Haruskah Sastra Berideologi di dalam

Gratis

0
0
6
1 year ago
Preview
Full text

  

Haruskah Sastra Berideologi?

  Oleh: Fajar S.Roekminto “Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam? Kapan

  1 Enam

  pengetahuan kami bukan ilmu kadaluarsa? Mungkinkah berharap” belas kata yang dikutip di atas ternyata telah mampu membuat geram serta murka seorang Wapres Republik Indonesia, Jusuf Kalla. Menariknya lagi, kata-kata itu bukan kutipan berita di surat kabar, tulisan dalam artikel majalah/koran atau kritikan seorang pakar politik pada acara talk show, melainkan kutipan salah satu genre sastra, puisi. Puisi itu juga dibaca dengan intonasi yang biasa-biasa saja, tidak meledak ledak dan tidak penuh dengan kemarahan. Namun demikian dengan sangat reaktif dan cenderung berlebihan, Jusuf Kalla mengomentari puisi itu dengan nada yang tinggi, amat serius dan marah.

  Reaksi seperti ini wajar terjadi karena perbedaan cara pandang dan latar belakang kedua orang tersebut. Sebagai seorang saudagar yang kebetulan menjadi birokrat, Jusuf Kalla mendengar puisi itu sebagai sebuah protes “buruh” terhadap “perusahaan” yang dia pimpin. Sedangkan Prof. Surahman terbiasa hidup dalam dunia akademik, sebuah dunia yang menempatkan manusia setinggi tingginya dan memberi pengharagaan yang setinggi- tingginya pula terhadap karya manusia. Bagi Jusuf Kalla manusia adalah “sumber daya” yang dengan mudah dikalkulasi, direstrukturisasi, dipindahkan, dipecat dan ditumpuk seperti karton susu dan ditempatkan di gudang.

  Padahal tidak ada tendensi apa-apa dari Prof. Surahman dengan puisi yang ia baca, karena ia hanya ingin menyampaikan kegundahan dan kegetiran hidup yang menimpa ribuan guru yang ada di Indonesia saat ini. Puisi itu tidak memiliki pretensi apa-apa selain sebuah ekspresi kepedihan melalui aliran kata ke kata serta bait ke bait. Sikap yang ditunjukan oleh sang Wapres telah membuat banyak orang, khususnya kalangan akademisi geleng-geleng kepala penuh tanda tanya sebagai bentuk ketidak-pahaman mereka atas sikap orang ke-2 di Republik ini.

  Terkait dengan keberadaan sastra, apa yang ditunjukan oleh Jusuf Kalla sebenarnya hanya sebagian kecil dari kemurkaan serupa yang juga sering terjadi dalam Pemerintahan Orde Baru. Pada masa itu kemarahan- kemarahan para pejabat negara tersebut telah memaksa terjadinya pelarangan dan penarikan sejumlah karya sastra yang sudah terlanjur beredar. Terhadap banyak karya sastra, negara acapkali melarang secara resmi buku-buku itu diterbitkan, diedarkan dan dibaca secara luas oleh masyarakat hanya karena karena para pejabat pada masa itu tidak berkenan terhadap pnulis karya tersebut. Tidak diberikan alasan yang jelas dan ilmiah mengapa karya sastra tertentu dilarang dan lainnya tidak, untuk itu menjadi satu hal yang sangat mustahil bagi orang awam untuk membaca dengan bebas karya- karya Pramoedya Ananta Toer dan para penulis „kiri‟ lain karena karya-karya itu dianggap dapat merusak mental generasi muda. Karya-karya sastra yang dilarang tersebut (menurut penguasa pada waktu itu) itu ditengarai mengajarkan ideologi komunis dan marxisme (meski keduanya berbeda satu sama lain). Semua kegiatan berkesusastraan yang dianggap tidak sejalan dengan selera, sikap dan ideologi penguasa kemudian dihantam, dilibas, dihancurkan, dipenjarakan, di-PKI-kan dan kalau perlu dihabisi.” Di banyak negara, khususnya Uni Sovyet pada masa pra-glasnot dan beberapa negara komunis lainnya, pelarangan serupa juga terjadi pada karya-karya sastra yang ditulis oleh mereka yang berseberangan dengan pemerintah, baik itu mereka yang benar-benar memberikan kritik maupun yang

