Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru : studi kasus guru-guru sekolah menengah atas di Kota Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
2
147
8 months ago
Preview
Full text

  HUBUNGAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH DENGAN KINERJA GURU

  Studi Kasus : Guru-guru Sekolah Menengah Atas di Kota Yogyakarta

SKRIPSI

  Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Ekonomi Oleh :

  Anastasia Aspertiwiyana 031324017

  PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 29 Februari 2008 Penulis Anastasia Aspertiwiyana Tulisan sederhana ini kupersembahkan kepada Allah Tri Tunggal Mahakudus, Bapak Ibu tercinta dan keluarga tersayang Kekasih, Sahabat-sahabat, dan almamaterku …

  Terima kasih atas segala doa dan semangatnya

  ABSTRAK HUBUNGAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH DENGAN KINERJA GURU Studi Kasus : Guru-guru Sekolah Menengah Atas di Kota Yogyakarta

  Anastasia Aspertiwiyana Universitas Sanata Dharma

  Yogyakarta 2008

  Penelitian ini bertujuan untuk (1) menguji dan menganalisis hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam bidang perencanaan, (2) menguji dan menganalisis hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran, (3) menguji dan menganalisis hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam evaluasi pengajaran, dan (4) menguji dan menganalisis hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan pengembangan profesi, kenaikan pangkat, pelatihan ataupun studi lanjut seorang guru.

  Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas Kota Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling, sampel yang diambil sebanyak 10 sekolah. Teknik pengumpulan data adalah kuesioner. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan korelasi Product Moment dari Karl Pearson dengan taraf signifikasi 5%. Deskripsi data dijawab dengan menggunakan Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe II, sedangkan permasalahan dijawab dengan menggunakan korelasi Product Moment dari Karl Pearson.

  Berdasarkan analisis data disimpulkan : (1) ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam bidang perencanaan, (2) ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran, (3) ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam evaluasi pengajaran, dan (4) ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan pengembangan profesi, kenaikan pangkat, pelatihan ataupun studi lanjut seorang guru.

  ABSTRACT THE RELATIONSHIP BETWEEN A HEADMASTER’S SUPERVISION

  AND TEACHERS’ PERFOMANCE A case study on Teachers’ of Senior High Schools in Yogyakarta

  Anastasia Aspertiwiyana Sanata Dharma University

  Yogyakarta 2008

  The aims of this research are to examine and analyze the relationship between the headmaster’s supervision and teachers’ performance in (1) planning, (2) implementing the learning teaching process, (3) evaluating the teaching process, and (4) developing profession, promoting, training or continuing teachers’ study.

  This research was carried out in Senior High Schools in Yogyakarta. The technique of taking samples was Purposive Sampling. The samples were 10 schools of Senior High Schools in Yogyakarta. The technique of collecting data is questionnaire. The data of this research were analyzed by using the Correlation of

  

Product Moment from Karl Pearson with signification level of 5%. The

  description of the data was examined by using the Standard of Evaluation Model

  

Type 2 , while the problem was answered by using the Correlation of Product

Moment from Karl Pearson.

  Based on the data analysis, it is concluded that there is a relationship between the headmaster’s supervision and teachers’ performance in (1) planning, (2) implementing the learning and teaching process, (3) evaluating the teaching process, and (4) developing the teachers profession, promoting, training or continuing a teachers’ study.

  KATA PENGANTAR Puji syukur penulis haturkan kepada Sang Juru Selamat atas segala anugerah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa dukungan dan doa dari berbagai pihak yang senantiasa membantu dengan ikhlas dan tidak mengenal lelah, tidak mungkin skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis juga menyadari bahwa kebaikan orang-orang di sekitar penulis yang telah memberi bantuan secara langsung maupun secara tidak langsung, baik moril maupun materiil, sangat membantu penulis. Untuk itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

  1. Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Santa Dharma Yogyakarta.

  2. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  3. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Eonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  4. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku dosen pembimbing I yang selalu memberikan dorongan semangat, dukungan, masukan, kritikan dan saran kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

  5. Drs. P.A. Rubiyanto, selaku dosen pembimbing II yang selalu memberikan semangat, dorongan dan cerita-cerita tentang makna hidup.

  6. Yohanes MV. Mudayen, S.Pd., selaku dosen tamu dalam pengujian skripsi yang banyak memberikan saran, masukan, dan kritik yang membangun dalam proses skripsi ini.

  8. Bapak FX. Dwiyono dan Ibu Fr. Sultyaningsih yang telah memberikan kasih sayang tulus orangtua kepada penulis. Terimakasih atas segala doanya setiap malam, dorongan, nasehat, dan bimbingan hingga penulis berhasil hingga saat ini.

  9999.... Agnes Esthikayana, Ursulla Astaniayana (Yu, akhirnya kuikuti

  ), Anna Estyaniyana

  sunnahmu untuk jadi seorang sarjana (ascaris lumbrecoides,maknyuss..) , dan Theodora Endingyana (si cacing peyut

  yang selalu menyemangati penulis, canda tawa,

  ini udah lulus de’) kebahagiaan, susah dan senang dalam kebersamaan.

  I Love U all..

  I Love U all..

  I Love U all..

  I Love U all..

  10. Kekasihku tercinta Christian Suharyono … Terima kasih atas dukungannya, dorongan semangat, bantuannya, hiburannya dan limpahan kasih cintanya kepada penulis.

  It’s not about finding the right person, but creating the right relationship..thanks for all, so I so I so I so I Love U.. Love U.. Love U.. Love U..

  Sahabatku Diah Ambar Susanti

  11. (matur nuwun bangeth nyak, semua karena kamu..ayo kapan kita naik trans Jogja ) dan Wayah

  Efratasario S.

  (smangath mpok, kaulah penyemangatku..kapan kita heping pan lagi?)

  ) Terimakasih atas

  (Waa..aku kangen kita traveling tiap kamis

  kebersamaan, kebahagiaan atas persahabatan selama ini, terlebih semangat berjuang untuk memperbaharui hunian Pendidikan Ekonomi.

  13. Para pendahulu yang menjadikan cambuk dan semangat penulis untuk berjuang menyelesaikan skripsi (Yuyun, Nining, Urbanus, Pipit, Ningsih, Meyta, Mbak Sandy, Ika, Ratna, Asih, Nanik), Rino, Istadi, Lius dan Ian

  , Asti,

  (Teman dikala nunggu bimbingan sukses ya)

  Andika, Yustina, dan Alex dan teman-teman Pendidikan Ekonomi (angkatan 2001-2007) terimakasih atas kebersamaan dalam persahabatan selama lebih 4 tahun ini.

  Mizz U all…..

  14.

  (Mbak..kaulah penyelamat halaman 41 ku, tanpamu aku

  Mbak Titin , Pak Wawiek ( , Mas

  tak bisa ujian ) Maaf ya Pak ngrepotin terus..)

  Anto dan

  (selalu dan selalu, bantuan cap dan surat-surat yah )

  semua penghuni sekretariat PE

  (tetap jadi primadona dikala deadline Matur nuwun sanget nggih ….. tugas akhir ).

  15.

  awah

  SMA PUTRA TAMA terlebih kelas 2 Penjualan, k penulis dalam menjalani PPL. Terimakasih atas

  candradimuka kebersamaan dan kerja sama hingga saat ini penulis berhasil.

  16. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan dorongan, waktu, tenaga, pikiran dan bantuannya kepada penulis.

  Penulis menyadari bahwa ucapan terima kasih tidak cukup untuk membalas segala kebaikan dan ketulusan yang telah diberikan semua pihak.

  Kiranya Tuhan Yang Mahakasih berkenan membalasnya dengan kebahagiaan yang tiada tara.

  Akhirnya, penulis menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna, demikian pula dengan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberi sumbangan pengetahuan bagi pembaca.

  Yogyakarta,29 Februari 2008 Penulis

DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL …………………………………………………………. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ……………………………… ii HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………… iii HALAMAN PERSEMBAHAN ………………………………………………. iv MOTTO ………………………………………………………………………. v ABSTRAK ……………………………………………………………………. vi

  

ABSTRACT ……………………………………………………………………… vii

  HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……………………….. viii LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ………………………………. ix KATA PENGANTAR ………………………………………………………… xii DAFTAR ISI …………………………………………………………………. xiii DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………. xviii DAFTAR TABEL …………………………………………………………….. xiv DAFTAR LAMPIRAN-LAMPIRAN ………………………………………… xx BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………...

  1 A.

  1 Latar Belakang …………………………………………………….

  B.

  5 Batasan Masalah …………………………………………………..

  C.

  5 Rumusan Masalah ………………………………………………… D.

  6 Tujuan Penelitian ………………………………………………….

  E.

  6 Manfaat Penelitian ………………………………………………... BAB II KAJIAN TEORI …... …………………………………………………

  8 A.

  8 Supervisi Pendidikan ……………………………………………...

  1.

  9 Konsep dan definisi supervisi pendidikan ……………………..

  2.

  9 Fungsi dan peranan supervisi pendidikan …………………… 3.

  12 Prinsip-prinsip supervisi pendidikan …………………………..

  B.

  13 Kepala Sekolah sebagai Supervisor Pendidikan ………………….

  1.

  14 Supervisor sebagai pemimpin ………………………………… 2.

  15 Supervisor sebagai evaluator ………………………………..

  3.

  15 Supervisor sebagai pembina/pelayan ………………………….

  C.

  17 Kinerja Guru ……………………………………………………… 1.

  17 Pengertian Kinerja ……………………………………………..

  2.

  18 Konsep dan definisi Guru ……………………………………..

  3.

  21 Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru ……………….

  D. Hasil Penelitian terdahulu ………………………………………….

  24 E. Kerangka Berpikir ……………………………………………….

  26 F.

  27 Hipotesis ………………………………………………………… BAB III METODE PENELITIAN …………………………………………..

  28 A.

  28 Jenis Penelitian ………………………………………………….

  B.

  28 Tempat dan Waktu …………………………………………….

  C.

  29 Subjek dan Objek ……………………………………………….

  D.

  29 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ………….. F.

  34 Teknik Pengumpulan Data …………………………………… G.

  36 Data yang Dicari ……………………………………………….

  H.

  37 Teknik Pengujian Instrumen ………………………………….

  I.

  39 Teknik Analisis Data …………………………………………… BAB IV GAMBARAN UMUM …………………………………………….

  41 A.

  41 Gambaran Umum ……………………………………………….

  1.

  41 Sejarah Kota Yogyakarta ……………………………………..

  2.

  42 Kondisi Geografis Kota Yogyakarta ………………………….

  3.

  43 Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan ………………….

  B.

  44 Deskripsi Sekolah ……………………………………………….

  C.

  45 Deskripsi Responden …………………………………………..

  D.

  47 Mekanisme Supervisi Sekolah ………………………………….

  1.

  47 Gambaran Umum Proses Supervisi ………………………… 2.

  47 Gambaran Umum Proses Supervisi Kepala Sekolah ………..

  3.

  49 Peran Supervisi Pendidikan ………………………………….

  4.

  52 Struktur Organisasi Sekolah ………………………………… BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ………………………….

  55 A.

  55 Pengujian Instrumen ……………………………………………..

  1.

  55 Pengujian Validitas ………………………………………… 2.

  59 Pengujian Reliabilitas ……………………………………… B.

  60 Deskripsi Data …………………………………………………… 1.

  60 Variabel Supervisi Kepala Sekolah ……………………… C.

  Analisis Data …………………………………………………….

  1. Hubungan Antara Supervisi Kepala Sekolah Dengan Kinerja Guru Dalam Bidang Perencanaan …………………………..

  74

  71

  71

  69

  67

  66

  63

  Guru Dalam Evaluasi Pembelajaran ………………… 4.

  78

  2. Hubungan Antara Supervisi Kepala Sekolah Dengan Kinerja Guru Dalam Pelaksanaan Pembelajaran …………………… 3. Hubungan Antara Supervisi Kepala Sekolah Dengan Kinerja

  1. Hubungan Antara Supervisi Kepala Sekolah Dengan Kinerja Guru Dalam Bidang Perencanaan …………………………..

  Pembahasan ……………………………………………………..

  D.

  4. Hubungan Antara Supervisi Kepala Sekolah Dengan Kinerja Guru Dalam Pengembangan Profesi, kenaikan pangkat, pelatihan maupun studi lanjut …………………………………

  3. Hubungan Antara Supervisi Kepala Sekolah Dengan Kinerja Guru Dalam Evaluasi Pembelajaran …………………………..

  2. Hubungan Antara Supervisi Kepala Sekolah Dengan Kinerja Guru Dalam Pelaksanaan Pembelajaran ……………………..

  76

Hubungan Antara Supervisi Kepala Sekolah Dengan Kinerja

  Guru Dalam Pengembangan Profesi, kenaikan pangkat, pelatihan maupun studi lanjut ……………………… BAB VI PENUTUP …………………………………………………………..

  80 A.

  80 Kesimpulan ……………………………………………………….

  B.

  83 Keterbatasan Penelitian …………………………………………..

  C.

  84 Saran ……………………………………………………………… DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR

  Halaman Gambar II.1 Dimensi yang Mempengaruhi Kinerja Seseorang …………

  18 Gambar IV.1 Struktur Organisasi Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah

  53 SMA N 11 Yogyakarta …………………………………… Gambar IV.2 Struktur Organisasi Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah

  54 SMA N 9 Yogyakarta ………………………………………..

DAFTAR TABEL

  Halaman Tabel III.1 Kisi-kisi Kuesioner Supervisi Kepala Sekolah

  35 Tabel III.2 Kisi-kisi Kuesioner Kinerja Guru

  35 Tabel IV.1 Daftar Sekolah Responden

  44 Tabel IV.2 Tabel Responden Berdasarkan Usia Responden

  45 Tabel IV.3 Tabel Responden Berdasarkan Masa Kerja

  46 Tabel IV.4 Tabel Responden Berdasarkan Status Kepegawaian

  46 Tabel V.1 Rangkuman Hasil Uji Validitas Variabel Supervisi Kepala

  56 Sekolah Tabel V.2 Rangkuman Hasil Uji Validitas Kinerja Guru dalam Bidang

  57 Perencanaan Pembelajaran Tabel V.3 Rangkuman Hasil Uji Validitas Kinerja Guru dalam

  58 Pelaksanaan Pembelajaran Tabel V.4 Rangkuman Hasil Uji Validitas Kinerja Guru dalam

  58 Evaluasi Pembelajaran Tabel V.5 Rangkuman Hasil Uji Validitas Kinerja Guru dalam

  59 Pengembangan Karir Tabel V.6 Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas

  60 Tabel V.7 Deskripsi Data Variabel Supervisi Kepala Sekolah sebagai

  61 Pemimpin Tabel V.8 Deskripsi Data Variabel Supervisi Kepala Sekolah sebagai

  61 Evaluator Tabel V.9 Deskripsi Data Variabel Supervisi Kepala Sekolah sebagai

  62 Pembina/Pelayan Tabel V.11 Deskripsi Data Variabel Kinerja Guru dalam Pelaksanaan

  64 Pembelajaran Tabel V.12 Deskripsi Data Variabel Kinerja Guru dalam Evaluasi

  65 Pembelajaran Tabel V.13 Deskripsi Data Variabel Kinerja Guru dalam

  65 Pengembangan Karir Tabel V.14 Uji I Korelasi Product Moment dari Pearson

  66 Tabel V.15 Uji II Korelasi Product Moment dari Pearson

  68 Tabel V.16 Uji III Korelasi Product Moment dari Pearson

  69 Tabel V.17 Uji IV Korelasi Product Moment dari Pearson

  70

LAMPIRAN-LAMPIRAN

  Halaman

  I. UJI STATISTIK ……………………………………………

  II. KUESIONER ………………………………………………

  III. DATA KUESIONER ………………………………………

  IV. DESKRIPSI RESPONDEN ………………………………

  V. SURAT PERIZINAN ………………………………………

  86

  96 104 111 114

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perubahan dari era agraris ke arah industri diiringi oleh cepatnya arus

  informasi dan komunikasi dalam berbagai bidang termasuk kebudayaan, menuntut masyarakat untuk memiliki jiwa pancasila; berkepribadian dan jati diri yang mantap; iman dan takwa; pengetahuan dan ketrampilan yang memadai; sikap profesional; beretos kerja handal dan kreatif. Manusia yang mampu bertahan dalam perubahan era itulah yang dikatakan berhasil dan maju demi keberhasilan suatu bangsa. Maka secara tidak langsung kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM). Kualitas SDM tergantung pada kualitas pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, damai, terbuka dan demokratis.

  Pendidikan juga merupakan upaya yang strategis dalam meningkatkan sumber daya manusia untuk menghadapi tantangan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan suatu bangsa.

  Menyadari hal tersebut, pemerintah telah melakukan upaya dalam pembaharuan pendidikan. Misalnya dengan penyempurnaan kurikulum, pemberdayaan dan peningkatan mutu guru secara terencana, terarah dan berkesinambungan, serta peningkatan kualitas pendidikan. Pemberdayaan dan peningkatan mutu guru sangatlah penting karena guru mempunyai peran yang tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Maka untuk menjamin pendidikan yang mampu menghadapi tantangan dan tuntutan perubahan jaman maka perlu adanya peningkatan mutu guru. Hal inilah yang nantinya mendorong pemerintah menetapkan UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005. Undang-undang inilah yang menjadi jaminan tata pemerintahan yang baik dan akuntabilitas pendidikan yang mampu menghadapi tuntutan jaman.

  Sedangkan untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan, perlu diciptakan suatu proses belajar yang sederhana dan menyenangkan. Untuk itu dibutuhkan suatu interaksi sosial antara pihak-pihak yang berkepentingan dalam pendidikan.

  Kepala sekolah adalah pejabat yang bertanggung jawab atas keberhasilan pendidikan pada lembaga yang dipimpinnya. Untuk mencapai keberhasilan itu, kepala sekolah harus melakukan kegiatan supervisi secara kontinu terhadap proses belajar mengajar yang dilakukan guru-guru, karena guru adalah orang yang langsung berhadapan dengan anak didik dan sekaligus penentu baik- buruknya hasil belajar. Kepala sekolah sebagai pemimpin berarti ia “membawahi” sekelompok bawahannya. Membawahi dalam arti seorang kepala sekolah berkuasa dan berwenang dalam melakukan tindakan dan kegiatan yang diharapkan bersama. Bukan bertindak sewenang-wenang dalam tugasnya, tetapi secara bertanggung jawab melihat, mengawasi kegiatan bawahannya hingga memberikan bantuan dan bimbingan dalam mengatasi

  Manajemen berbasis sekolah merupakan suatu konsep dimana sekolah diberikan kewenangan untuk menentukan sendiri visi dan misi sekolah dalam rangka peningkatan mutu sekolah. Pada sekolah yang menerapkan manajemen berbasis sekolah, sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Oleh karena itu, kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk meningkatkan mutu sekolah. Kepala sekolah merupakan motor penggerak, penentu arah kebijakan sekolah, yang akan menentukan bagaimana tujuan-tujuan sekolah akan berjalan sesuai harapan. Dengan manajemen berbasis sekolah, kepala sekolah dituntut untuk senantiasa meningkatkan efektivitas kinerja.

