ANALISIS PERENCANAAN WAKTU KAPASITAS PRODUKSI MENGGUNAKAN METODE RCCP (ROUGHT CUT CAPACITY PLANNING) DI PT. LASER JAYA SAKTI GEMPOL - PASURUAN.

 2  6  118  2017-08-12 23:28:53 Report infringing document
ANALISIS PERENCANAAN WAKTU KAPASITAS PRODUKSI MENGGUNAKAN METODE RCCP (ROUGHT CUT CAPACITY PLANNING) DI PT. LASER JAYA SAKTI GEMPOL – PASURUAN SKRIPSI O l eh : ANUGERAH YUDHA PRASETYA NPM. 0632010103 JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR SURABAYA 2011 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. ANALISIS PERENCANAAN WAKTU KAPASITAS PRODUKSI MENGGUNAKAN METODE RCCP (ROUGHT CUT CAPACITY PLANNING) DI PT. LASER JAYA SAKTI GEMPOL – PASURUAN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Dalam Memenuhi Gelar Sarjana Teknik Jurusan Teknik Industri O l eh : ANUGERAH YUDHA PRASETYA NPM. 0632010103 JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR SURABAYA 2011 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian penelitian dengan judul “ANALISA PERENCANAAN WAKTU KAPASITAS PRODUKSI MENGGUNAKAN METODE RCCP (ROUGHT CUT CAPACITY PLANNING) DI PT. LASER JAYA SAKTI” Penelitian ini merupakan tugas wajib dan sebagai syarat untuk menyelesaikan program sarjana strata satu (S-1) di Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Dalam menyusun penelitian ini, penulis tidak lepas dari banyak pihak, yang secara langsung maupun secara tidak langsung telah turut membimbing dan mendukung penyelesaian tugas penelitian ini yang semuanya sangat besar artinya bagi penulis. Oleh karena itu, tidak lupa penulis menyampaikan rasa hormat dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP. Selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran “ Jawa Timur. 2. Bapak Ir. Sutiyono, MS. Selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran “ Jawa Timur. 3. Bapak Ir. MT. Safirin, MT. Selaku Kepala Jurusan Teknik Industri 4. Bapak Drs Pailan, Mpd. Selaku Sekertaris Jurusan 5. Bapak Ir. Akmal S, MT selaku dosen pembimbing I i Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 6. Bapak Ir. Hari Purwo Adi, MM selaku dosen pembimbing II 7. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Teknologi Industri Jurusan Teknik Industri yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis. 8. Kedua Orang Tua Penulis yang senantiasa dan selalu memberikan dukungan baik materi maupun moriil. 9. Saudara dan Sohib yang selalu menemani dan memberikan doa demi kelancaraan penyelesaian penelitian ini. 10. Seluruh angkatan 2006 TI dari paralel A sampai D, Asslab Proses Manufaktur dan Perancangan Sistem Manufaktur serta semua pihak yang telah membantu, yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih banyak kekurangan baik isi maupun penyajiannya. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun. Akhir kata semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan dan semoga Tuhan memberikan balasan kepada semua pihak yang telah membantu penulis. Surabaya, 19 November 2010 Penulis ii Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. DAFTAR ISI LEMBAR SAMPUL LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ……………………………………………………………... iii DAFTAR TABEL ………………………………………………………... viii DAFTAR GAMBAR …………………………………………………….. x DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………. xi ABSTRAKSI …………………………………………………………….. xii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ……………..……………………………....... 1 1.2. Perumusan Masalah …………..…………………………....... 3 1.3. Batasan Masalah ..………….……………….……………...... 3 1.4. Asumsi - asumsi ..…………………………….…………........ 3 1.5. Tujuan Penelitian ….………………………………….…....... 4 1.6. Manfaat Penelitian ………………………………………....... 4 1.7. Sistematika Penulisan ……………………………………...... 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penghantar Udara (Ducting) ……………………………… 7 2.2. Perencanaan Produksi …………………………………...... 9 iii Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 2.2.1. Jenis-jenis Perencanaan Produksi………………………. 11 2.2.2. Faktor-Faktor Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Perencanaan Produksi ………….................................... 13 2.3. Pengukuran Kerja …....…………………………………... 16 2.3.1. Pengukuran Waktu Kerja dengan Jam Henti (Stop Wacth) ....……………........……………………….17 2.3.2. Melakukan Pengukuran Waktu ………………….... 18 2.3.3. Perhitungan Waktu Baku ……………………...... 22 2.3.4. Faktor Penyesuaian (Rating Performance) ……… 23 2.3.5. Faktor Kelonggaran (Allowance) ………………… 26 2.4. Perencanaan Kapasitas Kasar …………………………...... 30 2.5. Peramalan (Forecasting) …………………………………...... 37 2.5.1. Meramal Horison Waktu………..………………… 37 2.5.2. Macam-macam Peramalan ……..………………… 38 2.5.3. Analisa Deret Waktu ……………………………… 40 2.5.4 Metode-metode Peramalan yang Digunakan Dalam Time Series …………………………………………..… 43 2.5.5. Ukuraran Akurasi Hasil Peramalan ………………… 49 2.5.6. Verifikasi Dua Pengendalian Peramalan ………… 51 2.5.7. MRC (Moving Range Chart)……………………… 51 2.5.8 Uji Kondisi Diluar Kendali …….………………… 53 2.6. Peneliti Terdahulu ………………………………………........ 55 iv Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ……………………………….. 58 3.2. Identifikasi Variabel……………….......…………………….. 58 3.3. Metode Pengumpulan Data......................………………....... 59 3.4. Metode Pengolahan dan Analisa Data.............…………....... 60 3.5 Langkah-Langkah Pemecahan Masalah………………………. 62 BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengumpulan Data................................................................... 75 4.1.1. Data Jumlah Tenaga Kerja dan Mesin Produksi........... 75 4.1.2. Data Perincian Jam Kerja dan Hari Kerja Karyawan..... 77 4.1.3. Data Permintaan Produk Ducting (Mei 2009 – September 2010)........................................................ 77 4.2. Pengukuran Waktu Kerja.......................................................... 78 4.3. Faktor Penyesuaian dan Kelonggaran Pekerja Tiap Kegiatan Kerja.......................................................................................... 80 4.4. Uji Keseragaman Data, Kecukupan Data dan Perhitungan Waktu Siklus, Waktu Normal dan Waktu Baku................................... 81 4.5. Peramalan Permintaan Tahun 2010........................................... 86 4.5.1. Membuat Plot Diagram Permintaan............................... 87 4.5.2. Penetapan Metode Peramalan......................................... 87 4.5.3. Menghitung Masing-masing Kesalahan Peramalan........ 87 v Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 4.5.4. Memilih Metode Dengan Nilai Kesalahan Peramalan Terkecil........................................................................... 88 4.5.5. Uji Verifikasi Data Dengan MRC (Moving Range Chart)................................................... 88 4.5.6. Hasil Peramalan Dengan Metode Yang Dipilih............ 92 4.6. Jadwal Induk Produksi (JIP).................................................... 92 4.7. Matrik Produksi ....................................................................... 93 4.8. Matrik Waktu Baku ................................................................. 94 4.9. Rough Cut Capacity Planning (RCCP) ................................... 94 4.9.1. Perhitungan RCCP Pada Proses Sizing/Labelling........... 95 4.10. Waktu Produksi Tersedia (Rated Production Time) .............. 96 4.10.1. Proses Sizing/Labelling .............................................. 96 4.11. Hasil dan Pembahasan ............................................................ 100 4.11.1. Peramalan ................................................................... 100 4.11.2. Perencanaan Waktu Produksi ..................................... 100 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan .............................................................................. 103 5.2. Saran ........................................................................................ 104 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vi Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. DAFTAR TABEL Tabel 2.1. Pengukuran Waktu Kerja ………………………………...... 19 Tabel 2.2. Performance Rating dengan Sistem Westing House …….... 24 Tabel 2.3. Besarnya Kelonggaran Berdasarkan Faktor-faktor Yang Berpengaruh ……………………......................................... 28 Tabel 2.4. Matriks Pendekatan RCCP dan BOL ……………………... 34 Tabel 2.5. RCCP (Rought Cut Capacity Planning)............................... 36 Tabel 4.1. Jumlah Tenaga Kerja dan Jumlah Mesin ............................. 75 Tabel 4.2. Data Perincian Jam dan Hari Kerja Karyawan .................... 77 Tabel 4.3. Data Permintaan PT. LASER JAYA SAKTI ...................... 77 Tabel 4.4. Tabel Pengamatan Waktu Proses Sizing/Labelling .............. 78 Tabel 4.5. Tabel Pengamatan Waktu Proses Cutting ........................... 78 Tabel 4.6. Tabel Pengamatan Waktu Proses Bending .......................... 79 Tabel 4.7. Tabel Pengamatan Waktu Proses Welding............................ 79 Tabel 4.8. Tabel Pengamatan Waktu Proses Polishing ....................... 79 Tabel 4.8. Tabel Pengamatan Waktu Proses Packing ....................... Tabel 4.10. Faktor Penyesuaian dan Kelonggaran Pekerja Tiap Kegiatan 79 Kerja .................................................................................... 80 Tabel 4.11. Tabel Pengolahan Data Proses Sizing/Labelling ................. 81 Tabel 4.12. Hasil Uji Keseragaman Data ............................................... 84 vii Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Tabel 4.13. Hasil Uji Kecukupan Data ................................................... 85 Tabel 4.14. Perhitungan Waktu Normal, Waktu Siklus dan Waktu Baku ......................................................................... 86 Tabel 4.15. Nilai Kesalahan Peramalan Dari Berbagai Metode Peramalan ............................................................................ 88 Tabel 4.16. Perhitungan Moving Range ................................................. 90 Tabel 4.17. Data Hasil Peramalan Permintaan Produk .......................... 92 Tabel 4.18. Jadwal Induk Produksi Produk ............................................ 93 Tabel 4.19. Matrik Produksi Tahun 2010 .............................................. 93 Tabel 4.20. Matrik Waktu Baku ............................................................. 94 Tabel 4.21. Hasil RCCP Dalam Satuan Jam .......................................... 96 Tabel 4.22. Tabel Perbandingan Kapasitas Waktu Produksi RCCP Dengan Kapasitas Waktu Produksi Tersedia .................................... 98 Tabel 4.23. Kapasitas Produksi Pada Stasiun Kerja Yang Mengalami Jam Lembur ................................................................................ 99 viii Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Ducting…………………………….......................................... 8 Gambar 2.2. Peranan RCCP Dalam Perencanaan dan Pengendalian Produksi ……....................................................................... 32 Gambar 2.3. Pola Data Horisontal (Stationary)........................................ 41 Gambar 2.4. Pola Data Musiman (Seasonal)……............................. 42 Gambar 2.5. Pola Data Siklus (Cyclical) ................................. 42 Gambar 2.6. Pola Data Trend ........................................................... 43 Gambar 2.7. Model Garis Regresi Trend Linier ....................................... 48 Gambar 2.8. MRC (Moving Range Chart)................................................ 49 Gambar 3.1. Flow Chart Pemecahan Masalah ......................................... 64 Gambar 4.1. Grafik Uji Keseragaman Data Proses Sizing/Labelling.........83 Gambar 4.2. Plot Diagram Permintaan PT. LASER JAYA SAKTI ........ 87 Gambar 4.3. Peta Kendali Moving Range ................................................ 91 ix Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN I : GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN LAMPIRAN II : PENGUKURAN WAKTU KERJA LAMPIRAN III : PERHITUNGAN PENYESUAIAN DAN KELONGGGARAN LAMPIRAN IV : HASIL PERAMALAN DENGAN SOFTWARE WIN-QSB LAMPIRAN V : PERHITUNGAN ROUGH CUT CAPACITY PLANNING (RCCP) LAMPIRAN VI : PERHITUNGAN WAKTU TERSEDIA LAMPIRAN VII : TABEL ALLOWANCE LAMPIRAN VIII : TABEL APENNDIX x Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. ABSTRAKSI ANALISIS PERENCANAAN WAKTU KAPASITAS PRODUKSI MENGGUNAKAN METODE RCCP (ROUGHT CUT CAPACITY PLANNING) DI PT. LASER JAYA SAKTI GEMPOL - PASURUAN ANUGERAH YUDHA PRASETYA Dewasa ini suatu perusahaan industri yang menghasilkan suatu produk harus memiliki strategi yang baik dalam pemenuhan kebutuhan konsumen. Kapasitas adalah jumlah dari keluaran maksimum yang bisa dihasilkan oleh suatu fasilitas dalam satu periode waktu tertentu dan dinyatakan dalam jumlah keluaran per satuan waktu. Dalam pemenuhan kebutuhan akan produk oleh konsumen, perusahaan perlu memperhatikan Perencanaan kapasitas dan pengendalian aktivitas produksi yang harus dilakukan dalam pemenuhan order di pasar. PT.Laser Jaya Sakti adalah perusahaan yang bergerak dalam manufaktur. Produk ducting yang dihasilkan oleh PT.Laser Jaya Sakti adalah ducting (Type flat ducting 300 x 25 mm”). PT. Laser Jaya Sakti pada kenyataannya melakukan perencanaan produksi, tetapi pelaksanaanya tersebut hanya berdasarkan hasil penjualan periode sebelumnya, sehingga memungkinkan terjadinya waktu produksi yang tidak optimal dan mengharuskan adanya penambahan waktu produksi (jam lembur). Maka kendala yang di hadapi adalah apakah kapasitas waktu produksi sudah dapat memenuhi permintaan konsumen. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut diterapkan metode Rought Cut Capacity Planning (RCCP). Rought Cut Capacity Planning merupakan “analisis untuk menguji ketersediaan kapasitas fasilitas produksi yang tersedia didalam memenuhi jadwal induk produksi (Master Production Schedule) yang telah ditetapkan” dengan Teknik Bill Of Labor (BOL). Dari enam stasiun kerja di PT.Laser Jaya Sakti terdapat dua stasiun kerja yang belum memenuhi kapasitas produksi sehingga perlu mengadakan penambahan jam kerja (lembur) atau shift kerja pada setiap bulannya yaitu pada stasiun kerja proses Sizing/Labelling dengan penambahan jam lembur untuk bulan Oktober 2010 sampai dengan April 2011 berturut-turut sebesar 335,71 jam/bulan, 475,99 jam/bulan, 475,99 jam/bulan, 475,99 jam/bulan, 475,99 jam/bulan, 475,99 jam/bulan, dan proses Welding perlu diadakan penambahan Sift kerja untuk bulan Oktober 2010 sampai dengan April 2011 berturut-turut sebesar 291,07 jam/bulan, 570,82 jam/bulan, 570,82 jam/bulan, 570,82 jam/bulan, 570,82 jam/bulan, 570,82 jam/bulan, 570,82 jam/bulan dan 570,82 jam/bulan. Kata Kunci , Perencanaan Kapasitas Kasar, Master Production Schedule (MPS), Rought Cut Capacity Planning (RCCP), Bill Of Labor (BOL).s xii Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. ABSTRACT PRODUCTION TIME CAPACITY PLANNING ANALYSIS METHOD RCCP (ROUGHT-CUT CAPACITY PLANNING) IN PT. LASER JAYA SAKTI GEMPOL - PASURUAN ANUGERAH YUDHA PRASETYA Today an industrial company that produces a product must have a good strategy in meeting the needs of consumers. Capacity is the sum of the maximum output that can be generated by a facility within a certain time period and is expressed in the number of output per unit time. In meeting the needs of the product by consumers, companies need to pay attention to capacity planning and controlling production activities to do in fulfillment of orders in the market. PT.Laser Jaya Sakti is a company engaged in manufacturing. Ducting product that is produced by PT.Laser Jaya Sakti is ducting (ducting flat Type 300 x 250 mm "). PT. Laser Jaya Sakti, in fact, production planning, but its implementation is only based on the sales of the previous period, thus enabling the production time that is not optimal and requires additional production time (hours overtime).So the constraints in face is whether the capacity of the production time was able to meet consumer demand. To anticipate these problems applied method Rought Cut Capacity Planning (RCCP). Rought Cut Capacity Planning is "analysis to test the availability of capacity of production facilities that are available in the meeting master production scheduling (Master Production Schedule) which has been established" with Engineering Bill Of Labor (BOL). Of the six work stations in PT.Laser Jaya Sakti