Maryono al Riwayah dan al Dirayah dalam Tafsir

Gratis

0
0
207
8 months ago
Preview
Full text

PERSETUJUAN PEMBIMBING

  Tesis saudara Maryono (NIM. 05.2.00.1.05.01.0041) yang berjudul “RIWÂYAH DAN DIRÂYAH DALAM TAFSIR; Studi tentang Metode ” telah diperiksa dan dinyatakan layak untuk diajukanPenafsiran al-Syaukâny ke Sidang Ujian Tesis. Dr.

SURAT PERNYATAAN

  Saya yang bertanda tangan di bawah ini,Nama : M a r y o n oNIM : 05.2.00.1.05.01.0041Tempat, Tanggal Lahir : Grobogan, 24 Mei 1976 menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang berjudul “Al-RIW ÂYAHDAN Al-DIR ÂYAH DALAM TAFSIR; Studi tentang Metode Penafsiran al-” ini benar-benar merupakan karya asli saya kecuali kutipan-kutipan Syaukâny yang saya sebutkan sumbernya. Segala kesalahan dan kekurangan di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

  = SHض "PEDOMAN AKADEMIK ; Program Magister dan Doktor Kajian Islam 2007 / 2008." = L1 Pedoman Transliterasi Arab-Latin di atas bersumber dari buku panduan yang berjudul = Qك = Kل = Fق = ' '_ = wa al-غ = GHف ظ = ZH '_ = al-sy…ع ط= TH '_ = al V. DIFTONG = Z = DZ '_ = ûر = Rز = D _ = îد = H III.

VI. PEDOMAN TRANSLITERASI KHUSUS DALAM HALAMAN

  Aktivitas rasional dalam tafsir (tafsir bi al-Ra`y)dibatasi oleh orientasi pemaknaan yang bersifat tekstual itu, dalam arti bahwa pemaknaan apa pun tidak boleh melampaui kemungkinan-kemungkinantekstual dan linguistik dari lafaz ayat yang bersangkutan. Dari sudut pandang yang lebih luas, hal itu menunjukkan bahwa al-Riwâyah dan al-Dirâyah bukan lagikriteria yang memadai untuk melakukan pemetaan dan tipologi karya-karya tafsir.

KATA PENGANTAR

  Tiada kata yang pantas penulis ucapkan selain untaian rasa syukur kepadaAllah swt., karena dengan izin dan pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir akademis berupa penulisan tesis ini. Pd.i selaku istri tercinta yang telah menemani dan mendampingi dengan setulus hati mulai dari penulisan tesis ini hinggaselesai.

BAB I Al- RIWÂYAH DAN DIRÂYAH DALAM TAFSIR Al-SYAUK ÂNY A. Latar Belakang Masalah Jika hendak ditelisik, diskursus tafsir telah dimulai sejak masa Rasulullah saw. dan berlanjut hingga ke generasi sesudahnya, yakni masa

  Bahkan, para ulama mulai menyusun kaidah-kaidah yang harus dipahami dan dimengerti oleh orang yang ingin menafsirkan al-Qur`an dengan tujuan mencegah terjadinya penyimpangan6 dan kesalahan dalam memahami firman Allah tersebut. I : 1987); f) Dirâsât wa Mabâhits fî Târîkh al-Tafsîr wa Manâhij al- 5Selain buku tersebut di atas, terdapat pula buku-buku yang berisikan tentang ilmu-ilmu al-Qur’an yang jika ditarik dari dua kategorisasipembagiannya yang ada maka tafsir dapat dibagi menjadi : Pertama, membagi tafsir kepada: 1.

12 Di antara ulama yang menggunakan metode riwâyah dan dirâyah adalah: tafsir

  Dalammenafsirkan al-Qur`an, Muhammad Abduh - lah (w. 1905 H.) tokoh yang memiliki cita-cita seperti tersebut, sebagaimana yang disampaikan olehMuhammad ‘Imârah yang menyatakan bahwa tafsir yang diinginkan olehnya adalah tafsir yang mampu membuat pendengar dan pembacanya mampumemahami al-Qur`an sebagai sumber agama yang dapat memberi petunjuk16 kepada seluruh umat manusia.”17 Fathûl Qadîr misalnya, yang ditulis oleh al-Syaukâny. Selanjutnya al-Syaukâny memberikan tarjîh (pendapat yang iakuatkan sendiri) atas perbedaan-bedaan tersebut diatas dengan alasan bahwa ada banyak hadis shahih yang mengandung makna tentang "hidupnya" orang yang mati syahid dengankehidupan yang nyata.

B. PERMASALAHAN

  Uraian dalam sub bahasan permasalahan di sini, akan dibagi ke dalam tiga hal berikut, antara lain : 1. Identifikasi Masalah, 2.

1. Identifikasi Masalah

  Bertolak dari latar belakang masalah yang dikemukakan sebelumnya, maka permasalahan yang akan dikaji dalam tesis ini dapat diidentifikasikansebagai berikut. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah yang dikemukakan sebelumnya, maka permasalahan utama yang akan dikaji dalam tesis iniadalah: Metodologi penafsiran al-Syaukâny dalam kitab tafsirnya, Fathul al- Qadîr, al-Jâmi’ baina Fannay al-Riwâyah wa al-Dirâyah min ‘Ilm al-Tafsir.

