    • – 10.30

  10 Juni 2013

  11.00

  Tabel 4 Jadwal Pelaksanaan Pengambilan Data Subjek 2

  Tanggal Waktu Kegiatan

  9 Mei 2013

  10.00

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tabel 5 Jadwal Pelaksanaan Pengambilan Data Subjek 3

  Tanggal Waktu Kegiatan

  15 Mei 2013

  16.00

  • Menjelaskan kepada subjek tentang penelitian.
  • Meminta subjek menandatangani surat persetujuan wawancara.
  • Melakukan wawancara
    • – 16.45

  Tabel 6 Jadwal Pelaksanaan Pengambilan Data Subjek 4

  Tanggal Waktu Kegiatan

  1 Juni 2013

  16.30

  • Menjelaskan kepada subjek tentang penelitian.
  • Meminta subjek menandatangani surat persetujuan wawancara.
  • Melakukan wawancara
    • – 17.00

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tabel 7 Jadwal Pelaksanaan Pengambilan Data Subjek 5

  Tanggal Waktu Kegiatan

  11 Juni 2013 10.30 - Menjelaskan kepada subjek

  • – 11.30 tentang penelitian.
    • Meminta subjek menandatangani surat persetujuan wawancara.
    • Melakukan wawancara B.

PROFIL SUBJEK

  1. Subjek Pertama

  Subjek pertama dalam penelitian ini adalah seorang ibu yang berinisial S. Ibu S saat ini berusia 44 tahun. Secara fisik, Ibu S memiliki perawakan yang tidak terlalu tinggi dan berkulit kecoklatan. Walaupun Ibu S terdiagnosis kanker payudara, pada raut wajahnya tidak nampak bahwa Ibu S sakit. Dalam kesehariannya, Ibu S bekerja sebagai ibu rumah tangga. Ibu S tidak memiliki aktivitas lain, dikarenakan tidak mendapatkan izin dari suami.

  2. Subjek Kedua

  Subjek kedua dalam penelitian ini adalah seorang ibu yang berusia 48 tahun. Ibu tersebut berinisial K. Ibu K memiliki perawakan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  yang agak besar, agak gemuk, dan berkulit kecoklatan. Dalam kesehariannya, Ibu K bekerja sebagai ibu rumah tangga. Aktivitas lain yang dikerjakan Ibu K adalah mengikuti arisan di lingkungan tempat tinggalnya.

  3. Subjek Ketiga

  Subjek ketiga dalam penelitian ini adalah seorang ibu yang berusia 43 tahun. Ibu tersebut berinisial D. Ibu D memiliki perawakan yang kecil, kurus, dan berkulit putih. Dalam kesehariannya, Ibu D bekerja sebagai penjual ikan laut di pasar tradisional di kota Yogyakarta. Selain itu, Ibu D dan suaminya memproduksi bakso goreng di rumah dan menjualnya di sebuah toko camilan.

  4. Subjek Keempat

  Subjek keempat pada penelitian ini adalah seorang ibu berinisial I yang berusia 53 tahun. Ibu I merupakan seorang yang senang bercerita dan ceria. Ibu I memiliki perawakan yang gemuk, tinggi, dan berkulit kecoklatan. Ibu I sehari-hari bekerja sebagai sebuah instansi pemerintahan di Kabupaten Sleman. Selain itu, Ibu I memiliki kegiatan arisan di 2 lokasi yang berbeda karena Ibu I memiliki 2 tempat tinggal.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

5. Subjek Kelima

  Subjek keempat pada penelitian ini adalah seorang ibu berinisial R yang berusia 44 tahun. Ibu R merupakan seorang yang penuh semangat. Ibu R memiliki perawakan yang gemuk, tinggi, dan berkulit putih. Ibu R sehari-hari bekerja membuat kue dan menitipkannya di kantin salah salah satu bank swasta di Yogyakarta. Selain itu, Ibu R juga memiliki kegiatan menjaga toko komputer milik kakaknya.

C. TEMUAN HASIL PENELITIAN 1. Subjek Pertama

  a. Kanker Payudara dan Pengobatannya Ibu S sudah mengalami sakit kanker payudara selama 1,5 tahun. Hal ini berawal ketika Ibu S mengetahui bahwa ada gejala kanker yang dialaminya, yaitu ketika mulai merasakan adanya benjolan pada payudara sebelah kiri bagian bawah. Benjolan tersebut dapat dirasakan ketika subjek berada pada posisi tidur. Pada benjolan tersebut tidak terdapat luka dan subjek tidak merasakan sakit pada benjolan tersebut.

  

“Waktu itu kan kalau terasa itu tidur. Kalau miring itu

kelihatan benjolannya.” (5-7) “Kiri Bawah” (11)

“Enggak sakit. Enggak.” (24) “Gak ada luka apa-apa.

Cuma benjolan.” (55-56)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Setelah dilakukan pemeriksaan, Ibu S positif terkena kanker payudara stadium lanjut. Di dalam keluarga besar Ibu S tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat sakit kanker ataupun tumor. Ketika mendapatkan vonis kanker, Ibu S terkejut. Namun, rasa kaget tersebut tidak berkepanjangan.

  

“Cuma kaget pas itu aja” (104-105) “Saat itu aja. Abis

itu udah.” (111)

  Hal ini dikarenakan Ibu S memiliki semangat yang tinggi untuk bisa sembuh dari sakit kankernya. Semangat yang tinggi untuk sembuh inilah yang menyebabkan Ibu S tidak mengalami keterpurukan dalam menjalani hidup dengan kanker payudara.

  

“Nomer 1 semangatnya itu. Kepengen sembuh.” (123-

  124) Selain itu, Ibu S juga mampu menghadapi masalah yang ada dengan keikhlasan, santai, dan tidak berpikir secara berat. Hal ini menyebabkan Ibu S mampu menjalani kehidupan dengan perasaan senang.

  

“Dihadapi dengan senang, ikhlas, gitu aja. Berpikiran

sekarang gak harus ngoyo, santai, gitu aja. Jadi

enggak untuk beban- beban.” (129-133) “Saya buat senang sekarang.” (138-139)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tindakan medis yang dilakukan pihak rumah sakit untuk mengangani kanker payudara ini adalah dilakukannya Radical

  Mastectomy. Setelah dilakukan pengangkatan payudara, pengobatan yang selanjutnya dijalani adalah kemoterapi.

  Kemoterapi dilakukan subjek sebanyak 4 kali. Setelah pengobatan kemoterapi selesai dilaksanakan, Ibu S sudah tidak melakukan pengobatan medis ataupun mengkonsumsi obat-obatan medis. Selain itu, Ibu S juga sudah tidak melakukan cek rutin ke rumah sakit. Hal tersebut dilakukan karena adanya kebosanan ketika harus melakukan cek rutin ke rumah sakit.

  

“Terus udah rampung kemo terus kontrol berapa bulan

terus harus obat lagi, terus saya berhenti, sekarang

minum sarang semut. Ya bosen.” (239-243)

  Walaupun menghentikan pengobatan medis, Ibu S tetap mengusahakan pengobatan melalui pengobatan non medis dengan mengkonsumsi air rebusan sarang semut yang didapatkannya langsung dari Irian.

  “… sekarang minum sarang semut.” (242-243)

  Pengobatan kanker yang dijalani oleh Ibu S memberikan dampak bagi kondisi fisik Ibu S. Kemoterapi yang dijalani Ibu S

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  melemah. Hal ini menyebabkan Ibu S harus mengurangi beberapa aktivitasnya.

  

“… waktu habis kemo itu mual. Terus gak bisa apa-apa

lagi.” (215-217)

  b. Kondisi Psychological Well Being Ibu S memiliki nilai 10 pada tingkat kebahagiaannya saat ini. Pada dimensi penerimaan diri, Ibu S memiliki perubahan dalam memandang diri sendiri. Ketika setelah menjalani operasi pengangkatan payudara, Ibu S sempat tidak memiliki penerimaan diri yang baik, yaitu merasa tidak memiliki kepercayaan diri.

  

“Waktu habis operasi kan kayaknya minder, kurang

PD.” (252-253)

  Namun, saat ini, Ibu S memiliki penerimaan diri yang baik. Ibu S sudah memiliki kepercayaan diri kembali. Hal ini dikarenakan dukungan yang diberikan suami kepada Ibu S. Selain faktor dari luar, adanya faktor dari dalam diri sendiri juga mempengaruhi cara penerimaan diri dari Ibu S.

  

“Sekarang ya itu, jalani aja kayak kehidupan yang

kemaren, waktu ini masih ada.” (254-256) “… nomer 1

itu ya semangat, Mbak. Sama dorongan dari suami …”

  (264-265)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Adanya semangat dan kemauan untuk berusaha menerima keadaan juga merupakan faktor yang berperan dalam penerimaan diri Ibu S. Sehingga saat ini, Ibu S mampu memiliki perasaan senang dalam menjalani hidupnya.

  Ibu S merupakan pribadi yang tidak memiliki banyak kegiatan. Hal ini dikarenakan Ibu S tidak mendapatkan izin dari suami untuk memiliki kegiatan lain.

  “Gak boleh. Nanti ndakane capek.” (436)

  Saat ini, kegiatan yang dilakukan Ibu S hanyalah mengerjakan kegiatan rumah tangga. Dalam mengatur aktivitasnya tersebut, Ibu S mampu mengaturnya dengan cukup baik. Ibu S mampu mengerjakan pekerjaannya secara mandiri tanpa melibatkan orang lain. Ibu S mengerjakan pekerjaan yang menjadi prioritasnya. Selain itu, Ibu S juga melihat kondisi fisiknya.

  Apabila Ibu S sudah merasa lelah, atau tidak mampu, maka segera beristirahat, supaya bisa segera melanjutkan pekerjaan yang tertunda tersebut.

  

“Mandiri.” (421) “…yang mana yang kita kerjakan

dulu, mana yang nanti dulu, terus kira-kira kita

badannya gak enak, gak bisa bekerja, berhenti dulu”

  (444-448)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Ibu S memiliki tujuan hidup yang mengalir saja seperti air. Tujuan hidup yang dimiliki Ibu S ini sudah ada sejak dulu, sebelum terkena kanker. Namun setelah mendapatkan kanker payudara, Ibu S lebih memiliki keinginan untuk memiliki umur panjang supaya mampu menjalani kehidupannya dengan lebih baik lagi. Walapun terdapat perubahan tujuan hidup menjadi lebih baik, Ibu S merasa kehidupannya sebelum dan setelah mendapatkan vonis kanker tidak ada yang berbeda, semua sama saja.

  

“…kepengen punya umur panjang. Ya ngalir aja.

Jalani dengan baik aja.” (342-344)“Sebelum kanker

seperti in i juga. Sama aja.” (347-348) “Ya kan tujuan

dari hidup kan gini aja mengalir kayak air. Gak ada

yang berubah juga.” (352-354)

  Ibu S memiliki pendapat bahwa seseorang yang terkena kanker payudara masih mampu mengembangkan diri dalam hal apapun.

  

“Saya kira bisa mbak.” (364) “Banyak. Semua bisa”

  (375) Hal ini dikarenakan, menurut Ibu S, walaupun terkena kanker, kehidupan harus tetap berjalan, harus memiliki semangat, dan tidak boleh minder. Namun, pendapat tersebut tidak sesuai dengan kondisi Ibu S. Ibu S merasa tidak mampu untuk mengalami

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  tubuh yang dialami Ibu S sejak mendapatkan kanker payudara, sehingga Ibu S tidak ingin memaksakan diri.

  

“… tenaganya kan sekarang berkurang, kan, jadi gak

harus ngoyo- ngoyo …” (385-387) “Gak usah

dipaksa.” (390-391) “Kayaknya enggak.” (396-397)

  Selain itu, Ibu S juga tidak mendapatkan izin dari suami untuk memiliki kegiatan lain, sehingga tidak ada kesempatan bagi Ibu S untuk berkegiatan lain yang bisa mengembangkan dirinya.

  Ibu S kurang memiliki otonomi dalam hal keputusan yang harus diambil. Segala keputusan dan rumah tangganya, termasuk keputusan pengobatan, atas pertimbangan suami. Selain itu, aktivitas yang dilakukan oleh Ibu S pun atas keputusan dari suami, yaitu tidak diperbolehkan untuk melakukan aktivitas lain. Walaupun demikian, Ibu S tetap memiliki kemandirian dalam hal pelaksanaan aktivitas. Ibu S berusaha untuk mandiri dalam menjalani kegiatannya.

  

“Gak minta bantuan orang lain.” (461-462) “Apa yang

sa ya bisa kerjakan sendiri ya saya kerjakan.” (472-

  474) Selain itu, Ibu S juga mampu untuk mengevaluasi kondisi diri sendiri. Kemampuan mengevaluasi diri ini, menyebabkan Ibu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  S mampu untuk melihat kondisi dan kemampuan yang dimilikinya saat ini.

  Dalam hal hubungan dengan orang lain, Ibu S memiliki relasi yang positif dengan orang lain, baik itu suami, keluarga besar, maupun masyarakat tempat tinggalnya. Selain itu, Ibu S juga merasakan tidak adanya perubahan dalam relasi yang dia miliki.

  

“Gak ada perubahan. Dari dulu sama sekarang sama

aja.” (481-483) “Ya baik. Sama aja. Gak ada yang

beda.” (487-488)

  Relasi positif ini tampak dalam dukungan sosial yang sering Ibu S terima dari suami, keluarga besar, maupun masyarakat sekitar.

  c. Dukungan Sosial Ibu S mendapatkan dukungan sosial dari banyak pihak, yaitu suami, saudara atau keluarga besar, teman di lingkungan tempat tinggal dan teman di lingkungan rumah sakit. Jenis dukungan yang diterimapun bermacam-macam.

  Dukungan terbanyak didapatnya dari suami. Selama sakit kanker payudara ini, Ibu S mendapatkan dukungan semangat, mendapat penghiburan dari suami dan dukungan perhatian. Salah satu bentuk perhatian yang diberikan adalah suami Ibu S meminta Ibu S untuk tidak terlalu lelah dalam beraktivitas.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

“…semangat.” (496) “…kalau pas badannya gak enak,

suami bilang gak usah dulu, pikiran e gak usah ngoyo,

santai aja, …” (545-548) “Ya kasih sayang itu.

Ditunjukkan pada saya, ya lewat menghibur.” (560-

  561) Selain mendapatkan dukungan dari suami, Ibu S juga mendapatkan dukungan dari keluarga besar. Dukungan yang diterima adalah bantuan dalam beraktivitas dan dukungan secara emosional, yaitu pemberian kasih sayang dan semangat.

  

“… ternyata dari saudara-saudara yang memberikan

sendiri.“ (426-427) “Kasih sayangnya itu kayaknya

bertambah.” (537-538)

  Dukungan juga diterima Ibu S dari teman-teman, baik teman di lingkungan tempat tinggal, maupun di lingkungan berobat. Ibu S mendapatkan bantuan langsung dari salah satu temannya, yaitu mendapat bantuan memperoleh produk sarang semut langsung dari Irian.

  

“Di sini kan ada yang kerja di sana, terus dibawain itu

langsung dari Irian.” (176-178)

  Selain itu, Ibu S juga mendapatkan informasi mengenai pengobatan dari sarang semut.

  

“… kan ada yang bilang, dia itu kan punya itu kanker

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dari berbagai pihak yang memberikan dukungan sosial tersebut, dukungan yang paling berpengaruh bagi Ibu S adalah pemberian dukungan dari kakak ipar. Hal ini dikarenakan kakak ipar Ibu S adalah pihak pertama yang mengetahui kalau Ibu S terkena kanker dan kakak ipar Ibu S juga memberikan dorongan untuk segera berobat.

  

“Sebelum suami saya tau, saya cerita dulu sama kakak.

Ya itu kan, kasih dorongan-dorongan. Sebelum

daripada membesar, saya disuruh perik sa.” (591-595)

  Dukungan sosial yang diterima subjek dari berbagai pihak ini memberikan pangaruh yang positif bagi kehidupan subjek.

  Dukungan-dukungan tersebut membantu subjek untuk bisa merasakan senang, mengurangi beban penderitaan, tidak memikirkan penyakitnya, dan bisa merasa enjoy dalam beraktivitas.

  

“Senang.” (615) “Gak pikiran.” (618) “Enjoy aja …”

  (620) Berdasarkan pengalaman penerimaan dukungan sosial, subjek tidak pernah memiliki pengalaman tidak mendapatkan dukungan. Hal ini dikarenakan semua yang dilakukan orang lain dianggap subjek sebagai bentuk dukungan. Subjek memiliki cara

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pandang bahwa orang lain memberikan dukungan dengan cara yang berbeda-beda.

  

“Kan cara orang mendukung kan itu beda. Pokoknya

s

aya gak anggap kalau gak mendukung.” (634-636)

  d. Kesimpulan Gejala kanker payudara yang dialami subjek adalah adanya benjolan pada payudara sebelah kiri bawah dan dapat dirasakan ketika dalam posisi tidur. Benjolan tersebut tidak terasa sakit dan tidak terdapat luka.

  Ketika mendapati vonis kanker payudara, subjek merasa kaget, tapi tidak berlarut-larut. Tidak mengalami rasa takut ataupun sedih. Sehingga tidak memiliki pengalaman kesedihan yang mendalam. Hal ini dikarenakan adanya keinginan dari dalam diri subjek untuk sembuh dari kanker payudara. Selain itu, hal tersebut juga dipengaruhi oleh kemampuan penerimaan diri subjek yang baik, yaitu mampu menerima dengan ikhlas dan tidak berfikir secara berat. Sehingga, subjek mampu menjalani kehidupan setelah vonis kanker dengan perasaan senang.

  Setelah melakukan operasi pengangkatan payudara, subjek sempat merasa tidak percaya diri. Akan tetapi, karena mendapatkan dukungan emosional berupa semangat dari suami, maka subjek

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mampu menerima keadaan dan mampu menjalani kehidupan dengan senang.

  Subjek mengalami perubahan tujuan hidup setelah subjek mendapatkan vonis kanker payudara. Perubahan yang dialami subjek adalah, ketika mendapatkan vonis kanker payudara, subjek lebih memiliki keinginan untuk memiliki umur panjang supaya dapat menjalani kehidupannya lebih baik.

  Dalam kehidupan sehari-hari, subjek hanya berkegiatan sebagai ibu rumah tangga. Subjek mampu mengatur pekerjaan rumah tangganya dengan baik. Dalam mengatur tugas pekerjaannya, subjek menentukan prioritas pekerjaan yang harus didahulukan. Subjek mengerjakan tugas rumah tangganya secara mandiri. Akan tetapi tidak jarang pula subjek mendapatkan bantuan-bantuan tenaga dari saudaranya untuk beraktivitas.

  Subjek memiliki kemandirian dalam beraktivitas. Akan tetapi, dalam hal pengambilan keputusan, subjek tidak memiliki kemandirian. Setiap pertimbangan yang ada selalu meminta persetujuan suami. Termasuk dalam berkegiatan. Suami subjek membatasi kegiatan subjek. Hal ini dikarenakan kekhawatiran suami subjek terhadap kondisi fisik subjek.

  Keterbatasan dalam berkegiatan itu pula yang menyebabkan subjek tidak ada kesempatan untuk mengembangkan diri, selain karna faktor kondisi fisik yang tidak sekuat dahulu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sebelum terkena kanker. Padahal, subjek memiliki pendapat bahwa seorang yang terkena kanker masih bisa mengembangkan diri dalam hal apapun.

  Walaupun subjek memiliki keterbatasan dalam beraktivitas, subjek tetap memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar. Selain itu, subjek juga memiliki hubungan yang baik dengan suami dan keluarga besar. Hubungan baik itu terwujud dari dukungan sosial yang subjek terima.

  Dukungan sosial diterima subjek dari suami subjek. Bentuk dukungan yang diberikan adalah dukungan sosial emosional, yaitu berupa dukungan semangat, memberikan perhatian, meminta subjek untuk tidak terlalu lelah dalam beraktivitas, dan menghibur subjek dikala subjek merasa sedih.

  Selain itu, saudara-saudara subjek juga memberikan dukungan berupa dukungan sosial emosional dan instrumental.

  Yaitu berupa pemberian kasih sayang, dorongan untuk segera berobat, dan bantuan dalam beraktivitas.

  Teman-teman subjek dari lingkungan tempat tinggal, dan teman di rumah sakit pun juga memberikan dukungan sosial kepada subjek, yaitu dukungan sosial instrumental, emosional, dan informasi. Bentuk dukungannya adalah bantuan dalam memperoleh obat herbal, dukungan semangat, pemberian kasih sayang, dan informasi mengenai pengobatan herbal. Secara

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  keseluruhan, dukungan sosial yang diberikan itu, diberikan secara langsung kepada subjek tanpa perantara siapapun.

  Dari sekian banyak pihak pemberi dukungan, subjek merasa pemberi dukungan yang paling berpengaruh adalah berasal dari kakak ipar subjek. Hal ini dikarenakan kakak ipar subjek yang pertama kali mengetahui penyakit subjek dan yang pertama kali memberi dorongan untuk berobat.

  Dukungan sosial yang diterima itu memberikan manfaat bagi kondisi subjek. Dengan mendapatkan dukungan sosial, subjek merasa senang, tidak memikirkan penyakitnya, dan mengurangi beban penderitaan.

  Berdasarkan pengalaman, subjek tidak pernah memiliki pengalaman tidak didukung. Karena subjek memiliki pandangan bahwa cara orang lain dalam mendukung itu berbeda-beda sehingga segala hal yang dilakukan orang lain dianggap sebagai bentuk dukungan.

2. Subjek Kedua

  a. Kanker Payudara dan Pengobatannya Sakit kanker payudara yang dialami oleh Ibu K sudah 2 tahun. Penyakit itu diketahui ketika Ibu K sering merasakan nyeri pada lengan tangan kirinya. Kemudian setelah diamati lebih lanjut,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  ternyata terdapat benjolan pada payudara sebelah kiri atas dan adanya pertumbuhan puting yang tidak normal.

  

“Waktu itu terasanya nyeri di lengan tangan kiri.” (5-

  6)

  “…katanya ada benjolan.” (8) “Di payudara kiri

atas sini mbak.” (15) “Puting saya tuh masuk …” (24)

  Hasil pemeriksaan yang dilakukan menunjukkan bahwa Ibu K terkena kanker payudara. Di dalam riwayat keluarga Ibu S, tidak ada anggota keluarga yang terkena kanker ataupun tumor. Ketika mendapati vonis kanker payudara, yang dirasakan oleh Ibu K adalah merasa kaget, bingung, dan sedih. Selain itu, Ibu K juga merasa bahwa dunia menjadi gelap dan berhenti berputar.

  

“Kaget, Mbak. Bingung. Sedih” (44) “Kayaknya dunia

udah gelap. Kayaknya dunia berhenti.” (47-48)

  Perasaan-perasaan tersebut muncul karena Ibu K mengetahui bahaya dan konsekwensi dari kanker payudara. Ketika awal mula menjalani kehidupan dengan kanker payudara, Ibu K sempat merasa takut dan sering mempertanyakan keadaan.

  

“…takut waktu itu.” (56) “…sok nanyake kok aku kena

kanker gini kenapa.” (58-59)

  Rasa sedih yang dialami Ibu K hanya terjadi ketika divonis

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kesedihan mendalam ini disebabkan oleh adanya keinginan dari dalam sendiri untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan, mendapatkan arahan dari dokter dalam menghadapi kanker payudara, serta bertemu dan saling berbagi pengalaman dengan sesama penderita kanker.

  

“Pokoknya dari saya gak mau sampai nglokro. Dokter

juga bilang gak boleh sedih, gak boleh susah.” (70-73)

“…ketemu teman yang sama-sama kanker jadi sok

cerita-cerita.

   (74-76)

  Tindakan pengobatan yang dilakukan oleh Ibu K adalah melakukan kemoterapi sebanyak 6 kali, penyinaran setiap hari selama 1 bulan, mengkonsumsi vitamin selama 3 tahun, serta melakukan kontrol di rumah sakit setiap 1 bulan 1 kali untuk cek kanker dan 6 bulan 1 kali untuk cek keseluruhan. Sedangkan untuk pengobatan non medis yang dilakukan adalah mengkonsumsi buah sirsat dan air rebusan daun sirsat.

  Pengobatan yang dijalaninya memberikan dampak bagi tubuhnya. Kemoterapi yang dilakukan sebanyak 6 kali sering membuat Ibu K menjadi mual dan lemas setelah melakukan kemoterapi. Akan tetapi, Ibu K tetap menjalani pengobatannya apapun konsekwensi yang akan ditanggungnya.

  

“…gimanapun harus dijalani. Karna saya kan niatnya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  b. Kondisi Psychological Well Being Tingkat kebahagiaan yang dimiliki Ibu K adalah 9. Ketika

  Ibu K mendapatkan vonis kanker payudara dan dilakukan operasi pengangkatan payudara, Ibu K merasa minder, malu, tidak percaya diri bila bertemu orang lain karena takut jika ditanya seputar penyakitnya.

  

“Waktu habis operasi saya sempat minder, gak PD

ketemu orang. Takutnya malah ditanya-tanya. Saya

malu.” (144-147) Namun saat ini, perasaan-perasaan tersebut sudah tidak ada.

  Saat ini, Ibu K sudah pasrah dan sudah menerima keadaan. Selain itu, sudah ada kemampuan dari dalam diri Ibu K untuk memandang diri sendiri secara positif, menyukuri keadaan, berusaha untuk kuat dan tegar.

  

“Jadi ya sekarang gak.“ (149) “Menerima. Pasrah.”

  (137)

  “Pasrah. Disyukuri.” (160) “Pokoknya harus ku at, tegar.” (162)

  Dengan kepercaan diri yang ada sekarang dan tidak adanya rasa malu untuk bertemu dengan orang lain, maka membantu Ibu K untuk tidak memikirkan penyakitnya lagi.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

“Justru malah kalau PD gini, berani ketemu orang,

kan ada kegiatan, jadi ga k kepikiran sakitnya …” (153-

  156) Dalam mengatur kegiatan sehari-hari, Ibu K tidak mengalami kesulitan karena sudah menjadi rutinitasnya. Selain itu,

  Ibu K tidak mengalami kesulitan dalam beraktivitas karena dibantu oleh jasa asisten rumah tangga dan ada pembagian aktivitas oleh anaknya.

  “Tapi nek kerja bakti anak saya yang gantikan datang. Saya cuma paling nyiapin minum.” (242-244)

  Ketika selesai operasi pengangkatan payudara dan selama menjalani kemoterapi, Ibu K mampu menjalani dan mengatur aktivitasnya dengan baik. Setelah menjalani operasi kanker payudara, Ibu K masih mampu mengantar anaknya ke sekolah.

  Ketika menjalani kemoterapi, Ibu K meminta bantuan kepada saudaranya untuk mengantarkan anaknya ke sekolah. Ketika kemoterapi juga, segala pekerjaan rumah tangga diserahkan kepada asisten rumah tangga.

  

“Habis operasi itu, sembuh, saya masih nganter anak

saya sekolah naik motor.” (258-260) “Tapi pas kemo

itu saya minta dibantu saudara saya buat antar anak

saya. Kan lemes, Mbak. Gak bisa apa-a pa.” (261-264)

“… kan saya pakai pembantu, jadi enak ada yang

bantu. Dia yang ngerjain.” (271-273)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tujuan hidup yang dimiliki Ibu K saat ini adalah ingin membahagiakan anak-anak. Tujuan hidup yang ada ini sudah dimiliki sejak Ibu K menikah. Tidak adanya perubahan tujuan hidup semenjak sakit ini, dikarenakan Ibu K mengingat anak-anak.

  Semenjak sakit, Ibu K justru semakin memiliki semangat dan berusaha untuk memperjuangkan tujuan hidupnya.

  

“Tujuan hidup saya untuk anak-anak. Pokoknya apa

yang saya lakukan, semua untuk kebahagiaan anak …”

  (170-173)

  “ketika saya nikah, punya anak, apa yang

saya lakukan itu untuk anak saya.” (178-180) “Justru

semakin apa ya, jadi semakin kuat buat berjuang untuk

anak- anak.” (186-188) “Jadi saya ya harus berusaha, semangat.” (194-195)

  Dalam hal pengembangan diri, Ibu K memiliki pendapat bahwa seorang dengan kanker payudara masih bisa mengembangkan diri mereka sesuai potensi yang ada dalam diri masing-masing. Pengobatan yang ada sekarang mampu menyembuhkan kanker sehingga masih ada kesempatan untuk mengembangkan diri.

  

“Ya kan sekarang udah ada obatnya, pasti sembuh,

jadi pasti bisa lebih berkembang.” (204-206)

  Ibu K merasa dirinya mampu untuk mengembangkan diri. Hal ini dikarenakan memiliki kemauan untuk lebih berkembang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dan merasa tidak ada yang berubah dalam kehidupannya, serta merasa sudah sembuh dari penyakitnya.

  

“Masih Mbak. Karena diri saya gak ada yang

berubah.” (220-221) “Ada kemauan. Saya juga merasa

udah sembuh kok.” (223-225)

  Di dalam keluarga, keputusan yang diambil Ibu K sebagian besar tanpa meminta pertimbangan orang lain. Untuk hal-hal yang penting dalam keluarga, Ibu K meminta pertimbangan suami ataupun orang tua.

  

“Paling kalau hal-hal biasa ya saya putuskan sendiri.

Kalau hal penting sekali ya saya minta pertimbangan

suami saya, saya telpon, kalau gak ya orang tua saya.”

  (283-288) Dalam hal pengobatan, Ibu K meminta pertimbangan suami dan orang tua. Hal ini dikarenakan yang membiayai seluruh pengobatan adalah suami dan pihak rumah sakit meminta persetujuan suami untuk dilakukan pengangkatan payudara.

  

“Sama suami, sama orang tua. Tapi lebih ke suami ya.

Karena kan yang biayain juga suami.” (292-294)

“dokter juga minta suami saya dateng ke rumah sakit.

  

Dokter kasih penjelasan dan meminta persetujuan

suami saya.” (296-299)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Ibu K memiliki relasi positif dengan orang lain. Hubungan baik dengan orang lain ini, tampak dalam banyaknya dukungan sosial yang Ibu K terima. Hubungan yang baik ini juga dirasakan oleh Ibu K karena banyaknya dukungan semangat yang diterima.

  Walaupun ada relasi yang baik dengan banyak orang, Ibu K tetap tidak diistimewakan.

  

“Tapi terus gak dispesialkan.” (326) “Tapi banyak

yang kasih semangat. Jad i merasanya dekat.” (327-

  329)

  c. Dukungan Sosial Ibu K mendapatkan banyak dukungan sosial dari berbagai pihak, yaitu dari keluarga, suami, anak, orang tua, teman sewaktu

  SMA, teman sesama penderita kanker, masyarakat sekitar, dan dokter. Bentuk-bentuk dukungan yang diberikan pun bermacam- macam.

  Dukungan yang Ibu K terima dari suami adalah perhatian dari suami, membantu pekerjaan rumah tangga, semangat, dan memberikan biaya berobat.

  

“Jadi tambah perhatian malah. Sering telpon.” (305-

  306)

  “… kalau pulang pasti bantu kerjaan rumah.”

  (313-314)

  “. Ya walaupun jauh, tapi suami tetep kasih

saya perhatian, dukungan, semangat” (344-346)

“…dikirim uang untuk biaya berobat …” (384-385)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Walaupun suami Ibu K bekerja dan tinggal di luar kota, dukungan sosial pun tetap diberikan, terutama dukungan emosional, sering diberikan melalui telepon.

  

“… telpon tiap malem. Nanyain kabar. Tanya kondisi.

Tiap telpon pasti menyemangati saya.” (413-415) Selain suami, Ibu K juga menerima dukungan dari anaknya.

  Dukungan yang diberikan adalah menggantikan dalam kegiatan kerja bakti, meminta supaya tidak memikirkan penyakitnya, dan mengantar berobat ke rumah sakit.

  

“Tapi nek kerja bakti anak saya yang gantikan

datang.” (242-243) “Anak-anak sok bilang udah gak

usah dipikirin.”(348-349) “suka nganterin saya ke

rumah sakit.” (389-390)

  Dukungan sosial, juga diterima Ibu K dari orang tua, yaitu berupa pendampingan selama sakit.

  

“Orang tua saya juga mendampingi saya” (346-347)

  Selain itu, juga menerima dukungan dari saudaranya, yaitu dengan menerima dukungan semangat dan mendapatkan bantuan dalam mengerjakan rutinitasnya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

“Tapi pas kemo itu saya minta dibantu saudara saya

buat antar anak saya.” (261-263) “Banyak yang

dateng kasih semangat saya.” (321-322)

  Selain mendapatkan dukungan dari keluarga besar, Ibu K juga mendapatkan dukungan dari teman, masyarakat, dan dokter yang menangani. Ibu K mendapatkan bantuan biaya pengobatan dari teman-teman semasa SMA. Selain itu, teman-teman dari Ibu K juga sering mengajak Ibu K untuk pergi berkegiatan bersama.

  

“… kumpul teman SMA saya diajak. Dijemput.” (360-

  361)

  “Penggalangan dana juga lho. Sampai jutaan itu.” (396-397)

  Selain dari teman SMA, Ibu K juga mendapatkan dukungan dari sesama penderita kanker. Diantara mereka saling memberikan dukungan sosial dengan cara saling memberi kabar dan saling berbagi pengalaman.

  

“… ketemu teman yang sama-sama kanker jadi sok

cerita- cerita.” (74-76) “…kabar-kabaran sama yang kanker …” (336-337)

  Tidak hanya itu, dukungan sosial pun diterima oleh Ibu K dari dokter yang menangani penyakitnya. Dukungan yang diterima adalah berupa arahan dan nasihat mengenai bagaimana cara menghadapi kanker.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

“Dokter juga bilang gak boleh sedih, gak boleh

susah.” (71-73)

  Diantara berbagai pihak yang memberikan dukungan sosial, pemberi dukungan yang menurut subjek paling berpengaruh adalah suami, anak, dan orang tua. Hal ini dikarenakan suami terus memberikan dukungan semangat, kekuatan dan biaya pengobatan, serta mendapatkan pendampingan sejak operasi sampai saat ini dari orang tua, keluarga, dan anak.

  

“…suami, walaupun jauh pasti kasih dukungan, kirim

biaya berobat juga.” (370-373) “Kalau keluarga,

orang tua, kan mereka yang mendampingi saya terus.

Dari saya operasi sampai sekarang. Mereka-mereka

yang buat saya bisa kuat, bisa semanga t.” (374-379)

  Dukungan-dukungan tersebut tentunya memberikan pengaruh bagi Ibu K, yaitu menambah semangat hidup, merasa tidak sendiri, dan merasa lebih beruntung dari orang lain.

  

“…tambah semangat.” (420) “Kenal sama orang-

orang yang kanker juga jadi mer asa tidak sendiri.”

  (423-425)

  “ada yang lebih parah dari saya, saya jadi

merasa oh ternyata saya masih lebih beruntung” (427-

  429) Menurut Ibu K, dukungan sosial memberikan pengaruh kepada peningkatan semangat hidup. Akan tetapi, sumber semangat yang terbesar adalah dari dalam diri sendiri.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

“Pokoknya jadi tambah semangat. Tapi tetep yang

utama semangat datang dari dalam diri sendiri.” (429-

  432) Berdasarkan pengalaman penerimaan dukungan sosial, Ibu K tidak pernah mempunyai pengalaman tidak mendapat dukungan.

  Hal ini dikarenakan, semua orang yang ada di dalam kehidupan Ibu K mendukung untuk sembuh.

  

“Semua mendukung saya untuk semangat, untuk

sembuh. Semua yang orang lain lakukan, yang di sini,

teman, saudara yang jauh pun mendukung saya.” (439-

  443)

  d. Kesimpulan Gejala kanker payudara yang dialami subjek adalah adanya rasa nyeri pada lengan sebelah kiri, dan munculnya benjolan pada payudara sebelah kiri atas. Selain itu, subjek juga mengalami pertumbuhan puting yang tidak normal.

  Ketika subjek mendapati vonis kanker payudara, yang dialami subjek adalah merasa kaget, bingung, sedih, takut, dan sering mempertanyakan keadaan. Hal tersebut terjadi karena subjek takut akan bahaya dari kanker payudara. Perasaan tersebut hanya dialami sampai menjelang operasi. Hal ini dikarenakan adanya keinginan untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dengan sesama penderita kanker. Sehingga, subjek tidak mengalami keterpurukan karena kanker.

  Setelah melakukan operasi pengangkatan payudara, subjek merasa tidak percaya diri dan malu bertemu orang lain karena takut ditanya seputar penyakitnya. Namun, kondisi tersebut sudah tidak terjadi saat ini. Hal ini dikarenakan adanya kemampuan untuk menyukuri dan menerima keadaan, pasrah dan memiliki pandangan yang positif. Dengan adanya kepercayaan diri, subjek merasa tidak terbeban karena penyakitnya.

  Subjek tidak mengalami perubahan dalam tujuan hidup yang dimilikinya. Subjek memiliki tujuan hidup ingin membahagiakan anak-anak. Semenjak sakit kanker, semangat subjek untuk mewujudkan tujuan hidupnya semakin besar.

  Subjek tidak kesulitan dalam mengatur kegiatan sehari- harinya, karena sudah terbiasa dan menggunakan jasa asisten rumah tangga dan mendapatkan bantuan dari anaknya. Begitupun ketika menjalani pengobatan, subjek meminta bantuan saudaranya untuk membantunya dan menyerahkan seluruh pekerjaan rumah tangga kepada asisten rumah tangga.

  Dalam pengambilan keputusan, subjek lebih sering memutuskan sendiri. Akan tetapi, untuk keputusan penting meminta pertimbangan suami dan orang tua. Dalam pengobatan, subjek meminta pertimbangan suami karena suami yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  membiayai dan pihak rumah sakit juga meminta pertimbangan suami.

  Subjek memiliki pendapat bahwa penderita kanker masih mampu mengembangkan diri dalam hal apapun, karena pengobatan yang ada sudah mampu menyembuhkan kanker. Hal ini sesuai dengan subjek yang merasa mampu mengembangkan diri karena subjek merasa sudah sehat

  Selain itu, subjek memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitarnya. Hubungan baik itu ada tanpa adanya perilaku diistimewakan oleh orang lain. Hubungan baik yang ada terwujud dalam dukungan sosial yang diterima subjek.

  Dukungan sosial diterima subjek dari suami subjek. Walaupun suami subjek tinggal di luar kota, namun sering memberikan dukungan emosional melalui telepon. Dukungan sosial yang diberikan adalah dukungan sosial emosional dan instrumental, yaitu memberikan perhatian, semangat, membantu pekerjaan rumah tangga, dan membiayai pengobatan.

  Subjek juga menerima dukungan dari anaknya, berupa dukungan emosional dan instrumental. Bentuk dukungan tersebut adalah menggantikan dalam kegiatan kerja bakti, meminta supaya tidak memikirkan penyakitnya, dan mengantar berobat ke rumah sakit.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dukungan sosial, juga diterima subjek dari orang tua, yaitu berupa pendampingan selama sakit. Selain itu, juga menerima dukungan dari saudaranya, yaitu dengan menerima dukungan semangat dan mendapatkan bantuan dalam mengerjakan rutinitasnya.

  Teman-teman subjek pun juga memberikan dukungan sosial. Teman SMA memberikan dukungan instrumental berupa bantuan biaya, dan dukungan jaringan sosial dengan sering mengajak subjek untuk beraktivitas bersama. Subjek juga mendapat dukungan jaringan sosial dari sesama penderita kanker berupa saling memberi kabar dan saling berbagi pengalaman.

  Selain itu, dokter yang menangani penyakitnya pun juga memberikan dukungan sosial, berupa arahan dan nasihat mengenai bagaimana cara menghadapi kanker.

  Diantara berbagai pihak yang memberikan dukungan sosial, pemberi dukungan yang menurut subjek paling berpengaruh adalah suami, anak, dan orang tua. Hal ini dikarenakan suami terus memberikan dukungan semangat, kekuatan dan biaya pengobatan, serta mendapatkan pendampingan sejak operasi sampai saat ini dari orang tua, keluarga, dan anak. Dukungan-dukungan tersebut diterima subjek secara langsung bertemu dengan pemberi dukungan. Tetapi, jika suami subjek yang memberikan dukungan,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  diberikan melalui telepon karena kondisi tempat tinggal yang berbeda kota.

  Dukungan yang diterima memberikan pengaruh baik bagi kehidupan subjek, yaitu menambah semangat hidup, merasa tidak sendiri, dan merasa lebih beruntung dari orang lain. Akan tetapi, sumber semangat yang tersebar adalah dari dalam diri sendiri.

  Semua orang yang ada dalam kehidupan subjek memberi dukungan kepada subjek untuk sembuh, sehingga subjek tidak memiliki pengalaman tidak didukung.

3. Subjek Ketiga

  a. Kanker Payudara dan Pengobatannya Ibu D sudah mengalami kanker payudara selama 2 tahun.

  Penyakit kanker ini diketahui melalui gejala-gejala yang dirasakan. Gejala tersebut adalah mudah merasa lelah dan mudah mengantuk. Kemudian adanya rasa nyeri apabila berada pada posisi tidur telentang. Selain itu, pada payudara sebelah kiri atas terdapat benjolan yang terasa sakit.

  

“… saya sering ngantuk.” (3-4) “… saya tidur

telentang gini, kan nyeri …” (6-7) “… badan terasa

gampang capek, gampang ngantuk, nyeri yang saya

rasakan. (15-18)

  “…nyeri di sini ini (benjolan) …”

  (28)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pada pemerikasaan awal, yaitu pemerikasaan USG dan

  mammografi, penyakit kanker belum dapat dipastikan dimiliki oleh

  Ibu D. Setelah dilakukan pemeriksaan pada laboratorium patologi, pihak medis memastikan bahwa Ibu D terkena kanker payudara stadium lanjut.