there are two stations that do not meet the production capacity so that the need to conduct additional work hours (overtime) or shift work on every month that is in the process of work stations Sizing / Labelling with additional hours of overtime for the month of October 2010 until April 2011 in succession at 335,71 hours/month, 475,99 hours/month, 475,99 hours/month, 475,99 hours/month, 475,99 hours/month, 475,99 hours/month, and the process needs to be held additional Sift Welding work for October 2010 until April 2011 in succession at 291,07 hours/month, 570,82 hours/month, 570,82 hours/month, 570,82 hours/month, 570,82 hours/month, 570,82 hours/month, 570,82 hours/month and 570,82 hours/month. Keywords, Rough Capacity Planning, Master Production Schedule (MPS), Rough Cut Capacity Planning (RCCP), Bill Of Labor (BOL) Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. BAB I PENDAHULUAN 1.1 . Latar Belakang Masalah Pada saat ini hampir semua perusahaan yang bergerak di bidang industri manufaktur dihadapkan pada suatu masalah tingkat persaingan yang semakin kompetitif. Keterlibatan manajemen puncak pada tahap perencanaan produksi sangat diperlukan, khususnya perencanaan mengenai penentuan pabrikasi, perencanaan produksi membantu dalam menentukan berapa peningkatan kapasitas yang dibutuhkan dan penyesuaian kapasitas produksi. PT. Laser Jaya Sakti merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi produk manufaktur yaitu ducting. proses produksi yang terus menerus (continuous process), dilakukan berdasarkan permintaan sehinnga penyusaian kapasitas dapat terpenuhi. keputusan mengenai waktu produksi yang dalam hal ini juga ditentukan oleh kemampuan mesin atau fasilitas produksi yang terpasang menjadi begitu penting demi kelancaran perencanaan dan pengendalian produksi. PT. Laser Jaya Sakti selalu berusaha agar jumlah produksi ducting yang diproses tepat pada waktunya. Waktu standart produksi perusahaan hanya berdasarkan waktu tersedia perusahaan tanpa memperhitungkan waktu proses produksi per stasiun kerja untuk permintaan waktu mendatang. Hal ini sangat mempangaruhi permintaan produk dimasa mendatang karena kurang memperhitungkan waktu siklus untuk waktu produksi mendatang. Akibat dari waktu proses produksi yang kurang optimal dan belum diterapkan waktu proses 1 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 2 produksi untuk memenuhi permintaan di masa mendatang dapat mengakibatkan perencanaan kapasitas produksi tidak sesuai permintaan pasar. untuk mengantisipasi permasalahan tersebut maka diterapkan metode RCCP (Rough cut Capacity Planning). RCCP (Rough cut Capacity Planning) dengan membutuhkan data-data waktu produksi yang tersedia, Waktu produksi secara umum diukur dalam bentuk waktu (jam/bulan) yang ditunjukkan berdasarkan kemampuan manusia dengan bantuan mesin yang tersedia pada setiap stasiun kerja. Metode RCCP (Rough cut Capacity Planning) diperlukan untuk waktu produksi yang mampu dihasilkan oleh bagian setiap proses kerja produksi, sehingga di harapkan dapat mengalokasikan semua kebutuhan waktu produksi untuk memenuhi waktu permintaan di waktu mendatang. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 3 1.2 . Perumusan Masalah Perumusan pokok masalah yang akan dibahas dalam tugas akhir ini berdasar latar belakang diatas. Permasalahan yang timbul adalah “Berapa kapasitas waktu produksi ducting tersedia ditiap- tiap stasiun kerja agar dapat memenuhi permintaan konsumen?”. 1.3 . Batasan Masalah Dalam penulisan tugas akhir ini perlu dilakukan pembatasan masalah, agar dalam pelaksanaan penelitian tertuju pada tujuan penelitian ini. Adapun batasan – batasan tersebut adalah : 1. Data permintaan produk ducting di PT. Laser Jaya Sakti yang diambil adalah periode bulan Mei 2009 sampai dengan September 2010. 2. Kegiatan perencanaan dan pengendalian produksi yang dibahas hanya perencanaan waktu produksi menggunakan Rought Cut Capacity Planning (RCCP) berdasarkan Bill Of Labour (BOL). 3. Jenis produk yang akan dibahas adalah produk ducting dan pada perusahaan ini tidak memperhitungkan biaya (financial yang terkait). 4. 1.4 Tidak menghitung persedian produksi. Asumsi Dalam penelitian ini menggunakan beberapa asumsi yaitu sebagai berikut: 1. Tidak adanya perubahan komposisi produk selama periode perencanaan. 2. Material dan bahan – bahan penunjang lainnya selalu tersedia. 3. Fasilitas produksi berjalan pada kondisi normal dan lancar. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 4 1.5 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penulis yaitu: 1 Menentukan kapasitas waktu produksi di tiap – tiap stasiun kerja di PT. Laser Jaya Sakti dilihat dari waktu produksi yang tersedia dengan metode Rought Cut Capacity Planning (RCCP). 2 Merencanakan dan meramalkan jumlah permintaan pada beberapa bulan berikutnya. 3 Menghitung jam kerja di tiap – tiap stasiun kerja untuk memenuhi kapasitas produksi sehingga dapat memenuhi permintaan konsumen. 1.6 Manfaat Penelitian Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi: 1. Penulis Untuk menambah pengetahuan mengenai perencanaan kapasitas dan pengendalian aktivitas produksi dengan menggunakan metode Rough Cut Capacity Planning (RCCP) serta studi banding antara pengetahuan secara teori dan kenyataan dilapangan. 2. Perusahaan Dapat mengetahui waktu produksi yang ada dalam perusahaan guna mencukupi waktu produksi yang diperlukan berdasarkan hasil peramalan permintaan konsumen pada masa mendatang dengan menggunakan metode RCCP dengan teknik Bill Of Labour (BOL). Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 5 3. Universitas Sebagai referensi bagi mahasiswa aktif dan sebagai alat perbandingan untuk melakukan penelitian ini lebih lanjut oleh mahasiswa teknik industri selanjutnya, khususnya mengenai perencanaan kapasitas dan pengendalian aktivitas produksi dengan mengunakan metode RCCP dengan teknik Bill Of Labour (BOL) . 1.7 Sistematika Penulisan Agar lebih mudah dalam memahami penelitian ini, maka berikut disajikan sistem penulisan yang akan dibahas pada bagian selanjutnya. BAB I PENDAHULUAN Berisi gambaran umum masalah yang terdiri dari Latar Belakang, Tujuan, Perumusan Masalah, Batasan Masalah, Asumsi, Manfaat Penelitian, dan Sistematika Penulisan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Berisi tentang landasan teori yang menjadi refrensi atau acuan yang akan digunakan untuk melakukan pembahasan dan analisa masalah nantinya, yang berisi teori-teori metode RCCP (Rought Cut Capacity Plnning) serta teori-teori pendukung lainnya. BAB III METODE PENELITIAN Mencakup lokasi pencarian data, metode pengumpulan data dan pengolahan data. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 6 BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN Berisi analisa dan pembahasan data yang didasarkan atas teori yang telah diuraikan di atas dengan menggunakan data-data yang telah didapat selama penelitian. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Dalam bab ini menyimpulkan dan memberikan saran dari hasil penelitian dan pengolahan data tersebut. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penghantar Udara (Ducting) Sistem ducting atau Air Handling System, merupakan bagian penting sebagai alat penghantar udara yang telah dikondisikan dari sumber dingin ataupun panas ke ruang yang akan dikondisikan. Perkembangan desain penghantar udara (ducting) hingga saat ini sangat dipengaruhi oleh tuntutan efisiensi, terutama efisiensi energi, material, pemakaian ruang, dan perawatan. Dalam hal pemakaian ruang, saat ini ruang sekecil apapun sangat berharga, sehingga dalam perancangan gedung terjadi pengurangan tinggi ceiling, juga tinggi antar lantai, yang di masa lalu hal ini belum terlalu menjadi perhatian utama.Berbagai pertimbangan sering memunculkan benturan dalam mendesain sistem ducting. Misalnya pertimbangan ruang versus energi. Pengurangan tinggi ceiling akan menyebabkan lebih tingginya tekanan udara yang dibutuhkan di dalam ducting, yang berarti lebih tingginya kebutuhan energi. Namun saat ini terjadi kecenderungan untuk mengutamakan efisiensi energi dan kelestarian lingkungan. Bahkan beberapa negara membuat regulasi yang mengarahkan desainer, developer, dan user pada hal tersebut. Tentu saja ini menjadi tantangan dan peluang besar bagi para desainer untuk menentukan kombinasi tipe sistem ducting yang tepat, atau bahkan melakukan inovasi. 7 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 8 Suatu tipe sistem yang tidak umum dipakai mungkin lebih efisien bila dipakai untuk suatu aplikasi tertentu yang tergolong unik. Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai ducting, dan ini akan terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan munculnya aplikasi-aplikasi yang baru. Dalam suatu desain ducting untuk suatu gedung tertentu, sangat mungkin beberapa tipe dipakai untuk memenuhi masing-masing kebutuhan. Gambar 2.1 ducting Selain efisiensi, juga ada tuntutan kenyamanan (termasuk kesehatan dan keselamatan) bagi pengguna. Oleh karena itu dalam desain ducting meliputi pula Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 9 desain untuk kebutuhan ventilasi, filtrasi, dan humidity. Tiap tipe sistem ducting memiliki manfaat untuk aplikasi tertentu. (Sumber: PT. Laser Jaya Sakti). 2.2 Perencanaan Produksi Perencanaan merupakan salah satu fungsi management. Dalam perencanaan ditentukan usaha-usaha atau tindakan-tindakan yang akan atau perlu diambil oleh pimpinan perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan, dengan mempertimbangkan masalah-masalah yang mungkin timbul di masa yang akan datang. Untuk dapat membuat perencanaan yang baik, maka perlu diperhatikan masalah intern dan ekstern. Masalah intern adalah masalah yang datangnya dari dalam perusahaan (masih dalam kekuasaan pimpinan perusahaan), seperti mesin yang digunakan, buruh yang dikaryakan, bahan yang diperlukan dan sebagainya. Sedangkan masalah ekstern adalah masalah yang datangnya dari luar perusahaan (diluar kekuasaan pimpinan perusahaan), seperti inflasi, kebijaksanaan, keadaan politik dan sebagainya. Perencanaan dapat dibedakan antara lain : 1. Perencanaan usaha yang bersifat umum (general business planning) adalah perencanaan kegiatan yang dijalankan oleh setiap perusahaan, baik perusahaan besar maupun kecil, untuk berhasilnya perusahaan mencapai tujuan. Dalam perencanaan ini ditentukan tujuan jangka panjang yang merupakan masa depan perusahaan yang diharapkan. Oleh karena itu perlu diperhatikan dan dipertimbangkan keadaan atau situasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan perusahaan di masa depan seperti situasi pasar, keperluankeperluan pabrik (plant requirement) dan pengaruh saingan serta trend ekonomi. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 10 2. Perencanaan produksi (production planning) adalah perencanaan dan pengorganisasian sebelumnya mengenai orang-orang, bahan-bahan, mesin-mesin dan peralatan lain serta modal yang diperlukan untuk memproduksi barang-barang pada suatu periode tertentu di masa depan sesuai dengan yang diperkirakan atau diramalkan. Barang yang direncanakan akan diproduksi pada suatu periode di masa depan harus memenuhi beberapa syarat yaitu : a. Bahwa barang tersebut harus dapat diproduksi atau dibuat pada waktu itu. b. Bahwa barang tersebut harus dapat dikerjakan dengan/oleh pabrik ini. c. Bahwa barang tersebut harus sesuai atau dapat memenuhi/dicocokkan dengan keinginan pembeli sesuai dengan ramalan baik mengenai harga, kuantitas, kualitas dan waktu yang dibutuhkan. (Sofjan Assauri, 1993 : 166 - 167). Perencanaan produksi membutuhkan pertimbangan dan ketelitian yang terinci dalam menganalisis kebijaksanaan, karena perencanaan ini merupakan dasar penentuan bagi manajer dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Perencanaan produksi ini merupakan suatu fungsi yang menentukan batas - batas (level) dari kegiatan perusahaan pabrik di masa yang akan datang. Berdasarkan rencana-rencana produksi yang telah disusun, pimpinan perusahaan dapat menentukan langkah-langkah sebagai berikut : a. Bilamana kegiatan produksi dimulai dan berapa banyak buruh/pekerja yang dibutuhkan dalam kegiatan produksi tersebut. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 11 b. Menentukan alat-alat dan perlengkapan/peralatan yang diperlukan dalam proses produksi. c. Tingkat persediaan yang dibutuhkan. Tujuan Perencanaan Produksi ini adalah : 1. Untuk mencapai tingkat/level keuntungan (profit) yang tertentu. Misalnya berapa hasil (output) yang diproduksi supaya dapat dicapai tingkat/level profit yang diinginkan dan tingkat persentase tertentu dari keuntungan (profit) setahun terhadap penjualan (sales) yang diinginkan. 2. Untuk menguasai pasar tertentu, sehingga hasil atau output perusahaan ini tetap mempunyai pangsa pasar (market share) tertentu. 3. Untuk mengusahakan supaya perusahaan pabrik ini dapat bekerja pada tingkat efisiensi tertentu. 4. Untuk mengusahakan dan mempertahankan supaya pekerjaan dan kesempatan kerja yang sudah ada tetap pada tingkatnya dan berkembang. 5. Untuk menggunakan sebaik-baiknya (efisien) fasilitas yang sudah ada pada perusahaan yang bersangkutan. (Sofjan Assauri, 2004 :12). 2.2.1 Jenis-jenis Perencanaan Produksi Perencanaan Produksi yang terdapat dalam suatu perusahaan dapat dibedakan menurut jangka waktu yang tercakup, yaitu: 1. Perencanaan Produksi Jangka Pendek (Perencanaan Operasional) adalah penentuan kegiatan produksi yang akan dilakukan dalam jangka waktu satu tahun mendatang atau kurang, dengan tujuan untuk mengatur penggunaan tenaga kerja, Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 12 persediaan bahan dan fasilitas produksi yang dimiliki perusahaan pabrik. Oleh karena perencanaan produksi jangka pendek berhubungan dengan pengaturan operasi produksi, maka perencanaan ini disebut juga dengan perencanaan operasional. 2. Perencanaan Produksi Jangka Panjang adalah penentuan tingkat kegiatan produksi lebih daripada satu tahun, dan biasanya sampai dengan lima tahun mendatang, dengan tujuan untuk mengatur pertambahan kapasitas peralatan atau mesin-mesin, ekspansi pabrik dan pengembangan produk (product development). Perencanaan produksi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1. Perencanaan produksi yang menyangkut kegiatan pada masa yang akan datang, dibuat berdasarkan panaksiran atau ramalan kegiatan yang ditentukan oleh ramalan penjualan pada masa yang akan datang. 2. Perencanaan produksi mempunyai jangka waktu tertentu. 3. Perencanaan produksi mempersiapkan tenaga kerja/buruh, bahan-bahan, mesinmesin, dan peralatan lain pada waktu yang diperlukan. 4. Perencanaan produksi harus menentukan jumlah dan jenis serta kualitas dari produk yang akan diproduksi. 5. Perencanaan produksi harus dapat mengkoordinir kegiatan produksi dengan mengkoordinir bagian-bagian yang mempunyai hubungan langsung ataupun tidak dengan kegiatan produksi. Syarat-syarat suatu rencana produksi yang baik ialah : 1. Harus disesuaikan atas dasar tujuan atau obyektivitas perusahaan yang dinyatakan dengan jelas. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 13 2. Rencana tersebut harus sederhana dan dapat dimengerti serta mungkin dilaksanakan. 3. Rencana itu harus memberikan analisis dan klasifikasi kegiatan. (Sofjan Assauri, 2004). 2.2.2 Faktor-faktor yang perlu Dipertimbangkan dalam Perencanaan Produksi Adapun faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan produksi , antara lain : 1. Sifat Proses Produksi Proses produksi dapat dibedakan atas : a. Proses produksi yang terputus-putus (intermittent process manufacturing) Perencanaan produksi dalam perusahaan pabrik yang mempunyai proses produksi yang terputus-putus, dilakukan berdasarkan jumlah pesanan (order) yang diterima. Oleh karena kegiatan produksi yang dilakukan berdasarkan pesanan (order), maka jumlah produknya biasanya sedikit atau relatif kecil, sehingga perencanaan produksi yang dibuat semata-mata tidak berdasarkan ramalan penjualan (sales forecasting), tetapi terutama didasarkan atas pesanan yang masuk. Perencanaan produksi dibuat untuk menentukan kegiatan produksi yang perlu dilakukan bagi pengerjaan setiap pesanan yang masuk. Ramalan penjualan ini membantu untuk dapat memperkirakan order yang akan diterima, sehingga dapat diperkirakan dan ditentukan bagaimana penggunaan mesin dan Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 14 peralatan yang ada agar mendekati optimum pada masa yang akan datang, dan tindakan-tindakan apa yang perlu diambil untuk menutupi kekurangankekurangan. Perencanaan produksi yang disusun haruslah fleksibel, agar peralatan produksi dapat dipergunakan secara optimal. b. Proses produksi yang terus-menerus (continuous process) Perencanaan produksi pada perusahaan yang mempunyai proses produksi yang terus - menerus, dilakukan berdasarkan ramalan penjualan. Hal ini karena kegiatan produksi tidak dilakukan berdasarkan pesanan akan tetapi untuk memenuhi pasar dan jumlah yang besar serta berulang-ulang dan telah mempunyai blueprint selama jangka waktu yang tertentu. Langkah-langkah perencanaan produksi yang dilakukan dalam perusahaan yang mempunyai proses produksi yang terus-menerus adalah : 1). Membuat ramalan penjualan (sales forecasting). 