REPRESENTASI KEKERASAN PADA ANAK DALAM FILM ” ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI ” ( Studi Semiotik Mengenai Represe ntasi Kekerasan Pada Anak Dalam Film ” Alangkah Lucunya Negeri Ini ” karya Deddy Mizwar ).

Gratis

3
14
112
2 years ago
Preview
Full text

REPRESENTASI KEKERASAN PADA ANAK DALAM FILM “ ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI “

  Dalam penelitian ini kekerasan yang ditunjukkan sesuai dengan kekerasan menurut Sunarto terdapat beberapa bentuk – bentuk kekerasan antara lain ( Sunarto,2009 : 137 ) Kekerasan Fisik dengan cara memukul, menampar, mencekik, menendang, melempar barang ke tubuh, menginjak, melukai dengan tangan kosong,atau dengan alat atau senjata, menganiaya, membunuh serta perbuatan lain yang relevan. Yang disimpulkan bahwa dari kekerasan – kekerasan yang dihadirkan dalam film ini, kekerasan fisik dan kekerasan verbal berimbang hampir sama banyaknya, tetapimemag lebih banyak kekerasan verbal hadir dalam film, kekerasan verbal yang jika diurikan lagi menjadi kekerasan psikologis dan kekerasan fungsional serta Kekerasanverbal selalu tak bisa lepas dari kekerasan yang lain.

KETUA PROGRAM STUDI

  Dalam penelitian ini kekerasan yang ditunjukkan sesuai dengan kekerasan menurut Sunarto terdapat beberapa bentuk – bentuk kekerasan antara lain ( Sunarto,2009 : 137 ) Kekerasan Fisik dengan cara memukul, menampar, mencekik, menendang, melempar barang ke tubuh, menginjak, melukai dengan tangan kosong,atau dengan alat atau senjata, menganiaya, membunuh serta perbuatan lain yang relevan. Yang disimpulkan bahwa dari kekerasan – kekerasan yang dihadirkan dalam film ini, kekerasan fisik dan kekerasan verbal berimbang hampir sama banyaknya, tetapimemag lebih banyak kekerasan verbal hadir dalam film, kekerasan verbal yang jika diurikan lagi menjadi kekerasan psikologis dan kekerasan fungsional serta Kekerasanverbal selalu tak bisa lepas dari kekerasan yang lain.

BAB I P E N D A H U L U A N

1.1. Latar Belakang Masalah

  Dunia anak – anak kini sudah dipenuhidengan dunia orang dewasa, seperti lagu anak, termasuk juga film – film anak yang ditayangkan di media televisi, banyak mengandung unsur kekerasan. Anak – anak harus mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial,dan berakhlak mulia, perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadappemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi.

25 Agustus 2010 , 19:30 WIB)

  Penjelasan itu direspons seorang anak yang langsung berdiri dengan tangan mengepal,"Hidup koruptor!" Tidak lupa juga, selain memberikan pendidikan dasar membaca dan menulis tetapi anak – anak jalanan itu juga memberikan pelajaran agama,agar anak – anak itu mengerti bahwa tetap walau jadi pencopet, tetapi juga harus ingat Tuhan sebagai pencipta manusia. Dalam penelitian ini peneliti akan merepresentasi tanda – tanda kekerasan yang dilakukan pada anak – anak yang diwakili oleh beberapascene yang menguatkan bahwa kekerasan dalam film ini dipertontonkan.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat secara Akademis

  Menambah literatur penelitian kualitatif dan diharapkan dapat memberikan sumbagan landasan pemikiran pada Ilmu Komunikasi mengenai studi analisis semiotik. Memperkaya wawasan tentang perspektif kekerasan dalam tema film di Indonesia.

