Uji angka kapang/khamir dan identifikasi escherichia coli dalam jamu kunyit asam dari penjual jamu di Wilayah Ngawen Klaten.

Gratis

7
59
105
2 years ago
Preview
Full text

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Proses pembuatan jamu kunyit asam dilakukan sendiri oleh penjual jamu di wilayah Ngawen dengan proses yang sederhana yaitu kunyit dikupas dan dicucidengan air mengalir, selanjutnya kunyit ditumbuk menggunakan lumpang dan alu yang sudah dicuci bersih menggunakan sabun cuci. Proses pembuatan jamu yang dilakukan oleh ketiga penjual jamu di wilayah Ngawendapat dikatakan sebagian besar prosedur pembuatannya telah sesuai dengan CaraPembuatan Obat Tradisional Yang Baik seperti menjaga kehigienisan jamu dengan melakukan pencucian tangan terlebih dahulu sebelum membuat jamu,pencucian bahan-bahan yang dilakukan sebanyak 2 kali di bawah air mengalir dan penempatan produk jamu yang sudah jadi pada botol kaca.

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Jamu adalah salah satu ciri khas Indonesia yang sangat terkenal. Jamu

  Proses pembuatan jamu kunyit asam dilakukan sendiri oleh penjual jamu di wilayah Ngawen dengan proses yang sederhana yaitu kunyit dikupas dan dicucidengan air mengalir, selanjutnya kunyit ditumbuk menggunakan lumpang dan alu yang sudah dicuci bersih menggunakan sabun cuci. Proses pembuatan jamu yang dilakukan oleh ketiga penjual jamu di wilayah Ngawendapat dikatakan sebagian besar prosedur pembuatannya telah sesuai dengan CaraPembuatan Obat Tradisional Yang Baik seperti menjaga kehigienisan jamu dengan melakukan pencucian tangan terlebih dahulu sebelum membuat jamu,pencucian bahan-bahan yang dilakukan sebanyak 2 kali di bawah air mengalir dan penempatan produk jamu yang sudah jadi pada botol kaca.

3 Khamir lebih dari 10 koloni/ml, mikroba patogen negatif dan aflatoksin tidak

  Selain itu, keberadaan konsumen menandakan tetap adanya hubungankepercayaan antara konsumen dengan penjual selama bertahun-tahun sehingga peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian mikrobiologis berdasarkanAKK dan identifikasi bakteri E.coli terhadap jamu kunyit asam yang dijual oleh ketiga penjual jamu di wilayah Ngawen dan untuk lebih memastikan kualitas sertakeamanan produk jamu tersebut. Selain itu terdapat penelitian yang dilakukan oleh Primbowati (2012) dengan judul“Angka Escherchia coli Dalam Jamu Kunyit Asam yang Dijual di PasarTradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta”, dengan hasil adanya bakteri E.coli pada satu sampel jamu dari 5 sampel jamu yaitu sampelyang diambil dari Pasar Pathuk.

2. Tujuan khusus a

  Mengetahui Angka Kapang Khamir dalam jamu kunyit asam dari penjual jamu di wilayah Ngawen Klaten. coli dalam jamu kunyit asam dari penjual jamu di wilayah Ngawen Klaten.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Obat Tradisional Obat tradisional banyak dipasarkan dalam bentuk sediaan obat cair, baik

  Pengertian obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahanhewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapatditerapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat (BPOM RI, 2014). Mikroba patogen yang dimaksud adalah semua mikroba yang dapat menyebabkan orangmenjadi sakit apabila seseorang tersebut terpapar mikroba, sedangkan jamur yang bersifat patogen yang tidak boleh ada dalam obat tradisional adalah jamur Aspergillus flavus yang dapat menghasilkan aflatoksin (DepKes RI, 1994).

B. Jamu Kunyit Asam

  Salah satu jamu yang diminum dalam keadaansegar adalah jamu kunyit asam (Rukmana, 2003). Selain itu dijelaskan bahwaminuman kunyit asam sebagai pengurang rasa nyeri pada dismenorea primer memiliki efek samping minimal dan tidak ada bahaya jika dikonsumsi sebagaisuatu kebiasaan (Limananti dan Triratnawati, 2003).