  “Waktu cuma di USG, di mammografi, kayak gitu aku belum. Waktu di USG, dokter sana juga udah bilang mungkin ini kanker bu, gitu. Lha terus di mammografi itu dokternya gak bilang. Yang di UGM patologi itu, setelah saya buka ternyata ada kanker sinetral keganasan.” (85-94)

  Dalam keluarga besarnya, tidak ada anggota keluarga Ibu D yang terkena kanker. Ketika mendapatkan vonis kanker payudara, yang dirasakan Ibu D adalah merasakan stress, mengalami kepanikan, kalut, dan merasakan ketakutan, serta merasakan kemarahan karena tidak bisa menerima keadaan.

  

“Waktu divonis, justru itu, stress, kalut, takut.” (121-

  122)

  “Tapi waktu itu juga panik lah, mbak. Panik,

takut, stress, campur gitu lah. Inginnya terus marah.”

  (132-135)

  “Karena keadaan, karena saya juga gak mau terima.” (138-139)

  Perasaan-perasaan tersebut muncul karena Ibu D mengetahui resiko terburuk kanker payudara.

  

“Bisa stress itu kan, setahu saya kan banyak yang gak

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Perasaan yang muncul ketika mandapat vonis tersebut tidak terlalu lama dialami. Kesedihan dan kepanikan yang dialami subjek terjadi ketika mendapatkan vonis sampai sebelum operasi. Setelah operasi dilalui, Ibu D merasakan ada kelegaan.

  

“Kalau setelah operasi saya enggak. Sama sekali

enggak.” (122-123) “… saya periksa pertama sampai

operasi itu jaraknya hampir 1 bulan itu saya memang

benar-benar stress, panik, bingung, sedih, wes campur

aduk. Itu. Pokoknya setelah operasi saya gak, sudah

lega. (147-153)

  Tindakan medis yang dilakukan pihak rumah sakit untuk mengangani kanker payudara ini adalah dilakukannya Radical

  Mastectomy. Setelah menjalani operasi, pengobatan yang

  dilakukan Ibu D adalah melakukan kemoterapi sebanyak 6 kali dan mengkonsumsi obat Tamofen selama 1 bulan. Sampai saat ini, Ibu D juga masih melakukan kontrol ke rumah sakit 3 bulan 1 kali. Selain obat-obatan medis, Ibu D juga melakukan pengobatan non medis, yaitu menggunakan keladi tikus, mengkonsumsi air rebusan daun sirsat, dan mengkonsumsi minyak ikan gabus.

  Pengobatan kanker yang dijalani oleh Ibu D memberikan dampak bagi kondisi fisik Ibu D. Kemoterapi yang dijalani oleh Ibu D memberikan dampak bagi fisiknya, yaitu sering merasakan mual dan nafsu makan berkurang.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

“Justru malah merasakan mual-mual tuh waktu kemo

pertama.” (162-164) “Makan berkurang.” (166)

  Akan tetapi, dampak negatif bagi tubuh Ibu D tersebut tidak berlangsung lama. Ibu D juga tetap menjalani pekerjaannya setelah melakukan kemoterapi.

  

“Setelah itu, saya sudah biasa. Kemo yang ketiga saya

sudah mulai mau makan. Sampai selesai, sampai kemo

yang keenam saya juga sehat. Habis kemo pun saya

sudah kembali kerja.” (166-172)

  Ketika menjalani berbagai pengobatan dan menjalani kontrol di rumah sakit, Ibu D merasakan kebosanan. Akan tetapi Ibu D tetap menjalani pengobatan yang harus dijalani.

  

“Dibilang bosen ya bosen ya, tapi saya tetap

berusaha.” (161-162)

  b. Kondisi Psychological Well Being Tingkat kebahagiaan yang dimiliki Ibu D adalah 10. Ketika

  Ibu D mendapatkan vonis kanker payudara dan dilakukan operasi pengangkatan payudara, Ibu D tidak merasa minder. Ibu D menganggap keadaannya biasa saja. Hal ini bisa terjadi karena Ibu D mendapat dukungan dari keluarga.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

“Gak minder, biasa aja saya.” (144-147) “…walaupun

saya ini ibarat e udah gak genep, tapi gak ada yang

berbeda.” (273-275) “betul-betul keluarga saya

dukung saya ingin sehat juga. Jadi ya walaupun kurang

1 payudaranya juga gak pernah minder.” (277-281)

  Sampai saat ini, Ibu D tetap memiliki kepercayaan diri dan tetap memandang diri sendiri secara positif. Hal ini bisa terjadi karena Ibu D tidak terpengaruh oleh penilaian buruk orang lain.

  

“Saya habis operasi sampai sekarang aku gak

minder.” (289-290) “Tetap percaya diri.” (193)

“…walaupun itu orang bilang bagaimana, tetangga

bilang bagaimana, yang jelek, saya gak pernah

nanggapin orang.” (301-304)

  Kegiatan sehari-hari di dalam keluarga Ibu D terdapat pembagian tugas. Untuk pekerjaan pokok di rumah dikerjakan oleh suami dan Ibu D fokus pada pekerjaannya menjual ikan di pasar. Dalam mengatur diri sendiri supaya bisa melakukan aktivitas yang menjadi pekerjaannya, Ibu D selalu beristirahat setelah berjualan di pasar.

  

“Kalau yang di rumah itu, yang pokok Bapak. Kalau

saya kan di pasar, jadi cara mengaturnya itu saja,

istirahat, siang juga istirahat biar bisa kerjain yang

lain.” (399-403)

  Antar anggota keluarga bergantian dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Sebagian pekerjaan rumah dikerjakan oleh oleh

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Ibu D dan sebagiannya menggunakan jasa. Ibu D tidak merasa kesulitan dalam mengerjakan tugas pekerjaannya karena sudah menjadi rutinitas.

  

“Yang lainnya biasa, gak bagi-bagi. Saya kerjakan.”

  (423-424) Semenjak kemoterapi pertama, Ibu D mampu untuk melakukan pekerjaannya di pasar karena tidak pernah memiliki rasa malas sejak operasi pengangkatan payudara.

  

“Habis kemo pertama, saya sudah kerja ke pasar.”

  (175-177)

  “…semenjak operasi sampai sekarang itu

gak terus males-males gitu lho. Inginnya saya itu, ingin

berusaha sehat.” (181-184)

  Tujuan hidup yang dimiliki Ibu D saat ini adalah ingin menghabiskan sisa hidup di jalan yang benar, ingin membesarkan anak, membahagiakan anak, dan ingin merasakan punya cucu. Tujuan hidup yang ada ini sudah dimiliki sejak Ibu D belum terkena kanker. Tidak adanya perubahan tujuan hidup semenjak sakit ini, dikarenakan Ibu D mendapatkan dukungan semangat dari suami dan anak-anak.

  

“…ingin sisa hidup saya itu jadi orang yang melewati

jalan yang benar, sama membesarkan putra-putri saya.

ya nungguin cucu-cucu saya, saya juga ingin

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

“Anak selalu mendukung, suami selalu mendukung

juga.” (343-344)

  Dalam hal pengembangan diri, Ibu D memiliki pendapat bahwa seorang dengan kanker payudara masih bisa mengembangkan diri mereka. Perkembangan pribadi yang dilakukan dipengaruihi oleh kondisi fisik dan kondisi ekonomi masing-masing pribadi.

  

“Bisa tapi itu tergantung e. Berkembang seperti apa

itu tergantung si penderita. Biasanya gitu itu. Ya itu,

kan penyakitnya sendiri-sendiri, tergantung kekuatan

tubuh mungkin.” (352-357) “…karena mungkin dia

juga udah ekonomi cukup.” (360-361)

  Apabila Ibu D dalam kondisi yang sehat, maka akan mengusahakan diri untuk bisa mengembangan diri lebih lagi.

  

“Ya kalau saya, kalau badan saya itu sehat, semampu

saya, saya berusaha.” (370-372) “Saya usahakan bisa

mbak..” (381-382)

  Di dalam keluarga, seluruh keputusan keluarga yang diambil Ibu D meminta pertimbangan keluarga.

  

“Kalo yang nyangkut keluarga ya hampir semua

pertimbangan keluarga saja.” (432-435)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dalam hal pengobatan, Ibu D meminta pertimbangan suami dan anak-anak. Berdasarkan pertimbangan suami dan anak-anak, Ibu D mendapatkan dukungan untuk segera melakukan operasi pengangkatan payudara.

  

“Anak saya yang putri itu bilang pokoknya harus tetap

diangkat. Secepatnya lah diangkat.” (447-450)

  Ibu D memiliki relasi positif dengan orang lain. Hubungan baik dengan orang lain ini, tampak dalam banyaknya dukungan sosial yang Ibu D terima. Sejak sebelum kanker, tidak ada perubahan relasi yang dirasakan dalam keluarga. Perubahan yang ada dirasakan datang dari tetangga Ibu D. Relasi dengan tetangga semakin baik karena merasa kasihan melihat kondisi Ibu D.

  

“Kasihan lah. Kan bapak sakit gula, dia duluan yang

sering opename 2x. Jadinya sama saya baik..” (481-

  484)

  c. Dukungan Sosial Ibu D mendapatkan banyak dukungan sosial dari berbagai pihak, yaitu dari keluarga, suami, anak, dan tetangga. Bentuk- bentuk dukungan yang diberikan pun bermacam-macam.

  Dukungan yang Ibu D terima dari suami adalah perhatian dari suami, membantu pekerjaan rumah tangga, selalu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mengingatkan minum obat, mengingatkan untuk makan, dan mengalah kepada Ibu D

  

“Kalau saya gak mau makan gitu ya, kalau suruh

makan deket anak e.” (496-498) “…kalau kerja juga

membantu ...” (517) “…kalau kelihatan capek bilang

gak usah” (518-519) “Kalau minum obat diingetke.”

  (520-521)

  “…kita ada kekeliruan itu dia kadang dia juga sering yaudah lah dia sering ngalah …” (522-

  524) Selain suami, Ibu D juga menerima dukungan dari anaknya.

  Dukungan yang diberikan adalah berupa dorongan supaya segera melakukan pengangkatan payudara dan memberikan bantuan- bantuan pekerjaan.

  

“Anak saya yang putri itu bilang pokoknya harus tetap

diangkat. Secepatnya lah diangkat.” (447-450)

“…sekarang jadi mau saya suruh.” (532-533)

  Dukungan sosial, juga diterima Ibu D dari tetangga, yaitu berupa informasi mengenai pengobatan kanker dan dukungan semangat.

  

“Cuma ngomongi saja kalau ya jangan makan ini,

mengurangi ini, obatnya ini.” (540-542) “…paling

ngasih pengarahan aja. Dukungan mengarahkan,

masukan.” (576-578) “dukungan semangat itu juga.”

  (549-550)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Diantara berbagai pihak yang memberikan dukungan sosial, pemberi dukungan yang menurut subjek paling berpengaruh adalah dukungan dari suami dan anak-anak. Hal ini dikarenakan suami dan anak-anak terus memberikan semangat untuk hidup.

  

“… dia gak pernah berhenti-berhentinya ngasih saya

dukungan biar saya tetap semangat hidup,.” (508-511)

  Dukungan-dukungan tersebut tentunya memberikan pengaruh bagi Ibu D, yaitu menambah membuat tidak minder, tujuan hidup yang dimiliki tidak berubah dan tetap memperjuangkan, mengalami kemajuan dalam kondisi fisik, mempercepat kesembuhan, dan memiliki peningkatan semangat hidup.

  

“… membantu kesembuhan saya …” (585-586)

“…kalau ada semangat, ada yang mendukung seperti

keluarga, mudah- mudahan ibu cepat sehat kembali.”

  (605-608) Berdasarkan pengalaman penerimaan dukungan sosial, Ibu D tidak pernah mempunyai pengalaman tidak mendapat dukungan.

  Hal ini dikarenakan, Ibu D selalu menanggapi dengan positif setiap hal yang dilakukan orang lain.

  

“… saya gak begitu menanggapi lah” (642-643) “…

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ditanggapi sampai hati apa enggak. Kalau saya sih

mending gak saya sampaikan hati yang seperti itu.”

  (648-653)

  d. Kesimpulan Gejala yang dialami subjek adalah mudah merasa lelah dan mengantuk, terdapat benjolan pada payudara sebelah kiri atas.

  Benjolan tersebut disertai rasa nyeri. Ketika menjalani tes awal, yaitu USG dan mammografi, gejala tersebut belum dapat dipastikan kanker payudara. Setelah menjalani tes lanjutan, yaitu patologi, gejala tersebut dapat dipastikan kanker payudara.

  Ketika mendapatkan vonis kanker payudara, subjek mengalami stress, kepanikan, kalut, dan merasakan ketakutan, serta merasakan kemarahan karena tidak bisa menerima keadaan. Hal tersebut terjadi karena resiko terburuk kanker payudara. Perasaan tersebut hanya dialami sampai sebelum operasi. Hal ini dikarenakan merasakan ada kelegaan karena penyakit kankernya sudah diangkat.

  Setelah melakukan operasi pengangkatan payudara sampai saat ini, subjek tidak pernah minder. Subjek tetap memiliki rasa kepercayaan diri. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari keluarga dan tidak menanggapi penilaian negatif dari orang lain.

  Subjek tidak mengalami perubahan dalam tujuan hidup yang dimilikinya. Subjek memiliki tujuan hidup ingin

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  anak, dan ingin memiliki cucu. Tidak adanya perubahan tujuan hidup ini dikarenakan adanya dukungan semangat dari suami dan anak-anak subjek.

  Subjek tidak kesulitan dalam mengatur kegiatan sehari- harinya. Di dalam keluarganya ada pembagian tugas pekerjaan rumah tangga. Subjek mampu mengatur diri sendiri supaya bisa beraktivitas seperti biasa. Untuk mempermudah pekerjaan rumah tangga, subjek menggunakan jasa. Ketika menjalani kemoterapi pun subjek mampu beraktivitas seperti biasa karena tidak ada rasa malas.

  Subjek dan keluarganya selalu mendiskusikan terlebih dahulu segala hal keputusan yang akan diambil. Begitupun dengan keputusan pengobatan. Hal tersebut mengakibatkan subjek mendapat dukungan untuk segera melakukan pengangkatan payudara.

  Subjek memiliki pendapat bahwa penderita kanker masih mampu mengembangkan diri. Perkembangan diri yang dialami dipengaruhi oleh kondisi fisik dan ekonomi. Dalam kenyataanya, subjek akan berusaha semampunya untuk mengembangkan diri apabila memiliki kondisi fisik yang bagus.

  Selain itu, subjek memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitarnya. Subjek merasakan adanya perubahan relasi dengan tetangganya. Subjek merasa ada hubungan yang lebih

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  baik. Hal ini dikarenakan, tetangga menjadi lebih kasihan kepada subjek.

  Subjek mendapatkan dukungan sosial dari suami, berupa dukungan emosional, instrumental, dan penghargaan. Bentuk dukungannya adalah perhatian dari suami, membantu pekerjaan rumah tangga, selalu mengingatkan minum obat, mengingatkan untuk makan, dan mengalah.

  Subjek juga menerima dukungan dari anaknya, berupa dukungan emosional dan instrumental. Bentuk dukungan tersebut adalah mendorong subjek untuk segera melakukan operasi dan memberikan bantuan-bantuan dalam pekerjaan rumah tangga.

  Dukungan sosial, juga diterima subjek dari tetangga subjek, yaitu berupa dukungan semangat dan informasi mengenai pengobatan.

  Diantara berbagai pihak yang memberikan dukungan sosial, pemberi dukungan yang menurut subjek paling berpengaruh adalah dukungan dari suami dan anak-anak. Hal ini dikarenakan suami dan anak-anak terus memberikan semangat untuk hidup.

  Dukungan-dukungan tersebut diterima subjek secara langsung bertemu dengan pemberi dukungan.

  Dukungan-dukungan tersebut tentunya memberikan pengaruh positif bagi subjek, yaitu membuat tidak minder, tujuan hidup yang dimiliki tidak berubah dan tetap memperjuangkan,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mengalami kemajuan dalam kondisi fisik, mempercepat kesembuhan, dan memiliki peningkatan semangat hidup.

  Berdasarkan pengalaman penerimaan dukungan sosial, subjek tidak pernah mempunyai pengalaman tidak mendapat dukungan. Hal ini dikarenakan, subjek selalu menanggapi dengan positif setiap hal yang dilakukan orang lain.

4. Subjek Keempat

  a. Kanker Payudara dan Pengobatannya Ibu I sudah terkena kanker payudara selama 2 tahun. Ibu I terdiagnosis kanker payudara pada bulan Juni 2011. Gejala yang dirasakan adalah munculnya benjolan yang tidak terasa sakit. Benjolan tersebut terletak di payudara sebelah kanan bawah.

  

“Benjolan.” (3) “Gak sakit, gak terasa apa-apa.” (4-5)

“Di kanan bawah sini.” (209-210)

  Berdasarkan gejala yang muncul dan hasil pemeriksaan, Ibu I positif terkena kanker payudara stadium lanjut. Keluarga Ibu I memiliki riwayat terkena kanker. Ayah dan kakak kandung dari Ibu I pernah terkena kanker.

  

“Ayah saya itu kanker hati. Kakak saya juga.” (273-

  274)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Ketika mendapati vonis kanker payudara, yang dirasakan oleh Ibu I adalah terkejut, namun tidak sampai lama dan lebih merasa biasa saja karena sudah menyadari bahwa memiliki gen pembawa kanker.

  

“Saya tuh sebenarnya tidak down itu masalah

kankernya. Soalnya saya sudah mengantisipasi kalau

saya itu mau kanker “ (37-41)“Tapi syoknya kan tidak

keterusan gitu lho.” (312-313) “Biasa-biasa saja.

  

Karena saya sudah menduga gitu lho. Udah ada

gennya” (306-308)

  Perasaan negatif yang muncul ketika mendapatkan vonis kanker tersebut tidak berlangsung lama. Hal ini karena Ibu I memiliki pikiran yang positif dalam menanggapi.

  “Positif thinking aja saya.” (321-322)

  Ibu I mendapatkan penanganan kanker payudara Radical

  Mastectomy Modified . Pengobatan yang dilakukan Ibu I adalah

  melakukan kemoterapi sebanyak 6 kali, penyinaran 35 kali, mengkonsumsi neulastim untuk menaikkan leukosit, dan mengkonsumsi obat dokter. Sampai saat ini, Ibu I masih melakukan kontrol ke rumah sakit. Ibu I tidak mengkonsumsi pengobatan non medis, akan tetapi memiliki niat untuk mencoba mengkonsumsi air rebusan daun sirsat.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pengobatan kanker yang dijalani Ibu I memberikan pengaruh bagi kondisi fisik Ibu I. Kemoterapi membuat kondisi tubuh Ibu I menurun dan mengalami penurunan leukosit sehingga harus mengalami opname di rumah sakit. Selain itu, kemoterapi dan konsekwensinya membuat Ibu I mengalami stress.

  

“… saya downnya itu karena kemoterapinya.” (43-45)

“…leukositnya juga sampai nol koma.” (47-48) “Habis

kemo, seminggu setelah kemo saya masuk rumah sakit

lagi karena ya itu, leukositnya turun, drop.” (53-56)

“Jadi saya stress karena kemo.” (198-199)

  Selain kemoterapi, tindakan penyinaran juga memberikan dampak bagi kondisi tubuh Ibu I. Penyinaran yang dilakukan membuat dada sampai bagian punggung Ibu I mengalami gosong.

  

“… sini gosong, mbak. Sini (dada) gosong sampai

tembus ke belakang (punggung).” (129-131)

  b. Kondisi Psychological Well Being Ibu I memiliki nilai 8 pada tingkat kebahagiaannya saat ini.

  Sejak awal mendapatkan vonis kanker payudara, Ibu I mampu menerima keadaan dengan baik. Ketika harus menerima konsekwensi dari pengobatan, Ibu I juga mampu untuk menerima keadaan dan tidak merasakan sedih.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

“Kan rontok terus digundul. Itu suami saya yang

nangis-nangis. Saya malah ketawa. Wes rasah

ditangisi, memang ini udah konsekwensinya.” (295-

  300)

  “Diterima lah.” (363)

  Ibu I mampu menerima keadaan dengan baik, dikarenakan adanya ketabahan dalam menghadapi masalah dan memiliki pikiran yang positif.

  

“…harus kita tabah lah.” (315) “Positif thinking aja

saya.” (321-322)

  Hal ini menyebabkan Ibu I memiliki kepercayaan diri dan menjadi pribadi yang tangguh.

  

“Percaya diri aku. Pribadi yang kuat aku itu.” (358-

  359) Ibu I merupakan wanita karir yang memiliki jam kerja yang panjang, yaitu dari pagi hingga sore, bahkan malam. Untuk mengantisipasi supaya tidak ada masalah keluarga yang disebabkan oleh jam kerja yang panjang, maka Ibu I dan suami sudah memiliki perjanjian mengenai hal itu dan tidak ada masalah.

  

“…saya dengan suami saya sudah komitmen ya, jadi

gak masalah ketika suami saya pergi sampe malam,

atau saya yang keluar sampai malam ya. Jadi ya

sudah, gak ada masalah.” (520-525)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Ibu I tinggal bersama anak-anak yang sudah beranjak dewasa. Ibu I juga memiliki asisten rumah tangga. Sehingga, Ibu I tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh anak dan dibantu oleh asisten rumah tangga. Hal tersebut mengakibatkan Ibu I masih mampu menjalani kegemarannya untuk rekreasi.

  

“Namanya anak, pasti bantu orang tua. Otomatis itu.

Sama saya dari dulu pake pembantu. Jadi saya masih

sering pergi, refreshing sama suami” (532-536)

  Ketika menjalani kemoterapi dan harus menerima konsekwensinya, Ibu I tetap berusaha untuk pergi bekerja walaupun hanya setengah hari.

  

“Tapi saya tetap berusaha masuk kantor setengah

hari.” (548-550)

  Tujuan hidup yang saat ini dimiliki oleh Ibu I adalah ingin memiliki kesehatan supaya bisa mengabdi kepada keluarga dan bisa menyelesaikan tugas pekerjaanya. Selain itu, Ibu I memiliki tujuan hidup ingin membuka sebuah usaha untuk mengisi waktu saat memasuki masa pensiun.

  

“Ya saya sih tujuannya ya mengabdi aja sama

keluarga, saya menyelesaikan pekerjaan saya di

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

kan mau pensiun. Mungkin ke depannya tuh piye.

Mungkin bukan karena materi, tapi pengen punya

kegiatan sehari- hari … . Jadi pokoknya saya kepengen punya kegiatan. Usaha.” (414-418, 421-422)

  Secara umum, tujuan hidup yang dimiliki Ibu I tidak mengalami perubahan setelah mendapat vonis kanker. Hal ini dikarenakan tidak merasakan sakit yang dimiliki dan memiliki keinginan untuk terus beraktivitas. Namun, akhir-akhir ini, Ibu I memiliki tambahan keinginan yang ingin dicapai karena hampir memasuki masa pensiun.

  

“Dari dulu, sampe saya sakit, sekarang, ya itu.” (427-

  428)

  “… tapi saya gak ngerasa saya sakit … saya pengennya malah sibuk. (434-435, 438) “Terus kalau

sekarang tuh galau juga ya. Saya itu kan pengen punya

kegiatan lain. Saya kan sekarang ini sibuk di kantor,

tapi saya kan mau pensiun.” (410-415)

  Ibu I memiliki pendapat bahwa seseorang yang terkena kanker payudara masih mampu mengembangkan diri sesuai potensi yang ada di dalam diri masing-masing.

  

“…mengembangkan maksudnya potensi yang ada,

bisa.” (450-451)

  Hal ini dikarenakan, menurut Ibu S, walaupun terkena kanker, tidak perlu berlebihan dalam meratapi keadaan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  “Gak terlalu lebay banget.” (451-452)

  Pendapat tersebut sesuai dengan kondisi Ibu I yang merasa mampu dalam mengembangkan diri. Hal ini dikarenakan Ibu I tidak merasa sakit. Akan tetapi, dalam kenyataanya, Ibu I belum terlalu maksimal dalam mengembangkan diri. Hal ini dikarenakan Ibu I terikat pekerjaan kantor yang terdapat aturan yang membatasi.

  

“Saya bisa. Wong saya gak merasa sakit.” (461-462)

“Tapi saya mungkin belum terlalu bisa

mengembangkan diri saja karena kan kerja sudah ada

aturannya. Tapi tetep kalau berkembang ya saya

pengennya ya berkembang.” (468-473)

  Dalam kehidupan sehari-hari, keputusan dalam keluarga yang harus Ibu I ambil, Ibu I mendiskusikannya terlebih dahulu dengan suami dan keluarga.

  

“Kalau untuk rumah, keluarga, ya diskusi.” (566-567)

  Ketika harus mengambil keputusan dalam pengobatan, Ibu I tidak meminta pertimbangan suami, karena tergantung dari kesiapan Ibu I dan suami menerima apapun yang menjadi keputusan Ibu I.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

“Saya gak diskusi, gak apa. Sudah otomatis. Karena

saya yang jalani, saya siapnya kapan.” (575-577)

“Suami saya ya manut.” (587)

  Dalam hal hubungan dengan orang lain, Ibu I memiliki relasi yang positif dengan orang lain, baik itu suami, anak, teman kantor, bahkan masyarakat sekitar. Ibu I merasakan hubungan yang baik, tanpa ada perubahan apapun dalam kehidupan keluarga, kantor, dan bermasyarakat.

  

“Suami saya baik …” (609) “Iya lah. Pada baik-baik.”

  (646)

  c. Dukungan Sosial Bentuk dukungan sosial yang diterima oleh Ibu I ada bermacam-macam. Dukungan yang Ibu I terima dari suami adalah suami yang ikut merasakan penderitaan yang dialami Ibu I, menerima apapun keputusan pengobatan, menerima keadaan Ibu I, memberikan perhatian-perhatian, seperti mengantar berobat, mengingatkan untuk makan, dan mengingatkan untuk minum obat.

  

“Itu suami saya yang nangis-nangis.” (296-297)

“Suami saya ya manut.” (587) “Suami saya baik,

perhatian.” (609-610) “…selama ini kalau saya

berobat saya bersama suami. Menerima saya …” (661-

  663)

  “…ngingetin obatnya, jangan lupa makan.” (694-

  695)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dukungan sosial yang diterima oleh Ibu I dari anak-anak adalah menerima bantuan pekerjaan sehari-hari, menerima keadaan apa adanya, dan tetap memberikan support.

  

“Namanya anak, pasti bantu orang tua.” (532-533)

“Ya tetep menerima, kasih support …” (667)

  Dukungan sosial, juga diterima Ibu D dari teman kantor, yaitu pada saat Ibu I harus menjalani kemoterapi dan tidak bisa bekerja dengan maksimal, teman kantor bisa menerima dan memahami kondisi Ibu I.

  

“Dari kantor juga gakpapa, sudah tau keadaan saya.”

  (548-550) Selain itu, Ibu I juga menerima dukungan sosial dari masyarakat sekitar. Ibu I mendapatkan perhatian berupa kunjungan dari tetangga dan para tetangga yang menanyakan kondisi Ibu I.

  

“Ya pada ke sini. Nengokin.” (642) “…menanyakan

gimana, Bu, seha

t, Bu, …” (674-675)

  Tidak hanya dari orang-orang terdekat, teman, ataupun tetangga, Ibu I juga merasakan sebuah dukungan sosial dari dokter yang menangani. Ibu I merasa, sikap dan cara dokter ketika sedang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  berkonsultasi mempengaruhi Ibu I dalam mengambil keputusan untuk pengobatan.

  

“Tapi dokter juga mempengaruhi, kayak Dokter Kunto

kan sok kenal sok dekat to, jadi itu juga mempengaruhi

dalam keputusan kita berobat.” (577-582)

  Berbagai macam dukungan yang diterima itu, memberikan pengaruh bagi kehidupan Ibu I. Setelah mendapatkan dukungan sosial, Ibu I merasakan tidak adanya beban dalam kehidupan. Selain itu, dukungan yang diterima membuatnya semakin cepat pulih, semakin sehat, selalu berpikir positif, dan merasa tidak sendiri.

  

“…saya gak merasakan berat banget kok, …” (699-

  700)

  “Itu mungkin yang bikin saya cepet pulih. Mikir

positif. Saya juga merasa tidak sendiri.” (708-711)

“Saya jadi tambah sehat.” (718)

  Berdasarkan pengalaman, Ibu I tidak pernah memiliki pengalaman tidak mendapatkan dukungan sosial. Hal ini dikarenakan Ibu I memiliki pemikiran yang positif mengenai kehidupannya.

  

“Gak ya, dan saya tidak akan merasakan itu. Saya

mikir positif aja. Saya gak negatif njuk woo aku sakit

gak didukung. Enggak. Saya gak seperti itu.” (704-708)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  d. Kesimpulan Gejala yang dialami subjek adalah munculnya benjolan pada payudara sebelah kanan bawah. Pada benjolan tersebut tidak terasa sakit.

  Ketika mendapatkan vonis kanker payudara, subjek terkejut, namun tidak sampai lama dan lebih merasa biasa saja karena sudah menyadari bahwa memiliki gen pembawa kanker. Selain itu, subjek memiliki pemikiran yang positif dalam menghadapi masalah.

  Sejak awal mendapatkan vonis, melakukan pengobatan, sampai saat ini, subjek mampu menerima keadaan dengan baik dan tidak sedih. Hal ini dikarenakan adanya ketabahan dalam menghadapi masalah dan memiliki pemikiran yang positif, sehingga menjadikan subjek menjadi pribadi yang percaya diri dan menjadi pribadi yang tangguh.

  Pada awalnya, tujuan hidup yang dimiliki subjek adalah ingin memiliki kesehatan supaya bisa mengabdi kepada keluarga dan bisa menyelesaikan tugas pekerjaanya. Namun, menjelang pensiun, subjek ingin ingin membuka sebuah usaha untuk mengisi waktu saat memasuki masa pensiun. Secara umum, tujuan hidup yang dimiliki subjek tidak mengalami perubahan setelah mendapat vonis kanker. Hal ini dikarenakan tidak merasakan sakit yang dimiliki dan memiliki keinginan untuk terus beraktivitas. Adanya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  tambahan tujuan hidup subjek dikarenakan subjek akan memasuki masa pensiun.

  Subjek merupakan wanita karir dengan jam kerja yang panjang dan mengikuti arisan di 2 lokasi berbeda. Hal itu membuat subjek tidak memiliki waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Namun, itu tidak menjadi masalah bagi subjek karena di rumah subjek ada anak-anak yang membantu pekerjaan rumah dan ada asisten rumah tangga. Di sela kesibukan pekerjaan, subjek masih sering menyempatkan waktu untuk rekreasi bersama suami. Ketika harus menjalani kemoterapi, subjek tetap masuk kerja walaupun hanya setengah hari.

  Subjek dan keluarganya selalu mendiskusikan terlebih dahulu segala hal keputusan keluarga yang akan diambil. Tetapi, dalam hal pengobatan, subjek tidak meminta pertimbangan suami karena tergantung kesiapan subjek.

  Subjek memiliki pendapat bahwa penderita kanker masih mampu mengembangkan diri sesuai potensi yang ada. Menurut subjek, walaupun terkena kanker, tidak perlu berlebihan dalam meratapi keadaan. Subjek merasa mampu untuk lebih berkembang karena tidak merasa bahwa dirinya sedang sakit. Akan tetapi, dalam kenyataanya belum terlalu maksimal dalam mengembangkan diri. Hal ini dikarenakan masih terikat pekerjaan kantor yang terdapat aturan yang membatasi.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Selain itu, subjek memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitarnya. Hubungan baik yang ada terwujud dari dukungan sosial yang diterima subjek.

  Subjek mendapatkan dukungan sosial dari suami, berupa dukungan emosional, instrumental, dan penghargaan. Bentuk dukungannya adalah merasakan penderitaan, menerima apapun keputusan pengobatan, menerima keadaan subjek, memberikan perhatian-perhatian, seperti mengantar berobat, mengingatkan untuk makan, dan mengingatkan untuk minum obat.

  Subjek juga menerima dukungan dari anaknya, berupa dukungan emosional, penghargaan, dan instrumental. Bentuk dukungan tersebut adalah bantuan pekerjaan sehari-hari, menerima keadaan apa adanya, dan tetap memberikan support.

  Dukungan sosial, juga diterima subjek dari teman kantor subjek, yaitu ketika harus menjalani kemoterapi dan tidak bisa bekerja maksimal, teman kantor subjek mampu memahami kondisi subjek. Selain itu, subjek juga menerima dukungan sosial dari tetangga subjek berupa kunjungan dari tetangga.

  Tidak hanya dari orang-orang terdekat, teman, ataupun tetangga, subjek juga merasakan sebuah dukungan sosial dari dokter yang menangani. Subjek merasa, sikap dan cara dokter ketika sedang berkonsultasi mempengaruhi subjek dalam mengambil keputusan untuk pengobatan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Diantara berbagai pihak yang memberikan dukungan sosial, pemberi dukungan yang menurut subjek paling berpengaruh adalah dukungan dari suami. Hal ini dikarenakan suami selalu membesarkan hati subjek. Dukungan-dukungan tersebut diterima subjek secara langsung bertemu dengan pemberi dukungan.

  Dukungan-dukungan tersebut tentunya memberikan pengaruh positif bagi subjek, yaitu tidak adanya beban dalam kehidupan, cepat pulih, semakin sehat, selalu berpikir positif, dan merasa tidak sendiri.

  Berdasarkan pengalaman, Ibu I tidak pernah memiliki pengalaman tidak mendapatkan dukungan sosial. Hal ini dikarenakan Ibu I memiliki pemikiran yang positif mengenai kehidupannya.

5. Subjek Kelima

  a. Kanker Payudara dan Pengobatannya Ibu R mengalami kanker payudara sudah 1 tahun. Kanker payudara ini diketahui tahun 2012 dengan gejala yang dirasakan adalah munculnya benjolan yang terletak di puting payudara sebelah kanan. Benjolan tersebut mengalami pembesaran dan menghitam dalam jangka waktu 1 minggu. Selain itu, benjolan tersebut juga mengeluarkan nanah, darah, dan berbau. Pada

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pemeriksaan biopsy sebanyak 3-4 kali tidak terdeteksi sebagai kanker.

  

“… ada benjolan semacam bisul, terus saya ini

seminggu kok gak mecah-mecah, tapi kok kayak ada

seperti buah salak di dalamnya itu lho.” (4-8) “…tidak

merasakan sakit, gak merasakan apa- apa, …” (16-18)

“Memang ini benjolannya di atas puting, pertamanya

kecil itu paling gak ada separo kuku, tapi dalam waktu

seminggu itu langsung lebar dan kanan kiri itu

menghitam gitu. “ (90-95) “…keluar nanah, keluar

darah, jadi pertamanya air, lama-lama ada nanahnya,

ada darahnya, terus bau. “ (128-131) “…di biopsy

hampir 4 kali kalau gak salah. 3 sampai 4 kali dan itu

menandakan tidak ada gejala kanker sama sekali.”

  (24-28) Namun, setelah dilakukan pemeriksaan biopsy yang kelima, akhirnya pada bulan Juli 2012, Ibu R dinyatakan positif terkena kanker payudara stadium lanjut. Keluarga Ibu R memiliki riwayat terkena tumor. Kakak kandung dari Ibu R pernah mengalami tumor.

  

“…kakak saya yang punya toko ini, tapi dia belum

sampai kanker, masih tumor kecil, …” (244-247)

  Ketika mendapati vonis kanker payudara, yang dirasakan Ibu R adalah tidak berpikiran buruk dan menerima vonis dengan ikhlas. Ibu R juga merasakan kaget ketika mendapatkan vonis, akan tetapi tidak membawanya dengan perasaan susah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  “…gak mikir kemana-mana …” (257) “Saya itu nrimo.

Apapun yang terjadi ya terjadi, setelah itu pasti akan

selesai.” (267-270) “Yo iya kaget iya, cuma njuk ra tak

gowo susah ngono lho mbak.” (280-282)

  Ibu R tidak mengalami kesedihan yang mendalam. Hal ini dikarenakan Ibu R memandang kanker payudara ini sebagain berkat.

  

“Sama sekali enggak.” (295) “… memandang ini

berkat. Jadi yo gak perlu digawe susah.” (299-300)

  Ibu R mendapatkan penanganan kanker payudara Radical

  Mastectomy Modified . Pengobatan yang dilakukan Ibu R adalah

  mengkonsumsi Zeloda sebagai pengganti kemoterapi, dan tidak melakukan penyinaran. Selain itu, Ibu R juga mengkonsumsi obat dari dokter, namun apabila sedang tidak ada biaya untuk membeli obat, maka Ibu R menggantinya dengan jamu-jamuan.

  Dalam menjalani pengobatan, Ibu R tidak mengalami kebosanan. Hal ini dikarenakan pribadi Ibu R yang termasuk orang yang santai dan mensyukuri hal yang ada.

  

“Saya itu santai orangnya, jadi ya tak nikmati aja.

Bersyukur aja. Jadi gak ada perasaan bosen.” (327-

  330)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  b. Kondisi Psychological Well Being Ibu R memiliki nilai 10 pada tingkat kebahagiaannya saat ini. Dalam menghadapi kanker payudara yang dialami, Ibu R mampu memiliki kepercayaan diri, menerimanya dengan ikhlas, dan meyakini bahwa semua masalah pasti akan berakhir.

  

“… nrimo, saya menerima keadaan saya apa adanya

…” (335-336) “Apapun yang terjadi ya terjadi, setelah

itu pasti akan selesai.” (268-270)

  Hal tersebut dikarenakan, Ibu R mampu menyukuri sesuatu yang ada, menikmati proses kehidupan yang terjadi dan selalu belajar menghadapi setiap kesusahan melalui pengalaman- pengalaman sebelumnya.

  

“Saya itu santai orangnya, jadi ya tak nikmati aja.

Bersyukur aja.” (327-329) “Saya sudah belajar

bagaimana cara menghadapi kesedihan. Bersyukur …”

  (342-345)

  “Tetep berusaha kuat” (346)

  Setiap harinya, disamping pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga, Ibu R memiliki pekerjaan membuat kue dan menitipkan di kantin salah satu bank swasta. Selain itu, Ibu R juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga toko komputer milik kakaknya.

  Ibu R tidak mengalami kesulitan dalam menjalani peran dan pekerjaannya sehari-hari. Hal ini dikarenakan Ibu R dan suami

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  setiap malam selalu mengkomunikasikan apa saja yang akan dikerjakan kesesokan harinya.

  

“Dikomunikasikan lah sama suami saya.” (447-448)

“…malem gitu, anak-anak sudah pada tidur, itu waktu

untuk kami membicarakan tentang hari ini, dan besok

mau ngapain, gitu.” (460-464)

  Saat ini, Ibu R mengurangi salah satu tugas yang dulu menjadi rutinitasnya sehari-hari. Saat ini, Ibu R sudah tidak pernah menjemput anak-anaknya sekolah dikarenakan kondisi fisik yang semakin lemah. Saat ini, tugas antar-jemput anak dilakukan oleh suami.

  

“Dulu saya antar jemput anak juga, tapi udah gak kuat

sekarang, jadi ya suami saya.” (441-443)

  Tujuan hidup yang saat ini dimiliki oleh Ibu R adalah ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk suami dan anak- anaknya.

  

“Ya mengalir aja mbak apa adanya. Ya jadi ibu rumah

tangga yang baik untuk suami dan anak- anak saya.”

  (375-378) Tujuan hidup yang dimilikinya ini, sudah dimiliki sejak sebelum terkena kanker. Tidak adanya perubahan tujuan hidup dari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mensyukuri keadaan, dan mengingat kondisi anak yang masih kecil. Sehingga, apapun yang terjadi tetap berusaha untuk mewujudkan tujuan hidupnya.

  

“Gak ada yang berbeda.” (381) “… semangat aja. Ya

itu tadi, saya itu nrimo, bersyukur, anak-anak ya masih

kecil. Jadi saya ya berusaha saja.” (386-389)

  Ibu R memiliki pendapat bahwa seseorang yang memiliki sakit kanker masih bisa memaksimalkan anggota tubuh lainnya untuk lebih mengembangkan diri lagi. Segala hal masih mampu dilakukan. Sebagai seorang yang sakit kanker, tidak boleh lemah dan tidak boleh manja.

  

“Harus. Kan yang sakit atas sini, dada. Tangannya

masih ada, kaki masih ada, mulut masih ada. Ya masih

bisa lah.” (398-401) “Apa aja bisa kok mbak. Harus

kuat ya kita ini, jangan lemah. Jangan manja- manja.”

  (411-413) Pendapat tersebut sesuai dengan kondisi Ibu R yang merasa mampu dalam mengembangkan diri. Walaupun Ibu R merasa perkembangan diri yang dialami tidaklah maksimal, tetapi Ibu R tetap berusaha. Hal ini dikarenakan adanya keinginan dari dalam diri untuk mempelajari sesuatu yang lebih.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

“Masih.” (418) “Ya walaupun gak maksimal, tapi saya

berusa ha.” (419-421) “Saya bisa itu, cuma mau belajar yang lain juga.” (426-427)

  Dalam kehidupan sehari-hari, keputusan dalam keluarga yang harus diambil selalu didiskusikan terlebih dahulu. Tidak hanya suami, anak-anak pun selalu diajak berdiskusi.

  

“Tetep dikomunikasikan ya. Sama suami. Sama anak

juga kalau ada hubungannya sama anak.” (472-474)

  Akan tetapi, ketika harus mengambil keputusan dalam pengobatan, Ibu R tidak meminta pertimbangan suami dan suami menerima apapun yang menjadi keputusan Ibu R.

