HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN KONFLIK KERJA PADA KARYAWAN.

Gratis

0
4
110
2 years ago
Preview
Full text

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Wexley (dalam Besare, 2014) menyatakan konflik adalah suatu perselisihan atau perjuangan di antara dua pihak yang ditandai denganmenunjukkan permusuhan secara terbuka dan atau mengganggu dengan Komunikasi interpersonal merupakan salah satu dari beberapa bentuk kegiatan komunikasi yang ada dalam organisasi. Sebagai perusahaan yang bergerak dibidang jasa asuransi kecelakaan yang dimana Utama dalam Perlindungan, Prima dalam PerlayananMasyarakat, maka dibutuhkan komunikasi interpersonal yang sehat dalam melakukan tugas atau melayani masyarakat di dalam perusahaan untukmenghindari adanya konflik kerja pada karyawan.

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penelitian

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara komunikasi interpersonal dengan konflikkerja pada karyawan PT. X di Surabaya.

1. Manfaat Teoritis

Memberikan masukan kepada perusahaan, agar hasil penelitian ini menjadi bahan pertimbangan bagi pihak-pihak yang terkait di dalamperusahaan terutama dalam meningkatkan hubungan komunikasi interpersonal pada karyawan. Dengan demikian dapat digunakan dalamlangkah-langkah dan strategi yang tepat dalam hal mengatasi konflik kerja pada karyawan khususnya.

2. Manfaat Praktis

E. Keaslian Penelitian

Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Dewi & Handayani (2013) tentang“Kemampuan Mengelola Konflik Interpersonal ditempat Kerja Ditinjau dari Persepsi terhadap Komunikasi Interpersonal dan TipeKepribadian Ekstrovert ”, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara persepsi terhadap komunikasi interpersonal dan tipekepribadian ekstrovert dengan kemampuan mengelola konflik interpersonal di tempat kerja. Uji Dari penelitian yang sudah dilakukan terlebih dahulu di atas, maka pada penelitian yang akan dilakukan kali ini memiliki perbedaan denganpenelitian sebelumnya karena pada penelitian kali ini subjek yang diambil adalah karyawan pada salah satu perusahaan perasuransian dibidang jasa diwilayah Surabaya.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

1. Pengertian Konflik Kerja

Sementara itu Handoko (dalam Nawawi, 2010) mengemukakan bahwa konflik kerja adalah ketidaksesuaian dua orang atau lebih anggotaatau kelompok-kelompok organisasi yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi sumber daya- sumber daya yang terbatasatau kegiatan kerja atau karena kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status, tujuan nilai dan persepsi. Berdasarkan pengertian dari beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa konflik kerja merupakan pertentangan antara individu,antara kelompok dan antara organisasi yang disebabkan adanya ketidakcocokan suatu kondisi yang dialami oleh pegawai karena adanyahambatan komunikasi, perbedaan tujuan, status, sikap, penilaian, atau pandangan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

2. Indikator Konflik Kerja

Indikator konflik kerja menurut Boles, James S., W. Gary Howard& Heather H.

a. Tekanan kerj

Banyaknya tuntutan tugas. Kurangnya kebersamaan keluarga.

d. Sibuk dengan pekerjaan, dan

e. Konflik komitmen dan tanggung jawab terhadap pekerjaan.

3. Ciri-ciri Konflik Kerja

Jenis-jenis konflik dapat dibagi atau dibedakan dalam beberapa perspektif (Nimran, 1997), yaitu:a. Konflik Intra IndividuYaitu konflik yang dihadapi atau dialami oleh individu dengan dirinya sendiri karena adanya tekanan peran dan ekspetasi dari luaryang berbeda dengan keinginan atau harapannya.

4. Jenis-jenis Konflik Kerja

Konflik Antar IndividuYaitu konflik yang terjadi antara individu yang berada dalam satu kelompok ataupun antara individu yang berada dikelompok yangberbeda. Faktor KomunikasiDisebabkan oleh besarnya perusahaan atau organisasi yang secara implisit membawa kesulitan komunikasi yang dapatmenimbulkan konflik antara lain:1) Bermacam-macam unit kerja tidak dapat berkomunikasi dengan baik.