C. TUJUAN DAN SIGNIFIKANSI PENELITIAN

  Tujuan Penelitian Berdasarkan atas permasalahan yang telah diajukan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metodologi penafsiranal-Syaukâny dalam kitab tafsirnya, Fathul al-Qadîr, al-Jâmi’ baina Fannay al- Riwâyah wa al-Dirâyah min ‘Ilm al-Tafsir. Dengan demikian, hemat penulis, tesis ini diharapkan berguna dan bermanfaat serta memberikan kontribusi (sumbangan) pemikiran bagi yang 17berminat terhadap kajian pemikiran Islam, terutama kontribusi al-Syaukâny dalam menafsirkan al-Qur`an.

D. PENEGASAN JUDUL

  Lebih lanjut al-Dzahaby mengatakan bahwa yang dihukumi marfû’adalah yang berkaitan dengan Asbâb al-Nuzûl dan tidak ada peluang untuk rasio, bahwa yang termasuk kategori marfû’ ini harus diterima oleh muffasir dalam hal apa pun, sertabahwa selainnya adalah dikategorikan mawqûf. Menurut al-Zarkasyy, pendapat-pendapat tâbi’in termasukdalam tafsir bi al-Matsûr asalkan memenuhi dua syarat, yakni hanya pendapat para pemuka- pemuka tâbi’in saja dan jika riwayat-riwayat yang didapatkan mereka itu marfû’ hingga keRasulullah atau juga hingga ke salah satu sebagian sahabat Rasul, dan pendapat ini boleh diikuti.

E. KAJIAN TERDAHULU YANG RELEVAN

  Namun dalam persoalan metode penafsirannya,terutama tentang perpaduan antara al-Riwâyah dan al-Dirâyah, belum ada penelitian yang penulis temukan. Tesis ini menyatakan tentang posisi ‘illat atau sebab dalam kitab ushul fikih yang ditulis oleh al-Syaukâny.

40 Menurut Muhammad 'Ali al-Iyâzî, setidaknya ada dua pengkaji atau sumber

  22Karya-karya di atas memiliki fokus kajian yang berbeda dengan apa yang penulis teliti. Berbeda dengan semua karya di atas, penelitian ini memusatkan perhatiannya kepada metode penafsiran al-Syaukâny dalam kitab Fathul Qadîr, al-Jâmi’ baina Fannay al-Riwâyah wa al-Dirâyah min ‘Ilm al-Tafsir, berikut kemungkinan melepaskan diri dari paradigma al-riwâyah dan al- dirâyah yang telah lama berlaku.

F. METODOLOGI PENELITIAN

1. Sumber Data

  Pertama, data pokok, yaitu yang berkaitan dengan al-Riwâyah dan al-Dirâyah penafsiran al-Syaukâny dalam kitabnya Fathul Qadîr, al-Jâmi’ baina Fannay al-Riwâyah wa al-Dirâyah min ‘Ilm al-Tafsir. Kedua, data pelengkap, yaitu tentang metode penafsiran, identitas dan biografi al-Syaukâny, serta kondisi sosial keagamaan dan kemasyarakatan yang melingkungi kehidupannya.

2. Jenis Penelitian dan Kerangka Teoretis

  Mengingat bahwa yang diteliti dalam tesis ini adalah “hasil kerja” pemikiran seorang tokoh yang masa hidupnya telah lama berlalu, maka jenismetode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan mencari dan mengumpulkan sumber-sumber kepustakaan. Yang berhubungan dengan situasi ketika tafsirnya itu ditulis, dianalisis dengan pendekatan sejarah sosial keagamaan dan kemasyarakatan, terutama dalam lokasi yang melingkungikehidupan al-Syaukâny, yakni Yaman dalam masa pemerintahan Turki Utsmâni.

G. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

  Untuk memudahkan pembahasan tesis ini, maka penulis menyusunnya ke dalam lima bab dan beberapa sub bab yang ada didalamnya, yang perinciannya sebagai berikut : Bab I membahas tentang pendahuluan, yang terdiri atas tujuh bagian. Keempat atau terakhir, kitab tafsir Fathul Qadîr yang di dalamnya mencakup sejarah penulisan, corak dan 26metode, sistematika kitab tafsir Fathul Qadîr dan sumber penulisan kitab tafsir Fathul Qadîr.

BAB II Al-SYAUKÂNY DAN KARYA FATHUL QADÎR; AL-JÂMI' BAYNA FANNAY AR-RIWÂYAH WA AL-DIRÂYAH MIN 'ILM AL-TAFSÎR A. Biografi Al-Syaukâny

  1 Al-Syaukâny adalah seorang pemikir Moslem kontemporer abad 18H yang memiliki gelar Abu 'Abdillah. Ia berasal dari kota Yaman sebuah wilayah yang banyak melahirkan ulama besar dan daerah yang sangat subur2 dari lima wilayah yang ada di kota Hijaz.

1 Secara garis besar, periodesasi sejarah kemajuan dan kemunduran umat Islam

  Penisbatan nama al-Syaukâny tidaklah sebenarnya karena tempat tinggalnya dan para pendahulunya ada di Adnal Syaukân, antara tempat itu dan dirinya ada gunung besaryang memanjang yang disebut Al-Hijratu, sebagian ulama ada yang mengatakan HijratuSyaukân. Ada banyak silsilah yang disampaikan al-Syaukâny ketika menulis biografi nasab ayahnya sampaipada akhirnya al-Syaukâny mengatakan, “Sesungguhnya Razâq nasabnya habis sampai di Khaisanah dan aku tidak mengatakan Razâq bin Khaisunah karena untuk ihtiyât, karena sayaragu apakah Razâk ibn Khaisunah tanpa ada pemisah, sebagaimana aku mendengarkan dari para ahli sejarah, dan ini adalah yang paling mashur.

