Fenomena Fenomena Alam di Tata Surya

Gratis

0
1
23
1 year ago
Preview
Full text

  BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tata surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk Elips, lima Planet kerdil, 173 Satelit alami yang telah diidentifikasi, dan jutaan benda langit (Meteor, Asteroid, Komet) lainnya. Sebuah galaksi merupakan kumpulan bintang, planet, gas, nebula, dan benda-benda langit yang membentuk “pulau-pulau” di dalam ruang hampa jagat raya. Galaksi Bimasakti atau Milky Way adalah salah satu di antara ribuan galaksi di jagat raya kita.

  Layaknya di bumi¸ di galaksi juga dapat terjadi fenomena-fenomena alam yang disebabkan oleh kontraksi antar anggotanya. Sehingga, tercipta pertanyaan mengenai fenomena-fenomena tersebut baik tentang bentuk dan ciri-cirinya. Adapun akibat-akibat nyata dari fenomena tersebut apakah akan berunjung kerugian ataupun keuntungan terhadap bumi. Timbul juga keheranan masyarakat bumi terhadap cara melihat atau mengidentifikasi fenomena-fenomena tersebut.

  B. Rumusan Masalah Dengan latar belakang yang sudah diuraikan di atas maka timbul pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  1 Apa saja fenomena alam yang terjadi di tata surya?

  2 Adakah dampak akibat aktivitas tata surya bagi bumi?

  3 Bagaimana cara mengamati atau mengidentifikasi fenomena-fenomena alam di tata surya? C. Tujuan Penelitian

  Adapun tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini yang berjudul “Fenomena Alam di Tata Surya” yakni sebagai berikut:

  Menguraikan pengertian dan ciri-ciri fenomena alam yang terjadi di tata surya  Merincikan efek bagi bumi dari aktifitas alam yang terjadi di tata surya  Memberikan informasi mengenai cara mengemati atau mengidentifikasi  fenomena alam di tata surya Memenuhi standar penilaian geografi pada sub bahasan Langkah-Langkah  Penelitian Geografi mengenai Fenomena Geosfer D. Manfaat Penelitian Karya tulis ilmiah ini diharapkan akan memberi informasi dan wawasan lebih kepada para pembaca dan penulis mengenai fenomena-fenomena alam yang terjadi di tata surya sehingga bermanfaat bagi kehidupannya. Serta karya tulis ilmiah ini diharapkan memberikan kami, penulis, hasil yang baik pada pelajaran geografi.

  BAB II LANDASAN TEORI A. Landasan Teoritik Tata surya merupakan satu bagian kecil dari alam semesta, jagat raya atau antariksa yaitu ruangan yang meluas ke segala arah, tidak terhingga, tetapi ada batasan-batasannya yang belum dapat diketahui. Jagat raya diduga bentuknya melengkung dan dalam keadaan memuai. Jagat raya terdiri atas galaxi-galaxi atau sistem bintang yang jumlahnya ribuan.

  Berdasarkan hasil pengamatan para astronom dengan menggunakan teropong binokular atau teleskop yang mutakhir bahwa di alam semesta ini terdapat bintang-bintang beredar mengikuti suatu pusat berupa kabut gas pijar yang sangat besar, dikelilingi oleh kelompok-kelompok bintang yang sangat dekat satru dengan lain (Cluster) dan juga dikelilingi oleh gumpalan-gumpalan kabut gas pijar yang lebih kecil dari pusatnya (nebula) dan tebaran ribuan bintang. Keseluruhan itu termasuk matahari selanjutnya disebut Galaksi atau Tata Surya, menurut para ahli ternyata galaksi itu jumlahnya banyak, dan galaksi dimana bumi kita berinduk diberi nama galaksi Milky way atau Bhima Sakti, dan galaksi tetangga bhima sakti yang berhasil dapat dilihat oleh para astronom adalah galaksi andromeda.

  Galaksi atau Tata Surya merupakan kumpulan bintang-bintang yang jumlahnya tidak kurang 100 Milyar termasuk diantaranya matahari. Matahari merupakan pusat tata surya kita ini. Kumpulan bintang-bintang di dalam galaksi bentuknya menyerupai lensa cembung yang pipih atau cakram dengan garis tengah sepanjang 100 tahun cahaya dan tebalnya 10 tahun cahaya. Posisi matahari sebagai pusat tata surya berada pada jarak 30 tahun cahaya dari pusat galaksi.

  Menurut Fowler (1957) sekitar 12.500 juta tahun lalu galaksi bhima sakti masih berbentuk kabut gas hydrogen yang sangat panas. Kemudian ia berotasi sehingga bentruknya menjadi bulat dan bertambah berat. Akibatnya ia mengadakan konstraksi dan bagian masa luarnya yang memiliki berat jenis yang besar banyak yang tertinggal dan kemudian membentuk bintang-bintang yang secara lambat laun melakukan konstraksi sambil memancarkan energi potensialnya berupa kalor sehingga lambat laun suhunya menjadi turun. Setelah ribuan tahun bintang-bintang itu ada yang bentuknya hampir tetap seperti matahari kita. Ada beberapa teori tantang terbetuknya tata surya. Beberapa diantaranya adalah:

  1. Teori Nebular (kabut) Teori terjadinya tata surya mula-mula dikemukakan oleh Immanuel Kant (1755) seorang ahli filsafat bangsa Jerman dan Pierre Simon Lapace (1796) seoramg ahli fisika bangsa Perancis. Keduanya berpendapat bahwa tata surya berasal dari kabut, sehingga disebut teori Kabut Kant-Laplace, dalam alqur’an menjelaskan bahwa penciptaan langit itu berasal dari asap (kabut), Al-Qur’an surat Fussilat ayat 11.

  “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa. Keduanya menjawab Kami dating dengan suka hati.”

