Studi Deskriptif Mengenai Coping Strategy pada Petugas Pemadam Kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPK-PB) DKI Jakarta di Jakarta Pusat.

35 

Full text

(1)

i

Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui gambaran Coping Strategy pada petugas pemadam kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPK-PB) DKI Jakarta di Jakarta Pusat. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian deskriptif dengan menggunakan metode kuesioner. Penelitian ini melibatkan 65 responden yang ditarik dari populasi yang berjumlah 75 orang, dengan menggunakan teknik penarikan sampel purposive sampling.

Alat ukur yang digunakan merupakan kuesioner Ways of Coping dari Lazarus & Folkman (1984) yang telah dimodifikasi oleh peneliti sesuai dengan sampel penelitian. Alat ukur ini terdiri atas 49 item dengan nilai validitas item antara 0.321-0.767 dan derajat reliabilitas sebesar 0.921.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa petugas pemadam kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPK-PB) DKI Jakarta di Jakarta Pusat sebagian besar (72,3%) menggunakan coping strategy yang seimbang. Hasil analisis menunjukkan bahwa kondisi kesehatan, keyakinan yang positif, dukungan sosial, serta sumber-sumber material berkaitan dengan pemilihan coping strategy.

(2)

ii

Universitas Kristen Maranatha

ABSTRACT

This research was conducted with the aim to find a description of the coping strategy used by firefighters in Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPK-PB) DKI Jakarta at Central Jakarta. The design used in this study is a descriptive research design using a questionnaire. The study involved 65 respondents were drawn from a population of 75 peoples, used purposive sampling technique.

Measuring instruments used are the Ways of Coping Questionnaire developed by Lazarus and Folkman (1984) which has been modified by the researcher. The questionnaire consists of 49 items with item validity between 0.321 to 0.767 and the degree of reliability of 0.921.

The result of the research showed that the most of firefighters in Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPK-PB) DKI Jakarta at Central Jakarta used balanced coping strategy (72,3%). The analysis result showed that health condition, positive beliefs, social support, also material sources correlated with the chosen coping strategy.

(3)

vi

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR ISI

Lembar Judul

Lembar Pengesahan

PERNYATAAN ORISINALITAS LAPORAN PENELITIAN

PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN PENELITIAN

ABSTRAK………i

ABSTRACT………...………ii

KATA PENGANTAR...iii

DAFTAR ISI...vi

DAFTAR TABEL...x

DAFTAR BAGAN...xi

DAFTAR LAMPIRAN………..xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah...1

1.2 Identifikasi Masalah...9

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian...9

1.3.2 Tujuan Penelitian...9

(4)

vii

Universitas Kristen Maranatha

1.4.2 Kegunaan Praktis...10

1.5 Kerangka Pemikiran...10

1.6 Asumsi...22

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Coping Strategy 2.1.1 Definisi Coping Strategy………23

2.1.2 Fungsi Coping Strategy………..…24

2.1.3 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Coping Strategy………..27

2.2 Stres 2.2.1 Teori Stres dari Cox………...29

2.2.2 Teori Stres dari Lazarus……….31

2.2.3 Stressor………..……….34

2.2.4 Akibat Stres………36

2.3 Penilaian Kognitif 2.3.1 Proses Penilaian Kognitif 2.3.1.1 Proses Penilaian Primer………..37

2.3.1.2 Proses Penilaian Sekunder……….40

2.3.1.3 Penilaian Kembali (Reappraisal)………...41

2.3.2 Faktor yang Memengaruhi Penilaian Kognitif 2.3.2.1 Faktor Individual………42

2.3.2.2Faktor Situasional………...44

(5)

viii

Universitas Kristen Maranatha

2.5 Perkembangan Usia Dewasa………..48

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rancangan dan Prosedur Penelitian...51

3.2 Bagan Prosedur Penelitian...51

3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.3.1 Variabel Penelitian...52

3.3.2 Definisi Variabel 3.3.2.1 Definisi Konseptual...52

3.3.2.2 Definisi Operasional...52

3.4 Alat Ukur 3.4.1 Alat Ukur Coping Strategy...55

3.4.1.1 Spesifikasi Alat Ukur...56

3.4.2 Prosedur Pengisian...57

3.4.3 Sistem Penilaian...57

3.4.4 Data Pribadi dan Data Penunjang...58

3.4.5 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 3.4.5.1 Validitas Alat Ukur...59

3.4.5.2 Reliabilitas Alat Ukur...59

3.5 Populasi dan Teknik Penarikan Sampel 3.5.1 Populasi Sasaran...60

3.5.2 Karakteristik Populasi...60

(6)

ix

Universitas Kristen Maranatha

3.6 Teknik Analisis Data...61

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Sampel………..62

4.2 Hasil Penelitian………..62

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian……….67

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan………76

5.2 Saran 5.2.1 Saran Teoritis……….77

5.2.2 Saran Praktis………...77

DAFTAR PUSTAKA...78

DAFTAR RUJUKAN...79

(7)

x

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kisi-Kisi Alat Ukur

Tabel 3.2 Sistem Penilaian

Tabel 3.3 Golongan Coping Strategy

Tabel 3.4 Pengkategorian Coping Strategy

Tabel 4.2 Coping Strategy

Tabel 4.3 Bentuk Coping Strategy Pada Petugas Pemadam Kebakaran di DPK-PB

DKI Jakarta di Jakarta Pusat yang Menggunakan Coping Strategy

Problem Focused

Tabel 4.4 Bentuk Coping Strategy Pada Petugas Pemadam Kebakaran di DPK-PB

DKI Jakarta di Jakarta Pusat yang Menggunakan Coping Strategy

(8)

xi

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR BAGAN

Bagan 1.1 Kerangka Pemikiran

(9)

xii

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Kisi-Kisi Alat Ukur Coping Strategy