2). Membuat master schedule yang didasarkan atas ramalan penjualan. 3). Setelah master schedule dibuat, dilakukan perencanaan yang lebih teliti. 2. Jenis dan Mutu dari Barang yang Diproduksi Untuk menyusun suatu perencanaan produksi, ada beberapa hal mengenai jenis dan sifat produk yang perlu diketahui dan diperlihatkan, yaitu : a. Mempelajari dan menganalisis jenis barang yang diproduksi sejauh mungkin. b. Apakah produk yang akan diproduksi itu merupakan costumer’s goods (barangbarang yang langsung dikonsumsi oleh konsumen) atau producer’s goods (barang yang akan dipergunakan untuk memproduksi barang lain). Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 15 c. Sifat dari produk yang akan dihasilkan, apakah merupakan barang yang tahan lama atau tidak. d. Sifat dari permintaan barang yang akan dihasilkan, apakah mempunyai sifat permintaan yang musiman (seasonal) yang permintaannya hanya pada musimmusim tertentu saja ataukah sifat permintaannya sepanjang masa. e. Mutu dari barang yang akan diproduksi, yang akan tergantung pada biaya persatuan yang diinginkan, dan permintaan atau keinginan konsumen terhadap barang hasil produksi tersebut. f. Sifat dari barang yang diproduksi apakah barang baru ataukah barang lama. (Sofjan Assauri, 2004 : 61). 3. Barang yang diproduksi apakah merupakan barang yang baru ataukah barang lama. Hal ini perlu kita perhatikan, karena untuk barang yang baru maka perlu diadakan penelitian (research) pendahuluan mengenai : a. Lokasi perusahaan, apakah perusahaan perlu diletakkan berdekatan dengan sumber bahan mentah ataukah dekat dengan pasir, b. Jumlah barang yang akan diproduksi, c. Sifat permintaan barang ini, apakah musiman atau sepanjang masa, dan hal-hal lain yang dibutuhkan untuk memulai produksi tersebut. (Sofjan Assauri,2004 : 58) 2.3 Pengukuran Kerja Suatu pekerjaan akan dikatakan diselesaiakan secara efisien apabila waktu penyelesaian berlangsung penting singkat, dengan mengaplikasikan prinsip dan Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 16 teknik pengaturan cara kerja yang optimal dalam system kerja, maka akan diperoleh alternatif pelaksanaan kerja yang dianggap memberikan hasil yang paling efektif dan efisien. Pengukuran kerja adalah metode penetapan keseimbangan antara kegiatan manusia yang dikontribusikan dengan unit output yang dihasilkan. Pengukuran waktu kerja ini akan berhubungan denga usaha-usaha untuk menetapkan waktu baku yang dibutuhkan guna menyelesaikan suatu pekerjaan. Waktu baku ini sangat diperlukan terutama sekali untuk : a. Man Power Planning (perencanaan kebutuhan tenaga kerja) b. Estimasi biaya-biaya untuk upah karayawan atau pekerja. c. Penjadwalan produksi dan pengangguran. d. Perencanaan system pemberian bonus dengan insentif bagi karyawan atau pekerja yang berprestasi. e. Induksi keluaran (output) yang mampu dihasilkan oleh seorang pekerja. Waktu baku ini merupakan waktu yang dibutuhkan oleh seorang pekerja yang memiliki tingkat kemampuan rata-rata untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Waktu baku yang dihasilkan dalam aktivitas pengukuran kerja akan dapat digunakan sebagai alat untuk rencana penjadwalan rencana kerja yang menyatakan berapa lama suatu kegiatan itu harus berlangsung dan berapa output yang dihasilkan serta berapa jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Teknik pengukuran kerja ini dapat dibagi atau dikelompokkan kedalam dua bagian, yaitu pengukuran kerja secara langsung dan pengukuran kerja secara tidak Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 17 langsung, yaitu pengukurannya dilakukan secara langsung ditempat dimana pekerjaan yang diukur dijalankan, sedangkan pengukuran tidak langsung dilaksanakan tanpa si pengamat harus ditempat pekerjaan yang diukur. (Wignjosoebroto Sritomo, 2003). 2.3.1. Pengukuran Waktu Kerja Dengan Jam Henti (Stop Wacth) Tujuan utama dari aktifitas pengukuran kerja adalah waktu baku yang harus dicapai oleh seorang pekerja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Waktu kerja yang dilakukan hendaknya merupakan waktu kerja yang diperoleh dari kondisi dan metode kerja yang baik. Dengan perkataan lain pengukuran waktu kerja hendaknya dilaksanakan apabila kondisi dan metode kerja dari pekerjaan yang diukur akan diukur sudah baik. Pengukuran waktu kerja dengan jam henti diperkenalkan pertama kali oleh Frederick W. Tailor sekitar abad 19 yang lalu. Metode ini terutama sekali baik diaplikasikan untuk pekerjaan yang berlangsung secara berulang-ulang. Dari pengukuran maka akan diperoleh waktu baku untuk menyelesaikan suatu siklus pekerjaan, yang mana waktu ini dipergunakan sebagai standar penyelesaian pekerjaan bagi semua pekerjaa yang sama seperti itu. Pengukuran kerja dengan jam henti ini merupakan cara pengukuran yang objektif karena disini waktu yang ditetapkan berdasarkan fakta yang terjadi dan tidak cuma sekedar diestimasikan secara objektif. Satu hal yang penting dalam pelaksanaan kerja ini ialah bahwa semua pihak yang nantinya akan dipengaruhi oleh hasil studi (waktu baku) haruslah diinformasikan mengenahi maksud dan tujuan dari studi, sehingga nantinya bisa Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 18 tercapai kerja sama yang sebaik-baiknya didalam pelaksanaan pengukuran secara garis besar langkah-langkah untuk melakukan pengukuran dengan stop watch adalah : 1 Mencatat semua informasi yang berkaitan erat dengan penyelesaian pekerjaan, seperti layout planning, karakteristik / spesifikasi mesin atau peralatan lain yang digunakan. 2 Menetapkan jumlah siklus yang diukur dan dicatat. Meneliti apakah jumlah siklus kerja yang akan dilaksanakan ini sudah memenuhi atau tidak. Menguji keseragaman data yang diambil. 3 Menetapkan performance rute dari operator saat melaksanakan aktifitas kerja yang diukur dan dicatat waktunya tersebut. 2.3.2. Melakukan Pengukuran Waktu Pengukuran waktu adalah pekerjaan mengamati dan mencatat waktu–waktu kerjanya baik setiap elemen ataupun siklus dengan menggunakan alat yang telah disiapakan. Adapun langkah-langkah yang telah dikerjakan selama pengukuran berlangsung. 1. Pengukuran Pendahuluan. Pengukuran pendahuluan dimaksudkan untuk mengetahui berapa kali pegukuran harus dilakukan untuk tingkat-tingkat ketelitihan dan keyakinan yang didapat dari hasi perhitungan waktu pengamatan. Biasanya pengukuran waktu dilakukan sebanyak 25 kali pengukuran. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 19 Tabel 2.1. Pengukuran Waktu Kerja Sub Group Waktu Pengamatan 1. X11 X12 X13 …. X1n 2. X21 X22 X23 …. X2n 3. X31 X32 X33 …. X3n L Rata-rata Jumlah Sub Group Sub Group Σ X1n Σ X1n 2 X2n Σ X2n Σ X2n 2 X3n Σ X3n Σ X3n 2 . X1 . . . . . . . . . . . . . . . . XL1 XL2 XL3 …. XLn ∑ xij XLn n L ∑X i =1 . Σ XLn Σ XLn2   Ln   ∑ ∑ X ij   i =l i =l   j =l   Ln 2  ∑ ∑ X ij  i =l  i =l   j =l L ij j =l L Keterangan : Xij = Waktu pengamatan berturut turut (I = 1,2,3,….,1 ; = 1,2,3,…,n) Xij = Rata rata pengamatan berturut-turut n = Jumlah sub group L = Ukuran sup group 2. Ujian Keseragaman Data. Tugas mengukur adalah mendapatkan data yang seragam, karena ketidak seragaman data tanpa disadari maka, diperlukan suatu alat yang dapat “mendeteksi” batas-batas kontrol yang dibentuk dari data merupakan batas seragam tidaknya data. Data dikatakan seragam, yaitu berasal dari sistem sebab yang sama, bila diantara kedua batas kontrol, dan tidak seragam berasal dari sistem sebab yang sama, bila berada diantara kedua batas kontrol, dan tidak seragam, Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 20 yaitu berasal dari sistem yang berbeda, jika berada diluar batas kontrol, sistem s ebab yang sama, bila berada diantara kedua batas kontrol, dan tidak seragam, yaitu berasal dari sistem yang berbeda, jika berada diluar batas kontrol. Yang diperhatikan dalam pengujian keseragaman adalah data yang berbeda didalam batas-batas kontrol tersebut. a. Menghitung harga rata dari rata-rata sup group dengan Σx X ij = ij L b. Menghitung standart deviasi dari waktu pengamatan ∑  x − x ij σ= ij N −1    c. Menghitung standar deviasi sebenarnya dari waktu pengamatan. σ= σ L d. Menghitung derajat ketelitian tiap operator. S= σ x x100% X e. Menghitung tingkat keyakinan (confidence level) CL = 100% - S% f. Menghitung batas kontrol atas (BKA) dan batas kontrol bawah (BKB) BKA = X + K σ x BKB = X − K σ x Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 21 g. Analisa keseragaman data Data yang dihasilkan dapat dikatakan seragam, jika harga rata-rata dari sub group berada alam batas kontrol atas (BKA) dan batas kontrol bawah (BKB). Setelah dua berkumpul maka diteruskan dengan mengidentifikasi data yang terlalu besar atau data yang terkecil, dan menyimpang dari harga rata-ratanya yang disebabkan hal-hal tertentu. Data ekstrim ini dikeluarkan dan tidak diikutsertakan dalam perhitungan selanjutnya. h. Uji kecukupan data dapat dilakukan setelah seluruh data dari hasil pengukuran telah seragam. Uji kecukupan data dapat dihitung dengan rumus :  k n ∑ 2 −(∑ ) x ij x ij N'=  s  ∑ x ij  2 2    N’ = Jumlah pengamatan teoritis yang harus dilakukan/diperlukan. N = Jumlah pengamatan yang dilakukan S = Tingkat ketelitian K = Koefisien distribusi normal sesuai dengan tingkat keyakinan. K = 1 untuk tingkat keyakinan (CL) = 68,26% K= 2 untuk tingkat keyakinan (CL) = 95,46% K = 3 untuk tingkat keyakinan (CL) = 99,73% Kesimpulan dari perhitungan yang diperoleh yaitu a. Apabila N’ < N, berarti jumlah pengamatan yang kita butuhkan sudah cukup. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 22 b. Apabila N’ > N, berarti jumlah pengamatan yang kita butuhkan harus ditambah lagi sesuai dengan tingkat kepercayaan dan tingkat ketelitian yang diharapkan. 2.3.3 Perhitungan Waktu Baku Perhitungan output standart merupakan langkah berikutnya setelah dilakukan pengukuran waktu kerja dan dilakukan uji keseragaman dan kecukupan data. Untuk mendapatkan output standart perlu ditempuh langkah-langkah sebagai beriku : a. Menghitung waktu siklus rata-rata setiap elemen kegiatan (Ws) : Ws = ∑x ij N b. Menghitung waktu normal (Wn) : Wn = Ws x p Di mana p faktor penyesuaian yang digunakan untuk menormalkan waktu pengamatan yang diperoleh, jika pekerja dinilai bekerja secara tidak wajar. c. Menghitung waktu baku (Wb) : Wb = Wn − 2.3.4 100% 100% − (%)allowance Faktor penyesuaian (Rating Performance) Aktivitas untuk menilai atau mengevaluasi kecepatan kerja operator dikenal sebagai “Rating Performance”. Dengan melakukan rating ini diharapkan waktu kerja Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 23 yang diukur bias “dinormalkan” kembali. Ketidaknormalan dari waktu kerja ini diakibatkan oleh operator yang bekerja secara kurang wajar yaitu bekerja dalam tempo atau kecepatan yang tidak sebagaimana semestinya. Waktu normal ukuran waktu yang disediakan untuk pekerjaan yang bersangkutan, karena angka ini harus dinaikkan dengan suatu waktu tambahan yang disediakan untuk gangguan-gangguan, kebutuhan-kebutuhan pribadi operator, dan penunda-penunda yang berada di luar keluasaannya. Westing house system’s Rating adalah sistem untuk memberikan rating performance yang umumnya diaplikasikan di dalam aktivitas pengukuran kerja. Selain kecakapan (skill) dan usaha (effort) sebagai faktor yang mempengaruhi performance manusia, maka Westing house menambahkan lagi dengan kondisi kerja (working condition) dan keajekan (consistency) dari operator dalam melakukan kerja. Tabel performance rating westing house dapat dilihat pada tabel 2.2 Tabel 2.2 Performance Rating dengan System Westing House SKILL Superskill AI EFFORT + 0,15 Superskill A1 + 0,13 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 24 Excellent Good A2 + 0,13 B1 + 0,11 B2 + 0,08 C1 + 0,06 C2 + 0,03 Avarage D 0,00 Fair E1 - 0,05 E2 - 0,10 F1 - 0,16 F2 - 0,22 Poor A2 + 0,12 B1 + 0,10 B2 + 0,08 C1 + 0,05 C2 + 0,02 Avarage D 0,00 Fair E1 - 0,04 E2 - 0,08 F1 - 0,12 F2 - 0,17 Excellent Good Poor CONDITION CONSISTENCY Ideal A + 0,06 Ideal A + 0,04 Excellent B + 0,04 Excellent B + 0,03 Good C + 0,02 Good C + 0,01 Average D 0,00 Average D 0,00 Fair E - 0,03 Fair E - 0,03 Poor F - 0,07 Poor F - 0,07 Metode westing house ini mempertimbangkan empat buah faktor dalam mengevaluasi performance ranting, antara lain : 1. Keterampilan (skill) adalah “kecakapan atau kemampuan dalam mengerjakan suatu metode yang diberikan”. Selanjutnya berhubungan dengan pengalaman, ditunjukkan dengan koordinasi yang baik antara pikiran dan tangan. 2. Usaha (effort) adalah “kesungguhan yang ditunjukkan atau diberikan oleh seorang operator saat melaksanakan pekerjaannya”. Usaha ditunjukan oleh kecepatan Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 25 pada tingkat kemampuan yang dimiliki dan dapat dikontrol pada tingkat yang tinggi oleh perator. 3. Kondisi (condition) adalah “kondisi fisik lingkungan di tempat kerja.” Yang meliputi keadaan pencahayaan, temperatur dan kebisingan ruangan. Kondisi merupakan suatu prosedur performance rating yang berpengaruh pada operator dan bukan pada operasi. 4. Konsisten (consistensi) adalah “Suatu keadaan yang stabil dari operator dalam melaksanakan pekerjaannya”. Faktor konsistensi ini perlu diperhatikan, karena pada kenyataannya setiap pengukuran tidak pernah terjadi angka yang sama pada pencatatan, waktu penyelesaiaan yang ditunjukkan pekerja selalu berubah dari satu siklus ke siklus yang lain. Konsistensi dikatakan sempurna (perfect) jika waktu penyelesaian selalu sama setiap saat. “Skill dan effort” di bagi menjadi superskill, excellent, good, average, fair, dan poor. Sedangkan “Condition dan Consistency” di bagi menjadi ideal, excellent, good, average, fair dan poor. (Wignjosoebroto Sritomo, 2003). 