ANALISIS KASUS PENDIDIKAN PENDIDIKAN RAM

30 

Full text

(1)

ANALISIS KASUS PENDIDIKAN

Pendidikan Ramah Anak, Tantangan 2016

Mata Kuliah

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Disusun Oleh :

Dwi Milla Malida

15081022

Kelas 21 A Reguler Pagi Kampus 2

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

(2)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI i

DRAFT iii

ARTIKEL viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan 1

1.2 Sebab-sebab 2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pembahasan Objek (Inti Permasalahan) 5

2.2 Analisis Awal 5

2.2.1 Perkembangan Sosial Dan Moral 6

2.2.2 Perwujudan Perilaku Belajar 10

2.2.2.1 Sikap 10

2.2.2.2 Tingkah Laku Afektif 10

2.2.3 Faktor Yang Memengaruhi Perilaku 11

BAB III PENUTUP 3.1Kesimpulan 13

(3)
(4)

DRAFT

SISTEMATIKA PENULISAN

DAFTAR ISI DRAFT ARTIKEL

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permasalahan 1.2 Sebab-sebab

BAB II PEMBAHASAN

2.3 Pembahasan Objek (Inti Permasalahan) 2.4 Analisis Awal

2.4.1 Perkembangan Sosial Dan Moral 2.4.2 Perwujudan Perilaku Belajar

2.4.2.1 Sikap

2.4.2.2 Tingkah Laku Afektif 2.4.3 Faktor Yang Memengaruhi Perilaku

BAB III PENUTUP 3.3Kesimpulan

3.4Saran

(5)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permasalahan

Kasus kekerasan seksual pada anak (paedofil) di sekolah, masih menjadi fenomena gunung es. Hal ini disebabkan kebanyakan anak yang

menjadi korban kekerasan seksual enggan melapor. Sebuah artikel lain pun memperkuat data bahwa kekerasan baik fisik, psikis maupun seksual di sekolah menjadi masalah yang sulit diputus.

Dalam sebuah penelitian di 5 negara di Asia (Indonesia, Kamboja, Nepal, Pakistan, dan Vietnam) yang dilakukan oleh Organisasi Nonprofit Plan Internasional dan ICRW (Internasional Central for Research on Women) terhadap 9.000 murid berusia 12-17 tahun, guru, kepala sekolah, dan orangtua murid ditemukan, 7 dari 10 anak pernah mengalami kekerasan di sekolah.

Hasil riset yang dirilis awal Maret 2015 menyebutkan, 84 persen anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah, baik berupa perundungan, penganiayaan verbal, psikologis, maupun penganiayaan di dunia maya. Angka ini lebih tinggi dari tren di kawasan Asia, yakni 70 persen.

1.2 Sebab-sebab

(6)

2. Miskin nilai.

3. Anak-anak tidak mengetahui tempat atau saluran mereka bisa melaporkan kejahatan tersebut.

4. Kurangnya bimbingan dari orang tua dan guru dalam memilih informasi yang bermanfaat.

Lalu ditinjau dari kegiatan belajarnya sesuai dengan sebab-sebab terjadinya masalah tersebut yaitu ketika anak-anak memperoleh pengetahuan mengenai seluk beluk seks dan kesehatan reproduksi dari sumber yang tidak benar yakni mencari sendiri melalui media online. Hal tersebut mengakibatkan terjadi suatu permasalahan terkait dengan perkembangan sosial dan moral dalam proses belajar.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pembahasan Objek (Inti Permasalahan)

Untuk meminimalkan kasus kekerasan seksual pada anak (paedofil) di sekolah, sebagian pemerhati pendidikan mengusulkan agar anak-anak memperoleh materi pendidikan seks lewat kurikulum pendidikan formal di sekolah dengan pengenalan bagian privat badan yang tidak boleh disentuh orang lain serta sentuhan yang boleh dan tidak boleh. Tetapi gagasan ini terlanjur menuai kontroversi.

2.2 Analisis Awal

(7)

pendidikan dan maka dari itu dapat digunakan untuk membahas sesuai isi masalah dalam artikel tersebut. Unsur-unsur tersebut meliputi keterkaitan anak terhadap perkembangan sosial dan moral dalam proses belajar, perwujudan perilaku belajar dalam hal sikap dan tingkah laku afektif, dan faktor yang mempengaruhi perilaku.

