Tugas Akhir - Pengaruh pembangunan apartemen Solo Paragon terhadap kondisi lingkungan sekitarnya

Gratis

0
1
135
1 year ago
Preview
Full text

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Pembangunan mix use yang berada di lahan bekas lahan kosong di tengah kota ini berada di BWK VI yang sesuai dengan RUTRK KotaSurakarta tahun 1993-2013, bahwa kawasan ini merupakan peruntukan perumahan dan kawasan komersial sekaligus sebagai kawasan mix use. 1.2 Rumusan Masalah Berangkat dari kajian teoritis dan kajian empiris, muncul dugaan permasalahan yang berupa indikasi perubahan pemanfaatan lahan akibatadanya pembangunan Apartemen Solo Paragon seperti perubahan fungsi bangunan komersial, serta pengaruh sosial dan ekonomi yang dipengaruhioleh pembangunan Apartemen Solo Paragon.

1.4 Manfaat Penelitian

  Dalam pengembangan keilmuan perencanaan wilayah dan kota, informasi mengenai pengaruh perubahan kondisi fisik dan sosialekonomi akibat pembangunan Solo Paragon dapat dimanfaatkan sebagai bentuk antisipasi bagi pengembang, pemerintah kotaSurakarta dan masyarakat sekitar agar ke depannya dapat lebih terkendali 2. Pada sisi praktis, penelitian ini menghasilkan suatu gambaran mengenai perubahan pemanfaatan lahan, sosial dan ekonomi,sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dan masukan bagi pemerintah kota Surakarta khususnya dan masyarakat padaumumnya.

1.5 Tahapan Penelitian

  PENDAHULUAN Pembahasan penelitian : ANALISIS OUTPUT Tema :Pengaruh pembangunan Apartemen Solo Paragonterhadaap kondisi lingkungan sekitarnya Globalisasi yang terjadi di kota Solo memunculkan adanyasalah satu mix usedevelopment yaitu ApartemenSolo Paragon. Pembangunan yang terletak di pusat kota Solotersebut diduga dapat mempengaruhi kondisi spasialdi lingkungan sekitar yang terkait pula dengan perubahankondisi sosial maupun ekonomi Rumusan Masalah : 2.

1.6 Batasan Penelitian

1.6.1 Batasan Wilayah Penelitian

  Fokus : Difokuskan pada wilayah penelitian yang berada di sekitar Apartemen Solo Paragon, dengan menggunakan batas- batas fisik wilayah penelitian sebagai berikut : Gambar 1.1Peta Area Penelitian 1.6.2 Batasan Waktu Penelitian Batasan waktu penelitian yang dilakukan adalah mulai dari awal terjadinya isu pembangunan Solo Paragon yaitu tahun 2006hingga penelitian berlangsung yaitu tahun 2010 (sesudah pembangunan Solo Paragon). 1.6.3 Batasan Materi Penelitian Fokus dari penelitian ini adalah pengaruh perubahan pemanfataan lahan, pengaruh perubahan sosial dan pengaruhekonomi masyarakat sekitar Apartemen Solo Paragon.

1.7 S istematika Penulisan

  Tahap 4 Gambaran umum obyek penelitian M enjelaskan kondisi eksisting berupa kondisi pemanfaatan lahan, kondisi sosial dan kondisi ekonomi Kelurahan mangkubumen, Kelurahan Penumping, danKelurahan Sriwedari secara umum berdasarkan materi pembahasan, kedudukan fungsi kawasan dan potensilingkungan. Tahap 5 Analisis pengaruh pembangunan apartemen Solo Paragon terhadap kondisi lingkungan sekitar Analisis dilakukan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi karakteristik perubahan kegiatan yangberkaitan dengan pemanfaatan lahan, analisis pengaruh perubahan pemanfataan lahan, pengaruh perubahansosial dan pengaruh ekonomi masyarakat sekitar Apartemen Solo Paragon.

BAB 2 PENGARUH PEMBANGUNAN APARTEMEN DALAM PERS PEKTIF TEORI Untuk mengkaji pengaruh fisik, soial dan ekonomi ari sebuah

pembangunan apartemen, terlebih dahulu perlu dipahami tentang teori perkembangan kota, teori lahan, teori perubahan sosial, teori nilai lahandan teori pusat pertumbuhan.

2.1 Perkembangan kota

2.1.1 Proses Perkembangan Spasial Sentripetal

  Proses ini terjadi pada lahan- lahan yang masih kosong di bagian dalam kota, baik berupa lahanyang terletak diantara bangunan-bangunan yang sudah ada, maupun pada lahan-lahan terbuka lainnya. Hal inilah yang menyebabkan mengapaproses perkembangan spasial sentripetal ini disebut juga proses pengisian ruang-ruang yang kosong (the spatial infilling process/SIP).(Yunus, 2008) Pada umumnya, persyaratan pembangunan yang dilaksanakan sebagian besar sudah memenuhi kriteria yang ditentukan sehinggakesesuaianya dengan konsep tata ruang sangat mudah dilihat.

