PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING TERHADAP HASIL BELAJAR KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA PADA MATERI POKOK SUHU DAN KALOR DI KELAS X SEMESTER II SMA SWASTA ERIA MEDAN T.P 2014/2015.

18 

Full text

(1)

HASIL BELAJAR KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA PA DA MAT E RI PO KO K S UH U D AN K AL O R DI KE L AS X

S E ME S T E R I I S MA S WAS T A E RI A ME DA N T . P 2 014/ 2 015

Oleh :

Dara Tri Wardani NIM 4113121010

Program Studi Pendidikan Fisika

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

(2)
(3)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING TERHADAP HASIL BELAJAR KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA P A D A

M A T E R I P O K O K S U H U D A N K A L O R D I K E L A S X S E M E S T E R I I S M A S W A S T A E R I A

M E D A N T . P 2 0 1 4 / 2 0 1 5

Dara Tri Wardani (NIM 4113121010)

ABSTRAK

Penelitian ini betujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inquiry training terhadap hasil belajar keterampilan proses sains dan mengetahui aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran dengan model pembelajaran inquiry training pada materi pokok Suhu dan Kalor di kelas X semester II SMA Swasta Eria Medan T.P 2014/2015.

Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan desain penelitian two group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian adalah seluruh siswa kelas X semester II SMA Swasta Eria Medan yang terdiri dari 6 kelas. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara cluster random sampling diambil 2 kelas yaitu kelas X-1 sebagai kelas eksperimen yang berjumlah 28 orang dan kelas X-2 sebagai kelas kontrol yang berjumlah 28 orang. Instrumen dalam penelitian ini ada 2 macam yaitu tes hasil belajar keterampilan proses sains yang telah divalidasi dalam bentuk essay dan lembar observasi aktivitas belajar siswa.

Berdasarkan analisa data, diperoleh nilai rata-rata pretes kelas eksperimen 41,88 dan nilai rata-rata kelas kontrol 35,55. Setelah pembelajaran selesai diberikan, diperoleh postes dengan hasil rata-rata kelas eksperimen 78,90 dengan dan kelas kontrol 69,89. Hasil uji t satu pihak dengan taraf signifikansi 0,05 diperoleh thitung = 5,519 dan ttabel = 1,646, sehingga thitung > ttabel maka Ha diterima dan H0 ditolak, dengan demikian disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran inquiry training berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar keterampilan proses sains siswa pada materi pokok Suhu dan Kalor dikelas X semester II SMA Swasta Eria Medan T.P 2014/2015. .Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran kelas eksperimen memiliki nilai rata-rata nilai 72,70 dengan kategori aktif dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran kelas kontrol memiliki nilai rata-rata 50,6 dengan kategori cukup aktif.

(4)

vi

2.1.5. Model Pembelajaran Inquiry training 11

2.1.5.1 Strategi Pengajaran 13

2.1.5.2 Sintak Pembelajaran Inquiry training 16

2.1.5.3 Sistem Sosial 17

2.1.5.4 Peran/Tugas Guru 17

2.1.5.5 Dampak-Dampak Intktur dan Pengiring 17

2.1.5.6 keunggulan dan kelemahan Model Pembelajaran

Inquiry training 19

2.1.6. Pembelajaran Konvensional 19

2.1.7. Materi Pokok Suhu dan Kalor 20

2.1.8. Penelitian Sebelumnya 34

2.2. Kerangka Konseptual 35

2.3. Hipotesis Penelitian 36

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 37

3.2. Populasi dan Sampel Penelitian 37

3.2.1. Populasi Penelitian 37

(5)

3.3. Variabel Penelitian 37

3.6.4. Validitas Perangkat Instrumen Oleh Validator 43

3.7. Teknik Analisis Data 43

3.7.1. Tes Hasil Belajar 43

3.7.1.1. Menghitung Nilai Rata-Rata dan Simpangan Baku 43

3.7.1.2. Uji Normalitas 44

3.7.1.3. Uji Homogenitas 45

3.7.1.4. Uji kesamaan rata-rata pretest 45

3.7.1.5. Uji kesamaan rata-rata posttest 46

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian 48

4.1.1. Data Hasil Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 48 4.1.2. Data Hasil Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 50