2.2.1 Perkembangan Sosial Dan Moral

Setiap tahapan perkembangan sosial anak selalu dihubungkan dengan perkembangan perilaku moral, yakni perilaku baik dan buruk menurut norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

2.2.2 Perwujudan Perilaku Belajar 2.2.2.1 Sikap

Dalam hal sikap, perwujudan perilaku belajar siswa akan ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang terlah dirubah (lebih maju dan lugas) terhadap suatu objek, tata nilai, peristiwa dan sebagainya. 2.2.2.2 Tingkah Laku Afektif

Tingkah laku yang menyangkut keanekaragaman perasaan seperti : takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya.

2.2.3 Faktor Yang Memengaruhi Perilaku

(8)

ini tidak begitu kuat (Berk, 2005). Akan tetapi, ada banyak faktor selain penalaran yang mempengaruhi perilaku.

1. Modeling 2. Internalisasi 3. Konsep Diri

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

RENCANA REFERENSI

Biyanto. 2016. “Pendidikan Ramah Anak, Tantangan 2016”. Kedaulatan Rakyat, 18 Januari, hlm. 12

(9)

ARTIKEL

Artikel Pendukung

Harian Kompas

Jumat, 27 Februari 2015

7 dari 10 Pelajar di Asia Pernah Alami Kekerasan di Sekolah

KOMPAS.com - Sekolah tampaknya belum menjadi tempat yang aman untuk anak. Dalam sebuah penelitian di 5 negara di Asia ditemukan, 7 dari 10 anak pernah mengalami kekerasan di sekolah.

Penelitian yang dilakukan di Indonesia, Kamboja, Nepal, Pakistan, dan Vietnam ini dilakukan oleh Organisasi nonprofit Plan International dan ICRW (International Center for Research on Women).

Hasil laporan ini juga menunjukkan, 84 persen pelajar di Indonesia pernah mengalami kekerasan, sedangkan Pakistan memiliki angka terendah, yakni 43 persen. Secara keseluruhan, 7 dari 10 anak mengalami kekerasan, di mana 43 persen di antaranya tak melakukan apa pun saat melihat tindak kekerasan di sekolah.

Dalam laporannya yang bertajuk "Mempromosikan Kesetaraan dan Keselamatan di Sekolah" ini, juga dicatat berbagai kejadian kekerasan, termasuk kekerasan fisik dan seksual, kekerasan emosional, dan ancaman kekerasan, sebagai hal yang banyak ditemui di kelima negara yang disurvei.

Laporan itu memasukkan rekomendasi khusus, termasuk program berbasis sekolah untuk mengubah perilaku dan sikap terkait gender dan kekerasan, penyediaan layanan perlindungan, serta rekomendasi penerapan kebijakan dan aturan untuk menghapuskan kekerasan terhadap anak.

(10)

bagi kekerasan di lingkungan sekolah, rumah, atau di manapun di mana anak-anak berada” kata Mark Pierce, Direktur Regional Asia, Plan International, dalam siaran pers yang diterima.

Senior Technical Specialist di ICRW, Nandita Bhatla mengatakan, laporan ini sangat penting karena mendokumentasikan berbagai cara dan sejauh mana anak-anak mengalami kekerasan, di negara-negara yang disurvei.

“Di luar hal yang bersifat fisik, anak-anak juga berbagi tentang penggunaan kata-kata yang mempermalukan, bahasa kekerasan, dan bentuk-bentuk emosional lain yang menjadikan sekolah tak lagi aman buat mereka,” kata Nandita.

Bahkan yang lebih buruk, anak-anak merasa tak memiliki orang dewasa untuk mengadu. Orang dewasa dianggap abai terhadap pengalaman kekerasan yang dimiliki anak. "Hal ini berdampak besar bagi kesehatan psikologis mereka," kata Nandita.

“Di berbagai kasus, kekerasan menjadi hal biasa, dan itu menjadi normal bagi anak-anak, di mana mereka tak melaporkan perilaku itu, dan tidak menganggapnya sebagai satu kesalahan. Siklus ini harus dihentikan,” kata Mark Pierce.