2.1.2 Proses Perkembangan Spasial Secara Vertikal

  Gejala munculnya gedung bertingkat banyak seiring dengan kemajuan di bidang teknologi konstruksi gedung serta makinlangkanya ruang di bagian dalam kota untuk mengakomodasikan kegiatan yang terus berkembang. Perkembangan ini telah mengubah struktur tata ruang kota, khususnya di bagian pusat kota yang semula hanyaberfungsi sebagai business district, kemudian juga berfungsi sebagai residential district, khususnya pada lantai-lantai bangunan yang beradadi bagian paling atas.

2.1.3 Dampak Perkembangan Spasial Sentripetal

  Secara fisikal, dampak langsung yang dapat diamati adalah adanya suatu kepadatan bangunan (densitifikasi) di bagian dalam kotadimana terjadinya densifikasi bangunan menyebabkan proporsi massa bangunan (solids) kebih besar daripada ruang luarnya (voids). Kenyataan empiris menunjukkanbahwa proses densifikasi di Indonesia selama ini tidak sepenuhnya terarah dan terkendali (uncontrolled densitification process), sehinggadampak negatif yang tidak diharapkan telah muncul di berbagai kota besar yaitu deteroisasi lingkungan (environmental deteriorisation),khususnya lingkungan permukiman.

2.2 Lahan

2.2.1 Definisi Lahan

  Secara umum, lahan memiliki karakteristik tertentu yang membedakan dengan sumberdaya alam yang lain, yaitu: 1. Lahan secara fisik tidak dapat dipindahkan, sehingga lahan yang luas di suatu daerah merupakan keuntungan bagi daerah tersebutyang tidak dapat dialihkan dan dimiliki oleh daerah lain.

2.2.2 Definisi Pemanfaatan Ruang/Lahan

  Pemanfaatan ruang adalah bermacam aktivitas yang dilakukan manusia dalam memanfaatkan lahan pada suatu wilayah berdasarkanperilaku manusia itu sendiri yang mempunyai arti dan nilai yang berbeda-beda. Invasi dari kelompok lain yang berbeda dalam keadaan sosial, ekonomi, dan budaya.

2.2.3 Kecenderungan perubahan pemanfaatan lahan

  Pendekatan teori neoklasik tentang ekonomi dan perubahan lokasi yang dikembangkan oleh Von Thunen (1826), Weber(1929) dan Christaler (1933), mengemukakan bahwa secara normatif masyarakat akan memaksimalkan keuntungan yang dapat diperoleh darilahan dan/atau kegiatan yang dilakukan dalam pemilihan lokasinya(Alit, 2001). Oleh karena itu, kecenderungan perubahan pemanfaatan lahan terjadi pada lokasi-lokasi yang menawarkan peluang dankemudahan dibandingkan dengan lokasi lainnya, seperti tingkat aksesibilitas tinggi dan kelengkapan utilitas.

2.3 Perubahan Sosial

  Terdapat berbagai pendapat kontradiksiterhadap penggunaan lahan yaitu, di satu sisi menyikapi lahan sebagai komoditi, di lain sisi menganggap lahan sebagai suatu hubungan jiwa dan . Dalam kehidupan bermasyarakat ataupun public life-nya, maka manusia belajar untuk menerima dan menyesuaikan diri dengan nilai dan keadaanyang sebenarnya, yang sering tidak diinginkannya.

2.4 Teori Nilai Lahan

  Perkembangan dari teori VonThunen adalah selain harga lahan tinggi di pusat kota dan akan makin menurun apabila makin jauh dari pusat kota. Lahan yang digunakan untuk kegiatan yang tingkat produktifitasnya tinggi akanmenyebabkan lahan tersebut mempunyai nilai yang semakin tinggi.

2.5 Pusat Pertumbuhan

  Secara geografis, pusat pertumbuhan adalah suatu lokasiyang banyak memiliki fasilitas dan kemudahan sehingga menjadi pusat daya tarik (pole of attraction), yang menyebabkan barbagai macam usahatertarik untuk berlokasi di situ dan masyarakat senang datang memanfaatkan fasilitas yang ada di kawasan tersebut. Adanya hubungan internal dari berbagai macam kegiatanHubungan internal sangat menentukan dinamika sebuah kota ada keterkaitan antara satu sektor dengan sektor lainnya, sehinggaapabila ada satu sektor yang tumbuh, akan mendorong pertumbuhan sektor lainnya, karena saling terkait.