7 Kitab al-Azhâr inilah yang paling banyak ditekuni oleh al-Syaukâny dibandingkan

  dengan kitab-kitab yang lain, sesuai dengan pengakuannya dia membaca kitab tersebut selama 13 tahun dengan beberapa guru, diataranya dengan ayahandanya sendiri, ‘AbdurRahman Qâsim al-Madany, Ahmad bin Amir al-Khada’i, Ahmad bin Muhammad bin Harazy, dan al-Syaukâny terus mengulang-ulang membaca kitab tersebut sehingga ia menjadi mahirtentang fikih Zaidiyyah. Berikut ini beberapa guru al-Syaukâny yang mengajarkannya dalam berbagai disiplin ilmu kepadanya antara lain :"‘Ali al-Syaukâny, yang merupakan ayahanda ia sendiri.

9 Paling tidak ada lima guru al-Syaukâny yang paling sering disebut dalam kitab al-

  Dari sekian banyak guru dan pengetahuan yang diterima oleh al-Syaukâny, seperti disebutkan di atas, dapat dipahami bahwa al-Syaukâny adalah seorang pemuda yang tekun dan memiliki minat besar terhadap ilmu. Al-Syaukâny sendiri pernah menyebutkan bahwa dalam satu hari satu malam ia mengikuti tiga belas mata pelajaran, sebagian pelajaran yang ia terimalangsung dari guru-gurunya dan sebagian lagi adalah ilmu yang ia ajarkan kepada murid-muridnya.

B. Profil Intelektual

  Bukan hanya kecerdasan dan kemauan tapi juga atas dukungan dan dorongan ayah dan lingkungan yang baik, al-Syaukâny dapat memberikanperhatian yang lebih terhadap ilmu agama. Karena perhatiannya yang begitu tinggi terhadap ilmu agama, al-Syaukâny juga dalam beberapa kesempatan berdiskusi langsung dengan gurunya, al-‘Allâmah ‘Abdul al-Qâdir, dalam berbagai disiplin ilmu agamaseperti ilmu Tafsîr, Hadîts, Usul, Nahwu, Sharf, Ma’ânî, Bayân, Manthiq, fiqh, Jidâl, dan ‘Arûdl (seni mengarang puisi).

14 Al-Syaukâny, al-Badru al-Thâli’u bi Mahâsini Man ba’da al-Qarn al-Sâbi’, jld. II..s

  35satu hari ia dapat mengajarkan sepuluh mata pelajaran dari berbagai cabang ilmu yang ia dapatkan dari gurunya itu.15 Hal tersebut sangat wajar, jika di kemudian hari, banyak murid-murid al-Syaukâny yang menjadi ulama-ulama berpengaruh dan dihormati ditengah-tengah masyarakat sepeninggalnya. (w. 1227 H.)17 Mereka itu adalah sebagian murid-murid al-Syaukâny yang menyebarkan dan mengajarkan karya-karya al-Syaukâny baik di kota Yamanmaupun daerah-daerah sekitarnya.

15 Al-Syaukâny, al-Badru al-Thâli’u bi Mahâsini Man ba’da al-Qarn al-Sâbi’, jld. II

  Dalam kitab itu, ia mengkritik beberapa permasalahan yang terdapat dalam kitab Hadâiq al-Azhâr, yang merupakan rujukan utama bagi madzhab Zaidiyyah dan meluruskan19 kesalahan-kesalahan yang terdapat di kitab tersebut. Menurutnya factor yang paling mempengaruhi orang malas untukberijtihad dan cenderung melakukan taqlid yang menyebabakan kondisi sosio masyarakat yang tidak harmonis adalah karena mereka tidak mau belajar25 dengan benar.

C. Karya-karya Al-Syaukâny

  Meskipun karya-karya al-Syaukâny cukup banyak baik yang masih manuskrip maupun yang sudah dicetak, pada kenyataannya penulis hanyamenjumpai beberapa kitab saja yang ada di beberapa perpustakaan lingkungan kita, yaitu : 27 Pengelompokan kitab-kitab tersebut dan berikut jumlahnya itu sesuai dengan yangdisampaikan atau diinformasikan oleh ‘Abd. Ini juga menunjukkan bahwa al-Syaukâny adalah ulama yang sangat produktif,khususnya dalam ‘mengkampanyekan’ kembali ijtihad dan tetaplah kembali kepada ajaran akidah yang benar, setelah beberapa abad mengalami masastagnasi yang ia rasakan di saat itu mulai abad 4 H.

D. Kitab Tafsir

1. Sejarah Penulisan

  Hal ini didasarkan atasungkapan 'Umar Ridhâ Kahâlah dalam Mu’jam al-Mu’alifîn, bahwa al-Syaukâny adalah yang memiliki kunyah (panggilan) Abû Abdillâh), termasuk seorang ahli tafsir sekaligus ahli hadis,seorang fakih, ahli ushul fikih, sejarawan, sastrawan, ahli nahwu, ahli logika, dan seorang 42permukaan khazanah kitab-kitab tafsir sebagaimana yang lain, akan tetapi didasarkan oleh latar belakang dan setting historis. Sebelum al-Syaukâny menulis karya tafsirnya menggunakan konvergensi antara riwâyah dan dirâyah, kebanyakan para mufassir hanyamenggunakan metode penafsiran yang berkisar pada bahasa Arab saja seperti ilmu balaghah, bayân dan badi’nya, sehingga dirasa kurangmemberikan petunjuk yang banyak kepada orang yang tidak paham BahasaArab.