2.3.5 Faktor Kelonggaran (Allowance) Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 26 Waktu normal untuk suatu elemen operasi kerja adalah semata-mata menunjukkan bahwa operator yang berkualifikasi baik akan bekerja menyelesaikan pekerjaan pada kecepatan/tempo kerja yang normal. Waktu normal untuk suatu operator menggambarkan lamanya waktu yang diperlukan oleh operator rata-rata bila bekerja pada langkah normal dan tanpa menghiraukan suatu waktu tambahan untuk kebutuhan-kebutuhan pribadi, istirahat, dan penundaan-penundaan lain di luar kekuasaannya. Waktu longgar yang dibutuhkan dan akan menginterupsikan proses produksi ini bisa diklasifikasikan menjadi kebutuhan pribadi (personal allowance). Melepas lelah (fatique allowance) dan keterlambatan yang tidak dapat dihindari (delay allowance). (Wignjosoebroto Sritomo, 2003). Tabel 2.3. Besarnya kelonggaran berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 27 Faktor Contoh Pekerjaan Kelonggaran (%) A. Tenaga yang dikeluarkan Ekuivalen Pria Wanita beban 1. Dapat diabaikan Bekerja dimeja, duduk Tanpa beban 0,0 – 6,0 0,0 – 6,0 2. Sangat ringan Bekerja dimeja, berdiri 0,00 – 2,25 kg 6,0 – 7,5 6,0 – 7,5 3. Ringan Menyekop, ringan 2,25 – 9,00 7,5 – 12,0 7,5 – 16,0 4. Sedang Mencangkul 9,00 – 18,00 12,0 – 19,0 16,0 – 30,0 5. Berat Mengayun 19,00 – 27,00 19,0 – 30,0 30,0 – 50,0 palu yang berat 6. Sangat berat Memanggul beban 27,00 – 50,00 7. Luas-biasa berat Memanggul Diatas 50 kg karung berat B. Sikap kerja 1. Duduk Bekerja duduk, ringan 0,00 – 1,0 2. Berdiri diatas dua kaki Badan tegak, ditumpu dua kaki 1,0 – 2,5 3. Berdiri diatas satu kaki Satu kaki mengerjakan alat kontrol 2,5 – 4,0 4. Pada bagian sisi, belakang atau depan Berbaring 2,5 – 4,0 badan 5. Membungkuk Badan dibungkukkan bertumpu pada kedua 4,0 – 10 kaki C. Gerakan kerja 1. Normal Ayunan bebas dari palu 0 2. Agak terbatas Ayunan terbatas dari palu 0–5 3. Sulit Membawa beban berat dengan satu 0–5 tangan 4. Pada anggota-anggota badan Bekerja dengan tangan diatas kepala 5 – 10 Bekerja dilorong pertambangan yang 10 – 15 terbatas 5. Seluruh anggota badan terbatas sempit Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 28 Tabel 2.3. Besarnya kelonggaran berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh (Lanjutan) Contoh Pekerjaan Faktor D. Kelelahan mata *) Kelonggaran (%) Pencahayaan Buruk baik 1. Pandangan yang terputus- Membawa alat ukur 0,0 – 6,0 0,0 – 6,0 Pandangan yang hampir terus Pekerjaan yang teliti 6,0 – 7,5 6,0 – 7,5 Memeriksa cacat-cacat pada kain 7,5 – 12,0 7,5 – 16,0 12,0 – 19,0 16,0 – 30,0 putus 2. menerus 3. Pandangan terus menerus dengan fokus berubah-ubah 4. Pandangan terus menerus Pemeriksaan yang sangat teliti dengan fokus tetap 19,0 – 30,0 30,0 – 50,0 O E. Keadaan temperatur tempat Temperatur ( C) Kelemahan kerja **) 1. Beku 2. Berlebihan normal Dibawah 0 Diatas 10 Diatas 12 Rendah 0 – 13 10 – 0 12 – 5 3. Sedang 13 – 22 5–0 8–0 4. Normal 22 – 28 0–5 0–8 5. Tinggi 28 – 38 5 – 40 8 – 100 6. Sangat tinggi Diatas – 33 diatas 40 diatas 100 F. Keadaan atmosfer ***) 1. Baik Ruang yang berventelasi baik, udara segar 2. Cukup 0 Ventilasi kurang baik, ada bau-bauan (tidak berbahaya) Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 0–5 29 Tabel 2.3. Besarnya kelonggaran berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh (Lanjutan) Faktor 3. Kurang baik Contoh Pekerjaan Adanya debu-debu beracun, 5 – 10 atau tidak beracun tetapi banyak 4. Buruk Adanya bau-bauan 10 – 20 berbahaya yang mengharuskan menggunakan alat-alat pernapasan G. Keadaan lingkungan yang baik 1. Bersih, sehat, cerah dengan kebisingan rendah 0 2. Siklus kerja berulang-ulang antara 5 – 10 detik 0–1 3. Siklus kerja berulang-ulang antara 0 – 5 detik 1–3 4. Sangat bising 0–5 5. Jika faktor-faktor yang berpengaruh dapat menurunkan kwalitas 0–5 6. Terasa adanya getaran lantai 5 – 10 7. Keadaan-keadaan yang luar biasa (bunyi, kebersihan, dll). 5 – 15 *) Kontras antara warna hendaknya diperhatikan **) Tergantung juga pada keadaan ventilasi ***) Dipengaruhi juga oleh ketinggian tempat kerja dari permukaan laut dan keadaan iklim Catatan pelengkap : kelonggaran untuk kebutuhan pribadi bagi : Pria Wanita Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. = 0 – 2,5% = 2 – 5,0% 30 2.4. Perencanaan Kapasitas Kasar Perencanaan kapasitas kasar RCCP (Rough Cut Capacity Planning), kemudian dibuat untuk menganalisa kemampuan dari kapasitas pabrik pada titik-titik kritis dari proses produksi berdasarkan MPS (Master Production Schedule) yang telah dibuat RCCP (Rough Cut Capacity Planning) menitik beratkan pada operasi-operasi khusus seperti assembling akhir, pengecatan mungkin terjadi. Dengan kata lain, RCCP (Rough Cut Capacity Planning) akan menentukan kelayakan dari MPS (Master Production Schedule) yang dibuat, dimana RCCP (Rough Cut Capacity Planning) akan mengkonvensi MPS (Master Production Schedule) menjadi kebutuhan-kebutuhan kapasitas untuk sumber daya-sumber daya utama dengan keterbatasan-keterbatasan kapasitas yang ada. Jika MPS (Master Production Schedule) tidak layak, maka MPS (Master Production Schedule) harus direvisi, sehingga MPS (Master Production Schedule) tersebut tetap sesuai dengan keterbatasan kapasitas yang ada. (Nasution Arman Hakim, 2003) RCCP (Rough Cut Capacity Planning) merupakan urutan kedua dari hirarki perencanaan prioritas kapasitas yang berperan dalam mengembangkan MPS (Master Production Schedule). RCCP (Rough Cut Capacity Planning) melakukan validasi terhadap MPS (Master Production Schedule) yang juga menempati urutan kedua dalam hirarki perencanaan prioritas produksi. Guna menetapkan sumber-sumber spesifik tertentu khususnya yang diperkirakan menjadi hambatan potensial (potensial bottleneck) adalah cukup untuk melaksanakan MPS (Master Production Schedule). Dengan demikian kita dapat mambantu manajemen untuk melaksanakan RCCP Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 31 (Rough Cut Capacity Planning), dengan memberikan informasi tentang tingkat produksi di masa mendatang yang akan memenuhi permintaan total itu. Jadi penyesuaian MPS (Master Production Schedule) akan dilakukan berdasarkan hasil dari analisa RCCP (Rough Cut Capacity Planning) ini. Salah satu teknik pada proses RCCP (Rough Cut Capacity Planning) adalah perencanaan kapasitas dengan menggunakan faktor-faktor keseluruhan. Teknik ini mengalokasikan kebutuhan-kebutuhan kapasitas untuk departemen-departemen. Individu atau pusat-pusat kerja berdasarkan data beban kerja dimasa lalu RCCP (Rough Cut Capacity Planning) pada umumnya mencakup periode 3 bulanan. (Gaspersz Vincent, 2004). Suatu produk dibuat pada beberapa stasiun kerja. Teknik RCCP (Rough Cut Capacity Planning) digunakan untuk verikasi/menjelaskan kapasitas pada setiap stasiun kerja. Dalam teknik ini dibandingkan antara beban mesin yang diperlukan dengan kapasitas yang sesuai/diperlukan pada setiap stasiun kerja. (Fogarty Blackstone:Hoffmann, 2005). Apabila permintaan konsumen melebihi kapasitas produksi yang ada maka akan berdampak, seperti : a. Material terlanjur dibeli dan dibawa ke Shop kemudian dikerjakan atau diproses. b. Terjadi antrian c. Lead Time tinggi (waktu penyelesaian produksi) Untuk itu dilakukan validasi MPS (Master Production Schedule) dengan penekanan pada kapasitas yaitu RCCP (Rough Cut Capacity Planning). Peranan Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 32 RCCP (Roug Cut Capacity Planning) dalam perencanaan dan pengendalian produksi dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Perencanaan Kapasitas Jadwal Induk Manajemen Produksi Kasar (RCCP) Demand Perencanaan Material Perencanaan Kapasitas Pengendalian Material Pengendalian Kapasitas Pengendalian Input/output Siklus Operasi Gambar 2.2 Peranan RCCP dalam perencanaan dan pengendalian produksi “Sumber: Fogarty : Blackstone : Hoffman : 2004” Keterangan gambar: perencanaan produksi melibatkan dari manajemen permintaan (Demand) dari konsumen agar diperoleh informasi untuk menjadwalkan induk produksi secara tepat guna memenuhi permintaan. Permintaan jadwal induk produksi diperlukan faktor yang berpengaruh yaitu perencanaan kapasitas kasar RCCP (Rough Cut Capacity Planning) agar semua jadwal produksi terkontrol dan tepat untuk menentukan target produksi, setelah itu perencanaan kapasitas dibuat dari semua induk produksi yang berdasarkan RCCP (Rough Cut Capacity Planning) agar bisa mendapatkan pengendalian kapasitas baik dari input atau output produksi dan siklus operasi berjalan dengan efektif, pengendalian kapasitas diperlukan dalam periode jangka pendek hal ini dilakukan agar tidak terjadi hal yang bersifat merugikan produksi dan produksi berjalan dengan baik. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Jangka Pendek 33 Untuk menggunakan dan memperhitungkan teknik-teknik RCCP (Rough Cut Capacity Planning) terbagi ada 3 teknik yang dipakai untuk mengembangkan laporan pembebanan mesin dalam menentukan kapasitas yang diperlukan : 1. Perencanaan Kapasitas menggunakan seluruh faktor CPOF (Capacity Planning Using Overall Factor). Perencanaan kapasitas ini membutuhkan data input sebagai berikut : a. MPS Waktu yang diperlukan bagi keseluruhan pabrik dalam memproduksi 1 Typical Part. b. Data historis tentang perbandingan antara waktu produksi total dengan waktu produksi di masing-masing. Total Waktu Produksi = typical time x jumlah produksi MPS (Master Production Schedule). Waktu produksi pada tiap mesin atau sumber daya kunci: Total waktu produksi x proporsi Waktu _ me sin Waktu _ total 2. Pendekatan BOL (Bill of Labor) Yaitu daftar waktu penyelesaian suatu produk pada setiap work center. Data input yang diperlukan - MPS (Master Production Schedule). - Matrik-matrik yaitu Matrik waktu baku dan matrik produksi. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 34 - RCCP (Rough Cut Capacity Planning) (Matrik waktu baku) x (Matrik Produksi) Tabel 2.4 RCCP (Rough Cut Capacity Planning) dengan BOL (Bill of Labor) Matrik Waktu Baku Produk P WC 1 2 3 a11 a12 a13 Matrik Produksi Bulan Produk J F M A M J J A S O N D P1 b11 b12 b13 b14 B15 b16 b17 b18 b19 b110 b110 b112 Contoh BOL : 2 Produk, 2 Bulan, 2 Work Center Matrik Waktu Baku Produk WC WC1 WC2 P1 P2 A11 A21 a12 a22 Matrik Produksi Bulan Produk P1 P2 M1 M2 b11 b21 b12 b22 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 35 RCCP (Rough Cut Capacity Planning) Bulan WC WC1 WC2 M1 M2 c11 c21 c12 c22 C11 = a11b11 + a12b21 C12 = a11b12 + a12b22 C21 = a21b11 + a22b21 C22 = a21b12 + a22b22 n Cij = ∑a k =1 jk .bkj Dimana : Cij = Waktu produksi yang direncanakan pada work center k periode j Aik= Waktu baku k di work center i Bkj= Produk k pada periode j 3. Profil Sumber Daya (Resources Profile) Pada dua pendekatan sebelumnya diasumsikan semua komponen dibuat pada periode yang sama dengan produk akhir, namun dalam kenyataan tidak demikian karena setiap komponen dari produk akhir mempunyai waktu penyelesaian yang berbeda sehingga lead timenya juga berbeda. Pada pendekatan ini tetap menggunakan BOL (Bill Of Labor), namun waktu bagi tiap departemen WC (Work Centre) disesuaikan dengan lead time dari setiap part. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 36 Contoh pendekatan profil sumber daya, 2 produk, 2 work center, 3 bulan horizon, 3 bulan lead time. Tabel 2.5 RCCP (Rough Cut Capacity Planning) dengan Profil Sumber Daya Profil Sumber Daya Work Center I Duedate Bulan 2 1 0 P1 A112 a111 A110 P2 A212 a211 A110 Produk M1 M2 M3 P1 b11 b12 b13 P2 b21 b22 b23 M1 M2 M3 b11 b12 b13 b21 b22 b23 Produk Work center 2 RCCP Work Center II Duedate Produk P1 P2 Bulan 2 1 0 a122 a121 a12 0 a222 a221 a22 0 WC P1 P2 Jadwal Induk : C11 = a110.b11+a111.b12+a112.b13+a210.b21+a211.b22+a212.b23 C12 = a110.b12+a111.b13 +a210.b22+a211.b23 C13 = a110.b13 +a210.b23 C21 = a120.b11+a121.b12+a122.b13+a220.b21+a211.b22+a222.b23 C22 = a120.b12+a121.b13 +a220.b22+a221.b23 C23 = a120.b13 +a220.b23 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. (2.20) 37 Pada bahasan kali ini penulis memilih teknik RCCP (Rough Cut Capacity Planning) dengan menggunakan Bill of Labor. Teknik ini dikenal dengan teknik yang sederhana dan aplikatif. Berikut ini dapat dilihat alasan kenapa pendekatan Bill of Labor ini yang digunakan Alasan menggunakan pendekatan Bill of Labor : - Metode sangat sederhana - Mudah untuk memahaminya - Mudah diaplikasikan ”Sumber: Donald, Fogarty dkk, 2004” 2.5 Peramalan (Forecasting) Peramalan adalah proses untuk memperkirakan berapa kebutuhan di masa akan datang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, dan waktu yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang ataupun jasa. Peramalan tidak terlalu dibutuhkan dalam kondisi permintaan pasar yang stabil, karena perubahan permintaannya relatif kecil. Tetapi permalan akan sangat dibutuhkan bila kondisi permintaan bersifat kompleks dan dinamis. peramalan yang akurat merupakan informasi yang sangat dibutuhkan dalam pengambilan keputusan manajemen. 2.5.1 Meramal Horison Waktu Peramalan biasanya diklasifikasikan berdasarkan horison waktu masa depan yang dicakupnya. Horizon waktu terbagi atas beberapa kategori, yaitu : Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 38 a. Peramalan Jangka Panjang. Peramalan yang dilakukan untuk penyusunan hasil ramalan yang jangka waktunya tiga tahun atau lebih. Digunakan dalam merencanakan produk baru, pengeluaran modal, lokasi fasilitas atau ekspansi dan penelitian serta pengembangan. b. Peramalan Jangka Menengah. Peramalan yang dilakukan untuk penyusunan hasil ramalan yang jangka waktunya tiga bulan hingga tiga tahun. Peramalan ini sangat bermanfaat dalam perencanaan penjualan, perancanaan dan penganggaran produksi, penganggaran kas dan menganalisis berbagai rencana produksi. c. Peramalan Jangka Pendek. Peramalan yang dilakukan untuk penyusunan hasil ramalan yang jangka waktunya mencapai satu tahun tetapi umumnya kurang dari tiga bulan. Peramalan jangka pendek digunakan untuk merencanakan pembelian, penjadwalan kerja, jumlah tenaga kerja, penugasan dan tingkat produksi. 2.5.2 Macam-macam Peramalan Secara umum, peramalan diklasifikasikan menjadi 2 macam, yaitu : 1. Peramalan yang bersifat subjektif 2. Peramalan yang bersifat objektif Perbadaan antara kedua macam peramalan ini didasarkan pada cara mendapatkan nilai-nilai ramalan. Peramalan subjektif lebih menekankan pada keputusan-keputusan hasil diskusi, pendapat pribadi seseorang, dan intuisi yang Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 39 meskipun kelihatannya kurang ilmiah tetapi dapat memberikan hasil yang baik. Peramalan subjektif diwakili oleh Metode Delphi dan Metode Penelitian Pasar. a. Metode Delphi. Metode ini merupakan cara sistemetis untuk mendapatkan keputusan bersama dari suatu grup yang terdiri dari para ahli dan berasal dari displin ilmu yang berbeda. Metode Delphi dipakai dalam peramalan teknologi yang sudah digunakan pada pengoperasian jangka panjang. Selain itu, metode ini bermanfaat dalam pengembangan produk baru, pengembangan kapasitas produksi, penerobosan ke segmen pasar baru, dan strategi keputusan bisnis lainnya. b. Metode Penelitian Pasar. Metode ini mengumpulkan dan menganalisis fakta secara sistematis pada bidang yang berhubungan dengan pemasaran. Salah satu teknik utama dalam penelitian pasar ini adalah survei konsumen. Hasil dari penelitian pasar ini kadang-kadang juga dipakai sebagai dasar peramalan permintaan produk baru. Peramalan Objektif merupakan prosedur peramalan yang mengikuti aturanaturan matematis dan statistik dalam menunjukkan hubungan antara permintaan dengan satu atau lebih variabel yang mempengaruhinya. Selain itu, juga mengasumsikan bahwa tingkat keeratan dan macam dari hubungan antara variabelvariabel bebas dengan permintaan yang terjadi pada masa lalu akan berulang pada masa akan datang. Peramalan obyektif terdiri atas dua metode, yaitu metode intrinsik dan metode ektrinsik. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 40 a. Metode Intrinsik. Metode ini membuat peramalan hanya berdasarkan pada proyeksi permintaan historis tanpa mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang mungkin mempengaruhi besarnya permintaan. Metode ini hanya cocok pada peramalan jangka pendek pada kegiatan produksi dimana dalam rangka pengendalian produksi dan pengendalian persediaan yang sering kali perusahaan harus melibatkan banyak item yang berbeda. Metode ini diwakili oleh analisis deret waktu (Time Series). b. Metode Ekstrinsik. Metode ini mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang mungkin dapat mempengaruhi besarnya permintaan dimasa datang dalam model peramalannya. Metode ini lebih cocok untuk peramalan jangka panjang karena dapat menunjukkan hubungan sebab akibat yang jelas dalam hasil peramalannya sehingga disebut metode kausal dan dapat memprediksi titiktitik perubahan. Metode ektrinsik banyak dipakai untuk peramalan pada tingkat agregat. Metode ini diwakili oleh metode regresi. 