Lampiran 2 : Lembar Persetujuan

Lampiran 3 : Kuesioner Data Penunjang dan Kuesioner Coping Strategy

Lampiran 4 : Validitas dan Reliabilitas Coping Strategy

Lampiran 5 : Tabel Data Mentah Coping Strategy

Lampiran 6 : Hasil Crosstabs Coping Strategy dan Data Penunjang

Lampiran 7 : Hasil Crosstabs Coping Strategy dengan Aspek Coping Strategy

Lampiran 8 : Perhitungan Setiap Aspek Dalam Kedua Jenis Coping Strategy

Lampiran 9 : Tabel Data Mentah Faktor yang Memengaruhi Coping Strategy

Lampiran 10 : Perbandingan Problem Focused dan Emotional Focused

Lampiran11 : Pengenalan DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat

Lampiran 12 : Surat Perizinan

(10)

1

Universitas Kristen Maranatha BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

DKI Jakarta adalah ibu kota negara Indonesia yang memiliki luas wilayah

664,01 Km² (www.kemendagri.go.id, diakses 20 Oktober 2013) dengan jumlah

penduduk yang mencapai 10.187.595 jiwa pada tahun 2011

(dki.kependudukancapil.go.id, diakses 20 Oktober 2013). Itu berarti kepadatan

penduduk di wilayah Jakarta berkisar 15.000 jiwa per kilometer persegi. Berbagai

kegiatan pembangunan terus dilaksanakan di DKI Jakarta, baik yang menyangkut

infrastruktur, seperti transportasi, perhubungan maupun sarana yang berupa

bangunan fisik seperti gedung-gedung perkantoran, perdagangan, industri,

pariwisata, dan rumah-rumah pemukiman penduduk.

Dalam upaya pemenuhan sarana fisik bangunan ini, muncul kecenderungan

terus bertambahnya jumlah bangunan sehingga semakin berkurangnya

lahan-lahan kosong di Jakarta. Banyaknya jumlah sarana fisik bangunan mengakibatkan

semakin tinggi peluang terjadinya bahaya kebakaran. Selain itu, dengan

banyaknya pemukiman padat penduduk yang ada, membuat DKI Jakarta sebagai

kota yang memiliki intensitas ancaman kebakaran yang tinggi

(kebakaran.jakarta.go.id, diakses 20 Oktober 2013).

Berdasarkan data DPK-PB DKI Jakarta, jumlah kebakaran sepanjang tahun

(11)

2

Universitas Kristen Maranatha mencapai 1.039 kasus, sedangkan pada tahun 2013 telah mencapai 997 kasus.

Pada tahun 2014 (Januari-November), telah terjadi 946 kebakaran di DKI Jakarta

(megapolitan.kompas.com, diakses 15 November 2014). Dari data kejadian

kebakaran dan penanggulangan bencana provinsi DKI Jakarta, penyebab

kebakaran terbesar disebabkan oleh korsleting listrik (> 632 total kejadian

kebakaran), sisanya disebabkan oleh lampu, kompor meledak, rokok, dan juga

berbagai faktor yang lain.

Untuk menanggulangi kebakaran dan meminimalisir kerugian yang dialami

masyarakat DKI Jakarta, dibentuklah dinas Pemadam Kebakaran dan

Penanggulangan Bencana (DPK-PB) DKI Jakarta sebagai jawaban terhadap

permasalahan kebakaran dan bencana lainnya yang selama ini terus eksis

menyertai perjalanan kota Jakarta. Berdasarkan peraturan Gubernur provinsi

daerah khusus ibukota Jakarta nomor 96 tahun 2009, struktur dari organisasi

DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat adalah sebagai berikut: kepala dinas,

sekretariat, bidang pencegahan kebakaran, bidang operasi, bidang sarana, bidang

penanggulangan bencana, dan bidang partisipasi masyarakat.

Bidang operasi merupakan unit kerja lini dinas dalam pengendalian operasi

pemadaman kebakaran dan penanggulangan penyelamatan jiwa. Petugas

pemadam kebakaran di DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat pada bidang operasi

sebagian besar berusia 21-41 tahun. Mereka memiliki tiga tugas pokok; pertama,

pencegahan kebakaran; kedua, pemadaman kebakaran; ketiga, penyelamatan jiwa

(12)

3

Universitas Kristen Maranatha tumpahan bahan-bahan berbahaya, kecelakaan transportasi, dan sebagainya

(kebakaran.jakarta.go.id, diakses 23 Oktober 2013).

Selama melakukan tugas operasionalnya, pemadam kebakaran dituntut

untuk mampu mengenali jenis-jenis bahaya yang mungkin timbul pada saat

bekerja (DEPDAGRI, dalam Rahmi S; 2012). Bahaya yang dihadapi petugas

pemadam kebakaran antara lain seperti jatuh dari ketinggian selama bekerja

dengan menggunakan tangga, menembus medan yang berasap dan terbakar

sehingga mengganggu pasokan udara bersih, kehadiran gas CO2 dan hasil

pembakaran lainnya di udara, menghirup bahan-bahan atau gas kimia beracun saat

melakukan pemadaman, memasuki bangunan terbakar yang rawan runtuh,

memasuki kawasan rawan listrik, dan sebagainya (ILO, 2000).

Jika melihat paparan di atas, petugas pemadam kebakaran merupakan

pekerjaan berbahaya dan memiliki tingkat resiko kecelakaan kerja yang tinggi.