  “hanya karena” tidak disukai oleh penguasa. Namun demikian pasca kematian Stalin, yang juga disebut sebagai masa The Thaw, Uni Sovyet melahirkan penulis yang dianugrahi Nobel pada tahun 1958, Boris Pasternak. Pada awalnya karya Pasternak berjudul Doctor Zhivago dapat dengan leluasa dibaca namun kemudian dilarang karena penulisnya memberikan kritik tajam pada pemerintah. Pemerintahan Nikita Khrushchev memang sedikit bersikap lunak terhadap para sastrawan dibandingkan dengan pendahulunya, Stalin. Beberapa karya yang lahir pada masa itu diantaranya adalah Odin den‟ Ivana Denisovicha (1962), A Day in the Life of Ivan Denisovich (1963) karya Aleksandr Solzhenitsyn.

  Kebebasan yang diberikan oleh Khrushchev memang tidak seluas yang diberikan Pemerintah Rusia pada saat ini. Kapan dan berapa lama sebuah karya sastra boleh beredar sepenuhnya tergantung keinginan pemerintah. Sehingga seringkali terjadi sebuah karya sastra yang pada awalnya dapat dinikmati masyarakat luas tapi selang beberapa waktu kemudian hilang dari peredaran karena pemerintah berubah pikiran. Alasan itulah yang membuat para sastrawan menerbitkan sendiri karya-karya mereka untuk kemudian didistribusikan dikalangan terbatas baik di dalam maupun di dalam negeri.

  2 Fenomena semacam ini disebut dengan samizdat (self-publishing) . Model

  penerbitan ini juga pernah dilakukan pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan sastrawan lain yang dimusuhi oleh Suharto pada masa itu. Dengan sembunyi-sembunyi aktivis-aktivis mahasiswa dan gerakan pro demokrasi mencetak karya-karya itu agar dapat disebarluaskan meski melalui distribusi bawah tanah dan hanya pada kalangan terbatas.

  Untuk kasus yang lebih mutakhir, kemurkaan karena kehadiran karya sastra juga menjadi milik Ayatollah Ruhollah Khomeini. Kemurkaannya dipicu

  3

  oleh kehadiran The Satanic Verses karya Salman Rusdie. Khomeini tidak sendirian karena jutaan umat Muslim di seluruh dunia bergerak bersama- sama melawan kehadirannya. Sementara itu Gereja Katolik Roma, Protestan, aliran-aliran dan sekte Kristen tradisional juga telah dibuat geram oleh ulah

  4 Dan Brown dengan novelnya The Da Vinci Code . Meskipun sikap pemimpin

  gereja tidak seekstrim Khomeini terhadap Rusdie namun tetap saja The Da Vinci Code dianggap telah menodai ajaran agama Kristen. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dan mencapai penjualan 60,5 juta eksemplar di seluruh dunia, yang kemudian menempatkan Dan Brown menjadi seorang jutawan. Harus diakui bahwa karya-karya sastra tidak jarang dianggap menghina golongan tertentu, agama dan pemerintah hingga akhirnya penguasa memberikan karya-karya sastra itu stigma “meresahkan masyarakat, menggoncang iman ” dan “mengganggu stabilitas”.

  Contoh-contoh yang disebutkan di atas menunjukan dengan jelas bahwa karya sastra tidak berhenti pada teks yang mati tetapi mempunyai potensi luar biasa besar untuk mempengaruhi cara berpikir dan bertindak manusia. Apakah sastra itu dan bagaimana ia bekerja, sehingga hampir dalam semua atas pertanyaan itu memunculkan pertanyaan baru lagi. Hal ini disebabkan karena sampai detik ini sastra tidak pernah mampu mendefinisikan dirinya sendiri dengan pemahaman yang dapat memuaskan setiap orang.