  Kant dan Laplace sekalipun memilikim kesamaan dalam menjelaskan asal tata surya tetapi mereka berbeda dalam menjelaskan proses pembentukan tata surya, sebagaimana dijelaskan di bawah ini :

  a. Immanuel Kant : Ia berpendapat bahwa tata surya itu berasal dari gumpalan kabut gas panas yang berputar pada porosnya. Kemudian kabuit itu menjadi padat dan atas dasar prinsip tarik menarik dan tolak menolak dari bagian-bagian kabut yang memadat itu dipusatnya membentuk inti menjadi matahari sedangkan bagian-bagian lainnya bersatu lalu memisahkan diri dari yang lainnya dan menjadilah planet-planet. Dengan demikian planet-planet itu terbentuk bersamaan dengan matahari. b. Laplace : Ia berpendapat bahwa tata surya berasal dari nebula/kabut gas pijar bercampur dengan debu yang berputar pada porosnya. Akibat percepatan rotasinya, kabut makin mengecil dan bentuknya menjadi seperti cakram (pipih). Karena percepatannya makin besar, keadaan kabut menjadi tidak stabil dan terlepas membentuk cincin gas, lalu memadat. Pemadatan itu berlangsung terus menerus , kemudian membuat ketidakstabilan baru sehingga membentuk cincin gas yang baru dan memadat lagi dan seterusnya. Cincin itu membentuk planet, sedangkan yang masih panas menjadi matahari.

  2. Teoti Tidal atau Pasang Surut Teori ini dikemukakan oleh James H. Jeans dan Harold Jeffres pada tahun 1919.

  Menurut teori ini ratusan juta tahun lalu sebuah bintang bergerak mendekati matahari dan kemudian menghilang. Pada waktu itu sebagian matahari tertarik dan lepas. Dari bagian matahari yang lepas inilah kemudian terbentuk planet-planet.

  3. Teori Bintang Kembar Menurut teori ini, kemungkinan dahulu matahari merupakan sepasang bintang kembar. Oleh sesuatu sebab salah satu bintang meledak, dan oleh gaya tarik gravitasi bintang yang satunya (matahari sekarang), pecahan tersebut tetap berada di sekitar dan beredar mengelilinginya.

  4. Teori G.P. Kuiper Pada tahun 1950 G.P Kuiper mengajukan teori berdasarkan keadaan yang ditemui di luar tata surya dan menyuarakan penyempurnaan atas teori-teori yang telah dikemukakan yang mengandaikan matahari serta semua planet-planet berasal dari gas purba yang ada di ruang angkasa. Pada saat ini terdapat banyak kabut gas dan diantara kabut terlihat dalam proses melahirkan bintang.

  Kabut gas yang tampak tipis-tipis di ruang angkasa itu, karena gaya tarik gravitasi antar molekul dalam kabut itu lambat laun memampatkan diri menjadi massa yang semakin lama semakin padat. Pemadatan ini dimungkinkan oleh sifat gas semacam itu selalu terjadi gerakan. Selanjutnya gerakan itu semakin lama menjadi gerakan berputar yang memipihkan dan memadatkan gas kabut itu. Satu atau dua gumpalan materi memadat di tengah. Sedang gumpalan yang kecil akan melesat dilingkungan sekitarnya. Gumpalan yang memadat ditengah menjadi matahari sebagai pusat, sedang gumpalan-guympalan yang kecil menjadi bakal planet. Matahari yang dipusat begitu padat mulai menyala dengan api nuklir, yang selanjutnya api itu mendorong gas yang masih membungkus planet menjadi sirna. Sehingga planet sekarang terlihat telanjang tinggal terasnya. Tapi bakal planet yang jauh dari matahari kurang terpengaruh sehingga tampak menjadi planet yang besar dengan diliputi kabut.

  5. Konsep Alam Ganda Para ahli astrofisika modern berpendapat bahwa ada planet-planet yang menyerupai bumi. Mereka mengira ada kemungkinan terdapatnya planet seperti bumi di luar system matahari karena alas an-alasan seperti berikut :

  Orang memperkirakan bahwa dalam galaksi kita, seperdua dari 100 milyar bintang, masing-masing mempunyai sistem planet seperti system matahari. P. Guerin, seorang ahli astrofisika, menulis “system planeter sudah terang, tersebar banyak dalam cosmos, sistem matahari dan bumi tidak satu-satunya yang ada. Kehidupan, sebagaimana planet-planet yang memberinya tempat juga tersebar diseluruh cosmos, dimana saja terdapat kondisi fisikokimia yang diperlukan untuk terbentuknya kehidupan tersebut dan perkembangan selanjutnya.” Jika kita kaitkan Penjelasan Guerin dengan ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang kegandaan langit dengan symbol angka 7 lapis langit. Disisi lain wujudnya bumi-bumi yang mirip dengan bumi kita dari beberapa aspek, adalah suatu hal yang dapat kita pahami, tetapi para ahli sampai saat ini belum ada yang dapat membuktikan keadaannya seperti apa. Para spesialis menganggap bahwa adanya bumi semacam itu sangat mungkin.

  Komponen tata surya: Matahari  Planet : Merkurius, Venus, Bumi, Saturnus, Uranus, Neptunus  Asteroid

   Komet  Sabut Kuiper  Meteor

   Selama beberapa dekade, astronom telah mengamati kondisi lalu lalangnya anggota- anggota tata surya kita. Tak jarang ditemukan beberapa kejadian aneh di tata surya kita, setelah diteliti lebih lanjut diketahui bahwa hal tersebut adalah fenomena-fenomana alam yang terjadi di tata surya, sama halnya dengan yang kerap kali terjadi di muka bumi ini. Lain kasusnya pada fenomena tata surya ini disebabkan oleh adanya aktifitas luar bumi di tata surya baik karena bertabrakan satu sama lain, reaksi kimia, ataupun gravitasi. Adapun fenomena-fenomena alam tersebut yakni sebagai berikut: 1 .Iron rain (Hujan Besi) Disebut “bintang gagal”, planet brown dwarf ini adalah planet yang baru ditemukan di tata surya kita. Warna cokelat menandakan bahwa planet ini memiliki unsur ferum (besi) yang tinggi.

  Planet ini memiliki badai seperti yang ada di jupiter dan menghempaskan besi-besi ke permukaan nya. Brown dwarf ini semakin dingin dari waktu ke waktu, molekul gas mengembun menjadi cairan besi-besi awan dan hujan.

  Dengan pendinginan lebih lanjut, badai besar menyapu menjauh awan, membiarkan cahaya inframerah terang tersebar ke luar angkasa.

  2 Dust Buster (Pelebur Debu) Mars diketahui telah menghempaskan badai debu yang melanda seluruh belahan mars. Debu berwarna karat ini dapat tertiup dengan kecepatan 60-100 mph

  (97-161 kilometer) per jam, yang berlangsung selama berminggu-minggu.