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

  Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomologi yang memiliki kebenaran teori empiri sensual, yaitu kebenaran bersumber dari teori yangdibandingkan dengan empiri fakta pada suatu obyek yang spesifik untuk melakukan analisis terhadap obyek yang spesifik pula. Variabe l Pe ngaruh yang Diolah dari Te ori No Aspe k Variabe l yang De finisi Sumbe r digunakan 1 Fisik Perubahan Penyesuaian untuk Chapin dan pemanfaatan lahan kebutuhan manusia dalam Kaiser, 1999(Komersialisasi menampung kegiatan yang bangunan) ada 2 Sosial Kesiapan Kesiapan masyarakat dalam URDI, 2005 masyarakat menerima kehadiranpembangunan Apartemen dan infiltrasi orang-orangmenengah ke atas Berkurangnya ruang T erseleksinya masyarakat Z.

3.4 Metode Pengambilan Sampel

  Populasi diartikan sebagai keseluruhan satuan analisis yang merupakan sasaran penelitian. Dalam hal ini yang menjadi populasi dalampenelitian ini adalah masyarakat yang melakukan adaptasi terhadap perkembangan baik dari aspek fisik, sosial dan ekonomi karena faktor 2 n = N / (1+ N.e )Dimana : n = jumlah responden N = jumlah populasi e = besarnya toleransi yang digunakan (0,1)Sehingga sampel total responden (n) : 2 N = 600 / (1+ 600.

3.5 Metode Pengumpulan Data

3.5.1 Teknik survey

  Dat a dokumentasi yang dimaksud adalah berupa kebijakan pemerintahterkait penggunaan ruang di wilayah penelitian dan data-data sekunder mengenai gambaran umum Solo Paragon dan kelurahanM angkubumen, Kelurahan Penumping dan Kelurahan Sriwedari. Wawancaraini ditujukan pada warga sekitar Apartemen Solo Paragon yang tinggal di kelurahan M angkubumen, Kelurahan Penumping, danKelurahan Sriwedari pegawai kantor kecamatan, pegawai Dinas Tata Kota (DTK), dan pihak developer Apartemen Solo Paragon.

3.5.2 Instrumen Survey

  Lokasi (segmen-segmen yang mengelilingi Apartemen Solo Paragon) Segmen (utara; selatan; barat dan timur Apartemen SoloParagon, sampai pada lingkup se-Kota Surakarta) 2. Data dari kuisioner tersebut seperti kondisi yangdipengaruhi, yaitu penilaian kondisi fisik, sosial dan ekonomi yang terkena pengaruh.

3.5.3 Desain Survey Tabe l 3.2 De sain Surve i Pe ne litian No Tahap Pe ne litian Ke giatan dan Data yang Dibutuhkan Me tode Sumbe r Data O D W K

1 Pengumpulan dataData penggunaan ruang di dalam SoloParagon √ Manajemen Solo Paragon Data fisikpembangunan Solo Paragon √ Manajemen Solo ParagonKebijakan-kebijakan dari pihakpengembang Apartemen SoloParagon √ Manajemen Solo Paragon Pemanfaatan lahan disekitar Solo Paragon √ Peneliti dan dibantu petatata guna lahan kelurahan Peta Kelurahan Mangkubumen,KelurahanPenumping, Kelurahan Sriwedarisebelum dan sesudah pembangunan SoloParagon √ Kantor KelurahanMangkubumen, KantorKelurahan Penumping,Kantor KelurahanSriwedari Peta tata guna lahan Kelurahan Mangkubumen,√ Kantor Kelurahan Mangkubumen, Kelurahan SriwedariMonografi penduduk √ Kantor Kelurahan Mangkubumen, KantorKelurahan Penumping,Kantor KelurahanSriwedari Kebijakan dari √ Dinas T atapemerintah terkait Kota pembangunanApartemen Solo ParagonData PKL di sekitar √ √ PKL sekitar Solo Paragon Solo ParagonRUT RK Surakarta √ Bappeda SurakartaData harga tanah √ √ √ Pajak Bumi dan BangunanJumlah pendapatan √ √ Masyarakat penduduk sekitar (sampelpenelitian) Data tenaga kerja √ Kantor (mata pencaharian) Kelurahan Mangkubumen,Kantor KelurahanPenumping, KantorKelurahan Sriwedari Sumber : Peneliti, Tahun 2010

3.6 Trianggulasi Data

Lexy J Moleong (1995) : “Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data ituuntuk pengecekan atau sebagai bahan pembanding terhadap data itu.” Trianggulasi dalam penelitian diperlukan untuk menghilangkan kesan subyektivitas peneliti dalam menentukan pengaruh dari tiap

3.7 Metode Analisis

  M etode analisis digunakan untuk mengkaji data-data yang diperoleh dari hasil survei primer dan sekunder dengan meriver dariberbagai teori yang digunakan sesuai variabel yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian. M etode yang digunakan untuk menganalisisyaitu dengan menggunakan metode kualitatif : M enggunakan metode deskriptif-induktif untuk menjelaskan hasil analisis pengaruh perubahanpemanfataan lahan, pengaruh sosial dan pengaruh ekonomi masyarakat sekitar Apartemen Solo Paragon.