(11)

Artikel Pendukung

Harian Kompas

Jumat, 13 Februari 2015

Kesehatan Reproduksi Diharapkan Masuk Kurikulum

Pendidikan

JAKARTA, KOMPAS.com – Kasus kekerasan seksual pada anak banyak ditemui di sejumlah daerah. Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak, tahun 2011 terdapat 1455 kasus dan meningkat di tahun 2012 sebanyak 1634 kasus. Data pada awal 2013 lalu pun menunjukkan adanya 724 kasus.

Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Inang Winarso mengatakan, kasus kekerasan seksual pada anak dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi. Menurutnya, masalah kesehatan reproduksi secara menyeluruh seharusnya masuk dalam kurikulum pendidikan di sekolah.

PKBI pun mengajukan uji materi Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ke Mahkamah Konstitusi pada Kamis (12/2/2015). Dalam Pasal 37 ayat (1), materi Pendidikan Jasmani dan Olahraga merupakan mata pelajaran yang wajib diberikan di kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Namun, materi Pendidikan Jasmani dan Olahraga belum mencakup kesehatan reproduksi secara komprehensif.

“Materi Pendidikan Kesehatan Reproduksi diperlukan untuk mencegah anak dan remaja menjadi korban kekerasan seksual. Namun, karena belum adanya jaminan hukum terhadapnya, maka belum seluruh sekolah memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi secara komprehensif,” kata Inang, Kamis.

(12)

Selain PKBI, salah satu perwakilan Forum Remaja Kulon Progo, Yogyakarta, Ragil Prasedewo juga menjadi pemohon uji materi ini. Menurut Ragil, banyak kerugian yang dialami anak-anak dan remaja karena tidak mendapatkan materi kesehatan reproduksi sejak dini.

Sementara itu, kuasa hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Muhammad Isnur mengatakan, uji materi atau judicial review ini juga untuk mendukung dan melengkapi upaya elemen masyarakat lain yang menuntut dinaikannya batas usia pernikahan perempuan (UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan) dan dinaikkannya masa hukuman pelaku kekerasan seksual terhadap anak (Pasal 81 & 82 UU Perlindungan Anak Tahun 2002).

(13)

Artikel Pendukung

Harian Kompas Selasa, 15 April 2014

Cegah Pelecehan Seksual terhadap Anak dengan Menerapkan

“Underwear Rule”

KOMPAS.com -- Underwear rule adalah pedoman sederhana untuk orangtua dalam membimbing anak mengenai aturan berkomunikasi, berinteraksi, dan bersentuhan dengan orang lain, terutama di luar keluarga inti.

Aturan ini mengajarkan ketegasan atas prinsip dan nilai hidup kepada anak bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri. Tidak boleh ada orang lain yang menyentuh dan menyakitinya, tidak juga orangtua dan saudara kandung.

Seperti dikutip dari Council of Europe, berikut lima underwear rule yang wajib Anda ajarkan kepada sang buah hati tersayang:

1. Mengajarkan si kecil bahwa tubuh mereka harus dijaga dan dilindungi

Semenjak anak sudah bisa berkomunikasi dengan orangtua atau lingkungan sekitar, orangtua harus mengajarkan kepada anak mengenai nama anggota tubuh yang sebenarnya. Jelaskan kepada anak bahwa ada beberapa anggota tubuh yang merupakan bagian intim, yang sifatnya sangat pribadi, tidak boleh dilihat dan dipegang orang lain, kecuali untuk alasan medis. Usahakan untuk tidak memberikan julukan atau istilah samaran dalam mengajarkan bagian intim tubuh si kecil. Tujuannya supaya anak lebih memahami akan fungsi dan reaksi yang terjadi ketika bagian tersebut disentuh secara paksa atau terluka.

Mengajarkan soal seks kepada anak harus dilakukan lebih dari sekali dan berulang-ulang. Tujuannya agar anak langsung ingat ketika ada seseorang yang berusaha menyentuh di bagian tubuh yang tidak pantas dan segera bereaksi sesuai yang diajarkan.