1.4.2. Manfaat secara Praktis

  Memberikan pemahaman tentang representasi kekerasan pada anak dalam film ”Alangkah Lucunya Negeri Ini” karya Deddy Mizwar. Sebagai bahan referensi atas keterkaitan penellitian ini dengan laranganUndang – Undang Pemerintah tentang perfilman tahun 2009 pada pasal 6 ayat 1 tentang mendorong khalayak umum melakukan kekerasan danperjudian serta penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.

BAB II K A J I A N P U S T A K A

2.1. Landasan Teori

  Film yang dimaksud dalam penelitian ini, adalah teatrikal, jenis film cerita yaitu film yang menyajikan suatu cerita dan diproduksi secara khususuntuk pertunjukan digedung – gedung bioskop atau cinema. Perspektif yang pertamamemandang bahwa apabila dilihat dari isi pesannya, film sesungguhnya merupakan pencerminan ( refleksi ) dari sebuah masyarakat, yaitu masyarakattempat membuat film itu sendiri, dalam arti tempat sineas, pendukung dan awak produksiyang ada didalamnya ( Jowett, 1971:74 ).

2.1.2.1. Definisi Kekerasan

  Menurut Wignyosoebroto (1997), kekerasan adalah :“Suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sejumlah orang yang berposisi kuat (atau yang tengah merasa kuat) terhadap seseorang atausejumlah orang yang berposisi lebih lemah (atau yang tengah dipandang berada dalam keadaan lebih lemah), bersaranakan kekuatan fisiknya yangsuperior, dengan kesengajaan untuk dapat ditimbulkannya rasa derita di pihak yang tengah menjadi obyek kekerasan itu. Ini berarti menurut mereka, bahwa kekerasaan (violence) dipakai untuk menggambarkan tindakan atau perilaku, baik secara terbuka (over)maupun tertutup (covert) dan baik yang sifatnya menyerang (offensive) Kekerasan bisa dilakukan secara fisik seperti melukai, membunuh dan sejenisnya, maupun hanya lewat kata-kata seperti mengumpat dan menghina,sebagai luapan rasa marah yang sudah mencapai puncaknya kepada orang lain atau obyek kekerasan tersebut.

2.1.2.2. Kekerasan Terhadap Anak

  Child abuseadalah semua bentuk kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh mereka yang seharusnya bertanggung jawab atas anak tersebut atau mereka yangmemiliki kuasa atas anak tersebut, yang seharusnya dapat di percaya, misalnya orang tua, keluarga dekat, dan guru. Child Abuse Prevention and Treatment Act mendefinisikan pelecehan anak dan mengabaikan sebagai: "minimal, setiap tindakan terbaru ataukegagalan untuk bertindak atas bagian dari orang tua atau pengasuh, yang menyebabkan kematian, kerusakan fisik maupun emosi yang serius,pelecehan seksual atau eksploitasi , atau sebuah tindakan atau kegagalan untuk bertindak yang menyajikan risiko dekat dari bahaya serius.

2.1.2.3. Faktor-faktor Pendorong Kekerasan Pada Anak

  Menurut hasil pengaduan yang diterima KOMNAS PerlindunganAnak (2006), pemicu kekerasan terhadap anak yang terjadi diantaranya adalah: 1) Kekerasan dalam rumah tangga, yaitu dalam keluarga terjadi kekerasan yang melibatkan baik pihak ayah, ibu dan saudara yang lainnya. 2 faktor tersebut antara lain; a) Orang tua yang pernah jadi korban penganiayaan anak dan terpapar oleh kekerasan dalam rumah, orang tua yang kondisi kehidupannya penuhsters, seperti rumah yang sesak, kemiskinan, orang tua yang menyalahgunakan NAPZA, orang tua yang mengalami gangguan jiwa sepertidepresi atau psikotik atau gangguan keperibadian.