  Secara umum, kepala sekolah yang tangguh memiliki kemampuan memobilisasi sumber daya sekolah, terutama sumber daya manusia untuk mencapai tujuan sekolah. Sumber daya manusia yang dimaksud adalah seluruh warga sekolah yaitu guru, peserta didik, dan lingkungan sekolah. Kegiatan supervisi ini tidak langsung diarahkan kepada murid, tetapi kepada Guru yang membina murid itu. Akan tetapi hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan dilapangan yang terjadi didaerah Jawa Barat, ketika seorang kepala sekolah dicopot dari jabatannya karena oknum tersebut tidak mampu melaksanakan program manajemen berbasis sekolah (Media Indonesia, 19 April 2006).

  Kenyataan diatas diperjelas juga dengan opini masyarakat mengenai merosotnya mutu pendidikan, ketidak-efektifan guru dalam mengajar, pemahaman dan pengetahuan yang kurang, hingga ketidakprofesionalan guru (Suara Pembaharuan, 3 Mei 2007). Hal ini menunjukkan bahwa guru masih membutuhkan bantuan dari orang yang mempunyai kelebihan seperti kepala sekolah sebagai supervisor. Bantuan supervisi merupakan salah satu faktor yang sangat efektif untuk meningkatkan kinerja guru sebagai pendidik. Tugas dan peran supervisi adalah memberi dorongan, membantu dan membina guru- guru. Kenyataannya, supervisi di sekolah belum dilakukan secara efektif oleh kepala sekolah. Padahal supervisi yang efektif dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pendidikan, karena tidak ada satu pekerjaan dalam pendidikan yang dapat mencapai tujuan tanpa supervisi.

  Pembinaan kepala sekolah sebagai supervisor pada guru-guru adalah membantu guru dalam pengembangan kurikulum, pengorganisasian pengajaran, pemenuhan fasilitas belajar, perencanaan dan pemerolehan bahan pengajaran sesuai kurikulum, perencanaan dan implementasi dalam peningkatkan pengalaman belajar, pelaksanaan tentang suatu tugas atau cara baru dalam proses belajar-mengajar, pengkoordinasian antara kegiatan belajar dan kegiatan yang lain, pengembangan hubungan dengan masyarakat dan pelaksanaan evaluasi (Rifai, 1982: 64). Supervisi yang nantinya dilakukan meningkatkan kinerjanya. Dengan supervisi yang terarah, terencana dan berkesinambungan maka peningkatan kualitas kinerja guru dapat segera dirasakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

  Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk memilih judul HUBUNGAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH DENGAN KINERJA GURU dengan studi kasus guru-guru SMA di Kota Yogyakarta.

  B. Batasan Masalah Penelitian ini dibatasi pada hubungan antara supervisi kepala sekolah dan kinerja guru.

  C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

  1. Apakah ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam bidang perencanaan?

  2. Apakah ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran?

  3. Apakah ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam evaluasi pengajaran?

  4. Apakah ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan pengembangan profesi, kenaikan pangkat, pelatihan ataupun studi lanjut seorang guru?

  D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah : 1.

  Menguji dan menganalisis hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam bidang perencanaan.

  2. Menguji dan menganalisis hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran.

  3. Menguji dan menganalisis hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam evaluasi pengajaran.

  4. Menguji dan menganalisis hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan pengembangan profesi, kenaikan pangkat, pelatihan ataupun studi lanjut seorang guru

  E. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi : 1.

Kepala Sekolah

  Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bahan refleksi untuk meningkatkan kemampuan supervisi pendidikan dan bahan masukan untuk selalu mengembangkan diri untuk mencapai tujuan yang diharapkan bersama.

  2. Guru Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai sumber masukan bagi para guru untuk selalu meningkatkan kualitas kerjanya agar dapat memberikan pendidikan yang berkualitas bagi generasi penerus.

  3. Mahasiswa Penelitian ini dapat bermanfaat untuk memberikan gambaran penulis mengenai kegiatan supervisi kepala sekolah serta menambah pengetahuan penulis tentang hubungan antara supervisi kepala sekolah dan kinerja guru.

  4. Universitas Penelitian ini dapat memberikan sumbangan referensi dan sumber empiris atas supervisi pendidikan dan kinerja guru.

BAB II KAJIAN TEORI A. Supervisi Pendidikan

  1. Konsep dan Definisi Supervisi Pendidikan Dahulu, kepala sekolah telah dianggap baik kalau sekolahnya dapat berjalan dengan teratur tanpa menghiraukan kepentingan dan hubungan dengan masyarakat sekitarnya. Saat ini penilaian terhadap kepala sekolah lebih baik daripada hanya sekedar mengatur jalannya sekolah. Kepala sekolah berkewajiban membangkitkan semangat guru-guru untuk memelihara kekompakan dan kekeluargaan bersama; mengembangkan kurikulum; mengembangkan rencana sekolah dan menjalankannya; memperhatikan kesejahteraan guru dan sebagainya. Disamping itu, kepala sekolah juga berkewajiban untuk menjalin kerja sama dan berhubungan erat dengan masyarakat

  Menurut Purwanto (1987: 84), supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Fungsi pengawasan atau supevisi dalam pendidikan bukan hanya sekedar kontrol.

  Kegiatan supervisi dalam pendidikan mencakup penentuan kondisi-kondisi atau syarat-syarat personel maupun material yang diperlukan untuk terciptanya situasi belajar-mengajar yang efektif, dan usaha memenuhi mendefinisikan supevisi adalah segala usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru dan petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran, metode mengajar dan evaluasi pengajaran.

  Menurut Kimball dalam Soetopo (1984: 40), supervisi lebih menekankan pada pelayanan seorang guru yang dilaksanakan sedemikian rupa sehingga mereka dapat bekerja dengan baik dari sebelumnya. Jadi disini dapat ditarik kesimpulan bahwa fungsi dari supervisi adalah untuk memajukan dan mengembangkan pengajaran, agar seorang guru bisa mengajar dengan baik dan diharapkan juga murid bisa belajar dengan baik pula.

  Menurut Rifai (1982: 37), supervisi merupakan usaha untuk membantu dan melayani Guru meningkatkan kemampuan keguruannya, sehingga supevisi tidak langsung diarahkan kepada murid, tetapi kepada Guru yang membina murid tersebut. Supervisi tidak bersifat mengarahkan tetapi lebih banyak bersifat memberikan dorongan, saran dan bimbingan.

  Dari beberapa pendapat ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa supervisi merupakan kegiatan untuk membantu dan melayani Guru agar mereka dapat melaksanakan tugasnya menjadi lebih baik.

  2. Fungsi dan Peranan Supervisi Pendidikan Supervisi merupakan suatu proses, artinya suatu rangkaian kegiatan dalam proses supervisi sendiri misalnya membimbing, menilai mengkoordinir dan sebagainya. Jadi dapat disimpulkan supervisi mempunyai berbagai peranan dan fungsi.

  Menurut Purwanto (1987: 95-97), fungsi-fungsi pendidikan yang sangat penting diketahui oleh para pimpinan pendidikan termasuk kepala sekolah adalah dalam bidang kepemimpinan, bidang kemanusiaan, dalam pembinaan proses kelompok, dan dalam bidang evaluasi.

  Dalam bidang kepemimpinan, seorang Supervisor harus dapat: 1) menyusun rencana dan policy bersama; 2) mengikutsertakan guru-guru dalam berbagai kegiatan; 3) memberikan bantuan kepada kelompok untuk menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan; 4) membangkitkan dan memupuk semangat kelompok juga mengikutsertakan kelompok dalam menetapkan keputusan-keputusan.

  Dalam hubungan kemanusiaan, seorang Supervisor harus dapat membantu mengatasi kekurangan taupun kesulitan yang dihadapi kelompok, seperti dalam hal kemalasan, rendah diri, acuh tak acuh, pesimistis dan lain sebagainya. Supervisor juga harus mengarahkan anggota kelompok kepada sikap-sikap yang demokratis. Dimana terdapat rasa hormat-menghormati dan menghilangkan rasa curiga antar sesama anggota.

  Dalam pembinaan proses kelompok, seorang Supervisi harus mengenal masing-masing anggota kelompok, baik kelebihan maupun kekurangannya. Dengan mengenal anggota kelompok, diharapkan seorang perselisihan antar anggota kelompok. Untuk bidang administrasi personel, seorang Supervisi harus bijaksana dalam memilih personel yang memiliki syarat-syarat dan kecakapan yang diperlukan dalam melakukan pekerjaan sehingga dalam bidang evaluasi seorang supervisor dapat menyimpulkan hasil-hasil penilaian sehingga mendapat gambaran tentang kemungkinan- kemungkinan untuk mengadakan perbaikan-perbaikan.

  Menurut Rifai (1982: 49-55), peranan Supervisi adalah sebagai pemimpin, sebagai kontrol, sebagai penelitian, sebagai latihan dan bimbingan, sebagai sumber dan pelayan, sebagai koordinator dan sebagai evaluator. Sebagai seorang supervisi mempunyai pengaruh dan kepercayaan terhadap guru-gurunya. Dengan pengaruhnya itu, ia dapat memimpin guru- gurunya ke arah tujuan yang akan dicapai yaitu peningkatan kemampuan guru-guru itu. Setiap kegiatan supervisi, tentu saja harus mempunyai kontrol sampai dimana ketentuan tersebut dapat dijalankan. Sehingga sebagai kelanjutan dari kontrol tersebut, Supervisi dapat memperoleh data/cara atau metode yang dapat digunakan untuk kegiatan dalam rangka peningkatan atau pelatihan bagi para guru. Latihan tersebut seperti diskusi, demonstrasi, penataran ataupun tugas-tugas tertentu. Setelah dilatih tentu saja para guru mengharapkan bimbingan untuk menerapakan hasil latihan yang telah mereka peroleh. Disinilah Supervisi berperan.

  Setelah dilatih, para guru tentu saja memerlukan dorongan dan bimbingan dari Supervisornya. Supervisor merupakan sumber nasihat, para guru mendapat masukan berharga dari pelayanan yang diberikan oleh Supervisor. Disamping itu, kemampuan dan kebutuhan guru-guru tentu saja berlainan satu sama lain. Tetapi meskipun kemampuan dan kebutuhannya berlainan, seorang Supervisor harus adil dalam memberikan perhatian , pengaturan ataupun pembagian tugas.

  Dari banyak fungsi dan peranan seorang Supervisor, maka dapat disimpulkan bahwa peranan seorang Supervisor menunjukkan kepada beberapa kegiatan tertentu dimana usaha tersebut dilakukan secara bertanggung jawab untuk mencapai tujuan tertentu .

  3. Prinsip-prinsip Supervisi Pendidikan Masalah-masalah yang akan dihadapi oleh seorang Supervisor sangatlah beragam dan bermacam-macam factor yang mempengaruhinya.

  Untuk itu seorang Supervisor memerlukan prinsip-prinsip yang dijadikan landasan, pegangan dan pedoman bagi setiap tindakan yang akan diambilnya.

  Menurut Rifai (1982: 56) Pancasila merupakan dasar pokok dari semua prinsip-prinsip supervisi. Kelima sila dari Pancasila merupakan landasan falsafah bagi seluruh kehidupan dan penghidupan bangsa kita. Jadi, dengan sendirinya supervisi pendidikan di berlandaskan Pancasila. Prinsip-prinsip supervisi adalah 1) Supervisi harus konstruktif dan kreatif; 2) Supervisi harus lebih berdasarkan sumber kolektif dari kelompok daripada usaha-usaha supervisor sendiri; 3) Supervisi harus didasarkan atas harus dapat mengembangkan segi-segi kelebihan pada yang dipimpin; 5) Supervisi harus dapat memberikan perasaan aman pada anggota-anggota kelompoknya; 6) Supervisi harus progresif; 7) Supervisi harus didasarkan pada keadaan riil dan sebenarnya; 8) Supervisi harus sederhana dan informal dalam pelaksanaannya dan Supervisi harus obyektif dan sanggup mengadakan “self evaluation”.

  Menurut Sahertian dalam Soetopo (1984: 41), seorang pimpinan pendidikan yang berfungsi sebagai supervisor dalam melaksanakan tugasnya hendaknya bertumpu pada prinsip-prinsip supervisi sebagai berikut: 1) Prinsip Ilmiah yang mencakup unsur-unsur sistematis, obyektif dan menggunakan alat yang dapat memberikan informasi sebagai umpan balik untuk mengadakan penilaian terhadap proses KBM; 2) Demokratis; 3) Kooperatif dan konstruktif.

  B. Kepala Sekolah sebagai Supervisor Pendidikan Kepala sekolah memiliki peran yang kuat. Peran kepala sekolah sebagai supervisor mencakup kegiatan-kegiatan yang bersangkutan dengan pembangkitan semangat dan kerja sama guru-guru, pemenuhan alat-alat dan perlengkapan sekolah demi kelancaran pengajaran, pengembangan dan pembinaan pengetahuan serta keterampilan guru-guru, dan kerja sama antara sekolah dan masyarakat, yang semuanya ditujukan untuk mempertinggi mutu pendidikan dan pengajaran siswa. Oleh karena itu, kepala sekolah dituntut mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk meningkatkan kualitas sekolah.

  Kepala sekolah sebagai supervisor, jika disederhanakan peranannya adalah sebagai berikut:

  1. Supervisor sebagai pemimpin Kepemimpinan mengandung unsur-unsur pengaruh, karena adanya kepercayaan pada yang dipimpin terhadap pemimpin. Kepercayaan ini disebabkan pula oleh adanya kelebihan yang dimiliki pemimpin di bidang profesinya. Kepemimpinan supervisi merupakan kepemimpinan pendidikan, yaitu kepemimpinan yang menimbulkan kepemimpinan bagi yang dipimpin (Depdiknas, 2001: 13). Seorang supervisor harus melaksanakan kepemimpinannya sedemikian rupa, sehingga guru-guru yang disupervisinya dapat ditingkatkan menjadi guru yang lebih bertanggung jawab, lebih mampu dibidang profesinya, dan memiliki sifat-sifat kepemimpinan.

  Dalam bidang kepemimpinan, seorang Supervisor harus dapat: 1) menyusun rencana dan policy bersama; 2) mengikutsertakan guru-guru dalam berbagai kegiatan; 3) memberikan bantuan kepada kelompok untuk menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan; 4) membangkitkan dan memupuk semangat kelompok juga mengikutsertakan kelompok dalam menetapkan keputusan-keputusan (Purwanto, 1987: 95). Kepemimpinan kepala sekolah ditujukan kepada guru karena merekalah yang terlibat secara langsung dalam proses pendidikan. Sebagai pemimipin, kepala sekolah melaksanakan kewajibannya sesuai yang diharapkan oleh kepala sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah terutama ditujukan kepada para guru karena merekalah yang terlibat secara langsung dalam proses pendidikan.

  2. Supervisor sebagai evaluator Supervisor harus dapat: 1) menguasai dan memahami tujuan-tujuan pendidikan secara khusus dan terinci; 2) menguasai dan memiliki norma- norma atau ukuran-ukuran yang akan digunakan sebagai kriteria penilaian; 3) menguasai teknik pengumpulan data untuk memperoleh data yang lengkap, benar dan dapat diolah menurut norma-norma yang ada dan selanjutnya menafsirkan dan menyimpulkan hasil-hasil penilaian sehingga mendapat gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan untuk mengadakan perbaikan-perbaikan (Rifai, 1982: 164). Evaluasi yang bisa dilakukan misalnya terhadap program, perlakuan guru terhadap siswa, hasil belajar, perlengkapan belajar, dan latar belakang guru. Jadi kesimpulannya, seorang Supervisi harus mengadakan evaluasi terhadap hasilnya, evaluasi prosesnya dan evaluasi pelaksanaannya.

  3. Supervisor sebagai Pembina dan Pelayan Supervisi merupakan proses untuk membantu guru meningkatkan dirinya dalam bidang profesinya. Tentu saja untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan profesionalnya. Jadi seorang supervisor adalah seorang pelayan, pembantu dan juga pembina. Karena sebagai seroang pembantu, maka seorang supervisor harus mengetahui siapa saja tersebut, dan hal-hal apa saja saja yang harus diketahui oleh seorang supervisor untuk memberikan pelayanannya ini.

  Teknik yang digunakan dalam melaksanakan supervisi oleh kepala sekolah terhadap guru-guru dan pegawai sekolah dapat dilakukan dapat dilakukan dengan teknik perseorangan dan teknik kelompok. Kegiatan yang termasuk teknik perseorangan adalah mengadakan kunjungan kelas, kunjungan observasi, membimbing guru-guru tentang cara-cara mempelajari pribadi siswa dan atau mengatasi problema yang dialami siswa, dan membimbing guru-guru dalam hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum sekolah. Sedangkan yang termasuk teknik kelompok adalah mengadakan pertemuan atau rapat dengan guru-guru untuk memberikan berbagai hal yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar-mengajar, mengadakan dan membimbing diskusi kelompok diantara guru-guru bidang studi, memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk mengikuti penataran yang sesuai dengan bidang tugasnya, dan membimbing guru-guru dalam mempraktekkan hasil- hasil penataran yang telah diikutinya (Soetopo, 1984: 44-55).

  Dari gambaran tugas dan peran kepala sekolah sebagai seorang Supervisor, maka supervisi kepala sekolah dapat disederhanakan menjadi 3 yaitu; supervisor sebagai pemimpin, supervisor sebagai evaluator dan sebagai pembina atau pelayan. Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut, maka seorang Supervisor berusaha melakukan teknik-teknik dimana akan ditemukan keselarasan antar anggota kelompok untuk pencapaian tujuan C. Kinerja (performance) Guru 1.

  Pengertian Kinerja Menurut Robbins (1996: 218), kinerja adalah sebagai fungsi dari interaksi dari kemampuan dan motivasi, yaitu Kinerja = f (Ability x

  Motivation ). Jika ada yang tidak memadai, kinerja akan dipengaruhi secara

  negatif. Disamping motivasi, perlu juga dipertimbangkan kecerdasan dan ketrampilan untuk menjelaskan dan menilai kinerja. Motivasi adalah antusiasme dan persistensi dengan apa seseorang melaksanakan tugas tertentu (Winardi, 2001: 63). Kemampuan di lain pihak berhubungan dengan kompetensi tugas seseorang. Perbedaan motivasi dan kemampuan sangat relevan bagi banyak situasi.

  Bernardin dan Russell dalam Gomes (2000: 135), memberi batasan mengenai kinerja sebagai catatan keluaran yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu atau kegiatan selama suatu periode waktu tertentu. Pendapat lain tentang kinerja diutarakan juga oleh Smith dalam Sudarmayanti (2001: 50) yang mengatakan bahwa kinerja merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses.

  Kinerja menurut Simamora (1995: 500) adalah tingkat hasil kerja karyawan dalam mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan yang diberikan. Dengan kata lain kinerja adalah hasil kerja karyawan baik dari segi kualitas maupun kuantitas berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan.

  Kesempatan untuk berkinerja perlu ditambahkan meskipun seorang guru mungkin mampu dan bersedia. Hal ini menghindari kendala dari kinerja. Kesempatan untuk berkinerja adalah tingkat-tingkat kinerja yang tinggi sebagian merupakan fungsi dari tidak diketahui adanya rintangan- rintangan yang menjadi kendala bagi karyawan yang bersangkutan. Dapat diperhatikan pada gambar dibawah ini.