  

“Tapi dulu pas mau ke dokter, operasi itu enggak. Saya

sendiri yang memutuskan mau gimana. Suami saya

siap saja.” (478-482)

  Dalam hal hubungan dengan orang lain, Ibu I memiliki relasi yang positif dengan orang lain. Tidak hanya memiliki hubungan baik dengan suami dan anak, akan tetapi juga dengan masyarakat sekitar, teman, bahkan memiliki hubungan yang baik dengan pelanggan, teman SD suami Ibu R, dan juga para pemusik langganan studio band tempat suami Ibu R bekerja, dahulu.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  c. Dukungan Sosial Bentuk dukungan sosial yang diterima oleh Ibu R ada bermacam-macam. Bentuk dukungan yang diberikan oleh suami adalah suami menerima keadaan Ibu R, menerima keputusan pengobatan yang Ibu R jalani, membantu pekerjaan sehari-hari, mengambil alih pekerjaan yang dilakukan Ibu R, dan selalu memberikan semangat.

  

“Suami saya menerima saya apa adanya.” (365-366)

“Suami saya siap saja.” (481-482) “Bantuan tenaga,

menerima apa adanya saya, menyemangati saya.”

  (498-500)

  “…misal e saya keliatan wes gak kuat ya udah langsung suami saya yang ngerjain.”(504-506) “Kasih perhatian.” (507-508)

  Ibu R juga mendapatkan berbagai dukungan dari anak- anak, yaitu mendapat bantuan dalam pekerjaan rumah, anak pertama yang menunggui di rumah sakit. Selain itu, prestasi belajar yang diraih anak Ibu R juga merupakan salah satu dukungan yang diterima.

  

“Bantu saya. Itu anak saya yang besar itu dulu

menunggui saya waktu masa kritis. 2-3 hari dia nginep

di rumah sakit.” (511-515) “…mereka dapet nilai

bagus di sekolah, anak saya yang kecil itu gambarnya

bagus saja, itu sudah membantu saya.” (520-524)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dukungan sosial, juga diterima Ibu R dari kakak kandung, yaitu diantar ketika berobat dan mendapat bantuan dalam menjaga anak-anak.

  

“Akhirnya saya diantar kakak saya …” (190) “Ada

kakak saya juga kan dan ternyata mau datang mau

bantu sampai ngurusi anak- anak dan lain sebagainya.”

  (192-196) Beberapa teman Ibu R juga memberikan dukungan ketika

  Ibu R dinyatakan kanker. Beberapa diantara mereka ikut merasakan apa yang dirasakan Ibu R. Selain itu, Ibu R juga mendapatkan informasi mengenai pengobatan dan ada beberapa dari mereka yang mengajak Ibu R untuk berbobat.

  

“…malah yang nangis malah temen-temen saya.”

  (263-264)

  “Ada juga temen yang kasih tau info

pengobatan dimana, dimana, gitu. Kadang saya

langsung diajak berobat kemana gitu, tapi saya gak

mau.” (545-549)

  Tidak hanya mendapatkan dukungan sosial dari orang- orang yang Ibu R kenal baik, ada beberapa orang yang memberikan dukungan kepada Ibu R yang sebenarnya Ibu R tidak terlalu mengenal orang tersebut. Ibu R juga mendapatkan dukungan sosial dari pegawai bank yang suka membeli dagangannya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

“Padahal saya juga bukan siapa-siapa. Mereka urunan

uang, saya terharu. Mereka hanya pembeli dagangan

saya.” (226-230)

  Selain itu, Ibu R juga mendapatkan dukungan sosial dari teman SD suami Ibu R. Mereka banyak yang datang ke rumah sakit ketika Ibu R menjalani operasi.

  

“Itu temen-temen SD suami saya tau-tau waktu saya

operasi pada datang.” (530-532)

  Beberapa band-band yang sering menyewa studio musik tempat suami Ibu R bekerja juga banyak yang memberikan bantuan dana. Bahakan seorang musisi terkenal, Icha Jikustik pun juga pernah membantu biaya berobat.

  

“…band-band yang suka ke studio juga pada dateng.

Ngirimi uang. Terakhir itu Icha Jikustik itu ngirimi 10

juta untuk berobat.” (537-541)

  Diantara banyaknya pemberi dukungan tersebut, pemberi dukungan yang paling berpengaruh bagi Ibu R adalah dukungan dari suami dan anak-anak. Hal itu dikarenakan suami dan anak- anak mau menerima keadaan Ibu R apa adanya dan menginginkan supaya Ibu R segera sembuh.

  

“… karena mereka menerima saya apa adanya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Berbagai macam dukungan yang diterima itu, memberikan pengaruh bagi kehidupan Ibu R. Dukungan-dukungan yang diterima oleh Ibu R membuat Ibu R merasakan bahwa kondisi fisiknya membaik dan menambah semangat hidup.

  

“… jadi cepat sembuh. Jadi tambah semangat …”

  (573-574) Berdasarkan pengalaman, Ibu R memiliki pengalaman tidak mendapatkan dukungan sosial. Hal tersebut dilakukan oleh kakak kandung Ibu R. Ketika sangat membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit, uang yang dijanjikan oleh kakak kandung Ibu R tidak jadi diberikan. Akan tetapi, Ibu R tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Hal ini dikarenakan adanya suami yang terus mendukungan dan lebih banyak pihak yang memberikan dukungan daripada yang tidak mendukung.

  

“…dia janji mau kasih saya uang dari pencairan

asuransi. Kan saya kerja di toko kakak saya ini kan

saya asuransi. Nah saya udah tanda tangan, udah oke.

Pas harinya, eh uangnya gak di kasihkan saya.” (580-

  587) “Tapi sih saya gak ambil hati ya mbak. Malah

  

stress dewe saya nanti. Suami saya juga udah gak usah

dipikirin. Mengko mesti ana dalan. Jadi dibandingkan

yang tidak mendukung saya, yang mendukung saya itu

jauh lebih banyak.” (606-614)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  d. Kesimpulan Gejala yang dialami adalah munculnya benjolan pada payudara sebelah kanan. Benjolan tersebut terletak pada puting dan mengalami pembesaran dan menghitam selama 1 minggu, serta mengeluarkan nanah, darah, dan berbau. Akan tetapi, benjolan tersebut tidak terasa sakit. Subjek menjalani pemerikasaan biopsy selama 3-4 kali dan belum terdeteksi terkena kanker. Akan tetapi, setelah dilakukan biopsy yang ke-5, subjek positif dinyatakan kanker payudara.

  Ketika mendapatkan vonis kanker payudara subjek merasa kaget, akan tetapi tidak berpikiran buruk dan menerima vonis dengan ikhlas, serta tidak membawanya dengan perasaan yang susah. Selain itu, subjek memiliki cara pandang yang positif terhadap penyakit kanker yang diterima, yaitu memandangnya sebagai berkat, sehingga subjek tidak mengalami keterpurukan.

  Sejak mengalami kanker payudara, subjek tetap memiliki kepercayaan diri, mampu menerimanya dengan ikhlas, dan meyakini bahwa semua masalah pasti akan berakhir. Hal ini dikarenakan subjek mampu menyukuri sesuatu yang ada, menikmati proses kehidupan yang terjadi dan selalu belajar menghadapi setiap kesusahan melalui pengalaman-pengalaman sebelumnya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Sebelum kanker sampai saat ini, subjek memiliki tujuan hidup yang sama, yaitu ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk suami dan anak-anaknya. Tidak adanya perubahan tujuan hidup ini disebabkan oleh adanya semangat, mampu untuk mensyukuri keadaan, dan mengingat kondisi anak yang masih kecil. Sehingga, apapun yang terjadi tetap berusaha untuk mewujudkan tujuan hidupnya.

  Subjek memiliki pekerjaan membuat kue untuk dijual dan menjaga toko komputer milik kakaknya. Subjek tidak mengalami kesulitan dalam menjalani peran dan pekerjaannya sehari-hari. Hal ini dikarenakan selalu ada komunikasi dan perencanaan antara subjek dengan suami mengenai kegiatan esok hari. Namun saat ini subjek mengurangi salah satu tugas yang dulu menjadi rutinitasnya sehari-hari dikarenakan kondisi fisik yang semakin lemah. Saat ini, tugas tersebut digantikan oleh suami.

  Subjek dan keluarganya, yaitu suami dan anak-anak, selalu mendiskusikan terlebih dahulu segala hal keputusan keluarga yang akan diambil. Tetapi, dalam hal pengobatan, subjek tidak meminta pertimbangan suami karena tergantung kesiapan subjek dan suami menerima apapun yang menjadi keputusan subjek.

  Subjek berpendapat bahwa seseorang yang memiliki sakit kanker masih bisa memaksimalkan anggota tubuh lainnya untuk lebih mengembangkan diri lagi. Hal ini dikarenakan, walaupun

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sakit kanker, tidak boleh lemah dan tidak boleh manja. Pendapat tersebut sesuai dengan kondisi subjek yang merasa mampu dalam mengembangkan diri. Subjek memiliki keinginan untuk mempelajari sesuatu yang lebih sehingga subjek terus berusaha untuk terus mengembangkan diri.

  Selain itu, subjek memiliki hubungan yang baik dengan dengan suami dan anak, juga dengan masyarakat sekitar, teman, bahkan memiliki hubungan yang baik dengan pelanggan kue, teman SD suami subjek, dan juga para pemusik langganan studio band tempat suami subjek bekerja, dahulu.

  Subjek mendapatkan dukungan sosial dari suami, berupa dukungan emosional, instrumental, dan penghargaan. Bentuk dukungannya adalah suami menerima keadaan subjek, menerima keputusan pengobatan yang subjek jalani, membantu pekerjaan sehari-hari, mengambil alih pekerjaan yang dilakukan subjek, dan selalu memberikan semangat.

  Subjek juga menerima dukungan dari anaknya, berupa dukungan instrumental. Bentuk dukungan tersebut adalah bantuan dalam pekerjaan rumah, anak pertama yang menunggui di rumah sakit, dan prestasi belajar yang diraih anak subjek juga merupakan salah satu dukungan yang diterima.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dukungan sosial, juga diterima subjek dari kakak kandung, yaitu diantar ketika berobat dan mendapat bantuan dalam menjaga anak-anak.

  Beberapa teman subjek juga memberikan dukungan. Beberapa diantara mereka ikut merasakan apa yang dirasakan subjek. Selain itu, subjek juga mendapatkan informasi mengenai pengobatan dan ada beberapa dari mereka yang mengajak subjek untuk berbobat.

  Tidak hanya mendapatkan dukungan sosial dari orang- orang yang subjek kenal, ada beberapa orang yang memberikan dukungan kepada subjek yang sebenarnya tidak terlalu mengenal orang tersebut. Subjek mendapatkan dukungan biaya rumah sakit dari pegawai bank yang suka membeli dagangannya, mendapatkan dukungan sosial dari teman SD suami subjek berupa kunjungan ke rumah sakit. Selain itu, beberapa band-band yang sering menyewa studio musik tempat suami subjek bekerja juga banyak yang memberikan bantuan dana. Bahkan seorang musisi terkenal, Icha Jikustik pun juga pernah membantu biaya berbobat.

  Diantara banyaknya pemberi dukungan tersebut, pemberi dukungan yang paling adalah dukungan dari suami dan anak-anak.

  Hal itu dikarenakan suami dan anak-anak mau menerima keadaan apa adanya dan menginginkan supaya subjek segera sembuh.

  Dukungan-dukungan tersebut diterima subjek secara langsung

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  bertemu dengan pemberi dukungan. Selain itu ada juga yang mengirimkan dana melalui rekening.

  Berbagai macam dukungan yang diterima itu, memberikan pengaruh positif bagi kehidupan subjek, yaitu subjek merasakan bahwa kondisi fisiknya membaik dan menambah semangat hidup.

  Berdasarkan pengalaman, subjek memiliki pengalaman tidak mendapatkan dukungan sosial yang dilakukan oleh kakak kandung subjek. Ketika sangat membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit, uang yang dijanjikan tidak jadi diberikan kepada subjek. Akan tetapi, subjek tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Hal ini dikarenakan adanya suami yang terus mendukung dan lebih banyak pihak yang memberikan dukungan daripada yang tidak mendukung.

D. PEMBAHASAN

  Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan berbagai gejala kanker payudara yang dialami oleh subjek. Pada umumnya, semua subjek mengalami gejala adanya benjolan pada payudara. Akan tetapi, tidak semua merasakan adanya rasa sakit pada benjolan tersebut, seperti pada subjek 1, 4, 5. Sedangkan pada subjek 2 dan 3 merasakan adanya rasa sakit pada benjolan tersebut. Selain benjolan, gejala yang juga dialami adalah adanya pertumbuhan puting yang tidak normal, yaitu terjadi pada subjek 2

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dan 5. Gejala yang paling parah dialami oleh subjek 5 yaitu munculnya nanah, darah, dan bau pada benjolan tersebut.

  Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa tidak semua gejala dengan mudah dideteksi sebagai kanker payudara. Butuh beberapa kali pemeriksaan untuk memastikan bahwa gejala tersebut merupakan gejala dari kanker payudara, seperti terjadi pada subjek 3 dan 5. Mereka tidak hanya 1 kali dalam melakukan pemerikasaan untuk memastikan bahwa terkena kanker payudara. Hal ini membuktikan penelitian sebelumnya bahwa gejala permulaan kanker tidak dirasakan maupun tidak disadari dan tidak mudah terdeteksi.

  Jenis dukungan sosial yang ditemukan dalam penelitian ini, ditemukan 5 jenis dukungan sosial yang diterima oleh subjek. Jenis dukungan sosial yang muncul adalah dukungan sosial emosional, dukungan sosial instrumental, dukungan sosial penghargaan, dukungan sosial informatif dan dukungan sosial jaringan sosial. Hal ini sesuai dengan penelitian yang sudah dilakukan oleh para ahli mengenai jenis dukungan sosial (Cohen & McKay, 1984; Cutrona & Russell, 1990; House, 1984; Schaefer, Coyne, & Lazarus, 1981; Willa, 1984 dalam Sarafino, 1994).

  Dari berbagai macam bentuk dukungan yang diterima, jenis dukungan emosional merupakan jenis dukungan yang paling banyak diterima oleh subjek. Jenis dukungan emosional ini lebih membantu dalam peningkatan kondisi psychological well being dimensi penerimaan diri.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Reaksi yang terjadi ketika mendapatkan vonis kanker payudara adalah merasa kaget, sedih, takut, kalut, bingung, marah, dan sering mempertanyakan keadaan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hawari dalam bukunya yang menyebutkan bahwa reaksi yang umumnya terjadi pada pasien kanker payudara adalah kaget, takut, tidak bisa menerima kenyataan, sampai depresi (Hawari dalam Uila, 2009).

  Dalam proses penerimaan diri ketika mendapatkan vonis kanker payudara sampai menjalani operasi pengangkatan payudara, dukungan emosional dari orang-orang terdekat sangat dibutuhkan untuk membantu pasien kanker payudara bisa menerima diri apa adanya dan bisa menerima keadaan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang mengungkapkan bahwa dukungan emosional dan informasi lebih dibutuhkan oleh individu yang mengalami sakit parah (Wortman & Dunkel-Schetter, 1987, dalam Sarafino, 1994).

  Dalam penelitian ini, jenis dukungan yang diberikan kepada penderita kanker payudara ketika mendapati vonis sampai menjelang operasi adalah dukungan emosional, dukungan informational, dan dukungan penghargaan.

  Pada awalnya, reaksi yang muncul pada seseorang yang mendapatkan vonis kanker payudara adalah kaget, seperti terlihat pada subjek 1, 2, 4, dan 5. Selain itu, perasaan lain yang juga dirasakan adalah merasa sedih dan kebingungan, seperti yang dialami subjek 2. Perasaan kalut, marah, dan mempertanyakan keadaan juga dirasakan oleh subjek 3.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Reaksi-reaksi tersebut muncul dikarenakan ketakutan akan konsekwensi dari kanker payudara dan pengobatannya, seperti yang dialami oleh subjek 2 dan 3. Untuk mengatasi reaksi-reaksi yang muncul tersebut, dukungan sosial sangatlah diperlukan oleh penderita kanker payudara dalam mengatasi kondisi tersebut. Jenis dukungan sosial yang bisa diberikan adalah dukungan sosial emosional, informatif, dan penghargaan.

  Dalam dukungan emosional, bentuk dukungan yang diberikan adalah pemberian semangat dan perhatian, serta adanya dorongan untuk berobat. Pemberian semangat dan perhatian dilakukan dengan cara memberikan pendampingan kepada keluarga yang menderita kanker payudara. Selain itu, dorongan untuk melakukan pengobatan bisa dilakukan dengan cara yang halus, yaitu meyakinkan kepada penderita kanker payudara, bahwa kanker payudara bisa disembuhkan dengan pengobatan yang ada. Dukungan sosial ini membantu pasien kanker payudara dalam dimensi penerimaan dirinya. Penderita kanker payudara yang pada awalnya kaget, takut, tidak mampu untuk menerima keadaan, menjadi mampu untuk menerima diri secara positif dan mampu menerima keadaan apa adanya.

  Bentuk dukungan informational yang diterima penderita kanker payudara bisa berasal dari dokter maupun teman. Bentuk dukungan informational yang berasal dari dokter berupa pemberian nasihat dalam menghadapi kanker. Bentuk dukungan ini bisa diberikan dengan cara melalui konsultasi ketika di rumah sakit. Selain itu, dukungan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  informational juga bisa berasal dari teman dengan pemberian informasi pengobatan. Informasi yang diberikan bisa dilakukan dengan cara saling berbagi pengalaman ketika bertemu sesama penderita kanker. Dukungan sosial yang diterima ini mampu mempengaruhi dimensi penerimaan diri pada pasien. Pasien kanker payudara mampu untuk memiliki pemikiran yang positif tentang kanker dan pengobatannya, sehingga tidak mengalami keterpurukan karena kanker.

  Selain, dukungan emosional dan informational, dukungan yang dibutuhkan pasien kanker payudara pasca vonis kanker sampai menjelang operasi adalah dukungan penghargaan. Dukungan penghargaan yang diberikan dapat berupa menghargai dan menerima keputusan pengobatan yang akan dijalani pasien kanker payudara. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memberikan kebebasan dan mendukung keputusan pengobatan yang akan dilakukan. Dengan adanya dukungan ini, dimensi otonomi pasien kanker payudara akan meningkat. Pasien kanker payudara akan merasa yakin dan berani untuk mengambil keputusan pengobatan secara mandiri.

  Seseorang penderita kanker payudara yang sudah melakukan tindakan operasi pengangkatan payudara juga mengalami masalah dalam penerimaan dirinya. Beberapa diantara mereka akan merasa tidak percaya diri, seperti yang dialami oleh subjek 1 dan 2. Selain itu, muncul juga pengalaman merasakan malu dan takut apabila harus menemui orang lain, seperti yang dialami oleh subjek 2. Perasaan yang muncul tersebut disebabkan oleh perubahan kondisi fisik, yaitu kehilangan salah satu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  payudara. Hal ini sesuai dengan teori bahwa manusia mempunyai sifat holistic, yaitu makhluk fisik yang sekaligus psikologis. Sehingga sesuatu yang terjadi dengan kondisi fisiknya akan mempengaruhi kondisi psikologisnya (Lubis, 2009).

  Ketika tindakan operasi telah dilaksanakan dan pasien kanker payudara harus menjalani pengobatannya, dukungan sosial dari orang- orang sekitar tetap dibutuhkan. Orang terdekat, yaitu keluarga merupakan pihak yang banyak dibutuhkan dalam pemberian dukungan, terutama dukungan emosional dan penghargaan. Bentuk dukungan yang yang diberikan adalah pemberian semangat, perhatian dan penerimaan apa adanya. Dukungan ini bisa diberikan dengan cara memperhatikan kondisi kehidupan subjek setiap harinya dan tidak mempermasalahkan mengenai tindakan pengangkatan payudara yang telah dilakukan. Selain keluarga, dokter juga berperan dalam memberikan dukungan informative. Dukungan tersebut berupa adanya pemberian nasihat mengenai cara menghadapi kanker pasca operasi. Dukungan tersebut bisa dilakukan melalui konsultasi yang bisa dilakukan ketika pasien melakukan kontrol atau pengobatan. Selain itu, dukungan jaringan sosial juga bisa diberikan dari teman sesama penderita kanker. Dukungan yang diberikan berupa pengalaman hidup pasca operasi. Hal ini bisa dilakukan dengan saling bertukar cerita ketika bertemu sesama penderita kanker ketika berobat. Dukungan tersebut mempengaruhi dimensi penerimaan diri subjek. Dengan adanya dukungan- dukungan tersebut, penderita kanker payudara yang pada awalnya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mengalami ketidakpercayaan diri dan kurang mampu menerima keadaan pasca operasi kanker payudara, saat ini sudah memiliki kepercayaan diri, bisa menerima diri sendiri dan keadaan apa adanya. Selain tu, pasien kanker payudara mampu menjalani kehidupan dengan rasa senang, penuh syukur dan memiliki pandangan yang positif.

  Penderita kanker payudara sudah memiliki tujuan hidup sebelum positif terkena kanker. Tujuan hidup yang dimiliki penderita kanker payudara sebelum positif kanker adalah ingin membahagiakan keluarga dan cenderung memiliki tujuan hidup yang mengalir mengikuti arus hidup.

  Setelah positif terkena kanker payudara, dimensi tujuan hidup pasien kanker payudara sangat dipengaruhi oleh dukungan emosional yang diberikan oleh keluarga.

  Dukungan tersebut dapat berupa pemberian semangat dan adanya perhatian. Cara yang dilakukan adalah dengan kehadiran keluarga setiap saat bersama pasien kanker payudara dan memperhatikan kehidupan dan kondisi pasien kanker payudara. Hal tersebut akan menyebabkan pasien kanker payudara akan memiliki tujuan hidup dan semakin memiliki semangat dan kekuatan untuk melanjutkan hidupnya untuk menjadi lebih baik dan membahagiakan keluarganya.

  Penderita kanker payudara akan mengalami penurunan kondisi fisik dan mengalami kebosanan karena tindakan pengobatan jangka panjang yang harus dijalaninya, seperti yang dialami oleh subjek 1, 3, dan

  4. Selain itu, masalah juga terjadi ketika subjek diminta untuk mengambil

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  keputusan pengobatan secara mandiri, seperti subjek 1, 3, 4, dan 5, ataupun meminta pertimbangan suami, seperti pada subjek kedua. Namun, masalah tersebut bisa diatasi dengan pemberian dukungan sosial dari keluarga. Dukungan sosial yang diberikan adalah dukungan sosial emosional dan penghargaan. Kedua bentuk dukungan tersebut diberikan oleh keluarga. Dukungan emosional yang diberikan dapat berupa pemberian semangat, perhatian dan dorongan untuk melakukan pengobatan. Dukungan ini bisa dilakukan dengan pemberian semangat dan memperhatikan kondisi subjek. Selain itu, ada juga dukungan penghargaan yang dapat berupa adanya penerimaan apa adanya dan penerimaan keputusan pengobatan yang dilakukan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara tidak memaksakan kehendak kepada subjek dan menerima keputusan pengobatan yang dijalani subjek. Dukungan ini menyebabkan pasien kanker payudara tetap memiliki dimensi otonomi, yaitu adanya kemampuan untuk mengambil keputusan pengobatan dan kelanjutannya secara mandiri, serta dalam kehidupan sehari-hari juga memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan.

  Walaupun terkena kanker payudara, beberapa dari penderita kanker payudara ini memiliki pendapat bahwa seorang penderita kanker payudara tetap bisa melakukan pengembangan diri. Ketika mengalami penurunan kondisi fisik dan harus mengurangi kegiatannya, kebosanan akan dialami oleh penderita kanker payudara, seperti yang terjadi pada subjek 2, 4, dan

  5. Akan tetapi, mereka tetap memiliki keinginan dari dalam diri sendiri

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  untuk tetap melakukan aktivitas lain yang lebih ringan. Keinginan ini didukung oleh orang-orang di sekitar, seperti keluarga dan teman.

  Keluarga memberikan dukungan emosional berupa pemberian semangat, perhatian, dan dukungan dalam beraktivitas yang diberikan dengan cara memberikan perhatian pada kondisi kesehatan pasien dan memberikan kebebasan untuk tetap beraktivitas. Selain itu, dukungan dari teman berupa ajakan beraktivitas yang dilakukan dengan cara menjemput langsung pasien kanker payudara untuk beraktivitas bersama juga mempengaruhi dimensi pengembangan diri. Dengan mendapatkan dukungan sosial, pasien kanker payudara tetap memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri mereka sesuai potensi yang ada.

  Seseorang yang menderita kanker payudara, pasti akan mengalami penurunan kondisi fisik. Hal ini mengkibatkan adanya pengurangan aktivitas sehari-hari. Akan tetapi, mereka tetap mampu menjani peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Mereka juga tetap mampu menjalani aktivitasnya sesuai dengan kondisi fisik. Walaupun pasien kanker payudara masih sanggup menguasai lingkungan dan aktivitasnya seorang diri, tetapi dimensi penguasaan lingkungan yang dimiliki pasien kanker payudara juga dipengaruhi oleh dukungan sosial yang diberikan oleh keluarga. Keluarga memberikan dukungan sosial instrumental berupa pemberian waktu dan bantuan tenaga. Dukungan tersebut diberikan dengan cara meluangkan waktu untuk memberikan bantuan dalam beraktivitas sehari-hari. Dengan adanya bantuan tersebut, pasien kanker

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  payudara tetap mampu mengatur dan menguasai aktivitasnya dengan atau tanpa bantuan orang lain.

  Dimensi relasi positif yang dimiliki pasien kanker payudara dipengaruhi oleh dukungan sosial yang diberikan oleh keluarga dan masyarakat. Adanya perhatian yang lebih besar dari keluarga dan adanya pemberian semangat, perhatian, dan bantuan materi dari masyarakat juga dirasakan oleh penderita kanker payudara. Dukungan yang diberikan oleh keluarga dilakukan dengan cara memberikan perhatian dan semangat setiap hari melalui tatap muka, maupun melalui media lain, misalnya melalui telepon, media sosial, ataupun sms. Selain itu, perhatian dari keluarga juga dapat dilakukan dengan cara memperhatikan kehidupan subjek dengan memperhatikan kesehatan, makan, dan jadwal obat yang dikonsumsi. Dukungan yang diberikan oleh masyarakat dapat dilakukan dengan cara melalui tatap muka maupun media lain. Selain itu, juga bisa dilakukan dengan cara memberikan kunjungan, baik di rumah sakit maupun di rumah. Dengan adanya dukungan tersebut, seorang yang menderita kanker payudara yang sudah memiliki hubungan baik dengan banyak pihak, akan semakin memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain dan bisa mendapatkan banyak bantuan atau dukungan sosial dari banyak pihak.

  Dukungan-dukungan sosial tersebut sesuai dengan teori mengenai faktor yang mempengaruhi psychological well being, yaitu individu yang mendapat dukungan dari lingkungan sosial akan memiliki Psychological

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  well being yang tinggi dibandingkan dengan individu yang tidak mendapat

  dukungan sosial (Davis, dalam Rahayu, 2008). Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa ada 1 subjek yang tidak memiliki dimensi pengembangan diri. Hal ini dikarenakan faktor kondisi fisik yang melemah dan tidak adanya dukungan yang diterima untuk memiliki aktivitas lain yang bisa lebih mengembangkan dirinya.

  Berbagai bentuk dukungan tersebut diberikan dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian besar dari dukungan itu diberikan secara langsung oleh pemberi kepada penerima. Misalnya adalah dukungan sosial instrumental berupa bantuan dalam mengerjakan pekerjaan, bisa diberikan melalui pengambilalihan secara langsung pekerjaan yang dilakukan pasien kanker. Selain itu contoh bentuk dukungan emosional berupa pemberian perhatian, dapat diberikan melalui dengan cara mengingatkan untuk minum obat, mengingatkan untuk makan, dan meminta subjek untuk tidak bekerja terlalu lelah. Namun ada sebagian yang diberikan melalui berbagai media yang ada, misalnya memberikan dukungan semangat melalui telpon, sms, media sosial internet, dan untuk dukungan biaya ada yang mengirim melalui rekening bank. Selain itu, ternyata dukungan sosial yang bisa diberikan seorang anak kepada ibu yang menderita kanker payudara adalah melalui prestasi belajar yang baik di sekolah. Dalam penelitian yang ditemukan sebelumnya, tidak dijelaskan bagaimana cara yang digunakan untuk memberikan dukungan sosial. Pada penelitian

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sebelumnya, yang dijelaskan hanyalah jenis dukungan sosial yang diterima (Anggraeni & Ekowati, 2010; Sari, 2011).

  Keefektifan dukungan sosial dipengaruhi oleh jenis dukungan dan juga oleh siapa pemberi dukungan tersebut (Taylor, 1999). Dalam penelitian ini, pemberi dukungan yang paling berpengaruh adalah suami, anak, dan orang tua. Hal ini dikarenakan, pihak-pihak tersebut merupakan pribadi yang paling dekat, selalu memberi semangat, menerima apa adanya, selalu membesarkan hati, dan yang selalu mendampingi dalam kondisi apapun.

  Secara umum, pengaruh dari dukungan sosial yang diterima adalah membuat subjek merasa tidak sendiri, merasa senang, lebih percaya diri, mengurangi beban penderitaan, tetap memiliki tujuan hidup, memiliki semangat hidup, mempercepat kesembuhan, tidak memikirkan penyakitnya, lebih merasa kuat dan tegar, serta menyebabkan pasien selalu berpikir positif. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli mengenai dampak dari dukungan sosial yang diterima pasien kanker payudara (Sari & Prasetyadi, 2005; Denewer, Farouk, Mostafa, & Elshamy, 2011).

  Akan tetapi, dukungan sosial yang diterima oleh pasien kanker payudara merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi

  psychological well being . dalam penelitian ini ditemukan pendapat dari

  masing-masing penderita kanker payudara bahwa sebesar apapun

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dukungan yang diberikan, apabila tidak memiliki semangat dari dalam sendiri, dukungan itu akan menjadi sia-sia.

  Kemampuan dari dalam diri sendiri juga akan mempengaruhi cara pasien kanker payudara dalam menanggapi perilaku orang lain terhadap diri sendiri yang berkaitan dengan dukungan sosial. Berdasarkan pengalaman, sebagian besar tidak memiliki pengalaman tidak didukung.

  Hanya ada 1 subjek yang merasa pernah tidak didukung. Akan tetapi mendapat dukungan atau tidak, itu tergantung dari cara pandang masing- masing. Secara keseluruhan, subjek dalam penelitian ini memiliki cara pandang yang positif, sehingga menganggap segala hal yang dilakukan orang lain merupakan cara untuk mendukung mereka.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  PSYCHOLOGICAL WELL STRATEGI AWAL SOSIAL DUKUNGAN SOSIAL BEING Keluarga : Pemberian semangat Pendampingan : Adanya penerimaan diri

  Adanya reaksi kaget dan perhatian; dorongan untuk meyakinkan bahwa akan yang positif dan menerima

  (S 1,2,4,5), sedih (S berobat (Ds.e) sembuh keadaan (Dm.PD)

  2), takut (S 3), kalut (S 3), kebingungan (S 2), stress (S 3),

  Dokter : Pemberian nasihat Pengarahan :

  panik (S 3), marah menghadapai kanker (Ds.Inf.) Memberikan arahan Memiliki pemikiran yang

  (S 3), sering [menyemangati] positif tentang kanker mempertanyakan

  Teman : Pemberian informasi

  payudara dan keadaan (S 3) pengobatan (Ds.Inf.)

  Berbagi pengalaman :

  pengobatannya (Dm.PD) Saling bertemu dan berbagi pengalaman [keberhasilan] pengobatan

  Adanya perasaan takut akan

  Keluarga : Menghargai dan

  Berani mengambil konsekwensi dari

  Pemberian kebebasan :

  menerima keputusan pengobatan keputusan pengobatan kanker dan

  Memberikan kebebasan yang diambil (Ds.P) secara mandiri (Dm.O) pengobatannya (S dalam mengambil

  2,3) keputusan pengobatan

  Gambar Bentuk dan Strategi Dukungan Sosial Ketika Divonis Kanker Payudara sampai Operasi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

STRATEGI DUKUNGAN SOSIAL

BENTUK DUKUNGAN SOSIAL

  Mengalami ketidakpercayaan diri (S 1), takut ketika harus bertemu orang lain S 2), malu (S 2)

  Kemampuan diri sendiri : tabah, pemikiran positif, kemampuan bersyukur, menikmati proses hidup, belajar menghadapi masalah melalui masalah sebelumnya

  Merasa biasa saja (S 3), menerima keadaan dengan baik (S 4), tetap percaya diri (S3, 5)

  Tetap percaya diri, memiliki pandangan yang positif, lebih tangguh dan lebih ikhlas (Dm.PD)

  mempermasalahkan adanya tindakan pengangkatan payudara.

  Penerimaan : tidak

  Keluarga : Pemberian semangat (Ds.E); menerima apa adanya (Ds.P)

  Gambar Bentuk dan Strategi Dukungan Sosial Pasca Operasi

  Keluarga : Pemberian semangat

  Adanya kepercayaan diri, menerima diri sendiri dan keadaan, menjalani hidup dengan senang dan bersyukur, memandang diri secara positif (Dm.PD)

  Pengarahan : Memberikan arahan secara empatik Berbagi Pengalaman : Saling bertemu dan berbagi pengalaman keberhasilan berobat ketika berobat/kontrol

  Perhatian : Pemberian perhatian setiap hari, memperhatikan kehidupan subjek [mengingingatkan, bukan menegur], Penerimaan : tidak mempermasalahkan adanya tindakan pengangkatan payudara.

  pasca operasi (Ds.JS)

  Teman : berbagi pengalaman

  menghadapai kanker (Ds.Inf)

  Dokter : Pemberian nasihat

  dan perhatian (Ds.E); menerima apa adanya (Ds.P)

  PSYCHOLOGICAL WELL BEING KONDISI AWAL

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Menemani : Selalu ada bersama subjek Memiliki tujuan hidup

  Tidak adanya perubahan tujuan setiap saat. [co : menemani berobat] ingin membahagiakan hidup, semakin memiliki

  Keluarga : Pemberian semangat Perhatian : Pemberian perhatian setiap semangat untuk mewujudkan keluarga, tujuan hidup

  dan perhatian (Ds.E)

  hari, memperhatikan kehidupan subjek mengalir saja tujuan hidup (Dm.TH) (kesehatan, makan, mengkonsumsi obat)

   mengingatkan, bukan menegur

  Harus menentukan

  Perhatian : Pemberian perhatian setiap Mampu mengambil keputusan

  Keluarga : Pemberian semangat,

  tindakan hari, memperhatikan kehidupan subjek.

  pengobatan, dan keputusan

  perhatian, dan dorongan berobat pengobatan,

  mengingatkan, bukan menegur [ ] kelanjutan pengobatan secara

  (Ds.E); menerima apa adanya,

  penurunan kondisi

  Pemberian kebebasan : tidak mandiri (berhenti/melanjutkan),

  menerima keputusan pengobatan fisik dan mengalami

  memaksakan kehendak kepada mampu mengambil keputusan

  (Ds.P) secara mandiri (Dm.O) subjek, menerima keputusan subjek

  kebosanan berobat (S 1,3,4)

  Kebosanan karena Perhatian : Pemberian perhatian setiap

  Keluarga : Pemberian semangat,

  Memiliki kemampuan dan

  berkurangnya aktivitas hari, memperhatikan kehidupan subjek

  perhatian, dan dukungan kegiatan keyakinan untuk

  (S 5), keinginan dari  mengingatkan, bukan menegur

  (Ds.E)

  mengembangkan diri sesuai

  dalam diri sendiri untuk Memberikan kebebasan :

  Teman : Ajakan beraktivitas

  potensi yang ada di dalam

  beraktivitas lain (S membebaskan subjek beraktivitas

  (Ds.JS) 2,4,5)

  Menemani : Mengajak berkegiatan,

  diri (Dm.Pg.D)

  menjemput subjek

  Gambar Bentuk dan Strategi Dukungan Sosial Pasca Operasi (Lanjutan)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Memberikan bantuan :

  Mampu menguasai dan

  Pengurangan aktivitas Keluarga : Bantuan tenaga dan

  Meluangkan waktu untuk

  mengatur aktivitasnya

  karena melemahnya

  waktu (Ds.Inst.) memberikan bantuan dalam dengan atau tanpa bantuan

  kondisi fisik beraktivitas sehari-hari

  orang lain (Dm.PL)

  Perhatian : Memberikan perhatian dan Keluarga : Semakin memberikan

  Adanya hubungan semangat setiap hari, melalui tatap muka,

  perhatian (Ds.E)

  baik dengan keluarga, maupun melalui media lain,

  Adanya hubungan baik dari

  memperhatkan kehidupan subjek teman, dan

  (kesehatan, makan, mengkonsumsi obat) berbagai pihak, masyarakat.

  Memotivasi : Memberikan semangat

  mendapatkan banyak

  Adanya kesulitan Masyarakat : memberikan melalui tatap muka maupun media lain,

  dukungan dari berbagai

  dalam hal biaya

  semangat, menanyakan kabar

  memberi kunjungan (RS dan rumah), pengobatan (S 5)

  pihak (Dm.RP)

  (Ds.E); memberikan bantuan Pemberian bantuan: memberikan dana secara langsung, maupun melalui media

  materi (Ds.Inst.)

  

lain

Pengaruh : merasa tidak sendiri, merasa senang, lebih percaya diri, mengurangi beban penderitaan, memiliki tujuan

  hidup, memiliki semangat hidup, mempercepat kesembuhan, merasa kuat dan tegar, memiliki pikiran positif

  KEBAHAGIAAN

  Gambar Bentuk dan Strategi Dukungan Sosial Pasca Operasi (Lanjutan)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN Pada umumnya, pasien kanker payudara mengalami gejala berupa

  munculnya benjolan pada bagian payudara yang disertai gejala lain, seperti putting yang tumbuh tidak normal, adanya luka pada benjolan, dan adanya rasa sakit pada benjolan. Selain itu, tidak semua gejala dapat dengan mudah dideteksi sebagai kanker payudara. Butuh beberapa kali pemeriksaan untuk memastikan bahwa gejala tersebut adalah kanker payudara.

  Dalam penelitian ini ditemukan 5 jenis dukungan sosial yang diterima oleh pasien kanker payudara. Kelima jenis dukungan sosial itu adalah dukungan sosial emosional, dukungan sosial instrumental, dukungan sosial informatif, dukungan sosial penghargaan, dan dukungan sosial jaringan sosial. Semua jenis dukungan tersebut mampu membantu meningkatkan psychological well being.

  Ada berbagai macam bentuk dukungan sosial yang dapat diberikan kepada pasien kanker payudara melalui berbagai macam cara yang bisa dilakukan. Adapun bentuk dukungan sosial yang diterima adalah semangat, perhatian, nasihat, informasi, dorongan untuk berobat, menerima apa adanya, dukungan beraktivitas, ajakan beraktivitas, bantuan tenaga dan waktu, menanyakan kabar, serta adanya bantuan materi.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dukungan tersebut diberikan dengan cara meyakinkan bahwa akan sembuh, berbagi pengalaman keberhasilan pengobatan, memberikan kebebasan dalam mengambil keputusan, memberikan arahan secara empatik, selalu mengingatkan untuk minum obat, menemani berobat, mengajak beraktivitas, memberikan kunjungan, dan memberikan bantuan materi.

  Dukungan sosial yang sangat dibutuhkan adalah dukungan sosial dari keluarga, karena dukungan dari keluarga mampu mempengaruhi seluruh dimensi psychological well being pasien kanker payudara. Bentuk dukungan yang paling banyak diterima oleh pasien kanker payudara adalah dukungan emosional. Dukungan tersebut diberikan dengan cara memberikan perhatian kepada pasien kanker payudara. Perhatian yang diberikan dapat dilakukan dengan cara langsung, maupun dengan cara melalui media lain, seperti telepon, pesan singkat, maupun media sosial.

  Akan tetapi, dukungan sosial yang diterima oleh pasien kanker payudara hanya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi

  psychological well being . Dalam penelitian ini ditemukan pendapat dari

  masing-masing penderita kanker payudara bahwa sebesar apapun dukungan yang diberikan, apabila tidak memiliki semangat dari dalam sendiri, dukungan itu akan menjadi sia-sia.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  B. KETERBATASAN PENELITIAN

  Keterbatasan dalam penelitian ini adalah :

  1. Pengukuran tingkat psychological well being yang menggunakan skala item tunggal, dengan hanya menggunakan 1 istilah temuan survey yang berjumlah 28 suara, dari total 73 suara, sehingga konsep psychological well being dalam single item ini menjadi kurang luas.

  2. Sampel dalam penelitian ini hanya berdasarkan persepsi penderita kanker payudara dengan psychological well being yang baik. Apabila data yang diambil juga berdasarkan persepsi pemberi dukungan dan penderita kanker payudara dengan psychological well being yang kurang baik beserta pemberi dukungannya, maka aka nada kemungkinan menghasilkan data yang berbeda.

  C. SARAN

1. Bagi Peneliti Selanjutnya

  a. Peneliti selanjutnya yang berminat untuk meneliti topik yang sama, diharapkan lebih memperhatikan cara mengukur tingkat

  psychological well being pasien kanker payudara agar didapatkan data yang kuat.

  b. Pencarian istilah yang sepadan dengan psychological well being bisa dilakukan dengan menggunakan stimulus gambar, bukan kata- kata. Gambar yang digunakan berisi mengenai sebuah kisah. Stimulus pertama berupa gambar orang dengan kondisi baik.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Stimulus kedua berupa gambar orang yang mendapati masalah. Stimulus ketiga adalah berupa gambar orang yang sedang mengalami kesedihan karena masalah. Stimulus keempat berupa gambar orang yang kembali mengalami kebahagiaan.

  c. Selain itu, peneliti juga dapat meneliti dukungan sosial berdasarkan sudut pandang pemberi dukungan sosial. Selain itu juga meneliti penerima dukungan sosial dengan kondisi psychological well being yang rendah beserta pemberi dukungan. Hal ini dilakukan supaya memberikan data dukungan sosial yang lebih objektif.