(14)

Anak tidak selalu bisa membedakan bagaimana cara orang lain menyentuh mereka, apakah sentuhan tersebut wajar atau tidak. Tak hanyasentuhan, ajarkan kepada anak bahwa orang lain dilarang keras memandangi bagian tubuh mereka yang pribadi. Jika ada yang bersikap demikian, anak harus menegur atau melaporkan orang tersebut kepada guru di sekolah dan orangtua.

Selain itu, ajarkan hal yang sama kepada anak untuk tidak memandangi atau menyentuh bagian tubuh paling pribadi orang lain, entah itu teman, saudara kandung, orangtua, dan guru.

3. Perbedaan rahasia baik dan rahasia buruk

Salah satu strategi yang kerap kali dilakukan oleh pelaku pelecehan seksual adalah mengajak anak untuk bermain rahasia-rahasiaan. Sebab, terkadang dengan menyimpan rahasia orang lain membuat anak bersemangat dan merasa lebih istimewa.

Maka dari itu, sampaikan kepada anak bahwa tidak semua rahasia pantas disimpan, terutama rahasia yang membuat mereka tidak nyaman, ketakutan, sedih, dan tersiksa.

4. Mencegah dan melindungi adalah tanggung jawab orangtua

Ingat, keselamatan dan kebahagiaan anak adalah tanggung jawab orangtua, bukan guru atau kerabat lainnya. Maka dari itu, orangtua harus terdidik sebelum mendidik anak. Bagi sebagian orangtua, bicara soal seks kepada anak yang masih berusia balita, bahkan remaja, dianggap tabu dan tidak wajar. Padahal, selama cara Anda berkomunikasi berlandaskan edukasi, tentu anak akan menerimanya sesuai penalaran yang Anda sampaikan kepada mereka.

Jadikan komunikasi dengan terbuka sebagai tradisi dalam keluarga sehingga anak tidak pernah merasa sungkan dalam membicarakan dan membahas apa pun kepada orangtua.

(15)

Terdapat empat panduan yang bisa Anda ajarkan kepada si kecil untuk bereaksi saat ada orang asing yang berperilaku tidak wajar kepada mereka. Uraiannya seperti berikut:

Cara mencurigai dan melaporkan

Beritahu kepada anak mengenai siapa saja orang yang bisa mereka percaya dalam keluarga dan sekolah. Jadi, ketika ada orang lain di luar daftar tersebut, anak patut merasa curiga dan mengomunikasikannya kepada orangtua atau guru di sekolah.

Cara mengenali orang-orang mencurigakan di lingkungan anak

Dalam kebanyakan kasus, pelaku adalah seseorang yang dikenal oleh anak. Tak heran bila kondisi ini menjadi sulit bagi anak untuk

Dalam beberapa kasus pelecehan seksual, pelakunya adalah orang asing. Ajarkan aturan sederhana kepada anak tentang tata cara bersikap dan berbicara dengan orang asing. Beberapa di antaranya adalah menolak satu mobil dengan orang yang mereka tidak kenal, jangan menerima hadiah dari siapa pun kecuali keluarga dan teman, dan ajakan bermain di luar sekolah.

Cara mencari pertolongan

Anak-anak harus tahu bahwa selain orangtua, ada orang profesional yang dapat membantu mereka bila ada orang lain yang berbuat tidak sopan kepada mereka, misalnya guru, polisi, pekerja sosial, dan psikolog sekolah.

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permasalahan

Berdasarkan uraian artikel bertema pendidikan dalam kolom Opini dari harian Kedaulatan Rakyat, Senin 18 Januari 2016. Berjudul Pendidikan Ramah Anak, Tantangan 2016, ditemukan permasalahan terkait artikel tersebut bahwasanya telah terjadi kekerasan, terutama kekerasan seksual pada anak (paedofil) di sekolah.

Selain kekerasan seksual yang disebutkan dalam artikel tersebut, sebuah artikel lain pun memperkuat data bahwa kekerasan baik fisik, psikis maupun seksual di sekolah menjadi masalah yang sulit diputus. Dalam sebuah penelitian di 5 negara di Asia (Indonesia, Kamboja, Nepal, Pakistan, dan Vietnam) yang dilakukan oleh Organisasi Nonprofit Plan Internasional dan ICRW (Internasional Central for Research on Women) terhadap 9.000 murid berusia 12-17 tahun, guru, kepala sekolah, dan orangtua murid ditemukan, 7 dari 10 anak pernah mengalami kekerasan di sekolah.