  Setiap kali muncul definisi sastra, maka pada saat yang hampir bersamaan pula lahir definisi lain yang menyanggah dan menyangsikan definisi sastra yang lahir terdahulu. Keragaman dalam konstelasi kesejarahan dan kompleksitas kebudayaan berdampak pula pada terbentuknya keragaman pemahaman dan definisi sastra. Namun demikian sastra tetap memiliki ciri-ciri umum yang “seolah-olah” sudah disepakati bersama bahwa “karya sastra” bersifat fiktif dan memiliki genre yakni puisi, prosa dan drama. Kesamaan konsep ini tidak bersifat kebetulan karena selain pada dasarnya manusia memiliki kemiripan sudah sejak lama terjadi interaksi budaya antara satu kebudayaan dengan kebudayan yang lain, salah satunya adalah Jalur

5 Sutera. Dimungkinkannya penerjemahan karya-karya sastra dari satu

  bahasa ke bahasa yang lain merupakan salah satu contoh bentuk kesepakatan dan kesamaan konsep sastra tersebut. Selain itu, kesamaan konsep juga terjadi pada tiga hal mendasar wacana sastra.

  Pertama, semesta (baik itu semesta pembaca maupun penulis) karena sastra tidak pernah lahir dari kekosongan sehingga baik penulis dan pembaca sama-sama memiliki semesta meskipun dengan latar belakang yang berbeda. Kedua, karya sastra itu sendiri yang diekspresikan dalam bentuk bahasa dan yang terakhir adalah kenyataan bahwa obyek sastra itu sendiri adalah manusia yang harus berhadapan dengan dunia

  “realitas” sastra yang fiktif dan dunia realitas kemanusiaannya, meskipun pandangan ini pun masih belum sepenuhnya diterima karena dalam beberapa kebudayaan batas antara fakta dan fiksi dalam sastra sangat subtil, saga bangsa Islandia misalnya atau kesusastraan Inggris akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17.

  Dalam bahasa Indonesia, kata sastra sering kali diartikan secara luas,

  6

  yang mencakup baik itu tradisi oral maupun sastra tulis. Secara etimologis,

  7

  kata sastra berasal dari bahasa Sansekerta, dengan akar kata sás-, yang berarti “mengarahkan”, “memberi petunjuk” atau “mengajar” serta akhiran –tra yang berarti alat. Kata susastra, seperti yang sering diucapkan orang memiliki awalan su-, berarti baik. Mengenai kompleksitas definisi sastra ini, Terry

8 Eagleton memberikan uraian secara hati-hati dan comprehensif, mulai dari

  karya sastra sebagai tulisan yang bersifat imajinatif, perbedaan antara fakta dan fiksi, pemahaman sastra pada abad ke-17 di Inggris sampai totalitas sistem teks yang diusung oleh kaum Formalisme Rusia.

9 Sedangkan Ideologi secara kategorikal menjelajahi wilayah keyakinan,

  nilai-nilai dan konsep ideal mengenai pemahaman cara kerja dunia serta bagaimana manusia merespon orang lain dan lingkungannya, membedakan mana yang baik dan benar serta merumuskan sesuatu yang ideal dalam kehidupan. Dalam konteks disiplin ilmu, ideologi memang bukan istilah yang

  10

  dimiliki oleh sastra. Wacana ideologi terkait erat dengan disiplin ilmu sosial dan politik serta diidentikan kekuasaan.

  Pada saat ilmu sastra membukakan pintu lebar-lebar untuk dimasuki

  11

  disiplin ilmu lain, maka banyak istilah non-sastra yang diadopsi menjadi bagian dari sastra, salah satunya adalah ideologi serta wacana yang berkutat

  12 dengan persoalan itu, khususnya dalam kerangka teori dan kritik sastra.

  Persoalan yang sering timbul adalah apabila diskusi mengenai relasi sastra dan ideologi tidak merujuk pada ilmu sastra maka sastra akan tereduksi menjadi sekedar karya sastra saja dengan tiga genre-nya, puisi, drama.

