Isolasi dan Identifikasi Kuersetin pada Kulit Buah Pir Kuning (Pyrus Communis L)

Gratis

1
4
8
1 year ago
Preview
Full text

  

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KUERSETIN

PADA KULIT BUAH PIR KUNING

(Pyrus communis L)

  Mindawarnis

  

ABSTRAK

Buah Pir kuning (Pyrus communis L.) merupakan buah yang sering dikonsumsi masyarakat

dengan membuang kulitnya, padahal banyak manfaat dari kulit buah pir, antara lain mengandung

senyawa kuersetin yang berkhasiat sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk

mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa kuersetin dari kulit buah pir. Dari 450 g kulit buah pir

kuning kering di maserasi dengan pelarut etil asetat dan di destilasi vakum, diperoleh sekitar 17 g

ekstrak kasar. Hasil fitokimia dengan pereaksi Wilstater menujukan bahwa ekstrak mengandung

flavonoid yaitu flavonolol. Pemurnian dan pemisahan terhadap ekstrak dilakukuan dengan

kromatografi kolom dan kromotografi lapis tipis dengan eluen etil asetat : petroleum benzene

(1:1). Hasil menujukan harga Rf fraksi B yaitu 0,91 sama dengan harga Rf baku pembanding

kuersetin 0,91. Identifikasi terhadap fraksi B dengan spektrofometri UV-Vis terdapat 1 pita

serapan yaitu pada panjang gelombang 387,5 nm. Hasil pereaksi geser natrium hidroksida

menunjukan bahwa pada fraksi B setelah 5 menit, menunjukan penurunan spektum -0,5 nm yang

mengarah pada gugus fungsi 3,4’ OH, merupakan gugus kuersetin. Kata kunci : Ekstrak kulit buah pir, isolasi dan identifikasi kuersetin PENDAHULUAN

  Buah pir (Pyrus communis L) merupakan buah yang banyak di konsumsi masyarakat dari berbagai kalangan, namun banyak masyarakat yang belum mengetahui manfaat dan nilai gizi yang tinggi dalam buah pir. Pir atau Pear dalam bahasa Inggris adalah sebutan untuk pohon dan buah genus Pyrus. Pir berasal dari daerah tropis beriklim sedang di Eropa barat, Asia dan Afrika Utara. Pohon berketinggian sedang, bisa mencapai 10-17 meter tapi sebagian spesies tanaman memiliki daun rimbun (Ensiklopedia, 2009).

  Menurut Adi (2009), pir memiliki efek farmakologis seperti antidiabetes, antidemam, mengatasi gangguan saluran cerna dan antimual, buah pir juga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai penyakit radang tenggorokan, panas dalam, stroke, meringankan rasa nyeri, mencegah penyakit jantung, paru-paru, kanker dan sebagainya. Efek farmakologis dari buah ini disebabkan karena adanya senyawa zat besi, kalsium, fosfor, vitamin C dan K, potasium dan magnesium (Adi, 2009), vitamin A dan E, asam folat dan pektin (Herlinawati, 2008). Selain itu buah pir juga mempunyai kandungan serat yang baik, konsumsi satu buah pir telah memenuhi 19,8 persen kebutuhan akan serat setiap hari (Khairuzzaman, 2009).

  Pir (Pyrus communis L) memiliki warna buah kuning, hijau, cokelat, merah atau kombinasi dari warna ini. Rasa buah pir ada yang manis, sangat manis dan asam. Di antara kelima jenis pir tersebut, buah pir yang berwarna kuning lebih sering di konsumsi oleh masyarakat. Karena selain rasanya manis, harganya pun lebih terjangkau sehingga seluruh kalangan dari ekonomi bawah, menengah, dan atas dapat mengkonsumsinya dan mudah didapatkan karena dapat dibeli dimana-mana baik swalayan maupun pasar tradisional.

  Sering kali masyarakat memakan buah pir (Pyrus communis L) dan membuang kulitnya, padahal banyak manfaat yang diperoleh dari kulit buah pir (Pyrus communis L). Seperti adaya senyawa kuersetin flavonoid yang mempunyai efek antiradang tenggorokan, karena itu sebaiknya tidak mengupas kulit buah pir jika mengkonsumsinya (Leonhart, 2009).