  2. Bagi Pasien Kanker Payudara

  Pasien kanker payudara diharapkan mampu untuk menguasai diri sendiri sehingga mampu untuk memperbaiki kondisi psikologis pasca mendapatkan vonis dan pasca operasi. Selain itu, pasien kanker payudara diharapkan mampu menanggapi secara positif hal-hal yang dilakukan oleh orang lain.

  3. Bagi Keluarga Pasien Kanker Payudara

  Pihak keluarga hendaknya memberi pendampingan kepada pasien kanker payudara sejak mendapatkan vonis kanker payudara.

  Dukungan yang sangat diperlukan oleh pasien kanker payudara adalah dukungan sosial emosional berupa pemberian semangat, perhatian, pendampingan, penerimaan apa adanya, dan kasih sayang. Dukungan tersebut diperlukan untuk membantu pasien dalam menerima diri apa adanya terkait dengan kanker dan penanganannya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

4. Bagi Pihak Rumah Sakit atau Lembaga yang Bergerak di Bidang Kanker

  Pihak rumah sakit atau lembaga yang bergerak di bidang kanker hendaknya memberi pendampingan kepada pasien kanker payudara sejak mendapatkan vonis kanker payudara. Dukungan yang bisa diberikan adalah berupa penerimaan, pemberian saran mengenai cara menghadapi kanker, dan memberikan penjelasan mengenai tindakan pengobatan kanker payudara secara jelas. Dukungan tersebut diperlukan untuk membantu pasien dalam menerima diri apa adanya terkait dengan kanker dan penanganannya, dan membantu pasien dalam memutuskan tindakan kanker yang akan dijalaninya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Anggraeni, M. D., & Ekowati, W. (2010). Peran keluarga dalam memberikan dukungan terhadap pencapaian integritas diri pasien kanker payudara post radikal mastektomi. Jurnal Keperawatan Soedirman, 5(2), 105-114.

  Baron, R. A., & Byrne, D. (2005). Psikologi sosial (Jilid 2, Edisi 10).

  Jakarta: Erlangga. Chaplin, J. P. (2008). Kamus lengkap psikologi. Jakarta: Grafindo. Creswell, J. W. (2007). Qualitative inquiry and research design choosing

among five traditions. California : SAGE Publications.

  Creswell, J. W. (2010). Research Design : Pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Denewer, A., Farouk, O., Mostafa, W., & Elshamy, K. (2011). Sosial support and hope among Egyptian women with breast cancer after mastectomy. Breast Cancer: Basic and Clinical Research, 5, 93- 103. Halim, M. S. (2003). Quality of life and breast cancer : a general concept.

  Jurnal Psikologi, 12, 2, 13-24.

  Karyono, D. K. S., & Lela, T. A. (2008). Penanganan stres dan kesejahteraan psikologis pasien kanker payudara yang menjalani radioterapi di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Media Medika

  Indonesiana. Diunduh

  13 Oktober 2011, dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Jika tidak

  dikendalikan 26 juta orang di Dunia menderita kanker. Diunduh 26

  Oktober 2012 dari http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press- release/1060-jika-tidak-dikendalikan-26-juta-orang-di-dunia- menderita-kanker-.html. Kim, H. S., Sherman, D. K., & Taylor, S. E. (2008). Culture dan sosial support. American Psychologist, 63(6), 518-526.

  Lubis, N. L. (2009). Depresi : Tinjauan psikologis. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Lubis, N. L., & Hasnida. (2009). Dukungan sosial pada pasien kanker,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lubis, N. L., & Priyanti, D. (2009). Makna hidup pada penderita kanker leher rahim. Majalah Kedokteran Nusantara, 42, 14-19. Moleong, L. J. (2009). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Ozkan, S., & Ogee, F. (2008). Importance of sosial support for functional status in breast cancer patients. Asian Pasific Journal of Cancer

  Prevention, 9, 601-604.

  Papalia, D. E., Old, S. W., & Feldman, R. D. (2009). Human development (Psikologi perkembangan). Ed. ke-10. Jakarta: Salemba Humanika. Poerwandari, E. K. (2005). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku

  manusia. Jakarta: Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi UI.

  Primadi, A., & Hadjam, M. N. R. (2012). Optimisme, harapan, dukungan sosial keluarga, dan kualitas hidup orang dengan epilepsi. Jurnal

  Psikologi, 3(2), 123-133.

  Rahayu, M. A. (2008). Psychological well-being pada wanita dewasa muda yang menjadi istri kedua dalam pernikahan poligami. Skripsi.

  Universitas Indonesia. Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2001). On happiness and human potentials : a review of research on hedonic and eudaimonic well-being. Annual

  Review Psychological, 52, 141-161.

  Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and

  Sosial Psychology, 57, 6, 1069-1081.

  Ryff, C. D., & Keyes, C. L. M. (1995). The structure of psychological well being revisited. Journal of Personality and Sosial Psychology, 69, 4, 719-727. Ryff, C. D., & Singer, B. (1998). The contours of positive human health.

  Psychological Inquiry, 9 , 1, 1-28.

  Salsabila. (2009). Resiliensi pada penderita kanker ditinjau dari dukungan sosial. Skripsi-Qt Blogspot. Diunduh 13 Juni 2012 dari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Sarafino, E. P. (1994). Health Psychology : Biopsychososial interaction

  nd (2 ed.). Canada: John Wiley and Sons, Inc.

  Sarafino, E. P. (2008). Health Psychology : Biopsychososial Interaction

  th (6 ed.). USA: John Wiley and Sons, Inc.

  Sari, R., & Prasetyadi, B. S. (2005). Impact of sosial support in breast

  cancer patients [on_line abstract]. Diunduh pada 30 Agustus 2012

  dari http://openstrorage.gunadarma.ac.id/abstract/graduate/244- 737-1-SM.pdf. Sari, Q. N. R. (2011). Dukungan sosial pada penderita kanker payudara di masa dewasa tengah. Skripsi. Universitas Gunadarma. Smet, B. (1994). Psikologi kesehatan. Jakarta: Grasindo. Smith, J. A. (2009). Psikologi Kualitatif : Panduan praktis metode riset.

  Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Supratiknya, A. (2007). Kiat merujuk sumber acuan dalam penulisan

karya ilmiah. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  th Taylor, S. (1999). Health psychology (4 ed.). Singapore: Mc Graw-Hill.

  Uila, U. (2009). Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat depresi pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di ruang mawar II Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

  Wilson, G. T., Nathan, P. E., O’learny, K. D., & Clark, L. A. (1996).

  Abnormal psychology : Integrating perspective. United State of America: Allyn & Baccon.

  Yayasan Kanker Indonesia. (2012). Tentang kanker. Diunduh pada 26 Oktober 2012 dari http://yayasankankerindonesia.org/tentang- kanker/.

  

LAMPIRAN

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 1. Hasil Tryout Skala The Ryff’s Scale of Psychological Well Being

  Pada awalnya, untuk melakukan pengukuran psychological well being, peneliti menggunakan skala Psychological Well Being kepada beberapa penderita kanker payudara sesuai kriteria yang sudah ditentukan. Skala yang digunakan merupakan hasil adaptasi dari skala

  The Ryff’s Scale of Psychological Well Being.

  Penyebaran skala ini dilakukan untuk mencari subjek dengan tingkat

  

psychological well being yang baik. Jenis penskalaan yang digunakan adalah skala

Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi.

  Dalam skala Likert, variabel yang diukur akan dijabarkan menjadi indikator variabel yang kemudian dijadikan titik tolak untuk menyusun item-item instrument (Sugiyono, 2012).

  Skala ini terdiri dari 42 item yang masing-masing item memiliki rentang 1 sampai 6. Keseluruhan item pada skala ini merepresentasikan 6 dimensi

  

psychological well being, sehingga masing-masing dimensi terdiri dari 7

  pernyataan. Pernyataan-pernyataan dalam skala ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu favorable dan unfavorable. Adapun distribusi item skala pengukuran

  psychological well being dapat dilihat pada tabel 1.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  7

  42 Untuk mengetahui valid atau tidaknya item yang disusun, maka perlu dilakukan uji coba pada skala tersebut. Uji coba tersebut dilakukan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas, apakah item yang disusun sudah sesuai dengan indikator, susunan kalimat apakah mudah dipahami atau tidak. Item yang menunjukkan hasil tidak berkualitas harus dihilangkan atau direvisi kembali untuk tetap disertakan dalam skala penelitian. Selain itu, mean hasil uji coba skala akan digunakan sebagai panduan penentuan tingkat kategori psychological well being. Subjek dengan nilai psychological well being diatas rata-rata akan dilakukan tahap berikutnya, yaitu wawancara.

  20

  22

  7 Jumlah

  6 Penerimaan diri 6, 12, 24, 42 18, 30, 36

  7

  5 Tujuan hidup 11, 29, 35 5, 17, 23, 41

  Tabel 1 Distribusi Item Skala Psychological Well Being (Sebelum Uji Coba)

No. Dimensi Favorable Unfavorable Total

  1 Otonomi 1, 7, 25, 37 13, 19, 31

  4 Hubungan positif

  7

  pribadi 9, 21, 33 3, 15, 27, 39

  3 Pertumbuhan

  7

  lingkungan 2, 8, 20, 38 14, 26, 32

  2 Penguasaan

  7

  dengan orang lain 4, 22, 28, 40 10, 16, 34

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Uji validitas yang digunakan dalam skala ini adalah menggunakan validitas isi, yaitu melakukan analisis rasional terhadap isi skala. Item yang akan digunakan diperoleh berdasarkan hasil konsultasi item kepada ahli (professional

  

judgement) , dalam hal ini dosen pembimbing. Hal ini dilakukan dengan tujuan,

  supaya item yang tersusun mencakup seluruh objek yang akan diukur. Seleksi item yang baik, yang digunakan dalam pengukuran ini menggunakan koefisien korelasi ≥ 0,3. Sehingga, item dengan koefisien korelasi < 0,3 termasuk dalam kategori item yang kurang baik.

  Dalam skala ini, uji coba dilakukan kepada 64 wanita dengan usia 35-65 tahun. Hasil pengujian menunjukkan bahwa hasil koefisien korelasi memiliki rentang antara -0,156 sampai dengan 0,511. Terdapat 23 item yang gugur dari 42 item yang diujicobakan, yaitu item nomor 1, 2, 4, 7, 8, 9, 11, 12, 15, 16, 17, 19, 20, 25, 28, 29, 31, 34, 36, 37, 38, 41, 42. Item yang tidak valid tersebut memiliki rentang koefisien korelasi antara -0,156 sampai dengan 0,281. Adapun hasil koefisien korelasi item yang tidak valid terdapat pada tabel 2.

  Tabel 2 Koefisien Korelasi Item yang Tidak Valid

No. Nomor Item Koefisien Korelasi

  Item 1 -0,246 1.

  2. Item 2 0,088

  3. Item 4 0,261

  4. Item 7 0,028

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  16. Item 29 0,187

  Jumlah item yang valid adalah sebanyak 19 item. Berdasarkan hasil uji coba skala ini, dapat diketahui bahwa sebagian besar item pada skala ini tidak valid. Oleh karena itu, skala ini tidak jadi digunakan dalam pengukuran

  23. Item 42 -0,024

  22. Item 41 0,204

  21. Item 38 -0,024

  20. Item 37 0,023

  Item 36 0,178

  18. Item 34 0,251 19.

  17. Item 31 0,235

  5. Item 8 -0,156

  6. Item 9 0,241

  Item 25 0,129

  13. Item 20 0,043 14.

  12. Item 19 0,185

  11. Item 17 0,184

  10. Item 16 0,178

  9. Item 15 0,261

  8. Item 12 0,281

  7. Item 11 0,291

  15. Item 28 0,088

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Psychological Well Being. Hasil seleksi item skala Psychological Well Being bisa

terlihat pada tabel 3.

  Tabel 3

Distribusi Item Skala Psychological Well Being (Setelah Uji Coba)

No. Dimensi Favorable Unfavorable Total

  1 Otonomi 1*, 7*, 25*, 37* 13, 19*, 31*

  1

  2 Penguasaan 2*, 8*, 20*, 38* 14, 26, 32

  3 lingkungan

  3 Pertumbuhan 9*, 21, 33 3, 15*, 27, 39

  5 pribadi

  10, 16*, 34*

  4 Hubungan positif 4*, 22, 28*, 40

  3 dengan orang lain

  5 Tujuan hidup 11*, 29*, 35 5, 17*, 23, 41*

  3 Penerimaan diri 6, 12*, 24, 42* 18, 30, 36*

  4

  6 Jumlah

  7

  12

  19 Keterangan :

  • ) = item yang tidak valid

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 2. Hasil Perhitungan Statistik Tryout Skala The Ryff’s Scale of Psychological

Well Being

  Reliability Scale: ALL VARIABLES Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .786

  42 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted Item1 184.09 210.245 .310 .780

  Item2 183.61 216.020 .088 .787 Item3 183.91 202.658 .368 .776 Item4 183.97 212.158 .261 .781 Item5 183.41 205.928 .466 .775 Item6 183.94 205.615 .395 .776 Item7 184.12 217.603 .028 .789 Item8 186.17 224.049 -.156 .798 Item9 183.84 212.166 .241 .782 Item10 184.17 203.795 .436 .774 Item11 183.44 214.663 .291 .782 Item12 183.50 212.762 .281 .781 Item13 184.23 203.611 .418 .775 Item14 183.78 209.634 .333 .779 Item15 184.27 210.325 .261 .781 Item16 183.86 213.170 .178 .784 Item17 183.72 213.094 .184 .784

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Item19 184.94 211.425 .185 .784 Item20 183.97 217.936 .043 .787 Item21 184.17 205.859 .511 .774 Item22 183.88 207.603 .362 .778 Item23 184.06 204.821 .480 .774 Item24 183.92 210.295 .404 .778 Item25 184.91 212.943 .129 .787 Item26 184.77 204.024 .338 .778 Item27 184.73 206.992 .303 .779 Item28 184.27 216.579 .088 .786 Item29 183.52 215.841 .187 .784 Item30 184.31 203.234 .467 .773 Item31 185.28 208.555 .235 .782 Item32 184.38 202.079 .480 .772 Item33 183.27 214.039 .324 .781 Item34 184.08 210.867 .251 .781 Item35 183.88 203.921 .390 .776 Item36 185.02 210.428 .178 .785 Item37 184.91 216.562 .023 .793 Item38 184.45 218.950 -.024 .793 Item39 184.16 203.309 .403 .775 Item40 183.97 210.951 .416 .778 Item41 185.45 211.141 .204 .783 Item42 184.34 219.150 -.024 .792

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Reliability Scale: ALL VARIABLES Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .825

  20 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted Item1

  87.56 107.964 .246 .824 Item3 87.38 101.603 .349 .821 Item5 86.88 102.397 .535 .811 Item6 87.41 104.499 .344 .820 Item10 87.64 101.313 .470 .813 Item13 87.70 103.291 .360 .819 Item14 87.25 106.286 .333 .820 Item18 88.94 101.869 .360 .820 Item21 87.64 105.853 .387 .818 Item22 87.34 103.658 .418 .816 Item23 87.53 100.856 .585 .808 Item24 87.39 107.289 .376 .819 Item26 88.23 99.643 .428 .816 Item27 88.20 104.069 .309 .822 Item30 87.78 102.110 .448 .814 Item32 87.84 100.229 .508 .811 Item33 86.73 109.849 .301 .822 Item35 87.34 100.293 .464 .813 Item39 87.62 101.159 .423 .816 Item40 87.44 107.361 .416 .818

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Reliability Scale: ALL VARIABLES Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .824

  19 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted Item3

  82.73 96.833 .322 .822 Item5 82.23 96.881 .537 .810 Item6 82.77 99.293 .329 .819 Item10 83.00 95.968 .465 .812 Item13 83.06 97.615 .367 .818 Item14 82.61 100.559 .341 .818 Item18 84.30 96.720 .347 .820 Item21 83.00 100.698 .363 .818 Item22 82.70 97.990 .426 .814 Item23 82.89 95.718 .569 .808 Item24 82.75 101.619 .380 .817 Item26 83.59 93.705 .448 .813 Item27 83.56 98.536 .309 .821 Item30 83.14 96.281 .465 .812 Item32 83.20 94.260 .534 .808 Item33 82.09 104.118 .307 .821 Item35 82.70 94.752 .469 .812 Item39 82.98 96.079 .407 .815 Item40 82.80 101.498 .435 .816

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 3.

PANDUAN WAWANCARA

  Pelaksanaan Wawancara : Durasi Wawancara : Tempat Wawancara : Subjek : Pekerjaan : Usia : Stadium Kanker :

  No. Panduan Pertanyaan

  1. RIWAYAT PENYAKIT

  a. Bisakah Anda menceritakan bagaimana awal mula Anda dinyatakan menderita kanker payudara? b. Apakah ada tanda/gejala yang lain yang Anda rasakan?

  c. Apakah di dalam keluarga Anda ada riwayat sakit kanker payudara?

  d. Sudah berapa lama Anda menderita sakit kanker payudara?

  2. KONDISI PSIKOLOGIS

  a. Ketika pertama kali Anda divonis kanker payudara, apa yang Anda rasakan? b. Apakah Anda mengalami kesedihan mendalam ketika itu?

  c. Selama sakit tersebut, tindakan pengobatan apa saja yang sudah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Anda lakukan?  Jenis obat, jangka waktu

  

  Apakah ada pengobatan lain selain pengobatan medis?

  d. Bagaimana perasaan Anda ketika harus menjalani berbagai pengobatan tersebut?

  3. PSYCHOLOGICAL WELL BEING

  a. Bagaimana Anda memandang diri Anda saat ini?  Apakah ada perbedaan cara memandang diri sendiri?

  b. Tujuan hidup Anda apa saja?  Apakah sejak dari dulu seperti itu? Apakah ada perubahan tujuan hidup semenjak Anda sakit?

  

  Bagaimana hal itu (berubah/tidak) bisa terjadi?

  c. Menurut Anda, apakah orang yang kanker payudara itu ada kemungkinan untuk mengembangkan diri?  Mengapa? Pengembangan diri yang seperti apa?

   Bagaimana dengan diri Anda sendiri?

  d. Apa saja kegiatan sehari-hari Anda?  Bagaimana cara mengatur kegiatan sehari-hari? Kalau ada kegiatan lain, bagaimana cara Anda mengaturnya?

  e. Bagaimana cara Anda dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan keseharian, apakah Anda terbiasa menentukan sendiri atau meminta bantuan?

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   Kepada siapa? Dalam hal keputusan apa saja? Bagaimana dengan keputusan pengobatan?

  f. Bisa Anda ceritakan hubungan Anda dengan orang lain semenjak Anda didiagnosis kanker payudara?  Suami? Anak? Masyarakat sekitar? Lingkungan sosial? (kantor, komunitas, dll) 4.

DUKUNGAN SOSIAL

  a. Apakah mereka memberikan dukungan untuk kesembuhan Anda?

  b. Siapa saja yang memberikan dukungan selama ini?  Diantara orang-orang tersebut, siapakah yang paling

  mendukung?

   Mengapa?

  c. Dukungan apa saja yang Anda terima dari mereka?  Apa saja yang mereka lakukan untuk mendukung Anda?

  d. Bagaimana cara mereka memberikan dukungan tersebut?  Apa saja yang mereka lakukan untuk mendukung Anda?

  e. Bagaimana pengaruh dari dukungan orang-orang tersebut bagi hidup Anda? f. Apakah ada pengalaman Anda tidak mendapatkan dukungan sosial?

   Mengapa?

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  29.

  22.

  23.

  24.

  25.

  26.

  27.

  28.

  30.

  20.

  31.

  32.

  33. Bisa ibu menceritakan

  bagaimana awal mula Ibu itu dinyatakan sakit kanker payudara?

  Waktu itu kan kalau terasa itu tidur. Kalau miring itu kelihatan benjolannya. Kalau gini enggak.

  Ooh.. benjolannya di sebelah mana, Bu? Kiri Bawah. Di bawah?

  Iya. Itu baru kelihatan. Terus saya kan cerita itu sama kakak, kalau gini gini. Terus bulan apa gitu, bulan Oktober itu saya tanya sama yang kerja di rumah sakit, saya dinyatakan sakit, terus operasi.

  Itu terasa sakit apa enggak, Bu? Enggak sakit. Enggak. Ooh.. gejala lain ada gak, Bu? Enggak ada. Gak ada? Enggak. Berarti cuma benjolan itu aja ya? Benjolan terlihat ketika tidur dalam posisi miring (GT) Benjolan terdapat di payudara sebelah kiri bawah (GT) Tidak ada rasa sakit pada benjolan (GT) Tidak ada gejala lain (GT) Gejala yang muncul hanya Gejala kanker payudara yang muncul adalah berupa benjolan di payudara sebelah kiri bawah dan tidak terasa sakit (GT) Gejala yang muncul hanya benjolan, tidak ada gejala lain (GT)

  21.

  Lampiran 4. Transkrip Verbatim Wawancara dan Analisis Data Subjek 1 (Ibu S)

  BARIS

  8.

  VERBATIM KODING AWAL ANALISIS 1.

  2.

  3.

  4.

  5.

  6.

  7.

  9.

  18.

  10.

  11.

  12.

  13.

  14.

  15.

  16.

  17.

  19.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  73.

  63.

  64.

  65.

  66.

  67.

  68.

  69.

  70.

  71.

  72.

  74. Ukurannya besar atau kecil,

  61.

  Bu?

  Segini (menunjukkan besar ukuran benjolan dengan jari).

  Ooh.. masih agak kecil ya? Itu agak besar, Mbak. Ooh.. sudah agak besar gitu ya? Kalau di luar itu kayaknya segini. Ooh.. tapi ternyata waktu sudah diangkat itu besar di dalamnya ya , Bu? Ho’o. Itu cuma berupa benjolan aja apa ada lukanya?

  Enggak. Enggak. Cuma itu. Gak ada luka apa-apa. Cuma benjolan aja di dalam.

  Benjolan di dalam gak sakit tapi, Bu?

  Enggak. Wong tetangga saya sini itu gak tahu kalau saya itu punya kayak gitu. Tahunya mau operasinya.

  Waktu periksa dokter, juga langsung dokter nyuruhnya langsung operasi?

  Enggak. Waktu itu harus periksa ini, ini dulu. Di teliti itu, cek jantung dulu, terus torax, sama

  lab. Ya itu terus diambil sample nya. Waktu itu Dokter Kunto.

  Ukuran benjolan agak besar (GT) Gejala yang dirasakan adalah berupa benjolan saja dan tidak ada luka (GT) Tidak ada rasa sakit pada benjolan (GT) Gejala yang dirasakan adalah munculnya benjolan yang tidak terasa sakit dan tidak ada luka (GT)

  62.

  35.

  36.

  47.

  37.

  38.

  39.

  40.

  41.

  42.

  43.

  44.

  45.

  46.

  48.

  59.

  49.

  50.

  51.

  52.

  53.

  54.

  55.

  56.

  57.

  58.

  60.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  92.

  Jadi cuma saat itu saja? Iya. Saat itu aja. Abis itu udah. Jadi waktu Dokter bilang Ibu kena kanker, Ibu gak ngerasa Tidak ada riwayat keluarga terkena kanker (RK) Pada awalnya tidak mengetahui bahwa terkena kanker (GT) Terdiagnosis kanker Oktober 2011  1,5 tahun (LS) Kaget ketika divonis saja, setelah itu tidak karena ingin sembuh (Pngl.KD) Keluarga tidak ada yang memiliki riwayat sakit kanker (RK) Pada awalnya tidak memahami bahwa perubahan pada payudara merupakan gejala kanker (GT) Sakit kanker sudah 1,5 tahun (LS) Perasaan yang dialami adalah muncunya reaksi terkejut atas vonis yang diterima (Pngl.KD)

  Enggak. Enggak. Cuma kaget pas itu aja ya. Kan kanker. Tapi yaudah. Saya kan udah itu, yang penting kan pengen sembuh. Itu aja.

  Itu mulai periksa? Enggak. Mulai diangkatnya itu. Terus, waktu pertama kali Ibu dinyatakan kanker payudara sama Dokter, yang dirasakan Ibu apa waktu itu? Enggak ada. Ibu gak merasa gimana? Enggak. Sedih atau kaget?

  Itu 2011. Terus, saya itu bulan Oktober sekitar tanggal 13, 14.

  Ini tahun berapa, Bu ketahuannya?

  Kurang begitu tahu. Wong saya itu orang awam ya gak gitu tahu ya. Kirain apa, gitu aja.

  Terus kalau dari keluarga Ibu sendiri pernah ada riwayat kena penyakit kanker? Enggak ada yang pernah kanker. Sudah berapa lama, Bu sakit kanker ini?

  99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114.

  98.

  97.

  96.

  95.

  94.

  93.

  75.

  76.

  90.

  89.

  88.

  87.

  86.

  85.

  84.

  83.

  82.

  81.

  80.

  79.

  78.

  77.

  91.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Sama sekali nggak ada bu?

  Tidak ada perasaan sedih ataupun takut (Pngl.KD) Subjek memiliki keinginan untuk sembuh (Dm.TH) Tidak muncul pengalaman kesedihan yang mendalam (Pngl.KM) Subjek menghadapi masalah dengan keikhlasan, santai, dan tidak berpikir secara berat (Dm.PD) Subjek mampu menjalani kehidupannya dengan perasaan senang (Dm.PD)

  Tidak ada perasaan sedih, karena ingin sembuh dari kanker (Pngl.KD) Tidak ada perasaan takut (Pngl.KD) karena memiliki semangat untuk sembuh (Dm.TH) Tidak ada pengalaman kesedihan mendalam (Pngl.KM) Menghadapi masalah dengan ikhlas, tidak berpikir secara berat, menjalani dengan santai (Dm.PD) Menjalani hidup dengan senang (Dm.PD) Tindakan pengobatan saat ini mengkonsumsi air rebusan sarang semut (Pbt.NM)

  Sarang semut? Itu direbus? Iya. Dari Irian langsung.

  Ya itu, saya cuma itu, apa, alternatif aja. Itu, apa, rebus sarang semut.

  Terus selama sakit ini, tindakan pengobatan yang sudah Ibu lakukan apa aja, Bu?

  Gak ada. Saya buat senang sekarang. Kan sekarang kondisinya tubuh sudah berkurang to. Jadi kalau ada masalah yang gimana gitu nggak saya pikirkan. Santai.

  115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154.

  sedih?

  ngoyo , santai, gitu aja. Jadi enggak untuk beban-beban.

  Enggak ada. Dihadapi dengan senang, ikhlas, gitu aja. Berpikiran sekarang gak harus

  Terus, ada pengalaman merasakan kesedihan yang mendalam gitu?

  Kepengen sembuh.

  Merasa takut gak bu? Gak ada. Kenapa bu? Ya itu. Nomer 1 semangatnya itu.

  Enggak. Yang penting saya kepingin sembuh.

  Beban berat, enggak. Hehehehe…

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194.

  Efeknya di badan apa itu, Bu? Enak. Terus, kalau dari medis sendiri ada gak, Bu? Enggak. Kalau kemoterapi dulu Ibu iya? Iya. 4 kali. Berarti operasi, kemoterapi 4 kali, terus penyinaran iya gak, Bu? Enggak. Enggak. Obat-obatan dari dokter? Enggak. Cuma itu. Cuma herbal itu ya, Bu?

  Ho’o. Rebus sendiri. Di sini kan ada yang kerja di sana, terus dibawain itu langsung dari Irian. Kan waktu di Sardjito itu kan ada yang bilang, dia itu kan punya itu kanker di perut to, terus minum itu, sarang semut. Terus mengecil, mengecil, mengecil, terus hilang. Tapi dia itu setiap hari harus periksa untuk mengetahui perkembangannya. Terus saya juga sekarang gitu.

  • Mendapatkan dukungan dari teman (PDs.)
  • Mendapatkan bantuan untuk memperoleh obat herbal (Ds.Inst.)
  • Mendapatkan dukungan dari sesama pasien kanker (PDs.)
  • Mendapatkan informasi tentang pengobatan non medis (Ds.Inf.)

  Ooh gitu. Jadi lebih mengandalkan yang herbal, Bu? Ho’o. Terus sekarang masih kontrol Tidak mengkonsumsi obat medis (Pbt.M) Melakukan kemoterapi sebanyak 4 kali (Pbt.M) Tidak melakukan penyinaran (Pbt.M) Tidak mengkonsumsi obat dari dokter (Pbt.M) Pengobatan yang dilakukan obat herbal (Pbt.NM) Seorang teman membawakan sarang semut langsung dari Irian (Ds.Inst.) Dukungan dari teman  berbagi pengalaman tentang pengobatan menggunakan sarang semut (Ds.Inf.)

  Pengobatan medis yang dilakukan subjek  kemoterapi sebanyak 4 kali (Pbt.M) Untuk saat ini subjek melakukan pengobatan non medis  mengkonsumsi sarang semut (Pbt.NM)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  195. 196. 197. 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. 218. 219. 220. 221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231. 232. 233. 234.

  gak, Bu? Enggak. Hehehe.. Emang jatah kontrolnya sudah selesai apa Ibu yang berhenti? Ibu yang gak mau. Kenapa, Bu? Gakpapa. Hehehe.. Kenapa sih, Bu gak kontrol lagi? Gakpapa. Bosen, Bu? Iya. Hehehe. Terus ketika Ibu harus minum obat, harus kemo, itu yang Ibu rasakan apa, Bu?

  • Subjek mengalami kebosanan dalam berobat
  • Subjek memutuskan untuk berhenti berobat
  • Saat ini sudah tidak melakukan kontrol ke rumah sakit.

  Waktu itu, waktu habis kemo itu mual. Terus gak bisa apa-apa lagi.

  Lemes gitu gak, Bu?

  Iya. Terus sekarang kan saya maemnya maem buah, sayur- sayuran itu, tiap hari itu ya paling 2 macam maem buah, terus sayur-sayuran direbus, gitu. Terus maem goreng-gorengan dikurangi, terus yang berminyak- minyak dikurangi, pakai minyak cuma 1 kali. Sudah.

  Tapi kalau minum obat herbal ini gak ada perasan gimana gitu, Bu? Enggak. Enggak gimana-gimana.

  Enak.

  Sudah tidak melakukan kontrol ke rumah sakit (Pbt.M) Kehendak diri sendiri untuk berhenti kontrol (Dm.O) Merasa bosan ketika harus berobat terus-menerus (Pngl.B) Mengalami mual dan tidak bisa beraktivitas ketika melakukan pengobatan kemoterapi (Pngl.B) Kondisi tubuh melemah ketika melakukan pengobatan kemoterapi (Pngl.B)

  (Pngl.B)

  (Dm.O)

  Pengobatan kemoterapi yang dijalani subjek memberikan dampak negatif bagi tubuh subjek kondisi tubuh melemah dan mual sehingga subjek mengurangi aktivitasnya (Pngl.B)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  235. 236. 237. 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246. 247. 248. 249. 250. 251. 252. 253. 254. 255. 256. 257. 258. 259. 260. 261. 262. 263. 264. 265. 266. 267. 268. 269. 270. 271. 272. 273. 274.

  Ibu ada perasaan bosan gak sih bu harus berobat terus?

  Waktu kemo itu nggak. Kan pengen sembuh. Terus udah rampung kemo terus kontrol berapa bulan terus harus obat lagi, terus saya berhenti, sekarang minum sarang semut. Ya bosen. Ya gimana udah tau kondisi sendiri ya harus dijaga.

  Terus dengan kondisi Ibu yang sekarang ini, gimana sih, Ibu memandang diri Ibu sekarang?

  Yaa.. Gimana ya.. hehehe.. ya tetep biasa aja. Seperti dulu. Waktu habis operasi kan kayaknya minder, kurang PD. Sekarang ya itu, jalani aja kayak kehidupan yang kemaren, waktu ini masih ada.

  Kayak waktu sebelum operasi ya, Bu? Ho’o. dijalani aja dah biasa. Berarti apakah Ibu tetap memandang diri Ibu ini positif?

  • Ada semangat dan cara pandang yang positif terhadap diri sendiri

  Iya. Ya nomer 1 itu ya semangat, Mbak. Sama dorongan dari suami itu yang utama. Semangatnya itu harus punya.

  • Menerima dukungan sosial dari pasangan hidup (PDs.) Ada penerimaan diri yang positif  menerima diri apa adanya (Dm.PD)

  Berarti apa Ibu bisa menerima diri Ibu ini apa adanya dengan kekurangan yang ada setelah operasi ini?

  Iya. Harus. Harus mau. Kalau gak mau ya bagaimana, udah kayak

  Ketika kemoterapi tidak mengalami kebosanan. Ketika harus kontrol mengalami kebosanan (Pngl.B) Memutuskan untuk berhenti kontrol dan menggantinya dengan mengkonsumsi sarang semut (Pngl.B) Memandang diri seperti sebelum terkena kanker (Dm.PD) Ada pengalaman minder, tidak percaya diri ketika setelah operasi, namun saat ini sudah tidak ada (Dm.PD) Memandang diri secara positif dan memiliki semangat (Dm.PD) Menerima dukungan dari suami (PDs.) Mau menerima keadaan diri apa adanya (Dm.PD) Perasaan bosan muncul ketika subjek harus menjalani kontrol setiap bulan  subjek memutuskan untuk menghentikan pengobatan medis dan tidak melakukan kontrol ke rumah sakit (Pngl.B) Ada pandangan negatif terhadap diri sendiri setelah operasi, tetapi saat ini sudah memiliki pandangan positif terhadap diri sendiri. Terdapat pandangan yang sama terhadap diri sendiri seperti sebelum terkena kanker (Dm.PD)

  (Dm.PD)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  275. 276. 277. 278. 279. 280. 281. 282. 283. 284. 285. 286. 287. 288. 289. 290. 291. 292. 293. 294. 295. 296. 297. 298. 299. 300. 301. 302. 303. 304. 305. 306. 307. 308. 309. 310. 311. 312. 313. 314. gini. Hehehe..

  Harus dijalani ya, Bu? Iya. Dijalani dengan senang. Sebelum Ibu dinyatakan kanker, apa sih tujuan hidup Ibu?

  Waktu itu kan belum tahu kalau penyakitnya kayak gini, ya saya biasa-biasa aja. Terus saya waktu periksa, waktu Dokter bilang kayak gini, ya diterima. Harus dengan senang.

  Jadi apa ada perubahan tujuan hidup gak, Bu setelah Ibu dinyatakan sakit kanker ini? Enggak. Biasa aja. Tetep ya, Bu?

  Iya. Berjalan dengan hari-hari biasa itu. Iya, gak ada yang berubah. Hehehehe..

  Ada pengaruhnya gak sih, Bu penyakit ini sama kehidupan Ibu?

  Ada. Iya, ada. Ya itu, kalau ini kan harus dikurangin, nanti cepet capek, gitu.

  Ooh.. aktivitasnya dikurangi?

  Ho’o. ho’o. dikurangi. Sekarang gak ngoyo kok. Kan kalau capek istirahat dulu.

  Kalau di dalam pekerjaan sehari-hari ada pengaruhnya ya, Bu? Menjalani kehidupan dengan senang (Dm.PD) Berusaha menerima keadaan (Dm.PD) Mengurangi aktivitas supaya tidak cepat merasa lelah (Dm.PL) Beristirahat ketika sudah merasa lelah dalah beraktivitas (Dm.PL)

  Menjalani kehidupan dengan perasaan senang dan ada penerimaan diri yang positif  menerima diri apa adanya (Dm.PD) Mengatur kegitannya dengan cara memahami kondisi tubuh. Jika merasa lelah maka beristirahat dan mengurangi beberapa kegiatannya supaya tidak cepat merasa lelah (Dm.PL)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  315. 316. 317. 318. 319. 320. 321. 322. 323. 324. 325. 326. 327. 328. 329. 330. 331. 332. 333. 334. 335. 336. 337. 338. 339. 340. 341. 342. 343. 344. 345. 346. 347. 348. 349. 350. 351. 352. 353. 354.

  He’em.

  Tapi kalau dalam tujuan hidup gak ada perubahan ya, Bu? Gak ada. Sebelum dan setelah operasi pengangkatan tetap sama ya, Bu? Iya. Iya. Kenapa, Bu tujuan hidup yang Ibu punya bisa gak berubah?

  Ya kalau berubah ya giman a…

  Apa, Bu yang bikin Ibu tetap pada tujuan hidup Ibu?

  Ya semangatnya itu. Yang saya punya ya semangat. Nomer 1 itu. Yang pasti itu, nomer 1 semangatnya harus besar, gak boleh loyo. Ho’o. gak boleh loyo. Yang nomer 1 itu semangatnya besar.

  • Tujuan hidup yang dimiliki subjek pada saat ini adalah ingin memiliki umur yang panjang dan bisa menjalani kehidupan yang lebih baik.
  • Tujuan hidup subjek sebelum kanker sama saja dengan setelah kanker.
  • Tidak ada perubahan dalam tujuan hidup karena subjek merasa tidak ada yang berbeda dalam kehidupannya dan memiliki semangat yang besar.

  Kalau saat ini, apa sih bu, tujuan hidup ibu?

  Ya itu, kepengen punya umur panjang. Ya ngalir aja. Jalani dengan baik aja.

  Dari dulu seperti ini bu?

  Iya. Ya ngalir aja. Sebelum kanker seperti ini juga. Sama aja.

  Yang membuat sama saja gak ada perubahan itu apa bu?

  Ya kan tujuan dari hidup kan gini aja mengalir kayak air. Gak ada yang berubah juga. Jadi sama aja.

  Tidak ada perubahan tujuan hidup karena memiliki semangat yang besar (Dm.TH) Tujuan hidup saat ini  ingin memiliki umur panjang dan menjalani kehidupan dengan baik (Dm.TH) Tujuan hidup saat ini sama seperti tujuan hidup sebelum terkena kanker (Dm.TH) Tidak ada perubahan tujuan hidup karena merasa tidak ada yang berubah dalam hidup (Dm.TH)

  (Dm.TH)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  355. 356. 357. 358. 359. 360. 361. 362. 363. 364. 365. 366. 367. 368. 369. 370. 371. 372. 373. 374. 375. 376. 377. 378. 379. 380. 381. 382. 383. 384. 385. 386. 387. 388. 389. 390. 391. 392. 393. 394.

  Ya gini-gini aja mbak. Yang beda itu kegiatannya, aktivitasnya. Kalau dulu banyak sekarang dikurangi.

  Kalau menurut ibu, orang dengan kanker payudara itu apa masih bisa mengembangkan diri? Saya kira bisa mbak. Kenapa?

  Kan kita kanker, tapi njuk gak harus minder, gitu enggak. Harus tetap berjalan. Hari-harinya harus punya semangat biar bisa lebih lagi.

  Pengembangan diri yang seperti apa menurut ibu?

  Ya itu. Banyak. Semua bisa. Ya itu tadi, harus ada semangat hari- harinya.

  Terus kalau menurut Ibu sendiri, dengan kondisi Ibu seperti ini, adakah kemungkinan buat Ibu itu mengembangkan diri lebih lagi gak, Bu?

  Yaa, tenaganya kan sekarang berkurang, kan, jadi gak harus ngoyo-ngoyo seperti masih utuh kayak kemarin. Ya sekarang harus tahu sendirilah posisinya. Kalau gak ya gak. Gak usah dipaksa.

  Tapi Bu, masih mungkin gak sih Bu untuk Ibu lebih Memiliki pendapat bahwa orang dengan kanker payudara masih bisa mengembangkan diri (Dm.Pg.D) Orang dengan kanker payudara masih bisa berkembang karena tidak harus minder, kehidupan harus tetap berjalan dan harus punya semangat (Dm.Pg.D) Perkembangan diri yang bisa dicapai  semua hal bisa dicapai (Dm.Pg.D) Tenaga sudah tidak seperti dulu lagi, sehingga tidak memaksakan diri (Dm.Pg.D)

  Subjek memiliki pendapat bahwa setiap pasien kanker payudara masih mampu untuk mengembangkan diri dalam hal apapun. Karena walaupun memiliki kanker, kehidupan harus tetap berjalan, harus memiliki semangat, dan tidak harus minder.

  (Dm.Pg.D) Subjek tidak mampu untuk mengembangkan diri lagi dikarenakan sudah tidak memiliki tenaga seperti sebelum terkena kanker sehingga tidak mau memaksakan diri.

  (Dm.Pg.D)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Merasa tidak mampu untuk lebih mengembangkan diri (Dm.Pg.D) Keputusan diambil dengan melibatkan suami (Dm.O) Semua hal dibicarakan dengan suami (Dm.O) karena tinggal hanya dengan suami.

  mengembangkan diri lagi?

  Kurang tahu, Mbak. Kayaknya enggak. Hehehe..

  Terus kalau dalam hal pengambilan keputusan sehari- hari gitu, apakah Ibu melibatkan orang lain, atau keputusan Ibu sendiri? Sama suami. Dalam hal apa aja bu?

  Semua ya. Lha wong cuma sama suami, saya gak punya anak. Hehehe.

  Kalau keputusan pengobatan bagaimana bu?

  Ya sama suami. Waktu mau periksa-periksa itu ya bicara sama suami.

  Kalau berkegiatan apakah Ibu mencoba untuk mandiri atau melibatkan orang lain juga, Bu?

  395. 396. 397. 398. 399. 400. 401. 402. 403. 404. 405. 406. 407. 408. 409. 410. 411. 412. 413. 414. 415. 416. 417. 418. 419. 420. 421. 422. 423. 424. 425. 426. 427. 428. 429. 430. 431. 432. 433. 434.