  Sering terjadi dalam diskusi sastra, mereka yang tidak memiliki pengetahuan mengenai teori dan kritik sastra mengulas sebuah karya sastra dengan memberikan analisis-analisis yang pada akhirnya bias. Apakah novel 1984 karya George Orwell merupakan sebuah alegori, sekedar ekspresi atau ramalan George Orwell akan datangnya sebuah negara totaliter? Novel itu sendiri ditulis pada saat Perang Dunia Ke-2 baru saja selesai yakni suatu masa ketika di dunia ini dipenuhi oleh banyak pemimpin diktator yang memiliki kemiripan untuk dijadikan representasi Big Brother seperti misalnya Adolf Hitler, Mao Tse-tung, Francisco Franco dan Benito Mussolini. Mungkinkah 1984 merupakan gambaran negara yang dipimpin atas salah satu diktator tersebut? Apakah Orwell membawa ideologi tertentu dalam 1984? Diskusi yang tidak menyertakan teori dan kritik sastra dalam membahas novel tersebut justru akan melenyapkan esensi karya sastra itu sendiri hingga pada akhirnya Orwell tidak dilihat sebagai seorang pengarang melainkan politikus padahal dalam kenyataannya tidak demikian.

  Sastra harus dipahami secara terintegrasi yakni karya sastra itu sendiri (termasuk didalamnya semesta pembaca dan penulis), sejarah sastra, teori

  13

  sastra dan kritik sastra. Dengan memiliki pemahaman ini maka jawaban atas pertanyaan, “Haruskah sastra berideologi?”, menjadi lebih mudah untuk dijawab, tidak dengan sebuah jawaban pendek “ya” atau “tidak” melainkan kemudahan dalam memahami dan memetakan konfigurasi sastra yang kompleks. Selain itu untuk tujuan apa kita berbicara mengenai ideologi dan sastra.

  Ideologi mengacu pada cara berpikir orang dan kelompok tertentu, sehingga apabila seorang sastrawan yang mengekspresikan semestanya dalam sebuah karya sastra, maka apa yang dia tuangkan dalam teks itu adalah apa yang dia ingin katakan termasuk didalamnya ideologi yang dia anut dan dengan sendirinya karya sastra itu sendiri sudah berideologi, setidaknya ideologi pengarang. Namun demikian tidak berarti sastrawan menulis karena tujuan propaganda ideologi yang dianutnya. Jika hal itu terjadi

  14

  maka pada saat itu juga esensi sastra itu hilang. Karya sastra adalah sebuah ruang yang dibentangkan untuk meletakkan sebagian “realitas” kemanusiaan penulis atas keberadaannya. Ruang bukanlah alat dan akan berubah menjadi alat ketika terjadi pemaknaan sedangkan pemaknaan itu sendiri tidak berada di tangan penulis melainkan pembaca, entah itu pembaca secara individu, kelompok maupun penguasa. Sebagai sebuah wadag atas gagasan-gagasan yang memang harus dikomunikasikan dan dibagikan pada manusia yang lain, ideologi membutuhkan sebuah media dalam melakukan proses komunikasi ini, sastra salah satunya dan dari sinilah kemudian ruang berubah menjadi alat karena sastra dipahami sebagai praksis dan bukan

  15 ontologis .

  Sedangkan dalam tradisi Marxis, ideologi berbicara mengenai bagaimana kebudayaan tersusun hingga mampu membawa kelompok tertentu memiliki kontrol yang maksimal dengan potensi konflik minimal. Ideologi ini sendiri tidak bermaksud untuk menekan kelompok lain (meskipun potensi itu ada) melainkan lebih kepada persoalan bagaimana institusi yang dominan dalam masyarakat mampu bekerja melalui nilai-nilai, konsepsi dunia Marx ideologi adalah superstructure sedangkan sistem sosioekonomi yang berjalan pararel adalah base dan sastra merupakan bagian dari

  superstructure.

  Dalam konteks Kesusastraan Indonesia, ideologi dalam sastra seyogyanya memiliki makna bagi kepentingan sastra Indonesia dengan tujuan akhir menempatkan manusia Indonesia sebagai obyek sekaligus subyek sastra dalam rangka memaknai jaman. Sebagai sebuah contoh, bagaimana ideologi diajarkan dalam sastra dan bagaimana menghadapi beragam pemikiran dalam dunia global yang bergerak dengan begitu cepat. Selain itu ideologi juga berperan dalam kanonisasi sastra.