  Kuersetin (Quersetin) adalah salah satu zat aktif kelas flavanoid yang secara biologis amat kuat. Bila vitamin C mempunyai aktivitas antioksidan 1, maka kuersetin memiliki aktivitas antioksidan 4,7. Flavanoid merupakan kelompok terbesar antioksidan golongan polifenol yang terdiri atas antosianidin, biflavon, katekin, flavanon, flavon dan kuersetin termasuk ke dalam kelompok flavonol (Waji, 2009).

  Murtihapsari (2008) telah melakukan penelitian isolasi kuersetin dari bawang bombay mengunakan campuran etil asetat dengan petrolem benzene (1:1), dihasilkan redemen 2,49% b/b. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan penelitian tentang isolasi dan identifikasi kuersetin dari kulit buah pir kuning (Pyrus commonis L).

  Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik yang mengisolasi dan mengidentifikasi kuersetin dalam kulit buah pir kuning (Pyrus

  communis L).

  1. Uji pendahuluan fitokimia

  Terhadap kulit buah pir kuning (Pyrus communis L) dilakukan uji fitokimia dengan melakukan uji Wilstater untuk melihat apakah ada flavonoid yang terdektesi pada ekstrak pekat, caranya : ekstrak kulit buah pir kuning (Pyrus communis L) kemudian ditambah dengan beberapa butir serbuk Mg, HCl pekat, dan amil alkohol. Bila timbul warna kemerahan menandakan flavonol, sedangkan warna kekuningan menandakan flavon.

  2. Ekstraksi kulit buah pir (Pyrus communis L)

  Kulit buah pir kuning (Pyrus

  communis L) diekstraksi dengan cara

  maserasi dalam etil asetat, filtrat yang diperoleh dipekatkan dengan menguapkan pelarutnya menggunakan alat vakum bertekanan rendah.

  3. Pemilihan Eluen Terbaik dengan KLT

  Analisa Kromatografi Lapis Tipis (KLT) menggunakan silika gel GF254 plat alumunium dengan berbagai perbandingan eluen untuk mencari eluen terbaik dalam proses pemisahan senyawa flavanoid, antara lain metanol : etil asetat atau etil asetat : petroleum benzene.

  Perbandingan eluen yang digunakan adalah metanol : etil asetat (0:10), (2:8), (4:6), (1:1), (6:4), (8:2), (10:0) kemudian etil asetat : petroleum benzene (0:10), (2:8), (1:1), (6:4), (8:2), (10:0). Pembacaan plat KLT dari masing-masing konsentrasi

METODE PENELITIAN

  eluen kemudian dilihat dengan

  c. Tambahkan fase diam diatasnya lampu UV pada panjang gelombang d. Lalu tuangkan cairan pengelusi 254 nm dengan warna spot yang kedalam kolom kromatografi muncul gelap.

  e. Buka kran kolom kromatografi, Pada penelitian sebelumnya tampung fraksi tetes demi tetes didapatkan hasil analisis KLT dengan vial atau tabung bersih dengan variasi perbandingan eluen dan kering etil asetat : petroleum benzene adalah f. Penentuan tabung reaksi yang

  1:1, dimana dalam proses mengandung fraksi kuersetin pemisahannya diperoleh spot yang dilakukan dengan metode KLT. paling banyak yaitu 5 spot dan

  g. Setiap tabung reaksi diuji dengan dengan baik. Setelah mengetahui pemisahannya. eluen terbaik dilanjutkan dengan

  h. Pengujian setiap fraksi dilakukan menggunakan kromtografi kolom dengan membandingkan pola (Murtihapsari, 2008). pemisahan atau jumlah spot antara fraksi-fraksi yang

4. Pemisahan Fraksi Flavonol dihasilkan dengan standar kuersetin.

  dengan Kromatografi Kolom

  Pemisahan dengan i. Fraksi yang mengandung kromatografi kolom mengunakan kuersetin dianalisis eluen etil asetat : petroleum benzene menggunakan Spektrofotometer. dengan perbandingan 1:1, karena dari hasil KLT diketahui merupakan