Petugas pemadam kebakaran senantiasa dihadapkan pada tuntutan pekerjaan yang

tinggi, tanggung jawab yang besar, serta keharusan untuk bekerja secara cepat,

akurat pada situasi yang kritis dan berbahaya (R. Afrianti, 2011: 487). Schuller

(dalam Lestari, 2009) menyatakan beberapa jenis pekerjaan yang dikategorikan

beresiko tinggi, salah satunya yaitu pemadam kebakaran. Pekerjaan ini dianggap

beresiko tinggi karena dapat menyebabkan luka ringan, luka sedang, luka parah,

kecacatan bahkan kematian pada pekerjaannya (www.beritajakarta.com, diakses

21 Oktober 2013). Dari 75 petugas pemadam kebakaran DPK-PB DKI Jakarta di

Jakarta Pusat, petugas yang mengalami luka ringan yaitu sebanyak 9 orang pada

(13)

4

Universitas Kristen Maranatha 2013, dan 13 orang pada tahun 2014 (Data dari Kepala Bagian PARTIMAS

DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat).

Situasi pekerjaan yang telah dipaparkan di atas dihayati sebagai stressor

oleh pemadam kebakaran di DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat. Stressor

adalah tuntutan atau tekanan lingkungan yang mengganggu dan membebani serta

melampaui batas kemampuan penyesuaian diri individu sehingga menyebabkan

stres (Lazarus, 1984). Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

nomor 36 tahun 1995 Tentang Penetapan Badan Penyelenggara Program Jaminan

Sosial Tenaga Kerja yang membagi jenis pekerjaan berdasarkan resiko yang

terkandung di dalam pekerjaan, pemadam kebakaran masuk ke dalam kategori IV.

Hal ini berarti pemadam kebakaran digolongkan sebagai pekerjaan berisiko stres

berat (Charles, 2007).

Stressor yang ada selama bekerja memunculkan akibat berbeda-beda pada

lima belas petugas pemadam kebakaran DPK-PB DKI Jakarta. Di antara lima

belas petugas tersebut, tujuh orang petugas memiliki pengalaman melihat tiga

orang rekan kerja mereka tertimpa reruntuhan bangunan ketika berada di lokasi

kebakaran tahun 2009 silam, (dimana satu orang meninggal dunia dan dua orang

mengalami luka-luka sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit), mereka

mempersepsi pengalaman tersebut sebagai suatu yang berbahaya dan mengancam

sehingga muncul rasa takut pada diri mereka bahwa dirinya akan mengalami

kejadian serupa suatu hari nanti. Perasaan takut tersebut sampai saat ini membuat

empat dari tujuh orang tersebut merasakan jantung mereka berdetak lebih cepat

(14)

5

Universitas Kristen Maranatha lebih banyak pada telapak tangan maupun dahi ketika berada di lokasi kebakaran

terutama ketika sedang berusaha memadamkan api (physiological effects).

Sementara delapan dari lima belas orang petugas pemadam kebakaran tidak

memiliki pengalaman melihat kematian rekan kerja mereka. Dari delapan orang

yang ada, dua orang petugas mengalami kelelahan secara fisik yang ikut

memengaruhi mood petugas tersebut. Satu orang petugas menjadi lebih sensitif

dan mudah terpancing emosi, terutama ketika menerima perilaku negatif dari

masyarakat ketika berada di lapangan (subjective effects).Seorang petugas lainnya

pernah sampai membentak anaknya yang memintanya untuk membantu

mengerjakan tugas sekolah (subjective effects).Satu orang petugas merasa pusing

dan mengalami gangguan pernapasan ketika menghirup asap hasil pembakaran

ketika sedang berada di lapangan (health effects), sehingga mengganggu

konsentrasinya ketika memadamkan api di lapangan (cognitive effects).

Stressor yang melebihi kemampuan yang terus-menerus berulang tersebut

membuat satu dari delapan orang petugas merasa jenuh sehingga memengaruhi

semangat kerjanya menjadi menurun (organizational effects). Empat dari delapan

orang petugas lainnya mengaku tidak dapat tidur nyenyak, gelisah (behavioral

effects), dan terbangun satu sampai dua jam sekali untuk memastikan bahwa

dirinya tidak melewatkan panggilan darurat pun dialami oleh pemadam .

Dengan munculnya akibat-akibat stres tersebut, selanjutnya petugas

pemadam kebakaran DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat akan berusaha untuk

menanggulangi situasi yang ada dengan mengevaluasi apa yang mungkin dan apa

(15)

6

Universitas Kristen Maranatha menyertainya, individu kemudian akan berpikir, disertai dengan perilaku, untuk

mengatasi tuntutan dari dalam dan luar diri yang dianggap beban, melampaui

sumber daya yang ia miliki, atau membahayakan keberadaan dan

kesejahteraannya yang disebut juga coping strategy (Lazarus, 1984). Coping

strategy bertujuan untuk meregulasi pikiran serta perasaan individu. Hal tersebut

sangat penting karena dengan kemampuan coping strategy yang efektif membantu

individu untuk menoleransi dan menerima situasi yang menekan, serta tidak

merisaukan situasi yang tidak dapat dikuasai oleh mereka (Lazarus dan Folkman,

1984).