  16 Pengalaman dan

  kesejarahan sosial, politik dan sastra bangsa Indonesia berbeda dengan bangsa lain, sehingga pengajaran sastra juga harus berbeda termasuk bagaimana relasi sastra dan ideologi. Pengalaman Amerika

  17

  misalnya, tidak bisa dijadikan acuan begitu saja karena banyak perbedaan mendasar yang terjadi dalam kesejarahan sastra kedua bangsa.

  18 Persoalan yang umum terjadi di Indonesia adalah seringkali ideologi

  dicomot begitu saja dan dipakai untuk kepentingan pragmatis dengan memperalat sastra, misalnya aliran realisme sosial ala Aleksei Maksimovich yang bernama pena Maxim Gorky (kepahitan) yang sempat menghuni tubuh Lekra dan menghantui lawan-lawan ideologinya. Demi kepentingan revolusi hal ini sah-sah saja. Jagad sastra memang selalu menarik, meriah dan “edan” apabila dikaitkan dengan ideologi hingga terjadi polemik terus menerus.

  Dengan cara semacam ini sastra menjadi berkembang hanya saja warna dan kualitas polemik itu tidak terlepas dari watak dan ideologi bangsa yang membentuknya, dan memang begitulah realitas yang terjadi dalam sastra. 1 Kutipan puisi yang dibacakan oleh Prof Winarno Surahman pada Hari Guru Ke-60 Tahun 2005 di Solo. 2 Kenneth Lantz, “Russian Literature.” Microsoft® Student 2007 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2006. 3 Fiction made headlines with the ‘sentence of death’ passed in February by Iran's Ayatollah Khomeini on British

  

novelist Salman Rushdie…… the book blasphemed Islam. Encarta Yearbook 2007, Microsoft ® Encarta ® 2007.©

1993-2006 Microsoft Corporation. 4 The Exeter Initiatives, November 1, 2004. 5 Kutipan puisi Four Lyrics from Dunhuang (Lirik Ke-1:Eternal Longing: He was a traveler west of the river, with

wealth and eminence are in this world. All day long in vermilion towers ... dancing and singing songs. The cup filled

again and again, till he's drunk as mud; lightly, lightly trading golden goblets, wearing out the day tasting joys,

pursuing pleasures — Some people are rich and never go home). Dunhuang merupakan salah satu tempat di

provinsi Gansu (saat ini) yang merupakan kota utama Jalur Sutera selama berabad-abad. Tempat itu menjadi

pertemuan antara kebudayaan Cina dan Asia Tengah sekaligus pusat agama Budha dengan biara yang terkenal

bernama “Gua Seribu Budha” (The Caves of the Thousand Buddhas). Kira-kira pada abad ke-11 terjadi pencurian

terhadap 30.000 manuskrip. Puisi yang dikutip berjudul Eternal Longing, salah satu yang terdapat dalam

manuskrip yang hilang tersebut. (Victor H Mair., (Ed). Columbia Anthology of Traditional Chinese Literature. New

York: Columbia University Press, 1994 via Microsoft ® Encarta ® 2007. © 1993-2006 Microsoft Corporation). 6 Sastra Indonesia Modern (SIM) baru dimulai kira-kira 60 tahun yang lalu. (Rachmat Djoko Pradopo, Prinsip-prinsip

  

Kritik Sastra, Cet. Ke-2, UGM University Press, Jogyakarta, 1997, hal. 1). Lihat juga Jakob Sumardjo,

Kesusastraan Melayu Rendah, Masa Awal, Cet. Ke-1, Galang Press, Jogyakarta, 2004, hal. 1-38). Terjadinya

celah antara bahasa tulis dan ekspresi lisan sangat berpengaruh terhadap pemahaman sastra. Meskipun tidak

dalam jumlah yang besar celah itu terjadi pada masyarakat Indonesia (Amin Sweeney, A Full Hearing: Orality and