  5. Spektrofotometri UV- Vis

  eluen terbaik dalam proses Pengukuran spektrum UV- pemisahan. Vis dilakukan pada panjang Penyiapan kolom kromatografi: gelombang 250-500 nm. Sebanyak 3

  a. Bersihkan kolom kromatografi ml sampel dimasukan dalam kuvet, dan dikeringkan di oven kemudian diukur panjang b. Pasangkan vertikal, lapisi bagian gelombangnya. Selanjutnya untuk bawah kolom kromotografi mengetahui kedudukan gugus dengan kapas hidroksi pada inti kuersetin

  c. Buat suspensi silika gel 60 dilakukan dengan menambahkan kromatografi dengan cairan pereaksi geser ke dalam larutkan pengelusi cuplikan. Pereaksi geser yang

  d. Kemudian tuangkan ke dalam digunakan antara lain natrium kolom kromatografi, ketok-ketok hidroksida : kolom dengan Setelah mengukur spektrum batang karet sampai suspensi di ditambahkan 3 tetes NaOH ke kolom kromatografi padat secara dalam kuvet, dikocok hingga merata. bercampur kemudian diukur

  Penyiapan sampel panjang gelombangya. Diamkan

  a. Sampel dicampurkan dengan selama 5 menit kemudian diukur sedikit silika gel kembali panjang gelombangnya, b. Tuangkan dengan hati-hati ke cuplikan dibuang dan sel dicuci. dalam kolom kromogtografi

  Cara Pengolahan dan Analisa Data

  1 Kuning Fraksi 5

  3 Kuning muda Fraksi 11

  3 Kuning muda Fraksi 10

  2 Kuning Fraksi 9

  2 Kuning tua Fraksi 8

  1 Kuning Fraksi 7

  1 Kuning Fraksi 6

  1 Kuning Fraksi 4

  Data yang didapat merupakan data primer dari hasil isolasi dan identifikasi senyawa kuersetin. Data tersebut disajikan dalam bentuk table dan grafik.

  Fraksi Banyaknya komponen Warna larutan Fraksi 1 - Jernih Fraksi 2 - Kekuningan Fraksi 3

  Setelah uji fitokimia, kemudian dilanjutkan proses pemisahan dengan kromotografi kolom menggunakan eluen etil asetat : petroleum benzene dengan perbandingan 1:1. Dari hasil kromotografi kolom didapatkan 24 fraksi (dalam vial 10 ml). Penentuan vial yang mengandung kuersetin dilakukan dengan KLT. Tabel. Jumlah komponen dari setiap fraksi hasil kromatografi kolom yang dimonitor dengan KLT :

  Kuning Kemerahan Positif Dari hasil uji fitokimia ekstrak menunjukan warna kemerahan sehingga dapat disimpulkan ekstrak menggandung flavonolol.

  Kandungan flavonoid Ekstrak etil asetat

  Senyawa Warna ekstrak Warna yang dihasilkan dengan pereaksi Wilstater

  Sebanyak 1,2 kg kulit buah pir kuning ( Pyrus communis L) terkena cahaya matahari langsung sehingga didapatkan bahan kering sekitar 450 g, bahan ini diekstraksi dengan pelarut etil asetat 4,5 liter, lalu dipekatkan dengan destilasi vakum. Didapatkan ekstrak seberat 17 g, ekstrak kemudian dilakukan uji fitokimia menggunakan Uji Wilstater dan didapatkan hasil sebagai berikut: Table. Uji Fitokimia dengan

  HASIL

  3 Kuning muda Fraksi 12

  3 Kuning muda Fraksi 13

  Harga Rf 0,91 pada fraksi B bercak ke-5 sama dengan harga Rf baku pembanding (kuersetin) yaitu

  Bercak ke-5 Bercak ke-6

  Bercak ke-3 Bercak ke-4

  Bercak ke-1 Bercak ke-2

  Senyawa Harga Rf

  Setelah dilakukan pengukuran panjang gelombang dari fraksi B5 dengan spektrofotometri UV-Vis, kemudian dilakukan penambahan pereaksi geser dan diukur lagi pola spektrum absorbansinya. Hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut :

  Kemudian fraksi B5 pada spektrofometri UV-Vis dihasilkan 1 pita serapan panjang gelombang 387,5 nm.

  Hasil spectrum pelarut etil asetat : petroleum benzene (1:1) dihasilkan pita serapan panjang gelombang 272,0 nm.

  0,91. Diduga terdapat golongan senyawa kuersetin pada fraksi B.