2.5.3 Analisis Deret Waktu (Time Series) Baik model deret berkala maupun kausal mempunyai keuntungan dalam situasi tertentu. Model deret berkala seringkali dapat digunakan dengan mudah untuk meramal, sedangkan model kausal dapat digunakan dengan keberhasilan yang lebih besar untuk pengambilan keputusan dan kebijaksanaan. Bilamana data yang diperlukan tersedia, suatu hubungan peramalan dapat dihipotesiskan baik sebagai Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 41 fungsi dari waktu atau sebagai fungsi dari variabel bebas, kemudian diuji. Langkah penting dalam memilih suatu metode deret berkala yang tepat adalah dengan mempertimbangkan jenis pola data, sehingga metode yang paling tepat dengan pola tersebut dapat diuji. Pola data dapat dibedakan menjadi empat (4) jenis, yaitu : a. Pola Data Horizontal (Stationary), terjadi bilamana nilai-nilai dari data observasi berfluktuasi di sekitar nilai konstan rata-rata. Misalnya pola jenis ini terdapat bila suatu produk mempunyai jumlah penjualan yang tidak menaik atau menurun selama beberapa waktu atau periode. Gambar dari pola horisontal (stationary) ini, seperti terlihat pada Gambar 2.3 Y Waktu Gambar 2.3 Pola Data Horisontal (Stationary) b. Pola Data Musiman (Seasonal), terjadi bilamana suatu data dipengaruhi oleh faktor musiman (kuartalan, bulanan, mingguan dan harian) dan biasanya berulang setiap tahun. Pola ini disebabkan oleh faktor cuaca, musim libur panjang dan hari raya keagamaan yang akan berulang secara periodik setiap tahunnya. Banyak produk yang penjualannya menunjukkan pola musiman, seprti minuman segar, ice cream, jasa angkutan, obat-obatan Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 42 tertentu dan ban mobil. Contoh pola musiman kuartalan seperti terlihat pada Gambar 2.4 Y Waktu Gambar 2.4 Pola Data Musiman (Seasonal) c. Pola Data Siklus (Cyclical), terjadi bilamana data observasi dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka panjang yang berkaitan dengan siklus usaha. Ada beberapa produk yang penjualannya menunjukkan pola siklus, seperti mobil sedan, besi baja dan perkakas atau peralatan bengkel. Pola dari jenis ini seperti terdapat pada Gambar 2.5 Y Waktu Gambar 2.5 Pola Data Siklus (Cyclical) Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 43 d. Pola Data Trend (T), terjadi bilamana ada kenaikan atau penurunan dari data observasi untuk jangka panjang. Pola ini terlihat pada penjualan produk dari banyak perusahaan. Pola trend ini dapat dilihat pada Gambar 2.6. Y Waktu Gambar 2.6 Pola Data Trend ”Sumber: Nasution, 2003” 2.5.4 Metode-Metode Peramalan yang Digunakan Dalam Time Series Metode yang digunakan dalam peramalan diantaranya yaitu : 1. Metode Simple Moving Average Adalah metode Time Series yang paling sederhana. Pada metode ini diasumsikan bahwa pola time series hanya terdiri dari komponen Average Level dan komponen Random Error. Menurut Teguh Baroto, 2002 rumusnya sebagai berikut : ^ ft = f t −1 + f1− 2 + f t −3 + ............ f t − M m Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 44 Keterangan : m = jumlah periode yang digunakan sebagai dasar peramalan (nilai m ini bila minimal 2 dan maksimal tidak ada ditentukan secara subjektif). ^ f t = ramalan permintaan (real) untuk periode t. f t = permintaan aktual pada periode t. 2. Metode Weighted Moving Average Model peramalan Time Series dalam bentuk lain dimana untuk mendapatkan tanggapan yang lebih cepat, dilakukan dengan cara memberikan bobot lebih pada data-data periode yang terbaru dari pada periode yang terdahulu. Menurut Teguh Baroto, 2002 rumusnya sebagai berikut : ^ f (t ) = c1 f t −1 + c 2 f1− 2 + c m f t − m ^ Keterangan : f t = ramalan permintaan (real) untuk periode t. ft = permintaan aktual pada periode t. c1 = bobot masing-masing data yang digunakan ( ∑ c = 1 ), ditentukan secara subjektif. m = jumlah periode yang digunakan untuk peramalan (subjektif) 3. Metode Exponential Smoothing Adalah salah satu jenis metode peramalan Time Series yang didasarkan pada asumsi bahwa angka rata-rata baru dapat diperoleh dari angka rata-rata lama dan data demand yang terbaru. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 45 Ada beberapa metode yang dikelompokkan dalam metode exponential smoothing, yaitu : a. Single (Simple) Exponential Smoothing b. Double Exponential Smoothing c. Exponential Smoothing With Linear Trend d. Double Exponential Smoothing With Linear Trend a. Single (Simple) Exponential Smoothing Menurut Teguh Baroto, 2002 rumusnya sebagai berikut : ^ ^ f t = αf t + (1 − α ) f t −1 ^ Keterangan : f t = perkiraan pada periode t α = suatu nilai (0 < α < 1) yang ditentukan secara subjektif ^ f = permintaan aktual pada periode t ^ f t −1 = perkiraan permintaan pada periode t-1 b. Exponential Smoothing With Linier Trend Merupakan sekelompok metode yang menunjukkan pembobotan menurun secara exponential terhadap nilai observasi yang lebih tua disebut sebagai prosedur pemulusan (smoothing) exponential. Seperti halnya dengan rata rata bergerak, metode pemulusan (smoothing) exponential terdiri atas tunggal, ganda dan metode yang lebih rumit semuanya mempunyai sifat yang sama, yaitu nilai yang lebih baru diberi bobot yang relatif lebih besar dibanding nilai Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 46 observasi lebih lama bentuk persamaan yang digunakan dalam menghitung ramalan dengan pemulusan exponential. FT + 1 = α Xt + ( 1 - α ) Ft Metode ini banyak mengurangi masalah penyimpanan data, karena tidak perlu lagi menyimpanan semua data historis atau sebagian dari padanya. Cara lain untuk menuliskan peramalan diatas adalah dengan susunan sebagai berikut : Ft+ m = Ft + α (et) Dimana (et) adalah kesalahan ramalan (nilai sebenarnya dikurangi ramalan). (Makridakis, 1995). c. Metode Double Exponential Smoothing Menurut Teguh Baroto, 2002 rumusnya sebagai berikut : F’t = a 0 + a 1 t + et Dimana a0, a1, adalah parameter proses dan e mempunyai nilai harapan dari 0. Misalnya β = 1- α , sehingga : t −1 Ft = α ∑ β i f t −i + β t f 0 i =0 Double exponential smoothing adalah modifikasi dari exponential smoothing, yang dirumuskan sebagai berikut : Xt[2] = α Xt + β X[2]t-1 Keterangan : Xt[2] = F’t = peramalan double exponential smoothing α = faktor smoothing dan β =1- α Xt = Ft Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 47 d. Metode Double Exponential Smooting With Linier Trend Peramalan dengan menggunakan metode exponential smoothing yang linier dapat dilakukan dengan perhitungan yang hanya membutuhkan 3 (tiga) buah nilai data dan 1 (satu) nilai α pendekatan ini juga memberikan timbangan (bobot) yang menurun untuk data atau observasi yang lebih lama. Dasar demikian dari pemulusan exponential smoothing yang linier adalah serupa dengan rata-rata bergerak linier, karena kedua nilai pemulusan baik tunggal maupun ganda terdapat pada waktu sebelum data sebenarnya, bila pada data itu ada trend. Disamping itu untuk menyesuaikan trend, maka nilai-nilai pelicin tunggal ditambahkan nilai-nilai pelicin ganda. Persamaan yang dipakai dalam implementasi pemulusan exponential yang linier adalah : S’t = α X 1 + ( 1 - α ) S’t-1 S”t = α X 1 + (1 - α ) S”t-1 Dimana S’t adalah nilai exponential smoothing tunggal dan S’t adalah exponential ganda. at = S’t + (S '−S ' t ) 2S’t – S’t bt= α (S ' t − S ' t ) 1−α Ft-m = at + bt.m Dimana m adalah periode ke depan yang diramalkan. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 48 4. Metode Regresi Trend Linier Regresi linier adalah suatu pola hubungan yang berbentuk garis lurus antar suatu variabel yang diramalkan dengan satu variabel yang mempengaruhinya atau variabel bebas. Dalam analisa deret waktu (time series) ini variabel bebasnya adalah waktu. Pola hubungan yang ditunjukkan dengan analisa regresi mengasumsikan bahwa hubungan diantara dua variabel dapat dinyatakan dalam suatu garis lurus seperti yang terlihat pada Gambar 2.7 Y Y=a+bX Gambar 2.7 Model Garis Regresi Trend Linier X ”Sumber: Makridakis, 2005” Rumus yang digunakan dalam metode ini adalah : Y=a+bX a= b= ∑ Yi ∑ Xi -b n n n∑ XiYi − ∑ Xi ∑ Yi n ∑ Xi 2 − (∑ Xi ) 2 Dimana Y adalah variabel yang diramalkan, X adalah Variabel waktu, serta a dan b adalah parameter atau koefisien regresi. (Makridakis, 1995). Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 49 2.5.5 Ukuran Akurasi Hasil Peramalan Ukuran hasil peramalan yang merupakan ukuran kesalahan peramalan adalah ukuran tentang tingkat perbedaan antara hasil peramalan dengan permintaan yang sebenarnya terjadi. Ada 4 ukuran yang biasa digunakan, yaitu : 1. Rata-Rata Deviasi Mutlak MAD (Mean Absolute Deviation) Merupakan rata-rata kesalahan mutlak selama periode tertentu tanpa memperhatikan apakah hasil permalan lebih besar atau lebih kecil dibandingkan kenyataannya. Secara matematis, MAD (Mean Absolute Deviation) dirumuskan sebagai berikut : MAD = ∑ At − Ft n Dimana : At = Permintaan aktual pada periode-t. Ft = Peramalan permintaan (Forecast) pada periode-t. n = Jumlah periode peramalan yang terlibat. 2. Rata-Rata Kuadrat Kesalahan MSE (Mean Square Error) MSE dihitung dengan menjumlahkan kuadrat semua kesalahan peramalan pada setiap periode dan membaginya dengan jumlah periode peramalan. Secara sistematis, MSE (Mean Square Error) dirumuskan sebagai berikut : MSE = ∑ ( At − Ft )2 n Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 50 3. Rata-Rata Kesalahan Peramalan MFE (Mean Forecast Error) MFE (Mean Forecast Error) sangat efektif untuk mengetahui apakah suatu hasil peramalan selama periode tertentu terlalu tinggi atau terlalu rendah. Bila hasil peramalan tidak bias, maka nilai MFE (Mean Forecast Error) akan mendekati nol. MFE (Mean Forecast Error) dihitung dengan menjumlahkan semua kesalahan peramalan selama periode peramalan dan membaginya dengan jumlah periode peramalan. Secara matematis, MFE (Mean Forecast Error) dinyatakan sebagai berikut : MFE = ∑ ( At − Ft ) n 4. Rata-Rata Persentase Kesalahan Mutlak MAPE (Mean Absolute Percentage Error) MAPE merupakan ukuran kesalahan relatif. MAPE (Mean Absolute Percentage Error) biasanya lebih berarti dibandingkan MAD (Mean Absolute Deviation) karena MAPE (Mean Absolute Percentage Error) menyatakan persentase kesalahan hasil peramalan terhadap permintaan aktual selama periode tertentu yang akan memberikan informasi persentase kesalahan terlalu tinggi atau terlalu rendah. Secara matematis, MAPE (Mean Absolute Percentage Error) dinyatakan sebagai berikut : F  100  MAPE =  ∑ At − t At  n  Dalam hal ini metode peramalan dianggap terbaik bila nilai MAPE (Mean Absolute Percentage Error) memiliki persentase terkecil. (Nasution, 2003). Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 51 2.5.6 Verifikasi Dan Pengendalian Peramalan Langkah penting setelah peramalan dibuat adalah melakukan verifikasi peramalan sedemikian rupa sehingga hasil peramalan tersebut benar-benar mencerminkan data masa lalu dan sistem sebab akibat yang mendasari permintaan tersebut. Sepanjang aktualitas peramalan tersebut dapat dipercaya, hasil peramalan akan terus digunakan. Jika selama proses verifikasi tersebut ditemukan keraguan validitas metode peramalan yang digunakan, harus dicari metode lainnya yang lebih cocok. Validitas tersebut harus ditentukan dengan uji statistika yang sesuai. Setelah peramalan dibuat, selalu timbul keraguan mengenai kapan kita harus membuat suatu metode peramalan baru. Peramalan harus selalu dibandingkan dengan permintaan aktual secara teratur. Banyak alat yang dapat digunakan untuk memverifikasi peramalan dan mendeteksi perubahan sistem sebab akibat yang melatar belakangi perubahan pola permintaan. Bentuk yang paling sederhana adalah peta kontrol peramalan yang mirip dengan peta kontrol kualitas. Peta kontrol peramalan ini dapat dibuat dengan dalam kondisi data yang tersedia minim. 2.5.7 MRC (Moving Range Chart) MRC (Moving Range Chart) dirancang untuk membandingkan nilai permintaan aktual dengan nilai peramalan. MRC (Moving Range Chart) tersebut akan dikembangkan sampai periode yang akan datang, sehingga Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. kita dapat 52 membandingkan data peramalan dengan permintaan aktual. Selama periode dasar MRC (Moving Range Chart) digunakan untuk melakukan verifikasi teknik dan parameter peramalan. Setelah metode peramalan ditetukan, maka MRC (Moving Range Chart) digunakan untuk menguji kestabilan sistem sebab akibat yang mempengaruhi permintaan. MR (Moving Range) dapat didefinisikan sebagai berikut :   ^ ^ MR =  y t − y t  −  y t −1 − y t −1      dimana : ^ yt = data permintaan atau penjualan rill periode t yt = data ramalan permintaan periode t ^ y t −1 = data permintaan periode t-1 y t −1 = data ramalan permintaan periode t-1 Adapun rata-rata MR (Moving Range) didefinisikan sebagai berikut : MR = ∑ MR n −1 Garis tengah peta Moving Range adalah pada titik nol. Batas kontrol atas dan bawah pada peta MR (Moving Range) adalah : Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 53 Batas Kontrol Atas = + 2,66 MR Batas Kontrol Bawah = -2,66 MR Dalam penentuan batas kontrol tersebut paling sedikit digunakan 10 dan atau lebih 20 nilai MR (Moving Range). Sementara itu, variabel yang akan diplotkan ke ^ dalam Peta Moving Range (MRC) adalah y t − y . 2.5.8 Uji Kondisi Diluar Kendali Uji yang paling tepat bagi kondisi diluar kendali adalah adanya titik diluar batas kendali. Teknik yang digunakan berikut ini dirancang agar dapat digunakan dengan jumlah data yang seminimal mungkin. Uji ini dilakukan dengan cara membagi peta kendali ke dalam enam bagian dengan selang yang sama. Daerah A = Bagian sebelah luar + 2/3 (2,66 MR ) = + 1,77 MR (diatas + 1,77 MR atau dibawah – 1,77 MR ) Daerah B = Bagian sebelah luar + 1/3 (2,66 MR ) = + 0,89 MR (diatas + 0,89 MR atau dibawah – 0,89 MR ) Daerah C = Bagian di atas atau dibawah garis tengah. Uji kondisi diluar kendali adalah : a. Dari tiga titik berturut-turut, ada dua atau lebih titik yang berada didaerah A. b. Dari lima titik berturut-turut, ada empat atau lebih titik yang berada didaerah B. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 54 c. Ada delapan titik berturut-turut, titik yang berada disalah satu sisi (diatas atau dibawah garis tengah). Moving Range Chart (MRC) untuk kondisi diluar kendali ini dapat dilihat dibawah ini : Gambar 2.8. MRC (Moving Range Chart) Untuk Kondisi Diluar Kendali “ Sumber : Nasution, 2003 ” Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 55 2.6. Penelitian Terdahulu 1. ANALISA PERENCANAAN WAKTU PRODUKSI DENGAN METODE RCCP DI CV. PRISKA SURABAYA Nama : SONNY FIDHO AGUSMINO (NPM : 9832010411) Skripsi Tahun : 2004 Hasil RCCP (Rough Cut Capacity Planning) Bulan Des’03 Jan’04 Feb’04 Mar’04 Apr’04 Mei’04 Jun’04 Jul’04 Ags’04 Sep’04 Okt’04 Nop’04 21,6 83,8 86,5 89,2 91,8 94,6 97,2 99,8 102,6 105,2 107,9 110,5 Pemotongan 22,7 87,8 90,6 93,5 96,2 99,1 101,8 104,6 107,4 110,2 113,1 115,8 Penjahitan 33,2 128,4 132,4 136,6 140,7 144,9 148,9 152,9 157,1 161,1 165,3 169,3 Pengeleman kap 31,3 121,4 125,2 129,2 132,9 136,9 140,7 144,5 148,5 152,3 156,2 160,1 27,2 105,4 108,7 112,2 115,5 118,9 122,2 125,5 129,1 132,3 135,7 139,1 Proses Menggambar Pola dan pemasangan sol Finishing Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 56 2. ANALISA PERENCANAAN MENGGUNAKAN METODE WAKTU RCCP UNTUK PRODUKSI MEMENUHI PERMINTAAN KONSUMEN PADA PT. TULUS TRI TUNGGAL SURABAYA Nama : TRI WAHYU SURYA WARDANA ( NPM : 9932010184 ) Skripsi Tahun : 2005 Hasil RCCP (Rough Cut Capacity Planning) Jan’05 Feb’05 Mar’05 Apr’05 Mei’05 Jun’05 Jul’05 Ags’05 Sep’05 Okt’05 Nop’05 Des’05 Marking 6,23 69,5 69,9 70,2 70,6 70,9 71,2 71,6 71,9 72,3 72,5 72,9 Cutting 11,3 127,2 127,8 128,5 129,1 129,6 130,3 130,9 131,5 132,2 132,7 133,3 Laminase 9,1 101,3 101,8 102,4 102,9 103,4 103,9 104,4 104,9 105,5 106,1 106,7 Moulding 8,3 93,4 93,9 94,3 94,8 95,2 95,4 96,5 96,9 97,5 98,1 98,6 Rakit P 12,3 138,1 138,8 139,5 140,2 141,4 142,2 144,9 145,6 145,8 146,2 146,9 Ratakan 5,6 62,6 62,9 63,2 63,5 63,8 64,3 64,8 65,4 65,8 66,5 66,9 Amplas 2,1 22,8 22,9 23,1 23,2 23,4 23,9 24,4 25,1 25,7 26,3 27,2 Packing 5,1 56,6 56,9 57,2 57,5 57,8 58,2 58,5 58,8 59,1 59,4 59,7 bulan Proses Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 57 3. ANALISIS PERENCANAAN WAKTU PRODUKSI KONSTRUKSI PABRIK MENGGUNAKAN MEMENUHI KONSUMEN METODE PADA PT. RCCP UNTUK OMETRACO ARYA SAMANTA SURABAYA Nama : WILANA SURYA WIRARAQWA (NPM : 9832010299) Skripsi Tahun : 2003 Hasil RCCP (Rough Cut Capacity Planning) Jul’02 Ags’02 Sep’02 Okt’02 Nop’02 Des’02 Jan’03 Feb’03 Mar’03 Apr’03 Mei’03 Jun’03 Marking 24,5 50,8 51,5 52,1 52,8 53,4 54,1 54,8 55,4 56,1 56,7 57,4 Cutting 13,5 28,1 28,4 28,8 29,1 29,5 29,8 30,3 30,6 30,9 31,3 31,7 Drilling 113,3 234,9 237,9 240,9 243,9 246,9 249,8 253,4 256,3 259,3 262,3 265,2 Fitting 72,2 149,8 151,6 153,5 155,4 157,3 159,2 161,5 163,4 165,3 167,2 169,1 Welding 132,9 275,7 279,2 282,7 286,1 289,6 293,1 297,3 300,7 304,2 307,7 311,2 Finishing 95,3 197,7 200,2 202,7 205,2 207,7 210,2 213,1 215,6 218,1 220,6 223,1 Painting 159,1 329,8 333,9 338,1 342,3 346,5 350,6 355,6 359,8 363,9 368,1 372,3 Bulan Proses Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian tugas akhir ini dilaksanakan di PT. Laser Jaya Sakti yang berlokasi di Gempol. Sedang penelitian ini dilakukan mulai bulan Maret 2010 sampai diperoleh data-data yang diperlukan tercukupi. 