  Gambar II.1 Dimensi yang Mempengaruhi Kinerja Seseorang

  KOMPETENSI KINERJA KESEMPATAN MOTIVASI

  Sumber : Blumberg dan Pringle dalam Robbins, 1996. Perilaku Organisasi: Konsep, Kontroversi, Aplikasi. Jakarta: Prenhallindo. Hal: 218) 2.

Konsep dan Definisi Guru

  Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, Seorang guru wajib memiliki ijasah pendidikan, kompetensi, sertifikat ataupun kemampuan yang dapat digunakan untuk mewujudkan pendidikan.

  Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang harus dimiliki oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

  Kompetensi guru meliputi kompetensi pendagogik, yaitu kemampuan untuk mengelola pembelajaran peserta didik; kompetensi kepribadian, yaitu kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulai, arif dan menjadi teladan bagi peserta didik; kompetensi professional, yaitu kemampuan penguasaan materi secara lebih luas dan mendalam dan kompetensi sosial (UU Guru dan Dosen, 2006: 56). Di bawah ini akan dijabarkan hak dan kewajiban Guru.

  a. Hak Guru Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, seorang guru berhak untuk (1) memperoleh penghasilan diatas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial; (2) mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai tugas dan prestasi kerja; (3) memperoleh pelindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual; (4) memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi; (5) memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan; (6) memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan dan sanksi kepada peserta didik sesuai dengan

  (7) memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas; (8) memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi; (9) memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan; (10) memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi; dan memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya (UU Guru dan Dosen, 2006: 10).

  b. Kewajiban Guru Disamping memperoleh hak, seorang guru juga berkewajiban untuk (1) merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; (2) meningkatkan dan mengembangakan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni; (3) bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran; (4) menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum dan kode etik guru, serta nilai- nilai agama dan etika; dan memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa (UU Guru dan Dosen, 2006: 14).

  Menurut Simamora (1995: 500), kinerja (performance) dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor yaitu 1) Faktor individual yang terdiri dari kemampuan dan keahlian, latar belakang dan demografi; 2) Faktor psikologis yang terdiri dari persepsi, attitude, personality, pembelajaran dan motivasi; dan 3) Faktor organisasi yang terdiri dari sumber daya, kepemimpinan, penghargaan, struktur dan job design.

  Sedangkan menurut Anoraga (1995: 71-73), faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan adalah sebagai berikut: a.

Pendidikan

  Pada umumnya seseorang mempunyai pendidikan yang lebih baik akan mempunyai kinerja yang lebih baik. Dengan demikian, pendidikan merupakan syarat yang penting dalam meningkatkan kinerja karyawan. Tanpa bekal pendidikan, mustahil orang akan mudah dalam mempelajari hal-hal yang bersifar baru di dalam cara atau suatu sistem kerja.

  b.

Motivasi

  Pimpinan sebuah organisasi perlu mengetahui dan memahami motivasi kerja dari setiap karyawan. Dengan mengetahui motivasi itu, maka pimpinan dapat membimbing dan mendorong karyawan untuk bekerja lebih baik. c.

  Disiplin kerja Disiplin kerja adalah sikap kejiwaan seseorang atau kelompok yang senantiasa berkehendak untuk mengikuti atau mematuhi segala peraturan yang ditentukan. Disiplin kerja mempunyai hubungan yang sangat erat dengan motivasi.

  d.

  Ketrampilan Ketrampilan banyak pengaruhnya terhadap kinerja karyawan.

  Ketrampilan dalam perusahaan dapat ditingkatkan melalui kursus- kursus, latihan dan lain-lain.

  e.

  Sikap etiket kerja Sikap seseorang atau kelompok dalam membina suatu hubungan yang serasi, selaras dan seimbang dalam kelompok itu sendiri maupun dengan kelompok lain, etika dalam hubungan kerja sangat penting artinya karena dengan tercapainya hubungan yang selaras dan serasi serta seimbang akan meningkatkan kinerja seseorang.

  f.

  Gizi dan kesehatan Daya tahan tubuh seseorang biasanya dipengaruhi oleh gizi dan makanan yang dikonsumsinya setiap hari. Gizi yang baik akan mempengaruhi kesehatan karyawan dan semua itu akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan.

  g.

  Tingkat penghasilan Penghasilan yang cukup berdasarkan prestasi kerja karyawan karena diterima. Dengan penghasilan yang cukup, maka akan memberikan semangat kerja bagi setiap karyawan untuk memacu prestasi sehingga produktivitas kerja karyawan akan tercapai.

  h.

  Lingkungan kerja dan iklim kerja Lingkungan kerja dari karyawan disini termasuk hubungan antar karyawan, hubungan dengan pimpinan, suhu serta lingkungan kerja, penerangan dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk mendapatkan perhatian dari perusahaan karena sering karyawan enggan bekerja karena tidak ada kekompakan dalam kelompok kerja. Tentu saja hal ini mengganggu kerja karyawan. i.

  Teknologi Dengan adanya kemajuan teknologi meliputi peralatan yang semakin otomatis dan canggih, yang bisa mendukung kinerja dan mempermudah manusia dalam melaksanakan pekerjaan. j.

  Jaminan sosial Perhatian dan pelayanan perusahaan/organisasi kepada setiap karyawan, menunjang kesehatan dan keselamatan. Dengan harapan agar karyawan semakin bergairah dan mempunyai semangat dalam bekerja. k.

  Manajemen Dengan adanya manajemen yang baik, maka karyawan akan terorganisasi dengan baik pula. Dengan demikian produktivitas kerja l.

Kesempatan berprestasi

  Setiap orang dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, dengan diberikannya kesempatan berprestasi, maka karyawan akan meningkatkan produktivitasnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Wyatt, Langdon dan Stock, ternyata gaji yang tinggi, pekerjaan yang mudah dan jam kerja yang singkat tidak menjadi faktor utama yang mempengaruhi kinerja seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa faktor pekerjaan yang tetap dan keadaan tempat yang menyenangkanlah yang menjadi faktor utama. Penelitian diatas menunjukkan bahwa ada berbagai macam faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang.

  D. Penelitian Terdahulu

  

Judul Subjek, Sampel, Variabel Teknik Kesimpulan

Lokasi Penelitian Analisis Data

Judul : Pengaruh Subjek : Guru-guru X : Kinerja Korelasi Hasil penelitian menunjukkan

  

Kinerja Kepala MTS Kepala Sekolah momen bahwa produktivitas kerja

Sekolah Madrasah Sampel : 158 guru Y : Kinerja Guru tangkar guru pada MTs negeri

Dalam MTS dipengaruhi oleh kinerja

Meningkatkan Lokasi : MTS se kepala madrasah sebagai

Kinerja Guru Mts Cilegon pemimpin, sebagai

Se Cilegon administrator dan sebagai Peneliti : supervisor sebesar 54,20% Sudarmayanti (nilai korelasi sebesar 0,736). Tahun : 2002

  Sedangkan produktivitas kerja guru MTs swasta dipengaruhi oleh kinerja kepala madrasah sebagai pemimpin, sebagai administrator dan sebagai mediator sebesar 35,40% (nilai korelasi sebesar 0,595). di kota Cilegon dipengaruhi oleh kinerja kepala madrasah sebagai pemimpin, sebagai administrator dan sebagai supervisor sebesar 41,50% (nilai korelasi sebesar 0,644).

  Sumber : http://notok17.blogspot.com/2007/07/kepemimpinan-kepala-sekolah-di-smp-ar.html .

  Pengaruh Kinerja Kepala Sekolah Madrasah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru Mts Se Cilegon

Judul : Pengaruh Subjek : Guru-guru X : Regresi Hasil-hasil pengujian lineritas

Perilaku SLTP Negeri Kepemimpinan Linear regresi dan analisis data yang

Kepemimpinan Sampel : 27 Guru Kepala Sekolah diperoleh dari keenam

Kepala Sekolah SLTPN Negeri Y : Kinerja Guru hipotesis diperoleh F hitung =

Terhadap Kinerja Lokasi : SLPN 0,05 dan dari hasil penelitian

Guru di SLTPN Negeri di Kota menunjukkan bahwa keenam

Kota Bandung Bandung hipotesis kerja yang diajukan

seluruhnya diterima, hal ini Peneliti : Syaiful didukung oleh data empirik Anwar dengan diperolehnya koefisien- koefisien korelasi

  Tahun : 2002 yang positif, sehingga dapat ditafsirkan bahwa kepemimpinan kepala Sekolah sebagai pendidik, peran kepala sekolah sebagai manajer, administrator, dan sebagai supervisor, baik secara terpisah maupun secara terpadu berpengaruh terhadap kinerja guru.

  

Sumber : http://pages-yourfavorite.com/ppsupi/abstrakadpen2004.html . Pengaruh Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru di SLTPN Kota Bandung.

Judul : Pengaruh Subjek : Guru-guru X : Kompensasi Korelasi Terdapat hubungan yang

Kompensasi dan SD Negeri dan Kepuasan ganda signifikan antara kompensasi

Kepuasan Guru Sampel : 322 orang kerja Guru (X1) dengan kepuasan kerja

terhadap Kinerja Guru Negeri Y : Kinerja Guru (X2) sebesar r = 0,171

Guru Lokasi : SD di tiga (kontribusi kompensasi

Peneliti : Warsidi kecamatan dan 40 terhadap kepuasan kerja

Tahun : 2002 SD Negeri yang adalah 2,91%). Perubahan dipilih secara acak kepuasan kerja atas di Kabupaten kompensasi adalah = 87,59 + Indragiri Hulu 0,17 X1. Terdapat hubungan Propinsi Riau yang signifikan antara kompensasi (X1) dengan kinerja (Y) sebesar r = 0,166 (kontribusi kompensasi atas kompensasi adalah = 130,33 + 0,21

  X1. Koefisien korelasi antara kepuasan kerja dengan kinerja guru adalah kecil (r = -0,014) dan hubungan tersebut tidak signifikan. Terdapat hubungan yang signifikan antara kompensasi (X1) dan kepuasan kerja (X2) dengan kinerja (Y) sebesar R = 0,172 (kontribusi kompensasi dan kepuasan kerja terhadap kinerja adalah 2,94%). Perubahan kinerja atas kompensasi dan kepuasan kerja adalah = 35,13 + 0,22 X1 0,05 X2. -

Sumber : http://www.malang.ac.id/jip/1996a.htm . Pengaruh Kompensasi dan Kepuasan Guru terhadap

  Kinerja Guru

  E. Kerangka berpikir Supervisi merupakan kegiatan untuk membantu dan melayani Guru agar mereka dapat melaksanakan tugasnya menjadi lebih baik. Peranan seorang supervisor menunjukkan kepada beberapa kegiatan tertentu dimana usaha tersebut dilakukan secara bertanggung jawab untuk mencapai tujuan tertentu .

  Peran kepala sekolah sebagai supervisor mencakup kegiatan-kegiatan yang bersangkutan dengan pembangkitan semangat dan kerja sama guru-guru, pemenuhan alat-alat dan perlengkapan sekolah demi kelancaran pengajaran, pengembangan dan pembinaan pengetahuan serta keterampilan guru-guru, dan kerja sama antara sekolah dan masyarakat, yang semuanya ditujukan untuk mempertinggi mutu pendidikan dan pengajaran siswa. Supervisi yang baik idamkan bersama. Pencapaian tujuan ini tentu saja juga berpengaruh positif bagi kinerja guru. Dengan supervisi yang baik dari kepala sekolah, maka proses perencanaan guru dalam pembuatan silabus, RPP, program semester sampai program tahunan pasti akan berhasil dengan baik karena adanya bimbingan dan pengarahan dari kepala sekolah. Dengan supervisi kepala sekolah maka pelaksanaan pembelajaran antara guru dan peserta didik akan terjalin dengan baik sehingga proses evaluasi pengajaran pun akan berhasil dan berdaya guna. Peningkatan kinerja guru ini akan membawa guru dalam peningkatan karier mereka. Dengan supervisi kepala sekolah maka seorang guru akan diberikan pelatihan, studi lanjut hingga kenaikan pangkat untuk menambah pemahaman pengetahuan dan sebagai kompensasi dalam menjalankan tugas pendidikan dengan baik.

  F. Hipotesis 1.

  Ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam bidang perencanaan.

  2. Ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran.

  3. Ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam evaluasi pengajaran.

  4. Ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pengembangan profesi, kenaikan pangkat, pelatihan ataupun studi lanjut.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian

  yang bersifat korelasi dengan pendekatan ex-post facto, karena peneliti melakukan tindakan pengumpulan data guna menentukan hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel (Sukardi, 2003: 161). Menurut Sugiyono (2006: 107), metode penelitian korelasional dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh pelakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan.

  B. Tempat dan Waktu 1.

Tempat

  Penelitian ini bertempat di SMA se-kota Yogyakarta. Lokasi penelitian ini dipilih berdasarkan alasan subjektif dan objektif dari peneliti. Alasan subjektif dipilihnya kota Yogyakarta sebagai lokasi penelitian dikarenakan kota Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar. Predikat yang disandang oleh kota Yogyakarta ini tidak lepas dari pengelolaan pendidikan yang relatif lebih baik dibanding kota-kota lain. Sedangkan alasan objektif dari peneliti yaitu; 1) Ruang lingkupnya yang cukup terjangkau baik dari segi tempat, waktu, biaya dan prosedur perijinan yang harus dilalui, 2) Belum tenaga, moril maupun materil, lokasi tersebut membantu peneliti karena kota tersebut adalah tempat tinggal peneliti.

  C. Subjek dan Objek 1.

  Subjek Subjek menurut Arikunto (2006: 130) adalah benda, hal/orang, tempat variable penelitian melekat. Mereka berperan sebagai pemberi informasi yang berhubungan dengan objek penelitian. Subjek dalam penelitian ini adalah guru-guru SMA kota Yogyakarta.

  Objek dalam penelitian ini adalah variabel yang diteliti yaitu supervisi kepala sekolah dan kinerja guru.

  D. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 1.

Populasi

  Populasi menurut Sugiyono (2006:55) adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Sedangkan menurut Zuriah (2006: 109), populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian peneliti dalam suatu ruang lingkup guru-guru SMA di kota Yogyakarta. Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta berjumlah 49 buah, dengan pembagian 11 sekolah negeri dan 38 sekolah swasta.

  2. Sampel Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2006: 56). Dalam penelitian ini sampel yang diambil adalah guru-guru di 10 Sekolah Menengah Atas di kota Yogyakarta.

  3. Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Arikunto (2006: 128), purposive sampling yaitu teknik sampling yang digunakan oleh peneliti jika peneliti mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu di dalam pengambilan sampelnya.

  E. Variabel Penelitian dan Pengukuran

  1. Variabel definisi operasional dan pengukuran variabel dalam penelitian ini adalah : a.

Supervisi kepala sekolah, adapun aspek-aspek yang diteliti adalah:

  1) Supervisor sebagai pemimpin Supervisor sebagai pemimpin tetapi juga pendidik. Dalam bidang kepemimpinan, seorang Supervisor harus dapat: 1) menyusun berbagai kegiatan; 3) memberikan bantuan kepada kelompok untuk menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan; 4) membangkitkan dan memupuk semangat kelompok juga mengikutsertakan kelompok dalam menetapkan keputusan-keputusan (Purwanto, 1987: 95). Kepemimpinan kepala sekolah ditujukan kepada guru karena merekalah yang terlibat secara langsung dalam proses pendidikan. Sebagai pemimipin, kepala sekolah harus sanggup menggerakkan orang lain secara sadar dan sukarela untuk melaksanakan kewajibannya sesuai yang diharapkan oleh kepala sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah terutama ditujukan kepada para guru karena merekalah yang terlibat secara langsung dalam proses pendidikan.

  2) Supervisor sebagai evaluator Supervisor harus dapat: 1) menguasai dan memahami tujuan-tujuan pendidikan secara khusus dan terinci; 2) menguasai dan memiliki norma-norma atau ukuran-ukuran yang akan digunakan sebagai kriteria penilaian; 3) menguasai teknik pengumpulan data untuk emmperoleh data yang lengkap, benar dan dapat diolah menurut norma-norma yang ada dan selanjutnya menafsirkan dan menyimpulkan hasil-hasil penilaian sehingga mendapat gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan untuk mengadakan perbaikan- perbaikan (Rifai, 1982: 164). Evaluasi yang bisa dilakukan misalnya perlengkapan belajar, dan latar belakang guru. Jadi kesimpulannya, seorang Supervisi harus mengadakan evaluasi terhadap hasilnya, evaluasi prosesnya dan evaluasi pelaksanaannya. 3) Supervisor sebagai Pembina dan Pelayan

  Supervisi merupakan proses untuk membantu guru meningkatkan dirinya dalam bidang profesinya. Tentu saja untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan profesionalnya. Jadi seorang supervisor adalah seorang pelayan, pembantu dan juga pembina. Karena sebagai seroang pembantu, maka seorang supervisor harus mengetahui siapa saja perlu diberikan pelayanan, dalam hal apa, bagaimana pemberian bantuan tersebut, dan hal-hal apa saja saja yang harus diketahui oleh seorang supervisor untuk memberikan pelayanannya ini.

  b.

Kinerja Guru

  Kinerja guru adalah hasil kerja karyawan baik dari segi kualitas maupun kuantitas berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan.

  Disamping memperoleh hak, seorang guru juga berkewajiban untuk (1) merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; (2) meningkatkan dan mengembangakan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni; (3) bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras ekonomi peserta didik dalam pembelajaran; (4) menjunjung tinggi perturan perundang-undangan, hukum dan kode etik guru, serta nilai- nilai agama dan etika; dan memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa (UU Guru dan Dosen, 2006: 14).

  Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru yaitu: 1) Faktor individual yang terdiri dari kemapuan dan keahlian, latar belakang dan demografi; 2) Faktor psikologis yang terdiri dari persepsi,

  attitude, personality, pembelajaran dan motivasi; dan 3) Faktor

  organisasi yang terdiri dari sumber daya, kepemimpinan, penghargaan, struktur dan job design.

  2. Pengukuran variabel Untuk kepentingan pengukuran variabel digunakan skala likert (Sugiono, 2000: 74) : Sangat setuju (SS) diberi bobot 5 Setuju (S) diberi bobot 4 Ragu-ragu (R) diberi bobot 3 Tidak Setuju (TS) diberi bobot 2 Sangat Tidak Setuju (STS) diberi bobot 1 Sedangkan pernyataan negatif/berlawanan diberi penilaian sebagai berikut: Sangat setuju (SS) diberi bobot 1 Setuju (S) diberi bobot 2

  Tidak Setuju (TS) diberi bobot 4 Sangat Tidak Setuju (STS) diberi bobot 5

  F. Teknik Pengumpulan Data Data menurut Arikunto (1996: 91) adalah segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi. Dalam penelitian ini, data yang diperlukan adalah data primer. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari narasumber .

  Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: 1.

  Studi Pustaka Mengumpulkan data sehubungan dengan topik yang didapat dari kepustakaan, yaitu dari buku/referensi, internet untuk memperoleh data, landasan teori dan pengetahuan.

  Menurut Hasan (2004: 83) kuesioner adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan/mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi oleh responden.

  Tabel III.1 Kisi-kisi Kuesioner Supervisi Kepala Sekolah

  Variabel Indikator Nomor item Supervisi Kepala Sekolah

  Peranan kepala sekolah sebagai supervisor :

  • Menyusun rencana bersama
  • Mengikutsertakan guru dalam berbagai kegiatan
  • Memupuk semangat kelompok 2.