  4 fraksi. Pengujian setiap fraksi tersebut dilakukan dengan membandingkan dengan standar kuersetin. Tabel. Harga Rf setelah diisolasi dengan KLT

  3 Kuning Fraksi 14

  2 Jernih Setiap fraksi yang memiliki jumlah spot dan pola yang sama digabung sehingga diperoleh

  2 Jernih Fraksi 24

  2 Jernih Fraksi 23

  2 Jernih Fraksi 22

  2 Kekuningan Fraksi 20

  2 Kekuningan Fraksi 18

  4 Kekuningan Fraksi 17

  4 Kuning Fraksi 16

  3 Kuning Fraksi 15

  Baku pembanding (kuersetin) 0,91 - - - - - Fraksi A (gabungan 7 dan 8) 0,70 0,86 - - - - Fraksi B (gabungan 9 dan 10) 0,38 0,43 0,49 0,71 0,91 - Fraksi C (gabungan 11,12,13,dan 14) 0,56 0,59 0,74 - - - Fraksi D (gabungan 17,18,19,dan 20) 0,17 0,27 0,32 0,45 0,50 0,86

  • 387,5 - - NaOH 387,5 - - NaOH (setelah 5 menit)

  PEMBAHASAN

  Buah pir kuning (Pyrus

  communis L) segar sebanyak 15 kg

  dikupas kulitnya, kemudian dirajang dan didapatkan berat basah kulit sebanyak 1,2 kg. Potongan-potongan kulit ini kemudian dikering anginkan tanpa terkena cahaya matahari secara langsung 3x24 jam sehingga didapatkan bahan kering sebanyak 450 gram.

  Bahan kemudian dimaserasi selama 10 hari (2 X 5 hari), dengan menggunakan pelarut etil asetat yang telah didestilasi. Maserasi ini dilakukan untuk mengekstraksi seyawa flavonolol dalam sampel khususnya senyawa kuersetin. Hasil maserasi ini kemudian dipekatkan dengan menggunakan vakum untuk mendapatkan ekstrak kasar. Ekstrak kasar diperoleh sebanyak 17 g.

  Untuk memastikan bahwa senyawa flavanoid telah terekstraksi, maka dilakukan uji fitokimia untuk melihat apakah ada flavanoid yang terekstraksi dalam ekstrak pekat. Uji fitokimia dilakukan dengan menggunakan Uji Wilstater yaitu dengan melarutkan sejumlah tertentu ekstrak ke dalam etil asetat dan kemudian ditambahkan dengan beberapa butir Mg, HCl pekat, dan amil alcohol. Setelah reaksi maka akan didapat warna positif yaitu kemerahan untuk flavonolol, atau warna kekuningan untuk flavon (Murtihapsari, 2008). Hasil uji fitokimia menunjukan warna kemerahan sehingga dapat diambil kesimpulan ekstrak mengandung flavonolol yang didalamnya terdapat senyawa kuersetin.

  Pemisahan dilakukan dengan menggunakan kromatografi kolom menggunakan eluen elil asetat : petroleum benzene dengan perbandingan 1:1, karena dari hasil analisis dengan KLT pada penelitian sebelumnya diketahui bahwa eluen ini merupakan terbaik dalam proses pemisahan. Untuk pengisian kolom, pada bagian bawah kolom dimasukan sedikit kapas, kemudian masukan bubur silica gel 70-230 mesh 60 gr, sambil diketok-ketok dengan batang karet agar tidak terdapat rongga udara ditengah- tengah kolom sampai kolom kromatografi padat merata.

  Untuk pemisahan komponen dengan menggunakan kromatografi kolom, mula-mula ke dalam kromatografi kolom dialirkan ekstrak kulit buah pir, kemudian kran kromatografi kolom dibuka, ekstrak akan meresap pada silica gel dalam kolom sampai batas atas kolom. Setelah itu dimasukan eluen secara terus-menerus sambil kran kolom dibuka. Hasil yang didapat ada 24 fraksi ( dalam 10 ml vial). Pereaksi

  Panjang gelombang absorpsi (nm) Pita I

  Pegeseran absorpsi (nm) Pita I

  Dugaan substitusi

  387,0 -0,5 3,4’-OH Setiap fraksi yang memiliki setelah 5 menit, menujukan jumlah spot dan pola yang sama penurunan spectrum -0,5 nm, setelah dimonitor dengan KLT yang mengarah pada gugus posisi digabung sehingga diperoleh

  4 3,4-OH yang merupakan gugus fraksi. Pengujian setiap fraksi dengan kuersetin. KLT dilakukan dengan membandingkan harga Rf dengan DAFTAR PUSTAKA standar kuersetin. Hasil harga Rf fraksi B bercak ke-5 sama dengan Abdul Rahman, 2008. Kimia baku pembanding, sehingga diduga Farmasi Analisis. Pustaka terdapat senyawa kuersetin pada Pelajar, Yogyakarta.