  Begitu dimulai, kabut tak tertembus ini dapat menyelimuti lebih dari separuh planet, meningkatkan suhu 30 derajat Celcius di belahan mars.

  3 Close Ecounter (Tabrakan Badai Terbesar) Dua bintik bulatan di planet jupiter diatas adalah badai yang sedang mengamuk di planet tersebut. Dari ukuran badainya saja dapat kita ketahui. Yang besar dinamakan the great Red Spot, badai yang lebih dari dua kali lipat lebar Bumi dengan 350-mph ((563 kph) angin dan yang kecil (badai) di namakan Red Jr.

  Walaupun tidak sepenuhnya dipahami, para ilmuwan berpikir warna merah berkorelasi dengan intensitas badai-angin lalu membangkitkan senyawa kimia dari bawah awan dan mengangkat mereka ke tempat yang tinggi, ditambah sinar ultraviolet sehingga menghasilkan rona bata.

  4 Freeze Frame (Rangka Es) Suhu di Uranus bisa mencapai di bawah minus 300 derajat Fahrenheit (89

  Kelvin). Uranus memiliki rotasi 17 jam namun revolusi yang mencapai 84 tahun menyebabkan musim (ekstrim) akan lama berganti. Kadang-kadang kondisinya bisa begitu dingin sehingga gas metana di atmosfer mengembun menjadi metana kristal- awan.

  5 Windy World (Dunia Angin) Di Neptunus ditemukan gemuruh angin yang bertiup lebih banyak dan kuat daripada yang ada di Bumi, mencapai 1.500 mph (2.414 kph). Seiring dengan rotasi planet yang cepat (sekitar 16 jam) sehingga menyebabkan konveksi panas-dingin yang cepat juga, lalu dapat mempengaruhi kecepatan angin dan menciptakan kecepatan yang melebihi kecepatan angin di bumi.

  6 Planet Popsicle (Planet Es)

  Pluto yang sekarang tidak di anggap planet ke 9 dalam tata surya ini memiliki fakta bahwa sinar matahari yang di dapat pluto di bandingkan bumi adalah sekitar 1:1000 tahun dan menyebabkan planet ini terdiri dari es beku yang terdiri dari nitrogen, metana dan karbon dioksida dengan suhu berkisar antara minus 387 hingga minus 369 Fahrenheit (40-50 derajat Kelvin).

  7 Methane Moon (Bulan Metana) Pesawat ruang angkasa Cassini Huygens menemukan bukti kuat diantara hujan deras metana cair yang terjadi di bulan nya saturnus “Titan”. Dan mungkin “air” yang ada di bulan adalah metana juga karena pada suhu dingin Titan (94 derajat Kelvin) air pun akan dikurung seperti es.

  8 Hot Crush (Panas Penghancur)

  Sesuai namanya,. venus merupakan tempat terpanas di tata surya kita. dengan suhu sekitar 750 Kelvin dan memiliki tekanan 90 kali di bumi ini akan membuat setiap pengunjung akan hancur (crush).

  Ilmuwan menyebutkan bahwa hal ini terjadi karena adanya efek rumah kaca yang berlebihan dari awan sulfat yang menutupi langit-langit venus. Maka jadilah efek rumah kaca yang besar dan menyebabkan hal ini.

  9 Black Hole (Lubang Hitam) Pada awalnya orang menggangap Black hole adalah fiksi ilmiah saja. Akan tetapi seiring perkembangan jaman dengan diluncurkan teleskop antariksa "Hubble space telescope" kini orang meyakini bahwa monster itu memang benar benar ada di luar sana. Lubang hitam sendiri diartikan sebagai sebuah pemusatan massa yang cukup besar sehingga menghasilkan gaya gravitasi yang sangat besar. Gaya gravitasi terowongan kuantum. Medan gravitasi begitu kuat sehingga kecepatan di dekatnya mendekati kecepatan cahaya. Tak ada sesuatu, termasuk radiasi elektromagnetik yang dapat lolos dari gravitasinya, bahkan cahaya hanya dapat masuk tetapi tidak dapat keluar atau melewatinya, dari sini diperoleh kata "hitam". Istilah "lubang hitam" telah tersebar luas, meskipun ia tidak menunjuk ke sebuah lubang dalam arti biasa, tetapi merupakan sebuah wilayah di angkasa di mana semua tidak dapat kembali. Secara teoritis, lubang hitam dapat memliki ukuran apa pun, dari mikroskopik sampai ke ukuran alam semesta yang dapat diamati.

  10 Serious Lightning (Petir Terparah) Pesawat ruang angkasa NASA Cassini telah melihat sebuah badai listrik di

  Saturnus yang lebih besar daripada badai listrik daratan Amerika Serikat , dengan kilatan petir yang 1.000 kali lebih kuat daripada di Bumi.

  Badai petir yang membentang 2.175 mil (3.500 kilometer) dari utara ke selatan dan memancarkan suara radio yang sama dengan yang dihasilkan di bumi.

  11 Supermassive Black Hole S uper massive black hole adalah blackhole dengan densitas berkali kali lipat dari akan menimbulkan gaya gravitasi yang juga jauh lebih besar. Apakah supermasif black hole ini ada? jawabannya jelas sekali, mereka ada dan tidak "jauh" dari kita. supermasive blackhole diperkirakan berdiameter lebih dari 1000 kali matahari kita dan mempunyai gravitasi lebih dari sejuta kali gravitasi matahari kita. Super masif black hole merupakan inti dari setiap galaksi yang ada di jagat raya. Ini menjawab pertanyaan kita selama ini. jika bulan mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari, lantas matahari mengelilingi siapa? super masive black hole. Diperkirakan jagat raya ini di huni oleh lebih dari milyaran galaxy dan masih akan terus bertambah. jadi betapa banyak black hole di jagad ini.