Coping strategy menurut Lazarus ada dua, yaitu problem focused coping

dan emotional focused coping. Problem focused coping yaitu dimana individu

menggunakan strategi kognitif dalam mengatasi stres pada saat menghadapi

masalah dan mencoba untuk menyelesaikannya. Dua orang (13,3%) petugas

pemadam kebakaran DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat yang mengalami

kelelahan fisik dimana dapat memengaruhi mood mereka, yang mereka lakukan

yaitu dengan rutin berolahraga, menjaga pola makan, membuat jadwal latihan

fisik secara teratur di pagi hari supaya tubuh pemadam tetap bugar dan siap

melakukan aktivitas fisik yang berat, seperti memanjat tangga, mengangkat selang

yang berat, dan sebagainya (Planful problem solving). Seorang (6,7%) petugas

pemadam kebakaran yang kesulitan berkonsentrasi, yang ia lakukan yaitu lebih

disiplin untuk memakai masker oksigen ketika sedang bertugas memadamkan api

(Planful problem solving). Kedua petugas pemadam kebakaran mengaku bahwa

(16)

7

Universitas Kristen Maranatha aktivitas berat, namun hal tersebut tidak membantu ketiga petugas pemadam

kebakaran dalam mengendalikan emosinya. Mereka masih saja kurang mampu

mengontrol emosi karena sifat temperamental sudah melekat dalam diri petugas

pemadam kebakaran tersebut. Seorang petugas lainnya mengaku bahwa setelah

memakai masker oksigen, ia lebih berkonsentrasi ketika bertugas di lapangan

karena ia tidak lagi merasakan pusing dan gangguan pernapasan.

Tujuh orang (46,7%) pemadam yang merasa takut bahwa dirinya akan

meninggal ketika memasuki bangunan terbakar yang rawan runtuh atau terpapar

bahaya yang mungkin menimpa mereka saat di lokasi kebakaran, yang mereka

lakukan yaitu mengantisipasi hal tersebut dengan memilih bekerja di unit

kendaraan lain saja yang dirasa lebih aman, seperti: menyiapkan selang dan

peralatan, mencari sumber mata air (Planful problem solving). Hal itu membuat

petugas pemadam lebih fokus ketika bekerja, terhindar dari pemikiran akan

bahaya yang mengancam dirinya, sehingga kerja mereka di lapangan menjadi

lebih optimal.

Strategi kedua adalah emotional focused coping, yaitu individu memberikan

respon terhadap stres secara emosional, terutama menggunakan penilaian

defensive (bertahan). Seorang pemadam (6,7%) yang merasa jenuh dengan

stressor yang berulang sehingga memengaruhi semangat kerjanya menjadi

menurun, dimana memengaruhi optimalitas kerja yang beresiko mendapat teguran

dari kepala pleton, maka pemadam tersebut memilih untuk bercerita pada orang

lain. Ia mengaku menceritakan permasalahannya kepada sesama pemadam atau

(17)

8

Universitas Kristen Maranatha kejenuhannya agar dapat mengembalikan semangat kerjanya. Setelah bertukar

pikiran dan menerima saran dari orang lain ia merasa lega. Ia menyadari betapa

penting perannya bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan, merasa bahwa

dirinya membantu menyelamatkan orang banyak (bukan hanya nyawa, melainkan

materi) sehingga mendorongnya untuk kembali semangat bekerja.

Empat orang pemadam (26,7%) yang tidak dapat tidur nyenyak

mengalihkan situasi tersebut dengan menonton tv yang difasilitasi oleh kantor,

atau melalui jalan merokok (escape avoidance). Intensitas merokok mereka

meningkat dua kali lipat dari biasanya ketika berada dalam kondisi stres.

Pemadam mengaku bahwa mereka rata-rata menghabiskan > 6 batang rokok

setiap hari, dimana jumlah ini meningkat 2 kali lipat dari biasanya. Menurut

mereka, dengan merokok membuat mereka menjadi lebih relaks. Dengan

menonton tv juga membantu pikiran mereka menjadi lebih tenang dan tidak

memikirkan masalah yang sedang menimpa mereka.

Berdasarkan paparan di atas terlihat bahwa petugas pemadam kebakaran,

yang menurut penelitian memiliki tingkat stressful yang tinggi, cenderung

menggunakan coping strategy problem focused dan hasilnya efektif dalam

menanggulangi tuntutan serta keadaan stres yang dihadapi. Sementara menurut

Anderson (dalam Lazarus & Folkman; 1984), pada pekerjaan dengan derajat stres

yang tinggi, coping strategy yang cenderung digunakan adalah emotional focused.

Karena itu peneliti tertarik untuk meneliti coping strategy pada petugas pemadam

(18)

9

Universitas Kristen Maranatha 1.2 Identifikasi Masalah

Ingin mengetahui bagaimana coping strategy yang dominan digunakan pada

petugas pemadam kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan

Bencana DKI Jakarta di Jakarta Pusat.

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran bentuk

coping strategy yang digunakan pada petugas pemadam kebakaran di Dinas

Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta di Jakarta Pusat.

1.3.2 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran bentuk

coping strategy yang digunakan pada petugas pemadam kebakaran di Dinas

Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta di Jakarta Pusat

berdasarkan bentuk-bentuk spesifik coping strategy problem focused dan coping

strategy emotional focused.

1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Teoritis

1. Penelitian ini dapat menjadi tambahan informasi bagi bidang ilmu psikologi

industri dan organisasi guna memperkaya pemahaman mengenai fenomena

(19)

10

Universitas Kristen Maranatha 2. Memberikan informasi tambahan bagi peneliti lain yang tertarik untuk

memilih topik yang sama dan berminat untuk meneliti lebih lanjut mengenai

coping strategy khususnya pada petugas pemadam kebakaran.