  Supervisor sebagai evaluator

  • Menguasai tujuan pendidikan
  • Menguasai norma-norma penilaian
  • Menguasai teknik pengumpulan data, mengolah, menafsirkan dan menyimpulkan hasil penilaian 3.

Supervisor sebagai

  pembina/pelayan 1 – 15 16 – 25 26 – 35

  Tabel III.2 Kisi-kisi Kuesioner Kinerja Guru

  Variabel Indikator Nomor item Kinerja Guru dalam bidang perencanaan

  Membuat perangkat program pengajaran, yaitu:

  • Program Tahunan •

  Program Semester

  • Program Mingguan • Silabus •

  Rencana Persiapan 1 - 10

  • Sistem Penilaian • Lembar Kerja Siswa Kinerja Guru Melaksanakan kegiatan pembelajaran, 11 – 20 dalam pelaksanaan yaitu:
  • pembelajaran

  Mendeskripsikan standar kompetensi/kompetensi dasar

  • Merumuskan tujuan pembelajaran
  • Menganalisis materi pembelajaran
  • Merancang strategi/kegiatan pembelajaran
  • Membuat alat peraga/media serta sumber pembelajaran
  • Merancang model penilaian dan tindak lanjut

  Kinerja Guru Melaksanakan evaluasi pembelajaran, 21 – 30 dalam evaluasi yaitu:

  • pembelajaran

  Menganalisis hasil ulangan harian Melaksanakan perbaikan dan

  • pengayaan
  • catatan tentang

  Membuat kemajuan hasil belajar siswa Memberikan postes

  • Membuat refleksi keaktifan siswa

  Membuat ringkasan materi pada akhir pertemuan Memberikan tugas/PR

  • Kinerja Guru

  31 - 35 Mengikuti pendidikan dan dalam pelatihan

  • pengembangan

  Melaksanakan studi lanjut

  • karier

  Mengusulkan dan menghitung angka kredit untuk kenaikan pangkat

  • Melakukan kegiatan karya tulis/karya ilmiah

  G. Data yang dicari Data yang dicari dalam penelitian ini adalah data primer. Menurut Hasan di lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan yang memerlukannya. Data primer dalam penelitian ini adalah kinerja guru dengan adanya supervisi kepala sekolah.

  H. Teknik Pengujian Instrumen Menurut Arikunto (1996: 160), instrumen yang baik harus memenuhi 2 persyaratan penting yaitu valid dan reliabel Untuk mengetahui apakah setiap item dalam kuesioner yang digunakan sudah valid atau belum, maka perlu dilakukan pengujian terlebih dahulu. Untuk mengukur kevalidan dan keandalannya dilakukan pengujian dengan menggunakan analisis validitas dan reliabilitas.

  1. Pengujian Validitas Menurut Sugiyono (2006: 212), sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud (Arikunto, 1996: 160). Uji validitas dilakukan dengan perhitungan dari Karl Pearson yang dikenal dengan sebutan korelasi produk moment dengan rumus sebagai berikut:

  Rumus Product Moment :

  r =

  n Σ X Y - ( ΣX ) (ΣY ) xy

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  2 } √ {n Σ X – (ΣX ) } { n Σ Y – (Σ Y)

  2

  1

  2

  : koefisien korelasi tiap item

  r xy

  skor total setiap item

  ΣX : ΣY : skor total item

  n : jumlah subjek (Sugiyono, 2004: 212) besarnya dapat dihitung dengan menggunakan korelasi dengan taraf

  r xy

  signifikasi ( = 5 %). Apabila hasil pengukuran r menunjukkan hasil lebih besar atau sama dengan taraf signifikasi 5%, maka item tersebut dinyatakan valid, tetapi jika lebih kecil dari 5% maka item tersebut dinyatakan tidak valid.

  2. Reliabilitas Instrumen Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui taraf kepercayaan dari suatu instrumen. Instrumen dikatakan variabel bila instrumen digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama Menurut Sugiyono (2000: 282) untuk menghitung reliabilitas angket maka digambar rumus Alfa Cronbach

  2 r = k 1- Σ S

  1

  1

  2

  (k - 1)

  S

  1 Keterangan :

  n : reliabilitas instrumen k : mean kuadrat anatara subjek

  2 : Σ S mean kuadrat kesalahan

  1

  • ( ΣX

  • – (ΣX
  • – (Σ Y)

  ( n – 2 )

  √

  : skor total item n : jumlah subjek (Sugiyono, 2004: 212) Untuk menguji apakah hipotesis dapat diterima atau tidak, maka diadakn uji signifikan = 5 % dengan rumus : t = r

  ΣY

  skor total setiap item

  ΣX :

  : koefisien korelasi tiap item

  r xy

  Keterangan:

  2 }

  2

  1

  2 } { n Σ Y

  1 )

  2

  1

  1 ) √ {n Σ X

  1 ) (ΣY

  1

  n Σ X

  =

  xy

  I. Teknik Analisis Data Untuk memecahkan masalah pertama sampai keempat, yaitu apakah ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru maka peneliti akan menggunakan teknik analisis korelasi Product Moment dengan rumus : r

  1 lebih besar dari pada r tabel.

  r

  varians total Dengan taraf signifikan 5%, suatu alat ukur dikatakan reliabel, apabila

  2 :

  1

  S

  2 Dimana : t = harga tes yang dicari r = koefisien korelasi antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru n = jumlah sampel Dengan kriteria : Ho ditolak Ha diterima jika t > t

  

hitung tabel

  Ho diterima Ha ditolak jika t < t

  

hitung tabel

BAB IV GAMBARAN UMUM A. Gambaran Umum Kota Yogyakarta

  1. Sejarah Kota Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebuah daerah otonomi setingkat propinsi, satu dari 26 daerah Tingkat I yang ada di Indonesia. Propinsi ini beribukota di Yogyakarta, sebuah kota yang kaya predikat, baik berasal dari sejarah maupun potensi yang ada, seperti sebagai kota perjuangan, kota kebudayaan, kota pelajar, dan kota pariwisata. Menurut Babad Gianti, Yogyakarta atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa) adalah nama yang diberikan Paku Buwono II (raja Mataram tahun 1719-1727) sebagai pengganti nama pesanggrahan Gartitawati. Yogyakarta berarti Yogya yang kerta, Yogya yang makmur, sedangkan Ngayogyakarta Hadiningrat berarti Yogya yang makmur dan yang paling utama. Sumber lain mengatakan, nama Yogyakarta diambil dari nama (ibu) kota Sanskrit Ayodhya dalam epos Ramayana. Dalam penggunaannya sehari-hari, Yogyakarta lazim diucapkan Jogja (karta) atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa).

  Sebutan kota perjuangan untuk kota ini berkenaan dengan peran Yogyakarta dalam konsistensi perjuangan bangsa Indonesia pada jaman kolonial Belanda, jaman penjajahan Jepang, maupun pada jaman perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Yogyakarta pernah menjadi pusat kerajaan, Pakualaman. Sebutan kota kebudayaan untuk kota ini berkaitan erat dengan peninggalan-peninggalan budaya bernilai tinggi semasa kerajaan-kerajaan tersebut yang sampai kini masih tetap lestari. Sebutan ini juga berkaitan dengan banyaknya pusat-pusat seni dan budaya. Sebutan kata Mataram yang banyak digunakan sekarang ini, tidak lain adalah sebuah kebanggaan atas kejayaan Kerajaan Mataram ( http://students.ukdw.ac.id/~22002471/sejarah2.html ).

  2. Kondisi Geografis Kota Yogyakarta a.

Batas Wilayah

  Kota Yogyakarta berkedudukan sebagai ibukota Propinsi DIY dan merupakan satu-satunya daerah tingkat II yang berstatus Kota disamping 4 daerah tingkat II lainnya yang bersifat Kabupaten. Kota Yogyakarta terletak di tengah-tengah Propinsi DIY, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

  Sebelah Utara : Kabupaten Sleman Sebelah Timur : Kabupaten Bantul dan Sleman Sebelah Selatan : Kabupaten Bantul Sebelah Barat : Kabupaten Bantul dan Sleman

  Wilayah Kota Yogyakarta terbentang antara 110° 24′ 19′′ sampai 110° 28′ 53′′ Bujur Timur dan 7° 49° 26° sampai 070° 15° 24° Lintang Selatan dengan ketinggian rata-rata 114m diatas permukaan laut. b.

  Keadaan Alam dan Luas Wilayah Secara garis besar Kota Yogyakarta merupakan dataran rendah dimana dari barat ke timur relatif datar dan dari utara ke selatan memiliki kemiringan ± 1 derajat serta terdapat 3 sungai yang melintasi Kota Yogyakarta yaitu sebelah timur adalah Sungai Gajah Wong, bagian tengah adalah Sungai Code dan sebelah barat adalah Sungai Winongo.

  Kota Yogyakarta memiliki luas wilayah tersempit dibandingkan dengan daerah tingkat II lainnya yaitu 32,5 Km

  2

  yang berarti 1,025% dari luas wilayah Propinsi DIY yakni 3.185,80 Km

  2

  . Dengan luas 3.250 hektar tersebut terbagi menjadi 14 kecamatan, 45 kelurahan, 617 RW dan 2.531 RT, serta dihuni oleh ± 500.000 jiwa dengan kepadatan rata-rata 15.197 jiwa/Km

  2 ( http://www.jogja.go.id/index/extra.detail/22/Kondisi-geografis- kota-yogyakarta.html ).

  3. Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan Sebutan Yogyakarta sebagai kota pariwisata menggambarkan potensi propinsi ini dalam kacamata kepariwisataan. Yogyakarta adalah daerah tujuan wisata terbesar kedua setelah Bali. Berbagai jenis obyek wisata dikembangkan di wilayah ini, seperti wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata pendidikan, bahkan, yang terbaru, wisata malam. Sedangkan predikat sebagai kota pelajar berkaitan dengan sejarah dan peran kota ini dalam dunia pendidikan di Indonesia. Di samping adanya berbagai pendidikan di setiap jenjang pendidikan tersedia di propinsi ini, di Yogyakarta terdapat banyak

  Timur keluar dari negara kesatuan Indonesia) di Yogyakarta. Tidak berlebihan bila Yogyakarta disebut sebagai miniatur Indonesia.

  Predikat sebagai Kota Pendidikan memang masih layak disandang oleh Kota Jogja. Ribuan institusi pendidikan semakin berkembang dan bertambah seiring dengan semakin banyaknya pendatang di Kota Jogja sebagai calon- calon siswa dan mahasiswa.

  Sekurang-kurangnya terdapat 2 universitas negeri, 15 universitas swasta, 1 institut negeri, 38 akademi, 18 sekolah tinggi, 50 sekolah menengah atas, 31 sekolah menengah kejuruan, 60 sekolah menengah pertama, dan tak kurang dari 240 sekolah dasar, baik negeri maupun swasta, tumbuh dan berkembang di Kota Jogja.

  B.

Deskripsi Sekolah

  Dalam penelitian ini, kuesioner yang disebarkan kepada responden berjumlah 50 buah. Responden tersebar di 10 SMA kota Yogyakarta dengan perincian 5 sekolah negeri dan 5 sekolah swasta. Pengambilan pertimbangan pemilihan sekolah didasarkan atas pertimbangan peneliti. Dari 50 kuesioner yang disebarkan semuanya kembali kepada peneliti. Berikut daftar sekolah yang menjadi responden.

  Tabel IV.1 Daftar Sekolah Responden

  No. Nama Sekolah Alamat

  1. SMA Negeri 2 Yogyakarta Bener, Tegalrejo, Yogyakarta

  2. SMA Negeri 4 Yogyakarta Jalan Magelang Yogyakarta

  5. SMA Negeri 11 Yogyakarta Jalan AM. Sangaji 2 Yogyakarta

  6. SMA Stella Duce 1 Yogyakarta Jalan Sabirin No.1 Yogyakarta

  7. SMA Stella Duce 2 Yogyakarta Jalan DR. Sutomo No.16 Yogyakarta

  8. SMA Bhineka Tunggal Ika Yogyakarta

  Jalan Poncowinatan No.16 Yogyakarta

  9. SMA Pangudi Luhur Yogyakarta Jalan P. Senopati No.18 Yogyakarta

  10. SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Jalan Jendral Sudirman No. 87 Yogyakarta

  C. Deskripsi Responden Dalam penelitian ini kuesioner yang disebarkan kepada responden berjumlah 50. Dari 50 data responden yang diterima, terdiri dari 23 laki-laki

  (46%), dan 27 perempuan (54%). Adapun deskripsi responden meliputi deskripsi mengenai usia, masa kerja dan status kepegawaian.

  Tabel IV.2 Tabel Responden Berdasarkan Usia Responden

  NO. USIA FREKUENSI PERSENTASE 1. > 46 tahun 22 44% 2. 36 – 45 tahun 7 14% 3. 26 – 35 tahun 10 20% 4. < 25 tahun 4 8%

  5. Tidak mengisi 7 14% Jumlah 50 100%

  Sumber: Data Primer, 2007, Lampiran IV, halaman 111) Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa responden yang berusia lebih dari 46 tahun berjumlah 22 orang (44%), 36 – 45 tahun berjumlah 7 orang (14%),

  26 – 35 tahun berjumlah 10 orang (20%), kurang dari 25 tahun berjumlah 4 orang (8%) dan yang tidak mengisi data berjumlah 7 orang (14%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa responden terbanyak berusia lebih dari 46 tahun.

  Tabel IV.3 Tabel Responden Berdasarkan Masa Kerja

  NO. MASA KERJA FREKUENSI PERSENTASE 1. 0 – 9 tahun 12 24% 2. 10 – 19 tahun 12 24% 3. 20 – 29 tahun 16 32%

  4. Tidak mengisi 10 20% Jumlah 50 100%

  Sumber: Data Primer, 2007, Lampiran IV, halaman 111-113) Tabel diatas menunjukkan bahwa responden dengan masa kerja 0 – 9 tahun berjumlah 12 orang (24%), 10 – 19 tahun berjumlah 12 orang (24%), 20 –

  29 tahun berjumlah 16 orang (32%), dan yang tidak mengisi data berjumlah 10 orang (20%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki masa kerja antara 20 – 29 tahun.

  Tabel IV.4 Tabel Responden Berdasarkan Status Kepegawaian

  NO. Status Kepegawaian FREKUENSI PERSENTASE

  1. Pegawai Negeri 21 42%

  2. Guru Tetap Yayasan 10 20%

  3. Guru Tidak Tetap Yayasan/Guru 12 24% Bantu

  4. Lain-lain 7 14% Jumlah 50 100%

  Sumber: Data Primer, 2007, Lampiran IV, halaman 111-113) Tabel diatas menunjukkan bahwa responden dengan status kepegawaian sebagai pegawai negeri berjumlah 21 orang (42%), guru tetap yayasan berjumlah

  10 orang (20%), guru tidak tetap berjumlah 12 orang (24%) dan yang tidak mengisi data status kepegawaian berjumlah 7 orang (14%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden adalah seorang pegawai D.

Mekanisme Supervisi Sekolah

  1. Gambaran umum proses supervisi Pendidikan bukan hanya melatih dan mengembangkan pengetahuan dan penalaran saja. Pendidikan jauh lebih beragam sifat dan masalahnya, yang mencakup pengembangan norma, moral, fisik, yang sesuai dengan nilai-nilai yang dikehendaki dan dibutuhkan oleh masyarakat. Maka, kegiatan supervisi ditujukan kepada peningkatan mutu guru yang dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Supervisi bukan untuk mengawasi guru, ataupun untuk mencari kesalahan guru. Memang, dalam proses supervisi terdapat unsur-unsur pengawasan, mencari kelemahan, pemeriksaan, akan tetapi itu semua baru merupakan tahapan-tahapan tertentu dalam keseluruhan tahapan supervisi.

  Untuk membantu peningkatan guru diperlukan penilaian kepada guru, bimbingan dan juga mungkin pengarahan. Tetapi itu semua bukanlah tujuan, melainkan merupakan kegiatan-kegiatan dalam rangka mencapai tujuan sebenarnya. Jadi kesimpulannya, supervisi merupakan bantuan kegiatan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik sehingga mengharuskan suatu proses, dimana dalam kegiatan tersebut melibatkan suatu rangkaian kegiatan yang teratur, berhubungan dan berkesinambungan dan diarahkan kepada suatu tujuan.

  2. Gambaran umum proses Supervisi Kepala Sekolah Proses supervisi tidak hanya dapat diselesaikan hanya dengan satu kegiatan saja. Misalnya kunjungan ke sekolah, kunjungan kelas saja atau hanya dengan mengadakan wawancara ataupun penataran-penataran. Kalau kegiatan- kegiatan itu dirangkaikan atau dihubungkan, barulah dapat merupakan proses supervisi, ataupun merupakan bagian dari proses supervisi.

  Penelitian yang dilakukan di sejumlah SMA Yogyakarta menunjukkan bahwa tujuan akhir dari supervisi adalah peningkatan hasil belajar melalui peningkatan situasi belajar mengajar dengan jalan meningkatkan kemampuan professional guru.

  Dalam penelitian juga menunjukkan bahwa para guru yang disupervisi dapat lebih merasakan keberhasilan dari proses supervisi tersebut. Supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah dimulai dari mengadakan pemeriksaan terhadap guru dalam aspek penampilannya. Contohnya; metode mengajar, hasil belajar murid, disiplin kelas, administrasi kelas, penggunaan alat peraga/bantu dan sebagainya. Selanjutnya diadakan penilaian oleh kepala sekolah berdasarkan peraturan yang telah ditentukan. Sedangkan untuk proses belajar mengajar, pengaruh guru dalam kelas dan sikap guru dan murid akan dinilai oleh kepala sekolah bersama rekan guru untuk menemukan kekurangan/kelemahan. Kemudian, kegiatan supervisi selanjutnya adalah pemberian bantuan, pelayanan dan bimbingan pada guru. Hal ini dimaksudkan agar guru yang mempunyai kekurangan/kelemahan dapat meningkatkan kemampuan profesional gurunya.

  Garis besar dalam gambaran umum proses supervisi adalah kepala sekolah harus siap sedia dan siap membantu guru dalam memenuhi kekurangan sekitar (hubungan dengan masyarakat) dan menghargai setiap ide, inisiatif dan kreativitas yang berdaya guna dan berhasil guna sehingga berpengaruh positif bagi status guru. Misalnya dalam percepatan kenaikan pangkat dan sebagainya.

  Kepala Sekolah sebagai seorang pemimpin, evaluator dan pembina/pelayan para guru, dituntut untuk menyediakan waktu secukupnya dalam memberikan bantuan yang diperlukan oleh guru. Karena masing-masing guru berbeda sifat dan masalahnya, maka diperlukan komunikasi dua arah yang dapat memungkinkan kepala sekolah dan guru untuk menyelesaikan masalahnya.

  Setiap kegiatan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah sehari-harinya adalah seperti mengadakan observasi keliling yang rutin, memeriksa laporan- laporan harian dan berkala, pembicaraan dengan anggota-anggotanya, dan menampung dan menanggapi keluhan-keluhan dari anggotanya.