  12 White Hole White hole secara nyata belum ada pembuktiannya, white hole masih sebatas dalam teori dalam kertas. Beberapa ilmuan seperti Profesor Michio Kaku menyatakan bahwa white hole merupakan sisi lain dari blackhole. Kita pasti penasaran kemanakah semua materi yang diserap blackhole berujung, apakah black hole itu sebuat pintu yang menuju sisi lain dari jagat raya? dari pertanyaan imajinasi ini maka muncul teori white hole. White hole erat kaitannya dengan time travel. Jika memang ujung dari black hole adalah white hole yang mengubungkan dua tempat terpisah sperti tunel yang mempersingkat perjalanan waktu maka time travel mungkin dilakukan. Dan mungkin kita bisa mengunjungi kemarin, 2 hari yang lalu dan seterusnya. Prof Michiku juga menyatakan secara teoritis time travel melalui white hole itu dapat diterapkan namun praktekannya hampir mustahil. sesuai hukum kekekalan energi dan kesetimbangan masa E masuk= E hilang + E yang keluar dan itu bearti masa yang masuk harus sama dengan masa yang hilang dan keluar. black hole menghisap masa dan energi teorinya white hole yang mengeluarkan. Kemungkinan lain dari sisi lain dari black hole adalah big bang. Bayangkan saja jika sebuah pusaran air menyedot begitu banyak air dan sampah plastik maka dia juga akan mengeluarkan air dan sampah plastik dalam jumlah dan kecepatan yang hampir sama juga. Kecepatan gravitasi di sekitar black hole dikatakan hampir absolute jadi dengan demikian kecepatan hembusan di sekita white hole juga mendekati absolute, dan itu artinya adalah big bang. Dapat disimpulkan white hole adalah sebuah monster kosmis yang berfungsi untuk mengeluarkan seluruh materi yang sudah dihisap oleh black hole.

  Jika ujung dari blackhole adalah white hole dengan big bangnya maka tentu saja ini akan membentuk jagad raya baru. jika di jagat ini ada milyaran galaxy dan milyaran blackholenya maka begitu juga dengan parallel universe. Mungkin saja saat ini kita Dari sekian banyak fenomena alam yang terjadi di tata surya kita, beberapa dari mereka tentu memberikan suatu dampak bagi bumi baik yang menguntungkan maupun yang tidak menguntungkan. Dampak-dampak tersebut yakni sebagai berikut:

  Scarlet Rain (Hujan Merah)  Pada musim panas 2001, setidaknya 50 ton partikel merah jatuh di Kerala,

  India dan terus berlangsung selama hampir dua bulan bersama hujan. Ternyata benda merah berkarat ini termasuk partikel dari badai debu dan sel-sel biologis yang berasal dari luar angkasa (bakteri sejenis itu mksdnya).

  Dalam edisi bulan April jurnal Astrophysics and Space Science, ilmuwan dari Mahatma Gandhi University melaporkan bahwa partikel memiliki penampilan sel-sel biologis, dapat bereproduksi di suhu mendesis, dan tidak memiliki kesamaan dengan partikel debu.

  Badai Matahari 

  Badai matahari adalah siklus rutin yang dijalani pusat tata surya Galaksi Bimasakti. Badai terjadi ketika matahari mengeluarkan gelombang elektromagnetiknya ke luar orbit yang dicirikan dalam aktivitas ledakan-ledakan.

  Menurut dosen astronomi Institut Teknologi Bandung Dhani Herdiwijaya, ledakan matahari bisa terlihat dari Bumi melalui petunjuk adanya bintik matahari di permukaan sang surya. Bintik tersebut melambangkan dalam permukaan matahari

yang membara akibat sedang terjadi letupan-letupan. Seperti hubungan pendek

arus listrik atau korsleting.

Korsleting di pusat tata surya tentu berbeda dengan sekadar korsleting lampu.

Energi yang dipancarkan besar sekali. Energi dalam bentuk gelombang inilah yang mengalir menembus aneka planet. Mulai dari yang terdekat dengan matahari, yaitu Merkurius, lalu ke Venus, dan Bumi hingga habis energinya.

Sepanjang perjalanan, gelombang ini diikuti oleh Ejeksi Massa Korona, yaitu

lontaran massa dari korona matahari, terutama proton, dengan kecepatan tinggi.

Karena mengandung proton berkecepatan tinggi, gelombang tersebut bisa merusak apa yang dilewatinya, termasuk satelit komunikasi hingga satelit Global Positioning System (GPS).

  Badai Listrik  Badai listrik di atmosfer variasi diurnal rutin jaringan elektromagnetik bumi atmosfer atau, lebih luas, sistem listrik setiap planet dalam lapisan gasnya. Gerakan normal muatan listrik antara permukaan bumi, berbagai lapisan atmosfer, dan terutama ionosfer, diambil bersama- sama, yang dikenal sebagai sirkuit listrik atmosfer global. Sebuah bagian dari Ilmu Bumi, banyak alasan yang diperlukan untuk menjelaskan arus ini dapat dilakukan dalam bidang elektrostatik. Pemahaman penuh membutuhkan pengetahuan tentang beberapa disiplin, bukan hanya listrik. Di luar angkasa , magnetopause mengalir di sepanjang batas antara wilayah sekitar obyek astronomi ( disebut " magnetosfer " ) dan sekitarnya plasma , di mana fenomena listrik didominasi atau diselenggarakan oleh medan magnet ini . Bumi dikelilingi oleh magnetosfer , sebagaimana planet termagnetisasi Jupiter , Saturnus , Uranus dan Neptunus . Merkuri magnet , tapi terlalu lemah untuk menjebak plasma . Mars memiliki tambal sulam magnetisasi permukaan . Magnetosfer adalah lokasi di mana tekanan magnet luar dari medan magnet bumi diimbangi oleh angin matahari , plasma . Sebagian besar partikel matahari yang dibelokkan ke kedua sisi magnetopause tersebut . Namun, beberapa partikel terjebak dalam medan magnet bumi dan membentuk sabuk radiasi . The Van Allen sabuk radiasi adalah torus partikel bermuatan energik ( yaitu plasma ) sekitar Bumi , terperangkap oleh medan magnet bumi . Pada ketinggian di atas awan , listrik atmosfer membentuk elemen kontinyu dan berbeda ( disebut electrosphere tersebut ) di mana bumi dikelilingi . Lapisan electrosphere ( dari puluhan kilometer di atas permukaan bumi ke ionosfer ) memiliki konduktivitas listrik tinggi dan pada dasarnya pada potensial listrik konstan . Ionosfer adalah bagian dalam dari magnetosfer dan merupakan bagian dari atmosfer yang terionisasi oleh radiasi matahari . ( Photoionisation adalah proses fisik di mana foton insiden pada atom , ion atau molekul , sehingga pengusiran dari satu atau lebih elektron).