1.4.2 Kegunaan Praktis

1. Memberikan informasi pada ketua pemadam kebakaran di DPK-PB DKI

Jakarta di Jakarta Pusat mengenai coping strategy yang digunakan oleh

petugas pemadam kebakaran dalam mengatasi permasalahan yang dialami

selama melaksanakan tugas-tugasnya sebagai seorang pemadam kebakaran.

Informasi tersebut dapat digunakan untuk menyusun program yang

membantu petugas pemadam kebakaran dalam meregulasi atau mengatasi

stres, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mental petugas pemadam

kebakaran DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat.

2. Memberikan informasi secara langsung pada petugas pemadam kebakaran di

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta di

Jakarta Pusat mengenai coping strategy yang digunakan oleh pemadam

kebakaran sehingga dapat menjadi masukan apakah coping strategy tersebut

membantu mereka mengatasi stres yang dialami dalam melaksanakan

tugas-tugas sebagai seorang pemadam kebakaran.

1.5 Kerangka Pemikiran

Pemadam kebakaran adalah salah satu jenis pekerjaan yang dikategorikan

memiliki resiko kerja yang tinggi dan berbahaya bagi keselamatan (Schuller,

(20)

11

Universitas Kristen Maranatha memadamkan kebakaran, tetapi juga melakukan penyelamatan jiwa dari bencana

lain seperti banjir, bangunan runtuh, kecelakaan transportasi, dan sebagainya.

Pekerjaan ini dianggap beresiko tinggi karena dapat menyebabkan luka ringan,

luka sedang, luka parah, kecacatan, bahkan kematian pada pekerjaannya.

Petugas pemadam kebakaran di DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat yang

sebagian besar berada pada rentang usia 21-41 tahun berada dalam tahap

pekembangan dewasa awal (usia 18-19 atau awal 20-an sampai akhir 30-an

mendekati 40 tahun) dimana mereka memainkan peran baru dengan memulai

kehidupan rumah tangga, memiliki anak, menjadi orangtua, dan pencari nafkah

bagi keluarga (Santrock, 1999). Situasi pekerjaan yang beresiko tinggi terhadap

luka, cacat, bahkan kematian dalam tugas tersebut memunculkan perasaan takut

dalam benak pemadam bahwa mereka tidak dapat lagi bekerja secara optimal

maupun tidak dapat menafkahi keluarganya. Hal ini dihayati oleh petugas

pemadam kebakaran di DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat sebagai peristiwa

yang menekan dan stressful.

Menurut Lazarus, stressor adalah tuntutan atau tekanan lingkungan yang

mengganggu dan membebani serta melampaui batas kemampuan penyesuaian diri

individu sehingga menyebabkan stres. Terdapat tiga tipe kejadian yang

menyebabkan stres (Lazarus & Cohen, 1977: 12-13), yaitu: Pertama, perubahan

besar, seringkali bersifat catalysmic dan memengaruhi sejumlah besar individu.

Fenomena catalysmic tertentu biasanya secara universal dianggap stressful dan di

luar kendali siapapun. Dalam hal ini, petugas pemadam kebakaran yang berada di

(21)

12

Universitas Kristen Maranatha yang meninggal dunia, baik karena tertimpa reruntuhan bangunan, meninggal

karena terjebak di dalam bangunan, dan sebagainya, atau melihat rekan kerja yang

mengalami luka-luka ketika berada di lokasi kejadian. Hal tersebut menimbulkan

ketakutan bahwa mereka akan mengalami kejadian serupa suatu saat nanti.

Kedua, perubahan besar yang memengaruhi satu atau beberapa individu,

yaitu kejadian kehilangan yang terjadi pada level individual dan juga berada di

luar kendali siapapun. Dalam hal ini petugas pemadam kebakaran DPK-PB DKI

Jakarta di Jakarta Pusat kehilangan rekan sesama pemadam yang meninggal dunia

saat sedang bertugas di lapangan.

Daily hassless yang menjadi tipe kejadian ketiga yang menyebabkan stres,

yaitu masalah yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, berupa hal kecil

yang dapat mengganggu atau menyulitkan individu. Masalah-masalah yang sering

dijumpai petugas pemadam kebakaran DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat

misalnya menghadapi masyarakat yang tidak kooperatif, menghadapi masyarakat

yang marah-marah dan mencaci maki pemadam, maupun kemacetan saat menuju

lokasi kebakaran.

Tiga tipe kejadian yang menyebabkan stres di atas kemudian akan

dievaluasi oleh petugas pemadam kebakaran DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta

Pusat melalui primary appraisal dan secondary appraisal. Primary appraisal

merupakan proses mental yang berhubungan dengan aktivitas evaluasi apakah

suatu stimulus yang dihadapi individu berada dalam penghayatan tertentu. Pada

primary appraisal, petugas pemadam kebakaran akan mengevaluasi apakah

(22)

13

Universitas Kristen Maranatha tersebut dirasakan sebagai sesuatu yang mengancam atau menekan dirinya. Pada

penilaian ini, akan menghasilkan bentuk penghayatan stres yaitu irrelevant,

benign-positive, dan stress appraisal.

Penghayatan stres irrelevant yaitu jika suatu stimulus atau situasi (stressor)

yang dirasakan tidak berpengaruh terhadap kesejahteraan petugas pemadam

kebakaran DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat, tidak bermakna, dan tidak ada

keterkaitannya dengan diri pemadam sehingga dapat diabaikan. Benign-positive

yaitu jika stressor tertentu dihayati sebagai hal yang positif dan dianggap dapat

meningkatkan kesejahteraan diri petugas pemadam kebakaran DPK-PB DKI

Jakarta di Jakarta Pusat. Sedangkan stress appraisal yaitu bentuk penghayatan

petugas pemadam kebakaran DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat terhadap

stressor. Stressor dikategorikan stressfull apabila dihayati sebagai sesuatu yang

merugikan (harm/loss), ancaman, atau suatu yang menantang.