  Kesimpulannya, sebagai seorang supervisor Kepala Sekolah harus selalu berusaha mengajak para guru untuk menemukan, menyadari atau bahkan mengakui kelemahan-kelemahannya sendiri. Karena usaha ini memerlukan pendekatan lain disamping dilakukan pemeriksaan, maka Kepala Sekolah mengajak semua guru untuk bersama-sama mempelajari masalah yang mereka hadapi dan bersama-sama pula mencari faktor penyebabnya kemudian bersama-sama pula menemukan cara-cara untuk mengatasinya.

  3. Peran supervisi pendidikan Seorang Kepala Sekolah harus selalu mempunyai gambaran umum anggotanya. Hal ini dilakukan terlebih dalam pengambilan keputusan yang harus dapat dipertanggung jawabkan. Jadi selain dari Kepala Sekolah, kegiatan supervisi juga dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang untuk memeriksa, mengawasi, dan memantau sekolah dalam usahanya untuk mencapai tujuan akhir yang diharapkan semua pihak. Berikut pihak-pihak yang dimaksud serta perannya untuk sekolah.

  a.

BPK (Badan Pemeriksa Keuangan)

  Supervisi dari pihak BPK dimaksudkan untuk membantu para bendaharawan agar dalam menerima, menyimpan dan mempergunakan keuangan dilakukan secara sah, benar dan efisien. Supervisi yang dilakukan oleh BPK antara lain memeriksa kelengkapan administrasi (pembukuan, penyimpanan, penggunaan uang oleh bendaharawan) dan pertanggungjawaban kantor/instansi. Oleh karena itu, BPK berwenang untuk menjatuhkan sanksi administratif kepada pihak/sekolah yang terbukti menyalahgunakan uang sekolah/negara. Karena dalam penelitian ini subjeknya adalah sekolah, maka pengawasan yang dilakukan oleh BPK adalah mengawasi penggunaan dana-dana dari pemerintah yang digunakan oleh sekolah. Misalnya pendanaan gaji, pengembangan perpustakaan/koperasi, pembangunan sarana dan prasarana sekolah.

  b.

  BPKP Supervisi dari BPKP untuk sekolah adalah pengawasan proyek-proyek pembangunan fisik sekolah ataupun sarana dan prasarana yang dibutuhkan sekolah. Tentu saja hal ini dilakukan agar tidak terdapat kecurangan yang dilakukan oleh sekolah maupun oknum yang tidak bertanggung jawab.

  Selanjutnya data-data tersebut akan dioleh untuk menentukan keputusan proyek/pembangunan fisik atau sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh sekolah. Karena bertugas untuk mengawasi, BPKP juga berwenang untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan yang ada pada sekolah.

  Kelemahan/kekurangan tersebut akan diperbaiki dengan bimbingan dan pengembangan yang dilakukan oleh pihak BPKP bersama-sama dengan pihak sekolah.

  c.

Dinas Pendidikan

  Supervisi dari Dinas Pendidikan lebih menekankan pada kinerja kepala sekolah dan para guru. Kegiatan dari Dinas Pendidikan misalnya mengadakan pemeriksaan/inspeksi mendadak ke sekolah-sekolah, mengawasi keseluruhan situasi belajar mengajar, memperbaiki kelemahan/kekurangan untuk meningkatkan kemampuan. Pemberian bimbingan atau pengarahan dari pihak Dinas dilakukan dengan cara memberikan informasi langsung /tidak langsung, demonstrasi, rapat, penataran dalam berbagai bentuk dan lain sebagainya.

  d.

BAWASDA (Badan Pengawas Daerah)

  Supervisi yang dilakukan oleh BAWASDA tidak jauh beda dari yang dilakukan oleh BPK. Kedua badan ini sama-sama bertugas untuk mengawasi. BPK bertugas untuk mengawasi masalah keuangan, sedangkan kepala sekolah dan guru. BAWASDA juga melakukan pemeriksanaan ke sekolah-sekolah untuk mengadakan inspeksi. Kedisiplinan yang dimaksud adalah presensi kepala sekolah dan guru, tata tertib kepala sekolah guru dan sebagainya. BAWASDA juga berwenang untuk memberikan peringatan ataupun hukuman atas ketidakdisiplinan kepala sekolah dan guru.

  e.

Direktorat Jendral Pendidikan

  Supervisi yang dilakukan oleh pihak Dirjen menekankan pada pelaksanaan kurikulum yang dilaksanakan oleh sekolah. Kurikulum yang sudah dicanangkan oleh pemerintah seyogyanya dikembangkan dan dilakukan sepenuhnya oleh pihak sekolah. Pengembangan kurikulum sangat penting artinya bagi suatu sekolah, oleh sebab itu Dirjen Pendidikan secara terus- menerus berusaha meningkatkan daya dan hasil guna bagi peningkatan mutu pendidikan.

  4. Struktur organisasi sekolah Sekolah sebagai suatu organisasi kerja menghimpun sejumlah orang yang harus bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Kerja sama ini merupakan serangkaian kegiatan atau proses yang harus dilaksanakan oleh semua warga sekolah dengan pemimpinnya yaitu Kepala Sekolah. Jadi, untuk mencapai tujuan yang diharapkan diperlukan pembagian tugas dan koordinasi yang jelas satu sama lain.

  Gambar IV.1 Struktur Organisasi Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah

  Ketua Kepala Sekolah

  • Komite Ka. Tata Usaha Sekretaris Sekolah Adm.

  Adm. Ketenagaan

  Kesiswaan Adm. Adm. Perlengkapan Keuangan Waka.

  Waka. Waka. Waka.

  Humas Kurikulum

  Sarpras Kesiswaan Bid.

  Pembina Koord. Akademik Peng. Keuangan &

  Humas OSIS & Koord. Pening. Komp.

  Kerumahtanggaan Ketertiban Koord. Pengemb. KTSP

  Guru BK Wali Kelas SISWA

  Gambar IV.2 Struktur Organisasi Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah

  Urusan Sosial Koord.

  Koord. BK Guru

  Urusan Pemeliharaan

  Seksi Bidang

  Perpus Koord. Lab

  Urusan Kerjasama Koord.

  Urusan Rumah Tangga

  Pembina OSIS

  Peningkatan Akademik

  UKS Koord.

  Kepala Sekolah Bendahara

  Ekstrakulikuler Koord.

  Humas Koord.

  Wakasek Sarana dan Prasarana Wakasek

  Wakasek Kesiswaan

  Ketua Komite LITBANG

  Administrasi Kurikulum

  Wakasek Kurikulum Koord.

  Kepala Tata Usaha

  Siswa

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Pengujian Instrumen Dalam penelitian ini, telah dibagikan kuesioner kepada 50 responden ke 10 Sekolah Menengah Atas di Kota Yogyakarta. Dari 50 kuesioner yang dibagikan

  semuanya kembali, artinya responrate dari responden adalah 100%. Dari kuesioner tersebut dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas untuk mengetahui tingkat validitas dan reliabilitas kuesioner.

  1. Pengujian Validitas Validitas adalah uji yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam melakukan fungsinya sebagai alat ukur. Dalam penelitian ini alat ukur tersebut berupa kuesioner. Untuk mengetahui apakah instrumen penelitian tersebut valid atau tidak maka peneliti menggunakan rumus korelasi product moment dari Karl Pearson dengan ketentuan sebagai berikut:

  Jika - > dengan taraf signifikan 5% maka instrumen

  r r hitung tabel

  penelitian dikatakan valid Jika < dengan taraf signifikan 5% maka instrumen

  • hitung tabel

  r r

  penelitian dikatakan tidak valid Dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel penelitian yaitu: Supervisi

  Kepala Sekolah dan Kinerja Guru. Masing-masing variabel terdiri dari indikatornya adalah Supervisor sebagai Pemimpin; Supervisor sebagai Evaluator, dan Supervisor sebagai Pembina/Pelayan. Untuk variabel Supervisi Kepala Sekolah terdiri dari 35 butir pertanyaan. Dari 35 butir pertanyaan tidak ditemukan pertanyaan yang tidak valid. Uraian pengujian validitas butir pertanyaan variabel Supervisi Kepala Sekolah terdapat pada tabel di bawah ini:

  Tabel V.1 Rangkuman Hasil Uji Validitas Variabel Supervisi Kepala Sekolah

  No Butir

  r hitung r tabel

  Hasil 1. 0,432 0,273 valid 2. 0,512 0,273 valid 3. 0,549 0,273 valid 4. 0,668 0,273 valid 5. 0,567 0,273 valid 6. 0,742 0,273 valid 7. 0, 371 0,273 valid 8. 0,432 0,273 valid 9. 0,273 0,273 valid 10. 0,679 0,273 valid 11. 0,780 0,273 valid 12. 0,676 0,273 valid 13. 0,793 0,273 valid 14. 0,760 0,273 valid 15. 0,507 0,273 valid 16. 0,792 0,273 valid 17. 0,606 0,273 valid 18. 0,451 0,273 valid 19. 0,657 0,273 valid 20. 0,552 0,273 valid 21. 0,678 0,273 valid 22. 0,313 0,273 valid 23. 0,606 0,273 valid 24. 0,318 0,273 valid 25. 0,647 0,273 valid 26. 0,784 0,273 valid

  29. 0,304 0,273 valid 30. 0,404 0,273 valid 31. 0,481 0,273 valid 32. 0,676 0,273 valid 33. 0,501 0,273 valid 34. 0,573 0,273 valid 35. 0,389 0,273 valid

  Sumber: Pengujian Validitas, 2007, Lampiran I, halaman 87) Untuk variabel Kinerja Guru terdiri dari 4 indikator permasalahan, yairu kinerja guru dalam bidang perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran dan pengembangan karir. Uraian pengujian validitas butir pertanyaan variabel Kinerja Guru dalam bidang perencanaan terdapat pada tabel di bawah ini:

  Tabel V.2 Rangkuman Hasil Uji Validitas Variabel Kinerja Guru dalam Bidang

  Perencanaan No Butir

  r hitung r tabel

  Hasil 1. 0,345 0,273 valid 2. 0,285 0,273 valid 3. 0,403 0,273 valid 4. 0,469 0,273 valid 5. 0,298 0,273 valid 6. 0,412 0,273 valid 7. 0,495 0,273 valid 8. 0,431 0,273 valid 9. 0,372 0,273 valid

  10. 0,299 0,273 valid Sumber: Pengujian Validitas, 2007, Lampiran I, halaman 88)

  Berdasarkan uraian pengujian validitas butir diatas, diketahui bahwa dari 10 pertanyaan semua dinyatakan valid. Untuk uraian pengujian validitas butir pertanyaan variabel kinerja guru dalam pelaksanaan

  Tabel V.3 Rangkuman Hasil Uji Validitas Variabel Kinerja Guru dalam

  Pelaksanaan Pembelajaran No Butir

  r hitung r tabel

  Hasil 11. 0,428 0,273 valid 12. 0,382 0,273 valid 13. 0,341 0,273 valid 14. 0,273 0,273 valid 15. 0,419 0,273 valid 16. 0,285 0,273 valid 17. 0,336 0,273 valid 18. 0,421 0,273 valid 19. 0,485 0,273 valid 20. 0,294 0,273 valid

  Sumber: Pengujian Validitas, 2007, Lampiran I, halaman 89) Berdasarkan uraian pengujian validitas butir diatas, diketahui bahwa dari 10 pertanyaan semua dinyatakan valid. Untuk uraian pengujian validitas butir pertanyaan variabel kinerja guru dalam evaluasi pembelajaran terdapat pada tabel di bawah ini:

  Tabel V.4 Rangkuman Hasil Uji Validitas Variabel Kinerja Guru dalam

  Evaluasi Pembelajaran No Butir

  r hitung r tabel

  Hasil 21. 0,509 0,273 valid 22. 0,584 0,273 valid 23. 0,670 0,273 valid 24. 0,684 0,273 valid 25. 0,484 0,273 valid 26. 0,561 0,273 valid 27. 0,389 0,273 valid 28. 0,367 0,273 valid 29. 0,707 0,273 valid 30. 0,441 0,273 valid

  Sumber: Pengujian Validitas, 2007, Lampiran I, halaman 90)

  Untuk variabel kinerja guru dalam evaluasi pembelajaran terdiri dari 10 butir pertanyaan. Berdasarkan uraian pengujian validitas butir diatas, diketahui bahwa dari 10 pertanyaan semua dinyatakan valid. Uraian pengujian validitas butir pertanyaan variabel kinerja guru dalam pengembangan karir terdapat pada tabel di bawah ini:

  Tabel V.5 Rangkuman Hasil Uji Validitas Variabel Kinerja Guru dalam

  Pengembangan Karir No Butir

  r hitung r tabel

  Hasil 31. 0,537 0,273 valid 32. 0,466 0,273 valid 33. 0,747 0,273 valid 34. 0,680 0,273 valid 35. 0,524 0,273 valid

  Sumber: Pengujian Validitas, 2007, Lampiran I, halaman 91) Untuk variabel kinerja guru dalam pengembangan karir terdiri dari 5 butir pertanyaan. Berdasarkan uraian pengujian validitas butir diatas, diketahui bahwa dari 5 pertanyaan semua dinyatakan valid.

  2. Pengujian Reliabilitas Reliabilitas menunjukkan pada pengertian bahwa suatu instrumen dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data. Alat ukur dikatakan reliabel jika mampu memberikan hasil yang tetap meskipun digunakan kapanpun. Untuk mengetahui koefisien reliabilitas instrumen digunakan rumus Alpa Cronbach.

  Uji reliabilitas didasarkan pada butir-butir pertanyaan yang valid. Pengujian reliabilitas menggunakan Program SPSS 12.00 for windows. Berikut

  Tabel V.6 Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas

  No. Nama Variabel Kesimpulan

  r α tabel

  1 Supervisi Kepala Sekolah 0,928 0,6 Reliabel

  2 Kinerja Guru dalam bidang Perencanaan 0,652 0,6 Reliabel

  3. Kinerja Guru dalam Pelaksanaan 0,863 0,6 Reliabel Pembelajaran

  3. Kinerja Guru dalam Evaluasi Pembelajaran 0,833 0,6 Reliabel

  4. Kinerja Guru dalam Pengembangan Karir 0,802 0,6 Reliabel Sumber: Pengujian Reliabilitas, tahun 2007, Lampiran I

  Tabel diatas menunjukkan angka keandalan masing-masing alat ukur variabel. Nilai-nilai r untuk masing-masing variabel menunjukkan lebih

  hitung

  besar dari r (0,273). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa instrumen

  tabel penelitian masing-masing variabel bisa dikatakan reliabel.

  B. Deskripsi Data Untuk pendeskripsian data, peneliti akan menyajikan deskripsi tentang variabel dalam penelitian ini. Adapun variabel tersebut meliputi supervisi kepala sekolah dan kinerja guru. Penilaian untuk masing-masing variabel, peneliti menggunakan acuan pada PAP II (Masidjo, 1995: 157). Berikut ini adalah pendeskripsian vaariabel penelitian.

  a. Supervisor sebagai Pemimpin Data penelitian yang diperoleh untuk variabel Supervisi Kepala

  Sekolah sebagai pemimpin adalah menunjukkan bahwa skor tertinggi yang diperoleh adalah 75 (15 X 5) dan skor terendah adalah 15 (15 X 1). Berikut ini disajikan tabel distribusi tingkat supervisi kepala sekolah.

  Tabel V.7 Deskripsi Data Variabel Supervisi Kepala Sekolah sebagai Pemimpin

  Interval Jumlah Persentase Keterangan 61 – 75 37 74% Sangat tinggi 49 – 60 13 26% Tinggi 42 – 48 0% Sedang

  34 – 41 0% Rendah 15 – 33 0% Sangat Rendah Jumlah 50 100%

  Tabel diatas menunjukkan bahwa 37 responden (74%) menggambarkan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin sangat tinggi, 13 responden (26%) tinggi, dan tidak ada responden (0%) yang menggambarkan supervisi yang dilakukan kepala sekolah rendah maupuin sangat rendah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa supervisi yang dilakukan kepala sekolah sangat tinggi.

  b. Supervisor sebagai Evaluator Data penelitian yang diperoleh untuk variabel Supervisi Kepala

  Sekolah sebagai evaluator menunjukkan bahwa skor tertinggi yang diperoleh adalah 50 (10 X 5) dan skor terendah adalah 10 (10 X 1). Berikut ini disajikan tabel distribusi tingkat supervisi kepala sekolah.

  Tabel V.7 Deskripsi Data Variabel Supervisi Kepala Sekolah sebagai Evaluator

  Interval Jumlah Persentase Keterangan 40 – 50 37 74% Sangat tinggi 33 – 39 12 24% Tinggi 28 – 32

  1 2% Sedang

  10 – 22 0% Sangat Rendah Jumlah 50 100%

  Tabel diatas menunjukkan bahwa 37 responden (74%) menggambarkan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai evaluator sangat tinggi, 12 responden (24%) tinggi, 1 responden (2%) sedang dan tidak ada responden yang menggambarkan supervisi yang dilakukan kepala sekolah rendah maupun sangat rendah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa supervisi yang dilakukan kepala sekolah sangat tinggi.

  c. Supervisor sebagai Pembina/Pelayan Data penelitian yang diperoleh untuk variabel Supervisi Kepala

  Sekolah sebagai pembina/pelayan menunjukkan bahwa skor tertinggi yang diperoleh adalah 50 (10 X 5) dan skor terendah adalah 10 (10 X 1). Berikut ini disajikan tabel distribusi tingkat supervisi kepala sekolah.

  Tabel V.7 Deskripsi Data Variabel Supervisi Kepala Sekolah sebagai

  Pembina/Pelayan Interval Jumlah Persentase Keterangan 40 – 50

  34 68% Sangat tinggi 33 – 39 15 30% Tinggi 28 – 32

  1 2% Sedang 23 – 27 0% Rendah 10 – 22 0% Sangat Rendah

  Jumlah 50 100% Tabel diatas menunjukkan bahwa 34 responden (68%) menggambarkan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pembina/pelayan sangat responden yang menggambarkan supervisi yang dilakukan kepala sekolah rendah maupun sangat rendah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa supervisi yang dilakukan kepala sekolah sangat tinggi.

  a. Kinerja Guru dalam bidang Perencanaan Data penelitian yang diperoleh untuk variabel kinerja guru dalam perencanaan pembelajaran menunjukkan bahwa skor tertinggi yang diperoleh adalah 50 (10 X 5) dan skor terendah adalah 10 (10 X 1). Berikut ini disajikan tabel distribusi tingkat kinerja guru dalam bidang perencanaan.

  Tabel V.8 Deskripsi Data Variabel Kinerja Guru dalam Perencanaan

  Pembelajaran Interval Jumlah Persentase Keterangan 40 – 50

  34 68% Sangat tinggi 33 – 39 16 32% Tinggi 28 – 32 0% Sedang

  23 – 27 0% Rendah 10 – 22 0% Sangat rendah Jumlah 50 100%

  Tabel diatas menunjukkan bahwa 34 responden (68%) mempunyai perencanaan pembelajaran yang sangat tinggi, 16 responden (32%) tinggi, dan tidak ada responden (0%) yang memiliki perencanaan pembelajaran yang sedang, rendah maupun sangat rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru-guru SMA di Yogyakarta memiliki perencanaan pembelajaran yang sangat tinggi. b. Kinerja Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran Data penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa skor tertinggi yang diperoleh adalah 50 (10 X 5) dan skor terendah adalah 10 (10 X 1).