  Badai petir terjadi di seluruh dunia, bahkan di wilayah kutub sekalipun, dengan frekuensi terkuat di daerah Hutan Hujan Tropis, dimana mereka terjadi setiap hari. Kampal dan Tororo di Uganda telah dianggap sebagai tempat paling banyak petir di Bumi, gelar ini juga diberikan pada Bogor di Jawa (pulau), Indonesia atau Singapura.

  Beberapa badai petir terkuat dan berbahaya terjadi di Amerika Serikat terutama di Midwest dan Amerika Serikat Selatan. Badai tersebut dapat membuat sebuah tornado. Setiap musim semi, Pemburu badai pergi ke Graet Plains Amerika Serikat dan Canadian Prairies untuk menjelajah aspek visual dan ilmiah badai dan tornado. Dalam kasus ini, kita yang hidup di bumi menerima kerugian secara tak langsung yang berupa radiasi.

  Efek Rumah Kaca  Salah satu dampak aktifitas tata surya terhadap kehidupan bumi adalah efek rumah kaca atau global warming. Efek rumah kaca pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada tahun 1824, merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit) yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya. Mars, Venus, dan benda langit beratmosfer lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan) memiliki efek rumah kaca, tapi karya tulis ilmiah ini hanya membahas pengaruh di bumi. Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya gas karbondioksida ( CO ) dan gas-gas lainnya

  2

  di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO

  2 disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan

  bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organic lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya. Energi yang masuk ke bumi, 25 % dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer, 25 % diserap awan, 45 % diserap permukaan bumi, 5 % dipantulkan kembali oleh permukaan bumi. Energy yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Selain gas

  2 CO 2 yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida

  (NO) dan nitrogen dioksida (NO

  2 ) serta beberapa senyawa organic seperti gas metana dan

  klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca. Sinar inframerah yang dipantulkan bumi kemudian diserap oleh molekul gas yang antara lain berupa uap air atau H 0, CO , metan (CH ), dan ozon (O ). Sinar panas

  2

  2

  4

  3

  inframerah ini terperangkap dalam lapisan troposfir dan oleh karenanya suhu udara di troposfir dan permukaan bumi menjadi naik. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya Efek Rumah Kaca. Gas yang menyerap sinar inframerah disebut Gas Rumah Kaca.

  Dampak Akibat Efek Rumah Kaca

  a. Makin tingginya suhu permukaan bumi yang berdampak pada terjadinya cuaca yang cukup ektrem pada saat ini. Dimana pada siang hari terasa sangat menyengat dan pada malam hari, udara terasa dingin.

  b. Mulai mencairnya beberapa gunung es yang terdapat di wilayah kutub. Hal ini karena suhu di kutub meningkat dan mengurangi kemampuan pembekuan es yang ada di kawasan tersebut. c. Makin bertambahnya ketinggian air laut yang di akibatkan suhu air laut meningkat.

  Akibatnya pada saat ini semakin banyak ancaman tenggelamnya beberapa kawasan daratan di dunia.

  d. Terganggunya fungsi hutan dalam menyerap partikel bebas seperti CO2 yang ada di udara.

  Akibatnya, senyawa tersebut tidak tersaring dan mencemari lingkungan serta merusak atmosfer bumi.

  Pada abad ke-20, astronomi profesional terbagi menjadi dua cabang: astronomi observasional dan astronomi teoretis. Yang pertama melibatkan pengumpulan data dari pengamatan atas benda-benda langit, yang kemudian akan dianalisis menggunakan prinsip- prinsip dasar fisika. Yang kedua terpusat pada upaya pengembangan model-model komputer/analitis guna menjelaskan sifat-sifat benda-benda langit serta fenomena-fenomena alam lainnya. Adapun kedua cabang ini bersifat komplementer — astronomi teoretis berusaha untuk menerangkan hasil-hasil pengamatan astronomi observasional, dan astronomi observasional kemudian akan mencoba untuk membuktikan kesimpulan yang dibuat oleh astronomi teoretis. Astronom-astronom amatir telah dan terus berperan penting dalam banyak penemuan-penemuan astronomis, menjadikan astronomi salah satu dari hanya sedikit ilmu pengetahuan di mana tenaga amatir masih memegang peran aktif, terutama pada penemuan dan pengamatan fenomena-fenomena sementara.

  Astronomi observasional Seperti diketahui, astronomi memerlukan informasi tentang benda-benda langit, dan sumber informasi yang paling utama sejauh ini adalah radiasi elektromagnetik, atau lebih spesifiknya, cahaya tampak. Astronomi observasional bisa dibagi lagi menurut daerah-daerah spektrum elektromagnetik yang diamati: sebagian dari spektrum tersebut bisa diteliti melalui permukaan Bumi,

sementara bagian lain hanya bisa dijangkau dari ketinggian tertentu atau bahkan hanya dari ruang

angkasa. Keterangan lebih lengkap tentang pembagian-pembagian ini bisa dilihat di bawah:

Astronomi radio

  Astronomi observasional jenis ini mengamati radiasi dengan panjang gelombang yang lebih dari satu milimeter (perkiraan). Berbeda dengan jenis-jenis lainnya, astronomi observasional tipe radio

mengamati gelombang-gelombang yang bisa diperlakukan selayaknya Gelombang, bukan Foton yang diskrit. Dengan demikian pengukuran fase dan amplitudo relatif lebih gampang apabila dibandingkan dengan gelombang yang lebih pendek. Gelombang radio bisa dihasilkan oleh benda-benda astronomis melalui benda hitam, namun sebagian besar pancaran radio yang diamati dari Bumi adalah berupa radiasi sinkronton, yang diproduksi ketika elektron berkisar di sekeliling medan manet. Sejumlah garis spektrum yang

dihasilkan dari gas antarbintang (misalnya garis spektrum Hidrogen pada 21 cm) juga dapat diamati

pada panjang gelombang radio. Beberapa contoh benda-benda yang bisa diamati oleh astronomi radio: supernova, gas antarbintang, pulsar, dan inti galaksi aktif (AGN - active galactive nucleus).