4.1.3. Analisis Data Penelitian 53

4.1.3.1. Uji Normalitas Data 53

4.1.3.2. Uji Homogenitas 53

4.1.4 Pengujian Hipotesis 53

4.2.1. Penilaian Aktivitas Siswa 54

4.3.1. Pembahasan Hasil Penelitian 57

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan 60

5.2. Saran 60

DAFTAR PUSTAKA 62

(6)

viii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. Sintak Pembelajaran Inquiry Training 16

Tabel 2.2. Konversi skala termometer 21

Tabel 2.3 Koefisien Muai Panjang dan Muai Volum 22

Tabel 2.4. Kalor Jenis Beberapa Zat 26

Tabel. 2.5 Tabel Konduktivitas Termal Beberapa Zat 31

Tabel 2.6 Daftar Peneliti yang menggunakan model Inquiry Training 34

Tabel 3.1 Two Group Pretest-Postest Design 38

Tabel 3.2. Tabel Spesifikasi Tes Hasil Belajar 40

Tabel 3.3. Tabel Pedoman Penskoran Hasil Belajar 40

Tabel 3.4. Ktriteria Nilai 41

Tabel 3.5. Tabel Pedoman Kriteria dan Persentase Nilai 41

Tabel 3.6 kriteria Nilai 42

Tabel 4.1. Data Pretes Kelas Eksperimen 48

Tabel 4.2. Data Pretes Kelas Kontrol 49

Tabel 4.3. Data Postes Kelas Eksperimen 51

Tabel 4.4. Data Postes Kelas Kontrol 52

Tabel 4.5. Ringkasan hasil uji normalitas kelas eksperimen dan

kelas kontol 53

Tabel 4.6. Ringkasan hasil uji homogenitas kelas eksperimen dan

kelas kontol 54

Tabel 4.7. Uji Hipotesis Data Pretes 54

Tabel 4.8. Uji Hipotesis Data Postes 55

Tabel 4.9. Peningkatan Aktivitas belajar siswa kelas eksperimen

(7)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1. Dampak-Dampak Intktur dan Pengiring dalam Model

Inquiry training 18

Gambar 2.2 Perbandingan skala termometer Celcius, Fahrenheit,

Kelvin, dan Reamur 21

Gambar 2.3. Pemuaian panjang 23

Gambar 2.4. Koefisien muai luas zat padat 23

Gambar 2.5. Koefisien muai volume zat padat 24

Gambar 2.6. Grafik perubahan temperatur dan perubahan wujud

zat pada sebuah es 29

Gambar 2.7. Perpindahan Konduksi 30

Gambar 4.1 Diagram Batang data pretes siswa kelas eksperimen 49 Gambar 4.2 Diagram Batang data pretes siswa kelas kontrol 50 Gambar 4.3 Diagram Batang data postes siswa kelas eksperimen 51 Gambar 4.4 Diagram Batang Data Postes Siswa Kelas Kontrol 52 Gambar 4.5 Peningkatan Aktivitas pada kelas eksperimen dan

(8)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) I 64 Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) II 70 Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) III 79

Lampiran 4 Lembar Kerja Siswa I 90

Lampiran 5 Lembar Kerja Siswa II 92

Lampiran 6 Lembar Kerja Siswa III 95

Lampiran 7 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian 103

Lampiran 8 Penilaian 112

Lampiran 9 Lembar Distribusi Penilaian Aktivitas Siswa Eksperimen Lampiran 10 Lembar Distribusi Penilaian Aktivitas Siswa Kontrol 120

Lampiran 11 Data Pretes Siswa Kelas Eksperimen 126

Lampiran 12 Data Pretes Siswa Kelas Kontrol 128

Lampiran 13 Data Postes Siswa Kelas Eksperimen 130

Lampiran 14 Data Postes Siswa Kelas Kontrol 132

Lampiran 15 Data Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen 134 Lampiran 16 Data Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol 135 Lampiran 17 Perhitungan Rata-rata,Simpangan Baku, Varians 136