(17)

Menurut Marta Santos Pais, Perwakilan Khusus Sekretaris Jendral PBB untuk isu kekerasan terhadap anak, pada jumpa pers di Kantor

Perwakilan PBB di Jakarta, sejak Indonesia meratifikasi Konvensi Hak Anak 25 tahun lalu, sudah banyak perkembangan dari segi peraturan. Perlindungan

anak pun sudah dimasukkan ke dalam prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019.

Beberapa contoh peraturan terkait hak anak ialah Undang-Undang

Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Instruksi Presiden No 5/2014 tentang Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual terhadap Anak, dan

UU No 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Namun, penerapan perangkat hukum itu masih terbentur beragam kendala, seperti ketidaktahuan masyarakat dan kurangnya komitmen pemerintah daerah.

Kasus kekerasan seksual pada anak sampai sekarang masih menjadi fenomena gunung es. Hal ini disebabkan kebanyakan anak yang menjadi

korban kekerasan seksual enggan melapor. Oleh karena itu, sebagai orang tua harus dapat mengenali tanda-tanda anak yang mengalami kekerasan seksual. 1.2 Sebab-sebab

(18)

5. Kurangnya materi pendidikan seks. Orang tua tidak memberikan materi pendidikan seks lebih jelas karena merasa pendidikan seks akan berdampak negative pada anak.

6. Miskin nilai. Kalau dilihat dari kata pendidikan, secara hukum dan teoretis sudah benar. Akan tetapi ada kekeliruan dalam realisasinya. Di lapangan terjadi pergeseran nilai secara menyeluruh. Di sekolah, guru kebanyakan baru dalam tahap mengajar bukan mendidik, karena seharusnya mengedepankan proses yang baik, kejujuran serta taat pada aturan, norma, dan nilai.

7. Anak-anak tidak mengetahui tempat atau saluran mereka bisa melaporkan kejahatan tersebut. Orang dewasa dianggap abai terhadap pengalaman kekerasan yang dimiliki anak sehingga hal ini berdampak besar bagi kesehatan psikologis mereka.

8. Kurangnya bimbingan dari orang tua dan guru dalam memilih informasi yang bermanfaat. Anak-anak bebas mengakses media online tanpa pendampingan orang tua dan guru, maka ibaratnya mereka sedang memasuki hutan belantara.

(19)
(20)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pembahasan Objek (Inti Permasalahan)

Untuk meminimalkan kasus kekerasan seksual pada anak (paedofil) di sekolah, sebagian pemerhati pendidikan mengusulkan agar anak-anak memperoleh materi pendidikan seks lewat kurikulum pendidikan formal di sekolah dengan pengenalan bagian privat badan yang tidak boleh disentuh orang lain serta sentuhan yang boleh dan tidak boleh. Tetapi gagasan ini terlanjur menuai kontroversi.

Mereka yang menolak menganggap pendidikan seks akan berdampak negative pada anak. Sementara mereka yang setuju menganggap pendidikan seks mutlak diperlukan untuk menghindarkan anak dari praktik seks bebas. Padahal pendidikan seks juga bermanfaat untuk menjaga kesehatan reproduksi anak-anak.

2.2. Analisis Awal

(21)

2.2.1 Perkembangan Sosial dan Moral

Perkembangan sosial siswa merupakan proses perkembangan kepribadian siswa selaku seorang anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain. Kualitas hasil perkembangan sosial siswa sangat bergantung pada kualitas proses belajar (khususnya belajar sosial) siswa tersebut, baik dilingkungan sekolah dan keluarga maupun dilingkungan yang lebih luas. Ini bermakna bahwa proses belajar itu amat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moral agama, moral tradisi, moral hokum, dan moral lainnya yang berlaku dalam masyarakat siswa yang bersangkutan. Setiap tahapan perkembangan sosial anak selalu dihubungkan dengan perkembangan perilaku moral, yakni perilaku baik dan buruk menurut norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Perkembangan moral hampir dapat dipastikan juga perkembangan moral, sebab perilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam bertingkah laku sosial.