3.8 Sintesa

Sintesa berupa penarikan kesimpulan dari hasil proses analisa yang telah dilakukan dan menghasilkan suatu kesimpulan yang merupakanjawaban atas rumusan permasalahan yang telah ditentukan sebelumnya. BAB 4 GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN

4.1 Kondisi Umum Kota Surakarta

  Sumber : Bappeda Kota Surakarta, 2009 Gambar 4.1 Pe ta Kota Surakarta Letak yang strategis ini, mempengaruhi perkembangan KotaSurakarta dengan segala potensi yang dimilikinya yaitu sebagai kota perdagangan dan jasa. Berikut adalah jumlah prosentasetingkat penggunaan ruang untuk hunian di Kota Surakarta yang menjadi prosentase terbesar di antara penggunaan ruang yang lain : Tabe l 4.1 Re ncana Pe nggunaan Ruang KotaRT URK 1993-2013 PENGGUNAAN RUANG No KOT AHa % 1.

4.2 Kebijakan Wilayah

  Sesuai dengan ketentuan dalam RUTRK KotaSurakarta Tahun 1993-2013 bahwa kawasan Solo Paragon adalah kawasan mix use sehingga dengan adanya Solo Paragon yang bersifat mix use ini,dan perkembangan fisik yang terjadi di sekitarnya mendukung dan sangat relevan sebagai bentuk pengayaan kawasan ini dengan berbagai fasilitaskomersial yang belum ada sebelumnya. Selain itu dengan adanya Solo Paragon, banyak wisatawan dan investor yang datang, akan mendukungadanya aset yang kita tonjolkan yaitu sentra- sentra batik” (Kasubbid DTK)Secara administratif, kawasan Solo Paragon mencakup 3 Kelurahan yaitu Kelurahan M angkubumen, Kelurahan Penumping, dan Kelurahan Sriwedari.

4.3 Apartemen Solo Paragon

  Bangunan ini Sementara ini dari data yang diperoleh dari M anajemen SoloParagon tahun 2010, terdapat 4 tower untuk apartemen dan hotel (yang sekarang ini baru 1 tower yang selesai dibangun) dan sisanya adalah malldan city walk. Dari 24 lantai, apartemen dan hotel yang sudah dipasarkan adalah pada : Lantai 1 : Apartemen Selain penjualan apartemen yang fantastis, penjualan Citywalk dan Mall Solo Paragon juga mendapat respon yang sama.

4.4 Kondisi Pemanfaatan Lahan Sekitar Solo Paragon

  Kelompok jenis pemanfaatan lahan di kawasan penelitian sebelum adanya pembangunan apartemen Solo Paragon, penggunaan lahannyadidominasi oleh permukiman dan terdapat sedikit perdagangan jasa pada bagian periferi (menghadap jalan utama). Kondisi pemanfaatan lahan saat ini meliputi kegiatan permukiman, perdagangan, jasa, perkantoran, dan lain-lain yang umumnyamengelompok di sep anjang periferi Jalan Yosodipuro yakni di sebelah utara Solo Paragon, sedangkan pemanfaatan lahan untuk kegiatanpermukiman mengelompok di bagian enclave kawasan Solo Paragon.

1. Pemanfaatan lahan untuk kegiatan permukiman

  Seperti yang dikutip dalamhasil wawancara berikut : “Namun tetap, ada hal positif yang diterima warga, yakni warga banyak yang mulai melakukan adaptasi dengan caramembuka kost-kostan baik untuk para pekerja kasar/kuli, dan karyawan Solo Paragon nantinya. dan kini semenjak adanya pembangunan Solo Paragon, banyak warga yangmembuka kost- kostan di rumah mereka”(Ketua RW V Kelurahan M angkubumen) Gambar 4.6 Gambar 4.5 Kost-kostan Kost-kostan Dibangun Se sudah Pe mbangunan Dibangun Sebelum Pembangunan Solo Paragon Solo Paragon Sumber : Peneliti, 2010 Sumber : Peneliti, 2010 Gambar 4.8 Gambar 4.7 Rumah Se be lum Pe mbangunan Solo Rumah Se sudah Pe mbangunan Solo Paragon Paragon Sumber : Peneliti, 2010 Sumber : Peneliti, 2010 2.

4. Pemanfaatan lahan untuk kegiatan perdagangan dan jasa

  Jenis restoran sebelum Solo Paragon dibangun tepatnya pada Jalan Cipto M angunkusumo dan cafe sesudah SoloParagon dibangun seperti pada Gambar 4.17 dan Gambar4.18 di bawah ini : Gambar 4.17 Re storan Se be lum Pe mbangunan Solo Paragon Sumber : Peneliti, 2010 Gambar 4.18 Kafe Se sudah Pe mbangunan Solo Paragon Sumber : Peneliti, 2010 d. Gambar 4.20 Gambar 4.19 Salon Sesudah Pe mbangunan Salon Sebelum Pe mbangunan Solo Paragon Solo Paragon Sumber : Peneliti, 2010 Sumber : Peneliti, 2010 Sedangkan Gambar 4.21 dan Gambar 4.22 adalah gambar laundry yang sebelum Solo Paragon dibangun sudah ada dijalan Hasanudin, dan gambar laundry yang baru-baru ini dibangun setelah pembangunan Solo Paragon di JalanYosodipuro.