Lampiran 18 Uji Normalitas 141

Lampiran 19 Uji Homogenitas 145

Lampiran 20 Uji Hipotesis 148

Lampiran 21 Dokumentasi Penelitian 153

Lampiran 22 Daftar Nilai Kritis Uji Liliefors 156

Lampiran 23 Tabel Wilayah Luas Kurva 0 e z 157

Lampiran 24 Distribusi Nilai F 158

(9)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam mempersiapkan manusia yang berkualitas bahkan sangat menentukan keberhasilan pembangunan Negara. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, disamping itu harus memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya dikelola dengan cara semaksimal mungkin baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Dalam rangka mewujudkan potensi diri menjadi manusia yg berkualitas harus melewati proses pendidikan yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran. “Menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara” (Sagala, 2009: 3).

Maka dari itu pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, atau latihan yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah. Usaha sadar tersebut dilakukan dalam bentuk pembelajaran dimana ada pendidik yang melayani siswa dalam melakukan kegiatan belajar.

(10)

2

belum memuaskan. Salah satu mata pelajaran yang sering dihadapkan pada permasalahan ini adalah mata pelajaran fisika.

Fisika merupakan ilmu pengetahuan yang menggunakan metode ilmiah dalam prosesnya. Dengan demikian maka proses pembelajaran fisika bukan hanya memahami konsep – konsep fisika semata, melainkan juga mengajarkan siswa berfikir konstruktif melalui fisika sebagai keterampilan proses sains. Dalam pembelajaran fisika yang harus diperhatikan adalah bagaimana siswa

mendapatkan pengetahuan (learning to know), konsep dan teori melalui

pengalaman praktis dengan cara melaksanakan observasi atau eksperimen (learning to do), secara langsung sehingga dirinya berperan sebagai ilmuan.

Telah diketahui bersama bahwa di kalangan siswa menengah, bahwa pelajaran fisika merupakan pelajaran yang sulit untuk dipahami dan kurang menarik. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya minat dan motivasi untuk mempelajari fisika dengan senang hati. Selain itu, penggunaan model pembelajaran yang cenderung monoton dan kurangnya keterlibatan siswa dalam menemukan suatu konsep dalam proses kegiatan belajar dan mengajar lebih

bersifat teacher centered.

Berdasarkan hasil observasi di SMA Swasta Eria Medan dengan menggunakan angket yang disebar pada 28 siswa, diperoleh data bahwa 50% siswa mengatakan fisika itu sulit dan kurang menarik. 32,14% orang mengatakan fisika itu biasa saja dan selebihnya 17,85% orang mengatakan fisika itu mudah dan menyenangkan.

Hasil wawancara dengan Ibu Dewi Fitriyani salah seorang guru Fisika SMA Swasta Eria Medan, beliau mengatakan bahwa rata-rata hasil ulangan harian siswa sering tidak memuaskan (rata-rata 65 atau berada di bawah KKM). Ketuntasan Kompetensi Minimal (KKM) di sekolah tersebut untuk mata pelajaran fisika adalah 73. Pembelajaran di kelas yang dilaksanakan guru masih menggunakan cara konvensional. Pola mengajar yang digunakan masih menggunakan metode ceramah, mencatat, diskusi dan mengerjakan soal.

(11)

menerapkan model pembelajaran inquiry training. Menurut Joice, et al., (2009 :

201) menyatakan bahwa model pembelajaran inquiry training dirancang untuk

membantu siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah melalui latihan – latihan yang dapat memadatkan proses ilmiah tersebut ke dalam periode waktu yang singkat. Tujuannya adalah membantu siswa mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan yang diperlukan untuk mengajukan pertanyaan – pertanyaan dan menemukan jawabannya.