Tingkah laku manusia bukan semata-mata reflex otomatis atau stimulus (S-R bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul akibat interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri (Bandura)

(22)

1. Conditioning (Pembiasaan Merespons)

Prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku yakni dengan “reward” (ganjaran/ memberi hadiah atau mengganjar) dan punishment (hukuman/ member hukuman). Dalam hal ini orang tua atau guru, diharapkan memberi penjelasan agar siswa tersebut benar-benar paham mengenai jenis perilaku yang menghasilkan ganjaran dan jenis perilaku yang menimbulkan sanksi.

2. Imitation (Peniruan)

Prosedur belajar menurut teori social learning, ialah proses imitasi atau peniruan. Dalam hal ini orrang tua dan guru seyogyanya memainkan peran penting sebagai model atau tokoh yang dijadikan contoh berperilaku sosial dan moral bagi siswa.

Kohlberg dalam teori perkembangan moral, berpendapat bahwa penalaran moral merupakan dasar dari perilaku etis. Menurutnya ada 3 tahap perkembangan moral dan tiap tahapnya terbagi menjadi dua sehingga total keseluruhan ada 6 tahapan perkembangan moral, antara lain:

a. Level 1 : Pre Conventional Morality

Pada tahap ini, perilaku anak hanya didasarkan pada ingin mendapatkan hadiah dan menghindari hukuman.

(23)

Anak akan setuju dengan pihak pembuat aturan agar terhindar dari hukuman. Hukuman dimaknai sebagai sesuatu yang berhubungan dengan fisik

2. Naïve Hedonistic & Instrumental Orientation

Anak masih berusaha untuk mendapatkan hadiah. Mulai ada pemahaman mengenai saling berbagi namun sifatnya manipulatif (belum tulus atau bukan karena murah hati)

b. Level 2 : Conventional Morality (Conventional Rules & Conformity)

Pada tahap ini, perilaku anak diarahkan atau dibentuk untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain dan diarahkan agar dapat menjaga hubungan baik dengan orang lain. Anak menerima aturan sosial tanpa banyak bertanya dan menilai bahwa suatu perilaku dikatakan baik jika sesuai dengan aturan yang ada.

3. Good Boy Morality

Perilaku baik dipertahankan anak untuk menjaga hubungan baik dengan pihak lain. Anak masih menilai perilaku orang lain. Anak juga lebih perhatian pada persetujuan atau ketidak-setujuan dari orang lain bukan karena kekuatan fisik yang dimiliki orang lain. Anak mulai dapat menerima aturan sosial dan menilai apakah perilaku orang lain baik atau buruk berdasarkan niat seseorang melakukan hal itu

(24)

Anak (tanpa bertanya) menerima segala aturan sosial yang ada dan yakin bahwa jika masyarakat menerima aturan yang ada maka masyarakat akan terhindar dari kritik. Anak menerima tidak hanya standar dari orang lain namun juga standar dari masyarakat. Individu akan menerima aturan yang ada tanpa banyak tanya dan perilakunya akan dianggap baik jika sesuai dengan aturan tersebut  law and order

c. Level 3 : Post Conventional Morality (Self-Accepted Moral Principles)

Penilaian anak bersifat rasional. Perilakunya dikendalikan secara internal dengan kode moral yang dimiliki. Pengambilan keputusan untuk berperilaku cukup mandiri dan tidak tergantung pada persetujuan atau ketidak-setujuan dari lingkungan.

5. Morality of Contract, Individual Rights & Democratically Accepted law

(25)

6. Morality of Individual Principles and Conscience

Individu akan mengikuti standar sosial dan nilai pribadinya senidiri. Individu cenderung akan lebih menghindari ekspresi penolakan yang keras daripada memberikan kritik pada orang lain. Keputusan moral yang diambil berdasarkan pada prinsip abstrak mengenai keadilan, rasa welas asih pada sesama dan kesetaraan. Konsep moral yang dimiliki berdasarkan pada rasa menghormati sesama manusia. Individu dengan konsep moral ini kerapkali akan mengalami konflik dengan aturan yang berlaku dalam masyarakat

i. Perwujudan Perilaku Belajar 1. Sikap

Dalam arti sempit sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental. Menurut Bruno (1987), sikap (attitude) adalah kecenderungan yang relative menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu. Dalam hal ini, perwujudan perilaku belajar siswa akan ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang terlah dirubah (lebih maju dan lugas) terhadap suatu objek, tata nilai, peristiwa dan sebagainya.