Astronomi inframerah

  Astronomi inframerah melibatkan pendeteksian beserta analisis atas radiasi inframerah (radiasi di

mana panjang gelombangnya melebihi cahaya merah). Sebagian besar radiasi jenis ini diserap oleh

atmosfer Bumi, kecuali yang panjang gelombangnya tidak berbeda terlampau jauh dengan cahaya

merah yang tampak. Oleh sebab itu, observatorium yang hendak mengamati radiasi inframerah harus

dibangun di tempat-tempat yang tinggi dan tidak lembap, atau malah di ruang angkasa. Spektrum ini bermanfaat untuk mengamati benda-benda yang terlalu dingin untuk memancarkan cahaya tampak, misalnya planet-planet atau cakram pengitar bintang. Apabila radiasinya memiliki gelombang yang cenderung lebih panjang, ia dapat pula membantu para astronom mengamati bintang-bintang muda pada awan molekul dan inti-inti galaksi — sebab radiasi seperti itu mampu menembus debu-debu yang menutupi dan mengaburkan pengamatan astronomis. Astronomi

inframerah juga bisa dimanfaatkan untuk mempelajari struktur kimia benda-benda angkasa, karena

beberapa molekul memiliki pancaran yang kuat pada panjang gelombang ini. Salah satu kegunaannya yaitu mendeteksi keberadaan air pada komet-komet.

Astronomi optikal

  

Dikenal juga sebagai astronomi cahaya tampak, astronomi optikal mengamati radiasi elektromagnetik

yang tampak oleh mata telanjang manusia. Oleh sebab itu, ini merupakan cabang yang paling tua, karena tidak memerlukan peralatan. Mulai dari penghujung abad ke-19 sampai kira-kira seabad

setelahnya, citra-citra astronomi optikal memakai teknik fotografis, namun sebelum itu mereka harus

digambar menggunakan tangan. Dewasa ini detektor-detektor digitallah yang dipergunakan, terutama

yang memakai peranti terandeng muatan (charge-coupled devices, peranti tergandeng-muatan).

  

Cahaya tampak sebagaimana diketahui memiliki panjang dari 4.000 Angstrom sampai 7.000 Å (400-

700 Nanometer). Namun demikian, alat-alat pengamatan yang dipakai untuk mengamati panjang gelombang demikian dipakai pula untuk mengamati gelombang hampir ultraungu dan hampir inframerah.

Astronomi ultraungu

  

Ultraungu yaitu radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang lebih kurang 100 sampai 3.200 Å (10-320 nm). Cahaya dengan panjang seperti ini diserap oleh atmosfer Bumi, sehingga untuk mengamatinya harus dilakukan dari lapisan atmosfer bagian atas, atau dari luar atmosfer (ruang angkasa). Astronomi jenis ini cocok untuk mempelajari radiasi termal dan garis-garis spektrum bintang seperti itu sangat cemerlang radiasi ultraungunya — penelitian seperti ini sering dilakukan dan mencakup bintang-bintang yang berada di galaksi-galaksi lain. Selain bintang-bintang OB,

benda-benda langit yang kerap diamati melalui astronomi cabang ini antara lain nebula planet, sisa

supernova, atau inti-inti galaksi aktif. Diperlukan penyetelan yang berbeda untuk keperluan seperti demikian sebab cahayanya mudah tertelan oleh debu antarbintang.

Astronomi sinar-X

  Benda-benda bisa memancarkan cahaya berpanjang gelombang sinar-X melalui radiasi sinkontron (berasal dari elektron-elektron yang berkisar di sekeliling medan magnet) atau melalui 7 pancaran termal Bremsstrahlung dan benda hitam pada 10 K. Sinar-X juga diserap oleh atmosfer,

sehingga pengamatan harus dilakukan dari atas balon, roket, atau satelit penelitian. Sumber-sumber

sinar-X antara lain bintang biner sinar-X (X-ray binary), pulsar, sisa-sisa supernova, galaksi elips, gugusan galaksi, serta inti galaksi aktif.

Astronomi sinar-gamma

  Astronomi sinar-gamma mempelajari benda-benda astronomi pada panjang gelombang paling pendek (sinar gamma). Sinar-gamma bisa diamati secara langsung melalui satelit-satelit seperti Observatorium Sinar-Gamma Compton (CGRO), atau dengan jenis teleskop khusus yang

disebut IACT. Teleskop jenis itu sebetulnya tidak mendeteksi sinar-gamma, tapi mampu mendeteksi

percikan cahaya tampak yang dihasilkan dari proses penyerapan sinar-gamma oleh atmosfer.

Kebanyakan sumber sinar-gamma hanyalah berupa ledakan sinar-gamma, yang hanya menghasilkan

sinar tersebut dalam hitungan milisekon sampai beberapa puluh detik saja. Sumber yang permanen

dan tidak sementara hanya sekitar 10% dari total jumlah sumber, misalnya sinar-gamma dari pulsar, bintang neutron, atau inti galaksi aktif dan kandidat-kandidat lubang hitam.

  ]

Cabang-cabang yang tidak berdasarkan panjang gelombang

  

Sejumlah fenomena jarak jauh lain yang berbentuk selain radiasi elektromagnetik dapat diamati dari

Bumi. Ada cabang bernama Astronomi Neutrino, di mana para astronom menggunakandetektor neutrino (misalnya SAGR, GALLEX, atau Observatorium Kamioka) untuk mendeteksi neutrino, sebentuk partikel dasar yang jamaknya berasal dari matahari atau ledakan- ledakansupernova. Ketika sinar kosmik memasuki atmosfer Bumi, partikel-partikel berenergi tinggi

yang menyusunnya akan meluruh atau terserap, dan partikel-partikel hasil peluruhan ini bisa dideteksi

di observatorium. Di masa yang akan datang, diharapkan akan ada detektor neutrino yang peka terhadap partikel-partikel yang lahir dari benturan sinar-sinar kosmik dan atmosfer.