3.2 Identifikasi variabel Ditinjau dari segi penelitian, variabel dapat diartikan sebagai konsep yang mempunyai nilai. Adapun variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut : 1. Data Jumlah Tenaga Kerja dan Mesin Merupakan data jumlah tenaga kerja dan jumlah mesin yang di didapat dari perusahaan dengan Tanya jawab dan dokumen berbentuk data. 2. Data Jam Kerja dan Hari Kerja Data perincian waktu kerja ini adalah mengetahui jumlah jam kerja, jumlah shift, dan jam lembur karyawan atau pekerja pada setiap harinya. 3. Data Permintaan Produk Data permintaan yang diperoleh dari bulan Mei 2009 sampai September 2010 yang terbagi pada setiap total per bulannya. 4. Data Pengukuran Waktu Kerja Pengukuran waktu kerja dilakukan untuk mengetahui waktu proses yang berlangsung pada saat tertentu agar setiap stasiun kerja dapat diketahui berapa waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi tingkat produksi 58 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 59 selanjutnya. Pengukuran waktu ini menggunakan sebuah alat yaitu jam henti atau stop watch. 3.3. Metode Pengumpulan Data Dalam mengumpulkan data, ada beberapa cara yang digunakan dalam mendukung proses penelitian, yaitu : a. Studi Kepustakaan ( Library Research ) Metode ini dilakukan dengan jalan mempelajari ilmu da literature – literature yang berhubungan langsung dengan permasalahan. Sehingga kan diperoleh teori yang berhubungan langsung dengan penyelesaian masalah. b. Penelitian Lapangan ( Field Research ) Metode pengambilan data yang dilakukan dengan investigasi ke obyek penelitian. Data yang digunakan pada penelitian lapangan ini meliputi : 1. Data Primer Data primer adalah data yang berasal dari pengamatan langsung kesumber dan data dihitung langsung sesuai dengan kebutuhan. Teknik yang dipakai dalam pengumpulan pada penelitian ini adalah adalah observasi. Melalui teknik observasi ini penulis mengumpulkan data dengan melakukan pengamatan terhadap masing – masing operator pada stasiun kerja. 2. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari peneliti dengan melakukan pengumpulan data yang telah ada di perusahaan ( dokumen Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 60 perusahaan ) tanpa adanya perhitungan terlebih dahulu. Data atau informasi yang diperoleh yaitu data jumlah permintaan. Disamping itu, juga dibutuhkan data mengenai lingkungan kerja seperti temperature, kelembaban, cahaya, kebisingan, dan lain – lain. Hal ini digunakan untuk mendapatkan faktor kelonggaran, keterampilan, dan usaha tenaga kerja serta kondisi kerja digunakan faktor penyesuaian. 3.4. Metode Pengolahan dan Analisa Data Adapun metode yang digunakan untuk menganalisa data dalam penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut : 1. Metode Peramalan Dari data konsumen permintaan bulan Mei 2009 sampai dengan September 2010 yang cenderung naik maka metode yang dipakai dalam penelitian tugas akhir ini terdiri dari 3 metode yaitu : a. Metode Exponential Smoothing with linear trend b. Metode Double Exponential Smoothing with linear trend c. Metode Regresi Linier Untuk ketiga metode ini digunakan software WINQSB yang kemudian dipilih salah satu metode untuk metode yang terbaik dengan kesalahan kuadrat rata – rata ( MSE ) terkecil. 2. Metode RCCP ( Rought Cut Capacity Planning ) Perhitungan RCCP ( Rought Cut Capaciyi Planning ) diperlukan untuk waktu produksi yang mampu dihasilkan oleh setiap proses kerja produksi, Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 61 sehingga penyerahan produk jadi ke pemesan dapat ditentukan dengan tepat. Perhitungan RCCP ini menggunakan Bill of Labour. Dimana pada teknik perhitungan ini data yang diperlukan adalah : 1. MPS. MPS ( Master Production Schedule ) atau Jadwal Induk Produksi. Jumlah produksi pada periode tertentu yang sudah dalam analisa atau waktu yang diperlukan bagi keseluruhan pabrik dalam memproduksi 1 typical part. 2. Matrik – matrik yaitu : matrik waktu dan matrik produksi Matrik waktu,matrik waktu ini diperoleh dari perhitungan waktu baku dari setiap bagian proses kerja. Matrik produksi hasil dari analisa peramalan untuk jadwal produksi kedepan. 3. RCCP = ( matrik waktu ) x ( matrik produksi ) Adapun teknik perkalian dalam metode RCCP ini berdasarkan pendekatan Bill of Labour ( BOL ). Pada penilitian ini penulis memilih teknik RCCP dengan menggunakan Bill of Labour. Teknik ini merupakan teknik yang sangat sederhana dan aplikatif. Teknik ini dianggap sederhana karena metodenya sangat sederhana, dapat dengan mudah untuk memahaminya dan mudah pula diaplikasikan. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 62 3.5. Langkah – Langkah Pemecahan Masalah Dalam melaksanakan penelitian terdapat suatu permasalahan yang perlu dipecahkan. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut maka perlu disusun langkah-langkah penyelesaian masalah yang berguna sebagai acuan dalam melakukan penelitian, sehingga penelitian dapat berjalan secara sistimatis, tujuan tercapai, terstruktur dan terprogram dari awal sampai akhir dari penelitian tersebut. Adapun susunan kerangka dalam memecahkan permasalahan tersebut dapat dibentuk dalam sebuah flow chart berikut ini : Mulai Studi Literatur Perumusan Masalah Studi Pustaka Tujuan Penelitian Identifikasi Variabel Pengumpulan Data : - Data Jumlah Tenaga Kerja dan Mesin - Data Jam Kerja dan Hari Kerja - Data Permintaan Produk - Data Pengukuran Waktu Kerja Pengolahan Data A Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 63 A Pengukuran Waktu Kerja Mengumpulkan data permintaan Periode Mei 2009 –September 2010 Uji Keseragaman Data Membuat Plot Diagram Permintaan Tdk Apakah Data Seragam ? Buang Data Ekstrim Menetapkan Metode Peramalan Menghitung MSE masing-masing Peramalan (Win QSB) Ya Uji Kecukupan Data Tidak Apakah Data cukup ? Ya Perhitungan Waktu Siklus Sisa Data Memilih nilai MSE terkecil Uji verifikasi dengan menggunakan MRC Apakah Data terkontrol ? Tidak Ya B C Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. D 64 B D C Ya Faktor penyesuaian (Rating Performance) Faktor kelonggaran (Allowance) Perhitungan waktu normal Jadwal Induk Produksi (JIP) Perhitungan waktu produksi tersedia (WT) Perhitungan waktu baku Matrik Waktu Produksi Matrik Produksi Perencanaan Kapasitas Waktu Produksi Menggunakan RCCP Untuk Masing-masing Proses Perbandingan Kapasitas RCCP Dengan Kapasitas Waktu Tersedia (WT) Untuk Masing-masing Stasiun Kerja Analisa Hasil dan Pembahasan Kesimpulan dan Saran Selesai Gambar. 3.1. Flow Chart Pemecahan Masalah Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 65 Penjelasan dari langkah – langkah pemecahan masalah diatas adalah : 1. Mulai Merupakan langkah awal dari penelitia, meliputi kegiatan : a. Penetapan Topik Topik yang diambil berdasarkan permasalahan yang sangat berpengaruh pada perusahaan. b. Orientasi Perusahaan Orientasi perusahaan merupakan usaha dalam memenuhi kebutuhan konsumen tanpa terjadi keterlambatan dalam pengiriman produk. 2. Rumusan Masalah Perumusan permasalahan disusun berdasarkan uraian latar belakang dari masalah yang akan diteliti kemudian ditentukan metode yang tepat dalam penyelesaian masalah. Dalam penelitian ini, permasalahan yang diambil adalah bagaimana merencanakan kapasitas produksi sehingga dapat memenuhi permintaan konsumen. 3. Tujuan dan Manfaat Penelitian Setelah merumuskan masalah, selanjutnya menetapkan dan manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian, agar penelitian menuju pada sasaran yang tepat. Secara umum tujuan penelitian ini adalah melakukan identifikasi untuk memenuhi kapasitas produksi yang tersedia pada saat ini dan menetapakan waktu produksi yang optimal untuk memenuhi permintaan kosumen berdasarkan hasil peramalan permintaan konsumen. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 66 4. Studi Literatur dan Survey Perusahaan a. Studi Literatur Suatu kegiatan pengumpulan data yang diperoleh dari buku perpustakaan dan dari kumpulan materi-materi mata kuliah yang berhubungan dengan pokok bahasan. Dalam studi literatur ini dikumpulkan informasi yang terkait dengan permasalahan dari literatur-literatur yang mempunyai hubungan langsung dengan permasalahan yang ada dari studi kepustakaan ini akan diperoleh landasan metode-metode untuk melakukan pengolahan data dan literatur mengenai objek pengamatan serat acuan-acuan yang akan digunakan dalam penelitian. Dalam meyelesaikan permasalahan peneliti menggunakan metode Rought Cut Capacity Planning ( RCCP ). Studi literature ini telah diuraikan pada bab II. b. Survey Lapangan Survey perusahaan dilakukan untuk mengetahui faktor – faktor yang berpengaruh secara dominan dalam menyelesaikan permasalahan. Dengan mengetahui faktor – faktor tersebut, maka diharapkan penulis dapat menyelesaikan permasalahan yang muncul dalam perusahaan dalam suatu penelitian. 5. Identifikasi Variabel dan definisi Operasional Variabel Terikat Variabel terikat yaitu variabel yang mempengaruhi variabel bebas. Adapun variabel terikat yang mendukung dalam penelitian di PT. LASER JAYA SAKTI ini adalah Kapasitas Kasar Produksi. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 67 Variabel Bebas Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menyebabkan variabel terikat. Adapun variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari : a. Waktu Standart atau Waktu Baku. Adalah waktu yang dibutuhkan oleh semua pekerja untuk menyelesaikan suatu elemen pekerjaan. b. Jam Kerja Menganggur dan Jam Kerja Aktual. c. Utilisasi dan efisiensi kerja yang digunakan untuk menghitung kapasitas tersedia. d. Waktu Produksi Tersedia Adalah waktu produksi tersedia dalam perusahaan untuk semua bagian proses kerja dalam jam / bulan. e. Waktu Produksi yang Diperlukan Adalah waktu produksi yang diperlukan untuk memenuhi permintaan konsumen untuk periode berikutnya yang berdasarkan hasil peramalan berdasarkan BOL ( Bill of Labour ) dan waktu produksi ini merupakan hasil RCCP ( Rougt Cut Capacity Planning ). f. Kapasitas Produksi Adalah menentukan berapa jumlah bahan baku ( komponen ) yang harus diproduksi. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 68 6. Metode Pengumpulan Data Adapun pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri atas : 1. Studi kepustakaan 2. Penelitian lapangan ( Field Research ) Terdapat beberapa definisi dan pengukuran variabel dalam melakukan pengumpulan data yaitu : 1. Data Jumlah Tenaga Kerja dan Mesin Merupakan data perusahaan berisi tentang jumlah mesin dan tenaga kerja disetiap mesin produksi yang ada. 2. Data Jam Kerja dan Hari Kerja Data perincian waktu kerja ini adalah mengetahui jumlah jam kerja, jumlah shift, dan jam lembur karyawan atau pekerja pada setiap harinya. 3. Data Pengukuran Waktu Kerja Pengukuran waktu kerja dilakukan untuk mengetahui waktu proses yang berlangsung pada saat tertentu agar setiap stasiun kerja dapat diketahui berapa waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi tingkat produksi selanjutnya. Pengukuran waktu ini menggunakan sebuah alat yaitu jam henti atau stop watch. 4. Data Permintaan Produk Data permintaan yang diperoleh dari bulan Mei 2009 sampai September 2010 yang terbagi pada setiap total per bulannya. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 69 7. Uji Keseragaman Data Waktu Pengamatan Uji keseragaman data ini ditujukkan untuk menghindari adanya data – data yang ekstrim, yaitu data yang menyimpang jauh dari trend rata – rata. Kemungkinan adanya data yang ektrim, dikarenakan adanya kesalahan dari pengamatan pada saat membaca alat ukur, kesalahan pencatatan waktu kerja yang diukur dari elemen kerja, dan operator tidak pada kondisi wajar pada saat pengukuran waktu kerja dilakukan. Untuk menguji keseragaman data waktu kerja, dipakai peta kontrol. Dengan memakai peta kontrol, maka data – data yang dianggap ekstrim dibuang. Pada peta kontrol, data – data ekstrim akan terletak diatas BKA atau dibawah BKB. Kemudian data – data ekstrim ini dibuang dan tidak diikutsertakan dalam perhitungan selanjutnya. Adapun cara menentukan BKA dan BKB telah dijelaskan pada bab II. Adapun rumus dari Uji Keseragaman Data adalah sebagai berikut : b. Menghitung rata – rata dari rata – rata sub group. X ij = ∑X ij L c. Menghitung standart deviasi dari waktu pengamatan. σ = ∑ (X ij − X ij N −1 ) 2 d. Menghitung standart deviasi sebenarnya dari waktu pengamatan. σX = σ L Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 70 e. Menghitung derajat ketelitian tiap operator. S= σX x 100% X f. Menghitung tingkat keyakinan (confidence interval) CL = 100 % - S % g. Menghitung batas Kontrol : a. Batas Kontrol Atas (BKA) : BKA = X + kσ x b. Batas Kontrol Bawah (BKB) : BKB = X - kσ x 8. Uji Kecukupan Data dan Waktu Pengamatan Uji kecukupan data ini dilakukan untuk menentukan apakah data waktu pengamatan yang telah dilakukan sudah cukup untuk digunakan pada perhitungan selanjutnya. Untuk menentukan berapa jumlah pengamatan yang harus dilakukan berdasarkan tingkat kepercayaan dan derajat ketelitian yang ditetapkan, maka dilakukan dengan menggunakan persamaan 2.8 pada bab II. Apabila dalam perhitungan didapat N’ lebih besar dari pada jumlah data waktu pengamatan (N), maka tidak bisa pengamatan harus ditambah lagi sedemikian rupa sehingga data yang diperoleh bisa memberikan tingkat keyakinan dan tingkat ketelitian sesuai dengan yang diharapkan. Adapun rumus dari Uji Kecukupan Data adalah : k N N'=  S   (∑ Xij 2 ) − (∑ Xij ) ∑ Xij 2     2 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 71 9. Perhitungan Waktu Normal atau Waktu Baku Perhitungan waktu baku dan waktu standart digunakan untuk mengetahui berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dalam satu sistem kerja. Hasil perhitungan waktu standart ini digunakan untuk mengisi kolom matrik pada perhitungan kapasitas RCCP disetiap pusat stasiun kerja. Adapun rumus perhitungannya adalah : a. Menghitung waktu baku ( Wb ) : Wb = Wn x 100% 100% − (% )allowance b. Menghitung waktu normal (Wn) : Wn = Ws x p 10. Perhitungan Faktor Penyesuaian dan Kelonggaran Perhitungan faktor penyesuaian digunakan untuk menilai dan mengetahui kecepatan kerja operator dalam menyelesaikan pekerjaanya, sedangkan faktor kelonggaran digunakan untuk mengukur tingkat kelelahan, kebutuhan pribadi dan hambatan – hambatan yang tidak terhindarkan yang dilakukan oleh operator . Dalam perhitungannya kedua faktor ini menggunakan metode Westing House System’s Rating. Metode ini merupakan suatu sistem yang digunakan untuk memberikan rating performance yang umumnya diaplikasikan didalam aktifitas pengukuran kerja. 11. Perhitungan Waktu Produksi Tersedia Dalam perhitungan waktu produksi tersedia / Rated Production Time ini menggunakan rumus sebagai berikut : Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 72 RatedProduction Time = jumlah mesin x jam kerja x utilisasi x efisiensi mesin Jam kerja / bulan = jam kerja / hari x hari / minggu x minggu / bulan. Dimana untuk menghitung utilisasi dan efisiensi mesin adalah sebagai berikut : Utilisasi = Efisiensi = = Jam aktual yang digunakan untuk produksi Jam yang tersedia menurut produksi Jam standart yang diperoleh atau diproduksi Jam aktual yang digunakan untuk produksi 12. Peramalan Permintaan Produk Dalam penelitian ini data penjualan yang akan diolah dimulai dari bulan Mei 2009 sampai September 2010. Pemecahan masalah pada peramalan ini menggunakan metode single exponential smoothing, double exponential smoothing dan regresi linier. Setelah dilakukan pengolahan data dengan metode tersebut, maka selanjutnya dicari kuadrat rata – rata kesalahan terkecil (MSE) dari peramalan tersebut. Kemudian dipilih metode MSE terkecil dan membuat verifikasi MRC dari hasil peramalan penjualan dengan metode tersebut untuk 1 tahun mendatang ( bulan Mei 2009 sampai September 2010 ). 13. Jadwal Induk Produksi ( JIP ) Jadwal induk produksi diperoleh dari perhitungan hasil peramalan yang didasarkan atas permintaan. Hasil peramalan yang dipakai untuk membuat rencana produksi yang pada akhirnya dipakai untuk membuat jadwal induk produksi. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 73 14. Perhitungan RCCP ( Rought Cut Capacity Planning ) Perhitungan RCCP ( Rought Cut Capacity Planning ) diperlukan untuk waktu produksi yang mampu dihasilkan oleh setiap proses kerja produksi, sehingga penyerahan produk jadi ke pemesan dapat ditentukan dengan tepat Perhitungan RCCP ini menggunakan Bill of Labour. Berikut ini dapat dilihat alasan mengapa menggunakan pendekatan Bill of Labour : 1. Tekniknya sangat sederhana. 