  Berdasarkan spectrum UV- Berdasarkan Golongan Darah. Vis dari fraksi B dihasilkan 1 pita Agro Media Pustaka. serapan yaitu terletak pada panjang Jakarta Selatan, Indonesia gelombang 387,5 nm. Setelah Adnan, M. 1997. Teknik penambahan pereaksi geser Natrium Kromatografi untuk Analisis Hidroksida pada fraksi B dan Bahan Makanan. Adi, didiamkan selama

  5 menit, Yogyakarta. menujukan penurunan spektrum pada Cody, V., 1985, Flavonoid in pita I yaitu -0,5 nm. Hal ini Biology and Medicine II , menunjukan adanya gugus yang peka Biochemical Celluler And terhadap basa, seperti gugus OH Medicinal Properties, Alam,

  R., Liss Inc., New York. pada posisi 3,4’-OH (Markham, 1988), yang merupakan gugus Collegate, S.M., R.J. Molyneux(ed.), kuersetin.

  1994, Bioactive Natural

  Products, Detection, Isolation

KESIMPULAN and Structural

  Dari hasil penelitian isolasi Determination , CRC Press, kuersetin dari kulit buah pir kuning Boca Raton, Ann Arbor, (Pyrus communis L) dengan metode London, Tokyo. kromatografi kolom, Kromatografi Dalimartha, S., 1999, Atlas Lapis Tipis (KLT) dan identifikasi Tumbuhan Obat Indonesia dilakukan menggunakan Jilid 1, Trubus Agriwidya, spektrofotometri UV-Vis dan Jakarta.Departemen pereaksi geser, maka dapat diambil Kesehatan Republik kesimpulan : Indonesia, 1995, Farmakope 1.

  Indonesia , Edisi IV, Jakarta.

  Pada Fraksi B5 mempunyai harga Rf 0,91 sama dengan harga Rf Dharma, A., 2001, Uji Bioaktifitas baku pembanding kuersetin 0,91 Metabolit Sekunder ,

  2. Workshop Peningkatan Identifikasi fraksi B dengan spektrofotometri UV-Vis Sumber Daya Manusia Untuk didapatkan 1 pita serapan pada Pemanfaatan Sumber Daya panjang gelombang 387,5 nm, Alam Hayati dan Rekayasa

  3. pereaksi geser Bioteknologi, FMIPA Penambahan Natrium Hidroksida pada fraksi B Universitas Andalas, Padang.

  Giorgiopietta, P., 2000, Flavonoids Uniflora L.).

  as Antioxidants(Reviews) , J. (hhtp://etd.eprints.ums.ac.id/99

  Nat.Prod. 63: 1035-1042. 4/1/K100040231.pdf, diakses J. B. Harbone. 1987. Metode 23 januari 2014)

  Voight, R., 1995, Teknologi Farmasi, Fitokimia “Penuntun Cara Modern Menganalisis Senyawa edisi ke-5, Gadjah Mada

  Penerbit ITB, University Press, Yogyakarta. Kimia’’.

  Bandung,Indonesia Waji.R.A, Andis. Sugrani. 2009. K. Hostettmann, M.Hostettmann, A. Flavanoid (Quersetin).

  Marston. 1995. (hhtp://pasche08.files.wordpr CaraKromatografi Preparatif. ess.com/2009/05/copy-copy- Indonesia.

  Kisman. Sastro, dkk. 1994. Analisis Farmasi Cet. 2, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

  Indonesia. Khairuzzaman. Annisa. 2009.

  Menangkap Rahasia 63 Buah Berkhasiat Istimewa, Aksara Indah Adil Takbir. Jakarta, Indonesia

  Markham. K.R. 1988. Cara Mengidentifikasi Flavanoid, Penerbit

  ITB, Bandung, Indonesia. Mc Laughlin, Rogers L, 1998, The use of

  biological assays to evaluate botanicals, Drug Information

  Journal. Murtihapsari. 2008. Analisis

  Senyawa kuersetin Bawang Bombay (Alium cepa) melalui Uji Multifragremen dan S pektrofometris.