  Terdapat pula cabang baru yang menggunakan detektor-detektor gelombang gravitasional untuk

mengumpulkan data tentang benda-benda rapat: astronomi gelombang gravitasional. Observatorium-

observatorium untuk bidang ini sudah mulai dibangun, contohnya

observatorium LIGO di Lousiana, Amerika Serikat. Tetapi astronomi seperti ini sulit, sebab gelombang

gravitasional amat sukar untuk dideteksi. Ahli-ahli astronomi planet juga banyak yang mengamati fenomena-fenomena angkasa secara langsung, yaitu melalui wahana-wahana antariksa serta misi-misi pengumpulan sampel. Beberapa

hanya bekerja dengan sensor jarak jauh untuk mengumpulkan data, tapi beberapa lainnya melibatkan

pendaratan —dengan kendaraan antariksa yang mampu bereksperimen di atas permukaan. Metode-

metode lain misalnya detektor material terbenam atau melakukan eksperimen langsung terhadap sampel yang dibawa ke Bumi sebelumnya.

  Astrometri dan mekanika benda langit

  

Pengukuran letak benda-benda langit, seperti disebutkan, adalah salah satu cabang astronomi (dan

bahkan sains) yang paling tua. Kegiatan-kegiatan seperti pelayaran atau penyusunan kalender memang sangat membutuhkan pengetahuan yang akurat mengenai letak Matahari, Bulan, planet- planet, serta bintang-bintang di langit.

  

Dari proses pengukuran seperti ini dihasilkan pemahaman yang baik sekali tentang usikan gravitasi

dan pada akhirnya astronom-astronom dapat menentukan letak benda-benda langit dengan tepat pada masa lalu dan masa depan — cabang astronomi yang mendalami bidang ini dikenal sebagai mekanika benda langit. Dewasa ini penjejakan atas proyek NEO juga memungkinkan prediksi-prediksi akan pertemuan dekat, atau bahkan benturan. Kemudian terdapat pengukuran paralaks bintang. Pengukuran ini sangat penting karena memberi nilai basis dalam metode tangga jarak kosmik; melalui metode ini ukuran dan skala alam semesta

bisa diketahui. Pengukuran paralaks bintang yang relatif lebih dekat juga bisa dipakai sebagai basis

absolut untuk ciri-ciri bintang yang lebih jauh, sebab ciri-ciri di antara mereka dapat

dibandingkan. kinematika mereka lalu bisa kita susun lewat pengukuran kecepatan radial serta gerak

diri masing-masing. Hasil-hasil astrometri dapat pula dimanfaatkan untuk pengukuran materi gelap di

dalam galaksi. Selama dekade 1990-an, teknik pengukuran goyangan bintang dalam astrometri digunakan untuk Metode deteksi planet-planet luar surya keberadaan planet luar surya yang mengelilingi bintang-bintang di dekat Matahari kita.

Astronomi teoretis

  Terdapat banyak jenis-jenis metode dan peralatan yang bisa dimanfaatkan oleh seorang astronom teoretis, antara lain model (misalnya politrop untuk memperkirakan perilaku sebuah bintang)

dan analisis numerik komputasi; masing-masing dengan keunggulannya sendiri. Model-model analitik

umumnya lebih baik apabila peneliti hendak mengetahui pokok-pokok persoalan dan mengamati apa

yang terjadi secara garis besar; model-model numerik bisa mengungkap keberadaan fenomena- fenomena serta efek-efek yang tidak mudah terlihat.

  Para teoris berupaya untuk membuat model-model teoretis dan menyimpulkan akibat-akibat yang

dapat diamati dari model-model tersebut. Ini akan membantu para pengamat untuk mengetahui data

apa yang harus dicari untuk membantah suatu model, atau memutuskan mana yang benar dari model-model alternatif yang bertentangan. Para teoris juga akan mencoba menyusun model baru atau memperbaiki model yang sudah ada apabila ada data-data baru yang masuk. Apabila terjadi pertentangan/inkonsistensi, kecenderungannya adalah untuk membuat modifikasi minimal pada model yang bersangkutan untuk mengakomodir data yang sudah didapat. Kalau pertentangannya terlalu banyak, modelnya bisa dibuang dan tidak digunakan lagi.

  Topik-topik yang dipelajari oleh astronom-astronom teoretis antara lain: dinamika bintang dan evolusi bintang-bintang; pembentukan dan perkembangan galaksi; alam semesta teramati materi di alam semesta; asal usul sinar kosmik;rekativitas umum; dan kosmologi

fisik (termasuk teori dawai dan fisika astropartikel). Relativitas astrofisika dipakai untuk mengukur ciri-

ciri struktur skala besar, di mana ada peran yang besar dari gaya gravitasi; juga sebagai dasar dari fisika lubang hitam dan penelitian gelombang gravitasional.

  Beberapa model/teori yang sudah diterima dan dipelajari luas yaitu teori big bang, inflasi kosmik, materi gelap, dan teori-teori fisika fundamental. Kelompok model dan teori ini sudah diintegrasikan dalam model lambada-CDM.

  Proses fisik Alat eksperimen Model teoretis Yang dijelaskan/diprediksi Gravitasi Telespkop Radio

Efek Nordtvedt (sistem

gravitasi yang mandiri)

Lahirnya sebuah tata bintang

  Fusi Nuklir Spektroskopi Evolusi Bintang Bagaimana bintang berpijar; bagaimana logam terbentuk (neuklosintesis).

  Dentuman Besar (Big Bang) Teleskop luar angkasa Hubble,COBE

Alam semesta yang

mengembang Usia alam semesta

  Fluktasi kuantum Inflasi kosmik Masalah kerataan alam semesta (flatness problem) Keruntuhan

  Gravitasu Astronomi Sinar-X Relativitas umum Sekumpulan Lubang Hitam di pusat Galaksi Andromeda

  Siklus CNO pada bintang-bintang

  B. Kerangka Pemikiran Berdasarkan latar belakang dan landasan teori yang mengacu kepada pengertian dan anggota tata surya, diketahui bahwa ditengah-tengahnya terdapat fenomena atau aktivitas tata surya yang kerap terjadi. Jika diulik lebih dalam, diantara fenomena tersebut akan ada sesuatu hal yang menyebabkan dampak bagi bumi ini.

  Juga bagaimana cara mengetahui atau mengamati fenomena-fenomena tersebut mengikuti, sebagai sebuah jalan untuk membuktikan ataupun meneliti apa yang sebenarnya terjadi.

  C. Hipotesis

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Fenomena atau kejadian alam yang terjadi di tata surya.