C. Rimpang Kunyit

  Kunyit banyak megandung senyawa yang berkhasiat sebagai obat, yaitu kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, desmotoksikumin, danbisdesmotoksikurkumin. Berbunga majemuk yang berambut dan bersisik dari pucuk batang semu, panjang 10-15 cm dengan mahkota sekitar 3 cmdan lebar 1,5 cm, berwarna putih atau kekuningan.

D. Buah Asam Jawa

  Daging buah mengandung berbagai asam, seperti asam tartrat, asam malat, asam sitrat, asam suksinat, dan asam asetat. Buah asam banyak digunakan dalam industri minuman, es krim, selai, manisan atau gula-gula, sirup dan obat tradisional atau jamu (Rukmana, 2005).

E. Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik

  Kapang/khamir dapat mencemari jamu kunyit asam melalui bahan baku yang digunakan dalam pembuatan jamu seperti rimpang kunyit yang dapattumbuh di dalam tanah. Kondisi lingkungan dari rimpang kunyit yang tumbuh di dalam tanah tersebut menunjang pertumbuhan kapang/khamir, seperti keadaantanah yang lembab dan kandungan air yang terdapat dalam rimpang kunyit.

H. Media Selektif E. coli dan AKK

  Media pembenihan harus mengandung nutrisi yang tepat untuk bakteri spesifik yang akan dibiakkan, kelembaban harus cukup, pH sesuai,kadar oksigen tercukupi, media pembenihan harus steril dan tidak mengandung mikroba lain, media diinkubasi pada suhu tertentu sesuai dengan karakteristikmikrobia uji (Radji, 2011). Media Tryptone Bile X-Glucoronide(TBX) merupakan media yang mengandung agen kromogenik x-ß-D-glukoronide yang dapat mendeteksi keberadaan enzim glukoronidase yang terdapat pada E.coli.

I. Identifikasi E. coli

  coli merupakan serangkaian uji berdasarkan karakteristik E. Uji ini dilakukan dengan menggunakan media dan reagenkhusus, seperti uji fermentasi gula-gula (glukosa laktosa, manitol, maltosa, sukrosa), uji Sulfur Indol Motility (SIM), dan uji IMVIC (Indol, Metil merah,Voges Proskauer, dan Sitrat) (Holt, 2000).

1. Uji fermentasi gula-gula

  Uji ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan bakteri dalam menguraikan gula-gula spesifik yang mencerminakan sifat bakteri tersebut dandapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mengidentifikasi bakteri(Nugraheni, 2010). Terjadinya fermentasi karbohidrat dapat dilihat dengan perubahan warna media dari merah menjadi kuning yangmenandakan adanya asam dan terbentuk gas yang terjebak dalam tabung Durham (Lay, 1994).

2. Uji Sulfur Indol Motility (SIM)

  Uji Sulphur Indol Motility (SIM) adalah pengujian dengan 3 parameter pengamatan, yaitu uji pembentukan sulfur, uji pembentukan indol, danpengamatan motilitas (pergerakan bakteri). Media yang digunakan dalam pengujian ini terdiri dari 3 media yang dijadikan dalam satu media yang berisi Pancreatic Digest of Casein, Peptic Digest of Animal Tissue, Ferrous Ammonium Sulphate, Sodium Thiosulphate, dan Nutrient Agar.

2 Thiosulphate digunakan untuk uji H S dan Nutrient Agar digunakan untuk uji motilitas (Finegold dan baron, 1996)

  Uji sulfur digunakan untuk mengetahui kemampuan bakteri menguraikan asam amino menjadi sulfur yang diproduksi oleh beberapa jenis mikrobia melaluipemecahan asam amino yang mengandung belerang seperti lisin dan metionin. Hasil uji akan terlihat dengan pertumbuhan bakteri menyebar pada hasil tusukan yang menandakan bahwa bakteri yang diuji adalah golongan Enterobacter, dan E.