  Nilawati. Sri, Krinatuti. Dia, B.

  Mahendra. 2008. Care Your Self : “Kolestrol”. Penebar Swadya. Jakarta, Indonesia.

  Roy J. Gritter, James M. Bobbit, Arthur E. S., 1991. Pengantar Kromatografi. Penerbit ITB, Bandung, Indonesia.

  Sjahid, L.R. 2008. Isolasi dan Identifikasi Flavanoid dari Daun Dewandaru (Eugenia

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

II. GAYA GESER DAN MOMEN LENTUR - Gaya geser dan momen lentur
0
1
18
Kimia Inti dan Radiokimia
2
8
31
HUBUNGAN UMUR DAN JENIS KELAMIN DENGAN KEJADAIN KATARAK DI INSTALASI RAWAT JALAN (POLI MATA) RS.DR.SOBIRIN KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2015 CIKWI SKM, M.Kes Dosen Prodi Keperawatan Lubuklinggau Poltekkes Kemenkes Palembang ABSTRAK - Hubungan Umur dan Jenis
0
0
15
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN POLA ASUH IBU TERHADAP STATUS GIZI PADA BALITA DI PUSKESMAS MEGANG SAKTI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2014 SUSMINI,SKM.,M.Kes Dosen Prodi Keperawatan LubukLinggau Poltekkes Kemenkes Palembang ABSTRAK - Hubungan Pengetahuan dan Pola
0
0
10
HUBUNGAN PARITAS DAN UMUR IBU DENGAN KEJADIAN PRE EKLAMPSIA PADA IBU HAMIL DI RUANGMASOKA RS. Dr. SOBIRIN KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2013 Yeni Elviani, SKM.M.Kes Dosen Keperawatan LubukLinggau Poltekkes Kemenkes Palembang ABSTRAK - Hubungan Paritas dan Um
0
0
14
HUBUNGAN PHBS TERHADAP KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI KELURAHAN LUBUK AMAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS PERUMNAS TAHUN 2013 Ns. YUNIKE ,S.Kep.M.Kes Dosen Keperawatan LubukLinggau Poltekkes Kemenkes Palembang ABSTRAK - Hubungan PHBS terhadap Kejadian Diare pada
0
0
15
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut atau ISPA Pada Balita di Kelurahan SUKARAYA Kecamatan BATURAJA Timur Kabupaten Ogan Komering ULU Tahun 2013
0
1
8
Hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan pemberian ASI selama 2 tahun di kelurahan sukaraya wilayah kerja puskesmas Sukaraya Gunardi Pome,. S.Ag,. M.Kes
0
1
6
Hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan pemberian ASI selama 2 tahun di kelurahan sukaraya wilayah kerja Puskesmas Sukaraya tahun 2014. Gunardi, Pome, M.Kes
0
0
12
Hubungan antara Sanitasi dasar dengan kejadian diare pada balita di desa Lubuk Batang Lama Kecamatan Lubuk Batang Asmawi
1
0
14
Pengaruh Penyuluhan Terhadap Pengetahuan dan Sikap Tentang Tumbuh Kembang Kemampuan Motorik Anak Nelly Rustiati, SKM, M.Kes
0
0
9
Hubungan pengetahuan dan sikap masyarakat dengan pencegahan penyakit malaria Di Desa Lubuk Batang Wilayah Kerja Lubuk Batang Kecamatan Lubuk Batang Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2015.
0
0
12
Pemanfaatan Ekstrak Buah Stroberi ( Fragaria nilgerrensis Schlect) sebagai Sediaan Hand and Body Lotion dan Uji Kestabilan Fisiknya Ratnaningsih
0
0
8
Ekstrak Biji Melinjo (GNETUM GNEMON L.) Penurun Hiperglikemik pada Tikus Putih Jantan ( RATTUS NOVERGICUS ) yang Diinduksi Sukrosa Sonlimar
1
3
9
Formulasi Tablet Hisap dari Kulit Batang Pohon Kecapi (Sandoricum koetjape Merr) dan Uji Kestabilan Fisiknya
1
1
12
Show more