  Berikut ini disajikan tabel distribusi kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran.

  Tabel V.9 Deskripsi Data Variabel Kinerja Guru dalam Pelaksanaan

  Pembelajaran Interval Jumlah Persentase Keterangan 40 – 50

  20 40% Sangat tinggi 33 – 39 30 60% Tinggi 28 – 32 0% Sedang

  23 – 27 0% Rendah 10 – 22 0% Sangat rendah Jumlah 50 100%

  Tabel diatas menunjukkan bahwa 20 responden (40%) mempunyai keberhasilan pelaksanaan pembelajaran yang sangat tinggi, 30 responden (60%) tinggi, dan tidak ada responden (0%) yang memiliki pelaksanaan pembelajaran yang sedang, rendah maupun sangat rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru-guru SMA di Yogyakarta mempunyai tingkat keberhasilan pelaksanaan pembelajaran yang tinggi.

  c. Kinerja Guru dalam Evaluasi Pembelajaran Data penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa skor tertinggi yang diperoleh adalah 50 (10 X 5) dan skor terendah adalah 10 (10 X 1).

  Berikut ini disajikan tabel distribusi kinerja guru dalam evaluasi

  Tabel V.12 Deskripsi Data Variabel Kinerja Guru dalam Evaluasi Pembelajaran

  Interval Jumlah Persentase Keterangan 40 – 50 38 76% Sangat tinggi 33 – 39 12 24% Tinggi 28 – 32 0% Sedang

  23 – 27 0% Rendah 10 – 22 0% Sangat rendah Jumlah 50 100%

  Tabel diatas menunjukkan bahwa 38 responden (76%) mempunyai evaluasi pembelajaran yang sangat tinggi, 12 responden (24%) tinggi, dan tidak ada responden (0%) yang memiliki evaluasi pembelajaran yang sedang, rendah maupun sangat rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru-guru SMA di Yogyakarta mempunyai evaluasi pembelajaran yang sangat tinggi.

  d. Kinerja Guru dalam Pengembangan Karir Data penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa skor tertinggi yang diperoleh adalah 25 (5 X 5) dan skor terendah adalah 5 (5 X 1).

  Berikut ini disajikan tabel distribusi kinerja guru dalam pengembangan karir.

  Tabel V.13 Deskripsi Data Variabel Kinerja Guru dalam Pengembangan Karir

  Interval Jumlah Persentase Keterangan 20 – 25 30 60% Sangat tinggi 16 – 19 18 36% Tinggi

  5 – 10 0% Sangat rendah Jumlah 50 100%

  Tabel diatas menunjukkan bahwa 30 responden (60%) mempunyai usaha dalam pengembangan karir yang sangat tinggi, 18 responden (36%) tinggi, 2 responden (4%) sedang, dan tidak ada responden (0%) yang memiliki perencanaan pembelajaran yang rendah maupun sangat rendah.

  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru-guru SMA di Yogyakarta memiliki pengembangan karir yang sangat tinggi.

  C. Analisis Data

  1. Hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam bidang perencanaan Untuk memecahkan masalah pertama yaitu apakah ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam bidang perencanaan pembelajaran maka digunakan teknik korelasi Product Moment

  dari Karl Pearson dengan bantuan SPSS 12.00 for windows. Berikut

  disajikan tabel hasil pengujian masalah pertama: Tabel V.14

  Uji I Korelasi Product Moment dari Pearson Correlations supervisi kinerja guru kepsek

  1 supervisi kepsek Pearson 1 .510(**)

  Correlation Sig. (2-tailed) . .000 N

  50

  50 kinerja guru 1 Pearson .510(**)

  1 Correlation

  • Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). (Sumber: Pengujian Korelasi, 2007, Lampiran I, halaman 93 )

  Hasil analisis data diatas menunjukkan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam bidang perencanaan pembelajaran sebesar 0,510. Sedangkan untuk menguji apakah hipotesis dapat diterima atau tidak, maka diadakan uji signifikan α = 5% dengan kriteria Ho ditolak Ha diterima jika t > t . Pengujian

  hitung tabel

  hipotesis dilakukan sebagai berikut: Ho : tidak ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam bidang perencanaan pembelajaran Ha : ada hubungan supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam bidang perencanaan pembelajaran

  Berdasarkan hasil analisis data diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam bidang perencanaan pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan ditolaknya Ho dan diterimanya Ha (t > t ).

  hitung tabel

  2. Hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran Untuk memecahkan masalah kedua yaitu apakah ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran maka digunakan teknik korelasi Product Moment dari Karl

  Pearson dengan bantuan SPSS 12.00 for windows. Berikut disajikan tabel

  hasil pengujian masalah kedua:

  Tabel V.15 Uji II Korelasi Product Moment dari Pearson

  Correlations supervisi kinerja guru kepsek

  2 supervisi kepsek Pearson 1 .572(**)

  Correlation Sig. (2-tailed) . .000 N

  50

  50 kinerja guru 2 Pearson .572(**)

  1 Correlation Sig. (2-tailed) .000 . N

  50

  50 ** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). (Sumber: Pengujian Korelasi, 2007, Lampiran I, halaman 93)

  Hasil analisis data diatas menunjukkan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran sebesar 0,572. Sedangkan untuk menguji apakah hipotesis dapat diterima atau tidak, maka diadakan uji signifikan α = 5% dengan kriteria Ho ditolak Ha diterima jika t > t . Pengujian

  hitung tabel

  hipotesis dilakukan sebagai berikut: Ho : tidak ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran Ha : ada hubungan supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran

  Berdasarkan hasil analisis data diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan ditolaknya Ho

  3. Hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam evaluasi pembelajaran Untuk memecahkan masalah ketiga yaitu apakah ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam evaluasi pembelajaran maka digunakan teknik korelasi Product Moment dari Karl Pearson dengan bantuan SPSS 12.00 for windows. Berikut disajikan tabel hasil pengujian masalah ketiga:

  Tabel V.16 Uji III Korelasi Product Moment dari Pearson

  Correlations supervisi kinerja guru kepsek

  3 supervisi kepsek Pearson 1 .464(**)

  Correlation Sig. (2-tailed) . .001 N

  50

  50 kinerja guru 3 Pearson .464(**)

  1 Correlation Sig. (2-tailed) .001 . N

  50

  50 ** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). (Sumber: Pengujian Korelasi, 2007, Lampiran I, halaman 94 )

  Hasil analisis data diatas menunjukkan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam evaluasi pembelajaran sebesar 0,464.

  Sedangkan untuk menguji apakah hipotesis dapat diterima atau tidak, maka diadakan uji signifikan α = 5% dengan kriteria Ho ditolak Ha diterima jika t > t . Pengujian hipotesis dilakukan sebagai berikut:

  hitung tabel Ho : tidak ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam evaluasi pembelajaran Ha : ada hubungan supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam evaluasi pembelajaran

  Berdasarkan hasil analisis data diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam evaluasi pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan ditolaknya Ho dan diterimanya Ha (t

  hitung

  > t

  tabel ).

  4. Hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pengembangan profesi, kenaikan pangkat, pelatihan ataupun studi lanjut Untuk memecahkan masalah keempat yaitu apakah ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pengembangan karir maka digunakan teknik korelasi Product Moment dari Karl Pearson dengan bantuan SPSS 12.00 for windows. Berikut disajikan tabel hasil pengujian masalah keempat:

  Tabel V.17 Uji IV Korelasi Product Moment dari Pearson

  Correlations supervisi kepsek kinerja guru

  4 Pearson Correlation 1 .487(**) Sig. (2-tailed) . .000 supervisi kepsek N

  50

  50 Pearson Correlation

  .487(**)

  1 Sig. (2-tailed) .000 . kinerja guru 4

  N

  50

  50

  (Sumber: Pengujian Korelasi, 2007, Lampiran I, halaman 94) Hasil analisis data diatas menunjukkan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pengembangan karir sebesar 0,487. Sedangkan untuk menguji apakah hipotesis dapat diterima atau tidak, maka diadakan uji signifikan α = 5% dengan kriteria Ho ditolak Ha diterima jika t > t . Pengujian

  hitung tabel

  hipotesis dilakukan sebagai berikut: Ho : tidak ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pengembangan karir Ha : ada hubungan supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pengembangan karir

  Berdasarkan hasil analisis data diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pengembangan karir. Hal ini ditunjukkan dengan ditolaknya Ho dan diterimanya Ha (t > t ).

  hitung tabel

  D. Pembahasan 1.

Hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam bidang perencanaan

  Berdasarkan analisis data disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan sebesar 0,510 antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam bidang perencanaan pembelajaran, dimana semakin tinggi supervisi yang dilakukan kepala sekolah maka semakin tinggi kinerja guru dalam perencanaan pembelajaran.

  Supervisi yang dilakukan kepala sekolah sangatlah penting demi kemajuan sekolah yang dipimpinnya. Sebagai seorang pemimpin, seorang kepala sekolah harus mempunyai pengaruh kuat di kalangan guru-guru dan seluruh warga sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah ini juga harus ditunjang dengan kemampuan manajemen yang bagus pula. Aktivitas kepala sekolah sebagai seorang pemimpin ditunjukkan dengan melibatkan guru dalam setiap kegiatan; mengadakan rapat untuk menyusun rencana atau

  policy pendidikan bersama guru; memberikan tugas atau perintah yang jelas

  kepada guru; memberi bantuan/masukan dan kritik membangun kepada guru; berusaha untuk selalu melengkapi alat-alat dan perlengkapan sekolah, dan selalu menjalin kerja sama dengan lingkungan sekitar. Rencana pendidikan dilakukan dan ditujukan tentu saja untuk mencapai tujuan yang diharapkan bersama yaitu keberhasilan sekolah dalam mendidik siswa dan mengembangkan profesionalitas guru.

  Sebagai seorang evaluator, kepala sekolah harus mengetahui, memahami dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan bersama. Aktivitas kepala sekolah sebagai evaluator ditunjukkan dengan mengawasi proses kegiatan belajar mengajar; memberi masukan, saran atau kritik yang membangun mengenai perlakuan guru terhadap siswa; mengawasi dan memberi penilaian terhadap pelaksanaan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru; memberi gambaran dan masukan mengenai hasil belajar guru; memberikan waktu khusus pada guru dalam pembuatan perangkat program tahunan serta memberikan ruang bagi guru untuk mengadakan diskusi dalam rangka peningkatan profesionalisme.

  Sebagai seorang pembina/pelayan, kepala sekolah akan selalu berusaha untuk membantu guru meningkatkan diri dalam bidang profesinya. Misalnya mengobservasi kelas untuk membantu guru menemukan jalan keluar kekurangan dalam proses kegiatan belajar mengajar; mendorong guru untuk meneruskan studi lanjut demi peningkatan kompetensinya; mengingatkan guru untuk selalu mengumpulkan angka kredit dan membantu guru dalam mencari inovasi-inovasi baru dalam pembaharuan pendidikan. Untuk itu, seorang kepala sekolah secara terbuka menerima saran, masukan dan kritikan dari semua pihak. Usaha ini dilakukan untuk lebih mengetahui kebutuhan- kebutuhan untuk mempertinggi mutu pengajaran siswa, juga sebagai usaha peningkatan kemampuan professional guru.

  Dengan kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh, kepala sekolah akan memberi pengaruh yang kuat di kalangan guru. Hal ini akan tampak pada kinerja guru dalam bidang perencanaan pembelajaran. Kepemimpinan kepala sekolah akan tampak ketika ia memberikan waktu kepada guru untuk merencanakan, menyusun dan membuat perangkat program pengajaran. Misalnya; perencanan, penyusunan dan pembuatan program tahunan, program semesteran, program mingguan, silabus, rencana persiapan pembelajaran, sistem penilaian dan lembar kerja siswa.

  Kinerja guru akan semakin meningkat seiring dengan kepemimpinan keduanya, menimbulkan suasana yang kondusif dalam usaha mencapai tujuan yang diharapkan bersama. Dengan perencanaan pembelajaran yang terarah, terpadu, inovatif dan terstruktur, maka kegiatan belajar mengajar akan lebih baik dan berkembang.

  2. Hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran Berdasarkan analisis data disimpulkan bahwa ada hubungan positif dan signifikan sebesar 0,572 antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran, dimana semakin tinggi supervisi yang dilakukan kepala sekolah, maka semakin tinggi kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran.

  Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin, berarti Ia mempunyai tanggung jawab yang besar bagi keberhasilan sekolah yang dipimpinnya.

  Untuk itu keterbatasan sumber daya dan keterbatasan waktu tidaklah menjadi penghalang bagi kepala sekolah untuk terus meningkatkan kualitas supervisinya. Kepemimpinan kepala sekolah tampak ketika dalam pembuatan program/rencana pendidikan semua guru dilibatkan dan bertanggung jawab terhadap hasil rapat bersama tersebut. Hal ini juga akan tampak ketika kepala sekolah menjalin kerja sama dengan lingkungan sekitar untuk memajukan dan mempertinggi mutu pengajaran dan pendidikan sekolah.

  Sebagai evaluator, kepala sekolah harus memberikan kebebasan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kepala sekolah bukan diktator, yang mengharuskan guru menjalankan strategi pembelajaran sesuai masing-masing, jadi dalam pelaksanaan pembelajaran para guru mempunyai strategi sendiri. Kekurangan dan kelemahan guru lalu dianalisis, penilaian terhadap guru selanjutnya diolah, disimpulkan untuk kemudian dicarikan jalan keluar atas permasalahan tersebut.

  Sebagai pembina dan pelayan, kepala sekolah akan selalu menyempatkan diri untuk mengobservasi kelas maupun guru yang mengajar.

  Observasi dilakukan kepala sekolah untuk menilai keberhasilan guru dalam mengelola kelas. Tidak lupa kepala sekolah juga memberikan saran, masukan dan kritik yang membangun kepada guru. Misalnya dalam hal kegiatan belajar mengajar, pembuatan media ajar/alat peraga, dan tindak lanjut dari penilaian terhadap peserta didik.

  Pelaksanaan pembelajaran akan lebih tepat sasaran dan lebih efektif ketika guru menjelaskan standar kompetensi/kompetensi dasar kepada peserta didik. Guru juga harus menetapkan tujuan pengajaran di awal kegiatan pembelajaran. Dengan penetapan tujuan maka peserta didik akan lebih fokus pada pelajaran. Seorang guru juga harus mampu, mengembangkan dan menganalisis materi pengajaran sendiri. Tentu saja materi pengajaran tersebut harus sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. Selain itu, strategi belajar mengajar yang diterapkan guru sebaiknya juga dengan memanfaatkan media pengajaran yang tersedia di sekolah. Pemanfaatan media ini dilakukan supaya peserta didik lebih mengenal, megetahui dan mengalami sendiri kegiatan mengajar. Selanjutnya akhir dalam pelaksanaan pembelajaran ini, guru pengayaan) dari proses pelaksanaan pembelajaran ini nantinya yang akan menjadi tolak ukur keberhasilan guru dalam mengajar.

  3. Hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam evaluasi pembelajaran Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan bahwa ada hubungan positif dan signifikan sebesar 0464 antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam evaluasi pembelajaran, dimana semakin tinggi supervisi yang dilakukan kepala sekolah maka semakin tinggi pula kinerja guru dalam evaluasi pembelajaran.

  Kepala sekolah sebagai pemimpin, Ia mempunyai tanggung jawab yang besar demi pengembangan kemajuan dan keberhasilan sekolah yang dipimpinnya. Keterlibatan guru-guru dalam penyusunan rencana pendidikan adalah salah satu indikator keberhasilan sekolah yang dipimpinnya. Sebagai pemimpin, kepala sekolah harus memberikan perintah yang jelas kepada guru. Dengan perintah yang jelas maka keberhasilan sekolah akan tercapai.

  Kepala sekolah juga tidak akan segan untuk menegur, memberikan kritik dan masukan kepada guru.

  Sebagai evaluator, kepala sekolah mempunyai tugas pengawasan, pengumpulan data untuk kemudian diolah, ditafsirkan dan menyimpulkan hasil penilaian guru. Kepala sekolah mengawasai/mengoservasi kelemahan dan kekurangan guru dan mengobservasi kelas. Hasil dari pengawasan tersebut, kemudian oleh kepala sekolah diolah dan ditafsirkan (mempunyai gambaran kelemahan/kekurangan ataupun kebutuhan guru). Setelah mendapatkan hasil penilaian, maka kepala sekolah memberikan jalan keluar bagi guru untuk lebih meningkatkan kinerjanya.

  Kepala sekolah sebagai pembina/pelayan mempunyai aktivitas yang harus dijalankan secara kontinyu dan berkesinambungan. Sebagai pelayan kepala sekolah harus berusaha melengkapi alat-alat dan perlengkapan sekolah demi kelancaran pengajaran. Kepala sekolah juga harus menyediakan waktu khusus untuk menanggapi, memberi masukan dan kritik yang membangun pada guru supaya guru-guru merasa diperhatikan, lebih semangat dalam meningkatkan kinerjanya.

  Supervisor mempunyai wewenang untuk mengawasi, mengevaluasi, kemudian memberikan saran kepada guru. Dengan supervisi yang dilakukan kepala sekolah, maka kinerja guru akan lebih meningkat dalam pemberian evaluasi pembelajaran. Peningkatan kinerja ini dapat dilihat dari keberhasilan peserta didik dalam evaluasi pembelajaran. Misalnya; pencapaian nilai ataupun standar minimum yang dicapai kelas, dan sebagai.

  Kinerja guru dalam evaluasi pembelajaran dapat dilihat dari pengadaan ulangan/pengayaan setiap selesai bab atau materi ajar. Jadi sebelum membagikan soal, guru juga harus dapat menganalisis soal ulangan yang diberikan kepada peserta didik hingga pada akhirnya menganalisis hasil ulangan. Perbaikan dan pengayaan dilakukan supaya peserta didik yang kurang memahami pelajaran dapat mengejar ketinggalannya. Untuk itu diperlukan kerjasama antara guru dan peserta didik.

  Demi kemajuan dan keberhasilan kelas dalam bidang evaluasi pembelajaran, maka guru harur selalu mencatat kemajuan hasil belajar siswa.

  Disamping itu, juga melakukan usaha-usaha tertentu, misalnya dengan tanya jawab spontan, tugas, post tes, pemberian PR atau LKS.

  4. Hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pengembangan profesi, kenaikan pangkat, pelatihan ataupun studi lanjut

  Berdasarkan analisis data disimpulkan bahwa ada hubungan positif dan signifikan sebesar 0,487 antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pengembangan karir, dimana semakin tinggi supervisi yang dilakukan kepala sekolah maka semakin tinggi kinerja guru dalam pengembangan karir.

  Kepala sekolah sebagai supervisor secara kontinyu mengembangkan, membina pengetahuan dan ketrampilan guru-guru dengan pendidikan dan pelatihan yang intensif. Karena guru-guru berbeda-beda sifat dan karakteristiknya, maka kepala sekolah sebagai supervisor memberikan fasilitas, membuka kesempatan bagi guru untuk mengembangkan dirinya.