2. Tingkah laku afektif

(26)

sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya. Tingkah laku seperti ini tidak terlepas dari pengaruh pengalaman belajar.

ii. Faktor yang mempengaruhi perilaku

Saat orang pindah ke tahap-tahap penalaran moral yang lebih tinggi, mereka juga lebih banyak berbagi, menolong, dan membela para korban keadilan; tetapi, hubungan antara penalaran moral moral ini tidak begitu kuat (Berk, 2005). Akan tetapi, ada banyak faktor selain penalaran yang mempengaruhi perilaku.

1. Modeling

Anak-anak yang secara konsisten dipapari model-model orang dewasa yang murah hati dan penuh perhatian akan cenderung lebih peduli pada hak-hak dan perasaan orang lain (Cook & Cook, 2005, Eishenberg & Fabes, 1998)

2. Internalisasi

(27)

dikoreksi-khususnya alasan-alasan yang menggarisbawahi efek berbagai tindakan pada orang lain, maka mereka lebih berkemungkinan untuk menginternalisasikan prinsip-prinsip moral. Mereka belajar untuk berperilaku bermoral bahkan ketika “tak ada orang yang melihat” (Hoffman, 2000)

3. Konsep Diri

(28)

BAB III

PENUTUP

3.5 Kesimpulan

Banyak pihak, terutama para orang tua meyakini bahwa insting seksual tidak dijumpai pada masa anak-anak, dan baru akan muncul pada masa pubertas. Pendapat seperti ini merupakan kekeliruan yang sudah mengakar kuat di masyarakat kita. Ketidaktahuan pengetahuan mengenai seluk beluk seks dan kesehatan reproduksi pada anak dapat berakibat negative terhadap perkembangan peran seks anak, dan terhadap sikap perilaku anak padahal pendidikan seks bermanfaat untuk menjaga kesehatan reproduksi anak-anak.

Beberapa peraturan terkait hak anak seperti Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Instruksi Presiden No 5/2014 tentang

Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual terhadap Anak, dan UU No 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, dalam penerapan perangkat hukum itu masih terbentur berbagai kendala, seperti ketidaktahuan masyarakat

dan kurangnya komitmen pemerintah daerah sehingga kasus ini belum selesai dan masih ada proses.

3.6 Saran

(29)

sekolah, masyarakat, lembaga anak dan pemangku kebijakan. Dengan adanya SOP yang baik maka kenyamanan dan keamanan anak terjaga.

(30)

DAFTAR PUSTAKA

Biyanto. 2016. “Pendidikan Ramah Anak, Tantangan 2016”. Kedaulatan Rakyat, 18 Januari, hlm. 12

Kompas. 27 Februari 2015. “Anak Indonesia Belum Sepenuhnya Terlindungi”, hlm. 12.

Kompas. 27 Februari 2015. “7 dari 10 Pelajar di Asia Pernah Alami Kekerasan di

Sekolah”.

Maharani, Dian. 2015. “Kesehatan Reproduksi Diharapkan Masuk Kurikulum Pendidikan”. Kompas, 13 Februari.

Syaaf, Syafrina. 2014. “Cegah Pelecehan Seksual terhadap Anak dengan Menerapkan “Underwear Rule””. Kompas, 15 April.

Syah, Muhibbin. 2014. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Edisi Terbaru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Woolfolk, Anita. 2008. Educational Psycology Active Learning Edition. Edisi ke 10. Terjemahan oleh Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyatini Soetjipto. 2009. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Santrock, John W. 2011. Life-Span Development : Perkembangan Masa Hidup. Edisi ke 13. Terjemahan oleh Benedictine Widyasinta. 2012. Jakarta : Erlangga

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (30 pages)