5. Pemanfaatan lahan untuk perkantoran a

  Gambar 4.26 Kantor Ke lurahan Mangkubume n Sumber : Peneliti, 2010 Perkantoran swastaPerkantoran Swasta yang dimaksud adalah perkantoran bisnis dan profesional, antara lain berupa : kantor notaris,kantor pengacara yang berada di bagian enclave(permukiman), dan kantor keuangan atau finence, kantor ticketing penerbangan pesawat terbang, dan lain-lain yang tersebar di bagian periferi koridor Jalan Yosodipuro. Berikut ini adalah peta yang menunjukkan guna lahan atau pemanfaatan lahan yang ada disekitar Solo Paragon pada tahun 2006 (sebelum ada isu pembangunan Solo aragon) dan tahun 2010 (sesudah pembangunan Solo Paragon) : 1 1 13 T oko furniture T oko makanan 5 1 4 T oko pulsa T oko pulsa 3 5 Jumlah 15 22 2.

4.5 Kondisi Sosial

  Tabe l 4.11 O lah Data Kusione r Variabe l Sosial Ke duaAdanya Solo Paragon Jawaban Jumlah Setuju 52 mengakibatkantereduksinya ruang T idak setuju 33 publik bagi PKLJumlah responden 85 Sumber : Hasil Survey dan Analisa, Tahun 2010 Jumlah dan sebaran lokasi ruang publik yang dinikmati oleh masyarakat sekitar khususnya PKL bermacam di setiap lokasi. Supomo 6 6 8 Sepanjang Jalan Arumndalu 4 1 Jumlah 84 70 Sumber : Hasil Penelitian, Tahun 2010 Dari tabel di atas, menunjukan penurunan jumlah PKL yang berada di jalan-jalan yang mengelilingi lahan Solo Paragon seperti JalanYosodipuro, Jalan Cipto M angunkusumo, Jalan Sutomo, dan JalanArumndalu.

4.6 Kondisi Perekonomian

  Terdiri dari kegiatan perdagangan dan jasa, seperti munculnyaruko-ruko, toko, restoran, cafe, salon, laundry, kost-kostan dan masih banyak lagi kegiatan baik yang mendukung perdagangan dan jasa, ataupunmendukung banyaknya sarana pendidikan di sekitar kawasan penelitian. Seperti yang dikutip dalam wawancara berikut : “Pernyataan bahwa Solo Paragon mengutamakan perekrutan tenaga kerja di sekitar Solo Paragon itu tidak benar adanya,karena mereka hanya mengambil 15 orang saja dari warga dan dijadikan sebagai gardener/tukang kebun dan security/satpam,mekanik.

4.7 Potensi Lingkungan Sekitar Wilayah Studi

  Sarana PerdaganganSarana perdagangan yang berada di sekitar Solo Paragon adalah : Kompleks ruko di Jalan Yosodipuro Restoran, warung/rumah makan Toko/kelontong JasaKegiatan jasa yang berada di sekitar Solo Paragon adalah : Bimbingan Belajar Percetakan 3. Perkantoran, pemerintahan dan swasta Sarana perkantoran yang berada di sekitar Solo Paragon adalah : Dinas Perdagangan dan Koperasi 4.

RSU PKU

  Hotel dan Gedung PertemuanHotel Agas Hotel Suka Marem Salah satu kegiatan perdagangan yang terdekat dan menonjol di sekitar Solo Paragon adalah keberadaan Solo Grand M all. M all yangterletak di sebelah selatan Solo Paragon dan dibatasi Jalan Kalitan sudah ada sebelum Solo Paragon muncul.

BAB 5 ANALIS IS PENGARUH PEMBANGUNAN APARTEMEN S OLO PARAGON TERHADAP KONDIS I LINGKUNGAN S EKITARNYA Analisis ini dilakukan dengan 3 tahap analisis, yang pertama adalah

  analisis pengaruh fisik berupa analisis perubahan pemanfaatan lahan ditinjau dari perubahan orientasi sebaran lokasi kegiatan komersial selamapembangunan apartemen Solo Paragon berlangsung. Analisis ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi pengaruh fisik berupa perubahan pola spasialpenyebaran kegiatan komersial dan perubahan wujud kawasan dengan teknik deskriptif dan disajikan secara spasial.

