Gambaran pelayanan informasi obat oleh apoteker di-25 apotek di Kota Yogyakarta periode Juli-September 2004.

Gratis

0
0
92
2 years ago
Preview
Full text

INTISARI

  Merekamenyerahkan begitu saja hampir semua urusan kepada asisten apotekerBerdasarkan hal-hal di atas maka penting dilakukan penelitian gambaran pelayanan informasi obat oleh apoteker kepada pengunjung di-25 apotek di KotaYogyakarta periode Juli-September 2004. Jumlah cakupan informasi obat yang diberikan apoteker pada waktu menyerahkan obat lebih dari 3 cakupan informasiobat.

18. Semua pihak yang tidak dapat disebut satu persatu yang turut membantu dalam penyusunan skripsi ini

  Profil responden dalam memberikan pelayanan informasi obat pada jam konsultasi…………………………………………………………………...47 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi antusiasme apoteker dalam memberikan informasi obat………………………………………………………………51 1.

DAFTAR LAMPIRAN

  Merekamenyerahkan begitu saja hampir semua urusan kepada asisten apotekerBerdasarkan hal-hal di atas maka penting dilakukan penelitian gambaran pelayanan informasi obat oleh apoteker kepada pengunjung di-25 apotek di KotaYogyakarta periode Juli-September 2004. Jumlah cakupan informasi obat yang diberikan apoteker pada waktu menyerahkan obat lebih dari 3 cakupan informasiobat.

BAB I PENGANTAR A. Latar belakang Apoteker khususnya yang melakukan pelayanan di apotek sering kali

  Cara penyesuaian dapatdilakukan sebagai berikut: tahun pertama: kehadiran apoteker setiap hari pada jam-jam sibuk apotek, tahun kedua penentuan dan pelaksanaan jam konsultasipada jam sibuk apotek dengan memasang papan jam konsultasi, tahun ketiga pelaksanaan dan pelayanan konsultasi di apotek secara kualitatif dan kuantitatif,baik secara langsung ataupun tidak langsung (melalui brosur, leaflet dan lain-lain) serta melaksanakan pelayanan kefarmasian secara professional (Anonim, 1999). VIII.1.053 tanggal 5 Januari 2000 guna memperbaiki kinerja apoteker di apotek dan juga mengembalikan profesionalisme apoteker diapotek menjelang era pasar bebas di milinium ke tiga yang menyebutkan agar Berdasarkan hal-hal diatas maka penting dilakukan penelitian mengenai gambaran pelayanan informasi obat oleh apoteker kepada pengunjung di-25apotek di Kota Yogyakarta periode Juli-September 2004.

3. Manfaat penelitian

  Manfaat teoritisMemberikan gambaran mengenai pelayanan informasi obat oleh apoteker kepada pengunjung di-25 apotek di kota Yogyakarta periode Juli-September tahun 2004. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi bagi kinerja profesi apoteker di apotek dalam upaya meningkatkanpelayanan kesehatan terutama dalam pelayanan informasi obat.

B. Tujuan Penelitian

  mengetahui profil apoteker dalam memberikan informasi obat.4. mengetahui profil apoteker dalam memberikan informasi obat pada jam konsultasi.

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Apotek Peraturan pemerintah RI No. 25 tahun 1980 tentang perubahan atas

  peraturan No.26 tahun 1965 Pasal 1 menyebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaankefarmasian dan penyaluran obat kepada masyarakat. Permenkes No.26 tahun 1965 Pasal 3 menyebutkan bahwa apotek tidak lagi sebagai badan usaha yang hanya dapat diusahakan oleh lembagapemerintahan atau perusahaan negara saja, namun ijin apotek diberikan pada apoteker yang telah mengucapkan sumpah dan telah memperoleh izin kerja darimenteri kesehatan.

B. Apoteker

  Berdasarkan permenkes RI No.1332/MENKES/SK/X/1993 tentang perubahan atas permenkes RI No.922/MENKES/PER/X/1993 tentang ketentuandan tata cara pemberian izin apotek pasal 1 menyebutkan bahwa apoteker adalahSarjana Farmasi yang telah lulus dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker, mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlakuberhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker. Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh apoteker untuk memperoleh informasi obat, untuk itu apotek harus memiliki tempat untukmendisplai informasi bagi pasien, termasuk penempatan brosur/materi informasi dan ruangan tertutup untuk konsultasi bagi pasien yang dilengkapi dengan mejadan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien.