2.1.2.4. Teori – Teori Kekerasan

  Ia bisa berupa sesuatu yang non-fisik, yangpsikologis berupa stigmatisasi, yang kultural, yang sosial, yang ekonomis dengan diskriminasi ethnis, yang struktural, bahkan dari yang berwajib /berkuasa secara psikis, sampai pada yang bersifat naratif seperti berita-berita pers mengenai Sadam dan Kadafi. ( Thomas Santoso, Teori – Teori Kekerasan, 2002 : 62 – 66 ) Menurut Sunarto terdapat beberapa bentuk – bentuk kekerasan antara lain ( Sunarto, 2009 : 137 )a) Kekerasan Fisik dengan cara memukul, menampar, mencekik, menendang, melempar barang ke tubuh, menginjak, melukaidengan tangan kosong, atau dengan alat atau senjata, menganiaya, membunuh serta perbuatan lain yang relevan.

2.1.2.6. Kekerasan Dalam Media

  Seseorang dikatakan berasal dari kebudayaan yang sama jika manusia – manusia yangada disitu membagi pengalaman yang sama, membagi kode – kode kebudayaan yang sama, berbicara dalam ‘bahasa’ yang sama, dan salingberbagi konsep – konsep yang sama.(http:kunci.or.id/esai/nws/04/representasi.htm diakses 31 Agustus 2010, 19:30 WIB). Namun bahasa tersebut juga mencakup kode – kode representasi yang lebih halus, yang tercakup dalam komplektivitas dari penggambaran visualyang harfiah hingga simbol – simbol yang paling abstrak dan arbiter ( berubah – ubah ).

2.1.4 Semiotika

  Semiotika, yang biasanya di definisikan sebagai pengkajian tanda- tanda ( the study of signs) pada dasarnya merupakan sebuah study atas kode-kode, yaitu sistem apapun yang memunkinkan kita memandang entitas-entitas tertentu sebagai tanda-tanda atau sebagai sesuatu yang bermakna (scholes,1982 : ix dan budiman , 2004 : 3) Di dalam sejarah perkembangan semiotika, berasal dari dua induk yang memiliki dua tradisi dasar yang berbeda. Yang saya maksud dengan mengatakan doktrin ini sebagai “quasinecessary” atau formal adalah bahwa kita mengamati karakter- karakter tanda tersebut sebagaimana yang kita tahu, dan dari pengamatan tadi (…) kita arahkan kepada pernyataan-pernyataanyang bisa saja keliru dan, dengan demikian, dalam arti tertentu sama sekali tidak niscaya (Peirce, 1986 : 4 dalam Budiman, 2005 : 34).

2.1.5. Pendekatan Semiotik Dalam Film Menurut Jhon Fiske

  Pengambilan gambar long shot ini menggambarkan dan memberikan informasi kepada penonton mengenai penampilan tokoh (termasuk pada body language, ekspresi tubuh, gerak cara barjalan dan sebagainya dari ujung rambut sampai kaki) yang kemudian mengarah pada karakter serta situasi dan kondisi yang sedang terjdai pada adegantersebut. Penataan MusikNamun dalam penelitian ini peneliti tidak akan membahas labih lanjut pada teknik editing dan penataan musik yang ada dalam levelrepresentasi, karena keduanya dianggap tidak memiliki kaitan langsung terhadap pembahasan representasi kekerasan terhadap anak – anak dalamfilm “Alangkah Lucunya Negeri Ini”.

2.2 Kerangka Berpikir

  Berdasarkan landasan teori yang telah disampaikan maka dapat diketahui bahwa untuk mengerti dan memahami beberapa bentuk visual yangmerepresentasikan kekerasan terhadap anak – anak dalam film “AlangkahLucunya Negeri Ini”, peneliti menggunakan teori analisis semiotic film oleh JohnFiske, analisis semiotik pada sinema atau film layar lebar (wide screen) disetarakan dengan analisis film yang ditayangkan di televise yang dikemukakanoleh John Fiske. Pada tahap kedua film“Alangkah Lucunya Negeri Ini” scene – scene yang sudah dipilah tersebut akan dianalisa secara mendalam dan dimaknai, yang menunjukkan adegan kekerasanpada anak, menurut level realitas dan representasi menurut Jhon Fiske.