5.1 Analisis Pengaruh Fisik

  Analisis pengaruh fisik disini membahas gejala-gejala perubahan fisik yang timbul akibat adanya pembangunan apartemen Solo Paragonsecara hirarkis dimulai dari menganalisis gejala perkembangan kegiatan komersial, menganalisis jenis dan sebaran kegiatan komersial, dan polaperkembangan pemanfaatan lahan. Kemudian menganalisis pengaruh fisik lain seperti analisis kondisi jaringan jalan, dan kepadatan bangunan.

5.1.1 Gejala Perkembangan Kegiatan

  Sehingga seperti yang dapat di lihat lapangan, semenjak muncul Solo Paragon mengubah pola pemanfaatan Perkembangan kegiatan komersial di sekitar Solo Paragon yang sangat menonjol adalah di sepanjang koridor Jalan Yosodipuro,disebabkan karena koridor ini memiliki prospek yang menjanjikan sebagai kawasan pengembangan kegiatan komersial, dimana koridor JalanYosodipuro merupakan akses penting sebagai penghubung menuju pintu masuk Solo Paragon. itu menjadi keuntungan warga kamikhususnya yang sebelumnya kawasan permukiman kami tidak sehidup yang sekarang” (Ketua RW 05 Kelurahan Mangkubumen) Secara skematik, perkembangan kawasan studi penelitian mulai awal tahun 1996 sampai dengan tahun 2010 disajikan dalam bentuk bagan,seperti yang terlihat pada Gambar 5.1, bagan perkembangan kawasan penelitian.

5.1.2 Jenis Kegiatan Komersial

  Gejala perkembangan yang terjadi di kawasan sekitar Solo Paragon telah mengubah pemanfaatan lahan di kawasan tersebut, yang padaawalnya sebelum adanya pembangunan apartemen Solo Paragon di dominasi hanya sebagai fungsi perumahan menjadi dominasi kegiatankomersial. Selain kawasan tersebut memilikipotensi-potensi yang dibahas dalam bab sebelumnya yang mendukung adanya peruntukan mix use, ditambah dengan adanya pembangunan SoloParagon kini mengakibatkan jenis pemanfaatan lahan komersial tumbuh dan berkembang di kawasan Solo Paragon.

5.1.3 Sebaran Lokasi Unit-unit Perubahan

  Karena lingkup penelitian ini adalah kawasan SoloParagon, maka produktivitas lahannya cenderung berkaitan dengan aksesibilitas lokasi dan kemudahan untuk datang/pergi ke/dari lokasitersebut. Sebagai bentuk adaptasi masyarakat, lalu banyak muncul kegiatan komersial baru yang lokasinya dekat dengan Solo Paragon.

1. Bagian periferi (depan) yaitu bagian yang berhadapan langsung dengan jalan utama (jaringan jalan arteri atau jalan kolektor)

  Hal ini didukung oleh karakteristik Jalan Yosodipuro yang strategis dan terlatak tepat di sisi sebelah utara letak Solo Paragon dan merupakanakses pintu masuk ke dalam Solo Paragon. banyak warga yang dengan sengajamembuka kost-kostan untuk para tenaga kerja kasar yang bekerja pada proyek Solo Paragon yang berasal dari luar Kota Surakarta.

5.1.4 Pola Pemanfaatan Lahan Masing-Masing Segmen

Untuk memperjelas sebaran lokasi kegiatan komersial di wilayah studi, maka pada sub bab ini diidentifikasi lokasi sebaran kegiatankomersial eksisting melalui pengamatan pola pemanfaatan lahan pada masing-masing segmen berikut :

1. Segmen I

  Lokasi segmen I yaitu zona yang dibatasi oleh Jalan Yosodipuro hingga Jalan Hasanudin tata guna lahan yang berkembang pada bagianperiferi pada segmen I didominasi oleh fungsi komersial (toko elektronik, toko bahan bangunan, apotek, kantor keuangan, restoran, “suksesi”, yaitu penggantian fungsi lama (permukiman) menjadi fungsi baru (komersial). Perubahan pemanfaatan lahan ini terjadi akibat tarikan dari adanya fungsi mix use baru yang terdaat di dalamnya yaitu Solo Paragon.

4. Segmen 4

  Tata guna lahan pada segmen IV didominasi oleh fungsi pendidikan, baik pada koridor periferi maupun pada enclave. Karena pada kawasan ini didominasi oleh konsentrasi sarana pendidikan, sehingga memunculkan adanya kegiatan jasa bimbinganbelajar, toko buku, dan toko-toko makanan.

5.2 Analisis Pengaruh Sosial

Analisis pengaruh sosial yang dibahas terbagi menjadi 2 (dua) bahasan menurut variabel yang digunakan, yakni kesiapan masyarakat sekitardanreduksi ruang publik bagi PKL.