Stressor yang menimbulkan penghayatan tersebut kemudian perlu

ditanggulangi oleh petugas pemadam kebakaran. Dalam usaha menanggulangi

keadaan stres, selanjutnya pemadam kemudian akan melakukan secondary

appraisal. Secondary appraisal dilakukan untuk menentukan apa yang dapat dan

harus dilakukan individu terhadap suatu situasi stres. Pada secondary appraisal

petugas pemadam kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan

Bencana DKI Jakarta di Jakarta Pusat mengevaluasi seberapa besar

kemampuannya dalam menjalani tuntutan, tanggung jawab, dan resiko

pekerjaannya, menentukan apa yang dapat dan harus dilakukan terhadap suatu

(23)

14

Universitas Kristen Maranatha potensi dalam diri. Setelah melakukan secondary appraisal maka akan

menentukan coping strategy yang akan digunakan dan yang sesuai terhadap

masalah yang dihadapi. (Lazarus, 1984: 35)

Coping strategy (Lazarus, 1984: 141) dapat diartikan sebagai usaha untuk

mengubah tingkah laku dan kognitif secara konstan untuk mengatur

tuntutan-tuntutan internal dan atau eksternal yang spesifik yang dinilai sebagai beban atau

melampaui sumber daya yang dimiliki individu. Dalam hal ini, petugas pemadam

kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI

Jakarta di Jakarta Pusat akan berpikir, disertai dengan perilaku, untuk mengatasi

suatu situasi yang dianggap menekan. Coping strategy ini bertujuan untuk

mengurangi atau menghilangkan stres yang timbul oleh suatu situasi (Lazarus,

1984).

Menurut Lazarus (1984) coping strategy lebih ditujukan pada hal-hal yang

dilakukan seseorang untuk mengatasi situasi stres atau tuntutan pekerjaannya.

Coping strategy ini dipandang sebagai faktor penyeimbang yang membantu

petugas pemadam kebakaran menyesuaikan diri terhadap stressor pekerjaan yang

dialaminya. Coping strategy ada dua, yaitu yang berpusat pada emosi (emotional

focused coping) dan yang berpusat pada masalah (problem focused coping).

Petugas pemadam kebakaran di DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat dengan

derajat stres ringan dan moderat cenderung menggunakan coping strategy

problem focused, sementara petugas pemadam kebakaran di DPK-PB DKI Jakarta

di Jakarta Pusat dengan derajat stres berat cenderung menggunakan coping

(24)

15

Universitas Kristen Maranatha Emotional focused coping berfungsi untuk mengatur respon emosi terhadap

stressor, dengan lebih terfokus menjaga perasaan dan ketenangan batin. Bentuk

coping strategy yang termasuk di dalamnya adalah: Seeking social support, yaitu

menggambarkan usaha untuk mencari dan menerima dukungan informasi maupun

emosional dari berbagai pihak. Dalam hal ini petugas pemadam kebakaran di

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta di Jakarta

Pusat melakukan interaksi sosial agar mendapat dukungan untuk bertahan

menghadapi tekanan yang muncul di pekerjaan, seperti meminta saran serta

informasi dari rekan sesama pemadam, atasan, keluarga.

Self-control, yaitu menggambar usaha untuk mengatur perasaan diri serta

mengatur tindakan diri sendiri. Dalam hal ini petugas pemadam kebakaran

DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat mengatur pikiran dan perasaan saat menghadapi

situasi yang tidak menyenangkan. Proses kognitif diperlukan agar petugas

pemadam kebakaran dapat menanggulangi perasaan yang tidak diinginkan serta

tindakan yang dapat merugikan kesejahteraan diri sendiri maupun orang lain.

Misalnya saat menghadapi masyarakat yang mencaci maki dan memberi

perlakuan negatif pada pemadam, ia dapat mengendalikan perasaannya dan tidak

terpancing emosi.

Distancing, yaitu menggambarkan usaha untuk melepaskan diri atau

berusaha tidak melibatkan diri dalam masalah. Dalam hal ini petugas pemadam

kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI

Jakarta di Jakarta Pusat memandang bahwa sumber stres perlu dihindari agar tidak

(25)

16

Universitas Kristen Maranatha televisi untuk sementara waktu guna meredakan stres terhadap masalah yang

dihadapi.

Bentuk coping strategy lain yang juga menjadi bagian dari emotional

focused coping, yaitu: Positive reappraisal, yakni menggambarkan usaha untuk

menciptakan penilaian positif dengan berfokus pada pertumbuhan diri serta

dimensi keagamaan. Dalam hal ini petugas pemadam kebakaran di Dinas

Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta di Jakarta Pusat

cenderung mencari harapan-harapan yang positif dari keadaan yang menekan

dengan melakukan introspeksi dan evaluasi diri ketika menghadapi masalah, atau

melalui jalan berdoa.

Escape avoidance, yaitu menggambarkan tentang harapan serta berusaha

untuk menghindari setiap masalah yang muncul. Dalam hal ini petugas pemadam

kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI

Jakarta di Jakarta Pusat berusaha menghindar dari setiap masalah yang muncul

misalnya melalui makan, minum, merokok, atau tidur. Accepting responsibility,

yaitu mengakui atau menyadari permasalahan yang dialami diri sendiri, menerima

kenyataan, dan bertanggung jawab atas situasi tersebut. Dalam hal ini petugas

pemadam kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana

DKI Jakarta di Jakarta Pusat menerima semua kenyataan yang Ia hadapi berkaitan

dengan pekerjaannya dan siap untuk menerima konsekuensi dari hal tersebut.