Literacy in Malay World, First Edition, University of California Press, Los Angeles, 1987, hal.101). 7 Sastra dalam bahasa Inggris, literature yang berasal dari bahasa Perancis, littérature, dan kata inipun berasal dari

bahasa Latin, litteratura. (Tom McArthur dan Feri Arthur (Ed), The Oxford Companion to the English Language,

Oxford University Press, New York, 1992, hal. 619-620). 8 Theory of Literature, An Introduction, Second Edition, Blackwell Publishing, Oxford UK, 1996, hal.1-14. 9 Istilah ideologi untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Destutt de Tracy (1755-1836), seorang filsof aristokrat

  

Perancis. Dalam bukunya Eléments d'idéologie (4.vols., Paris, 1801-15) pada prinsipnya dia mengatakan bahwa

ideologi adalah, “....a sience of ideas, their truth or error, working through a critical theory of the actual process of

the mind.” (Duncan Mitchell (Ed.) A Dictionary of Sociology, First Edition, Routledge & Kegan Paul, London, 1968,

hal. 94). 10 Dalam kamus A Glossary of Literary Term, Seventh Edition, Heinle & Heinle, Massachusetts, 1999, yang ditulis oleh M.H

  Abram, tidak terdapat lema “ideologi” dan hanya menjadi bagian dari penjelasan mengenai lema Author

and Authorship (hal.16), Canon of Literature (hal.30), Culture Studies (hal.54), Dialogig Criticism (hal.63), Feminist

  

Criticsm (hal.180), Postcolonial Studies (hal.236), Poststructuralism (238) danText and Writing (Écriture) (hal.

11 316).

  

Dalam konteks studi kebudayaan, setidaknya terdapat lima hal yang signifikan dalam pembicaraan mengenai

ideologi yakni kesatuan sistematis gagasan yang diartikulasikan oleh sekelompok orang, distorsi gambaran

sebuah realitas, bentuk-bentuk ideologi, gagasan Marx, Althusser serta pemikiran Roland Barthes. (John Storey,

An Introduction to Cultural Theory and Popular Culture. Second Edition, Prentice Hall/Harvester Wheatsheaf,

12 Herfordshire, 1993, hal. 4-6) Dalam gagasan

  Marx dan Engels, “ideologi” tidak merujuk pada seperangkat keyakinan melainkan lebih sebagai 13 kriteria normatif. (Encyclopædia Britannica CD 99, Copyright 1994-1999)

Dalam buku Theory of Literature, Rene Wellek dan Austin Warren, Penguin Book Ltd: Hardmondsworth 1968,

hal.25. Beberapa pandangan tentang sastra ini sepertinya sangat dipengaruhi oleh eksistensi Wellek sebagai

seorang sejarawan kritik. Buku itu sendiri kemudian menjadi referensi standar dalam studi sastra di tingkat

14 pascasarjana di negara-negara Barat.

   Sastra harus bersifal polivalen secara politik sehingga sastra tidak direduksi menjadi propaganda. (Adorno via 15 Raymond William, Marxism and Literature Oxford University Press: Oxford, 1977, hal. 202 16 Pandangan ini setidaknya mirip dengan studi sastra Marxisme.

  

Terdapat beberapa hal mendasar dalam pengajaran sastra di Indonesia. Lihat Kurikukulum Satuan Tingkat

Pendididikan (KSTP). Dalam kurikulum tersebut (pelajaran Bahasa Indonesia) terlihat bahwa sastra hanya

diajarkan sebagai bagian dari bahasa Indonesia serta tidak memiliki arah yang jelas. Sastra tidak diapresiasi tetapi

sekedar diketahui. Pengajaran sastra dalam kurikulum secara ideologis seharusnya memiliki arah yang jelas.

Sedangkan kanonisasi sastra juga menjadi persoalan yang pelik karena tidak ada otoritas yan g menjalankan

fungsi tersebut. Meski tidak bermaksud untuk menyeragamkan ideologi, “kesepakatan” dan “persamaan” persepsi

mengenai kanonisasi itu seharusnya secara umum berjalan pada satu ideologi yang sama antara penguasa dan

17 anggota masyarakat.