5.2.1 Kesiapan Masyarakat Sekitar

  Sehingga sebagian dari mereka merasa tidak siap menerima kehadiran apartemen, kondotel, mall dan city walk Solo Paragon Dan adanya Solo Paragon ini dianggap hanya merugikan warga sekitar dan hanya menguntungkan sebagian orang(kalangan menengah ke atas), tanpa memikirkan rakyat bawah. Seperti yang tertera pada lampiran III bahwa sebanyak 51.76% warga sekitar yangmenjawab tidak setuju akan adanya pembangunan mall lagi di KotaSurakarta ini, diikuti dengan angka 36.47% warga sekitar yang menjawab adanya mall tersebut tidak ada pengaruh apa-apa bagi kehidupan wargasekitar.

5.2.2 Berkurangnya Ruang Publik Bagi Masyarakat – PKL

  Tabe l 5.6 Analisis Kusione r Variabe l Sosial Ke duaAdanya Solo Paragon mengakibatkantereduksinya ruang publik bagi PKL Jawaban Jumlah %Setuju 52 60% T idak setuju 33 40% Jumlah responden85 100% Sumber : Hasil Survey dan Analisa, Tahun 2010 Gambar 5.9 Diagram O lah Data Kusione r Variabe l Sosial Ke dua Sebelum adanya p embangunan Solo Paragon, banyak PedagangKaki Lima berjualan di pinggir-pinggir lahan kosong seluas ±4 Ha tersebut. Berikut adalah tabel yang menginformasikan kuantitas PKL di sekitar Solo Paragon sebelum dan sesudah Solo Paragondibangun: Tabe l 5.7 Analisis Jumlah PKL Se belum dan Sesudah Pe mbangunan Solo Paragon No Lokasi Se be lum Se sudah Kondisi Saat Ini 1 Sepanjang Jalan Yosodipuro 21 17 Berkurang 4 PKL 2 Sepanjang Jalan Hasanudin 13 13 T etap 3 Sepanjang Jalan Dr.

5.3 Analisis Pengaruh Ekonomi

Analisis pengaruh ekonomi di sini akan membahas 2 (dua) aspek yakni penyerapan tenaga kerja sekitar dan nilai lahan :

5.3.1 Penyerapan Tenaga Kerja Sekitar

  Kondisi ini akan berbeda jika Adanya Solo Paragon yang berupa kegiatan mix use dimana banyak terdapat kegiatan perdagangan dan jasa di dalamnya, seharusnya dapatmenjadi lowongan kesempatan kerja yang besar bagi masyarakat sekitar pada khususnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan warga yang kemudian ditrianggulasikan pada pemerintah dan pihak Solo Paragon, didapatpernyataan bahwa selama pembangunan berlangsung, manajemen SoloParagon merekrut tenaga kerja sekitar untuk menjadi pekerja khususnya warga yang berdomisili di Kelurahan M angkubumen, KelurahanPenumping, dan Kelurahan Sriwedari.

5.3.2 Usaha Kegiatan Ekonomi Warga Sekitar

  Dibangunnya Solo Sehingga kini di wilayah Sebelum adanyaParagon memunculkan sekitar Solo Paragon banyak pembangunan Solo Paragon,niatan warga untuk warga yang memanfaatkan sedikit warga yangmembuka usaha baru keuntungan yaitu berdekatan mengadakan kegiatandengan berdagang, dengan lokasi Solo Paragon komersial khususnyamembuka kost -kostan, yang dapat menambah perdagangan dan membukadan lain-lain. penghasilan mereka dengan jasa kost -kostanmengadakan kegiatan komersial Seperti fakta yang terjadi di lapangan yaitu banyaknya masyarakat yang memiliki tanalahan pada bagian periferi melakukan usaha kegiatanekonomi lain yang dianggap dapat menaikkan pendapatan mereka dengan dibangun toko-toko, restoran, kafe, salon, laundry, lembaga pendidikan,bimbingan belajar, perkantoran, dan lain-lain yang berlokasi di dekat dengan Solo Paragon.

5.3.3 Nilai Lahan (Land Value)

  Seperti konsep highest and best use yang diungkapkan Yunus, maka tingginya harga lahan akan menyebabkan hanya kegiatan-kegiatan tertentu saja (tingkat produktifitasnya tinggi) yang dilokasikan di lahan tersebut. Seperti yang tertera dalam tabel hargalahan dan PBB pada Tabel 4.13 dan tabel 4.14, bahwa warga sekitar Gambar 5.15 Gambar 5.11 Diagram Ke naikan Harga Tanah dan Pajak Bumi Bangunan di Se kitar Solo Paragon Dan di bawah ini adalah hasil olah data dari kuisioner yang disebar kepada warga sekitar, terkait perlakuan warga terhadap tanah ataubangunannya ketika harga tanah dan pajak bumi dan bangunan naik semenjak adanya Solo Paragon di lingkungan mereka.