38 Dalam konteks kitab-kitab tafsir yang dibaca baik secara otodidak maupun dibaca

  Sedangkan menurut al-Suyûthîdalam al-Tahbîr fi ‘Ilmi al-Tafsîr, menyatakan bahwa al-Kasysyâf termasuk tafsir yang tidak diterima, dan bahkan ia juga mengklaim bahwa penulisnya adalah sebagai pelaku bid’ah. 45seperti yang diutarakan oleh al-Dzahaby, bahwa kitab itu memiliki titik kelemahan terutama masalah riwayat hadis atau atsâr sahabat dan tabi’în40 yang luput dari al-Syaukâny untuk memberikan takhrîjnya.

2. Corak dan Metode

  Karena itu, hemat penulis secara karakteristik bahwa tafsir al-Syaukâny atau Fathul Qadîr selain memiliki banyak manfaat secara keilmuan, juga disertai dengan tahqîq (penelitian), asbâb al-Nuzûl, dan mencakupfaidah-faidah dan beberapa tambahan kaidah seperti dalam kitab-kitab tafsir lain yang kemudian tidak menafikan suatu rujukan yang bersumber ataumengmbil dari tafsir-tafsir al-Dirâyah yang diakui (refsentatif), lalu dianalisis. itu sangat sedikit jika dilihat dari aspek periwayatan (dari jalan / jalur) sahabat dan tâbi’în, dan mayoritasriwayat hadis yang digunakan dalam tafsirnya berasal dari Ibnu Abbâs,‘Ali bin Abî Thâlib, dan dari sahabat-sahabat yang lain yang tidak disebutkan satu persatu.

6. Selain semuanya itu, al-Syaukâny juga menambahkan dalam tafsirnya beberapa kaidah yang cukup memiliki faidah-faidah

57 Al-Syaukâny, Fathul Qadîr, al-Jâmi’ baina Fannay al-Riwâyah wa al-Dirâyah min

Sedangkan tafsir Fathul Qadîr untuk atau dapat dinilai dalam kategori tafsir yang menggunakan metode tahlîlî, menurut Muhammad Hasan bin57 Ahmad al-Ghumârî secara rinci menyatakan sebagai berikut : 53

1. Menjelaskan makiyah dan madaniyah 2

  Memperhatikan bahasa, asbâb al-Nuzûl dan gramatika bahasanya 5. Menutup tafsir suatu ayat dengan riwâyah dan atsâr Demikian corak dan metode tafsir al-Syaukâny atau Fathul Qadîr yang mendeklarasikan tafsirnya menggunakan "metode konvergensi antara riwâyah dan dirâyah".

3. Sistematika Tafsir

  Untuk lebih jelasnya mengenai penafsiran al-Qur’an berdasarkan kronologis turunnya surat-surat al-Qur’an daspat dilihat pada, Muhammad ‘Izzah Darwazah, al-Tafsir al- 54 Ketiga, sistematika maudlûî, yaitu menafsirkan al-Qur’an berdasarkan topik-topik tertentu dengan mengumpulkan ayat-ayat yang ada hubungannya dengan topik tertentu kemudian ditafsirkan. Kemudian, mengenai kemasan tafsir Fathul Qadîr, al-Syaukâny dalam61 menulis tafsirnya terkemas dalam lima jilid besar -- menggunakansistematika mushhafî, yakni sistematika yang didasarkan pada tartib susunan ayat-ayat al-Qur’an.

4. Sumber Penulisan

Sumber-sumber yang dijadikan rujukan oleh al-Syaukâny dalam menulis kitab tafsirnya meliputi berbagai bidang ilmu antara lain :

a). Sumber Tafsir :

  Sumber Hadis : Dalam menafsirkan al-Qur’an, al-Syaukâny mengambil dari berbagai macam hadis, akan tetapi yang disebutkan secara jelas hanya al- Shahihain, yakni Shahih al-Bukhârî karya Ismâ'îl bin Ibrahîm al-Ju’fî (w. 256 H.) dan Shahih al-Muslim (w. Adapun untuk riwayat hadis dalam tafsir al-Syaukâny mayoritas berasal dari ‘Abdullâh bin ‘Abbâs / Ibnu Abbâs dan ‘Ali bin Abi Thâlib akan tetapi tidak sedikit pula ia mengambilriwayat-riwayat dari sahabat selain mereka.

BAB II I MENGENAL Al-RIWÂYAH DAN AL-DIRÂYAH DALAM TAFSIR A. AL-RIWÂYAH Al-Riwâyah

  Pada awalnya, sejarah al-Riwâyah dalam hadis dan tafsir itu berjalan sama-sama karena sumbernya hanya satu, yaitu Nabi Muhammad, sendirisebagai muhaddits pertama sekaligus mufassir awal (al-Mufassir al-Awwâl), atau meminjam bahasanya Shalâh ‘Abdul al-Fath, Rasulullah adalah al-1 Muassis al-Awwâl fî ’ilm al-Tafsîr. Setelah periode periwayatan dan pembukuan, ilmu tafsir atau tafsir mulai berdiri sendiri menjadi disiplin ilmu yang terpisahkan dari hadits.

1 Shalâh ‘Abd. al-Fattâh al-Khâlidy, Ta’rîf al-Dârisîn bi Manâhij al-Mufassirîn (untuk

  Karena itu, al-Tafsîr bi al-Ma`tsûr dapat didefinisikan sebagai“Apa-apa yang datang dari dalam al-Qur’an itu sendiri—satu ayat menjelaskan ayat yang lain—dan apa yang datang dari Rasulullah dan parasahabat yang mulia serta tabi’în.” Khusus tentang tafsir yang berasal dari5 tabi’în ini, para ulama berbeda pendapat. Sedangkan menurut al-Zarqâny dalam ungkapannya menyebutkan :“…dan ulama yang lain membagi tafsir itu menjadi tiga: tafsir bi al- riwâyah yang disebut dengan tafsir bi al-Ma`tsûr, tafsir bi al-Dirâyah yang disebut dengan tafsir bi al-Ra`yi dan tafsir al-Isyâry yang disebut8 dengan istilah tafsir bi al-Isyârah.