2.3 Alur Berpikir

Film AlangkahLucunya Negeri Ini Scene – Scene dan DialogTentang Kekerasan Pada Anak dalam Film Teori Semiotik JhonFiske Level Realita : Level Representasi : Level Ideologi : Penampilan, Kostum, TataDialog –dialog yang Kamera, Cahaya, editing,Rias, Lingkungan, Tingkahmenunjukkan kekerasan Musik, SuaraLaku, Cara Bicara, Gerak Yang mentransmisikan kode yang biasanya berupaTubuh, Ekspresi, Suara, dllkekerasan verbal atau konvensional yang membentuk representasi,contonya : Konflik, karakter, setting casting,dll Kekerasan Fisik, Kekerasan Psikologis,Kekerasan Financial, Kekerasan Fungsional Representasi Kekerasan Pada Anak Dalam

BAB II I METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian

  Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, Bogdan dan Taylor dalam (Moleong, 2002:3) menyatakan bahwa metode penelitian kualitatifmempunyai prosedur penelitian yang menghasil data deskriptif berupa kata- kata lisan, tulisan serta gambar dan bukan angka-angka dari orang-orang danperilaku yang dapat diamati, pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh. Harus mengetahui terlebih dahulu tanda-tanda yang ada di dalamnya serta beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu pertama, adalah konteks atau meaning/makna kultural dari artifact/teks yang diteliti.

3.2 Kerangka Konseptual

3.2.1 Corpus

  Corpus haruslah cukup luas untuk memberi harapan yangberalasan bahwa unsur – unsur akan memelihara sebuah sistem kemiripan Pada penelitian kualitatif ini memberikan peluang besar bagi dibuatnya interpretasi alternatif. Corpus dalam penelitian ini adalah adeganatau scene yang menampilkan unsur kekerasan terhadap anak – anak dalam film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”.

3.3 Definisi Operasional

  Menurut Wignyosoebroto (1997), kekerasan adalah “Suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sejumlah orang yang berposisi kuat (atauyang tengah merasa kuat) terhadap seseorang atau sejumlah orang yang berposisi lebih lemah (atau yang tengah dipandang berada dalam keadaanlebih lemah), bersaranakan kekuatan fisiknya yang superior, dengan kesengajaan untuk dapat ditimbulkannya rasa derita di pihak yang tengahmenjadi obyek kekerasan itu. Teknik pengumpulan data Pengumpulan data dalam peelitian ini dilakukan dengan teknik dokumentasi dan pengamatan secara langsung pada film “Alangkah LucunyaNegeri Ini”, dengan memilah scene – scene dalam film yang menunjukkan tentang kekerasan pada anak, serta melakukan studi kepustakaan untukmelengkapi data-data dan bahan yang dapat dijadikan sebagai referensi.

3.6. Teknik Analisis Data

  Untuk melihat representasi kekerasan dalam film “Alangkah LucunyaNegeri Ini” melalui pemeran – pemeran dalam film yang kebanyakan adalah pemeran laki – laki, peneliti juga akan mencari dan memaknai simbol-simbolyang bisa menjawab pertanyaan peneliti dengan menggunakan kerangka analisis semiotik pada film, yang dikemukakan John Fiske. Tingkah laku atau tindakan, Gerak Tubuh, dan Ekspresi pemain yang menunjukkan adanya kekerasan pada anak atau akibat kekerasan dalamfilm “Alangkah Lucunya Negeri Ini”.