5. Sebab-sebab Konflik Kerja

Faktor tingkah laku mencakup:1) Pribadi pemimpin meliputi:a) Pemimpin yang otoriter adalah pemimpin yang selalu bertindak menurut dirinya dan tidak mempedulikan pendapat orang lain.b) Pemimpin yang neurotis adalah pemimipin yang selalu bimbang atau takut dalam pengambilan keputusan. 2)Kepuasan dan apresiasi terhadap status sendiri, jika seseorang tidak bisa mengandalkan apresiasi dan merasa tidak puas dengan statussendiri, dalam hal ini menjadi konflik yang terbuka dan konflik batin.

6. Proses Konflik

Dampak konflik (conflict effect conflict impact), konflik yang tidak dapat dikelola secara baik menyebabkan kedua belah pihak yang terlibatdalam konflik menjadi tidak harmonis dalam hubungan kerja, kurang termotivasi dalam bekerja, dan berakibat pada menurunnya produktivitaskerja. Sedangkan proses konflik menurut Robbins (dalam Nawawi,2010), adalah sebagai berikut:a) Fase pertama oposisi potensi atau ketidaksesuaianAda tiga faktor yang dapat dianggap sebagai sebab atau sumber konflik, yaitu komunikasi, struktur, dan variable pribadi.b) Fase kedua pengenalan dan personalityPada fase ini yang penting adalah isu-isu konflik cenderung mulai ditetapkan.

7. Strategi Manajemen Konflik Kerja

Hal ini dapat dilaksanakan melalui teknik pemecah masalah, dari pada menumpas konflik kerja atau berusaha mencapaikompromi, pihak-pihak yang bersengketa secara terbuka berusaha mencari penyelesaian yang dapat diterima bersama.b. Bentuklain ialah penolakan untuk berurusan dengan konflik dengan Melicinkan Konflik KerjaMenekankan kepentingan bersama dari kelompok yang konflik kerja dan mengabaikan perbedaan mereka.

1. Pengertian Komunikasi

Ada beberapa definisi mengenai komunikasi menurut para ahli, diantaranya:Menurut Robbins (2002) mengemukakan alasan pentingnya komunikasi di tempat kerja dimana komunikasi yang berlangsung secaratatap muka, terus terang dan terbuka antara atasan dengan bawahan dan sebaliknya, sehingga baik karyawan maupun pimpinan saling memahamikebutuhan dan keprihatinan masing-masing sehingga tercipta suatu kerjasama yang baik dalam mencapai tujuan bersama. Berdasarkan definisi tersebut, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan darikomunikator kepada komunikan yang dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, menciptakan dan mengatur realitas sosialserta adanya kesempatan untuk melakukan umpan balik.

2. Pengertian Komunikasi Interpersonal

Dalam suatu organisasi ataupun kelompok, yang dapat menghidupkan suasana adalah komunikasi, demikian juga dalamperusahaan atau dunia kerja, karyawan akan menjadi nyaman apabila komunikasi di tempat kerja nyaman dan efektif, dari situlah denganterbentuknya komunikasi yang efektif dan nyaman, karyawan di perusahaan tersebut akan menjadi produktif karena didukung oleh suasanakerja yang nyaman dengan adanya komunikasi interpersonal yang mendukung. Komunikator dapat mengetahui tanggapan komunikan Menurut Liliweri (1997) komunikasi interpersonal merupakan kegiatan komunikator dengan komunikan yang mempertukarkan danmemberikan makna yang sama atas informasi untuk suatu tujuan tertentu, melalui media, metode, teknik atau cara-cara yang telah ditetapkan.

3. Aspek-aspek Komunikasi Interpersonal

Sedangkan berempati adalah merasakan sesuatuseperti orang yang mengalaminya, berada di kapal yang sama dan Sikap mendukung (supportiveness)Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung (supportiveness). Dalam suatu hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan, ketidak-sependapatan dan konflik lebih dilihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan untukmenjatuhkan pihak lain.

4. Ciri-ciri Komunikasi Interpersonal

Ciri komunikasi seperti ini terlihat dari kenyataan bahwa komunikasi interpersonalbersifat dinamis, merupakan pertukaran pesan secara timbal balik dan berkelanjutan.c. Komunikasi interpersonal menempatkan kedua belah pihak yang berkomunikasi saling tergantung satu dengan yang lainnya.