2. Macam-macam

  Penafsiran ayat al-Qur`an dengan ayat al-Qur`an yang lain (tafsîr al-Qur`an bi al-Qur`an) sebetulnya lebih tepat untuk tidak dimasukkan sebagai sebuah kategori dalam tafsîr bi al-ma`tsur karena upaya menjadikan sebuah ayat sebagai penafsiran bagi ayat yang lain merupakan aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan9 Al-Khâlidy, Ta’rîf al-Dârisîn bi Manâhij al-Mufassirîn, s. “…mengetahui segala sesuatu dalam al-Qur`an, yang zhâhir maupun yang bâthin, yang muhkam maupun yang mutasyâbih, yang nuzûl, tafsir tentang hal-hal gaib, dan lain sebagainya) serta tafsir yang berupa ijtihad.

A. Tafsir al-Qur`an dengan Sunnah

  13 Al-Syaukany dalam muqaddimahnya tidak secara ekplisit menjelaskan tentangtafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an sebagai bagian dari tafsir bi al-Ma'sur tetapi karena kesesuai lafal ( al-Lughah al-Arabiyah) kecocokan dengan lafal-lafal dalam al-Qur'an adalah termasukdalam kategari tafsir bi al-Dirayah atau tafsir dengan bahasa Arab. Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur`an, agar kamu menerangkan kepada umat manusiaapa yang telah di turunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”Menurut al-Syathîbî ia menegaskan bahwa Sunnah memiliki status yang lebih sekunder dibandingkan al-Qur`an, dia juga secara bersamaanmenekankan fungsi Sunnah sebagai sumber yang tidak mungkin diabaikan21 dalam penafsiran al-Qur`an.

21 Al-Syathîbî, Al-Muwâfaqât, juz. 3, s. 251. lihat juga komentar yang sama mengenai

  fungsi sunnah yang di sampaikan oleh, Khâlid bin 'Abdurrahman al-'Ak,Ushûl al-Tafsîr wa Khâlid bin 'Usmân al-'Ak yang mengutip pendapat Imâm Ahmad22 menyatakan, bahwa sunnah menafsirkan al-Qur`an dan menjelaskannya. Demikian juga al-'Ak mengutip ‘Abdurrahman al-Sulâmî seorang tabi’în al- Jalîl menyatakan bahwa orang yang membacakan al-Qur`an kepada kami, seperti 'Utsmân bin ‘Affân, ‘Abdullâh bin Mas’ûd dan selain keduanya bahwa sesungguhnya mereka belajar bersama Nabi saw.

22 Khâlid bin 'Usmân al-Sabt (untuk selanjutnya 'Usmân al-Sabt), Ushûl al-Tafsîr wa

  Diriwayatkan dari Imam Ahmad, al-Turmudzî — dia menganggap hadits ini hasan - serta Ibnu Hibbân dalam Shahîhnya, dari ‘Adi bin Hâtim, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Al-Maghdlûb ‘alaihim”, mereka adalah orangYahudî, dan “al-Dhâllîn”, mereka adalah orang Nasranî.”25 Tafsir ayat dari surah al-Fatihah di atas dikuatkan dengan adanya firman Allah swt. Para sahabat Rasulullah memahami dengan bahasa yang umum bahwa kata “al-Zhulm” dalam ayat tersebut mencakup semua perbuatananiaya, termasuk perbuatan-perbuatan keseharian yang dilakukan oleh mereka bersama keluarga mereka, sementara Rasulullah ingin menjelaskanbahwa kezaliman yang paling besar, atau dalam bahasa yang lain, dosa yang paling besar adalah melakukan kemusyrikan kepada Allah.

c. Tafsir al-Qur`an dengan Pendapat Sahabat

  Menurutnya, bahwa yang benar dari pendapat para pakar adalah pendapat Ibnu Hajar al-'Asqalânî yang mengatakan bahwasanya penafsiran sahabat dapat dianggap marfû’ kepada Nabi saw., dengan dua syarat; pertama, tafsir itu tidak mungkin menggunakan ra`yu, seperti sabab al-Nuzûl, kejadian hari Kiamat dan hari akhir, dan kedua, para sahabat yang betul-betul mengetahui tentang41 Al-Dzahaby, al-Tafsîr wa al-Mufassirûn, juz. Lihat juga, kesimpulan yang dikemukakan oleh Wâsim Fathullâh bahwa yang paling râjih dalam perselisihan ini (tafsîrtâbi’în) sebenarnya adalah apa yang mereka sepakati itulah yang kemudian dapat dijadikansebagai hujjah, namun ketika mereka berselisih tidak ada keharusan untuk mengambilnya dalam menafsirkan al-Qur’an.

3. Kelebihan Metode Tafsîr bi al-Riwâyah

  Sebagai hasil karya manusia tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. 2)Berpegang pada riwayat sahabat yang terlibat langsung dalam proses turunnya al-Qur`an (ashhab al-Tanzîl) 3)Berpegang pada riwayat dari tâbi’în (terlepas kita setuju apa tidak) yang tentunya masa mereka adalah masa yang dekat dengan masasahabat ra.