3. Uji IMVIC a

  Beberapa jenis bakteri yang mampu memfermentasi glukosa akan menghasilkan produk yang bersifat asam yang menyebabkan terjadinya penurunanpH media pertumbuhan menjadi lebih rendah. Landasan Teori Jamu kunyit asam merupakan minuman populer berupa obat dalam yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit pada wanita yang sedang mengalamimenstruasi.

3 Angka Kapang Khamir lebih dari 10 koloni/ml, tidak boleh mengandung bakteri

  Kunyit dan asam yangdigunakan adalah kunyit dan asam yang masih segar, dapat dilihat dari penampakan kulit kunyit yang tidak berjamur dan kulit asam yang tidak pecah. Hieginitas dan sanitasi yang baik dari pembuatan jamu kunyit asam yang dilakukan oleh ketiga penjual jamu kunyit asam di wilayah Ngawen merupakan faktor penentu rendahnya jumlah AKK dan tidak adanya bakteri patogen E.coli dalam sampel jamu.

BAB II I METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif komparatif. B. Variabel penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel penelitian a. Variabel bebas: cairan jamu kunyit asam yang diproduksi oleh tiga penjual jamu di wilayah Ngawen Klaten

  Variabel Pengacau terkendali: suhu inkubasi, lama inkubasi, media yang digunakan, sterilisasi alat, sterilisasi media, dan waktuperlakuan. Variabel pengacau tak terkendali: cara pembuatan jamu kunyit asam, cara penyimpanan setelah pembuatan jamu kunyit asam, serta kualitasbahan.

2. Definisi operasional a

  Jamu kunyit asam adalah cairan jamu yang terdiri dari rimpang kunyit dan buah asam jawa yang diolah melalui proses penumbukan danpemanasan, serta ditambahkan gula jawa sebagai pemanis. Uji Angka kapang/khamir (AKK) adalah suatu uji cemaran mikroba yang dilakukan dengan menghitung jumlah koloni kapang dan khamiryang terdapat dalam sampel yang diperiksa setelah cuplikan diinokulasikan pada media yang sesuai dan mengalami inkubasi padasuhu 25 ⁰C selama 5 hari dengan metode dan analisis hasil sesuai PPOMN 2006.

C. Bahan Penelitian 1. Bahan utama

Bahan utama yang digunakan adalah cairan jamu kunyit asam yang diperoleh dari tiga penjual jamu di wilayah Ngawen Klaten.

2. Bahan kimia a

  Media yang digunakan untuk pengujian AKK adalah media Potato Dextrose Agar (PDA). coli yang digunakan untuk identifikasi E.coli adalah media Esherichia coli Broth (EC Broth), Tryptone Bile X-Glucoronide(Oxoid).

D. Alat Penelitian

Laminar Air Flow (NuAire Airflow), autoklaf (model: KT-40 No.108049 Midorigaoka Japan), incubator (WTC binder), oven (Memmert model 400), stomacher 400 circulator (Seward), mikropipet (Iwaki), mikroskop, pipet tetes (Iwaki), tabung reaksi (Iwaki), tabung Durham (Pyrex), gelas sediaan, cawan petri(100 x 15 mm, Pyrex), pipet volume, beaker glass (Pyrex), gelas ukur (Pyrex), bunsen, neraca analitik (Matrix type Esj 210-4B), erlenmeyer, (Iwaki), penangasair dan jarum ose.

E. Tata Cara Penelitian 1. Pemilihan sampel

  Sampel jamu kunyit asam yang dipilih diambil dari tiga penjual jamu di wilayah Ngawen Klaten. Pengambilan sampel jamu hanya dilakukan satu kalipengambilan dengan masing-masing penjual diambil 3 botol sampel jamu sebagai replikasi, sehingga total jumlah sampel jamu yang didapat sebanyak sembilansampel.