  B. Populasi dan Penentuan Sampel Penelitian Kumpulan data yang ada di internet dan buku-buku yang berhubungan dengan tata surya

  C. Metode Pengumpulan Data Dengan melakukan research di perpustakaan setempat mengenai buka yang

   mengandung uraian mengenai tata surya dan fenomena alamnya Dengan melakukan pencarian mengenai tema yang bersangkutan di mesin  pencari internet

  BAB IV ANALISIS DATA A. Latar Belakang Objek Penelitian :Bab 3 MENGENAL DINAMIKA PLANET BUMI DAN TATA SURYA

  Kedua buku diatas menguraikan informasi yang cukup demi penilitian kami, tidak lupa dengan internet yang menyediakan berbagai mascam data yang kami butuhkan.

  B. Analisis Data Fenomena alam di tata surya disebabkan oleh adanya aktivitas gravitasi maupun reaksi kimia oleh anggota-anggota yang ada di tata surya. Fenomena- fenomena tersebut menyebabkan suatu yang luar biasa terjadi, bahkan terkadang di luar akal sehat.

  Beberapa data menunjukkan adanya efek yang diakibatkan oleh fenomena atau aktifitas tata surya bagi bumi. Efek tersebut dirasakan oleh masyarakat bumi secara langsung maupun tidak langsung. Efek yang terasa secara nyata seperti, efek rumah kaca dan scarlet rain. Adapun, efek yang tidak terasa langsung seperti ketika terjadi badai matahari mengakibatkan radiasi dan elektron-elektron yang meningkat dan badai listrik yang menyebabkan gangguan sinyal pada bidang telekomunikasi

  Dapat dilakukan pengamatan atas berbagai fenomena tersebut melalui astronomi observasional dan astronomi teoritis. Astronomi observasional bisa dibagi lagi menurut daerah-daerah spektrum elektromagnetik yang diamati: sebagian dari spektrum tersebut bisa diteliti melalui permukaan Bumi, sementara bagian lain hanya bisa dijangkau dari ketinggian tertentu atau bahkan hanya dari ruang angkasa. Sedangkan astronomi teoretis berhubungan dengan: dinamika bintang dan evolusi bintang-bintang; pembentukan dan perkembangan galaksi; alam semesta teramati materi di alam semesta; asal usul sinar kosmik;rekativitas umum; dan kosmologi fisik (termasuk teori dawai dan fisika astropartikel).

Dokumen baru

Tags

Fenomena Terorisme Arsitektur Komputer Teori Dan Perkembang Edokumen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Aturan Lomba Essai Fenomena Fangirl Terhadap Boy Band Di Jepang Dewasa Ini Auguste Comte Dan Fenomena Sosial Di Ind Analisis Fenomena Underpricing Di Pasar Modal Indonesia Fenomena Kenakalan Remaja Di Jepang Pada Era Modern Manusia Di Dalam Fenomena Alam Perubahan Egalitarianisme Pendidikan Di Jepang Fenomena Golongan Putih Di Kalangan Masyarakat Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Perawat D Tap Com 1 Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Perawat Dengan Sumber Daya Alam Kawasan Lindung Kon Keanekaragaman Gastropoda Dan Arthropoda Fenomena Alam Fenomena Alam Danau Toba Fenomena Fenomena Alam Gaib Fenomena Hedonisme Di Indonesia Contoh Teks Eksplanasi Fenomena Alam Pem Fenomena Parasite Single Di Jepang Fenomena Cyberbullying Di Kalangan Remaj Fenomena Sastera Islam Di Indonesia
Show more

Dokumen yang terkait

ANALISIS KOMPARATIF PENDAPATAN DAN EFISIENSI ANTARA BERAS POLES MEDIUM DENGAN BERAS POLES SUPER DI UD. PUTRA TEMU REJEKI (Studi Kasus di Desa Belung Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang)
22
217
16
FREKUENSI KEMUNCULAN TOKOH KARAKTER ANTAGONIS DAN PROTAGONIS PADA SINETRON (Analisis Isi Pada Sinetron Munajah Cinta di RCTI dan Sinetron Cinta Fitri di SCTV)
27
212
2
DEKONSTRUKSI HOST DALAM TALK SHOW DI TELEVISI (Analisis Semiotik Talk Show Empat Mata di Trans 7)
21
191
1
MANAJEMEN PEMROGRAMAN PADA STASIUN RADIO SWASTA (Studi Deskriptif Program Acara Garus di Radio VIS FM Banyuwangi)
29
201
2
MOTIF MAHASISWA BANYUMASAN MENYAKSIKAN TAYANGAN POJOK KAMPUNG DI JAWA POS TELEVISI (JTV)Studi Pada Anggota Paguyuban Mahasiswa Banyumasan di Malang
20
178
2
PERANAN ELIT INFORMAL DALAM PENGEMBANGAN HOME INDUSTRI TAPE (Studi di Desa Sumber Kalong Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso)
37
232
2
KONSTRUKSI MEDIA TENTANG KETERLIBATAN POLITISI PARTAI DEMOKRAT ANAS URBANINGRUM PADA KASUS KORUPSI PROYEK PEMBANGUNAN KOMPLEK OLAHRAGA DI BUKIT HAMBALANG (Analisis Wacana Koran Harian Pagi Surya edisi 9-12, 16, 18 dan 23 Februari 2013 )
64
463
20
FK-UMM Dalam Pertemuan Occupational Health di Philippines
0
55
1
Kuliah di PTN Kini Lebih Mahal
0
86
1
Analisis Pertumbuhan Antar Sektor di Wilayah Kabupaten Magetan dan Sekitarnya Tahun 1996-2005
3
55
17
Analisis terhadap hapusnya hak usaha akibat terlantarnya lahan untuk ditetapkan menjadi obyek landreform (studi kasus di desa Mojomulyo kecamatan Puger Kabupaten Jember
1
83
63
DAMPAK INVESTASI ASET TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP INOVASI DENGAN LINGKUNGAN INDUSTRI SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI (Studi Empiris pada perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2006-2012)
11
127
22
Diskriminasi Perempuan Muslim dalam Implementasi Civil Right Act 1964 di Amerika Serikat
3
37
15
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB ORANG TUA MENIKAHKAN ANAK PEREMPUANYA PADA USIA DINI ( Studi Deskriptif di Desa Tempurejo, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember)
12
99
72
Hubungan Antara Kompetensi Pendidik Dengan Kecerdasan Jamak Anak Usia Dini di PAUD As Shobier Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember
4
90
4
Show more