C. Informasi Obat

  2) informasi bersifat aktif, hal ini dapat berlangsung dengan memberikan ceramah kesehatan bagi masyarakat umum, menerbitkan bulletin dan suratmenyurat yang terseleksi.3) informasi obat untuk aspek yang lebih luas, misalnya Review (penilaian) pemakaian obat dan audit medis untuk memperbaiki kebiasaan peresepanyang salah. informasi lisan adalah informasi yang diberikan secaralisan kepada masyarakat pada saat proses penyerahan obat sedangkan informasi tertulis adalah informasi yang diberikan secara tertulis pada etiket, leaflet ataubrosur.

D. Konsultasi obat

  Konsultasi adalah hubungan timbal balik antara dua orangindividu di mana yang seorang (konsultan) berusaha membantu yang lain (klien) baik individual maupun masyarakat untuk mencapai pengertian mengenai dirinyasendiri dalam hubungannya dengan masalah – masalah yang dihadapi pada saat ini dan pada waktu yang akan datang (Wijaya, 1998). Langkah awal dari pengembangan peran apoteker adalah dengan adanya peraturan jam konsultasi yang diatur dalam Keputusan Kepala Kantor WilayahDepartemen Kesehatan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta nomor:PO.00.02.

E. Keterangan empiris

  Penggunaan obat yang tepat, aman dan efektif selain ditentukan oleh kualitas obat itu sendiri, juga dipengaruhi oleh informasi yang diberikan dalampenyerahan obat tersebut. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat diperoleh gambaran mengenai pelayanan informasi obat oleh apoteker kepada pengunjung di-25 apotek di KotaYogyakarta periode Juli-September 2004.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian non eksperimental deskriptif

B. Definisi Operasional Penelitian

  Pelayanan informasi obat adalah pelayanan yang diberikan apoteker kepada pasien berupa pemberian keterangan-keterangan mengenai obat-obatan. Apoteker adalah Apoteker Pengelola Apotek, Apoteker Pendamping dan Apoteker Pengganti di apotek yang berada di Kota Yogyakarta.

C. Subyek Penelitian

D. Alat Pengumpulan Data

  Adalah apoteker di apotek Kota Yogyakarta. Prawitasari (1998) mendefinisikan kuisioner sebagai kelompok atau urutan pertanyaan yang dibuat untuk memperoleh informasi dariresponden.

E. Jalannya Penelitian

  Untuk pertanyaan tertutup, dalam setiap item kuisioner disediakan sejumlah alternatifjawaban yang dapat dipilih oleh responden, sedangkan untuk pertanyaan semi terbuka, disamping alternatif jawaban juga disediakan tempat untuk memberikanjawaban secara bebas, apabila menurut responden diantara alternatif jawaban yang dapat dipilihnya tidak terdapat jawaban yang dianggap tepat. Melakukan tabulasi data Tabulasi data dilakukan dengan cara melakukan perhitungan jawaban kuisioner dari responden yang telah mengisinya, kemudian mengelompokkanmasing-masing jawaban tersebut dan menghitung persentasinya.populasi apoteker di kota yogyakarta 119 apoteker A B C D E F G H I J K L M N I.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden dan Apotek Keputusan Menkes RI No.1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan atas Permenkes No.922/MENKES/PER/X/1993, apoteker ada yang

  disebut Apoteker Pengelola Apotek, Apoteker Pendamping dan ApotekerPengganti. Responden dalam penelitian ini 100% adalah Apoteker Pengelola Apotek (APA).

1. Karakteristik responden

Karakteristik responden dalam penelitian ini adalah: umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama masa kerja, pekerjaan lain dan penghasilanperbulan.

a. Umur

  Penelitian yang dilakukan Havard Growth Study menunjukkan bahwa proses pertumbuhan dan perkembangan inteligensia diawali pada umur remaja dan mencapai puncak pada umur 30 tahun. Pada umur tersebut seseorang mampu berpikir hipotetik dan dapat menguji secara sistematik berbagai penjelasan mengenai kejadian-kejadian tertentu dan dapatmemahami prinsip-prinsip abstrak yang berlaku (Azwar, 1995).

b. Jenis Kelamin

  Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 76% responden adalah wanita dan 24% pria. Data tersebut dapat dilihat pada gambar 2.