5. Uji Identifikasi E. coli a

  Dari biakan NA miring akan dilanjutkan dengan uji biokimia melalui uji IMVIC (Indol, Metil merah, Voges Proskauer, dan Sitrat), uji karbohidrat dan pewarnaan gram sebagai berikut:1) Uji indolSatu sengkelit biakan dari NA miring diinokulasikan ke dalam Trypton Broth dan diinkubasi pada suhu 35-37 ⁰C selama 18- 24 jam. Hasil reaksi positif indol ditunjukkan dengan adanya warna merah tua yang membentuk cincin pada permukaan (PPOMN,2006).2) Uji Metil merahSatu sengkelit biakan dari Na miring diinokulasikan ke dalam MR-VP dan diinkubasi pada suhu 35-37 ⁰C selama 24-48 jam.

F. Analisis Hasil

  Hasil Uji AKK dan Identifikasi bakteri E.coli dibandingkan terhadap batas cemaran AKK dan bakteri E.coli dalam persyaratan keamanan jamutradisional yang telah ditetapkan oleh BPOM RI No. Apabila jamu kunyit asam yang diuji menunjukkan AKK 3 lebih dari 10 koloni/ml dan terdapat cemaran bakteri E.coli, maka sampel jamu kunyit asam yang diuji dinyatakan tidak memenuhi persyaratan keamanan yangditetapkan oleh BPOM RI No.

1. Uji AKK

  Bila tingkat pengenceran yang lebih tinggi didapat jumlah koloni lebih besar dari dua kali jumlah koloni pada pengenceran dibawahnya,maka dapat dipilih tingkat pengenceran terendah (misal pada pengenceran 10 diperoleh 60 koloni dan pada pengenceran 10 diperoleh 30 koloni, maka dipilih jumlah koloni pada tingkat pengenceran 10 yaitu 60 koloni. Hasil dinyatakan sebagai Angka Kapang dan Khamir dalam tiap gram sampel (Misal pada pengenceran 10 diperoleh 6 koloni dan pengenceran 10 diperoleh 10 koloni, makaAngka Kapang / Khamir adalah: 3 3 Bila dari seluruh cawan petri tidak ada satupun yang menunjukkan jumlah antara 10-150 koloni, maka dicatat angka sebenarnya daritingkat pengenceran terendah dan dihitung sebagai angka kapang/khamir perkiraan.

2. Identifikasi E. coli E. coli adalah bakteri gram negatif dan berbentuk batang

2 Laktosa +

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Jamu kunyit asam memiliki bahan dasar rimpang kunyit dan

  Jamu kunyit asam banyak dikonsumsi masyarakat di wilayah Ngawen, maka diperlukan adanya informasi mengenai kualitas dan kemanan agarkonsumen terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh adanya kapang/khamir maupun kontaminan mikroba berbahaya seperti E.coli. Kualitas dan keamananharus sesuai dengan BPOM No.12 Tahun 2014 tentang persyaratan obat tradisional bahwa persyaratan cairan obat dalam termasuk jamu memiliki Angka 3 Kapang Khamir tidak lebih dari 10 koloni/ml, serta tidak terpapar mikroba patogen termasuk E.coli (BPOM RI, 2014).

A. Penentuan dan Pemilihan Tempat Pengambilan Sampel

B. Pemilihan dan Pengambilan Sampel

  Banyaknya masyarakat Ngawen yang mengkonsumsijamu kunyit asam dapat dilihat dari lakunya jamu kunyit asam di wilayah ini setiap harinya, sehingga jamu kunyit asam harus memenuhi persyaratan yangberlaku untuk melindungi konsumen. Pemilihan sampel dari tiga penjual jamu yang ada di wilayah Ngawen dianggap mewakili jumlah sampel jamu kunyit asamkarena terdapat 5 penjual jamu di wilayah Ngawen.

C. Homogenisasi dan Pengenceran Sampel

  Tujuanhomogenisasi sampel adalah untuk membebaskan sel-sel bakteri atau jamur yang masih yang terlindungi oleh partikel dari sampel yang akan diperiksa sertadigunakan untuk mengaktifkan kembali sel-sel bakteri atau jamur yang kemungkinan pertumbuhannya terganggu karena berbagai kondisi yang kurangsesuai di dalam sampel (PPOMN, 2006). Pengenceran suspensi sampel dilakukan untuk mendapatkan koloni yang terpisah dan jumlah koloni yang sekurang kurangnya dalam satu cawan memenuhi range yang telah ditetapkansehingga mempermudah perhitungan koloni.