Coping strategy yang berpusat pada masalah (problem focused coping)

berfungsi untuk memecahkan masalah. Bentuk coping strategy yang termasuk di

(26)

17

Universitas Kristen Maranatha pemecahan masalah dengan tenang dan hati-hati yang disertai pendekatan analisis

untuk memecahkan masalah tersebut. Petugas pemadam kebakaran di Dinas

Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta di Jakarta Pusat

memikirkan akibat dari keadaan yang menekan dan merencanakan sesuatu untuk

mengatasi keadaan tersebut; dan Confrontative coping, yaitu menggambarkan

usaha dalam mengubah situasi, dan berani mengambil resiko. Petugas pemadam

kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI

Jakarta di Jakarta Pusat mencari cara untuk mengatasi keadaan yang menekan

dirinya, dengan secara langsung mengungkapkan pendapatnya berkaitan dengan

kondisi yang dihadapi, atau mengungkapkan emosi yang dimiliki pada

orang-orang disekitarnya. Misalnya, secara langsung mengungkapkan kekesalan pada

atasan atau rekan kerja.

Coping strategy yang digunakan petugas pemadam kebakaran DPK-PB DKI

Jakarta di Jakarta Pusat dapat dikategorikan cenderung terfokus pada masalah,

cenderung terfokus pada emosi, atau menggunakan keduanya. Hal ini tergantung

pada frekuensi penggunaan coping strategy yang digunakan oleh petugas

pemadam kebakaran di DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat. Coping strategy

dikategorikan problem focused dan emotion focused apabila frekuensi penggunaan

coping strategy yang terfokus pada masalah dan coping strategy yang terfokus

pada emosi berada pada kategori yang sama. Menurut Lazarus & Folkman (1984:

157) coping strategy yang efektif adalah apabila individu menggunakan kedua

(27)

18

Universitas Kristen Maranatha Terdapat enam faktor yang memengaruhi pemilihan jenis coping strategy

(Lazarus & Folkman, 1984: 159-164), yaitu: Kesehatan dan energi yang

merupakan sumber fisik pemadam kebakaran (prima atau tidak) yang dapat

memengaruhi upaya petugas pemadam kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran

dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta di Jakarta Pusat dalam menangani atau

menanggulangi stres. Petugas pemadam kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran

dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta di Jakarta Pusat akan lebih mudah

menanggulangi stres apabila dalam keadaan tubuh yang sehat, sementara menjadi

kurang efektif menanggulangi stres bila berada dalam kondisi sakit atau kurang

prima;

Keterampilan memecahkan masalah, yaitu bagaimana petugas pemadam

kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI

Jakarta di Jakarta Pusat memiliki kemampuan untuk secara aktif dan efisien

mencari jalan keluar dalam menghadapi segala tantangan dan hambatan yang

ditemui selama menjalankan tugas dan tanggung jawab. Bagaimana petugas

pemadam kebakaran dapat tetap berpikir jernih meskipun berada di bawah

tekanan masyarakat.

Faktor lain yaitu keyakinan yang positif, mencakup adanya nilai moral,

belief, sikap optimis, yang merupakan sumber daya psikologis yang penting dalam

menanggulangi stres. Hal tersebut dihayati oleh petugas pemadam kebakaran di

DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat yang berperan positif memertahankan

pandangan bahwa tuntutan kerja yang dimiliki dan semua hambatan yang memicu

(28)

19

Universitas Kristen Maranatha baik. Begitu pula sebaliknya apabila petugas pemadam kebakaran DPK-PB DKI

Jakarta di Jakarta Pusat memiliki keyakinan yang negatif.

Faktor selanjutnya yaitu keterampilan sosial secara efektif yang

memudahkan pemecahan masalah yang dapat dilakukan bersama orang lain.

Keterampilan ini menggambarkan petugas pemadam kebakaran di Dinas

Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta di Jakarta Pusat

dapat membangun dan memertahankan relasi sosial yang memberikan dampak

positif bagi kinerja mereka, seperti relasi profesional yang terjalin dengan sesama

pemadam, para staff pemadam, maupun dengan masyarakat. Hal ini dapat menjadi

penentu adanya penilaian yang muncul dalam masyarakat mengenai petugas

pemadam kebakaran. Dengan keterampilan sosial, membantu petugas pemadam

kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI

Jakarta di Jakarta Pusat untuk menyelesaikan masalah dengan orang lain, dan

secara umum memberikan kontrol perilaku kepada pemadam atas interaksi

sosialnya dengan rekan pemadam dan/atau masyarakat.

Adanya dukungan sosial dari orang lain. Individu dapat memeroleh

informasi, bantuan secara nyata dan dukungan emosional yang dapat membantu

dalam menangani stres. Dalam hal ini, petugas pemadam kebakaran mendapat

dukungan dari sesama petugas pemadam kebakaran, staff pemadam, maupun

keluarga untuk menanggulangi masalah yang terjadi selama bekerja. Selain itu

adanya sumber material yang dapat mendukung terlaksananya penanggulangan

secara efektif, baik berupa uang, maupun sarana dan pra-sarana yang tersedia di

(29)

20

Universitas Kristen Maranatha kelancaran dan keberhasilan kinerja petugas pemadam kebakaran di Dinas

Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta di Jakarta Pusat.