c. Tingkat Pendidikan

  Badan kesehatan duniamenyatakan peran farmasis dalam istilah 7 bintang (seven star pharmacist) salah satunya adalah life-long learner yaitu farmasis harus senang belajar dan semangatbelajar harus selalu dijaga walaupun sudah bekerja untuk menjamin bahwa keahlian dan keterampilannya selalu baru dalam melakukan praktek profesi. Dalam pengelolaan apotek, apoteker selalu belajar sepanjang kariernya, membantu memberikan pendidikan dan memberikan peluang untuk meningkatkan Dari hasil penelitian diketahui bahwa persentasi tertinggi sebesar 84% responden berpendidikan apoteker, kemudian secara berturut-turut adalah S2Apoteker sebesar 12% dan S3 Apoteker sebesar 4%.

d. Lama masa kerja di apotek

  Lama masa kerja responden yang memberikan pelayanan informasi obat di-25 apotek di Kota Yogyakarta. Responden yang aktif dalam melakukan pekerjaan kefarmasian dan hadir setiap hari di apotek, kemungkinan semakin lama masa kerja responden makapelayanan kefarmasian akan semakin meningkat mutunya karena responden semakin tahu jenis pelayanan yang dibutuhkan oleh pasien/penderita.

e. Pekerjaan lain

  Hal ini berarti 48% apoteker tersebut tidak dapat sepenuhnya berada di apotek selama apotek buka dan memberikan pelayanan informasi obat karena apotekertersebut bekerja pada institusi lain, misalkan : apoteker yang juga bekerja sebagai dosen atau pegawai negeri sipil. Ini tidak sesuai dengan standart proseduroperasional farmasis di apotek yang menyebutkan bahwa farmasis dalam hal ini apoteker harus mudah ditemui, menyediakan waktu, bisa berempati, menunjukkanketertarikan, perhatian, bersahabat, asertif dan mentaati prosedur yang berlaku (ISFI, 2004).

f. Penghasilan perbulan

  Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa persentasi penghasilan tertinggi responden adalah lebih dari 1 juta sampai dengan kurang dari 2 juta yaitu56%, kemudian lebih dari 2 juta rupiah.yaitu 36% dan terakhir 501 ribu sampai dengan 1 juta rupiah yaitu 8%. Tingkat penghasilan responden yang memberikan pelayanan informasi obat di-25 apotek di Kota Yogyakarta.

2. Karakteristik apotek

a. Jam buka dalam satu hari

  Jam buka di-25 apotek di Kota Yogyakarta Diharapkan pada jam buka apotek mutu pelayanan apotek berjalan dengan baik dan semakin ditingkatkan setiap harinya. Apoteker juga diharapkandapat hadir pada setiap jam buka apotek tersebut untuk mengawasi dan bertanggung jawab atas semua kegiatan manajemen dan kefarmasian yangdiselenggarakan di apotek dan apabila berhalangan hadir menunjuk apoteker pendamping atau pengganti yang menggantikannya.

b. Jam sibuk

  Selain itu juga dari hasil pengamatan, sebagian besar dokter melakukan praktek dokter antara jam 17.00-19.00 sehinggaumumnya, setelah berobat pasien langsung membeli obat di apotek sehingga pada jam sibuk apotek ini pelayanan kefarmasian harus ditingkatkan dan kehadiranseorang apoteker sangat diperlukan untuk mengawasi jalannya pelayanan kefarmasian, dalam hal ini khususnya memberikan informasi obat kepadapengunjung apotek ataupun yang ingin berkonsultasi kepada apoteker. Alasan yangdikemukakan mengapa apotek tersebut tidak membuka jam konsultasi adalah tidak tersedianya tempat untuk berkonsultasi dan minat konsumen untukberkonsultasi masih rendah (4%), jam kedatangan apoteker ke apotek tidak menentu sehingga konsultasi dapat dilakukan setiap saat pada jam kedatangan 12% 88% ya tidak Gambar 8.

e. Lama pelaksanaan jam konsultasi

  4% 44%48% 4%satu jam dua jam tiga jam lebih dari tiga jam Gambar 9. Lama pelaksanaan jam konsultasi oleh responden di-25 apotek di-Kota Yogyakarta.