5.4 Analisis Integrasi Aspek Pengaruh Fisik, Sosial, dan Ekonomi

  Berikutadalah tabel yang menunjukkan hasil analisa yang di dapat dari teori yang dibandingkan dengan fakta di lapangan. W Baihaki, Dari hasil fakta dan analisa, semakin selekt if dan bagi PKL untuk mendapatkan ruang 2005 tereduksinya ruang-ruang publik yang dirasakanpublik terutama ruang untuk khususnya bagi PKL untuk berjualan di sekitar berdagang bagi para PKL Solo Paragon.

BAB 6 PENUTUP

6.1 Kesimpulan 1

  Arah perkembangan bangunan yang berfungsi mix use ini mendukung Kota Surakarta yang bersifatdinamis dan menyinergikan aset yang ditonjolkan Kota Surakarta berupa sentra-sentra batik dan pariwasata yang ada di Kota Surakartauntuk menarik banyak wisatawan yang datang dan para investor khususnya untuk keperluan bisnis property. Gejala perkembangan perubahan pemanfaatan lahan yang terjadi di sekitar Solo Paragon berkembang seiring dengan masa pembangunanapartemen Solo Paragon dengan dominasi kegiatan perdagangan, jasa, perkantoran, pendidikan dan kesehatan.

6. Adanya Solo Paragon yang dianggap sebagai pusat pertumbuhan

  (growth pole) yang idealnya dapat menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi lapangan usaha yang besar bagi masyarakat khususnya warga sekitar kenyataannya tidak seperti yang diharapkan warga. Naiknya harga lahan dan Pajak Bumi dan Bangunan pada lahan/bangunan di sekitar Solo Paragon menyebabkan warga sekitarberadaptasi dengan perlakuan yang berbeda-beda mulai dari menjual tanah/bangunannya, mengontrakkan, mengubah fungsi bangunan ataudengan membuka kost-kostan.

6.2 Rekomendasi

  Dalam setiap kepentingan khususnya dalam hal kerja sama dengan pengembang dan investor, agar mengutamakan terlebih dahulumana yang sangat diprioritaskan untuk boleh dibangun dan kapan dibangun suatu property. Memanfaatkan degan sebaik-baiknya fasilitas yang ada sekarang, khususnya perubuhan wujud kawasan sekitar yang menjadi hidupdan komersil sehingga sangat menguntungkan bagi warga jika mengambil manfaat tersebut dengan membuka usaha sepertiperdagangan, jasa, dan lain-lain.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

BAB 1 PENDAHULUAN - Film Musical Dokumenter
0
0
9
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Teknik penyutradaraan budi riyanto dalam naskah lakon “keluarga yang dikuburkan” karya afrizal malna
0
0
9
BAB I PE DAHULUA - Penentuan Tarif Jasa Rawat Inap Dengan Mempertimbangkan Metode Activity Based Costing Di Rsud Pandan Arang Boyolali
1
2
89
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Pengaruh pengelolaan ruang terbuka hijau terhadap kualitas lingkungan di kota Surakarta
0
0
20
TUGAS AKHIR - Desain Interior Fashion and Beauty Centre di Surakarta ( Dengan Konsep Modern )
0
1
172
BAB 1 PENDAHULUAN - Identifikasi kerusakan dan desain teknik perbaikan outer ringroad Kota Madiun
0
0
133
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Partisipasi petani dalam kegiatan sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (sl-ptt) di Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen
0
0
73
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH - Anteseden dan Konsekuens Kepemimpinan Transformasional (Studi Pada Karyawan PT Pos Indonesia di Surakarta)
0
0
137
Hubungan sosial asosiatif pemerintah dan pedagang dalam pembangunan pasar Parang Magetan
0
0
142
Pengaruh intensitas kebisingan terhadap tekanan darah pada pekerja di “Rakabu Furniture” Surakarta
2
2
60
Hubungan intensitas penerangan terhadap kelelahan mata pada karyawan di PT. Manyar Mandiri Tbk, Kartasura, Sukoharjo
1
3
37
Pengaruh paparan bising terhadap gangguan pendengaran pada pekerja di PT. ge lighting Indonesia Yogyakarta
0
0
45
PENGGUNAAN MEDIA DAN KESENJANGAN KEPUASAN (Studi Tentang Tayangan Berita Liputan 6 Petang di SCTV dan Program Reportase Sore di Trans TV terhadap Kepuasan Menonton Siaran Berita Televisi dalam Usaha Mendapatkan Informasi yang Aktual di Kalangan Anggota DP
0
0
75
KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PENGEMBANGAN TEPI SUNGAI BENGAWAN SOLO (Bengawan Solo Riverside Development)
1
6
189
1 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Sekolah Menengah Internasional di Jakarta Dengan Penekanan Pada Green Architecture TUGAS AKHIR - Konsep perencanaan dan perancangan Sekolah Menengah Internasional di Jakarta dengan penekanan pada green architecture
4
15
55
Show more