5. Jenis-jenis Komunikasi Interpersonal

Komunikasi Diadik (Dyadic Communications)Komunikasi diadik adalah komunikasi antarpribadi yang berlangsung antara dua orang yakni seorang adalah komunikator yangmeyampaikan pesan dan seorang lagi komunikan yang menerima pesan, oleh karena itu, pelaku komunikasinya dua orang, maka dialogyang terjadi berlangsung secara intens. Apabila dibandingkan dengan komunikasi diadik, maka komunikasi diadik lebih efektif, karena komunikator memusatkanperhatiannya kepada seorang komunikan, sehingga ia dapat menguasai frame of reference komunikan sepenuhnya, juga umpan balik yang berlangsung, kedua faktor yang sangat berpengaruh terhadap efektif tidaknya proses komunikasi.

6. Fungsi Komunikasi Interpersonal

Melalui komunikasiinterpersonal, juga kita dapat berusaha membina hubungan yang baik, sehingga menghindari dan mengatasi terjadinya konflik diantara kita,apakah dengan tetangga, teman kantor, atau dengan orang lain (Cangara,1998). Dalam proses komunikasi antarpribadi atau komunikasi interpersonal arus komunikasi yang terjadi adalah sirkuler atau berputar,artinya setiap individu mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi komunikator dan komunikan.

7. Proses Komunikasi Interpersonal

Bidang Pengalaman Bidang PengalamanSALURAN Pengirim - Penerima Pengirim - Penerima

EFEK EFEK

Pesan - Pesan Encoding - DecodingEncoding - Decoding GANGGUAN Gambar 1. Bagan Proses Komunikasi Interpersonal Secara Umum

UMPAN BALIK

Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa komponen-komponen komunikasi antarpribadi (Devito, 2007) adalah sebagai berikut: Komunikasi antarpribadi paling tidak melibatkan dua orang, setiap orang terlibat dalam komunikasi antarpribadi memfokuskan danmengirimkan serta mengirimkan pesan dan juga sekaligus menerima dan memahami pesan. Istilah pengirim-pengirim ini digunakan untukmenekankan bahwa, fungsi pengirim dan penerima ini dilakukan oleh setiap orang yang terlibat dalam komunikasi antarpribadi, contohkomunikasi antara orang tua dan anak.

1. Pengirim - Penerima

2. Encoding - Decoding

Encoding adalah tindakan menghasilkan pesan, artinya pesan- pesan yang akan disampaikan dikode atau diformulasikan terlebihdahulu dengan menggunakan kata-kata simbol dan sebagainya. Dalam komunikasi antarpribadi, pesan-pesan ini bisa terbentuk verbal (seperti kata-kata) atau nonverbal (gerak tubuh, simbol) ataugabungan antara bentuk verbal dan nonverbal.

3. Pesan - pesan

Saluran ini berfungsi sebagai media dimana dapat menghubungkan antara pengirim dan penerima pesan atau informasi. Saluran komunikasi personal baik yang bersifat langsung perorangan maupun kelompok lebih persuasif dibandingkan dengan saluran mediamassa.

4. Saluran

5. Gangguan atau Noise

Seringkali pesan-pesan yang dikirim berbeda dengan pesan yang diterima. Umpan balik memainkan peranan yang sangat penting dalam proses komunikasi antarpribadi, karena pengirim dan penerima secaraterus menerus dan bergantian memberikan umpan balik dalam berbagai cara, baik secara verbal maupun nonverbal.

6. Umpan Balik

7. Bidang Pengalaman

Komunikasi akan terjadi apabila parapelaku yang terlibat dalam komunikasi mempunyai bidang pengalaman yang sama. Dibanding dengan bentuk komunikasi lainnya, komunikasi antarpribadi dinilai paling ampuh untuk mengubah sikap, perilakukepercayaan dan opini komunikasi.

8. Efek

Konflik kerja bisa terjadi dimana saja dalam suatu hubungan antara dua individu atau lebih melakukan suatu yang bertentangan satu dengan yanglain sehingga terjadi salah satu dari mereka merasa terganggu, sedangkan konflik itu sendiri dapat berakibat positif dan negatif. Berdampak positifapabila perbedaan itu dapat ditangani dengan baik untuk menjadi energi kemudian menjadi sinergi dan akan berakibat negatif jika perbedaan tersebutdijadikan sebuah alat bertujuan untuk memecah belah kesatuan organisasi atau kelompok dan strategi problem solving yang kurang baik dalam

C. Hubungan Komunikasi Interpersonal dengan Konflik Kerja

Agar komunikasi interpersonal berjalan lancar dan mendatangkan feedback yang diharapkan, maka pemberi maupun penerima pesan perlu memiliki kemampuan dan kecakapan komunikasi interpersonal secara memadai, sehingga intensitas konflik, kecurigaan, kecemburuan sosial didalam suatu perusahaan bisa direduksi atau dieleminir, yang pada akhirnya dapat mengurangi konflik kerja pada karyawan (Lubis, 2006). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fidyanti (2007) dan Sofiana(2007) bahwa ada hubungan negatif antara komunikasi interpersonal dengan konflik kerja, semakin tinggi komunikasi interpersonal maka semakin rendahkonflik kerja pada karyawan.