B. Profil Kehadiran Responden di Apotek

a. Jam kehadiran

  Seharusnya sepanjang jam buka apotek, harus ada apoteker di apotek sebab apotek bukan hanya sekedar tempat jual beli obat, melainkan tempatmelakukan pelayanan kefarmasian dalam hal ini khususnya pelayanan informasi obat dan yang harus melakukan dan bertanggung jawab atas pelayanan di apotekadalah apoteker tersebut. 1 4 Total 11 Jam Konsultasi pasal 1 menyebutkan agar apoteker meningkatkan kehadirannya di apotek pada jam buka apotek, tetapi dari hasil penelitian didapat hanya 12%responden PSA dan Bukan PSA yang hadir pada jam buka apotek sedangkan pasien datang ke apotek pada jam-jam yang tidak tentu selama jam buka apotek b.

d. Alasan responden apabila tidak bisa hadir ke apotek

  Alasan responden apabila tidak bisa hadir ke apotekNo Alasan responden tidak bisa hadir ke apotek Jumlah Prosentase(%) N = 25 1 Sakit 10 40 2 Tugas atau pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan9 36 3 Urusan keluarga 4 16 4 Keperluan lain 3 12 5 Dinas keluar kota 2 8 6 Capek 1 4 e. Asisten apoteker melakukan pekerjaan kefarmasian di apotek dibawah pengawasan apoteker, sehingga keberadaan asisten apoteker di apotekbukan untuk menggantikan apoteker melainkan untuk membantu apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian.

C. Profil responden dalam memberikan pelayanan informasi obat 1. Jenis pelayanan yang diberikan responden

  Berdasarkan penelitian, pelayanan yang paling banyak diberikan oleh Gambaran mengenai pelayanan yang diberikan responden pada saat bertugas di apotek dapat dilihat pada tabel IX. Jenis pelayanan yang diberikan responden di-25 apotek di Kota YogyakartaNo Jenis pelayanan Jumlah Prosentase(%) n = 25 1 Melayani resep dokter 21 84 2 Membantu menegakkan diagnostik 19 76 untuk penyakit ringan 3 Membantu memilihkan obat 25 100 4 Sumber informasi 21 84 5 Lainnya 4 16 keterangan :Lainnya : Menemui sales-sales, order obat, dan membuat laporan.

2. Keterlibatan responden secara aktif dalam pelayanan resep obat

  Peran nyata apoteker sebagai drug informer dapat terlihat melalui keterlibatan apoteker secara aktif dalam pelayanan resep dan penyerahan obatkepada pasien. Proses terakhir dalam suatu rangkaian pelayanan resep pasien adalah proses penyerahan obat dan pada saat penyerahan obat tersebut disertai denganpemberian informasi obat.

3. Keterlibatan responden dalam penyerahan obat

  Pemberian informasi obat kepadapasien pada saat penyerahan obat sangat penting khususnya pada obat dengan resep dokter untuk menghindari penggunasalahan obat tetapi apabila dilihatsebanyak 44 % apoteker yang tidak memberikan informasi obat kepada pasien Data ini dapat dilihat pada gambar 13. Berdasarkan hasil tersebut berarti pembelian obat tanpa resep di apotek tidak semuanya mendapatkan pelayanan informasi obat di apotek dari respondenoleh karena itu diharapkan responden tetap memperhatikan kebutuhan informasi obat dari konsumen obat tanpa resep dimana pengobatannya tidak mendapatpengawasan dokter sehingga perlu adanya informasi obat yang aman dan efektif sehingga terhindar dari penggunasalahan obat.

5. Jenis informasi obat yang diberikan responden

  Sumber informasi obat yang tersedia di apotek Salah satu bekal kesiapan responden di apotek dalam pemberian informasi obat diperlukan tersedianya koleksi buku-buku pedoman pengobatandan informasi obat untuk menunjang dalam pengetahuan tentang informasi obat. Apabila dilihat dari hasil penelitian diketahui bahwa persentasi terbesar (24%) responden melakukan upayalebih dari 3 upaya pribadi yaitu menguasai disiplin ilmu farmasi, mempelajari ilmu-ilmu yang terkait dengan pelayanan informasi obat, mempelajari manajemendan komunikasi dalam memberikan pelayanan informasi obat, bertukar pikiran dengan kolega apoteker apabila menemui kesulitan berkenaan dengan informasiobat, berdialog dengan pasien, serta continuing education.

D. Profil pelayanan informasi pada jam konsultasi

  Informasi obat tidak hanya diberikan pada saat pelayanan resep dokter atau pada saat menyerahkan obat saja tetapi pelayanan informasi obat juga dapatdiberikan pada jam konsultasi. Jam konsultasi merupakan jam khusus yang disediakan apoteker untuk memberikan konsultasi obat kepada masyarakat.

1. Perlunya jam konsultasi di apotek

  Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 80% responden menganggap bahwa jam konsultasi perlu diadakan sedangkan 20% respondenmenganggap jam konsultasi tidak perlu diadakan. Dari 20% responden menyatakan bahwa jam konsultasi tidak perlu diadakan beralasan bahwakonsultasi dapat dilakukan kapan saja pasien mau tanpa harus diadakan jam konsultasi.