  

Tradisi sastra Amerika sangat kuat dengan gagasan Puritanism dan bahkan gagasan teolog Martin Luther (1483-

1546) yang mempengaruhi secara permanen agama dan lembaga-lembaga masyarakat dalam demokrasi di

Amerika. (George Perkins dan Barbara Perkins (Eds.), Cet.Ke-8. The American Tradition in Literature,McGrawhill,

18 Inc.NewYork, 1994, hal. 5-11)

  

Kesusastraan Amerika tidak dimulai dari orang Amerika serta sastra itu sendiri melainkan oleh orang Eropa dan

Buku Harian. (Carl Bode, Highlight of American Literature, United States Information Agency, Washington, DC,

1988, hal.5)

Dokumen baru

Tags

Haruskah Ada Kasta Di Sma Kekerasan Di Indonesia Dalam Karya Sastra Penerapan Sastra Anak Di Dalam Kelas Mel Sastra Sufi Di Aceh Tipe Dan Motif Dalam Sastra Lisan Di Pro Ajaran Tasauf Dalam Sastra Gending Konsep Wahyu Dalam Psikologi Sastra Status Sosial Perempuan Dalam Sastra Istilah Dalam Sastra Jawa Pptx Identitas Tionghoa Dalam Sastra Diaspora
Show more

Dokumen yang terkait

ANALISIS KOMPARATIF PENDAPATAN DAN EFISIENSI ANTARA BERAS POLES MEDIUM DENGAN BERAS POLES SUPER DI UD. PUTRA TEMU REJEKI (Studi Kasus di Desa Belung Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang)
23
307
16
FREKUENSI KEMUNCULAN TOKOH KARAKTER ANTAGONIS DAN PROTAGONIS PADA SINETRON (Analisis Isi Pada Sinetron Munajah Cinta di RCTI dan Sinetron Cinta Fitri di SCTV)
27
310
2
DEKONSTRUKSI HOST DALAM TALK SHOW DI TELEVISI (Analisis Semiotik Talk Show Empat Mata di Trans 7)
21
289
1
MANAJEMEN PEMROGRAMAN PADA STASIUN RADIO SWASTA (Studi Deskriptif Program Acara Garus di Radio VIS FM Banyuwangi)
29
282
2
MOTIF MAHASISWA BANYUMASAN MENYAKSIKAN TAYANGAN POJOK KAMPUNG DI JAWA POS TELEVISI (JTV)Studi Pada Anggota Paguyuban Mahasiswa Banyumasan di Malang
20
244
2
PERANAN ELIT INFORMAL DALAM PENGEMBANGAN HOME INDUSTRI TAPE (Studi di Desa Sumber Kalong Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso)
38
240
2
FK-UMM Dalam Pertemuan Occupational Health di Philippines
0
56
1
Kuliah di PTN Kini Lebih Mahal
0
87
1
Analisis Pertumbuhan Antar Sektor di Wilayah Kabupaten Magetan dan Sekitarnya Tahun 1996-2005
3
59
17
Analisis tentang saksi sebagai pertimbangan hakim dalam penjatuhan putusan dan tindak pidana pembunuhan berencana (Studi kasus Perkara No. 40/Pid/B/1988/PN.SAMPANG)
8
102
57
Analisis terhadap hapusnya hak usaha akibat terlantarnya lahan untuk ditetapkan menjadi obyek landreform (studi kasus di desa Mojomulyo kecamatan Puger Kabupaten Jember
1
88
63
DAMPAK INVESTASI ASET TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP INOVASI DENGAN LINGKUNGAN INDUSTRI SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI (Studi Empiris pada perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2006-2012)
12
142
22
Diskriminasi Perempuan Muslim dalam Implementasi Civil Right Act 1964 di Amerika Serikat
3
55
15
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB ORANG TUA MENIKAHKAN ANAK PEREMPUANYA PADA USIA DINI ( Studi Deskriptif di Desa Tempurejo, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember)
12
105
72
Hubungan Antara Kompetensi Pendidik Dengan Kecerdasan Jamak Anak Usia Dini di PAUD As Shobier Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember
4
116
4
Show more