  Dengan otoritasnya sebagai supervisor di sekolah, kepala sekolah dapat memberikan fasilitas yang diperlukan oleh gurunya. Misalnya; fasilitas waktu dan kesempatan, akomodasi, tempat dan sarana lainnya (alat-alat dan perlengkapan sekolah). Pemberian fasilitas ini sangat berguna bagi guru untuk semakin meningkatkan kinerjanya agar proses belajar mengajar dan hasil belajar peserta didik turut meningkat pula.

  Dalam usaha-usahanya itu, guru meningkatkan kemampuannya dengan cara mengikuti pendidikan dan pelatihan yang intensif, penataran- penataran, demonstrasi mengajar, atau pemberian kesempatan guru untuk studi lanjut. Hasil dari pendidikan dan latihan ataupun kegiatan yang diikuti guru ini nantinya akan berguna bagi peningkatan kemampuan mengajar guru. Misalnya penguasaan lebih baik dari materi bidang studi yang lalu, trampil melaksanakan metode-metode belajar yang kreatif, inovatif, dan lebih efektif dan tentu saja lebih berkompeten dalam mengelola kelas. Dan supaya hasil dari penataran itu tidak hanya berguna bagi guru tertentu saja, maka bimbingan kepala sekolah dalam mempraktekkan hasil-hasil penataran akan berdaya guna juga bagi guru-guru yang lain.

  Hubungan kerja sama yang baik antara kepala sekolah dan guru juga bertujuan untuk memelihara komitmen dan kepuasan kerja guru. Seorang guru yang sudah berusaha melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan ada peningkatan pastilah ingin dimengerti dan dihargai. Untuk itu sebagai supervisor, kepala sekolah memberikan pengakuan atas prestasi kerja yang telah dilakukan berupa kenaikan gaji atau dengan mengusulkan, mengingatkan, dan menghitung angka kredit untuk kenaikan pangkat. Peningkatan gaji atau pangkat berarti pula peningkatan karir bagi guru-guru. Hal ini dilakukan sebagai motivator guru untuk terus meningkatkan kinerjanya. maka didapatkan kesimpulan bahwa: 1.

Ada hubungan yang positif dan signifikan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam bidang perencanaan pembelajaran. Dimana

  hubungan ini ditunjukkan dengan nilai sebesar 0,510. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika supervisi yang dilakukan kepala sekolah sangat tinggi maka semakin tinggi pula kinerja guru dalam perencanaan pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan manajerial dan kepemimpinan Kepala Sekolah dengan melakukan berbagai macam aktivitas, antara lain melibatkan guru dalam setiap kegiatan ataupun rapat, mengadakan rapat bersama untuk menyusun rencana pendidikan, serta pemberian tugas dan instruksi yang jelas kepada guru. Aktivitas Kepala Sekolah ini berhubungan positif dengan peningkatan kinerja guru sehingga dalam perencanaan pembelajaran dapat berhasil guna dan berdaya guna bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Misalnya; Kepala Sekolah memberikan kritik dan masukan yang membangun bagi guru, melakukan observasi kelas, memberikan penilaian serta memberikan jalan keluar bagi masalah yang dihadapi guru dalam hal perencanaan pembelajaran, penyusunan dan pembuatan program tahunan, program semesteran, program mingguan, silabus, rencana persiapan pembelajaran, sistem penilaian dan lembar kerja siswa.

  2. Ada hubungan yang positif dan signifikan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Dimana hubungan ini ditunjukkan dengan nilai sebesar 0,572. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika supervisi yang dilakukan kepala sekolah sangat tinggi maka semakin tinggi pula kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Jelas terlihat bahwa aktivitas yang dilakukan kepala sekolah berpengaruh terhadap kinerja guru. Kepala sekolah mempunyai tanggung jawab yang begitu besar terhadap keberhasilan sekolah yang dipimpinnya. Jadi sebagai seorang Kepala Sekolah supervisi yang dilakukan antara lain menjalin kerja sama dengan lingkungan sekitara dalam mempertinggi mutu pengajaran dan pendidikan di sekolah. Penilaian dan analisis terhadap kinerja guru wajib dilakukan agar diperoleh jalan keluar yang sesuai dengan karakteristik yang dimiliki oleh guru. Supervisi yang dilakukan Kepala Sekolah sangat tinggi, hal ini terlihat dengan keberhasilan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran yang lebih efektif dan tepat sasaran.

  Sangat terlihat ketika guru dalam kegiatan belajar mengajar menjalankan standar kompetensi atau kompetensi dasar dan menjalankan tujuan pengajaran di awal kegiatan pembelajaran. Kinerja guru juga terlihat sangat tinggi dalam mengembangkan dan menganalisis materi pengajaran sendiri, pemanfaatan media ajar hingga melakukan penilaian dan tindak

  3. Ada hubungan yang positif dan signifikan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam evaluasi pembelajaran. Dimana hubungan ini ditunjukkan dengan nilai sebesar 0,464. Dari hasil penelitian diketahui bahwa jika supervisi yang dilakukan Kepala Sekolah sangat tinggi maka kinerja guru dalam evaluasi pembelajaran juga sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa supervisi yang dilakukan Kepala Sekolah berhasil.

  Supervisi ini menunjuk pada aktivitas Kepala Sekolah yang mengawasi, mengevaluasi kemudian memberikan saran atau masukan terhadap kinerja guru. Dengan supervisi yang dilakukan, maka kinerja guru akan lebih meningkat dalam pemberian evaluasi pembelajaran (tanya jawab, tugas,

  post test , PR, LKS ataupun perbaikan dan pengayaan). Peningkatan kinerja

  ini dapat dilihat dari keberhasilan peserta didik dalam evaluasi pembelajaran. Misalnya pencapaian nilai ataupun standar minimum yang dicapai kelas.

  4. Ada hubungan yang positif dan signifikan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru dalam pengembangan profesi, keniakan pangkat, pelatihan ataupun studi lanjut. Dimana hubungan ini ditunjukkan dengan nilai sebesar 0,487. Hasil penelitian menunjukkan bahwa supervisi yang dilakukan Kepala Sekolah sangat tinggi sehingga berpengaruh positif pada peningkatan kinerja guru. Supervisi Kepala Sekolah juga dilaksanakan dalam pengembangan karir seorang guru. Kegiatan yang dilakukan Kepala Sekolah dalam pengembangan karir guru misalnya secara kontinyu dengan pendidikan dan pelatihan yang intensif. Kepala Sekolah juga memberikan fasilitas waktu dan kesempatan, akomodasi, tempat dan sarana lainnya (alat-alat dan perlengkapan sekolah). Hasil dari pendidikan dan pelatihan ini berguna bagi peningkatan kemampuan mengajar guru.

  Pemberian pengakuan atas prestasi kerja yang telah dilakukan berupa kenaikan gaji atau kenaikan pangkat bagi seorang guru juga merupakan motivasi guru untuk meningkatkan kinerjanya.

  B. Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menyadari bahwa dalam penyusunannya masih banyak keterbatasan berkaitan dalam persiapan sampai pelaksanaan, diantaranya: 1.

  Penyebaran kuesioner dilakukan pada masa ujian tengah semester, sehingga penyebaran kuesioner sempat terhambat beberapa hari karena guru-guru sibuk mempersiapkan ujian tersebut 2. Jumlah responden yang kurang banyak dan kurang beragam, karena kebanyakan responden adalah guru IPS saja di setiap sekolah.

  3. Dalam pengisian kuesioner, sebagian responden mengisi kuesioner di sekolah. Hal ini dapat berpengaruh pada tingkat pemahaman responden dalam pengisian kuesioner, mengingat di sekolah guru dibebani banyak tugas.

  4. Ada sekolah yang enggan mengisi kuesioner yang berhubungan dengan pandangan guru terhadap kepala sekolah. Hal ini dikarenakan mereka tidak mau ada masalah yang berhubungan dengan masalah intern sekolah.

  5. Keterbatasan dana yang dimiliki peneliti sehingga kurang mampu memberi insentif bagi sekolah dan responden. Insentif dapat memotivasi sekolah atau responden untuk mengisi kuesioner.

  C. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas, maka peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut:

  a. Meningkatkan kemampuan manajerial dan kepemimpinan dalam usaha membangkitkan semangat guru-guru untuk memelihara kekompakan dan kekeluargaan bersama.

  b. Meningkatkan pengawasan dan kontrol terhadap kinerja guru dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran.

  c. Mempertahankan keberhasilan rencana sekolah dan berusaha menjalankannya untuk perencanaan di tahun ajaran yang akan datang.

  d. Hendaknya selalu memperhatikan kesejahteraan guru, karena dengan peningkatan kesejahteraan maka kinerja guru akan semakin meningkat. e. Selalu mengingatkan guru, mengusulkan dan ikut membantu menghitung angka kredit, sehingga kenaikan pangkat atau gaji dapat dicapai.

  f. Mendorong dan mengusulkan guru untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan yang intensif dan seminar-seminar.

  g. Selalu menjalin kerja sama dan berhubungan erat dengan masyarakat.

  a. Terlibat aktif dalam rapat atau pertemuan-pertemuan yang diadakan sekolah, agar tidak terjadi bias pemahaman antara kepala sekolah dan guru.

  b. Mau menerima masukan dan kritik yang membangun dari Kepala Sekolah

  c. Memperdalam pengetahuan yang dimiliki dengan studi lanjut ataupun mengikuti seminar-seminar agar dapat memperkaya dan meningkatkan kompetensinya.

  3. LPMP dan Dinas Pendidikan hendaknya menyelenggarakan seminar- seminar atau pelatihan-pelatihan secara kontinyu dan dilaksanakan secara periodik.

  4. Peneliti lain hendaknya menambah banyaknya responden dalam penelitian ini agar dapat diperoleh gambaran menyeluruh mengenai supevisi kepala sekolah di Yogyakarta.

DAFTAR PUSTAKA

  Anoraga, Panji. 1995. Psikologi industri dan Sosial. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya. Arikunto, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

  Jakarta: PT Rineka Cipta. _________________. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

  Jakarta: PT Rineka Cipta. As’ad, Moh. 1978. Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan

  Menengah Direktorat Pendidikan Menengah Umum. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah . Gomes, dkk. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Andi Offset. Handoko, Hani. 2004. Strategi Organisasi. Yogyakarta: Amara Books Hasan, Iqbal. 2004. Analisis Data Penelitian Dengan Statistik. Jakarta: PT Bumi Aksara.

  

http://digilib.upi.edu/union/index.php/record/view/6487 . Efektivitas Kinerja

Supervisor Akademis Dalam Fungsi Pengawasan Dan Peningkatan Mutu Pembelajaran Pada Lembaga Pendidikan Non Formal (Studi Deskriptif Analitis Pada Lbpp Lia Diakses pada tanggal 11 Juli 2007.

http://pages-yourfavorite.com/ppsupi/abstrakadpen2004.html . Pengaruh Perilaku

  Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru di SLTPN Kota Bandung . Diakses pada tanggal 27 Juli 2007.

http://students.ukdw.ac.id/~22002471/sejarah2.html . Sejarah Kota Jogja. Diakses

pada tanggal 28 Desember 2007. http://www.jogja.go.id/index/extra.detail/22/Kondisi-geografis-kota- yogyakarta.html . Kondisi Geografis Kota Yogyakarta. Diakses pada tanggal

  28 Desember 2007.

  http://notok17.blogspot.com/2007/07/kepemimpinan-kepala-sekolah-di-smp- ar.html . Pengaruh Kinerja Kepala Sekolah Madrasah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru Mts Se Cilegon . Diakses pada tanggal 27 Juli 2007.

  

http://www.malang.ac.id/jip/1996a.htm . Pengaruh Kompensasi dan Kepuasan

Guru terhadap Kinerja Guru. Diakses pada tanggal 27 Juli 2007.

http://www.sinarharapan.co.id/ekonpomi/mandiri/2003/0930/man.01.html . Ciri-

ciri Supervisi Efektif . Diakses pada tanggal 27 Juli 2007.

  Masidjo, Ign. 1995. Penilaian Pelaksanaan PPL oleh Mahasiswa Praktik IKIP

  Sanata Dharma tahun akademik 1995/1998. Yogyakarta: Perpustakaan Sanata Dharma.

  Media Indonesia. Perbaikan Sekolah Terhambat Dana. 19 April 2006 Mulyasa. 2003. MBS, Konsep, Strategi dan Implementasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

  Ndraha, 1999. Pengantar Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta Nurkolis. 2003. MBS, Teori, Model dan Aplikasi. Jakarta: PT Grasindo.

  Purwanto, Ngalim. 1987. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Karya . Rifai, Moh. 1982. Administrasi dan Supervisi Pendidikan 2. Bandung: Jemmars. Robbins, Stephen. 1996. Perilaku Organisasi : Konsep, Kontroversi, Aplikasi.

  Jakarta: Prenhallindo. Simamora, dkk. 1995. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: STIE YKPN.

  Soetopo, dkk. 1984. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara. Suara Pembaharuan. Kesejahteraan Guru Terus Ditingkatkan. 3 Mei 2007 Sudarmayanti. 2001. Sumber Daya Manusia dan Produktivas Kerja. Bandung: Mandar Maju. Sugiyono. 2004. Penelitian Untuk Statistik. Bandung: Alvabeta. ________. 2006. Penelitian Untuk Statistik. Bandung: Alvabeta.

  Tim Penelitian Dan Pengembangan Salemba. 2003. Pengolahan Data Statistik dengan SPSS 12.00. Jakarta: Salemba Infotek.

  

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 25 Tentang Guru dan

Dosen, Peraturan Mendiknas Nomor 11 Tahun 2005 . 2006. Bandung: Citra

  Umbara. Winardi. 2001. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen. Jakarta: Sulita. Zuriah, Nurul. 2006. Metodologi Penelitian, Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

  Uji Validitas

  50 b5 4.28 .757

  50 b16 4.34 .593

  50 b15 4.34 .658

  50 b14 4.34 .658

  50 b13 4.46 .613

  50 b12 4.50 .614

  50 b11 4.24 .687

  50 b10 4.24 .625

  50 b9 4.16 .681

  50 b8 4.20 .495

  50 b7 3.36 1.064

  50 b6 4.04 .781

  50 b4 4.06 .935

  a. Variabel Supervisi Kepala Sekolah Case Processing Summary

  50 b3 4.50 .707

  50 b2 3.90 1.129

  Deviation N b1 4.44 .861

  35 Item Statistics Mean Std.

  Items .928

  Alpha N of

  Reliability Statistics Cronbac h's

  Total 50 100.0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  a) .0

  Excluded(

  N % Cases Valid 50 100.0

  50 b19 4.12 .689

  50 b20 4.14 .926

  50 b33 4.14 .670

  Cronbach's Alpha if

  Item-Total Correlation

  Deleted Corrected

  Variance if Item

  Deleted Scale

  Mean if Item

  50 Item-Total Statistics Scale

  50 b35 4.04 .493

  50 b34 4.14 .833

  50 b32 4.34 .557

  50 b21 4.30 .580

  50 b31 4.50 .505

  50 b30 3.68 1.058

  50 b29 4.14 .670

  50 b28 4.46 .646

  50 b27 4.52 .789

  50 b26 4.36 .598

  50 b25 4.06 .998

  50 b24 4.16 .584

  50 b23 4.34 .479

  50 b22 3.88 .627

  Item Deleted b1 142.60 180.286 .432 .927 b2 143.14 187.184 .512 .934 b3 142.54 180.090 .549 .926 b4 142.98 173.693 .668 .924 b5 142.76 178.962 .567 .925 b6 143.00 185.347 .742 .929 b7 143.68 187.447 .371 .933 b8 142.84 184.953 .432 .927 b9 142.88 185.496 .273 .928 b10 142.80 179.265 .679 .925 b11 142.80 176.327 .780 .923 b12 142.54 179.519 .676 .925 b13 142.58 177.677 .793 .924 b14 142.70 177.276 .760 .924 b15 142.70 181.602 .507 .926 b16 142.70 178.133 .792 .924 b17 142.80 178.898 .606 .925 b18 142.96 182.080 .451 .927 b19 142.92 178.442 .657 .925 b22 143.16 185.280 .313 .928 b23 142.70 182.949 .606 .926 b24 142.88 185.618 .318 .928 b25 142.98 173.040 .647 .924 b26 142.68 178.140 .784 .924 b27 142.52 178.091 .585 .925 b28 142.58 176.983 .793 .923 b29 142.90 185.031 .304 .928 b30 143.36 178.480 .404 .928 b31 142.54 184.172 .481 .927 b32 142.70 180.582 .676 .925 b33 142.90 181.520 .501 .926 b34 142.90 177.602 .573 .925 b35 143.00 185.551 .389 .927

  Scale Statistics Mean Variance Std.

  Deviation N of

  Items 147.0

  4 191.019 13.821

  35

  b. Variabel Kinerja guru dalam bidang Perencanaan Case Processing Summary

  N % Cases Valid 50 100.0

  Excluded(

  a) .0

  Total 50 100.0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics

  Cronbach 's Alpha

  N of Items

  .652

  10

  Std. Mean Deviation N c1

  4.24 .657

  50 c2 3.90 .707

  50 c3 4.12 .689

  50 c4 4.12 .659

  50 c5 3.66 1.171

  50 c6 4.10 .814

  50 c7 4.24 .771

  50 c8 4.30 .463

  50 c9 4.28 .573

  50 c10 4.00 .782

  50 Item-Total Statistics Scale Scale Cronbach's

  Mean if Variance if Corrected Alpha if Item Item Item-Total Item

  Deleted Deleted Correlation Deleted c1 36.72 8.491 .345 .437 c2 37.06 9.813 .285 .537 c3 36.84 8.178 .403 .417 c4 36.84 8.056 .469 .400 c5 37.30 9.684 .298 .631 c6 36.86 8.776 .412 .489 c7 36.72 7.553 .495 .376 c8 36.66 9.413 .431 .478 c9 36.68 9.324 .372 .486 c10 36.96 8.284 .299 .444

  Scale Statistics Varianc Std. N of

  Mean e Deviation Items 40.96 10.243 3.201

  10 c. Kinerja Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran Case Processing Summary

  N % Cases Valid 50 100.0

  Excluded( .0

  a) Total 50 100.0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Reliability Statistics Cronbach' N of s Alpha Items

  .863

  10 Item Statistics Std.

  Mean Deviation N c11 4.42 .702

  50 c12 3.78 .954

  50 c13 4.08 .396

  50 c14 5.34 8.032

  50 c15 3.58 .971

  50 c16 4.22 .465

  50

  17 4.14 .452

  50 c18 3.74 .828

  50 c19 4.22 .582

  50 c20 4.22 .708

  50 Item-Total Statistics Scale Scale Cronbach's

  Mean if Variance if Corrected Alpha if Item Item Item-Total Item

  Deleted Deleted Correlation Deleted c11 37.32 73.855 .428 .082 c12 37.96 72.039 .382 .062 c13 37.66 72.392 .341 .056 c16 37.52 72.581 .285 .059 c17 37.60 73.347 .336 .070 c18 38.00 71.592 .421 .052 c19 37.52 72.132 .485 .055 c20 37.52 72.418 .294 .061

  Scale Statistics Mean Variance Std.