2. Kehadiran responden pada jam konsultasi

  Dari 88% apotek yang membuka jam layanan konsultasi obat, 76% responden selalu ada selama jam konsultasi dan 12% responden tidak selalu hadirpada jam konsultasi. Alasan yang dikemukakan responden (12%) mengapa tidak hadir pada jam konsultasi adalah karena jadwal kehadiran responden tidak menentu sertapasien tidak berminat untuk konsultasi obat.

3. Adakah manfaat membuka jam konsultasi

  Keuntungan-keuntungan yang diperoleh pada saat memberikan informasi obat Keuntungan-keuntungan yang diperoleh apoteker pada saat memberikan informasi obat dapat mempengaruhi antusiasme apoteker untuk memberikaninformasi obat kepada pasien. Keuntungan lainnya adalah pada saat melakukan konsultasi obat apoteker juga dapat bekerjasama dengan dokter, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya Keuntungan-keuntungan diatas dapat meningkatkan semangat apoteker dalam memberikan informasi obat, tetapi keuntungan-keuntungan tersebut hanyadapat diperoleh apabila apoteker menjalankan peranannya sebagai farmasi khususnya memberikan informasi obat kepada pasien secara baik dan aktif.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

  Faktor-faktor yang mempengaruhi apoteker dalam memberikan informasi obat salah satunya adalah status kepemilikan apotek dan faktor lain, yaitu: apotekermendapatkan keuntungan-keuntungan pada saat memberikan informasi obat kepada pasien, yaitu dapat meningkatkan kepuasan kerja dan sebagai salahsatu “professional” dalam team perawatan kesehatan (80%). Bahwa di apotek tidak hanya ada pelayanan informasi obat saja tetapi juga ada pharmaceutical care yaitu bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien antara lain aktif dalam pelayanan resep, konseling, promosi danedukasi serta pelayanan residensial.

DAFTAR PUSTAKA

  Anief, M., 1997, Apa yang perlu diketahui tentang obat, Universitas Gajah Mada Press, Yogyakarta. Anonim, 1990, Peraturan Menteri Kesehatan No.347/MENKES/SK/VII/1990 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, Depkes RI,Jakarta.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Gambaran Peran Apoteker Dalam Pelayanan Konseling di Apotek Wilayah Kota Medan
3
20
124
Gambaran Peran Apoteker Dalam Pelayanan Konseling di Apotek Wilayah Kota Medan
0
25
124
Perbandingan hasil wawancara kegiatan pelayanan informasi obat terhadap apoteker pengelola apotek pada dua apotek swasta di Yogyakarta.
0
0
2
Kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan apotek berbintang tiga di Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta periode Juli 2012.
0
2
97
Kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan di apotek berbintang dua di Kecamatan Pakualaman, Umbulharjo, Wirobrajan dan Mantrijeron Kota Yogyakarta periode Juli-September 2012.
2
5
127
Kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan di apotek berbintang satu di Kecamatan Gondokusuman, Tegalrejo, dan Umbulharjo di kota Yogyakarta periode Juli - September 2012.
0
1
122
Persepsi apoteker pengelola apotek di Kota Yogyakarta terhadap perannya dalam pelayanan resep selama di apotek.
5
34
139
Kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan apotek berbintang tiga di Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta periode Juli 2012
0
1
95
Pengaruh Kehadiran Apoteker Terhadap Pelayanan Kefarmasian di Apotek di Kota Padang
1
5
9
Gambaran pelayanan informasi obat oleh apoteker di-25 apotek di Kota Yogyakarta periode Juli-September 2004 - USD Repository
0
0
90
Persepsi apoteker pengelola apotek di Kota Yogyakarta terhadap perannya dalam pelayanan resep selama di apotek - USD Repository
0
0
137
Evaluasi ketersediaan pelayanan informasi obat resep captopril sebagai anti hipertensi di apotek-apotek wilayah Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
125
Kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan di apotek berbintang satu di Kecamatan Gondokusuman, Tegalrejo, dan Umbulharjo di kota Yogyakarta periode Juli - September 2012 - USD Repository
0
0
120
Kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan di apotek berbintang dua di Kecamatan Pakualaman, Umbulharjo, Wirobrajan dan Mantrijeron Kota Yogyakarta periode Juli-September 2012 - USD Repository
0
0
125
Penerapan standar pelayanan kefarmasian pada pasien asma oleh apoteker pada sepuluh apotek di kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
167
Show more