Agar tujuan model pembelajaran inquiry training ini dapat tercapai,

maka dalam proses pembelajarannya siswa di tuntut berperan aktif dalam pembelajaran terutama melalui kegiatan penemuan, sedangkan guru yang semula bertindak sebagai sumber belajar beralih fungsi menjadi seorang fasilitator kegiatan pembelajaran yang berperan mengarahkan (membimbing) siswa untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam belajar atau menemukan

sendiri konsep-konsep yang sedang dipelajari. Inquiry training dimulai dengan

menyajikan masalah yang memerlukan jawaban siswa. Siswa – siswa yang menghadapi situasi tersebut akan termotivasi menemukan jawaban masalah tersebut. Guru dapat menggunakan kesempatan ini untuk menciptakan proses belajar mengajar yang menarik dan menyenangkan dengan cara bersikap ramah dan bersahabat kepada siswa.

Hasil penelitian Nurhaidah (2009) menunjukkan bahwa model

pembelajaran inquiry training pada materi pokok zat dan wujudnya kelas VII

Semester I di MTs Negeri 3 Medan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari rata-rata 5,92 menjadi 7,4.

Hasil penelitian Jeliana (2012) juga menunjukkan bahwa model

pembelajaran inquiry training pada materi pokok gerak lurus kelas X semester I di

SMA Negeri 1 Percut Sei Tuan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari rata-rata 25,7 menjadi 72,3.

Demikian pula hasil penelitian Hasibuan (2013) menunjukkan model

pembelajaran inquiry training pada materi pokok hukum newton dan gaya gesek

(12)

4

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis berkeinginan untuk melakukan

penelitian dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training

Terhadap Hasil Belajar Keterampilan proses Sains Siswa Pada Materi Pokok Suhu Dan Kalor Di Kelas X Semester II SMA Swasta Eria Medan T.P 2014/2015”.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka diidentifikasikan masalah sebagai berikut :

1. Siswa kurang tertarik dengan pelajaran fisika.

2. Siswa kurang dilibatkan dalam proses kegiatan belajar mengajar.

3. Hasil belajar fisika siswa yang masih rendah.

4. Model pembelajaran yang digunakan guru fisika di SMA Swasta Eria

Medan kurang bervariasi.

5. Metode yang digunakan cenderung menggunakan metode ceramah,

mencatat, diskusi dan mengerjakan soal.

1.3. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka yang menjadi batasan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Model pembelajaran yang akan digunakan adalah model pembelajaran

Inquiry Training pada materi pokok Suhu dan Kalor.

2. Subjek penelitian dalah siswa kelas X semester II SMA Swasta Eria

Medan T.P 2014/2015.

1.4. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah yang ada, yaitu :

1. Bagaimanakah hasil belajar keterampilan proses sains siswa yang

(13)

dan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan me nggunakan pembelajaran konvensional pada materi pokok Suhu dan Kalor di kelas X semester II SMA Swasta Eria Medan T.P 2014/2015?

2. Adakah pengaruh hasil belajar keterampilan proses sains siswa yang

dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inquiry training

dengan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional pada materi pokok Suhu dan Kalor di kelas X semester II SMA Swasta Eria Medan T.P 2014/2015?

3. Bagaimana aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan

menggunakan model pembelajaran inquiry training dan aktivitas siswa

dalam proses pembelajaran konvensional pada materi pokok Suhu dan Kalor di kelas X semester II SMA Swasta Eria Medan T.P 2014/2015?

1.5. Tujuan Penelitian

Berdasarkan dari rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai dalampenelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui hasil belajar keterampilan proses sains siswa yang

dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inquiry training

dan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional pada materi pokok Suhu dan Kalor di kelas X semester II SMA Swasta Eria Medan T.P 2014/2015.

2. Untuk mengetahui adanya pengaruh hasil belajar keterampilan proses sains

siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inquiry

training dengan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan

pembelajaran konvensional pada materi pokok Suhu dan Kalor di kelas X semester II SMA Swasta Eria Medan T.P 2014/2015.

3. Untuk mengetahui aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan

menggunakan model pembelajaran inquiry training dan mengetahui

(14)

6

1.6. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :

1. Sebagai bahan informasi hasil belajar menggunakan model pembelajaran

inquiry training menggunakan media peta konsep terhadap hasil belajar

siswa pada materi pokok Suhu dan Kalor di kelas X Semester II SMA Swasta Eria Medan T.P 2014/2015.