  Berbagai macam keputusan dalam keluarga, dibicarakan dengan suami, termasuk keputusan dalam pengobatan (Dm.O)

  Keputusan pengobatan dibicarakan dengan suami (Dm.O) Berusaha untuk mandiri (Dm.O; Dm.PL) Bantuan dari saudara tanpa diminta oleh subjek (Ds.Inst)

  • Dalam berkegiatan subjek berusaha untuk mangerjakan segala sesuatunya secara mandiri (Dm.O;
  • Saudara-saudara banyak yang memberikan bantuan
  • Mendapatkan bantuan dalam berkegiatan tanpa diminta oleh subjek (Ds.Inst.)
  • Subjek tidak mendapatkan ijin untuk berkegiatan

  Rumah tangga

  Kegiatan ibu sehari-hari apa bu?

  Dm.PL)

  (PDs.)

  (Dm.O)

  Mandiri. Waktu itu kan, saya sebelum operasi kan saya sudah pikir-pikir, wah saya libatkan orang ini gak ya? Ini gak ya? Pengennya gak. Tapi gak tau, ternyata dari saudara-saudara yang memberikan sendiri. Bukan kita yang minta, tapi saudara yang ngasih.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • Keluarga mengkhawatirkan kondisinya (Ds.E)
  • Subjek menentukan kegiatan yang menjadi prioritasnya dan melihat kondisi tubuh dalam beraktivitas

  435. 436. 437. 438. 439. 440. 441. 442. 443. 444. 445. 446. 447. 448. 449. 450. 451. 452. 453. 454. 455. 456. 457. 458. 459. 460. 461. 462. 463. 464. 465. 466. 467. 468. 469. 470. 471. 472. 473. 474.

  Ada kegiatan lain gak bu? Gak boleh. Nanti ndakane capek. Terus dalam kehidupan sehari- hari, dengan kondisi Ibu yang seperti ini, bagaimana sih cara Ibu mengatur kehidupan Ibu sebagai Ibu rumah tangga?

  Ya harus pinter-pinter. Kalau kita mau itu, yang mana yang kita kerjakan dulu, mana yang nanti dulu, terus kira-kira kita badannya gak enak, gak bisa bekerja, berhenti dulu.

  Minta bantuan orang lain juga, Bu? Enggak. Enggak? Yang jadi tugas Ibu, dikerjakan sendiri? Iya. Dengan kekuatan dan kondisi Ibu, Ibu berusaha untuk mandiri ya, Bu?

  • Dalam beraktivitas, subjek tidak meminta bantuan orang lain, dan berusaha mengerjakan sendiri semampu subjek

  Iya. Gak minta bantuan orang lain.

  Ibu mengalami kesulitan gak bu untuk beraktivitas yang berat? Misalnya nyuci baju gitu gimana bu? Ooh. Ya dikerjakan sendiri.

  Misalnya mau angkat ember ya itu kan berat, nanti sedikit- sedikit. Saya itu gak mau merepotkan orang lain mbak. Apa yang saya bisa kerjakan sendiri ya saya kerjakan.

  Tidak diijinkan berkegiatan lain (Dm.O) karena khawatir akan cepat lelah (Ds.E) Harus pandai mengatur kegiatan, menentukan kegiatan yang menjadi prioritas dan melihat kondisi tubuh dalam beraktivitas (Dm.PL) Tidak meminta bantuan orang lain dalam beraktivitas (Dm.O; Dm.PL) Berusaha mengerjakan pekerjaan sendiri, semampunya tanpa meminta bantuan orang lain (Dm.O; Dm.PL) Tetap mengerjakan perkerjaannya sendiri walaupun berat. Berusaha semampunya (Dm.O; Dm.PL)

  (Dm.PL)

  (Dm.O; Dm.PL)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  475. 476. 477. 478. 479. 480. 481. 482. 483. 484. 485. 486. 487. 488. 489. 490. 491. 492. 493. 494. 495. 496. 497. 498. 499. 500. 501. 502. 503. 504. 505. 506. 507. 508. 509. 510. 511. 512. 513. 514.

  Terus kalau hubugan dengan orang lain sendiri, gimana sih hubungannya Ibu dengan orang lain, ya keluarga, ya tetangga?

  Baik-baik saja. Gak ada perubahan. Dari dulu sama sekarang sama aja.

  • Memiliki relasi positif dengan orang lain.
  • Tidak ada perbedaan hubungan dengan suami.

  Gimana sih bu, hubungan ibu dengan suami ibu saat ini? Pas sakit kanker ini? Ya baik.

  Sama aja. Gak ada yang beda.

  Suami ibu sering kasih bantuan bu? Iya. Bantuan yang sering diberikan dari suami ibu apa sih bu? Ya itu, semangat. Kalau dengan masyarakat di sini, bagaimana hubungan ibu?

  • Suami memberikan dukungan sosial (PDs.)
  • Mendapatkan dukungan berupa pemberian semangat

  Gimana?

  Orang lain tahu kondisi Ibu seperti ini, apakah mereka lebih dekat atau bagaimana? Lebih dekat. Bentuk dukungan yang diberikan dari masyarakat sini apa bu? Ya, kasih sayang. Mereka sering ngasih dukungan ke Ibu? Iya. Mendukung. Semangat itu.

  Tidak ada perubahan dalam relasi dengan orang lain (Dm.RP) Memiliki hubungan yang baik dengan suami dan tidak ada perbedaan (Dm.RP) Suami sering memberi dukungan (PDs.) Suami memberikan semangat (Ds.E) Terdapat hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat sekitar (Dm.RP) Masyarakat sekitar memberikan dukungan (PDs.) berupa kasih sayang (Ds.E) Masyarakat memberikan semangat (Ds.E)

  (Dm.RP)

  (Ds.E)

  • Terdapat relasi positif dengan masyarakat sekitar (Dm.RP)
  • Masyarakat sekitar memberikan dukungan sosial (PDs.)
  • Mendapatkan dukungan berupa pemberian kasih sayang dan semangat

  (Ds.E)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  515. 516. 517. 518. 519. 520. 521. 522. 523. 524. 525. 526. 527. 528. 529. 530. 531. 532. 533. 534. 535. 536. 537. 538. 539. 540. 541. 542. 543. 544. 545. 546. 547. 548. 549. 550. 551. 552. 553. 554.

  Siapa saja Bu, yang selama ini memberi dukungan? Semua. Lingkungan sini.

  Lingkungan sini kasih semangat.

  Suami? Iya. Tetangga? Iya. Keluarga besar juga Bu?

  Iya. Yang nomer 1 itu dukungan keluarga sini yang memberi semangat.

  Terus bentuk dukungan yang mereka berikan dan Ibu terima itu bentuknya seperti apa?

  Ya, kayak seperti apa ya? Kan kita gak usah minta kan udah tahu sendiri to. Kasih sayangnya itu kayaknya bertambah. Gak usah diucapkan kan kita sudah merasa sendiri.

  Kemudian bentuk dukungan yang paling sering suami Ibu berikan itu apa, Bu?

  Ya, kalau pas badannya gak enak, suami bilang gak usah dulu,

  pikiran e gak usah ngoyo

  , santai aja, gitu.

  Ooh.. berupa perhatian seperti itu ya, Bu?

  Iya. Kalau sekarang kan pikiran e harus selo.

  Yang memberikan dukungan  suami, masyarakat sekitar, keluarga besar (PDs.) Dukungan yang utama diberikan oleh keluarga besar subjek (PDs.) Bentuk dukungan dari keluarga besar  pemberian kasih sayang yang bertambah (Ds.E) Suami memberikan dukungan berupa perhatian dan meminta subjek untuk tidak terlalu lelah dalam beraktivitas dan berpikir (Ds.E)

  Subjek mendapat dukungan dari suami, keluarga besar dan masyarakat (PDs.) Pemberi dukungan terbesar  keluarga besar (PDs.) Perhatian yang diberikan suami semakin bertambah (Ds.E) Bentuk dukungan yang diberikan suami memberikan perhatian dan meminta subjek untuk tidak terlalu lelah dalam beraktivitas dan berpikir (Ds.E)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  555. 556. 557. 558. 559. 560. 561. 562. 563. 564. 565. 566. 567. 568. 569. 570. 571. 572. 573. 574. 575. 576. 577. 578. 579. 580. 581. 582. 583. 584. 585. 586. 587. 588. 589. 590. 591. 592. 593. 594.

  Terus cara suami, cara orang- orang itu memberikan dukungan kepada Ibu itu dengan cara seperti apa sih, Bu?

  • Subjek mendapatkan dukungan secara langsung dari pemberi dukungan (SPDs.)
  • Contoh bentuk dukungan : memberikan kasih sayang dan menghibur subjek (Ds.E) Banyak masyarakat sekitar yang tidak mengetahui tentang kanker, sehingga tidak ada yang memberikan informasi.

  Ya kasih sayang itu. Ditunjukkan pada saya, ya lewat menghibur. Dulu kan kayak gimana gitu, sekarang tambah lebih baik lagi.

  Terus kalau dukungan yang berupa pemberian informasi atau apa gitu iya gak, Bu?

  Kalau seperti itu, kan orang kampung kan gak tahu tentang hal itu. Lha tahunya baru saya ini yang mengalami kan, baru tahu. Oh, kayak gini to.

  Berarti dukungan yang selama ini Ibu terima itu dukungan secara emosional ya, Bu? Iya. Mereka memberikannya secara langsung kepada Ibu gitu ya? Iya. Terus diantara orang-orang itu tadi, yang memberikan dukungan paling besar atau yang paling berpengaruh itu siapa, Bu? Kakak ipar saya. Kenapa bu?

  Sebelum suami saya tau, saya cerita dulu sama kakak. Ya itu kan, kasih dorongan-dorongan. Sebelum daripada membesar,

  Dukungan diberikan secara langsung (SPDs.) berupa kasih sayang (Ds.E), menghibur subjek (Ds.E) Masyarakat sekitar tidak ada yang memberikan dukungan informatif.

  Dukungan yang utama diberikan oleh kakak ipar (PDs.) Kakak ipar subjek mengetahui lebih dulu

  Pemberi dukungan yang utama adalah kakak ipar (PDs.)

  • Subjek diberi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  595. 596. 597. 598. 599. 601. 602. 603. 604. 605. 606. 607. 608. 609. 610. 611. 612. 613. 614. 615. 616. 617. 618. 619. 620. 621. 622. 623. 624. 625. 626. 627. 628. 629. 630. 631. 632. 633. 634. 635. saya disuruh periksa. Kan sebelum saya periksa, saya mikir, nanti merepotkan orang apa enggak. Ternyata membutuhkan orang lain juga. Saya takut, saya nanti merepotkan tetangga gak ya, saya cerita sama kakak. Setelah satu bulan, saya disuruh periksa.

  • Kakak ipar subjek yang pertama mengetahui penyakit subjek (Pds.) Subjek mendapatkan kasih sayang dari kakak ipar (Ds.E) Dukungan sosial yang diterima menyebabkan munculnya perasaan senang, tidak memikirkan penyakitnya, menjadi enjoy dalam beraktivitas dan mengurangi beban penderitaan (Pngrh.Ds.) Tidak ada pengalaman tdak didukung. Semua yang dilakukan oleh orang lain dianggap sebagai dukungan (PTD)

  Sampai sekarang, kakak ipar terus medukung ibu?

  Iya. Semakin sayang. Dalam kondisi saya seperti ini, dia semakin sayang.

  Terus, gimana sih Bu pengaruh dari dukungan-dukungan itu pada kehidupan Ibu? Senang. Jadi lebih senang?

  Iya. Senang. Gak pikiran. Gimana yo? Pokokmen senenglah, gitu. Enjoy aja, gitu aja.

  Mengurangi beban juga, Bu? He’e. Pernahkah gak sih Bu, Ibu itu punya pengalaman tidak mendapatkan dukungan? Gak ada. Jadi selama ini, apa yang orang lain berikan kepada Ibu itu, Ibu terima sebagai bentuk dukungan?

  Iya. Kan cara orang mendukung kan itu beda. Pokoknya saya gak

  daripada suami subjek dan mendorong subjek untuk segera berobat (Ds.E) Kakak ipar semakin menunjukkan kasih sayangnya kepada subjek (Ds.E) Dukungan sosial menyebabkan subjek merasa senang (Pngrh.Ds.) Dukungan sosial menyebabkan subjek tidak memikirkan penyakitnya, menjadi tambah senang, enjoy dalam menjalani hidup, dan mengurangi beban (Pngrh.Ds.) Tidak pernah mendapatkan pengalaman tidak didukung (PTD) Semua yang diberikan orang lain dianggap sebagai bentuk dukungan karena menurut subjek cara orang lain dalam mendukung ipar untuk segera berobat. (Ds.E)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  636. anggap kalau gak mendukung.

  berbeda-beda (PTD)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Itu kerasa sakit gak, Bu?

  28.

  29.

  30.

  31.

  32.

  33. Bisa ibu menceritakan

  bagaimana awal mula Ibu itu dinyatakan sakit kanker payudara?

  Waktu itu terasanya nyeri di lengan tangan kiri. Sering. Terus ibu saya kan orang kesehatan terus di liat katanya ada benjolan. Katanya mungkin kanker. Saya bawa ke dokter, memang kanker katanya.

  Benjolannya di sebelah mana, Bu? Di payudara kiri atas sini mbak.

  Benjolannya diam.

  Sakitnya kalau pas tangannya linu-linu ya ini sakit juga. Nek gak ya gak.

  26.

  Ada gejala lainnya, Bu?

  Oiya ada. Puting saya tuh masuk, Mbak.

  Itu kerasa sakit juga gak, Bu?

  Enggak. Sakitnya cuma benjolannya itu.

  Dari keluarga Ibu apa ada yang sebelumnya pernah kanker juga? GT : lengan tangan kiri sering terasa sakit, terdapat benjolan.

  GT : benjolan di payudara kiri atas.

  GT : rasa sakit pada benjolan.

  GT : pertumbuhan puting yang tidak normal.

  RK : Tidak ada riwayat GT : Gejala yang dirasakan adalah rasa sakit pada lengan kiri, rasa sakit pada benjolan di payudara kiri atas, pertumbuhan puting tidak normal.

  RK : Tidak ada riwayat

  27.

  Lampiran 5. Transkrip Verbatim Wawancara dan Analisis Data Subjek 2 (Ibu K)

  BARIS

  11.

  VERBATIM KODING AWAL ANALISIS 1.

  2.

  3.

  4.

  5.

  6.

  7.

  8.

  9.

  10.

  12.

  24.

  13.

  14.

  15.

  16.

  17.

  18.

  19.

  20.

  21.

  22.

  23.

  25.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Apa sih yang membuat Ibu sampai merasa seperti itu?

  66.

  67.

  68.

  69.

  70.

  71.

  72.

  73.

  74. Ibu sudah berapa lama sakit

  kanker ini? Besok Juli itu 2 tahun. Ketika dokter menyatakan kalau Ibu sakit kanker payudara, yang Ibu rasakan waktu itu apa, Bu?

  Kaget, Mbak. Bingung. Sedih juga. Gak tau lah, Mbak waktu itu (diam sejenak). Kayaknya dunia udah gelap. Kayaknya dunia berhenti.

  Bahaya kanker, Mbak. Saya kan ya ada kenalan yang kanker, terus ada yang sembuh, tapi ada yang meninggal juga. Jadinya gimana ya, takut waktu itu. Sempat juga dulu awal-awal kalau mau tidur, malem, sok nanyake kok aku kena kanker gini kenapa. Gitu.

  64.

  Apakah Ibu juga mengalami pengalaman kesedihan yang mendalam selama sakit ini?

  Eemm.. Enggak, Mbak. Cuma waktu itu aja kok. Abis itu gak.

  Apa yang bikin Ibu gak mengalami kesedihan yang mendalam?

  Pokoknya dari saya gak mau sampai nglokro. Dokter juga bilang gak boleh sedih, gak boleh susah. Terus kalau, ini, apa, antri sinar itu kan ketemu teman yang

  LS : Juli 2013 genap 2 tahun.

  Ketika divonis, subjek merasa kaget, bingung, sedih, merasa dunia gelap, merasa dunia berhenti berputar (Pngl.KD) Penyebab munculnya perasaan tersebut : bahaya dan konsekwensi dari kanker.

  Pada saat itu subjek mengalami ketakutan dan Mempertanyakan keadaan.

   (Pngl.KD) Subjek tidak mengalami keterpurukan (Pngl.KM) Subjek mengalami kesedihan hanya ketika divonis (Pngl.KD)

  LS : Sakit kanker payudara hampir 2 tahun Pngl.KD : muncul reaksi terkejut, bingung, perasaan sedih, merasa dunia gelap, dan merasa dunia seolah berhenti berputar.

  Adanya pemahaman mengenai bahaya dan konsekwensi dari kanker.

  Pngl.KD : muncul perasaan takut dan mempertanyakan keadaan.

  Subjek merasa tidak adanya keterpurukan yang dialami (Pnglm.KM) Perasaan sedih muncul hanya pada saat divonis (Pngl.KD)

  65.

  63.

  35.

  48.

  36.

  37.

  38.

  39.

  40.

  41.

  42.

  43.

  44.

  45.

  46.

  47.

  49.

  62.

  50.

  51.

  52.

  53.

  54.

  55.

  56.

  57.

  58.

  59.

  60.

  61.

  • Memiliki niat dari dalam diri sendiri untuk tidak sedih yang berlarut-larut.
  • Mendapat arahan dari dokter (PDs.) supaya tidak sedih dan tidak merasa susah (Ds.Inf.)
  • Bertemu dan bercerita payudara.
  • Memiliki perasaan positif terhadap kehidupan yang terjadi (Dm.PD)
  • Mendapatkan dukungan sosial dari dokter (PDs.)
  • Mendapatkan arahan dalam menghadapi vonis kanker (Ds.Inf.)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  75.

  76.

  77.

  78.

  79.

  (Ds.JS) dengan teman sesama pasien kanker (PDs.)

  Jadi ibu hanya awal-awal saja merasa sangat sedih?

  • Subjek mengalami perasaan negatif berupa rasa sedih ketika sebelum operasi.
  • Setelah operasi dilakukan, subjek mengalami perasaan positif, yaitu merasa lega karena sel kanker yang terdapat pada tubuh subjek sudah diangkat.

  83.

  81.

  Subjek merasa bahwa perasaan sedih hanya terjadi beberapa hari. (Pngl.KM) Memiliki perasaan positif terhadap kehidupan yang terjadi (Dm.PD) Pbt.M : Kemoterapi 6x, penyinaran setiap hari selama 1 bulan, vitamin selama 3 tahun, kontrol konker setiap bulan 1x, kontrol keseluruhan tubuh setiap 6 bulan 1x.

  Setiap 6 bulan 1x cek keseluruhan tubuh. bercerita dengan sesama penderita kanker (Ds.JS)

  Melakukan kemoterapi 6x, penyinaran setiap hari selama 1 bulan (Pbt.M) Mengkonsumsi vitamin selama 3 tahun (Pbt.M) Pbt.M : Setiap bulan 1x cek kanker.

  4 hari mengalami kesedihan (Pngl.KM) Memiliki keinginan dan semangat untuk tidak boleh sedih yang berlarut-larut.

  Mengalami kesedihan ketika awal periksa sampai sebelum operasi (Pngl.KD) Merasa lega karena sel kanker sudah diangkat.

  80.

  Iya. Sebulan sekali kan dicek kankernya. Terus setiap 6 bulan sekali cek semua. Yang kemarin hasilnya bagus. Ini besok tanggal 24 cek semua, semoga hasilnya bagus. Hehehe.

  Kalau obat yang diminum ada ga, Bu? Ada. Vitamin. Itu selama 3 tahun. Jadi selama 3 tahun ini Ibu masih berobat terus?

  Kemoterapi 6x, sinar itu sebulan tapi setiap hari di Sardjito.

  Terus selama sakit ini, tindakan pengobatan yang sudah Ibu lakukan apa aja, Bu?

  Bentar. Kan periksa kamis, terus senin operasi, ya cuma 4 hari lah. Pokoknya habis operasi saya ga boleh nglokro. Niat saya itu, Mbak. Harus semangat. Kan semangat datangnya dari diri sendiri.

  Berapa lama Ibu merasakan sedih itu?

  Hehehe…

  Iya. Ya pas periksa pertama sampai mau operasi. Habis operasi ya biasa aja. Karena kan sel kankernya udah diangkat jadi saya rodo lego.

  99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. sama-sama kanker jadi sok cerita- cerita.

  84.

  98.

  97.

  96.

  82.

  94.

  93.

  92.

  91.

  90.

  89.

  88.

  87.

  86.

  85.

  95.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pbt.NM : air rebusan daun sirsat, buah sirsat.

  Memiliki perasaan positif terhadap kehidupan yang terjadi  pasrah dan menerima keadaan (Dm.PD) Perasaan yang muncul setelah operasi  merasa minder, malu, dan tidak PD bertemu orang dikarenakan takut jika ditanya seputar penyakitnya (Dm.PD) Perasaan yang muncul saat ini  tidak minder dan sudah percaya diri bila bertemu orang lain (Dm.PD) Dampak positif : Tidak

  Pengobatan kemoterapi yang dijalani subjek memberikan dampak negatif bagi tubuh subjek kondisi tubuh melemah dan mual (Pngl.B) Tetap menjalani pengobatan apapun konsekwensinya karena ingin sembuh.

  Pbt.NM : mengkonsumsi buah sirsat, air rebusan daun sirsat.

  Sehabis operasi merasa minder, malu, dan tidak PD bertemu orang. Merasa takut kalau ditanya seputar penyakitnya (Dm.PD) Sekarang sudah mampu menerima keadaan Dengan memiliki rasa percaya diri dan tidak malu

  Dm.PD : Pasrah dan menerima keadaan apa adanya.

  Pengobatan selain kemo merasa biasa saja. Tetap menjalani pengobatan beserta konsekwensinya karena memiliki keinginan untuk sembuh.

  Pngl.B : mual dan lemas setelah kemoterapi.

  Tidak mempercayai pengobatan non medis.

  115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154.

  Amin. Emm, ibu apakah juga pakai obat herbal atau alternatif?

  Berarti Ibu tetap PD dengan kondisi Ibu sekarang?

  Iya. Waktu habis operasi saya sempat minder, gak PD ketemu orang. Takutnya malah ditanya- tanya. Saya malu. Tapi saya pikir buat apa minder, malu, malah beban saya. Jadi ya sekarang gak.

  Ibu pernah merasa gak PD dengan kondisi Ibu?

  Yaa.. Menerima. Pasrah. Gak boleh susah. Gimana ya? Ya diterima aja sih, Mbak. Udah jalan Tuhan, takdir seperti ini.

  Kemudian, saat ini gimana sih Ibu memandang diri Ibu sendiri?

  Habis kemo mual, lemes ya. Tapi yang lain gak. Biasa aja. Cuma kemo itu aja yang mual, terus lemes. Tapi ya gimanapun harus dijalani. Karna saya kan niatnya mau sembuh. Itu aja.

  Yang Ibu rasakan ketika harus berobat apa, Bu?

  Kalau herbal pakai daun sirsat yang direbus itu. Sama buahnya saya makan. Tapi nek alternatif gak. Saya gak percaya. Malah boros, tapi gak tentu sembuh.

  Harus Mbak. Justru malah kalau PD gini, berani ketemu orang,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Apa sih Bu, yang bisa membuat seperti itu?

  Memiliki perasaan positif terhadap kehidupan yang terjadi  pasrah, bersyukur, dan berusaha untuk menjadi pribadi yang kuat dan tegar (Dm.PD) Tujuan hidup yang dimiliki saat ini adalah ingin membahagiakan anak-anak (Dm.TH) Tujuan hidup yang dimiliki subjek sudah ada sejak subjek menikah (Dm.TH) Subjek merasa tidak ada perubahan dalam tujuan hidup (Dm.TH) Semenjak kanker, memiliki semangat yang lebih untuk memperjuangkan tujuan hidup (Dm.TH) Subjek memiliki tujuan hidup yang sama karena subjek memikirkan anak-

  Sejak sakit memiliki semangat yang lebih untuk memperjuangkan tujuan hidupnya (Dm.TH) Tujuan hidup tidak berubah karena mengingat anak, sehingga harus berusaha penyakitnya.

  Memiliki tujuan hidup sejak menikah. Tujuan hidup untuk anak-anak (Dm.TH) Tidak ada perubahan tujuan hidup sejak sakit. Tujuan hidup tetap untuk anak- anak.

  Dm.TH : Tujuan hidup untuk anak-anak, ingin membahagiakan anak-anak.

  Dm.PD : Memandang diri positif, pasrah, mensyukuri keadaan, berusaha untuk tegar, kuat.

  bertemu orang lain, maka akan membantu untuk tidak memikirkan penyakitnya.

  Apa ya, karena anak saya kan masih kecil Mbak, masih SMA. Jadi saya ya harus berusaha,

  155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. kan ada kegiatan, jadi gak kepikiran sakitnya malah.

  Ibu tetap memandang diri Ibu positif dan menerima keadaan?

  Kemudian ketika Ibu dinyatakan kanker, apakah tujuan hidup Ibu berubah?

  Iya. Pokoknya ketika saya nikah, punya anak, apa yang saya lakukan itu untuk anak saya.

  Apakah tujuan hidup yang Ibu punya itu dari dulu seperti itu?

  Oh iya. Ada. Tujuan hidup saya untuk anak-anak. Pokoknya apa yang saya lakukan, semua untuk kebahagiaan anak, sampai anak saya menikah.

  Iya, jadi kan kita setiap manusia pasti punya tujuan hidup ya, Bu. Nah, tujuan hidup Ibu itu seperti apa?

  Gimana? Maksudnya?

  Ibu, apa sih tujuan hidup Ibu?

  Iya. Pasrah. Disyukuri. Kalau merasa sedih gitu ya berdoa. Pokoknya harus kuat, tegar.

  Enggak. Tetep untuk kebahagiaan anak saya. Justru semakin apa ya, jadi semakin kuat buat berjuang untuk anak-anak.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  195. 196. 197. 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. 218. 219. 220. 221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231. 232. 233. 234. semangat.

  Pengobatan yang ada sekarang mampu menyembuhkan kanker sehingga masih ada kesempatan untuk mengembangkan diri.

  Dm.Pg.D : Orang dengan kanker payudara harus bisa mengembangkan diri.

  Dm.PL :

  Kegiatan sehari-hari : ibu rumah tangga.

  Karena tidak ada perubahan dalam diri, memiliki kemauan untuk berkembang, dan sudah merasa sembuh.

  (Dm.TH) Subjek memiliki pendapat kalau orang dengan kanker payudara masih bisa mengembangkan diri (Dm.Pg.D) Pengembangan diri bisa dilakukan karena pengobatan kanker yang ada sekarang mampu menyembuhkan kanker, sehingga para penderita kanker masih mampu untuk mengembangkan diri (Dm.Pg.D) Dm.Pg.D : Merasa masih bisa mengembangkan diri.

  Gimana cara Ibu mengatur kegiatan Ibu itu?

  Karena sudah merasa sembuh dan tidak merasa ada perubahan dalam diri.

  Ibu rumah tangga

  Kegiatan sehari-hari Ibu apa, Bu?

  Hehehe…

  Masih Mbak. Karena diri saya gak ada yang berubah. Cuma ini aja diambil 1 (payudara). Yang lainnya tetep sama. Ada kemauan. Saya juga merasa udah sembuh kok.

  Jadi masih bisa mengembangkan diri ya, Bu? Iya. Masih. Kalau Ibu sendiri, masih mungkin untuk mengembangkan diri?

  Ya kan sekarang udah ada obatnya, pasti sembuh, jadi pasti bisa lebih berkembang. Makanya itu lho kan kanker kan gak gampang ketahuan, jadi sering dicek, Mbak. Jadi kalau ada apa- apa kan ketahuannya masih awal, masih bisa sembuh total.

  Menurut Ibu, apakah orang dengan kanker payudara itu masih bisa untuk mengembangkan diri? Iya. Harus. Kenapa, Bu?

  Dm.Pg.D : Merasa mampu untuk mengembangkan diri.

  • Kegiatan sehari-hari sudah menjadi rutinitas sehingga tidak mengalami kesulitan.

  Dm.PL : Tidak kesulitan menjalani pekerjaan sehari- hari karena sudah menjadi rutinitas. Dibantu oleh

  Ya dijalani aja, Mbak. Sudah jadi kerjaan sehari-hari jadi ya gak

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • Selalu menggunakan jasa asisten rumah tangga.

  235. 236. 237. 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246. 247. 248. 249. 250. 251. 252. 253. 254. 255. 256. 257. 258. 259. 260. 261. 262. 263. 264. 265. 266. 267. 268. 269. 270. 271. 272. 273. 274. sulit. Pokoknya jalani aja. Ada pembantu yang bantu.

  Ibu ada kegiatan lain gak, Bu? Misalnya kegiatan di lingkungan? Arisan. Paling ya kerja bakti.

  Tapi nek kerja bakti anak saya yang gantikan datang. Saya cuma paling nyiapin minum.

  Kalau ada kegiatan lain di samping pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, gimana cara Ibu mengaturnya?

  Saya kalau kegiatan kan cuma arisan, itu aja sebulan sekali dan sore. Jadi ya gak gimana-gimana. Dijalani aja pokoknya.

  Dulu ketika Ibu sehabis operasi atau pengobatan itu, gimana cara mengatur kegiatan Ibu?

  Habis operasi itu, sembuh, saya masih nganter anak saya sekolah naik motor. Anak saya kan belum bisa naik motor. Tapi pas kemo itu saya minta dibantu saudara saya buat antar anak saya. Kan lemes, Mbak. Gak bisa apa-apa. Baru mau sehat aja, udah harus kemo lagi.

  Kalau mengatur pekerjaan rumah tangga gimana, Bu waktu Ibu masih kemo?

  Ini untungnya kan saya pakai pembantu, jadi enak ada yang bantu. Dia yang ngerjain. Saya gak kuat.

  pembantu rumah tangga.

  Kegiatan lain : arisan, kerja bakti. Anak subjek (PDs.) menggantikan subjek datang ke acara kerja bakti (Ds.Inst.), subjek hanya menyediakan minum (Dm.PL) Kegiatan lain tidak banyak menyita waktu, sehingga tidak kesulitan mengaturnya (Dm.PL) Setelah sembuh dari operasi masih mampu mengantar anak ke sekolah (Dm.PL) Ketika kemoterapi saudara (PDs.) membantu untuk mengantar anaknya ke sekolah (D.Inst.), karena merasa lemas  Dm.PL Selama kemoterapi, kegiatan pekerjaan rumah tangga diserahkan seluruhnya ke pembantu rumah tangga (Dm.PL)

  Dm.PL : Ada pembagian tugas bermasyarakat dengan anak.

  Mendapat bantuan dari anak (PDs.) Anak menggantikan subjek menghadiri acara kerja bakti (Ds.Inst.) Subjek mampu mengatur kegiatannya karena kegiatannya tidak terlalu banyak menyita waktu (Dm.PL) Memiliki kemampuan untuk melakukan rutinitas mengantar anak ke sekolah walaupun dalam kondisi setelah operasi (Dm.PL) Dm.PL : Mendapatkan bantuan dari saudara (PDs.) Saudara membantu mengantar anak subjek ke sekolah (Ds.Inst.) Menyerahkan seluruh pekerjaan rumah tangga kepada asisten rumah tangga (Dm.PL)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  275. 276. 277. 278. 279. 280. 281. 282. 283. 284. 285. 286. 287. 288. 289. 290. 291. 292. 293. 294. 295. 296. 297. 298. 299. 300. 301. 302. 303. 304. 305. 306. 307. 308. 309. 310. 311. 312. 313. 314.

  Kemudian dalam hal pengambilan keputusan sehari- hari, Ibu terbiasa untuk memutuskan sendiri atau meminta pertimbangan?

  Kebanyakan sendiri ya. Lha mau minta pertimbangan suami, tapi suaminya kan jauh. Paling kalau hal-hal biasa ya saya putuskan sendiri. Kalau hal penting sekali ya saya minta pertimbangan suami saya, saya telpon, kalau gak ya orang tua saya.

  Kalau pengambilan keputusan pengobatan, Bu? Sama suami, sama orang tua.

  Tapi lebih ke suami ya. Karena kan yang biayain juga suami. Kan waktu berobat pertama kan dokter juga minta suami saya dateng ke rumah sakit. Dokter kasih penjelasan dan meminta persetujuan suami saya. Suami saya juga malah dukung saya untuk operasi diangkat.

  Bagaimana hubungan Ibu dengan suami Ibu saat ini?

  Baik-baik saja. Jadi tambah perhatian malah. Sering telpon. Dulu waktu masih di Jakarta setiap sabtu pasti pulang. Tapi sekarang jauh jadi ya cuma teplon. Saya itu beryukur punya suami yang menurut saya sempurna. Dia itu kerja jauh, tapi kalau pulang pasti bantu kerjaan rumah.

  Dm.O : Hampir seluruh keputusan diambil tanpa meminta pertimbangan orang lain.

  Untuk hal biasa, keputusan diambil sendiri, untuk hal penting keputusan meminta pertimbangan suami atau orang tua.

  Keputusan pengobatan : meminta pertimbangan suami dan orang tua. Lebih banyak meminta pertimbangan suami. Hal ini karena suami yang membiayai dan pihak rumah sakit meminta persetujuan suami (Dm.O) Memiliki hubungan yang baik dengan suami. Suami semakin perhatian, sering menelepon (Ds.E), sering membantu pekerjaan rumah (Ds.Inst.)Dm.RP

  Dm.O : Hampir seluruh keputusan dalam keluarga (hal biasa) ditentukan sendiri, namun jika merupakan keputusan penting meminta pertimbangan suami atau orang tua.

  Dm.O : Dalam hal tindakan pengobatan kanker payudara meminta pertimbangan suami dan orang tua.

  Dm.RP :

  • Suami ada hubungan semakin baik
  • JDs. : semakin perhatian (Ds.E), sering menelepon

  (Ds.E), sering membantu pekerjaan rumah (Ds.Inst).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Memiliki hubungan yang baik dengan saudara dan masyarakat sekitar. Banyak yang memberi semangat (Ds.E)Dm.RP Memiliki relasi sosial yang semakin baik, tanpa diistimewakan. Kedekatan dirasakan kerena dukungan semangat yang diterima (Dm.RP) Memberi dukungan, menjenguk ke rumah sakit (Ds.E), saling memberi kabar kepada teman sesama penderita kanker (Ds.JS) Suami (PDs.) memberi perhatian, dukungan, dan semangat (Ds.E). Orang tua (PDs.) mendampingi selama pengobatan (Ds.E).

  315. 316. 317. 318. 319. 320. 321. 322. 323. 324. 325. 326. 327. 328. 329. 330. 331. 332. 333. 334. 335. 336. 337. 338. 339. 340. 341. 342. 343. 344. 345. 346. 347. 348. 349. 350. 351. 352. 353. 354.

  Kalau hubugan Ibu dengan lingkungan?

  Baik. Jadi banyak yang kasih semangat. Sama siapa saja dekat, Mbak. Saudara-saudara juga. Banyak yang dateng kasih semangat saya.

  • Lingkungan sosial : memiliki hubungan yang baik
  • JDs. : banyak yang memberi semangat

  Biasa saja. Tapi banyak yang kasih semangat. Jadi merasanya dekat.

  Mereka sering ngasih dukungan ke Ibu?

  Iya. Banyak dulu yang datang ke rumah sakit. Rombongan. Sampai kamarnya penuh. Tengok saya. Sekarang juga. Suka kabar- kabaran sama yang kanker juga yang kenal waktu sinar. Tanya kabar.

  Semua ya, Mbak. Terutama suami. Ya walaupun jauh, tapi suami tetep kasih saya perhatian, dukungan, semangat. Orang tua saya juga mendampingi saya. Anak-anak sok bilang udah gak usah dipikirin.

  • Suami : memberi perhatian (Ds.E), mendukung (Ds.E) memberikan semangat (Ds.E).
  • Orang tua : mendampingi (Ds.E)
  • Anak : memberikan saran (Ds.Inf.)
  • Teman SMA : menanyakan kabar

  Ada lagi, Bu?

  Teman SMA saya. Mereka tahu karena kan perawatnya di Bethesda itu kan salah satunya

  Ada hubungan yang tambah baik ya, Bu? Iya. Tapi terus gak dispesialkan.

  Anak (PDs.) memberikan saran (Ds.Inf.) Teman SMA (PDs.) menanyakan keadaan (Ds.E), sering mengajak dan menjemput ketika ada kegiatan (Ds.JS)

  (Ds.E) Dm.RP : Ada relasi sosial yang semakin baik tanpa diistimewakan.

  JDs. : Memberi dukungan (Ds.E), menjenguk ke rumah sakit (Ds.E), saling memberi kabar kepada teman sesama penderita kanker (Ds.JS) PDs. : suami, orang tua, anak, teman SMA JDs. :

  Siapa saja sih Bu, yang selama ini memberi dukungan?

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  355. 356. 357. 358. 359. 360. 361. 362. 363. 364. 365. 366. 367. 368. 369. 370. 371. 372. 373. 374. 375. 376. 377. 378. 379. 380. 381. 382. 383. 384. 385. 386. 387. 388. 389. 390. 391. 392. 393. 394. kan teman SMA saya. Jadi dia itu nyebarin berita ke teman-teman SMA saya. Mereka terus pada hubungi saya. Ngaruhke lah istilahnya. Kalau ada acara kumpul teman SMA saya diajak.

  Dijemput. Jadi buat kegiatan.

  Diantara mereka itu, siapa sih pemberi dukungan yang paling besar untuk Ibu?

  Suami dan keluarga ya, anak, orang tua saya.

  Kenapa, Bu?

  Ya kan namanya suami, walaupun jauh pasti kasih dukungan, kirim biaya berobat juga. Hehehe.. Mahal, Mbak. Hehehe.. Kalau keluarga, orang tua, kan mereka yang mendampingi saya terus. Dari saya operasi sampai sekarang. Mereka-mereka yang buat saya bisa kuat, bisa semangat.

  • Suami : membiayai pengobatan (Ds.Inst.), memberikan kekuatan dan semangat (Ds.E).
  • Keluarga dan orang tua : mendampingi (Ds.E), menyemangati (Ds.E).
  • Anak : mengantar berobat (Ds.Inst.)
  • Teman : memberikan semangat (Ds.E), mengajak berkegiatan

  Dukungan apa saja yang selama ini Ibu terima?

  Kalau dari suami ya dikasih semangat, dikirim uang untuk biaya berobat saya. kalau keluarga, orang tua juga memberi semangat. Anak saya itu sekarang kan udah bisa naik motor, itu suka nganterin saya ke rumah sakit.

  Kalau dukungan dari teman- teman Ibu

  Kasih semangat. Mereka sering

  Dukungan yang paling besar diberikan oleh suami, anak, dan orang tua (PDs.) Suami memberikan dukungan (Ds.E) dan biaya berobat (Ds.Inst.) Keluarga dan orang tua memberikan pendampingan sejak operasi sampai pengobatan (Ds.E) Suami, keluarga, dan orang tua memberikan kekuatan dan semangat (Ds.E) JDs. : dari suami  pemberian semangat (Ds.E), biaya pengobatan (Ds.Inst.) dari keluarga dan orang tua  memberikan semangat (Ds.E) dari anak : mengantar berobat (Ds.Inst.) Dari teman  memberi

  (Ds.E), mengajak berkegiatan bersama (Ds.JS)

  PDs. terbesar : suami, keluarga, anak, orang tua JDs. :

  (Ds.JS), memberi bantuan biaya berobat (Ds.Inst.)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  395. 396. 397. 398. 399. 400. 401. 402. 403. 404. 405. 406. 407. 408. 409. 410. 411. 412. 413. 414. 415. 416. 417. 418. 419. 420. 421. 422. 423. 424. 425. 426. 427. 428. 429. 430. 431. 432. 433. 434. jemput saya buat ikut kemana- kemana, gitu. Penggalangan dana juga lho. Sampai jutaan itu. Ya itu gara-gara teman saya yang perawat ngasih tahu ke temen- temen malah pada ngumpulin dana buat saya. Ya saya merasa terbantu sekali ya, Mbak.

  Gimana sih Bu, cara mereka memberikan dukungan ke Ibu?

  Langsung. Datang ke rumah sakit waktu dulu saya masih opname. Datang ke rumah.

  Suami Ibu kan di luar kota, gimana cara suami Ibu untuk memberikan dukungan?

  Ya telpon tiap malem. Nanyain kabar. Tanya kondisi. Tiap telpon pasti menyemangati saya.

  Terus, gimana sih Bu pengaruh dari dukungan-dukungan yang Ibu terima itu buat hidup Ibu?

  Jadi tambah semangat. Jadi merasa bahwa kanker bukan akhir dari segalanya. Kepedulian orang-orang itu luar biasa. Kenal sama orang-orang yang kanker juga jadi merasa tidak sendiri. Dari cerita-cerita itu kan ternyata ada yang lebih parah dari saya, saya jadi merasa oh ternyata saya masih lebih beruntung. Pokoknya jadi tambah semangat. Tapi tetep yang utama semangat datang dari dalam diri sendiri. Orang lain mau gimana-gimana kalau kitanya gak ada niat ya sama aja.

  semangat (Ds.E), mengajak pergi (Ds.JS), bantuan biaya (Ds.Inst.) SPDs. : Memberikan secara langsung. Mengunjungi ke rumah dan ke rumah sakit (Ds.E) SPDs.  suami menelpon setiap malam, menanyakan kabar dan keadaan, dan memberikan semangat (Ds.E) Dukungan sosial menyebabkan subjek merasa tambah bersemangat (Pngrh.Ds.) Dukungan sosial menyebabkan subjek merasa tidak sendiri (Pngrh.Ds.) Dukungan sosial menyebabkan subjek merasa lebih beruntung dari orang lain (Pngrh.Ds.) Dukungan sosial bisa menambah semangat, tetapi sumber semangat yang utama datang dari diri sendiri.