2. Mudah untuk memahami. 3. Mudah diaplikasikan. Dimana pada perhitungan ini data yang diperlukan yaitu : 1. MPS. 2. Matrik – matrik yaitu : matrik waktu dan matrik produksi 3. RCCP = ( matrik waktu ) x ( matrik produksi ) 15. Metode Analisa Data Dalam tahap analisa data dan pembahasan pada setiap tahap analisa ini, merupakan tahap yang paling penting dalam penelitian ini. Pada tahap ini, dari data konsumen permintaan pada bulan Mei 2009 sampai dengan bulan September 2010 yang cenderung naik maka metode yang dipakai oleh peneliti terdiri dari tiga metode peramalan yaitu : metode single exponential smoothing with linear trend, double exponential smoothing with linear trend dan regresi linear. Untuk ketiga metode tersebut diatas, penulis menggunakan Software WINQSB yang kemudian dipilih satu untuk metode terbaik dengan kuardrat rata – rata kesalahan terkecil ( MSE ). Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 74 16. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan dan saran merupakan ringkasan hasil akhir dari penelitian yang dilakukan. Pada kesimpulan akan diketahui mana yang harus diperbaiki dan mana yang sudah diperbaiki. Dari kesimpulan ini juga dapat ditambahkan saran – saran dari perusahaan yang akan berguna dalam peningkatan kualitas perusahaan dengan menerapkan RCCP. 17. Selesai Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 75 BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengumpulan Data Dalam penelitian ini saya menggunakan metode pengumpulan data dengan cara studi pustaka dan penelitian lapangan (Field Research) dimana data yang saya ambil meliputi , 4.1.1. Data Jumlah Tenaga Kerja dan Mesin Produksi Jumlah tenaga kerja dan jumlah mesin yang dibutuhkan pada setiap proses produksi di PT. LASER JAYA SAKTI adalah sebagai berikut , Tabel 4.1. Jumlah Tenaga kerja dan Jumlah Mesin Stasiun Kerja Proses 1 Sizzing dan Mesin Jumlah Tenaga Kerja Mesin Labelling 2 4 Labelling 2 Cutting Mesin Cutting Holzma 4 8 3 Bending Mesin Bending 2 3 4 Welding Mesin Weld 5 5 5 Polishing Mesin Polish 2 3 6 Packing Part Palletizer 2 3 75 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 76 Keterangan , 1. Proses Sizing/Labelling = 2 mesin • Mesin Labelling = 2 Orang • Pekerja Distribusi = 2 Oarang tenaga kerja ,4 orang 2. Proses Cutting = 4 mesin • tenaga kerja ,8 orang Mesin Cutting Holzma = 8 Orang 3. Proses Bending = 2 mesin • tenaga kerja ,3 orang Mesin Bending = 3 Orang 4. Proses Welding = 5 mesin • tenaga kerja ,5 orang Mesin Weld = 5 Orang 5. Proses Polishing = 2 mesin • tenaga kerja , 3 orang Mesin Polishing = 3 Orang 6. Proses Packing = 2 mesin • tenaga kerja , 4 Orang Part Palletizer = 4 Orang Total tenaga kerja = 27 orang Dengan ketentuan tenaga kerja dan jumlah mesin diatas setiap masing- masing shift di perusahaan masih dibutuhkan pekerja dan jumlah mesin yang sama karena tenaga kerja mempunyai ketrampilan rata-rata dan mampu mengerjakan setiap pekerjaan pada bagian proses yang ada. (Sumber , PT. Laser Jaya Sakti ) Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 77 4.1.2. Data Perincian Jam Kerja dan Hari Kerja Karyawan Jam kerja dan hari kerja pada PT. LASER JAYA SAKTI dimulai hari senin sampai sabtu dan jam kerja dibagi 2 (dua) shift yaitu , Tabel 4.2. Data Perincian Jam dan Hari Kerja Karyawan Jam Kerja Jam Istirahat Hari Shift I Shift II Shift I Shift II Senin s/d Kamis 08.00 – 16.00 16.00 – 24.00 12.00 – 13.00 19.00 – 20.00 Jum’at 08.00 – 16.00 16.00 – 24.00 11.30 – 13.00 19.00 – 20.00 Sabtu 07.30 – 15.30 15.30 – 23.30 11.30 – 12.30 18.00 – 19.00 (Sumber , PT. Laser Jaya Sakti) 4.1.3. Data Permintaan Produk Ducting (Mei 2009 – September 2010) Permintaan PT. LASER JAYA SAKTI dari bulan Mei 2009 – September 2010 cenderung naik-turun dalam tiap bulannya, adalah sebagai berikut, Tabel 4.3. Data Pemintaan PT. LASER JAYA SAKTI Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Tahun 2009 2009 2009 2009 2009 2009 2009 2009 2009 2009 2009 2009 2010 2010 2010 2010 2010 Bulan Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Permintaan (unit) 21580 22440 22120 22590 20050 22525 21560 23880 22650 25700 22770 23650 21650 24890 23100 26600 21270 (Sumber , PT. Laser Jaya Sakti) Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 78 4.2. Pengukuran Waktu Kerja Pengukuran waktu kerja ini dilakukan untuk mendapatkan berapa waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan suatu produk atau dengan kata lain untuk mengetahui berapa waktu standart dari proses pembuatan suatu produk yang berlangsung pada PT. LASER JAYA SAKTI. Pengukuran waktu kerja dilakukan dengan menggunakan metode jam henti (Stop Watch Time Study) dengan cara berulang-ulang. Alasan peneliti menggunakan jam henti dalam pengukuran kerja ini adalah karena proses kerja yang berlangsung mempunyai karakteristik , § Pekerjaan dapat dispesifikasikan dengan jelas § Pekerjaan yang berlangsung bersifat berulang-ulang § Menghasilakan output yang relatif sama Tabel 4.4. Tabel pengamatan waktu Proses Sizing/Labelling No. Sub Grup 1 2 3 4 Waktu Pengamatan (Menit) Ke 1 2 3 4 5 2.3 2.2 2.1 2.4 2.2 2.3 2.3 2.4 2.2 2.2 2.2 2.4 2.3 2.3 2.2 2.3 2.4 2.3 2.2 2.2 Tabel 4.5. Tabel pengamatan waktu Proses Cutting No. Sub Grup 1 2 3 4 Waktu Pengamatan (Menit) Ke 1 2 3 4 5 1.9 1.9 1.9 1.9 1.9 1.9 1.7 1.9 1.9 1.8 1.9 1.9 1.8 1.9 1.8 1.9 1.8 1.8 1.9 1.9 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 79 Tabel 4.6. Tabel pengamatan waktu Proses Bending No. Sub Grup 1 2 3 4 Waktu Pengamatan (Menit) Ke 1 2 3 4 5 0.7 0.6 0.6 0.7 0.6 0.7 0.6 0.7 0.7 0.7 0.6 0.6 0.7 0.7 0.7 0.6 0.7 0.7 0.6 0.6 Tabel 4.7. Tabel pengamatan waktu proses Welding No. Sub Grup 1 2 3 4 Waktu Pengamatan (Menit) Ke 1 2 3 4 5 3.3 3.5 3.4 3.3 3.4 3.5 3.4 3.1 3.4 3.4 3.4 3.3 3.2 3.4 3.4 3.3 3.4 3.1 3.3 3.2 Tabel 4.8. Tabel pengamatan waktu proses Polishing No. Sub Grup 1 2 3 4 Waktu Pengamatan (Menit) Ke 1 2 3 4 5 0.9 1.2 0.9 0.8 0.9 0.8 0.9 0.9 0.9 1.4 0.9 0.8 0.9 0.8 0.8 0.8 0.9 0.9 0.7 1.5 Tabel 4.9. Tabel pengamatan waktu proses Packing No. Sub Grup 1 2 3 4 Waktu Pengamatan (Menit) Ke 1 2 3 4 5 1.1 1.2 1.1 1.2 1.2 1.1 1.1 1.1 1.1 1.2 1.2 1.1 1.1 1.2 1.2 1.1 1.3 1.1 1.1 1.3 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 80 4.3. Faktor Penyesuaian dan Kelonggaran Pekerja Tiap Kegiatan Kerja Faktor penyesuaian ini berfungsi untuk menghilangkan ketidaknormalan dari hasil pengukuran kerja mengakibatkan karyawan atau operator yang bekerja secara tidak wajar. Sedangkan faktor kelonggaran adalah waktu yang dibutuhkan oleh seorang karyawan atau operator untuk keterlambatan yang tidak dapat dihindari pada saat melakukan pekerjaan. Faktor penyesuaian dan kelonggaran pekerja untuk tiap kegiatan kerja dapat dilihat pada tabel 4.10. berikut ini , Tabel 4.10. Faktor Penyesuaian dan Kelonggaran Tiap Kegiatan Kerja No Kegiatan Kerja 1 Sizing/Labelling 2 Cutting 3 Bending 4 Welding 5 Polishing 6 Packing Faktor Jumlah Penyesuaian 1.02 Kelonggaran 28.5% Penyesuaian 1.13 kelonggaran 31.5% Penyesuaian 1.11 Kelongaran 30% Penyesuaian 1.26 Kelonggaran 35% Penyesuaian 1.10 kelonggaran 31% Penyesuaian 1.10 kelonggaran 28% Agar lebih jelasnya, perhitungan faktor penyesuaian dan kelonggaran untuk masing-masing kegiatan kerja dapat dilihat pada lampiran III. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 81 4.4. Uji Keseragaman Data, Kecukupan Data dan Perhitungan Waktu Siklus, Waktu Normal dan Waktu Baku Dibawah ini merupakan perhitungan uji keseragaman data, kecukupan data dan perhitungan waktu siklus, waktu normal dan waktu baku untuk Proses Sizing /Labelling, sedangkan untuk perhitungan Proses Cutting, Proses Bending, Proses Welding, Proses Polishing dan Proses Packing dapat dilihat pada lampiran II. Tabel 4.11. Tabel Pengolahan Data Proses Sizing/Labelling No. Sub Grup 1 2 3 4 Waktu Pengamatan (Menit) Ke 1 2 2.3 2.2 2.1 2.4 3 2.2 2.2 2.3 2.2 2.3 2.2 2.4 2.4 Jumlah 4 5 2.3 2.3 2.2 2.3 2.4 2.3 2.2 2.2 Rata-rata Sub Grup Χ ij ( ) Jumlah Sub Grup (∑ X ij ) 2.28 2.26 2.2 2.34 9.08 11.4 11.3 11 11.7 45.4 a. Harga Rata-rata dari rata-rata sub grup X ij = ∑X ij L = 9.08 = 2.27 4 b. Harga Standart Deviasi 2 δ = = ( X ij − X ij ) N −1 (2.3 − 2.27) 2 + ..... + (2.2 − 2.27) 2 = 0.0864 20 − 1 c. Harga Standart Deviasi Rata-rata δx= δ L = 0.0864 4 = 0.0432 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Jumlah Kuadrat 2 ∑ X ij ( ) 26.02 25.55 24.22 27.41 103.2 82 d. Tingkat Ketelitian S= σx × 100% = X 0.0432 × 100% = 1.904% 2.27 e. Tingkat Kepercayaan / Tingkat Keyakinan CL = 100% − S = 100% − 1.904% = 98.09% f. Uji Keseragaman Data CL = 0.9809 maka k didapat dari Tabel Appendix bila tidak ada pakai interpolasi. X1 0.9808 k = 2.07 y1 X 0.9809 k=? y X2 0.9812 k = 2.08 y2 x − x1 y − y1 = x 2 − x1 y 2 − y1 y − 2.07 0.9809 − 0.9808 = 0.9812 − 0.9808 2.08 − 2.07 y = k = 2.072 UCL = X + k δ x = 2.27 + (2.072) (0.0432) = 2.35 CL = X = 2.27 LCL = X − k δ x = 2.27 - (2.072) (0.0432) = 2.18 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 83 Gambar 4.1. Grafik Uji Keseragaman Data Proses Sizing/Labelling Dari gambar garafik diatas dapat disimpulkan bahwa rata-rata sub group berada dalam garis UCL dan LCL maka data diatas dikatakan seragam. g. Uji Kecukupan Data k N (∑ Xij 2 ) − (∑ Xij ) 2 s  N'=  ∑ Xij      2  2.072  0.0190 20(103.2) − (45.4) 2 = 45.4   2    = 16.321 ≈ 16 pengamatan.   Karena 16 ≤ 20 atau N’ ≤ N maka data sudah cukup sehingga tidak diperlukan pengukuran lagi. h. Waktu Siklus (Ws) WS = ∑X N i 9.08 = 2.27 4 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 84 i. Waktu Normal (Wn) = Ws × P Wn = 2.27 × 1.02 = 2.315 menit j. Waktu Baku (Wb) Wb = Wnx 100% 100% − Allowance = 2.315 x 100% = 3.328 menit/unit 100% − 28.5% = 0.0539 jam/unit Dari hasil perhitungan diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut , • Uji Keseragaman Data Untuk mengetahui apakah data yang diamati telah seragam perlu adanya uji keseragaman data dapat diketahui data tersebut telah seragam atau tidak, dengan kata lain data pengamatan tidak memenuhi batas kontrol. Tabel 4.12. Hasil Uji Keseragaman Data No Proses N UCL CL LCL Tes Data 1 Sizing/ Labelling 20 2.359 2.27 2.180 Seragam 2 Cutting 20 1.928 1.865 1.801 Seragam 3 Bending 20 0.70 0.655 0.610 Seragam 4 Welding 20 3.455 3.335 3.214 Seragam 5 Polishing 20 1.054 0.93 0.805 Seragam 6 Packing 20 1.219 1.155 1.090 Seragam Untuk mengetahui lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran II. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 85 • Uji Kecukupan Data Untuk mengetahui apakah jumlah data yang telah diamati sudah cukup, maka perlu adanya uji kecukupan data sehingga dapat diketahui data tersebut telah cukup. Dimana syarat memenuhi adalah N’ < N. Tabel 4.13. Hasil Uji Kecukupan Data No Proses N ∑ Xij ∑ Xij N’ Tes Data 1 Sizing/Labelling 20 103.2 45.40 16 Cukup 2 Cutting 20 69.63 37.30 18 Cukup 3 Bending 20 8.63 13.10 12 Cukup 4 Welding 20 222.69 66.70 17 Cukup 5 Polishing 20 18.08 18.60 6 Cukup 6 Packing 20 26.77 23.1 14 Cukup 2 Untuk perhitungan lebih jelasnya dapat dilihat lampiran II • Waktu Siklus, Waktu Normal dan Waktu Baku Waktu normal adalah yang menunjukkan bahwa seorang operator yang berkualitas baik akan menyelesaikan pekerjaan pada kecepatan atau tempo kerja yang normal. Sedangkan waktu baku merupakan waktu dari seluruh elemen kerja ditambah dengan allowance yang dibutuhkan oleh tenaga kerja. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 86 Tabel 4.14. Perhitungan Waktu Normal, Waktu Siklus dan Waktu Baku No Proses Waktu Siklus Waktu Normal Waktu Baku (WS ) (WN ) (WB ) Menit / Unit Menit / Unit Menit / Unit 2.27 2.315 3.23 1.865 2.107 3.076 0.655 0.720 1.029 3.335 4.202 6.464 0.93 1.032 1.496 1.155 1.270 1.764 Sizing 1 /Labelling 2 Cutting 3 Bending 4 Welding 5 Polishing 6 Packing 4.5. Peramalan Permintaan Tahun 2010-2011 Peramalan adalah proses untuk memperkirakan kebutuhan dimasa datang dalam periode waktu dengan melihat tingkat permintaan konsumen atas suatu produk. Peramalan dilakukan untuk masa mendatang melalui pengujian keadaan masa di masa lalu yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi yang dibutuhkan dalam memenuhi permintaan barang ataupun jasa. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 87 4.5.1. Membuat Plot Diagram Permintaan Dari data permintaan produk Ducting pada tabel 4.3. dapat digambarkan dalam suatu plot diagram dengan adanya permintaan sebagai berikut, Gambar 4.2. Plot Diagram Permintaan PT. LASER JAYA SAKTI 30000 Jumlah Permintaan 25000 20000 15000 10000 5000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Periode 4.5.2. Penetapan Metode Peramalan. Dilihat dari plot diagram permintaan produk pada gambar 4.2. Yang berpola musiman (Seasonal). Sehingga untuk pengolahan data permintaan Mei 2010 s/d September 2010, menggunakan 3 metode peramalan, yaitu , metode single exponential smoothing (SES), double exponential smoothing (DES) dan simple average (SA). 4.5.3. Menghitung Masing – masing Kesalahan Peramalan Peramalan ditujukan untuk memprediksi permintaan yang akan datang. Dari hasil perhitungan peramalan dengan menggunakan program Win QSB (dapat dilihat pada lampiran IV), maka dihasilkan nilai kesalahan peramalan yang diperoleh dari permintaan tahun lalu, seperti pada tabel 4.15. dibawah ini: Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 88 Tabel 4.15. Nilai Kesalahan Peramalan Dari Berbagai Metode Peramalan No. Metode MAD MSE MAPE (%) 1 Simple Average (SA) 1346 3064627 5,692282 2 Single Exponential Smoothing (SES) 1356 3013194 5,784267 3 Double Exponential Smoothing (DES) 1327 2879670 5,679389 4.5.4. Memilih Metode Dengan Nilai Kesalahan Peramalan Terkecil Dari tabel 4.15. diatas maka dapat disimpulkan bahwa metode yang memiliki kesalahan peramalan terkecil adalah metode Double Exponential Smoothing nilai Alfha (0.4) dengan nilai kesalahan MAD = 1327, MSE = 2879670, MAPE (%) = 5,679389% 4.5.5. Uji Verivikasi Data Dengan MRC (Moving Range Chart) Setelah didapat fungsi peramalan dengan kesalahan peramalan tekecil, kemudian perlu diadakan verifikasi apakah fungsi tersebut dapat diterapkan atau tidak, maka alat yang dipakai adalah MRC (Moving Range Chart). Cara membuat MRC adalah sebagai berikut , MR = (ŷt- yt) – (ŷt-1t – yt-1) Dimana , MR = Moving Range ŷt = Data hasil Peramalan hasil tertentu yt = Data peramalan periode tertentu ŷt-1 = Data hasil peramalan 1 periode sebelumnya yt-1 = Data permintaan 1 periode tertentu Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 89 Adapun rata-rata moving range didefinisikan sebagai , Dimana , MR = Rata-rata moving range n = jumlah periode Garis tengah peta moving range adalah pada titik. batas kontrol atas dan bawah Pada peta moving range adalah , UCL = +2,66.MR LCL = -2,66.MR Sementara itu, variable yang akan diplot ke dalam peta moving range , ∆yt = ŷt – y Untuk uji yang paling tepat bagi kondisi diluar kendali adalah dengan cara Membagi peta kendali ke dalam 6 bagian dengan selang yang sama. Yaitu daerah A adalah daerah diluar ± 2/3 (2,66 . MR) = ± 1,77 . MR (diatas +1,77 MR dan dibawah –1,77 MR). Daerah B adalah daerah diluar ± 0,89 . MR (diatas +0.89 MR dan dibawah – 0,89 MR). Dibawah ini adalah tabel perhitungan MRC. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 90 Tabel 4.16. Perhitungan Moving Range Bulan Periode (t) Peramalan Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 September 2010 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 21580 21718 21832 21994 21741 21776 21754 22086 22296 22916 23116 23273 23070 23288 23338 23876 Permintaan 21580 22440 22120 22590 20050 22525 21560 23880 22650 25700 22770 23650 21650 24890 23100 26600 21270 Error Moving Range (MR) -860 -402 -758 1944 -784 216 -2126 -354 -2784 346 -377 1420 -1602 238 -2724 2606 860 458 356 2702 2728 1000 2324 1772 2430 3130 724 4051 3022 1840 2962 5330 ∑ MR 35706 Perhitungan , MR = = ∑ MR n −1 35706 16 = 2232 BKA = 2.66.MR BKB = −2.66.MR = 2.66 . 2232 = –2.66 . 2232 = 5936 = – 5936 Daerah A = ± 1.77 . MR Daerah B = ± 0.89 . MR = ± 1.77 . 2232 =±0.89.2232 = ± 3950 = ± 1986 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 91 Gambar 4.3. Peta Kendali Moving Range Dari gambar grafik diatas dapat disimpulkan bahwa perhitungan moving range untuk menggunakan metode Double Eksponential Smoothing dengan alfa 0.4 layak dipakai untuk peramalan karena, data error berada pada batas kontrol atas dan batas kontrol bawah. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 92 4.5.6. Hasil Peramalan Dengan Metode Yang Dipilih Hasil peramalan metode Double Exponential Smoothing dengan menggunakan program Win QSB, seperti pada tabel 4.17. sebagai berikut , Tabel 4.17. Data Hasil Peramalan Permintaan Produk Periode Tahun Bulan 1 2010 Oktober Permintaan (Unit) 23.654 2 2010 November 23.654 3 2010 Desember 23.654 4 2011 Januari 23.654 5 2011 Februari 23.654 6 2011 Maret 23.654 7 2011 April 23.654 Total 165.578 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran IV 4.6. Jadwal Induk Produksi (JIP) Jadwal Induk Produksi merupakan suatu rencana produksi yang menggambarkan hubungan antara kuantitas tiap jenis produk pada suatu periode tertentu. Dengan rincian sebagai berikut , • Kebutuhan kotor diambil dari hasil peramalan permintaan Oktober 2010 – April 2011 • POH* (Project On Hand) yaitu Persediaan yang dimiliki • POH awal sebesar 23876 produk. Didapat dari hasil produksi akhir pada bulan September yaitu sebesar 21270 unit dikurangi dengan banyak Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 93 permintaan sebesar unit. Sehingga persediaan yang dimiliki hanya 1156 unit • Kebutuhan bersih diperoleh dari kebutuhan kotor dikurangi POH Dan dapat dilihat pada tabel 4.18. dibawah ini , Tabel 4.18. Jadwal Induk Produksi Produk 4.7. Okt 2010 Nov 2010 Des 2010 Jan 2011 Feb 2011 Mar 2011 Apr 2011 Keb. Kotor 23654 23654 23654 23654 23654 23654 23654 POH* 2606 0 0 0 0 0 0 Keb. Bersih 21048 23654 23654 23654 23654 23654 23654 Matrik Produksi Matrik produksi permintaan didapat dari hasil kebutuhan bersih pada Jadwal Induk Produksi. Dapat dilihat pada tabel 4.19. dibawah ini , Tabel 4.19. Matrik Produksi Tahun 2010 Bulan Produk Genteng keramik Type Natural Okt Nov Des Jan Feb Mart Apr 21048 23654 23654 23654 23654 23654 23654 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 94 4.8. Matrik Waktu Baku Matrik waktu baku didapat dari hasil waktu baku tiap stasiun kerja. Dapat dilihat pada tabel 4.20. dibawah ini , Tabel 4.20. Matrik Waktu Baku Produk Ducting Waktu Baku (Jam) / Unit Ducting Proses 4.9. Sizing/Labelling 0.0539 Cutting 0.0512 Bending 0.0171 Welding 0.1077 Polishing 0.0249 Packing 0.0294 Rought Cut Capacity Planning (RCCP) Rought Cut Capacity Planning merupakan hasil perkalian antara matrik waktu produksi permintaan ( tabel 4.19. ) yang merupakan hasil dari jadwal induk produksi dengan matrik waktu baku ( tabel 4.20. ) yang merupakan hasil dari waktu baku tiap-tiap stasiun kerja. Perhitungan RCCP ini menggunakan pendekatan Bill Of Labor karena metodenya sangat sederhana, mudah dipahami, dan mudah diaplikasikan. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 95 4.9.1. Perhitungan RCCP Pada Proses Sizing/Labelling RCCP = (Matrik Produksi) x (Matrik Waktu Baku) Periode Oktober 2010 = 0.0539 jam/unit x 21048 unit = 1134,29 jam/bulan Periode November 2010 = 0.0539 jam/unit x 23654 unit = 1274,57 jam/bulan Periode Desember 2010 = 0.0539 jam/unit x 23654 unit = 1274,57 jam/bulan Periode Januari 2010 = 0.0539 jam/unit x 23654 unit = 1274,57 jam/bulan Periode Pebruari 2010 = 0.0539 jam/unit x 23654 unit = 1274,57 jam/bulan Periode Maret 2010 = 0.0539 jam/unit x 23654 unit = 1274,57 jam/bulan Periode April 2010 = 0.0539 jam/unit x 23654 unit = 1274,57 jam/bulan Untuk perhitungan RCCP pada proses Cutting, Bending, Welding, Polishing, dan Packing terdapat pada lampiran V. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 96 Tabel 4.21. Hasil RCCP Dalam Satuan Jam Bulan Proses Sizing/Labelling Cutting Bending Welding Polishing Packing Okt 1134,29’ Nov Des Jan Feb 1274,57’ 1274,57’ 1274,57’ 1274,57’ Mart Apr 1274,57’ 1274,57’ 1077,39’ 1211,05’ 1211,05’ 1211,05’ 1211,05’ 1211,05’ 1211,05’ 359,55’ 404,29’ 404,29’ 404,29’ 404,29’ 404,29’ 2267,57’ 2547,32’ 2547,32’ 2547,32’ 2547,32’ 2547,32’ 2547,32’ 524,06’ 588,59’ 588,59’ 588,59’ 588,59’ 588,59’ 588,59’ 618,49’ 695,26’ 695,26’ 695,26’ 695,26’ 695,26’ 695,26’ 404,29’ 4.10. Waktu Produksi Tersedia (Rated Production Time) Waktu produksi tersedia digunakan untuk perbandingan antara waktu produksi yang diperlukan dengan waktu produksi yang ada diperusahaan dalam satu bulan. Dibawah ini merupakan perhitungan waktu produksi tersedia adalah sebagai berikut , 4.10.1. Proses Sizing/Labelling Proses awal, proses Sizing/Labelling pada Flat BJLS (Baja Lapis Seng) dengan bentuk dan model yang telah ditentukan pada mesin. Pada proses sizing/labelling ini, mesin berhenti setiap 420 menit bekerja (7 jam) selama 15 menit (0.25 jam). Karena dilakukan set-up tambahan agar tidak memiliki varians yang besar pada bentuk dan model ducting. • • • Untuk kelonggaran / Allowance proses diperoleh 28.5% = 0.285  ∑ allowance      0.285 n = Jam terbuang =  = 0.00475 jam 60 60 Jam kerja aktual = Jam kerja efektif – jam terbuang = 16 jam – 0.00475 jam = 6.9952 jam Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 97 Jam aktual yang digunakan untuk produksi • Utilisasi = • Jam standart yang diperoleh mesin Jam yang tersedia menurut jadwal = 6.9952 = 0.999 jam 7   Jam _ Aktual = Jam _ Aktual −  xWaktu _ Setup    Selang _ Waktu _ Setup + Waktu _ Setup   6.9952 = 6.9952 −  x0.25  = 6.754 jam   7 + 0.25 • Efisiensi = Jam standart yang diperoleh atau diproduksi Jam aktual yang digunakan untuk produksi • • 6.7540 = 0.97 jam 6.9952 Jam Kerja /bulan = Jam/hari x hari/bulan = = 16 x 26 = 416 jam/bulan • Waktu Produksi Tersedia (WT) = Jumlah mesin x Jam/bulan x Utilisasi x Efisiensi = 2 unit x 416 jam/bulan x 0.99 jam x 0.97 jam = 798,58 jam/bulan Untuk perhitungan waktu produksi tersedia pada proses Cutting, Bending, Welding, Polishing, dan Packing terdapat pada lampiran VI. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 98 Tabel 4.22. Tabel Perbandingan Kapasitas Waktu Produksi RCCP Dengan Kapasitas Waktu Produksi Tersedia No. Proses 1 Sizing/Labelling 2 Cutting 3 Bending 4 Welding 5 Polishing 6 Packing Uraian ( Jam/Bulan ) Okt Nov Des Kapasitas Waktu Produksi RCCP Kapasitas Waktu Produksi Tersedia Keterangan Kapasitas Waktu Produksi RCCP Kapasitas Waktu Produksi Tersedia Keterangan Kapasitas Waktu Produksi RCCP Kapasitas Waktu Produksi Tersedia Keterangan Kapasitas Waktu Produksi RCCP Kapasitas Waktu Produksi Tersedia Keterangan Kapasitas Waktu Produksi RCCP Kapasitas Waktu Produksi Tersedia Keterangan Kapasitas Waktu Produksi RCCP Kapasitas Waktu Produksi Tersedia Keterangan 1134,29’ 798,58’ 335,71’ 1077,39’ 1556,45’ Cukup 359,55’ 801,26’ Cukup 2267,57’ 1976,50’ 291,07’ 524,06’ 821,12’ Cukup 618,49’ 790,44’ Cukup 1274,57’ 798,58’ 475,99’ 1211,05’ 1556,45’ Cukup 404,29’ 801,26’ Cukup 2547,32’ 1976,50’ 570,82’ 588,59’ 821,12’ Cukup 695,26’ 790,44’ Cukup 1274,57’ 798,58’ 475,99’ 1211,05’ 1556,45’ Cukup 404,29’ 801,26’ Cukup 2547,32’ 1976,50’ 570,82’ 588,59’ 821,12’ Cukup 695,26’ 790,44’ Cukup Bulan KeJan 1274,57’ 798,58’ 475,99’ 1211,05’ 1556,45’ Cukup 404,29’ 801,26’ Cukup 2547,32’ 1976,50’ 570,82’ 588,59’ 821,12’ Cukup 695,26’ 790,44’ Cukup Feb Mart Apr 1274,57’ 798,58’ 475,99’ 1211,05’ 1556,45’ Cukup 404,29’ 801,26’ Cukup 2547,32’ 1976,50’ 570,82’ 588,59’ 821,12’ Cukup 695,26’ 790,44’ Cukup 1274,57’ 798,58’ 475,99’ 1211,05’ 1556,45’ Cukup 404,29’ 801,26’ Cukup 2547,32’ 1976,50’ 570,82’ 588,59’ 821,12’ Cukup 695,26’ 790,44’ Cukup 1274,57’ 798,58’ 475,99’ 1211,05’ 1556,45’ Cukup 404,29’ 801,26’ Cukup 2547,32’ 1976,50’ 570,82’ 588,59’ 821,12’ Cukup 695,26’ 790,44’ Cukup Berdasarkan tabel 4.22 yang menunjukkan nilai RCCP lebih besar dari Waktu Tersedia (WT), maka perlu diadakan jam lembur seperti terlihat pada tabel 4.23 di bawah ini , Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 99 Tabel 4.23. Kapasitas Produksi Pada Stasiun Kerja Yang Mengalami Jam lembur No. Proses Bulan Ke- Uraian Okt 1 Sizing/Labelling Kapasitas Tersedia Jam Lembur 2 Welding 798,58’ 335,71’ Nov Des Jan Feb Maret April 798,58’ 798,58’ 798,58’ 798,58’ 798,58’ 798,58’ 475,99’ 475,99’ 475,99’ 475,99’ 475,99’ 475,99’ Kapasitas Tersedia 1976,50’ 1976,50’ 1976,50’ 1976,50’ 1976,50’ 1976,50’ 1976,50’ Jam Lembur 291,07’ 570,82’ 570,82’ 570,82’ 570,82’ 570,82’ 570,82’ Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 100 4.11. Hasil dan Pembahasan 4.11.1. Peramalan Sesuai dengan pola data yang ada, maka digunakan 3 metode peramalan yaitu metode Single Exponensial Smoothing, Double Exponensial Smoothing, dan Simple Average. Dengan menggunakan ketiga metode ini, hasil yang didapat menunjukkan bahwa metode Double Exponensial Smoothing adalah metode yang paling baik diantara kedua metode lainnya, karena nilai kesalahan peramalannya terkecil yaitu dengan MAD = 1327, MSE =2879670, MAPE (%) = 5,679389%. Berdasarkan hasil dari pengolahan data menggunakan Double Exponensial Smoothing, maka diperoleh hasil peramalan permintaan untuk 7 periode mendatang yaitu dari bulan Oktober 2010 sampai dengan April 2011. Hasil peramalan yang didapat adalah sebagai berikut (dalam unit/bulan) , 23654 unit, 23.654 unit, 23.654 unit, 23.654 unit, 23.654 unit, 23.654 unit, dan 23.654 unit dengan total 165.578 unit Ducting. 4.11.2. Perencanaan Waktu Produksi Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan dengan menggunakan metode Rought Cut Capacity planning (RCCP), maka dapat diketahui rencana kapasitas produksi dari masing-masing stasiun kerja pada PT. LASER JAYA SAKTI adalah dengan perincian sebagai berikut , 1. Stasiun kerja 1 (Sizing/Labelling) selalu meningkat terus menerus dari bulan Oktober 2010 sebesar 1134,29 jam/bulan sampai bulan April 2011 sebesar 1274,57 jam/bulan. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 2. Stasiun kerja 2 (Cutting) selalu meningkat terus menerus dari bulan Oktober 2010 sebesar 1077,39 jam/bulan sampai bulan April 2011 sebesar 1211,05 jam/bulan. 3. Stasiun kerja 3 (Bending) selalu meningkat terus menerus dari bulan Oltober 2010 sebesar 359,55 jam/bulan sampai bulan April 2011 sebesar 404,29 jam/bulan. 4. Stasiun kerja 4 (Welding) selalu meningkat terus menerus dari bulan Oktober 2010 sebesar 2267,52 jam/bulan sampai bulan April 2011 sebesar 2547,32 jam/bulan. 5. Stasiun kerja 5 (Polishing) selalu meningkat terus menerus dari bulan Oktober 2010 sebesar 524,06 jam/bulan sampai bulan April 2011 sebesar 588,59 jam/bulan. 6. Stasiun kerja 6 (Packing) selalu meningkat terus menerus dari bulan Oktober 2010 sebesar 618,49 jam/bulan sampai bulan April 2011 sebesar 695,26 jam/bulan. Dan dari hasil perhitungan juga dapat diketahui waktu produksi tersedia yang dimulai dari proses Sizing/Labelling, Cutting, Bending, Welding, Polishing, dan Packing. Sehingga didapat perincian sebagai berikut , 1. Proses Sizing/Labelling sebesar 789,58 jam/bulan 2. Proses Cutting sebesar 1556,45 jam/bulan 3. Proses Bending sebesar 801,26 jam/bulan 4. Proses Welding sebesar 1976,50 jam/bulan 5. Proses Poloshing sebesar 821,12 jam/bulan 6. Proses Packing sebesar 790,44 jam/bulan Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Dari perbandingan kebutuhan kapasitas dengan kapasitas waktu tersedia diketahui bahwa pada stasiun kerja proses Bending dan Polishing sudah memenuhi kebutuhan kapasitas produksi di karenakan waktu yang tersedia lebih besar dari kebutuhan kapasitas. Untuk stasiun kerja proses Sizing/labeling dan Welding belum memenuhi kapasitas produksi sehingga perlu di adakan penambahan jam lembur dengan rincian sebagai berikut , 1. Proses Sizing/Labelling Untuk Bulan Oktober 2010 sampai dengan Bulan April 2011 berturut-turut adalah 335,71 jam, 475,99 jam, 475,99 jam, 475,99 jam, 475,99 jam, 475,99 jam, dan 475,99 jam. 2. Proses Welding Untuk Bulan Oktober 2010 sampai dengan Bulan April 2011 berturut-turut adalah 291,07 jam, 570,82 jam, 570,82 jam, 570,82 jam, 570,82 jam, 570,82 jam dan 570,82 jam. Dengan adanya penambahan jam kerja tersebut diharapkan perusahaan bisa memenuhi permintaan konsumen. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Setelah dilakukan perhitungan dan analisa tentang perencanaan kapasitas produksi ( RCCP ) yang diperlukan untuk memenuhi permintaan konsumen maka dapat disimpulkan bahwa , 1. Kapasitas waktu produksi tersedia di tiap–tiap stasiun kerja di PT. LASER JAYA SAKTI ; • Proses Sizing/Labelling sebesar 789,58 jam/bulan. • Proses Cutting sebesar 1556,45 jam/bulan. • Proses Bending sebesar 801,26 jam/bulan. • Proses Welding sebesar 1976,50 jam/bulan. • Proses Polishing sebesar 821,12 jam/bulan. • Proses Packing sebesar 790,44 jam/bulan. 2. Dari hasil peramalan PT.LASER JAYA SAKTI mempunyai jumlah permintaan pada bulan Oktober 2010 sampai dengan April 2011 berturut-turut sebagai berikut; 21.048 unit, 23.654 unit, 23.654 unit, 23.654 unit, 23.654 unit, 23.654 unit, dan 23.654 unit. 3. Dari lima stasiun kerja terdapat dua stasiun kerja yang belum memenuhi kapasitas produksi sehingga perlu penambahan jam kerja (lembur) pada setiap bulannya yaitu pada stasiun kerja proses Sizing/Labelling dengan penambahan jam lembur untuk bulan Oktober 2010 sampai dengan April 2011 berturutturut sebesar 335,71 jam, 475,99 jam, 475,99 jam, 475,99 jam, 475,99 jam, 103 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 104 475,99 jam, dan 475,99 jam dan proses Welding perlu diadakan penambahan Sift kerja untuk bulan Oktober 2010 sampai dengan April 2011 berturut-turut sebesar 291,07 jam, 570,82 jam, 570,82 jam, 570,82 jam, 570,82 jam, 570,82 jam dan 570,82 jam. 5.2. Saran Untuk lebih menunjang keberhasilan perusahaan dalam melaksanakan rencana produksi, maka saran-saran yang mungkin dapat berguna bagi perusahaan atau pemimpin perusahaan untuk masa yang mendatang adalah , 1. Untuk menyelesaikan permasalahan kapasitas waktu produksi yang ada di dalam perusahaan Sebaiknya perusahaan memakai metode (RCCP) Rought Cut Capacity Planning agar dapat memenuhi permintaan konsumen 2. Dengan adanya penambahan waktu lembur pada stasiun kerja yang belum memenuhi waktu kapasitas produksi yaitu stasiun kerja proses Sizing/Labelling dan proses Welding, maka PT. Laser Jaya Sakti diharapkan bisa memenuhi permintaan konsumen mendatang. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Informasi dokumen
ANALISIS PERENCANAAN WAKTU KAPASITAS PRODUKSI MENGGUNAKAN METODE RCCP (ROUGHT CUT CAPACITY PLANNING) DI PT. LASER JAYA SAKTI GEMPOL - PASURUAN. . Latar Belakang Masalah PENDAHULUAN . Perumusan Masalah . Batasan Masalah Asumsi Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Penghantar Udara Ducting TINJAUAN PUSTAKA Jenis-jenis Perencanaan Produksi Perencanaan Produksi Faktor-faktor yang perlu Dipertimbangkan dalam Perencanaan Produksi Pengukuran Waktu Kerja Dengan Jam Henti Stop Wacth Melakukan Pengukuran Waktu Pengukuran Kerja Perhitungan Waktu Baku Faktor penyesuaian Rating Performance Tenaga yang dikeluarkan Ekuivalen Sikap kerja Gerakan kerja Kelelahan mata Pencahayaan Keadaan temperatur tempat kerja Perencanaan Kapasitas Kasar TINJAUAN PUSTAKA Meramal Horison Waktu Macam-macam Peramalan Metode-Metode Peramalan yang Digunakan Dalam Time Series Ukuran Akurasi Hasil Peramalan Verifikasi Dan Pengendalian Peramalan MRC Moving Range Chart Pola Data Horizontal Stationary, terjadi bilamana nilai-nilai dari data Pola Data Musiman Pola Data Siklus Cyclical, terjadi bilamana data observasi dipengaruhi Penelitian Terdahulu Tempat dan Waktu Penelitian Identifikasi variabel Metode Pengumpulan Data Metode Pengolahan dan Analisa Data Langkah – Langkah Pemecahan Masalah Data Jumlah Tenaga Kerja dan Mesin Produksi Data Perincian Jam Kerja dan Hari Kerja Karyawan Pengukuran Waktu Kerja ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor Penyesuaian dan Kelonggaran Pekerja Tiap Kegiatan Kerja Harga Rata-rata dari rata-rata sub grup Harga Standart Deviasi Harga Standart Deviasi Rata-rata Tingkat Ketelitian Tingkat Kepercayaan Tingkat Keyakinan Uji Keseragaman Data Uji Kecukupan Data Waktu Siklus Ws Waktu Normal Wn Waktu Baku Wb Membuat Plot Diagram Permintaan Penetapan Metode Peramalan. Menghitung Masing – masing Kesalahan Peramalan Memilih Metode Dengan Nilai Kesalahan Peramalan Terkecil Uji Verivikasi Data Dengan MRC Moving Range Chart Proses SizingLabelling Waktu Produksi Tersedia Rated Production Time Perencanaan Waktu Produksi Hasil dan Pembahasan 1. Peramalan
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

ANALISIS PERENCANAAN WAKTU KAPASITAS PRODUKSI..

Gratis

Feedback