4. Kelemahan Metode Tafsîr bi al-Riwâyah

  Banyaknya kebohongan yang disandarkan kepada para sahabat ahli tafsir seperti ‘Alî bin Abî Thâlib dan Ibnu ‘Abbâs. Di samping itu, menurut hemat penulis, bahwa yang menyebabkan kelemahan metode tafsir itu seperti pendapat yang disampaikan oleh ImâmAhmad bin Hanbal tentang tiga hal yang tidak memiliki asal-usul dan sumber62 yang kuat, yaitu peperangan (al-Maghâzî), al-Malahim dan tafsir itu sendiri.

60 Muhammad ‘Alî al-Shâbûnî, al-Tibyân fi Ulûm al-Qur’ân, (Bairut : ‘Alam al-Kutub, 1985), s.190

  232.62 Para ulama muhaqqiq di antara teman-teman Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa yang dimaksud dengan peryataan itu adalah bahwa tiga hal tersebut dapat dianggaplemah atau sebuah kelemahan tafsîr bi al-Ma’tsûr, karena tidak memiliki sanad yang sahih Sementara al-Zarqâny, menyebutkan tentang kelemahan tafsir dari sahabat dan tâbi’în sebagai berikut. Bercampurnya riwayat-riwayat yang sahih dengan yang tidak sahih dan banyaknya ucapan-ucapan yang disandarkan kepada sahabatdan tâbi’în yang tidak disertai sanad dan tanpa menyaringnya (filter) terlebih dahulu.

B. Al-DIRÂYAH

  Sedangkan menurut Mannâ’ al-Qatthân, tafsîr bi al-Ra`yi adalah tafsir yang dalam menjelaskan maknanya mufassir hanya berpegang pada75 pemahaman sendiri dan istinbâth yang didasarkan kepada ra`yu semata. Dari istilah dan pengertian di atas, penulis memiliki kecenderungan untuk mengatakan bahwa tafsîr bi al-Ra`yi adalah kegiatan atau aktivitaspenafsiran al-Qur`an yang didukung oleh seperangkat ilmu pengetahuan seperti bahasa Arab, asbâb al-Nuzûl, nâsikh wa mansûkh, dan ilmu bantulain yang diperlukan dalam proses penafsiran tersebut.

2. Pembagian Tafsîr Dirâyah

  Tafsîr bi al-Ra`yi al-Jâiz adalah tafsir yang dilakukan dengan proses yang sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tidak bertentangan dengan al-Qur`an dan sunnah dan memenuhi syarat-syarat penafsiran. Istilah tafsîr bi al-Ra’yi al-Jâiz wa ghairu al-Jâiz di atas adalah istilah yang digunakan oleh al-Zarqâny dalam Manâhil-nya, 'Abdurrahman al-'Akl dan Al-Khalidymenggunakan istilah Mahmûd Maqbûl dan Madzmûm Mardûd, sementara al-Dzahaby menggunakan istilah, Jâiz Mamdûh, dan Harâm Madzmûm.

8. Setelah semua ini dilakukan, maka wajib bagi mufassir untuk kritis

  Demikian panjang sejarahnya sebuah karya tafsir untuk dapat dinilai maqbûl atau mahmûd, dan demikian pulakarya tafsir untuk dinilai sebagai tafsir yang menggunakan metode ini dan itu. "Dan kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baikdimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim."Al-Tustary berkata bahwa bukan makan sebetulnya yang dilarang dalam ayat tersebut, melainkan menunaikan hasrat dengan sesuatu83 selain Allah.

3. Adakalanya makna yang diyakini mufassir itu salah, dan lafazh atau

  Wujûd, seperti ketika ia menafsirkan surah al-Wâqi’ah (56) : 57, yang berbunyi :    "Kami Telah menciptakan kamu, Maka Mengapa kamu tidak membenarkan?"Ibnu ‘Arabî menafsirkannya dengan, Kami telah menciptakan kalian dengan bentuk kalian dan dengan wujud Kami, dan bentuk Kami ada85 dalam bentuk kalian. Contoh lain adalah ketika dia menafsirkan surah al-Muzzammil (73) :8, yang berbunyi :      "Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan."Ia (Ibnu ‘Arabî) menyatakan bahwa makna ayat ini adalah kenalilah dirimu dan jangan melupakannya sehingga Allah swt.

2. Mencoba menafsirkan ayat-ayat yang maknanya hanya diketahui oleh Allah, seperti ayat-ayat mutasyâbih

  Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang boleh tidaknya menafsirkan al-Qur’an dengan ra`yu (nalar); ada yang membolehkan dan ada pula yangtidak membolehkan. Ia berpendapat bahwa menafsirkan al-Qur’an dengan ra`yu tidak boleh dilakukan, meskipunyang menafsirkan itu ahli bahasa Arab, fiqh, nahwu dan hadis, sebab penafsiran al-Qur`an yang benar hanyalah yang berasal dari Rasulullah saw.91 dan para sahabat yang menyaksikan turunya ayat.

89 Al-Dzahaby, al-Tafsîr wa al-Mufassirûn, juz. II, s. 196; lihat juga, Ta’rîf al-Dârisîn bi

  bandingkan dengan pernyataan 'Âlî Hasan al-'Ârid yangdinukil oleh Quraish Sihab, dalam Sejarah dan Ulum al-Qur’an yang menyebutkan bahwa ada enam hal yang harus dihindari oleh seorang mufassir dengan corak ini adalah, mufassirtidak boleh menafsirkan makna suatu ayat yang tidak dikandungnya. Berbeda dengan Hujjat al-Islâm al-Ghazâlî (w. 505 H.) yang agak lunak dalam menyikapi hal itu seperti dalam pernyataannya, bahwapenafsiran dengan ra`yu yang jelek yang penuh dengan hawa nafsu dan kebodohan tidak boleh dilakukan, mekipun apabila hal itu dilakukan dengan ra`yu yang sahih dan sesuai dengan kaidah bahasa, maka itulah yang dimaksud dengan hikmah, yaitu orang yang diberi pemahaman al-Qur`an97 yang banyak.