  SPDs. : memberikan bantuan secara langsung.

  SPDs. dari suami : menelepon, menanyakan kabar.

  Pngrh.Ds. : penambah semangat, merasa tidak sendiri, merasa lebih beruntung dari orang lain.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  435. 436. 437. 438. 439. 440. 441. 442. 443.

  Percuma.

  Kemudian, pernah gak sih Bu, Ibu gak mendapat dukungan?

  Enggak. Semua mendukung saya untuk semangat, untuk sembuh. Semua yang orang lain lakukan, yang di sini, teman, saudara yang jauh pun mendukung saya.

  PTD : tidak ada pengalaman tidak didukung karena semua orang mendukung dan memberikan semangat untuk sembuh.

  PTD : tidak ada.

  Semua orang mendukung dan memberikan semangat untuk sembuh.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  33. Gimana sih Bu, awal mula Ibu

  25.

  26.

  27.

  28.

  29.

  30.

  31.

  32.

  dinyatakan kanker payudara?

  23.

  Pertama kali itu, saya sering ngantuk. Terus suami saya bilang suruh periksa, tapi saya gak. Terus malam, saya tidur telentang gini, kan nyeri, saya pegang gini ini. Ternyata ada itu, apa benjolan itu. Terus saya hari Senin itu saya bawa ke Kucala, saya diminta USG, tapi saya gak mau. Saya langsung ke Bethesda. Ya itu, semua saya cek di sana. Kalau untuk pertama kalinya saya merasakan ya itu, badan terasa gampang capek, gampang ngantuk, nyeri yang saya rasakan.

  Itu benjolannya di sebelah kiri atas? Kiri, ini dah habis. Kiri atas sini.

  Ho’o.

  Terus, gejala yang Ibu rasakan itu benjolan, sakit gak, Bu?

  Enggak. Gak rasa sakit. Cuma nyeri di sini ini (benjolan), saya kirain saya masuk angin. Saya tidur telentang gini kan nyeri kan, saya pegang-pegang gini, ternyata ada benjolan ini. Jadi selama dulu-dulu itu saya gak

  GT : terasa nyeri ketika tidur telentang, terdapat benjolan, mudah merasa lelah, mudah mengantuk, dan merasa nyeri.

  GT : terdapat benjolan di payudara kiri atas.

  GT : terasa nyeri pada benjolan.

  GT : Gejala yang dirasakan adalah mudah merasa lelah, mudah mengantuk, terdapat benjolan pada payudara kiri atas, terasa nyeri pada benjolan.

  24.

  Lampiran 6. Transkrip Verbatim Wawancara dan Analisis Data Subjek 3 (Ibu D)

  BARIS

  10.

  VERBATIM KODING AWAL ANALISIS 1.

  2.

  3.

  4.

  5.

  6.

  7.

  8.

  9.

  11.

  21.

  12.

  13.

  14.

  15.

  16.

  17.

  18.

  19.

  20.

  22.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Terus Bu, kan ada beberapa orang yang kanker tuh mengalami perubahan bentuk payudara, nah Ibu mengalami itu gak?

  65.

  66.

  67.

  68.

  69.

  70.

  71.

  72.

  73. pernah ngerasa. Cuma ngerasakannya ya cuma waktu itu saja.

  Kemudian, ada gejala lain gak yang Ibu rasakan?

  Ya itu tadi, cuma ngantuk, sama nyeri itu tadi, gampang capek.

  Enggak. Biasa. Setelah operasi pun payudara saya yang satu tetep biasa. Gak ada perubahan apa-apa.

  63.

  Berarti gak ada perubahan ya Bu? Cuma benjolan itu aja ya? Iya. Iya. Sebelumnya keluarga ada yang pernah kena kanker payudara juga? Enggak. Sama sekali gak ada.

  Dari bapak gak ada, dari saya juga gak ada. Nenek-nenek saya itu masih. Orang tua saya masih, nenek saya masih. Herannya saya itu, saya kok yang pertama, gitu.

  Berarti Ibu sudah berapa lama sakit kanker?

  Hampir 2 tahun. Besok Juli saya genap 2 tahun.

  Ketika pertama kali divonis kanker sama dokter? GT : mudah mengantuk, nyeri, mudah lelah.

  GT : tidak ada perubahan bentuk pada payudara.

  RK : tidak ada riwayat keluarga terkena kanker.

  LS : terdiagnosis kanker Juli 2011  hampir 2 tahun Subjek mengalami stress

  RK : tidak ada riwayat keluarga terkena kanker.

  LS : terkena kanker payudara hampir 2 tahun.

  Subjek merasakan stress

  64.

  34.

  35.

  47.

  36.

  37.

  38.

  39.

  40.

  41.

  42.

  43.

  44.

  45.

  46.

  48.

  61.

  49.

  50.

  51.

  52.

  53.

  54.

  55.

  56.

  57.

  58.

  59.

  60.

  62.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  91.

  dan panik ketika didiagnosis kanker payudara (Pngl.KD) Subjek mengalami stress ketika mengetahui hasil dari patologi UGM (Pngl.KD) Subjek mengalami stress karena mengetahui bahwa banyak penderita kanker payudara yang tidak tertolong (Pngl.KD) ketika mendapatkan diagnosis kanker payudara (Pngl.KD) Subjek merasakan stress ketika mengetahui hasil dari pemeriksaan laboratorium (Pngl.KD) Pemahaman subjek mengenai banyaknya penderita kanker payudara yang tidak tertolong, menyebabkan subjek merasakan stress ketika mendapatkan vonis kanker payudara (Pngl.KD)

  Bisa stress itu kan, setahu saya kan banyak yang gak tertolong. Nah, saya stressnya memikirkan anak saya. Kok cuma cukup sampai sekian Yang Kuasa memberi umur saya, waktu itu saya gtu. Kasihan anak-anak

  Yang bikin Ibu jadi stress, terus panik itu apa bu?

  Tetep aktivitas biasa. Tapi stress saya akui. Emm, stresnya itu setelah saya mengetahui hasil lab dari patologi UGM. Waktu cuma di USG, di mammografi, kayak gitu aku belum. Waktu di USG, dokter sana juga udah bilang mungkin ini kanker bu, gitu. Lha terus di mammografi itu dokternya gak bilang. Yang di UGM patologi itu, setelah saya buka ternyata ada tumor sinetral keganasan. Wah, semenjak itu saya stress. Kan pas anak saya ujian. Saya hentikan 1 minggu selama anak saya ujian, baru setelah itu saya baru daftar untuk di operasi. Setelah itu saya suruh rekam jantung, paru-paru, semua bagus, tinggal ibu mau kapan. Setelah itu, tanggal 23 Juli saya operasi, 2011.

  Stress tapi tetep aktivitas ya?

  Stress. Stress juga. Stress, panik saya. tapi ya saya tetap ke pasar juga. Besok pagi operasi, itu saya Jumat masih jualan. Sabtunya operasi, saya sampai Jumat masih jualan.

  99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113.

  98.

  97.

  96.

  95.

  94.

  93.

  92.

  74.

  75.

  89.

  88.

  87.

  86.

  85.

  84.

  83.

  82.

  81.

  80.

  79.

  78.

  77.

  76.

  90.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. saya. tapi setelah operasi, badan saya kok biasa, itu gak kerasa gimana-gimana, itu terus saya ya terus berusaha.

  Ada perasaan takut gak bu waktu itu?

  Waktu divonis, justru itu, stress, kalut, takut. Kalau setelah operasi saya enggak. Sama sekali enggak.

  Ketika divonis aja?

  Ketika divonis itu, cuma dari patologi UGM itu, tahu gitu, terus saya ke dokternya saya bawa, ya itu bilang kalau kanker. Terus waktu itu, saya langsung mau operasi apa gak, tapi nunggu 1 minggu, nunggu anak saya. Tapi waktu itu juga panik lah, mbak. Panik, takut, stress, campur gitu lah. Inginnya terus marah.

  • Subjek mengalami kepanikan, stress, dan merasakan kemarahan

  Marah karena keadaan?

  • Subjek mengalami ketidakmampuan dalam menerima keadaan (Dm.PD)
  • Perasaan sedih yang dialami subjek hanya dirasakan 1 bulan.
  • Selama 1 bulan subjek mengalami stress, kepanikan, kebingungan, dan merasakan sedih

  Iya. Karena keadaan, karena saya juga gak mau terima.

  Ibu mengalami kesedihan yang mendalam juga gak bu?

  Iya sih, juga. Pokoknya sebelum operasi. Jaraknya jadi 1 bulan. Saya periksa pertama, sampai jarak hampir 1 bulan. Maksudnya, saya periksa pertama sampai operasi itu jaraknya hampir 1 bulan itu saya memang benar-benar stress, panik, bingung, sedih, wes campur aduk. Itu. Pokoknya setelah operasi saya gak, sudah lega. Maksudnya,

  Ketika divonis kanker, subjek merasa stress, kalut, dan takut (Pngl.KD) Subjek mengalami kepanikan, stress, dan ingin marah karena tidak mau menerima keadaan (Pngl.KD) Subjek mengalami kesedihan selama 1 bulan (divonis sampai operasi). Merasakan stress, panik, bingung, sedih (Pngl.KM) Setelah operasi tidak mengalami kesedihan karena sudah merasa lega (Pngl.KM)

  Subjek mengalami stress, merasakan kalut, dan takut ketika mendapatkan vonis kanker payudara (Pngl.KD)

  (Pngl.KD)

  (Pngl.KM) Perasaan sedih yang dialami secara otomatis menghilang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  154. 155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. keadaan setelah operasi kok badan saya seperti juga biasa.

  Saya itu gak pernah merasakan sakit, gak pernah merasakan apa. Cuma terus terang aja, saya ditolong sama itu sinsei, pakai obat sinsei saya waktu operasi. Waktu itu saya 2 kantong, jadi saya gak merasakan sakit. Justru malah merasakan mual-mual tuh waktu kemo pertama. Gak muntah juga enggak, cuma mual. Makan berkurang. Setelah itu, saya sudah biasa. Kemo yang ketiga saya sudah mulai mau makan. Sampai selesai, sampai kemo yang keenam saya juga sehat. Habis kemo pun saya sudah kembali kerja.

  Setelah kemo 6 kali selesai itu?

  Enggak, kemo pertama. Habis kemo pertama, saya sudah kerja ke pasar. Cuma ada yang nemeni. Tapi saya sudah ke pasar. Saya tuh bersyukur, bersyukur, bersyukur, alhamdulilah semenjak operasi sampai sekarang itu gak terus males- males gitu lho. Inginnya saya itu, ingin berusaha sehat. Kasihan anak-anak saya masih kecil. Cuma itu. Mudah-mudahan harapan saya ya dikasih panjang umur, bisa nungguin sampai cucu-cucu saya nanti.

  Terus, selama ini pengobatan yang sudah ibu jalani apa saja bu? Subjek merasa mual setelah menjalani kemoterapi (Pngl.B) Pngl.B : nafsu makan berkurang Pngl.B : nafsu makan kembali setelah kemoterapi ketiga.

  Pngl.B : merasa sehat sampai kemoterapi terakhir (keenam) Kembali bekerja setelah melakukan kemoterapi pertama (Dm.PL) Semenjak operasi tidak pernah merasa malas, dan ingin berusaha untuk tetap sehat. karena subjek merasa lega (Pngl.KM) Pengobatan kemoterapi yang dijalani subjek memberikan dampak negatif bagi tubuh subjek nafsu makan berkurang dan mual (Pngl.B) Ada pemulihan kondisi tubuh setelah kemoterapi ketiga sampai terakhir  nafsu makan kembali meningkat dan merasa sehat (Pngl.B) Tetap menjalankan pekerjaannya setelah menjalani kemoterapi yang pertama (Dm.PL) Tidak mengalami rasa malas (Dm.PD) Berusaha untuk tetap sehat (Dm.PD)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  194. 195. 196. 197. 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. 218. 219. 220. 221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231. 232. 233.

  Apa ya? Saya tuh kalau kontrol rutin 3 bulan. Terus kalau pengobatan lainnya itu aku gak pernah sama sekali. Aku cuma minum obat herbal keladi tikus, sama saya cuma minum daun sirsat sama ikan gabus itu. Kalau ikan gabus saya tim saya minum minyaknya.

  Obat yang dari dokter gak ada?

  Gak. Setelah pertama, setelah saya kemo 6x, saya waktu itu dikasih Tamofen sama pak dokter selama jangka 1 bulan. Setelah itu saya kan cek potongan ini (payudara) itu kan diperiksa di patologi UGM. Ternyata bloknya itu dinyatakan satu negatif, satu negatif, sama positif.

  Berarti sekarang gak ada obat yang medis lagi ya bu?

  Saya kalau medis enggak. Ini hasil USG (menunjukkan foto USG). Terus ini hasil tes bloknya (menunjukkan surat hasil tes patologi UGM). Makanya saya gak pakai obat ini, berhubung ini ada hasil yang negatif. Gak tahu aku ini apa maksudnya. Hehehe. Kan gak tahu saya ini maksudnya apa.

  Tapi tetep ada hasil yang positif ini ya bu.

  Iya, mungkin. Jadi walaupun saya gak dikasih obat, saya berusaha juga obat herbal tetap saya

  Pbt.M : kontrol rutin 3 bulan 1x Pbt.NM : mengkonsumsi obat herbal keladi tikus, rebusan daun sirsat, minyak ikan gabus.

  Pbt.M : melakukan kemoterapi 6x, mengkonsumsi Tamofen selama 1 bulan.

  Subjek melakukan kontrol rutin ke rumah sakit selama 3 bulan 1 kali (Pbt.M) Saat ini menjalani pengobatan non medis dengan mengkonsumsi keladi tikus, rebusan daun sirsat, dan minyak ikan gabus (Pbt.NM) Pengobatan yang dilakukan setelah operasi adalah kemoterapi 6x dan konsumsi Tamofen selama 1 bulan (Pbt.M)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  234. 235. 236. 237. 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246. 247. 248. 249. 250. 251. 252. 253. 254. 255. 256. 257. 258. 259. 260. 261. 262. 263. 264. 265. 266. 267. 268. 269. 270. 271. 272. 273. minum. Tapi sehabis operasi dikasih Tamofen untuk sakitnya.

  Terus saya habis itu kan beberapa bulan saya gak kontrol. Saya beli, saya tetap minum Tamofennya, setelah itu baru kontrol, ternyata sudah gak perlu minum obat. Untuk obat dokter sudah gak, 3 bulan sekali kontrol. Tapi kemarin saya kontrol, saya tuh gak pernah juga di kasih tahu kalau ingin tahu bagaimana. Ibu kan sehat, nanti kalau ada tanda- tanda apa saya kasih tahu. Tapi kan saya juga ingin tahu. Disuruh tes darah ternyata juga gak. Saya tanya, dokternya cuma jawab gitu ya sudah. Mungkin penyakitnya itu jenisnya beda-beda, aku sendiri juga gak tahu.

  Terus ketika Ibu harus berobat dari kemoterapi, kemudian rutin minum obat sampai sekarang masih harus konsumsi obet herbal itu, perasaan ibu gimana sih bu?

  Dibilang bosen ya bosen ya, tapi saya tetap berusaha. Tetap saya ingin, ya itu tadi saya ingat anak- anak saya.

  Kemudian, sekarang ini, Ibu memandang diri Ibu ini seperti apa? Gak minder, biasa aja saya.

  Pokoknya saya yang penting sehat kok, mbak. Harapan putra putri saya, suami, gak ada kata, walaupun saya ini ibarat e udah

  Subjek merasa bosan harus terus berobat, tetapi tetap berusaha menjalani pengobatan (Pngl.B) Subjek tidak merasa minder (Dm.PD) Subjek tidak merasa ada Muncul perasaan bosan ketika menjalani pengobatan (Pngl.B) Memutuskan untuk tetap menjalani pengobatan (Dm.O) Ada pandangan positif terhadap diri sendiri  tidak minder (Dm.PD) Ada pandangan positif

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  274. 275. 276. 277. 278. 279. 280. 281. 282. 283. 284. 285. 286. 287. 288. 289. 290. 291. 292. 293. 294. 295. 296. 297. 298. 299. 300. 301. 302. 303. 304. 305. 306. 307. 308. 309. 310. 311. 312. 313. gak genep, tapi gak ada yang berbeda. Dari anak-anak gak ada, dari suami gak ada. Pokoknya memang betul-betul keluarga saya dukung saya ingin sehat juga. Jadi ya walaupun kurang 1 payudaranya juga gak pernah minder.

  Gak pernah merasa minder? Gak. Sama sekali. Ketika habis pertama kali di operasi, ibu gak merasa minder?

  Gak. Saya habis operasi sampai sekarang aku gak minder.

  Tetap percaya diri? Tetap percaya diri. Tetap memandang diri secara positif? He’em. Tetap biasa saja.

  Pokoknya saya kalau untuk sakit, yang penting saya sembuh kok. Gak memandang diri saya, walaupun itu orang bilang bagaimana, tetangga bilang bagaimana, yang jelek, saya gak pernah nanggapin orang. Udah ini jarang saya, maksudnya kalau gak perlu-perlu di sini ya jarang saya main-main. Pulang pasar sudah capek saya soale. Siang jam12 kan saya baru pulang pasar. Sudah, sampai rumah makan, sholat, tidur.

  Terus kalau tetang tujuan yang berbeda setelah menjalani operasi pengangkatan payudara (Dm.PD) Keluarga (PDs.) memberikan dukungan (Ds.E) sehingga subjek tidak minder walaupun mengalami pengangkatan payudara (Pngrh.Ds.) Subjek tidak minder setelah menjalani operasi (Dm.PD) Subjek tetap memiliki kepercayaan diri (Dm.PD) Subjek tetap memandang diri sendiri secara positif dan biasa saja (Dm.PD) Subjek tidak menganggapi tanggapan negatif dari orang lain (Dm.O) terhadap diri sendiri  merasa tidak ada yang berubah pada diri sendiri (Dm.PD) Mendapatkan dukungan sosial dari keluarga (PDs.) Ada pandangan positif terhadap diri sendiri  tidak ada perasaan minder setelah pengangkatan payudara (Pngrh.Ds. ; Dm.PD) Ada pandangan positif terhadap diri sendiri  tidak ada perasaan minder setelah operasi (Dm.PD) Ada pandangan positif terhadap diri sendiri  tetap memiliki rasa percaya diri (Dm.PD) Ada pandangan positif terhadap diri sendiri  merasa tidak ada yang berbeda dalam diri (Dm.PD) Tidak terpengaruh dengan perkataan negatif dari orang lain (Dm.O)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  314. 315. 316. 317. 318. 319. 320. 321. 322. 323. 324. 325. 326. 327. 328. 329. 330. 331. 332. 333. 334. 335. 336. 337. 338. 339. 340. 341. 342. 343. 344. 345. 346. 347. 348. 349. 350. 351. 352. 353.

  hidup, apa sih tujuan hidup Ibu ini?

  Iya. Tujuan saya, ingin sisa hidup saya itu jadi orang yang melewati jalan yang benar, sama membesarkan putra-putri saya. ya nungguin cucu-cucu saya, saya juga ingin merasakan gimana rasanya punya cucu. Inginnya itu satu keluarga dikasih sehat, satu- satunya saya panjatkan kepada Yang Kuasa, gak siang, gak malam.

  Dari dulu seperti ini bu? Iya. Gak ada perubahan dari sebelum sakit sampai sekarang?

  Enggak. Pokonya satu, pokoknya kalau orang tua kan mestinya ingin membahagiakan anak- anaknya kan ya.

  Apa bu yang membuat Ibu punya tujuan hidup yang gak berubah ini?

  Anak-anak saya. Iya anak-anak saya. Anak selalu mendukung, suami selalu mendukung juga. Jadi ya sama aja.

  Kemudian, menurut Ibu sendiri, penderita kanker payudara itu dia bisa mengembangkan diri lebih lagi gak bu? Bisa tapi itu tergantung e.

  Berkembang seperti apa itu

  Subjek ingin menghabiskan sisa hidup di jalan yang benar, ingin membesarkan anak-anak, ingin merasakan cucu (Dm.TH) Tujuan hidup yang dimiliki tidak mengalami perubahan (Dm.TH) Tujuan hidup yang dimiliki tidak mengalami perubahan. Tujuan hidup untuk membahagiakan anak-anak (Dm.TH) Dukungan dari suami dan anak-anak menyebabkan tidak adanya perubahan dalam tujuan hidup subjek (Dm.TH; Pngrh.Ds.) Subjek berpendapat bahwa orang dengan kanker payudara masih bisa Tujuan hidup yang dimiliki saat ini adalah ingin hidup pada jalan yang benar, memiliki keinginan untuk bisa membesarkan anak- anak, dan ingin merasakan memilik cucu (Dm.TH) Memiliki keyakinan bahwa tidak ada yang mengalami perubahan dalam tujuan hidup (Dm.TH) Sejak sebelum sakit sudah memiliki tujuan hidup untuk membahagiakan anak- anak (Dm.TH) Dm.TH : Mendapat dukungan dari suami dan anak-anak dalam mewujudkan tujuan hidupnya (PDs.) Tidak adanya perubahan tujuan hidup yang dimiliki subjek (Pngrh.Ds.)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  354. 355. 356. 357. 358. 359. 360. 361. 362. 363. 364. 365. 366. 367. 368. 369. 370. 371. 372. 373. 374. 375. 376. 377. 378. 379. 380. 381. 382. 383. 384. 385. 386. 387. 388. 389. 390. 391. 392. 393. tergantung si penderita. Biasanya gitu itu. Ya itu, kan penyakitnya sendiri-sendiri, tergantung kekuatan tubuh mungkin. Kan ada yang kanker payudara, terus kan ada yang cuma tidur, males, kan karena mungkin dia juga udah ekonomi cukup. Kalau saya kan ekonomi kelas bawah, jadinya saya yang utama sehat, kerja. Yang Kuasa itu adil kok, saya percaya.

  Kalau Ibu sendiri masih mampu mengembangkan diri lebih lagi?

  Ya kalau saya, kalau badan saya itu sehat, semampu saya, saya berusaha. Membantu suami, pokoknya lah untuk menopang keluarga. Ya dibilang itu tadi, kalau dari kelas bawah itu bagaimanapun harus bagaimana bisa mencukupi keluarga, kerja.

  Jadi apakah ibu merasa masih mampu mengembangkan diri?

  Berusaha mbak. Saya usahakan bisa mbak. Hehehe.

  Oke, kemudian, kegiatan ibu sehari-hari apa bu? Jualan ikan laut saya. Kegiatan lain ada bu? Di rumah, jualan bakso goreng.

  Cuma kalau bakso goreng kan kadang gak mesti mbak. Saya jual e di agen camilan taman sari, sudah model bal-balan. Ini cuma

  mengembangkan diri, tetapi tergantung dari penyakitnya dan kondisi tubuhnya (Dm.Pg.D) Perkembangan diri kemungkinan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi (Dm.Pg.D) Subjek berusaha untuk mengembangkan diri, semampu kondisi tubuh (Dm.Pg.D) Subjek berusaha untuk mampu mengembangkan diri (Dm.Pg.D) Kegiatan sehari-hari (utama): berjualan ikan laut.

  Kegiatan lain : memproduksi bakso goreng dan dijual ke toko.

  Dm.Pg.D : subjek memilik pendapat bahwa setiap penderita kanker payudara mampu untuk mengembangkan diri, tetapi dipengaruhi oleh kondisi fisik dan kondisi ekonomi.

  Subjek berusaha untuk mngembangkan diri semampu kondisi tubuh (Dm.Pg.D) Subjek berusaha untuk mengembangkan diri (Dm.Pg.D) Kegiatan : berjualan ikan laut di pasar dan memproduksi bakso goreng di rumah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  394. 395. 396. 397. 398. 399. 400. 401. 402. 403. 404. 405. 406. 407. 408. 409. 410. 411. 412. 413. 414. 415. 416. 417. 418. 419. 420. 421. 422. 423. 424. 425. 426. 427. 428. 429. 430. 431. 432. 433. pas libur sudah beberapa hari, agak sepi.

  Itu, gimana bu cara ibu mengatur kegiatan ibu?

  Kalau yang di rumah itu, yang pokok Bapak. Kalau saya kan di pasar, jadi cara mengaturnya itu saja, istirahat, siang juga istirahat biar bisa kerjain yang lain. Pokoknya siang itu, tidur gak tidur saya tetap istirahat, pokoknya tiduran itu nanti juga kadang lama-lama tidur.

  Ada pembagian tugas gak sih bu di rumah? Enggak. Gak pernah. Biasa saja.

  Saya itu terbiasa, maksudnya misalnya biasa ya nyuci piring biasa saya, ya nek gak bapak ya saya. Gak pernah kok saya bagi- bagi tugas. Kalau nyuci baju kan memang kalau dari sebelum sakit pun saya gak pernah nyuci, ada yang nyucikan. Itu dulu tapi. Kalau setelah saya divonis sakit, saya kan enggak bisa nggosok (setrika) waktu itu, saya laundrykan. Yang lainnya biasa, gak bagi-bagi. Saya kerjakan.

  Terus, kalau pengambilan keputusan sehari-hari ibu terbiasa untuk mengambil keputusan sendiri atau meminta pertimbangan orang lain?

  Mintanya keluarga saja. Kalo yang nyangkut keluarga ya

  Kegiatan di rumah dikerjakan oleh suami (Dm.PL) Cara mengatur berkegiatan beristirahat yang cukup setelah berjualan di pasar supaya bisa mengerjakan pekerjaan yang lain (Dm.PL) Tidak ada pembagian tugas di rumah. Bergantian dalam mengerjakan pekerjaan rumah (Dm.PL) Sebelum sakit sudah ada yang membantu pekerjaan rumah (Dm.PL) Setelah sakit menggunakan jasa untuk mengerjakan sebagian pekerjaan (Dm.PL) Sebagian pekerjaan sudah terbiasa dikerjakan sendiri (Dm.PL; Dm.O) Hampir semua keputusan meminta pertimbangan kepada keluarga (Dm.O) Ada pembagian tugas dengan suami. Pekerjaan pokok di rumah dikerjakan suami dan secara bergantian dengan anggota keluarga yang lain (Dm.PL) Cara mengatur diri sendiri istirahat cukup supaya bisa melakukan pekerjaan lain (Dm.PL) Antar anggota keluarga bergantian dalam mengerjakan pekerjaan rumah, tidak ada pembagian tugas (Dm.PL) Sebelum dan setelah sakit kanker payudara menggunakan jasa untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah (Dm.PL) Subjek sudah terbiasa untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah (Dm.PL; Dm.O) Hampir semua keputusan meminta pertimbangan keluarga (Dm.O)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  434. 435. 436. 437. 438. 439. 440. 441. 442. 443. 444. 445. 446. 447. 448. 449. 450. 451. 452. 453. 454. 455. 456. 457. 458. 459. 460. 461. 462. 463. 464. 465. 466. 467. 468. 469. 470. 471. 472. 473. hampir semua pertimbangan keluarga saja.

  Jadi ibu lebih banyaknya minta pertimbangan keluarga? Iya. Kalau tentang keputusan pengobatan yang ibu minta pertimbangannya siapa?

  Suami sama anak-anak. Saya itu juga waktu mau operasi itu juga anak saya memang harus diangkat. Anak saya yang putri itu bilang pokoknya harus tetap diangkat. Secepatnya lah diangkat. Saya gak pernah minta dukungan kemana pun. Kalau doa minta sama orang tua, kan orang tua di Wonosari. Doa, nomer satu, saya minta sama orang tua, minta maaf, minta doa, itu saya utamakan waktu mau operasi.

  Ya. Mengenai hubungan dengan orang lain ya bu, bisa Ibu ceritakan, gimana sih hubungan ibu dengan suami ibu ketika mengetahui ibu sakit?

  Baik. Biasa aja. Sampai sekarang pun biasa. Dari sakit sampai sekarang gak ada perbedaan apa- apa. Kehidupannya setiap hari ya seperti ini, mengalir aja.

  Anak-anak juga bu?

  Iya. Sama aja. Gak ada yang beda.

  Keputusan pengobatan : meminta pertimbangan kepada suami dan anak- anak (Dm.O) Anak-anak (PDs.) mendesak supaya secepatnya dilakukan pengangkatan payudara (Ds.E) Tidak ada perubahan dalam relasi dengan suami (Dm.RP) Tidak ada perubahan dalam relasi dengan anak-anak (Dm.RP)

  Keputusan pengobatan meminta pertimbangan keluarga (Dm.O) Adanya dorongan dari anak-anak (PDs.) Mendapatkan dorongan dari anak-anak untuk segera melakukang pegangkatan payudara (Ds.E) Adanya relasi positif dengan suami (Dm.RP) Adanya relasi positif dengan anak-anak (Dm.RP)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  474. 475. 476. 477. 478. 479. 480. 481. 482. 483. 484. 485. 486. 487. 488. 489. 490. 491. 492. 493. 494. 495. 496. 497. 498. 499. 500. 501. 502. 503. 504. 505. 506. 507. 508. 509. 510. 511. 512. 513.

  Kalau dari lingkungan sini, tetangga-tetangga gimana, Bu? Oh malah justru kasih dukungan.

  Lebih dekat.

  Jadi ada hubungan yang lebih dekat?

  Iya. Kasihan lah. Kan bapak sakit gula, dia duluan yang sering opename 2x. Jadinya sama saya baik.

  Mereka sering kasih dukungan ya ke Ibu?

  Iya, tetangga iya. Sini saudara juga.

  Anak-anak juga ya bu? Iya. Suami? Iya. Ya suami, ya anak-anak.

  Kalau saya gak mau makan gitu ya, kalau suruh makan deket anak e.

  Terus diantara orang-orang tersebut, siapa sih Bu, yang paling berpengaruh dukungannya yang ibu terima?

  Anak-anak. Iya anak-anak juga sama suami.

  Kenapa Bu?

  Ya bagaimana pun dia gak pernah berhenti-berhentinya ngasih saya dukungan biar saya tetap semangat hidup, itu nomer satu.

  Dukungan yang sering suami Terjalin hubungan yang lebih dekat dengan tetangga (Dm.RP) Tetangga menjadi lebih baik karena kasihan (Dm.RP) Saudara dan tetangga memberikan dukungan (PDs.) Anak-anak memberikan dukungan (PDs.) Suami dan anak-anak memberikan dukungan (PDs.) Dukungan yang paling berpengaruh berasal dari suami dan anak-anak (PDs.) Suami dan anak-anak (PDs.) selalu memberikan semangat hidup (Ds.E) Adanya relasi positif dengan tetangga (Dm.RP) Mendapatkan empati dari tetangga (Dm.RP) PDs. : saudara, tetangga, anak-anak, suami.

  Pemberi dukungan yang paling berpengaruh : suami dan anak-anak (PDs.) Mendapatkan dukungan semangat hidup dari suami dan anak-anak (Ds.E)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  514. 515. 516. 517. 518. 519. 520. 521. 522. 523. 524. 525. 526. 527. 528. 529. 530. 531. 532. 533. 534. 535. 536. 537. 538. 539. 540. 541. 542. 543. 544. 545. 546. 547. 548. 549. 550. 551. 552. 553.

  ibu kasih apa aja bu selama ini?

  Emm, ya berupa itu, misalnya kalau kerja juga membantu, misalnya saya kerja ini, kalau kelihatan capek bilang gak usah. Itu juga sudah mendukung. Kalau minum obat diingetke. Kadang kalau ada apa, kita ada kekeliruan itu dia kadang dia juga sering yaudah lah dia sering ngalah selama saya sakit.

  Kalau anak-anak?

  • Membantu pekerjaan

  Ya kalau anak-anak sih ya, ya namanya anak-anak ya, kalau saya lihat dari anak-anak saya suka kasihan juga. Kalau dulu gak mau saya suruh, sekarang jadi mau saya suruh. Kan dari itu juga, saya merasakan kalau mereka betul-betul mau saya sembuh.

  • Memberikan perhatian (Ds.E) suami
  • Memberikan semangat (Ds.E) tetangga
  • Mengingatkan minum obat (Ds.E)  suami
  • Mengalah (Ds.P)  suami
  • Memberikan informasi (Ds.Inf.) tetangga

  Kalau dari lingkungan sini bu?

  Apa ya? Kalau teman cuma dari omong saja ya. Cuma ngomongi saja kalau ya jangan makan ini, mengurangi ini, obatnya ini.

  Informasi-informasi gitu ya? Iya, ho’o. Tetangga juga kasih dukungan semangat iya bu?

  Nah iya, dukungan semangat itu juga.

  Cara mereka memberi dukungan ke ibu itu dengan JDs. : dari suami  membantu pekerjaan, memberikan perhatian (Ds.E), mengingatkan minum obat (Ds.Inst.), mengalah (Ds.P) JDs. : dari anak  memberikan pertolongan (Ds.Inst.) JDs. : dari lingkungan  memberikan informasi (Ds.Inf.) JDs. : dari lingkungan memberikan semangat (Ds.E) JDs.

  (Ds.Inst.) suami, anak

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  554. 555. 556. 557. 558. 559. 560. 561. 562. 563. 564. 565. 566. 567. 568. 569. 570. 571. 572. 573. 574. 575. 576. 577. 578. 579. 580. 581. 582. 583. 584. 585. 586. 587. 588. 589. 590. 591. 592. 593.

  cara seperti apa sih bu?

  Memberikan dukungan ya, kalau suami ya itu tadi, misalnya yang saya kerjakan dia juga mau kerjakan itu kan juga dukungannya pakai cara apa itu?

  Langsung?

  Iya. Ho’o. Kalau anak-anak misalnya mau makan lauk ini, tapi cuma adanya lauk ini, dia minta ini, tapi ibunya capek, yaudah seadanya lauk.

  Berarti memberikan dukungan dengan cara langsung ya bu? Iya. Termasuk tetangga-tetangga juga ya bu?

  Iya. Kalau tetangga itu mensupport ya itu tadi saya bilang, paling ngasih pengarahan aja. Dukungan mengarahkan, masukan.

  Nah, pengaruhnya dukungan- dukungan yang ibu terima ini untuk kehidupan ibu ini apa sih?

  Ya, ternyata saya juga sehat sih, berarti kan juga membantu kesembuhan saya ya. Kalau misalnya anak, suami itu misalnya sudah gak mensupport saya kan mungkin saya juga pikirannya lain, males-males juga.

  Apakah dukungan itu juga Keluarga memberikan dukungan secara langsung (SPDs.) Tetangga memberikan arahan dan masukan untuk kesembuhan (Ds.Inf.) Dukungan sosial membantu kemajuan kesembuhan subjek (Pngrh.Ds.)

  SPDs. : segala bentuk dukungan dan bantuan diberikan secara langsung kepada subjek.

  Mendapat dukungan dari tetangg (PDs.) Mendapatkan arahan dan masukan untuk kesembuhan (Ds.Inf.) Mengalami kemajuan kondisi fisik setelah mendapatkan dukungan sosial (Pngrh.Ds.)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  594. 595. 596. 597. 598. 599. 601. 602. 603. 604. 605. 606. 607. 608. 609. 610. 611. 612. 613. 614. 615. 616. 617. 618. 619. 620. 621. 622. 623. 624. 625. 626. 627. 628. 629. 630. 631. 632. 633. 634.

  membantu ibu untuk tambah bersemangat juga?

  Iya. Ho’o. katanya kalau penyakit seperti saya itu lawannya dengan semangat. Ternyata saya juga memang saya merasakan. Tapi kan waktu tu juga dari pengalaman dokter lah, perawat. Perawat itu bilang, pokoknya nomer 1 itu semangat. Itu nanti kalau ada semangat, ada yang mendukung seperti keluarga, mudah-mudahan ibu cepat sehat kembali. Sering ya waktu kemo, waktu periksa, kalau perawat- perawat itu sering, saya waktu itu juga sebelum operasi, saya disarankan sama perawat suruh jangan ambil alternatif ya, kalau bisa medis saja. Kan memang saya, saya tu gak percaya sama alternatif. Sakit apapun kalau ke alternatif saya gak percaya.

  Tapi pernah gak sih bu ada pengalaman ibu tidak mendapat dukungan?

  Enggak ya. Kalau saya itu, saya juga gak gitu e mbak. Maksudnya saya juga gak merasakan juga suami apa anak mensupport saya apa gak. Pokoknya saya dikasih kesehatan, saya inginnya hidup. Saya ingin di sisa hidup saya itu, saya ingin melewati jalan yang lurus. Dulu-dulu sering berbuat salah, mungkin dulu sering kalau ngomong misalnya kadang kebablasen, kalau bisa sekarang itu saya perbaiki. Saya memang

  Dukungan sosial menyebabkan subjek merasa tambah bersemangat (Pngrh.Ds.) Dukungan sosial bisa mempercepat kesembuhan subjek (Pngrh.Ds.) Subjek tidak mengalami pengalaman tidak didukung (PTD)

  Merasakan peningkatan semangat hidup setelah mendapatkan dukungan sosial (Pngrh.Ds.) Mempercepat kesembuhan setelah mendapatkan dukungan sosial (Pngrh.Ds.)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  635. 636. 637. 638. 639. 640. 641. 642. 643. 644. 645. 646. 647. 648. 649. 650. 651. 652. 653. banyak bicara. Kalau dulu mungkin pernah berkata kasar, sekarang saya mungkin benahi. Saya itu memang betul-betul dikasih kesempatan sama Yang Kuasa. Cuma itu saja. Ya itu tadi kalau misalnya anak atau suami mensupport saya apa gak, saya gak begitu menanggapi lah. Kan kadang nanya suami, yang namanya anak, mungkin capek, mungkin apa, gitu kan juga kadang males, kadang ngomong sedikit menyakitkan, tapi kan tinggal saya yang menanggapi, mau ditanggapi sampai hati apa enggak. Kalau saya sih mending gak saya sampaikan hati yang seperti itu.

  Selalu menanggapi positif setiap hal yang dilakukan orang lain, sehingga tidak merasa tidak pernah didukung (PTD)

  PTD : selalu menanggapi positif setiap hal yang dilakukan orang lain, sehingga tidak merasa tidak didukung.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  31.

  23.

  24.

  25.

  26.

  27.

  28.

  29.

  30.

  32. Gimana sih Bu, awal mula Ibu

  21.

  dinyatakan kanker payudara?

  Benjolan. Tapi itu gak ada gejala, gak ada apa. Gak sakit, gak terasa apa-apa. Tapi gak diambil semua, saya. Terus di AJH katanya negatif. Aku ayem ya. Ternyata setelah di USG, ternyata ada kankernya ya. Terus di mammo juga kan, jadi kelihatan. Tapi

  grade kankernya grade III. Jadi grade yang paling ganas, kalau

  pesawat ya kayak jet penyebarannya, maksudnya cepet penyebarannya. Tapi saya pada saat itu ya, mungkin, karena di keluarga saya kan ada juga, mungkin gen ya. Masih satu eyang ya. Ada 2, terus 3 sama saya. Mungkin saya itu. Jadi saya pas divonis kanker ya, sudah lah jalani saja. Mungkin ada kekuatan tersendiri pada saat itu. Terus saya bilang sama dokter, gimana Dok, solusinya? Ya operasi, bu. Saat itu hari Jumat, saya operasi Senin pada saat itu tanggal 13 Juni 2011 saya operasi. Tapi operasi tu gak ada apa-apanya, kecil. Penderitaan saya belum selesai. Hehehe.

  GT : terdapat benjolan, tidak ada rasa sakit.

  RK : ada riwayat keluarga terkena kanker.

  Subjek merasa biasa saja ketika divonis, karena memiliki kekuatan pada saat itu (Pngl.KD) Terdiagnosis kanker Juni 2011 (LS)

  Gejala kanker payudara yang dirasakan adalah berupa benjolan yang tidak ada rasa sakit (GT) Keluarga ada yang memiliki riwayat sakit kanker (RK) Adanya perasaan netral ketika mendapatkan vonis kanker payudara karena memiliki kekuatan tersendiri (Pngl.KD) Menderita kanker payudara selama 2 tahun (LS)

  22.

  Lampiran 7. Transkrip Verbatim Wawancara dan Analisis Data Subjek 4 (Ibu I)

  BARIS

  9.

  VERBATIM KODING AWAL ANALISIS 1.

  2.

  3.

  4.

  5.

  6.

  7.

  8.

  10.

  19.

  11.

  12.

  13.

  14.

  15.

  16.

  17.

  18.

  20.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  70.

  61.

  62.

  63.

  64.

  65.

  66.

  67.

  68.

  69.

  71.

  59.

  72.

  73.

  apa-apa, Bu?

  Gak kerasa apa-apa. Biasanya itu kalau yang ganas, gak terasa. Kalau sakit itu tumor. Saya tuh sebenarnya tidak down itu masalah kankernya. Soalnya saya sudah mengantisipasi kalau saya itu mau kanker. Soalnya saudara saya kanker, jadi saya gak begitu saya rasakan itu. Tapi saya

  down nya itu karena

  kemoterapinya. Saya mungkin mau bablas pada saat itu. Jadi kadang-kadang leukositnya juga sampai nol koma. Nol koma itu, kalau nol saja saya sudah bablas. Sampai dokternya ketakutan. Wah, itu. Saya itu mulai kemo 5 Juli 2011. Sampe tak eling-eling itu. Habis kemo, seminggu setelah kemo saya masuk rumah sakit lagi karena ya itu, leukositnya turun, drop. Terus saya mondok lagi di Bethesda itu. Tapi mondoknya pada saat itu tidak ditangani oleh dokter saya, karena dokternya sendiri sedang sakit. Terus saya opname di situ, yang nangani dokter, dokter

  internis, karena saya sakitnya panas, dikira DB, dikira apa.