D. Uji Angka Kapang Khamir

  Uji kapang/khamir yang dilakukan bertujuan untuk melihat dan menghitung jumlah koloni kapang/khamir dalam jamu kunyit asam dari penjualjamu di wilayah Ngawen. Ribosom 50s berperan dalam proses translokasi peptidiltRNA yang diperlukan untuk sintesis protein yang bermanfaat sebagai penyusun tubuh bakteri dan membantu sel dalam melakukan aktivitas.

3 Sampel Jamu Kunyit Asam

  Sampel AKK (koloni/ml) 2 A 2,9 x 10 1 B 2,3 x 10 C <10 Berdasarkan data yang diperoleh (tabel III) dari ketiga sampel jamu kunyit asam yang diuji, ketiga sampel jamu tersebut berada pada batas aman ataumasuk dalam range aman untuk persyaratan obat tradisional yang ditetapkan oleh 3 BPOM No.12 Tahun 2014 yaitu AKK yang diperbolehkan tidak melebihi 10 . Terlebih untuk penjual jamu kunyit asam yang ketiga diperoleh hasil <10 koloni/ml yang artinya bahwa sampel jamu kunyit asam tersebut tidak tercemarkapang/khamir sama sekali setelah inkubasi 5 hari.

E. Uji Identifikasi coli

  Uji identifikasi E.coli bertujuan untuk mengetahui apakah dalam sampel jamu kunyit asam terdapat E.coli. Uji identifikasi bakteri ini dilakukan didasarkansifat biokimiawi dan morfologinya.

1. Tahap Pengkayaan dalam media Escherichia coli Broth

  Hasilpositif dari tahap pengkayaan ini ditunjukkan dengan terbentuknya gas yang terjebak pada tabung durham yang menandakan bahwa di dalam sampel yang diujimengandung bakteri E. Gelembung gas tidak terbentuk karena tidak ada bakteri di dalam sampel jamu kunyit asam yang mampu memfermentasikan laktosa pada media ECB yang dapatmenghasilkan asam dan gas.

2. Isolasi E.coli dalam media TBX

  Tahap isolasi adalah tahap yang bertujuan untuk memperoleh bakteri yang benar-benar murni E.coli atau untuk menegaskan bahwa sampel jamu kunyitasam dari ketiga penjual jamu di wilayah Ngawen benar-benar terbebas dari bakteri E.coli. Hasil Isolasi E.coli media TBX + Keterangan: K = kontrol positif P = sampel uji = koloni terpisah berwarna hijau kebiruan Berdasarkan hasil isolasi bakteri E.coli dalam jamu kunyit asam pada media TBX setelah inkubasi 24 jam, diperoleh bahwa sampel dari ketiga penjualjamu menunjukkan hasil negatif atau tidak terkontaminasi bakteri E.coli.

3. Identifikasi dan konfirmasi keberadaan E.coli pada jamu kunyit asam

  Proses pembuatan jamu yang dilakukan oleh ketiga penjual jamu di wilayah Ngawen dapat dikatakan sebagian besar prosedur pembuatannya telahsesuai dengan CPOTB seperti menjaga kehegienisan jamu dengan melakukan pencucian tangan terlebih dahulu sebelum membuat jamu, pencucian bahan-bahanyang dilakukan sebanyak 2 kali di bawah air mengalir dan penempatan produk jamu yang sudah jadi pada botol kaca. Proses pembuatan jamu yang sebagianbesar telah sesuai dengan CPOTB tersebut memungkinkan jamu terhindar dari kontaminasi mikroba serta minimnya kapang/khamir yang dapat tumbuh karenakebersihan dan sanitasi jamu terjaga dari aspek bahan baku, penyimpanan bahan baku, tempat pengolahan, pengemasan, dan dari aspek penjual jamu itu sendiri.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Nilai AKK pada sediaan jamu kunyit asam yang diperoleh dari ketiga

penjual jamu di wilayah Ngawen Klaten berkisar antara kurang dari 10 2 sampai dengan 2,9 x 10 koloni/ml.