2. Dialog yang mempunyai hubungan dengan representasi kekerasan

  Namun, pada penelitian ini peneliti tidak akan membahas lebih lanjut pada suara dan penataan musik yang ada dalam level representasi, karenakeduanya dianggap tidak memiliki kaitan langsung terhadap pembahasan representasi kekerasan dalam film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”. Dari niat baik itu, Muluk menemui banyak rintangan, seperti penolakan dari anak jalanan itu sendiri, ketidak percayaan Bang Jarot kepadaMuluk, kebohongan kepada orang tua Muluk termasuk teman – temannya, karena mengaku bekerja di perusahaan, sampai pengejaran oleh petugassatuan polisi pamong praja, yang mau menangkap anak jalanan itu yang sudah mulai mau menjadi pedagang asongan.

4.2. Penyajian Data

  Akhirnya dari cara tersebut Muluk dapat membeli sepeda motor yang digunakan untuk operasional Muluk sehari Dari situ Muluk mengajak temannya Syamsul, untuk mengajar mereka tentang pendidikan dasar, tetapi mereka menolak, karena menurutmereka pendidikan itu tidak penting, hal itu membuat mereka melakukan tindakan protes langsung kepada Bang Jarot, dan hasilnya mereka malahmendapatkan tindakan kekerasan karena tidak mau sekolah, dan akhirnya mereka mau untuk mendapatkan pendidikan. Muluk-pun mengembalikan sepeda motor, buku tabungan dan kartu ATM yang berisi dua puluh satu juta duaratus ribu rupiah, termasuk lima kotak asong yang siap pakai kepada Bang Jarot ( Bos ).

4.2.1. Analisis Data Penggalan Scene 1 ( Scene 8 dalam film )

  Gambar 4.1 Muluk mengancam dan menyekap Komet yang baru saja mencopet Level Realitas Menunjukkan dua sisi yang berbeda yaitu Muluk mempunyai dandanan, pakaian dan celana yang rapi serta bersih, mempunyai ekspresiwajah yang kaku dan menakutkan untuk menunjukkan keadaan marah dan tersinggung. Penggalan Scene 2 ( Scene 33 dalam film ) Gambar 4.2 Pemukulan Bang Jarot ( Bos ) kepada Komet karena membawa orang asing ke markas dan tidak menjawab pertanyaan Bos Level Realitas Komet masih dengan dandanan, pakaian yang lusuh, mempunyai ekspresi wajah yang tegang, takut dan sambil memegang kepalanya karenadampak rasa sakit akibat dipukul oleh Bang Jarot ( Bos ) dengan menggunakan benda seperti buku.

4.3. Analisis Data Keseluruhan

  Pada level realitas melalui kode social kostum dapat dilihat cara berpakaian tokoh – tokoh utama film “ Alangkah Lucunya Negeri Ini “ yangterbagi antara dua dunia berbeda, yang pertama yaitu para pencopet cilik mempunyai pakaian serta dandanan yang terkesan lusuh, kotor, dan apaadanya merupakan kostum yang jauh dari kesan glamour dan mewah menggambarkan latar belakang ekonomi yang dialami oleh para pencopetdalam film ini. Pada level representasi, penggunaan teknik kamera yang sengaja mengambil ekspresi atau bahasa tubuh dari tooh – tokoh utama alam film “Alangkah Lucunya Negeri Ini “ memberikan informasi bagaimana kekerasan Pada level ideology khususnya pada kode sosial dialog adalah level yang kuat dalam menunjukkan adanya kekerasan dalam film ini.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

  Dari kekerasan – kekerasan yang dihadirkan dalam film ini, kekerasan fisik dan kekerasan verbal berimbang hampir sama banyaknya, tetapi memaglebih banyak kekerasan verbal hadir dalam film, kekerasan verbal yang jika diurikan lagi menjadi kekerasan psikologis dan kekerasan fungsional. Tetapi sebaiknya diperhatikan lebih seriuskekerasan dihadirkan tidak terlalu berlebihan, atau bersifat tabu dan bias, seperti kekerasan yang bersifat sepele tetapi hal itu sangat penting untuk tidakdilakukan daam kehidupan, karena tidak baik dicontoh oleh siapapun terutama anak – anak, dihadirkan secara biasa saja seakan hal itu sangat bolehdilakukan di kehidupan.