D. Landasan Teori

Melalui interaksidalam komunikasi, pihak-pihak yang terlibat komunikasi dapat saling memberi inspirasi, semangat dan dorongan (motivasi) untuk mengubahpemikiran, perasaaan dan sikap yang sesuai dengan topik yang dibahas bersama. Menurut Anoraga (1995) jika dalam suatu organisasi tidak mementingkan komunikasi interpersonal antar karyawannya dan hanyaberpatok pada kerja dan hasil maka sudah pasti perusahaan tersebut akan mengalami penurunan produktivitas karena karyawan di dalam perusahaantersebut merasa jenuh dan tidak nyaman.

E. Hipotesis

BAB II I METODE PENELITIAN

A. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

Ada hubungan negatif antara komunikasi interpersonal dengan konflik kerja pada karyawan.

1. Variabel Penelitian

Korelasi (hubungan) dalam penelitian ini, digunakan untuk melihat hubungan antar variabel yang digunakan. Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu:1) Variabel Terikat (Dependent): Konflik Kerja (Y)2) Variabel Bebas (Independent) : Komunikasai Interpersonal (X)

2. Definisi Operasional

Konflik Kerja adalah merupakan pertentangan antara individu, antara kelompok dan antara organisasi yang disebabkanadanya ketidakcocokan suatu kondisi yang dialami oleh pegawai karena adanya hambatan komunikasi, perbedaan tujuan, status, sikap,penilaian, atau pandangan yang berbeda. Adapun indikator yang dapat digunakan untuk menyusun skala konflik kerja antara lain:tekanan kerja, banyaknya tuntutan tugas, kurangnya kebersamaan keluarga, sibuk dengan pekerjaan, dan konflik komitmen dantanggung jawab terhadap pekerjaan.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

2. Sampel

Sampel menurut Sugiono (2008) adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Kuesioner atau angket merupakan suatupengukuran data yang efisien bila peneliti mengetahui secara jelas apa yang diisyaratkan dan bagaimana mengukur variabel yang diminati.

C. Teknik Pengumpulan Data

Aitem favorable adalah aitem yang mengandung nilai-nilai yang mendukung secara positif terhadap suatu pernyataan tertentu. Penyusunan aitem dalam skala ini dikelompokan menjadi aitem favorable dan aitem unfavorable yang dibuat dalam empat alternatif jawaban.

1. Skala “Konflik Kerja”

2. Skala “Komunikasi Interpersonal”

Penelitian kuantitatif merupakan metodepenelitian yang digunakan untuk menguji teori-teori tertentu dengan cara meneliti hubungan antar variabel yang diinginkan dalam penelitian. Blue print skala disajikan ke dalam bentuk tabel yangmemuat uraian komponen-komponen atribut yang harus dibuat aitemnya, proporsi aitem dalam masing-masing komponen, dan dalam kasus yang lebihlengkap memuat juga indikator-indikator perilaku dalam setiap komponen(Azwar, 1999).

1. Skala Konflik Kerja

Indikator Jumlah F% F UF Tekanan kerja 8,11,16,21,29 6 11 20% Banyaknya tuntutan tugas 5,13,19,25,28,30 7 22 23,33% Kurangnya kebersamaan9,12,15,22,26 6 36 20% keluarga Sibuk dengan pekerjaan 3,18,20,23,27 6 410 20% Konflik komitmen dan 5 tanggung jawab terhadap 7,17,24 4,14 5 16,67%pekerjaan 24 6 30 100% Jumlah Alat pengukuran Komunikasi Interpersonal ini menggunakan skala yang terdiri dari 35 aitem, masing-masing terdiri dari 23 aitem favorabledan 12 aitem unfavorabel. Skala disusun berdasarkan aspek yang dikemukakan oleh Devito (1997) yaitu terdiri dari keterbukaan (openness),empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness) sikap positif(positiveness) dan kesetaraan (equality).