2. Sebagai Sebagai bahan informasi alternatif pemilihan model pembelajaran.

1.7. Definisi Operasional

Untuk menghindari adanya perbedaan penafsiran, perlu adanya penjelasan dari istilah yang digunakan yaitu:

Model pembelajaran inquiry training adalah model pembelajaran yang

(15)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan data hasil penelitian yang diperoleh dan analisa data serta pengujian hipotesis maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Rata-rata hasil belajar keterampilan proses sains siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inquiry training pada materi

Suhu dan Kalor memperoleh nilai 78,90, nilai rata-rata tersebut termasuk kategori Tuntas. Sedangkan rata-rata hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model konvensional memperoleh nilai rata-rata 69,89, nilai rata-rata tersebut termasuk kategori Tidak tuntas.

2. Berdasarkan perhitungan uji t pada postes siswa memperoleh nilai thitung>ttabel maka Ha diterima. Hal ini dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan akibat pengaruh model pembelajaran inquiry training terhadap hasil belajar

keterampilan proses sains siswa pada materi pokok suhu dan kalor di kelas X semester II SMA Swasta Eria Medan T.P 2014/2015.

3. Berdasarkan pengukuran aktivitas belajar siswa, kelas eksperimen yang

dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inquiry training

memperoleh nilai rata–rata 72,7 dengan kategori aktif. Sedangkan aktivitas belajar siswa kelas kontrol yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional yang memperoleh nilai rata – rata 50,6 dengan kategori cukup aktif.

5.2. Saran

(16)

61

1. Kepada peneliti selanjutnya diharapkan lebih mengoptimalkan pengelolaan kelas khususnya pada saat diskusi berlangsung agar tidak terjadi kegaduhan-kegaduhan di dalam kelas.

2. Kepada peneliti selanjutnya yang ingin meneliti tentang Model Pembelajaran

Inquiry Training, ada baiknya memberikan motivasi agar siswa merasa

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Dahar, R.W., (2011), Teori-Teori Belajar & Pembelajaran, Jakarta, Erlangga

Hasibuan, (2013), Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Pada Materi Pokok Hukum Newton dan Gaya Gesek di Kelas X SMA Negeri 1 Pahae Julu T.A 2012/2013, Medan, UNIMED

Jeliana, (2011), Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Pokok Gerak Lurus kelas X Semester I di SMA Negeri 1 Percut Sei Tuan T.P. 2011/2012, Skripsi, FMIPA, Unimed, Medan

Joyce, B., Weil,M.; Calhoun, E., (2009), Model-Model Pembelajaran, Edisi Delapan, Pustaka Belajar, Yogyakarta

Kamajaya, (2008), Cerdas Belajar Fisika untuk Kelas X sekolah Menengah Atas, Grafindo Media Pratama, Bandung

Kanginan, M., (2013), Fisika untuk SMA kelas X, Jakarta, Erlangga, Jakarta

Nurhaidah, (2009), Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Training Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Zat dan Wujudnya Kelas VII di MTs Negeri 3 Medan T.P 2009/2010, Skripsi, FMIPA, Unimed, Medan

Sagala, S., (2009), Konsep dan Makna Pembelajaran, Penerbit Alfabeta. Bandung.

Sardiman, (2011), Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, Rajawali Pers, Jakarta

Sirait, R., (2011), Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Usaha dan Energi Kelas VIII Semester I MTs N 3 Medan T.P 2010/2011, Skripsi, FMIPA, Unimed, Medan

Slameto, (2010), Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Rineka Cipta, Jakarta

Sudjana, (2005), Metode Statistika, Tarsito, Bandung

Sudjana, N., (2009), Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, PT Remaja Rosdakarya, Bandung,

Sugiyono, (2010), Metode Penelitian Pkuntitatif Kualitatif dan R&D, Alfabeta,

(18)

61

Trianto, (2009), Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Kencana,

Jakarta

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (18 pages)