  Saya saya sakit itu ya cuma naikkan leukosit aja. Terus pulang lagi seminggu. Itu yang kemo pertama, Mbak. Saya kemo pertama kan di Bethesda. Setelah kemo, saya masuk rumah sakit lagi. Dua kali masuk rumah sakit to sudahan ini. Itu baru kemo pertama lho. Kemo pertama, udah

  Subjek tidak merasa down karena kanker karena sudah mengantisipasi akan terkena kanker (Pngl.KD) Subjek merasa down karena kemoterapi (Pngl.B) Subjek mengalami penurunan leukosit (Pngl.B) Subjek sempat opname di rumah sakit setelah kemoterapi karena mengalami kondisi yang menurun dan penurunan leukosit (Pngl.B)

  Tidak adanya perasaan negatif ketika tervonis kanker karena memiliki riwayat keluarga terkena kanker sehingga sudah mengantisipasi (Pngl.KD) Pengobatan kemoterapi memberikan efek negatif bagi tubuh  kondisi tubuh menurun (Pngl.B) Pengobatan kemoterapi memberikan efek negatif bagi tubuh  mengalami penurunan leukosit (Pngl.B) Pengobatan kemoterapi memberikan efek negatif bagi tubuh  kondisi tubuh menurun  opname di rumah sakit (Pngl.B)

  60.

  34.

  35.

  45.

  36.

  37.

  38.

  39.

  40.

  41.

  42.

  43.

  44.

  46.

  57.

  47.

  48.

  49.

  50.

  51.

  52.

  53.

  54.

  55.

  56.

  58.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  drop masuk rumah sakit lagi.

  94.

  95.

  96.

  97.

  98.

  99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113.

  Terus, kan itu jadwalnya 1 bulan, paling lambat 1 bulan, biasanya 3 minggu sekali. Tapi kan kondisi saya gak memungkinkan untuk lanjut kemo lagi. Kemo yang kemudian saya pindah, tidak di Bethesda karena Dokter kan hanya dokter tamu to di Bethesda, jadi tidak bisa sewaktu- waktu melihat. Saya kemo kan nginep juga, jadi saya sudah 3 kali di opname ya, dioperasi, terus kemo, terus habis kemo itu. Sampai 3 kali. Hehee.. Terus saya kemo kedua ngomong sama dokternya, Pak kan dokter di Sardjito. Sudah gitu kan memang mengurusi masalah kanker. Kan ada poli sendiri, poli tulip. Saya di situ, saya mulai konsultasi dengan Pak Kunto, tapi saya masih nginep kemonya. Ya tetep

  92.

  drop aja. Kalau kemo mesti drop.

  Tapi saya gak sempat sampai mondok lagi. Tapi itu sudah sampai 4 kali. Tapi habis kemo yang berikutnya gak mondok lagi. Gak mondok cuma ya tetep

  drop. Terus yang ketiga kemo lagi, saya gak mau nginep lagi.

  Soalnya itu di Sardjito itu di tulip itu ada yang pagi datang, siang selesai. Kalau di kamar masukinnya lambat banget. Kalau itu kan cepet. Jadi saya kemo sekitar 5 jam sampai 6 jam. Itu kemo yang ketiga sampai keenam di situ semua. Saya kemo 6 kali ya. Jadi kemo yang ketiga, empat,

  Subjek pasti mengalami penurunan kondisi tubuh ketika kemoterapi (Pngl.B) Menjalan kemoterapi selama 6 kali (Pbt.M)

  Pengobatan kemoterapi memberikan efek negatif bagi tubuh  kondisi tubuh menurun (Pngl.B) Pengobatan medis yang dilakukan subjek  kemoterapi sebanyak 6

  93.

  74.

  75.

  82.

  76.

  77.

  78.

  79.

  80.

  81.

  83.

  90.

  84.

  85.

  86.

  87.

  88.

  89.

  91.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. lima, enam, saya di situ. Tapi kemo yang terakhir, saya gak kuat, mondok lagi. Tapi di Bethesda sih. Mondok yang terakhir itu, saya masuk November terus 1 Desember saya selesai masuk rumah sakit, sampai sekarang gakpapa. Ya Allhamdulilah saya sehat. Tapi masih itu ada lagi kan. Masih penyembuhan lagi di radiologi, di Sardjito, sore tapi. Selama 35 kali. Disinar, tiap sore itu disinar, tiap hari. Tiap hari sinar, kecuali Sabtu Minggu, kan libur. Di sinar itu sini gosong, mbak. Sini (dada) gosong sampai tembus ke belakang (punggung). Tapi ya gak merasa panas. Tapi saya Allhamdulilah pada saat disinar ini saya sehat. Kan ada yang disinar juga ambruk, karena saya sudah dipol-polke pada saat kemo. Waktu kemo itu, bener- bener waahh.. Waktu kemo itu saya harus suntik, yang tidak dapat diganti lain. Sekali suntik itu 8 juta. Jadi sesudah kemo, saya langsung disuntik itu.

  Namanya Neulastim. Itu untuk menaikkan leukositnya. Tapi sama aja. Sampai disuntik leukosit. Leukositnya berapa kali aja itu. Tapi mungkin, kan kondisi orang lain-lain. Dokter juga bilang gitu, kondisi orang lain-lain, ada yang kemoterapinya gak masalah, ada yang banyak masalah. Tapi kalau saya mungkin ada zat tertentu yang

  Penyinaran selama 35 kali (Pbt.M) Bagian dada sampai punggung mengalami gosong karena penyinaran, tetapi tidak merasakan panas (Pngl.B) Suntik Neulastim untuk menaikkan leukosit (Pbt.M)

  Pengobatan medis yang dilakukan subjek  penyinaran sebanyak 35 kali (Pbt.M) Pengobatan penyinaran memberikan efek negatif bagi tubuh  bagian dada sampai punggung gosong (Pngl.B) Pengobatan medis yang dilakukan subjek  suntik neulastim untuk menaikkan leukosit (Pbt.M)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  154. 155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. tidak bisa saya terima, mungkin. Tapi ternyata setelah kemo selesai, sampai saya itu sudah disinar, kan saya tiap bulan kontrol. Jadi selama 5 tahun saya kontrol, sama minum obat ya.

  Sekarang masih minum obat ya, Bu?

  Masih. 5 tahun kan. 5 tahun minum obat. Dokternya bilang, Bu jarang lho Bu kayak bu Indah ini. Perkembangannya pesat banget, Bu. Oh Allhamdulilah, Pak, saya gitu. Tapi satu kuncinya, Mbak, jangan merasa saya sakit. Itu. Saya dari awal sudah gak mikirin itu kanker. Pokoknya yang penting saya kemo, karena saya mau sembuh. Saya sakit karena kemonya kok, saya bingung bukan kerena kankernya. Hahaha. Bener. Itu. Kan orang-orang kadang, wah aku kanker, njuk gimana, gimana. Kalau saya gak usah dipikirin. Itu temen-temen saya juga banyak gitu. Jadi saya kan satu rombongan kan, jadi kalau kemo biasanya kan kalau yang di Sardjito kan 1 rombongan berapa orang. Tiap minggu saya denger, Bu ini kemana ya kok gak kelihatan. Dah gak ada. Yang ini kemana kok gak keliahatan. Dah gak ada. Gitu itu. Jadi kalau gak kuat mental memang ya mematikan. Tapi saya pada saat itu saya benar-benar berdoa ya. Tapi memang saya sudah diberi

  Melakukan kontrol rutin selama 5 tahun, mengkonsumsi obat dokter (Pbt.M)

  Pengobatan medis yang dilakukan subjek  melakukan kontrol rutin sampai 5 tahun dan mengkonsumsi obat dokter (Pbt.M)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  194. 195. 196. 197. 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. 218. 219. 220. 221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231. 232. 233. kanker, mau gimana lagi. Jadi saya itu gak usah mikirin kanker itu apa. Yang penting saya sembuh. Saya tuh yang tak takuti itu kemonya itu. Jadi saya stress karena kemo. Karena kemonya saya bukan main, Mbak. Karena mungkin saya kanker yang paling ganas ya, jadi mungkin dosisnya juga lebih tinggi. Gitu.

  Dulu gak ada gejala kayak benjolan gitu apa, Bu?

  Ada. Seminggu setelah saya melihat ada benjolan, saya langsung ke dokter. Di sini ini. Di kanan bawah sini.

  Sakit gak itu, Bu benjolannya?

  Enggak. Kalau yang sakit itu bukan kanker. Tapi tumor biasa. Cuma itu apa nyeri-nyeri. Cuma saya sampai sekarang merasakan di sini (bawah ketiak) kayak

  nggedibel

  gitu lho, Mbak. Karena kan getah beningnya diambil. Tapi yang perlu dicatat, saya itu tidak merasa kalau saya kanker. Hehehe. Itu yang nomor satu. Saya tidak ada pikiran kanker. Cuma saya itu dropnya karena kemo. Sampai sekarang pun saya merasa saya gak punya kanker. waktu periksa-periksa lagi, ada cek kanker, negatif, Allhamdulilah. Lalu ini mulai besok Senin saya mulai ngecek lagi. 1 bulan kan sudah. Obatnya kan harus habis. Cuma obatnya saya sekarang mahal banget.

  Pngl.B : mengalami stress karena kemoterapi.

  GT : terdapat benjolan di payudara kanan bawah.

  Muncul perasaan stress ketika menjalani kemoterapi (Pngl.B) Gejala kanker payudara yang muncul adalah berupa benjolan di payudara sebelah kanan bawah (GT)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  234. 235. 236. 237. 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246. 247. 248. 249. 250. 251. 252. 253. 254. 255. 256. 257. 258. 259. 260. 261. 262. 263. 264. 265. 266. 267. 268. 269. 270. 271. 272. 273.

  Mungkin saya sekarang masih pakai asuransi ya, obatnya sebulannya sekitar 3 jutaan. Nanti kalau saya pensiun, saya bilang dokternya, Dok, cari obat yang buatan dalam negeri tapi sama. Ya itu yang penting dicatat adalah dari dalam diri sendiri. Kalau kita merasa drop malah susah. Kalau kanker itu psikis, Mbak. Jadi kalau kanker, kitanya benar-benar merasakan kanker, malah nyebar kemana-mana. Jadi dari dalam. Aku memang, Mbak saya cerita ya. Kan kalau saya di radiologi, kan item semua, hitam, item semua, gosong. Sampai teman saya yang di pariwisata bilang, In koe koyo munyuk lho.

  Ben, aku munyuk, koe mbahne munyuk . Hahaha. Aku tuh ndablek . Apa yang membuat saya

  seperti ini, saya kemayu, saya senang berdandan. Hehehe. Jadi pie carane saya harus kelihatan sehat. Jadi orang itu gak nyangka kalau saya itu sakit. Cuma saya pakai topi, kenapa, rambutku belum keluar. Mungkin obatnya keras, kan ini saya kanker yang paling ganas. Itu keluar rambutnya kan tebel kalau pakai obat yang biasa. Saya kan yang keras, ini keluarnya cuma sedikit- sedikit aja. Makanya saya pengen ganti obat ben rodo tebel.

  Kalau dari keluarga ada riwayat kena kanker ya, Bu? Ada. Ayah saya itu kanker hati.

  RK : ada riwayat keluarga Subjek memiliki riwayat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  terkena kanker (Ayah dan kakak kandung) Faktor pendukung yang utama adalah diri sendiri.

  Kakak saya juga.

  Kakak kandung?

  Iya, kakak kandung. Kakak saya itu hepatoma. Tapi satu yang perlu dicatat, dari hati diri sendiri yang bisa ngobatin. Kalau enggak, udah nglokro dah. Yang namanya kanker itu cepet banget kok. Psikisnya drop langung cepet nyabar. Makanya jangan kelihatan kita sakit. Apalagi Mbaknya yang masih muda semangat lah, semangat. Saya sakit aja pinginnya bergaya kok. Saya gak mau kelihatan orang sakit. Saya pernah di Sardjito suruh pakai kursi roda, saya gak usah lah masih bisa jalan kok.

  Piye carane saya bisa jalan. Kan

  waktu kemo itu habis saya mbak, gundul. Kan rontok terus digundul. Itu suami saya yang nangis-nangis. Saya malah ketawa. Wes rasah ditangisi, memang ini udah konsekwensinya. Cuma, saya itu

  Memiliki usaha untuk tetap bisa melakukan aktivitas sendiri  mandiri. Karena subjek tidak ingin terlihat sakit (Dm.O)

  Berusaha untuk mandiri, tidak ingin orang lain mengetahui bahwa subjek sakit (Dm.O) Suami sedih ketika rambut subjek rontok (Ds.E) Tidak sedih ketika rambut rontok (Dm.PD) Menyadari dan menerima konsekwensi dari kemoterapi (Dm.PD) Pngl.KD : merasa biasa saja karena memiliki gen kanker.

  274. 275. 276. 277. 278. 279. 280. 281. 282. 283. 284. 285. 286. 287. 288. 289. 290. 291. 292. 293. 294. 295. 296. 297. 298. 299. 300. 301. 302. 303. 304. 305. 306. 307. 308. 309. 310. 311. 312. 313.

  • Mendapatkan dukungan sosial dari suami (Pds.)
  • Suami merasaka kesedihan melihat kondisi subjek (Ds.E)
  • Adanya penerimaan diri secara positif  tidak merasa sedih ketika mengalami kerontokan rambut; menyadari dan menerima setiap resiko dari pengobatan

  Ya, orang, mesti lah manusiawi mesti ada. Tapi syoknya kan tidak keterusan gitu lho. Tapi

  Jadi gak ada ngerasa syok?

  Waktu divonis kanker Ibu perasaannya gimana?

  Pngl.KD : syok, tetapi tidak berkepanjangan. keluarga yang sakit kanker  Ayah dan kakak kandung (RK) Kesembuhan berasal dari dalam diri sendiri.

  drop karena sakit. Sakit kemonya itu lho.

  (Dm.PD) Muncul perasaan netral ketika mendapatkan vonis kanker (Pngl.KD) Subjek memiliki gen pembawa kanker (RK) Muncul reaksi terkejut ketika mendapat vonis kanker yang tidak

  Biasa-biasa saja. Karena saya sudah menduga gitu lho. Udah ada gennya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  314. 315. 316. 317. 318. 319. 320. 321. 322. 323. 324. 325. 326. 327. 328. 329. 330. 331. 332. 333. 334. 335. 336. 337. 338. 339. 340. 341. 342. 343. 344. 345. 346. 347. 348. 349. 350. 351. 352. 353. pokoknya, apa ya, dari dalam, harus kita tabah lah. Kalau gak gitu, bablas sudah lah saya.

  Tapi sempat ada pengalaman kesedihan yang mendalam gitu gak bu?

  Gak. Saya ilangin itu. Positif thinking aja saya. Saya sudah percaya sama dokter, sudah. Gitu aja. Ada yang bilang pake ini, pake ini, pake ini. Udah. Kalau saya udah pakai obat medis, ya medis. Gak usah pake macem- macem.

  Obat yang non medis Ibu gak pakai?

  Saya sampai sekarang tidak makan pengawet. Seperti indomie, kornet, sarden saya suka dulu, sekarang enggak.

  Jadi pengobatan Ibu sekarang pengobatan medis aja ya?

  Medis. Tapi gak tau saya minggu depan mau nyoba daun sirsat direbus. Ya untuk menjaga. Tapi saya itu gak merasakan saya berat, gitu gak. Pokoknya ya saya percayakan hidup mati kan sudah ada yang ngatur. Saya kepengen sehat, gak ngerepotin orang.

  Terus, kalau Ibu sendiri ini sekarang memandang diri Ibu seperti apa?

  Ya biasa lah. Saya kan hobinya senengnya kan berdandan. Saya senengnya touring, dolan, ya

  Dm.PD : tabah dalam menghadapi.

  Tidak ada pengalaman kesedihan mendalam (Pngl.KM) Memiliki pikiran yang positif (Dm.PD) Mengurangi makan makanan yang dapat memicu kanker.

  Akan mencoba mengkonsumsi air rebusan daun sirsat (Pbt.NM) memiliki keinginan ingin sehat (Dm.TH) supaya tidak merepotkan orang lain (Dm.O) Merasa biasa saja dalam memandang diri sendiri (Dm.PD) (Pngl.KD)

  Memiliki ketabahan dalam menerima keadaan (DmPD) Subjek merasa tidak mengalami keterpurukan selama sakit kanker payudara (Pngl.KM) Subjek memiliki pola pikir yang positif terhadap kehidupannya (DmPD) Menjaga kondisi tubuh dengan menjaga asupan makanan.

  Pbt.NM : belum melakukan pengobatan yang non medis, tetapi akan segera mencoba Adanya keinginan untuk sehat (Dm.TH) Adanya keinginan untuk tidak merepotkan orang lain (Dm.O) Adanya perasaan netral dalam memandang diri sendiri (Dm.PD)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  354. 355. 356. 357. 358. 359. 360. 361. 362. 363. 364. 365. 366. 367. 368. 369. 370. 371. 372. 373. 374. 375. 376. 377. 378. 379. 380. 381. 382. 383. 384. 385. 386. 387. 388. 389. 390. 391. 392. 393. karena saya orang parwisata ya.

  Pernah merasa minder gitu gak, Bu?

  Gak lah. Percaya diri aku. Pribadi yang kuat aku itu. Wong saya itu pernah dibilang wah Ibu itu bener-bener luar biasa. Lha gimana lagi wong saya gak sakit. Diterima lah. Tapi gimana caranya kita menyikap itu. Memang benar-benar berat, berat bukan main, karena sakit kanker kok. Pengobatannya itu yang

  marai berat. Kemonya saya yang

  stress tuh. Buat saya itu stress, karena kalau ibu-ibu yang lainnya dikemo tenang aja. Kalau saya mesti ada dropnya gitu lho.

  Mual juga gak Bu waktu kemo? Gak begitu sih kalo mual. Bicara mengenai tujuan hidup, Ibu, tujuan hidup Ibu saat ini apa?

  Ya saya mengabdi. Istilahnya saya ini kan sudah cacat ya, kalau udah kanker kan sudah cacat. Iya to? Hehehe. Saya kadang-kadang sini sakit, tapi gak saya rasakan kok. Ya saya sih tujuannya ya mengabdi aja sama keluarga, saya menyelesaikan pekerjaan saya di kantor, ya pengabdian aja. Tapi kalau bisa, kalau saya masih bisa dipercaya ya saya masih pengen aktivitas. Saya gak merasa saya sakit kok. Saya gak pernah sakit.

  Tidak merasa minder, percaya diri, merupakan pribadi yang kuat (Dm.PD) Merasa tidak memiliki sakit (Dm.PD) Menerima keadaan (DmPD) Kemoterapi merupakan pengobatan yang berat dan membuat stress (Pngl.B) Tidak terlalu merasa mual ketika kemoterapi (Pngl.B) Tujuan hidup subjek ingin mengabdi (Dm.TH) Tujuan hidup saat ini adalah mengabdi pada keluarga. Menyelesaikan setiap pekerjaan di kantor (Dm.TH) Tidak merasa kalau memiliki penyakit (Dm.PD)

  Ada pandangan positif terhadap diri sendiri  tidak minder, percaya diri, dan merupakan pribadi yang kuat (Dm.PD) Adanya penerimaan keadaan apa adanya (Dm.PD) Muncul perasaan stress ketika menjalani kemoterapi karena merasa berat dengan pengobatannya (Pngl.B) Pengobatan kemoterapi yang dijalani subjek memberikan dampak negatif bagi tubuh subjek merasa agak mual (Pngl.B) Ada tujuan hidup yang dimiliki subjek saat ini  ingin mengabdi pada keluarga dan menyelesaikan setiap pekerjaan di kantor (Dm.TH)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  394. 395. 396. 397. 398. 399. 400. 401. 402. 403. 404. 405. 406. 407. 408. 409. 410. 411. 412. 413. 414. 415. 416. 417. 418. 419. 420. 421. 422. 423. 424. 425. 426. 427. 428. 429. 430. 431. 432. 433.

  Tetap saya masih kuat kok.

  Tujuan hidup yang ibu punya ini, apakah dari dulu seperti ini?

  Iya. Sebelum sakit pun ya itu gini.

  Ada perubahan gak sih Bu? Ya ada perubahan sih sedikit.

  Saya kan dulu meledak-ledak, Mbak. Sekarang sudah lebih santai. Ya karena tambah usia juga ya Mbak ya. Dulu tuh, wah.. Tapi ya gak emosional banget, enggak. Terus saya dari dulu juga cepet kenal sama orang. Terus kalau sekarang tuh galau juga ya.

  Saya itu kan pengen punya kegiatan lain. Saya kan sekarang ini sibuk di kantor, tapi saya kan mau pensiun. Mungkin ke depannya tuh piye. Mungkin bukan karena materi, tapi pengen punya kegiatan sehari-hari, kan mesti perlu adaptasi. Biasanya ada yang bikin tas, jualan, ya to, saya pikir itu. Jadi pokoknya saya kepengen punya kegiatan. Usaha. Apalah, ya untuk kegiatan.

  Jadi apakah ada perubahan tentang tujuan hidup Ibu?

  Gak ya. Dari dulu, sampe saya sakit, sekarang, ya itu.

  Apa sih yang membuat tidak ada perubahan tujuan hidup itu apa, Bu?

  Gimana ya, ya, sekarang saya

  Masih memiliki kekuatan fisik (Dm.PD) Tujuan hidup yang dimiliki subjek dimiliki sejak sebelum terkena kanker (Dm.TH) Ingin memiliki usaha untuk mengisi masa pensiun (Dm.TH) Tujuan hidup yang dimiliki subjek dimiliki sejak sebelum terkena kanker (Dm.TH) Tidak merasakan rasa sakit dimiliki subjek (Dm.PD) Tidak adanya perubahan tujuan hidup yang dimiliki subjek sejak sebelum sakit sampai saat ini (Dm.TH) Adanya keinginan memiliki usaha baru untuk mengisi masa pensiun (Dm.TH; Dm.PG.D) Tidak adanya perubahan tujuan hidup antara sebelum dan setelah kanker (Dm.TH)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  434. 435. 436. 437. 438. 439. 440. 441. 442. 443. 444. 445. 446. 447. 448. 449. 450. 451. 452. 453. 454. 455. 456. 457. 458. 459. 460. 461. 462. 463. 464. 465. 466. 467. 468. 469. 470. 471. 472. 473. sakit, tapi saya gak ngerasa saya sakit. Saya sehat lah. Kalo udah kanker terus aku nglokro lah, gak mau yang gimana-gimana, gak, saya pengennya malah sibuk.

  Terus kalau menurut Ibu sendiri, orang dengan kanker payudara itu apakah mereka itu mampu untuk mengembangkan diri lebih lagi? Bisa saya rasa. Kenapa Bu?

  Ya kalau sudah tervonis itu ya, mengembangkan maksudnya potensi yang ada, bisa. Gak terlalu lebay banget. Bisa lah. Sekarang saya kalau ketemu teman-teman saya yang seperti saya, ayo kita reunion, apalagi kalau untuk usaha, pasti bisa.

  Kemudian kalau Ibu sendiri merasa bisa dan mampu untuk mengembangkan diri?

  Bisa. Saya bisa. Wong saya gak merasa sakit. Hehehe.

  Ada gak sih, Bu ketika Ibu sakit kanker ini, Ibu merasa lebih berkembang?

  Ya mungkin berkembang karena saya kerja ya. Tapi saya mungkin belum terlalu bisa mengembangkan diri saja karena kan kerja sudah ada aturannya. Tapi tetep kalau berkembang ya saya pengennya ya berkembang.

  yang dimilikinya (Dm.PD) Merasa kalau fisiknya sehat. Memiliki keinginan untuk tidak larut dalam kesedihan (Dm.PD) Memiliki keinginan untuk tetap berkegiatan (Dm.PL) Orang dengan kanker payudara bisa mengembangkan diri (Dm.Pg.D) Orang dengan kanker payudara bisa mengembangkan diri sesuai segala potensi yang ada dalam diri masing-masing (Dm.Pg.D) Jangan terlalu melebih- lebihkan keadaan (Dm.PD) Memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri karena tidak merasakan sakit yang ada (Dm.Pg.D) Merasa diri sendiri belum terlalu mampu mengalami perkembangan Memiliki pekerjaan yang menghambatnya untuk Ada reaksi positif terhadap diri sendiri  ada keinginan untuk tidak larut dalam kesedihan (Dm.PD) Adanya keinginan untuk beraktivitas (Dm.PL) Memiliki pendapat bahwa orang dengan kanker payudara bisa mengembangakan diri (Dm.Pg.D) Perkembangan diri disesuaikan dengan potensi yang ada dari masing- masing (Dm.PG.D) Ada reaksi positif terhadap diri sendiri  tidak melebih-lebihkan keadaan (Dm.PD) Adanya kemampuan untuk mengembangkan diri karena tidak merasakan adanya rasa sakit (Dm.PG.D) Untuk saat ini merasa belum mengalami perkembangan karena pekerjaan (Dm.Pg.D)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  474. 475. 476. 477. 478. 479. 480. 481. 482. 483. 484. 485. 486. 487. 488. 489. 490. 491. 492. 493. 494. 495. 496. 497. 498. 499. 500. 501. 502. 503. 504. 505. 506. 507. 508. 509. 510. 511. 512. 513.

  Kalau hidup itu kan, saya kalau berdoa ya setiap saat saya memohon diberikan manfaat hidup di sisa hidup saya. positif thinking lah, Mbak. Cuma itu tadi ya yang saya lagi galau itu, kegiatan saya nanti setelah pensiun. Makanya saya ini, buka- buka internet, cari-cari buku. Nah itu bisa mengembangkan diri saya juga to.

  Terus, kegiatan sehari-hari Ibu ini di kantor ya, Bu?

  Di kantor lah. Dari pagi jam setengah delapan sampai jam empat. Kadang-kadang sampai jam enam.

  Kegiatan lain ada gak, Bu?

  Misalnya?

  Arisan atau apa gitu? Ya kalau sosial ya mesti ikut ya.

  Tapi kalau saya bukannya masalah apa-apa. Tapi kadang capek, pulang kantor kan capek. Tapi kan saya hidup tidak sendiri, jadi ikut kegiatan sosial. Ada 2, Mbak, di rumah sini, sama rumah sana.

  Itu gimana Bu mengaturnya? Arisannya kan sebulan sekali.

  Kalo dua ya sebulan 2 kali. Jadi ya gak gimana-gimana ngaturnya.

  Jadi Ibu gak merasa kerepotan ya, Bu? Enggak.

  Memiliki pikiran positif (Dm.PD) Kegiatan sehari-hari  bekerja di kantor Mengikuti kegiatan sosial (Dm.PL; Dm.RP) Mengikuti kegiatan arisan di 2 tempat Tidak merasa kesulitan mengatur kegiatannya (Dm.PL) Tidak merasa direpotkan oleh kegiatan (Dm.PL)

  Adanya pikiran yang positif (Dm.PD) Memiliki kegiatan utama bekerja di kantor Memiliki kegiatan sosial arisan di 2 lokasi (Dm.RL) Tidak adanya kesulitan dalam mengatur aktivitas sehari-hari (Dm.PL) Tidak merasa kerepotan dalam berkegiatan (Dm.PL)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  514. 515. 516. 517. 518. 519. 520. 521. 522. 523. 524. 525. 526. 527. 528. 529. 530. 531. 532. 533. 534. 535. 536. 537. 538. 539. 540. 541. 542. 543. 544. 545. 546. 547. 548. 549. 550. 551. 552. 553.

  Kalau untuk pekerjaan di rumah, Ibu gimana cara mengaturnya, dengan kegiatan Ibu di kantor yang dari pagi sampai sore?

  Ya, saya dengan suami saya sudah komitmen ya, jadi gak masalah ketika suami saya pergi sampe malam, atau saya yang keluar sampai malam ya. Jadi ya sudah, gak ada masalah.

  Kemudian, untuk pekerjaan rumah, ada pembagian tugas gak, Bu?

  Karena saya tinggal sama anak saya ya, saya gak ngapa-ngapain. Hehehe. Namanya anak, pasti bantu orang tua. Otomatis itu. Sama saya dari dulu pake pembantu. Jadi saya masih sering pergi, refreshing sama suami saya. Ke Ambarukmo, Malioboro, cari-cari baju atau apa gitu lah.

  Nah, ketika ibu kemoterapi, itu gimana cara mengaturnya dengan kondisi Ibu yang nge drop? Pas kemo gak ngapa-ngapain.

  Saya gak masuk kantor 4 bulan. Soalnya masuk kantor gak bisa. Malah gak bisa kerja. Dari kantor juga gakpapa, sudah tau keadaan saya. Kita hidup lagi saja sudah Allhamdulilah. Saya anggap hidup saya ini hidup kedua ya, Mbak. Allhamdulilah.

  Sudah ada komitmen dengan suami tentang kegiatan masing-masing  tidak menimbulkan masalah yang disebabkan oleh kesibukan (Dm.PL) Kegitan sehari-hari dibantu anak (Ds.Inst.) Menggunakan jasa asisten rumah tangga untuk mengerjakan pekerjaan rumah (Dm.PL) Masih melakukan aktivitas yang menjadi hobinya (Dm.PL) Tidak bisa beraktivitas dan tidak bekerja selama 4 bulan ketika kemoterapi (Pngl.B) Berusaha untuk tetap ke kantor (Dm.PL) Teman kantor memahami kondisi subjek (Ds.E)

  Memiliki komitmen dengan suami mengenai kesibukan masing-masing sehingga tidak menimbulkan masalah (Dm.PL) Kegiatan sehari-hari dibantu oleh anak dan menggunakan jasa asisten rumah tangga (Dm.PL) Adanya kesempatan untuk melakukan hobinya desela- sela kegiatan (Dm.PL) Menghentikan aktivitas dan pekerjaan selama beberapa waktu dikarenakan kemoterapi (Pngl.B) Adanya usaha untuk tetap beraktivitas (Dm.PL) Mendapat dukungan dari teman kantor (PDs.) adanya perasaan memahami kondisi subjek (Ds.E)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  554. 555. 556. 557. 558. 559. 560. 561. 562. 563. 564. 565. 566. 567. 568. 569. 570. 571. 572. 573. 574. 575. 576. 577. 578. 579. 580. 581. 582. 583. 584. 585. 586. 587. 588. 589. 590. 591. 592. 593.

  Untuk keputusan sehari-hari, biasanya Ibu terbiasa untuk mengambil keputusan sendiri atau minta pertimbangan orang lain?

  Suami saya. Ya bagaimanapun juga kan Imamnya kan suami.

  Dalam segala hal atau hal-hal tertentu saja?

  Kalau urusan kantor kan saya sendiri. Kalau untuk rumah, keluarga, ya diskusi. Misalnya mau ganti mobil ya, kita diskusi, minta pertimbangan suami juga.

  • Meminta pertimbangan suami ketika mengambil keputusan yang berhubungan dengan keluarga.
  • Memutuskan sendiri dala hal pekerjaan dan keputusan pengobatan.

  Kalau dulu waktu pengambilan keputusan untuk pengobatan kanker itu diskusi sama suami juga kah?

  Saya gak diskusi, gak apa. Sudah otomatis. Karena saya yang jalani, saya siapnya kapan. Tapi dokter juga mempengaruhi, kayak Dokter kan sok kenal sok dekat to, jadi itu juga mempengaruhi dalam keputusan kita berobat.

  Jadi Ibu gak ada diskusi sama suami waktu itu, langsung keputusan di tangan Ibu?

  Iya. Suami saya ya manut. Lha hanya itu kok pengobatannya, operasi aja to. Kalau gak dioperasi, katanya ada yang gak dioperasi pakai obat sarang semut, atau apa lah, saya gak percaya. Ya mungkin yang

  Subjek meminta pertimbangan kepada suami ketika akan mengambil keputusan (Dm.O) Dm.O : Mengambil keputusan sendiri dalam hal pekerjaan. Mengambil keputusan dengan berdiskusi dalam hal kepentingan keluarga.

  Pengambilan keputusan berobat : tidak mendiskusikan dengan suami karena semua tergantung kesiapan subjek (Dm.O) Suami menerima keputusan yang diambil subjek (Ds.P)

  Dm.O :

  Adanya dukungan penerimaan dari suami  menerima keputusan subjek (Ds.P)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  594. 595. 596. 597. 598. 599. 601. 602. 603. 604. 605. 606. 607. 608. 609. 610. 611. 612. 613. 614. 615. 616. 617. 618. 619. 620. 621. 622. 623. 624. 625. 626. 627. 628. 629. 630. 631. 632. 633. 634. namanya herbal kan lama. Aku gak kepengen itu. Ya langsung diatasi lah, ini kan ganas banget. Lha katanya udah dioperasi aja masih bisa muncul lagi. Tapi saya tetap berdoa, supaya tidak muncul lagi. Ya menjaga makanan juga ya. Sama hindari stress. Saya tak gawe enteng kok, Mbak.

  Kemudian, kalau hubungan Ibu dengan suami ada perbedaan gak Bu?

  Enggak. Suami saya baik, perhatian. Gak percaya tanya suami saya tuh, ada di dalem. Hehehe.

  Sama anak-anak juga ya, Bu? Iya. Ada hubungan yang tambah dekat gak sih, Bu?

  Ya, kalau suami saya itu gimana ya. Saya itu tau dia itu sedih, sebenarnya perhatian, tapi dia tidak menunjukkan itu. Tapi saya bisa merasakan perhatian- perhatian itu. Tapi kadang ketika saya kemo, dia malah kerja. Yang lainnya pada ditungguin suaminya, saya gak. Tak suruh ke kantor. Mengko jam semene aku

  dipethuk . Hehehe.

  Kalau hubungan Ibu dengan masyarakat di sini bagaimana, Bu? Ya biasa. Biasa aja. Baik.

  Menghindari pemicu stress dan menjalani dengan ringan (Dm.PD) Ada hubungan baik dengan suami (Dm.RP) Suami memberikan perhatian (Ds.E) Ada hubungan yang baik dengan anak-anak (Dm.RP) Suami tidak menunjukkan perhatiannya kepada subjek, tetapi subjek bisa merasakan perhatian dari suaminya.

  Ada hubungan baik dengan Menjauhkan diri dari stressor dan menjalani kehidupan dengan ringan (Dm.PD) Adanya relasi positif dengan suami (Dm.RP) Mendapatkan dukungan berupan perhatian dari suami (Ds.E) Adanya relasi positif dengan anak-anak (Dm.RP) Bentuk perhatian yang diberikan suami, diberikan secara tidak langsung, tetapi subjek bisa merasakannya (SPDs.) Adanya relasi positif

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  masyarakat (Dm.RP) Masyarakat menjenguk subjek (Ds.E) Ada hubungan yang baik dengan teman kantor (Dm.RP) Sering mendapatkan dukungan sosial.

  Masyarakat di sini tau Ibu kena kanker? Iya. Tau. Pada waktu mereka tau, gimana reaksi mereka? Ya pada ke sini. Nengokin. Teman-teman kantor juga ya, Bu? Iya lah. Pada baik-baik.

  Tergantung kita gimana membawa diri.

  Ibu selama sakit ini sering dapat dukungan atau bantuan? Iya. Dari siapa aja bu ?

  Banyak ya. Temen-temen, saudara saya, tetangga, ya anak, suami, semua mbak. Banyak.

  Dukungan yang selama ini sudah Ibu terima apa saja, Bu?

  (Dm.RP) Mendapatkan dukungan emosional dari masyarakat dijenguk ketika sakit (Ds.E) Adanya relasi positif dengan teman kantor (Dm.RP) Mendapatkan dukungan sosial JDs.

  Mendapat dukungan sosial dari teman, saudara, tetangga, anak, dan suami (PDs.) Suami mengantar berobat (Ds.Inst.) dan menerima apa danya (Ds.P) Anak-anak menerima apa adanya (Ds.P), memberikan support (Ds.E), dan menganggap subjek tidak sakit (Ds.P)

  635. 636. 637. 638. 639. 640. 641. 642. 643. 644. 645. 646. 647. 648. 649. 650. 651. 652. 653. 654. 655. 656. 657. 658. 659. 660. 661. 662. 663. 664. 665. 666. 667. 668. 669. 670. 671. 672. 673. 674.

  • Mengantar berobat
  • Menerima apa adanya (Ds.P suami & anak
  • Memberikan semangat (Ds.E) anak
  • Menganggap tidak sakit (Ds.P)  anak
  • Menanyakan kondisi

  Ya, menanyakan gimana, Bu,

  Dari masyarakat juga sering kasih dukungan gitu, Bu?

  Kalau anak-anak gimana bu?

  Yo selama ini kalau saya berobat saya bersama suami. Menerima saya lah dengan istilah e udah cacat gini ya.

  (Ds.Inst.) suami, anak

  (Ds.E)  tetangga

  Ya tetep menerima, kasih support ya. Tapi mereka itu gak menganggap saya sakit, mereka menganggap saya sudah sembuh.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  675. 676. 677. 678. 679. 680. 681. 682. 683. 684. 685. 686. 687. 688. 689. 690. 691. 692. 693. 694. 695. 696. 697. 698. 699. 700. 701. 702. 703. 704. 705. 706. 707. 708. 709. 710. 711. 712. 713. 714. sehat, Bu, ya gitu-gitu.

  Terus, kalau diantara orang- orang tersebut, siapa sih yang memberikan dukungan yang paling berpengaruh untuk Ibu?

  Ya suami saya. Dia juga selalu membesarkan hati saya juga kok. Tapi yang penting dari diri kita, Mbak. Dukungan gedhenya kayak apa, kalau kitanya gak tegar ya percuma, itu tuh kaitannya dengan psikis. Saya itu sakit bukan karena kanker tapi karena kemo. Ternyata teman- teman di sana juga iya.

  Memberikan dukungan ke Ibu dengan cara seperti apa, Bu?

  Ya, misalnya ngingetin obatnya, jangan lupa makan.

  Berarti bentuk perhatian- perhatian langsung ya, Bu?

  Iya. Wong saya gak merasakan berat banget kok, mbak.

  Pernah ada pengalaman tidak di dukung gak, Bu?

  Gak ya, dan saya tidak akan merasakan itu. Saya mikir positif aja. Saya gak negatif njuk woo aku sakit gak didukung. Enggak. Saya gak seperti itu. Itu mungkin yang bikin saya cepet pulih. Mikir positif. Saya juga merasa tidak sendiri. Apalagi saya melihat di klinik sana, karena yang penyakitnya lebih parah itu lebih banyak.

  Masyarakat menanyakan kondisi subjek (Ds.E) Pemberi dukungan terbesar : suami (PDs.) Suami membesarkan hati subjek (Ds.E) Faktor utama adalah kondisi diri sendiri. Dukungan tanpa ketegaran dari dalam diri itu percuma (Dm.PD) Dukungan yang diberikan : mengingatkan minum obat, mengingatkan untuk tidak lupa makan (Ds.Inst.) Memberikan dukungan secara langsung (SPDs.) Tidak merasakan ada beban (Pngrh.Ds.) Tidak ada pengalaman tidak didukung (PTD) Selalu berpikir positif (Dm.PD) Dukungan sosial mempercepat pemulihan, selalu berpikir positif, dan merasa tidak sendiri (Pngrh.Ds.)

  Dukungan yang berpengaruh berasal dari suami (PDs.) Mendapat dukungan dari suami (PDs.) Mendapat dukungan untuk membesarkan hati (Ds.E) Memiliki ketegaran (Dm.PD) SPDs. : Dukungan diberikan secara langsung  mengingatkan minum obat, mengingatkan untuk makan (Ds.Inst.) SPDs. : Dukungan diberikan secara langsung Tidak merasakan beban setelah mendapat dukungan sosial (Pngrh.Ds.) Tidak memiliki pengalaman tidak didukung (PTD) karena selalu memiliki pikiran yang positif Pengaruh dari dukungan sosial adalah mempercepat pemulihan, selalu berpikir positif, dan adanya perasaan tidak sendiri (Pngrh.Ds.)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  715. 716. 717. 718. 719. 720. 721. 722. 723. 724.

  Apa sih bu, dampak dari dukungan yang Ibu terima? Sehat. Saya jadi tambah sehat.

  Saya gak kepengen suami saya sedih karena saya sakit. Saya pengennya dimata mereka saya itu sehat. Supaya mereka tidak sedih. Jadinya bikin saya tambah semangat lah. Hehe. Gitu.

  Dukungan sosial membuat subjek menjadi sehat (Pngrh.Ds.) Subjek tidak ingin melihat suaminya sedih karena sakitnya subjek (Dm.TH) Pengaruh dari dukungan sosial adalah memulihkan kesehatan (Pngrh.Ds.) Adanya tujuan ingin sehat karena tidak ingin melihat suaminya sedih (Dm.TH)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  29.

  22.

  23.

  24.

  25.

  26.

  27.

  28.

  30.

  20.

  31.

  32.

  33. Gimana sih Bu, awal mula Ibu

  dinyatakan kanker payudara?