2. Skala Komunikasi Interpersonal

Merasakan apa yang orang lain 8,15 30 3 8,57%rasakan Empati 2. Menunjukkan sikap yang 10,27 17 3 8,57%Sikap positif positif 4.

D. Validitas dan Reliabilitas Data

1. Validitas

Hasil Uji Reliabilitas Skala Uji Coba Cronbach's Cronbach's Alpha Based on N ofVariabel Alpha Standardized Items Items konflik kerja 0.905 0.90430 komunikasi interpersonal 0.821 0.817 35 Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Analisa data yang digunakan dalampenelitian ini adalah analisa dengan menggunakan metode statistik untuk menguji hipotesis yang diajukan, karena data yang diperoleh berwujud angka-angka dan metode statistik dapat memberikan hasil yang obyektif.

E. Analisis Data

Menurut Muhid (2012) beberapa hal yang harus dipenuhi apabila menggunakan teknik korelasi product moment, yaitu: Berkaitan dengan besaran harga koefisien korelasi, harga korelasi berkisar dari 0 (tidak ada korelasi sama sekali) sampai dengan 1 (korelasisempurna). Sebelum analisa data dilakukan maka uji prasyarat yang harus dipenuhi untuk penggunaan teknik analisis product moment sebagai berikut: Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah data baik variabel independent maupun variabel dependent terdistribusikan secara normalatau tidak.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Subjek

Dari angket yang telah disebarkepada karyawan di perusahaan ini, maka dapat diketahui tingkat konflik kerja dan sejauh mana komunikasi interpersonal yang sudah tercipta diperusahaan tersebut dapat mengurangi konflik kerja pada karyawan. < 15 tahun 12 38% Total 32 100% Tabel diatas dapat memberikan penjelasan bahwa berdasarkan lama bekerja dari 32 responden yang menjadi subjek dalam penelitian, presentasesubjek dengan lama bekerja < 1 tahun sebesar 0%, 1 – 5 tahun sebesar 34%, 5– 10 tahun sebesar 9%, 10 – 15 tahun sebesar 19%, dan > 15 tahun sebesar38%.

B. Deskripsi dan Reliabilitas Data

1. Deskripsi Data

Selanjutnya dapat diketahui nilai rata-rata tertinggi dari masing-masing variabel, bahwa nilai rata-ratatertinggi untuk variabel komunikasi interpersonal ada pada responden laki-laki dengan nilai mean 94,1000, dan nilai rata-rata tertinggi padavariabel konflik kerja ada pada responden perempuan dengan nilai mean 57,4167. Sedangkan nilai rata-rata terendah variabel komunikasi interpersonal ada pada responden yang berusia > 45 tahun dengan nilai mean 88,4000 dan konflik kerja pada responden berusia 35 - 45 tahun dengan nilai mean 52,8571.d.

3. Uji Prasyarat

Grafik histogram menunjukan garis grafik yang ideal sesuai dengan ketentuan normalitas, dan grafik normal probability plotmenunjukan bahwa data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsinormalitas. Squares Square Konflik_Kerja * Between (Combined) 1465.800 16 91.612 1.668 .004Komunikasi_Inter Groups Linearity 92.688 1 92.688 1.688 .000 personalDeviation 1373.112 15 91.541 1.667 .516 from LinearityWithin Groups 823.700 15 54.913Total 2289.500 31 Berdasarkan hasil uji prasyarat data yang dilakukan melalui uji normalitas sebaran kedua variabel baik variabel konflik kerja maupunvariabel komunikasi interpersonal, keduanya dinyatakan normal.

C. Hasil

Dari hasil analisis data yang dapat dilihat pada tabel uji korelasi product moment diatas, menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan pada 32 karyawan diperoleh harga koefisien korelasi sebesar -0.569 dengan taraf kepercayaan 0.05 (5%), maka dapat diperoleh harga r tabel sebesar 0.349. Berdasarkan hasil koefisien korelasi tersebut juga dapat dipahami bahwa korelasinya bersifat negatif (-) jadi menunjukkan adanya arahhubungan yang searah, artinya semakin tinggi komunikasi interpersonal maka Pada penelitian tentang hubungan antara komunikasi interpersonal dengan konflik kerja pada karyawan PT.