4. Macam-macam Corak Tafsîr bi al-Ra`yi / Dirâyah

  Corak filsafat dan teologi, yaitu tafsir yang membahas persoalan- persoalan filsafat, baik yang menerima pemikiran-pemikiran Yunaniyang berkembang di dunia Islam seperti pemikiran Ibnu Sinâ dan al-Farabî, maupun yang menolak pemikirannya. Corak fikih atau hukum, yakni tafsir yang berorientasi atau memusatkan perhatian kepada fikih (hukum Islam) seperti kitab Ahkâm al-Qur’ân karya Abû Bakar Ahmad bin Alî al-Râzî yang lebih dikenal dengan nama al-Jashshâs (w.370 H/980 M), Ahkâm al-Qur’ân karya Ibnu al-‘Arabî.

5. Kelebihan Metode Tafsir bi al-Ra`yi / Dirâyah

  Sepanjang dilakukan dengan hati-hati dan dengan mematuhi kaidah- kaidah yang berlaku dalam penafsiran al-Qur`an, metode tafsîr bi al-Ra`yijuga memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh tafsîr bi al-Ma`tsûr. Produk tafsir yang dilakukan dengan metode ini akan sangat tergantung kepada ketajaman pikiran dan kepekaan perasaan seorang mufassir.

3. Terhindar dari kelemahan-kelemahan riwayat yang lazim terjadi dalam

6. Kelemahan Metode Tafsîr bi al-Ra`yi / Dirâyah Tafsîr bi al-Ra`yi membutuhkan kehati-hatian yang sangat tinggi

  Sebagian besar kesalahan yang terjadi dalam tafsîr bi al-Ra`yi disebabkan oleh tidak dipatuhinya kaidah-kaidah penafsiran al-Qur`an yang disepakatioleh para ulama. Mudah terjebak ke dalam penafsiran yang subyektif, seperti kepentingan golongan dan kelompok serta dorongan nafsu dan interest pribadi.

BAB IV ANALISIS METODE PENAFSIRAN AL-SYAUKÂNY Di antara para mufassir, al-Syaukâny termasuk salah seorang yang mengemukakan metode tafsir yang dipilihnya secara cukup eksplisit. Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu, al-Syaukâny

  mengklaim bahwa metode tafsirnya dibangun di atas konvergensi antara al- Riwâyah dan al-Dirâyah. Bagian berikut ini akan menguji klaim tersebut melalui penelusuran terhadap masing-masing metode al-Riwâyah dan al- Dirâyah itu berikut bagaimana al-Syaukâny melakukan konvergensi di antara keduanya.

A. Metode

Metode al-Riwâyah dalam tafsir seringkali disebut juga dengan tafsir bi al-Ma`tsûr. Berikut ini penjelasan tentang macam-macam al-Riwâyah atau model al-Tafsîr bi al-Ma`tsûr dari tiga kategorisasi yakni tafsir al-Qur'an dengan Hadis Rasulullah,perkatatan sahabat dan perkataan Tabi'in, Karenauntuk kategorisasi tafsir al-Ma`tsûr yang pertama yaitu tafsir al-Qur'an dengan ayat al-Qur'an, al-Syaukâny tidak menjelaskan dengan explicit tentangpenafsiran tersebut dalam kategori tafsir al-Ma`tsûr ,oleh karena itu, penulis pada pembahasan ini, menjelaskan metode al-Riwâyah al-Syaukâny dilihatdari tiga kategori yang terakhir ditambahkan dengan bagaimana al-Syaukâny memandang tafsir yang datang dari ahlul Kitab serta bagaimana al-Syaukânymenggunakan macam-macam qira'ah dalam tafsirnya .

1. Penafsiran al-Qur`an dengan Hadits Rasulullah saw

a. Al-Syaukâny dan Mayoritas Pendapat Ahlul Hadits

  apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukupkepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”Untuk menafsirkan kata ةﻮﻗ dalam ayat di atas, al-Syaukâny mengutip hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim dan beberapa muhadditslainnya melalui jalur periwayatan ‘Uqbah bin ‘Âmir. Redaksi kedua hadits itu sama, yaitu bahwa yang disebut taubat sebenar-benarnya adalah taubat yang membuat seseorang berhentimengulangi dosanya.4 Tetapi al-Syaukâny memilih untuk berpegang kepada hadits yang mauqûf5 daripada kepada hadits yang marfû’6 dengan alasan bahwa hadits kedua memiliki kelemahan dalam sanadnya.74 Al-Syaukâny, Fathul Qadîr, juz.

b. Al-Syaukâny dan Hadits-hadits Dla'if

  Alasan yang pertama dan kedua ia sebutkan langsung dalam pengantar untuk kitab tafsirnya, al-Syaukâny dikabarkan oleh sahabat dari ucapan dan perbuatan Rasulullah. pertama, karena ada hadits lain tentang persoalan yang sama yang menguatkannya (li kauni fî al-Maqâm mâ yuqawwîhi).kedua, karena hadits tersebut sesuai dengan makna linguistik ayat8 yang bersangkutan (li muwâfaqatihî li al-Ma’na al-’Arabî).