  Ketahuannya itu, pokoknya tau- tau di kanan sini ada benjolan semacam bisul, terus saya ini seminggu kok gak mecah-mecah, tapi kok kayak ada seperti buah salak di dalamnya itu lho. Ya memang keluar nanahnya, keluar darahnya. Lha lama-lama karena tidak tahan, tapi bukan saya yang tidak tahan ya, tapi anak-anak saya bilang, kalau dipeluk itu mesti bilang, ibu ki bau. Padahal itu barusan saya ganti perban itu. Tak pikir ini kok, tidak merasakan sakit, gak merasakan apa-apa, tapi lama-lama kok nyebelin ya. Akhirnya saya langsung ke yayasan Kucala. Saya langsung periksa ke sana. Kemudian dalam waktu proses gak sampai 10 hari, seminggu paling marathon saya di biopsy hampir 4 kali kalau gak salah. 3 sampai 4 kali dan itu menandakan tidak ada gejala kanker sama sekali. Tapi dokternya tetap curiga. Waktu itu dokternya kan perempuan. Terus curiga dia mengatakan ini kanker, mau gak kalau di biopsy 1 kali lagi tapi di patologi anatomi UGM. Terus

  Muncul benjolan semacam bisul pada payudara sebelah kanan (GT) Benjolan tidak memecah dan di dalam benjolan terdapat isi seperti buah salah (GT) Dari benjolan tersebut keluar nanah dan darah (GT) Benjolan berbau (GT) Tidak ada rasa sakit (GT) 3-4 kali biopsy tidak menunjukkan gejala kanker (GT)

  Gejala yang teramati berupa benjolan pada payudara sebelah kanan, bernanah, berdarah, berbau, tidak ada rasa sakit (GT) Pada awalnya tidak terdeteksi sebagai gejala kanker (GT)

  21.

  Lampiran 8. Transkrip Verbatim Wawancara dan Analisis Data Subjek 5 (Ibu R)

  BARIS

  8.

  VERBATIM KODING AWAL ANALISIS 1.

  2.

  3.

  4.

  5.

  6.

  7.

  9.

  18.

  10.

  11.

  12.

  13.

  14.

  15.

  16.

  17.

  19.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  69.

  61.

  62.

  63.

  64.

  65.

  66.

  67.

  68.

  70.

  59.

  71.

  72.

  73.

  74. Tapi ini kira-kira bisul atau apa, Dok? Pokoknya curiga ini kanker. Ya kalau kanker kan ini masalah biaya. Saya memang masalah biaya saya memang berat. Karena pasti nggak murah.

  Untungnya dokternya cewek, jadi kita bisa cerita, anak saya masih kecil-kecil, saya gak mungkin untuk di rumah sakit dalam waktu lama. Saya gak punya pembantu, tidak punya keluarga yang bisa dititipkan dan lain sebagainya, saya gak punya tetangga karena kan semua jadi kantor kan di sini. Jadi saya gak punya tetangga, kalaupun ada kan tetangganya jualan, gak mungkin kan saya merepotkan. Terus dokternya bilang, pokoknya ini dalam waktu cepat atau lambat harus diambil. Saya yo gak berpikir lama, pokoknya, yowes pokoknya sek penting penyakitnya itu selesai gitu lho. Terus saya bilang kan, tapi ini gak sakit sama sekali, ini pasti bisul biasa. Terus loh, kalau sakit, kalau pakai baju sakit, kalau pakai daleman sakit, justru itu malah cuma hormonal, jadi cuma di atas cuma dipermukaan. Takutnya nanti yang ini kemana- mana, tau-tau

  “brek”. Waduh, ya

  udah pokoknya menyetujui hasilnya nanti mau diambil bisulnya aja atau nanti diambil semua ya uwes nanti. Terakhir kita janjian kalau gak salah itu, kan saya seminggu marathon, kalau gak salah Sabtu, pokoknya

  Tidak berpikir lama ketika mengambil keputusan tentang pengobatan (Dm.O)

  Langsung mengambil keputusan mengenai pengobatan (Dm.O)

  60.

  35.

  36.

  46.

  37.

  38.

  39.

  40.

  41.

  42.

  43.

  44.

  45.

  47.

  57.

  48.

  49.

  50.

  51.

  52.

  53.

  54.

  55.

  56.

  58.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  91.

  Benjolan membuka, membesar dan menghitam dalam waktu 1 minggu (GT)

  Benjolan semakin membuka (GT) Gejala yang dirasakan benjolan di atas puting.

  Pada awalnya berukuran kecil dan membesar serta menghitam dalam waktu 1 minggu.

  GT : Benjolan terletak di atas puting.

  Sementara saya gak punya diabetes, kalau darah tinggi saya punya. Ini hampir setahun. Pokoknya saya di rumah sakit 5 hari. Tapi saya memang menunggu saat liburan anak. Kalaupun serepot-repotnya saya, kan libur gitu lho anak-anak. Kalau mau libur kan gakpapa. Seminggu sebelum kenaikan itu. Saya ingat, saya sempat nulis surat buat anak-anak. Kan masih kecil-kecil to. Tak bikinin surat pokoknya jangan nakal, jangan rewel kalau ibu di rumah sakit. Gak usah cari ibu, ibu pasti balik lagi. Kan saya ikut jadi komite di

  99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. saya konsultasi terakhir sekalian diberi surat rujukan ke rumah sakit. Itu kan kebetulan dokternya praktek di 3 tempat ya, Solo, Sardjito, dan Ludira. Dari sekian rumah sakit itu, mana yang paling murah sampai ke terakhir karena saya tidak punya Jamkesda, Jamkesmas, gitu, jadi memang gak punya apa-apa. Oh paling murah di Ludira, jadi saya dirujuk ke Ludira. Jadi semua sudah dibuat surat rujukan semua. Terakhir itu, sekitar Sabtu, Senin untuk ke patologi anatomi UGM itu. Memang ini benjolannya di atas puting, pertamanya kecil itu paling gak ada separo kuku, tapi dalam waktu seminggu itu langsung lebar dan kanan kiri itu menghitam gitu. Memang cepet banget itu. Lama-lama kok gak nutup, malah semakin membuka.

  98.

  97.

  96.

  95.

  94.

  93.

  92.

  75.

  76.

  89.

  88.

  87.

  86.

  85.

  84.

  83.

  82.

  81.

  80.

  79.

  78.

  77.

  90.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154. sekolahnya anak-anak. Jadi ya lumayan dukungan dari guru- guru, ya lewat sms itu banyak. Pokoknya cepet sembuh, gitu. Saya biasanya antar-jemput, terus sama sekali gak antar-jemput anak-anak, gitu.

  Gejala yang ibu rasain itu cuma benjolan? Gak ada gejala lain?

  Ya cuma benjolan itu pun gak sakit. Sama sekali gak sakit. Cuma, keluar nanah, keluar darah, jadi pertamanya air, lama- lama ada nanahnya, ada darahnya, terus bau. Sebenernya yang bikin gak betah itu berbau. Jadi misalnya mau pake rexona atau apa gitu ya kalah. Jadi kan tak kasih perban, ya tak kasih revanol, kan ya cuma itu obatnya. Tapi ya gak ada rasa panas, gak ada rasa apa-apa. Gak demam juga. Ya itu terus hari Senin saya bilang sama suami saya, Pak ini besok pokoknya kita harus bagi- bagi tugasnya seperti ini. Nanti suami saya antar jemput anak, saya ke rumah sakit sendiri. Tapi ternyata sampai sana kok waduh serem yaa.. hehehe. Kan banyak contoh-contoh yang sudah di air keras itu kan. Ada janin yang gak jadi, ada bayi kembar meninggalnya di kandungan, bermacam-macam kanker, ada kanker kolon, kanker kelamin, kanker wes macem-macem

  ngono

  , mbak. Komplit. Terus

  Guru-guru (PDs.) memberikan dukungan semangat (Ds.E) melalui sms (SPDs.) Semenjak sakit sudah tidak antar-jemput anak sekolah (Dm.PL) Benjolan yang tidak terasa sakit, keluar nanah, darah, dan berbau (GT) Tidak terasa panas, tidak terasa deman (GT) Berbagi tugas dengan suami (Dm.PL)

  Mendapat dukungan dari guru-guru sekolah (PDs.) Memberikan dukungan melalui sms (SPDs.) Dukungan berupa semangat supaya lekas sembuh (Ds.E) Mengurangi salah satu kegiatan rutinitas (Dm.PL) Gejala yang dirasakan adalah munculnya benjolan yang tidak terasa sakit, dan tanpa demam. Benjolan tersebut bernanah, berdarah, dan berbau (GT) Adanya pembagian tugas dengan suami (Dm.PL)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. sampai sana saya masuk, dicek darahnya dibiopsy itu. Dulu waktu di bopsi di klinik darahnya kotor item-item gitu lho mbak.

  Tapi begitu di anatomi patologi UGM itu bagus. Seger ngono kae

  darah e . Modelnya kan pake

  yang suntikan manual, jadi pake yang model kaca, terus suntikannya cuma jarumnya aja yang diganti. Itu habis pengambilan masih disuruh nunggu 1 jam. Terus dokternya keluar lagi, bilang gini, Bu, ini nanti kalau tidak mencukupi, nanti sekali lagi ya bu, ambil darahnya. Waduh, 30 cc lagi. Waduh. Saya gitu. Tapi ya udah gakpapa. Mudah-mudahan cukup untuk melihat jaringannya itu rusak apa gak. Sudah 1 jam lebih, dokternya panggil saya lagi, ternyata cukup. Wah, untung lah. Sudah selesai, ambil hasilnya, pulang. Ya sudah saya juga sudah janjian sama dokternya kan, jadi saya pulang cuma ambil ganti. Suami saya kan soale ngurusi anak-anak saya. Saya beres-beres, waktu itu ada kakak saya yang dari Jakarta. Saya cuma bilang,

  aku arep neng rumah sakit. Lha koe numpak opo?

  Kakak saya tanya gitu. Aku numpak taksi

  wae. Yawes tak terke wae.

  Akhirnya saya diantar kakak saya ke Ludira. Jam 12 saya masuk, masih bisa ngobrol-ngobrol. Ada kakak saya juga kan dan ternyata mau datang mau bantu sampai

  Diantar kakak kandung ke rumah sakit (Ds.Inst.) Kakak kandung datang dan membantu urusan rumah sakit dan menjaga anak Mendapat dukungan dari kakak kandung (PDs.) Mendapat dukungan berupa bantuan transportasi ke rumah sakit, membantu urusan rumah sakit dan menjaga

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  195. 196. 197. 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. 218. 219. 220. 221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231. 232. 233. 234. ngurusi anak-anak dan lain sebagainya. Terus jam 4 itu disuruh puasa dan ternyata saya

  ngedrop . Tensi saya naik, disuruh

  nurunin. Pokoknya berusaha untuk menurunkan tensi. Terus jam setengah 5 diperiksa Hb, Hb saya drop cuma 4. Biasanya kan sampai 12, belum pernah saya mengalami sampai 4. Oh

  pantesan kok aku rasane kok koyo melayang-layang . Hahaha..

  Saya suruh tranfusi darah 2 kantong. Jadi rencana jam 7 operasi, mundur sampai jam 9. Soalnya nunggu tranfusi darah. Saya juga gak ada komplikasi, gak ada apa, bagus. Saya diberitahu kalau diangakat semua yang waktu di meja operasi. Tapi memang sudah ada perjanjian, ini kecil atau gak, pokoknya diangkat. Sudah, setelah selesai, melewati masa kritis 2-3 hari, ya sudah, selesai. Pulang ke rumah. Ya memang sih kelemahannya jadi banyak. Saya juga baru setahun ini pemulihan. Jadi begitu operasi itu, sampai sekitar Januari saya baru mulai aktivitas lagi. Untungnya CIMB itu sabar. Mereka nungguin. Padahal saya juga bukan siapa-siapa. Mereka urunan uang, saya terharu. Mereka hanya pembeli dagangan saya. Saya hanya di situ pun gak tak tungguin, wong kantin kejujuran kok. Gitu aja.

  Udah berapa lama sih bu subjek (D.Inst.) Mengalami banyak kelemahan, 6 bulan setelah operasi tidak melakukan aktivitas (Pngl.B) Pelanggan sabar menunggu subjek sampai bisa beraktivitas (Ds.P) Mendapat bantuan biaya (Ds.Inst.) dari pelanggan (PDs.) anak-anak (Ds.Inst.) Pengobatan yang dijalani subjek memberikan dampak negatif bagi tubuh subjek  tubuh menjadi lemah dan tidak melakukan aktivitas selama 6 bulan (Pngl.B) Mendapat dukungan sosial dari pelanggan (PDs.) Mendapat dukungan berupa bantuan biaya (Ds.Inst.) dan pelanggan sabar menanti subjek sembuh (Ds.P)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  235. 236. 237. 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246. 247. 248. 249. 250. 251. 252. 253. 254. 255. 256. 257. 258. 259. 260. 261. 262. 263. 264. 265. 266. 267. 268. 269. 270. 271. 272. 273. 274.

  sakitnya?

  Kalau kata dokternya, mungkin inkubasinya lama, sekitar 2-3 tahun. Tapi kalau ketahuannya ya baru setahun ini. Juli 2012 kemarin kok mbak.

  Kalau dari keluarga ada yang pernah kanker gak bu?

  Nah, ternyata kan ya itu, kakak saya yang punya toko ini, tapi dia belum sampai kanker, masih tumor kecil, dia sudah diangkat. Makane saya itu heran, saya itu jarang makan ayam, saya gak suka daging, ya kebanyakan saya suka sayuran, tempe, tahu, tapi kok kena kanker ini. Ternyata ya itu, dari kakak saya itu.

  Dulu waktu divonis kanker itu, perasaan ibu gimana sih bu?

  Saya gak mikir kemana-mana ya mbak. Sek penting, masalah ini selesai, saya bisa melanjutkan tugas saya sebagai seorang ibu rumah tangga. Gak mikir terus duh aku kok kanker, sampe gini, sampe gini, malah yang nangis malah temen-temen saya. Kan dikabari sama suami saya kalau saya operasi. Jadi saya memang gak bilang sama siapa-siapa. Saya itu nrimo. Apapun yang terjadi ya terjadi, setelah itu pasti akan selesai. Jadi itu pemicu yang bikin cepet pulih. Kalau harus

  digelani ki arep nggo opo. Gak

  ada manfaatnya kan. Sampai temen-temen saya itu nangis,

  Mengalami inkubasi kanker selama 2-3 tahun. Menderita kanker sejak bulan Juli 2012  1 tahun (LS) Kakak kandung terkena tumor (RK) Tidak berpikiran buruk ketika divonis (Pngl.KD) Punya kenginan bisa melanjutkan tugas sebagai ibu rumah tangga dengan baik (Dm.TH) Teman-teman menangis ikut merasakan penderitaan (Ds.E) Menerima apapun yang terjadi dalam hidup. Meyakini sesuatu yang terjadi pasti akan berakhir (Dm.PD)

  Sakit kanker sudah 1 tahun (LS) Subjek memiliki riwayat keluarga yang sakit tumor  kakak kandung (RK) Adanya pikiran positif ketika mendapat vonis kanker (Pngl.KD) Adanya tujuan hidup yang ingin dicapai  melanjutkan tugas sebagai ibu rumah tangga dengan baik (Dm.TH) Adanya empati dari teman-teman (Ds.E) Adanya penerimaan diri secara positif  menerima apapun yang terjadi dalam hidup, percaya akan kehendak Tuhan (Dm.PD)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Selama ini, pengobatan yang sudah ibu jalani apa saja?

  Adanya reaksi terkejut ketika mendapatkan vonis (Pngl.KD) Tidak menjalani dengan kesusahan (Pngl.KM) Memiliki anak-anak yang butuh kehadiran seorang ibu Tidak ada pengalaman keterpurukan dalam menghadapi kanker (Pngl.KM) Adanya cara pandang yang positif (Dm.PD) Pengobatan medis yang dijalani  mengkonsumsi obat dokter, mengkonsumsi Zeloda sebagai pengganti kemoterapi (Pbt.M) Pengobatan non medis yang dijalani  mengkonsumsi jamu ketika tidak mampu membeli obat (Pbt.NM)

  Tidak ada pengalaman keterpurukan (Pngl.KM) Memandang masalah ini sebagai berkat (Dm.PD) Menkonsumsi obat dokter (Pbt.M) Mengkonsumsi jamu ketika tidak memiliki biaya untuk beli obat (Pbt.NM) Mengkonsumsi Zeloda sebagai pengganti kemoterapi (Pbt.M) Tidak melakukan pengobatan penyinaran

  Kaget ketika divonis (Pngl.KD) Tidak menjalani dengan kesusahan (Pngl.KM) Kondisi anak-anak masih kecil.

  Oh enggak, karena fisik saya bagus, saya dikasih obat Zeloda itu pengganti kemoterapi, pertama dikasih dosis banyak terus lama-lama nol. Sinar saya

  Kemoterapi juga bu?

  Saya ada obat dokter, apa namanya saya lupa. Kalau pas lagi gak ada uang buat beli obat ya jamu.

  275. 276. 277. 278. 279. 280. 281. 282. 283. 284. 285. 286. 287. 288. 289. 290. 291. 292. 293. 294. 295. 296. 297. 298. 299. 300. 301. 302. 303. 304. 305. 306. 307. 308. 309. 310. 311. 312. 313. 314.

  ngonekke saya edan. Woo mbak ki edan, mbak ki gila . Mosok

  Kemudian, apa ada pengalaman ibu pernah mengalami keterpurukan? Gak. Sama sekali enggak.

  Yo anak-anak kan masih kecil- kecil, nanti gimana kalau saya susah, kasian anak-anak juga.

  Apa yang bisa buat ibu seperti itu?

  sudah terjadi ya terjadi, nanti selesai.

  susah ngono lho mbak . Apa ya

  penyakit dibawa sendiri. Ya bukannya gitu, tapi kan juga bukan berarti saya harus cerita- cerita. Arep nggo opo. Yo iya kaget iya, cuma njuk ra tak gowo

  Tergantung cara kita memandangnya aja kan mbak. Ya kalau saya, suami saya, memandang ini berkat. Jadi yo gak perlu digawe susah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  315. 316. 317. 318. 319. 320. 321. 322. 323. 324. 325. 326. 327. 328. 329. 330. 331. 332. 333. 334. 335. 336. 337. 338. 339. 340. 341. 342. 343. 344. 345. 346. 347. 348. 349. 350. 351. 352. 353. 354. ya enggak. Cuma sekarang jaga makan aja. Nek misalnya pengen bakso, trus udah kerasa MSGnya

  njuk ra penak , yaudah, gak saya paksakan.

  Kemudian, ketika Ibu harus menjalani pengobatan itu apa yang Ibu rasakan? Biasa aja mbak. Ibu merasa bosan?

  Gak. Ya gimana ya. Saya itu santai orangnya, jadi ya tak nikmati aja. Bersyukur aja. Jadi gak ada perasaan bosen.

  Untuk saat ini, gimana sih cara Ibu memandang diri ibu sendiri?

  Ya nrimo, saya menerima keadaan saya apa adanya ya. Karena ya itu, istilahnya saya sudah terbiasa mengalami seperti ini. Anak pertama saya meninggal, kemudian, anak kedua dan ketiga, saya keguguran. Ya sudah. Saya sudah belajar bagaimana cara menghadapi kesedihan. Bersyukur aja mbak nek saya. Tetep berusaha kuat. Saya percaya Tuhan tidak pernah memberikan kesempatan kepada saya dan keluarga untuk putus asa. Hidup saya ini ajaib kok mbak.

  Ibu sempat merasa minder gak sih bu waktu habis operasi (Pbt.M) Tidak merasa bosan ketika menjalani pengobatan (Pngl.B) Bersyukur dan menikmati proses yang ada (Dm.PD) Menerima keadaan diri apa adanya (Dm.PD) Belajar bagaimana cara mengahadapi kesusahan melalui setiap masalah yang ada (Dm.PD) Bersyukur dan berusaha untuk kuat (Dm.PD) Percaya kepada Tuhan (Dm.PD)

  Tidak mengalami kebosanan dalam berobat (Pngl.B) Mensyukuri dan menikmati proses pengobatan (Dm.PD) Adanya penerimaan diri secara positif  menerima keadaan diri apa adanya (Dm.PD) Adanya proses belajar dari pengalaman Adanya penerimaan diri secara positif  mensyukuri, berusaha untuk menjadi pribadi yang kuat, dan percaya kepada kehendak Tuhan (Dm.PD)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  355. 356. 357. 358. 359. 360. 361. 362. 363. 364. 365. 366. 367. 368. 369. 370. 371. 372. 373. 374. 375. 376. 377. 378. 379. 380. 381. 382. 383. 384. 385. 386. 387. 388. 389. 390. 391. 392. 393. 394.

  pengangkatan?

  Enggak. Ya ada ya yang nyuruh saya pake ganjel ben ora ketok, tapi saya gak usah lah gini aja. Gakpapa. Wong wes tuwo ngene

  meh ngopo . Hahaha. Terus ada

  juga yang menanyakan nanti gimana kehidupan seksualnya. Ya untungnya saya sama suami saya bukan orang yang mempermasalahkan itu. Suami saya menerima saya apa adanya. Ya sudah berjanji dulu waktu mau menikahi saya, siap menerima saya termasuk perubahan saya ada pada saya sampai tua besok.

  Kalau tujuan hidup ibu saat ini apa bu?

  Ya mengalir aja mbak apa adanya. Ya jadi ibu rumah tangga yang baik untuk suami dan anak- anak saya. Ngalir aja mbak.

  Dari dulu seperti ini?

  Iya. Gak ada yang berbeda. Sama saja kok.

  Yang membuat gak ada perubahan ini apa bu?

  Apa ya, semangat aja. Ya itu tadi, saya itu nrimo, bersyukur, anak- anak ya masih kecil. Jadi saya ya berusaha saja.

  Kalau menurut ibu, orang dengan kanker payudara itu masih mampu mengembangkan diri gak? Tidak ada perasaan minder karena operasi (Dm.PD) Suami (PDs.) menerima apa adanya kondisi subjek (Ds.P) Memiliki tujuan hidup ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk suami dan anak (Dm.TH) Tidak ada yang berbeda dalam tujuan hidup (Dm.TH) Memiliki semangat, menerima keadaan, bersyukur dan mengingat kondisi anak yang masih kecil (Dm.PD) Berusaha menjalani tujuan hidupnya (Dm.TH) Subjek memiliki pendapat kalau orang dengan kanker payudara harus bisa

  Adanya penerimaan diri secara positif  tidak minder (Dm.PD) Mendapat dukungan sosial dari suami (PDs.) Mendapat dukungan berupa penerimaan kondisi (Ds.P) Tujuan hidup saat ini  menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk suami dan anak-anak (Dm.TH) Tidak adanya perbedaan tujuan hidup (Dm.TH) Adanya penerimaan diri secara positif  bersemangat, menerima keadaan, menyukuri, dan mengingat anak-anak (Dm.PD) Adanya usaha untuk mewujudkan tujuan hdup (Dm.TH) Adanya pendapat bahwa orang dengan kanker payudara bisa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  395. 396. 397. 398. 399. 400. 401. 402. 403. 404. 405. 406. 407. 408. 409. 410. 411. 412. 413. 414. 415. 416. 417. 418. 419. 420. 421. 422. 423. 424. 425. 426. 427. 428. 429. 430. 431. 432. 433. 434.

  Iya. Harus. Harus bisa.

  Kenapa bu?

  Ya. Harus. Kan yang sakit atas sini, dada. Tangannya masih ada, kaki masih ada, mulut masih ada. Ya masih bisa lah. Ngisi seminar, gitu kan bisa. Hehehe. Ya gak harus seminar, buat cerita pengalaman ke orang lain yang lebih susah, itu kan udah bisa. Bisa lah.

  Menurut ibu, dalam hal apa bu mereka bisa mengembangkan diri?

  Apa aja bisa kok mbak. Harus kuat ya kita ini, jangan lemah. Jangan manja-manja.

  Kalau ibu sendiri masih mampu untuk mengembangkan diri?

  Masih. Lha ini saya ikut kursus membatik di gereja. Ya walaupun gak maksimal, tapi saya berusaha. Terus itu saya habis operasi itu saya ke gramedia, ada diskon buku, saya belanja buku sampai hampir 1 juta lho mbak. Beli buku resep masakan, kue, jahit. Saya bisa itu, cuma mau belajar yang lain juga. Ya buat isi-isi waktu, cari kegiatan. Bosen juga di rumah nganggur hampir 6 bulan waktu itu.

  Kegiatan sehari-hari ibu apa sih bu?

  Bikin kue tak titipin di CIMB,

  mengembangkan diri (Dm.Pg.D) Pengembangan diri bisa dilakukan karena bagian tubuh yang sakit hanya bagian dada, dan masih ada bagian tubuh lain yang masih bisa digunakan untuk mengembangakan diri (Dm.Pg.D) Segala hal masih bisa dilakukan oleh sesama penderita kanker payudara (Dm.PG.D) Harus kuat, tidak boleh lemah dan manja (Dm.PD) Masih memiliki kemampuan untuk mengembangakan diri, walaupun tidak maksimal, tapi berusaha (Dm.Pg.D) Ada keinginan untuk mempelajari hal lain (Dm.Pg.D) Ada kebosanan ketika harus di rumah tanpa kegiatan (Pngl.B) Kegiatan sehari-hari : menitipkan dagangan kue

  (Dm.PG.D) Masih memiliki anggota tubuh lain untuk mengembangkan diri (Dm.PG.D) Banyak hal yag masih bisa dilakukan oleh orang dengan kanker payudara (Dm.Pg.D) Yang harus dimiliki penderita kanker : kekuatan, tidak boleh lemah, tidak boleh manja (Dm.PD) Merasa mampu dan tetap berusaha untuk mengembangkan diri (Dm.Pg.D) Memiliki keinginan untuk memperlajari hal lain yang lebih (Dm.Pg.D) Adanya rasa bosan ketika tidak melakukan kegiatan setelah pengobatan (Pngl.B) Kegiatan :

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  435. 436. 437. 438. 439. 440. 441. 442. 443. 444. 445. 446. 447. 448. 449. 450. 451. 452. 453. 454. 455. 456. 457. 458. 459. 460. 461. 462. 463. 464. 465. 466. 467. 468. 469. 470. 471. 472. 473. 474. jaga ini toko kakak saya. Ya ibu rumah tangga lah.

  Ada kegiatan lain gak bu?

  Ya paling ke gereja, anter anak saya PPA di gereja. Cuma itu-itu saja. Dulu saya antar jemput anak juga, tapi udah gak kuat sekarang, jadi ya suami saya.

  Cara mengatur kegiatannya bagaimana bu?

  Dikomunikasikan lah sama suami saya. Ada komunikasi. Misalnya dulu saya kan ngangkat ember jemuran, njemur, kan saya. sekarang saya gak kuat, yang angkat sama njemur suami saya, nanti saya nyetrika. Kalau nyuci baju, anak-anak saya nyuci sendiri, dari dulu sudah saya biasakan nyuci sendiri. Tapi kalau nyetrika belum ya. Bahaya. Pokoknya ada apa dikomunikasikan aja mbak. Sama anak-anak juga. Jadi malem gitu, anak-anak sudah pada tidur, itu waktu untuk kami membicarakan tentang hari ini, dan besok mau ngapain, gitu. Jadi semua diomongin. Besoknya tinggal jalan.

  Kalau untuk pengambilan keputusan, ibu biasanya minta pertimbangan siapa atau sendiri?

  Tetep dikomunikasikan ya. Sama suami. Sama anak juga kalau ada hubungannya sama anak. Kayak

  ke bank CIMB, menjaga toko computer, ibu rumah tangga Kegiatan lain : ke gereja, mengantar anak kegiatan di gereja. Sekarang tidak mengantar- jemput anak (Dm.PL) Mengatur kegiatan dengan mengkomunikasikan dengan suami (Dm.PL) Segala hal dikomunikasikan dengan suami dan anak-anak (Dm.PL) Malam hari membicarakan tentang kegiatan keesokan harinya (Dm.PL) Pengambilan keputusan meminta pertimbangan suami dan anak (Dm.O) menintipkan dagangan kue, menjaga toko computer, bergereja, mengantar anak kegiatan gereja.

  Mengurangi salah satu kegiatan (Dm.PL) Adanya komunikasi dengan suami dan anak dalam mengatur kegiatan (Dm.PL) Adanya waktu khusus untuk membicarakan tentang rencana kegiatan keesokan harinya (Dm.PL) Keputusan dalam keluarga diambil berdasarkan pertimbangan suami dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  475. 476. 477. 478. 479. 480. 481. 482. 483. 484. 485. 486. 487. 488. 489. 490. 491. 492. 493. 494. 495. 496. 497. 498. 499. 500. 501. 502. 503. 504. 505. 506. 507. 508. 509. 510. 511. 512. 513. 514. dulu pas anak saya yang besar mau masuk SD itu ya saya tanya dia masu masuk SD mana. Tetep lah apapun dibicarakan. Tapi dulu pas mau ke dokter, operasi itu enggak. Saya sendiri yang memutuskan mau gimana. Suami saya siap saja. Yang penting saya sembuh kok mbak.

  Sekarang ini, hubungan dengan suami ibu bagaimana?

  Baik. Semua baik, anak-anak juga.

  Baiknya itu seperti apa bu?

  Ya baik. Gimana ya. Gak ada yang beda mbak. Biasa saja. Mungkin sama seperti suami- suami pada umumnya. Hahahaha.

  Apa ibu merasa suami ibu memberi dukungan?

  Iya. Pasti. Bantuan tenaga, menerima apa adanya saya, menyemangati saya.

  Cara suami ibu memberikan bantuan ke ibu seperti apa?

  Gimana ya, misal e saya keliatan wes gak kuat ya udah langsung suami saya yang ngerjain. Apa lagi ya, eem, ya gitu lah. Kasih perhatian.

  Kalau anak ibu gimana?

  Iya sama. Bantu saya. Itu anak saya yang besar itu dulu menunggui saya waktu masa kritis. 2-3 hari dia nginep di

  Segala hal dibicarakan dengan suami dan anak (Dm.O) Keputusan pengobatan tidak mendiskusikan dengan suami (Dm.O) Suami menerima keputusan subjek (Ds.P) Ada hubungan baik dengan suami dan anak (Dm.RP) Tidak ada perubahan sikap dari suami dan anak. Semua biasa saja (Dm.RP) Suami (PDs.) memberikan dukungan berupa bantuan tenaga (Ds.Inst.), menerima subjek apa adanya (Ds.P), dan memberikan semangat (Ds.E) Suami memberikan dukungan secara langsung (SPDs.) : mengambil alih pekerjaan subjek (Ds.Inst.), memberikan perhatian (Ds.E) Anak (PDs.) memberikan dukungan berupa bantuan (Ds.Inst.), menunggui di rumah sakit (Ds.Inst) anak (Dm.O)

  Dalam hal pengobatan, keputusan diambil sendiri (Dm.O) Adanya penerimaan hasil keputusan oleh suami (Ds.P) Adanya relasi positif dengan suami dan anak  tidak ada perubahan sikap (Dm.RP) Mendapat dukungan dari suami (PDs.) Mendapat dukungan berupa bantuan tenaga, semangat (Ds.E), dan menerima subjek apa adanya (Ds.P) Adanya pemberian dukungan secara langsung (SPDs.) Bentuk dukungan : mengambil alih pekerjaan (Ds.Inst.), memberikan perhatian (Ds.E) Mendapat dukungan dari anak (PDs.)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  515. 516. 517. 518. 519. 520. 521. 522. 523. 524. 525. 526. 527. 528. 529. 530. 531. 532. 533. 534. 535. 536. 537. 538. 539. 540. 541. 542. 543. 544. 545. 546. 547. 548. 549. 550. 551. 552. 553. 554. rumah sakit. Kan kalau di ludiro kan bebas boleh nunggunya anak.

  Tapi sebelum saya sakit pun, anak-anak sudah saya biasakan untuk membantu orang tua semampu mereka. Ya mereka dapet nilai bagus di sekolah, anak saya yang kecil itu gambarnya bagus saja, itu sudah membantu saya. Kan saya jadi senang.

  Kalau orang lain, atau masyarakat sekitar apa juga memberi dukungan atau bantuan untuk ibu?

  Iya. Itu temen-temen SD suami saya tau-tau waktu saya operasi pada datang. Saya gak kenal kui

  sopo . Hahaha. Suami saya sama mereka juga lama gak ketemu.

  Ya cuma lewat facebook. Dulu kan suami saya kerja di studio music, itu band-band yang suka ke studio juga pada dateng. Ngirimi uang. Terakhir itu itu ngirimi 10 juta untuk berobat. Ya itu mbak, hidup saya ini ajaib.

  Pas mumet-mumet e aduh ra nduwe duit , eh tau-tau ada yang

  kirim. Gitu. Hehehe. Ada juga temen yang kasih tau info pengobatan dimana, dimana, gitu. Kadang saya langsung diajak berobat kemana gitu, tapi saya gak mau. Saya gak percaya. Hehehe.

  Mereka memberi bantuannya dengan cara seperti apa bu?

  Ya ada yang kirim, ada yang

  Sebelum sakit, anak sudah dibiasakan membantu orang tua. Dukungan dari anak : mendapat prestasi yang baik (Ds.Inst.) Dukungan sosial menyebabkan merasa senang (Pngrh.Ds.) Mendapat dukungan dari teman SD suami (PDs.) menjenguk ketika operasi (Ds.Inst.) Mendapat dukungan dari kelompok band tempat bekerja suami (PDs.) memberi bantuan biaya (Ds.Inst.) Tiba-tiba ada yang memberi kiriman uang (Ds.Inst.) Mendapat bantuan dari teman (PDs.)  informasi tempat pengobatan (Ds.Inf.) dan diajak pergi berobat non medis (Ds.Inst.)

  Mendapat dukungan berupa bantuan tenaga, menunggui saat di rumah sakit, dan mendapat prestasi baik di sekolah (Ds.Inst.) Sudah ada kebiasaan anak membantu orang tua (Ds.Inst.) Menjadi senang karena mendapat dukungan sosial (Pngrh.Ds.) Mendapat dukungan sosial dari teman suami (PDs.) Bentuk dukungan  kunjungan di rumah sakit (Ds.Inst.) Mendapat dukungan sosial dari kelompok band (PDs.) Bentuk dukungan  bantuan biaya (Ds.Inst.) Sering mendapat bantuan biaya (Ds.Inst.) Mendapat dukungan sosial dari teman (PDs.) Bentuk dukungan  informasi tempat beribat dan mengajak berobat non medis (Ds.Inst.)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  555. 556. 557. 558. 559. 560. 561. 562. 563. 564. 565. 566. 567. 568. 569. 570. 571. 572. 573. 574. 575. 576. 577. 578. 579. 580. 581. 582. 583. 584. 585. 586. 587. 588. 589. 590. 591. 592. 593. 594. datang langsung. Kalau dekat, biasanya datang ke rumah. Waktu saya masih di rumah sakit juga datang ke rumah sakit. Kalau gak bisa datang ya tau-tau kirim uang.

  Diantara mereka, siapa sih pemberi dukungan yang paling berpengaruh buat ibu? Suami dan anak-anak ya. Kenapa bu?

  Ya karena mereka menerima saya apa adanya. Mereka pengen saya sembuh. Itu aja.

  Bagaimana sih pengaruh dari dukugan yang ibu terima?

  Saya jadi cepat sembuh. Jadi tambah semangat juga ya.

  Ibu, ada gak sih pengalaman ibu tidak didukung?

  Ada. Ini malah sama kakak saya sendiri. Dulu waktu mau operasi kan saya butuh uang banyak, dia janji mau kasih saya uang dari pencairan asuransi. Kan saya kerja di toko kakak saya ini kan saya asuransi. Nah saya udah tanda tangan, udah oke. Pas harinya, eh uangnya gak dikasihkan saya. Welah piye to,

  wes dijagakke kok malah ngono. Yowes tapi saya gak ambil hati.

  Ben ke wae. Saya percaya suatu saat dia dapat balasnya dan saya juga dapat jalan keluar. Nah buktinya ada aja yang kirim uang ke saya. Ajaib to mbak.

  Cara memberikan bantuan : Mengirim uang (SPDs.), datang langsung (SPDs.) Pemberi dukungan yang paling berpengaruh : suami dan anak (PDs.) Suami dan anak menerima subjek apa adanya (Ds.P) dan ingin subjek sembuh (Ds.E) Dukungan sosial menyebabkan menjadi cepat sembuh dan tambah semangat (Pngrh.Ds.) Ada pengalaman tidak didukung oleh kakak kandung (PTD) Biaya yang dijanjikan tidak jadi diserahkan kepada subjek (PTD) Tidak memasukkan dalam hati (PTD) Percaya kepada kehendak Tuhan (Dm.PD)

  Adanya pemberian dukungan secara datang langsung dan memberi kiriman uang (SPDs.) Dukungan yang paling berpengaruh dari suami dan anak (PDs.) Adanya penerimaan dari suami dan anak (Ds.P) Adanya dorongan supaya subjek sembuh (Ds.E) Menjadi merasa cepat sembuh dan tambah bersemangat karena mendapat dukungan sosial (Pngrh.Ds.) Adanya pengalaman tidak mendapat dukungan dari kakak kandung (PTD) Adanya pelanggaran janji pemberian biaya oleh kakak kandung (PTD)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  595. 596. 597. 598. 599. 601. 602. 603. 604. 605. 606. 607. 608. 609. 610. 611. 612. 613. 614.

  Hahahaha. Nah kakak saya tadi yang bawa uang asuransi yang harusnya jatah saya, gak lama kena tipu, ada yang mau beli laptop, tapi gak dibayar, seharga uang yang harusnya buat operasi saya itu. Ajaib to. Saya percaya, suatu saat Tuhan pasti kasih pelajaran buat orang-rang seperti itu. Tinggal kapan waktunya, terserah Tuhan. Tapi sih saya gak ambil hati ya mbak. Malah stress dewe saya nanti. Suami saya juga udah gak usah dipikirin. Mengko

  mesti ana dalan . Jadi

  dibandingkan yang tidak mendukung saya, yang mendukung saya itu jauh lebih banyak.

  Tidak memasukkan ke dalam hati karena menghindari stress (Dm.PD) Suami memberi saran supaya tidak memikirkan (Ds.Inf.) Lebih banyak yang mendukungan daripada yang tidak mendukung (PDs.)

  Cara mengatasi : tidak memasukkan ke dalam hati karena menghindari stress dan percaya kepada kehendak Tuhan (Dm.PD) Adanya dorongan dari suami untuk tidak memikirkannya (Ds.Inf.) Lebih banyak orang yang memberi dukungan sosial (PDs.)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 9.

  

Surat Perizinan dari Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 10.

INFORMED CONSENT

  Pada kesempatan ini, saya Intan Ayu Anggun Purwitasari, mahasiswa psikologi yang akan menyelesaikan tugas akhir memohon bantuan dan kesediaan Anda untuk berpartisipasi menjadi partisipan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana bentuk dan strategi dukungan yang diterima selama menderita sakit kanker payudara. Beberapa informasi ini dibuat untuk membantu Anda memutuskan apakah Anda bersedia atau tidak.

  Anda terpilih dalam penelitian ini karena anda telah didiagnosa menderita kanker payudara. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara. Peneliti akan meminta Anda menjawab beberapa pertanyaan terkait dengan dukungan sosial yang Anda terima. Disini Anda mungkin perlu mengingat kembali pengalaman- pengalaman terdahulu sehingga Anda mungkin akan mengalami emosi atau perasaan yang tidak enak. Oleh karena itu, Anda berhak dalam suatu waktu nanti memutuskan untuk mundur dalam penelitian ini.

  Hasil wawancara nanti akan direkam. Wawancara dapat dilakukan kapanpun saat Anda merasa nyaman untuk bercerita. Dalam prosesnya, wawancara dapat berlangsung antara 30

  • – 45 menit. Namun peneliti sangat fleksibel terhadap kesediaan waktu Anda.

  Kerahasiaan data akan dilindungi dan terjamin. Peneliti tidak akan membagikan hasil pengumpulan data kepada siapapun kecuali dosen pembimbing peneliti. Nama Anda akan dirahasiakan dengan menggunakan inisal. Anda berhak untuk mempertanyakan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ini sebelum berpartisipasi.

  Keuntungan yang Anda peroleh dalam penelitian ini adalah Anda dapat merefleksikan kembali pengalaman Anda dalam mendapatkan dukungan sosial selama menderita kanker payudara. Partisipasi Anda juga akan memiliki peran

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  penting dalam memberikan sumbangsih bagi keilmuan psikologi dan kesehatan guna meningkatkan kesejahteraan psikologis para penderita kanker payudara.

  Anda secara sukarela membuat keputusan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Tanda tangan Anda menyatakan bahwa Anda telah memutuskan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini namun tidak mengikat keberadaan anda untuk tetap menjadi subjek penelitian hingga penelitian berakhir.

  Peneliti Intan Ayu Anggun Purwitasari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 11.

  

SURAT PERNYATAAN

PERSETUJUAN WAWANCARA

  Dengan surat ini saya menyatakan bahwa saya bersedia untuk diwawancara selama proses pengambilan data untuk keperluan skripsi mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di bawah ini :

  Nama : Intan Ayu Anggun Purwitasari NIM : 089114086 dengan skripsi yang berjudul

  “Bentuk dan Strategi Dukungan Sosial Terhadap Peningkatan Psychological Well Being Penderita Kanker Payudara

  Saya bersedia untuk memberikan informasi dengan jujur sesuai dengan keadaan diri saya. Saya juga memberikan ijin kepada peneliti untuk merekam hasil pembicaraan selama proses wawancara berlangsung.

  Surat pernyataan ini dibuat secara sadar tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Saya berharap hasil wawancara ini tidak disalahgunakan dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.

  Yogyakarta, 2013 ________________________

  Subjek Penelitian

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 12.

  

SURAT KETERANGAN

KEABSAHAN HASIL WAWANCARA

  Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Usia :

  Menyatakan bahwa telah diwawancarai sebagai subjek penelitian oleh mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang bernama : Nama : Intan Ayu Anggun Purwitasari NIM : 089114086

  Dengan surat keterangan ini saya menyatakan bahwa data wawancara yang diperoleh peneliti adalah benar-benar jawaban yang saya berikan selama proses wawancara dalam …. pertemuan. Saya sebagai subjek penelitian menjamin keabsahan hasil wawancara ini.

  Yogyakarta, 2013 ___________________________

  Subjek Penelitian

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (268 Halaman)
Gratis

Tags