  Cronbach' s Alpha N of

  50 c24 4.12 .480

  50 c23 4.20 .452

  50 c22 4.04 .493

  Deviation N c21 4.16 .468

  10 Item Statistics Mean Std.

  Items .833

  Total 50 100.0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics

  Deviation N of

  a) .0

  Excluded(

  N % Cases Valid 50 100.0

  d. Kinerja Guru dalam Evaluasi Pembelajaran Case Processing Summary

  10

  Items 41.74 73.992 8.602

  50 c27 4.00 .571

  50 c28 4.16 .370

  50 c29 4.34 .479

  50 c30 4.06 .767

  50 Item-Total Statistics Scale Scale Cronbach's

  Mean if Variance if Corrected Alpha if Item Item Item-Total Item

  Deleted Deleted Correlation Deleted c21 37.46 8.662 .509 .819 c22 37.58 8.371 .584 .811 c23 37.42 8.330 .670 .804 c24 37.50 8.173 .684 .802 c25 37.38 8.853 .484 .821 c26 37.32 8.549 .561 .814 c27 37.62 8.649 .389 .832 c28 37.46 9.315 .367 .830 c29 37.28 8.124 .707 .800 c30 37.56 7.802 .441 .838

  Scale Statistics Varianc Std. N of

  Mean e Deviation Items 41.62 10.281 3.206

  10

  e. Kinerja Guru dalam Pengembangan Karir Case Processing Summary

  N % Cases Valid 50 100.0

  Excluded(a .0

  ) Total 50 100.0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach' s Alpha

  N of Items

  Deleted Corrected

  Items 20.42 7.881 2.807

  Deviation N of

  Varianc e Std.

  Scale Statistics Mean

  16.28 5.512 .537 .778 c32 16.48 5.602 .466 .801 c33 16.48 4.500 .747 .707 c34 16.40 5.388 .680 .740 c35 16.04 5.468 .524 .783

  Item Deleted c31

  Cronbach's Alpha if

  Item-Total Correlation

  Variance if Item

  .802

  Deleted Scale

  Mean if Item

  50 Item-Total Statistics Scale

  50 c35 4.38 .753

  50 c34 4.02 .654

  50 c33 3.94 .843

  50 c32 3.94 .767

  Deviation N c31 4.14 .729

  5 Item Statistics Mean Std.

  5 Uji Korelasi Product Moment dari Karl Pearson

  a. Uji Korelasi Supervisi Kepala Sekolah dengan Perencanaan Pembelajaran Correlations supervisi kepsek kinerja guru 1 supervisi kepsek

  b. Uji Korelasi Supervisi Kepala Sekolah dengan Pelaksanaan Pembelajaran Correlations supervisi kepsek kinerja guru 2 supervisi kepsek

  50

  1 Sig. (2-tailed) .000 . N

  .572(**)

  50 kinerja guru 2 Pearson Correlation

  50

  Pearson Correlation 1 .572(**) Sig. (2-tailed) . .000 N

  50 ** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

  Pearson Correlation 1 .510(**) Sig. (2-tailed) . .000 N

  50

  1 Sig. (2-tailed) .000 . N

  .510(**)

  Pearson Correlation

  50 kinerja guru 1

  50

  50 ** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). c. Uji Korelasi Supervisi Kepala Sekolah dengan Evaluasi Pembelajaran Correlations supervisi kepsek kinerja guru 3 supervisi kepsek

  Pearson Correlation 1 .464(**) Sig. (2-tailed) . .001 N

  Pearson Correlation 1 .487(**) Sig. (2-tailed) . .000 N

  50

  1 Sig. (2-tailed) .000 . N

  .487(**)

  Pearson Correlation

  50 kinerja guru 4

  50

  d. Uji Korelasi Supervisi Kepala Sekolah dengan Pengembangan Karir Guru Correlations supervisi kepsek kinerja guru 4 supervisi kepsek

  50

  50 ** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

  50

  1 Sig. (2-tailed) .001 . N

  .464(**)

  Pearson Correlation

  50 kinerja guru 3

  50 ** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). TABEL NILAI – NILAI r PRODUCT MOMENT Taraf Signif Taraf Signif Taraf Signif N 5 % 1%

  N 5 % 1 % N 5 % 1 %

  47

  35

  36

  37

  38

  39

  40

  41

  42

  43

  44

  45

  46

  48

  33

  49

  50 0,388 0,381 0,374 0,367 0,361 0,355 0,349 0,344 0,339 0,334 0,329 0,325 0,320 0,316 0,312 0,308 0,304 0,301 0,297 0,294 0,291 0,288 0,284 0,281 0,279

  0,496 0,487 0,478 0,470 0,463 0,456 0,449 0,442 0,436 0,430 0,424 0,418 0,413 0,408 0,403 0,398 0,393 0,389 0,384 0,380 0,376 0,372 0,368 0,364 0,361

  55

  60

  65

  70

  75

  80

  85

  90

  95 100 125 150 175 200 300 400 500 600 700 800 900

  1000 0,266 0,254 0,244 0,235 0,227 0,220 0,213 0,207 0,202 0,195 0,176 0,159 0,148 0,138 0,113 0,098 0,088 0,080 0,074 0,070 0,065 0,062

  34

  32

  3

  17

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  10

  11

  12

  13

  14

  15

  16

  18

  31

  19

  20

  21

  22

  23

  24

  25 0,997 0,850 0,878 0,811 0,754 0,707 0,666 0,632 0,602 0,576 0,553 0,532 0,514 0,497 0,482 0,468 0,456 0,444 0,433 0,423 0,413 0,404 0,396

  0,999 0,990 0,959 0,917 0,874 0,834 0,798 0,765 0,735 0,708 0,648 0,661 0,641 0,623 0,606 0,590 0,575 0,561 0,549 0,537 0,526 0,515 0,505

  26

  27

  28

  29

  30

  0,345 0,330 0,317 0,306 0,296 0,286 0,278 0,270 0,263 0,256 0,230 0,210 0,194 0,181 0,148 0,128 0,115 0,105 0,097 0,091 0,086 0,081

  Yogyakarta, 1 November 2007 Kepada Yth. Bapak/Ibu Guru Di tempat Dengan hormat,

  Bersama dengan surat ini, saya Anastasia Aspertiwiyana, mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma memohon kesediaan Bapak/Ibu Guru untuk terlibat mengisi kuesioner ini. Hasil dari kelengkapan penelitian ini sepenuhnya digunakan untuk penyusunan skripsi saya. Setiap informasi yang Bapak/Ibu Guru berikan dalam kuesioner ini akan dijaga kerahasiaannya dan akan dipergunakan semata-mata untuk keperluan penelitian.

  Sebagai pengantar, penyusunan kuesioner ini dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antara “Supervisi Kepala Sekolah terhadap Kinerja Guru”. Peran Kepala Sekolah sebagai Supervisor mencakup kegiatan-kegiatan untuk membantu dan melayani Guru agar mereka dapat melaksanakan tugasnya menjadi lebih baik. Misalnya; pembangkitan semangat dan kerja sama antar guru-guru; pemenuhan alat-alat dan pelengkapan sekolah; pengembangan dan pembinaan pengetahuan dan ketrampilan guru-guru; juga kerja sama antara sekolah dan masyarakat. Peran Kepala Sekolah sebagai supervisor, jika disederhanakan peranannya adalah 1) Kepala Sekolah sebagai pemimpin, 2) Kepala Sekolah sebagai Evaluator, dan 3) Kepala Sekolah sebagai Pembina/Pelayan.

  Berdasarkan gambaran diatas, Bapak/Ibu Guru dimohon memberikan pandangannya dengan adanya supervisi Kepala Sekolah dalam hubungannya dengan peningkatan kinerja guru.

  Atas kesediaan dan kerjasama yang Bapak/Ibu berikan, saya ucapkan terima kasih.

  Hormat saya, Anastasia Aspertiwiyana I. IDENTITAS RESPONDEN Petunjuk : Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d didepan jawaban sesuai dengan keadaan Bapak/Ibu Guru.

  Usia : a.

  < 25 tahun b. 26 – 35 tahun c. 36 – 45 tahun d. > 46 tahun 3. Jenis Kelamin : a.

  Laki-laki b.

  Perempuan 4. Masa Kerja : a.

  0 – 9 tahun b. 10 – 19 tahun c. 20 – 29 tahun d. 30 – 39 tahun e. > 40 tahun 5. Status kepegawaian : a.

  Pegawai Negeri b.

  Guru Tidak Tetap Yayasan c. Guru Bantu d.

  Lain-lain ………….(harap diisi)

  126

  II. PETUNJUK PENGISIAN Berikan tanda silang ( X ) pada kolom alternatif jawaban yang telah tersedia, untuk jawaban yang paling tepat menurut pandangan Bapak/Ibu Guru.

  Supervisor sebagai pemimpin No. Pernyataan Sangat Setuju Ragu- Tidak Sangat

  Setuju ragu Setuju Tidak Setuju 1. Kepala Sekolah menyusun rencana atau

  policy pendidikan bersama-sama dengan guru.

  2. Kepala Sekolah mempunyai pengaruh yang kuat di kalangan guru-guru dan seluruh warga sekolah 3. Kepala Sekolah adalah orang mempunyai kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh 4. Dalam pembuatan rencana kerja, Kepala

  Sekolah tidak pernah melibatkan wakil kepala sekolah maupun guru-guru.

  Sekolah telah mengadakan rapat membahas perencanaan pendidikan

  6. Keterbatasan sumber daya dan keterbatasan waktu membuat seorang Kepala Sekolah patah semangat.

  7. Sekolah tidak terlalu Kepala mempermasalahkan program pengajaran yang sudah diatur 8.

  Kepala Sekolah menyempatkan diri untuk mengobservasi kelas maupun guru yang mengajar.

  9. Kepala Sekolah tidak memberikan masukan tentang cara-cara guru dalam peningkatan kualitas belajar siswa.

  10. Kepala Sekolah membimbing guru-guru dalam hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum sekolah.

  127

  11. Sekolah secara kontinyu Kepala mengembangkan, membina pengetahuan dan ketrampilan guru-guru dengan pendidikan dan pelatihan yang intensif

  12. Kepala Sekolah secara sukarela dan terbuka menerima masukan, saran dan kritikan dari semua pihak.

  13. Kepala Sekolah menjalin kerja sama dengan lingkungan sekitar untuk mempertinggi mutu sekolah.

  14. Kepala Sekolah memberikan tugas dan perintah dan jelas kepada guru-guru agar tercapai tujuan sekolah 15. Kepala Sekolah berusaha untuk selalu melengkapi alat-alat dan perlengkapan sekolah demi kelancaran pengajaran

  Supervisor sebagai Evaluator 16.

  Kepala Sekolah memahami dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan bersama 17. Kepala Sekolah menguasai dan memiliki norma-norma atau ukuran yang akan digunakan untuk penilaian 18. Kepala Sekolah tidak mempermasalahkan perlakuan guru terhadap siswa karena hal tersebut bukan wewenang Kepala Sekolah.

  19. Kepala Sekolah menganggap bahwa memberikan penilaian terhadap guru adalah hal yang sia-sia 20. Dalam menerima calon guru, latar belakang guru sangat dipertimbangkan oleh Kepala

  Sekolah supaya proses dan hasil pembelajaran dapat tercapai

  21. Kepala Sekolah memberikan waktu khusus kepada guru dalam pembuatan perangkat program pengajaran

  22. Kepala Sekolah memberikan kebebasan guru dalam penyusunan program tahunan

  23. Penilaian program kerja guru tidak perlu di lakukan karena hanya menambah pekerjaan Kepala Sekolah.

  128

  24. Kepala Sekolah membimbing guru bidang studi untuk diskusi kelompok dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru.

  25. Kepala Sekolah tidak ambil pusing dengan penggunaan media yang dipakai guru dalam mengajar

  Supervisor sebagai Pembina/pelayan

  26. Kepala Sekolah berusaha mencari cara dalam pembaharuan pendidikan untuk mempertinggi mutu pengajaran siswa

  27. Kepala Sekolah secara terbuka menerima saran, masukan dan kritikan dari semua pihak demi memajukan pendidikan

  28. Kepala Sekolah menjalin kerja sama dengan lingkungan sekitar untuk memajukan dan mempertinggi mutu pengajaran dan pendidikan sekolah

  29. Observasi kelas harus dilakukan oleh seorang Kepala Sekolah untuk menilai keberhasilan guru dalam mengelola kelas

  30. Kepala Sekolah mengharuskan balas jasa yang setimpal dengan pelayanan yang diberikan

  31. Kepala Sekolah melarang guru-guru untuk studi lanjut karena hal tersebut akan menghambat kegiatan belajar mengajar

  32. Kepala Sekolah mengakomodasi keinginan guru yang ingin studi lanjut untuk peningkatan pengetahuannya

  33. Kepala Sekolah selalu mengingatkan guru mengumpulkan angka kredit untuk kenaikan pangkat

  34. Menurut Kepala Sekolah, pelatihan dan penataran yang diikuti oleh guru bidang studi adalah sesuatu hal yang memboroskan

  35. Kepala Sekolah harusnya membimbing guru bidang studi dalam mempraktekkan hasil-hasil penataran yang telah diikutinya

  129

  III. PETUNJUK PENGISIAN Berikan tanda silang ( X ) pada kolom alternatif jawaban yang telah tersedia, untuk jawaban yang paling tepat menurut pandangan Bapak/Ibu Guru.

  Kinerja Guru dalam bidang Perencanaan No. Pernyataan Sangat Setuju Ragu- Tidak Sangat

  Setuju ragu Setuju Tidak Setuju

  1. Saya membuat perangkat program pengajaran pada awal tahun pelajaran baru.

  2. Saya merasa terbebani ketika harus membuat program pengajaran ini

  3. Saya tidak mempunyai waktu luang untuk membuat rencana persiapan pembelajaran

  4. Saya selalu mempunyai gambaran dalam pembuatan program tahunan

  5. Saya berusaha meminta pendapat orang lain dalam membuat kegiatan pembelajaan

  6. Saya mengadakan penilaian secara objektif terhadap hasil belajar siswa

  7. Terkadang saya memperlakukan siswa menurut kedudukan orang tuanya

  8. Silabus sangat membantu saya dalam memberikan materi pengajaran

  9. Saya bekerja sama dengan guru bidang studi lain untuk membuat media ajar

  10. Lembar Kerja Siswa tidak perlu dikerjakan karena saya sudah membeikan PR/tugas Kinerja Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran 11.

  Saya menetapkan tujuan pengajaran di awal kegiatan pembelajaran

  12. Saya memilih sendiri dan mengembangkan bahan pengajaran

  13. Saya tidak begitu mementingkan strategi belajar mengajar

  14. Saya tidak selalu memanfaatkan media pengajaran yang tersedia di sekolah

  130

  15. Saya menilai proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan bersama- sama dengan seluruh penghuni kelas 16. Saya berusaha memecahkan masalah yang dihadapi di dalam penyelenggaraan pengajaran 17. Saya melaksanakan kegiatan administrasi sekolah

  18. membina kegiatan-kegiatan Saya ekstrakulikuler

  19. Saya selalu melakukan evaluasi belajar atau pelaksanaan mengajar

  20. Saya memberikan penilaian objektif terhadap hasil belajar siswa tanpa memandang mereka dari status atau kedudukan orang tuanya. Kinerja Guru dalam Evaluasi Pembelajaran 21.

  Setiap selesai materi ajar (bab), saya selalu mengadakan ulangan/pengayaan

  22. Ulangan harian selalu saya analisis bersama dengan siswa supaya mereka jelas akan materi ajar 23. Saya memberikan perbaikan/pengayaan kepada siswa yang kurang supaya mereka dapat mengejar ketertinggalannya

  24. selalu memberikan Saya rangkuman/ringkasan materi ajar kepada siswa setelah kegiatan belajar selesai 25.

  Tidak jarang saya memberikan pertanyaan spontan kepada siswa untuk mengasah kemampuan berpikir mereka 26. Hasil ulangan harian tidak pernah saya kembalikan kepada siswa

  27. Perbaikan dan pengayaan dilakukan sesuai dengan kesepakatan bersama antara guru dan siswa 28. Untuk mengevaluasi kegiatan siswa belajar, terkadang saya memberi tugas kepada mereka 29. Menurut saya, mengisi buku kemajuan kelas adalah hal yang sia-sia

  30. Saya jarang memberikan tugas/PR kepada siswa karena hal itu akan memberatkan

  131 Kinerja Guru untuk Pengembangan Karier 31.

  Saya akan mengahambat kegiatan belajar mengajar jika saya melanjutkan studi saya

  32. Saya merasa penataran dan pelatihan yang saya ikuti adalah hal yang sangat berguna bagi pengembangan dan pembinaan pengetahuan saya

  33. Studi lanjut sangat menghambat saya untuk terus berkarier

  34. Saya dibimbing kepala sekolah dalam rangka mempraktekkan hasil penataran agar berdaya guna bagi guru-guru lain 35. Saya merasa terbebani ketika saya harus mengikuti penataran maupun pelatihan

  132

  133

  134

  135

  136

  137

  138

  139

  140

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  1

  4

  1

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  1

  4

  2

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  1

  4

  3

  144

  145

  146

  147

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan Intensitas pelaksanaan supervisi akademik kepala sekolah dengan motivasi kerja guru di SMPN 106 Jakarta
0
4
81
Peranan supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMP Negeri 279 Lagoa Koja Jakarta
1
15
130
Hubungan pelaksanaan supervisi akademik kepala sekolah terhadap kinerja guru (studi kasus di MTs Imadun Najah Jakarta Utara)
0
4
73
Hubungan pelaksanaan supervisi akademik kepala sekolah dengan kinerja guru di MTs Islamiyah Ciputat
1
8
111
Hubungan antara supervisi kepala sekolah, status kepegawaian dan pemberian kompensasi dengan kinerja guru : studi kasus guru-guru di Yayasan Soverdi Denpasar, Tuka, Kuta, Bali.
1
26
218
Hubungan kepuasan kerja dengan kinerja guru : studi kasus pada guru-guru di yayasan pendidikan Charitas.
0
1
125
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru sekolah menengah atas : survei guru-guru Sekolah Menengah Atas se-Kota Yogyakarta.
1
3
125
Penilaian kinerja dengan menggunakan pendekatan balanced scorecard di sekolah menengah umum : studi kasus di SMU BOPKRI Banguntapan.
0
1
207
Pengaruh supervisi kepala sekolah dan kompensasi terhadap kinerja guru : studi kasus guru-guru di sekolah milik Yayasan Xaverius khususnya di Kota Metro, Lampung.
0
2
153
Hubungan persepsi guru terhadap supervisi klinis dan bantuan supervisor dengan kinerja guru sekolah menengah atas negeri di Kabupaten Magelang.
0
0
14
Manajemen supervisi kepala sekolah dalam upaya peningkatan mutu kinerja guru di SMA Negeri 1 Yogyakarta
1
1
5
Persepsi siswa sekolah menengah atas terhadap perilaku bullying di sekolah : studi kasus di SMA Kolese De Britto dan SMA Stella Duce 2 Yogyakarta - USD Repository
0
0
111
Persepsi siswa terhadap kompetensi mengajar guru akuntansi sekolah menengah kejuruan : studi kasus pada siswa SMK se-Kabupaten Bantul - USD Repository
0
0
136
Sikap guru terhadap program sertifikasi dalam peningkatan kinerja guru : studi kasus guru-guru sekolah menengah atas di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
111
Sistem informasi berbasis web sekolah menengah pertama : studi kasus di SMP 2 Godean Yogyakarta - USD Repository
0
0
85
Show more