1. Pencantuman hadits dla’if dengan alasan untuk Menguatkan

  175, selanjutnyaal-Baghawy dengan mengutip pendapat Ibnu 'Abbas menyatakan:" bahwa siapa saja mengucapkan la ilaha illa Allah dan beramal sesuai dengan yang diperintahkan oleh Nabimaka ia akan masuk syurga." 12 terdapat nama Jâbir al-Ju’fy, seorang perawi yang dianggap dla’if, beserta13 salah seorang gurunya yang tidak disebutkan namanya (mubham). Setiap mereka diberi rezki buah- buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, "Inilah yangpernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang sucidan mereka kekal di dalamnya.”Dalam penafsirannya, al-Syaukâny mengutip hadits yang diriwayatkan oleh al-Thabrany, Ibn Mardawaih, dan Abu Nu’aim melalui jalur Ibn Mas’udbahwa Rasulullah saw.

c. Al-Syaukâny dan Hadits-hadits yang Bertentangan

  Salah satu persoalan yang juga penting untuk dilihat adalah: bagaimana sikap al-Syaukâny terhadap hadits-hadits Rasulullah yang salingbertentangan satu sama lain dalam sebuah persoalan yang sama? Untuk itu, kita akan meninjau bagaimana al-Syaukâny menafsirkan ayat 29 dari surahal-Ahqâf berikut ini.

24 Al-Syaukâny, Fathul Qadîr, juz 2, s. 86. Menurut al-Dzahaby bahwa riwayat hadits

45. Komentar yang sama juga dikemukakan oleh 'Abdu al-Razaq al-Mahdy, Muhaqiq tafsir

  Sebaliknya, dalam riwayat yang lain, Ibn Mas’ud justru menyatakan bahwa tidak ada seorang pun sahabat yang menemaniRasulullah saw. Akan tetapi ada riwayat lain yang menyatakan bahwa ayat di atas turun dalam peristiwa ketika Rasulullah saw.

27 Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibn al-Mundzir, Ibn Abi Hâtim, al-Thabrany

  Dari penjelasan tersebut dapat kita pahami bahwa al-Syaukâny dalam masalah hadits-hadits yang bertentangan ia melakukan kompromi, selamakompromi itu memungkinkan dan riwayatnya juga sama-sama shahihnya. Berikutnya, kita akan beralih kepada uraian mengenai bagaimana al-Syaukâny memposisikan pendapat para sahabat dalam kitab tafsir yang ditulisnya.

3. Penafsiran al-Qur’an dengan Pendapat Sahabat

a. Al-Syaukâny dan Pendapat Sahabat

  Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat."Al-Syaukâny menafsirkan ayat 1 dari surat al-Nashr di atas dengan menggunakan berbagai riwayat yang sebagian besarnya berasal dari jalurpara sahabat, seperti ‘Umar bin al-Khattâb, Abû Bakar, Aisyah, Ummu31 Habîbah dan Ibnu ‘Abbâs. Tetapi al-Syaukâny tidak mentarjîhriwayat-riwayat yang dikutip dalam tafsirnya itu sehingga tidak terlihat riwayat siapa dan perkataan sahabat siapa yang dianggapnya sebagai penafsiranyang paling tepat.

31 Untuk lebih jelasnya tentang riwayat yang bernunsa redaksi asbâb al-Nuzûl dapat

  Contoh lain dari tafsir yang dilakukan oleh sahabat adalah ketika al-Syaukâny menafsirkan surah al-Maidah (5), ayat 20, al-Syaukâny juga mengutip banyak pendapat dari para sahabat. Ayat itu sendiri berbunyi, 32 Mengenai penafsiran Ibnu ‘Abbâs di atas, perlu diketahui bahwa hadis yang dari jalur Ibnu ‘Abbâs itu dikeluarkan oleh Imâm Bukhârî dan beberapa ulama hadits lainnya.

b. Posisi Pendapat Sahabat dalam Tafsir al-Syaukâny

  Satu-satunya penjelasan yang pernah beliau berikan adalah bahwa setiap huruf dalam al-Qur`an mengandung kebaikan,sebagaimana tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, al- Tirmidzi, dan al-Hâkim, melalui jalur Ibn Mas’ud berikut ini. sehingga, karenanya, tidak wajib untuk kita ikuti.36 Pada titik ini, al-Syaukâny berhadapan dengan pernyataan para ulama bahwa jikariwayat-riwayat yang berasal dari para sahabat itu menyangkut persoalan- persoalan yang tidak mungkin dimasuki oleh unsur penalaran rasional (lâ35 Al-Syaukâny, Fathul Qadîr, juz.

2. Al-Syaukâny juga menolak penafsiran sahabat apabila penafsiran tersebut bertentangan dengan riwayat lain yang berasal dari Rasulullah saw

  Maka Allahmengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”Tentang ayat ini, Sa’id bin Manshur, al-Thabary, Ibn al-Mundzir, dan Ibn Abî Hâtim meriwayatkan sebuah pernyataan dari Ibn ’Abbas bahwa ayat di atas menyinggung orang yang menyembunyikan persaksian (kitmân al-38 Al-Syaukâny, Fathul Qadîr, juz. Dalam sebuah riwayat yang berasal dari al-Thabary dan IbnMardawaih, Mu’awiyah bin Abu Sufyan menyatakan bahwa ayat di atas merupakan ayat yang terakhir kali diturunkan.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (207 Halaman)
Gratis

Tags

Riwayah Al Ghoib Al Tafsir Al Adabi Peran Singkel Dalam Tafsir Al Pengaruh Fundamentalisme Dalam Tafsir Al Tafsir Al Misbah Tafsir Al Mishbah Feminisme Dalam Kajian Tafsir Al Tafsir Al Azhar Tafsir Al Jalalayn
Show more