2. Jamu kunyit asam yang dijual oleh ketiga penjual jamu di wilayah Ngawen Klaten tidak mengandung bakteri E.coli

  Perlu adanya penelitian AKK dan identifikasi bakteri E.coli sebelum jamu dipanaskan untuk melihat apakah ada perbedaan yang signifikandengan jamu yang mengalami proses pemanasan karena proses pemanasan menyebabkan perbedaan hasil. Dapat dilakukan pemetaan wilayah Ngawen untuk dijadikan wilayah percontohan dengan penjual jamu yang menjaga kehigienisan, kualitasserta keamanan jamu yang dijual sehingga hal tersebut dapat menjadi contoh serta motivasi bagi penjual jamu yang lain untuk membuat jamuyang higienis.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIDAFTAR PUSTAKA

  2005, Pengujian Cemaran Bakteri dan Cemaran Kapang/Khamir Pada Produk Jamu Gendong di Daerah Istimewa Yogyakarta, PHARMACON, Vol. Perhitungan AKK sampel jamu kunyit asam pada inkubasi hari ke-5 berdasarkan PPOMN 2006.

1. Sampel jamu kunyit asam penjual A a

  Sampel jamu A replikasi 3 Dipilih pengenceran 10 yang merupakan pengenceran terendah karena jumlah koloni tidak masuk range 10-150. Hal ini sesuai denganaturan perhitungan menurut PPOMN 2006, yaitu bila dari seluruh cawan petri tidak ada satupun yang menunjukkan jumlah antara 10-150 koloni maka dicatat angka sebenarnya dari tingkat pengenceran terendah dan dihitung sebagai Angka Kapang / Khamir perkiraan.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Analisis ekonomi dan kontribusi pendapatan tenaga kerja agroindustri jamu tradisional (Studi kasus di Agroindustri jamu Parang Husada Dusun Purut Desa Parang Kecamatan Banyakan Kabupaten Kediri
0
6
96
Analisis motivasi konsumen dalam pembelian jamu tradisional di kotatif Jember
0
4
83
Campur kode bahasa Madura ke dalam bahasa Indonesia pada interaksi penjual koran di terminal Bondowoso
2
10
47
Efisiensi biaya dan tingkat pendapatan pada usahatani cabe jamu (Studi kasus di desa Pekandangan Sangra, kecamatan Bluto, kabupate Sumenep, Jawa Timur)
0
5
87
Faktor yang mempengaruhi pendapatan migran wanita yang bekerja sebagai penjual jamu di Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember
0
3
67
Uji aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol 96% kulit batang kayu Jawa (lannea coromandelica) terhadap bakteri staphylococcus aureus, escherichia coli, helicobacter pylori, pseudomonas aeruginosa.
31
208
72
Uji antioksidan dan antibakteri ekstrak air bunga kecombrang (edigera elatior) sebagai pangan fungsional terhadap staphylococcus aureus dan escherichia coli
0
43
83
Uji antioksidan dan antibakteri ekstrak air daun kecombrang (etlingera elatior) (Jack) R.M.Smith) sebagai pengawet alami terhadap escherichia coli dan staphylococus aureus
1
21
84
Isolasi dan identifikasi mikroalga cyanophyta dari tanah persawahan Kampung Sampora, Cibinong, Bogor
5
41
77
Efektivitas ekstrak bawang dayak (eleutherine palmifolia (L.) Merr.) dalam menghambat pertumbuhan bakteri escherichia coli
0
3
49
Analisa profil protein isolat escherichia coli SI hasil iradiasi sinar gamma
1
29
92
I’jaz ‘adadi (kemukjizatan angka 7 dan 19 dalam al- Qur’an)
1
37
0
Identifikasi escherichia coli pada air minum isi ulang dari depot di Kelurahan Pisangan dan Cirendeu tahun 2015
1
12
69
Identifikasi bakteri escherichia coli serta salmonella sp. yang diisolasi dari soto ayam
8
45
77
laporan pratikum verteb identifikasi dan
1
5
16
Show more