D. Pembahasan

Konflik Kerja merupakan pertentangan antara individu, antara kelompok dan antara organisasi yang disebabkan adanyaketidakcocokan suatu kondisi yang dialami oleh pegawai karena adanya hambatan komunikasi, perbedaan tujuan, status, sikap, penilaian, ataupandangan yang berbeda yang dapat diukur menggunakan skala yang melibatkan lima indikator dari konflik kerja. Agar komunikasi interpersonal berjalan lancar dan mendatangkan feedback yang diharapkan, maka pemberi maupun penerima pesan perlu memiliki kemampuan dan kecakapan komunikasi interpersonal secara memadai, sehingga intensitas konflik, kecurigaan, kecemburuan sosial didalam suatu perusahaan bisa direduksi atau dieleminir, yang pada akhirnya dapat mengurangi konflik kerja pada karyawan (Lubis, 2006).

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara komunikasi interpersonal dengan konflik kerja padakaryawan dengan signifikansi 0,00 < 0,05 yang artinya ada hubungan antara kedua variabel, akan tetapi arah hubungannya negatif -0.569. Sehingga dapatdiartikan semakin tinggi komunikasi interpersonal maka semakin rendah konflik kerja pada karyawan.

B. Saran

Bagi perusahaan diharapkan dapat meningkatkan komunikasi interpersonal agar dapat meminimalisir konflik kerja pada karyawan. Komunikasi menjadi alat yang utama dalam menjalankan roda organisasi.

1. Bagi Perusahaan

2. Bagi Peneliti Selanjutnya

Bagi peneliti selanjutnya yang juga berminat untuk melanjutkan atau meneliti kembali, mohon dapatmemperhatikan kendala yang dialami dalam penelitian ini, seperti waktu penyebaran skala pengukuran, serta diharapkan juga memperhatikan alatukur yang digunakan. Selain itu penelitian juga diharapkan dapatmelakukan pengambilan data dengan responden yang lebih banyak dan pada perusahaan atau organisasi yang memiliki bidang berbeda daripenelitian yang sekarang.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

HUBUNGAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI DENGAN KONFLIK KERJA PADA KARYAWAN
0
6
2
HUBUNGAN ANTARA KONFLIK INTERPERSONAL DENGAN BURNOUT
0
25
2
HUBUNGAN ANTARA EFEKTIVITAS KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN KONFLIK INTERPERSONAL DI ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
1
48
2
HUBUNGAN ANTARA HUMOR DENGAN HUBUNGAN INTERPERSONAL KARYAWAN Hubungan Antara Humor Dengan Hubungan Interpersonal Karyawan.
0
3
16
HUBUNGAN ANTARA HUMOR DENGAN HUBUNGAN INTERPERSONAL KARYAWAN Hubungan Antara Humor Dengan Hubungan Interpersonal Karyawan.
0
2
16
HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN MOTIVASI BELAJAR Hubungan Antara Intensitas Komunikasi Interpersonal Dengan Motivasi Belajar.
0
3
16
HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARA KARYAWAN-MANAJER DENGAN KEPUASAN KERJA PADA Hubungan antara komunikasi interpersonal antara karyawan-manajer dengan kepuasan kerja pada karyawan rsup dr. soeradji tirtonegoro klaten.
0
2
17
BAB 1 PENDAHULUAN Hubungan antara komunikasi interpersonal antara karyawan-manajer dengan kepuasan kerja pada karyawan rsup dr. soeradji tirtonegoro klaten.
0
2
8
HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARA KARYAWAN-MANAJER DENGAN KEPUASAN KERJA PADA Hubungan antara komunikasi interpersonal antara karyawan-manajer dengan kepuasan kerja pada karyawan rsup dr. soeradji tirtonegoro klaten.
0
2
16
HUBUNGAN ANTARA KETERAMPILAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAN KOMUNIKASI KELOMPOK DENGAN RESOLUSI KONFLIK PADA SISWA SLTA.
0
1
10
HUBUNGAN ANTARA STRES KERJA DENGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PRESTASI KERJA KARYAWAN.
0
1
14
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KARYAWAN TERHADAP MANAJEMEN KONFLIK DENGAN LOYALITAS KERJA KARYAWAN.
2
27
89
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN INTERPERSONAL DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN (GURU) ipi94972
0
1
15
hubungan antara komunikasi interpersonal dengan
0
0
15
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KONFLIK DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN
0
0
122
Show more