5.2. Saran

  Film “ Alangkah Lucunya Negeri Ini “ yang sudah tersebar luas dan telah ditonton jutaan penonton memiliki banyak kekerasan didalamnya danjika didalam film menampilkan adegan yang mengandung kekerasan, maka akan berdampak negative bagi penontonnya, karena bukan tidak mungkinbagi mereka untuk meniru apa yang dilihatnya dalam film. Dan bagi pembuat film sebaiknya lebih bijaksana lagi dalam memuat unsure – unsur dalam sebuah film, karena muatan – muatan yang seharusnyatidak diperbolehkan untuk dimasukkan dalam sebuah film sudah diatur jelas dalam Undang _ Undang Perfilman maupun peraturan yang dibuat KPI (Komisi Penyiaran Indonesia ).

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Tindak Tutur Direktif dan Ekspresif dalam Dialog Film ―Alangkah Lucunya Negeri Ini‖ Karya Deddy Mizwar
4
75
12
PESAN KRITIK SOSIAL DALAM FILM( Analisis Isi Dalam Film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” Karya Deddy Mizwar)
0
10
2
KRITIK SOSIAL DALAM FILM INDONESIA (Analisis Potret Kemiskinan Dalam Film Laskar Pelangi Dan Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
5
33
52
Analisis Kesantunan Berbahasa dalam Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) Karya Deddy Mizwar dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA (Analisis Wacana)
2
32
232
PENDAHULUAN Konstruksi Pendidikan Karakter Peduli Sosial Perspektif PPKn (Analisis Semiotik pada Film Alangkah Lucunya (negeri ini).
0
1
8
WACANA PENDIDIKAN POLITIK MELALUI SATIRE POLITIK DALAM FILM ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI WACANA PENDIDIKAN POLITIK MELALUI SATIRE POLITIK DALAM FILM ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI (Analisis Semiotik Terhadap Film Alangkah Lucunya Negeri Ini).
0
0
14
PENDAHULUAN WACANA PENDIDIKAN POLITIK MELALUI SATIRE POLITIK DALAM FILM ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI (Analisis Semiotik Terhadap Film Alangkah Lucunya Negeri Ini).
0
0
9
KESANTUNAN TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM DIALOG FILM ”ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI” KARYA MUSFAR YASIN KESANTUNAN TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM DIALOG FILM ”ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI” KARYA MUSFAR YASIN (Sebuah Tinjauan Pragmatik).
0
0
13
PENDAHULUAN KESANTUNAN TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM DIALOG FILM ”ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI” KARYA MUSFAR YASIN (Sebuah Tinjauan Pragmatik).
1
1
9
this PDF file KRITIK SOSIAL DALAM NASKAH DRAMA ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI KARYA DEDDY MIZWAR | Anwar | BAHASA DAN SASTRA 1 PB
0
0
15
TINDAK TUTUR DIREKTIF DAN EKSPRESIF DALAM DIALOG FILM ―ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI‖ KARYA DEDDY MIZWAR Dina Mariana br Tarigan dinamarianabrtariganyahoo.com Abstract - Tindak Tutur Direktif dan Ekspresif dalam Dialog Film ―Alangkah Lucunya Negeri Ini‖ Kar
0
0
12
KRITIK SOSIAL DALAM NASKAH DRAMA ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI KARYA DEDDY MIZWAR
0
1
17
NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM FILM ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI KARYA DEDDY MIZWAR SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam
0
0
191
REPRESENTASI KEKERASAN PADA ANAK DALAM FILM ” ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI ” ( Studi Semiotik Mengenai Represe ntasi Kekerasan Pada Anak Dalam Film ” Alangkah Lucunya Negeri Ini ” karya Deddy Mizwar )
0
1
18
Tindak tutur dalam film Alangkah Lucunya (Negeri ini) karya Deddy Mizwar - USD Repository
0
0
144
Show more