Misalnya, bonus tambahan yang didapatkan petugas pemadam kebakaran, ruang

istirahat yang kondusif, atribut kelengkapan tahan api petugas pemadam

kebakaran, ketersediaan mobil pemadam kebakaran dalam menangani kejadian

kebakaran/bencana, maupun sirine pada kendaraan pemadam kebakaran.

Penjelasan di atas mengenai coping strategy dapat digambarkan melalui

(30)

21

 Keterampilan sosial secara efektif

 Dukungan sosial

 Perubahan besar yang dialami sejumlah besar individu.

 Perubahan besar yang dialami oleh satu atau beberapa individu.

(31)

22

Universitas Kristen Maranatha 1.6 Asumsi

1. Petugas pemadam kebakaran di DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat

mengalami stres dengan derajat yang berbeda-beda.

2. Derajat stres yang dialami petugas pemadam kebakaran di Dinas Pemadam

Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta di Jakarta Pusat dapat

memengaruhi penggunaan coping strategy.

3. Terdapat tiga bentuk coping strategy yang digunakan pemadam kebakaran di

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta di

Jakarta Pusat, yaitu dapat berfokus pada masalah (problem focused coping),

(32)

76

Universitas Kristen Maranatha BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Petugas pemadam kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan

Penanggulangan Bencana (DPK-PB) DKI Jakarta di Jakarta Pusat sebagian

besar menggunakan coping strategy yang seimbang, antara problem

focused maupun emotional focused. Petugas pemadam kebakaran sebagian

kecil menggunakan coping strategy emotional focused dan coping strategy

problem focused.

2. Petugas yang sebagian besar sering menggunakan coping strategy problem

focused, ternyata menggunakan strategi accepting responsibility yang

merupakan bentuk dari coping strategy emotional focused. Hal ini berkaitan

dengan keyakinan diri yang positif bahwa mereka dapat yakin mampu

menerima dan menghadapi masalah yang menimpa petugas.

3. Petugas yang sebagian besar jarang menggunakan coping strategy

emotional focused, ternyata menggunakan strategi escape avoidance yang

merupakan bentuk dari coping strategy emotional focused.

4. Pemilihan coping strategy yang seimbang pada petugas pemadam

(33)

77

Universitas Kristen Maranatha kondisi kesehatan, keyakinan yang positif, dukungan sosial, dan

sumber-sumber material.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh maka peneliti memandang perlu

mengajukan beberapa saran:

5.2.1 Saran Teoritis

1. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan

melakukan penelitian lanjutan untuk melihat korelasi kondisi kesehatan,

keyakinan yang positif, dukungan sosial, dan sumber-sumber material

terhadap coping strategy.

5.2.2 Saran Praktis

1. Bagi ketua pemadam kebakaran di DPK-PB DKI Jakarta di Jakarta Pusat

dapat menyediakan jasa konselor atau psikolog untuk memberikan

pelatihan program management stress, misalnya relaksasi, pada petugas

pemadam kebakaran.

2. Bagi petugas pemadam kebakaran agar lebih terbuka, lebih interaktif, dan

lebih ingin berbagi kepada orang lain setiap kali mengalami masalah.

Saling memberi support satu sama lain ketika menghadapi masalah.

Petugas pemadam kebakaran diharapkan mampu mengenali diri sendiri

dengan lebih baik, mampu menyadari, menerima, menghadapi setiap

(34)

78

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA

Afrianti, Rini & Indah Suci W. 2011. Stresor Kerja dan Insomnia Pada Petugas

Pemadam Kebakaran di Jakarta Selatan. (Online). Volume 61 Nomor 12.

Diakses 15 November 2014.

Cox, Tom. 1978. Stress. London: Macmillan.

Hurlock, E.B. 1980. Developmental Psychology: A Life-Span Approach. New York: McGraw-Hill.

Lazarus, Richard S. & Susan Folkman. 1984. Stress, Appraisal, and Coping. New York: Springer.

Santrock, John W. 2002. Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga.

________________. 2007. Adolescence, 11th edition. New York: McGraw-Hill.

Sugiyono. 1997. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Uyanto, Stanislaus S, Ph.D. 2009. Pedoman Analisis Data Dengan SPSS Edisi

(35)

78

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR RUJUKAN

Adiputra, Fendy. 2013. Studi Deskriptif Mengenai Coping Stress Pada

Ex-Pasukan Perdamaian Garuda Pasca Bertugas di Negara Kongo. Skripsi.

Bandung: Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha.

Charles. 2007. Hubungan Antara Psychological Well Being dengan Stres Kerja

pada Petugas Pemadam Kebakaran di DKI Jakarta. Skripsi. Jakarta:

Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Jumlah Penduduk DKI Jakarta Tahun 2011. (http://dki.kependudukancapil.go.id/? option=com_content&view=article&id=4&Itemid=63, diakses 20 Oktober 2013.)

Kebakaran.jakarta.go.id (diakses 20 Oktober 2013).

Novianita, Gadis, 2013. Kesejahteraan Psikologi Petugas Pemadam Kebakaran. Skripsi. Bandung: Fakultas Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia.

Profil Provinsi DKI Jakarta. ( http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/provinsi/detail/31/dki-jakarta, diakses 20 Oktober 2013).

Shafwani, Rahmi. 2012. Gambaran Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam

Kebakaran di Dinas Pencegahan Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan. Skripsi. Medan: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Sumatera Utara.

13 Warga Tewas akibat Kebakaran di Sepanjang 2014. (http://megapoli- tan.kompas.com/read/2014/11/09/18281061/13.Warga.Tewas.akibat.Keba karan.di.Sepanjang.2014, diakses 15 November 2014)

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (35 pages)